Category: BERITA

  • Saleh Husin Bacakan Puisi Karya Taufik Ismail dalam Acara “Puisi demi Kemerdekaan”

    Jakarta, berandanegeri.com. Kalangan civitas academica dan alumni Universitas Indonesia (UI) menggelar acara “Puisi Demi Kemerdekaan” dalam rangkaian memperingati Kemerdekaan Republik Indonesia yang telah berusia 75 tahun secara virtual pada Sabtu (22/8/2020).

    Pada acara yang digagas Guru Besar Teknik Komputer di Departemen Teknik Elektro, Fakultas Teknik UI Prof. Dr. Ir. Riri Fitri Sari MM. MSc bersama teman teman ini, Ketua Majelis Wali Amanat (MWA UI) Saleh Husin tampil secara bergantian dengan Rektor UI Prof. Ari Kuncoro, SE, MA, Ph.D, Ketua Senat Akademi UI Prof Nachrowi Djalal , Ketua Dewan Guru Besar UI Prof Harkristuti Harkrisnowo dan para dekan serta para profesor di lingkungan UI.

    Saleh Husin membacakan puisi karya Taufik Ismail berjudul “Kerendahan Hati”, sedang Rektor UI Prof Ari Kuncoro membacakan puisi karya Chairil Anwar yang berjudul “Diponegoro”. Sementara Prof Riri Fitri Sari sendiri membacakan puisi berjudul ” Cerita Buat Dien Tamaela” karya Chairil Anwar.

    Prof Riri mengatakan, Kemerdekaan Indonesia yang telah berusia 75 tahun pada 17 Agustus 2020 patut disyukuri, dihayati, dan direfleksikan. Melalui pembacaan goresan pena para penyair, para pembaca puisi menyuarakan syukur, penghayatan, dan juga pemaknaan atas usia kemerdekaan ini.

    Acara “Puisi Demi Kemerdekaan” ini sebenarnya berawal dari suatu kegiatan untuk mengenang Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono, tokoh sastrawan Indonesia, dengan membacakan puisi-puisi karya almarhum secara virtual melalui zoom pada tanggal 25 Juli 2020.

    Dari acara itu lahirlah gagasan untuk membentuk Poetry Reading Society of Indonesia. Pembacaan puisi secara virtual, di tengah pandemi corona itu, ternyata memberi kesan mendalam bagi para pembaca dan audiens, sehingga disepakati untuk dilanjutkan pada kesempatan lain.

    Para pembaca puisi merupakan civitas academica dan alumni UI. Kepesertaan pembaca puisi bersifat terbuka dan sukarela. Diharapkan kegiatan ini menjadi ajang pertemuan dan apresiasi sastra Indonesia yang unik dan prestise, karena telah diawali oleh 26 Guru Besar dan Akademisi UI yang kesehariannya sangat sibuk, namun ternyata memiliki waktu hening yang menjelma menjadi kemampuan menikmati kata-kata.

    Kegiatan olah rasa dan seni dari civitas academica UI ini diadakansecara regular pada hari Sabtu minggu ketiga setiap bulan, pukul 14.00—17.00 WIB, dengan tema yang berbeda.

    Momen merayakan Hari Jadi Negara Republik Indonesia pada 17 Agustus tahun 2020 ini disepakati sebagai ajang pertemuan yang ke-2, secara virtual, untuk membacakan puisi-puisi bertema kemerdekaan.

    Pada acara “Puisi Demi Kemerdekaan” ini sebagian besar pembaca puisi memilih puisi karya penyair kenamaan Indonesia: Taufiq Ismail, Chairil Anwar, Sapardi Djoko Damono, K.H. Mustofa Bisri (Gus Mus), W.S. Rendra, Sutardji Calzoum Bachri, Toto Sudarto Bachtiar, Asrul Sani, Usmar Ismail, Sitor Situmorang, Sukanto S.A., Rayhandi, Joko Pinurbo dan Douglas Malloch. Beberapa yang lain membacakan puisi hasil renungannya sendiri tentang kemerdekaan.

    Ada pula yang membacakan lagu terkenal karya: H. Mutahar, Ismail Marzuki, dan Rossa. Juga ada yang membacakan mini prosa atau cerpen.

    Diharapkan Zoom Poetry Reading ini menjadi salah satu bentuk ungkapan cinta tanah air dan penghormatan yang luhur kepada para pahlawan bangsa yang telah berkorban demi terwujudnya Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini. Juga penghormatan dan apresiasi kepada para penyair Indonesia yang telah menggoreskan cerita tentang perjalanan kemerdekaan ini dari masa ke masa.

    “Mengutip ungkapan mantan Rektor UI dan Mendiknas, almarhum Prof. Fuad Hassan, “Panji-Panji Ilmu dan Seni Berkibar di Almamater Ini”, semoga semangat merenung, menulis, dan mengekspresikan pikiran melalui karya sastra ini menyebar ke seluruh nusantara, ” kata Prof Riri. * (AD)

  • Tifaona Pimpin Bank NTT Mbai

    Tifaona Pimpin Bank NTT Mbai

    SETIAP akhir pekan, ia selalu mampir di kos saya di Oebobo, depan toko Calvary, Jalan WJ Lamalentik, Oebobo atas, tak jauh dari lampu merah El Tari, depan kantor Gubernur Nusa Tenggara Timur. Kalau bukan kangkung Oeba atau ubi kayu, bunga dan daun atau bunga pepaya ada di kantong kresek hitam. Matias Nara Tifaona atau akrab dengan sapaan Tyas segera bergabung dengan sesama anak kos yang rata-rata dari lereng Labalekan yang tengah melanjutkan kuliah di berbagai perguruan tinggi di Kupang. Tatkala saya mendata beberapa mahasiswa asal Nagawutun dan Wulandoni untuk saya himpun dalam wadah Ikatan Pelajar Mahasiwa Paroki St Joseph Boto (IMPB) Kupang, Robertus Rudi Olaguna (Rudy), mahasiswa Fakultas Teknik Universitas Katolik (Unika) Widya Mandira Kupang nyeletuk polos.menyebut nama Tyas Tifaona.

    “Ada satu juga orang Fafelima yang kuliah di Fakultas Ekonomi Unika. Beberapa kali saya sempat bertemu. Tapi saya kurang begitu kenal. Dia tinggal di Oeba. Baik juga kalau dia kita ajal gabung di organisasi kita ini,” ujar Rudy Pukan. Kami ketawa. Ketawa karena Rudy menyebut “Fafelima”, kampung asal Tyas Tifaona. Fafelima atau lebih pas Faflima adalah sebutan akrab di kalangan warga pedalaman lereng Labalekan untuk Imulolong. Sedang orang Fafelima yang dimaksud adalah Matyas Nara Tifaona. Sebagai sesama mahasiswa asal Lembata di lereng Labalekan, Tyas beberapa kali sudah sering mampir di kos saya di Oebobo. “Sayur-sayuran, pisang, dan aneka buah-buahan di Pasar Oeba sangat banyak. Jadi, saya mampir sebentar sekalian beli sayur dan ikan tembanh baru naik bemo lampu 6 jurusan terminal Kupang arah Oebufu. Nanti bisa tambah-tambah kita makan siang atau makan malam bersama di kos kaka,” katanya.

    No Tyas, begitu saya menyapanya sudah beberapa kali bertemu saat saya masih sekolah di Lewoleba kurun waktu 1987-1990. Setelah bergeser dari Ur(u) Mitem ke Bluwa, Lewoleba, saya tinggal di rumah Pak Markus Kedati Klobor, tak jauh dari rumah Pak Yohanes Galot Tifaona, ayah Tyas Tifaona. Sesekali saya bertemu Pak John dan isterinya yang singgah di Bluwa di tengah ia menunaikan tugas sebagai pegawai penyuluh lapangan Keluarga Berencana Kecamatan Atadei di Kalikasa. “Bapa pernah cerita ibu jari kaki pernah ketiban batu saat ikut bantu tukang gali perigi di rumah kami di Bluwa. Kukunya sampai terlepas,” kata Tyas Tifaona kepada saya mengulang cerita Pak John Tifaona, sang ayah. Saya pun “buka kartu” pengalaman unik saat masih sekolah di SMA Kawula Karya Lewoleba. Saya dan dua sahabat, Gerardus Ratu dari Ndondo, Ende dan Eman Kia Tokan pernah tak makan sehari saat berangkat sekolah. “Periuk nasi satu-satunya dibawa anjing dan raib entah kemana. Usai kami masak nasi dan ikan lupa cuci dan gantung di dinding. Sekitar jam 07.00 lewat, anak-anak sekolah yang berjalan menuju sekolah di atas bukit menemukan periuk tergeletak di pinggir jalan. Ternyata periuk itu dibawa anjing karena masih amis. Dengan kecewa saya ambil periuk itu lalu bawa ke dapur dan segera berangkat sekolah tanpa sarapan sampai jam pelajaran siang,” kata saya. Kami ngakak di kos Oebobo.

    Lama tak bersua

    Usai menunaikan kuliah saya memilih masuk Jakarta. Sejak awal kuliah, saya mewujudkan niat masuk Jakarta. Tujuannya, dua adik saya juga punya kesempatan kuliah. Adik saya, Paul, memilih masuk Dili, Timor Timur membantu kaka Albert Glinger de Ona, seorang kerabat dari kampung yang sudah lama menjadi mandor hutan tanaman industri (HTI). Paul bergabung sebagai buruh HTI di Kabupaten Kovalima dan tinggal di Foholulik, tak jauh dari Suai, kota Kabupaten Kovalima. Sejak itu, saya juga kehilangan kontak dengan Tyas Tifaona setelah ia menyelesaikan kuliah jurusan Manajemen Fakultas Ekonomi Unika Widya Mandira Kupang.

    “Untung ada medsos jadi kita bisa bertemu kembali. Saya berterima kasih kita pernah merasakan dan melewati masa-masa sulit saat masih tinggal di Kupang,” kata Tyas Tifaona saat kami bertemu di kompleks Gedung DPR/MPR RI Senayan, Jakarta tahun 2016. Beberapa hari sebelumnya, Tyas mengontak saya via telepon selular. Ia meminta kami bertemu usaia ia mengikuti Ujian Sertifikasi Manajemen Resiko Level 1 kerjasama Bank NTT dengan Badan Sertifikasi Manajemen Resiko di Jakarta. Tyas mengaku, setelah lulus kuliah, ia melamar dan diterima bekerja di Bank NTT. “Rejekinya diterima bekerja di Bank NTT. Ya, saya syukuri saja apa pekerjaan saat ini. Tuhan selalu menunjuk jalan kepada kita selama kita meniatkan hati dengan tulus untuk mengabdi bangsa dan negara,” kata Tyas merendah.

    Namun, kabar gembira datang dari Tyas Tifaona. Sejak 18 Agustus 2020 lalu, pihak manajemen Bank NTT mempercayakan Matias Nara Tifaona sebagai Pemimpin Cabang Bank NTT Mbai, Kabupaten Nagekeo, Flores. Tyas bersama 11 orang rekannya mengikuti seleksi untuk mengisi empat pos pimpinan cabang Bank NTT Cabang Surabaya, Bajawa, Labuanbajo, dan Mbai. Setelah melewati seleksi, enam orang lulus kemudian mengikuti seleksi lanjutan. “Saya temasuk yang dinyatakan lolos. Kemudian dipercaya sebagai Pemimpin Cabang Bank NTT Cabang Mbai sejak 18 Agustus lalu. Saya baru saja melapor diri kepada Bupati Nagekeo, Pak Don Bosko sebelum memulai tugas di Mbai,” kata Tyas.

    Ket. Foto: Matias Nara Tifaona bersama Bupati Ngada Don Bosko dan staf Bank NTT cabang Mbai

    Siapa Matias Nara Tifaona? Tyas berasal dari Dusun Imulolong (Faflima), Kecamatan Wulandoni, Lembata. Lahir di Hadakewa, 6 Oktober 1978 dari pasangan Yohanes Galot Tifaona & (alm) Rosa Kedapi Ikeng. Tyas tamat Sekolah Dasar Katolik (SDK) Kalikasa dan SMP Negeri 1 Kalikasa, Atadei. Tyas melanjutkan sekolah di SMA Negeri Lewoleba. Ia kemudian masuk jurusan Manajemen FE Unika Widya Mandira Kupang tahun 1996 dan selesai 2002. Tahun 2005, ia diterima bekerja di Bank NTT Cabang Lewoleba. Hanya selang setahun, pada 2006 ia pindah ke Labuanbajo, Manggarai Barat, Flores hingga Mei 2008. Pada Juni 2008 ia dipindahkan ke Pulau Sabu, Kabupaten Sabu Raijua.

    “Tahun 2011 saya diberi kepercayaan menjadi Koordinator Unit Simpan Pinjam Desa ata USPD Sabu Timur. Kemudian tahun 2015 dipindahkan menjadi Kepala Kas Cabang RSUD dr Hendrik Fernandez Larantuka. Tak lama, tahun 2017 menjadi Kepala USPD Boru, Kecamatan Wulanggitan. Kemudian pada Maret 2019 menjadi Pemimpin Bank NTT Cabang Pembantu Boru. Pada Juni 2019 menjadi Wakil Pemimpin Cabang Sabu. Pada Februari 2020 dipercaya sebagai Wakil Pemimpin Cabang Larantuka sebelum pindah ke Mbai,” kata Tyas Tifaona, suami Wilhelmina Korebima dan ayah dua putra: Nopa dan Johan.

    Semasa kuliah Tyas aktif sebagai anggota Resimen Mahasiwa (Menwa) Unika Widya Mandira. Di luar kampus, ia adalah anggota Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia Cabang Kupang. Ia menyadari sebagai mahasiswa organisasi intra dan ekstra universiter adalah wadah efektif menempah diri untuk masa depan di mana saja ia bekerja. Disiplin dan kerja keras adalah sesuatu yang dibutuhkan. Pengalaman perjuangan orangtua dan saudaranya dari Imulolong hingga meraih sukses adalah pelajaran hidup yang selalu ia jadikan cermin. Kedua orangtuanya juga selalu memotivasi dirinya dalam berjuang menggapai cita-citanya. “Nasehat kedua orangtua selalu saya pegang. Sukses itu sekadar konsekuensi dari konsistensi kita dalam bekerja keras dan bekerja cerdas. Selebihnya, doa adalah hal yang tak bisa ditawar,” katanya.

    Kisah sukses orang-orang dari lereng Labalekan selalu menjadi inspirasi hidup. Tyas menyebut, sosok Btigjen Pol (Purn) Anton Enga Tifaona, sang kakek adalah orang yang selalu memotivasi banyak anak kampung dalam bertahan hidup dan sukses meraih karier di berbagai bidang. Entah imam, suster, bruder, guru bahkan petani. Begitu juga putera Anton Enga Tifaona, Kombes Pol Daniel Boli Tifaona, yang saat ini berdinas di Mabes Polri. “Saat opa Anton liburan di Imulolong, ia berpesan agar generasi muda tak boleh patah semangat meski kami masih serba kekurangan sana sini. Namun, kalau sudah punya semangat berjuang maka sukses pasti akan kita raih,” kata Tyas Tifaona. Selamat bertugas, ade kepala. Salam ke Mbai. Dewa beka. Molo…

    Jakarta, 21 Agustus 2020

    Ansel Deri
    Orang udik dari kampung;
    Catatan untuk Tyas Tifaona

  • Anggota DPR Mekeng Beri Bantuan Warga Terdampak Covid-19

    Anggota DPR Mekeng Beri Bantuan Warga Terdampak Covid-19

    ANGGOTA Komisi Keuangan dan Perbankan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI Melchias Markus Mekeng, Rabu (19/8 2020) menyerahkan sebanyak 610 paket bantuan sembako kepada warga masyarakat Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur di wilayah Jakarta, Bogor, Tangerang, Depok, dan Bekasi (Jabodetabek).

    Penyerahan bantuan secara simbolis itu diserahkan Melchias, anggota DPR dari Partai Golkar Daerah Pemilihan Nusa Tenggara Timur 1 itu kepada pengurus Keluarga Besar Lembata Jakarta Jou Hasyim Waimaing dan sesepuh Lembata Jakarta sekaligus Ketua Umum Induk Koperasi Unit Desa (KUD) Herman Yosef Loli Wutun di Lantai 7 Graha Induk KUD Jalan Warung Buncit Raya, Jakarta Selatan disaksikan sejumlah warga asal Lembata di Jakarta.

    “Bantuan ini tidak seberapa namun bisa membantu meringangkan saudara-saudara kita daru NTT di Jakarta yang terdampak covid. Kami juga sudah memberikan bantuan serupa kepada saudara-saudara kita asal Sikka di Jakarta. Kegiatan ini didukung pihak Bank Tabungan Negara yang care juga terhadapa warga masyaraat terdampak covid,” ujar Mechias Mekeng, mantan Ketua Badan Anggaran DPR RI. Demikian keterangan yang diterima media ini, Kamis (20/8).

    Saat penyerahan paket bantuan tersebut, Mekeng yang saat ini menjabat Wakil Ketua Umum DPP Partai Golkar didamping stafnya yakni Herman Hayong, Erwin Richardo Silalahi, Fransiskus Xaverius Namang, dan Alexander Atawolo. Sejumlah perwakilan masyarakat Lembata dari berbagai kecamatan juga hadir saat itu. Mereka antara lain pemilik dan pelatih tinju dari Lembata King Box Camp Jakarta Wilhem Lojor, sejumlah wartawan asal Lembata seperti Ansel Deri, Ferdinand Lamak, John Laba Wujon, tokoh muda asal Lembata Andreas Lagar Koban, dan sejumlah warga asal Lembata.

    Lembata akan maju

    Lembata di mata Mekeng, Lembata adalah pulau yang sangat indah dengan potensi alam luar biasa besar namun belum dikelola dengan baik. Landasan pacu bandara Wunopito perlu diperpanjang lagi dengan frekuensi penerbangan rutin maka daerah itu akan menjadi destinasi wisata unggulan yang sangat menarik.

    Lembata, Foto Harri Daryanto

    “Periode ini saya sudah berniat untuk fokus mendorong anggaran memajukan Lembata setelah Kabupaten Flores Timur di ujung timur Flores. Di Flores Timur saya sudah bantu dorong pembangunan ratusan kilo meter jalan. Saya sudah sampaikan kepada Menteri Keuangan Sri Muliani bahwa periode saya di DPR kali ini akan saya fokus membantu Lembata. Sayangnya, tiba-tiba covid-19 melanda Indonesia dan negara ngga punya duit lagi. Saya berharap kalau covid-19 sudah hilang dan APBN kita sudah sehat, Lembata akan jadi perhatian saya,” kata Melchias Mekeng.

    Herman Wutun mengaku berterima kasih kepada Melchias Markus Mekeng atas kepeduliannya terhadap warga masyarakat, terutama dari Lembata di wilayah Jabodetabek. Kehadiran wakil rakyat ini, jelas Wutun, tak sekadar sebagai salah seorang tokoh politik Flores atau NTT namun seorang tokoh nasional yang puluhan tahun merasul, mengabdi sebagai garam dan terang bagi sesama di jalur politik dan wirausahawan.

    “Sebagai anggota DPR, Pak Melki ke sini bukan karena warga Lembata terdampak covid. Namun, lebih dari itu Graha Induk KUD adalah himpunan para petani dan nelayan seluruh Indonesia yang tergabung dalam koperasi KUD. Kami berdoa setelah beranjak dari sini, tapak kaki Pak Melki tetap berada dengan petani dan nelayan dalam wadah koperasi,” kata Herman Wutun, yang sudah memimpin Induk KUD empat periode.

    Jou Hasyim mengaku berterima kasih kepada Melchias Markus Mekeng atas kepeduliannya kepada warga asal Lembata di Jabodetabek. Dampak pandemi covid-19, jelas Jou, sangat dirasakan warga asal Lembata di Jakarta. “Hampir seluruh warga kita terdampak covid. Karena itu sebagai pengurus saya menyampaikan terima kasih kepada Pak Melki sebagai anggota DPR asal NTT. Kami terharu karena masih banyak wakil rakyat yang peduli dengan sesamanya. Insya Allah bantuan ini meringangkan beban mereka. Kami juga doakan, semoga Pak Melki sehat selalu dalam tugas,” kata Jou, yang juga pengacara. (AD)

  • Pustakawan Ditantang Lebih Eksis Berikan Informasi

    Pustakawan Ditantang Lebih Eksis Berikan Informasi

    BNC,- Pesatnya teknologi  tentunya memudahkan terjadinya diseminasi informasi. Kepala Perpustakaan Nasional, Muhammad Syarif Bando, secara khusus menantang para pustawakan untuk berani menuliskan ide-ide serta gagasannya melalui berbagai media, termasuk media sosial. Kongres di Ciawi pada 1973 membawa pesan penting bahwa kata pustakawan merupakan simbol persatuan untuk membangun perpustakaan ke arah lebih maju.

    Hal tersebut disampaikan Kepala Perpusnas saat memberikan arahan pada Peringatan Hari Pustawakan, dan Ulang Tahun ke-47 organisasi Ikatan Pustawakan Indonesia (IPI) sekaligus Seminar Internasional Kepustakawanan yang digelar secara Webinar di Jakarta, Selasa, (7/7).

    Bahkan, jauh sebelum Kongres Ciawi, Presiden Soekarno pada 1959, disebut-sebut telah meletakkan dasar-dasar pentingnya perpustakaan umum. “Namun, ini masih perlu dikaji, ditelaah dan dibahas oleh para pustakawan,” imbuh Syarif Bando. 

    Keberadaan pustakawan di Indonesia diakui memang belum mencukupi jumlah ideal. Tetapi, kondisi ini jangan sampai juga menjadi sebuah paradoks. Di satu sisi mengeluhkan tentang kurangnya tenaga pustakawan, namun di sisi lain lain pustakawan kurang mengambil peran strategis dalam pembangunan.

    Banyak informasi yang bisa dikemas oleh para pustakawan agar menjadi pengetahuan yang menarik. Kepala Perpusnas mencontohkan bagaimana negara Tiongkok menulis sejarah tentang “Jalur Sutera” yang mahsyur. Indonesia harusnya tidak boleh kalah, karena di masa lalu, Nusantara dikenal sebagai salah satu negara kaya penghasil rempah-rempah, seperti lada, pala, cengkeh, dan sebagainya. 

    Pustakawan bisa mengkaji bagaimana bangsa Eropa bersusah payah mendapatkan rempah-rempah. Bahkan, tidak jarang mereka meraihnya dengan cara adu senjata. Kajian tentang Nusantara sebagai jalur rempah dunia bisa mengimbangi informasi tentang Jalur Sutera Tiongkok.

    “Ini pentingnya mempelajari sejarah masa lalu agar bisa mengukur lompatan masa depan,” urai Syarif Bando.

    Selain itu, Kepala Perpusnas juga menyoroti sejumlah program yang belum sempurna dijalankan oleh kepengurusan IPI, seperti membentuk kepengurusan IPI di tingkat kabupaten/kota, membentuk tim penilai di lembaga atau mitra, mengambil bagian diklat asesor dan mengambil bagian tentang standar perpustakaan yang ada. Syarif Bando juga berharap IPI dapat membuat road map pembinaan untuk pengembangan perpustakaan di Indonesia.

    Kepala Perpusnas berpesan agar pustakawan jangan terjebak dengan kegiatan-kegiatan seremonial tetapi minim aksi di lapangan. Padahal, banyak hal yang bisa diciptakan pustakawan seperti tutorial menaikkan partisipasi kegemaran membaca, pentingnya membaca, inklusi sosial, dan sebagainya.

    “Dunia berubah dengan informasi. Dan simbol informasi salah satunya adalah perpustakaan. Siapa yang tidak cinta dengan perpustakaan. Dan saya ingin pustakawan bisa eksis berselancar memberikan informasi dengan menggunakan teknologi,” tambah Syarif Bando.

    Sumber : perpusnas.go.id

  • Musisi Diharapkan  Terus Berkarya di Masa Normal Baru

    Musisi Diharapkan Terus Berkarya di Masa Normal Baru

    BNC,- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mengajak musisi untuk terus berkarya dan meningkatkan kreativitas di masa normal baru.

    Plt Deputi bidang Sumber Daya dan Kelembagaan Kemenparekraf/Baparekraf, Frans Teguh, dalam virtual talkshow “ORKESMU” (Obrolan Kreatif Seputar Musik) bertajuk Tetap Asik Bermusik dalam Masa Adaptasi Kebiasaan Baru, Kamis (9/7/2020), mengatakan kreativitas dan inovasi adalah kekuatan dari sumber daya manusia.

    Frans menuturkan, mengasah inovasi dan kreativitas pekerja seni, dalam hal ini musisi, selalu menjadi prioritas Kemenparekraf/Baparekraf dalam upaya pengembangan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia ekonomi kreatif. “Kita punya visi menghadirkan orang-orang kreatif dan hebat yang memberikan kontribusi dalam kegiatan pengembangan budaya terutama dalam kerja kreatif,” katanya.

    Oleh karena itu, lanjut Frans, Kemenparekraf/Baparekraf terus berupaya mendukung para pekerja seni untuk terus berinovasi dan mengembangkan kreativitas. Salah satunya, dengan pelaksanaan pertunjukan musik virtual di masa pandemi COVID-19.

    “Virtual itu pasti sesuatu yang sangat penting, tapi mengasah rasa ini membutuhkan kerja-kerja yang prima dari semua stakeholder,” ujar Frans. Ia menuturkan Kemenparekraf/Baparekraf juga mempersiapkan protokol kesehatan yang mengedepankan prinsip CHSE (Cleanliness, Health, and Safety Environment) sehingga para promotor acara musik, musisi, dan penikmat musik dapat menikmati konser di tempat terbuka dengan tetap menjaga diri agar tidak terjangkit COVID-19.

    Diskusi ini menghadirkan narasumber dari kalangan musisi dan promotor musik. Mereka adalah Gitaris Band Gigi, Dewa Budjana; composer Tya Subiakto; jurnalis musik senior sekaligus pendiri koran Slank, Buddy Ace; serta CEO Deteksi Production, Harry Koko dan Toar RE Mangaribi selaku moderator.

    Buddy Ace menilai dalam rangka mengembangkan kreativitas dalam berkarya, seorang musisi harus menonjolkan identitas kulturalnya yang dapat membedakannya dengan musisi lain.

    “Kalau kita mau bersaing dengan Korea, kita harus memperkuat identitas akar kultural, itulah makna yang berkembang menjadi brand,” ungkap Buddy.

    Sementara, Tya Subiakto mengajak para musisi untuk senantiasa berinovasi dan tidak kaku dalam berkarya. Tak hanya itu, Tya juga mengajak para musisi untuk mengubah cara pandang terhadap pandemi COVID-19 dari sebuah bencana menjadi suatu kesempatan.

    “Kita harus menyikapi bencana sebagai kesempatan. Semoga kita semua bisa survive dan bangkit dan menghadapinya dengan apa yang ada di kita. Ayo kita asah skill kita, ayo kita manfaatkan dan mencari rezeki di bidang kita yaitu kreatif,” ungkap Tya.

    Dalam kesempatan ini, Harry Koko juga memberikan masukan mengenai penerapan protokol kesehatan yang dapat diterapkan dalam pelaksanaan konser musik di masa normal baru. Masukan tersebut ialah pembuatan surat pernyataan patuh protokol kesehatan yang ditandatangani oleh pengunjung konser.

    “Di masa adaptasi kebiasaan baru ini, selain protokol kesehatan, pembeli tiket juga disuruh membuat pernyataan agar mau diatur promotor. Jika mereka tidak patuh protokol kesehatan akan kami perlihatkan bukti pernyataan mereka yang mereka tandatangani,” ujar Harry.

    Direktur Pengembangan SDM Ekonomi Kreatif Kemenparekraf/Baparekraf Muh. Ricky Fauziyani menambahkan, kedepannya pihaknya akan terus menghadirkan acara serupa dalam upaya meningkatkan kapasitas sumber daya manusia khususnya di sektor ekonomi kreatif.

    “Setiap kegiatan akan dibuat sebagaimana layaknya seminar offline dengan memberikan ‘panggung’ kepada para pelaku seni. Tidak hanya sebagai daya tarik dalam acara, tapi juga memberi peluang bagi pekerja seni tetap berkarya di tengah pandemi,” kata Ricky Fauziyani. 

  • Video Storytelling Dinilai Efektif untuk Promosikan Destinasi Wisata Indonesia

    Video Storytelling Dinilai Efektif untuk Promosikan Destinasi Wisata Indonesia

    BNC,- Video Storytelling dianggap menjadi cara yang efektif untuk mempromosikan dan memperkenalkan nilai-nilai atau makna yang terkandung di setiap destinasi wisata yang ada di Indonesia.

    Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf/Baparekraf, Rizki Handayani, saat Webinar Wisata Heritage bertema “Mengangkat Nilai-Nilai Produk Wisata Warisan Budaya Dunia melalui Video Storytelling” Kamis, (?8/7/2020?), mengatakan sangat penting bagi pelaku pariwisata untuk dapat mengangkat nilai-nilai atau daya tarik destinasi wisata yang ada di setiap daerah. Salah satunya dengan penceritaan visual melalui Video Storytelling.

    Webinar ini merupakan salah satu bentuk implementasi dari program Kemenparekraf untuk mendiversifikasikan produk pariwisata. Fokus utama saat ini ialah mempromosikan destinasi pariwisata dan memperkenalkan produk-produk pariwisata. Karena pariwisata merupakan sebuah pengalaman yang memiliki nilai atau cerita yang terkandung di balik destinasi wisata yang ada, seperti Subak di Bali misalnya.

    “Orang bilang, subak merupakan sawah berundak, tetapi ternyata sawah berundak di Bali memiliki satu nilai yang berbeda. Nilai-nilai destinasi wisata ini yang harus kita perkenalkan kepada masyarakat Indonesia. Agar ada rasa bangga, betapa hebatnya nenek moyang kita dalam menjaga dan melestarikan warisan budaya Indonesia,” kata Rizki Handayani.

    Webinar Wisata Heritage menghadirkan dua narasumber, diantaranya Ketua Indonesia Heritage Trust/ Badan Pelestarian Pusaka Indonesia Catrini Pratihari Kubontubuh, menyampaikan materi yang bertajuk “Sejarah Lanskap Sistem Subak dan Produk Wisata di Sekitar Jatiluwih” dan materi kedua mengenai Video Storyteling dipaparkan oleh Content Writer Astrid Savitri.

    Ketua Indonesia Heritage Trust/ Badan Pelestarian Pusaka Indonesia, Catrini Pratihari Kubontubuh, mengatakan bahwa Subak tidak hanya sekadar sawah berundak atau irigasi. Namun, Subak merupakan organisasi petani pengelola irigasi yang bersifat sosio kultural dalam suatu kawasan sawah tertentu, memiliki sumber air, memiliki pura subak, dan bersifat otonom.

    “Setiap orang Bali yang bercerita mengenai Subak tentu menggambarkan gunung, sawah, pura tempat sembahyang, dan ada kegiatan manusia. Sebenernya ini adalah inti sari dari Subak,” kata Catrini.

    Pertama kali muncul istilah terkait pertanian tertulis pada Prasasti Sukawana di Bangli tahun 882 yang menyebutkan lahan dan pertanian huma (sawah) dan perlak (ladang). Sementara Prasasti Klungkung tahun 1071 dan Prasasti Pandak Bandung (Tabanan) tahun 1072 telah menyebutkan istilah Seuwak yang akhirnya dikenal sebagai Subak.

    “Saat ini, jumlah Subak di seluruh wilayah Bali adalah 1.599 Subak, dengan luas sawah 76.000 hektare,” ujar Catrini.

    Pada 29 Juni 2012 UNESCO menetapkan Subak sebagai salah satu dari World Heritage. Uniknya Subak ini tidak ditetapkan sebagai World Heritage bagian dari Nature atau Culture tetapi sebagai bentuk manifestasi dari filosofi Tri Hita Karana.

    Filosofi Tri Hita Karana merupakan harmonisasi kehidupan masyarakat Bali yang menekankan kepada tiga aspek penting yaitu Parahyangan; hubungan manusia dengan sang pencipta, Pawongan; hubungan manusia dengan sesama, dan Palemahan; hubungan dengan lingkungan.

    Hubungan manusia dengan sang pencipta (Parahyangan) menegaskan untuk selalu sujud dan bersyukur terhadap Tuhan, sang pencipta. “Sujud syukur ini bisa terlihat dari upacara persembahan suci yang tulus ikhlas kepada para dewa-dewa atas nikmat panen yang telah diberikan. Sebanyak 15 ritual dilakukaan masyarakat Bali dari mulai menanam hingga menuai hasil panen,” kata Catrini.

    Begitupun hubungan manusia dengan sesama manusia (Parahyangan). Masyarakat berkumpul, berorganisasi sehingga terbentuk sebuah alur demokrasi untuk menyampaikan kebijakan-kebijakan yang akan bermuara kepada hubungan dengan lingkungan (Palemahan) untuk saling membantu demi menjaga, merawat, serta melestarikan lingkungan.

    “Sangat jarang di Bali kita melihat sawah itu kotor, tidak ada sampah di saluran airnya. Karena itu semua menjadi tanggung jawab bersama dari anggota Subak. Biasanya ada denda tersendiri jika saluran air terdapat sampah dan kepala Subak punya hak untuk menertibkan hal tersebut,” ujar Catrini.

    Catrini juga menambahkan daya guna wisata yang dimaksud ialah bagaimana sebuah destinasi wisata yang disebut permaculture. Kerja sama antara kegiatan pertanian dan pariwisata, dimana wisatawan diberikan kesempatan untuk melihat, merasakan, dan memiliki pengalaman langsung melakukan kegiatan pertanian bersama petani.

    Untuk menceritakan nilai-nilai yang terkandung di balik Subak dibutuhkan sebuah media yang dapat menggambarkan keindahan serta keunggulannya, seperti melalui penceritaan visual.

    Content Writer Astrid Savitri, menjelaskan penceritaan visual adalah sebuah kisah yang diceritakan melalui media visual, seperti foto, video, simbol, warna, ataupun ilustrasi. Penceritaan visual sangat penting bagi manusia.

    “Karena 90% otak manusia menerima informasi dalam bentuk visual,” ujar Astrid.

    Melalui informasi visual, seseorang akan lebih mudah dan lebih cepat untuk memahami sebuah informasi serta membuat informasi lebih menarik.

    Pada pembahasan Webinar kali ini fokus utamanya ialah menceritakan kisah melalui media visual yang berupa video. Video Storytelling merupakan teknik bercerita menggunakan format video yang menarik. Biasanya digunakan untuk menceritakan sebuah brand, destinasi wisata, atau produk wisata.

    “Dengan Video Storytelling kita dapat memperkenalkan destinasi dan produk wisata dengan menceritakan nilai yang terkandung di dalamnya. Membuat kisah yang dapat menyentuh hati, menyulut hubungan emosional, dan menghadirkan solusi bagi wisatawan yang menyaksikan video tersebut,” kata Astrid.

    Yang menarik dari Webinar Wisata Heritage Seri ini, para peserta diajak untuk mengikuti sayembara storyelling. Dimana peserta mengupload satu postingan berisi dua foto yang mengisahkan Lanskap Budaya Sistem Subak di Jatiluwuh dan sekitarnya serta mengenai daya tarik wisata sejarah, warisan budaya dan religi dari daerah asal masing-masing.

    Kemudian peserta diminta memberikan caption foto yang mengandung elemen storytelling, mencantumkan hashtag #WebinarSubakBali #ShareOurHeritage #NoHeritageNoFuture, dan tag akun instagram @kemenparekraf.ri (*che)

  • Rangkai Community Gelar Konser Virtual dan Talkshow Kekayaan Wisata Alam Indonesia

    Rangkai Community Gelar Konser Virtual dan Talkshow Kekayaan Wisata Alam Indonesia

    BNC,- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia mendukung semangat Rangkai Community yang akan menyelenggarakan virtual music event and talkshow bertajuk “RANGKAI LIVE Ep. 4: Surga di Indonesia”. Kegiatan ini mengajak audiens menjelajah pengalaman seru dan tidak terduga ketika menikmati keindahan wisata alam dari sudut pandang musisi dan bintang tamunya. Dalam RANGKAI LIVE juga akan digelar konser musik virtual yang menghadirkan penampilan dari Sal Priadi dan Raissa Anggiani.

    Redemptus Rangga raditya selaku Co-founder Rangkai Community mengatakan Indonesia memiliki kekayaan wisata alam yang tinggi dan tersebar di banyak penjuru negeri. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa masih banyak objek wisata yang belum diangkat dan dikenal banyak kalangan.

    “Konser virtual beserta talkshow ini dilaksanakan sebagai media untuk mengajak warga masyarakat mengeksplorasi keindahan kekayaan alam Tanah Air yang belum tereksplorasi secara menyeluruh,” kata Rangga dalam keterangannya, Rabu (8/7/2020).

    Nantinya talkshow akan menghadirkan bintang tamu diantaranya finalis Puteri Indonesia 2019 asal Riau, Sabrina Anggraini; atlet jetski nasional, Aqsa Aswar; aktris Agatha Pricilla; dan selebgram Nazla Alifa.

    Mereka akan memberikan informasi mengenai 5 Destinasi Super Prioritas (Labuan Bajo, Danau Toba, Likupang, Borobudur dan Mandalika) serta menggali destinasi wisata baru dari pengalaman bintang tamu yang dapat dikunjungi lagi nantinya dengan protokol kesehatan terbaru. Termasuk pengalaman mereka dalam mengeksplorasi keindahan Indonesia serta berbagi tips bagaimana menemukan destinasi wisata baru.

    “Banyak pengalaman dari bintang tamu yang dapat menceritakan pengalaman dan tips dalam mencari titik-titik objek wisata yang indah di Indonesia. Keindahan Indonesia didukung dengan budaya yang kental, lekat dengan mereka yang peka dan dapat menghasilkan sebuah karya, hasil inspirasi dari Surga di Indonesia,” katanya.

    Sementara konser virtual akan diisi dengan kolaborasi antara penyanyi Sal Priadi dan Raissa Anggiani. Meskipun konser ini berbentuk virtual, Rangga menjamin kualitas audio dari konser ini akan terjaga dengan baik.

    “Pada setiap pertunjukan musiknya, RANGKAI LIVE mengimplementasikan ‘minimalist strip down concert’ atau dapat diartikan sebagai konser dengan spesifikasi peralatan musik yang minimalis. Dengan standarisasi produksi pertunjukan sendiri, RANGKAI LIVE tetap melakukan penanganan tata suara dengan peralatan panggung pertunjukan sehingga akan memiliki kualitas audio-video terbaik bagi penonton dari berbagai media seperti Smartphone, Laptop, Komputer hingga Smart TV,” ujar Rangga.

    Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan (Events) Kemenparekraf Rizki Handayani Mustafa mengatakan, kegiatan ini sebagai bentuk dukungan terhadap enam proposal event terbaik pada kegiatan Webinar Virtual Events: Best Practise and Ideas yang diadakan pada bulan Mei 2020.

    Hal ini menunjukkan bahwa banyak pekerja event yang tetap bersemangat dan mampu berinovasi dalam membuka peluang baru di era normal baru seperti saat ini.

    “Kegiatan ini diharapkan dapat membangkitkan sektor event di Indonesia dan menginspirasi komunitas event lainnya untuk terus berinovasi,” kata Rizki Handayani.

    “RANGKAI LIVE Ep. 4: Surga di Indonesia” akan ditayangkan secara langsung di akun YouTube RANGKAI LIVE pada Minggu, 12 Juli 2020 pukul 19:00-20:30 WIB secara gratis.(*che)

  • Geowisata NTB Dipromosikan Secara Virtual Lewat Geotourism Festival 2020

    Geowisata NTB Dipromosikan Secara Virtual Lewat Geotourism Festival 2020

    BNC,-  Di tengah pandemi COVID-19 upaya mempromosikan potensi geowisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) terus dilakukan salah satunya lewat acara virtual Festival Geowisata 2020. Acara ini merupakan salah satu dukungan terhadap enam proposal event pemenang pada program webinar Virtual Events: Best Practise and Ideas pada bulan Mei 2020 lalu, yang merupakan kerja sama antara Kemenparekraf/Baparekraf Indonesia dengan Australia Marketing Institute.

    Kemparekraf/Baparekraf RI memberikan dukungan kepada virtual events “Geotourism Festival 2020”, yaitu festival geowisata pertama di Indonesia ini menjadi ajang mempromosikan potensi wisata dan pelaku Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di kawasan NTB. “Event virtual tentang geowisata pertama di Indonesia ini didedikasikan untuk para pelaku wisata, pelaku UMKM, dan masyarakat luas yang mau belajar, pantang menyerah, dan mau memanfaatkan peluang,” Kata Melawati dalam keterangannya, Rabu (8/7/2020).

    Nantinya akan ada empat rangkaian acara dalam festival yang dilaksanakan pada 15 hingga 16 Juli 2020 ini yaitu pameran dan eksebisi yang akan memamerkan aneka produk UMKM dan aneka produk wisata di 30 booth virtual dari pelaku UMKM dan pelaku wisata asal Lombok dan Sumbawa. Kemudian webinar tentang pengembangan potensi geowisata yang ada di Indonesia, selanjutnya virtual tour di sekitar Gunung Rinjani dan Gunung Tambora, serta festival budaya dan musik jazz.

    “Dengan memanfaatkan kemudahan teknologi, wisatawan dan penyedia jasa pariwisata dapat tetap berinteraksi tanpa batas dengan siapapun dan dari belahan bumi manapun dengan mudah, murah, dan meriah. Melalui virtual event ini, pelaku industri dan komunitas pariwisata di Indonesia bisa belajar memanfaatkan teknologi untuk menjual produk dan jasa pariwisatanya di masa pandemi covid-19,” ungkap Rizki Handayani, Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Events), Kemenparekraf/Baparekraf RI

    Festival yang diselenggarakan oleh Rinjani Lombok Geopark Community ini akan melibatkan peserta dari Jaringan Geopark Indonesia (JGI), Jaringan Geopark Asia Pasifik (APGN), dan Jaringan UNESCO Global Geopark di seluruh dunia. Selain itu, peserta umum lainnya juga akan mengundang kelompok-kelompok komunitas, asosiasi, akademisi, pelajar, mahasiswa, serta masyarakat umum lainnya baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

    Bagi calon peserta yang berminat mengikuti acara ini dapat mendaftarkan diri di Http://bit.ly/registrationGF2020 (pembayaran via bank transfer), Geoturismfestival.com (via gopay and PayPal), dan Https://bit.ly/exebhitionGF2020 (exebhition).

    Acara ini rencananya akan dibuka secara resmi oleh Gubernur NTB Dr. Zulkieflimansyah pada 15 Juli 2020, pukul 09.00 WITA dan akan dilakukan secara virtual. Selain itu, acara ini juga akan mengundang perwakilan dari kantor UNESCO Paris, Kantor UNESCO Global Geopark Council, Kantor Global Geopark Network, Kantor UNESCO Jakarta, dan Asia Pacific Geopark Network (APGN).

    Kemudian Kemenko Maritim dan Investasi, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian ESDM, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Komite Nasional Indonesia Untuk UNESCO (KNIU), Badan Geologi Bandung, Jaringan Geopark Indonesia (JGI), dan seluruh anggota Jaringan Geopark Indonesia sejumlah 19 geopark.

    “Temukan ide-ide kreatif kita sendiri nanti setelah mengikuti acara ini. Be there, Be entertained, Be Inspired,” tutup Meliawati, ketua panitia Geotourism Festival 2020.(*che)

  • BEKUP,  Upaya Pengembangan Stratup Lokal Agar Berdaya Saing

    BEKUP, Upaya Pengembangan Stratup Lokal Agar Berdaya Saing

    BNC,- Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) mendorong ekosistem startup di tanah air dengan meluncurkan program Baparekraf for Startup (BEKUP) sebagai upaya pengembangan stratup lokal agar semakin berdaya saing tinggi.

    Plt. Deputi Bidang Ekonomi Digital dan Produk Kreatif Kemenparekraf, Josua Simanjuntak, saat Kick Off Road To Baparekraf For Startup 2020 di Jakarta, Selasa (7/7/2020) menjelaskan, melalui program BEKUP, Kemenparekraf ingin membuka kesempatan lebar bagi para pelaku usaha, serta mendorong terciptanya inovasi digital dan kemampuan adaptasi startup lokal untuk meningkatkan kualitas wirausaha.

    “Lewat teknologi digital, kita harapkan akan ada akselerasi bisnis yang membuat sektor pariwisata dan ekonomi kreatif (parekraf) dapat pulih dengan lebih cepat. Selain itu, dengan adanya kesempatan yang ditawarkan oleh program ini, para pelaku usaha diharapkan bisa fokus dan berinovasi untuk menjadi solusi dalam menanggulangi dampak pandemi COVID-19,” kata Josua.

    Josua menjelaskan, Indonesia saat ini memiliki 5 startupterbaik yakni Traveloka, Tokopedia, Bukalapak, Ovo, dan Gojek yang tercatat telah menjadi decacorn. Berkaca dari dampak ekonomi yang besar dari 5 startup tersebut, pemerintah ingin menumbuhkan startup-startup yang mereplikasi startup unicorn dan decacorn yang ada.

    “Jangan sampai Indonesia hanya jadi pasar, besarnya populasi Indonesia besar pula market. Meskipun penetrasi internet kita rendah di angka 64 persen tetapi jumlah pengguna internet adalah terbesar di Asia Tenggara yaitu 175 juta,”ujarnya.

    Kemenparekraf berharap setelah adanya program ini, startup dapat berinovasi dan menggunakan teknologi agar berdampak positif. Untuk selanjutnya dapat memberikan terobosan bagi masyarakat agar bisa bangkit di masa pandemi ini.

    “Kami ingin menjaring startup digital Indonesia yang berkualitas dan dapat bersaing dengan kompetitif dan bisa memberikan dampak positif terhadap ekonomi kita,” kata Josua.

    Dalam “Kick Off Road To Baparekraf For Startup 2020” hadir Presiden Coworking Indonesia Faye Alund, Co Founder Tiket.com Gaery Undarsa, dan Direktur Aplikasi dan Tata Kelola Ekonomi Digital Baparekraf Muhammad Neil El Himam.

    Sementara itu, Presiden Coworking Indonesia, Faye Alund, menambahkan bahwa program ini dapat menjadi wadah bagi para startup untuk berkarya dan mengembangkan inovasi secara kompetitif yang menjawab kebutuhan perekonomian Tanah Air.

    “Kami di komunitas Coworking Indonesia percaya bahwa pertumbuhan kewirausahaan dan ekonomi Indonesia dapat dibangun lewat kolaborasi, dan pandemi bukanlah alasan untuk menghalangi hal tersebut,” kata Faye.

    Pendaftaran BEKUP batch pertama tahun 2020 akan dibuka di Jakarta pada 20 Juli 2020. Lalu, akan diikuti oleh batch kedua di Surabaya pada 29 Juli 2020, ketiga di Bali pada 7 Agustus 2020, keempat di Medan pada 20 Agustus 2020, dan kelima di Makassar pada 1 September 2020.

    Lebih dari 500 startup ditargetkan untuk dapat berpartisipasi dalam program BEKUP 2020. Setelah melalui proses seleksi, startup ini akan dibina untuk kemudian dipilih sebanyak 40 startup terbaik yang akan masuk ke tahap inkubasi dengan mentor-mentor berkompeten dalam industri startup digital Indonesia.(*che)

  • 20 Desa Wisata Ikut Gerakan BISA di Magelang

    20 Desa Wisata Ikut Gerakan BISA di Magelang

    BNC,– Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf/Baparekraf) melibatkan 20 desa wisata di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, untuk mengikuti gerakan Bersih, Indah, Sehat, Aman (BISA) sebagai bentuk dukungan bagi para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif yang terdampak COVID-19.

    Deputi Bidang Industri dan Investasi Kemenparekraf/Baparekraf Fadjar Hutomo saat pembukaan Program Gerakan BISA Desa Wisata di Desa Karangrejo, Magelang, Senin (6/7/2020) menjelaskan, program ini dilakukan dan didukung para pelaku dan komponen perangkat desa wisata yang berjumlah 1.400 masyarakat desa yang terlibat langsung ke dalam gerakan tersebut.

    “Keberadaan desa wisata selama ini terbukti mampu mewarnai keberagaman destinasi pada kawasan pariwisata. Melalui desa wisata, pariwisata membuktikan keberpihakannya sebagai penyerap tenaga kerja pedesaan, sebagai generator pertumbuhan ekonomi wilayah, dan sebagai alat pengentasan kemiskinan,” katanya.

    Fadjar Hutomo juga menjelaskan, gerakan BISA merupakan implementasi dari arahan Presiden Jokowi untuk gerakan perlindungan sosial bagi pelaku dan usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, melalui gerakan padat karya dan memberikan stimulus bagi para pelaku usaha di sektor parekraf.

    “Program BISA Desa Wisata merupakan semacam gerakan padat karya yang bertujuan untuk mengoptimalkan pelaku usaha parekraf dalam menangani dan meningkatkan kebersihan, keindahan, kesehatan, dan keamanan masyarakat di Desa Wisata untuk menghadapi kondisi new normal  pascapandemi COVID-19,” katanya.

    Bupati Magelang Zainal Arifin, menjelaskan bahwa saat ini perlu aksi nyata pemerintah dalam membantu masyarakat, antara lain melalui Program Gerakan Bersih, Indah, Sehat, Aman (BISA) pada Desa Wisata di Kabupaten Magelang yang melibatkan para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif.

    “Gerakan BISA ini dapat membantu menggerakan perekonomian masyarakat sekaligus mengantisipasi kondisi _ new normal_ dengan mempersiapkan desa wisata yang lebih baik yakni mengutamakan faktor health dan hygiene, serta safety dan security yang baik,” katanya.

    Zainal Arifin juga menjelaskan, pola tren berwisata saat kenormalan baru akan berubah, wisatawan cenderung memilih tempat-tempat dengan aktivitas outdoor dan wisata alam. Namun para pelaku juga ditekankan harus menjaga protokol kesehatan dengan baik agar tidak terjadi gelombang baru pandemi COVID-19.

    “Kabupaten Magelang diberi anugerah dari Tuhan panorama wisata alam yang luar biasa indah, maka itu menjadi tugas bagi kita untuk menggali potensinya dengan maksimal. Kondisi mengajak kita bersama melakukan aktivitas kenormalan baru dengan disiplin baik pengelola dan wisatawan yang datang,” katanya.

    Saat pembukaan Program Gerakan BISA Desa Wisata juga digelar video confrence dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) di 20 desa yang terlibat. Salah satu perwakilan pokdarwis Sidiq dari Desa wisata Candi Rejo mengaku sangat terbantu dengan program yang digelar Kemenparekraf tersebut.

    “Kami mempunyai tanggung jawab terkait program ini. Bantuan ini kami harap bisa menggerakkan kembali pariwisata di desa yang kami kelola dan siap menyambut kenormalan baru,” katanya.

    Ke 20 Desa wisata yang ambil bagian dari program BISA antara lain Desa Wisata Candi Rejo, Desa Wisata Wanurejo, Desa Wisata Karangrejo, Desa Wisata Borobudur, Desa Wisata Karanganyar, Desa Wistata Wringinputih, Desa Wisata Giripurno, Desa Wisata Giritengah, dan Desa Wisata Sambeng.

    Kemudian juga Desa Wisata Ngadiharjo, Desa Wisata Majaksingi, Desa Wisata Bigaran, Desa Wisata Kebon Sari, Desa Wisata Ngargogondo, Desa Wisata Tanjungsari, Desa Wistata Tuksongo, Desa Wisata Ngargoretno, Desa Wisata Banyubiru, Desa Wisata Ngawen, dan Desa Wisata Jamuskauman.(*Che)