Category: SASTRA

  • Dua Puisi Yoseph Yapi Taum tentang Jakarta

    Dua Puisi Yoseph Yapi Taum tentang Jakarta

    Yoseph Yapi Taum

     

    Jakarta sebagai ibu kota negara dapat memancarkan sejuta warna bagi para seniman. Puisi-puisi Yoseph Yapi Taum tentang Jakarta, “Petir di Jakarta” dan “Kutinggalkan Kota Jakarta,” menggambarkan sisi kelamnya. Penggunaan kata-kata kiasan yang kuat dan berani dimaksudkan untuk menggambarkannya sebagai simbol kekuatan sekaligus ketakutan. Penggunaan kata-kata yang berkonotasi kuat seperti “terbakar api dan amarah” mengekspresikan rasa putus asa dan rasa ingin segera meninggalkannya. Puisi ini memancarkan suasana sedih dan kehilangan, dengan tema yang meskipun mengandung rasa nostalgia yang kuat.

     

    PETIR DI JAKARTA

    Tawa kanak-kanak terdiam tiba-tiba
    Langit biru masih menggantung
    Namun petir itu merobek jantung juga
    Berlarilah wahai kanak-kanak,
    berlarilah demi surga yang tertunda

    Merataplah wahai kanak-kanak,
    Merataplah demi luka yang pedih
    Petir itu serigala liar, bertaring, dan bertanduk
    Lucifer yang menyala dari kusut jiwanya

    Maka merunduklah dalam-dalam
    di lembah bisu ini, hapus semua air matamu
    karena itu mata air murni, sangat murni
    yang bakal menangkal petir di Jakarta

    Tarian kanak-kanak terhenti tiba-tiba
    Wajah mereka sayu, sedih, dan menangis
    Menangislah dalam sepi anak sungai
    Yang bakal mengalirkan susu dan madu
    Karena setiap butir tangismu dihitung langit

    Yogyakarta, 28 Juni 2021

    —————————————————————–

     

    KUTINGGALKAN KOTA JAKARTA

    Di tengah hujan asin dan air laut duka
    perempuan-perempuan menangis
    Seorang laki-laki menyebut namamu
    dengan mata berlinang di simpang jalan

    Kuketuk dinding-dinding Jakarta
    kala kota itu terbakar api dan amarah
    Mereka teriakkan nama tuhan di sudut-sudut kota
    dinding baja merancap keras di jantungnya

    Kutinggalkan Jakarta yang sangar
    menjemput masa depan anak-anakku
    Bunga-bunga bakung di sungai ciliwung
    tenggelam dengan perlahan

    Kutinggalkan semua tuhan dan malaikatnya
    matahari, bumi, bulan, dan bintang-bintangnya
    Kota ini menyimpan dendam tak sudah
    maka kulambaikan tangan bersama hujan gerimis

    Yogyakarta, 10 Oktober 2019


     

    Tentang Penulis

    *Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).

     

     

  • PANCA SAJAK DARI KOTA ENDE  – Puisi-puisi Simply da Flores

    PANCA SAJAK DARI KOTA ENDE – Puisi-puisi Simply da Flores

    Foto: Simoly da Flores

     

    Mencatat  Pelangi  Makna  di  Kota  Ende

    Bagi saya, kota kecil Ende di pulau Flores telah mencatat banyak sejarah bagi dinamika perkembangan kehidupan generasi di pulau ini. Ketika sempat mengunjungi Ende beberapa waktu yang lalu, saya catat kekaguman atas warna-warni peran kota Ende dalam sejarah Indonesia dan dunia. Lalu, lahirlah lima sajak dalam tulisan yg kuberi judul: Panca Sajak dari Kota Ende

     

     TIKAMAN   TERIK  DAN  TANYA

    Masih di awal bulan Maret
    ketika siang di kota Ende
    Jarum panas menusuk ubun
    Tombak terik menikam raga
    Ramai hilir mudik kendaraan

    Beberapa kabut putih merana
    melangkah gontai menapaki kota
    Sayap-sayap garuda terkulai
    Antara bahu gunung Ia Meja Wongge
    Mungkin tertusuk jarum intrik
    Mungkin tertiiam tombak politik

    Laut di pantai kota senyap
    ada diam seribu kata
    mengandung sejuta gelombang tanya
    Entah dari kampung-kampung
    Entah dari tengah kota
    Entah dari seberang lautan
    Ini musim pancaroba

    ———————————————-

    NUSA INDAH – ENDE

    Terbersit dalam ingatan
    lewati jalan kota Pancasila
    Ende tempat sejarah bangsa
    Ada satu nama penjasa
    Penerbit Nusa Indah

    Ladang kata dan karya
    pernah suburkan anak bangsa
    dengan karya mencerdaskan manusia
    Dari buku dan majalah
    ketika gelap menutup mata
    saat gulita kuasai nalar
    merana tak punya informasi
    lara dicengkram kebodohan

    Nusa Indah masih ada
    namun ditikam terik mentari
    mungkin terkulai dihempas badai
    di tengah gelombang digital
    dan aneka saran komunikasi

    ———————————————————

    TERPATRI  JEJAK  PATRIOT

    Kota Ende jadi saksi sejarah
    seorang pemuda patriot diasingkan
    Jauh dari sahabat pejuang
    untuk wujudkan Indonesia Merdeka

    Ada situs rumah pengasingan
    Ada sumur air warisan
    Cerita perjuangan Sang Patriot
    Ada pohon sukun inspiirasi
    Ada panggung pentas sandiwara
    Ada juga dibuat serambi
    Semuanya tentang Ir. Soekarno
    yang sering disapa Bung Karno
    Sang Proklamator Indonesia
    Presiden pertama NKRI

    Terpatri abadi jejak Sang Patriot
    mungkin generasi bisa lupa
    mungkin banyak politisi abaikan
    Namun
    Panglima di Ia Meja Wongge
    tetap setia menjaga lestarinya
    Selama aliran sungai Wolowona
    belum kering untuk mandi
    dan jadi mata air kehidupan
    untuk pewaris Bumi Lio
    untuk generasi Nusa Nipa

    Ada Perjumpaan jejak para patriot
    Berbagai suku bangsa di Nusantara
    menulis tapaknya di kota Ende
    Ada jejak musyafir makna
    dari Jepang dan Belanda
    dari berbagai bangsa dunia
    Terpatri di kota ini
    Ende, Nusa Indah, Flores
    Tana Lio Bumi Naga
    Taman Eden yang terlupakan

    ———————————————————

    ADZAN  DAN  lONCENG GEREJA

    Terdengar Adzan menggema
    sebuah payung sejuk dibentang
    halau jarum terik menusuk
    lindungi hati saGereja
    Ingatkan umat berdoa angelus
    Seperti tameng halau tombak
    yang ganas menikam jiwa
    Di tengah derap zaman edan

    Ada tanya kecil mengusik
    apakah tolerasi kota ini
    apakah persaudaraan warga kota
    dengan adat budaya agama
    Menjadi inspirasi bagi Patriot
    Bung Karno Sang Proklamator
    menggali dan terilhami merumuskan
    Wahyu Pancasila untuk dunia ?

    ————————————–

    ENDE  KOTA  PANCASILA

    Jasmerah
    Jangan sekali-kali melupakan sejarah
    Kejadian itu fakta kehidupan
    Karya Sang Proklamator itu berkah
    dan
    dicatat abadi Kota Ende
    disimpan lestari Bumi Lio
    Nusa Nipa Pulau Naga

    Rajawali masih setia mengawal
    terbang menyusuri sungai sejarah
    terus meneguk mata air fakta
    dan
    membuat jembatan peradaban
    Antara gunung dan pantai
    Antara kampung dan Samudera
    Agar
    generasi minum dan disegarkan
    lalu berlayar seberani lautan
    gapai pelabuhan damba cita

    Pancasila adalah kita
    Pancasila itu aku
    Pancasila itu engkau
    Pancasila itu dia
    Pancasila itu mereka
    Semuanya kita “Sesama Saudara”
    Kita satu udara semesta
    Kita satu darah manusia
    Bergandeng tangan rajut martabat
    Bersatu-padu menenun harkat
    Jadi Putra-Putri Fajar
    Jadi anak-anak Terang
    Junjung mentari di kepala
    Cium bumi di telapak kaki
    Dipeluk Sang Maha Cahaya

    ——————————————————————-

    Tentang  Penulis

    Simply da Flores, terlahirahir di Maumere, Flores, NTT.
    Menyelesaikan studi di STF Driyarkara – Jakarta 1990. Ikut kegiatan advokasi Lingkungan dan Masyarakat Adat, berkenalan ke berbagai daerah di tanah air dan tetangga negeri, lalu pulang ke kampung untuk belajar tradisi lisan sejak 2020, sambil terus belajar menulis

  • Trilogi tentang Bulan Purnama  –  Sajak-sajak Yoseph Yapi Taum

    Trilogi tentang Bulan Purnama – Sajak-sajak Yoseph Yapi Taum

    Yoseph Yapi Taum

     

    Pengantar

    Bulan Purnama adalah simbol romantisme universal. Dalam karya-karya sastra, bulan sering digambarkan sebagai penanda cinta dan kerinduan. Puisi “Trilogi tentang Bulan Purnama” karya Yoseph Yapi Taum menggambarkan perjalanan cinta, kerinduan, kedahsyatan, dan bayang-bayang kematian. Sebuah permenungan yang mendalam tentang hakikat cinta, kekuatan, dan keruntuhannya sekaligus

     

    BULAN TELAH KEMBALI

    Bulan telah jatuh lagi
    Dentingnya teduh ungu menyilaukan
    Sepasang burung menariknya
    Rindu tak bisa digantung di langit

    Bulan telah terbangun kembali
    di musim yang sudah mengering
    Sepasang burung memendamnya
    di telaga bagai seonggok kenangan

    Bulan telah bercahaya kembali
    Dilukisnya bumi dengan warna langit
    Sepasang burung tak lagi murung
    Selembar doa jatuh ke telaga

    Yogyakarta, 23 April 2020

    ———————————————————-

     

    PURNAMA DI LADANG JAGUNG

    Malam purnama di ladang jagung
    Bukit, sungai, laut, dan sepasang remaja
    Menyusuri jejak purba yang membeku di sunyi malam
    “Hujan masih membasahi mayang jagung, kekasih!
    Kucium kembang mawar dan melati di sanggul pengantin!”

    Keheningan bersembunyi di sudut-sudut ladang
    Desir angin menggetarkan denyut jantung
    Jalan setapak diterangi purnama raya
    Aku menyentuhmu di balik pohon berulangkali
    Ciuman demi ciuman susul menyusul menjadi buas

    Malam purnama di ladang jagung
    Gunung, jurang, desah, dan sepasang remaja
    Melintas di atas bayang pohon-pohon di kejauhan
    “Tabir malam membentangkan sayap bekunya, kekasih!
    Kucium kembang kamboja dan sapaan para pelayat!”

    Yogyakarta, 10 Agustus 2019

    ———————————————————————

     

    PURNAMA MEMUDAR DI KAKI BUKIT

    Satu lagi purnama memudar di kaki bukit
    Wangi yang memberi sayap bagi sejoli menepi
    Segala rindu dan duka berakhir di suatu titik
    Simpang jalan dan lorong sunyi menyambutnya

    Musafir pembangkit mantra sudah letih
    (Sepasang kekasih masih bernyanyi hingga larut
    di taman anggur dengan purnama merah)
    Dengan punggung jari disekat isaknya

    Cahaya terakhirnya terpantul dinding purba
    Selaksa dua sejoli menghapus dingin air matanya
    Siapa yang menjaga tidurmu malam-malam?
    Adakah segudang puisi penjaga mimpimu?

    Satu lagi purnama memudar di kaki bukit
    Kepaknya melemah di batas cakrawala
    Para peziarah melantunkan mazmur
    Mengantarkan ke rumah kekalnya

    Yogyakarta, 3 Agustus 2019

    ——————————————————————

     

    Tentang Penulis

    *Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).

     

  • Drama Penyaliban dalam Satu Adegan

    Drama Penyaliban dalam Satu Adegan

     

    Oleh    Subagio Sastrowardoyo

     

    – “Di sinilah aku bergantung
    Domba hitam terbantai di tiang
    Perempuan malang bersimbah debu
    meratap. Merataplah sepatut seorang
    ibu meratap kematian anak sulung
    Tapi merataplah tanpa kegusaran terhadap
    mereka yang menyeret aku dari lurung ke lurung
    yang menombak dan memaku aku di tiang gantung
    Manusia itu baik. Kelaliman hanya kesesatan
    sesaat yang akan luluh dalam penyesalan.
    Bagi nabi, pemikir dan penyair hanya ada satu jalan
    untuk menghadapi kekejaman. Bagi kami tak ada senjata,
    gigi, kuku atau pedang. Hanya penyerahan dan cinta
    kepada manusia dan keyakinan akan kebenaran.
    Jangan bimbang. Darahku yang berceceran
    dari luka tubuhku akan mendekatkan mereka
    kepada keinsafan: mereka telah membunuh sesama insan
    yang juga mengenal gembira, rindu dan luka
    Mereka akan berhenti mengancam, malahan akan mencampakkan diri
    ke bumi karena menyadari kekejian budi
    Ibu, maafkan mereka. Mereka tidak sadar
    apa yang mereka perbuat. Tidakkah kau dengar
    mereka berkeluh dan mundur ke kota dengan teriak
    penyesalan”? –

    – Aduh anak
    Aduh putera Bapak yang tunggal. Begitu banyak
    pengorbanan yang dilakukan, begitu banyak sudah
    bunuh diri buat keagungan martabat manusia.
    Tapi penindasan
    terus menindih dan punah keindahan mimpi
    Lihatlah
    Keluh mereka adalah untuk yang dilontarkan ke mukamu
    Dan mundur mereka ke kota adalah untuk berpesta
    menyambut kematian-Mu
    – “Bunda, penglihatanmu kabur oleh pedih air mata”
    – “Tidak, hanya hati-Mu yang lemah cinta manusia
    Cinta Tuhan lebih kejam. Ia meruntuhkan alam lata”.

    – Demi Allah,
    Berilah aku senjata. Beri aku gigi
    dan kuku dan pedang untuk memerangi
    kebengisan ini. Akan kugigit dan robek
    perut jahanam dan penggal setiap kepala
    yang tunduk ke bumi. Beri aku hidup lagi
    serta pembalasan satu ini. Gusti!

    ———————————————————————-

    -Sumber Puisi  Dan Kematian Makin Akrab, Subagio Sastrowardoyo, Grasindo 1995

    Biodata Subagio Sastrowardoyo:
    • Subagio Sastrowardoyo lahir pada tanggal 1 Februari 1924 di Madiun, Jawa Timur.
    • Subagio Sastrowardoyo meninggal dunia pada tanggal 18 Juli 1996 (pada umur 72 tahun) di Jakarta.

  • Srigala  dan  Domba

    Srigala dan Domba

     

    Oleh   Aesop*

     

    Pada suatu ketika, seekor Srigala sedang minum di mata air sebuah lembah, ketika ia mendongak dan melihat seekor Domba sedang akan minum di tempat yang sedikit lebih rendah darinya. “Itulah makan malamku,” pikir sang Srigala, “kalau saja aku dapat menemukan alasan untuk menyerangnya.” Lalu ia memanggil sang domba, “Berani benar kamu mengotori air yang akan kuminum? ”Tidak tuan, tidak,” kata sang Domba betina, “jika air itu kotor di atas sana, pasti bukan aku penyebabnya, karena air itu mengalir darimu ke arahku, ”Nah, kalau begitu,“ kata sang Srigala, “kenapa kau menjelek-jelekan aku tepat setahun lalu? “Tak mungkin,” kata sang Domba, “aku baru berusia enam bulan.” “Aku tak perduli,” seringai sang Srigala, “kalau yang menjelek-jelekan itu adalah  ayahmu.” Selesai mengucapkan itu, sang Srigala segera menerkam sang Domba kecil malang itu dan memakannya. Tapi sebelum domba itu mati, ia sempat berkata, “. ”Alasan apa pun akan cocok bagi seorang tiran.”

    ————————————–

    *Aesop, seorang fabulis (penulis fabel) legendaris. Malah ada yang menyebutnya sebagai bapak fabel Eropa.

    *Sumber Tulisan dari buku Pagi di Amerika – 47 Cerpen Mini dari 5 Benua,  Serambi 2004

  • Lagu  Pantai  Lamalera  ( buat Ivan Nestorman )

    Lagu Pantai Lamalera ( buat Ivan Nestorman )

     

    Oleh  Wisnu Muhamad

     

    melewati musim perahu
    dengan seribu lagu anak tombak
    hening jala di pangkal muara, Lamalera
    bayangan bocah pada putih pasir
    saling bersahutan dengan landai ombak berdesir
    memang, gadis pesisir pandai merayu
    aku tersipu, para putra lautan
    yang bercanda di pucuk ombak
    saling menali puisi, dalam kentalnya tradisi
    sepanjang pulau Lembata
    sepanjang garis penunjuk matahari
    aku dikelilingi perempuan sabut kelapa
    yang mendendangkan lagu ibu bersabda
    diiringi kayu perahu dan para lamafa
    malam merajuk, perahu ringki menepi
    sedari tadi kupandangi seyumnya gadis api
    bertumpuk kayu pada kobaran asmara
    cinta bergelora.

     

    2011

    ——————————————————–

     

    Sumber: Buku Puisi  Narasi Tembuni,  Komunitas Sastra Indonesia – 2012

  • Sajak – sajak Sapardi Djoko Damono:  – Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari – Mata Pisau – Ketika Berhenti di Sini

    Sajak – sajak Sapardi Djoko Damono: – Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari – Mata Pisau – Ketika Berhenti di Sini

    Sapardi Djoko Damono

     

    Berjalan ke Barat Waktu Pagi Hari

    waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku
    di belakang
    aku berjalan mengikuti bayang-bayangku sendiri yang memanjang
    di depan
    aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami
    yang telah menciptakan bayang-bayang
    aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara
    kami yang harus berjalan di depan

     

    Mata Pisau

    mata pisau itu tak berkejap menatapmu:
    kau yang baru saja mengasahnya
    berfikir: ia tajam untuk mengiris apel
    yang tersedia di atas meja
    sehabis makan malam;
    ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.

     

    Ketika Berhenti di Sini

    ketika berhenti di sini ia mengerti
    ada yang telah musnah. Beberapa patah kata
    yang segera dijemput angin
    begitu diucapkan, dan tak sampai ke siapa pun

     

    —————————————————————————————

     

    *Tentang Sapardi Djoko Damono 

    Sapardi Djoko Damono lahir di Solo, 20 Maret 1940. buku puisinya antara lain Duka-Mu Abadi (1969), Perahu Kertas, Hujan Bulan Juni, Ayat-ayat Api, Arloji, Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro? (2002) dan Kolam (2009).

    *Sumber Puisi: Mata Pisau, Sapardi Djoko Damono, Balai Pustaka, 1993

     

  • Sajak-sajak M. Aan Mansyur :  – Pukul 4 Pagi  – Puisi tidak Menyelamatkan Apa pun

    Sajak-sajak M. Aan Mansyur : – Pukul 4 Pagi – Puisi tidak Menyelamatkan Apa pun

     

    Pukul 4 Pagi

     

    Tidak ada yang bisa diajak berbincang.
    Dari jendela kau lihat
    bintang-bintang sudah lama tanggal.
    Lampu-lampu kota
    bagai kalimat selamat tinggal.
    Kau rasakan seseorang di kejauhan
    menggeliat dalam dirimu.
    Kau berdoa: semoga kesedihan
    memperlakukan matanya dengan baik.

    Kadang-kadang, kau pikir,
    lebih mudah mencintai semua orang
    daripada melupakan satu orang.
    Jika ada seseorang
    yang terlanjur menyentuh inti jantungmu,
    mereka yang datang kemudian
    hanya akan menemukan kemungkinan-kemungkinan.

    Dirimu tidak pernah utuh.
    Sementara kesunyian
    adalah buah yang menolak dikupas.
    Jika kau coba melepas kulitnya,
    hanya akan kau temukan
    kesunyian yang lebih besar.

    Pukul 4 pagi. Kau butuh kopi segelas lagi.

    *************************************

     

    Puisi tidak Menyelamatkan Apa pun

     

    Puisi tidak menyelamatkan apa pun, namun memberi
    keberanian membuka jendela dan pintu pada pagi hari.
    Menyeret kakiku menghadapi dunia yang meleleh
    di jalan – jalan kota yang tidak berhenti berasap.

    Puisi tidak menyelamatkan apa pun, namun dari matanya
    kulihat seekor anjing berjalan menuntun seorang pria tua
    buta ditaman. Dari hidungnya kuhirup ladang – ladang jauh
    yang tumpah sebagai parfum mahal dipakaian orang asing.
    Dari telinganya kusimak musik dari getar senar gitar para
    imigran bernasib gelap.

    Puisi tidak menyelamatkan apa pun, namun jari – jarinya
    menyisir rambutku yang dikacaukan cuaca. Sepasang
    lengannya memeluk kegelisahanku. Tubuh ayahku
    kumakamkan di punggungnya yang bersayap. Tanah
    kelahiranku memanggil – manggil di suaranya
    yang sayup.

    Dan di lembab bibirnya kukecap senyummu
    berulang kali setiap redup dan berharap

    *************************************

     

    *Sumber: Buku Puisi Tidak Ada New York Hari Ini, M. Aan Mansyur, 2016, Gramedia

    *M Aan Mansyur, Lahir di Bone, Sulawesi Selatan. Bekerja di Komunitas Ininnawa dan Pustakawan di Katakerja, Makasar.

  • Sajak-sajak Helena Lose Beraf:  Tuhan dalam Sajak Cinta – Sujud – Anak-anak Malam – Pertemuan Sipon dan Wiji  Thukul

    Sajak-sajak Helena Lose Beraf: Tuhan dalam Sajak Cinta – Sujud – Anak-anak Malam – Pertemuan Sipon dan Wiji Thukul

    Helena Lose Beraf

     

    TUHAN  DALAM  SAJAK  CINTA

    Telah beribu kali, kutarik garis nasib pada telapak tangan
    sembari menyusun sajak bernama kehidupan

    Sajakku kemudian beranak pinak
    Di malam-malam ia terbangun tak berjaga sampai subuh
    membuntuti embun, berharap melihat tangan siapa yang menyediakannya

    Ketika senja sebelum lelap sambil memikirkan bulan dan mentari beralih tugas, seperti anak kecil ia merapal doa syukur sambil terus mengira-ngira, kalau kalau Engkau datang di saat-saat lelap.

    Tuhan,
    Masih berapa lama lagi aku terkantuk -kantuk mempelajari Engkau
    dalam buku-buku sejarah, juga kitab suci, dalam dongeng dan dalam kemelut

    Aku hanya ingin meminta, anak anak puisiku tumpah di pagi subuh, berhamburan bagai burung gereja

    Bawalah sajak sajakku pada mata orang menangis
    menadahi ribuan hujan air mata
    Menyematkan harapan, walaupun kegetiran memalingkan mereka dariMu

    Aku ingin Kau saja yang meredakan angin jika kepak sayapku terasa letih

    Tuhan,
    Kau teramat kuat
    dari apapun yang sanggup ciptakan cinta
    Tak jua anggur yang candu
    seperti pencuri yang datang tengah malam
    lalu mencabut doa dari harapan; memisahkan Engkau dari kami

    Sampai segala waktu yang ada terkikis detik, di pelataran senja kupuja Engkau dalam hening
    Kutangkap wajahMu dalam kertas puisi yang kuyup.

    ********************

     

    SUJUD

    Bapa, engkau adalah musim rindu di sepanjang waktu
    Dan aku, batu yg tak semudah itu tergerus ragu.
    di luar, getar-getar rinai mencatat debur pinta yg mendebarMu
    Ku panjangkan kembara sujud
    Hingga tiba di pelataran senja, tumbuh sebuah temu yang lebat
    menghijaukan diksi-diksi
    meneduhkan puisi-puisi

    Pada sejengkal batang menunjuk terang
    mengepul harapan, hanyut dalam lembut asap doa
    pendar berkas cahaya di gelatar sepi
    seperti kayu kepada api
    aku memilih mencintai-Mu

    ***********************

     

    ANAK-ANAK MALAM

    Seperti biasa, kepenatan berbaris di pusat kota, berserakan seperti bias lampu-lampu jalan dan suara-suara malam

    Kota ini adalah dua buah wajah kehidupan : kaya-miskin, seperti jalur jalan berseberangan

    sedangkan kelaparan adalah pemberontakan dari pisau-pisau pembunuhan
    banyak tangan tapi tak saling memberi dekap
    pun kaki-kaki iman kian mendekati jalan buntu
    sebab di belahan musim dan langit lain keadilan adalah hujan yang tak pernah turun di atas rumah orang-orang miskin

    Di celah retakan waktu , manusia sebenarnya telah lama bermain dalam keliru,
    apakah harta dapat membayar kecemasan?

    Di suatu malam sebelum lelap, pelacur itu mendekap bocah-bocah lelah di payudaranya
    barangkali neraka yang mereka kira, adalah surga yang menghidupi keluarganya; malaikat berpegangan di sana

    Dalam hati ia bertanya : bagaimanakah anak-anak ini kelak menggambarkan dunia?
    mungkinkah kebaikan diserap dari sebuah peristiwa kecil, semisal daun kering yang gugur perlahan di atas tanah basah, atau ketika tangan bijak menyapu rambutnya. Mungkin ketika besar, mereka akan percaya pada kebaikan manusia

    “selain kemiskinan, milik kita hanya suara” lirihnya lalu jatuh tertidur.

    *********************************************************

     

    PERTEMUAN SIPON DAN WIJI THUKUL

    Di peluk dedaunan gugur
    kematian menjelma mahaguru dari segala yang hilang
    Pun setunduk tanah, waktu jua memberi salam pada hidup

    Hari ini tak ada aksi kamisan
    tubuh tak mampu berdiri, teriakan keadilan sudah lenyap ditelan iklan televisi
    perempuan itu memilih membawa kerinduan dan tanya pada kantong kantong waktu yang ia simpan

    Dan, beberapa pasang mata masih terjaga dibawah payung hitam
    berharap pada kepulangan yang entah

    dimana makam anak lenyap dalam tragedi

    Sipon berjalan pelan
    menuju lorong
    Pintu pintu
    bisu

    derit pintu itu terbuka dari dalam
    dan wajah seseorang tersenyum di baliknya
    seraut wajah yang ia kenali
    Perempuan buruh itu
    seperti tengah menatap puluhan tahun ke belakang

    seseorang dari balik pintu itu berkata ” maaf, jangan marahi aku, salahi saja rindu yang merampas jatah tidurmu”
    Sipon terkejut
    bola matanya berhamburan gegas menuju wajah itu
    menyusuri tiap lekuk inci per inci

    “Engkaukah itu, puisi puisi yang hilang?”

    Wajahnya masih sama, ndeso lugu dan lusuh
    jejak sepatu begitu tegas membuat lebam di sekujurnya
    dan, bola mata itu

    Sipon teringat aksara yang mengepul di puntung sajak kekasihnya
    bagak menyalak walau seribu pukul di tubuhnya
    aksara dari bibir yang tak mati-mati meski dibungkam peluru penguasa
    bibir yang dapat ia sentuh sekarang
    Aku pernah terjebak dalam sunyi tanpa sepatah bunyi
    namun tak hilang walau sepercik nyali ku, kekasih

    “ia tak mati-mati meski bola mataku diganti
    Ia tak mati-mati meski bercerai dengan rumah dan ditusuk-tusuk sepi”

    dan cintamu, tak lain adalah berpuluhpuluh kata
    mengirim tahun-tahun penuh tunggu

    masuklah, sebagai satu-satunya yang aku rindukan dalam sajak-sajak yang terkubur,

    mereka bahkan tak mampu menemukanku padamu
    aku benih yang ditanam
    terus hidup dan berlipat ganda

    Januari 2023

    ( Mengenang Ibu Dyah Sujirah atau Sipon istri Penyair, aktivis Wiji Tukul. Sipon meninggal pada Kamis 5 Januari 2023)

    ________________________________________________________________

     

    Tentang Penulis

    Helena Lose Beraf lahir di Lewoleba-Lembata, 26 Juli 1994. Berprofesi sebagai Bidan. Menyukai dunia Literasi dan Jurnalistik. Hobi membaca karya-karya sastra mematangkannya menulis opini-opini cerdas dan enak dibaca. Tuhan dalam Sajak Cinta adalah buku puisi perdananya.

     

  • SAJAK-SAJAK YOSEPH YAPI TAUM:  Jalan Sunyi – Perjalanan Laut – Aku Menatap Langit

    SAJAK-SAJAK YOSEPH YAPI TAUM: Jalan Sunyi – Perjalanan Laut – Aku Menatap Langit

    Foto Yoseph Yapi Taum

     

    JALAN SUNYI

    Aku terkurung di sunyinya malam
    Terjerat jalan setapak yang lengang
    Biasanya doa-doa dilantunkan
    dan nyanyian sendu digumamkan.
    Tetapi kali ini tidak!

    Aku menerobos gelapnya mimpi
    Terguncang karena siang dipenuhi bianglala.
    Biasanya kita bersama melewati canda
    dengan erat tangan bergandengan.
    Tetapi kali ini tidak!

    Jalan ini terlalu sunyi buatku.
    Bulan yang pucat dan gumpalan awan
    Membuat ragu untuk melangkah
    Melewati tikungan yang gelap!

    Yogyakarta, 27 Februari 2018

     

    PERJALANAN LAUT

    Bulan mengambang di atas lautan
    Satu per satu perahu nelayan berbalik arah
    Perjalanan selalu berakhir di sebuah titik
    Untuk kembali memulainya lagi esok hari

    Ada rindu dan luka yang bukan milikku
    Keheningan ini menjadi duka yang menyayat
    Perahuku masih terus mencari dan mencari
    Sia-sia melepaskan belitan duka

    Cahaya bulan terakhir sudah menghilang
    Laut yang letih tertidur dalam dekapan malam
    Sebuah bintang kecil mengerdip di langit

    Yogyakarta, 31 Maret 2018

     

    AKU MENATAP LANGIT

    Aku menatap langit yang terdiam
    di pelataran rumahku
    Tak ada lagi cerita yang tersisa
    Hanya dahan pohon randu yang meranggas
    Sembunyikan luka yang masih perih

    Ketika senja turun, awan menutupi langit
    di pelataran rumahku
    Senandung duka menghapus semua kenangan
    Buah dan biji pohon randu bertahan
    Dalam mimpi yang sunyi

    Yogyakarta, 18 Juni 2018

     

    ——————————————————-

    Tentang Penulis

    *Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).

    *Sumber sajak: Antologi Puisi Ballada Orang-Orang Arfak (2019).