Category: SASTRA

  • “Yang Tertawan” – Murka Angin” – “Bab Terakhir” – “Syair Para Pecinta” – “Aku Sang Penipu”, Sajak-sajak Abdul Ghofar

     

    Yang Tertawan

    cahayamu luruhkan rembulan
    indah kilaunya pun melumat kasunyatan
    mencabik raga tanpa daya
    membungkam kata tanpa asa

    perlahan alam ikut memudar
    sisakan rona terbujur samar
    termenung diam memangku pilu
    terlelap tenang terhajar waktu

    tatapan panah melesat tajam
    merobek jantung menembus malam
    dalam senyap singa tertawan
    memendam cinta dikesunyian

    YOGYAKARTA, 06-08-2021

    ————————————————

    Murka Angin

    jika angin kuasa gugurkan hujan dari awan
    mengapa direngkuhnya pula rintik dari kelopak mata
    jika angin kuasa hitam dan pekatkan malam
    mengapa dipadamkan pula sepucuk lentera dalam gubuk jelita
    jika angin kuasa memecah deru ombak lautan
    mengapa dirampasnya pula rindu seorang perempuan

    mengapa senyum rembulan yang ia tawan
    bukan tatapan liar serigala jalan
    atau pekik teriakkan anjing peradaban
    mengapa
    mengapa ia!

    REMBANG, 23-10-20213.

    ————————————–

    Bab Terakhir

    hujan adalah dahan melambai tangan
    kepada burung-burung menari
    kepada angin-angin sepi

    hujan adalah gema desiran awan
    percumbuan air dengan bumi
    penantian semusim lagi

    hujan adalah merah yang menawan
    tubuh anggun penuh duri
    harum mewangi tenggelamkan diri

    hujan adalah bab terakhir keindahan
    rambut hitam yang terurai
    berlinang mata yang berderai

    REMBANG, 28-10-2021

    ——————————————-

    Syair Para Pecinta

    mata mana yang tak jatuh dalam pangkuan purnama
    lorong-lorong pengap yang menganga
    awan-awan pekat yang terjaga
    pun takkan tahan tertawan sihirnya

    telinga mana yang tak luruh kala dibelai melodinya
    bisik lirih yang lembutkan jiwa
    pekik teriakan yang menggoda
    pun takkan tahan tertawan gemanya

    jantung mana yang tak berdegub kala diketuk cinta
    pelukan hangat yang mendekap raga
    balada merdu yang hanyutkan jiwa
    pun takkan tahan tertawan cumbunya

    REMBANG, 5 November 20215.

    ——————————————————-

    Aku Sang Penipu

    bagaimana jika aku yang kau panggil
    adalah pedang yang tebaskan batang dari pohonnya
    adalah racun yang pisahkan ruh dari jasadnya
    dan bagaimana jika
    suaraku yang kau sangka merdu
    adalah seruling subuh yang mengambil jiwa dari raganya
    adalah waktu yang gugurkan kanak dari mudanya
    aku tak tahu siapa aku
    apakah senja yang mencuri siang dari malamnya
    apakah api yang membakar lilin dari tubuhnya
    atau akulah penyamun yang merampas dagang dari bighalnya

    YOGYAKARTA, 20-11-202

    ——————————————————————————

    Biodata Penulis

    Nama : Abdul Ghofar
    Alamat : Jl. Kaliurang KM 09 Bakungan, RT 01 RW 56 No 43,
    Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta
    Nomor Telpon : 082314549959
    Email : ghofarabdul8@gmail.com
    Tempat, tanggal lahir : Pati, 03-01-1995
    Warga Negara : Indonesia
    Status Perkawinan : Belum kawin
    Status Pendidikan : Mahasiswa (Universitas Sanata Dharma)

  • “Hyacinth” – “Pada Sebuah Musim di Bulan April” – “Muak” – “Kanvas Sang Pelukis” – “Envious”, Puisi-puisi Theresia Paskah

     

    Hyacinth

    Burung berkicau pelan nan merdu
    sinar surya menyelinap di balik kelambu
    tanda hari baru telah datang hampiriku;
    ingatkanku akan pagi nan riang
    yang kini hanyalah tinggal kenang

    Tak pernah terpikir olehku
    bahwa jemariku tak sanggup
    pertahankan dirinya disisiku.
    Tak pernah terduga olehku
    bahwa seteguk teh rosella akan mampu
    membangkitkan senyum getirku

    Tak mampu diriku sampaikan perpisahan,
    dan tak tersisa lagi padaku setitik air mata
    yang mampu kuteteskan untukmu.
    Kini, yang tersisa padaku ialah
    segenggam hyacinth ungu
    yang menguarkan wangi lembut
    dan terasa begitu hangat dalam dekapku.

    Theresia Paskah,
    September 14, 2021

    ——————————————

    Pada sebuah musim di bulan April

    Pada sebuah musim di bulan April
    dituliskannya sajak hangat untuk sang terkasih;
    dengan kerinduan yang membuncah di dada
    tertuang segala jenis harap dan doa.

    Pada sebuah musim di bulan April
    dalam sebuah ruang kecil nan sempit;
    semakin terputuslah tarikan nafasnya
    tak sanggup tubuh rapuhnya pertahankan kesadaran.

    Pada sebuah musim di bulan April
    ketika tak mampu lagi ia pertahankan ketegarannya
    beriringan dengan tetesan bening dari maniknya
    ia mengukirkan senyum di bibir rapuhnya, berbisik:
    “kini engkau telah bebas, tak perlu mengurus
    seorang wanita tua renta sepertiku”.

    Beriringan dengan berakhirnya satu musim di bulan April
    maniknya perlahan menutup, kehangatan kian menguap darinya;
    senyum tersungging di bibirnya,
    tak ada penyesalan tersurat pada guratan wajahnya
    meskipun tak ada seorangpun yang menemani.

    Beriringan dengan berakhirnya satu musim di bulan April
    Ia meninggalkan dunia dengan kesendirian
    dalam ruang kecil nan sempit miliknya
    dengan segenap rasa yang tertinggal dalam hatinya;
    hanya satu yang berarti baginya dari sekian banyak yang tersisa:
    sebuah sajak yang ia tulis pada penghujung musim semi.

    Theresia Paskah,
    October 7, 2021.

    —————————————

    Muak

    Rasaku menggelora,
    Karsaku membakar jiwa.

    Inginku berseru,
    Pada mereka yang tak acuh.
    Inginku mengerang,
    Pada mereka yang tak paham.

    Tak bisakah sedetik saja,
    Mereka katupkan bibir?
    Tak bisakah sejenak saja,
    Mereka kenakan kuping?
    Hanya untuk menghargai,
    Pihak lain yang juga bersuara.

    Hanya untuk menghormati,
    Pihak lain yang juga berkesah.

    Namun, hanya sia-sia saja,
    Kepala mereka sekeras batu.
    Tak mau mencerna,
    Hanya mau bertutur.

    Theresia Paskah,
    September 23, 2021.

    ————————————————

    Kanvas Sang Pelukis

    Ia menggoreskan kuas-Nya pada kanvas,
    garis semu itu kini perlahan nyata,
    biru, hijau, cokelat, penuh warna.

    Guratan biru itu meluas,
    membentang mulai Utara hingga Selatan.
    Deburnya terdengar; meraung dengan keras,
    berlomba-lomba menuju bibirnya.

    Ia beralih pada ujung lain kanvas,
    kuas-Nya bergerak menggores semu
    tinta hijau itu; perlahan tapi pasti,
    sapuannya kian nyata.

    Gemerisik dedaunan terdengar dibalik
    kicauan burung-burung kecil, serta
    erangan dan auman satwa. Bunga-bunga
    telah bersemi, wanginya semerbak,
    menguar hingga sisi terdalam hutan.

    Kini kuas-Nya teralih pada
    sisi kanvas lain yang masih tersisa.
    Kuasnya perlahan bergerak,
    pelan, teliti, melukiskan tinta cokelat
    dipadu dengan sinar keemasan.

    Pada tanah ukiran terakhir-Nya,
    tiada apapun selain kersik halus
    nan lembut tergoyang sang bayu.
    Kendatipun tanah itu tandus,
    segelintir tanaman dibiarkan-Nya
    tumbuh berbuah: manis nan sedap.

    Sang Pelukis menatap kembali pada
    kanvas-Nya yang telah terukir sempurna.
    Diletakkannya kuas terkasih-Nya,
    senyum tersungging indah di bibir-Nya,
    “Kini adalah masa kita untuk beristirahat.”

    Ia meletakkan kuas itu, dan bersandar,
    memandang kanvas kepunyaan-Nya,
    tiap hari, tiada lelah: bagian dari rehat-Nya,
    agar tiada yang mampu merusak kanvas-Nya,
    karena Ia begitu mencintai karya diatasnya.

    Theresia Paskah
    Oktober 29, 2021.

    ——————————–

    Envious

    Looking at the skies
    the wolf was wondering:
    what a beautiful sight
    they had there: amazing

    but the star up there
    looking back at the ground
    “you had a lively, pleasant nature,
    colourful: green, blue, and brown”

    “your world is better, let us
    became you.” their hearts
    craved for others’ life, and
    the moon granted their wish.

    The wolf moved to the sky,
    the star shifted to the ground,
    with a hopeful smile on their faces;
    though it did not last long.

    The wolf could not eat nor sleep,
    the star not able to shine bright,
    then the moon smiling and whispering
    “better on your own world, ain’t it?”

    Theresia Paskah,
    September 21, 2021.

     

    ——————————————————–

    Tentang Penulis

    Theresia Paskah, atau biasa dipanggil Tere, adalah salah satu
    mahasiswa di Yogyakarta yang senang membaca dan menulis.
    Tere lebih terbiasa menulis karya yang bukan tipe karya sastra,
    seperti puisi. Meskipun begitu, Tere ingin mengenal dan belajar
    lebih dalam mengenai puisi sehingga ia bisa menghasilkan puisi
    miliknya sendiri.
    Tere bisa dijumpai di sosial media:
    Instagram: @theresiaprastiti dan @termarasa
    Email: theresiapaskahprastiti@gmail.com

  • “Tentang Aku” – “Suara Anak Rantau” – “Taktik Berdasi” – “Gadis di Balik Purnama” – “Untuk Kamu”, Puisi-puisi Clara Juliatry Corneliani Mbulu

    Tentang Aku

    Aku selalu hidup dibayang ketakutan
    Aku selalu menjadi misteri di bawah radangnya rumah tua
    Lusuhnya pakaianku selalu jadi bahan tawa para koruptor rumah itu
    Tak tersadar jiwaku yang beranjak tua semakin hina di hadapan mereka

    Aku adalah sosok yang selalu hidup dalam gelap
    Aku adalah sosok hina yang tak pernah bisa dimengerti orang lain
    Hidup yang mungkin selalu terjamin membuat aku  semakin dianggap mati
    punya rasa menyesal karena Tuhan mengujiku pada usia yang harusnya ku butuhkan Bahagia

    Aku takut
    Hidup-ku yang selalu dihantui dengan ancaman dan hinaan
    Aku takut karena mungkin akan terpaku pada gelap
    Aku sadar aku hanyalah benda pajangan yang dilahirkan untuk tawa masyarakat

    Mungkin tak lama namun harus membekas pada batin
    Fisik dan raut penampilan selalu jadi bandingan masyarakat
    Mungkinkah jika tubuh terbujur kaku akan ada hinaan di balik kubur basah
    Ataukah rasa sakit ini harus kubawa hingga  Tuhan memanggil-ku pulang menjadi debu ?

    Ada cobaan untuk mengahkiri hidup
    Berjalan di atas rasa sakit yang terus menusuk lemahnya jiwa bangkit
    Yang terus saja berbanding terbalik dengan apa yang selalu dibayangkan
    Rasa sakit itu yang selalu membawaku untuk kembali terupuruk

    Di kursi reot saksi hidup-ku
    Kutuliskan ini dan menanti hadiah apalagi yang akan diberikan untuk penikmat kopi pahit Di ujung senja

    —————————————–

     

    Suara Anak Rantau

    Di tengah riuh pesta pora
    Sepotong harapan di balik jendela
    Menatap keluar bagai menyayat hati
    Gugur daun mengingat sawah ayah ibu

    Sebingkai foto di sudut ruangan
    Mematung kepala, berlinang air mata
    Susah hidup di tanah orang, gemuruh hati meminta pulang
    Bulan terang megisyaratkan minta-ku pada sang Ilahi

    Ketika susah harus diam, melihat tawa teman sebaya
    Damping peluk dan cium teringat akan harum kebaya ibu
    Gelak memecah ketika canda dari bibir ayah
    Mati rasanya ketika ingin dari hati tak terpenuhi

    Rindu pondok beralas tikar
    Biar susah, hati tak pernah ingin mengeluh
    Tenang terasa ketika dekat
    Harum masak buatan ibu, membuat sudut bibir ingin menyantap

    Belum saat akan bertemu
    Walau linang air mata terus berderai
    Lantunan doa pada sang Ilahi ingin pulang
    Semoga diri menahan rindu
    Ketika peluk ibu menyambut diri lemah

    Semoga yang harus tersemogakan
    Harap yang harus terharapkan
    Mimpi yang harus termimpikan
    Tertahan rindu karena peluh rantau mengejar cita

    Jika rindu adalah sakit
    Temu sapa adalah obat anak rantau

    ————————————

     

    Taktik Berdasi

    Di tengah  busung lapar terjadi
    Mata gelap, telinga menuli
    Perjuangan orang kecil dalam mimpi
    Berharap hari esok kembali terbit fajar yang membuah pada harapan

    Bukan tentang apa yang harus dipikirkan
    Bukan tentang apa yang harus didengarkan
    Kesedihan yang terpojok ketika usia akan menua
    Jika tanya membunuh semua jawaban

    Putarnya nilai rupiah, seakan menginjak usaha harga diri berharap meninggi
    Ratap tangis anak yatim meminta sepeser harga untuk sepiring nasi
    Tikus-tikus politik seakan bermain di balik bayang susah
    Gedung-gedung mewah seakan membanting pintu menolak sedekah

    Secerca harapan mendapat perhatian tak terwujud
    Hati susah, ketika harus bergelut di bawah terik demi rupiah
    Mati rasa hati para pembesar, membuat tangis pecah di balik cahaya purnama
    Monopoli kota metropolitan jejak rupiah bagai tak terekam

    Mungkin sakit jika harus bercerita
    Pembesar tidur di atas uang, permainan seakan berahkir tanpa pemenang
    Mungkin ratap harus menua berjalan bersama usia
    Penderitaan tak kunjung habis ketika menutup mata membawa susah

    Wahai para pembesar
    Taktik hebat, kalian rancang
    Membutakan uang, tanpa berpikir rakyat melarat
    Jika bisa bertanya, apa harus kami menyembah?

    Jangan buta wahai pejabat
    Hentikan permainan konyol, menyusahkan hidup pelosok
    Mungkin doa mewakili ratap susah
    Berharap Tuhan mengabulkan apa yang dipinta

    Jika harus memilih mungkin mati harus terbayang
    Tak lagi harap bantuan dana pemerintah
    Siap diri untuk bergelut
    Merebut sepiring nasi untuk hidup

    Terwakilkan rasa, jika tersampaikan
    Terima kasih jika tersentuh

    ——————————–

     

    Gadis di Balik Purnama

    Syair-syair cinta bekerja ketika sang pengelana mengejar cinta
    Purnama malam, begitu hangat terasa
    Santapan malam yang terhidang terasa lembut sampai pada sudut bibir
    Teringat kenang manis ketika di bawah atap gereja

    Rintik-rintik bagai bercerita tentang kondisi hati
    Ingin lepas tak terpikir ketika mengingat kenang di bawah langit mendung
    Senyum manis ketika berdua menikmati indahnya terbenam sang fajar
    Ketika pisah hati tak ikhlas jika harus jauh memendam rindu

    Waktu berjalan, seiring bertambah usia ketika harus menua
    Di balik jendela usang, bintang cantik di malam itu
    Bulatnya mata mengharap kembali mengulang masa itu
    Mengandaikan senyum dengan purnama di penghujung tahun

    ——————————————-

     

    Untuk Kamu

    Aku pernah mengenal-mu
    Namun aku lupa kapan kita pernah menyapa
    Aku juga pernah melihat-mu
    Namun aku lupa kapan kita pernah bertemu

    Kamu
    Beberapa huruf yang terlintas dibenakku untuk mengingat satu nama
    Kamu yang selalu membawa-ku keluar dari duniaku
    Kamu yang selalu membuatku menjadi istimewa tanpa tau bahwa aku adalah kurang yang Kamu punya

    Aku
    Istilah usang yang kau anggap istilah usang dalam hidup-mu
    Nama yang selalu membuat-mu bagai terpuruk dalam satu zona
    Nama yang selalu membawa-mu pada rasa trauma untuk kembali mengenal sosok lain

    Mungkin terlalu buruk untuk kembali bercerita
    Hayalan-ku dan hayalan-mu mungkin terlalu jauh berbeda
    Hayalan-ku yang mungkin membuat-mu merasa bahwa aku terlalu buruk untuk hadir Kembali
    Waktu yang selalu memaksaku untuk menghilang dari dunia-mu

    Semua seakan menarik paksa agar aku terbangun dari mmpi indah-ku
    Dari aku untuk kamu yang jauh dari genggaman-ku
    Ini untuk  kamu yang telah pergi dan tak akan pernah bisa kembali
    Dari aku yang selalu membawa-mu pada dunia-ku yang terlalu suram bagi-mu

     

    ———————————————————–

    * Clara Juliatry Corneliani Mbulu, Siswi XII MIPA 4 SMA Katolik Giovanni Kupang

    * Kelima Puisi Clara Juliantry Corneliani Mbulu di atas adalah Pemenang Juara 3 Kepenulisan Puisi Tingkat Sekolah Jenjang SMA, dalam Program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional, yang Diselenggarakan oleh GMB- Indonesia.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • “Dua Butir Pasir” – (Mengenang Mama Anastasia Hunu Dasion-Keraf)

    Oleh Mike Keraf

    Dua butir pasir rebah dalam sunyi
    Masih kumenanti ayahku kembali
    Di tepian Kènafatang
    Nyanyian para nelayan meninggi sekuat debur gelombang
    Memukau hymne leluhur di kitaran arus Bui Pukâ
    Kutahu pukat ayahku masih menggantung di sana
    Temani biduk kecil kesayangannya

    Dua butir pasir menjadi sunyi
    Ketika ibundaku berdandan putih
    Memeluk waktu jadi abadi
    Di tepian jalan nan jauh mengkristal jadi purna
    Di sudut lengang Lamalèra
    Kurindu tenunan ibuku menggantung di sana
    Seg’ra temani aku di kala senyap menyergap

    Dua butir pasir bukan lagi sunyi
    Ketika DIA jadi segala-galanya
    di dalam segala sesuatu

    (Mike Keraf,
    Sajak Anak Nelayan,
    Memoriale Pium
    Ayahanda Benediktus Laba Keraf dan
    Mama Anastasia Hunu Dasion.
    Penghujung Oktober 2004).

  • “Perahu Kertas” – “Tuan”, Puisi – puisi Sapardi Djoko Damono

    Perahu Kertas

    Waktu masih kanak-kanak kau membuat perahu kertas dan kau layarkan di tepi kali; alirnya sangat tenang, dan perahumu bergoyang menuju lautan.

    “Ia akan singgah di bandar-bandar besar,” kata seorang lelaki tua. Kau sangat gembira, pulang dengan berbagai gambar warna-warni di kepala. Sejak itu kau pun menunggu kalua-kalau ada kabar dari perahu yang tak pernah lepas dari rindumu itu.

    Akhirnya kau dengar juga pesan dari si Tua itu, Nuh, katanya, “Telah kupergunakan perahumu itu dalam sebuah banjir besar dan kini terdampar di sebuah bukit.”

    ———————————————

     

    Tuan

    Tuan, Tuhan, bukan? Tunggu sebentar, saya sedang keluar.

    ————————-

    Sumber: buku puisi Perhu Kertas, Gramedia 1983


     

     

     

     

  • Pesan Sang Germo

    Pesan Sang Germo

     

    Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun di Lereng Kali Code, Yogyakarta, 1986. Dok.TEMPO/Yuyuk Sugarman

    Y.B. Mangunwijaya

    SABAR sekali Pastor berambut putih itu mendengarkan kisah nyata lelaki yang terbaring remuk-redam di ranjang kematiannya dan seperti dikejar waktu mengeluarkan segala beban jiwa. Dua lelaki dua profesi. Yang berambut putih seperti tali rafia bertugas tekun mencoba sebisa mungkin menurut kekuatan kemanusiaannya menjaga dan membina keutuhan dan kesuciaan keluarga. Dan yang berambut hitam brilkrim, karyanya justru dalam bidang pembinatangan nafsu seks yang sebenarnya bertujuan indah, namun dibuat oleh konco-konconya menjadi karikatur, ya bahkan kekejian yang menguak menuntut dendam karma.

    Ia germo dan oleh kawan-kawannya dipanggil Keling Teji. Bukan hanya germo biasa, melainkan calo tingkat cukong perempuan untuk para VIP yang di mana-mana menggembar-gemborkan Pancasila dan Pembangunan, spiritual-materiil, target KB dan pemberantasan kenakalan remaja. Akan tetapi sebenarnya perusak bangsa tingkat paling rendah.

    Dua laki-laki, dua profesi yang saling berlawanan laku hidupnya, akan tetapi saat ini entah aneh sekali dalam inti hati, saling bersimpati. Bukan karena sekawan dalam cita-cita pengisian inti hidup, melainkan karena bertemu dalam satu nada rindu, karena berpihak pada suatu penghayatan bersama. Kedua mereka tahu banyak, ya banyak sekali tentang liku-liku serong rahasia dari banyak para VIP yang penuh kebusukan dan kemunafikan. Mata dan pendengaran keduanya sudah seperti sinar rontgen atau radar, yang tidak dapat lagi tertipu oleh suara hati dan sanggup menjebol segala dinding beton baja berlapiskan marmer Carrara serta berpintu teakwood. Apalagi jas-jas wool, kebaya tembus pandang atau kain batik yang ketat. Bagi mereka para VIP serong ibarat telanjang bulat, seperti setaip bayi tanpa pandang orang tua, hartawan atau orang penting, polos pusar bodong di muka bidan.

    Maka bagi kedua mereka, yang berambut hitam maupun yang putih di kamar rumah sakit ini, taka da parfum Rubinstein satu jenis pun atau angin kipas gading buatan Persia sehembus pun dari para nyonya maniak, yang mampu menghalau indikasi bau kamar mayat yang hanya dapat dicium oleh mereka yang sudah terlatih melihat kemaksiatan dari gerak main mata dan cara bicara mereka.

    Sang germo dan sang pastor di kamar itu keduanya felloos tanpa resiko keliru dapat menaksir siapa yang mampu bertahan. Dan mungkin karena kesatuan radar itulah, mereka serasa saudara. Ada semacam intuisi yang mendorong Keling Teji (yang menurut dokter sudah tak ketulungan lagi kankernya), sudah merembet dari paha menuju dekat jantung, untuk minta dikunjungi pastor Barata di ranjang sakitnya. Di ambang kematian, manusia merasa butuh reuni yang lebih sejati, dari sekian reuni sentimental yang pernah mereka datangi dan bercerita.

    Ya berceritalah si Keling Teji, entah sudah berapa jam tadi, tentang segala story dan tingkah kelakuannya yang corok dalam melayani ……(disebut nama dan jabatannya eksak) “orang-orang terhormat” dengan perempuan-perempuan segala umur, mulai dari gadis cilik sampai nenek yang sudah bercucu, perempuan sembarangan maupun puteri SMP-Mahasiswa yang tampak saleh di gereja, di waktu senggang maupun di waktu jam-kerja dinas baik dengan biaya dinas Kas Negara maupun perasan uang rakyat.

    (-) Maka itu aku, Nak semua orang sudah tahu, sudah tahu. Setiap orang dewasa yang cukup berakal sudah tahu semua. Tidak ada satu rahasia di negeri kita ini, Nak. Mengapa masih menuntut sesuatu yang tidak perlu? Siapa tahu, mungkin ada baiknya orang-orang itu mengira bahwa masih berpakaian, padahal ditertawai rakyat yang melihat ketelanjangan mereka. Begitulah barangkali, mereka sudah dihukum secara lebih hina daripada resmi diadili. Biarkan mereka berdansa dan berporno dalam ilusi yang tersembunyi di belakang dinding marmer, sedangkan nyatanya rakyat melihatnya bergumul seperti di tengah kota serba kaca di muka pasar.

    (Germo sejurus diam. Matanya basah sedangkan nafasnya terisak-isak). “Salahku…….Salahku! Rama tanpa aku menduga anakku yang masih SMP termakan oleh……(disebut Namanya eksak jabatannya, pangkatnya). Yang saya umpankan anak lain. Tahu-tahu anakku tunggal yang terjebak. Memang andilku sangat besar dalam segala kemaksiatan yang jauh lebih binatang daripada apa yang pernah ditulis dalam majalah-majalah porno kita. Tetapi sungguh saya tidak mengira bahwa anakku sendiri bahwa anakku sendiri semuda itu yang akan jadi korban”.

    (-) Anda hanya ingin membalas dendam, Nak, masih ad acara-cara lain yang lebih baik daripada menulis di koran.

    “Ah Romo, Selalu kalian berbuat begitu rupa, sehingga kami kaum awam seolah-olah dipaksa untuk percaya, bahwa agama itu candu. Bahwa kaum agama selalu saja melindungi pihak yang berkebetulan sedang berkuasa. Tulis Rama, tulis. Rama takut? Seribu pembesar akan marah tersinggung. Tetapi serratus juta rakyat yang akan berterima kasih kepada Rama”.

    (-) Terima kasih manusia akan berharga, tetapi menikam juga kelak, Nak. Tidak semudah itu dunia watak manusia. Tetapi berilah saya waktu, Nak, untuk berpikir dan………untuk berbuat salah juga di mata Anda. Yang paling penting dan berharga toh sudah terjadi. Anda mencoba menyeberang ke pihak yang benar. Itu yang paling pokok. Yang lain-lain dengan sendirinya menyusul. Paling sedikit ada rasa tidak bangga atas kelakuanmu di masa lampau”.

    “Mereka bangga Rama. Merusak gadis cilik mereka anggap suatu prestasi, pahlawan”.

    (-) Sudahlah Nak. Kita berdua tau banyak apa yang terjadi di belakang tabir. Ada saatnya, kita berdua harus ridha tidak mengetahui apa yang bakal terjadi. Hukum Karma hanyalah sebagian dari kebenaran, Nak. Air mata seorang ayah yang remuk redam adalah bagian lain yang lebih kuasa untuk menyelamatkan anak”.

    *******

     

    *Artikel Romo Mangun ini di simpan oleh Bismar Siregar (Mantan Hakim Agung) sejak 1970.

     

    *Sumber Buku Kata-Kata Terakhir Romo Mangun, Editor Th. Bambang Murtianto – Penerbit Kompas, 2014.

     

     

     

  • “SUPER0808 2021 Surat Presiden 08-08-2021” – Puisi Sympli da Flores

     

    Saudara-saudaraku
    sebangsa dan setanah air

    Tahun ini negara kita merayakan HUT-76
    Syukur kepada Allah
    Trimakasih kepara para Pahlawan Bangsa
    Atas berkah kemerdekaan bagi kita bangsa Indonesia

    Saudara-saudaraku
    Putra-Putri pewaris bangsa Indonesia
    Mari…..
    Hentakkan kaki dan tepuklah dada kita
    Berbanggalah atas anugerah kemerdekaan NKRI
    Kita Indonesia
    Indonesia itu Kita
    Kita satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air
    INDONESIA

    Saudara-saudaraku
    Sebangsa setanah air
    Kitalah Putera Fajar
    Kitalah Puteri Purnama
    Pada hari ini
    08 Agustus 2021
    Kuperintahkan kepadamu sekalian:

    Petiklah cahaya Fajar
    Sematkan dalam diri dan tanamlah di jiwa
    jadikan pagar keliling negeri
    Dari Merauke ke Sabang, Mianggas ke Rote dan seluruh daratan tanah kita

    Ambilah Purnama patrikan di dadamu Pilih bintang-bintang sematkan di wajah dan kepalamu
    Lalu taburlah di semua laut dan samudera negeri ini
    Jadikan cahaya berseri warna-warni

    Kita jadikan pribadi kita bercahaya abadi
    Menerangi seluruh pelosok tanah air ini
    Lalu memancar ke segenap penjuru mata manusia dunia

    Kita cahaya semesta
    Kita anak-anak cahaya
    Kita mercusuar dunia
    Kita INDONESIA

    Demikian damba dan doaku, yang kutulis sebagai perintahku
    untuk dilaksanakan sebagai doa dan tekad amal bersama dan menjadi kado kita semua, karena: terimakasih kepada para penjasa dan pahlawan bangsa
    Syukur kepada Allah atas anugerah kemerdekaan bagi kita bangsa Indonesia

    Merdeka, Merdeka
    Merdeka…….
    Dirgahayu NKRI-76 !!!


    Sympli da Flores
  • Menggapai Makna “Catatan Pinggir”,   Puisi Simply da Flores

    Menggapai Makna “Catatan Pinggir”, Puisi Simply da Flores

    Seorang wartawan
    mengemban profesi
    menyajikan berita
    Seorang penyair membagi
    makna kehidupan yang
    diolah bathin jiwa nurani

    Dalang “Catatan Pinggir”
    Bukan saja wartawan dan penyair
    Tetapi seniman, muzyafir pemikir
    yang berkelana tanpa kenal lelah
    dan tidak berhenti membangun
    istana kenyamanan

    Menggapai totalitas refleksi
    dan menemukan makna
    dalam Catatan Pinggir memang tidak mudah
    Karena ada aneka data,
    fakta, rasa, nilai dan pendalaman arti
    Yang tersaji secara apik dan menarik,
    meski penuh pengandaian
    bagi pembaca karya ini

    Catatan Pinggir itu
    Seorang nelayan usur
    yang duduk di bawah pohon rindang
    tepian pantai, sambil membetulkan jalanya,
    bercerita kepada anak cucu
    tentang asinnya laut, ombak-gelombang,
    karang dan ikan-ikan, malam gulita
    dan perjuangan menangkap ikan.
    Tentang samudera
    sebagai ibu kehidupan bagi para
    nelayan dan buih ombak
    yang setia mencium
    bibir pasir pantai hari-hari

    Catatan Pinggir itu
    Seorang kakek petani
    sedang meneguk kopi pagi hari
    di pinggir ladangnya, bercerita kepada putra-putri
    pewarisnya tentang sejarah ladang ini,
    pohon buah yang subur, kolam ikan
    dan bebek yang berkejaran, serta aneka suka duka
    selama mengelola ladang,
    untuk menghidupi keluarga
    hingga para cucunya.
    Tanpa memaksa mereka
    harus menjadi petani
    dan tinggal di ladang ini

    Catatan Pinggir itu
    Seorang nenek pengrajin tenunan
    yang dengan bangga menjelaskan
    proses pembuatan tenun secara tradisional,
    untuk keperluan tugas sekolah para bocah.
    Dan ketika malam tertidur,
    mereka diselimuti sarung
    buatan nenek, dan esoknya ketika pulang ke kota,
    sarung itu dihadiahkan kepada mereka,
    agar ingat kampung dan nenek

    Catatan Pinggir itu
    Ebiet G Ade menulis syair
    lalu dan memetik gitar sambil beenyanyi
    agar pemirsa bisa mendengar,
    apalagi sampai kepada perjalanan jiwanya bertemu
    dan berdialog dengan Sang Pencipta

    Bang Goenawan Mohamad
    Pemilik – Sang Dalang Catatan Pinggir
    Memang mencatat dari pinggir,
    tapi setelah menjelajahi keliling area
    dan mendalami semua materi yang disajikan,
    agar data, fakta, pengalaman, rasa,
    nilai, harapan dan cita bisa dirangkul
    dalam sebuah karya unik:
    “Catatan Pinggir”
    Singkat, padat, menarik, menantang,
    membuka ruang luas untuk pembaca mengembara,
    dari pinggir menuju ke tengah dan lebih dalam,
    lalu membuat catatan pribadi
    dan kesimpulan baru,
    bahkan menjadi musyafir yang berkelana abadi
    mencari makna sejati realitas
    dan eksistensi diri sebagai insani

    Catatan Pinggir
    Menjelajah semua bidang kehidupan,
    lintas zaman, suku, budaya, agama
    dan pribadi, masa lalu dan masa depan,
    dengan aneka tawaran bebas
    bagi pembaca untuk membuat kajian,
    pilihan dan keputusan:

    Bagaimana menjadi manusia sejati
    Bagaimana berada dan menjadi
    Bagaimana memberi makna dan arti
    sebagai pribadi di hadapan sesama insani
    dan di tengah alam semesta ini

    Catatan Pinggir
    Adalah karya unik dan kreatif
    Bang Goenawan Muhamad sebagai pribadi,
    untuk berada dan menjadi,
    memberi arti bagi eksistensi dirinya,
    agar membagi makna dan
    arti kepada sesama insani
    untuk bersama melahirkan “makna peradaban sejati”
    di alam semesta ini,
    sampai kembali kepada Sang Ilahi

    ———-

    Simply da Flores, Direktur Ya-Harmoni

  • Puisi-puisi Simply da Flores, “Sudah Kering Gersang” dan “Selaras – Seimbang”

    Sudah Kering Gersang

    Setahun lalu…..
    basah pepohonan, rerumputan dan tanah pun becek kebanjiran
    Hujan air mata duka lara atas kematian

    Tahun ini….
    Kami kehabisan air mata kesedihan untuk tangisi kepergian tragis kakek nenek, ibu ayah, kakak adik, anak cucu, sahabat kenalan, sesama yang dikasihi, dibutuhkan….

    Tanah rasa kering
    Pohon harapan gersang
    Mata air dan sungai nafkah kerontang
    Ketakutan mencekam karena ganasnya wabah menyerang

    Kering gersang air mata
    Kerontang rasa jiwa
    Tak mampu hentikan wabah dan kematian
    Bertubi-tubi tak mampu tertahankan
    Entah sampai kapan


     

    Selaras – Seimbang

    Hujan deras mengguyur berkepanjangan
    Becek, lumpur
    Banjir…. Longsor

    Panas terik
    sampai kelamaan
    Kering… Gersang
    Haus kerontang..

    Gelombang badai
    Gempa tsunami
    Bencana alam ini pasti mengancam nyawa dan kehidupan

    Serasi, selaras
    Seimbang harmonis
    Dibutuhkan agar segenap isi semesta ada dan bermakna
    Hanya Dia Yang Punya

    —————————————-

    Simply da Flores

     

     

  • “Parade Kematian” – “Di Seberang Samudera”, Puisi-puisi Simply de Flores

    PARADE KEMATIAN

    Mati adalah anugerah dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan setiap manusia di bumi fana oleh Sang Pencipta
    Kematian adalah kepastian, meski misteri caranya, kapan dan dimana

    Mati karena kecelakaan dan becana alam sering menjadi pengalaman tragis dan tidak gampang dihadapi

    Mati karena membunuh diri pun sering terjadi dengan berbagai alasan
    Dan meninggalkan banyak pertanyaan bagi yang hidup
    Mengapa dia bunuh diri dan akhiri hidupnya ?

    Mati karena perang, pembunuhan dan kejahatan sesama juga mengerikan

    Mati yang terjadi karena pandemi bertubi-tubi dan dimana-mana seluruh dunia saat ini
    Menjadi menakutkan, mencekam, mengerikan dan menghentak totalitas adanya setiap pribadi agar kembali ke jati diri dan hakekat hidup
    Bahkan Sang Pencipta

    “Aku ini siapa, darimana datangku, siapa penjamin adaku, bagaimana memperlakukan hidupku di tengah sesama dan alam ini, kemana nanti kukembali, kapan – bagaimana dan dimana aku mati, mengapa dan untuk apa saya terlahir”
    Adakah Kasih Allah
    Dimana Allah-ku

    Apakah aku juga masuk daftar mati dalam parade kematian pandemi covid19 ini ?
    Semua air mata, ketakutan, rindu damba
    Segala daya upaya tidak mampu menghentikan dan menghilangkan kematian

    Saatnya menyadari, memahami, bersahabat dan mencintai kematian
    Saudara kembar kehidupan
    Misteri realitas dan Sang Pencipta

    —————————————————————–

    DI SEBERANG SAMUDERA

    (Memaknai kematian, mengiringi semua yang telah berpulang mendahului )

    Biduk kita bertolak dari pelabuhan asal
    Berlayar melintas ombak lautan menerjang mengarungi gelombang samudera agar sampai tujuan jiwa di seberang sana

    Ada burung camar melintas menyapa
    Ada lumba-lumba mengiring bercanda
    Ada badai menerpa dan layar tersobek, tiang nyaris patah, biduk hampir tenggelam dalam siang malam berganti melewati hari-hari

    Ketika biduk ditelan batas pandang cakrawala
    Saat kehidupan sirna di ujung samudera,
    waktunya ajal datang menjemput jiwa,
    Maka segalanya tak mampu ditahan karena kehidupan ada awal dan ada akhir

    Ketiadaan mengawali dan kematian mengakhiri
    Yang tersisa adalah amal bhakti setiap kita yang tercatat di pasir pantai, dalam debur ombak, pada halaman samudera dan sejarah peradaban

    Ada keyakinan asali
    Ada harapan hakiki jiwa nurani sejati
    Di seberang samudera ada kota perjanjian
    Di batas cakrawala ada pelabuhan cinta
    Di akhir pelayaran ziarah makna dunia
    Setiap kita yakini ada awal kehidupan baru abadi lestari bersemi

    (Maumere, Flores, 21 Juli 2021)


     

    *Simply da Flores, Direktur YaHarmoni.