Category: SASTRA

  • Sajak-sajak Alois A. Nugroho:   Ave Maria – Nahkoda – Syair Nelayan

    Sajak-sajak Alois A. Nugroho: Ave Maria – Nahkoda – Syair Nelayan

     

     

    Ave Maria

     

    karena rindu kepada pulau
    kukenang wajahmu yang teduh
    laut tak menjanjikan arah
    dan dahaga senantiasa kambuh

    ibu,
    di sudut langit yang mana bisa kutampung
    air matamu?

    (1983)

    —————

     

    Nahkoda

     

    dengan tubuh kena selesma
    kubawa kapal terus melaju
    aku berdiri di atas palka
    dengan teropong yang kaca-kacanya
    dibasahi embun:
    laut ungu, langit ungu
    dan di sana keduanya bertemu
    entah di mana, entah siapa menunggu

    (1979)

    ——————-

     

    Syair Nelayan

     

    aku ini perahu
    dengan layar tergulung
    laut datar bagai kayu diserut musim
    dan langit menyuruh kita menjawab
    amin, amin

    (1984)

    ————————–

     

    *Alois A. Nugroho lahir di Solo, 21 Juni 1954. Ia belajar drama dan puisi pada A. Isda Supojo, F.B. Indradi, dan Budiman S. Hartojo di akhir 1960-an sampai awal 1970-an pada zaman Pusat Kesenian Jawa Tengah di Sasana Mulya Surakarta. Alois menyelesaikan kuliahnya di STF-Driyarkara, Doktor di Uiversitas Katolik Leuven, Belgia (1991). Bekerja sebagai dosen di Universitas Atma Jaya-Jakarta dan pada Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara-Jakarta.

    *Sumber sajak: buku puisi Kepada Aya Miura, Alois A. Nugroho, Indonesia Tera – 2001

     

  • Aku Anak Nelayan

    Aku Anak Nelayan

     

    Oleh Bosko Beding, SVD

     

    Aku anak nelayan
    Ayahku anak nelayan
    Begitu pula kakek dan moyangku
    Darah nelayan mengalir di tubuhku
    Daging dan urat-urat nelayan
    membaluti tulangku
    Ya, aku anak nelayan
    Dari kulitku yang hitam berkilat
    sampai ke urat dan sumsum

    Orang peka menilai suara
    Pasti tahu aku nelayan dari suaraku
    Bila berbicara tak pernah halus
    (biarpun berdua)
    Selalu dengan nada tinggi melengking
    membuat urat-urat leherku tegang
    membujur sepanjang leherku

    Aku anak nelayan
    dilahirkan di sebuah desa nelayan
    di mana penduduknya menggantungkan hidupnya
    dari menangkap ikan semata

    Aku anak nelayan
    Ketika dilahirkan ibuku
    pada tanggal hari bulan yang tak diketahui
    kecuali bahwa itu terjadi di musim nale
    ketika bau laut menerpa desa semata
    lebih-lebih menjelang malam
    dan orang mulai menghitung-hitung harinya

    Masa kanak-kanakku tak bisa lain
    berhubung erat dengan laut biru
    laut selatan yang jarang tenteram
    dengan pantai pasir berwarna hitam
    yang berkilau-kilau ditimpa matahari

    Pantai yang menjadi lebar dan sempit
    menurut pasang surut atau pasang naik
    terbentang antara dua tanjung yang akrab
    Baofutung di sebekah timur
    Dan Sarabia di sebelah barat

    Pantai yang kadang berpasir seluruhnya
    (dengan ombak kecil-kecil gemersik)
    kadang pula kehilangan pasirnya
    tinggal batu-batu karang yang putih
    atau hitam berlumut
    Dengan ombaknya yang bergulung-gulung
    dengan suara dan hempasan yang dahsyat
    Masa kanak-kanak tak bisa lain
    Mesti akrab dengan lifololo
    Suatu bagian berbatu-batu karang dari pantai
    dengan kolam-kolamnya besar dan kecil
    yang di huni ikan-ikan kecil beraneka warna
    yang suka diburu anak-anak
    dengan anak panah sederhana
    terbuat dari kawat halus

    Dan kadang dibasmi secara masal
    (oleh orang-orang dewasa)
    dengan akar-akar beracun
    tapi bagi kami
    lifololo terutama merupakan tempat
    kami melayarkan perahu-perahu kecil
    terbuat dari seludang kelapa
    dengan layar terbuat dari kain
    berwarna tanpa aturan.

     

  • “Cintaku di Lembata”, sebuah Fiksi Perjalanan Bertabur Cinta

    “Cintaku di Lembata”, sebuah Fiksi Perjalanan Bertabur Cinta

     

    Oleh   Dr. Wiyatmi, H. Hum

     

    PEMBACA SASTRA INDONESIA saat ini mungkin tidak begitu mengenal nama Sari Narulita sebagai salah satu sastrawan perempuan di Indonesia. Mereka, terutama generasi saat ini, lebih mengenal nama Nh. Dini, Dee (Dewi Lestari), Okky Madasari, Ayu Utami, Djenar Maesa Ayu, dan Oka Rusmini. Mengapa demikian? Ternyata karier kepenulisannya sudah dimulai sejak 1970-an, sezaman dengan Marga T., Titie Said. La Rose, Maria Sardjono, Nina Pane, dan Titiek W.S. Sejumlah nama sastrawan perempuan yang dalam buku A. Teeuw (Modern Indonesian Literature II, 1979:163) dikategorikan sebagai novel pop. Novel pertamanya berjudul Kabut Cinta (1978), disusul dengan Tatkala Cengkeh Berbunga (1982). Dari catatan biografinya, dia lebih dikenal sebagai seorang bintang film (aktris) dan bermain dalam sejumlah film, antara lain Bermalam di Solo (1962), Penjeberangan (1963), Masa Topan dan Badai (1963), Unggul Kasih Dimusim Kemarau (1964), Takkan Lari Gunung Dikedjar (1965), Deru Campur Debu (1972), Bundaku Sayang (1973), Patgulipat (1973), Last Tango in Jakarta (1973), Ratapan Si Miskin (1974), Cinta Pertama (1974), Antara Surga dan Neraka (1976), Pengalaman Pertama (1977), Gara-Gara Gila Buntut (1977), Cowok Masa Kini (1978). Selain bermain film dia juga bekerja sebagai redaktur majalah, antara Sarinah, Pertiwi, Cosmopolitan, Herworld, Brides, dan Maxim.

    Perspektif feminisme tampaknya dapat menjelaskan mengapa Sari Narulita dan sastrawan perempuan seangkatannya di tahun 1970-1980-an tidak banyak dibahas dalam kajian sastra dan sejarah sastra di Indonesia. Kritikus sastra dan sejarawan sastra Indonesia pada umumnya masih menggunakan perspektif patriarkis dan cenderung melupakan kretivitas para sastrawan perempuan atau menilai rendah kualitas karya sastrawan perempuan (Wiyatmi, 2017:12). Dengan menggunakan kritik sastra feminis, kreativitas para sastrawan perempuan akan lebih diakui dan dihargai. Showalter (1986:130-131) mengemukakan bahwa kritik sastra feminis pada dasarnya dapat dibedakan menjadi dua tipe, yaitu the women as a writer (gynocritics) yang memberikan perhatian pada perempuan sebagai penulis karya sastra, dan the women as a reader¸ yang membaca dan memahami karya sastra sebagai mana perempuan membaca. Dengan menggunakan perspektif gynocritics tulisan ini mencoba memahami kreativitas dan karya sastrawan perempuan–yang telah berkarya sejak tahun 1970-an, Sari Narulita dan karya terbarunya, Cintaku di Lembata (Gramedia Pustaka Utama, 2016).

    Cintaku di Lembata adalah novel yang ditulisnya setelah kembali ke dunia sastra. Dari pengantarnya, dia menyatakan bahwa novel tersebut ditulis berdasarkan perjalanannya ke Pulau Lembata, NTT tahun 2014. Pengalamannya yang mengendap selama setahun, kemudian dibangkitkan kembali ketika 2015 dia mendpatkan kesempatan me ngunjungi pulau tersebut bersama tim AFI (Asosiasi Fotografer Indonesia). Novel ini tidak hanya berkisah tentang cinta sepasang kekasih di Pulau Lembata, yang sempat terputus, bertemu kembali, dan akhirnya berpisah untuk kedua kalinya. Namun, ada yang lebih menarik dari hal itu, sebuah reportasi perjalanan wisata dan analisis kritis terhadap perkembangan sosial budaya dan peradaban di wilayah Indonesia Timur, khususnya NTT digambarkan dengan sangat indah dalam novel in

     Kisah Cinta dalam Sebuah Fiksi Perjalanan Karya Sari Narulita

    Bagi pembaca yang suka traveling dan belum mengenal wilayah Indonesia Timur, khususnya Lembata, Nusa Tenggara Timur, novel ini akan sangat berguna untuk memberikan gambaran mengenai lokasi geografis, perkembangan masyarakat, pemerataan proyek pembangunan pemerintah, destinasi wisata, kekayaan tradisi, dan budaya masyarakat Lembata. Narasi yang memperkenalkan dataran Lembata sangat mendetil dan informatif.

    Pulau Lembata yang berada dalam gugusan Kepulauan Solor di Propinsi NTT. Konon dikenal dengan nama Lomblen, yang berarti kawula. Alamnya sebagian besar terdiri atas wilayah pesisir pantai, perbukitan, dan gunung berapi. Penduduk aslinya berasal dari dua etnis, Lamaholot dan Kedang. Meski agama di sini Roma Katolik, Islam, Protestan, Hindu, dan Budha, mereka masih menaruh kepercayaan pada leluhur dan adat memberi sesaji. Juga sangat kuat memegang tradisi (Narulita, 2016: 18).

     Narasi tersebut membuat pembaca mengenal latar tempat terjadinya berbagai kisah dan peristiwa, baik yang dialami oleh tokoh dalam perjalanannya di Lembata maupun karakter masyarakatnya. Karakter masyarakat yang bersahabat dalam menyambut tamu tampak pada narasi berikut:

    Sekitar jam 17.00 kami tiba di puncak buktit Desa Lamagute. Mobil berhenti dan kami dipersilakan turun, menanti sampai seluruh rombongan tiba. Akan ada upacara adat yang merupakan tradisi penyambutan, sebelum kami diperbolehkan memasuki desa tersebut…
    Para tetua adat yang berbaris memegang tombak berpantun sahut menyambut. Seorang perempuan tua menyanyikan lagu dengan nada-nada monoton dengan nyaring. Tidak satu pun kata yang kami mengerti, tapi semua menikmati ritual ini. Setelah tarian tombak, sejumlah perempuan berpakaian adat dengan sekotak sirih di tangan menghampiri kami dan menyuguhkannya.
    Aku mengambil selembar daun sirih, secuil kapur, dan sepotong gambir…. (Sari Narulita, 2016: 22-23).

     Dari struktur naratifnya novel Cintaku di Lembata dapat dikategorikan ke dalam genre sastra perjalanan (travel writing). Dengan mengacu pada pendapat Carl Thomson (2012: 13) yang menyatakan bahwa travel writing adalah segala catatan yang merekam pertemuan antara diri (self) dan yang lain (other), dan negosiasi-negosiasi atas perbedaan atau persamaan yang melingkupinya, juga bentuk dokumen lain yang berhubungan dengan perjalanan atau artefak kebudayaan, maka Cintaku di Lembata termasuk genre sastra perjalanan. Kisah diawali dengan keputusan tokoh Kayla mengikuti ajakan sahabatnya, Eleonara dalam program Adventure Lembata 2014. Bersama rombongan yang terdiri dari 120 orang yang terdiri dari warga negara Indonesia, Singapura, dan Malaysia mereka berwisata mengunjungi sejumlah tempat di Lembata.

    Perjalanan dimulai dari Jakarta ke Kupang dengan pesawat Batik Air, dilanjutkan dengan pesawat Internusa (atau Susi Air) ke Lembata. Selanjutnya perjalanan darat mengunjungi sejumlah desa wisata menggunakan bus.

    Pesawat yang membawa rombongan Lembata Adventure 2014 mendarat pukul 05.30 di Bandara El Tari, Kupang. Aku melangkah turun dari pesawat. Tiba di bawah aku berhenti sejenak. Mataku menyusuri lapangan terbang yang tampilannya jauh berbeda dari saat terakhir kutinggalkan….
    Dulunya lapangan terbang ini tandus dan di pinggirnya penuh ilalang saat itu hanya pesawat milih AURI yang mendarat di situ…(Sari Narulita, 2016:12).

    Penerbangan dengan pesawat berbaling-baling itu hanya memakan waktu 45 menit. Pesawat mendarat mulus di Pulau Lembata. Bandara kecilnya bernama Wunopito Lewaleba yang terletak hanya lima belas menit berkendara ke kota (Sari Narilita, 2016:18).

    Sebagai novel yang dapat dikategorikan writing travel melalui tokoh utama (Kayla) dengan sudut pandang akuan, novel ini cukup berhasil menggambarkan perjalanan yang ditempuhnya dari Jakarta-Kupang, dilajutkan dngan Kupang-Lembata. Kayla bahkan mencoba membandingkan keadaan ketika pertama kali mengunjungi Lembata melalui Kupang beberapa tahun sebelumnya dengan kondisi 2014.

    Ketika menggambarkan tempat-tempat yang dikunjungi, Kayla juga mengekspreikan sejumlah fasilitas umum yang perlu ditingkatkan untuk mendukung Lembata sebagai daerah kunjungan wisata. Misalnya, tembok-tembok ruang bandara yang belum dilengkapi poster atau foto wisata yang dapat menjadi sarana promosi (Narunita, 2016:19), kurangnya persiapan panitia setempat sehingga kamar home stay tak berpintu dan hanya ditutup gordin (hlm, 29), penginapan di desa adat yang berupa saung setengah terbuka terbuat dari bambu yang ditutup dengan atap ala kadarnya (hlm. 37), letak toilet yang cukup jauh dari kamar dengan fasilitas air untuk madi yang terbatas (hlm. 37-38).

    Namun, kurangnya fasilitas yang diperoleh para wisatawan selama perjalanannya di desa-desa di Lembata digantikan oleh keramahan dan keterbukaan penduduk dalam menyambut dan melayani mereka, termasuk berbagai menu makanan tradisional yang enak dan menggugah selera. Sebuah perjalanan wisata tampak jelas pada narasi berikut.

    Secara geografis Lamalera membentang di tepi pantai selatan Pulau Lembata. Jarak Jontora ke sana sebenarnya tidak terlalau jauh, tetapi dapat ditempuh empat jam karena jalanan berliku dan tidak mulus. Akan ada dua tempat yang bakal dikunjungi dalam perjalanan ke Lamalera yaitu desa Belo Baja dan pasar barter tradisional.
    Ketika bus mulai penuh, kami diabsen panitia, kemudian bus jalan beriringan… Bus kembali bergerak menempuh jalanan gunung yang berkelok-kelok. Dari kejauhan kami dapat melihat desa. Itulah Belo Baja.
    Bus berhenti dan kami dipersilakan turun. Di kanan kiri jalan kami disambut hangat oleh masyarakat setempat yang kebanyakan mengenakan pakaian tradisional. Mereka menari sambil menyanyi, mengarahkan kami ke tempat yang tersedia kopi dan camilan lokal.
    Ini daerah penghasil kopi. Aku tidak biasa minum kopi hitam, tapi gadis yang menuangkannya meyakinkanku bahwa kopinya ebak. Aku melihat ke arah Nora yang tengah menghirup kopinya dengan nikmat…. (Sari Narulita, 2016: 108).

    Melalui perjalanan wisata Kayla bersama Adventure Lembata 2014 novel ini juga memperkenalkan berbagai produk budaya khas Lembata, seperti alat musik sasando dan kerajinan tenun (Sari Narulita, 2016:163-164). Selain itu, novel ini juga memperkenalkan salah satu warisan budaya yang ada di Desa Lembata, yaitu atraksi perburuan ikan paus secara tradisional yang diawali dengan upacara misa leva untuk pemberkatan alat-alat tadisional yanga kan digunakan berburu. Tradisi perburuan ikan paus dilakukan antara bulan Mei hingga September. Konon ini merupakan satu-satunya tradisi di dunia, sehingga pada bulan tersebut banyak kru TV atau jurnalis asing meliput peristiwa tersebut (Narulita, 2016: 112).

    Dari situs http://nationalgeographic.co.id/berita/2015/03, diperoleh informasi bahwa tradisi perburuan ikan paus di Desa Lamalera, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Tidak seperti yang dilakukan oleh nelayan-nelayan modern Jepang yang memburu kawanan ikan paus dengan kapal-kapal besar dan canggih, nelayan Lamalera hanya menggunakan peledang, yakni perahu kayu tradisional sebagai sarana perburuan, serta sosok lamafa yang memiliki tugas menikam ikan paus menggunakan sebilah tempuling atau tombak.

    Sesuai dengan judulnya Cintaku di Lembata novel ini bukan sekedar kisah perjalanan wisata bersama rombongan Adventure Lembata, tetapi juga sebuah kisah cinta yang mengharukan. Kisah cinta yang bersemi antara Kayla dengan Gringgo (Elanda). Mereka bertemu pertama kali ketika Kayla bersama sejumlah artis ibukota yang tergabung dalam BKSSM (Badan Kerja Sama Seniman Militer) di era Orde Baru dikirim Lembata untuk menghidur para prajurit yang menjaga keamanan NKRI. Kisah cinta terputus setelah Kayla kembali ke Jakarta. Bertahun-tahun mereka berpisah. Namun, perjalanan wisata berasma Adventure Lembata 2014 mempetemukan kembali Kayla dengan Gringgo. Dalam pertemuan kembali tersebut, mereka tidak hanya saling menumpahkan kerinduannya, tetapi juga menikmati keindahan alam Lembata dan mendiskusikan kemajuan Lembata dan kurangnya perhatian pemerintah pusat dalam membangun infrastruktur di Indonesia Timur.

    “Gringgo, kau tak pernah cerita bahwa bulan lebih besar dan indah dilihat dari sini!”
    “Kukira kau tak berminat mengetahuinya,” jawab lelaki itu seenaknya.
    “Aku juga tak pernah tahu langit di sini lebih biru dan lautnya begitu jernih. Mengapa dulu kau tak pernah mengajakku jalan-jalan di pantai, Gringgo?”
    “Tak mungkin menculikmu dan mengajaknya pergi. Tak ada kesempatan untuk itu. Aku sedang tugas dan keadaan belum aman.” (Narulita, 2016:141-142).

    “Lembata memiliki potensi menjadi objek wisata, Ada laut dan gunung. Adat istiadat dan budanya terjaga turun tumurun, “ sambung Gringgo.
    “Kau benar, tapi infrastrukturnya masih kurang diperhatikan pemerintah pusat. Perlu standarisasi home stay, sanitary, perbaikan jalan, dan alat transportasi setempat sehingga menjadi lebih layak, “ kataku menengadah ke arah Gringgo….(Narulita, 2016:136).

    Meskipun kisah cinta tersebut bersemi kembali dalam pertemuan kedua di Lembata, akhirnya keduanya harus berpisah lagi. Gringgo meminta Kayla kembali ke Jakarta, walaupun Kayla ingin tetap tinggal di Lembata. Gringgo tak ingin menahan Kayla karena di Jakarta Kayla masih terikat perkawinan, memiliki keluarga dan karier. Dengan berat hati akhirnya Kayla pulang ke Jakarta bersama rombongannya. Apalagi sebelum Gringgo memintanya untuk meninggalkannya dan pulang ke Jakarta, Kayla ditemui sosok misterius yang mengaku mendapat tugas dari leluhurnya sebagai penjaga Gringgo.
    Baru saja aku akan melangkah, kudengar di belakangku ada yang memanggil.
    “Nona, tunggu! Beta mau bicara.”
    Suara itu mengejutkanku. Aku melihat ke kanan dan ke kiri, berharap ada orang lain selain aku di jalanan. Tapi jalan kosong, tak ada orang lain. Aku tak berani menengok ke belakang, amak segera kupercepat jalanku, tapi langkahku terasa berat sekali.
    “Tolong, Nona berhenti sebentar!”
    Pada saat yang sama langkahku terhenti. Dan tiba-tiba ada saja seorang berpostur tinggi, tegap, dan berkulit gelap sudah berdiri tepat di depanku. Sepertinya sudah berumur. Sekilas kulihat wajahnya bergurat keras, membuatku takut. Lututku mulai gemetar dan peluh dingin keluar. Mau apa sebenarnya orang ini….
    Pakaian orang ini aneh, tak lazim. Dari atas ke bawah dia mengenakan tenun ikat, tapi tutup kepalanya mirip batik.
    “Mau apa?” ketaku memberanikan diri.
    “Beta hanya mau mengingatkan Nona untuk berhenti berjumpa dia.” Suara itu terdengar tegas.
    “Dia? Dia siapa? Aku tidak mengerti maksud Anda,” sengaja kukeraskan suaraku. Sedikit demi sedikit ketakutanku berangsur bekurang.
    “jangan pura-pura tidak tahu, Nona, itu Tuan Muda yang baru saja mengantar Nona.” Dari suaranya jelas temperamen orang itu mulai meninggi.
    “Kenapa?”
    “Biarkan dia tenang. Jangan ganggu dia lagi.”
    “Aku mencintainya.”
    “Nona terlambat kembali untuk itu!” kata sosok itu dengan suara tegas.
    “Tidak aku akan tetap di sini untuk mendampinginya.”
    “ditakdirkan untuk hidup bersama.” Suara sosok itu semakin tegas….
    “Leluhurnya meminta aku menjaganya,” sahut orang itu tegasdan pergi meninggalkan ku yang masih terhenyak sendiri….(Narulita, 2016:152-153).

     Siapa sebenarnya sosok misterius itu? Mengapa Gringgo tidak mau Kayla tetap tinggal di Lembata walaupun dia mengaku tetap mencintai kayla?. Itulah misteri yang sengaja tak terjawab sampai akhirnya kisah ini berakhir yang ditandai dengan perjalanan Kayla dan sahabatnya, Nora menuju bandara El Tari, Kupang untuk segera kembali ke Jakarta.

    Dengan menggunakan perspektif gynocritics, maka terbitnya novel Cintaku di Lembata dan karya-karya Sari Narulita sebelumnya perlu dicatat dalam sejarah sastra Indonesia. Novel ini akan tidak hanya akan memperkaya genre sastra perjalanan yang akhir-akhir ini banyak ditulis sastrawan Indonesia, seperti Edensor (2007) karya Andrea Hirata atau Partikel (2012) karya Dee, tetapi juga mengukuhkan eksistensi para sastrawan perempuan yang menulis karya-karyanya sambil melakukan riset etnografis. Dalam menulis karyanya sastrawan tidak hanya bermain dalam imajinasinya, tetapi juga harus melakukan perjalanan dan penelitian di lokasi yang akan dijadikan bahan penulisan karyanya. Tanpa emansipasi tentu saja perempuan tidak mungkin melakukan itu semua. Itulah mengapa kreativitas para sastrawan perempuan harus diapresiasi dalam ruang-ruang diskusi maupun dalam kajian sastra dan dicatat dalam buku-buku yang akan dipelajari generasi selanjutnya.

    Penutup

     Masih banyak yang dapat dieksplorasi dari novel Cintaku di Lembata. Catatan ini hanya merupakan salah satu pengantar singkat. Sebagai sebuah novel perjalanan Cintaku di Lembata tidak hanya memperkenalkan keindahan alam dan kekayaan budaya Pulau Lembata yang dapat dainggap sebagai salah satu museum peradaban manusia yang perlu dikaji secara ilmiah dan dinikmati estetikanya, tetapi juga menggugah sebuah renungan tentang hubungan cinta sepasang kekasih yang tak ditakdirkan tidak tersatukan. Novel ini akan lebih menarik bila dikaji secara ilmiah dengan menggunakan perspektif sosiologi sastra, ekokritik, psikoanalisis, bahkan ekofeminisme mungkin akan lebih mampu mengeksplorasi banyak hal yang terbentang dalam kisah yang setebal 188 halaman ini. Ditunggu kajian selanjutnya terhadap novel ini.

     

    Ibu Sari Narulita Penulis Novel Cintaku di Lembata

    ———————————————————————————————

     

    DAFTAR PUSTAKA

    http://nationalgeographic.co.id/…/lembata-lamera-dan-perbur…. Diunduh 21/03/2018.
    Narulita, Sari. 2016. Cintaku di Lembata. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
    Showalter, Elaine. Ed. 1985. The New Feminist Criticsm: Essay in Women, Literature, ant Theory. New York: Pantheon.
    Teeuw, A. 1979. Modern Indonesian Literature. Netherland:The hague –Martinus Nuhoff.
    Thompson, Carl. 2011. Travel Writing. London and New York: Routledge.
    Wiyatmi. 2017. Perempuan dan Bumi dalam Sastra: dari Kritik Sastra Feminis, Ekokritik, sampai Ekofeminisme. Yogyakarta: Cantrik.

     

    *) Artikel saya tulis untuk mendampingi diskusi buku Cintaku di Lembata di Yogyakarta, 27 April 2018

    *) Sumber Tulisan dari SukuSastra.com

     

  • Sastra Lembata: Dari Simpan Pesan ke Imajinasi Masa Depan

     

    “ADA banyak hal yang sulit dibicarakan tanpa prasangka, tetapi kebudayaan barangkali merupakan salah satu pokok soal yang paling kuat ditandai prasangka. Salah satu sebabnya ialah karena dalam sifatnya kebudayaan merupakan suatu apriori untuk setiap orang, sehingga setiap usaha untuk memikirkan, memajukan dan melakukan perubahan kebudayaan sekaligus merupakan produk dari kebudayaan orang-orang yang terlibat dalam usaha tersebut. Kebudayaan selalu menjadi juga cultural paradigm (konsep cultural paradigm dipakai di sini dalam arti sebagaimana yang dipergunakan oleh C. Geertz dalam bukunya, Negara: The Theatre State in Nineteen Century Bali, Princeton: Princeton University Pres, New Jersyey, 1980) bagi seseorang yang akan menentukan bentuk dan sudut penglihatannya berdasarkan apriori kognitifnya dan sekaligus mempengaruhi jenis dan arah pilihan yang diambil berdasarkan preferensi nilai yang dianut dalam kebudayaan bersangkutan. Karena walaupun kita selalu dihantui tanggung jawab dan kewajiban untuk memberi sesuatu kepada kebudayaan, kita pada dasarnya lahir dan besar sebagai penerima kebudayaan dari generasi yang terdahulu. “Kita adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” kata seniman “Gelanggang”, di mana kebudayaan diturunkan sebagai notre heritage n’est precede d’aucun testament (warisan kita yang diturunkan tanpa surat wasiat – Hannah Arendt, Between Past and Future, N. Y.: Penguin Books, 1978). Rene Char, penyair dan penulis Prancis yang baru saja dikutip kata-katanya, tentu saja mau mengatakan bahwa pada mulanya kebudayaan adalah nasib dan baru kita memanggulnya sebagai tugas. Pada mulanya kita adalah penerima yang bukan saja menghayati tetapi juga menjadi penderita yang menanggung beban kebudayaan itu, sebelum kita bangkit dalam kesadaran untuk turut membentuk dan mengubahnya. Pada dasarnya kita adalah pasien kebudayaan sebelum kita mengambil keputusan untuk melakukan sesuatu bagi kebudayaan kita, sebetulnya kita telah mengalami pergeseran tertentu dalam apriori kognitif dan preferensi nilai dalam sistem kebudayaan kita. Dengan kata lain, telah terjadi pergantian warisan yang satu dengan warisan lain, ketika kita menjadi pasien bagi suatu kebudayaan baru.” ( Ignas Kleden,  “Pembaruan Kebudayaan: Mengatasi Transisi”  dalam Sikap Ilmiah dan Kritik Kebudayaan, LP3ES,1987).

    Menjawab pelbagai pertanyaan atas soal-soal kebudayaan di atas, pada Sabtu, 2 April 2022, Institut Kebudayaan Lembata (IKaL) mengadakan serial ke-3 Diskusi Kebudayaan dengan tema “Sastra dan Kebudayaan Lembata”. Serial ke-3 Diskusi Kebudayaan ini terselenggara atas kerjasama Institut Kebudayaan Lembata (IKaL) dengan Direktorat Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Direktorat Jendral Kebudayaan Kemendikbudristek RI. Diskusi ini mencoba menggali lebih dalam beberapa tema menarik diantaranya apakah ada sastra Lembata dan kalau ada apa bentuknya?,  mestikah sastra terlibat dalam kehidupan masyarakat?, apa pesan untuk generasi sekarang dengan mempelajari sastra?, bagaimana sikap kebudayaan (termasuk kebudayaan daerah) dalam menghadapi modernisasi?. Tampil sebagai pemateri dalam Talk Show diskusi yakni: Dr. Yoseph Yapi Taum (Penyair, Peneliti Sastra Lisan  dan Pengajar Sastra di Universitas Sanatha Dharma), Dr. Budi Kleden, SVD (Teolog dan Kritikus Sastra), Trie Utami (Penyair, Seniman dan Penggiat Budaya), Dr. Hilmar Farid (Dirjen Kebudayaan Kemendikbudristek RI), Moderator: Ursula Natali Langouran, MC: Monika N. Arundhati. Berandanegeri.com menyajikan rangkumannya.

     

    Yoseph Yapi Taum: Lembata dan Sastra Lisan

    Yoseph Yapi Taum dalam bukunya Studi Sastra Lisan (Lamalera, 2011) mendefinisikan  Sastra Lisan sebagai sekelompok teks yang disebarkan dan diturun-temurunkan secara lisan, yang secara intrinsik mengandung sarana-sarana kesusastraan dan memiliki efek estetik dalam kaitannya dengan konteks moral maupun kultur dari sekelompok masyarakat tertentu.

    Penyebutan sastra untuk sebuah etnis tertentu selalu berkaitan erat dengan bahasanya. Di Lembata terdapat dua bahasa besar yakni bahasa Lamaholot dan bahasa Kedang. Maka di Lembata terdapat dua model sastra yakni sastra Lamholot dan sastra Kedang. Sastra Lamholot mementingkan pola paralelisme dengan rumusan di dalam percakapan-percakapan ritual adat. Sastra Lamaholot memiliki tradisi kuat dengan model penceritaan yang disebut “Koda-Kiring”. Oreng adalah sebuah contoh ekspresi sastra Lamaholot yang mementingkan pola paralelisme dengan rumusan percakapan ritual yang memiliki nilai keindahan.

    Dalam sastra Lamaholot jarang dijumpai dongeng atau cerita rakyat. Sastra Lamaholot dapat ditelusuri pada puisi-puisi rakyat Tutu-Marin yang dituangkan dalam puisi-puisi lisan.

    Sastra Lamaholot, selalu mementingkan pola paralelisme dengan rumusan di dalam percakapan-percakapan ritual adatnya dengan model Wua Matan (ada pasangan paralel).

    James Fox pernah mengadakan penelitian di kawasan Timur Indonesia dan menyebutkan bahwa di kawasan Indonesia Timur: Flores, Timor dan Ambon adalah wilayah penyebaran sastra paralelisme dengan model Wua-Matan. Dalam sastra Lamaholot dapat kita jumpai contoh sastra dengan model Wua-Matan. Sastra Lamaholot menggunakan kata Lera Wulan-Tanah Ekan (Lera-Wulan: Matahari-Bulan, kekuatan langit, Tanah Ekan: kekuatan bumi) sebagai satu entitas. Dalam konsep sastra Lamaholot dengan model Koda-Knalan dengan pasangan paralel Lera Wulan – Tanah Ekan diartikan sebagai Tuhan sekalian alam-Tuhan yang Maha Esa.

     

    Budi Kleden: Sastra yang Terlibat

    Sastra lisan lahir dari religiositas masyarakat. Ada tautan yang erat antara religiositas, sastra dan agama. Religiositas dan agama adalah dua hal yang berbeda. Religiositas adalah tanggapan (respon) seseorang atas pengalaman dengan yang Ultim (yang Ilahi) tanggapan dalam bentuk perasaan, pikiran, imajinasi, ketika orang berhadapan dengan pertanyaan yang sulit dijawab dalam hidup dengan kerapuhannya sendiri dan juga yang menakjubkan. Blaise Pascal menamai religiositas sebagai “du coeur” yaitu cita rasa yang mencakup totalitas ( rasio dan rasa manusiawi) kedalaman pribadi manusia. Pada dasarnya religiositas mengatasi agama yang tampak formal dan resmi. Agama lebih menunjuk kepada kelembagaan, ajaran, ritual.

    Kalau agama kehilangan kontak dengan religiositas maka agama menjadi museum yang mati, sesuatu yang tidak menginspirasi. Agama baru menjadi hidup bila tetap ada kaitannya dengan religiositas. Dalam gereja Katolik misalnya dikenal istilah sensus fidelium-rasa keagamaan. Rasa keagamaan bisa menemukan ekspresi dalam ajaran baku dan perlu ada kontak yang hidup antara rumusan agama yang baku dengan rasa keagamaan yang dihidupi oleh umat. Sastra lahir dari religiositas dan juga agama yang ada. Komumitas agama mempunyai sastra. Komunitas agama yang ada di Lembata juga mempunyai kekayaan sastra yang lahir dari pengalaman religius.

    Baik sastra, religiositas maupun agama menghadirkan yang ideal. Dalam menghadirkan yang ideal ia ibarat cermin. Kalau kita berhadapan dengan cermin kita melihat kenyataan diri kita. Dengan melihat kenyataan diri kita, juga mengundang kita untuk melihat apa-apa yang perlu kita perbaiki. Melihat realitas sekaligus melihat apa yang harus diperbaiki. Pada titik inilah kritik sosial masuk. Berhadapan dengan yang ideal kita melihat apa yang kurang, yang tidak indah, apa yang tidak utuh, apa yang tidak benar dan ini adalah kritik sosial yang terungkap baik dalam agama, religiositas maupun agama. Karena itu baik sastra, religiositas maupun agama mempunyai muatan kritik sosial yang tinggi.

     

    Trie Utami: Sastra sebagai Cara Simpan Ilmu Pengetahuan

    Sastra lisan tidak hanya dilihat sebagai legenda, dongeng atau cerita rakyat. Sastra lisan bisa dilihat dalam konteks ilmu pengetahuan. Sastra tidak hanya mengandung  nilai-nilai religiositas namun nilai-nilai yang terkandung didalamnya adalah sebuah cara simpan ilmu pengetahuan.  Sastra tidak hanya dilihat sebagai dongeng, legenda, atau kisah tutur. Sastra lisan misalnya harus dilihat sebagai cara leluhur kita menyimpan dan membagikan pesan. Diperlukan kemampuan membaca, menerjemahkan, menafsir apa yang leluhur kita simpan sebagai karya sastra. Kita perlu memakai cara baca yang berlapis. Sebagai contoh di Jawa Barat ada tujuh tanda baca yang dipakai untuk mendapatkan suatu cerita baik yang disimpan di dalam naskah-naskah lontar, legenda maupun dogeng. Ke tujuh tanda baca itu adalah silip, sindar, sampir, siloka, sandi, sasmita, dan sunyata. Ketujuh tanda baca ini dipakai untuk mendapatkan suatu cerita baik yang disimpan di dalam naskah-naskah lontar, legenda maupun dongeng.  Sebuah dongeng, mitos, legenda bila dibaca dengan tujuh tanda baca itu maka kita akan menemukan banyak aspek. Kadang-kadang leluhur kita menyimpannya di dalam nama-nama tempat. Begitulah cara simpan leluhur kita tentang apa yang perlu diwariskan. Kita mempunyai aksara-aksara dimana itu menjadi kode bagi penyimpanan-penyimpanan ilmu pengetahuan. Karena nilai-nilai yang terkandung di dalam sastra-sastra lisan sebagai cara simpan pengetahuan kita bisa menemukan sistem ekologi, kemudian kita bisa menemukan sistem sosial, ada pengobatan dan juga sains (dalam bahasa lama bukan sains dalam pengertian mutakhir).

    Saat ini kita dituntut untuk melihat bahwa apa yang ditinggalkan oleh leluhur kita harus bisa dibahasakan dalam bahasa hari ini. Tugas kita adalah mengadakan gerakan untuk menggali, mendokumentasikan, mereinterpretasi dan mencoba merektualisasi dengan mengadakan pemutakiran nilai-nilai yang kita anggap lampau. Inilah yang mungkin bisa kita lakukan tidak saja membangun sebuah desain thinking tetapi juga sebuah desain doing.

    Sastra di Lembata mesti dibaca dengan kritis bahwa dia tidak sekedar dongeng, atau legenda tapi sastra itu mesti mampu kita reinterpretasi ke masa kini untuk dibawah ke masa depan sebagai titik pijak.

     

    Hilmar Farid: Kebudayaan dan Modernitas

    Mendokumentasikan karya sastra lisan adalah tugas kita yang paling mendesak. Hal ini dipacu dengan keadaan dimana para penutur sastra lisan yang usianya semakin uzur. Regenerasi sastra lisan juga sangat bervariasi. Ada daerah-daerah yang anak mudanya terlibat sungguh dalam regenerasi sastra lisan dan ada daerah-daerah yang regenerasi berjalan lambat.

    Mendokumentasikan sastra lisan bukanlah perkara yang sederhana. Biasanya orang menggunakan rekaman guna mentransfer sastra lisan in. Kesulitan yang dihadapi adalah mesti dipastikan soal bunyi dan nuansa tidak hilang saat pendokumentasiaan dilakukan.

    Dalam sebuah kebudayaan terdapat tiga hal penting   yakni  sistem ide-ide, sistem tingkahlaku dan perwujudan benda- benda budaya. Baik ide-ide, pola tingkahlaku, dan benda-benda materiil akan dipandang pertama-tama sebagai produk sebuah kebudayaan. Soal penting yang mesti kita sama-sama pikirkan tentang sebuah kebudayaan (juga kebudayaan di Lembata) adalah soal penerimaan kebudayaan terhadap pengaruh-pengaruh dari luar. Ketika sebuah kebudayaan menghadapi pengaruh dari luar maka yang dapat dilakukan adalah kebudayaan itu memilih untuk menentang perubahan dan mempertahankan identitasnya ataukah kebudayaan itu menerima perubahan dan mengembangkannya lebih jauh ( soal ini bisa dilihat dalam novel Lembata ketika Pedro menawarkan apakah bisa hosti dan anggur digantikan dengan jagung titi dan moke, lihat novel Lembata – Lamalera 2011). Kebudayaan dituntut untuk mencari maknanya dalam hubungannya dengan berbagai segi kehidupan manusia. Kebudayaan mesti mampu memperbaharui dan mengembangkan dirinya dengan nilai-nilai baru yang relevan dengan kemajuan zaman. ( Paskalis Bataona )

    —————————————————————————————————-

     

     

  • Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam

    Kritik Sastra Indonesia Mencari Kambing Hitam

    Oleh Dami N. Toda

     

    MEMBICARAKAN kritik sastra, tidak terlepas dari pengertian peran dan tujuannya terhadap karya sastra. Gayley dan Scott, misalnya menerangkan peran dan tujuan kritik sastra untuk “mencari kesalahan, memuji, menghakimi, membanding-bandingkan dan menikmati”, H.B. Jassin menerangkan tugas kritik sastra “menjembatani dan memberikan penilaian”, I.A. Richards, yang sering disebut sebagai pemula prinsip kritik sastra modern, menerangkan peran dan tujuan kritik sastra untuk “membeda-bedakan pengalaman serta memberikan penilaian sekadarnya terhadap karya sastra”.

    Untuk tiba pada peran dan tujuan tersebut, seorang kritikus tentu saja harus tahu benar sifat-sifat pengalaman serta memiliki wawasan dan bandingan yang luas, mempunyai kemampuan meletakkan penilaian dan komunikasi nilai-nilai. Soal titik tolak pendekatan atau masalah metode, boleh saja tergantung pada pilihan kritikus, selama pendekatan tersebut dianggapnya relevan.

    Oleh sebab itu, tak heran bila terdapat banyak sekali jenis penamaan kritik sastra menurut pendekatan yang diletakkan. Ada kritik ilmiah (scientific criticism) yang struktural, ada kritik estetis, kritik etis, kritik sosiologis, yang semuanya dapat dikategorikan dalam nama kritik penilaian (judicial criticism), yakni jenis kritik yang bekerja secara deduktif berdasarkan kriteria-kriteria tertentu. Di samping itu, ada lagi kritik induktif, yakni kritik yang tidak berpretensi kriteria pasti, tetapi memulai dari kasus-kasus sastra itu sendiri (sebagai kasus). Kritik induktif, pada dasarnya menerima kenyataan tiap sastra memiliki : kriteria sendiri”, tiap sastra memiliki “hukum-hukum” cipta tersendiri, yang menjadikan yang satu (adalah) “lain” dari yang lain, dan selalu “baru”.

    Pemisahan kritik sastra berdasarkan “kartu-kartu nama” di atas, sebenarnya kurang menguntungkan karya sastra. Terkesan kebulatan “dunia” sebuah sastra seakan digiring ke dalam pra-anggapan sistem (ilmu) tertentu, yang belum tentu utuh menelusuri keunikan karya sastra. Posisi karya sastra tertekan hanya sebagai batu ujian atau objek dari sistem lain.

    Dari segi kemungkinan lain, pra-anggapan di atas, bukan juga sesuatu hal yang tidak mustahil. Karena dalam prateknya, tak ada suatu metode yang didedukasikan secara robot. Dan mungkin saja ada karya sastra tertentu, menurut proses kreatifnya, cocok ditelusuri secara sistem tertentu.

    Namun, secara umum dapat dikatakan. Suatu kritik sastra yang baik harus bekerja sebanding dengan sifat esensial sastra yang ditelusurinya. Berarti, kritik sastra yang baik, di dalam peranannya “membedakan pengalaman dan memberikan penilaian” perlu cara kerja induktif dan deduktif. Berarti kritik sastra yang baik, harus bekerja secara intrinsik dan ekstrinsik. Maksudnya, (1) bahwa kritik sastra tersebut harus masuk ke dalam intisari otonomi pencarian kreatif sebuah sastra, bergulat dengan isi dan bentuk dari “dunia” yang ditemukan pengarang, (2) bahwa kritik sastra harus mampu menghubungkan cakrawala sastra (itu) dengan cakrawala luar sastra yang bersifat keabsahan universal (universal validity), yang memungkinkan nilai sastra tersebut komunikatif (kepada segala orang, waktu, dan tempat), gamblang dibaca oleh pembaca dan dimaklumi masyarakatnya.

    Kritikus mengembani tugas tersebut bukannya tanpa kesulitan. Kesulitan tersebut, sebenarnya berpangkal pada (sifat) kerumitan hakikat sastra itu juga, yang kadang-kadang sangat personal sifatnya, dan mengandung tafsir (sangat) ganda (lebih-lebih dalam puisi). Sifat personal yang menonjol, pencarian yang bersifat pribadi, menyebabkan kritikus kadang-kadang harus memasuki kehidupan pribadi pengarang, mengenali akar-akar proses kreatifnya untuk dapat memahami dan mengenali lebih banyak. Seorang kritikus yang bekerja secara deduktif dan percaya kepada tradisi sastra (yang konvensional) semata, akan sangat enggan melakukan hal-hal seperti itu, sebab memang benar bahwa kadang-kadang (dalam sastra tertentu) tidak perlu dilakukan.

    Di samping itu, sifat sastra yang mengandung tafsir ganda (polyinterpretable) melebarkan kemungkinan-kemungkinan perbedaan tafsir atau pendapat di antara para kritikus sastra. Sedangkan bagi sastra itu sendiri, justru tafsir ganda itulah yang membuat sebuah sastra senantiasa “aktual” dan “baru”, selalu berisi kemungkinan inspiratif untuk membaca yang berbeda dan memiliki keabsahan universal.

    Kerumitan dari dalam dunia sastra dijumlah dengan tuntutan kecermatan, kepekaan dan keluasan bandingan pengalaman dari dalam diri kritikus, jadilah sebuah kritik menjadi sebuah tantangan dan warna tersendiri. Lain kritikus mewarnakan lain penyaksian.

    (I)

    Peranan kritik sastra, di satu pihak menimbulkan harapan dan penungguan masyarakat sastra dan pengarang, yang kadang-kadang terlalu berlebihan. Bahkan terdapat semacam kecenderungan untuk “melembagakan” kehadiran kritik sastra (dan kritikus) di samping karya sastra. Keadaan tersebut, di pihak lain, memojokkan peranan kritik sastra kepada kedudukan serba salah: harus ada ataukah tidak harus ada. Atau apakah ia sekadar makcomblang ataukah penakar nilai.

    Dalam sastra Indonesia modern, kesadaran terhadap (kebutuhan) kritik sastra dapat ditelusuri, misalnya pada kasus “Pengadilan Puisi” tanggal 8 September 1974 di Bandung, Pertemuan itu dihadiri lebih dari 200 peserta/pengarang yang datang secara spontan dari Jakarta, Jawa Tengah, dan Bandung, berkumpul di Aula Unika Parahyangan, Jalan Merdeka. Terjadi semacam “pentasan” pengadilan versi pengarang. Bertindak sebagai “Hakim Ketua”, Sanento Juliman (Bandung), “Hakim Anggota”, Darmanto Jt (Semarang) “Penuntut Umum”, Slamet Sukirnanto (Jakarta), “Saksi-saksi” : Semua pengarang yang hadir.

    Bagi kritik sastra yang menarik dalam acara tersebut, adalah keluhan panjang dari pengarang Indonesia terhadap kritik sastra, sejak sebutan “krisis kritik ”, “krisis kritikus sastra”, hingga pernyataan bahwa sastra nasional Indonesia “belum memiliki kritik sastra”. Bahkan keadaan “tidak memasyarakatnya” sastra nasional dewasa ini, ditimpakan dosanya pada ketakmampuan kritik sastra Indonesia.

    Terlepas dari apa penungguan dan pengertian pengarang Indonesia terhadap kritikus dan kritik sastra Indonesia, terbuktilah bahwa keluhan di atas timbul dari “mitos” misi kritik sastra, serta kenyataan langkanya kritik sastra ditulis akhir-akhir ini dalam perkembangan sastra Indonesia semakin meluas.

    Harapan, penungguan, bahkan tuduhan serta tuntutan terhadap kehadiran kritik sastra Indonesia, secara psikologis dapat dimengerti. Sejauh perjalanan sastra nasional yang sudah 60 –an tahun itu, Dr. H.B. Jassin adalah satu-satunya “penjaga” (meminjam istilah “Custodian” dari Dr. A. Teeuw) sastra nasional yang setia. Dengan sangat tekun Dr. H.B. Jassin menghimpun dokumentasi sastra nasional untuk memungkinkan orang lain (mahasiswa, peminat bangsa Indonesia dan asing) mengenali dan mempelajari sastra Indonesia. Buku-buku antologi, kritik sastra yang ditulisnya sejak 30-an tahun lalu, tetap memberikan informasi lengkap dan pendapat-pendapatnya yang kuat hingga sekarang. Tak bisa lengkap mempelajari sastra Indonesia tanpa menimba buku dari sumber-sumber dokumentasi Dr. H.B. Jassin.

    Memperhatikan pendekatan Dr. H.B. Jassin terhadap sastra yang tidak meremehkan informasi-informasi pribadi esai, surat pribadi, riwayat hidup pengarang, sudah dapat diduga bahwa pendekatannya terhadap sastra sangat penuh. Dalam berusaha memahami sebuah karya, Dr. H.B. Jassin tidak hanya puas menikmati panorama muka secara tekstual, tetapi juga memasuki liku-liku proses pra-kreatif sebuah karya, yang berakar pada pengarang serta dunia pribadi pengarang. Dalam kata-kata Dr. H.B. Jassin sendiri:

    “…penyelidikan kesusasteraan bukan hanya pekerjaan otak, tetapi terutama pekerjaan hati yang ikut bergetar dengan objek penyelidikan dan sebagai penyelidikan harus mengandung serta memantulkan kembali getaran-getaran itu. Saya kuatir bahwa penyelidikan-penyelidikan yang telah saya lakukan diterima sebagai fakta-fakta objektif ilmiah belaka, padahal saya selalu berusaha untuk dalam semua penyelidikan mengikut sertakan diri pribadi sebagai penghayat sumber-sumber pengalaman estetis yang diungkapkan dalam kesusastraan, tentu saja dengan tidak mengabaikan segi-segi objektif faktual, karena inilah justru yang harus menentukan kadar ilmiahnya suatu penyelidikan. Hasil penyelidikan adalah pertemuan yang akrab antara objek yang diselidiki dan subjek yang menyelidiki, dan ini bagi saya lebih memuaskan, karena nampak di dalamnya lukisan diri pribadi juga”.

    (Nukilan Pidato Inaugurasi pemberian Doktor Kehormatan dalam ilmu sastra, Universitas Indonesia, 14 Juni 1975).

    Sesudah Dr. H.B. Jassin, adalah Dr. A. Teeuw. Buku-buku dan tulisan kritik lepas Dr. A. Teeuw, yang ditulis dalam bahasa Inggris (dan Indonesia) sangat berjasa memperkenalkan sastra Indonesia modern ke dunia internasional. Informasi dan kritik yang ditulisnya meliputi perkembangan terbaru sastra Indonesia modern. Pendekatan Dr. A. Teeuw terhadap sastra, berdiri di atas “bangunan bahasa yang menyeluruh dan otonom” atau “konvensi bahasa dan budaya”, dan mengakui “tidak memakai hanya satu metode tertentu saja untuk mendekati sajak” (prakata buku Dr. A. Teeuw, Tergantung Pada Kata, 1980: 5).

    Dr. H.B. Jassin dan Dr. A. Teeuw, adalah dua nama besar yang tak mungkin terpisahkan dari sejarah penelitian dan pengenalan sastra Indonesia modern. Tepat pada waktunya, mereka berada paling depan dan spektakuler memberikan gambaran sejarah sastra Indonesia modern secara keseluruhan, mengukuhkan identitas sastra nasional di tengah bangsanya sendiri.

    Kritikus-kritikus yang lebih muda, adalah bekas-bekas mahasiswa Dr. H.B. Jassin dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia, seperti Dr. Boen S. Oemarjati, Drs.M.S. Hutagalung, Drs. J.U. Nasution, Drs. M. Saleh Saad. Dari alumni Universitas Gajah Mada, adalah Subagio Sastrowardoyo, Sapardi Djoko Damono, Rachmat Djokopradopo, Th. Sri Rahayu Prihatmi. Dari Bandung adalah Drs. Jakob Sumardjo. (Dan beberapa peneliti luar negeri yang sedang menulis, seperti Harry Aveling, Dr. Keith Foulcher, Paul Tickell, Dr. Chambert-Loir, Dr. Burton Raffel, Dr. Rainer Carle, Dr. Ulrich kratz). Sedangkan dari “permuhibahan” di Malaysia, Drs. Umar Junus, merupakan seorang kritikus yang paling rajin dari semua.

    Kelompok akademis yang disebut belakangan ini, kebanyakan telah sering memunculkan tulisan kritik sastra, atau dalam istilah akademis mereka disebut dengan istilah “telaah sastra” (atau analisis sastra). Seperti terbaca dari sebutan “telaah sastra”, mereka mendekati karya sastra dari segi penelitian “ilmu”, atau analisis laboratorium. Tahun-tahun terakhir, di bawah sponsor Proyek Penelitian Sastra Indonesia Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, sering diadakan “penataran peneliti” serta lokakarya dibantu oleh (antara lain) Dr. A. Teeuw (Universitas Leiden) sebagai penatar, untuk maksud-maksud “telaah sastra” Indonesia modern tersebut. Hasilnya belum nampak, kecuali Dr. A. Teeuw sendiri yang membukukan “telaah”12 puisi dalam buku yang berjudul referensif, Tergantung Pada Kata, 1980.

    Penungguan masyarakat sastra dan pengarang kepada kelompok akademis, menjadi lebih beralasan tatkala dalam tahun 1968 terdengar “perjanjian-perjanjian” lewat polemik kritik sastra yang bernama “Metode Kritik Sastra Ganzheit” (Arief Budiman dan Goenawan Mohamad) versus (yang kemudian pada 1973 dinamakan) “Aliran Kritik Sastra Rawamangun” oleh Drs. M.S. Hutagalung.

    “Metode Kritik Sastra Ganzheit” konon dibaptis dari psikologi Gestalt, menolak pretensi norma-norma sastra, melangkah sesubjektif mungkin berdasarkan penerimaan “pertemuan” keseluruhan tanpa mementingkan unsur-unsur. Dalam praktiknya, metode tersebut dapat ditelesuri dalam tesis Arief Budiman, Chairil AnwarSebuah Pertemuan diterbitkan PT. Dunia Pustaka Jaya, 1976. Dalam Prakata, Arief Budiman antara lain menulis:

    “Saya sendiri sudah tidak percaya lagi kepada konsepsi-konsepsi apa yang disebut sebagai indah dan apa yang tidak. Sebab itu, saya juga tidak mau menggunakan kata tersebut, karena kekaburan artinya. Saya melihat bahwa sebuah karya seni menjadi “indah” buat seseorang karena sudah terjadi pertemuan yang otentik antara seseorang dan dunia yang diungkapkan oleh karya seni tersebut. Pertemuan itu bersifat pribadi, tidak bisa secara massal dan karena itu apa yang disebut “indah” tidak bisa dirumuskan.

    Seseorang yang menghayati sebuah karya seni sebenarnya sedang melakukan pertemuan. Pertemuan antara si orang yang menghayati itu dan karya seni tersebut. Antara keduanya terjadi saling perbauran yang dinamis sifatnya.

    Dari perbauran inilah muncul sebuah nilai, nilai Gestalt atau lebih tepat lagi barangkali nilai Ganzheit, yang terjadi akibat pertemuan subjek dan objek. Nilai ini bersifat unik dan tidak akan muncul kalau keduanya saling berpisah”

    “Aliran Kritik Sastra Rawamangun” sebenarnya merupakan proklamasi kemudian (pada 1973) oleh Dr. M.S. Hutagalung, sebagai perpanjangan sanggahan “Kritik atas Metode Kritik Sastra” oleh Drs. S. Effendi, dan Drs. J.U. Nasution terhadap “Metode Kritik Sastra Ganzheit” Arief Budiman dan Goenawan Mohamad dalam diskusi kritik sastra tahun 1968. Apa yang disebut “ Aliran Kritik Sastra Rawamangun”, adalah usaha “versi Rawamangun” mempraktikkan aspek-aspek teori sastra terhadap studi sebuah karya sastra. Contoh hasil “Aliran Kritik Sastra Rawamangun” dapat ditelusuri kembali dalam apa yang telah dikerjakan Drs. M.S. Hutagalung, misalnya terhadap karya Asrul Sani, atau Drs, J.U. Nasution terhadap karya Sitor Situmorang.

    Bagi masyarakat sastra dan pengarang, yang mendambakan kehadiran kritik sastra Indonesia, apalagi dalam keadaan belum memasyarakatnya sastra Indonesia modern, “perjanjian” dari polemik tersebut menimbulkan penungguan terhadap “buah” yang lebih banyak, yang dalam istilah awam mereka disebut sebagai “kritik yang berwibawa”. Dan justru keadaan seperti itulah yang belum dirasakannya.

    Setelah polemik tersebut, Drs. M.S. Hutagalung dan lain-lainnya lebih jarang memunculkan tulisan kritik sastra lagi. Arief Budiman, juga muncul seakan-akan hanya untuk menempati “Metode Kritik Sastra Ganzheit” yang dijanjikannya (bersama Goenawan Mohamad) dengan menulis tesis tentang sajak-sajak Chairil Anwar, sebuah pokok yang sudah sering ditulis sejak Dr. H.B. Jassin, bahkan dijadikan disertasi oleh Dr. Boen.S. Oemarjati. Bukan juga berarti bahwa apa yang dikerjakan Arief Budiman sudah tak ada perlunya lagi. Goenawan Mohamad, yang dalam “Angket Sastrawan 1974” yang dikerjakan Jakob Sumardjo terpilih sebagai urutan ketiga deretan “kritikus berwibawa”, bahkan seakan berhenti menulis kritik sastra.

    Kontaminasi dari kejadian-kejadian di atas menyimpulkan dan membesarkan isyu “krisis kritik” dan “krisis kritikus” di kalangan sastrawan. Di pihak lain menimbulkan hikmah lain, bahwa sastrawan-sastrawan seperti Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Korrie Layun Rampan dan lain-lain, menulis kritik sastra di surat-surat kabar dan majalah. Kemungkinan tersebut ditunjang oleh tersedianya ruang-ruang budaya tetap dalam surat kabar dan majalah, yang sangat berkembang sejak akhir 1960-an atau awal 1970-an.

    Tulisan-tulisan kritik pada kolom media massa itu sangat berharga memberikan apresiasi dan informasi tetap tentang perkembangan sastra modern Indonesia kepada masyarakat luas. Bagi kelangsungan hidup kritik sastra di Indonesia, “kritik sastra koran” tersebut, juga sangat positif dalam hal menolak anggapan seakan-akan kritik sastra adalah semacam lembaga bagi “orang-orang pilihan” (di luar sastrawan) untuk “mengadili” karya sastra dengan dahi berkerut dan penuh sitiran “norma-norma sastra”, yang belum tentu relevan.

    (II)

    Masih ada lagi ganjelan lain, yang nampak didorong-dorong oleh polemik “metode kritik” itu! Bahwa seakan-akan “kesalahan metode” kritik sastra adalah kambing hitam dan tidak mampu dan tidak berfungsinya kritik sastra Indonesia mengembani tugas memberikan penilaian dan “menjembatani” sastra Indonesia dengan masyarakat bangsa. Dua kelompok yang berpolemik pun masing-masing menawarkan “obat kuat” berupa metode masing-masing. “Metode Kritik Satra Ganzheit” dan “Metode Aliran” untuk menjamin keampuhan kukuhnya sebuah kritik sastra.

    Padahal di atas segala metode, masih ada faktor utama, yakni faktor kemampuan manusia di belakang “senapan” (the man behind the gun) metode. Kemampuan bermetode bukanlah masalah utama, tetapi kepekaan kritikus menyelami dan menangkap seluruh kemungkinan isyarat yang diberikan sebuah sastra serta mensistematisasikannya kepada pembaca. Dalam hal ini, saya setuju dengan pendapat Subagio Sastrowardoyo (yang menjawab wawancara Satyagraha Hoerip, Sinar Harapan, 1977). “Karya seni seseorang pada hakikatnya adalah estetika tersendiri. Pada anggapan saya, begitu juga kritik sastra seseorang. Membawa pola tersendiri. Gaya dan mazhab tersendiri. Soal apakah namanya, saya anggap tak begitu penting. Soal apa perbedaan pendapat, biarlah. Orang kan bebas menafsirkan. Termasuk mengeritik.”

    Pendapat Subagio Sastrowardoyo tersebut, pada galibnya sama dengan pendapat Dr. A. Teeuw yang saya kutip di depan. Sebuah sastra memang merupakan sebuah dunia tersendiri. Tak mudah diglobalisasikan dengan atau dalam suatu metode formal begitu saja. Pendekatan suatu metode yang bersifat prejudikatif, tidak selalu menguntungkan. Soalnya, antara kritik sastra sebagai hasil, dan kritik sastra sebagai teori, metode, aliran, merupakan pengertian berlainan. Teori hanya ilmu. Metode hanya jalan. Aliran hanya arus. Percuma saja seorang menguasai metode, teori, secara sempurna tanpa diimbangi ketajaman menangkap bias-bias yang diberikan sebuah dunia sastra. Metode ataupun aliran, bukan penebus untuk menjamin keselamatan mutu sebuah kritik sastra. Sebuah kritik sastra mungkin sangat jelek nilainya, walaupun referensi teori, metode sudah sempurna. Kalau ada sastra baik dikritik secara jelek, ataupun sastra jelek dikritik secara baik, maka bagi nilai kritik sastra, keduanya sama-sama jelek mutunya. Karena sama-sama menipu nilai. Untuk mengobati ketidakpekaan semacam itu, tidak ada sebuah metode atau aliran kritik sastra yang mampu menolong.

    Rahasia keberhasilan sebuah kritik, terletak pada kepekaan akal dan rasa pengamat. Sebagai sebuah dunia tersendiri, sebuah sastra yang memperlihatkan isi (atau bobot­) dan bentuk yang tidak dapat dikenali lagi secara terpisah-pisah, seperti Anda misalnya mengenali H2 yang lain dari O, tetapi telah terpadu dalam senyawa sebagai hakikat “air” (persenyawaan H2O). Pengenalan kembali kepada unsur-unsur, tentu saja bisa dilakukam asal atau selama tidak kehilangan relevansi otonomi persenyawaan, seperti halnya air sebagai hakikat baru yang otonom, yang bukan H2 yang bersendiri dari O.

    Oleh sebab itu, untuk memasuki sebuah sastra, seorang kritikus harus benar-benar akrab dengan persenyawaan isi dan bentuk itu, yang dalam artian kreatif bukan senantiasa menghasilkan hal-hal yang konvensional. Soal memilih metode, dari mana kritikus mulai bekerja, bukan soal, tergantung pada pilihan akhir dari kritikus.

    Menegakkan kritik sastra yang baik, tentu saja meminta tanggung jawab yang tidak setengah-setengah. Kritikus harus membaca dengan kecermatan daya analisis dan intuisinya. Relevan pada sastra sebagai subjek (bukan hanya objek), yang senantiasa membiaskan keutuhan dan inspirasi yang tidak mati-mati. Mungkin orang berkata, kritik sastra bukanlah suatu yang mutlak ada ketimbang sastra itu sendiri. Tetapi begitu ditulis, kritik sastra (harus) dapat (diharapkan) menempatkan sebuah karya (secara utuh) di tengah masyarakat dan tatanan nilai-nilai secara keseluruhan.

    Barangkali itulah salah satu sebab, mengapa membuat tugas membuat kritik sastra bukan selalu pekerjaan yang menyenangkan. Langkanya tulisan kritik sastra di masyarakat kita, (walaupun masyarakat membutuhkannya) adalah suatu bukti “kebijaksanaan” juga, atau sikap hati-hati untuk mengerjakannya. Mengerjakan kritik sastra yang baik, senantiasa membutuhkan waktu, yang mungkin lebih lama dari waktu pengarang mengerjakan karya serupa. Pekerjaan “memuji” atau “mencela” dalam kritik sastra, adalah suatu pekerjaan yang mahal.

    (III)

    Menghubungkan peristiwa “Pengadilan Puisi” Bandung (1974) dengan gejala “tidak memasyarakatnya” sastra nasional kita, tidak terlalu tepat kalau kambing hitamnya ditudingkan kepada kelangkaan kritik sastra. Benar, bahwa kritik sastra berpengaruh terhadap apresiasi sastra, tetapi secara esensial kritik sastra bukanlah sama dengan iklan buku atau mak comblang. Sebuah sastra dapat mengembangkan publiknya sendiri tanpa kritik sastra.Sebuah sastra yang dipuji-puji oleh kritik sastra belum menjamin masyarakat pembaca yang luas, Sebaliknya, sastra yang mungkin dikenal sebagai murahan oleh kritik sastra, justru mendapat pembaca yang luas. Oleh sebab itu, gejala “tidak memasyarakatnya” sastra nasional seperti dikeluhkan pengarang-pengarang kita, mustinya disebabkan oleh hal lain yang lebih relevan, yakni bagaimana riwayat sastra “nasional” Indonesia itu berkembang dalam kehidupan sejarah bangsa kita.

    Umar Junus, sehubungan dengan “keterbatasan peminat puisi Indonesia” menyebutkan kasus “tradisi puisi modern telah dibuka dengan keterbatasan dunia sendiri” sebagai sebab . (Lihat: Umar Junus, “Keterbatasan Kepada Dunia Sendiri: Permasalahan Puisi Modern Indonesia”, Mitos dan Komunikasi, 1981:183-90). Pendapat Umar Junus, benar ditinjau dari perhitungan latar belakang puisi Indonesia modern yang disebutnya sebagai “dihasilkan dunia berbeda dari pantuan dan syair”.

    Kalau dilengkapkan pelibatannya dengan masalah sastra Indonesia modern secara keseluruhan, mungkin permasalahan “kepencilan” sastra dari masyarakatnya dapat diakibatkan oleh kasus-kasus umum sebagai berikut:

    1. Masalah-masalah dalam tubuh sastra nasionalitu sendiri, yakni faktor sastrawan dan bentuk pencarian mereka, media bahasa yang mereka pakai, yang masih mengalami dualisme dengan bahasa daerah/sastra daerah tempat asal.
      2. Masalah-masalah dalam masyarakat Indonesia, yakni tradisi budaya yang berbeda melatar belakangi “masyarakat nasional” Indonesia.
      3. Masalah-masalah lain berkenaan dengan negara baru, seperti masalah kepekaan agen modernisasi serta pengelola masyarakat, masalah ekonomi dan pendidikan bangsa, dan masalah benturan nilai dengan perkembangan abad ke-20 yang sangat cepat.

    Masalah pertama, hendaknya disadari bahwa media bahasa nasional Indonesia yang menjadi media pengucapan sastra nasional, adalah “media proklamasi” (lewat Ikrar Sumpah Pemuda, 1928) yang bersifat politis, dan harus dalam waktu singkat memikul tugas berat melakukan kesinambungan tradisi sastra, dari latar belakang daerah yang jamak itu menuju tradisi “baru”, yakni sastra nasional Indonesia. Kesenjangan antara pemahaman sastra “daerah” tentang bentuk sastra dan “siapa” sastrawan , sangat lain dari “tradisi” baru sastra nasional, yang sangat jelas “siapa” sastrawan dan “menulis” karya yang mana. Pada awal peralihan itu, tidak mengherankan bila terjadi banyak percobaan dan pencarian, seperti usaha memasukkan bentuk soneta pada awal sejarah sastra nasional tersebut, dan tidak sedikit polemik dan slogan mencari “arah” kebudayaan nasional Indonesia. Peranan awal tersebut telah dijalankan dengan baik oleh generasi Sumpah Pemuda 1920-an dan generasi Pujangga Baru pada 1930-an, serta kemudian membuka jalan kepada perkembangan yang sangat pesat pada tahun-tahun kemudian.

    Masalah kedua, hendaklah disadari bahwa masyarakat Indonesia memiliki pengertian yang sangat jamak. Beraneka dalam kelompok etnis dan tradisi, terpisah tempat tinggal dalam wilayah kepulauan yang sangat luas. Latar belakang sastra daerah yang berbeda-beda, belum mengenal tradisi “sastra baca dan sastra tulis/cetak”. Warga masyarakat secara otomatis hidup dalam tradisi sastra lewat penurunan nilai-nilai kebudayaan tradisional. Pengertian sastra tak bisa dipisahkan dari masyarakat karena telah menjadi satu dan hidup dalam nilai-nilai sastra itu sendiri. Masuknya sebuah “tradisi”baru berupa sastra “nasional” dengan sifat baca dan tulis dalam media bahasa nasional “Indonesia”, tentu saja tidak serta merta diserap masyarakat tradisional tersebut. Dapat dipahami, kalau sastra nasional Indonesia membutuhkan waktu penyesuaian pertama, dan wajar harus menerima kenyataan “terasing” di tanah air sendiri entah untuk berapa puluh tahun.

    Masalah ketiga, hendaklah disadari bahwa nilai-nilai kebudayaan nasional, seperti proses pengendapan “nilai budaya” nilainya, terbentuk dalam keselarasan waktu dan nilai-nilai lain dari kebangunan/pertumbuhan sebuah bangsa. Proses waktu senantiasa dibutuhkan untuk pengakaran. Sebuah nilai yang ditanamkan secara “paksa” akan “mengapung”serta mudah sekali terlantar kembali, dan akan menampakkan kekerdilan. Pengakaran sebuah nilai budaya baru hanya mungkin bisa dipercepat kematangannya lewat jalur pendidikan nasional yang langsung atau tak langsung dari sistematis. Misalnya, tradisi membaca harus sudah ditanamkan sejak Taman Kanak-kanak. Ditunjang oleh tersedianya buku-buku bacaan (terpilih bagi semua usia) dan perpustakaan (sekolah dan luar sekolah), niscaya tumbuh semacam kebutuhan rohani untuk membaca di kalangan masyarakat, termasuk membaca buku-buku sastra. Dalam hal (strategi) tersebut, peranan yang merantai antara pemerintah, pendidik/tokoh masyarakat, orang tua, pengarang, penerbit, pencetak, toko buku, perpustakaan, (termasuk juga peranan kritikus) menjadi sangat penting. Dalam hubungan dengan Repelita III (Rencana Pembangunan Nasional Lima Tahun ke III), GBHN/Tap MPR IV/1978 sub “Kebudayaan”, ternyata memang tidak melalaikan sektor itu. Tinggal saja bagaimana pemerintah memilih “ujung tombak” untuk strategi yang menyeluruh. Mungkin “ujung tombak” kebijaksanaan yang pernah diciptakan zaman kolonial dulu, yakni Commissie voor de Volkslectuur yang kemudian menjadi Balai Pustaka, perlu ditata kembali serta diberikan peranan lebih luas daripada sekadar peranan birokratis rutin. Di samping merangsang kreativitas pengarang dan juga penerbit swasta, menampung kegiatan-kegiatan yang spontan bertumbuh dari masyarakat, seperti misalnya kegiatan (lomba) baca puisi dan baca prosa pada tahun-tahun terakhir.

    (IV)

    Kesimpulan dari gambaran-gambaran di atas, jelas kelihatan bahwa kelangkaan kritik sastra, bukanlah kambing hitam paling langsung dari keadaan belum memasyarakatnya sastra nasional dewasa ini. Banyak masalah lain, yang lebih prinsipil. Untuk memasyarakatkan sastra nasional sebagai “nilai budaya” bangsa, tidak cukup ditanggulangi oleh sebuah kritik sastra yang baik (apalagi sebuah kritik sastra biasanya “sukar dibaca” oleh orang kebanyakan, karena sifatnya yang kadang-kadang tidak sahaja). Kaitan kerja sama antara pemerintah sebagai pengelola masyarakat bangsa, pendidik/tokoh-tokoh masyarakat, orang tua, pengarang, kritikus, penerbit, pencetak, toko buku, perpustakaan, rupanya bersama-sama merupakan serta membentuk “iklim” dan “tanah” bagi pertumbuhan/perkembangan sastra nasional sebuah bangsa.

    Tentu saja bukan berarti bahwa kritik sastra Indonesia harus menunggu “kesiapan” kerja sama itu. Selama karya sastra (nasional) itu telah ada/ditulis (tanpa peduli berapa luas pembacanya kini), maka kritik sastra Indonesia pun senantiasa harus juga ada/ditulis sebagai pembanding atau penakar nilai. Karena hikmah sebuah kritik sastra yang baik, juga akan menjadi pembanding yang sangat bersifat mendidik bagi pengarang-pengarang. Hasil kritik yang diraih kritikus tentu saja harus sebaik-baiknya, dalam arti harus relevan dengan karya yang ditelusuri. Tentang apa nama cara kerja/metode yang ditempuh kritikus, biarlah menjadi tanggung jawab serta pilihannya sendiri. Keanekaan pendekatan terhadap sebuah sastra memang sangat mungkin, karena sebagai karya kreatif, hasil sastra dari lain pengarang dan lain periode, lain latar belakang, akan menimbulkan keanekaan dunia sastra itu sendiri.

    *********************************************

    *Sumber  tulisan dari buku Hamba-Hamba Kebudayaan, Penerbit Sinar Harapan

     

     

  • Hikayat Kebo

    Hikayat Kebo

     

    Linda Christanty

     

    JALAN itu lurus. Berangkal batu, pecahan keramik, kristal semen, melapisi permukaannya. Bias cahaya meriah dari papan reklame dan logo pertokoan memberinya siluet.

    Minggu, 20 Mei 2001, pukul 21.00, sebuah taksi biru merayap di sana. Jarum speedometer-nya menunjuk angka 15 kilometer per jam. Setelah melampaui satu tikungan dan disambut sorot neon 40 watt, kendaraan tersebut berhenti. Tepat di muka pemukiman para pemulung.

    Enam pria melompat dari dalam taksi, kemudian sibuk menarik tubuh seseorang dari jok belakang. Kedua tangan dan kakinya terikat kawat. Rintihan parau terdengar lemah dari tenggorokan pria itu.

    Ia sekarat.

    Orang-orang mendekat dengan rasa ingin tahu.

    Lima puluh meter dari tempat kejadian, di samping pagar seng yang membatasi pemukiman tersebut dengan perkampungan, ada sebuah jalan kecil. Nama jalan tertera pada papan hijau tua yang terpancang di mulutnya: Jalan Tanjung Palapa.

    Faried tinggal di tepi jalan itu. Ia mahasiswa sebuah sekolah tinggi publisistik di Jakarta. Ia baru saja pulang ketika keponakannya memberitahu ada keramaian dekat pemukiman para pemulung. Faried bergegas ke sana.

    Massa berkumpul sekitar 50 orang, terdiri dari warga setempat, pemulung, dan tukang ojek. Faried mencoba menerobos kerumunan, mendesak maju. Di tanah menggeletak tubuh seseorang.

    “Ini siapa?” tanya Faried pada pria yang berdiri di dekatnya.

    “Kebo.”

    Teriakan terdengar dari tengah massa.

    “Buntungin aja tangannya!”

    “Ceburin ke kali!”

    “Bakar!”

    Tiba-tiba seorang pemulung mengguyur tubuh tak berdaya ini dengan minyak tanah.

    Massa hanya menonton.

    “Tolong jangan di sini. Kalau ingin menghakimi dia itu urusan kalian, tapi

    jangan di sini,” seru Faried, panik.

    Ia khawatir nama kampungnya tercemar akibat tindak kriminal, bukan pada nasib korban.

    Seakan menyetujui peringatan tadi, empat pria mengangkat tubuh Kebo, lalu meletakkannya dalam gerobak, bersatu dengan sampah plastik dan ban mobil bekas.

    Para pemulung itu mendorong gerobak ke tempat pembakaran sampah sampai berhenti di bawah sebatang pohon mangga. Bagai mengawali seremoni persembahan, salah seorang dari mereka menyalakan korek api.

    ***

    KARIMUN Usman baru saja selesai sholat Subuh. Rambut mulai memutih di usianya yang menjelang enam puluh. Sang istri, Siti Royamah, tengah sibuk di dapur. Karimun biasa sarapan dengan beberapa iris roti tawar dan secangkir kopi, sebelum berangkat ke gedung parlemen di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Barat, tempat ia melaksanakan tugas sehari-hari. Ia berkantor di sana sejak 1999.

    Saat berkunjung ke kebun bunga milik seorang sahabat di Cibodas pada 31 Januari 1999, Karimun bertemu Megawati Soekarnoputri, ketua umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Mereka berbincang-bincang dan ternyata menemukan kecocokan dalam cara pandang terhadap berbagai konflik di Indonesia. Politik memang dunia yang intim dengannya sejak lama. Karimun pernah menjadi ketua anak cabang Partai Nasional Indonesia di Cotgire, Loksukun, Aceh Utara, pada 1966 dan sempat ditahan di penjara Loksukun, karena dituduh komunis.

    Buah pikirannya di Cibodas tak sia-sia. Dewan pimpinan cabang Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan di Aceh mencalonkan Karimun duduk di parlemen. Karimun terpilih sebagai wakil partai berlambang banteng gemuk tadi. Orang Aceh menaruh banyak harapan padanya. Ia punya ruang untuk memperjuangkan kedamaian dan keadilan bagi rakyat di negeri yang masih bergolak itu.

    Meski punya rumah dinas di Kalibata, Karimun Usman tetap tinggal di Kompleks Pengairan, milik Departemen Pekerjaan Umum. Ia pensiun dari departemen tersebut pada April 1999. Rumah pribadi Karimun cukup nyaman. Ada garasi mobil, kursi-kursi dengan bantalan beludru di terasnya, dan lantai yang terbuat dari marmer merah bata.

    Sidang paripurna akan berlangsung pagi 21 Mei 2001. Tapi, Karimun Usman belum mengganti t-shirt putih dan pantalon warna kremnya dengan setelan resmi, ketika pintu rumahnya diketuk orang pada pukul 06.30.

    Norman, salah seorang warga, sudah menunggu di teras. Raut wajahnya menyiratkan kabar buruk. Karimun mafhum. Ia terbiasa menghadapi kabar seburuk apa pun. Karimun menjadi ketua rukun warga (RW) di wilayah itu sejak 1976, sehingga sudah cukup teruji. Kadang-kadang, ia kedatangan tamu tengah malam buta. Kadang-kadang, dini hari.

    “Ada mayat terbakar ditemukan di RW kita, Pak,” lapor Norman.

    Tanpa berpikir panjang, Karimun berangkat bersama Norman. Jarak rumahnya ke tempat kejadian sekitar 300 meter.

    Banyak orang berkerumun. Mayat itu hangus bersama gerobaknya di belakang Tower Anggrek Mall, Slipi, Jakarta Barat. Anggrek Mall atau lebih dikenal dengan sebutan Mal Taman Anggrek adalah sebuah pertokoan mewah di Jakarta. Berbagai barang dari merek ternama dijual di sana; dari celana dalam sampai gaun pesta, dari makanan sampai alat olah raga. Di sekitar pertokoan ini berdiri apartemen-apartemen menjulang dengan jendela kaca berkilau.

    Karimun diwawancarai reporter dari Patroli, sebuah program tayang di stasiun televisi Indosiar. Polisi belum datang.

    “Siskamling itu supaya nggak kenal waktu. Siskamling dibutuhkan bukan untuk orang lain, tapi untuk kita sebagai anggota masyarakat. Jangan sampai terjadi seperti hal yang kita lihat pagi ini,” kata Karimun, menatap kamera.

    Ia menyesal terlambat mencegah kebiadaban tersebut.

    Karimun tercenung dalam ruang kerjanya yang terletak di koridor lantai lima Gedung Nusantara II, salah satu gedung perkantoran dalam kawasan parlemen. Sebuah jendela kaca menghadap jalan raya mengakhiri ujung koridor yang terasa dingin dan sunyi. Halaman gedung terlihat lengang. Barikade kawat berduri membentang di muka pagar besi. Pos penjagaan berisi seorang polisi. Teman-temannya mengaso di atas hamparan rumput hijau di sebelah kanan gedung yang

    diteduhi pohon beringin. Tenda besar dan truk tronton milik brigade mobil berada di sekeliling mereka. Setelah ribuan mahasiswa dan rakyat menduduki gedung tersebut untuk menuntut penurunan Presiden Soeharto tiga tahun lalu, aparat keamanan jarang istirahat. Mereka harus menahan aksi-aksi protes yang terus mengalir ke parlemen.

    “Menurut saya, apa pun kesalahan orang, tidak perlu kita bakar. Setelah kekesalan dilepaskan, serahkan orang itu kepada polisi, lalu diproses secara hukum,” ujar Karimun.

    Tapi, Karimun sendiri pesimis terhadap kinerja aparat penegak hukum, “Koruptor kakap lolos, maling ayam ditahan tiga bulan.”

    Ia menganggap kondisi perekonomian yang buruk memicu tindak kekerasan massa akhir-akhir ini. Masyarakat mengekspresikan kekecewaan dengan membabi-buta, meski yang menjadi sasaran justru sesama rakyat kecil lagi.

    “Ternyata setelah hampir dua tahun, yang terjadi justru dalam eksekutif, mengganti menteri dalam sebulan bisa dua kali. Menteri-menteri ditugaskan untuk lobi-lobi. Yang menyangkut tugas dan pokoknya tidak dilakukan. Sehingga apa yang sudah dicanangkan dibangun di daerah ini atau daerah sana, tidak dilakukan. Emosi-emosi kedaerahan bisa timbul dari sini. Akibatnya, kalau ada

    satu saja pemicu, orang tidak mau melihat pada keadaan sekarang, walaupun keadaan yang sekarang jauh lebih bagus daripada tiga puluh tahun Soeharto berkuasa.”

    ***

    CEROBONG bangunan tersaput jelaga itu terus-menerus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bangunan ini bagian dari Mal Taman Anggrek. Tepat di seberang temboknya berdiri bilik-bilik pemulung. Gundukan sampah plastik dan kaleng bekas cat atau minyak oli berada di muka atau sisi bilik mereka. Bau busuk tercium, tapi tak seekor lalat pun terbang atau hinggap. Bunga-bunga liar berkelopak putih dengan sepuhan ungu mendekati putiknya menjalar di atas tanah. Keindahan menjadi sebuah sindiran di sini.

    Kebo hampir setahun tinggal di lapak tersebut. Ia seperti para penghuni lain, memiliki sebuah bilik untuk berteduh. Bilik Kebo berdinding tripleks dengan atap seng dan tambalan tripleks pada bagian tertentu. Jarak lantai ke langit-langit 1,5 meter. Luas bilik 2×2,5 meter persegi. Karpet merah darah dari bahan sejenis wol melapisi lantai bilik yang terbuat dari tanah. Tempat tidur kayu tanpa kasur merapat ke salah satu dinding. Kebo menyimpan beberapa potong pakaian dalam tas olahraga warna biru. Semua ini kekayaan yang ia miliki.

    Kamar Kebo lebih mirip gua. Tanpa jendela. Di siang hari terasa pengap, sedang di malam hari begitu lembab. Cahaya matahari dan pergantian udara melewati satu-satunya lubang pada dinding; sebuah pintu yang terbuka. Kebo menggunakan kamar tersebut untuk tidur dan seringkali dalam keadaan teler akibat pengaruh alkohol. Ia gemar minum arak atau anggur hitam. Seorang pelacur biasa menemaninya bersenang-senang. Namun, perempuan yang dibawanya silih-berganti. Kebanyakan mereka berusia setengah tua dan seringkali berhubungan atas dasar suka sama suka.

    Bila musim hujan tiba lantai bilik tergenang air dan berlumpur. Penghuni lapak mencoba menimbun lantai bilik mereka dengan puing dan kayu, meski air yang turun dari langit nyaris tak terbendung. Kebo melakukan hal yang sama, lalu menjemur karpet yang basah berlumpur.

    Lapak-lapak pemulung ini berdiri di atas lahan seluas lima hektare. Sebelum gerakan reformasi pada 1998, tanah tersebut tercatat sebagai milik Yayasan Bhakti Putra Bangsa. Papan nama yayasan menancap di atas lahan yang gersang. Hutomo Mandala Putra, putra bungsu mantan Presiden Soeharto, orang nomor satu yayasan itu.

    Ketika Presiden Soeharto berkuasa, keluarga dan kroninya menguasai sebagian besar aset ekonomi serta perdagangan di Indonesia. Praktik kolusi, korupsi, dan nepotisme menjadi lumrah.

    Menjelang detik-detik kejatuhan Soeharto pada 1998, perekonomian Indonesia mencapai kulminasi paling buruk. Sistem ekonomi dalam negeri yang lama bobrok ditambah krisis mata uang yang melanda negara-negara Asia membawa petaka. Nilai rupiah meluncur dari Rp 2.300 per dolar Amerika pada Juli 1997 ke angka Rp 17 ribu per dolar Amerika pada Januari 1998. Pertumbuhan ekonomi turun 15 persen secara keseluruhan, seiring krisis di sektor-sektor kunci.

    Pada Juni 1998, sektor pertanian menurun 2,4 persen, manufaktur 19,3 persen, pertambangan 8,3 persen, dan perdagangan serta jasa 25,2 persen. Jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan meningkat hampir 50 persen dan kebanyakan terkonsentrasi di wilayah Jawa. Pendapatan per kapita menurun dari 1088 dolar per kapita pada 1997 ke 610 dolar per kapita pada 1998.

    Pada situasi krisis ini pula, gubernur Jakarta Sutiyoso memberi kesempatan pada masyarakat kota untuk menggarap lahan-lahan tidur, baik milik pemerintah maupun perusahaan. Akibatnya, orang berbondong-bondong membuat sertifikat atas lahan yang bukan milik sendiri. Bahkan, di antara mereka ada yang menyewakan lahan tersebut pada orang lain.

    Seorang demi seorang datang, mengguntingi kawat pembatas, dan mengikat tali rafia pada tiang-tiang kayu untuk bermukim. Kebo termasuk dalam gelombang pendatang. Ia sudah lama menjalani hidup semacam itu, berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain. Baginya itu hanya satu siklus yang biasa, seperti matahari terbit atau terbenam.

    Selain mengumpulkan sampah plastik atau kaleng dan menjualnya kepada bos lapak, Kebo menimbun lubang-lubang di sepanjang Jalan Tanjung Palapa. Ia memiliki sebuah gerobak kayu untuk mengangkut bahan baku perbaikan jalan itu.

    Kedengarannya mulia.

    “Tapi suka minta uang sama orang-orang, kalau nggak dikasih nabok,” kata Ismawan, salah seorang pemulung yang tinggal berseberangan dengan Kebo.

    “Abis nguruk, dia minta bayar. Terus, suka beler,” ujar Sri Utami, istri Ismawan.

    Kebo memang bukan jenis yang bisa menimbulkan rasa nyaman. Tubuh Kebo penuh tato. Tato ular kobra di lengan kiri, betis kiri, dan betis kanannya. Pada lengan kanannya ada tato kalajengking. Punggung Kebo berhias tato wajah perempuan berambut panjang.

    Namun, cara Kebo berpakaian cukup perlente. Ia gemar mengenakan setelan jaket dan celana jins. Sepatu kulit warna coklat melengkapi penampilannya. Tinggi pria ini sekitar 157 sentimeter, berkulit hitam, dan agak gemuk.

    Usia Kebo 40 tahun. Ini usia berdasarkan surat nikahnya dengan Muah binti Sukardi. Di situ nama Kebo tertulis: Ratno bin Karja.

    ***

    DESA Sisalam berada di Kecamatan Wanasari, bagian selatan Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Dari alun-alun kabupaten, angkutan umum berwarna kuning jurusan Jagalumpeni siap mengantar penumpang ke Sisalam dengan ongkos Rp 1.000. Mobil melewati jalan yang tak rata dan berbatu-batu. Perempuan-perempuan desa membawa barang belanjaan dari kota mengisi bangku-bangkunya. Dandanan mereka sederhana. Ada juga yang bertelanjang kaki.

    Sisalam tertera dalam daftar desa tertinggal. Belum ada pusat kesehatan masyarakat di sini. Hanya sebuah sekolah dasar milik pemerintah yang melayani kebutuhan pendidikan anak. Listrik baru dua tahun masuk ke desa ini. Kebanyakan penduduk Sisalam bekerja sebagai buruh tani. Tak ada papan nama desa. Jembatan kembar berada di muka jalan masuk yang terbuat dari tanah dan batu kali berwarna hitam. Jejak hujan tertinggal pada ceruk-ceruk jalanan yang tergenang air.

    Rumah Muah binti Sukardi masih 500 meter ke dalam. Arsitekturnya amat sederhana. Dua buah jendela dan sebuah pintu di bagian muka. Langit-langit memperlihatkan komposisi kayu yang silang-menyilang, sedang sinar matahari menerobos ke dalam dari celah-celah genteng yang berlumut. Dinding-dinding rumah dikapur putih.

    Ia bersimpuh di lantai semen yang dingin pagi itu. Sorot matanya sayu. Wajahnya bundar tanpa riasan. Muah tinggal bersama putri angkatnya, Teti, yang berusia 13 tahun. Kebo dan Muah merawat Teti sejak anak tersebut masih bayi, karena perkawinan mereka tak membuahkan keturunan.

    “Rumah ini peninggalan embah saya,” tutur Muah, dalam logat Banyumas yang kentara. Konsonan diucapkan dengan tengah lidah pada langit-langit mulut.

    Ia menarik napas dalam-dalam, lalu mulai bercerita. Pernikahannya dengan Kebo adalah pernikahan kedua. Usia perkawinan pertama Muah hanya bertahan setahun, meski ia dan suaminya saling cinta. Orangtua suami pertamanya, Damat, tidak menyukai Muah yang miskin. Mereka mencarikan istri lagi untuk Damat.

    Pertemuan Muah dan Kebo juga kebetulan. Saat itu Muah ikut orangtuanya yang jadi pemulung di Pisangan, Jakarta. Muah berjualan pecel di samping bilik mereka. Kebo baru saja keluar dari penjara, setelah mendekam di sana selama enam bulan. Ia juga tinggal di lapak itu. Kayem, ibu Muah, menegur Kebo yang kebetulan lewat.

    “Bo, Kebo kapan lu pulang?” tanya Kayem.

    Muah memandangi ibunya heran, “Nama orang kok Kebo, sih Mak?”

    “Ya, memang gitu. Dipanggilnya Kebo, Kebo gitu ….”

    Suatu hari Kebo membeli pecel dagangan Muah dan hatinya berdesir melihat perempuan ini.

    “Tuh cewek boleh juga,” kisah Kebo pada sesama pemulung.

    Semula Muah tak tertarik, tapi Kebo pantang menyerah. Saat kaki Muah luka tergores kaleng, Kebo membelikannya sandal jepit.

    “Kamu mau nggak kawin sama saya?” tanya Kebo.

    Muah ragu-ragu.

    “Saya pengen jadi orang Jawa, jadi orang tani,” rayu Kebo.

    “Kalau situ mau sama saya, yang penting situ insaf. Berhenti mabok, asal lu baik, gua nggak apa-apa kawin sama lu,” Muah, mengajukan syarat.

    Ketika Muah hendak pulang kampung, Kebo memaksa ikut. Mereka sempat kumpul kebo selama enam bulan dan berkali-kali digrebek pemuda setempat. Pada 18 November 1986, Kebo dan Muah menikah di Sisalam. Tak seorang pun dari pihak keluarga Kebo hadir.

    Asal-usul Kebo tak jelas.

    Saat berpacaran dengan Kebo, Muah sempat bertanya, “Lu kampungnya di mana?

    Orangtua lu di mana?”

    “Di Dongkal. Cuma waktu kelas satu SD, saya ngikut truk berangkat ke Jakarta, terus bawa sarung sama ayam. Ayamnya nyolong punya orangtua saya. Ayam lagi angkrem (mengerami telur) diambil, buat ongkos. Sejak itu saya nggak pernah pulang,” jawab Kebo pada Muah.

    Hidup di Jakarta tidak mudah bagi Kebo. Ia tersesat sendirian di sebuah dunia asing, berada di tengah perubahan cuaca dan rasa lapar. Selain itu, berbagai bentuk kekerasan juga mengintai anak-anak jalanan seperti Kebo, termasuk pembunuhan dan penganiayaan seksual.

    Pada 1996, media massa sempat menggemparkan masyarakat lantaran memuat berita perkosaan serta pembunuhan anak jalanan. Seorang pelaku yang dibekuk aparat kepolisian bernama Robot Gedek. Sebelum membunuh anak-anak itu, ia menyodomi mereka.

    Kehidupan di jalanan mempertemukan Kebo kecil dengan pemungut puntung rokok dari tong-tong sampah kota, pria yang kemudian mengangkatnya sebagai anak. Kenangan Kebo terhadap ayah angkatnya samar-samar.

    “Kebo tinggalnya nggak tetap. Semenjak dia di belakang Mal Taman Anggrek saya nggak ikut. Saya disuruh ngurusin anak,” kenang Muah.

    Kebo menitipkan uang belanja buat Muah melalui saudara atau teman sekampung yang datang ke Jakarta. Kadang-kadang, Kebo datang sendiri mengantarnya.

    “Untuk dua bulan kadang Rp 150 ribu, kadang Rp 100 ribu,” kata Muah. Ia maklum pekerjaan suaminya tak bisa menghasilkan banyak uang, tapi, “Ini juga diminta lagi, kalau dia mau beli minuman. Rp 10 ribu, Rp 20 ribu … lama-lama abis,” lanjutnya. Pendapatan Kebo bervariasi setiap hari.

    “Pernah sehari dapat Rp 7.000, tapi nggak tentu.”

    Kebo tidak berubah. Dia tetap suka menenggak minuman keras. Bahkan, ia jadi amat pencemburu. Rasa cemburu membuat Kebo tega menyakiti istri sendiri.

    “Saya ngasih nasi sama temannya dikiranya saya senang. Kejadiannya di Kampung Sawah, Jakarta, di samping Mal Taman Anggrek. Saya dipanggil, terus É mulut saya sudah bercucuran darah,” kata Muah, menerawang.

    Kebo boleh cemburu pada istrinya, tapi Muah harus menerima kehadiran perempuan lain dalam rumah tangga mereka. Pada 1988, Muah menengok suaminya di lapak Kemanggisan, Jakarta Barat. Seorang perempuan hamil bernama Yuli berada dalam bilik Kebo. Di malam hari Muah terpaksa membiarkan suami dan kekasihnya itu bercinta.

    Akhirnya, Kebo mengutarakan niatnya untuk menikah lagi.

    “Situ boleh kawin, asal ceraikan saya,” ujar Muah, panas.

    “Gua nggak mau ninggalin lu,” jawab Kebo.

    “Percuma, nggak mau ninggalin, tapi nyakitin terus.”

    “Nggak apa-apa kalau kamu maunya begitu. Tapi kamu kan punya orangtua, punya saudara.” Kebo mengancam.

    Muah gemetar.

    Dalam keadaan marah, Kebo mengambil golok.

    Ia memotong telunjuk tangan kanannya sendiri.

    Para tetangga di Sisalam sering mendengar Kebo memukul istrinya. Muah menjerit-jerit, lalu berlari keluar rumah. Muah terpaksa bersembunyi di rumah tetangga untuk menghindari kekejaman Kebo. Tapi, nasib Muah tak selalu baik. Ia pernah pingsan akibat tindakan Kebo dan terkapar berlumuran darah. Kebo malah meninggalkannya, mencari arak, dan mabuk.

    Namun, Kebo sangat lembut terhadap anak-anak. Ia senang mengajak anak-anak kampung pergi memancing. Kebo juga tak suka mendengar Muah membentak Teti. Saat mereka bertengkar malam-malam, Kebo tak ingin putrinya tahu. Suatu malam di antara ribuan malam yang menakutkan bagi Muah, Teti terbangun mendengar suara gaduh. Bocah ini melihat kursi sudah jungkir-balik di lantai.

    “Ada apa, sih, Pak?” tanya Teti.

    “Nggak ada apa-apa, kok, Nok.”

    Pada 1992, Kebo membuat ulah pertama kali dengan penduduk kampung Sisalam. Dia mengancam seorang pria bernama Soka. Kebo menempelkan golok di leher Soka sambil menggiringnya mondar-mandir di jalan desa. Penduduk menyaksikan, tapi tak berani melerai.

    “Soka ini pendatang, sama seperti Kebo. Mungkin, mereka ini ingin menunjukkan siapa yang paling berkuasa,” ujar Rodijuro, lurah Sisalam.

    “Tapi, hanya sekali itu. Dia nggak pernah bikin keributan lagi dengan warga sini,” kata Wage, pertahanan sipil (hansip) Sisalam.

    Akibat perbuatannya itu Kebo dikurung lima bulan di tahanan Kepolisian Resort

    Brebes.

    Angin siang berembus lewat pintu dan jendela yang terbuka. Kenangan pahit menyesakkan dada Muah. Sebentar-bentar terdengar embikan kambing dari kejauhan. Muah meluruskan kedua kakinya yang terasa penat. Perempuan mungil ini menghela napas panjang. Baru saja ia kembali dari memotong padi di sawah. Muah bekerja sebagai buruh tani. Pemilik sawah memberikan seperenam hasil panen untuk upah para buruh. Pekerjaan tersebut bersifat musiman. Ketika beras dari hasil panen sudah habis dan uang untuk membeli kebutuhan sehari-hari menipis, Muah berharap pada kiriman uang dari suaminya. Namun, Kebo sudah dua bulan tak berkabar berita sejak Mei 2001 itu.

    ***

    SENJA turun pada Jumat 18 Mei 2001. Dua pelacur, Lina dan Unyil, menemani Kebo yang teler dalam biliknya. Biasanya, Kebo ditemani salah seorang dari mereka. Kali ini agak istimewa.

    Pintu bilik Kebo tertutup rapat. Kebo dan dua perempuan ini tenggelam dalam kesenangan mereka. Tiba-tiba Kebo menyuruh Unyil dan Lina melakukan adegan lesbian, seperti dalam film biru.

    “Dua perempuan disuruh telanjang. Terus disuruh begituan,” tutur Kusni, salah seorang pemulung.

    Kedua perempuan tersebut menolak. Kebo marah dan mengancam akan membakar bilik. Dengan langkah sempoyongan ia berjalan ke ambang pintu. Seorang pemulung lewat. Kebo berteriak memintanya membeli minyak tanah.

    Pria ini tak bersedia. Kebo lantas menempelkan golok ke leher pria tersebut, yang buru-buru memenuhi permintaan Kebo.

    Kebo menyiram tempat tidur kayunya dengan dua liter minyak tanah, lalu menyulut korek api. Lina dan Unyil nekad membuka pintu. Mereka lari tunggang-langgang. Pukul 18.15 api menyala. Bilik Kebo terbakar. Api merembet ke bilik-bilik tetangga.

    Kebo kaget. Nalurinya menyuruh kabur. Teriakan panik terdengar santer.

    “Kebakaran … kebakaran!”

    “Kebakaran!”

    “Kebakaran ….”

    Sewaktu orang-orang menyelamatkan diri serta barang-barang mereka dari jilatan api, Kebo telah meninggalkan kawasan tersebut. Sebelas bilik hangus.

    “Ada yang sedang tiduran, ada yang baru selesai mandi, dan melihat api sudah membakar, nggak bisa ngapa-ngapain lagi, ada yang belum pulang. Waktu itu saya sedang nonton tivi. Tiba-tiba saja api sudah membesar dan semua orang panik. Semua hangus terbakar. Surat tivi, kartu tanda penduduk, surat nikah, peralatan dapur, pakaian É semua terbakar. Saya hanya bisa menyelamatkan tivi. Pakaian saya hanya ini saja yang nyisa, yang melekat di badan ini. Gubuk terbakar semua, abis. Sekarang kami nggak punya tempat tinggal, numpang-numpang sama

    tetangga,” kata Wati, tetangga Kebo, dengan wajah memelas.

    Penduduk kampung sekitar lapak ikut terkena getahnya.

    “Aliran listrik mendadak padam. Telepon aja ikut mati.”

    Dua hari kemudian, pemulung-pemulung yang membawa besi, golok, dan kayu menemukan Kebo teler di lapak kayu Kedoya Utara, Jakarta Barat. Jumlah mereka, 32 orang. Tentu bukan lawan yang seimbang. Kebo dianiaya beramai-ramai tanpa melakukan perlawanan. Setelah ia jatuh pingsan, para pengeroyok mencegat taksi untuk membawanya kembali ke belakang Mal Taman Anggrek.

     

    ARNOLD Toynbee, sejarawan Inggris terkemuka, mengatakan bahwa menjadi pemimpin bagai berada di antara dua celah sempit. Bila berteguh pada pendirian akan jadi diktator, tapi terlalu mendengarkan rakyat membuatnya terkesan lemah.

    Pemerintahan Abdurrahman Wahid mengalami hal itu. Di tengah warisan krisis yang parah dan ancaman disintegrasi di berbagai wilayah, Wahid serba salah. Tawaran bantuan dari International Monetary Fund datang, tapi bukan tanpa pamrih. Syaratnya, antara lain subsidi bahan bakar minyak dan listrik harus dicabut. Padahal, kesulitan ekonomi masih mendera rakyat. Kerusuhan di daerah membuat Wahid terpaksa meminta militer turun tangan dan pelanggaran hak-hak sipil tak bisa dihindari. Hukum kehilangan kekuatan.

    Penghakiman massa terhadap pelaku kriminal maupun tersangka kejahatan menjadi fenomena. Rakyat bertindak sendiri untuk mempertahankan milik mereka yang tersisa.

    “Tindakan massa itu tidak benar. Itu pembunuhan. Polisi mengeluarkan tembakan peringatan, kalau situasinya demikian,” ujar kepala dinas penerangan Kepolisian Daerah (Polda) Metro Jaya, Komisaris Besar Anton Bachlul Alam.

    Polisi sering gagal meredakan massa yang marah. Korban tewas di depan mata mereka.

    “Pada situasi di era reformasi, orang ingin bebas, demokrasi kebablasan, semua hal dihadapi dengan people power. Polisi akan bertindak tegas. Karena ada juga korban yang jadi korban. Ini yang lebih memprihatinkan. Istilahnya, terjadi maling teriak maling. Penjahat itu kan sudah tahu bahwa massa akan menghakimi mereka, sehingga mereka melakukan ini,” kata Anton.

    Di Indonesia, lebih seribu orang jadi korban kekerasan massa tahun lalu. Harian Kompas memuat 46 peristiwa pengeroyokan yang disertai pembakaran sepanjang Januari 1999 sampai Mei 2000 di Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi. Wilayah Jakarta Barat merupakan peringkat pertama dalam jumlah korban. Masyarakat kawasan ini dikategorikan “tega.” Delapan kasus pembakaran orang hidup-hidup berlangsung di sini. Data forensik dari Universitas Indonesia menunjukkan

    korban kekerasan massa pada tahun 2001 di Jakarta mencapai 86 kasus dengan 6 kasus pembakaran korban.

    Kebo hanya melanjutkan daftar panjang tadi.

    Adrianus Meliala, kriminolog dari Universitas Indonesia, mengatakan kekerasan massa sekarang memasuki tahap yang sulit dihentikan. Ia curiga media massa terlibat.

    “Media massa harus puasa memberitakan,” kata Meliala, serius.

    Meliala tak pukul rata terhadap semua media. Internet tidak berpengaruh pada masyarakat kelas bawah, sedang televisi kurang berpotensi.

    “Televisi juga terlambat mengambil gambar, mereka tak punya gambar yang bagus.

    Misalnya, yang ditayangkan Patroli itu, gambarnya tidak berbicara dan tidak cukup melekat di memori. Media cetak lebih berpengaruh. Pos Kota, misalnya, headline-nya bukan pada perilaku massa yang brutal, tapi mengarah pada korban yang gosong, yang news yang makin gosong itu. Makin sadis berita itu, makin oke. Tidak serta-merta memang. Tapi, kemudian kelompok massa yang marah melihat kok model itu cocok dengan mereka.”

    Gunawan Eko Prabowo, redaktur pelaksana suratkabar Pos Kota, terbahak-bahak. Ia

    batal menyentuh semangkuk bakmi pangsit yang terhidang di meja kami, di salah satu restoran yang bersebelahan dengan kantornya. Sepasang mata pria ini mulai mengerjap-ngerjap. Ia sudah sebelas tahun bekerja di Pos Kota.

    “Saya sering mendengarkan pendapat semacam itu. Saya ingin bukti. Berapa persen berita kami mempengaruhi orang untuk melakukan kejahatan? Coba adakan penelitian,” ujar Gunawan dengan mimik serius.

    “Peniruan langsung atau spontan itu mengada-ada.”

    Tapi, ia setuju berita bisa menjadi rujukan modus kejahatan terencana.

    “Dulu ada kasus Nyonya Diah, mayat dipotong tujuh itu. Setelah kasus Nyonya Diah, berlanjut dengan kasus Kristin. Mayatnya dipotong-potong juga. Pengakuan pamannya yang menjadi pelaku, ‘Saya baca koran, Nyonya Diah dipotong. Polisi sangat sulit mengungkap kasus. Jadi saya tiru itu’,” tutur Gunawan.

    Pos Kota suratkabar yang identik dengan berita kriminal, meski Gunawan membuktikan hanya 25 persen dari keseluruhan halamannya yang memuat berita semacam itu. Oplah Pos Kota fluktuatif. Paling tinggi 700 ribu eksemplar, paling rendah 300 ribu eksemplar.

    “Berita seperti itu kami muat, karena paling dekat dengan keseharian masyarakat

    pembaca Pos Kota, menengah ke bawah,” Gunawan berargumentasi.

    Bagaimana dengan pemilihan judul berita dan ungkapan yang vulgar?

    “Selagi saya bisa koreksi, saya koreksi. Dulu ada headline yang menceritakan razia terhadap wanita tuna susila. Dalam judulnya ada kalimat berbunyi, ‘celana dalamnya ketinggalan.’ Saya panggil redakturnya. Kok, bisa menurunkan judul seperti ini? Saya marahi,” kilahnya.

    Di lain pihak, Gunawan khawatir dengan mengubah gaya penulisan Pos Kota membuat mereka kehilangan pasar. Brand name itu terlanjur melekat. Apalagi sekarang banyak koran yang mengikuti gaya Pos Kota, baik tema maupun penyajian berita. Tingkat persaingan antar media dalam ceruk yang sama makin tinggi. Pos Kota tak ingin berjudi.

    Citra Pos Kota sebagai suratkabar berita kriminal membuat harian ini sering berfungsi sebagai pos polisi. Masyarakat datang untuk melaporkan anak yang hilang. Pengusaha mengadukan rekan bisnis yang kabur menggondol sejumlah uang milik bersama.

    “Kelihatannya masyarakat lebih percaya pada media ketimbang pada polisi. Seringkali polisi terlambat. Fasilitas mereka nggak memadai. Saya pernah melihat sendiri bagaimana untuk mengejar penjahat saja harus cari motor dulu, beli bensin patungan,” kata Gunawan.

    Pengalaman produser Patroli Indosiar, Indria Purnama Hadi, menyangkut pengaruh berita pada tindak kejahatan nyaris sama dengan Gunawan. Indria bahkan tak menyangkal pendapat Meliala.

    “Sebelumnya saya pernah dengar ada yang berkata bahwa televisi atau media berpengaruh pada perilaku orang. Tapi, ini akhirnya saya alami sendiri. Suatu hari kami mewawancari pelaku pencurian kendaraan bermotor di Sleman, Yogyakarta. Usianya masih muda, sekitar 17 tahun. Dalam sehari ia bisa mencuri dua sampai tiga motor. Kami kaget juga sewaktu ia bilang, untuk mencuri itu dia melihat dari Patroli,” kata Indria.

    Evaluasi pun dilakukan. Sejak itu ia lebih berhati-hati melakukan penyuntingan.

    Patroli tak lagi menampilkan alat-alat yang mendukung pencurian.

    Menurut Indria, program tayang tersebut lahir untuk memenuhi kebutuhan masyarakat yang tidak terpenuhi stasiun televisi lain. Banyak televisi menyajikan berita politik, yang membuat orang jenuh. Berita-berita Patroli tak melulu menonjolkan sisi kriminal, melainkan mengandung tujuan sosial dan hukum.

    “Agar masyarakat makin hati-hati,” ujar Indria. “Sebagai peringatan kepada masyarakat yang lain. Misalnya, penghakiman massa itu memberi informasi sekaligus peringatan. Atau tayangan tentang ledakan mercon yang membawa korban di Duri Kepa. Orang yang punya mercon di Depok, misalnya, jadi waspada.”

    Pada awal masa tayang, Patroli memperoleh informasi dari kepolisian. “Tapi, sekarang masyarakat sendiri yang menelepon kami. Seperti kasus mayat yang dibakar di belakang Mal Taman Anggrek itu,” ujar penanggung jawab program Patroli sejak tayang pertama pada April 1999 lalu.

    Di luar segala kontroversi pengaruh media, Adrianus Meliala menyisakan satu asumsi lagi.

    “Pada dasarnya kita ini sudah punya bibit dan menjadi budaya. Coba datang ke Cengkareng. Ada satu daerah di sana yang memasang pengumuman: di sini tempat orang dibakar pertama kali. Di sini ada semacam glory, pengagungan. Artinya, ketika terjadi di daerah lain, bukan lagi sekadar peniruan, tapi pengagungan,” tuturnya, prihatin.

    ***

    EMPAT pembunuh Kebo masih buron. Sebelum menghilang, mereka mengumumkan kematian Kebo pada pemulung lain sambil tertawa bangga.

    Polisi hanya berhasil membekuk delapan tersangka penganiaya Kebo, termasuk SuhariÑpaman Muah, dan Zumadi, adik Muah satu ibu.

    Di Sisalam, Muah makin gelisah. Kebo belum juga pulang. Tak tahan menanggung penasaran, ia meminta Wage, hansip Sisalam, mengantarnya ke Jakarta.

    Pada 22 Mei 2001, mereka sampai di Terminal Pulogadung. Wage membeli suratkabar

    Pos Kota. Jantung pria ini berdetak keras saat menyimak sebuah kolom di kiri halaman muka. Muah yang buta huruf tenang-tenang saja.

    “Suamimu lagi ada masalah,” kata Wage.

    Saat Muah dan Wage menghadap Brigadir Satu Eko Kuswanto di kantor Kepolisian Resort Jakarta Barat, delapan tersangka berkumpul di ruang yang sama.

    Suhari dengan wajah letih mengeluh pada Wage, “Saya itu kesal, dimintain duit terus sama dia (Kebo) saban hari, sing tanpa perhitungan.”

    Eko bertanya pada Muah, “Ibu Muah, suami ibu meninggal dibunuh orang. Apakah ibu mau menuntut?”

    Muah tidak ingin menuntut kematian Kebo secara hukum, “Orang dia itu jahat.”

    Seorang polisi wanita yang ikut hadir terkesima, “Saya juga perempuan, Bu Muah. Masak orang berumah tangga itu nggak ada kasih sayangnya?”

    Wage membantu Muah menulis surat pernyataan. Setelah itu Muah membubuhkan cap jempol di atasnya.

    “Sekalipun dia itu dibunuh seseorang, tapi dia orang jahat. Saya masih ingat, dulu pemerintah mengadakan misterius itu, pemerintah juga membunuhi orang, kok, orang jahat,” kata Wage pada Eko.

    Pada 1980-an, pemerintah Soeharto melakukan sebuah operasi yang terkenal dengan sebutan “Petrus” atau penembakan misterius. Ribuan penjahat ditembak, sedang mayatnya ditinggalkan begitu saja. Pers dan forum internasional mengutuk tindakan yang dianggap melanggar prinsip kemanusiaan ini. Dalam biografi Soeharto: Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya, Soeharto membela diri, “Itu untuk terapi goncangan. Supaya orang banyak mengerti bahwa terhadap perbuatan jahat masih ada yang bisa bertindak dan mengatasinya.”

    Di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, salah satu rumah sakit umum di Jakarta, ada bagian yang membiarkan waktu berhenti. Dunia orang-orang mati. Bau busuk mengelana di lantai ruang pendingin. Deretan lemari besi merapat ke dinding. Pada pintunya tertera angka-angka; 1,2,3, dan 4 dari cat biru. Seonggok arang tersimpan di balik pintu nomor 3. Dalam daftar registrasi petugas kamar mayat tercantum catatan: “21/5001/793/9.35/Tanpa Nama/Polsek Tanjung Duren/Luka bakar.” Tak ada pihak keluarga datang mengambil mayat itu.

    Pada 25 Mei 2001, petugas kamar mayat membawa mayat tanpa nama tadi ke pemakaman massal Tegal Alur, Jakarta Barat. Penggali kubur menimbun tanah di atas lubang. Kebo kembali sendirian.

    ***

    PERTENGAHAN Juni 2001. Mata Muah kembali menerawang. Berbagai perasaan berkecamuk dalam benak wanita ini.

    “Bagaimanapun dia suami saya, ya kadang kangen. Tapi, dia begitu.”

    Nani, istri lurah Sisalam, menghibur, “Sudahlah, kini kowe sudah bebas. Nanti cari suami yang baik.”

    Kecemasan Muah masih tertuju pada yang hidup.

    “Kasihan adik saya. Anak-anaknya masih kecil.”

    Surat perpanjangan penahanan Zumadi yang dikeluarkan pihak Kejaksaan Negeri Jakarta Barat menggeletak di lantai semen yang dingin.

    Ratusan kilometer dari Sisalam, cerobong bangunan tersaput jelaga terus mengeluarkan asap hitam ke langit biru. Bekas-bekas bilik yang terbakar menyuguhkan pemandangan mengenaskan.

    Kerangka kursi panjang teronggok di muka bilik Kebo yang tinggal puing. Karpet merah dari bahan wol miliknya masih tersampir di tali jemuran. Seorang pria berkaus singlet mendorong gerobak di antara sampah kaleng dan plastik. Roda kehidupan berderit lagi, berputar, tiada berhenti. Manusia menjalaninya seperti kutukan, sebagaimana Atlas, dewa dalam mitologi Yunani, memikul bumi pada pundaknya.

    Muah termangu memandangi serpihan-serpihan kertas yang berserak di lantai, surat nikahnya dengan Kebo. Kebo merobek surat tersebut saat mereka bertengkar

    hebat untuk kesekian kali.

    “Akan saya simpan terus kenang-kenangan,” ujar Muah, nyaris berbisik.*

     

    ********************************

     

    Sumber Tulisan dari Buku Jurnalisme Sastrawi,  KPG 2008

     

     

     

     

     

  • Biarkan Aku Bercinta dengan Kota Ini

    Biarkan Aku Bercinta dengan Kota Ini

    Cerpen Emanuel Dapa Loka

     

    KERETA SENJA Jakarta – Jogja sebentar lagi tiba. Jam di dinding bercat putih itu menunjukkan pukul 2.35 WIB. Tiba-tiba handphone John berdering panjang. Merasa terganggu, dia bangun lalu langsung mematikan, apalagi yang muncul di layar ponselnya hanya nomor.

    Tidak lama berselang, handphone android buatan China itu kembali berdering. John langsung matikan lagi. Lelaki berkulit bersih itu kembali tidur.

    Sekitar pukul 4.30 hpnya kembali berdering. Telepon masih dari nomor yang sama. John memang biasanya bangun pada jam segitu.

    Dengan dongkol, sekaligus berat hati, dia angkat. “Hallo, siapa nih,” katanya dengan suara agak jengkel. “Maaf, Mas. Aku Fenny. Masih ingat aku? Aku turun dari kereta di Stasiun Tugu tadi jam 2.35. Aku dapat panggilan wawancara kerja di Jogja. Jemput aku, ya….” kata Fenny tanpa jeda.

    John terdiam. Nyawanya “belum nyatu”. Ingatannya juga belum nyambung, dan belum ngeh dengan suara orang yang barusan berbicara dengannya. “Fenny siapa, ya… Maaf, kayaknya aku gak kenal orang bernama Fenny. Anda mungkin salah nomor,” kata John.

    Cepat-cepat wanita di balik telepon itu menimpali, “Oh, iya… Aku Stefany atau Any. Di kantorku orang lebih suka panggil aku Fenny, sebab ada pegawai lain yang lebih dahulu dipanggil Any. Sudah ingat belum….? Aku Any teman kamu dulu di Malang…”.

    Mendengar penjelasan itu, jantung John langsung berdegup kencang…. Dug…. dug….dug….

    Dia langsung teringat seorang wanita cantik berbadan “sempurna” yang dia pacari selama 2 tahun setelah selesai kuliah. Mereka sama-sama alumni sebuah kampus terkenal di kota Malang. Hubungan mereka ketika itu sangat baik. Mereka tampak cocok, jarang terjadi cekcok. Pokoknya cocoklah!

    ***

    Fenny kembali bicara. “Hallo, Mas… Jemput, ya…. Lagian ini hujan. Aku gak kenal siapa-siapa di kota ini. Kemarin aku minta nomormu di Billy sahabatmu. Kenal Billy, kan? Sekarang dia sudah jadi boss lho di Jakarta… Jemput aku, ya… Nanti jam 9 aku ada wawancara kerja di Timoho.”

    Wajah John terlihat gugup. Dia enggan menjemput. Dia sepertinya tidak kuat melihat Fenny. “Ayo, Mas…. Jemput, ya…. Please… Please,” kata Fenny dengan suara manja.

    “I… Iya…. Tunggu, ya….,” katanya terbata-bata. Tangannya sedikit gemetar sampai handphone di tangannya terjatuh. Untung handphone buat China itu tidak pecah.

    “Mas, saya tunggu di pintu keluar, ya… Dekat becak-becak,” kata Fenny dengan gembira.

    Tidak lama kemudian jantung Fenny pun berdegub kencang karena membayangkan sebentar lagi bertemu dengan John, setelah lima tahun tidak bertemu usai berpisah di Stasiun Lawang, Malang.

    Lamunan Fenny belum melayang terlalu jauh, tahu-tahu John dengan motor matic-nya sudah nongol di depan matanya. Mata mereka seperti saling memagut. Jantung keduanya sama-sama berdegub kencang, sampai lupa bersalaman.

    “Ayo, berangkat. Nanti kamu terlambat wawancara. Mana lagi tasmu,” kata John sambil mengangkat tas di samping Fenny. Fenny pun mengangkat tas jinjing berwarna coklat.

    ***

    Setelah menyelesaikan wawancara, Fenny masih tinggal di Jogja selama empat hari. Dia menginap di sebuah hotel di Jalan Solo, sedangkan John ngekos di Babarsari, dekat kampus Atma Jaya.

    Selama itu, keduanya beberapa kali bertemu, bahkan mereka dua kali makan malam bersama dan nonton film di bioskop. Mereka sempat pula main ke alun-alun utara. Tampak romantis, tetapi tetap saling menjaga jarak. Terutama John,dia tampak canggung memegang tangan Fenny, walau Fenny menunjukkan keinginan menggamit tangan John.

    John pun melayani obrolan Fenny dalam nada yang biasa sekali. Dia terkesan sangat hati-hati. Sesekali Fenny memang mengumpan dengan kenangan indah mereka pada enam tahun lalu. John hanya tersenyum kecil, lalu mengalihkan pembicaraan.

    ***

    Di pikiran dan pelupuk mata John masih sangat terang benderang bagaimana Fenny menyampaikan keinginan pulang ke Jakarta untuk menjenguk ibunya yang sakit keras. Namun, sejak kepulangannya itu tidak pernah ada kabar sama sekali. Semua komunikasi terputus!

    “Maafkan aku, Mas. Ibu sakit keras. Aku takut kehilangan Ibu. Aku harus pulang. Yang pasti, aku sayang kamu. Hati dan jantung ini milikmu,” kata Fenny terisak-isak.

    John lalu berkata, “Kalau mau pulang jenguk Ibu, pulanglah. Jangan lupa kasih kabar. Semoga ibu lekas sembuh, ya. Jangan khawatir, aku akan baik-baik saja. Gak bakalan macam-macam.”

    Melihat John seperti melamun dan tidak bersemangat menanggapinya, akhirnya Fenny minta diantar ke hotel.

    ***

    Empat hari setelah wawancara kerja tersebut, Fenny kembali ke Jakarta. John mengantarnya ke stasiun Tugu. Tidak berapa lama, kereta berangkat. Sekitar 30 menit kemudian, Fenny mengirim pesan, “Mas John, terima kasih untuk semuanya. Kamu memang laki-laki luar biasa. Mas, jantung yang pernah aku sebut adalah milikmu, benar-benar akan jadi milikmu…”

    Tulisnya pada pesan berikutnya, “Aku akan segera kembali lagi ke kotamu, Yogyakarta untuk membawa jantung ini untukmu.”

    John sama sekali tidak membalas pesan Fenny. Ditelepon pun, dia tidak angkat. Berkali-kali Fenny menelepon. Dia justru menonaktifkan ponselnya.

    Sepulang dari stasiun, John mampir ke penjual pulsa dan membeli nomor baru. Dia ingin segera mengganti sim card-nya agar Fenny tidak bisa menghubunginya lagi.

    Dua minggu kemudian, dia coba menghidupkan kartunya untuk menyalin nomor-nomor yang ada dalam sim card itu. Setelah itu dia ingin buang kartu lamanya.

    Tak terduga, Fenny menelepon. Dengan terus terang Fenny mengatakanbahwa dia ingin kembali jadian dengan John. Dia bercerita bahwa suaminya meninggal dua tahun lalu. Tentang dua anaknya yang lucu-lucu, Fenny sudah ceritakan ke John saat makan malam bersama. “Aku masih sayang kamu, Mas. Benar jantung dan cintaku memang untukmu,” kata Fenny.

    Dalam hati, John berkata, “Enak saja kau katakan begitu. Setelah  bertahun-tahun tanpa kabar, lalu jantung dan hatimu dicabik-cabik lelaki lain, sekarang kau ingin membawa kepadaku?Puih….!

    Lalu John berkata, “Maafkan aku, Fenny. Terima kasih atas jantung dan cintamu yang hendak kau kembalikan untukku. Hanyalah, setelah jantung dan hatimu memar entah oleh lelaki yang mana, kini kau ingin kembalikan kepadaku? Tidak! Uruslah hidupmu dengan baik, aku juga akan mengarungi kehidupanku dengan caraku sendiri di kota ini.”

    Lanjutnya lagi, “Sungguh, Fenny! Aku tidak mau jatuh cinta lagi, apalagi dengan orang yang pernah aku cintai. Biarkanlah aku bercinta dengan kotaku ini. Kota ini telah bertahun-tahun setia denganku. Jogya sungguh tidak ingkar cinta. Jogja jauh lebih setia dibanding dengan semua wanita yang aku cintai, termasuk kamu.”

    Tak satu pun lagi kata keluar dari mulut Fenny selain terdengar sesenggukannya, lalu tut…tut…tut… Dia memutuskan sambungan telepon.

    ***

    Setelah putus dari Fenny, John sempat pacaran dengan beberapa wanita, tapi semuanya sad ending, malah ada yang berkesudahan dengan tragis.Walau pekerjaannya cukup matang, terakhir, karena sedikit stress dia pacaran dengan seorang “penghuni” Pasar Kembang atau Sarkem. Wanita itu kemudian pergi dengan seorang lelaki lain ke sebuah kota, dan tidak pernah kembali. Terakhir, John mendapat kabar, wanita bernama Ayu itu meninggal karena terpapar Covid-19.

    ********************

    *Emanuel Dapa  Loka, Jurnalis, Penulis Buku Orang-Oramg Hebat – dari Mata Kaki ke Mata Hati.

  • Puisi-puisi Wendy Lim: – Sepasang Merpati – Cita Cinta – Mimpi dan Nasib – Catatan Cinta – Mata, Mulut dan Telinga – Perpustakaan –

     

    Sepasang Merpati

    Kamu menjadi merpati putih
    Ada bahasa yang gembira
    Sembunyi di bulu putih
    Seperti malu-malu
    Di ucapan rahasia

    Aku menjadi merpati hitam
    Ada riak yang acak
    Berbunyi di bulu hitam
    Seperti ragu-ragu
    Di hadapan bahaya

    Kita menjadi sepasang merpati
    Ada kosakata cinta
    Dalam sunyi hitam putih
    Seperti ulu hati
    Di kutipan aksara

    Seperti elu batin
    Di endapan asmara
    Lalu adu mata
    Di kecupan cahaya

    ————————————————————-

    Cita Cinta

    Karena ada rencana dan renjana
    Di sudut bibir kita berdua
    Aku mengemas kebahagiaan kita
    Ketika kita ciuman mesra
    Lalu menikmati liburan jiwa

    Karena ada kembara dan bara
    Di dalam mulut kita berdua
    Aku menempuh semangat kita
    Ketika kita bicara mesra
    Lalu berjuang untuk bersama

    Karena ada canda dan tanda
    Di hangat tangan kita berdua
    Aku sudah hafal bahasa kita
    Ketika kita gandengan mesra
    Lalu menjadi kamus cinta

    Karena ada setia dan sedia
    Di jantung hati kita berdua
    Aku tetap ingin leluasa
    Ketika kita bersama
    Lalu belajar menerima

    ———————————————————

    Mimpi dan Nasib

    Burung hantu berkukuk tiga kali
    tanda kita lelap dalam mimpi
    satu mimpi yang aku mau
    yaitu lelap di pangkuan hatimu

    Matahari memang sudah raib
    tanda kita terjebak dalam nasib
    satu nasib yang aku mau
    yaitu terjebak di labirin cintamu

    Gelap menebar indah seperti lagu
    tanda kita dewasa dalam pinta
    satu pinta yang aku mau
    yaitu dewasa di ranjang nikah kita

    ——————————————————————

    Catatan Cinta

    /1/
    Tarian angin
    Halusnya sayap cinta
    Mandi cahaya

    /2/
    Kecipak air
    Wangi pagi asmara
    Saling bercanda

    /3/
    Ciuman api
    Lilin kecil di mata
    Terangi jiwa

    ——————————————————————

    Mata, Mulut dan Telinga

    Aku dengan mataku yang padam
    Karena telah ditiup asing dunia
    Hingga mataku tidur dengan imaji ide
    Dan aku melihat dunia melalui mimpi

    Aku dengan mulutku yang setipis kertas
    Karena suaraku mengecil pada dunia bebas
    Hingga mulutku belajar bahasa sunyi
    Dan aku bisa bicara bebas dalam diri

    Aku dengan telingaku yang mencari frekuensi
    Karena bising dan penuh dengan distorsi dunia
    Hingga telingaku menangkap suatu suara
    Dan aku mendengar tangisan batinku sendiri

    —————————————————————–

    Perpustakaan

    Kamu telah menjadi perpustakaan bagi jiwaku
    Ketika aku mencari pemahaman diri yang tergeletak
    Di kolam mata yang luas dan wangi serat buku
    Dan lorong jiwa yang sehening nasib kertas
    Aku mau membaca rahasia ketenangan batin

    —————————————————————————————————

     

    Tentang Penulis

    Wendy Lim, lahir tanggal 10 Juni 1996 di Pontianak, adalah seorang mahasiswa di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta angkatan tahun 2016 dengan jurusan S1 Sastra Indonesia. Pada tahun 2020 Wendy Lim kembali kuliah di Universitas Widya Dharma Pontianak dengan jurusan D3 Bahasa Inggris. Salah satu buku puisinya adalah Pilu Memilu Aku Berlagu yang diterbitkan Enggang Media pada akhir tahun 2021.

  • Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata:  – Dikau yang Dikandung tanpa Noda – Oh Bunda –

    Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata: – Dikau yang Dikandung tanpa Noda – Oh Bunda –

     

    DIKAU YANG DIKANDUNG TANPA NODA

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Rancangan Allah sejak awal mula
    Saat Hawa lama menjalin cinta
    Dengan ular tua bermata merah
    Berkepala tujuh bertanduk 10

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Untuk membawa hidup baru bagi manusia
    Setelah tumit Hawa dan Adam terpagut bisa
    Yang mendatangkan dosa dan menciptakan derita
    Kutukan kekal yang harus disemat kepada siapa saja

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Bersinar terang bagai bintang gemintang
    Di langit cerah tanpa sapuan awan
    Memantulkan sumber cahaya segala cahaya
    Membuat gelap bertekuk lutut tanpa daya

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Putih jiwamu bagai kapas..
    murni ragamu tak bercacat
    Bening rahimmu tiada bercak
    Tempat layak pilihan Bapa
    Tabernakel suci bagi sang Putra

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    kepadamu malaikat kudus berlutut memberi hormat
    Gemetar suara menyampaikan salam surga
    Memintamu menjawab ya atas tugas mulia
    Agar janji-janji Allah terlaksana segera

    Dikau yang dikandung tanpa noda
    Memilih menjadi hamba bagi Yang Mahakuasa
    Terselubung cinta kekal Roh mahamulia
    agar menjadi bunda bagi penebus dunia
    supaya Firduas baru tercipta lagi seperti sediakala

    Oh Maria Bunda Nirmala Demi Bapa
    Engkau membaktikan dirimu sepenuhnya
    Demi Putra
    Engkau menanggung segalanya
    Demi Roh Kudus
    Engkau memberi dirimu seutuhnya
    Demi kami yang dilanda lara
    Engkau mengingkari dunia fana

    Salam Maria Penuh rahmat
    Salam padamu bunda Sang Sabda
    Ulurkan tanganmu bagi kami
    yang menanti Penyelamat dunia
    Gandengkan kami anakmu untuk kokoh berdiri siaga
    Menghalau badai yang silih berganti di segala cuaca
    Agar tak jatuh terjerembab
    di masa suci yang penuh makna

    Salam Maria penuh rahmat
    Salam padamu ratu para malaikat
    Salam padamu ratu para rasul mulia
    Salam padamu ratu alam semesta
    Rindu jiwa kami berjalan bersamamu ke padang efrata
    Rindu hati kami mengalami kemilau cahaya
    saat putramu tiba
    Rindu mulut kami melantunkan kidung suci
    bagai para gembala
    Rindu diri kami tak bernoda seperti Dikau perawan nirmala
    saat Putramu sang Sabda menjelma menjadi manusia

    Salam Maria penuh rahmat
    Salam ya Bunda Tak bernoda
    Terpujilah Engkau karena Tuhan sertamu
    tuntunlah kami untuk menanti bersamu
    agar di kepenuhan waktu
    kami juga boleh merasakan Emanuel – Tuhan menyertai kami anak-anakmu

    Katedral St. Yoseph, 8 Desember 2021

    ————————————————————————-

    OH BUNDA

    Oh dikau Bunda tersuci
    Hari ini dikau kupuji
    Karena Dikau manusia sejati
    Yang dirancang Allah dengan sepenuh hati

    Dikau melahirkan sang Pencipta sejarah
    Melindunginya dengan jiwa yang pasrah
    Kendati sebilah tombak mengkilat terasah
    Dikau menerimanya dengan hati yang tabah

    Oh bunda kaum peziarah
    Rencana terindah dalam lintas sejarah
    Agar hidup kami terus terarah
    Meniti jalan menuju surga

    Di Nasareth batinmu bergolak
    Di Betelehem dikau ditolak
    Di Yerusalem dikau menyaksikan wajah yang galak
    Di golgota dikau mengalami serdadu yang palak

    Oh dikau bunda nirmala
    Demi kami kaum kelana
    Dikau rela berdukacita
    Agar pintu surga tetap terbuka

    Betapa engkau tak tega
    Melihat anak-anakmu yang merana
    Di lembah duka yang tiada tara
    Lembah hunian kami kaum kembara

    Oh bunda termulia
    Demi kami anak-anakmu yang fana
    Merona hatimu begitu semerbak
    Walau harus tertusuk tombakKarena tak tega engkau melihat kami
    Kami yang terus meratap dalam suara lirih
    Tak rela engkau mendengar rintihan kami
    Rintihan duka dari hati yang sepih

    Oh Bunda Pembantu Abadi
    Hamba Allah yang patut kupuji
    Karena Dikau memiliki jiwa yang sunyi
    Melaksanakan titah Bapa dengan sepenuh hati

    Tak pernah mulutmu berkata tolak
    Walau hatimu tertikam tombak
    Tak pernah hatimu keras membeku
    Walau jiwamu tertambat paku

    Oh bunda tak bercela
    Selubungi anakmu dengan busana surga
    Bersitkan sinar bintangmu dalam kembara
    Agar lapang jalan kami menuju surga

    Karena di lembah dunia yang penuh duka
    Sering kami terjatuh saat digoda
    Membuat jalan surga menjadi sirna
    Karena mereguk susu hawa yang lama

    Oh bunda kami, bunda Maria
    Di hari yang sangat istimewa
    Tak ada kata yang luar biasa
    Hanya sebaris aksara pelipur lara
    Untukmu bunda yang sedang berduka
    We love you mama

    Tembesi 15 September 2021

    —————————————————————————————–

    Tentang    Penulis

    Poya Lucius Hobamata, Imam Keuskupan Pangkal Pinang, Pencinta Filsafat, Teologi dan Sastra.

  • – Serupa Raga – Setapak Jalan – Tentang Ayah -, Sajak-sajak Marcelina Sri Rezeky

     

    Serupa  Raga

    Mendasar pada raga yang rapuh
    cahaya menilik menatap pedih,
    sang penyair pun menyanjung perih
    merangkul luka yang tergeletak terpisah
    tak sakit pun tak sedih.

    Pada malam hari, sang khalik
    menarik busur takdir yang larik,
    melirik pada empunya syair
    agar menjadi suci bak musafir
    dan menjadi pengembara sampai akhir.

    Lalu datang si kupu malam
    menyibak sutera , menjamu si teman malam
    agar tak perlu lagi menjadi sendok emas
    pada kisah nya yang tak terbalas,
    melekang dan tak diingat sang makam
    yang setia menunggu , si penjamu kelam.

    Tentang menggerutu pada napas,
    penyair pun menyulam sutera
    untuk layak ditunangkan dengan luka
    dan pada akhir nya takdir berbicara jua,
    bertemu di ujung penantian hidup sang pemula
    sebagaimana ditulis pada pasir dupa
    tak mendalam, tak tertanam, abadi pun memikat, segan.
    Bersama lonceng gereja kehidupan
    berkumandang syair pelipur lara.

    Yogyakarta, 9 Oktober 2021.

    ————————————————————–

    Setapak  Jalan

    Setapak jalan menuju senja
    telusur bak nadi pada raga,
    meluap rasa untuk tuan tanah
    yang terpatri penuh dengan bunga.
    Kicauan burung gagak
    menjadi pengiring suara napas Ibu Pertiwi,
    menutup mata yang berpeluh darah
    untuk sekedar membuka mata
    dari cahaya dahulu kala.

    Rahim bumi bergejolak riuh
    pada senja yang berujung hilang,
    yang menjadi berita alam semesta
    untuk tuan dan nyonya berjaga-jaga.
    Terlepas dari gurau keras,
    angin datang membawa kabar
    ke penjuru tanah berantah
    hingga yang lenyap pun bergema
    untuk bersua dengan kehidupan.

    Hijau nan indah pemandangan,
    sejauh mata tak ada cela pun yang nampak
    dari pelukan hangat sang kuasa.
    Pesan berbintang terukir indah di langit
    untuk menyambut malam penuh sunyi
    agar tertidur lelap semua alam semesta
    sehingga yang tabu pun tumbang
    tumbuh hijau bersama hujan.

    Yogyakarta, 30 Oktober 2021.

    ——————————————————————————-

    Tentang   Ayah

    Aku tak pandai bercakap dan bertanya tentang keadaan mu,
    apakah kamu baik-baik saja, Ayah?
    Waktu berjalan terlalu cepat, aku tak bisa
    menyamakan langkah ku bersama nya.
    Ayah bertambah tua, tak bisakah kau hentikan waktu, agar aku bisa
    menua bersama mu.

    Ayah tak banyak bicara, namun tatapannya menyirat begitu banyak kisah,
    kisah yang tak ingin diceritakan pada putrinya,
    tentang rasa sakit yang dipoles dengan senyuman ramahnya.
    Ayah pandai menyimpan cerita, seolah seperti awan putih yang bersih dan indah,
    namun menopang kesedihan yang telah mendarah daging.

    Suara ayah terdengar gembira di seberang sana,
    seperti kopi manis kesukaan nya,
    hitam pekat nan manis ketika di seduh.
    Ayah pun selalu punya banyak cerita,
    tentang keluarga, tentang kampung, dan tentang rindu
    pada anak perempuan nya yang tersirat dalam setiap kata yang diucapkan.

    Anak perempuannya hanya mendengar dalam diam,
    meresapi setiap kata dan mengunci setiap alunan suara
    dalam kotak memori yang akan selalu di putar setiap malam sebelum tidur.
    Ayah tak pandai bicara, hanya bergurau melepas penat,
    mengisyaratkan kerinduan pada sang anak,
    yang jauh dari pelukkanya.

    Ayah pun selalu berdoa dalam diam,
    untuk putri nya yang di tanah rantau,
    semoga Tuhan selalu menjaga nya.
    Doa ayah pun tak panjang,
    karena dia percaya bahwa hatinya
    telah banyak berbicara kepda Tuhan dalam diam.
    Dalam diam dan sunyinya malam,
    diselipkannnya kerinduan pada langit,
    berharap agar bintang dan bulan
    menghibur putri nya,
    berharap putrinya cepat pulang ke rumah.

    Yogyakarta, 9 September 202

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

     

    BIODATA  PENULIS

    Nama : Marchelina Sri Rezeky
    Email : marchelinasrirezeky@gmail.com
    Status: Mahasiswa Universitas Sanata Dharma, Fakultas SASTRA, Prodi Sastra Inggris (
    2018)
    Asal : Labuan Bajo, Manggarai Barat, NTT.