Category: UMUM

  • Heboh Lukisan “Maria Naik ke Surga”

    Heboh Lukisan “Maria Naik ke Surga”

     

    Oleh  Agus Dermawan T

     

     

    Adikarya lukisan Basoeki Abdullah telantar di gudang rumah jompo di Neijmegen, Belanda. Sangat membuat jengkel masyarakat seni Indonesia.

    Untuk mengawali pembicaraan ini, penting apabila kita menyimak artikel yang ditulis oleh Bonnie Triyana di laman Historia, 27 Maret 2019. Artikel yang berkisah ihwal web lukisan “Maria Assumpta” (Maria Naik ke Surga) karya Basoeki Abdullah (1915-1993) tersebut berjudul “Maria Terbang Mendarat di Gudang”. Begini petikannya:

    “Lukisan berukuran sekitar 2 x 1 meter itu tersandar da rak di sebuah gudang bawah rumah susun jompa yag dikelola oleh Serikat Jesuit di Neijmegen, Belanda. Lukisan itu menggambarkan sesosok perempuan berkebaya lengkap dengan kain sinjang batik bermotif parang yang membentangkan tangannya sebatas paha.

    Kepalanya yang berkerudung selendang sutra biru menunduk dengan mata separuh memejam, melihat ke arah bawah. Ia seperti terbang ke langit, melesat meninggalkan sebuah desa yang diapit dua gunung berapi.

    Lukisan itu tampak lebih mencolok dari benda-benda lain yang ada dalam gudang. Guci keramik, cawan lilin, lampu, buku, gambar berbingkai, kardus-kardus terletak tak beraturan di sana-sini. Namun seperti memiliki daya magnetik, lukisan itulah yang paling menyedot perhatian.

    “Ini breaking news dalam dunia seni rupa Indonesia, kata Amir Sidharta, sejarawan seni dan kurator yang datang untuk melihat langsung lukisan karya Basoeki bertitimangsa 1935 tersebut. Ini pertama kali Amir menyaksikan langsung karya yang selama ini menjadi buah bibir di kalangan seni rupa Indonesia. “Sebuah karya yang monumental,’ ujarnya menambahkan.

    Aminudin TH Siregar, dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB yang kini menempuh pendidikan doktoralnya di Universitas Leiden juga terpukau dengan lukisan legendaris itu. “Saya belum menemukan lukisan lain yang layak untuk disejajarkan dengan kecanggihan re-kontekstualisasi ala lukisan Basoeki Abdullah ini, setidaknya pada masanya, 1930-an, katanya.”

    Yang jadi pertanyaan mereka bertiga adalah: mengapa lukisan sehebat itu justru seperti digeletakkan di gudang begitu saja. Seolah seperti lukisan yang kurang berharga! Padahal para kritikus dan pengamat seni Indonesia menganggap karya itu sebagai adikarya yang menandai perjuangan pelukis Indonesia terpenting dalam sebuah era.

    Tulisan di Historia itu pada minggu-minggu kemudian dikembangkan oleh berbagai media massa. Salah satunya dalah majalah Tempo, yang membahas itu dengan referensial, komprehensilf, lengkap, dan mengundang diskusi. Bahkan koran Jakarta Post menyambutnya dengan mengetengahkan berbagai seni rupa yang menggambarkan Maria Assumpta. Maka sejak Maret sampai Juni masyarakat seni rupa Indonesia disuguhi realitas ironis itu. Perlakuan pihak Belanda terhadap lukisan itu oleh sebagian pengamat Indonesia dianggap sebagai wujud dari sikap peduli para kurator dan pengelola seni Belanda. Untuk melunakkan anggapan sikap itu, pihak kurator Belanda yang terkait mengatakan bahwa penggudangan tersebut karena keterpaksaaan dan hanya sementara. Pihak Belanda sesungguhnyanya sejak lama juga mengakui nilai lukisan itu. Buktinya, “Maria Asumpta” Basoeki pernah dipamerkan secara spesial di Museum Valkhof, Neijmegen, pada September 2004 sampai Februari 2005. Setelah puluhan tahun, lukisan tersebut terpajang secara layak di Den Haag dan Neijmegen.

    Peristiwa penggudangan lukisan terbaik karya maestro Indonesia tentulah membuat jengkel dan kecewa. Namun para pengamat yang percaya kepada nilai-nilai seni, penggudangan seperti itu tidak perlu sampai menyebabkan luka di hati. Alasannya, lukisan yang bermutu akan tetap berkilau meski diposisikan di pojok gelap. Ibaratnya, berlian akan tetap mengilat meski terendam di dalam lumpur. Peristiwa lukisan “Perburuan Banteng” karya Raden Saleh (1807-1880), yang di temukan di gudang bawah tanah, lantas terjual 7.200.000 euro dalam lelang pada 2018, adalah contohnya.

    Basoeki Abdullah mengatakan bahwa “Maria Asumpta” dicipta untuk hadiah bagi Yayasan Misionaris Katolik yang sudah memberinya beasiswa, sehingga ia bisa belajar di Koninklijke Academie van Beldende Kunsten, Den Haag sejak 1933. Lukisan cat minyak di kanvas itu menggambarkan Maria dalam busana Jawa sedang melayang terbang menuju surga. Ia menyebut, ide membuat Maria berkebaya anggun dengan bawahan batik motif parangrusak itu diilhami ayat Alkitab, Yesaya 61:10. Kalimat itu berbunyi: “Aku bersuka ria dalam Tuhan dan jiwaku bersoraksorai dalam Allah. Sebab Tuhan mengenakan padaku dandanan keselamatan dan menyelubungi aku dengan pakaian kejujuran, bagaikan mempelai berhiaskan ratna mutu manikam.”

    “Bagi saya yang lahir dan besar di Jawa, pakaian keselamatan dan kejujuran bagai mempelai itu adalah kebaya dan batik,” ujar Basoeki dalam wawancara saya pada 1980-an dalam rangka pembuatan buku R. Basoeki Abdullah, RA: Duta Seni Lukis Indonesia, Buku itu terbit pada 1985 dan kemudian berlanjut dengan dua buku lainnya.

    Selama di studi di Belanda pada 1933-1936, Basoeki mencipta tujuh lukisan tentang Bunda Maria. Sebagian dalam busana dan atmosfer budaya Jawa. Tentu saja ada lukisannya yang tetap mengacu kepada paras, setting, dan busana Eropa, seperti dalam lukisan Maria dan Yesus dikunjungi Raja-raja Majus, yang pernah dijadikan ilustrasi poster pameran di Belanda.

    Ketika ia kembali lagi ke Eropa menjelang 1950, seri lukisan Maria beratmosfer Jawa masih dikerjakan. Salah satunya adalah lukisan “Ibunda dan Putranya” yang mengacu kepada ungkapan Belanda, “Mama heeft altijd jam – Mama selalu punya selai” – yang maknanya: dalam kekurangan apapun sang ibu selalu ada untuk anaknya. Lukisan ini menggambarkan Maria berkebaya dan bersarung sedang memangku bayi Yesus yang tidur dengan nyaman di atas amben reyot di pojokan gubuk. Komposisi dan gesture lukisan diilhami oleh bagian dari karya Pieter Bruegel dari abad ke-16. Dalam sebuah laman di internet, karya Basoeki ini dijajarkan dengan karya Giovanni Bellini, Jan van Eyck, dan Bouguereau, yang semuanya menggambarkan Maria dan bayi Yesus.

    Basoeki Abdullah, kelahiran Solo, adalah putra pelukis pemandangan ternama Abdullah Suriosubroto. Sementara Abdullah adalah anak Dokter Wahidin Sudirohusodo, tokoh  pergerakan nasional Indonesia awal abad ke-20. Sejak duduk di Hollands Inlands School, Basoeki sangat gemar menggambar sehingga para guru di sekolahnya terpesona. Menyadari kemampuan itu, Basoeki menyimpan harapan tinggi: ingin mendalami seni lukis secara akademis. Untuk itu ia acap samadi di Parangtritis guna meminta Nyai Roro Kidul menyentuh hati mereka yang murah hati membawanya ke kehidupan yang cemerlang. Harapan itu terkabul setelah Katholieke Missie yang mengelola Yayasan Misionaris Katolik memberikan beasiswa pada 1933. “Tapi apakah munculnya beasiswa itu benar-benar karena Nyai, atau karena saya yang sudah menjadi pemeluk Katolik, yang tahu hanya saya dan Nyai,” ujar Basoeki.

    Romo Gregorius Budi Subanar SJ, peneliti “lukisan Katolik” Fransiskus Xaverius Basoeki Abdullah saat di Belanda, bertutur di majalah Tempo: “Basoeki diberi beasiswa lantaran yayasan misionaris memiliki agenda khusus. Ia diminta untuk ikut mendorong kerja misionaris lewat kompetensinya.” Di Belanda Basoeki menempuh pendidikan di Koninklijke Academie van Beeldende Kunsten, yang terletak di Prinsessegracht 4, di pusat kota Den Haag. Sementara Basoeki bertempat tinggal di Oostduinlaan 19, di sebuah kompleks perumahan yang tak terlampau jauh dari kampus

    Prestasi akademi Basoeki menyenangkan pihak akademi dan menggembirakan pihak yayasan. Beasiswa yang ia dapat tak pernah terlambat dan kendor. Bahkan Basoeki menyelesaikan studionya dalam waktu hanya dua tahun dua bulan, lebih cepat dibanding mahasiswa lain yang rata-rata memiliki masa studi empat tahun. Karena itu ia diberi sertifikat istimewa: Royal Academie, disingkat RA, yang pada kemudian hari acap disertakan di belakang namanya. Pelayanan amat baik dari yayasan ini dibalas oleh Basoeki lewat berbagai lukisan religius seperti “Maria Assumpta”.

    Maria dalam busana dan setting Jawa memang dipopulerkan Basoeki lewat lukisan “Maria Assumpta”. Namun pada tahun-tahun sebelumnya, sejumlah juru gambar telah merilis gagasan Visual semacam itu. Ilustrasi karya FX Djoemingin berjudul “Dyah Maria Ibu Dalem”, misalnya, menggambarkan Maria dan Yesus dalam pakaian ningrat lengkap dengan mahkota, mirip busana raja-raja Jawa zaman dahulu. Bahkan Pastor M Reksaatmadja dari Jawa Tengah pernah melukis Maria dan Yesus dalam pusaran ornamen kakayon dan gunungan wayang kulit.

    Pada pertengahan abad ke-20, sejumlah pelukis mulai ramai menggubah Bunda Maria dengan kebebasan versinya. Pelukis Bagong Kussudiardja di Yogyakarta, Tedja Suminar di Surabaya, Ketut Lasia di Bali, dan pematung Gregorius Sidharta adalah beberapa di antaranya. Sementara yang paling progresif adalah keramikus F Widayanto, yang beberapa kali memmvisualkan Bunda Maria dalam versi Jawa. Bahkan judul-judulnya pun berbahasa Jawa, seperti “Tumungkul Bekti”, “Paduka Ibuning Gusti”, “Paduka Sang Pinilih”. Pada 2006 ia membuat relief dan mozaik Maria Asumpta versi Jawa untuk dinding Basilica Annunciation (Warta Sukacita) di Nazareth, Israel. Karya memikat ini merupakan prakarsa para peserta tur ziarah Raptim Indonesia yang dikoordinasi oleh pengusaha Joe Kamdani.

    “Tapi Bunda Maria itu bukan milik orang Jawa saja. Ia milik semua suku di Indonesia, bahkan dunia,” kata Uskup Agung Jakarta, Mgr Suharyo Pr. Itu sebabnya ia sangat mendukung ketika pada 2015 ada sebuah lembaga Katolik yang menyelenggarakan kompetisi lukisan, fotografi, dan patung dengan tema “Maria, Bunda Semua Suku”. Apalagi hasilnya ternyata sangat menarik. Salah satu pemenangnya adalah patung karya Robert Gunawan yang menggambarkan Bunda Maria melayang dengan tangan membentang. Bibirnya menyungging senyum. Kesukacitaa ini perwujudan dari seruan apostoli yang diingatkan oleh Paus Fransiskus: “Gaudete et ex sultate!—Bersukacita dan bergembiralah. Maria dipatungkan dalam busana panjang berwrna merah putih dan berornamen batik warna emas. Di kepalanya tampak mahkota berukir peta Indonesia. Di dada Bunda Maria tertera lambang Garuda Pancasila.

    Makna dari patung Maria Assumpta ini adalah: Dengan senang hati Bunda Maria akan selalu menjaga Indonesia sebagai negara kesatuan yang berpegang kepada filosofi Pancasila.

     

    **********************

     

    Sumber Tulisan dari Buku Karnaval Sahibulhikayat, Agus Dermawan T, Penerbit KPG

  • Hak Janda: Tindakan Nyata di Balik Pengakuan

    Hak Janda: Tindakan Nyata di Balik Pengakuan

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada, dan Kandidat Doktor Filsafat STF Driyarkara Jakarta

     

     

    Sejak Majelis Umum PBB mengadopsi resolusi A/RES/65/189 pada tahun 2011, yang menetapkan tanggal 23 Juni sebagai Hari Janda Internasional, penderitaan janda-janda telah mendapatkan perhatian global yang sangat diperlukan. Tanggal ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat akan perjuangan mereka, tetapi juga sebagai seruan bertindak dalam mendukung pengakuan penuh hak-hak dan pemberdayaan janda di seluruh dunia. Berdasarkan data yang dirilis oleh PBB pada 10 Mei, terdapat 258 juta janda di seluruh dunia. Di Indonesia sendiri, pada tahun 2015 terdapat 9,5 juta janda.

    Salah satu aspek mendasar dalam pemberdayaan para janda adalah memastikan mereka memiliki akses terhadap warisan, tanah, dan sumber daya produktif yang adil. Para janda seringkali kehilangan hak-hak tersebut karena adat istiadat patriarki dan kurangnya kesadaran hukum. Di banyak belahan dunia, undang-undang warisan tidak memihak perempuan, khususnya para janda, sehingga membuat mereka rentan dan tidak aman secara finansial. Memberikan informasi dan dukungan hukum kepada para janda sangat penting untuk memperbaiki ketidakadilan ini.

    Pensiun dan perlindungan sosial tidak boleh hanya bergantung pada status perkawinan. Para janda sering kali menghadapi kesulitan ekonomi ketika tunjangan sosial mereka terikat pada mendiang pasangan. Pemerintah perlu memastikan bahwa sistem perlindungan sosial mengakui dan mendukung para janda secara mandiri, serta menjaga keamanan ekonomi mereka. Hal ini juga mencakup memastikan akses terhadap pekerjaan layak dan upah yang setara. Pemberdayaan ekonomi para janda bukan hanya tentang kelangsungan hidup; melainkan juga tentang memberi martabat dan rasa hormat yang pantas mereka terima.

     

    Foto: Ilustrasi, seorang janda, yang karena kondisi buruknya tidur di pinggir jalan, sumber: Pexels

     

    Pendidikan dan pelatihan sangat penting bagi para janda guna membangun kembali kehidupan mereka dan menghidupi keluarga mereka. Menawarkan pelatihan pendidikan dan kejuruan dapat membuka jalan baru untuk mendapatkan pekerjaan dan kemandirian. Pemberdayaan ini tidak hanya memberikan manfaat ekonomi, tetapi juga menumbuhkan rasa kemandirian dan kepercayaan diri para janda, sehingga memungkinkan mereka melepaskan diri dari lingkaran kemiskinan dan ketergantungan.

    Mengatasi stigma sosial dan praktik diskriminatif sangat penting dalam perjuangan hak-hak para janda. Para janda sering kali dikucilkan dan ditambah lagi dengan praktik budaya yang merugikan. Hambatan sosial ini perlu dihilangkan melalui kampanye kesadaran, keterlibatan masyarakat, dan penegakan hukum anti-diskriminasi yang ketat. Sikap masyarakat terhadap para janda perlu diupayakan berkembang menjadi pengakuan terhadap martabat dan hak-hak mereka sebagai individu, bukan hanya sebagai perpanjangan tangan suami.

     

    Foto: Ilustrasi upaya kerja mandiri para janda yang perlu didukung banyak pihak, sumber: Pexels

     

    Pemerintah mempunyai peran penting dalam menegakkan hak-hak para janda, sebagaimana diamanatkan oleh hukum internasional, termasuk Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan dan Konvensi Hak Anak. Akan tetapi keberadaan undang-undang yang melindungi saja tidak cukup. Kelemahan dalam sistem peradilan seringkali menyebabkan buruknya implementasi dan penegakan undang-undang tersebut. Pemerintah perlu mengatasi kekurangan-kekurangan ini, memastikan bahwa pejabat peradilan memiliki informasi yang baik dan peka terhadap hak-hak para janda.

    Kurangnya kesadaran dan sikap diskriminatif di kalangan pejabat pengadilan di banyak negara dapat menghalangi para janda untuk mencari keadilan. Program pelatihan komprehensif bagi para profesional hukum dan kampanye sensitisasi diperlukan untuk memastikan bahwa peradilan menjunjung tinggi hak-hak para janda secara efektif. Para janda harus merasa yakin bahwa sistem peradilan akan melindungi hak-hak mereka dan memberikan perlakukan yang adil.

    Hari Janda Internasional lebih dari sekedar isyarat simbolis; hal ini merupakan seruan nyata untuk mengambil tindakan nyata untuk mendukung dan memberdayakan para janda secara global. Dengan memberikan akses terhadap sumber daya, memastikan perlindungan sosial dan ekonomi, mendorong pendidikan dan pelatihan, menantang norma-norma sosial, dan memperkuat sistem hukum, kita dapat bergerak menuju dunia di mana para janda dihormati, didukung, dan diberi kesempatan yang layak mereka dapatkan. Pemerintah, masyarakat sipil, dan organisasi internasional harus bekerja sama untuk memenuhi komitmen ini dan menjunjung hak-hak para janda sebagaimana tercantum dalam hukum internasional.

     

    ————————–

     

  • Telah Terbit, Buku Antologi Puisi Bersama Seri Zodiak Kaum Gemini Koloni Seniman Ngopi Semeja

    Telah Terbit, Buku Antologi Puisi Bersama Seri Zodiak Kaum Gemini Koloni Seniman Ngopi Semeja

     

    JAKARTA BERANDA NEGERI.COM,  telah terbit buku antologi puisi Seri Zodiak Kaum Gemini bersama Koloni Seniman Ngopi Semeja bertemakan “Kekerabatan Kaum Gemini“.

    Buku sastra ini merupakan sebuah buku antologi puisi bersama yang diramaikan oleh puisi karya para penyair Indonesia yang secara khas mereka yang berzodiak Gemini.

    Diterbitkan oleh K-Publisher, salah satu divisi yang ada di komunitas kebudayaan Koloni Seniman Ngopi Semeja yang berdomisili di Depok – Jawa Barat itu merupakan produksi perdana.

    Tentu saja, untuk mewujudkan buku tersebut tim Koloni Seniman Ngopi Semeja bekerja keras; dari mencari serta mendata para penyair yang berbintang Gemini, lalu mengubungi mereka agar dapat turut serta menjadi kontributor dengan mengirimkan puisi-puisinya.

    Kemudian tim Koloni Seniman Ngopi Semeja melakukan koratorial yang boleh dibilang agak ketat.

    Tujuan paling utama dari proses kuratorial tersebut hanyalah bagaimana buku menajdi efisien dan efektif.

    Buku antologi puisi seri zodiak perdana ini juga menyematkan pemikiran penyair Sofyan RH Zaid sebagai pengantar yang sedikit banyak dapatlah kiranya dijadikan pintu masuk untuk lebih memaklumi puisi-puisi yang terangkum di dalamnya.
    Walaupun hal tersebut bukanlah sebuah
    keniscayaan, demikianlah galibnya.

    Kenapa harus Gemini? Banyak juga pihak yang berpikir, bahwa buku perdana Koloni Seniman Ngopi Semeja ini begitu spesifik.

    Memang betul demikian. Akan tetapi, kendati ditulis oleh para penyair Gemini, tidak berarti puisi yang ada di dalamnya mengenai orang-orang bicara soal bintang Gemini. Bukan!

    Justru di situ dapat kita lihat bagaimana seorang Gemini menulis puisinya. Mungkin, lebih jauh lagi, bagi para pengamat, barangkali mereka dapat melihat sesuatu
    yang lain, hal yang substansial tentang bagaimana seorang Gemini mengolah pemikirannya.

    Apakah dia akan sama saja dengan penyair yang berzodiak di luar itu atau memang terjadi disparitas yang berkaitan dengan bintang yang menaungi mereka.

    Tentu itu suatu hal yang menarik untuk dijadikan sebuah amatan antara susastra dan astrologi.

    Jadi, kurang tepat apabila buku ini mendapat stigma parsial secara puitika. Justru buku ini memang patut dimiliki oleh sesiapapun para pegila puisi sebagai koleksi istimewa pada rak buku perpustakaan pribadinya
    yang dikemas dalam dua versi, yakni edisi softcover dan edisi terbatas hardcover yang dibanderol,dengan harga sangat terjangkau.

    Apalagi dalam buku tersebut kita dapat menikmati puisi-puisi para panyair ternama Indonesia. Siapa sajakah mereka? …

    Setelah “Kekerabatan Kaum Gemini”, K-Publisher, Koloni Seniman Ngopi Semeja – Depok juga akan melanjutkan penerbitan buku antologi puisi ‘Seri Zodiak’ ini dengan mengundang para penyair dan penulis puisi yang berbintang lainnya.(**)

     

    Kontributor : Lasman Simanjuntak

  • Negara, Kroniisme, Dinasti

    Negara, Kroniisme, Dinasti

    Oleh  Ignas Kleden

     

    Dalam tinjauan moral dan hukum, korupsi dan segala variannya adalah praktik yang harus ditolak dalam politik yang sehat dan demokratis. Namun, secara sosiologis meluasnya korupsi membawa suatu akibat yang menguntungkan bagi tegaknya public good governance karena bersama dengan terungkapnya kasus korupsi-korupsi besar, tersingkap juga berbagai konspirasi politik dalam bentuk nepotisme yang pada giliran berikutnya melahirkan kroniisme. Ada persamaan dan perbedaan di antara nepotisme dan kroniisme sebagai praktik dalam birokrasi. Dua praktik itu mempunyai kesamaan bahwa penempatan seseorang dalam birokrasi tidak didasarkan pada kompetensi teknis, tetapi pada faktor-faktor nonteknis. Bedanya, dalam nepotisme, posisi dalam birokrasi ditentukan oleh hubungan kekeluargaan dan kekerabatan, sedangkan dalam kroniisme posisi itu ditentukan oleh hubungan perkoncoan. Dinasti politik merupakan gejala nepotisme, yang dalam perkembangannya akan menciptakan kroniisme.

    Dalam organisasi yang baik, nepotisme dianggap sebagai praktik yang menyimpang. Namun, mengapa menyimpang? Ada pertanyaan kritis menyangkut soal ini yang patut mendapat perhatian. Apa dasarnya bahwa kalau saya menjadi gubernur, saudara-saudara saya tidak boleh bekerja dalam kantor gubernur, sekalipun mereka terbukti sanggup? Kalau mereka sudah melewati semua tes seleksi dengan benar dan lulus tes tersebut, mengapa mereka tak boleh mendapat pekerjaan dan posisi yang mereka kehendaki? Melarang mereka bekerja dalam kantor gubernur hanya karena mereka adalah sanak dan kerabat gubernur, bukankah itu suatu diskriminasi? Selayaknya mereka diterima bekerja sampai terbukti bahwa hubungan kekeluargaannya dengan gubernur membuat mereka melakukan penyimpangan dalam tugas, atau tidak bekerja efektif sebagaimana dituntut oleh tugasnya.

    Kiranya jelas bahwa argumen seperti itu didasarkan pada asas nondiskriminasi dan asas praduga tak bersalah. Kita tahu juga bahwa praduga tak bersalah adalah asas yang berlaku dalam pengadilan. Namun, birokrasi pemerintahan dan manajemen organisasi bukanlah pengadilan. Di sini yang perlu dilakukan adalah mencegah kemungkinan dan memperkecil kesempatan untuk melakukan penyimpangan. Dengan demikian, yang harus berlaku dalam organisasi dan manajemen bukanlah asas presumption of innocence atau praduga tak bersalah, tetapi asas presumption of fallibility atau praduga tentang kemungkinan jatuhnya seseorang dalam kelemahan dan kesalahan karena ketiadaan kontrol. Seorang bos di kantor sebaiknya memercayai semua stafnya. Namun tak berarti lemari besi yang berisi uang kantor boleh dibiarkan tidak terkunci karena sangat besar kemungkinan uang itu menimbulkan godaan untuk diambil.

    Rupanya ini juga pertimbangannya mengapa suami-istri tidak diperbolehkan bekerja dalam kantor bank yang sama karena diandaikan bahwa hubungan yang amat dekat antara suami dan istri akan mempersulit terjaganya kerahasiaan bank, yang dapat merugikan kepentingan nasabah serta merugikan reputasi dan kredibilitas bank tersebut. Kalau salah satu dari pasangan suami-istri itu ditolak oleh bank untuk bekerja di bank itu, walaupun yang bersangkutan sudah lulus tes seleksi dengan baik, kebijakan ini bukanlah suatu tindakan diskriminatif, tetapi tindakan preventif untuk mencegah pelanggaran kerahasiaan bank, yang besar kemungkinan akan terjadi, kalau ada hubungan personal yang terlalu dekat di antara karyawan seperti antara suami dan istri. Dalam hal ini, kalau harus ditunggu dulu sampai ada bukti terjadinya pelanggaran kerahasiaan bank, maka situasinya sudah terlambat, dan baik bank maupun nasabah sudah telanjur dirugikan.

    Selain itu, cukup terbukti dalam beberapa kasus di Indonesia bahwa hubungan yang terikat oleh faktor kekeluargaan cenderung menjadi tertutup dan eksklusif, terutama apabila para kerabat itu sudah terlibat dalam penyelewengan dan pelanggaran hukum. Ketertutupan itu mempersulit transparansi dan akuntabilitas. Juga menjadi penghambat bagi monitoring dan pengawasan. Akibatnya, penyelewengan dan pelanggaran hukum yang terjadi akan terus menumpuk dari waktu ke waktu, dan merugikan kepentingan publik secara akumulatif.

     

    Memperlemah birokrasi

    Contoh ini memperlihatkan bahwa asas presumption of innocence tidak selalu tepat diterapkan di luar pengadilan, seperti juga asas presumption of fallibility tidak akan dibenarkan diterapkan di pengadilan. Di sini kita bisa berkata bahwa kebijaksanaan tercapai kalau kita berpegang pada asas right principle in the right place atau asas yang benar harus diterapkan di tempat yang benar. Inilah pertimbangan utama bahwa nepotisme dianggap praktik yang merugikan birokrasi dan manajemen karena hadirnya terlalu banyak kaum kerabat dalam birokrasi akan memperlemah sifat birokrasi yang seharusnya impersonal. Kita tahu pemerintahan dan birokrasi pemerintahan adalah lembaga publik, yang harus bertanggung jawab atas kepentingan umum melalui kebijakan-kebijakan publik. Karena itu, sifat publik dari jabatan-jabatan pemerintahan perlu dijaga agar tidak dipersulit oleh hubungan-hubungan yang terlalu personal, yang menjadi ciri pemerintahan patrimonial zaman baheula.

    Kroniisme juga kadang kala dibela dengan jalan pikiran yang sama. Argumennya, kalau kita memulai suatu usaha, lebih baik memulainya bersama orang-orang yang sudah kita kenal, atau dengan teman-teman yang sudah saling tahu, daripada langsung mengajak orang-orang yang baru saja dijumpai dalam wawancara untuk perekrutan staf. Orang-orang yang sudah dikenal dan teman-teman dekat lebih mudah diramalkan perilakunya, dapat diperkirakan reaksinya dalam menerima usul atau suatu rencana kerja.

    Hal-hal ini lebih sulit kalau kita langsung bekerja dengan orang-orang baru karena belum ada pegangan tentang bagaimana mengantisipasi sikap mereka terhadap teguran, peringatan, atau disiplin kantor yang hendak diterapkan. Di sini kita berhadapan dengan tingkat ketidakpastian yang terlalu tinggi, yang akan menyulitkan proses pengambilan keputusan dan menghambat juga implementasi keputusan yang sudah diambil.

    Sebaiknya diperjelas di sini bahwa sekelompok orang dengan semangat yang sama dan visi yang sama memang lebih mudah menjalankan suatu usaha bersama, seperti mendirikan koran atau majalah, membangun sekolah, perguruan tinggi, mengelola sebuah klub sepak bola yang profesional, atau membangun sebuah perusahaan bisnis. Dalam situasi semacam itu, orang-orang yang saling mengenal ini tidak dapat dinamakan kroni, tetapi rekan kerja yang kompak yang dipersatukan oleh suatu komitmen yang sama. Perbedaan di antara teamwork dengan kroniisme ialah bahwa yang pertama bekerja untuk kepentingan usaha bersama dengan SOP yang jelas, sedangkan yang kedua bekerja untuk kepentingan dan keuntungan sekelompok orang dalam usaha bersama itu, berdasarkan favoritisme pemimpin kelompok. Kroniisme baru terjadi kalau segelintir orang dari mereka yang telah memulai usaha bersama mendapat dan menikmati keuntungan khusus yang tidak dibagikan kepada rekan-rekan lainnya. Dengan demikian, kroniisme selalu berdiri di atas suatu in-group yang menutup diri dari mereka yang tidak termasuk dalam kelompoknya, dan tidak memperjuangkan kepentingan bersama, tetapi membela suatu egoisme kelompok secara eksklusif.

    Dalam politik, kroniisme seperti ini tidak saja menguasai sumber daya ekonomi, tetapi juga sumber daya politik yang berhubungan dengan akses kepada sumber daya ekonomi, dan cenderung berkembang menjadi suatu oligarki dalam pemerintahan. Memang, setiap oligarki selalu dapat berdalih bahwa meskipun kekuasaan ekonomi dan politik hanya ada pada beberapa orang, mereka tetap saja bekerja untuk kepentingan rakyat dan memperjuangkan kemajuan umum. Dalih seperti ini, seandainya pun benar terwujud dalam kenyataan (suatu yang hampir tak mungkin terjadi), secara prinsipiil tidak dapat diterima asas demokrasi. Karena rakyat tidak cukup hanya dijadikan obyek kebaikan dan kemurahan hati melalui kerja yang dilaksanakan “untuk rakyat”. Prinsip demokrasi menetapkan bahwa rakyat adalah subyek kekuasaan politik dalam pemerintahan, malah subyek yang terpenting, dan hal ini harus diperlihatkan dalam pemerintahan “dari rakyat” dan “oleh rakyat” dan bukan saja dalam pemerintahan “untuk rakyat”.

    Dalam pelaksanaan demokrasi Indonesia saat ini, dapat disaksikan bahwa asas “dari rakyat” dan “oleh rakyat” lebih sering disimulasikan dalam demokrasi prosedural melalui institusi-institusi politik, sementara pemerintahan “untuk rakyat” cenderung diabaikan, khususnya melalui nepotisme dan kroniisme dalam politik.

    Beberapa ahli hukum mengatakan bahwa kita sulit mengambil langkah-langkah untuk menentang praktik nepotisme saat ini karena belum ada undang-undang yang melarang praktik nepotisme. Pada hemat saya, keberatan semacam ini tidak mengimplikasikan bahwa nepotisme tidak bisa ditentang, tetapi justru menunjukkan belum lengkapnya sistem hukum kita.

     

    Legislasi yang mempersulit

    Pengalaman politik dalam masa pasca-Reformasi memberi beberapa contoh bahwa beberapa praktik yang tadinya dilakukan secara meluas, seperti pemberian hadiah besar-besaran kepada seorang atasan dalam birokrasi pada kesempatan tertentu (seperti pernikahan anaknya, atau hari raya), lebih banyak mudaratnya dari manfaatnya, karena tanpa sengaja hadiah-hadiah itu berfungsi sebagai gratifikasi yang membuat orang yang menerima tidak dapat bersikap correct dalam jabatannya. Sekarang ini hal itu sudah sulit dilakukan karena sudah ada UU yang melarang gratifikasi semacam itu. Nepotisme jelas merugikan kehidupan politik dan praktik demokrasi karena beberapa kecenderungan dalam wataknya. Sifat eksklusif nepotisme mempersulit terciptanya tata kelola yang baik (good governance) karena kelompok yang mempraktikkan nepotisme cenderung tertutup, serta tidak mudah dimonitor dan diawasi. Ketertutupan itu sendiri sudah bertentangan dengan prinsip equal opportunity atau kesempatan yang sama untuk melakukan partisipasi politik secara terbuka karena peran-peran tertentu dalam pemerintahan sudah diblokir untuk anggota in-group yang menikmati hak-hak istimewa.

    Dengan tertutupnya partisipasi politik untuk sebagian warga negara yang tidak termasuk dalam blok nepotisme, baik birokrasi maupun politik Indonesia tidak akan mendapat tenaga-tenaga terbaik dalam menjalankan tugas karena mereka sudah tersingkir secara alamiah dari pola perekrutan yang berlangsung tertutup. Selain itu, nepotisme akan terus berusaha melestarikan vested interest kelompoknya dengan mengorbankan kepentingan publik dan kemajuan umum. Kekayaan yang ekstrem dari sekelompok orang dan kemiskinan ekstrem dari banyak orang merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan dengan alasan apa pun dalam suatu negara yang beradab. Mungkin sudah saatnya perlu disusun legislasi yang akan mempersulit praktik nepotisme, kroniisme, dan dinasti politik dalam pemerintahan karena ini langkah pertama yang efektif menuju keadilan dan kesejahteraan rakyat, yang menjadi alasan satu-satunya bahwa ada, mengapa harus ada, negara merdeka yang bernama Republik Indonesia.

     

    ——————————- 

     

    Sumber Kompas, 31 Oktober 2013

     

  • Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis

    Tan Malaka: Nasionalisme Seorang Marxis

     

    Oleh   Ignas  Kleden

     

     

    TAN MALAKA  meninggal pada usia 52 tahun. Setengah dari usia itu dilewatkannya di luar negeri: enam tahun belajar di Negeri Belanda dan 20 tahun mengembara dalam pelarian politik mengelilingi hampir separuh dunia. Pelarian politiknya dimulai di Amsterdam dan Rotterdam pada 1922, diteruskan ke Berlin, berlanjut ke Moskow, Kanton, Hong Kong, Manila, Shanghai, Amoy, dan beberapa desa di pedalaman Tiongkok, sebelum dia menyelundup ke Rangoon, Singapura, Penang, dan kembali ke Indonesia. Seluruhnya berlangsung antara 1922 dan 1942 dengan masa pelarian yang paling lama di Tiongkok.

    Selama masa itu, dia menggunakan 13 alamat rahasia dan sekurangnya tujuh nama samaran. Di Manila dia dikenal sebagai Elias Fuentes dan Estahislau Rivera, sedangkan di Filipina Selatan dia menjadi Hasan Gozali. Di Shanghai dan Amoy dia adalah Ossario, wartawan Filipina. Ketika menyelundup ke Burma, dia mengubah namanya menjadi Oong Soong Lee, orang Cina kelahiran Hawaii. Di Singapura, ketika menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas, dia bernama Tan Ho Seng. Setelah masuk kembali ke Indonesia, dia bekerja di pertambangan Bayah, Banten, dan menjadi Ilyas Hussein.

    Pelarian dan penyamaran itu dimungkinkan, salah satunya, karena dia menguasai bahasa-bahasa setempat dengan baik. Ketika dia ditangkap di Manila pada Agustus 1927, koran Amerika, Manila Bulletin, menulis, “Tan Malaka, seorang Bolsyewik Jawa, ditangkap. Dia berbicara bermacam-macam bahasa: Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, Tagalog, Tionghoa, dan Melayu.” Dalam pelarian itu, bermacam-macam pekerjaan sudah dilakukannya.

    Di Amsterdam dan Rotterdam dia berkampanye untuk partai komunis Belanda pada waktu diadakan pemilu legislatif dan ditempatkan pada urutan ketiga. Di Moskow dia menjadi pejabat Komintern dengan tugas mengawasi perkembangan partai komunis di negara-negara Selatan, yang mencakup Burma, Siam, Annam, Filipina, dan Indonesia. Di Kanton dia menerbitkan majalah berbahasa Inggris, The Dawn. Di Manila dia menjadi kontributor untuk koran El Debate. Di Amoy dia mendirikan “Foreign Languages School” yang mendapat banyak peminat dan memberinya cukup uang. Di Singapura dia menjadi guru bahasa Inggris di sekolah menengah atas walau tanpa ijazah.

    Sebelum dibuang ke luar negeri, dia dipenjarakan tiga kali oleh pemerintah kolonial, di Bandung, Semarang, dan Jakarta. Dalam pelariannya ke luar negeri, dia dipenjarakan di Manila dan Hong Kong. Setelah kembali ke Indonesia, dia dimasukkan ke penjara oleh pemerintah Indonesia di Mojokerto (1946-1947).

    Dia mengagumi secara khusus pejuang kemerdekaan Tiongkok, Dr Sun Yat-sen, yang di kalangan pengikut bawah tanah dipanggil Sun Man. Dia membaca buku San-Min-Chu-I dan berkesimpulan bahwa Dr Sun tidak sepaham dengan dia dalam teori dan metode. Menurut Tan Malaka, Dr Sun bukanlah seorang Marxis, melainkan sepenuh-penuhnya seorang nasionalis. Dalam metode, dia tidak berpikir dialektis, tapi logis. Namun kesanggupan analisisnya tinggi, kemampuan menulisnya baik sekali, dan dia seorang effective speaker. Kekuatan Dr Sun terdapat dalam dua hal lain, yaitu satunya kata dan tindakan serta tabah menghadapi kegagalan. Usahanya memerdekakan Tiongkok dari Kerajaan Manchu baru berhasil pada percobaan ke-17, setelah 16 kali gagal.

    Dr Jose Rizal menjadi pahlawan Filipina dan pahlawan Tan Malaka karena ketenangannya menghadapi maut. Beberapa saat sebelum dia ditembak mati, seorang dokter Spanyol rekan seprofesinya meminta izin kepada komandan agar diperbolehkan memeriksa kondisi kesehatannya. Dengan tercengang si dokter melaporkan bahwa denyut pada pergelangan tangan Dr Rizal tetap pada ketukan normal, tanpa perubahan apa pun. Ini hanya mungkin terjadi pada seseorang yang sanggup menggabungkan keyakinan penuh pada perjuangan, ketabahan dalam menderita, dan keteguhan jiwa menghadapi maut. Di sini terlihat bahwa Tan Malaka bukanlah seorang Marxis fundamentalis, karena dia dapat menghargai Dr Sun Yat-sen, nasionalis pengkritik Marxisme, dan mengagumi Dr Rizal, seorang sinyo borjuis dengan berbagai bakat tapi menunjukkan sikap satria sebagai pejuang kemerdekaan.

    Kritik Tan Malaka kepada Bung Karno tidaklah ada sangkut-pautnya dengan sikap Soekarno terhadap Madilog, tapi merupakan kritik yang wajar terhadap seseorang yang sangat dihormatinya. Dasar kritiknya adalah apa yang dilihatnya sebagai kebajikan Dr Sun Yat-sen, yaitu satunya kata dengan perbuatan. Menurut Tan Malaka, ketika memimpin PNI, Soekarno selalu mengajak penduduk Hindia Belanda yang berjumlah 70 juta jiwa itu untuk berjuang mencapai Indonesia merdeka dengan menggunakan tiga pegangan, yakni sosio-nasionalisme, sosio-demokrasi, dan aksi massa yang tak mengenal kompromi. Dia memberikan apresiasi tinggi bahwa Soekarno telah banyak menderita dan dibuang ke pengasingan karena gagasan-gagasan politiknya.

    Maka dia kecewa melihat Soekarno berkolaborasi dengan Jepang selama pendudukan di Indonesia. Kekecewaan ini disebabkan oleh dua latar belakang. Pertama, Tan Malaka merasa dekat dengan Soekarno, yang menerapkan aksi massa dalam perjuangan politiknya hampir sepenuhnya menurut apa yang ditulisnya di Singapura pada 1926 dalam sebuah brosur tentang aksi massa. Kedua, dia sangat terpesona oleh perjuangan kemerdekaan Filipina dengan semboyan immediate, absolute and complete independence (kemerdekaan segera, tanpa syarat, dan penuh). Kekecewaan ini sedikit terobati ketika Soekarno-Hatta atas desakan pemuda revolusioner membuat proklamasi kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945.

    Salah satu karya Tan Malaka yang boleh dianggap sebagai opus magnum-nya adalah buku Madilog, yang ditulis selama delapan bulan dengan rata-rata tiga jam penulisan setiap hari di persembunyiannya dekat Cililitan. Buku itu menguraikan tiga soal yang menjadi pokok pemikirannya selama tahun-tahun pembuangan, dengan bahan-bahan studi yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, tapi sebagian besar harus dibuang untuk menghindari pemeriksaan Jepang. Naskah buku ini praktis ditulis hanya berdasarkan ingatan setelah bacaan dihafal di luar kepala dengan teknik pons asinorum (jembatan keledai).

    Ketiga soal itu adalah materialisme, dialektika, dan logika. Materialisme diperkenalkannya sebagai paham tentang materi sebagai dasar terakhir alam semesta. Logika dibutuhkan untuk menetapkan sifat-sifat materi berdasarkan prinsip identitas atau prinsip nonkontradiksi. Prinsip logika berbunyi: A tidak mungkin sama dengan yang bukan A. Atau dalam rumusan lain: a thing is not its opposite. Sebaliknya, dialektika menunjukkan peralihan dari satu identitas ke identitas lain. Air adalah air dan bukan uap. Tapi dialektika menunjukkan perubahan air menjadi uap setelah dipanaskan hingga 100 derajat Celsius.

    Madilog adalah penerapan filsafat Marxisme-Leninisme. Tesis utama filsafat ini berbunyi: bukan ide yang menentukan keadaan masyarakat dan kedudukan seseorang dalam masyarakat, melainkan sebaliknya, keadaan masyarakatlah yang menentukan ide. Kalau kita mengamati hidup dan perjuangan Tan Malaka, jelas sekali bahwa sedari awal dia hidup untuk merevolusionerkan kaum Murba, agar menjadi kekuatan massa dalam merebut kemerdekaan politik. Dia bergabung dengan Komintern di Moskow dan Kanton karena setuju dengan tesis Komintern bahwa partai komunis di negara-negara jajahan harus mendukung gerakan nasionalis untuk menentang imperialisme.

    Semenjak masa mudanya di Negeri Belanda, Tan Malaka sudah terpesona oleh Marxisme-Leninisme. Paham inilah yang menyebabkan dia dipenjarakan berkali-kali dan dibuang ke luar negeri. Ini berarti bukan penjara dan pembuangan itu yang menjadikan dia seorang Marxis, melainkan sikap dan pendiriannya yang Marxislah yang menyebabkan dia dipenjarakan dan dibuang. Selain itu, dia pertama-tama tidak berjuang untuk kemenangan partai komunis di seluruh dunia, tapi untuk kemerdekaan tanah airnya.

    Dengan demikian, hidup Tan Malaka menjadi falsifikasi radikal terhadap gagasan Madilog yang dikembangkannya. Paradoksnya: dia seorang Marxis tulen dalam pemikiran, tapi nasionalis yang tuntas dalam semua tindakannya. Kita ingat kata-katanya kepada pemerintah Belanda sebelum dibuang: Storm ahead (ada topan menanti di depan). Don’t lose your head! Ini sebuah language game yang punya arti ganda: jangan kehilangan akal dan jangan kehilangan kepala. Tragisnya, dia yang tak pernah kehabisan akal di berbagai negara tempatnya melarikan diri akhirnya kehilangan kepala di tanah air yang amat dicintainya.

     

    ————————————————————

     

     

    Sumber: Majalah Tempo, September 2011

     

     

     

  • Sejarah Mataram Kuno Pernah Terjadi Perang Saudara Menyangkut Agama, sebagai Bahan Renungan dan  Refleksi bagi  Indonesia ke Depan

    Sejarah Mataram Kuno Pernah Terjadi Perang Saudara Menyangkut Agama, sebagai Bahan Renungan dan  Refleksi bagi  Indonesia ke Depan

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Pada abad ke tujuh di Jawa tengah bagian selatan pernah berdiri kerajaan Hindu terbesar yang bernama Mataram Hindu, yang keturunan nya telah mewariskan peradapan sangat tinggi serta meninggalkan karya agung berupa bangunan candi fenomenal yang jadi keajaiban dunia, yaitu candi Borobudur dan candi Prambanan atau candi Sewu yang terketak di magelang dan klaten jawa tengah.

    Kerajaan Mataram kuno didirikan oleh Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya pendiri dinasti Sanjaya pada tahun 732 Masehi dan berkuasa hingga tahun 760 Masehi. Maka kerajaan nya dinamakan Kerajaan Mataram Hindu karena raja dan masyarakat nya beragama Hindu siwa.

    Raja kedua adalah Sri Maharaja Rakai panangkaran yang berkuasa tahun 760 hingga tahun 780 Masehi.

    Raja ketiga yaitu Sri Maharaja Rakai Panunggalan/ Dharma Tungga yang memerintah tahun 780 sampai tahun 800 Masehi.

    Yang ke empat adalah Raja Sri Maharaja Rakai Warok / Indra Syailendra, yang memerintah tahun 800 hingga 820 Masehi.

    Dimana saat pemerintahan Rakai Warok / indra saylendra kerajaan Mataram bukan lagi menganut agama Hindu Siwa tapi sudah beralih kepada agama Bhuda Mahayana,  yang menimbulkan perang saudara dalam perang agama dan keyakinan yang merupakan perang agama terbesar pada saat itu, hingga membuat kestabilan pemerintahan terganggu, karena adanya perpecahan dalam keluarga kerajaan.

    Baru pada saat raja Mataram yang ke lima yaitu Sri Maharaja Rakai Garung atau Raja samaratungga , pemerintahan agak stabil dan perang saudara sudah bisa diredam, dengan demikian ekonomi negara juga berkembang, disinilah Sri Maharaja Samaratungga membangun candi tempat peribadatan agama Bhuda Mahayana terbesar yang dinamakan candi Sambara Bhudura, atau dikenal dengan candi Borobudur, yang merupakan candi Bhuda terbesar diseluruh Dunia untuk memberikan penghormatan kepada Kaum Brahmana dan pendeta Budha serta masyarakat mataram kuno saat itu bisa menjalankan ibadah nya dengan baik.

    Untuk menjaga kestabilan politik dan keamanan dalam meredam terjadinya pecah perang agama lagi antara dinasti Sanjaya dengan dinasti Syailendra, maka oleh Sri Maharaja Samaratungga, anak nya laki laki yang bernama Rakai Pikatan saat dinobatkan menjadi Raja  yang beragama Hindu Siwa dikawinkan dengan Ratu Pramoerdawardhani dari Dinasti Syailendra yang beragama Bhuda Mahayana pada tahun 824 Masehi , berdasarkan catatan prasasti Kayumwungan.

    Bahwa perkawinan antar dinasti sebagai perkawinan politik yang beda agama dan keyakinan ini, bertujuan agar seluruh keturunan baik keturunan wangsa Sanjaya maupun keturunan wangsa Syailendra ada jaminan keselamatan dan keamanan yang bisa mencapai kesejahteraan bersama untuk bisa diakhirinya perang saudara dalam perang agama atau agama yang dipolitisasi kalau jaman Demokrasi modern saat ini.

    Pada saat Maha Raja Rakai Pikatan yang beragama Hindu Siwa beristrikan Ratu  Pramoerdawardhani dari wangsa Syailendra yang beragama Bhuda Mahayana, memerintahkan  untuk membuat candi yang bercorak Hindu Siwa, untuk menandingi berdirinya candi Bhuda (Shambara Bhudura / Borobudur) maka Rakai Pikatan membangun candi Sewu yang bernama candi Prambanan pada tahun 850 Masehi,  sebagai tempat ibadah bagi orang yang beragama Hindu Siwa, walaupun dalam pemerintahan Mataram saat Rakai Pikatan. Memerintah , baik agama Hindu Siwa maupun Bhuda Mahayana bisa hidup berdampingan, dengan damai mendapat jaminan secara  Politik dari kerajaan Mataram kuno saat itu. Bahwa candi Prambanan atau candi Sewu pada saat itu juga dibuat sistem pengairan dengan tata kelola pengairan yang modern  disamping untuk pertanian juga untuk menjaga membendung banjir dari sungai opak  agar candi prambanan tidak terkurung banjir, maka pada saat itu telah melakukan sudetan sungai opak yang awalnya melingkar dijadikan lurus , dimana tehnik sudetan sungai besar jaman itu sudah dikuasi dengan cara manual, Candi Prambanan sendiri karena begitu banyak nya patung yang harus dibuat yang mencapai hampir 550 patung dengan relief sangat indah dan rumit secara tehnik maka  , setelah mangkat nya Rakai Pikatan  pembangunan  selanjut nya diteruskan oleh Raja Balitung Masa sumbu berdasarkan keterangan prasasti “Siwagra “.Bahwa perang saudara yang berlatar belakang politik agama saat itu, sesuai catatan sejarah antara Rakai Pikatan dengan Bala putra Dewa, yang memperebutkan tahta kerajaan Medang Mataram Kuno, meski bertahan dibenteng Ratu Boko yang terbuat dari timbunan batu, Bala Putra Dewa kalah  dan memilih menyingkir ke Sumatera ke tanah kelahiran Ibunya, dan mendirikan kerajaan Sriwijaya yang bercorak Bhuda, yang belakangan menjadi kerajaan Bhuda terbesar di Asia tenggara.

    Bahwa candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar yang telah dibangun di Jawa saat itu, beberapa sejarawan menduga bahwa dibangun nya candi Prambanan sebagai candi Hindu Siwa terbesar untuk menandai kembalinya dinasti / Wangsa Sanjaya dipemerintahan, setelah  hilang nya kekuasaan pada saat Raja Mataram kuno dijabat oleh Raja Rakai Warok/ Indra Syailendra, Candi Prambanan sendiri dibangun oleh Rakai Pikatan pada tahun 856 Masehi. Prasasti Wantil juga menyebutkan bahwa Rakai Pikatan alias Rakai Mamrati turun tahta menjadi brahmana bergelar Sang Jatiningrat pada tahun 856 Masehi, dimana tahta kerajaan dipegang oleh putra bungsunya yaitu Dyah Lokapala alias Rakai Kayuwangi.

    Pada tahun 930 karena kondisi alam menyangkut  geografis yang mana adanya bencana alam berupa gunung Merapi meletus yang mengakibatkan Candi Borobudur terpendam lumpur gunung berapi, dan candi Prambanan rusak parah , oleh mpu Sendok ibukota Mataram dipindah ke Jawa timur, dengan mendirikan dinasti Isyana, sebagai berdiri nya sejarah baru di Jawa timur yang akan melahirkan Raja Raja Singosari hingga Majapahit nantinya.

    Candi Borobudur yang merupakan candi budha terbesar di dunia yang berbentuk bunga teratai ditengah kolam raksasa ( Danau ) telaga warna, baru ditemukan lagi setelah ratusan tahun tertimbun laha , oleh tentara Inggris dibawah Pimpinan Thomas Stanford Raffles pada tahun 1814 Masehi dalam keadaan hancur.

    Refleksi sejarah masa lalu yang bisa kita ambil untuk Indonesia kedepan, adalah bahwa bangsa ini adalah bangsa yang mempunyai kebudayaan sangat tinggi dan adi luhung, dimana bangsa bangsa lain dibelahan bumi lainya masih belum berbudaya dan menguasai tehnis rancang bangun Nenek moyang kita sudah menguasai nya, bahwa  bangsa ini juga sudah  pernah mengalami perang agama di Nusantara yang merupakan perang agama terbesar saat itu, dan bisa berahir karena sifat keteladanan dan kebijakan serta kebesaran hati dari pemimpin nya saat itu yakni Raja Sri Maharaja Samaratungga dan anak nya Raja Sri Maharaja Rakai Pikatan serta Maha Dewi Pramoerdawardhani sebagai ratu dari wangsa Syailendra.

    Sejarah masa lalu sebuah Bangsa khusus nya sejarah dari kebesaran bangsa kita  bisa menjadi bekal pengalaman, kekuatan serta  ketetapan hati setiap anak bangsa pada saat ini dan generasi kedepan agar belajar dari sejarah masa lalu, dimana  jangan sekali kali melupakan sejarah ( Jas Merah ) seperti yang di gaungkan Bung Karno dimana segenap anak bangsa  jangan mau lagi diadu domba dalam politik praktis menyangkut konflik agama apalagi dikaitkan antara pemilihan umum sebagai penyaluran hak demokrasi dengan keyakinan agama nya, yang merupakan tindakan pengerdilan akan kecerdasan bangsa ini menyangkut peradapan dan  sejarah masa lalu bangsa ini.  karena leluhur leluhur  kita sudah pernah mengalami nya , dan karena sejarah masa lalu  lah para pendiri bangsa ( Founding Father ) membentuk Dasar negara yaitu Pancasila  sebagai falsafah dan pandangan hidup bangsa yang diadopsi dan diilhami dari nilai nilai luhur masa lalu sebagai bangsa yang Gung Binantoro ( terkenal karena kebesarannya dan keagungan peradapan budayanya ) untuk tetap menjaga toleransi dalam beragama. Saling menghormati sebagai sesama anak bangsa, Demi Indonesia tercinta, yang bersemboyan Bhineka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa.

     

    ========================

     

    Penulis adalah Praktisi Hukum di Jakarta, Penulis dan Pemerhati Masalah-masalah Politik Sosial Budaya Bangsanya
  • Dua Sajak Indah Astryanthi Korebyma: – Serasa Usiamu Hanya Sehari Adik – Sepasang Sandal Jepit –

    Dua Sajak Indah Astryanthi Korebyma: – Serasa Usiamu Hanya Sehari Adik – Sepasang Sandal Jepit –

    DUA PUISI ASTRYANTHI KOREBYMA

     

    Redaksi menerbitkan dua buah puisi karya Astryanthi Korebyma. Puisi pertama, “Serasa usiamu hanya sehari, adik” menggambarkan perasaan kehilangan dan perubahan yang terjadi dalam kehidupan keluarga. Struktur puisi ini dimulai dengan pengantar yang menyebutkan bahwa adiknya, yang disebut “Hijaumu,” memberinya kejutan. Selanjutnya, puisi teruntuk kepada keluarga, mengarah pada pengalaman masa lalu di ladang yang ditanami bersama. Pengalaman ini kini dihadapi dengan kesedihan karena ladang-ladang itu mulai gagal panen, yang menyebabkan ibu menangis dan membuat bapak merenungkan masa depan.

    Puisi kemudian berpindah ke pesan kepada adiknya yang telah meninggal, di mana penutur meminta agar adiknya bahagia dengan pilihan hidupnya, meskipun merelakan kepergian adiknya terasa sulit. Puisi berakhir dengan permohonan agar taman di halaman rumah dan bunga-bunga tetap hijau, sebagai simbol kesetiaan dan kenangan yang mereka rawat bersama.

    Secara keseluruhan, puisi ini menggambarkan perjalanan emosional seseorang dalam menghadapi kehilangan, perubahan, dan menerima takdir dengan penuh ketabahan.

    Puisi kedua, “Sepasang Sandal Jepit” mencerminkan tema tentang kehilangan, kerinduan, dan harapan untuk menyatukan kembali apa yang telah hilang. Seperti sepasang sandal jepit yang tertinggal, puisi ini merujuk pada keadaan di mana sesuatu yang berharga telah hilang atau terpisah.

    Penyair merenungkan tentang ikal (jejak) yang ditinggalkan oleh sandal jepit tunggal, yang mencerminkan kerinduan dan keinginan untuk mengulang kembali masa lalu yang indah. Meskipun waktu terus berjalan dan menghadirkan tantangan (duri) serta perubahan (senja), tokoh dalam puisi ini tetap setia dalam mencari dan menanti, meskipun hasilnya tidak pasti.

    Dengan latar belakang Pelabuhan Larantuka, puisi ini menggambarkan perjalanan emosional seseorang dalam menghadapi kehilangan dan harapan untuk mendapatkan kembali sesuatu yang berarti dalam hidupnya. Hal ini mengajak pembaca untuk merenungkan tentang nilai kesetiaan, ketabahan, dan keyakinan dalam menghadapi perubahan dan tantangan kehidupan.

     

     

    SERASA USIAMU HANYA SEHARI ADIK

     

    Serasa usiamu hanya sehari, adik
    ‘Hijaumu’ mengejutkanku, adik.
    Teruntuk: Familia
    Adik, ladang yang dahulu kita tanami
    pun kita kunjungi saat liburan
    dengan tanah hitam dan sedikit sedih dan pedih
    untuk keluarga dan sanak saudara kita
    masih ingatkah engkau?
    Kini, ladang-ladang itu mulai gagal panen
    Ibu menangis

    Bapak merenung:
    Kapan bisa dituai (lagi)
    hasil ladang yang kau tinggalkan
    bersama sisa usiamu yang begitu hijau?
    Engkau akan belajar
    menanam pada tandusnya tanah milik tetangga

    Kau harus belajar menerima apapun yang
    diperbuat untuk dirimu yang masih belia, seorang diri.
    sungguh, merelakan itu susah, adik
    tapi tak ada cara lain selain melepasmu pergi,
    melihatmu bahagia dengan pilihanmu.

    pintaku, biarkan taman di halaman rumah
    dan daun bunga tetap hijau
    yang pernah dengan setia kau rawat
    bersama nenek dan adikmu.
    Hingga mereka kau temui
    dalam rencana-Nya.

     

    Lewonama, April 2018

     

    =============================

     

    SEPASANG SANDAL JEPIT

     

    Waktu tak bertanggal
    Pada kalender bugenville
    Bersama sepasang sandal jepit
    Yang tertinggal

    Hingga kini, kau masih yang tunggal; ikal
    Dalam guratan penaku; menggumpal
    Sedang kau mengais
    Sisa kisah masa lalu
    Dengan ingin yang menggebu
    Berharap temukan (lagi) yang dahulu
    Pada kalbu yang merindu
    Hingga kita kembali bersatu

    Sampai tiba saatnya
    Senja hendak memaksamu kembali
    Kau enggan, seakan tak mau sudahi hari ini

    Tak jenuh mencari
    Tetap menanti meski tak pasti
    Sampai tiba waktunya
    Duri dan puisi jadi saksi
    Meretas puing kenangan
    Dan melahirkan anak-anak kerinduan.

     

    Pelabuhan Larantuka, Juli 2016

     

    ==================================

     

     

    Tentang  Penyair

     

     

    Astryanthi Korebyma, nama pena dari Agustina. Gadis kelahiran 03 Agustus 1993 ini berdomisili di Larantuka, Flores Timur, NTT. Saat ini bekerja sebagai Staff Tata Administrasi SMAK Frateran Podor – Larantuka. Astry bisa dihubungi melalui FB: Astryanthi Agustina Korebyma, IG: korebyma_acy0308, e-mail : agustinasurat@gmail.com, Nomor HP/WA : 0821 4699 2440.

  • Pertarungan yang Sebenarnya  (Menyikapi Hasil Pilpres 2024)

    Pertarungan yang Sebenarnya (Menyikapi Hasil Pilpres 2024)

     

     

    Oleh Robert Bala

     

    Pilpres dan pileg sudah selesai. Pengumuman Quick Count, terlepas dari kecurigaan di baliknya, yang juga didukung perhitungan real count KPU, maka harus diterima, Prabowo dan Gibran menjadi Presiden dan Wakil Presiden 2024-2029. Gambar keduanya akan dipasang di hampir semua ruang publik.

    Tetapi apakah pertarungan itu selesai? Apakah dengan kemenangan itu maka suara-suara kritis yang ramai menjelang pesta demokrasi itu juga bisa disebut kalah? Apakah persoalan persoalan etik yang cukup ramai dipertanyakan sekadar ‘omon-omon?’

    Tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Tetapi beberapa anomali yang membuat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas semakin tidak mudah dijawab. 

    Pada satu sisi kemenanangan sampai hampir 60% menjadi sebuah pencapaian yang luar biasa. Bahkan ketika hanya ada 2 paslon, Jokowi hanya menang 53,15% (2014) dan naik sedikit menjadi 55,50% di 2019.

    Apakah ini karena faktor kualitas diri Prabowo dan Gibran atau ada faktor X? Fakta empiris justru sangat minim untuk mendukung kesimpulan bahwa kemenangan itu dikarenakan oleh kualitas pribadi Prabowo (apalagi Gibran). Rekam jejak tidak menghadirkan fakta meyakinkan. Yang ada justru janji yang lebih terdengar muluk-muluk.

    Lalu apakah faktor Jokowi sangat berpengaruh? Bisa saja ya. Bansos yang begitu gencar ‘diobral’ pasti ada pengaruh. Tetapi pada sisi lain semestinya ada fakta lain yang meragukan hal ini. Lihat saja PSI yang begitu mengobral gambar Jokowi (bersama Kaesang) dalam bayang-bayang abu-abu di balik aneka foto yang melihat PSI sebagai partainya Jokowi dalam kenyataannya tidak seperti diharapkan. Diprediksi PSI bakal tersingkir.

    Dari sisi PDIP tentu aneka penjelasan harus dicari. PDIP tentu tidak sebatas menyalahkan pihak lain (seperti Jokowi yang seperti ‘kacang lupa kulit). Bahkan keheranan mengapa Jawa Tengah yang jadi ‘markas’ Ginjar seakan dibuat keok. Semuanya ini tentu tidak bisa dipersalahkan semuanya kepada Jokowi. Soalnya faktor internal pun perlu dicari penjelasan. Misalnya saja, kalau massa PDIP itu cukup kuat imannya, tentu godaan itu akan ‘lari lewat’. Yang terjadi selama ini PDIP terlalu merasa nyaman.

    Tidak hanya itu. Selain Jokowi yang bisa dipersoalkan karena ‘air susu dibalas dengan air tuba’, tetapi cara PDIP menyikapi hal ini pun tidak bisa dianggap benar. Upaya menyerang Jokowi ‘habis-habisan’ bisa menjadi salah satu celah. Semua bobrok diumbar yang bukannya mendatangkan keuntungan bagi PDIP tetapi justru membuat Gerindra menuai berkah. Gerinda akhirnya menjadi ‘pembela’ seakan melupakan bahwa tidak begitu lama mereka menyerang Jokowi tanpa ampun.

    Tetapi ada fakta lain yang bisa disebut mencengangkan untuk terus mengaumi PDIP. Meski di pilpres dibuat sepertinya tak berdaya (sama sekali), tetapi dari segi perolehan partai, partai besutan Megawati ini bisa dianggap luar biasa. Pencapaian hampir 17% menyadarkan bahwa fakta ini tidak bisa dianggap hal kecil.  Karena sudah terbukti, PDIP bakal ‘kuat iman’ agar tidak mudah digoyang oleh Jokowi (yang telah tak setia) akan menjadi partai yang bakal menyulitkan Prabowo dan Gibran dalam menunaikan masa pemerintahannya dengan mudah. Prabowo bisa dengan mudah merangkul partai lain yang tidak tahan berdiri di luar pemerintahan tetapi tidak akan mudah merangkul PDIP apalagi berusaha ‘membelai’ Megawati.

    Anomali terakhir tentang Gerindra. Meski Prabowo menang ‘gemilang’, tetapi justru Gerindra sepertinya ‘terseok’. Partai ini tidak seperti PDIP yang selama pilpres 2014 dan 2019 sama-sama menang baik dari segi partai maupun pilpres. Gerindra justru di pileg 2024 hanya menempati posisi ketiga, mundur 1 posisi dari pileg 2019. Itu menunjukkan bahwa secara ke dalam Gerindra tidak akan mudah. Partai ini harus ‘bertandang’ ke partai lain untuk meminta dukungan yang tentu semuanya bukan gratis.  Meski Prabowo tawarkan makan siang gratis kepada 90 juta warganya tetapi tahu bahwa dalam politik tidak ada makan sian gratis.

     

    Tiga Awasan

    Melihat fakta di atas maka sesungguhnya pertarungan sebenarnya baru akan terjadi setelah hasil kemenangan ini dipatenkan. Pertama, kemenangan Prabowo-Gibran meski di tengah kontroversi tetapi cepat akan lambat akan diterima. Tetapi penerimaan itu disertai tanggungjawab yang tidak sedikit. Aneka pelanggaran etik seperti ditetapkan MKMK menunjukkan bahwa hal itu menjadi beban yang tidak kecil. Suara-suara dari kampus hari-hari terakhir sebelum ‘pencoblosan’ membuktikan bahwa kali ini pihak kampus tidak akan ‘sayang-sayang’ pada presiden terpilih.

    Hal ini akan  menjadi pembeda. Bila pada periodenya Jokowi menjadi ‘media darling’ di mana ia selalu menjadi “newsmaker” atau “name makes news”, maka kali ini tidak akan semudah itu. Bahkan di tahun ke-10 dengan putusan ‘etik’  MKMK, apapun yang dilakukan Jokowi yang meski benar pun disalahkan (apalagi kalau salah). Hal itu berbeda sebelumnya. Walau Jokowi melakukan kesalahan pun dianggap benar.

    Hal ini menjadi ‘alarm’ serius bagi Prabowo – Gibran. Hal yang benar saja bakal dipersoalkan hingga menjadi isu negatif apalagi hal yang jelas-jelas bersifat negatif. Kampus akan menjadi kekuatan besar yang membuat ketenangan politik tidak akan mudah dibentangkan pada 5 tahun tersebut. Hal itu mestinya menjadi dorongan agar kualitas kepemimpinan dan profesionalisme benar-benar perlu diberi ruang, hal mana tentu menjadi pekerjaan yang tak semudah yang dibayangkan.

     Kedua, meski kemenangan Prabowo-Gibran tidak lepas dari pengaruh Jokowi tetapi perlu diwaspadai bahwa faktor Jokowi tidak akan terus dipertahankan begitu saja. Fakta bahwa PSI yang nyaris lolos ke Senayan meski sudah ‘mengumbar habis-habisan wajah Jokowi’ menandakan bahwa Jokowi bukan segalanya. Dengan demikian maka diperlukan untuk mengambil jarak dengan menghadirkan kepemimpinan yang ‘khas Prabowo’ meski di dalamnya Gibran sebagai putera Presiden ikut serta.

    Tetapi apakan Prabowo bisa berani mengambil jarak? Tidak mudah menjawabnya. Infrastruktur yang ‘gila-gilaan’ yang dibanggakan dari Jokowi akan menjadi beban karena harus diikuti dengan pengembalian dana pinjamannya. Itu berarti bila ingin lepas dari Jokowi, Prabowo mesti sangat kreatif dalam menata ekonomi dengan pembantu dekat yang inovatif. Persosalannya, ganjalan dukungan parpol akan menjadi hal yang tidak mudah dilakukan karena dalam politik tidak ada makan siang gratis. Lalu dari mana dana besar diperoleh untuk mewujudkan janji-janji manis? Hal itu akan memungkinkan bahwa bayang-bayang Jokowi tidak akan mudah dilepas begitu saja tetapi pada saat yang sama menjadi duri dalam daging.

    Yang terakhir, kondiri internal yang tidak terlampau kuat akan menghadapkan Prabowo-Gibran pada fakta tentang ‘opisisi’ yang tidak akan membuat mereka tenang. Mereka akan berhadapan dengan kenyataan bahwa yang tidak memilih Prabowo-Gibran justru akan mengawal suaranya. Seperti kata George Carlin bahwa mereka akan mengawal suaranya tetapi juga para pendukung pun akan meminta pertanggungjawaban:  If you don’t vote, you lose the right to complain. Mereka justru bakal menuntut karena sudah memberikan suaranya.

    Tidak hanya itu. Kampus akan ‘turun’ dan ikut dalam barisan orang yang mengawal dan menuntut. Karena itu terbayang bahwa usai pilpres dan pileg, justru pertarungan sebenarnyalah yang terjadi. Tetapi dengan mengurai panorama yang tak positif tidak berarti mengingingkan agar hal itu terjadi. Justru sebaliknya dibeberkan demikan agar awasan itu diharapkan tidak terjadi.

     

    ————————–

     

    Robert Bala, Diploma Resolusi Konflik Asia Pasifik Facultad Ciencia Politica Universidad Complutense de Madrid Spanyol.

  • Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kami Senang Mendaki Bukit-bukit Rohani – Sepi Kapan Mencair – Perkawinan Membusuk –

    Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kami Senang Mendaki Bukit-bukit Rohani – Sepi Kapan Mencair – Perkawinan Membusuk –

     

    KAMI SENANG MENDAKI BUKIT-BUKIT ROHANI

     

    kami senang
    mendaki bukit-bukit rohani
    sepanjang dua puluh enam tahun
    keluar dari air dosa
    kolam baptisan
    bertubuh lumut
    hitam legam

    kadangkala kaki kami
    sering terjebak
    dalam panas membara
    api belerang
    berbau kecacatan
    sperma tunggal

    kami senang mendaki bukit-bukit rohani
    dalam rumah sengketa
    yang dihuni ratusan kecoa
    pecahan kaca di atas kepala

    bacaan mantera
    dalam tanah
    berakar sampah perzinahan
    berhamburan kesedihan
    kepanikan tertinggal
    di atas meja surat perkawinan

    rajin ibadah
    disodorkan pelayanan
    kadang telanjang kemarahan
    pada bangunan yang telah ditahbiskan
    tanpa papan nama
    dalam kota tua
    dekat terminal bus ledakan bom ransel

    nyaris mencuri nyawaku
    yang kian terluka parah
    kini telah kehilangan
    jabatan orang lewi
    maupun roh semangat
    dibanting di atas tanah berkarat

    kami senang mendaki bukit-bukit rohani
    mengalir dari puncak gunung berapi
    ada di sekitar kehidupan
    masa dewasa pandai berpuisi ria
    sampai kami menjadi
    manusia yang tumbuh subur
    dipeluk kitab suci
    setiap pagi

    sungguh
    kami senang mendaki
    bukit-bukit rohani

    Jakarta, Minggu 11 Februari 2024

    —————————

     

    SEPI KAPAN MENCAIR

     

    sunyi merayap
    sepi tiarap
    hening berharap
    hidup nyaris kiamat

    aku bertanya lagi,
    tetapi pertanyaanku yang membeku
    membentur jidat para pejabat
    tak mau lagi berjabat erat

    ketika berita kusebar
    makin berkarat
    ketika siaran kudendangkan
    makin melarat

    dengarlah,
    oi, para pewarta
    oi, para pujangga
    di ujung otot usia menua
    di muara ibu negeri
    hijrah tumpah ruah

    sepi
    kapan mencair
    akankah sampai
    tiba
    nyawa kita turun ke liang bumi
    orang-orang mati
    tak punya lagi
    pengharapan
    kepastian

    Jakarta, Rabu, 31/1/2024

    ——————————————

     

    PERKAWINAN MEMBUSUK

     

    perkawinan ini makin membusuk-
    dipahat dengan air liur amarah berkepanjangan
    dibenturkan suara jeritan ratusan hewan buas
    yang muncul tiba-tiba
    karena selalu ada kabar
    kemurtadan hari kemarin

    lalu segera dimasaknya
    bumbu dan menu perkawinan
    dalam dapur perapian
    tempat para pendekar iblis
    bertarung mau turun
    ke dunia paling sunyi

    nyaris menjelma menjadi seekor matahari terbenam
    bintang-bintang berguguran
    hari ketujuh jadi pesakitan
    disiram air keras
    sekeras hatinya yang kian
    membatu

    setelah melewati aliran-aliran sungai penghakiman
    maka perkawinan harus menghadap pengadilan

    semoga ada pasukan balatentara dari langit
    yang mau jadi pembela
    sehingga nama kita jangan sampai terhapus
    dari kitab kehidupan
    dari ayat-ayat suci hapalan
    dari Tuhan yang masih kendali perkawinan

    Jakarta, Senin, 22-1-2024

    ———————————————–

    ——————————————————-

    Tentang Penyair

     

    Pulo Lasman Simanjuntak, karya puisinya telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal dan 26 buku antologi puisi bersama. Kini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 diberi judul Meditasi  Batu. Sering diundang membaca puisi di PDS.HB. Jassin, TIM, Jakarta. Bekerja sebagai.wartawan beritarayaonline.co.id dan harianterbitonline.id, sekarang bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
    Kontak person : 08561827332 (WA)
    Email : pulo_lasman@yahoo.com
    Medsos :
    IG: Lasman Simanjuntak
    Facebook: Bro
    Youtube: Lasman TV
    Tik Tok: Lasman Simanjuntak

  • Pilpers 2014  dan  Kita

    Pilpers 2014 dan Kita

    Ignas Kleden 

     

     

    Pada 9 Juli 2014 rakyat Indonesia akan memilih calon yang menjadi presiden mereka untuk lima tahun mendatang. Para pemilih akan berhadapan dengan tanggung jawab yang lebih besar dibandingkan dengan pilihan yang mereka lakukan terhadap anggota DPR, misalnya.

    Kita tahu ada 560 kursi di DPR untuk para legislator terpilih. Seandainya di antara jumlah itu ada 260 anggota Dewan terpilih yang ternyata tidak sanggup menjalankan tugas dengan baik, kekurangan mereka masih dapat dikompensasi oleh 300 anggota lainnya yang dengan tanggung jawab, kompetensi, dan dedikasi melaksanakan fungsi legislasi, pengawasan, dan penganggaran sebagai tugas anggota Dewan. Risiko dalam memilih calon memang ada, tetapi diperkecil oleh kehadiran dan kinerja calon lainnya. Hal ini tidak berlaku pada pemilihan presiden karena yang menjadi presiden hanya satu orang. Seandainya presiden terpilih tidak menjalankan tugasnya dengan benar, tidak ada pihak lain yang dapat mengimbangi kelemahannya, dan seandainya dia melakukan hal-hal yang tidak diharapkan, hal itu harus ditanggung seluruh rakyat Indonesia selama lima tahun, karena tak ada mekanisme politik untuk menurunkan presiden dari jabatannya di tengah jalan.

    Impeachment hanya mungkin dilaksanakan dalam keadaan yang amat sangat langka, yaitu kalau presiden terbukti melanggar konstitusi atau terlibat dalam suatu skandal besar. Ini semua berarti, para pemilih presiden mempunyai tanggung jawab yang amat besar karena pilihan yang mereka lakukan akan membawa akibat bukan hanya buat diri mereka sendiri, melainkan juga buat banyak orang lain, bahkan untuk seluruh rakyat dan masyarakat Indonesia. Memilih presiden sama dengan menentukan hitam-putihnya masa depan seluruh bangsa dan jatuh-bangunnya negara Republik IndonesiaI.

    Apa pun soalnya, pemilihan presiden bukanlah teka-teki yang hanya bisa ditebak, tetapi keputusan yang dibuat oleh para pemilih berdasarkan preferensi setiap orang entah karena alasan pribadi, ideologi, atau karena pengaruh lingkungan. Apakah ada kriteria yang dapat menjadi pegangan dalam melakukan pilihan? Pemilihan presiden bukan sekadar tindakan pribadi, melainkan juga tindakan politis yang berhubung dengan pertimbangan politik dan membawa akibat politik.

    Visi dan misi umpamanya disusun dan disosialisasikan oleh seorang calon presiden dan para pendukungnya agar para pemilih tahu apa kira-kira yang akan dilakukan seorang calon presiden apabila dia diberi mandat oleh rakyat menjadi presiden mereka. Visi dan misi menunjukkan apa yang hendak dilakukan dan ingin dilakukan, meskipun belum menunjukkan apakah seorang presiden sanggup melaksanakan apa yang dikehendakinya menurut visi dan misi yang diumumkan.

    Kalau kita membaca visi dan misi kedua calon presiden saat ini, cukup jelas bahwa keprihatinan dasar kedua calon tak banyak bedanya: kesejahteraan rakyat, penguatan kebangsaan, dan tegaknya Indonesia sebagai negara dan bangsa yang berdiri sama tinggi, duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Ini tidak mengherankan karena baik Prabowo maupun Jokowi sama-sama nasionalis dalam orientasi politik mereka. Langsung atau tidak keduanya diilhami gagasan Bung Karno tentang Trisakti, yakni daulat dalam politik, mandiri dalam ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan. Perbedaan baru terlihat dalam cara yang ditempuh untuk mencapai tujuan mereka.

     

    Berbasis materiil kebudayaan

    Dengan perspektif kebudayaan, saya cenderung berpendapat bahwa visi dan misi Prabowo bertolak dari perubahan basis materiil kebudayaan. Yang hendak dilakukan adalah menggerakkan semacam revolusi pertanian dalam ukuran kecil. Menurut rencana, akan dibuka 2 juta hektar lahan baru untuk produksi pangan dengan menyerap lebih dari 12 juta tenaga kerja. Selanjutnya, akan dicetak 2 juta hektar lahan untuk aren, ubi kayu, sagu, kelapa, kemiri, dan bahan baku untuk bioetanol, juga dengan menyerap lebih dari 12 juta tenaga kerja. Produktivitas pertanian rakyat, peternakan dan perikanan akan ditingkatkan dengan menambah dana riset sebanyak Rp 10 triliun selama periode 2015-2019.

    Dalam bidang infrastruktur dasar akan dibangun jalan dan jembatan, termasuk 3.000 kilometer jalan raya nasional baru dan modern serta 4.000 kilometer rel kereta api. Untuk rakyat yang belum punya rumah, akan disediakan perumahan bagi 15 juta orang, dan satu juta unit rumah susun yang dapat dicicil selama 20 tahun. Hutan yang rusak akan dihijaukan kembali dengan reboisasi 77 juta hektar. Bahkan, pendidikan hendak ditingkatkan mutunya dengan perbaikan pada basis materiil, baik dengan memberi dana perbaikan fasilitas pendidikan sebesar Rp 150 juta per sekolah untuk pendidikan dasar dan menengah maupun dengan mengalokasikan Rp 20 triliun dari APBN untuk pendidikan universiter selama 2015-2019. Jumlah guru akan diperbanyak dengan merekrut 800.000 guru selama lima tahun dan profesi guru akan diberi tunjangan rata-rata Rp 4 juta per bulan.

    Perubahan-perubahan yang hendak dilakukan oleh Prabowo dicoba dilaksanakan melalui proyek-proyek berskala besar dengan ukuran yang ditetapkan secara kuantitatif. Sama sekali belum jelas bagaimana visi mengenai dampak sosial dan biaya sosial dari perubahan-perubahan itu. Apakah perubahan pada basis materiil kebudayaan mendapat dukungan atau resistensi pada basis sosial dan basis mental kebudayaan? Patut dipikirkan, apakah pembukaan 4 juta hektar lahan baru benar-benar menyentuh kepentingan rakyat yang perlu lapangan kerja, atau bahkan mengakibatkan munculnya landlords, yaitu penguasa lahan yang baru, dan oligarki baru dalam bidang pertanian?

    Pertanyaan ini berlaku juga untuk pembangunan rumah bagi 15 juta rakyat yang belum mempunyai rumah dan pengadaan satu juta unit rumah susun. Menurut pengalaman masa lalu, menggenjot pertumbuhan ekonomi dalam bidang apa pun selalu lebih dapat tertangani daripada membereskan persoalan pemerataan dan redistribusi pendapatan. Mungkin semua ini sudah dipikirkan oleh Prabowo dan timnya, tetapi belum terlihat dalam visi dan misi yang diumumkan kepada publik.

     

    Perubahan pada manusianya

    Calon presiden Jokowi, sebaliknya, ingin memulai perubahan pada manusianya. Dia menyebutnya revolusi mental dan perubahan dalam pembentukan karakter bangsa. Rencana ini mungkin akan diimplementasikan melalui berbagai cara, tetapi cara yang sudah dijelaskan dalam visi dan misi adalah melalui kurikulum di sekolah. Akan diadakan pembalikan total proporsi pendidikan karakter dalam perbandingan dengan pengajaran ilmu pengetahuan pada berbagai tingkat pendidikan formal. Asasnya, semakin rendah tingkat pendidikan (seperti PAUD atau SD), semakin kecil porsi pengajaran ilmu pengetahuan dan semakin besar porsi pendidikan karakter. Sebaliknya, semakin tinggi tingkat pendidikan, semakin besar porsi pengajaran ilmu pengetahuan dan semakin kecil porsi pendidikan karakter (yang diharap sudah terbentuk pada tingkat pendidikan sebelumnya).

    Tentu saja besar kecilnya proporsi pendidikan karakter dan pengajaran ilmu pengetahuan akan ditetapkan dengan bantuan para ahli pendidikan dan ahli psikologi. Akan tetapi, untuk contoh saja, hal itu dapat diilustrasikan sebagai berikut. Pada tingkat SD perbandingannya 80 persen pendidikan karakter dan 20 persen pengajaran ilmu pengetahuan. Proporsi ini akan berubah sesuai dengan naiknya tingkat pendidikan, sehingga di universitas proporsinya menjadi terbalik, yaitu 80 persen pengajaran ilmu pengetahuan dan 20 persen pendidikan karakter. Usul ini boleh dianggap suatu revolusi dalam bidang pendidikan, karena sudah puluhan tahun para perencana pendidikan di Indonesia seakan terbuai oleh ilusi bahwa segala tingkat pendidikan di sekolah harus dijejali dengan pengajaran ilmu pengetahuan. Anak-anak SD memikul tas penuh buku di punggungnya, seakan mereka adalah mahasiswa doktoral yang tengah menulis disertasi atau peneliti yang sedang mengecek teori penelitiannya.

    Pada titik ini, pendidikan menjadi contoh terbaik bahwa tanpa mengubah basis mental dan basis sosial, perubahan pada basis materiil pendidikan (misalnya penambahan dana besar-besaran) tidak akan membawa perbaikan, dan sangat mungkin memperburuk keadaan. Kalau kesalahan dalam orientasi pendidikan nasional dan kebijakan yang keliru tidak dibenahi terlebih dahulu, penambahan dana pendidikan malahan memungkinkan terjadinya semakin banyak penyelewengan yang berasal dari orientasi dan kebijakan pendidikan yang tidak sesuai dengan hakikat pendidikan. Kalau buku pelajaran bisa diperbarui setiap tahun, penambahan dana pendidikan akan memungkinkan pencetakan buku-buku pelajaran baru yang serba coba-coba dan dalam praktiknya semakin menambah kebingungan, bukan saja di antara murid, melainkan juga di kalangan guru-guru mereka.

    Sudah sejak abad ke-19 ahli bahasa dan filosof pendidikan Jerman, Wilhelm von Humboldt, memberi definisi pendidikan tinggi yang masih dipegang teguh oleh banyak universitas di Jerman hingga sekarang. Menurut filosof ini, hakikat pendidikan tinggi di universitas adalah Bildung durch Wissenschaft atau pendidikan melalui ilmu pengetahuan. Hanya di universitaslah pendidikan memakai ilmu pengetahuan sebagai sarananya, sedangkan tingkat pendidikan yang lebih rendah memakai banyak sarana lain di samping pengajaran ilmu pengetahuan.

    Sarana-sarana lain tersebut dapat berbentuk bermain, olahraga, kerajinan tangan, melukis, berlatih musik dan bernyanyi, tarian dan drama, berdebat dan berpidato atau membaca puisi, pendidikan agama dan budi pekerti, serta berbagai sarana lainnya. Dengan demikian, menjejali otak anak-anak SD dengan berbagai pengajaran ilmu pengetahuan akan menjurus ke suatu materialisme pedagogis yang hanya menghasilkan informasi, tetapi mengabaikan formasi sebagai inti pendidikan.

    Selain pendidikan, hal lain yang mencolok dalam visi dan misi Jokowi ialah perhatian utama yang amat nyata pada golongan yang paling terpinggirkan dalam pembangunan: nasib pulau-pulau terdepan dan para guru di daerah terpencil, keadaan para TKW di luar negeri yang hampir tanpa perlindungan, pedagang kaki lima dan pasar tradisional, para petani gurem yang hendak ditingkatkan kepemilikannya atas lahan pertanian dari rata-rata 0,3 hektar menjadi 2 hektar per kepala keluarga, keterlibatan kaum perempuan yang perlu didorong menjadi tulang punggung dalam kedaulatan pangan, dan adanya 1.000 desa yang mempunyai kedaulatan pangan hingga 2019.

    Kita mungkin teringat peribahasa yang mengatakan bahwa kekuatan rantai selalu ada pada mata-rantai yang paling lemah, karena bagian inilah yang menentukan apakah rantai itu dapat digunakan atau harus dibuang karena mudah putus. Dengan kata lain, slogan putting the last first rupanya menjadi sebuah sikap politik dalam visi Jokowi tentang pembangunan.

    Hal lain yang amat penting dan belum mendapat cukup perhatian ialah hubungan di antara seorang pemimpin dengan kekuasaannya. Kekuasaan tak terhindarkan dalam politik karena menjadi sarana utama agar suatu pemerintahan dapat bekerja dan mewujudkan berbagai kebijakan publiknya. Akan tetapi, semenjak masa hidup Lord Acton (ingat adagiumnya power corrupts?), kita sudah belajar bahwa kekuasaan dapat diibaratkan juga sebagai sejenis penyakit yang dapat merusak sehatnya kehidupan sosial-politik.

    Ada dua sifat penyakit ini yang sudah terbukti dalam sejarah dunia, yaitu kecenderungan kekuasaan untuk selalu memperbesar dirinya dan enggan atau tak sanggup membatasi dirinya, serta kecenderungan lain untuk selalu membenarkan diri dan enggan atau tak sanggup mempersalahkan dirinya. Dalam kaitan itu, ada pemimpin dengan tingkat kerentanan yang tinggi terhadap penyakit itu, dan ada pula yang lebih imun terhadap bahaya penyakit kekuasaan. Seorang yang rentan dapat diubah oleh kekuasaan menjadi pribadi yang lain sama sekali dari yang kita kenal sebelumnya dan sulit diramalkan tindak tanduknya. Memilih pemimpin dengan tingkat imunitas yang tinggi terhadap penyakit kekuasaan adalah jalan terbaik untuk menjamin masa depan yang dapat diramalkan karena adanya pola kepemimpinan yang tidak dikacaukan oleh watak kekuasaan.

     

    —————————————————–

     

    Sumber Tulisan: Kompas, 08 Juli 2014