Category: UMUM

  • Kebudayaan dan Antisipasi

    Kebudayaan dan Antisipasi

     

    Oleh  Ignas Kleden

     

    KALAU dikaji agak mendalam, akan kelihatan bahwa antisipasi dan sikap reaktif merupakan dua watak dasar dalam suatu kebudayaan.

    Kebiasaan untuk melakukan antisipasi muncul dari pengandaian (eksplisit atau laten) bahwa dalam tiap keadaan, rencana, dan program akan selalu muncul kesulitan, hambatan, dan masalah yang sepatutnya dihadapi dengan semacam persiapan. Kesiapan menghadapi perkiraan tentang masalah dan kesulitan yang bakal muncul dilakukan dengan mengalkulasi beberapa jenis masalah berdasarkan kategori yang disusun untuk keperluan ini, dan sekaligus menyiasati sejumlah ikhtiar untuk mengatasi kesulitan-kesulitan itu apabila benar-benar muncul.

    Pertama, masalah dapat muncul dari pelaksanaan suatu program atau kebijakan sekalipun program itu dilaksanakan dengan baik sesuai dengan rencana. Hampir selalu muncul akibat-akibat yang tak sengaja dan tak terduga dari pelaksanaan suatu program. Sosiologi menyebutnya unintended results atau akibat yang muncul di luar rencana. Pelaksanaan otonomi daerah sejak Januari 2001 dimaksudkan untuk mengurangi sentralisme kekuasaan pemerintah pusat dan desentralisasi pemerintahan ke daerah, melalui delegasi wewenang yang lebih besar kepada kepala daerah (bupati atau wali kota).

    Akibat yang tak diduga ialah penerapan otonomi daerah kemudian mengakibatkan menguatnya sentimen-sentimen kedaerahan, baik menurut garis etnis, garis wilayah, garis agama, maupun garis kekerabatan. Konflik-konflik sosial dalam banyak pilkada telah turut disulut oleh sentimen-sentimen ini.

    Kedua, masalah dapat muncul karena sebuah program atau kebijakan diselewengkan melalui sejumlah intervensi dalam pelaksanaannya. Pemilihan kepala daerah secara langsung tentu dimaksudkan untuk memberi kesempatan kepada masyarakat lokal untuk memilih pemimpin yang sesuai dengan aspirasi dan harapan mereka dan tingkat keterpilihannya dapat mereka pengaruhi melalui suara yang mereka berikan dalam pemilihan. Dengan kata lain, memberi peranan lebih besar kepada partisipasi politik masyarakat setempat. Namun, dalam pelaksanaan, partisipasi pemilih itu dikacaukan penggunaan uang untuk menyogok para pemilih, dengan akibat pemilih menjadi tidak bebas dalam memberikan suara, dan tidak memilih pemimpinnya menurut pertimbangan dan hati nurani mereka. Ketiga, masalah dapat juga timbul karena muncul perkembangan baru yang memengaruhi pelaksanaan suatu kebijakan dan program, yang disusun pada waktu perkembangan baru itu belum terjadi. Contoh yang paling mutakhir ialah berubahnya banyak kerja sama dalam hubungan Indonesia–Australia, dalam bidang diplomasi, politik, ekonomi, dan pertahanan setelah terungkap penyadapan telepon Presiden Indonesia dan beberapa petinggi RI lainnya pada 2009 oleh pihak intelijen Australia.

     

    Antisipasi dan kesiapan

    Orang-orang yang terbiasa pada antisipasi terbiasa juga menghitung dan membayangkan masalah dan kesulitan yang mungkin muncul dalam pelaksanaan suatu program serta menanggapinya sebagai hal yang tidak luar biasa dan tidak harus mengejutkan, tetapi patut dihadapi dengan ikhtiar yang sepadan. Inilah sebabnya monitoring dan evaluasi selalu ditetapkan sebagai bagian penting dalam manajemen suatu proyek. Monitoring berfungsi melihat berhasil atau gagalnya suatu proyek pada tingkat implementasinya, sementara evaluasi melihat kelayakan proyek itu berdasarkan kebutuhan yang ada, kemungkinan yang tersedia, dan hambatan-hambatan yang timbul, bukan saja secara teknis, melainkan juga secara strategis dan mungkin juga politis. Yang satu mengecek doing things right, yang kedua memeriksa doing the right things.

    Sebaliknya, tidak kurang pula orang-orang yang lebih cenderung tidak melihat masalah, acuh terhadap kesulitan yang timbul, dan mengandaikan bahwa program akan berjalan mulus dan lancar, selama dilaksanakan sesuai dengan rencana yang telah disusun. Sikap ini dapat dilihat dalam kebiasaan untuk memulai suatu proyek dengan ritual yang meriah, yang dihadiri pejabat-pejabat tinggi dan rendah, yang memperlakukan awal suatu kerja besar bagaikan perayaan ulang tahun, yang penuh karangan bunga dan tepuk tangan disertai kehangatan ciuman pipi kiri dan kanan.

    Kebiasaan memulai pekerjaan besar dengan suasana yang riuh rendah dan bukan dengan penuh kehati-hatian, perhitungan dan kesiapan menghadapi rintangan, merefleksikan semacam alam pikiran, di mana kesulitan dan masalah tidak ditanggapi sebagai sesuatu yang normal dan harus diterima dengan wajar dan waras, tetapi merupakan penyimpangan atau deviasi dari rencana yang seharusnya berjalan serba mulus. Masalah dan kesulitan tidak dilihat sebagai bagian dari pelaksanaan program, tetapi sebagai keadaan eksternal yang tidak normal, dan bahkan merupakan contingency yaitu keadaan tak pasti yang muncul mendadak secara serba kebetulan.

    Untuk mudahnya, bisa dikatakan, kelompok pertama memasukkan antisipasi dalam sikap budaya mereka, sedangkan kelompok kedua cenderung hanya bersikap reaktif terhadap keadaan yang dikiranya muncul mendadak dan kebetulan. Dilihat dalam perspektif waktu, mereka yang berantisipasi mempunyai mekanisme kejiwaan untuk melihat hidupnya pada masa sekarang selalu dalam hubungan erat dengan masa depan, dan dampak masa depan terhadap keadaan sekarang. Sebaliknya, mereka yang memandang hidupnya tanpa persoalan cenderung membatasi perhatiannya pada masa sekarang saja, sedangkan masa depan berada jauh di luar masa sekarang dan tidak banyak sangkut pautnya dengan masa sekarang.

    Dalam kehidupan sosial-politik di Indonesia, ada beragam contoh yang memperlihatkan dengan cukup jelas sikap tanpa antisipasi dan kebiasaan untuk memberikan reaksi sekadarnya apabila memang muncul masalah dalam pelaksanaan program atau kebijakan. Dalam kaitan ini, sangat mungkin bahwa kepemimpinan Jokowi-Ahok di DKI Jakarta mendapat banyak dukungan dan simpati karena keduanya, secara sengaja atau tidak, telah mengubah kebiasaan pemerintah yang hanya reaktif terhadap masalah yang timbul, melalui antisipasi yang terukur dan diperhitungkan dalam rencana dan kinerja mereka.

    Masalah banjir umpamanya telah muncul selama puluhan tahun di Jakarta, tetapi Pemerintah DKI seperti kelabakan setiap kali menghadapinya, dan akhirnya menyerahkan saja kepada warga untuk menyelamatkan diri dengan caranya masing-masing. Bagi orang yang bukan ahli pun sudah jelas antisipasi apa yang perlu dilakukan untuk menghadapi masalah banjir. Memang, banjir di Jakarta adalah masalah amat besar yang perlu ditangani dengan kebijakan nasional dan dukungan pemerintah pusat. Namun, kalau banjir belum bisa dihentikan segera, ada banyak hal lain yang dapat dilakukan untuk memperkecil akibatnya dan mengurangi risiko yang menimpa penduduk.

    Pemerintah Jokowi-Ahok membaca situasi itu dengan baik dan mengambil tindakan yang langsung dirasakan manfaatnya oleh penduduk Jakarta. Tanpa banyak pidato mereka mengamankan daerah penyerapan hujan, seperti Pluit, setelah berhasil membujuk penduduk pindah ke tempat baru yang disediakan Pemerintah DKI. Ini dilakukan dengan tegas, tetapi sopan.

    Gorong-gorong dibersihkan dan diperlebar, serta sungai dan kali digali, diperdalam dan diperlebar, yang semuanya dilakukan dalam dialog yang terus-menerus dengan penduduk Jakarta agar menerima dan mendukung kebijakan mereka. Mereka juga tidak meributkan yang dilalaikan pemerintah sebelum mereka karena orientasi adalah masa sekarang yang dibangun berdasarkan antisipasi ke masa depan.

    Pada tingkat nasional, pemerintah mengalami kesulitan dalam mempertahankan dan melanjutkan subsidi bahan bakar minyak. Anehnya, tidak ada regulasi tentang pembelian dan pemakaian mobil dengan mesin yang ukurannya banyak menyedot bahan bakar minyak (BBM). Pasar mobil dibiarkan bergerak dengan sangat liberal, padahal sudah ada contoh yang baik dan bisa ditiru dari zaman pemerintahan Presiden Soeharto. Ketika terjadi krisis energi pada tahun 1970-an, dikeluarkan peraturan oleh Pemerintah Orde Baru, yang melarang impor dan produksi mobil dengan mesin yang melebihi 3.000 cc.

    Sekarang ini pembelian dan pemakaian mobil seakan diserahkan saja kepada kemampuan keuangan dan preferensi gaya hidup setiap orang dan bukan berdasarkan pertimbangan tentang kemampuan negara dalam melakukan suplai BBM berdasarkan stok yang ada. Muncul kemudian reaksi ad hoc seperti bantuan langsung tunai yang boleh dikata tidak lebih fungsinya daripada menjadi pain killer untuk penderitaan rakyat karena naiknya harga BBM, tetapi pastilah bukan resep untuk mengatasi kesulitan menyangkut BBM.

    Hal yang sama dapat dikatakan tentang listrik. Jusuf Kalla, ketika masih menjabat Wakil Presiden dalam periode pertama pemerintahan Presiden SBY, pernah mengemukakan gagasan bahwa Indonesia memerlukan pembangkit tenaga listrik yang dapat menghasilkan tambahan 10.000 MW listrik untuk mengatasi gejala byarpet yang berulang kali terjadi. Setelah Jusuf Kalla tidak lagi menjadi wakil presiden, gagasan itu seperti dibawa angin lalu dan tidak kelihatan usaha untuk merealisasikannya. Bangsa kita tidak terbiasa dengan antisipasi dan kembali kepada kebiasaan lama untuk memberikan reaksi-reaksi ad hoc, seperti pemadaman bergilir dari tempat yang satu ke tempat yang lain, dan memberi kesan Jakarta yang mentereng, berubah menjadi desa di pedalaman pada waktu malam.

    Contoh-contoh seperti ini dengan mudah dapat dipungut dari kebijakan pemerintah kita dalam sektor mana pun, tetapi intinya relatif sama, yaitu kecenderungan untuk hanya memberikan reaksi kalau sudah muncul masalah dan bukannya menyambut masalah secara kreatif karena ada antisipasi yang memperhitungkan kemunculan masalah-masalah dalam suatu kebijakan.

     

    Pergeseran mental

    Sebetulnya antisipasi bukanlah sesuatu yang susah-susah amat untuk dilakukan. Untuk dapat menginternalisasi kebutuhan dan kebiasaan antisipasi, dibutuhkan beberapa pergeseran secara mental.

    Pertama, perlu diubah anggapan mengenai kebudayaan ataupun mengenai ekonomi dan politik. Kebudayaan tidak saja mengandung harmoni, tetapi juga mengandung potensi-potensi konflik, yang harus dikelola secara produktif. Ekonomi dan politik tidak selalu berjalan mulus, tetapi mengundang masalah dan kesulitan yang harus dihadapi dengan persiapan dalam antisipasi yang memperhitungkannya dan komitmen untuk mengatasi masalah apabila benar-benar muncul dalam perjalanan waktu.

    Kedua, perspektif waktu dalam kebudayaan Indonesia perlu dipertajam, baik mengenai masa lampau, masa sekarang, dan masa depan serta kaitan yang ada di antaranya. Bahasa Indonesia tidak banyak menolong menanamkan perspektif waktu karena dalam sintaksis bahasa kita yang ada hanya masa sekarang, dan tidak ada masa lampau dan masa depan. Ini juga barangkali sebabnya kalau seorang pemimpin mengatakan akan menurunkan tingkat kemiskinan, karena tipuan bahasa, dia cenderung percaya bahwa dia sudah atau sedang menurunkan tingkat kemiskinan karena perspektif masa lampau dan masa depan hanya ditunjuk dengan kata keterangan seperti “sudah”, “akan”, dan semacam itu.

    Kemampuan antisipasi pada akhirnya adalah indikator kebudayaan tentang kedewasaan suatu bangsa, apakah dia akan menghadapi masalah dengan terkejut dan emosional atau dia akan menanggapinya secara rasional dan siap mengatasinya.****

     

    —————————

     

    Ignas Kleden, Sosiolog

    Sumber Tulisan  Kompas, Kamis, 28 N9venber 2013.

     

     

     

     

  • Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri:  Puisi adalah Kesaksian Manusia Lewat Kata-Kata

    Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri: Puisi adalah Kesaksian Manusia Lewat Kata-Kata

     

    Jakarta berandanegeri.com. ” Puisi adalah kesaksian manusia lewat kata-kata,” ujar Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri (SCB) pada acara diskusi sastra dan bedah buku antologi puisi tunggal Impromtu Terzina karya Ewith Bahar di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB.Jassin, Lantai 4, Gedung Ali Sadikin, Taman Ismail Marzuki (TIM) di Jakarta, Kamis sore (30/12/2023).

    Ket. Foto: Sutardji Calzoum Bachri

     

    Dikatakan lagi oleh SCB, berkaitan dengan puisi yang mula-mula adalah kata, dan puisi menambah pertambahan makna. “Makna di dalam puisi adalah nikmat, dan kata-kata tersebut adalah nikmat.Elaborasi dari kata nikmat itu penting karena dapat membawa pengadaan makna sebab hidup adalah pelaksanaan sebanyak.mungkin makna-makna.Puisi adalah kesaksian manusia lewat kata-kata,” ucapnya.

    Seperti diketahui buku antologi puisi Impromtu Terzina karya Ewith Bahar keluar sebagai juara pertama sayembara Hari Puisi Indonesia (HPI) tahun 2023 yang diselenggarakan oleh Yayasan Hari Puisi, berhadiah Rp 50 juta.

    Menurut Maman S Mahayana hadiah sebesar Rp 50 juta tersebut merupakan penghargaan terhadap penciptaan sebuah karya puisi. ”Karena karya puisi memiliki nilai tinggi dan bermartabat. Bahkan negeri ini terbentuk dari puisi dan kata.Puisi Ewith Bahar sangat kuat di metafora,” kilahnya.

    Octavianus Masheka, Ketua Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI) pada kesempatan acara – yang menghadirkan moderator Kurnia Effendi – memberi kata sambutan. “Acara diskusi dan bedah buku antologi puisi Impromtu Terzina karya Ewith Bahar bukan merupakan  produksi TISI. Meskipun yang selenggarakan Dewan Kesenian Jakarta atau Kumite Sastra, Kang Maman dan Bang Tardji harus mempertanggungjawabkan kenapa buku antologi puisi Ewith Bahar bisa keluar sebagai juara satu, “tegasnya.

     

    Sayembara Buku Puisi

    Sementara itu Maman S Mahayana, secara panjang lebar dan sistematis menjelaskan tentang sayembara buku puisi Yayasan Hari Puisi yang meliputi latar belakang, latar depan, persyaratan, hadiah dan  dewan juri.

     

    Ket. Foto: Maman S Mahayana

     

    BANJIR

    Di kolam raksasa zaman mutakhir

    Tak ada ikan mas, kecuali mobil-mobil

    Menggeliat-geliat dipermainkan deras air

     

    GEMURUH AIR KALI

    Bunyi gemuruh air kali

    datang dari celah malam buta

    esoknya riuh ramai kamar pengungsi

     

    KEAUTENTIKAN

    Bangunan Kecil yang Indah

    Kesadaran estetik

    Menegaskan konsep

    Kredo atau pengantar

    Judul sebagai lanjaran memasuki tema

     

    Trilin (three line): tiga larik

    Berirama: a-b-a

    “…obat ketenangan batin, kebahagiaan, dan

    harapan.”

    … tidak menulis pesimisme, ketakutan,

    kesangsian.

    … tidak menulis yang muluk-muluk, gagah

    perkasa, keputusasaan

    … hanya menuliskan kesederhanaan .

     

    KEPADUAN

    Penyusunan

    Judul sebagai bagian dari isi

    Kekompakan hubungan antarpuisi

     

    BEETHOVEN

    Kendati hidup tajam seperti tikam

    ditekannya kuat hasrat bunuh diri pada tuts

    melodi mengalir, indah menghujam

     

    KEDALAMAN

    Wawasan pengetahuan, keluasan bacaan

    Puisi memberi—menawarkan banyak hal

     

    IMPROMPTU TERZINA

    Impromptu—improvisasi …

    Terzina—puisi tiga larik

    Impromptu Terzina: Improvisasi tematik dalam

    tiga larik

     

    KEMATANGAN

    Diksi: metafora, paradoks, simbolisme, dst.

    Permainan kata, frasa, kalimat

     

    METAFORA PENULIS KECIL DAN PENULIS BESAR

    PK: “Menuliskan SEMUA yang diketahui”

    PB: “Mengetahui SEMUA yang dituliskan”

     

    CATATAN

    Proporsionalitas

    Urutan dan pilihan tema

    Jejak penyair

    Konsep improvisasi:

    “Tema sebagai inspirasi atau sebagai pemantik?

    Permainan antar larik. Larik ketiga sebagai pesan, tema, jawab atau mempertahankan konsistensi,” pungkasnya.(*)

    Kontributor :  Lasman Simanjuntak

  • Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kidung Malam Hari-Tangisku untuk Pulau Rempang-September Mengerikan-Penyair Bermata Batu-September Mengerikn, Oktober Makin Mencemaskan-

    Sajak-sajak Pulo Lasman Simanjuntak: -Kidung Malam Hari-Tangisku untuk Pulau Rempang-September Mengerikan-Penyair Bermata Batu-September Mengerikn, Oktober Makin Mencemaskan-

     

    KIDUNG MALAM HARI

    kusalin kidung-kidung terluka-
    tanpa rebana
    nyanyian mezbah
    makin rebah
    tak berdaya

    matahari terbenam
    dalam dingin
    cuaca kering

    lalu kulihat di matamu
    katarak amarah
    membara

    selalu terbesit
    persungutan berair
    tak juga mencair

    bernyanyilah untukku
    kesunyian apel malam
    mengeja kitab suci
    mari kita bermazmur
    sampai dinihari

    hari-hari sendiri lagi
    malam menjelma
    jadi hujan
    jadi kekelaman

    hanya menghitung bintang-bintang
    sampai langit ketiga
    nada nyanyiannya
    makin sendu
    tersedak

    oi, aku kembali
    jadi batu

    Jakarta, Senin, 25 September 2023

    *************************************

     

    TANGISKU UNTUK PULAU REMPANG

    tangisku untuk pulau rempang
    dulu hidup damai dengan bertani, berkebun, dan melaut
    di atas hamparan lahan
    ribuan hektare

    kini terhempas keji
    kejam
    tak bisa dibendung
    senjata dan gas air mata

    tangisku untuk pulau rempang
    mengalir amat deras
    dari wajah ibu dan anak di tanah adat melayu
    tergusur dari hunian yang dibangun di atas hamparan samudera raya
    menjelma jadi pabrik kaca
    tajam dan berdarah

    jeritan kesakitannya
    karena telah kehilangan rumah, masa depan, dan tanah air sendiri
    sampai juga
    ke pintu istana emas dan gudang-gudang persenjataan
    membawa duka kemiskinan
    tipuan triliunan rupiah

    mulut-mulut berapi
    investor omong kosong
    dengan gigi kekerasan
    mengigit rakus matahari
    bahkan mereka hanya mau menawarkan semangkuk sup-
    racun tumbuhan

    lihatlah,
    nelayan tak mampu lagi
    berenang dengan kail dan ikan
    sebab lautan telah berubah
    jadi ratusan dajal
    menyelam liar
    membawa tangisan histeris untuk penduduk pulau rempang

    ini duka kita semua
    berakhir dengan kepiluan
    kesedihan di tanah kuburan kematian yang dipaksakan

    memanjang sampai akhir
    kehidupan kehilangan mata pencaharian
    dalam penderitaan
    ujian iman dan doa syafaat
    harus segera dilayangkan
    sangat keras
    sekeras batu karang

    walaupun berakhir bentrok
    membara
    kaki-kaki yang muntah
    rambut panjang yang pecah
    tak lagi menerbitkan seberkas cahaya
    airmata putus asa

    Jakarta, Kamis, 28 September 2023

    **************************************

     

    SEPTEMBER MENGERIKAN

    seribu peluru persungutan liar-
    dimuntahkan
    dari genting rumah
    jatuh di dasar sumur
    air tanah makin memuakkan

    bahkan suara ledakannya
    tak mampu tembus
    cakrawala garis jingga
    ditelan minyak jelantah
    dikunyah bau busuk
    mulutnya

    siapa lagi awal bulan ini
    mau memberi sepotong daging segar
    jelang hari ketujuh mengetuk pintu
    tannyamu
    seperti suara kidung
    putus asa

    mari,
    tetap kita nyalakan obor
    berjalan dengan tiang api
    di atas mezbah sajakku
    pesta kelaparan
    mau digelar
    hambar

    ingat, teriakmu
    tak ada hawa napsu birahi
    dikunci tiap dinihari
    menebar benih kesakitan
    sangat membosankan

    pergilah ke gurun pasir
    tusuk tenggorokanmu
    pecah
    berdarah
    tak ada hujan

    september telah datang
    makin mengerikan
    kembali dihadirkan
    lewat tangisan bayi dalam kandungan

    karena doa deras dilayangkan tiap malam
    tak mampu lagi membendung pikiran
    dan ramalan
    digenapi
    sungguh menyakitkan

    Jakarta, 20 September 2023

    *********************************

     

    PENYAIR BERMATA BATU

    penyair bermata batu
    masuk usia suntuk
    seharian menyalin meditasi
    agar ada sajak-sajak suci
    mengalir dari mata air sungai
    kehidupan anak domba
    yang disembelih

    tanpa tulisan
    suara sunyi
    terus berbisik
    berguguran
    benih matahari

    supaya jangan ada lagi
    amarah meledak
    bau busuknya
    menyusup
    dalam perutmu kian mengecil
    aku suka berkelamin

    penyair bermata batu
    ikut kecewa
    anaknya senang berhala
    tak lagi pandai berucap sedap
    ia terjebak di pulau-pulau terluar

    sambil terus berdansa
    menghisap mimpi tidurnya
    bermalam di padang kelam

    penyair bermata batu
    lalu melarikan sajaknya
    ke gedung kesenian rakyat
    di sini ia bertemu para pujangga
    punya lidah tajam
    seperti pisau cukur tua
    mereka lalu bertukar wajah
    dengan presiden penyair
    tak lagi mabuk anggur
    dipetik dari ribuan bintang
    sampai langit ketiga

    aku sendiri mau menyendiri
    lantaran tak sanggup
    menatap penyair bermata batu
    keluh kesahnya semakin terluka
    memerah
    dalam sajaknya
    yang kelaparan ini

    Jakarta, Juli 2023

    ***************************

     

    SEPTEMBER MENGERIKAN, OKTOBER MAKIN MENCEMASKAN

    september mengerikan
    oktober makin mencemaskan
    sudah berjalan perlahan-lahan
    keras
    menegangkan

    tangisan terulang
    jadi nafas kematian
    di ranjang kusantap
    sperma menjijikkan

    ditiup angin kemarau panjang
    selesai di bukit-bukit memanjang

    september mengerikan
    oktober makin mencemaskan
    aku ketakutan
    dalam kamar khayalan
    menjelma jadi ribuan mata uang

    hujan tak bisa hapuskan
    kegelisahan disebar pepohonan
    yang tak pernah disiram
    sampai matang

    setelah melalui perjalanan
    paling memalukan !
    akhirnya tibalah para pejalan malam
    beristirahat dalam alur sungai
    membusuk diterjang
    bangkai binatang
    diam-diam menyusup
    dalam bulan telanjang

    Jakarta, Senin 2 Oktober 2023


     

    Tentang  Penyair

    Pulo Lasman Simanjuntak, menulis puisi pertama kali berjudul “Ibunda” dimuat di Harian Umum Kompas  pada bln Juli 1977.Setelah itu sejak tahun 1980 sampai tahun 2023 ini berturut-turut karya puisinya dimuat (dipublish) diberbagai media cetak, media online, dan majalah digital di Indonesia dan Malaysia.
    Karya puisinya juga telah diterbitkan dalam 7 buku antologi puisi tunggal, dan saat ini tengah persiapan untuk penerbitan buku antologi puisi tunggal ke-8 diberi judul Meditasi Batu. Selain itu juga puisinya terhimpun dalam 26 buku antologi puisi bersama para penyair seluruh Indonesia.
    Saat ini sebagai Ketua Komunitas Sastra Pamulang (KSP), anggota Sastra ASEAN, Dapur Sastra Jakarta (DSJ) Bengkel Deklamasi Jakarta (BDJ) Sastra Nusa Widhita (SNW) ,Pemuisi Nasional Malaysia, Sastra Sahabat Kita (Sabah, Malaysia), Komunitas Dari Negeri Poci (KDNP), Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Kampung Seni Jakarta, Penikmat Seni Budaya, Storia Sastra, Bengkel Narasi, Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia, Sastra Reboan dan anggota Sastra Indonesia. Bekerja sebagai wartawan dan rohaniawan, bermukim di Pamulang, Kota Tangerang Selatan.
    Kontak Person : 08561827332 (WA

  • Mengendus Cinta dari “Tena-Laja” Lamalera

    Mengendus Cinta dari “Tena-Laja” Lamalera

     

    Oleh  Charles Beraf

     

    C i n t a, kata filosof Gabriel Marcel, adalah pengalaman yang sifatnya intersubyektif. Cinta merupakan pengalaman yang sifatnya amat personal, sangat pribadi dari mereka yang saling mencintai. Hanya orang yang pernah terlibat dalam pengalaman mencintai dan dicintai yang bisa memahami dengan sepenuhnya apa itu cinta; kehangatan, kemesraan dan sebagainya. Dengan demikian cinta merupakan pengalaman personal dari setiap orang entah siapapun juga, yang terdorong untuk mencintai dan dicintai. Selain itu, cinta juga merupakan pengalaman hidup yang sifatnya ekstensial. Pengalaman akan cinta itu menyangkut keberadaan atau eksitensi setiap manusia, yaitu kenyataan ia berko-eksistensi bersama dengan orang lain.

    Sebagai pengalaman intersubyektif dan eksistensial, cinta (semestinya) tidak bisa tidak melekat dengan eksistensi manusia. Karena itu, ia bisa dimulai, tumbuh dari mana saja. Masyarakat nelayan Lamalera menghidupi tradisi perahu (berperahu) sebagai cara atau juga domain melaluinya cinta diungkapkan. Perahu, bagi masyarakat nelayan Lamalera, adalah kehidupan.

    Perahu, yang dalam bahasa setempat dinamakan tena-laja (tena –perahu, laja – layar. Keduanya merupakan satu kesatuan utuh. Karena itu selalu disebut sejajar, tak bisa dipisahkan), tidak hanya berada semata sebagai tradisi, tetapi juga suatu konsep kultural; suatu cara penyandian (encoding) dan penghidupan nilai-nilai masyarakat melalui bentuk, ukuran dan atributnya. Pada tena-laja, terkontruksi secara sangat signifikan makna-makna dan posisi-posisi bagi subyeknya. Karena itu, tena-laja, selain menjadi domain, obyek yang direpresentasikan, juga menjadi semacam sebuah organisme yang dikelola untuk merepresantikan pengertian-pengertian, hasrat-hasrat, bahkan filosofi hidup orang-orang Lamalera.

    Sebagai representasi kehidupan, tena-laja dikonstruksi, diperlakukan dan diorganisir seperti tubuh manusia. Tiap bagian atau organ yang terbentuk sebagai sebagai satu tubuh manusia. Tiap bagian atau organ yang terbentuk sebagai satu tubuh, korps yang bernama tena-laja itu mengikuti organ-organ manusia dengan fungsi atau peran (diperankan) yang spesifik, seperti ie, are bele, nefi, tnepa, faimate, huak, glefe, lamauri, node puke, mnula (blobos) dan hamma lolo. Tiap bagian memuat filosofi yang tidak bisa tidak dihidupi oleh tiap subyek yang menempati atau memeraninya.

    Beberapa dapat dijelaskan disini. Pertama, mnula (blobos) (ada pada bagian depan tena-laja). Berperan sebagai kepala, ‘organ’ yang secara sangat signifikan menunjukkan keberadaan aktual tena-laja: sedang melaut ataukah sedang berdiam dalam bangsalnya. Pada mnula ada blobos – semacam destar kehormaatan atau kewibawaan tena-laja. Ketika tidak sedang melaut, blobos dikenakan pada mnula. Sebaliknya ketika sedang melaut blobos dibuka sebagai tanda kesediaan dan keterbukaan untuk memasuki arena laut – medan perjuangan hidup orang orang Lamalera.

    Kedua, hamma lolo. Bagian terdepan (semacam anjungan) dari tena-laja ‘organ’ yang paling menentukan bagi lamafa, juru tikam (harpoon thrower) untuk mulai mengeksekusi hasrat, putusan dan harapan bersama (dari para awak tena-laja maupun nara kajak umumnya (khalayak masyarakat), sebutan lain untuk orang-orang Lamalera). Hamma lolo, karena itu, menjadi simpul padanya visi bersama, visi korps dipastikan oleh sang Lamafa.

    Ketiga, lamauri (uring artinya belakang) bagian buritan tena-laja. Seperti kaki pada manusia, lamauri menjadi organ padanya peran mengatur arah tena-laja, korps itu diwujudkan oleh sang lamauri (juru mudi), agar tena-laja tak menyimpang dari visi bersama.

    Memang makna organ-organ lain tidak dapat dijelaskan secara panjang lebar disini. Tapi yang perlu diingat bahwa seperti tubuh manusia, semua organ tena-laja berperan secara organis dan membentuk di antara mereka jejaring kerja yang solid. Tiap-tiap organ menyumbang bagi korps (tena-laja) keberadaannya, dan lebih dari itu, oleh keterlibatan atau partisipasi tiap subyek yang menempati atau memerani organ-organ itu, tena laja berada sebagai tubuh atau korps yang hidup. Kehidupan bisa terbangun dalam dan dari tena-laja. Ini barangkali bisa menjelaskan mengapa orang-orang Lamalera sejak dahulu percaya bahwa bisa hanya dari tena-laja, tubuh bersama itu, mereka hidup dan membangun jejaring hidup dengan yang lain, membina relasi intersubyektif dengan siapa saja.

    Namun lebih jauh, perlakuan secara organis atas tena-laja ini (seperti tubuh manusia) sesungguhnya menunjukkan bahwa tena-laja tidak hanya sekedar mempresentasikan, tetapi juga mengabadikan (mempertahankan) korps, keberadaan orang-orang Lamalera sebagai satu tubuh yang hidup. Hidup dengan pengertian, makna, filosofi, hasrat dan persepsi kultural tertentu diwujudkan dengan menghidupkan atau menjadi satu korps, tubuh dalam tena-laja. Karena itu, bagi orang-orang Lamalera, tidak hanya dijaga keberadaanya sebagaimana layaknya sebuah tradisi dalam suatu masyarakat atau kebudayaan tertentu, melainkan lebih dari itu ia dihargai.

    Perlakuan semacam ini, tampaknya sejalan dengaan keyakinan filsafat dan ilmu pengetahuan dewasa ini, yang melihat tubuh tidak sekedar sebuah realitas natural, tetapi lebih sebagai entitas yang berperan penting dalam interpretasi-interpretasi seseorang terhadap dunia, asumsi atas identitas sosial dan dalam perolehan pengetahuan.

    Dalam pendekatan eksistensialis, tubuh dipandang sebagai konkretisasi atau lebih tepat sebagai kelanjutan dari kesadaran akan makna-makna yang diperoleh seseorang oleh karena perjumpaannya dengan dunia dimana ia berada. Filosof Maurice Merleau Ponty menekankan bahwa dunia menurunkan makna-maknanya tidak dari sifat-sifat intrinsik dan lengkap, melainkan dari bagaimana makna-makna tersebut dipahami dan ditindaklanjuti melalui sebuah kesadaran yang konkret. Hal serupa ditegaskan oleh Roger Poole yang menyatakan bahwa keasadaran tidaklah murni, melainkan ada dalam sebuah membran daging dan darah. Hal ini menunjukan bahwa tubuh sebenarnya menghidupkan dunia, dan dengan demikian memproyeksikan nilai-nilai tubuh di atas dunia.

    Pemaknaan atas dunia dan proyeksi ini kemudian mewujud (bisa dianggap materialisasi) dalam benda-benda sebagai hasil kreasi manusia. Meskipun sering, dalam benda-benda itu arti simboliknya lebih diprioritaskan, misalnya melalui penggayaan (stylizaation), benda-benda itu mengungkapkan tubuh manusia atau juga hanya aspek tertentu dari tubuh yang dianggap sepatutnya untuk diungkapkan dengaan cara demikian (kualitas atau karakteristik tertentu).

    Dalam konteks ini, tena-laja Lamalera sebagai buah kreasi mengungkapkan juga secara lebih signifikan sisi kualitatif dari tubuh orang-orang Lamalera. Dalam kreasi kolektif ini, individu (tiap orang Lamalera) sama sekali tidak mengalami depersonalisasi, melainkan tetap memiliki peran atau kontribusi di dalamnya. Individu, seperti kata Susan Bordo, adalah sebuah mikrokosmos yang mereproduksi harapan dan kebutuhan makrokosmos, yaitu tubuh sosial (kolektif). Dan dari tubuh kolektif itu, terbesit pula kualitas kolektif yang senantiasa disadari dan dihidupi oleh setiap orang Lamalera. Tena-Laja, karena itu, tidak hanya dipandang sebagai pengungkap kualitas tubuh kolektif.

    Dalam kolektivitas semacam itu, intersubyektivitas menjadi suatu hal yang tentu dihidupi dan dialami. Intersubyektivitas, menurut Gabriel Marcel, ditandai oleh cinta. Cinta tampak dalam berbagai ciri yang menandai hubungan antara subyek atau pribadi.

    Pertama, seruan hati. Seruan hati memiliki dua matra, yakni kepada sesama dan kepada Tuhan. Kepada manusia, seruan hati menciptakan suasana menuju adanya cinta. Ia memanggil setiap orang yang terlibat dalam membina hubungan pribadi agar mereka saling mencintai. Aku memanggil engkau agar kita saling mencintai dengan demikian aku-engkau menjadi kita. Selain kepada sesama, seruan hati diarahkan kepada Tuhan, Sang Absolut melalui doa atau atribut tertentu yang mengungkapkan keterarahan relasioanl kepadaNya.

    Kedua, keterbukaan. Keterbukaan dikaraktersisasi oleh sikap keluar dari diri sendiri, egosentrisme dan kerelaan untuk mengenal dan dikenal. ini sesungguhnya berakar secara kodrati pada eksistensi manusia yang bereksistensi dengan yang lain. Ketiga, Engagement. Demi kepenuhan cinta, dari setiap pribadi diperlukan engagement, kesediaan untuk mengikat diri dengan yang lain dalam satu ikatan cinta atau tidak. Dan karena itu, sebagai konsekuensi perlu terlibat atau berpartisipasi dalam hidup orang lain.

    Cinta dengan ciri-ciri seperti itu, saya kira, dalam cara tertentu menjadi bagian integral korps, tena-laja. Sebagai organisme dengan jejaring kerja yang organis-solid, tena-laja sudah tentu bukan urusan privat, tapi suatu entitas sosial yang dalamnya identitas masyarakat nelayan Lamalera dengan pelbagai kandungannya (filosofi, hasrat, makna, pengertian dan sebagainya) ditemukan dan didefinisikan. Dari tena-laja, masyarakat nelayan Lamalera mendefinisikan diri sebagai yang mencintai dan dicintai. Karena itu, bagi orang Lamalera, cinta bisa dimulai dari tena-laja.

    ______________________________________________________________________

     

    Sumber Tulisan  dari buku Merayakan Cinta, Paul Budi Kleden dkk,  Penerbit Lamalera

     

  • Mojokuto   atau   Kuba

    Mojokuto atau Kuba

     

    Goenawam  Mohamad

     

    KOTA Mojokuto bukanlah kota khayalan. Tapi lebih dulu barangkali kita harus membaca lagi Peddlers and Princes, karya Clifford Geertz yang tiga tahun yang lalu telah disalin ke bahasa Indonesia dengan judul Penjaja dan Raja. Siapa saja yang pernah berkunjung ke Jawa akan gampang mengenalnya: ”Mojokuto kelihatannya serupa saja dengan setiap kota kecil di Jawa yang: pohon beringin, dengan patung Hindu di bawah naungannya, tumbuh di tengah alun-alun; sekelompok kantor pemerintahan di sekitar rumah wedana dengan pendapa dan halamannya yang luas; sederetan gudang-gudang dan tokotoko Cina yang terbuka bagian depannya dan berkain tenda-pasar terbuka yang luas dengan bangsa-bangsal seng yang karatan dan kedai-kedai kayu….”

    Tak ada yang aneh. Juga bila Geertz berbicara tentang ”ekonomi tipe pasar” dan ”ekonomi tipe firma” di Mojokuto. Geertz, dengan ”Mojokuto”nya, pada dasarnya melukiskan prototipe kota-kota yang beberapa tahun ini mencoba mendirikan pusat pertokoan—well, shopping centre—seraya menggusur pasarnya. Para pembangun kota mungkin mendesakkan ”modernisasi” itu karena pasar begitu kuno dan menjijikkan. Tapi sekaligus agaknya ada hasrat untuk memperlihatkan pola kegiatan ekonomi yang lebih efektif. Ekonomi tipe pasar yang ”hiruk-pikuk, campur baur dan individualistis” itu hendak ditinggalkan. Ekonomi tipe firma akan diperkenalkan.

    Tapi, pasar bukan cuma tempat, seperti juga ditunjukkan Geertz. Ia adalah sistem kegiatan menjajakan dan membeli barang dan jasa dalam ukuran kecil. Ia juga tempat tenaga kerja— pedagang cabai, tukang angkut dan lain-lain—muncul dan dimanfaatkan hampir tanpa batas. Ia tempat bagi mereka yang, seandainya kegiatan itu hilang, akan terhempas sebagai buangan yang liat. Dengan pasar, lumpen-proletariat di kota belum sepenuhnya terdesak menjadi ”segerombolan tikus” yang betapapun disepak dan dilempari batu, akan terus ”melobangi akar sang pohon”—seperti kata Fanon, pemikir revolusioner Aljazair, dalam Les Damnes de la Terre.

    Kira-kira lima tahun yang lalu dua ahli menulis risalah yang berjudul Revolutionary Change and the Third World City. Mereka, Amstrong dan McGee, berbicara tentang ”model Indonesia” dan ”model Kuba”. Yang pertama didasarkan pada ”Mojokuto”nya Geertz: kota yang masih belum sepenuhnya dirasuki sistim kapitalisme. Yang kedua berdasarkan Kuba sebelum Fidel Castro, akhir 50-an, di mana perembesan ekonomi kapitalis nyaris sempurna.

    Akan punahkah ”Mojokuto”—untuk digantikan ”model Kuba” yang ditunggu revolusi?

     

    —————————————————————-

     

    *Sumber  Majalah Tempo, 3 April 1976

    *Tulisan ini juga sudah di jadikan buku dalam Catatan Pinggir 1, Goenawan Mohamad, Grafitipers – 1982.

  •  JNE Bagikan 10.000 Takjil di Ramadan 2023  

     JNE Bagikan 10.000 Takjil di Ramadan 2023  

     

    Jakarta berandanegeri.com – Pada Ramadan 2023 JNE turut berbagi keberkahan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memberikan kebermanfaatan kepada masyarakat luas, diantaranya bagi-bagi 10.000 bingkisan takjil yang dilakukan di 12 Kantor Cabang Utama seperti Jakarta, Tangerang, Bandung, Surabaya, Bekasi, Semarang, Pontianak, Makassar, Palembang, Medan, Jogjakarta, dan Denpasar, berlangsung dari tanggal 24 Maret – 14 April 2023.

    Dalam acara puncak bagi-bagi takjil yang berlangsung di sekitar area Jalan Tomang Raya Jakarta Barat, tanggal 14 April 2023 lebih dari 2.000 bingkisan takjil dibagikan kepada masyarakat sekitar, pedagang dan UMKM, serta pengendara roda dua dan empat yang melintas. Tidak hanya itu untuk memeriahkan bagi-bagi takjil tersebut ditampilkan komunitas sepeda BMX, Street Dance dan ikon badut JONI agar semakin semarak.

    Pada bagi – bagi takjil tahun ini JNE mengajak Wahyoo untuk berkolaborasi kembali setelah jalinan kerjasama dalam beragam program positif kemanusiaan yang sudah dilaksanakan sejak 2020 yang lalu.

    Foto Bersama Ksatria dan Srikandi JNE X Wahyono

    Program ini sekaligus untuk membantu dan mendukung mitra rumah makan dan UKM binaan Wahyoo untuk tetap eksis dalam menjalankan roda usahanya sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian.

    Eri Palgunadi, VP of Marketing JNE melalui rilis yang diterima media ini menyampaikan, “Kegiatan bagi – bagi takjil rutin JNE lakukan di setiap moment Ramadan, dan pada tahun ini program bagi – bagi takjil dilaksanakan dengan tujuan untuk mendukung keberlangsungan UKM, sehingga dapat terus merasakan manfaatnya.

    Sesuai dengan tagline Connecting Happiness, JNE pun ingin berbagi melalui berbagai program – program menarik sebagai bentuk dukungan nyata kepada semua pihak sehingga dapat membantu meningkatkan perekonomian nasional,” ujarnya.

    Peter Shearer S – CEO Wahyoo mengatakan, “Pada bulan Ramadan, bulan yang penuh berkah ini menjadi momen yang baik bagi Wahyoo untuk kembali melakukan inisiasi program kebaikan bersama JNE.

    Wahyoo memiliki semangat yang sama dengan JNE yaitu salah satunya memberikan dampak yang positif dengan menyalurkan ungkapan kepedulian terhadap sesama.

    Ksatria dan Srikandi JNE Bagi-bagi Takjil

    Membawa brand terbaru dari Wahyoo yaitu Senang Hatea, diharapkan dapat membantu meringankan beban masyarakat sekaligus membantu pelaku usaha (UMKM) mitra Wahyoo agar tetap senang hati”, tutupnya. ( ATHICK).

     

  • Pemanfaatan Kereta Api dan UMKM, PIM Banten Ketemu Dirjen Perkeretaapian

    Pemanfaatan Kereta Api dan UMKM, PIM Banten Ketemu Dirjen Perkeretaapian

     

    Sandra Hartono, aktivis kemanusiaan yang juga sebagai Humas dalam Organisasi Perempuan Indonesia
    Maju (PIM), memfasilitasi pertemuan antara Ketua PIM Banten Ibu Ida Gunadi dengan Dirjen
    Perkeretaapian, Ir. Mohamad Rizal Wasal, ATD, MM, IPM, di Kantor Kementerian Perhubungan,
    Kamis,23/2/2023, Pkl 11.00 WIB. Turut hadir pula dalam acara tersebut, Ketua Umum PIM Pusat, Ibu Lana
    Koencoro, juga beberapa perwakilan dari PIM Banten.

    Melalui pendekatan bersama Menteri Perhubungan, Dr. (H.C.) Budi Karya Sumadi, Sandra berhasil
    mempertemukan pihak Dirjen Perkeretaapian bersama pihak PIM Banten. Pertemuan yang melibatkan
    organisasi perempuan dan pihak Pemerintah yang diwakili Dirjen Perkeretaapian tentu sangat beralasan.
    Adapun pertemuan tersebut dalam rangka menyatukan visi dan menjalin kerja sama antara PIM Banten
    dan Dirjen Perkeretaapian tekait pemanfaatan Kereta Api oleh masyarakat di wilayah Banten dan
    sekitarnya.

    Pertemuan tersebut menghasilkan beberapa ide, antara lain; melalui perempuan Indonesia Maju,
    diupayakan agar fasilitas Kereta Api yang sudah disiapkan oleh pemerintah, dapat dimaksimalkan secara
    baik oleh masyarakat luas. Selain itu, terkait pemberdayaan UMKM masyarakat setempat. Atas
    kesepakatan bersama pihak PIM, pihak Perkeretaapian bersedia untuk memberikan kemudahan bagi
    usaha UMKM di dalam area stasiun. Pemberdayaan UMKM ini tidak lain merupakan salah satu program
    Presiden Jokowi dalam pemberdayaan ekonomi masyarakat kecil.

    Direktur Jenderal (Dirjen) Perkeretaapian Indonesia, Ir. Mohamad Rizal Wasal, ATD, MM, IPM, di akhir
    pertemuan menyatakan apresiasinya bagi gebrakan PIM sebagai langkah inovatif dalam mengoptimalkan
    pemberdayaan UMKM.

    “Perempuan Indonesia maju tidak lain adalah kelompok mama-mama canggih, cantik, cerdik dan ceria,
    hadir dalam kancah pembangunan negara tercinta kita Indonesia. Kreativitas dan inovasi yang diusung
    dalam memajukan UMKM benar-benar langkah out of the box, langkah luar biasa dan penuh kepastian
    dalam mencapai tujuan dan hasil UMKM yang optimal”, Ungkap Rizal.

    Di samping itu, ia pun siap bekerja sama dan mendukung langkah PIM dalam membangun UMKM di
    Indonesia.

    “Ditjen Perkeretaapian siap mendukung PIM dan bekerja sama untuk memajukan UMKM. Bravo untuk
    Perempuan Indonesia Maju. Panjangkan langkah, lebarkan sayap untuk kemajuan UMKM dan Indonesia”.
    Tambah, Rizal.

    Di samping itu, Sandra Hartono sebagai perwakilan PIM Banten, pertama-tama mengucapkan terima kasih
    kepada Menteri Perhubungan, Budi Karya Sumadi, yang bersedia memfasilitasi pertemuan PIM dan Pihak
    Ditjen Perkeretaapian Indonesia, juga kepada Dirjen atas kesediaan waktu dan keterbukaan untuk siap
    bekerja sama dengan PIM.

    “Terima kasih kepada Pak Menteri, Budi Karya Sumadi yang sudah memfasilitasi Pertemuan kami (PIM)
    dengan Dirjen Perkeretaapian. Kami berharap, kerja sama antara PIM dan pihak Perkeretaapian dapat
    terjalin baik kedepannya. Terima kasih juga untuk Pak Dirjen Perkeretaapian yang sudah bersedia
    menerima kami dan keterbukaannya untuk bekerja sama dengan PIM” Ujar Sandra.

    Ia pun berharap dukungan masyarakat setempat untuk memanfaatkan lokasi-lokasi di setiap stasiun yang
    mana diberikan oleh pihak Perkeretaapian sebagai tempat usaha pemberdayaan UMKM.

    “Saya berharap, dengan fasilitas tempat yang diberikan Perkeretaapian untuk stand UMKM tidak sematamata untuk anggota PIM, tetapi masyarakat setempat juga dapat turut serta memanfaatkan kesempatan
    ini sehingga ekonomi masyarakat kecil dapat terbangun” jelas aktivis kemanusiaan perempuan asal
    Sumba NTT tersebut. (Ricky Hayon)


     

  • Persepsi dan Relasi Tionghoa Indonesia dengan Kekayaannya

    Persepsi dan Relasi Tionghoa Indonesia dengan Kekayaannya

    Oleh Arthur Chandra,  Dosen Teologi dan Kepemimpinan Universitas Pelita Harapan, Karawaci – Banten

     

    Artikel ini ditulis setelah hingar bingar Imlek baru saja selesai dirayakan oleh keturunan Tionghoa di Indonesia. Penulis yang merupakan keturunan Tionghoa tentunya akrab dan juga terlibat dalam tradisi perayaan ini. Perayaan Imlek tidak dapat dilepaskan dari selebrasi dan harapan akan kemakmuran finansial. Kita bisa menyaksikannya bukan hanya dengan tradisi pemberian angpao tetapi juga dari makna kata “Gong Xi Fat Choi” yang diucapkan dalam Imlek. Kata tersebut bermakna “Semoga anda memperbesar kekayaan anda”. Dengan kata lain, Tionghoa Indonesia sangat menjunjung tinggi nilai kemakmuran finansial. Bahkan berdedikasi untuk mewujudkan keberhasilan finansial tersebut. Dedikasi tersebut dapat nampak bukan hanya dari etos kerja “all-out” tetapi juga dari kepercayaan agama rakyat Tiongkok yang memiliki dewa uang (Tsai Shen Yeh). Dalam kepercayaan tersebut, ucapan “Gong Xi Fat Choi” adalah sebuah doa yang dialamatkan pada dewa uang supaya orang tersebut beroleh keberhasilan finansial di tahun tersebut.

    Kelompok Etnis Minoritas di Indonesia

    Data dari Overseas Community Affairs Council (OCAC) menyebutkan bahwa jumlah orang dari negara Tiongkok yang merantau ke Indonesia sebanyak 10,84 juta orang yang mencakup 30% dari seluruh perantauan dari negara Tiongkok ke seluruh dunia (https://dataindonesia.id/ragam/detail/sebaran-perantau-china-di-seluruh-dunia-indonesia-terbanyak). Evi Nurvidya Arifin, demograf Indonesia memperkirakan jumlah keturunan Tionghoa di Indonesia berkisar 1,9% dari seluruh kelompok etnis di Indonesia (https://nationalgeographic.grid.id/read/132718811/berapakah-jumlah-sesungguhnya-populasi-tionghoa-di-indonesia?page=all). Melalui data tersebut jelas nampak bahwa keturunan Tionghoa adalah etnis minoritas di Indonesia (https://www.bps.go.id/news/2015/11/18/127/mengulik-data-suku-di-indonesia.html). Merujuk pada data sensus 2010, keturunan Tionghoa Indonesia mayoritas beragama Kristen dan Katolik (42%). Kemudian proporsi umat nasrani di Indonesia kurang lebih 10,5% di Indonesia. Dengan demikian kita bisa melihat bahwa Tionghoa Indonesia identik dengan orang Kristen yang notabene adalah agama minoritas di Indonesia. Karena itu, sebagian besar orang Tionghoa Indonesia masuk dalam kelompok dobel minoritas di negeri ini.

    Kekayaan Keturunan Tionghoa di Indonesia

    Salah satu persepsi umum tentang Tionghoa Indonesia adalah etnis yang dikenal memiliki kekayaan finansial lebih besar daripada etnis lain di Indonesia. Dua dekade lalu, Amy Chua profesor hukum yang mendalami konflik etnis dan globalisasi menyatakan bahwa etnis Tionghoa Indonesia adalah salah satu etnis minoritas yang mendominasi pasar di dunia (World on Fire, 2003). Bagaimana saat ini? Pada akhir tahun 2022, Forbes merilis nama 50 orang terkaya di Indonesia yang menampakkan sebagian besar adalah keturunan Tionghoa (Forbes.com: Indonesia’s 50 richest list). Dengan kata lain keturunan Tionghoa di Indonesia masih memiliki pengaruh yang signifikan dalam perekomian baik di skala nasional maupun dunia.

    Selanjutnya yang perlu disimak adalah hasil penelitian Indonesia National Survey: Economy, Society and Politics yang dilakukan pada tahun 2017 (https://www.researchgate.net/publication/319610359_The_Indonesia_National_Survey_Project_Economy_society_and_politics) yang mengungkap bahwa sebagian besar orang di Indonesia beranggapan Tionghoa Indonesia memiliki talenta natural untuk menjadi kaya (68,1%), memiliki terlalu banyak pengaruh dalam ekonomi Indonesia (62%) dan hidup lebih mudah bagi keturunan Tionghoa Indonesia (48%). Dengan kata lain, sebagian besar publik di Indonesia beranggapan bahwa etnis Tionghoa Indonesia punya kuasa ekonomi yang besar dan hidup lebih sejahtera daripada etnis lain di Indonesia. Tentu saja, anggapan ini tidak mencerminkan realita yang sesungguhnya sebab masih banyak Tionghoa Indonesia yang miskin di berbagai daerah misalnya Tangerang, Singkawang dan di berbagai daerah lainnya (Chang Yau Hoon, Evolving Chineseness, Ethnicity and Business:The Making of Ethnic Chinese as a ‘Market- Dominant Minority’ in Indonesia, 2014).

    Kendati demikian, penelitian tersebut menunjukkan bahwa Tionghoa Indonesia dianggap sebagai kelompok etnis minoritas yang lebih berkuasa secara ekonomi daripada etnis lain yang seringkali disebut sebagai pribumi. Tentunya ini berpotensi menimbulkan konflik horizontal di bangsa ini. Apalagi dalam penelitian tersebut juga nampak sentimen negatif etnis lain terhadap Tionghoa Indonesia yang dinilai ras yang ekslusif, sehingga etnis lain sulit bersahabat dengan orang Tionghoa Indonesia (44,1%) dan orang Tionghoa Indonesia hanya peduli dengan sesama etnisnya (48,4%). Sentimen negatif tersebut tentunya tidak dapat diabaikan begitu saja sebab sebagaimana kita lihat dalam sejarah bangsa Indonesia, kelompok Tionghoa Indonesia acapkali menjadi korban dari politik identitas.

    Di satu sisi, sering dianggap sebagai non-pribumi yang tidak cinta bangsa dan hanya peduli dengan kemakmuran diri serta golongannya. Walau tentu saja, anggapan ini tidak fair karena merupakan karikatur atas potret wajah Tionghoa Indonesia. Sebab dalam sejarah bangsa ini, kita bisa menyaksikan begitu banyak Tionghoa Indonesia yang berkiprah dalam upaya kemerdekaan dan kemajuan bangsa. Namun di sisi lain, kelompok Tionghoa Indonesia juga perlu mawas diri dan memiliki sikap yang tepat terhadap kekayaannya di tengah anggapan negatif tersebut. Sebab melalui sikap yang bijak terhadap kekayaan, Tionghoa Indonesia dapat menjadi berkat bagi bangsa dan memiliki relasi yang lebih erat dengan saudara-saudara sebangsa dan setanah-air. Namun sebaliknya melalui sikap yang bodoh terhadap kekayaannya dapat mengundang laknat, semakin dikutuki dan terpisah dari saudara-saudara sebangsa yang berbeda ras dan agamanya.

    Cara Pandang Alkitab terhadap Kekayaan

                Sehubungan dengan ini, penulis mengajak para pembaca untuk mempertimbangkan cara pandang tentang kekayaan dalam Alkitab. Sebab sebagaimana diulas sebelumnya, dalam konteks Indonesia mayoritas Tionghoa Indonesia adalah Nasrani. Karena itu, pendekatan Alkitab diharapkan penulis dapat menjadi lensa yang cocok dan lebih nyaman dipakai oleh mata hati Tionghoa Indonesia yang sebelumnya sudah menerima Alkitab sebagai kitab suci yang sakral dalam mengarahkan hidup mereka. Mengingat keterbatasan tempat, penulis akan menyajikannya dengan singkat melalui cara pandang dual lens, pertama dari kepedulian Allah akan kemakmuran dan kedua kepedulian Allah akan keadilan.

                Kepedulian Allah akan kemakmuran. Tatkala umat Kristen mengikuti ibadah minggu, di penghujung ibadah biasanya pendeta mengedangkan tangannya dan mengucapkan berkat: ” Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau…Tuhan menghadapkan wajah-Nya kepadamu dan memberi engkau damai sejahtera” (Bilangan 6:24-26). Kata ”Damai sejahtera” tersebut dalam bahasa aslinya adalah ”Shalom”. Cornelius Platinga menjelaskan shalom ini lebih dari sekedar ketenangan atau kedamaian dari pertikaian, namun sebuah kemakmuran, keutuhan dan sukacita – keadaan yang kaya di mana kebutuhan-kebutuhan natural terpenuhi dan karunia-karunia didayagunakan dengan baik (Not the Way it’s Supposed to Be, 1996). Dalam penggunaannya di Alkitab, kata shalom ini dipakai dalam sapaan standar (10%), lalu mengacu pada keadaan damai, bebas dari konflik (25%) dan paling banyak digunakan untuk merujuk pada keadaan yang utuh sejahtera sehat secara ekonomi maupun relasi (65%) (Jonathan T. Pennington, Phd, A Biblical Theology of Human Flourishing, 2015.). Dengan demikian, harapan akan kemakmuran dan keamanan finansial yang terkandung dalam sapaan ”Gong Xi Fat Choi” bukanlah harapan unik Tionghoa Indonesia tetapi juga menjadi pengharapan umat Allah yang mendapatkan pewahyuan dan janji-Nya.

                Cendekia Alkitab, Craig Blomberg dengan jeli memberikan ikhtisar Alkitab tentang kekayaan dengan menyatakan bahwa di kitab Pentateukh (Kejadian-Ulangan), kekayaan dipandang Allah memiliki nilai yang baik.  Bahkan Allah berkehendak untuk memberkati umat-Nya dengan kepemilikan materi, secara khusus tanah Kanaan dan isinya sehingga melaluinya umat Allah bisa menjadi berkat bagi semua bangsa di bumi. Kemudian dalam kitab hikmat dan puisi, Blomberg memperhatikan ada dua tema besar tentang kekayaan yakni pertama, kekayaan sebagai berkat dari hasil ketekunan dan kerja keras. Kedua, peringatan akan keserakahan dan kekayaan yang diperoleh dengan cara yang tidak benar (Neither Poverty nor Riches, 2000). Sedangkan dalam Perjanjian Baru, ada sedikit perbedaan dengan Perjanjian Lama mengenai kekayaan yakni tidak ada penekanan mengenai janji Allah akan kemakmuran melalui ketaatan iman umat-Nya. Namun ada banyak indikasi yang jelas bahwa kekayaan ketika dipahami dan dimanfaatkan dengan benar tetap memiliki nilai yang baik (Christian in an Age of Wealth, 2013).

                Kemudian dalam kisah perumpamaan talenta yang diajarkan Yesus di Matius 25:14-30, kita bisa melihat kepedulian Yesus mengenai pengelolaan sumber daya secara produktif dan kreatif sehingga mendatangkan keuntungan. Ini mengingatkan kita akan perintah Allah kepada Adam Hawa di Kejadian 1 yang diminta untuk tidak hanya mengawasi taman Eden tetapi mengerjakan dan mengembangkannya (Anne Bradley, Biblical Stewardship and Economic Progress, 2020). Karena itu, kepedulian Allah tentang kekayaan perlu digaris-bawahi dalam konteks pengelolaan berkat Allah bukan hak kepemilikan. Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam Injil, kita mendapati secara umum sikap Yesus cenderung negatif terhadap kekayaan dengan banyaknya peringatan terhadap orang kaya (Mat.19:16-30; Luk. 12:13-21; 16:14-31). Namun tatkala kita mendalami konteks dari bagian-bagian tersebut, kita bisa melihat bahwa Yesus bukan mengutuk orang yang kaya tetapi orang yang terikat dengan kekayaan hingga mengabaikan orang-orang di sekitarnya yang membutuhkan. Oleh karena itu, kita bisa melihat dalam cara pandang Alkitab, Allah peduli dengan isu kekayaan dan mau memberkati umat-Nya dengan berkat kekayaan untuk kemudian dikelola mengerjakan shalom di muka bumi ini. Terlepas dari apapun etnisnya – bukan hanya Tionghoa saja, Allah memiliki kepedulian agar manusia memiliki dan menggunakan kelimpahan materi untuk mengupayakan shalom di dunia.

    Kepedulian Allah akan keadilan. Kemiskinan ada di sekitar kita sejak dahulu kala dan semakin hari jurang perbedaan antara yang kaya dan miskin semakin lebar. Ironisnya, kekayaan di dunia ini begitu berlimpah dan jelas lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar semua manusia di dunia ini. Ketika kita melihat dalam Alkitab jelas sekali nampak kepedulian Allah akan keadilan distribusi kekayaan di antara sesama manusia, apalagi pada mereka yang miskin dan tertindas. Max Stackhouse dalam karyanya ”On Moral Business” menjelaskan bahwa keadilan ekonomi jelas dinyatakan dalam hukum Taurat untuk mengatur supaya sumber daya ekonomi dipergunakan sedemikian rupa dalam kerangka pemahaman manusia sebagai pengelola milik Allah, sehingga bisa memenuhi kebutuhan setiap individu atau keluarga (Kel. 23:10-11; Im. 19:9-10; Ul. 14:28-29). Allah bukan hanya memerintahkan supaya kita memberikan akses sumber daya ekonomi kepada semua orang, tetapi juga menghendaki supaya kita mengatur distribusi dan memberikan kontrol atas sumber daya ekonomi produktif pada semua orang (Im. 25:8-17, 23-24; Ul. 15:12-14). Karena itu monopoli ekonomi untuk kepentingan diri atau sekelompok orang saja tanpa memperhatikan kebutuhan sesama jelas dikutuk oleh Allah.

    Dalam Perjanjian Baru khususnya Injil Lukas, tema tentang kepedulian Allah akan keadilan dalam distribusi kekayaan nampak kental sekali. Misalnya dalam Lukas 1;51-53, 4:16-21; 6:20-26; 16:19-31; 19:1-20. Dalam sejarah gereja mula-mula yang terekam di Kisah Para Rasul kita dapat mengintip profil identitas komunitas Kristen yang ditandai dengan tidak adanya orang miskin karena mereka hidup saling peduli dan berbagi (Kis. 2:43-47; 4:32-47). Identitas Kristen nampak bukan hanya dari kasih yang terucap tetapi juga dari kasih yang bertindak untuk membantu sesama (1 Yoh. 3:17).  Russell Pregeant dengan akurat menyampaikan isu keadilan ekonomi ini dengan mengatakan bahwa isu kekayaan dan kemiskinan tersebar di seluruh bagian Alkitab dengan penekanan bahwa Allah berpihak pada orang-orang miskin yang ditindas oleh orang-orang kaya. Isu ketidak adilan ekonomi adalah isu moral yang paling sering diungkap dalam Alkitab. Di dalamnya nampak bahwa problem kemiskinan bukan terjadi terutama karena keadaan atau situasi alami yang tidak menguntungkan tetapi karena tindakan-tindakan yang tidak adil dari orang-orang yang memiliki kuasa (For the Healing of the Nation, 2016).

    Tionghoa Indonesia berkat bagi bangsa

    Dengan demikian, kita dapat menyimpulkan bahwa Allah melihat kekayaan sebagai hal yang positif dan bernilai. Tentunya dengan terms and condition, sepanjang tidak dieksploitasi untuk keserakahan diri tetapi dikelola untuk kebaikan bersama. Ketika kekayaan dihisap untuk mengenyangkan diri terus menerus dan abai terhadap sesama, kita justru akan berhadapan dengan Allah sendiri yang jelas berpihak pada yang miskin dan menderita. Alih-alih menikmati berkat justru menuai laknat, hidup semakin terpisah dari tuntunan Allah dan semakin jauh dari sesama. Kesombongan, keserakahan dan kecintaan akan uang yang dibiarkan bertumbuh liar dapat merusak berkat kekayaan yang baik dan bisa menimbulkan rasa curiga, iri hati dan api amarah pada yang berkekurangan terhadap yang berkelebihan secara materi.

    Semoga melalui ulasan yang tersaji dan runutan Alkitab yang singkat ini, kita dapat melihat dan mengelola kekayaan kita untuk menjadi berkat bagi Indonesia. Terkait ini perlu dicamkan bahwa yang pertama, harapan penulis tidak dibatasi pada Tionghoa Indonesia yang kaya. Penulis sendiri sebagai Tionghoa Indonesia tidak termasuk orang yang kaya raya tetapi juga tidak melihat dirinya sebagai orang yang miskin sampai tidak bisa berbagi dan menjadi berkat bagi sesama. Yang kedua, harapan penulis tentu tidak dibatasi pada Tionghoa Indonesia saja tetapi pada segenap anak bangsa Indonesia. Tanggung jawab untuk mengelola kekayaan sehingga dapat dinikmati sesama jelas bukan hanya porsi etnis atau agama tertentu tetapi seluruh umat manusia sebagai insan ciptaan Allah. Namun yang terakhir, bagi Tionghoa Indonesia yang memang memiliki kekayaan besar, ini berarti mereka memiliki kesempatan dan panggilan yang lebih besar untuk menjadi berkat bagi bangsa Indonesia.

    Kiranya pengharapan yang terkandung dalam ucapan Gong Xi Fat Choi – semoga anda lebih kaya –bukan hanya menjadi milik etnis Tionghoa semata. Kiranya pengharapan itu menjadi pengharapan semua manusia yang tercermin tidak hanya dalam salam dan doa pada sang Pencipta untuk menurunkan berkat pada sesama. Namun juga dalam tindakan untuk membagikan berkat yang dimiliki. ”Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu” (Yeremia 29:7).

    *********************************************************************

  • Meriahkan Imlek 2023, JNE Tawarkan berbagai Program Promo

    Meriahkan Imlek 2023, JNE Tawarkan berbagai Program Promo

     

    Jakarta berandanegeri.com. Tahun Baru Imlek 2574 sebagai Tahun Kelinci Air menjadi momen berharga bertemunya seluruh keluarga untuk bersilahturahmi serta berbagi sebagai bentuk rasa syukur. Di momen spesial ini, JNE pun berbagi kebahagiaan dengan semua pelanggan setianya agar aktifitas pengiriman paket menjadi semakin semarak dengan  program dan kegiatan menarik untuk pelanggan. 

    Pada 14 Januari – 5 Februari 2023, JNE menggelar program khusus di 18 kota, yaitu Jambi, Pekanbaru, Surabaya, Semarang, Palembang, Pangkalpinang, Medan, Pontianak, Bogor, Manado, Tanjungpinang, Singkawang, Tangerang, Batam, Tasikmalaya, Silangit, Malang, dan Jakarta.

    Program berbagi kebahagiaan ini, akan  memberikan hadiah berupa merchandise Payung Geulis yang merupakan ikon Kota Tasikmalaya bagi pelanggan yang datang ke counter JNE (S&K berlaku). 

    JNE Berdayakan UKM Pengrajin Payung Geulis dalam meriahkan Tahun Baru Imlek 2574 yang jatuh pada tanggal 22 Januari 2023. Kepedulian JNE terhadap UKM pengrajin Payung Geulis Tasikmalaya bertujuan untuk meningkatkan kembali omzet penjualannya karena imbas pandemi COVID-19 selama dua tahun yang lalu.

    Pasar atau konsumen utama Payung Geulis adalah acara atau event yang memanfaatkan Payung Geulis sebagai dekorasi atau merchandise. Selain itu fungsi Payung Geulis yang dulu sebagai pelindung diri dari panas, kini beralih menjadi hanya untuk hiasan. Pasar Payung Geulis  ini selain di dalam negeri, seperti Bali, Jakarta, dan Bandung dapat di ekspor juga ke luar negeri karena memiliki bentuk dan design yang menarik. 

    Selain kepedulian JNE kepada UKM adalah program menarik untuk pelanggan antara lain, aktivasi di sosial media berupa foto challenge gate imlek JNE berhadiah angpao jutaan rupiah periode 16-23 Januari 2023,

    Game Si Joni Special Imlek 2574 berhadiah eksklusif, caranya dengan follow Instagram dan tiktok @jne_id. Komen jawaban yang tepat menebak mana gambar angpao dengan arti ‘Keberuntungan” serta  komen dengan menggunakan emoji dan ceritakan mengenai apa shio kamu, mention @jne_id dan ajak 3 orang temanmu untuk ikutan sertakan hashtag #GameSiJoni #JNEImlek2574 #JNE GateImlek #JNETebakShio.  

    Untuk member JLC (JNE Loyalty Card) program Promo Angpao Imlek dimana member yang mengirim paket melalui counter JNE cukup melakukan transaksi  dengan nilai minimal Rp 30.000.000 dan akan mendapatkan voucher belanja Rp. 500.000 pada periode 22-25 Januari 2023. 

    JNE juga memberikan angpao lainnya untuk seluruh pelanggan setia yaitu diskon ongkir untuk pengiriman dengan tujuan ke luar negeri atau JNE International Service. Periode 20 – 28 Januari 2023, diskon ongkir 20% siap dinikmati oleh pelanggan yang mengirimkan paket tujuan ke Singapura, China, Hong Kong, dan Taiwan sesuai dengan persyaratan yang berlaku. Selain itu promo dari PESONA (Pesanan Oleh-oleh Nusantara) dari 11-31 Januari 2023, yaitu promo spesial  imlek diskon 75%, produk Kue Keranjang Ekslusif, free ongkos kirim dan paket akan dikirimkan oleh @roket_indonesia untuk area Jakarta, (S&K berlaku) informasi lengkap dapat diakses di https://pesonanusantara.co.id 

    Keterangan Foto: Karyawan dan Karyawati JNE turut memberikan angpao untuk para penari barongsai

    “Mewakili seluruh manajemen dan karyawan JNE, kami mengucapkan selamat tahun baru Imlek 2574 bagi yang merayakan, Gong Xi Fa Cai. Semoga di tahun ini mau pun tahun-tahun berikutnya, kita dapat terus meraih berbagai kesuksesan, sehingga dapat terus berbagi kebahagiaan terhadap sesama dan memberikan manfaat yang lebih besar lagi bagi bangsa serta negara ,” ungkap Eri Palgunadi VP of Marketing JNE,” Senin( 23/1).

    Eri Palgunadi, menjelaskan  selama lebih dari 32 tahun, JNE telah menjadi bagian hidup masyarakat Indonesia, karena selalu berupaya maksimal untuk memenuhi kebutuhan pengiriman paket dengan menghadirkan beragam produk layanan atau fasilitas. Oleh karena itu dalam berbagai momen istimewa seperti hari-hari besar, JNE pun turut berpartisipasi dan merayakannya. Sesuai dengan tagline “Connecting Happiness” yaitu mengantarkan kebahagian di setiap langkah dan program sehingga memberikan manfaat bagi masyarakat. ( Athick)

  • Planetariasme untuk Pergerakan Kaum Muda Masa Kini

    Planetariasme untuk Pergerakan Kaum Muda Masa Kini

     

    Oleh  Cicilia Damayanti, Pengajar dan Konsultan Pendidikan

     

    Pendahuluan

    Dunia menuju normal setelah dihantam pandemi covid-19 melahirkan era yang semakin penuh dengan ketidakpastian. Sebelum pandemi merebak, VUCA (Volatility, Uncertainty, Complexity, Ambiguity) hadir sebagai era yang penuh dengan gejolak, ketidakpastian, sangat komplek, dan ambigu. Perubahan ditengarai sebagai hal yang konstan, tidak dapat dihindari, dan pasti. Pandemi Covid-19 semakin menambah keruwetan yang sulit terurai, dan memunculkan era BANI (Brittle, Anxious, Non-Linear, Incomprehensible). Era Bani, yang dikenal sebagai era yang rapuh, penuh kecemasan, permasalahan yang semakin tidak berkaitan, dan sulit dipahami, seolah menjadi jalan buntu karena kekacauan dunia semakin tidak dapat diprediksi kapan akan berakhir.

    Saat ini dunia sedang memasuki era antroposen atau yang dikenal sebagai era manusia. Pada masa ini manusia adalah subjek yang superior. Terutama karena manusia dianggap sebagai penyebab terjadinya segala perubahan di bumi. Homo sapiens yang berkuasa atas bumi dan segala isinya. Era Antroposen (Anthropocene) merupakan satuan waktu geologis yang digunakan untuk menggambarkan periode terbaru dalam sejarah bumi, ketika aktivitas manusia mulai memberi dampak pada iklim dan ekosistem bumi. Kata antroposen berasal dari bahasa Yunani antropo yang berarti “manusia”, dan cene yang berarti “baru”. Antroposen diciptakan dan dipopulerkan oleh ahli biologi Eugene Stormer dan ahli kimia Paul J. Crutzen pada tahun 2000 (Dürbeck & Hüpkes:2022).

    Perubahan yang semakin tidak pasti menimbulkan kekhawatiran dalam hidup manusia. Generasi muda saat ini, khususnya Gen-Z (generasi yang terlahir antara tahun 1995-2010), menghadapi persaingan yang semakin ketat. Terutama ketika berhadapan dengan generasi milenial (generasi yang terlahir antara tahun 1980-1996) yang masih dalam usia produktif. Apa yang dapat dilakukan oleh para-Gen-Z di tengah dunia yang semakin ruwet dan tidak pasti ini?

     RAAT (Resilience, Attention, Adaptation, and Transparency) untuk Dunia yang Tidak Pasti

    Perubahan menyebabkan dunia dalam keadaan yang tidak pasti. Kekuasaan manusia justru membuat planet bumi berada di ambang kehancuran. Era antroposen mengakibatkan manusia, sang penguasa, mampu mengubah tatanan dunia. Jamais Cascio (2020), seorang antropolog dari Amerika, menyatakan bahwa era VUCA sudah lewat. Pandemi covid-19 menyebabkan dunia berada di ambang ketidakpastian yang membuat manusia harus siap dalam menghadapi perubahan yang abadi.

    Situasi pada era BANI menyebabkan perubahan terjadi kian cepat dan tidak dapat diprediksi. Manusia semakin cemas karena situasi yang semakin tidak terhubung menyebabkan mereka kesulitan dalam mencari solusi yang tepat. Hal ini berimbas terhadap generasi muda. Mereka semakin dituntut untuk memiliki kemampuan dasar seperti kemampuan untuk bertahan (resilience) dalam keadaan yang tidak dapat diprediksi. Memiliki perhatian (attention) yang cermat dalam melihat peluang. Mampu beradaptasi (adaptation) terhadap perubahan yang konstan. Siap terbuka (transparency) terhadap wawasan yang baru. Kemampuan dasar yang disingkat RAAT ini bila dikembangkan dalam pendidikan dapat membantu kaum muda untuk menemukan arah dalam menghadapi ketidakpastian hidup.

    Efek pasca-pandemi Covid-19 dan perkembangan teknologi yang kian pesat mulai menjadi ancaman baru bagi keselamatan hidup manusia di era antroposen. Manusia diyakini sebagai penyebab bumi menjadi semakin tidak aman untuk ditinggali. Ketamakan manusia menyebabkan terjadinya ketimpangan sosial yang tajam, di mana segelintir orang kaya menguasai bumi dengan cara mengontrol sumber air, pangan, dan energi. Pertambahan penduduk yang kian pesat menyebabkan permintaan produksi pangan meningkat sekitar 70%, sementara lahan semakin sempit (Bongers:2022). Kekurangan lahan pertanian yang tidak seimbang dengan kecepatan laju pertumbuhan penduduk ini disinyalir dapat melahirkan bencana kelaparan.

    Sifat egois manusia yang ingin menguasai bumi kini mulai diikuti dengan ingin menguasai manusia lainnya, yang menyebabkan terjadi peperangan di beberapa tempat. Bila peperangan ini tidak segera dihentikan, kita sedang memasuki era kepunahan massal akibat ulah manusia sendiri. Apa yang bisa kita lakukan untuk mengatasi permasalahan ini? Hal yang perlu segera diubah adalah pola pikir kita untuk kembali peduli pada alam. Saat ini Manusia dituntut untuk kembali menjalani hidup yang selaras dengan alam dan lingkungan sekitar.

     Konsep Planetarianisme untuk Menjaga Bumi

    Planetarianisme dapat dipahami sebagai komitmen filosofis biosentris – pandangan yang menempatkan alam sebagai entitas subjek yang memiliki nilai – untuk mempertahankan kehidupan di planet bumi. Konsep planetarianisme menjadi kontra narasi bagi situasi distopia. Konsep ini juga menjadi wacana antroposentris dari antroposen yang melegalkan ekosida (pembunuhan dan pemusnahan terhadap tempat tinggal makhluk hidup), sebagai keberhasilan dari peradaban manusia. Planetarianisme, pada level lain, dapat diterapkan untuk mengartikulasikan harapan melalui narasi. Sebentuk harapan yang membuat kita mampu berdiri tegak untuk mengatasi tantangan.

    Narasi menjadi titik terang dan solusi untuk membangun pandangan positif yang berpotensi untuk menggerakkan banyak orang dalam melakukan perubahan. Konsep planetarianisme merupakan formula yang tepat untuk membantu kita melepaskan diri dari kecenderungan untuk merusak alam. Narasi yang dibentuk dalam konsep planetarianisme menggambarkan kondisi planet sebagai tempat tinggal bersama, di mana semua orang bekerja sama dalam menjaga kelestarian dan keharmonisan hidup di planet bumi (Paulsen et al.:2022).

    Kaum muda perlu diajak untuk melakukan perubahan bagi kelangsungan planet bumi. Selain pengetahuan faktual, keyakinan akan perubahan hidup yang lebih baik adalah suatu harapan yang terbentuk dari imajinasi antisipatif untuk melihat sesuatu yang melampaui cakrawala mengenai hal yang mungkin diinginkan dan diperlukan. Harapan ini dibangun dan dikembangkan melalui seni narasi untuk membantu kaum muda mengembangkan empati dalam menjaga planet bumi (Nussbaum, 2016).

    Narasi dalam konsep planetarianisme membantu kaum muda untuk menghadapi situasi distopia (suatu keadaan yang buruk). Distopia merupakan fenomena yang telah mengkristal menjadi struktur perasaan populer. Fenomena ini membenamkan orang dalam kesenangan nihilisme dan menopang pesimisme anti-utopia (suatu keadaan sempurna yang diharapkan). Kehidupan distopia banyak diceritakan dalam film fiksi seperti The Hunger Games, Divergent, dan The Maze Runner. Kemudian ada permainan The Cusanus Game yang terinspirasi dari novel yang ditulis oleh Nicolaus Cusanus. Permainan ini menunjukkan bahwa bumi bagaikan “sebuah roda di dalam sebuah roda dan sebuah lingkaran dalam sebuah lingkaran” yang tidak ada pusat ataupun batas yang melingkupinya. Bumi dianalogikan bergerak seperti kapal yang berlayar entah kemana.

    Banyak kaum muda mulai paham tentang situasi distopia. Mereka mendapatkan informasi ini melalui film, buku, dan permainan tentang distopia. Mereka sadar bahwa sistem kapitalisme tidak dapat dihindari, meskipun juga sangat mengetahui bagaimana sistem itu merusak kehidupan di planet bumi. Bagi mereka, dalam situasi yang kian memprihatinkan ini – di mana mulai banyak terjadi bencana alam, penyebaran penyakit, dan perang – membayangkan harapan untuk masa depan yang lebih baik adalah hal yang naif. Mereka justru lebih percaya dan dapat menerima bahwa planet bumi yang mereka tinggali saat ini sudah sangat rusak dan kacau. Krisis lingkungan hidup ini telah melahirkan krisis bagi harapan hidup yang lebih baik (Bélanger et al.:2023). Sesungguhnya harapan sangat dibutuhkan dalam hidup manusia. Harapan untuk mempertahankan lingkungan hidup yang lebih baik tidak hanya diperlukan tetapi juga penting untuk mengatasi perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, dan rangkaian krisis lingkungan hidup yang kita hadapi.

    Film sebagai Praktik dari Konsep Planetarianisme

    Kaum gen-Z membutuhkan metode yang dapat membantu mereka untuk terlibat langsung dalam menjaga planet bumi. Konsep narasi planetarianisme ini dapat dilanjutkan dengan metode pembuatan film pendek, seperti film dokumenter. Proses pembuatan film membantu mereka untuk semakin menggerakkan imajinasi ke dalam aksi nyata. Film menjadi sarana bagi gen-Z untuk mengembangkan konsep planetarianisme dengan cara terjun langsung mengobservasi lingkungan sekitar. Proses pembuatan film juga membantu mengasah pola berpikir kritis mereka dan untuk membangun kerja sama dengan yang lain.

    Proses pembuatan film bertujuan membantu kaum muda untuk mengembangkan imajinasi dan membangun kerja sama dalam kelompok. Pembuatan film membantu mereka mengeksplorasi kemampuan afektif dan kognitif, dan untuk menyelaraskan naskah yang akan dipakai dalam film. Kaum muda dapat diajak untuk melatih konsep planetarianisme melalui film dokumenter pendek yang dapat diikutsertakan dalam festival film. Melalui pembuatan film, mereka dapat mempelajari proses produksi yang membutuhkan ketekunan, kesabaran, kerendahhatian, keterbukaan, dan dialog bersama dengan yang lain. Proses pembuatan film adalah sarana untuk mengembangkan pribadi yang kreatif dan lebih peduli pada lingkungan (planetarianisme) dan sesama. Proses ini juga dapat mengembangkan nalar berpikir kritis. Festival film sangat penting untuk memacu kaum muda mengembangkan kreativitas dalam membuat skenario yang baik sehingga menghasilkan karya yang dapat menginspirasi teman-teman yang lain. Peran pendidik di sini tidak hanya mentransfer pengetahuan semata, tetapi juga mengembangkan kemampuan peserta didik dengan membuka jendela dunia kepada mereka, sehingga mereka juga terbuka pada dunia sekitarnya (Krogh et al.:2023).

    Proses pembuatan film dapat mengembangkan kerja sama dan dialog terbuka. Proses ini juga membantu mengasah pola berpikir kritis mereka. Pada saat pembuatan skenario, mereka dilatih untuk berdiskusi, menerima perbedaan pendapat, dan mencermati situasi yang sedang terjadi di sekitarnya. Keseluruhan proses pembuatan film dikoordinasikan dalam kelompok. Peserta didik dapat mengatur peran bersama teman-teman, seperti menentukan sutradara, membuat sinematografi, menentukan para pemain, mengedit, dan yang lainnya. Proses produksi ini sekaligus mempersiapkan kaum muda untuk bekerja secara profesional, sebab keseluruhan proses pembuatan film ini dikerjakan oleh mereka. (Curren, Randall R.:2023). Beberapa ide yang dapat dijadikan tema dalam film antara lain:

    1. Tema ini dapat membantu mereka untuk mengetahui nasib para petani dan untuk mengupayakan ketahanan pangan. Melalui film dokumenter tentang pertanian, mereka dapat mengetahui permasalahan klasik yang sampai saat ini masih dialami para petani, seperti harga bibit yang mahal, hingga stigma negatif bahwa menjadi petani tidak akan bisa menjadi sukses.
    2. Saat ini para nelayan terdampak krisis iklim, terutama karena perubahan iklim sering membuat mereka kesulitan untuk melaut karena semakin tidak dapat memprediksi cuaca. Di samping itu industri ekstraktif di wilayah pesisir, laut, dan pulau-pulau kecil telah menurunkan jumlah nelayan karena terdampak proyek reklamasi.
    3. Pemulung sampah. Saat ini para pemulung dianggap sebagai penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS), padahal pekerjaan mereka termasuk kerja mandiri produktif. Meskipun dianggap warga miskin, tetapi mereka bekerja dan tidak mengemis. Saat ini kaum muda perlu diajak untuk mengamati kehidupan para pemulung, sehingga mereka dapat mengubah paradigma tentang pemulung.

    Proyek film dokumenter ini dapat mengembangkan empati karena membayangkan bagaimana rasanya berada dalam posisi orang lain. Proyek ini membantu mereka untuk merefleksikan hidupnya dan hidup para tokoh di film yang mereka kerjakan. Tema sosial yang menyentuh kehidupan sehari-hari dalam film, membantu kaum muda untuk bebas bereksplorasi dalam mengembangkan cerita yang dapat menyebarkan pesan bagi orang lain untuk peduli pada sesama dan planet bumi. Kisah-kisah yang mereka angkat dalam proyek film bertema planetarianisme membantu mereka merefleksikan hidup yang sedang dijalani, bagaimana mereka sebagai kaum muda telah berperan dalam proses pelestarian planet bumi. Proses pembuatan film ini diharapkan mampu mengubah paradigma berpikir mereka, terutama untuk lebih peduli kepada planet bumi sebagai rumah mereka.

     Penutup

    Kondisi di era antroposen memaksa manusia untuk menyadari bahwa planet bumi perlu dijaga. Saat ini banyak spesies yang mulai menghilang. Meskipun manusia mengklaim sebagai makhluk tertinggi dalam tangga kehidupan, tidak dapat dipungkiri bahaya kemusnahan tetap mengintai. Pengalaman pandemi Covid-19 kemarin menyadarkan kita bahwa bahaya yang sedang mengintai adalah bila terjadi perang biologis dan bencana kelaparan. Apa yang bisa kita, manusia, lakukan untuk menghindari kehancuran dan atau kemusnahan massal?

    Hal yang dapat kita lakukan untuk memperbaiki semua ini adalah: pertama, melalui sistem pendidikan yang mengembangkan imajinasi untuk melahirkan empati dengan sarana seni, baik narasi maupun film. Revolusi pendidikan dapat dimulai dengan mengubah sistem pembelajaran yang membantu para peserta didik untuk semakin peduli pada keberlanjutan hidup di planet bumi. Konsep planetarianisme membantu mengembangkan imajinasi yang dapat menggerakkan kaum muda untuk bertindak dalam menjaga keberlangsungan planet bumi.

    Kedua, mengajak kaum muda melakukan aksi nyata untuk melestarikan kehidupan di planet bumi melalui proyek film dokumenter. Proses pembuatan film dokumenter dapat melatih mereka untuk mengembangkan imajinasi yang melahirkan empati kepada sesama dan lingkungan. Film dapat menjadi sarana kerja sama lintas ilmu dalam pendidikan yang berkelanjutan. Melalui proyek pembuatan film, mereka dilatih untuk bekerja sama dan untuk menyebarkan nilai-nilai kemanusiaan. Di samping itu proyek ini membantu mereka merefleksikan hidup yang sedang mereka jalani dengan membandingkannya dengan kehidupan para tokoh dalam karya film tersebut.

    Konsep planetarianisme melatih mereka untuk mengembangkan nalar kritis, sebab saat ini yang harus diubah terlebih dahulu adalah paradigma berpikir manusia tentang planet bumi. Selama ini manusia adalah subjek yang menguasai bumi. Situasi antroposen menyadarkan manusia bahwa ada batasan dari kemampuan yang dimilikinya. Posisi manusia sebagai subjek saat ini patut dipertanyaan, terutama pada saat bencana terjadi. Tepat di sini posisi manusia sebagai sang penguasa berada di titik nadir karena mulai dapat menyadari kelemahannya. Melalui kelemahan inilah manusia semakin ditantang untuk mengubah pola berpikirnya, bahwa masih ada makhluk lain di alam yang juga memiliki hak hidup yang sama di planet bumi. Kerja sama yang berkelanjutan sangat dibutuhkan untuk menjaga kelestarian planet bumi, agar keberlangsungan hidup manusia dan makhluk lainnya tetap terjamin.

    ———————————————————————-

    Daftar Pustaka

    Bélanger, M., Potvin, P., Horst, S., Shtulman, A., & Mortimer, E. F. (2023). Multidisciplinary Perspectives on Representational Pluralism in Human Cognition: Tracing Points of Convergence in Psychology, Science Education, and Philosophy of Science. Taylor & Francis.

    Bongers, B. (2022). Understanding Interaction: The Relationships Between People, Technology, Culture, and the Environment: Volume 1: Evolution, Technology, Language and Culture. CRC Press.

    Curren, Randall R., E. (2023). Handbook of philosophy of education (R. R. Curren (ed.)). Routledge, Taylor & Francis Group. https://doi.org/10.4324/9781003172246

    Dürbeck, G., & Hüpkes, P. (2022). Narratives of Scale in the Anthropocene: Imagining Human Responsibility in an Age of Scalar Complexity. Taylor & Francis.

    Hartley, J., Ibrus, I., & Ojamaa, M. (2021). On the Digital Semiosphere: Culture, Media and Science for the Anthropocene. New York.

    Krogh, E., Qvortrup, A., & Graf, S. T. (2023). Bildung, Knowledge, and Global Challenges in Education: Didaktik and Curriculum in the Anthropocene Era. Taylor & Francis.

    Paulsen, M., Jagodzinski, J., & Hawke, S. M. (2022). Pedagogy in the Anthropocene: Re-wilding Education for a New Earth. Springer International Publishing AG.