PANCA SAJAK DARI KOTA ENDE – Puisi-puisi Simply da Flores

Written by

in

Foto: Simoly da Flores

 

Mencatat  Pelangi  Makna  di  Kota  Ende

Bagi saya, kota kecil Ende di pulau Flores telah mencatat banyak sejarah bagi dinamika perkembangan kehidupan generasi di pulau ini. Ketika sempat mengunjungi Ende beberapa waktu yang lalu, saya catat kekaguman atas warna-warni peran kota Ende dalam sejarah Indonesia dan dunia. Lalu, lahirlah lima sajak dalam tulisan yg kuberi judul: Panca Sajak dari Kota Ende

 

 TIKAMAN   TERIK  DAN  TANYA

Masih di awal bulan Maret
ketika siang di kota Ende
Jarum panas menusuk ubun
Tombak terik menikam raga
Ramai hilir mudik kendaraan

Beberapa kabut putih merana
melangkah gontai menapaki kota
Sayap-sayap garuda terkulai
Antara bahu gunung Ia Meja Wongge
Mungkin tertusuk jarum intrik
Mungkin tertiiam tombak politik

Laut di pantai kota senyap
ada diam seribu kata
mengandung sejuta gelombang tanya
Entah dari kampung-kampung
Entah dari tengah kota
Entah dari seberang lautan
Ini musim pancaroba

———————————————-

NUSA INDAH – ENDE

Terbersit dalam ingatan
lewati jalan kota Pancasila
Ende tempat sejarah bangsa
Ada satu nama penjasa
Penerbit Nusa Indah

Ladang kata dan karya
pernah suburkan anak bangsa
dengan karya mencerdaskan manusia
Dari buku dan majalah
ketika gelap menutup mata
saat gulita kuasai nalar
merana tak punya informasi
lara dicengkram kebodohan

Nusa Indah masih ada
namun ditikam terik mentari
mungkin terkulai dihempas badai
di tengah gelombang digital
dan aneka saran komunikasi

———————————————————

TERPATRI  JEJAK  PATRIOT

Kota Ende jadi saksi sejarah
seorang pemuda patriot diasingkan
Jauh dari sahabat pejuang
untuk wujudkan Indonesia Merdeka

Ada situs rumah pengasingan
Ada sumur air warisan
Cerita perjuangan Sang Patriot
Ada pohon sukun inspiirasi
Ada panggung pentas sandiwara
Ada juga dibuat serambi
Semuanya tentang Ir. Soekarno
yang sering disapa Bung Karno
Sang Proklamator Indonesia
Presiden pertama NKRI

Terpatri abadi jejak Sang Patriot
mungkin generasi bisa lupa
mungkin banyak politisi abaikan
Namun
Panglima di Ia Meja Wongge
tetap setia menjaga lestarinya
Selama aliran sungai Wolowona
belum kering untuk mandi
dan jadi mata air kehidupan
untuk pewaris Bumi Lio
untuk generasi Nusa Nipa

Ada Perjumpaan jejak para patriot
Berbagai suku bangsa di Nusantara
menulis tapaknya di kota Ende
Ada jejak musyafir makna
dari Jepang dan Belanda
dari berbagai bangsa dunia
Terpatri di kota ini
Ende, Nusa Indah, Flores
Tana Lio Bumi Naga
Taman Eden yang terlupakan

———————————————————

ADZAN  DAN  lONCENG GEREJA

Terdengar Adzan menggema
sebuah payung sejuk dibentang
halau jarum terik menusuk
lindungi hati saGereja
Ingatkan umat berdoa angelus
Seperti tameng halau tombak
yang ganas menikam jiwa
Di tengah derap zaman edan

Ada tanya kecil mengusik
apakah tolerasi kota ini
apakah persaudaraan warga kota
dengan adat budaya agama
Menjadi inspirasi bagi Patriot
Bung Karno Sang Proklamator
menggali dan terilhami merumuskan
Wahyu Pancasila untuk dunia ?

————————————–

ENDE  KOTA  PANCASILA

Jasmerah
Jangan sekali-kali melupakan sejarah
Kejadian itu fakta kehidupan
Karya Sang Proklamator itu berkah
dan
dicatat abadi Kota Ende
disimpan lestari Bumi Lio
Nusa Nipa Pulau Naga

Rajawali masih setia mengawal
terbang menyusuri sungai sejarah
terus meneguk mata air fakta
dan
membuat jembatan peradaban
Antara gunung dan pantai
Antara kampung dan Samudera
Agar
generasi minum dan disegarkan
lalu berlayar seberani lautan
gapai pelabuhan damba cita

Pancasila adalah kita
Pancasila itu aku
Pancasila itu engkau
Pancasila itu dia
Pancasila itu mereka
Semuanya kita “Sesama Saudara”
Kita satu udara semesta
Kita satu darah manusia
Bergandeng tangan rajut martabat
Bersatu-padu menenun harkat
Jadi Putra-Putri Fajar
Jadi anak-anak Terang
Junjung mentari di kepala
Cium bumi di telapak kaki
Dipeluk Sang Maha Cahaya

——————————————————————-

Tentang  Penulis

Simply da Flores, terlahirahir di Maumere, Flores, NTT.
Menyelesaikan studi di STF Driyarkara – Jakarta 1990. Ikut kegiatan advokasi Lingkungan dan Masyarakat Adat, berkenalan ke berbagai daerah di tanah air dan tetangga negeri, lalu pulang ke kampung untuk belajar tradisi lisan sejak 2020, sambil terus belajar menulis

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *