Category: SASTRA

  • Sapardi : Geometri dan Memori

    Oleh Nirwan Ahmad Arsuka

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
    awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    (1989)

    Puisi Aku Ingin memang tak terelakkan akan mengangkat nama Sapardi Djoko Damono jadi abadi. Tapi yang membuat puisi itu, dan sederet karya terkenal Sapardi lainnya, jadi punya kekuatan untuk menancapkan diri di kenangan dan memfanakan gergaji waktu adalah “lima tak ingin.”

    Lima tak ingin itu adalah: tak ingin heroik, tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit, tak ingin eksperimental, dan tak ingin religius.

    Kekuatan sajak-sajak Sapardi langsung terlihat begitu kaidah “tak ingin” itu ditegakkan. Ketika terbit kumpulan puisi pertamanya, Duka-Mu Abadi, Goenawan Mohamad menyambutnya dengan sebuah ulasan panjang di Majalah Horison, No. 2 Th. IV Februari 1969, dengan judul Nyanyi Sunyi Kedua. Buat Goenawan, kumpulan Duka-Mu Abadi  adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali, tanda pertumbuhan puisi Indonesia yang sedang melepaskan diri dari masa lalunya. Masa lalu yang ingin ditinggalkan adalah masa lalu yang dipenuhi oleh sajak-sajak heroik dan “berdjoeang.”

    Setelah setengah abad lebih sejak terbitnya Duka-Mu Abadi disusul dengan munculnya sejumlah kumpulan puisi lain, dapatlah dikatakan bahwa Sapardi menarik bukan hanya karena responnya terhadap masa silam, yang ikut membebaskan puisi Indonesia dari desakan pengaruh sajak-sajak heroik waktu lampau. Puisi-puisi terbaik Sapardi itu menarik bukan hanya karena mengembalikan lirisisme ke kancah perpuisian, tapi juga karena antisipasinya atas masa depan penciptaan. Bisa ditambahkan bahwa yang istimewa pada sajak-sajak Sapardi itu bukanlah karena sikap ingin leburnya dengan Tuhan, seperti yang diperlihatkan Amir Hamzah dalam Nyanyi Sunyi, tapi pada penjarakan intelektualnya terhadap Tuhan.

    Di esai bertajuk Permainan Makna yang terkumpul dalam buku Sihir Rendra: Permainan Makna (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999) Sapardi mengenang masa kecilnya, dan kebutuhannya untuk menciptakan permainan makna. Ia mengaku permainan makna yang disusun dari kata-kata itu membuat ia bisa menghadapi kenyataan yang tak masuk akal. Tapi ia juga menyebut ketakinginannya menjadi kanak-kanak yang hanya asyik dengan permainan tanpa makna, sekaligus ketakinginannya untuk menjadi nabi yang cuma menyampaikan pesan makna tapi tanpa permainan. Ia hanya ingin jadi penyair yang baik. Sapardi yang konon berpikir dalam Bahasa Jawa, tentu harus mengatur kata-katanya sebaik mungkin dalam Bahasa Indonesia. Dan bersamaan dengan itu, sadar atau tidak, ia menerjemahkan ketakinginan menjadi kanak-kanak atau nabi itu ke dalam bentuk-bentuk puisi yang perlahan-lahan memenuhi “lima tak ingin” itu.

    Kelak akan tampak bahwa puisi-puisi terkenal Sapardi menegakkan kaidah “lima tak ingin” itu karena mereka membantunya menciptakan ruang kosong untuk menghadapi kenyataan alam yang tak masuk akal, sekaligus mempermudah pembacanya ambil bagian untuk mengabadikan sajak-sajaknya. Selain esai Permainan Makna, sajak Catatan Masa Kecil, 3 dan Catatan Masa Kecil, 4 dapat memberi petunjuk tentang asal-usul lima tak ingin itu.

    Catatan Masa Kecil, 3

    Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela
    lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan
    yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta
    dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat
    memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya
    sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan
    ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya
    berkata “biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam
    suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya”

    (1971)

    Catatan Masa Kecil, 4

     Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya
    sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih
    kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari
    tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan
    setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat kurang
    dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika
    ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di
    halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum neneknya
    dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat
    sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.
    Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    (Sajak tanpa titimangsa, dimuat dalam kumpulan Sihir Hujan yang terbit 1984)

    Pertanyaan yang diajukan di Catatan Masa Kecil, 3, dan bilangan nol yang dipercaya di  Catatan Masa Kecil, 4, adalah bekal Sapardi membangun kaidah “lima tak ingin” yang dibuat jadi batu penjuru sebuah arena permainan. Ke dalam arena itu, saya bayangkan Sapardi menarik masuk dan menghadapi kekuatan besar yang membuat Amir Hamzah bersaksi dan menyeru dalam sajak Padamu Jua yang terhimpun dalam Nyanyi Sunyi: Engkau cemburu/Engkau ganas/Mangsa aku dalam cakarmu.

    Bisa juga dikatakan bahwa lima tak ingin itu adalah dinding-dinding limas piramid yang dibangun untuk menjadi — meminjam larik Chairil Anwar dalam sajak Di Mesjidruang gelanggang  kami berperang.  Perang Sapardi memang tak sekeras Chairil yang  Binasa-membinasa, Satu menista lain gila. Sapardi tak punya potongan untuk perang yang meledak-ledak seperti itu.  Jika kita membaca sajak Catatan Masa Kecil, 3 bisa kita katakan bahwa sikap Sapardi kurang lebih adalah sikap berjarak, sikap seorang ilmuwan yang penuh perhitungan:

    Ia yang turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang itu mungkin saja masih seorang kanak-kanak, tapi ia sudah memperlihatkan bakat kritis dan tak gampang terhanyut. Ia memang bertanya-tanya, tapi pertanyaan yang diajukannya adalah apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta.  Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bertahap dan terukur, yang mengenali batas dan mencoba melampaui batas: karakter pertanyaan yang kerap diajukan para ilmuwan.

    Seperti seorang ilmuwan tulen, ke dalam piramid berdinding dan berlantai “lima tidak” itu Sapardi menarik masuk Sumber Tanya beserta dunia yang tak masuk akal itu dan menghadapinya dengan penuh perhitungan. Dan selaiknya penyair tulen, Sapardi menghadapinya dengan mengalirkan dua arus pemberian yang meski bergerak tenang namun mengandung kekuatan penampik waktu.

    Pemberian pertama, yang memang dikerjakan oleh semua penyair besar, adalah pemberian “hidup” pada benda-benda sepele: pada angin, pada burung, lampu jalan, kabel telepon, dll. Pemberian “hidup” ini bisa juga dilihat sebagai penciptaan tandingan — yang meskipun hanya rekaan, namun berwatak puitik dan intelektual —atas ciptaan nyata yang lebih besar yang berasal dari kekuatan yang ada di luar semesta, dan di luar luar semesta.

    Personifikasi Sapardi atas benda-benda itu tak cuma menghidupkan benda-benda itu, tapi juga memberi mereka laku yang subtil. Semesta kenyataan yang kita terima secara intuitif, jadi berubah radikal dalam sajak-sajak Sapardi. Diri pembaca yang semula jadi subyek, jadi pusat, yang menentukan dunia, bisa bergeser tiba-tiba jadi obyek yang tak berarti dan ditentukan oleh dunia. Sajak-sajak ini seperti mencopot mata pembaca dan meletakkan di sebuah tempat dengan perspektif yang merangsang kerja otak.

    Sajak-sajak Sapardi memang bisa jadi contoh yang bagus tentang kemampuan puisi untuk memberi manusia mata ketiga dan keempat. Sains dan teknologi juga memberi manusia mata tambahan. Dengan mikroskop yang kian canggih dan teleskop yang bahkan di tempatkan di langit, manusia bisa melihat kenyataan-kenyataan baru yang menakjubkan. Hal yang sama juga dilakukan Sapardi dan para penyair besar lain. Bedanya adalah puisi mengajak kita melihat dunia ajaib yang subyektif personal, sementara sains memberi kita mata untuk menjelajahi semesta fantastis yang obyektif universal. Perbedaan ini menegaskan bahwa semesta yang disingkap dan dibentuk oleh sains dan teknologi akan jadi lebih lengkap dan memukau, makin kaya dan berharga, buat mereka yang juga bisa mengapresiasi puisi.

    Selain mata, Sapardi juga memberi kita sepasang telinga atau sebuah stetoskop kebudayaan dan politik untuk menyimak detak dan percakapan yang lirih dari berbagai macam benda-benda, bukan hanya yang selama ini setia melayani manusia, entah itu Sepasang Sepatu Tua, Bola Lampu, Topeng misalnya.

    Sapardi memang mengerjakan dengan sangat bagus teknik yang sudah dilakukan oleh para penyair sejak dahulu kala: menjadi tukang sihir yang memberi hidup lewat kata dan dengan itu memperkaya dunia. Tapi ia tak cuma memberi hidup pada benda-benda mati, ia juga membuat kehidupan benda-benda itu bisa bertahan lama di benak pembacanya. Para penyair memang mengandalkan teknik mnemonik seperti rima, tapi Sapardi tak cuma menggunakan perangkat literer yang sudah ada. Ia menemukan perangkat literer baru, yang lebih canggih dari rima. Perangkat literer temuan Sapardi itu agaknya berasal dari khazanah matematika, karena jelas sejajar dengan sejumlah konsep matematis, khususnya barisan geometri dan simetri terbalik.

    Penggunaan perangkat matematis ini punya kaitan yang menarik dengan sajak Catatan Masa Kecil, 4. Di larik keempat bait pertama, tertulis: Sejak semula ia sayang pada angka nol. Sajak ini ditutup dengan penegasan di bait kedua yang hanya berisi satu baris kalimat: Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    Angka nol yang disayang dan dipercaya itu memang tak hadir telanjang di sajak-sajak Sapardi, tapi ia muncul memukau dalam bentuk barisan geometri, yang tampak jelas pada sajak-sajaknya yang sederhana dan rapi.  Barisannya memang tidak horizontal dengan suku yang sejajar dalam larik, tapi vertikal dengan suku yang berurut turun dari bait ke bait. Dalam satu sajak, bisa terlihat beberapa barisan. Karena suku barisan literer Sapardi ini berubah pada tingkat dimensi dan kualitas, bukan sekedar penambahan atau pengurangan kuantitas, maka barisan itu lebih dekat ke barisan geometri dan bukan ke aritmetika. Barisan ini umumnya memang bergerak dari dimensi yang besar ke yang kecil dan menyarankan langkah menuju ke nol, atau dari yang fisik ke non fisik bergerak menuju ke kekosongan.

    Sajak Aku Ingin mengandung empat barisan yang masing-masing terdiri dari dua suku, sesuai dengan jumlah baitnya. Suku baris pertama adalah kata (bait pertama) dan suku berikutnya adalah isyarat (bait kedua). Kata adalah satuan yang masih mengandung bunyi dan intonasi yang menuntut gerak, setidaknya gerak otot bicara; sementara isyarat adalah satuan yang tak lagi mengandung bunyi dan intonasi, dan mungkin hanya tersisa gerak. Suku baris kedua adalah kayu (bait pertama) yakni benda fisik yang masih bisa disentuh, diikuti oleh awan (bait kedua) yakni massa yang terbentuk dari uap air yang mengambang di cakrawala dan tak lagi bisa dijamah. Suku-suku baris ke tiga, yakni api dan hujan, memang tak langsung terlihat aspek barisannya, tapi kita bisa melihat gerak menurun dalam hal temperatur. Barisan menurun itu tampil kuat pada baris keempat, yang sukunya adalah abu (bait pertama) yakni benda yang masih mungkin dijamah dan dicerap indra, yang kemudiaan diikuti tiada (bait kedua) yang sama sekali sudah tak lagi bisa dicerap.

    Kehadiran barisan itu muncul paling jelas dan paling indah dalam sajak Pada Suatu Hari Nanti, yang saya cantumkan di halaman akhir.  Pada tiga bait sajak itu, kita lihat subyek berubah dari fisik ke non-fisik, yakni dari jasadku di bait pertama, ke suaraku di bait kedua, dan akhirnya ke impianku di bait penutup. Jasad adalah massa yang masih bisa dijamah, dan jika diusap masih mungkin menimbulkan bunyi. Suara adalah fenomena sekuder yang tak lagi bisa dijamah, sedangkan impian sudah benar-benar tak tercerap secara indrawi. Sejajar dengan subyek yang berubah bentuk dari yang indrawi ke non-indrawi itu, obyek sajak juga berubah secara berurut, dari satuan yang besar ke satuan yang kecil, yakni dari bait di untai pertama, lalu larik di untai kedua, dan dengan huruf  di untai penutup. Buat saya, sajak Pada Suatu Hari Nanti  adalah sebutir berlian yang diasah dengan sangat bagus, dan di dalam struktur yang keras, rapi dan bening itu, tampaklah bagai tarian dua barisan Sapardi dengan indah bergerak pelan menuju kekosongan.

    Selain barisan yang bergerak konsisten menurun dari awal menuju kekosongan, ada juga barisan yang tampak bergerak datar, tapi akhirnya juga mengarah ke kekosongan. Barisan datar seperti ini tampak misalnya pada sajak yang tak kalah terkenal di bawah ini:

    Hujan Bulan Juni

    tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu

    (1989)

    Baris pertama yang menyusun Hujan Bulan Juni adalah baris yang sejajar karena suku-sukunya punya arti yang hampir sama. Baris ke dua juga boleh dikata sejajar, dan suku-sukunya adalah kata kerja pasif. Rintik rindu dan jejak kaki adalah citraan tentang hal-hal yang pernah menjadi bagian diri, yakni rintik yang sudah terlepas dari himpunan, dan jejak kaki yang juga sudah bukan bagian dari  diri. Adapun yang tak terucapkan adalah sesuatu yang bahkan tak sempat untuk menjadi sesuatu, tak sempat atau tak mungkin menggumpal jadi kata yang bisa terlepas dari sumbernya. Suku yang tak terucapkan ini memberi semacam anjlokan yang mempertegas kekosongan yang kehadirannya sudah disarankan dengan sangat kuat oleh dua suku baris ketiga sebelumnya, dan dua baris yang lainnya. Tiga barisan ini gampang mengingatkan kita pada gagasan wu wei dalam khazanah pemikiran Tiongkok, yakni “nir-tindak,” inaction, yang konon dianggap sebagai puncak kekuatan dan kebijaksanaan.

    Barisan dalam sajak-sajak Sapardi ini, yang dapat kita katakan sebagai perangkat literer temuan Sapardi yang istimewa, sungguh lebih canggih dari rima.  Satuan dasar pembentuk rima adalah bunyi pada suku kata, sementara satuan dasar pembentuk barisan Sapardi adalah arti pada kata. Yang pertama auditoris, yang kedua semantik. Meskipun sama-sama perangkat mnemonik untuk membantu memori, rima itu umumnya bekerja mengejar efek bunyi dan musikal, kadang juga efek emosional. Barisan Sapardi, yang juga bisa mengandung rima, bekerja lebih jauh lagi menjangkau efek kognitif yang merangsang penalaran, bahkan efek epistemik yang menggugah pengetahuan. Yang menarik adalah bahwa Sapardi tak pernah menulis tentang perangkat literer temuannya ini, meskipun ia menggunakannya dalam banyak puisinya.  Barisan sejajar yang saling mempertegas, terlihat juga misalnya pada:

    Dalam Doaku

    dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang semalaman tak
    memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima                                           cahaya  pertama, yang melengkung hening karena akan
     menerima suara-suara

    ketika matahari mengambang di atas kepala, dalam doaku
    kau menjelma pucuk pucuk cemara yang hijau senantiasa,
     yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
     kepada angin yang mendesau entah dari mana

    dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
    mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di
    ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang
    tiba tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

    maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
    perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, 
    menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan
    menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi,
    dan bulu-bulu mataku

    dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
    dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah
    atasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
    tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

    aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai                                mendoakan keselamatanmu

    (1989)

    Ada paduan dua barisan yang segera tampak pada sajak Dalam Doaku. Yang pertama adalah barisan setara yang merujuk pada waktu yang bergerak dari saat menjelang fajar hingga ke puncak malam. Yang kedua adalah barisan geometri yang bermula dari langit yang maha luas dan berada di luar si aku lirik, kemudian menurun ke pucuk cemara. Suku barisan selanjutnya memang tampak bergerak ke atas menjadi burung (bait ketiga) bahkan angin (bait keempat), namun pada akhirnya barisan itu menurun, mengerut dan memadat. Pada saat lingkaran waktu berdoa lima kali sehari itu melengkapkan diri, langit pun menggumpal menjadi denyut jantung.

    Barisan yang bergerak itu memang juga dimainkan oleh Sapardi. Ia tak selalu membiarkan barisannya berhenti di nol atau kekosongan, tapi memutar balik suku barisan terakhir dan mengembalikannya ke suku barisan pertama. Dengan cara seperti ini, barisan pun — meminjam larik-larik dari sajak Melipat Jarak — jadi melengkung seperti tanda tanya, buru memburu dengan jawabannya. Sajak-sajak semacam ini menciptakan sirkuit, seperti misalnya pada puisi:

    Bayangkan Seandainya

    Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit
    berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu-bulunya;

    bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu
    menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari
    bulu-bulunya;

    bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu
    yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;

    bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski
    telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari.

    (2009)

    Sirkuit yang terbentuk di sajak ini bermula, tentu tak perlu dikatakan, pada “wajahmu” yang terpampang di cermin pagi ini. Tapi sajak ini membujuk kau di bait pertama untuk membayangkan bahwa wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit. Di bait kedua si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu. Di bait ketiga si kau kembali dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya. Setelah si kau dibawa terbang melayang-layang, bermain dan menari menyusur barisan geometri yang bergerak turun dari langit ke awan, dari atas kota ke halaman rumah, mendadak di bait terakhir si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu adalah wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski telah kaukupas dengan ganas.

    Bait terakhir ini melengkungkan barisan dan membuatnya jadi sirkuit tertutup yang bisa berubah menjadi siklon kognitif yang dengan ganas mengangkat pikiran pembaca yang imajinatif terburai dan terlepas dari pengetahuan dirinya yang dikira mapan. Sajak ini mengubah kebenaran yang sudah sangat jelas dan karena itu tak pernah dipertanyakan, menjadi problem yang minta dipikirkan, menjadi gatal yang menuntut digaruk. Dan karena tak ada jawaban bagi problem yang dihamparkan itu, maka problem itu, tepatnya sajak itu, dapat menjadi godaan yang terus berputar dan bertahan di otak selama otak tersebut bisa bekerja normal.

    Jika barisan yang menuju nol atau kekosongan itu mengendapkan perasaan suwung, nyaman dan mantap, maka barisan yang menjadi sirkuit ini adalah strategi untuk menciptakan pain, nyeri, untuk memicu badai, brainstorming.

    Di Restoran

    Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
    ilalang panjang dan bunga rumput —
    kau entah memesan apa. Aku memesan
    batu di tengah sungai terjal yang deras —

    kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
    saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
    yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
    memesan rasa lapar yang asing itu.

    (1989)

    Sajak di atas menghadirkan cara lain Sapardi menorehkan nyeri. Ironi yang tajam sudah terasa di bait pertama dimana si Aku (dengan A kapital) dan si kau, ke restoran berdua, tapi seperti tak punya koneksi satu sama lain. Keduanya ada di dalam gelembung masing-masing meski mungkin duduk berdekatan, mungkin berhadapan. Si Aku mungkin ingin membangun suasana romantis dengan mula-mula memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Tapi usahanya tak berbalas karena pasangannya entah memesan apa. Nyeri mulai menggores kuat ketika si Aku kembali memesan sesuatu yang jauh dari restoran itu yakni batu di tengah sungai terjal yang deras. Di untai kedua, si Aku yang mestinya jadi subyek penentu itu bahkan akhirnya hanya memesan sesuatu yang haram ada di restoran itu, sesuatu yang tak terpikirkan dan justru ingin dihilangkan ketika orang mengunjungi restoran, yakni rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, rasa lapar yang asing itu.

    Simetri terbalik antara judul dan isi sajak ini, dengan kontrasnya yang menusuk itu bisa meninggalkan efek kognitif yang tak putus di benak pembaca. Dan buat mereka  yang merindukan cinta dan kebersamaan, yang terikat dengan pasangan yang kehadirannya justeru membuatnya merasa kian terasing, efek itu bisa  nyaring lengkingnya.

    “Lima tak ingin” yang ditopang bentuk-bentuk matematis bersahaja, telah mengarahkan Sapardi membuat komposisi yang juga sederhana, lalu menggarap dua unsur yang mempengaruhi memori manusia dan sangat penting bagi keberlangsungan hidup organisme: pain dan pleasure. Sajak-sajak Sapardi itu kerap menghadirkan dua hal penting ini sekaligus, tapi dengan timbangan yang berbeda. Sajak Aku Ingin atau Hujan Bulan Juni adalah jenis yang lebih berat ke pleasure, sementara Metamorfosis, Topeng, Catatan Masa Kecil 2 atau Tiga Percakapan Telepon adalah sajak yang lebih berat ke pain.

    Selain dengan jenis memori yang berhubungan dengan persepsi indrawi, puisi-puisi terkenal Sapardi sungguh bisa juga dikaitkan dengan memori semantik, yakni bagian dari memori eksplisit atau deklaratif. Jika jenis memori pertama itu membuat sajak-sajak Sapardi jadi mudah tertancap di ingatan lewat pencerapan indrawi, maka memori jenis kedua itu bisa membantu sajak-sajak tersebut tercipta ulang dan berkembang di benak para pembacanya lewat bantuan khazanah kebudayaan dan pengetahuan.

    Puisi bagus yang gampang diingat adalah benda ajaib yang sangat berharga bukan hanya buat mereka yang ingin mencipta. Buat mereka yang terutama ingin mencipta, dengan penuh cinta, dan tak gentar pada keharusan cinta, puisi bagus yang sederhana dan mudah diingat itu mirip rumus matematis sederhana yang memang juga sebuah ekspresi estetis, dan mungkin diterapkan di seluruh jagad.  Tentang keharusan cinta, termasuk cinta kepada Pencipta, Sapardi menuliskan sajak berikut:

    Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta

    /1/
    mencintai angin
    harus menjadi siut
    mencintai air
    harus menjadi ricik
    mencintai gunung
    harus menjadi terjal
    mencintai api
    harus menjadi jilat

    /2/
    mencintai cakrawala
    harus menebas jarak

    /3/
    mencintai-Mu
    harus menjelma aku

    (Sajak tak bertitimangsa dimuat dalam kumpulan Arloji  yang terbit 1998)

    Sajak ringkas ini menegaskan lagi jarak intelektual yang terentang ke arah Sang Mu — penjarakan yang membuat Sapardi Djoko Damono jadi berbeda dari Amir Hamzah dan Chairil Anwar, seperti yang sudah disinggung di depan. Bagi sajak ini, mencintai-Mu memang harus menjelma aku, di mana aku adalah semacam bayangan dari sekaligus koreksi atas Mu, meski dengan magnitude yang berbeda. Si aku memang tak mungkin menyamai Mu dalam hal kebesaran, tapi ia mungkin bisa menandingi dalam hal kemasukakalan, keadilan dan keabadian ciptaan. Kemasukakalan telah coba dibangun dengan sajak-sajak yang indah dan terukur. Kemasukakalan itu mencakup keadilan juga. Jika pun keadilan tak dapat diciptakan sepenuhnya dalam sajak-sajak Sapardi, setidaknya keadilan dan harapan terhadapnya telah dihadirkan dengan indah dan subtil.

    Seraya menjadi pencipta yang adil dan masuk akal, Sapardi juga ingin jadi pencipta dengan ciptaan yang abadi. Sapardi tentu tahu bahwa mustahil ia abadi di dunia, tapi ia tahu, dan berjuang, untuk membuat karya-karyanya abadi di tengah kehidupan pembacanya. “Lima tak ingin” yang dibantu dengan struktur matematis yang membantu kerja memori itu adalah senjata Sapardi untuk menjadi abadi.

    Foto Sapardi Djoko Damono oleh Arnold Simanjuntak

    Selain pemberian kehidupan pada benda-benda mati yang membangkitkan berbagai sensasi kognitif, ada satu pemberian lagi yang tak semua tukang sihir, penyair, atau bahkan Tuhan (dalam pemahaman sebagian umatnya) sanggup berikan. Yakni memberikan diri sendiri, menghapus jejak keagungan dan kebesaran diri, untuk membesarkan sesuatu yang bukan diri sendiri.  Sajak-sajaknya yang memanfaatkan deret yang bermula dari satuan besar menuju satuan kecil, dari subyek yang fisik menuju non-fisik, menyarankan gerakan menuju kekosongan, dari ada menjadi tiada, dari gunung menjulang yang merobohkan diri jadi lapangan hijau berumput yang maha luas. Di kekosongan itulah sajak-sajaknya membuka diri bagi pembacanya untuk menciptakan semesta makna baru.

    Puisi-puisi terbaik Sapardi, yang cerdik memanfaatkan khazanah matematis itu, tak hanya memberi kita momen puitik, tapi juga petunjuk menangkap dan menciptakan sendiri momen-momen puitik itu. Kaidah “lima tak ingin” itu kembali menjadi penting karena kaidah itu mempermudah pembaca untuk juga jadi penyair, jadi pencipta. “Tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit dan tak ingin eksperimental” itu misalnya telah menghasilkan sajak-sajak dengan kata-kata yang sangat sederhana, bukan kata-kata sulit atau jargon akademis dengan bentuk yang tampak liar. Pembaca jadi nyaris tak punya kesulitan, tak perlu buka kamus, untuk memahami puisi-puisi Sapardi. Kaidah “lima tak ingin” itu bahkan mungkin membantu pembaca kreatif yang ingin coba menciptakan ulang atau membayang-bayangi puisi Sapardi.

    Seiring dengan itu, kaidah “tak ingin religius” yang mencegah sajak-sajak Sapardi menempelkan lambang dan ungkapan dari khazanah agama yang dianutnya itu, jelas membuka diri seluas-luasnya pada semua pembaca tak peduli apapun keyakinan dan ketakyakinannya. Yang menarik adalah bawa sajak-sajak yang tak ingin religius itu justru berhasil menunjukkan bahwa religiusitas itu sungguh bisa juga direngkuh bukan lewat jalan agama.

    Ringkasnya, jika sebelumnya kaidah “lima tak ingin” itu telah membantu Sapardi menjinakkan chaos dan merapikan dunia, maka kini, kaidah “lima tak ingin” itu sekaligus membantu Sapardi menurunkan palang pintu bahasa sehingga sebanyak mungkin pembaca bisa masuk ke kancah penciptaan yang ikut dihamparkan oleh puisi-puisinya. Tentang apakah “Barisan Sapardi” itu benar-benar temuan yang orisinal, atau hasil pencurian kreatif yang memang watak penulis besar, seperti kata TS Eliot, biarlah telaah lain yang akan uji. Yang jelas adalah bahwa dengan cara yang memukau, puisi-puisi Sapardi telah ikut menunjukkan kemampuan kata sebagai pembebasan. Kata, yang demikian biasa dan sederhana, yang dapat dihimpun oleh siapa pun dengan melimpah bahkan sejak masih kanak-kanak, memang modal kultural manusia yang paling berharga karena punya kekuatan luar biasa untuk diolah menyiasati dan menyusun ulang dunia.

    Pembaca yang terus mencipta adalah hal penting dan berharga buat Sapardi, sehingga bahkan seorang pensiunan yang tinggal menyongsong mati pun, seperti yang dikisahkan dalam Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro, masih juga terus digoda untuk tidak memadamkan indra, untuk kembali mencipta: membayangkan dirimu pangeran yang lain dari yang dulu dibayangkan nenekmu tentangmu. Hanya dengan penciptaanlah memang, Kita abadi: memungut detik demi detik, ciptaan demi ciptaan, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa, lupa ruang dan waktu, tenggelam dalam keasyikan yang intens. Yang fana memang adalah waktu. Ciptaan abadi.

    Jika pun Sapardi dan kuasanya tak dapat hilang sama sekali dari sajak-sajaknya, ia jelas menyingkir dari pusat dan memilih jadi kawan bahkan mungkin abdi yang mendampingi pembaca untuk maju ke tengah dan menduduki tahta penciptaan. Entah sebagai abdi, sebagai kawan, atau sebagai guru besar yang dicinta, sajak-sajak terbaik Sapardi takkan merelakan kita sendiri, akan tetap mensiasati dan tak letih-letihnya mencari, agar kita tetap mencipta dan memfanakan waktu.  Saya bayangkan Sapardi Djoko Damono akan tersenyum senang jika karya-karyanya membuat pembacanya, yang telah mendapat mata tambahan dari seni dan sains, tumbuh jadi pencipta yang bahkan lebih besar dari si penyair sendiri.

    Pada Suatu Hari Nanti

    pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau takkan kurelakan sendiri

    pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati

    pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau takkan letih-letihnya kucari

    (1991)

     

    Jakarta, 17 Agustus 2020

    ———————————————————————

    *Daftar Pustaka

    * K.A. Stroud. Matematika Untuk Teknik, Jakarta: Erlangga, 1991. Alih bahasa: Erwin Sucipto
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Grasindo, 1994
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Editum, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Mata Jendela, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Kolam, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Ayat-Ayat Api, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Sihir Rendra: Permainan Makna, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999

     

    *Sumber Tulisan Sastra Indonesia.com

     

    Top of Form

     

    Bottom of Form

    Top of Form

    Bottom of Form

     

    Top of Form

     

    Bottom of Form

     

  • “Kamis Putih”  dan  “Kana”  –  Puisi-puisi  Mario F. Lawi

    “Kamis Putih” dan “Kana” – Puisi-puisi Mario F. Lawi

    K a m i s   P u t i h

    Di perjamuan paling kudus
    kucium kakimu.
    Kudengar denting menggelindingi
    Dinding telingaku.
    Entah ini milik senyummu
    Ataukah berasal dari hikayat
    Anggur ayahku yang memabukan.

    (Naimata, 2012)

    —————————————

    K a n a

    Akan kujumpai kau seusai Sabat, Sahabat.                                                                      Kucucukan tangan tempayanmu yang pasrah Ke dalam lambungku Sebagaimana Thomas Senantiasa yakin pada kesedihannya sendiri.

    Stigmataku yang bening bercahaya menguatkan
    Aroma bagi pemilik anggur yang terlalu sopan.
    Kau mencari Paskah ke arah laut tempat Yahwe
    Mengajarkan Musa mendirikan tembok-tembok air.

    Tapi Ephphatha adalah milikku, dengan segenap
    keras kepala yang kuarahkan ke pintu gerbang kota.
    Dari balik lubang jarum, aku menyaksikanmu
    Dan orang-orang yang menikmati pestamu.

    Gabbatha yang malang juga mendengar suaramu
    Yang turut menyanyikan pujian dan melambaikan
    Tangan sambil menghamparkan pakaian ke jalan.

    Jika layak kutumpahkan sejumlah kata di hadapanmu
    Maka dengan bahagia aku akan lebih banyak lagi
    Belajar dari Maria: perempuan yang begitu pasrah
    Menampung tetes-tetes air matamu dengan hatinya.

    (Oepoi, 2013)

    ———————————————————-

    *MARIO F. LAWI lahir dan besar di Kupang, Nusa
    Tenggara Timur. Giat di Komunitas Sastra Dusun
    Flobamora. Buku-buku Puisinya Memoria (2013), Ekaristi
    (2014).

    *Sajak “Kamis Putih” dan “Kana” diambil dari Buku Puisi
    Lelaki bukan Malaikat, Gramedia 2015

  • Sayap-Sayap Iman  –  Puisi Simply da Flores

    Sayap-Sayap Iman – Puisi Simply da Flores

     

    Jurang-jurang yang dalam semakin memenuhi jiwa nurani
    Tubir-tubir gelap terus mengepung rasa dan nalar insani
    Antara raga yang terkapar, mati dan kita yang masih diberi nafas dan waktu

    Pawai arwah merana melangkah sempoyongan dibungkus plastik, mencari jalan menggapai cahaya
    Jiwa-jiwa yang berpulang dalam kegetiran karena dihantar dengan ketakutan oleh manusia yang bernafas tetapi mati rasa dan nurani dikuasai akal yang ingat diri tak peduli pada hakekat asali
    Seperti terhempas dalam jurang kegelapan dan tubir gulita tak bermakna

    Dari jurang dalam sirene kegelisahan meraung-raung
    Dari tubir kegelapan ratapan ketakberdayaan terus menggema
    Entah sampai kapan usai dan sirna

    Rindu damba keluar dari jurang gulita dalam dan tubir kegelapan tak mampu dijawabi kehebatan hoaks ujaran, kebencian, radikalisme dan terorisme
    Ganasnya ajal dan sengat kematian tidak dapat dikalahkan kuasa uang dan harta

    Dengan sujud tobat mohon ampun pasrah diri pada kerahiman Ilahi Maha Kasih semoga kita diberi sayap-sayap iman untuk terbang melintasi tubir kegelapan dan keluar dari jurang ketakberdayaan
    Terbang menggapai cahaya Kasih ALLAH Maha Sempurna

    Sympli da Flores
  • “Tuhan dalam Sajak Cinta” –  “Pertemuan,”  Puisi-puisi Helena Lose Beraf

    “Tuhan dalam Sajak Cinta” – “Pertemuan,” Puisi-puisi Helena Lose Beraf

    T u h a n dalam S a j a k   C i n t a

    Telah beribu kali
    kutarik garis nasib pada telapak tangan
    sembari menyusun sajak bernama kehidupan

    Sajakku kemudian beranak pinak
    di malam-malam ia terbangun dan berjaga sampai subuh
    membunuh embun
    berharap melihat tangan siapa yang menyediakannya

    Ketika senja sebelum lelap
    sambil memikirkan bulan dan mentari beralih tugas
    seperti anak kecil
    ia merapal doa syukur
    sambil terus mengira-ngira
    kalau-kalau Engkau datang di saat-saat lelap
    Tuhan

    Masih berapa lama lagi
    aku terkantuk-kantuk
    mempelajari Engkau dalam buku-buku sejarah
    juga dalam kitab suci
    dalam dongeng juga dalam kemelut

    Aku hanya ingin meminta
    anak-anak puisiku tumpah di pagi subuh
    berhamburan bagai burung gereja

    Bawalah sajak-sajakku di mana orang menangis
    menadai ribuan hujan air mata
    menyematkan harapan walau kegetiran
    memalingkan mereka dari-Mu

    Aku ingin Engkau saja yang meredakan angin
    jika kepak sayapku terasa letih

    Tuhan Engkau teramat kuat
    dari apapun yang sanggup ciptakan cinta
    tak jua anggur yang candu
    seperti pencuri yang datang tengah malam
    lalu mencabut doa dari harapan
    memisahkan Engkau dari kami

    Sampai segala waktu yang ada
    terkikis detik
    di pelataran senja kupuja Engkau dalam hening

    Kutangkap wajah-Mu
    dalam kertas puisi yang kuyup

    (Jakarta, 2020)

    ————————————————–

    P e r t e m u a n

    Setelah hujan sore ini
    detak waktu semakin terkikis
    ada harapan yang terus menguncup
    sedangkan cinta sedang mekar-mekarnya
    semerbak ketawa ke sana ke mari
    semesta maha indah
    seindah perjumpaan senja ini

    (Tanjung Priok, 15 Mei 2019)


     

    *Sumber Buku Puisi Tuhan dalam Sajak Cinta, Penerbit Tankali 2021

    *Helena Lose Beraf, lahir di Lewoleba-Lembata, 26 Juli 1994.
    Helen adalah seorang Bidan yang menyukai
    dunia Sastra dan Jurnalistik. Karya Tulisnya Pernah Mendapat Juara 1                              Kategori Pelajar SMA yang Diadakan oleh Pos Kupang.
    Tuhan dalam Sajak Cinta adalah Buku Puisi Pettamanya.

  • Mencari-Doa Pagi, Puisi-puisi Nana Ernawati

    Mencari-Doa Pagi, Puisi-puisi Nana Ernawati

    Mencari


    Laut milikku dan ombak milikmu menjauh dari pantai
    angin kehilangan debar dan perahu kehilangan sauh
    pagi membela sepi, air membiarkan kapal berjalan tak ada tuju
    terasa Ende seperti mimpi menjulurkan tangannya
    yang hangat
    aku laut tak ada tempat berlabuh,
    ombak menghitung camar dan ikan-ikan berlomba merapat
    laut milikku, langit menyatu menyegerakan rindu,
    ombak milikmu, kau kemas dalam irama makin jauh


    Rinca, NTT 2015

    ————————————————————————————


    Doa Pagi

    aku rindu pada laut
    walau tiap hari kutuju pantai
    aku mengangeni abu di puncak gunung
    walau tiap hari kuhirup semerbak hawa pagi
    aku ingin mendengar nyanyian indahmu
    walau sebuah sajak pun tak pernah bisa kurangkum
    aku mau
    aku ingin
    aku menadahkan cinta dari cawanmu yang luas
    mengharap belaian dari sepasang tanganmu yang basah
    peluh dan cinta serta amarah karena aku ragu-ragu
    jangan kau abaikan doaku walau aku tak miliki bibir
    yang fasih dan ciuman membara seperti mereka
    aku hanya seorang pejalan malam,
    tanpa lampu, tanpa jubah,
    hanya kumiliki sebuah nokhta darimu, samar, jauh dan
    timbul tenggelam, tapi jangan ragukan aku,
    beri aku lampu itu


    Jakarta, 170114


    *Nana Ernawati, Penyair, Pendiri dan Ketua Lembaga Seni Sastra “Reboeng”. Puisi-puisinya dimuat dalam buku antologi Penyair Yogya 3 Generasi (1981), Tugu (1986), Tonggak 4 (1987), Parangtritis, 55 Penyair Membaca Bantul (2014), Puan-Puan (2014), Perempuan Langit I (2014), Perempuan Langit II (2015).

    *Sumber: buku puisi Perempuan yang Melukis di Atas Air, Nana Ernawati, Elmatera, 2015

  • Anak Cahaya – Putra Fajar dan Azimat Putih Pemuda Ringkih

    Anak Cahaya – Putra Fajar dan Azimat Putih Pemuda Ringkih

    Anak Cahaya-Putra Fajar (untuk HUT 60 Jokowi)

    Puisi Simply da Flores*

    Mata mentari menembus rimbunan jati agar bisa membelai ubun pemuda ringkih yang telanjang dada sedang membelah kayu bakar

    Derap cahaya berlari antar telapak anak sahaja berkelana melintas pulau Nusantara mengais rejeki melukis nasib

    Seberkas cahaya sakti
    Menggendong anak desa duduki tahta demi tahta dengan amanah semesta
    “Kerja kerja kerja” sebagai abdi negara mengemban amanat penderitaan rakyat
    Bukan untuk kuasa, harta dan gengsi
    Tetapi,
    hanya untuk mengabdi bangsa dan melayani generasi pewaris negeri

    Mata bangsa dunia menatap kagum melihat cahaya terpancar dari wajah dan dada pemuda sahaja
    Meski sebagian anak bangsa menutup wajah sambil memfitnah dengan hujatan dan caci maki ganti terimakasih

    Bekas tapak tangannya bersinar dan langkah kakinya bercahaya di segenap pelosok negeri dalam kerja kerja dan kerja sedikit kata bicara
    tersunging senyum ramah menyapa semua tanpa bedakan kawan dan lawan
    Karena semuanya sesama saudara, sebangsa dan setanah air di alam semesta milik Pencipta

    Fajar pagi memandikan raga pemuda sahaja
    Cahaya mentari menyelemuti jiwa raganya menerjang kegelapan malam
    Dia Putra Fajar
    untuk sesama saudara semesta
    Dia Anak Cahaya untuk bangsa dan negara Indonesia

    Selamat HUT 60
    Ir. Joko Widodo
    Presiden Indonesia

    —————————————————————————————–


    Azimat Putih Pemuda Ringkih

    Putih bajumu berkilau
    Terangi tapakmu masuk got berbau
    Sinari langkahmu masuk keluar kampung kumuh
    Hiasi senyummu menyambut wajah geram lawan politik dengan hujan fitnah caci maki iri dengki

    Putih nurani jiwamu
    Bersimpuh di sajadah tunaikan ibadah
    Menyantap celurit dan palu arit cap PKI, yang ditempel ke wajahmu serta gelar Aseng dan salawi pada dadamu

    Putih nalar dan rasamu diam membisu
    Ketika ragamu digantung diatas salib gantikan tubuh Isa sembahan penganut Nasrani
    Lalu dijadikan ejekan di dunia Maya agar harkat martabat mu tercemar terhina

    Kuyakin,
    Mereka tidak tahu apa yang dilakukan dengan fitnah di dunia maya secara gila
    Semoga diampuni dan diberkahi dengan keagungan cinta Isa Putra Maryam

    Kupercaya
    Isa tersenyum dan merangkul kesahajaan jiwa ragamu
    Memeluk ketulusan karya bhaktimu
    Lalu hadiahkan mahkota CintaNya:
    Bagi dirimu dan keluarga
    Bagi bangsa dan negara Indonesia

    Bapak Joko Widodo
    Pada ulang tahun 60
    Kudoakan untukmu
    Semoga Yang Kuasa berikan baju putih bercahaya bagimu
    Semoga Isa Al-Masih sematkan mahkota putih di kepalamu
    Agar engkau jadikan bangsa ini sejahtera
    NKRI mercusuar dunia dengan Pancasila

    ——————————————————————————–
    *Simply da Flores
    Direktur YA-HARMONI
    Yayasan Global Harmoni Inisiatif

  • Padamu Bunda Penuh Rahmat

    Padamu Bunda Penuh Rahmat


    Setangkai Kembang Syukur pada HUT-ku

    Puisi Simply da Flores

    Bunda Penuh Rahmat
    Kudatang padamu bawa setangkai Kembang Syukur kepada ALLAH Tri Tunggal Maha Kudus pada hari ulang tahunku ke 55
    Tepat akhir bulan Mei saat umat Katholik berdevosi kepadamu
    Bunda,
    tak banyak kutahu tentang saat lahirku tetapi kuyakin semua terjadi karena mijizat Kasih Allah, seperti pengalamanmu di kandang Betlehem saat melahirkan Yesus bagi kami
    Mohonkan berkat bagi orangtuaku, semua sanak saudara serta para pendidik dan penjasa hidupku

    Bunda Penuh Rahmat
    Engkau putri Allah Bapa, mohonkan Rahmat iman bagiku
    Engkau Bunda Allah Putra, mohonkan Rahmat pengharapan yang kuat
    Engkau mempelai Allah Roh Kudus, mohonkan Sapta karunia-Nya dalam cinta yang semakin total kepada Allah dan kepada sesama
    Untuk hidup ke depan selama masih diizinkan Allah bagiku

    Bunda Penuh Rahmat
    Engkau Ibuku
    Kami semua manusia putra-putri Mu
    Bimbinglah kami dengan rahmatMu agar selalu tahu bersyukur kepada ALLAH, dan menjadi pembawa berkat bagi sesama dengan amal perbuatan baik selama ziarah hidup di dunia ini.

    Bunda Maria
    Bunda Penolong Abadi
    terimakasih atas segala doa dan cintaMu bagiku.
    Amin.


    Merayakan Ulang Tahun

    Puisi Simply da Flores

    Merayakan hari lahir
    Adalah syukur kepada Sang Pencipta atas kasihNya tak bertepi dan cintaNya abadi dalam seluruh jalan hidup yang telah dialami penuh misteri

    Merayakan hari lahir adalah terima kasih kepada ibu yang mengandung, melahirkan, menyusui dengan kasih sayang
    Ayah yang menjaga dan memberikan nafkah kehidupan
    Peran dan amal dari sesama saudara serta semua pendidik dan penjasa dalam perjalanan hidup

    Merayakan hari lahir adalah tahu menghargai alam lingkungan penopang kelangsungan hidup dan rumah peradaban dari mana kita datang dan kemana kita akan kembali
    Juga menghargai para leluhur pendahulu perintis adat budaya insani

    Merayakan hari lahir adalah berhenti sejenak merangkul kemarin untuk melangkah menuju esok dalam waktu
    yang masih diizinkan Sang Pemilik kehidupan untuk kita memberi makna di alam semesta di tengah sesama saudara

    Merayakan hari lahir hakekatnya adalah kita melangkah menjemput kematian dengan syukur dan cinta karena kehidupan bergerak dari ketiadaan menuju ketiadaan dalam energi kematian

    Merayakan hari lahir adalah merayakan nafas dalam waktu, perayaan aliran darah dan detak jantung, pesta tapak langkah suka duka dalam bentangan sejarah mengukir makna pada lembaran peradaban

    Merayakan hari lahir
    Sejatinya merangkul awal nafas untuk menggapai akhir desah dengan memberi arti dan makna pada waktu

    Maumere, 31 Mei 2021 HUT ke 55

  • P e r e m p u a n                              (Kepadamu yang Paling Tabah)

    P e r e m p u a n (Kepadamu yang Paling Tabah)

    Puisi Emil Bidomaking*

    Perihal melestarikan kearifan,
    segala pekerjaan dari dapur hingga ke ladang nyaris sempurna ditekuninya.
    Demi janin yang dikandung,
    dan demi duit sekolah anak-anak yang sudah menunggak

    Ketika fajar merekah,
    persoalan meja makan telah tuntas, ketika matahari telah sepenggalah,
    bekal siap diangkut ke ladang diteruskannya menyiangi kebun dari rumput dan hama,
    menjelang sore, pakan ternak telah sedia di bakul, dijunjung dan dijinjing
    pun ketika senja datang menyapa, memandikan si kakak dan meringkuk di tungku api untuk jamuan malam
    bahkan ketika rembulan telah tersenyum menawan menyiangi malam,
    ia masih bertekun mengemasi seisi dapur yang berantakan

    Perempuan,
    tagihan listrik, air dan utang mulai berdatangan.
    Ia mulai kelimpungan membenahi emosi ketika si kecil rewel.
    Buah dari kekesalan yang tak bisa diluapkannya (dan entah kepada siapa yang mau mendengarkannya).
    Sudah sekian bulan suaminya berangkat merantau, namun tiada kabar berita.
    Belum usai perkara tagihan,
    rekadu pesta dan arisan keluarga sudah menanti di depan mata (ingat, mengabdilah dengan sebaik-baiknya)

    Perempuan,
    potong pendek kuku jemarimu biar tak menghambat pintalan benangmu.
    Sanggul tinggi rambut ikalmu agar tak jatuh dalam masakanmu.
    Tak perlu polesan make up, siapa yang hendak kau goda, cukup pupur bayi agar hilang kilatan keringat di kening dan pipimu

    Perempuan,
    gendong si kakak dan pastikan jangan rewel
    junjung seserahan itu serta perhatikan langkah kakimu.
    Berikan bagian suamimu, ini kewajibanmu, hormat pada mertuamu

    Puan…Iya. Engkau perempuan.
    Adakah yang lebih tabah dari wajah ayumu yang tenggelam dalam kerasnya hidup?

    Betapa,
    aku tak pernah usai menulis tentangmu perempuan…
    Tak akan sanggup kubalas
    segala sesuatu yang mampu kau lakukan dengan segenap kelembutanmu.

    Karawaci, 17 Okt0ber 2020

    ——————————————————————————————————

    *Emil Bidomaking adalah nama sapaan dari Wilhelmina Mariana Ema.
    Perempuan lulusan Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP Univ. Tadulako, Palu-Sulteng ini, sejak 2018 menjadi Guru di SMK Strada Daan Mogot Tangerang.

  • Paskah dan “Nyanyian Angsa”

    Paskah dan “Nyanyian Angsa”

     

    Oleh Paskalis Bataona

     

    KRISTUS dan pesonanya selalu menarik para penyair Indonesia untuk dibicarakan. Chairil Anwar misalnya, menulis puisi “Isa”, yang menceritakan peristiwa penyaliban Kristus, Sitor Situmorang dengan “Paskah Maria Magdalena”, Subagio Sastro Wardoyo dengan “Paskah di Kentucky Fried Chicken”, Darmanto Jatman dengan “Apakah Kristus Pernah?”, Linus Suryadi AG dengan “Maria Magdalena”, Rusli Marzuki Saria dengan “Kristus Sawo Matang”, Hartojo Andangdjaya dengan “Golgota Sebuah Pesan”, Joko Pinurbo dengan “Celana Ibu” dan W. S. Rendra dengan sangat elegant menulis “Nyanyian Angsa”.

    Puisi-puisi yang ditulis Rendra selalu menyuarakan pembelaannya terhadap orang-orang kecil, mereka yang terpinggirkan, mereka yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat. Puisi-puisi Rendra memperlihatkan bahwa Rendra adalah penyair yang reaktif terhadap realitas lingkungan. Hal ini dapat kita baca dalam kumpulan puisinya Potret Pembangunan dalam Puisi dan Ballada Orang-orang Tercinta.

    W. S. Rendra, sang Burung Merak, yang bernama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Solo 7 November 1935. Putra dari R Cyprianys Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayah Rendra adalah guru bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia di sekolah Katolik, Solo. Sedangkan ibunya seorang penari serimpi di Keraton Surakarta.

    Sejak kecil hingga remaja, Rendra banyak menghabiskan waktunya di kota kelahirannya. W. S. Rendra memulai pendidikannya di TK Marsudirini, Yayasan Kanisius, Solo pada tahun 1942. Lulus dari TK, W. S. Rendra kemudian menyelesaikan pendidikan dasar sampai SMA dan lulus tahun 1952 di Sekolah Katolik, St. Yosef, Solo.

    Membaca “Nyanyian Angsa” kita seakan di”interupsi” dari kehidupan harian kita yang serba rutin dan tergesa di zaman digital ini, bahwa setiap orang punya hak untuk dihargai, dan dicintai. “Nyanyain Angsa” adalah “suara yang lain” yang perlu kita dengarkan. Mari dengarkan suaranya.

    Nyanyian Angsa

     

    Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:
    “Sudah dua minggu kamu berbaring.
    Sakitmu makin menjadi.
    Kamu tak lagi hasilkan uang.
    Malahan kapadaku kamu berhutang.
    Ini beaya melulu.
    Aku tak kuat lagi.
    Hari ini kamu harus pergi.”

     

    (Malaikat penjaga Firdaus.
    Wajahnya tegas dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    menuding kepadaku.
    Maka darahku terus beku.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur yang sengsara.
    Kurang cantik dan agak tua).

     

    Jam dua-belas siang hari.
    Matahari terik di tengah langit.
    Tak ada angin. Tak mega.
    Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
    Tanpa koper.
    Tak ada lagi miliknya.
    Teman-temannya membuang muka.
    Sempoyongan ia berjalan.
    Badannya demam.
    Sipilis membakar tubuhnya.
    Penuh borok di klangkang
    di leher, di ketiak, dan di susunya.
    Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
    Sakit jantungnya kambuh pula.
    Ia pergi kepada dokter.
    Banyak pasien lebih dulu menunggu.
    Ia duduk di antara mereka.
    Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.
    Ia meledak marah
    tapi buru-buru jururawat menariknya.
    Ia diberi giliran lebih dulu
    dan tak ada orang memprotesnya.
    “Maria Zaitun,
    utangmu sudah banyak padaku,” kata dokter.
    “Ya,” jawabnya.
    “Sekarang uangmu brapa?”
    “Tak ada.”
    Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
    Ia kesakitan waktu membuka baju
    sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
    “Cukup,” kata dokter.
    Dan ia tak jadi mriksa.
    Lalu ia berbisik kepada jururawat:
    “Kasih ia injeksi vitamin C.”
    Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
    “Vitamin C?
    Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.”
    “Untuk apa?
    Ia tak bisa bayar.
    Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
    Kenapa mesti dikasih obat mahal
    yang diimport dari luar negri?”

     

    (Malaikat penjaga Firdaus.
    Wajahnya iri dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    menuding kepadaku.
    Aku gemetar ketakutan.
    Hilang rasa. Hilang pikirku.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur yang takut dan celaka.)

     

    Jam satu siang.
    Matahari masih dipuncak.
    Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
    Dan aspal jalan yang jelek mutunya
    lumer di bawah kakinya.
    Ia berjalan menuju gereja.
    Pintu gereja telah dikunci.
    Karna kuatir akan pencuri.
    Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
    Koster ke luar dan berkata:
    “Kamu mau apa?
    Pastor sedang makan siang.
    Dan ini bukan jam bicara.”
    “Maaf. Saya sakit. Ini perlu.”
    Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
    Lalu berkata:
    “Asal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
    Aku lihat apa pastor mau terima kamu.”
    Lalu koster pergi menutup pintu.
    Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.
    Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
    Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
    ia nyalakan crutu, lalu bertanya:
    “Kamu perlu apa?”
    Bau anggur dari mulutnya.
    Selopnya dari kulit buaya.
    Maria Zaitun menjawabnya:
    “Mau mengaku dosa.”
    “Tapi ini bukan jam bicara.
    Ini waktu saya untuk berdo’a.”
    “Saya mau mati.”
    “Kamu sakit?”
    “Ya. Saya kena rajasinga.”
    Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
    Mukanya mungkret.
    Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
    “Apa kamu – mm – kupu-kupu malam?”
    “Saya pelacur. Ya.”
    “Santo Petrus! Tapi kamu Katolik!”
    “Ya.”
    “Santo Petrus!”
    Tiga detik tanpa suara.
    Matahari terus menyala.
    Lalu pastor kembali bersuara:
    “Kamu telah tergoda dosa.”
    “Tidak tergoda. Tapi melulu berdosa.”
    “Kamu telah terbujuk setan.”
    “Tidak. Saya terdesak kemiskinan.
    Dan gagal mencari kerja.”
    “Santo Petrus!”
    “Santo Petrus! Pater, dengarkan saya.
    Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
    Yang nyata hidup saya sudah gagal.
    Jiwa saya kalut.
    Dan saya mau mati.
    Sekarang saya takut sekali.
    Saya perlu Tuhan atau apa saja
    untuk menemani saya.”
    Dan muka pastor menjadi merah padam.
    Ia menuding Maria Zaitun.
    “Kamu galak seperti macan betina.
    Barangkali kamu akan gila.
    Tapi tak akan mati.
    Kamu tak perlu pastor.
    Kamu perlu dokter jiwa.”

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya sombong dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    menuding kepadaku.
    Aku lesu tak berdaya.
    Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur yang lapar dan dahaga.)

     

    Jam tiga siang.
    Matahari terus menyala.
    Dan angin tetap tak ada.
    Maria Zaitun bersijingkat
    di atas jalan yang terbakar.
    Tiba-tiba ketika nyebrang jalan
    ia kepleset kotoran anjing.
    Ia tak jatuh
    tapi darah keluar dari borok di klangkangnya
    dan meleleh ke kakinya.
    Seperti sapi tengah melahirkan
    ia berjalan sambil mengangkang.
    Di dekat pasar ia berhenti.
    Pandangnya berkunang-kunang.
    Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.
    Orang-orang pergi menghindar.
    Lalu ia berjalan ke belakang satu restoran.
    Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
    Kemudian ia bungkus hati-hati
    dengan daun pisang.
    Lalu berjalan menuju ke luar kota.

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya dingin dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    menuding kepadaku.
    Yang Mulya, dengarkanlah aku.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)

     

    Jam empat siang.
    Seperti siput ia berjalan.
    Bungkusan sisa makanan masih di tangan
    belum lagi dimakan.
    Keringatnya bercucuran.
    Rambutnya jadi tipis.
    Mukanya kurus dan hijau
    seperti jeruk yang kering.
    Lalu jam lima.
    Ia sampai di luar kota.
    Jalan tak lagi beraspal
    tapi debu melulu.
    Ia memandang matahari
    dan pelan berkata: “Bedebah.”
    Sesudah berjalan satu kilo lagi
    ia tinggalkan jalan raya
    dan berbelok masuk sawah
    berjalan di pematang.

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya tampan dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    mengusirku pergi.
    Dan dengan rasa jijik
    ia tusukkan pedangnya perkasa
    di antara kelangkangku.
    Dengarkan, Yang Mulya.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur yang kalah.
    Pelacur terhina).

     

    Jam enam sore.
    Maria Zaitun sampai ke kali.
    Angin bertiup.
    Matahari turun.
    Haripun senja.
    Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
    Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.
    Lalu ia makan pelan-pelan.
    Baru sedikit ia berhenti.
    Badannya masih lemas
    tapi nafsu makannya tak ada lagi.
    Lalu ia minum air kali.

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
    angin turun dari gunung
    dan hari merebahkan badannya?
    Malaekat penjaga firdaus
    dengan tegas mengusirku.
    Bagai patung ia berdiri.
    Dan pedangnya menyala.)

     

    Jam tujuh. Dan malam tiba.
    Serangga bersuiran.
    Air kali terantuk batu-batu.
    Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
    dan mengkilat di bawah sinar bulan.
    Maria Zaitun tak takut lagi.
    Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
    Mandi di kali dengan ibunya.
    Memanjat pohonan.
    Dan memancing ikan dengan pacarnya.
    Ia tak lagi merasa sepi.
    Dan takutnya pergi.
    Ia merasa bertemu sobat lama.
    Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.
    Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
    Ia jadi berduka.
    Dan mengadu pada sobatnya
    sembari menangis tersedu-sedu.
    Ini tak baik buat penyakit jantungnya.

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya dingin dan dengki.
    Ia tak mau mendengar jawabku.
    Ia tak mau melihat mataku.
    Sia-sia mencoba bicara padanya.
    Dengan angkuh ia berdiri.
    Dan pedangnya menyala.)

     

    Waktu. Bulan. Pohonan. Kali.
    Borok. Sipilis. Perempuan.
    Bagai kaca
    kali memantul cahaya gemilang.
    Rumput ilalang berkilatan.
    Bulan.

     

    Seorang lelaki datang di seberang kali.
    Ia berseru: “Maria Zaitun, engkaukah itu?”
    “Ya,” jawab Maria Zaitun keheranan.
    Lelaki itu menyeberang kali.
    Ia tegap dan elok wajahnya.
    Rambutnya ikal dan matanya lebar.
    Maria Zaitun berdebar hatinya.
    Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
    Entah di mana.
    Yang terang tidak di ranjang.
    Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
    “Jadi kita ketemu di sini,” kata lelaki itu.
    Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
    Sedang sementara ia keheranan
    lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
    Ia merasa seperti minum air kelapa.
    Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
    Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
    Ia tak berdaya dan memang suka.
    Ia menyerah.
    Dengan mata terpejam
    ia merasa berlayar
    ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
    Dan setelah selesai
    ia berkata kasmaran:
    “Semula kusangka hanya impian
    bahwa hal ini bisa kualami.
    Semula tak berani kuharapkan
    bahwa lelaki tampan seperti kau
    bakal lewat dalam hidupku.”
    Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
    Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
    “Siapakah namamu?” Maria Zaitun bertanya.
    “Mempelai,” jawabnya.
    “Lihatlah. Engkau melucu.”
    Dan sambil berkata begitu
    Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
    Tiba-tiba ia terhenti.
    Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
    Di lambung kiri.
    Di dua tapak tangan.
    Di dua tapak kaki.
    Maria Zaitun pelan berkata:
    “Aku tahu siapa kamu.”
    Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
    Lelaki itu menganggukkan kepala: “Betul. Ya.”

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya jahat dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    tak bisa apa-apa.
    Dengan kaku ia beku.
    Tak berani lagi menuding padaku.
    Aku tak takut lagi.
    Sepi dan duka telah sirna.
    Sambil menari kumasuki taman firdaus
    dan kumakan apel sepuasku.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur dan pengantin adalah saya).

     

    Sebagai seorang sastrawan sekaligus dramawan, Rendra dalam puisi “Nyanyian Angsa” memiliki kemampuan dalam menata peristiwa/adegan, alur cerita, sejak Maria  Zaitun keluar dari rumah pelacuran hingga berjumpa Sang Kristus di pinggir sungai. Pemilihan tokoh, Maria Zaitun, majikan rumah pelacuran, dokter, pastor, dan koster merupakan simbol-simbol yang kental nuansa biblikal.

    Rendra lewat “Nyanyian Angsa” mencoba mengekspresikan perasaan yang ada pada seorang mantan pelacur yang pada masa tuanya mengidap penyakit raja singa di mana banyak orang disekitarnya mengucilkannya. Melalui puisi “Nyanyian Angsa”, Rendra juga ingin menunjukkan sikap hidup seorang Maria Zaitun yang tidak mau menyerah begitu saja kepada keadaan yang membuatnya menderita.

    “Nyanyian Angsa” memang bukan teologi namun dia berbicara tentang nilai-nilai yang selama ini dibicarakan dikalangan para teolog; “Nyanyian Angsa” bukan sebuah analisis sosial namun dia berbicara tentang pelbagai hubungan kelompok sosial yang tidak imbang; “Nyanyian Angsa” bukanlah filsafat namun dia juga membuka wilayah-wilayah baru yang menarik untuk dipikirkan. Berkenan dengan agama, “Nyanyian Angsa” membuka ruang lebar bagi kita untuk mengenali kembali tanggung jawab agama pada zaman sekarang. (St. Sunardi, 2012: 4).

    Dalam “Nyanyian Angsa”, masa depan yang lebih baik adalah keadaan dimana orang-orang malang seperti Maria Zaitun mendapatkan hak untuk dikunjungi dan diselamatkan. Ketika Maria Zaitun sedang merenung tentang masa mudanya bersama ibu dan keluarganya ada energi yang muncul dalam dirinya untuk melupakan perjalanan hidupnya yang didera penderitaan.

    Maria Zaitun menyadari betul bahwa dia tidak mempunyai apa-apa selain kerinduan akan “Yang Kudus”.  Kerinduan akan “Yang Kudus” menjadi satu-satunya kebahagian bagi seorang Maria Zaitun. Ketika ia sedang merenungkan perjalanan hidupnya, tiba-tiba datang seorang laki-laki tampan menemuinya. Lelaki itu mencumbuinya bahkan sampai membuka kutang Maria Zaitun.

    Mengalami pengalaman “cinta” yang berbeda dari lelaki yang mendatangi dan mencumbuinya, Maria Zaitun merasa kehidupannya telah diubah. Ia perlahan-lahan  mengenali lelaki tampan itu. Lelaki itu adalah Juru Selamat yakni Yesus Kristus. Tafsiran bahwa yang mendatangi Maria Zaitun di pinggir kali adalah Yesus Kristus adalah ketika Maria Zaitun mencium seluruh tubuh lelaki itu dan menemukan bekas luka di lambung kiri, di dua tapak tangan, dan di dua tapak kaki. Yesus telah mengangkat Maria Zaitun dari kegelapan. Maria Zaitun telah bangkit dari kubur masa silamnya yang kelam. Ia, Maria Zaitun mengalami kebangkitan seperti halnya kebangkitan Kristus. Maria Zaitun namaku. Pelacur dan pengantin adalah saya.

                                              SELAMAT PASKAH

  • L a m a f a

    L a m a f a

     

    L a m a f a

    berpulu depa dari atas perahu

    kuulurkan peruntungan

    tali temali batin

    sepenuh harap dan doa

    kepadamu wahai

    penjelajah lintas samudera

                         *

    bercakaplah kita sebagai saudara

    turunan penunggang gelombang

    sepenanggungan derita di lautan

                         *

    atau seteru semata

    dalam permainan rahasia

    sehela napas terlepas

    sedegup senyap menatap

    sederas pusaran arus

    yang menghanyutkanku

    ke palung paling dalam

    muasal segala kelahiran

               *

    lalu kita bertemu

    kau menyeru Ibu

    kudengar keluh tertahan

    isak angin di buritan

                 *

    bersahutan dari pedusunan

    orang-orang memekik riang

    hujam, hujamkanlah tempuling

    sederas darah leluhur di badan

                          *

    aku pilu menyeru ibu

    kau diam menunggu

    tak ada yang tahu

                      —Warih Wisatsana—

    Sumber Puisi dalam Buku Puisi Batu Ibu

     

     


     

     

    L a m a f a

    laut saksi bisu

    perjalanan hidupmu

    langit tak bertepi

    tempat engkau

    labuhkan asamu

    —Paskalis Bataona—-

    Sumber Puisi dalam Buku Antologi Puisi Pesan Perdamaian dari Bumi Flobamora