Category: Featured

Featured posts

  • Hadiah Natal untuk Mbok Tukinem

    Oleh     S i n d h u n a t a

    NATAL adalah peristiwa Tuhan datang menyapa umatnya. Namun, hampir seumur hidupnya, Natal hanya lewat begitu saja bagi Mbok Tukinem, wanita yang malang dan buta.

    Bertahun-tahun Mbok Tukinem tetap menderita. Ia seakan tak diizinkan menerima kasih sayang-Nya. Padahal kepercayaannya mengatakan Bayi yang terbaring di palungan itu adalah janji bahwa Tuhan sungguh telah mendatangi umat-Nya yang miskin, yang buta, menderita dan malang seperti Mbok Tukinem.

    Sunggukah Tuhan menyayangi Mbok Tukinem bila Ia seakan membiarkan Mbok Tukinem menderita? Natal ke Natal telah berlalu, dan orang boleh merasa janji yang menghiburkan itu hanyalah palsu.

    Akan tetapi, tidaklah pada Natal ini. Pada Natal tahun 1982, Tuhan benar-benar menyapa Mbok Tukinem. Malahan, pada saat inilah Tuhan menguakkan tabir penderitannya: dalam penderitaannya betapa ia merasa telah menerima cinta kasih dan kasih sayang sesamanya dengan berlimpah-limpah.

                             ***

    SEPERTI diberitakan Kompas, 18 November 1982, wanita itu seakan sudah dicoba melebehi kemampuannya. Pada waktu umur sebelas tahun ia tiba-tiba terserang kebutaan.

    Dengan mata buta, semasa gadisnya Mbok Tukinem membantu ibunya yang miskin untuk mencari nafkah. Dari rumahnya di Desa Bantulan, Yogyakarta ia menggendong gerabah sampai ke Semarang.

    Mbok Tukinem kawin dengan Suwitoutomo, seorang lelaki buta. Anaknya lima. Sehat walafiat dan normal semuanya. Namun, satu per satu mereka dipanggil Tuhan pada usia muda. Padahal pada merekalah Mbok Tukinem menaruh harapannya.

    “Saya  pernah bermimpi kelima anak saya datang. Namun, mereka kok hanya omong-omong sendiri saja. Tidak tanya-tanya sama orang tuanya. Mungkin karena mereka itu memang masih kecil. Namun, kelak mereka akan menyambut saya, toh mereka juga kecil. Apakah kelak mereka juga masih ingat pada saya, ya?” tanyanya.

    Mbok Tukinem juga seorang yang jujur. Pernah di Desa Blondo ia utang tujuh belas ketip. Uang itu dipergunakan membeli sarung untuk menggendong anaknya. Tiba-tiba ia harus pulang ke Yogya. Sepur segera akan berangkat, tetapi Mbok Tukinem  berusaha untuk tetap mengembalikan utangnya. Ununglah ada seorang guru yang mau meminjaminya.

    Waktu masih kuat Mbok Tukinem membantu suaminya mencari nafkah dengan membuat tikar. Seberapa bisa, mereka berjuang untuk mempertahankan hidupnya. Tak pernah ia membayangkan betapa bahagia menjadi orang yang tidak buta. “Hanya pernah saya bermimpi tiba-tiba mata saya terang benderang, saya bertanya-tanya apakah saya ini tidak buta lagi ya? Namun ketika saya bangun, mata saya tetap gelap seperti biasa, “tuturnya.

    Penderitaan tidak berhenti menimpa Mbok Tukinem. Mendadak suaminya terserang kanker ganas di bahunya. Mbok Tukinem tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali mendengarkan suaminya yang terkapar mengerang-ngerang kesakitan. Kalau suaminya merintih lukanya peri dan panas, dengan terbata-bata Mbok Tukinem meneteskan air dari botol ke lukanya.

    Di tengah keadaan demikian pun Mbok Tukinem tidak pernah mengeluh. Ia menerima nasibnya denga tabah. Ditimpa penderitaan yang tanpa belas kasihan itu, ia tetap percaya bahwa Tuhan senantiasa menyayanginya.

    Hanya satu kesdihannya. Selama suaminya sakit, ia tidak bisa ke gereja, karena harus menemaninya. “Saya khawatir akan sukma saya. Dari mana ia mendapat makanan kalau bukan dari Gusti (Tuhan)?” katanya.

    Biasanya Mbok Tukinem memang sering ke gereja. Sejak kecil ia memang sudah dibaptis dan menjadi seorang Katolik yang taat. Suaminya yang sakit itu tetap diajaknya bersembahyang.

                                            ***

    “GUSTI itu adil. Kalau Dia tidak adil yang diciptakan-Nya hanya satu, yaitu orang baik-baik saja. Namun, karena Dia adil, Dia menciptakan bermacam-macam. Ada yang pincang, ada yang buta, ada yang menderita. Mereka-mereka ini buat “pepak-pepak” jagat, di samping yang baik dan bahagia, “kata Mbok Tukinem.

    Kata-kata Mbo Tukinem ini kedengarannya janggal. Di manakah keadilan Tuhan, bila Dia menciptakan orang-orang yang menderita? Namun, di balik kata-katanya yang sederhana dan polos itu justru teraba imannya yang sejati, yakni bahwa Tuhan juga mencintai orang menderita dan buta seperti dia.

    Sejauh orang bisa meraba, Mbok Tukinem seakan mau mengatakan bahwa Tuhan itu tidak adil kalau Ia hanya mencintai yang baik dan bahagia. Keadilan-Nya bukan karena Ia menciptakan yang baik dan menderita, tetapi karena Ia menyayangi baik orang yang baik dan bahagia, maupun orang yang malang dan menderita. Kesederhanaan Mbok Tukinem tentu menyulitkan dia untuk merumuskan keyakinannya. Maka dikatakannyaTuhan itu adil karena ia juga menciptakan yang malang dan menderita untuk “pepak-pepak” jagat ini.

    Menjelang Natal tahun 1982, kata-kata Mbok Tukinem sungguh-sungguh terjadi. Ketika membaca berita tentang dirinya, banyak orang yang bersimpati pada penderitaannya. Hal yang sama sekali tidak terduga, terutama oleh Mbok Tukinem sendiri.

    Beberapa pembaca Kompas langsung memberikan sumbangan, tanda rasa keprihatinannya. Seorang bapak datang ke redaksi Kompas, menitipkan uang yang terbilang banyak. Bapak itu tidak mau disebut namanya sama sekali, bahkan menerima tanda terima pun ia tak mau. Hanya karena prosedur administrasi akhirnya ia mau menerima tanda terima itu.

    Sekelompok mahasiswa di Yogya mempunyai cara lain membantu Mbok Tukinem. Di papan pengemuman kampusnya dipasang gambar dan kisah Mbok Tukinem. Mahasiswa yang tergerak hatinya mencemplungkan uang entah Rp 50 atau Rp 100 ke dalam kotak bola badminton. Kotak akhirnya berisi Rp 15.495 dan kotak inilah yang diberikan kepada Mbok Tukinem lewat redaksi.

    Sekelompok mahasiswa dari Bandung kebetulan ikut kongres di Yogya. Kelompok itu berusaha mempengaruhi peserta lainnya. Dan dihadiakanlah Rp 51.00 buat Mbok Tukinem. Ada pula amplop berisi sumbangan, tetapi amplop itu tak bertuliskan apa-apa, kecuali kata-kata: “untuk Mbok Tukinem”.

    Sumbangan yang terkumpul mencapai jumlah Rp 1.155.000. Lalu Yayasan Kanker Kucala Yogya memberikan bantuan Rp 75.000. Dan Rumah Sakit Panti Rapih Yogya dengan segenap hati menolong suami Mbok Tukinem. Kini suami Mbok Tukinem itu di rawat di sana.

                                  

    MBOK Tukinem pasti tidak mengira akan mendapat bantuan sebesar itu. Pagi itu ia masih bilang, kalau perlu akan menjual salah satu dari tiga ayamnya, untuk memberi oleh-oleh kue sagon buat suaminya. Selama di rumah sakit, Mbok Tukinem baru mengunjunginya dua kali. “Suami saya pesan, kalau saya punya uang, ia minta dibelikan sagon. Ia juga bilang, kalau saya ada sangu, saya disuruh mengunjunginya. Kalau tidak punya, saya juga tidak boleh sedih, karena dia tak apa-apa, hanya minta didoakan saja, “ kata Mbok Tukinem. Entah kenapa, tiba-tiba Mbok Tukinem lalu menyeka air matanya.

    “Kenapa menangis, Mbok?”

    “Tidak apa-apa. Saya hanya rerungonen (mendengar sayup-sayup) suami saya yang sambat. Namun, saya berterima kasih pada Gusti, sekarang saya bisa ke gereja. Dan suami saya di rumah sakit bisa menyambut komuni untuk sukmanya, “kata Mbok Tukinem.

    Mbo Tukinem tidak kaget ketika diberitahu ia akan mendapat uang sebesar satu juta lebih itu. Maklum membayangkan jumlah uang sebesar itu, ia tidak bisa. Dikiranya itu jumlah yang sedikit saja. Baru setelah diberitahu, uang itu kira-kira bisa dibelikan empat ekor lembu atau 30 ekor kambing, ia tampak kaget dan tak percaya.

    Kula mboten saged malas napa-napa. Mugi Gusti ingkang paring bagas waras. Mugi Gusti ingkang males. Sageda sadaya wau gadah lintu, gancar nyambut damelipan. Matur nuwun sanget, kula matur nuwun (Saya tidak dapat membalas apa-apa. Semoga Tuhan memberi mereka kesehatan. Semoga Tuhan yang membalas. Semoga mereka mendapat ganti dan kebaikan mereka, lalu lancarlah pekerjaan mereka. Terima kasih sekali, saya sungguh berterima kasih).

                                           ***

    SELASA tanggal 21 Desember 1982, Mbok Tukinem mengunjungi suaminya. Ia membawa oleh-oleh berupa buah sawo, agar-agar dan sagon pesanan suaminya.

    Suaminya sudah kurang pendengaran. Dengan suara keras Mbok Tukinem memberi tahu banyak orang yang baik hati bagi mereka, dan memberi sumbangan, yang banyak jumlahnya. Suaminya hanya bisa bilang, “oh-oh”sambil tak henti-hentinya berpesan supaya istrinya menyampaikan terima kasih kepada orang-orang yang baik itu.

    Mbok Tukinem bertanya, akan digunakan untuk apa uang itu? Suaminya bilang kalau nanti sembuh, uang itu akan digunakan untuk beli lembu. Mbok Tukinem sendiri memang lebih suka lembu daripada kambing. “Apalagi kalau lembu itu sepasang, nanti kan bisa beranak, “katanya.

    Atas saran dan pertimbangan Pastor  Subiyatno dari Paroki Medari dan mengingat Mbok Tukinem juga buta, Selasa pagi di Rumah Sakit Panti Rapih Kompas menyerahkan sumbangan pembaca kepada M. Martono, Ketua Stasi Seyegan, sebagai wakil Mbok Tukinem.

    Pengelolaan uang akan dikonsultasikan dengan pastor Paroki Medari. Yang jelas sebagian uang akan dipergunakan untuk perawatan suami Mbok Tukinem. Sampai Februari tahun 1983, Suwitoutomo masih harus berada di Panti Rapih. Setelah itu akan di bawa ke RS Sardjito untuk menerima penyinaran pada lukanya.

    Menurut keterangan RS Panti Rapih, ia tidak bisa dioperasi kankernya terlalu ganas dan sudah menjalar. Maka peneyembuhan hanya bisa dilakukan dengan penyinaran. Keadaannya kini memang sudah mendingan tetapi tidak bisa dipastikan ia akan sembuh total.

    Siang itu Mbok Tukinem meniggalkan Panti Rapih. Ketua stasinya bertanya berapakah uang yang dibutuhkan sekarang? Mbok Tukinem asal sebut saja, Rp 30.000. Katanya, uang itu akan digunakan untuk membeli kain dan kebaya, serta untuk mengunjungi suaminya.

                                       ****

    PEMBACA Kompas memang memberi uang sebagai sumbangan. Namun, kiranya ada yang lebih di balik uang itu, yakni keprihatinan dan kasih sayang pada penderitaan Mbok Tukinem. Hal ini tampak dengan jelas, hampir semua dari mereka tidak mau disebut namanya atau tidak mempedulikan apakah orang lain tahu atau tidak tentang pemberiannya.

    Cinta kasih sesamanya adalah hadiah Natal buat Mbok Tukinem. Pada hari Natal ini kiranya Mbok Tukinem akan merasa bahwa penderitannya, banyak sesamanya yang mencintainya, dan justru dalam penderitannya Tuhan datang menyapa Mbok Tukinem lewat cinta kasih sesamanya. Dari penderitaan Mbok Tukinem seakan dikuatkan rahasia Natal: bahwa ternyata c i n t a   k a s i h  masih betakhta di antara kita.  

    Sumber Tulisan dari buku Segelas Beras untuk Berdua, Sindhunata, Kompas, 2006

  • 12.28 ke 13.28

    Cerpen Fince Bataona

    Maria menatap layar HP androidnya. Foto laut biru dan jam. Mengapa jam? Apapun yang kau pikirkan dan lakukan, selalu beriringan dengan waktu. Dia setia bergerak. Terus bergerak. Menandai perubahan. Mengingatkanmu. Meski terima kasih mungkin tak pernah kau ucapkan buatnya.

    “Satu jam lagi, saya berangkat. Untuk waktu yang lama dan  tak menentu, saya ada di sana. Tidak ada signal. HP mati total. Hubungi saya sekarang sebelum saya benar-benar pergi, Maria.”

    ***

    Ini malam entah kesekian. Dia tidak lagi menghitung. Yang setia dilakukannya adalah duduk sejenak di teras rumah usai makan malam. Kepada malam yang sepi. Kepada angin yang dingin. Kepada bintang yang berpendar, dia hanya menitip rindu. Rindu yang kekal. Padamu.

    Selalu begitu. Tiap kali begitu. Dia tahu, sia-sia berharap segala inginnya sampai padamu. Tapi dia percaya, dia sedang tak sia-sia melewati segala malam dalam doa yang sama. Dia teguh yakin, jika malam enggan bicara padamu, telinga Tuhan telah lebih dulu mendengar. Bahkan saat harap itu masih bersemayam dalam hati.

    Dingin terasa mulai menusuk hingga tulang. Lewoleba sedang berada pada puncak musim dingin di malam hari. Jacket tebal yang dipakainya tak cukup menghalau dingin.

    “Di kamar saja. Kehangatan ada di dalam. Sebab pintu dan jendela tertutup. Selimut tebal juga bisa menutupi seluruh tubuhmu. Dikau nyaman di dalam. Hanya dalam kamarmu.”

    “Saya ingin menulis.”

    “Tentang apa?”

    “Tentang hari ini.”

    Dipandanginya Laptop yang tak pernah tutup itu. Seperti pada HP, dia memandangi laut biru dan jam pada layarnya.

    *

    12.28 Wita.

    Siang yang panas tadi. Jalanan tidak seluruhnya beraspal mulus. Sebagiannya pecah dan berlubang. Sebagian lagi masih jalan tanah.

    “Ini wilayah Desa Nila Napo, Kecamatan Omesuri. Sebelahnya Desa Balurebong, Kecamatan Lebatukan. Kita sedang berada di dua wilayah kecamatan di Kabupaten Lembata, yang berbeda.”

    Perempuan berkulit putih dengan rambut pendek yang duduk di sebelah saya menjelaskan. Ibu camat. Suaminya, kepala wilayah Kecamatan Lebatukan.

    Mobil terus bergerak. Menyusuri kali kecil lalu jalanan tanah. Debu beterbangan naik ke udara bak kepulan asap saat kebakaran. Saya menoleh. Dari kejauhan, saya menyaksikan pepohonan, rerumputan dan bebatuan menerima dengan iklas sisa-sisa debu kendaraan kami. Seberapa tebal tepungnya menempel? Setiap hari, jalan ini pasti dilewati. Minimal sepeda motor.

    Iklasmu seumpama pepohonan, rerumputan dan bebatuan di pinggiran jalan ini, Maria. Diam, pasrah, tabah. Selalu begitu. Tiap kali begitu.

    “Ini lokasi penangkaran tukik,” ibu camat mengalihkan pikiran saya.

    Mobil berhenti di pinggir pantai. Air sedang surut jauh. Hamparan rumput laut hijau tumbuh di atas karang. Di kejauhan, Pulau Rusa terlihat anggun dikelilingi laut biru. Indah nian. Melepas lelah, mungkin pas di tempat seperti ini.

    “Kau anggun, Maria. Seperti itu dirimu. Dikelilingi banyak soal yang mengharu biru nuranimu, menguras air matamu. Tapi, kau senantiasa tegak berdiri. Itulah kau, Maria!”

    Bapak Mikael tersenyum lebar. Gigi-giginya hitam. Dia pasti biasa isap tembakau. Atau dia suka makan sirih pinang, seperti perempuan umumnya di kampung. Bapak Mikael pengecualian bersama beberapa laki-laki di kampung yang suka makan sirih pinang.

    Tubuhnya kurus dengan rambut keriting, beruban. Usianya sekitar 60-an tahun. Dia terlihat energik. Diperlihatkannya beberapa baskom plastik dan baskom dari ban bekas. Ratusan tukik bergerak. Berdesakan. Wadah ini terlampau kecil di usia mereka yang sudah sebulan. Di dasar baskom, rumput laut masih tersisa. “Makanan tukik hanya rumput laut”, katanya.  “Saya ambil tiap hari. Secukupnya saja untuk tukik.” Dalam sebuah ember bekas cat, ada sisa-sisa rumput laut yang masih segar.

    Seorang perempuan seusia bapak Mikael tergopoh menemui kami. Ramah tersenyum lebar memperlihatkan gigi-giginya yang hitam. Sama seperti bapak Mikael. Ema ini pasti selalu makan sirih pinang. Di bibirnya masih tersisa merah air sirih pinang.

    Kepada kami disodorinya pisang rebus. “Makanlah. Yang ada hanya ini.”  Suaranya lembut. Dia amat ramah. Polos. Apa adanya.

    Maria, itulah kau. Selalu ramah dan apa adanya. Jangan berubah!

    “Kak, ayo dimakan.” Ibu camat yang ramah, saya membathin. Warga di wilayah ini pasti menyenangi sosok sepertinya. Dia tak perlihatkan jarak saat bicara dengan istrinya bapak Mikael, tadi. Saya melihatnya bergurau seperti sahabatnya dan istri bapak Mikael lagi-lagi tertawa lebar. Gigi-giginya yang hitam dan sisa air sirih pinang tampak jelas. Mungkin semburat air ludahnya yang merah mengenai baju kaus putih ibu camat. Tapi, mereka tak peduli soal itu.

    Jadi pemimpin mesti begitu, Maria!

    Kau jaga jarak? Sok jaga image? Rakyatmu lebih tak peduli. Ketika kau ajak mereka sama-sama membangun wilayah, mereka bisa balik belakang seolah tak mengenalmu. Bagi mereka, bisa makan tiga kali saja, sudah cukup. Tidak ada urusan dengan segala tetek bengek ukuran keberhasilan seorang pemimpin. Itu patokanmu dengan pemimpin di atasmu.

    Beda, jika kau membangun ikatan emosional dengan mereka. Kalau kunjungan ke desa, duduklah bersama mereka di bale-bale. Makanlah ubi, pisang, jagung titi sambil minum tuak bersama mereka. Dengarkan mereka, lalu bicaralah bersama apa yang mau kau buat untuk kepentingan bersama.

    “Itu terlalu idealis.” Saya membantah, “Rakyat itu jadi komoditas politik semata untuk kepentingan pribadi. Main kuasa saja. Persetan dengan kepentingan mereka.”

    Di lokasi penangkaran, saya memandangi bangunan 2×3 meter penuh tanya. Seperti pos penjagaan. Catnya biru, Baru. Mungkin dicat sesaat sebelum kunjungan bapak gubernur. Sudah lama, bangunan itu berdiri, tapi dibiarkan begitu saja, kata Bapak Mikael. Karena bernama penangkaran tukik, bapak Mikael pun tergerak mengurus.

    Saban malam dia tidur di pasir pantai yang dingin. Saat dibacanya tanda alam penyu akan bertelur, dia setia menunggui. Menandai lokasi-lokasi penyu bertelur. Terus menjagai hingga telur-telur itu menetas. Memelihara dan merawat tukik dalam baskom plastic dan ban bekas hingga mereka harus dilepas ke laut.

    Jika memberinya nama penangkaran tukik, mengapa hanya ada bangunan kecil, semacam pos jaga? Saya menatap Bapak Mikael yang sedang sibuk memberi makan tukik. Urat tangannya tampak jelas. Dia pekerja. Sambil terus membagi-bagi rumput laut, dia terus berceritera dan saya mendengarnya dengan setia.

    Maria, kau pendengar yang baik, penuh perhatian pada setiap wajah yang mengeluh. Bahkan pada keluhan-keluhan remeh temeh, kau mendengarnya dengan sungguh. Tetaplah begitu, Maria.

    Bapak Mikael mengambil sepasang tukik yang melompat keluar dari dalam baskom. Terdesak dengan sesamanya yang pasti berebutan berada di posisi nyaman. Dia menggeleng berkali-kali dan saya memahami harapannya. Dia ingin memberi tukik lebih leluasa hidup.

    Hanya orang bernurani saja yang terusik melihat sesuatu yang hanya asal nama. Dia terganggu dengan sesuatu yang asal ada, di sekitarnya. Dan dia tidak menunggu untuk memulai sesuatu. Saya memegang tangannya, salut, bapak!

    Maria, lakukan sesuatu.

    Saya diam. Diskusi kita tentang pemimpin, kuasa, kesewenangan, seperti sebuah film pendek yang tengah diputar di depan saya.

    “Minggu depan sudah dibangun bak penampung untuk tukik-tukik itu.” Kepala Desa Balurebong dan Camat Lebatukan sudah berdiri di sebelah Bapak Mikael yang tersenyum sumringah. Dia bahagia.

    ***

    “Hubungi saya sekarang. Sebelum saya benar-benar pergi. Di sana, HP mati total.” Saya memandangi layar HP dengan perasaan tak menentu. Gelisah saya menekan nomor. Masuk. Tidak diangkat. Coba lagi. Tidak diangkat. Coba lagi dan tetap tidak diangkat.

    Nanar, saya terus pandangi waktu. Sedih perlahan berkecamuk.

    Di tangga pesawat, Adrian menatap layar HPnya. Membiarkan saya memanggil. “Maria, saya tidak kuat dengar, kalau kau bilang, saya tak kuat kehilanganmu. Jangan menangis, Maria.”

    Butiran air hanya menggantung di bola mata. Saya dekatkan jarak lihat ke layar HP. Tak! Waktu berubah. Jam12.28Wita ke 13.28 WIT. Lompatan waktu satu jam. Di depan sana, Pantai Wade bening menggoda. Lewoleba, 0508202

    Pantai Wade Lembata (Sumber Foto Google)

    Catatan:

    Ema: Panggilan untuk ibu dalam bahasa setempat

    Pantai Wade: salah satu obyek wisata pantai di Kecamatan Lebatukan, Kabupaten Lembata, Propinsi NTT dengan keunikan yang belum banyak diketahui umum adalah lompatan waktunya satu jam lebih cepat dari waktu di seluruh wilayah Lembata bahkan NTT (dari WITA ke WIT)

  • Sr. Franselin Sabu, SSpS: Tofa dan Kail untuk Orang Kusta

    Jakarta, berandanegeri.com. SUSTER Franselin Sabu, SSpS meminta saya bertemu di rumah kerabatnya dari Adonara, Flores Timur. Persisnya di sekitaran Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista), Kelurahan Bidaracina, Jakarta Timur. Tak jauh dari Gereja Santo Antonius Padua Bidaracina, paroki saya. Jauh-jauh terbang dari Ruteng, kota Kabupaten Manggarai, biarawati itu bertaruh waktu di Jakarta demi sejumlah panti rehabilitasi kusta di bawah naungan Yayasan Santo Damian Cancar, Keuskupan Ruteng, Manggarai, Flores, Nusa Tenggara Timur, milik Kongregasi Suster Misi Abdi Roh Kudus atau dalam kata bahasa Latin, Congregatio Missionalis Servarum Spiritus Sancti (SSpS).

    Ada Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Cancar, Kabupaten Manggarai, Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Unit Binongko, Manggarai Barat, dan Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Unit Ngalu, Waingapu, Sumba Timur. Meski singgah di rumah kenalannya di Bintaro, Tangerang, Provinsi Banten. “Ada kenalan yang menahan saya harus nginap di rumahnya. Mereka menyediakan mobil dan supir kapan saja bisa mengantar saya selama di Jakarta. Jadi, kita ketemu di Otista agar tidak mengganggu aktivitas ade,” kata Sr Franselin, SSpS, Ketua Yayasan Santo Damian Cancar, Manggarai dari balik telepon genggam. Tak sulit mencari alamat kerabatnya setelah tukang ojek online mengantar saya ke alamat yang dituju.

    Sr. Franselin SSpS, dan Penghuni Pantai Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Cancar, Manggarai

    Pagi ini, Sr Franselin mengontak saya dari Cancar, Manggarai, Flores. Ia mengabarkan, personil kelompok musik SLANK menyambangi anak asuhnya. Jauh-jauh dari Jakarta, SLANK berbaur dengan pengelola dan penghuni Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Unit Binongko, Labuan Bajo, Manggarai Barat, ujung barat Flores. Informasi kehadiran personil SLANK di panti rehabilitas kusta di bibir pantai itu membuat Sr Franselin segera meluncur ke panti rehabilitasi kusta dan cacat yang terlekat di kampung Binongko tersebut. Ingatan biarawati asal Adonara berdarah kampung Kluang, Boto, Lembata ini menyasar anak-anak asuhnya di panti rehabilitasi yang sebagian tinggal dan akrab dengan alam pedesaan dan pantai. Berikut kerja keras sebagian besar penghuni panti yang saban waktu bertaruh peluh di kebun atau laut untuk melatih kemandirian mereka.

    “Selama ini kita menampung, merawat, dan menyayangi para penghuni dengan cara berbeda. Mereka saling membantu satu sama lain dalam kondisi keterbatasan. Bagi yang punya kemampuan bertani, kita ajak mereka ambil bagian menolong temannya agar cepat mandiri. Jadi kalau penghuni panti ingin makan nasi atau jagung, kita minta donatur bantu tofa, pacul, parang atau klewang. Begitu pula kalau ingin makan ikan, kita minta donatur bantu kail atau sampan,” kata Sr Franselin. Menurutnya, di Ngalu jumlah orang kusta sebanyak kurang lebih 65. Mereka tinggal di rumah dan dilayani di sana pengelola. Kalau ada perawatan khusus dibawa ke klinik. Sedangkan di Binongko ada 20 orang. Kemudian di Cancar ada 80 orang tinggal dalam panti. Sebanyak 24 orang tinggal di luar.

    Biarawati yang ramah ini mengaku sudah menyatu dengan Manggarai. Ia menambahkan, selama mempersembahkan hidup dan karyanya bagi Tuhan melalui panggilan hidup membiara selama 34 tahun, nadinya sudah menyatu dengan komunitas SSpS Ruteng. Selama menjadi misionaris di Juba, kota negara Sudan Selatan, benua Afrika selama 6 tahun ia mengaku Tuhan sungguh luar biasa baginya.

    Sr. Franselin SSpS bersama Personil SLANK dan Penghuni Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat St. Damian Unit Binongko, Manggarai Barat

    Pimpinan SSpS Flores bagian barat mengutusnya kembali ke Manggarai, tanah Congka Sae, Manggarai, untuk kembali melayani Tuhan melalui sesama yang berkekurangan dalam fisik dan mental di Panti Rehabilitasi Kusta dan Cacat Santo Damian Cancar. “Jubah sangat indah dan saya bahagia melayani umat di negara baru itu meski beratap desingan peluruh akibat konflik yang mendera negara baru pecahan dari Sudan. Tetapi Tuhan mengutus saya kembali menjadi misionaris di Manggarai agar saya dapat melakukan sesuatu yang berguna dari Nusa Bunga untuk dunia,” kata Sr Franselin, anak kedua dari pasangan Alm Fransiskus Ola Ebang dan Almhr Juliana Kebang de Ona.

    Tentang Sudan Selatan

    Saya tertarik dengan kisah Sr Franselin SSpS tatkala menjadi misionaris di Juba, Sudan Selatan. Bayangan tentang Addis Ababa, tanah Misi di negara pecahan Sudan yang kering kerontang, tandus, dan panas sirna. Ia mengaku pada Minggu 5 September 2010 pukul 11.30 waktu setempat, untuk pertama kali ia menginjakkan kaki di tanah Addis Ababa, Sudan Selatan, Afrika. Udara kota negara Republik Demokratik Ethiopia yang terletak di Benua Afrika itu dingin dan hujan terus mengguyur. Setelah mengurus visa ke Sudan, Sr Franselin didampingi rekan-rekan biarawati sesama kongregasi yang bertugas di Addis Ababa, berkesempatan melihat-lihat kota itu sebelum ia terbang ke Juba, ibu kota Sudan Selatan.

    “Addis Ababa sangat indah. Setelah menelusuri beberapa tempat saya lihat para penghuni kota itu hidup berdampingan dengan damai. Kaum wanitanya juga cantik seperti kebanyakan orang Arab,” ujar Sr Franseline kepada saya melalui surat elektronik (e-mail) dari Addis Ababa, Ethiopia, Selasa, 14 September 2010. Setelah proses visanya selesai, seharusnya pada Senin, 13/9, pukul 10.00 waktu Addis Ababa biarawati asal Pulau Adonara, Keuskupan Larantuka, Flores Timur, itu bertolak ke Juba. Namun, penerbangan baru terjadi pada pukul 04.00 sore.

    Saat itu seluruh penumpang sudah di dalam pesawat, tetapi hujan lebat sekali sehingga para penumpang disuruh turun. Penerbangan akhirnya ditunda sampai besok siang pukul 13.30. “Seluruh penumpang diinapkan di hotel yang disiapkan maskapai penerbangan. Hotel ini juga menyediakan fasilitas internet sehingga saya bisa menghubungi rekan-rekan suster di komunitas,” kata biarawati kelahiran Boto, Lembata, NTT, ini.

    Menurut Sr Franselin, sebelum menjadi misionaris di Sudan Selagan ia bertugas di sebuah komunitas SSpS di Bima, Nusa Tenggara Barat. Di Bima ada sebuah karya sosial di bidang kesehatan yang ditangani para suster suster SSpS.Namun, belum beberapa lama mengemban misi sosial kemanusiaan itu, ia mendapat tugas baru di Sudan, Afrika Selatan. Sebelum menjalani misinya di Benua Afrika, Sr Franselin bertolak ke Australia guna mengikuti kursus persiapan selama enam bulan.

    Pada awal September 2010, ia terbang ke Addis Ababa, Ethiopia, melalui Dubai, Uni Emirat Arab. Tepat pada 5 September, ia menginjakkan kaki di Addis Ababa. Sebelum masuk Juba, ia terus membayangkan negara tujuannya, Sudan, yang tinggal seminggu melakukan jajak pendapat, referendum, untuk Sudan Selatan pada 9 Januari 2011. “Kita semua perlu berdoa agar referendum berjalan lancar, aman, dan damai agar nama Tuhan semakin dimuliakan di muka bumi,” kata Sr Franselin, biarawati yang lahir sebagai anak kedua kemudian mengikuti jejak Pastor Petrus Payong SVD (Alm), kakak sulungnya sebagai pelayan Sabda. “Saya sungguh merasakan kasih Tuhan dengan melayani sesama. Selama 34 tahun hidup membiara, saya sudah 28 tahun menyatu dengan orang-orang yang saya kasihi di Pusat Rehabilitasi Kusta Cancar dan sesama saudara saya di Manggarai. Di sini saya melayani dengan cara berbeda. Kalau ada yang berbaik hati menawarkan beras, pisang, ibu atau sayur maka saya minta tofa, klewang, benih agar anak asuh bisa bekerja memberdayakan diri dan saling melayani. Begitu pula kalau ada yang orang baik hati mau beri ikan untuk anak asuh saya minta bantuan kail atau sampan,” kata Sr Franselin.

    Jakarta, 6 September 2020
    Ansel Deri
    Orang udik dari kampung;
    Pernah ke Labuan Bajo

  • Cony Setelah Tuan Niko Duli

    Cony Setelah Tuan Niko Duli

    NUSA Tenggara Timur mengenal dua sosok orang baik. Satu Prof Dr Cornelis Lay MA (61) dan lainnya, Pastor Nikolaus Duli Lolon Pr. Baik amatana Cony maupun ama tuan Niko sama-sama mengabdi di jalur pendidikan. Bedanya, satu awam, lainnya imam (pastor) dalam Gereja Katolik. Mengabdi di tempat berlainan berjarak ribuan kilometer, saya yakin dua sosok warga NTT di rantau ini bisa saja tak saling kenal. Cony dari Kupang. Sedang tuan Niko dari Mulankera, sebuah kampung kecil di bibir pantai selatan Pulau Lembata, menghadap ke Laut Sawu. Ama tuan Niko mengabdi di Pangkalpinang, Provinsi Bangka Belitung (Babel), provinsi di tapal batas perairan Semenanjung Malaka menghadap negeri tetangga, Singapura. Mereka mungkin bersua dalam buku atau artikel-artikel di jurnal atau koran.

    Bu Cony -kalau lidah saya manjakan dengan dialek Kupang- adalah Profesor pada Departemen Politik dan Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Hiruk pikuk urusan politik nasional, bu Cony, salah seorang intelektual dan ahli politik adalah orang yang selalu (di)jadi(kan) rujukan. Selain tentu banyak ilmuwan dan ahli politik lainnya dari kompleks Bulaksumur atau kampus-kampus lainnya di Indonesia. Dari namanya, meski saya orang udik yang baru mengenal beliau dari membaca dan sedikit diskusi dengan saudara-saudari sesama orang kampung dari tanah Flobamora, saya bisa pastikan ia berdarah Sabu.

    Beberapa kali saya inbox beliau via jejaring maya Facebook, amatana Cony baru respon. Senang, tentu. Demi pendidikan, amatana Cony rela pigi melarat (dalam dialek kampung saya), meninggalkan orangtua dan kerabatnya di Kupang. Ia menuju Yogyakarta. “Bu Cony baru saja meninggal tadi pagi di Rumah Sakit Panti Rapih. Saya kehilangan sahabat baik. Seorang intelektual, ahli di bidang pemikiran politik. Orangnya rendah hati dan suka berbagi ilmu,” kata Frans Maniagasi, intelektual Papua lulusan UGM kepada saya pagi ini. “Baru bu Cony ko kenal k tida? Pele….. Itu laki-laki sunggu mati. De pintar sampe…..,” kata Maniagasi. Maniagasi, analis politik asli Papua kagum pada Cony, memuji kehebatan dan kemampuan koleganya. Ia menyarankan agar kalau diskusi mendapat ilmu dan nasehat, saya bisa bertanya pada Cony, sesama orang kampung dari NTT. “Siyap dan hormat dibri, kaka tuan,” kata saya menimpali usulan Maniagasi gaya Papua.

    Kabar Cony pukul 05.00 WIB membuat mata Maniagasi sembab. Air matanya gugur mengenal Cony, seniornya di jurusan Politik dan Pemerintahan pada Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. Anak Kupang dan Papua itu bersahabat sejak 30 tahun lalu tatkala Maniagasi diterima di Fisipol UGM tahun 1981. “Cuma saya satu-satunya mahasiswa dari Irian Jaya saat itu. Sehingga dia jadi abang saya di kampus. Ada teman-teman lain dari NTT yang seangkatan tapi Cony jadi jangkar buat kami-kami. Ada uang 200 ribu dia panggil dan tanya saya. ‘Sudah makan?’ Kalau saya bilang belum, dia kasih 15 atau 20 ribu saya beli makan. Sampai hal-hal seperti itu. Selain bicara dan diskusi tentang ilmu-ilmu sosial dan politik,” kata Maniagasi pada saya.

    Tuan Acong

    Ket. Foto: Nikolaus Duli Lolon, Pr. Foto oleh Stefan Kelen, Pr

    Sosok lain adalah Romo Diosesan (RD) Nikolaus Duli Lolon Pr. Di kampung sapaan sopan adalah tuan/bapa tuan Niko. Tuan Niko saat dipercaya sebagai Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Bentara Persada Batam, Keuskupan Pangkalpinang. Kemarin ia pamit ke rumah-Nya di Rumah Sakit St Carolus, Jalan Salemba Raya Jakarta Pusat. “Romo Niko Duli adalah imam diosesan Keuskupan Pangkalpinang. Ia sosok imam yang potensial bagi umat, terutama orang muda Katolik. Selama ini ia mempunyai kontribusi besar membangun metode pemberdayaan OMK di Keuskupan Pangkalpinang dengan membentuk lembaga out bond La Vita. Istilah kata bahasa Latin yang berarti hidup dan bertumbuh,” kata ama tuan Stefan Kelen Pr, Ketua Komsos Keuskupan Pangkalpinang.

    Badan tuan Niko Duli tinggi. Ia ramah, cerdas dan mudah bergaul. Ia membangun La Vita dan membentuk tim pastoral kaum muda untuk menjadi trainner atau pelatulih di La Vita. Keuskupan Pangkalpinang tugaskan beliau masuk Jakarta untuk kuliah hukum di Universitas Atmajaya. Ia lulus dengan predikat summa cum laude. Ia langsung disuruh lagi studi S-2 bidang ator sumber daya manusia di kampus di bilangan Semanggi itu. Ia raih S-2 Magister Manajemen. Usai rampungkan S-1 dan S-2 tuan Niko balik Pangkalpinang. Uskup Hilarius Moa Nurak SVD (Alm) kasi anak nelayan ini jadi Ketua Yayasan Tunas Karya (YTK), Pangkapinang. Yayasan ini tangani 44 sekolah Katolik di Kepulauan Bangka Belitung, Provinsi Bangka Belitung dan Kepulauan Riau. Selama menjadi Ketua YTK ia bangun sistem dan manajemen SDM di lingkungan yayasan. “Beliau sangat akrab dengan para tenaga pendidik dan kependidikan di sekolah-sekolah di lingkungan YTK. Ia sosok yang humoris, tidak menunjukkan bahwa ia adalah pemimpin yang harus disembah. Tidak mengkomunikasikan kultur feodalistik dari gayanya memimpin. Ia selalu membuat kajian sebelum menetapkan suatu kebikakan umum berkaitan dengan YTK sebagai lembaga publik. Ada transparansi dan akuntabilitas yang ia tunjukkan,” kata tuan Stefan Kelen, pastor dari kampung di Flores Timur, ujung timur Pulau Flores.

    Tuan Niko Duli juga peduli dengan masyarakat kecil tak berdaya. Selain turun ke tengah masyarakat, ia juga menulis gagasan-gagasan profetisnya di Bangka Pos, koran lokal. Ia adalah Imam Projo pertama Pangkalpinang yang ikuti seleksi jadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Provinsi Bangka Belitung. Namun, ia tidak lolos seleksi, hanya berada di urutan ke 6. Pesentasi makalah di hadapan tim seleksi, ia sangat mampu kasi argumentasi. Ia sungguh menguasai materi. Di luar itu, tuan Niko adalah sosok humoris. “Kami menyapanya ‘Romo Acong’. Setiap ia berkesempatan memimpin Misa selama ia kuliah di Jakarta, Acong adalah nama rekaan pedagang yang diangkat dalam kotbah. Karena itu kami menyapa dengan nama nama ‘Romo Acong’. Romo Niko suka melucu dan mengundang tawa,” kata Petrus Bala Pattyona, praktisi hukum asal kampung Kluang, Desa Belabaja, Lembata.

    Tuan Niko lahir di Mulankera, Desa Atakera, Lembata, 15 Agustus 1965. Ia lahir dari ayah-ibu Matias Laba-Juliana Barek Koban. Dibaptis di Mulankera pada 26 Agustus 1967 dan ditahbiskan jadi imam di Lekebai, Flores pada 19 September 1999. Alm menyelesaikan SD di SD Katolik Bersubsidi Labala, Wulandoni tahun 1975 -1980. Ia kemudian masuk SMP St. Pius X di Lewoleba tahun 1980-1983. Ia kemudian masuk SMA Kawula Karya Lewoleba, Lembata tahun 1983-1986. Masuk Tahun Orientasi Rohani di Seminari Tinggi St. Petrus, Sinaksak, Pematangsiantar dari Tahun 1986 s/d. 1994. Kemudian Tahun Orientasi Pastoral (TOP) di Paroki Regina Pacis, Tanjungpandan, Belitung Agustus 1995-1996. Ia lalu kuliah di STFT Widya Sasana, Malang September 1996-April 1999.

    Ia pernah membantu Paroki Pangkalpinang mulai 1 November 1999-2022. Berturut-turut ia Delegatus Komisi Kepemudaan, 1 April 2002s-2006; Ketua Pengurus Asrama St. Theresia mulai 1 Juni 2002 – 30 Juli 2005; Pastor Pembantu Paroki Pangkalpinang mulai 1 Juni 1998-Oktober 1999. Lalu Anggota Dewan Imam Keuskupan Pangkalpinang & Perangkat Tribunal & Hakim Keuskupan Pangkalpinang mulai 1-Jun-2005-1-Jun-2008; Ketua Badan Penyelenggara Seminari Menengah Mario John Boen Keuskupan Pangkalpinang per 1 April 2011; Ketua Yayasan Tunas Karya Pangkalpinag 2011-2015; Anggota Tim Penyusun Buku Sinode II Keuskupan Pangkalpinang sejak 27 Agustus 2011. Terakhir ia menjabat Ketua Sekolah Tinggi Bentara Persada Batam sejak 2013.

    Rabu pagi (5/8) pukul 08.30 WIB tuan Niko bertolak dari Jakarta ke Pangkalpinang. Tuan Niko meninggalkan RS St Carolus Jakarta. Ia segera berada Katedral St. Yosef Pangkalping. Pagi ini juga bu Cony segera ke rumah-Nya via RS Panti Rapih Yogyakarta. Guru Cony dan tuan Niko memenuhi panggilan Tuhan Sang Sabda. Selamat jalan, amatana Cony. Selamat jalan, ama tuan Niko. NTT tentu kehilangan dua guru rendah hati dari rahim Flobamora.

    Jakarta, 5 Agustus 2020
    Ansel Deri
    Orang udik dari kampung;
    Untuk amatana Cornelis Lay & ama tuan Niko Duli Lolon

  • Sapardi dan Puisi yang Mampus

    Sapardi dan Puisi yang Mampus

    Ansel Deri

    KALAU Sapardi Djoko Damono masih hidup ia akan menertawakan kami. Tinggal di kaki gunung dengan kawalan belukar yang masih perawan, teman kami adalah katak di sungai, ubi kayu dari kebun orangtua, dan panorama alam pegunungan nan eksotik. Puisi dengan modal kata? Sabar dulu. Biarkan kami anak laki berdeklamasi dengan baju disisip dengan celana sobek di bawah selangkangan. Atau rok teman-teman sesama anak kampung yang dijahit dengan benang hasil pintal ibu-ibu mereka.

    Nikmat? Tentu. Tapi, jangankan Chairil Anwar atau Idrus, nama “tuan tanah” di jagad sastra, tuan Sapardi pun tak akan ambil pusing dengan kami. Kalaupun mereka tahu kami anak-anak tengah berdeklamasi ria di bawah hawa gunung yang manja, mungkin hanya sebait doa mereka yang rapuh di sunyi puisi dari Jakarta, kota bertabur beton. Kami hanya berdeklamasi. Bukan berpuisi. Kok begitu? Ya, tak ada kata “puisi” yang membaptis omongan-omongan lisan rada seni yang indah. Puisi kami sudah mampus: kami “berpuisi” dengan gambar.

    Kamus Besar Bahasa Indonesia, gudang kata, adalah barang mewah tuan-tuan yang mengatur negara. Kami terpaut jauh. Sejauh langit dan bumi; bumi, tanah leluhur tempat kami pijak nun di lereng. Kata yang segera menjadi puisi telah lama mampus. Puisi sudah lapar dan lama mati di tengah sunyi: dibalut rimba lereng. Ia mati tapi tidak (mati) dalam batok kepala kami yang telah penuh dengan gizi ubi kayu, bunga & daun pepaya dari ladang bapak & ibu kami. Otak kami sudah menyatu dengan katak di sungai yang mengalir di lekuk alam yang masih perawan. Puisi mati tapi ia suci dan bertahan dalam benak kami. Ia beranak pinak dalam wajah ubi kayu, pisang, katak, daunan hijau yang kami santap di ladang atau di bibir anak sungai, tak jauh dari kampung. Kalaupun Sapardi, Chairil atau Idrus tahu kala itu, ia akan menyapa kami dari jauh: dalam puisi meski nantinya puisi juga jadi barang asing.

    Mengapa? Kami punya sebatas satu ini: deklamasi. Pun musiman. Untung-untungan kalau guru kami membawa kami ke tengah lapangan lalu kata luruh seperti butiran jagung dari serbet ibu yang sudah kabur warnanya. Kemudian satu per satu disuruh deklamasi modal corat coret guru di atas selembar kertas putih polos agar kata merasuk sukma yang sudah kebal dengan gizi dari dapur sederhana ibu. “Tali celana kamu diikat kuat. Kalau saat berekspresi dalam deklamasi celana kalian tidak melorot. Sayang kalo tali celana putus ayahmu bisa pening. Kata-kata yang kita produksi adalah bahasa jiwa. Ia lentera batin melihat ke (dunia) luar,” kata guru Bahasa Indonesia kala itu.

    Puisi? Tak ada. Sekali lagi: puisi sudah (lama) mampus. Tapi ia jadi seperti orang suci, kudus dalam batin. Ia akan setia bekerja membasuh jiwa kita, jiwamu, kelak di manapun ujung bumi kau pijak. Puisi akan jadi guru dalam setiap jejak tapak yang kau ciptakan, katanya. Benar. Bersentuhan dengan Golgota, tempat tengkorak, dalam (baru belakangan setelah “deklamasi” bergeser) puisi di kota Timor, di atas batu karang dalam selembar koran lokal. Puisi (nama baru) menemui ruang edisi Minggu. Menyebut penulis deklamasi takut dibilang ndeso: kampungan. Dibilang penyair terlalu tinggi setinggi gunung Labalekan. Ya, mau dibilang apa, terserah. Tapi jangan dibilang penyair. Terlalu berlebihan. Atau abai lebe lebe, kata orang Kupang. Saya tidak di posisi itu. Pas kalau menyebut John Dami Mukese di tingkat lokal (sekadar menyebut satu nama) atau Sapardi, Chairil Anwar atau Idrus di level atas. Kalau Sapardi, ya. Sapardi dalam hati saya tak lebih seorang pemangku ulayat “deklamasi”, “puisi” dalam khasana satra Indonesia. Ia telah memenuhi panggilan Tuhan, sang Penyair dari segala penyair. Langit negeri bertabur kata di Ahad 19 Juli 2020 di Rumah Sakit Eka, Tangerang Selatan, seputaran Bumi Serpong Damai, Banten. Sapardi menutup mata selamanya menghadap Tuhan, Sang Sabda.

    Sosok Sapardi

    Siapa sastrawan Sapardi Joko Damono? Ia bukan orang kampung saya. Tapi kelak ia telah mengajarkan banyak orang arti mengolah batin, mencintai manusia, dan negeri di mana kita tinggal. Negeri bertabur onggokan tanah besar dan kecil bernama seperti Lembata. Pulau yang juga jadi tempat lahir Prof Dr Gregorius Perawin (Gorys) Keraf, guru besar dan ahli Tata Bahasa Indonesia. Sapardi lahir di Solo, Jawa Tengah pada 20 Maret 1943. Ia anak pertama dari dua bersaudara pasangan orangtua Sadyoko dan Sapariah. Sekolah mulai SD hingga SMA ia lalui di Solo. ‘Melarat’ (dalam istilah kampung saya) atau merantau ke Jogja, ia diterima di jurusan Sastra Inggris di Universitas Gadjah Mada hingga meraih gelar tahun 1964. Tahun 1970-1971, ia terbang ke Hawaii untuk menempuh pendidikan non gelar di University of Hawaii, Honolulu. Masa studi Sapardi yang kala itu saya masih orok setelah ibu pecah ketuban di hutan tak jauh dari kampung dan saya mulai bertemu dunia luas. Tahun 1989, Sapardi meraih gelar doktor (S-3) Universitas Indonesia (UI). Disertasinya membedah novel-novel di Jawa tahun 1950-an. Baru tahun 1995, ia dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra kampus negeri itu.

    Jejak Sapardi

    Sapardi memiliki sejarah panjang pengabdiannya di jalur pendidikan. Ia guru di ruang kuliah dan guru di tengah masyarakat. Ia tentu mengajar bagaimana cara olah gerak mimik dan tubuh yang baik saat deklamasi, berpuisi bagi banyak orang terutama para penyair Indonesia bahkan dunia. Kompas.com menulis sekilas jejak pengabdian Sapardi. Ia pernah menjadi dosen tetap, Ketua Jurusan Bahasa Inggris, IKIP Malang Cabang Madiun, tahun 1964-1968. Tak lama diangkat sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra-Budaya, Universitas Diponegoro, Semarang, tahun 1968-1973. Sejak 1974, ia bekerja sebagai dosen tetap di Fakultas Sastra, UI, jurusan Sastra Indonesia. Fakultas ini yang kalau tak salah juga ada Gorys Perawin Keraf, penulis Tata Bahasa Indonesia, buku yang jadi bacaan di sekolah-sekolah, termasuk kampus-kampus di Indonesia. Sapardi pernah menjabat Pembantu Dekan III, Fakultas Sastra, UI kurun waktu tahun 1979-1982. Tak lama kemudian diangkat jadi Pembantu Dekan I pada 1982-1996. Lalu menjabat Dekan tahun 1996-1999 di UI.

    Tahun 2005, ia memasuki masa pensiun sebagai guru besar Fakultas Ilmu Budaya, UI. Meski demikian, ia masih diberi tugas sebagai promotor dan penguji di beberapa perguruan tinggi, termasuk menjadi konsultan Badan Bahasa. Ia juga aktif di lembaga seni dan sastra tahun 1970-1980. Ia pernah menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia Jakarta (1973-1980), redaksi majalah sastra Horison (1973), Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra HB Jassin (sejak 1975), anggota Dewan Kesenian, anggota Badan Pertimbangan Perbukuan Balai Pustaka Jakarta (sejak 1987) dan lain-lain. Tahun 1986, Sapardi mengemukakan perlunya mendirikan organisasi profesi kesastraan di Indonesia. Ia pun mendirikan organisasi bernama Himpunan Sarjana-Kesusasteraan Indonesia (Hiski) pada 1988 dan terpilih sebagai Ketua Umum Hiski Pusat selama tiga periode. Sapardi juga tercatat sebagai anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI), dan sebagai anggota Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV). Selain aktif di dunia sastra dalam negeri, Sapardi juga sering menghadiri berbagai pertemuan internasional, seperti Translation Workshop dan Poetry International di Rotterdam, Belanda (1971) dan Seminar on Literature and Social Exchange in Asia di Australia National University Canberra.

    Merujuk Ikhtisar Kesusasteraan Indonesia Modern (1988) karya Pamusuk Eneste, Sapardi dimasukkan dalam kelompok pengarang Angkatan 1970-an. Begitu pula dalam Sastra Indonesia Modern II (1989) karya A Teeuw, Sapardi digambarkan sebagai cendekiawan muda yang mulai menulis sekitar 1960. Puisinya banyak dikagumi. Mengapa? Banyak kesamaan dengan yang ada dalam persajakan Barat yang disebut simbolisme sejak akhir abad ke-19. Beberapa karyanya adalah Duka-Mu Abadi (1969), Mata Pisau (1974), Perahu Kertas (1983), Sihir Hujan (1984), Hujan Bulan Juni (1994), dan Arloji (1998). Serta Ayat-ayat Api (2000), Mata Jendela (2000), Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro (2003), kumpulan cerpen Pengarang Telah Mati (2001), dan kumpulan sajak Kolam (2009).

    Sapardi sungguh pakar sastra yang dimilik Indonesia. Beberapa buku penting karyanya saya sebut di sini. Misalnya, Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas (1978), Novel Sastra Indonesia Sebelum Perang (1979), Kesusastraan Indonesia Modern: Beberapa Catatan (1999), Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur (1996), Politik, Ideologi, dan Sastra Hibrida (1999), Sihir Rendra: Permainan Makna (1999), dan Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan: Sebuah Catatan Awal. Ia juga menerjemahkan beberapa karya sastra asing ke dalam bahasa Indonesia. Misalnya, Lelaki Tua dan Laut (The Old Man and the Sea, Hemingway); Daisy Manis (Daisy Milles, Henry James); Puisi Brasilia Modern; George Siferis; Sepilihan Sajak; Puisi Cina Klasik; Puisi Klasik; Shakuntala; Dimensi Mistik dalam Islam karya Annemarie Schimmel; Afrika yang Resah (Song of Lowino dan Song of Ocol oleh Okot p’Bitek); Duka Cita bagi Elektra (Mourning Becomes Electra oleh Eugene O’Neill); Amarah I dan II (The Grapes of Wrath, John Steinbeck), dan lain-lain.

    Apresiasi

    Sapardi adalah sastrawan berjasa di bidangnya selama masih hidup. Peran dan karyanya di bidang sastra, berbuah aneka penghargaan, apresiasi di bidang sastra. Hadiah Majalah Basis atas puisinya “Balada Matinya Seorang Pemberontak” (1963); Penghargaan Cultural Award dari Pemerintah Australia (1978); Mendapat Hadiah Anugerah Puisi-Puisi Putera II untuk bukunya Sihir Hujan dari Malaysia (1983); Mendapat hadiah dari Dewan Kesenian Jakarta atas bukunya yang berjudul Perahu Kertas (1984); Mataram Award (1985); Menerima hadiah SEA Write Award (Hadiah Sastra Asean) dari Thailand (1986); Mendapat Anugerah Seni dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1990); Kalyana Kretya dari Menristek RI (1996); Mendapat penghargaan The Achmad Bakrie Award for Literature (2003); Khatulistiwa Award (2004); dan Penghargaan dari Akademi Jakarta 2012). Hari ini dunia sastra Tanah Air tentu merasa kehilangan Sapardi. Tapi, saya percaya panggilan Sang Sabda lebih ia rindukan. Sapardi tak mau puisinya tetap hadir nun di rumah-Nya. Tak lagi seperti kami anak kampung tempo doeloe yang suka deklamasi di tengah lapangan di bawah bayang-bayang tali celana yang rerancam putus. Meski perut kami sudah aman dengan singkong, daging katak atau pesona alam pegunungan yang menggoda dan menyemangati kami melangkah dalam diam demi masa depan. Meski kami relah puisi kami mampus dan kami bertahan dengan deklamasi saja.

    Sapardi, saya akan deklamasikan Hujan Bulan Juni, puisi karyamu. Dalam hati tentunya. Kali ini saya deklamasikan tanpa tali celana berbahan benang pintalan ibu atau tali waru hasil kreasi ayah saya di kampung saat saya masih kecil.

    Hujan Bulan Juni

    tak ada yang lebih tabah

    dari hujan bulan Juni

    dirahasiakannya rintik rindunya

    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak

    dari hujan bulan Juni

    dihapusnya jejak-jejak kakinya

    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif

    dari hujan bulan Juni

    dibiarkannya yang tak terucapkan

    diserap akar pohon bunga itu

    —-1994———————

    Selamat jalan, Sapardi. Berpuisilah dari Surga agar puisi tak lagi mampus seperti dulu; dalam sunyi alam pegunungan. Bahagia selalu. Selalu, Sapardi Requiscat In Pace. Damailah di sisi-Nya.


    Ansel Deri
    Orang udik penikmat sastra;
    Mengenang Sapardi Djoko Damono

  • Arief, “Dian”, dan Taman Suropati

    Arief, “Dian”, dan Taman Suropati

    Oleh Ansel Deri

    SUATU waktu antara tahun 1999-2000. Saya berjalan kaki dari kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) menuju Taman Suropati, Menteng, tak jauh kediaman Soeharto, Presiden Republik Indonesia selama 32 tahun lebih. Setelah bertemu narasumber di YLBHI di bilangan Jalan Diponegoro, Menteng. Kantor itu seatap dengan kantor Koordinator untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras). Kontras ini yang belakangan naik daun di bawah pimpinan mas Munir Abdul Thalib atau beken dengan sapaan Munir, arek Malang bertubuh kecil namun berotak cerdas. Selain tentu mas Teten Masduki (kini Menteri yang membantu Presiden Joko Widodo), koordinator Indonesia Corruption Watch (ICW). Di ruang ini, saya pernah bersua dengan Munir. Munir ini yang belakangan heboh dengan kisah diracun dengan arsenik dalam pesawat Garuda Indonesia rute Jakarta-Amsterdam.

    Tak hanya Munir. Mas Bambang Wijojanto juga pernah saya temui. Selain sebagai narasumber untuk laporan saya ke Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian di Ende, Flores. Selain wawancara dengan mas Bambang, saya juga sempat mengajak mas Bambang (belakangan jadi anggota Komisi Pemberantasan Korupsi) untuk menjadi keynote speech peluncuran OZON, majalah berita bulanan yang saya ikut rintis dengan core sajian seputar lingkungan hidup, pertambangan, pariwisata, kehutanan, dll. Majalah milik Pak Karel Danorikoe, putra Todo, Manggarai, kami launching (luncurkan) di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Cipayung, Jakarta Timur. Dari YLBHI saya juga leluasa mewawancarai Ibu Apong Herlina SH, Direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta, terutama soal isu-isu hukum di DKI Jakarta.

    Niat saya ke Taman Suropati tak lain melihat dari dekat aksi demo di jalan antara Kantor Menteri Bappenas dan Taman Suropati. Sebagian massa duduk-duduk dalam taman itu karena mungkin kelelahan. Selain sebagai bahan laporan saya ke Dian, sekalian juga kongkow-kongkow dengan beberapa rekan wartawan yang baru saya kenal. Maklum. Wartawan muka baru. Perlu gaul dan bisa melatih lidah saya agak tak kaku lagi dengan bahasa Indonesia logat Kupang atau Lembata. Begitu kira-kira bayangan saya saat itu. Sambil ngeteh dan nikmati tahu dan tempe goreng dengan seorang rekan wartawan asal Semarang, mata saya tertuju pada sosok yang familiar di bawah pohon. Ia tengah dikerubuti beberapa rekan media.

    Kali ini saya sungguh beruntung. Bertemu langsung dengan Arief Budiman. Nama aslinya Soe Hok Djin. Ia tak sekadar seorang sosiolog namun juga penulis hebat dan intelektual Indonesia. Ia pemikir kritis era Orde Baru. Kala itu wajah dan komentarnya kerap menghiasi sejumlah media nasional. Namun, dalam pikiran saya Arief adalah pengajar Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. “Itu Pak Arief Budiman, mas. Sosiolog yang brilian. Kayanya beliau lagi tugas di Jakarta. Bisa sampari dan wawancara beliau. Asyik orangnya,” kata mas Joko, rekan jurnalis kepada saya. Tantangan baru bagi saya mewawancarai tokoh sekaliber Arief Budiman. Saya mencoba meyakinkan diri. Kalau saja Pak Ali Sadikin, mantan Gubernur DKI Jakarta, Jenderal Kemal Idris, Chris Siner Keytimu, Roch Basuki Mangunpurojo saja saya tembus mewawancarai mereka, mengapa Pak Arief nggak bisa?

    Itulah alasan saya mendekati Arief Budiman, mengorek banyak soal tentang demo yang kerap dilakukan rekan-rekan mahasiswa dan elemen-elemen lain kala itu. Dari mana pangkal soal aksi demo yang kerap melimpuhkan beberapa ruas jalan di Ibukota. Apakah pangkal soalnya adalah kebijakan Presiden Soeharto yang ditentang sebagian kalangan atau ada agenda lain di balik itu. Bagi saya, Arief Budiman adalah sosok yang tepat saya ajukan pertanyaan. “Saya sudah lama tahu Dian. Media itu kayanya sudah lama terbit. Anda ditugaskan Dian di Jakarta?” tanya Pak Arief usai saya wawancara. “Saya hanya kontributor lepas, Pa Arief. Saya terima kasih karena sudah menyampaikan banyak gagasan,” kata saya menimpali. Dan ia segera bergegas meninggalkan Taman Suropati.

    Nama Arief Budiman belakangan menghilang. Sosiolog ini kabarnya menuju Melbourne, Australia dan menjadi pengajar di Melbourne University. Di kota negeri Kanguru itu, ia sempat menghabiskan waktunya sebagai dosen. Kabar Arief mengajar di kampus itu juga pernah disinggung ama Dr Justin Laba Wejak, salah seorang pengajar Kajian Asia di Melbourne University dari kampung Baolangu, Nubatukan, Lembata. “Tapi kayanya beliau sudah kembali ke Salatiga,” kata ama Justin. Hari ini, kabar mengejutkan Arief Budiman berpulang. Sosiolog brilian kebanggaan itu menghadap Tuhan. Ia menutup mata di bawah langit Ungaran, Jawa Tengah pada Kamis, 23 April 2020 di usia 79 tahun.

    Justin mengenang kolega baiknya itu, sesama pengajar di Melbourne University, melalui Ata Lembata, grup WA warga asal Lembata sedunia. Kata Justin, Prof. Arief Budiman, akademisi dan aktivis, menjadi founder Professor untuk Indonesian Studies di Universitas Melbourne (1997-2007). “Dia senior saya di lembaga itu, dan sama-sama mengajar satu mata kuliah tentang Ketimpangan Sosial di Indonesia. Banyak kenangan indah selama 10 tahun bersama di Melbourne; dia dikenang sebagai sosok sahaja dan humanis yang luwes bergaul dengan siapapun. Selamat jalan sang Mentor yang sahaja dan polos,” kata magun Justin, lulusan STF Ledalero Maumere, Flores.

    KH Dr Ahmad Mustofa Bisri, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang, Jawa Tengah melukiskan sekilas sosok alm Arief Budiman. Kata Gus Mus, hari ini mendengar berita saudara dan guru kita Prof Dr Arief Budiman berpulang ke rahmatuLlãh. Kita kehilangan seorang tokoh intelektual dan budayawan yang berprinsip dan teguh dalam pendirian. Semoga segala amal baik almarhum diterima oleh Allah dan kesalahannya diampuni olehNya. Allahummaghfir lahu warhamhu wa’ãfihi wa’fu ‘anhu. Semoga Mbak S. Leila Chairani dan segenap keluarga yang ditinggal dianugerahi tambahan ketabahan dan kesabaran. Al-Fãtihah. “Foto saat aku menjenguk beliau di rumahnya di Salatiga setahun yang lalu. Dari kiri: Mbak S. Leila Chairani, Prof. Dr. Arief Budiman, aku, anakku Rabiatul Bisriyah,” kata Gus Mus dalam caption foto di akun Facebook-nya.

    Sastrawan Floribertus Rahardi juga menulis sekilas sosok Arief Budiman. Rahardi, penulis buku Lembata, Sebuah Novel menulis, Arief lahir di Jakarta 3 Januari 1939. Ia kakak Soe Hok Gie (1942-1969). Ia salah seorang penandatangan Manifes Kebudayaan 1963. Juga tokoh Golongan Putih (Golput) dalam Pemilu 1971; meskipun istilah golput sendiri dicetuskan oleh Imam Waluyo. Pernah menjadi redaktur Majalah Sastra Horison 1966-1972. Arief pernah ditahan Pemerintah Orde Baru karena demonstrasi menentang pembangunan Taman Mini Indonesia Indah 1972. Belakangan dikenal sebagai sosiolog dan menjadi guru besar di Universitas Melbourne, Australia.

    *********

    Jakarta, Kamis, 23/4 2020

    Ansel Deri, Pernah Menjadi Kontributor DIAN dan FLORES POS








  • Ben Oleona, dari Guru Beralih ke Profesi Wartawan

    Ben Oleona, dari Guru Beralih ke Profesi Wartawan

    Oleh Ans Gregory da Iry

    KAMI bertemu pertama kali pada pertengahan tahun 1972 ketika Drs. Benediktus Molan Oleona (lebih dikenal dengan Ben Oleona) tiba di Ende untuk bergabung dengan Penerbit Nusa Indah, dan turut mempersiapkan terbitnya majalah dwimingguan umum DIAN dan majalah bulanan anak-anak KUNANG-KUNANG. Ben datang dari Jakarta setelah menyelesaikan kuliah di Sekolah Tinggi Publisistik (STP) dan meraih gelar sarjana (doktorandus). Sambil kuliah Ben juga bekerja sebagai wartawan dan penulis untuk majalah Penabur, sebuah majalah Katolik yang kemudian mati dan digantikan dengan majalah Hidup Katolik yang dewasa ini telah berubah nama lagi menjadi majalah Hidup. Sekolah Tinggi Publisistik yang dulunya berkampus di daerah Menteng, Jakarta Pusat, kemudian hari berpindah ke Lenteng Agung, di perbatasan Jakarta dan Jawa Barat, dan kini dikenal sebagai Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta.

    Foto Penerbit Nusa Indah-Ende Flore, NTT

    Waktu itu kami yang bekerja di Penerbit Nusa Indah, Ende di bawah pimpinan direktur P. Alex Beding SVD, yakni Thom Wignyanta, E. P. Boleng, Albert Pantaleon, Aloy L. Madja dan saya memang sedang mempersiapkan penerbitan kedua majalah tersebut. Bahkan sejak hari pertama bertemu P. Alex di bulan Oktober 1971, saya diberitahu bahwa Biro Naskah Nusa Indah, selain mengerjakan dan menerbitkan buku-buku, juga merencanakan penerbitan dua majalah. Oleh karena itu dibutuhkan tenaga-tenaga muda untuk memperkuat tim Nusa Indah. Beberapa orang yang ditunggu untuk datang dari Jakarta adalah Ben Oleona, El Mauritsz Parera dan Matheus Dhae. El dan Matheus lebih dulu tiba di Ende; El bekerja sebagai ilustrator buku dan majalah dan tinggal dengan kami di Wisma Paupire, sedangkan Matheus Dhae hanya beberapa hari, lalu pergi menghilang kembali ke Jakarta.

    Pada bulan Juli 1972 Ben Oleona dan isteri serta puteranya Didi tiba di Ende dan menempati sebuah rumah misi di Jl. Irian Barat. Dengan kehadiran Ben, maka berbagai persiapan terus dilakukan di bagian Redaksi dan percetakan Arnoldus karena akan terbit kedua majalah itu segera setelah keluar Surat Izin Terbit (SIT) dan Surat Izin Cetak (SIC) dari Departemen Penerangan Republik Indonesia di Jakarta. Kami yang bekerja di Biro Naskah Nusa Indah sekaligus merangkap sebagai wartawan/reporter bagi majalah DIAN. Ben Oleona ditunjuk sebagai Redaktur Pelaksana DIAN dan melapor langsung kepada P. Alex Beding SVD sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi sesuai dengan ketetapan dalam SIT.

    Kami mulai menyiapkan tulisan-tulisan yang akan diedit dan disempurnakan oleh Ben sebelum dimuat dalam DIAN. Sebagai Redaktur Pelaksana, Ben memimpin kegiatan redaksional DIAN sehari-hari, sedangkan untuk majalah anak-anak KUNANG-KUNANG, Pater Alex menunjuk Sr. Emmanuella Gunanto OSU dari Biara Santa Ursula, Ende.

    Sebelum terbitnya kedua majalah tersebut, P. Alex sering bepergian ke Jakarta untuk urusan-urusan yang berkenaan dengan Surat Izin Terbit dan Surat Izin Cetak. Di Jakarta, Nusa Indah mempunyai kantor perwakilan di Jl. Matraman Raya, biara SVD, di mana Marcel Beding, wartawan senior Harian Kompas sebagai Kepala Perwakilan, dengan Melanus Conterius, eks Seminari Mataloko, sebagai kepala kantor. Urusan ini tenyata makan waktu lama, hampir 2 tahun. Surat Izin Terbit (SIT) dari Departemen Penerangan Republik Indonesia diurus di Jakarta, dengan berbagai syarat dan ketentuan yang harus dipenuhi. Meskipun sudah punya SIT, perusahaan pers belum boleh melakukan penerbitan, karena harus juga mendapatkan Surat Izin Cetak (SIC) dari Panglima Kodam setempat, dalam hal ini Pangdam Udayana di Denpasar, karena Ende/Flores di mana majalahh-majalah ini akan terbit termasuk dalam jurisdiksi Kodam Udayana. Itulah lika- liku penerbitan pers di masa rezim Orde Baru di bawah Presiden Soeharto.

    Akhirnya SIT dan SIC diperoleh maka DIAN dan KUNANG-KUNANG boleh terbit. Selama waktu-waktu penantian itu, tim redaksi menyiapkan tema dan topik-topik artikel untuk majalah-majalah tersebut. Selain itu juga direncanakan tema atau isu-isu apa yang akan diangkat jadi topik peliputan sebagai berita utama, di samping berita-berita lainya untuk mengisi rubrik-rubrik yang ada.

    Pada tanggal 24 Oktober 1973, edisi pertama DIAN terbit. Kami senang, bangga dan bersyukur. Majalah DIAN menggunakan semboyan: “Membangun Manusia Pembangun”, dan kemudian El Mauritsz merancang sebuah iklan “Diam-diam baca DIAN” yang akan menjadi sangat populer di masyarakat pembaca.

    Latihan Bekerja sebagai Wartawan

    Kepada kami yang belum berpengalaman, Ben memberikan bimbingan dan arahan bagaimana bekerja sebagai wartawan, baik dalam meliput berita, mewawancarai narasumber dan membuat tulisan atau laporan jurnalistik dengan formula berita 5W1H (What, Who, When, Where, Why dan How). Meskipun demikian, penulisan laporan mesti dilakukan sebagai tulisan feature karena DIAN akan terbit sebagai majalah bukan surat kabar harian.

    Toko Buku Nusa Indah

    Kami juga diajari bahwa bekerja sebagai wartawan harus berintegritas, jujur, obyektf, berita yang ditulis harus berdasarkan kebenaran dan fakta, bukan asumsi atau dugaan. Wartawan harus berani dalam mencari dan mewawancarai narasumber, tetapi tetap menjaga sopan santun, dan selalu mempersiapkan diri dengan banyak membaca dan terus berlatih menulis. Redaktur atau editor, dalam hal ini Ben sendiri akan memeriksa dan memperbaiki seperlunya agar tulisan kami agar laik muat.

    Saya ingat, waktu Gubernur NTT El Tari berkunjung ke Ende untk melantik Herman Josef Gadi Djou menjadi bupati Ende menggantikan H. Hasan Aroeboesman, saya dan El Mauritsz pergi ke Wolowona untuk meliput penjemputan gubernur. Sebagai wartawan kami membawa kamera dan selalu berada di dekat Gubernur untuk mengabadikan setiap momen penting yang bernilai berita. Kami wartawan DIAN lebih berani mendekat ke gubernur, dibandingkan pegawai-pegawai departemen penerangan dan reporter RRI Ende. Waktu acara pelantikan bupati di gedung DPRD Ende, kami berada di dalam ruang sidang untuk memotret kegiatan itu dan juga mencatat pidato-pidato gubernur, ketua DPRD dan bupati baru. Ada rasa senang dan bangga bekerja sebagai wartawan. Saya membuat reportase mengenai kegiatan hari itu yang kemudian diedit, dirangkai dengan informasi lain dan disempurnakan oleh Ben untuk dimuat dalam DIAN sebagai berita utama (headline).

    Selang seminggu kemudian, DIAN mendapat undangan untuk meliput kunjungan perdana Bupati Gadi Djou ke Wolowaru, kampung halamannya. Saya ditugasi untuk mengikuti dan meliput kunjungan tersebut dan kemudian membuat reportase untuk DIAN. Demikian juga kunjungan dinas sehari bupati ke Nangapanda dan juga kunjungan kerja dua hari di Detusoko.Ada lagi satu kunjungan Bupati Gadi Djou yang saya ikuti yakni ke Kaburea di pantai utara yang berbatasan dengan kabupaten Ngada. Bupati Ende Gadi Djou dan Bupati Ngada Jan Jos Botha bersama rombongan bertemu di Kaburea untuk menyelesaikan perselisihan tapal batas kedua kabupaten, di mana telah terjadi bentrokan fisik oleh masyarakat yang tinggal di daerah perbatasan tersebut.Jika menulis berita yang kemudian dirangkum dan digabungkan oleh Ben, maka nama wartawan/reporter hanya menggunakan singkatan atau kode angka. Sedangkan kalau menulis artikel atau feature secara by-line, boleh menggunakan nama lengkap. Itulah sebabnya saya selalu ingin membuat tulisan-tulisan by-line yang menyebutkan nama lengkap penulisnya.

    Saya ingat tulisan by-line saya yang pertama adalah sebuah feature yang berjudul “Sirih dan manfaatnya”, tetapi setelah mengeditnya, Ben memberi judul “Sirih bukan hanya untuk dimakan”. Dia menjelaskan bahwa judul tulisan harus menarik supaya orang tertarik untuk membaca. Karena umumnya kaum ibu di Flores suka makan sirih-pinang, maka judul tulisan itu dibuat lebih menarik dan lebih sesuai dengan apa yang ada dalam masyarakat pembaca. (Tulisan ini dimuat pada DIAN no. 10 Tahun I, tanggal 10 Maret 1974).

    Suatu reportase lain saya buat mengenai kebun contoh di Malamesi, yang terletak di antara Raja dan Ndora, di kabupaten Nagekeo sekarang, yang kami kunjungi pada suatu hari Sabtu. Kebun contoh yang dikelola oleh seorang bruder SVD itu menanam dan memelihara tanaman jagung, kacang panjang, kacang tanah, singkong (ubi kayu) dan lain-lain yang dilakukan dengan sistem terasering (petak-petak pada lokasi tanah yang miring). Selain untuk keperluan sendiri, kebun ini juga dimaksudkan untuk memberi contoh kepada masyarakat petani sekitar untuk belajar bertani secara baru dan modern.Pulang dari kunjungan sehari itu, saya membuat suatu reportase yang saya beri judul “Ceritera dari Malamesi”, dan ternyata Ben setuju dengan judul itu dan tidak mengubahnya, walaupun isi tulisan banyak juga dikoreksinya. (DIAN no. 14 Tahun I, tanggal 10 Mei 1974).

    Bagi saya sebagai seorang wartawan pemula, ada rasa bangga ketika berita yang saya tulis dapat diperbaiki dan dimuat, dengan nama reporter hanya diberi singkatan atau kode. Tetapi akan terasa lebih senang lagi apabila kami bisa menulis artikel atau feature, karena nama kami disebut lengkap dan jelas. Bagi seorang penulis, rasanya tidak ada yang lebih membahagiakan selain tulisan atau artikel by-line kita dimuat. Betapa senangnya membaca nama kita pada terbitan majalah atau surat kabar tersebut.

    Surat untuk Kapolri

    Meskipun senang dan menikmati bekerja di Ende, tetapi saya tidak akan terus di sini, karena saya berencana merantau ke Jakarta untuk mencari kerja dan kuliah. Itulah sebabnya setelah setahun lebih bekerja sebagai wartawan DIAN dan 3 tahun sebagai penulis, penyadur dan penerjemah untuk buku-buku Nusa Indah, El dan saya mengundurkan diri baik-baik dari Nusa Indah, dan kami berdua berangkat ke Jakarta dengan menumpang kapal misi KM Stella Maris dari Ende pada tanggal 1 Januari 1975 menuju Surabaya. Dengan bus kami ke Jogjakarta dan bermalam di rumah kost teman mahasiswa, dan dua hari berikutnya kami naik bus ke Jakarta dan tinggal di Kelurahan Makassar, Jakarta Timur, di rumah keluarga Om Side Parera.

    Dengan bekal pengalaman bekerja di Penerbit Nusa Indah dan majalah DIAN di Ende itu, di Jakarta saya beruntung karena cepat mendapat pekerjaan di surat kabar Harian Suara Karya sebagai translator berita-berita dan artikel dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Pada masa itu Suara Karya termasuk salah satu surat kabar mainstraim di Indonesia di samping harian pagi Kompas dan harian sore Sinar Harapan. Setahun kemudian saya minta untuk merangkap jadi reporter, dan oleh redaksi saya ditugaskan untuk meliput di Hankam/Kopkamtib/Opstib, juga departemen Luar Negeri serta di Sekneg/Istana.

    Pada awal 1976, saya menerima sebuah surat dari Pater Alex Beding di Ende, yang meminta saya melaporkan langsung kepada Kepala Kepolisian RI atas kasus pemukulan wartawan DIAN Christianus Nau oleh oknum-oknum polisi di Bajawa. Laporan kronologis kasus pemukulan dan penganiayaan tersebut dibuat dan ditandatangani oleh Ben Oleona sebagai Redaktur Pelaksana dan P. Alex Beding sebagai Pemimpin Umum/Pemimpin Redaksi. Saya menghadap Kapolri Jend. Polisi Drs. Widodo Budidarmo di rumahnya di Kebayoran Baru dan menyerahkan langsung laporan tersebut. Kemudian saya dengar bahwa oknum-oknum polisi di Bajawa yang terlibat penganiayaan wartawan tersebut mendapat tindakan disiplin berupa teguran dari atasan.

    Bertemu Lagi di Universitas Atma Jaya Jakarta

    Sambil bekerja sebagai wartawan Suara Karya pada pertengahan 1976, saya mulai kuliah di Fakultas Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan (FIPK) Unika Atma Jaya, Jakarta. Di sini saya bertemu lagi dengan Ben Oleona yang bekerja di kantor rektorat Atma Jaya bersama Dr. Gorys Keraf, pembantu rektor bidang kemahasiswaan. Rupanya setelah 4 tahun bekerja di Ende, Ben mengundurkan diri, pindah ke Jakarta dan bekerja di Atma Jaya. Di kampus ini, Ben menerbitkan majalah kampus “Atma Jaya” dan mengajak saya juga untuk ikut sebagai anggota redaksi media kampus tersebut.

    Dalam 4 tahun bekerja di Ende sebagai Redaktur Pelaksana DIAN, Ben berhasil melatih dan mendidik para staf dan karyawan redaksi sehingga bisa meneruskan penerbitan majalah itu, setelah ia pindah ke Jakarta. Jabatan Redaktur Pelaksana DIAN dipegang oleh Thom Wignyanta, putera Bali yang kemudian menjadi tokoh pers di Flores.

    Pater Alex Beding SVD, 96 tahun, yang kini tinggal di Biara Simeon Ledalero, Maumere, Flores, mengatakan beberapa hari lalu, bahwa Ben Oleona memang dia minta untuk jadi redaktur pelaksana DIAN. Selain karena pengalamannya bekerja sebagai wartawan majalah Penabur di Jakarta, Ben juga mempunyai pendidikan jurnalistik yang lengkap yaitu sarjana Publisistik. “Ketika kami di Ende merencanakan penerbitan majalah, saya teringat akan Ben yang sedang kuliah publisistik di Jakarta. Jadi saya ajak dia untuk ikut dalam pengelolaan majalah DIAN sebagai redaktur pelaksana. Ben itu dari Lamalera, sekampung dengan saya. Dia keponakan saya. Dia banyak membantu kami di DIAN walau tidak lama, lalu pindah ke Jakarta karena dia ingin mengembangkan karirnya di ibukota. Sebagai pimpinan DIAN dan Nusa Indah, saya merasa sangat terbantu oleh Ben selama dia bekerja dengan kami,” kata P. Alex Beding lewat telepon genggamnya.

    Pada tahun 1978, ketika saya tinggal di Perumnas Depok Jaya, kami bertemu lagi dengan Ben dan keluarganya yang juga tinggal di perumahan tersebut. Saya tinggal di Jl. Komodo Raya (kemudian ganti nama jadi Jl. Arif Rahman Hakim), sedang Ben dan keluarga tinggal di Jl. Kutilang. Kami biasa bertemu di gereja St. Herculanus karena Ben juga aktif memimpin paduan suara (kor) di gereja tersebut.

    Agak lama kami tidak bertemu, dan baru pada bulan September 1982, ketika sebagai redaktur luar negeri Suara Karya saya menghadiri suatu seminar internasional mengenai Hubungan Indonesia – Amerika di Nusa Dua, Bali, seorang wartawan Bali memberitahu saya bahwa ia bekerja dengan Ben Oleona sebagai pemimpin redaksi koran Nusra (Nusa Tenggara). Pada malam harinya Ben menjemput saya di hotel dan kami jalan-jalan untuk makan malam dan mampir di kantor redaksi dan percetakan harian Nusra di daerah Sesetan, Denpasar.

    Rupanya Ben bekerja di Atma Jaya sampai pertengahan 1981, lalu mendapat tawaran untuk menjadi pemimpin redaksi koran Nusra di Bali. Menurut penuturan Josef Larantukan, seorang wartawan asal Larantuka, Flores Timur, koran Nusra sebelumnya bernama Surat kabar Angkatan Bersenjata (AB) milik Kodam Udayana, Bali. Yosef sudah bekerja beberapa tahun di koran tersebut dan kemudian Kodam Udaya mengundang investor swasta untuk menanamkan sahamnya di koran itu dan mengganti namanya menjadi koran Nusra untuk menjadi surat kabar harian umum dengan harapan akan lebih mudah penetrasi ke pasar. Ben Oleona dan team redaksi dan manajemen baru menangani penerbitan koran itu, dengan teknisi-teknisi percetakan yang didatangkan dari Jakarta. Masuknya Ben di Nusra, menurut Yosef, direkomendasikan oleh wartawan senior/redaktur Luar Negeri Kompas, Marcel Beding.

    Akan tetapi rupanya perkembangan koran Nusra kurang menjanjikan, di tengah persaingan ketat dengan koran Bali Post yang sudah lebih lama eksis dan juga membanjirnya koran-koran dari Jakarta, Bandung dan Surabaya yang punya wartawan/koresponden tetap di Bali. Dua tahun kemudian koran Nusra tutup dan Ben beralih profesi dengan bekerja pada sebuah perusahaan pengembangan properti.

    Rupanya jiwa dan semangat kewartawanan masih terus membara di dalam dirinya, sehingga pada tahun 1990, ketika Kompas-Gramedia lewat anak perusahaan Persda, membeli dan mengelola koran-koran di daerah-daerah, Ben bergabung dengan Persda. Dia sempat bekerja membantu pengembangan redaksi surat kabar Harian Surya di Surabaya, kemudian pindah ke surat kabar Harian Fajar di Makassar, lalu surat kabar Pos Maluku di Ambon dan surat kabar mingguan Tifa Irian di Jayapura.

    Selesai kontrak dengan Persda, Ben kembali ke Denpasar dan menjadi penulis lepas (freelance) untuk berbagai surat kabar dan majalah di Jakarta seperti Kompas, Suara Karya, Jakarta Post, majalah Tempo, majalah Hidup Katolik dll. Ben juga pernah menjadi penulis tetap Tajuk atau Induk Karangan untuk Harian Bali Post.

    Dari Guru ke Wartawan

    Benediktus Molan Oleona Lahir di Lamalera, Lembata pada 26 Juli 1939. Ben bercita-cita menjadi guru. Itulah sebabnya setelah tamat sekolah dasar di kampungnya, dia pergi ke kota Larantuka dan masuk Sekolah Guru Bawah (SGB). Tamat SGB, Ben berangkat ke Ende dan melanjutkan ke Sekolah Guru Atas (SGA) Ndao. Pada masa itu lulusan SGB berhak mengajar di sekolah-sekolah dasar, sedangkan SGA mengajar di sekolah menengah pertama (SMP) dan juga SMA. Jadi setelah tamat SGA Ndao, Ben sempat menjadi guru di SMP Lewoleba.Tahun 1964 ia berangkat ke Jakarta untuk kuliah di STP sambil bekerja di Penabur, dan aktif di PMKRI Jakarta. Pada masa-masa itulah ia berpacaran dengan Johanita Murniati, seorang perawat RS Sint Carolus, dan kemudian mereka menikah pada 20 Juni 1971 di Jakarta.

    Kampung Lamalera, Kampung kelahiran Ben Oleona

    Selama bekerja di Ende, Ben sempat diminta jadi dosen tamu pada Universitas Nusa Cendana Cabang Ende untuk mengajar matakuliah penulisan ilmiah. Wilhelmus Berybe, seorang guru di Kupang menuturkan bahwa ketika ia kuliah di FKIP Undana Cabang Ende, pernah mendapatkan kuliah matapelajaran penulisan ilmiah dari Ben Oleona, ketika FKIP Ende dipimpin oleh Asisten Dekan Dra Threes Kumanireng. Ketika bekerja di Unika Atma Jaya, kalau mau Ben bisa saja menjadi dosen. Tetapi rupanya dunia jurnalistik dengan ‘kebebasannya’ lebih menarik minatnya daripada pekerjaan lain, termasuk jadi guru. Namun jiwa gurunya pun tetap kelihatan ketika dia mengajari kami di Ende bagaimana bekerja sebagai wartawan. Dan juga bagaimana di tengah kesibukan-kesibukannya di bidang jurnalistik, Ben masih punya waktu melayani kegiatan gereja, baik sebagai pengurus dewan pastoral paroki maupun dirigen paduan suara yang handal. “Kami di sini mengenal Pak Ben sebagai seorang wartawan yang disegani, tetapi beliau juga aktif dalam kegiatan lingkungan gereja dan masyarakat. Di paroki Monang-maning, Denpasar, Pak Ben aktif memimpin kor dan juga jadi anggota Dewan Pastoral Paroki,” tutur Benediktus Jandon, asal Riung, Flores dan eks Seminari Mataloko, seorang tokoh Katolik di Monang-maning baru-baru ini.

    Lama sekali kami tidak bertemu dan berkomunikasi dengan Ben Oleona. Pada Juli 2000, saya dan isteri yang waktu itu tinggal di Kuala Kencana, Timika, Papua berlibur ke Bali. Di bandara Ngurah Rai, kami berkenalan dengan seorang staf Travel Bureau, yang mengatakan mengenal Ben Oleona, karena mereka sama-sama tinggal di perumahan Monang-maning Denpasar, dan juga sama-sama satu gereja di paroki tersebut. Ia mengatakan bahwa Ben Oleona bekerja sebagai wartawan dan juga sangat aktif di gereja, baik di Dewan Pastoral Paroki maupun sebagai pemimpin kor.

    Dia juga memberi saya nomor telepon Ben di rumah, sehingga saya kemudian bisa menghubunginya dan kami janji bertemu di Kuta, di hotel Santika, tempat saya dan isteri menginap. Kami bertemu dengan Ben dan isteri serta makan malam sambil ngobrol banyak hal nostalgik baik waktu bekerja di Ende maupun di Jakarta dan juga Depok. Keesokan harinya dengan menggunakan mobil Ben, kami jalan-jalan di Denpasar dan sekitarnya, termasuk ke beberapa obyek wisata, dengan Ben sebagai guide.

    Itulah pertemuan terakhir kami dengan Ben Oleona, karena menjelang akhir tahun 2000 ia jatuh sakit dan meninggal dunia pada 21 Desember 2000 pada usia 61 tahun 5 bulan dan dimakamkan di Denpasar. Saya sendiri baru mengetahui bahwa Ben sudah wafat, justru dari Thom Wignyanta di Ende, Flores. Suatu hari di tahun 2001 atau 2002, saya menelepon Thom untuk menanyakan sesuatu hal. Tetapi dari seberang, Thom malah bertanya kepada saya, “Pak Ben sudah meninggal, Ans sudah dengar?” Saya kaget, karena memang belum mendengar dan mengetahui hal itu. Biasanya saya kadang-kadang suka menelepon Ben, tetapi karena kehilangan nomor teleponnya, saya tidak bisa lagi menghubunginya.

    Ketika membuat tulisan ini, saya teringat akan kedua orang senior, mentor dan guru saya, dari siapa saya belajar bekerja: Dari Ben Oleona saya belajar bekerja sebagai wartawan, dari Thom Wignyanta saya belajar mengerjakan buku-buku baik sebagai penulis, penerjemah dan penyadur. Ben orang Lembata, Flores memilih berkarya di Bali sampai akhir hayat, sedang Thom, orang Bali memilih berkarya di Ende, Flores sepanjang hidupnya. Terima kasih, Seniors. Reqiescant In Pace!

    Bogor, 24 Februari 2020

  • Buah Pertobatan dari Penjara

    Buah Pertobatan dari Penjara

     

    Oleh P. Moses Hala Beding, CSsR 

     

     

    “LEMBAGA Pemasyarakatan atau Penjara tidak pernah mempertobatkan orang kecuali yang bersangkutan berupaya bertobat”. Kalimat atau pernyataan ini saya dengar pada suatu siang tanggal 6 Februari 2014, keluar dari mulut seseorang yang tidak saya kenal sebelumnya dan orang itu bernama Yoppi Ririhena asal Ambon, yang belum lama keluar dari penjara Nusakambangan. Dan pernyataan ini telah diabadikan dalam suatu percakapannya dengan wartawati mingguan HIDUP, Maria Etty, yang termuat dalam majalah HIDUP, 7 September 2003. Ia sendiri bersaksi atas pernyataannya itu.

    Beberapa rekannya, sesama tahanan, tak pernah jera dengan perbuatannya. Ada di antara mereka yang keluar-masuk penjara berkali-kali. “Ada yang sampai 14 kali masuk tahanan, sampai saya bosan melihatnya,” keluhnya. Kasus homoseksual juga kerap ia temui. Biasanya bila ada tahanan yang berwajah tampan baru masuk penjara, seketika akan jadi santapan ramai-ramai. “Kasihan sekali, sampai jalannya tertatih-tatih.” Begitulah sebagian dari pernyataannya kepada Etty, yang direkam dalam mingguan HIDUP. Edisi ini digulung rapih dalam genggaman tangannya.

    Sore itu sebenarnya saya keluar menemui seorang tamu di ruangan tamu komunitas Soverdi Jakarta. Di samping itu ada seorang bapak yang tidak saya kenal. Saya kurang memperhatikannya, tetapi sepintas pada wajahnya nampak muatan persoalan hidup yang berat. Saya mengajak tamu saya berbicara di ruang dalam sementara ia duduk sendirian, entah sedang menanti seseorang atau merenungkan nasib?

    Setelah kurang lebih setengah jam kemudian, tamu saya pamit pulang, dan saya bergegas kembali masuk. Dengan cepat ia bangkit dan seolah mengejar saya. Ia bertanya apakah saya seorang Romo? Saya menjawab, ya! Dan menambahkan bahwa saya adalah tamu di rumah ini.  Ia langsung berkata: “Romo, saya minta didoakan dan diberkati sekarang! Saya ini bekas tahanan di Nusakambangan!”. Mendengar kata Nusakambangan, telinga saya mulai berdiri, karena saya pernah dibawa oleh seorang rekan pastor pembantu Cilacap, mengunjungi pulau yang menakutkan itu. Saya lalu mengajaknya masuk ke pendopo ruangan dalam. Secara singkat, sebelum mendoakan dan memberkatinya, ia memperkenalkan diri secara singkat, membuka pertemuan kami.

    Ia sebenarnya mantan Kepala Kamar Mesin (KKM) dari kapal berbendera Yunani  Joifelouf  yang malang melintang menjelajah seantero dunia. Ia lulusan Akedemi Ilmu Pelayaran (AIP) Jakarta. Kedudukannya di kapal sangat menentukan. Karena dialah yang dapat menentukan apakah kapal itu dapat berlayar atau tidak. Semua kru, bahkan kapten sekalipun, harus tunduk kepada keputusannya. Bertahun-tahun lamanya ia bertarung di laut menerjang ombak dan gelombang. Menembus amukan badai dan gelora samudra. Pada suatu waktu, ia mengemukakan keinginannya agar gajinya dinaikin, supaya memenuhi standard gaji seperti di kapal yang lain. Ternyata beberapa kali disampaikan, tidak direspon oleh pimpinan, mala dipermalukan di muka orang lain. Akhirnya dendam kesumat membara dari hari ke hari, dan memuncak pada keputusannya nekatnya untuk mengeksekusi kedua kapten kapalnya itu yang berkebangsaan Jerman atas tanggung jawab sendiri.

    Keputusan hatinya menjadi bulat dan dilaksanakannya pada 1986, tiga hari menjelang Natal. Sakit hati dan dendamnya harus impas dengan melenyapkan nyawa kedua kapten pada malam itu. Saat kapal mulai melintasi perbatasan antara Singapura dan Indonesia, sebuah pistol jenis vickers yang berisi 6 peluru, dalam genggamannya, mencabut nyawa kedua kapten kapal itu. Dalam hitungan detik, ia masih membabat leher kedua sasarannya itu. Ia lalu membuan kedua jasad itu ke laut di antara deru ombak yang bergulung-gulung dalam kepekatan malam. Dengan pakaian yang masih berlumuran dara, Yoppi menurunkan sekoci, dan menyerahkan diri pada polisi perairan. Dengan sengaja ia menjalankan eksekusi itu di perairan Indonesia, karena kalau terjadi di perairan Singapura, ia akan dihukum mati di atas kursi listrik. Ia nekat dan tetap mau mempertanggung jawabkan perbuatnnya.

    Pria yang selama 13 tahun menjelajah manca negara tak bisa lagi berkawan akrab dengan ombak samudra. Ia dijatuhi vonis 22 tahun penjara, pertama dikirim ke Lembaga Pemasyarakatan Tolako (Makasar), 3 tahun kemudian pindah ke Lembaga Pemasyarakatan Cipinang selama 7 tahun, dan terakhir di Nusakambangan. Berbagai hukuman dan siksaan yang diterima selama dipenjara, ia pasrahkan saja sebagai konsekuensi perbuatannya. Ia juga memaafkan istrinya, yang karena kesepian telah khilaf dengan seorang pria dan melahirkan seorang anak. Kemudian ia mendapat berita lagi, kalau anak tunggal mereka diboyong oleh anggota keluarga mereka ke negeri Belanda. Penderitannya di dalam penjara menjadi sempurna, ketika telinganya menangkap berita, kekayaannya berupa sebuah rumah mewah berlantai dua, tanah dan harta lainnya yang telah dikumpulkannya bertahun-tahun , ludes dijual sang istri untuk menyambung hidup.

     

    Buku MARI MENARI BERSAMA MARIA Karya P Moses Hala Beding, CSsR

    Semua bencana yang menimpa hidupnya ini tidak membuatnya larut dalam kesedihan dan putus asa. Justru sebaliknya. Maka hatinya mulai terbuka. Ia mulai menyadari hakekat hidup sebenarnya. Segala kekayaan dan harta benda yang dikumpulkannya bertahun-tahun dianggap fana saja. Ia mulai bertobat. Segala hobi dan ketrampilannya disumbangkan habis-habisan untuk kebutuhan dan keperluan di dalam penjara. Ia mempunyai hobi fotografi (sebelumnya ia sempat memiliki 25 kamera). Ia pandai melas, memperbaiki dan mencat kendaraan-kendaraan yang rusak. Kepala penjara mempercayakan kepadanya penataan dan kebersihan dalam penjara. Ia mulai mendekatkan diri kepada Tuhan. Kehidupan rohani, yang dahulunya tidak diperhatikannya, sekarang ditekuninya dengan membaca buku-buku rohani yang dahulu diberikan oleh seorang misionaris, waktu berkunjung ke penjara di Makasar. Di atas segala-galanya, di dalam penjara, ia menemukan seorang Ibu Sejati. Dengan berdoa Rosario setiap hari, ia merasa kedekatan Tuhan dan pertolongan Bunda Maria. Dalam pembicaraan kami itu ia mengeluarkan rosario dari saku celananya dan mengatakan kepada saya: “Romo, inilah Ibu yang selalu menolong dan membantu saya selama dalam penjara. Saya sangat akrab dengan dia dan mencintainya.

    Ia sangat heran dan terperangah, ketika bulan Juni 2003 lalu, dipanggil oleh direktur Lembaga Pemasyarakatan, bahwa ia akan segera bebas. Ini sungguh-sungguh suatu berita luar biasa, karena biasanya remisi atau pelepasan para tahanan diberikan pada bulan Agustus. Berarti dengan pembebasan bulan juni 2003, ia mendapat potongan tahanan 4 tahun dari keseluruhan 22 tahun. Ia sangat yakin inilah kerahiman Tuhan berkat perantaraan Bunda Maria melalui doa Rosario. Yoppi memantapkan hati untuk menghadapi kenyataan di luar selama 18 tahun diisolasi: bagaimana ia akan menghadapi istrinya, anak kandungnya yang ada di Belanda dan anak tirinya yang di Australia.

    Entah kebetulan apa tidak, pada pertemuan sore hari itu, masing-masing kami memegang gulungan di tangan. Yoppi memegang gulungan majalah HIDUP edisi September 2003, yang di dalamnya wartawati HIDUP mengcover kisah hidupnya. Dan saya memegang gulungan gambar Bunda Maria Selalu Menolong ukuran besar (40 x 60). Gambar ini sedianya saya mau hadiahkan kepada tamu saya tadi, tetapi karena di rumahnya sudah ada, jadi urung. Dan saat itu saya tidak tahu mau menyerahkan kepada siapa? Saya baru mendapat gambar Bunda Maria Selalu Menolong (dalam ukuran besar) dan telah membagikannya kepada saudara dan kenalan-kenalan di Jakarta sebelum kembali ke Sumba. Saya tidak mau repot dengan barang bawahan tambahan yang memerlukan perhatian dan perawatan khusus di jalan seperti gambar-gambar yang istimewa itu. Gulungan di tangan saya ini adalah gambar terakhir. Maka pikiran saya mengembara mencari siapa gerangan yang layak mendapat gambar istimewa tersebut. Serta-merta pilihan jatuh pada Yoppi, dan hati saya begitu merasa bahagia melepaskan gulungan gambar itu kepadanya dengan berpesan: “Inilah Ibu Sejati yang engkau temui dalam penjara. Seperti halnya ia telah menolong engkau mengatasi berbagai kesulitan di dalam penjara, bahkan sampai-sampai hukuman dipersingakat 4 tahun. Diapun akan menolong engkau selalu dalam hidup selanjutnya di alam bebas. Sampaikanlah keluh-kesahmu kepada Bunda Maria, maka ia akan tetap menjadi perantaramu pada Bapa di surga. ”Dengan gembira ia menerima gulungan gambar itu, menciumnya dan mencium tangan saya dan pamit dari saya. Sore itu dia langsung ke Stasiun Kereta Api Senen menuju Surabaya, selanjutnya menuju Makassar untuk memulai suatu awal hidup baru di alam bebas dengan pengharapan bersatu kembali dengan istri dan anak-anaknya. Dan dengan sukacita besar di hatinya semoga Bunda Maria selalu besertanya.

    ———————————————

     

    *P. Moses Hala Beding, CSsR (Almarhum) adalah imam pertama dari Indonesia yang bergabung dengan Ordo Redemptoris (CSsr). Pater Moses semasa hidupnya menulis di berbagai surat kabar, Flores Pos, Pos Kupang dan Majalah Ave Maria.Ia menulis buku MARI MENARI BERSAMA MARIA, 2007, Penerbit Mariam Center Indonesia.

    *Sumber Tulisan dari Buku MARI MENARI BERSAMA MARIA, P. Moses Hala Beding, CSsR, Penerbit Mariam Center, 2007.

  • Apoly Bala, Karabau Knoki dan Melarat

    Apoly Bala, Karabau Knoki dan Melarat

    LEWUKA, Udak, dan Uruor. Tiga kampung masih punya hubungan suku, bahasa, dan kekerabatan yang kental hingga saat ini. Dua kampung yang pertama: Lewuka(k) dan Udak, takluk dan seolah terjepit di kaki bukit nan asri. Sedang yang lain, Uruor, berada di atas padang savana dengan panorama alam mempesona sejauh mata memandang. Jarak Lewuka dan Udak sejauh emperan dua rumah yang berhimpitan satu dengan yang lainnya.

    Berbeda dengan Uruor, yang sedikit agak jauh melewati tebing Karabau Knoki (pintu kerbau) dari bawah kaki kampung Udak dan Lewuka kemudian berjalan kaki melewati padang luas sebelum mencapai Uruor di atas padang tersebut. Ada yang menyebut Kerbau atau Karbau Knoki sesuai dialek masing-masing kampung atau desa sekitar. Nyaris 50-60-an tahun sejak Indonesia merdeka, ruas jalan menuju tiga kampung itu belum pernah dibangun sekadar dilewati kendaraan roda dua.

    Orang kampung masih memanfaatkan tenaga untuk memikul barang bawaannya. Termasuk warga masyarakat nelayan Lamalera dan sekitarnya yang pergi menjual dan membeli makanan di kampung-kampung di sekitar Lewuka, Udak maupun Uruor. Bahkan sampai Kalikasa, kota kecamatan Atadei atau desa-desa lain seperti Karangora, Watuwawer, Atawolo, Bauraja, dan lain-lain.

    Kala itu warga masyarakat sungguh terpenjara dalam ketertinggalan. Negara seolah tak sudi hadir membuka isolasi fisik agar orang-orang kampung dari tiga kampung itu agar memiliki akses dengan dunia luar. Itu dulu. Kini pun masih terasa. Mobil penumpang ke Udak dan Lewuka, mesti melewati jalur jalan wilayah selatan Lembata yang sangat buruk, minim perhatian pemerintah mulai dari pusat sampai daerah sejak Lembata menjadi daerah otonom 20 tahun lalu.

    Berniat ke Lewuka, Udak atau Uruor dengan berkendara, ada baiknya pengunjung baru siapkan diri baik-baik. Nyali pengunjung atau tamu akan diuji karena oto (bis kayu), moda transportasi ke tiga kampung itu, akan berlenggak lenggok kiri-kanan dengan keras. Kalau supir tak sigap, jurang sedalam puluhan meter jadi alamat terakhir. Namun, (Alm) Bastian N Ujan, seorang pengusaha lokal dari Udak yang lama bermukim di Dili, Timor Leste nekad membuka jalan hingga Udak. Jalan di Karabau Knoki ia buka dengan alat berat milik pribadi sehingga orang leluasa pulang-pergi Udak-Lewoleba.

    Badan penumpang oto atau pengunjung pun bakal terasa macam di-gebuk. Kondisi medan yang sulit itu terlihat baik melalui (Desa) Wulandoni, kota Kecamatan Wulandoni maupun dari Lewoleba, kota Kecamatan Nubatukan & kota Kabupaten Lembata, melalui kampung Pukaj Lerek, Nubatukan. Jalur Lewoleba-Uruor juga menjadi langganan saya jalan kaki pergi-pulang Boto untuk mengambil bekal selama sekolah di SMA Kawula Karya Lewoleba tahun 1987-1990.

    Lewuka secara resmi terbentuk menjadi Desa Belobao di Kecamatan Wuandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan kampung Udak menjadi Desa Udak Melomata. Sedangkan Uruor terbentuk menjadi Desa Belobatang, Nubatukan. Di kalangan orang kampung Lewuka, Udak dan Uruor tempo doeloe, Udak lebih familiar dengan sebutan Lewu.

    Sejak beberapa tahun lalu, Udak resmi menjadi sebuah desa definitif dengan nama Desa Udak Melomata. Berada di wilayah Kecamatan Nubatukan, Lembata. Kehadiran Udak Melomata sebagai sebuah desa resmi menambah koleksi desa di Lembata, kabupaten yang “merdeka” dari Flores Timur, kabupaten induk dua puluh tahun lalu.

    Melarat dan Merasul

    Meski berada di tengah kepungan lembah, berada di kaki bukit, beranda di ngarai terjal, toh, tempo doeloe semangat juang orang-orang kampung Lewuka pigi melarat (pergi merantau, dalam konteks Flores Timur dan Lembata tempo doeloe) melanjutkan pendidikan atau bertaruh nasib di luar kampung bahkan di tanah Jiran Malaysia, sangat tinggi. Kelak, anak-anak kampung baik dari Lewuka, Udak dan Uruor merasul di mana saja mereja tinggal.

    Drs Apoly Bala Wutun, M.Pd, salah satu anak kampung Lewuka, yang memutuskan melarat, bertaruh nasib melalui pendidikan untuk masa depannya kemudian mengharumkan nama Gereja, bangsa, dan negara melalui tugas perutusannya sebagai pengikut setia Kristus Yesus. Kala itu orangtua di kampung-kampung punya kebanggaan tersendiri kalau anak-anaknya bisa melarat, merantau atau sekolah mengandalkan hasil tanaman berupa kopi, kemiri, kelapa, pinang, padi, jagung, ubi-ubian dari kebun orangtua mereka. Apalagi melanjutkan pendidikan calon imam, suster, bruder, biarawan atau biarawati.

    Apoly Bala –begitu panggilan akrab Apoly Bala Wutun– salah seorang guru, dirigen bahkan komponis papan atas Nusa Tenggara Timur tak hanya lagu-lagu Gerejani. Namun, lebih dari itu. Ia adalah salah seorang anak asli Lewuka yang lahir dari kampung kecil kemudian dikaruniai Tuhan talenta luar biasa besar agar kelak ia boleh merasul melalui karya seni yang ia hasilkan.

    Belum lagi terhitung para guru, dosen, imam, biarawan dan biarawati yang mengabdi baik di dalam maupun luar negeri. Selain Apoly Bala Wutun, dalam catatan saya –sekadar menyebut beberapa– banyak putra-putri asal kampung Lewuka, Udak, dan Uruor yang mengabdi di berbagai bidang profesi tak hanya dalam namun juga luar negeri.

    Saya sebut saja beberapa di antara mereka. Misalnya Pastor Benediktus Genule Ujan SVD di Kalimantan; Pastor Yeremias Balapito Duan MSF; Pastor Stanis Beda Elanor, CM; Pastor Elfridus Ujan SVD di Bostwana, Afrika; Fr Alberto Geroda Atawolo, CMM, misionaris di Brazil; P Dr Pankras Kraeng SSCC; Pastor (Alm.) Thoby Muda Kraeng SVD; Sr Leny Kraeng, CP di Ruteng, Manggarai, ujung barat Pulau Flores.

    Selain itu, Sr Moniq Ujan di Italia; Br Dominggus Geroda Sinuor, SVD misionaris di Brazil; Sr Virgo Sinuor, OSF; Sr Helena Maria, SSpS (adik Apoly Bala Wutun) ; Pastor Jery Ujan CSsR; Sr Leonita Kraeng, PRR di Kenya; Pastor Cornelius Dominikus Boli (Rumly) Ujan SVD, misionaris di Paraguay; Pastor Dr Bernardus Boli Ujan SVD, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero dan mantan Sekretaris Komisi Liturgi Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI).

    Foto Apoly Bala Wutun bersama Herman Yosef Loli Wutun

    Berikut kalangan awam seperti Drs Herman Yosef Loli Wutun, Ketua Umum Induk KUD; psikolog Dr Rufus Pati Wutun, dosen Universitas Nusa Cendana Kupang, Hyronimus Sorywutun, mantan Direktur Perusahaan Daerah (PD) Flobamora; Dr Andre Ata Ujan, dosen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta.

    Juga Dr Joseph Laba Sinuor, dosen Universitas Pelita Harapan Tangerang, Banten; Jeremy Emanuel Laba Ujan, master ceremony (MC) beken pemilik usaha Publik Speaking J-Smart, Alberth Olak Sinuor, mantan guru di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang saat ini menjabat Ketua DPD Partai NasDem Flores Timur, (Alm) Drs Rikardus Labi Ujan, pengajar Akademi Manajemen Kupang / Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Kupang, dan lain-lain.  

    Mereka semua ini adalah segelintir dari generasi tiga kampung di atas yang melarat kemudian marasul di bidangnya masing-masing. Saya percaya, sebagian dari mereka ini pernah melewati Karabau Knoki, pintu keluar-masuk jalan selebar “badan kerbau”, melewati tebing di atas bukit tak jauh dari Lewu guna merenda hari esok untuk kebaikan dan kemuliaan nama Tuhan.

    Karabau Knoki bukan tempat lalu larang kerbau, binatang dalam artian sesungguhnya. Karabau Knoki adalah kisah tentang jalan setapak kecil berbahaya untuk orang-orang kampung Lewuka, Udak maupun Uruor. Jalan yang hanya bisa dilewati kambing atau babi hutan. Karena itu, butuh kehati-hatian orang kampung atau pelancong yang gemar mengakrabi alam liar dan menantang. Mengapa? Kalau tak hati-hati, maka maut senantiasa mengintai bila terperosok dan jatuh.

    Sekitar tahun 1979-1983, didampingi para guru saya dan rekan-rekan dari SDK Boto pernah melewati “pintu masuk” Udak dan Lewuka di Karabau Knoki. Setelah meninggalkan Boto, kampung halaman, kami menuruni areal terjal menuju kampung Liwulagang (kini jadi desa defintif). Dari Liwulagang, kami mendaki jalan berbukit hingga Fit Fule (“leher kambing”) sebelum mencapai puncak, di area padang sabana tak jauh dari Uruor.

    Dari Uruor, perjalanan dilanjutkan melewati padang sabana. Meski panas membakar, toh, tak menyurutkan langkah kami. Menjadi peserta Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni) Tingkat Wilayah di Kecamatan Nagawutun, kala itu, yang terpusat di Lewuka, kampung Apoly Bala Wutun. Ini pengalaman mengasyikkan karena bersiap menjadi juara tingkat pool sebelum puncaknya tingkat kecamatan di  Loang, kota Kecamatan Nagawutun.

    Menuruni jalan setapak yang sangat curam, tangan kami mesti dipegang guru. Selain menjaga keselamatan, barang-barang bawaan di dalam klombu atau serbet tak jatuh ke jurang di Karabau Knoki. Pemandangan alam yang indah sepanjang dari Uruor ke Udak, menjadi penghalau rasa takut. Tak lama wajah Udak dan Lewuka yang masih asri memanjakan jiwa.

    Lewuka dan Palu

    Siapa sangka suatu waktu Apoly Bala Wutun, orang anak kampung dari Lewukak, di pedalaman Lembata menginjakkan kaki di Palu, Sulawesi Tengah? Tentu, sebagai umat beriman, tukang pikul Salib Kristus, semua itu karena rencana dan karya Tuhan semata. Bagaimana tidak? Pada Senin, 20 Agustus 2018, Apoly Bala Wutun berada di Auditorium Universitas Tadulako (Untad), Sulawesi Tengah. Apoly Bala mendapat undangan khusus dari Rektor Untad Prof Dr Ir Muh Basir, SE, MS.

    Ia diundang mengikuti Dies Natalis ke-37 Untad, Wisuda Sarjana ke-93, dan Pengukuhan Dua Guru Besar Fakultas Teknik Untad. Kehadiran Apoly Bala di Untad karena dia adalah pencipta sekaligus aransir Hymne Untad. Pihak rektor memandang perlu memberikan Piagam Penghargaan kepada Apoly Bala Wutun atas jasanya menciptakan Hymne Universitas Tadulako.

    Prosesi pemberiaan Piagam Penghargaan kepada Apoly Bala Wutun, anak kampung dari Lewukak, mendapat perhatian Jefrianto, seorang blogger. Jefrianto, menulis dengan bernas dengan judul Penantian 35 Tahun Apoly Bala Terjawab dalam weblog pribadinya yang dimuat pada 22 Agustus 2008. Saya merujuk artikel Jefri dalam blognya. Tulisan itu sekaligus menjadi panduan mengetahui siapa sosok Apoly Bala Wutun.

    Foto Apoly Bala Wutun bersama Rektor Universitas Tadulako Palu

    Di dalam auditorium, sosok pria berperawakan kecil, berjalan pelan menuju panggung, begitu pemandu acara menyebut namanya; mempersilahkannya naik ke atas panggung. Pria dengan uban keperakan yang menutupi hampir seluruh rambutnya ini, mengenakan setelan jas hitam dengan kopiah motif tenun khas NTT.

    Di atas panggung, tampak Muh Basir bersiap menyambutnya. Hari itu, Senin (20/8/2018), bertepatan dengan puncak peringatan Dies Natalis ke-37 Untad, yang dirangkaikan dengan pelaksanaan wisuda sarjana ke-93 dan pengukuhan dua guru besar Fakultas Teknik Untad.

    Dipandu oleh pemandu acara, Muh Basir menyerahkan piagam penghargaan kepada Apoly Bala. Saat menerima Piagam Penghargaan tersebut, bola matanya basah dan berkaca-kaca. Ia tak kuasa menahan haru dengan apresiasi yang begitu tinggi terhadap karya gubahannya. Sejak 35 tahun hingga saat ini Hymne Untad mewarnai perjalanan sejarah Untad.

    Siapakah Apoly? Karya apakah yang dihasilkannya sehingga diapresiasi Untad? Itu tak lain karena Apoly adalah masetro musik liturgi pencipta lagu dan syair Hymne Untad. Hymne Utad tersebut kembali ditemukannya setelah 35 tahun berselang, lewat sebuah peristiwa yang tidak disengaja.

    Apoly lahir di Lewuka, Wulandoni, Lembata. Ia lahir dari pasangan petani kecil: Lukas Djuang Wutun dan Ibu  Ero. Kedua orangtuanya sudah berpulang. Ia menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) di Lewuka, kemudian lanjut Seminari San Dominggo Hokeng, Flores Timur dan STF Ledalero, Maumere.

    Saat menjalani TOP di Katedral Kupang, ia mundur dan tak melanjutkan cita-citanya menjadi imam. Sejak itu ia mengabdi sebagai guru di SMPK Santu Yosep Naikoten Kupang. Lulus dari FIP Undana ia menjadi dosen di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan pensiun saat menjabat PR I Unwira.

    Terkait Hymne Untad, Apoly menceritakan, sekitar 1982 ia melihat pengumuman sayembara Hymne Untad di salah satu koran nasional. Oleh karena sering menggubah lagu, ia tertarik mengikuti sayembara tersebut. “Saya lupa koran apa yang mengumumkan sayembara tersebut. Seingat saya, pada saat itu cuma dua koran yang ada di Kupang, yaitu Kompas dan Pos Kupang. Karena sayembaranya bersifat nasional, saya pikir tidak mungkin terbit di media lokal, sepertinya memang terbit di Kompas. Sayembara ini seingat saya dilaksanakan sesudah pelaksanaan wisuda perdana Untad tahun 1981, karena setelah wisuda tersebut, dirasa perlu untuk adanya sebuah Hymne,” ujar Apoly.

    Tidak butuh waktu lama baginya untuk menggubah lagu dan syair Hymne Untad tersebut. Setelah karya gubahannya selesai, karya tersebut dikirimkan via pos kepada panitia. Apoly mengatakan, dirinya juga mengkliping pengumuman sayembara tersebut. “Dulu saya sempat kliping pengumuman sayembarannya. Namun, karena tidak ada kepastian tentang hasil sayembaranya, kliping tersebut kini sudah entah di mana,” kata Apoly menyesal.

    Apa yang diceritakan Apoly terjadi. Selepas ia mengirimkan naskah lagu dan yair Hymne Untad beserta riwayat hidupnya kepada panitia sayembara, hingga 35 tahun berselang, tidak ada secuilpun kabar tentang hasil sayembara tersebut. Dirinya pun baru mengetahui jika lagu gubahannya sudah digunakan Untad selama 35 tahun, setelah tanpa sengaja anak bungsunya menemukan syair Hymne Untad ciptaannya, tertera dalam Statuta Untad.

    “Anak bungsu saya yang sekarang sedang kuliah di Universitas Indonesia (UI), pada 2017 lalu, iseng mengetik nama saya pada mesin pencarian google. Tanpa sengaja, dia menemukan nama saya tercantum dalam syair Hymne Untad yang ada di Pasal 6 Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) No 8 tahun 2015 tentang Statuta Universitas Tadulako,” jelasnya.

    Dalam lampiran Pasal 6 Statuta Untad, tertulis nama Apoly Bala sebagai pencipta lagu dan syair. Sementara pada aransemen tercantum nama DN Kumontoy. Sontak, si anak bungsu langsung mengontak Apoly untuk memberitahukan hal tersebut. “Setelah saya dengar infonya, saya minta dia cetak isi lengkap statuta tersebut. Saat pulang untuk liburan Natal 2017, salinan statuta tersebut diserahkannya ke saya dan ternyata setelah saya cek, syair dan lagu tersebut memang yang saya buat puluhan tahun lalu,” ujarnya.

    Mengetahui karyanya digunakan Untad, pada Januari 2018, Apoly mengirimkan surat klarifikasi yang dikirimkan oleh anaknya ke email Rektor Untad. Namun selang beberapa bulan, email tersebut tidak direspon. Akhirnya sekitar Maret atau April, dengan isi surat yang sama, Apoly mengirimkan secara fisik ke alamat kampus Untad. “Dalam surat tersebut, saya lampirkan riwayat hidup (CV), identitas, serta karya-karya yang pernah saya hasilkan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, ketika surat fisik dikirim, selang beberapa hari, balasan surat tersebut datang. Ia mengaku ditelepon oleh Pak Yos dari Untad, yang ternyata berasal dari daerah yang sama dengannya di Lembata. Pada kontak terakhir Juni 2018 lalu, meneruskan pesan Rektor Untad, Yos bertanya kepada Apoly, apakah ingin datang ke Palu pada pelaksanaan wisuda 5 Juli lalu, atau pada peringatan Dies Natalis ke-37 Untad, 20 Agustus. “Saya jawab, kalau bulan Juli saya belum siap. Saya putuskan datang pada peringatan Dies Natalis Untad,” ujarnya.

    Tiba di Palu pada 8 Agustus, Apoly dipertemukan dengan Rektor Untad. Dalam pertemuan tersebut kata dia, Rektor mengaku menerima dua surat tersebut. “Saya awalnya bertanya-tanya ada beberapa kemungkinan, bisa saja dulu pihak Untad yang lalai, atau surat pemberitahuan sudah dikirim, tapi tidak sampai ke tangan saya,” ujarnya.

    Pada momen pertemuan tersebut, Rektor secara pribadi dan atas nama institusi meminta maaf secara langsung kepada Apoly. Rektor bahkan segera membentuk tim khusus untuk menyelidiki hal tersebut. “Kesan saya saat bertemu langsung pak rektor, orangnya sangat luar biasa, sangat objektif. Dia mengatakan kepada saya, lagu tersebut adalah lagu yang monumental dan sampai kapanpun akan jadi identitas kampus. Sama seperti yang dikatakan Pak Yos waktu pertama kali mengontak saya, bahwa lagu saya tersebut sangat populer di Untad,” urainya.

    Untuk menyelidiki terkait sejarah Hymne Untad tersebut Apoly dibawa oleh Yos menemui salah seorang mantan Pembantu Rektor II Untad di tahun 1980-an. Dari pertemuan tersebut, mantan PR II Untad tersebut menjelaskan, pernah PR II Untad tersebut dalam suatu kesempatan di tahun 1980-an, bertemu dengan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), bernama Frans.

    “Dalam pertemuan tersebut, dia (PR II Untad red.) sempat mencari orang yang menang sayembara hymne tersebut. Rektor Undana menanyakan siapa namanya, namun dia ternyata lupa nama pemenangnya. Jika pertemuannya pada 1980-an, kemungkinan Rektor Undana yang ditemuinya adalah Prof Frans Likadja dan pertemuannya menurut saya mungkin belum berselang lama setelah sayembara,” jelasnya.

    Mantan PR II Untad tersebut, kata dia, juga menyebutkan jika karya yang dikirim waktu itu hanya lagu dan syair, sehingga menganggap jika dulu ia juga mengirim aransemen lagunya, harus dikaji kembali, karena baik maupun pihak Untad, tidak lagi memiliki data terkait hal tersebut.

    Terkait penghargaan yang diterimanya, Apoly mengaku senang karyanya ternyata digemari orang. Hal ini kata dia, juga menjadi motivasi baginya untuk berkarya, untuk membuat orang lain merasa senang, apalagi kata dia ini untuk lembaga. “Harapan saya untuk Untad, sudah tersirat dalam syair lagu ini. karena syair lagu ini berisi pesan dan doa serta harapan yang dibungkus dengan lagu, agar gaungnya sampai kepada pendengarnya,” ujarnya.

    Tertarik kata ‘Tadulako’

    Apoly mengisahkan, saat melihat pengumuman sayembara tersebut, hal yang menarik baginya justru adalah kata ‘Tadulako’ pada nama universitasnya. Mengapa ia tertarik? Dalam bahasa daerahnya, kata Tadulako itu terdiri dari dua kata: yaitu Tadu dan lako. Tadu berarti tinju dan Lako artinya musang hutan. “Karena penasaran dengan nama itu, saya seperti terinspirasi untuk membuat lirik dan melodinya,” kisahnya.

    Oleh karena lagu itu bentuknya hymne, ia memahami bahwa hymne ini lagu pujian. Di di dalam pujian, ada salah satu unsur penting yaitu doa. Makanya, bait-bait awal hymne tersebut dimulai dengan ungkapan doa. “Lagu ini dibagi dalam tiga bagian, di mana masing-masing dua baris. Bagian pertama isinya doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bagian kedua berisi misi perguruan tinggi, sedangkan bagian ketiga berisi pujian kepada almamater,” jelasnya.

    Hymne tersebut memiliki unsur religius. Sebagai manusia, jelasnya, sebagai manusia usaha tanpa adanya campur tangan Tuhan tidak ada arti. Ia mengaku proses pengerjaan lagu itu lumayan cepat karena inspirasinya langsung muncul. Saat bertemu Rektor Untad pada 8 Agustus 2018, ia sempat menanyakan arti kata ‘Tadulako’.

    Melalui rektor dan beberapa pihak, ia mendapatkan jawaban bahwa istilah Tadulako lekat dengan jiwa kepemimpinan, utamanya kepemimpan yang bersifat kolektif. “Jika memang demikian maknanya, maka mestinya melalui institusi ini, mahasiswa harus belajar menjadi pemimpin di masyaraat. Untad ini sebenarnya adalah perguruan tinggi yang memimpin dan mendidik calon pemimpin, sehingga untuk itu, Untad wajib menggali nilai budaya dan makna serta ciri khas Tadulako untuk diaplikasikan kepada mahasiswanya,” ujarnya.

    Untuk mengisi masa tuanya, Apoly, pria yang membuat arensemen lagu Flobamora, lebih banyak menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga di kediamannya di Jalan Nangka, Kelurahan Oeba, Kota Kupang. Sejak pensiun sebagai ASN tahun 2010 ia menikmati keseharian di dunia yang bersentuhan dengan musik. Ia juga melanjutkan aktif dalam Paduan Suara Sekarsari yang sudah ia bina puluhan tahun.

    Herman Wutun, kerabat dekatnya dari Uruor, Jumat, 24 Januari 2010, mengabarkan bahwa Apoly menurut mata selamanya. Apoly menghadap Ata Rajan, Tuhan, di Rumah Sakit Siloam. Herman mengaku, Apoly sosok bersahaja, sederhana, keras pendirian, ulet dan disiplin. Ia memberi diri bagi banyak orang dalam kesederhanaan, selama 30 tahun lebih membina paduan suara Sekar Sari hingga ajal menjemputnya,” kata Herman Wutun, Ketua Umum Induk KUD.

    Warga masyarakat kampung Lewuka, Udak, dan Uruor tentu mengenang sosok Apoly Bala Wutun, anak kampung inspiratif. Ia meninggalkan kampung, melintas Karabau Knoki guna melarat agar kelak berguna bagi bangsa dan negara di rantau. Pun masyarakat Lembata dan Nusa Tenggara Timur, tentu merasa kehilangan masetro musik yang berjasa memajukan musik lokal dan Gerejani. Pun Universitas Tadulako dan masyarakat Sulawesi Tengah tentu mengenangnya sebagai sosok yang telah berjasa menciptakan Hymne Untad bagi masyarakat dan civitas akademika Untad.

    Pastor Dr Bernardus Boli Udjan SVD, kerabatnya dari Lewuka mengenang Apoly sebagai sosok yang amat berjasa untuk kita semua orang. “Beliau berjasa untuk liturgi Gereja khususnya sebagai komponis lagu-lagu liturgi dan dirigen handal, juga pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Kita kehilangan besar. Semoga semangatnya kita warisi dan teruskan kepada yang lain. Terima kasih, Pak Apoly Bala untuk segala jasa dan kebaikan. Semoga Almarhum berbahagia di surga dan bersatu dangan para kudus dan malaikat dalam madah syukur pujian tanpa henti bagi Tuhan,” ujar tuan Boli Ujan.

    Pastor Yeremias Bala Pito MSF, kerabat lain Apoly dari  Lewukak, mengenang almahrum dalam curahan hati menggugah. Ia menulis, hari ini semua terhenyak atas kepergian seorang pribadi yang telah panjang  menghiasi pelataran musik gereja, musik daerah NTT mengisi serambi hati seluruh insan Flobamorata, tulus, tidak pernah berpikir untung dalam rupa fulus.

    “Apoly Bala melukis indah jajar musik indahnya membuatku selalu kagum dalam ekspresi setiap bertemu. Kucium tangan halusmu yang sudah membuat NTT-ku berdenyut di nadi musik yang penuh tanpa balutan atau pernak pernik cerdik lainnya, namun sungguh murni  mengharumkan lantunan nada dan suara putra-putri Flobamorata. Tidak cukup melukis retas jalan yang telah dibentang dan surut aku mengakui akan meneruskan laku yang telah dipaku, tapi biarkan bergerak sekehendak zaman. Doakan kami yang berusaha meneruskan segala yang telah diletakkan agar pada titiknya boleh berkanjang pada muara yang semestinya. Beristirahatlah dengan damai, Bapak Apoly Bala. Tuhan terimalah hamba-Mu ini dalam kebahagiaan kekal di Surga. Amin,” kata tuan Bala Pito.

    Jakarta, 24 Januari 2020

    Ansel Deri, Orang Kampung Asal Boto; Mengenang Alm. Apoly Bala Wutun

    Sumber foto: Copas jefrianto dan dok Herman Wutun

  • Kuda dalam Tanda Mata Stephie

    Kuda dalam Tanda Mata Stephie

    BUDI Baik. Warnanya coklat. Pun Tanda Mata. Warnanya putih. Boleh jadi, baik Budi Baik maupun Tanda Mata seperti piaraan paling mengasyikkan. Keduanya boleh seperti pembasuh penat usai bekerja, pengganda bahagia tatkala bolak balik rumah-kebun. Orangtua Stephie Kleden-Beetz (76): bapa Yohanes Djuan Kleden dan mama Katharina Sabu Hadjon, yang empunya kuda kesayangan bernama Budi Baik dan Tanda Mata.

    Dari Malang, Jawa Timur, Budi Baik dan Tanda Mata menyelinap masuk dalam memori Stephie Kleden-Beetz. Ia (Stephie) memutar kembali memori, bale (pulang) Waibalun, kampung halamannya di rumah orangtua, beranda pelabuhan fery, arah barat Larantuka, kota Reinha, kota Maria, di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Memorinya melebur dengan kisah Budi Baik dan Tanda Mata, tempo doeloe, yang mungkin bolak balik dengan ayah-ibunya menempuh rute rumah-kebun di sekitar Waibalun atau Larantuka.

    Saya biasa menyapa akrab Stephie Kleden-Beetz dengan “kaka Oa” setiap kali saya mengirim pesan singkat baik melalui messanger atau WhatsApp bila bertanya bagaimana resep bahkan rahasia menulis yang baik dari seorang penulis dan wartawan senior. Sekitar Agustus hingga September 2019, saya memberanikan diri meminta kaka Stephie menyiapkan Prolog sebuah buku yang akan segera terbit.

    Stephie memastikan akan mengagendakan menulis Prolog dimaksud sebagai bukti dan kesetiaan mendukung setiap upaya para penulis muda dari kampung halaman, tanah Lamaholot. “Adik Ansel Deri, bersama ini saya kirim kata pengantar Lembata yang Mempesona. Semoga ada manfaat. Silahkan bertanya bila belum ada kejelasan. Salam dan selamat berkarya. Stephie Kleden-Beetz,” ujar kaka Stephie melalui e-mail, surat elektronik kepada saya, 26 Oktober 2019.

    Nama Stephie juga mulai familiar setelah Pilatus mengisi halaman Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian milik SVD yang terbit di Ende, Flores. Saya mendengar Pilatus kemudian belakangan membaca artikel itu usai pastor berkotbah di altar Gereja (lama) Paroki Santo Joseph Boto beberapa waktu setelah itu.

    Pilatus adalah tulisan Gabriel G Sola, seorang kontributor Dian di Jakarta.  Gaby, belakangan jadi rekan sesama kontributor lepas Dian, meski lokus domisili kami berjauhan. Pun tak saling kenal. Saking menarik, Pilatus kembali juga disinggung sang pastor dalam kotbahnya.

    Sedang Stephie Kleden-Beetz? Nama Stephie Kleden-Beetz, juga familiar mengisi nyaris setiap rubrik Dian tatkala saya masih di kampung tahun 80-an. Banyak laporan beliau dari Jerman. Selain tentu berita maupun laporan-laporan human interest, yang mengaduk rasa ingin tahu pembaca sekelas kami segelintir anak kampung yang suka baca koran-koran usang terutama Dian dan Hidup. Kami tentunya, terasa ditawan di sana dan melahap laporan Stephie hingga di akhir tulisan kemudian tahu siapa penulisnya.

    Tentang Budi Baik dan Tanda Mata Stephie menyandera kedua bola mata. Seberapa penting Budi Baik dan Tanda Mata di mata Stephie? Pastinya, tatkala menggarap Tanda Mata, buku mini karyanya, Stephie malah kewalahan. Bukankah seorang penulis hebat dan wartawan senior dengan jam terbang tinggi akan dengan mudah menemukan judul? Tapi, kok kewalahan?

    Rupanya ingatan Stephie menyasar Budi Baik dan Tanda Mata. Dua ekor kuda itu milik ayah-ibunya di Waibalun. Tak lama menemukan judul buku karyanya, Tanda Mata, dari kuda Tanda Mata ayah-ibunya. “Ketika sedang mencari-cari judul untuk buku ini, tiba-tiba saya teringat masa kecil saya dan kebahagiaan naik kuda bersama Ayah,” kata Stephie Kleden-Beetz di bagian Ucapan Terima Kasih Tanda Mata, buku karyanya setebal 342 halaman tersebut.

    Namun, Stephie, penulis kelahiran Waibalun, Flores Timur pada 25 Desember 1943 melanjutkan, tak disangka, tragedi itu terjadi: Budi Baik tewas di ujung panah pemburuh liar. Bukan hanya keluarga Stephie yang berduka. Tanda Mata, sahabat Budi Baik, pun menjadi murung, kehilangan nafsu makan, menjadi semakin kurus, akhirnya pergi menyusul Budi Baik.

    “Maka jadilah nama buku ini: Tanda Mata. Kepada Ayah dan Ibu, yang telah membuat kami berbahagia lewat dua ekor kuda tersebut, saya sampaikan limpah terima kasih. Terima kasih pertama-tama saya berikan kepada Pater Dr. Paul Budi Kleden, SVD, yang telah berkenan menulis kata pengantar buku ini. Untuk Hermien Y. Kleden, manager produksi buku ini saya berikan beribu terima kasih atas jerih payahnya di tengah kesibukan utamanya sebagai wartawan majalah Tempo,” kata Stephie lagi.

    Rasa Hormat

    Stephie Kleden-Beetz sungguh penulis hebat dan wartawan senior terbilang langka. Setiap peristiwa bahkan pengalaman perjumpaan ia tulis dengan indah dan enak dibaca. Tiga buku karyanya, Cerita Kecil Saja, Merajut Kata-Kata, dan Tanda Mata hanya yang terakhir saja jadi tanda mata untuk saya anak kampung.

    Wawasan Stephie Keden-Beetz sangat luas. Ia melanglang buana, menembus benua. Bahkan Stephie lama bermukim di Jerman setelah menikah dengan Werner Beetz, pemuda pilihannya. Meski demikian, di tengah kesibukannya bekerja sebagai jurnalis di negeri yang pernah dipimpin baik oleh Kanselir Angela Merkel maupun Helmut Kohl, itu, ia masih menyapa pembaca setia di NTT melalui reportasenya yang dimuat SKM Dian di Ende.

    Stephie lahir dari keluarga guru yang rata-rata adik-adik kandungnya adalah intelektual dan orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Sesuatu yang tentu sangat disyukuri pasutri guru Djuan Kleden dan mama Sabu Hadjon. Sekedar menyebut beberapa nama yang saya tahu. Misalnya, Pastor Dr. Leo Kleden, SVD. Tuan Leo, pastor filsuf ini lama bertugas di Rumah Induk SVD di Roma, sebelum akhirnya kembali ke almamaternya, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores.

    Begitu pula Dr Ignas Nasu Kleden, sosiolog lulusan Jerman atau Drs Marianus Gege Kleden, pengajar Fisip Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Juga Hermien Y. Kleden, mantan wartawan senior Tempo, majalah berita mingguan paling berpengaruh di Indonesia. Berikut Emil Ola Kleden, pernah bergiat di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

    Waibalun,  kampung kecil di muka pelabuhan fery itu pun bukan asing di mata saya. Sejak masuk Kupang, Pulau Timor, tuk melanjutkan studi tahun 1990, Waibalun adalah tempat asyik buat minum kopi panas sambil nikmati jagung titi (makanan khas Flores Timur dan Lembata) dan ikan tongkol segar dari laut Flores.

    Tiba di Larantuka, pelabuhan teramai di jantung kota Reinha, Flores Timur dari pelabuhan laut Lewoleba, Pulau Lembata, perjalanan mesti dilanjutkan ke Waibalun, arah barat, kampung penulis dan jurnalis senior Stephie Kleden-Beetz. Melewati jalanan sepanjang bibir pantai sebelum tiba di kampung kecil Waibalun, kita akan disuguhkan pula panorama alam pantai dan eksotisme beberapa kampung nan asri seperti Lewolere dan Pante Besar.

    Sejak dari Larantuka, mata kita sungguh dimanjakan pula dengan pemandangan satu dua menara kapel yang indah di sepanjang kampung-kampung itu. Di situlah guru Djuan Kleden dan mama Hadjon memelihara dan merawat Budi Baik dan Tanda Mata. Tanda Mata inilah yang bakal berlanjut pada Tanda Mata, karya mungil Stephie yang berisi rekaman lensa rasa yang begitu indah dalam jejak pengabdian sebagai penulis dan wartawan.

    Tanda Mata beranak Tanda Mata dalam tulisan? Saya memandang Stephie Kleden-Beetz adalah penulis unik yang telah membuat kejutan bagi saya sebagai penulis pemula dari kampung, nun di tengah dekapan dingin yang kerap mencekam di kaki Labalekan, selatan Lembata.

    Bagaimana tidak? Dari Tanda Mata kesayangan ayah-ibunya, guru Djuan Kleden dan mama Sabu Hadjon di Waibalun, lahir judul buku yang hemat saya mengejutkan. Stephie tinggal “membaptis” bukunya dengan nama Tanda Mata tanpa memikirkan atau mencari nama yang jauh-jauh semisal Eropa untuk karya uniknya itu. Ya, cukup meminjam nama kuda Tanda Mata menjadi kitab mini Tanda Mata yang baru untuk pembaca. Nggak sulit, kan? Inilah kehebatan Stephie di mata saya.

    Superior General SVD Sedunia Pastor Dr Paulus Budi Kleden SVD, jauh-jauh dari Cordoba, Argentina, ujung Agustus 2014, menulis khusus dalam judul ‘Jembatan Itu Bernama Cerita’ untuk Tanda Mata Stephie Kleden-Beetz, kerabatnya dalam rumpun Kleden. Kata Budi, hidup manusia adalah tenunan kisah. Di dalamnya, kita merajut kebahagiaan, sukses, perjuangan, kesusahan hati, pengalaman indah masa kanak-kanak.

    Kita bisa menuturkan dengan bebas apa yang sungguh terjadi atau sekadar berbagi mimpi-mimpin dinihari. Tak mengherankan, orang Yunani menyebut manusia sebagai soon logon, maklukh berbahasa, juga makluk berakal budi. Kebutuhan bercerita manusia menembus batas-batas usia, menerobos sekat ruang dan waktu, serta menjadi kebutuhan yang niscaya.

    Orang bisa bercerita di tepi sumur, di bibir pantai, atau via media sosial serba canggih. Kekuatan suatu cerita menentukan jejaknya: sekadar lewat dalam ingatan atau bisa lama terpatri, berdaya gugah, bahkan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. “Yesus, Sang Guru Nazareth, mengatakan, manusia tak hanya hidup dari roti, tapi juga setiap sabda Allah. Dalam banyak kebudayaan, cerita menjadi sarana ampuh sekaligus asali untuk mendidik, meneruskan nilai, dan memperluas cakrawala,” ujar tuan Budi Kleden lebih lanjut dalam catatan pengantar Tanda Mata Stephie Kleden-Beetz.

    Dari Malang, Jawa Timur, Selasa, 21 Januari 2020, kabar itu nongol melalui pesan singkat di telepon genggam. Stephie Kleden-Beetz mengakhiri ziarahnya di dunia. Ia memenuhi panggilan Tuan Deo, sang Sabda di Wisma Stephie, bilangan Patuha. Malang tepat pukul 19.10 WIB. Tuhan yang Memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan (Ayub 1 : 21).

    Sebagai penganut Katolik, saya percaya, kaka Stephie Kleden-Beetz, bahagia bersama para Kudus di Surga. Cerita kuda dalam Tanda Mata Stephie akan menjadi tanda mata bagi pembaca, terutama keluarga besar di Waibalun atau ata ribu di lewotana, Lamaholot.

    Sebagai anak Lembata, saya dan tentu warga group Ata Lembata masih merasa bangga karena Stephie Kleden-Beetz juga punya tanda mata terakhir: Lembata yang Mempesona, sebuah pengantar yang kalau dibaca mengasyikkan, seasyik membaca kisah Tanda Mata guru Djuan dan mama Sabu Hadjon dalam Tanda Mata, karya Stephie. Selamat jalan, kaka Oa Stephie Kleden-Beetz. Dari surgamu, doakan kami agar setia menjadi pewarta sukacita bagi dunia di sekitar kami.

    Ansel Deri, Orang Kampung Asal Lembata; Mengenang Stephie Kleden-Beetz, Penulis dan Wartawati Senior