Category: OPINI

  • R e n u n g a n  N a t a l :   Antara Kasih Allah dan Romantisme Manusia

    R e n u n g a n N a t a l : Antara Kasih Allah dan Romantisme Manusia

    Oleh  Mgr Dr Paulinus Yan Ola, MSF, Uskup Tanjung Selor, Kalimantan Utara

     

    Sejak awal Desember Kota Solo diselimuti aneka warna lampu yang memanjakan mata di senja dan malam hari. Sebuah romantisme perayaan Natal dibangun. Ia mirip apa yang terlihat di kota-kota besar dunia, termasuk kota Roma. Dalam ritus tahunan ini, manusia berharap Allah menyapa dalam doa, pujian, dan kegembiraan.

    Romantisme dan harapan akan kasih Allah mendapat konteksnya karena Natal tahun ini dalam situasi yang tampak kelam. Ada peperangan dan konflik berkepanjangan. Ada gempa bumi dan letusan gunung api. Natal dibayang-bayangi berita mencemaskan tentang kemungkinan memburuknya kondisi ekonomi di tataran mondial sebagai dampak perang Rusia Ukraina, pengetatan moneter global dan perlambatan ekonomi China (Economist Intelligence Unit, 2022).

    Indonesia pun diprediksi bisa mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Kelesuan perdagangan, pemutusan hubungan kerja, dan melemahnya daya beli masyarakat, bisa terjadi bila tidak diantisipasi (Kompas, 05/12/2022).

    Namun, kita percaya Natal bukanlah sekadar ritus penghibur keputus-asaan. Melalui Yesus umat Kristiani mengimani bahwa kegelapan dunia diterangi oleh Allah sendiri. Tuhan datang melawat umatNya. Dalam kegelapan dan ketakutan manusia, Natal memancarkan harapan baru di tengah kesuraman hidup.

    Kedamaian yang dirindukan, yang tampak tak kunjung tercapai bukan suatu impian kosong. Ia merupakan sebuah janji Allah yang dinubuatkan dan dapat tercapai kendati belum sempurna. Perayaan Natal membangkitkan kembali percikan harapan akan kehidupan yang damai dan lebih manusiawi.

    Harapan akan perubahan hidup itu tidak terjadi seketika. Kehadiran Allah dalam diri Yesus yang tinggal di antara manusia bukan untuk mengambil alih tanggung jawab manusia. Diperlukan keterlibatan manusia dalam menciptakan kondisi yang dirindukan itu agar terwujud secara bertahap. Tindakan Allah dalam diri Yesus terwujud melalui keterlibatan manusia beriman.

    Menanggapi dengan kasih

    Perang dan berbagai konflik yang dialami menjadi indikasi kuat bagi orang Kristiani yang merayakan Natal untuk menanggapinya. Allah yang diimani orang Kristiani, melalui Yesus selalu menunjuk “kasih” sebagai jalan perjuangan.

    Itulah sebabnya dalam suratnya kepada bangsa Ukraina yang menjadi korban peperangan, Paus Fransiskus meratapi kegagalan untuk mengasihi. Melihat para korban perang Paus Fransiskus mengatakan, “Di dalam diri masing-masing mereka, seluruh umat manusia menderita kekalahan.” (Surat Paus Fransiskus, 24 November 2022).

    Menanggapi berbagai situasi di atas, dalam perspektif rohani, Natal tahun ini mendorong Gereja-Gereja di Indonesia untuk merenungkan kisah tiga orang bijaksana yang dalam kisah Alkitab mengunjungi Yesus yang baru dilahirkan. Mereka mau menyembah Yesus sebagai “Raja” dan hal itu membangkitkan kepanikan dan kegelisahan Raja Herodes sebagai penguasa setempat.

    Motif politik kekuasaan mendorong Herodes untuk berpura-pura menjadi pula penyembah Raja yang baru lahir. Tiga orang bijaksana dari Timur ingin ditunggangi Herodes dengan mengorek informasi agar dapat “menghabisi” Yesus, bayi yang dilihat sebagai “musuh” dan lawan politiknya.

    Niat busuk Herodes tidak sampai terlaksana karena Allah mengarahkan ketiga orang bijaksana dari Timur itu kembali ke tempat asalnya melalui jalan lain tanpa menemui lagi Herodes. Itulah Tema Natal Nasional tahun ini, “…pulanglah mereka ke negerinya melalui jalan lain” (Matius 2:12).

    Pesan rohani

    Ada beberapa pesan rohani dari kisah Alkitab di atas. Pertama, adalah ajakan untuk merintis jalan-jalan baru setelah perjumpaan dengan Yesus dalam peristiwa Natal.

    Natal bukanlah sekadar seremoni emosional yang mengarah pada pemuasan kesenangan superfisial dan hedonistis. Ia menyangkut perintisan jalan-jalan baru pengorbanan diri agar lahir harapan-harapan baru dan realitas baru menuju kebaikan bersama warga-bangsa.

    Yesus bukanlah alasan untuk berfoya-foya dalam sebuah romantisme kosong. Ia menjadi panggilan mengikuti pembaruan rohani Yesus melalui “revolusi kasih” yang membawaNya pada kematian di kayu Salib.

    Pesan kedua adalah, perlunya dihentikan penggunaan agama sebagai “kendaraan” untuk berbagai kepentingan perebutan kekuasaan maupun motif ekonomi dan keuntungan pribadi seperti dilakukan Herodes. Agama jangan digunakan sebagai sarana kekerasan untuk kepentingan pribadi.

    Semua agama dipanggil menjalankan “revolusi kasih” karena “kebencian bukanlah hakikat agama.”

    Diskursus politik dan eskalasi ketegangan sosial menjelang Pemilihan Umum hendaknya steril dari instrumentalisasi agama. Semua agama dipanggil menjalankan “revolusi kasih” karena “kencian bukanlah hakikat agama.”

    Ketiga, “revolusi kasih” yakni pengorbanan diri yang dipilih Yesus perlu dilanjutkan sebagai jalan membangun kesejahteraan umum. Caranya adalah melawan “ketidakpedulian.” Ada globalisasi ketidakpedulian yang menyebabkan dunia berada dalam keterpurukan (Paus Fransiskus, 2015).

    Ketidakpedulian yang sangat besar ditandai oleh aneka bentuk pertikaian yang berbasis keinginan untuk mencari keuntungan bagi diri sendiri dan mengabaikan orang lain.

    Natal memperlihatkan bahwa Allah peduli dan memanggil manusia untuk peduli. Di sana ada bentuk “pengosongan diri” yang berpuncak pada kasih yang total, agape. Bentuknya adalah “salib.” Kayu silang itu adalah tanda kepedulian Allah yang paling tinggi yakni kasih Yesus yang tersalib.

    Natal membawa panggilan etis-spiritual bagi yang merayakannya untuk mengambil bagian dalam kepedulian Allah terhadap penderitaan manusia. Ia bukan perayaan untuk kesenangan pribadi, bukan kendaraan politik kekuasaan apalagi pelampiasan kesenangan hedonis semata.

    Natal dengan demikian bukanlah sekadar sebuah ritus emosional kosong. Ia mengungkap kasih Allah sekaligus panggilan kepada manusia untuk mengasihi sampai mengorbankan diri demi kehidupan bersama. Situasi suram manusia tidak untuk diratapi tetapi menjadi kesempatan untuk mewujudkan kasih.

    Selamat Hari Raya Natal.

    ***************************************************

    Sumber Kompas 24 Desember 2022

  • Aceh: Antara Kosmologi dan Psikologi

    Aceh: Antara Kosmologi dan Psikologi

    I G N A S   K L E D E N,  Sosiolog

     

    Setelah musibah Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004, tsunami pasti bukamlah sekedar “ombak yang berlabuh” sebagaimana bahasa Jepang mengartikannya. Dengan korban jiwa jauh di atas 100.000 jiwa, yang hidupnya direnggut hanya dalam waktu lima hingga sepuluh menit, tsunami, gelombang dahsyat yang konon menerabas pantai dan daratan dengan kecepatan 75 km per jam, setelah melewati lautan dengan kecepatan di atas 800 km per jam, lebih tepat diartikan sebaai “maut yang berlabuh”. Banda Aceh yang penuh sejarah yang gemilang – dalam tata negara, kebudayaan Islam dan perdagangan – menjelma dalam beberapa menit menjadi sebuah kuburan terbesar dan reruntuhan yang paling luas dalam sejarah modern, dengan nisan yang hanya tertulis dalam ingatan atau bawah – sadar kita.

    Indonesia hanyut dalam duka-nestapa dan dunia dikejutkan oleh penderitaan sejumlah besar mahluk yang bernama manusia. Dalam beberapa hari yang menyusul tingkahlaku orang-orang yang masih hidup, dan bangsa-bangsa yang menyaksikan bencana itu, seakan-akan berubah drastis: ideologi menjadi tidak relevan, perbedaan agama menjadi tidak penting, persaingan politik dan ekonomi antar-bangsa dilupakan sementara waktu, karena semua pihak bersatu padu dalam simpati terhadap penderitaan manusia yang mendekati batas putus-asa. Aceh tegak sebagai dokumen yang untuk sekian kalinya memperingatkan dunia bahwa kemajuan dan kemakmuran akan selalu cenderung memilah-milah, membedakan dan bahkan memisahkan, tetapi penderitaan manusia selalu punya energi untuk mempersatukan, menghimpun dan mengumpul-satukan. Pernyataan dan komitmen bantuan mengalir dari segala penjuru tanah air dan dari negara-negara asing, dengan kecepatan dan dalam besaran yang mungkin sebanding dengan kecepatan dan besarnya tsunami itu sendiri.

    Ribuan anak-anak kehilangan ayah bunda dan mungkin juga seluruh kaum kerabatnya – sementara mereka sendiri belum sempat memahami apa artinya menjadi yatim piatu dan betapa pula rasanya hidup sebatang kara. Ayah ibu yang kehilangan anak mencoba mempertahankan harapan untuk masih dapat menemukan anaknya kembali, hidup atau mati, di antara timbunan mayat atau tumpukan sampah. Mereka yang belum sanggup mencerna semua pengalaman dan kehilangan menjadi limbung jiwanya sehingga bahkan tak sanggup lagi bertanya dan bersedih. Mereka memasuki rawa-rawa kejiwaan yang bernama bawah-sadar sebagai tempat pelarian dan cara memalingkan muka dari rasa pahit yang tak tertanggukan. Orang-orang di luar Aceh mencoba berspekulasi tentang apa yang dikehendaki Tuhan dari bencana ini, sementara orang Aceh sendiri barangkali mencoba menyerah kepada apa pun yang menjadi kehendak Tuhan. Atas cara yang sama para korban bencana menerima dengan terima kasih bantuan makanan, air bersih dan pakian serta obat-obatan yang berdatangan dari segala pihak, sementara para “petualang politik” mulai sibuk meniup isu tentang motf dan agenda tersembunyi dari orang-orang yang mengulurkan bantuan.

    Apa pun soalnya di Aceh ada bencana, yang oleh PBB dinyatakan sebagai bencana internasional, yaitu suatu musibah yang menimpa seluruh dunia dan segala bangsa. Di banyak negara Eropah dan mungkin juga di tempat lain para warganya diwajibkan menundukan kepala dan mengheningkan cipta selama satu menit, sementara di Indonesia bendera nasional berkibar setengah tiang selama tiga hari. Media masa nasional dan internasional memberitaknnya dengan tekun selama dua minggu atau lebih, sementara tayangan televisi tentang bencana Aceh membuat berbagai acara hiburan dan bahkan terlihat sebagai “pornografi”. Orang mulai bertany apakah bencana Aceh menjadi “titik balik” dalam kesadaran dan perilaku nasional, seperti halnya jatuhnya bom atom di Hiroshima dan Nagasaki pada bulan Agustus 1945 atau peristiwa 11 September 2001 di Amerika Serikat telah mengubah kesadaran dan perilaku orang Jepang atau para warga Amerika Serikat. Apakah orang akan semakin menghormati semua yang bernama kehidupan? Apakah kita sendiri semakin sadar tentang rapuhnya bumi tempat kita hidup, yang kata para ahli hanya terdiri dari 16 lempengan yang melayang di atas cairan berapi? Apakah bumi semakin dirawat atau manusia yang harus diruwat?

    Tsunami Aceh ternyata tak hanya menghempas Nangroe – Aceh – Darussalam (NAD) tetapi sekaligus menghempas jiwa kita, menghamyutkan demikan banyak harapan sambil meninggalkan tumpukan sampah dan reruntuhan dalam rohani kita.

    Adalah seorang filosof Prancis – Rene Descartes (1596-1650) – yang mula pertama mengajukan gagasan bahwa hidup manusia mempunyai dua belahan. Yang satu adalah dunia di luar manusia yang dinamakannya kosmologi berupa susunan alam semesta dan belahan lainnya adalah dunia – dalam manusia sendiri – pikiran, disposisi, mentalitas dan rohaninya – yang dinamakan psikologi. Yang pertama dinamakannya res extensa yang hanya terdiri dari luasan, yang kedua berupa res cogitans yang sanggup berpikir. Pembagian ini sekaligus menunjukkan keyakinan Descartes bahwa dibandingkan dengan alam luar maka manusia seakan-akan mempunyai kedudukan yang lebih tinggi karena kemampuan akal-budinya. Maka hanya manusia yang sanggup berkata “saya berpikir, maka saya ada” atau “cogito, ergo sum”, suatu hal yang tak mungkin diucapkan oleh sebuah gunung atau sebatang pohon kelapa.

    Menghadapi bencana Aceh, rasanya tak mungkin lagi seorang di Indonesia saat ini masih berani bersumbar mengulang ucapan Descartes tersebut. Karena tsunami alam-semesta atau kosmologi ternyata mempunyai cara sendiri untuk memberitahukan bahwa dia ada. Tsunami di ujung utara pulau Sumatera itu menegaskan sesuatu yang lain: “aku membinasakan, maka aku ada” atau deleo ergo sum. Dia tidak mempunyai pikiran tetapi dia jelas mempunyai besaran, luasan, tenaga yang dapat menhancurkan. Tanpa pikiran, alam luar itu bagaikan tenaga buta yang bergerak secara mekanis menurut hukum-hukumnya sendiri, berupa peraturan yang dipatuhi oleh kekuatan semesta ini, tanpa mempertimbangkan mengapa dan untuk apa lempengan bumi yang satu harus bergeser dan menabrak lempengan lainnya.

    Tidaklah mengherankan bahwa renungan filsafat pertama yang dikenal dalam sejarah adalah kesibukan para pemikir Yunani dari Elea dan Miletos 6 abad sebelum Masehi dalam memandang dan berspekulasi tentang alam semesta, agar dari pengamatan terhadap tingkahlaku alam itu dapat ditarik kesimpulan dan pelajaran untuk hidup manusia sendiri. Pertanyaan pertama yang diajukan Thales dan kemudian diteruskan oleh Pythagoras adalah apakah yang menjadi intisari atau arche alam semesta ini, apakah air, api, udara atau yang lain? Yang khas dalam renungan-renungan tentang alam tersebut ialah usaha para pemikir itu untuk menjadikan alam besar ini sumber kebijaksanaan untuk perilaku manusia sendiri, dan bukannya menjadikan alam semesta ini sumberdaya yang boleh dikuras dan dieksploitasi tanpa mempedulikan batas daya dukungnya. Parmenides dari masa Yunani Antik mengatakan alam itu berwujud suatu “Ada”, sedangkan Herakleitos mengajarkan bahwa inti dari alam semesta ini tak lain dari perubahan. Kalau segala gejala alam ini mengalir bagaikan aliran sungai, maka yang tetap dalam alam ini hanyalah aliran itu. Diterapkan dalam pengalaman kita tentang Aceh apakah bencana itu sesungguhnya sesuatu yang “ada” atau sekedar “mengalir” dalam hidup kita?

    Mengikuti pemikiran Descartes, tsunami Aceh telah memporak-porandakan alam-luar Aceh, infrastruktur, kehidupan fisik manusia, mata pencaharian, komunikasi, dan bahkan kampong halaman. Pertanyaannya adalah apakah perubahan kosmologis tersebut akan mempengaruhi psikologi Aceh, dunia –dalam Aceh sendiri berupa identitas mereka, semangat hidup, kebudayaan Islamnya, dan kebanggaannya tentang sejarahnya sendiri. Semua kita tahu infrastruktur dapat dapat dibangun kembali, sarana transportasi dan komunikasi dapat dipulihkan, gedung-gedung dan perumaha dapat didirikan kembali, dengan bantuan berbagai pihak yang mudah-mudahan dapat dikelola dengan baik. Imbauan pemerintah agar anak-anak Aceh yang masih selamat jangan dibawa ke luar Aceh jelas berhubungan dengan soal ini. Satu generasi telah hilang sebagian besar anggotanya, dan sementara ini yang masih tertinggal mungkin mencari perlindungan ke pihak-pihak di luar Aceh. Rupanya perlu dipikirkan suatu kebijakan pendidikan anak-anak Aceh agar supaya mereka bukan saja dapat mengatasi trauma bencana itu, tetapi dapat menemukan kembali pertautan dirinya dengan akar-akar kebudayaan dan sumber-sumber tradisinya seperti semula.

    Tatkala Jerman dikalahkan selama perang dunia kedua, dan ekonominya hancur berantakan, ketika tenaga-tenaga lelaki tua dan muda pulang dengan loyo dari medan perang yang tak lagi dimenamgkannya, maka muncul semboyan yang amat menyentuh hati: Noch is Deutshland nicht verloren (Jerman belum hilang lenyap), yang maknanya mirip ungkapan Hang Tuah: “tak hilang Melayu di bumi”. Apakah Aceh akan hilang dari bumi atau bertahan di masa depan, tidak hanya tergantung dari orang Aceh sendiri, yang saat ini kehilangan hampir segala yang mereka miliki, tetapi tergantung dari pihak lain, khususnya pemerintah RI, untuk memulihkan Aceh dalam psikologis mereka. Bantuan untuk memulihkan prasarana dan kerusakan fisik dapat disiapkan oleh pemerintah Indonesia dan negara asing dan pihak – pihak yang bersimpati, tetapi bantuan untuk menemukan kembali identitas Aceh dan menghidupkan lagi tradisi mereka sangat tergantung dari orang-orang Aceh sendiri, dan berbagai kelompok di tanah air yang secara sadar mengidentifikasikan diri dan kegiatan mereka dengan kepentingan Aceh.

    Sejarah dunia memberikan banyak pelajaran bahwa suatu bangsa yang hancur dapat bangkit dari keruntuhannya berkat bantuan pihak lain. Ekonomi negara-negara Eropah yang luluh-lantak karena perang dunia kedua dicoba dipulihkan melalui ERP atau European Recovery Program yang diusulkan oleh Menteri Luar Negeri Amerika serika, George C. Marshall, di universitas Harvard, AS, pada 5 Juni 1947, dan kemudian lebih dikenal sebagai Marshall Plan. Bantuan yang ditanda-tangani oleh 17 negara itu terbukti sanggup memulihkan kembali ekonomi negara-negara Eropah, khususnya Jerman sebagai pihak penyebab perang, yang dalam waktu satu dasawarsa dapat memaklumkan dirinya pada awal tahun 60-an sebagai Wirtschaftswunder atau keajaiban ekonomi, di bawah pimpinan politik Adenauer dan menteri ekonominya Prof. Ludwig Erhard.

    Pelajaran yang dapat diperoleh dari berbagai sejarah bantuan adalah bahwa berhasilnya bantuan akan tergantung dari penghayatan dan penerapan filsafat pembangunan tentang prinsip help for self-help. Efektivitas suatu bantuan pada intinya tidak pernah tergantung seluruhnya pada pemberi bantuan tetapi juga dan terutama pada penerima bantuan. Memang kita mengetahui bahwa dalam banyak paket bantuan pihak pemberi bantuan selalu memberikan persyaratan atau conditionalities yang cenderung menguntungkan mereka sendiri dan tidak begitu membawa manfaat bagi penerima bantuan. Akan tetapi apakah persyaratn-persyaratan itu akan diterapkan atau tidak buat sebagian besarnya tergantung dari negosiasi pihak penerima dan pemberi bantuan.

    Komitmen bantuan uang dari negara-negara asing untuk Aceh sudah disiarkan kepada publik, dan besarnya tak kurang dari 9 milyar dollar AS, atau kira-kira 72 trilyun rupiah, yaitu jumlah yang lebih besar dari subsisdi BBM yang sementara ini sedang dalam perdebatan untuk dihapus atau tidak dihapus oleh pemerintah RI. Jumlah itu baru berupa komitmen negara-negara asing belum termasuk bantuan yang di mobilisasi dari dalam negeri sendiri. Semua kita tahu bahwa komitmen untuk bantuan itu barulah dilaksanakan, kalau pihak penerima bantuan, dalam hal ini Aceh melalui pemerintah RI dan kelompok-kelompok masyarakat Imdonesia, dapat menyodorkan program aksi yang konkret tentang untuk apa dan bagaimana bantuan-bantuan tersebut akan digunakan. Selagi tidak lagi ada usul tentang program aksi yang dapat diajukan dan diterima oleh pihak pemberi bantuan, dapat dipastikan bahwa bantuan itu tidak akan segera cair. Ini artinya pemerintah dan masyarakat Indonesia yang mewakili Aceh, harus bekerja keras pada saat ini untuk menyusun berbagai usul program aksi yang dapat diajukan secara meyakinkan kepada pihak pemberi bantuan, termasuk juga rencana tentang bagaimana penggunaan dana-dana itu dapat diawasi dan dipertanggungjawabkan.

    Dari pembicaraan selintas dengan satu atau dua yayasan asing di Jakarta yang juga menyalurkan dana bantuan kepada kelompok-kelompok yang ingin membantu Aceh, terdengar keluhan betapa sulitnya mereka mendapatkan usul program aksi yang dapat menjadi pegangan dan dasar bagi mereka untuk mencairkan bantuan yang mereka siapkan. Kelompok-kelompok relawan dan aktivis ini harus berulangkali dihubungi dan sedikit “diuber-uber” agar menyerahkan rencana aksi mereka. Dapat dipahami bahwa di tengah berbagai kesibukan membatu Aceh, mungkin sulit mengambil waktu yang tenang untuk menyusun rencana aksi yang diinginkan. Namun demikian, tidak dapat dihindari kenyataan bahwa rencana aksi itu – demi Aceh dan para korban – tetap harus disiapkan secepat mungkin, sebagai bagian komitmen dari kesungguhan membantu para korban di Nangroe-Aceh Darussalam. Para pemberi bantuan, demi akuntabilitas, harus mempertanggungjawabkan bantuan yang mereka salurkan, dan ini kembali sangat tergatung pada kelompok-kelompok relawan dan aktivis yang menerima bantuan tersebut untuk disalurkan kepada rakyat dan masyarakat Aceh.

    Ucapan “tak ada makan siang gratis” tidak hanya dapat dijadikan sindiran untuk pemberi bantuan, tetapi juga selayaknya menjadi pecut bagi pihak-pihak kita di Indonesia yang menjadi penerima bantuan Aceh. Tidak ada pemberi bantuan yang akan dengan tenang menyerahkan bantuan mereka, tanpa tahu hendak dipengapakan bantuan itu oleh para calon penerimanya. Pada titik inilah akan teruji apakah prinsip help for self-help itu juga dapat diperlihatkan oleh pihak Indonesia yang hendak menolong Aceh yang lagi hancur-hancur belahan luarnya dan centang-perenang belahan dalamnya. Organisasi pemulihan Aceh sudah dimulai dari organisasi penyaluran bantuan-bantuan itu, yang kembali dapat diperlihatkan oleh kesiapan setiap kelompok untuk menyusun rencana aksi mereka. Tanpa rencana aksi ini, pencairan bantuan akan selalu tertunda, sementara anak-anak dan orang dewasa yang memerlukan bantuan itu dari menit ke menit terpaksa menahan lapar dan dingin di malam hari semata-mata karena semangat membantu Aceh tidak disertai oleh kesiapan menyusun rencana aksi yang merupakan syarat pertama pencairan dana bantuan.

    Adalah jelas bahwa rencana aksi ini dapat disusun dalam berbagai tingkatnya. Pemerintah Indonesia dapat menyusun rencana aksinya melalui cabinet yang kemudian hasilnya dapat berbentuk keputusan presiden. Namun berbagai lembaga swadaya masyarakat dapat menyusun rencana aksi mereka dalam bentuk people to people assistance. Bersama dan terus membesarnya angka-angka yang merupakan komitmen negara-negara sahabat seyogyanya diimbangi dengan publikasi yang sama gencarnya tentang rencana aksi dan menerapkannya, kita ibarat “mengharapakan elang di langit, punai di tangan dilepaskan”.

    Besarnya perhatian kepada Aceh tentu saja diakibtkan oleh besarnya musibah yang melanda daerah itu dan juga oleh berliku-likunya rahasia kecelakaan yang tidak selalu dapat dipahami. Sampai dengan saat karangan ini ditulis, mayat dalam jumlah puluhan masih juga ditemukan, dan anak-anak yang hilang berhasil dipertemukan kembali dengan orang tua mereka yang barangkali telah melepaskan segala harapan. Perjumpaan yang diusahakan melalui sebuah stasiun televisi nasional, masih dapat disaksikan sampai hari ini di layar kaca. Setelah lenyap tak tentu rimba selama beberapa hari, pertemuan yang tak dinanya menjadi peristiwa kemanusiaan yang dirakan dengan penuh keharuan dan sukacita, yang barangkali taka da presedennya dalam hidup mereka yang mengalaminya. Menemukan kembali anak yang hilang, berjumpa kembali dengan orang tua yang sudah kehabisan tenaga mencari adalah ibarat mendapatkan kembali kehidupan yang telah sirna dan merayakan harapan yang dipulihkan tepat pada saat harapan itu akan punah.

    Kita yang tak terlibat langsung dalam kehilangan dan pertemuan itu dapat melihat bagaimana rahasia kehidupan manusia disingkapkan selapis demi selapis. Bencana memang berkuasa membinasakan, tetapi hidup dan kegembiraan manusia di sela-sela kehancuran, sebagai perkara yang terlalu berharga dan milik yang tak dapat dibinasakan sampai tuntas. Bahkan seorang yang sepenuhnya tak percaya kepada Tuhan tak dapat mengelak bahwa imannya kepada hidup ini sendiri semakin diperkuat.

    Hati siapa tak gentar mendengar kisah seorang mahasiswi kedokteran muda usia yang mencoba bertahan di tengah gemuruh air yang lebih dahsyat dari beberapa banjir bandang digabung satu, hanya untuk merekam dengan kameranya riwayat perkembangan musibah itu dari menit ke menit selama empat jam, tanpa memikirkan keselamatannya sendiri sambil berdoa agar rekamannya mudah-mudahan dapat diselamtkan. Tidak terbersit rasa bangga atau puas diri dalam wawancara televisi dengannya. Segala sesuatu tampak wajar belaka dalam keyakinannya, karena dalam sikap sumarah yang mengangumkan kematian merupakan saat yang dapat diterima dengan wajar tanpa rasa gentar, tanpa sinisme dan tanpa keangkuhan hati. Dia mencoba bertahan dengan kameranya, merekam segala sesuatu yang sempat direkamnya “selama masih ada waktu” dengan harapan bahwa apa yang dilakukannya dapat menjadi pelajaran untuk orang lain, seandainya pun dirinya sudah tiada karena ditelan gelombang musibah.

    Cut Putri, mahasiswi kedokteran itu, tidak hanya merekam dengan kameranya, tetapi mengajarkan – tanpa sendiri diniatkannya – bahwa hidup adalah karunia yang menyenangkan dan kematian bukanlah akhir yang menakutkan. Ketenangan dan keteguhan hatinya selama empat jam merekam amukan tsunami dan segala yang dibinasakannya, tingkahlakunya menghadapi buasnya alam, ingatannya untuk merekam pengalaman itu untuk orang lain di tempat lain dan di masa yang lain, sikap tak acuh terhadap hidup-matinya sendiri – kini telah menjadi salah satu dokumen kemanusiaan yang dapat menyumbang keteguhan hati kepada banyak orang lain yang mengenal kisahnya. Karena kameranya memang menyimpan dengan cermat perkembangan bencana dari waktu ke waktu, tetapi dirinya sendiri telah menjelma menjadi rekaman tentang harapam dan kepercayaan terhadap kehidupan.

    Cut Putri mungkin bukan satu-satunya contoh tentang adanya “batu karang” yang tetap tegak dalam dahsyatnya bencana Aceh. Banyak kisah-kisah tentang keteguhan hati manusia, kemantapan jiwa, dan tak tergoyahkannya kepercayaan dan ketenangan jiwa menanggapi perubahan besar di dunia luar, atau tentang penyerhan diri yang tanpa ragu kepada misteri masa depan, dan perasaan tahu syukur terhadap kesempatan kecil yang masih diperoleh untuk melanjutkan hidup – masih tetap tersembunyi dari pengetahuan umum. Usaha orang Aceh dan keterbukaan para relawan untuk membongkar sampah dan lumpur, atau menggeser mayat dan reruntuhan untuk menemukan seorang bayi atau seorang tua yang masih hidup, sekarang telah menjadi tamsil tentang ikhtiar manusia dalam mencoba mendaptkan harapan di tengah kesia-siaan dan membangun kepercayaan di hadapan absurditas yang tak terelakkan.

    Bencana memang bagian dari kosmologi kita. Dunia luar itu ternyata punya kemauan tersendiri yang tak selalu sejalan dengan harapan dan aspirasi dalam psikologi manusia, dan tidak selalu dapat dicerna oleh otak manusia, yang menurut Descartes, adalah satu-satunya res cogitans, atau mahluk di muka bumi yang dapat berpikir. Bagaimana dapat dipahami bahwa daerah pantai sebelah Barat Aceh yang langsung ada di depan episentrum seperti Tapaktuan, Kandang, Bakongan dan Singkel tidak terkena hempasan tsunami, yang malahan menghancurkan Lhokseumawe di pantai Timur Aceh? Mengapa pula Banda Aceh yang dilanda tsunami sementara Sabang di sebelah utaranya selamat, sementara tsunami harus lewat di sana untuk tiba ke pantai Timur atau ke Myanmar?

    Aceh dengan bencana dan korbannya kini meninggalkan pelajaran buat siapa saja bahwa tak selalu manusia dapat membusung dada bahwa dia dapat berbuat sesuka hatinya dengan alam besar di luar dirinya, yang bagaimana pun harus dihormati dan turut dijaganya seperti seorang sahabat menghormati sahabatnya, atau seorang ibu mencintai anaknya. Berbagai tradisi komunitas-komunitas di tanah air tak pernah lupa mengingatkan bahwa alam semesta adalah mitra hidup manusia yang patut dijaga dengan rasa sayang, hormat dan bahkan rasa gentar. Sebelum ekologi menjadi ideologi yang gemuruh di berbagai belahan bumi, berbagai suku bangsa di Nusantara telah yakin sedari dulu bahwa antara manusia dan alam yang dihuninya ada kekerabatan dan persaudaraan. Sayang, ilmu pengetahuan, teknologi dan industry, yang menyelidiki dan memanfaatkan pengetahuan tentang hokum-hukum alam, akhirnya lebih cenderung membawa manusia kepada keyakinan sebaliknya. Seakan-akan bumi dan segala isinya adalah harta liar yang boleh diambil oleh siapa yang cepat dan nekat, seakan terhadap sungai, gunung dan pepohonan orang boleh bertindak sebagai predator yang semena-mena, seakan manusia mempunyai hak untuk hanya mengambil, mengeruk, mengotorkan dan meninggalkan dalam keadaan terbengkelai, tanpa mengingat bahwa untuk bumi kita pun berlaku peribahasa: “seberat-berat mata memandang, berat juga bahu memikul”, daya dukung bumi telah dipersetankan, sehingga ucapan George Orwell tentang kekacauan bahasa dapat diterapkan dengan tepat untuk ekologi Indonesia: kalau seorang menghancurkan bumi, maka bumi akan menghancurkannya.

    Bencana adalah bagian dari krisis sedangkan krisis adalah bagian dari terungkapnya kebenaran. Gempa dan banjir menguji kekuatan bangunan sebuah gedung, tetapi sekaligus mengetes psikologi manusia entah dia berhitung dengan risiko dan kemungkinan bahaya, atau cuma terlena dalam apa yang dianggap menjadi pencapaian dan keberhasilannya. Setiap bencana dan musibah, cepat atau lambat, akan menyingkapkan kesiapan masyarakat dan kesiapan pemerintah, mengkonfirmasi lancer atau macetnya informasi, menguji tingkat responsive atau tingkat indiferennya orang terhadap informasi yang diterimanya, dan juga memperlihatkan apakah infrastrukrur yang ada dan birokrasi yang mengaturnya mempunyai antisipasi terhadap apa yang tak diinginkan tetapi selalu mungkin terjadi. Mengharapkan yang terbaik sambil bersiap untuk yang terburuk – nampaknya semakin mendesak untuk dijadikan etos nasional Indonesia Bumi ternyata bukanlah surga dan dunia bukanlah harmoni yang selalu aman dalam keseimbangan.

    Kehancuran alam-luar tak dapat tidak membawa dampak pada dunia-dalam manusia dan pada sikap orang terhadap psikologinya, apakah dia memilih untuk membereskannya atau membiarkannya hancur bersama robohnya rumah tempat tinggal. Apa yang menjadi gelombang besar dalam alam-luar menjelma menjadi pertanyaan reflektif dalam belahan-dalam manusia. Politik tidak pantas lagi hanya menjadi soal perebutan kekuasaan atau dagang-sapi antar partai, uang untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat tak patut lagi dipermainkan dalam korupsi yang semakin hari semakin gelembung dan mendekati tahap pervesi. Indonesia rupanya tidak lagi terkejut, jangankan pula merasa gundah, bahwa praktek korupsi yang ada sekarang yang terbesar dalam sejarah bangsa-bangsa moderen. Kita akhirnya tak perlu menunggu datangnya bencana lain yang akan menyingkapkan kelemahan, yang tidak dicoba untuk diatasi, tetapi selalu diupayakan untuk disembunyikan. Kenyataan bahwa Banda Aceh dan kota-kota lain di Aceh musnah pada 26 Januari 2005 dan bahwa respons nasional baru terlihat pada 27 januari 2005 akan tetap menjadi dokumen sejarah yang tak terhapuskan tentang betapa siap tak-siapnya kita sebagai bangsa dan negara dalam menaggapi suatu persoalan yang telah mengejutkan seantero dunia.

    Kata orang-orang bijak, pengalaman tidak pernah mengubah dengan sendirinya kesadaran dan perilaku orang yang mengalami. Yang membuat perubahan hanyalah refleksi tentang pengalaman, untuk menarik pelajaran dari padanya tentang apa yang sebaiknya dilakukan dan apa yang sebaiknya dihindari pada kesempatan lain. Kalau bencana besar Aceh tak juga sanggup membuat kita di Indonesia berpikir ulang tentang kebiasaan-kebiasaan kita dalam politik dan pengelolaan kekuasaan, tentang tanggungjawab dan solidaritas terhadap orang lain – tidak saja dalam bencana tatpi juga dalam kehidupan sehari-hari, tentang prasangka antar kelompok yang seringkali tidak berdasar tetapi selalu dikompromi oleh orang-orang yang sedang haus dan lapar akan kekuasaan, tentang komitmen kepada kejujuran dan rasa malu terhadap penipuan dan kejahatan, maka rupa-rupanya tak ada lagi persanbungan atau titian apa pun antara kosmologi dan psikologi. Kalau dunia-luar tak bersentuhan lagi dengan dunia-dalam, kalau keinginan dan hasrat kejiwaan sudah bergerak liar tanpa persinggungan dengan alam-luar, maka psikologi itu sendiri barangkali sudah mengalami krisis dan bencana besar, sekali pun tak ada tsunami yang membenturkan gelombangnya ke pantai dan merobohkan tembok-tembok kota.

    Tsunami – menurut makna aslinya dalam bahasa Jepang adalah “ombak yang berlabuh”. Alangkah indahnya makna itu. Arti itu terlalu manis kalau orang berhadapan dengan gelombang setinggi pohon kelapa yang mengakhiri hidup puluhan ribu orang dengan sekali hempas. Di Aceh, Meulaboh dan Lhokseumawe tsunami telah berubah menjadi “maut yang berlabuh”. Bencana itu bukan saja meruntuhkan gedung dan jembatan serta jalanan, tetapi menerobos juga dalam dinding-dinding dalam kehidupan sosial dan politik kita yang selama ini menjadi tempat persembunyian yang aman bagi berbagai kelemahan, penyelewengan atau prasangka. Tsunami mengungkapkan tak-berdayanya manusia atau ketabahan menghadapi bencana dan maut, membeberkan kesiapan dan kegagapan masyarakat dan pemerintah dalam menanggapinya, memperlihatkan kesejatian dan kepalsuan hubungan antar-kelompok dan antar-bangsa, serta menyatakan bahwa tak ada bangsa yang dapat hidup dalam kesendirian sekali pun dia barangkali menghendakinya. Pada titik itu tsunami menjelma menjadi “kebenaran yang berlabuh”.

    Akan tetapi kebenaran itu tak perlu menakutkan siapa pun. Bertumpuknya bantuan, simpati nasional, komitmen internasional, dan kesungguhan berbagai kelompok dalam penanganan bencana itu, mulai memperlihatkan prespektif lainnya bahwa Aceh adalah kita, dan kita adalah sebagian dari Aceh. Orang-luar atau orang-dalam hampir tak ada artinya pada saat ini, karena kemanusiaan dan solidaritas mempunyai tenagnya sendiri dalam menerobos batas-batas. Pada saat itu tsunami dapat berubah pula dari “kebenaran yang berlabuh” menjadi “harapan yang berlabuh”.

     

    Jakarta, 20 Januari, 2005.

     

    ***********************************************************

     

    Sunber Tulisan “Samudra Air Mata – Ocean of Tears”, Oscar Motuloh dkk, Penerbit Lembaga Jurnalistik Antara, 2005.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Natal Perayaan yang Terus Mencari Jawaban

    Natal Perayaan yang Terus Mencari Jawaban

    Oleh RD Poya Lucius Hobamata,  Imam Keuskupan Pangkalpinang

     

    Natal selalu istimewa. Ia istimewa karena dirayakan di ujung ziarah setelah setahun menyusuri lorong-lorong kehidupan dalam terang dan gelap, menghirup berbagai aroma wangi dan busuk, merasakan aneka persitiwa yang terkadang membuat seseorang berjalan tegak, terkadang pula harus merayap menyatu debu. Dalam pergulatan dengan aneka warna kehidupan seperti itu, muncul pertanyaan mengapa cuaca kehidupan harus dicicipi dalam beragam rasa? Mengapa Tuhan tidak menunjukkan kuasa-Nya yang paling ultim agar cukup satu rasa untuk dicicipi oleh semua, sehingga tidak ada lagi tangisan, jeritan, dan sumpah serapah? Pertanyaan-pertanyaan ini sering muncul ketika menyaksikan senyuman lebar segelintir orang dengan hati tampak bahagia, sementara di depan wajahnya terdengar raung jeritan yang mengundang iba.

    Dalam kondisi di mana carut marut persoalan tak sanggup terjawab, natal seakan memberi secercah hiburan serentak gugatan untuk siapa saja. Natal memberikan secercah hiburan sekaligus gugatan karena pengalaman itu ternyata bukan hanya manusia melainkan pula Allah. Natal mementaskan secara gamblang betapa Allah juga merasakan pengalaman manusia di titik yang paling ekstrim. Lukas melukiskan bahwa pengalaman pahit itu terjadi karena Allah tidak diberi tempat. Semua ruang kehidupan manusia tidak diberi akses untuk Allah. Yohanes pun memberi jawaban setimpal. Tuhan datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi milik kepunyaan-Nya menolak Dia. Tuhan tidak diterima. Seluruh pintu tertutup bagi-Nya (Yoh. 1: 11).

    Inilah sajian jurnalisme Lukas dan Yohanes, yang sepintas terkesan menghibur karena kalau Allah saja merasakan apa yang dirasakan manusia, apalagi sesama manusia yang nota bene selevel? Namun hiburan ini serentak pula memicu pertanyaan yang menggugat:” Apa gerangan yang terjadi sehingga manusia yang diciptakan oleh Firman menolak Penciptanya sendiri? Apa sejatinya kondisi obyektif manusia, sehingga kunjungan Tuhan kepada umat-Nya bukan dirasakan sebagai sukacita melainkan ancaman; bukan pula disambut dengan penerimaan dan keterbukaan, sebaliknya ketertutupan dan penolakan?

    Sungguh tidak mudah untuk mendapati jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini. Namun mengacu pada kisah penciptaan sebagai referensi alkitabiah, rasanya psikologi Hawa menjadi warisan yang melekat begitu kuat dalam diri anak-anaknya turun temurun. Psikologi Hawa itu adalah untuk menyamai Allah; sebuah keinginan untuk melepaskan diri dari bayangan keterikatan dan persekutuan dengan Allah, supaya dapat berdiri sejajar dengan-Nya. Kondisi inilah yang membuat baik Hawa maupun Adam memilih bersembunyi saat Tuhan datang mencari untuk mengunjungi mereka. Mereka memilih untuk menikmati ketelanjangan dalam persembunyian daripada keluar dari kepengapan persembunyian untuk dibalut dan diselubungi Allah (Kej. 3: 8-10). Inilah kegelapan yang paling gelap, karena manusia berusaha mengatasi masalah dirinya dengan kekuatan sendiri tanpa Allah, yang justru menciptakan masalah baru yang lebih kompleks.

    Oleh karena itu, misteri kelahiran Tuhan sejatinya memiliki dimensi profetis. Allah hendak menggugat manusia bahwa akal budi tanpa iman; kemampuan pengetahuan manusia tanpa penyerahan diri kepada Allah; mengandalkan kehendak pribadi manusiawi tanpa menyelami kedalaman kehendak Allah; mengagungkan keangkuhan insani sebagai puncak prestasi seraya mengabaikan bahwa di atas itu masih ada langit yang lebih tinggi dan luas (Allah); maka kehancuran turun temurun akan terus terjadi. Fakta-fakta sosiologis yang mempresentasikan secara kasat mata bagaimana yang kuat memangsa yang lemah, yang kaya memangsa yang msikin, yang pintar memperalat yang bodoh, dll; menunjukkan bahwa dunia akan semakin tidak manusiawi bila manusia berjalan sendiri tanpa disertai Allah. Demikian pula kehidupan akan semakin hancur bila manusia tidak memberi tangannya untuk dituntun oleh Allah. Ketika manusia hanya bangga akan prestasi budinya, karena sanggup menyamai Allah, sehingga abai terhadap patokan-patokan etis moral, maka kehidupan akan berubah menjadi kematian.

    Rasanya demi memperbaiki kondisi kemanusiaan manusia itu, Allah berinisiatif untuk berinkarnasi; agar dengan mengambil wajah manusia, menelusuri jalan-jalan sejarah manusia, membahasakan seluruh rencana dan misteri Allah dengan bahasa manusia, dekat dan berjalan bersama manusia, manusia sanggup melihat Allah dari dekat, terus belajar pada-Nya, mendengar apa rencana-Nya serta memiliki patron hidup supaya hidup bersama ditenun dalam cara-cara Allah.

    Ya! Natal bukan ajang ritual; bukan pula pesta temporal. Ketika dijadikan sekedar ritual, maka natal hanyalah pesta patung dan aksesoris; karena orang yang merayakannya tetap memapankan perilaku manusia Betlehem yang tak mau Kristus lahir ke dunia untuk menyelamatkan manusia dari dosa. Demikian pula, bila natal sekedar pesta temporal, yang dirayakan menjelang akhir tahun, maka mungkin saja ada pergantian busana; ada pertukaran suasana; namun tak ada pembaharuan apapun secara fundamental.

    Oleh karena itu pertanyaan refleksi sebagai penutup tulisan ini adalah apakah kisah penolakan terhadap Yesus yang selalu dikumandangkan injil pada malam Natal dan Natal Inkarnasi hanya sebuah kisah nostalgia, atau tetap memiliki relevansi terhadap umat kristiani yang merayakannya?

    ***********************************

    Foto dari google
  • Pengendalian Perubahan Iklim dan Kontribusi Pengetahuan Lingkungan Lokal

    Pengendalian Perubahan Iklim dan Kontribusi Pengetahuan Lingkungan Lokal

    Foto: Alexander Aur

    Alexander Aur, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Banten; Mahasiswa Program Doktor Ilmu Lingkungan (PDIL) Unika Soegijapranata, Semarang.

     

    Perubahan iklim global terus berlangsung. Anomali iklim yang terwujud dalam berbagai peristiwa ekstrim lingkungan hidup terus terjadi di berbagai belahan dunia. Salah satu peristiwa ekstrim adalah anomali suhu udara. Badan Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis data perihal anomali suhu udara, khususnya di Indonesia, periode Juni 2022.

    Pada laman BMKG yang penulis akses (21/7/2022, pukul 9.07 WIB), telah dipublikasikan data mengenai anomali suhu udara. Mengacu pada data dari 86 stasiun pengamatan BMKG, normal suhu udara bulan Juni periode 1991-2020 di Indonesia adalah sebesar 26.79 oC (dalam range normal 21.4 oC – 28.7 oC) dan suhu udara rata-rata bulan Juni 2022 adalah sebesar 26.73 oC. Berdasarkan nilai-nilai tersebut, anomali suhu udara rata-rata pada bulan Juni 2022 menunjukkan anomali negatif dengan nilai sebesar -0.06 oC. Anomali suhu udara Indonesia pada bulan Juni 2022 ini merupakan nilai anomali tertinggi ke-22 sepanjang periode data pengamatan sejak 1981.

    Perubahan iklim merupakan persoalan bersama dan telah menjadi perhatian berbagai pihak. Dalam konteks diskursus pengetahuan lingkungan, persoalan perubahan iklim telah lama menjadi diskursus pengetahuan ilmiah. Salah satu data yang dipaparkan oleh BMKG yang penulis cantumkan pada awal tulisan ini, merupakan contoh buah dari diskursus pengetahuan ilmiah mengenai perubahan iklim.

    Dengan perangkat paradigma saintifik dan metode ilmu pengetahuan ilmiah, para ilmuwan alam meneliti fenomena suhu udara dan menyimpulkan kausalitas dari anomali suhu udara. Kesimpulan itu diterima sebagai sebagai pengetahuan yang benar. Publikasi oleh BMKG tersebut menunjukkan bahwa pengetahuan mengenai anomali suhu udara di Indonesia merupakan pengetahuan yang benar. Meskipun kebenaran pengetahuan tersebut dapat berubah seiring dengan penemuan-penemuan baru pada masa depan, tetapi untuk saat ini pengetahuan tersebut benar secara ilmiah.

    Dalam konteks perubahan iklim, pengetahun ilmiah mengenai alam telah dan banyak berguna bagi manusia. Kegunaanya adalah manusia memilik pengetahuan mengenai perubahan iklim dan akibat-akibatnya. Berdasarkan pengetahuan itu pula, manusia menetapkan tindakan-tindakan konkret untuk mengatasi perubahan iklim. Salah satu tindakan manusia terungkap dalam sikap negara-negara anggota G20 membahas persoalan pengelolaan lingkungan hidup dan upaya mengendalikan perubahan iklim pada Environment Deputies Meeting and Climate Sustainability Working Group (Media Indonesia, 21/6).

    Apakah cukup menggunakan pengetahuan dan pendekatan ilmiah untuk mengendalikan perubahan iklim? Apakah masyarakat adat atau masyarakat lokal mempunyai pengetahuan lingkungan, yang berkontribusi juga bagi upaya pengendalian perubahan iklim?

     

    Pengetahuan lingkungan lokal

    Pengetahuan lingkungan lokal melekat pada masyarakat lokal atau masyarakat adat. Beberapa istilah teknis digunakan oleh para environmentalist, ecologist dan antropolog untuk menamakan pengetahuan tersebut. Istilah-istilah yang digunakan (Kyle White, 2018) antara lain, indigenous knowledge (IK), traditional knowledge (TK), indigenous knowledge of the environment (IKE), traditional ecological knowledge (TEK) dan native science (NS).

    Istilah-istilah tersebut, termasuk istilah “pengetahuan lingkungan lokal” yang penulis gunakan dalam artikel ini, semuanya merujuk pada wawasan dunia (world view) masyarakat lokal atau masyarakat adat mengenai kehidupan dan relasinya dengan ekosistem. Sifat wawasan dunianya adalah kultural dan spiritual (LaDuke, 1994; Rebecca Tsosie, 2018). Jadi, pengetahuan lingkungan lokal adalah wawasan dunia masyarakat lokal atau masyarakat adat mengenai cara berpikir dan cara bertindak terhadap lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan ekologi/alam. Pengetahuan lingkungan masyarakat lokal bersifat kultural dan spiritual.

    Berbagai diskursus filosofis mengenai pengetahuan manusia tentang lingkungan menunjukkan bahwa dalam pengetahuan lingkungan lokal, terkandung beberapa dimensi fundamental (Joan MCGregor, 2018). Masyarakat lokal atau masyarakat adat menghayati dan mempraktikkan dimensi-dimensi fundamental berikut ini secara kultural dan spiritual.

    Pertama, dimensi komunitas. Manusia adalah bagian dari alam sebagai komunitas kehidupan. Setiap makhluk mempunyai peran yang tepat. Setiap orang dalam komunitas ini mempunyai kewajiban untuk merawat dan melindungi satu terhadap yang lain baik terhadap sesama manusia maupun alam. Dalam dimensi komunitas ini, sifat spiritual, kultural, politik, dan ekonomik saling berkelindan.

    Sifat spiritual terkait dengan pandangan masyarakat lokal bahwa semua makhluk memiliki roh. Kepemilikan itu mewujudkan dalam bukti-bukti kehidupan yang berlangsung dalam alam. Sifat politik dari dimensi ini terungkap dalam relasi saling tergantung antaramanusi dan antara manusia dengan hewan dan tumbuhan. Sedangkan sifat ekonomik merujuk pada relasi pertukaran timbal-balik dalam berbagai hal antarmanusia dan manusia dengan hewan dan tumbuhan.

    Kedua, dimensi keterhubungan satu sama lain. Di dalam alam sebagai sistem kehidupan, setiap makhluk saling terhubungkan. Setiap entitas tidak dapat diperlakukan secara terpisah. Tindakan sekecil pun terhadap sebuah entitas berdampak terhadap entitas-entitas yang lain. Keterhubungan ini menunjukkan bahwa lingkungan merupakan sistem kehidupan.

    Ketiga, dimensi masa depan. Tindakan dan perilaku manusia terhadap dan dalam lingkungan wajib mempertimbangkan kehidupan generasi demi generasi berikutnya. Tindakan dan perilaku terhadap lingkungan saat ini sudah harus memperhitungkan pula kondisi-kondisi kehidupan yang baik bagi  keberlangsungan hidup generasi berikut di masa depan.

    Keempat, dimensi sikap rendah hati. Sikap ini bertautan dengan sikap mawas diri dalam bertindak terhadap lingkungan. Di hadapan hubungan yang kompleks dan rumit antarkomponen dalam lingkungan, sikap rendah hati terungkap melalui pengakuan diri bahwa manusia mempunyai pengetahuan yang terbatas mengenai lingkungan. Oleh karenanya, prinsip kehati-hatian dalam bertindak merupakan merupakan hal penting. Tujuannya agar tindakan setiap orang tidak menimbulkan akibat buruk bagi keberlanjutan lingkungan atau mengancam sistem kehidupan.

    Berbeda dengan pengetahuan ilmiah mengenal lingkungan yang berciri empirik dan teoritis, pengetahuan lingkungan lokal berciri kultural dan spiritual. Masyarakat lokal atau masyarakat adat menghayati pengetahuan itu sebagai bagian integral kehidupan sehari-hari. Terintegrasi dengan praktik dan keyakinan masyarakat mengenai alam semesta. Dengan corak yang demikian, masyarakat lokal menata tindakannya terhadap lingkungan. Oleh karena itu, cara hidup masyarakat adat senantiasa ramah terhadap lingkungan, tidak eksploitatif, dan ekologis.

     

    Mengendalikan perubahan iklim

    Pengetahuan lingkungan lokal dapat menjadi kontribusi bagi upaya mengendalikan perubahan iklim dan pemanasan global. Dimensi-dimensi yang terkandung dalam pengetahuan tersebut mempunyai beberapa berfungsi. Pertama, fungsi paradigmatik. Oleh karena sifat kultural dan spiritualnya, pengetahuan lingkungan lokal dapat menjadi paradigma dalam menetapkan kebijakan ekonomi-politik pengendalian perubahan iklim. Fungsi paradigmatik pengetahuan tersebut juga memungkinkan terjadinya – meminjam istilah Gadamer – fusi horizon dengan paradigma dan metode ilmiah. Fusi ini beralasan karena ilmu pengetahuan ilmiah bermula dari praktik-praktik hidup yang bersifat kultural dan spiritual dalam masyarakat. Dengan demikian, setiap kebijakan ekonomi-politik dan tindakan terhadap lingkungan dipandu oleh horizon berpikir lokal dan ilmiah.

    Kedua, fungsi etis-regulatif. Oleh karena pengetahuan lingkungan lokal terintegrasi dengan praktik hidup sehari-hari, maka pengetahuan tersebut berfungsi untuk meregulasi tindakan dan perilaku manusia. Penetapan larangan bagi warga masyarakat adat untuk merambah atau mengola kawasan-kawasan tertentu, merupakan regulasi terhadap tindakan dan perilaku para warga. Meskipun larangannya bersifat mitis dan spiritual, tetapi efektif untuk mengendalikan perubahan lingkungan ekstrim. Kepatuhan terhadap regulasi itu senantiasa berbasis pada keyakinan bahwa alam memiliki roh. Keyakinan ini terungkap pula melalui cara hidup masyarakat adat yang terintegrasi dengan lingkungan (tumbuhan dan binatang). Hidup yang integratif dengan lingkungan senantiasa demi keberlanjutan lingkungan.

    Pengendalian perubahan iklim selain terwujud dalam teknik-teknik praktis pengendalian masalah lingkungan, juga menyangkut masalah pengetahuan mengenai lingkungan. Perihal pengetahuan, pengetahuan lingkungan lokal yang dimiliki oleh masyarakat adat/masyarakat lokal dipadu dengan pengetahuan lokal mesti dimasukkan dalam berbagai regulasi pengendalian perubahan iklim. Dengan demikian, pengendalian iklim memperoleh legitimasi baik secara ilmiah maupun secara kultural dan spiritual. Legitimasi inilah wajib diupayakan semua pihak karena semua pihak dan makhluk menghuni satu bumi. ***

    ———————————————————————————————

     

     

     

  • Perpustakaan Nasional Pattingalloang: Sebuah Usul

    Perpustakaan Nasional Pattingalloang: Sebuah Usul

    Oleh  Rizal  Mallarangeng

     

    Akhirnya, berita baik yang lama ditunggu datang juga. Presiden Joko Widodo baru saja meresmikan Gedung Perpustakaan Nasional, dengan lokasi persis di pusat Ibukota Republik Indonesia, Jalan Medan Merdeka Selatan. Digagas pertama kali oleh Bung Karno di tahun 1952, harapan mulia itu kini terwujud.

    Bahkan tidak main-main. Dengan koleksi buku dan naskah lebih sejuta, dengan bangunan setinggi 24 lantai serta ruang baca yang nyaman dan leluasa, plus lokasinya yang amat strategis, gedung baru ini pantas menjadi ikon baru Jakarta.

    Kita bersyukur, di tengah kesibukannya membangun infrastruktur jalan dan jembatan, Presiden Joko Widodo juga memikirkan perpustakaan. Kata seorang kawan saya, sosiolog Ignas Kleden, sebenarnya semua itu sama, hanya wujudnya yang berbeda: perpustakaan adalah juga sebuah infrastruktur, bukan untuk motor dan mobil, tetapi untuk lalu-lintas ide dan eksplorasi pemikiran.

    Buku dan ilmu tentu bisa dicari di mana saja. Apalagi di zaman digital seperti sekarang. Tapi selain fungsi praktisnya yang tetap diperlukan sebagai pusat pencarian ilmu dan pembentukan komunitas intelektual, simbolisme tetap penting: dengan lokasi tepat di pusat pemerintahan, perpustakaan baru ini adalah perwujudan sebuah tekad untuk memajukan Indonesia, bukan dengan warisan minyak atau emas, tetapi dengan pencapaian tinggi dalam dunia ilmu pengetahuan.

    Karena itu, kita patut mengacungkan dua jempol bagi Presiden Joko Widodo dan tim yang turut membantu beliau.

    Sekarang, gedung perpuspustakaan baru yang membanggakan ini tentu perlu diberi nama yang sesuai bobotnya. Penamaan ini, kalau sumbernya adalah salah satu nama pahlawan dalam sejarah kita, maka ia harus kelas berat, seorang tokoh historis yang sanggup menjadi sumber aspirasi universal dan abadi.

    Kalau boleh usul, di antara beberapa nama yang ada, tokoh yang paling cocok untuk dijadikan nama gedung baru tersebut adalah Karaeng Pattingalloang, satu-satunya pemimpin dan pelaku sejarah di Nusantara sebelum era penjajahan Belanda yang bisa disebut sebagai manusia renaisans. Ia adalah sosok penting yang jarang diingat, namun jasa dan perannya sebenarnya paling menarik dalam repertoar kisah kepahlawanan di negeri kita.

    Sambil menimbang-nimbang, tidak ada salahnya jika kita berkenalan dulu dengan pemimpin masa silam ini, baik sosok maupun konteksnya, walau secara cukup singkat.

    Sinar di Timur

    Karaeng Pattingalloang, karena daya tarik dan keunikannya, telah menjadi bahan telaah yang serius dari beberapa sejarawan terkemuka, seperti Anthony Reid dan Denys Lombard. Dalam magnum opus-nya, Asia in the Making of Europe (1969), Donald F. Lach juga mengulas posisi tokoh ini sebagai salah satu penguasa Asia abad ke-17 yang “uncommonly virtuous” serta kaya dengan pengetahuan modern untuk ukuran waktu itu, sosok tipikal seorang pemimpin yang mampu melihat jauh melampaui zamannya.

    Ia adalah bangsawan Kerajaan Tallo, sebuah unit politik relatif kecil yang  berbatasan dengan Kerajaan Gowa (Makassar). Ayahnya adalah Karaeng Matoaya, penguasa Tallo yang merangkap sebagai Perdana Menteri Kerajaan Makassar – hubungan kedua entitas politik ini sangat erat dan dalam ulasan sejarah sering disatukan menjadi Kerajaan Makassar-Tallo.

    Saat Karaeng Matoaya memegang tampuk pemerintahan, armada VOC (perusahaan dagang Belanda) berhasil menegakkan hegemoni di Banda dan Maluku. Perdagangan rempah-rempah, sebuah produk yang menjadi kebutuhan global saat itu, menjadi tertutup atau sangat terbatas. Bagi Karaeng Matoaya, perkembangan ini membuka sebuah peluang bagi Makassar. Dengan kemampuan diplomasi tingkat tinggi, ia menjadikan Makassar sebagai pelabuhan terbuka, semacam free trade zone pada zaman itu, di mana rempah-rempah “selundupan” dijual secara bebas, dengan perlindungan penuh Kerajaan Makassar.

    Prinsip dasar Karaeng Matoaya, sebagaimana yang ditulisnya dalam surat kepada pimpinan VOC di Batavia pada 1615, adalah: “Tanah diciptakan Tuhan buat penduduk yang bermukim di atasnya. Tetapi laut lepas adalah milik semua orang.”

    Dengan kebijakan ini, kaum pedagang dari berbagai belahan dunia berdatangan ke Makassar, terutama dari Portugal, Inggeris, Spanyol, Arab, China dan India. Makasar menjadi bandar alternatif terhadap Banda dan Maluku, dan karena itu kemudian berkembang menjadi negara maritim dengan pelabuhan yang hidup dan kosmopolitan.

    Karaeng Pattingalloang tumbuh dan besar dalam suasana itu. Pada masa remaja, tanpa memandang statusnya yang tinggi, ia sering bermain di geladak kapal dan bergaul dengan kaum pedagangan, pendeta dan pelaut yang datang dari empat penjuru angin.

    Seorang jesuit Perancis abad ke-17, Alexander de Rhodes, menyaksikan serta mencatat bahwa Karaeng Pattingalloang mampu berkomunikasi dalam empat bahasa Eropa. Khusus dalam bahasa Portugis, “anak muda ini akan terdengar seperti orang dari Lisbon” karena dia berbicara dalam tutur-kata yang sangat baik tanpa aksen lokal.

    Tapi minat Karaeng Pattingalloang bukan hanya dalam bahasa. Ia juga sering bertanya dan mengajak diskusi mengenai matematika, astronomi, ilmu militer dan geografi, di samping kisah-kisah penguasa Eropa yang hidup saat itu. Catatan de Rhodes: “Dia selalu membawa buku di tangannya, terutama buku matematika… Semangatnya untuk belajar tampaknya sangat besar… dia melakukannya siang dan malam.”

    Pada usia 39 tahun, Karaeng Pattingalloang meneruskan posisi ayahnya (Karaeng Matoaya wafat pada 1636). Ia melanjutkan kebijakan pintu terbuka dan relatif berhasil mengatasi persoalan politik domestik yang paling pelik saat itu: mengelola penyebaran Islam sambil menjaga toleransi, termasuk membina hubungan baik dengan raja-raja Bugis di sekitar Makassar, terutama Bone, Wajo dan Soppeng.

    Sebagai pimpinan pemerintahan, dia mewarisi kemampuan diplomasi dan kearifan ayahnya, dan dengan pengetahuan luas, dia membawa Makassar menjadi salah satu kerajaan paling maju dan enlightened untuk ukuran kerajaan Nusantara pada abad ke-17.

    Oleh sejarawan Anthony Reid, berbagai langkah serta keberhasilan Karaeng Pattingalloang diberi catatan tersendiri: “They laid the basis for the greatness of seventeenth century Makassar through not ruthlessness but rather an extraordinary combination of intellectual eminence and political wisdom.”

    Catatan seperti ini, oleh Anthony Reid, digunakan sebagai pembanding terhadap raja-raja lainnya di Nusantara yang bertahta pada kurun waktu yang kurang lebih sama, seperti Sultan Iskandar Muda di Aceh dan Sultan Agung di Mataram, yang sering menegakkan kekuasaan mereka lewat “personal terror” dan “artificial centralization.”

    Di samping terobosan politik, banyak hal lain dilakukan oleh Karaeng Pattingalloang. Ia memulai tradisi pencatatan kegiatan pemerintahan, the chronicles of the state, yang akurat dan faktual – berbeda dengan babad di Kerajaan Mataram yang lebih merupakan kombinasi antara fakta, legenda dan mitologi. Pada saat yang sama, penerjemahan naskah-naskah asing dalam ilmu persenjataan serta teknologi kelautan, terutama dari Portugal, Spanyol dan Turki, juga mulai giat dilakukan.

    Selain itu – dan hal ini mungkin paling mengagumkan – lewat jalur perdagangan dan hubungan diplomasi, ia juga berhasil mendatangkan ke Makassar sejumlah prisma, peta dunia baru yang dibuat sendiri oleh kartografer terkemuka Eropa, Joan Blaeu, serta dua buah teleskop Galilean.

    Tentang hal terakhir ini kita harus ingat bahwa pada waktu itu teleskop Galilean belum lama ditemukan, masih merupakan barang langka bahkan di Inggeris dan Spanyol sekalipun. Pemikiran Galileo Galilei sendiri – ilmuwan dari Pisa, Italia, yang sering disebut sebagai peletak dasar metode keilmuan modern, il fondatore del metodo scientifico – masih kontroversial di kalangan gereja, raja dan lapisan kepemimpinan Eropa.

    Jadi bisa dikatakan bahwa pada konteks zamannya, Karaeng Pattingalloang sudah berpikir dan bertindak jauh, memulai sebuah perpustakaan di Makassar dengan buku dan temuan-temuan keilmuan mutakhir, plus mendorong pemerintahan yang dipimpinnya untuk belajar serta beradaptasi dengan perkembangan baru. Singkatnya, di langit Nusantara abad ke-17, ia seperti sinar terang yang muncul di ufuk timur.

    Dan semua itu rupanya mencuri perhatian beberapa kalangan di Eropa sehingga, sebagaimana dijelaskan Anthony Reid, tokoh sekaliber Joost van den Vondel, penyair dan penulis drama Belanda terkemuka – satu generasi dengan Sheakespeare di Inggeris – melontarkan kekaguman dalam sebait puisi terhadap tokoh dari timur ini: “East India House sends a globe to the great Pattingalloang, whose endlessly curious brain, finds a whole world too small…”

    Tragedi dan Inspirasi

    Sayangnya, era Karaeng Pattingalloang tidak berlangsung lama. Ia meninggal dalam usia 52 tahun, setelah memegang tampuk kepemimpinan selama 13 tahun. Untuk ukuran abad ke-17, masa pemerintahan tokoh kreatif ini termasuk singkat – Sultan Agung bertahta 32 tahun dan Sultan Iskandar Muda 30 tahun.

    Di Makassar, sepeninggal Karaeng Pattingalloang, pemimpin yang terkenal kemudian adalah Sultan Hasanuddin. Tapi tokoh baru yang gagah berani ini rupanya tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengelola kondisi domestik dan menjaga hubungan baik dengan aliansi raja-raja Bugis. Konflik dan perpecahan internal menajam, suatu hal yang membuka kesempatan baru bagi pemimpin VOC untuk kemudian menegakkan hegemoni di Sulawesi Selatan, termasuk di Makassar.

    Cerita seperti ini – konflik internal, perpecahan, penjajahan – adalah cerita umum praktis di semua wilayah Nusantara. Adalah tragedi kita sebenarnya, bahwa tokoh kreatif dan berpikiran maju pada abad yang menentukan itu hanya muncul di Makassar dalam sosok Karaeng Pattingalloang (dan dalam beberapa hal juga dalam sosok Sultan Ageng Tirtayasa di Banten). Kaum penguasa lainnya bisa dikatakan sebagai pemimpin yang, terlepas dari besarnya kekekuasaan yang mereka miliki, lebih merupakan sosok ignoramus dalam soal pengetahuan dunia baru, perkembangan ilmu, serta kondisi yang dibutuhkan bagi kemajuan sebuah masyarakat.

    Tragedi tersebut harus kita bayar mahal: kita kehilangan lebih dua abad, dan baru pada awal abad ke-20 kaum pemimpin di Nusantara, dalam kondisi yang sudah sama sekali berbeda, mulai menyadari lagi pentingnya modernitas, kemajuan ilmu pengetahuan, serta betapa perlunya untuk terus-menerus melakukan adaptasi kreatif terhadap perubahan zaman.

    Dan karena semua itulah Karaeng Pattingalloang dapat menjadi sumber inspirasi bagi kita.

    Kembali pada soal pemberian nama Gedung Perpustakaan Nasional yang baru saja diresmikan Presiden Joko Widodo: setelah kita mengerti riwayat tokoh dari timur ini, usul yang telah saya kemukakan di atas tadi rasanya tidak terlalu berlebihan.

    Pemberian nama tersebut bagi gedung sepenting itu adalah penghargaan bagi Karaeng Pattingalloang. Tapi sebenarnya bukan ini yang utama. Justru buat kita yang hidup sekarang, terutama generasi muda Indonesia yang akan menyongsong masa depan, hal itu teramat diperlukan.

    Kata kuncinya adalah, seperti yang dikatakan Anthony Reid tentang pemerintahan Karaeng Pattingalloang: intellectual eminence dan political wisdom. Kita berharap, kedua kata kunci inilah yang menjadi sumber pencarian generasi muda kita manakala mereka membaca buku, mengejar pengetahuan, atau sekadar duduk merenung sejenak di salah satu sudut ruangan perpustakaan baru tersebut.

    Kalau semua itu memang terjadi, bukankah kita semua akan merasa bangga dan bersyukur?.

    *************************************

    Sumber Tulisan Dari Jokowi ke Harari, Rizal Mallarangeg, Penerbit KPG, 2019.

     

  • Bila  Messi  Bermain  untuk  Anaknya

    Bila Messi Bermain untuk Anaknya

    S i n d h u n a t a

     

    Boleh jadi, ini adalah kali terakhir Lionel Messi tampil di Piala Dunia. Maklum, sudah 35 tahun usianya. Belum tentu ia bisa tampil empat tahun lagi. Jika demikian, ini adalah saat ia harus memperdengarkan ”Nyanyian Angsa”-nya. Saat ia akan menyanyikan lagu terindah dengan kakinya, sebelum ia beristirahat dari Piala Dunia.

    Sepanjang kariernya, Messi sering menjadi teka-teki. Seperti pernah ditulis oleh Jonathan Liew dari The Guardian, Diego Maradona dan Pele pernah membicarakan hal itu dalam suatu acara promosi jam tangan Swiss di Paris.

    Kata Maradona, ”Messi adalah pribadi yang besar, tetapi ia tidak mempunyai kepribadian untuk menjadi pimpinan.” Pele setuju, ”Messi adalah pemain besar, tak usah diragukan. Namun, ia tidak mempunyai kepribadian.”

    Benarkah anggapan dua legenda bola dunia itu? Dulu mungkin benar. Namun, sekarang kiranya tidak. ”Messi adalah pemimpin yang diam. Ia amat menunjukkan kepribadiannya ketika bermain,” kata Jorge Sampoli, mantan pelatih Argentina. Veteran bola Sergio Bastita menambahkan, Messi mungkin kurang menonjolkan diri di lapangan. Tetapi ketika ia bicara di ruang ganti, semua mendengarka

    Di hadapan rekan-rekannya, Messi ternyata amat berwibawa dan bisa menunjukkan otoritas kepemimpinannya. Di ruang ganti, menjelang final Copa Amerika 2021 melawan Brasil, demikian ia menggugah semangat rekan-rekannya, ”Selama 45 hari kita dikurung dalam hotel, 45 hari kita tidak melihat keluarga kita, teman-teman. Itu semua untuk saat ini. Maka, kita pergi ke sana dan mengangkat piala, kita akan membawanya pulang ke Argentina. Aku ingin mengakhiri dengan ini: koinsidensi itu tidak ada. Kejuaraan ini seharusnya digelar di Argentina, tetapi Tuhan menghendaki itu dimainkan di Brasil, sehingga kita dapat menang di Maracana dan membuat lebih indah bagi kita semua.”

    Maksud Messi jelas, sangatlah terhormat bila Argentina bisa menundukkan Brasil, di kandang tuan rumah yang angker, Maracana. Maka bagi Messi, bukanlah kebetulan, jika dengan alasan lonjakan Covid-19 di Argentina, Konfederasi Sepak Bola Amerika Selatan membatalkan Argentina sebagai tuan rumah dan mengalihkannya ke Brasil. Itulah kesempatan untuk mempermalukan Brasil di kandangnya sendiri. Cita-cita Messi tercapai, Argentina menggondol pulang trofi Copa Amerika setelah menekuk Brasil, 1-0, di Maracana.

    Menurut Pelatih Lionel Scaloni, kini Messi telah tumbuh sebagai pemain dan pemimpin yang matang. ”Ia bertambah usia. Dulu, ia menggiring sendiri, lima sampai enam rekannya tak diberinya kesempatan. Kini ia lebih membutuhkan kesebelasannya, ia membantu timnya, ia membuat kesebelasannya bermain. Ia memainkan bola tidak lebih dari tiga detik saja. Ia lebih banyak menimbang. Ia tahu bagaimana harus berlatih dan bagaimana orang menjaga dan memperhatikannya,” kata Scaloni.

    Pelatih Messi di Paris Saint-Germain, Mauricio Pochettino, juga bilang, Messi sekarang lain dari sebelumnya. Bermain di klub lain dengan bermain dalam kesebelasan nasional. Sebagai pemain bintang, di kesebelasan nasional Messi bisa menjadi pusat. Di klub PSG, hal itu tidak bisa terjadi. Di sana ia harus berbagi peran dengan pemain besar lainnya, Neymar Jr, bintang Brasil dan Kylian Mbappe, bintang Perancis. Karena tidak terus menjadi pusat, Messi bisa mengurangi stresnya. Tidak hanya di lapangan, tetapi juga di hadapan media,

    Messi tidak lagi menganggap dirinya penting. Namun, tidak demikian anggapan rekan-rekannya. Kata kiper Emiliano Martinez, ”99 persen Argentina adalah Messi. Kami hanya 1 persen, sisanya. Kami berlari seperti singa dan berusaha membantu dia.”

    Mac Alisster memuji Messi sebagai pemain yang banyak membantu teman-temannya. Gelandang tengah Argentina itu selalu berusaha memberikan passing kepada Messi. Alasannya, jika bola di kaki Messi, semua akan menjadi mudah. Itu terjadi seperti otomatisme magis. Bahkan, ketika ia tidak bermaksud mengarah ke Messi, bola jatuh di kaki Messi. Bola seakan ingin menjadi miliknya. Tidak salah, karena kaki siapa yang bisa merasakan bola dengan sempurna melebihi kaki seorang Messi?

    Itu benar terjadi ketika Argentina mencetak gol pertama ke gawang Australia. ”Sesungguhnya saya bermaksud mengoper bola ke Ottamendi, tetapi bolanya menyasar ke Messi.” Waktu itu Ottamendi tampak kehilangan kontrol dan Messi menyambutnya, menyentuhnya sebentar, lalu menyarangkannya ke gawang lawan. ”Saya bilang ke Leo, itulah asis saya bagimu,” gurau Ottomendi tentang passing yang meleset tetapi benar itu.

     

    Messi harus menang demi Argentina. Itulah beban berat di pundak Messi. Maka, bek kiri Nicolas Tagliafico senang ketika Messi berani bilang, ”Saya sesekali bermain untuk anak-anak saya, bukan untuk Argentina.” Dengan begitu, beban akan pergi dari pundaknya, dan ia akan memperoleh kembali rasa kebebasannya, lalu akan menang dengan lebih mudah, demi anak-anaknya, dan tentu saja juga demi rakyat Argentina.

    Argentina sadar tak mudah menaklukkan Belanda pada laga perempat final. Apalagi Louis van Gaal mengancam, ”Kami harus membuat perhitungan dengan Argentina.” Sampai sekarang, Van Gaal masih kesal mengenang kekalahan Belanda lewat adu penalti dari Argentina pada semifinal Piala Dunia 2014. Dan, ia hendak menebusnya sekarang.

    Kata Van Gaal, ”Messi hebat, tetapi saya melihat, selama ini Messi tampak tidak banyak beraksi ketika lawan-lawannya menguasai bola. Itu tentu sebuah peluang bagi kami.” Van Gaal juga tidak peduli pernyataan jurnalis yang menilai Belanda memainkan sepak bola negatif dan membosankan. ”Itu pendapat Anda, tetapi saya tidak berpikir bahwa pendapat Anda adalah pendapat yang benar,” kata Van Gaal ketus.

    Van Gaal menegaskan, dalam meraih cita-citanya, Belanda akan meniti sendiri jalannya dengan tenang dan pasti. Semua tentu menanti dengan berdebar-debar, apakah Van Gaal nanti bisa sungguh membuat perhitungan dengan Argentina.

    *******************************************************

    Sumber Tuklisan Kompas 9 Desember 2022

  •  Inteligensia Indonesia

     Inteligensia Indonesia

     

    Oleh  Ignas  Kleden

     

    Dalam pengertian yang disederhanakan, inteligensia adalah kaum terpelajar dan terdidik yang berperan sebagai ujung tombak perubahan dan pembaruan masyarakatnya.

    Di pihak lain, kita mendapati kaum literati yang berperan sebagai benteng pertahanan nilai, norma, dan perilaku budaya. Mereka ini terpanggil merawat dan melestarikan nilai-nilai dan bentuk kebudayaan, khususnya dalam seni dan sastra, menurut pakem-pakem yang berlaku dalam tradisi. Sebaliknya, kaum inteligensia merasa terpanggil untuk menerobos batas-batas tradisi demi menjajaki kemungkinan lain yang diperlukan untuk memperbarui tradisi sebagai prasyarat bagi pembentukan masyarakat baru.

    Ketika Sutan Takdir Alisjahbana (STA) berpolemik dengan guru-guru bahasa Melayu yang merasa harus setia kepada paramasastra Melayu, sementara STA membuka kemungkinan baru dalam pemakaian bahasa Indonesia, maka di sana terjadi polemik antara inteligensia dan literati. Sama halnya dalam debat dengan lawan-lawannya dalam Polemik Kebudayaan, dia bertindak sebagai inteligensia yang menganjurkan pembentukan kebudayaan Indonesia baru berdasarkan etos kebudayaan Barat, sambil mendesak agar kebudayaan lama dalam tradisi ditinggalkan saja sebagai kebudayaan pre-Indonesia. Sikap ini jelas memancing reaksi para literati yang melihat pentingnya tradisi dalam kebudayaan Indonesia,  baik karena tradisi itu sudah berfungsi selama ratusan tahun maupun karena kebudayaan Barat memperlihatkan berbagai ekses yang dapat merugikan kebudayaan Indonesia.

    STA hanya salah satu contoh. Kebangkitan gerakan kebangsaan di Hindia Belanda sejak dasawarsa pertama abad ke-20 telah digerakkan para inteligensia. Para Ibu dan Bapak Bangsa, seperti Kartini, Soekarno, Hatta, Sjahrir, Tan Malaka, Cokroaminoto, Haji Agus Salim, ataupun Sam Ratulangi adalah kaum inteligensia yang lahir dari pendidikan Barat hasil Politik Etis pemerintah kolonial, yang kemudian mengambil jarak dari tradisi politik kolonial yang intinya menciptakan rust en orde, yaitu ketenangan dan ketertiban di seluruh koloni. Dengan segala cara, kaum inteligensia berusaha membuka mata bangsanya bahwa ideal masyarakat yang tenang dan tertib hanya opium yang membuat orang tak sadar lagi tentang demikian banyak penderitaan, ketidakadilan, pemerasan, dan kehinaan yang diterima begitu saja oleh penduduk pribumi, yang merasa harus ikut bertanggung jawab atas terciptanya ketenangan dan ketertiban.

    Diperlihatkan diskriminasi dan ketidakadilan yang terwujud dalam berbagai sektor. Di bidang sosial diciptakan diskriminasi rasial dalam pembagian kerja antara penduduk Eropa, penduduk Timur Asing, dan penduduk pribumi, sementara orang banyak dibius dalam diskriminasi ini melalui penamaan ilmiah yang keren, seperti ethnically stratified division of labor atau pembagian kerja berdasarkan stratifikasi etnik. Dalam ekonomi diperkenalkan dualisme ekonomi, dengan penjelasan bahwa ekonomi kolonial yang berorientasi ekspor harus dipisahkan dari ekonomi penduduk yang subsisten, yang menjamin ketenangan penduduk di pedesaan, karena ekonomi pasar tidak boleh mengganggu kerukunan hidup penduduk.

    Dalam bidang bahasa diciptakan diskriminasi linguistik. Pribumi, khususnya anak-anak bangsawan lokal, diberi kesempatan belajar bahasa Belanda, tetapi dalam pergaulan sehari-hari penduduk setempat dilarang bicara Belanda dengan tuan-tuan Belanda, dan hanya boleh mempergunakan bahasa Melayu pasar, seakan bahasa Belanda terlalu mulia dipergunakan oleh para inlander. Dalam bidang politik dilancarkan secara gencar politik pecah-belah atau divide et impera melalui konflik dan persaingan yang direkayasa dan didorong antara para raja di berbagai kerajaan Nusantara, dan antara para bangsawan dan rakyat jelata. Pendidikan dibatasi hanya untuk anak-anak bangsawan atau para pejabat pribumi yang bergaji cukup, sementara patriarki dalam tradisi kebudayaan lokal diperkuat dengan membatasi pendidikan kaum perempuan.

     

    Kesadaran kebangsaan

    Kesimpulan para inteligensia kita: semua ketidakadilan, diskriminasi, penderitaan, dan kehinaan itu telah lahir dari satu kenyataan yang sama, yaitu hilangnya hak-hak suatu bangsa untuk menentukan dan mengatur dirinya sendiri, dan menggantungkan nasibnya pada kekuasaan bangsa lain. Perlahan lahir kesadaran kebangsaan. Ahli politik Ben Anderson menjadi masyhur di antara ahli ilmu sosial di seluruh dunia dengan definisinya tentang bangsa sebagai komunitas politik yang hanya terbayangkan karena sebagian besar anggotanya tak pernah bertemu dan tak saling mengenal, tetapi sama-sama merasa anggota suatu komunitas politik yang sama. Namun,  jauh sebelumnya, Soekarno bertolak dari paham lain dan berpegang pada definisi Otto Bauer: eine Nation ist eine aus Schicksalsgemeinschaft erwachsene Charaktergemeinschaft.

    Soekarno menegaskan, bangsa lahir dari persatuan nasib yang membawa persatuan perangai. Betapa pun menariknya  argumen akademis dan teoretis yang diajukan Ben Anderson, suatu bangsa yang sedang bergolak tak dapat dikobarkan semangatnya jika kepada mereka dimaklumkan bangsa adalah  an imagined political community. Dalam pengertian Soekarno, suatu bangsa tak lahir dari bayangan tentang suatu komunitas politik, tetapi  dari pengalaman tentang penderitaan yang sama, nasib sama, yang akhirnya menghasilkan perangai sama disertai tekad sama.

    Lahir kemudian berbagai inisiatif untuk pembebasan sekaligus dibangun kesadaran nasionalis tentang hak suatu bangsa untuk mengatur dirinya sendiri, dan dengan cara itu menciptakan martabatnya di antara bangsa-bangsa lain di dunia sebagai bangsa dan negara merdeka. Hatta dan Sjahrir memberikan kursus-kursus untuk mendidik kader agar menguasai kepandaian teknis dan administratif sehingga para kader ini kelak sanggup mengambil alih administrasi pemerintahan dari tangan administrator kolonial. Soekarno, lewat pidato-pidatonya yang gempar, menekankan perlunya persatuan semua golongan sebagai sarana melumpuhkan tipu muslihat adu domba yang memecah-belah, dan sekaligus mengerahkan massa rakyat untuk bersatu padu dalam machtsvorming (pembentukan kekuatan politik).

    Kartini, lewat surat-suratnya, membuka pintu emansipasi bagi kaum perempuan dan mendorong pendidikan untuk mereka. Tan Malaka mendirikan sekolah untuk anak-anak buruh perkebunan dan mengajarkan bahwa tenaga kerja buruh adalah faktor produksi yang sama penting dengan modal tuan-tuan besar pemilik perkebunan sehingga mereka harus berani dan sanggup membela tenaga kerja mereka berdasar asas keadilan menurut hukum berlaku. Cokroaminoto dan Agus Salim mendidik umat bahwa Islam memuliakan persamaan dan keadilan dan dapat jadi tempat perlindungan bagi mereka yang terdiskriminasi dan tertindas, sementara agama adalah ruang suci yang tak bisa diterobos oleh kekuatan asing.

    Tentu saja tak dapat dikatakan, kaum inteligensia Indonesia 1930-1940-an adalah satu-satunya pihak yang membawa Indonesia kepada kemerdekaan. Ada begitu banyak golongan yang terlibat dalam perjuangan itu: para pemuda revolusioner, pemimpin agama, para saudagar, khususnya saudagar Islam yang terorganisasi dalam Serikat Dagang Islam, para pejuang gerilya, serta para buruh dan tani. Namun, kaum inteligensia  telah memberikan inspirasi pertama tentang kebangsaan dan kemerdekaan, dan memimpin perjuangan sepanjang jalan. Merekalah yang membuka mata rakyatnya terhadap perlunya kemerdekaan politik, kemerdekaan budaya, kemerdekaan ekonomi, kemerdekaan linguistis, serta kemerdekaan dalam pertahanan dan keamanan. Jenderal Sudirman adalah seorang guru, seorang inteligensia, yang kemudian bersinar sebagai idola bagi perjuangan bersenjata.

     

    Apa dan siapa kaum inteligensia

    Tak semua intelektual dan akademisi berperan sebagai inteligensia. Kelompok Mandarin dalam kekaisaran Tiongkok klasik adalah intelektual yang terdidik dan terpelajar secara literer dan humanistis. Mereka punya pengetahuan mendalam tentang sastra dan kebudayaan, tetapi pengetahuan ini menjadi prasyarat agar mereka diterima dalam salah satu dari sembilan tingkat kepegawaian dalam birokrasi Tiongkok klasik. Mereka berperan sebagai literati, tetapi bukan inteligensia.

    Dalam sejarah intelektual di Barat, di bawah pengaruh zaman Romantik, dengan Rousseau di Perancis sebagai eksponen utama, muncul kelompok yang bukan saja melepaskan diri dari rasionalisme masa Pencerahan, tetapi juga dari basis sosial borjuasi baru, dan menjadi apa yang oleh sosiolog Karl Mannheim dinamakan sozial freischwebende Intellektuelle yang diterjemahkannya sendiri ke bahasa Inggris sebagai socially unattached intellectuals atau yang boleh kita namakan free-floating intellectuals. Mereka bukanlah intelektual organik dalam pengertian Gramsci, yaitu mereka yang merumuskan aspirasi kelasnya dan menjadi juru bicara kelas.

    Inteligensia yang muncul di masa Romantik hidup dengan pandangan dunia yang romantis dalam kondisi ekonomis labil. Secara intelektual, mereka tak utamakan pengetahuan sistematis yang tersusun rapi tentang keadaan masyarakatnya, tetapi mengimpikan dan mendorong orang ke suatu susunan masyarakat lain yang baru. Untuk mereka, sikap romantis suatu kekuatan. Mannheim mengutip Novalis penyair Jerman yang hidup akhir abad ke-18 dan mewujudkan semangat romantik dalam sajak-sajaknya. Kata Novalis, “Bersikap dan berlaku romantis tak lain dari meningkatkan potensi seseorang secara kualitatif. Diri yang rendah diidentifikasikan sebagai diri yang lebih baik dalam sikap ini.. Karena tatkala melihat nilai yang tinggi dalam sesuatu yang banal, memberi wibawa yang penuh rahasia kepada  pada yang remeh temeh, menemukan martabat dari sesuatu yang tak dikenal dalam apa yang dikenal, dan memandang yang fana seolah-olah suatu yang abadi, maka saya bertindak romantis.”

    Intelektual yang berperan sebagai inteligensia tak jadi tawanan masa sekarang, tetapi jadi perintis masa depan. Mengutip filosof Ernst Bloch, mereka bukanlah orang yang menikmati dan mempertahankan apa yang ada, tetapi mengambil risiko mewujudkan yang belum ada. Ini bukan ideal khayali. Soekarno tak membangun kantor kontraktor bangunan, tetapi menceburkan diri dalam usaha pembangunan lain yang bernama nation building. Agus Salim sebagai polyglotyang mendekati genius, tak mendirikan sekolah bahasa asing atau jadi juru bahasa tingkat tinggi, tetapi bergiat sebagai pejuang yang mencerdaskan rakyat melalui berbagai tulisan. Hatta tak menyewakan tenaganya sebagai konsultan ekonomi, atau bankir, tetapi memberi pendidikan untuk koperasi bagi rakyat, dan bersama Sjahrir mendidik para kader politik. Sam Ratulangi tak melamar jadi guru besar matematika, tetapi memimpin perjuangan politik di daerah.

    Semua ini dikatakan tak untuk menafikan pentingnya profesionalisme, kepandaian teknis, atau keahlian para spesialis bagi kemajuan bangsa. Namun, perlu diingat kembali, Indonesia tak akan bangkit berdiri sebagai bangsa dan negara kalau kaum yang paling terpelajar dan terdidik pada suatu masa yang genting tak mengutamakan kemajuan diri mereka dan mantapnya basis ekonomi dan sosial yang dimungkinkan untuk mereka berkat keahlian yang dikuasai, tetapi memilih menjadi freschwebende Intellektuelleseperti kata sosiolog Mannheim, dan mencoba  jadi inteligensia yang berenang dan mengambang di antara beberapa kemungkinan yang sempit, memperkenalkan ide baru tentang kebangsaan dan kemerdekaan, yang untuk bangsanya sendiri pada saat itu, barangkali merupakan gagasan asing yang dianggap hanya menggantang asap.

    Dalam lintasan sejarah modern Indonesia, para inteligensia pada awal abad ke-20 adalah mereka yang terlibat dalam perjuangan politik dengan menjadi penggagas nasionalisme dan kemungkinan untuk merdeka. Pada tahun-tahun pertama setelah kemerdekaan, mereka merelakan diri menjadi statesmen, yaitu negarawan yang memimpin bangsa dan negaranya, hidup dalam kehidupan ekonomi serba compang-camping bersama rakyatnya dan membangun kepercayaan diri bangsanya untuk tegak berdiri. Pada zaman Demokrasi Terpimpin dan sesudahnya, mereka jadi kelompok yang berjuang dalam partai-partai politik yang yakin bahwa ideologi masing-masing adalah jalan terbaik membawa Indonesia menuju kemajuan.

    Pada masa Orde Baru, kaum terpelajar amat dibutuhkan oleh administrasi pemerintahan Soeharto dan diserap dalam administrasi pemerintahan Orde Baru. Ideologi dianggap momok yang menghalangi pembangunan ekonomi. Pembangunan diterjemahkan jadi teknokrasi, ibarat mesin yang tiap bagiannya harus dijalankan oleh masing-masing insinyur berijazah khusus. Pada masa reformasi, kaum terpelajar memilih di antara tiga kemungkinan tersedia, jadi bagian dari administrasi pemerintahan, bergabung dengan kekuatan politik dalam parpol, atau mencari basis sosial dalam dunia industri dan bisnis sebagai tenaga ahli atau konsultan yang dibayar mahal. Inteligensia adalah bagian sejarah lahirnya suatu bangsa dan negara merdeka. Peran ini tak boleh hilang karena orang enggan hidup dengan mengambil risiko labilnya basis sosial-ekonomi yang jadi zona nyaman untuk hidupnya sendiri. Peran ini layak dipertahankan agar kita tak mengulang teriakan dan ratapan bangsa Jerman setelah kalah Perang Dunia II dengan menyanyikan elegi baru bagi negeri ini, noch ist Indonesien nicht verloren, Indonesia belum kalah  dan belum  hilang lenyap.

     

                               ********************************************

     IGNAS KLEDEN,   Sosiolog

    *Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 19 Februari 2016.

  • Pemanfaatan Rekayasa Genetika untuk Keberlangsungan Hidup Manusia

    Pemanfaatan Rekayasa Genetika untuk Keberlangsungan Hidup Manusia

    Oleh  Cicilia Damayanti,  Pengajar dan Konsultan Pendidikan

     

    Pendahuluan

    Pernahkah mendengar nama He Jiankui? He Jiankui adalah seorang peneliti kesehatan dari Cina dan mantan profesor dari Southern University of Science and Technology di Shenzhen. Pada 1 November 2018 dia mengklaim telah berhasil merekayasa genetika bayi untuk pertama kalinya dalam sejarah. Berkat penemuan tersebut dia dipecat dari jabatannya dan harus mendekam di penjara selama 3 tahun. Rekayasa genetika yang dilakukannya dianggap belum dapat dilakukan terhadap manusia. Sebab menurut para ilmuwan metode tersebut masih membutuhkan penelitian dan pengembangan lebih lanjut sebelum digunakan bagi manusia.

    Peristiwa yang terjadi pada He Jiankui membuktikan bahwa terobosan baru dalam dunia kesehatan dan teknologi tidak pernah tanpa konflik. Program bayi tabung pertama, Louise Brown pada tahun 1978, memunculkan perdebatan publik yang sangat tajam. Tapi sekarang, banyak orang yang justru merasa tertolong dengan teknik ini. Terutama bagi mereka yang ingin memiliki keturunan.

    Pada tahun 1996 saat kloning hewan pertama kali, domba Dolly, juga memunculkan perdebatan etika di banyak kalangan. Tetapi saat ini sudah mulai diterima bahkan dikembangkan di beberapa area. Kloning hewan transgenerik mulai digunakan untuk penelitian dalam ilmu kesehatan. Bukankah tidak mungkin bila teknologi rekayasa genetika ini akan diterima demi kepentingan dan keselamatan manusia?

    Metode Rekayasa Genetika

    Rekayasa genetika seperti yang dilakukan He Jiankui merupakan penyisipan, penggantian, atau pembuangan DNA pada genom suatu organisme hidup. Teknologi ini menggunakan enzim-enzim nuclease yang direkayasa untuk memotong dan menyambungnya (Kuntz, 2022). He kemudian mengembangkan mekanisme perbaikan manusia dengan menggunakan teknik editing genetika yakni CRISPR-Cas9 atau gunting genetika.

    Teknik Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats (CRISPR) dikembangkan oleh Emmanuelle Charpentier dari Perancis dan Jennifer Doudna dari Amerika Serikat pada tahun 2011 (Ahmad et al., 2022). Mekanisme yang dilakukan CRISPR memungkinkan sel untuk merekam dari waktu ke waktu virus yang terdeteksi olehnya. Teknologi CRISPR membantu para ilmuwan mengubah DNA pada sel-sel sehingga manusia memiliki kesempatan untuk sembuh dari penyakit genetika.

    Bagian dari sistem CRISPR adalah protein yang disebut Cas9. Protein Cas9 mampu mencari, memotong, dan menurunkan DNA virus dengan cara tertentu. Aktivitas Cas9 dimanfaatkan untuk merekayasa genetika (Goldstein, 2022). Cara kerjanya adalah menghapus atau menyisipkan bit tertentu dari DNA ke dalam sel dengan ketepatan yang akurat.

    Teknologi CRISPR memiliki daya tarik tersendiri karena relatif lebih sederhana. Para ilmuwan bisa mengubah DNA hewan, tumbuhan, maupun organisme mikro dengan presisi yang sangat tepat. Teknik ini mempunyai tingkat akurasi yang tinggi, mudah digunakan, dan relatif tidak mahal. Biasanya digunakan di bidang pertanian untuk mengamankan produksi pangan agar tetap terjaga dengan sistem yang ramah lingkungan.

    Yang harus menjadi bahan pertimbangan adalah bahwa teknologi CRISPR dapat digunakan untuk mewujudkan hal-hal yang dulu hanya ada di film fiksi ilmiah (Grunwald, 2021). Teknologi ini dimanfaatkan untuk membuat tubuh manusia menjadi sempurna. CRISPR diklaim dapat menjadi alat untuk “mendesain manusia”. Seperti: tulang lebih kuat, mencegah kebotakan, IQ tinggi, mengantisipasi penyakit genetik, menciptakan warna mata yang berbeda, bahkan bisa menjadikan tubuh lebih tinggi.

    Saat ini yang menjadi pertimbangan adalah tentang nasib embrio yang sudah terbentuk. Dengan adanya rekayasa DNA manusia dinilai sudah tidak memiliki otoritas atas hidupnya sendiri. Sejak awal mereka sudah “diciptakan” oleh orang lain. Perdebatan seru yang terjadi adalah tentang status moral embrio. Apakah mereka sudah makhluk hidup atau hanya entitas biokimia natural?

    Menghargai Kehidupan demi Keselamatan Manusia

    Nasib embiro manusia masih menjadi kontroversi hingga saat ini. Terutama tentang kesepakatan awal hidup embrio. Tetapi beberapa dekade ini para ilmuwan mulai menunjukkan kesepakatan. Seperti dilansir dari jurnal BMC Medical Ethics (https://doi.org/10.1186/s12910-022-00840-6), mereka meyakini bahwa embrio dalam fase pra-implantasi dapat digunakan untuk kepentingan penelitian kesehatan.

    Penelitian ini dipakai untuk menemukan pengobatan terbaru, yakni sel punca, yang dapat meringankan penderitaan banyak orang. Sebagian besar metode yang digunakan untuk mendapatkan sel punca embrionik adalah dengan menghancurkan embrio berumur 3 sampai 5 hari. Kebanyakan sel induk embrionik berasal dari embrio yang berkembang dari telur yang dibuahi secara in vitro. Kemudian disumbangkan dengan persetujuan dari pendonor.

    Penelitian yang dilakukan oleh BMC menemukan bahwa pada tahun 2009 50% pasangan di Swiss meyakini bahwa embrio memiliki hak dan martabat yang sama dengan manusia. Tetapi penelitian di tempat lain menunjukkan bagaimana donor embrio mengalami peningkatan. Pasangan pendonor embrio di Australia mencapai 27% dan di Swedia 92%. Bahkan di Cina, Denmark, dan Switzerland sekitar 26-41% pasangan positif mendukung program pendonoran embrio.

    Saat diwawancara mereka menyatakan bahwa tindakan ini dilakukan terutama demi kemanusiaan dan mendukung kemajuan di bidang kesehatan. Salah satu contohnya adalah anak-anak penderita kanker. Donor embrio yang mereka lakukan telah membantu para ilmuwan mengembangkan inovasi sel punca untuk memberi kesempatan hidup bagi anak-anak tersebut. Sekarang mereka dapat tersenyum dan bermain lagi bersama teman-teman.

    Manusia saat ini berada di persimpangan antara mendukung teknologi atau kehidupan. Teknologi CRISPR-Cas9 masih perlu dikembangkan dan diuji sebelum dapat dipakai untuk manusia. Tetapi hal yang tidak dapat dipungkiri adalah teknologi ini membantu manusia untuk mengatasi persoalan hidup seperti kelaparan dan kesembuhan penyakit termasuk Covid-19. Teknologi ini secara etis dapat diterima jika digunakan untuk menyejahterakan dan melindungi umat manusia. Khususnya mereka yang terpinggirkan.

    Penutup

    Saat ini yang perlu menjadi perhatian bersama adalah kita hidup bersama dengan yang lain. Di mana solidaritas dibutuhkan untuk membangun rasa persaudaraan dengan sesama. Persaudaraan akan berjalan dengan baik bila berdasarkan pada hubungan timbal balik yang saling menguntungkan antara diri sendiri dan orang lain.

    Petuah “perlakukan orang lain seperti dirimu ingin diperlakukan”, mengandung pesan bahwa orang lain perlu dihormati martabatnya sebagai manusia. Hal yang dapat kita lakukan adalah menjadikan orang lain sebagai tujuan. Untuk itu perlu terus dikembangkan dialog dan kerja sama agar kualitas kehidupan manusia dapat ditingkatkan. Manusia sebagai arsitek kehidupan (Baconian Homo Faber) bertanggung jawab untuk menghargai otonomi dan otoritas makhluk hidup yang lain.

    **************************************************

     

  • Metanoia

    Metanoia

     

    Oleh Stephie Kleden-Beetz

     

    “To err is human, to forgive Divine”. Alexander Pop (Khilaf itu manusiawi, memaafkan adalah ilahi).

    Pada 1830 George Wilson divonis menjalani hukuman gantung karena telah merampok sebuah kantor pos di Amerika Serikat. Namun presiden Andrew Jackson mengeluarkan surat pengampunan bagi Wilson. Anehnya Wilson menolak pengampunan itu. Pengadilan Tinggi akhirnya memutuskan bahwa jika seseorang tidak menerima pengampunan yang diberikan, ia harus menjalani hukuman itu. George Wilson pun menjalani hukuman gantung.

    Dalam Divine Comedy-nya, Dante berkisah tentang dendam kesumat yang tak mengenal ampun. Adalah Ugolino della Gherardesca dan Uskup Agung Ruggieri degli Ubaldin yang bersepakat untuk sebuah urusan politik, kalau tidak keliru. Tetapi uskup agung itu mengkhianati Ugolino. Ugolino beserta putera dan cucunya ditawan dan dihukum mati. Dalam petualangan literaturnya, Dante kebetulan lewat di neraka. Eh, tampak olehnya Uskup Agung dan Ugolino berhimpit-himpit dalam lubang derita yang sama. Bedanya Ugolino terus saja menggerogoti Ruggieri karena lapar oleh dendamnya yang abdi, tak mengenal ampun.

    Setelah membaca Dante betapa sejuknya hati ketika kita menoleh ke Rembrant dengan karyanya yang gemilang “Si Anak Hilang” yang dirangkul mesra oleh sang bapak. Bunda Theresa berkata: “Jika kita benar-benar mencintai, kita harus belajar mengampuni”.

    Mengampuni adalah tindakan yang membebaskan kita dari penjara dendam. Berbicara tentang pengampunan, harus ada dulu dosa dan kesalahan. Langkah memberi ampun harus lewat tahap yang bernama tobat, ya penyesalan. Tanpa itu ampunan tidak mempunyai nilai. Dalam Kitab Suci kata “Repentance” – sesal, tobat, tercantum sampai 70 kali. Orang Yunani menyebutnya “Metanoia” dari kata meta yang artinya mengubah atau perubahan dan nous = pikiran. Namun yang sesungguhnya bukanlah semata-mata mengubah pikiran melainkan harus sampai ke esensinya yaitu mengubah hati. “Koyakkan hatimu dan bukan pakaianmu” seperti yang kita baca dalam Kitab Suci. Tobat menurut Thomas Watson meliputi tahap-tahap berikut: 1. Sadar akan kesalahan kita. 2. Sesali kesalahan kita. 3. Mengakui kesalahan kita. 4. Berpaling dari kesalahan.

    Pengampunan adalah hadiah yang kita berikan pada diri sendiri. Dengan tidak mengampuni kita menanam racun dalam diri kita. Racun yang pasti merusakkan. Penelitian ilmiah menemukan bahwa memberi ampun amat berguna untuk kesehatan tubuh dan kesehatan rohani. Pengampunan dapat meneyembuhkan diri sendiri, perkawinan, keluarga, masyarakat dan bahkan seluruh bangsa. Mahatma Gandhi berkata: “Mengampuni adalah pertanda kekuatan seseorang. Bila kita mengampuni sebenarnya itu kita buat hanya untuk diri sendiri, bukan untuk siapa-siapa”.

    Kata orang, “Pengampunan adalah dendam yang paling manis”. Oscard Wilde menyimpulkan begini: “Tak ada yang lebih mengganggu musuhmu, selain bila engkau mengampuni”.

    Kita ingat kisah dua bersaudara John dan Bill. Bertahun-tahun hidup rukun, tanah pertanian dikerjakan bersama. Tetapi pada suatu hari ada salah paham antara keduanya. Salah paham berubah jadi pertengkaran sengit sampai saling mendiamkan berminggu-minggu bahkan berbulan.

    Suatu pagi ada ketukan di rumah John. Seorang tukang mencari pekerjaan. John berkata, oh kebetulan ada rencana saya membangun tembok. Coba lihat, itu batas antara rumahku dan rumah adikku Bill. Sekarang saya tak mau lagi melihat wajahnya, jadi silahkan bangun tembok setinggi mungkin. Tanpa bertanya lagi, si tukang mulai bekerja.

    Ketika sore tiba dan John memeriksa hasil pekerjaan si tukang itu, ia menjerit, astaga! Saya kan suruh dirikan tembok, koq malah yang dibangun jembatan? Pada saat itu Bill telah berlari dari ujung jembatan, sambil merentangkan tangannya untuk memeluk abangnya. Kata Bill: “Aduh abang baik benar hatimu. Setelah kita bertengkar hebat, engkau mau membangun jembatan penghubung”. John tergagap dan membalas rangkulan adiknya.

    Sementara itu si tukang bergegas pergi. John menahannya, jangan pergi dulu, masih ada banyak pekerjaan. Tapi si tukang menjawab: “Maaf masih banyak sekali jembatan yang harus dibangun”.

    “Jika sebuah pintu sudah tertutup, pasti masih ada pintu lain yang terbuka” (Alexander Graham Bell). Dan………luka di batin tak akan pernah sembuh, sebelum ada pengampunan. Benarlah “Khilaf itu manusiawi, mengampuni adalah ilahi.

    ************

    Sumber Tulisan Warta Flobamora, Edisi 52 Mei 2017

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Ancaman Resesi, Globalisasi dan Tanggung Jawab Gereja

    Ancaman Resesi, Globalisasi dan Tanggung Jawab Gereja

     

    Oleh  Arthur Chandra, Dosen Teologi dan Kepemimpinan Universitas Pelita Harapan, Karawaci, Banten

     

    Beberapa waktu lalu Presiden Jokowi mengatakan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi krisis global yang diprediksi akan mengancam 553 juta jiwa di dunia terperosok dalam kemiskinan ekstrim, terancam kekurangan pangan dan kelaparan. Kita telah melihat bukti nyatanya dengan kebangkrutan negara Srilanka. Kabar buruk lagi adalah 25 negara lain berpotensi menyusul Srilanka, antara lain adalah Argentina, Afganistan, Mesir, Laos dan Myanmar.

    Perang Rusia-Ukraina tentunya memperburuk resesi perekonomian ini dengan memunculkan masalah krisis energi global di dunia. Riak dari krisis energi tersebut akan mendorong naiknya harga BBM Pertalite yang saat ini sedang dikaji oleh pemerintah Indonesia. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan memberikan sinyal bahwa kemungkinan minggu depan Presiden Jokowi akan mengumumkan perihal kenaikan BBM ini. Kenaikan harga ini memang tidak terelakkan mengingat subsisi pemerintah yang semakin berat menopang laju harga BBM agar tidak memberatkan masyarakat akibat krisis energi global.

    Persoalan ancaman kemiskinan global ini tidak dapat dipandang sebelah mata. Perlu mendapatkan atensi kita sebagai anak bangsa dan insan manusia di dunia ini. Problem ini akan menjadi lebih pelik ketika melihat realita globalisasi ekonomi dunia. Globalisasi adalah integrasi ekonomi dunia dengan fokus pada kebebasan perdagangan, yang ditandai dengan perpindahan modal ke seluruh dunia serta dominasi perekonomian nasional oleh bursa keuangan global dan perusahaan multinasional (Rundle, Economic Justice in a Flat World 51). Fenomena ini berdampak terhadap kemiskinan dunia secara global baik secara positif maupun negatif tergantung dari sudut pandang tertentu (Kent A Van Til, 2007).

    Bagaimana Gereja Injili merespon fenomena tersebut? Teolog dan pendeta Rene Padilla berkomentar tajam mengenai sikap Gereja Injili terhadap persoalan kemiskinan. Orang Kristen Injili telah mengabaikan dampak negatif ekologi, sosial, dan manusia dari globalisasi kapitalisme korporat. Hampir tidak ada etika ekologi, sosial ekonomi dan politik di antara kita.

    Komentar Rene Padilla mengantar kita kepada pertanyaan etis lebih lanjut. Apa yang bisa dikerjakan oleh para pemimpin gereja? Bagaimana para teolog dan hamba Tuhan mendidik jemaat agar mempunyai tanggungjawab etis terhadap fenonema kapitalisme korporat, persoalan kemiskinan, dan kerusakan ekologis?

    Pemimpin Kristen khususnya hamba Tuhan mempunyai kewajiban mendidik jemaat agar memiliki cara pandang iman yang komprehensif. Supaya perspektif iman mereka tidak terisolasi dalam wilayah spiritual dan keselamatan jiwa semata tetapi gagap tatkala menyaksikan realita sosial dan ekonomi di sekitar mereka. Tesis ini merupakan pijakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut melalui ulasan ini dengan fokus pada sikap etis Gereja terhadap problem kemiskinan di tengah ancaman resesi dan kekuatan globalisasi ekonomi.

    Globalisasi ekonomi mengacu pada meningkatnya interdependensi ekonomi dunia sebagai hasil dari peningkatan perdagangan barang dan jasa internasional, aliran dana kapital internasional dan penyebaran teknologi yang cepat (Gao Shangquan, 2000). Di satu sisi, globalisasi ekonomi berpotensi besar untuk berkembangnya materialisme dan konsumerisme.  Namun di sisi lain, jika globalisasi ekonomi juga dapat membawa keuntungan ekonomi bagi negara-negara yang terlibat di dalamnya, maka globalisasi ekonomi ini justru dapat menjadi solusi bagi problem kemiskinan global. Dengan catatan bahwa globalisasi ekonomi mesti dikelola dengan semangat kolektif untuk membangun tatanan dunia yang lebih adil dan sejahtera. Dalam bahasa teologis, berarti globalisasi ekonomi mesti dimanfaatkan untuk mewujudkan shalom di muka bumi ini.

    Alkitab menandaskan bahwa Allah adalah pemilik segala sesuatu termasuk diri manusia (Mzm. 24:1; Mat. 28:18).  Manusia bukanlah pemilik isi dunia tetapi pengelola milik Tuhan.  Oleh karena itu manusia tidak otonom, sehingga bisa mengeksploitasi segala sumber daya ekonomi di dunia semaunya. Alkitab juga menyatakan bahwa umat Tuhan memiliki tanggung jawab sosial dan etis untuk mengelola kekayaan perekonomian untuk didistribusikan secara adil pada sesama (Im. 25:8-17, 23-24; Ul. 15:12-14).  Bahkan umat Tuhan didesak oleh Allah untuk responsif membantu sesama yang miskin dan membutuhkan (Ul. 15:7, 11). Persoalan besar dalam pengelolaan kekayaan ini sebenarnya bersumber dari kecintaan akan uang yang menjadi sumber kejahatan (1 Tim. 6:10) sehingga memunculkan ketidakadilan dalam distribusi sumber daya ekonomi yang hanya dikuasai oleh orang-orang tertentu.

    Dalam abad pertengahan ada sebuah organisasi pelayanan yang disebut The Bourse française, sebuah pelayanan diakonia di Jenewa yang nantinya menjadi model bagi peradaban dunia barat. Organisasi ini diinisiasi oleh John Calvin, teolog abad pertengahan yang berpengaruh besar dalam kegerakan reformasi gereja.  Banyak orang mengenal Calvin hanya sebagai sosok teolog yang berkiprah dalam pengajaran doktrin semata dan kurang bersumbangsih dalam peradaban dunia. Anggapan ini jelas merupakan karikatur terhadap sosok Calvin yang terbukti berkiprah dalam mengupayakan kesejahteraan dan keadilan masyarakat seperti melalui The Bourse française yang memiliki pelayanan  beragam kepada orang miskin, yatim piatu, para manula, para janda miskin dan lain sebagainya. Calvin juga memberikan arahan yang jelas tentang pelayanan kepada orang miskin dalam 1561 Ecclesiastical Ordinances yang menekankan bahwa para diaken atau pengurus gereja memiliki tugas untuk mendorong terciptanya etika kerja yang produktif dalam jemaat. Selain itu para diaken juga didorong untuk memberikan subsidi sementara dan pelatihan kerja jika diperlukan.  Namun mereka mesti menolak untuk melayani orang yang miskin karena malas bekerja. Di sini kita bisa melihat pandangan etis Calvin terkait etos kerja dan kepedulian terhadap mereka yang miskin.

    Problem kemiskinan seringkali bermuara pada ketidakadilan distribusi sumber daya produktif yang bisa menciptakan kekayaan ekonomi seperti tanah, modal keuangan dan pengetahuan atau pendidikan. Helen Rhee, Ph.D yang mendalami tentang kekayaan dan kemiskinan di abad awal gereja mengemukakan bahwa seharusnya ada tatanan keadilan distributif dalam masyarakat yang berarti setiap orang mendapatkan akses atas sumber daya produktif sehingga mereka memiliki kesempatan untuk mendaparkan kesempatan untuk memperoleh materi yang bisa mencukupi kebutuhan mereka dan memiliki kehidupan bermartabat dalam komunitas masyarakat. Keadilan distributif ekonomis ini mensyaratkan pemikiran dasar akan penciptaan kekayaan, entrepreneurship, kemampuan mereka yang miskin untuk mandiri melalui partisipasi kewirausahaan.  Hal ini perlu diupayakan melalui kerjasama setiap individu, gereja, organisasi dan pemerintah.

    Dengan demikian prinsip keadilan distributif dapat mengkoreksi sistem ekonomi kapitalisme yang seringkali melaju dengan semangat “the survival of the fittest”, tetapi sekaligus juga melindungi sistem kapitalisme sebagai usaha manusia untuk memiliki kemampuan kreatif dan mandiri.  Dalam hal ini berarti memerlukan keterlibatan aktif komunitas beriman yaitu gereja bersama dengan berbagai lapisan masyarakat. Sehubungan dengan ini, Paus Yohanes Paulus II yang menyerukan bahwa kita memerlukan sebuah solidaritas yang merujuk pada kebajikan sosial sehingga membuat setiap manusia menyadari bahwa dirinya merupakan bagian dari seluruh umat manusia, menjadi saudara bagi semuanya, hidup dalam communio dengan semua manusia di dalam Tuhan (Rundle, Economic Justice in a Flat World, 24).  Oleh karena itu, gereja perlu bersikap etis dengan terlibat aktif globalisasi ekonomi dan menggunakan pasar ekonomi sebagai media yang efektif untuk melayani sesama.

    Sehubungan dengan kepemimpinan dalam gereja maka secara internal pemimpin gereja seyogyanya menggaungkan suara kenabian untuk membakar semangat jemaat dalam bekerja sekreatif dan seproduktif mungkin. Bukan dengan tujuan untuk memperkaya diri atau mengisi pundi-pundi kas gereja yang justru berpotensi menimbulkan konflik. Namun mengelolanya untuk kebaikan bersama yang bisa mewujudkan kesejahteraan bagi jemaat yang berkekurangan dan masyarakat sekitar yang membutuhkan. Secara praktis, pemimpin gereja perlu melibatkan jemaat yang memiliki talenta dan pengalaman kewirausahaan untuk melatih mereka yang membutuhkan.

    Mimbar gereja yang selama ini banyak mengumandangkan kehidupan spiritual, juga dipakai sebagai corong suara Allah untuk menyuarakan kehendak Allah yang merindukan gereja lebih berpartisipasi aktif dalam mewujudkan shalom. Sehingga mimbar bukan hanya menceritakan kisah akan sorga kelak tetapi dunia ini yang dikehendaki Allah untuk menjadi sorga yang hadir di bumi ini. Secara eksternal, pemimpin gereja perlu menjalin relasi dengan elemen pemerintah dan institusi Kristen lain seperti sekolah, universitas untuk berjejaring mengupayakan keadilan distributif ini dalam masyarakat. Secara praktis, bisa dengan memberikan kredit pinjaman lunak pada masyarakat untuk mendirikan UMKM dengan pendampingan jemaat gereja yang memiliki kapasitas untuk melatih orang-orang berkecimpung dalam dunia kewirausahaan.

    Dengan demikian, di tengah ancaman resesi dunia dan gelombang globalisasi serta kepentingan diri manusia, kita sebagai umat Allah yang telah dipanggil keluar dari kegelapan bisa bertindak memberikan kabar baik sekalipun dunia memiliki kabar buruk. Pemimpin gereja memiliki peranan signifikan untuk mempengaruhi pandangan jemaat yang selama ini mungkin lebih banyak menggumulkan kepentingan diri daripada kepentingan Allah di dunia ini. Kiranya umat Tuhan memiliki semangat kolektif bergandengan tangan dengan beragam denominasi bahkan lintas keyakinan untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan di dunia ini yang tentunya ini sejalan dengan kehendak Allah.

    ————————————————————-