Category: SASTRA

  • – Rindu Klaten – Putus – Esensi Cinta – Dentang Keduabelas -, Sajak-sajak Faustina Hanna

     

    Rindu Klaten

       : Live In SMU Bunda Hati Kudus, 2004

    Setumpuk cahaya kunang-kunang membentuk telapak tangan seorang gadis kecil. Ketiga garis utama di telapak tangannya itu membentangkan jalan; menuju lahan persawahan, menuju api pengkhotbah santo antonius padua yang tiada pernah padam, dan menuju cangkir-cangkir bening tempat bulan berendam di atap rumah penduduk.

    Aku menyusutkan diri, hendak bertualang di sepanjang garis tangan yang bercabang. Kurindu hingga kuresapi bau matahari yang itu, yang hangatnya mengasihi rerumputan, gembala bebek di tepi sawah, pengairan yang diusahakan bapak. Petikan gitar malam hari, anjing-anjing hitam bergantian mendengkur dan terjaga di tepi lapangan bola.

    Kurindu, berkali-kali ingin kembali.

    2017

    ——————————————————————

    Putus

    pada saat seorang perempuan memutuskan untuk menghapus, atau pun memelihara sebuah perapian cinta; saya rasa dasar dari cinta itu sendiri tetaplah tentang suatu keindahan. semacam getar, serupa bola mata biru besar yang tengah membidik, diam-diam. pada detak polos jarum jam yang basah bermain hujan, di atas telapak tangan seorang perempuan berambut lurus panjang. bersiagalah, sebab jantung yang nakal senang menjalarkan permainan berburu anak-anak tangga yang sedemikian kencang, ke sepanjang nadi, juga tentang jarum nasib yang tak pernah lupa menghujani telapak tangan mereka (ketika mereka merasa begitu genting dengan arus cinta).

    lalu dapat kupastikan: kau bakal rela menerima dan menyambut terbuka kedatanganku, yang tidak terlampau dini ini, yang mungkin diriku sendiri telah telanjur amat menyukai pisau pengerat arus, yang kubeli seminggu lalu ini, juga pemberhentian hatimu yang selalu sembarang dan tiba-tiba

    2012

    ———————————————————————

    Esensi Cinta

    kumohon, jangan pernah terlintas sepagi ini akan secangkir gurauan, ketika aku berucap sedemikian lembut pada-Mu; aku telah memangkas sembilan puluh sembilan malam berkantung api −ari api− dengan hutan kirmizi yang berkecamuk di dalamnya, yang rimbun bertarung sebagai calon pengantinku. kala itu pastilah aku tengah telaten mengasuh harum dari gaharu, hingga dupa. sepenuhnya, aku berjanji takkan pernah sembunyi seperti simpul bibir pada akar-akar lupa. tahukah Engkau? (aku selalu mencari-cari Engkau…)

    lalu aku mengunci pintu dari dalam −kulepaskan sepasang mata ini, hati tunggal yang penurut, serta kutegur tegas napas-napas jernih yang masih sibuk menggerai rambut. melalui jendela kamar kuterbangkannya (satu per satu) kepada-Mu Yang MahaKudus di atas sana. ke tempat indah yang begitu mulia, dan rahasia.

    sepagi ini, ya Tuhan… (alam adalah simbol diri yang akrab untuk memulai hari). mentari pun rembulan senantiasa meneruskan kandung musim dari kidung-kidung sahaja yang telah Kau pilih. izinkanlah aku: untuk selalu menjadi satu malam klimis yang bersimpuh dalam hening kasih-Mu, abadi cinta-Mu

    2012

    ———————————————————————

    Dentang  Keduabelas
    : kerinduan kepada penyairku

    /masihkah ingat dengan rambut hitam ini, tempat kau biasa membaringkan sajaksajakmu/

    satu…
    satu…
    dan satu yang kemudian menjagai bulibuli pada dasar sepi

    lalang berpatahan
    surut dalam mimpinya melengkapi langit, serupa setumpuk nasib antre untuk dimasak di benua sendiri
    jika harum tanah terlebih aku damba dibanding kepundan yang rapi berdandan
    akankah merah menjadi penghibur bagi kesekian jariku yang berduri

    jangan dulu memejam hai nisannisan yang letih tertawa
    masih ada darah dan duka mengumandangkan nama kita
    tidakkah kamu lihat
    tatkala aku menuju kamu
    menagih luka itu

    di antara dangkal ruparupanya ada yang terlupa
    adalah detik bersuara melantunkan duka yang kedua
    sayang, dengarlah
    kala kita urung bermuara, kemudian sekiranya kita hadir bagai lencana pada sepanjang dada imaji yang merekah

    lidah puisi karam menuju tilam yang kusebut kusam
    tersebab ada jarak teramat pekat ~menyangsikan sepenuhnya bintik purnama yang merindui genggaman alam
    : masihkah kita berkutat dengan skema hati yang terbengkalai di tahuntahun silam?

    mengapa tiada lelah kita merangkum malam menjadi beranda kata yang sungkan
    sedang gunting diam dibungkam rembulan
    dan inti setiap patahan kepalang diungsikan dengan isak tangis di lembar tertua
    : segala ketajaman masih mencari air mata yang baru
    di mana kembara tak hendak bercerita tentang pulau sendu yang menimangi anakanak randu

    sekadar mengulum suatu kepastian untuk laut jemu yang kau sajikan kemarau lalu
    aku memunguti bebutiran birunya ~sederhana dari lingkar kesabaran yang kau biarkan terbengkalai
    kini kurangkai berbekal hati,
    kujadikan mata pagi yang sungguh berhatihati
    (memandangimu di seberang sana)

    sebelum mentari segera merapat dan cemburu kepada dua tiga baris suara sederhana
    ada baiknya kita menyusun agenda tentang setiap perjalanan rasa, meski tak sempat terbaca
    kita bukan sejarah yang menghadirkan langit biar terkenang
    atau rindu berulang tengah dikubur di ladangladang usang
    hanyalah penghuni sementara -menumpuk di pelabuhan hujan-

    hujan… ya, hujan masih saja dibentuk dari gerimis syair yang gerutu
    belum lagi angkaangka terencana tengah menggandakan jeruji mati di atas jam yang berdiri
    ; kau membuatku mengantarkan dentang keduabelas kepada inspirasi sunyi

    03/2012

    ============================================

     

      Tentang  Penulis

    Faustina Hanna, lahir di Jakarta, 5 April 1987. Penikmat seni dan budaya. Sehari-hari bekerja sebagai karyawan perusahaan swasta di Jakarta, aktif menulis puisi, freelance Graphic Design, dan menekuni dunia kuliner Nusantara. Sajak-sajaknya terbit di Republika, Media Indonesia, Jurnal Nasional, BWCF (Borobudur Writers & Cultural Festival), Pikiran Rakyat, Minggu Pagi, Banjarmasin Post, Rakyat Sultra, Lombok Post, Bali Post, Tribun Bali, Pos Kupang, Radar Cirebon, Radar Lampung, Radar Mojokerto.

    Beberapa sajaknya terhimpun dalam antologi bersama Kutukan Negeri Rantau (Forum Sastra Bumi Pertiwi, 2011), Jembatan Sajadah, Kabar dari Negeri Seberang (UmaHaju Publisher, 2012), Kursi Tanpa Takhta (Writing Revolution, 2012), Berbagi Kasih (Penerbit Sahabat Kata, 2012), Antologi Bersama Lomba Cipta Puisi Nasional Komunitas Kopi Andalas (2012), Nostalgia Filantropi Tiada Terbalaskan (Penerbit Jendela Sastra Indonesia, 2020). Turut bergabung dalam Komunitas Penulis Katolik Deo Gratias (KPKDG).

    Menjuarai lomba penulisan puisi, di antaranya: Juara 3 Sajak TKI (UmaHaju Publisher, 2012), Juara Harapan 1 “Ekspresikan Dirimu dengan Puisi” (Writing Revolution, 2012). Pernah menempuh pendidikan Desain Komunikasi Visual di Bina Nusantara Center, Jakarta dan berencana melanjutkan studi ke Jurusan Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

     

     

     

     

  • – Kasihku – Kesendirian Ini – Kidung Sunyi – Goresan Senja – Dalam Jiwa -,  Puisi – puisi Tifani Pudyasti

    – Kasihku – Kesendirian Ini – Kidung Sunyi – Goresan Senja – Dalam Jiwa -, Puisi – puisi Tifani Pudyasti

     

    Kasihku

    Fajar mulai menampakkan rupanya
    Tetes-tetes embun perlahan memudar
    Sang rembulan perlahan menghilang
    Tampaklah bahwa dunia akan di mulai

    Namun aku tidak rela!
    Jika mawarku harus menangis
    Tiap-tiap tetesanya menandakan luka
    Dalam jiwa yang rapuh dan gugur

    Kekosongan menyorot tajam mata tuanya
    Bungaku menaruh besar harapan kepadaku
    Tak mungkin aku biarkan batinnya teriris
    Dan juga memudarkan senyumannya

    Ku menangis jika bungaku pergi
    Mendahului anak kelopaknya ini
    Beribu doa selalu mengiringimu
    mawarku yang selalu rupawan

    Perlahan langit berubah menjadi jingga
    Kicau burung pun mulai menghilang
    Suara sepoi angin semakin menjauh
    Dan bungaku mulai kembali tenang

    Yogyakarta, 15 September 2021

    ————————————————————————-

     

    Kesendirian Ini

    Aku ingin mengadu pada malam jika ragaku kini terkikis
    Aku risau dengan kesepian ini
    Ku merasa sepi walaupun keramaian ini tak berujung
    Menampar mimpi yang lama terpendam

    Meski hatimu beku tetapi tetap menghangatkan jiwaku
    Senyummu bagaikan kesengsaraan yang diunjukkannya
    Melawan kerasnya baja hingga melebur seperti kapas
    Tidakkah sempat mengangkat jiwa-jiwa yang rapuh

    Hingga batin ini terlampau tumpul untuk terbuka
    Nyawa ini seperti tinta hitam yang perlahan memutih
    Angin malam memeluk erat dalam kesendirian ini
    Sunyi senyap tidak terlihat adanya deru bising

    Sang raja malam bersatu bersama dewi bintang
    Demi paripurnanya sangkala menuju fajar
    Wahai engkau sang pemilik kasih
    Sampaikan rinduku pada pujaan hati

    Yogyakarta, 20 September 2021

    ———————————————————————-

     

    Kidung Sunyi

    Kususuri lorong perjalanan panjang itu
    Dengan kehampaan diri ini
    Angin malam menyapa seorang permata
    Permata yang sudah meredupkan binarnya

    Tidak ada lagi raut kebinarannya
    Yang terlihat hanyalah beban dalam derita
    Mematahkan seliweran dalam pikir
    Benak kosong yang mengikuti

    Apakah celoteh itu akan hilang?
    Dipenghujung malam yang malang
    Terselip rindu di sela samar kabut
    Beriramakan kesetiaan senandung tirta

    Sepasang mata ini masih setia
    Mengharap permata bertemu sang dewa
    Samudera kelabu membumbung di cakrawala
    Penghalang tuk memadu kasih

    Yogyakarta, 8 Oktober 2021

    ———————————————————————-

     

    Goresan Senja

    Senja adalah candu bagi sang pujangga
    Candunya selalu menenangkan hati
    Mengobati rapuhnya diri ini
    Hingga tak terasa lagi

    Senja adalah obat bagi goresan hati
    Pelipur segala luka lara
    Menjelma menjadi coretan tinta kehidupan
    Yang bayangnya hampir tak terlihat

    Senja adalah segala penenang tuk jiwa yang rapuh
    Menenangkan segala suasana menjadi senyap
    Menata segala cerita dan kisah dalam jiwa
    Meredakan atensi kehidupan yang membara ini

    Senja adalah luapan emosi yang terpendam
    Disertai dengan bisikan angin yang masuk ke dalam jiwa
    Membuatku merasakan dekapannya
    Senja selalu membuat merindu

    Yogyakarta, 12 November 2021

    ————————————————————-

     

    Dalam Jiwa

    Dalam kegelapan sang rembulan
    Cahaya putih mulai memperlihatkan
    Seseorang yang selama ini kurindukan
    Menapakkan kakinya menyusuri dunia fana

    Perasaan ini membara berkobar
    Seperti ada percikan api
    Perlahan bara itu semakin terasa
    Mengalahkan datangnya sang dewi malam

    Para pujangga menantikan datangnya sang bintang
    Dewi malam penuh gemerlap seakan mendukung
    Adanya rasa mendambakan sang kasih
    Tidakkah ingin kita berjumpa, walau hanya sekejap

    Ku tatap netra itu
    Seakan ingin mengajakku mendekat
    Gejolak rasa semakin menggelora jiwa ini
    Tak tertahankan hingga nadi berdenyut cepat

    Yogyakarta, 12 September 2021

     

    ===================================================

     

    Biodata Penulis

    Tifani Pudyasti, kelahirannya bertepatan dengan hujan bulan Januari, tepatnya tahun 2002. Saat ini statusnya masih sebagai mahasiswa semester III prodi Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma. Senja dan kopi merupakan perpaduan yang tepat baginya. Tidak ada kata terlambat dalam kamusnya, yang ada hanyalah menunggu waktu saja. Masih berusaha menyesuaikan diri dengan kehidupan dewasa ini dan tak pernah menyiakan kesempatan.

  • – Ratapan Malam Ini – Bisik Harap Para Dinda: Korban Jugun Ianfu – Malam Sunyi – Raga Tak Sendiri -,  Sajak-sajak Benita Reggy

    – Ratapan Malam Ini – Bisik Harap Para Dinda: Korban Jugun Ianfu – Malam Sunyi – Raga Tak Sendiri -, Sajak-sajak Benita Reggy

     

    Ratapan Malam Ini

    Malam ini adalah malam yang berbeda.
    Udara dingin terasa tembus menujam.
    Jantungku berlari kencang
    Badan gemetar genggam tangan tak berdaya.

    Ringkuk badanku mencari kehangatan
    Tanpa kulepas genggam itu.
    Coba tenangkan diri
    Namun, takut entah mengapa sangat besar.

    Sorak demi sorak terus terdengar.
    Batin berteriak,
    Tapi mulut terkatup isak.
    Aku harus bagaimana?

    Semakin tahan isakan,
    Semakin sesak dada.
    Wajah basah buliran air
    Terasa keringat yang terus terjun.

    Telinga rasa berdenging
    Olokan-olokan tiada henti.
    Ingin menerkam BERHENTI
    Lagi dan lagi tidak sampai ujung bibir.

    Aku bingung.
    Aku takut.
    Raga memang disini,
    Tapi jiwa seakan melayang mencari lindung.
    Mata terus menatap bawah
    Melihatnya tidak bernyawa.
    Dengan tak hentinya harap,
    Ada secuil belas kasih lewat.

    Yogyakarta, 4 September 2021

    ————————————————————

    Bisik Harap Para Dinda: Korban Jugun Ianfu

    Fajar kali ini sangat berbeda,
    Seakan sambut tuk mulai cerita.
    Biru langit manjakan mata.
    Telihat kelopak kecil didukung semesta.

    Dinda sang bunga Krisan.
    Perlahan merekah memberi jutaan impian.
    Langkah kepercayaan serta keyakinan dimantapkan.
    Hingga terbayang esok akan menjadi kenyataan.

    Badai menghantam, sang Dinda terombang-ambing kalut.
    Firasat buruk sampai pikiran.
    Hati hancur, gelisah, nan takut.
    Bom waktu memuncak keadaan.

    Enam puluh tahun bukanlah pendek.
    Ingatan lampau tidak akan sirna.
    Dipandang hina dicemooh makanan,
    Mengusik batin terus jalan.

    Dinda mantap diri
    Mupuk kembali Krisan tua,
    Kasat berbeda dengan lalu.
    Harap jaga dan bawa sampai hayat.

    Dilangkah kaki kecil nan keriput.
    Menelusur masa kelam hitam berdarah.
    Keyakinannya membawa pergi negeri sakura.
    Meraba keadilan tak berserah pada nasib.

    Krisan karib sudah gugur.
    Tapi titah tidak lenyap dalam benak fana.
    Apakah maaf sangat sulit tersiar?
    Hingga kini mata itu terpejam untuk selamanya.

    Yogyakarta, 15 September 2021

    ————————————————————–

    Malam Sunyi

    Terjaga dalam purnama.
    Menggoret lagi luka hampir mengering.
    Hembusan angin pun ikut tertawa,
    Semakin kencang, hingga pedih dirasa.

    Tercambik-cambik dengan penyesalan,
    Pikiran terasa ikut berontak.
    Sesak dalam dada, mengudara dalam mata.
    Menguap hingga linangan bak genangan.

    Menopang jiwa dalam raga.
    Menguatkan diri kian menjadi santapan.
    Menarik semua kebusukan yang menari-nari,
    Sebab berpisah ialah perjalanan.

    Yogyakarta, 24 September 2021

    ____________________________________

    Raga Tak Sendiri

    Langit mengisyaratkan malam
    Lampu kota memuntahkan cahaya
    Dengan gelap bersua.

    Angin berembus membawa kenang
    Memberi sukma akan harap
    Untuk delusi tak lagi terulang

    Gelapnya membaur nyata
    Lihat sekeliling layak semut dan gula
    Namun, diri merasuk sendiri

    Kembali melanjut langkah
    Mengarah mata ke bukit menjulang
    Mengingat diri, ini belum usai.

    Yogyakarta, Oktober 2021

    ———————————————————————————————-

     

    Tentang   Penulis

    Untaian kata dari jiwa muda yang selalu tenang. Seorang gadis yang diberi nama dengan berkat oleh sepasang merpati muda saat itu, bersamaan dengan sorakkan bangga yang terus bergemuruh di Agustus 2002. Suka mengulik hal bersejarah yang menegangkan dan percaya kalimat “bahwa semuanya akan baik-baik saja”. Sekarang ia masih menggali banyak informasi di Universitas Sanata Dharma Yogykarta sebagai mahasiswa Sastra Indonesia angkatan pandemi 2020.
    Penulis bisa disapa di instagram: @bennceh.

  • ~ Memorial ~ Biyung ~ Akhir Juang ~ Kelam-Kerlip ~, Sajak-sajak Windi Prawesti

     

    Memorial

    Lampu kota memuntahkan cahya
    Tua muda tumpah ruah jadi satu jua
    Menampik lara mencandu sukacita
    Berseru sorak sorai tanpa kata

    Sejenak, sekejap, sesaat
    Hati penuh ‘pun memerah mata
    Bak baja disiram lahar, tumpah air mata
    Saat teringat hikayat sang tuan

    Berangkat berjalan, pulang merangkak
    Pergi bersorak, balik terbungkam
    Bukan tanpa derita namun tanpa sesal
    Usaha keras digaji sekadar ucapan,

    “Terima kasih”

    Sekarang tuan berbibir biru membisu
    Bersisa tulang kulit semata
    Sesekali merintih menahan lara
    Tapi mata menantang tiada menyurut

    Sayang tuan, damai jadi neraka
    Cepat-lambat ia dirasuki setan
    Membisik-menyeru pada penguasa
    Tuk tebar kharisma demi kekuasaan

    Tuan dicerca, tuan dilupa
    Meluruh tuan dimakan usia jaman
    Sampai datang senyap nan mencekak
    Tuan berdamai selesai berjuang

    Lampu kota memuntahkan cahya
    Menebar damai bahagia, ilusi semata
    Suasana ramai membuat hati senyap
    Tunggal dalam bayang dan kenangan

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Biyung

    Laksana sejuk embun samudra
    Ananda torehkan rasa cinta kasih
    Kata per kata meresap ke sukma
    Senantiasa menemani sepi hati
    Mengeruk habis segala sisa duka
    Imaji malaikat milikku seorang diri

    Walau siang walau malam
    Indah manis senyumu selalu hadir
    Dan tawamu menyertai bagai lagu alam
    Yang tak luput mengalun membisik
    Alangkah elok sosokmu bak berkat dunia
    Semenit sedetik pun tiada kau mendengki

    Tetes tetes air mata pun tiada terbuang
    Oleh Tuhan, Ia hitung, Ia punguti
    Emas pun memucat jadi tak berharga
    Tiada harga, tiada nilai tuk menilai
    Ini karena engkau lebih dari segalanya

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Akhir Juang

    Langit senja memerah getih
    Tak sedap bahkan tuk dilirik
    Jadilah ia cermin bagi bumi
    Yang tubuhnya tercemari
    Tercemar merah jasad, lagi

    Dikau maju bergelora mengikuti angin
    Berani menerjang badai, tercerai berai
    Sukarela merangkul derita, demi kami
    Berjuang demi satu keyakinan hati
    Satu semangat, teriakan penuh arti

    “MERDEKA, MERDEKA, MERDEKA”

    Disahut kau oleh raungan si artileri
    “DOR, DOR, DOR”
    Peluru melawan bambu runcing
    Saling menembus tubuh si pemilik
    Lalu, kau sunyi senyap tak berkutik

    Tidurmu menumpuk, terbelak, ternganga
    Bermimpi sehari sampai selamanya
    Berangan pulang, merangkul keluarga
    Tercatat tanpa nama, jadi harga negara
    Negara bayi yang harganya ratus ribuan

    Tana lempung sejauh mata melihat
    Dicipta tanpa sengaja, tanpa tujuan
    Ditebari kayu nan berlubang – lubang
    Bak dimakan rayap, dari timah panas
    Teronggok, tertutup debu, terlupakan

    Kanda dipungut persatunya
    Tiada dikenali lagi wajahnya
    Hanya ibu yang mau menerima
    Di rumah dua kali satu nan sederhana
    Penuh harum semerbak kembang

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Kelam – Kerlip

    Hitam ialah nestapa hidup hamba,
    Yang dihantui rasa bersalah

    Yang membuat hatiku terluka,
    Bak disayat seribu pedang
    Yang membuat lidahku pegal,
    Dipenuhi kata “andaikan”
    Yang membuatku mengutuk dunia,
    Dunia yang memisahkan kita

    Hitam ialah noda dalam kenangan,
    Yang mengubah bahagia jadi lara

    Yang tiada habis menggaruk jiwa,
    Menjadikanku bak mayat berjalan
    Yang tiada lain tapi bagai kutukan,
    Mengutuk semua makhluk fana
    Yang tiada pernah meninggalkan,
    Mengingatkan akan segala dosa

    Hitam ialah bukti kehidupan,
    Yang jadikan kita, manusia, indah

    Yang bikin kita besar walau kecil,
    Di hadapaNya, Yang Maha Kuasa
    Yang bikin kita memiliki makna,
    Bagi mereka yang menyayangi kita
    Yang bikin kita bersinar terang,
    Bak bintang di langit malam

    Hitam ialah lambang kesempurnaan,
    Yang jadi warna para dewa di surga

    Hitam ialah yang tiada ternoda,
    Yang telah melewati segala cobaan
    Hitam ialah awal dan akhir kehidupan,
    Yang dipenuhi oleh ketidaksempurnaan
    Hitam ialah kita, manusia penuh hasrat,
    Yang makhluk ternoda tapi sempurna

    _________________________________________________

    Biodata penulis

    Windi Prawesti, perempuan kelahiran Yogyakarta, sembilan belas tahun lalu ini merupakan salah satu mahasiswi jurusan Sastra Inggris di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ia sudah menyelami dunia puisi semenjak duduk di bangku sekolah menengah atas dan kerap kali menuliskan puisi di momen – momen yang ia rasa unik demi mengembangkan kemampuan penulisan puisinya. Ia juga kerap kali mengembangkan pengalaman penulisan puisinya dengan mengirimkan sajak – sajak yang ia tulis ke media cetak sekolah maupun media cetak luar dalan beberapa kesempatan. Saat ini ia sedang menempuh pendidikan sarjana di Universitas Sanata Dharma Fakultas Sastra dengan program studi Sastra Inggris. Ia bercita – cita menjadi seorang konsulat KBRI di Jepang  setelah lulus nanti.

  • – Kutitipkan Engkau pada Kwan Im : Koko Ecan – Debu-debu Mesiu antara Israel dan Palestina – Kartu Pos untuk Kinanthi – Terluka: ATL -, Sajak-sajak Asti Li

     

    Kutitipkan Engkau pada Kwan Im
    : Koko Ecan

    Senja itu gagak hitam mengitari rumah kami
    Suaranya parau kacau pupus hening
    Hingga lembayung senja balik badan tak sudi
    Sedangkan di sana awan hitam durjana menikmati

    Halilintar pun menyambar
    Tajam mengiris-iris kalbu
    Hujan deras membasahi bumi
    Seraya tangisan pilu kami yang membisu

    Bayang-bayang hitam memenuhi segala sisi
    Ia merebutmu dari kami
    Kami berserah tiada harapan
    Bagaimana mungkin kami menolak kehendak Tian

    Kami lepas ragamu di tepi telaga sunyi
    Melihatmu berjalan di atas teratai
    Menuju angsa putih yang akan membawamu pergi
    Kami pajang fotomu di altar agar kau ingat jalan kembali

    Hanya hio di altar yang dapat menerangimu
    Hanya lantunan paritta pelipur laramu
    Engkau pergi sendiri tanpa ragu
    Tinggalkan kami berbuah sendu

    Kwan Im kau welas asih
    Mengapa kau ambil dia, Kwan Im?
    Apa karena kau terlalu menyayanginya?
    Kami masih bisa merawatnya

    Kwan Im mengapa kau hanya mematung?
    Bukankah kau ingin semua makhluk berbahagia
    Aku sedih dengan keputusanmu Kwan Im
    Kwan Im tolong, kembalikan dia

    Kwan Im kutitipkan dia kepadamu
    Kami telah ikhlas dengan takdir ini
    Tolong jaga dia seperti anakmu sendiri
    Temani dia untuk duduk menunggu di sisi Tian

    Kami titipkan dirimu pada Kwan Im
    Jikalau nanti angsa putih itu membawamu kembali
    Rumah kami selalu terbuka untuk di datangi
    Semoga kita menyatu pada cerita di buku yang sama lagi

    Yogyakarta, 6 September 2021

    ……………………………………………………………………….

    Debu-debu Mesiu
    antara Israel dan Palestina

    Musim-musim telah berganti
    Tetapi badai di kota sengketa itu tak kunjung berhenti
    Debu mesiu bertebaran mengelilingi kota sengketa
    Kota hidup tampak mati karena manusia tak nampak manusia

    Burung camar hitam terbang kesana kemari
    Dari ranting satu ke ranting lainnya membawa kabar duka nan pilu
    Langit pun enggan tersenyum, ia nampak muram membisu
    Bahkan ibu pertiwi tak mampu lagi menahan tetes air mata yang memecah

    Dewa Bagaskara tak lagi ada harganya di tanah ini
    Ia marah melihat bumi yang semakin merah
    Ksatria Angin pun tak sudi lalu lalang
    Kalpataru-kalpataru rindang kini semua telah mati!

    Tiada lagi nyanyian alam nan resap, hanya dentuman besar nan pekak
    Air hujan sudah tidak bening lagi di kota ini
    Airnya keruh bercampur dosa dan derita
    Mengalir ke hilir-hilir surga dan neraka dengan nestapa

    Yogyakarta, 13 September 2021

    ……………………………………………………………….

    Bidadari Muntah Darah

    Merah saga telah terlelap
    Kini gulita menyelimuti seluruh dunia
    Bunga sedap malam gandanya menyebar
    Ketika cahaya bulan menerangi semesta

    Kumpulan dewa-dewi bintang menyebar di angkasa
    Tetapi tidak mengobati sunyinya hati seorang bidadari
    Hatinya tinggal separuh diiris sembilu
    Dikantunginya sepotong lagi yang sudah membiru

    Bidadari itu muntah darah
    Putih suci gaunnya berubah menjadi merah
    Disiksa ia dengan durjana
    Oleh keparatnya seorang pria

    Bidadari yang muntah darah itu kini pergi
    Menepinya menuju telaga sunyi
    Ia menerjunkan dirinya sendiri
    Tenggelam ia bersama kisahnya yang rumit

    Moyudan, 10 Oktober 2021

    ………………………………………………………………….

    Kartu Pos untuk Kinanthi

    Sore itu langit cerah
    Tiada lawan warna jingganya nan indah
    Warna jingga biasa perlambang bahagia, katanya
    Pak Pos sedang bersepeda keliling desa
    Tentunya dengan membawa tas surat yang khas
    Kring-kring… kring-kring….
    “Kinanthi”, pekiknya
    Gadis itu berlari untuk menjemputnya
    Ia nampak bahagia sesaat bingung

    Pak Pos berdiri kaku
    Mulutnya seakan ingin mengatakan sesuatu
    Wajah Kinanthi sekejap pucat dan sayu
    Kartu pos itu terpercik darah

    “Kinanthi, bila kamu menerima kartu pos ini berarti aku telah mati”
    “Tentara-tentara itu telah menembakku”
    “Kartu pos ini kutulis sebelum kepergianku, jaga dirimu…”
    “Batavia, 19 Desember 1912. Salam, Sumarni”

    “Ibunda” teriaknya pilu.
    Ia menangis tersedu-sedu
    Ibunya pamit pergi ke pasar dan tak kembali sejak seminggu lalu
    Ia menanti harap cemas tak pasti
    Hanya nama yang kembali

    Pak Pos masih berdiri kaku,
    Perlahan ia mengurai kata
    Kemarin ada wanita separuh baya, peluru menancap di dadanya
    Dikawal tentara-tentara
    Ia mengirim kartu pos, akhirnya pergi untuk selamanya
    “Aku tak tau kemana tentara itu membawanya, tugasku hanya menyampaikan ini untukmu”
    Pak Pos melanjutkan tugasnya
    Kinanthi melanjutkan tangis pilunya

    Tiada yang tahu atas dasar apa tentara menembaknya
    Tiada yang tahu pula kemana pergi jasadnya
    Hanya kartu pos berdarah yang tersisa

    Moyudan, 10 Oktober 2021

    ………………………………………………………………….

    Terluka
    : A T L

    Malam imlek yang bahagia aku terluka
    Sangat dalam hingga darah pun tak tersisa
    Bahkan rasa sakit tak ada
    Mungkin ingin mati saat itu juga

    Kulihat di langit ada banaspati
    Ia seperti meringis menertawankanku
    Matanya sinis menyumpahiku untuk mati
    Tetapi masih kulihat langit warna biru

    Tetapi pohon beringin itu menghantuiku
    Kuntilanak di dahannya mengolok kisah masa laluku
    Mendengar kisah itu Mak Lampir tertawa tiada malu
    Sungguh, aku dikelilingi duka masa lampau

    Dewa-dewa menasehatiku tentang neraka
    Apa ini neraka dunia?
    Tidak bisa berdamai masalalu adalah penyiksaannya?
    Apakah rasa bersalah kutukannya?

    Pergilah dari ingatanku,
    Jika pergi dari hidupku engkau tak mampu!

    Moyudan, 10 Oktober 2021

    =======================================================

    Tentang  Penulis

    Asti Li lahir dengan nama Asti Nurrahmatuti merupakan gadis etnis Tionghoa kelahiran 2003 saat ini menempuh pendidikan di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Entah apa yang meracuni pikiran gadis sederhana ini sehingga mampu memutuskan untuk mengenal lebih jauh mengenai sastra di program studi Sastra Indonesia. Untuk mengenal Asti lebih lanjut bisa mengunjungi Instagram @steasti.li

  • ~ Memori Hati ~ Sang Pejuang Penyendiri ~ Inikah Keadilan ~,  Puisi-puisi  Friagung Aditya Kusuma

    ~ Memori Hati ~ Sang Pejuang Penyendiri ~ Inikah Keadilan ~, Puisi-puisi Friagung Aditya Kusuma

     

    Memori  Hati

    Dikala langit jingga nan indah sore itu
    Kembali menyegarkan kenangan akan hadirmu
    Begitu manis namun juga pahit
    Layaknya secangkir kopi yang ku racik dan ku seduh

    Tak pernah ada rasa sesal dalam raga dan jiwa ini
    Akan segala kasih dan sayang yang kucurahkan padamu
    Meskipun semua berakhir berbeda dari apa yang kuyakini
    Tetaplah kau sang dewi pujaan hati ini

    Tak kusangka kau tinggalkan daku dengan penuh sejuta angan
    Dan tak lupanya rasa sakit yang begitu menyiksa raga dan batin kau hadirkan
    Dalam diam ku tak berkutik, dalam hati ku menangis
    Hanya satu yang dapat kulakukan, merelakan kepergianmu dengan ikhlas.

    Dengan cinta yang tak berbalas ini
    Kuyakinkan diri bahwa suatu hari nanti,
    dari luka yang kau torehkan ini
    Muncul kembali seribu bunga penguat diri yang menghiasi hari hari ku esok hari

    November 05, 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

     

    Sang Pejuang Penyendiri

    Mentari yang menyinari dunia
    Embun segar tercipta diatas hamparan rumput hijau

    Semerbak aroma bunga mawar yang mekar menghiasi hari
    Segelas kopi hitam dan sepuntung rokok tersaji di hadapan

    Senyum kecut tersimpul di bibir
    Secercah harapan tersimpan dalam sanubari

    Meski duka nestapa memeluk diri dengan erat
    Menorehkan resah dan gundah dalam pikiran

    Auman sang binatang buas bergema ke seluruh penjuru arah
    Namun dengan lembut berbisik pada telinga ini
    Tarian para dewi yang memukau hati
    Tapi tak dapat dimiliki oleh diri ini

    Berada di tengah keramaian namun tetap saja terasa sepi
    Berjuang dan terus berjuang melawan rasa kesepian yang tak ada habisnya

    Sehalus sutra namun setajam bilah pisau, beribu luka tertoreh di batin ini
    namun apalah daya hanya bisa tersenyum palsu dan menguatkan diri

    November 10, 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

     

    Inikah  Keadilan?

    Mengapa?
    Mengapa Kau mengambil orang yang paling kusayangi didunia ini?

    Mengapa tidak mereka yang kubenci, memusuhiku dan memperlakukanku layaknya sampah
    Inikah yang Kau sebut dengan keadilan?
    Inikah yang kau sebut dengan kasih sayang kepada hamba Mu?

    Pagi, siang dan malam
    Tak henti-henti nya ku panjatkan doa kepada-Mu

    Untuk memanjangkan umur, memberikan kesehatan lebih kepada mereka yang kusayangi
    Dengan sabar, semua cobaan yang Kau berikan kulalui dengan ikhlas dan tabah

    Mengapa orang yang kusayangi dan kupanggil dengan “ayah” Kau rebut dariku Tuhan?
    Apakah harus seperti ini?

    Ia yang selalu bersujud dan berdoa kepada-Mu
    Ia yang selalu berbuat baik dan tak henti bersyukur hari demi hari
    Mengapa ia orang pertama yang Kau panggil untuk menghadap-Mu?

    Persetanlah dengan semua perintah dan larangan-Mu
    Tak seharusnya aku berharap kepada-Mu
    Jika sedari awal Kau berlaku tak adil seperti ini kepadaku.

    Oktober 17, 2021

    =====================================

    Tentang Penulis

    Friagung Aditya Kusuma atau biasa dipangil Aditya, salah satu mahasiswa Universitas Sanata Dharma,
    Jurusan Sastra Inggris , Yogyakarta yang gemar bersepada dan mendengarkan musik.
    Aditya terbiasa membaca karya puisi ringan atau sajak yang berbentuk antologi dan kumpulan-kumpulan
    puisi di berbagai media. Di waktu senggang nya Aditya mencoba untuk menulis puisi ataupun cerpen
    untuk melatih dan juga mendalami kemampuannya di bidang karya sastra
    Aditya bisa dijumpai di sosial media:
    Instagram : @otisedmun
    E-mail: Friagung@gmail.com

  • – Aku dan Tabula Rasa – N a t a l – R u m a h – Biarawati -,  Sajak-sajak Yiurika Retanubun

    – Aku dan Tabula Rasa – N a t a l – R u m a h – Biarawati -, Sajak-sajak Yiurika Retanubun

     

    Aku dan Tabula Rasa

    pada awalnya saja,
    aku dan kau hanyalah serpihan debu;
    tempat rumput ilalang berkembang;
    serpihan dari jiwa leluhur yang mati
    seketika aku menjelma menjadi tubuh
    dan kau menjelma sebagai aku

    atas dasar perjanjian lama dan baru
    aku dan kau kini menyatu
    bagai sepasang sayap siap mengepak
    mencari dan menemukan apa yang hilang
    jiwa yang kini bertaut
    hanya dapat dipisahkan oleh maut

    pada akhirnya nanti,
    aku dan kau kembali terpisah
    entah aku berakhir di dunia
    atau kau yang menjadi fana

    tubuh dan darah pada satu jiwa
    kini hidup, mengalir berbeda arah

    +++++++++++++++++++++++++++++++

    N a t a l
    Surat: Maria-Elisabeth

    Natal;
    hari ini telah lahir bagimu
    seorang Juru Selamat
    dari rahim yang kudus,
    seorang perawan
    yang bernama Maria

    Maria kepada Elisabeth

    Elisabeth,
    hari ini,
    burung-burung menari riang
    bunga-bunga bermekaran
    segala makhluk tersenyum senang

    aku,
    seorang wanita, menjadi seorang ibu
    bagi Ia, seorang bayi mungil
    dengan mata indah, dengan senyum sempurna
    yang lahir di kandang domba,
    Noel, Noel namanya…

    Elisabeth,
    Para ibu ntah dari mana
    datang menemui-Nya dengan suka cita
    raja-raja dari timur membawa hadiah:
    emas, bintang, dan segala isinya

    mereka memuja-Nya
    mencium kaki-Nya, membelai kening-Nya
    mereka bersenandung merdu di telinga-Nya
    sampai lelaplah Ia, begitu teduh senyum-Nya

    Elisabeth kepada Maria

    Maria,
    sahabatku, saudariku..

    hari ini,
    lonceng gereja berdenting tiada henti
    lantunan rohani bergema sana sini
    menyambut Ia yang tlah diberi nama
    oleh mu seorang ibu mulia..

    Ia kan menjadi raja
    meski tanpa tahta, meski tanpa istana
    Ia ‘kan merendah pada setiap langkah-Nya
    Ia ‘kan tetap teguh pada pendirian-Nya

    Maria,
    saat Ia dewasa,
    aku ‘kan ikut membasuh kaki-Nya
    setia melayani dan menyembah diri-Nya
    sebab Ia terang bagi dunia
    sebab Ia jalan menuju kerajaan bapa-Nya

    Maria,
    Terpujilah engkau diantara wanita,
    melahirkan sang Mesias dengan penuh cinta

    ++++++++++++++++++++++++++++++++++

    R u m a h

    apalah arti sebuah rumah
    jika tanpa pintu dan jendela
    tiada jiwa yang hendak tinggal
    embun dan hujan pun enggan singgah

    apalah arti sebuah ruang
    jika tanpa sudut dan sisi
    tiada tangis tawa berisik
    tiada jejak kaki riang berpijak

    tak mengapa bila tiada taman
    pun rumput masih kian bisa hidup
    tak mengapa bila sendirian
    langit biru, kicau burung
    kian tampak dan terdengar

    yang kau sebut itu rumah
    ialah jiwa yang bersuka dan berduka

    yang kau sebut itu rumah
    ialah jiwa yang senang dan berkenang

    yang kau sebut itu rumah
    ialah jiwa bernyawa yang berangan

    yang kau sebut itu rumah
    ialah jiwa yang bertubuh

    yang kau sebut itu tubuh
    itu aku

    ++++++++++++++++++++++++++++++++

    B i a r a w a t i

    Biarawati;
    seorang manusia, seorang wanita
    ia yang terpilih, bukan dipilih
    mengikrarkan janji suci dihadapan Ia, Tuhannya
    berjanji, bersumpah menjadi pelayan-Nya

    ia yang melepas kebebasannya
    tinggalkan indahnya dunia fana
    mengabdi pada Ia, Tuhannya
    hidup dalam kesederhanaan,
    tanpa harta tanpa tahta

    ia seorang pendosa
    dengan beribu gejolak di dadanya
    terkadang ia gundah, terkadang ia goyah
    terkadang ia lelah, terkadang ia pasrah

    ia dengan hati sebagai hamba
    yang kan selalu taat setiap saat
    dalam roh dan kebenaran
    dalam kebajikan dan kebijakan

    ia seorang yang tak sempurna
    sosok bunda layaknya Maria,
    yang tak ternoda, yang tak tercela
    yang bahagia dalam naungan bapa-Nya

    ——————————————————————-

    Tentang Penulis

    Yiurika Retanubun

    ”puisi hidup dari jiwa-jiwa yang tlah mati”
    Demikianlah dari seorang gadis
    pecinta kopi pahit yang keluar dari
    tubuh wanita luar biasa pada bulan
    maret 2001 lalu saat planet bumi
    sedang asri-asrinya.

    Sekarang ia menjabat sebagai mahasiswa Sastra Indonesia di
    Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan
    virus corona. Sejauh ini kehidupannya
    sederhana; asal ada kopi, hujan rindu, dan
    juga kamu..
    penulis bisa disapa di instagram : rikayiu/ email : yiurikaretanubun7@gmail.com

  • ‘Debar’ – ‘Luka’ – ‘Merpati Cinta’ – ‘Keajaibanku’, Sajak-sajak Stevanny Yosicha Putri

     

    DEBAR

    Debaran yang muncul
    Bersamaan dengan bahagia
    Diiringi oleh alunan lagu
    Bersemayam dalam sebuah rasa

    Debaran yang bergetar seiring dengan hembusan angin
    Tersirat dalam senyuman yang menutupinya
    Aku pun ingin
    Menyimpan langit senja dalam asa

    Agar aku bisa selalu memandang
    Insan nan indah rupawan
    Walau aku tatap selayang pandang
    Dibalik setiap gumpalan awan

    9 Oktober 2019

    *************************************

    LUKA

    Ternyata rasa itu tidak mati
    Dia hanya menanti
    Sambil menempatkan hati
    Bagai menyulam dengan teliti

    Meraung gejolak dalam diri
    Luka robek terkoyak duri
    Bahkan tak sanggup berlari
    Bagai dicaci ibu tiri

    Angin samudera menambah perih
    Deru ombak menangis lirih
    Tunggu sampai luka ini pulih
    Ia berhamburan bagai beni

    12 Oktober 2019

    ********************************************

    MERPATI CINTA

    Merpati yang hinggap di jendela kamarku terbang
    Terbang membawa sebuah impian konyolku ke surga
    Ternyata merpati cinta mendengar ucapanku
    Kehadiranmu adalah bukti bahwa ucapan memiliki kuasa

    Sungguh sebuah candaan yang indah
    Saat aku bercanda tentang dirimu
    Candaan itu telah berubah menjadi sebuah cinta
    Ternyata merpati cinta terbang membawa perasaanku
    Perasaan setangkai mawar yang mengharapkan sakura

    10 November 2021

    ********************************************

    KEAJAIBANKU

    Tiada kata yang bisa aku tulis atau ucapkan
    saat pertama kali melihat sinar matanya
    Ia adalah sebuah keajaiban yang datang
    saat aku merasa semuanya adalah mimpi
    Hembusan dari seluruh mata angin membawanya dekat denganku
    Barisan selat dan gugusan gunung telah ia lewati
    Mengantarkannya tepat di sampingku

    Aku telah berjanji kepada semesta untuk menjadi malaikat penolongnya
    Sukacita adalah ketika aku bisa memberikan kesejukan
    di tengah kegundahannya
    Pertanyaan yang ia berikan seperti daun yang berguguran
    Aku pun menjawab setiap keindahan itu
    Manis dan asam tidak akan pernah aku lupakan
    Ombak dalam hatiku menderu saat dia
    menuangkan air sejuk untukku

    Terima kasih untuk Sang Maha Cinta yang membawanya kepadaku
    Perbedaan yang membentuk sebuah pelangi yang indah
    Keindahan yang entah ia ketahui atau tidak
    Satu hal yang aku inginkan adalah tetap mendengar suaranya
    memanggil namaku
    Saat itulah jiwaku melonjak kegirangan

    21 November 2021

    ************************************************************

    Tentang Penulis

    Stevanny Yosicha Putri atau yang biasa dipanggil Vanny adalah seorang mahasiswa Prodi Sastra Indonesia di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Ia memiliki hobi membaca dan menulis sejak kecil. Vanny suka mengabadikan pengalaman, perasaan yang ia alami, dan kejadian di sekitarnya dengan cara membuatnya menjadi tulisan berupa prosa dan puisi. Vanny ingin terus mengembangkan bakat dan pengetahuannya di bidang penulisan, sehingga mampu memajukan ilmu Sastra dan Bahasa Indonesia di masa depan. Vanny bisa dijumpai melalui media sosial di Instagram @stevannyyosicha.

  • “Ajarkan Aku” – “Elok Dunia dan Aku” – “Tinggal Elegi” – “Perihal Pandang” – “Gitaris Angkringan”, Sajak-sajak G Dimitri

    “Ajarkan Aku” – “Elok Dunia dan Aku” – “Tinggal Elegi” – “Perihal Pandang” – “Gitaris Angkringan”, Sajak-sajak G Dimitri

     

    AJARKAN AKU

    Ajarkan aku rasa sakit, ya pahlawan
    Terputar di benakku banyak adegan
    Engkau melawan senjata api dengan bambu yang diruncingkan
    Tiada keluhan
    Melawan bajingan

    Ajarkan aku bau anyir darah, ya pahlawan
    Ketika tertembus tubuhmu
    Jiwa dan raga jadi bulan-bulanan
    Tiada ampun
    Melawan gempuran

    Ajarkan aku rasa duka, ya pahlawan
    Ketika kawan seperjuanganmu berguguran
    Mayat bergelimpangan
    Tiada batu nisan
    Hanya isak tangis dan gigi gemertakan

    Tangerang, 12 Juli 2020

    ————————————————-

    ELOK DUNIA DAN AKU

    Terang…
    Tinta biru melawan api
    Cakrawala terbelalak
    Sejuta kelabu menyembunyikan sang raja
    Melukis lembaran dunia
    Dan aku terpaku

    Beku…
    Penguasa hari mengamuk
    Bayangan diri terhilang
    Terbakarlah semua yang kasat mata
    Denting jam telah terhenti
    Dan aku terdiam

    Senja…
    Secercah cahaya mengecup wajahnya
    Malaikat pun iri akan senyumnya
    Rintik lembut membelainya
    Penghancur ini pengecut
    Berderai berlian dari matanya
    Dan aku tertunduk

    Gelap…
    Melodi yang tak berwujud
    Dewi perak menangis
    Jatuh cinta dengan yang membutakan
    Membelai bumi menghukum diri
    Dan aku tidak peduli

    Sunyi…
    Tatapan tanpa arti
    Langkah pelan membawa rindu
    Rembulan masih setia
    Menjaga yang meninggalkannya
    Dan aku tersujud malu

    Apa daya acap kukatakan
    Ribuan menit tak lagi acuh padaku lagi
    Masih layakkah aku?
    Membakar waktu cuma-cuma
    Sebersit penyesalan sia-sia
    Masih bisa layakkah aku?

    Hancur degup jantungku
    Kepingan-kepingan bodoh yang terbuang
    Para saksi bisu pernah mencintaiku
    Terbuai dengan gemerlap manusia
    Aku tidak layak dikasihi mereka
    Tidak seharusnya dilindungi mereka

    Sisa-sisa butir kepercayaan
    Terbawa arus kesepian
    Apakah masih ada kesempatan?
    Percik api tarian terakhir
    Tinggalkan aku mengais debu
    Selamanya kelayakan telah meninggalkan aku

    Tangerang, 21 April 2018

    ———————————————-

    TINGGAL ELEGI

    Malam itu gusar
    Malam itu penuh derak
    Riak kolam mengiringi sejuta kematian
    Para ikan pun berfirasat sama
    Ingin mengikutimu ke alam baka

    Satu purnama lalu
    Kau genggam erat tanganku
    Satu kemarau lalu
    Kau merekam sebuah lagu
    Helaan karya terakhirmu

    Gundah itu terlalu sederhana
    Debur biru di relung renjana
    Mencari ke mana engkau berkelana
    Jauh dari pandangan mata
    Hanya terlihat kaku di kapel gereja

    Swastamita kelabu
    Yang membawa engkau berlalu
    Tataplah resahku
    Sebersit cemburu
    Dari tempat yang belum bisa kutuju

    Agar jiwaku jelita
    Semua yang baik adanya
    Dalam naungan cakrawala
    Suatu saat akan tiba
    Tunggu aku di sana

    Yogyakarta, 4 September 2021

    —————————————————–

    PERIHAL PANDANG

    Aku bukan periang
    Bukan manis gula biang
    Malah mental pecundang
    Dengan hati yang gersang
    Mata abu cemerlang

    Angkasa dan bintang
    Segala perasaan di antara bujur lintang
    Datang tanpa bilang
    Sayang tanpa ancang
    Membuatku mabuk kepalang

    Namun memang
    Begini kalau akal sehat ditentang
    Jantung kering kerontang
    Diajak perang
    Detak acak berdentang

    Kepada si penumpang
    Kupercayakan parang dan pedang
    Silakan dipegang
    Dan ketika tragedi tayang
    Kuberdoa aku tidak kau serang

    Tangerang, 20 September 2020

    —————————————————

    GITARIS ANGKRINGAN

    Gitaris angkringan
    Demi sepeser seribuan
    Tatap-tatapan
    Duga-dugaan
    Yang bicara hanya mataku, tuan

    Tangan gemetaran
    Demi sedikit berkenalan
    Di bawah rinai hujan
    Namun tiadalah yang instan
    Yang membuatku senyum dirimu, tuan

    Tangerang, 13 Juni 2020

    ———————————————————–

    Tentang Penulis

    G Dimitri, lahir dengan nama Eugenia Kusumo di
    Tangerang, 10 Desember 2001. Mengawali
    pendidikan sekolah dasar di Sekolah Mentari
    Bangsa di mana dia mulai mengasah bakatnya
    dalam menulis berbagai puisi dan cerpen.
    Menginjak jenjang sekolah menengah pertama di
    Sekolah Terpadu Pahoa, ia memenangkan juara
    kedua lomba menulis puisi yang diadakan di
    sekolah dengan puisinya yang berjudul “Ungkapan
    Terakhir”. Sempat berhenti menulis karena sibuk
    di jenjang sekolah menengah atas yang ia tempuh
    di UPH College dan Bina Insan Kamil. Pernah
    mengikuti Kelas Menulis Puisi Online dan
    dibimbing langsung oleh Muhammad Asqalani eNeSTe. Karya puisi dan
    cerpennya pernah dibukukan dalam beberapa antologi bersama yang antara lain
    berjudul “Pelangi Tak Pernah Datang Sebelum Hujan”, “Misteri Rasa dari Isyarat
    Semesta”, “Menjadi Sajak dan Jarak”, dan lain-lain. Saat ini menempuh
    pendidikan sarjana di Universitas Sanata Dharma Fakultas Sastra dengan program
    studi Sastra Inggris. Bercita-cita menjadi penulis profesional dan juga ingin
    berkiprah di dunia seni peran. Kesibukan saat ini selain kuliah adalah bekerja
    secara freelance sebagai seorang penerjemah dan juru tulis, dan juga menulis puisi
    di waktu luang.
    Eugene bisa dijumpai di Instagram-nya @offcialeugenek dan Instagram khusus
    karyanya @xgdimitri, serta dapat melalui email ke
    dimitri.eugene2001@gmail.com

  • “Rintihan Rindu” – “Ballada Puan” – “Embun”, Puisi-puisi Maranecha Latriyana

     

    Rintihan Rindu

    Rindu adalah perasaan nestapa jiwa
    Menjadi hampa terpaku hening
    Tawar tanpa rasa selayaknya elok paras senja
    Datang untuk memberi cinta, binasa sebagai luka

    Rindu adalah gelisah meratap lamban dalam renungan malam
    Berharap dekat dalam sanubari
    Rintihan hujan yang bernyanyi
    Tak henti memberikan isyarat isi hati

    Rindu adalah kasih yang meracik sebuah harapan
    dalam buih cinta lautan memberi angan
    Lantas engkau bunga cantik dalam jilwa
    Pandanglah rintihan hujan itu, jangan acuhkan rasa rindu.

    Maranecha Latriyana
    Oktober 08, 2021

    —————————————————

    Ballada Puan

    Puan ialah paras menawan
    Senyum manismu, indah wajahmu, jua tubuhmu, lengkap pun tawa hasmu
    Membuat gunung bertekuk lutut di hadapanmu
    Enggan mencerca namun melukis wajah teduhmu

    Puan ialah selembut sutera
    Entah bahagia atau terluka tak menghiraukan yang terasa
    Kilau puan serupa intan permata
    Sabar puan seluas samudera

    Puan ialah elok penaka bunga
    Di atas butiran pasir putih mempesona
    Tawamu merayu memikat senja jingga
    Tak sekedar tabahmu tetapi juga kedermawanmu; puan.

    Maranecha Latriyana
    Oktober 08, 2021

    —————————————————

    Embun

    Kilau itu serupa intan
    meski resah di terik mentari
    berlindung diantara pucuk-pucuk puspa
    berharap hujan menemaninya

    Embun itu tak bisa lari
    air mata tak bisa menggantikannya
    mencoba berteman dengan angin
    berharap sepoi tak menjatuhkannya

    Kumbang haus menghampirinya
    mencengkram dahan dan memeluknya
    embun itu harus pasrah
    ketika satu dari mereka menghisapnya

    Akhirnya embun itu hilang
    para kumbang rindu kilaunya
    berharap hujan segera datang
    sisakan embun yang baru
    untuk dihisapnya kembalai

    Maranecha Latriyana
    November 20, 2021.

    ———————————————————————————–

    Tentang Penulis

    Maranecha Latriyana, atau biasa dipanggil Eca, agama Kristen Protestan anak
    keempat dari empat bersaudara.
    Eca salah satu mahasiswi Universitas Sanata Dharma, Jurusan Sastra
    Indonesia, Yogyakarta yang gemar menulis dan mendengarkan musik.
    Eca lebih terbiasa membaca karya puisi-puisi yang berbentuk antologi dan kumpulan-kumpulan puisi di berbagai media.
    Eca juga sering coba-coba untuk menulis puisi yang ringan-ringan saja sembari
    melatih kemampuan dalam bidang karya sastra ini.
    Eca bisa dijumpai di sosial media:
    Instagram: @maranechal_
    Email: maranechalatriyana123@gmail.co