Category: SASTRA

  • Tiada Darah di Lamalera

    Tiada Darah di Lamalera

     Martin Aleida 

     

    Gigi laut utara menggiring kami kemari, ke laut Sawu yang hangat dan biru begini. Langit begitu rendah. Seperti hendak rebah. Lengkungnya sesekali disaput semburan air yang tegak lurus meniti dalam hembusan napas paru-paru paus pembunuh. Orang-orang yang mendiami pulau kecil di sini menyebut mereka seguni. Sementara aku dan kaumku, mereka beri nama kotoklema.

    Setahun sekali kami melintas di tengah laut ini. Beberapa mil dari rumah penduduk yang jumlahnya tak seberapa. Menyediakan diri sebagai umpan yang akan menghidupi mereka selama laut utara dingin membekukan. Hubungan kami dan mereka, yang sudah berabad-abad, membuat mereka hafal bahwa paus jenis kami adalah buruan yang mudah ditaklukan. Sekali tempuling tertancap, kami bukannya melawan, malah mempermudah pertarungan. Kami tidak akan melawan sebagai mana paus pembunuh yang akan menggeliat meronta dalam darah, berputar-putar, menyiksa atau meremukkan perahu seisi-isinya. Membuat ombak marah, memerah, amisnya mencemari langit yang begitu biru, begitu damai. Terkadang di antara pemburu yang baik hati tapi tak berdaya itu ada yang mati atau tinggal terkatung-katung berminggu-minggu sebelum terdampar di benua selatan. Sementara untuk menaklukkan kami layaknya seperti mengikuti pesta besar yang pada akhirnya toh akan usai.

    Begini jalannya pesta perburuhan itu. Tempuling yang sudah tertanam di jantung kami di hubungkan dengan leo, tali yang terbuat dari kapas yang dipilin dan disamak, ditambatkan ke sebatang galar di dalam perahu. Sesungguhnya kami adalah makhluk pemasrah. Kami tahu kami tahu kami adalah untuk mereka, para pemburu itu. Tetapi, kami ingin mati terhormat dengan berenang menyongsong laut lepas di mana tiada dosa. Karena kami mengejar kematian ke tengah laut, maka para pemburu itu terseret tali yang menegang, lurus-lurus menuju tepi langit. Sampai kami lemas kehilangan darah dan tenaga, lalu mati.

    Para pemburu itu adalah makhluk yang menertawakan. Yang mereka kerjakan lucu. Mereka tak perlu terjun ke laut sambil menghunus pisau untuk melukai, mencabik-cabik nadi kami supaya darah menyembur lebih deras. Kami akan menemukan kematian kami sendiri demi mereka. Kami tahu, mereka tidak berbakat pembunuh. Ini cuma kesalahpahaman yang sudah berabad-abad. Kami tak pernah dipahami.

    Langit begitu biru. Semburan-semburan air yang melukis dinding langit membuat hati para pengintai di pantai sana berdebur rasa riang bercampur cemas. Apalagi semburan itu tidak tampak tegak lurus mencakar langit, melainkan condong ke depan, membentuk buah pir yang sedang granum-ranumnya. Pertanda bahwa lakonnya adalah kami, kotoklema, dan bahwa pesta akan berlangsung mudah. Tubuh-tubuh manusia terpacak di atas kaki yang tegak gemetaran. Seperti hendak memecahkan urat leher mereka berseru sejadi-jadinya begitu melihat semburan napas kami yang sedang menyingkapkan hari yang baru di laut yang hangat ini. “Baleo…..! Baleo…..!” Jeritan itu secepat libasan angin bersahut-sahutan dalam lengking yang dipantulkan pasir di pantai dan batu cadas yang mendaki tebing-tebing bukit.

    Manisnya hidup ini, kawan. Hari ini 1 Mei, saat mereka yang tak punya apa-apa kecuali darah dan tenaga, menari-nari di semua benua. Sementara di sini, agama menemukan jiwanya yang sejati. Sesaat lalu, di pantai itu berlangsung “misa”, di mana doa bercampur dengan mantra kaum Jahiliah untuk memanggil roh kami. Oh….pekerjaan manusia yang sia-sia! Tuhan terlalu baik. Dia tak usah disembah supaya menghanyutkan kami kemari. Adalah seruan hidup kami untuk sengaja datang dan menyerahkan diri. Bukankah kami lebih kuat dari agama, kalau diingat bahwa agama dikenal penduduk pulau kecil itu hanya karena kecelakaan. Dua pastor, dengan tujuan pulau yang lebih besar terdampar ke sini. Perahu mereka diterjang badai dan gelombang yang mengamuk.

    Misa Lefa di Pantai Lamalera

    Tetapi baiklah kalau “misa” memanggil roh sudah terlanjur diniatkan. Niat selalu suci. Namun, misa itu tetaplah misa yang ganjil. Lihatlah, di situ tak ada gereja. Cuma ada kapel dan altar yang terbuat dari batu gunung yang ditatah, dionggokan dengan rasa hormat di pojok dusun. Lelaki dan perempuan mengenakan sarung dan baju terbaik. Mereka berdiri dengan tertib. Kuping mereka tampak lebih besar yang mereka tadahkan dengan baik-baik, untuk menyimak pastor yang sedang memimpin misa yang digelar di atas pasir di bibir pantai. Di bibir pantai….Pujian setinggi angkasa dan permohonan yang mengiba-iba kepada Roh Kudus diperdengarkan untuk mengundang kami, para paus, yang diharapkan datang bergulung-gulung dalam jumlah yang akan membuat laut menjadi hitam. Mengalun pula doa bagi orang yang meninggal dan hilang dalam perburuan yang ganas tahun kemarin, atau berabad-abad yang silam, agar mereka mendapatkan belaian kasih dan pengampunan Allah di surga.

    Kampung Lamalera

    Ini desa nelayan tiada duanya. Malam-malam terdengar orang mengaji Injil. Kata-kata Ilahiahnya melintasi pintu dan jendela-jendela rumah yang tak pernah ditutup supaya kecipak ikan masuk leluasa. Dan hidup benar-benar terasa duniawi karena dibeberapa sudut tercium aroma tuak dan ceracau mereka yang mabuk.

    “Baleo….! Baleo…..!” Dalam hitungan sekecipak air laut, selusin perahu bercadik meluncur dan dikayuh kuat-kuat. Hati para pemburu itu dikuasai keinginan untuk meratah daging kami, mereguk minyak dan darah kami. Begitu sulitkah sebuah pengertian? Seakan seratus tahun tak pernah cukup untuk memahami bahwa kami melintas di sini untuk memenuhi panggilan penyerahan diri, pengorbanan untuk berlangsungnya hidup mereka di pulau yang kering sengsara. Lamalera!

    Pandanglah si Lamafa, pemegang tempuling yang berdiri di haluan perahu itu. Dia yang segagah itu harus berkelahi menenangkan hatinya yang gentar dan tangannya yang gemetar memegangi tempuling seraya matanya lapar mencari bagian tubuh kami yang paling empuk untuk dirajam. Kalau kami dipahami dengan benar. Kalau saja mereka mengerti bahwa hidup kami memang buat mereka, tak seharusnya hati seorang lamafa adalah campuran kecemasan dan keberanian. Orang semanis dia tak seharusnya menyimpan hasrat membunuh. Sama seperti tidak seharusnya anak-anak kami berniat membunuh kami supaya bisa menyusui di puting susu kami. Kami bukan makhluk yang haus darah sebagaimana manusia di Jawa dan Bali yang memangsa saudaranya sendiri, berpuluh tahun yang lalu, ketika kami sekaum sedang menjelajahi laut selatan. Menjijikan. Ada jenderal yang bangga telah membinaskan orang tak bersenjata, tak bersalah, jutaan jumlahnya. Jung pecah yu yang kenyang, kata peribahasa. Sesudah pembantaian itu, langit pun tahu siapa yang mati kekenyangan.

    Langit semakin biru. Garis pantai terputus-putus terlindung haluan perahu yang menderu, beradu cepat mengejar kami. Para pemburu maju bersama perahu mereka yang begitu sederhana, yang tak pernah berubah sejak ratusan tahun yang lampau sejak kami saling bertemu. Memang, seharusnya seperti itulah. Berangkat dengan doa. Bertolak dengan kesederhanaan. Melaut membawa perut yang hanya sejengkal. Tidah seperti pemburu di daratan lain, yang datang dengan kapal-kapal besi. Tempuling mereka bukan bambu, tapi meriam.

    Setengah mil dari iringan-iringan kami, tempuling pertama sudah dihunjamkan si lamafa sekuat-kuatnya dengan seluruh tubuhnya ikut mencebur ke laut. Mata senjata itu tertancap persis di jantung seguni jantan. Dalam sekejap perahu berputar seligat gasing. Ekor si jantan berkelabat menghantam perut perahu. Ombak membalun. Darah menyebar darah! Tapi, tak aka nada hiu yang punya nyali untuk mendekat karena pemburu itu akan terjun membantu si lamafa dengan membawa duri (pisau) dan menikam hiu yang mendekat. Laut menggelora , gulungan ombak memerah kusumba. Paus pembunuh itu tetap tak rela mati dibunuh. Berputar-putar dia mengitari perahu. Ekornya melibas, menggapai-gapai. Pagi ini, tempuling, duri (pisau panjang) sudah mencabik-cabik tubuhnya, tapi baru menjelang malam nanti darah timpas dari nadinya.

    Di laut sini, jantan menunjukkan kelaki-lakian mereka yang tiada duanya. Mereka memilih mati daripada betinanya yang dibunuh. Di musim kemarin, jantanku sengaja menyerahkan diri, membiarkan jantungnya dirajam tempuling, agar aku dan kaumku bisa meneruskan perjalanan menghanyutkan diri di laut yang hangat ini, aku sudah memohon dia supaya menjauh. Menjauh……Aku percaya, kematianku takkan menyebabkan kepunahan kotoklema. Para pembunuh itu manusia sederhana yang menyambut seruan hidup untuk memuliakan para janda dan si miskin dengan mempersembahkan daging kami kepada mereka. Usus mereka terlalu pendek untuk melenyapkan kami semua. Mereka bukan orang-orang berkulit putih atau kuning, yang memangsa kami bersenjatakan kapal-kapal besi bermesiu di belahan dunia di utara sana.

    Berkelabat aku menikung, semakin jauh dari jantanku. Sekali ekorku berdebur mengepak udara, tubuhku meluncur bearatus meter ke bawah permukaan laut. Ketika aku muncul kembali para pemburu itu terperanjat bukan kepalang melihat ekorku mengegol-egol di buritan. Kuapungkan tubuhku. Dan peledang (perahu) pemburu itu menempel seperti bayi yang mungil di punggungku. Tak ada jerit ketakutan di antara mereka. Bukan karena keberanian, tapi karena adat mengharamkan suara dalam perburuhan.

    “Jangan tikam e…..! Kamu jangan jadi pengecut ……Betina….Jangan bunuh betina! Dia bagus seperti Yesus.” Kudengar seseorang berbicara tertahan. Pasti ada pengkhianat di antara pemburu. Sebab adat melarang mereka melontarkan sepatah kata pun. Dalam perjalanan pulang menghela hasil buruan yang sudah tertambat di sisi perahu, juga tak boleh ada kata. Apalagi menyebutkan daratan seperti Adonara, Larantuka. Bisa bikin perjalanan pulang bakalan lama, sejauh jarak daratan yang disebutkan. Suatu ketika ada yang ngomel: “Apa saya bicara Belanda sehingga kamu orang tidak mengerti?” Gara-gara umpatan itu, pantai seperti Eropa jauhnya.

    Tapi, suara di haluan itu, seruan si lamafa itu, boleh dimaafkan dewa-dewa karena ini memang kejadian luar biasa. Aku, kotoklema, paus berbobot 40 ton sedang menyerahkan diri bulat-bulat. Supaya laut tidak berdarah-darah lagi.

    Langit biru, laut senyap. Di punggungku, perahu dengan delapan pemburu yang berserah diri kencang menjelajah ke pantai. Dengan tertempel di punggungku, muncung perahu deras menyisir ombak ditingkah gemercik air di ujung cadik. Layar yang terbuat dari daun gebang  dibiarkan saja kuncup, tak ada gunanya.

    Dalam tatinganku perahu seisi-isinya tambah menepi. Sekali ekorku melibas, daguku sudah akan mendarat di pasir pantai. Di haluan, kudengar si lamafa mengutuk dirinya dengan kata-kata yang tak bisa kupahami. Dia terisak-isak. Kupikir dia menangis sambil memegangi ujung haluan. Mencium kayu itu, kayu yang beberapa hari sebelum perahu itu melaut, diselimuti dengan anyaman daun lontar, diperlakukan seperti manusia.

    “Anna,” si lamafa memuja. “Maafkan aku. Memang aku membelai pipi Leoni dan sembunyi-sembunyi kasih dia jepitan rambut dari plastik yang selalu dia pakai. Bikin dia senang. Aku lupa sumpah di depan pastor kamu satu-satunya istriku. Sampai mati…..”

    Penduduk desa nelayan itu terdiam, takjub, terkejut, tak percaya melihat aku sendiri yang menghamparkan tubuhku di pasir. Orang-orang mengerumuniku. Menepuk-nepuk perutku yang buat mereka kokoh seperti bukit yang tak bisa dirobohkan. Penuh daging dan lemak, lebih dari cukup untuk lauk mereka setahun. Semua merapat ke tubuhku. Kecuali si lamafa, yang merasa malu karena mata tempulingnya sia-sia. Dia menuntun dirinya menjauh.

    Si lamafa bercerita kepada istrinya tentang jalannya perburuhan yang gagal, tetapi membawa pulang seekor paus sebesar rumah. “Dia kotoklema betina. Seperti kamu. Dia menyerahkan diri. Juga seperti kamu. Dan menuntun kami pulang. Seperti kamu. Aku malu pada kamu Anna……..”

    Anna Margaretha Cuma mengais-ngaiskan kaki di pasir. Matanya haus menatap kerumunan  orang di pantai. Ia kepingin menjamah perut mamalia itu, tanda terima kasih. Bersyukur untuk daging dan lemakku, juga untuk penyerahan diriku yang telah menyadarkan suaminya pada sumpah dan cinta pertama.

                                          **************

    *Catatan: Penulis cerpen ini , Martin Aleida, menulis tentang ikan paus dan Lamalera dengan sangat bagus walaupun beliau belum pernah berkunjung ke Lamalera.

    *Sumber: Buku Kata-kata Membasuh Luka, Penerbit Kompas, 21 Juni 2019

  • Terlahir dari Sunyi

    Terlahir dari Sunyi

    Oleh Paul Budi Kleden

     

     

    “CATATAN SUNYI”, demikian penyair kita memberi judul bagi kumpulan puisinya ini. Mencatat kesunyian, mengeja huruf dari dalam kesunyian. Bagaimanakah itu? Bagaimana relasi sunyi dan kata? Kesunyian, mungkinkah dia disesaki kata? Adakah kesunyian yang dijejali kisah? Sunyi yang dipadati gagasan? Atau, sunyi adalah kelepasan dari kebisingan kata? Adakah sunyi merupakan keheningan dari segala pengertian?Tidakkah sunyi berarti pula tiadanya catatan? Tak ada catatan dalam sunyi?

    Sunyi biasanya berkonotasi pada situasi tanpa suara, tanpa bunyi. Tempat yang sunyi adalah tempat yang jauh keramaian, suasana yang sunyi berarti kondisi tanpa kebisingan. Namun, itukah makna terdalam kesunyian? Memahami kesunyian sebagai situasi tanpa suara berarti menempatkan kesunyian pada wilayah indra pendengaran. Dalam alur berpikir seperti ini, maka sunyi berarti secara sengaja menutup telinga bagi suara atau secara tidak sengaja tidak menangkap sumber bunyi apapun. Namun, agaknya pandangan ini bermasalah. Sebab, apakah pengalaman seseorang yang dapat menutup telinganya di tengah pusat keramaian disebut sebagai kesunyian? Apakah saya sedang mengalami atau mungkin menikmati kesunyian saat memakai penutup telinga untuk menangkal gelombang suara menghantam gendang telingaku sedangkan mata saya tengah terbelalak menyaksikan keramaian orang-orang yang sedang menari? Apakah seorang penjahat buronan disebut sedang berada dalam kesunyian saat dia tinggal jauh dari suara apapun dan sedang hatinya tidak tenang dipenuhi kecemasan kalau-kalau tempat persembunyiannya diketahui?

    Sunyi bukan hanya soal tidak menangkap suara atau kesuksesan memasang kedap suara. Sunyi adalah juga kondisi batin seseorang yang mengambil jarak dari dunia luar. Orang menarik diri dari keramaian untuk berkonsentrasi pada pergumulan dengan diri sendiri. Sunyi adalah jalan menuju diri. Sunyi bukanlah suasana tenang ketika orang tekun mempelajari pikiran orang lain atau menyelesaikan tugas yang diberikan orang. Karena itu, dalam kesunyian orang dihadapkan pada diri sendiri.

    Di dalam kesunyian orang berada dengan dirinya sendiri. Berada dengan diri sendiri dapat mengantar orang ke dalaman diri. Orang merenungi dirinya, menyusuri sejarah dan mengais pengalamannya. Orang akan mengalami sumur dengan dasar tak terduga dan tak kunjung diraih. Rahasia kedirian manusia diselami dan selalu menghadirkan pertanyaan baru.

    Tetapi sunyi dapat pula menjadi penjelajahan fantasi sampai ke tepian semesta. Sunyi membuat orang terbawa dalam gelombang sejarah dan alunan alam. Orang merasa menyatu dengan semesta dan menjadi bagian dari sejarah yang panjang dari umat manusia.

    Sunyi membawa ke kedalaman dan keluasan. Dalam dimensi yang tak terjangkau ini, orang mengalami dilema eksistensi diri manusia. Betapa unik tak tergantikan dan berharganya setiap kehidupan, serentak betapa kecil dan tak berdaya bak buah kelapa yang dipermainkan gelombang samudera raya. Dalam sunyi orang mengalami akunya, serentak kebesaran jagad dan kedahsyatan sejarah yang menempatkan dirinya hanya sebagai sebuah titik kecil yang gampang diabaikan. Maka, dari kesunyian seperti ini Amir Hamzah melahirkan puisinya Nyanyi Sunyi yang terkenal itu: “Sunyi itu duka; sunyi itu kudus; sunyi itu lupa; sunyi itu lampus.” Sunyi mempertemukan orang dengan kepahitan pengalaman dan kegoyahan kehidupan. Ada duka tersimpan di dalamnya. Duka memandang wajah-wajah yang dikasihi dari bening sumur kenangan yang tak dapat digenggam. Pedih mengenang kisah-kisah yang tidak selesai, benang-benang yang rapuh dari relasi yang pernah terjalin. Sunyi adalah duka eksistensi manusia yang memiliki kerinduan tanpa batas di tengah kemungkinan pemenuhan serba terbatas. Tetapi justru di sana sunyi dapat menjadi perjumpaan dengan yang kudus. Orang mengalami persentuhan dengan yang terbatas dan membenam di dalamnya. Pembenanam ini dapat membuat orang lupa. Kenikmatan pada segukan transendensi mengangkat orang ke dalam sebuah dimensi kehidupan yang tak biasa. Sunyi yang membuat orang lupa akan dunianya yang keras dan tak bersahabat. Sebab itu, sunyi dapat memabukkan. Ada pengalaman eskstase dalam kesunyian.

     

     

    Monika N. Arundhati

     

    Penyair kita memberi refleksinya tentang sunyi dalam pengantarnya:“Lantas mengapa berjudul “Catatan Sunyi?” Tak ada alasan lain selain bahwa puis-puisi itu lahir dalam saat-saat sunyi; saat di mana pengembaraan intelektual dan rohani saya berlangsung secara intens. Saya hanya berusaha menuruti kehendak hati, menggali dan mengolah kemungkinan yg ada, hingga yg paling mustahil sekalipun. Di dalam “Catatan Sunyi” ini ada perjalanan panjang seorang petualang, pencarian jati diri yg tak henti-henti. Ada teka-teki kehidupan yg mesti diurai dan dipecahkan. Ada cinta dan kesakitan. Misteri kematian. Rahasia alam dan kepekatan malam, terlebih lagi kerinduan pada sang Khalik.“Lebih lanjut dalam puisinya Catatan Sunyi, penyair kita bersajak,

    Lewati lorong malam,/ membasuh senyap subuh// Dingin//Angin//Sehelai daun jatuh.// Sunyi.

    Dalam Pelabuhan kita baca:

     

    Kutambatkan perahu pada ranting-ranting sujud,

    Menelusuri belantara sunyi untuk menjumpaiMu.

    O, jadilah Kau telaga tanpa dasar,

    Mengganti cintaku yang dangkal dan berbatu.

     

    Kendati dengan refleksi tentang kesunyian seperti ini, pertanyaan kita di atas belum pula terjawab: apakah sunyi adalah pemangkasan kata dan pantang dari semua gagasan?

    Martin Heidegger, filsuf berkebangsaan Jerman abad ke-20 mengatakan, bahasa adalah rumah dari sang ada. Selama kita ada, kita ber-rumah dalam bahasa. Maka, batas bahasa kita adalah batas dunia kita, seperti dikatakan Ludwig Wittgenstein. Duniaku sejauh bahasaku. Dan bahasa berarti pengertian dan kata. Sebagaimana kita tidak dapat terlepas dari dunia melainkan selalu di dalam dan menjadi bagian dari dunia, demikian pun kita tidak pernah terlepas dari bahasa. Duniaku adalah jaringan yang terbuat dari kata. Terlempar ke dalam dunia, demikian Heidegger mengartikan keberadaan manusia, berarti terlempar ke dalam kata. Kita terjerat dalam kata. Sebab itu, juga kesunyian kita tak pernah bebas dari kata. Kita tidak pernah mampu menarik diri dari kata, sebagaimana kita tak bisa keluar dari dunia selama masih hidup. Pandangan ini kemudian dipertegas muridnya, Hans-Georg Gadamer dengan pernyataan terkenal: Tidak ada pengalaman tanpa bahasa.

    Untuk menunjukkan pemahaman tentang dominasi bahasa ini pada bidang sastra, saya kutip permenungan dokter Yurii Zhivago dalam roman besar “Dokter Zhivago” karangan Boris Pasternak (1890-1960). Dokter Zhivago dalam roman karya Pasternak adalah seorang dokter dan sekaligus sastrawan. Petikan yang diambil berikut ini berasal dari pelukisan sebuah malam penuh inspirasi bagi Yurii Zhivago yang terbangun dari tidurnya di samping Lara, kekasih gelapnya, dan Katenka, puteri mereka, untuk menuangkan di atas kertas sejumlah permenungan literarisnya. Adegan di rumah peristirahatan di Varykino itu dilukiskan secara sangat menyentuh perasaan. Pasternak menulis tentang pengalaman kreatif Yurii Zhivago malam itu:

    Setelah menulis dua atau tiga bait yang demikian mudah mengalir dari penanya, dan sesudah menghasilkan sejumlah perbandingan yang membuat dirinya sendiri demikian kagum, dia merasa sungguh dikuasai oleh pekerjaannya. Dia merasa sudah dekat sekali pada apa yang disebut inspirasi. Keterpaduan dari sekian banyak daya yang mengarahkan penulisan yang kreatif muncul dalam benaknya. Yang paling menentukan bukan lagi manusia dengan suasana batinnya yang hendak dituangkannya dalam kata. Yang terpenting kini adalah bahasa, dengannya dia hendak menyingkapkan tabir dirinya. Bahasa, tanah pijakan dan bejana keindahan dan makna, mulai berpikir dan berbicara sendiri untuk manusia dan menjadi laksana musik, bukan sebagai bunyi yang keras, namun bagai alur batiniah yang cepat dan kuat. Bahasa mencuat dalam arus yang mengalir dahsyat, yang dengan gerakannya perlahan melicinkan permukaan batu yang ada di dasarnya, arus yang menggerakkan roda kelincir […] Dalam suasana seperti itu Zhivago merasakan bahwa pekerjaan utama tidak terletak di tangannya, melainkan pada sesuatu yang ada di luar dirinya dan yang menuntunnya, yakni pemikiran dunia dan puisi dunia, masa depannya yang sudah ditentukan terlebih dahulu dan langkah ke depan yang mesti dilaksanakan dalam perkembangan historis­nya.

    Bahasa dapat menjadi semacam alur sungai, dan kita terhanyut dalam alunannya, dibuai olehnya. Bahasa sungguh menjadi Logos, yang memang berarti pikiran dan bahasa mahaluas, yang menjadikan kita percikan-percikan kecil untuk mengungkapkan kehadiran dan pengaruhnya. Tidak jarang kita mengalami kenikmatan, saat kita menemukan sebuah alur berpikir dan berbahasa yang mengalir. Pemikiran kita demikian mudah menemukan bahasanya, dan perasaan kita segera tertuang dalam pilihan kata yang jernih. Kita dapat mengalami kenikmatan itu dalam fantasi atau khayalan, tetapi dapat pula dalam permenungan studi yang serius. Dengan sangat gampang kita menelusuri sebuah persoalan, dan dengan mudah menemukan ruas-ruasnya yang masih tersembunyi, untuk kita angkat dalam kata yang padat makna. Kita mengalami diri sebagai sebuah instrumen pengungkapan diri dari kebenaran.

    Kita boleh saja mengalami dan memahami diri sendiri dalam buaian seperti ini. Namun kalau demikian, di manakah manusia sebagai subjek pengguna bahasa yang bertanggung jawab? Apakah itu bukan berarti kita menciptakan sebuah metasubjek, di belakangnya kita dapat bersembunyi dari kewajiban dan tanggung jawab membahasakan sesuatu? Ketika bahasa menjadi terlalu dominan, dia menjadi tameng perlindungan bagi manusia untuk menyembunyikan diri dari kewajiban bertanggung jawab sebagai subjek. Dominasi bahasa dapat beralih menjadi dominasi tradisi dan masyarakat, dominasi pola pikir arus utama dan budaya. Lalu manusia hanya menjadi elemennya tanpa daya dan tanggung jawab. Kesunyian dalam pandangan ini berarti masuk ke dalam jaringan kata yang sudah tertenun tradisi dan budaya. Sunyi dipadati kata, dia bukan lagi pengalaman keunikan diri, melainkan pintu masuk ke gerakan jagad dan alur sejarah yang berada di luar kontrol kita. Manusia hanya menjadi produk sejarah dan serpihan universum.

    Namun, pandangan seperti ini mengabaikan dimensi lain dari manusia sebagai pelaku sejarah dan individu khas. Kita bukan hanya bagian dari sejarah dan alam. Kita adalah juga makhluk independen yang dapat mengambil jarak terhadap apa yang terjadi dalam alam dan sejarah. Oleh kebebasan yang dimiliki yang tercermin dalam kesanggupan berkehendak dan berpikir kita dapat memutuskan mata rantai terhadap sejarah dan melakukan sesuatu terhadap alam.

    Pereduksian pengalaman ke dalam pembahasaan sebagaimana diusung dalam pandangan terdahulu tampaknya mempermiskin dunia manusia. Dunia kita bukan hanya bahasa kita dan gagasan-gagasan yang dirumuskan. Dunia kita adalah pengalaman kita, dan pengalaman sudah selalu dapat dibahasakan, tidak selalu menjadi bagian dari keluasan alam dan sejarah. Ada pengalaman amat pribadi yang tak terkatakan. Pengalaman pra-bahasa yang tersimpan sebagai gudang kekayaan setiap pribadi. Jika duniaku hanyalah bahasaku, apakah dunia bayi dalam rahim ibu? Sementara psikologi modern mengajarkan kita betapa pengalaman tanpa kata tersebut mempunyai pengaruh terhadap pembentukan kepribadian seseorang.

    Ada yang tidak terkatakan, tak terbahasakan. Ada kesunyian yang kosong kata dan bebas pengertian, kesunyian tanpa rumusan. Setelah memberikan ulasan menarik tentang bahasa dalam Tractatus, Ludwig Wittgenstein mengatakan:“Wovon man nicht reden kann, darüber soll man schweigen” (orang harus diam tentang apa yang orang tidak dapat bicarakan). Memang orang masih saja berdebat, apakah sikap diam yang dituntut oleh Wittgenstein itu sikap diam seorang ateis, agnostik, seorang positivis atau seorang teis, entahkah itu sebuah sikap diam tentang ketiadaan atau sebuah kediaman di hadapan Yang Tak Terungkapkan, Yang Mistis. Namun, kalau membaca buku harian rahasia yang ditulisnya bersamaan dengan penulisan Tractatus dan baru diterbitkan kemudian (1961), akan terungkap apa yang dimaksudkan Wittgenstein. Di dalam buku harian itu filsuf ini mendokumentasikan penderitaannya tersebab oleh kebiadaban perang, situasi sulit di front, pergolakan batinnya, kecemasannya terhadap kematian, doanya untuk mendapatkan Roh, untuk mengalami Allah. Menjadi jelas bahwa Wittgenstein, dalam buku hariannya, bergulat pada tapal batas kemungkinan bahasa yang dibayangkannya sendiri dan merasa harus berbicara. Dia menulis: “noch immer kann ich das eine erlösende Wort nicht aussprechen” (Aku belum juga sanggup mengungkapkan kata yang menyelamatkan itu). Itu berarti, ada kata penyelamat, namun kata tersebut belum bisa diungkapkan. Sikap diam Wittgenstein bukanlah diamnya seorang ateis, melainkan sikap diam seorang pemikir yang beriman dan berharap. Ada yang tak terkatakan, ada yang hanya bisa diakui sebagai rahasia.

    Saya sering mengutip kata-kata Friedrich Duerrenmatt, sastrawan Swiss yang mengatakan,“Seluruh karya seniku adalah sebuah upaya tanpa akhir untuk mengungkapkan visi yang kuperoleh.”Namun visi itu bukanlah sebuah rumusan yang jelas, dia lebih merupakan sebuah kerinduan yang tidak selalu terungkap dalam kata. Sebab itu, seluruh biografi seninya adalah usaha untuk mencari dan merangkai kata, mengkreasi figur dan menyusun alur kisah, untuk mengungkapkan apa yang tersimpan di dalam kerinduannya. Dan setiap kali dia menyadari bahwa kata, figur dan kisah yang ditampilkan selalu lebih miskin dari apa yang tersimpan sebagai visinya. Pada mulanya adalah kerinduan tanpa kata, dan kerinduan itu dialami dalam kesunyian, dan selanjutnya penyair mencari kata untuk membahasakan kerinduan itu.

    Jika yang tersimpan sebagai kerinduan bagi dunia dan cita-cita bagi diri selalu lebih kaya dari kata yang dirumuskan, apakah kita memerlukan mukzijat perbanyakan kata untuk mengenyangkan kerinduan tersebut?

    Yang diperlukan bukan perbanyakan kata, melainkan puisi sebagai catatan kesunyian. Yang kita butuhkan adalah mukjizat perbanyakan sunyi untuk melahirkan dan membaca puisi. Puisi mengandalkan diksi dan majas, kekuatan kata untuk menimbulkan imajinasi. Sebab itu, puisi lahir sunyi dan akan membawa kepada sunyi. Puisi adalah catatan sunyi dan mengirim orang kembali ke sunyi. Sebab itu, saya yakin, puisi hanya dapat dinikmati orang-orang yang berani mengalami kesunyian. Dalam Sajak Untuk Tuhan Leo Kleden menulis, “Pada mulanya adalah Sunyi dan Sunyi itu melahirkan Kata dan Kata menciptakan alam semesta dan alam semesta menyanyikan madah. Dan semua madah kembali ke Sunyi di baris terakhir semua puisi. Tapi tak pernah seorang penyair berhasil menulis bait itu.“ Ada sunyi di bait terakhir semua puisi. Penyair, pun pembaca, akan dibawa ke dalam sunyi, tanpa pernah sanggup menulis dan membacanya secara tuntas.

    Dan dalam sunyi itu ada kontinuitas dan diskontinuitas, ada pengalaman menjadi bagian dari alam dan sejarah, serentak ada pengalaman akan keunikan diri, tak tergantikan dalam arus sejarah dan luasnya alam. Di atas kita katakan, sunyi membawa kepada kedalaman diri dan keluasan jagad serta sejarah.

    Mengalami ketaktergantikan diri dan arus sejarah serta alam berarti mengantar orang untuk menerima dan mengalami aku-nya yang solider. Setiap orang ini otonom, mempunyai hak untuk memberi kepada dirinya sendiri nomos, aturannya, untuk mengejar apa yang disebutnya sebagai cita dan karsa. Namun, setiap makhluk adalah pula serentak solidaritas, dalam ikatan yang menghidupkan dengan yang lain, entah sejarah pun alam.

    Sunyi mempertemukan orang dengan diri dan membawanya bersentuhan dengan yang tanpa batas, apapun nama yang hendak diberikan orang untuknya. Orang yang beragama melukiskannya sebagai Tuhan, yang lain menggunakan visi atau gambar kerinduan tanpa batas untuk mendeskripsikannya. Bagi yang beragama, Alfred North Whitehead pernah berkata, “Jika engkau takut terhadap sunyi, engkau tidak pernah dapat sungguh-sungguh menjadi manusia beriman.“ Beriman bukan pertama-tama soal bergerombolan memekikkan nama Tuhan, memadahkan pujian dan meneriakkan permohonan. Beriman pertama-tama adalah kesanggupan masuk dan bertahan dalam sunyi, mengalami keunikan diri yang selalu berarti kerapuhannya karena terentang antara ada dan ketiadaan, dan mengalami keluasan jagad dan sejarah.

    Ungkapan ini sejalan dengan pernyataan Karl Rahner, teolog Jerman terkemuka abad ke-20 tentang orang Kristen, yang hemat saya dapat diterapkan untuk para penganut agama manapun: Orang beriman masa ini harus merupakan seorang mistikus, atau tidak menjadi orang beriman sama sekali. Orang harus tumbuh sebagai individu yang beriman dan mempunyai kesadaran pribadi dan rasa percaya diri yang sehat. Orang beriman yang tidak takut akan kesunyian ini adalah manusia yang tidak menggadaikan nuraninya pada orang lain dan akalnya pada sebuah lembaga, orang yang sanggup menanggapi berbagai tawaran dan kemungkinan yang disampaikan kepadanya.

    Membaca puisi-puisi Monika N Arundhati dalam kumpulan ini bagi saya merupakan sebuah kenikmatan dalam sunyi. Dia membawa ke dalam sunyi yang menghadapkan pada diri dan melarutkan dalam arus sejarah dan keluasan alam. Penyair ini, seperti ditulisnya sendiri, memang tidak takut mengalami kesunyian, sebab dalam sunyi gagasan dan rasanya dipertajam dan disemai jadi matang. Ya, matang, itulah ungkapan yang tepat untuk mencirikan analogi-analogi cerdas yang ditemukan dan digunakannya. Dapat dibayangkan, puisi-puisi ini lahir dari kreativitas yang diberi ruang untuk berproses.

    Kesunyian tampaknya membawa penyair membaca alam sebagai analogi bagi perjumpaan dengan manusia, permenungan tentang hidup, dan kenangan akan mereka yang dikasihi. Dalam sajak Narasi Amplop Hitam kita baca, “Luka-duka kau simpan hingga membangkai di sudut jiwa. Gelap jalanku menjelma embun yang gugur dari matamu sebelum fajar.” Seorang anak yang mengenang bunda yang telah meninggal, yang tak membongkar dan memaklumkan luka dukanya melalui pengeras suara, perempuan yang memendam sendiri kebingungan melihat jalan hidup anaknya yang tak dipahaminya, yang dikonotasikan  dengan gelap.

    Dalam sajak Inkarnasi kita temukan sebuah analogi alam tentang penjelmaan wujud dengan sebuah akhir berupa pembalikan yang sarkastis. Setelah melukiskan pandangan yang dituturkan leluhur tentang jiwa yang hidup lagi dalam kupu-kupu yang mesti dihormati, penyair menulis: “Waktu terus berlalu. Aku terus tua dan menjelma kupu-kupu. Terbang mengitari rumah tanpa pernah dihiraukan.” Dalam bait ini terungkap hakikat hidup sebagai momentum kontinuitas dan diskontinuitas. Kontinuitas kebenaran tradisi yang ditemurunkan dalam kisah, kemudian menemukan patahannya dalam diri yang harus mengalami sebuah anomali. Tidak demikian kasusnya seperti yang dituturkan dalam kisah.

    Puisi yang cerdas sering menampilkan kejutan pada bait terakhir, yang kemudian membawa kita ke dalam sunyi. Orang disuguhkan dengan pernyataan yang tidak dibayangkan sebelumnya dan karena itu orang diundang untuk berkhayal panjang dan tunduk merenung. Ketrampilan seperti ini tampaknya dikuasai dengan baik penyair kita. Salah satunya adalah puisi Lelaki Kayu, yang saya kutip sepenuhnya di sini.

     

    Lelaki Kayu

    Ialah lelaki yang terpahat dari batang jati terkokoh

    dengan wangi cendana.

    Tubuhnya berukirkan tatapan teduh, senyum damai

    juga hati penuh belaskasih.

    Ia adalah lelaki yang dipelitur

    dengan campuran tiner cinta

    dan sekaleng penuh vernis ketulusan.

    Tangan kanannya menggenggam palu,

    anggrek di tangan kirinya.

    Ia menjunjung langit dan memeluk bumi.

    Lelaki itu Bapak.

     

    Ketajaman pelukisan seperti ini, hemat saya, hanya mungkin lahir dari penyair yang tidak takut akan kesunyian, yang mengalami kesunyian baik sebagai penyelaman ke dalam jaringan kata yang menenun ruang keberadaan, maupun kesunyian yang kosong bahasa. Dalam kesunyian mengamati dan mengenang lelaki itu, lalu muncul dari kesunyian itu berbagai analogi cerdas. Puisi-puisi ini hanya dapat dinikmati apabila orang mengambil waktu untuknya. Mereka terlahir dari sunyi, dan mengantar kepada sunyi.

     

    —————————————————–

     

    Sumber Tulisan: Pengantar Buku Puisi Catatan Sunyi, Karya Monika N. Arundhati

     

     

     

  • “Pangeran dari Timur”, Narasi Sastra dan Tafsir Rupa

    “Pangeran dari Timur”, Narasi Sastra dan Tafsir Rupa

    BELAKANGAN ini karya-karya sastra Indonesia tumbuh cukup subur. Munculnya karya-karya sastra tidak hanya menggembirakan dunia sastra namun juga dunia ilmu sosial yang mulai melirik sastra setelah jenuh dengan positivisme. Ilmu sejarah juga mulai mencari bentuknya dengan cara penulisan sejarah yang lebih memikat. Novel Pangeran dari Timur yang ditulis oleh Iksaka Banu dan Kurnia Effendi adalah salah satu cara sastrawan menulis sejarah dengan cara sastrawi. Bertempat di Museum Bank Indonesia, Jln. Pintu Besar Utara No. 3,  Sabtu, 14 Maret 2020 novel ini diluncurkan. Tampil sebagai pembicara dalam acara peluncuran itu adalah Iksaka Banu dan Kurnia Effendi, penulis novel Pangeran dari Timur. Yang menarik dari acara peluncuran novel ini adalah sesi action painting. Ini adalah sebuah sesi dimana bagian novel ini dibacakan disertai coretan lukisan yang dibuat oleh pelukis Widi S. Martodihardjo. Sambil mendengarkan narasi penggalan novel Pangeran dari Timur, yang dinarasikan oleh Nana Riskhi Susanti, Widi, pelukis dari Bali itu mencoba menangkap pesan cerita dan menuangkannya di atas kanvas.

    Ket. Foto: Pelukis Widi S. Martodihardjo sedang menuangkan di atas kanvas ide yang ditangkap dari narasi novel “Pangeran dari Timur”

    Dari Sayembara Skenario Film hingga Beasiswa ke Negeri Belanda

    Penulisan novel ini bermula dari sebuah sayembara skenario film tentang Raden Saleh yang diadakan oleh sebuah majalah wanita. Ketika itu Iksaka Banu dan Kurnia Effendi berniat mengikuti lomba tersebut. Rintangan pertama yang mereka temui adalah tidak adanya buku referensi tentang Raden Saleh. Gairah untuk menulis Raden Saleh muncul lagi saat Banu dan Effendi berbelanja buku murah di Teater Utan Kayu. Pada saat itu mereka mendapatkan sebuah buku tipis yang mengulas tentang Raden Saleh. Pada tahun itu mereka juga terpukau oleh gaya tulisan Alan Lightman dalam novel Mimpi-Mimpi Einstein yang diterjemahkan oleh Yusi Avianto Pareanom, diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Cara Alan bertutur sungguh filmis. Hal itu memicu awal penulisan sepenggal kisah mengenai Raden Saleh, maestro pelukis yang – ndilalah– menempati posisi ambigu dalam silang pendapat, baik dari kritikus seni rupa maupun pengamat nasionalisme.

    Ket. Foto: Novel “Pangeran dari Timur”

    Kerja keras untuk menggarap novel ini dilanjutkan dengan pasang surutnya semangat Banu dan Effendi. Bila ada diskusi, pameran, perhelatan yang terkait dengan Raden Saleh, Banu dan Effendi berusaha mengikuti acara-acara itu guna menambah informasi. Seluruh indra mereka kembangkan untuk mengendus, mengintai, mencari buku-buku, mailing list yang berhubungan dengan tokoh Raden Saleh.

    Tahun 2017, adalah tahun ‘berkat’ bagi penulisan novel itu. Salah satu penulis novelnya, Kurnia Effendi, mendaftarkan diri sebagai calon peserta reseidensi penulis di luar negeri. Negeri Belanda dipilih sebagai tempat risetnya dengan tujuan ingin napak tilas Raden Saleh agar tidak ada alasan lagi bagi tertundanya penulisan novel yang sudah belasan tahun tak kunjung rampung. Proposal akhirnya disetujui oleh Komite Buku Nasional sehingga beasiswa unggulan dari Kemendikbud menjadi bekal residensi selama dua bulan di Belanda. Selama di Belanda Kurnia Effendi dengan sungguh-sungguh mengunjungi setiap tempat dan mencatat informasi  yang berhubungan dengan Raden Saleh.

    Kegelisahan Banu dan Effendi berikutnya adalah bagaimana cara menempatkan Raden Saleh sebagai sosok yang mereka kagumi (mungkin karena sama-sama penghamba seni rupa) tetapi dari sisi patriotisme, perjalanan hidupnya justru mendapat privilese dari pihak yang sedang menginjak-injak harga diri bangsanya. Banu dan Effendi akhirnya menemukan cara untuk meramu ‘kontroversi’ tentang Raden Saleh. Plot untuk penulisan novel Raden Salah menemukan titik terangnya. Penulisan novel ini di bagi dalam dua arus zaman: abad ke-19 (masa kehidupan Raden Saleh) dan abad ke-20 (masa pergerakan menjelang kemerdekaan Indonesia).

    Siapakah Raden Saleh?

    Raden Salah Syarif Boestaman lahir di Terboyo, Semarang, tahun 1811. Raden Saleh dilahirkan dalam sebuah keluarga Jawa-Arab dari pasangan Sayyid Hoesan bin Alwi bin Awal bin Yahya dan Mas Adjeng Zarip Hoesen. Ketika berusia 10 tahun, Raden Saleh diserahkan kepada pamannya Kyai Adipati Soero Menggolo, yang saat itu menjabat sebagai Bupati Semarang. Pamannya merupakan salah satu anggota Javaansch Weldadig Genootschap (masyarakat filantropi), yang sebagian besar anggotanya adalah pejabat Belanda.

    Keramahan Raden Saleh dalam bergaul memudahkannya masuk dalam lingkungan orang-orang Belanda. Ia diterima bekerja di Lembaga Pusat Penelitian Pengetahuan dan Kesenian Bogor. Di lembaga itu ia bertemu dengan Antonie Auguste Joseph Payen, seorang pelukis keturunan Belgia yang ditugaskan pemerintah kolonial untuk melukis pemandangan alam di Hindia Belanda untuk hiasan kantor Departemen van Kolonieen Belanda. Raden Saleh belajar melukis pada Payen.

    Foto Raden Saleh

    Ketika Payen harus kembali ke Eropa pada 1825, Raden Saleh sudah menjadi bagian dari keluarga Jean Baptise de Linge, seorang akuntan di Direktorat Keuangan. Ketika de Linge diperintahkan untuk melakukan perjalanan ke Belanda, pada saat itu Raden Saleh ikut bersama mereka. Setelah tugas selesai, ketika de Linge bertolak dari Belanda, Raden Saleh justru memutuskan untuk tinggal dan belajar lebih lama di Belanda. Di Belanda ia belajar melukis potret pada Cornelis Kruseman. Raden Saleh juga belajar melukis pemandangan kepada Andries Schelfhout. Dari Belanda Raden Salaeh terus mengembara ke Eropa.

    Pada 1851 Raden Saleh kembali dari Eropa ke Hindia Belanda. Raden Saleh menikah dengan Constancia sekitar tahun 1855 dan tinggal di Kampung Gunung Sahari di utara kota. Raden Saleh kemudian bercerai dan menikah lagi dengan Raden Ayu Danoediredjo, seorang gadis keluarga ningrat dari Keraton Yogya. Raden Saleh meninggal dunia pada 23 April 1880 dan di makamkan di TPU Bondongan, Bogor.

    Menulis novel Pangeran dari Timur, membutuhkan waktu yang cukup panjang, sekitar 20 tahun, tutur Iksaka Banu dan Kurnia Effendi. Namun harus diakui, buku setebal 593 halaman ini merupakan sebuah sumbangan besar bagi dunia sastra dan perbukuan di Indonesia. Manusia sudah menjadi makhluk bersastra sejak bayi, melalui kidung yang disenandungkan oleh ibu. Makluk kecil itu lalu belajar menjadi makhluk pencerita. Manusia adalah homo fabulator (makhluk pencerita), tulis Ben Okri dalam bukunya A Way of Being Free. Cerita itu kini kita nikmati dalam novel Pangeran dari Timur.

    Paskalis Bataona