Category: SASTRA

  • Teratai di Kubangan Mimpi

    Teratai di Kubangan Mimpi

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

     

     

    Desau angin pagi seringkali membawa serta aroma tak sedap yang menyengat dari gundukan sampah besar di sudut pekarangan, sekitar dua km dari sekolah. Di tengah hiruk pikuk kehidupan yang keras dan penuh keterbatasan itu, hiduplah seorang gadis bernama Dyah Pertiwi Sukma.

    Ia ibarat perumpamaan klasik bunga teratai. Walau akarnya terbenam jauh di dalam lumpur keruh, lumpur kehidupan yang seolah tak memilih-milih tempatnya tumbuh, Dyah memiliki tekad membaja untuk menghasilkan kelopak yang paling indah, bersih, dan bermanfaat. Lingkungan yang keras tak sedikitpun melunturkan mimpinya yang tinggi.

    Setiap pagi, jauh sebelum sinar matahari benar-benar naik dan menghangatkan bumi, Dyah sudah harus terseok-seok berjalan kaki dari lorong sempit tempat tinggalnya menuju sekolah yang amat sederhana. Jalanan yang ia lalui seringkali berlumpur dan becek, membuat rok seragamnya yang sudah memudar warnanya itu seringkali ternoda sisa tanah atau percikan lumpur.

    Ayahnya adalah seorang pemulung, seorang pahlawan sunyi yang setiap hari harus berjuang keras di antara tumpukan sampah untuk sekadar mendapatkan sesuap nasi dan memastikan Dyah bisa bersekolah.

    “Dyah, jangan pernah merasa minder atau malu dengan keadaan kita. Kita memang hidup dari lumpur yang kotor, tapi ingatlah selalu pada belut,” ujar Bapak suatu malam, sambil membersihkan tangannya yang kasar dari  debu dan kotoran hari itu. Bapak selalu mencoba menanamkan filosofi kehidupan yang mendalam pada Dyah melalui hal-hal sederhana di sekitar mereka.

    Bapak melanjutkan perkataannya, “Belut memang hidup di lumpur, di tempat yang dianggap kotor dan menjijikkan oleh banyak orang. Tetapi, lihatlah hasilnya. Belut menghasilkan daging yang berisi, yang sangat bergizi, bahkan orang-orang di kota besar menyebutnya memiliki kandungan protein tinggi. Belut itu justru lebih berharga dan dicari daripada sebagian ikan-ikan yang berenang bebas di air yang jernih sekalipun.”

    Kata-kata bijak dari Bapak itu, yang selalu diulang-ulang, seolah menjadi mantra yang tertanam kuat di benak dan jiwa Dyah. Ia mengidentifikasi dirinya sebagai belut itu. Ia mungkin tumbuh dan besar di lingkungan yang keras, kotor, dan penuh tantangan, tetapi di dalam dirinya, Dyah Pertiwi Sukma memendam ‘protein tinggi’ berupa cita-cita, semangat yang tak pernah padam, dan kecerdasan yang tak ternilai harganya.

    Di sekolah, Dyah bukanlah seorang primadona yang dikelilingi banyak teman populer. Ia seringkali harus menjadi sasaran bisikan pelan, bahkan kadang-kadang berupa ejekan halus dari beberapa temannya yang kurang peka. Namun, Dyah memilih untuk tidak pernah menyambutnya dengan kemarahan atau kesedihan yang berlarut-larut. Ia mengalihkan seluruh energi dan fokusnya ke buku-buku tebal yang berbau apak dan lembaran-lembaran tugas.

    Setiap aksara yang ia baca, setiap rumus matematika yang berhasil dipecahkan, terasa seperti air jernih yang membasuh lumpur dan debu yang menempel di kaki dan jiwanya.

    Jauh di dalam hatinya, cita-cita Dyah Pertiwi Sukma terpatri setinggi langit, bukan sekadar impian biasa. Ia bercita-cita untuk menjadi seorang insinyur pertanian yang ahli, yang memiliki kemampuan untuk mengubah tanah-tanah gersang dan lahan-lahan yang penuh polusi menjadi kebun-kebun yang subur dan hijau. Sebuah cita-cita besar yang terasa nyaris mustahil untuk dicapai oleh seorang anak perempuan dari keluarga pemulung.

    Jalan hidup Dyah penuh dengan liku dan perjuangan yang berat. Kadang, ia harus mengorbankan waktu bermain atau belajarnya untuk ikut membantu Bapak mencari barang rongsokan sepulang sekolah. Seringkali tugas sekolahnya terpaksa dikerjakan di malam hari, di bawah penerangan lampu rembulan atau lampu minyak yang redup, ditemani oleh bau menyengat yang keluar dari gerobak ayahnya.

    Bahkan pernah, seragamnya robek lebar karena tersangkut paku berkarat saat ia membantu Bapak. Namun, setiap kesusahan yang datang, ia anggap sebagai pupuk yang justru menguatkan akar dan tekadnya.

    Waktu terus berjalan tanpa terasa. Dengan kegigihan dan ketekunan yang luar biasa, Dyah Pertiwi Sukma selalu berhasil menjadi siswa terbaik di sekolahnya, mengungguli teman-temannya yang memiliki fasilitas lebih baik. Ia dengan tegas menolak untuk menyerah pada takdir yang seolah ingin menenggelamkannya dalam kesulitan.

    Prestasinya membuka jalan, ia berhasil mendapatkan beasiswa demi beasiswa, yang mengantarkannya ke jenjang pendidikan tinggi.

    Tiba saatnya Dyah berdiri tegak di podium kelulusan universitas. Ia mengenakan toga berwarna hitam yang terasa sedikit kebesaran di tubuhnya. Matanya nanar mencari sosok Bapak di antara kerumunan.

    Bapaknya berdiri di sudut ruangan, mengenakan kemeja lusuh terbaiknya. Pipi Bapak yang keras dan penuh kerutan kini dibasahi oleh air mata kebanggaan yang tulus, menyaksikan putrinya telah mencapai puncak mimpi pertamanya.

    Bertahun-tahun kemudian, Dyah Pertiwi Sukma, yang kini telah resmi bergelar insinyur dengan reputasi baik, memutuskan untuk kembali ke desanya. Ia tidak sedikit pun melupakan lumpur dan kubangan yang telah membesarkannya. Ia membawa kembali ilmu dan pengalamannya untuk tanah kelahirannya.

    Dyah segera memulai proyek besarnya. Dengan segala ilmu yang ia miliki, ia mengolah lahan bekas tempat pembuangan sampah yang dulunya kumuh.

    Ia mengubah hamparan tanah tak bernilai itu menjadi kebun percobaan yang hijau, subur, dan modern, menerapkan sistem pertanian yang ramah lingkungan.

    Lebih dari itu, ia mempekerjakan warga sekitar, termasuk komunitas para pemulung, memberikan mereka kehidupan yang lebih layak.

    Dyah, sang teratai, telah mekar sempurna, memberikan manfaat besar. Ia adalah Dyah Pertiwi Sukma, bukti bahwa tempat asal tak pernah menentukan tempat tujuan, sebuah janji bahwa walau hidup berawal dari lumpur, hasilnya bisa menjadi penopang kehidupan yang tinggi dan mulia.

    ***********************

     

     

  • Penyihir di Menara Tua dan Dilema Sang Pustakawan

    Penyihir di Menara Tua dan Dilema Sang Pustakawan

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

     

    Bu Kartika, kepala perpustakaan umum kecil di kaki Bukit Kencana, sedang berjuang keras menyusun katalog buku-buku baru. Sore itu, matahari telah condong, dan jendela kayu di balik meja kerjanya menghadap langsung ke taman kota.

    Dari sana, sayup-sayup terdengar bunyi bising dan lengkingan tawa sekelompok remaja sekolah menengah yang sedang bermain gitar akustik dan mengobrol keras, persis di luar batas pagar perpustakaan.

    Bu Kartika sudah mencoba segala cara untuk mendapatkan fokusnya kembali. Ia telah memutar musik klasik dengan volume rendah, menyumpal telinganya dengan kapas, bahkan mencoba menyortir tumpukan manuskrip lama yang biasanya menuntut konsentrasi penuh.

    Namun, melodi sumbang dari lagu pop yang dimainkan berulang-ulang, diselingi teriakan gembira saat salah satu remaja berhasil melakukan solo gitar yang berantakan, terus menerus merusak ketenangan yang ia cari.

    Pemikirannya tentang sistem klasifikasi Dewey Decimal terasa kabur dan sia-sia akibat gangguan berisik yang menguasai sore hari itu. Ia mulai merasa cemas karena pekerjaan itu harus selesai sebelum esok pagi.

    Akhirnya, kesabarannya benar-benar terkikis habis. Kebutuhan untuk menyendiri dan menyelesaikan tugasnya bercampur dengan iritasi yang menusuk. Ia bangkit, membuka pintu belakang perpustakaan dengan sedikit sentakan, dan berseru sekeras yang ia mampu, suaranya sengaja dibuat misterius dan sedikit mengancam.

    “Hei, kalian semua! Cepat beranjak dari sini! Ada Penyihir Jubah Hitam yang sangat marah di menara tua di atas sana! Dia baru saja terbangun dari tidurnya yang panjang dan dia tidak suka keributan! Pergi sekarang sebelum ia mengubah kalian semua menjadi katak!”

    Seketika, keriuhan itu lenyap. Para remaja terdiam, menoleh ke arah menara air tua yang berlumut di puncak bukit, mata mereka membulat penuh keraguan. Salah satu dari mereka, seorang pemuda bertopi yang memegang gitar, bertanya dengan nada mencemooh, “Ah, Bu Pustakawan, Ibu hanya mengarang, kan? Itu cuma menara air kosong.”

    “Tidak!” sergah Bu Kartika, memasang mimik muka yang dingin dan serius, seperti seorang penutur cerita rakyat kuno. “Asap ungu baru saja terlihat keluar dari puncak menara itu. Cepat bubar kalau tidak mau mendengarkan mantera kutukan yang mematikan!”

    Mendengar kata “kutukan,” para remaja itu segera bangkit, mengemasi tas dan gitar mereka dengan tergesa-gesa. Mereka berhamburan pergi, membawa serta kabar ganjil itu yang segera menyebar dari taman kota ke kedai kopi dan warung-warung makan di sekitarnya.

    Dalam waktu singkat, cerita tentang Penyihir Jubah Hitam dari Menara Air telah menggantikan semua topik perbincangan. Mulai dari penjaga toko yang mendengar kabar itu dari anak buahnya yang membeli rokok, hingga ibu-ibu arisan yang bergegas mengunci jendela rumah mereka. Ketakutan akan sihir dan takhayul kuno berbaur menjadi satu.

    Bu Kartika, yang baru saja duduk kembali dan mulai menikmati keheningan yang ia ciptakan, terkejut melihat puluhan warga desa berlari tergesa-gesa melintasi jalan di depan perpustakaan, membawa senter dan bahkan beberapa obor kayu menuju arah bukit. “Bu Kartika! Ayo ikut! Kita harus berdoa di kaki bukit untuk mengusir roh jahat ini!” seru seorang tokoh masyarakat sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke arah menara.

    Terbawa oleh gelombang massa yang panik, Bu Kartika ikut berjalan cepat. Saat ia merasakan napasnya memburu dan langkah kakinya terayun kencang, sebuah pengakuan menusuknya: Aku yang menciptakan legenda urban ini. Semua ini demi katalog yang selesai tepat waktu.

    Namun, ia terus berjalan, didorong oleh gelombang kepercayaan kolektif yang tak terbantahkan. Di tengah perjalanan yang mulai menanjak menuju bukit, ia berpikir lagi: “Memang benar, ini hanya bualanku. Tapi, mungkin ada benarnya juga, … bukankah menara itu memang terlihat menyeramkan saat malam hari?”

    Penyihir di menara tua kini bukan lagi sekadar kebohongan yang ia ciptakan, tetapi telah bertransformasi menjadi keyakinan bersama seluruh desa.

    Bu Kartika menyadari bahwa jauh lebih mudah bagi manusia untuk percaya kepada misteri dan ancaman supernatural, jika kita berhasil meyakinkan banyak orang lain bahwa ancaman itu memang ada di depan mata.

    Keyakinan ironis itu membuatnya terus berjalan, mencari sesosok bayangan yang ia tahu tak nyata, namun yang ia harapkan—secara paradoks—benar-benar muncul untuk membenarkan kebohongannya.

  • Lonceng Ancop di Alam Likotuden

    Lonceng Ancop di Alam Likotuden

     

    Oleh Rofinus Pati dan Petrus Lawe Kolah

     

     

    Bunyi lonceng kecil itu selalu terdengar  sekitar pukul setengah enam pagi dan pukul enam sore. Suara lonceng itu  membahana, merambat sebagai gelombang suara dan terus menyebar ke seantero kampung Likotuden. Udara sebagai medium, memboyongnya ke empat penjuru mata angin tanpa  dilihat, bahkan tanpa didengar oleh semua orang di kampung paling ujung ini. Tapi alam dan semua makhluk mampu mendengar suara lonceng itu dengan telinganya sendiri dan selalu mengisahkan peristiwanya setiap musim, bahkan setiap hari dengan romantika dan  bahasanya sendiri pula.

    Suara lonceng kecil itu menggema dari pantai sampai ke bukit, dari kawasan Mutiara sampai ke Pasir Panjang. Suara lonceng itu menjangkau  sampai ke kampung-kampung masa silam sebelum terbentuknya kampung definitif di Lewookin, Likotuden ini.

    Suara lonceng itu merayap naik ke Kawa Watotika, Lelo Noreng Rodong di puncak. Kemudian, menjalar ke kampung Lewo Luo Me’an, Tanah Pusung Bura. Setelah itu, merambat ke kampung Ile Kebol Lolon Buto, Woka Ora Liman Lego, bahkan sampai ke timur di kampung Tapuli Lewo Jawa, Depa Wato Bana Doro.

    Suara lonceng kecil itu terus  menjelajahi kampung Lewo Tutu Te Bringi, Tana Woka Semu Lima. Kemudian, menerobos ke kampung Kolah Kobar Pito, Aran Sakar Lema. Sesudah itu, suara lonceng kecil itu tetap berputar-putar, bergaung di atas kampung Lewookin-Likotuden. Kampung ini  aman bagi manusia dan segenap makhluk untuk berlindung. Kampung yang diberi nama “Likotuden Herin Lela, Pao Gamu Muda Doro” oleh Bapa Raja Larantuka.

    Alam Likotuden selalu bersahabat dan murah hati bagi warganya di wilayah pelosok. Babi hutan yang pada malam hari  keluar dari sarang,   sering terkena jerat warga, saat hendak menyerebot tanaman singkong atau jagung di kebun. Rusa sering masuk kampung dan meminum air sepalungan dengan kambing warga yang diikat di bawah pohon asam. Rusa juga terkadang berlari dari bukit Watotika dihalau anjing, kemudian warga mengepung dan menangkap rusa itu saat berenang menyeberangi selat Likotuden ke pulau Solor.

    Ayam hutan sering  berkokok, pesiar di dekat rumah warga, mengais-ngais onggokan sampah, sembari melirik ayam-ayam betina di kampung. Tak ada warga yang memasang jerat untuk menangkap ayam hutan, sebab binatang jenis ini sangat pintar mengenal mata jerat. Selain itu, warga sesekali memasang jerat ayam hutan, namun  tidak diizinkan memakai umpan seperti jagung atau padi. Itu pantangan yang diwariskan kakek moyang dan  harus dipatuhi.

    Hutan asam membentang di bukit Watotika dan diselingi sedikit padang ilalang dan pohon lamtoro di  sekitarnya. Hutan ini menjadi tempat berlindung bagi kera-kera yang akan berpesta pora di kala tiba musim asam berbuah. Di musim kemarau dan asam belum berbuah, kera-kera kelaparan. Kera-kera itu akan menyerbu pondok-pondok warga di kebun untuk menjarah  jagung, padi atau  sorgum dan dibawa ke hutan untuk memuaskan rasa lapar.

    Petani sering memasang jerat untuk menangkap kera. Tapi, petani lebih sering berburu kera dengan bantuan sekawanan anjing yang rajin mengejar mangsa. Ketika kelelahan, kera lari  berlindung di puncak pohon dan anjing ramai berjaga di bawah pohon sambil bergonggong tiada henti. Petani datang membidikkan anak panah ke sasaran. Kera pun terluka dan jatuh, dikerumuni anjing-anjing rakus  dan akan segera tamatlah riwayat kera itu.

    Babi landak adalah  binatang paling tuli, sekaligus paling tajam indera penciumannya. Dagingnya yang lezat tidak mudah dinikmati. Orang harus menjaganya malam-malam, di dekat lubang tempat tinggalnya, namun harus duduk berlawanan dengan arah angin, sehingga hidung landak tidak membaui aroma manusia ketika dia  kembali ke lubang batu atau wadas. Cukup menggunakan sepotong pentungan di tangan atau belakang parang, landak sudah bisa diketuk dengan mudah. Ketika mata babi landak disoroti cahaya dari lampu senter, matanya silau dan  pasrah tak bergerak.

    Babi landak tidak hanya paling tajam indera penciumannya, tetapi juga paling pintar mencuri dan melahap buah-buahan milik warga. Buah semangka yang besar dan manis akan menjadi santapan lezat, sebab pohonnya hanya menjalar di atas tanah. Tongkol jagung yang besar-besar dapat dikenali landak dari pangkal pohon jagung. Babi landak itu menebas  pangkal jagung menggunakan giginya yang tajam dan hasilnya rapi seperti disabit oleh  manusia. Bahkan, jagung-jagung yang bertongkol besar, dikumpulkan di satu tempat oleh landak yang pintar itu, kemudian baru  disantap. Santai memang!

    Burung-burung tekukur semakin banyak, terbang berpasangan atau berkelompok dan jinak-jinak, sebab pernah ada larangan menembak burung di kawasan desa Kawalelo. Warga bersahabat dengan burung-burung di udara. Meskipun agak mengganggu tanaman warga, burung-burung itu sering bertelur di pohon-pohon dekat rumah dan bernyanyi riang setiap hari dari alam bebas. Suaranya yang merdu dari samping rumah  memanjakan telinga dan tidak seperti di kota-kota besar dimana burung-burungnya dikurung dalam sangkar, hanya untuk mendengar  suaranya.

    Sementara itu, pantai Likotuden adalah panorama abadi. Bersama gelombang suara lonceng Ancop, debur ombak di pantai Likotuden selalu berbisik, membelai dan membangkitkan sejuta kenangan bagi setiap orang yang datang bertandang. Sekali datang, pasti dua kali mau datang lagi. Yang ingin bersantai, mandi, berjemur, pantai Geraky One dan pantai Blawi siap menyambut para pengunjung.

    Gema suara lonceng Ancop terus  berpendar-pendar bersama riak-riak   ombak di tepi pantai, selalu menyapa para tamu yang datang lewat pemandangan  pantai yang ramah. Terpampang kawasan Bana Rodong, Wata Lein, Nebo, Belou, Atubelen, Geraky One, Bui One, Lewa Wutun (Tanjung Semadi), Onem Blawi (pasir panjang) sampai ke Rita Bele. Semuanya menjadi saksi sejati bahwa Likotuden adalah kampung sorgum yang sudah viral ke mancanegara.

    Kawasan pantai ini akan menjadi penutur kisah kejadian penduduk asli Likotuden yang berasal dari puncak  Watotika. Kejadian dari moyang Tana Solo dan saudarinya Lelo,  bersama anak ajaib Mau Bei yang menetas dari telur burung garuda. Ada pula sesama moyang “Kopong Todo Horowura, Mamu Dueng Dulione”, sampai datangnya moyang Jawa: Geraki Tasi Tuki Huri, Sina Haka Jawa Gere yang diangkat menjadi saudara Mau Bei. Sejak itu, turunlah anak cucu membentuk suku atau fam Watokolah dari darah Mau Bei dan Ado Buan seperti sekarang ini.

    Pantai “Menanga Wauda, Watan Rapo Ai Matan” tetap melegenda sepanjang masa. Pantai tempat Hata Nara merajut kasih dan kebersamaan dengan moyang warga Likotuden. Pantai penuh kenangan romantis  dimana hati “Hata Nara Belu Pelu, Ama Ene Bera Liang Lame” luluh lantak oleh kemolekan perempuan “Wato Pire Kuntri, Hala Bura Loti Lolong”. Dari situlah, Hata Nara didaulatkan membangun rumah  di “Hama Lera Kiwi Kowo, Wato Buran Somi Lolon” yang sampai sekarang dikenal dengan “Hama Lera”. Lalu lahan yang diserahkan untuk dijadikan kebun bernama “Libu Lama Lina, Nusa Lama Rebong”.

     

    **

     

    Angin bergerak kembali dari “Hama Lera Kiwi Kowo, Wato Buran Somi Lolon” di sekitar pasir panjang,  membawa pulang  gema suara lonceng kecil itu  kepada sebuah lokasi yang dibatasi pagar kawat berduri. Suara itu mengiang-ngiang di atas lima Gedung Putih yang berlatar hutan hijau asli. Di tempat inilah asal dari suara lonceng kecil itu, lalu angin menyebarkannya ke seantero kawasan Likotuden. Semua lokasi yang dijangkau gelombang suara lonceng dari ANCOP, kini kembali menaruh perhatian penuh pada rutinitas yang terjadi di dalam pagar kawat berduri.

    Lonceng ini seperti memiliki magnet akbar, yang menarik telinga dan pikiran siapapun. Suara lonceng di waktu pagi maupun sore hari, senantiasa menggerakkan para malaikat tak bersayap, untuk  berbondong-bondong keluar dari peraduannya yang empuk. Para malaikat itu meluncur turun  beramai-ramai seperti banjir bandang yang menyapu dari gunung menuju ke laut. Asrama ‘tritunggal’ gedung putih:  Angela, Bernadet dan Don Bosco menjadi lengang sejenak karena para penghuninya hendak membasuh  jiwa di rumah ibadah.

    Banyak anggota  ANCOP di gedung putih sudah terbiasa datang sebelum waktunya dan berdiri menanti di sekitar Kapel untuk masuk  mengikuti misa. Cukup banyak yang memang masih bergerak lamban di asrama dan perlu  dibimbing agar lebih cekatan, sekaligus bisa  memutuskan rantai  kemalasan yang membelenggu diri sendiri. Namun demikian, irama kehidupan rohani sudah cukup seragam sejauh waktu berjalan.  Semakin banyak anggota Gedung Putih yang mampu menempatkan diri pada waktu, tempat dan kegiatannya. Ini sungguh suatu  kabar gembira.

    Sayup-sayup terdengar lagi di telinga, suara lirih Sang Gembala Pemersatu umat, yang pernah menghimbau pada Selasa, 12 April 2022:

    “Misa itu aturan sekolah…Bagaimana kita menyatukan kegiatan di sekolah  ini supaya terintegrasi, sehingga semua bisa berjalan, untuk membentuk kehidupan anak-anak dan hidup kita sendiri juga. Saya mengharapkan di sini, walau bukan seperti di seminari, namun semua perlu hadir dalam perayaan ekaristi. Walau terasa berat, tapi baiklah kita memulai hari baru dengan merayakan ekaristi bersama. Saya mohon kita beri waktu, supaya bisa ikut perayaan ekaristi”, demikian Bapa Uskup.

    Lonceng kecil itu, tetap setia memanggil, entah di pagi maupun sore hari. Kegiatan misa atau berdoa bagi sebagian besar anggota gedung putih adalah kebutuhan mendasar seperti menghirup udara dan bukan hanya sekedar mengisi atau menghabiskan  waktu sisa. Kegiatan ini bukanlah hal sepeleh yang dianggap     membuang-buang waktu saja. Boli dan Kewa, dua orang murid, tidak sabar untuk mengupas topik ini:

    “Barangkali banyak teman merasa jenuh dengan kegiatan misa harian sebagai kegiatan rohani, karena mereka kalah melawan  kemalasan diri sendiri, sehingga tidak sanggup menempatkan dirinya pada saat kegiatan itu berlangsung”, tutur Kewa kepada Boli.

    “Di tempat yang sunyi seperti ini, mengikuti misa dan berdoa akan membuat kita semakin kuat dalam iman dan bersemangat dalam belajar. Jika tidak, kita akan merasa kering, hampa, malas, bosan bahkan merana sendiri di dusun ini”, sambung Boli.

    Di dekat situ, berdiri pula Peni, seorang teman dari Boli dan Kewa. Peni pun ikut  memberikan komentar :

    “Hal-hal rohani dan jasmani perlu  diseimbangkan, bahkan hal rohani itu prioritas. Rohani itu berasal dari kata roh, yang berarti jiwa, nafas kehidupan. Tanpa nafas, manusia adalah mayat. Jadi, mengikuti misa itu tanda syukur atas nafas kehidupan yang masih kita terima atau sekurang-kurangnya kita belum menghirup udara lewat slang dari tabung oksigen”, demikian Peni.

    Lonceng Ancop tetap memanggil setiap hari, meski suaranya sering dianggap angin lalu. Kesetiaan demi kesetiaan setiap hari dari lonceng Ancop, telah membuat suaranya semakin didengar oleh manusia dan makhluk infra serta suprahuman. Kesetiaan di musim panas maupun hujan, pagi maupun senja hari, itulah yang membuat beberapa anak meneladani kesetiaan lonceng itu; lonceng yang selalu membelai,  menyapa, mengingatkan bahwa manusia perlu mengadakan waktu dari dua puluh empat jam itu untuk Tuhan.

    “Bapak…bapak,  Bolehkah saya mengetuk lonceng supaya teman-teman mendengar bunyi dan mulai masuk ke dalam aula untuk misa sore?”, tanya seorang murid yang  menjadi orang ke sekian menanyakan   itu.

    “Kenapa adik juga mau mengetuk lonceng? Biar Bapak saja ya. Tidak apa-apa kok”.

    “Ya, saya juga tertarik mau mengetuk lonceng, sebab bunyi  lonceng selalu menggetarkan hati  kita untuk mengingat Tuhan dan berdoa atau misa”, jawabnya polos.

    Tidak hanya lonceng ANCOP yang setia. Betapa senang hati  moyang Tana Solo, Lelo, Mau Bei, Ado Buan, Kopong Todo, Hata Nata, Wato Pire dan lain-lain kalau melihat dengan mata sendiri, para anggota gedung putih sungguh mengamalkan spiritualitas Kristiani dalam kehidupan setiap hari. Para kakek moyang ini tentu  berbangga, sebab jauh di dusun yang sunyi, di Likotuden ini, para remaja muda sedang berproses untuk  menjadi bintang-bintang dari timur Indonesia, suatu saat nanti. Jauh dari keramaian kota, banyak anak-anak papa sedang merajut mimpi setinggi bintang di langit untuk boleh merubah nasib, daripada sekedar menuai ubi jagung dari kebun orangtuanya.

    Kawasan pantai yang berjajar mulai  dari Bana Rodong,  Wata Lein, Nebo, Belou, Atubelen, Geraky One, Bui One, Lewa Wutun (Tanjung Semadi), Onem Blawi (pasir panjang) pun turut mendukung segenap anggota ANCOP untuk menggunakan waktu di Likotuden secara efektif, efisien dan maksimal, sehingga dapat mengangkat citranya menjadi manusia berbobot dan tidak menorehkan kekecewaan bahkan air mata pada sekolah, orangtua atau keluarga dan masyarakat.

    Leluhur di kampung-kampung purba, tempat moyang orang Likotuden pernah  menetap seperti  Kawa Watotika Lelo Noreng Rodong, Lewo Luo Me’an Tana Pusung Bura, Ile Kebol Lolon Buto, Woka Ora Liman Lego, Tapuli Lewo Jawa, Depa Wato Bana Doro, Lewo Tutu Te Bringi, Tana Woka Semu Lima, Kolah Kobar Pito Aran Sakar Lema, juga turut menghimbau agar segenap anggota ANCOP mematuhi panggilan dari suara lonceng untuk berhenti sejenak, berbenah diri dan menjalin  relasi dengan Tuhan, sesama dan alam.

    Lonceng ANCOP dan bunyinya pada dinihari dan menjelang pukul enam sore adalah simbol kesabaran dan kesetiaan. Sabar mengetuk kesadaran. Setia untuk mengingatkan dan alam Likotuden menjadi saksinya. Setia dan selalu merawat kehidupan rohani segenap anggota di Gedung Putih untuk membangun benteng iman yang kokoh di zaman ini, berhadapan dengan gempuran media digital yang akan tetap datang seperti sinar matahari.

    ********************

  • Sekolah  Terbelah

    Sekolah Terbelah

     

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

     

    SMA Sadar Jaya awalnya merupakan sebuah oase ketenangan di tengah hiruk-pikuk kota kabupaten. Kepala Sekolah, Pak Marzuki, seorang yang kalem dan berwibawa, berhasil menghadirkan harmoni yang nyaris sempurna di seluruh lingkungan sekolah.

    Guru-guru bergaul akrab di ruang guru yang wangi kopi dan tawa pelan, bekerja sama tanpa gesekan. Murid-murid belajar dengan tekun, hasil ujian selalu di atas rata-rata, membuat reputasi sekolah yang serba tenang, damai, dan teratur—sebuah model kesuksesan yang diukur dari ketiadaan masalah.

    Ketenangan mapan itu pecah seperti kaca yang jatuh dari ketinggian pada hari Pak Samsul datang. Guru muda berusia dua puluh tujuh tahun, mengenakan kemeja cerah, kacamata bingkai tebal, dan energi yang meluap-luap, tiba untuk mengajar mata pelajaran Sejarah.

    Kehadirannya yang dinamis segera terasa asing dalam atmosfir Sadar Jaya yang serba sunyi dan terstruktur. Di rapat guru pertamanya, setelah Pak Marzuki selesai dengan pidato penyambutan yang tenang dan penuh pujian atas stabilitas sekolah, Pak Samsul tiba-tiba berdiri.

    Semua mata tertuju padanya saat ia mengucapkan kata-kata pembuka yang langsung menusuk ke jantung kemapanan, “Bapak, Ibu, saya mohon maaf, tapi saya harus mengatakan: Sekolah ini… sekolah ini terlalu tenang.”

    Seketika, ruangan menjadi hening, sebuah keheningan yang lebih dalam daripada keheningan biasa di rapat guru.

    Pak Marzuki, pribadi yang dikenal selalu tenang, hanya bisa mengerutkan kening karena terkejut dengan keberanian dan nada bicara guru barunya ini, yang langsung mendobrak tradisi basa-basi dan keramahan.

    Pak Samsul melanjutkan dengan suara lantang yang tegas, menantang semua yang hadir. “Tidakkah Bapak dan Ibu merasa ada yang kurang? Tidak ada perdebatan yang sengit, tidak ada kegelisahan yang produktif, tidak ada api cinta yang berkobar-kobar untuk pendidikan sejati. Mengapa kita hanya fokus pada ketenangan? Ayo kita ramaikan dunia ini! Bakar sekolah kita dengan semangat! Buat kegiatan, buat debat, buatlah kegelisahan! Ketenangan hanyalah kuburan bagi ide-ide baru!”

    Kata-katanya yang provokatif itu segera menjadi percikan api di jerami kering. Malam itu, di grup pesan singkat guru, perpecahan pun dimulai.

    Para guru terbelah menjadi dua faksi: “Kelompok Penjaga Stabilitas” yang dipimpin oleh Bu Ratna (Guru Matematika yang disiplin) dan “Kelompok Pendobrak” yang secara implisit dipimpin Pak Samsul, menuduh Pak Samsul provokator yang merusak tata krama, sementara kelompok minoritas mengakui bahwa kurikulum sekolah memang terasa hambar dan butuh guncangan.

    Di kalangan murid, kekacauan makin menjadi-jadi. Pidato Pak Samsul yang sering menggunakan metafora “api”, “pemberontakan ide”, dan “gejolak pemikiran” membuat sebagian murid terinspirasi untuk berpikir kritis, tetapi sebagian besar merasa terancam dan bingung dengan tuntutan untuk tidak hanya menerima.

    Puncaknya, muncul Provokator Gelap—seorang murid tak dikenal—yang menyebar pamflet dan pesan berantai menghasut: “Gulingkan Samsul! Dia merusak ketenangan belajar kita!”

    Namun, di tengah badai itu, hanya ada lima suara yang berdiri teguh membela Pak Samsul: Yoyok, si idealis; Kuncung, si penyair; Armah, si ketua OSIS; Anna, si pemikir logis; dan Robby, si aktivis. Mereka berlima, yang dijuluki “Lima Kritis”, tak henti berargumen di mana pun—di kantin, di depan ruang guru, bahkan di media sosial sekolah, menantang pandangan mayoritas yang hanya menginginkan kedamaian semu.

    “Pak Samsul tidak menghasut demo; Beliau memprovokasi pikiran kita!” ujar Anna tegas saat debat terbuka di aula sekolah, menghadapi pandangan cemas banyak orang tua. “Ketenangan yang selama ini kita banggakan itu hanyalah zona nyaman yang mematikan kreativitas dan kemampuan kami untuk berargumen! Kami tidak diajarkan untuk hidup, hanya diajarkan untuk patuh.”

    Mendengar kekacauan yang meluas hingga ke telinga komite sekolah dan wali murid, Pak Marzuki berada di persimpangan jalan. Ia sempat mulai menyusun surat pemberhentian kerja Pak Samsul. Namun, setiap kali ia memegang pena, ia teringat wajah Yoyok, Anna, dan teman-temannya yang begitu bersemangat berdebat dan mempertanyakan, yang membuat keraguan besar menyergapnya—mungkinkah ketenangan yang ia jaga selama ini adalah sebuah kesalahan?

    Akhirnya, diselenggarakanlah Rapat Akbar Wali Murid yang dihadiri komite sekolah, guru, dan Lima Kritis sebagai perwakilan. Setelah banyak cercaan dari wali murid yang cemas, giliran Yoyok berbicara dengan wajah memerah karena emosi.

    “Bapak, Ibu Wali Murid, saya dan teman-teman tidak sedang terganggu; Kami sedang hidup!” Yoyok berteriak. “Sebelum ada Pak Samsul, kami hanya robot yang mencatat dan menghafal. Kami tenang, tapi kami mati suri! Kami butuh energi pendobrak!”

    Setelah Yoyok, Anna, dan Armah selesai bicara, keheningan yang panjang menyelimuti ruangan. Pak Budi, Ketua Komite Sekolah, berdiri dan mengangguk. “Kami takut kegaduhan,” katanya perlahan. “Tapi… yang dikatakan anak-anak ini benar. Ketenangan itu bagus, Pak Kepsek, tetapi jika ketenangan itu berarti tanpa pertanyaan, tanpa perlawanan ide, tanpa gejolak… itu namanya kemandulan. Kita butuh energi pendobrak.”

    Satu per satu wali murid mengangguk, menyadari bahwa mereka telah bertobat dari ketenangan palsu, dan Pak Marzuki tersenyum.

    Keesokan harinya, Pak Marzuki merobek surat PHK yang belum selesai. SMA Sadar Jaya kini tidak lagi sama. Mereka tidak tenang, tetapi mereka tidak juga kacau. Mereka riuh oleh debat klub, seminar filosofi, dan perdebatan sengit tentang kurikulum yang penuh dengan energi gairah yang dikelola.

    Ketenangan telah diganti dengan kegembiraan berdialektika, dan Pak Samsul tetap menjadi guru Sejarah, pemicu api yang kini diarahkan membakar semangat siswa-siswi yang akhirnya tahu dan mengerti bahwa pendidikan sejati adalah tentang menjadi gelisah dan berani membakar ide yang sudah usang.

    ******************

     

     

  • Sekolah Kusayang, Sekolahku Malang

    Sekolah Kusayang, Sekolahku Malang

     

    Oleh Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

     

     

    Di sebuah kota kecil tersembunyi di sudut Negeri Antaberantah, berdirilah sebuah sekolah tua bernama SMA Tunas Lestari.

    Usianya sudah menginjak 70 tahun lebih, terukir di setiap retakan dindingnya dan lumut yang membalut atapnya.

    Namun, di balik namanya yang indah, sekolah ini menyimpan kisah yang ironis. Julukannya di antara penduduk lokal bukanlah “Tunas Lestari” melainkan “Sekolah Apes,” sebutan yang mencerminkan nasibnya yang tak pernah beruntung.

    Mengapa demikian? Karena sekolah ini seolah-olah ditakdirkan tidak pernah menghasilkan orang sukses dalam kaca mata duniawi. Sebagian besar lulusannya, jika tidak bisa dikatakan semua, bekerja sebagai buruh kasar di perusahaan tambang peninggalan bangsa penjajah.

    Mereka meneruskan jejak orang tua dan kakek-nenek mereka, terjebak dalam lingkaran kemiskinan dan pekerjaan yang berat. Sekolah ini seolah menjadi stasiun pemberhentian terakhir sebelum masuk ke dunia kerja yang monoton dan tanpa harapan.

    Pak Rahmat, seorang guru sejarah yang telah mengabdi selama 40 tahun, adalah saksi bisu dari kemunduran sekolah ini. Ia melihat bagaimana satu per satu ruang kelas menjadi kosong, bagaimana tawa riang siswa perlahan menghilang, dan bagaimana semangat belajar yang dulu membara kini hanya menjadi bara yang hampir padam.

    Di mata Pak Rahmat, SMA Tunas Lestari bukanlah sekadar bangunan, melainkan rumah kedua, tempat ia menghabiskan sebagian besar hidupnya.

    Puncaknya terjadi di tahun ajaran terakhir. Hanya tersisa tujuh orang murid yang mendaftar. Tujuh orang ini, yang terdiri dari Agung, Bentar, Rosi, Ratna, Nita, Agus, dan Sukri, menjadi angkatan terakhir dan penutup lembaran sejarah SMA Tunas Lestari. Mereka adalah generasi terakhir yang merasakan kehangatan dan dedikasi Pak Rahmat dan beberapa guru lain yang tersisa.

    Pak Rahmat mendidik mereka dengan seluruh hati, seolah-olah mereka adalah masa depan yang harus ia selamatkan.

    Tujuh murid itu tidak punya pilihan lain. Sekolah-sekolah lain terlalu jauh atau terlalu mahal. Mereka pun menerima nasib untuk bersekolah di tempat yang dianggap “buangan” ini. Namun, ada keajaiban di antara mereka. Meski minim fasilitas dan guru yang terbatas, mereka saling melengkapi.

    Agung yang jago matematika mengajari Bentar, Rosi yang piawai berbahasa mengoreksi tulisan Ratna, dan seterusnya. Mereka menciptakan “sekolah” kecil mereka sendiri di dalam sekolah yang sekarat.

    Hari kelulusan tiba. Tangis haru dan sedih menyelimuti halaman sekolah yang sepi. Pak Rahmat memeluk satu per satu muridnya. “Jangan pernah merasa kecil karena kalian lulusan sekolah ini,” bisiknya pada mereka. “Kalian punya kelebihan yang tak dimiliki orang lain. Kalian punya semangat yang tak mudah padam.”

    Setelah kelulusan, pintu SMA Tunas Lestari pun tertutup. Gerbangnya digembok, jendelanya tertutup debu, dan papan namanya perlahan memudar. Pak Rahmat pensiun dan pulang ke kampung halamannya. Ia menyimpan kenangan tentang tujuh murid terakhirnya, berharap mereka bisa menembus batas-batas yang selama ini membelenggu para lulusan SMA Tunas Lestari.

    Lima belas tahun berlalu. Pak Rahmat sedang duduk di teras rumahnya ketika sebuah mobil mewah berhenti di depan gerbang. Keluar dari mobil itu, tujuh orang dewasa yang sukses.

    Mereka adalah Agung, Bentar, Rosi, Ratna, Nita, Agus, dan Sukri. Wajah mereka berseri-seri, senyum mereka tulus, dan di mata mereka, Pak Rahmat masihlah guru yang mereka cintai.

    Mereka tidak datang dengan tangan kosong. Agung kini menjadi manajer di sebuah perusahaan tambang terbesar di kota itu, perusahaan yang dulu memperkerjakan lulusan SMA Tunas Lestari sebagai buruh kasar. Ia mereformasi sistem kerja dan memberikan kesempatan pendidikan bagi para pekerjanya.

    Bentar menjadi pemilik perkebunan kopi sukses dan mengekspornya ke berbagai negara, membuka lapangan kerja bagi penduduk desa. Rosi menjadi seorang jurnalis investigatif yang terkenal, menyuarakan kebenaran dan keadilan bagi masyarakat kecil.

    Sementara Ratna mendirikan sebuah yayasan sosial yang fokus pada pendidikan anak-anak kurang mampu, memastikan tak ada lagi sekolah yang bernasib sama seperti SMA Tunas Lestari.

    Tak hanya itu, Nita menjadi seorang arsitek ternama yang merancang gedung-gedung ramah lingkungan di kota-kota besar.

    Agus menjadi dokter spesialis bedah yang mengabdi di daerah terpencil, memberikan pelayanan kesehatan gratis bagi mereka yang membutuhkan. Dan Sukri, yang dulu dikenal paling pendiam, menjadi seorang dosen terkenal di universitas ternama di negeri seberang, seorang ahli sejarah yang seringkali mengutip kisah SMA Tunas Lestari sebagai contoh bagaimana semangat bisa mengalahkan keterbatasan.

    Mereka berkumpul kembali untuk menemui guru tercinta. Mereka bercerita bahwa setelah lulus, tak menyerah dengan keadaan. Mereka belajar dari pengalaman, memanfaatkan semangat yang diajarkan Pak Rahmat, dan saling membantu satu sama lain.

    Mereka tak malu menyebut diri lulusan SMA Tunas Lestari. Justru, bangga, karena dari sekolah itulah mereka belajar arti perjuangan, keteguhan, dan harapan. Pak Rahmat meneteskan air mata haru. Ia tidak pernah menyangka, tujuh orang terakhir itu, yang seolah menjadi penutup tirai penderitaan sekolahnya, justru menjadi pembuka jalan baru.

    Mereka membuktikan bahwa kesuksesan bukan diukur dari nama besar sekolah, melainkan dari semangat dan hati yang tak pernah menyerah. SMA Tunas Lestari memang tak pernah menghasilkan orang sukses di masa jayanya, tapi di saat-saat terakhirnya, ia melahirkan tujuh orang luar biasa yang mengubah takdir mereka dan orang-orang di sekitarnya.

     

    ****************

  • Jejak Sarjana di Balik Motor Sayur

    Jejak Sarjana di Balik Motor Sayur

    Oleh Odemus Bei Witono, Praktisi dan Pemerhati Pendidikan

     

    Langit Bekasi sering kali memudar menjadi jingga kemerahan saat sore menjelang, dan di tengah keramaian yang mulai mereda, sebuah sepeda motor tua menjadi satu-satunya titik tenang. Di motor itu, berdiri seorang pemuda dengan tatapan mata tegas, namun sesekali menerawang jauh. Dialah Bagas, seorang sarjana pertanian dari sebuah politeknik kedinasan yang prestisius di Gowa, Sulawesi Selatan. Selain itu ia juga fasih berbahasa asing yakni Inggris dan Jerman. Bahasa tesebut tidak asing baginya setelah belajar dan mendalami keduanya.

    Meskipun lahir dan besar di Bekasi, ia memilih untuk mengadu nasib dengan cara yang jauh dari bayangan banyak orang: menjual sayuran hasil tanamnya sendiri.
    Jalan yang dipilih Bagas bukanlah sebuah pilihan mudah.

    Sebagai putra Bekasi, ia sadar betul akan hiruk pikuk kota kelahirannya. Ia adalah produk terbaik dari sistem pendidikan di sana yang dirancang untuk menghasilkan tenaga profesional di bidang pertanian, atau birokrat pembuat kebijakan yang duduk di balik meja.

    Namun, setelah lulus sarjana terapan, lalu sempat bekerja di perkebunan sawit, ia kembali dihadapkan pada realitas yang tak seideal teori-teori di bangku kuliah. Kesempatan kerja yang terbatas, birokrasi yang rumit, dan rasa idealisme yang membuncah membuatnya merasa tercekik.

    Bagas, yang telah ditempa untuk mengelola lahan dalam skala besar, justru menemukan dirinya terjebak dalam dilema. “Saya belajar untuk memajukan pertanian Indonesia, tapi saya tidak bisa hanya menunggu kesempatan itu datang,” ungkapnya suatu sore, sambil menata rapi sayuran di kantong motornya.

    Ia memutuskan untuk kembali ke akar, ke kota tempat ia dilahirkan untuk berjualan. Dengan modal seadanya, ia menyewa sepetak lahan kosong di pinggir kota masuk wilayah Kabupaten Bogor. Lahan itu dulunya terbengkalai, dipenuhi ilalang dan rumput liar. Namun, di mata Bagas, tanah itu adalah kanvas kosong yang siap ia lukis dengan kerja keras dan ilmu yang ia miliki.

    Hari-hari awal di lahan sewaan adalah hari-hari yang penuh perjuangan. Ia harus mengolah tanah yang keras, memperbaiki irigasi seadanya, dan berhadapan dengan hama serta cuaca yang tak terduga. Pengetahuan akademisnya tentang rotasi tanaman, pemupukan organik, dan pengendalian hama terpadu kini diuji dalam praktik nyata.

    Teori-teori yang dulu ia hafal di kelas kini menjadi alat-alat praktis untuk memastikan setiap tanaman tumbuh subur. “Tidak ada kurikulum khusus yang mengajari saya bagaimana rasanya tangan lecet karena cangkul, atau bagaimana rasanya memanen di bawah terik matahari yang menyengat,” ujarnya sambil tersenyum getir.

    Namun, semangatnya tak pernah surut. Bagas percaya bahwa hasil dari tangannya sendiri adalah hasil yang paling jujur. Ia baru menanam sayuran bayam, sawi, dan varian lain.

    Proses tanam hingga panen ia lakukan sendiri, dengan penuh ketelitian. Ia tahu, setiap helai daun yang dijual adalah cerminan dari kerja kerasnya.
    Setelah panen, perjuangan lain dimulai: berjualan. Bagas menggunakan sepeda motornya yang dimodifikasi. Di sisi kiri dan kanan belakang, terpasang dua kantong besar yang dapat menampung hasil panennya.

    Setiap pagi, ia mulai menjajakan sayuran dari pintu ke pintu di beberapa perumahan. Namun, ia menyadari bahwa cara itu tidak efektif. Ia butuh tempat yang strategis. Ia pun memutuskan untuk “mangkal” di area dekat sebuah sekolah, tempat yang ramai dan mudah dijangkau oleh banyak orang. Di situlah ia menemukan ritme hidup barunya.

    Motor Bagas bukan hanya sekadar tempat berjualan, melainkan juga sebuah “etalase” dari etos kerjanya. Sayurannya selalu terlihat segar dan bersih, ia menyusunnya dengan rapi, dan ia selalu ramah melayani setiap pembeli.

    Ia sering berinteraksi dengan pembeli, menjelaskan keunggulan sayurannya yang ditanam tanpa pestisida berbahaya, dan bahkan memberikan tips-tips sederhana tentang cara mengolah sayuran. Pembeli setianya pun mulai terbentuk, mereka datang bukan hanya karena sayurannya, tetapi juga karena cerita dan semangat yang Bagas pancarkan.

    Kehidupan Bagas tak lepas dari tantangan. Terkadang, cuaca buruk membuat panennya gagal. Terkadang, dagangannya tidak laku dan ia harus menanggung kerugian. Namun, setiap kegagalan dijadikan pelajaran. Ia belajar tentang manajemen risiko, tentang fluktuasi harga pasar, dan yang paling penting, tentang ketangguhan.

    Ia, yang dulu terbiasa dengan fasilitas lengkap di sekolahnya, kini harus berhadapan dengan terik matahari, hujan, dan dinginnya malam.
    “Banyak teman yang bertanya, ‘kenapa Bagas, sarjana pertanian malah jualan sayur?’” cerita Bagas.

    “Saya tidak malu. Saya justru bangga. Ilmu yang saya dapatkan tidak hanya menjadi teori di buku, tapi saya terapkan langsung. Saya tidak menunggu pekerjaan datang, saya menciptakan pekerjaan itu sendiri.”

    Perjalanan Bagas dari seorang mahasiswa berprestasi di Gowa hingga menjadi penjual sayur keliling di Bekasi adalah cerminan dari sebuah perjuangan yang jujur. Ia membuktikan bahwa gelar sarjana bukanlah jaminan untuk duduk di kursi empuk, melainkan modal untuk berani memulai dari nol, berani kotor, dan berani menghadapi kenyataan.

    Kisahnya merupakan sebuah pengingat bahwa ketabahan dan kerja keras adalah kunci untuk mengukir nasib, terlepas dari latar belakang apa pun.
    Saat senja semakin dalam dan kantong-kantong di motor Bagas mulai kosong, ia bersiap untuk pulang.

    Di balik lelahnya, ada kepuasan yang tak terhingga. Ia bukan hanya menjual sayuran, tetapi juga seorang sarjana yang tidak malu berjuang di jalanan, karena ia tahu, di setiap tetes keringatnya, ia sedang  menanam masa depan yang lebih baik  

  • Bedah Buku “Hidup Itu Anugerah” – Merayakan Anugerah Kehidupan Lewat Kolaborasi Menulis

    Bedah Buku “Hidup Itu Anugerah” – Merayakan Anugerah Kehidupan Lewat Kolaborasi Menulis

     

    Sekolah Santa Ursula Jakarta akan menyelenggarakan Open Campus yang tidak hanya menjadi ajang untuk memperkenalkan lingkungan dan program pendidikan Santa Ursula Jakarta, tetapi juga menjadi wadah kolaboratif untuk membangun semangat solidaritas antar-sekolah. Dengan mengundang sekolah-sekolah lain dari berbagai jenjang pendidikan. Kegiatan ini bertujuan membagikan inspirasi bagaimana pendidikan yang berakar pada nilai-nilai Kristiani dan semangat St. Angela Merici dapat menjadi sarana transformasi pribadi dan sosial. Dalam terang Tahun Jubilium, Open Campus ini juga diharapkan menjadi ruang perjumpaan yang penuh harapan, membuka cakrawala berpikir, menyemai semangat kemanusiaan, dan menyalakan tekad untuk bersama-sama membangun masa depan yang lebih bermakna dan berpengharapan.

    Dalam kegiatan Open Campus ini pula akan dilaksanakan Bedah Buku Hidup Itu Anugerah bertempat di perpustakaan SMP/SMA Santa Ursula Jakarta, sebuah karya kolaboratif yang ditulis oleh Ibu Julia Utami sebagai penulis utama, bersama komunitas Santa Ursula dan sejumlah penulis ternama lainnya. Acara yang berlangsung pada Jumat, 29 Agustus 2025 pukul 10.00 – 12.30 WIB ini menghadirkan suasana reflektif, inspiratif, sekaligus mempertegas semangat kebersamaan dalam berkarya.

    Buku Hidup Itu Anugerah lahir dari tanggapan para sahabat dan rekan kerja Ibu Julia Utami yang merayakan 53 anugerah kehidupan dari Tuhan. Bagi Ibu Julia pengalaman hidup, pergulatan iman, serta kisah nyata berjuang melawan sakit yang nyaris merenggut nyawanya merupakan pengalaman anugerah yang luar biasa. Melalui puisi dan kisah apresiasi, para penulis mengajak pembaca untuk menyadari bahwa setiap detik kehidupan adalah rahmat yang patut dirayakan. Karya ini tidak hanya menjadi buku bacaan, tetapi juga cermin perjalanan batin dan wujud nyata syukur atas anugerah kehidupan.

    Dalam sambutannya, Ibu Julia Utami menegaskan bahwa kolaborasi ini menjadi ruang untuk saling berbagi, menguatkan, dan menumbuhkan. “Menulis adalah cara kami merayakan kehidupan, sekaligus mengajak orang lain untuk melihat bahwa di balik setiap tantangan, selalu ada berkat. Buku ini adalah persembahan kecil kami untuk mengingatkan bahwa hidup sungguh adalah anugerah,” ungkapnya.

    Acara bedah buku menghadirkan dua pembahas yang sudah sangat berpengalaman dalam bidang penulisan dan keduanya adalah para sastrawan Indonesia, yaitu Bapak Kurniawan Junaedhie dan Ibu Nia Samsihono dan dimoderatori oleh Roseline Daniela, alumni SMA Santa Ursula, tahun 2017. Dalam acara ini dihadiri oleh Sr Gondosasmito, OSU, selaku Ketua II Yayasan Satya Bhakti, alumni, para orang tua alumni, guru purnabakti, orang tua sisiwi, guru yang masih aktif, para murid dan sahabat literasi Ibu Julia. Diskusi buku diperkaya dengan dialog interaktif bersama nara sumber yang diundang yang membagikan pengalaman mereka dalam proses kreatif, nilai-nilai yang dihidupi, serta harapan agar karya ini dapat menginspirasi generasi muda untuk berani menulis dan menyuarakan kisah hidupnya sendiri.

    Acara dibungkus sedemikian rupa dengan penampilan baca puisi, musikalisasi puisi kemudian diakhiri dengan pemberian apresiasi dan foto bersama. Melalui Bedah Buku ini sekolah Santa Ursula mau menegaskan bahwa literasi dapat dibangun melalui kolaborasi menulis sehingga pesan utamanya dapat tercapai, yakni bahwa hidup, dengan segala dinamika dan perjuangannya, adalah anugerah yang patut dirayakan dengan penuh syukur. (Anton Sumardi)

    📌 Informasi Media:

    Santa Ursula Jakarta

    Jl. Pos No.2, Pasar Baru, Jakarta Pusat

    Telp: (021) 380 2382

    Email: info@santaursula.sch.id

  • Bayi – bayi di Pinggir Negeri – Sebuah Cerita Pendek Helena Lose Beraf

    Bayi – bayi di Pinggir Negeri – Sebuah Cerita Pendek Helena Lose Beraf

     

    Sebuah refleksi atas anak anak yang tak pernah diberi nama, dari rahim yang tak pernah pulang, mereka yang menjual pelukan dan menguburkan cinta- Rahim yang menangis di tengah pasar

     

    Angin bulan Desember mengibas tirai jendela rumah sakit.  Hari ini seperti biasa, aku bertugas di ruang Melati. Setelah merapikan perlengkapan pemeriksaan, aku berjalan pelan menuju ruangan. Hari yang cerah, semangatku membara memulai pelayananku hari ini.

    Mata itu masih tetap seperti mata yang dulu. Mata yang selalu gelisah. Mata yang seperti ingin dikecup sebelum petang beranjak pergi. Perempuan itu kini terbaring pasrah di hadapku. Ya, perempuan yang pernah aku temui di salah satu tempat hiburan malam. Dengan mata awas, dihujani diriku dengan tatapan penuh selidik. Aku tak ingin membiarkannya menyorot terlalu lama. Ku gapai sepasang handscoon lalu memulai untuk memeriksanya. Baru pembukaan tujuh, berharap semuanya lancar.

    Seperti biasa pada proses menanti kelahiran, Ibu selalu ditemani oleh suami, ibu, ayah, atau mungkin sanak saudara. Tetapi berbeda dengannya. Ia seorang diri meringis kesakitan. Kadang menatap kosong dengan mata diam, kadang bersungguh- sungguh seperti sedang memintal harap entah apa.

    .Kamar bersalin memang sering menjelma sebagai ruang tunggu yg begitu pekat, cemas dan menegangkan.

    aku menatapnya sungguh- sungguh.

    *

    Teringat ku di Desember dua tahun silam adalah perjumpaan yang tak disengaja. Ketika itu aku masih mahasiswa. Beberapa dari kami mengambil sampel penelitian di sebuah tempat hiburan pada kota ini.

    Siapapun yang pernah ke kota ini, tentu tahu segala pusat hiburan yang menawarkan kenikmatan sesaat.

    Di malam hari, di jantung kota berjejer wanita- wanita cantik pun seksi yang menunggu “dijemput” pelanggannya. Sulit untuk tidak tergoda. Beberapa teman pria ku belakangan kuketahui memacari mereka.  Mengerikan!

    Saat itu, aku tengah sibuk mendata nama mereka satu per satu. Sedangkan beberapa dari temanku malah sibuk  melirik kiri dan kanan  sambil menelan ludah.  Yah, laki-laki mana yang tidak terpesona melihat wanita cantik dan seksi berkilauan seperti kerlap kerlip lampu kota ini. Berpakaian serba mini pula.  Namun, tak sedikit juga dari mereka yang mengurai umpatan sambil bercanda. Laki-laki memang aneh, di satu sisi mereka memuja, tapi di sisi lain malah menghina. Seakan tubuh- tubuh mulus yang dipertontonkan itu adalah komoditi paling diburu,sekaligus lelucon paling menyenangkan.

    Aku tetap tak beranjak dari tempat duduk. Hari ini proses pendataan harus lebih cepat. Aku tak punya banyak waktu.

    Kutulis di buku catatanku : Nama, umur, jumlah pelanggan dan juga jenis kontrasepsi.

    Aku harus mendata sedetail mungkin, melakukan wawancara dan memberikan mereka  konseling, informasi dan edukasi mengenal penyakit menular seksual dan alat kontrasepsi. Ini adalah bagian dari tugas kuliah. Tapi lebih dari itu, ini adalah bentuk pelayananku. Melayani tidak boleh tebang pilih. Prinsip yang aku pegang sejak dulu.  Barangkali saja edukasi dan informasi dariku dapat membawa mereka ke jalan yang benar. Membawa mereka kembali dan tidak tersesat lagi pada dunia gelap itu. Walaupun aku yakin, tak semua mereka mau mendengar dan melaksanakan imbauan dariku.  Namun yang pasti, bahwa hak hidup sehat adalah hak setiap orang termasuk mereka.

    Memang, pelacuran itu seperti jamur. Dimana ada “kekuasaan” disitu tumbuh pelacuran. Akan sangat susah untuk diberantas, tetapi amat mudah dipelihara. Sebuah kemerosotan moral yang sudah dianggap wajar.

    Sepekan kemudian, beberapa dari kami membagikan alat kontrasepsi dan memberikan edukasi kesehatan yang mungkin akan menjadi omong kosong di kepala mereka.

    **

    Seorang wanita, kira-kira usianya sama dengan aku, berjalan cepat menuju mejaku.  Ia tampak gelisah. Melihatnya demikian aku bangkit berdiri dan setengah berlari menghampirinya. Dari jauh, kulihat  darah membanjiri rok, menetes ke betis sampai sepatunya. Semua yang ada di situ panik. Kulihat wajahnya sangat pucat. Kupacu langkahku berlari keluar memanggil ambulance.  Beberapa dari kami menggotongnya ke mobil  dan membawanya menuju rumah sakit. Ia terbaring lemas, aku memegang tangan kirinya berusaha membuat ia tenang sambil sesekali mengusap keringat di dahinya. Beberapa temanku memasang infus, dan yang lain menelepon rekan di rumah sakit agar mempersiapkan segala sesuatu untuk memudahkan penanganannya setiba disana.

    Dengan nafas terengah, ia bertahan sampai tiba di rumah sakit. Namun sial, bayi dalam kandungannya tidak tertolong. Bayi dengan berat badan sangat kurang itu dipastikan sudah meninggal sejak hampir dua jam sebelum ibunya tiba di rumah sakit. Tubuhnya menghitam seperti terbakar. Kelaminnya belum terbentuk sempurna. Tangan dan kakinya sangat kecil seperti kaki dan tangan kucing.

    Aku menghela nafas panjang, tak percaya atas apa yang kulihat. Mungkinkah ibu membunuh anaknya sendiri, bahkan sebelum  dilahirkan?

    ***

    Aku terperanjat dari lamunanku, ketika mendengar suara Anggia meringis kesakitan.  Anggia,  nama perempuan yang akhirnya aku ketahui. Ia adalah pasien pertamaku hari ini. Ia tengah hamil anak ke lima, dengan riwayat abortus tiga kali. Aku membolakbalikan buku catatan medisnya. Martha, nama asli perempuan yang pernah kutemui itu. Tak ada keterangan tentang suaminya di buku medis, hanya riwayat kehamilan yang lalu, dan daftar obat-obatan yang pernah diminumnya. Anggia, perempuan bermata sembab itu, adalah benar-benar ia yang pernah kutemui di tempat hiburan malam. Aku tak percaya. Kini ia ada, terbaring  pasrah di depanku.  Matanya seperti sedang menjelaskan jiwa yang kerontang. Garis kecantikan masih melekat pada wajahnya walaupun dengan tampilan acak- acakan.

    “Pasien sudah dua hari ini demam, keluar nanah dari kemaluan, muntah-muntah tak dapat makan dan minum. Sementara kontraksi sudah mulai dari jam empat pagi. Tekanan darah normal, suhu 38 derajat celcius, tanda-tanda vital lainnya normal, sudah pembukaan delapan”.

    Bisik suster sambil membetulkan selang infus.  Kulihat, bintik- bintik merah membanjiri lengan kiri dan kanan Anggia.

    “Satu, dua, tahan yah Bu. Tarik nafas, dorong bu. Dorong yang kencang, ayo Bu, sedikit lagi. Dorong yang kencang!”. Ujarku sambil sesekali menengok jarum jam.

    Tangis bayi memecah hening. Detak jantung Anggia bernyanyi seirama bunyi detak jarum jam. Dari selangkangannya darah tak henti mengalir seperti sedang menceritakan perjalanan panjang yang telah ia lewati.  Tampon- tampon penyumbat nyeri telah terpasang. Keringat tak henti membanjiri wajah dan lehernya. Tak ada siapa pun. Tak ada lirih bariton lelaki seperti desah panjang usai klimaks yang nikmat.

    Kelahiran kali ini semoga menjadi akhir pengembaraannya di dunia malam, batinku.

    Bayi merah  dalam lampin itu tertidur pulas, namun wajahnya seperti berjalan mencari sesuatu yang hilang. Barangkali dalam lelap, ia dapat melihat wajah ayahnya yang samar-samar lalu hilang. Ku harap bola matanya kelak berjalan, lalu menggelinding bersahutan memburu tapak kaki lelaki yang pernah menjadikannya ada. Semoga bola mata itu senantiasa menyusuri jalanan, pindah dari satu bus ke bus lain, menuju warung, pasar, dan rumah ibadat untuk mencari ayahnya yang entah siapa.

    Namun, walaupun siapa dan dimana ayahnya, anak ini tetap punya Ibu. Yang memiliki rahim-lah yang dapat menegaskan anak siapa yang ia kandung, benih siapa yang ditanam dalam tubuhnya.

    Hampir sepekan Anggia dirawat, sebelum akhirnya polisi meringkusnya dengan dugaan pembunuhan atas bayinya sendiri beberapa tahun lalu. Polisi sudah memburunya sejak lama, atas laporan warga mengenai penemuan mayat bayi tanpa identitas di sebuah perumahan kota ini.

    Anggia berjalan didampingi beberapa Polisi menyusuri lorong-lorong rumah sakit, dengan wajah kusut dan penuh penyesalan. Ia tertunduk saat beberapa pasang mata memandangnya dengan sesekali mengeluarkan umpatan.  Kali ini ia tak bisa lari lagi.

    Sungguh malang bayinya. Bayi yang tak berdosa itu mungkin tidak akan merasakan ASI dari ibu kandungnya sendiri.  Tak merasakan sentuhan kasih dan pelukan dari ibunya.

    Ku pandangi bayi mungil itu, tidak terasa air mata jatuh membanjir di pipi.

    Seorang Ibu memang tidak dapat memberi cinta dan kasihnya secara total dan penuh pada anaknya apabila ia sendiri tidak dapat mencintai dan menghargai dirinya sendiri.  Mencintai diri sendiri, adalah hal pertama dan utama sebelum mencintai pribadi lain. Entah apa yang telah terjadi pada Anggia, aku tak tahu.  Aku tak pernah tahu apa kesulitan hidupnya, apa yang membebaninya serta apapun yang sudah membuatnya mengambil jalan ini.

    Sejak saat itu, Anggia hidup dalam pikiranku. Ketika pagi ia datang membawa setumpuk senyum. Lalu memperlihatkan padaku berita di koran pagi ini. Seorang ayah menjual anak kandungnya di tempat prostitusi lantaran menaruh dendam pada istrinya. Lain lagi, beberapa remaja kedapatan pesta seks usai acara kelulusan sekolah. Seorang kekasih  menjual diri demi mendapatkan uang untuk membiayai kehidupannya di kota, juga untuk traktir pacarnya makan bakso di malam minggu. Berita lain, beberapa lelaki berjas kedapatan asyik berpesta dengan wanita penghibur di suatu kota, seorang gadis tujuh belas tahun diperkosa oleh empat orang kakek. Anak itu tengah hamil dua bulan, dan seorang guru pesantren mencabuli dua belas santri dan setengah di antaranya tengah hamil.

    Begitu seterusnya. Setiap hari ku santap berita yang berseliweran seputar kelamin.

    Mengapa tubuh begitu murah? Benarkah nilai tubuh begitu rendah, hingga tak pantas dihargai, dijaga dan dirawat?

    Tubuh yang malang,  tak dapat berteriak dan melawan ketika ditindih kekuasaan dan kenikmatan, tubuh yang juga hanyut dalam kesenangan; berpesta dan tenggelam dalam uang. Tubuh yang tak dikontrol jiwa yang merdeka, lepas bebas dari tipu daya dan nafsu sesat. Jiwa yang seharusnya penuh kasih merawat tubuh dengan segala yang diberikan sang pencipta sejak saat anak manusia dilahirkan ke bumi.

    Aku dapat mendengar detak jantung tersunyi dan lolongan kesedihan tanpa suara, berdenyut dari tiap huruf di surat kabar yang kusentuh. Kuhentikan membaca, sambil berjalan menuju beranda rumah sakit berharap menyaksikan kembang allamanda yang merekah.

    Tuhan, semoga besok tak ada lagi  berita pemerkosaan, pencabulan, dan lain sebagainya di televisi. Biarkan anak-anak manusia ini belajar bersyukur atas tubuh yang Kau berikan pada mereka. Dan semoga, tak ada lagi bayi-bayi malang yang mati dan terbuang percuma, batinku

    ________________

     

    FotoHelena Lose Beraf

    Buku Puisi Tuhan dalam Sajak Cinta – Karya Helena Lose Beraf

  • Jejak Romo Van Lith di Muntilan – Cerpen Odemus Bei Witono

    Jejak Romo Van Lith di Muntilan – Cerpen Odemus Bei Witono

     

    Di ruang baca sekolah Strada Peduli, lima murid duduk melingkar mengitari sebuah meja kayu tua yang penuh buku dan catatan. Bau khas kertas yang sudah lama tersimpan berpadu dengan cahaya sore yang menyusup lewat jendela besar, menciptakan suasana yang tenang sekaligus hangat.

    Rinto, yang dikenal di antara mereka sebagai penggemar sejarah, membalik halaman sebuah buku tebal bergambar hitam putih. Matanya berbinar saat menemukan bab yang membuatnya ingin segera berbagi.

    “Kalian tahu nggak, ada tokoh yang disebut Bapak Pendidikan Katolik di Indonesia? Namanya Romo Frans van Lith,” ucapnya sambil menunjuk foto seorang pria berwajah tegas namun ramah.

    Alex, yang duduk bersandar santai, mengangkat alis penuh rasa ingin tahu. “Van Lith? Orang Belanda, kan? Apa istimewanya sampai dia mendapat gelar itu?” Nada suaranya mengandung sedikit keraguan, namun matanya menunjukkan kesiapan untuk mendengar cerita lebih lanjut. Ia paham, Rinto jarang mengungkap sesuatu tanpa alasan kuat.

    Rina, yang duduk di sebelah Alex, segera menyahut sambil merapikan catatan di pangkuannya. “Beliau datang ke Jawa tahun 1896, lalu pada tahun 1904 mendirikan sekolah guru di Muntilan. Bayangkan, di masa itu hampir tidak ada orang Eropa yang benar-benar mengabdikan hidupnya untuk mendidik penduduk Bumiputera. Apalagi, pendidikan saat itu lebih banyak terbatas bagi kalangan tertentu saja.” Nada bicaranya penuh semangat, membuat Alex mulai mengubah ekspresi wajah menjadi lebih serius.

    Nita, yang biasanya jarang berbicara, kali ini menunduk sejenak sebelum angkat bicara dengan nada yang mantap. “Yang membuatnya luar biasa adalah cara beliau memandang pendidikan. Pendidikannya bukan cuma soal agama, tapi juga membentuk karakter, melatih disiplin, dan membekali murid dengan ilmu modern. Banyak muridnya kelak jadi tokoh besar, seperti I.J. Kasimo dan Mgr. Albertus Soegijapranata, uskup pribumi pertama yang menjadi Pahlawan Nasional.” Kata-katanya membuat suasana menjadi lebih khidmat.

    Jefri, yang sejak tadi hanya menyimak, tiba-tiba mengangkat kepalanya. “Aku kagum sama keberanian beliau. Pada masa itu, pasti ada banyak tantangan—baik dari masyarakat, budaya, maupun keyakinan setempat. Tapi beliau tetap melangkah dengan keyakinan yang teguh.” Rinto mengangguk, seolah-olah menyetujui setiap kata yang diucapkan.

    Rinto menutup buku perlahan, memberi jeda agar cerita yang baru saja dibagikan dapat meresap. “Keutamaan Romo Van Lith jelas, yakni cinta tanah air, keberanian memperjuangkan pendidikan, dan kesediaan hidup bersama rakyat kecil. Dia nggak hanya mengajar di kelas, tapi membentuk jiwa murid-muridnya. Itu jauh lebih berharga daripada sekadar pengetahuan di buku.” Suaranya terdengar dalam, seakan-akan ia sendiri pernah berada di masa itu.

    Alex, yang awalnya terdengar skeptis, kini mulai tersenyum. “Kalau begitu, kita memang bisa belajar banyak dari sikapnya. Pendidikan itu ternyata bukan cuma teori atau angka di rapor, tapi juga teladan hidup yang diberikan oleh seorang guru.” Ia menatap teman-teman, sepertinya mengundang mereka ikut memikirkan makna kata-katanya.

    Rina mengangguk sambil menatap keluar jendela. “Iya, dan mungkin kita juga harus mulai melihat pendidikan sebagai cara membentuk manusia seutuhnya, bukan sekadar mencetak orang pintar. Romo Van Lith membuktikan bahwa mendidik itu sama artinya dengan membangun masa depan.” Ucapannya membawa suasana hening sejenak.

    Nita menarik napas pelan, matanya masih menatap halaman sekolah yang mulai diselimuti cahaya jingga. “Bayangkan kalau semangat itu bisa kita hidupkan lagi di zaman sekarang. Dunia pendidikan kita pasti akan lebih hangat dan bermakna.” Nada suaranya tenang, tapi penuh keyakinan.

    Jefri menambahkan sambil tersenyum tipis, “Mungkin itu maksudnya melanjutkan jejak beliau. Kita nggak harus jadi imam atau guru besar. Kita bisa mulai dari hal sederhana, seperti membantu teman yang kesulitan belajar atau ikut kegiatan sosial.” Ia menatap Rinto, mencari tanda bahwa pendapatnya sejalan.

    Rinto tersenyum lebar. “Benar. Romo Van Lith mengajarkan bahwa pendidikan sejati adalah yang menumbuhkan hati dan akal. Kalau kita bisa mempraktikkannya meski dalam lingkup kecil, itu sudah langkah besar.”

    Di luar, matahari sore memantulkan sinarnya ke meja tempat mereka duduk, seolah-olah memberi penerangan pada tekad lima murid Strada Peduli. Mereka merasa sedang memegang sebuah warisan—bukan berupa benda, tetapi semangat yang pernah dinyalakan di tanah Jawa oleh seorang Romo dari Oirschot.

    Bagi mereka, kisah itu bukan sekadar catatan sejarah yang terpatri di halaman buku. Itu adalah undangan untuk terlibat, untuk melanjutkan obor pendidikan yang pernah dinyalakan lebih dari seabad lalu. Dan sore itu, di ruang baca yang tenang, lima hati muda berjanji dalam diam untuk menjaga cahaya itu tetap hidup.

     

    ********************

    Ket. Foto: Odemus Bei Witono
    Odemus Bei Witono, Direktur Perkumpulan Strada dan Pemerhati Pendidikan

  • Sepuluh Perempuan dan Pelita

    Sepuluh Perempuan dan Pelita

     

    Mario  F.  Lawi

     

     

    Engkau senantiasa fasih
    Mengajarkan mereka berdoa
    Meskipun tetap saja kaupisahkan
    Terang dan gelap
    Kaki dian dan dari bawah gantang
    Belulang dari kubur yang dilabur putih
    Kiri dan kanan

    Kami mencarimu, Mempelai!

    Mereka bersisian menjaga jalan ke kota
    Meskipun akhirnya bersusah
    Menyusup melalui lubang jarum

    Telah kami jahit
    Telapak kami yang sakit
    Dan kami bentangkan bagi jalan
    Keledaimu di tengah pekik Hosana

    Mereka menjaga nyalamu dalam lelap dan jaga
    Sambil menyendengkan telinga
    Entah sangkakala atau derap langkah
    Yang pertama kali terdengar
    Ketika iring-iringan mendekat

    Hati kami adalah minyak dari minyakmu
    Sumbu dari sumbumu

    Dan antara yang paling redup
    Yang paling sayup
    Angin dingin mulai bertiup

     

    **************

     

    Mario F. Lawi dilahirkan di Kupang, 18 Februari 1991. Giat di Komunitas Sastra Dususn Flobamora