Category: Featured

Featured posts

  • Bung Hatta dan Tradisi Menulis ( mengenang kelahiran 12 Agustus)

    Bung Hatta dan Tradisi Menulis ( mengenang kelahiran 12 Agustus)

    Oleh Dea Tantyo

    APA yang membuat Mohammad Hatta (Bung Hatta) dikenang abadi?   Apa yang membuat jasad yang mati, tapi tetap tersebar luas di pikiran? Tulisan .

    Menulis adalah jalan untuk menyelami kehidupan dan memaknai keberadaan diri. Mereka yang menulis kerap lebih mampu memecahkan persoalan hidup. Mereka yang kita kenal sebagai tokoh dunia dan para pemimoin menjadikan menulis sebagai tradisi. Tradisi menulis juga menyatu pada darah Bung Hatta.

    Tak kurang sekitar 150 judul buku tulisan Bung Hatta, lebih dari 100 artikel yang tersebar di majalah Belanda, dan lebih dari 40 buku mengisahkan tentang Bung Hatta.

    Kemampuan intelektual seorang pemimpin terlihat dari kemampuan menulisnya. Jika pemimpin sejati adalah penulis sejati, Hatta termasuk di dalamnya. Beliau adalah tokoh yang sangat menggemari aktivitas menulis dan membaca. Bahkan di usia 18 tahun, Hatta telah menulis sebuah cerita yang dimuat di majalah Jong Sumatra sekitar tahun1920, berjudul  Namaku  Hindiana.

     Pada 1933, ketika Soekarno diasingkan ke Ende, Flores, Hatta membombardir Belanda dengan tulisannya mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi ini pemerintah colonial Belanda mulai serius menngawasi dan menangkap para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.

    Tak berhenti di situ. Di tempat pengasingan Digul, tulisan Hatta rutin dimuat di koran Pemandangan di Jakarta, yang menceritakan nasib orang-orang buangan. Surat itu kemudian dibaca menteri jajahan pada saat itu, Colin, yang kemudian mengecam pemerintah dan segera mengirim residen Ambon untuk menemui Hatta di Digul.

    Pada 1937, bersama Syahrir, Hatta dipindahkan ke Banda Neira. Namun Hatta tak pernah berhenti, gagasan-gagasannya kian menjadi peluru yang mengusik ketenangan Belanda. Di sana, beliau rutin menulis untuk majalah Sin Tit Po terbitan Batavia dalam bahasa Belanda. Di samping itu, Hatta juga menulis di Nationale Commantaren (Komentar Nasional) pimpinan Sam Ratulangi. Peluru-peluru yang tajam itu makin hari berubah menjadi Meriam. Tahun 1941, Mohammad Hatta menulis sebuah artikel yang lebih keras di koran Pemandangan mengenai seruan agar rakyat Indonesia tidak memihak Barat atau pun fasisme Jepang.

    Hatta dan buku adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sampai ketika cinta mengetuk hidupnya, Hatta mempersembahkan sebuah maskawin kepada sang istri tercinta berupa sebuah buku yang ia tulis sendiri, Alam Pikiran Yunani.

    Tulisan adalah tradisi para pemimpin. Melalui tulisan pula nama Bung Hatta terukir abadi. Kecintaan Bung Hatta terhadap proses menulis melebihi kecintaannya terhadap harta benda. “Saya mempunyai tiga istri: Indonesia, buku, dan istri saya sendiri, “ujar Hatta.

     

    ———————

    *Naskah ini adalah ringkasan dari buku Leiden is Lijden, Inspirasi Hidup, Perjuangan, Kepemimpinan, dan Mata Air Keteladanan Founding Fathers, Dea Tantyo, Elex Media Komputindo, Jakarta 2017.

     

     

  • Sejarah tentang  Tuan Tidak Akan Hilang  (Mengenang Kepergian Tuan Lipus Panda Koten, SVD)

    Sejarah tentang  Tuan Tidak Akan Hilang (Mengenang Kepergian Tuan Lipus Panda Koten, SVD)

    Oleh Fr. Frano Kleden, SVD

    Ledalero, tingkat tiga, 2016. Saya pertama kali bertemu dia, seorang pria dengan penampilan sangat sederhana, dengan pembawaan diri dan gaya bertutur yang sekali didengar, kita bisa tahu ia seorang yang asli rendah hati sekali.

    Dia baru saja menyelesaikan studi S3 Sosiologinya di Australia dan pulang mengajar mata kuliah wajib “Sosiologi Agama” bagi mahasiswa tingkat empat STFK Ledalero. Pada saat yang sama, mata kuliah pilihan “Seminar Menafsir Akar Fundamentalisme” ditawarkannya juga. Beberapa anak Ledalero yang tertarik mengkaji tema-tema seputar fundamentalisme (agama), globalisasi, demokrasi dan etika ekonomi “rame-rame” memilih mata kuliahnya. Seingat baik saya, yang dari Ritapiret hanya satu orang, Andye Naga.

    Waktu itu, mengambil mata kuliah baru, duduk di ruangan kuliah yang diampuh oleh dosen baru seperti Tuan Lipus, adalah sesuatu yang istimewa sekali. Ini merupakan kesempatan emas, jangan dilepaslewatkan begitu saja. Baru selesai studi doktor, isi kepalanya pasti masih “panas”. Dan kita tentu bisa dapat banyak pengetahuan baru, begitu harapan beberapa anak Ledalero yang memilih mata kuliahnya.

    Mata kuliahnya ia sajikan dalam bentuk seminar. Kami dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, dan setiap kelompok diberikan tugas untuk membawakan seminar setiap minggu. Tema seminar diaturnya dengan jelas. Dia beri kami satu artikel ilmiah bahasa Inggris yang panjangnya bisa mencapai sepuluh halaman, lalu kami diminta untuk menerjemahkan artikel tersebut, memahaminya dengan benar dan membuat seminar berdasarkan teks tersebut.

    Saya lupa judul teks asli bahasa Inggris nya, tapi waktu itu saya dan Oby da Gomez bertugas membahas artikelnya Bernard Adeney-Risakotta berjudul “Globalisasi dan Agama dari Perspektif Orang Indonesia”. Ini judul aslinya. Dalam seminar kami, judul ini secara sengaja kami ubah menjadi “Membincangkan Globalisasi dan Ambiguitas Agama dalam Konteks Negara Indonesia”. Yah,  supaya kedengaran lebih ‘seni’, unsur ilmiahnya lebih kuat, dan yang paling utama jauh dari unsur-unsur plagiarisme.

    Seminar dan diskusi berjalan baik. Tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan dari forum bisa diantisipasi dengan baik. Kesempatan terakhir diberikan kepada dosen mata kuliah untuk berbicara. Tuan Lipus maju ke depan, mengambil mic dan berbicara.

    “Seminar hari ini bagus sekali. Kedua pemateri sepertinya kerja keras sekali. Mereka tidak hanya menjelaskan isi artikel penulis (Bernard Adeney-Risakotta) kepada kita semua, tapi yang sudah mereka buat, lebih dalam dari itu. Ada banyak sekali improvisasi, tambah-tambah bumbu yang nyaris buat tema seminar hari ini lari keluar dari maksud teks penulis asli.” Semua tertawa mendengar Tuan Lipus yang dengan senyum-senyum kecilnya mengevaluasi kami waktu itu. Di dalam hati, saya sempat menggerutu, “Tuan Lipus mungkin tidak terlalu suka atau juga tidak terlalu paham tentang seni-nya berhermeneutik”.

    Sudahlah. Ini jadi pelajaran penting bagi saya. Di kemudian hari saya akhirnya mengerti, ternyata membaca teks bahasa asing itu tidak berarti lurus-lurus menerjemahkan kata per kata dari teks. Ia lebih menyangkut bagaimana kita bisa menangkap inti dari sebuah teks dan menjelaskannya dengan bahasa sendiri. Tapi sekali lagi ingat: jangan keluar jalur!

    Beberapa minggu setelah itu, menjelang liburan semester genap tiba, Tuan Lipus memanggil saya ke kamar. Ketika pintu kamar ia buka, seperti seorang ayah dan anak, dengan dialek khas Flores Timurnya, ia mengundang saya masuk.

    “No, saya rencana mau tulis satu buku tentang budaya Lamaholot!” Ia membuka percakapan. “Tuan mau tulis tentang apa le?” saya bertanya penuh antusias.

    “Coba kita gali kembali pepatah-pepatah bahasa Lamaholot yang sudah mulai jarang digunakan lalu buat perbandingannya dengan teks-teks Biblis!”

    “Ah, ide bagus tu, Tuan. Saya siap bantu. Tapi bagaimana cara buatnya?” “Kita buat penelitian ka! Kita terjun ke kampung-kampung di Flores Timur lalu cari tahu pepatah sebanyak mungkin”.

    “Oke Tuan. Siap!”

    Besoknya saya coba buat pendekatan dengan teman-teman mahasiswa STFK yang berasal dari Flores Timur (yang tentu bisa mengerti dan bicara bahasa Lamaholot). Semua bergabung, yang studi S1 filsafat maupun S2 teologi, yang frater maupun yang awam semua beri respon positif. Kami lalu buat pertemuan bersama dan putuskan untuk terjun ke tiga paroki di ujung timur Flores: Waiklibang, Riangpuho, dan Koten.

    Kami dibagi dalam kelompok. Dua minggu kami terjun ke lapangan, ada bersama masyarakat. Pulang penelitian, kami berkumpul kembali. Semua pepatah yang terkumpul kami gabung jadi satu. Kami rumpunkan secara tematis. Dalam rencana selanjutnya kami coba untuk temukan ajaran Biblis yang selaras dengan tema-tema pepatah, lalu selanjutnya, menyitir kembali kata Tuan Lipus, akan dibuat semacam sebuah teologi naratif.

    Waktu itu boleh dibilang proyek kami baru seperempat jalan. Kami baru berkumpul menggabungkan semua pepatah yang terdata dan membuat tematisasinya. Tidak lama setelah itu, berita menyedihkan datang. Tuan Lipus jatuh sakit. Stroke merenggut ingatannya, hilang sama sekali.

    Beberapa kali saya berkunjung ke kamarnya, mencandai dia, “Tuan, masih ingat kita punya penelitian kah? Cepat sembuh eh supaya kita lanjut mukut lagi ka!”

    Tatapannya kosong. Tak ada satupun kata ataupun respon. Dia sudah tak ingat apa-apa. Saya, teman-teman peneliti, rencana bersama kami, semuanya hilang dari ingatannya. Hingga hari ini, ketika Tuhan memanggilnya pulang. Ia tetap tak ingat apa-apa.

    Tuan, terima kasih aja-aja untuk jasa moe (Tuan, terima kasih banyak atas jasamu). Knekat raé knebi dekit, bleli raé more horét (pisau tertancap di dinding, daun koli terselip di tempat simpan parang). Sejarah yang Tuan buat di sini tidak akan hilang.

    Sampai jumpa di keabadian!

     

    Fr. Frano Kleden SVD

     

  • Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai

    Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai

    Agama dimulai dari hening dan saat yang
    dahsyat dan berakhir dengan konstruksi. Budha
    di bawah sebatang pohon di Bodh Gaya, Musa
    di puncak Sinai, Muhammad di Gua Hira: tiap
    situasi hadir sebagai situasi terpuncak, momen
    yang tak lazim, ketika seseorang mengalami
    kehadiran sesuatu yang Maha Lain, yang numinous,
    sebagaimana digambarkan Rudolf Otto: misterius,
    menakutkan, memukau. Di abad ke-5, atau 500
    tahun sebelumnya, Santo Agustinus mengucapkan
    perasaan yang mirip: “Dan aku gemetar dengan
    kasih dan ngeri.”

    Agama dimulai dengan gemetar, ada rasa kasih
    dan ngeri, ada amor dan horror – tapi tampaknya
    sesuatu dalam sejarah manusia telah menyebabkan
    ia berakhir dengan sesuatu yang rapi: desain dan
    bangunan. Berabad-abad setelah bertemu dengan
    sang numinous, kita pun menyaksikan sesuatu yang
    tak lagi mengungkapkan senyap. Di hadapan kita
    kenisah yang megah, mesjid yang agung, gereja
    yang gigantis, patung Budha dari emas yang
    terbujur 14 meter, pagoda dengan pucuk yang
    berkilau – dan umat yang makmum, berdesak …

    Tampaknya pengalaman religius akhirnya selalu
    dicoba diabadikan dengan sesuatu yang kukuh
    – yang sebenarnya fantasi tentang yang kekal.
    Atau yang menjulang – yang sebenarnya fantasi
    tentang yang luhur. Atau yang gemerlapan – yang
    sebenarnya fantasi tentang yang indah mempesona.

    Akhirnya bukan sepi yang mengambil alih, tapi
    struktur.

    Yang umumnya tak disadari ialah bahwa struktur
    itu harus disusun dengan kekuatan yang terhimpun.
    Siasat dan alat harus dikerahkan seperti ketika
    kita membangun imperium dan mengurus bisnis.
    Kalkulasi akan dibuat atas segalanya, termasuk
    waktu – yang tak lagi sama dengan momen ajaib.
    Waktu jadi sesuatu yang bisa dipetak-petak dan
    diukur. Waktu jadi seculum.

    Persis di situlah yang sekuler merasuk di dalam
    yang religi.


     

    Sumber Buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai, Goenawan Mohamad, Kata Kita,2007.

  • Ciut, Tapi Tidak Ciut!  (Mengenang ‘Ngopi’ Bareng Pater Lipus Panda Koten SVD)

    Ciut, Tapi Tidak Ciut! (Mengenang ‘Ngopi’ Bareng Pater Lipus Panda Koten SVD)

    Oleh Agustinus Tetiro (alumnus STFK Ledalero, Administrator Grup Wartawan NTT Dunia)

    “Saya Baca Buku Marx yang Anda Ajarkan!”

    Dalam tradisi kuliah filsafat dan teologi di Ledalero, kisah tentang masa lalu seorang dosen menjadi penting. Penting bukan karena diharuskan untuk tahu. Penting karena diceritakan berulang kali oleh para senior agar kita bisa sedikit mengenal sang pengajar. Misalnya, Pater Josef Pieniazek (Pater Pinon) dikisahkan sebagai genius yang menyelesaikan dua gelar magister dari Italia dan Perancis. Pater Amatus Woi SVD menerbitkan disertasinya di Jerman tentang Teologi (Politik) Harapan Jürgen Moltmann yang diberi kata pengantar oleh sang teolog. Begitulah seterusnya dikisahkan tentang para dosen di bukit sandar matahari itu.

    Menjelang mengikuti kuliah Sosiologi Agama, kami diceritakan tentang sang dosen Pater Philipus Panda Koten SVD. Singkatnya begini. Frater Lipus Panda Koten pernah bersoal-jawab dan berdebat sangat hebat dengan seorang pembina (formator) di Seminari mengenai aturan di asrama dan biara. Debat itu dilakukan di aula. Mungkin karena kehabisan pembelaan, sang formator menegur keras Frater Lipus, “Anda harus bisa diatur! Siapa yang mengajar anda untuk bersikap demikian?”. Mungkin pernyataan ini berpotensi menciutkan mental sang frater.

    Dengan tenang, tidak ciut, Frater Lipus berdiri dan mengangkat sebuah buku sambil mengatakan pembelaannya, “Saya belajar dari buku ini yang Pater ajarkan di ruang kuliah!”. Buku yang diangkat Lipus itu ternyata berjudul “Das Kapital” dari Karl Marx. Katanya, mulai saat itu, Frater Lipus dikenal sebagai seorang Marxis atau neo-Marxis. Itu berbahaya, dalam arti, akan suka memberontak. Banyak cerita yang kami dengar bahwa Pater Lipus sangat pintar dan amat kritis.

    Mungkin karena itu, SVD kemudian mengirim Lipus untuk menyelesaikan studi tingkat magister/master di salah satu sekolah ilmu sosial paling top di dunia, London School of Economics and Political Sciences, setelah beberapa tahun menjadi misionaris di benua Afrika.

    Cerita-cerita seperti ini menjadi semacam teaser dan appetizer  sebelum kuliah sang dosen dimulai. Harus diakui, kuliah seperti filsafat dan teologi sangat dipengaruhi oleh kesamaan ‘frekuensi’ antara dosen dan mahasiswa. Orang kebanyakan bisa saja mengatakan dosen lulusan Jerman lebih menarik daripada lulusan Roma. Padahal dalam kenyataan tidak selalu demikian. Banyak lulusan Roma yang atraktif dan tidak sedikit tamatan Jerman yang membosankan. Lalu, bagaimana dengan dosen kita yang lulusan Inggris ini?

    “Kuliah sebagai ‘Ngopi’: Dari Charles Wright Mills ke Meeting Point

    Pater Lipus masuk ke ruang kuliah kami mahasiswa semester VII (tujuh) untuk mengajar Sosiologi Agama. Badannya besar. Senyumannya lebar. Pakaiannya longgar. Tidak slim-fit seperti para pastor lain. Tidak menarik dari sisi ini. Sekali mengeluarkan suara dan cara dia memberikan penekanan pada bagian yang dirasakannya penting, saya langsung memilih untuk bertekun di kelasnya. “Gue suka gaya lo,” kira-kira begitu kesan awal saya jika dibahasakan dengan tutur anak muda zaman now.

    Diktatnya sederhana. Dari daftar isi, kita bisa tahu bahwa Pater Lipus akan membedah tiga pemikir besar: Emile Durkheim (1858-1917), Karl Marx (1818-1883), dan Sigmund Freud (1856-1939). Jika demikian, apa bedanya dengan kuliah “Filsafat Ketuhanan” (semester V) dari Pater Leo Kleden yang telah memperkenalkan kita pada pemikiran dan kritik tentang agama dari tiga ateisme besar: Marx, Freud dan Nietzsche? Bukankan  itu berarti bahwa kita hanya akan menerima satu kebaruan dalam pemikiran Durkheim?

    Tentu saja berbeda. Pater Leo membedah tiga ateisme besar itu sebagai seorang pengajar filsafat. Dalam filsafat, manusia adalah makhluk multi-dimensional. Itu artinya manusia tidak boleh direduksi hanya ke dalam satu dimensi saja. Penegasan ini berdampak pada evaluasi Pater Leo atas ketiga ateisme itu. Marx terlalu menekankan kelas. Freud terlalu menekankan libido, alam bawah-sadar dan sisi psikologis manusia. Nietzsche kemudian dipandang sebagai pemberi tilikan dari ilmu kebudayaan dan kesenian. Dalam evaluasi terhadap ketiga ateisme ini juga, Pater Leo benar-benar hadir sebagai imam Katolik yang belajar filsafat. Misalnya, untuk menilai Marx, Pater Leo harus menyebut beberapa ajaran sosial gereja (ASG) yang membantah tudingan Marx.

    Pater Lipus tidak demikian. Pada sub-judul diktatnya, dia telah dengan sengaja memberi tambahan “Pendekatan Reduksionistis Terhadap Agama”. Jadi, dari awal kita sudah (diberi) tahu bahwa kita tidak akan berbicara tentang manusia sebagai makhluk multi-dimensional. Durkheim menaruh perhatian pada fakta sosial non-material terakhir: agama. Agama itu produk manusia, terutama bersumber pada kasus yang disebut totemisme. Marx harus menciutkan manusia sebagai makhluk ekonomi-politik untuk memberinya ruang analisa dan penjelasan yang lebih mendalam. Freud melihat manusia sebagai makhluk seksual.

    Apa benar raksasa di pemikiran sosial seperti Durkheim, Marx dan Freud tidak tahu-menahu bahwa manusia adalah makhluk multi-dimensional? Tentu saja tidak. Pendekatan reduksionis memang merupakan jalan yang dipilih oleh ilmu-ilmu sosial. Pilihan itu menjadi keharusan agar ilmu-ilmu sosial di luar ilmu filsafat bisa berkembang. Itulah penciutan dan sekarang kita tahu bahwa penciutan tidak selalu buruk. Penciutan bahkan menjadi syarat utama agar suatu pembelajaran bisa dimasukkan ke dalam suatu metode dan berpotensi untuk terus berkembang. Kita tidak bisa belajar ilmu hukum kalau kita tidak bisa menerima bahwa manusia adalah makhluk yang bisa memahami aturan. Kita tidak bisa belajar psikologi kalau kita tidak menerima bahwa manusia sebagai makhluk berdimensi psikis. Kita tidak bisa belajar ilmu agama kalau kita tidak menerima bahwa manusia adalah makhluk spiritual. Dan lain-lain.

    Pendekatan reduksionis seperti ini mungkin tidak terlalu menarik untuk filsafat, tetapi kontribusinya amat penting dan tidak tergantikan bagi perkembangan pembelajaran tentang manusia dan dunia, juga untuk pengembangan filsafat itu sendiri di tengah derap perubahan dunia. Kuliah seperti ini bagi mahasiswa filsafat yang telah lulus dari kuliah “Filsafat Manusia”, yang bersumber utama dari filsafat Kristiani, sepintas lalu mungkin akan terlihat membosankan.

    Akan tetapi, jika kuliah dengan pendekatan reduksionis dibawakan oleh seorang ilmuwan sosial seperti Pater Lipus Panda Koten, kebosanan yang dibayangkan membeku dalam kulkas di dapur asrama. Pater Lipus tidak memberikan kita barang beku dan dingin, tetapi menyajikan kopi hangat pengetahuan yang dia sebut imajinasi sosiologis (sociological imagination).

    Pada bagian awal diktatnya, Pater Lipus menarik minat kita kepada studi dan cara berpikir sosiologis sebagai suatu investigasi terhadap tindakan yang sering dilakukan manusia seperti minum kopi di pagi hari. Pater Lipus jujur bahwa ide ini pun bukan murni darinya. Provokasi imajinasi sosiologis tentang aktivitas minum kopi itu datang dari sosiolog Charles Wright Mills (1916-1962) dalam bukunya berjudul “Sociological Imagination” yang terbit pada 1970. Penyelidikan sosiologis terhadap kopi menyingkapkan beragam proses sosial yang terkait. Pertama, lebih daripada minuman yang menyegarkan, kopi bernilai simbolis sebagai bagian dari kegiatan sosial sehari-hari. Seringkali ritual yang terkait dengan minum kopi lebih penting daripada mengonsumsi minuman itu sendiri. Misalnya, bagi banyak orang, secangkir kopi pagi adalah bagian utama dari rutinitas pagi mereka, bagian penting untuk memulai hari. Sementara ‘bertemu dengan seseorang untuk minum kopi’ (meeting someone for coffee) biasanya bukan hanya tentang minum kopi, tetapi juga untuk sosialisasi dan interaksi sosial, yang menawarkan banyak hal bagi sang sosiolog.

    Kedua, kopi mengandung kafein, obat yang merangsang kerja otak. Orang menyeruput kopi untuk membangunkan konsentrasi, atau sekadar  untuk ‘melek’ (give them a lift). Banyak orang merasa seolah-olah tidak bisa melewati hari-hari biasa tanpa asupan kopi. Kopi, seperti alkohol di Inggris, merupakan minuma legal. Sementara, ganja dan kokain ilegal. Masing-masing komunitas dan masyarakat memiliki aturan berbeda tentang aturan ini. Pertanyaan mengapa aturan seperti itu muncul dan mengapa berbeda dari budaya yang satu ke budaya lain, menarik bagi sosiolog.

    Ketiga, ketika kita minum secangkir kopi, kita masuk dalam serangkaian interaksi sosial dan ekonomi global yang kompleks yang menghubungkan kita dengan jutaan orang lain di negara lain. Ada rantai produksi global besar yang terkait dengan kopi. Kopi ditanam di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, biasanya oleh petani yang sangat miskin, kemudian dibeli dalam jumlah besar oleh distributor lokal, dan kemudian biasanya dikirim ke Eropa untuk dipanggang dan digiling, dan juga dikemas dan diberi merek tertentu. Jika ditambah dengan proses yang terjadi di kedai kopi, ada 6 rantai dari petani kopi ke konsumen.

    Keempat, secara historis, produksi dan konsumsi kopi terkait dengan sejarah kolonialisme, periode di mana kekuatan Eropa menginvasi Asia, Afrika dan Amerika Latin dan mendirikan koloni yang mengkhususkan diri pada tanaman tertentu (seperti teh, kopi, gula dan pisang) untuk diekspor kembali ke ‘negara induk’ (mother countries). Kopi yang ditanam dalam jumlah besar di negara-negara seperti Kolombia dan Indonesia adalah warisan era kolonial.

    Kelima, minum kopi mengikat kita ke dalam hubungan dengan beberapa korporasi terbesar di dunia seperti Nestle dan Starbucks, yang (dituduh) mengeksploitasi pemetik kopi dengan membayar sangat sedikit kopi yang mereka beli untuk memaksimalkan keuntungan mereka, sehingga ‘kopi seperti biasa’ (coffee as usual) melanggengkan kapitalisme global. Tentu saja, sekarang ada ‘kopi perdagangan yang adil’ (fair trade coffee): membeli kopi mempertimbangkan pilihan etis. Keenam, ada kekhawatiran teranyar tentang dampak lingkungan dari menanam kopi.  Ketika produk apa pun ‘berskala pabrik’ (factory farmed) berpotensi menghabiskan tanah dn mengurangi keanekaragaman hayati di area lokal, termasuk polusi yang terkait dengan pengiriman produk beberapa ribu mil di sekitar dunia.

    Provokasi seperti ini mustajab bagi anak muda seperti kami saat itu. Maka, tempat ngopi di kampus yang diberi nama “Meeting Point” menjadi tempat pertemuan yang menyenangkan untuk membicarakan ide-ide secara lebih santai tetapi tetap mendalam. Sambil menyeruput (sambil mengkritik korporasi produsen?) kopi, para mahasiswa bisa memilih buku-buku yang juga dijual di sana, membaca, ataupun berdiskusi.

    Jika baru empat atau lima tahun anda begitu terpesona dengan kafe, ngopi sambil bicara ide dan filosofi, kami telah melakukannya sejak belasan tahun lalu. Dan, Pater Lipus, entah dia sendiri tahu atau tidak, adalah salah satu provokator. Dari tempat ngopi itu, kelompok teater terlahir, naskah drama menemukan jejak awal, cerpen dan prosa mendapatkan bentuknya secara tertulis, skripsi dan tesis mungkin menemukan jalan keluarnya.

    Penutup Sekadarnya….

    Ketika saya diminta mengajar mata kuliah Agama di sebuah kampus internasional di Jakarta, saya minta petunjuk sosiolog Ignas Kleden. “Kamu punya dua pilihan: mengajarkan ajaran agama tertentu, Katolik misalnya, atau mengajar suatu fenomenologi agama,” kata Ignas. Pilihan saya tentu saja jatuh pada mengajarkan fenomenologi agama. Karena, mahasiswa saya sangat beragam asal-usulnya, mulai dari anak orang kaya di Jakarta dan Bekasi,  anak diplomat dari Eropa hingga anak saudagar India di Tanah Abang.

    Dan, salah satu sumber saya adalah diktat Pater Lipus. Saya memilih dengan sengaja suatu pendekatan penciutan, tanpa perlu menciutkan mental mahasiswa dengan istilah-istilah filsafat yang memusingkan.  Tetapi, saya melakukan apa yang tidak dilakukan Pater Lipus: membiarkan mahasiswa mengikuti kuliah sambil ngopi!

    Terima kasih Pater Lipus untuk semua jasamu, terutama untuk semua provokasimu di ruang kelas belasan tahun lalu. Surga untukmu. Selamat ngopi bareng Tuhan!.

    Agustinus Tetiro

     

     

  • Kopi Pencerahan

    Oleh Markus Makur

    ORANG Manggarai Timur, Manggarai Barat, Manggarai memiliki tradisi lejong (berkunjung). Saat lejong itu ada ngara mbaru dan meka (tamu). Biasanya tuan rumah selalu menyuguhkan kopi asli Manggarai Timur, khususnya Kopi Colol. Pendamping minuman kopi biasanya dengan Tete (ubi jalar), Teko (Ubi Keladi), Daeng (ubi kayu). Kadang-kadang juga minum kopi saja. Kebiasaan lainnya adalah Cenggo, Senggo Inung Kopi. Orang Manggarai Raya itu sangat ramah. Siapa saja yang dikenal atau tamu tak dikenal biasanya diajak  mai cenggo, Senggo di (mari mampir). Saat Cenggo, Senggo, tuan rumah selalu suguhkan kopi pahit, kopi pait. Nenek moyang orang Manggarai Raya tidak mengenal gula pasir. Belakangan minuman kopi ditambah dengan gula pasir. Zaman dulu, minuman kopi dicampur dengan gula Kolang. Gula yang terbuat dari pohon aren. Biasanya pohon kopi berada di antara pohon aren. Pohon aren sebagai pelindung pohon kopi. Kopi mencerahkan. Kopi saling menginspirasi. Kopi juga membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.

    Kopi, selain untuk keperluan minuman persaudaraan, biasanya saat minum kopi ada sharing pengalaman, diskusi seputar masalah sosial. Ada nilai keakraban, nilai persaudaraan, nilai kekeluargaan. Kopi juga sebagai identitas dalam kehidupan budaya orang Manggarai Raya. Jikalau tuan rumah tak memiliki kopi tepung saat ada tamu, maka tuan rumah bisa minta di tetangga. Intinya dalam rumah orang Manggarai Raya selalu tersedia kopi biji dan kopi tepung. Tidak bisa tidak. Harus ada kopi didalam rumah tangga.

    Jual Biji Kopi demi Biaya Anak Sekolah

    Selain untuk keperluan minum, kopi biji juga dijual kepada pembeli demi biaya anak sekolah. Pendapatan utama orang Manggarai Raya adalah kopi. Belakangan ada jenis tanaman perkebunan lainnya. Yang pertama tanaman perkebunan di wilayah Manggarai Raya adalah kopi. Selain biaya pendidikan, hasil jual kopi biji dan tepung untuk acara ritual adat, biaya perkawinan dan biaya-biaya lainnya.

    Saya ingat orangtua dulu memetik kopi, menjemur kopi dan menjual kepada penadah di kampung. Uangnya untuk biaya pendidikan dan keperluan dalam keluarga. Panen kopi sekali dalam satu tahun kalender kerja.

    Suguhan Kopi saat Ritual Adat

    Apabila ada ritual adat, ritual adat perkawinan. Ritual mempertemukan jodoh antara keluarga perempuan dan laki-laki. Biasanya keluarga perempuan menyambut tamu anak wina, pihak laki-laki dengan suguhan minuman kopi. Tak ada minuman lain. Hanya minuman kopi. Jadi minuman kopi sebagai minuman pembuka bagi tamu yang berkunjung. Jadi utamakan minuman kopi terlebih dahulu.

    Bukan hanya didalam rumah disuguhkan minuman kopi. Tapi, saat bekerja di kebun, sawah, ladang, saat bangun rumah dan keperluan lain selalu disediakan minuman kopi.

    Missionaris Pembawa Tanaman Kopi

    Para missionaris yang melakukan misi pewartaan di bumi Manggarai Raya melihat kesuburan tanah serta alamnya sangat cocok ditanami kopi. Orang Manggarai Raya harus berterima kasih kepada missionaris dari Ordo Serikat Sabda Allah yang berkarya di bumi Manggarai Raya. Jikalau mereka tidak bawa tanamam kopi maka orang Manggarai Raya tidak mengenal tanaman kopi. Pewartaan lewat tanaman kopi. Ini menarik. Cikal bakal pertama tanaman kopi di wilayah Manggarai Raya berasal dari kampung Colol. Maka disebut kopi Colol. Ini tak bisa dibantah. Ada bukti sejarah yang sudah ditulis dalam media KOMPAS. Bahkan saat diadakan sayembara tanaman kopi oleh Belanda. Salah satu petani di colol mendapatkan penghargaan dari ratu Belanda berupa bendera Belanda. Bendera itu sebagai benda keramat di wilayah Colol. (Baca KOMPAS yang ditulis wartawan KOMPAS, Frans Sarong). Untuk itu dari Colol tersebar tanaman kopi di seluruh Manggarai Raya. Orang Eropa, khususnya Belanda adalah penyuka, penikmat minuman kopi. Hanya kelemahannya, kopi tidak menjadi branding utama di wilayah Manggarai Raya.

    Kopi Simbol Persahabatan

    Dimana ada dua tiga orang berkumpul sambil Inung kopi, minum kopi  terjalin sebuah persahabatan. Banyak diskusi, sharing pengalaman, berbagi ilmu pengetahuan. Air, tepung kopi tak terpisahkan. Kopi melebur di air hingga disebut minuman kopi. Bukan lagi sebut air bening. Antara air dan kopi  sudah menyatu menjadi satu. Siapapun yang minum kopi dalam sebuah perkumpulan, menyatu semua ide dan pemikiran. Kemudian dilanjutkan dengan aksi nyata. Perubahan itu ada di aksi nyata. “Minumlah kopi Colol. Ada persaudaraan dan persahabatan yang dibangun saat minum kopi.”


    Anggota Komunitas Cenggo Inung Kopi Online Manggarai Timur sedang berdiskusi sambil minum kopi sebagai kekhasaan komunitas ini, Januari 2021. (DOK/KOMUNITAS CIKO MATIM)

                              ***********************

    Penulis adalah wartawan tinggal di Manggarai Timur, NTT

  • Atasi Gelap Gulita di Pedalaman Manggarai Timur, Jerman Menolong: 30 Unit Panel Solar Tiba di Wukir, Elar Selatan

    Oleh Markus Makur

    Yayasan Steyler Mission, milik Serikat SVD menyalurkan “30 Unit Panel Solar” kepada 30 rumah keluarga atau komunitas di Wukir, Desa Sangan Kalo, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Flores-Nusa Tenggara Timur.

    Data yang dihimpun pada Senin, (3/5/2021), bantuan ini merupakan bantuan dari Yayasan H.+W. Winkler di Jerman dalam kerjasamanya dengan yayasan Steyler Mission milik biara SVD yang berpusat di St. Augustin, Jerman.

    Pembangunan infrastruktur (listrik, jalan, jembatan, angkutan, irigasi, sanitasi, dan lain-lainnya yang tertinggal dari perkotaan membuat Wukir menjadi salah satu desa terisolir di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang adalah salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Akses listrik negara (PLN), misalnya, adalah mimpi yang belum terwujud sejak wilayah ini dibangun untuk pemukiman penduduk, sekitar tahun 1970-an.

    Pater Agateus Ngala, SVD bersama Bapak Ferdinandus Rondong mengetuk hati penderma untuk membantu keluarga dan komunitas yang membutuhkannya. Proposal pengadaan Panel Solar ini juga mendukung program yang dikampanyekan secara internasional oleh Serikat Sabda Allah (SVD) terutama komisi “Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan” (JPIC), seperti misalnya pemanfaatan tenaga matahari bagi kebutuhan harian masyarakat yang tentunya minus polusi.

    “Dari Proposal yang diajukan tersebut, kita mendapat suntikan dana sebanyak 26.399 Euro (dalam Rupiah: Rp. 435.000.000) untuk pengadaan tenaga surya ini. Dana itu seluruhnya dipergunakan untuk pengadaan 30-unit Panel Solar,” jelas Pater Teus, SVD kepada wartawan, Senin, (3/5/2021) melalui pesan whatsapp dari Jerman.

    Bantuan Panel Solar Cell dari Yayasan Styler Mission Jerman atas bantuan dari Yayasan H.+W. Winkler di Jerman sudah tiba di Wukir dan sudah di pasang di rumah warga dan Pastoran Wukir, Minggu lalu. (DOK/Pater Teus, SVD yang kirim via whatsapp)

    Dikatakan Ferdinandus, satu paket Panel Solar terdiri dari: dua unit Modul Surya 100Wp, dua unit Aki Kering VRLA 12v 100Ah, satu unit Inventer Liminous Eco Volt 1500VA, satu unit Solar Charge Controller 20A, Bracket penyangga panel dan satu set kotak bateri, satu set kabel 30 meter dan Lampu 12 watt sebanyak sepuluh unit.

    “Pengadaan barang ini, seluruhnya, kita pesan langsung di Perusahaan Panel Solar di Surabaya”, bebernya.

    Ia menjelaskan, selain bantuan dari Jerman, ada juga kontribusi lokal dari keluarga atau komunitas yang mendapat bantuan ini, sebesar Rp. 3.000.000, yang diperlukan untuk biaya transportasi, pengiriman barang-barang (Panel Solar,red) mulai dari Surabaya hingga ke Wukir, juga dipakai untuk mendatangkan teknisi khusus dari Surabaya, untuk pemasangan dan pelatihan tenaga lokal.

    30 Unit Panel Solar Tiba di Wukir, Elar Selatan

    Data yang diterima pada Jumat, (30/4/2021) 30-unit Panel Solar tiba di Wukir, yang dimulai dengan acara “Kapung” (acara penerimaan secara adat) dan dilanjutkan dengan pemberkatan oleh Pastor Paroki Wukir, Romo Stanislaus Kamput, Pr di Pastoran Wukir.

    Setelah dikuatkan dengan berkat Ilahi, 30-unit Panel Solar diserahkan untuk selanjutnya dipasang oleh teknisi ke 30 perumahan atau komunitas yang menjadi sasaran.

    Romo Stanislaus menjelaskan, ia baru bertugas di Paroki Wukir. Sebelumnya ia bertugas di Paroki Orong, Kabupaten Manggarai Barat. Saat tiba pertama di Paroki Wukir, belum tersambung jaringan listrik.

    “Saya bersyukur atas bantuan panel solar cell dari orang baik di Jerman melalui perantaraan Pater Teus, SVD. Kini panel solar cell sudah dipasang di Pastoran Wukir,” ucapnya.

    Melkior Jalang, salah satu penerima bantuan ini, kepada media ini mengatakan: “Baru kini kami merasakan sungguh-sungguh apa artinya dari gelap terbitlah terang!” Bersama 30 keluarga yang lain, Bapa Lydia, demikian beliau di sapa, mengucapkan terima kasih kepada donatur dan pihak yang terlibat mendatangkan bantuan ini: “Kami hanya mengucapkan terima kasih, dan sisanya Tuhan yang akan membalasnya,” tutupnya.

    Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa mengakui bahwa Kecamatan Elar dan Elar Selatan belum tersambung jaringan listrik dari PLN.

    “Saya minta Pemerintah dapat memperjuangkan jaringan listrik di dua kecamatan tersebut,” pintanya saat dihubungi wartawan lewat sambungan telepon selulernya, Senin, (3/5/2021).

    Secara kelembagaan, Lanjut Dupa, sudah menyurati pihak PLN untuk memasang jaringan listrik di seluruh Manggarai Timur. DPRD Manggarai Timur minta kepada pihak PLN agar rasio elektrik di wilayah itu 80 persen sehingga seluruh desa dan kampung dialiri listrik sampai 2024.

    “Untuk wilayah utaranya pemasangan instalasi seperti tiang dan kabelnya sampai di Watunggong sementara bagian Kecamatan Kota Komba Utara sudah sampai di Desa Golo Nderu dan Desa Rana Mbata. Jadi Kecamatan Elar dan Elar Selatan belum terpasang instalasi listrik,” jelasnya.

                                     ***********

    Penulis adalah wartawan tinggal di Manggarai Timur

  • Minat Literasi Dimulai dari Keluarga demi Memperkuat Pengaruh Era Digital

    KRISPINUS LOIS GONZALES, guru SDI Ranaloba, Kelurahan Ranaloba, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Minggu, (2/5/2021) mengungkapkan pengaruh permainan game online di media handphone yang tak bisa terbendung lagi bagi anak-anak usia sekolah. Semakin banyaknya sarana game online yang diminati anak-anak usia sekolah mempengaruhi minat belajar, minat membaca dan minat menulis.

    “Saat ini anak-anak sudah memiliki handphone atau pinjam handphone orang tua untuk keperluan main game. Permainan-permainan game memikat anak-anak untuk membuka handphone serta main game berjam-jam di rumah dan saat istirahat jam belajar di sekolah,” jelasnya saat diskusi terbatas di Komunitas Cenggo Inung Kopi Online (CIKO) Kabupaten Manggarai Timur, saat merayakan Hari Pendidikan Nasional 2021, Minggu, (2/5/2021).

    Krispinus menjelaskan, upaya di sekolah mereka agar minat anak untuk membaca terus meningkat dengan membiasakan diri membaca dongeng di buku sebelum masuk kelas.

    “Setiap lima menit anak-anak dilatih membaca buku, baik di ruang kelas maupun di luar ruangan sebelum mata pelajaran dimulai di kelas. Bahkan anak-anak dilatih membaca buku di ruangan perpustakaan. Ini yang biasa dilakukan guru-guru di sekolah demi meningkatkan minat baca,” jelasnya.

    Siswa dan siswi SDK Mok, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Rabu, (5/5/2021) sedang membaca buku sebelum pelajaran dimulai di kelas. Ini kebiasaan bagi anak-anak murid untuk membaca buku. (DOK/GURU SDK MOK-URSULA MANGGUNG)

    Dua putri milenial, Angel Hangguman dan Naige Anam yang hadir dalam diskusi terbatas itu mengungkapkan, mereka biasa membaca buku di rumah. Menulis di majalah dinding di sekolah.

    “Orang tua selalu mendorong kami untuk membaca buku serta melatih menulis. Orang tua biasa membeli buku cerita dan Novel agar kami terbiasa membaca buku,” jelasnya.

    Angel Hangguman yang pernah di Jakarta dan kini ikut orangtua kembali ke Manggarai mengungkapkan, pengalamannya bersama teman-teman di Jakarta selalu membaca buku serta latihan menulis.

    “Orang tua saya selalu ajak saya ke toko buku untuk membeli buku. Buku yang saya beli sesuai dengan minat saya,” jelasnya.

    Willy Hangguman, Mantan Pemimpin Redaksi Suara Pembaruan serta penulis Buku Novel Molas Flores Gadis Pulau Bunga berbagi pengalaman serta memberikan motivasi bahwa kebiasaan membaca buku akan berpengaruh terhadap cara berpikir dan bertindak seseorang. Membaca buku akan berpengaruh terhadap kebiasaan menulis. Bisa juga membaca sambil menulis. Minat berliterasi harus dimulai dari keluarga di era digital dengan maraknya handphone serta permainan game-game online. Kebiasaan membaca buku dongeng bagi anak-anak akan berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan anak itu sendiri.

    “Sewaktu kecil dengan sarana buku terbatas, saya selalu mendengar cerita dongeng dari orang tua atau nenek saya yang sedang berkunjung ke rumah orang tua saya. Bahkan ada kakak saya yang pulang libur dari Sekolah Seminari Pius XII Kisol, saya selalu minta dia untuk mendongeng,” beber pengalamannya.

    Hangguman menjelaskan, kemampuan membaca buku serta menulis saat saya belajar di Seminari Pius XII Kisol. Di Seminari Pius XII Kisol, saya bisa membaca dua buku dalam satu minggu. Asah kemampuan ini terus saya lakukan saat kuliah hingga menggeluti profesi jurnalis di Kota Jakarta.

    “Ada pengalaman menarik di Seminari Pius XII Kisol saat guru kami, Pater Henri Daros, SVD membaca buku Novel. Sejak saat itu kemampuan bersastra terus diasah hingga bisa menulis,” jelasnya.

    Hangguman menjelaskan, Presiden Pertama, Pendiri NKRI, Ir Soekarno dan Wakil Presiden Pertama NKRI, Mohammad Hatta memiliki kebiasaan membaca Novel dan buku-buku sastra sangat tinggi sehingga kemampuan menulis sangat luar biasa.

    “Saya anjurkan agar membiasakan diri membaca buku Novel dan buku-buku sastra,” anjurnya.

    Salah satu Orang tua di Kabupaten Manggarai Timur, Frumensius F Anam saat diskusi terbatas Hari Pendidikan Nasional mengungkapkan membangkitkan kebiasaan membaca dan menulis di era digital saat ini membutuhkan perjuangan keras dengan kemajuan teknologi yang sangat memudahkan anak-anak dengan menggunakan handphone dengan banyaknya game-game.

    “Saya selalu ajak anak-anak di rumah untuk membaca buku serta memulai menulis. Orang tua sebaiknya mendampingi dan membimbing anak-anak untuk membaca dan membaca,” ajaknya.

    Kepala Sekolah SMAN 06 Kota Komba, Frumensius Hemat menjelaskan, melalui sambungan telepon, Senin, (3/5/2021) menjelaskan, anak murid di sekolahnya sangat terasa dampak main game di handphone, dimana anak-anak sekolah tidak mengerjakan tugas yang diberikan guru-guru. Memang belum ada ketergantungan dalam main game. Ini juga dampak dari pandemi Covid19 dimana dilakukan pembelajaran lewat media online dengan menggunakan handphone android. 105 siswa di SMAN 06 Kota sudah memiliki handphone android.

    “Belajar online mampu mengerjakan soal-soal yang diberikan guru-guru. Di sekolah kami ada juga website online, semacam mading online agar karya tulis anak-anak dipublikasikan di website itu,” jelasnya.

    Frumensius menjelaskan sekolahnya sudah ditetapkan menjadi sekolah penggerak di Kabupaten Manggarai Timur. Digitalisasi sekolah terus dibenahi menuju sekolah digital.

    “Salah satu sekolah digital dengan tersedianya website sekolah untuk mempublikasikan karya tulis anak sekolah dan guru. Di website itu anak-anak sekolah dilatih membaca dan menulis serta kemampuan guru diasah terus demi kemajuan berliterasi di Manggarai Timur,” jelasnya. ( Markus Makur )

    ********************************************************************

  • Menangkap Sinyal 4G demi USBD di Perbukitan Leze di Manggarai Timur (Bagian 2)

    Oleh Markus Makur

    JARUM jam menunjukkan 07.15 Wita. Laju sepeda motor dari Kampung Peot, Kelurahan Peot, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Rabu, (28/4/2021) menuju ke rumah jabatan Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa di Kompleks Golo Karot, Kelurahan Rana Loba. Saat tiba di rumah jabatan, kami menunggu Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto bersama stafnya.

    Pagi itu mereka sudah mengagendakan pemantauan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) tingkat sekolah dasar. Kali ini mereka memantau USBD dua sekolah dasar di Kecamatan Kota Komba yang melaksanakan USBD di perbukitan Leze, Desa Mbengan.

    Dalam rombongan itu, ada dua wartawan yang ikut untuk meliput ujian berbasis digital di perbukitan tersebut.

    Laju dua kendaraan dari Kota Borong menuju ke bagian Timur. Setiba di pertigaan Kisol, kendaraan belok kiri menuju ke arah utara.

    Mereka melintasi kawasan perkampungan Mbapo, Rende, Desa Rende menuju ke perkampungan Kakang, Desa Pong Ruan. Meneruskan perjalanan di jalan mendaki Mok hingga tiba di lokasi ujian.

    Kepala Sekolah Dasar SDI Nunur, Arnoldus Latong sudah menunggu di tikungan jalan masuk lokasi ujian. Mereka turun dari kendaraan hingga berjalan kaki menuju ke lokasi USBD.

    Siswa Duduk Bersila Beralaskan Tikar Plastik

    Setiba di lokasi ujian berbasis digital, siswa dan siswi kelas VI duduk bersila dengan pakaian seragam merah putih, memakai masker, jaga jarak serta memegang handphone android dan ipad sambil mengerjakan soal ujian.

    Setiba di lokasi, guru-guru menyapa Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa dan Kepala Dinas PPO Manggarai Timur, Basilius Teto. Selamat pagi pak. Mereka menjawab sapaan itu dengan selamat pagi.

    Selanjutnya, Teto menanyakan, apakah ada kesulitan selama USBD di tempat ini?, Kepala Sekolah SDI Nunur, Arnoldus Latong dan Kepala SDK Waekekik, Henrikus Sale bersama guru-guru menjawab bahwa ujian hingga hari terakhir masih berjalan lancar. Sinyal 4G masih stabil.

    Latong menjelaskan, kisah awal mendapatkan tempat di perbukitan Leze untuk menangkap sinyal 4G berawal dari informasi bahwa saat USBD tingkat SMP, khususnya SMPN 02 Mok melaksanakan USBD selama 4 hari di lokasi perbukitan ini.

    Memang, lanjut Latong, saat uji coba, try out USBD 15 April 2021 lalu, mereka melaksanakan di pinggir tebing Keto di sebelah selatan dari Kampung Nunur. Namun, sinyal 4G tidak stabil.

    “Saya bersama guru-guru memutuskan melaksanakan USBD di perbukitan Leze. Akhirnya sejak Senin, 26 April 2021 melaksanakannya di perbukitan ini. Sekolah menyewa mobil pick up untuk mengangkut siswa dan siswi kelas VI ke tempat ini dan saat pulang,” jelasnya kepada wartawan, Rabu, (28/4/2021).

    Latong menjelaskan, apapun kesulitan sinyal yang dihadapi, sekolahnya berjuang agar melaksanakan USBD dengan lancar.

    “Kami bersyukur bahwa cuaca mendukung dengan tidak turun hujan serta lokasi ini sangat tenang walaupun berada di ruang terbuka. Kami berterima kasih atas kunjungan Ketua DPRD Manggarai Timur dan Kepala Dinas PPO Manggarai Timur,” jelasnya.

    Terpisah Kepala Sekolah SDK Waekekik, Henrikus Sale, Rabu, (28/4/2021) mengisahkan saat try out, uji coba, sekolahnya berpindah-pindah tempat. Pertama di bawah rimbunan bambu Betong Torok, kedua, mencoba di dalam ruang kelas, ketiga melaksanakan di perbukitan Leze. Dari ketiga lokasi ini, perbukitan Leze, sinyal stabil hingga mereka memutuskan melaksanakan UBDD di perbukitan Leze.

    “Saya dan guru-guru mengadakan rapat dengan memutuskan bahwa USBD dilaksanakan di perbukitan Leze,” jelasnya.

    Henrikus menjelaskan, perbukitan Leze merupakan tempat sekolah rakyat (SR) Mok di zaman dulu. Kemudian pindah ke perbukitan di perkampungan Mok. Perbukitan ini merupakan perkampungan tua dari masyarakat Mok zaman dulu.

    Lokasi Terbuka tanpa Tenda Terpal

    Perbukitan Leze sangat sejuk karena banyak pohon yang tumbuh di sekelilingnya. Ada tempat rata di perbukitan ini. Bahkan masih ada 4 rumah warga di perbukitan tersebut. Lokasi ujian di tempat terbuka tanpa ada terpal penutupnya. Memang ada tiang-tiang tenda darurat, namun tidak ditutupi terpal.

    Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa kepada wartawan, Rabu, (28/4/2021) menjelaskan, Lembaga DPRD minta Dinas Kominfo memprioritas pemasangan BTS di pelosok-pelosok Manggarai Timur seperti di Kecamatan Elar dan Elar Selatan, Lambaleda Utara, Kota Komba Utara.

    “Saya sudah dengar ada 66 BTS yang siap dibangun di Manggarai Timur dari Kominfo RI. Untuk ke 66 BTS harus diprioritaskan kepada daerah-daerah di pedalaman Manggarai Timur yang blank spot. Saya sudah telepon Kadis Kominfo Manggarai Timur agar memprioritas pembangunan BTS di daerah susah sinyal,” jelasnya.

    Dupa menjelaskan, kebutuhan sinyal saat ini sangat mendesak di era digital sesuai perkembangan zaman. Sinyal saat ini seperti buku. Karena dengan bagus maka bisa membaca materi pelajaran di handphone.

    Dupa menjelaskan, teknologi informasi bisa ditempatkan di urutan pertama dalam program pembangunan sesuai perkembangan era digital.

    Terpisah Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga saat ditemui wartawan di lokasi ujian, Rabu, (28/4/2021) menjelaskan, jumlah 330 Sekolah Dasar. Ujian akhir berjenjang, 315 Sekolah, jumlah siswa peserta ujian 6488 siswa, Model ujiannya daring 179 sekolah, jumlah siswanya 3819 siswa, ujian luring 139 sekolah, jumlah 2669 siswa.  Ujian di luar kelas ada 44 sekolah. Lainnya di kelas.

    “Kesulitan jaringan internet 4G sehingga sulit melaksanakan di ujian di dalam kelas. Ada bantuan Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) dari kemendikbud ke sekolah. Saya pastikan 2022 semua sekolah ada TIK,” jelasnya.

    Basilius menjelaskan, paling banyak ujian di luar kelas dengan tenda darurat di Kecamatan Elar, Elar Selatan dan Kota Komba bagian utara.

    “Sampai hari terakhir ini tak ada kendala ujian sekolah Berbasis digital (USBD). Semangat guru patut diapresiasi oleh pemerintah. Alasannya, keterbatasan jaringan internet tidak mematahkan semangat melainkan mencari sinyal agar pelaksanaan USBD berjalan lancar,”  jelasnya.

    Kepala Dinas Kominfo Kabupaten Manggarai Timur, kepada wartawan, Selasa, (27/4/2021) melalui sambungan telepon menjelaskan, tim dari Jakarta sudah melakukan survey di 49 titik di seluruh Kabupaten Manggarai Timur untuk membangun BTS.

    “Dari 66 rencana bangun BTS di Kabupaten Manggarai Timur, 49 sudah dilakukan survey. Tinggal 17 titik yang sedang dilakukan survey. Saya sudah tandatangan dokumen administrasi dari tim yang melakukan survey di seluruh Manggarai Timur,” jelasnya.

    —————————————————————————-

    Penulis adalah wartawan di Manggarai Timur, NTT

  • Kesulitan Sinyal internet, Siswa Kelas VI USBD di Lereng Bukit Leze di Pedalaman Manggarai Timur (Bagian 1)

    Oleh Markus Makur

    SEBANYAK 23 siswa dan siswi Kelas VI Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur melaksanakan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) di lereng bukit Leje di ujung kampung Mok, Desa Mbengan, sebelumnya saat uji coba, try out dilaksanakan di Tebing Keto, bahasa lokalnya Ngapan Keto. Karena sinyal di tebing itu kurang stabil akhirnya pindah ke lereng bukit Leze.

    Demikian dijelaskan Kepala Sekolah SDI Nunur, Arnoldus Latong saat dihubungi wartawan, Selasa, (27/4/2021). Ini hari kedua USBD tingkat sekolah dasar di luar ruangan kelas.

    Latong menjelaskan, kesulitan sinyal 4G di wilayah Desa Mbengan membuat sekolah mengambil keputusan UBSD di ruang terbuka, tepatnya di Lereng Bukit Leze.

    “Selama uji coba atau try out dari Kamis-hingga Sabtu, guru dan tenaga pendidik sebanyak 17 orang mendampingi siswa dan siswi Kelas untuk USBD dengan handphone miliki sekolah, yakni IPad di Tebing Keto, kini saat USBD pindah ke Lereng Bukit Leze,” jelasnya.

    Dalam keterbatasan sinyal, lanjut, Kepala Sekolah, Latong, guru-guru mencari lokasi sinyal yang bisa menangkap jaringan 4G. Tempat yang agak bagus untuk menangkap sinyal 4G di Lereng Bukit Leze.

    “Saya berharap saat pelaksanaan USBD mulai Senin, 26 April dapat dilaksanakan di ruang kelas sehingga anak-anak sekolah tidak jalan kaki ke ruang terbuka, ternyata harapan itu tidak terwujud, dan kini melaksanakan USBD di lereng Bukit Leje,” harapnya.

    Menempuh Jarak 5 Kilometer untuk Uji Coba USBD

    Guru SDK Waekekik, Silvester Lete saat dihubungi wartawan, Selasa, (27/4/2021) saat sedang berlangsung USBD  menjelaskan, selama 3 hari, Ujian Sekolah Berstandar Digital (USBD) di Lereng Bukit Leje. Hari pertama, Senin, 26 April dilaksanakan di Lereng Bukit Leze.

    Silvester menjelaskan, saat uji coba Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) , 15 April 2021 lalu di pinggir jalan di Betong Torok, tempat rumpun bambu. Uji coba di pinggir jalan itu untuk menangkap jaringan internet 4G dari Aimere dan Waelengga. Hari kedua, sekolah mencobanya di dalam ruangan kelas, namun sinyal tidak stabil. Hari ketiga dilaksanakan di lokasi Lereng bukit Leze-Mok. Lokasi terletak diatas pertigaan kampung Mok. Sinyal 4G lumayan bagus.

    “Jumlah siswa dan siswi kelas VI ada 17 orang. Berpindah-pindah lokasi uji coba atau try out karena masalah jaringan internet 4G. Upaya yang sekolah lakukan dengan sewa mobil untuk angkut siswa dan sebagiannya bonceng di sepeda motor. Guru berjuang keras dengan berbagai upaya agar uji coba atau try out USBD berjalan lancar. Kini USBD tidak berpindah-pindah dan menetap pelaksanaannya di Lereng Bukit Leje,” jelasnya.

    Henrikus Sale, Kepala Sekolah SDK Waekekik saat dihubungi wartawan, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan, saat survei awal untuk Ujian Sekolah Berbasis Digital, SDK Waekekik meresponsnya baik karena ada jaringan sinyal 4G dari sebuah tower di sekitar wilayah tersebut. Tower itu berukuran kecil. Lalu, dibangun lagi BTS agak besar, namun masih dalam penyesuaian pemasangan jaringannya.

    Henrikus menjelaskan, saat pelaksanaan uji coba atau try out USBD jaringan sinyal 4G dari tower itu belum bagus sehingga sekolah mengambil keputusan untuk melaksanakan uji coba USBD di ruang terbuka yang memiliki jaringan 4G bagus.

    “Tempat yang direkomendasikan adalah lokasi Betong Torok, Leze-Mok. Kami sempat coba di sekolah pada hari kedua namun jaringan 4G belum stabil. Kami berharap agar saat Ujian akhir berbasis digital Senin, 26 April 2021, jaringan 4G dari BTS Nunur, Mbengan berfungsi dengan baik sehingga kami melaksanakan USBD di dalam kelas,” jelasnya.

    Ternyata sinyal belum bagus sehingga sekolah memutuskan melaksanakan USBD di Lereng Bukit Leze. Ada dua sekolah dasar yakni SDI Nunur dan SDK Waekekik melaksanakan USBD dalam satu tempat di lereng bukit Leje.

    “Siswa kelas VI dari dua sekolah ini duduk dengan alas tikar berbahan plastik untuk mengerjakan soal ujian dengan Ipad,” jelasnya.

    Kepala Desa Mbengan, Yohanes Tobi kepada wartawan, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) SDI Nunur berlokasi di Lereng Bukit Leje. Mereka melaksanakan USBD di ruang terbuka itu demi  jaringan internet 4G, padahal itu di lereng bukit.

    Yohanes mengatakan Ada tower di Nunur, Desa Mbengan tapi jaringan parah. Mestinya pemerintah harus serius mengatasi persoalan susah sinyal 4G.

    “Sebelum-sebelumnya sinyal 4G bagus, tetapi menjelang hari uji coba USBD beberapa waktu lalu dan kini USBD sekolah dasar sinyal sangat buruk. Untuk itu saya sebagai Kepala Desa berharap jaringan internet di BTS Nunur dibenahi serta  ambil langkah yang pasti sehingga anak-anak tidak harus mengikuti ujian di lereng bukit yang resikonya sangat berat,” harapnya.

    Yohanes menjelaskan, jarak dari Kampung Nunur ke Lereng Bukit Leje sekitar 5 kilometer. Guru menyewa mobil untuk mengangkut anak-anak sekolah untuk ikut ujian.

    Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa kepada wartawan, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan, Lembaga DPRD minta Dinas Kominfo memprioritas pemasangan BTS di pelosok-pelosok Manggarai Timur seperti di Kecamatan Elar dan Elar Selatan, Lambaleda Utara, Kota Komba Utara.

    “Saya sudah dengar ada 66 BTS yang siap dibangun di Manggarai Timur dari Kominfo RI. Untuk ke 66 BTS harus diprioritaskan kepada daerah-daerah di pedalaman Manggarai Timur yang blank spot. Saya sudah telepon Kadis Kominfo Manggarai Timur agar memprioritas pembangunan BTS di daerah susah sinyal,” jelasnya.

    Dupa menjelaskan, kebutuhan sinyal saat ini sangat mendesak di era digital sesuai perkembangan zaman. Sinyal saat seperti buku. Karena dengan bagus maka bisa membaca materi pelajaran di handphone.

    Terpisah Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan, jumlah 330 Sekolah Dasar. Ujian akhir berjenjang, 315 Sekolah, jumlah siswa peserta ujian 6488 siswa, Model ujiannya daring 179 sekolah, jumlah siswanya 3819 siswa, ujian luring 139 sekolah, jumlah 2669 siswa.  Ujian di luar kelas ada 44 sekolah. Lainnya di kelas.

    “Kesulitan jaringan internet 4G sehingga sulit melaksanakan di ujian di dalam kelas. Ada bantuan Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) dari kemendikbud ke sekolah. Saya pastikan 2022 semua sekolah ada TIK,” jelasnya.

    Basilius menjelaskan, paling banyak ujian di luar kelas dengan tenda darurat di Kecamatan Elar, Elar Selatan dan Kota Komba bagian utara.

    “Sampai hari kedua ini tak ada kendala Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD),”  jelasnya.

    —————————————————————————-

    Penulis adalah wartawan di Kabupaten Manggarai Timur, NTT

  • Lereng Bukit Siku Ara jadi Saksi Hidup bagi Kesuksesan Anak Bangsa di Manggarai Timur (Bagian Kedua-Selesai)

    Oleh Markus Makur

    BORONG – Jarum jam menunjukkan 09.05 Wita, Camat Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Ibu Regina Malon memperoleh informasi dari stafnya bahwa sebanyak 46 siswa dan siswi SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Desa Komba melaksanakan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) di semak-semak di kebun milik warga setempat di lereng bukit di tikungan Siku Ara, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Rabu, (14/4/2021).

    Lalu dari ruang kerjanya, Ibu Camat mengatakan ayo kita ke sana. Ayo kita ke sana. Kita memantau lokasi USBD tersebut. Kemudian kendaraan dinasnya dihidupkan oleh Pak Feliks Bensa melaju ke arah barat dari Kantor Kecamatan tersebut.

    Ibu Camat dikawal dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Robertus Jawa dan Moses N Rodja. Di dalam kendaraan itu ada tiga wartawan termasuk KOMPAS.com. kurang lebih 10 menit, rombongan tiba di lokasi ujian tersebut.

    Dari bawah jalan terlihat 46 anak-anak sekolah dari SMP Satu Atap Munde duduk diatas batu, tanah sambil memegang handphone untuk mengerjakan soal ujian.

    Ibu Camat naik ke lokasi ujian tersebut. Disambut kepala sekolah, Robertus Jani, guru-guru sedang mengawasi jalannya ujian tersebut.

    Ibu Camat menyapa siswa dan siswi guru-guru dengan ucapan selamat pagi. Disambut gembira oleh guru dan siswa, siswi dengan ucapan selamat pagi Ibu Camat.

    Camat Malon memberikan motivasi kepada siswa,siswi, guru-guru dengan menyampaikan apapun kendala yang dihadapi terkait susah sinyal tidak mengurangi semangat untuk mengerjakan ujian lewat handphone.

    “Anak-anak tetap semangat walaupun melaksanakan USBD di ruang terbuka seperti di bukit tikungan Siku Ara,” jelasnya.

    Camat Malon mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru yang memiliki semangat juang untuk melancarkan USBD walaupun di tengah tantangan susah sinyal di sekolah.

    “Pagi ini saya bawa tamu 3 wartawan untuk meliput USBD di ruang terbuka di beberapa sekolah. Diantaranya, SMPN 04 Kota Komba, Desa Gunung yang melaksanakan USBD di Bukit Wokonggoro. Setelah ini kami meninjau USBD di tenda biru dibawah rumpun Bambu Betong Torok dari SMP Satu Atap (SATAP) Mesi, Desa Rana Kolong. Kemarin, Selasa, (13/4/2021) saya bersama Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto meninjau USBD SMPN 04 Kota Komba di Bukit Wokonggoro dibawah tenda biru campur orange,” jelasnya.

    Kepala SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Robertus Jani kepada wartawan di lokasi USBD Tikungan Siku Ara menjelaskan, hari pertama dan kedua masih dilaksanakan USBD di ruang kelas di SMP tersebut.

    “Selasa malam, (13/4/2021) sinyal sangat susah untuk mengakses internet. Pagi Rabu, (14/4/2021) saat berada di sekolah dan mau siap ujian, akses internet susah. Saya bersama guru mengambil keputusan cepat mencari lokasi sinyal. Kami memilih tempat di Tikungan Siku Ara untuk sinyal dari Waelengga dan Aimere. Sekolah sewa mobil pick up dua buah untuk mengangkut 46 anak-anak.jarak dari sekolah ke tikungan ini 3 kilometer.

    Peserta ujian tampak santai mengerjakan soal-soal di bawah tempat teduh. Meski duduk bergerombol, mereka tetap menaati prokes COVID-19 seperti menjaga jarak dan memakai masker.

    Mengerjakan ujian di atas rerumputan,semak-semak memang menemui banyak gangguan, antara lain peserta ujian selalu di gigit semut. Yang cukup menjengkelkan, misalnya ketika sedang mengerjakan ujian tiba-tiba baterai handphone mati.

    Guru-guru pendamping memang sigap menolong peserta ujian yang mengalami kesulitan. Mereka meminjamkan handphone kepada siswa siswi yang handphone-nya mati mendadak.

    Seperti yang dialami Tian, siswa kelas IX A Satu Atap (SATAP) Munde ini handphonenya sempat mati, hingga akhirnya ada guru meminjamkan Handphone kepadanya. Tapi sayangnya, Tian harus kembali mengerjakan soal dari awal.

    “Saya sempat pusing pak, tadi itu handphone saya mati karena lowbat padahal saya sudah mengerjakan soal nomor 30, itu mau selesai tiba-tiba handphone mati. Lalu ada guru yang bantu, dia pinjamkan handphone-nya ke saya, saya nyaris putus asa karena harus login lagi dan kerja soal dari awal lagi,” jelas Tian.

    Terpisah Siswi SMP Satu Atap (SATAP), Ermelinda Febriliadi Selvi Putri menjelaskan, mengikuti ujian hari ketiga ini dilaksanakan di semak-semak di bukit di Tikungan Siku Ara. Duduk di tanah, di atas batu kecil serta di sela-sela pohon jati yang sejuk. Udara segar. Lokasinya teduh. Namun, sesekali agak terganggu dengan bunyi kendaraan yang melintasi jalan Trans Flores.

    “Saya bersyukur bisa mengerjakan soal ujian di handphone walaupun berada di ruang terbuka. Saya tidak membayangkan sebelumnya bahwa melaksanakan ujian hari ketiga di ruang terbuka. Harapan saya, semoga hanya kali ini saja melaksanakan ujian di ruang terbuka,” jelasnya.

    Terpisah Kepala SMP SATU ATAP (Satap) Mesi, Desa Rana Kolong, Baltazar Rana menjelaskan, sekolahnya membangun tenda biru di bawah rumpun bambu Betok Torok. Jaraknya 4 kilometer dari sekolah yang berada di kampung Mesi.

    Baltazar menjelaskan, 56 siswa dan siswi melaksanakan USBD didalam tenda biru dibawah rumpun Bambu. Tempat ini dikisahkan sangat mistis. Untuk itu sebelum ujian hari pertama dilaksanakan ritual adat oleh tetua adat setempat dengan nama ritual Tei Ghan Embo (beri sesajian kepada leluhur).

    Baltazar mendapatkan informasi dari tetua adat setempat bahwa rumpun Bambu ini dinamakan Betong Torok. Betong artinya bambu besar, dan torok artinya bersujud. Jadi jikalau diterjemahkan secara harfiah, bambu bersujud.

    “Rumpun Betong Torok dilarang ditebang. Bambu kering yang jatuh ke tanah juga tidak diambil masyarakat setempat. Tempat ini sangat mistis dan memiliki sejarah masa lalu,” jelasnya.

    Baltazar menjelaskan, hingga hari ketiga USBD berjalan lancar. Sinyal dari tower Aimere tidak ada gangguan.

    “Saya dan guru pernah mencoba di sekitar sekolah naik ke pohon untuk mencari sinyal. Namun, sinyalnya tidak bisa ditangkap. Letak sekolah ini memang ada di lembah di Kampung Mesi,” jelasnya.

    Data yang dihimpun menunjukkan bahwa dari 16 SMP yang melaksanakan USBD, tujuh diantaranya melaksanakan di ruang terbuka dan memakai gedung sekolah dasar. Seperti SMPN 09 Nangarawa memakai gedung sekolah dasar di Kisol. Jarak dari Nanga Rawa ke Kisol 6 kilometer, SMP SATU ATAP (Satap) Bonggirita memakai gedung Sekolah SDK Waelengga, SMPN 04 Kota Komba melaksanakan USBD di Bukit Wokonggoro, SMP SATU ATAP (satap) Mesi di bawah rumpun bambu, SMPN 02 Kota Komba di Mok di ruang terbuka di sekitar sekolah tersebut. Sementara itu SMP SATU ATAP (satap) Munde dihari ketiga melaksanakan USBD di Tikungan Siku Ara dan SMPK Rosa Mistika Waerana terpaksa melaksanakan USBD di Pinggir Pantai Mbolata karena sinyal di sekolah tidak bagus.

    Tantangan di Era Digital di Tengah Wabah Covid19

    Tantangan dunia pendidikan mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih mengejutkan semua lembaga pendidikan yang belum memiliki sarana jaringan internet yang memadai di pelosok-pelosok Nusantara, khususnya di Manggarai Timur.

    Keterbatasan jaringan internet tidak mengurangi semangat guru-guru untuk menyiapkan generasi cerdas di tengah perkembangan zaman yang terus berubah dengan kecanggihan teknologi.

    Sejumlah Kepala Sekolah, Guru, pengurus komite sekolah, orang tua murid dan anak sekolah bahu membahu mencari lokasi sinyal, baik di bukit maupun di lereng-lereng bukit, bahkan meminjam gedung sekolah dasar untuk tempat ujian online.

    Tuntutan regulasi dengan Ujian sekolah berbasis digital (USBD) membuat lembaga pendidikan berjuang keras untuk mencari sinyal agar ujian berjalan lancar dan sukses.

    Salah satu Guru SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Yohanes Arianto Anggal menceritakan bahwa mencari sinyal di lereng bukit tikungan Siku Ara pada Rabu, (14/4/2021).

    Awalnya, Cerita Anggal, pagi Rabu, sejumlah guru dibagi untuk mencari sinyal di bagian barat dan timur. Di bagian barat susah juga sinyal, sementara di bukit itu sinyal lancar dengan jaringan 4G. Lalu sejumlah guru itu melaporkan bahwa sinyal bagus di lereng bukit tersebut. Kemudian Kepala Sekolah, Robertus Jani bersama guru memutuskan mencari dua mobil pick up untuk mengangkut 46 siswa dan siswi agar melaksanakan USBD di lokasi itu.

    “Jadi USBD selama dua hari, Rabu, (14/4/2021) dan Kamis, (15/4/2021) melaksanakan USBD di lereng bukit tersebut. Bersyukur ujian online berjalan lancar. Kami terima kasih kepada Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon dan wartawan yang mempublikasikan peristiwa ujian di lereng bukit dan bukit-bukit di Kecamatan Kota Komba,” jelasnya.

    ************

    Penulis adalah wartawan tinggal di kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT.