Category: Featured

Featured posts

  • Rest in Peace, Pram

    Rest in Peace, Pram

     

    The international literary community lost one of its most accomplished writers on Sunday, with the death of Pramoedya Ananta Toer. One of Indonesia’s greatest writers, he Was appreciated far more overseas than he was in his own country. In fact no other Indonesian writer, past or present, is as well known abroad as Pram, as he was called by his friends.

    Many Indonesians, including those in the literary community, could not see beyond his politics, and thus failed to appreciate his work. It was his left-leaning politics that got him banished to the notorious Buru penitentiary island in Maluku, in the wake of the rise of the Soeharto military regime in the 1960s. In such confinement, he continued to write and create great (some would say even greater) works.

    During the Soeharto era, right up until the collapse of the regime in 1998, his books were automatically banned on publication, not so much because of their contents (the official censors would accuse him of exploiting class divisions), but rather simply because they were written by him.

    Outside of Indonesia, his works continued to win awards and recognition for their literary beauty and content. Year in and year out, he was suggested as a nominee for the Nobel literature prize. Perhaps the Nobel committee could see to it that the recognition be given to him posthumously.

    Many of his Indonesian literary peers never forgave him for his role in ostracizing artists and writers who did not conform to the dominant left-leaning ideology of the literary and artistic community in Soeharto’s 1960s. The feeling appeared to be mutual. Pram never apologized for nor denied the part he was accused of playing. And he remained bitter to many of his fellow countrymen for the ill treatment he received over the years.

    But now that he is no longer with us, perhaps all Indonesians can find it in their hearts to forgive him and to acknowledge his accomplishments, especially his contribution to the enhancement of Indonesia’s reputation in the literary world.

    No matter how much rancor he felt towards fellow Indonesians, and no matter how bitter some of us felt about his politics, he remained an Indonesian until his death. The government should considet honoring him for his contribution to the nation. Is it not tragic that he is recognized more abroad than at home? His death is a great loss to the literary world, and to Indonesia. May he rest peace.

     

    The Jakarta Post – Monday, May 1, 2006

     

  • Paus Fransiskus dan Harapan Wajah Baru Bumi Kita

    Paus Fransiskus dan Harapan Wajah Baru Bumi Kita

     

     

    “Jangan takut akan perbedaan! Persaudaraan membuat kita menyadari bahwa perbedaan adalah kekayaan, hadiah bagi kita semua! Sebuah persaudaraan sepanjang hidup” – Paus Fransiskus –

     

    Bertempat di Auditorium Gedung Yustinus lantai 15, Kampus Semanggi, Unika Atma Jaya, pada Selasa, 25 Februari 2025,  Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya bersama  Frans Seda Foundation (FSF) menggelar Kolokium dan Bedah Buku “Salve Peregrinans Spei!” . Acara yang juga merupakan salah satu rangkaian peringatan Lustrum XIII Atma Jaya, selain merefleksikan kunjungan Apostolik Paus Fransiskus ke Indonesia (3-6 September 2024 juga memotret pemikiran-pemikiran Paus Fransiskus tentang iman, persaudaraan, dan bela rasa, sebagaimana diuraikan dalam buku yang merangkum perspektif 33 tokoh Islam Indonesia terhadap kunjungan tersebut.

    Acara dihadiri oleh Menteri Agama Republik Indonesia, Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A., yang merupakan keynote speakers dalam acara ini, Prof. Dr H. Biyanto, M.Ag., Staf Ahli Menteri Pendidikan Dasar & Menengah Republik Indonesia, Bidang Regulasi, dan Hubungan Antar Lembaga, Rektor Unika Atma Jaya, Prof. Dr. dr. Yuda Turana, Ketua Presidium Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, OSC, Managing Director Frans Seda Foundation, Stefanus Ginting, juga hadir sebagai pembicara beberapa dari para penulis buku “Salve Peregrinans Spei!” seperti Irfan Amali, Savic Ali, Dr.phil. Mikhael Dua, Prof. Dr. Al Makin, Prof. Dr. Alimatul Qibtiyah, Ust. Miftah Fauzi Rahmat, Laila Nihayati, dan Rian Fahardi yang membahas berbagai tema terkait toleransi, perdamaian, serta keberagaman di Indonesia, sekaligus menegaskan bahwa kunjungan Paus Fransiskus membawa pesan penting tentang persatuan dalam perbedaan serta pentingnya dialog antaragama yang lebih mendalam.

     

     

     

    Paus Fransiskus dan Toleransi  

    Dalam pandangannya menyangkut kehidupan bersama yang diwarnai pluralisme, Paus mengatakan bahwa kita tak perlu memaksakan keyakinan kita pada orang lain. Hormatilah keyakinan orang lain! Cukupkanlah diri dengan menginspirasi orang lain melalui kesaksian hidup sehingga kita bisa hidup bersama dalam komunikasi yang sehat. Yang terburuk ialah penyebaran agama yang memaksa atau dengan kata lain, “Saya berbicara dengan Anda untuk menghasut Anda”. Hal ini tidak boleh! Setiap orang berdialog, dimulai dengan identitas dirinya sendiri.

    Dialog sejati selalu memerlukan satu kemampuan untuk berempati. Kita ditantang mampu mendengarkan, bukan hanya kata-kata yang diucapkan orang lain, melainkan juga komunikasi yang tak terucapkan dari pengalaman, harapan, aspirasi, perjuangan, dan keprihatinan terdalam mereka.

    Menurut Paus Fransiskus, empati merupakan sesuatu yang lahir dari wawasan rohani dan pengalaman pribadi, yang menuntun seseorang “melihat yang lain sebagai saudara. Dalam hal ini, dialog menuntut suatu semangat keterbukaan dan penerimaan akan yang lain. Seseorang tidak bisa  terlibat dalam dialog jika menutup diri terhadap yang lain.

    Kemampuan berempati memungkinkan terjadinya dialog manusiawi yang sejati, di mana kata-kata, ide-ide dan pertanyaan-pertanyaan muncul dari pengalaman persaudaraan dan kemanusiaan yang dibagikan. Empati menuntut kita untuk sampai pada perjumpaan sejati sehingga kita dapat berbicara dari hati ke hati. Kita diperkaya dengan kebijaksanaan yang lain. Kita menjadi terbuka untuk berjalan bersama di jalan menuju pengertian, persahabatan, dan solidaritas yang lebih besar.

     

    Paus Fransiskus dan Pentingnya Bertemu Wajah

    Ada sebuah kisah berdasarkan pengakuan Eugenio Scalfari, pendiri harian Italia La Republica, seorang yang oleh publik Italia dikenal sebagai orang yang tak percaya pada Tuhan alias ateis. Sebelum kejadian ini, Scalfari pernah mendapat surat khusus dari Paus Fransiskus. Dari situlah muncul keinginan untuk bisa bertemu. Akhirnya, ia membuat janji untuk pertemuan itu, yakni pada hari Selasa di Casa Santa Marta. Janji itu didahului sebuah telepon yang tidak akan pernah dilupakan Scalfari seumur hidupnya.

    Hari itu pukul setengah tiga sore, suara telepon di kantor berdering. Dengan suara agak gemetar, sekretarisnya berseru, “Bapa Paus menelepon Anda. Silakan segera diangkat di sambungan Anda!”.

    Scalfari masih tertegun setengah tidak percaya ketika mendengar suara Paus di sambungan telepon, yang mengatakan, “Halo, ini Paus Fransiskus.”

    “Halo, Yang Mulia,” sahutnya kemudian. “Saya tidak mengira Anda menelpon saya.”

    Paus Fransiskus pun menimpali agar Scalfari tidak perlu terkejut. Ini normal saja, seperti seseorang menelepon seorang temannya.

    Paus Fransiskus pun mengaku bahwa ia memiliki keinginan yang sama. Jadj wajar saja jika fa menelepon untuk membuat janji guna mewujudkan pertemuan itu.

    “Coba saya lihat buku agenda, Rabu saya tidak bisa, begitupun Senin, apakah kalau hari Selasa Anda bisa?” tanya Paus. Tanpa banyak kata Scalfari menjawab bahwa hari itu ia bisa.

    “Tapi waktunya agak tanggung, pukul tiga sore. Apakah Anda bisa? Jika tidak, kita bisa menggesernya ke hari lain,” sahut Paus Fransiskus dari ujung telepon.

    Sekali lagi, Scalfari menegaskan bahwa ia setuju. Jadilah mereka menyetujui waktu pertemuan itu: Selasa, tanggal 24, pukul tiga sore, di Casa Santa Marta, Vatikan. Paus Fransiskus mempersilakan Scalfari masuk lewat pintu Sant’Uffizio.

    Scalfari mengaku sempat merasa canggung bagaimana ia harus mengakhiri telepon. Akhirnya, ia bertanya apakah ia boleh memeluk Paus Fransiskus melalui telepon. “Tentu saja, pelukan dari saya juga. Nanti kita akan melakukannya secara langsung waktu bertemu. Sampai jumpa!” sahut Paus Fransiskus.

    Saat pertemuan hari Selasa itu berakhir dan Scalfari berpamitan, Paus Fransiskus berkata, “Sampaikan berkat saya untuk keluarga Anda dan sampaikan juga pada mereka agar berdoa untuk saya. Pikirkan saya, pikirkanlah saya sesering mungkin!” Keduanya berjabat tangan. Sesudah itu, Paus Fransiskus mengangkat tangannya dan memberikan berkat. (Kisah ini diambil dari buku 99 Cara Belajar Hidup ala Pope Francis, Elis Handoko, Grasindo, 2016).

    Bertemu, bertatap muka dan berdialog, itulah fakta Paus Fransiskus ketika menemukan keretakan dalam relasinya. Kehendaknya untuk berdialog didorong suatu kesadaran bahwa orang lain mempunyai sesuatu untuk diberikan kepadanya jika kita tahu bagaimana mendekati mereka dengan semangat keterbukaan dan tanpa prasangka.

    Yakinlah bahwa semua orang memiliki sesuatu yang baik untuk dibagikan dan semua orang bisa menerima kembali sesuatu yang baik. Apa pun Situasinya, kita diajak untuk berbuat baik.

     

    Paus  Fransiskus dan Iklim

    Isu iklim juga menjadi perhatian Paus Fransiskus. Hal ini ditunjukkannya dengan Ensiklik-nya yang monumental Laudati Si’ (Terpujilah Engkau) 24 Mei 2015. Melalaui Ensiklik ini, Paus menngajak umat Katolik dan semua manusia bergerak ikut ambil bagian menyelamatkan kehidupan dari krisis lingkungan hidup global.

    Paus dalam Ensiklik-nya Laudato Si’ menyerukan sebuah jalan baru menyelematkan bumi yakni Pertobatan Ekologis. “Harta kekayaan soiritualitas Kristiani, hasil dua puluh abad pengalaman pribadi dan komunal, memberi sumbangan berharga kepada upaya untuk memperbarui kemanusiaan. Saya ingin menawarkan kepada umat Kristiani suatu kerangka spiritualitas ekologis yang berakar dalam keyakinan iman kita, karena apa yang diajarkan Injil keapada kita memiliki konsekuensi terhadap cara kita berpikir, berperasaan, dan hidup. Yang penting bukanlah berbicara tentang ide-ide, tetapi terutama tentang motivasi yang lahir dari spiritualita, untuk menumbuhkan semangat pelestarian dunia. Tidak akan mungkin melibatkan diri dalam hal-hal besar hanya dengan doktrin, tanpa mistik yang menggerakan kita, atau tanpa ‘dorongan batiniah yang mendorong, memotivasi, menyemangati dan memberikan makna kepada kegiatan individu dan komunal kita. Kita harus mengakui bahwa kita, umat Kristiani, tidak selalu menyerap dan mengembangkan kekayaan yang diberikan Allah kepada Gereja, di mana kehidupan rohani tidak terpisah dari tubuh kita sendiri, atau dari alam, atau dari realitas dunia ini, tetapi justru dihayati bersamanya dan di dalamnya, dalam persekutuan dengan semua yang mengelilingi kita” (Laudato Si’).  

    Apa yang dapat kita lakukan sekarang? Di mana tempat kita dalam masa depan bumi dan apa yang dapat kita  lakukan untuk mewujudkannya? Paus Fransiskus dalam bukunya Mari Bermimpi – Jalan Menuju Masa Depan yang Lebih Baik,  memberikan ajakan kepada kita untuk menyelamatkan bumi kita ini dari krisis ekologis,  dengan dua ajakan, “bergeser dari pusat” (decenter) dan “melampaui”(trancend).

    Cermati di mana kita berpusat, dan geserlah diri kita dari pusat itu Tugas kita di sini adalah membuka pintu dan jendela, dan bergerak ke luar. Yang harus kita hindari adalah godaan berpusat pada diri kita sendiri.

    Krisis memaksa kita untuk bergerak, tetapi kita bisa bergerak tanpa pergi ke mana pun. Kita tidak boleh bergerak seperti seorang wisatawan yang pergi ke laut atau pegunungan selama seminggu untuk bersantai, tetapi kemudian kembali ke rutinitasnya yang menyesakkan. Ia bergerak, tetapi seraya menghindar, hanya untuk kembali lagi ke tempatnya semula.

    Paus Fransiskus lebih menganjurkan jalan yang ditempuh oleh seorang peziarah. Seorang peziarah, yang meminggirkan dirinya dari pusat sehingga ia mampu melampuinya. Seorang peziarah mampu keluar dari dirinya sendiri, membuka diri terhadap horizon baru, dan ketika ia pulang, ia tak lagi sama, dan dengan demikian rumahnya pun tak lagi sama.

    Berhadapan dengan krisis Bumi, Paus mengingatkan, “Yang diminta dari kita tidak lain adalah tanggung jawab tertentu atas warisan yang akan kita tinggalkan setelah perjalanan kita di bumi ini (Laudato Si’).” Kita mesti mewujudkan aksi nyata mewujudkan pertobatan ekologis, budaya ekologis, dan spiritualitas ekologis.

    Paus Fransiskus juga memberikan kita inspirasi dalam menghadapi sebuah krisis,  lewat sebuah puisi karya aktor dan komedian Kuba di Miami, Alexis Valdes. Puisi Alexis Valdes, menurut Paus Fransiskus mampu memotret jalan menuju masa depan yang lebih baik. Mari kita membaca puisi itu dan membiarkan puisi itu dengan keindahannya memberikan kesimpulan, membantu kita bergeser dari pusat dan melampauinya sehinggga bumi kita memiliki wajah baru.

     

    Harapan

     

    Bila badai telah berlalu
    dan jalanan menjinak
    dan kitalah penyintas
    dari karam kapal massal.

    Dengan hati penuh tangis
    dan berkat atas takdir kita
    kita akan rasakan sukacita
    sekadar atas hidup.

    Dan kita akan beri peluk
    untuk orang asing pertama
    dan syukur atas kemujuran
    bahwa kita masih punya kawan.

    Lantas kita akan mengenang
    segala yang telah hilang
    dan akhirnya belajar
    segala yang tak pernah kita pelajari.

    Kita takkan merasa iri
    sebab kita semua telah menderita
    dan kita tak akan berpangku tangan
    berbalik jadi bela rasa.

    Akan kita hargai milik semua
    lebih dari capaian orang per orang.
    Kita akan jadi makin murah hati
    dan jauh lebih berkomitmen.

    Kita akan mengerti betapa rapuhnya hidup.
    Kita akan kerahkan segenap empati
    buat mereka yang masih bersama kita dan mereka
    yang telah pergi.

    Kita akan rindukan si orang tua yang
    minta-minta di pasar
    yang namanya tak pernah kita tahu
    yang selalu ada di sampingmu.

    Dan mungkin si tua miskin itu
    adalah Allahmu yang tersamar.
    Tapi kau tak pernah bertanya siapa namanya
    sebab kau tak pernah punya waktu.

    Dan segalanya akan jadi mukjizat.
    Dan segalanya akan jadi warisan.
    Dan kita akan hargai hidup,
    hidup yang telah kita peroleh.

    Bila badai ini berlalu
    kumohon kepadamu Tuhan, dengan hati yang remuk
    supaya kaukembalikan kami jadi lebih baik,
    seperti dulu kauimpikan atas kami……….

     

    (Paskalis Liko Bataona)

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer

    Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer

     

     

    Oleh Linda Christanty

     

     

    PRIA 68 tahun itu sudah digerogoti uban, setengah botak. Namun, ingatannya masih tajam. Nada bicaranya tegas. Terkadang dia berapi-api, lalu menyurut sedikit untuk soal-soal yang memedihkan hati dan sepasang mata tuanya ikut merah berkaca-kaca. Gendang telinga pria ini sudah rusak dihantam popor senapan, sehingga membuat orang harus berbicara keras padanya. Dia tuli. Untuk lebih aman, biarkan dia saja yang bercerita. Suaranya lantang, lebih agar dia sendiri bisa mendengar ketimbang tamu-tamunya yang berpendengaran normal.

    “Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution yang dianugerahi bintang lima di masa Soeharto, kini sudah almarhum) telah membunuh teman saya, membuat teman saya mati. Waktu itu kami sedang mempertahankan Bekasi, tepatnya di daerah Lemah Abang. Nasution dan Soeharto itu sama saja, sama-sama KNIL,” tuturnya, pahit, teringat pengalaman berjuang melawan Belanda.

    Di tengah emosi yang campur-aduk tadi tak bisa disembunyikannya rasa benci terhadap penguasa Orde Baru yang telah mengirimnya ke Pulau Buru, tanpa pengadilan, dan memaksanya hidup seperti Rubashov, seorang Bolshevik yang dihukum partainya sendiri. Rubashov tak lain tokoh dalam novel Arthur Koestler, Gerhana Tengah Hari. Pram, pria tua itu, menyukai novel tersebut.

    Pada September 1965 pertikaian Angkatan Darat dengan Partai Komunis Indonesia mencapai puncak. Sejumlah perwira tinggi tiba-tiba diculik. Partai Komunis Indonesia dituding bertanggung jawab. Ketika itu presiden Soekarno sendiri kurang mesra dengan tentara dan dianggap bersimpati pada sayap kiri di parlemen. Di tengah pertikaian elite politik inilah intrik dan kasak-kusuk terjadi. Soeharto—seorang jenderal Angkatan Darat—memancing di air keruh, merebut kekuasaan dan memerintahkan pembersihan terhadap orang-orang partai komunis di Indonesia. Pram yang menjadi pengurus lembaga kebudayaan partai itu ikut diburu.

    Empat belas tahun dia menjalani hukuman, mulai dari sel penjara Salemba, Nusakambangan, sampai daerah gersang Buru. Sudah ditulisnya dua jilid otobiografi berdasarkan catatan pribadi selama di Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Catatan ini berbentuk surat pada putrinya yang baru saja menikah saat dia akan dibuang ke pulau tersebut, surat-surat yang tiada pernah terkirim. Barangkali, hidup tanpa hak-hak layak sebagai manusia membuat Pram ingat pada Rubashov, tokoh novel Koestler. Dan ternyata, penindasan ada dalam sistem manapun, kapitalisme juga sosialisme yang korup.

    Dalam rumah beton dua lantai yang dibangun dari buku-bukunya yang laris di luar negeri, Pram belum bisa tidur nyenyak. Dia masih diawasi, wajib lapor, dan tak bisa pergi ke luar negeri untuk menerima penghargaan terhadap novel-novelnya. Di Indonesia, tahun 1993, tak satu pun buku Pram boleh beredar. Buku-bukunya dituduh mengandung ajaran Marxisme-Leninisme. Untuk membaca buku Pram orang harus sembunyi-sembunyi. Buku-bukunya beredar dari tangan ke tangan. Tiga aktivis pernah mendekam di sel gara-gara menyebarluaskan karya-karya Pram. Namun, Pram termasuk beruntung. Dia panjang umur, bisa memperjuangkan kemanusiaan lewat tulisan, dan menjadi saksi dari berbagai zaman. Ratusan kawan senasibnya mati di kamp kerja paksa Buru dan yang selamat, sebagian sakit jiwa; tinggal seonggok daging bernyawa tempat jiwa membusuk. Lebih sial lagi, nasib mereka yang terjebak di luar negeri. Pemerintah Soeharto sudah siap menangkap mereka yang kembali. Namun, di atas segala derita, rakyat kebanyakanlah yang paling naas. Jutaan mereka tumpas dibunuh tentara dan tangan-tangan pemuda yang menjadi kacung. Barangkali, untuk mereka yang terakhir inilah novel-novelnya dipersembahkan.

     

     

    Tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Pram selalu orang biasa, rakyat jelata, dan bahkan, mereka yang hanya dikategorikan “massa” dalam sejarah resmi Indonesia. Orang-orang ini tak bakal ditemukan namanya dalam buku-buku pelajaran sejarah kita, yang hanya mencatat nama raja, pangeran, pejabat, atau jenderal belaka sebagai pahlawan atau pengkhianat. Sejarah Indonesia adalah sejarah penguasa, bukan sejarah kuli yang mendirikan candi atau serdadu yang memberontak dan memimpin pasukan. Pram mencoba berbicara tentang sejarah dari sisi lain, melalui gundik (Bumi Manusia), anak petani (Arus Balik), ataupun pelacur (Larasati). Dia ingin berkata bahwa kaum yang hina itu juga punya andil untuk tanah yang merdeka di beragam zaman.

    Soekarno, tokoh perjuangan sekaligus presiden pertama Indonesia yang Pram kagumi, pernah berucap tak ada perubahan besar di muka bumi ini tanpa melibatkan massa. Jangan pernah meremehkan massa. Dari sanalah kekuatan perubahan berpusat dan menyebar. Pramoedya Ananta Toer tentu memahami ucapan Soekarno, mungkin melebihi siapa pun. Dia kemudian menulis tentang mereka.

    Dalam tetralogi Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh—gundik seorang Belanda—menampilkan sosok pribumi pantang menyerah. Ontosoroh mengangkat martabat hidupnya yang setaraf budak menjadi perempuan yang menguasai ilmu dagang, pintar menulis dan bercakap dalam bahasa penjajahnya. Ada pula tokoh pelarian dari negeri Cina, perempuan yang mengajari Minke—tokoh utama novel ini—tentang perlawanan terorganisasi, bernama Ang San Mei.

     

     

    Ontosoroh sekuat tenaga melawan hukum-hukum Belanda yang sah merebut anak perempuannya dan semua harta dari kerja kerasnya. Ang San Mei ikut gerakan bawah tanah melawan kaisar perempuan Ye Si yang disokong penjajah Barat di Tiongkok. Ontosoroh kalah. Ang San Mei meninggal dunia di tanah pelarian. Namun, yang terpenting mereka sudah melawan.

    Selain tetralogi Bumi Manusia yang melegenda itu, ada satu lagi novel Pram yang selalu diingat orang, Arus Balik. Novel ini berlatar abad ke-16 dan Pram kembali menokohkan orang biasa di dalamnya; Wiranggaleng, pemuda desa, juara gulat kadipaten Tuban.

    Wiranggaleng dikisahkan punya pacar cantik, juara tari, bernama Idayu. Kedua anak muda desa Awis Krambil ini terlempar ke tengah hiruk-pikuk kekuasaan ketika Adipati Tuban, Wilwatikta, mengangkat Galeng sebagai syahbandar muda Tuban. Galeng dan Idayu menetap di Tuban, padahal mereka cuma bercita-cita punya huma di desa.

    Tuban, kota pelabuhan yang telah seribu tahun dikunjungi kapal-kapal dari barat, timur, dan utara. Para pedagang membawa rempah-rempah dari Maluku dan cendana dari Nusa Tenggara Barat, lalu mengambil beras, gula, garam, dan minyak tumbuhan dari bumi Tuban. Dulu Tuban taklukan Majapahit, tapi setelah kerajaan itu runtuh akibat intrik dan perang saudara, Tuban merdeka, bahkan meluaskan wilayah sampai Jepara. Konon, Wilwatikta, ikut bersekongkol menjatuhkan Majapahit. Dia keturunan Ranggalawe, gubernur Tuban yang memberontak pada Majapahit.

    Pada 1511 terjadi perubahan arus modal dan perniagaan di Nusantara. Malaka, bandar besar di Asia, jatuh ke tangan Portugis. Malaka adalah wilayah strategis di Semenanjung yang pernah dikuasai dua kerajaan besar, Sriwijaya dan Majapahit. Kejatuhan Malaka bukan sekadar hilangnya sebuah wilayah, tapi menandai perubahan arus perdagangan dunia di Asia. Kapal-kapal niaga dari Arab, Eropa, dan India tak berani singgah di bandar itu lagi, menghindari Portugis. Ini berarti ancaman juga buat Tuban. Kapal-kapal dagang asing tak berlabuh lagi di pelabuhan Tuban. Lalu-lintas dagang mereka telah diputus Portugis di Malaka.

    Dua tahun setelah Malaka jatuh, Adipati Unus, putra Raden Fatah dari Demak, mencoba merebut bandar tersebut dengan mempersatukan Nusantara. Wilwatikta menolak membantu, karena Adipati Unus sebelumnya telah merampas Jepara dan menjadikan kota pelabuhan itu wilayah taklukan Demak. Adipati Tuban sengaja memperlambat kiriman pasukannya. Ketika gabungan pasukan Tuban-Banten datang, dua puluh ribu tentara laut Aceh-Jambi-Riau-Demak-Jepara yang dipimpin Adipati Unus telah kalah dihajar meriam Portugis di perairan Semenanjung itu.

    Wiranggaleng, kepala gugusan Tuban, tak habis pikir. Penyebab kekalahan itu masih samar baginya. Namun, lama-kelamaan dia mengerti. Konflik-konflik internal di Nusantara telah memecah-belah kekuatan mereka. Aceh disebutkan ingin memiliki Malaka untuk diri-sendiri. Tuban mengingkari janji lantaran kasus Jepara, terlambat lima hari sampai di Semenanjung. Kekalahan Adipati Unus justru menerbitkan rasa kagum Wiranggaleng, pemuda desa yang lugu, buta politik, yang semata-mata orang suruhan penguasa Tuban.

    Adipati Unus satu-satunya orang yang berani berusaha mempersatukan kekuatan melawan Portugis, dan berani melaksanakan penyerangan. Kekalahan yang terjadi bukan kekalahan perang, tetapi kegagalan dalam mengatur kekuatan sendiri. Kemudian ia menyimpulkan: armada gabungan itu semestinya tidak kalah. (hlm. 206).

     

     

    Arus Balik mengungkap seputar intrik dan permainan politik yang berujung pada runtuhnya kejayaan Tuban. Letupan-letupan konflik agama lama, Hindu-Budha, dan agama baru, Islam juga muncul. Wiranggaleng tidak ingin perbedaan agama membuat orang merestui penindasan terhadap yang lain. Adipati Tuban sudah memeluk Islam, sedang Galeng beragama Hindu.

    Suatu hari, seorang mata-mata Portugis, Sayid Habibullah Almasawa, datang ke Tuban dan berkat kelicikannya dia diangkat menjadi syahbandar. Adipati Tuban nekad memelihara musuh yang tengah dicari-cari utusan Sultan Mahmud Syah, penguasa lama Malaka, diincar orang-orang Demak-Jepara dan pedagang-pedagang Cina Lao Sam—daerah otonomi khusus orang-orang Cina. Baginya, kehadiran Almasawa yang fasih bahasa Portugis dan Spanyol itu bisa membuka kontak dagangnya dengan Portugis, bisa menguntungkan Tuban serta menghidupkan kembali pelabuhan yang sepi. Baginya, Tuban harus makmur. Persetan wilayah atau kota lain. Watak Adipati Tuban yang lokalis ini berakibat fatal di kemudian hari.

    Di Jepara tengah terjadi pergantian kepemimpinan. Adipati Unus mangkat. Dia digantikan Trenggono, adik kandungnya. Trenggono punya ambisi berbeda dengan Unus. Dia menjadikan strategi merebut Malaka sebagai kamuflase tujuan sejatinya untuk merebut Sunda Kelapa, Cimanuk, Cirebon, bahkan Tuban, kota-kota pelabuhan di Jawa. Trenggono mencetuskan perang saudara. Ratu Aisah, sang ibunda, menentang putranya dan tak digubris Trenggono. Adipati Tuban yang terkecoh oleh muslihat Trenggono kembali mengirim Wiranggaleng dan pasukannya ke Semenanjung. Tetapi, kali ini Demak-Jeparalah yang berkhianat. Tentara Demak justru menyerang Tuban ketika pasukan Tuban tengah terombang-ambing di laut menuju Malaka. Trenggono memimpin langsung pasukan Demak menyerbu kadipaten Tuban.

    Di lain pihak, armada Portugis bergerak ke Maluku dan Nusa Tenggara Barat, membinasakan armada dagang Tuban dan Blambangan yang selama ini memonopoli Maluku. Portugis ingin menguasai sumber rempah-rempah. Sementara itu, kapal Portugis juga mulai masuk ke perairan Jawa, mendirikan benteng di Pamanukan dan mengintai Tuban. Arus sudah berbalik. Masa kejayaan kerajaan Nusantara telah lewat, ekspansi-ekspansi melewati samudra telah berhenti. Sebagai gantinya, armada laut asing muncul dari ujung selatan dan memasuki wilayah Nusantara, merebut kota-kota pelabuhan dan niaga. Inilah babak awal kapitalisme perdagangan di Nusantara.

    Wiranggaleng, senapati Tuban, sebenarnya punya peluang untuk menahan arus balik itu. Dia memperoleh restu Ratu Aisah dari Jepara, ibunda Adipati Unus. Dia berhubungan baik dengan penguasa Lao Sam. Dia sudah mengusir Demak dari Tuban. Tetapi, Galeng justru memilih tinggal di desa dan menjadi petani. Dia tak mau jadi raja. Di hadapan pasukannya yang berharap, Galeng membuat keputusan.

    “Telah aku baktikan masa mudaku dan tenagaku dan kesetiaanku. Biar pun hanya secauk pasir untuk ikut membendung arus balik dari utara. Arus balik itu ternyata tak dapat dibendung. Kekuatan untuk itu ada pada Trenggono, dan Sultan Demak itu tidak bisa diyakinkan untuk menggunakannya. Arus tetap datang dari utara, yang selatan tetap tertindih. Ya, Dewa Batara, kau tak beri aku kekuatan untuk menyedarkan raja dan sultan sehingga jadi gelombang raksasa, bukan sekedar mendesak arus balik dari utara, bukan saja untuk jaman kemerosotan ini, juga kelangsungannya untuk selama-lamanya. Gajah Mada, anak desa itu telah berhasil. Ia gerakkan tangannya dan semua jadilah yang dipegangnya, semua bangun yang disentuhnya. Pergilah dia, pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan kebesaran dan arus besar yang mengimbak-imbak megah berpendaran damai ke utara. Aku bukan Gajah Mada. Tiada sesuatu hasil apalagi kebesaran kutinggalkan kecuali kesakitan dan kekecewaan dalam diri dan terhadap diri-sendiri.” (hlm. 749)

    Tetapi, tahukah Galeng bahwa Gajah Mada pun telah dibinasakan kekuasaan? Patih Majapahit ini dibunuh Hayam Wuruk gara-gara peristiwa Bubat. Banjir darah di Bubat terjadi setelah Raja Padjadjaran menolak mempersembahkan putrinya (Dyah Pitaloka) sebagai upeti, melainkan sebagai wanita yang hendak dipersunting Hayam Wuruk. Pasukan Gajah Mada membunuh sang raja yang tak mau tunduk berserta pengikutnya. Asal-usul Patih Gajah Mada sengaja disembunyikan penulis babad agar keluarganya tak ikut dihabisi penguasa Majapahit itu.

    Arus Balik sering disebut-sebut sebagai karya terbesar Pram. Namun, novel ini bukan tanpa cacad. Dalam karya yang dijuluki “literatur maritim Nusantara” tadi, Pram justru bertolak dari kota pelabuhan Tuban, yang tak sebanding dengan kebesaran Majapahit apalagi Sriwijaya. Novel ini seolah mengatakan seluruh perubahan iklim modal dan politik Nusantara bertumpu pada sebuah kota kadipaten.

    Pram juga terlalu melebih-lebihkan Majapahit sebagai kerajaan laut terbesar di Nusantara. Apakah lantaran dia meminjam mulut Wiranggaleng, pemuda desa, sehingga penjelasannya yang sembarangan ini bisa diterima? Apakah lantaran tokoh rekaannya itu cuma orang desa yang tak punya pengetahuan luas, sehingga pernyataannya bisa dimaklumi? Jelaslah di sini betapa kejayaan Nusantara dipandang dari sudut orang desa pedalaman Jawa.

    “Tunggu,” tegah Wiranggaleng, “biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini …” (hlm. 746)

    Pram lupa bahwa kerajaan Majapahit yang mulai berdiri pada abad ke-13 tersebut hanya mengalami 70 tahun masa jaya. Sriwijaya yang menguasai samudra sejak abad ke-7 sampai awal abad ke-13 tak disinggung sebagaimana mestinya. Tahukah Pram bahwa perang laut terbesar di Asia Tenggara terjadi ketika Sriwijaya mengerahkan seratus ribu tentara laut melawan Funan?

    Namun, selebihnya Pram cukup jeli menghadirkan situasi sesuai zaman. Kosa kata bahasa Melayu yang jadi lingua franca waktu itu muncul di sana-sini, seperti seluar (celana), ditunu (dibakar), para-para (lekukan kayu di dinding), tegah (cegah), dan sebagainya. Ini juga jejak-jejak Sriwijaya, bukan?

    Ah, pria itu kini menjelang 78 tahun usianya. Dia sudah pindah dari rumah beton berlantai dua. Tentu saja ke rumah yang lebih megah, berlantai lima, dekat kota hujan Bogor. Dia sudah bebas ke luar negeri sekarang, karena pemerintah Soeharto tumbang lima tahun lalu. Buku-bukunya bebas dicetak ulang. Dia sudah kaya-raya. Dia sudah menang.

    “Apa rahasia Pak Pram menjaga stamina?” tanyaku, hampir sepuluh tahun lalu.

    “Berolah raga teratur. Dan kamu kenapa kurus begitu? Jaga kesehatan, makan vitamin C 500 miligram sehari. Kalau badan lemah, bagaimana bisa menang lawan Soeharto,” jawabnya, terkekeh.

    Lupa kutanyakan mengapa dia menulis begitu banyak buku dan tebal-tebal. Namun, terbersit juga sebaris kalimat catatan harian Rubashov dalam novel Koestler itu: Tiap pikiran salah yang kita turut berarti kejahatan terhadap generasi-generasi yang akan datang. Barangkali, itulah sebab dia menulis, ingin mengungkap apa yang dulu disembunyikan atau tersembunyi dari pengetahuan angkatan kemudian.

     

    ***************

     

    Linda Christanty,  menulis certa pendek, esai, puisi, dan reportase yang meliputi isu politik, sejarah, sastra, dan gender. Meraih Katulistiwa Literaty Award tahun 2004 untuk buku cerita pendeknya, Kuda Terbang Mario Pinto. Buku-bukunya yang telah terbit: Kuda Terang Mario pinto, Dari Jawa menuju Atjeh, Rahasia Selma, Jangan Tulis Kami Teroris, Para Raja dan Revolusi.

     

    Sumber Tulisan:  Buku Dari Jawa Menuju Atjeh, Linda Christaty, Penerbit KPG.

  • Pramoedya, Sastra dan Membaca Sejarah Orang-Orang Kalah

    Pramoedya, Sastra dan Membaca Sejarah Orang-Orang Kalah

     

    Tokoh-tokoh Pramoedya memang kalah dilanda sejarahnya,

    tapi sekaligus juga sanggup mengalahkan kekalahnnya

    sendiri dengan mengatasi baik ketakutan maupun

    kesombongan untuk tidak menang.

     

    Pramoedya ist ein Begriff – Pramoedya bukan sekedar nama, tetapi sebuah pengertian, bahkan sebuah konsepsi. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang ibu yang sangat simpatik, Prof. Irene Hilgers-Hesse, Ketua jurusan Melayu di Universitas Koeln, ketika mengundang Ignas Kleden, mahasiswa filsafat di Muenchen tahun 1980, untuk membicarakan buku Bumi Manusia yang baru saja terbit. Pramoedya memang telah membuat namanya menjadi sebuah pengertian jauh sebelum diasingkan selama 14 tahun. Namun rupanya belantara pengasingan itulah yang memberinya pengertian tentang sejarah Indonesia dan bahkan tentang manusia dalam sejarah. (Ignas Kleden, Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan:2004).

    Dalam rangka  memperingati Satu Abad Kelahiran Sastrawan Pramoedya Ananta Toer, Sabtu, 08 Februari 2025, di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, digelar Acara Diskusi  “Mencintai yang belum tuntas dan menuntaskannya: Pramoedya, Indonesia dan Kaum Muda”, dengan Pembicara Dr. Max Lane (Penerjemah Karya-Karya Pramoedya ke dalam Bahasa Inggris).  

    Max Lane memberi uraian yang sangat bernas dan orisinil mengenai Pramoedya dan pemikirannya. Max Lane patut diberikan apresiasi karena jasa beliaulah karya-karya Pramoedya bisa dinikmati pembaca di seluruh dunia. Dalam orasinya di Taman Ismail Marzuki, Lane mengingtakan kita bahwa novel-novel Tetralogi Buru membentuk sebuah cerita epik revolusioner dengan keindahan estetika yang unik, serta memberikan kontribusi intelektual dan politik yang belum pernah benar-benar diungkapkan.  

    Pramoedya mengolah berbagai aspek sejarah Nusantara ini menjadi sebuah novel, bukan buku sejarah-walaupun beberapa waktu kemudiaan dia juga  menulis beberapa karya sejarah non-fiksi. Tapi ia mulai dengan menulis novel fiksi. Namun novel-novel itu adalah sejarah yang difiksikan, yang menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Novel-novel itu menjelaskan begitu banyak hal penting tentang sejarah Indonesia, juga tentang   Kesadaran dan keberadaan hal penting yang ingin Lane tunjukan kepada kita.

     

    Kesadaran dan Keberadaan

    “Sebuah lukisan yang berhasil adalah sebuah lukisan yang mampu menangkap sebuah momen, dan sebuah lukisan yang hebat menangkap sebanyak mungkin aspek dari momen tersebut sehingga kita mampu menangkapnya sebagai sebuah kenyataan dengan segala macam geraknya. Bisa dibilang bahkan sebuah novel sejarah berjilid empat tetap hanya mampu menangkap momen singkat dalam sejarah yang panjang. Tapi novel juga merupakan cerita tentang tokoh-tokoh pilihannya. Dilihat dari perspektif mereka, novel ini adalah sebuah barisan panjang yang berisi begitu banyak momen. Estetika yang diperlukan untuk menangkap momen-momen dalam Bumi Manusia dengan segala macam interaksi di antara mereka, momen-momen yang saling melanggar satu sama lain lalu membentuk momen-momen yang baru, harus berbeda dari estetika yang digunakan untuk menangkap satu momen saja, seperti dalam sebuah lukisan misalnya, atau sedikit banyak dalam sebuah cerita pendek. Sebuah cerita yang mengisahkan hidup Minke, Annelies, Nyai Ontosoroh dan berpuluh-puluh lagi karakter termasuk Pangemanann dalam 2.000 halaman lebih memerlukan sebuah estetika yang khusus. Ini bukan hanya karena Bumi Manusia adalah sebuah novel. Novel yang lain bisa juga menjadi barisan momen-momen, yang bisa juga digambarkan dengan penuh gaya dan kecergasan, tapi mungkin, koneksi di antara momen-momen itu terlalu sederhana, selalu bisa dijelaskan dalam hubungan sebab-akibat yang biasa saja. Bukan juga karena novel-novel Tetralogi Buru menceritakan sebuah kisah epik—hikayat—yang memakan waktu lebih dari satu dekade dan melibatkan begitu banyak karakter dan tempat, ditambah lagi tokoh-tokoh pilihannya ternyata merupakan pahlawan sungguhan dalam sejarah Indonesia.

    Saya ingin mengajukan klaim bahwa novel-novel Tetralogi Buru membentuk sebuah cerita epik revolusioner dengan keindahan estetika yang unik, serta memberikan kontribusi intelektual dan politik yang belum pernah benar-benar diungkapkan.

    Saya sering mendengar, sampai sekarang, orang berkomentar bahwa keempat novel Tetralogi Buru, terutama yang pertama, Bumi Manusia, memberi pengalaman sinematik. Komentar seperti ini tidak mengejutkan buat saya, karena bagian utama dari estetika tetralogi ini memang penciptaan perasaan bergerak yang tak pernah berhenti, dimana individu dan kekuatan sosial berpadu menggerakkan proses tersebut. Dua Karakter paling hebat dalam tetralogi ini, Nyai Ontosoroh dan Minke, terkesan penuh tenaga karena keduanya diciptakan sekaligus merefleksikan sebuah kesadaran baru. Daya tarik mereka bagi pembaca Indonesia dan pembaca dunia berasal dan cara mereka melampaui cara berpikir sempit yang biasanya nelanda orang-orang dari latar belakang sosial dan geografis mereka. Sebaliknya, Nyai dan Minke adalah dua karakter yang kekuatan dan kelemahannya tidak bisa dipisahkan dari hubungan mereka dengan dunia global. Proses seperti ini bisa dijelaskan sebagaimana berikut:

    “Ada orang yang mampu mengatasi cara berpikir yang sempit sepanjang situasi mereka mendukung. Ini bisa terjadi bukan karena mereka membayangkan telah mengenyahkan, atau paling tidak ingin mengenyahkan, cara berpikir yang sempit ini, tapi karena mereka, dalam kenyataan sehari-hari dan karena kebutuhan mereka sehari-hari, telah mampu menjalin hubungan dengan dunia.”

    Keempat novel dalam tetralogi ini sarat dengan kesadaran dan pemikiran baru. Ada pembaca yang gagal membayangkan kesungguhan dampak yang dibawa oleh revolusi kepada orang-orang. Mereka menganggap penggambaran akan kesadaran dan pemikiran ini sebagai pembahasan serius yang berlebihan. Namun kendati kesadaran dan pemikiran baru bisa dijumpai di mana-mana dalam tetralogi ini—dalam dialog, penggambaran peristiwa, perdebatan tentang dokumen dan tokoh sejarah, dan terutama, dalam percakapan-percakapan antara Nyai Ontosoroh dan Minke, dan juga dalam kesadaran diri Minke serta kemudian cara Pangemanann mengemas kembali kisahnya—kedua hal ini bukanlah penggerak utama ceritanya. Cara Pramoedya menggambarkan realitas sosial bisa dijelaskan seperti berikut:

    “Bukan kesadaran yang utama, tapi keberadaan kita di dunia: bukan pemikiran tapi kehidupan, yang utama adalah perkembangan empirik dan pengejawantahan kehidupan dalam tiap individu—dan semua ini tergantung kepada kondisi dunia ini.”

    Keberadaan manusia di dunia dan kehidupan mereka adalah fokus utama cerita-cerita nyata Pramoedya. Karakter-karakternya bukanlah representasi kesadaran ini atau itu melainkan produk penuh-gerak dari sebuah dunia yang sedang berubah. Manusia-manusia dalam kisah Tetralogi Buru adalah karakter, sama seperti kekuatan sosial yang sedang mendorong perubahan, mereka berdua adalah protagonis dan antagonis di cerita nyata Pramoedya. Sejarah bukanlah latar belakang cerita, sejarah itulah ceritanya. Sebuah cerita tentang keberadaan dan kehidupan manusia, kesadaran dan pemikiran baru mereka, serta perkembangan empirik dan pengejawantahan kehidupan tokoh-tokoh utamanya. Dengan kata lain, keindahan utama tetralogi ini terletak dalam inti cerita nyatanya, bukan dalam bentuknya” (Max Lane, Pramoedya, Sejarah dan Politik; 2017).

     

    Membaca Pramoedya – Membaca Sastra

    Tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Pram selalu orang biasa, rakyat jelata, dan bahkan, mereka yang hanya dikategorikan “massa” dalam sejarah resmi Indonesia. Orang-orang ini tak bakal ditemukan namanya dalam buku-buku pelajaran sejarah kita, yang hanya mencatat nama raja, pangeran, pejabat, atau jenderal belaka sebagai pahlawan. Sejarah Indonesia adalah sejarah penguasa, bukan sejarah kuli yang mendirikan candi atau serdadu yang memberontak dan memimpin pasukan. Pram mencoba berbicara tentang sejarah dari sisi lain, melalui gundik (Bumi Manusia), anak petani (Arus Balik), ataupun pelacur (Larasati). Dia ingin berkata bahwa kaum yang hina itu juga punya andil untuk tanah yang merdeka di beragam zaman.

    Max Lane dalam pengalamannya menerjemahkan karya-karya Pramoedya akhirnya memberikan testimoni bahwa dengan membaca novel-novel Pramoedya kita akhirnya diajak pertama-tama mencintai membaca karya sastra. Membaca sastra bukan sekadar sebuah kegiatan untuk berkhayal. Sastra sebagai karya fiksi dapat menjadi sebuah medan pembelajaran. Sastra tidak bersifat doktrinal, sebab pendekatannya bersifat persuasif. Sastra tidak tanpa tujuan, tapi dia hendak mencapai tujuan sambil tidak melangkahi kebebasan imajinasi pembaca. Sastra mengangkat persoalan kemanusiaan untuk direnugkan dan dipkirkan, tetapi juga untuk dinikmati.

    Menyadari pentingnya membaca karya sastra, Max Lane menjadi heran mengapa karya-karya sastra Indonesia mulai tidak diajarkan lagi di sekolah-sekolah menengah di Indonesia, padahal sastra adalah sebuah bentuk kebudayaan serentak sebuah kritik kebudayaan. Kita akhirnya mesti menyetujui apa yang dikatakan Hotman Sihaan tentang sastra: “……karya sastra mampu bicara banyak tentang gejala sosial, tentang kehidupan kultur dan manusia yang diwarnai oleh pola kultur itu. Bahkan banyak nuansa yang dapat kita tangkap, yang mungkin tidak mampu ditampilkan oleh karya-karya ilmiah atau hasil-hasil penelitian ilmiah yang exelennce sekalipun” ( Hotman Siahaan, “Pengakuan Pariyem”; 2006). Dengan Membaca Pramoedya mari kita gelorakan lagi semangat membaca-menulis dan berjuang. Pramoedya adalah sebuah Pengertian.

    (Paskalis Liko Bataona)

     

     

     

     

  • Perempuan Seniman Sumba Itu, Kini Menari di Surga – RIP Mama Martha Dada Gabi

    Perempuan Seniman Sumba Itu, Kini Menari di Surga – RIP Mama Martha Dada Gabi

     

    Oleh Martha  Hebi

     

     

    “Jadi kalau saya mati nanti, harus ada yang menari buat saya seperti saya yang ingin menari sampai saya tidak kuat lagi,” ujar Mama Martha.

    Ini adalah kutipan saat saya mewawancarai Mama Martha Dada Gabi tahun 2018-2019. Dia salah satu perempuan Sumba yang saya tuliskan profilnya di buku Perempuan (Tidak) Biasa di Sumba Era 1965 – 1998. Dia seorang guru yang mendedikasikan hidupnya sebagai penari. Mama Martha mendokumentasikan sejumlah tarian Kodi yang dipelajarinya melalui riset yang dilakukan bersama Bapak Gregorius Gh. Kaka, suaminya.

    Sebagai guru, dia menjadikan hukuman di sekolah bernuansa seni. Jika lambat, anak-anak dihukum menari bersamanya. Begitu juga jika ada kesalahan lainnya, hukumannya menari.

    Saya mewawancarainya tahun 2018 dan 2019 di Weetabula, di rumah anak bungsunya Okta Kaka. Kemudian di Bali di rumah anak keduanya, Heribertus Ra Mone dan di kediamannya di Desa Hombakaripit, Kodi, Sumba Barat Daya.

    Dia mengisahkan perjalanan hidupnya sebagai penari. Saat wawancara, tiba-tiba Mama Martha memeragakan tarian yang sedang diceritakan. Sebagai pengganti irama gong dan tambur, dia menggunakan irama mulut menyerupai bunyi gong dan tambur.

    Tahun 2020, kembali saya mendampingi Mama Martha dalam acara temu perempuan seniman se-Indonesia yang diselenggarakan oleh PERETAS. Waktu itu, karena pandemi COVID-19, pertemuan dilakukan secara online. Meskipun online, tidak mengurangi antusiasme Mama Martha. Dia bangkit berdiri dan langsung menari di depan kamera zoom. Beberapa kali Okta Kaka, si bungsu ikut mendampingi Mama Martha.

    Kami berusaha mencari tempat yang sinyalnya bagus. Pertama kali zoom di Konventu Weetabula, Biara Redemptoris. Kami mendapat ijin dari Pater Kimy. Waktu itu Desa Hombakaripit sedang mati listrik. Mama Martha menjadi narasumber pertemuan ini. Dia langsung menari di depan laptop. Para pastor yang lewat dekat kami dan tidak tahu bahwa kami sedang zoom, terheran-heran melihat Mama Martha menari seorang diri sambil mengucapkan dollu dollu dollu dollu… pengganti irama gong dan tambur.

    Waktu lain kami pindah ke Rumah Budaya, tentu memberi tahu Pater Robert. Kami menyingkirkan beberapa kursi di restoran untuk memberi ruang yang luas. Saya sudah terbiasa dengan gaya Mama Martha. Nanti mendadak saat sedang bicara sebagai narasumber, Mama Martha langsung bangun menari.

    Yang cukup seru itu di rumah anak bungsu dan di Hombakaripit. Perdebatan antara Okta dan Mama Martha. Ini soal irama gong dan hentakan kaki. Saya dan Ida Dena, istri Okta, hanya tersenyum melihat anak mama ini diskusi panjang.

    Pernah sekali waktu, Mama Martha lupa jam zoom. Kami keliling Weetabula mencarinya. Ternyata dia sedang mengunjungi saudaranya. Jadilah kami zoom dari rumah saudara Mama Martha. Dalam program ini, Mama Martha melatih Chiki, seorang penari muda dari Makassar. Ada dua tarian kodi yang diajarkan oleh Mama Martha. Kelak di akhir program mereka berdua menari bersama.

    Terima kasih Mama Martha atas dedikasimu di dunia seni dan pendidikan. Menarilah bersama para malaikat di surga.

    Turut Berduka Cita buat Patricia KakaWilly Pala-Raymundo Lakedakodi Okta KakaFelisitasidadena Maria Bora Rio Kaka-Reni Kaka.

     

     

     

  • HERODES

    HERODES

     

     

    Goenawan  Mohamad

     

     

    BANYAK sekali yang dikatakan di hari Natal, tentang Natal dan begitu banyak nasihat dan petuah yang aus. Maka kita harus berterima kasih kepada W.H. Auden. Atau kepada puisi.

    Di tahun 1942, semasa Perang Dunia II yang menakutkan, Auden menulis sebuah sajak panjang, 1.500 baris, sebuah oratorio Natal, For the Time Being. Bukan sebuah khotbah. Tapi justru di dalamnya berpendar kembali apa yang religius-yang sebelumnya tertimbun di bawah ajaran yang kering.

    Bagi Auden, Natal bukan cuma ritual akhir Desember. Natal adalah pengingat bahwa di satu celah dari hidup yang banal, di antara laku yang sepele dan tak istimewa-membayar tagihan, memperbaiki alat yang rusak, menghafal kata yang sulit ada saat yang menyadarkan kita bahwa mukjizat telah terjadi, yakni hidup itu sendiri. Di saat itu yang rutin menemukan pesonanya kembali.

    Menebus kembali pesona yang hilang dari kata sehari-hari itulah ikhtiar puisi. Khotbah dan petuah tak berniat untuk itu. Bagi para imam, yang penting hanya yang abadi, yang berdosa dan yang kelak di alam baka. Bagi mereka, detik dan jam juga hari dan bulan suci yang datang tiap tahun—tak akan mengubah desain kehidupan.

    Para pemimpin umat menjadikan hari suci sebagai hari konsolidasi: di depan mimbar, para penganut dikumpulkan kembali dan ditata. Untuk itu institusi harus punya pegangan yang ajek. Yang rutin dan klise penting. Ketika umat dikiaskan sebagai “gembala”, mereka diharapkan untuk mengikut, menyatu stabil dalam penanda yang sama. Repetisi dibutuhkan buat menghindari chaos. Bahasa untuk “gembala” harus tak berubah-ubah mengejutkan.

    Puisi justru hidup dengan merayakan yang mengejutkan dan tak tersangka-sangka. Ia perlawanan terhadap klise dan sebab itu ia anti-khotbah. Juga ketika berbicara tentang Tuhan dan kebajikan. Sang penyair, seperti Auden, tak nenulis sebagai seorang penggembala yang menggiring ternak ke sebuah kandang yang aman.

    Bagi Auden bahkan Tuhan bukan “jalan” yang Iazim. Mengikuti-Nya akan sampai ke tempat yang tak terduga:

     

    He is the Way.
    Follow Him through the Land of Unlikeness:
    You will see rarebeasts,
    and have unigue adventures.

     

    Dalam sajak ini, jalan Tuhan memasuki wilayah yang terbangun dari hal-hal yang tak bermiripan, bukan itu-itu saja. Di sana kita akan bersua dengan “hewan-hewan yang tak lazim” dan masuk ke dalam “petualangan yang unik”. Mengikuti jalan ini adalah mengikuti Tuhan yang membebaskan manusia dari ruang tertutupnya sendiri. Manusia dan semesta jadi “Engkau” (You), bukan cuma”itu” (it).

    Tentu, kebebasan itu mencemaskan mereka yang menganjurkan umat bertahan, bersiap tertib di dalam wilayah yang sudah pasti.

    Para penganjur itu bisa keras. Dalam sastra Jawa, personifikasinya adalah Sunan Kudus. Wali Islam di abad ke-16 inilah yang menghabisi nyawa Syekh Siti Jenar yang “Islam”-nya membingungkan. Ia juga yang disebut memimpin hukum bakar Malang Sumirang, seorang sufi yang nakal.

    Dalam sastra Eropa, tokoh Penjaga Tertib itu Sang Inkuisitor Agung dalam novel Karamazov Bersaudara Dostoyevski. Dialah yang mengusut iman orang dan membakar orang itu hidup-hidup bila imannya dianggap palsu atau bengkok. Ia tak percaya cinta kasih, karena cinta kasih terlalu mempercayai manusia dan meletakkannya dalam kebebasan. Pejabat Gereja ini menyalahkan Yesus. Manusia, katanya, tak seperti yang Tuan harapkan: mereka “tak dapat bebas, karena mereka lemah, jahat, tak bermutu, dan pembangkang”.

    Dalam sajak Auden, kita bertemu dengan Herodes. Menurut Injil, raja ini berusaha mencegah kelahiran bayi Yesus dengan membunuh tiap anak yang berumur dua tahun ke bawah di Bethlehem dan sekitarnya. Dalam For the Time Being, ia tampak lain. Ia seseorang yang cemas akan hilangnya “Hukum Rasional”. Tanpa hukum ini, ia takut, “Pengetahuan akan merosot ke dalam kacau-balaunya pandangan-pandangan subyektif.”

    Bagi Herodes, sang raja, itulah anarki. Anarki itu akan datang bersama suara yang menegaskan bahwa cinta kasih adalah dasar hidup antarsesama. Dengan itu akan terbangun hubungan horizontal yang lurus setara: sebuah dunia yang bukan saja tanpa Hukum Rasional, tapi juga tanpa struktur: “Aristokrasi Baru akan terdiri hanya atas para pertapa, gelandangan dan orang cacat permanen.”

    Herodes memperingatkan kita, sebab itu ia tahu apa arti kekuasaan, apa fungsi struktur, hierarki dan hegemoni. Ia akan menampik demokrasi, apalagi demokrasi yang radikal dalam  multitudes. |

    Seperti Sang Inkuisitor Agung yang menyesali Yesus, Herodes tak mengakui cinta kasih sebagai esensi kehidupan bersama. Kehidupan justru antagonisme dan persaingan. Selalu ada yang kalah, ada yang takluk. Hubungan cinta kasih hanya membuat keadaan mandek: tanpa dialektik. Hubungan horizontal tanpa hierarki juga tak akan berkeadilan, cuma belas kasihan—sebab orang yang salah tak akan dihukum, karena tak ada aturan yang keras, karena tak ada takhta kehakiman. Justice will be replaced by Pity as the cardinal human virtue, and all fear of retribution will vanish….

    Herodes: sungguh persuasif. Kita pun risau bila ternyata ja benar bahwa manusia harus punya doktrin, hierarki, dan struktur, selalu perlu khotbah, klise, konsolidasi ideologis dan pengukuhan kekuatan. Jangan-jangan manusia selalu punya (dan perlu) musuh.

    Tapi benarkah kata “harus” dan “selalu” itu? Kini abad ke-21, saya tak bisa melihat hidup dari atas dengan teropong sebuah ide – dan menyimpulkan esensi hidup adalah cinta kasih atau sebaliknya, antagonisme. Hidup bergerak dalam jutaan “petualangan yang unik”. Ia tak bisa jadi satu thesis. Di bumi ini sejarah adalah proses yang serba mungkin, berubah, berbeda. The Land of Unlikeness.

    ————————–

     

    Sumber Tulisan Catatan Pinggir 7, Tempo Publisher

     

  • Mama Oni dan Kasih yang Tak Berhingga

    Mama Oni dan Kasih yang Tak Berhingga

     

    Waktu kecil kita berharap bahwa orang tua kita akan selalu bersama dengan kita. Harapan yang sangat mulia. Tetapi kenyataan hidup berbicara lain. Cepat atau lambat, orang tua kita akan pergi untuk selamanya, setelah meninggalkan jejak-jejak yang kuat dalam diri kita masing-masing. Dengan kematian kedua orang tua kita, kita menjadi sadar bahwa kita bukan lagi anak-anak yang tergantung pada orang tua. Artinya, kematian mereka mendorong kita untuk berdiri sendiri sebagai pribadi-pribadi utuh yang tetap diperkaya oleh unsur-unsur dari orang tua, dan selanjutnya kita siap berjuang dan berkontribusi bagi dunia yang lebih luas.

    Kematian Mama  Veronika Wilhelmina Njo Tifaona (Mama Oni) membawa kesedihan sekaligus sukacita. Mama Oni dalam sejarah panjang kehidupannya mengajarkan dan menabur benih-benih kebaikan, sikap belarasa, sikap mencintai doa, hidup sederhana dan di atas segalanya Mama Oni mengajarkan Kasih. Demikian yang dikatakan Bpk Petrus Bala Pattyona (wakil keluarga) dalam sambutannya dalam acara Tutup Peti Jenasah Mama Oni. Mama Oni seakan yakin benar dengan apa yang pernah dituliskan oleh Henry Durmond dalam bukunya yang cemerlang Greateast Thing in the World.

     

    “Sejak zaman dulu kala manusia selalu menayakan pertanyaan yang hakiki itu: Apa sebenarnya kebaikan yang paling utama? Kita telah diberi anugerah kehidupan. Kita hanya bisa menjalaninya satu kali. Apakah obyek hasrat yang paling mulia, berkah paling utama yang patut didam-idamkan?

    Selama ini kita sudah terbiasa diberitahu bahwa yang paling vital dalam kehidupan beragama adalah iman. Kata yang paling penting telah menjadi kata kunci selama berabad-abad dalam agama, dan kita dengan mudahnya menganggap iman tersebut sebagai yang paling mulia di dunia. Tetapi ada yang lebih penting lagi dari iman. Mari kita simak Kitab 1 Korintus 13, Paulus mengajak kita untuk melihat Kristianitas langsung ke sumbernya, dan di sana kita melihat bahwa, ‘Yang paling besar di antarnya adalah Kasih.

    Dan Paulus berkata: “Dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna. Demikian tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengharapan dan kasih”, dan tanpa keraguan sedikit pun, dia mengakhirinya dengan “Yang terbesar dari semuanya adalah KASIH.”

     

    Karena Kasih itu pula Keluarga Besar Njo ( diwakili Bpk Peter Njo) memberikan ungkapan kesedihan sekaligus sukacita dan kebanggaan mereka terhadap pribadi Mama Oni.

    Tommy, Ina, Lexy, Denny, Bernard, Sandra, Sofia, Theresia, Joyce serta mantu dan cucu dari Mama Oni yang kami sayangi dan segenap keluarga yang berduka:  
    Mama Oni hadir ke dunia ini melalui rahim keluarga Njo. Saat mama Oni lahir Opa Petrus Njo dan Oma Suzana Ndokana menyelimuti mama Oni dengan selimut kehangatan yang berasal dari cinta kasih Opa dan Oma. Sampai suatu saat mama Oni dipinang oleh Om Anton Tifaona, Keluarga Njo memberikan salah satu putri terbaik mereka, yang kemudian memberikan keturunan 10 orang anak dan cucu-cucu.
    Kini saat Mama Oni akan kita hantar ke tempat peristirahatannya yang terakhir, saat kita akan mempersembahkan tubuh Mama Oni kepada Ibu Pertiwi, maka kami Keluarga Njo akan membungkusnya dengan Selimut Sabu. Selimut ini akan menutup kembali tubuhnya. Tanda kehangatan dan cinta kami keluarga besar Njo.
    (Mama, Tanta) Veronika Wilhelmina Njo. Dulu Opa Oma dan orangtua kami dari keluarga Njo merestui dan menghantar mu ke Altar Tuhan, menikah dengan keluarga Tifaona. Dari pernikahan itu sudah bermakna bagi keluarga besar dengan menghadirkan 10 anak dan  cucu. Melahirkan, membesarkan, mendampingi semua mrk dalam terang iman dan keteladanan  hidup.  
    Hari ini (Jumad, 13 September 20240) pada kesempatan ini, atas nama keluarga Njo, kami harus kembali mengenakanmu kain sarung Sabu asal leluhur kita semua. Inilah kehormatan dan kebesaran  sebagaimana adat, tradisi budaya yg diwariskan para leluhur kita.
    Kami semua berharap, bawalah semua salah, khilaf, duka dan derita. Segenap sakit dan penyakit semasa hidup untuk  dimuliakan di hadapan Tuhan. Tinggalkan semua yg baik, yang luhur, kesehatan yang baik dan nilai-nilai hidup yang berguna bagi anak, cucu serta generasi sesudah mereka.
    Atas nama keluarga Njo, kami juga memohon maaf untuk segala salah yang terjadi semasa hidup di dunia ini.
    Dengan keluhuran martabat adat dan budaya ini, kami menghantar mu untuk bertemu dengan Yang Empunya Segala Kehidupan,  yang selama hidup selalu kita sembah dalam doa harian dan bhakti hidup.
    Semoga Tuhan Yang Maha Kuasa, Yang Berkuasa atas Kehidupan dan Kematian menerima mu, masuk dalam kemuliaan surgawi.
    Selamat jalan Mama Oni, selamat bertemu dengan Om Anton dan para leluhur di surga. Doakan kami semua.

     

    Penyair Kahlil Gibran, dalam bukunya The Prophet (Sang Nabi) menulis esai puitis tentang kehidupan. Salah satunya membahas tentang peranan orang tua dalam menyiapkan masa depan anak-anak mereka.

     

    Anakmu Bukan Milikmu

    Anakmu bukanlah milikmu, Mereka putra putri kehidupan. Mereka terlahir melaluimu, tetapi bukan berasal darimu. Karena itu mereka ada bersamamu, tetapi bukan milikmu.

    ….

    Engkau boleh memberi mereka cintamu, tetapi bukan pikiranmu. Sebab, mereka memiliki pikiran sendiri.

    Engkau boleh memberikan rumah untuk tubuh mereka, tetapi tidah untuk jiwanya.

    Sebab, jiwa mereka tinggal di rumah masa depan, yang takkan bisa engkau datangi, bahkan dalam mimpimu sekalipun.

    Engkau boleh berusaha menjadi seperti mereka, tetapi jangan menjadikan mereka seperti kamu.

    Sebab, kehidupan tidak bergerak mundur dan tidak tinggal bersama hari kemarin.

    Engkau adalah busur panah,  yang darinya anak-anakmu akan meluncur ke depan.

    Sang pemanah menarikmu dengan keagungan-Nya agar anak panah bisa melesat jauh menuju keabadiaan.

    Rangkaian kata-kata Kahlil Gibran tetntang anak ini sudah dihidupi oleh Mama Oni dalam membesarkan anak-anaknya. Bagi Mama Oni, orangtua ibarat busur yang hanya bisa mengarahkan dan mengharap. Tugas anak panahlah untuk melesat dan menemukan kehidupannya sendiri. Anak panah sendiri, tanpa busur, barangkali tak berarti apa-apa dan tak akan pernah melesat kemana-mana.

    (Paskalis Liko Bataona)

     

     

     

  • Tiga Hari,  Berhasil Submit 23 Artikel ke Jurnal Bereputasi

    Tiga Hari,  Berhasil Submit 23 Artikel ke Jurnal Bereputasi

     

    Banyak aral melintang saat menulis untuk jurnal. Revisi seabrek, bongkar tulisan, dan waktu penerbitan yang lama. Belum lagi komentar editor yang bikin patah semangat dan penolakan menjadi momok bagi dosen dalam mempublikasikan hasil riset. Menulis untuk jurnal bereputasi? Siapa takut!

    Menjawabi tantangan ini, Fakultas Ilmu Sosial Keagamaan Kristen (FISKK), Institut Agama Kristen Negeri (IAKN) Kupang, menggelar kegiatan “Coaching Hasil Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM)” bagi para dosennya bertempat di Neo Aston Kupang, 24-26 Juli 2024.  50 dosen FISKK amat antusias mengikuti bimbingan dari para narasumber yang berpengalaman.

    Hasilnya sekitar 23 artikel ilmiah hasil penelitian dan PKM berhasil disubmit ke jurnal nasional bereputasi.

    Aktualisasi Diri

    Rektor IAKN Kupang, Harun Y. Natonis, secara resmi membuka kegiatan ini, didampingi Kepala Biro AUAK, Yorhans S. Lopis, beserta para pejabat di lingkup IAKN Kupang. Dalam sambutannya, Rektor IAKN Kupang menekankan pentingnya publikasi ilmiah bagi seorang dosen.

    “Disamping sebagai bagian dari tuntutan Tridharma Perguruan Tinggi, menulis merupakan aktualisasi diri seoang dosen,” ujarnya.

    Menurutnya gairah menulis atau publikasi ilmiah harus dibangun bagi pematangan intelektual sivitas akademika perguruan tinggi. Karena itu diskusi mengenai hasil-hasil penelitian dan PKM para dosen IAKN Kupang menjadi sangat penting.

    Rektor Harun Y Natonis memberikan apresiasi dan mendukung sepenuhnya kegiatan coaching FISKK yang dinahkodai Dekan Marthin Ch Liufeto.

     

    Langsung Submit

    Ketua Panitia Pelaksa, Hermin, menjelaskan kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan mutu dan jumlah dosen untuk menulis di jurnal ilmiah bereputasi. Karena itu semua dosen FISKK yang mengikuti kegiatan coaching wajib mensubmit artikelnya di salah satu jurnal bereputasi di akhir kegiatan.

    Dikatakan penelitian dan PKM sudah banyak dilakukan, namun publikasi hasilnya di jurnal-jurnal bereputasi nasional, apalagi internasional masih sangat kurang. Masih banyak dosen yang mengalami kendala dalam menulis dan mempublikasikan riset mereka.

    “Hal ini bisa disebabkan banyak faktor, diantaranya kurangnya pemahaman metodologi penelitian, teknik penulisan jurnal, serta proses submit dan review jurnal. Karena itu disesi akhir kegiatan para dosen diwajibkan mensubmit artikelnya di salah satu jurnal bereputasi,” papar Hermin.

    Untuk maksud tersebut panitia menghadirkan sejumlah narasumber dan pelatih berkompeten, seperti Andrian Liem, Ph.D., Psikolog dari Universitas Sebelas Maret Surakarta yang membawakan materi tentang “Metode Penelitian Kuantitatif dalam Publikasi Ilmiah”, Dr. Yonatan Alex Arifianto, M.Th, M.Pd dari STT Sangkakala Salatiga dengan materi “Scientific Writing dan Memaksimalkan Mendeley dalam Meningkatkan Publikasi”. Selain itu, hadir juga Dr. Petrus Ana Andung, S.Sos., M.Si dari Universitas Nusa Cendana, Ira Desiawanti Mangililo, Ph.D dari Universitas Kristen Artha Wacana, Indra Yohanes Kiling, P.Psi., M.A., Ph.D dari Universitas Nusa Cendana, serta Dr. Ezra Tari dari IAKN Kupang.

     

     Pematangan Intelektual

    Menurut Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LP2M) IAKN Kupang, Fedinant Alexander, meskipun publikasi karya ilmiah hasil penelitian merupakan kewajiban dosen, kualitas tidak boleh diabaikan, terutama keterikatan yang erat dengan realitas sosial. Maka dalam kegiatan ini, para reviwer juga diharapkan membantu melihat aspek kualitatif dan kebaruan dari hasil penelitian PKM yang akan disubmit.

    “Karya ilmiah para dosen seharusnya relevan dan memberikan dampak yang langsung dirasakan oleh masyarakat. Ini menjadi penting kalau kita mau mewujudkan visi misi IAKN Kupang dan Tridharma Perguruan Tinggi di wilayah ini,”ujarnya.

    Penelitian menjadi salah satu penopang pengembangan ilmu dan daya saing, mendorong pengetahuan ke tingkat yang lebih tinggi, dan menciptakan penemuan baru yang dapat membantu memberikan solusi masalah masyarakat, serta menciptakan peluang-peluang baru di berbagai bidang.

    Oleh karena itu menurut dosen Prodi Sosiologi Agama ini, ekosistem penelitian di IAKN Kupang masih harus terus dipacu. Ia berkeyakinan kegiatan coaching yang mengakselerasi kolaborasi strategis ini mampu melahirkan artikel yang menjawab tantangan dan kebutuhan masyarakat NTT berbasis riset.

     

    Cara Memasukanpun diajarin

    Publikasi ilmiah bagi dosen memang mulai menjadi opsional melalui peraturan terbaru, Permendikbudristek Nomor 53 Tahun 2023 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi.

    Karena itu bukan berlebihan Dekan FISKK, Marthin Ch Liufeto, ketika menuntup kegiatan sangat berharap agar kegiatan yang yang telah dirancang demikian simple tidak hanya memberikan manfaat keilmuan, tetapi juga memberikan hasil nyata dalam bentuk artikel yang tersubmit.

    “Coba lihat, sonde bae apanya. Ini sampai cara kasih masuk (Submit) pun diajarin. Masa son bisa. Yang belum bisa submit, son boleh makan,” ujarnya disambut tawa seluruh peserta coaching.

    ”Akhirnya be bisa makan juga,” ujar Gusti Y Sette, dosen Prodi Psikologi FISKK, setelah berhasil mensubmit artikel hasil penelitiannya. Setelah persiapan lama, jerih payah terbayar. ”Kayak begini rasanya kalau bisa masuk, menulis untuk jurnal bereputasi, siapa takut?” ujarnya dengan wajah sumrigah sambil tertawa.

    Kegembiraan Gusti Y Sette seperti mewakili kegembiraan 50 peserta kegiatan kembali ke pangkuan bapak dan ibu pertiwi di rumah setelah 3 hari penuh berkutat dengan pembahasan artikel jurnal yang dimoderatori Devi Novita Sheldena, Ezra Tari, dan Tince Dormalin Koroh ini.

    Laporan JB Kleden
  • Kisah Sebuah Sumur

    Kisah Sebuah Sumur

     

    Gereja  Katolik St Maria Assumpta  – Pakem

     

    Oleh  Sindhunata

     

    Gereja itu terletak di Pakem, sebuah desa sejuk di lereng Gunung Merapi. Nama gereja itu Maria Asumpta, Maria diangkat ke Surga. Dalam gereja desa itu ada sebuah sumur kecil mungil, namanya Sumur Kitiran Mas. Tentang sumur yang indah itulah tulisan ini hendak bercerita.

    Dilihat dari letak dan bentuknya, Sumur Kitiran Mas memang istimewa. Sumur ini terpaut pada kaki altar, di mana berada patung Maria yang sangat sederhana. Mata Maria seakan memandang sumur yang ada di bawah kakinya tadi.

    Sumurnya sendiri sungguh sangat kecil. Garis tengahnya hanya satu tegel yang berukuran dua puluh kali dua puluh sentimeter. Dalamnya lebih tiga meter. Airnya sangat bening dan hening. Bibir sumur dibuat dari batu hitam. Sumur itu juga diberi kerekan dan timba kecil. Dari atas bibir sumur orang akan hanya melihat kegelapan. Untuk dapat melihat kedalaman air diperlukan alat penerang.

    Sumur Kitiran Mas adalah sumur kesayangan umat desa Pakem. Dulu umat setempat suka berdoa di tepi sumur itu. Sangat mengesankanlah pemandangan, bila mereka sedang berdoa di kaki Maria dan menyalakan lilin di tepi sumur. Sehabis berdoa, biasanya mereka meneguk air yang ditimba dari Sumur Kitiran Mas.

    Sejak Sumur Kitiran Mas ada, ada-ada saja cerita yang tersebar tentangnya. Katanya, sumur itu ajaib, penuh mukjizat. Katanya lagi, sumur itu digali atas dasar wisik atau pesan yang diperoleh dalam sebuah mimpi. Yang lain lagi bercerita, pada suatu malam di gereja Pakem Maria menampakkan diri dalam rupa seorang wanita yang sedang menimba air. Karena itu digalilah sumur tersebut.

    Cerita-cerita di atas sama sekali tidak benar. Sumur itu bukan sumur ajaib, bukan pula sumur penuh mukjizat. Tak ada wisik maupun mimpi yang menyertai timbulnya sumur itu. Tak pernah pula Maria menampakkan diri dalam bentuk apa pun sebelum sumur digali.

    Sumur Kitiran Mas sungguh sebuah sumur yang biasa, seperti sumur-sumur lainnya. Memang ada yang membuat sumur itu sangat istimewa, yakni perjalanan dan pengalaman rohani yang menyertainya. Sumur Kitiran Mas adalah kenangan yang mengingatkan akan perjalanan dan pengalaman rohani itu.

    Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud hendak meluruskan cerita-cerita yang tidak benar di sekitar sumur tersebut. Maksud tulisan ini hanyalah sekedar bercerita tentang ziarah serta pengalaman rohani yang mengiringi timbulnya Sumur Kitiran Mas. Tulisan ini adalah syukur atas perjalanan ziarah dan pengalaman rohani itu.

     

    Di padang hidup yang tandus

    oh air

    kesegaranmu menyimpan janji

    gemericik harapan

    Rinduku padamu

    oh air

    rindu bunga-bunga layu

    padamu kuncup-kuncup hatiku.

     

    Air kau mengalir

    doa pun berpercik air, air

    segarkanlah bunga-bunga

     

    Air kau hidup

    doa pun berkuncup amrta, amrta

    hidupkanlah bunga-bunga.

     

    Air kau mulia

    doa pun tertawa ria tirta-tirta

    sucikanlah bunga-bunga.

    Air kau anugerah

    airlah rahmat-Mu

    bagi bunga-bunga.

     

    Benamkanlah aku, oh air

    dalam diri-Mu

    tenggelamkan aku, oh air

    dalam rahmat-Mu

    hayutkanlah aku, oh air

    dalam kesucian-Mu.

     

    Ketika aku memujimu, oh Air

    takkan aku lupa pada Bundaku Maria

    dialah yang memberiku sumur doa

    ketika hujan terhenti

    dan aku mesti menanti sedih

    seiring dengan kesedihan kupu-kupu kuning

    sunyi sayap-sayapnya

    terbang membentang dari timur ke utara.

     

    Di bawah kakimu, oh Maria

    Sumur Kitiran Mas berada

    airnya dalam dan tenang

    menyimpan pelbagai harapan

    aku hendak senantiasa menimbanya

    dengan penuh air mata

    sambil hatiku menyanyikan

    kata-kata indah:

    mengapa aku mencintaimu, Maria.

     

    —————————————————————————————

     

    *Sumber: dari buku “MATA AIR BULAN”, Sindunata, Kanisius, 1995.

    *Buku “MATA AIR BULAN” adalah terjemahan penulis atas bukunya yang berjudul “NDHEREK SANG DEWI ING ERENG-ERENGING REDI MERAPI”.

     

    Gereja  Katolik St Maria Assumpta  – Pakem

     

  • Akan Kembalikah Matahari?

    Akan Kembalikah Matahari?

     

    Oleh  JB Kleden

     

    Hanya atas kasih-Nya/ Hanya atas kehendak-Nya/ Kita masih bertemu matahari… “ (Ebiet G. Ade – Masih Ada Waktu)

    Cuaca yang buruk dan cenderung ekstrim dengan hujan lebat serta angin kencang membuat saya melewatkan malam pergantian tahun dengan duduk-duduk  di rumah bersama keluarga di gang kami, sambil mendengarkan musik. Opereter memutar lagu Ebiet G. Ade “Masih Ada Waktu”.

    Musikaliasi puisi yang ditawarkan Ebiet G. Ade dengan gaya bernyanyi mirip Jese Feliciano dari Italia itu sungguh menyentuh. “….. Kita mesti bersyukur/ bahwa kita masih diberi waktu/ entah sampai kapan/ tak ada yang bakal menghitung. Kita mesti bersykur/ bahwa kita masih diberi waktu/entah sampai kapan/tak ada yang bakal dapat menghitung… “

    Ya kita musti bersyukur, bahwa kita masih diberi waktu. Hari ini, Sabtu, 31 Desember 2022 pakl. 23.30 Wita. Tinggal 30 menit lagi pkl 24.00 kita mengakhir tahun 2022 dan itu sama dengan pkl. 00 tahun 2023.

    Menghitung tahun, itu buatan manusia. Pada waktu tertentu dan pasti kita melihat matahari. Kita bilang itu siang. Lalu pada waktu lain kita tidak lihat matahari lagi. Dan kita bilang itu malam. Satu siang dan satu malam kita anggap satu hari. Kita bagi satu hari dalam 24 jam. Kita hitung sekian hari genap dan menyebutnya minggu, bulan, tahun. Sekali lagi, itu buatan manusia.

    Semua hitungan hari kita kaitkan dengan matahari. Begitu teratur kelihatannya. Kita hanya bisa menghitung dengan angka. Tetapi semesta tercipta sudah bermilyar-milyard tahun. Sejak diciptakan bulan si perjaka kurus  kering terus menari asmara mengitari bumi ayu tanpa boleh mendekapnya. Sekian milyar tahun tata galaksi Bima Sakti bergerak pada lintasannya. Semuanya begitu teratur, tak ada yang keluar dari orbitnya.

    Dosen Filsafat Ketuhanan saya dulu di Seminari Tinggi Ledalero mereflekaikan fakta ini dengan pertanyaan filosofis: Siapa di balik keteraturan ini. Dia pasti jauh lebih teratur dan megah dari pada yang Dia atur ini. Maka sang pemazmur hanya sujud merendah, “Langit mewartakan keagungannya dan cakwala karya TanganNya.”

    Cuma sekali kita tahu bahwa matahari terus kelihatan. Itu atas permintaan Yosua panglima tentara Israel. Matahari jangan dulu terbnam sebelum Yeriko jatuh. Dan jadilah demikian. Dan itu jadi atas perintah Yahwe Allah  Israel yang kuat kuasa. Dari segi ilmiah, itu tidak mungkin, itu tidak benar. Tapi Kitab Suci tidak mengajarkan ilmu tetapi iman bahwa ada yang  memegang dan mengatur matahari.

    Matahari terakhir tahun 2022 sore tadi lenyap di ufuk barat tanpa ada yang ketahui karena mendung. Mungkin hanya sedikit orang memburunya untuk mengambil foto. Dan hampir pasti tak seorangpun di antara kita merasa kuatir dan bertanya, akankah besok matahari akan kembali? Sebab memang pasti matahari akan kembali.

    Adalah Ebiet G. Ade yang mengakui bahwa hanya atas kasih-Nya, hanya atas kehendak-Nya, kita masih bertemu matahari. Berulang kali dan masih terus kita bertemu matahari, hanya atas kasih-Nya dan hanya atas Kehenda-kNya. Dan selama itu banyak kasih-Nya atas kita selain sekedar melihat matahari. Ada gembira, ada sedih.

    Kita syukuri bahwa kita masih bertemu matahari dan berharap masih lagi bertemu matahari. Tetapi juga mari kita sadari bahwa ada waktu yang berlalu sia sia. Kita tidak jadikan itu rahmat bagi orang lain. Kita kurang bakti. Mari kita tunduk sujud memohon ampun dari Dia. Kerahiman-Nya jauh melampaui kedosaan kita.

    Besok kita akan melihat matahari tahun 2023. Hari harinya siap kita jalani. Apa yang bakal kita temukan? Tak dapat dijawab pasti. Tetapi kita harus  tetap menjalani. Tidak bisa tidak mau karena tidak pasti itu. Soe Hok Gie, seorang tokoh mahasiswa. Dia mati muda di kesunyian Gunung Pangrango ketika bersama teman temanya mendaki gunung. Di saku bajunya di temukan sebuah kertas bertulis syair. Sepenggal syair itu berbunyi….. “Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya dan teka teki, tanpa dapat  kau elaki. Terima lah dan hadapi lah”..…

    Akan kembalikah matahari? Ya matahari pasti akan kembali. Dan kita juga pasti memasuki tahun 2023. Tapi perjalanan hidup kita tak sepasti matahari. Apapun itu, mari kita hadapi  tahun 2023 dengan berani, bukan asal berani, tetapi berani karena Tuhan bersama kita. Mulailah lagi dengan harapan akan Allah dan dengan keyakinan diri. Sebab apa jawaban Tuhan kepada kita masing-masing di tahun 2023 bergantung pada apa pertanyaan kita kepadaNya di awal fajar. (*)

     

    *Kupang, Gang Damai 12 Liliba, Permenungan disaat pergantian tahun 2022-2023