Jakarta Berandanegeri.com – Jumat, 28 Mei 2021, bertempat di Anjungan NTT – Taman Mini Indonesia Indah, Badan Penghubung NTT Jakarta melalui pengelola Anjungan NTT Jakarta mengundang warga Diaspora NTT SEJABODETABEK penggiat seni budaya dan kuliner untuk hadir dalam acara “Rapat Koordinasi Kegiatan Promosi dan Pentas Seni Budaya NTT”.
Salah satu panitia ibu Evi Manafe, mengatakan bahwa kegiatan ini maksudkan untuk mendapatkan ide-ide kreatif, masukan dan saran dari penggiat seni budaya dan kuliner khas NTT SEJABODETABEK terkait kegiatan pelestarian seni budaya dan kuliner khas NTT di Anjungan NTT.
Dalam acara rapat kordinasi Kegiatan Promosi dan Pentas Seni Budaya NTT di Anjungan NTT – Jakarta ini, turut hadir senior NTT Bpk Johanis Tanjung beserta istri Yuanita Therik, hadir pula Bripka. Daud Afi ( penyanyi dan pembina IKBA Jakarta), Penyanyi Wendy Nafie, Pemusik Flores Riky Hayon dan Sasando Kupang, Bertho Pah. Hadir juga salah satu youtuber sekaligus pemusik asal Rote Deddy Therik dan tim, para tamu undangan dan panitia rapat Shinta Duma Idawani, Martha Dae Panie.
Ibu Natalia Eni Pudjiastuti selaku Kepala Sub Bidang Promosi dan Kerjasama Investasi sekaligus Kepala Anjungan NTT-TMII mengatakan bahwa Anjungan NTT akan terbuka bagi semua warga diaspora NTT untuk “berekspresi” terkait budaya NTT.
Pihak pengelola Anjunganpun akan membuka ruang seluas-luasnya bagi semua warga diaspora NTT untuk berekspresi melalui tarian-tarian dan lainnya sesuai dengan budaya daerah masing-masing dan juga termasuk menjual kuliner-khas NTT.
Anjungan NTT di Taman Mini Indonesia Indah
Pihak pengelola Anjunganpun akan berkordinasi dengan pengelola TMII agar kedepan bisa mendapatkan akses masuk anjungan secara gratis atau walaupun bayar cukup membayar biaya kendaraan masuk.
Yustus Nenabu, salah satu warga diaspora NTT Jakarta asal Amanatun – Timor Tengah Selatan, berharap kepada Badan Penghubung NTT Jakarta melalui Bapak Adam Kaseh selaku Kasubbid Hubungan Antar Lembaga dengan tugas pokoknya sebagai Koordinator, dan Fasilitator, untuk melakukan pendekatan dengan kepala-kepala daerah (Bupati) agar bisa membantu menyediakan alat-alat musik tradisional dari setiap daerah untuk disimpan di rumah adat masing-masing sehingga pada saat ada kegiatan seperti pentas budaya dll, masyarakat dapat menyewa atau dipinjamkan secara cuma-cuma.
Setiap Kabupaten di NTT bisa menyediakan suvenir-suvenir khas NTT seperti kain tenun, hasil-hasil alam seperti madu, sopi, gula air dll, untuk mengisi rumah-rumah adat di Anjungan NTT yang berada di Taman Mini Indonesia Indah.
Pihak panitia pengelola anjungan NTT, pasca Rapat Koordinasi akan kembali mengundang warga diaspora NTT untuk menindaklanjuti kegiatan ini.
Maumereberandanegeri.com – DALAM rangka Operasi Tameng Nusa Tenggara Timur BKO Guskamla Koarmada II untuk Mendukung Logistik Bantuan Sosial Korban Badai Siklon Seroja Banjir Bandang di Pulau Adonara dan Lembata, KRI Tanjung Kambani-971 kembali tiba di Pelabuhan Laut Larantuka Kelurahan Postoh Kecamatan Larantuka Kabupaten Flores Timur, Propinsi NTT, Senin (19/4) pukul 11.55. WITA.
KRI Tanjung Kambani –
971 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Tri Hidayat,S.Sos. MPM., beserta 11 (sebelas) orang Perwira dan 125 (seratus dua puluh lima) orang
Prajurit.
Turut menyambut di Pelabuhan Larantuka, Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M. Tr. Hanla, M.M., CTMP., Dandim 1604/Flotim diwakili Kasiops Kapten Weking, Kapolres Flotim diwakili Kasat Tahpi Iptu Atam, Dankal Balibo Lettu Laut (P) Malik Setia Budi, Syahbandar Larantuka Bpk. Sailudin Umar, Kasi Pemanfaat Logistik Kemensos RI Bpk. Muhammad Delmi, Danposmat Flotim Serka Kom Bayu Primanto serta Tim Satgas Bencana Pulau Adonara dan Lembata dari Lanal Maumere dan Yonmarhanlan VII Kupang.
Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M.Tr.
Hanla, M.M., CTMP mengatakan KRI Tanjung Kambani – 971 membawa berbagai macam
bantuan logistik dari Jakarta dan Surabaya dalam rangka menyalurkan bantuan
untuk korban bencana di pulau Adonara Kab. Flores Timur, serta merupakan kapal
ke-5 (lima) yang dikerahkan TNI-AL untuk mengangkut bantuan ke daerah bencana
NTT.
Bantuan terdiri dari berbagai macam kebutuhan hidup sehari hari seperti, beras, mie instan, air mineral kemasan, pakaian layak pakai, makanan bayi, tenda, selimut, alat mandi, perlengkapan ibadah, obat-obatan, masker, ada pula 1 (satu) Unit Excavator dari Kementerian Sosial Republik Indonesia yang diwakili Bapak Muhammad Delmi untuk Kab. Flotim .
Bantuan tersebut diserahkan secara simbolis oleh Komandan KRI KBI-971 kepada Bupati Flores Timur selaku Dansatgas Bencana Alam di daerahnya disaksikan oleh Komandan Lanal Maumere, untuk selanjutnya disalurkan kepada para Korban Terdampak Bencana Alam Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Kab. Flotim serta Kab. Lembata.
“Lanal Maumere memiliki tugas mengawal bantuan bencana alam
agar sampai di daerah sasaran dengan baik, disamping itu, Pulau Adonara dan
Pulau Lembata merupakan wilayah kerja Lanal Maumere, dimana di Flotim terdapat
Posmat dan di Lembata terdapat Posal.
Keberadaan Posal maupun Posmat ini merupakan perpanjangan tugas organisasi TNI Angkatan Laut di daerah dalam rangka Pemberdayaan wilayah Pertahanan Laut” ujar Komandan Lanal Maumere. (Penlanalmaumere/Atick)
BERANDANEGERI.COM,- Pandemi Covid-19 dan ingatan akan bencana alam belum juga berlalu. Namun hal ini tidak harus membuat semua orangtua terlena untuk tidak lagi memikirkan masa depan pendidikan anak-anak, apalagi tahun ajaran baru sudah di depan mata.
Di tengah perubahan zaman menuju era digitalisasi, menuntut juga perubahan dalam cara pendidikan untuk mempersiapkan masa depan anak. Sebab, saat ini dan kedepan, tak hanya pekerjaan baru yang bermunculan, melainkan pekerjaan yang sudah ada juga mengalami perubahan.
SMK Katolik Henricus Leven Waibalun- Larantuka – Flores Timur merupakan sekolah kejuruan yang didirikan untuk menyiapkan anak-anak dalam meraih masa depan ini. Dari visi sekolah ini yakni, unggul dalam prestasi, terampil dalam berkarya, kompeten dalam kerja, dan berlandaskan iman Kristiani.
Visi yang kuat akan masa depan pendidikan anak ini, sungguh tergambar dalam misi sekolah, diantaranya, Pertama, melaksanakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan (PAIKEM).
Kedua, meningkatkan profesionalitas guru dan pegawai sesuai dengan kualifikasi
Ketiga, membangun dan membina jaringan kerja sama dengan dunia usaha dan industri nasional serta masyarakat luas dalam mengembangkan standar lulusan.
Dan keempat, mengembangkan keunggulan ketrampilan dan ketelitian dengan mengutamakan kedisiplinan dan kejujuran yang dilandasi oleh jiwa dan semangat keimanan, kreativitas, kekeluargaan dan kepedulian serta kasih sayang terhadap sesama dan lingkungan.
Sementara pada tujuan didirikannya sekolah ini adalah menyiapkan peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta berkarakter agar menjadi manusia yang produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada pada dunia usaha dan dunia industrI sebagai tenaga kerja trampil sesuai dengan kompetensi program keahliannya.
Tujuan dari sekolah juga ini meningkatkan tenaga pendidik dan kependidikan yang berdaya guna dan berdaya saing pada tingkat lokal dan Nasional sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan
Berhubungan dengan itu, maka ada tujuan lain yakni membekali peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetisi di lingkungan kerja dan mengembangkan sikap professional dalam bidang keahlian yang diminatinya.
Juga dan yang terpenting adalah memperteguh sikap kepedulian sosial terhadap sekolah, masyarakat, nusa dan bangsa.
SMK Katolik Henricus Leven membuka sejumlah kompetensi keahlian. Yakni Kompetensi Keahlian Farmasi, Kompetensi Keahlian Busana Butik, dan Kompetensi Keahlian Multimedia.
Mau tahu materi apa yang diajarkan pada setiap kompetensi keahlian ini ? Untuk Program Keahlian Farmasi, siswa diajarkan tentang bagaimana teknik pembuatan obat dan peraturan tentang obat-obatan.
Di akhir masa pendidikan selama 3 (tiga) tahun, siswa akan mendapatkan sertifikat kompetensi keahlian farmasi dari PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia)
Siswa lulusan Program Keahlian Farmasi dapat menjadi asisten
apoteker, baik di apotik, rumah sakit, puskesmas, klinik, dan bahkan di
industri obat-obatan.
Untuk Kompetensi Keahlian Busana Butik, memfokuskan pada bidang pembuatan busana dalam pengelolaan dan penyelenggaraan usaha busana serta mampu berkompetisi dalam mengembangkan sikap profesional dalam bidang busana.
Kompetensi keahlian ini berusaha menyiapkan peserta didik
agar memiliki kemampuan pengetahuan dan keterampilan baik dalam fashion design,
teknik menjahit, membuat busana dan teknik pola.
Terampil membuat pola busana sesuai dengan model atau desain yang diinginkan pelanggan dengan pemilihan sistem pembuatan pola yang tepat. Mengoperasikan mesin jahit sekaligus menyelesaikan busana dengan jahitan tangan.
Pada Kompetensi Keahlian Multimedia yang merupakan kombinasi teks, seni, animasi, gambar dengan dilengkapi audio video, dikomunikasikan atau disampaikan baik melalui komputer atau peralatan manipulasi elektronik dan digital lain.
Siswa SMK Katolik Henricus Leven pada kompetensi keahlian ini akan mampu membuat : Projek web design, Fotografi, Membuat iklan layanan masyarakat dan iklan komersial, Membuat film fiksi atau non fiksi dan film dokumenter, Membuat video klip, design cover dan isi majalah, Design produk untuk sebuah kemasan, dan Design spanduk dan design banner
Untuk membedakan satu kompetensi dengan kompetensi yang lain, serta mengajarkan disiplin, profesional belajar serta memberikan rasa nyaman saat belajar, maka setiap kompetensi keahlihan memiliki seragam, buku dan alat praktiknya sendiri.
Kompetensi Keahlian Busana Butik, misalnya, mengenakan seragam Yayasan, Seragam Olah Raga, Kaos Kaki Berlokasi, Logo Yayasan dan Lokasi Sekolah dan Baju Praktek Busana.
Kompetensi Keahlian Multimedia dan Farmasi mengenakan Seragam Yayasan, Seragam Olah Raga, Kaos kaki Berlokasi, Logo Yayasan dan Lokasi Sekolah, Seragam Kejuruan untuk Praktek Lab dan Lapangan, Jas Lab untuk Farmasi dan Buku Paket Siswa
SMK Katolik Henricus Leven siap untuk menampung putra-putri bapak/ibu semua, dengan fasilitas, Ruang Teori, Ruang Perpustakaan, Ruang Laboratorium Komputer, Internet/Wifi, Band Sekolah, dan Kantin. Dan jangan lupa Siswa yang datang dari luar Kota Larantuka, disediakan Asrama yang didampingi para Suster
Tunggu apalagi ? Segera memastikan anak Anda menjadi bagian dari pendidikan di SMK Katolik Henricus Leven, dengan syarat pendaftaran: STTB/Ijasah Asli SMP/Sederajat, SKHUN Asli SMP/Sederajat, Foto Copy STTB/ Ijazah SMP/Sederajat yang sudah dilegalisir sebanyak 4 lembar, Foto Copy SKHUN SMP/Sederajat, sebanyak 4 lembar, Pas Foto 3 x 4 Hitam Putih sebanyak 4 lembar, Foto Copy Akta Kelahiran dan Surat Permandian sebanyak 1 lembar, Foto Copy Kartu Keluarga, Usia Maksimal 21 Tahun Pada Tahun Ajaran Baru
Melalui brosur yang diterbitkan oleh SMK Katolik Henricus Leven, pendaftaran siswa baru sudah dibuka, masyarakat sudah boleh mendaftar mulai sekarang. Tempat pendafratan Kantor SMK Katolik Henricus Leven, Susteran CIJ Waibalun – Larantuka. Atau WA: 081-328-188-716
“A good listener tries to understand what the other person is
saying. In the end he may disagree sharply, but because he disagrees, he wants
to know exactly what it is he is disagreeing with.” (Kenneth A. Wells)
PERTEMUAN rutin anggota HR Directors
Forum (HRDF) dioptimalkan untuk saling update, saling belajar dan tentu saja
menjaga tali silaturahmi tetap terjalin. Agendapun dirancang untuk memungkinkan
para anggota mendapat update terkait berbagai issue kekinian seputar Pengelolaan
SDM di industry 4.0 and beyond, termasuk ragam generasi dan digitalisasi.
Transforming People for
Transforming Business
Mengelola 35 ribu drivers dan
karyawan di 75 pools di 20 kota tentu bukan pekerjaan yang muda.
Para leaders tentu dipersiapkan untuk memainkan peran tersebut. Untuk itu
mereka dtuntut untuk bisa memimpin diri sendiri (Leading self) sebelum mereka
dipercayakan untuk memimpin team (Leading Team) dalam rangka meraih sukses di
bisnis (Leading the Business). Dan untuk menyamakan dan menyatukan irama
langkah, maka para pimpinan dimintaut untuk bisa melayani dengan nilai-nilai:
integritas, peduli, inovatif dan sepenuh hati.
Dengan penuh keyakinan, ibu Noni Sri
Aryati Purnomo, CEO Blue Bird memaparkan bagaimana leader di Blue Bird di
yakinkan bahwa setiap leader bertanggung jawab atas kehidupan 400 drivers dan
keluarganya. Ini akan membuat mereka benar-benar mengambil keputusan yang
bijak, manakala berkaitan dengan pengembangan para driver dalam jangka panjang
dalam menunjang bisnis. Berikut kompilasi foto, termasuk foto depan Tesla,
taksi mewa bertenaga listrik.
Mendengarkan Milenial
Salah satu agenda penting yang kami
tunggu-tunggu adalah dialog dengan milenial, yang dihadirkan dari dua
perusahaan berbeda. Berikut pertanyaan dan tanggapan para milenial.
Apa kenyataan yang tidak sesuai
dengan harapan saat awal bekerja?
Ada saja proses kerja yang bisa disederhanakan. Kami
usulkan, tapi terbentur tembok, katanya dari dulunya begitu, sudah baku.
Kerja dengan yang seumur orang tuaku. Mereka mengharapkan
kami bisa mengerjakan banyak hal tanpa ditraining. Tapi kami kan baru,
ingin ditrain, tapi kalau tidakpun kami tidak tinggal diam, kami learn by
doing.
Salah satu milenial melihat perjalanan awalnya seakan
tidak berujung, tidak bisa melihat impact kerjaannya. Inginnya lebih
kongkrit. Selain itu dia menginginkan flexibility, tidak terikat jam.
Dengan pindah ke role baru di HR, dia masih tinggal di perusahaan 7 tahun
karena bisa terbuka menyampaikan aspirasi, dan didengar; saya move to HR
dengan proyek yang setahun kemudian bisa implementasi
Sering dianggap sebagai generasi
instan? Setuju?
Instan? Tidak, kami masih hargai proses, perlu ukuran
ke next step. Misalnya kalau saya mau jadi manager seperti dia, diperlukan
apa saja dan bisa dalam waktu berapa lama?
Tidak setuju. Perlu peneguhan atau kepastian apakah
value pribadi sesuai dengan value perusahaan.
Kerja cepat dan banyak, hasilnya juga harus cepat
dinikmati.
Apa yg membuatmu tinggal lebih lama
di perusahaan? Apakah kompensasi itu utama?
Engagement tumbuh bila aspirasi berbanding lurus dg
kompensasi dan juga appreciation/recognition
Environment nyaman, ada kebanggaan/pride, kesempatan
self development karena manager peduli pada pengembangan anak buah
Good leader, ada mentor/buddy, right compensation,
appreciation.
Beda generasi menurut kamu?
Umur dan experience membentuk karakter orang lebih
bijak. lebih banyak knowledge
Adaptive technology, older lebih suka cara komunikasi
face to face, kami lebih suka di sosmed, walau sama-sama ingin mencapai
target
Yang lebih tua tidak mau balas email maunya didatangi;
willingness to speak di forum tapi terbentur kebiasaan yang tua, yaitu
beri instruksi dan lainnya mendengarkan
Ternyata dengan berbagai upaya yang
dilakukan management, banyak juga milenial yang keluar; apa lagi yang harus
diperbuat?
Milenial tempting untuk kerja di unicorn, atau kerja di
perusahan yang kuat brandingnya
Budaya perusahaan, yang tercermin dari perilaku para
leader turut menjadi faktor penting
Keluar karena bos tidak peduli pada pengembangan anak
buah.
Terkadang dalam exit interview mereka hanya bilang
tidak sesuai minat; bosan, pengen kuliah lagi; ada juga karena perusahaan
lain lebih keren, teman-temanku bangga bekerja disana
Hanya tiga orang yang didengarkan,
namun beberapa pendapat mereka boleh jadi merupakan pendapat milenial umumnya,
walaupun kita tidak bisa melakukan generalisasi.
Hemat saya, langkah bijak yang perlu
dilakukan oleh setiap leader adalah: lakukan dialog rutin dangan anggota timmu,
dengarkan aspirasi mereka, bantu mereka untuk bisa berkontribusi maksimal
ditengah lingkungan dengan generasi beragam. Muda-mudahan mereka bisa kita
tahan lebih lama lagi di perusahaan.
“A wise old owl sat on an oak; The more he saw the less he spoke;
The less he spoke the more he heard; Why aren’t we like that wise old
bird?” (Chinese Proverbs)
PERISTIWA
tragis Jalan Kalasan 10, Surabaya, Jawa Timur, Sabtu (17/8 2019) lalu menyulut
amarah sebagian besar masyarakat baik di Papua maupun Papua Barat. Papua
menjadi seksi di mata publik tanah air. Masyarakat tanah Melanesia itu seperti
berselubung amarah. Merasa tersinggung karena harkat dan martabatnya
direndahkan dengan sarkastis: anjing, babi atau monyet. Gelombang demonstrasi
sejumlah elemen mahasiswa dan masyaraka terjadi sporadis tak hanya di beberapa
kota di tanah Papua tapi kota-kota lain di Indonesia.
Peristiwa
itu bermula sehari sebelum peringatan HUT ke-74 RI. Asrama mahasiswa Papua di
Kalasan dikepung massa sejumlah ormas pada Jumat (16/8). Kehadiran massa
tersebut ditengarai dilatari adanya penistaan simbol negara yang diduga
dilakukan mahasiswa asal Papua. Akibatnya, asrama porak poranda akibat aksi
massa menyusul baku hantam massa dengan mahasiswa.
Lain
Kalasan, lain Rajabali. Sejumlah mahasiswa yang terhimpun dalam Aliansi
Mahasiswa Papua hendak menggelar aksi damai di Balai Kota Malang, Kamis (15/8).
Aksi tersebut, demikian Wali Kota Sutiaji, mengecam penandatanganan New York Agreement antara Indonesia dan
Belanda yang terjadi 15 Agustus 1962. Namun, aksi dihadang sekelompok warga di
kawasan Rajabali yang berbuntut bentrok.
Aksi
di dua kota berbeda itu memantik perhatian Presiden Jokowi. Paitua (bapa tua, sapaan akrab dalam
bahasa lokal Papua) Jokowi merasa ibah kemudian buang suara, angkat bicara. Melalui linimasa, paitua menyapa pace
(bapa) dan mace (ibu) serta basodara (saudara dan saudari) di tanah
Papua. Ia mengaku memahami mereka tersinggung. Dari hati paitua buang suara. Sebagai saudara sebangsa dan setanah air,
paling baik adalah saling memaafkan. Emosi itu boleh, tetapi memaafkan itu
lebih baik. Demikian kata Jokowi. Apakah sebatas itu Jokowi buang suara?
Merebus
batu
Perlakuan
rasis dan diskriminatif atas sebagian mahasiswa asal Papua adalah bukti nyata
lemahnya pemahaman sebagian anak bangsa atas negeri yang beraneka ragam suku,
agama, adat-istiadat, dan asal-usul yang berdiam di honai (rumah) besar bernama Indonesia.
Peristiwa
Kalasan dan Rajabali menunjukkan perjuangan warga Papua setara warga negara
lainnya, terutama hak-hak asasi manusia kerap menjelma jadi perilaku rasis dan
diskriminatif. Bagi mahasiswa asal Papua, mengharapkan keadilan dari negara,
mengutip tokoh Papua Thaha al Hamid, seperti “merebus batu.” Kita semua anak
bangsa bisa memaklumi mengapa masyarakat Papua ganas (marah) menyusul aksi rasial seperti di atas.
Dalam
Heboh Papua (2010), Amiruddin al
Rahab menyebut perjuangan untuk meraih hak, khususnya hak asasi manusia di
Papua telah menjelma menjadi perjuangan politik. Ada dua faktor yang yang
mendorong gejala ini terjadi. Pertama, terlalu lamanya pemerintah mengabaikan
rasa adil di Papua sehingga persoalan kian bertumpuk. Kedua, Papua kian
berjarak dengan daerah lain akibat terlalu rendahnya solidaritas rakyat dan
daerah lain terhadap penderitaan orang Papua.
Jalinan
dari kedua faktor ini membuat rakyat di Papua seakan belum menjadi bagian dari
Indonesia secara nyata. Bahkan dapat dikatakan, rakyat di Papua seakan
dibiarkan berjuang sendirian untuk meraih hak konsitusional. Maka membicarakan
pemenuhan hak asasi di Papua, berarti kita memeriksa keseriusan pemangku
kekuasaan di satu sisi dan di sisi lain melihat tingkat solidaritas rakyat
Indonesia dari daerah lain terhadap Papua.
Bahkan jauh
sebelumnya, dalam Otonomi Khusus Papua
Telah Gagal (2012), Socratez Yoman mengingatkan agar perlu mengubah
kebijakan dan proses pembangunan yang selama ini diwarnai pendekatan keamanan (security approach) menjadi pendekatan
kemanusiaan dan kesejahteraan (humanity
and prosperity approach) yang berpijak pada kearifan lokal.
Kebijakan otonomi
khusus bagi Papua adalah solusi bijaksana, tepat, dan bermartabat. Karena itu dibutuhkan
pemikiran jernih dan rasional untuk mengurai permasalahan krusial, struktural,
dan sistemik dalam pelaksanaan otsus. Butuh inovasi politik, bukan kebijakan
politik yang usang namun dipaksakan. Dalam kaitan dengan peristiwa Kalasan dan
Rajabali yang membuat tak hanya heboh di seluruh tanah Papua dan Indonesia,
hemat saya paitua Jokowi perlu juga
buang suara lebih jauh agar masyarakat Papua merasa disapa sebagai sesama
saudara sebangsa dan setanah Air yang hidup yang menetap di honai besar bernama
Indonesia. Apa saja langkah itu?
Menyapa rakyat
Publik tahu bahwa
Presiden Jokowi mengasihi masyarakat dan tanah Papua. Ia misalnya, setia
memantau perkembangan terkini terutama terkait demonstrasi mahasiswa dan
masyarakat buntut peristiwa rasial Kalasan dan Rajabali. Bahkan Presiden Jokowi
juga menyampaikan niat menyambangi Papua saat memantai tambak garam di kampung
Nungkurus, Kupang Timur, NTT, Rabu (21/8/2019). Mengapa kunjungan ini penting,
ada beberapa catatan.
Pertama, Jokowi perlu
ke Jayapura kemudian bertemu langsung pemerintah dan seluruh elemen di sana.
Paitua cukup bawa badan kemudian buang suara, bicara dari hati ke hati
menyampaikan permohonan maaf secara langsung kepada masyarakat, termasuk
Gubernur Enembe dan jajarannya, DPRP dan Majelis Rakyat Papua sebagai
representasi kultural, pimpinan gereja lokal, tokoh masyarakat, pemuda serta
lembaga adat, dan lain-lain.
Kedua, Papua adalah
pulau raksasa di timur Indonesia dengan kekayaan alam luar biasa besar. Ia tak
hanya menjadi sumber kehidupan dan keberlangsungan manusia di seantero jagad tapi
juga salah satu penopang pundi-pundi ekonomi Indonesia dengan perusahaan
tambang raksasa, Freeport Indonesia. Karena itu, dalam memajukan Indonesia
terutama tanah Papua, pemerintah dan masyarakat serta seluruh elemen harus bahu
membahu ambil bagian dalam memajukan negeri. Masyarakat Papua mesti sungguh
dilibatkan. Tak hanya itu, Papua terdiri dari aneka ragam suku, bahasa, dan
adat-istiadat, yang mendiami gunung, lembah, bukit, ngarai, sungai, pantai, dan
setiap lekuk pulau besar itu.
Ketiga, orang Papua
adalah tipikal manusia yang sangat menjunjung tinggi keberagaman suku, agama,
adat-istiadat ras, dan asal-usul di manapun mereka berada. Niat Jokowi bertemu
langsung masyarakat boleh jadi sekaligus menyegarkan memori kehadiran Jokowi
dan Ibu Negara saat berada di kampung Yoka, Papua, 5 Juni 2014. Bahwa antara
Iriana, isteri paitua Jokowi, ada tali temali kepapuaan, persaudaraan. Kata
Jokowi, Iriana diambil dari nama Irian. Kakek Iriana, pernah mengajar di sana,
lantas saat lahir diberilah nama itu. “Namanya Iriana. Irian. Kenapa namanya
Iriana? Karena kakeknya dulu adalah guru di sini, Irian. Kemudian pulang saat
istri saya lahir, lalu ngasi nama
cucunya Iriana. Iriana saja namanya,” begitu kata Jokowi.
Lepas dari itu, bila
paitua Jokowi hadir di tengah masyarakat, mendengar langsung isi hati pace deng mace dorang, niscaya mampu
menghapus luka hati yang telanjur terkoyak akibat peristiwa rasial seperti yang
terjadi di Kalasan dan Rajabali. Masyarakat Papua tentu merasa disapa sebagai
sesama manusia dan warga bangsa setara dengan saudara dan saudarinya di seluruh
Indonesia. Dari sana, masyarakat Papua juga akan menghormati setiap pemimpin
sebagai pengayom, pelindung masyarakat dan masyarakat tetap merasa nyaman
berada di manapun di wilayah kedaulatan negeri ini.
Hal itu juga menjadi
sumber kekuatan bagi pemerintah memaksimalkan potensi yang dimiliki Papua untuk
ikut memajukan tanah air dalam bingkai NKRI. Masyarakat tanah Papua adalah
tipikal manusia beradat, bukan masyarakat tak tahu adat. Momen pertemuan ini
tentu juga akan membahagiakan mereka. Bukan tidak mungkin paitua Jokowi
dianggap dan diangkat sebagai anak adat, dia yang punya tugas tambahan merawat
nilai-nilai adat, etika, tata krama, sopan santun warisan leluhurnya. Sambil
menunggu paitua Jokowi buang suara, terima kasih dalam dialek Papua pantas
disampaikan kepada paitua: Wa… wa…. wa…..
Barangkali sekarang adalah saat yang tepat untuk mengingatkan Joko Widodo bahwa podium dan persuasi adalah instrumen kekuasaan yang penting, apalagi jika dilakukan seorang presiden.
Teddy Roosevelt, presiden Amerika
Serikat di awal abad ke-20, pernah berkata bahwa podium bagi pimpinan tertinggi
eksekutif adalah the bully pulpit. Dalam
membuat kebijakan, tangan presiden terikat dengan berbagai kewenangan yang
melekat di lembaga lainnya. Walau duduk di kursi tertinggi pemerintahan,
kekuasaan seorang presiden selalu terbagi.
Tetapi, di podium, dengan simbol
kebesaran negara, ia berdiri sendiri, bebas mengutarakan ide, opini, dan
bujukan yang mampu mengubah pikiran begitu banyak orang. Memang, untuk bisa
memanfaatkan podium secara maksimal, diperlukan bakat alamiah. Obama, misalnya,
sejak awal telah menemukan gaya retorika yang memukau sebab ia memiliki bakat
besar untuk berbicara di depan publik. Kemampuan berpidato adalah sebuah seni.
Ia dapat dipelajari, namun faktor bakat dan kepribadian memiliki pengaruh yang
tidak kecil.
Dalam hal ini barangkali harus
diakui bahwa Jokowi, sebagai seorang pribadi, tidak termasuk a natural public speaker. Tetapi, tidak
berarti bahwa ia tidak perlu atau tidak bisa tampil sebagai pembicara yang
menarik serta membangkitkan inspirasi. Pembicara yang baik tidak harus menjadi
singa podium.
Sejauh ini, dalam berpidato sebagai
presiden, Jokowi sebenarnya beberapa kali tampil dengan sangat mengesankan.
Contoh terbaik dalam hal ini adalah pidatonya pada peringatan Hari Pers
Nasional di Jakarta, pada akhir April.
Di hadapan ratusan tokoh pers yang
menghadiri acara tersebut, dengan naskah pidato di tangan, tetapi hanya
sesekali diliriknya, Jokowi seolah menemukan dirinya, comfortable in his own skin, berbicara sebagai pemimpin dengan
pesan yang berbobot. Ia menjelaskan berbagai program pemerintah, meminta
kesabaran sambil menekankan bahwa di ujung jalan yang berliku pasti terbentang
horizon baru yang lebih baik buat semua.
Dengan pidato semacam ini, kita
melihat pada diri Jokowi seorang pemimpin yang sungguh-sungguh serta mengerti
apa yang harus dilakukannya. Ia juga memperlihatkan ketegasan, tanpa
meninggalkan citra kesederhanaan yang selama ini melekat padanya.
Pidato semacam ini, dengan durasi
sekitar 15 menit, patut mendapat acungan dua jempol serta tepuk tangan yang
meriah. Kalau diberi nilai, ia layak mendapat A plus. Sayang, beberapa pidato
Jokowi lainnya tidak mencapai nilai sebaik itu, bahkan mungkin jauh di
bawahnya.
Di Blitar pada 1 Juni, misalnya,
pidato Jokowi sebenarnya mengandung banyak persoalan. Faux pas tentang kota kelahiran Bung Karno, yang kemudian ramai
menjadi bahan olok-olok di dunia maya, hanya salah satu di antaranya.
Kalimat pembuka pidato ini agak lebay, berlebihan, karena mengungkapkan
perasaan yang mungkin sulit dipercaya (“Setiap kali saya berada di Blitar,
kota kelahiran proklamator kita. Hati saya tergetar.”). Isinya juga
terlalu normatif dengan logika yang melingkar, tautologis (“Pancasila
harus kita wujudkan dengan memperkuat persatuan nasional.”).
Namun, kelemahan terbesar di sini:
Jokowi tidak menjadi dirinya sendiri. Mungkin ia dan tim penulis pidatonya
larut dalam momen besar peringatan kelahiran Pancasila serta peran Bung Karno,
dan karena itu teks yang dibacanya pun bertebaran dengan kalimat-kalimat besar
yang sebenarnya asing bagi kepribadiannya.
Aura Jokowi cocok dengan kata
“kerja,” bukan kata “perjuangan,” apalagi kata
“revolusi.” Kalau ia terlalu memaksakan ungkapan yang sesuai dengan
cita-rasa Bung Karno, maka Jokowi justru mengecilkan kekuatannya sendiri.
Jadinya, selama delapan menit
Presiden Ke-7 RI ini berpidato di Blitar, suasana yang tercipta datar-datar
saja, tanpa antusiasme, tanpa kehangatan. Mungkin itu sebabnya, sebagaimana
yang tampak di layar televisi, pada saat pidato tersebut disampaikan beberapa
kali Ibu Megawati Soekarnoputri berbisik-bisik dengan Boediono, mantan wapres,
yang duduk persis di sebelahnya.
Semua itu barangkali patut menjadi pelajaran
berharga, bagi Jokowi dan bagi tim inti di lingkaran kepresidenan. Dua contoh
pidato di atas memperlihatkan bahwa setelah hampir setahun, Jokowi masih
mencari bentuk yang baku. Terkadang kekuatannya muncul bersinar, seperti dalam
beberapa momen terbaik masa kampanye tahun lalu, namun terkadang pula kekuatan
ini meredup hampir tak bersisa.
Saran saya, jangan kecil hati.
Perjalanan ke depan masih panjang. Pemimpin harus terus belajar-bahkan Obama
sampai sekarang, kalau menghadapi peristiwa penting, mempersiapkan dan melatih
dirinya dua atau tiga jam sebelum menyampaikan pidato di depan publik.
Tidak ada pemimpin yang langsung
jadi. Justru yang hebat adalah pemimpin yang tidak terbebani, tetapi tumbuh
dalam kekuasaan. The great leaders are
those who grow in power. Yang penting adalah kemauan untuk belajar.
Kembangkan kelebihan yang sudah ada, sambil menyadari dan terus memperbaiki
kelemahan yang masih tersisa.
Kita semua berharap Jokowi akan
menjadi pemimpin yang sukses. Kita tahu, sebagai presiden, tangannya tidak
begitu saja bebas bergerak dalam melahirkan kebijakan sebab ia harus mengarungi
banyak kepentingan, terutama dari kelompok pendukungnya sendiri. Justru karena
itulah, pada saat berdiri di podium dan menjadi satu-satunya pusat perhatian orang,
Jokowi harus menjadi dirinya sendiri serta berbicara sebagai pemimpin
tertinggi. Hanya dengan cara ini ia dapat memelihara modal politiknya yang
terbesar, yaitu simpati dan opini publik.
Dan hanya dengan cara itu,
barangkali ia dapat menggerakan Indonesia, untuk mencapai tujuan-tujuan yang
telah ditetapkannya . Terhadap Winston Churchill, kaum sejahrawan berkata, ia
memobilisasi the English words untuk
menyelamatkan Eropa dari penaklukan Adolf Hitler. Terhadap presiden Joko Widodo , suatu
waktu kelak kita berharap aka nada orang berkata, ia membangkitkan semangat
Indonesia untuk melangkah semakin maju lewat kata-katanya yang halus, santun,
dan merakyat.
Sebagai penutup, mungkin ada baiknya kita dengarkan Marcus Tullius Cicero, orator terbesar Emperium Romawi “Tak ada yang dapat memberimu nasihat lebih baik selain suara yang datang dari lubuk batinmu sendiri.” So be yourself, Mr. President.
Sumber Artikel dari Buku Dari Jokowi ke Harari, Kepustakaan Populer Gramedia, 2019
“To be fully engaged, we must be physically energized, emotionally
connected, mentally focused and spiritually aligned with a purpose beyond our
immediate self-interest.” (Jim Loehr)
SUASANA penuh gairah untuk terus berbagi dan belajar. Ini bukan pertama kali. Sudah 50 batch Certified Human Resource Professional Program Atma Jaya dengan alumni lebih dari 2.000 orang. Mereka adalah praktisi HR yang ingin membekali diri lagi dengan berbagai pengetahuan secara konsep kekinian maupun pengalaman dari praktisi. Mereka juga ingin membangun network dengan rekan-rekan di perusahaan lain, agar dikemudian hari setelah selesai mengikuti program, mereka bisa terus saling belajar.
Energi Positif
Menarik untuk mengintip reaksi
peserta usai mengikuti sesi ini. Secara umum yang memberikan komentar
mengedepankan verbatim: very inspiring. Tapi ada baiknya juga
untuk mengutip apa yang dirasakan Sri Rezki Eskawaty Rosmala berkaitan dengan
energi positif:
Dear pak Josef,
Terima kasih sudah mengembalikan
energi positif yang sempat hilang di hari ini. Terima kasih telah memberikan
kebahagiaan di malam ini dengan cerita hidup yang begitu inspiring bagi kami.
Senada dengan itu, Marsha Djafar
berkomentar:
Thank you pak … very inspiring,
penatnya hari ini tetiba berubah dengan mendengarkan materi dari bapak
Sementara itu komentar Esther
Natalia seakan meneguhkan pernyataan diatas:
@josefbataona Salut pak,
Jadi aku tahu mengapa sejak awal
kelas dimulai auranya beda: sangat menginspirasi, sangat menggugah hati
The power of Story
Telling
Di awal sesi, saya memang
menjanjikan untuk tidak berteori tetapi menceriterakan berbagai praktek
nyata yang saya kerjakan bersama rekan BOD di perusahaan. Tema sesi tentang
Leadership, tapi fokus saya pada Leadership yang authentic, genuine yang sadar
sepenuhnya akan professional calling, diantaranya adalah membuat anak buahnya
tumbuh dan berkembang. Tidak lupa saya menyelipkan juga perjalanan hidup dan
karier pribadi yang memang merangkak dari bawah.
Lidia Sari yang cermat menyimak
paparan itu, membuat catatan panjang di postingan Instagramnya, sebagai
berikut:
Am I a better person?
Dibalik moto hidupku, saya membuat
komitmen untuk terus belajar setiap saat agar bisa terus memperbaiki diri.
Belajar hari ini agar bisa menjadi pribadi yang hari ini lebih baik dari hari
kemarin, dan besok harus lebih baik dari hari ini. Dan saya hanya ingin
membandingkan diri saya di waktu yang berbeda, tidak membandingkannya dengan
orang lain. Nelly Magdalena dengan tajamnya menangkap pesan ini, sehingga dia
berkomentar:
Never ending learning. His life
story, @josefbataona is very inspiring. He is truly a living “walk the talk”
man. He always prove his motto “Be yourself, but better everyday.” Am I a
better person today?
Sementara itu komen Syahrir Aditya
atas postingan IGku mempertebal keyakinanku akan hasil belajar peserta CHRP.
Berikut komentar lengkapnya:
Saya jadi ingat ketika bapak
@josefbataona memberikan sharing di batch 38 pada Juli 2017, rasanya semua
sharing bapak masih melekat dan menginspirasi hingga sekarang… semoga someday
bisa satu ruang dan satu forum lagi dengan bapak.
Dan harapan untuk bisa terus belajar
bersama juga disampaikan Khairunnisa Zahra:
Thank you pak Josef for today’s
session. Very inspiring pak, semoga saya ada kesempatan lagi mengikuti kelas
bapak di lain event
Harapanku, kisah ini terus berlanjut
saat semua peserta kembali ke dunia nyata, apalagi saat mereka mulai
menjalankan peran sebagai leader. Semoga inspirasi yang mereka ungkapkan ini
juga terus menginspirasi mereka dalam implementasi. Dan perjalanan untuk
belajar masih terus berlanjut. Peserta sudah menambah jaringan persahabatan
dengan 56 peserta lainnya. Bila masing-masingnya mempunyai masa kerja rata-rata
5 tahun saja berarti mereka punya secara kolektif 280 tahun pengetahuan dan
pengalaman yang bisa dibagikan kepada teman-temannya. Semoga !
“When you are enthusiastic about what you do, you feel this positive energy.” (Paulo Coelho)
“Loyal employees uphold your brand and ensure the sustainability of your business. They go the extra mile. They make it possible for you to win.” (Brigette Hyacinth)
KARYAWAN LOYAL. Apakah ini berkaitan
dengan lamanya seseorang bekerja? Apakah dia loyal kepada atasan atau
Perusahaan? Apakah dia justru loyal kepada profesi?
Saya tergugah untuk mengangkat tema loyalitas karyawan karena munculnya
pertanyaan dari seorang peserta sharing sessionku tentang loyalitas ini.
Pertanyaan persisnya, bapak pernah bekerja sampai 31.5 tahun di satu
perusahaan, bahkan sampai pensiun. Apa makna Loyalitas menurut bapak?
Pertanyaan itu sangat masuk akal terutama karena datangnya dari seorang
milenial, yang belum bisa membayangkan bekerja selama itu di perusahaan yang
sama. Berikut foto Bersama peserta sharing session.
Perlakuan Yang dialami
Karyawan
Sering sekali kita bicara tentang
cara Perusahaan memperlakukan karyawan, atau tentang budaya kerja
perusahaan. Tapi sebetulnya yang dimaksud dengan perusahaan adalah atasan
karyawan. Karena atasan kita adalah orang yang paling dekat dengan kita, yang
karena tugasnya mewakili perusahaan dalam keseharian kita. Jadi kalau hubungan
dengan atasan baik, akan dianggap bahwa hubungan dengan perusahaan
juga baik. Tapi kalau sebaliknya terjadi maka karyawan tidak akan tinggal
lama. Sementara itu, riset juga menunjukan bahwa karyawan yang loyal memiliki
produktivitas 12% lebih tinggi. Mereka akan menjadi brand ambassador, akan go
extra mile, menjamin keberlangsungan bisnis dan berjuang demi keberhasilan
perusahaan.
Perlu juga disadari, bahwa
competitor sedang mengincar talent perusahaan kita. Bahkan hasil survey yang
dipaparkan oleh Brigette Hyacinth di LinkedIn 5 April 2018,
(https://www.linkedin.com/pulse/why-managers-should-care-employee-loyalty-brigette-hyacinth)
bahwa dari 30 case study yang diambil dari 11 survey memperlihatkan bahwa biaya
yang dikeluarkan untuk menggantikan karyawan yang berhenti kurang lebih 20%
dari total penghasilan karyawan tersebut. Angka itu dihitung dari hilangnya produktivitas
karena karyawan keluar, biaya untuk mencari pengganti dan belum maksimalnya
produktivitas karyawan baru. Belum lagi kerugian karena karyawan lain boleh
jadi berpikir-pikir untuk pergi, atau rusaknya citra perusahaan di mata
karyawan sendiri dan pencari Kerja.
Tips untuk mempertahankan
Karyawan terbaikmu
Bila karyawan merasa disconnected, undervalues, unappreciated, mereka akan segera mencari pekerjaan lain dimana kontribusi mereka lebih dihargai. Karena itu cara mencegahnya adalah memberikan kepada karyawan alasan untuk mereka mau tinggal. Beberapa saran Brigette Hyacinth, diantaranya:
Perlakukan karyawan sebagai manusia, bukan mesin.
Karyawan ini punya kebutuhan akan balanced life, punya personal time,
family time, social time dll
Beri kesempatan untuk pengembangan karyawan. Buatlah
karyawan melihat makna dibalik setiap tugas yang dikerjakan.
Berikan pengakuan dan penghargaan pada hasil kerja
karyawan. Jadikan itu sebagai bagian dari budaya perusahaan.
Jangan micromanage karyawan. Percaya pada mereka,
berikan otonomy dan keleluasaan untuk bekerja.
Berikan training dan support, yang akan dilihat
karyawan sebagai komitmen perusahaan untuk pengembangan pribadi karyawan.
Perlihatkan empathy. Dampaknya moral dan kinerja
karyawan akan meningkat
Akhirnya, ciptakan budaya dimana ada komunikasi
terbuka, ada fairness, teamwork dan suasana kekeluargaan.
Hal tersebut diatas perlu mendapat
perhatian, karena sering kita berpendapat, seakan-akan karyawan keluar karena
ada tawaran lebih besar di luar. Memang kenyataannya bahwa karyawan keluar akan
meminta tawaran lebih tinggi di perusahaan baru. Tapi alasan utama kenapa dia
mulai berpikir untuk keluar adalah karena perlakukan atasan terhadapnya.
Apalagi atasan yang tidak dekat dengan karyawannya senantiasa gagal paham akan
apa yang menjadi motivasi seseorang dalam bekerja.
Loyal Sepenuh Hati
Kembali ke pertanyaan awal, apa
sebetulnya loyalitas itu? Saya diterima di sebuah perusahaan karena kompetensi
yang saya miliki. Secara professional saya berkembang dan bisa berkontribusi
bagi perusahaan. Saya akan bekerja dengan sepenuh hati karena saya percaya
bahwa perusahaan juga menghargai kontribusiku, para pemimpin memberikan
kesempatan untuk berkembang, dan disana saya diperlakukan sebagai manusia
seutuhnya.
Dan di postingan IG peserta lain,
Cordelia, explisit dia menyebutkan bahwa kisah perjalanan hidupku
menginspirasinya. Namun ada tersirat harapan sekaligus doa, semoga di
perusahaan manapun dia bekerja dia bisa sukses “from ZERO to HERO, dan from
NOTHING to SOMETHING.” Ini adalah harapan lumrah mewakili karyawan-karyawan
lain. Mereka ingin menambah MAKNA (Meaning) kehidupan mereka, karena bisa
memberi manfaat bagi orang lain.
Ini berarti loyalitas itu tidak satu
arah (karyawan loyal kepada perusahaan), tapi timbal balik. Dan saya
berpendapat, loyalitas saya adalah kepada profesi Human Resource. Saya akan
terus berkarya dimanapun tempatnya dan siapapun atasannya, bilamana para
pimpinan (yang juga mewakili perusahaan) memberikan kesempatan untuk profesi
Human Resources berkipra.
“Train people well enough so they can leave, treat them well enough so they don’t want to.” (Richard Branson)
Sumber Tulisan: http//www.josefbataona.com, 11 Oktober 2019
Agus Dermawan T, kritikus seni, yang juga penulis, dalam salah satu artikel dari bukunya SIHIR RUMAH IBU mengatakan ‘bila para koruptor tidak lagi takut pada Tuhan, mungkin mereka akan lebih tunduk malu di hadapan wajah ibunya’. Karena ibu, meminjam sajak Kurnia Effendi, adalah ‘Tuhan yang tampak’. .Ibu adalah ruh, hati, pikiran dan badan dari anak. Hati ibu adalah seluruh kehidupan yang dilakoni anak di sepanjang jalan, sepanjang umur dan sepanjang hayat. Ibu adalah mata air anak, sampai si anak mengalir dewasa, dan jadi mahluk sosial yang berlayar di samudera dengan kapal yang punya banyak bendera, papar Agus dalam bukunya itu.
Ada sebuah kisah menarik tentang Ibu yang dituturkan Agus dalam bukunya itu. “Pelukis ternama Dede Eri Supria mencipta beberapa karya yang mengisahkan tersisanya rasa malu seorang anak kepada Sang Ibu, dengan gaya yang realistis, manis, namun mengiris. Di kanvas ia menggambarkan seorang lelaki sedang semangat bekerja membangun gedung berpuluh tingkat. Di antara besi-besi yang ditegakkan nun di ketinggian, lelaki itu tiba-tiba terpekur, terdiam. Matanya di arahkan jauh ke bawah. Ia menatap perkampungan yang sudah dibongkar, setelah diobrak-abrik dan direnggut paksa oleh pemilik kapital, demi terbangunnya pencakar langit yang sedang ia kerjakan.
Si lelaki tersadar benar, di kampung itulah ibunya tinggal. Di kampung yang
telah jadi puing itu ia dibesarkan dan dididik sang Ibu. Di kampung yang lulu
lantak itu ia diajak ibu untuk berjalan di pematang kebaikan. Memusuhi
keserakahan dan menjauhi pekerjaan yang diasalkan dari agresifitas ketamakan.
Dalam lukisan, postur lelaki itu digambarkan sedang ngun-ngun, pilu, terkesiap, dan tersihir menyaksikan reruntuhan.
Rasa berdosa dan rasa malu kepada Ibu tampak menyergap. Pada lukisan yang
bertarikh 1995 Dede memberi judul lukisnnya “RIMBA BETON (Dede-Elegi Kota
Besar-1999). Namun pada lukisannya yang kedua, 2014, judul yang ia berikan
sangat inspiratif, “S I H I R R U M A H I B U” (yang menjadi gambar
sampul buku ini)”.
Ibu adalah rumah dari segala iman. Bila tidak lagi kepada Tuhan, kepada sang
Ibu semua dosa ini bisa dipangkas di tengah jalan, dan semua rasa malu
dihindarkan, tegas Agus menutupi kisah SIHIR
RUMAH IBU