KABUPATEN MALAKA – Nusa Tenggara Timur saat ini sedang diterjang banjir sejak tanggal 2 April 2021 hingga hari ini (4 April 2021). Beberapa desa di Kabupaten Malaka terendam banjir, di antaranya desa-desa yang ada di Kecamatan Malaka Tengah, Kecamatan Malaka Barat dan Kecamatan Wewiku.
Imbas dari banjir yang belum kunjung surut sampai hari ini adalah lumpuhnya aktivitas masyarakat. Sumber-sumber pencarian nafkah hilang, ketersediaan air bersih tidak ada, kekurangan kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman hingga pakaian, juga masyarakat harus mengungsi dari kediamannya yang terendam banjir. Selain itu, masyarakat terus dihantui perasaan khawatir akan kondisi banjir yang akan terus bertambah parah.
Emanuel Bria, dari Forum Kajian Sejarah dan Budaya Wesei Wehali menegaskan bahwa diperlukan tindakan emergensi dari pemerintah daerah dan solidaritas masyarakat pada umumnya untuk membantu para korban. Bencana alam ini juga mengingatkan kita untuk hidup selaras dengan hukum-hukum adat dan alam. Situs-situs adat yang selama ini menjadi tempat yang sakral tidak boleh dirusak karena sudah dijaga leluhur secara turun-temurun.
Menindaklanjuti situasi ini, kami dari
Komunitas Anak Timor Hitz Kreatif yang juga terdaftar sebagai Lembaga Sosial
Masyarakat, berinisiatif untuk menjadi perpanjangan tangan dari saudara
sekalian yang ingin membantu para saudara di Malaka – NTT. Kiranya, dalam
kesulitan di masa pandemic ini, hati kita tetap tergerak untuk saling membantu.
Oleh karena
itu, kami memfasilitasi donasi kepada saudara-saudara yang terdampak banjir di
Malaka – NTT berupa, 1. Donasi dana,
dapat dikirimkan melalui rekening Lembaga Sosial Masyarakat Anak Timor Hitz
Kreatif (Bank NTT – 2502415584 /a.n. Anak Timor Hitz Kreatif) 2. Donasi barang
(sembako, pakaian, obat-obatan, dll) dapat dikirimkan ke Posko Anak Timor Hitz
Untuk Korban Banjir Malaka-NTT dengan alamat: – Perumahan Griya Lontar 2, Blok F, No.11, Jl Taebenuk, RT 01/RW 02,
Kelurahan Liliba, Kec Kelapa Lima, Kupang – NTT – Belu Store Anak Timor Hitz,
Plaza Perizinan Belu, Jl Basuki Rachmat No 2, Atambua, Belu – NTT Kiranya
uluran tangan kasih dari saudara sekalian dapat meringankan beban para saudara
kita di Malaka- NTT dan dibalas oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.
Contact Person: Aryanto Seran ( WA/ Tlp o8111177654) Email: anaktimorhitz@gmail.com, Instagram dan You Tube: @anaktimor_hitz, Facebook: Anak Timor Hitz
PRANATA K AGAS, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menggunting kuku kaki seorang mama yang sedang menderita disabilitas mental di Kampung Tewuk, Desa Satar Lahing, Kecamatan Rana Mese, Kamis, (1/4/2021). Selain menggunting kuku kaki, Ia juga membersihkan jari-jari tangan yang terlihat tidak terawat dengan baik.
Nama mama
itu, Eleonora Buphu yang sudah empat tahun dipasung kaki satunya dengan balok
di bagian dapur rumah keluarga itu.
Pranata K
Agas yang biasa disapa Ibu Ani Agas baru dua bulan menggawangi bidang
pencegahan dan pengendalian penyakit (P2P) di dinas tersebut.
Di bidang
itu juga ada seksi untuk pencegahan dan penanganan orang dengan gangguan jiwa
(ODGJ).
Selanjutnya
dalam narasi ini disebut Ani Agas. Ia selalu gelisah dan mencari pengetahuan di
google dan membaca berbagai regulasi tentang pencegahan dan penanganan
penderita disabilitas mental.
Sebelum Ani
Agas mendapatkan kepercayaan menjadi kepala bidang P2P itu, Ia menduduki
jabatan kepala bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan Kabupaten
Manggarai Timur.
Melalui
pesan whatsapp yang diterima, Kamis, (1/4/2021) menjelaskan, hari ini mereka
(Dinkes) Kabupaten Manggarai Timur mendampingi utusan dari Kementerian Sosial
Republik Indonesia untuk mengunjungi seorang penderita gangguan jiwa di Desa
Satar Lahing, Kecamatan Rana Mese.
Utusan
Kementerian Sosial Republik Indonesia dari bagian Direktorat Rehabilitasi
sosial penyandang disabilitas di Kementerian Sosial Republik Indonesia, Nur
Sholeh dan Rudi.
Dan juga
Hilarius Jabur, Kepala Seksi Pelayanan
dan rehabilitasi sosial penyandang disabilitas Dinas Sosial Kabupaten Manggarai
Timur, didampingi
Kepala Desa Satar Lahing, dan Pengelola program kesehatan Jiwa (Keswa) Puskesmas Lalang, Ibu Efi. Ani Agas menceritakan bahwa nama pasien itu, Eleonora Buphu, sudah 4 tahun dipasung.
Ket. Foto: Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Manggarai Timur, NTT, Pranata K. Agas sedang Menggunting Kuku Pasienyang Menderita Ganguan Jiwa di Kampung Tewuk, Desa Satar Lahing, Kec. Rana Mese, Manggarai Timur, Kamis (1/4/2021). (Dok. Kabid P2P Dinkes Manggarai Timur – Pranata K Agas)
Saat ini
dalam pengobatan. Keadaan umum baik dan pasien terlihat mulai membaik.
Pasien
bercakap-cakap dengan baik, mampu menyebutkan nama dan anggota keluarga bahkan
mengingat banyak hal.
Pasien
bahkan berterima kasih akan kepedulian Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai
Timur.
Edukasi
terkait keadaan pasien kepada keluarga sudah dilakukan oleh petugas medis di
Puskesmas Lalang.
Apabila
evaluasi klinis membaik maka akan dilepas dari pasungan dan terus dipantau
kesehatan jiwanya.
Ani Agas
menjelaskan, Kementerian Sosial menghantar bantuan berupa Kebutuhan sandang dan
pangan seperti; Beras, telur, baju, perlengkapan mandi seperti handuk, sabun,
sampo, selain itu ada susu, biskuit, telur, minyak goreng.
Selain
mengajak beliau bercerita tentang dirinya, tentang anak-anaknya, kami meminta
izin untuk merapikan kuku jari-jarinya, kemudian saya lanjutkan dengan
menggunting kuku kakinya yang terlihat mengeras.
“Ia
bercerita bahwa setelah menerima pengobatan, keadaanya membaik, ia mengingat
banyak hal, bahkan ia baru ingat bahwa anak bungsunya sedang kuliah.
Ia berjanji
akan minum obat teratur agar cepat sembuh,” jelasnya.
Ani Agas
mengungkapkan ” hari ini akhirnya saya paham hukum terbesar kita…… terima
kasih telah mengajarkan saya banyak hal. Saya banyak belajar dari orang dengan
gangguan jiwa (ODGJ).”
Kamis Putih Melayani ODGJ
Saat
mempersiapkan diri untuk merayakan Perayaan Kamis Putih. Perayaan perjamuan
terakhir Tuhan Yesus bersama 12 rasul-Nya.
Kabid P2P
dan Kepala Seksi Pencegahan Penanganan ODGJ di bidang P2P, Yanuarius Ngabut
mengunjungi sambil memberikan pelayanan pengobatan bagi seorang mama yang
sedang dipasung karena derita gangguan jiwa di pedalaman Manggarai Timur.
Mereka
memaknai Kamis Putih dengan membersihkan jari tangan serta menggunting kuku
kaki dari penderita tersebut.
Pelayanan Kasih KKI Menggugah Hati
Ani Agas
Pelayanan
Kasih dari relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan
Jiwa Kabupaten Manggarai Timur sejak Juli 2017 lalu menggugah hati Ibu Pranata
K Agas secara pribadi karena waktu ia belum menduduki jabatan kepala bidang
P2P.
Beberapa
kali secara pribadi, Ani Agas bersama relawan Kelompok Kasih Insanis sama-sama
mengunjungi orang yang sedang derita gangguan jiwa di Kabupaten Manggarai
Timur.
Bahkan
beberapa kali bertemu dengan relawan KKI untuk saling sharing tentang kisah
pelayanan bagi orang yang sedang derita gangguan jiwa.
Saat itu
relawan KKI memberikan masukkan bahwa ketersediaan obat di Puskesmas-Puskesmas
di seluruh Manggarai Timur bagi penderita gangguan jiwa mampu memulihkan mereka
dari derita yang sedang dialami.
Berkat rutin
minum obat yang dilayani petugas medis dari beberapa Puskesmas di sekitar Kota
Borong ada sebagian penderita yang lepas pasung. Tentu pasca lepas pasung, para
penderita tetap minum obat secara berkelanjutan dengan pendampingan anggota
keluarga.
Semua
masukkan yang disampaikan relawan KKI dicatat dan di analisanya untuk pengadaan
obat rutin dan didistribusikan kepada puskesmas-puskesmas di seluruh Manggarai
Timur.
Saat sharing
itu, Ibu Ani Agas memberikan saran kepada relawan KKI untuk sama-sama membuat
roadmap pencegahan dan penanganan orang dengan gangguan jiwa di Kabupaten
Manggarai Timur.
Tidak hanya
menerima pengalaman dari pelayanan kasih dari relawan KKI Manggarai Timur, Ibu
Ani Agas juga berjuang keras untuk berdiskusi dengan Pendiri Relawan Kelompok
Kasih Insanis NTT, Pater Aventinus Saur, SVD.
Bertemu Pater Avent Saur, SVD di
Kampung Taga
31 Oktober
2020 lalu, Ibu Ani Agas bersama seorang stafnya bertemu Pater Aventinus Saur,
SVD di Kampung Taga, Desa Golo Nderu, Kecamatan Kota Komba, (dulu), kini sudah
mekar menjadi Kecamatan Kota Komba Utara.
Saat itu
Pater Avent, SVD memimpin misa pemberkatan nikah seorang anggota relawan KKI
Kabupaten Manggarai Timur. Pankrasius Purnama namanya. Biasa disapa Engkos.
Engkos jatuh
cinta dengan seorang gadis cantik dari kampung tersebut.
Walaupun medan
jalan yang sangat berat. Belum di aspal. Saat itu belum dibangunkan crossway di
Kali Wae Ghera. Kini crossway sudah dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Manggarai Timur.
Komitmen
untuk memulihkan sesama yang sedang derita gangguan jiwa, baik yang dipasung
maupun yang berkeliaran menjadi panggilan hati nurani dari Ibu Ani Agas,
walaupun saat itu masih duduk di Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK)
Dinas Kesehatan Manggarai Timur.
Komitmen
pribadi untuk memulihkan sesama yang sedang derita sakit membuat ia menimba
pengalaman dari Pendiri KKI walaupun bertemu di pelosok Manggarai Timur.
Sebelum
dilangsungkan resepsi pernikahan dari Engkos. Ibu Ani Agas, Pater Avent, SVD,
Saya, staf Dinkes dan beberapa relawan KKI Desa Golo Nderu berdiskusi lepas
tentang penanganan dan pencegahan serta pemulihan bagi ODGJ.
Pater Avent
menyampaikan peran pengobatan dari obat medis mampu memulihkan penderita yang
sedang sakit. Itu sudah nyata dialami di beberapa Kabupaten di Pulau Flores
selama pelayanan dari relawan KKI. Saat itu Ibu Ani Agas lebih banyak mendengar
dan menyimak seluruh diskusi tersebut.
Dinas
Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur meningkatkan pelayanan medis serta
pengadaan obat-obatan di seluruh Puskesmas. Oktober 2019 lalu, relawan KKI
sudah mengadakan seminar Nasional tentang Kesehatan Jiwa (Keswa).
Saat itu
Dinas Kesehatan hadir bersama dengan seluruh petugas medis dari beberapa
Puskesmas di Manggarai Timur.
Diskusi
berhenti sampai disitu karena kami harus masuk di ruang kemah pesta. Kemudian
waktu sudah sore, Ibu Ani Agas pamit pulang duluan ke Kota Borong sambil
berpesan agar diskusi berlanjut di Kota Borong.
Secercah Harapan bagi Pemulihan ODGJ
Penanganan
dan pencegahan bagi penderita orang dengan gangguan jiwa atau bahasa halusnya
disabilitas mental sesuai regulasi merupakan hal baru di Pulau Flores berkat
perjuangan gigih dari seorang Imam yang bertugas di Provinsial Ende.
Pater
Aventinus Saur, SVD namanya. Ia imam
dari ordo Serikat Sabda Allah yang didirikan oleh Santo Arnoldus Jansen. Ingin
tahu kisah perjuangannya baca buku “Belum Kalah”. Berkat pelayanan
kasihnya, Ia pernah mengisahkan perjuangannya di program Kick Andy di media
Metro TV bahkan kisah perjuangannya dimuat di media KOMPAS dan KOMPAS.com
Membaca
tulisan dan liputan di media Flores Pos dan media sosial facebook, banyak orang
tergerak hati untuk bergabung hingga akhir membentuk kelompok relawan KKI.
Berangkat
pesan di inbox media sosial dan menukarkan nomor ponsel. Kemudian sekitar 7
orang dari Manggarai Timur bertemu Pater Avent di sebuah warung makan di Kota
Borong. Saat itu tepatnya Juli 2017.
Waktu itu Pater
pulang dari Panti Renceng Mose Ruteng. Pater Avent ke Panti Renceng Mose Ruteng
menghantar seorang pasien dari Kabupaten Ende untuk dirawat dan memulihkan
kesehatan dari penderita tersebut.
Saat makan
siang bersama, kami sepakat dan meminta kepada Pater Avent agar relawan KKI
juga dibentuk di Manggarai Timur. Saat itu Pater Avent berpesan bahwa ini kerja
sukarela. Panggilan hati nurani. Ada kerelaan dalam hati untuk menjadi relawan.
Saat itu
kami sepakat. Pater Avent kembali ke Ende dan kami pulang ke rumah
masing-masing.
Selanjutnya
pelayanan secara sporadis. Misalnya dimana ada informasi orang sakit gangguan
jiwa dipasung, kami berkunjung disela kesibukan kerja masing-masing.
Perjuangan
relawan KKI tanpa kenal lelah membuahkan hasil dengan menyelenggarakan Seminar
Nasional Kesehatan Jiwa (Keswa). Tampil sebagai narasumber secara sukarela saat
itu, Dr Albert Maramis, Seorang Penyintas yang pulih, Mas Kiki, Pater Avent
Saur, SVD Saat itu Seminar dibuka oleh Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus.
Hadir saat itu Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa, Wakil Ketua DPRD
Manggarai Timur, Damu Damian, Vikep Borong, Romo Simon Nama, Pr serta beberapa
imam, diantaranya Romo Hermen Sanusi, Pr
Setelah
Seminar dilanjutkan dengan dengar pendapat (public hearing) di Gedung DPRD
Manggarai Timur.
Tidak sampai
disitu perjuangan dari relawan KKI. Relawan mengajak beberapa anggota DPRD
untuk mengunjung langsung penderita di rumah-rumah. Dialog dengan Dinkes,
Dinsos di ruangan Ketua DPRD. Dialog dengan Kepala Dinas Sosial. Dialog dengan
Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat. Pada Desember 2020, pertemuan terbatas
dengan Kemenkes, Kemensos, Keuskupan Ruteng, relawan KKI, Dinkes dan Dinsos
dari Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur untuk pencegahan dan penanganan
ODGJ. Bahkan relawan KKI dialog dengan anggota DPRD Provinsi NTT, Yohanes Rumat
di Cafe SMAK Pancasila Borong dengan melibatkan Dinkes Manggarai Timur.
Inilah
catatan pelayanan kasih serta upaya bersama untuk memulihkan sesama saudara
yang sedang menderita gangguan jiwa. Salam Belum Kalah. Salam Sehat Jiwa. Kita
Belum Terlambat.
*************
*Penulis
adalah wartawan dan koordinator relawan KKI di Manggarai Timur
Berandanegeri.com – Jaringan Alumni Belanda di Indonesia (NL Alumni Network) bekerjasama dengan I&P (Asosiasi Intelektual dan Profesional Indonesia) sukses menggelar program Series #4 dari Orange Talks dengan tema (Water Resource Partnerships for Sustainable Development: Finding Opportunities for Cross-sector Collaboration). Acara ini dilaksanakan pada Jumat 26 Maret 2021 menggunakan platform Zoom cloud Meeting.
Dimulai pukul
15.00 WIB, webinar dihadiri oleh alumni dan praktisi riset di bidang air dari
Indonesia-Belanda, antara lain: Leo Eliasta (Wakil Direktur Direktorat Sungai dan Pantai Kementerian
PUPR, alumni beasiswa
StuNed di Delft University of Technology dan UNESCO-IHE Delft), Reza
Pramana (Peneliti di Delft University of Technology, penerima beasiswa StuNed), serta Floris Boogaard (Profesor Transformasi Spasial dari Universitas Hanze, Groningen).
Secara umum, webinar yang dimoderatori oleh Sinar Juliana (perwakilan I&P Indonesia) bertujuan untuk mendiskusikan sejumlah
poin penting diantaranya, kolaborasi antar universitas, pemerintah, dan masyarakat
di sektor air antara Indonesia-Belanda untuk mencapai SDGs
(Sustainable Development Goals). Upaya ini
difokuskan pada kualitas air, tata kelola sumber daya air, pembangunan
infrastruktur, bencana manajemen, dan adaptasi iklim semuanya melibatkan
kemitraan aktif antara universitas, pemerintah, bisnis, dan komunitas.
Pengembangan penelitian dan inovasi oleh universitas memberikan hal baru pada
platform dan teknologi untuk mempercepat kemajuan dalam memenuhi SDG. Lebih jauh lagi untuk membahas berbagai pengalaman
kemitraan lintas sektor yang melibatkan universitas di Indonesia dan Belanda,
bisnis, dan pemerintah tentunya
melalui Kementerian PUPR.
Sebagai pembuka, Peter
Van Tujil selaku direktur Nuffic Neso Indonesia memberikan sambutan yang hangat
dan sangat mengapresiasi program ini. Sekaligus
mengatakan ‘ini juga merupakan
tantangan
bagi alumni Belanda untuk
menyelenggarakan agenda dan program berkelanjutan yang dapat menanggapi persoalan (baca: air) yag cukup krusial ini’
Leo Eliasta, narasumber
pertama menyampaikan ada 7 agenda prioritas nasional terkait pengembangan
nasional yang menjadi prioritas, salah satunya adalah emperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan.
PUPR juga mendukung
2 agenda pembangunan. Pertama, PN1 Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk
Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan melalui Pengelolaan sumber daya
ekonomi yang meliputi pemenuhan pangan dan pertanian serta pengelolaan
kelautan, kelautan, dan perikanan, sumber daya air, sumber daya energi, dan
kehutanan. Kedua, Penguatan Infrastruktur
PNS bertujuan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan mendorong pembangunan
nasional secara proporsional, melalui pembangunan Infrastruktur Dasar.
Untuk
mengimplementasikan agenda tersebut, dibutuhkan adanya penyusunan program yang
terintegrasi dan sistemis, sikap pengambil risiko dan pengambilan keputusan
yang cepat, kerja tim yang solid dan orientasi lokasi, pengawasan yang rinci
dan konsisten, dan sistem operasi dan pemeliharaan yang kuat.
Diskusi dilanjutkan dengan paparan materi dari
Reza
Pramana yang menjelaskan
terjadinya pencemaran air yang
menurutnya disbebakan oleh 3 hal, yaitu: air
limbah rumah tangga, air limbah industri dan limbah padat pertanian. Untuk
menanggulangi hal ini ia menegaskan perlu adanya kerjasama antar perguruan
tinggi, sekolah menengah, instansi pemerintah, instansi swasta, serta LSM
lainnya.
Materi terakhir disampaikan oleh Floris Boogaard yang banyak
mengulas persoalan tantangan iklim di perkotaan. Tantangan lingkungan yang
kita hadapi saat ini: peristiwa cuaca dan suhu ekstrim; mempercepat hilangnya
keanekaragaman hayati, polusi udara, tanah, dan air; dan kegagalan
langkah-langkah mitigasi dan adaptasi,
ungkapnya
MOANEMANI – Bupati Kabupaten Dogiyai, Yakobus Dumupa, memutuskan mengabadikan nama sejumlah misionaris pada sejumlah ruas jalan di Kabupaten Dogiyai, Papua. Selain nama sejumlah misionaris dari benua Amerika dan Eropa yang lama bermisi di tanah Papua, termasuk Dogiyai, ada juga sejumlah tokoh lokal yang berjasa dalam pertumbuhan dan perkembangan daerah akan diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Dogiyai.
“Para misionaris itu
adalah Bruder Johannes Petrus Sjerps, OFM, Bruder Karel, OFM atau Uskup Pertama
Keuskupan Agung Merauke, Pastor Herman Tillemans, MSC, dan lain-lain. Ada satu
ruas juga kita abadikan dengan nama Jalan Thomas Tigi untuk menghormati dan
mengenang Pak Thomas sebagai bupati definitif pertama Dogiyai. Para misionaris
dan tokoh lokal ini berjasa dalam pertumbuhan dan perkembangan peradaban hidup
orang Mee di Dogiyai,” ujar Yakobus Dumupa dalam keterangan yang diterima,
Jumat (26/3/2021).
Mantan Anggota Majelis
Rakyat Papua ini mengatakan, umumnya di berbagai daerah mengabadikan nama jalan
di setiap sudut kotanya, pihak Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga dalam waktu
dekat akan melabelkan tokoh-tokoh berjasa sebagai nama semua ruas jalan yang di
wilayah Dogiyai. “Saya sudah memutuskan untuk memberi nama jalan dengan
menggunakan nama para tokoh setempat dan orang-orang berjasa bagi pertumbuhan
dan kemajuan daerah hingga saat ini. Misalnya Bruder Jan Sjerps, misionaris
dari Eropa,” lanjut Dumpua, lulusan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi
Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta.
Ia menjelaskan, yang dimaksud dengan para tokoh lokal adalah para pemimpin Gereja dan pemimpin atau tokoh masyarakat, yang terbukti berjasa dalam memimpin umat dan masyarakat sehingga masyarakat dan daerah semakin maju, aman, damai, dan sejahtera kemudian diteruskan para tokoh atau pemimpin sesudahnya.
Ket. Foto: Bupati Kabupaten Dogiyai, Yakobus Dumupa tengah bersama tim sedang mempersiapkan sejumlah nama penting untuk diabadikan sebagai nama jalan di Kabupaten Dogiyai
Para pemimpin itu tak hanya dari luar Dogiyai namun juga menyasar para pemimpin lokal dari berbagai komunitas di seluruh wilayah Dogiyai. Misalnya, Yobee Enabii di Ekaudidee, Tebai Togoodega di Mauwa, Goo Gaiyaikawii di Goodide, Boma Toyaikeboo di Edegedidee, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam rangka merealisasikan kebijakan itu, Bupati Dumupa telah menugaskan Dewan Adat Mee Dogiyai untuk meneliti dan mempersiapkan nama-nama tokoh yang layak diberi nama jalan pada masing-masing wilayah.
“Pemberian nama ini
dimaksudkan agar warga masyarakat Dogiyai mengenang jasa orang-orang hebat yang
pernah berkontribusi dalam perkembangan perabadan hidup orang Dogiyai. Dengan
demikian, di kemudian kita bisa mengambil inspirasi dan teladan hidup dari
mereka untuk lebih giat bekerja memajukan masyarakat dan daerah lebih baik lagi,”
kata Bupati Dumupa, tokoh muda Papua yang telah menulis kurang lebih sebelas
buku beragam tema.
Sejumlah nama tokoh
agama di Papua dan pemimpin lokal yang mengabdikan dirinya di Dogiyai sangat
inspiratif dari aspek penghayatan karya misi maupun kepemimpinannya bagi
masyarakat dan daerah. Misalnya, Bruder Jan Sjerps, OFM, Pastor Pastor Herman
Tillemans, MSC atau Thomas Tigi.
Bruder Jan Sjerps
dikenal luas sebagai salah seorang misionaris perintis, pionir kopi Papua. Lama
menunaikan tugas di sejumlah wilayah di tanah Papua, bruder dari Saudara Dina
atau Ordo Fratum Minorum (OFM) yang lahir dari keluarga petani Belanda di dusun
Zwagdijk-Oost, Distrik Wervershoof pada 2 November 1939 ini kemudian ditugaskan
di Moanemani, kota Kabupaten Dogiyai.
Di Moanemani Bruder Jan
Sjerps melanjutkan karya misinya dengan mendirikan sekolah dan asrama. Pilihan
misi ke Moanemani oleh karena pertimbangan di Agimuga dan Epouto, Kabupaten
Mimika, tanah tidak cukup subur untuk umbi-umbian guna memberi makan siswa
dengan dua sekolah paralel. Biaya operasional di Epouto terlalu mahal. Makanan
selalu didatangkan dari luar, sedangkan di Moanemani dan Dogiyai umumnya
sedikit lebih mudah.
“Saya pindahkan semua
ke Moanemani dan di sana saya memulai semuanya dari awal lagi. membangun asrama
dan membangun sekolah lengkap dengan tangki air dan fasilitas lebih mudah,”
ujar Bruder Jan. Selain itu, usai mendirikan asrama dan sekolah tahun 1980, ia
juga concern pada pelatihan anak-anak
SMP. Dia mulai dengan menanam 1000 pohon kopi sebagai percontohan dan latihan
bagi para petani Moanemani. Bibit kopi diambil dari Yametadi, bekas kantor
Dinas Pertanian Pemerintahan Belanda era kolonial.
Berkat kegigihan Buder
Jan melakukan pembibitan kopi Papua di belakang asrama hingga nama kopi
Moanemani meroket di seantero tanah Papua dan Indonesia, tahun 1986 pemerintah
daerah melirik usaha itu menetapkan Moanemani sebagai pusat pembibitan kopi.
“Sejak itu, Moanemani terkenal dengan kopinya yang memiliki cita rasa khas.
Tahun 2005, setelah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan kopi di wilayah
lembah Kamuu, ia kembali ke Sentani, Jayapura, pusat misi OFM. Ia berpulang
Sabtu, 13 Februari 2021 di Biara OFM, Sentani, Jayapura,” kata Bupati Dumupa.
Pada bagian lain,
Dumupa menjelaskan, saat ini Dewan Adat Mee Dogiyai sedang berproses
mempersiapkan nama-nama tokoh yang berjasa bagi tanah Papua, termasuk berjasa
di Dogiyai akan diabadikan sebagai nama jalan. Jika rencana ini terwujud,
ujarnya, akan menjadi sejarah baru di Tanah Papua dan juga di Indonesia
nama-nama para pemimpin diabadikan untuk menjadi kebanggan daerah.
“Saya percaya sebagai
Bupati Dogiyai kami akan mengukir sejarah baru. Ini bentuk penghormatan kecil kami kepada para penjasa
dan pemimpin kami sekaligus menjadi bentuk apresiasi, penghormatan dan sumber
pembelajaran bagi generasi tanah Papua berikutnya,” ujar Bupati Dumupa, mantan
misdinar (pelayan Misa) di Gereja Santa Maria Imaculata Moanemani, Dogiyai.
JAKARTA – Panitia Pembangunan Gereja Paroki Santo Joseph Boto, Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka, Nusa Tenggara Timur mendapat bantuan dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk merenovasi bangunaan gerejanya.
Sebelumnya,
pihak panitia menyurati KWI agar ikut membantu panitia dan umat setempat agar
ambil bagian bersama umat untuk merampungkan Gereja tua yang terletak di Boto,
pusat paroki dan pusat Misi SSpS di wilayah selatan Lembata.
“Saya baru
mendengar kabar. Suster Yasinta, FSGM dari Bagian Dewan Moneter dan Dana
Solidaritas Antar-Keuskupan KWI menyampaikan bahwa KWI turut membantu dana
sebesar Rp. 25 juta. Dana itu untuk ikut membantu panitia dan umat merampungkan
pembangunan Gereja Paroki Santo Joseph Boto, Lembata,” ujar John Laba
Wujon, staf Sekretariat Jenderal KWI dalam keterangannya, Selasa (23/3/2021).
Menurut John,
staf sekretariat KWI asal Lembata, bantuan dari KWI itu dikirim kepada panitia
dan umat stasi Santo Joseph Boto melalui rekening ekonom Keuskupan Larantuka.
“Menurut Suster Yasinta, uang tersebut sudah dikirim pada 5 Maret 2021,” kata
John Wujon.
Ia menambahkan,
uang bantuan untuk panitia dan umat tersebut bersumber dari Dana Solidaritas
Antar-Keuskupan KWI. Pihaknya juga merasa gembira, pihak KWI ikut membantu
panitia dan umat yang kebanyakan ekonomi lemah dan menggantungkan hidup
kesehariannya dari bertani.
Pastor Paroki
Santo Joseph Boto RD Bernardus Kebesa Kedang Pr mengemukakan, kerja keras
Pastor Paroki, Panitia dan umat Paroki membangun rumah Ibadah ini terpatri
dalam motto, Terbantulah Engkau dan
Tertanamlah di Dalam Laut, dan Ia Akan Taat Kepadamu.
“Berpijak pada
motto ini, panitia bersama umat Allah Paroki Boto merenovasi rumah Tuhan,
tempat Allah ditakhtakan. Spirit dan kegigihan umat berpijak pada Kristus,
tumbuh dan mereka berniat merenovasi gereja yang sudah dibangun sejak 1990 dan rampung
tahun 1995. Namun, seluruh fasilitas belum lengkap. Atapnya bocor karena
kemiringan hanya sekitar 16 derajat,” ujar Romo Bernard Kedang, imam kelahiran
desa nelayan Lamalera.
Sedangkan Ketua
Dewan Stasi Santo Joseph Boto Yohanes Dua Baon menyampaikan terima kasih kepada
KWI atas perhatian dan bantuan tersebut. Selama ini, sumber dana pembangunan
Gereja Santu Joseph Boto berasal dari swadaya panitia dan umat sehingga upaya
merampungkan bangunan gereja masih tersendat.
“Kami panitia
dan umat berterima kasih dan menyambut gembira perhatian KWI membantu
meringankan usaha dan kerja keras panitia. Bantuan ini tentu akan menjadi
penyemangat kami semua untuk bekerja lebih giat lagi,” ujar Yan Dua Baon yang
juga Kepala SDK Boto.
Boto adalah
pusat paroki dan ladang Misi SVD dan SSpS sejak enam puluhan tahun lalu. Gereja
melalui SVD dan SSpS tak sekadar melayani umat di bidang pelayanan iman, namun
juga bidang kesehatan, pendidikan, dan pertanian. Selain para imam, suster,
bruder, biarawan dan biarawati dalam negeri, paroki ini juga menjadi tempat
berkarya para misionaris asing.
Umat selalu
ambil bagian bersama para misioanris yang berkarya di Boto. Mereka juga sangat
mengasihi misionaris yang berkarya di Boto. Umat juga mengenal jasa baik para
misionaris. Misalnya, Pastor Jan Knoor SVD, Pastor Bernard Bode SVD, Pastor
Nicholas Strawan SVD, adalah imam SVD yang menggantikan posisi Pater Bode
sebagai Pastor Paroki Boto. Sr Amaria SSpS dan Sr Dorothildis SSpS adalah dua misionaris
asal Jerman yang lama mengabdi di Boto. Begitu pula Pastor Nicholas Strawn SVD
(87), imam asal Amerika Serikat yang mengabdi sebagai Pastor Paroki Boto dan
saat ini masih sehat dan melayani umat di Rumah Sakit Bukit Lewoleba, kota
Kabupaten Lembata.
“Gereja sangat berjasa pada pertumbuhan dan perkembangan iman umat. Karya besar rintisan mereka seperti Poliklinik Santo Rafael, SDK Boto, dan rumah Pastor Jan Knoor SVD hingga kini masih terawat baik. Rumah Pater Jan Knoor ini dijadikan Komunitas SSpS Boto. Banyak bibit panggilan hidup menjadi pelayan Sabda tumbuh dari kampung kecil ini. Para imam dan biarawati, suster dan bruder saat ini mengabdi tak hanya di dalam namun juga luar negeri,” ujar Fredy Mudaj, Ketua Pantia Pembangunan Gereja Santu Joseph Boto.***
BERANDANEGERI.COM,- Jelang Pekan Suci dalam kalander Liturgi Gereja Katolik, Paguyuban Alumni SMPK St, Gabriel Sarotari Larantuka Angkatan 1-6, berkunjung ke kediaman Romo Eman Temaluru, di Paroki Leworahang-Lewolema, Flores Timur, Minggu, (21/3).
Selain sebagai kunjungan silaturahmi sesama alumni, karena Romo Eman juga adalah alumni SMPK Gabriel, kesempatan kunjungan ini digunakan untuk bersiarah ke Gua Maria Bintang Laut atau biasa disebut Gua Siput.
Gua Siput , merupakan gua yang didesain unik dan menarik lantaran patung Bunda Maria menggendong kanak Yesus diletakan di dalam gua yang berbentuk siput.
Para alumni SMPK St. Gabriel Sarotari Larantuka, saat berkunjung ke Gua Maria Bintang Laut, atau biasa disebut Gua Siput
Gua yang didirikan di Stasi Agustinus Kawaliwu ini, memiliki halaman yang cukup luas untuk para peziarah yang hendak datang berdoa ke tempat ini.
Letak gua pun berada di antara pepohonan, menjadikan tempat ini sangat sejuk dan nyaman. Selain menjadi ruang terbuka untuk doa, membelakangi tempat ini terlihat hamparan laut teluk Flores nan indah.
Karena itu, bagi pesiarah yang datang, setelah berdoa, tempat ini dapat menjadi objek untuk berfoto serta beristirahat.
“Gua ini sepertinya masih baru, tapi kami sungguh merasa senang berada di sini karena tempatnya indah, tenang dan menarik. Kami akan kembali ke sini dan menjadikan tempat ini tempat ziarah keluarga,” ungkap salah satu alumni yang mengikuti kegiataan ini.
Leworahang berada pada arah barat kota Larantuka dan hanya satu jam dari pusat kota, dengan kendaraan roda dua atau empat dapat menemui tempat nan nyaman dan tenang ini.
Berbeda dengan Larantuka yang memiliki pantai di bagian selatan, Leworahang dan Kawaliwu memiliki pantai di bagian utara atau berada peris dalam teluk pulau Flores.
Letak tempat ini berdekatan dengan tempat wisata air panas Kawalilu yang berada di dalam teluk Flores bagian utara. “Ayo ke Gua Siput ! (bn)
Catatan : Berita ini telah dikoreksi setelah mendapat komentar pembaca. (Red)
Moanemani – Asosiasi Bupati Wilayah Meepago yang terdiri dari Bupati Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai, Intan Jaya, dan Mimika, Provinsi Papua mengimbau warga masyarakat Papua di wilayah Meepago untuk menjaga keamanan dan ketertiban menjelang sidang putusan sengketa Pemilihan Bupati Nabire tahun 2020 yang akan berlangsung di Mahkamah Konstitusi RI pada Jumat, 19 Maret 2021.
“Mahkamah Konstitusi RI sudah menjadwalkan pembacaan putusan perselisihan hasil Pemilihan Bupati Nabire tahun 2020 yang akan berlangsung di Gedung MK Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta pada Jumat, 19 Maret 2021. Karena itu, Asosiasi Bupati Meepago mengimbau warga wilayah Meepago tetap menjaga keamanan dan ketertiban,” ujar Yakobus Dumupa, SIP, M,Si, Sekretaris Asosiasi Bupati Meepago, Papua, dalam keterangan tertulis yang diterima berandanegeri.com dari Moanemani, Kabupaten Dogiyai, Papua, Rabu, (17/3 2021).
Pilkada
Kabupaten Nabire merupakan satu dari 114 kasus permohonan perselisihan hasil
Pilkada 2020, baik gubernur, bupati dan wali kota yang disidangkan secara
langsung maupun daring di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Sengketa
Pilkada Nabire 2020, dijadwalkan akan diputuskan pada Jumat, 19 Maret ini.
Menurut Yakobus
Dumupa, lulusan Program Pascasarjana (S-2) Sekolah Tinggi Pembangunan
Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta, Asosiasi Bupati Meepago menyampaikan
sejumlah hal penting kepada warga masyarakat, simpatisan, koalisi partai
pendukung, dan semua pihak agar keamanan dan ketertiban tetap terjaga di
wilayah Meepago.
Pertama, kepada para pihak yang bersengketa, terutama para pasangan calon dan pendukungnya diminta agar menjaga kedamaian dan keharmonisan hidup pasca putusan Mahkamah Konstitusi dan secara bersama-sama mendukung dan melaksanakan putusan MK.
“Semua pihak dilarang
menyampaikan hinaan, menyebarkan fitnah dan berita bohong terkait putusan MK.
Dilarang juga melakukan tindakan-tindakan saling memprovokasi antara satu sama
lain, yang dapat menyebabkan terjadi kekerasan dan kerusuhan,” kata Dumupa.
Kedua, apapun hasil putusan MK harus dilaksanakan oleh para pihak secara baik dan benar. Pihak yang akan diperintahkan untuk melaksanakan putusan MK harus bekerja secara baik, benar, jujur dan adil serta imparsial, tidak memihak. Ketiga, perlu diingat bahwa urusan politik sangat penting, namun persaudaraan dan persahabatan jauh lebih penting.
“Kami mengimbau warga Meepago agar tetap menjaga persaudaraan dan persahabatan antara satu sama lain, sekalipun berbeda dukungan dan pilihan politik. Marilah kita ciptakan kehidupan di wilayah Meepago yang aman dan damai. Masyarakat wilayah Meegapo dan tanah Papua umumnya adalah tipikal masyarakat yang taat menjaga adat-istiadat warisan leluhur, terutama saling menghargai satu sama lain,” kata Dumupa, mantan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP).
MOANEMANI – Bupati Kabupaten Dogiyai, Papua, Yakobus Dumupa, Rabu (3/3 2021) memberikan bantuan berupa beras dua ton untuk pengungsi konflik di Kabupaten Intan Jaya.
Bantuan itu diberikan menyusul meletus perang terbuka antara aparat Tentara Nasional Indonesia-Kepolisian Republik Indonesia (TNI-Polri) dengan Tentara Nasional-Organisasi Papua Merdeka (TPN-OPM) di wilayah Intan Jaya.
“Bantuan ini saya berikan atas nama rasa kemanusiaan yang dialami warga. Saya prihatin dengan warga sipil yang menjadi korban akibat konflik atau perang terbuka antara TNI-Polri dan TPN-OPM. Warga sipil adalah pihak yang tidak bersalah dalam konflik. Mereka adalah korban konflik tersebut sehingga mereka harus ditolong,” ujar Dumupa dalam keterangan tertulis sebagaimana diterima berandanegeri.com, Rabu (3/3/2021).
Menurut Dumupa, bantuan beras sebesar 2 ton atau 2000 kilogram untuk korban konflik Intan Jaya tersebut diserahkan melalui KAPP Intan Jaya di Nabire. Sejumlah warga sipil korban konflik Intan Jaya mengungsi ke Nabire, Papua.
Ket. Foto: Beras Bantuan Bupati Dogiyai untuk Korban Konflik Intan Jaya
Yakobus,
mantan anggota Majelis Rakyat Papua, menambahkan pihaknya berharap bantuan yang
diberikan tersebut dapat disalurkan dengan baik kepada sebagian korban yang
saat ini berada di pengungsian.
“Saya
berharap kiranya bantuan ala kadarnya ini membantu meringankan beban pengungsi.
Saya juga meminta para korban tetap memiliki semangat hidup. Sebagai umat
beriman, saya juga mendoakan warga semoga Tuhan bersama mereka,” katanya.
Bupati
yang baru saja menyelesaikan studi S-2 di Sekolah Tinggi
Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta
Yogyakarta ini juga mengajak semua pihak untuk mengulurkan tangan membantu
warga korban konflik Intan Jaya. Bantuan sekecil apapun, ujar Bupati Dumupa,
sangat membantu meringankan beban penderitaan yang tengah dialami warga korban
konflik Intan Jaya.
Ia
memandang, konflik atau perang terbuka di Intan Jaya sebenarnya tak mesti
terjadi di tengah kerja keras pemerintah pusat dan pemerintah daerah menangani
virus korana global (pandemik) yang nyaris membuat ekonomi warga di daerah
kelimpungan.
Sejak
pekan
pertama Februari 2021 pecah konflik antara TNI-Polri dan TPM-OPM di Intan Jaya.
Menyusul konflik tersebut, sekitar 600 orang warga korban dilaporkan mengungsi
korban. Mereka sempat bertahan di gereja Gereja Katolik St Misael Bilogai,
Intan Jaya Bilogai, Intan Jaya.
Sebagian warga korban
mengungsi di sejumlah kabupaten tetangga seperti Nabire. Jumlahnya dilaporkan terus
meningkat di tengah eskalasi konflik. Konflik Intan Jaya dikhawatirkan
mengganggu umat Kristiani yang tengah bersiap merayakan Paskah.
Informasi yang
diperoleh dari Nabire menyebutkan, seorang imam Katolik Pastor Benyamin
Sugiyatanggu Magay di Nabire menemui warga dari Intan Jaya yang mengungsi ke
Kabupaten Nabire menyusul eskalasi konflik di tempat asal mereka di Intan Jaya
yang terus meningkat.
“Kekerasan hanya hanya akan melahirkan kekerasan baru. Peperangan dalam bentuk apapun tidak menyelesaikan masalah. Saya berharap agar para pihak yang bertikai atau berperang segera duduk bersama mencari solusi damai dan bermartabat. Saya juga turut berduka atas meninggalnya sejumlah warga masyarakat, anggota TNI dan Polri, dan anggota TPN-OPM akibat konflik dan perang tersebut. Semoga mereka mendapatkan tempat yang layak di Surga,” kata Dumupa.***
PEMUDA KATOLIK Komda Jabar melakukan kunjungan silaturahmi ke Paroki Santa Maria Para Malaikat di Jl. Raya Cimacan No.93, Cipanas, Cianjur, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, Minggu, (28/02/2021).
Kunjungan
silaturahim Ketua Pemuda Katolik Komisariat Jawa Barat Edi Silaban yang
didampingi oleh Wakil Sekretaris Bidang Hukum Eduardus Estuaji Enggar Bawono,
S.H. merupakan kunjungan kali pertamanya sejak dilantik oleh Mgr. Antonius Bunjamin
Subianto, OSC pada 2019 lalu.
Silaturahmi Pemuda Katolik
“Kunjungan
silaturahim ini sudah di rencanakan sebulan lalu. Karena, Pengurus Paroki
sedang fokus pada protokol kesehatan memasuki masa Prapaskah. Ucapan terima
kasih kami dapat berkunjung wilayah Kabupaten Cianjur khususnya Paroki
Cipanas” kata Edi Silaban.
Kedatangan
Pemuda Katolik menemui RP Ignatius Widiaryarso, OFM untuk silaturahmi sekaligus
memperkenalkan kembali organisasi Pemuda Katolik di wilayah Kabupaten Cianjur.
Edi Silaban
menegaskan bahwa berkomitmen untuk menjalin komunikasi serta memperluas
jaringan sosial kemasyarakatan termasuk menghadirkan Pemuda Katolik di
Kabupaten Cianjur.
“Menghadirkan
Pemuda Katolik di Kabupaten Cianjur menjadi prioritas utama. Lalu kedepan akan
mengembangkan komunikasi serta menumbuhkan hubungan Sosial Masyarakat bersama
berbagai stakeholder di Cianjur ” ujar Edi.
Pastor Santa
Maria Para Malaikat Gereja RP Ignatius Widiaryarso, OFM menyambut baik
silaturahmi Pemuda Katolik di Kab. Cianjur.
“Selamat
datang di Cipanas. Paroki ini sendiri mencakup 11 lingkungan mencakup dari 2
wilayah dengan jumlah umat terbaru 292 KK” paparnya.
Dalam
konteks kepemudaan, lanjut Romo Widi, memiliki konsen yang sama agar tak ada
munculnya istilah alergi pada isu sosial masyarakat.
“Orang
muda kita memang perlu di dorong membangun sebuah kesadaran bersama terkait isu
sosial kemasyarakatan. Maka, mendukung langkah silaturahmi Pemuda Katolik dan
mendorong isu-isu nasionalisme” ujarnya.
Romo
berharap kedepan Pemuda Katolik dapat hadir di Kabupaten Cianjur sekaligus
memberikan warna baru di daerah ini.
Dalam pertemuan ada beberapa pokok pembahasan antara lain terkait situasi kebangsaan di Cianjur, masalah sosial kemasyarakatan, isu politik, hukum dan berbagai pembahasan lainnya. Kegiatan ditutup dengan komitmen bekerja sama dalam berbagai animasi kegiatan.
SEJAK tahun 1970-an iman
Katolik mulai dirintis di wilayah Bojonggede dan sekitarnya. Para pionir waktu
itu berjumlah sekitar 12 KK. Sebagian mereka bekerja sebagai guru di
sekolah-sekolah Inpres. Hari ini (22/2) benih iman Katolik yang telah lama
ditanam itu mulai menampakan buah-buah nyata. Diresmikannya paroki baru dengan
nama Paroki Santa Faustina Kowalska Tajurhalang, Keuskupan Bogor merupakan
salah satu buah dari penaburan benih iman Katolik di masa lalu.
Kehadiran Bapak
uskup Bogor Mgr. Paskalis Bruno Syukur, OFM selaku gembala umat yang meresmikan
paroki Santa Faustina dan sekaligus
melantik para pengurus Dewan Pastoral Paroki (DPP) dan Dewan Keuangan
Paroki (DKP) memberi semangat baru bagi semua yang hadir.
“Pada peristiwa seperti ini saya selalu mengatakan kembali apa
yang pernah disampaikan Paus Yohanes Paulus II bahwa inilah sejarah kita dengan tiga dimensinya. Sejarah
masa lalu yang mengingatkan kita untuk selalu bersyukur. Masa kini mendorong
kita untuk memiliki semangat antusias. Selalu berada bersama Allah dan
mengikuti kehendak-Nya sekalipun kita sedang menghadapi wabah. Sedangkan masa
depan membuat kita selalu memilik harapan besar akan cita-cita kebaikan
bersama”, ujar Monsignor Paskalis.
Acara peresmian yang
berlangsung dalam suasana protokol ketat ini diawali dengan perayaan ekaristi
yang dipimpin langsung oleh Bapak Uskup Paskalis dan didampingi oleh Pastor
Paroki Santa Faustina Romo Mikail Endro Susanto dan Pastor Vikaris Romo Christo
Lamensani.
Sejumlah tamu undangan juga turut hadir para perayaan iman tersebut. Di antaranya Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Katolik Bapak Yohanes Bayu Samodro, S.Pd, MPd, Anggota DPR RI F-PDIP Ibu My Esty Wijayati, dan Anggota DPRD F-PDIP Kabupaten Bogor Bapak Sitorus Robinson Sitorus.
“Gereja berpelindungkan
Santa Faustina ini menunjukan sebuah komunitas beriman yang saling meneguhkan,
seorang Santa yang telah mewariskan keutamaan rohani dalam gereja katolik.
Semoga umat bertumbuh dalam iman yang kokoh”, ujar Yohanes.
Yohanes
menambahkan bahwa sekarang perjuangan umat Katolik di Bojonggede ini bukan
hanya sekedar perjuangan tapi sebuah peziarahan. Ziarah umat beriman yang ditandai dengan komunitas
beriman yang telah berjalan dan terbina dengan baik, tertata rapi wilayah
teritorialnya, ketersediaan rumah pastoral, serta komitmen untuk melaksanakan
pancatugas gereja seperti liturgia, koinonia, kerygma, diakonia, dan martyria.
Puncak acara persemian ditandai dengan penandatangan prasasti oleh Bapak Uskup Paskalis. Sebuah prasasti dengan tulisan “Dengan Rahmat Allah yang Maha Rahim Yang Mulia Bapak Uskup Sufragan Bogor Mgr. Paskalsi Bruno Syukur OFM Berkenan Meresmikan Paroki Santa Faustina Kowalska Tajurhalang , Bogor, 22 Februari 2021” senantiasa mengingatkan umat akan momentum bersejarah ziarah iman umat Katolik di wilayah Bojonggede, Bogor.
Sebelum ke acara puncak peresmian, dilaksanakan pula acara peluncuran buku Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Iman Katolik di Tatar Bojonggede. Penulis buku, Thomas Ataladjar didampingi dua editor yakni Daniel Mangu dan Frans Asisi Datang, membacakan resensi buku dan sekaligus menyerahkan beberapa buku kepada Romo Endro untuk ditandatangani Uskup Bogor dan Dirjen Bimas Katolik. Dari beberapa buku yang ditandatangani, tiga buku berhasil dilelang ke umat yang hadir. ***