Category: OPINI

  • Dinamika Politik Identitas

    Dinamika Politik Identitas

    Oleh Nardi Maruapey*

    KONSEP identitas menurut Jonathan Rutherford (Piliang, 2004) merupakan sebuah talian yang menghubungkan nilai-nilai sosial budaya masa lepas dengan masa sekarang. Artinya identitas memiliki sejarahnya dan merupakan ikhtisar masa lepas yang membentuk masa sekarang dan untuk kepentingan di masa hadapan

    Dalam konteks sosial, identitas merupakan sesuatu yang dipunyai secara bersama-sama oleh suatu komuniti atau kelompok masyarakat tertentu, yang membedakan (difference) mereka dari kelompok masyarakat yang lainnya. Identitas juga memberikan tanda kepada setiap individu atau kelompok mengenai status sosial mereka di antara berbagai kelompok masyarakat lainnya.

    Indonesia yang merupakan negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak pada urutan ke-4 di dunia setelah AS, India, dan China yang dalam hal ini menjadikan Indonesia punya banyak perbedaan secara identitas (multikultural) baik suku, etnik, ras, bahasa, budaya dan agama.

    Dari perbedaan identitas itu membawa keunikan tersendiri bagi Indonesia. Ada pula dari perbedaan identitas itu kemudian sering dijadikan sebagai soal-soal atau dinamika dalam kehidupan berbangsa dan bernegara (terutama dalam soal-soal politik dan demokrasi) atau sering kita kenal dengan istilah politik identitas.

    Politik identitas selalu mewarnai perjalanan dinamika demokrasi-politik bangsa kita dengan berbagai macam corak dan dampaknya. Tetapi yang disesali bersama adalah corak dan dampaknya itu lebih mengarah dan dapat menimbulkan penyakit, seperti tidak atau (in)konsisten, diskriminasi, konflik, kontradiksi, etnosentrisme.

    Betapa kuatnya politik identitas yang terbangun sehingga berbagai macam konflik dan pemecah belah antar anak bangsa tidak mampu terhindari dan sering sekali menjadi polemik dalam perjalanan kehidupan berbangsa dan bernegara kita akhir-akhir ini.

    Kita lihat saja beberapa peristiwa yang itu sangat kental sekali merupakan akibat dari betapa kuatnya politik identitas yang kita anut. Seperti menguatnya populisme agama dalam aksi mendemo Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang dikenal dengan gerakan 212, konflik karena perbedaan pilihan politik pada pilpres 2019 kemarin, dan soal pelarangan sampai pembubaran salah satu ormas Islam (FPI) dengan alibi ormas ini tidak pancasilais. Tentu hilirnya jikalau peristiwa-peristiwa semacam ini terus terjadi, maka akan berakibat perpecahan antar seluruh anak bangsa.

    Menurut Isaac (1975) bahwa dalam masyarakat yang majemuk, etnisitas telah
    manjadi sentiment ego dan menjadi penggerak individu-individu dan kelompok yang membentuk kesadaran kolektif budaya dan politik. Artinya, dari sentimen ego itulah akan memunculkan wujudnya suatu bentuk pemujaan terhadap identitas yang didasarkan pada kelompok etnik.

    Politik Identitas

    Politik identitas adalah nama lain dari politik perbedaan. Politik identitas mendasarkan diri pada perbedaan-perbedaan yang timbul dengan segala macam corak maupun warnanya. Secara teoritis politik identitas menurut Lukmantoro (dalam Juhana Nasrudin, 2018) adalah politis untuk mengedepankan kepentingan-kepentingan dari anggota-anggota suatu kelompok karena memiliki kesamaan identitas atau karakteristik, baik berbasiskan pada ras, etnisitas, jender, atau keagamaan atas dasar keprimordialan.

    Peranan suku, agama dan ras dalam politik identitas berperan sangat kuat bahkan terkristalisasi sedemikian rupa sehingga memberikan tekanan psikologis kepada masyarakat pemilih. Proses politik semacam itu disadari atau tidak akan menggerus dmokratisasi di Indonesia.

    Praktek demokrasi di Indonesia sepertinya telah beralih menjadi perlombaan yang tak mengenal kawan maupun lawan, semuanya dijalankan secara oligarchic democracy yang sangat akrab dengan politisasi bertendensi SARA dan memecah belah. Sentimen terhadap etnis minoritas yang terjadi hingga kini bisa jadi merupakan rekayasa sosial yang dikonsepsikan oleh kelompok tertentu untuk menarik simpati masyarakat.

    Jika pada saat politik identitas ini terus dibiarkan dan dikelola secara terstruktur, maka dapat dipastikan akan membangkitkan emosi masyarakat sehingga terjadi marjinalisasi sampai munculnya label “the other“, seperti; perbedaan agama, perbedaan gender, perbedaaan etnis, dll.

    Dampak dari masifnya politik identitas ini sangatlah terasa kaitannya dengan relasi sosial antar masyarakat. Perbedaan pilihan politik yang mula-mula sebagai sebuah keniscayaan dari sistem demokrasi yang dianut, justru melahirkan istilah mana yang minna (golongan kita) dan mana yang minhum (golongan mereka).

    Pada titik tertentu, sense of plurality di tengah masyarakat mulai memudar. Sehingga publik dibuat lupa bahwa Indonesia terdiri atas entitas yang beragam, serta fanatisme politik dan sentimen identitas membuat sebagian besar masyarakat berperilaku intoleran pada kelompok yang tidak sehaluan politik.

    Bahaya dari politik identitas yang berlebihan adalah bisa berujungnya pada fasisme, bahkan lebih buruk lagi yaitu separatisme dan masyarakat yang sudah terasimilasi berdasarkan identitas tertentu, dapat dengan mudah dimobilisasi oleh
    kelompok yang ingin mencapai agenda politiknya. Politik identitas yang dijalankan oleh kelompok tertentu, berupaya memunculkan negara yang mono- identitas. Masyarakat Indonesia seakan dibuat hilang ingatan akan sejarah keragaman yang dimilikinya (Juhana Nasrudin, Jurnal 2018: 39-40).

    Kehadiran Negara

    Dalam politik identitas negara mesti hadir untuk menampung sekaligus merangkul berbagai macam perbedaan identitas yang melekat pada masing-masing dari kita. Karena pada dasarnya, negara adalah wadah untuk menyatukan perkumpulan masyarakat dan bangsa. Bahwa kita boleh menjunjung (asalkan jangan mengkultus) perbedaan identitas, kalau perbedaan-perbedaan itu adalah perbedaan pemikiran.

    Oleh karena itu, negara harus melakukan perannya sebagaimana mestinya. Mengenai peran negara ini Kuntowijoyo menyebutkan bahwa negara harus memandang masyarakat sebagai kesatuan. Satu kesatuan dari individu dan kelompok yang mewakili berbagai macam identitas yang ada. Perbedaan secara identitas yang kemudian membentuk perbedaan sosial-politik ini perlu dikelola dengan baik oleh negara.

    Dalam konteks sejarah Indonesia, bahwa bangsa ini pernah melewati perbedaan bahkan pada perdebatan panjang-misalkan soal cara pandang mengenai dasar negara merdeka seperti yang terekam dalam arsip nasional di sidang BPUPKI. Namun, semua perbedaan itu dapat teratasi dengan kecerdasan dan kedewasaan para pelakunya. Sehingga terlahir pancasila sebagai dasar negara dengan berbagai dinamikanya.

    Ada juga peristiwa buruk pernah terjadi yang bermotif identitas antara kelompok Islamis-Pancasilais dan PKI dimana muncul benturan di-antara keduanya pada saat itu yang berujung konflik berdarah dan tercatat sebagai sejarah kelam bangsa Indonesia. Di tahun 1965 terjadi peristiwa G30S-PKI yakni pembantaian tujuh jenderal atas dasar perbedaan paham cara pandang (ideologi) berbeda dan atau karena perbedaan kepentingan politik. Tetapi, idealnya, hal semacam ini tidak boleh lagi terjadi pada hari-hari ini maupun ke depannya.

    Solidaritas

    Identitas menurut Jeffrey Week adalah berkaitan dengan belonging tentang persamaan dengan sejumlah orang dan apa yang membedakan seseorang dengan yang lain. Pendapat Jeffrey Week tersebut menekankan pentingnya identitas bagi tiap individu maupun bagi suatukelompok atau komunitas (Widayanti, 2009: 14). Artinya, dengan segala macam perbedaan identitas yang ada, dapat memperkuat rasa solidaritas kita sebagai satu kesatuan bangsa. Termasuk juga perbedaan politik berdasarkan identitas itu.

    Secara singkat, politik identitas tak bisa dilawan dengan politik identitas “yang lebih lunak”. Ia harus dilawan dengan politik yang mengutamakan kepentingan publik dengan rasa saling memiliki antar sesama di atas kepentingan pribadi yang cenderung berdasarkan identitas. Sehingga kita tidak lagi terjebak secara berulang-ulang. Bukankah Tuhan menciptakan manusia/kaum dengan segala perbedaan untuk saling kenal mengenal (menyatu) dalam kesatuan bangsa dan negara.

    Prinsip Pancasila

    Selain membutuhkan solidaritas antar masyarkat, perlu juga suatu bentuk paradigma masyarakat yang sesuai dengan kondisi yang sangat bhineka ini, yakni dengan paradigma pancasila. Dalam pancasila disebutkan “Persatuan Indonesia”-bukan kesatuan Indonesia-artinya bahwa perbedaan identitas (keragaman) itu diakui, tetapi keragaman itu bukan alasan untuk saling terpecah belah menjadi bagian-bagian yang tidak utuh, kemudian membuat bangsa ini mudah rapuh dan gampang konflik. Olehnya itu, keberadaan pancasila adalah jawaban solusi, serta acuan kita.

    Ada tiga teori tentang hubungan dalam masyarakat majemuk yaitu etnosentrisme, melting pot (peleburan), dan pluralisme. Etnisentrisme terjadi bila masing-masing budaya bersikukuh dengan identitasnya, dan menolak bercampur dengan kebudayaan lain. Melting pot ialah peleburan komponen-komponen etnis ke dalam hanya satu identitas baru. Sementara dengan pluralisme dimaksudkan bahwa masing-masing etnisitas tetap memegang identitas kelompoknya, tetapi dalam beberapa hal ada identitas yang sama (Kuntowijoyo, 2018: 189).

    Sehingga Indonesia sebagai negara bangsa yang masyarakatnya majemuk harus bergerak dari etnosentrisme menuju pluralisme untuk membentuk masyarakat yang plural. Pancasila (sila ke-3) “Persatuan Indonesia” merupakan konsep konkret pluralisme dengan kepentingan menciptakan Indonesia yang aman dan damai.

    ****************

    *Nardi Maruapey, Mahasiswa FKIP Universitas Darussalam Ambon.

  • Moses Beding tentang Jerman

    Moses Beding tentang Jerman

    Oleh P. Willy Palla, CSsR

    KESAN PATER MOSES MUDA TENTANG JERMAN ( Bagian Pertama)

    Tinggal dan belajar di negeri orang untuk pertama kalinya tentu tidak selalu mudah.  Apalagi jika kita jadi orang yang pertama. Tentu ada banyak hal yang membebani dan dipikirkan., dirapkan dan menjadi alasan untuk bergembira.

    Sebagai redemptorist pertama Indonesia  PATER MOSES BEDING belajar selama tiga tahun di tanah Jerman. Frater Moses memiliki kesempatan  untuk berkeliling untuk mengenal secara mendalam alam dan situasi hidup orang jerman dengan baik.  Tapi tiga tahun itu dirasa kurang memadai untuk berpendapat tentang mereka.

    Ia tidak yakin apakah pendapatnya itu tepat atau tidak. Sehingga ketika diminta untuk memberikan kesan tentang orang dan negeri Jerman  tidak begitu mudah bagi dia untuk menyampaikan secara gamblang. Namun demikian dia akhirnya juga menulis kesannya demikian:

    Beginilah Cara Saya Melihat Jerman

    P.  Moses Beding ditahbiskan sebagai imam pada bulan Juli tahun 1969 dan dalam artikel ini dia memberi kita kesan yang dia peroleh di Jerman selama dia tinggal di sini. 

    Beberapa konfrater saya meminta saya untuk menulis laporan berdasarkan pengalaman saya di Jerman.  Awalnya saya menolak karena saya pikir saya terlalu terbebani untuk menghakimi Jerman, di mana saya telah hidup selama tiga tahun.  Selama tahun-tahun ini saya hanya memiliki sedikit kesempatan untuk mengenal keluarga Jerman.  Saya telah menjadi tamu banyak keluarga Jerman dan berbicara dengan banyak orang.  Tapi saya tidak tahu apakah itu cukup. Itu sebabnya saya hanya memberikan kesan saya tentang situasi dan peristiwa tertentu di sini.  Saya secara pribadi merasakan dan memahaminya saat saya menyampaikannya di sini.  Sangat mungkin bahwa orang lain akan melihat dan memahami situasi dan peristiwa yang sama dengan sangat berbeda. 

    Mengenai bahasanya, saya juga ingin mengatakan bahwa bagaimanapun juga, bahasa Jerman adalah bahasa asing bagi saya, dan diasumsikan bahwa saya tidak selalu memahami arti penuhnya dan bahwa saya tidak selalu mereproduksi perasaan dan pengalaman saya dengan tepat karena mungkin diperlukan.

     Orang Jerman pertama yang saya kenal dan dari siapa saya mendapat dorongan pertama untuk menjadi imam adalah pastor  paroki saya.  Rasul dan misionaris dari Lomblen ini tidak datang untuk beristirahat dan bersenang-senang, tetapi untuk bekerja keras, untuk mengajar, untuk menderita, untuk berkorban dan menanggung semua kesulitan yang ditimbulkan oleh jabatan yang hilang seperti itu.  Mottonya adalah: “AKU HARUS DIKORBANKAN AGAR BANYAK JIWA YANG TIDAK BERKEMATIAN DAPAT DISELAMATKAN”. Dia hidup dan bertindak sesuai dengan prinsip ini. Orang-orang di pulau Lomblen hanya memanggilnya apa (ayah) mereka yang baik. Tapi dia bukan hanya pater dari Kongregasi, tapi juga teman keluarga kami. Kami anak-anak selalu mengejarnya ketika dia mengunjungi orang sakit dan miskin. Bahkan saat berusia sepuluh tahun saya sangat terkesan dengan kepribadiannya. Ketika paroki asal saya Lamalera banyak tentang profesi spiritual dan kunjungan ke gereja yang rajin Saya ingin menuliskannya ke akun pendeta pertama Lamalera ini, tetapi sekarang saya ingin kembali ke tempat yang sebenarnya.

    Secara umum, dan khususnya di Flores, tanah air saya, orang Jerman sangat populer dan sangat disukai, sedangkan Belanda umumnya tidak begitu populer.  Tapi saya tidak mau memberikan analisa atau alasan apapun, karena itu bukan tugas saya disini.  Misionaris Jerman lebih berpikiran terbuka dan lebih mudah dihubungi.  Tetapi yang mengejutkan saya adalah kenyataan bahwa misionaris Jerman di negara asal saya selalu lebih progresif daripada misionaris Belanda, sementara di Eropa ini sebaliknya.  Ketika saya masih di sekolah, simpati saya untuk Jerman secara tidak sadar berkurang ketika kami belajar dalam pelajaran sejarah bahwa Jerman memainkan peran yang tidak menguntungkan dalam kedua perang dunia tersebut.  Bagaimanapun, konflik Perang Dunia Kedua, di mana Jerman bersekutu dengan Jepang, yang sangat tidak populer karena perangnya yang kejam di Asia, merupakan kemalangan besar bagi umat manusia.  Lagi pula, saya pribadi sangat menyukai misionaris Jerman.  Saya mengalami ini khususnya di Sumba, di mana saya menghabiskan satu setengah tahun dengan misionaris ordo kami.  Tetapi saya tidak pernah berpikir bahwa saya akan datang ke Jerman suatu hari nanti.  Saya juga tidak pernah mendambakannya, karena kesulitan itu tampak berlebihan bagi saya.  Saya tidak akan pernah pergi ke Jerman jika itu bukan satu-satunya kesempatan bagi saya untuk kemudian bekerja sebagai misionaris di Sumba dan Sumbawa.

    Jadi saya pergi ke Jerman dengan penuh perhatian.  Tentu saja, saya bertanya pada diri sendiri apakah saya benar-benar akan dapat berbicara bahasa Jerman dan memahami mentalitas Jerman tanpa persiapan yang diperlukan dan intensif untuk studi saya.  Saya mendengarkan percakapan sesama pelancong dan menemukan bahwa saya sebenarnya tidak mengerti semuanya.  Namun itu semua hanya kekhawatiran kecil.  Sebaliknya, karena saya telah mendengar keputusan atasan saya, dan terutama karena saya benar-benar di Jerman, saya takut dengan pertanyaan apakah cinta persaudaraan Kristen saya tulus dan cukup dalam, apakah saya sendiri cukup bebas dari semua prasangka untuk dapat berbicara jujur dan terbuka dari orang ke orang dengan orang Jerman, seperti yang selalu saya lakukan di rumah.

    Penerimaan di Studentat sangat ramah dan hangat.  Tetapi ketakutan saya akan masa depan lebih besar daripada kegembiraan pertama saya pada penerimaani ini.  Empat tahun adalah keabadian bagiku.  Musim dingin sudah dekat.  Perubahan iklim!  Makanan adalah masalahnya sendiri.  Ganti, namanya!  Saya sekarang berada di negara asing dan merasa sangat kesepian dan sendirian di lingkungan baru ini.  Apa yang saya bawa dari Indonesia hanyalah cara berpikir  dan perasaan Asia saya dan keinginan untuk beradaptasi secepat dan sebaik mungkin.  Para mahasiswa, teman sekerja saya, dulu dan selalu baik dan akomodatif.  Sayangnya, pada awalnya saya tidak dapat bereaksi begitu cepat terhadap keramahan dan kesopanan mereka dan saya sangat berhati-hati dengan apa yang saya katakan.  Singkatnya, hanya mereka yang berada dalam situasi yang sama yang dapat memahami kesulitan saya saat itu.  …

    KESAN PATER MOSES MUDA TENTANG JERMAN (Bagian 2 – Selesai)

    Setelah empat bulan seorang teman membawa saya berlibur ke kampung halamannya di Westphalia.  Di sinilah saya bertemu dengan keluarga Jerman untuk pertama kalinya dan berkesempatan mengamati orang-orang yang di Jerman dikatakan sangat pendiam.  Mereka tampak sangat kuat bagi saya.  Mereka berbicara dengan lambat dan tampaknya tidak terlalu bersemangat dibandingkan dengan keluarga Rhinelander yang biasa saya lihat.  Jadi, orang akan cenderung menganggap mereka keras kepala.  Untungnya, saya tahu orang Belanda, yang sangat mirip dengan Westphalia, sangat baik, jadi saya tidak terintimidasi oleh penampilan.  Saya menemukan orang-orang yang berpikiran terbuka dan sangat ramah di Westphalia ini. 

    Setelah setahun saya mengalami keindahan alam Jerman.  Liburan singkat di Bavaria sudah cukup untuk melepaskan semua prasangka saya tentang lanskap Jerman yang konon monoton.  Gunung-gunung yang besar dan megah mengingatkan saya pada pulau vulkanik saya di Flores.  Saya juga sangat menyukai Sauerland.  Musim gugur dan musim semi sangat indah di sini.  Yang paling membuat saya terkejut di Jerman, bagaimanapun, adalah kenyataan bahwa ada banyak orang tua yang masih suka jalan-jalan, dan saya mulai mengerti mengapa kecintaan orang Jerman pada alam hampir selalu romantis.

    Keseriusan Jerman sungguh luar biasa.  Orang dewasa, terutama laki-laki, menghabiskan waktu seminggu penuh untuk mendiskusikan pertanyaan-pertanyaan dunia-politik dan ekonomi dengan komitmen penuh, sesuatu yang juga dialami di negara lain.  Dan jika mereka melakukannya di sini lebih bersemangat daripada di tempat lain, itu pasti karena selama bertahun-tahun di Third Reich mereka tidak punya kesempatan untuk percakapan bebas.  Saya perhatikan, bagaimanapun, bahwa banyak gadis mengambil bagian dalam hampir semua percakapan ini.  Di sisi lain, saya hampir tidak mengenal perempuan muda Indonesia yang mau mendengarkan berjam-jam percakapan tentang masalah ekonomi.

     Untuk memahami kehidupan Kristen, tidak dapat dihindari bagi saya untuk membandingkannya lagi dengan orang Belanda, yang dulu saya kenal lebih baik daripada orang Jerman.  Tetapi saya tidak ingin perbandingan ini dilihat sebagai kritik terhadap Kekristenan Jerman.  Di negara-negara berbahasa Jerman, seperti diketahui semua orang, situasinya sangat berbeda secara fundamental, namun sejauh menyangkut gerakan liturgi, Katolik Belanda jauh lebih unggul daripada orang Jerman.  Iman Kristen di Jerman masih memiliki akar yang sangat dalam di masyarakat, dan keluarga serta kehidupan sosial tampaknya dibentuk oleh agama Kristen.  Namun, saya sangat heran;  karena saya percaya bahwa propaganda besar-besaran dari pemerintah Nazi untuk pandangan dunia kafir baru akan disambut dengan gaung yang besar.  Tapi saya punya lebih banyak kesempatan untuk mengamati dan mengagumi kesalehan banyak keluarga Kristen Jerman.

    Last but not least, saya mengucapkan selamat kepada diri saya sendiri karena telah mengenal begitu banyak orang Jerman yang baik selama tahun-tahun ini.  Itu baik dan merupakan sumber sukacita Kristiani yang sejati bahwa orang-orang mengenal dan mencintai satu sama lain di semua batas politik dan budaya.

    ****

    Demikianlah cerita Pater Moses memasang teropongnya. Begitulah dia melihat dan memahami tanah Jerman dan orangnya. Tanpa disadari disiplin dan ketekunan orang jerma telajh turut membentuuk pater Moses dalam seluruh dinamika hidupnya.  Apakah orang Jerman setuju?

    Ketika tim Misi Umat ditempatkan di konventu Weetebula, Saya pernah tinggal bersama beliau selama 2 tahun sebelum ditugaskan ke tempat lain. Kamar kerja beliau berdampingan dengan kamar saya.

     “Oh… willy.. kamu sudah tiba dari tempat misi umat? Robby mana?”

    “ Sudah Pater. Roby ada di kamar”jawab saya

    “Oh.. baik, baik”., balasnya.” Pasti kamu capek. Istirahat..” sambungnya.

    Kesibukannya dengan Justice and peace dan kesibukan kami sendiri di misi umat membuat kami tidak selalu bertemu. Kami bertemu kalau rekreasi minggu atau pada saat rekoleksi bulanan di konventu dan tentu saja kalau tidak ada kegiatan Misi umat.

    Ada Satu hal yang Saya tahu Pater Moses yakni dua selalu membaca, membaca dan membaca.  Begitulah Cara dia mencerdaskan diri Dan melayani dunia.

    Suatu hari setelah Saya  ditahbisan beliau berkomentar pada saya secara singkat:  “Willy, saya senang engkau sudah tahbisan”, katanya sambil tersenyum.

    Terima kasih Pater.

    Ket. Foto: P. Moses Beding, CSsR (paling kiri depan)

  • Redemptorist, Lembata dan Lamalera

    Redemptorist, Lembata dan Lamalera

    Oleh P. Willy Palla, CSsR

    APA hubungan redemptorist, Lembata dan orang Lamalera? Tentu sah saja pertanyaan ini. Dalam hal panggilan para redemptorist Indonesia dapat dikatakan Pulau Lembata dan Lamalera telah menjadi pintu gerbang.

    Seorang pemuda bernama Moses Beding memutuskan untuk menjadi calon redemptorist. Dia menjadi orang pertama yang melamar menjadi imam redemptorist. Dia orang indonesia pertama yang menjadi imam redemptorist.

    Frater Moses Beding lahir pada Maret 1942 di pulau Lomblem, yang dekat dengan pulau Flores. Dia lulus dari sekolah menengah pada bulan Juni 1962. Dari Agustus 1962 hingga Agustus 1963 menjalani novisiat dengan Pater SVD di Flores. Di sana ia juga belajar filsafat selama dua semester pertama. Tetapi kemudian ia memutuskan untuk menjadi redemptorist.

    Pada bulan Oktober 1965 ia mengakhiri tahun novisiatnya dengan para Redemptoris di Sumba dengan kaul sementara. Setelah menyelesaikan studi filsafatnya di sana, ia berangkat ke Jerman pada Oktober 1966.

    Ketika berada di Jerman dia memperkanlkan pulau Lomblen atau kemudian kita kenal dengan nama Lembata.

    Frater Moses, yang belajar teologi di seminari religius kami di Hennef, memperkenalkan tanah airnya pada acara kaul kekal kebiaraannya. Dia meminta bantuan misi dan pada saat yang sama, dia berdoa untuk dirinya sendiri untuk perjalanan imamatnya. Dia menulis ini.

    Itulah desa nelayan ikan paus Lamalera di Lomblem, sebuah pulau dengan penduduk sekitar 76.000, sebelah timur Flores. Saya lahir dan besar di desa ini. Bagi penduduk, penangkapan ikan paus merupakan sumber pendapatan penting; tetapi ini juga merupakan petualangan yang tiada henti. Di pantai anda bisa melihat sejumlah atap pelindung untuk perahu nelayan.

    Kampung Lamalera

    Perburuan ikan paus. Di sini Anda bisa melihat perahu nelayan berburu ikan paus. Seseorang menangkap ikan dengan metode yang sangat sederhana namun berbahaya: dengan tempuling. Perahu didayung menuju ikan paus. Kemudian pemegang tempuling dari perahu mendorong tempuling ke bagian belakang ikan paus dan melompat untuk mendorong ujung tempuling masuk ke tubuh ikan paus.

    Wajar jika merasa senang melihat keberhasilan pekerjaan dan usaha kita. Paus yang baru saja diburu merupakan kegembiraan khusus bagi anak-anak: mereka menggunakan punggung paus yang sangat licin dan berminyak sebagai tempat perosotan. Sangat menyenangkan, meluncur ke air laut yang sejuk selama berjam-jam! Setelah permainan anak-anak, tibalah saatnya bekerja. Ikan dipotong-potong kemudian dibagikan atau dijual kepada warga sesuai dengan hukum Adat dan tradisi nenek moyang. Yang paling penting adalah daging dan minyak ikan paus sebagai sumber vitamin.

    Sukacita anak-anak Lamalera bermain di atas ikan paus

    Pentahbisan penahbisan diakon. Pada tanggal 8 April 1969, Frater Moses Beding dari Lamalera Flores dan dari Wakil Provinsi Sumba / Sumbawa di gereja biara kami di Hennef / Geistingen ditahbiskan sebagai subdiakon. Bersama dia enam konfrater lainnya dari provinsi Koln para Redemptorist menerima pentahbisan ini.

    Penahbisan berlangsung pada tanggal 31 Mei di seminari misionaris SVD di St. Augustin. Sakramen tahbisan diterima Fr. Moses pada 12 Juli 1969. Setelah ditahbiskan menjadi Imam, Frater Beding akan belajar di Jerman selama satu tahun lagi sebelum kembali ke tanah airnya di Indonesia dan Misi Sumba. Kami mendoakan berkat Tuhan dan menjanjikan bantuan kami dalam doa.

    Setelah kembali ke Sumba, Pater Moses berkarya di paroki Sang Penebus Waingapu dan mengajar di IPGA Pada Dita. Kemudian dia menjadi magister novisiat redemptorist dan bapak Asrama Sinar Buana. Seudah itu beliau berkarya sebagai Pastor paroki Homba Karipit. Sejak akhir tahun 90-an dan awal tahun 200an hingga akhir hayatnya P. Moses sangat gigih membela hal-hal terkait dengan keadilan sosial.

    Dia juga mempromosikan karya kerasulan pena entah melalui artikel-artikel yang dikirimnya dan menjadi aktor utama penerbitan tabloid SABANA bersama Emanuel Kaley

    Pater Moses meninggal dunia pada tanggal 1 juni 2007 di rumah sakit Bukit, Lewoleba, Lembata. Dia dimakamkan di Lamalera. Terima kasih Pater Moses. Pater selalu mencintai dan membela orang Kodi. Dia paling tidak suka kalau ada yang bilang orang Kodi Itu malas. Kalau ada yang omong begitu, dia akan jawab begini: “Eh… kau omong apa? Lalu padi gogo yang kau, yang kau beli dari orang Kodi datang dari orang malas? Tidak malas..hanya tidak tahu atur”.

    Gereja St Maria Assumpta Homba Karipit Sumba Barat

    Orang Kodi sangat menghormati Pater Moses. Ya…. Kami mencintai P. Moses. Pater Moses telah membuka keran hadirnya para imam pribumi redemptorist Indonesia. Sejak itu segalanya bergulir perlahan tapi pasti. Banyak orang muda indonesia masuk dalam jajaran putra Alfonsus dan berkaraya di bebagai negara.

    Demikian juga dengan tanah Lembata. Pulau ini terus menyumbang orang-orang mudanya untuk menjadi redemptorist.

  • Jalan Kaki bersama Rousseau

    Jalan Kaki bersama Rousseau

    Oleh Agustinus Tetiro, Koordinator Grup Wartawan NTT di Jakarta dan Dunia

    For, as I think I have said, I can only meditate when I am walking. When I stop I cease to think; my mind only works with my legs (Jean-Jacques Rousseau)

    Never did I think so much, exist so much, be myself so much as in the journeys I have made alone and on foot. Walking has something about it which animates and enlivens my ideas. I can hardly think while I am still; my body must be in motion to move my mind (Jean-Jacques Rousseau)

    Jalan kaki mungkin salah satu tindakan yang paling demokratis. Presiden atau warga biasa, orang kaya atau orang miskin, uskup agung atau umat biasa—kalau tidak cacat– bisa berjalan kaki dengan cara yang sama. Ada banyak refleksi tentang dan selama jalan kaki yang dilakukan oleh para penulis dan sastrawan. Dalam lintasan sejarah filsafat, ada banyak filosof yang suka jalan kaki. Sokrates suka jalan kaki ke agora dan berkeliling dari pasar ke pasar menyambangi para pemuda dan warga biasa. Nietzsche adalah pejalan kaki yang hebat: dua jam sehari Nietzsche tamasya ke Pegunungan Alpen di Swiss. Thoreau adalah seorang penakluk alam liar: tiap hari jalan kaki empat jam di pedesaan Concord di Amerika Serikat. Immanuel Kant diceritakan mempunyai jadwal jalan kaki yang ketat di Koenigsberg, Prusia (sekarang Rusia): konon, Kant selalu jalan kaki setelah makan siang pada pukul 12.45 waktu setempat.

    Akan tetapi, mungkin hanya Jean-Jaques Rousseau (1712-1778) filosof pertama yang memfilsafatkan jalan kaki. Rousseau merefleksikan jalan kaki dalam karyanya Rêveries du promeneur solitaire (Reveries of the Solitary Walker) yang tidak sempat diselesaikannya, tetapi diterbitkan pada 1782. Sang filosof juga menyinggung tentang jalan kaki pada beberapa karya lainnya. Rousseau memang seorang pengembara. Petualang. Dia pemalu, tetapi genit terhadap perempuan dalam pengembaraannya. Dia juga pencuriga dan tidak bisa bertahan lama di suatu tempat. Rousseau berjalan kaki dari kota ke kota, tanpa membawa buku-buku sumber utamanya, yang hampir pasti membuatnya tidak bisa dengan tekun mempelajari sesuatu secara rutin dan mendalam. Rousseau menulis berdasarkan bacaan yang dia peroleh selama di perjalanan, beberapa merupakan buku koleksi perempuan yang tidur dengannya, serta dari refleksinya atas kondisi sebuah kota yang didiaminya secara temporer. “Rousseau membuat karya-karya yang membuatnya dicurigai dimana-mana,” tulis F Budi Hardiman dalam Pemikiran Modern. Rousseau mengatakan, “aku tidak pernah mengerjakan apa-apa, tetapi sewaktu aku berjalan kaki, alam pedesaan itulah ruang kerjaku”

    Filosof Perancis Frêdêric Gros menulis salah satu bab tentang Rousseau di dalam bukunya A Philosophy of Walking. Gros mengelompokkan cerita tentang jalan kaki Rousseau ke dalam tiga babak waktu: fajar, tengah hari, petang. Pembagian ini juga berdasarkan usia Rousseau. Rousseau berjalan kaki sejak berusia 16 tahun hingga sekitar 19 tahun. Maret 1728, Rousseau memutuskan untuk tidak lagi ke Jenewa setelah mendapati gerbang kota itu tertutup sepulangnya dari bermain ke luar kota. Saat itu dia bekerja di bengkel seorang juru grafir yang suka memukulnya. Rousseau kemudian meminta pekerjaan dari seorang imam Katolik. Sang pastor mengirimnya ke Annecy, tentu dengan jalan kaki, kepada seorang perempuan yang akan mengajarinya tentang Kekatolikan. Rousseau kemudian menjalin asmara dengan perempuan yang bernama Madame de Warens itu.

    Setelah beberapa waktu, Rousseau ke Turin, jalan kaki dua puluh hari, menyeberangi Alpen via Mont Cenis. Perjalanan ini untuk memperdalam ajaran Katolik. Pada 1731, Rousseau berangkat dari Solothurn, Swiss ke Paris untuk dibina dalam bidang militer. Ternyata gagal. Lalu, sang filosof jalan kaki lagi ke Chambery demi kembali ke dalam pelukan Madame de Warens. “Di usia 16 bahkan 20, Anda tidak membawa beban apapun selain harapan-harapan ceria” (Gros)

    Pada usia 40-an tahun Rousseau sudah melakoni banyak pekerjaan: sekretaris kedutaan besar di Venice, guru musik, penulis ensiklopedia. Dia ingin hidup yang lebih tenang. Namun, sang raja menemukan karyanya Discours sur le arts yang memang sedang booming saat ini. Rousseau kemudian diundang ke istana. Ini pun hanya sementara waktu saja. Karena, menurut Rousseau, tibalah waktunya untuk menarik diri dari pencarian sosial dan gosip yang tidak henti-henti. Dia hanya merindukan jalan setapak di hutan. Di masa ini dia menulis Discours sur l’origine et les fondements de l’inégalité parmi les hommes (Discourse on the Origin and Basis of Inequality Among Men) yang kemudian diterbitkan pada 1754.

    Pada 1753, Rousseau suka berjalan kaki pagi hari ke hutan Saint-Germain atau Bois de Boulogne. Berjalan kaki sendirian dengan sepatu tebal. Untuk menikmati alam pedesaan yang indah. Gros berbicara tentang Rousseau sebagai manusia pejalan kaki (homo viator) yang sedang mencari bentuk manusia murni di dalam diri. Manusia murni tidak mencari hal lain selain melakukan apa yang berkenan dalam cinta diri yang otentik.

    Rousseau berbicara tentang cinta diri. Bagi Rousseau, alam itu baik dan masyarakat jahat. Soal cinta diri, sang filosof membedakan dua hal: amour-de-soi dan amour-propre. Pada yang pertama, cinta diri karena dorongan alam(-iah), misalnya: menyanyi di kamar mandi. Yang kedua: cinta diri–sebagai produk masyarakat– karena senang bisa nyanyi di panggung (publik) dan dipuja-puji. Anda menyanyi dengan kualitas suara kaleng rombeng di kamar mandi, tapi sukacitamu menjadi penuh untuk dirimu, tidak terikat dengan pendapat orang lain, penilaian pitch-control atau senyuman para pemuja/tante-tante genit/om-om senang. Menyanyi di kamar mandi, oleh karena itu, lebih otentik. “Mengistimewakan diri adalah hal yang anda pelajari dari masyarakat. Anda harus melakukan perjalanan jauh untuk mempelajari kembali cinta-diri yang telah hilang” (Gros)

    Di usia 60 tahun, Rousseau jadi orang buangan, ditolak, dikecam, di Jenewa yang republik ataupun di Perancis yang monarkhi. Dia luntang-lantung. Di usia ini, Rousseau berjalan kaki begitu saja, tanpa strategi untuk penemuan gagasan baru atau pencarian ide segar, dan lain-lain. Inilah aktivitas berjalan kaki untuk menemani waktu, mengimbangi kecepatannya. Jika di usia muda Rousseau mengatakan, saat berjalan kaki dia adalah penguasa hayalan-hayalannya, maka di usia tua, berjalan kaki adalah sebuah kepasrahan, kerelaan, perasaan kasih sayang kepada diri sendiri.

    Dalam pemikiran Rousseau, berjalan kaki telah menjadi suatu kebiasaan untuk relaksasi diri. Relaksasi diri adalah elemen penting dalam pemikiran Rousseau, terutama dalam filsafat pendidikan. “Rahasia agung pendidikan adalah mengarahkan sedemikian rupa sehingga latihan-latihan jasmani dan rohani saling bekerja sama untuk menciptakan relaksasi (diri),” ujar Rousseau.

    Sebagaimana diketahui, Rousseau adalah salah satu raksasa dalam sejarah filsafat. Kebesarannya terletak tepat pada kritiknya atas pencerahan. Kritik itu mulai dari sebuah perlombaan penulisan esai. Pada 1750, itu artinya saat berusia 38 tahun, Rousseau mengikuti lomba menulis esai dari Akademi Dijon. Pertanyaan untuk lomba itu adalah: Apakah pengembangan seni dan ilmu pengetahuan mempunyai dampak bagi perbaikan dan pemurnian moral?

    Rousseau menjuarai perlombaan itu setelah memberikan jawaban negatif atas pertanyaan yang diajukan: pengembangan seni dan ilmu pengetahuan serta kebudayaan merusakan moral manusia. Rousseau, sebagaimana diuraikan Ignas Kleden, membuktikan kekuatan jawabannya dengan dua cara. Pertama, bukti-bukti dalam lintasan sejarah umat manusia dan peradaban-peradaban besar di dalamnya. Kedua, analisa tentang perilaku manusia yang telah dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan dan kesenian. Mesir, Yunani Antik, dan Roma  adalah bangsa-bangsa yang kuat karena warganya setia berpegang pada kebajikan, kemudian menjadi lemah dan merosot setelah berkenalan dengan ilmu pengetahuan, filsafat dan seni. Menurut Ignas Kleden, Rousseau menjadi menarik karena dia adalah contoh tentang kemunculan seorang filosof, penulis dan intelektual zamannya dari lingkungan yang tidak sepenuhnya mendukungnya. “Sensibilitas (Sensibility, sensibilite) muncul sebagai kata kunci yang baru setelah Eropa merasa letih dan jenuh dengan segala sesuatu yang rasional. Pengaruhnya ini berlaku dalam berbagai bidang, tetapi amat terasa gugatannya pada standar-standar etika dan estetika” (Kleden)

    Selanjutnya, Rousseau dikenal sebagai pemikir romantisme. Romantisme dalam arti kritik terhadap kemajuan pencerahan dan kekuatan akal budi semata (counter-Enlightenment thinking). Pada Rousseau, untuk pertama kalinya dunia menemukan kritik amat tajam atas kemajuan ilmiah, setelah sebelumnya kritik hanya diajukan bagi agama/dogmatisme religius dan metafisika tradisional. 

    Dengan basis pemikiran romantisme seperti itu pulalah filsafat pendidikan Rosseau dibangun. Karyanya Émile, ou de l’éducation (Emile, or On Education) pada 1762 telah menjadi salah satu insight romantis terpenting pada zamannya. Dalam penilaian Rosseau, pendidikan terlalu otoritatif, disiplin, dan mekanistis. Tujuan model pendidikan ini adalah penyeragaman tingkah laku dan informasi. Rousseau tidak setuju. Menurut Rousseau, manusia dari kodratnya baik, masyarakat dan kebudayaanlah yang merusak. Ignas Kleden menduga bahwa konsep itu dipelajari Rousseau dari iman Katolik sebagaimana ditulis dalam Kitab Kejadian. Adam dan Hawa diciptakan baik adanya oleh Tuhan. Datanglah penggoda yang membawa mereka pada pohon pengetahuan, yang ternyata membawa mereka pada banyak kesengsaraan.

    Filsafat pendidikan Rousseau secara radikal mengajarkan manusia untuk terus mencari manusia yang murni dalam dirinya. Pencarian itu bisa dicapai bila manusia kembali kepada panggilan alam. Panggilan kembali ke alam bukan dalam arti anti-kemajuan, tetapi untuk selalu sadar bahwa yang paling otentik adalah rasa cinta pada diri dalam arti amour-de-soi, yang salah satunya bisa dilakukan dengan berjalan kaki sambil menikmati alam yang selalu membisikkan suatu suara yang paling jujur tentang diri kita. Ini menjadi tantangan serentak ajakan serius bagi kita yang hidup di zaman yang serba cepat ini. Pada akhirnya, seperti kata penulis petualang Eric Weiner, “Berjalan kaki adalah cara bepergian paling lamban, tetapi merupakan rute tercepat kepada diri kita yang otentik”(*)

    *****

    SUMBER BACAAN:

    Eric Weiner, The Socrates Express (Bandung: Qanita, 2020), hlm. 84-108

    F Budi Hardiman, Pemikiran Modern. Dari Machiavelli sampai Nietzsche (Yogyakarta: Kanisius, 2019), hlm. 111-119.

    Frederic Gros, A Philosophy of Walking (Jakarta: Renebook, 2020), hlm. 79-99.

    Ignas Kleden, Fragmen Sejarah Intelektual. Beberapa Profil Indonesia Merdeka (Jakarta: Buku Obor, 2020), hlm. 7-10.

  • Universalisme Pendidikan: Memaknai Ulang Pendidikan Kita

    Universalisme Pendidikan: Memaknai Ulang Pendidikan Kita

    Oleh Nardi Maruapey*

    “Pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia”

    (Nelson Mandela)

    Kata-kata Nelson Mandela di atas kiranya dapat menjadi bahan untuk kita bisa ber-kontemplasi mengenai penting dan luar biasanya pengaruh dari pendidikan. Sehingga ada banyak dari kita yang bertanya baik dari dalam hati, dengan mengeluarkan suara, bertanya pada diri sendiri maupun pada orang lain tentang apa itu pendidikan, untuk apa pendidikan, terutama terhadap masa depan setiap orang terlebih lagi bagi orang belum sadar dan masih berada dalam alam pikir yang primitif. Satu kalimat penegasan dari tulisan ini adalah jelas pendidikan itu penting — sangat penting.

    Dalam berbagai macam perspektif entah itu tokoh, cendekiawan, ataupun penulis kita dapat menemukan ujung dari semuanya bahwa pendidikan adalah mendidik untuk cerdas atau upaya membuat orang cerdas. Sehingga saya sangat bersepakat dengan tujuan dari pendidikan bangsa kita yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa tentu dasarnya adalah membuat orang cerdas.

    Pada konteks yang lebih universal lagi, pendidikan itu harus menyentuh nilai-nilai kemanusiaan atau membuat kita sebagai manusia untuk lebih memiliki sifat-sifat yang manusiawi. Ini kerja pendidikan untuk membentuk seseorang dari sisi karakterkter. Kiranya sangat sesuai konsepnya Paulo Freire dalam hal ini, bahwa pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia. Dimana pendidikan mampu mengangkat hatkat dan martabat serta kualitas hidup manusia dari segi ilmu. Ini yang saya maksudkan dengan universalisme  pendidikan.

    Memaknai Ulang Pendidikan

    Dalam memaknai pendidikan dengan betul-betul perlu ada penulusuran secara mendalam dan berulang-berulang agar tujuan sejati dari pendidikan itu dapat tercapai. Bahwa pendefenisian dari pendidikan sebagaimana terdapat dalam rumusan undang-undang tentang sistem pendidikan nasional bahwa menurut UU Nomor 20 Tahun 2003: Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

    Memaknai pendidikan dapat diperkuat dengan mengambil penjelasan dari dua tokoh besar dalam bidang pendidikan. 1) Menurut Ki Hadjar Dewantara bahwa, Pendidikan adalah pembudayaan buah budi manusia yang beradab dan buah perjuangan manusia terhadap dua kekuatan yang selalu mengelilingi hidup manusia yaitu kodrat alam dan zaman atau masyarakat. 2) Sedangkan menurut Jhon Dewey (2003) Pendidikan adalah proses pembentukan kecakapan-kecakapan fundamental secara intelektual dan emosional kearah alam dan sesama manusia.

    Dengan demikian, pendidikan itu sifatnya hakiki bagi manusia sepanjang peradabannya seiring perubahan jaman dan berkaitan dengan usaha manusia untuk memerdekakan batin dan lahir sehingga manusia tidak tergantung kepada orang lain akan tetapi bersandar atas kekuatan sendiri.

    Dengan begitu akar dari pendefenisian yang kemudian menjadikankannya sebagai tujuan dari sistem pendidikan itu sendiri atau yang lebih luas lagi yang merupakan amanat dari konstitusi kita yakni untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Mencerdaskan kehidupan bangsa adalah mencerdaskan manusia Indonesia secara keseluruhan tanpa terkecuali. Bahwa sesuai dengan bunyi tujuan pendidikan nasional kita yang terdapat Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 pasal 3 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yakni “untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab”.

    Universalisme Pendidikan

    Sampai hari ini tidak bisa lagi dipungkiri kalau kehidupan manusia tidak terlepas dari yang namanya pendidikan. Pernyataan ini sejalan dengan penggolongan oleh Sutan Rajasa dalam “Kamus Ilmiah Populer” yang mengatakan bahwa pendidikan merupakan kebutuhan pokok manusia, selain akan adanya kebutuhan pokok manusia lainnya, seperti sandang, papan, dan pangan.

    Pendidikan pada dasarnya merupakan suatu proses yang terus-menerus sejak manusia dalam kandungan sampai kembali dalam liang lahat, sehingga pendidikan sering kali disebutkan sebagai pendidikan seumur hidup atau dalam bahasa Inggris yang dikenal dengan sebutan long life education.

    Universalisme pendidikan artinya meluaskan  pemahaman kita pada makna pendidikan yang bukan saja hanya sekedar mencerdaskan. Menurut Plato, pendidikan akan membawa manusia dari kegelapan menuju pencerahan. Pendidikan bukan hanya memberikan jiwa-jiwa yang lapar dengan ilmu, namun juga untuk mengeluarkan potensi yang ada di dalam diri kita ke luar.

    Dengan semangat dari universalisme pendidikan, kita pada prinsipnya akan selalu mempunyai keinginan untuk terus-menerus melakukan aktifitas atau kegiatan belajar. Belajar untuk lebih mengetahui dari pengetahuan awal kita sebagai manusia. Disitulah tujuan kita bergaul dengan dunia pendidikan yakni dunia yang mengharuskan kita untuk belajar, belajar, dan belajar. Belajar mengetahui, memahami, dan melaksanakan.

    Satu hal yang perlu diingat bahwa pendidikan itu sangat luas — universal. Sehingga pendidikan bukan hanya untuk pendidikan, tapi lebih dari itu, pendidikan untuk masyarakat. Pendidikan dilakukan untuk mempersiapkan masa depan kita bukan hanya sebagai individu, tetapi juga sebagai masyarakat. Pendidikan merupakan sumber daya untuk mencapai dan menjaga keselamatan masyarakat. Pendidikan diselenggarakan untuk society (state) dan untuk individu. Tingkatan tertingginya ketika manusia sadar bahwa pendidikan bukan hanya untuk keuntungan dan kesenangan semata, “the aim of education in Plato is to enable the learners to know the metaphysical truth”.

    Diambil dari salah satu jurnal yang membahas pendidikan menurut Driyarkara, seorang filsuf yang berbicara pendidikan (Aziz, 2016), tujuan pendidikan sendiri adalah memanusiakan manusia muda. Bukan, muda bukan tentang umurnya. Melainkan tentang manusia yang belum mencapai taraf keutuhannya. Sehingga tujuan pendidikan itu sendiri untuk mengutuhkan manusia tersebut.

    Driyarkara

    Menjawab Krisis

    Krisis yang melanda segala aspek kehidupan negara bangsa salah satu penyebabnya diakibatkan karena lemahnya pendidikan yang tertanam dalam sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara itu sendiri. Sebagai sebuah negara bangsa kita harus keluar dari krisis ini dengan sebuah solusi. Dan pendidikan harus dijadikan pondasi kokoh dari solusi itu, karena sejatinya pendidikan merupakan proses penenaman budaya dan nilai moral etik manusia.

    Mengenai krisis, kita tentu mengalami banyak krisis yang kemunculan seperti virus yang secara perlahan akan menyebar dan mematikan perkembangan manusia sebagai makhluk rasional. Krisis-krisis itu diantaranya: krisis intelektual, krisis moral etik, krisis rasionalitas dan krisis budaya (identitas). Pertama, krisis intelektual yang dimaksud adalah dimana pikiran dan kecerdasan manusia mengalami penurunan. Kedua, krisis moral etik adalah seseorang telah kehilangan sikap dan perilakunya untuk serta di depan umum atau dengan orang lain. Ketiga, krisis rasionalitas itu karena potensi untuk menuju pada kebenaran berpikir pada dirinya sudah tidak ada lagi atau biasanya pikirannya tak lagi logis. Keempat, krisis budaya adalah ketika kebiasaan baik-positif sebagai identitasnya telah hilang pada dirinya.

    Semua hal itu akibat menjauhnya seseorang dari proses-proses pendidikan. Ini yang disebut dengan krisis multi-dimensional yang sedang melanda. Dan dengan pendidikan diharapkan dapat merubah semua krisis menjadi sesuatu yang kaya, yakni: kaya intelektual, kaya moral etik, kaya rasionalitas, dan juga kaya budaya. Sehingga kondisi di atas yang sudah dipaparkan dapat menjadi sebaliknya.

    Kita semua termasuk juga saya harus tetap pastikan kalau orang-orang yang terbentuk dari proses-proses pendidikan secara langsung dan secara universal adalah orang-orang yang mampu membaca tanda-tanda pergerakan zaman dengan kapasitas intelektual dan moral yang dimiliki.  Sebab mereka merupakan orang-orang terpilih.

    *****************

    *Nardi Maruapey, Mahasiswa FKIP Universitas Darussalam Ambon

  • Aku Disandera – Aku dan Orang Lain, Menurut Emmanuel Levinas

    Aku Disandera – Aku dan Orang Lain, Menurut Emmanuel Levinas

    Oleh  Prof. Dr. Alexander S. Lanur, OFM

    Pengantar

    Pada tahun 1978 kami menulis sebuah artikel berjudul “Hubungan antar pribadi menurut Emmanuel Levinas”. Tulisan itu dimaksudkan untuk sedikit memperkenalkan pemikiran tokoh tersebut pada sidang pembaca di tanah air. Perkenalan itu terutama dilakukan dengan bantuan karyanya yang berjudul Totalite et Infini. Essai sur I’exteriorite. Perkenalan yang kami lakukan itu sulit untuk dikatakan lengkap, utuh dan komprehensif. Sebab sesudah menulis karya tersebut Levinas masih menulis banyak karya lagi sampai ia meninggal 25 Desember 1995. Pemikirannya juga semakin berkembang dan bahkan semakin radikal. Hal itu terutama nampak dalam karya yang ditulisnya sesudahnya yakni Auttrement qu etre ou au-dela de l’essence. Karya tersebut mengembangkan dan bahkan meradikalkan gagasan dasar yang disajikan oleh Levinas dalam Totalite et Infini.

    Egologi dalam Filsafat Barat

    Ungkapan “filsafat Barat”, sejauh dipakai oleh Levinas serta para filsuf Prancis lainnya, mau menunjukkan pengetahuan yang rata-rata dimiliki oleh seorang profesor perguruan tinggi Prancis tentang pelbagai tradisi Eropa. Ungkapan tersebut menekankan ciri-ciri modern budaya “Barat” tetapi tidak terlalu tahu akan filsafat Abad Pertengahan. Selain itu ungkapan tersebut juga menyamakan saja warisan Yunani terutama dengan teks-teks dari Parmenides, Herakleitos, Plato, Aristoteles dan Plotinus.

    Sejak Parmenides sampai dengan Heidegger “filsafat Barat” menurut Levinas, sebenarnya tidak lebih daripada suatu egologi. Disebut egologi karena seluruh diskursus filsafat berpusatkan si Aku. Si Aku ini berfungsi sebagai subjek pemikiran. Selain itu si Aku tersebut juga menjadi pusat dan tujuan dunia dan sumber segala makna. Dengan demikian egologi melahirkan egosentrisme. Keduanya merupakan segi teoritis dari suatu sikap yang jauh lebih mendasar lagi. Sikap yang mendasar itu adalah objektivasi, manipulasi, teknologi, perencanaan serta eksploitasi. Sikap tersebut menciptakan suatu pola hidup tertentu. Pola itu disebut egonomi. Artinya, si Aku merupakan nomos (hukum) untuk segala sesuatu. Egonomi harus menjadi sesuatu yang efektif dan praktis. Dan untuk menunjukkan segi itu Levinas menggunakan istilah ekonomi. Istilah tersebut menunjukkan bahwa segala sesuatu diatur serta ditata oleh rumah (oikos). Hukum (nomos) rumah menguasai seluruh dunia si Aku.

    Bagian kedua Totalite et Infini berbicara tentang Interiorite et Economie. Di situ Levinas menyatakan bahwa berada – di – dunia tidak pertama-tama ditandai oleh faktisitas melainkan oleh “kenikmatan” (jousance}. Yang dimaksudkan dengan “kenikmatan” (jousance) itu adalah kenyataan bahwa aku hidup dari (vivre de…) barang-barang material serta memelihara diriku dengan menggunakannya. Barang-barang tersebut adalah udara, air, makanan dan sebagainya. Dalam “kenikmatan” (jousance) itu, cinta akan hidup, kebahagiaan dan hidup afektif berpusatkan diri sendiri. Keadaan tersebut merupakan egoisme hidup dalam bentuknya yang biasa dan wajar. Dimensi itu membuat setiap individu menjadi sesuatu yang independent dan berdiri sendiri. Dimensi tersebut serentak pula memisahkan individu yang satu dari individu yang lain.

    Karena itu eksistensi manusia di dunia ini tidak pertama-tama ditandai oleh “keadaan terlempar” (geworfen sein). Eksistensi itu, sebaliknya, ditandai oleh adanya rumah (la maison) atau tempat tinggal (la demeure). Rumah atau tempat tinggal itu menjadi suatu wilayah pribadi bagiku. Dan sebagai wilayah pribadi rumah atau tempat tinggal itu diandaikan oleh pelbagai kemungkinan untuk menggunakan dunia sebagai jaringan hubungan-hubungan yang ditandai dan ditentukan oleh maanfaat. Sebuah rumah atau tempat tinggal mendahului suatu dunia yang ditandai dan ditentukan oleh manfaat. Rumah atau tempat tinggal merupakan pusat keadaan manusia sebagai manusia.

    Dari rumah atau tempat tinggal itu aku dapat keluar dan masuk ke dalam dunia. Dalam dunia itu aku dapat menemukan dan memanfaatkan pelbagai kemungkinan yang ada. Hanya karena aku memiliki rumah serta tempat tinggal sendiri, dapatlah aku membawa makhluk-makhluk lain termasuk orang-orang lain ke dalam kehadiranku. Hanya atas dasar itu pula dapatlah aku membuatnya menjadi objek yang dapat kupikirkan, kuselidiki, kumanfaatkan serta kuubah dengan bantuan pekerjaan. Semua itu juga dapat kupelajari secara ilmiah. Dunia seperti itu adalah dunia objek, teori-teori objektif, industri, teknologi, politik dan sebagainya. Adanya dunia tersebut mengandaikan adanya penguasa yang membuat dirinya menjadi pusat seluruh jagat serta mengubahnya menjadi wilayah kekuasaan serta penguasaannya. Dalam bidang filsafat dunia itu menampakkan dirinya dalam suatu pandangan yang sistematis. Dalam pandangan tersebut seluruh jagat nampak sebagai suatu keseluruhan (totalite) di depan mata si Aku yang menguasai segala-galanya. Artinya, suatu kesadaran menguasai dan mengalami segala sesuatu sebagai suatu keseluruhan (totalite). Kesadaran itu adalah dunia egologis filsafat Barat. Dunia tersebut juga dapat dicirikan sebagai ontologi. Disebut ontologis karena si Aku yang menjadi pusat itu memandang serta memikirkan segala sesuatu sebagai suatu keseluruhan (totalite) dan memandang serta memikirkannya sebagai satu pengada saja.

    Nilai Positif Totalitas Teoritis dan Praktis

    Agar tidak salah paham baiklah diberikan catatan berikut. Levinas mengakui secara eksplisit segi positif dan niscaya pelabagai totalisasi teoritis dan praktis yang dihasilkan oleh setiap peradaban dan yang ada di dalamnya. Dia pernah menunjukkan bahwa keseluruhan (totalite) sistematis adalah sesuatu yang baik dan tak terhindarkan.

    Ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi, keadilan, politik  dan sebagainya pasti menjadi mustahil bila semua fakta serta pengada tidak dipandang dan diuraikan sebagai faktor-faktor yang saling berkaitan dalam bermacam-macam jaringan, perencanaan dan organisasi. Dunia yang adil tidak dapat tidak membutuhkan lembaga-lembaga. Dan dengan bantuan lembaga-lembaga tersebut manusia juga diperlakukan sebagai salah satu unsur dari suatu keseluruhan (totalite) yang lebih besar. Artinya, manusia dapat dan nyatanya dihitung, dipakai dan dipandang sebagai bagian yang berhubungan dengan bagian-bagian yang lain. Bagian tersebut tidak dapat hidup hanya dari dirinya dan hanya untuk dirinya sendiri saja. Suatu masyarakat yang tidak dihubungkan satu sama lain oleh suatu peraturan, hukum atau perundangan bersama pasti akan hilang tanpa bekas dan menghadapi ajalnya.

    Kendati menerima adanya suatu totalitasi Levinas juga menetapka syarat yang harus ditepati. Syarat itu adalah bahwa keseluruhan (totalite) tersebut tidak boleh dimutlakan dan tidak boleh menjadi sesuatu yang mutlak. Sebab, bila semua hal yang disebut tadi menjadi mutlak atau dimutlakan serta menjadi tolok ukur yang tertinggi, maka hidup sebagai individu tidak lagi bernilai mutlak dalam dirinya. Karena itu semua bentuk keseluruhan (totalite) harus takluk pada tolok ukur yang lebih tinggi tadi. Tolok ukur tersebut mesti menerima dan menghormati martabat masing-masing individu.

    Tolok Ukur yang Tertinggi

    Manakah tolok ukur yang tertinggi itu? Tolok ukur yang tertinggi bukanlah kemanusiaan yanga ada baik di dalam diriku sendiri maupun di dalam diri orang lain. Tolok ukur tersebut adalah penampilan wajah orang lain dan percakapan serta pembicaraan. Keduanya berhubungan saangat erat satu sama lain. Wajahlah yang bercakap dan berbicara. Keduanya menggoyahkan dan meretakkan kesatuan duniaku serta meruntuhkan keseluruhan (totatalite) diriku. Tidak dapat disangkal bahwa orang lain ada. Kenyataan itu saja sudah menurunkan aku dari takhtaku dan serentak pula membuat aku menjadi hamba yang menopang hidup orang lain dan bertanggung jawab atasnya. Artinya, setiap orang – baik laki-laki maupun perempuan, baik orang dewasa maupun anak kecil – yang kujumpai menghukum aku termasuk seluruh dunia ekonomis serta egonomisku. Selanjutnya, hanya dengan menampakkan dirinya saja mereka sudah membebankan tuntutan yang tidak terbatas kepadaku. Wajah orang lain, kenyataan bahwa mereka – entah laki-laki entah perempuan, entah orang dewasa entah anak-anak – ada dan menatapku sudah membuat aku menjadi seorang hamba, yang bertanggung jawab atas keberadaan mereka, atas hidup serta tingkah laku mereka.

    Dengan demikian daya dan kekuatan ekonomis sudah dihukum dan dipatahkan. Daya dan kekuatan itu dihukum serta dipatahkan bukan oleh kesetaraan, karena mempunyai hakekat yang sama, sebagai manusia melainkan oleh asimetrisnya hubungan antar pribadi. Karena hakekatnya sama maka manusia setara satu sama lain. Gagasan bahwa manusia mempunyai hakekat yang sama itu mengandaikan adanya suatu pandangan yang mengatasi kebersamaan semua individu. Tetapi apakah pandangan tersebut mengandaikan suatu sudut pandang yang bersifat egologis dan totaliter? Setiap pembicaraan dan percakapan mengandaikan adanya sudut pandang yang lain daripada sudut pandang yang egologis dan totaliter. Sebab bila aku berbicara, maka aku memperkenalkan diriku pada orang lain. Dan orang lain itu pada gilirannya menyatakan bahwa penguasaanku dan kedudukanku yang memonopoli segala sesuatu termasuk dirinya sudah berakhir. Orang lain tersebut – entah seorang laki-laki entah seorang perempuan – merebut kedaulatanku dari tanganku. Dengan berbuat demikian ia serentak pula membebaskan aku dari kesendirianku. Hubungan antar manusia yang pertama dan asali bersifat simetris. Kehadiran orang lain saja sudah memberi kepadaku perintah, paling tidak, untuk membunuhnya. Aku memandangnya seperti seorang yang berasal dari tempat yang tinggi. Keluhurannya mencirikan orang lain itu. Keberadaannya merupakan sesuatu yang mutlak. Kemutlakan itu menolak semua tuntutan dari duniaku yang hanya berpusatkan diriku sendiri saja. Kemutlakan tersebut juga mengatasi tuntutan dari duniaku dengan tuntutan-tuntutan yang jauh lebih radikal lagi. Kemutlakan tersebut oleh Levinas disebut “Yang tak berhingga”. Yang tak berhingga datang dari atas segala hal lain yang nampak dan mengatasi cakrawala Ada itu sendiri. Artinya, “Yang tak terhingga” berada dengan cara yang lain daripada Ada itu sendiri. Caranya justru adalah keberlainannya.

    Hubungan antar-manusia yang Asimetris

    Hubungan yang asimetris ini dapat saja disalahpahami. Artinya, hubungan tersebut dapat saja dipahami sebagai pembalikan suatu hubungan yang tidak setara yang terkandung dalam sikap si Aku yang hidup sendirian, tetapi yang menguasai segala sesuatu. Si Aku itu bertindak sebagi titik tolak dan titik pangkal toeri sosial seperti yang, antara lain, diajarkan oleh Thomas Hobbes. Dia mengajarkan bahwa manusia adalah serigala untuk manusia yang lain (homo homini lupus). Menurutnya, kodrat sebagai serigala dalam diri manusia itu harus berubah dan diubah menjadi kodrat yang lebih bersifat ilahi. Dan jalan yang ditempuh agar sampai ke perubahan seperti itu adalah peperangan, revolusi.

    Selain itu ada juga orang yang berpendapat bahwa Levinas adalah seorang moralis. Sebagai seorang moralis dia menentang tindakan orang-orang, yang memperlakukan orang-orang lain hanya sebagai hamba dan budaknya saja. Karena itu mereka menarik kesimpulan bahwa Levinas mengajarkan kita agar kita menjadi hamba dan budak orang-orang lain dan bukan sebaliknya.

    Kiranya bukan itulah yang dimaksudkan oleh Levinas. Dia juga tidak bermaksud menulis serta memperkenalkan suatu etika yang baru. Sebaliknya, dia hanya mau menunjukkan dan memerikan dengan bantuan analisisnya bahwa pandangan etis hendaknya menjadi titik tolak untuk setiap filsafat, yang mau setia pada fakta. Levinas menemukan bahwa aku adalah subjek yang bertanggung jawab tanpa batas atas hidup orang lain. Penemuan tersebut merupakan awal untuk pelbagai permenungan lebih lanjut. Dengan bantuan penemuan tersebut kata-kata seperti “mengada”, “pengada”, “hakekat” dan sebagainya, paling tidak mendapat “warna” yang baru. Makna kata-kata itu berubah karena kata-kata tersebut “diwarnai” oleh serta dikaitkan dengan subjek yang bertanggung jawab tanpa batas atas orang lain. Penemuan itu merupakan awal dan permulaan untuk semua pengetahuan pada umumnya dan pengenalan diri pada khususnya. Bagaimana pun juga semua pengetahuan itu secara alamiah cenderung menjadi egosentris. Karena itu semua pengetahuan tersebut juga harus dibersihkan dan dimurnikan dari kecenderungan tersebut. Pembersihan dan pemurnian itu terjadi berkat pewahyuan yang unik dari yang mutlak. 

    Dalam hidup sehari-hari kita juga mengalami bahwa kita lebih mempunyai kewajiban terhadap orang lain daripada membebankan kewajiban kepadanya. Artinya, aku dapat mengorbankan diriku untuk orang lain. Namun, begitu aku mewajibkan orang lain, apalagi memaksanya untuk mengorbankan diri serta hidupnya untukku, berubahlah aku menjadi seorang pembunuh. Artinya, hubungan antar manusia tetap merupakan hubungan yang asimetris. Untuk menunjukkan hubungan itu Levinas mengacu pada The Brothers Karamazov karya Dostoevski, di mana Zosima menyampaikan gagasan yang sama. Gagasan itu adalah: “Kita semua bertanggung jawab di hadapan semua orang atas segala sesuatu dan atas semua orang, dan aku lebih bertanggung jawab daripada semua orang yang lain”. Orang tidak sadar akan tanggung jawab dan akan kesalahan tersebut. Tetapi bila mereka sungguh memahaminya, maka Firdaus sudah dekat.

    Penyerahan dan pengorbanan diri bukanlah pertama-tama suatu sikap yang perlu diwartakan apalagi digembar-gemborkan. Penyerahan dan pengorbanan diri itu, sebaliknya, merupakan suatu struktur dasar yang ada dalam diriku. Struktur dasar itulah yang membuat aku menjadi subjek. Kata subjek di sini hendaknya dipahami dalam artinya yang asli dan sebenarnya. Bila aku adalah subjek, maka aku adalah subjectus, seorang yang ditempatkan di bawah orang lain. Dengan kata lain, aku adalah orang yang mengemban tanggung jawab yang tidak terbatas terhadap keberadaan orang lain, siapa pun orangnya. Karena itu struktur dasarku adalah “seorang untuk yang lain” (l’un pour l’autre). Struktur dasar itu membuat aku menjadi seorang yang unik dan tak tergantikan. Mengapa? Sebab aku sadar bahwa diriku sendirilah satu-satunya orang yang mempunyai tanggung jawab yang tidak terbatas atas orang lain. Hal itu menyebabkan aku menjadi tawanan, sandera (otage) untuk orang lain. Artinya, aku bertanggung jawab tidak hanya atas pemuasan keinginannya, atas kehausan dan kelaparannya, tetapi juga atas semua tingkah lakunya, atas semua kesalahan dan kejahatannya bahkan atas penganiayaan yang dilakukannya terhadap orang-orang lain dan terhadap diriku.

    Tetapi menjadi substitusi (substitution) untuk orang lain bukanlah suatu kemungkinan yang dapat dipilih oleh suatu subjek yang otonom. Sesungguhnya substitusi (substitution) itu bukanlah suatu loncatan atau pun pembebasan. Mengapa? Sebab suatu loncatan mengandaikan suatu landasan yang kokoh agar dengan sekuat tenaga seseorang dapat meloncat. Tetapi Levinas berbicara tentang diangkat, dilantik atau ditugaskan untuk kebebasan sebagai diturunkan dari takhta, dilemparkan dari pelana kuda – berhentinya daya dan kekuatan hidup. Daya dan kekuatan ini “dibalikkan” – dihentikan. Karena itu substitusi (substitution) bukanlah suatu tindakan subjek yang bebas. Dipanggil untuk kebebasan merupakan bentuk kepasifan yang paling tinggi. Karena itu muncullah gambaran tentang penyanderaan tadi. Orang yang disandera adalah seorang tawanan wajah bukan tawanan kekerasan. Dia adalah seorang tawanan sukarela berdasarkan kebebasan.

    Orang-orang Ketiga

    Hubungan antara aku dan orang lain bukanlah hubungan yang terjadi hanya antara dua orang saja. Hubungan itu tidak menyisihkan orang ketiga. Dalam Moi  et Totalite Levinas bahkan sudah membicarakan dan menguraikan tentang hubungan yang mengatasi hubungan antara dua orang itu. Dia menampilkan ajaran tentang orang ketiga, yang tidak hadir dan tidak kelihatan namun selalu hadir dalam setiap hubungan antara aku dan orang lain. Sesamaku bukanlah satu-satunya orang lain. Sesamaku  juga mempunyai seorang sesama yang juga adalah sesamaku. Dengan tampilnya orang ketiga, orang-orang ketiga, orang-orang lain, maka aku juga bertanggung jawab atas semua orang itu, atas semua perbuatan, tindak-tanduk serta tingkah laku mereka. Aku juga disandera oleh semua orang itu dan menjadi substitusi (substitution) untuk mereka semua.

    Namun dengan tampilnya orang-orang ketiga itu, muncullah juga kebutuhan untuk membandingkan dan menimbang serta mempertimbangkan pelbagai kewajiban serta memikirkan dan menyusun teori-teori tentangnya. Dengan sederhana dan tulus Levinas menambahkan bahwa kehadiran orang-orang ketiga itu membawa serta perbaikan pada tuntutan-tuntutan yang tak terbatas yang dibebankan oleh orang-orang lain padaku. Aku masuk ke dalam lingkaran dan lingkup hidup sesamaku, yang mempunyai kewajiaban terhadapku. Itulah asal-usul suatu masyarakat di mana aku menjadi salah seorang warganya dengan pelbagai hak dan kewajiban yang sudah dipikirkan dan dirumuskan dengan baik. Tanggung jawab yang tak terbatas atas orang-orang lain itu diterjemahkan dalam rupa dan bentuk keadilan sosial.

    Suatu Pengalaman Hidup

    Menurut hakekatnya suatu filsafat adalah suatu refleksi tentang pengalaman, suatu refleksi tentang hidup. Karena itu filsafat juga mau mengungkapkan pengalaman eksistensi yang prafilosofis.

    Bila Levinas berbicara tentang subtitusi (substitution), penyanderaan (otage), penganiayaan, pengalaman akan kepasifan yang mutlak dan total, kiranya ada pengalaman yang mendasarinya. Dalam autobiografi filosofisnya dia berkata bahwa hidupnya dikuasai oleh pertanda dan kenangan akan kekejaman Nazi. Bila ia berbicara tentang pengalaman kepasifan yang mutlak dan total dia mengacu pada Yesaya 53 dan pengalaman orang-orang Yahudi selama Perang Dunia II. Dalam suatu dunia yang dikuasai oleh naluri, katanya, dengan mengutip Yossel ben Yossel, adalah wajar dan biasa saja bahwa orang yang membaktikan dirinya pada yang ilahi dan yang murni menjadi korban pertama dari penguasaan itu.

    Menurut Levinas, perang tersebut menyatakan pada orang Yahudi kebenaran Yesaya 53 itu. Nubuat itu mengidungkan “Hamba Tuhan yang menderita”. Dia tidak tampan dan semaraknya pun tidak ada sehingga kita memandang dia.

    Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggungnya, dan kesengsaraan kita yang dipikulnya, padahal kita mengira dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh” (Yes. 53:4-5).

    Karena mengacu pada suatu sumber yang sangat tua, dapatlah dipahami bahwa filsafat Levinas berhubungan sangat erat dengan tradisi dan refleksi tentang penganiayaan. Hal ini bahkan mengangkatnya ke tingkat yang mengatasi suatu autobiografi filosofis. Pemikirannya berasal dari suatu warisan rohani yang sangat tua umurnya.

    Dalam bukunya Le dernier de Justes ( Orang budiman yang terakhir ) Andre Schwarz-Bart menampilkan dunia di mana kidung Yesaya itu menjadi suatu kenyataan yang hidup dan terus dihayati. Dia menceritakan sebuah cerita Yahudi kuno tentang Lamed Waf:

    “Menurut kisah dunia bertumpu pada tiga puluh enam Orang Budiman, Lamed-Waf, yang sama sekali tidak dapat dibedakan dari makhluk hidup yang lain; seringkali mereka tak sadar akan hal itu. Tetapi andaikan hanya satu saja dari Lamed-Waf itu tidak ada, penderitaan umat manusia akan menyebarkan racun bahkan dalam jiwa anak-anak dan umat manusia akan menjerit-jerit kesakitan. Lihatlah, Lamed-Waf adalah hati dunia yang bermacam ragam; di dalam diri mereka semua kesedihan kita ditumpahkan seolah-olah dalam sebuah kolam.

    Schwarz-Bart bercerita tentang sejarah atau dinasti. Dalam setiap generasi lahirlah satu orang Budiman. Garis keturunan itu berhenti dengan meninggalnya Emie Levy di kamar gas di Auschwitz. Buku ini menceritakan tentang bagaimana pada suatu sore, sesudah pertemuan di dalam sinagoga, pembicaraan beralih ke kedatangan Almasih. Bagimana kedatangannya dapat dipercepat? Salah seorang dari yang hadir menjawab: “Kita harus menderita…….ada tertulis: penderitaan serasi dengan Israel seperti pita merah serasi dengan leher seekor kuda jantan putih. Dan ada tertulis: kita akan menanggung penderitaan dunia; kita akan menanggung semua kesedihannya, dan bagi orang banyak rupanya kita akan nampak sebagai orang-orang yang dihukum, dijatuhkan dan direndahkan oleh Yang Mahatinggi. Hanya pada saat itu, pada saat Israel akan menderita dalam setiap bagian tubuhnya, dalam setiap tulangnya, di seluruh tubuh dan syarafnya, dan ditinggal tergeletak di persimpangan jalan, – hanya pada saat itulah Allah melahirkan seorang Almasih!” Dan Mordekhai, selain seorang Budiman itu berkata kepada isterinya: “Lamed-Waf menanggung sendiri penderitaan……membawanya ke surga dan meletakkan bebannya di kaki Tuhan – yang memberikan pengampunan. Karena itulah dunia tetap ada.

    Latar belakang inilah yang kiranya melandasi pernyataan-pernyataan Levinas tentang yang satu untuk yang lain (l’un pour l’autre), tanggung jawab yang terbatas atas orang-orang lain, substitusi (substitution) dan yang serupa.

    Emmanuel Levinas

    Kesaksian tentang Allah

    Tetapi selain yang baru disebut perlulah ditambahkan yang berikut ini.

    Sudah dikatakan bahwa hubungan antar aku dan orang-orang lain bersifat asimetris. Artinya, aku lebih bertanggung jawab tanpa batas daripada setiap orang lain.

    Menerima tanggung jawab tersebut hendaklah terjadi sekarang dan di sini. Penerimaan seperti itu merupakan kesaksian tentang Allah. Kata Levinas, “aku takut akan Allah”, yang sering kali muncul dalam tulisan-tulisanku. Menurut pendapatku, wajah menandakan Yang tak berhingga atau menjadi tanda-Nya. Hal itu tidak pernah tampak sebagai suatu pokok (artinya, sesuatu yang dibicarakan, yang diamati atau didiskusikan dan sebagainya), tetapi dalam arti etis (artinya, tanda-tanda yang diberikan oleh sikap etis). Semakin aku adil, semakin aku bertanggung jawab. Seseorang tidak pernah tanpa utang terhadap yang lain. Selanjutnya “apabila aku berkata dihadapan orang lain “Ini aku (me voici), maka “Ini aku (me voici) tersebut merupakan tempat di mana Yang tak berhingga itu masuk dalam bahasa, tetapi tanpa membiarkan aku melihatnya. Kukatakan bahwa subjek yang berkata “Ini aku” (me voici) memberikan kesaksian tentang Yang tak berhingga. Melalui kesaksian tersebut terjadilah pewahyuan dari Yang tak terhingga. Melalui kesaksian itu kemuliaan dari Yang tak terhingga memuliakan dirinya sendiri. “Ini aku” (me voici) bermakna profetis. Hal itu mengingatkan kita akan ungkapan hineni (bahasa Ibrani) dalam Kitab Suci. Abraham mengatakan hineni ketika ia dipanggil untuk mengorbankan anaknya Ishak (Kej. 22:1); Musa mengatakan hineni tatkala ia berdiri di depan semak duri yang menyala (Kel. 3:4); nabi Yesaya mengatakan hineni ketika Allah bertanya tentang siapa yang akan diutus-Nya (Yes. 6:8). Hineni – “Ini aku” (me voici) – adalah tanda yang menunjukkan bahwa seseorang adalah seseorang untuk orang lain (l’un pour l’autre). Bagi Levinas hineni (ini aku, me voici) adalah “akusatif” yang menakjubkan: ini aku (me voici) yang engkau tatap, yang berutang budi kepadamu, hambamu. Atas nama Allah.

    “Ini aku…..kepadamu…….atas nama Allah” mengungkapkan rasa keagamaan yang mendalam yakni bahwa bila kita memberikan pakaian pada orang yang telanjang atau memenuhi kebutuhan orang yang berkekurangan, bila kita menerima orang asing atau membantu orang yang tak berdaya, kita “memberikan kesaksian” tentang kehadiran Allah. Kita seolah-olah merasakan bahwa dalam perbuatan-perbuatan yang menunjukkan tanggapan dan cinta kasih  manusiawi terhadap orang lain. Yang tak berhingga sedang lewat. Kita seolah-olah mengalami suatau sentuhan dari Kebaikan yang tak terhingga, suatu isyarat dari cinta kasih yang tak terperikan, suatu jejak dari yang ilahi sendiri yang sedang melewati jalan tersebut. Menyerahkan diri kepada orang lain, kepada orang yang berada dalam kekurangan, mengundang dan menandakan kehadiran Allah yang sedang lewat.

    Allah yang dimaksudkan Levinas adalah Allah Musa dan para nabi. Allah itu Allah keadilan. Dia bukan Allah yang bersifat mistis, mitis atau sakramental sejauh ungkapan-ungkapan tersebut menunjukan tidak adanya jarak atau terjadinya semacam peleburan antara yang tak berhingga dengan Yang tak berhingga. Levinas lebih mengikuti tradisi Talmud dengan menolak pelbagai bentuk entusiasme dalam hidup keagamaan. Entusiasme seperti itu, menurutnya, dapat membahayakan kemurnian inspirasi kenabian.

    Penutup

    Baiklah disajikan beberapa kesimpulan sebagai penutup tinjauan yang singkat ini.

    . Filsafat Levinas dapat disebut filsafat transedental etis. Tekanan dapat diberikan pada kata sifat etis. Ia sendiri bahkan menyetujui nama itu: “Saya sangat setuju dengan rumusan transedentalisme etis yang mencirikan filsafat saya, dengan catatan bahwa kata sifat transedental menyatakan adanya semacam prioritas, yakni bahwa etika mendahului ontologi. Karena itu dapat disebut suatu transendentalisme yang bertolak dari etika.

    • Tanggung jawab terhadap orang-orang lain mendahului kebebasan yang mencirikan diriku sebagai subjek. Dengan bertanggung jawab dan semakin bertanggung jawab aku menemukan dan semakin menemukan jati diriku sebagai subjek dalam arti subjectus. Aku di tempatkan di bawah orang-orang lain dan menjadi taklukan serta sandera (otage) mereka. Aku menjadi substitusi (substitution) untuk mereka. Aku tidak lagi menjadi pusat segala sesuatu, termasuk orang lain.
    • Munculnya orang-orang ketiga membuat aku disandera oleh semua orang itu dan menjadi substitusi (substitution) untuk mereka semua. Tetapi munculnya orang-orang itu membawa serta perbaikan pada tuntutan-tuntutan yang tidak terbatas yang disampaikan mereka semua padaku. Mereka juga mempunyai kewajiban terhadapku. Tanggung jawab yang tak terbatas diwujudkan dalam bentuk keadilan institusional-sosial, politik yang jujur dan tulus, serta ekonomi yang manusiawai.
    • Di samping dan di belakang orang lain yang hadir sekarang dan di sini, yang adalah yang mutlak untukku, juga hadirlah orang-orang yang lain lagi. Mutlaknya tuntutan mereka melarang aku untuk memusatkan perhatian hanya pada satu orang saja dan menyingkirkan orang-orang lain. Pembatasan penyerahan diri yang tidak terbatas kepada orang lain kiranya tak terhindarkan. Namun pembatasan itu tidak membuat orang kembali kepada egoisme. Banyaknya orang itu menampakkan persaudaraan (fraternite) yang universal, yang menjamin diri dan hidupnya dengan membangun suatu masyarakat yang adil. Maka perlulah adanya perencanaan bersama, adanya pemerintahan serta strategi politis dan sebagainya. Namun semua hal itu selalu harus menimba inspirasinya dari hubungan yang asimetris, di mana aku lebih bertanggung jawab tanpa batas daripada orang lain.
    • Bersikap adil terhadap orang-orang lain dan hidup dalam keadilan dengan mereka memberi kesaksian tentang kehadiran Allah yang mahaadil yang sedang lewat serta mendekatkan aku secara tak terperikan dengan Allah yang abadi dan mahatinggi. Seorang mengikuti Allah yang mahaadil, mahatinggi dan abadi terutama dengan mendekati sesamanya dan dengan memperhatikan para janda dan yatim-piatu, orang-orang asing dan para pengemis. Pendekatan itu tidak boleh dilakukan dengan tangan yang hampa.

                               ************

    Sumber: “Pidato yang diucapkan pada Sidang Terbuka Senat Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Pengukuhan Jabatan Guru Besar Biasa Ilmu Filsafat di Jakarta Pada Tanggal 23 September 2000”.

  • Pendidikan Humanis: Kritik atas Pendidikan Kita

    Pendidikan Humanis: Kritik atas Pendidikan Kita

    Oleh Nardi Maruapey *

    PRAKTEK pendidikan di bangsa ini sering keluar jalur atau tidak sesuai dengan konsep yang sesungguhnya berdasarkan cita-cita pendiri bangsa yakni berbasis pembentukan etika dan moral manusia menjadi beradab.

    Pendidikan saat ini lebih cenderung menjadikan peserta didik sebagai generasi masa depan hanya untuk mencapai kepintaran saja sehingga mengabaikan hal-hal lain.

    Hal-hal lain yang dimaksud itu seperti pentingnya membangun relasi dengan orang lain, perlunya melakukan aktivitas sosial dalam masyarakat, saling berbagi pengetahuan dengan sesama dan tentunya moralitas generasi. Hasilnya manusia yang keluar dari proses pendidikan akhir-akhir ini lebih bersifat individualistik.

    Padahal orientasi yang diharapkan dari semangat awal pendidikan Indonesia pra dan pasca kemerdekaan adalah menyadarkan manusia Indonesia dari ketidaksadaran akibat penjajahan dan mengembalikan nilai-nilai kemanusiaan yang telah hilang. Atau sederhananya dengan pendidikan dapat membentuk karakter manusia Indonesia.

    Seperti dalam gambaran bapak pendidikan nasional kita, Ki Hadjar Dewantara bahwa pendidikan adalah upaya menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi- tingginya (Zahara Idris, 1991: 9).

    Ki Hadjar Dewantara



    Pendidikan yang menjadi cita-cita Ki Hadjar Dewantara adalah membentuk anak didik menjadi manusia yang merdeka lahir dan batin. Luhur akal budinya serta sehat jasmaninya untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna bertanggung jawab atas kesejahteraan bangsa, tanah air serta manusia pada umumnya.


    Namun, ada kontradiksi ketika kita melihat antara konsep pendidikan sebagaimana yang dicita-citakan dahulu dengan sistem pendidikan hari ini. Misalkan, dalam sistem pendidikan formal kita sudah sangat tergantung pada modal atau pendidikan kita telah dikapitalisasi. Sehingga pendidikan akan menjadi batu sandungan terhadap para kelompok yang tidak memiliki kapital yang cukup.

    Kita tentu bisa mengecek itu dalam buku Orang Miskin Dilarang Sekolah (2004), yang ditulis Eko Prasetyo bahwa kini wajah pendidikan semakin dicemari oleh mahalnya biaya dan kekerasan yang terjadi di dalamnya.

    Para korban lagi-lagi adalah orang miskin yang menjadi mayoritas penduduk negri ini. Kepercayaan atas pendidikan kian luntur, apalagi jaminan masa depannya juga kabur.

    Dan pendidikan yang dikapitalisasi akan cenderung melahirkan generasi hedonis, pragmatis. Di lain sisi, keluaran pendidikan kita cenderung melahirkan generasi yang berkarakter pekerja dari pada pemikir akibat dari berbagai sistem yang diterapkan. Lembaga sekolah sudah selayaknya perusahaan industri.

    Ini juga akan berdampak pada bagaimana indikator kita melihat kualitas sumber daya manusia (SDM) pada seseorang. Cak Nun menegaskan itu lewat tulisannya “SDM versus Manusia Indonesia Seutuhnya” (2020), bahwa SDM yang kita maksud selama ini sesungguhnya adalah SDM atau sumber daya industrial (pada) manusia.

    Cak Nun

    Cak Nun mengatakan kalau term SDM tidak lahir, misalnya, dari arena kebudayaan atau keberbudayaan, dengan sumber daya primer yang dimaksudkan adalah potensi kepribadian seseorang dalam kaitan-kaitan kebersamaan makhluk hidup: integritas dan kasih sayang sosial, kesalehan hati, empati dan toleransinya kepada orang lain, akhlak dan tasamuh-nya.

    Kalau perkembangan pendidikan kita terus demikian, maka ini adalah malapetaka bagi masa depan generasi dan bangsa. Olehnya itu, perlu adanya alternatif demi menjelaskan pengaruh pendidikan terhadap peradaban dan kualitas suatu bangsa.

    Alternatif yang dimaksud adalah pendidikan yang mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan atau pendidikan yang humanis. Pendidikan humanis merupakan cerminan untuk melihat masa depan.

    Sehingga pendidikan humanis mampu menjadi solusi terbaik terhadap hilangnya nilai-nilai kemanusiaan dalam proses pendidikan kita.

    Pendidikan Humanis

    Secara konsep, pendidikan humanis ialah pendidikan yang menempatkan seseorang sebagai salah satu subjek terpenting dalam pendidikan sebagai pelaku yang sebenarnya dalam pendidikan itu sendiri.



    Paulo Freire menjelaskan pendidikan humanis sebagai pendidikan yang mempertegas dan memperjelas arah pendidikan yang membebaskan dan memerdekakan, yaitu sebuah upaya pemberdayaan masyarakat tertindas menuju sebuah paradigma kritis dan trasformatif dalam mewujudkan sebuah kebebasan sebagai hak asasi setiap manusia.

    Pendidikan mesti dimaknai sebagai proses humanisasi (upaya memanusiakan manusia) yang mengandung implikasi bahwa tanpa pendidikan, manusia tidak akan menjadi manusia dalam arti yang sebenarnya.

    Dalam pendidikan humanis, yang melandasi dan medasarinya adalah adanya
    kesamaan kedudukan dan kebebasan manusia. Ini berarti bahwa manusia satu dengan yang lain adalah sama, dan bebas sebagai fitrahnya.

    Tujuan

    Sejatinya, tujuan dalam pendidikan yang humanis adalah membentuk seorang individu yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab sebagai makhluk individual sekaligus sosial.

    Bahwa dengan pendidikan humanis kemudian dapat membentuk manusia dan sekaligus generasi yang berkarakter, punya akhlak, moral etik dan tentunya kecerdasan secara intelektual. Sederhananya pendidikan humanis itu tujuannya menjadikan manusia yang seutuhnya.

    Sehingga yang dibutuhkan pelaksanaan dari pendidikan yang humanis adalah sistem pendidikan, kurikulum yang dijalankan, proses pembelajaran, sistem penilaian serta kebijakan-kebijakan yang diberlakukan haruslah bersifat humanis pula untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan.

    **********

    Nardi Maruapey, Mahasiswa FKIP Universitas Darussalam Ambon

  • Maria, Bunda Perdamaian –  Perayaan Bunda Kudus Allah

    Maria, Bunda Perdamaian – Perayaan Bunda Kudus Allah

    Paus Yohanes Paulus II

    Mintalah perdamain bersama kami. Keibuan Maria…mirip dengan pesan Minggu Oktaf kelahiran Tuhan. Kelahiran selalu berbicara tentang Sang Bunda, tentang Dia yang memberikan kehidupan…….

    Hari pertama Tahun Baru adalah hari Ibu. Tidak ada gambar—–misteri kelahiran Tuhan yang lebih sederhana daripada gambar Sang Bunda bersama Yesus dipangkuannya. Bukankah gambar ini menjadi sumber kepercayaan kita?

    Pieta

    Tetapi ada gambar lain Sang Bunda dan Anak di pangkuannya: “P i e t a,” Maria yang memangku Yesus yang diturunkan dari salib. Bersama Yesus, yang berlalu dihadapan matanya…….dan, setelah kematian-Nya, Ia kembali ke pangkuan di mana Dia ditawarkan sebagai Penyelamat dunia di Betlehem.

    Oleh karena itu, saya akan menggabungkan doa kita bagi perdamaian dengan kedua gambar tadi: “Ya Bunda, engkau yang tahu apa artinya memangku jenazah Putramu….bebaskanlah semua ibu dari kematian putra mereka, dari penderitaan, dari perbudakan, dari kehancuran karena perang, dari penyiksaan, dari kamp-kamp kosentrasi dan dari penjara! Berikanlah kegembiraan kelhiran bagi mereka, kegembiraan perawatan, kegembiraan akan perkembangan manusia dan hidupnya.”

    Dalam nama…..kelahiran Tuhan, pintalah perdamaian bersama kami, dengan segala keindahan dan keagungan keibuanmu, yang dimuliakn oleh Gereja dan dikagumi dunia. Kami mohon kepadamu: seratilah kami setiap saat ! Buatlah Tahun Baru ini menjadi tahun perdamaian berkat kelahiran dan kematian Puteramu!      A m i n.

    Sumber Doa dan Devosi, Paus Yohanes Paulus II, Penerbit Erlangga, 1995.

  • Memaknai Waktu dan Ruang-Tempat

    Memaknai Waktu dan Ruang-Tempat

    * Simply da Flores

    TAHUN 2020 sudah di penghujung, sehari lagi berakhir. Tahun 2021 segera tiba. Masing-masing pribadi, keluarga, kelompok, organisasi, bangsa memberikan tanggapan sesuai dengan keyakinan, cara berpikir, penghayatan, kepentingan serta kesanggupannya. Ada juga yang sibuk dan tidak mau peduli dengan soal pergantian kalender dan perayaan akhir tahun serta tahun baru tersebut.

    Satu aspek penting sehubungan dengan penanggalan atau kalender tersebut, apapun kalendernya, adalah soal konteks “waktu dan tempat”. Kenyataan alamiah setiap pribadi, keluarga dan kelompok manusia adalah sangat tergantung dengan waktu dan tempat. Kita mengalami kehidupan dalam waktu dan ruang-tempat, dimana kita berada dan kapan saatnya. Ada yang bisa direncanakan, ada yang di luar kemampuan perencanaan kita; entah secara pribadi, keluarga atau berkelompok lainnya. Prinsip dan misterinya adalah kenyataan bahwa tidak ada seorangpun “meminta – mengusul – merencakanan” kelahiran dirinya di dunia ini; masuk dalam kehidupan, dalam ruang dan waktu. Inilah salah satu alasan alamiah kodrati, kenapa ada tradisi dan kebiasaan untuk merayakan peristiwa, merayakan makna ruang dan waktu. Salah satunya adalah menyadari dan merayakan akhir tahun dan tahun yang baru, di samping berbagai perayaan peristiwa lainnya dalam kehidupan.

    Sejatinya perayaan tentang waktu dan ruang adalah penegasan tentang hakekat kehidupan setiap pribadi. Hidup adalah ziaran setiap pribadi dalam ruang dan waktu. Dalam proses itulah, setiap pribadi, keluarga dan kelompok memberi makna atas pengalaman melalui ruang dan waktu tersebut. Maka hidup ini sejatinya adalah perjalanan memberi makna terhadap ruang dan waktu yang kita terima secara kodrati dan cuma-cuma. Termasuk yang memilih masa bodoh dan tidak peduli dengan segala bentuk perayaan syukur, juga adalah bentuk tanggapan terhadap ruang dan waktu. Alasannya, setiap pribadi memiliki hak dan kehendak bebas untuk memilih, mensikapi dan memberi makna terhadap ruang dan waktu yang mutlak dialami serta diterima dari Sang Pemberi dan Pemilik kehidupan.

    Ada doa, ritual, upacara, ucapan, musik, hiasan warna-warni, aneka makanan, atraksi dan berbagai bentuk ekspresi terhadap ruang dan waktu, peristiwa yang dialami. Semuanya menjadi ungkapan makna dari dalam setiap pribadi, keluarga dan kelompok manusia, agar dapat memperoleh makna baru dan kekuatan melanjutkan ziarah kehidupan dalam ruang dan waktu ke depannya. Perbedaannya adalah alasan, cara dan tujuan yang dipilih oleh masing-masing pribadi, keluarga dan kelompok untuk setiap waktu dan ruang – tempat dalam kehidupan ini. Inilah kenyataan yang disebut ‘cronos – Tempus – time – waktu’ dan Locus – ruang – tempat; yang memungkinkan manusia sudah melahirkan sejarah kehidupan dan peradaban, serta peluang untuk menulis – membuat sejarah budaya saat ini, serta kemungkinan demi menggapai masa depan. Kita manusia menyebutnya dengan ‘kemarin, hari ini – saat ini, dan esok’. Kemarin adalah kenangan, hari ini kenyataan dan besok adalah harapan.

    Karena kehidupan adalah ziarah dalam waktu dan ruang untuk memberi makna bagi diri masing-masing di tengah relasi mutlak dengan sesama, alam lingkungan, semesta di hadapan Sang Pemilik ruang dan waktu; maka marilah kita saling MENDOAKAN, agar kita mau dan mampu BERSYUKUR dan hidup kita masing-masing bisa menjadi BERKAT – Berkah sampai ajal menjemput jiwa kita keluar dari waktu dan ruang kehidupan. Kita telah terima dengan cuma-cuma berkat – berkah kehidupan ini dengan cuma-cuma, maka kewajiban kodratinya adalah mau kasih – memberi juga dengan cuma-cuma kepada sesama dan alam lingkungan kehidupan ini; dimana hakekatnya setiap pribadi kita adalah bagian kecil dari sesama dan alam lingkungan semesta ini, untuk satu tujuan: Rencana dan Kehendak Sang Maha Pencipta – Sang MAHA PENGASIH dan MAHA PENYAYANG.

    Hemat saya, banyak masalah dalam kehidupan kita saat ini, akarnya adalah sangat kurangnya – bahkan hilangnya BERSYUKUR (Terima – Kasih), dalam pemahaman, kesadaran dan tingkah laku kita; baik secara pribadi maupun bersama dalam keluarga dan berkelompok. Ketika seseorang dan atau satu keluarga dan kelompok HANYA mau terima, tetapi tidak mau Kasih – memberi – berbagi (kepada sesama dan alam lingkungan) – maka saat itulah masalah mulai timbul, laku beranak pinak. Jika kepada sesama dan alam lingkungan saja kita tidak Kasih – memberi – berbagi, sangat pasti bahwa kepada Sang Pencipta juga kita lupa dan abaikan. Karena pada hakekatnya, setiap pribadi hanya bisa Kasih – berbagi kepada sesama dan alam lingkungannya jika dirinya sadar – tahu – mau dan melakukan syukur kepada Sang Maha Pemberi kehidupannya; entah apa pun keyakinan – kepercayaan, adat, agama-nya. Isi dan makna dari bersyukur adalah TERIMA – KASIH. Semoga kita sekalian semakin sadar dan mampu bersyukur, dalam jiwa, hari nurani dan pikiran, dan terlahir dalam perkataan dan perbuatan sehari-hari, sebagai sumber kekuatan untuk berziarah mengalami waktu dan ruang menuju ajal – akhir hayat di dunia ini. Syukur atas Tahun 2020, dan semoga diberkahi menyambut Tahun Baru 2021, untuk mengisi ruang dan waktu yang baru dengan SYUKUR, sehingga hidup kita masing-masing menjadi Berkah – Berkat bagi sesama dan alam lingkungan. Di sanalah damai tumbuh bersemi, melahirkan Surga di atas bumi bagi semua ciptaan Sang Maha Cinta dan Maha Misteri. “Ya ALLAH, syukur kepadaMU atas segala berkah kehidupan ini, jadikanlah kami pembawa berkat serta pribadi yang selalu tahu dan mampu BERSYUKUR….Amin” SYALLOM, SYALLAM, RAHAYU, SELAMAT bagi segenap Saudari-saudara kehidupan.

    *Simply da Flores, Peminat Masalah Sosial Budaya, Alumnus STF Driyarkara

  • Kehadiran Allah dalam Waktu

    Kehadiran Allah dalam Waktu

    Paus Yohanes Paulus II

    Di hadapan palungan, dengan hati menyembah, marilah kita merenungkan waktu yang berlalu, yang mengalir dan membawa eksistensi kita yang sementara di dalamnya. Dengan kata-kata Ilahi-Nya, Yesus melepaskan kita dari kecemasan akan hal-hal yang tidak berarti dan mengatakan kepada kita bahwa, sesuai dengan perjalanan waktu yang Panjang dan misterius, sejarah manusia adalah suatu perjalanan kembali ke rumah Bapa, suatu perjalanan kembali ke Tanah Terjanji. Karena itu, setiap orang akan mengikuti perjalanan ini menuju Bapa. Hidup berarti melalui jalan itu kembali ke rumah, setiap hari dan setiap jam.

    Sementara kita berpikir tentang tahun sulit yang kita lewati ini, marilah kita ingat bahwa pesan Natal menguatkan dengan kepastian mutlak bahwa Allah senantiasa hadir, bahkan dalam pertentangan-pertentangan sejarah manusia sekalipun. Dengan menciptakan manusia bebas dan berakal, Dia mewariskan sejarah ini dengan puncak-puncak yang tinggi dan jurang-jurang yang dalam dan mengerikan, namun Ia tidak pernah meninggalkan manusia. Kelahiran adalah jaminan bahwa kita dicintai oleh Yang Maha Tinggi, bahwa kekuasan-Nya dijalin dengan Penyelenggaraan-Nya dengan cara yang biasanya gelap dan kabur dan tidak dapat dimengerti oleh akal manusia. Inilah sebabnya mengapa kita harus mengingat perkataan Santo Paulus kepada Umat di Korintus: “Hanya Tuhanlah yang menghakimi aku, karena itu janganlah melakukan penghakiman sebelum Ia datang kembali. Ia akan menyingkap segala yang tersembunyi di dalam kegelapan dan membuka isi hati kita. Pada waktu itu, setiap orang akan memuji Allah.”

    Seorang pemikir besar abad ini, Kardinal Newman, mengatakan dalam suatu kotbahnya: “Tangan Allah selalu berada di atas orang-orang kesayangan-Nya, dan membimbing mereka dengan jalan yang tidak mereka ketahui. Mereka hanya bisa percaya akan apa yang tidak bisa mereka lihat, tetapi akan melihatnya kemudian, dan, sambil tetap bertekun dalam iman mereka, mereka bekerja dengan Allah ke arah itu.”

                                      ******

    Sumber: Doa dan Devosi, Paus Yohanes Paulus II, Penerbit Erlangga, 1995