Category: SASTRA

  • Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya

    Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya

     

    “Puisi-puisi karya Nuyang Jaimee  membuat narasi jernih dari silang sengkarutnya peristiwa. Mengangkat konteks kedalam teks, dan menjadi percakapan yang bisa didengarkan. “Kata-katanya disuling dengan bertenaga, menjadi kita terjaga,” ujar Budayawan Taufik Rahzen memberikan pendapat karya puisi Nuyang Jaimee dalam buku antologi puisi tunggal Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya yang disampaikan di Jakarta, Minggu (26/11/2023).

    Buku antologi puisi Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya karya Nuyang Jaimee diproduksi oleh Penyair Seksi dan Cakra Budaya Indonesia merupakan kerjasama Dispusip dan PDS.HB.Jassin. Didukung juga oleh penerbit Teras Budaya (TB), Kampung Seni Jakarta, Kijang Kencana Production, dan ARS Longa Institute.

     

    Ket. Foto: Nuyang Jaimee sedang membacakan nukilan peluncuran buku sastra “Kecamuk Perang di Negeri Takzir” berlangsung di PDS HB Jassin, TIM, Jakarta, Kamis, 23 November 2023 (Foto: Lasman Simanjuntak)

     

    Buku sastra ini akan diluncurkan dalam acara bedah buku di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Lantai IV, Gedung Ali Sadikin, Pusat Kesenian Jakarta (PKJ), Taman Ismail.Marzuki (TIM) di Jakarta, Jumat (1/12/2023) pukul 13.00 WIB dengan Pembicara Prof.Wahyu Wibowo dan Tatan Daniel.

    Sedangkan para pembaca puisi terdiri dari Guntoro Sulung, Yogi S Karmas, Jack Al-Ghozali, Nanang R Supriyatin dengan musikalisasi puisi Iyus Kromatik dan MC. Shantined.

    Sementara itu Helmi Haska, penulis dan perupa mengatakan  etika perpuisian Indonesia kekinian kendor mengeritik gejolak sosial, politik, dan kebudayaan. “Nuyang dengan kepekaannya,  menjadi penyaksi atas silang-sengkarut rusaknya negeri ini  sekaligus menaruh sangka baik dan harapan pada Indonesia sebagai nation,” katanya.

    Menurutnya, pokok soal yang menggenang dalam puisi-puisinya, merupakan bagian dari jalan panjang khasanah perpuisian Indonesia yang membangun narasi keindonesiaan. “Sekaligus mengembalikan puisi (poetry) sebagai energi spiritual,” ucapnya.

    Diki Lukman Hakim, Kepala PDS HB Jassin memberikan komentar: “Membaca puisi-puisi dalam buku  Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya karya Nuyang Jaimee ini kita seperti dibawa masuk dalam perenungan, tempat penulis menyuarakan kegelisahan sekaligus protes-protes yang memberi kita kesadaran bahwa batas antara kebaikan dan keburukan adalah suatu keseimbangan dalam kehidupan,” kilahnya. Namun demikian, lanjutnya, perlu untuk selalu kita suarakan. “Saya senang buku ini bisa menjadi salah satu bagian dari koleksi buku-buku sastra di PDS HB. Jassin terutama sastra puisi. Selamat dan sukses untuk mbak Nuyang atas terbitnya buku kumpulan puisi ini,” pungkasnya.(*)

     

    Ket. Foto: Poster digital Peluncuran dan Bedah Buku Kumpulan Puisi “Pendoa yang Lupa Nama Tuhannya”. Karya Nuyang Jaimee yang akan berlangsung di PDS HB Jassin, TIM, Jumat, ! Desesmbar 2023, pukul 13.00 WIB (Foto Lasman Simanjuntak

    Kontributor  : Lasman Simanjuntak.

  • Mesias – Malam Kudus – Sajak-sajak Joko Pinurbo

    Mesias – Malam Kudus – Sajak-sajak Joko Pinurbo

     

    MESIAS

     

    Dari mimbar turun
    ke pasar. Kau mencari
    pendosa yang tersedu
    dalam firman-Mu.

    ——————————

     

    MALAM KUDUS

     

    Sunyi-Mu gemerlap.

     

    ——————————-

     

    *Sumber Puisi dari Buku Epigram 60, Joko Pinurbo, Gramedia 2022

     

    *Joko  Pinurbo (lahir 11 Mei 1962), dikenal juga dengan Jokpin, adalah salah seorang penyair terkemuka Indonesia yang karya-karyanya telah menorehkan gaya dan warna tersendiri dalam dunia puisi Indonesia. Ia menyelesaikan pendidikan terakhirnya di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (sekarang Universitas) Sanata DharmaYogyakarta. Kegemarannya mengarang puisi ditekuninya sejak di Sekolah Menengah Atas.

    Atas pencapaiannya, Jokpin telah memperoleh berbagai penghargaan: Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta (2001), Sih Award (2001), Hadiah Sastra Lontar (2001), Tokoh Sastra Pilihan Tempo (2001, 2012), Penghargaan Sastra Badan Bahasa (2002, 2014), Kusala Sastra Khatulistiwa (2005, 2015), dan South East Asian (SEA) Write Award (2014).

    Penyair yang bermukim di Yogyakarta ini sering diundang ke berbagai pertemuan dan festival sastra. Karya-karyanya telah diterjemahkan antara lain ke dalam bahasa InggrisJermanRusia dan Mandarin. Sejumlah puisinya juga telah dimusikalilasi antara lain oleh Oppie Andaresta dan Ananda Sukarlan.

    Kepenulisan[

    Puisi-puisi Jokpin merupakan perpaduan narasihumor, dan ironi. Ia piawai menggunakan dan mengolah citraan yang mengacu pada peristiwa dan objek sehari-hari dengan bahasa yang cair tapi tajam. Puisi-puisinya banyak mengandung refleksi dan kontemplasi yang menyentuh absurditas sehari-hari. Di sisi lain, Jokpin gemar mempermainkan dan mendayagunakan keunikan kata-kata bahasa Indonesia sehingga banyak puisinya hanya dapat dibaca dan dinikmati dalam bahasa Indonesia.

    Karya:

    • Celana, IndonesiaTera, Magelang, 1999
    • Di Bawah Kibaran Sarung, IndonesiaTera, Magelang, 2001
    • Pacarkecilku, IndonesiaTera, Magelang, 2002
    • Telepon Genggam, Kompas, Jakarta, 2003
    • Kekasihku, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2004
    • Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan, Grasindo, Jakarta, 2005
    • Kepada Cium, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007
    • Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007 [1]
    • Tahilalat, Omahsore, Yogyakarta, 2012
    • Haduh, aku di-follow, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2013 [kumpulan puitwit [puisi-twitter] @jokopinurbo]
    • Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2013
    • Bulu Matamu: Padang Ilalang, Motion Publishing, Agustus 2014
    • Surat Kopi, Motion Publishing, Agustus 2014
    • Surat dari Yogya: Sepilihan Puisi, Reboeng dan Elmatera, Oktober 2015
    • Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Sehimpun Puisi Pilihan, Gramedia Pustaka Utama, Juni 2016
    • Malam Ini Aku Akan Tidur Di Matamu: Sehimpun Puisi Pilihan, Gramedia Widiasarana Indonesia, Agustus 2016
    • Buku Latihan Tidur: Kumpulan Puisi, Gramedia Pustaka Utama, Juli 2017
    • Srimenanti, Gramedia Pustaka Utama, April 2019
    • Salah Piknik, Gramedia Pustaka Utama, Februari 2021
    • Tak Ada Asu di Antara Kita: Kumpulan Cerpen, Gramedia Pustaka Utama, Januari 2023

     

  • K a l v a r i

    K a l v a r i

     

    Joko Pinurbo

     

    Hari sudah petang ketika maut tiba di ranjang.

    Orang-orang partai yang mengantarnya ke situ
    sudah bubar, bubar bersama para serdadu
    yang mengalungkan kawat berduri di lehernya
    dan membuang tubuhnya tadi siang.

    Hanya ada seorang perempuan sedang sembahyang
    berkerudung kain kafan
    dan menggelarnya bagi raga yang capai.
    “Bapa, belum selesai. Entah kapan saya sampai.”

    Hanya ia yang tawakal
    menemani ajal,
    menyiapkan pembaringan
    buat tidur seorang pecundang:
    warga tanpa negara, tanpa agama.

    Hanya ia yang mendengar sekaratnya.

    “Telah kuminum anggur
    dari darah yang mancur.
    Telah kucecap luka
    pada lambung yang lapa.
    Di tubuh Tuhan kuziarahi
    peta negeri yang hancur.”

    Maut sudah kosong
    ketika mereka hendak menculik mayatnya.
    Hanya ada seorang perempuan
    sedang membersihkan salib di sudut ranjang.
    “Ia sudah pergi ke kota,” katanya,
    “dan kalian tak akan bisa lagi menangkapnya.”

    ———————————

     

    Sumber Puisi dari Buku Celana-Pacar Kecilku-Di Bawah Kibaran Sarung, Gramedia, 2007

     

  • Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Baca Puisi pada  Ultah JSM Ketiga di Cafe Sastra Balai Pustaka

    Penyair Pulo Lasman Simanjuntak Baca Puisi pada  Ultah JSM Ketiga di Cafe Sastra Balai Pustaka

     

    Para Tamu dan Undangan Ultah JSM Ketiga di Cafe Sastra Balai Pustaka, Jakarta Timur, Minggu Sore (15/10/2023) Sebelum Pulang Barfoto Bersama.

     

    Jakarta, berandanegeri.com. Penyair Pulo Lasman Simanjuntak, 62 tahun  diundang ikut baca puisi karya sendiri  berjudul KALAH ATAU MENANG pada penghujung acara pesta ulangtahun (ultah) ketiga JAGAT SASTRA MILENIA di Cafe Sastra, Balai Pustaka, di Jakarta, Minggu sore (15/10/2023).

    “Sekarang kita sambut Lasman Simanjuntak untuk giliran baca puisi,” ujar Rissa Churria yang menjadi MC pada ultah JSM ketiga tersebut.

    Puisi KALAH ATAU MENANG ditulis pada tahun 1983, saat Penyair Pulo Lasman Simanjuntak masih kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP-Jakarta). Puisi ini telah dimuat di Tabloid NOVA, group Gramedia-Kompas pada tahun yang sama.

    Puisi-puisi karya Penyair Pulo Lasman Simanjuntak telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan 26 buku antologi puisi bersama para penyair seluruh Indonesia.

     

    Sastra dilisankan

    Sementara itu puncak acara ulangtahun (ultah) Jagat Sastra Milenia (JSM) yang ketiga, Minggu, 15 Oktober 2023, diisi dengan sambutan Direktur Utama PT.Balai Pustaka (Persero) Dr.Ir.Achmad Fachroji yang mengingatkan para tamu dan pengunjung bahwa Dunia Sastra Indonesia maju bukan sekedar tulisan. “Melainkan lebih darii itu. Sastra maju karena dilisankan,” ucapnya.

    Maka tak heran-pada saat memberi kata sambutan- Dr.Ir.Achmad Fachroji lebih banyak berpantun ria.

    Sedangkan Riri Sastria selaku Ketua JSM pada kesempatan perayaan ultah tersebut mengatakan sastrawan memerlukan regenerasi.

    “JSM juga telah merekrut siswa dan siswi  SLTP untuk diikutsertakan dalam pelatihan kelas menulis puisi, cerpen, dan Esai. Jumlah peserta hampir 100 orang juga ikut hadir bersama gurunya pada acara ultah ini,” katanya.

    Setelah pemotongan kue ulangtahun, juga diisi dengan testimoni antara lain oleh Dr.Sunu Wasono, Sam Muchtar Chaniago beserta isteri, dan Humam S Chudori yang lebih dikenal sebagai seorang cerpenis.

    Pada kesempatan itu juga dilakukan peluncuran buku antologi puisi antara lain HARUM HARAMAIN yang merupakan sepilihan puisi karya Rissa Churria,  buku Sehimpun Puisi Terbaik karya Riri Satria & Emi Suy berjudul ALGORITMA KESUNYIAN, serta buku kumpulan puisi dan esai sastra ALARM SUNYI dan INTERVAL karya Emi Suy.

    Selain itu diluncurkan juga  buku ENERGI KATA, SINERGI KITA (JSM Press, Oktober 2023). Buku setebal 272 halaman ini berisikan 22 Puisi Terbaik Sastramedia tahun 2022-2023, 11 Cerpen Terbaik Sastramedia 2022-2023.

    Acara terakhir ultah JSM ketiga diisi dengan Parade Baca Puisi antara lain oleh Ical Vrigar, Lasman Simanjuntak, Soekardi Wahyudi, Dhe Sundayana Perbangsa, Romy Sastra, Slamet Widodo, Khairani Pilliang, Sapto Wardoyo, Mita Katayo, Alex R Nainggolan, dan 4 Penyair Perempuan Jagat Sastra Milenia  (JSM) yaitu Nunung Noor El Niel, Emi Suy, Rissa Churria, dan Erna Winarsih Wiyono.

    Berikut adalah kutipan Sajak KALAH ATAU MENANG yang dibacakan Penyair Pulo Lasman Simanjuntak.

     

    KALAH ATAU MENANG

    kita berangkat dari sebuah titik
    makin lama menjelma jadi mata air
    lalu mencium ikan-ikan beracun di danau
    tanpa sayap

    (padahal jarak Yogjakarta dan New York hanya segaris, kepastian-kepastian semu)

    Kristus pernah engkau dengar bukan?
    bermazmur
    sesungguhnya cinta itu
    permainan gila
    para tukang potret amatiran

    hayo….
    kita berkelahi tanpa badik
    melawan matahari betina itu
    agar sinarnya yang manja
    tak lagi menghamili
    hewan-hewan langka kegemaranmu

    percayalah,
    sejarah akan tunduk
    atau kita pura-pura jadi malaikat manis
    yang berlari dari kandang sapi
    rindu tidur di kereta angin

    mulailah

    Jakarta, tahun 1983

    Konributor: Lasman Simanjuntak

  • Sajak-sajak Milla Lolong:  Pergi – Salam – Dongeng 1 – Dongeng 2 – Ke Rumah-Mu.

    Sajak-sajak Milla Lolong: Pergi – Salam – Dongeng 1 – Dongeng 2 – Ke Rumah-Mu.

     

    Buku Puisi “Perihal Pulang” Karya Milla Lolong

     

    Puisi-puisi Milla Lolong mengekspresikan perasaan dan makna yang mendalam dengan bahasa yang sederhana. Puisi “PERGI” menggambarkan perpisahan dengan sentuhan alam dan doa. “SALAM” adalah penghormatan kepada Maria Bundaku dengan metafora alam dan rasa kerinduan yang kuat. “DONGENG, 1” mengkritik orang-orang yang hidup dalam ketidaktahuan dan tidak mau melihat realitas sekitar mereka. “DONGENG 2” mengekspresikan kehausan akan air dalam bahasa simbolis. “KE RUMAH-MU” menciptakan gambaran tentang kehancuran alam dan perasaan kehilangan yang disertai dengan pengharapan akan kehidupan yang lebih baik.

    Puisi-puisi ini menciptakan nuansa yang kuat dan mendalam dengan penggunaan kata-kata yang sederhana, namun penuh dengan makna. Milla Lolong menghadirkan suasana perasaan, keindahan alam, dan makna kehidupan dalam karyanya.

     

    PERGI
    Buat Vinsensia

     

    Ia lalu mendekat pada langkah pertama
    Angin bertiup berlalu ketakutan
    Debu tanah beterbangan.

    Rumput-rumput sujud mencium tanah
    Pun bening yang menganak sungai di pipi
    Kemudian senyum merekah: pergilah!

    Di sini, di dermaga ini kami dengan tabah
    Tak henti merapal doa: sampai nanti
    Setabah rindu ini: sampai nanti.

    Juli 2017

    —————————————————

     

    SALAM

     

    Salam ya
    Maria Bundaku
    Di malam yang gigil ini
    Selimutilah dingin hatiku.

    Salam ya
    Maria Bundaku
    Di Oktober yang kering ini
    Basahilah kerongkong hatiku
    Yang kerontang ini.

    Salam ya
    Maria Bundaku
    Di rosario yang kuhitung ini
    Siramlah rahmatmu
    Tebuslah segala mohonku.

    Oktober 2018

    ———————————————–

     

    DONGENG  I

     

    Di negeri para petualang
    Tersebutlah para penghuninya
    Selalu memakaikan kacamata hitam
    Maka gelaplah mata
    Pun mata hatinya
    Serupa mati lampu di saban malam
    Hingga tak tampak ‘lubang’ di mana-mana
    Sebab kaca tutup-menutupi
    Dan tertutup matanya!

    September, 2018

    ———————————————-

     

    DONGENG 2

     

    Tersebutlah
    Saban hari
    Sejak sang jago merah berkokok
    Mereka telah lama di sana
    Menunggu jatah seteguk dua teguk.

    Untuk membasahi dahaga kerongkong
    Hingga terik membakar kulit
    Mereka tengadah
    Sembari berdoa:
    “Berilah kami anggur”
    sebagai ganti BBM
    ” Berilah kami air bah hari ini”
    Sebab terlalu ‘kering’ negeri ini.

    September, 2018

    ——————————————

     

    KE RUMAH-MU

     

    Setelah gemuruh itu pecah
    Ibu-ibu meratap memeluk perih
    Bapak-bapak tergelepar di tepi
    Anak-anak jadi yatim-piatu.

    Setelah gemuruh itu pecah
    Camar-camar mengais
    Tubuh berlumur lumpur.

    Setelah gemuruh itu pecah
    Segalanya berbondong ke rumahMU
    Ke rumahMU setelah segalanya selesai.

    Oktober 2018

     

    —————————————-

     

    *Milla Lolong, perempuan Lembata, lahir pada 13 Oktober 1997, di kampung Lewoeleng dengan nama Lengkap Maksimiliana Wua Lolong. Anak ke-empat dari enam bersaudara. Ia menyelesaikan pendidikan sekolah dasar di SDK Lewoeleng pada tahun 2010, kemudian menempuh sekolah menengah pertama pada SMP Sinar Pelita Ledoblolong (sekarang SMP Negeri 5 Lebatukan-Lembata) dan tamat pada tahun 2013, tahun 2016 tamat pada SMA Negeri 1 Nubatukan-Lembata. Menyelesaikan studinya di Universitas Flores. Karya-karyanya dimuat dalam beberapa buku antologi puisi bersama. Juga sering dimuat pada media cetak dan media online diantaranya: Pos Kupang, Flores Pos, Kabar NTT, Cakrawala Pendidikan, Weeklyline.net, Flores Pos.co. Bergabung di komunitas sastra Rakyat Ende (SARE).
    Saat ini menjadi guru di SMP St Pius X Lewoleba, Lembata. Pernah menjadi dosen tamu pada kuliah Puisi Indonesia di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta (2022).

     

    *Sumber Puisi dari Buku Perihal Pulang Karya Milla Lolong

    Buku Puisi “Perihal Pulang” Karya Milla Lolong
  • Suara Strada Bhakti Wiyata untuk Indonesia

    Suara Strada Bhakti Wiyata untuk Indonesia

     

    Menulis puisi adalah memberi suara. Kualitas pemberian suara ditentukan oleh kesanggupan dan kerelaan untuk sungguh mengidentifikasikan diri dengan mereka atau apa yang disuarakan. Jika tidak, orang hanya menyampaikan keinginannya sendiri sambil mengatasnamai orang lain.

    Demikian pula, kekuatan sebuah puisi amat ditentukan oleh peyelaman ke dalam realitas dan kesanggupan untuk menemukan kata dengan diksi dan daya majas yang kuat (Kleden Paul, “Menulis Puisi: Mendengar dan Memberi Suara”, Lamalera 2022).

    Para penulis puisi dari SMA Strada Bhakti Wiyata mengajak kita  menimba inspirasi dan kekuatan dari masa lalu yang tidak pernah menjadi terlampau jauh untuk direngkuh, dari kisah-kisah para pahlawan  yang pernah didengar, dari janji dan komitmen tulus para pendiri bangsa yang pernah disampaikan. Kiranya  puisi-puisi anak-anak Strada ini, menjadi pelatuk bagi anak-anak negeri tidak hanya untuk menjadi penyair, tetapi juga berani menerbitkan karya-karya mereka, sebab karya-karya mereka  itu lebih bergaung ketika disampaikan dengan medium buku. Mari kita dengarkan suara para penyair Strada Bhakti Wiyata:

     

    Kemerdekaan

    Oleh Carla Febi

    Jeritan terdengar tiada henti
    Suara tangis menggema di seluruh negeri
    Jiwa gugur tak terhitung jumlahnya
    Dengan bangga jasadmu tersenyum
    Menyaksikan kemerdekaan di negeri tercinta

    Semangat perjuangan para pahlawan
    Harus tertanam kuat di diri kita semua
    Dalam meraih impian
    Tidak semudah membalik telapak tangan
    Butuh perjuangan sampai titik darah penghabisan
    Berjuang demi satu kata
    “M e r d e k a”

    *Carla Febi, Kelas XI IPS I – SMA Strada Bhakti Wiyata

    ——————————————————————–

     

    Merdeka atau Mati

    Oleh  Marckianno Christian

    Darah di medan perang tanpa tuan dikumpulkan
    Ribuan nyawa melayang

    Tersebar di medan perang mengangkat panji kemerdekaan
    Seorang pahlawan berteriak keras
    Berani memegang senjata melawan penjajah

    Tiga kata untuk dipilih kebebasan atau kematian
    Tubuh dihujani peluruh penuh lubang di sekujur tubuh
    Tumpahan darah mereka tetap berdiri
    dan membela ibu pertiwi

    *Marckianno Christian, Kelas XI IPS 2 –SMA Strada Bhakti Wiyata

    ———————————————————————————–

     

    Untukmu Pahlawanku

    Oleh  Christie Davina Kuwera

    Keringat bercucuran di tubuhmu
    Darah yang mengalir di tubuhmu
    Tak patahkan semangat juangmu
    Untuk mencapai harapan, kemerdekaan

    Terkadmu yang membara
    Dengan gagah tegap kau berdiri
    Tak pedulikan rasa sakitnya
    Demi sang bumi pertiwi ini

    Pagi yang menjadi malam
    Bulan yang menjadi tahun
    Sekalian lama telah menanti
    Dialah yang harus berusaha melawan

    Namun…………………….
    Kini perjuanganmu seperti tak berarti
    Tangisan sedih rakyat kecil menjadi-jadi
    Korupsipun seperti sudah menjadi tradisi

    *Christie Davina Kuwera, Kelas XI MIPA I – SMA Strada Bhakti Wiyata

     

    *Sumber Puisi dari Buku Patron BW – In Omnia Paratus – Dalam Segala Sesuatu Siap Sedia, Penerbit Strada, 2023

    ——————————————————————————————————————————————–

  • Kepada Puisi – Ibuku – Sajak-sajak Joko Pinurbo

    Kepada Puisi – Ibuku – Sajak-sajak Joko Pinurbo

     

    Kepada Puisi

    Kau adalah mata, aku airmatamu.

    2003

    ——————–

     

    Ibuku

    Ibu suka membacakan buku untuk menghantar tidurku.
    Aku terbuai mendengarkan ibu dan buku, mendengarkan
    ibuku, sambil membayangkan dan bertanya ini itu.
    Aku pun terlelap dalam mimpi, terbang ke tempat-tempat
    yang belum kukenali. Ketika bangun, kurasakan basah
    di celana. Wah, beta telah ngompol dalam dekapan bunda.

    Bila aku pamit sekolah, ibu tak pernah bilang jangan nakal
    dan bodoh, jangan membantah guru dan menyanggah buku.
    Ibu hanya mengecup jidatku: Buka hidupmu dengan buku.

    Pada saatnya beta harus meninggalkan bunda sebab tak bisa
    selamanya menyusu pada ibu. Aku harus mencari susu baru.
    Sambil menahan airmata, ibu memeluk dan menciumku:
    Pergilah. Terbanglah. Aku pun terbang bersayapkan buku
    ke antah-berantah yang bagiku sendiri masih entah.

    Ketika suatu saat aku pulang ke rumah ibu,
    ibu sudah menjadi buku yang tersimpan manis di rak buku.

    2003


     

     *Sumber Puisi : Pacar Senja, Joko Pinurbo, Grasindo 2005

     

    Tentang Penulis

     Joko Pinurbo atau lebih dikenal dengan nama JokPin adalah seorang penyair Indonesia yang dikenal dengan gaya penulisan dengan bahasa yang nyentrik dan romantis.

    Joko Pinurbo menorehkan gaya penulisan yang romantis, ironi dan humor di setiap syairnya. Pria kelahiran 11 Mei 1962 ini menyajikan warna baru dalam penulisan puisi di dunia puisi Indonesia.

    Lulusan Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Sanata Dharma, Yogyakarta ini merupakan penyair yang piawai mendayagunakan keunikan kata dalam bahasa Indonesia sehingga banyak kalangan yang menikmati puisi yang disajikan.

    Sastrawan kelahiran Sukabumi, Jawa barat ini telah menerima banyak penghargaan diantaranya Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta, Sih Award, Hadiah Sastra Lontar dan Tokoh Sastra Pilihan Tempo yang semua diperoleh pada tahun 2001.

    Selain itu, JokPin juga meraih penghargaan yang sama di tahun 2002 yakni Tokoh Sastra Pilihan Tempo, Penghargaan Sastra Badan Bahasa pada tahun 2002 dan 2014, Kusala Sastra Khatulistiwa di tahun 2005 dan 2015) dan South East Asian (SEA) Write Award pada 2014.

    Beberapa karya Joko Pinurbo antara lain Perjamuan Khong Guan yang diterbitkan pada 2020, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi di tahun 2016, Tahilalat terbit pada tahun 2012, Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacar Kecilku (2002), Telepon Genggam 2003).

  • TRILOGI TENTANG TIMOR LESTE:   – Bebonuk 1994  –  Timor Timur 1999  –  dan  Di Perbatasan Motaain

    TRILOGI TENTANG TIMOR LESTE: – Bebonuk 1994 – Timor Timur 1999 – dan Di Perbatasan Motaain

    Karya Yoseph Yapi Taum

     

    Puisi “Trilogi tentang Timor Leste” karya Yoseph Yapi Taum mencerminkan perjalanan emosional dan politik Timor Leste dalam beberapa periode yang berbeda. Setiap puisi mengungkapkan peristiwa dan perasaan yang berbeda, dengan latar belakang sejarah dan peristiwa tertentu. Berikut adalah makna yang dapat disimpulkan dari setiap puisi:

    “Bebonuk 1994”:
    Puisi ini menggambarkan suasana dan perasaan para penulis atau penyair ketika berada di Bebonuk pada tahun 1994. Penyair mencatat momen-momen kebersamaan, pertemuan, dan kenangan yang terjadi di sana. Puisi ini juga menyiratkan kehilangan yang berkaitan dengan Santa Cruz. Puisi mencerminkan kenangan, rasa kehilangan, dan penderitaan akibat kekerasan yang terjadi di wilayah tersebut.

    Timor – Timur 1999″:
    Puisi ini menggambarkan situasi dan peristiwa yang terjadi di Timor Timur pada tahun 1999. Puisi ini menyatakan keprihatinan dan kekecewaan terhadap situasi politik saat itu, termasuk campur tangan Unamet, IMF, dan Bank Dunia yang dianggap merugikan rakyat. Puisi ini juga mencatat ketidakadilan dan penderitaan yang dialami oleh rakyat Timor Timur karena kepentingan politik dan ekonomi.

    “Di Perbatasan Motaain”:
    Puisi ini menggambarkan suasana dan perasaan di perbatasan Motaain. Puisi ini mencatat kenangan dan ingatan penyair tentang peristiwa masa lalu yang masih hidup dalam ingatannya tentang Timor Timur yang kini berganti nama menjadi Timor Leste. Puisi juga menggambarkan perasaan penantian dan harapan akan masa depan yang lebih baik untuk wilayah tersebut.

    Secara keseluruhan, trilogi puisi ini menggambarkan perjalanan emosional dan politik Timor Leste dari waktu ke waktu, menyoroti momen-momen penting dalam sejarahnya dan perasaan yang terkait dengan peristiwa tersebut. Puisi-puisi ini juga mengekspresikan harapan dan harapan akan masa depan yang lebih baik untuk Timor Leste.

     

    BEBONUK 1994

    Kami datang merebahkan diri,
    Memindai hutan dan semak
    Terhuyung-huyung menyusun batu demi batu
    Menggali sumur dan melentingkan api

    Kami alirkan air ke tubuhmu
    Di atas tanah datar ini
    tertanam rindu purnama
    agar tuntas perjalanan kami

    Hari-hari menjadi senandung
    menyusun pertemuan dan kenangan
    Kapur tulis dan gelombang asin
    Serta bercanda dengan empat kanak-kanak

    Dalam kesunyian yang menembus kulit
    Kami baringkan satu cinta di Santa Cruz:
    ia sudah berbahagia!
    Amarah dan dendam melumuri Dili 1999
    Langkah kami terhenti sebelum berayun

    Kami tinggalkan Bebonuk dan Santa Cruz
    dijaga mantra leluhur. Awan bergegas berarak!
    Sungguh, mimpi ini pecah berkeping-keping
    Di langit cahaya bintang berkedip-kedip
    serupa sembab doaku di altar rumah-Mu.

    Denpasar, 23 Februari 2019

     

    TIMOR – TIMUR 199

    Kutulis sajak ini dalam kerumunan orang berwajah dingin,
    Mahidi, Gadapaksi, Besi Merah Putih, Halilintar, dan Aitarak
    Di tengah siasat Unamet, IMF, dan Bank Dunia dengan paket bailout
    Timor Timur, Indonesia, 30 Agustus 1999
    karena rupiah dan dollar telah menelikungi nurani
    Di sana tak ada Che Guevara yang tidak menjual dirinya.

    Kutulis sajak ini buat Armindo Soares, Basilio Araujo, Laffae,
    Hermenio da Costa, Nemecio Lopez de Carvalho, dan Eurico Gutteres,
    yang berbicara sampai larut malam dalam bayang-bayang komprador
    dan fatamorgana para jenderal pengecut mengumbar otonomi khusus

    Kutulis sajak ini buat polisi Unamet, IMF, dan Bank Dunia
    Kaum kapitalis yang bermimpi membawa Firdaus larut malam
    bagi para petani miskin Ainaro dan Liquica, Los Pallos dan Viqueque
    Sambil mengkalkulasi keuntungan dari darah yang harus mengalir

    Sebuah panggung seiarah dimulai dengan darah dan api
    mengucur dan membakar Dili menjadi lautan merah
    merobek ikatan keluarga, memecah sebagian ke Atambua
    Dada disesaki marah dan dendam, gelisah dan takut

    Di Timur, Patung Kristus Raja yang berdiri di puncak bukit
    mendaulat ombak samudra yang mendesis sejak dahulu
    Sesekali Dia menekan jantungnya yang miris
    karena rupiah dan dollar telah menelikungi nurani
    Di sana tak ada Che Guevara yang tidak menjual dirinya.

    Dili, 30 Agustus 1999; Yogyakarta, 3 Januari 2014

    (Dari Antologi Puisi Ballada Arakian, 2015)

     

    DI PERBATASAN MOTAAIN

    Ada suara yang ganjil memanggil namamu
    remah-remah kenangan bersorak menyambutmu
    Di sini api membakar hari-harimu yang memar
    hingga raung rindumu berpijar dari ruang gelap sejarah

    Di sini masih tersisa benih-benih kenangan
    ingatanmu ternyata belum juga rapuh
    Di sini telah tegak berdiri monumen perbatasan
    lidahmu serasa mengecap dusta yang manis

    Di sinikah akhir penantianmu?
    Di ulu hati inikah ujung perjalananmu?

    Ada suara yang ganjil memanggil namamu
    remah-remah kenangan bersorak menyambutmu
    Di sini telah tegak berdiri monumen perbatasan
    lidahmu serasa mengecap dusta yang manis

    Kefamenanu, 27 Juni 2022

    ——————————————————————–

    Tentang Penulis

    *Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria  Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul          “Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-Teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998.”

  • Tiga Sajak Ballada Yosep Yapi Taum: Ballada Mawar Putih – Ballada Arakian – Ballada Sumin

    Tiga Sajak Ballada Yosep Yapi Taum: Ballada Mawar Putih – Ballada Arakian – Ballada Sumin

      Oleh   Yoseph Yapi Taum

     

    BALLADA MAWAR PUTIH

    Kelasi itu datang dari kegelapan malam
    di saat kapal hendak karam
    di antara dua karang terjal terpendam.
    Nahkoda ditahan lalu dibunuh dengan kejam.
    8ahaya mengintai kapal rapuh
    dalam gelisah samudra bergemuruh.

    Ke arah empat penjuru mata angin,
    dihembuskannya dusta beracun.
    Cakrawala pun menahan nafas,
    karena kelasi menantang langit.

    Ombak itu sia-sia menerpa karang.
    Kelasi pun menjadi nahkoda,
    saat malam mendengkur
    dan bahaya mengintai di kesunyian.

    Amboy! Bagai nabi,
    samudra diteduhkan belenggu diuraikan,
    yang tua dan muda bertempik sorak,
    “Pahlawan baru telah lahir,
    di kelam malam tanpa bintang.
    Dia lahir dari rahim
    seorang wanita yang putus asa
    untuk menegakkan hasrat laki-Iaki!”

    Mawar-mawar semesta dipasanginya duri.
    Tak boleh lagi ada liukan tarian harum bunga
    dan nyanyian genjer-genjer di seantero jagat ini.
    Inilah sabda sakti sang nakhoda.

    Ketika fajar 1 Oktober 1965,
    berlakulah hukum alam baru,
    “kehormatan dan kehinaan
    tergantung pada keturunan
    karena jika kau keturunan PKI
    maka tidak ada matahari bagimu!”

    Musim kemarau terasa sangat panjang.
    Namun hari terpanjang adalah 27 Mei 1998.
    Kembang-kembang mawar putih
    menghiasi genit langit malam
    menggoda kejantanan bumi

    Nahkoda tua memuncak birahinya.
    Tak tertahankani di geladak kapal,
    kembang-kembang mawar putih terkulai
    dengan puting dan kelopak terbantun.
    “Kehormatan dan kehinaan
    tergantung pada keturunan .
    karena jika kau keturunan bangsa selir,
    maka aku berhak atas puting dan kelopakmu!”

    Di puncak birahinya, samudra menampar gelisah.
    Nahkoda tua terjungkal di geladak.
    Dalam sekarat, gairahnya terus meledek langit.
    la pun tewas dengan hasrat lelaki sekeras taji.

    Sumpah kembang-kembang mawar:
    “Dia berhak mendapatkan sejuta tusukan duri,
    kerna hanya itulah yang tersisa
    dari kembang-kembang mawar.
    Dan duri-duri itu menghunjam kejantanannya,
    dengan dalam dan liar di alam kuburnya!”

    Yogyakarta, 6 Agustus 2012

    ******************************************


    BALLADA ARAKIAN
    : Fabianus Tibo

    Pagi yang damai tiba-tiba pecah
    Embun yang kemarin bercanda terkapar
    Ama Lera Wulan Ina Tanah Ekan* sudah memberi tanda.
    Senja hari kemarin,
    sekawanan burung gagak menyilangi desa
    dan langit rebah terlalu rendah.
    Hari ini tanda itu menjadi nyata.
    Kawanan itu memasuki kampung ketika alam masih terlelap.

    Teriakan Oa Dona di ranjang, panjang dan lirih.
    Satu-satu disebutnya leluhur kampung,
    dan nama suami dilolongnya sambil bergetar:
    A-ra-ki-aaannnnn!
    Ketika suara itu pupus menghilang,
    Oa Dona tersungkur dengan sarung tersingkap.
    Leher dan kemaluannya terkoyak
    di ranjang di samping suaminya.
    Semua terjadi begitu cepat.
    Kawanan laknat itu melarikan diri,
    bagai taufan, buas dan pengecut
    menuju gua Lia Wato di balik jurang.

    Arakian terbangun, teriris jiwanya terkoyak jantungnya
    diteguknya darah di leher Oa Dona,
    diselimutinya mayat perempuan terkasih.
    Diasahnya mata pedang dan nyali sukmanya
    leluhur tujuh turunan memberinya nafas
    Kawanan laknat kiriman tuan tanah harus musnah!

    Dengan dagu terangkat, ia berlari ke atas bukit
    Dipukulnya genderang perang, suaranya menggelegar
    Darah dan derita Oa Dona menuntut balas siang hari.
    Sekali melompat, Arakian tiba di mulut gua Lia Wato.
    Kawanan itu mengernyitkan taring gemeretakkan gigi!

    Teriakan Oa Dona di ranjang, panjang dan lirih.
    Satu-satu disebutnya leluhur kampung,
    dan nama sang suami dilolongnya sambil bergetar:
    A-ra-ki-aaannnnn!

    Ketika suara itu pupus menghilang,
    Oa Dona tersungkur dengan sarung tersingkap.
    Leher dan kemaluannya terkoyak
    di ranjang di samping suaminya.
    Semua terjadi begitu cepat.
    Arakian mengayunkan pedang,
    tubuh kawanan liar itu semburatkan darah.
    Di dalam gua Lia Wato, tak ada yang luput.

    Tuan tanah murka. Kawanan buasnya tumpas.
    Kawanan kedua bergegas menangkap Arakian.
    Tangan terborgol, wajah memar,
    darah mengucur sekujur tubuhnya,
    ia diam tak berkata, dengan dagu terangkat.

    Teriakan Oa Dona di ranjang, panjang dan lirih
    satu-satu disebutnya leluhur kampung,
    dan nama suami dilolongnya sambil bergetar:
    A-ra-ki-aaannnnn!

    Ketika suara itu pupus menghilang,
    Oa Dona tersungkur dengan sarung tersingkap.
    Leher dan kemaluannya terkoyak
    di ranjang di samping suaminya.
    Semua terjadi begitu cepat.
    Tujuh algojo mengokang senjata.
    Dengan membusungkan dadanya,
    Arakian menyongsong peluru yang merobek jantungnya.
    Ini perayaan tubuh dan darahku!
    Darah perjanjian perang yang baru,
    sampai nafiri dan sangkakala berbunyi!

    Ketika darah mengucur dari jantungnya,
    rerumputan mencium harum anggur merah.
    Burung camar dua sejoli dendangkan nyanyian malam.
    Di ufuk barat langit rebah memerah darah.

    Yogyakarta, 12 Agustus 2011

    ******************************************* 

    *Ama Lera Wulan Ema Tanah Ekan adalah istilah dalam Bahasa Lamaholot untuk menyebut Tuhan penguasa langit dan bumi.

     

     

    BALLADA SUMINI

    Jalanan jadi begitu lengang, lama tak muncul dia
    sumur dan jemuran majikan tak lagi ada tuannya
    Sumini dilantik menjadi pengurus ranting partai
    Kembang di taman majikan lama tidak disirami

    “Sumini, akan kusiapkan tenda pengantin
    dan bebas biaya pendidikan bagi anak-anakmu,”
    Cukong berbisik pada sebuah malam di sebuah motel.
    Kembang di taman bermimpi tentang purnama.

    Sumini, janda beranak dua, kini menjadi pegawai
    Setiap hari keliling rumah membagi kartu nama caleg
    “Ini tugas kenegaraan, untuk perubahan yang lebih baik,”
    Kata cukong sambil melap keringat dan memberinya uang.

    Jalanan jadi begitu lengang, lama tak muncul dia
    sumur dan jemuran majikan tak lagi ada tuannya
    Sumini pengurus ranting partai tiap hari keliling desa
    Membagi lembar-lembar pucat dan amis.

    Di hari pencoblosan yang asing dan gerah,
    Sumini sumringah dengan rok bermotif bunga.
    Dagunya terangkat ketika pamong cukong memberi hormat.
    Kembang di taman diam tersipu dan ragu.

    Ketika demokrasi berpindah, kantor ranting partai ditutup.
    “Sumini, kami akan berjuang dari pusat
    Tetaplah kamu di daerah, karena kamu pejuang demokrasi!”
    Cukong berpamitan di suatu malam di sebuah motel.

    Jalanan jadi begitu lengang, lama tak muncul dia
    sumur dan jemuran majikan tak lagi ada tuannya
    Sumini kembali terasing dengan setumpuk uang kumal
    Enam bulan dengan rok bermotif bunga membuatnya lupa

    Bayangan perceraian dengan dua anak menghimpit
    Tertatih-tatih tubuh denqan rok bermotif bunga diseretnya.
    Bulan merah darah melancar di atas danau merah darah
    Kembang di taman diam terpaku dan merunduk.

    Ketika pesta berakhir, Sumini membuang setumpuk uang amis.
    Terluka, lapar, dan lelah, ia kembali ke rumah majikan,
    Disapanya sumur, jemuran, dan kembang taman
    Mereka tak pernah lelah mendoakannya:
    “Sumini, kembalilah!”
    Jalanan kini bernyawa, karena Sumini telah kembali
    sumur dan jemuran majikan menyambut tuannya
    Sumini menyimpan dendamnya bagi cukong dan pamong
    “Di pesta berikut, takkan kukotori lagi jiwa dan ragaku!”

    Yogyakarta, 9 April 2014 

    *********************************************************

     

                Tentang Penulis

    *Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).

    *Sumber: Dari Kumpulan Puisi Ballada Arakian Yogyakarta: Penerbit Lamalera, 2015

  • Puisi sebagai Medium – Sajak-sajak Mochtar Pabottingi

    Puisi sebagai Medium – Sajak-sajak Mochtar Pabottingi

    I G N A S    K L E D E N

     

    Ketika membaca 29 sajak Mochtar  Pabottingi dalam kumpulan sajaknya Dalam Rimba Bayang-Bayang, saya tak dapat menghindari kesan, bahwa sajak-sajak ini – buat sebahagian besarnya – ditulisnya sebagai catatan kaki untuk berbagai pengalamannya: pribadi, keluarga, atau sosial politik. Tidak terasa ambisi yang menggebu-gebu untuk “hidup seribu tahun lagi” dalam puisi Indonesia. Uniknya, semakin dibiarkannya sajak-sajak itu menjadi catatan kaki dalam pengalamannya,  semakin kuat daya pengucapan sajak itu sendiri, dan sebaliknya, semakin sadar penyairnya untuk menjadikan sajak sebagai suatu medium deklarasi atau maklumat sebuah tekad, semakin kurang meyakinkan daya ucapnya.

    Bagaimanapun Mochtar Pabottingi barangkali hanyalah suatu gejala, fenomena dari tantangan lebih umum yang dihadapi oleh penyair Indonesia: apakah mungkin dan bagaimanakah caranya menggabungkan lirik dengan politik? Dalam pandangan saya lirik mempunyai tendensi mempersatukan perasaan dan gerak hati manusia mendapatkan eksistensinya dalam gerak daun atau desir angin, dan sebaliknya alam besar dapat terpantul dalam setiap gerak kelopak mata atau senyuman di bibir. Ada semacam unio lyrica, kalau istilah itu boleh dipergunakan di sini, sebagai parafrase dari unio mystica dalam kehidupan mistik.

    Politik tidak mengijinkan persamaan seperti itu, karena politik selalu identic dengan perjuangan, persaingan dan kompetensi yang cenderung menghadirkan manusia sebagai representasi kepentingan dan sebagai kelompok-kelompok yang ingin memperebutkan kekuasaan untuk mewujudkan apa yang mereka percayai sebagai tujuan terbaik. Persaingan dan rivalitas itu tak dapat tidak akan membagi manusia dalam kategori kawan dan lawan, sementara perkawanan itu sendiri pun hanya provisoris sifatnya, sejauh ada kepentingan yang untuk sementara waktu harus dicapai dan dibela bersama. Kesulitan yang dihadapi Mochtar Pabottingi ternyata juga tidak dapat diatasi sepenuhnya oleh penyair lain yang jauh lebih berpengalaman seperti, Rendra misalnya. Ketika keterlibatan politik mengharuskan seorang penyair harus mengangkat pena, apakah dia harus tetap menulis sajak, atau dengan sadar memilih untuk menulis pamplet, risalah, brosur, atau propaganda? Dapatkah format sajak dapat dipakai untuk keperluan komunikasi politik, sekalipun dengan itu, makna tekstual sebuah puisi mengalami jalan buntu untuk dikembangkan?

     

    Kita hanyut dalam peradaban

    Di mana kita hanya mampu berak dan makan

    Tanpa ada daya untuk menciptakan.

    Apakah kita akan berhenti sampai disini?

     

    Apakah semua negara yang ingin maju harus menjadi negara industri?

    Apakah kita bermimpi untuk punya pabrik-pabrik

    Yang tidak berhenti-hentinya menghasilkan…….

    Harus senantias menghasilkan …..

    Dan akhirnya memaksa negara lain

    Untuk menjadi pasaran barang-barang kita?

    (dari sajak “Sajak Sebotol Bir” Rendra)

     

    Bisa dibayangkan baris-baris di atas akan menjadi sangat efektif kalau dibacakan di depan suatu pertemuan politik atau menjelang suatu demonstrasi. Namun demikan tenaga yang menggerakan pendengar dan pembacanya adalah makna referensial, lukisan ketimpangan sosial akibat kebijaksanaan ekonomi politik yang ingin menerapkan industrialisasi  tanpa mempertimbangkan efek ketergantungan, yang dari segi lain merupakan uraian sosiologis yang menarik dan meyakinkan, tetapi pastilah bukanlah suatu makna yang lahir dari kandungan teks sajak itu karena interaksi hubungan-hubungan internal dalam teks sajak itu sendiri. Dengan perkataan lain, baris-baris sajak tersebut akan amat bermanfaat dijadikan bahagian dari suatu ceramah politik, tapi kita kehilangan lirik yang lahir dari kandungan teks itu sendiri.

     

    Aku tulis pamplet ini

    Karena lembaga pendapat umum

    Ditutupi jaring labah-labah

    Orang-orang bicara dalam kasak-kusuk,

    Dan ungkapan diri ditekan

    Menjadi peng-iya-an

    (……………………………….)

     

    Aku tulis pamplet ini

    Karena pamplet bukan tabu bagi penyair

    Aku inginkan merpati pos

    Aku ingin memainkan bendera-bendera semaphore  di tanganku.

    Aku ingin membuat syarat kaum Indian?

    (kutipan dari sajak “Aku Tulis Pamplet” Rendra)

     

    Rendra menyatakannya dengan tepat “Aku tulis pamplet ini/karena pamplet bukan tabu bagi penyair.” Tetapi persoalan penyair adalah satu hal, sementara persoalan puisi adalah hal yang lain. Pertanyaan kita: pamplet dan politik bukan tabu bagi penyair, tetapi apakah juga bukan tabu untuk puisi? Seorang penyair dapat aktif mengikuti latihan bela diri yang pasti bukanlah barang yang tabu bagi penyair. Sekalipun demikian, kualitas sebuah sajak yang ditulis penyair tersebut tentulah tak diukur berdasarkan berapa banyak jurus silat yang dikauasainya.

    Pada titik itulah kita berbicara tentang kebebasan penyair sebagai pribadi, dan keterbatasan sajak sebagai seuah genre kesusastraan. Sebuah sajak barangkali tidak dapat menampung dan menanggung segala-galanya. Pada akhirnya, yang dicari pembaca dari sebuah sajak, tetaplah puisi, yaitu makna tekstual yang terlahir dari kandungan teks itu sendiri, dan bukannya karena teks tersebut dijadikan medium informasi tentang perjuangan politik, aksi sosial, promosi bisnis, atau kampanye akademis. Hal-hal yang baru disebutkan ini dapat dengan mudah dilakukan melalui teks ilmu pengetahuan atau jurnalisme, tanpa harus bersusah paya membaca sebuah sajak yang gersang. Sebuah teks ilmu pengetahuan hanyalah medium. Tetapi sebuah sajak, seperti dikatakan oleh Marsahll Mcluhan adalah sekaligus sarana dan sasaran, jalan dan tujuan, bahasa dan makna, karena the medium is the message. Dan makna tekstual bukanlah suatu misteri, karena sudah berkali-kali diungkapkan para penyair kita yang lain.

     

    Pada suatu hari nanti

    Jasadku tak akan ada lagi

    Tapi dalam bait-bait sajak ini

    Kau takkan kurelakan sendiri

     

    Pada suatu hari nanti

    Suaraku tak terdengar lagi

    Tapi di antara larik-larik sajak ini

    Kau akan tetap kusiasati

     

    Pada suatu hari nanti

    Impianku pun tak dikenal lagi

    Namun di sela-sela huruf sajak ini

    Kau takkan letih-letihnya kucari

    (sajak “Pada Suatu Hari Nanti” Sapardi Djoko Damono)

     

    Dalam sajak di atas, segala yang berhubungan dengan jasad, suara dan impian, menunjuk kepada makna referensial, sedangkan apa yang menemani kita, apa yang menggoda kita, dan apa yang memburu kita buat seterusmya adalah makna yang ada dalam bait-bait sajak, yang menyembunyikan diri di sela-sela huruf sajak tersebut. Dengan perkataan lain, adalah makna tekstual sebuah sajak yang menyebabkan bahwa:

     

    Sesuatu yang kelak retak

    Dan kita membikinnya abadi

    (dari sajak “Kwatrin Tentang Sebuah Poci” Goenawan Mohamad).

    —————————————————————————————————–

     

    *Tulisan ini diringkas dari Kata Pengantar Ignas Kleden, dalam kumpulan sajak Mochtar Pabottingi, Dalam Rimba Bayang-bayang, Jakarta, Penerbit Buku Kompas, 2003. Tulisan ini juga dimuat dalam buku Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan, Ignas Kleden, Grafiti, 2004.