Category: Featured

Featured posts

  • Hati Dupont untuk Kampung Paus

    Hati Dupont untuk Kampung Paus

    “Apabila kehidupan sehari-hari terasa miskin, jangan kita keluhkan, tetapi sesalilah dirimu karena tidak cukup tabah untuk menggali kekayaannya”.    ——Rainer Maria Rilke—–

    Pater Dupont,  begitulah sapaan akrab pemilik nama Arnoldus Dopunt, SVD. Pater Dupont mulai menapaki jalan panjang sebagai imam di keuskupan Larantuka, berawal dari Wureh 1953, Lite Adonara dan kemudian ke Paroki Lamalera dan berakhir di rumah jompo untuk imam-imam SVD di Rumah Sakit Bukit Lewoleba pada 2005.

    Saya pertama kali mengenal Pater Arnoldus Dupont, SVD sekitar tahun 1985, ketika itu saya belajar di SMP APPIS Lamalera. Perlahan saya mulai menyadari bahwa Pater Dupont adalah sosok yang sangat peduli dengan orang kecil. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana Pater Dupont dengan setia berkunjung dari rumah ke rumah untuk melihat dan mendengar langsung segala keluh-kesah umat parokinya. Pastoran saat itu juga berfungsi sebagai poliklinik. Pater Dupont dengan cuma-cuma memberikan obat bagi siapa saja yang membutuhkan.

    Perhatian dan cinta Pater Dupont bagi orang kecil dengan sangat bagus digambarkan oleh filsuf Emmanuel Levinas. Menurut Levinas “orang lain hadir lewat wajah mereka. Wajah orang lain itu menyapa kita. Wajah itu tampil apa adanya dan luhur. Wajah itu sebuah imbauan. Berhadapan dengan wajah itu kita tak dapat mengelak. Kita bertanggung jawab atas wajah itu, atas keselamatannya”.

    Foto Gereja St. Petrus – Lamalera yang dibangun oleh P. Arnoldus Dupont, SVD

    Di tengah-tengah masyarakat yang umumnya berorientasi pada harta, pada prestasi atau kursi, gengsi dan popularitas, hidup Pater Dupont yang berorientasi pada ‘wajah orang lain’ menjadi sangat bermakna. Wajah orang lain yang muncul dalam figur orang-orang kecil yang terlupakan, tertindas, terbelenggu, miskin dan papa, itulah yang selalu memanggil Pater Dupont untuk berbuat sesuatu dan bertanggung jawab atas mereka.

    Meskipun Pater Dupont telah direnggut maut, ia tidak mati, dan ia tak akan pernah mati, karena karyanya terus menafasi kita. Dan kita pun terpanggil untuk meneruskan karya-karyanya yang belum seluruhnya selesai. Kini dalam sukacita abadi Pater Dopunt telah menatap “Wajah Tak Terhingga”.

    Paskalis Bataona

  • Jos Blikololong, Pungut Sampah Demi Honor Guru

    Jos Blikololong, Pungut Sampah Demi Honor Guru

    JOSEPH Orem Blikololong (60 tahun). Di Kupang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, ia bekerja dalam diam. Kerjanya pun bukan sembarang kerja. Magun Jose, begitu ia akrab dipanggil, hanya seorang tukang pungut sampah. Pemulung, kata orang Jakarta.

    Tukang sampah ini lahir di Lamabaka, Kecamatan Wulandoni, Kabupaten Lembata, 30 Oktober 1959. Jejak pengabdian menyisir setiap rumah tangga mengambil sampah warga, menarik perhatian Andy Flores Noya alias Andy F Noya, owner Kick Andy, reality show di Metro TV, tivi milik Surya Paloh, pengusaha media nasional.

    Andy F Noya memandang Josef Blikololong perlu hadir di acara Kick Andy memberikan testimoni bagaimana suka-duka menjadi pemulung di tengah kota Kupang sembari menghidupi dua lembaga pendidikan yang ia rintis: SMP Lamaholot dan PAUD Peduli Kasih di bilangan Kelapa Lima, Kota Kupang.

    “Setahun belakangan, uang transpor sembilan guru saya di SMP belum saya bayar. Saya agak kewalahan membayar uang transpor mereka. Harga sampah yang saya ambil dan pilah-pilah sebelum saya over ke teman untuk dikirim ke Surabaya makin mahal. Saat ini saya harus bayar Rp. 3 juta lebih,” kata Joseph sedih.

    Ia mengaku, beberapa anak buahnya yang pernah bersama memungut sampah warga malah berbenti kerja karena tak kuat lagi dengan uang transpor yang ia berikan. Tak hanya itu. Kecemasan mendera batinnya karena tidak hanya guru SMP miliknya tak mampu ia bayar transpor mereka. Tiga guru PAUD yang membantu mengajar juga sudah puasa transpor dari kantong pribadinya.

    Beberapa guru di sekolah miliknya, pernah diambil data untuk diberi insentif dari pihak Dinas PPO Kota Kupang, namun belum ada tanda-tanda realisasi. Situasi ini tak melumpuhkan semangatnya untuk memungut sampah demi uang transpor para guru di sekolahnya.

    “Saya pikir agak berlebihan kalau menyebut jasa mengajar guru dengan sebutan honor. Honor tentu identik dengan bayaran profesional. Saya menyebutnya dengan uang transpor. Sebulan, per guru baya bayar Rp. 100.000 sampai 150.000. Tentu jauh dari ketentuan ketenagakerjaan. Untungnya, bapa ibu guru maklum dengan kondisi kami,” kata Joseph.

    Joseph tukang pungut sampah ini berniat bertemu Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat untuk menyampaikan persoalan melangitnya harga sampah yang diambil dari produsennya. Ia berkilah, sebaiknya harga sampah jangan terlalu mahal. Ini karena selain ia masih memilah-milah sampah sebelum dibawa ke rekannya sebelum dibawa ke Jawa, ia juga masih menyewa bemo.

    “Keuntungan saya per bulan hanya sekitar Rp. 2 juta. Berkat ini masih saya bagi untuk anak saya yang masih kuliah. Akibatnya, hampir setahun belakangan, uang transpor guru mandek,” ujarnya.

    Ansel Deri

  • Bie Lelaki Lamalera di Ujung Senja

    Bie Lelaki Lamalera di Ujung Senja

    Oleh Maria Pakpahan

    Matahari sudah naik melebihi pohon lontar, berkasnya yang menerpa laut, membuat permadani biru itu berkilau keperak-perakan. Nuansa pagi di Lamalera. Ketika itu bele Bie menghirup kopi paginya. Sorot matanya yang tajam dibawah alis mata tebal yang memutih mengawasi laut lepas. Belum ada satu peledang pun yang turun melaut.

    Cepat-cepat pisang rebus yang disiapkan oleh anaknya dilahap habis. Setelah hirupan terakhir dari gelasnya, langkahnya mulai diayunkan. Tujuannya jelas, pantai. Badannya yang sedikit membungkuk diusia yang menjelang senja, 67 tahun, tidaklah mengurangi kelincahan kaki-kaki telanjangnya untuk menghindari batu cadas. Hampir setiap hari dia mengawali hari-harinya seperti itu.

    Sejak berusia 18 tahun bele Bie, panggilan untuk Gabriel Blido Keraf, telah mengawali karirnya sebagai nelayan dengan menjadi meng (awak peledang). Masih diingat jelas bagaimana dia dan kawan-kawannya melaut sampai ke Lewotobi (Flores daratan) dan Pulau Rusa (dekat Pulau Alor) dibulan-bulan Agustus –September untuk memburu belelang (ikan pari).

    Pengalamnnya di laut tidak membuat dirinya cepat puas. Dengan belajar dan magang kepada ayahnya, pada usia 23 tahun dia sudah menguasai teknik membuat peledang, sehingga digelarinya dia sebagai atamolan (arsitek peledang). Bersamaan dengan itu keahlian sebagai belawai (juru tikam) dikuasainya pula. Lebih dari 30 ekor Kotoklema (Paus Lodan) terbunuh diujung kafenya (harpoon), sebelum dia pensiun sebagai belawai. Kafe itupun dibuat sendiri dengan tangannya.

    Bie memang tidak bisa diam berpangku tangan saja. Di luar lefanue (musim perburuan ikan) pasti ada yang dikerjakannya. Seperti membuat sampan untuk memancing ikan terbang, ketika ikan-ikan besar ‘tidak main’. Itu diawalinya sekitar tahun 1969. Saat itu ada empat buah sampan miliknya, sementara peledang yang milik suku tidak kurang dari lima buah yang telah diarsiteki.

    Sebagai laki-laki tertua dalam klennya, secara otomatis dia menjadi tetua adat (kepala suku). Tugas utamanya adalah menjaga keharmonisan hubungan antar anggota sukunya maupun dengan suku-suku lainnya yang semuanya ada 19 suku. Disamping sebagai penghubung antara anggota suku dan arwah nenek moyang.

    Sebagai imbalannya ada perlakuan khusus baginya, seperti mendapatkan bagi hasil ikan buruan yang didapat oleh perahu milik klen. Tetapi itu tidak dirisaukan benar, mengingat sesuai dengan aturan adat yang berlaku keahliannya membuat peledang, sampan dan tempuling telah menyajikan hasil bagi yang cukup berlebih. Dari hasil itu beberapa anaknya telah menyelesaikan pendidikan universitas di Jawa. Bie tidak mengharapkan anak-anaknya menjadi nelayan seperti dia.

    Sesampai di pantai , ditujunya garasi peledang milik klennya yang bernama lambung Santa Rosa, sesuai dengan nama anak kesayangannya yang telah meninggal dunia. Angin hari ini baik, bertiup lembut, cukup untuk mendorong peledang ke tengah laut. Ditunggu sampai beberapa saat, meng tidak genap, paling kurang satu peledang membutuhkan sembilan awak. Tampaknya mereka memilih melaut dengan sampan. Apa mau dikata, akhirnya diputuskan hari itu tidak melaut. Dan waktunya dipergunakan untuk memeriksa bagian-bagian peledang yang membutuhkan perawatan.

    Matahari telah di atas kepala, ketika isterinya, Monika, menjemput untuk makan siang. Dengan perempuan dari suku Bediona yang pernah dengan tabah menantinya selama empat hari ketika dia dibawa Kotoklema, dia menghabiskan masa tuanya, juga dengan seorang putrinya. Matanya berbinar ketika membayangkan nasi jagung dengan lauk ikan kering dan itupun akan disusul dengan tuak sambil membaca sebuah mingguan lokal yang datangnya tidak tentu.

    *Maria Pakpahan, salah seorang tim Keluarga Pencinta Alam Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada (KAPALASASTRA UGM), Tim Ekspedisi Lamalera, 1989.

    *Sumber tulisan dari buku “TIM EKSPEDISI LAMALERA KAPALASASTRA-UGM”, Penerbit KAPALASASTRA UGM, Yogyakarta, 1989.

  • A T H E N A

    A T H E N A

    Oleh : Goenawan Mohamad

    POLITIK pada mulanya adalah sebuah ruang bersama. Pengertian kita tentang ruang bersama itulah yang menentukan apakah politik pada akhirnya hanya sebuah sambungan dari usaha menegakkan dan mempertegas hak dan kebenaran, atau apakah politik sebenarnya adalah sebuah proses memaafkan.

    Seorang anak muda membunuh ibunya. Ia membalas kematian ayahnya karena si ibulah yang melakukan kejahatan itu. Anak muda itu kemudian masuk ke dalam sebuah kota, dan ia diburu. Di dalam sebuah tragedi Yunani yang ditulis oleh Aeschylus di tahun 458 Sebelum Masehi, di bagian terakhir dari trilogi Oresteia, nasib anak muda itu harus diputuskan. Yang muncul adalah sebuah dilema. Tiga dewi Amarah datang mengancam untuk melakukan pembalasan karena yang benar dan yang adil harus ditegakkan. Kalau tidak, kejahatan akan diulangi, dan dunia ambruk. Tetapi jika itu yang terjadi, dan anak muda itu, Orestes, dibunuh, kapan balas-membalas itu akan selesai? Dan tidakkah kota, ruang bersama itu, juga akan ambruk?

    Pertanyaan itulah yang dihadapi oleh Athena, dewi pelindung kota yang datang karena Orestes yang terdesak itu berseru memanggil. Tetapi memang tidak mudah untuk menjadi hakim. Ada 12 warga kota yang dimintai pendapat, tapi ketiga dewi Amarah itu mempunyai perannya sendiri:

    “Mari, Amarah, menari!

    Pagutkan lengan, tari bergandengan.

     Kini kita nyatakan kemahiran kita, teror kita.

    Kini kita maklumkan hak kita…

    Kitalah yang adil, kitalah yang teguh!”

     Ketika yang adil dengan teguh mendesak, agar kehidupan bersama bisa terjamin dari perbuatan sewenang-wenang, mereka berseru atas nama pihak yang dijahanami. Kata-kata dewi Amarah dalam lakon ini berulang-ulang menyebut “di atas kepala korban”. Korban adalah sebuah peran masa lalu yang punya arti bagi masa depan. Tetapi apakah arti sebuah masa depan bilamana kota, sebagai ruang bersama, dibangun dari kepedihan dan pembalasan? Dalam karya Aeschylus ini akhirnya Athena memilih untuk lebih menyelamatkan kota ketimbang mengikuti keadilan—dalam hal ini karena keadilan berarti pembalasan. Para dewi Amarah pun meratap: Athena telah memakzulkan Keadilan, sementara para pendukung Keadilan seharusnya tahu bahwa mereka tak akan terbujuk oleh godaan kesejahteraan dunia. Hidup tak akan aman lagi ketika kompromi segampang itu dilakukan.

    Namun Athena menganggap bahwa para dewi Amarah hanya melayani “bentuk” keadilan, dan bukannya “laku” keadilan. Dalam An Ethic for Enemies, penyusunnya, Donald W. Shriver, Jr., melanjutkan argumen Athena dengan menunjukkan bahwa dendam harus tunduk kepada perundang-undangan dan institusi. Dendam dibatasi, dan sikap yang menganggap prinsip yang murni itu sesuatu yang suci berpindah ke dalam sikap yang menganggap justru kebersamaan hidup itulah yang suci.

    Dan dendam, juga amarah, pun berubah jadi peradaban, ketika sang penuntut keadilan diletakkan di bawah Aeropagus; dengan kata lain, di bawah tatanan hukum. Yang tak dipersoalkan di sini ialah apa yang terjadi jika Athena tak diakui sebagai pelindung kota, dan mitos tentang sesuatu yang lebih luhur tak berlaku dalam kehidupan bersama.

     Di sini barangkali kita harus melihat maaf sebagai sebuah alternatif. Pada akhirnya, bila politik adalah sebuah gerak dan laku untuk menyelenggarakan sebuah ruang bersama, politik akan terdorong memasukkan unsur maaf itu. Maaf adalah sebuah cara untuk tidak meneruskan pembunuhan, ketika pembunuhan dan kekerasan akan menghancurkan bangunan yang ada. Namun, semua kita sadar, betapa tidak mudahnya sikap itu.

    Sejarah Indonesia adalah sebuah sejarah yang luka-luka. Dalam sebuah sejarah yang traumatis, persoalan tentang manakah yang diutamakan—kebenaran ataukah perdamaian—tidak segera bisa dijawab.

    Tiap jawaban akan mengandung rasa getir—dan juga kenangan—kita masing-masing. Dari mana akan dimulai cerita kekerasan dan pembunuhan itu? Dari gerilya Darul Islam Kartosuwiryo di ujung tahun 1940-an sampai 1960-an? Dari perang mengalahkan PRRI-Permesta di tahun 1958? Dari pembasmian orang-orang yang dituduh komunis di tahun 1965-1966? Atau ketika tentara menembak mati kerumunan pemrotes di Tanjungpriok di tahun 1980-an? Atau di Timor Timur? Aceh? Papua? Mau tak mau, setiap masa lalu selalu dipilihkan batas.

    Mau tak mau, setiap batas masa lalu akan ditentukan oleh apa yang akan kita gunakan dengan itu semua. Apabila pada akhirnya rekonsiliasi atau keadaan saling berbaik kembali menjadi penting, barangkali batas itu tidak bisa dibiarkan dipatok hanya di satu masa, di satu tempat. Kesewenang-wenangan dalam sejarah Indonesia punya teror yang beragam, aktor dari pelbagai penjuru, juga penderita yang tak sama. Yang menyatukan hanya wajah korban dalam kesakitan dan penderitaan—dan anggapan bahwa setiap korban diciptakan setara. Bagi saya, jalan tengah yang diambil Athena lebih merupakan cara pragmatis untuk menyelamatkan sebuah kota yang telah berdiri—sebuah sikap konservatif.

    Bagi saya, yang penting bukanlah hanya sebuah kota yang aman sejahtera. Yang penting adalah sebuah ruang bersama yang aman sejahtera di mana yang paling lemah, dan sebab itu tak bisa jadi dewi Amarah, tidak terbungkam.

    Sumber: Catatan Pinggir 5, Tempo, 27 Februari 2000

  • Yang Ditampik

    Yang Ditampik

    Oleh : Goenawan Mohamad

    Yang ditampik, yang berdosa, yang sifilis, yang perempuan, yang tak punya apa-apa, adalah Maria Zaitun. Kita tak mudah melupakan tokoh dalam sajak Rendra itu. Dalam kesakitan ia memperkenalkan diri dengan lurus: “Maria Zaitun namaku/Pelacur yang sengsara/Kurang cantik dan agak tua”.

    Kita akan selalu teringat adegan dalam sajak “Nyanyian Angsa” ketika pelacur lapuk itu diusir dari bordil. Sang germo menilai pekerja seks ini (komoditas ini) sudah tak akan menghasilkan uang lagi. Perempuan itu pun melangkah ke jalan, tak tahu akan ke mana:

    Jam dua-belas siang hari.
    Matahari terik di tengah langit.
    Tak ada angin. Tak ada mega.
    Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
    Tanpa koper.
    Tak ada lagi miliknya.
    Teman-temannya membuang muka.

    Sempoyongan ia berjalan.
    Badannya demam.
    Sipilis membakar tubuhnya.
    Penuh borok di klangkang
    di leher, di ketiak, dan di susunya.
    Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
    Sakit jantungnya kambuh pula.

    Maria Zaitun tak hanya sakit parah; ia sampah. Ketika ia pergi ke dokter langganannya, ia hanya diinjeksi vitamin C. Tuan dokter tahu pasien itu tak bisa bayar, dan “sudah jelas” hampir mati. Kemudian, ketika ia datang ke pastoran (“Saya perlu Tuhan atau apa saja/untuk menemani saya”), ia dihadapi seorang rohaniwan yang kenyang dan tak peduli. Dengan bau anggur di mulutnya sang pastor menyatakan tak bersedia menerimanya.

    Dan Maria Zaitun pun angkat kaki ketika bapa pastor memutuskan bahwa pendosa yang setengah sekarat itu adalah orang yang setengah gila. Ia perlu psikiater, ujarnya, bukan pastor.

    Sajak “Nyanyian Angsa” memang menusuk di sini: kalkulasi laba-rugi dalam perdagangan seks dan ketabiban telah membuang Maria Zaitun; kini di tempat di mana kasih Tuhan dikutip dengan takzim ia juga persona non grata. Agama telah jadi tembok.

    Andai masih hidup hari ini, Rendra mungkin akan dihukum; “Nyanyian Angsa” jelas “melecehkan agama”meskipun dengan alasan yang adil. Sajak ini dengan lugas memperlihatkan bagaimana agama telah jadi Orde yang dijaga hakim-hakim, bukan lingkungan yang menemani yang daif dan luka. Para hakim inilah yang membagi siapa yang di dalam dan siapa yang harus di luar. Di sana vonis pastor (atau ulama) berkuasa: “Kamu telah tergoda dosa”. Dan keputusan itu didukung lambang-lambang keabadian.

    Ada sosok penting dalam “Nyanyian Angsa”, meskipun tak di pusat adegan: “malaikat penjaga firdaus”. Dalam tiga refrain sajak ini, makhluk surga itu kadang-kadang tampak tampan, dingin, atau jahat. Tapi selamanya “dengki”.

    Dengki adalah sikap penuh cemburu, curiga, dan benci. “Nyanyian Angsa” memperlihatkan bahwa firdaus yang sering digambarkan secara hiperbolik sebagai karunia nikmat dan suciadalah wilayah diskriminasi yang bengis. Malaikat, makhluk yang murni itu, akan mengusir mereka yang najis, yang tak murni.

    Siapa? Maria Zaitun, tentu. Tapi jika memang ada ukuran keadilan yang universal jika ada keadilan Tuhan si germo, si dokter, bahkan si pastor juga berdosa; mereka keji. Tapi dengki tak pernah adil.

    Dengki menyusun tembok, dan tembok dikukuhkan kekuasaan, dan kekuasaan jadi Sang Penampik. Dengan Kitab yang tak dibantah, dengan suara berwibawa atau memekik, Sang Penampik (ia bisa juga polisi, atau suara keras mayoritas) menyusun secara sepihak ukuran yang diberlakukan kepada siapa saja. Dengan itu seseorang atau sekelompok manusia diterima atau diusirsebuah “politik pengakuan”, politics of recognition, yang selektif. Sasarannya bukan hanya seorang Maria Zaitun, tapi juga (tergantung di mana kebencian diletakkan): yang hitam, yang cina, yang arab, muslim, kristen, yahudi, syiah, ahmadiyah, liberal, komunis, LGBT…. Pendeknya “yang-lain”.

    Sekilas tampak, kezaliman Sang Penampik untuk meniadakan “yang-lain” itu berbeda dengan ketakpedulian (bahkan pengisapan) si kaya terhadap si miskin. Sekilas tampak, tak adanya keadilan dalam “politik pengakuan”dengan memberlakukan diskriminasi rasial, agama, atau gendertak berkaitan dengan tak adanya keadilan sosial.

    Tapi lihat baik-baik: dalam hidup yang mengalir, perbedaan yang ditetapkan Sang Penampik, yang membuat seseorang atau sekelompok manusia dipojokkan, tak pernah jadi klasifikasi sosial yang beku. Maria Zaitun tak cuma pelacur yang diperas; ia juga si sifilis yang ingin ditemani Tuhan, “pendosa” yang dianggap layak disumpahi laki-laki. Sang Penampik memproduksi si lemah, dan si lemah berakhir sebagai korbandalam pelbagai versi.

    Dan pembebasan? “Nyanyian Angsa” bercerita, akhirnya hanya korban lain yang mampu membebaskandengan menerima si najis sebagai sesama dan melepaskannya dari eksploitasi. Setidaknya dalam imajinasi. Sang pembebas, yang memeluknya dengan penuh cinta di saat ajal, adalah sebuah kehadiran yang pernah difitnah, dicerca, disalibkan.

    Diambil dari “Catatan Pinggir”, Tempo, 4 Desember 2014

  • Marianus Wilhelmus Lawe: Sekolah Biar Bisa Makan Nasi

    Marianus Wilhelmus Lawe: Sekolah Biar Bisa Makan Nasi

    TAK PERNAH terbayang kalau suatu waktu, Marianus Wilhelmus Lawe berada di sebuah pelabuhan megah di Tanah Van Diemen, kepulauan yang terletak di sisi selatan Australia. Tanah Van Diemen atau lebih dikenal dengan Tasmania itu ditemukan pertama kali oleh Abel Janszoon Tasman alias Abel Tasman tahun 1643. Abel Tasman, seorang penjelajah dunia berkebangsaan Belanda.

    Di atas pelabuhan itu, air mata Lawe, sapaan akrabnya, jatuh. Ia terharu mengingat kembali nasehat ayah dan ibunya: Yohanes Barang Waruwahang dan Martha Kenuka Brewumaking saat masih kecil di kampung halaman, Lamawolo, Ile Ape, Lembata. Di kaki Ile Lewotolok itu, Lawe kembali ingat nasihat kedua orangtuanya yang bertaruh nasib di bawah terik sebagai petani.

    “Kamu sekolah baik-baik agar besok-besok kita bisa makan beras (nasi). Tetap semangat, rajin belajar, hormati sesama yang kamu jumpai, bergaul dengan siapa saja tanpa melihat latar belakang. Kalau sudah berilmu tetap rendah hati,“ kata Lawe, kepala kamar mesin (Chief Engineer) suatu pagi sesaat sebelum kapal yang ia tumpangi bertolak ke Adelaide, kota terbesar di Australia selatan, tahun 2014.

    Saat ini Lawe Chief Engineer di Allianz, Abu Dhabi yang dikontrak Adnoc, ‘pertamina‘ Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Ia mengaku, tak pernah membayangkan dapat menaklukkan samudera kemudian menyapa berbagai dermaga di dunia melalui profesi sebagai Chief Engineer kapal-kapal milik perusahaan asing menembus berbagai negara di dunia.

    Ayah ibunya adalah petani kecil di Lamawolo di lereng Ile Lewotolok. “Hampir sebagian desa di Ile Ape selalu mengalami kekeringan. Air bersih kala itu sulit kami peroleh. Makan juga seadanya. Karena itu, kami selalu berlomba-lomba agar bisa sekolah. Kata ibu saya, sekolah biar bisa makan beras (nasi) karena di kampung susah dapat beras,“ kata Lawe.

    Kehidupan keluarga yang sulit menjadikan ia pribadi yang pantang menyerah. Pepatah Latin Vita ets Militia jadi panduannya. Hidup bagi Lawe, pria kelahiran 10Juli 1980, ini tak lain adalah perjuangan. Karena itu, ia bulatkan tekad agar tetap semangat belajar meraih cita-citanya. “Kampung kami berada di pinggir pantai dekat Teluk Waienga yang berhadapan dengan tanjung Nuhanera. Masa kanak-kanak selalu kami isi dengan berenang atau memancing di laut,“ ujar Lawe, suami dari Margaretha AP Gromang dan ayah Grace William Ina Nuka Wahang.

    Lawe mengaku, Teluk Waienga dan Nuhanera memiliki panorama alam yang eksotik yang merupakan salah satu destinasi wisata di Lembata. Lamawolo juga merupakan desa tempat wisatawan menghabiskan waktu di dasar laut untuk diving. Kala itu, banyak wisatawan manca negara tergila-gila datang dan menyaksikan pesona alam di kampungnya terutama matahari takluk di perut bumi.

    Kala itu ia melihat ada kapal milik wisatawan dari Eropa yang singgah di pantai di kampungnya. Saat melihat kapal asing milik wisatawan, muncul cita-cita agar kelak bisa ikut berlayar mengelilingi dunia.

    “Saya berdoa dalam hati, semoga Tuhan menuntun saya agar kelak bisa mewujudkan impian mengelilingi dunia seperti wisatawan itu. Apalagi mereka dengan mudah menjangkau dunia dengan menguasai ilmu dan teknologi. Saya bersykur kepada Tuhan karena hari ini mimpi saya duduk santai di atas kapal mewah terwujud. Paling kurang saya pernah menjejakkan kaki di Kepulauan Tasmania bahkan belayar hingga di negara-negara di timur Tengah,“ katanya.

    Lawe menceritakan, ia menyelesaikan sekolah dasar di SD Inpres Tokojaeng di Lamawolo. Kemudian ia melanjutkan sekolah menengah di SMP Santu Pius X Lewoleba dan tamat di Ratu Damai Waibalun, Larantuka, Flores Timur. Selepas SMP Ratu Damai, tahun 1996 Lawe bertolak ke Jakarta.

    “Masuk Jakarta semakin membuat saya senang. Seumur-umur sebagai anak kampung bisa sampai Jakarta. Ini sesuatu yang membanggakan bagi saya sebagai orang kampung,“ kata Lawe.

    Usai merampungkan studinya di SPM Jaya tahun 2001, Lawe masuk Akademi Maritim Nasional Jakarta. Ia lulus dan mengantongi gelar ATT-3 atau Ahli Teknik Tingkat III. Sejak lulus tahun 2004 ia menjejal karirnya sebagai cadet di sebuah kapal milik PT Pelni. Kapal ini melayani rute Indonesia-Malaysia dan Singapura.

    “Di sini saya hanya bertahan setahun. Sejak 2004-2008, saya bekerja di Petra Intra Oil, kapal milik Malaysia. Tahun 2009 saya diangkat sebagai Chief Engineer di salah satu kapal perusahaan Nigeria,“ katanya bangga.

    Ia mengajak anak-anak tanah Flobamora agar mencintai dunia bahari melalui pendidikan untuk bekal hidupnya kelak. NTT merupakan provinsi kepulauan yang diapit lautan. Ia juga mengharapkan agar saatnya NTT memiliki Akademi Maritim Negeri. Kampus negeri ini akan memberi peluang generasi muda NTT menyiapkan diri menjadi pelaut dunia.

    “Bila setahun ada 50 atau 100 anak NTT menjadi pelaut, stigma kemiskinan, kebodohan, ketertinggalan perlahan terhapus. Saya berharap Bapak Gubernur NTT bicara dengan Bapak Presiden Jokowi agar di NTT perlu dibangun STIP,“ kata Lawe.

    Profil

    Marianus Wilhelmus Lawe, SE, M.Mar.E

    Tempat lahir : Lamawolo, Ile Ape, Lembata, 10 Juli 1980

    Pendidikan    :

    1. SD Inpres Tokojaeng, Lamawolo, Ile Ape, Lembata
    2. SMP St Pius X Lewoleba, Lembata
    3. SMP Ratu Damai Waibalun Larantuka, Flores Timur
    4. Sekolah Pelayaran Menengah Jaya, Kelapa Gading, Jakarta
    5. Akademi Maritim Nasional Jakarta Raya, Jakarta
    6. FE Jurusan Transportasi Laut, Universitas Trisakti Jakarta
    7. Master Marine Engineer lulusan BP3IP Jakarta

    Istri     : Margaretha AP Gromang

    Anak   : Grace William Ina Nuka Wahang

    Sumber: Pos Kupang, 6 Oktober 2019

  • Pariwisata Berdaya Saing, “Ingin Bersaing Tak Punya Daya”

    Pariwisata Berdaya Saing, “Ingin Bersaing Tak Punya Daya”

    “Daya saing” memang sering diucapkan bahkan menghiasi halaman-halaman pidato para pejabat neagara. Tapi apakah daya saing yang dibicarakan itu sudah kita miliki, atau hanya sekedar motivasi untuk kelak bisa diwujudkan?

    Kompas, 16 Juli 2016, di bawah Judul “Indonesia Berdaya Saing”, menuliskan bahwa Indonesia sudah lama dikenal sebagai  negara agraris , tetapi ternyata hingga kini belum swasembada. Indonesia masih kalah dengan Thailand. Pada industry manufaktur , walau memiliki tenaga kerja yang murah, Indonesia masih ketinggalan dengan Tiongkok. Satu-satunya yang dipunyai adalah Industri Kreatif lebih khusus pariwisata.

    Saat ini posisi pariwisata masih dalam urutan keempat sebagai penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) atau sekitar 5 persen. Di urutan pertama, minyak dan gas, lalu batubara dan yang ketiga adalah minyak sawit mentah (CPO). Demikian catatan Kompas.

    Industri kreatif dalam hal pariwisata sekali lagi memang dimiliki Indonesia. Apalagi dalam pengelolahannya untuk menghasilkan keuntungan yang besar pun tidak terlalu membutuhkan biaya yang mahal. Yang justru diperlukan dalam hal ini adalah komitmen.

    Namun, perlu diingat masalah komitmen memang mudah diucapkan, tapi dalam realisasinya hampir pasti komitmen itu hanya ada diatas kertas dan tetap menjadi pembicaraan setiap pergantian pemerintahan baik di pusat maupun di daerah.

    Bila ditelusuri, peluang untuk merealisasikan daya saing di bidang pariwisata, sekarang ini memang sudah saatnya. Disamping genjarnya pembangunan infrastruktur yang menghubungi daerah yang satu dengan yang lain, kebijakan pembesasan visa kunjungan ke 169 negara menjadi pintu masuk dalam pembangunan Industri Pariwisata.

    Tapi kenyataan, peluang ini belum dimanfaatkan dengan serius. Potens pariwisata dan destinasi pariwisata di setiap wilayah, hanya masuk menjadi daftar potensi daerah. Penggarapan pun masih sederhana untuk tidak mengatakan masih apa adanya alias dibiarkan terlantar. Lalu apa daya saingnya?

    Mau tidak mau, komitmen untuk membangun sector pariwisata harus mulai dari pemerintah sendiri lebih khusus pemerintah daerah yang memiliki destinasi itu. Disamping promosi yang gencar, penyiapan fasilitas berscala internasional, dan peningkatan salera pengelolaan destinasi, pemerintah sendiri harus mendorong warganya untuk mulai menikmati pariwisata yang ada di daerahnya. Sesuatu yang menarik harus diciptakan, agar berbondong-bondong orang kesana.

    Kenyataannya, semua masih menunggu kucuran dana untuk menjawab pembangunan pariwisata. Tapi lagi-lagi, sebanyak apa pun dana, tidak pernah menjawab kebutuhan yang ada manakalah budaya mencintai dan memelihara pariwisata tidak dimiliki.

    Sekedar menyiangi belukar, para pengunjung yang datang dari luar pun hanya singgah sekali-sekali, dan itupun harus meluangkan waktu membersihkan belukar yang terlantar itu. Masih jauh persaiangan  merebut hati para wisatwan, kalau pemerintah dan masyarakat setempat tidak memiliki daya. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

    Dari berbagai sumber