Category: Featured

Featured posts

  • Final Argentina versus Prancis, Jangan  Terempas karena Cinta

    Final Argentina versus Prancis, Jangan Terempas karena Cinta

        Oleh  S i n d h u n a t a

     

    Di Argentina, bola adalah segalanya-galanya. Dengan lolos ke final Piala Dunia Qatar 2022, mereka di ambang menuju surga kebahagiaan atau terempas pada dunia kenistaan –

    Cinta akan bola bagaikan cinta akan hidup. Seperti jatuh cinta, tak dapat orang yang mencintai bola hanya berhenti pada akalnya. Emosinya akan terkuras, dan ia makin tak dapat mengerti, mengapa bola terasa makin menuntut untuk mempertaruhkan hidupnya.

    Jika hal ini benar, makin benarlah itu jika dikenakan pada rakyat Argentina. Lebih-lebih sekarang ketika Lionel Messi dan kawan-kawannya menatap final Piala Dunia 2022.

    Bagi mereka, final seperti suatu ambang, di mana mereka boleh masuk menikmati surga kebahagiaannya, atau terempas kembali pada dunia kenistaan. Seakan tak berartilah segala prestasi jika di final mereka kalah. Cinta memang kejam bila ia gagal.

    Memang, di Argentina, bola adalah segala-galanya. Tak cukuplah menyebut bola hanyalah sport atau permainan. Di sana bola mencakup kultur, pilihan hidup, emosi, dan tentu saja politik. Pantaslah, ketika Lionel Scaloni ditetapkan sebagai pelatih nasional, ada rekannya yang berkomentar, ”Sekarang, kamu lebih besar daripada presiden di negeri ini.”

    Kontan Scaloni menolak, ”Tidak, saya hanya pelatih kesebelasan nasional Argentina.” Dan kepada para pemain Argentina ia berpesan, ”Apakah kita menang atau kita kalah, kita hanyalah pesepak bola, tidak lebih dan tidak kurang. Kata-kata kita tidak lebih bernilai daripada kata-kata setiap warga Argentin

    Scaloni boleh menolak, tetapi di Argentina bola tetaplah bukan sekadar bola. Bola telah menjadi hasrat gairah rakyat Argentina. Jurnalis Alejandro Fabbri memaparkan, negara Argentina sudah berusia lebih dari 220 tahun, dan usia klub-klub sepak bola di sana mencapai 120 tahun. Karena itu, klub-klub sepak bola itu juga punya pengaruh sejarah kuat pada Argentina.

    Sangatlah menguntungkan bagi politik jika bisa memeluk gairah itu. Sejarah mencatat, ketika Argentina menjadi tuan rumah Piala Dunia 1978, sepak bola bisa digunakan untuk memalingkan rakyat dari represi dan kekerasan yang dijalankan rezim diktator militer saat itu.

    Di final, Argentina berhasil menundukkan Belanda. Namun, dalam sejarah sepak bola, kemenangan mereka tercacat sebagai tidak terlalu bersih. Campur tangan politik terasa di dalamnya.

    Di Argentina, sampai sekarang politik tidak terlepas dari bola. Anehnya, menurut Fabbri, saat politik bisa memecah belah, bola justru mempersatukannya. Pihak-pihak yang bersengketa dalam politik bisa saja sama-sama menjadi fans setia dari sebuah klub bola.

    ”Maka, di tribune bola terjadilah apa yang tidak terjadi dalam hidup sehari-hari: musuh bebuyutan secara politis saling berpelukan ketika klubnya mencetak gol. Pada dasarnya, mereka ternyata terikat oleh cinta pada jersei klub tersebut,” kata Fabbri.

    Kalau jersei klub saja bisa demikian mengikat, apalagi jersei biru putih Argentina. Tidak hanya fans yang akan memenuhi Stadion Lusail, juga seluruh rakyat Argentina akan meluapkan cinta mereka akan bola di kaki Messi dan kawan-kawannya.

    Sejak 1986, mereka hampa akan juara. Maka, mereka berharap setengah mati di Stadion Lusail malam ini, anak-anak Scaloni dapat mengisi kehampaan mereka dengan menjadi juara. Tidak sekadar juara dunia. Mereka bahkan mempunyai harapan lebih, inilah saat untuk mengabadikan ikon mereka, Lionel Messi.

    Maka, di tribune bola terjadilah apa yang tidak terjadi dalam hidup sehari-hari: musuhbebuyutan secara politis saling berpelukan ketika klubnya mencetak gol.

    Bagi Messi, memang Piala Dunia kali ini adalah kesempatan terakhir untuk memahkotai dirinya. Jika mahkota itu berhasil diraihnya, lengkaplah sudah alasan untuk menyejajarkan Messi dengan Pele, Johan Cruyff, Alfredo di Stefano, dan Diego Maradona.

    ”Mereka adalah legenda yang merevolusi bola. Tiap 20 tahun mereka muncul. Sebelum ini dia adalah Maradona. Sekarang Messi,” kata Jorge Valdano, veteran bola Argentina, yang juga pengamat bola.

    Messi adalah anak kesayangan Argentina. Valdano mengaku dirinya adalah ”Madridista”, pencinta Madrid, tetapi toh ia berkata, ”Saya selalu berpikir, siapa tidak mencintai Messi, dia tidak mencintai bola.”

    Koran di luar Argentina pun ikut mengelu-elukan Messi dan menyejajarkannya dengan Maradona. El Mundo Deportivo di Spanyol menyebut Messi dengan ”Maramessi”, sedangkan Gazzetta dello Sport di Italia menyebutnya ”Messidona”.

    Sebutan apa saja terserah. Bagi Argentina, Messi dan Maradona sama besarnya. Mereka menyanyi, ”En Argentina nací, tierra de Diego y Lionel”, atau ”Di Argentina aku lahir, di tanah Diego dan Lionel.”

    Dan malam nanti surga dan dunia bersatu: Maradona dan Messi. Messi akan bermain sepak bola, dan Maradona akan membantunya ”dari atas sana”.

    Meminjam pemikiran Pierre Bourdieu yang dipakai filsuf Gunter Gebauer untuk analisis bolanya, malam nanti dengan bermain bola Argentina akan mengalami semacam ”transendensi sosial”. Maksudnya, segala harapan, cita-cita, idaman, doa, dan emosi sosial Argentina akan meliputi diri mereka, dan membuat mereka ”transendens” terhadap dirinya.

    Karena transendensi sosial ini, mereka akan menjadi ”lebih” dari dirinya. Namun, transendensi macam ini juga bisa menjadi ujung malapetaka jika pada akhirnya mereka kalah. Karena transendensi itu, keterempasan akan terasa jauh lebih menyakitkan dan parah.

    Belum ada jaminan bahwa Argentina tak akan terempas. Maklum, lawan mereka di final nanti adalah Prancis. Sampai ke final ini, Prancis telah memperlihatkan diri sebagai kesebelasan yang paling stabil. Mereka seperti mesin, yang berputar ajek, dan makin lama makin panas.

    Mekanik mesin itu adalah Didier Deschamps, seorang realis. Ia bilang, Jerman, Spanyol, dan Brasil hebat dalam menyerang, tetapi mereka sudah pulang. Kenapa Perancis harus ikut-ikutan bermain menyerang kalau buktinya dengan pola bertahan mereka bisa sampai ke final?

    Pendeknya, kini Prancis menemukan kembali ”roh mereka di tahun 2018” yang mengajarkan, tak usah mereka malu dengan permainan defensif dan pragmatisnya. Toh, dengan permainan itu, mereka bisa menjadi juara dunia 2018.

    Selama ini orang ramai bicara Messi. Seakan lupa, mesin Prancis itu mempunyai lokomotif, bernama Kylian Mbappe. Jika tidak diwaspadai, dengan super-kecepatannya, Mbappe bisa melindas harapan Argentina.

    Dan jangan lupa, selama 60 tahun ini belum ada juara bertahan bisa mempertahankan pialanya. Kalau jadi juara bertahan, Prancis akan membuat rekor juara dunia dua kali berturut-turut, seperti Brasil di tahun 1958 dan 1962.

    Motivasi Prancis tak kalah besarnya dengan Argentina yang ingin menjadi juara ketiga kalinya. Pasti malam nanti adalah sebuah final saling mengempaskan yang sangat menegangkan.

    ———————————————–

    Sumber Tulisan Kompas Minggu, 18 Desember 2022

    “Penggemar Argentina”  – Foto dari Harian Kompas – Foto Karya Gustavo Garello

  • Romantisme  Kertas

    Romantisme Kertas

     

    BAGI Happy Salma, 37 tahun, membaca hanyalah dari kertas. Meski aplikasi membaca sudah bejibun dan gampang diunduh di gawai, Happy ogah melakoni kegiatan ini. “Kalau di ponsel untuk yang iseng-iseng doang, yang sambil lewat, atau untuk cari data,” katanya saat menjadi bintang tamu #ngopidikantor di Gedung Tempo.

    Untuk membaca yang agak berat, semisal buku atau majalah, Happy Salma memilih versi cetak. Buat dia, kertas punya banyak nilai lebih: bisa disimpan sehingga bisa dibaca lagi kapan-kapan serta lebih enak dipegang. “Kertas juga ada baunya, dan romantis,” ujarnya.
    Happy Salma punya banyak koleksi buku. Dari manga karya penulis Jepang, Kyoko Mizuki, Candy Candy (versi Indonesia diterbitkan pada 1990-an)—hasil pencariannya di penjual buku bekas—sampai novel sejarah karangan Pramoedya Ananta Toer, penulis favoritnya.

    Dari karya Pram yang berjudul Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, Happy membuat pentas teater Bunga Penutup Abad. Happy Salma menjadi produser sekaligus memerankan Nyai Ontosoroh, salah satu tokoh sentral dalam dua novel tersebut.

    Happy Salma menyimpan koleksinya di ruang baca rumahnya di Bali dan Jakarta. Happy selalu menyediakan waktu untuk melahap semua buku pilihannya tersebut. “Diusahakan kalau pergi juga membawa buku,” ucapnya.

    ***************************************************

    Sumber Tulisan “Pokok dan Tokok” Majalah Tempo, Edisi Februarai – Maret 2017.

  • Dongeng  tentang  Cinta

    Dongeng tentang Cinta

    Oleh Paulo Coelho

     

    Maria Emilia Voss, seorang penziarah ke Santiago, menceritakan kisah berikut ini:

    Pada Zaman Cina kuno, sekitar tahun 250 SM, seorang pangeran dari wilayah Thing-Zda akan dinobatkan sebagai kaisar; akan tetapi, sesuai hukum yang berlaku, dia harus menikah terlebih dahulu.

    Ini berarti sang pangeran mesti memilih calon ratu, dan dia harus menemukan gadis yang dapat dipercaya sepenuhnya. Atas nasihat seorang bijak, sang pangeran memutuskan untuk memanggil semua perempuan muda di wilayah itu, dan mencari calon yang paling pantas diantara mereka.

    Berita-berita tentang persiapan untuk acara tersebut sampai di telinga seorang perempuan tua yang sudah bertahun-tahun mengabdi di istana; perempuan tua ini menjadi sangat sedih, sebab anak perempuannya diam-diam menaruh hati kepada sang pangeran.

    Sesampainya di rumah, si perempuan memberitahukan hal ini kepada anak perempuannya, dan betapa kagetnya dia ketika gadis itu mengatakan akan berangkat ke istana.

    Perempuan tua itu sangat cemas.

    “Tetapi, anakku, apa yang kau lakukan disana? Semua gadis yang paling kaya dan paling cantik akan hadir. Niatmu sungguh berlebihan! Aku tahu kau tentu sangat menderita, tetapi janganlah penderitaan ini membuatmu kehilangan akal sehat.”

    “Dan anak perempuannya menjawab:

    “Ibuku tercinta, aku tidak menderita dan aku juga tidak kehilangan akal sehatku. Aku tahu aku tidak akan terpilih, tetapi ini satu-satunya kesempatanku untuk, setidaknya, berada di dekat sang pangeran, walau hanya beberapa saat saja, dan ini sudah cukup membuatku bahagia, meskipun aku tahu nasibku tidak akan seberuntung itu.”

    Malam itu, si gadis pun sampai di istana. Semua gadis yang paling cantik juga sudah hadir, dengan mengenakan pakaian dan perhiasan yang indah-indah; semuanya siap melakukan apa pun, asalkan bisa meraih kesempatan yang ditawarkan.

    Dengan didampingi para anggota istana, sang pangeran mengumumkan sebuah tantangan.

    “Aku akan memberikan sebutir benih kepada kalian masing-masing. Dalam waktu enam bulan, gadis yang membawakan bunga paling indah, akan menjadi calon ratu Cina.”

    Gadis itu membawa pulang benih yang diberikan kepadanya dan menanamnya disebuah pot. Berhubung dia tidak terlalu mahir berkebun, dia pun menyiapkan tanahnya dengan penuh kesabaran dan kelembutan, sebab dia percaya kalau bunga-bunganya tumbuh sebesar cintanya, maka dia tak perlu khawatir tentang hasilnya.

    Tiga bulan berlalu dan tidak ada satu tunas pun yang muncul. Gadis itu mencoba berbagai cara; dia bertanya kepada para petani dan tukang kebun, dan mereka menunjukkan berbagai metode pembudidayaan kepadanya, tetapi semua tak ada hasilnya. Makin hari dia merasa impiannya makin jauh dari jangkauan, walaupun cintanya masih tetap berkobar seperti sebelumnya.

    Akhirnya masa enam bulan pun berakhir, dan tetap saja benih yang ditanamnya tidak menumbuhkan apa pun. Meski tidak  bisa menunjukkan hasil apa-apa, dia tahu bahwa dia telah berusaha keras dengan sepenuh hati selama masa-masa tersebut; maka dikatakannya kepada ibunya bahwa dia akan kembali ke istana pada tanggal dan jam yang telah ditentukan. Dan di dalam istana, dia tahu bahwa perjumpaan dengan pangeran akan menjadi perjumpaan terakhirnya dengan cinta sejatinya, dan biar bagaimanapun dia tidak tahu mau kehilangan kesempatan ini.

    Tibalah hari yang telah ditentukan itu. Si gadis datang dengan membawa pot-nya yang tidak berisi tanaman; dia melihat calon-calon lainnya telah datang dengan membawa hasil yang luar biasa; semua gadis seolah berlomba-lomba membawa bunga yang paling indah, dalam berbagai rupa dan warna.

    Akhirnya tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Sang pangeran memasuki ruangan  dan mengamati setiap calon dengan seksama dan penuh perhatian. Setelah mengamati mereka semua, dia mengumumkan hasilnya dan memilih anak perempuan si pelayan sebagai istri barunya.

    Gadis-gadis lain yang hadir di sana mulai memprotes, sebab sang pangeran memilih satu-satunya gadis yang tidak membawa hasil apa-apa.

    Dengan tenang Sang Pangeran menjelaskan rahasia di balik tantangan yang diumumkannya.

    “Gadis ini adalah satu-satunya yang menanam bunga yang membuat dia layak menjadi seorang ratu, yakni bunga kejujuran. Semua benih yang kubagikan itu steril dan tidak mungkin bisa menumbuhkan apa pun.”

    ———————————————————————————————

    Sumber dari Buku Paulo Coelho  ‘Seperti Sungai yang Mengalir

     

     

  • P i e t a

    P i e t a

            S i n d h u n a t a

     

    Basilika Vatikan dengan kubahnya. Kubah raksasa berwarna biru. Dari jauh nampak, kubah indah itu seakan tergantung di awan, dan diturunkan dari awan, jadi atap basilika. Genius seni. Michaelangelo yang menggarap kubah itu, sungguh berhasil memberikan kesan betapa langit dan basilika itu bersatu dalam satu kubah sebagai titik temu.

    Persatuan itu nampak dalam warna. Jika langit sedang biru, dan orang membiarkan diri puas memandang basilika dari kejauhan, serasa awan dan kubah itu bagaikan bergantung-gantungan. Pada waktu menggarap, Michaelangelo sendiri memang terserap dalam kerinduan bagaimana meraba “ke-Absolut-an”. Ke-Absolut-an itu tak dapat diraba, kecuali dengan cara menyeret dunia semesta ini ke arahNya, mempersatukan semesta itu dalam gerak ke arah “sana”. Gerak serta dinamika menuju ke ke-Absolut-an itu tercipta dalam kreasi genius sebuah seni. Dan itulah kubah Basilika Vatikan, yang juga dinamai kubah Michaelangelo.

    Di pelataran basilika, hari Jumat menjelang tepat pukul 12.00 siang, ribuan manusia berada. Pelataran basilika itu terbangun dan terbatasi oleh dua buah sayap, yang mengepak dari “tubuh” basilika sendiri. Sayap basilika yang tersusun dari pelbagai pilar-pilar simetris ini diciptakan oleh artis Bernini.

    Bernini berusaha, bagaimana kepakan sayap raksasa itu terasa sebagai sepasang lengan yang merentang dan melingkar sepanjang pelataran basilika. Maka pilar-pilar simetris itu membentuk satu kebulatan kesan, bagaikan tangan atau lengan basilika. Basilika yang bertangan, membentuk satu pelukan. Itulah hasrat Bernini, yang ingin menggambarkan, bagaimana wujud suatu pelukan universal, di mana manusia segenap penjuru dunia terpeluk dan tertampung di pelataran Basilika.

    *****

    Matahari cukup menyengat untuk udara Roma. Menjelang tepat tengah hari ribuan mata tertengadah memandang jendela Paus di istananya. Sebentar lagi Paus akan muncul dari jendela. Lonceng gereja mengalun panjang menandai datangnya tengah hari. Jendela, yang terpencil di kejauhan itu membuka, serentak terdengar sorak sorai, dan ribuan tangan melambai-lambai. Paus sudah muncul dari jendela. Tak berapa lama lagi, suasana berbalik sunyi, dan Paus memimpin doa Angelus Domini.

    Angelus Domini, Malaikat Tuhan, adalah doa yang dulu selalu diucapkan oleh umat Katolik, tetapi di tengah hari. Doa ini mengenangkan kunjungan Tuhan pada Maria, lewat malaikatNya, untuk membawakan kabar kegembiraanNya. Dan tahun ini secara gerejani adalah tahun yang dipersembahkan untuk Maria. Itulah sebabnya umat Katolik yang kebetulan berada di Roma, menyempatkan diri untuk datang ke Basilika Vatikan, sejenak bersama Paus berdoa Angelus Domini. Hanya sekitar lima menit doa berlangsung. Paus memberikan berkat, dan jendela itu pun tertutup kembali.

    Yohanes Paulus II dikenal sebagai paus yang mencintai Maria. Menyambut tahun Maria, ia mengeluarkan sebuah ensiklik berjudul Redemptoris Mater (Bunda Penebus). Maret tahun lalu, saat diumumkannya ensiklik ini. Paus mengajak umat kristen agar senantiasa mengenang Maria sebagai teladan orang beriman.

    Tahun 2000 sudah diambang mata. Di tengah optimisme atau pesimisme menjelang tahun 2000, mungkin orang lupa, betapa bersejarah saat itu seharusnya buat orang kristen. Tahun 2000 adalah “jubelium dua puluh abad kelahiran Kristus di dunia”. Selama sebulan menjelang Natal, orang katolik merayakan liturgi advent, semacam masa penantian dan harapan akan kedatangan Penebus Dunia. Maka, kata Paus, tahun-tahun menjelang tahun 2000 ini layak menjadi semacam advent yang panjang, masa penantian penuh harapan.

    Maria adalah tokoh advent. Dia adalah wanita sederhana yang dengan penuh kepercayaan dan kesetiaan menanti wujud Tuhan. Paus mengajak, agar di masa advent yang panjang menjelang pergantian 2000 tahun kelahiran Kristus di dunia ini umat kristen sudi meneladan Maria. Itulah sebabnya antara lain mengapa Paus menginginkan tahun 1987-1988 khusus dipersembahkan pada Maria.

    Mengenang Maria, seharusnya umat kristen yang terpecah belah rindu untuk bersatu. Ensiklik Redemptoris Mater mengingatkan, bahwa Maria adalah satu-satunya ibu bagi orang kristen. Darinya lahir seorang penebus yang diimani semua orang kristen, padanya terbulatkan satu iman dan harapan akan janji Tuhan yang ingin membebaskan umatnya. Satu ibu, mengapa mesti tidak bersatu?

    Paus menunjukkan satu fakta, bahwa baik gereja katolik, gereja katolik orthodoks dan gereja-gereja timur sama intensifnya dalam menghormati theotokos, Bunda Tuhan. Padanyalah gereja yang terpecah belah itu sama-sama terikat. Apalagi jika diingat, praktek penghormatan akan Maria ini biasanya dijalankan oleh umat yang sederhana. “Orang-orang sederhana selalu bisa meraba perlindungan dan kehadiran Bunda Penebus itu.” kata Paus. Fakta ini seharusnya mendorong umat kristen untuk bersatu.

    Redemptoris Mater menekankan juga, bahwa ingatan akan Maria tak pernah terpisahkan dari ingatan akan cinta Tuhan, terutama pada mereka yang miskin, menderita dan tertindas. Magnificat, pujian Maria akan kebesaran Allah, adalah doa orang sederhana dan miskin, yang merasa bahagia, karena pada merekalah janji Allah terutama diarahkan dan mendapat perwujudannya. Tahun Maria adalah tahun di mana gereja perlu untuk sadar kembali, bahwa dalam gereja, si miskin harus mendapat tempatnya kembali.

    Maria, kata Paus, adalah gambaran dari kemerdekaan dan pembebasan manusia. Sebab pada Maria, makna dan arti hidup ini seluruhnya dicari dan digantungkan pada Penciptanya. Gereja perlu memandang untuk kembali sadar akan tugas sejatinya di dunia ini, terutama dalam rangka perjuangan kemerdekaan manusia.

    Ensiklik Redemptoris Mater itu selanjutnya memujikan Maria sebagai cermin dan eksistensi para wanita. “Memandang Maria,” kata Paus, “Para wanita akan menemukan rahasia dirinya. Atas dasar rahasia itu para wanita akan tahu bagaimana mereka melayakkan diri dan mengembangkan dirinya. Dengan cahaya Maria, gereja memandang wajah wanita dalam keindahannya, keindahan yang menampilkan rasa terdalam. Rasa kedalaman kewanitaan inilah yang memampukan hati manusia untuk memberikan diri dalam cinta tanpa syarat. Rasa kedalaman itulah kekuatan, yang memungkinkan orang menanggung beban dan penderitaan terpedih sekalipun. Ia adalah kesetiaan tanpa batas, dan kemampuan untuk mempersatukan gejolak hati dengan kata-kata yang memberikan keberanian, harapan, dan penghiburan”.

    De Maria numquam satis! Tentang Maria tak pernah cukup. Dari Maria selalu sesuatu bisa digali, bisa ditemukan. Itulah salah satu anggapan umum di gereja. Orang bisa mengetahui tentang Maria dari dogma, dari ajaran gereja, dari kehidupan umatnya. Tapi seni pun membuktikan, bahwa selalu ada rahasia dalam Maria, yang bisa diekspresikan dalam keindahan seni. Keindahan seni sering malah lebih membukakan kesan, betapa kaya kehidupan Maria itu.

    Semakin banyak lukisan tentang Maria di Galeri Accademia Venezia. Masing-masing berusaha menampilkan salah satu kesan yang ditangkap dari Maria. Salah satu lukisan gemilang tentang Maria adalah karya Giambattista Pittoni (1687-1767), yang menampilkan saat pewartaan kabar gembira oleh Tuhan lewat Malaikat Gabriel pada Maria.

    Dalam Injil, pewartaan kabar gembira itu memang menarik, tapi sering hanya memberikan kesan yang statis dan kurang dinamika. Dan dinamika inilah yang ditangkap oleh Pittoni yang kuasnya menggelapkan sebuah sisi, dan di sisi gelap inilah Maria berada. Malaikat datang, berwajah bidadari, sayapnya membentang, dan kegelapan pun berpijar dengan cahaya keemas-emasan. Awan emas menyapu kegelapan itu, dan bagaikan pusaran empat anak-anak kecil memutar dalam sapuan awan itu.

    Setitik putih dalam rupa burung merpati, menemani Malaikat mendekati Maria. Tubuh Maria miring ke arah kanan, dan tubuh sang malaikat miring ke arah kiri. Posisi berlawanan ini terbangun secara sangat simetris, sehingga menimbulkan kesan “gerak” dan “saat” kabar gembira itu merasuk ke dalam diri Maria, dan serentak mengangkat kesederhanaannya dalam keindahan sebuah gerak tari. Giambattista Pittoni telah membuat pewartaan kabar gembira itu bagaikan suatu balet.

    Tentu bukan maksud Pittoni “mensekularisasikan” tema religius itu. Ia hanya membayangkan bahwa momen pewartaan kabar gembira, di mana yang ilahi masuk ke dalam yang manusiawi itu, sebagai suatu ekstase rohani. Ekstase tak pernah bisa dilukiskan secara tepat. Dan Giambattista Pittoni menggambarkan ekstase itu bagaikan suatu tari balet. Dan inilah maksud Pittoni: betapapun sederhana Maria, ia menjadi indah dalam komposisi gerak lukisan yang bagaikan tarian balet itu.

    Maria indah dalam karya seni. Tapi tak ada rasanya seniman yang dapat menandingi kebesaran Michaelangelo dalam menampilkan keindahan diri Maria. Patung Pieta, karya genius Michaelangelo, yang sampai kini masih berada di Basilika Vatikan, menjadi saksi untuk itu. Tiap pengunjung basilika, kendati ia tak terlalu mengerti seni, tentu akan kagum sejenak melihat karya seniman zaman renaisance itu.

    Michaelangelo datang ke Roma pertama kali tahun 1496. Kendati saat itu namanya sudah terpandang, Pieta-lah yang kemudian mengantarkan keharuman namanya. Michaelangelo berusia 21 tahun. Ia telah membuat dua karya luar biasa, “Dewi Asmara yang tertidur” dan “Dewa Bachus yang mabuk”.
    Kardinal Jean de Bilheres de Lagraulas sangat tertarik akan dua karya itu, dan ia ingin berkenalan dengan senimannya sendiri. De Lagraulas minta kepada Michaelangelo, agar ia membuat suatu patung PietaPieta sudah cukup tersebar sebagai karya seni saat itu. Pieta pada pokoknya melukiskan Maria yang memangku jenasah Yesus, putranya, setelah peristiwa penyaliban.

    *****

    Kardinal De Lagraulas akhirnya dapat berkenalan dengan Michaelangelo lewat perantaraan seorang pedagang bernama Japoco Galli. Pada kardinal, Japoco Galli bilang , bahwa Michaelangelo akan menyelesaikan karya itu dalam setahun, dan patung dari marmer itu akan menjadi patung terindah di Roma, serta tak ada karya seniman lain yang mampu menandingi karya Michaelangelo nanti.

    Kontrak ditandatangani, dan Michaelangelo mulai bekerja. Sayang De Lagraulas meninggal sebelum Pieta dari Michaelangelo selesai. Begitu Pieta dipasang, kekaguman mengalir dari mana-mana. Michaelangelo sendiri tak mengira, bahwa Pieta, ciptaannya, ternyata mengundang kekaguman luar biasa.

    Michaelangelo dengan Pietanya melukiskan Maria sebagai gadis remaja, dengan wajah sederhana tapi jelita. Sementara lutut dan kaki gadis remaja ini dipahat sedemikian rupa, sehingga memberi kesan kekuatan yang luar biasa. Kekuatan kaki gadis remaja ini memungkinkan ia menyangga jenasah putranya setelah Ia diturunkan dari salib. Mayat Yesus dipahat dengan sangat realis, menderita, dewasa.

    Tubuh Maria dimiringkan ke kanan, menjorok ke dalam, dalam arah yang berlawanan dengan jenazah putranya. Komposisi arah yang berlawanan ini memungkinkan Maria yang menyangga putranya dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya menyerah pasrah. Betapa kokoh pangkuan gadis muda ini, meski di sana tersangga sesosok mayat yang sangat menderita.

    Maria adalah ibu Yesus. Tapi dalam Pieta Michaelangelo ia seperti the daughter of the Son, anak dari putranya. Seorang ibu menjadi anak putranya, justru ketika penderitaan mencapai puncaknya: kematian putranya. Wajah Maria adalah wajah yang jelita, dengan visi seorang bidadari. Wajah putranya adalah wajah manusia, yang menderita, kalah dan mati, kendati Dia diimani sebagai Tuhan yang menjelma di dunia.

    Saat itu Michaelangelo juga mendapat kecaman pedas dari para kritisi. Mengapa ia membuat kontras luar biasa antara sang ibu dan anaknya? Mengapa ia begitu tegam melukiskan seorang gadis remaja, berwajah jelita, menampilkan kesan tak bersalah seperti seorang bidadari, padahal di pangkuannya tergeletak jenazah putranya yang begitu menderita. Mengapa Michaelangelo sampai hati meletakkan seorang gadis tak bersalah dalam penderitaan yang begitu dahsyat? Dan masih lagi: mengapa gadis remaja tak bersalah itu mempunyai pangkuan yang begitu kokoh dan kuat di mana tersangga jenazah putranya?

    Kontras itulah yang memang justru ingin ditekankan oleh Michaelangelo. Maka ia menjawab kecaman para kritisi. Kata Michaelangelo, ia sungguh sengaja menekankan keremajaan, kejelitaan, dan kesegaran wajah sang ibu, yang mekar bagai bunga-bunga di musim semi.

    “Anak dari Putra” ini sebenarnya berasal dari puisi penyair Dante, In Paradiso. Michaelangelo memang sangat dipengaruhi oleh Dante, sekurang-kurangnya menurut Vassari. Dalam In Paradiso, Dante melukiskan saat terakhir ia memandang keilahian. Saat itu Beatrix, yang menyertai Dante menghilang. Dante tak mungkin lagi melukiskan keindahan Beatrix: Di sini puisiku mesti berhenti, tak mungkin lagi ia mengikuti keindahanmu, berhenti seperti setiap seniman di ujung tujuannya.

    The Daughter of The Son itu telah terpahat dalam Pieta Michaelangelo. “Anak dari Putra” itu terjelma dalam penderitaan Pieta. Dan dalam penderitaan bahkan kematian inilah Michaelangelo melukiskan dialog antara ibu dan anaknya. Dialog sungyi, diam tanpa kata, dialog antara yang hidup dan yang mati. Pieta memaparkan apakah nilai dan arti dari sebuah dialog yang sunyi.

    Mata Maria terpejam. Tapi seluruh wajahnya berbicara. Kesunyian dan ke-diam-an ini memampukan dia untuk meraba kedalaman tersembunyi, hakikat terdalam pribadi putranya. Pribadi seseorang tak dapat diraba lewat kata atau pernyataan, ia tersembunyi sangat dalam, ia adalah keintiman diri orang itu sendiri. Kata-kata hanya mendangkalkan kepribadian yang penuh rahasia itu. Hanya dengan “diam”, “dialog” tanpa kata, yang dapat meraba kepribadian itu, karena di sinilah terjadi penyerahan diri kepada pribadi yang tak ia mengerti. Dan hal inilah yang dipahat secara dramatis oleh Michaelangelo dalam Pieta: dialog itu bisa terjadi, bahkan dialog ini dialog sejati, ketika Maria, kaya dengan seribu pengertian tapi terdiam dalam kata, memandang putranya di pangkuannya, yang sudah mati.

    *****

    Mengapa kau tak mau berjaga? Tanya puisi Giovanni Strozzi kepada Michaelangelo, yang waktu itu habis menyelesaikan karyanya Fajar di Pagi Hari. Dan dalam puisi pula Michaelangelo menjawab pertanyaan Giovanni Strozzi:
    “Kusuka tidur, tapi lebih kusuka, jika aku jadi batu, sementara di luar derita dan celaka terjadi. Tak melihat, tak mendengar suatu apa, bagiku adalah hiburan luar biasa. Jangan bangunkan aku, bicaralah pelan dan diam…”

    Michaelangelo memang telah menciptakan pelbagai karya besar. Tapi sejak pengalamannya di Roma tak bisa lagi ia pisah dari PietaPieta menuntun dia melacak corak dan garis seni yang khas bagi dirinya. Pieta pula yang menjadi tema di senja usianya. Kecuali Pieta di Roma, Michaelangelo mencipta di saat tuanya: Pieta di Santa Maria del FiorePieta da Palestriana, dan Pieta Rondanini.

    Ketiga Pieta ini masih segaris dengan Pieta di Roma. Tapi dalam karyanya yang terakhir ini tak nampak lagi perpisahan antara teknik dan spiritualitas Michaelangelo, yang telah mencapai kematangannya. Malah serasa teknik itu tak mampu lagi mengungkapkan kematangan spiritualitas itu.

    Michaelangelo telah meraih segala kemampuan teknik zaman renaisance. Tak mungkin lagi ia diungguli. Setelah Michaelangelo, mau tak mau seni harus menatap medannya yang baru. Michaelangelo sudah menguras habis keampuhan zaman renaisance. Dan itu berarti ia telah memberi tempat baru bagi perkembangan seni selanjutnya. Di ujung kehebatan yang sekaligus “keterbatasannya” ini Michaelangelo memberi kenang-kenangan pada dunia ketiga patung Pieta.

    “Kini kulihat betapa palsu pikiranku tentang seni selama ini. Aku ditunggui oleh kematian ganda. Kematian yang pertama aku tahu pasti. Kematian yang kedua sedang mengancam aku. Tak ada lukisan, tak ada manusia, yang dapat menahan diri dari cinta Tuhan, yang merentang di kayu salib untuk menerima kita,” kata Michaelangelo setelah ia menyelesaikan Pieta Rondanini, beberapa saat sebelum ia mati.

    Tak nampak “kecantikan” dalam Pieta Rondanini. Tak ada pemisahan lagi, mana yang ilahi, mana yang manusiawi, mana ibu mana putra. Guratan teknik pun tak bernafsu lagi untuk melukiskan wajah. Pieta Rondanini hanyalah ekspresi dari kesatuan Yesus dan Maria. Wajah mereka berdua melebur dalam penderitaan, tubuh mereka menyatu dalam kesunyian dan kesendirian. Tak ada kata yang dapat melukiskan rasa kedalaman seni besar itu yang mencapai kematangan spiritualitasnya dalam Pieta, kecuali mungkin kata-kata Dante ini: kata dan bahasaku jadi makin miskin, apa yang kutahu, kuketahui seperti anak kecil, yang memainkan lidahnya pada buah dada ibunya.******

    ______________________________

     

    Sumber Tulisan dari Buku Dari Pulau Buru ke Venezia, Penerbit Kompas, 2006

     

     

  • Berbuat  Baik

    Berbuat Baik

     

    Oleh Stephie Kleden-Beetz

     

    SEORANG Polisi lalu lintas sedang bertugas di suatu perempatan yang ramai. Pada siang hari yang terik itu, seorang pengendara yang iseng mengejek, “Aduh, hidupmu seperti anjing, ya: jaga sana, awasi sini. “Dengan tenang polisi itu menjawab, “Mungkin saja hidup saya begitu. Tetapi hari ini saya udah menyelamatkan tiga nyawa. Sudah berapa nyawa yang kauselamatkan.

    Di sebuah kota, seorang Wali Kota berjalan-jalan menemui warganya. Tiba-tiba ia melihat warganya yang baru dilepas dari penjara beberapa hari sebelumnya. Dengan ramah Wali Kota menyapa, “Halo, apa kabar? Senang melihatmu Kembali.”

    Tahun-tahun berlalu, di sebuah kota lain, secara kebetulan Wali Kota berjumpa dengan orang tersebut. Orang itu menghampiri Wali Kota dan berkata, “Pak, terima kasih untuk kebaikan yang telah Bapak buat terhadap saya. “Wali Kota dengan heran bertanya, “Perbuatan baik apa?” Jawab orang itu, “Andalah orang pertama yang menyapa saya dengan ramah. Sejak itu, semangat hidup saya datang Kembali.”

    Kebaikan adalah bahasa yang dapat dilihat oleh orang buta dan dapat dapat didengar oleh si tuli.

    Charles Fulton Oursler (jurnalis-pengarang drama-penulis) asal Amerika Serikat berkata, “Bersikaplah ramah dan berbuat baik kepada siapa saja. Sebab, barangkali di balik pakainnya yang sederhana, mereka menyimpan sayapnya yang perkasa.” Lalu ia bercerita bagaimana seorang petugas hotel yang biasa tiba-tiba menjadi manajer sebuah hotel terkenal di Amerika Serikat, yaitu Hotel Waldorf-Astoria.

    Suatu malam di sebuah kota di Philadelphia, sepasang suami-istri yang sudah tua masuk ke sebuah hotel kecil. Terjadilah percakapan antara tamu dan pengurus hotel:

    Tamu: Masih ada kamar untuk saya dan istri saya?

    Petugas: Maa, Pak. Penuh semua. Di kota ini kebetulan ada tiga pertemuan besar, sehingga semua hotel penuh. Tetapi tidak mungkin saya menolak Bapak dan Ibu dan menyuruh pergi tengah malam begini, sementara di luar hujan dan badai. Kalau Anda mau, Anda boleh menginap di kamar saya. Akan segera saya bereskan kamar saya.

    Pagi harinya, ketika hendak membayar, tamu itu berkata, “Kamu seharusnya bukan menjadi pegawai biasa begini, melainkan menjadi manajer hotel besar bertaraf internasional. Mungkin saya akan membangun hotel tersebut dan kamu menjadi manajernya.” Si petugas tersenyum.

    Dua tahun kemudian, ia seperti disambar petir ketika mendapat undangan untuk datang ke New York dan menerima kunci hotel terkenal, tempat ia menjadi manajernya: Hotel Waldorf-Astoria. Pak tua yang telah menginap di kamarnya ternyata tak lain adalah William Waldorf Astor, hartawan masyhur itu.

    Jika engkau mencintai, berbuatlah baik, jika engkau berbuat baik, engkau akan mencintai. Mencintai dan dicintai adalah dua sisi yang berbeda dari mata uang yang sama.

    ****************************

    Sumber: dari Buku Cerita Kecil Saja, Stephie Kleden-Beetz, Kanisius 2009

  • Ada Nilai dalam Penderitaan

    Oleh A. Sudiarja, S.J.

     

    MENJELANG usianya yang ke-19, Benedetta Bianchi Porro, atas nama adik-adiknya dan seluruh keluarganya mengirimkan sepucuk surat untuk ulang tahun yang ke-56 dari ayahnya yang bekerja di kota lain. Bersama surat itu, Benedetta menyertakan foto dirinya, yang tampak cantik dan muda. Pada bagian bawah foto ia menulis “buat ayah” dan tanda tanagannya yang tegas.

    Siapa yang mengira bahwa di balik wajah yang cantik dan ceria itu Benedetta menyimpan penderiataan yang hampir-hampir tak tertanggungkan? Surat ulang tahun ini mengungkapkan jeritan seorang remaja yang ingin bebas seperti teman lain, akan tetapi tidak dirasakannya. Apakah yang menekan hidupnya? Bukan ayahnya atau ibunya tetapi nasibnya.

    Benedetta sejak dilahirkan menderita penyakit polio yang memaksanya menggunakan sepatu penyanngga yang berat. Tahun demi tahun, penyakitnya bukannya berkurang, melainkan memburuk. Baru kemudian diketahui bahwa hal itu disebabkan oleh peradangan syaraf. Foto itu rupanya memperlihatkan mekarnya bunga yang terakhir kali, sebab sesudah itu ia semakin layu. Pada usia 24 tahun, praktis ia harus meninggalkan segala-galanya, kuliahnya, masa depannya. Pelan-pelan ia kehilangan kepekaan indrianya, mula-mula kehilangan pendengarannya, kemudian penglihatannya, bahkan pencecap dan penciumannya. Seluruh tubuhnya menjadi lumpuh dan ia harus berbaring tanpa bisa merasakan apa-apa. Keadaan ini mengakibatkan krisis jiwa yang luar biasa.

    Menjelang kematiannya pada usia 27 tahun, ia hanya mampu berkomunikasi lewat rabaan tangan ibunya dan lewat suaranya yang nyaris tak terdengar. Namun dari seluruh hidupnya yang penuh dengan penderitaan dan di tengah pergulatan jiwanya untuk menerima kenyataan yang pahit itu, ia ternyata memiliki kekaguman yang senantiasa dipendamnya, akan karunia kehidupan. Kekaguman itu dapat kita baca dari catatan hariannya yang ditulisnya dengan setia sejak ia berusia 8 tahun. Ia mempunyai harapan besar seperti ditulisnya dalam buku hariannya: “il dolore e il nostro pane, ma anche la nostra grande Speranza, il nostro riscatto” (penderitaan adalah makanan kita, tetapi juga pengharapan kita yang besar, yang kita berikan sebagai tebusan!)”.

    Banyak orang yang mempunyai pengalaman dalam penderitaan, namun hanya sedikit saja yang mampu memaknai penderitannya. Viktor Frankl, seorang psikolog yang pernah mengalami penderitaan dalam kamp konsentrasi, menganggap bahwa kemampuan bertahan dalam penderitaan merupakan salah satu nilai yang tak kalah indahnya, di samping nilai kreativitas (ekspresi, produksi) dan nilai afektivitas (cinta, relasional). Akan tetapi rupanya tidak semua orang dipanggil untuk memperoleh nilai semacam ini. Hanya orang-orang yang pernah menderita, yang mampu memberi makna pada penderitaannya. Namun kita semua diajak untuk bisa memahami dan menghargai nilai-nilai penderitaan yang dialami oleh mereka.

    ************

    *Sumber dari Buku Memahami Tuhan dalam Segala, A. Sudiarja, S.J., Penerbit Kanisius 2014.

     

     

  • Kisah  Sebuah  Sumur

    Kisah Sebuah Sumur

     

    S i n d h u n a t a

     

    GEREJA itu terletak di Pakem, sebuah desa sejuk di lereng Gunung Merapi. Nama gereja itu Maria Asumpta, Maria diangkat ke Surga. Dalam gereja desa itu ada sebuah sumur kecil mungil, namanya Sumur Kitiran Mas. Tentang sumur yang indah itulah tulisan ini hendak bercerita.

    Dilihat dari letak dan bentuknya, Sumur Kitiran Mas memang istimewa. Sumur ini terpaut pada kaki altar, di mana berada patung Maria yang sangat sederhana. Mata Maria seakan memandang sumur yang ada di bawah kakinya tadi.

    Sumurnya sendiri sungguh sangat kecil. Garis tengahnya hanya satu tegel yang berukuran dua puluh kali dua puluh sentimeter. Dalamnya lebih tiga meter. Airnya sangat bening dan hening. Bibir sumur dibuat dari batu hitam. Sumur itu juga diberi kerekan dan timba kecil. Dari atas bibir sumur orang akan hanya melihat kegelapan. Untuk dapat melihat kedalaman air diperlukan alat penerang.

    Sumur Kitiran Mas adalah sumur kesayangan umat desa Pakem. Dulu umat setempat suka berdoa di tepi sumur itu. Sangat mengesankanlah pemandangan, bila mereka sedang berdoa di kaki Maria dan menyalakan lilin di tepi sumur. Sehabis berdoa, biasanya mereka meneguk air yang ditimba dari Sumur Kitiran Mas.

    Sejak Sumur Kitiran Mas ada, ada-ada saja cerita yang tersebar tentangnya. Katanya, sumur itu ajaib, penuh mukjizat. Katanya lagi, sumur itu digali atas dasar wisik atau pesan yang diperoleh dalam sebuah mimpi. Yang lain lagi bercerita, pada suatu malam di gereja Pakem Maria menampakkan diri dalam rupa seorang wanita yang sedang menimba air. Karena itu digalilah sumur tersebut.

    Cerita-cerita di atas sama sekali tidak benar. Sumur itu bukan sumur ajaib, bukan pula sumur penuh mukjizat. Tak ada wisik maupun mimpi yang menyertai timbulnya sumur itu. Tak pernah pula Maria menampakkan diri dalam bentuk apa pun sebelum sumur digali.

    Sumur Kitiran Mas sungguh sebuah sumur yang biasa, seperti sumur-sumur lainnya. Memang ada yang membuat sumur itu sangat istimewa, yakni perjalanan dan pengalaman rohani yang menyertainya. Sumur Kitiran Mas adalah kenangan yang mengingatkan akan perjalanan dan pengalaman rohani itu.

    Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud hendak meluruskan cerita-cerita yang tidak benar di sekitar sumur tersebut. Maksud tulisan ini hanyalah sekedar bercerita tentang ziarah serta pengalaman rohani yang mengiringi timbulnya Sumur Kitiran Mas. Tulisan ini adalah syukur atas perjalanan ziarah dan pengalaman rohani itu.

     Di padang hidup yang tandus

    oh air

    kesegaranmu menyimpan janji

    gemericik harapan

     

    Rinduku padamu

    oh air

    rindu bunga-bunga layu

    padamu kuncup-kuncup hatiku.

     

    Air kau mengalir

    doa pun berpercik air, air

    segarkanlah bunga-bunga.

     

    Air kau hidup

    doa pun berkuncup amrta, amrta

    hidupkanlah bunga-bunga

    Air kau mulia

    doa pun tertawa ria tirta-tirta

    sucikanlah bunga-bunga.

     

    Air kau anugerah

    airlah rahmat-Mu

    bagi bunga-bunga

     

    Benamkanlah aku, oh air

    dalam diri-Mu

    tenggelamkan aku, oh air

    dalam rahmat-Mu

    hayutkanlah aku, oh air

    dalam kesucian-Mu.

     

    Ketika aku memujimu, oh air

    takkan aku lupa pada Bundaku Maria

    dialah yang memberiku sumur doa

    ketika hujan terhenti

    dan aku mesti menanti sedih

    seiring dengan kesedihan kupu-kupu kuning

    sunyi sayap-sayapnya

    terbang membentang dari timur ke utara.

     

    Di bawah kakimu, oh Maria

    Sumur Kitiran Mas berada

    airnya dalam dan tenang

    menyimpan pelbagai harapan

    aku hendak senantiasa menimbanya

    dengan penuh air mata

    sambil hatiku menyanyikan

    kata-kata indah:

    mengapa aku mencintaimu, Maria.

    Gereja Maria Assumpta, Pakem

     

     **************

     

    *Sumber: dari buku Mata Air Bulan, Sindhunata, Kanisius, 1995.

    *Buku Mata Air  Bulan adalah terjemahan penulis atas bukunya yang berjudul Ndherek Sang Dewi Ing Ereng-erenging Redi Merapi.

     

  • Sang Pelukis dari Timur: Setiap Potongan Sketsa Adalah  “Tempus Dei” (Mengenang Rafael Miku Beding, Pelukis Mural Gereja Watuneso)

    Oleh  Marlin Bato

    TIDAKLAH berlebihan menyebut Rafael Miku Beding sebagai pelukis senior di jamannya. Perjalanan kariernya bermula dari kampung Lamalera, Kabupaten Lembata diujung paling timur pulau Flores. Bertahun-tahun, ia melakoni pekerjaan melukis sekaligus pematung, lalu dipercaya menjadi pelukis candi dan interior gereja Watuneso. Namanya hampir tenggelam oleh jaman. Tak begitu terkenal layaknya perupa-perupa dari belahan dunia barat. Nama-nama seperti Vincent Van Gogh, Pablo Picasso, Leonardo da Vinci, Michaelangelo Buonarroti, Salvador Dali, Rafaello Sanzio dan lain-lain sangat masyur di jamannya.

    Namun tidak dengan Rafael Miku Beding. Dia adalah seniman yang menyusuri jalan hening. Belantara yang ditempuh tidak ketahui orang. Namun bakatnya yang terpendam itu justru memantik daya tarik tersendiri. Karya-karya thematik memberi pesan magis.

    Usianya masih sangat muda saat sekitar tahun 1953 pater Visser memboyongnya dari kampung kecil Lamalera menuju Watuneso sebuah paroki yang baru saja berdiri. Di Watuneso ia diberi kehidupan yang mapan. Pemuda tampan itu dipekerjakan sebagai pelukis untuk interior gereja yang pada saat itu baru mulai dibangun yang menelan dana sekitar DM. 10.000 (Deutsche Mark).

    Pekerjaan itu ia lakoni dengan penuh komitmen. Sepanjang perjalanan kariernya, karya-karyanya selalu dikagumi yang akhirnya menjadi legenda dikemudian hari.

    Akan tetapi justru ketika karyanya mulai menjadi lengenda, namanya makin meredup dan tak mampu mengikuti jejak karyanya sendiri. Sebab kebanyakan penikmat seni justru mengidola hasil karya ketimbang pelaku seninya sendiri.

    Yah… memang begitulah pekerjaan kaum pelukis mural, suatu profesi yang terhitung jarang terekspos ke publik. Padahal di kalangan pekerja seni, kaum pelukis kerap disebut sebagai ‘sutradara kedua’, mengingat tanggungjawab mereka mengolah sapuan kuas dan kanvas menjadi potongan gambar utuh yang layak dinikmati.

    Belakangan ini, karya-karya seni Rafael Beding terancam mati akibat lapuk termakan usia, seiring usia gereja yang semakin hari beranjak senja. Jam gadang di candi gereja pun telah lama tidur terlena. Detak jantungnya sudah tak lagi bergerak. Atapnya sudah bocor dan balok-baloknya sudah rapuh dan patah. demikian pula, pemugaran gambar-gambar lukisan Rafael Beding pun tak mudah, karena memang butuh keahlian (skill) khusus.

    Warna gambar sudah memudar, dan tembok pun sudah mulai retak akibat gempa. Padahal seluruh lukisan dinding karya Rafael Beding tersebut mengambil kisah perjalanan Yesus, juga mengangkat tema-tema pengadilan akhir jaman serta kebangkitan.

    Salah satu lukisan yang paling rumit adalah gambar pengadilan akhirat di bagian sekitar altar gereja. Lukisan mural ini mempunyai kekuatan spiritual yang sangat tinggi. Nilai simbolisme abadi yang nampak di gambar tersebut menanamkan perasaan takut kita kepada Tuhan. Baik para rohaniwan maupun masyarakat awam yang melihat. Mural pengadilan terakhir hari kiamat itu membuat siapapun yang melihat mengalami pergolakan batin, sebab disana ada ratusan sosok manusia laki-laki maupun perempuan sedang menanti pengadilan Tuhan di hari kiamat.

    Di bagian yang lain dinding, terlihat gambar Yesus yang penuh dengan keagungan, diarak orang-orag suci dan malaikat yang turun dari surga. Orang-orang yang telah ditebus dosanya dan orang terkutuk dalam gambar itu menampakkan kengerian menghadapi pengadilan Tuhan.

    Sementara di bagian paling tinggi sebelah kanan dari lukisan itu, ada sebuah mural menampakkan satu malaikat membawa buku besar bertuliskan; Apa Yang Kau Buat Kepada Sesamamu, Kau Buat Kepada-Ku”. Lalu dibagian bawah gambar ini, nampak dua malaikat meniup sangkakala mengabarkan kedatangan hari kiamat. Sementara dibawahnya lagi, ada sebuah gambar malaikat sedang membimbing seorang perempuan dengan latar ratusan manusia yang bangkit dari kuburnya, diiringi deburan gelombang pasang yang memukul di bebatuan. Gambar ini menambah suasana kengerian hari kiamat.

    Dibagian paling tinggi sebelah kiri, ada gambar malaikat sedang membawa neraca menggambarkan pengadilan terakhir dari Tuhan Yang Maha Adil. Lalu dibawahnya ada malaikat meniup sangkakala dan beberapa malaikat membawa pedang terhunus yang bernyala api dengan garang menjebloskan orang-orang berdosa kedalam neraka. Kemudian dibawahnya lagi, nampak gambar gua neraka dengan seekor naga raksasa siap menelan mangsanya dari orang-orang berdosa dan terkutuk. Lukisan karya Rafael Beding ini saling sinkronis antara satu dengan yang lain.  Lukisan tersebut menyampaikan peringatan kepada kita bahwa satu-satunya salan menuju pangkuan Tuhan adalah lewat Gereja Katholik.

    Sayangnya lukisan-lukisan ini terancam hilang. Kita mungkin hanya bisa pasrah, terpaku sekaligus haru memandang mural-mural yang syarat pesan spiritual. Sedangkan di era sekarang, kita mungkin sulit menemukan seniman pelukis yang sangat berkarakter dan kaya imajinasi.

    “Sekiranya ia menjadi seorang penyapu sampah, ia harus menyapu sama seperti Michaelangelo melukis, atau Beethoven memainkan musiknya atau Shakespeare menulis puisinya. Dia harus melakukan dengan baik, sehingga semua yang berada di surga dan bumi akan berhenti sejenak dan berkata; Disinilah tempat para penyapu sampah yang telah melakukan kerjanya dengan sangat baik sekali”.

  • Menulis Esai sebagai Kebahagiaan: Belajar dari Montaigne

     

    untuk: Budi Darma # RIP

     

    Oleh  Agustinus Tetiro (jurnalis dan esais)

     

    DALAM Filokomik, dilukiskan bahwa Montaigne memberi beberapa pengajaran untuk berbahagia, yaitu memiliki pengalaman hidup, sikap meragukan semua karena kita tidak sempurna, banyak piknik melihat dunia, keberanian untuk melepaskan, melawan prasangka dan bertoleransi.[1] Semua itu memberikan kita satu informasi bahwa Michel Eyquem de Montaigne (1533-1592) adalah seorang filsuf yang berfilsafat dengan merefleksikan pengalaman hidup dan riwayat biografisnya sendiri. Hal itulah yang membuatnya berbahagia. Kebahagiaan dalam berpengalaman langsung dengan realitas dan dalam kebersamaan dengan orang lain itulah yang diajarkan Montaigne melalui tulisan-tulisannya, terutama yang berbentuk esai yang diartikan sebagai “suatu obrolan yang cerdas dan memikat”.[2] Karena, menurut Montaigne, “latihan yang paling bermanfaat dan alami bagi pikiran kita adalah, menurut pendapat saya, percakapan”.[3]

    J.M. Cohen yang menerjemahkan karya besar Montaigne, Essays, ke dalam bahasa Inggris melukiskan dengan tepat filsafat yang dihidupi Montaigne dalam pilihan gaya menulisnya. Esai adalah sebentuk sastra (genus litterarium). “Tujuannya adalah menampilkan potret dirinya dalam bingkai keabadian; untuk membangun dari sejumlah sketsa parsial manusia esensial; bukan sebagai makhluk yang tidak berubah, tetapi sebagai orang yang mempertahankan inti identitas lebih penting sebagai subjek daripada peristiwa yang menimpanya.”[4]

    Semangat Montaigne dalam menulis esai sebagai kegembiraan hidupnya terinspirasi dari para filsuf klasik seperti Aristoteles dan filsafat Stoikisme.[5] Dari kedua sumber ini, Montaigne berbicara tentang persahabatan yang menggembirakan. Dalam tulisannya bertajuk “Tentang Persahabatan” (On Friendship), Montaigne banyak merujuk pada karya Cicero berjudul De Amicitia (Tentang Persahabatan) dan konsep persahabatan dari Aristoteles. Menurut Montaigne, persahabatan pertama-tama dipelajari dari rumah dan keluarga dan kemudian berkembang lebih luas hingga menjadi persahabatan politik (Aristoteles) dan warga dunia yang kosmopolis (Stoikisme Cicero). Orang berbahagia bila dia bisa mengalami pengalaman kebersamaan dengan orang lain.[6]

    Montaigne sangat antusias merefleksikan pengalaman kesehariannya, karena hal itu menggembirakan. “Dalam menilai kehidupan orang lain, saya selalu menanyakan bagaimana setidaknya dia berperilaku; dan salah satu tujuan utama saya dalam hidup saya adalah untuk berperilaku baik. Itu berakhir – dengan damai, maksud saya, dan dengan pikiran yang tenang.”[7]

    Montaigne tidak menutup mata bahwa dalam merefleksikan persahabatan dan pengalaman kebersamaan bisa saja kita salah paham ataupun menimbulkan kontradiksi. Hal itu tidak akan banyak menganggu, karena “kontradiksi pendapat, oleh karena itu, tidak menyinggung atau menjauhkan saya; mereka hanya membangkitkan dan melatih pikiran saya.”[8] Menurut Montaigne, latihan pikiran dan olah rasa seperti ini akan berguna untuk pemuliaan martabat manusia. Montaigne menulis, “Saya mencintai dan menghormati pengetahuan sebanyak mereka yang memilikinya; jika digunakan dengan benar, itu adalah perolehan manusia yang paling mulia dan paling kuat.”[9]

    Kekaguman pada realitas dan pada hidup manusia tentu saja telah mendorong Montaigne untuk dengan gembira menikmati pengalaman hidupnya. Dalam esainya bertajuk On the Power of Imagination (Tentang Kekuatan Imajinasi), Montaigne menekankan pentingnya imajinasi kreatif untuk kebahagiaan manusia. “Mungkin saja kepercayaan pada mukjizat, penglihatan, pesona, dan kejadian luar biasa seperti itu bersumber dari kekuatan imajinasi yang terutama bekerja di benak orang awam, yang lebih mudah terkesan.”[10]

    Imajinasi kreatif yang menuntun Montaigne menjadi sangat otentik bagi pembelajaran sang filsuf tentang hidupnya sendiri yang pada gilirannya membawa kebahagiaan. Bagi Montaigne, kebahagiaan bisa diperoleh dengan memberanikan diri sendiri untuk menyelami sejarah hidup masing-masing, mengalami sendiri, dan merefleksikan pengalaman dalam kebersamaan, khususnya bersama orang-orang yang—meminjam istilah saat ini—‘sefrekuensi’.[11] Imajinasi kreatif Montaigne dalam merefleksikan pengalaman hidup dan kebersamaannya itu yang kemudian memantapkan bentuk esai sebagai tulisan yang bisa diterima umum dan diakui sebagai karya yang otentik.

    Beberapa hal yang bisa dikatakan tentang esai menurut Montaigne.[12] Pertama, essai atau essais dalam bentuk jamaknya, sengaja dipilih oleh Montaigne, karena maksud utama tulisan dan renungan-renungannya adalah mencoba memahami manusia dan masyarakat secara lebih baik. Kedua, esai menghindari konsep-konsep abstrak dan selalu bertolak dari pengalaman. Menurut Montaigne, pengalaman manusia adalah obyek penelitian dan sekaligus juga metode penelitian. Ketiga, pengetahuan sistematis memang berguna, tetapi belum mempunyai manfaat yang optimal kalau tidak membantu kita mendapatkan pengertian moral tentang apa yang baik dalam hidup, dan sanggup membentuk sikap kita terhadap hidup itu sendiri.

    Sampai di sini, kita perlu memberikan beberapa pertimbangan. Pertama, pilihan Montaigne untuk menulis tentang kebahagiaan hidup dalam bentuk esai lebih menyentuh hati daripada uraian sistematik tentang kebahagiaan yang dalam banyak pengalaman ternyata tidak banyak membantu manusia untuk menggapai kebahagiaan. Kedua, kebahagiaan yang diperoleh dalam pengalaman kebersamaan dan rasa kagum pada kehidupan manusia tentu saja lebih membekas pada setiap sejarah hidup masing-masing pribadi. Ketiga, kendati demikian, peran pengetahuan sistematis tetap berguna dan tak tergantikan. Selain fungsinya untuk menginformasikan suatu pengetahuan, sejarah manusia juga mencatat bahwa ada orang yang juga bisa menulis suatu pengetahuan sistematis dengan hati yang gembira.

    ********************************

     

    [1]Jeane-Philippe Thivet dkk., Filokomik. 10 Filsuf 10 Strategi Bahagia (terj. A Setyo Wibowo) (Jakarta: KPG, 2020), hlm.56-67.

    [2]Ignas Kleden, Antara Obyektivitas dan Orisinalitas (Esei Kita), dalam “Prisma” No.8 Tahun XVII 1988 (Sastera dan Masyarakat Orde Baru), hlm.17.

    [3]“The most fruitful and natural exercise for our mind is, in my opinion, conversation.” Michel de Montaigne, Essays (translated with an Introduction by J.M. Cohen) (Middlesex, English: Penguin Books, 1958), hlm.286.

    [4]“His aim is to present a portrait of himself in a frame of timelessness; to build up from a number of partial sketches the essential man; not as an unchanging being, but as one who retained a core of identity more important as a subject than the events that befell him.” J.M. Cohen, Introduction, dalam Michel de Montaigne, Essays (translated with an Introduction by J.M. Cohen) (Middlesex, English: Penguin Books, 1958), hlm.9.

    [5]“Montaigne’s own practical philosophy derived from the Classical forms of self-discipline, which he found in Socrates and the Stoics.”  J.M. Cohen, Introduction, hlm.17.

    [6]Michel de Montaigne, Essays, hlm.91-105.

    [7]“In judging another man’s life, I always inquire how he behaved at the least; and one of my principal aims of my life is to conduct myself well it ends–peacefully, I mean, and with a calm mind.” Michel de Montaigne, Essays, hlm.36.

    [8]“Contradiction of opinion, therefore, neither offend nor estrange me; they only arouse and exercise my mind.” Michel de Montaigne, Essays, hlm.288.

    [9]“I love and honour knowledge as much as those who possess it; put to its proper use, it is the noblest and most powerful acquisition of man.”  Michel de Montaigne, Essays, hlm.292.

    [10]“It is probable that the belief in miracles, visions, enchantments, and such extraordinary occurrences springs in the main from the power of imagination acting principally on the minds of the common people, who are the more easily impressed.”  Michel de Montaigne, Essays, hlm.39.

    [11]“The only good histories are those written by men who were themselves at the head of affairs, or took a share in the conduct of them, or at least hand the good fortune to direct others of a similar nature.”  Michel de Montaigne, Essays, hlm.171.

    [12]Untuk bagian ini disarikan dari artikel berjudul Esai. Godaan Subyektivitas dalam  Ignas Kleden, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Esai-Esai Sastra dan Budaya (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti, 2004), hlm.472-476.

    Agustinus Tetiro
  • Dua  Paus

    Dua Paus

    Goenawan  Mohamad

    SEORANG paus dan seorang kardinal bertemu di antara pepohonan taman Castle Gondolfo. Di bulan April 2011, siang terik, juga di tempat tetirah para paus di luar Roma itu.

    Kedua orang tua itu duduk di sudut yang teduh, kadang-kadang berjalan—dan selamanya berkonfrontasi.

    Adegan film The Two Popes di kebun Italia abad ke-17 itu adalah poros karya sutradara Fernando Meirelles ini, yang tumbuh dari fragmen penting sejarah Gereja Katolik, ketika iman, kekuasaan, dan dosa bertaut.

    Sang Kardinal berkata kepada sang Paus: “Seluruh Gereja kita kini membutuhkan pengampunan.”

    “Selama tahun-tahun belakangan ini kita sibuk menertibkan mereka yang tak menyetujui kebijakan kita—tentang perceraian, keluarga berencana, mereka yang gay… sementara planet ini sedang dihancurkan dan ketimpangan sosial tumbuh seperti kanker….”

    Anthony Hopkins sebagai Paus Benediktus dan Jonathan Pryce sebagai Kardinal Bergoglio membuat percakapan seperti itu tak berteriak, lebih seperti bunyi api dalam jerami. Dengan kemampuan seni peran yang mempesona, keduanya menghadirkan sejarah kehidupan yang berbeda, arah yang berseberangan. headtopics.com

    Tapi dalam The Two Popes kita tak perlu melihat paus dan kardinal itu replika tokoh sejarah abad ke-21. Film ini tak mengundang kita melihat Hopkins sebagai rohaniwan angker yang dulu bernama Ratzinger dan Pryce sebagai kardinal yang rendah hati dari Buenos Aires.

    Di layer itu yang kita temui seorang pemimpin agama di saat guncang: korupsi terbongkar dalam manajemen keuangan Takhta Suci, kasus pedofilia terbongkar di kalangan pastor. Vatikan seperti bukan lagi bagian dunia. Sementara itu, Paus Benediktus melihat Gereja, yang baginya suara “kebenaran yang universal”, dikepung “relativisme”.

    Maka Gereja harus dijaga. Konon Stalin pernah mengejek: “Vatikan—berapa batalion tentara dia punya?” Tentu tak satu pun. Tapi Gereja sebuah kekuatan moral di tengah dunia yang dilecut persaingan senjata, kapital, dan teknologi. Apa jadinya jika umat dilanda keraguan?

    Benediktus melihat, harus ada batas yang kukuh. Harus ada tembok…. Di pojok taman Gandolfo, ia tahu Kardinal Bergoglio tak menyukai itu.

    Bergoglio: “Apakah Yesus membangun tembok? Wajah Yesus wajah pengampunan, dan pengampunan ibarat dinamit yang meruntuhkan tembok-tembok.”

    Sebuah kontras. Benediktus adalah nada tunggal. Sejak muda ia lebih banyak bergaul dengan buku ketimbang manusia. Orang yang selalu makan malam sendirian ini tak kenal dunia yang beragam. Ia menyukai musik (malam itu ia memainkan karya Bedrich Smetana pada piano), tapi ia tak tahu bahwa tango sebuah tarian. Ia hanya bisa mencoba melucu dengan “humor Jerman”—yang diakuinya sendiri “tak harus jenaka”.

    Bergoglio adalah antithesisnya. Ia dari negeri yang meriah, rumit, dan traumatis. Masa lalu Argentina dicederai kediktatoran, masa panjang digerogoti ketimpangan sosial.

    Ia kesal agama Katolik tak bisa menjadi inspirasi baru. Ia ingin Gereja berubah, tapi Benediktus anggap berubah sama dengan berkompromi dengan dunia yang tak langgeng.

    “Anda pengkritik saya yang paling keras,” kata Paus.Dilihatnya oposisi Bergoglio tak hanya kata-kata. Kardinal ini menolak tinggal di kediaman megah yang ditentukan Vatikan. Ia mengenakan sepasang boot tentara yang talinya mudah lepas, sementara Sri Paus sepatu cantik desain Zara. “Sepatu Anda juga sebuah protes,” kata Bapa Suci.

    Tapi tak seluruh film ini kisah konfrontasi. Pelan-pelan ia menjadi kisah persahabatan. Benediktus tahu, orang Argentina ini tulus. Kehangatannya spontan. Ia tak menjaga jarak dari suster pengurus Istana, tukang kebun, penjaga pintu. Ia ikut berteriak-teriak seperti umumnya penonton pertandingan bola dan suka jajan pizza dari kedai.

    Dan meskipun ia tak mendukung sikap Benediktus, tak ada dalam sikapnya yang dengan angkuh menghakimi.

    Pelan-pelan orang yang duduk di Takhta Suci itu merenung. Dan di ruang dalam Kapela Sistina, ketika mereka kembali berdua, sang Paus mengatakan, “Saya tak menyetujui kebanyakan yang Anda katakan, tapi ada sesuatu….”

    Ia tak selesaikan kalimatnya. Tapi kemudian ia ucapkan keputusannya: Gereja harus berubah, dan Bergogliolah yang akan membawanya. Ia sendiri akan mengundurkan diri; ia ingin Kardinal Argentina itu menjadi paus berikutnya.

    Bergoglio menolak. Ia bukan orang yang tepat. Ada yang gelap di masa lalunya: di tahun 1970-an, untuk menjaga keselamatan gereja dan umat, ia bekerja sama dengan diktator militer yang baru mengambil alih kekuasaan. Ketika teman-teman Jesuitnya membuat gerakan untuk demokrasi, ia tak membantu. Mereka disergap, di antaranya dibunuh. Ia dituduh berkhianat, dan ia merasa berkhianat. Ia berdosa.

    Dan baginya, “Dosa itu luka, bukan cuma noda.” Maaf saja tak cukup.

    Ini tentu berlaku juga bagi Benediktus yang tak mengikis habis kejahatan seks di kalangan padri.

    Dan kedua paus itu pun bertaut. Saya ingat baris sajak Soebagio Sastrowardojo: “Melalui dosa kita bisa dewasa.”

    Kesadaran akan dosa diri tak menghapus dosa itu, tentu, tapi bisa menghapus perasaan paling suci dan ketakaburan, untuk lebih siap menjangkau, memeluk, mereka yang rapuh.

    Pada 25 Maret 2016: Paus Fransiskus (d.h. Kardinal Bergoglio) membersihkan kaki imigran muslim yang terpaksa lari dari tanah airnya. Caritas in veritate. “Kebenaran vital bagi hidup, tapi tanpa cinta kasih, ia tak tertanggungkan,” kata orang baik dari Argentina itu.

    ********************************

     

    Sumber Tulisan “Catatan Pinggir” Majalah Tempo – Edisi 28 Juni 2020.