Category: SASTRA

  • “Sekuntum Mawar di Makam Ina Essy” – Sebuah Cerpen Yoseph Yapi Taum

    “Sekuntum Mawar di Makam Ina Essy” – Sebuah Cerpen Yoseph Yapi Taum

     

    Kuletakkan sekuntum mawar di atas makam Ina Essy, istriku, dan aku mulai berpikir tentang pensiun. Kubiarkan gerimis membasahi rambut, wajah, dan tubuhku. Dengan begitu, penjaga makam tidak melihat tetes-tetes air dari mataku.  Hari ini genap satu bulan Ina  Essy dimakamkan. Makam itu terletak di tengah perkampungan, di atas sebidang tanah yang letaknya lebih tinggi dari rumah-rumah penduduk. Pohon-pohon jati memberi bingkai lanskap pemakaman yang teduh, jauh dari kesibukan kota Yogyakarta. Kepergian Ina Essy yang begitu mendadak akibat pandemi covid-19 membawa luka dan duka yang mendalam bagiku dan bagi keempat anakku. Terutama si bungsu yang tak sempat memamerkan empat pasang seragam SMA-nya yang baru dijahitkan sang ibu.

    Suasana makam seperti ini adalah saat yang tepat bagiku untuk memikirkan kehidupan, kematian, dan pensiun. Rasanya ingin sekali aku mengajak Ina Essy sekali lagi menemui para kerabatku di Ataili, berjalan di gang-gang kampung, menyatu dengan anak-anak yang berlarian dalam belukar di ladang-ladang petani jagung. Terbayang pada liburan lima tahun yang lalu Ina Essy begitu menyukai cahaya keemasan dari matahari Lembata menjelang petang. Ketika lonceng gereja berdetang enam kali, Ina Essy larut dalam doa Angelus bersama orang-orang kampung. Dari desa perbukitan itu, terlihat di bawah sana hamparan Laut Sawu dengan buih-buih ombak yang selalu gelisah memecah karang. Di selatan Lembata, ombak laut lebih besar dan tinggi menggulung ke tepian dengan suara  menderu. Pada musim-musim tertentu, Laut Sawu dikunjungi puluhan bahkan ratusan ikan paus. Kini aku mengerti, mengapa Ina Essy begitu jatuh cinta pada Lembata: sayatan emas di kaki langit Labalekan telah mengurung mimpinya dalam cakrawala merah jambu.

    “Aku sengaja datang dari jauh untuk menutup pintu penantianmu, Lembata,” ujarnya ketika pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Lembata yang terletak di ujung timur Pulau Flores ini. Ina Essy tak habis-habisnya mengagumi keindahan pantai Lewolein, Waijarang, Mingar, dan Tanjung Nuhanera. Lembata memang memanjakan matanya dengan pemandangan laut yang hijau dan biru, pasir putih, matahari keemasan di saat terbit dan tenggelam. Kami suka berjalan bergandengan tangan di antara pasir dan pantai. Ombak kecil terus saja menyapu setiap jejak yang terlukis di atas pasir.

    Aku mencabut rumput liar di antara bunga taman di atas makam Ina Essy. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu yang aneh: Ina Essy berdiri di tepian sunyi, aku hanya bisa memanggilnya dengan bisik sayang. Kudengar suaranya setipis selendang yang suka dililitkan di lehernya. Ia melayang-layang bagai tarian kapas dan berakhir di palang hening pusaranya. Kukenang masa yang indah itu, waktu kami sama-sama kuliah di IKIP Sanata Dharma di Yogyakarta. Pertemuan pertama dengan Ina Essy begitu mempesona. Selanjutnya kami mengisi sudut dan langit Yogyakarta dengan aneka cerita kasmaran, hingga sampai pada pertemuan keseratus, usai kembali dari kota kelahirannya di Madiun. Saat itu musim penghujan. Alam hijau segar di Kaliurang. Serombongan kupu-kupu kuning menari-nari menembus awan. Sayap-sayap kecil yang mengepak menghiasi langit berkabut. Sepasang bola matanya yang bening membawaku bertamasya memasuki negeri berpenghuni anak-anak awan. Ketika malam mengenakan jubah sunyi, kami bercinta dengan magma menggelora. Maka lahirlah butir-butir embun yang dibuahi bintang kejora yang paling pagi. Saat itulah kuntum-kuntum hijau mulai bermunculan. Aku memilihnya menjadi ibu anak-anakku. Kelak ia melahirkan, mencintai, dan mengajari mereka sembahyang serta melangkah dengan kepala tegak.

    Gerimis telah menepi. Kunyalakan lilin mengantarkan doa di atas makam Ina Essy. Langit tua kelabu. Tiba-tiba perhatianku dirampas oleh sesuatu yang ganjil. Sebuah kereta yang ditarik dua ekor kuda melintas di jalan masuk ke pemakaman. Lonceng kereta kuda itu dibunyikan. Dentangnya mengingatkanku pada masa awal rumah tanggaku di kota Dili, yang kini menjadi ibu kota negara baru bernama Timor Leste. Kukenang Dili, Universitas Timor Timur, Gereja Sagrado Coraçaŏ de Jesus, dan rumah kontrakan kami di Villa Verde ketika pertama kali aku bekerja sebagai pegawai. Kerap kami dicegat operasi para pemuda Fretelin pendukung kemerdekaan Timor Leste. Anak kami baru seorang waktu itu. Ina Essy adalah perempuan sederhana yang selalu membawa kegembiraan. Senyum dan tawa seakan melekat di bibirnya. Ina Essy sangat menyukai laut. Sabtu sore menjadi waktu terbaik bagi kami berenang di laut dan bermain pasir di pantai. Kereta kuda itu melintas menyeberangi jalan dan masuk ke dalam makam. Sebelum menghilang, masih sempat kulihat Ina Essy melompat ke dalamnya sambil melambaikan tangannya ke arahku.  Hatiku seperti disayat-sayat sembilu. Sepi dan sendiri. Kutahu hatinya dimakan rindu untuk memelukku dan pulang bersama ke rumah. Tapi kereta kuda itu menerbangkannya entah ke mana.

    Baru sebulan Ina Essy meninggal, ketika kepala kantor kepegawaian menelponku.

    “Pak Hendrik, uruslah segera akta kematian istrimu,” katanya.

    “Untuk apa, Pak Dirman?” aku bertanya.

    “Untuk menghapus tunjungan istri dari gaji bulananmu,” jawabnya sambil melanjutkan, “Segera pula Bapak mengurus KK dan KTP baru dengan status duda!”

    Dadaku terasa sesak. Aku tak bisa menyembunyikan rasa marah. Aku benar-benar tersinggung. Betapa rendahnya menjadi pegawai di negeri ini. Hanya demi uang tunjangan  yang tidak seberapa jumlahnya, nama istri dan anak harus dihapus dari lingkaran kehidupan seorang pegawai.

    “Silakan Bapak potong saja tunjangan istri saya. Jumlah uang tunjangan pegawai untuk istri dan anak di republik ini juga tidak seberapa. Potonglah. Akan tetapi nama Ina Essy tidak akan pernah saya keluarkan dari KK. Saya juga tidak akan mengubah status perkawinanku menjadi duda. Saya punya istri, hanya saja dia sudah meninggal!”

    “Bapak jangan berkelit dan banyak alasan. Saya paham maunya Bapak ‘kan tetap mendapatkan uang tunjangan istri. Tindakan Bapak bisa dikategorikan melawan hukum di negeri ini,” kata kepala bagian kepegawaian mengancam.

    “Maaf, Bapak jangan kurang ajar. Dengar! Saya tidak akan menghapus nama Ina Essy dari KK,” jawabku dengan lantang dan tegas sambil mematikan telepon. Republik ini sungguh sudah gila. Uang tunjangan lebih bernilai daripada cinta dan kebenaran.

    Aku menatap makam Ina Essy. Sekuntum mawar yang kuletakkan sejak sore tadi di pusaranya kini menebarkan aroma harum mewangi. Di sekitar mulai terbentang gulita. Kunang-kunang mencoba menerangi malam. Sudah sebulan dia tertidur di sini. Menyebut dan mengenang cinta Ina Essy adalah bagian dari kegembiraanku. Tak seorang pun boleh merebut kegembiraan itu dari hidupku. Karena cinta adalah sumber energi paling besar dan paling purba dalam kehidupan. Bahkan cinta jauh lebih purba dari nafas. Nafas manusia akan berhenti tetapi cinta tetap abadi. Nafasku tak akan berhenti hanya karena tidak lagi bekerja sebagai pegawai kantor di negeri ini. Cinta tetap hidup sekalipun jantung tak lagi berdetak. Kasih yang tertulis di dalam hati tak akan pudar, pun ketika tubuh sudah menjadi abu.

    Aku kembali ke rumah. Setelah menutup jendela dan menyalakan lampu-lampu, rumah dipenuhi jejak dan wajah Ina Essy. Di sebuah bingkai foto, terlihat aku dan Ina Essy berjalan bergandengan tangan sambil tertawa di pinggir pantai Lewolein. Pada bingkai foto lainnya, Ina Essy tersenyum menyambut kedatanganku di Bandara Adisucipto dengan penuh kegembiraan dan kasih sayang. Aku menanak hasrat dalam kesejukan cinta. Tangisku luruh. Tanpa keraguan sedikitpun, kutandatangani surat pengunduran diri sebagai pegawai.

     

    Yogyakarta, 7 Agustus 2022

     

     

    ————————————

    Tentang  Penulis

     

    Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember.  Saat ini menjadi dosen di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4)  S-2 dari FIB Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2022).

     

     

  • Di Balik Asumsi, Terselip Solusi

    Di Balik Asumsi, Terselip Solusi

     

    Oleh Odemus Bei Witono

     

     

    Pandu adalah mahasiswa semester lima yang terkenal karena tampilan dirinya yang awut-awutan. Hari-harinya di kampus lebih banyak dihabiskan dengan tertidur di kelas, ketimbang mendengarkan dosen. Bukan karena malas, melainkan karena kelelahan.

    Pandu bekerja paruh waktu sebagai kurir malam guna membantu perekonomian keluarganya. Meski begitu, tidak banyak yang tahu alasan di balik kebiasaan buruknya itu. Bagi sebagian besar teman sekelas, Pandu merupakan sosok yang susah diatur, sulit didekati dan bahkan tidak peduli dengan masa depan hidupnya.

    Kendati demikian, ada tiga teman baik Pandu yang selalu setia berada di sisinya, yakni Romi, Tina, dan Rika. Mereka sering mengingatkan Pandu agar lebih serius dalam kuliah. Rika, yang paling peduli dan cerewet, sering pusing melihat Pandu yang kerap tertidur di kelas.

    Ketika bangun, Pandu hanya mencoret-coret kertas dengan tulisan tangan yang sulit dipahami. “Apa sih yang ditulis Pandu? Coretan itu lebih mirip sandi rahasia daripada catatan,” gumam Rika suatu kali.

    Suatu hari, Romi meminjam buku catatan Pandu. Begitu membuka halaman pertama, ia terperangah. “Gila bener! Bagaimana gua bisa baca ini? Payah banget nih Pandu. Isinya cuma coretan doang kayak sandi rumput,” keluhnya.

    Tak butuh waktu lama, kisah buruknya tulisan Pandu menyebar di antara para mahasiswa. Banyak asumsi muncul. Ada yang bilang Pandu sengaja menulis buruk agar dapat menghindari belajar. Ada pula yang menganggap Pandu hanya datang ke kampus demi presensi kehadiran.

    Berita itu akhirnya sampai ke telinga Pak Bijak, salah satu dosen senior. Dengan nada santai, beliau berdasarkan asumsi yang diyakini benar, berkata, “Iya, kemarin pas UTS saya tidak baca jawaban Pandu. Jadi, dikasih D saja daripada saya pusing.”

    Para dosen lain pun mulai memberikan penilaian serupa. Hanya Bu Leny yang membela Pandu. “Nilainya bagus kok di ujian saya. Soalnya pilihan ganda, dan Pandu bisa menjawab semua,” katanya.

    Kehadiran Pandu di kelas benar-benar mengembangkan banyak tafsir. Mungkin kalau Socrates masih hidup, ia akan bingung dan memilih ujian lisan bagi Pandu. Mahasiswa eksentrik ini memang tidak banyak teman, tetapi ia tetap bergulat dengan dirinya sendiri. Pandu menyadari bahwa hidupnya tidak bisa terus seperti ini.

    Dalam suatu kesempatan, Pandu merasa frustrasi saat menatap coretan-coretan di bukunya. Huruf-huruf yang seharusnya membentuk kata-kata justru terlihat seperti menari liar, membuatnya semakin sulit untuk fokus.

    Ruangan sempit di pojok kampus, tempat dia dan teman-temannya nongkrong seakan memperkuat rasa terisolasi dirinya. Ia memukul-mukul kepala sendiri dengan pelan, mencoba mengusir kekacauan pikiran yang terus menghantui. “Kenapa aku tidak bisa seperti orang lain? Apa yang salah denganku?” gumamnya lirih, diiringi keputusasaan yang menyesakkan.

    Melihat keadaan Pandu, Tina dan Rika tak tinggal diam, demikian juga Romi. Mereka tahu betapa sulitnya perjuangan Pandu dalam memahami huruf-huruf yang terus melawan. “Pandu, jangan menyerah!” Tina mencoba menyemangati dengan nada penuh keyakinan.

    Rika mendekatinya dengan penuh perhatian. “Tulisanmu memang mungkin sulit dibaca sekarang, tapi itu bukan akhir dari segalanya. Jika kamu mau belajar dan terus mencoba, kamu pasti bisa,” ujarnya dengan lembut, mencoba menanamkan harapan di hati temannya yang hampir putus asa.

    Mendengar dukungan itu, Pandu terdiam sejenak. Meski masih diliputi keraguan, kata-kata temannya seolah menjadi cahaya kecil di tengah kegelapan pikiran. “Mungkin mereka benar,” kata batinnya, meski masih ragu-ragu. Perlahan, ia meraih kembali buku tulisnya, mencoba membaca coretan-coretan itu sekali lagi.

    Dengan napas panjang, ia berbisik pada diri sendiri, “Aku akan mencoba sekali lagi. Setidaknya, untuk mereka yang percaya padaku.” Di ruangan sempit itu, sebuah tekad kecil mulai tumbuh, mengusir bayang-bayang keputusasaan.

    Dengan dorongan dari teman-temannya, Pandu mulai belajar menulis ulang catatannya dengan lebih rapi. Awalnya sulit, tetapi perlahan tangannya mulai terbiasa. Suatu kali, tanpa sadar, coretan-coretannya berubah menjadi lukisan. Lukisan samar yang menggambarkan teman-temannya; Tina dengan senyum yang ceria, Rika dengan wajah serius, dan Romi dengan ekspresi jahilnya. Pandu tersenyum. “Ternyata huruf-huruf ini seperti bernyawa,” gumamnya.

    Hari demi hari, tulisan Pandu semakin membaik. Ia sadar bahwa tulisan bukan hanya untuk kepentingan dirinya sendiri. Rangkaian kata perlu dibagikan, karena nyawa kata ada dalam makna yang dapat dipahami orang lain.

    Dengan semangat baru, Pandu mulai menyusun kalimat-kalimat penuh inspirasi. Tangannya menari di atas kertas, menciptakan cerita yang dapat menggerakkan hati siapa saja yang membacanya.

    Di akhir semester, tulisan Pandu tidak lagi menjadi bahan lelucon. Bahkan, salah satu esainya tentang perjuangan hidup dipuji oleh Bu Leny dan dibacakan di depan kelas. Pandu akhirnya menyadari bahwa setiap goresan pena adalah langkah kecil menuju pemahaman lebih besar.

    “Tulisan bukan hanya coretan,” ujar Pandu suatu hari kepada Romi, Tina, dan Rika. “Tulisan adalah jiwa yang perlu dimaknai dan dibagikan.”

    Dengan keyakinan itu, Pandu terus menulis. Tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga bagi dunia yang lebih luas. Sebab ia percaya, setiap kata memiliki nyawanya sendiri.

     

    ==================================

     

  • Gunung Batu yang Bersila ( buat Paul Budi Kleden)

    Gunung Batu yang Bersila ( buat Paul Budi Kleden)

    Oleh  Bara Pattyradja

     

    di kaki bukit Larantuka
    engkaulah gunung batu
    yang bersila
    hening bagai kaku pohonan
    paul, paul
    kau masih saja sesunyi air sebisu tanah
    saat mata nasib yang jalang
    memberiku isyarat penuh gemuruh
    apakah kita?
    boneka kertas yang pasrah dijarah sejarah
    ataukah Sishifus
    yang tak pernah menyerah
    pada kutuk batu? hari demi hari
    hanyalah gugusan karma
    yang terlunta dan duka maha raja bertahta
    dalam perjalanan ini
    telah kuikat takdir kasapku
    dengan seluruh kebebasanku
    tak akan ada batas
    yang sanggup melerainya

     

    ke pulau diri………
    bersama burung-burung
    yang kau lepaskan
    dari menara-menara hijau
    aku seberangi kembali selat Solor
    laut begitu asin
    tangan-tangan dingin penuh garam
    menyalakan lampu-lampu damar
    di daratan
    kulihat masalalu berjalan
    kucium bau manusia Portugis
    di seberang lengang benteng Lohayong
    inikah tanah ibu?
    oh, aku seperti sedang memasuki
    kesuyian tiada tara
    tak kudengar riak
    bahkan disini angin tak bertubah
    sayap-sayapku yang patah
    kembali utuh bagai bahasa
    yang mengikat lidahku

     

    Lamahala…….
    kucari juga diriku disitu
    tapi yang kutemui cuma sepotong sedu
    yang makin lama makin perih
    di dadaku
    apa yang salah?
    hingga orang-orang kampung butuh kejahatan
    untuk menjagal diri sendiri
    tak kutanam dendam di bawah darahku
    meski mata pisau goreskan luka
    silsilah dagingku
    pada maut dan kiamat
    aku pasrahkan batas duka
    segala yang terampas dari sisiku
    akan terampas dari sisi mereka

     

    maka jangan titahkan padaku
    untuk masuk menemu diri
    sebab aku akan mati
    seperti Sartre yang mati
    memasuki diri orang lain
    “sebab neraka adalah orang lain”
    dan sedih akan kembali tiba
    seperti kapal-kapal kembali
    dari bandar-bandar yang jauh
    maka buat saja aku lelah
    ludahkan padaku segala yang pahit
    dengan begitu aku akan merasakan
    manisnya pengembaraan

     

    —————————-

    Sumber:  dari Buku Puisi Samudera Cinta Ikan Paus, Penerbit Asupsi, 2013, Bandung

     

    Buku Puisi “Samudera Cinta Ikan Paus” karya Bara Pattyradja
  • Anno 2020, Kumpulan Sajak Alois A. Nugroho

    Anno 2020, Kumpulan Sajak Alois A. Nugroho

    Oleh  Catatan Pringadi

     

       Secara garis besar, sajak-sajak Alois A. Nugroho ini berpijak pada imaji. Ia memiliki citraan yang kuat sehingga saat membaca sajaknya, kita terseret pada suatu penglihatan sekaligus pendengaran. Suasana yang dihadirkan pada buku sajak ini kebanyakan sunyi dan muram. Barangkali itu ada hubungannya dengan lini masa penulisan sajak semasa pandemi Covid.

     

    Anno 2020

    sudah lama sekali manusia saling menghindar
    sehingga orang-orang tak tampak lalu-lalang
    dan satu-dua berdiri terpaku dan termangu
    di emplasemen stasiun tua yang sepi dan kusam

    seperti sedang merindukan kereta api
    yang dulu ramai
    dan sekarang hanya dapat dikenang

     

    Dari sajak pertama yang menjadi judul buku ini saja kita sudah dibawa merasakan perubahan drastis antara kondisi sebelum dan setelah pandemi. Meski ya, secara akurasi, aku agak mempertanyakan. Sebab, kalau bicara kereta api, kita harus tahu dulu ini kereta jarak jauh atau bukan. Untuk KRL, stasiun tidak pernah sepi, hanya ada pembatasan yang sempat menjadi keributan di tiap stasiun. Kalau kereta jarak jauh, ya sih sempat sepi. Meski di halaman 11, ada judul sajak “Dekat Stasiun Cakung” yang juga ingin memperlihatkan kesepian itu. Nyatanya, stasiun Cakung tidaklah pernah sesepi itu. Orang-orang tetap nekat naik kereta sebab tak ada pilihan transportasi publik lain yang lebih baik.

    Usaha Pak Alois untuk memperlihatkan perbandingan kondisi sosial itu sangatlah kental. Beliau bicara “Pasar Pagi” untuk memperlihatkan sepinya pembeli dan multiplier efek yang ditimbulkan. Juga ada “Terminal Pulogebang”, lagi-lagi soal kesepian.

    Aroma kematian juga santer di kumpulan sajak Anno 2020 ini. Hal itu terlihat sejak puisi kedua yang berjudul “Malam Bulan Mei”. Pada sajak tersebut, beliau mengkhawatirkan ajal dalam frasa “waktumu tiba-tiba akan berhenti”, dan kematian itu makin kental dalam sajak berikut:

     

    Lelayu

    ada lelayu yang tak mungkin kauhadiri
    kau hanya berani menatap mega-mega
    yang perlahan diembus angin semakin tinggi ke utara
    dan tatkala kedua bibirmu mengucap sebuah nama
    dan melantunkan sebuah doa
    semua sudah lenyap dari pandangan mata

     

    Bahasa dalam kumpulan sajak ini sederhana dan membuat kita relatif lebih mudah memahami maknanya. Ia menggunakan frasa-frasa yang lazim dalam perpuisian, seperti “ke utara” untuk menunjukkan arah jiwa yang kembali ke Tuhan. Sajak-sajak lainnya bisa kita simak berikut ini:

     

    Catatan Masa Pandemi

    kau takkan membiarkan malam menjadi murung
    belum tampak seperti menyanyi ketika angin
    bergegas menyapu langit dan membersihkannya
    dari mendung

    hanya waktu yang kaudengar tetap gemericik menetes
    mengalir tanpa suara seperti peluh dan air mata

    sampai tiba saat mengerang
    nanti, hanya sekali, saat waktumu berhenti
    bagai sumber air yang mengering sama sekali

     

    Hubei

    dari kolam teratai di depan vihara
    kau sampai pada air terjun kecil di tengah hutan
    di kaku sebuah bukit kecil yang puncaknya
    menyusul ke sela-sela mega
    dari jauh terdengar kau menyanyi “ave maria”
    seperti gemericik air kali
    dan tiupan angin pagi

     

    Sungguh, saya menyukai sajak-sajak yang sederhana dan penuh citraan seperti ini! Mari membaca puisi.

     

     

     

  • Paskah Pop 75

    Paskah Pop 75

    Oleh Yoseph Patty Wenge

     

     

    Hari ini Kristus sahabat kita
    Di sorga berdarah dan tersenyum
    Wajahnya rama dan berdebu

    Hari ini di Kamboja ada peluru
    Di Vietnam ada peluru
    Di Timur-Tengah ada peluru

    Revolusi dimana-mana
    Damai rapuh dimana-mana
    Lalu Kristus menyandang salib ke Golgota
    Disalibkan lagi hari ini
    dan bumi kita adalah Golgota

    Hari ini
    Kemiskinan meraja lela dimana-mana
    Sejuta manusia telanjang
    dan lapar, dan sepi
    Keadilan goya dimana-mana
    Lalu Kristus menyandang salib ke Golgota
    Disalibkan lagi hari ini
    dan bumi kita adalah Golgota

    Siapakah Yudas?
    Wahai katakanlah!

    Tiada Paskah bagi Kristus yang lapar
    Tiada Paskah bagi Kristus yang berzinah
    Tiada Paskah bagi Kristus yang berdarah
    Tiada Paskah bagi Kristus yang berdebu
    Tiada Paskah bagi Kristus yang sumringah

    Tiada Paskah dimana-mana
    Tiada Kristus dimana-mana
    Lantaran Paskah kita adalah
    Paskah Pop dan Underground
    Paskah Ganja dan Mariguana

    Kau dengarkah?
    Kau dengarkah?

    Mari kita tampar wajah Kristus yang ramah
    Kita maki Dia dan menari ca ca ca
    Mari kita lemparkan Dia dalam debu
    Mari berdansa sambil minum Coca Cola
    Mari kita salibkan Dia
    Mari kita salibkan Dia
    Isaplah Ganja, tampar wajahnya
    Isaplah Ganja, tampar wajahnya

    Kau kah itu?
    Generasi muda, suaramu kah itu?
    Yahudi kah kau?
    Suaramu kah itu?

    Wahai kau anak zaman yang pongah
    Kau Sangkuriang?
    Kau setubuhi ibumu kah?
    Kau Malingkundang?
    Kau sangsi pada rahim kehidupankah?

    Kau wahai generasi Ganja
    Kau tamparkan wajahnya?
    Kau salibkan Dia kah?
    Lalu kau Yudas kini
    Lalu kau Pilatus kini
    Lalu kau Herodes kini
    Kau, yah aku dan kau, kita
    Kita adakah Yudas
    Kita adalah Pilatus
    Kita adalah Herodes
    Kita adalah anak saman yang pongah

    Wajah Kristus yang ramah
    Tersenyum dan berdebu
    Matanya berkaca dalam nanah
    dan bertanya:

    Wahai kau generasi Ganja
    Generasi Pop, Underground dan Mariguana
    Aku juga anggota generasimu
    Aku juga gondrong seperti kau
    Aku juga brewok seperti kau
    Kau isap Ganja, aku juga
    Kau isap Mariguana, aku juga
    Kau menari, berdansa dalam warna remang-remang
    Aku juga
    Kita adalah ahli waris generasi ini
    Tetapi aku cuma mau tanya
    Apakah kau cinta kepadaku?

    Aku menyandang salib ke Golgota
    Berdarah dan luluh dalam debu
    Superstar kah kau?
    Tidak
    Aku menggapai langit yang telanjang
    Wajahku tunduk ke bumi yang panas
    Tiada cinta di hatimu
    Superstar kah aku?
    Tidak
    Aku adalah pejalan jauh
    Pembawa duka abadi
    dari generasi ke generasi
    Superstar kah aku?
    Tidak

    Mengapa kau diam generasiku?
    Mengapa kau terpaku generasiku?
    Diamkah kau?
    Wahai!

    Mengapa Ganja dan Mariguana
    Luluh dalam tanganmu?
    Mengapa musik Pop itu sunyi kini?
    Mengapa?
    Yudas kah aku? Herodes kah kau? Pilatus kah kau?
    Ya

    Dan kini
    Dimana Magdalena itu?
    Dimana wanita itu?
    Pelacur itu
    Penzinah itu
    Dia adalah ahli waris cintaku yang ramah
    Dia berhak atas kasihku yang bermakna
    Dia adalah ahli waris generasi

    dan kau generasiku
    Akan selalu bertanya

    Apakah gerangan Paskah ini bagiku
    dan Kristus yang Ramah
    yang tersenyum pada kau
    Akan menjawab
    Paskahmu generasiku
    adalah Paskah Magdalena…………
    Yesus Christ Super Star
    S e l a m a t    P a s k a h

     

                           Sumba 5 April 1975
  • Simon dari Kirene (Dia yang Memanggul Salib)

    Simon dari Kirene (Dia yang Memanggul Salib)

     

    Oleh Khalil Gibran 

     

     

    Waktu aku pergi ke kebun, di tengah jalan
    aku melihat-Nya memanggul salib. Banyak orang
    yang mengikuti-Nya.

    Lalu aku pun berjalan di samping Yesus.
    Berkali-kali beban itu menghentikan jalan-Nya
    sebab Dia tak berdaya lagi.

    Kemudian seorang serdadu Roma mengham-
    piriku dan berkata, “Kemarilah kau, seorang
    yang trgap dan kuat; tolong pikul salib Orang ini.”

    Hatiku sangat gembira dan bersyukur, men-
    dengar suruhan itu. Dan aku memikul salib-Nya.
    Salib itu sangat berat karena dibuat dari batang
    kayu yang terendam selama hujan musim dingin.

    Yesus memandangku. Peluh-Nya mengalir
    dari dahi ke janggut-Nya. Sekali lagi Yesus
    menatapku dan berkata, “Engkau juga minum piala ini?
    Sesungguhnya engkau akan minum
    bersama-Ku sampai akhir masa.”

    Sesudah berkata demikian Ia meletakkan ta-
    ngan-Nya ke atas bahuku yang bebas. Dan kami
    berjalan beriringan hingga sampai di atas bukit
    Tengkorak.

    Tetapi kini aku tidak lagi merasakan beban
    berat salib itu. Aku hanya merasakan tangan-
    Nya, seolah-olah sayap burung di atas bahuku.

    Sesampai di atas puncak, mereka telah siap
    Menyalibkan-Nya. Baru pada saat itu kurasakan beratnya
    salib itu.

    Dia tak mengucapkan sepatah kata pun ketika
    Mereka tancapkan paku pada tangan dan kakin-Nya, Dia
    tidak mengeluh. Tangan dan kaki-Nya tidak gemetar
    dihantam pemukul,
    seolah- olah sudah mati dan hanya hidup lagi
    sesudah bermandi darah. Tampaknya Ia rela
    menerima paku-paku itu seperti anak raja
    menerima tongkat kerajaan, dan Dia ingin
    ditinggalkan.

    Dalam hatiku tidak merasakan kasihan sebab
    aku sangat keheranan. Kini Orang yang kutanggung
    salib-Nya itu telah menjadi salibku. Andaikan orang
    berkata lagi kepadaku, “Pikullah salib Orang ini”, aku
    pasti memikulnya sampai ke pintu kubur. Namun aku
    akan meminta-Nya meletakkan tangan-Nya
    di atas pundakku.

    Kejadian ini telah terjadi bertahun-tahun yang lam-
    pau. Namun sampai saat ini aku tetap mengenang-
    kan Orang kesayangan itu setiap kali aku menyusu-
    ri alur bajakdi kebun dan di saat aku terkantuk
    sebelum tidur. Dan kurasakan tangan-Nya yang bersayap
    itu di sini, di pundakku sebelah kiri. …

     

    ————————

    Sumber Tulisan dari Buku Yesus Sang Anak Manusia, Khalil Gibran,  Bentang, 2002

  • – Dismas di Puncak Kalvari – Maria Dolorosa – Aku Hampir Terlambat- Tiga Puisi Paskah Yoseph Yapi Taum

    – Dismas di Puncak Kalvari – Maria Dolorosa – Aku Hampir Terlambat- Tiga Puisi Paskah Yoseph Yapi Taum

    TIGA PUISI PASKAH KARYA YOSEPH YAPI TAUM

     

    Menjelang perayaan Paskah tahun 2024, redaksi menyajikan tiga puisi karya Yoseph Yapi Taum, yakni: “Dismas di Puncak Kalvari” diambil dari Antologi Puisi Ballada Arakian (2015: 64), “Maria Dolorosa” diambil dari antologi puisi Kabar dari Kampung (2023: 38), dan ““Aku Hampir Terlambat” diambil dari Antologi Puisi Orang-Orang Arfak (2019: 32).

    Puisi “Dismas di Puncak Kalvari” menggambarkan momen penting dalam kehidupan Dismas, salah satu penjahat yang disalibkan bersama Yesus. Puisi ini mencerminkan perubahan sikap dan pemahaman Dismas saat dia mengalami pertobatan di Puncak Kalvari. Dalam puisi ini, Pesona bumi yang memudar dan keangkuhan yang luruh menggambarkan perubahan pandangan Dismas terhadap kehidupannya yang sebelumnya penuh dosa dan nista. Keagungan di Puncak Kalvari, melalui cahaya Kristus, menghapus segala nista dan hasrat buruk dalam diri Dismas.

    Puisi “Maria Dolorosa” menggambarkan penderitaan dan kesedihan yang dialami oleh Maria, ibu Yesus, selama peristiwa penyaliban Yesus. Dalam bagian pertama, Maria digambarkan sedang berusaha menjaga ketenangan dan keberanian di tengah-tengah penderitaan yang dialaminya, dengan menggambarkan debu dan angin yang mengganggunya secara fisik namun dia tetap bergerak maju untuk menyiram jalanan berdebu sebagai simbol kesiapan anaknya, Yesus, untuk memadamkan api dosa sejak zaman Adam dan Hawa. Bagian kedua puisi menunjukkan momen yang lebih intim antara Maria dan Yesus di kaki salib, di mana dia menyaksikan penderitaan anaknya dengan penuh kenangan dan kesedihan yang mendalam. Gumpalan tangis dan kenangan yang tergores di kaki salib menggambarkan keputusasaan dan kepedihan yang dialami Maria. Meskipun penuh dengan penderitaan, Maria tetap tegar dalam iman dan menghadapi sejarah dengan luka dan gerimis di mata, menunjukkan kekuatan dan kesetiaan dalam menghadapi cobaan.

    Puisi “Aku Hampir Terlambat” merefleksikan tiga momen penting yang berkitan dengan sejarah penyelamatan Kristus: 1) Pukul 12.00 ketika Yesus disalibkan di Gunung Golgota; 2) Pukul 03 petang (15.00) ketika Yesus dimakamkan; dan 3) Pukul 03.00 pagi ketika Yesus bangkit dari kuburan. Momen-momen ini adalah inti dari iman Kristiani dan merupakan peristiwa yang dianggap sangat sakral dalam sejarah penyematan manusia. Puisi ini mengajak kita untuk merenungkan dan menghayati makna serta pentingnya momen-momen tersebut dalam kehidupan umat Kristiani: penderitaan, kematian, dan kebangkitan Kristus.

     

    DISMAS DI PUNCAK KALVARI

     

    Pesona bumi memudar seketika
    Keangkuhan luruh, kepongahan runtuh
    Keagungan di Puncak Kalvari adalah cahaya
    Yang menghapus segala nista dan hasrat.

    Apalah aku yang berjajar di kayu salib
    bersama musafir Galilea yang teduh,
    bunda-Nya yang termangu,
    dan pengikut-Nya yang terdiam?

    0h, ular, dosa, dan nista yang mempesona,
    Betapa agungnya bujukan ular
    Betapa indahnya dosa yang kubuat
    Betapa terpujilah nista yang kuikat
    Karena mereka mendatangkan pesona
    yang membukakan pintu langit bagiku.

    Ketika tirai Kenisah dirobek.
    Dismas di Puncak Kalvari menoleh ke kanan
    dua butir air mata jatuh di pipinya
    waktu mata mereka bertemu.

    Musafir Galilea itu menatap langit,
    Dilihatnya Dismas di sana
    Bersimpuh di bawah kaki aYah-NYa
    Dadanya masih berbuih racun ular.
    Di Puncak Kalvari,
    tongkat awan membimbing Dismas
    “Saat ini juga, Dismas,
    engkali akan bersarnaku di Firdaus!”

    Pesona bumi memudar seketika
    Keangkuhan luruh, kepongahan runtuh
    Keagungan di Puncak Kalvari adalah cahaya
    yang menghapus segala nista dan hasrat.

     

    Yogyakarta, 1 April 2013

    (Puisi “Dismas di Puncak Kalvari” diambil dari Antologi Puisi Ballada Arakian (2015: 64)

    ————————————-

     

    MARIA DOLOROSA

     

    1/
    debu mendulang gerimis di matamu
    angin menyayat alis di wajah
    pedang menyibak helai rambut di pelipis
    di langit matahari merendah

    kau bergegas menyiram jalanan berdebu
    anakmu akan memadamkan nyala merah api
    sejak adam dan hawa memakan buah pengertian

    detak jantung dan pedang liar
    merebutkan letak mata bumi dan langit
    tak ada kembang yang bisa bertahan
    noktah darah telah ditandai di jantungmu

    2/
    sebelum jam tiga sore
    segerombolan gagak hinggap di bukit
    gumpalan tangis nyaris tumpah

    di kaki salib tergores kenangan
    anakmu menyeruak nyeri
    dan pulas dalam rahim
    dalam tujuh musim bunga

    bolehkah aku menangis, isakmu
    kembang layu meredam tangis
    sebongkah purnama merajut malam
    bintang-bintang berderak gelisah
    kau pandang keangkuhan sejarah
    dengan luka dan gerimis di mata

     

    Sendangsono, 19 April 2019

    (Puisi Maria Dolorosa diambil dari antologi puisi Kabar dari Kampung (2023: 38)

    —————————————————-

     

    AKU HAMPIR TERLAMBAT

     

    Aku hampir terlambat tiba
    Di kaki bukit, jam dua belas siang
    Darah sudah menetes di sekujur tubuhmu.

    Aku hampir terlambat tiba
    Di ambang pintu, jam tiga petang
    Tubuhmu sudah berbalut jubah ungu.

    Aku hampir terlambat tiba
    Di depan makam, jam tiga pagi
    Tubuhmu sudah mengangkasa.

     

    Yogyakarta, 5 Maret 2017

    (Puisi “Aku Hampir Terlambat” diambil dari Antologi Puisi Orang-Orang Arfak (2019: 32)

     

    ————————————————-

    *Yoseph Yapi Taum lahir di Ataili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Saat ini menjadi ketua Program Studi Magister Sastra di Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta. Pendidikan: (1) SMA Seminari San Dominggo, Hokeng (1984), (2) Seminari Tinggi Santo Paulus Kentungan Yogyakarta (1984-1985) dari biara Oblat Maria Imaculata (OMI). (3) S-1 dari di IKIP Sanata Dharma (1990); (4) S-2 dari Universitas Gadjah Mada (1995); (5) S-3 dari FIB Universitas Gadjah Mada (2013) dengan disertasi berjudul Representasi Tragedi 1965: Kajian New Historicism atas Teks-teks Sastra dan Nonsastra Tahun 1966-1998. Melakukan penelitian tentang Konflik dan Kekerasan di Papua (2015-2016). Antologi puisinya Ballada Arakian (2015), Ballada Orang-orang Arfak (2019), dan Kabar dari Kampung (2023).

  • M E R E N D A    L A U T (buat Para Penganyam Layar “Peledang” di Lamalera)

    M E R E N D A L A U T (buat Para Penganyam Layar “Peledang” di Lamalera)

     

    Oleh  Paskalis Liko Bataona

     

     

    Pada laut, engkau
    menjahit kenangan dengan ikan-ikan
    dan terumbu karang

     

    Engkau merenda l a j a (layar)
    untuk berpuisi dengan angin

     

    Di debur ombak pantai Lamalera
    ada janji bahwa
    t e n a (perahu) akan
    berpulang ke hati

     

    Di pasir ……..
    pantai berbisik
    “ama gene ola, ola kae kode kai”

     

    —————————————————–

    ——————————————————————
    *Ama gene ola, ola kae kode kai = Leluhur telah mewariskan menangkap ikan di laut, mari kita rawat warisan itu dengan suakcita                                                       

     

  • — Requiem – Pelabuhan —,   Sajak – sajak  Adimas Immanuel

    — Requiem – Pelabuhan —, Sajak – sajak Adimas Immanuel

     

    REQUIEM

     

    Katamu Tuhan tinggal dalam diri,
    tapi kau berdoa menatap langit
    tak menunduk menatap tubuh.
    Seolah Tuhan begitu jauh.

     

    ——————————

     

     

     DI  PELABUHAN

     

    Ombak-ombak rahasia dihasut angin gila
    Tak ada layar yang bisa menyeimbangkanmu

    “Jangankan laut, maut pun kusebrangi!” katamu.

    Mimpi-mimpi manusia memutih seperti buih
    Tak ada yang membantuku mencapai dasarmu

    “Kau pengecut” katamu, dengan nada bercanda.
    Ah, tapi siapa berani bercanda jika laut mencatatnya?

    Kita tertawa, bintang-bintang tergelak, cahayanya
    Menyunggi malam, menyangga kekecewaan kita

    Dan waktu, kapal tua yang tertambat begitu saja
    Entah kapan penyesalan-penyesalan memungutnya

    Kau membuatku kian terpencil
    Ketika nasib tak kunjung bisa kucicil

     

    *************************

     

    Sumber Sajak dari Buku  Di Hadapan Rahasia, Adimas Immamuel. Gramedia 2020

  • Diskusi Mengenang 40 Hari Wafatnya Prof.Abdul Hadi WM : Gerakan Angkatan 70, Sastra Sufi, dan Kembali Ke Akar

    Diskusi Mengenang 40 Hari Wafatnya Prof.Abdul Hadi WM : Gerakan Angkatan 70, Sastra Sufi, dan Kembali Ke Akar

     

    Penyair, Sastrawan, dan Budayawan Prof.Abdul Hadi WM dikenal sebagai konseptor gerakan sastra Angkatan 70, gerakan sastra sufi dan gerakan kembali ke akar.

    Jika gerakan Angkatan 70 yang kuat secara konsep dan meyakinkan secara estetis- kalah bergema dibanding angkatan sastra yang dirumuskan HB Jassin- gerakan sastra sufi berhasil menjadi gerakan sastra yang masif dan terus menggeliat hingga hari ini.

    Demikian disampaikan Agus R. Sarjono dalam Diskusi Sastra Mengenang 40 hari Wafatnya Penyair, Sastrawan, dan Budayawan Prof.Abdul Hadi WM di Teater Kecil, Kompleks Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta Pusat, Senin siang (26/2/2024).

    Gerakan kembaali ke akar, menurut Agus, dicetuskan Abdul Hadi WM sebagai jawaban atas kondisi di mana jejak kolonialisme barat begitu kuat tertanam di Nusantara.

    “Gerakan kembali ke akar bahkan menjadi tren bukan hanya sastra namun juga bidang lain,” ujar Agus R.Sarjono.

    Dalam diskusi yang dipandu Riri Satria, pemateri lain, Maman S. Mahayana mengulas lebih jauh alasan Abdul Hadi WM mengusung Angkatan 70.

    Pada era ini muncul karya sastra yang membawa ciri baru, memiliki perbedaan mencolok dengan karya-karya sebelumnya.

    “Pangkal-tolaknya adalah karya-karya yang merintis pembaharuan, yang kemudian melahirkan kemungkinan-kemungkinan baru sebagai hasil dari proses interaksi dengan kehidupan sosial, moral, intelektual, dan spiritual lingkungan dan zamannya,” tambah Kang Maman, sapaan akrab kritkus sastra itu.

    Selain itu, kata Kang maman, karya-karya sastrawan tahun 1970-an, tak ada lagi semboyan seni untuk rakyat atau seni untuk seni, tak ada lagi slogan cinta tanah air, humanisme universal atau pertentangan Timur—Barat.

    “Semangat yang tampak berkenaan dengan wawasan estetik, pandangan, sikap hidup pengarang, semangat dan orientasi kebudayaannya,” ucapnya.

    Sementara Sofyan RH. Zaid, pembicara dari Universitas Paramadina, membahas keterkaitan Abdul Hadi WM dengan genre puisi sufi-nya.

    Menurut Sofyan, Abdul Hadi WM memiliki prinsip penting dalam hidupnya yang dia perjuangkan dari awal hingga akhir yaitu jembar atau lapang dada.

    “Jembar atau samahah atau bisa juga disebut al-shafh merupakan ajaran vital dalam kesufian, sehingga menjadi salah satu puncak tertinggi capaian seorang sufi. Jembar adalah rasa puas, rasa tenang, hilangnya rasa cemas, serta terus menerus merasa gembira. Tidak sedih kala kehilangan, tidak terlalu bahagia saat mendapatkan,” terang Sofyan.

     

    Guru Penyair Indonesia

    Kegiatan mengenang 40 hari wafatnya Prof.Abdul Hadi WM dibagi dalam 2 sesi. Pada sesi pertama, selain diskusi, juga diisi dengan pembacaan puisi oleh Giyanto Subagyo, Feri Putra, Piet Yuliakhansa, Nurhayati & Rokhana, Boyke Sulaiman, Narima Berly Ivana, Dyah Kencono Puspito Dewi, Guntoro Sulung, Sihar Ramses Simatupang, Trilogi, Nina Karenina, Evan YS, Wig SM, dan Tatan Daniel, serta musikalisasi puisi “Lagu Dalam Hujan” oleh Rinidiyanti Ayahbi.

    Pada sesi malam, yang dihadiri perwakilan dari Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan DKI Jakarta, Unit Pelaksana Teknis (UPT) PDS HB Jassin, dan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), acara dibuka dengan lantunan zikir.

    Setelah itu dilanjutkan dengan pementasan tari sufi oleh Imam Ma’arif dan kawan-kawan dari RK Productiaon.

    Dilanjutkan pembacaan puisi dan testimoni dari Gayatri Muthari, Jose Rizal Manua, Oktavianus Masheka, Sutardji Calzoum Bachri, Emi Suy, Arief Joko Wicaksono, Asrizal Nur, dan M. Subhi Ibrahim dari Paramadina.

    Acara juga diisi dengan tayangan profil Prof.Abdul Hadi WM. Pada kesempatan itu, Isbedy Stiawan ZS memberikan kesaksian tentang kiprahnya dan mengusulkan agar Abdul Hadi WM mendapat gelar sebagai Guru Penyair Indonesia, sebagaimana Sutardji mendapat julukan sebagai Presiden Penyair Indonesia.

    Dalam sambutannya, Ketua Panitia Nanang R. Supriyatin mengatakan, kegiatan 40 hari wafatnya Abdul Hadi WM adalah bagian dari penghormatan atas sumbangan dan dedikasi almarhum pada kesusasteraan.

    Nanang Supriyatin-yang juga penyair- mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu terwujudnya kegiatan, terutama kepada 14 komunitas yang tergabung dalam kepanitiaan bersama yakni Komunitas Jagat Sastra Milenia (JSM), Komunitas Forum Sastrawan Indonesia (FSI), Komunitas Taman Inspirasi Sastra Indonesia (TISI), Komunitas Sastra Reboan, Komunitas Satarupa (Perempuan Pekerja Seni), Komunitas Lukisan Daun & Kopi Teddy Arte.

    Kemudian Komunitas Literasi Betawi (KLB), Komunitas Srikandi (Komunitas Seni Budaya), Komunitas Literasi Kompasiana (LitKom), Komunitas Sastra Jakarta Timur (KSJT), Komunitas Istana Puisi, Komunitas Cakra Budaya Indonesia, Komunitas Planet Senen,Forum Literasi Muda, serta Komunitas RK Production.

    Acara berlangsung cukup meriah, namun syahdu dengan dihadiri anggota komunitas, penggiat sastra dan budaya, mahasiswa serta masyarakat umum.

    Berikut adalah salah satu karya puisi Prof.Abdul Hadi WM, seorang Penyair, Sastrawan, Budayawan, Akademisi, dan Ahli Filsafat.

     

    TUHAN, KITA BEGITU DEKAT

     

    Tuhan

    Kita begitu dekat
    Sebagai api dengan panas
    Aku panas dalam apimu
    Tuhan
    Kita begitu dekat
    Seperti kain dengan kapas
    Aku kapas dalam kainmu
    Tuhan
    Kita begitu dekat
    Seperti angin dengan arahnya
    Kita begitu dekat
    Dalam gelap
    Kini aku nyala
    Pada lampu padammu.

     

    ______________________________

    Penyair Perempuan Indonesia Dyah Kencono Puspito Dewi dari Komunitas Sastra Reboan ikut membaca karya puisi Prof.Abdul Hadi berjudul LAUT. (Foto : Lasman Simanjuntak)

     

     

    Gayatri Muthari, puteri sulung almarhum Prof.Abdul Hadi WM (foto tengah diapit dua penyair perempuan Indonesia Piet Yuliakhansa dan Asmariah Supriyadi pada diskusi sastra mengenang 40 hari wafatnya Penyair, Sastrawan, dan Budayawan Prof.Abdul Hadi WM di Teater Kecil TIM Jakarta, Senin sore, 26 Februari 2024.(Foto : Lasman Simanjuntak)

     

     

    Pembaca puisi generasi.milenial Narima Berly Ivana membacakan karya puisi Prof.Abdul Hadi WM berjudul DOA UNTUK INDONESIA di Teater Kecil TIM Jakarta, Senin, 26 Februari 2024.(Foto : Lasman Simanjuntak)

     

    Presiden Penyair Indonesia Sutardji Calzoum Bachri, ikut baca puisi pada acara malam zikir, tari sufi, dan baca puisi mengenang 40 hari wafatnya Penyair, Sastrawan, dan Budayawan Prof.Abdul Hadi WM di Teater Kecil Pusat Kesenian Jakarta (PKJ) Taman Ismail Marzuki Jakarta, Senin malam, 26 Februari 2024.(Foto : Lasman Simanjuntak)

     

    (*)  Kontributor : Lasman Simanjun