Category: Featured

Featured posts

  • Cerita Imam di Keuskupan Ruteng Melayani Komuni Kudus bagi Penderita Disabilitas Mental di Masa Prapaskah (Bagian Kelima)

    Oleh Markus Makur

    MINGGU Prapaska III, 14 Maret 2021, pagi-pagi, Pater Frumens Andi, SMM menyiapkan segala perlengkapan misa. Hari minggu itu, Pater Frumens melakukan pelayanan pastoral Minggu Prapaska III di Stasi Balus Permai, Desa Ngampang Mas, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Stasi Roh Kudus Perang masuk dalam wilayah pelayanan Paroki Santo Antonius Padua-Mbeling, Kevikepan Borong, Keuskupan Ruteng. Segala persiapan sudah dilakukannya, ia mengambil sepeda motor mio yang parkir di kompleks Pastoran Santo Antonius Padua. Kemudian ia mengendarai sepeda motor menuju ke arah Selatan, hingga belok di pertigaan Warat.

    Perjalanannya bisa dibilang dalam setengah lingkaran. Dari Parokinya tidak bisa jalan lurus, walaupun letak stasi itu dengan posisi lurus, tapi penghalangnya adalah daerah aliran sungai (DAS) antara Desa Ngampang Mas dan Desa Gurun Liwut. Curam, jurang di daerah aliran sungai itu membuat perjalanan pastoralnya harus melingkar. Inilah fakta pelayanan pastoral di Keuskupan Ruteng. Berhadapan dengan topografi yang amat berat. Semua ini dihadapi dengan senyum, sabar, tabah karena ini merupakan tanggung jawab panggilan menjadi imam.

    Bergerak dengan irama apa adanya demi menyapa umat, baik yang sehat maupun yang sakit. Saya mengutamakan pelayanan demi menyelamatkan jiwa-jiwa umat di wilayah Paroki. Pelayanan sosial karitatif juga dilakukan demi mendukung kepenuhan ekonomi dari yang kekurangan. Semua umat harus dilayani dengan kasih. Pelayanan sakramen komuni kudus dilaksanakan di dalam gedung Gereja Stasi, dan juga memberikan pelayanan kasih lewat komuni kudus di rumah-rumah bagi umat yang lanjut usia dan penderita disabilitas mental. Fakta menunjukkan bahwa ada beberapa umat di wilayah Parokinya yang menderita sakit disabilitas mental. Ada yang jalan-jalan, maupun ada yang sedang di pasung. Dipasung oleh keluarga dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Ada yang pulih karena rutin konsumsi obat, namun ada juga di pasung ulang karena masih ada gejala-gejala kurang pulih. Tugas saya sebagai imam, melayani kebutuhan rohani karena umat yang menderita itu juga umat yang harus dilayani kebutuhan sakramennya. Mereka (baca disabilitas mental) juga sudah dibaptis, sudah komuni pertama serta mendapatkan pelayanan sakramen orang sakit. Bukan hanya saat masa prapaska ini memberikan sakramen ekaristi melainkan di hari-hari biasa selalu memberikan pelayanan rohani. Ini sudah sekian kali memberikan pelayanan komuni kudus bagi penderita gangguan jiwa di wilayah paroki ini. Tahun 2020 lalu, Pater Frumens mengelilingi wilayah Paroki atau lintas paroki bersama relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa serta petugas medis dari Puskesmas Lebi, Desa Ngampang Mas serta Kepala Desa Ngampang Mas, Orison Songgo.

    Terlibat Memulihkan Umat yang Menderita Disabilitas Mental

    Saya ingat betul pada suatu malam, di 2020 lalu, relawan KKI Manggarai Timur menghubungi Pater melalui media telepon seluler. Tanggapannya sangat memberikan dukungan yang penuh bagi pelayanan Kasih bagi penderita disabilitas mental. Kisahnya, ada seorang ibu yang menderita sakit gangguan jiwa dan melahirkan. Saat ada informasi dari relawan tentang ibu yang melahirkan. Malam itu kami membawa bingkisan kasih berupa susu instans yang disumbangkan orang baik serta kami kumpulkan dari rejeki. Saat itu Pater menjawabnya dengan mengatakan dirinya menunggu di pastoran agar kita sama-sama ke rumah keluarga tersebut. Alhasil, kami bersama-sama mengunjungi satu keluarga tersebut dengan penuh kasih. Pater pernah mengisahkan bahwa selama di Ruteng, dirinya mengunjungi Panti Renceng Mose Ruteng untuk melihat dari dekat pelayanan dari bruder Caritas yang merawat orang dengan gangguan jiwa dari berbagai Kabupaten di Pulau Flores, NTT.

    Jalan Kaki demi Menyapa Umat yang Menderita

    Kasihlah yang terus mendorong imam ini memberikan pelayanan kasih. Semua umat harus dilayani, entah saat sehat maupun sakit. Bahkan suatu ketika imam dan relawan KKI berhadapan dengan topografi yang belum terjangkau dengan kendaraan roda dua, akhirnya kami memutuskan jalan kaki melewati pematang sawah karena seorang umatnya yang sakit tinggal di pondok reyot di sekitar areal persawahannya. Di situ kami berdoa dan Pater memberikan pelayanan sakramen komuni kudus. Kemudian, kami jalan menurun di sebuah lembah untuk menyapa seorang umat yang derita gangguan jiwa dan tinggal di pondok reyot, beratapkan bilahan bambu. Saat itu kami merasakan kekuatan doa melalui perantaraan seorang imam yang mampu menggugah hati penderita tersebut. Setiap kali Pater menyapa umat yang sakit selalu menginformasikan di group whatsapp KKI Manggarai Timur. Saat sama-sama mengunjungi umat yang sakit, kami selalu diskusi lepas, saling menguatkan. Meneguhkan satu sama lain. Saling memotivasi. Bahkan merefleksi tentang berbagai macam sakit yang dialami manusia.

    Tata Layanan Pastoral Kasih

    Saat ini sudah dimulai dengan Tata Pelayanan Pastoral Kasih Keuskupan Ruteng dari Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat. Misa pembukaan sudah dilaksanakan secara serempak di seluruh Paroki di Keuskupan Ruteng, Januari 2021.

    Pater menginformasikan bahwa salah satu bentuk pelayanan pastoral kasih adalah pelayanan murah hati bagi orang-orang rentan seperti orang dengan gangguan jiwa (ODGJ),migran dan lain-lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa 2020 lalu, relawan Kelompok Kasih Insanis Kabupaten Manggarai Timur berdialog dengan Uskup Keuskupan Ruteng, Mgr Siprianus Hormat. Saat itu Uskup memberikan pesan kepada anggota relawan bahwa lakukan semua pelayanan dengan kasih. Bahasa kasih selalu dikedepankan saat menyapa sesama, baik yang sehat maupun yang sedang menderita. Menyapa dengan kasih. Melayani dengan kasih.

    Romo Hermen Sanusi, Pr

    Sejak 2019, Romo Hermen Sanusi, Pr, Kepala Sekolah SMAK Pancasila Borong, Kabupaten Manggarai Timur melakukan pelayanan Kasih dengan komuni kudus bagi penderita disabilitas mental di seluruh Manggarai Timur. Di tengah kesibukan sebagai kepala sekolah, Romo Hermen selalu menyisihkan waktu untuk melayani umat yang sakit. Baik sakit gangguan jiwa maupun sakit lainnya untuk memberikan pelayanan komuni kudus. Romo Hermen memegang teguh panggilan imamat untuk melayani sakramen Ekaristi, baik di meja altar maupun pelayanan langsung di rumah-rumah yang sakit.

    Saya ingat bahwa pada 2019, Romo Hermen melakukan misa khusus bagi penderita gangguan jiwa yang sudah dan sedang pulih di Kapela Sakramen Mahakudus di Paroki Santo Gregorius Borong. Kemudian, mengunjungi langsung bersama siswa dan siswinya, guru-gurunya bagi seorang umat yang sakit gangguan jiwa di Desa Pong Ruan, Kecamatan Kota Komba. Selanjutnya melakukan pelayanan di beberapa desa di Kecamatan Borong dan Ranamese. Romo bergerak pasca mengikuti Seminar Nasional Kesehatan Jiwa (Keswa) di Aula Kevikepan Borong, Oktober 2019. Selanjutnya Romo mengunjungi seorang penderita gangguan jiwa yang tinggal di gua di pinggir Kali Wae Musur. Waktu itu bersama Sekretaris Uskup Ruteng, Romo Agustinus Manfred Habur, Pr serta relawan KKI, siswa dan siswa SMAK Pancasila Borong, dan wartawan. Selain itu, Mensi Anam juga ikut dalam kunjungan tersebut karena bertepatan dengan Merayakan Dirgahayu RI ke 75.

    Inisiatif Dialog dengan Anggota DPRD NTT

    Romo Hermen juga melakukan inisiatif untuk mengadakan dialog dengan Anggota DPRD NTT Daerah Pemilihan (Dapil) Manggarai Raya, Yohanes Rumat di Cafe di sekolahnya untuk membahas masalah penanganan dan pencegahan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Manggarai Timur. Banyak hal didiskusikan dengan melibatkan staf Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, relawan KKI Manggarai Timur. Saat ini menunggu hasil dari dialog tersebut. Khusus penanganan dan pencegahan ODGJ, relawan KKI, Imam Keuskupan Ruteng sudah berupaya keras dari level tinggi sampai ke tengah keluarga di seluruh Manggarai Timur. Bahkan Desember 2020, Romo Hermen tampil sebagai moderator saat diskusi terbatas dengan Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Sosial RI, Komisi Informasi Publik (KIP) RI, Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur dan Manggarai di Aula Missio Universitas Katolik Indonsia (UKI) Santo Paulus Ruteng pada Desember 2020. Kini menunggu program prioritas untuk penanganan dan pencegahan ODGJ di Nusa Tenggara Timur. Advokasi yang dilakukan relawan KKI Manggarai Timur sudah melibatkan pimpinan DPRD Manggarai Timur untuk melihat langsung kondisi penderita disabilitas mental.

    Kini kita semua menunggu kebijakan program prioritas khusus bagi ODGJ. Ada yang memberikan masukkan kepada relawan KKI bahwa stakeholder yang memegang kekuasaan di Manggarai Timur sudah terlibat langsung di lapangan dengan mengunjungi penderita gangguan jiwa di rumah-rumah. Sesungguhnya stakeholder yang memiliki kekuasaan mengambil satu kebijakan prioritas khusus bagi penanganan dan pencegahan ODGJ. Penanganan dan pencegahan ODGJ oleh kita untuk mereka (baca ODGJ) demi pemulihan mereka (baca ODGJ) dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun demi tahun. Kita wujudkan bebas pasung yang sudah diatur oleh regulasi di Negara ini. Saya ingat pesan pendiri KKI NTT, Pater Avent Saur, SVD, tugas kita mengunjungi. Melayani. Menyapa mereka (baca ODGJ) yang sedang menderita. Biarlah Tuhan Allah yang memulihkan dan menyembuhkan mereka. Sejauh pengamatan saya, pastoral Kasih bagi penderita disabilitas mental sudah dilayani oleh sejumlah Pastor Paroki di wilayah Keuskupan Ruteng. Seperti Pastor Paroki Santo Josef Freinademetz Wajur, Romo Ardy Santa, Pr, Kevikepan Labuan Bajo, Pastor Paroki Lengko Sepang, Romo Ferdinandus, Pr dan Pastor Paroki Santo Agustinus Mok, Romo Fransiskus Martinus Perik, Pr memberikan pelayanan sakramen komuni kudus. Selain itu, Komisi Caritas Keuskupan Ruteng sudah membangun beberapa pondok yang layak bagi penderita gangguan jiwa serta pelayanan sosial karitatif.

    Di masa pandemi Covid19, 2020, Komisi Caritas bersama dengan tim tanggap Covid19 Keuskupan Ruteng memberikan bantuan sosial berupa sembako bagi kelompok-kelompok rentan, termasuk keluarga penderita disabilitas mental. Ada juga pelayanan dari Ordo Camelus De Lellis di Maumere membangun rumah layak bagi penderitaan gangguan di Pulau Flores belum ada rumah sakit Jiwa. Yang ada dua panti rehabilitasi yakni Panti Dympha Maumere dan Panti Renceng Mose Ruteng.

    Saya berpendapat, apabila mereka sedang sakit, itu berarti kita semua sakit. Jikalau mereka (baca ODGJ) sudah pulih. Itu berarti kita semua sehat. Salam Sehat Jiwa. Salam Belum Kalah. Mari kita bongkar stigma. Satukan tekad dan hati untuk memulihkan mereka (baca ODGJ) yang sangat membutuhkan sentuhan kasih. Mari kita wujudkan bebas pasung di daerah kita tercinta.

    *************

    Penulis adalah wartawan dan koordinator KKI Kab. Manggarai Timur, NTT

  • Perempuan di Pasar Barter Wulandoni

    Cerpen  Fince Bataona

    GELAP.  Listrik padam sejak siang dan belum juga menyala? Saat tiba tadi, Ema sudah beritahu listrik padam. Katanya ada perbaikan gardu di ujung kampung, Ema menjelaskan. Tak ada pengumuman resmi, Ema dengar dari Ema Esy, tetangga sebelah. Ema Esy, entah tahu dari mana sebab musabab listrik padam hari itu. Sering begini, keluh Ema.

    “Mungkin tengah malam baru menyala. Biasanya begitu,” ujar Ema lagi sambil menyiapkan makanan di meja. Saya tak menjawab. Rasa lapar lebih menguasai pikiran dan satu-satunya keinginan adalah segera makan lalu istirahat.

    Iya, saya  lapar dan lelah. Perjalanan 50-an km dari Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata ke Lamalera adalah perjalanan sengsara yang menguras habis energi. Infrastruktur jalan yang buruk sudah pasti bikin badan sakit. Kondisi lebih parah di musim hujan. Kolam-kolam lumpur menggenang di beberapa ruas jalan.

    Masakan Ema, daun kelor rebus, ikan terbang bakar dan sambal tomat pedis. Saya habiskan dengan segera.  Nikmat. Masakan Ema sudah pasti nikmat,  meski itu hanya daun kelor dan ikan jenis apapun yang  dibakar. Menu makan wajib, kata Ema. Dan, wajib itu tak pernah membosankan.

    Jika ditanya alasannya, saya pasti menjawab karena Ema menyiapkannya sepenuh hati. Sepenuh cinta untuk saya dan bapak. Dua lelaki didekatnya yang menyayanginya pula sepenuh jiwa.

    Entah sudah berapa lama saya tidur. Dalam gelap, saya mencari hand phone dalam tas ransel  yang saya bawa. Astaga! Tak bisa menyala. Baterai nol persen. Mati total.

    Ema..? Ema..” Tak ada jawaban. Lamat, saya mendengar langkah-langkah  kaki di dalam dapur.  Saya hafal benar langkah kaki siapa. Selalu teratur melakukannya. Bolak balik antara para-para dekat tungku api dan  bale-bale bambu  yang berjarak sekitar lima belas langkah dari tungku. Saya menghitung. Pada hitungan kelima bale-bale bambu berderit.  Ema, pasti sudah duduk di bale-bale.

    Saya keluar kamar. Dari arah dapur, remang cahaya pelita dari minyak ikan paus menembus hingga ruang tengah. Pelita empat sumbu itu sudah cukup lama dibuat bapak. Seng plat bekas dipotong segi empat. Pada sudutnya dirapatkan untuk meletakan ujung sumbu. Setelah sumbu direndam dalam minyak ikan paus beberapa jam, pelita sudah bisa difungsikan dengan nyala yang sempurna.

    Ema agak kaget melihatku sudah berada di dekatnya.  “Sudah bangun? Masih malam. Ayo makan dan tidur lagi,” ujar Ema. Saya tidak menjawab,  Dalam terang cahaya pelita minyak ikan paus, saya memperhatikan  tangannya yang sibuk mengikat ikan-ikan kering. Perlahan, hati-hati agar tangannya tidak tertusuk duri ikan – ikan demersal yang hasil memancing. 

    Saya duduk  di sebelah ema.  “Ema belum tidur?”

    Ema menggeleng. “Besok hari Sabtu.”

    Perempuan dengan separuh rambut sudah memutih itu meneruskan pekerjaannya. Ikan-ikan kering diikat  lalu dimasukkan dalam bakul. Ikan Terbang kering. Beberapa ikan Demersal ukuran sedang. Daging dan kulit ikan Paus kering. Daging dan kulit Lumba-Lumba. Ikan Pari kering. Juga, garam dan kapur sirih.

    “Kalau sebentar bapak dapat ikan banyak, besok Ema bawa juga ikan mentah ke pasar,” ujar Ema. Oh iya, bapak. Saat tiba tadi, bapa belum pulang melaut. Lamafa (juru tikam ikan Paus) itu, tidak punya waktu istirahat. Pagi hingga sore dengan peledang (perahu) melaut. Menunggui kalau-kalau ada  ikan paus lewat di laut Sawu dan itulah kiriman nenek moyang yang harus diambil.

    Jika peledang pulang tanpa hasil, lamafa Thomas, begitu nama bapak saya, akan melaut malam hari untuk mencari ikan-ikan kecil. Waktu istirahatnya sangat sedikit. Hanya beberapa jam di rumah. Tapi, seumur hidup, saya belum pernah melihat bapak terbaring lemas karena sakit. Bapak tidak pernah sakit. Dia sangat kuat!

    “Besok, saya yang hantar Ema ke pasar,” kata saya.  Ema tersenyum mengangguk.

    Pasar barter Wulandoni berlangsung setiap hari Sabtu pukul 10.00 wita,  Di era uang tunai menguasai pasaran. Bahkan segala sendi kehidupan pun mendewakan uang. Di tengah maraknya belanja dan bisnis online,  masyarakat  wilayah pegunungan dan pesisir di Kecamatan Wulandoni masih mempertahankan pasar barter Wulandoni. Turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Jarak pasar barter Wulandoni kurang lebih 7 Km dari  Desa Lamalera. Perkampungan nelayan yang mendunia karena tradisi penangkapan ikan Paus secara tradisional.

    Pasar barter Wulandoni adalah pertemuan dagang sekaligus silaturahmi masyarakat pegunungan yang adalah petani  dengan masyarakat pesisir pantai yang adalah nelayan. Pelaku barter adalah para perempuan. Tak terlihat ada laki-laki di arena barter.  Dengan kendaraan truk mereka membawa jagung, pisang, ubi, kelapa, sayur mayur dan berbagai hasil kebun. Sementara perempuan dari pesisir, membawa hasil laut. Ikan basah, ikan kering berbagai jenis, garam dan juga kapur sirih.

    Pasar Barter Wulandoni (Foto dari Google)

    Dulu, saat masih sekolah dasar (SD) saya sering pula menemani Ema ke pasar saat libur. Berjalan kaki sepanjang pesisir pantai bebatuan hitam dengan gemuruh ombak pantai selatan yang gaduh. Sebelum mencapai pasar yang serupa tanah lapang luas itu, ada sebuah kali kecil yang penuh saat air laut pasang dan kering saat surut.

    Saat melewati kali kecil ini, saya dan ema biasanya berhenti sebentar.  Rendam kaki biar lelah hilang, Sekaligus bersihkan debu di kaki, begitu Ema menjelaskan.  Jika Ema hanya rendam kaki, saya pasti mandi. Saya akan menolak keras jika Ema menawarkan menggendong saya saja agar tidak basah.  Pakaian basah dan kering sendiri di badan, bukan masalah. Saya, tidak akan masuk angin. Tidak juga demam hanya karena pakaian basah berjam-jam di badan. Saya suka membathin, seperti lamafa Thomas yang kuat, saya pun begitu.

    Menunggui Ema melakukan barter, saya biasanya bermain di pantai. Pantai bebatuan berpasir hitam. Saya senang mengejar kepiting di sela-sela batu dan sering tidak menyadari  kalau Ema sudah selesai barter dan saatnya kami pulang. Tanda dimulainya barter dengan meniup peluit juga sering tidak saya dengar. Meski sudah banyak yang datang, pasar barter baru bisa dimulai ketika seorang mandor meniup cukup panjang peluit.

    Biasanya yang memanggil saya dan memberitahu kalau Ema sudah selesai  barter adalah Nina. Suaranya lantang meneriakan namaku, kalau saya agak jauh. Tangan kecilnya melambai berulangkali menandakan saya segera pulang. Usia kami sama. Kulitnya sedikit terang. Tidak segelap saya yang anak pantai. Rambutnya ikal selalu diikat tinggi. Wajah bulatnya mirip Ema Peni, ibunya.  Nina, anak kenalan Ema dari Desa Lewuka. Dia sering menemani ibunya menjajakan hasil kebun mereka di Pasar Wulandoni. Jika saya selalu di pantai, Nina akan duduk berdampingan dengan ibunya dengan dagangan mereka. Ubi, jagung, pisang, sayur-sayuran, tomat, lombok dan lainnya. Mereka menunggu didatangi perempuan dari wilayah pantai yang membawa ikan. Tawar menawar dan setelah sepakat, barang diambil.  Nina kecil, saya sering melihatnya membantu ibunya memasukan sayur  ke bakul  Ema.  

    Pasar barter Wulandoni tidak hanya area tanah lapang barter semata. Ada persaudaraan, ada kekerabatan yang terjalin terus menerus dan turun temurun. Saat tawar menawar, komunikasi berlangsung tidak semata antara  pedagang dan pembeli. Jika bertemu terus menerus, hubungan kekerabatan akan terjalin. Pasar barter Wulandoni, jadi tempat jumpa dan mengikat tali persaudaraan tidak sedarah.

    Ema, bertemu Ema Peni, ibunya Nina di pasar barter Wulandoni bukan lagi mematok nilai tukar dua ekor ikan sedang dengan 12 bulir jagung atau satu keping ikan Paus dengan 6 buah pisang. Nilai tukar bukan lagi standar baku. Kepada Nina, Ema bahkan sering membawakan oleh-oleh biskuit atau roti. Boleh jadi karena tidak punya anak perempuan, Ema tampak bahagia menyayangi Nina.

    Itu baru antara Ema dan Ema Peni. Di pasar barter Wulandoni, Ema juga berhubungan baik dengan Ema Siti. Perempuan berjilbab yang menjual kue kering. Ema Siti langganan Ema dan Ema Peni. Mereka akrab dan tak sekalipun saling bertanya, apa agamamu?

     Tak ada sekat agama di pasar barter Wulandoni.  Bahkan ketika hari raya Natal jatuh pada hari Sabtu, mereka bersepakat menggeser pasar ke hari lain tanpa pertentangan. Begitu pula jika hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu, mereka dengan gembira bersepakat menggeser waktu pasar barter ke hari lain. Tak ada pertanyaan, demi kepentingan siapa?

    Seperti apakah pasar barter Wulandoni  di tengah pandemic covid 19?

    Naluri jurnalistik mendorong saya pulang Lamalera dan Sabtu pagi ini  bersama Ema, saya menyusuri jalan Lamalera-Wulandoni. Bukan jalan kaki seperti belasan tahun lalu. Jalan beraspal  tapi di beberapa titik masih seperti dulu. Meski  Ema tampak masih kuat jalan kaki, saya tidak akan membiarkan Ema jalan kaki dan saya bersepeda motor.

    Di pintu masuk,  beberapa petugas sudah siaga dengan wadah cuci tangan. Mereka ramah menyapa, “silahkan mencuci tangan dulu.”  Sesekali mereka menegur beberapa warga yang tidak memakai masker secara benar. Mereka bahkan menyiapkan masker bagi warga yang tidak memakai masker.

    Di tanah lapang luas yang masih sama seperti dulu, jarak duduk sudah diatur, 1,5 meter. Ada lingkaran-lingkaran putih dari abu dapur menandai posisi duduk masing-masing orang yang menjajakan ubi, pisang, sayur, beras merah dan lain-lain. Tepat pukul 10.00 wita, peluit panjang berbunyi. Tak ada “serbuan” seperti  biasanya. Tertib teratur mengantri.  Seorang petugas kesehatan terus memberi komando dari toa agar jarak tetap dijaga.

    Saya sibuk mengambil beberapa gambar. Saya akan menulis feature  tentang ini. Nah itu Ema Peni! Saya mengarahkan kamera ke wajah yang sangat saya kenal itu. Eh di sebelahnya? Perempuan tinggi semampai dengan rambut ikal diikat tinggi. Tersenyum ramah melayani ema-ema dari pesisir yang membawa ikan. Siapa? Saya turunkan kamera. Berjalan agak terburu hendak menemui Ema Peni.

    “Ama, antri. Jaga jarak. Ikuti protokoler kesehatan.”

    Saya hentikan langkah. Mundur dan kembali ke tempat parkir.  Bukankah tak ada laki-laki yang melakukan barter di Pasar Wulandoni. Ini areanya perempuan. Area Ema saya, Ema Peni dan perempuan itu.  Wajah penuh senyum itu mengganggu. Terasa dekat.  Zoom kamera dan saya teliti wajah dan segala gerak  perempuan  itu dari jauh. Dia melayani penuh senyum.

    Nah, itu Ema. Dia memeluk Ema. Membantu Ema memasukan sayur dalam bakul. Ini biasa dilakukan… “Siapa? Nina kecil?”

    Pasar barter Wulandoni usai. Masing-masing sibuk membereskan bawaan hasil barter. Juga, Ema. Nina kecil sudah berada di sebelah saya. Cerah ceriah bercerita banyak hal lebih-lebih masa kecil kami diselingi tawa lepas. Saya memandanginya tanpa kedip. Kurang fokus pada ceritanya karena bibir tipisnya, dagu mungilnya dan mata bulatnya lebih menarik. Ah Nina kecil yang manis kini di mataku. Kami saling tukar nomor kontak sebelum berpisah.

    Foto dari Google

    Seminggu berlalu. Saya sedang menulis berita: Pasar barter Wulandoni mendapatkan penghargaan inovasi daerah terkait penerapan tatanan new normal sektor pasar tradisional klaster daerah tertinggal. Peringkat satu. Kemendagri memberikan penghargaan berupa Dana Insentif Daerah (DID) kepada pemerintah daerah senilai Rp 3 Miliar.

    Berita gembira ini harus dibaca Nina kecil yang manis. Saya mengirim tautan dengan pesan, “Nina kecil yang manis, baca ini berita gembira. Buat Ema Peni. Buat Ema saya dan buat semua perempuan Wulandoni yang punya area tanah lapang itu di setiap Sabtu. Buatmu juga, Nina.”

    Nina membalas dengan emoticon tertawa lebar dengan tulisan, “Bahagianya. Setidaknya sarana prasarana di area itu akan lebih baik. Atau jalan ke pasar dari Lamalera ke Wulandoni atau dari Lewuka ke Wulandoni  akan lebih mulus. Tks Ama.”

    Dua bulan berlalu saya menulis berita dan meneruskan padanya,” Nina kecil yang manis, jatah Wulandoni Rp 100 juta. Baca saja beritanya.”

    “Rp 100 juta dari Rp 3 M? Nina membalas dengan menambahkan emoticon sedih, marah, kecewa.

    “Ini seperti ayam yang punya telur tetapi setelah jadi, namanya jadi telur mata sapi,” tulis Nina dengan emoticon tertawa sinis

    “Ko diam saja kah, Ama? Mengapa tidak ada yang protes soal ini? Wakil rakyat ada di mana? Itu sudah final?”

    “Sudah penetapan,” jawab saya singkat untuk pertanyaannya yang terakhir.

    Dan dia tidak lagi mengirim pesan. Saya membayangkan wajah manisnya yang cemberut. Merah merona menahan emosi. Makin manis, tentunya. Ah, Nina, entah mengapa setiap kali ingat wajah manismu, dada ini selalu berdebar.

    Kau, perempuan  seperti Ema, Ema Peni, Ema Siti, dan ema-ema lainnya adalah penguasa area tanah lapang di Pasar barter Wulandoni. Kalian, para perempuan yang merawat budaya, merawat toleransi dan merawat persaudaraan paling tulus, paling gigih di daerah ini, dari area tanah lapang Pasar barter Wulandoni. Kalian, perempuan sempurna!.***

    Lembata, Desember 2020

    ———————————————————————

    Para-para:  tempat meletakan jagung, ikan kering,  yang terbuat dari bambu dengan empat tiang penyanggah

    Bale-bale : tempat tidur dari anyaman bambu

    Fince Bataona, Jurnalis, Penulis Novel Lamafa

  • Tolong Sembuhkan Saya, Pak…. (Bagian Keempat)

    Oleh Markus Makur

    BENEDIKTUS POSENG (49), warga Kampung Kota Tunda, Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu, (3/3/2021) sejak 2019 lalu menderita lumpuh. Selama derita lumpuh, putra sulungnya, Risalianus Aja (12) tulus hati, setia merawat orang tuanya. Saat ini Risal, biasa disapa orang tuanya sedang duduk di kelas VI sekolah dasar di SDI Sopang Rajong. Sebentar lagi tamat dari sekolah dasar. Sopang Rajong merupakan daerah pedalaman dari Kabupaten Manggarai Timur. Masih terisolir. Masih belum maju dari sisi infrastruktur dasar.


    Jam di handphone sudah menunjukkan pukul 14.15 wita. Saat itu hanya kami bertiga di kamar yang sempit, pengap. Saya, Bapak Benediktus Poseng dan disampingnya putra sulung. Saat itu Bapak Bene, biasa disapa warga setempat hanya duduk diatas papan, diapit pelupuh bambu serta dialas kain verlak. Kondisinya sangat sengsara dan menyedihkan. Saat itu saya duduk agak jongkok. Berkali-kali diucapkan Bapak Bene, terima kasih, terima kasih atas kunjungan dari orang-orang yang peduli. Tak lama kemudian Bapak Bene meneteskan air mata di wajahnya sambil memohon, tolong sembuhkan saya pak. Tolong berdoa kepada Tuhan agar saya sembuh. Saya tak bisa buat kopi untuk pak yang datang ke sini (baca rumahnya). Dengan air mata ini saya mengucapkan terima kasih, terima kasih kebaikan Bapak-bapak yang datang dari tempat jauh. Hanya dengan air mata ini, saya ucapkan terima kasih. Sementara putra sulungnya, Risal duduk disampingnya dengan diam. Saat itu Risal memakai baju kaos berkerah warna merah dan memakai celana panjang levis warna hitam. Waktu perjumpaan pertama, Sabtu, (20/2/2021) lalu, Risal memakai baju kaos sekolahnya serta memakai celana pendek. Bapak Bene terus berbicara dengan kesedihannya, sementara saya hanya bisa mendengarkan. Sekali-kali saya berbicara ala kadarnya untuk memberikan peneguhan dan semangat agar tetap tabah dan sabar dan terus berdoa. Saya ingat perkataan saya waktu itu, derita yang bapak alami juga bagian dari derita saya dan kami yang hadir mengunjungi Bapak saat ini. Saya dan kami yang kunjung ini juga merasakan penderitaan yang bapak alami. Kita sama-sama berusaha. Berupaya dan berjuang agar bapak lekas pulih. Kita sama-sama berdoa agar bapak lekas pulih. Kemudian Bapak Bene menyampaikan, bukan hanya saya yang sakit, istri saya juga sakit lumpuh dan tak bisa bicara. Kami sangat menderita dan sengsara dengan sakit yang kami alami. Yang merawat kami selama ini adalah anak Risal. Masak untuk makan pagi, masak pulang sekolah dan masak untuk makan malam. Di sela-sela merawat kami, Risal masih pergi kebun untuk memungut kemiri. Hasil kemiri itu dijualnya untuk kebutuhan makan minum dalam keluarga. Berapa berat beban yang dipikulnya sejak usia sekolah dasar ini. Sejak kecil, Risal sudah menanggung beban untuk merawat kami orangtuanya.

    Benediktus mengisahkan kunjungan Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa, Kepala Dinas Pemberdayaaan Masyarakat Desa (PMD), Yosef Durahi dan stafnya serta wartawan yang ketiga kali. Pertama, kami sekeluarga dikunjungi Bapak Marselis Sarimin, Sabtu (20/2/2021), satu minggu kemudian dikunjungi seorang anggota polisi dan wartawan.
    “Saya mengucapkan terima kasih dengan air mata atas kebaikan semua orang yang datang membawa bingkisan kasih,” ucapnya.

    Mendengarkan Permintaan Keluarga

    Saat saya mendengarkan permintaan kepala keluarga, Benediktus Poseng yang sedang derita lumpuh. Permintaannya, tolong sembuhkan saya, Pak. Saya terkejut. Tertegun dan bertanya dalam hati. Mengapa permintaan bapak ini disampaikan ke saya sebab saya tahu saya tidak memiliki kemampuan dan wartawan biasa-biasa saja. Saya juga menyadari bahwa saya juga manusia rapuh. Namun, saat itu saya memberikan jawaban peneguhan dengan menyampaikan kita sama-sama berdoa. Hanya Tuhan yang memiliki kuasa untuk memulihkan dan menyembuhkan kita yang menderita sakit. Hanya itu yang bisa saya ungkapkan. Saat itu berlinang air mata saat mendengarkan kisah dan permintaan kepala keluarga ini.

    Kemudian saya dan rombongan pamit pulang. Sebelum pulang, kami singgah di salah satu rumah warga Sopang Rajong. Mereka sangat baik menyuguhkan makan siang. Sebelum makan siang, sebagaimana adat istiadat warga setempat, tamu, dalam hal ini Ketua DPRD dan Kepala Dinas PMD disambut dengan ritual adat “Kepok”

    Pulang ke Waelengga dan Borong

    Rombongan pulang dengan rute yang sama, Sopang Rajong-Ritapada-Kote-Lete-Marokima-Waelengga-Borong. Ini adalah rute terpendek ke Kecamatan Elar Selatan.

    Dalam perjalanan Ketua DPRD menyampaikan tahun 2021, rute ini akan dilanjutkan pengerjaan dengan dana APBD yang sudah disahkan tahun lalu. Rombongan tiba di Waelengga sekitar pukul 17.30 Wita. Singgah sebentar di tempat saya tinggal untuk minum kopi. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing di Kota Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur.

    Krispinus Lois Gonzales, Relawan KKI dan penggiat Komunitas Pungut Sampah Manggarai Timur menuturkan, ” Saya tak bisa bicara apa-apa saat melihat kondisi keluarga ini. Saya ikut sedih dengan kondisi keluarga ini. Yang membuat saya tertegun dan kagum adalah ketegaran hati Risalianus Aja yang setia dan tulus merawat kedua orang tuanya. Dia tak bisa bermain-main dengan anak-anak di kampung itu yang se-usia dengannya. Semoga banyak orang membantu keluarga ini.
    Terpisah Damianus Hambur, penggiat Literasi Kabupaten Manggarai Timur mengungkapkan semoga Tuhan memulihkan dan menyembuhkan kedua orang tua ini lewat bantuan sesama.

    Ket. Foto: Dari kiri ke kanan – Foto bersama Krispinus Lois Gonzales, Relawan KKI dan Penggiat Komunitas Pungut Sampah Kab. Manggarai Timur, Markus Makur, wartawan Kompas com, Kepala Desa Nanga Meje, Arnold Soro Leko, Ketua DPRD Manggarai Timur. Heremias Dupa, Risalinus Aja (Baju Merah), Kepala Dinas PMD KAb. Manggarai Timur, Yosef Durahi dan seorang warga tetangga keluarga itu di Kampung Kota Tunda, Desa Naga Meje, Kec. Elar Selatan, Manggarai Timur, NTT, Rabu (3/3/2021). Ketua DPRD dan Kepala Dinas PMD, wartawan dan penggiat kemanusiaan mengunjungi keluarga ini untuk memberikan bantuan kemanusiaan. (FOTO DOK/YORIT PONI)


    Ambrosius Adir dan Yos Syukur, wartawan yang bekerja di Kabupaten Manggarai Timur mengungkapkan, melihat langsung kondisi keluarga Bapak Benediktus Poseng yang menderita lumpuh memberikan makna tersendiri untuk dipublikasikan demi menggugah pihak-pihak lain untuk membantu keluarga ini.
    “Sebagai wartawan, tugas utamanya meliput, melihat fakta yang sedetail-detailnya, mendengarkan, lalu mempublikasikan di media masing-masing. Tentu berharap ada orang-orang yang tergugah hati untuk membantu keluarga serta pemerintah memperhatikan rakyat yang menderita,” tutur keduanya.

    Merenungkan Permintaan Benediktus Poseng

    Setelah berada di rumah dari perjalanan jauh Borong-Waelengga-Sopang dan sebaliknya, merenungkan permintaan Benediktus Poseng. Sebagai manusia yang rapuh dan lemah, saya hanya bisa merenungkan dalam hati serta membawa dalam doa. Saya ingat pesan Pater Avent Saur, SVD, Pendiri Relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Nusa Tenggara Timur dalam beberapa visitasinya di bagian Flores Barat ” tugas mengunjungi, melayani, untuk kesembuhan dan pemulihan orang-orang menderita, itu urusan Tuhan Allah.”
    Kemudian saya menulis sedikit kisah perjalanan itu di status whatsapp, “Saya bersyukur atas penyelenggaraan ilahi atas kisah Kasih hari ini di pelosok Manggarai Timur. Seorang bapak yang menderita lumpuh meneteskan air matanya sambil meminta kepada saya, tolong sembuhkan saya, Pak. Mendengarkan permohonan itu, berlinang air mataku. Saat itu kami bertiga dikamar itu, Bapak yang sakit, anak sulung dan saya. Saya hanya bisa mendengarkan karena saya juga manusia rapuh yang penuh dosa dan kesalahan.” Kisah Rabu, 3 Maret 2021. Sebatas ungkapan itu yang bisa saya lakukan sambil memikirkan jalan keluar untuk membantu keluarga ini untuk pemulihan dan kesembuhan di hari-hari yang akan datang. Ungkapan ini saya kirim ke beberapa relasi serta imam untuk sama-sama mendoakan keluarga ini.


    Bagi pembaca yang ingin membantu keluarga ini. Silahkan kontak penulis kisah ini di no WA 0812 3837 1195

    Penulis adalah wartawan dan koordinator relawan Kelompok Kasih Insanis Kabupaten Manggarai Timur, NTT

  • Jeritan Derita Suami Istri yang Lumpuh Menggugah Hati Orang Lain untuk Berbagi Kasih ( Bagian Ketiga )

    Oleh Markus Makur

    Senin, 1 Maret 2021, saya pinjam motor tetangga bergegas ke Kota Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Biasanya saya naik angkutan umum saat bepergian ke Kota Borong. Kebetulan bemo yang biasa langganan ke Borong tidak mengangkut penumpang Senin itu. Saya memutuskan pinjam motor tetangga. Keperluan saya sangat mendesak di Kota Borong. Saya sudah memutuskan untuk belanja kasur layak pakai dan seng, paku seng, paku untuk kayu untuk disumbangkan bagi satu keluarga yang menderita sakit lumpuh di Kampung Kotatunda, Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Ada uluran kasih dari satu keluarga di Jakarta untuk membantu keluarga ini. Bantuan kemanusiaan ini berkat jasa seorang imam Katolik. Namanya  Romo Hironimus Jelahu, Pr yang kini menjadi misionaris di luar Negeri. Imam ini merupakan mantan Pastor Paroki Santo Arnoldus dan Josef Waelengga. Awalnya, Romo Roy, biasa disapa melihat dan membaca postingan berita di media online KOMPAS.com dan media Ekorantt.com tentang kisah bocah usia 12 tahun yang kini sedang duduk di kelas enam sekolah dasar Sopang Rajong setia merawat kedua orangtuanya yang menderita lumpuh. Selanjutnya Romo Roy membagikan kisah itu kepada relasinya di Kota Jakarta, Ibukota Negara Kesatuan Republik Indonesia. Relasi memberikan tanggapan baik dan bersedia membantu keluarga ini. Tiba-tiba Romo Roy menelepon saya lewat saluran inbox di media sosial facebook. Romo ingin mendengarkan langsung kisah tentang bocah yang setia merawat kedua orang tuanya. Romo sangat terharu dengan kisah bocah tersebut. Selang beberapa hari berikutnya, Romo mengirimkan pesan lewat saluran aplikasi whatsapp. Isinya bahwa ada keluarga yang berbaik hati di Jakarta ingin membantu keluarga ini. Lalu Romo bertanya, kebutuhan yang mendesak bagi keluarga tersebut. Saya langsung menceritakan lewat whatsapp bahwa Sabtu, (20/2/2021) saya bersama Bapak Marselis Sarimin, istri dan beberapa rombongan mengunjungi keluarga ini untuk membawa bingkisan aksi puasa pembangunan (APP), apalagi saat ini umat Katolik di seluruh dunia sedang menjalankan masa puasa, masa prapaska. Secara detail, saya menceritakan bahwa kebutuhan yang sangat mendesak adalah kasur. Karena, saat saya berkunjung ke sana sabtu itu, saya melihat kedua orang tua itu tidur beralaskan papan. Istrinya tidur beralaskan papan lima lembar di ruang tamu sementara suaminya tidur di kamar sempit beralaskan papan dan pelupuh bambu ditambahkan dengan kain verlak diatasnya. Betapa menyedihkan dan penuh sengsara. Sementara anak sulungnya dan nenek perempuan tidur di rumah tetangga. Memang ada tempat tidur, tapi beralaskan pelupuh bambu dan tak ada kasur. Tak lama kemudian, satu keluarga itu untuk mengirim bantuannya. Bantuan itu segera disalurkan.

    Beli Tiga Kasur, Seng, Paku dan Beras

    Bantuan berupa uang itu saya beli kasur, Seng dan paku sesuai dengan apa yang disampaikan dari satu keluarga tersebut. Selanjutnya, saya mengontak relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Kabupaten Manggarai Timur di Kota Borong untuk mencari tahu harga kasur spon layak pakai di toko-toko di kota tersebut. Nama relawan itu, biasa disapa, Om Lois. Tak lama kemudian, relawan itu mengontak saya tentang harga kasur spon tersebut. Senin sore kami belanja kasur bersama-sama di sebuah toko di pinggir jalan trans flores di Kota Borong. Sambil mengendarai motor, saya terus berpikir bagaimana cara mengirim barang bantuan tersebut. Karena saya tahu topografi ke Kecamatan Elar Selatan yang sangat berat. Menempuh jarak jauh. Saya selalu menginformasikan kepada Yorit Poni, warga Kecamatan Elar Selatan dan Ambrosius Adir, wartawan Ekorantt.com dan terpanggil menjadi relawan KKI. Hari itu saya memutuskan mampir di rumah rekan wartawan Radio Elshinta, Yos Syukur di Kampung Tanggo, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong. Setiba di rumahnya, sebagaimana biasa keramahan orang Manggarai Raya selalu menyuguhkan minuman kopi. Sambil minum kopi, saya menceritakan kisah bocah di pedalaman Manggarai Timur yang setia merawat orang tuanya yang derita sakit lumpuh. Rupanya cerita saya itu tertarik baginya, apalagi insting seorang wartawan. Biasa disapa Om Yos menyampaikan niatnya untuk ikut ke pedalaman Manggarai Timur. Saya ucapkan terima kasih. Lalu, dia sarankan, coba kontak Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa, barangkali bisa bantu untuk sama-sama menghantar bantuan kemanusiaan itu. Sarannya saya terima. Saya mengontak Ketua DPRD. Saya menyampaikan isi hati. Kemudian ditanggapinya untuk langsung bertemu di kediamannya di Kampung Warat. Saya ajak Om Yos untuk sama-sama bertemu. Om Yos memiliki kepentingan untuk wawancara tentang tanggapan DPRD terkait keluarga yang menderita tersebut. Kami masing-masing membawa motor. Kami singgah sementara waktu di Kios Legori Peot, Kelurahan Peot. Saya kontak Om Rosis, Om Lois dan Om Yorit Poni.  Kami bertemu untuk membahas tentang bantuan yang dibawa ke Kampung Kotatunda, Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan. Saat itu kami bagi tugas, om Yorit Poni pergi ambil kartu BPJS di Kantor BPJS untuk keluarga itu yang diurus Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur, sementara kami berempat bertemu Ketua DPRD.

    Bertemu Ketua DPRD di Kediamannya

    Sekitar jam 12.30 wita, kami bertemu Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Heremias Dupa. Kami duduk di ruang tamu. Tak lama kemudian disuguhkan minuman kopi. Ini budaya orang Manggarai Raya. Tamu selalu disuguhkan minuman kopi Manggarai Timur. Sebagaimana biasa, kami biasa bercerita apa saja. Cerita tentang Covid19 dan cerita lain seputar Manggarai Timur. Selain obrolan ringan, saya utarakan maksud bertemu.

    Saya bilang, kami wartawan dan relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) mau membawa bantuan kasur, seng, dan kasih bagi keluarga Benediktus Poseng yang menderita lumpuh. Istrinya juga lumpuh dan bisu. Saat ini kedua orangtua ini dirawat anak sulung mereka, Risalianus Aja yang kini duduk di kelas VI sekolah dasar. Mendengar cerita dan ditambahkan oleh Om Rosis menggugah hati nuraninya. Saya bilang kami kesulitan kendaraan untuk menghantar bantuan itu, apalagi saat ini lagi musim hujan. Jikalau dimuat dengan oto colt membutuhkan waktu satu hari satu malam karena rute oto colt ke Kampung Kotatunda-Sopang Rajong, yakni Ruteng-Borong-Bajawa dan masuk ke Kecamatan Elar Selatan dengan kondisi jalan yang masih rusak di wilayah Kecamatan Elar Selatan. Saat itu juga kami bilang, kedatangan kami ini sekalian mengajak Pak Ketua untuk sama-sama mengunjungi keluarga ini sambil melihat langsung jalan yang rusak. Menanggapi permintaan kami, Heremias Dupa, Ketua DPRD mengatakan Rabu kita berangkat dan saya hubung mobil Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Manggarai Timur, Yosef Durahi. Intinya Rabu kita menghantar bantuan kemanusiaan tersebut. Saat berlangsung diskusi, hujan lebat turun di kawasan Kampung Warat. Tuan rumah sudah menghidangkan makan siang. Hujan berhenti, kami pulang.

    Belanja Barang Bantuan Kemanusiaan

    Saya, Rosis, Lois belanja tiga kasur, seng dan paku di toko di Kota Borong karena kami sudah mendapatkan kepastian kendaraan untuk memuat barang-barang bantuan kemanusiaan itu ke Elar Selatan.

    Setelah belanja barang-barang itu, saya dan  Rosis kembali ke kosnya di Kampung Peot, Kelurahan Peot. sementara Lois kembali ke rumahnya di kawasan Golo Karot, Kelurahanam Rana Loba. Senin malam, saya tidur di Rosis punya kos. Selasa pagi, 2 Maret 2021 saya kembali ke Kompleks Mabako, Kota Waelengga, Ibukota Kecamatan Kota Komba.

    Rabu Berangkat ke Elar Selatan

    Tibalah hari yang sudah ditentukan, Rabu, 3 Maret 2021. Ketua DPRD Manggarai Timur, Kepala Dinas PMD Manggarai Timur berangkat dari Kota Borong jam 07.30 wita. Saya menunggu di rumah Waelengga. Ada dua kendaraan. Mobil dinas Ketua DPRD dan mobil dinas Kepala Dinas PMD. Rute yang kami pilih Borong-Waelengga-Marokima-Lete-Kote-Ritapada. Dari Waelengga sampai di sebelah jembatan wae Mokel Atas, jalan raya sudah beraspal. Sementara menuju Kampung Kota Tunda-Sopang Rajong masih jalan bebatuan. Kurang lebih 5 kilometer belum diaspal. Di tengah jalan bebatuan itu tumbuh ilalang dan juga kiri kanan jalan hingga tiba di jembatan Wae Kembe. Memasuki jalan mendaki Lada, sebagian batunya sudah terbongkar karena terbawa air. Bahkan ada titik longsor. Bersyukur pengemudi, Primus dan Stanis sangat tangguh dan memiliki pengalaman berhadapan jalan yang rusak parah. Semua penumpang turun dan jalan kaki di jalan mendaki tersebut. Beberapa kali kendaraan double gardan itu selet. Upaya keras dari pengemudi itu mampu melewati jalan rusak parah hingga akhir kami tiba. Saat itu rombongan dijemput Kepala Desa Nanga Meje, Arnoldus Soro Leko dan stafnya dan Kepala Puskesmas Runus, Maria Susana dan stafnya dengan mobil ambulance dan satu mobil lainnya. Di ujung jalan rusak di wilayah Sopang Rajong sudah diaspal dengan dana APBD Kabupaten Manggarai Timur yang dikerjakan 2019 lalu. Kami tiba di Kantor Desa Nanga Meje. Kami disuguhkan dengan minuman kopi sebagaimana budaya orang Manggarai Timur. Kami melanjutkan perjalanan ke rumah Bapak Benediktus Poseng didampingi Kepala Desa dan Kepala Puskesmas Runus. Mobil parkir di pinggir jalan. Kami jalan kaki menuju rumah keluarga tersebut. Semua rombongan masuk dan melihat kondisi suami istri serta anak sulungnya. Ketua DPRD dan Kepala Dinas PMD masuk ke kamar untuk menyerahkan kartu BPJS serta memberikan semangat serta pengharapan.

    Heremias Dupa mengungkapkan, Bapak Benediktus Poseng tetap sabar dan berdoa. Kami datang untuk melihat kondisi bapak sekeluarga. “Saya siap bersuara kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur serius memperhatikan bapak dan membangun rumah yang layak huni,” ungkapnya.

    Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa Kabupaten Manggarai Timur, Yosef Durahi kepada Bapak Benediktus dan anak sulungnya mengatakan, Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur siap membangun rumah yang layak melalui dana Pemerintah Desa Nanga Meje di tahun 2021 ini.

    “Saya sudah bilang Kepala Desa Nanga Meje, Arnoldus Soro Leko, tolong Bapak Kepala Desa Nanga Meje bangun rumah yang layak bagi keluarga ini,” jelasnya.

    Ungkapan Keprihatinan Berhadapan dengan jalan Rusak di Elar Selatan

    Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa mengungkapkan medan jalan rusak parah di Kecamatan Elar Selatan, menantang, asyik dan uji nyali.

    “Dengan melihat langsung kondisi jalan ini maka akan diprioritaskan di aspal. Ini kedua kali saya melewati jalan ini. 2018 lalu saya pernah lewati jalan ini,” ungkapnya.

    Kepala Dinas PMD, Yosef Durahi mengungkapkan ada kebahagian tersendiri melewati jalan yang rusak parah di Kecamatan Elar Selatan.

    “Jalan ini saya rintis dulu saat menjadi Camat Elar Selatan. Saat itu bersama rakyat Desa Nanga Meje menggali jalan tersebut. Berminggu-minggu tidur di Sopang Rajong untuk mengawasi pengerjaan jalan yang digali dengan skop oleh warga Desa Nanga Meje. Ini rute singkat menuju ke Waelengga dan Borong. Saya bersyukur datang bersama ketua DPRD Manggarai Timur. Saya berharap dilanjutkan pembangunan aspal hingga tembus Desa Nanga Meje dan tembus Wukir, Runus,” harapannya.

    Penggiat Literasi Kabupaten Manggarai Timur, Damianus Hambur mengungkapkan perjalanan hari ini, Rabu, (3/3/2021) bagi saya pribadi sangat menyenangkan karena  bisa berbagi senyuman kepada  mereka yang membutuhkan sentuhan kasih dari kita sesama.

    Perjalanan dari Peot, Waelengga sampai ke Sopang  rajong, disamping jalannya rusak, terus di suguhi pemandangan alam dengan bentangan bukit yang luas, membuat saya lega dari kesibukan aktivitas saya sehari-hari. Perjalanan yang sedikit menantang karena jalan yang kurang bagus,  tapi ada sesuatu yang menyentuh hati saya,  yaitu sentuhan Kasih dan panggilan hati dari relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Kabupaten Manggarai Timur dan wartawan yang bergerak dengan spontan yang tulus dan Ikhlas untuk menulis orang-orang kecil.

    “Saya baru pertama kali  mengunjungi orang-orang seperti om Bene yang sakit dengan relawan KKI betul-betul tergugah nurani,  bahwa hidup itu bukan hanya tentang, saya dan keluarga, tapi juga tentang mereka  yang membutuhkan sentuhan Kasih. Harapannya semoga semakin banyak yang memperhatikan orang-orang yang  membutuhkan sentuhan kasih,” ujarnya.

    Relawan KKI dan Penggiat Komunitas Pungut Sampah Kabupaten Manggarai Timur, Krispinus Lois Gonzales mengungkapkan ” saya sangat terpanggil untuk aksi kemanusiaan. Kasihlah yang menggerakkan hati saya untuk bergabung menjadi relawan KKI dan penggiat Komunitas Pungut Sampah (KPS) Kabupaten Manggarai Timur. Saya berkunjung ke keluarga Benediktus Poseng karena saya baca di media KOMPAS.com dan Ekorantt.com tentang kisah bocah yang rawat kedua orang tuanya yang lumpuh. Sejak baca berita itu saya telepon koordinator KKI dan wartawan agar sama-sama kunjung lagi ke sana. Walaupun jalan rusak parah, saya hadapi dengan senyuman karena tujuan saya melihat langsung kondisi keluarga ini.”

    Lois biasa disapa rekan-rekannya, mengungkapkan, saat melihat langsung kondisi keluarga yang lumpuh serta rumahnya yang kurang layak, saya berlinang air mata.

    “Ini kunjungan kesekian kali bersama relawan KKI Manggarai Timur bersama Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur untuk pelayanan Kasih bagi orang-orang yang menderita di seluruh Manggarai Timur. Saya bersyukur kepada Tuhan atas sentuhan kasihNya dalam diri saya untuk saling mengunjungi,” ungkapnya.

    Sementara Yos Syukur, Wartawan Radio Elshinta mengungkapkan, sebagai seorang wartawan, medan jalan parah seperti ke Kecamatan Elar Selatan sudah terbiasa dihadapi di seluruh wilayah Manggarai Raya.

    “Saya tidak kaget dengan kondisi jalan yang rusak parah seperti di Kecamatan Elar Selatan. Tugas saya sebagai wartawan mempublikasikan fakta langsung di lapangan. Hasil publikasi itu menggugah orang lain dan pemerintah agar tahap demi tahap memperbaiki jalan yang rusak parah. Di situ inti menjadi wartawan menggugah kepedulian orang lain serta Pemerintah,” ungkapnya.

    ***************************

    Bagi siapa  saja yang ingin membantu keluarga Risalianus Aja. Silahkan kontak penulis ini.

    Penulis adalah wartawan dan Koordinator Relawan Kelompok Kasih Insanis di Manggarai Timur.

  • Cerita dari Hati ke Hati bersama Ketua PKK Kab. Manggarai untuk Keberpihakan bagi Penderita Disabilitas Mental (Bagian Kedua)

    Oleh Markus Makur

    DUA minggu lalu, saat saya sedang minum kopi sore, inung kopi mane, dalam dialek Manggarai handphone berdering. Biasanya saya duduk disamping dapur rumah yang berdindingkan pelupuh bambu. Tertera nama yang kontak saya, Yorit Poni, seorang pengurus PDI Perjuangan Kabupaten Manggarai Timur. Saya tekan tombol jawab, dari seberang menyapa saya, selamat sore Kakak. Apa kabar. Reme ape pande (lagi buat apa), lagi-lagi dengan dialek bahasa Manggarai. Memakai bahasa ibu sebagai bagian dari kecintaan kami sebagai orang yang dilahirkan dan dilatih dari kecil dengan didikan untuk berbicara dalam bahasa Manggarai. Sapaan dari Yorit Poni, saya jawab satu per satu, kabar baik, reme inung kopi mane (lagi minum kopi sore). Saya balik bertanya, apa kabar. Nia e? (Dimana ?) Yorit Poni, kabar baik, saya lagi di Kota Ruteng. Sui perlu e? Apa perlunya. Ini komunikasi awal sebagai sesama orang Manggarai Raya. Yorit Poni menyampaikan lewat saluran kabel lunak di handphone, begini Kakak, Ketua PKK Kabupaten Manggarai ( Bupati terpilih Kabupaten Manggarai) ingin bertemu relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) peduli orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Mendengar kabar ini, hati saya bergembira dan bersyukur. Dalam hati saya bertanya, siapakah saya ini sampai Ketua PKK Kab. Manggarai mau bertemu? Saat itu saya langsung menanggapi dengan kesanggupan, tapi lagi-lagi terhalang oleh meningkatnya kasus Covid19 di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Sebagai manusia rapuh dan tak berdaya, ada semacam kekuatiran dan kepanikan dengan serangan covid19 yang tidak mengenal orang baik dan orang kurang baik, orang berstatus sosial. Penularan Covid19 sangat membingungkan dan meresahkan. Saya sampaikan kepada Yorit, saya siap beri kabar lagi kalau kondisi Covid19 menurun kasusnya. Kemudian saya berpesan, tolong diatur waktu yang baik sebab kita tahu kesibukan Ketua PKK dengan agenda yang padat.

    Tibalah Waktu Yang Tepat di Tengah Pandemi Covid19

    Selasa, (23/2/2021), saya berangkat dari tempat tinggal di Kompleks Mabako, Kota Waelengga, Ibukota Kec. Kota Komba jam 09.00 wita dengan angkutan umum. Nama angkutan umum itu Bemo Cahaya Surya Rute Waelengga-Borong yang dikemudi oleh Om Nobi. Dengan menempuh jarak kurang lebih 40 KM dengan waktu tempuh satu setengah jam. Saya tiba di rumah Om Rosis, seorang wartawan dan relawan KKI Manggarai Timur jam 10.30 wita. Saya disambut dengan gembira karena om Rosis sudah anggap saya sebagai keluarga. Sewaktu ada di Borong, saya tidur di kos mereka di Kampung Peot, Kelurahan Peot, Kec. Borong. Selain itu saya biasa tidur di rumah keluarga atau rekan jurnalis yang tinggal di Borong.

    Bicara Saat Makan Malam

    Saat hidangan makan malam sudah diatas meja, saya membuka pembicaraan dengan Om Rosis dengan menyampaikan informasi dari Om Yorit Poni bahwa Ketua PKK Kabupaten Manggarai ingin bertemu relawan KKI Manggarai Timur untuk sharing (berbagi) pengalaman tentang penanganan dan pencegahan penderita disabilitas mental yang dilakukan secara sukarela oleh sekelompok relawan KKI di Manggarai Timur.
    Ambrosius Adir yang sering disapa om Rosis, menjawabnya, kita atur waktu besok, Rabu, (24/2/2021). Saya memberikan tanggapan, kalau ke Ruteng, kita butuh kendaraan roda empat karena saat ini lagi musim hujan. Dan juga kita tetap waspada dengan Covid19 karena di Ruteng, Ibukota Kabupaten Manggarai terus meningkat kasus Covid19. Kemudian Om Rosis bilang coba Kae (Kakak) kontak Kae Mensi Anam (Ketua Partai Hanura Manggarai Timur), barangkali kae Mensi Anam ada waktu agar kita sama-sama dengan mobilnya. Saat pembicaraan itu sudah pukul 21.00 wita. Setelah selesai makan malam, saya setuju dengan saran Om Rosis dan langsung mengontak Kae Mensi. Saya lihat nomor kontak kae Mensi Anam di handphone dan mengontaknya. Saya kontak dan diangkatnya. Saya sapa, selamat malam Kae, apa kabar? Dijawabnya, kabar baik. Selanjutnya saya utarakan maksud telepon tersebut, begini Kae, saya dan Om Rosis ada rencana ke Kota Ruteng. Kami diajak oleh Ketua PKK Kab. Manggarai untuk sharing pengalaman tentang penanganan ODGJ di Manggarai. Kae tahu bahwa kalau ke Kota Ruteng di musim hujan begini membutuhkan mobil dan kami ajak kae (Kakak) juga ikut berbagi pengalaman bersama-sama. Kae Mensi jawab, bisa dengan saya besok ke Kota Ruteng karena saya bersama keluarga ke Kota Ruteng. Tapi, tepat jam 06.00 wita kita berangkat dari Borong. Saya dan Om Rosis jawab, siap Kae (kakak).

    Berangkat Tepat Waktu

    Rabu, (24/2/2021), tepat jam 06.00 wita, mobil Kae Mensi Anam bersama keluarganya parkir di pinggir jalan di Jalan Raya Peot-Borong. Dia kontak saya. Saya jawab, kami siap ke jalan Kae. Sebelumnya kami sarapan pagi. Minum air hangat, minum kopi dan makan pagi. Kami siapkan segala sesuatu seperti masker, minyak kayu putih, pembersih tangan, (handsanitizer). Akhirnya kami berangkat. Laju kendaraan dari Peot menuju ke jalan Trans Flores, Borong-Ruteng. Waktu lenggang karena belum ada kendaraan yang lalulalang. Paling satu dua kendaraan yang berpapasan. Tibalah kami di Kompleks Waso Ruteng sekitar jam 08.00 wita. Tak lama kemudian, kami disuguhkan minuman kopi dan kue kompiang oleh tuan rumah. Selanjutnya tuan rumah hidangkan sarapan pagi. Terima kasih banyak kae Mensi. Tuhan memberkati kae sekeluarga. Ungkapan saya kepadanya.

    Kontak Yorit Poni Sewaktu di Ruteng

    Saya kontak Yorit Poni untuk mengabarkan bahwa kami sudah tiba di Ruteng. Yorit Poni menjawab jam 10.00 wita waktu sharingnya. Saya bilang ke dia bahwa kami tak ada kendaraan. Lalu dia bilang ada dua motor. Kemudian, sekitar 09.30 wita, dia dan saudaranya jemput kami di Kompleks Waso, Kelurahan Waso, Kecamatan Langke Rembong.

    Kota Ruteng, Kota Terdingin di Flores Barat

    Hujan gerimis ditambah dengan cuaca dingin di Kota Ruteng tidak mematahkan semangat kami untuk bertemu Ketua PKK Kab. Manggarai. Hati kami penuh semangat dan gembira karena ini hal baru yang kami alami. Seorang Ketua PKK dengan rendah hati mengajak kami untuk berbagi pengalaman tentang penangan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Saya dan Om Rosis lupa bawa jaket. Laju kendaraan roda dua dari arah Kompleks Waso menuju Kota Ruteng, selanjutnya menuju jalan trans flores Ruteng-Labuan Bajo. Udara dingin sangat terasa dalam tubuh kami yang hanya ditutupi baju dan celana. Kaki ditutupi sepatu. Kita ke Kompleks Perumnas Mena. Disana Ketua PKK Kab. Manggarai menunggu kita. Kami tiba di Kediaman Ketua PKK Kab. Manggarai sekeluarga.

    Sharing Pengalaman Selama 4 Jam

    Saat itu, saya, Om Rosis dan Yorit Poni menunggu beberapa menit di depan rumah. Kami dipersilahkan masuk di salah satu ruangan tamu. Tak lama kemudian, Ketua PKK Kab. Manggarai tiba.


    Ia menyapa kami dengan penuh persaudaraan. Ketua PKK menyapa kami dengan baik sekali. Kesan awal kami, Ketua PKK, Meldiyanti Hagur, sederhana, ceria, penuh semangat menyambut kami. Ramah. Sangat berbeda. Ketua PKK orang kerja. Bukan tas yang ditentengnya melainkan laptop notebook. Sapaan pertama saat menyambut kami dengan goet, dialek Manggarai, Nana bao meu ko (Nana sudah dari tadi). Selanjutnya, Ketua PKK persilahkan kami masuk di ruangan yang sudah disiapkan. Tertata rapi, bersih, atur jarak kursi, ada meja kerja. Kemudian Ketua PKK duduk dan langsung membuka laptopnya. Selanjutnya Yorit Poni memperkenalkan kami. Setelah perkenalan, Ketua PKK memulai pembicaraan. Saya bawa dengan laptop untuk mencatat semua sharing kita pagi ini. Saya kerja dengan menggunakan data yang akurat. Belum lama ini saya diajak berkunjung ke Panti Renceng Mose Ruteng. Saya mengumpulkan data tentang penanganan orang dengan gangguan jiwa. Setelah pulang dari sana, saya merefleksikan bahwa penderita disabilitas mental juga bisa pulih. Dengan temuan itu, merubah cara pandang saya tentang penderita disabilitas mental. Yah, kita tahu bahwa pandangan secara luas penderita disabilitas mental tidak bisa pulih. Ternyata, pandangan itu keliru, dimana penderita disabilitas mental bisa pulih dan kembali beraktivitas seperti biasa. Untuk itu, program prioritas dalam PKK untuk lima tahun kedepan dengan berpihak pada pemulihan mereka serta penanganan pasca pemulihan dari tempat rehabilitas. Peran itu akan ditangani oleh PKK Kab. Manggarai. Ketua PKK mengatakan pembangunan manusia di Kabupaten Manggarai akan dilakukan secara bertahap. Penanganan dan pencegahan penderita disabilitas mental siap dilakukan dengan berbagai pihak.


    Kemudian saya dan Om Rosis menceritakan pengalaman penanganan penderita disabilitas mental di Manggarai Timur sejak Juli 2017 lalu. Semua kami sharingkan. Cerita apa adanya walaupun bermodalkan panggilan hati nurani dan nekat. Semua yang sharingkan dicatat dalam laptop Ketua PKK. Kita memiliki keprihatinan yang sama bagi pemulihan penderita disabilitas mental karena mereka juga memiliki martabat yang sama. Penderita disabilitas mental juga manusia bermartabat dan memiliki hak yang sama untuk memperoleh perawatan medis. Terakhir saya ungkapkan penderita disabilitas mental pulih. Kita sehat. Negara hadir.

    ***********

    Penulis adalah wartawan dan koordinator relawan KKI Kab. Manggarai Timur, NTT.

  • Namaku Bre Redana


    Oleh Linda Christanty

    POSTER bugil Madonna. Parfum-parfum dari Loris Azzaro. Tempat tidur bambu. Lemari kayu. Sebuah ruang yang sederhana.

    Dari kamar 3 x 3 meter persegi itu ia kerap melihat hujan lewat jendela. Ia selalu mendahuluinya dengan ritual kecil, tanpa suara; mematikan lampu, berbaring dalam gelap.

    Ia senang mendengar jejak hujan pada atap, turun bergemericik di kolam kecil.

    Sebelum lelap sebotol bir Bintang diteguknya. Jumlah botol yang kosong makin bertambah bila ia sulit memejamkan mata. Sebentar kemudian ia turun ke lantai bawah, membuka kulkas di dapur dan mengambil sebotol bir lagi. Rumah begitu sunyi. Ia menyalakan televisi, lalu duduk di sofa. Keponakannya, Ferri, sudah tidur sejak tadi. Joko, pembantunya, sudah pulas. Petman, anjingnya yang blasteran Chow Chow dan anjing kampung sudah mendengkur.

    Pengaruh alkohol mulai terasa. Matanya mengantuk. Adegan televisi mulai mengabur. Ia bangun dengan susah-payah, lalu mendaki anak-anak tangga menuju kamarnya.

    Dalam lelap ia tak bermimpi apa-apa. Dunia menjadi ringan.

    Namun, malam ini tak ada hujan. Langit hitam pekat. Jalan aspal di muka rumah sunyi. Udara terasa bersih dan dingin.

    Ia juga tak minum bir. Seorang perempuan menemaninya di perpustakaan.

    “Setelah di Kompas saya nggak mau kerja di mana-mana lagi. Saya ingin pensiun, lalu menulis. Saya nggak mau diperbudak,” katanya.

    Bre Redana meluruskan punggungnya di kursi, menghela napas dalam-dalam. Ia menggerai rambutnya yang keriting, panjang, dan beruban, lalu mencopot kacamatanya.

    “Sekarang ini saya cuma pengrajin tulisan saja. Semua tulisan saya kerjakan dalam waktu singkat, sesuai permintaan, kayak gitu. Ya, pengrajin tulisan.” Ia terkekeh.

    Ruangan ini dipenuhi musik. Suara penyanyi Cina—yang ia tak hapal namanya—bersenandung dalam irama tenang. Suara itu seperti denting pada dawai kecapi, bening dan tinggi.

    Hampir tiga tahun ini ia tak punya waktu luang di hari Sabtu, bekerja sampai tengah malam, menyiapkan Kompas edisi Minggu. Ia menyunting tulisan sampai memeriksa tata letak. Ia juga bertanggung jawab terhadap feature di halaman pertama dan profil di halaman 12 suratkabar itu, dari Senin sampai Jumat. Ia redaktur budaya sekaligus kepala desk Kompas Minggu.

    Di kantor tadi ia menunggu kabar terakhir dari Ambon pasca penangkapan Ja’far Umar Thalib dari Laskar Jihad. Ja’far ditangkap polisi di bandar udara Surabaya, Jawa Timur. Ia dituduh membakar emosi massa lewat pidatonya, selain dianggap menghina pemerintahan Presiden Megawati Soekarnoputri. Pendukung Ja’far di Ambon protes. Mereka membuat rusuh. Dua orang meninggal. Sebelas luka-luka.

    Berjam-jam Bre menunggu. Tak ada perkembangan baru. Ia lelah sekali, tapi mencoba bertahan sampai pukul 23.00. Ya, sudah, itu kabar terakhir. Berita ini pun menjadi headline.

    Seringkali menjelang tengah malam terjadi perkembangan drastis di lapangan. Ia tak boleh luput. Urusannya bisa ramai nanti.

    “Don, mau ke mana?” tanya Soelastri, salah seorang staf redaksi, ketika melihatnya bersiap meninggalkan ruangan di lantai tiga itu.

    “Ke Tanamur,” serunya, menyebut salah satu diskotik Jakarta, seraya menyambar ransel.

    Ia hanya bergurau.

    Bre masuk ke dalam lift. Nissan Terrano hitamnya menunggu di tempat parkir, pasti berembun. Ia ingin segera pulang, bukan ke kafe. Besok ia berangkat ke luar kota dengan penerbangan pukul 09.45.

    “Untuk mewawancarai calon-calon wartawan di daerah. Ini yang melelahkan saya sebetulnya, melebihi pekerjaan rutin saya. Beban psikologisnya berat. Karena ini menentukan masa depan seseorang. Jangan sampai kita membuat kesalahan pada nasib orang, kayak-kayak gitu.”

                                              ***


    BRE Redana baru saja lulus sarjana muda Bahasa Inggris dari Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga, pada 1981 saat harian Kompas membuka lowongan wartawan. Ia nekad ke Jakarta untuk melamar.

    Kereta api ekonomi jurusan Semarang-Jakarta itu berhenti di stasiun Gambir. Seorang pemuda kurus bercelana jins lusuh menggendong ransel terseret dalam arus penumpang turun. Ia melangkah ke luar stasiun, menyeberang ke arah jalan Merdeka Selatan. Ia terpaksa berjalan agak jauh untuk mencapai halte bus. Tak ada uang untuk naik taksi.

    Kecemasan mampir juga di benaknya, “Keterima nggak, ya di Kompas?”

    Seorang pemuda berambut gondrong melangkah di jalan yang sama. Mereka berpapasan. Keduanya sama-sama kaget. Mereka saling kenal. Akrab.

    “Ariel! Eh, ngapain kamu?”

    Ariel Heryanto adalah dosen dan temannya main teater di Satya Wacana.

    “Kamu ngapain di Jakarta?”

    “Ngelamar di Kompas.”

    “Kamu ngapain kerja di Kompas? Jadi alat kapitalis,” sergah Ariel.

    “Ya, saya nyoba-nyoba.”

    “Udah, kamu pasti diterima.”

    “Masak, sih?”

    “Memangnya dites apa?”

    “Bahasa Inggris sama psikotes.”

    “Ya, udah, pasti lulus kamu.”

    Ariel pun mengajak Bre menginap bersamanya di Hotel Transaera. Hotel tua, sederhana, punya kamar lumayan besar dengan dua ranjang, dekat stasiun. Bre menerima tawaran itu dengan senang hati. Tentunya, mereka tak lapor penjaga untuk menghindari tambahan biaya hotel. Ariel Heryanto tengah mengikuti tes beasiswa Fulbright untuk kuliah di Amerika Serikat. Semua biaya transportasi dan akomodasi para calon penerima beasiswa ini ditanggung Fulbright.

    Niat Bre agak aneh di mata Ariel. Ketika itu lembaga swadaya masyarakat sebagai counter argument terhadap pemerintah sedang ngetren dan anak-anak muda yang cerdas serta kritis memilih bergabung di dalamnya. Pemerintah Presiden Soeharto sedang jaya dan sewenang-wenang. Tak suka orang punya pendapat berbeda. Otoriterisme ini harus dilawan bersama.

    Tetapi, Bre punya cita-cita lain. Ia ingin bakat menulisnya berkembang. Suratkabar adalah salah satu wadah.

    Kata-kata Ariel terbukti. Bre diterima di Kompas. Pertama kali bekerja, ia ditugaskan di desk kebudayaan, lalu dipindahkan ke desk olah raga, dan terakhir di desk metropolitan, sebelum kembali ke desk kebudayaan lagi.

    “Hampir seluruh karir saya di Kompas di desk itu. Nggak tahu, kenapa nggak dipindah-pindah.”

    Bre menulis apa saja, dari ketoprak keliling sampai tayub.

    “Sejak pertama masuk Kompas, saya lebih tertarik pada kebudayaan massa ketimbang adiluhung, seperti teater rakyat, ketoprak, sandiwara keliling. Ini kesenian yang hidup di masyarakat dan saya menulis kesenian lebih untuk menulis masyarakat ketimbang keseniannya sendiri,” katanya.

    Ia segera terseret dalam irama kerja yang cepat dan rutin. Tapi, tujuh tahun kemudian, mata rantai ini terputus. Penyebabnya, situasi politik Indonesia.

    Pada 1988, terjadi ketegangan dalam pemilihan wakil presiden, antara Sudharmono dan Try Sutrisno. Sudharmono dari Golongan Karya, orang sipil. Try jendral bintang empat dari Angkatan Bersenjata Republik Indonesia, militer aktif. Masing-masing, punya kepentingan dalam kancah politik nasional. Puncaknya, Sudharmono dituduh terlibat Partai Komunis Indonesia. Meski ia kemudian terpilih jadi wakil presiden, dampak tuduhan tersebut meluas. Orang-orang yang dianggap “tak bersih lingkungan” di instansi pemerintahan diberhentikan. Ibarat epidemi, orang-orang media pun tak luput dari serangan. Harmoko, menteri penerangan ketika itu, gencar mengkampanyekan “bersih diri” dan “bersih lingkungan.” Pernyataan resminya dikutip koran-koran, “Ada PKI dalam tubuh pers kita.” Momok komunisme dihidupkan kembali.

    Jakob Oetama, pemimpin redaksi Kompas, suatu hari memanggil Bre. Mereka bertemu di ruang kerja Oetama pagi itu. Hanya berdua.

    “Keadaannya begini, kamu dianggap tak bersih lingkungan,” kata Oetama, agak enggan.

    “Ya, sudah, kalau mau dikeluarin,” batinnya.

    “Kamu sekarang nggak nulis dulu aja. Ya, kamu bantu-bantu apa, tapi nggak nulis.”

    Ia sedih. Frustasi. Tak punya bayangan tentang hidup tanpa menulis.

    “Kemungkinan Pak Jakob juga berpikir, itu bukan salah saya. Salah negeri ini, pemerintah ini. Tapi, mau bilang apa,” katanya, mencoba memahami keputusan Oetama.



    Situasi semacam ini bahkan pernah terjadi di sebuah negara demokrasi, seperti Amerika Serikat. Pada 1945 senat Amerika menyetujui pembentukan House Committee on Un-American Activities, sebuah komite untuk memburu anggota atau simpatisan partai komunis. Komite tersebut lahir atas prakarsa Joseph McCarthy, seorang senator anti komunis. Di masa awal Perang Dingin negara-negara kapitalis dengan negara-negara komunis, Presiden Harry Truman membuat program penangkalan “subversi komunis” dan melibatkan komite tadi. Pada Maret 1947 sampai Desember 1952 sekitar 6,6 juta pegawai pemerintahan diperiksa. Program ini merembet ke berbagai sektor, seperti industri film dan media lain.

    Komite menyebarkan jutaan pamflet yang diberi tajuk “One Hundred Things You Should Know About Communism (Where can Communists be found? Everywhere).” Komite menyusun daftar orang-orang yang dianggap sesuai kriteria mereka. Hasilnya? Banyak seniman, aktor, dan penulis tamat karirnya.

    “Anti komunis, anti PKI ini legitimasi Orde Baru, sehingga untuk mempertahankan kekuasaan ia harus melakukan move ini, kalau mengendor, harus cari move lain. Stigma ini dipakai terus-menerus, kayak gitu,” kata Bre Redana.

                                                     ***


    BRE Redana berusia delapan tahun ketika ayahnya pergi. Ketika itu puluhan burung emprit terbang meninggalkan pohon kenari di muka rumah besar berdinding kayu milik keluarganya. Setiap hari ia melihat mereka pulang di sore hari. Pohon kenari menjadi sarang mereka. Cericit burung-burung itu riuh. Kelepakan sayap mereka menjauh pada pukul enam pagi.

    Lalu-lintas masih sepi. Hanya derap andong dan langkah pejalan kaki terdengar sesekali. Udara dingin dari kota kecil Salatiga yang tenang mengalir dalam rumah.

    Bulan Maret 1966. Angkatan Darat tengah merayakan kemenangan. Dipa Nusantara Aidit, ketua komite sentral Partai Komunis Indonesia ditembak mati pasukan yang dipimpin Kolonel Jasir Hadibroto. Pembersihan orang-orang komunis di seluruh Pulau Jawa dan Bali tengah berlangsung di bawah komando Kolonel Sarwo Edhie Wibowo dari Resimen Para Komando Angkatan Darat. PKI dituduh merencanakan kudeta terhadap pemerintahan Presiden Soekarno.

    Para pembantu di rumah keluarga Gondo Waluyo tengah sibuk di dapur. Anak-anak belum berangkat ke sekolah. Tiba-tiba pintu ruang muka terpentang lebar. Orang-orang tak dikenal, tetangga, polisi, dan tentara berseragam memenuhi halaman. Mereka mengepung rumah.

    Seakan sudah siap, Gondo Waluyo sudah mengemasi pakaiannya ke dalam tas. Ia menenteng tas yang biasa dibawanya ke kantor itu, lalu menghampiri sang istri.

    “Saya mau diambil.” Ia pamit.

    Semua berjalan amat cepat. Bre melihat ayahnya melewati ambang pintu. Orang-orang membawanya pergi.

    Ibunya menutup pintu dengan kalut dan gugup, lalu berkata, “Papa dijemput teman-temannya.”

    Pada siang hari Yutinem mengajak tiga putranya menjenguk ayah mereka di kantor polisi. Namun, sore hari pria yang dicintainya itu sudah tak ada lagi. Seseorang memberitahu, “Sudah dibunuh.” Puluhan tahun kemudian, Yutinem masih merasa pedih tiap mengenang suaminya, membayangkan ia hilang. Kebencian telah berakar dalam hatinya pada kekuasaan.

    Setelah itu para tetangga menjadi sinis serta menjauh. Rumah mereka yang dulu ramai kini sunyi. Orang-orang takut mendekat. Bahkan, ada yang tega menakut-nakuti dan berteriak pada anak-anaknya, “Ada polisi!”

    Situasi ini juga berlangsung di sekolah Bre. Pandangan mengejek terlihat di wajah sebagian anak. Mereka saling berbisik tiap melihat ia datang. Ia tak mendengar apa yang mereka katakan, tapi merasa dirasani.

    Ia tumbuh menjadi anak pemalu, agak minder..

    Namun, keadaan tersebut tak berlangsung lama. Orang-orang perlahan melupakan peristiwa itu, seperti tak pernah terjadi. Kehidupan berlangsung bagai sediakala.

                                              ***


    MUSIM semi di Darlington, Inggris, 1990. Bunga-bunga crocus putih bermekaran. Seluruh kota seperti bersalju. Pohon-pohon oak dan pinus berbaris di sisi-sisi jalan Southend Avenue. Di muka rumah induk semangnya ada sebuah monumen kecil dari granit hitam. Ia membaca tulisan keemasan yang terukir di situ: crocus ini untuk mengenang cinta saya pada istri saya.

    Bunga-bunga crocus putih adalah tanda cinta J Douglas Chilton untuk istrinya, Maude. Chilton, seorang bangsawan kaya, yang hidup pada abad ke-19. Ia tak memiliki keturunan, lalu mewariskan seluruh hartanya pada walikota Darlington. Namun, ia berpesan agar sebagian hartanya itu dibelikan bibit bunga crocus putih dan ditanami di seluruh kota. Chilton ingin semua orang mengenang cintanya pada sang istri saat mereka melihat bunga-bunga crocus mekar di musim semi.

    Bre baru saja memenangkan lomba menulis pariwisata tentang kota Darlington. Potretnya sedang berjabat tangan dengan walikota dimuat koran setempat, Evening Chronicle. Rasa percaya dirinya kembali pulih. Ia bisa menulis lagi!



    Dalam kamar sewaannya di lantai atas rumah kuno berkamar empat milik Maureen Vasarheley, seorang janda, Bre tercenung. Ia bersyukur menerima beasiswa dari pemerintah Inggris untuk kuliah Media Studies selama dua tahun di Darlington College of Technology. Setidaknya, kuliah bisa mengobati kekecewaan akibat situasi politik di Indonesia. Ia mengambil cuti tanpa tanggungan dari Kompas. Gaji tetap dibayar, tapi tunjangan hilang.

    Darlington hanya berpenduduk sekitar 10 ribu jiwa. Jarang sekali orang asing bermukim di sini. Dari mereka yang sedikit itu, ia satu-satunya orang Indonesia.

    “Kota ini saya impikan setiap saat, kota kecil, seperti Salatiga. Di sana ada buku kecil tipis yang dijual murah, sehingga kalau kita beli, kita akan tahu seluruh Darlington. Kita juga jadi tahu, angkutan kereta api pertama untuk penumpang ada di kota ini. Ada sejarah pasar, pedagang tertua, pemilik warung Capuccino paling enak,” ujar Bre.

    Ia menikmati waktu senggang sepulang kuliah dengan minum Capuccino di kafe atau minum-minum sampai pagi dengan teman-temannya.

    “Sampai jam dua pagi,” kenangnya, terkekeh lagi.

    Ia menjejakkan kaki ke Inggris pada musim panas, Juni 1989. Ia tak langsung ke Darlington, tapi mampir di New Castle Upon-Tyne. Banyak klub musik di kota tersebut. Di tepi sungai Tyne itu pemusik dunia macam Sting pernah berpentas sebelum terkenal dengan kelompok The Police. Di belakang asrama mahasiswa tempat ia tinggal, ada sebuah stadion sepak bola. Ia pernah menonton pertunjukan Rolling Stones di sana, lalu mengirim ulasannya untuk Kompas.

    Sepulang dari Inggris, ia kembali bekerja di Kompas. Namun, tema-tema artikelnya mulai berkembang, dari kesenian rakyat ke budaya massa.

    “Saya melihat masyarakat kita sudah berubah. Menurut saya yang paling mencerminkan masyarakat kontemporer adalah mall, kafe, bioskop 21. Saya menulis budaya pop atau budaya massa, agar orang mengerti kapitalisme itu apa, sadar terhadap keburukannya, sehingga mereka tak begitu terlena amatlah, kayak-kayak gitu.”

                                              ***


    COFFEE Club, kafe yang terkenal dengan sajian Capuccinonya di sudut lantai pertama Plaza Senayan, Jakarta Barat. Di salah satu ruangan coklat yang sejuk itu, di tepi jendela kaca berbingkai coklat, yang melapangkan pandangan ke arah para pengunjung, perempuan-perempuan berdandan funky serta wangi, yang hilir-mudik mencari kursi, seorang pria perlahan membuka halaman daftar menu. Ia sering menikmati Capuccino di sini, sendirian. Percakapan dan derai tawa menggemuruh, tapi keramaian justru memberinya rasa asing yang nyaman. Ia tak perlu bertegur sapa atau berbasa-basi dengan siapa pun, berbeda dengan kebiasaan saat bertemu tetangga di kampung halamannya di Salatiga, kota kecil di bagian tengah Pulau Jawa.

    “Irish, ya. Tapi, kopinya sedikit saja,” katanya dalam nada tenor yang sopan pada pelayan, yang menunggu di sisi meja kayu sewarna ruang tersebut.

    “Kopinya sedikit saja.” Ia mengulangi permintaan itu, seraya mengatur jarak sempit di antara jempol dan telunjuknya yang ramping.

    Irish, sejenis minuman dari ramuan whisky yang dicampur kopi dan krim.

    Ah, sebetulnya ia tak boleh minum kopi. Dokter melarangnya. Ia punya penyakit maag. “Sedikit aja masak nggak boleh?” pikirnya, nakal.



    Sore itu ia kembali mengamati orang-orang yang datang melalui kaca jendela di sisi kirinya, sebentar-bentar menoleh dan tersenyum. Seorang pria berkemeja hitam dan berambut gondrong terlihat memasuki kafe, menarik perhatiannya. Ia tertawa sambil melambaikan tangan pada Dimas Jayadiningrat, sutradara videoklip Indonesia. Jayadiningrat membalas lambaian dan tawanya, tapi mereka tak saling mendekat.

    Pelayan datang membawa pesanan, Irish dan Capuccino, lalu menaruh cangkir-cangkir yang mengepulkan aroma pahit itu di atas meja. Bre meraih pot gula dan membubuhkan dua sendok kecil serbuk manis tersebut ke dalam Irishnya dengan tenang.

    “Belum diberi gula,” katanya, menunjuk Capuccino teman wanitanya.

    Sepotong cinnamomum burmani, kayu manis, menggeletak di sisi cangkir. Keras, harum, coklat.

    “Itu untuk mengaduk,” katanya, lagi.

    Ia suka minum kopi di sini, kalau bete di kantor. Jarak kantornya ke Plasa Senayan dekat, cuma 10 menit. Inilah tempat yang membuatnya merasa berada di sebuah unikum dari kelahiran seni kontemporer.

    Gaya rambut, busana, selera musik, makanan, dan pemikiran anak-anak muda yang nongkrong di situ berbeda, khas, bahkan terputus dari generasi sebelumnya. Mereka nonton MTV, makan Big Mac, dan gemar surfing atau chatting di internet. Mereka inilah generasi yang mencipta film Ada Apa dengan Cinta, Jelangkung, atau Pasir Berbisik. Dari mereka pula lahir Dewi Lestari, penyanyi yang menulis novel Supernova atau Ayu Utami yang menulis Saman. Karya-karya mereka tak bisa dinilai dengan kerangka orang menilai karya Pramoedya Ananta Toer atau Achdiat Kartamiharja. Tak ada keterkaitan sejarah, tak ada keterikatan nilai dengan masa lampau.

                                           ***


    BRE tiba-tiba mematikan lampu, berjalan ke jendela, menggesernya. Ia sering melihat bulan purnama dalam gelap. Namun, tak ada bulan kali ini, walau sepotong. Ia kembali menyalakan lampu, menuju kursinya dan bertelekan di meja.

    Ia terlahir sebagai Tri Sabdono. Bre Redana bukan nama sebenarnya, hanya nama untuk berdamai dengan sejarah.

    Di usia yang hampir 45, Bre masih melajang. Ibunya khawatir ia akan sendirian selamanya.

    “Punya pacar?” tanya saya.

    “Kadang ada, kadang nggak.”

    “Ibu bilang, banyak.”

    “Ibu sebutkan semuanya?” Tawanya berderai

    Bre merasa ia mungkin seperti Tomas, tokoh dalam Unbearable Lightness of Being. Ini salah satu novel Milan Kundera, penulis Cekoslovakia yang ia suka.

    Tomas adalah orang yang ingin melepaskan diri dari semua ikatan yang berlaku, termasuk dengan perempuan. Ia menjalin hubungan erotis dengan Sabina dalam waktu yang panjang, tapi mereka sama sekali tak menyebut cinta di sana.

    Suatu hari Tomas berjumpa perempuan lain di bar hotel, Teresa. Mereka saling jatuh cinta. Tapi, cinta pun ternyata bukan penyelesaian buat Tomas. Ia kaget melihat Teresa berdiri di muka pintu apartemennya, menjinjing dua koper. Tomas merasa dalam dua koper itu tersimpan seluruh hidup Teresa, yang hendak diserahkan padanya.

    “Rumus hubungannya dengan perempuan itu kira-kira begini: Kamu memilih hubungan yang mana? Kamu bertemu dengan seorang perempuan, jatuh cinta habis-habisan, kemudian kalian pulang ke rumah bersama, bercinta selama seminggu atau dua minggu, setelah itu kalian ternyata bosan, merasa tidak cocok, dan tidak ketemu lagi seumur hidup. Atau pola yang kedua, ketemu wanita dalam sebuah petang di kafe, pulang ke rumah bersama, tidur bersama, terus pagi harinya kaget karena ternyata jam delapan pagi ini ada appointment, si cewek juga terkaget-kaget ternyata ada meeting. Masing-masing kabur ke tempat kerja, dan seharian itu tidak sempat bertelepon, besoknya juga tidak bertelepon, hari ketiganya makin lupa, hari keempatnya sudah tidak merasa kenal lagi, tapi dua minggu kemudian, mereka saling ingat, bertemu dan bercinta lagi. Dalam hubungan Tomas dan Sabina sebetulnya ada komitmen yang sangat mendalam, sampai akhir hayat Tomas. Jadi, dalam karya yang kelihatan hubungan manusia itu amburadul ada sebuah nilai yang sangat dahsyat.”



    Tokoh Tomas yang dokter bedah ini tersingkir dari negerinya, Cekoslowakia, akibat invasi Rusia. Ia melarikan diri ke Prancis. Sebagai intelektual bebas, Tomas tak ingin mengikuti doktrin negara komunis yang menyeragamkan semua hal.

    “Tomas tak mengecam komunisme, karena yang diperjuangkannya bukan ideologi apa pun, tapi kebebasan,” kata Bre.

    Ia juga tak menaruh dendam pada masa lalu, juga tak menyesali apa pun. Ia penganut historisisme, salah satu mazhab besar pemikiran. Manusia jadi pahlawan atau pemberontak akibat konsekuensi sejarah.

    “Jadi, ada sebuah insiden sejarah, sebuah kecelakaan sejarah, yang menjadikan satu pihak sebagai pahlawan, yang satu pihak yang lain menjadi korban. Ayah saya, sayangnya, berada di pihak yang jadi korban.”

    Pukul tiga pagi. Sebuah rumah mungil berjendela kaca patri warna-warni di kawasan Bintaro, Jakarta Selatan, berjaga sejak malam. Lampu masih menyala di perpustakaan. Suara penyanyi wanita Cina masih terdengar. Empat jam lagi ia harus sampai di bandara. *

                                      ***

    Linda Christanty, menulis certa pendek, esai, puisi, dan reportase yang meliputi isu politik, sejarah, sastra, dan gender. Meraih Katulistiwa Literaty Award tahun 2004 untuk buku cerita pendeknya, Kuda Terbang Mario Pinto. Buku-bukunya yang telah terbit: Kuda Terang Mario pinto, Dari Jawa menuju Atjeh, Rahasia Selma, Jangan Tulis Kami Teroris.

    Sumber Tulisan Buku Dari Jawa Menuju Atjeh, Linda Chritanty, Penerbit KPG

  • Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer

    Arus Balik dalam Hidup Pramoedya Ananta Toer

    Oleh LINDA CHRISTANTY

    PRIA 68 tahun itu sudah digerogoti uban, setengah botak. Namun, ingatannya masih tajam. Nada bicaranya tegas. Terkadang dia berapi-api, lalu menyurut sedikit untuk soal-soal yang memedihkan hati dan sepasang mata tuanya ikut merah berkaca-kaca. Gendang telinga pria ini sudah rusak dihantam popor senapan, sehingga membuat orang harus berbicara keras padanya. Dia tuli. Untuk lebih aman, biarkan dia saja yang bercerita. Suaranya lantang, lebih agar dia sendiri bisa mendengar ketimbang tamu-tamunya yang berpendengaran normal.

    “Nasution (Jenderal Abdul Haris Nasution yang dianugerahi bintang lima di masa Soeharto, kini sudah almarhum) telah membunuh teman saya, membuat teman saya mati. Waktu itu kami sedang mempertahankan Bekasi, tepatnya di daerah Lemah Abang. Nasution dan Soeharto itu sama saja, sama-sama KNIL,” tuturnya, pahit, teringat pengalaman berjuang melawan Belanda.

    Di tengah emosi yang campur-aduk tadi tak bisa disembunyikannya rasa benci terhadap penguasa Orde Baru yang telah mengirimnya ke Pulau Buru, tanpa pengadilan, dan memaksanya hidup seperti Rubashov, seorang Bolshevik yang dihukum partainya sendiri. Rubashov tak lain tokoh dalam novel Arthur Koestler, Gerhana Tengah Hari. Pram, pria tua itu, menyukai novel tersebut.

    Pada September 1965 pertikaian Angkatan Darat dengan Partai Komunis Indonesia mencapai puncak. Sejumlah perwira tinggi tiba-tiba diculik. Partai Komunis Indonesia dituding bertanggung jawab. Ketika itu presiden Soekarno sendiri kurang mesra dengan tentara dan dianggap bersimpati pada sayap kiri di parlemen. Di tengah pertikaian elite politik inilah intrik dan kasak-kusuk terjadi. Soeharto—seorang jenderal Angkatan Darat—memancing di air keruh, merebut kekuasaan dan memerintahkan pembersihan terhadap orang-orang partai komunis di Indonesia. Pram yang menjadi pengurus lembaga kebudayaan partai itu ikut diburu.

    Empat belas tahun dia menjalani hukuman, mulai dari sel penjara Salemba, Nusakambangan, sampai daerah gersang Buru. Sudah ditulisnya dua jilid otobiografi berdasarkan catatan pribadi selama di Buru, Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Catatan ini berbentuk surat pada putrinya yang baru saja menikah saat dia akan dibuang ke pulau tersebut, surat-surat yang tiada pernah terkirim. Barangkali, hidup tanpa hak-hak layak sebagai manusia membuat Pram ingat pada Rubashov, tokoh novel Koestler. Dan ternyata, penindasan ada dalam sistem manapun, kapitalisme juga sosialisme yang korup.

    Dalam rumah beton dua lantai yang dibangun dari buku-bukunya yang laris di luar negeri, Pram belum bisa tidur nyenyak. Dia masih diawasi, wajib lapor, dan tak bisa pergi ke luar negeri untuk menerima penghargaan terhadap novel-novelnya. Di Indonesia, tahun 1993, tak satu pun buku Pram boleh beredar. Buku-bukunya dituduh mengandung ajaran Marxisme-Leninisme. Untuk membaca buku Pram orang harus sembunyi-sembunyi. Buku-bukunya beredar dari tangan ke tangan. Tiga aktivis pernah mendekam di sel gara-gara menyebarluaskan karya-karya Pram. Namun, Pram termasuk beruntung. Dia panjang umur, bisa memperjuangkan kemanusiaan lewat tulisan, dan menjadi saksi dari berbagai zaman. Ratusan kawan senasibnya mati di kamp kerja paksa Buru dan yang selamat, sebagian sakit jiwa; tinggal seonggok daging bernyawa tempat jiwa membusuk. Lebih sial lagi, nasib mereka yang terjebak di luar negeri. Pemerintah Soeharto sudah siap menangkap mereka yang kembali. Namun, di atas segala derita, rakyat kebanyakanlah yang paling naas. Jutaan mereka tumpas dibunuh tentara dan tangan-tangan pemuda yang menjadi kacung. Barangkali, untuk mereka yang terakhir inilah novel-novelnya dipersembahkan.

    Tokoh-tokoh utama dalam novel-novel Pram selalu orang biasa, rakyat jelata, dan bahkan, mereka yang hanya dikategorikan “massa” dalam sejarah resmi Indonesia. Orang-orang ini tak bakal ditemukan namanya dalam buku-buku pelajaran sejarah kita, yang hanya mencatat nama raja, pangeran, pejabat, atau jenderal belaka sebagai pahlawan atau pengkhianat. Sejarah Indonesia adalah sejarah penguasa, bukan sejarah kuli yang mendirikan candi atau serdadu yang memberontak dan memimpin pasukan. Pram mencoba berbicara tentang sejarah dari sisi lain, melalui gundik (Bumi Manusia), anak petani (Arus Balik), ataupun pelacur (Larasati). Dia ingin berkata bahwa kaum yang hina itu juga punya andil untuk tanah yang merdeka di beragam zaman.

    Soekarno, tokoh perjuangan sekaligus presiden pertama Indonesia yang Pram kagumi, pernah berucap tak ada perubahan besar di muka bumi ini tanpa melibatkan massa. Jangan pernah meremehkan massa. Dari sanalah kekuatan perubahan berpusat dan menyebar. Pramoedya Ananta Toer tentu memahami ucapan Soekarno, mungkin melebihi siapa pun. Dia kemudian menulis tentang mereka.

    Dalam tetralogi Bumi Manusia, Nyai Ontosoroh—gundik seorang Belanda—menampilkan sosok pribumi pantang menyerah. Ontosoroh mengangkat martabat hidupnya yang setaraf budak menjadi perempuan yang menguasai ilmu dagang, pintar menulis dan bercakap dalam bahasa penjajahnya. Ada pula tokoh pelarian dari negeri Cina, perempuan yang mengajari Minke—tokoh utama novel ini—tentang perlawanan terorganisasi, bernama Ang San Mei.

    Ontosoroh sekuat tenaga melawan hukum-hukum Belanda yang sah merebut anak perempuannya dan semua harta dari kerja kerasnya. Ang San Mei ikut gerakan bawah tanah melawan kaisar perempuan Ye Si yang disokong penjajah Barat di Tiongkok. Ontosoroh kalah. Ang San Mei meninggal dunia di tanah pelarian. Namun, yang terpenting mereka sudah melawan.

    Selain tetralogi Bumi Manusia yang melegenda itu, ada satu lagi novel Pram yang selalu diingat orang, Arus Balik. Novel ini berlatar abad ke-16 dan Pram kembali menokohkan orang biasa di dalamnya; Wiranggaleng, pemuda desa, juara gulat kadipaten Tuban.

    Wiranggaleng dikisahkan punya pacar cantik, juara tari, bernama Idayu. Kedua anak muda desa Awis Krambil ini terlempar ke tengah hiruk-pikuk kekuasaan ketika Adipati Tuban, Wilwatikta, mengangkat Galeng sebagai syahbandar muda Tuban. Galeng dan Idayu menetap di Tuban, padahal mereka cuma bercita-cita punya huma di desa.

    Tuban, kota pelabuhan yang telah seribu tahun dikunjungi kapal-kapal dari barat, timur, dan utara. Para pedagang membawa rempah-rempah dari Maluku dan cendana dari Nusa Tenggara Barat, lalu mengambil beras, gula, garam, dan minyak tumbuhan dari bumi Tuban. Dulu Tuban taklukan Majapahit, tapi setelah kerajaan itu runtuh akibat intrik dan perang saudara, Tuban merdeka, bahkan meluaskan wilayah sampai Jepara. Konon, Wilwatikta, ikut bersekongkol menjatuhkan Majapahit. Dia keturunan Ranggalawe, gubernur Tuban yang memberontak pada Majapahit.

    Pada 1511 terjadi perubahan arus modal dan perniagaan di Nusantara. Malaka, bandar besar di Asia, jatuh ke tangan Portugis. Malaka adalah wilayah strategis di Semenanjung yang pernah dikuasai dua kerajaan besar, Sriwijaya dan Majapahit. Kejatuhan Malaka bukan sekadar hilangnya sebuah wilayah, tapi menandai perubahan arus perdagangan dunia di Asia. Kapal-kapal niaga dari Arab, Eropa, dan India tak berani singgah di bandar itu lagi, menghindari Portugis. Ini berarti ancaman juga buat Tuban. Kapal-kapal dagang asing tak berlabuh lagi di pelabuhan Tuban. Lalu-lintas dagang mereka telah diputus Portugis di Malaka.

    Dua tahun setelah Malaka jatuh, Adipati Unus, putra Raden Fatah dari Demak, mencoba merebut bandar tersebut dengan mempersatukan Nusantara. Wilwatikta menolak membantu, karena Adipati Unus sebelumnya telah merampas Jepara dan menjadikan kota pelabuhan itu wilayah taklukan Demak. Adipati Tuban sengaja memperlambat kiriman pasukannya. Ketika gabungan pasukan Tuban-Banten datang, dua puluh ribu tentara laut Aceh-Jambi-Riau-Demak-Jepara yang dipimpin Adipati Unus telah kalah dihajar meriam Portugis di perairan Semenanjung itu.

    Wiranggaleng, kepala gugusan Tuban, tak habis pikir. Penyebab kekalahan itu masih samar baginya. Namun, lama-kelamaan dia mengerti. Konflik-konflik internal di Nusantara telah memecah-belah kekuatan mereka. Aceh disebutkan ingin memiliki Malaka untuk diri-sendiri. Tuban mengingkari janji lantaran kasus Jepara, terlambat lima hari sampai di Semenanjung. Kekalahan Adipati Unus justru menerbitkan rasa kagum Wiranggaleng, pemuda desa yang lugu, buta politik, yang semata-mata orang suruhan penguasa Tuban.

    Adipati Unus satu-satunya orang yang berani berusaha mempersatukan kekuatan melawan Portugis, dan berani melaksanakan penyerangan. Kekalahan yang terjadi bukan kekalahan perang, tetapi kegagalan dalam mengatur kekuatan sendiri. Kemudian ia menyimpulkan: armada gabungan itu semestinya tidak kalah. (hlm. 206).

    Arus Balik mengungkap seputar intrik dan permainan politik yang berujung pada runtuhnya kejayaan Tuban. Letupan-letupan konflik agama lama, Hindu-Budha, dan agama baru, Islam juga muncul. Wiranggaleng tidak ingin perbedaan agama membuat orang merestui penindasan terhadap yang lain. Adipati Tuban sudah memeluk Islam, sedang Galeng beragama Hindu.

    Suatu hari, seorang mata-mata Portugis, Sayid Habibullah Almasawa, datang ke Tuban dan berkat kelicikannya dia diangkat menjadi syahbandar. Adipati Tuban nekad memelihara musuh yang tengah dicari-cari utusan Sultan Mahmud Syah, penguasa lama Malaka, diincar orang-orang Demak-Jepara dan pedagang-pedagang Cina Lao Sam—daerah otonomi khusus orang-orang Cina. Baginya, kehadiran Almasawa yang fasih bahasa Portugis dan Spanyol itu bisa membuka kontak dagangnya dengan Portugis, bisa menguntungkan Tuban serta menghidupkan kembali pelabuhan yang sepi. Baginya, Tuban harus makmur. Persetan wilayah atau kota lain. Watak Adipati Tuban yang lokalis ini berakibat fatal di kemudian hari.

    Di Jepara tengah terjadi pergantian kepemimpinan. Adipati Unus mangkat. Dia digantikan Trenggono, adik kandungnya. Trenggono punya ambisi berbeda dengan Unus. Dia menjadikan strategi merebut Malaka sebagai kamuflase tujuan sejatinya untuk merebut Sunda Kelapa, Cimanuk, Cirebon, bahkan Tuban, kota-kota pelabuhan di Jawa. Trenggono mencetuskan perang saudara. Ratu Aisah, sang ibunda, menentang putranya dan tak digubris Trenggono. Adipati Tuban yang terkecoh oleh muslihat Trenggono kembali mengirim Wiranggaleng dan pasukannya ke Semenanjung. Tetapi, kali ini Demak-Jeparalah yang berkhianat. Tentara Demak justru menyerang Tuban ketika pasukan Tuban tengah terombang-ambing di laut menuju Malaka. Trenggono memimpin langsung pasukan Demak menyerbu kadipaten Tuban.

    Di lain pihak, armada Portugis bergerak ke Maluku dan Nusa Tenggara Barat, membinasakan armada dagang Tuban dan Blambangan yang selama ini memonopoli Maluku. Portugis ingin menguasai sumber rempah-rempah. Sementara itu, kapal Portugis juga mulai masuk ke perairan Jawa, mendirikan benteng di Pamanukan dan mengintai Tuban. Arus sudah berbalik. Masa kejayaan kerajaan Nusantara telah lewat, ekspansi-ekspansi melewati samudra telah berhenti. Sebagai gantinya, armada laut asing muncul dari ujung selatan dan memasuki wilayah Nusantara, merebut kota-kota pelabuhan dan niaga. Inilah babak awal kapitalisme perdagangan di Nusantara.

    Wiranggaleng, senapati Tuban, sebenarnya punya peluang untuk menahan arus balik itu. Dia memperoleh restu Ratu Aisah dari Jepara, ibunda Adipati Unus. Dia berhubungan baik dengan penguasa Lao Sam. Dia sudah mengusir Demak dari Tuban. Tetapi, Galeng justru memilih tinggal di desa dan menjadi petani. Dia tak mau jadi raja. Di hadapan pasukannya yang berharap, Galeng membuat keputusan.

    “Telah aku baktikan masa mudaku dan tenagaku dan kesetiaanku. Biar pun hanya secauk pasir untuk ikut membendung arus balik dari utara. Arus balik itu ternyata tak dapat dibendung. Kekuatan untuk itu ada pada Trenggono, dan Sultan Demak itu tidak bisa diyakinkan untuk menggunakannya. Arus tetap datang dari utara, yang selatan tetap tertindih. Ya, Dewa Batara, kau tak beri aku kekuatan untuk menyedarkan raja dan sultan sehingga jadi gelombang raksasa, bukan sekedar mendesak arus balik dari utara, bukan saja untuk jaman kemerosotan ini, juga kelangsungannya untuk selama-lamanya. Gajah Mada, anak desa itu telah berhasil. Ia gerakkan tangannya dan semua jadilah yang dipegangnya, semua bangun yang disentuhnya. Pergilah dia, pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan kebesaran dan arus besar yang mengimbak-imbak megah berpendaran damai ke utara. Aku bukan Gajah Mada. Tiada sesuatu hasil apalagi kebesaran kutinggalkan kecuali kesakitan dan kekecewaan dalam diri dan terhadap diri-sendiri.” (hlm. 749)

    Tetapi, tahukah Galeng bahwa Gajah Mada pun telah dibinasakan kekuasaan? Patih Majapahit ini dibunuh Hayam Wuruk gara-gara peristiwa Bubat. Banjir darah di Bubat terjadi setelah Raja Padjadjaran menolak mempersembahkan putrinya (Dyah Pitaloka) sebagai upeti, melainkan sebagai wanita yang hendak dipersunting Hayam Wuruk. Pasukan Gajah Mada membunuh sang raja yang tak mau tunduk berserta pengikutnya. Asal-usul Patih Gajah Mada sengaja disembunyikan penulis babad agar keluarganya tak ikut dihabisi penguasa Majapahit itu.

    Arus Balik sering disebut-sebut sebagai karya terbesar Pram. Namun, novel ini bukan tanpa cacad. Dalam karya yang dijuluki “literatur maritim Nusantara” tadi, Pram justru bertolak dari kota pelabuhan Tuban, yang tak sebanding dengan kebesaran Majapahit apalagi Sriwijaya. Novel ini seolah mengatakan seluruh perubahan iklim modal dan politik Nusantara bertumpu pada sebuah kota kadipaten.

    Pram juga terlalu melebih-lebihkan Majapahit sebagai kerajaan laut terbesar di Nusantara. Apakah lantaran dia meminjam mulut Wiranggaleng, pemuda desa, sehingga penjelasannya yang sembarangan ini bisa diterima? Apakah lantaran tokoh rekaannya itu cuma orang desa yang tak punya pengetahuan luas, sehingga pernyataannya bisa dimaklumi? Jelaslah di sini betapa kejayaan Nusantara dipandang dari sudut orang desa pedalaman Jawa.

    “Tunggu,” tegah Wiranggaleng, “biar aku ceritai kalian. Dahulu, di jaman kejayaan Majapahit, arus bergerak dari selatan ke utara, dari Nusantara ke Atas Angin. Majapahit adalah kerajaan laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi ini …” (hlm. 746)

    Pram lupa bahwa kerajaan Majapahit yang mulai berdiri pada abad ke-13 tersebut hanya mengalami 70 tahun masa jaya. Sriwijaya yang menguasai samudra sejak abad ke-7 sampai awal abad ke-13 tak disinggung sebagaimana mestinya. Tahukah Pram bahwa perang laut terbesar di Asia Tenggara terjadi ketika Sriwijaya mengerahkan seratus ribu tentara laut melawan Funan?

    Namun, selebihnya Pram cukup jeli menghadirkan situasi sesuai zaman. Kosa kata bahasa Melayu yang jadi lingua franca waktu itu muncul di sana-sini, seperti seluar (celana), ditunu (dibakar), para-para (lekukan kayu di dinding), tegah (cegah), dan sebagainya. Ini juga jejak-jejak Sriwijaya, bukan?

    Ah, pria itu kini menjelang 78 tahun usianya. Dia sudah pindah dari rumah beton berlantai dua. Tentu saja ke rumah yang lebih megah, berlantai lima, dekat kota hujan Bogor. Dia sudah bebas ke luar negeri sekarang, karena pemerintah Soeharto tumbang lima tahun lalu. Buku-bukunya bebas dicetak ulang. Dia sudah kaya-raya. Dia sudah menang.

    “Apa rahasia Pak Pram menjaga stamina?” tanyaku, hampir sepuluh tahun lalu.

    “Berolah raga teratur. Dan kamu kenapa kurus begitu? Jaga kesehatan, makan vitamin C 500 miligram sehari. Kalau badan lemah, bagaimana bisa menang lawan Soeharto,” jawabnya, terkekeh.

    Lupa kutanyakan mengapa dia menulis begitu banyak buku dan tebal-tebal. Namun, terbersit juga sebaris kalimat catatan harian Rubashov dalam novel Koestler itu: Tiap pikiran salah yang kita turut berarti kejahatan terhadap generasi-generasi yang akan datang. Barangkali, itulah sebab dia menulis, ingin mengungkap apa yang dulu disembunyikan atau tersembunyi dari pengetahuan angkatan kemudian.

    ***************

    Linda Christanty, menulis certa pendek, esai, puisi, dan reportase yang meliputi isu politik, sejarah, sastra, dan gender. Meraih Katulistiwa Literaty Award tahun 2004 untuk buku cerita pendeknya, Kuda Terbang Mario Pinto. Buku-bukunya yang telah terbit: Kuda Terang Mario pinto, Dari Jawa menuju Atjeh, Rahasia Selma, Jangan Tulis Kami Teroris, Para Raja dan Revolusi.

    Sumber: buku Dari Jawa Menuju Atjeh, Linda Christaty, Penerbit KPG.

  • Kisah Karier Menjadi Jurnalis: Dari tidak Tahu Menjadi Tahu

     Oleh Markus Makur, Jurnalis

    SAYA merantau ke Papua 2003. Waktu itu saya terbang dari Bandara Hasanuddin Makassar menuju ke Bandara Moses Kilangin, Timika, Papua dengan maskapai Mandala Airline. Setiba di Timika, saya tinggal di rumah keluarga di Gang Kelimutu. Sebelumnya saya tak memiliki referensi tentang Papua. Saya nekat saja merantau karena mengikuti kakak saya yang sudah menjadi guru di Kabupaten Asmat. Selama kurang lebih sebulan tinggal di rumah keluarga,.saya belum mendapatkan pekerjaan. Lalu, saya inisiatif bertanya kepada saudara, barangkali ada proyek bangunan, biar saya menjadi tukang campur. Kemudian, beberapa hari berikutnya ada informasi ada butuh tenaga untuk kerja proyek rumah yang tak jauh dari tempat saya tinggal. Lalu saya memutuskan untuk bertanya. Kebetulan semua yang kerja disitu sama-sama dari tanah Flores. Akhirnya, saya kerja bangunan bagian campur pasir. Saya satu bulan bekerja menjadi kuli bangunan. Kemudian, bulan berikutnya saya tak kerja lagi karena saudara saya yang mengajar di Kabupaten Asmat memanggil saya ke sana. Tujuan ke sana untuk menjadi guru. Saat ke Asmat, saya naik pesawat yang ukuran kecil. Saya mendarat di Bandara Ewer. Saudara saya juga tinggal di Ewer karena dia mengajar di Sekolah dasar di Ewer. Rumah dinasnya berada di sekitar Bandara Ewer. Saudara saya sangat senang dan gembira karena saya bertemu mereka. Di tempat tinggal saudara, saya merasakan mandi dengan air hujan yang ditampung di drom. Waktu saya ingat, saya hanya semalam di rumah saudara di Kampung Ewer. Keesokan pagi, saya bersama keluarga terbang lagi ke Timika. Selanjutnya ke Jayapura. Dari Jayapura terbang ke Merauke untuk merayakan Natal dan tahun baru 2003. Selama berada di Kota Merauke, kami tinggal di rumah Opa Ben Narung. Beberapa lama di Merauke, saya gelisah karena belum bekerja. Kemudian, saya mendapatkan informasi bahwa ada lowongan kerja menjadi guru di salah satu Sekolah Menengah Atas di Kota Merauke. Saya melamar dan diterima menjadi guru. Mengajar. Terjadi pergolakan batin antara profesi guru dan jurnalis.

    Bandara Udara Mozes Kilangin – Timika

    Bertemu Fidelis Jeminta

    Saat Natal perayaan Natal dan Tahun Baru bersama Manggarai di tanah rantauan Merauke. Saya bertemu Fidelis Jeminta, redaktur Timika Pos, Biro Merauke. Jeminta menawarkan saya untuk bergabung menjadi wartawan Timika Pos, Biro Merauke. Tawaran menarik. Namun, sebelumnya saya sama sekali tidak pernah mengetahui dunia jurnalistik. Jeminta menyakinkan saya bahwa dirinya siap membantu dan membimbing. Saya buat lamaran dan diterima. Tapi, saya juga masih mengajar di Sekolah Menengah Atas di kota tersebut. Akhirnya saya memutuskan menjadi wartawan Timika Pos di Kota Merauke.

    Kota Musamus, Merauke Jadi Peletak Dasar

    Memulai kerja Jurnalis dari belajar otodidak di Kota Musamus, Merauke-Papua dibimbing oleh Fidelis Jeminta, redaktur Timika Pos dan wartawan senior. Hari pertama menjadi wartawan, saya disuruh liputan sidang di Kantor DPRD Merauke. Pesan pertamanya sebelum ke Gedung DPRD, dengar saja saat sidang, mencatat. Saya belum mengenal kaidah jurnalistik, 5W1H. Setelah selesai sidang, saya pulang ke Kantor Biro. Selanjutnya Jeminta bertanya, apa yang dicatat, diketik di komputer. Ketik saja apa yang sudah dicatat. Selesai ketik, saya beritahu Jeminta. Kemudian dia periksa. Selanjutnya, dia minta saya jangan pulang ke rumah. Duduk di samping saya. Saat itu Jeminta mengoreksi berita yang saya buat dengan kaidah 5W1H. Sejak saat itu saya belajar membuat berita dengan kaidah 5W1H. Saat itu Jeminta menekankan publikasi di media cetak, belum mengenal media online dengan etika jurnalistik, rendah hati dengan narasumber serta ketat dengan keberimbangan berita (Cover both side). Bertanya, mencatat apa saja yang disampaikan narasumber, mengumpulkan data tambahan, akurasi dalam naskah berita. Jikalau belum naskah berita yang dikoreksinya belum memenuhi kaidah jurnalistik, dia (Jeminta) menghubungi lagi narasumber untuk memastikan kebenaran informasi.

    Liput di Kimaam, Sota, Kali Kumbe Pedalaman Merauke

    Panggilan menjadi wartawan terjadi pertama kali di Kota Merauke. Merauke juga bisa disebut Kota Musamus. Satu hari saya ditugaskan meliput kunjungan kerja dengan Wakil Bupati di Kimaam, pedalaman Merauke. Kami naik pesawat Merpati dari Bandara Mopah, Merauke menuju Bandara Udara Kimaam. Dari Bandara Kimaam, kami baik speedboad ke salah satu kampung di wilayah Kimaam tersebut. Kami menginap semalam di pedalaman Merauke tersebut. Profesi ini terus saya lakukan dengan meliput di Sota, Perbatasan NKRI dengan PNG. Ada tugu perbatasan. Meliput di Kali Kumbe bersam dengan Bupati Merauke di waktu itu. Saat itu saya dibonceng karena saya tak bisa bawa motor berkopling. Saat di Kali Kumbe itu, saya merasakan penumpang duduk di perahu bersama dengan motor yang dimuat diperahu. Saya selama satu setahun bergelut di dunia jurnalistik di Kota Merauke 2004. Kemudian saya ditarik ke Kantor pusat Timika Pos di Kota Timika. Artinya saya kembali lagi ke Timika. Tahun 2005, saya mulai bekerja menjadi wartawan di Kota Timika. Saya ditempatkan di desk liputan kriminal dan hukum. Setiap pagi ke kantor untuk rapat redaksi serta menerima penugasan dari redaktur. Di Kota Timika, liputan semakin padat. Selama meliput di Kota Timika, banyak redaktur yang membimbing. Bahkan, bertemu dengan sejumlah wartawan dari berbagai media cetak dan televisi. Selanjutnya saya pindah kerja menjadi kontributor The Jakarta Post di wilayah Selatan Papua. Di media ini menambah pengetahuan dengan liputan yang semakin luas. Liputan di Kabupaten Nabire, Paniai, Asmat, Jayapura dan Merauke. Transportasi utama untuk liputan antar Kabupaten dengan baik pesawat. Liputan pembangunan Bandara Udara Mulu di pegunungan. Liputan percetakan sawah di Potowayburu. Liputan festival budaya Asmat. Liputan kasus peperangan di Kampung Kwamki Lama. Liputan di areal pertambangan. Banyak hal unik selama menjadi wartawan di Papua. Saya di Papua dari 2003-Desember 2010.

    Desember 2010, Kembali ke Ibu Pertiwi Manggarai Raya

    Saya memutuskan pulang kampung di ibu pertiwi Manggarai Raya, Flores, NTT Desember 2010. Aktif menjadi wartawan di Manggarai Timur 2011 dengan status kontributor The Jakarta Post. Saat di Manggarai Timur hampir putus asa dan ingin beralih ke profesi lain. Namun, motivasi pribadi tetap menjadi wartawan. Waktu di Manggarai Timur belum memiliki motor. Akhirnya kredit beli motor. Internet untuk kirim berita juga belum secanggih sekarang. Saya biasa kirim berita dengan sewa di warung internet di Kampung Bugis, Kelurahan Kota Ndora, Kecamatan Borong. Saya biasa datang dari Kampung Waekolong, Desa Ranakolong dengan sepeda motor. Saat di Manggarai Timur, saya bertemu dengan wartawan Pos Kupang, kontributor TVRI, yang kini wartawan Flores Pos, Albertus Harianto, Wartawan Timex, Fansi Runggat. Kesulitan dan tantangan yang saya hadapi selama berkarya di Manggarai Timur dengan tenang, tekun dan fokus. Untuk mengatasi kesulitan internet, saya beli alat modem yang disambungkan ke laptop. Dengan alat modem ini memudahkan saya untuk mengirim berita dari Manggarai Timur untuk media The Jakarta Post dan dibaca seluruh dunia.

    Selama di Manggarai Timur, biasanya saya mencatat seluruh hasil liputan dan mengetik di laptop di rumah Dinas di kompleks Mabako, Waelengga. Waktu itu belum ada handphone canggih, Android, paling handphone merek Nokia dan meningkat dengan produk handphone blackberry. Selama di Papua dan Manggarai Timur, saya belajar dari kelemahan dan kekurangan dalam mengelola naskah berita. Banyak masukan dari redaktur. Teguran keras pun saya alami. Semua itu memacu saya untuk membenah diri, menata diri sambil memegang teguh etika jurnalistik dan keberimbangan berita. Selanjutnya, bermunculan media online di tengah tahun 2011. Selanjutnya ada tawaran menjadi kontributor Kompas.com di wilayah Flores. Tawaran itu saya terima berkat jasa seorang teman yang bekerja di media asing di Jakarta. Berkat pertemanan dari Papua hingga di Flores. Saya biasanya membantu teman itu. Selama di Pulau Flores saya menjadi kontributor dua media Nasional. Selain itu saya menjadi freelance di beberapa media. Semua itu saya syukuri.

    Jalan Kaki dari Tango ke Borong

    Ada pengalaman menarik bagi saya selama menjadi wartawan di Manggarai Timur. Saat itu saya singgah di rumah adik di wilayah Tango. Lalu, saya dapat telepon ada liputan menarik di Kota Borong. Tak ada uang di saku. Mau minta uang di keluarga malu, akhirnya saya memutuskan jalan kaki dari Tango ke Borong. Keringat sudah pasti. Saat itu juga berpikir dan bergejolak dalam batin dengan sebuah, apakah saya bertahan menjadi wartawan ataukah beralih di pekerjaan lainnya? Manusia seperti saya ini pasti selalu bertanya dan berpikir apabila menemukan kesulitan. Kesulitan itu perlahan-lahan diatasi dengan sebuah ketekunan, fokus dan mengelola perasaan serta berpikir untuk bertahan menjadi wartawan. Berdoa itu sudah pasti. Hidup tanpa doa adalah mati. Hidup tanpa doa sama seperti terbang di langit tanpa sayap. Pasti jatuh. Berdoa menopang kehidupan saya selama menjadi wartawan. Wartawan, jangan sekali-kali tidak berdoa. Jangan andalkan ilmu pengetahuan. Berdoa mampu mengawasi diri seorang wartawan dalam menghadapi tantangan dan kesulitan. Iman juga mampu mengawasi kerja seorang wartawan.

    Membaca Buku sebagai Penopang Kerja Jurnalistik

    Untuk mengatasi kelemahan dan kekurangan saya dalam menarasikan sebuah berita, saya biasanya membaca buku. Membaca liputan ficer dari wartawan senior yang sudah menerbitkan buku. Saya biasanya mengurangi belanja baju, sepatu dan celana panjang, saya membiasakan diri membeli buku. Buku apa saja saya pasti beli. Selain itu saya biasa diskusi dengan relasi yang memiliki kemampuan lebih dalam dunia tulis menulis. Saya menimba ilmu dari mereka. Saya akui kekurangan dan kelemahan saya dalam dunia tulis menulis.

    Media Online Ada di Manggarai Timur

    Perkembangan teknologi memudahkan orang yang mahir di teknologi informasi memudahkan setiap orang mendirikan media online. Dari pemahaman pembaca di media cetak beralih ke media online dengan gaya liputannya. Terjadi perdebatan dengan hadirnya juga media sosial. Mengubah pola berpikir pembaca yang sudah terbiasa membaca berita di media cetak membutuhkan proses pemahaman yang sama. Intinya, pembaca memahami kinerja jurnalis yang mengedepankan etika jurnalistik, keberimbangan berita. Silang pendapat dan perdebatan terus terjadi dengan berkembang media online yang tak bisa dibendung. Pembaca harus membiasakan diri untuk membaca media online sambil memberikan masukan yang konstruksi, walaupun media cetak tetap ada. Pembaca harus memahami perkembangan media massa dari yang konvensional menuju ke era digital. Media online seharusnya membenahi diri, mengelola media online sesuai aturan-aturan yang berlaku. Utamakan etika jurnalistik, akurasi dan keberimbangan berita dengan fakta lapangan yang akurat. Cek dan ricek berita sangat diutamakan di era digital karena media massa online juga bisa berhadapan dengan hukum. Saat ini pembaca sangat cerdas dengan kinerja jurnalis. Untuk itu seorang jurnalis harus menambah wawasan dan pengetahuan dunia jurnalistik. Tentu yang utama adalah belajar terus menerus sesuai dengan perkembangan zaman. Jikalau pembaca semakin kritis dengan pemberitaan, jurnalis dan pemilik media massa lebih cerdas lagi dengan mengedepankan etika jurnalistik, keberimbangan, akurasi, cek dan ricek dan klarifikasi dengan berbagai pihak.

    Saling Belajar

    Saya banyak belajar dari sesama jurnalis di Manggarai Timur. Menyapa yang papa, menggugah yang mapan seperti pesan Pendiri KOMPAS, Jakob Oetama. Saya dididik menjadi wartawan pemula oleh Senior jurnalis Papua, Fidelis Jeminta. Dari kisah inung wae minse bening (minum air nira) di Sari di Beo Wajur, Kolang hingga makan enak di restaurant mewah. Itu semua kisah dan pengalaman hidup sebagai jurnalis. Dari jalan kaki hingga naik pesawat karena profesi mulia ini. Dari kuli tinta hingga kuli handphone adalah perkembangan di era teknologi sekarang. Saya boleh katakan bahwa sekarang ini wartawan kuli handphone dengan jarinya. Mungkin suatu saat akan kembali ke kuli tinta jikalau teknologi akan mentok. Dari tulis tangan, ketik di mesin Tik hingga ketik di Komputer, lalu laptop dan dilanjutkan di Ipod dan handphone android. Itulah kemajuan perkembangan teknologi. Dari tenteng kamera berubah hanya bawa handphone untuk memotret dan dari media cetak ke media online. Dunia semakin canggih. Namun, semoga karya jurnalis semakin maju dan berimbang. Dari Tidak Tahu Menjadi Tahu. Jangan sebaliknya, Dari tahu menjadi semakin tidak tahu. Selamat Hari Pers Nasional 2021 di tengah Pandemi Covid19. Hidup seorang wartawan semakin susah di tengah pandemi Covid19. Wartawan dan pemilik media Harus Bangkit dari Pandemi Covid19 *

  • Cerita Polisi Arsy Lethar dikunjungi Penderita Disabilitas Mental

    Oleh Markus Makur

    JUMAT, 8 Januari 2021, di group whatsapp Relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, saya melihat dan membaca pesan singkat dibalik foto itu. Foto seorang penderita disabilitas mental. Namanya, Ses, asal Kampung Deru, Kecamatan Lambaleda mengunjungi rumah kediaman Polisi Arsy Lethar, seorang anggota Bhabimkamtibmas dari Polsek Dampek, Polres Manggarai Timur yang ditempatkan di salah satu desa di Kecamatan lambaleda. Polisi Arsy sudah dikenal luas di Indonesia sebagai polisi kemanusiaan. Banyak gerakan kemanusiaan yang sudah dilakukannya di Kecamatan lambaleda. Tahun 2020, raih penghargaan. 

    Di ceritakan secara singkat oleh Polisi Arsy dalam keterangan fotonya bahwa Ses sudah 6 tahun menderita sakit gangguan jiwa. Mungkin belum ada penanganan medis bagi dirinya. Mungkin juga tidak minum obat karena ketiadaan obat khusus baginya selama ia sakit. Disini kita tak boleh saling menyalahkan satu sama lain. Memang serba terbatas. Itu kita akui. Setelah melihat foto dan membaca keterangannya, saya lalu mulai bertanya dalam otak dan pikiran, mengapa Ses mengunjungi rumah kediaman Polisi Arsy? Apa pesan sesungguhnya dibalik kunjungan tersebut? Apa makna bagi Polisi Arsy dari kunjungan saudara yang derita sakit gangguan jiwa? Sejumlah pertanyaan ini mengalir saja dalam diri saya setelah melihat foto dan membaca keterangannya. Saya menangkap dari kunjungan tersebut, pertama, sebagai saudara untuk memberikan ungkapkan Salam Damai Natal 2020 dan selamat bersama-sama di tahun 2021. Kedua, saudara ses mungkin sedang lapar sehingga membutuhkan pertolongan untuk mendapatkan sesuap nasi. Beruntung Polisi Arsy yang sangat ramah kepada siapa saja, menerima dia sebagai saudara, tidak menolak dia. Mempersilahkan masuk dan duduk di kursi. Ketiga, meminta tolong kepada Polisi Arsy untuk bersuara agar dia memperoleh perawatan medis yang adil seperti warga lainnya. Keempat, dirinya tak bisa pergi ke tempat pelayanan medis. Kelima, mungkin sewaktu dia sehat, dia tahu bahwa polisi itu sebagai pengayom, pelindung dan pelayan masyarakat sehingga dia berani mengunjungi rumah kediaman Polisi Arsy.

    Saya melihat saudara yang duduk dengan pakaian seadanya, tengge lipa teteron disuguhi minuman kopi dan kue yang sudah disiapkan diatas meja di ruang tamu. Syukur kepada Polisi Arsy yang terbuka serta memiliki hati yang tulus untuk menolong sesama. Bukan orang sehat saja yang ditolongnya melainkan orang sakit juga dilayani dengan hati yang sungguh-sungguh.

    Saat saya memberikan tanggapan di postingan itu, ini sebuah tanda-tanda baik bahwa orang disabilitas mental membutuhkan perhatian yang serius dari berbagai pihak. Semua kita bisa mengambil peran untuk menyelamatkan sesama yang sedang menderita, entah sakit apa saja. Untuk menangani dan mencegah penderita disabilitas mental dibutuhkan kerja semua pihak, sama-sama bekerja, melibatkan semua stakeholder. Tidak bisa kerja sendirian. Tidak bisa mengerahkan kemampuan sendiri yang serba terbatas. Polisi Arsy bisa seperti orang Samaria. Dan memegang sabda Allah yang pernah didengarkan dan direnungkannya, “saat saya lapar, kamu beri saya makan, saat saya haus kamu beri saya minuman, saat saya telanjang, kamu beri saya pakaian, saat saya dipenjara, kamu kunjungi saya.”

    Cerita Pengalaman Markus dan Rosis Yang Sama Dengan Polisi Arsy

    Peristiwa tak terduga yang dialami oleh Polisi Arsy, kami juga pernah merasakan seperti itu, November 2020, di sebuah rumah relawan KKI di Desa Ngampang Mas, Saya (Markus Makur) dan Ambrosius Adir pulang dari Tilir melewati Kampung Jong, Paang leleng, Keros, Ngusu, Balus Permai, Perang hingga tiba di rumah anggota relawan KKI, Foyensius Ondi. Saat itu kami sudah dalam keadaan lapar. Saya ungkapkan secara terbuka bahwa kami lapar. Kemudian istrinya om Foyen menyiapkan hidangan makanan, sayur dan lauk. Saat kami sedang mau makan, tiba-tiba, salah satu warga yang disabilitas mental masuk ke bagian ke dapur. Kami semua kaget. Tapi, Om Foyen memberikan tanda-tanda kepada kami bahwa saudara yang baru masuk seorang penderita disabilitas mental yang jalan-jalan bahwa sampai di Kota Waelengga. Kemudian dia duduk, lalu istri om Foyen mengambil piring dan menyerahkan kepadanya. Dia mengambil nasi. Lalu makan. Makannya sangat cepat. Kami semua sama-sama makan. Bahkan ada satu saudara yang diduga retardasi mental juga makan bersama kami. Bersyukur nasi, sayur dan lauk pauknya cukup untuk 5 orang. Tuhan Yesus dulu makan di rumah Zakeus ribuan tahun silam. Sementara kami makan di rumah relawan KKI bersama dengan orang yang derita disabilitas mental dan retardasi mental. Setelah makan bersama, kami ucap syukur dengan berdoa. Selanjut, penderita itu diberikan minum obat yang sedang tersedia. Setelah minum obat, dia kembali jalan-jalan di sekitar kampung. Dia tak mengganggu warga kampung. Saat kami pulang ke Kampung Peot, Kelurahan Peot, Kecamatan Borong, kami sempat berpapasan dengannya di jalan raya di kampung tersebut. Tak lama kemudian, kami dapat kabar bahwa dia tidur di rumah. Efek dari minum obat tersebut untuk proses pemulihan.

    Cerita Romo Hermen Sanusi, Pr mengunjungi penderita disabilitas mental yang pasung dan pulih di wilayah Kelurahan Ronggakoe

    Bulan Januari 2021 sudah di lalui, ada peristiwa menarik dari Masa Natal 2020 dalam kalender Gereja Katolik. Setelah Yesus Lahir di Kandang Betlehem, ada peristiwa penampakan Tuhan. Saat peristiwa hari Penampakan Tuhan sesuai ajaran iman Gereja Katolik, Romo Hermen sanusi, Pr mengisinya dengan mengunjungi saudara yang disabilitas mental di pasung di Kampung Waebok dan seorang penderita disabilitas mental yang sudah pulih. Yang pulih itu berkat rutin minum obat yang didampingi keluarganya. Saat itu Romo  bersama rombongannya membawa bingkisan kado Natal dan Tahun Baru untuk proses asupan gizi bagi para penderita. Saat itu, Romo disambut hangat dan penuh kasih oleh anggota keluarganya. Bahkan Romo langsung melihat saudara yang dipasung di ruang sumpek di bagian belakang rumah besar tersebut. Tempat pasung dibuat dalam bentuk panggung.

    Bahkan saat Minggu Kanak-Kanak Yesus, Romo mengajak anggota Serikat Anak Misioner (Sekami) stasi Peot mengunjungi satu keluarga di Paka, Rehes. Ada seorang ibu yang disabilitas mental dan memiliki balita. Saat itu mereka bawa bingkisan kado Natal 2020 dan Tahun Baru 2021. Semua ini digerakkan oleh Sang Emanuel yang setiap tahun dirayakan. Perayaan Natal 2020 sangat berbeda karena dunia sedang dilanda virus Corona. Semua orang penuh waspada dan kehati-hatian saat merayakanNya. Kurang lebih setahun, dunia dilanda wabah virus Corona. Semua manusia tak bebas bergerak. Semua harus mengikuti aturan protokol kesehatan dari World Health Organization (WHO) dengan 3M (Mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak). Semua manusia didunia ini pasrah kepada Sang Pencipta, Allah Semesta alam.

    Ket. Foto: RD Herman Sanusi , Pr sedang mengunjungi pasien disabilitas mental yang sedang dipasung di Kampung Waebok, Kel.Ronggakae, Kecamatan Kota Komba, Kab. Mangggrai Timur, NTT (Foto:RD Hermen Sanusi,Pr)

    Terima Informasi Penderita disabilitas Mental

    Masih di bulan Januari 2021, awal tahun perjalanan Kalender 2021, saya menerima berbagai informasi dengan kiriman foto dan keterangan orang yang derita disabilitas mental di seluruh Manggarai Timur. Informasi ini berkat bagi saya ataukah ada hal lain dibalik informasi tersebut. Informasi dan foto, saya teruskan ke group KKI agar informasi ini diketahui semua pihak di Manggarai Timur. Saya selalu bertanya, mengapa semua informasi itu kirim ke saya. Saya ini tidak memegang kekuasaan di Manggarai Timur. Saya ini orang kecil, kemampuan terbatas. Manusia rapuh. Tak berdaya. Punya banyak kelemahan. Banyak kelalaian. Mengapa tidak mengirim ke pemangku kepentingan di Manggarai Timur. Tapi bagi saya, semua itu saya syukuri saja atas berkat tersebut.

    Selanjutnya saya menerima pesan singkat, foto dan keterangan tertulis bahwa Ordo Camelus De Lellis Maumere akan membangun pondok yang layak bagi seorang penderita disabilitas mental di pinggir jalan Borong-Ruteng. Syukur atas semua aksi kemanusiaan ini. Kita melayani, merawat manusia yang memiliki martabat yang sama. Saya menerima pesan itu dari Pater Suparman Andi, MI.

    Cerita Pater Frumens Andi, SMM menyapa Penderita disabilitas mental di Kampung Kole, Satarmese Barat

    Segala informasi bisa kita peroleh di group whatsapp KKI Manggarai Timur. Di awal bulan Januari 2021, Pater Frumens Andi, SMM menyapa seorang umat yang derita disabilitas mental yang dipasung di Kampung Kole, Kecamatan Satarmese Barat, Kabupaten Manggarai. Syukur atas keterlibatan semua pihak untuk sama-sama menyapa orang yang menderita.

    Ket. Foto: Pater Frumens Andi, SMM sedang mengunjungi penderita disabilitas mental di Kampung Kole, Kecamatan Satarmese, Kab. Manggarai, NTT (Foto: Pater Frumens Andi, SMM)

    Narasi singkat yang ada dalam group itu, Pater meminta seorang umat lainnya untuk memangkas rambut saudara yang dipasung. Saudara yang sedang sakit itu rambutnya panjang. Tak terawat. Tak terurus. Kemudian, Pater menginformasikan kepada pihak Puskesmas setempat agar diberikan pelayanan medis dan barangkali tersedia obat untuk pemulihannya. 

    Ini semua cerita yang saya kumpul bersumber dari group whatsapp KKI di awal tahun 2021. Semoga sepanjang tahun 2021 dari Januari-Desember, penanganan dan pencegahan serta pelayanan bagi mereka (disabilitas mental) di prioritas oleh program Negara. Tuhan sangat menyayangi mereka yang sedang menderita apa saja.

    Ada begitu banyak orang baik dan bekerja dengan hati di Manggarai Timur.

    *********************

    Markus Makur adalah Kontributor KOMPAS.com dan koordinator relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan Jiwa Manggarai Timur. Bisa dihubung di nomor kontak (081238371195)

  • Natal dan Pesan Perdamaian

    Natal dan Pesan Perdamaian

    Oleh Yakobus Odiyaipai Dumupa, Bupati Dogiyai Papua

    PASTOR yang memimpin misa Natal di Gereja Katolik Gembala Baik, Abepura, Jayapura, 25 Desember 2012, dalam kotbahnya mengemukakan bahwa, “Tuhan Yesus lahir ke dunia dan rela menjelma menjadi manusia karena Allah hendak menyelamatkan manusia. Keselamatan itu diwujudkan oleh Tuhan Yesus dengan menebus dosa manusia. Tuhan Yesus juga lahir untuk membawa kedamaian di bumi, agar manusia saling mengasihi satu sama lain dan mengasihi Allah sebagaimana Allah terlebih dahulu mengasihi manusia.”

    Program berita Editorial Media Indonesia di Metro TV juga mengemukakan, “Natal identic dengan damai. Kedamaina sejatinya punya makna universal. Setiap orang, apa pun agama, keyakinan, budaya, dan bangsanya, senantiasa berupaya mencapai kedamaian. Berdamai dengan diri sendiri, baik sebagai pribadi maupun bangsa, ialah ikhtiar yang pertama-tama harus kita lakukan untuk mencapai kedamaina hakiki. Kita telah berdamai dengan diri sendiri bila kita berhasil menaklukan nafsu di dalam diri kita. Hasrat memperkaya diri, berkuasa dengan menempuh segala cara, serta merasa paling benar merupakan syahwat dalam diri yang harus kita taklukan.”

    Di tengah kehendah Allah yang luar biasa bagi manusia dan impian sebagian besar manusia untuk hidup damai, apakah manusia telah menciptakan kedamaian di bumi ini? Jika disimak dengan seksama, maka sesungguhnya banyak orang belum berdamai. Pertama, banyak orang belum berdamai dengan dirinya sendiri. Banyak orang masih terbelenggu dalam berbagai dosa yang tak henti-hentinya dilakukan setiap saat, sehingga menjadikan dirinya sebagai ‘hamba iblis’. Kedua, banyak orang juga masih belum berdamai dengan sesamanya. Bahkan ada kecenderungan dari waktu ke waktu manusia saling bermusuhan satu sama lain, hanya karena kebetulan punya pribadi yang berbeda, punya bangsa (negara) yang berbeda, punya agama dan keyakinan yang berbeda, dan karena perbedaan lainnya, padahal sejatinya semua manusia punya derajat yang sama sebagai ciptaan Allah. Ketiga, banyak orang yang belum berdamai dengan Allah. Makin hari makin banyak orang yang menjauhkan diri dari Allah. Allah dianggap ‘tidak kelihatan’(tidak nyata), sehingga dianggap tidak ada.

    Setiap perayaan Natal pesan kedamaian selalu disampaikan kepada umat manusia, terutama bagi umat Kristiani yang merayakannya. Banyak pihak selalu berharap agar Natal melahirkan manfaat yang nyata untuk menciptakan kedamaian. Tetapi kedamaian yang sejati; berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan sesama, dan berdamai dengan Allah nampaknya masih jauh dari harapan. Manusia harus berjuang terus dengan mengandalkan campur tangan Allah, sesuai dengan kapasitasnya sebagai pribadi, sebagai makhluk sosial dan sebagai anak Allah untuk menciptakan kedamaian yang nyata. Jika tidak, maka kedamaian hanyalah impian yang tak kunjung menjadi nyata.

    Selamat Ulang Tahun Yesus. Selamat Natal Umat Kristiani.

    Sumber: Ungkapan Kegelisahan (Catatan Yakobus Odiyaipai Dumupa), Penerbit Ikan Paus, 2020.