DI
ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, sebuah dusun di Flores Barat
mencoba mengingat.
Di
Desa Wae Rebo itu, orang membangun kembali rumah adat mereka yang berbentuk
kerucut—setelah entah berapa lama hanya empat yang tertinggal dari tujuh yang
pernah berdiri, setelah pohon kayu worok tak mudah lagi didapat untuk bahan
tiang utama, setelah sawah ladang tak cukup bisa membuat surplus. Generasi
silih berganti selama 1.000 tahun; mereka membentuk sejarah, dibentuk sejarah.
Kebutuhan baru datang, dan desa didefinisikan oleh kekurangan yang dulu tak
ada. Pada abad ke-21, ingatan tak lagi berwibawa: hanya sebuah gudang berisikan
hal-hal yang aus.
Waktu
memang bukan teman untuk Wae Rebo—sebagai nama yang dicoba disimpan dalam
ingatan dan dilambangkan oleh rumah adat. Waktu bukan teman bagi banyak dusun
tua lain di Indonesia, di mana rumah pernah memiliki ”kosmisitas”, di mana
(jika saya tafsirkan pengertian Bachelard ini) orang bisa merasakan getar dari
tiang yang menjulang, seakan-akan tiap saat bumi menjangkau yang kosmis.
Kita,
hidup di kota yang makin padat, mungkin bahkan tak lagi sempat mempedulikan
yang kosmis nun di atas. Yang vertikal di tempat tinggal dan tempat kerja kini
dilambangkan oleh bangunan bertingkat yang tiap lantai bisa didatangi dengan
lift. Ia jadi sesuatu yang horizontal. Tubuh kita tak mendaki.
Berbeda
dengan nenek moyang orang Wae Rebo, kita tak berteman dengan ruang. Penghuni
Wae Rebo yang hidup di antara gunung itu menyadari mereka bagian dari tamasya
yang lebih luas ketimbang dusun. Sementara itu, di Jakarta, para pembangun
rumah susun memaksa ruang atau dipaksa ruang; konstruksi mereka lahir dari
impuls geometris.
Impuls
ini—”geometrisme”, kata Bachelard—menggariskan batas yang lurus-kaku, dan
dengan itu memisahkan apa yang di luar dan di dalam. Di hampir semua segi
kehidupan, ruang terbuka dianggap serasa ancaman, karena akan datang yang ajaib
dan tak dapat dikalkulasi. Manusia tak takut klaustrofobia; mereka
menanggungkan agorafobia.
Tapi
barangkali akan berlebihan bila kita terus-menerus mengeluhkan kota-kota zaman
ini dan menyesali modernitas. Modernitas, yang memacu dan dipacu waktu,
mendorong X, Y, Z ke masa lalu, dan kemudian mengubah semua itu jadi nostalgia.
Namun nostalgia justru menunjukkan bahwa kita terpaut pada masa kini: kita
memandang X, Y, Z dari posisi manusia masa sekarang yang sedang takut kepada
lupa.
Maka
nostalgia adalah ingatan yang memperindah ingatan. Sebab itu kita tak perlu
mencemoohnya: ia bagian yang memperkaya hidup kita sekarang, karena mengakui
ada dari masa silam yang begitu penting, begitu bagus, dan kita ingin tahu.
Maka jika sejumlah arsitek muda dari Jakarta pada suatu hari di tahun 2009 berjalan berjam-jam mendaki ke Dusun Wae Rebo, dan di sana mengagumi konstruksi rumah adat itu, jika mereka kemudian membentuk sebuah yayasan buat menghidupkan lagi kepiawaian arsitektural di pelosok-pelosok Indonesia, jika kemudian ada dermawan yang membiayai usaha untuk mensyukuri tanah air dengan cara yang kreatif itu—itu semua menunjukkan bahwa nostalgia itu adalah bagian dari pencarian hal-hal yang baru dan berbeda. Buku yang kemudian mereka terbitkan, Pesan dari Wae Rebo (editor Yori Antar, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2010) adalah rekaman semua itu.
Rasa
ingin tahu itu sebenarnya mengandung kritik. Di situ ia sebenarnya bagian dari
modernitas, yang tak mau hanya menerima apa yang ada. Dan modernitas bergerak
karena kritik itu juga tak jarang ia tujukan ke dalam dirinya sendiri.
Salah
satu otokritik yang terkenal menunjuk kepada ketakmampuan kita untuk merasakan
tempat kita tinggal sebagai bagian dari Hidup yang tiap kali membuat takjub.
Kini kita kehilangan pesona dunia: harum kembang, suara burung, warna fajar,
telah jadi ”pengetahuan”. Rumah telah jadi kamar persegi panjang.
Heidegger,
yang dengan suara berat melakukan otokritik kepada abad ke-20, mengingatkan
kita akan makna kata bauen. Baginya,
makna kata itu bukan saja mengacu kepada ”membangun”, tapi juga hidup di bawah
langit, hidup di antara semua yang fana, tapi juga bagian dari apa yang
tumbuh—baik karena benih sendiri atau diolah jadi kebudayaan.
Tapi
di mana kini kita bisa bicara seperti itu? Ini abad ke-21. Otokritik itu juga
perlu kritik. Manusia tak lagi, untuk menggunakan kalimat penyair Hölderlin di
Jerman abad ke-18, ”berdiam secara puitis” (dichterisch
wohnet der Mensch). Di kota-kota Indonesia yang padat, manusia berhubungan
dengan ruang hidupnya sebagai prosa dengan angka-angka di akta tanah.
Tapi
tak hanya itu. ”Berdiam secara puitis” agaknya hanya bisa diutarakan oleh mereka
yang punya rumah yang sejuk dan tenang, mungkin bahkan dengan hutan dan sungai
di dekatnya. Tak semua orang punya privilese itu. Kuli bangunan yang menginap
dari tempat ke tempat, para pemulung yang membuat kereta-kotak jadi kamar
tinggal mereka yang bisa diparkir di mana saja, punya pengertian lain tentang
”rumah”.
Pada
akhirnya, rumah adalah respons kepada kebutuhan tubuh, yang berkembang jadi
rencana dan imajinasi. Ingatan tentang rumah masa lalu hanya penting jika ia
bagian dari respons itu. Di situlah rumah adat dan rumah darurat punya titik
temunya. Bukan dalam bentuk, tapi dalam kreativitas: kemampuan menemukan cara
yang pas, di suatu masa, di suatu tempat, di sebuah kondisi berkelebihan dan
berkekurangan.
Maka
kita akan dapat sesuatu yang berharga jika dari Desa Wae Rebo kita temukan
sesuatu yang baru di dalam bentuk fisik yang tampak lama. Kita mengingat, tapi
kita tak mengulangi. Sejarah tak bisa diulangi. Sejarah berubah. Antara lain
melalui kreasi.
—– Sumber Majalah Tempo Edisi Senin, 28 Juni 2010 —–
BUKIT Wokonggoro di Kampung Gurung, Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur menjadi cerita kehidupan bagi 47 siswa dan siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 04 Kota Komba di masa depan.
Mengapa bukit itu menjadi cerita perjuangan bagi generasi penerus Bangsa Indonesia, bagi Manggarai Timur, bagi Nusa Tenggara Timur dan bagi Desa Gunung dan beberapa desa tetangga?
Mari ikuti ceritanya. Saya coba menarasikan sesuai apa yang saya amati di bukit itu saat 47 siswa dan siswi, Senin, (12/4/2021).
Minggu malam, (11/4/2021), saya kontak Kepala Sekolah SMPN 04 Kota Komba, Fidelis Ambon. Saya ingin memperoleh informasi, apakah bukit Wokonggoro tetap dijadikan tempat untuk pelaksanaan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) 2021. Saya memperoleh jawaban iya, lalu saya memutuskan bahwa esok pagi, Senin, (12/4/2021) saya mau meliput USBD di bukit tersebut. Jawaban dari Kepala Sekolah, “terima kasih. Kami tunggu di bukit itu.
Saya bangun pagi Senin, (12/4/2021) jam 06.30 Wita. Sarapan pagi sudah disiapkan oleh istri saya. Ada minuman kopi pahit, kopi pait. Minuman kopi tanpa gula. Ini budaya minum kopi orang Manggarai Timur.
Selesai sarapan, saya mandi. Memakai baju serta mempersiapkan alat kerja. Saya pinjam motor tetangga. Tak lama sesudah itu saya bergegas menuju ke tempat ujian tersebut. Kurang lebih 45 menit menempuh perjalanan dari Kompleks Mabakou, Waelengga ke bukit tersebut. Saya berangkat sekitar jam 07.20 Wita.
Dari Waelengga, saya bergegas ke arah timur, melewati kampung Padarambu, Kampung Baru, Kali Waekoe, Kampung Marokima, Padang Savana Teleng.
Saya menikmati pemandangan yang indah sepanjang padang Savana Teleng. Saya menikmati suara merdu burung yang saling menyapa diantara mereka (baca burung) di kiri kanan jalan. Burung saja bisa saling menyala, saya membatin dalam perjalanan tersebut.
Setiba di Kampung Gurung, saya belok kanan di jalan rabat beton sampai di pintu gerbang sekolah. Saya berhenti di depan pintu gerbang.
Saya tidak tahu lokasi bukit tersebut. Lagi-lagi saya kontak Kepala Sekolah, bersyukur ada nada dering dan dia menyahutnya lewat sambungan kabel lunak di mobile phone. Saya tanya dimana lokasinya sebab saya sudah berada di depan pintu gerbang sekolah.
Lalu Kepala Sekolah memberikan petunjuk bahwa dari gerbang sekolah belok kiri di jalan tanah menuju ke puncak bukit. Bisa dengan motor. Sebelumnya saya dapat informasi bahwa lokasi ujiannya di bawah tenda darurat. Nah, saat di gerbang sekolah lihat ada tenda di bagian timur dari sekolah tersebut. Dalam hati saya mengungkapkan bahwa lokasi ujian ada di bawah tenda tersebut.
Perlahan-lahan, laju kendaraan roda dua melintasi jalan tanah tersebut. Saya laju terus tetapi belum dapat lokasi ujian tersebut. Lalu saya kembali ke bawah dan belok kiri di jalan tikus menuju ke tenda warna hijau. Saya parkir motor. Lalu jalan kaki menurun. Saya lihat di tenda itu tidak ada tanda-tanda bahwa anak sekolah yang sedang ujian.
Kemudian mata saya tertuju ke atas bukit dengan melihat tenda darurat warna biru. Lalu saya lihat anak sekolah dengan pakaian seragam putih hitam. Akhirnya saya balik lagi ke jalan raya. Mengendarai lagi sepeda motor ke arah bukit tersebut.
Perjuangan saya untuk menemukan bukit itu terwujud. Dari bawah jalan, saya melihat tenda darurat warna biru campur orange di bukit tersebut.
Saya parkir motor di tempat yang baik. Kemudian saya jalan kaki. Dari jauh saya melihat senyum kepala sekolah. Saya naik tangga darurat. Saya dipersilahkan duduk di kursi yang sudah disediakan. Ada satu meja dan 4 kursi. Saya tetap taat protokol kesehatan dengan memakai masker. Kami tidak salaman seperti biasanya. Kepalan tangan saling bersentuhan saja.
Dua kursi sudah ditempati Kepala Sekolah dan Ketua Komite SMPN 04 Kota Komba, Hilarius Asa. Kepala Sekolah dengan ramah menyapa saya dengan ucapan selamat pagi. Saya juga menjawabnya dengan selamat pagi.
Tak lama kemudian, saya minta ijin di kepala sekolah untuk mengabadi saat 47 anak sedang mengerjakan soal di handphone. Saya lihat anak-anak serius mengerjakan soal di handphone. Dua tangan anak-anak memegang handphone sambil mengerjakan soal ujian. Saya foto dan videokan peristiwa unik, langka tersebut.
Kemudian saya kembali duduk kursi. Selang beberapa menit, Ketua Panitia USBD SMPN 04, Yohanes Baeng duduk dan menyapa saya dengan ucapan yang sama, “selamat pagi”
USBD sebagai Tantangan dan Cerita Kehidupan di tengah Covid19
Kepala Sekolah SMPN 04, Fidelis Ambon mengisahkan bahwa Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) adalah sebuah tantangan di era digital sekaligus cerita kehidupan bagi lembaga pendidikan dan anak didiknya di masa akan datang.
USBD kali ini angkatan ke 11. Sekolah ini didirikan 2008 lalu. Sebelumnya dilaksanakan ujian secara manual. Tahun ini ditengah pandemi covid19, ujian menggunakan sarana digital.
Fidelis mengatakan, sekolah menyesuaikan diri dengan ujian berbasis digital. Berpikir. Berupaya dengan mencari lokasi sinyal yang daya tangkap jaringan 4G sangat kuat.
Ditengah kesulitan susah sinyal ditambahkan situasi wabah Covid19, sekolah terus mengikuti semua petunjuk dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga agar tetap melaksanakan USBD dan juga taat dengan protokol kesehatan.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto didampingi Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon meninjau lokasi USBD SMPN 04 Kota Komba di bukit Wokonggoro, Desa Gunung, Selasa, (13/4/2021). (BERANDANEGERI.com/Markus Makur).
Lokasi Bukit Wokonggoro, lanjut Fidelis, menjadi cerita sepanjang masa, baik oleh siswa dan siswi yang tamat tahun ini maupun oleh lembaga pendidikan SMPN 04 Kota Komba. Sebelumnya tak terbayangkan melaksanakan ujian di ruang terbuka di bukit.
“Kerja keras. Upaya tak kenal lelah dengan mencoba, mencari dan menangkap jaringan internet di bukit itu membuahkan hasil. Jaringan sinyal di bukit itu bersumber dari BTS di Kabupaten Ngada. Try out berhasil. Dan dua hari USBD juga berjalan lancar. Diharapkan USBD sampai Kamis, (15/4/2021) berjalan dengan lancar,” jelasnya.
Ketua Panitia USBD SMPN 04 Kota Komba, Yohanes Baeng menjelaskan, tuntutan di era digital dan regulasi memerintahkan ujian berbasis jaringan internet di tengah pandemi Covid19 membuat sekolah berpikir, berdiskusi untuk mencari dan menemukan solusinya. Antara regulasi dan kendala sekolah yang belum tersambung jaringan internet, listrik membuat Kepala Sekolah, guru, dan orang tua murid berjuang keras dengan berbagai upaya agar siswa dan siswi kelas III dapat melaksanakan USBD April 2021 ini.
Baeng menjelaskan, lembaga pendidikan memberikan tanggung jawab kepadanya sebagai Ketua Panitia USBD 2021. Tanggung jawab dan kepercayaan ini dilaksanakannya sepenuh hati dengan melibatkan semua guru. Saat uji coba (Try out) Maret 2021, mereka mencari sinyal di bukit Wokonggoro dengan membawa laptop. Alhasilnya, jaringan internet 4G sangat kuat di bukit. Sekolah memutuskan bahwa bukit ini menjadi tempat uji coba USBD dan pelaksanaan USBD April 2021 ini. Mereka melibatkan orang tua murid, guru dan anak sekolah untuk membangun tenda dengan ukuran 7×11 meter. Tenda ini dibagi dalam tiga ruangan. Terbuka. Tidak dipisahkan dengan dinding. Bagian luar di kiri kanan, depan belakang terbuka. Kursi dan meja secara gotong royong diangkut oleh orang tua murid, anak sekolah dan guru-guru. Sekolah juga menyiapkan mesin generator untuk cas laptop dan handphone.
Ketua Komite SMPN 04 Kota Komba, Hilarius Asa mengatakan, demi masa depan generasi penerus bangsa di Manggarai Timur umumnya, Desa Gunung dan desa tetangga khususnya, orang tua murid terlibat aktif untuk mensukseskan pelaksanaan USBD 2021 walaupun banyak kendala dihadapi seperti sarana internet belum memadai, komputer dan laptop di sekolah belum memadai, jaringan listrik juga belum tersambung.
Hilarius berharap bahwa Pemerintah bisa memberikan perhatian serius untuk tahun-tahun mendatang dengan melengkapi sarana penunjang bagi SMPN 04 di era digital ini. Pemerintah membuat regulasi tetapi tidak ditunjang dengan sarana yang memadai. Kiranya kali ini saja, USBD April 2021 yang melaksanakan di sebuah bukit di ruang terbuka di luar sekolah.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto berjanji memprioritaskan bantuan jaringan internet, komputer dan laptop di SMPN 04 Kota Komba di tahun 2022.
Teto sampaikan itu saat meninjau lokasi USBD dari SMPN 04 Kota Komba, Desa Gunung di Bukit Wokonggoro, Selasa, (13/4/2021).
Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon saat meninjau lokasi USBD SMPN 04 Kota Komba di Bukit Wokonggoro, Selasa, (13/4/2021) memberikan motivasi kepada 47 siswa dan siswi di SMPN 04 bahwa ini sejarah langka dan unik bagi kisah perjalanan anak-anak sekolah di masa depan. Dimana, mereka melaksanakan ujian di bukit, di bawah tenda serta pinjam handphone orang tua, pulsa juga dibeli orang tua, pulsa hotspot dari guru serta bantuan pulsa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.
Camat Regina berpesan, jadikan peristiwa unik ini sebagai motivasi bagi 47 anak sekolah untuk meraih masa depan. Anak-anak ini calon pemimpin bagi Bangsa Indonesia, NTT dan Manggarai Timur.
Penulis adalah wartawan tinggal di Kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT.
HAJI Sulaeman L Hamzah tentu saja gundah. Rasa sedih,
prihatin, terharu pasti menempel dalam dinding hatinya. Salah seorang tokoh di
balik sukses Lembata menjadi sebuah daerah otonom lepas dari induknya, Flores
Timur, 21 tahun lalu ini terpukul tatkala Lembata, pulau tempat ia lahir dan
menghabiskan masa kecilnya, didera dua peristiwa alam yang menyayat hati ribu
ratu (rakyat) di kampung halaman, lewotana, leu awuq tanah Lepanbatan.
Peristiwa erupsi gunung Ile Lewotolok pada Minggu, 29 November 2020, nyaris
melumpuhkan aktivitas warga. Deru kencang dari perut Ile Lewotolok memuntahkan
batu, debu, dan belerang nyaris menyambangi tak hanya warga Kecamatan Ile Ape
dan Ile Ape Timur di lereng Ile Lewotolok.
Muntahan material itu juga menyasar wilayah kecamatan lain, termasuk di bagian selatan seperti Nagawutun dan Wulandoni. “Kakak perempuan sulung dan adik bungsumu sudah di rumah kami di Lewoleba. Usai mengantar pisang, alpukat, dan nenas mereka langsung pamit. Saya sempat tanyakan kondisi ruas jalan Lewoleba menuju Boto hingga Lamalera dan Lebala. Katanya memprihatinkan,” kata H. Sulaeman Hamzah, beberapa waktu setelah erupsi Ile Lewotolok pada November 2020 lalu. Di sela-sela menunaikan tugas selaku anggota DPR RI Daerah Pemilihan Papua, anggota Fraksi NasDem ini terbang ke Lembata dan menyambangi Lewotolok, kampung halamannya.
“Saya dan ama Jerry Sabah Leku dampingi orangtua (H. Sulaeman Hamzah) bertemu ina, ama, dan kaka arin (bapa, ibu, kaka, adik serta saudari) kemudian kasi bantuan sedikit sekaligus melihat langsung Lewotolok, kampung halaman. Kami semua juga bersiap untuk ikut ambil bagian dalam syukuran Masjid Babul Jannah yang dibangun bapa tua sebagai tanda cintanya kepada sesama saudara kami umat Muslim di kampung. Bapa tua baru selesai merenovasi masjid itu setelah dilanda erupsi Ile Lewotolok,” kata Matias Ladopurap, advokat sekaligus ponakan H. Sulaeman Hamzah. “Bapa tua hanya satu atau dua hari di Lembata setelah acara syukuran renovasi masjid Babul Janah Amakaka. Beliau dan ama Ariel, putra bapa tua, langsung balik Jakarta. Beliau akan menuju Papua untuk kunjungan kerja dan bertemu masyarakat di Dapilnya,” ujar Jery Sabaleku.
Minggu Kelabu
Minggu 29 November 2020 pagi dan Minggu 4 April 2021 sungguh
menjadi Minggu kelabu tak hanya ribu ratu di Lembata, terutama di Ile Ape. Dua
hari Minggu bersamaan itu sungguh menjadi Minggu kelabu juga untuk ribu ratu
asal Lembata di rantau. Tragedi banjir lahar dingin yang menyapu desa-desa di
sekitar lereng Ile Lewotolok, mengubur orang-orang terkasih dalam tanah
leluhurnya. Di tengah malam, di tengah sebagian warga Kristiani bersiap
merayakan Minggu Paskah, di tengah penantian mendengar lonceng Gereja, dan
suara adzan subuh berkumandang dari menara masjid umat Islam, ribu ratu
menyiapkan diri menghaďap kiblat di dalam masjid, petaka banjir lahar dingin
itu bagai moster menakutkan. Alam murka. “Enam belas saudara dan saudari
kami tertimbun tanah dan bebatuan besar. Lenyap. Ajal juga menjemput pasutri
kerabat saya. Mereka baru dari Malaysia. Anaknya selamat karena masih di
Lewoleba. Setelah dengar kabar belasan orang dan kampung halaman tertimbun
longsor, saya langsung demam. Lama tak bisa berkata-kata. Cuma doa dalam resah
dan pasrah,” ujar Yeremias Jena, warga asal Atawatun & dosen Unika
Atma Jaya Jakarta.
Presiden Joko Widodo nampaknya mengubah skenario jadwal kunjungan ke Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Sebagian desa di dua pulau itu dihantam banjir dan longsor pada Minggu, 4 April 2021 dini hari. Sedianya, helikopter TNI yang membawa Presiden akan singgah di Adonara sebelum melanjutkan perjalanan menuju bandara Wunopito di Lewoleba, Lembata. Bekas Walikota Surakarta itu sedianya sholat Jumat di nusa tadon Adonara. Pada pukul 15.00 WIB, helikopter yang membawa rombongan Jokowi baru mendarat dan diperkirakan usai sholat Jumat di bandara Jokowi baru akan menuju Ile Ape meninjau warga dan situasi pasca banjir lahar dingin menambrak desa-desa di lereng Ile Lewotolok.
“Masyarakat macam dendam sekali mau lihat Jokowi. Mereka
tak mampu memendam rindu melihat Jokowi dari dekat. Jalanan penuh dengan warga.
Mengenakan masker mengikuti protokol kesehatan, mereka seperti tak pernah takut
dengan petugas keamanan yang mengawal Jokowi. Anggota Paspampres juga
ramah-ramah mengatur warga agar tetap jaga jarak dengan mobil yang membawa
RI-1. Nama Jokowi dan sosok beliau sampai saat ini masih terus mengalir hingga
kampung-kampung bahkan sampe kebun. Kami bangga Jokowi kunjungi juga Lembata
dan Presiden RI pertama yang singgah di pulau ini sejak Indonesia. Jokowi
menggandakan kebanggaan kami setelah tahun 1979 Wakil Presiden Haji Adam Malik
kunjungi korban bencana Waiteba, Kecamatan Atadei di Loang, kota Kecamatan
Nagawutun. Legasi Adam Malik bagi rakyat Lembata adalah TK Nely Adam Malik
Loang,” kata Anton Pati Liman, warga Lewoleba asal Puor dan ayah dua
putera anggota TNI Angkatan Darat.
Toleransi dari Amakaka
Lembata adalah pulau unik dalam banyak hal. Warga
masyarakatnya hidup berdampingan dengan aman dan damai meski dalam kondisi
serba minim. Budaya opu lake, birin breun taat dalam sanubari warganya. Mereka
punya militansi bertahan hidup bahkan melangkah jauh hingga menyasar
benua-benua di bawah kolong langit. Relasi sosial keagamaan lebih kuat diikat
karena kawin mawin. Tak heran dalam sebuah keluarga penganut agamanya
gado-gado. Dari selatan Lembata, tepatnya di kampung Muslim Lebala Leworaja
kehidupan warganya sangat harmonis. Di kampung Luki, Desa Pantai Harapan,
Kecamatan Wulandono, tak jauh dari Leworaja, berdiri kokoh masjid Asyamat Luki.
“Saat jadi guru di SD Inpres Luki, saya ditugaskan tetua adat dan ulama
Muslim menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid Asyamat. Saat peresmian, saya
diundang para ulama hadir tapi saya minta maaf tak bisa hadir. Saya lagi pigi (pergi) Larantuka urus saya punya
anak-anak sekolah,” ujar Frans Lua Mudaj, kerabat saya di kampung Kluang,
Desa Belabaja (Boto), Nagawutun.
Kisah Jokowi dan rombongan serta sebelas warga Lembata sholat
Jumat berjamaah di Masjid Babul Jannah Amakaka bekin Wakil Ketua DPRD Lembata
asal Lewotolok, Begu Ibrahim, Rifai Mayeli, dan Frans Ado Uran Atawolo. Begu
& Rifai tak pernah menyangkah berada di lokasi bencana Amakaka berjarak tak
sampai sepuluh meter dari Presiden Jokowi. Begu sering berada di Amakaka pascabencana
banjir lahar dingin guna ambil bagian dalam mengurus warga korban. “Saya
bahagia bisa sholat bareng Bapak Presiden Joko Widodo. Ini pengalaman yang tak
pernah saya lupa,” kata Begu. “Saya berada di barisan belakang bapa
Jokowi. Pengalaman jadi cerita di kampung. Nama Jokowi sungguh luar biasa.
Orang cerita ràme sekali beliau begitu peduli dengan Lembata. Beliau juga
berksempatan sholat di Amakaka. Bapak Gubernur menunggu di posko pengungsi
didampingi Pak Bupati Lembata. Kàmi warga sipil dan warga Amakaka di lokasi
yang diijinkan sholat bersama Bapak Presiden. Kami terlebih dahulu diperiksa
dan baru diijinkan dengan protokol kesehatan ketat,” kata Rifai.
Kisah Rifai Mayeli dan iparnya, Frans Atawolo unik. Mereka
berdua berboncengan menuju lokasi bencana di Ile Ape dan Ile Ape Timur.
“Sejak erupsi Ile Lewotolok, kami anak muda dari Desa membentuk relawan
mencari donasi dari rumah ke rumah dan pihak lain ikut membantu korban. Bencana
kedua pada Minggu awal April lalu, saya dan ama naik satu motor. Saya rasa mau
demam juga berada dekat Presiden Jokowi saat berada di Amakaka,” ujar
Rifai, penjaga kios lulusan jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Politik
Universitas Nusa Cencana. Rifai bersama Begu juga berkesempatan sholat bersama
Presiden Joko Widodo dan rombongan dari Jakarta. Warga asal Lebala ini berharap
juga agar bisa diangkat jadi ASN. “Usai kuliah saya buka usaha warung
kecil di kampung sambil menunggu ada lowongan PNS dari Pemerintah Pusat,”
kata Rifai.
Kisah Frans Atawolo berbeda. Ia menjauh dari Rifai saat
sepeda motor berada di lokasi bencana. Frans mencoba mengambil posisi di
belakang anggota Paspampres agar bisa melihat dari dekat Jokowi, sang idola.
Tukang kayu dan batu musiman rupanya paham medan bencana. Ia fasih “jalan
tikus” mana di tengah lumpur dan batu-batu besar bakal dilewati Jokowi,
Gubernur NTT Viktor Laiskodat. Frans memilih berdiri di atas batu di
ketinggian. “Saya teriak sekeras-kerasnya. ‘Bapa Jokowi, saya dan kami
orang kampung sayang bapa. Terima kasih su datang di kita pu kampung. Terima
kasih, Tuhan. Tuhan sudah antar dan jaga bapa Jokowi di sini. Terima kasih,
Tuhan’. Itu teriakan saya dari atas batu,” kata Frans.
Sandal swallow dan celana agak kotor tak ia peduli. “Saya ka, bapa Presdiden? Saya ka, bapa Presiden?,” tanya Frans melihat Jokòwi menunjuk tangan ke arah ia dan teman-teman relawan. “Ya, kamu. Kamu,” kata Frans mengulang omongan anggota Paspampres. “Saya turun dekat bapa Jokowi. Saya dikasi jaket yang beliau kenakan. Air mata saya tumpah. Doa saya bertemu bapa Jokowi dijawab Tuhan. Orang-orang minta jaket dorang pake sekadar foto. Ada yang tawarkan beli dengan harga 10 juta rupiah. Saya tolak. Jumat, 9 April, malam orang kampung saya datang sekadar pake jaket Jokowi. Sabtu pagi, ada tetangga datang kasi saya kopi dan pisang goreng. Mereka rasa macam bapa Jokowi ada di rumah saya. Beliau sungguh orang hebat, rendah hati dan peduli sesama. Uang 1000 rupiah ďi jaket bapa Jokowi saya kasi Rifai kerna dia nikah dengan sudari kami,” kata Frans.
Masjid Babul Jannah Lewotolok, Desa Amakaka terbilang unik.
Panitia Pembangunan Masjid Babul Jannah lebih banyak diisi warga penganut
Katolik. Ketua Panitia Pembangunan Masjid adalah Thomas Tuto Langoday.
Sedangkan sekretaris panitia adalah Krens Witak Ladopurap, bendahara adalah
Karel Kaba Ladopurab dan Bernardus Hena Ladopurap yang kala itu menjabat Kepala
Desa Amakaka. “Masjid ini diresmikan Pak Sarwono Kusumaatmaja saat beliau
menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Beliau sempat menitikkan
air mata. Kaget karena beliau baru tahu panitia pembangunan masjid kebanyakan
saudara-saudari umat Katolik. Pancasila sesungguhnya sudah lama lahir dan
tumbuh di Amakaka,” ujar Jery Sabaleku.
Kehadiran Sarwono Kusumaatmaja kala itu sekaligus meresmikan
puluhan perahu nelayan yang disumbang Pak Haji Sulaeman Hamzah selaku anak
tanah Lewotolok untuk para nelayan di sekitar lereng Ile Ape dan beberapa
wilayah di Lembata. Nah, kisah
kehadiran Jokowi di Lembata dan melakukan sholat Jumat di Masjid Babul Jannah
Amakaka adalah kisah yang akan mengalir sampai jauh: menyapa warga hingga
pantai, sungai, gunung, rumah-rumah penduduk hingga kebun para petani di bawah
lereng gununt di pedalaman selatan Lembata. Nama Jokowi mengalir sampai jauh:
kisah pada sosok seorang Presiden dan pemimpin negeri yang menyambangi Lembata
dalam lawatan resminya. Terima kasih, Bapak Presiden. Doa kami ribu ratu:
semoga bapa keluarga sehat selalu dan penuh keberkahan. Selamat siang. Tuhan
berkati. Salamalaikum.
PENDERITA disabilitas mental ada di sekitar lingkungan keluarga kita. Bahkan mungkin salah satu anggota keluarga kita mengalami derita disabilitas mental. Disabilitas mental adalah satu satu dari sekian penyakit dalam tubuh manusia yang rapuh.
Penderita disabilitas mental ada yang dipasung di pondok
reyot. Tak manusiawi. Tak bermartabat.
Penderita disabilitas mental atau sering disebut orang dengan
gangguan jiwa (ODGJ) merupakan masalah serius dan mengarahkan kepada darurat
disabilitas mental di bumi Nusa Tenggara Timur.
Negara masih minim hadir untuk menangani dan mencegahnya.
Bahkan, fasilitas untuk menangani mereka yang menderita itu masih minim.
Kadang-kadang banyak alasan dalam penanganannya yang berkaitan regulasi. Dana
terbatas untuk penanganannya. Belum ada komisi khusus untuk menangani mereka
yang menderita.
Penanganan untuk memulihkan penderita disabilitas mental belumlah prioritas dalam program yang dibuat oleh pemerintah, baik pusat, Provinsi dan daerah. Tapi dibalik masalah tersebut, seorang imam dari ordo Serikat Sabda Allah (SVD), Pater Aventinus Saur, SVD memulai gerakan aksi kemanusiaan untuk peduli, bersuara lantang, dan menangani mereka yang derita disabilitas mental bermula di sebuah stasi di Keuskupan Agung Ende (Baca Buku Belum Kalah) 2014 lalu.
Pater Avent Saur, SVD, Ketua KKI NTT mengunjungi penderita disabilitas mental di Desa Golo Meni, Oktober 2020. (Dok/Markus Makur)
Kemudian Pater Avent terus merefleksi dan merenungkan dalam
diri serta serius turun ke tengah-tengah masyarakat untuk advokasi, sosialisasi,
beri perhatian. Beri makan nasi bungkus di jalan-jalan di Kota Ende dan
mempublikasikan di media massa.
Kemudian Pater membentuk kelompok sukarelawan yang dinamakan
Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Februari
2016.
Relawan KKI setia melayani, mengunjungi, mendata dan
memberikan makanan seadanya. Terinspirasi oleh gerakan kemanusiaan Pater Avent,
6 orang di Manggarai Timur bertemu Pater di Rumah Makan Ayu di pinggir jalan
Trans Flores di Kota Borong, Juli 2017. Sesudah makan bersama, kami sama-sama
berkunjung ke rumah satu warga yang dipasung di sekitar Kota Borong. Kemudian,
Pater melanjutkan perjalanan ke Ende. Sementara kami kembali dengan aktivitas
harian dan secara sporadis melakukan kunjungan, mendata dan merawat. Saat itu
kami tak dibekali oleh ilmu tentang apa itu sakit gangguan jiwa. Semangat saat
itu adalah peduli bagi mereka yang disisihkan. Dipinggirkan. Dilupakan.
Disingkirkan bertahun-tahun.
Tahun 2020, semakin gencar menangani penderita gangguan jiwa,
walaupun di tengah pandemi Covid19, relawan KKI terus melakukan kunjungan
sosial, aksi sosial.
Aksi kemanusiaan dengan mengajak berbagai pihak. Kepala Desa
juga diajak untuk terlibat mendampingi, mengunjungi, memberikan perhatian.
Bantuan sosial.
Kepala Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Yohanes Tobis merupakan yang pertama dalam pendampingan bersama relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) bagi rakyatnya yang menderita gangguan jiwa, baik di pasung maupun yang tinggal di dalam pondok-pondok saja.
Kepala Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, NTT, Yohanes Tobis (baju hitam bertopi) mendampingi Pater Avent Saur, SVD mengunjungi penderita ODGJ yang pulih di Kampung Nunur, Oktober 2020. (Dok/Markus Makur)
Pemerintah Desa Mbengan mengunjungi warganya yang sedang
sakit gangguan jiwa. Memberikan bantuan sosial bagi penderitanya.
Terpisah Kepala Desa Ngampang Mas, Kecamatan Borong, Orison
Songgo sangat aktif dan peduli dengan warganya yang menderita gangguan jiwa
yang sedang di pasung maupun yang tinggal di pondok-pondok di kebun.
Beberapa kali relawan KKI mengunjungi. Menyapa. Membawa
bantuan Kasih di desanya, Kepala Desa mendampingi relawan KKI. Sungguh luar
biasa.
Bulan Desember 2020 ditengah pandemi Covid19, Kepala Desa
mendampingi Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa, Pastor rekan Paroki
Santo Antonius Padua Mbeling, Pater Frumens Andi, SMM, relawan KKI dan
wartawan, perawat dari Puskesmas Lebi Balus Permai membawa bantuan gitar bagi
seorang penderita gangguan jiwa yang tinggal di pondok di pinggir sawahnya.
Mengunjungi beberapa penderita di desanya untuk membawa
bantuan kemanusiaan di tengah pandemi Covid19 berupa beras dan makanan ringan.
Oktober 2020, Kepala Desa Golo Meni, Kecamatan Kota Komba Utara,
Paulus Darman, mendampingi Ketua KKI, Pater Aventinus Saur, SVD bersama relawan
KKI Manggarai Timur mengunjungi warga di desanya yang menderita gangguan jiwa
dipasung.
Saat kunjungan itu
sudah tengah malam karena Pater Avent keliling dari Rego, Kabupaten Manggarai
Barat.
Menempuh Jarak 500 KM Ende-Pelosok Manggarai Barat
Ceritanya begini sampai mengunjungi penderita gangguan jiwa di pelosok Manggarai Barat. Pater Avent mendapatkan informasi dari Pater Alex Jebadu, SVD, Dosen STFK Ledalero bahwa ada beberapa penderita gangguan jiwa di Kampung Rego, Desa Rego, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat.
Kemudian Pater mengagendakan kunjung Oktober 2020. Saya ikut
mendampingi Pater Avent.
Saat itu Pater berangkat dari Ende, Ibukota Kabupaten Ende,
singgah di rumah di Kompleks Mabako, Waelengga. Selanjutnya menempuh perjalanan
ke arah Barat. Ende-Waelengga-Ruteng, Lembor-Pacar-Rego. Kurang lebih 9 hari
mengelilingi Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur
Kurang lebih jarak yang ditempuh dari Ende ke Desa Rego pergi
pulang 500 kilometer. Sebelum Pater Avent balik ke Ende, dia diundang seorang
relawan KKI Manggarai Timur di kampung Taga, Desa Golo Nderu, Kecamatan Kota
Komba Utara.
Saat itu Pater Avent dan beberapa relawan berangkat dari
Kampung Weto, Orong, Kecamatan Welak. Bermalam di kampung Urang, lalu keesokan
hari berangkat menuju ke bagian timur dengan rute,
Urang-Ketang-Cancar-Ruteng-Bealaing-Mukun dan tiba pukul 22.00 Wita.
Selanjutnya mengunjungi penderita gangguan jiwa yang di pasung di Desa Golo
Meni. Makan malam di rumah kepala Desa. Selanjutnya kami tidur di rumah
keluarganya Pater di Manus. Keesokan harinya mengunjungi penderita gangguan di
Kampung Rana Mbeling dan melanjutkan perjalanan ke Kampung Taga.
Saat pulang dari Kampung Taga, Pater mengunjungi penderita di
Desa Golo Tolang, Desa Mbengan, Desa Rana Kolong hingga kembali ke Ende.
Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara bersama Petugas Medis Peduli ODGJ
Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai
Timur melakukan kunjungan rumah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di wilayah
itu. Kunjungan itu dilakukan setiap 10 hari. Ini bagian dari kepedulian untuk
menangani warganya yang derita gangguan jiwa.
Pelaksana Tugas (Plt) Camat Lamba Leda Utara, Agustinus
Supratman mengatakan, saat mengunjungi rumah ODGJ, pihaknya menggandeng petugas
medis pengelola program kesehatan jiwa dari Puskesmas di wilayah kecamatan
tersebut.
“Selain kegiatan bimbingan konseling pada keluarga ODGJ, pihak Kecamatan Lamba Leda Utara dan pengelola ODGJ juga melakukan perawatan untuk memelihara kesehatan fisik dan psikis ODGJ. Kami juga memandikan dan mengganti pakaian ODGJ, seperti yang kami lakukan hari ini, saat melayani salah satu ODGJ di Kampung Ronting,” tutur Supratman kepada wartawan, Jumat (9/4/2021).
Seorang perawat Puskesmas Lebi Balus Permai, Desa Ngampang Mas, Kec. Borong sedang tensi pasien di depan pondoknya di pinggiran sawahnya, Desember 2020. (Dok/Markus Makur
Menurutnya, kegiatan perawatan kesehatan fisik dan psikis
hanya dilakukan bagi ODGJ kategori halusinasi. Sedangkan untuk pasien
skizofrenia belum dilakukan.
Ia menuturkan, sesuai data sementara, ada 57 ODGJ di wilayah
Kecamatan Lamba Leda Utara yang tersebar di beberapa desa seperti Desa Satar
Padut 14 orang, Desa Satar Kampas 9
orang, Desa Satar Punda 8 orang dan Desa
Satar Punda Barat 5 orang.
Kemudian, Desa Nampar Tabang 4 orang, Desa Golo Munga Barat 4
orang, Desa Golo Mangung 10 orang, Desa Golo Wontong 1 orang, dan Desa Haju Wangi 2 orang.
Dari sejumlah ODGJ tersebut, kata Supratman, hanya satu orang
yang dipasung di Kampung Wae Rambung, Desa Golo Munga Barat. Pasien itu
dipasung karena sering melakukan tindakan kekerasan bagi warga lain menggunakan
benda tajam.
“Yang paling rutin kami kunjungi selama ini di pusat kecamatan yaitu di
Dampek, Desa Satar Padut. Untuk di desa-desa lain, kami belum terlibat, tetapi
teman-teman dari Puskesmas rutin kunjung,” ujarnya.
“Sejauh ini, kami bersama pengelola ODGJ di setiap
Puskesmas di Lamba Leda Utara terus berupaya melakukan pendekatan kemanusiaan
untuk memuluskan rencana perawatan dan penyaluran obat-obatan khusus bagi ODGJ,
sebab sebagian besar pasien tidak mau dikunjungi serta tidak terima dikunjungi, apalagi diberi obat,”
tambahnya.
Menurut Supratman, Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara
bersama seluruh pemerintah desa di kecamatan itu akan terus mendata ODGJ yang
belum terdata agar mendapat perhatian dari berbagai pihak serta mendapat
bantuan pengobatan.
“Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara mengimbau seluruh
masyarakat Lamba Leda Utara untuk bersikap ramah dengan ODGJ dan meminta semua
pemangku kebijakan lokal untuk bijak dalam bersikap agar sebisa mungkin kebijakan
yang diambil sarat keberpihakan kepada ODGJ,” pungkasnya.
Data yang dikumpulkan relawan KKI Manggarai Timur bahwa
Pemerintah tingkat kecamatan, yakni Kecamatan Lamba Leda Utara yang pertama
kali bersinergi dengan pihak Puskesmas setempat dengan melakukan kunjungan
rutin untuk mendata dan menggali penyebab warga menderita disabilitas mental.
Kiranya inisiatif dan kepedulian dari Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara
menginspirasi 11 Kecamatan lainnya di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara
Timur.
**********
*Penulis adalah Wartawan dan koordinator relawan Kelompok
Kasih Insanis Kabupaten Manggarai Timur
DESA Wailolong, sebuah desa di utara Lembata, yang terletak di jalur utama Lewoleba – Kedang (Kecamatan Omesuri dan Buyasuri). Menurut pengakuan Rahman Rasyid Paokuma, warga desa Wailolong, banjir dari arah hulu sungai menyapu sebagian besar desa pada Minggu, (4/4/2021) dinihari. Warga sudah mengungsi ke tempat aman 1 jam sebelum banjir datang. Meskipun tidak ada korban jiwa manusia, tetapi banjir menghancurkan desa, menghanyutkan ternak, pangan yang baru selesai dipanen, dan kebun/lahan pertanian.
Satu Minggu setelah kejadian, bantuan ke Wailolong masih
sangat minim. Keadaan Wailolong juga luput dari hiruk-pikuk pemberitaan
media lokal maupun nasional.
Desa Wailolong yang selama ini di pandang paling manis dan
indah ketika mmemasuki wilayah Kedang, di mana ada hiasan tumbuhan kelapa dan
pisang yang berjejer di pinggir jalan. Tapi sekarang semuanya sudah
berubah menjadi gelap, kotor dan kumuh Karena banjir.
Wailolong yang merupakan sumber air minum, sekarang
sumber air minumnya di penuhi lumpur.
Foto-foto dan Narasi oleh Karolus Tiko, Warga Desa Wailolong, Kabupaten Lembata.
Bila Bapak/Ibu/Saudara/Saudari tergerak hatinya untuk membantu saudara-saudari kita yang terkena bencana banjir di Wailolong bisa menghubungi : JPIC OFM
DOKTOR Marsel Robot diasah. Ditempa Nilok Nai. Nilok Nai adalah goet atau dialek Kolor-Manus di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.
Bahasa Ibu
ini mengasah Doktor Marsel Robot untuk berjuang, belajar, berjalan kaki untuk
meraih masa depan yang kini diembannya saat ini menjadi Dosen di Universitas
Nusa Cendana (Undana) Kupang.
Bahasa
keseharian yang dituturkan orangtua-orang tua di kampungnya di Taga, Desa Golo
Nderu, Kecamatan Kota Komba Utara (KKU) di masa kecilnya belum dipahami makna
dan kekuatan sebuah goet atau dialek
tersebut.
Seiring dengan perjuangan, belajar tekun, bekerja keras serta
menggali kekuatan bahasa yang dipelajari dibangku sekolah dasar hingga
perguruan tinggi membuahkan hasil yang membanggakan orang tuanya serta kampung
asalnya.
Saat ia
masih kanak-kanak sampai usia dewasa serta menemukan identitas dirinya lewat
pendidikan, bahasa ibu masih seputar dituturkan dalam kehidupan harian.
Hanya
orangtua yang mengerti dan memahami dibalik dialek lokal yang memberi semangat
juang, bekerja, menghidupi keluarga, interaksi sosial dan pergaulan dalam hidup
sosial kemasyarakatan.
Bahasa Menunjukkan bahwa Manusia
adalah Makhluk Berbahasa
Namun bagi
doktor Marsel Robot, setiap goet
dalam bahasa ibu dicatat, direfleksikan, direnungkan dalam pergulatan akademik,
dunia kampus, dunia adu argumentasi, dunia tulis menulis yang menjadi fondasi
hidupnya hingga meraih gelar akademik yang sangat gemilang.
Doktor Marsel Robot selalu gelisah dengan kalimat Nilok Nai yang digagas Frans Sarong (wartawan senior Kompas) dkk dalam sebuah kelompok diskusi Nilok Nai (baca artikel “Mengecup Kening Manggarai pada Peristiwa “Lonto Leok,” Pos Kupang, 7 Agustus 2002 dan dibukukan dalam buku Ringkasan Kegelisahan sosial di Aula Sejarah, cetak pertama, Oktober 2018 oleh perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora).
Buku Karya Dr. Marsel Robot
Saat diskusi
tentang pemekaran Manggarai oleh kelompok diskusi “Nilok Nai” dan
Doktor Marsel Robot membawa pulang kalimat Nilok
Nai dalam ingatan sanubarinya di ruang kerja, saat membaca buku, menyusun
makalah perkuliahan sambil mencari tahu apa sesungguhnya makna Nilok Nai hingga dijadikan nama sebuah
kelompok diskusi oleh kumpulan orang-orang hebat dari Manggarai Timur yang
berdomisi di Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Sambil
mengajar di fakultasnya untuk menanam benih dan kolam pengetahuan bagi generasi
muda Nusa Tenggara Timur. Ia terus mencari tahu apa arti dan makna Nilok Nai.
Dr Marsel
Robot selalu gejur merangkai kata
yang apik. Diksi yang menggugah nurani bagi pembaca, murid-muridnya,
pengikutnya yang tak terhitung jumlahnya saat ini.
Lembaran
koran di bumi cendana hingga bumi Indonesia digoresnya dengan tulisan-tulisan
dengan gaya sastra sesuai aliran yang dianutnya. Dr Marsel Robot adalah
sastrawan unik Nusa Tenggara Timur yang menganut spiritualitas gelisah,
spiritualitas gejur nai.
Ia selalu gejur memungut kata sederhana dalam
sastra lisan orang Manggarai Raya. Membaca opini, puitis, cerita pendek
(Cerpen) dan prolog atau epilog dalam berbagai buku karya orang Nusa Tenggara
Timur membuat pembaca retang one nai
sekaligus menusuk sanubari. Hanya orang tak bernurani yang tidak memahami
bahasa yang dituangkan Dr Marsel Robot dalam berbagai media massa di tingkat
Nasional hingga lokal serta makalah-makalah yang diajarkan di bangku kuliah.
Dialek
sastra lisan yang tercecer dalam ungkapan harian secara lisan orang Manggarai
Timur dicatat dalam laboratorium mata hatinya. Selanjutnya dituangkan lagi
lewat bahasa yang dirangkainya menjadi narasi humanis yang menggetarkan hati
nurani pembaca, murid-muridnya serta pengikut setianya.
Bahasa
humanis dengan gaya sastra di 42 artikel dalam bukunya menandakan bahwa Dr
Marsel Robot sesungguhnya Nilok Nai
sejati dari bumi Manggarai Timur.
Kurang lebih
selama 3 tahun, saya membaca bukunya berkali-kali. Saya memaknai dan memahami
bahasa dalam rentang waktu itu di sela-sela kesibukan harian. Baru Rabu,
(7/4/2021) saya mencoba menuliskan sesuai apa yang saya pahami. Saya mencoba
mengambil judul seturut apa yang saya pahami.
Saya baca
judul tulisannya, Manggarai Timur dan kesadaran Nilok Nai. Dr Marsel Robot mengupas dan memaknai Nilok Nai sebagai konsep
pembangunan manusia dari kondisi terpuruk menuju sebuah perubahan karena kerja
keras, ramah, humanis. Menurutnya, Nilok
Nai semacam virus mental, yakni suatu bentuk kesadaran yang sangat jarang
dijumpai, tetapi apabila terjadi, diri seseorang cenderung untuk bertingkah
laku sangat giat, (hal 39-44).
Bagi saya
seorang pembaca dari kampung mencoba memahami sedikit saja bahwa Dr Marsel
Robot sudah mengaplikasikan Nilok Nai dalam
keseharian dengan bangkit dan berjuang keras demi meraih suatu prestasi
akademik dan menebarkan jalan Nilok Nai bagi
generasi penerus bangsa lewat mengajar di kelas, makalah-makalah ilmiah serta
tulisan yang tersebar di seluruh media massa nasional dan lokal.
Dr Marsel
Robot sudah menduniakan kesadaran Nilok Nai
dan mengajak semua orang agar nilok nai sebagai ideologi pembangunan manusia,
khususnya di Kabupaten Manggarai Timur.
Saya kutip
bagian akhir tulisan itu…karenanya, yang diperlukan sekarang dan yang akan
datang adalah virus mental Nilok Nai
di kalangan siapa pun pejabat yang akan memimpin daerah itu. Artinya pengalaman
kemiskinan dan marginalisasi harus diterima sebagai rai ati rasan rak (motivasi untuk bekerja keras) membangun
Manggarai Timur yang hanya sebuah gray area (daerah kelabu) tempat oportunis
mencari keuntungan sehingga Manggarai Timur pun kian ke timur dan kesedihan pun
tak bertepi.
Dari Taga untuk Dunia
Dr Marsel
Robot lahir di kampung Taga, Koit, Manggarai Timur, Flores pada tanggal 1 Juni
1961. Ia menamatkan sekolah dasar Katolik di Koit, menamatkan SMP di Borong,
Manggarai Timur dan menamatkan SMA St Thomas Aguinas, Ruteng, Manggarai, 1980.
Pada tahun 1982 masuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan mengambil jurusan
Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Nusa Cendana, Kupang. Selama menjadi
mahasiswa, Dr Marsel menerima beasiswa tunjangan ikatan dinas (TID). Beasiswa
itulah yang memintanya untuk kembali mengabdi sebagai dosen di almamaternya.
Sejak mahasiswa hingga kini, ia aktif menulis artikel diberbagai media massa
(baca selengkapnya di riwayat hidup penulis, hal 258-260).
Setelah saya
membaca bukunya, saya jujur mengakui bahwa baru kali ini saya menggoreskan
tulisan tokoh pendidik, sastrawan berhati emas di bumi Cendana.
Saya mencoba
merangkai bahasa sesuai dengan kemampuan saya, sebab saya akui antara Dr Marsel
Robot dengan saya seperti langit dan bumi. Dr Marsel Robot berada di langit
sementara saya masih mencoba merayap, merangkak dan baik tangga agar bisa
menggapainya. Namun Dr Marsel Robot dan saya bisa berjumpa lewat bahasa kata,
kalimat dalam sebuah kebiasaan menulis.
Saya sadar
bahwa tulisan saya ini sangat berbeda jauh, bahkan mungkin sampah apabila
dibacanya. Tapi bagi saya ini sebuah kerinduan untuk berjumpa dengannya lewat
komunikasi bahasa. Bahasa yang bisa menyatukan dua insani yang sedang berziarah
di dunia yang penuh dengan tantangan lewat bahasa.
Dr Marsel
Robot dari kampung terpencil Taga. Kampung ini sangat udik, unik, sepi, sunyi,
tenang, sangat cocok bersemedi. Namun, seorang putra Taga dengan kesadaran
nilok nai diutus ke penjuru dunia untuk mengharumkan nama kampung ini di mata
dunia di Nusa Tenggara Timur. Menyebut Dr Marsel Robot sangat identik dengan
kampung asalnya Taga.
Kalau saya
me-reka-reka kisah Dr Marsel Robot, ia sadar bahwa hanya melalui pendidikan
bisa mengubah seorang manusia. Membawa perubahan dari ” nendep nai”,
dialek Kolang, Manggarai Barat (gelap hati) menuju “nai ge’rak” (hati terang).
Dr Marsel
Robot berjalan kaki ke sekolah dasar. Berjalan kaki dari kampung Taga menuju
Borong demi menggapai cita-cita dan mimpi-mimpi besar dalam dirinya.
Telapak
kakinya yang mungkin waktu itu tidak memakai sandal sekuat tenaga berjalan
mendaki bukit, menyeberang sungai dengan jarak puluhan kilometer hanya demi
meraih impian-impiannya di masa depan. Berkat kesadaran dan kegigihannya lewat
nilok nai melalui pendidikan, kini Dr Marsel Robot sederajat dengan kalangan
akademisi di Indonesia dan dunia.
Saya sebagai
orang Kolang, Manggarai Barat sangat bangga karena saya akui bahwa saya tak
mungkin meraih titel akademik yang sangat membanggakan dunia pendidikan di Nusa
Tenggara Timur, khususnya dan Indonesia, umumnya.
Sekilas
tentang kampung Taga, Koit. Kampung itu berada dilembah. Diapit oleh beberapa
bukit dan sederetan gunung di kawasan Taman Wisata Alam Ruteng. Membentang luas
kawasan konservasi sebagai penyangga kehidupan masyarakat di kampung itu.
Tanahnya subur. Tanaman kopi berlimpah. Deretan sawah terasering hasil karya
intelektual petani di kampung itu menambahkan kekaguman akan kampung tersebut.
Orang Taga, Koit sangat ramah dengan sentilan-sentilan goet Manus. Segudang
orang-orang cerdas dari kampung itu yang sudah menebarkan jala kemanusiaan
lewat ilmu pengetahuan di seluruh Indonesia dan dunia.
Saya sudah
beberapa kali mengunjungi kampung itu. Rasanya tak ingin pulang kalau sudah
berada di kampung tersebut. Udaranya segar. Alamnya sejuk. Seluruh kepenatan
hidup bisa dilegakan di kampung itu. Hanya sayangnya, infrastruktur dasar
seperti jalan raya masih jauh dari sebutan layak.
Topografi
dan letak geografis menantang generasi penerus dari kampung untuk terus
sekolah. Sebab perubahan dan kemajuan hanya bisa diraih lewat pendidikan. Dari
“nendep ke ge’rak hanya melalui pendidikan. Tidak ada cara lain.
Berjumpa Dr Marsel Robot lewat Kata dan Bahasa
Saya baru
dua berjumpa Dr Marsel Robot secara langsung. Pertama 2018 lalu di sebuah rumah
di Kota Borong. Kedua, di rumahnya di Kota Kupang. Selebihnya berjumpa lewat
kata dan bahasa dengan membaca seluruh opininya di media massa di Nusa Tenggara
Timur.
Bahasa
komunikasinya seperti aliran sungai Waemokel di Manggarai Timur. Persis kampung
Taga hulunya adalah Aliran Sungai Waemokel.
Bahasa
verbal yang dituangkan dalam sebuah narasi sastra sangat jenaka, menggoda dan
menggeli-gelikan pembacanya.
Dr Marsel Robot adalah cahaya dari Timur yang selalu menyinari alam pikiran pembacanya. Persis dalam epilog yang dinarasikan Dion D. B. Putra. Dr Marsel Robot adalah guru, dosen, penulis langka di bumi cendana Nusa Tenggara Timur.
Terima kasih Dr Marsel Robot yang membangkitkan alam bawah sadarku dengan Nilok Nai. Maafkan saya apabila goresan ini kurang berkenan dihati. Namun, bagi saya ini sebuah kerinduan yang sudah lama saya nanti-nantikan. Saya ingat tanggal lahir Kraeng tua bersamaan dengan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni.
***********
Penulis
adalah wartawan KOMPAS.com tinggal di
Kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT
“Saya hanya merasa benar-benar sekolah di dua tempat: Mataloko dan Cornell” (Daniel Dhakidae).
TANPA perlu mengatakan bahwa dua lembaga pendidikan lain yang pernah ditempuh Daniel Dhakidae (DD), Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, tidak mempunyai kesan yang mendalam dan kontribusi signifikan bagi rasa dan perkembangan pemikiran DD, Seminari Menengah Santo Johannes Berchmans Todabelu-Mataloko dan Universitas Cornell seringkali menjadi bahasan yang menarik oleh DD, baik lisan maupun dalam bentuk tertulis.
DD pernah cerita tentang pengalamannya di UGM. Ketika harus meninggalkan Ende/Flores, tujuannya memang ke Jawa, khususnya Jogja. DD mau belajar sastra Inggris di UGM, tetapi kemudian niatnya itu diurungkan, karena DD tidak mau menjadi murid/mahasiswa Stef Djawanai (kemudian menjadi Guru Besar Linguistik UGM dan lalu pindah ke Universitas Flores di Ende). Kenapa? “Enak saja dia mau jadi guru saya, kan kita temanan di Mataloko. Kita saling tahulah kemampuan masing-masing,” kisah DD sambil tertawa.
Ada cerita pengalaman menarik lain DD soal kuliah di UGM. “Hari pertama saya masuk kuliah Ilmu Negara, dosen bilang ‘republik’ berasal dari bahasa Latin ‘republica’. Sebagai orang yang belajar bahasa Latin, saya langsung pikir, kuliah ini bakal tidak menarik. Kesan awal yang buruk, haha,” sekali lagi DD tertawa. Mulai saat itu, cerita DD, dirinya lebih suka menghabiskan banyak waktu untuk diskusi di luar kampus ataupun kegiatan publikasi dan aktivisme lainnya.
Begitu juga dengan ceritanya tentang suatu masa yang relatif singkat di Ritapiret dan Ledalero. DD bilang, kuliah membosankan karena filsafat dan teologi yang diajarkan sangat skolastik. Oleh karena itu, dia lebih banyak menghabiskan waktu membaca di perpustakaan. “Saya suka teologi Karl Rahner dan Edward Schillebeeckx. Di masa kami di Ritapiret, ada kiriman majalah teologi dari Eropa, saat itu tulisan-tulisan Schillebeeckx menyihir saya,” kata DD.
Kendati demikian, DD tetap menaruh respek pada beberapa dosen yang mempunyai pikiran yang terbuka, salah satunya Pater Clemens Parera, SVD, pengajarLogica Minor et Maior danTheodicea. Dalam sumbangan tulisannya untuk buku kenangan 40 tahunSTFK Ledalero, DD menulis, Pater Clemens mengajarkan bahwa doctrina et veritas adalah dua hal yang tidak senantiasa seiring dan sejalan. Selalu ada tegangan keduanya.
DD pernah menulis agak panjang tentang pengalamannya di Mataloko. Tulisan berjudul “Vita Mea in Semitis Tuis. Mengenang Seminari Santo Johanes Berchmans Todabelu, Mataloko” ini adalah persembahannya untuk semua gurunya di Todabelu: Jan Ebben SVD (rektor dan guru Latin), Coen Claessens SVD (prefek dan guru Latin), Anton Donkers SVD (guru Latin dan Ilmu Bumi), Jan Keerstjens SVD (guru menggambar), Gaspar Sa SVD (prefek), William Pop (guru Inggris dan Direktur Studi), dan lain-lain. “Semua mereka adalah guru dalam arti sesungguhnya. Setelah itu saya banyak menemukan pengajar dan sedikit sekali guru,” tulis DD.
Ket. Foto: Seminari Mataloko
Bagi DD, Seminari Mataloko adalah lembaga untuk pengembangan iman dan peradaban. Anak-anak didik (formandi) dari kampung bertemu dengan peradaban baru yang dibawa oleh misionaris Eropa. Tentu, hal ini tidak berarti bahwa apa yang ada di kampung dan segala tradisinya lebih rendah daripada yang dibawa oleh orang bule. Akan tetapi, sistem pendidikan sebagai alat pembebasan disosialisasikan dengan cara yang humanis kepada anak didik. Para misionaris SVD memberikan yang terbaik dari apa yang mereka punya dan alami di Eropa kepada anak-anak pribumi di pedalaman Pulau Flores.
DD sangat terkesan dengan dan menaruh minat yang besar terhadap pendidikan bahasa asing, terutama bahasa Latin dan bahasa Inggris. Faktor guru rupanya menjadi kunci. Pater Gerbrand Kramer yang menemukan mnemonic tools untuk membantu pengajaran bahasa Latin. Pater Garger dan Pater William Pop yang masing-masing sangat canggih memperkenalkan tata bahasa dan sastra Inggris. Mungkin karena itu, DD selalu bangga bahwa bahasa Inggrisnya bagus dan tidak mempunyai kendala berarti ketika studi di Amerika Serikat (AS).
Semangat akademik dan penjelajahan ilmiah dipompakan di lembah Sasa ini setelah angkatan mereka mendapat julukan “Studenten von Leipzig Universitaet” dari Patter Jan Ebben. Setelah itu, Pater Alex Beding “meletakkan batu-batu pertama kehidupan intelektual” dengan beberapa gebrakan. Pertama, “merevolusi pengajaran kesusasteraan dari memorizing the literature ke experiencing literature” yang disertai dengan membangun perpustakaan dengan koleksi buku-buku sastra terbaik dari masa ke masa. Kedua, “menghidupkan kegiatan tulis-menulis dengan menerbitkan majalahFlorete yang terkenal itu. Beberapa wartawan dan tokoh nasional asal Flores adalah mantan jurnalis Florete: mantan direktur eksekutif VOA Frans Padhak Demon, jurnalis senior Alex Dungkal, mantan dubes Alo Lele Madja, mantan jurnalis Kompas Ansel da Lopez, mantan jurnalis MetroTV Walfred Andre, jurnalis senior Abraham Rungamali, jurnalis senior John Don Bosco, dan lain-lain.
Ketiga, mendirikan Akademia St Agustinus yang dirancang sebagai suatu debating club. Untuk keperluan salah satu debat awal, DD menyiapkan sebuah ceramah bertajuk “Fungsi Sosial dan Budaya Seni Tari”, yang diakui DD, “inilah paper saya yang pertama di muka bumi”
Dari ketiga gebrakan akademik di atas, ketahuilah bahwa penekanan ada pada pengembangan intelektual, khususnya humaniora. DD menulis, “Pendidikan seminari memang didasari oleh artes liberals, di mana bahasa, sastra, filsafat menjadi dasar-dasar pendidikan demi membela humanitas yang tidak lain daripada kebudayaan. Semua ini selalu membekas dalam pendidikan setiap orang di seminari”
Kendati tidak disebutkan DD dalam tulisannya, orang yang memahami sistem pendidikan seminari akan langsung tahu tentang 5S sebagai dasar, prinsip, arah dan tujuan pendidikan: Scientia (ilmu pengetahuan), sapientia (kebijaksanaan), sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan) dan socialitas (persaudaraan, kemasyarakatan). Inilah yang memungkinkan para lulusan seminari (lebih) unggul dalam beberapa hal, terutama pada zaman ketika DD masih remaja di Flores.
Saya tidak akan banyak masuk pada kesaksian DD tentang studinya di Cornell. Pasti ada banyak orang yang sudah tahu tentang hal itu. DD sendiri pernah bercerita bahwa atmosfer kuliah di Cornell telah memungkinkannya berkembang dan matang sebagai peneliti dan intelektual, terutama dalam pertemuannya dengan beberapa cendekiawan yang menaruh perhatian besar pada Indonesia dan Asia untuk beberapa bidang seperti politik dan media massa. “Saya memilih minor filsafat dan sangat suka pada sesi diskusi di Cornell yang memungkinkan kita menulis hal lain sama sekali daripada bahan kuliah, terutama tentang tokoh-tokoh kontroversial,” ujar DD. Beberapa papernya yang pernah dibawakan di Cornell tentang tokoh-tokoh kemudian disertakan pada bukunya “Menerjang Badai Kekuasaan”.
Ket. Foto: Universitas Cornell, Sumber Foto Google
Sampai di sini, ketika kemudian orang mengenal DD sebagai ilmuwan sosial, analis politik dan intelektual, kebanyakan orang kemudian hanya mengenal DD sebagai alumnus UGM dan Cornell. Padahal, menurut kesaksian DD sendiri, bakat dan kemampuan untuk menjadi akademisi telah ditempa di sebuah sekolah menengah di pedalaman pulau bunga di kepulauan Nusa Tenggara.
DD sendiri sampai di akhir hidupnya mengaku sangat bangga dan mencintai almamaternya Seminari Mataloko. Begitu juga, Daniel Dhakidae adalah salah satu kebanggaan sekolah milik gereja itu. Dalam sebuah makan siang bersama, kami pernah mengeluh soal mahalnya biaya kirim (ongkos) buku ke Mataloko. DD menaruh perhatian besar pada sekolah yang terletak di kecamatan Golewa Kabupaten Ngada itu. Bahkan, seri-seri Majalah Prisma hampir selalu dikirimkan ke sana sejak lama. Yang terakhir, DD meminta saya tanya alamat email kepala perpustakaan Seminari Mataloko, Romo Nani Songkares, agar bisa dikirimkan e-paper seri Prisma terbaru.
Akh, saya kemudian berkhayal, seandainya pemerintah tahu, Menko PMK sadar dan Menteri Pendidikan mau sedikit melihat bahwa sistem pendidikan seminari bisa menjadi model bagi pendidikan menengah pada umumnya, tentu tidak untuk mengatakan sebagai yang sempurna, kita mungkin akan mempunyai banyak generasi emas yang cerdas dalam banyak aspek. Belum terlambat, juga perhatian pemerintah bagi sekolah-sekolah swasta seperti seminari yang saat ini harus diakui menghadapi banyak tantangan (finansial).
RIP Daniel Dhakidae. Terima kasih untuk inspirasi, terutama keteladanan akademik dan daya tahan di hadapan kekuasaan. Surga bagimu!
————————
Agustunus Tetiro, Ketua Kelompok Studi “Ende Bergerak”, Administrator Forum Wartawaan NTT Sedunia
SUATU saat dalam hidup kita, bukan tidak mungkin kita mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak kita inginkan. Bisa saja kita mengalami kehilangan pekerjaan yang kita tekuni selama puluhan tahun, atau bisa saja kita kehilangan jabatan yang kita tekuni dari tangga yang paling bawah, atau bisa saja kita kehilangan keluarga dekat karena bencana alam.
Bencana alam: tsunami, gempa bumi, banjir bandang adalah
bencana yang amat berat, menekan dan di luar rencana dan perhitungan kita.
Bencana alam ini biasanya datang secara tiba-tiba sehingga kita tak sempat
mengambil jarak, tak sempat mengambil napas. Para bijak menuturkan bahwa dalam
setiap kepahitan (bencana alam, wabah penyakit) yang kita alami kita dapat
mengambil hikmanya. Penderitaan, bencana alam sebenarnya sekolah kearifan yang
paling berguna. Dengan adanya bencana alam yang menimpa saudara-saudari kita di
NTT khusunya di Lembata (Ile Ape dan Kedang), memampukan kita belajar untuk
“mengulurkan tangan berbagi kasih”. Cinta berkaitan dengan apa yang kita berikan.
Kita memang perlu memberi. Apa pun yang kita berikan akan
berdaya guna bagi hidup sesama. Kita tidak terlalu tahu, hidup siapa yang kita
sentuh dan menjadi lebih baik karena perhatian kita, karena perbuatan memberi
kadang-kadang mempunyai hasil akhir yang tidak terlihat. Namun hal yang
terpenting adalah bahwa kita peduli dan bertindak.
Untuk itu kami dari komunitas INA LEFA Jakarta dan Komunitas TAMAN DAUN Lewoleba datang mengetuk hati Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk dengan ikhlas mengulurkan tangan membantu para korban bencana alam. Kami menerima bantuan baik berupa uang mau pun berupa pakain bekas layak pakai, selimut, tikar, sembako.
Bantuan berupa pakaian,
selimut, Sembako, akan kami tampung di sekretariat INA LEFA: Jln Utama Dua no 97 B Rt 09/ Rw 016 Srengseng
Sawah Jagakarsa, Jakarta Selatan.
Bantuan berupa uang
dapat di transfer ke rek INA LEFA
Bank Mandiri No. Rek.
0700005324210 A. N . TITUS BAIRASA KEY.
Mari kita bersama-sama bergandengan tangan meringankan duka sauadara-saudari kita. Dengan bantuan sekecil apapun sambil dengan rendah hati membatinkan kebenaran kata-kata ini: “Kita tidak Melakukan Hal-hal Besar. Kita melakukan Hal-hal kecil dengan CINTA yang besar” ( Bunda Teresa dari Kalkuta). -Paskalis Bataona-
Bisa Hub kami;
Willy Keraf : 0812 91 444 366
Titus Key : 0821 128 57 621
Yos Boli Batafor : 0812 818 06639
Lois Bataona : 0852 927 85399
Paskalis Bataona : 0812 806 42742
Ket. Foto. Bencana Banjir Bandang yang menerjang Ile Ape – Lembata
SEJAK jadi penjual koran eceran di Kupang tahun 1992, nama Dr Daniel Dhakidae sudah saya baca di Kompas. Di koran harian paling besar di Indonesia itu, saya baca nama (Daniel) itu dalam box redaksi. Selain nama Marcel Beding, Pius Karo, Ansel da Lopez, Valens Doy, Rikar Bagun atau Damyan Godho. Bele Marcel adalah wartawan senior dari kampung nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Lembata. Sedang moat Pius dan om Ansel dari Maumere, Kabupaten Sikka, Flores. Ka’e (kaka) Daniel dan om Damy dari Ngada. Di luar itu ada banyak nama wartawan senior asal NTT kala itu yang akrab di telinga setelah saya kaget lihat langsung koran-koran besar terbitan Jakarta yang beredar di Kupang. Kaget karena baru tahun 1991 mata saya melihat dan memegang koran-koran itu di Kupang. Maklum. Sejak SD hingga tamat SMA saya mulai agak akrab dengan DIAN dan HIDUP. Itu pun memegang dan membaca musiman. Di Boto, kampungku, kami meloi dari jauh dan hanya diceritakan kembali pastor ini berita dan artikel saja.
Bele Marcel, demikian juga Goris Prawin
hanya saya dengar saat mereka konon mengikuti perayaan 100 tahun Gereja Katolik
masuk Lamalera. Marcel belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Marcel Beding,
wartawan Kompas. Begitu pula Goris
Perawin belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Gorys Keraf, Guru Besar
Fakultas Sastra dan Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Moat Pius Karo dikenalkan
moat Ardi, kerabatnya dari Maumere.
Moat Ardi, memperkenalkan pria yang sama-sama duduk di bangku adalah kerabatnya
yang pernah wartawan Kompas.
“Maaf, apa Pius yang dimaksud itu moat
Pius Karo,” kata saya setengah berbisik kepada moat Ardi. “Benar. Dulu sama-sama tinggal di kos selama saya
jadi supir bus ke Jawa,” kata moat
Ardi.
Ka’e Daniel Dhakidae awalnya sua bikin gerogi. Maklum. Namanya tertera di box redaksi Kompas dan tentu ia orang hebat, pintar, dan susah ngobrol. Apalagi ia seorang intelektual dengan kualifikasi pendidikan doktor. Lulusan Amerika, apalagi. Itu yang ada dalam pikiran saya. Bertemu pertama kali pun bahasa saya masih kuat dengan logat Kupang càmpur baur Lembata. Itu hal lain yang bikin lidah berat memulai omong dari mana agar bisa nyambung ka’e Daniel. Saya sengaja pepet Daniel saat beliau ambil nasi dari tempat nasi besi. “Saya kira kita ambil dari seringan. Ini tuan pesta taro di baskom besar,” kata saya.
Berharap ada respon ka’e
Daniel. Dan benar adanya. “Aji
isi dalam rapi sekali ko. Dari San
Dominggo ko?,” tanya Daniel.
Celana kain dan baju kotak-kota memang saya sisip rapi, isi dalam. “Saya
cuma dengar cerita emperan San Dominggo, ka’e,”
jawab saya ke Daniel. “Dari Larantuka, Solor, Adonara atau Lembata,”
tanya Daniel. “Saya dari Lembata,
ka’e. Kampung tetangga, bapa Marcel Beding,” kata saya. Saya sengaja
menyebut “kampung tetangga” bele
Marcel agar obrolan dengan Daniel bisa berlanjut di sela-sela jedah diskusi dan
bedah yang ia juga tampil sebagai pembicara.
Taktik mendekati lalu akrab dengan narasumber lalu bertanya banyak sudah diajarkan para senior saat pelatihan jurnalistik bagi anggota baru PMKRI Santo Fransiskus Xaverius Cabang Kupang. Kalau narasumber pasang muka sanger, cari akal agar bisa tembus lalu wawancara. Kalau seorang narasumber agak kaku, nyeletuk saja. “Pak, maaf. Tali sepatu terlepas,” pesan senior saya, yang pernah ngepos di sebuah koran terbitan Jakarta. “Tapi, cepat-cepat tanya materi yang kamu bawa dari kantor,” lanjutnya mengingatkan. Nah, “ilmu” itu yang saya terapkan saat bertemu Daniel dalam jarak sejengkal. Tatkala menyebut “seringan”, Daniel tersenyum diikuti omongan, “Aji isi dalam rapi, ko“.
Begitu saat hendak mewancarai Menteri Kawasan Timur
Indonesia, Manuel Kaisiepo, saya nyaris ditolak karena sang menteri segera ke
bandara untuk kunjungan kerja. “Kàka, nanti Pemred saya marah besar kalau
tak jadi wawancara. Kami terdesak deadline.
Atau saya wawancara dalam oto kaka
saja. Selesai di mana baru kaka kasi turun saya,” kata saya kepada Manuel.
Manuel tertawa lalu. “Dua puluh hingga tiga puluh menit cukup ya?”
katanya. Saya oke. Jadilah wawancara khusus terkait Papua itu saya turunkan
dalam judul, ‘Manuel Kaisiepo: Adà Disparitas Regional’. Ingatan saya kembali
ke Daniel, intelektual Indonesia asal Nusa Tenggara Timur. Hari ini, ka’e Daniel Dhakidae berpulang.
Damailah di sisi-Nya. Ja’o (saya)
senang pernah bertemu ka’e, sosok
intelektual rendah hati yang dimiliki Indonesia. Dewa beka.
Jakarta, 6 April 2021 Ansel Deri Orang udik dari kampung; Menghormati ka’e Daniel.
SANG surya
sudah menyinari alam semesta. Cahaya menembus Kampung Mesi, Waekolong, Wojang
dan kawasan hutan Pong Suka, Mbengan. Sinar matahari membangun manusia yang
sedang tidur lelap dan seluruh makhluk hidup yang sedang memiliki nafas
kehidupan. Saatnya sinar matahari membangunkan manusia untuk mulai beraktivitas
lagi.
Ayam
berkokok memberikan tanda-tanda bahwa sementara lagi jelang pagi dengan
ditandai sinar matahari dari ufuk Timur. Bagian Timur sebagai sandaran
matahari.
Bagian Barat
sebagai tanda sang surya kembali kepada ribaannya. Itulah perputaran alam
sementara. Berputar pada porosnya. Ada waktu beristirahat. Ada waktu bekerja.
Semua itu dijumpai dalam realita situasi 1×24 jam.
Sekelompok
anggota dari Kelompok Tani Suka Maju bangun pagi untuk mempersiapkan segala
sesuatu, Selasa, (16/3/2021).
Hari itu
sudah diagendakan untuk acara pencanangan Bulan Bakti Rimbawan ke-38 di kawasan
hutan Manus Mbengan, tepatnya di kawasan Pong Suka. Mereka mempersiapkan
periuk, kuali, sekop, alat-alat pertanian lainnya. Mereka berjalan kaki dari
Kampung Mesi, Waekolong dan beberapa kampung tetangga di Desa Rana Kolong.
Mereka
menyusuri jalan setapak di tengah hutan rimba Manus Mbengan. Kiri kanan jalan
ada pohon ukuran besar. Sejuk. Udara segar. Mendengarkan merdunya suara burung
yang bertengger di pohon-pohon. Burung menyambut kedatangan anggota kelompok
tani tersebut. Kadang-kadang burung terbang dari satu pohon ke pohon lainnya
sambil mengeluarkan suara. Betapa indah alam semesta ini.
Beraneka
ragam flora dan fauna yang diperuntukkan manusia untuk saling melengkapi.
Saling membutuhkan. Saling menjaga keunikan Sang Pencipta. Kurang lebih 10
menit menyusuri jalan setapak itu dari jalan raya lintas Waelengga-Mok. Suasana
tenang. Sepi. Anggota kelompok tani tiba di lokasi yang dijadikan tempat
menanam pohon kehidupan. Mereka menyiapkan tenda dari terpal berukuran sedang.
Menyiapkan
tenda bagi tamu dari Kabupaten Manggarai Timur. Mereka menyiapkan tikar untuk
tempat duduk bagi warga yang ikut dalam kegiatan tersebut. Sekitar delapan
lubang digali dengan ukuran kecil untuk menaruh benih kehidupan.
Mereka menyiapkan bambu kecil untuk masak
nasi. Mereka menyebut “tapa kolo,” masak nasi bambu. Semua persiapan
sudah beres. Mereka bakar ikan dan masak kuah ikan untuk keperluan makan
bersama. Sebagiannya memakai masker, sebagiannya belum memiliki masker. Alam sebagai ibu bumi. Menjaga. Merawat alam
termasuk hutan didalamnya berarti menjaga keberlangsungan kehidupan ibu bumi
bagi kehidupan manusia. Flora dan fauna.
Satu
ekosistem yang saling membutuhkan bagi kelangsungan hidup makhluk di bumi ini.
Menanam benih kehidupan berarti menjaga keberlanjutan ciptaan dari Sang
Pencipta yang diperuntukkan bagi kehidupan makhluk yang mendiami bumi ini. Apa
yang ditanam, itu juga akan kita tuai.
Sambut Rombongan di Tengah Hutan
Sejumlah tua
adat di Desa Rana Kolong dengan pakaian adatnya sesuai adat istiadat setempat
menyambut rombongan Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus, Ketua DPRD
Manggarai Timur, Heremias Dupa, Anggota DPRD Manggarai Timur, Lucius Modo,
Tarsan Talus, Kepala UPT KPH Kabupaten Manggarai Timur, Marselus Ndeu, staf
Prokopim Setda Manggarai Timur. Tawu, tempat menyimpan tuak, moke sudah diisi
dengan tuak raja khas Rana Kolong. Tua adat yang sudah ditunjuk memegang tawu
sambil menyampaikan ucapan selamat datang dengan dialek lokal setempat. Namanya
adalah tradisi “kepok”.
Setelah
ritual kepok selesai, dilangsungkan acara pemakaian kalung songke kepada Wakil
Bupati Manggarai Timur, Ketua DPRD Manggarai Timur, dan Kepala UPT KPH
Kabupaten Manggarai Timur. Belasan handphone android dan kamera mengabadikan
momen tersebut sebagai dokumen pribadi, pemerintah dan anggota kelompok.
Ritual adat
selesai, rombongan di hantar di tempat tenda yang sudah dipersiapkan di dekat
sebuah pohon.
Selanjutnya,
acara seremial resmi. Berbagai sambutan secara bergiliran disampaikan.
Tanam Benih Pohon Kehidupan
Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Manggarai Timur, Selasa (16/03/2021), menanam benih kehidupan di Pong Suka, kawasan hutan Manus Mbengan RTK 110, Desa Rana Kolong.
Ket. Foto: Kepala UPT KPH Manggarai Timur, Marselus Ndeu sedang Menanam Pohon pada Hari Pencanangan Bulan Bakti Rimbawan 2021 di Kawasan Hutan Pong Suka, Desa Rana Kolong, Kec. Kota Komba, Selasa (16/3/2021). (Dok/Markus Makur)
Pohon kelengkeng dan pohon kehidupan lainnya
ditanam di kebun anggota Kelompok Tani Suka Maju yang sudah menggarap kawasan
hutan sosial.
Pencanangan
Bulan Bakti Rimbawan 2021 dicanangkan oleh Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur
Stefanus dengan menanam benih pohon kelengkeng. Diikuti Ketua DPRD Manggarai
Timur, Heremias Dupa, didampingi anggota, Luko Modo, Tarsan Talus, Camat Kota
Komba, Regina Malon, Kepala UPT KPH Manggarai Timur, Marselus Ndeu, Ketua
Kelompok Tani Suka Maju, Erasmus Turus, Perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat
Ayo Indonesia.
Pencanangan
Bulan Bakti Rimbawan Tingkat Kabupaten Manggarai Timur mengusung tema”
Hutan Untuk Kesejahteraan Rakyat”
Jaghur
Stefanus menegaskan bahwa prinsip yang yang kita pegang bahwa semua kita adalah
rimbawan, karena menjaga hutan adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama.
Apabila hutan tidak ada maka segala kehidupan
akan perlahan-lahan mengikuti dampaknya. Manusia dan makhluk lain yang mendiami
bumi ini sangat membutuhkan hutan.
“Hutan itu
menjaga kehidupan kita, ekosistem hutan menjaga keberlangsungan kehidupan kita
dan karena itu maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga hutan
kita tetap lestari dengan ekosistem yang terjaga.”
Stefanus
mengatakan, menjaga hutan dengan terus giat menanam pohon kehidupan berarti
menjaga paru-paru dunia. Setiap saat kita menghirup udara. Apabila tidak ada
hutan maka kehidupan kita akan mengalami kekurangan oksigen.
” Saat
ini kita menghirup udara segar di tengah hutan. Untuk itu kita sama-sama
memiliki tanggung jawab dengan kesadaran dalam diri kita masing-masing untuk
menjaga keberlanjutan dan kelangsungan hutan yang lestari,” jelasnya.
Jangan Semprot Rumput dengan Zat
Kimia
Heremias
Dupa menjelaskan, zat kimia yang digunakan untuk membersihkan lahan dengan cara
semprot dapat mematikan seluruh makhluk yang berada di bawah tanah. Cacing
tanah mati kalau kena zat kimia.
Kita tahu bahwa cacing tanah dan makhluk
lainnya mampu memberikan kesuburan tanah. Jikalau humus tanah tidak terjaga
dengan baik maka air hujan mudah mengikis tanah tersebut hingga dampak besarnya
longsor. Erosi bisa mengikis tanah. Lama kelamaan bisa terjadi tanah longsor.
“Petani
harus kembali memakai pupuk organik. Petani harus memulai membiasakan diri
tidak menggunakan pupuk kimia. Saatnya kembali memakai pupuk alamiah. Saya
berharap anggota Kelompok Tani Suka Maju tidak membersihkan lahan pertanian
dengan zat-zat kimia. Makhluk lain mampu mengembalikan kesuburan tanah. Manusia
tidak bisa secara alamiah bisa mengembalikan kesuburan tanah. Masyarakat tidak
membakar hutan,” jelasnya.
Kepala UPT
KPH Kabupaten Manggarai Timur, Marselus Ndeu mengajak anggota kelompok tani
Suka Maju bahwa hutan untuk kesejahteraan rakyat sejalan dengan semangat dan
misi keberadaan serta jati diri rimbawan, dalam perjuangan pembangunan
kehutanan dan lingkungan.
Kegiatan
pencanangan Bulan Bakti Rimbawan dilaksanakan pada sasaran kelompok penerima
perhutanan sosial dengan pola hutan kemasyarakatan (HKM) sesuai Keputusan
Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI SK nomor:
SK.7600/Menlhk-pskl/pkps/psl.0/9/2019 tentang pemberian izin usaha pemanfaatan
hutan kemasyarakatan kepada kelompok tani Suka Maju kurang lebih 44 hektar.
“Saya
tegaskan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah memberikan izin untuk mengelola perhutanan sosial seluas
ini. Jangan lagi merambah hutan yang lain lagi di dalam kawasan ini. Kawasan
hutan sosial bukan milik anggota kelompok, melainkan diberi izin untuk
mengelola dengan menanam pohon-pohon yang memiliki manfaat bagi kesejahteraan
anggota kelompok,” tegasnya.
Camat Kota Komba, Regina Malon menegaskan, apabila kita menjaga hutan sebagai penyangga kehidupan flora dan fauna dan manusia dengan baik maka sumber mata air untuk kehidupan manusia tetap terjaga demi anak dan cucu, cece kita.
Ket. Foto: Camat Kota Komba, Kab. Manggarai Timur, Ibu Regina Malon sedang Menanam Pohon di Kawasan Hutan Pong Suka, Desa Rana Kolong saat Hari Bulan Bakti Rimbawan 2021, Selasa, (16/3/2021). (Dok/Markus Makur)
“Seorang
peziarah, pendaki gunung, atau kita menjelajahi hutan selalu membawa air minum,
makanan bagian kedua. Jika kita haus di tengah hutan selalu mencari air.
Air minum
merupakan kebutuhan yang utama dalam kehidupan makhluk di dunia ini dan juga
manusia,” jelasnya.
Jangan Lagi Tembak Burung
Staf Balai
Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II NTT, Paulus Pambut menegaskan,
burung-burung juga memberikan kehidupan bagi bumi.
Burung-burung
juga menyebarkan benih kehidupan untuk keberlanjutan dan keberlangsungan hutan.
Jangan lagi menembak burung. Apalagi burung-burung endemik Flores.
“Kami
akan menegakkan aturan apabila masyarakat menembak burung. Belum lama ini kami
menangkap orang yang menembak burung Elang Flores. Semua burung tidak boleh
ditembak,” tegasnya.
Pambut
menjelaskan maraknya penembakan burung di kawasan hutan konservasi dan hutan
lindung. Belum lama ini ada warga Berburu burung elang di kawasan hutan
konservasi.
BKSDA NTT
melakukan pendekatan tiga pilar yakni, Pemerintah, lembaga agama dan masyarakat
adat.
Erasmus Turus, Ketua Kelompok Tani Suka Maju, siap memberikan arahan kepada anggota kelompok agar memahami Flora dan Fauna di kawasan hutan Manus Mbengan. Anggota kelompok juga berkomitmen tidak tembak burung, tidak tebang pohon.
Ket. Foto: Ketua Kelompok Tani Hutan Suka Maju, Erasmus Turus sedang Menanam Pohon Simbolis pada Pencanangan Hari Bulan Bakti Rimbawan di Hutan Pong Suka, Desa Rana Kolong, Kec. Kota Komba. Luas 44 Hektar Hutan Sosial dikelola oleh Kelompok Tani Tersebut, Selasa, (16/3/2021). (Dok/Markus Makur)
“Segala
yang disampaikan oleh pemerintah untuk kebaikan anggota kelompok. Saya siap
bicara dengan anggota kelompok untuk tidak menangkap, menembak burung dan tidak
menebang pohon didalam kawasan hutan,” jelasnya.
Yosef
Sudarso, Perwakilan LSM Ayo Indonesia Kabupaten Manggarai memberikan pengalaman
tanam jahe, advokat di kawasan hutan sosial di Golo Worok.
“Tidak
boleh semprot dengan bahan-bahan kimia. Tidak boleh bakar hutan. Hutan sosial
ditanam dengan tanaman jangka pendek. Hutan lestari, masyarakat sejahtera. HKM
Golo Worok,” ajaknya.
Ketua
Pelaksana Pencanangan Bulan Bakti Rimbawan dari UPT KPH Kabupaten Manggarai
Timur, Doni Nggaro menjelaskan, pencanangan ini bertujuan memberi ruang nurani
yang lebih baik bagi setiap orang untuk secara sadar berupaya menghargai hutan
dan menjadikan hutan sebagai “rumah kehidupan kita” yang menyentuh
semua aspek kebutuhan manusia seperti ketersediaan air minum bersih, kebutuhan
air di bidang pertanian dan perkebunan, kebutuhan air di bidang peternakan,
mengurangi terjadinya erosi tanah, dan terutama hutan juga berfungsi khusus
bagi ekosistem hutan (flora dan fauna) juga sebagai penyumbang terbesar
kontribusi karbon untuk dunia. Kedua, memberikan edukasi kepada masyarakat dan
generasi muda untuk mewariskan kesadaran dan perilaku yang berempati pada
lingkungan sekitar dan peduli pada keberlanjutan hutan demi kepentingannya bagi
kehidupan manusia dimasa mendatang.
Dalam
sambutan yang dibaca Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus menjelaskan,
salah satu ekosistem yang sangat penting bagi kelestarian lingkungan adalah
ekosistem hutan.
Catatan
menunjukkan bahwa dalam kurun waktu yang panjang sejak sistem hutan register
dan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) hingga hutan menurut konsep tata ruang,
telah terjadi evolusi kawasan hutan. Secara Nasional kawasan hutan dari 147
juta hektar luas kawasan hutan tahun 1999 menjadi 125 juta hektar sampai dengan
sekarang.
Tahun 2021
alokasi areal berizin 22 juta hektar mengalami penurunan luasan sekitar 85,03
persen, yang diperuntukkan bagi izin perhutanan sosial, tata ruang bagi review
kawasan dan tanah obyek reforma agraria (TORA).
Luas kawasan
hutan di Kabupaten Manggarai Timur 48.334,34 hektar, menyebar pada kawasan
hutan Manus Mbengan, Manus Wae Rana, hutan Ndeki-Komba, kawasan hutan Riwu,
kawasan hutan puntu II, kawasan hutan Pota, kawasan hutan Sawe Sangge, kawasan
hutan Wue Wolomere.
Penataan
ruang di kawasan hutan Manggarai Timur sampai dengan 2021, sebagai berikut,
pertama, perijinan perhutanan sosial dengan hutan kemasyarakatan Desa Rana
Kolong oleh Kelompok Tani hutan Suka Maju seluas 44 hektar. Kedua, review tata
ruang 4 kawasan hutan yaitu, kawasan hutan Puntu II, kawasan hutan Pota,
kawasan hutan Manus Mbengan dan kawasan hutan Ndeki Komba dengan total luas
4.000 hektar. Ketiga, tanah obyek reforma agraria (TORA) di Kecamatan Lamba Leda,
Kecamatan Sambi Rampas dan Kecamatan Kota Komba dengan total luas 494 hektar.
Di kawasan
hutan sosial yang sudah di kelola anggota kelompok tani hutan Suka Maju sudah
ditanami tanaman porang dan jenis-jenis tanaman perkebunan.***
———————————————————————————————
Penulis
adalah wartawan tinggal di Manggarai Timur, NTT