Category: UMUM

  • Ancaman Resesi, Globalisasi dan Tanggung Jawab Gereja

    Ancaman Resesi, Globalisasi dan Tanggung Jawab Gereja

     

    Oleh  Arthur Chandra, Dosen Teologi dan Kepemimpinan Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Banten

     

    Beberapa waktu lalu Presiden Jokowi mengatakan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi krisis global yang diprediksi akan mengancam 553 juta jiwa di dunia terperosok dalam kemiskinan ekstrim, terancam kekurangan pangan dan kelaparan. Kita telah melihat bukti nyatanya dengan kebangkrutan negara Srilanka. Kabar buruk lagi adalah 25 negara lain berpotensi menyusul Srilanka, antara lain adalah Argentina, Afganistan, Mesir, Laos dan Myanmar.

    Perang Rusia-Ukraina tentunya memperburuk resesi perekonomian ini dengan memunculkan masalah krisis energi global di dunia. Riak dari krisis energi tersebut akan mendorong naiknya harga BBM Pertalite yang saat ini sedang dikaji oleh pemerintah Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memberikan sinyal bahwa kemungkinan minggu depan Presiden Jokowi akan mengumumkan perihal kenaikan BBM ini. Kenaikan harga ini memang tidak terelakkan mengingat subsisi pemerintah yang semakin berat menopang laju harga BBM agar tidak memberatkan masyarakat akibat krisis energi global.

    Persoalan ancaman kemiskinan global ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Perlu mendapatkan atensi kita sebagai anak bangsa dan insan manusia di dunia ini. Problem ini akan menjadi lebih pelik ketika melihat realita globalisasi ekonomi dunia. Globalisasi adalah integrasi ekonomi dunia dengan fokus pada kebebasan perdagangan, yang ditandai dengan perpindahan modal ke seluruh dunia serta dominasi perekonomian nasional oleh bursa keuangan global dan perusahaan multinasional (Rundle, Economic Justice in a Flat World 51). Fenomena ini berdampak terhadap kemiskinan dunia secara global baik secara positif maupun negatif tergantung dari sudut pandang tertentu (Kent A Van Til, 2007).

    Bagaimana Gereja Injili merespon fenomena tersebut? Teolog dan pendeta Rene Padilla berkomentar tajam mengenai sikap Gereja Injili terhadap persoalan kemiskinan. Orang Kristen Injili telah mengabaikan dampak negatif ekologi, sosial, dan manusia dari globalisasi kapitalisme korporat. Hampir tidak ada etika ekologi, sosial ekonomi dan politik di antara kita.

    Komentar Rene Padilla mengantar kita kepada pertanyaan etis lebih lanjut. Apa yang bisa dikerjakan oleh para pemimpin gereja? Bagaimana para teolog dan hamba Tuhan mendidik jemaat agar mempunyai tanggungjawab etis terhadap fenonema kapitalisme korporat, persoalan kemiskinan, dan kerusakan ekologis?

    Pemimpin Kristen khususnya hamba Tuhan mempunyai kewajiban mendidik jemaat agar memiliki cara pandang iman yang komprehensif. Supaya perspektif iman mereka tidak terisolasi dalam wilayah spiritual dan keselamatan jiwa semata tetapi gagap tatkala menyaksikan realita sosial dan ekonomi di sekitar mereka. Tesis ini merupakan pijakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui ulasan ini dengan fokus pada sikap etis Gereja terhadap problem kemiskinan di tengah ancaman resesi dan kekuatan globalisasi ekonomi.

    Globalisasi ekonomi mengacu pada meningkatnya interdependensi ekonomi dunia sebagai hasil dari peningkatan perdagangan barang dan jasa internasional, aliran dana kapital internasional dan penyebaran teknologi yang cepat (Gao Shangquan, 2000). Di satu sisi, globalisasi ekonomi berpotensi besar untuk berkembangnya materialisme dan konsumerisme.  Namun di sisi lain, jika globalisasi ekonomi juga dapat membawa keuntungan ekonomi bagi negara-negara yang terlibat di dalamnya, maka globalisasi ekonomi ini justru dapat menjadi solusi bagi problem kemiskinan global. Dengan catatan bahwa globalisasi ekonomi mesti dikelola dengan semangat kolektif untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil dan sejahtera. Dalam bahasa teologis, berarti globalisasi ekonomi mesti dimanfaatkan untuk mewujudkan shalom di muka bumi ini.

    Alkitab menandaskan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu termasuk diri manusia (Mzm. 24:1; Mat. 28:18).  Manusia bukanlah pemilik isi dunia tetapi pengelola milik Tuhan.  Oleh karena itu manusia tidak otonom, sehingga bisa mengeksploitasi segala sumber daya ekonomi di dunia semaunya. Alkitab juga menyatakan bahwa umat Tuhan memiliki tanggung jawab sosial dan etis untuk mengelola kekayaan perekonomian untuk didistribusikan secara adil pada sesama (Im. 25:8-17, 23-24; Ul. 15:12-14).  Bahkan umat Tuhan didesak oleh Allah untuk responsif membantu sesama yang miskin dan membutuhkan (Ul. 15:7, 11). Persoalan besar dalam pengelolaan kekayaan ini sebenarnya bersumber dari kecintaan akan uang yang menjadi sumber kejahatan (1 Tim. 6:10) sehingga memunculkan ketidakadilan dalam distribusi sumber daya ekonomi yang hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu.

    Dalam abad pertengahan ada sebuah organisasi pelayanan yang disebut The Bourse française, sebuah pelayanan diakonia di Jenewa yang nantinya menjadi model bagi peradaban dunia barat. Organisasi ini diinisiasi oleh John Calvin, teolog abad pertengahan yang berpengaruh besar dalam kegerakan reformasi gereja.  Banyak orang mengenal Calvin hanya sebagai sosok teolog yang berkiprah dalam pengajaran doktrin semata dan kurang bersumbangsih dalam peradaban dunia. Anggapan ini jelas merupakan karikatur terhadap sosok Calvin yang terbukti berkiprah dalam mengupayakan kesejahteraan dan keadilan masyarakat seperti melalui The Bourse française yang memiliki pelayanan  beragam kepada orang miskin, yatim piatu, para manula, para janda miskin dan lain sebagainya. Calvin juga memberikan arahan yang jelas tentang pelayanan kepada orang miskin dalam 1561 Ecclesiastical Ordinances yang menekankan bahwa para diaken atau pengurus gereja memiliki tugas untuk mendorong terciptanya etika kerja yang produktif dalam jemaat. Selain itu para diaken juga didorong untuk memberikan subsidi sementara dan pelatihan kerja jika diperlukan.  Namun mereka mesti menolak untuk melayani orang yang miskin karena malas bekerja. Di sini kita bisa melihat pandangan etis Calvin terkait etos kerja dan kepedulian terhadap mereka yang miskin.

    Problem kemiskinan seringkali bermuara pada ketidakadilan distribusi sumber daya produktif yang bisa menciptakan kekayaan ekonomi seperti tanah, modal keuangan dan pengetahuan atau pendidikan. Helen Rhee, Ph.D yang mendalami tentang kekayaan dan kemiskinan di abad awal gereja mengemukakan bahwa seharusnya ada tatanan keadilan distributif dalam masyarakat yang berarti setiap orang mendapatkan akses atas sumber daya produktif sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mendaparkan kesempatan untuk memperoleh materi yang bisa mencukupi kebutuhan mereka dan memiliki kehidupan bermartabat dalam komunitas masyarakat. Keadilan distributif ekonomis ini mensyaratkan pemikiran dasar akan penciptaan kekayaan, entrepreneurship, kemampuan mereka yang miskin untuk mandiri melalui partisipasi kewirausahaan.  Hal ini perlu diupayakan melalui kerjasama setiap individu, gereja, organisasi dan pemerintah.

    Dengan demikian prinsip keadilan distributif dapat mengkoreksi sistem ekonomi kapitalisme yang seringkali melaju dengan semangat “the survival of the fittest”, tetapi sekaligus juga melindungi sistem kapitalisme sebagai usaha manusia untuk memiliki kemampuan kreatif dan mandiri.  Dalam hal ini berarti memerlukan keterlibatan aktif komunitas beriman yaitu gereja bersama dengan berbagai lapisan masyarakat. Sehubungan dengan ini, Paus Yohanes Paulus II yang menyerukan bahwa kita memerlukan sebuah solidaritas yang merujuk pada kebajikan sosial sehingga membuat setiap manusia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari seluruh umat manusia, menjadi saudara bagi semuanya, hidup dalam communio dengan semua manusia di dalam Tuhan (Rundle, Economic Justice in a Flat World, 24).  Oleh karena itu, gereja perlu bersikap etis dengan terlibat aktif globalisasi ekonomi dan menggunakan pasar ekonomi sebagai media yang efektif untuk melayani sesama.

    Sehubungan dengan kepemimpinan dalam gereja maka secara internal pemimpin gereja seyogyanya menggaungkan suara kenabian untuk membakar semangat jemaat dalam bekerja sekreatif dan seproduktif mungkin. Bukan dengan tujuan untuk memperkaya diri atau mengisi pundi-pundi kas gereja yang justru berpotensi menimbulkan konflik. Namun mengelolanya untuk kebaikan bersama yang bisa mewujudkan kesejahteraan bagi jemaat yang berkekurangan dan masyarakat sekitar yang membutuhkan. Secara praktis, pemimpin gereja perlu melibatkan jemaat yang memiliki talenta dan pengalaman kewirausahaan untuk melatih mereka yang membutuhkan.

    Mimbar gereja yang selama ini banyak mengumandangkan kehidupan spiritual, juga dipakai sebagai corong suara Allah untuk menyuarakan kehendak Allah yang merindukan gereja lebih berpartisipasi aktif dalam mewujudkan shalom. Sehingga mimbar bukan hanya menceritakan kisah akan sorga kelak tetapi dunia ini yang dikehendaki Allah untuk menjadi sorga yang hadir di bumi ini. Secara eksternal, pemimpin gereja perlu menjalin relasi dengan elemen pemerintah dan institusi Kristen lain seperti sekolah, universitas untuk berjejaring mengupayakan keadilan distributif ini dalam masyarakat. Secara praktis, bisa dengan memberikan kredit pinjaman lunak pada masyarakat untuk mendirikan UMKM dengan pendampingan jemaat gereja yang memiliki kapasitas untuk melatih orang-orang berkecimpung dalam dunia kewirausahaan.

    Dengan demikian, di tengah ancaman resesi dunia dan gelombang globalisasi serta kepentingan diri manusia, kita sebagai umat Allah yang telah dipanggil keluar dari kegelapan bisa bertindak memberikan kabar baik sekalipun dunia memiliki kabar buruk. Pemimpin gereja memiliki peranan signifikan untuk mempengaruhi pandangan jemaat yang selama ini mungkin lebih banyak menggumulkan kepentingan diri daripada kepentingan Allah di dunia ini. Kiranya umat Tuhan memiliki semangat kolektif bergandengan tangan dengan beragam denominasi bahkan lintas keyakinan untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan di dunia ini yang tentunya ini sejalan dengan kehendak Allah.

    ————————————————————-

  • Sajak-sajak Teresa Patricia Putri: ~ Berputih Tulang ~ Secangkir Lara ~ Saujana ~ Kabar Jauh

     

    BERPUTIH TULANG

    Senja telah berpulang
    Lilin lebah silih-berganti
    Ombak meraung rindu
    Pasir berbisik mengikar janji

    Baskara menampakkan wajahnya
    Malu tak mau menyapa bumi
    Semilir angin melirihkan duka
    Kering bertabur di musim gugur, tumbuh kematian

    Hari ini, waktu itu
    Rindu meruak, janji teringkar, terisisa mati rasa
    Tuan tertimbun abu
    Tunas nestapa jadi milik Nona

    Jakarta, 20 September 2021

    ——————————————————————

    SECANGKIR LARA

    Bumantara bersemburat jingga
    Awan putih menari sukacita
    Hati pun ikut berdansa selaras kicauan burung
    Membangun asmaraloka bagi dua insan

    Angin menjadi saksi bisu keduanya
    Menautkan anjangsana kehendak batara cinta
    Mengikat janji sehidup semati
    Awal niskala pula bagi mereka

    Ia mengikar janji
    Puan ditinggalkan sendiri
    Hatinya menjadi gulita
    Asa miliknya pun masih berada pada senja kala itu

    Jakarta, 11 Oktober 2021

    ——————————————————————–

    SAUJANA

    Semburat merah tengah turun dari barat
    Adiwarna bagi penikmatnya
    Nirmala yang tercipta
    Dari Sang Pencipta
    Yang dititipkan di bumantara
    Asmaraloka tumbuh karena eloknya
    Kidung pun bersautan merdu
    Ajak hati untuk terpaku
    Lihat keindahan itu
    Ah, memang senja tidak pernah salah

    Jakarta, 18 Oktober 2021

    ———————————————————————-

    KABAR JAUH

    Nona mengetuk meja kala menulis surat
    Bayangan tuan sembunyi dibalik tirai
    Bercerita pembantaian waktu itu
    Berisik, nona hanya sendiri

    Diam; itu jawaban nona,

    Kabar jauh menusuk hati nona
    Tertusuk tak bersisa
    Selesai juga suratnya.

    Dukanya yang masih tersisa.

    Jakarta, 1 November 2021

    ————————————————————————————————

      Tentang  Penulis


    Teriakan batin yang tersuarakan dan diikat menjadi seikat puisi. Teresa Patricia Putri, perempuan yang lahir di Jakarta tahun 2002. Saat ini sedang belajar di Universitas Sanata Dharma prodi Sastra Indonesia. Ia suka musik, menulis, membaca, dan tidur. Memiliki harapan agar setiap tulisannya dapat terdengar

  • ~ Sebatas Angan ~ Hilang ~ Senja ~, Sajak-sajak Stefanni Dewi Anggraini

     

    Sebatas Angan

    Malam gelap menyelimut mega
    menjadikan lintang tak berdaya
    Bersinar terang kalahkan rembulan
    Jadikan iri hati niscaya pada harapan
    Tuk dapat perhatian akan dunia
    Kisah romansa pandangan pertama

    Ribuan angin ingin mengadu
    pada rindu yang sudah beradu
    Melintas selalu dalam benakku
    serta pikiran hingga hati nuraniku

    Akankah musim dingin bertahan
    membekukan segala perbuatan
    Untuk pernyataan bermadu kasih
    Bersama dirimu duhai kekasih

    Hanya sebuah hayalan angan
    Merasakan hangatnya dekapan
    Seseorang yang selalu ku rindukan
    dan di hati akan selalu terlukiskan
    Sebab perhatian sekecil debu pasir
    Akan sebanding dengan batu safir

    Sang pencipta bukankah tak adil
    Melihat dirinya yang membuat usil
    dan berlabuh dengan sesuka hati
    Tuk memberikan harapan hidup semati
    Tetapi sampai akhirnya nanti
    Dirinya akan tetap kekeh untuk pergi

    Yogyakarta, 8 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Hilang

    Suara ombak menerjang karang
    Angin menusuk sampai ketulang
    Nafsu cinta membara
    Gerayang tangan membabi buta

    Pikiran jernih terpendam
    Ungkapan cinta menyesatkan
    Janji-janji bertebaran
    Aku hanyut
    Asa pun ikut larut
    Neraka menanti depan mata

    Hina yang tersisa
    Apa guna itu semua…
    Tinggal derita dan nestapa
    Izin menghancurkan segala cerita

    Yogyakarta, 22 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    S e n j a

    Senja ialah waktu bagi sang surya terlelap
    Dimana warna jingga kian berubah gelap
    Tak mengurangi pesona indah cakrawala
    Yang membuat jatuh hati di waktu senja

    Senja ialah moment manis paling di tunggu
    Romantisme sepasang kekasih di madu
    Hasrat dalam diri kian menggebu-gebu
    Ungkapan hati pun juga tak bisa tertipu

    Yogyakarta, 13 November 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

         TENTANG  PENULIS

    Stefanni Dewi Anggraini atau lebih akrab dipanggil Fanni, lahir di Yogyakarta, 12 September 2000. Menyelesaikan pendidikan di SD Kanisius Kalasan pada tahun 2014, lalu di SMP Joannes Bosco Yogyakarta pada tahun 2017, dan di SMA Stella Duce 2 Yogyakarta pada tahun 2020 dengan mengambil jurusan IPS. Setelah lulus SMA, melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi swasta di Univeritas Sanata Dharma Yogyakarta dengan mengambil program studi Sastra Indonesia.

  • ~ Kehancuran ~ Pergi ~ Cahaya ~ Di Kota yang Tak Pernah Sepi ~ Harapan Tak Tersampaikan ~, Sajak-sajak Savvyna Meyra Yosari

     

    Kehancuran

    Wahai malam
    Kau kirimiku kabar pagi ini
    Tentang gugurnya sang bintang
    Bintang yang tak lagi memancarkan sinarnya

    Wahai malam
    Kau hancurkan rasa yang selama ini kupendam
    Rasa yang selalu membara di dalam dada
    Hingga akhirnya kesunyian pun kurasakan

    Tetes demi tetes air mata mulai berjatuhan
    Bak air terjun yang terus mengalir
    Aku pun tak kuasa menahannya
    Seluruh jiwaku terbanjiri jua olehnya

    Yogyakarta, 1 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Pergi

    Aroma kopi di penghujung jalan itu
    Sama seperti wangimu saat di dekatku
    Harum namun hanya sepintas
    Membuatku ingin melepas

    Suara panggilan yang saat itu sayup kudengar
    Tak dapat menggoyahkan tekadku
    Aku berjalan lunglai menuju selasar
    Selasar itu membawaku bersama pilu

    Kukira kaulah pembawa bahagia
    Ternyata semua hanyalah derita
    Kulangkahkan kakiku menjauhi nestapa
    Sebelum semua terasa semakin tersiksa

    Kini kutabahkan hati untuk mengucap selamat tinggal
    Meskipun kaki ini terasa kaku untuk berjalan
    Dan semua terasa sulit untuk sekedar bertahan
    Tetap kujauhi meski ku merasa hilang moral

    Yogyakarta, 30 Oktober 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Cahaya

    Cahaya adalah sinar yang terpancar dari bola mata
    Yang membantuku untuk melihat indah parasnya
    Yang membuatku terpana saat berpapasan dengan dia
    Kilau sinarmu lah yang menusuk relung jiwa

    Cahaya adalah sang penakluk gelap sama seperti senyumnya
    Yang terpatri di mulut sang pelipur lara saat masih bernyawa
    Yang membuatku dapat hidup damai dengan segenap jiwa
    Kekuatannya pula lah yang dapat membuatku bertahan saat terluka

    Cahaya sebagai penerang dunia yang sama seperti tawamu
    Tawa yang membuatku merasakan bahagia di setiap harinya
    Yang membuatku ingin menghentikan dunia untuk sementara
    Keindahannya pun mampu membuat bibirku terasa kelu

    Cahaya sebagai penghidup harapan redup yang sama seperti semangatnya
    Membara seperti api yang dikobarkan saat lampu tak menyala
    Tak kenal lelah dan kata menyerah saat mencapai sesuatu
    Cahaya adalah kamu yang membuatku dapat menikmati hidup di dunia yang fana

    Yogyakarta, 12 November 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Di Kota yang Tak Pernah Sepi

    Saat kulangkahkan kakiku menuju kota ini
    Kota yang tak pernah sepi
    Saat itu pula lah pertemuan itu terjadi
    Dengan berbekal rasa gembira yang membumbung tinggi

    Kuhampiri jalan setapak yang bergerak menujumu
    Membawa sejumlah kerinduan yang menumpuk dalam dada
    Di pertemuan singkat yang membuatku candu akan senyummu
    Kurasakan jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya

    Kupandangi sudut kota ini dengan mata telanjang
    Kota yang tak pernah tidur dan dianggap istimewa
    Disini lah kutemukan pujaan hati yang kusayang
    Pujaan hati yang selama ini kudamba – damba

    Yogyakarta, 20 November 2021

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    Harapan Tak Tersampaikan

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Menunggu datangnya sang pencerah
    Sang pencerah yang selalu membawa kebahagiaan
    Membanting tulang demi sesuap nasi

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Dengan harapan bisa merasakan hangatnya tanganmu
    Tangan menghitam dan kekar yang membiru
    Meski kutahu semua hanyalah ilusi

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Berharap bisa menikmati indah senyummu
    Senyuman yang terpatri di bibir itu
    Kala menatap wajah rupawannya setiap hari

    Aku berdiri di atas tanah ini
    Meneriakkan keinginan menggebu untuk bertemu
    Bertemu sang pencari nafkah yang tak tergantikan ini
    Meski kutahu semua hanyalah halu

    Yogyakarta, 26 November 2021

     

    =======================================================

        Biodata Penulis

    Savvyna Meyra Yosari, seorang perempuan kelahiran Yogyakarta pada tanggal 21 Mei 2001 merupakan seorang Mahasiswa Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dengan program studi Sastra Inggris. Penulis mulai membenamkan diri ke dunia puisi saat masih berada di bangku sekolah menengah pertama dan kerap menuliskan puisi pada momen – momen tertentu yang dirasa memiliki makna yang mendalam. Tak jarang penulis juga mengirimkan puisi – puisinya ke media cetak sekolah. Ia pun memiliki cita–cita untuk menjadi seorang penerjemah Bahasa yang professional nantinya.

  • – Kertas  Putih  –  Basah  -,   Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata

    – Kertas Putih – Basah -, Sajak-sajak Poya Lucius Hobamata

     

    KERTAS PUTIH

    Di atas kertas putih
    Dengan mulut berbuih
    Engkau menulis aksara kehidupan
    Dari huruf ke kata
    Dari kata ke kalimat
    Dari kalimat kepada makna

    Di atas kertas putih
    Dengan hati dan jiwa yang bersih
    Matamu menatap setiap anak
    Hatimu menyapa setiap murid
    Yang pintar engkau sanjung
    Yang belum sanggup engkau bantu

    Kertas putih itu kini penuh goresan
    Ada yang baru ada pula yamg lama
    Ada yang masih terbaca
    Ada yang telah kabur tertelan masa
    Namun goresanmu di awal ilmu
    Tak pernah punah apalagi lenyap

    Walau jasamu dihargai tanpa jasa
    tetes keringatmu mengukir sejarah
    Setiap katamu membentuk watak
    Ajaranmu menghasilkan ilmu
    Nasehatmu membentuk karakter
    Membuatku utuh walau tak selalu sempurna

    Hari ini sehelai kertas putih
    Kukirim kembali kepadamu Guruku
    Dengan serangkai aksara menenun kata
    TAKZIMKU BUATMU PAHLAWAN
    Aksara yang dulu tak jemu engkau ajar
    Sambil memegang mistar di tangan kanan

    Sungai Kecil, 25 November 2021
    Untukmu Guruku

    ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~

    B A S A H

    Basah
    Bukan karena mimpi basah
    Tapi karena sepanjang malam langit gelisah
    Petir dan guntur tak berhenti bertitah
    Membuat bumi menjadi resah

    Basah
    Awan gemawan berkeluh kesah
    Air di langit pun merasa tak betah
    Jatuh berguguran bagai minyak jelantah
    Gelombang laut pun berbuih mendesah

    Basah
    Badan terasa gerah
    Jalan-jalan patah
    Langkah kaki menjadi lelah
    Karena tanah berubah menjadi getah

    Sungai Kecil, 24 November 2021

  • Dari Gelap menjadi Terang

    Dari Gelap menjadi Terang

    Oleh  Paulo Coelho

     

    Pada acara World Economic Forum di Davos, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian, Shimon Peres, menceritakan kisah berikut

    Seorang Rabi mengumpulkan murid-muridnya dan bertanya kepada mereka:

    “Bagaimana kita tahu, kapan persisnya malam hari berakhir, dan terang di mulai?”

    “Kalau sudah cukup terang untuk membedakan domba dari anjing, “sahut salah seorang murid.

    Murid lainnya berkata, “Tidak, kalua sudah cukup terang untuk membedakan pohon zaitun dari pohon kurma.”

    “Tidak, itu juga bukan definisi yang bagus.”

    “Nah, kala begitu, apa jawaban yang benar?” tanya nurid-murid tersebut.

    Dan Rabi itu berkata:                                                                                              “Kalau seorang asing menghampirimu dan engkau menganggap dia saudaramu, dan semua perselisihan lenyap , saat itulah malam berakhir dan terang hari dimulai.”

    *************************

    Sumber: Buku Seperti Sungai yang Mengalir, Paulo Coelho, Gramedia 2006.

     

     

  • Pastor Hieronimus Rayakan 25 Tahun Imamat, Ini harapan umat Paroki Runut

     Maumere berandanegeri.com – Pastor Paroki Santi Sima Trinitas Runut Desa Runut Kecamatan Waigete,   Kabupaten Sikka, Pater Hieronimus Api Ledu, SVD  merayakan hari ulang tahun ke-25 (perak) tahbisan imamatnya, pada  Minggu (19/9/2021). Perayaan ulang tahun tahbisan imam tersebut berlangsung di Gereja Paroki Santi Sima Trinitas Runut.

    Misa diikuti oleh utusan  umat baik dari Paroki Runut, Paroki Bolawolon, Paroki Kewapante dan Paroki Watubala.

    Misa berlangsung dalam suasana penuh kegembiraan, dan suka cita ini dipimpin langsung oleh yubilaris  Pastor Hieronimus Api Ledu,SVD didampingi oleh beberapa pastor dari wilayah SVD Keuskupan Maumere.

    Pastor Paroki Runut, Pater Hieronimus dalam kotbahnya mengatakan motto imamat dalam pesta perak yang diambil dari (2 Tim 2:19) yang berbunyi “Tuhan Mengenal Kepunyaan-Nya.” yang mempunyai makna dimana Tuhan tahu siapa dia sehingga membuat dirinya pantas dan berharga bagi-Nya.

    Pastor Paroki Runut, P. Hieronimus Api Ledu, SVD

    “Alasan mengapa Tuhan memilih dan memanggil saya, rumusan jawabannya singkat saja yakni, “Tuhan Mengenal Kepunyaan-Nya.” Ini adalah motto imamat saya sebagai spirit yang membuatku teguh dan setia terhadap imamatku hingga 25 tahun ini, “ungkap Pater Hieronimus.

    Pastor  Rektor  Wilayah SVD Keuskupan Maumere, Pater Gregorius Nulle SVD, dalam sambutannya menyampaikan, profisiat kepada Pater Hieronimus. Kita patut bersyukur atas peristiwa terjadinya Pesta Perak Imamat ini.

    Menurutnya, perjalanan untuk menjadi seorang imam itu, memang penuh lika-liku namun dapat dilaluinya dengan baik karena pertolongan Tuhan dan berkat usaha yang telah dibuatnya selama ini.

    Ia mengungkapkan bahwa pesta perak imamat para imam ini merupakan perayaan rahmat kesetiaan Tuhan yang dijawab dengan kesetiaan imamat para imam ini.

    “Perayaan 25 tahun imamat sebuah momen suka cita, syukur dan juga sebagai bentuk apresiasi arti dan makna untuk sebuah rentang waktu perjalanan dalam menjalani panggilan sebagai imam umat , “ungkapnya.

    Beliau pun mengucapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada pastor Hieronimus  karena telah menjadi imam yang setia dan sedia diutus kemana pun.

    Ketua Penyelenggara Syukuran Perak Imamat Yang ke-25, Vinsensius Karwayu mengatakan sangat bersyukur dengan adanya Pater Hiro yang merayakan pesta imamat bersama umat di Paroki Runut. Ini Sejarah baru. Karena baru pertama kali terjadi di Paroki Runut sepanjang sejarah berdirinya Paroki Runut.

    “Iya kami bersyukur sekali karena pater Hieronimus mau merayakan pesta Imamat ke 25 bersama kami umat di Paroki Runut. Hal ini yang kami rasakan pertama kali di paroki kami sejak 20 tahun paroki Runut berdiri,” ungkapnya.

    Menurutnya dengan momen perayaan ini diharapkan anak-anak dan umat Paroki Runut bisa terpanggil hatinya untuk mengikuti jejak pater Hieronimus.

    “Kami harap dengan adanya acara ini bisa mendorong atau memotivasi anak-anak kami untuk punya niat masuk seminari dan bisa menjadikan panggilan hidup,”ujarnya.

    Ia menambahkan umat Paroki Runut sangat bersyukur dengan hadirnya Pater Hironimus karena  banyak membawa perubahan baik  dalam pembangunan gereja maupun pembangunan lainnya. Oleh karena itu kata Vinsensius umat masih mengharapkan pater Hieronimus tetap menjadi pastor Paroki Runut.

    Hadir dalam acara  tersebut, Rektor Ledalero Frans Ceufin, Pembina Frater Ritapiret, Romo Lorens Bate, Ketua TPAPT Tana Ai, Romo Frans Fao, Pastor Rektor Wilayah SVD, Gregorius Nulle SVD, Pastor Paroki Wair Pelit, Pater Goris Sabon,SVD, Pastor Rekan, Pater Alex Ola Pukan, Pater Hubertus Thomas, Pastor Paroki Bolawolon, Pater Ferdy Mikel, Pater Purnomo, Pater Hans Weritz, Camat Waigete serta undangan lainnya. (Athick)

  • 17 Korban Eksploitasi Anak pada THM diamankan di Kantor Truk Maumere

    Maumere Berandanegeri.com – Sebanyak 17 anak dibawah umur  yang diduga  korban eksploitasi anak yang terjaring dalam operasi Tim Subdit IV Remaja, Anak dan Wanita (Reknata) Ditreskrimun Polda NTT yang dipimpin oleh AKP Riky Daku, S.H.  pada Senin 14 Juni 2021 malam kini sudah diamankan dikantor Truk Maumere, Kabupaten Sikka, NTT pada Selasa 15 Juni 2021.

     17 Korban eksploitasi anak ini berasal dari Jawa Barat yang bekerja pada empat pub atau Tempat Hiburan Malam (THM) yang ada di kota Maumere.

    Ketua Tim Subdit IV Remaja, Anak, dan Wanita (Renakta) Ditreskrimum Polda NTT yang dipimpin AKP Riky Daly, S.H.  didampingi Koordinator TRUK Maumere, Suster Eustochia, SSpS dan Kadis DPPKBP3A Kabupaten Sikka dr. Maria B.S. Nenu kepada media ini di Kantor TRUK Maumere, Rabu (16/6/2021) menjelaskan tim yang bertugas mengamankan 17 anak di bawah umur itu masing-masing 8 orang dari Bintang Pub, 5 orang dari Sasari Pub, 3 orang dari 999 Pub, dan seorang dari Libra Pub.

    “Jumlah anak di bawah umur yang kami amankan di TRUK Maumere ada 17 orang, ”kata AKP Riky Daly.

    Dari 17 korban ini Kata AKP Riky Daly ,dua anak merupakan kelahiran Cianjur, namun memiliki alamat tinggal di Kelurahan Wailiti, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka yakni  AW  (16,6 tahun)  dan SW (14,7 tahun).

    Koordinator TRUK Maumere Suster Eustochia, SSpS didampingi  staf TRUK Maumere: Sr. Fransiska Imakulata, SSpS; Suster Francesko Yangkora, SSpS; dan Celo Gunadi kepada media ini menyatakan siap menampung 17 anak di bawah umur yang diduga menjadi korban eksploitasi anak di 4 Pub untuk ditampung sementara di TRUK Maumere.

    “Kami siap menampung para korban, dan siap melayani mereka dengan sepenuh hati selama berada di Shelter Santa Monika TRUK Maumere,” kata Suster Eustochia, SSpS.

    Siap Layani dengan Ikhlas Hati

    Koordinator Tim Relawan Untuk Kemanusiaan (TRUK) Maumere Suster Eustochia, SSpS pada kesempatan ini juga menyatakan ketekadan lembaga yang dipimpinnya itu untuk melayani siapa saja, termasuk 17 pekerja pub yang diduga korban eksploitasi anak di bawah umur yang diamankan  Polda NTT di Kantor TRUK Maumere.

    “Kami selalu melayani siapa saja yang menjadi korban akibat eksploitasi anak di bawah umur, termasuk 17 pekerja pub yang terjaring dalam operasi Tim Polda NTT yang saat ini sedang titipkan di TRUK Maumere. Kami selalu melayani mereka dengan tulus hati,” kata Suster Eustochia.

    Suster Eustochia, SSpS mengaku ia sudah bertemu dengan 17 korban eksploitasi anak di bawah umur dan telah memberikan motivasi kepada mereka terkait keamanan mereka selama berada di TRUK Maumere, upaya perlindungan terhadap mereka dan tekad TRUK Maumere untuk siap memenuhi kebutuhan mereka selama dititip sementara di TRUK Maumere.

    “Saya sampaikan kepada mereka, kalau butuh sesuatu harus disampaikan kepada TRUK Maumere. Kami siap melayani dan memenuhi apa yang dibutuhkan sebisa kami,” kata Suster Eustochia. (Athick)

  • Rektor Universita Nusa Nipa Indonesia Lepas 793 Mahasiswa KKN-MM di Kabupaten Ende

    Ende Berandanegeri.com – Rektor Universitas Nusa Nipa Indonesia, Dr.Ir. Angelinus Vincentius melepas 793 Mahasiswa KKN-MM ke Kabupaten Ende.

    Acara  Pelepasan  Kuliah Kerja Nyata Mahasiswa Mandiri (KKN-MMN) Universitas Nusa Nipa Indonesia Tahun 2021 kepada Pemerintah Kabupaten Ende yang diwakili oleh Asisten 1 Setda Ende Drs. Abraham Badu, M.Si, berlangsung di halaman Kantor Camat Kota Baru, Kabupaten Ende, pada Rabu, 2 Juni 2021 

    Rektor UNIPA Indonesia, Dr.Ir. Angelinus Vincentius pada kesempatan itu menjelaskan kegiatan Kuliah Kerja  Nyata (KKN) di UNIPA merupakan program wajib bagi mahasiswa jenjang S-1  berbobot 3 SKS yang dilaksanakan  setiap  tahun  sebelum mahasiswa lulus menjadi sarjana. 

    “KKN-MM  merupakan wujud implementasi dari salah satu amanat  Tri Dharma Perguruan Tinggi yaitu pengabdian kepada masyarakat, “ungkapnya.

    Dikatakannya model KKN yang dipilih adalah KKN Mandiri dengan mengusung tema besar pemberdayaan ekonomi kreatif masyarakat pesisir dimasa pendemi Covid 19. 

    Selain itu Mahasiswa diharapkan mendampingi masyarakat setempat dalam meningkatkan kepatutan melaksanakan protokoler kesehatan. Pelaksanaan kegiatan  KKN-MM berlangsung selama 30 hari.

    Dr.Ir. Angelinus Vinsentius menerangkan Universitas Nusa Nipa  Indonesia sebagai kampus yang telah terakreditasi B  (atau predikat amat baik) dari Badan Akreditasi Nasional PT, senantiasa berupaya menjadi pilar pengabdian kepada masyarakat  yang lebih kaya akan gagasan, dapat memberi inspirasi baru  serta bagian dari solusi dalam menyelesaikan masalah sosial yang mendasar.

    Ditambahkannya, para Mahasiswa bersama Dosen Pembimbing KKN  dapat berkomitmen untuk bekerja menciptakan gagasan baru  dan tidak bermaksud menggurui  masyarakat melainkan menjadi fasilitator yang mendampingi masyarakat dalam menjalankan program-pogram yang bermanfaat.

    Diharapkan setelah KKN-MM  nantinya program-program kegiatan pemberdayaan ekonomi kreatif dapat dipublikasi pada jurnal online UNIPA bernama jurnal Bakti Nian Tana ( BANITA).

    Pada Kesempatan itu juga Rektor UNIPA Indonesia menyampaikan ucapan terimakasih kepada Bupati Ende yang telah merestui UNIPA melaksanakan KKN MM.

    Ucapan terimakasih juga kepada Camat Kota Baru, Camat Maurole dan Camat Wewaria, para kepala desa serta Tokoh masyarakat yang telah bersedia menerima mahasiswa UNIPA Indonesia

    Bupati Ende melalui Asisten 1 Setda Ende Drs. Abraham Badu, M.Si pada kesempatan itu  menyampaikan  pemohonan maaf kerena Bapak Bupati Ende tidak bisa hadir,  lalu mengutus saya untuk mewakili.

    Asisten 1 Setda Ende, Drs. Abraham Badu, MSi sedang Memberikan Sambutan

    “Atas nama bupati Ende saya menyampaikan permohonan maaf atas ketidakhadiran bapak bupati Ende, “ucapnya.

    Asisten 1 Setda Ende, Drs. Abraham Badu,M.Si menjelaskan KKN-MM merupakan bentuk pengaplikasian teori dari kampus dan terjun kepada masyarakat untuk mengabdi.

    Ini ajang pembuktian seberapa jauh pemahaman peserta KKN-MM antara teori dan praktik di lapangan, kemampuan peserta KKN-MM  akan diasah dan diuji mengatasi permasalahan yang terjadi  ditengah masyarakat.

    Harapannya kegiatan KKN-MM Universitas Nusa Nipa Indonesia di kabupaten Ende ini dapat membawa perubahan.

    Dirinya juga berpesan kepada Mahasiswa KKN-MM akan beberapa hal yang harus diperhatikan adalah dapat berbaur dan membangun kebersamaan di lokasi KKN-MM seperti dengan orang tua asuh dan lingkungan sekitar

    Harus mampu membawa perubahan pola pikir bagi masyarakat  dan Temukan Potensi-Potensi diwilayah ini yang belum terjamah.

    “Jadikan kegiatan KKN-MM sebagai proses pengalaman yang berharga. Berikan kesan yang baik agar kalian diingat selalu,”ucapnya.

    Mewakili Pemda Ende, saya mengucapkan terimah kasih dan apresiasi kepada Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa dan Juga  pihak Universitas Nusa Nipa Indonesia  yang telah memilih kabupaten Ende dengan 3 kecamatan yaitu kecamatan Kota Baru, Kecamatan Maurole dan kecamatan Wewaria  sebagai lokasi KKN-MM.

    Turut Hadir  Ketua  Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa Drs. Sabinus Nabu, Rektor UNIPA Indonesia Dr. Ir. Angelinus Vincentius, M.S.i , Wakil Rektor 1  Dr. Jonas KGD Gobang , S.Fil,MA , Ketua LP2M  UNIPA Indonesia  Teresia Elfi, S.Kep.,Ns.,M.,  para  Dosen Pembimbing Lapangan  dan Mahasiswa Peserta KKN-MM.  Rektor Universitas Nusa Nipa Indonesia Dr. Ir. Angelinus Vincentius, M.S.i 

    Peserta  KKN-MM tahun 2021 berjumlah 793  Mahasiswa dengan  dosen pembimbing lapangan berjumlah 62 orang.Untuk diketahui Semua Mahasiswa sebelum  datang kelokasi KKN,  Peserta KKN-MM telah dirapid test  antigen dan   hasil test-nya negative. (Atick)

  • Pancasila Rumah Kita

    Jakarta Berandanegeri.com – Lahirnya Pancasila dalam judul pidato Bung Karno pada tanggal 1 Juni 1945 di dalam sidang badan persiapan kemerdekaan Indonesia. Dalam pidatonya, Bung Karno menyampaikan gagasan tentang dasar negara Indonesia. Kelima dasar negara tersebut yang sekarang dikenal sebagai Pancasila diterima secara aklamasi oleh semua anggota badan persiapan kemerdekaan hingga kemudian disahkan secara resmi pada tanggal 18 Agustus 1945, satu hari setelah proklamasi kemerdekaan negara Republik Indonesia.

    Kini pada peringatan 76 Tahun Lahirnya Pancasila 1 Juni 1945 – 1 Juni 2021 kami Forum Pancasila Rumah Kita bersama berbagai pihak dari berbagai organisasi keagamaan, kemasyarakatan, komunitas dan kepemudaan menggadakan Webinar dengan tema “Pancasila Rumah Kita” sebagai bentuk kecintaan kami kepada Pancasila sebagai dasar dan Ideologi bangsa Indonesia yang diadakan melalui virtual zoom pada hari Selasa, 1 Juni 2021.

    Tak dapat di pungkiri Pancasila saat ini memiliki berbagai tantangan yang beragam yang tidak dapat dibendung, di alam demokrasi seluruh nilai berhak mendapat tempat. Apapun sepanjang pada tataran pemikiran, tidak lagi dianggap sebagai ancaman. Kebebasan berpikir dilindungi. Individualisme dihargai. Di situlah, radikalisme berhasil mendapat momentum. Di balik kebebasan individu, radikalisme mendapat tempat bersembunyi. Di balik penjaminan hak berserikat dan berkumpul, suara radikal bisa sedemikian nyaring. Sentimen ketidakpuasan publik dieksploitasi, agar sekelompok masyarakat mau bertindak. Sentimen agama dimanfaatkan, agar sekelompok masyarakat mau bergerak. Tindakannya menolak sistem yang berlaku. Gerakannya menghendaki perubahan bentuk negara. Caranya, segala cara jadi boleh. Ciri khasnya, menolak toleransi. Menolak kerja sama dengan penganut agama lain, bahkan dengan saudara seagama yang berbeda pandangan. Sistem demokrasi yang dianut memang ekspresi pengakuan kemajemukan, pengakuan hak pribadi. Tapi untuk melawan ekses yang mematikan rahim politiknya sendiri, demokrasi perlu diinjeksi. Beruntungnya, Indonesia punya Pancasila sebagai fondasi. Lima Sila Pancasila adalah semangat kolektivitas yang menyeimbangkan nilai individualisme milik demokrasi.

    Ketuhanan Yang Maha Esa. Telah diingatkan jauh-jauh hari, Bung Karno berpesan agar bangsa ini ber[1]Tuhan dengan mengedepankan sifat toleransi dan solidaritas. Agama dijalankan dengan cara yang berkeadaban, hormat-menghormati satu sama lain. Kemanusiaan yang adil dan beradab, persatuan Indonesia, kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan, keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Pancasila mengandung prinsip kemanusiaan sekaligus keadilan sosial. Nilai liberal dan sosialisme, berani dipasang berdampingan. Jadi cerminan identitas bangsa, bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang ekstrem. Tidak hitam-putih pilih kiri maupun kanan, tapi mengambil jalan tengah. Prinsip moderat dapat membangun dialog di tengah perbedaan suku, agama, ras, dan golongan. Sikap bijak bagi kodrat pluralistik yang kita miliki.

    Karena tidak dapat dipungkiri, 76 tahun Pancasila hadir menjaga keutuhan negeri, meski digempur tantangan berbeda dari zaman ke zaman, sekarang kita ada di sini. Berdiri tegak, berdaulat. Seperti halnya menyambut hari lahir orang-orang yang dicintai, hari lahir Pancasila pula penting untuk diperingati. Mungkin sulit untuk sepenuhinya dihayati, tapi paling tidak kita mengerti. Bahwa 1 Juni bukan sekadar seremonial hormat bendera. Lelah berdiri di tengah lapang bisa lebih dimaknai. Beruntungnya kita punya fondasi. Entah gempuran radikalisme, fundamentalisme, dan isme lain di masa depan, rakyat dapat berlindung di bawah naungan lima sila dasar negara. Ada tempat kembali, saripati jati diri negeri. Seperti cita-cita founding fathers saat merumuskan dasar negara, mari jaga negara Indonesia agar terus berdiri kekal dan abadi.

    Narahubung: Siet nie : 081361742029 Resti Lutfiani : 089535387329