Category: SASTRA

  • Sajak – sajak Julia Utami: – Mata Ibu – Tablo Paskah – Kembali ke Titik Nol – Anakmu Merindu –

    Sajak – sajak Julia Utami: – Mata Ibu – Tablo Paskah – Kembali ke Titik Nol – Anakmu Merindu –

    Mata  Ibu

     

    Mata Ibu adalah bulan purnamaku
    kucari pendarnya dan selalu kutangkap sinarnya
    tak pernah aku kehilangan pualam matamu
    Bersiaplah jadi sinar terang
    untuk palung hatiku yang lelah, Ibu

    Izinkan aku jeda, Ibu
    Aku ingin tidur sejenak
    meletakkan kepala dan sayu mataku
    di bawah terang cahaya purnama matamu

    Aku akan merasa tenang
    dalam linangan air matamu yang menyala
    Aku akan berenang dan tenggelam
    dalam terangmu yang bagai samudera

    Kelak ketika aku pulang
    mata Ibu sudah semakin senja
    aku tetap temukan cahaya purnamamu
    walau alam sekitar tak bersahabat berikan terang

    Semua duka tersapu angin
    Ibu tertawa lepas memeluk anak cucumu
    aku pulang membawa cinta
    mengobati rindumu yang tak pernah padam

    ********************

     

    Tablo Paskah

     

    Abu basah yang disilangkan di dahi
    Ada yang palangkan dosa
    Siap dilebur kembali menjadi abu

    Setiap lembar daun palma
    Ada yang mengelukan sekaligus menyalibkan
    Lalu daun palma teronggok di jok kendara terinjak

    Pada peristiwa perjamuan terakhir
    Pastor mencuci kaki para rasul masa kini berbaju putih
    Satu di antara tak bisa bersih hatinya

    Setiap kecupan di kayu salib
    pada saat Jumat Agung nan suci
    Mendongaklah pada putra-putri altar yang menjaganya
    Bisikkan ciumanku lebih khianat dari Yudas Iskariot

    Dalam prosesi malam Paskah dengan lilin terangi hati
    Kita menanti kebangkitan-Nya di tengah kita
    Terdampar sebuah tanya :
    Siapakah yang bermain-main dengan abu, daun palma, air pembasuhan

    ***************************

     

    Kembali ke Titik Nol

     

    Tak ada riak
    Ombak pun terpaku
    Lebih tenang dari diam

    Mulut linu ketika lidah kelu
    Wajah kaku ketika tubuh kikuk
    Mata terpejam Ketika atma melayang
    Lutut berlekuk kaku ketika kubaluri doa

    Hati terbelit rindu
    Sapa telah tersapu
    Kenangan yang berlalu
    Kukembali tergugu
    Langkah berat kutuju

    Diam tak bergerak
    Tak ada tapak pada langkah
    Kuulur panjang doa untukmu ibu
    Hanya itu hubungkan aku denganmu

    Bahagia di surga ibu,
    Biarkan aku menunggu saatku
    Aku terpaku pada titik
    Antara minus dan plus

    Commuter line, 09 September 2022

    **********************************

     

    Anakmu  Merindu

     

    Baru kemarin terucap niat
    Menemuimu meminta memandang
    anak-anakku rindu kata
    Kata yang kau pintal dengan benang sulaman kasih
    Benang yang beraneka warna menjadi pelangi hati mereka

    Mereka ingin bercanda menarik kain jarikmu
    dan merenda rambut ubanmu
    menjerat siapa yang melintas

    Ingin bergelayut pada teriakanmu yang menggema
    Menggoncang hati menangis menggamit sepi menepi
    Melihat aksimu menjeritkan lara hati dalam puisi

    ini semua tinggal mimpi
    kau memilih pergi ke rumah abadi
    meninggalkan bulan mengandung birahi

    kau awetkan dirimu lewat kenang tak bertepi
    kami masih harus setia di labirin kehidupan fana ini

    tenanglah,
    pasti senyum masih terselip di ujung bibir kami
    karena di atas sana bersama yang lain,
    kau patri dirimu melintasi siang
    berbagi tugas dengan rembulan,
    menjadi penjaga buat semua

    Masihkah akan ada air mata tertumpah?
    Mengiringi keikhlasan melepas kepergianmu

    Commuter line, 8 September 2022

    ________________________________________

     

     

     

    Tentang  Penyair

     

     

    JULIA UTAMI atau Yulia Sri Utami, juga dikenal sebagai Julia Daniel Kotan lahir di Lampung, 28 Mei 1972. Guru SMP Santa Ursula Jakarta sejak tahun 1996. Sarjana FKIP Universitas Sanata Dharma, dan S2 dari Universitas Pelita Harapan. Buku puisinya Ribuan Jejak di Pelataranmu (2016), Kereta dan Penyairnya (2019), Januari Jangan Pergi (bersama Kurniawan Junaedhie (2020), Kapuk Randu Negeriku (2020). Novelnya, Perempuan-Perempuan Abhipraya (2021). Buku puisi lainnya, Keluh Senja Mengejar Cakrawala (2016) bersama Windu Setyaningsih, Ujang Nurochmat, dan Lidia Tokan. Ikut dalam 300-an antologi puisi al. Dari Negeri Poci: Pesisiran (2019), Rantau (2021), Raja Kelana (2022), Kulminasi (2023), Kumpulan Pentigraf dari Robot Sempurna sampai Alea Ingin ke Surga (2016), Ibarat Bagai Seperti Andai (2022), Studio Kita (2023). “Oase di Tepian Kota”(Esai, 2023), Pulang ke Kampung Nenek (2023). Antologi puisi Pertanyaan Tentang Tanggal Lahir (2023).

     Ia juga menulis buku Memahami SGA: Melalui Pendekatan Ekspresi atas Pembacaan Buku Saksi Mata (2022). Editor buku Ubayatizen, buku-buku antologi garapan siswi di SMP Santa Ursula, dan menjadi pemrakarsa buku Flobamora NTT. Aktif menjadi pengurus Komunitas Rumah Sastra Kita NTT (RSK) sejak 2018 bersama Yoseph Yapi Taum dan Yohanes Sehandi. Tahun 2017 menjadi kontributor untuk penerbitan buku Apa dan Siapa Penyair Indonesia (ASPI) yang dieditori oleh Maman Mahayana, dkk. Bersama Kurniawan Junaedhie mendirikan Komunitas Aksi Swadaya Menulis dari Rumah (ASMDR) (sejak 2020), dan sekaligus menjadi editor untuk seri buku yang diterbitkan Aksi Swadaya Menulis dari Rumah yang sudah mencapai angka 60 judul buku. Oleh JB Kleden, pemerhati sastra NTT, dijuluki Penyair Kereta. Dapat dilihat dalam Youtube Julia Utami Puisi.

  • “Selasar Kapale St. Rafael”, “Seroja”, dan “Keajaiban di Puncak Bukit”, Puisi-puisi Agatha Abon Taum

    “Selasar Kapale St. Rafael”, “Seroja”, dan “Keajaiban di Puncak Bukit”, Puisi-puisi Agatha Abon Taum

     

    PUISI-PUISI AGATHA ABON TAUM (NANDA TAUM)

     

    Kali ini Redaksi menampilkan tiga puisi karya Agatha Abon Taum atau yang akrab disapa Nanda Taum. Ketiga puisi itu adalah: “Selasar Kapale St. Rafael”, “Seroja”, dan “Keajaiban di Puncak Bukit”.

    Puisi “Selasar Kapela St. Rafael” menggambarkan suasana alam yang indah dan menyentuh di sekitar kapela, dengan langit biru, air yang mengalir dengan gemericik, dan pohon hijau yang tersenyum. Penyair merenungkan tentang berlalunya waktu yang cepat, meninggalkan kenangan yang terpatri dalam ingatan, serta perasaan sedih dan syahdu yang bercampur menjadi satu. Puisi ini juga mencerminkan perubahan yang terjadi seiring berjalannya waktu, dengan menyadari bahwa tiga puluh enam tahun telah berlalu dan menandakan perjalanan menuju senja. Di tengah refleksi ini, penyair juga mempertanyakan apakah sesuatu atau seseorang masih sama seperti dulu, menggambarkan kerinduan dan nostalgia terhadap masa lalu.

    Puisi “Seroja” menggambarkan suasana tragedi alam di suatu desa saat hujan deras dan angin kencang melanda, menyebabkan banjir dan kerusakan yang parah. Penyair menyampaikan perasaan keputusasaan dan duka cita atas kerugian yang ditimbulkan oleh bencana tersebut, dengan menyebutkan nama “Seroja” yang menyisakan luka dalam hati. Meskipun demikian, puisi ini juga menyoroti kekuatan dan ketegaran manusia dalam menghadapi tragedi, serta empati terhadap makhluk lain seperti camar yang tak memiliki tempat berteduh. Puing-puing dan luka yang mendalam dihadapi bersama-sama, mencerminkan semangat kebersamaan dalam mengatasi cobaan.

    Puisi “Keajaiban di Puncak Bukit” menggambarkan pemandangan yang menakjubkan di puncak bukit, dengan fatamorgana yang mempesona, pegunungan yang menjulang, dan sungai yang mengalir. Penyair merenungkan keindahan alam yang tak tergantikan dan menggoda, menyebutnya sebagai gambaran keindahan yang tak tercapai. Namun, di tengah keindahan tersebut, penyair juga menyadari bahwa pemandangan itu hanyalah cermin dari impian dan cita-cita, mencerminkan kedalaman makna di balik keindahan visualnya. Puisi ini mengajak pembaca untuk merenungkan keajaiban alam dan makna yang tersembunyi di baliknya.

     

     

    SELASAR KAPELA ST. RAFAEL

     

    Langit membentang biru menderu…
    Air jernih mengalir gemericik…..
    Pohon hijau membelai tersenyum….
    Sang fajar perlahan cumbui senja…..

    Waktu berlalu begitu cepat….
    Meninggalkan kenangan tersapu oleh ingatan…..
    Sedih dan syahdu bercampur jadi satu …..
    Tapak – tapak kebisingan mulai sirna…..
    Tiga puluh enam tahun sudah berlalu …….
    Menandakan kita semakin menuju senja……

    Di sepanjang selasar kapela kudengungkan…….
    Masihkah kau seperti yang dulu?
    Masihkah kau seperti yang dulu?
    Masihkah kau seperti yang dulu?

    Oepoi, September 2021

    —————————————-

     

    SEROJA

     

    Sore itu, langit tampak gelap.
    Hanya segerombolan camar
    membuat formasi menghiasi langit…..

    Perlahan, dari langit turun rintik gerimis
    kemudian menjadi lebat….
    Angin kencang, air surut
    dan gelombang yang mengamuk,
    desa terendam…

    Tanah-tanah hilang ditelan sungai,
    berjuang, dalam keputusasaan…
    Berharap akan cahaya di ufuk yang gelap…
    Seroja, nama yang menyisakan luka dalam hati…

    Dalam tragedi ini,
    kita menemukan kekuatan,
    bersama berdiri kokoh dan tegar…
    Ah. Kasihan si camar
    tak ada tempat berteduh
    seraya mengeringkan tubuhnya yang kuyub…
    Puing-puing dan
    kehilangan luka yang mendalam…

    Oekalipi, 6 April 2021

    —————————————————-

     

     

    KEAJAIBAN DI PUNCAK BUKIT

     

    Di puncak bukit yang mengintai langit biru…
    Fatamorgana menari dengan indahnya…
    Pegunungan menjulang, sungai mengalir…
    Kau membawa kami ke dunia yang tak tergantikan…
    Kau adalah gambaran keindahan yang tak tercapai…
    Keajaiban yang menggoda dan mempesona…
    Namun, di antara bunga-bunga liar dan rumput hijau,
    kau hanya cermin dari impian dan cita…

    Jogja, Desember 2017

    ———————————————–

    BIONARASI

     

    Agatha Abon Taum atau yang akrab disapa Nanda Taum adalah gadis Lembata kelahiran Bajawa. Nanda Taum merupakan alumni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan saat ini menjadi guru di SMA Seminari St Rafael, di Jl. Thamrin No 15 Oepoi, Kota Kupang.

  • Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kami Senang Mendaki Bukit-bukit Rohani – Sepi Kapan Mencair – Perkawinan Membusuk –

    Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kami Senang Mendaki Bukit-bukit Rohani – Sepi Kapan Mencair – Perkawinan Membusuk –

     

    KAMI SENANG MENDAKI BUKIT-BUKIT ROHANI

     

    kami senang
    mendaki bukit-bukit rohani
    sepanjang dua puluh enam tahun
    keluar dari air dosa
    kolam baptisan
    bertubuh lumut
    hitam legam

    kadangkala kaki kami
    sering terjebak
    dalam panas membara
    api belerang
    berbau kecacatan
    sperma tunggal

    kami senang mendaki bukit-bukit rohani
    dalam rumah sengketa
    yang dihuni ratusan kecoa
    pecahan kaca di atas kepala

    bacaan mantera
    dalam tanah
    berakar sampah perzinahan
    berhamburan kesedihan
    kepanikan tertinggal
    di atas meja surat perkawinan

    rajin ibadah
    disodorkan pelayanan
    kadang telanjang kemarahan
    pada bangunan yang telah ditahbiskan
    tanpa papan nama
    dalam kota tua
    dekat terminal bus ledakan bom ransel

    nyaris mencuri nyawaku
    yang kian terluka parah
    kini telah kehilangan
    jabatan orang lewi
    maupun roh semangat
    dibanting di atas tanah berkarat

    kami senang mendaki bukit-bukit rohani
    mengalir dari puncak gunung berapi
    ada di sekitar kehidupan
    masa dewasa pandai berpuisi ria
    sampai kami menjadi
    manusia yang tumbuh subur
    dipeluk kitab suci
    setiap pagi

    sungguh
    kami senang mendaki
    bukit-bukit rohani

    Jakarta, Minggu 11 Februari 2024

    —————————

     

    SEPI KAPAN MENCAIR

     

    sunyi merayap
    sepi tiarap
    hening berharap
    hidup nyaris kiamat

    aku bertanya lagi,
    tetapi pertanyaanku yang membeku
    membentur jidat para pejabat
    tak mau lagi berjabat erat

    ketika berita kusebar
    makin berkarat
    ketika siaran kudendangkan
    makin melarat

    dengarlah,
    oi, para pewarta
    oi, para pujangga
    di ujung otot usia menua
    di muara ibu negeri
    hijrah tumpah ruah

    sepi
    kapan mencair
    akankah sampai
    tiba
    nyawa kita turun ke liang bumi
    orang-orang mati
    tak punya lagi
    pengharapan
    kepastian

    Jakarta, Rabu, 31/1/2024

    ——————————————

     

    PERKAWINAN MEMBUSUK

     

    perkawinan ini makin membusuk-
    dipahat dengan air liur amarah berkepanjangan
    dibenturkan suara jeritan ratusan hewan buas
    yang muncul tiba-tiba
    karena selalu ada kabar
    kemurtadan hari kemarin

    lalu segera dimasaknya
    bumbu dan menu perkawinan
    dalam dapur perapian
    tempat para pendekar iblis
    bertarung mau turun
    ke dunia paling sunyi

    nyaris menjelma menjadi seekor matahari terbenam
    bintang-bintang berguguran
    hari ketujuh jadi pesakitan
    disiram air keras
    sekeras hatinya yang kian
    membatu

    setelah melewati aliran-aliran sungai penghakiman
    maka perkawinan harus menghadap pengadilan

    semoga ada pasukan balatentara dari langit
    yang mau jadi pembela
    sehingga nama kita jangan sampai terhapus
    dari kitab kehidupan
    dari ayat-ayat suci hapalan
    dari Tuhan yang masih kendali perkawinan

    Jakarta, Senin, 22-1-2024

    ———————————————–

    ——————————————————-

    Tentang Penyair

     

    Pulo Lasman Simanjuntak, karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal dan 26 buku antologi puisi bersama. Kini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 diberi judul Meditasi  Batu. Sering diundang membaca puisi di PDS.HB. Jassin, TIM, Jakarta. Bekerja sebagai.wartawan beritarayaonline.co.id dan harianterbitonline.id, sekarang bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
    Kontak person : 08561827332 (WA)
    Email : pulo_lasman@yahoo.com
    Medsos :
    IG: Lasman Simanjuntak
    Facebook: Bro
    Youtube: Lasman TV
    Tik Tok: Lasman Simanjuntak

  • Puisi-puisi Astryanthi Korebyma: – Damai dari Kota Seribu Kapela – Mei, Maria dan Epifani – Senja di Taman Kota 1 –

    Puisi-puisi Astryanthi Korebyma: – Damai dari Kota Seribu Kapela – Mei, Maria dan Epifani – Senja di Taman Kota 1 –

     

    PUISI-PUISI ASTRYANTHI KOREBYMA

     

    Puisi “Damai dari Kota Seribu Kapela” (Nagi Larantuka) menggambarkan konflik dan kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat yang seharusnya hidup dalam damai. Puisi ini menyoroti pertentangan antara keluarga dan generasi serta kekerasan yang mengiringi konflik tersebut. Penyair mengekspresikan pertanyaan tentang arti hidup yang sebenarnya, apakah hanya sebatas pertarungan dan kekerasan, ataukah terdapat damai yang abadi di dalamnya. Puisi ini mengajak pembaca untuk mencari kedamaian dan hening dalam kehidupan yang penuh konflik.

    Puisi “Mei, Maria, dan Epifani” menggambarkan tentang kekuatan iman dan kebijaksanaan dalam menghadapi kehidupan dan kematian. Para tokoh seperti Mei, Maria, dan Rosario dijadikan simbol untuk melambangkan keberanian, ketabahan, dan ketaatan kepada Tuhan dalam menghadapi segala cobaan. Puisi ini menekankan pentingnya persiapan spiritual untuk menghadapi akhirat, dengan pengakuan bahwa segala dosa akan diampuni dengan syarat sujud syukur dan tawakal kepada Allah. Puisi ini mencerminkan kepercayaan pada kemurahan Allah dan perlunya kepatuhan kepada-Nya sepanjang hidup.

    Puisi “Senja di Taman Kota 1” menggambarkan perasaan kesendirian dan pertemuan dengan keheningan dalam suasana senja. Penyair merenungkan tentang keheningan yang memenuhi taman kota, di mana meskipun ada kehidupan di sekelilingnya, ia tetap merasa sendiri. Puisi ini menggambarkan proses internalisasi diri dalam menghadapi kesendirian, dengan awan dan rembulan menjadi simbol perenungan dan ketenangan. Meskipun malam telah tiba, penyair tetap merasa terjaga dalam keheningan taman kota, mencerminkan pertanyaan tentang eksistensi dan tempat dalam dunia yang luas.

     

    DAMAI DARI KOTA SERIBU KAPELA
    Nagi Larantuka

     

    Dahulu, dan bukan kini
    Disini, di bumi seribu kapela
    Damai
    Mudah dalam kata
    Tetapi tidak dalam tingkah laku
    Kakak dan adik tak lagi akur
    Ayah dan anak beradu pedang
    Beradu siapa yang menang

    Apakah hidup ini hanya sebatas
    Bilah pedang yang menghunus
    Menghempas leher dan tubuh kurus
    Dengan napas dan aliran darah
    Panas
    Membasahi ruas tanah
    Puas kah?

    Bercak darah
    Daging dan tulang
    Berserakan, melekat pada palang pintu
    Pada dinding kamar bergeming;
    “Cukupkan hari dan dirimu dengan sujud syukur
    Temukan hening
    Disana, ada damai yang tak selesai”

    Taman Kota Larantuka, 12 Maret 2019

    ————————————

     

     

    MEI, MARIA DAN EPIFANI

    Mei, Maria dan Rosario
    dalam puasa dan niat
    senjata ampuh melawan segala sakit
    tiada pernah terlalu cepat
    pula terlalu lambat
    Maria, Bunda pembantu abadi selalu tepat

    akhir kehidupan ini adalah mati
    teman segala perjalanan adalah diri sendiri
    sujud syukur untukmu tiada henti
    sediakan bekal perjalanan, siapkan diri
    sebab akhirat tidak kompromi
    untuk segala dosa duniawi

    sang pencipta memang memperhitungkan segala amal
    namun harus lebih banyak sujud dan tawakal
    sebab segala ampun adalah akhir dari sesal
    yang terasa mustahil

    sebab muara segala ampun
    dari Allah hingga akhir zaman.

    Teruntuk: Saveri_Je 

    ———————————–

     

    SENJA DI TAMAN KOTA 1

    Enggan menyapa kemudian bisu bertemu lisan
    Kaku memang menjadi pemersatu yang tak sejalan
    Pilihan jatuh pada simpang kata akhir yang kadang memberi luka di setiap lorong singgah

    Jika bernyawa,
    Kepada riuh jalanan, riak gelombang dan lampu jalanan, kupinta sabar yang penuh tuk peluh yang tak kunjung luluh
    Lantas berdatangan awan yang ditiup angin
    Mendekat, menari berbisik sendu;
    ‘tidak takutkah kau sendirian di sini? Pulanglah, hari sudah malam, Nak’.

    Hingga pada pucuk rembulan yang nyaris tua
    Ku kembali ke peluk malam dan tertidur
    Hingga bangun dan temukan diriku masih di taman kota.

    Taman Kota Larantuka, 22.09.2021

     

    —————————————————-

    Tentang  Penulis

     

    Astryanthi Korebyma, nama pena dari Agustina. Gadis kelahiran 03 Agustus 1993 ini berdomisili di Larantuka, Flores Timur, NTT. Saat ini bekerja sebagai Staff Tata Administrasi SMAK Frateran Podor- Larantuka. Astry bisa dihubungi melalui FB: Astryanthi Agustina Korebyma, IG: korebyma_acy0308, e-mail : agustinasurat@gmail.com, Nomor HP/WA : 0821 4699 2440.

  • Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Menulis Syair untuk Presiden 2024

    Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Menulis Syair untuk Presiden 2024

     

    Jakarta, berandanegeri.com – Penyair dan Sastrawan Pulo Lasman Simanjuntak (62 tahun) dalam menyambut Pemilihan Umum (Pemilu) 14 Februari 2024, sekaligus Pemilihan Presiden RI Tahun 2024.

    Menulis syair untuk presiden dalam format sajak dan puisi yang akan meng-kritisi dan memberikan solusi untuk tujuan masa depan bangsa ini.

    Dengan menulis syair untuk presiden dalam bahasa sastra serta batin terluka para penyair.

    Maka akan ditemukan secercah harapan dan pengharapan seluruh masyarakat Indonesia untuk menuju kepada bangsa yang berbudaya, beradab, sejahtera, dan makmur lahir dan batin.

    Berikut puisi dwi bahasa (Indonesia dan Inggris).Selamat membaca.

     

    MENULIS SYAIR UNTUK PRESIDEN

    -episode pertama-

     

    menulis syair untuk presiden
    aku melihat tingkap-tingkap langit terbuka lebar
    seperti percakapan tadi pagi
    di meja kaca tanpa daging
    kehilangan pasangan
    tak punya kenangan

    kenapa harga pangan terus melambung tinggi, tanyamu
    setinggi burung gagak
    terbang ke lumbung kematian sangat gersang
    kering kerontang

    kenapa nilai mata uang
    tak bisa lagi menari-nari
    bersama matahari pagihari
    menyambut kekusaman hati
    memasuki negeri di bawah telapak kaki

    menulis syair untuk
    presiden
    aku menatap jutaan manusia langka
    tak punya otak
    minta sedekah
    tangannya berapi
    untuk publikasi sejati

    tanah tumpah darah
    di seberang pulau berair
    masihkah ada investor
    menebar benih-benih palsu
    yang tak bisa dihitung
    dengan sempoa atau kucing liar dalam.karung

    Jakarta, Kamis 1 Februari 2024

    _________________________________

     

    MENULIS SYAIR UNTUK PRESIDEN

    -episode dua-

     

    jika aku jadi presiden
    aku akan melanjutkan
    menulis syair ini
    sambil menghitung jumlah utang negara
    di bawah awan garang
    bahkan angan-angannya telah dikorupsikan mencapai delapan puluh triliun rupiah

    setelah itu
    kutelan rakus ribuan kilometer
    jaringan jalan tol, kereta api cepat, bendungan tak bisa dijebol, dan mobil listrik yang sering meledak di pinggir jalan protokol

    sekarang lihatlah,
    aku sudah jadi presiden
    tak punya janji
    hanya kusodorkan
    perawan berpendidikan
    anak-anak mampu berlarian
    mengejar sejumlah harapan
    tanpa harus jadi pesakitan

    karena masa depan
    bukan lagi milik pesyair
    yang rajin menulis syair
    untuk disodorkan
    di pintu gerbang negarawan
    acapkali kebakaran
    uraikan kemacetan di seputar
    bunderan kematian

    Jakarta, Kamis 1 Februari 2024

    _________________________________________

    WRITE A LETTER TO THE PRESIDENT

    – first episode-

     

    write a letter to the president
    I saw the windows of heaven wide open
    like the conversation this morning
    on the glass table without meat
    loss of spouse
    don’t have memories

    why food prices continue to soar, you ask
    as tall as a crow
    flying to the brink of death
    very arid
    was very dried

    why currency value
    can’t dance anymore
    with the morning sun
    welcome to the heartwarming
    entering the land underfoot

    writing poetry for
    President
    I stare at millions of rare humans
    no brain
    ask for alms
    his hands are on fire
    for true publication

    the land of blood
    across the watery island
    is there an investor
    sowing the false seeds
    which cannot be counted
    with an abacus or a stray cat in a sack

    Jakarta, Thursday 1 February 2024

     

    _____________________________________

     

    WRITE A LETTER TO THE PRESIDENT

    – episode two-

     

    if I were president
    I will continue
    write this poem
    while calculating the amount of state debt
    under fierce clouds
    even his dreams have been corrupted to reach eighty trillion rupiah

    after that
    thousands of miles of ice
    toll road networks, high-speed trains, dams cannot be broken, and electric cars that often explode on the side of protocol roads

    now look,
    I’m already president
    no promises
    just give me a hand
    educated Virgin
    children can run
    chasing a certain amount of hope
    don’t have to be a pain

    because the future
    no longer belongs to the Peshmerga
    the one who writes poetry
    to be proffered
    at the gate of statesmen
    frequent fires
    break the traffic jam around
    circle of death

    Jakarta, Thursday 1 February 2024

     

    ________________________________________

     

    Tentang Penyair

     

    Pulo Lasman Simanjuntak, menulis puisi pertama kali berjudul IBUNDA dimuat di Harian Umum KOMPAS pada bln Juli 1977.Setelah itu karya puisinya sejak tahun 1980 sampai tahun 2024 telah dimuat di 23 media cetak (koran, suratkabar mingguan, dan majalah) serta tayang (dipublish) di 143 media online dan majalah digital di Indonesia maupun di Malaysia.
    Karya puisinya juga telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan saat ini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 diberi judul MEDITASI BATU.Selain itu juga puisinya terhimpun dalam 26 buku antologi puisi bersama para penyair seluruh Indonesia.
    Saat ini sebagai Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), anggota Sastra ASEAN, Dapur Sastra Jakarta (DSJ) Bengkel Deklamasi Jakarta (BDJ) Sastra Nusa Widhita (SNW) ,Pemuisi Nasional Malaysia, Sastra Sahabat Kita (Sabah, Malaysia), Komunitas Dari Negeri Poci (KDNP), Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Kampung Seni Jakarta, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Sastra Reboan, Forbes TIM, dan Sastra Semesta.
    Sering diundang baca puisi , khususnya di PDS.HB.Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta.
    Bekerja sebagai wartawan bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
    Kontak Person : 08561827332 (WA)
    Email : pulo_lasman@yahoo.com
    Instagram : @lasman simanjuntak
    Tiktok : @lasmansimanjunta
    Facebook : Bro
    Youtube : Lasman TV

  • A n g i n     T i m u r

    A n g i n T i m u r

    A n g i n     T i m u r
                                     buat Ignas Kleden

     

     

    Oleh Eto Kwuta

     

    Dari Larantuka, angin perlahan berhembus
    Berziarah menuju singgahsana Eropa
    Lalu, kembali ke Indonesia dan memilih:
    “Dari Jakarta, kepalaku berangkat menuju kepalamu.”

     

    Oh, betapa kamu di ibu kota
    Kepalamu berlayar kembali ke timur
    Menyinggung kepala-kepala kami
    Lalu sabda pun menjelma daging

     

    Kau, angin timur merdu menghembus
    Menembus lekuk-lekuk ziarah
    Dengan matahari mendidih di kepala
    Sementara kami berkaca pada cuaca

     

    Ah, betapa jauh berumah di tanah orang
    Di kampung, masih ada desau berhembus
    Menghembus namamu kepada cakrawala
    Menyimpan angin pada daging, menjelma puisi

     

    Sumber:  dari Buku Antologi Puisi Penyair NTT 2016, Penerbit Kandil Semesta

     

  • Sapardi: Geometri dan Memori

    Sapardi: Geometri dan Memori

    Oleh  Nirwan Ahmad Arsuka

     

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
    awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    (1989)

     

    Puisi Aku Ingin memang tak terelakkan akan mengangkat nama Sapardi Djoko Damono jadi abadi. Tapi yang membuat puisi itu, dan sederet karya terkenal Sapardi lainnya, jadi punya kekuatan untuk menancapkan diri di kenangan dan memfanakan gergaji waktu adalah “lima tak ingin.”

    Lima tak ingin itu adalah: tak ingin heroik, tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit, tak ingin eksperimental, dan tak ingin religius.

    Kekuatan sajak-sajak Sapardi langsung terlihat begitu kaidah “tak ingin” itu ditegakkan. Ketika terbit kumpulan puisi pertamanya, Duka-Mu Abadi, Goenawan Mohamad menyambutnya dengan sebuah ulasan panjang di Majalah Horison, No. 2 Th. IV Februari 1969, dengan judul Nyanyi Sunyi Kedua. Buat Goenawan, kumpulan Duka-Mu Abadi  adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali, tanda pertumbuhan puisi Indonesia yang sedang melepaskan diri dari masa lalunya. Masa lalu yang ingin ditinggalkan adalah masa lalu yang dipenuhi oleh sajak-sajak heroik dan “berdjoeang.”

    Setelah setengah abad lebih sejak terbitnya Duka-Mu Abadi disusul dengan munculnya sejumlah kumpulan puisi lain, dapatlah dikatakan bahwa Sapardi menarik bukan hanya karena responnya terhadap masa silam, yang ikut membebaskan puisi Indonesia dari desakan pengaruh sajak-sajak heroik waktu lampau. Puisi-puisi terbaik Sapardi itu menarik bukan hanya karena mengembalikan lirisisme ke kancah perpuisian, tapi juga karena antisipasinya atas masa depan penciptaan. Bisa ditambahkan bahwa yang istimewa pada sajak-sajak Sapardi itu bukanlah karena sikap ingin leburnya dengan Tuhan, seperti yang diperlihatkan Amir Hamzah dalam Nyanyi Sunyi, tapi pada penjarakan intelektualnya terhadap Tuhan.

    Di esai bertajuk Permainan Makna yang terkumpul dalam buku Sihir Rendra: Permainan Makna (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999) Sapardi mengenang masa kecilnya, dan kebutuhannya untuk menciptakan permainan makna. Ia mengaku permainan makna yang disusun dari kata-kata itu membuat ia bisa menghadapi kenyataan yang tak masuk akal. Tapi ia juga menyebut ketakinginannya menjadi kanak-kanak yang hanya asyik dengan permainan tanpa makna, sekaligus ketakinginannya untuk menjadi nabi yang cuma menyampaikan pesan makna tapi tanpa permainan. Ia hanya ingin jadi penyair yang baik. Sapardi yang konon berpikir dalam Bahasa Jawa, tentu harus mengatur kata-katanya sebaik mungkin dalam Bahasa Indonesia. Dan bersamaan dengan itu, sadar atau tidak, ia menerjemahkan ketakinginan menjadi kanak-kanak atau nabi itu ke dalam bentuk-bentuk puisi yang perlahan-lahan memenuhi “lima tak ingin” itu.

    Kelak akan tampak bahwa puisi-puisi terkenal Sapardi menegakkan kaidah “lima tak ingin” itu karena mereka membantunya menciptakan ruang kosong untuk menghadapi kenyataan alam yang tak masuk akal, sekaligus mempermudah pembacanya ambil bagian untuk mengabadikan sajak-sajaknya. Selain esai Permainan Makna, sajak Catatan Masa Kecil, 3 dan Catatan Masa Kecil, 4 dapat memberi petunjuk tentang asal-usul lima tak ingin itu.

     

    Catatan Masa Kecil, 3

            Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela
    lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan
    yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta
    dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat
    memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya
    sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan
    ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya
    berkata “biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam
    suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya”

    (1971)

     

    Catatan Masa Kecil, 4

         Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya
    sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih
    kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari
    tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan
    setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat kurang
    dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika
    ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di
    halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum neneknya
    dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat
    sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.
             Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    (Sajak tanpa titimangsa, dimuat dalam kumpulan Sihir Hujan yang terbit 1984).

     

    Pertanyaan yang diajukan di Catatan Masa Kecil, 3, dan bilangan nol yang dipercaya di  Catatan Masa Kecil, 4, adalah bekal Sapardi membangun kaidah “lima tak ingin” yang dibuat jadi batu penjuru sebuah arena permainan. Ke dalam arena itu, saya bayangkan Sapardi menarik masuk dan menghadapi kekuatan besar yang membuat Amir Hamzah bersaksi dan menyeru dalam sajak Padamu Jua yang terhimpun dalam Nyanyi SunyiEngkau cemburu/Engkau ganas/Mangsa aku dalam cakarmu.

    Bisa juga dikatakan bahwa lima tak ingin itu adalah dinding-dinding limas piramid yang dibangun untuk menjadi — meminjam larik Chairil Anwar dalam sajak Di Mesjid — ruang gelanggang  kami berperang.  Perang Sapardi memang tak sekeras Chairil yang  Binasa-membinasa, Satu menista lain gila. Sapardi tak punya potongan untuk perang yang meledak-ledak seperti itu.  Jika kita membaca sajak Catatan Masa Kecil, 3 bisa kita katakan bahwa sikap Sapardi kurang lebih adalah sikap berjarak, sikap seorang ilmuwan yang penuh perhitungan:

    Ia yang turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang itu mungkin saja masih seorang kanak-kanak, tapi ia sudah memperlihatkan bakat kritis dan tak gampang terhanyut. Ia memang bertanya-tanya, tapi pertanyaan yang diajukannya adalah apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta.  Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bertahap dan terukur, yang mengenali batas dan mencoba melampaui batas: karakter pertanyaan yang kerap diajukan para ilmuwan.

    Seperti seorang ilmuwan tulen, ke dalam piramid berdinding dan berlantai “lima tidak” itu Sapardi menarik masuk Sumber Tanya beserta dunia yang tak masuk akal itu dan menghadapinya dengan penuh perhitungan. Dan selaiknya penyair tulen, Sapardi menghadapinya dengan mengalirkan dua arus pemberian yang meski bergerak tenang namun mengandung kekuatan penampik waktu.

    Pemberian pertama, yang memang dikerjakan oleh semua penyair besar, adalah pemberian “hidup” pada benda-benda sepele: pada angin, pada burung, lampu jalan, kabel telepon, dll. Pemberian “hidup” ini bisa juga dilihat sebagai penciptaan tandingan — yang meskipun hanya rekaan, namun berwatak puitik dan intelektual —atas ciptaan nyata yang lebih besar yang berasal dari kekuatan yang ada di luar semesta, dan di luar luar semesta.

    Personifikasi Sapardi atas benda-benda itu tak cuma menghidupkan benda-benda itu, tapi juga memberi mereka laku yang subtil. Semesta kenyataan yang kita terima secara intuitif, jadi berubah radikal dalam sajak-sajak Sapardi. Diri pembaca yang semula jadi subyek, jadi pusat, yang menentukan dunia, bisa bergeser tiba-tiba jadi obyek yang tak berarti dan ditentukan oleh dunia. Sajak-sajak ini seperti mencopot mata pembaca dan meletakkan di sebuah tempat dengan perspektif yang merangsang kerja otak.

    Sajak-sajak Sapardi memang bisa jadi contoh yang bagus tentang kemampuan puisi untuk memberi manusia mata ketiga dan keempat. Sains dan teknologi juga memberi manusia mata tambahan. Dengan mikroskop yang kian canggih dan teleskop yang bahkan di tempatkan di langit, manusia bisa melihat kenyataan-kenyataan baru yang menakjubkan. Hal yang sama juga dilakukan Sapardi dan para penyair besar lain. Bedanya adalah puisi mengajak kita melihat dunia ajaib yang subyektif personal, sementara sains memberi kita mata untuk menjelajahi semesta fantastis yang obyektif universal. Perbedaan ini menegaskan bahwa semesta yang disingkap dan dibentuk oleh sains dan teknologi akan jadi lebih lengkap dan memukau, makin kaya dan berharga, buat mereka yang juga bisa mengapresiasi puisi.

    Selain mata, Sapardi juga memberi kita sepasang telinga atau sebuah stetoskop kebudayaan dan politik untuk menyimak detak dan percakapan yang lirih dari berbagai macam benda-benda, bukan hanya yang selama ini setia melayani manusia, entah itu Sepasang Sepatu TuaBola LampuTopeng misalnya.

    Sapardi memang mengerjakan dengan sangat bagus teknik yang sudah dilakukan oleh para penyair sejak dahulu kala: menjadi tukang sihir yang memberi hidup lewat kata dan dengan itu memperkaya dunia. Tapi ia tak cuma memberi hidup pada benda-benda mati, ia juga membuat kehidupan benda-benda itu bisa bertahan lama di benak pembacanya. Para penyair memang mengandalkan teknik mnemonik seperti rima, tapi Sapardi tak cuma menggunakan perangkat literer yang sudah ada. Ia menemukan perangkat literer baru, yang lebih canggih dari rima. Perangkat literer temuan Sapardi itu agaknya berasal dari khazanah matematika, karena jelas sejajar dengan sejumlah konsep matematis, khususnya barisan geometri dan simetri terbalik.

    Penggunaan perangkat matematis ini punya kaitan yang menarik dengan sajak Catatan Masa Kecil, 4. Di larik keempat bait pertama, tertulis: Sejak semula ia sayang pada angka nol. Sajak ini ditutup dengan penegasan di bait kedua yang hanya berisi satu baris kalimat: Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    Angka nol yang disayang dan dipercaya itu memang tak hadir telanjang di sajak-sajak Sapardi, tapi ia muncul memukau dalam bentuk barisan geometri, yang tampak jelas pada sajak-sajaknya yang sederhana dan rapi.  Barisannya memang tidak horizontal dengan suku yang sejajar dalam larik, tapi vertikal dengan suku yang berurut turun dari bait ke bait. Dalam satu sajak, bisa terlihat beberapa barisan. Karena suku barisan literer Sapardi ini berubah pada tingkat dimensi dan kualitas, bukan sekedar penambahan atau pengurangan kuantitas, maka barisan itu lebih dekat ke barisan geometri dan bukan ke aritmetika. Barisan ini umumnya memang bergerak dari dimensi yang besar ke yang kecil dan menyarankan langkah menuju ke nol, atau dari yang fisik ke non fisik bergerak menuju ke kekosongan.

    Sajak Aku Ingin mengandung empat barisan yang masing-masing terdiri dari dua suku, sesuai dengan jumlah baitnya. Suku baris pertama adalah kata (bait pertama) dan suku berikutnya adalah isyarat (bait kedua). Kata adalah satuan yang masih mengandung bunyi dan intonasi yang menuntut gerak, setidaknya gerak otot bicara; sementara isyarat adalah satuan yang tak lagi mengandung bunyi dan intonasi, dan mungkin hanya tersisa gerak. Suku baris kedua adalah kayu (bait pertama) yakni benda fisik yang masih bisa disentuh, diikuti oleh awan (bait kedua) yakni massa yang terbentuk dari uap air yang mengambang di cakrawala dan tak lagi bisa dijamah. Suku-suku baris ke tiga, yakni api dan hujan, memang tak langsung terlihat aspek barisannya, tapi kita bisa melihat gerak menurun dalam hal temperatur. Barisan menurun itu tampil kuat pada baris keempat, yang sukunya adalah abu (bait pertama) yakni benda yang masih mungkin dijamah dan dicerap indra, yang kemudiaan diikuti tiada (bait kedua) yang sama sekali sudah tak lagi bisa dicerap.

    Kehadiran barisan itu muncul paling jelas dan paling indah dalam sajak Pada Suatu Hari Nanti, yang saya cantumkan di halaman akhir.  Pada tiga bait sajak itu, kita lihat subyek berubah dari fisik ke non-fisik, yakni dari jasadku di bait pertama, ke suaraku di bait kedua, dan akhirnya ke impianku di bait penutup. Jasad adalah massa yang masih bisa dijamah, dan jika diusap masih mungkin menimbulkan bunyi. Suara adalah fenomena sekuder yang tak lagi bisa dijamah, sedangkan impian sudah benar-benar tak tercerap secara indrawi. Sejajar dengan subyek yang berubah bentuk dari yang indrawi ke non-indrawi itu, obyek sajak juga berubah secara berurut, dari satuan yang besar ke satuan yang kecil, yakni dari bait di untai pertama, lalu larik di untai kedua, dan dengan huruf  di untai penutup. Buat saya, sajak Pada Suatu Hari Nanti  adalah sebutir berlian yang diasah dengan sangat bagus, dan di dalam struktur yang keras, rapi dan bening itu, tampaklah bagai tarian dua barisan Sapardi dengan indah bergerak pelan menuju kekosongan.

    Selain barisan yang bergerak konsisten menurun dari awal menuju kekosongan, ada juga barisan yang tampak bergerak datar, tapi akhirnya juga mengarah ke kekosongan. Barisan datar seperti ini tampak misalnya pada sajak yang tak kalah terkenal di bawah ini:

     

    Hujan Bulan Juni

    tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu

    (1989)

     

    Baris pertama yang menyusun Hujan Bulan Juni adalah baris yang sejajar karena suku-sukunya punya arti yang hampir sama. Baris ke dua juga boleh dikata sejajar, dan suku-sukunya adalah kata kerja pasif. Rintik rindu dan jejak kaki adalah citraan tentang hal-hal yang pernah menjadi bagian diri, yakni rintik yang sudah terlepas dari himpunan, dan jejak kaki yang juga sudah bukan bagian dari  diri. Adapun yang tak terucapkan adalah sesuatu yang bahkan tak sempat untuk menjadi sesuatu, tak sempat atau tak mungkin menggumpal jadi kata yang bisa terlepas dari sumbernya. Suku yang tak terucapkan ini memberi semacam anjlokan yang mempertegas kekosongan yang kehadirannya sudah disarankan dengan sangat kuat oleh dua suku baris ketiga sebelumnya, dan dua baris yang lainnya. Tiga barisan ini gampang mengingatkan kita pada gagasan wu wei dalam khazanah pemikiran Tiongkok, yakni “nir-tindak,” inaction, yang konon dianggap sebagai puncak kekuatan dan kebijaksanaan.

    Barisan dalam sajak-sajak Sapardi ini, yang dapat kita katakan sebagai perangkat literer temuan Sapardi yang istimewa, sungguh lebih canggih dari rima.  Satuan dasar pembentuk rima adalah bunyi pada suku kata, sementara satuan dasar pembentuk barisan Sapardi adalah arti pada kata. Yang pertama auditoris, yang kedua semantik. Meskipun sama-sama perangkat mnemonik untuk membantu memori, rima itu umumnya bekerja mengejar efek bunyi dan musikal, kadang juga efek emosional. Barisan Sapardi, yang juga bisa mengandung rima, bekerja lebih jauh lagi menjangkau efek kognitif yang merangsang penalaran, bahkan efek epistemik yang menggugah pengetahuan. Yang menarik adalah bahwa Sapardi tak pernah menulis tentang perangkat literer temuannya ini, meskipun ia menggunakannya dalam banyak puisinya.  Barisan sejajar yang saling mempertegas, terlihat juga misalnya pada:

     

    Dalam Doaku

    dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang semalaman tak
                memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima
                cahaya pertama, yang melengkung hening karena akan
                menerima suara-suara

    ketika matahari mengambang di atas kepala, dalam doaku
                kau menjelma pucuk pucuk cemara yang hijau senantiasa,
                yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
                kepada angin yang mendesau entah dari mana

    dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
                mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di
                ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang
                tiba tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

    maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
                perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, 
                menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan
                menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi,
                dan bulu-bulu mataku

    dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
                dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah
                batasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
                tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

    aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai
                mendoakan keselamatanmu

    (1989)

     

    Ada paduan dua barisan yang segera tampak pada sajak Dalam Doaku. Yang pertama adalah barisan setara yang merujuk pada waktu yang bergerak dari saat menjelang fajar hingga ke puncak malam. Yang kedua adalah barisan geometri yang bermula dari langit yang maha luas dan berada di luar si aku lirik, kemudian menurun ke pucuk cemara. Suku barisan selanjutnya memang tampak bergerak ke atas menjadi burung (bait ketiga) bahkan angin (bait keempat), namun pada akhirnya barisan itu menurun, mengerut dan memadat. Pada saat lingkaran waktu berdoa lima kali sehari itu melengkapkan diri, langit pun menggumpal menjadi denyut jantung.

    Barisan yang bergerak itu memang juga dimainkan oleh Sapardi. Ia tak selalu membiarkan barisannya berhenti di nol atau kekosongan, tapi memutar balik suku barisan terakhir dan mengembalikannya ke suku barisan pertama. Dengan cara seperti ini, barisan pun — meminjam larik-larik dari sajak Melipat Jarak — jadi melengkung seperti tanda tanyaburu memburu dengan jawabannya. Sajak-sajak semacam ini menciptakan sirkuit, seperti misalnya pada puisi:

     

    Bayangkan Seandainya

               Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit
    berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu-bulunya;
               bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu
    menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari
    bulu-bulunya;
               bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu
    yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;
               bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski
    telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari.

    (2009)

     

    Sirkuit yang terbentuk di sajak ini bermula, tentu tak perlu dikatakan, pada “wajahmu” yang terpampang di cermin pagi ini. Tapi sajak ini membujuk kau di bait pertama untuk membayangkan bahwa wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit. Di bait kedua si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu. Di bait ketiga si kau kembali dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya. Setelah si kau dibawa terbang melayang-layang, bermain dan menari menyusur barisan geometri yang bergerak turun dari langit ke awan, dari atas kota ke halaman rumah, mendadak di bait terakhir si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu adalah wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski telah kaukupas dengan ganas.

    Bait terakhir ini melengkungkan barisan dan membuatnya jadi sirkuit tertutup yang bisa berubah menjadi siklon kognitif yang dengan ganas mengangkat pikiran pembaca yang imajinatif terburai dan terlepas dari pengetahuan dirinya yang dikira mapan. Sajak ini mengubah kebenaran yang sudah sangat jelas dan karena itu tak pernah dipertanyakan, menjadi problem yang minta dipikirkan, menjadi gatal yang menuntut digaruk. Dan karena tak ada jawaban bagi problem yang dihamparkan itu, maka problem itu, tepatnya sajak itu, dapat menjadi godaan yang terus berputar dan bertahan di otak selama otak tersebut bisa bekerja normal.

    Jika barisan yang menuju nol atau kekosongan itu mengendapkan perasaan suwung, nyaman dan mantap, maka barisan yang menjadi sirkuit ini adalah strategi untuk menciptakan pain, nyeri, untuk memicu badai, brainstorming.

     

    Di Restoran

    Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
    ilalang panjang dan bunga rumput —
    kau entah memesan apa. Aku memesan
    batu di tengah sungai terjal yang deras —

    kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
    saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
    yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
    memesan rasa lapar yang asing itu.

    (1989)

     

    Sajak di atas menghadirkan cara lain Sapardi menorehkan nyeri. Ironi yang tajam sudah terasa di bait pertama dimana si Aku (dengan A kapital) dan si kau, ke restoran berdua, tapi seperti tak punya koneksi satu sama lain. Keduanya ada di dalam gelembung masing-masing meski mungkin duduk berdekatan, mungkin berhadapan. Si Aku mungkin ingin membangun suasana romantis dengan mula-mula memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Tapi usahanya tak berbalas karena pasangannya entah memesan apa. Nyeri mulai menggores kuat ketika si Aku kembali memesan sesuatu yang jauh dari restoran itu yakni batu di tengah sungai terjal yang deras. Di untai kedua, si Aku yang mestinya jadi subyek penentu itu bahkan akhirnya hanya memesan sesuatu yang haram ada di restoran itu, sesuatu yang tak terpikirkan dan justru ingin dihilangkan ketika orang mengunjungi restoran, yakni rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, rasa lapar yang asing itu.

    Simetri terbalik antara judul dan isi sajak ini, dengan kontrasnya yang menusuk itu bisa meninggalkan efek kognitif yang tak putus di benak pembaca. Dan buat mereka  yang merindukan cinta dan kebersamaan, yang terikat dengan pasangan yang kehadirannya justeru membuatnya merasa kian terasing, efek itu bisa  nyaring lengkingnya.

    “Lima tak ingin” yang ditopang bentuk-bentuk matematis bersahaja, telah mengarahkan Sapardi membuat komposisi yang juga sederhana, lalu menggarap dua unsur yang mempengaruhi memori manusia dan sangat penting bagi keberlangsungan hidup organisme: pain dan pleasure. Sajak-sajak Sapardi itu kerap menghadirkan dua hal penting ini sekaligus, tapi dengan timbangan yang berbeda. Sajak Aku Ingin atau Hujan Bulan Juni adalah jenis yang lebih berat ke pleasure, sementara MetamorfosisTopengCatatan Masa Kecil 2 atau Tiga Percakapan Telepon adalah sajak yang lebih berat ke pain.

    Selain dengan jenis memori yang berhubungan dengan persepsi indrawi, puisi-puisi terkenal Sapardi sungguh bisa juga dikaitkan dengan memori semantik, yakni bagian dari memori eksplisit atau deklaratif. Jika jenis memori pertama itu membuat sajak-sajak Sapardi jadi mudah tertancap di ingatan lewat pencerapan indrawi, maka memori jenis kedua itu bisa membantu sajak-sajak tersebut tercipta ulang dan berkembang di benak para pembacanya lewat bantuan khazanah kebudayaan dan pengetahuan.

    Puisi bagus yang gampang diingat adalah benda ajaib yang sangat berharga bukan hanya buat mereka yang ingin mencipta. Buat mereka yang terutama ingin mencipta, dengan penuh cinta, dan tak gentar pada keharusan cinta, puisi bagus yang sederhana dan mudah diingat itu mirip rumus matematis sederhana yang memang juga sebuah ekspresi estetis, dan mungkin diterapkan di seluruh jagad.  Tentang keharusan cinta, termasuk cinta kepada Pencipta, Sapardi menuliskan sajak berikut:

     

    Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta

    /1/
    mencintai angin
    harus menjadi siut
    mencintai air
    harus menjadi ricik
    mencintai gunung
    harus menjadi terjal
    mencintai api
    harus menjadi jilat

    /2/
    mencintai cakrawala
    harus menebas jarak

    /3/
    mencintai-Mu
    harus menjelma aku

    (Sajak tak bertitimangsa dimuat dalam kumpulan Arloji  yang terbit 1998).

     

    Sajak ringkas ini menegaskan lagi jarak intelektual yang terentang ke arah Sang Mu — penjarakan yang membuat Sapardi Djoko Damono jadi berbeda dari Amir Hamzah dan Chairil Anwar, seperti yang sudah disinggung di depan. Bagi sajak ini, mencintai-Mu memang harus menjelma aku, di mana aku adalah semacam bayangan dari sekaligus koreksi atas Mu, meski dengan magnitude yang berbeda. Si aku memang tak mungkin menyamai Mu dalam hal kebesaran, tapi ia mungkin bisa menandingi dalam hal kemasukakalan, keadilan dan keabadian ciptaan. Kemasukakalan telah coba dibangun dengan sajak-sajak yang indah dan terukur. Kemasukakalan itu mencakup keadilan juga. Jika pun keadilan tak dapat diciptakan sepenuhnya dalam sajak-sajak Sapardi, setidaknya keadilan dan harapan terhadapnya telah dihadirkan dengan indah dan subtil.

    Seraya menjadi pencipta yang adil dan masuk akal, Sapardi juga ingin jadi pencipta dengan ciptaan yang abadi. Sapardi tentu tahu bahwa mustahil ia abadi di dunia, tapi ia tahu, dan berjuang, untuk membuat karya-karyanya abadi di tengah kehidupan pembacanya. “Lima tak ingin” yang dibantu dengan struktur matematis yang membantu kerja memori itu adalah senjata Sapardi untuk menjadi abadi.

    Selain pemberian kehidupan pada benda-benda mati yang membangkitkan berbagai sensasi kognitif, ada satu pemberian lagi yang tak semua tukang sihir, penyair, atau bahkan Tuhan (dalam pemahaman sebagian umatnya) sanggup berikan. Yakni memberikan diri sendiri, menghapus jejak keagungan dan kebesaran diri, untuk membesarkan sesuatu yang bukan diri sendiri.  Sajak-sajaknya yang memanfaatkan deret yang bermula dari satuan besar menuju satuan kecil, dari subyek yang fisik menuju non-fisik, menyarankan gerakan menuju kekosongan, dari ada menjadi tiada, dari gunung menjulang yang merobohkan diri jadi lapangan hijau berumput yang maha luas. Di kekosongan itulah sajak-sajaknya membuka diri bagi pembacanya untuk menciptakan semesta makna baru.

    Puisi-puisi terbaik Sapardi, yang cerdik memanfaatkan khazanah matematis itu, tak hanya memberi kita momen puitik, tapi juga petunjuk menangkap dan menciptakan sendiri momen-momen puitik itu. Kaidah “lima tak ingin” itu kembali menjadi penting karena kaidah itu mempermudah pembaca untuk juga jadi penyair, jadi pencipta. “Tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit dan tak ingin eksperimental” itu misalnya telah menghasilkan sajak-sajak dengan kata-kata yang sangat sederhana, bukan kata-kata sulit atau jargon akademis dengan bentuk yang tampak liar. Pembaca jadi nyaris tak punya kesulitan, tak perlu buka kamus, untuk memahami puisi-puisi Sapardi. Kaidah “lima tak ingin” itu bahkan mungkin membantu pembaca kreatif yang ingin coba menciptakan ulang atau membayang-bayangi puisi Sapardi.

    Seiring dengan itu, kaidah “tak ingin religius” yang mencegah sajak-sajak Sapardi menempelkan lambang dan ungkapan dari khazanah agama yang dianutnya itu, jelas membuka diri seluas-luasnya pada semua pembaca tak peduli apapun keyakinan dan ketakyakinannya. Yang menarik adalah bawa sajak-sajak yang tak ingin religius itu justru berhasil menunjukkan bahwa religiusitas itu sungguh bisa juga direngkuh bukan lewat jalan agama.

    Ringkasnya, jika sebelumnya kaidah “lima tak ingin” itu telah membantu Sapardi menjinakkan chaos dan merapikan dunia, maka kini, kaidah “lima tak ingin” itu sekaligus membantu Sapardi menurunkan palang pintu bahasa sehingga sebanyak mungkin pembaca bisa masuk ke kancah penciptaan yang ikut dihamparkan oleh puisi-puisinya. Tentang apakah “Barisan Sapardi” itu benar-benar temuan yang orisinal, atau hasil pencurian kreatif yang memang watak penulis besar, seperti kata TS Eliot, biarlah telaah lain yang akan uji. Yang jelas adalah bahwa dengan cara yang memukau, puisi-puisi Sapardi telah ikut menunjukkan kemampuan kata sebagai pembebasan. Kata, yang demikian biasa dan sederhana, yang dapat dihimpun oleh siapa pun dengan melimpah bahkan sejak masih kanak-kanak, memang modal kultural manusia yang paling berharga karena punya kekuatan luar biasa untuk diolah menyiasati dan menyusun ulang dunia.

    Pembaca yang terus mencipta adalah hal penting dan berharga buat Sapardi, sehingga bahkan seorang pensiunan yang tinggal menyongsong mati pun, seperti yang dikisahkan dalam Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro, masih juga terus digoda untuk tidak memadamkan indra, untuk kembali mencipta: membayangkan dirimu pangeran yang lain dari yang dulu dibayangkan nenekmu tentangmu. Hanya dengan penciptaanlah memang, Kita abadi: memungut detik demi detik, ciptaan demi ciptaan, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa, lupa ruang dan waktu, tenggelam dalam keasyikan yang intens. Yang fana memang adalah waktuCiptaan abadi.

    Jika pun Sapardi dan kuasanya tak dapat hilang sama sekali dari sajak-sajaknya, ia jelas menyingkir dari pusat dan memilih jadi kawan bahkan mungkin abdi yang mendampingi pembaca untuk maju ke tengah dan menduduki tahta penciptaan. Entah sebagai abdi, sebagai kawan, atau sebagai guru besar yang dicinta, sajak-sajak terbaik Sapardi takkan merelakan kita sendiri, akan tetap mensiasati dan tak letih-letihnya mencari, agar kita tetap mencipta dan memfanakan waktu.  Saya bayangkan Sapardi Djoko Damono akan tersenyum senang jika karya-karyanya membuat pembacanya, yang telah mendapat mata tambahan dari seni dan sains, tumbuh jadi pencipta yang bahkan lebih besar dari si penyair sendiri.

     

    Pada Suatu Hari Nanti

    pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau takkan kurelakan sendiri

    pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati

    pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau takkan letih-letihnya kucari

    (1991)

     

    Jakarta, 17 Agustus 2020

     

    ———————————————

     

    Sumber Tulisan sastraindonesia.com

    Daftar Pustaka

    * K.A. Stroud. Matematika untuk Teknik, Jakarta: Erlangga, 1991. Alih bahasa: Erwin Sucipto
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Grasindo, 1994
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Editum, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Mata Jendela, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Kolam, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Ayat-Ayat Api, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Sihir Rendra: Permainan Makna, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999

     

  • Prof. Dr. Wahyu Wibowo: Karya Puisi Pulo Lasman Simanjuntak Penuh dengan Teknik Pembentukan Imaji Liar

    Prof. Dr. Wahyu Wibowo: Karya Puisi Pulo Lasman Simanjuntak Penuh dengan Teknik Pembentukan Imaji Liar

    Jakarta berandamegeri.com. “Karya puisi Pulo Lasman Simanjuntak penuh dengan teknik  pembentukan imaji liar,” ujar Prof. Dr. Wahyu Wibowo, Dosen Fakultas Sastra Universitas Nasional, di Jakarta, Rabu (3/1/2024).

    Menurutnya, maksud liar di sini, menyuguhkan diksi yg dianggap tidak umum. “Misalnya, memilih kata “janin” untuk dikatakan bahwa janin tersebut lahir dari pecahan rahim rembulan. Penggunaan kata “rahim rembulan” yang disandingkan dengan kata “janin” melahirkan imaji liar tersebut,” ucapnya.

    Prof. Dr. Wahyu Wibowo, Guru Besar Sastra Universitas Nasional (UNAS) Jakarta, (Foto: Lasman}

     

    Karena maknanya menjadi ambigu (jika tidak hendak disebut gelap), pembaca akan menabrak ke sana kemari untuk mencari makna benarnya.

    “Dan, gaya ini ditekuni Pulo Lasman Simanjuntak sepanjang karier berpuisinya yang berlangsung sejak lama. Jadi kiranya inilah gaya ucap  Pulo Lasman Simanjuntak sebagai penyair,” tegasnya.

    Coba simak bait puisinya, “kuburan berbatu-batu disinari matahari murtad”, lalu renungi apa maknanya.

    “Tapi, memang, Pulo Lasman Simanjuntak  mencerminkan semangat litentia poetica sejati,” pungkasnya.

    “Ibarat sedang berada di  kebun apel, Pulo Lasman Simanjuntak tinggal memetik apel-apel itu dengan bahagia dan riang lalu memasukkannya ke dalam keranjang,” ucap Penyair dan Sastrawan  Herman Syahara di Jakarta, Rabu (3/1/2024).

    Dikatakan, begitu apel-apel itu berada di keranjangnya, maka semua orang akan bersepakat, itu adalah apel hasil petikan Pulo Lasman Simanjuntak.

    Ada yang merah tua,  merah muda kehijauan, berukuran sedang,  kecil,  atau besar.

    “Begitulah saya melukiskan bagaimana perlakuan Pulo Lasman Simanjuntak terhadap puisi-puisinya.Juga puisi berjudul Janin Rembulan ini,” ucapnya.

    Menulis puisi, lanjutnya, bagi Pulo  Lasman Simanjuntak  seperti tak terbebani oleh pilihan diksi. Dia tinggal memetik kata-kata itu lalu menyusunnya ke dalam puisi yang sedang ditulisnya.

    “Pembaca pun mafhum,  itulah puisi Pulo Lasman Simanjuntak, berhias majas-majas yang rapat dan rimbun seperti tak tertembus indra san rasa,” ujarnya.

    Namun,  bagi yang paham siapa Pulo Lasman Simanjuntak,   dia akan segera tahu bahwa  selain sebagai rohaniawan yang mengenal apa itu makna  podium  dan jemaat, dia juga seorang jurnalis yang terlatih memilah dan memilih diksi.  Perpaduan antara jurnalis dan pengkhotbah ini nampak berkelindan,  berjejak jelas pada puisi-puisi Pulo Lasman Simanjuntak,” tegasnya.

    Sementara itu Penyair Nanang R Supriyatin mengatakan  puisi karya Pulo Lasman Simanjuntak menemui diksi yang baru dan bagus.

    “Narasinya dan estetika harus dibangun terus. Diksi, dan tema, sudah menciptakan inspirasi buat pembaca.Diksi dan tema dalam puisi Pulo Lasman Simanjuntak sudah terbangun sangat kuat, ” pungkas Nanang R Supriyatin di Jakarta, Rabu (3/1/2024).

    Berikut di bawah ini 4 sajak/puisi karya Pulo Lasman Simanjuntak

     

    JANIN REMBULAN

    janinnya lahir dari pecahan rahim rembulan
    pada malam mencemaskan Sajak
    bahkan darahnya mengalir ganjil
    menyusuri mataair
    bermuara pada sebuah gua rahasia
    teramat dalam
    disimpan sekian waktu
    ada jarak keras
    sampai angin dinihari berlalu

    ke sana dimulai titik perzinahan
    sungguh menjijikkan, katamu
    mengurai dua musim
    menguliti tubuhnya
    tanpa warna obat
    di meja operasi berbayar

    seperti pendatang asing
    yang mau ziarah sunyi
    di kuburan berbatu-batu
    disinari matahari murtad
    sampai tiba di bumi ini
    tangisan lelaki perkasa
    tanpa airmata kedunguan

    Jakarta, Minggu, 3 Desember 2023

     

    MENULIS SAJAK DENGAN AIR LUMPUR

    menulis sajak dengan air lumpur
    tubuhku harus turun perlahan
    ke kaki-kaki bumi
    jaraknya dibatasi ribuan paralon
    kadang tak puasa seharian
    menelan perkakas biji besi
    sampai bersekutu
    dengan kegelisahan
    tak mandi matahari

    nyaris tiga tahun
    aku buas memperkosa
    apa saja binatang liar
    yang menyusup dalam air tanah

    menulis sajak dengan air lumpur
    tak kunjung selesai
    sampai bait ketiga

    lalu kutebar kemarau
    di area persawahan yang berkabut
    baunya sangat membusuk
    racunnya tiba-tiba membentuk
    sebuah ritual yang menyebalkan
    sehingga kulitku gatal dan keruh
    membabi buta siang dan malam

    maka menulis sajak dengan air lumpur
    harus diselesaikan dengan tuntas

    Jakarta, 2023

     

    PRIA TANPA KELAMIN

    pria tanpa kelamin
    rajin menyapa
    hujan sorehari
    sambil tertidur pulas
    menjelma jadi hewan pemalas

    dari atas ranjang tembaga
    ditularkan ribuan kuman
    tumbuh subur
    dalam akar panas bumi
    perlahan dimatikan
    angan-angan terjebak di atas dahan

    setiap pergi pagi buta
    ingin menembus belantara kota jakarta

    hari-hari selanjutnya
    makin mengerikan
    paru-parunya kini terinfeksi
    bakteri takut dewa matahari
    bahkan hatinya
    hanya mengalahkan dua kali
    semakin gelap
    ingin pergi ke planet
    dunia orang mati

    pria tanpa kelamin
    memiliki sepotong ginjal
    yang telah membuat bengkak
    seluruh rumah suci
    tempat orang berdoa
    mengumpulkan dosa
    masa lalu paling menyakitkan

    pria tanpa kelamin
    pingsan sejenak
    lalu bangun lagi
    tabur mawar
    di tempat tidur penyakit menular
    benar-benar liar

    apakah masih ada harapan
    karena kemelaratan
    berlanjut untuk waktu yang lama

    Jakarta, 2023

     

    RUMAH SAKIT BERTINGKAT

    dari muka tulisan suci
    tubuhnya terus membengkak
    berubah menjadi bangunan
    rumah sakit bertingkat

    lalu menatap langit sepanjang hari
    yang menelan
    kuman diagnosis penyakit
    menyebarkan
    kesepian berdahak
    dari perawan yang tidak memiliki sperma berkepanjangan

    jam berapa sekarang, tanyanya
    bau infus telah menyebar
    ke kuburan basah
    air mata merah
    kemarahan
    telah menyebarkan kebohongan

    “Jika kematianku datang, biarlah dibungkus dengan kain kafan tua, karena peti mati itu terlalu mahal untuk dijual di bawah bumi tak berpenghuni,” pesanmu

    lalu sebelum pulang
    telah melewati ranjang kematian ini
    tepat di bawah perutmu yang berlubang
    disuntikkan ke dalam terowongan berair
    tembus ke liang lahat
    memang mengerikan!

    Jakarta 2023

     

    Kontributor : Eykel Lasflorest

  • Melihat Proses Kreatif Penyair Nuyang Jaimee dalam Buku “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”

    Melihat Proses Kreatif Penyair Nuyang Jaimee dalam Buku “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”

     Jakarta, Minggu 3/12/2023 berandanegeri.com. Ketika memilih ruang puisi, sepenuhnya ia sadar bahwa dirinya telah masuk ke dalam ruang yang begitu sunyi. “Puisi yang telah saya pilih, yang telah anda pilih, yang telah teman-teman semua pilih, yang telah kita semua pilih, adalah sebuah keniscayaan dari hati paling sepi, langkah paling sunyi dan kata tanpa suara paling hakiki. Namun begitu puisi memberi keriuhan pada pikiran-pikiran saya serupa aksara-aksara yang bebas berterbangan di kepala dan saling bertubrukan lincah menciptakan serangkaian paragraf-paragraf yang memiliki kekuatan metafisis dan memberi kesadaran baru menggugah hati dan jiwa saya,” ujar Penyair Perempuan Berbakat, Nuyang Jaimee ketika menjawab pertanyaan dari beberapa peserta yang hadir dalam peluncuran dan bedah buku antologi puisi PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA di PDS.HB.Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Jumat (1/12/2023)

    Pada peluncuran buku antologi puisi tersebut, juga diadakan diskusi sastra dengan nara sumber Prof.Dr.Wahyu Wibowo dan Tatan Daniel, moderator Rita Sri Hastuti.Sedangkan MC Santined dan Nanang R Supriyatin.

    Dikatakan lagi oleh Nuyang Jaimee -penyair kelahiran Jakarta 31 Maret 1977 ini- menulis puisi bukan sekedar mengenai proses mengungkapkan pikiran dan isi kepala saja.

    “Tetapi juga menjadi tempat untuk bicara semua kegelisahan dan pergolakan bathin yang dalam, di mana semua ekspresi bebas keluar tanpa batas. Saya bisa teriak, melolong, menangis, tertawa, marah, protes tanpa mengumpat dan memaki semua kecamuk dalam hati dan pikiran, tempat di mana saya menemukan makna dan kebijaksanaan yang menghantarkan saya dalam perenungan yang lebih mengerucut pada sebuah pemahaman yang lebih universal,” kata penyair yang mulai menekuni dunia teater dan sastra sejak awal tahun 2000-an.

    Seperti sebuah kesadaran kosmik yang teramat dalam, seperti ruang kedap suara yang steril yang membersihkan kotoran-kotoran pemikiran, energi negatif dan daya-daya rendah di luar kosmiknya, puisi tetap mampu menembus semua hal di alam semesta manusia dan seluruh isinya karena sifatnya yang tak terbatas menyentuh apa saja di sekeliling dirinya.

    Karena sifatnya yang mampu mensterilisasi tersebut sehingga bagi saya puisi menjadi sebuah ruang tempat tumpahnya seluruh perasaan, imajinasi, sekaligus pemikiran yang teramat sakral.

    Dan karena puisi adalah sebuah kesadaran yang senantiasa bergerak dinamis, berputar dengan sendirinya sesuai kesadaran diri manusia, itu yang menjadikan keberadaan puisi menjadi sangat khas dan tidak bisa digantikan oleh karya sastra jenis lainnya.

    Buku kumpulan puisi PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA ini sebenarnya bukan kumpulan puisi pertama. “Sebelumnya kumpulan puisi saya berjudul “Surat” sudah pernah hampir saya terbitkan, berisi hampir lebih dari tujuh puluh puisi pilihan. Namun karena beberapa faktor, takdir mengantarkan buku puisi PENDOA YANG LUPA NAMA TUHANNYA  yang berisi dua puluh puisi pilihan ini menjadi puisi pertama yang saya terbitkan. Beberapa puisi di dalam buku ini, sudah dimuat di beberapa media sastra offline dan online atau kumpulan antologi puisi bersama,” ucap Nuyang Jaimee yang pada tahun 2004 pentas teater keliling ke-13 kota di Jawa dan berakhir di Bali dalam event Jakarta Art Festival 2004.

    Puisi-puisi dalam buku ini sebagian besar ditulisnya dari hasil pergulatan dirinya di Forum Seniman Peduli TIM (FSP-TIM), dengan gerakan bernama #SaveTIM di akhir tahun 2019 sampai sekarang, meski selebihnya diambil dari tahun-tahun sebelumnya.

    “Tadinya saya ingin berbangga diri dengan puisi-puisi perlawanan diri kepada kawan-kawan seperjuangan bahwa saya tetap berjuang tidak dengan senjata atau maju di garis depan menjadi tokoh-tokoh perlawanan, tapi saya berjuang dengan karya, dengan puisi ruang kesunyian yang sangat subtil dan mampu menohok bathin lebih tajam dari ribuan pedang perang apapun. Dengan tulisan dan raungan perih yang akan terus tercatat dalam sejarah, ia tetap hiudp tak akan mati sampai kapanpun meski saya sudah pergi berkalang bumi, tapi sepertinya keperihan saya menjadi berlipat ganda, karna kelahiran puisi ini sungguh, tidak dalam kebahagiaan yang sesungguhnya sebab ada yang saya rindukan dari Forum Seniman Peduli TIM dan proses perjuangan #SaveTIM ini adalah sebuah kebersamaan dan cinta kasih yang hilang,” kilah Nuyang Jaimee yang pada tahun 2005 mulai menjadi kontributor berita untuk seni dan budaya pada Harian Umum MADINA, dan majalah bulanan Bulettin WARTA PDS.HB.Jassin.

    Namun begitu dirinya patut berbangga hati bahwa hari ini  (Jumat, 1 Desember 2023) sejak awal proses kreatif karya ini Nuyang selalu di damping oleh Abangda , guru pergerakan , “Puitic Resistance”  yang selalu mensupport  dalam terus berjuang dan berkarya.

    “Dengan segala hormat saya, dia adalah Bapak Tatan Daniel dan Bapak Mujib Hermani.Pada akhirnya, Proses kreatif  terhadap Pendoa Yang Lupa Nama Tuhannya ini menuntun  pada pemahaman tentang arti sebuah perjuangan dan keikhlasan dengan cara yang begitu sangat sederhana.Ketika saya serahkan puisi-puisi ini ke para guru-guru saya yang kini duduk di tengah-tengah kita sebagai pembicara, hati saya berdebar-debar, seperti sebuah ujian kelulusan dimana saya akan dibantai dalam persidangan tesis S2. Saya sadar semua energi yang dikeluarkan dalam menulis puisi-puisi ini hanyalah sebagian kecil saja yang dicuri dari mereka secara diam-diam yang menurut saya satu-satunya kasus pencurian yang dihalalkan, namun demikian tetap tak sanggup saya melampaui kebajikan dan kebijaksanaan mereka. Karnanya dengan berpura-pura merelakan diri dalam “pembantaian kreatif” pada hari ini saya bersyukur apapun dan bagaimanapun puisi ini sudah dilahirkan dan sejak saat ini dia sudah memiliki takdirnya sendiri di ruang public _”Para Pecinta Kesunyian dan Puitic Perlawanan”,” ucap Nuyang yang pada Juli 2004 mendirikan lembaga Cakra Budaya Indonesia (CBI) dan pada April 2017 menggagas gerakan komunitas Keluarga Besar Penyair Seksih (KBPS), dan September 2019 mendirikan Kelompok Teaterikal Puisi Penyair Seksih (KTPPS).Selanjutnya Juli 2020 mendirikan Teater Cakra, dan Januari 2023 membentuk Komunitas Kampung Seni Jakarta (KSJ).

    Sejak September 2019 hingga sekarang, Nuyang Jaimee ikut dalam gerakan #SaveTIM, bersama kawan-kawan seniman Taman Ismail Marzuki lainnya terkait Revitalisasi TIM. “Semoga buku kumpulan puisi ini bisa memberi sumbangsih dan peranan penting dalam mewarnai khazanah perpuisian di Indonesia khususnya dan perjalanan Kesusasteraan Indonesia pada umumnya,” pungkasnya. (*)

     

     

    Kontributor : Lasman Simanjuntak

  • Ewith Bahar – Puisi Tiga Baris dan “Impromptu Terzina”

    Ewith Bahar – Puisi Tiga Baris dan “Impromptu Terzina”

     

    Mari berkenalan dengan Ewith Bahar. Ia Penyair Perempuan yang sedang melambung di tanah air, khususnya di kalangan para peminat sastra. Buku Puisi karyanya Impromptu Terzina menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023 ini.

     

    228 Puisi, 22 Sub-Tema

    Buku Puisi setebal 150 halaman tersebut, memuat 228 Puisi, 22 Sub-Tema. Dewan Juri yang terdiri dari Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, dan Maman S. Mahayana, yang menetapkan Impromptu Terzina menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023.

    Pada Kamis, 30 November 2023 nanti, buku puisi itu akan dibedah oleh dua dari tiga Dewan Juri, yaitu Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana. Bedah buku itu dilakukan di aula Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Lantai 4 Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat.

    Penyelenggara bedah buku itu adalah Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI). “Di satu sisi, ini merupakan bentuk apresiasi terhadap Ewith Bahar. Di sisi lain, Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana akan menjelaskan, kenapa buku puisi tersebut berhasil menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik. Apa keistimewaannya dibanding buku karya peserta lainnya,” ujar Octavianus Masheka, Ketua Umum Komunitas TISI, pada Senin, 27 November 2023 lalu.

    Octavianus Masheka berharap, bedah buku serta penjelasan Dewan Juri tersebut, akan memberi pencerahan kepada para peminat sastra. Dengan demikian, kualitas puisi yang sudah dibukukan, yang dikirimkan ke panitia Sayembara Buku Puisi di masa-masa mendatang, akan lebih baik lagi.

    Acara bedah buku tersebut akan dibuka oleh Firmansyah selaku Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Provinsi DKI Jakarta. Ia didampingi oleh Diki Lukman Hakim, Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) Perpustakaan Jakarta dan Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin. Itu adalah wujud dukungan kedua lembaga tersebut terhadap Komunitas TISI, dalam konteks meningkatkan literasi anak-anak bangsa melalui sastra.

    Oh, ya, buku puisi Impromptu Terzina karya Ewith Bahar ini menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023, dari Sayembara Buku Puisi, yang diselenggarakan oleh Yayasan Puisi Indonesia (YPI). Secara jumlah, ada 150 buku puisi yang menjadi peserta sayembara tahun tersebut.

    Untuk tahap awal, Dewan Juri memilih 20 buku puisi yang lolos menjadi nominasi. Kemudian, pada Rabu, 26 Juli 2023 lalu, Dewan Juri mengumumkan buku puisi Impromptu Terzina karya Ewith Bahar menjadi Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023.

    Pengumuman tersebut dilakukan di Teater Kecil, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), sebagai rangkaian dari Perayaan Hari Puisi Indonesia (HPI) ke-11. Sayembara Buku Puisi itu merupakan acara tahunan YPI, yang diikuti secara antusias oleh para peminat sastra dari seluruh wilayah tanah air.

     

    Inspirasi Puisi Tiga Baris

    Pada Senin, 27 November 2023 lalu, saya janjian dengan Ewith Bahar. Tujuannya, sebelum mendengar penjelasan Sutardji Calzoum Bachri dan Maman S. Mahayana selaku Dewan Juri, saya ingin mendengar proses kreatif Ewith Bahar dalam menciptakan Puisi Tiga Baris yang dihimpun dalam buku puisi Impromptu Terzina.

    Ewith Bahar mengungkapkan, ia terinspirasi untuk menciptakan Puisi Tiga Baris, setelah mencermati ragam puisi tiga baris di berbagai negara di dunia. Antara lain, haiku, hokku, dan katauta dari Jepang. Juga, sijo di Korea dan terza rima di Italia.

    Minatnya terhadap dunia tulis-menulis, sudah tumbuh sejak remaja. Hingga tahun 2023 ini, Ewith Bahar sudah menerbitkan 9 buku sebagai karya tunggal. Baik berupa buku puisi, cerpen, novel, dan esai. Pada tahun 2019, salah satu buku puisi karyanya

    Sonata Borobudur memperoleh penghargaan sebagai 5 Besar Buku Puisi Terbaik Indonesia, yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.

    Dengan latar yang demikian, juga dengan dukungan teknologi informasi kini, Ewith Bahar leluasa menjelajahi ranah perpuisian dunia. Ia menyadari, jenis puisi tiga baris, tidak dikenal dalam sejarah perpuisian Indonesia. Yang ada adalah jenis-jenis pantun dua baris atau empat baris.

    “Saya sebenarnya menantang diri saya sendiri, mampukah saya menciptakan puisi tiga baris?” tutur Ewith Bahar. “Saya membayangkan, puisi tiga baris adalah sebuah ruang yang sempit. Tantangannya, bagaimana mengisi ruang yang sempit dengan elemen-elemen yang bermakna, dengan harmoni yang terjaga,” lanjut Ewith Bahar.

    Ia menyadari, itu sangat tidak mudah baginya. Meski demikian, pergulatan kreatif menemukan tema, mengulik diksi, serta menciptakan rima, tetaplah ia tempuh dengan asyik. Buktinya, di buku puisi Impromptu Terzina ia berhasil menciptakan 228 puisi, dengan 22 sub-tema.

    Tapi, apa sebetulnya Impromptu? Ini adalah istilah dalam dunia musik, yang berasal dari bahasa Prancis, yang berarti improvisasi. Dengan landasan improvisasi itulah, Ewith Bahar mengolah peristiwa banjir, misalnya, ke dalam puisi tiga baris.

    Memang, untuk satu peristiwa, beberapa puisi tiga baris, bisa ia ciptakan. Tapi, Ewith Bahar menantang dirinya untuk memilih sudut pandang yang ia nilai paling kuat. Dengan kata lain, 228 puisi dengan 22 sub-tema tersebut, sesungguhnya adalah hasil dari proses memilih, yang berlangsung terus-menerus.

    Ketika Impromptu Terzina dinyatakan Dewan Juri sebagai Juara I Buku Puisi Terbaik tahun 2023, Ewith Bahar tentu saja happy. Ia mengakui, ini bukan yang pertama kali ia mengirimkan buku puisi ke panitia Sayembara Buku Puisi, yang diselenggarakan oleh Yayasan Puisi Indonesia (YPI).

    Meski di tahun-tahun sebelumnya buku puisinya tidak terpilih, ia terus dan terus berproses secara kreatif. Menantang diri sendiri itu, ternyata asyik.

     

    Kontributor : Lasman Simanjuntak