Blog

  • “Nilok Nai” Doktor Marsel Robot

    Oleh Markus Makur

    DOKTOR Marsel Robot diasah. Ditempa Nilok Nai. Nilok Nai adalah goet atau dialek Kolor-Manus di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

    Bahasa Ibu ini mengasah Doktor Marsel Robot untuk berjuang, belajar, berjalan kaki untuk meraih masa depan yang kini diembannya saat ini menjadi Dosen di Universitas Nusa Cendana (Undana) Kupang.

    Bahasa keseharian yang dituturkan orangtua-orang tua di kampungnya di Taga, Desa Golo Nderu, Kecamatan Kota Komba Utara (KKU) di masa kecilnya belum dipahami makna dan kekuatan sebuah goet atau dialek tersebut.

    Seiring dengan perjuangan, belajar tekun, bekerja keras serta menggali kekuatan bahasa yang dipelajari dibangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi membuahkan hasil yang membanggakan orang tuanya serta kampung asalnya.

    Saat ia masih kanak-kanak sampai usia dewasa serta menemukan identitas dirinya lewat pendidikan, bahasa ibu masih seputar dituturkan dalam kehidupan harian.

    Hanya orangtua yang mengerti dan memahami dibalik dialek lokal yang memberi semangat juang, bekerja, menghidupi keluarga, interaksi sosial dan pergaulan dalam hidup sosial kemasyarakatan.

    Bahasa Menunjukkan bahwa Manusia adalah Makhluk Berbahasa

    Namun bagi doktor Marsel Robot, setiap goet dalam bahasa ibu dicatat, direfleksikan, direnungkan dalam pergulatan akademik, dunia kampus, dunia adu argumentasi, dunia tulis menulis yang menjadi fondasi hidupnya hingga meraih gelar akademik yang sangat gemilang.

    Doktor Marsel Robot selalu gelisah dengan kalimat Nilok Nai yang digagas Frans Sarong (wartawan senior Kompas) dkk dalam sebuah kelompok diskusi Nilok Nai (baca artikel “Mengecup Kening Manggarai pada Peristiwa “Lonto Leok,” Pos Kupang, 7 Agustus 2002 dan dibukukan dalam buku Ringkasan Kegelisahan sosial di Aula Sejarah, cetak pertama, Oktober 2018 oleh perkumpulan Komunitas Sastra Dusun Flobamora).

    Buku Karya Dr. Marsel Robot

    Saat diskusi tentang pemekaran Manggarai oleh kelompok diskusi “Nilok Nai” dan Doktor Marsel Robot membawa pulang kalimat Nilok Nai dalam ingatan sanubarinya di ruang kerja, saat membaca buku, menyusun makalah perkuliahan sambil mencari tahu apa sesungguhnya makna Nilok Nai hingga dijadikan nama sebuah kelompok diskusi oleh kumpulan orang-orang hebat dari Manggarai Timur yang berdomisi di Kupang, Ibukota Provinsi Nusa Tenggara Timur.

    Sambil mengajar di fakultasnya untuk menanam benih dan kolam pengetahuan bagi generasi muda Nusa Tenggara Timur. Ia terus mencari tahu apa arti dan makna Nilok Nai.

    Dr Marsel Robot selalu gejur merangkai kata yang apik. Diksi yang menggugah nurani bagi pembaca, murid-muridnya, pengikutnya yang tak terhitung jumlahnya saat ini.

    Lembaran koran di bumi cendana hingga bumi Indonesia digoresnya dengan tulisan-tulisan dengan gaya sastra sesuai aliran yang dianutnya. Dr Marsel Robot adalah sastrawan unik Nusa Tenggara Timur yang menganut spiritualitas gelisah, spiritualitas gejur nai.

    Ia selalu gejur memungut kata sederhana dalam sastra lisan orang Manggarai Raya. Membaca opini, puitis, cerita pendek (Cerpen) dan prolog atau epilog dalam berbagai buku karya orang Nusa Tenggara Timur membuat pembaca retang one nai sekaligus menusuk sanubari. Hanya orang tak bernurani yang tidak memahami bahasa yang dituangkan Dr Marsel Robot dalam berbagai media massa di tingkat Nasional hingga lokal serta makalah-makalah yang diajarkan di bangku kuliah.

    Dialek sastra lisan yang tercecer dalam ungkapan harian secara lisan orang Manggarai Timur dicatat dalam laboratorium mata hatinya. Selanjutnya dituangkan lagi lewat bahasa yang dirangkainya menjadi narasi humanis yang menggetarkan hati nurani pembaca, murid-muridnya serta pengikut setianya.

    Bahasa humanis dengan gaya sastra di 42 artikel dalam bukunya menandakan bahwa Dr Marsel Robot sesungguhnya Nilok Nai sejati dari bumi Manggarai Timur.

    Kurang lebih selama 3 tahun, saya membaca bukunya berkali-kali. Saya memaknai dan memahami bahasa dalam rentang waktu itu di sela-sela kesibukan harian. Baru Rabu, (7/4/2021) saya mencoba menuliskan sesuai apa yang saya pahami. Saya mencoba mengambil judul seturut apa yang saya pahami.

    Saya baca judul tulisannya, Manggarai Timur dan kesadaran Nilok Nai. Dr Marsel Robot mengupas dan memaknai Nilok Nai sebagai konsep pembangunan manusia dari kondisi terpuruk menuju sebuah perubahan karena kerja keras, ramah, humanis. Menurutnya, Nilok Nai semacam virus mental, yakni suatu bentuk kesadaran yang sangat jarang dijumpai, tetapi apabila terjadi, diri seseorang cenderung untuk bertingkah laku sangat giat, (hal 39-44).

    Bagi saya seorang pembaca dari kampung mencoba memahami sedikit saja bahwa Dr Marsel Robot sudah mengaplikasikan Nilok Nai dalam keseharian dengan bangkit dan berjuang keras demi meraih suatu prestasi akademik dan menebarkan jalan Nilok Nai bagi generasi penerus bangsa lewat mengajar di kelas, makalah-makalah ilmiah serta tulisan yang tersebar di seluruh media massa nasional dan lokal.

    Dr Marsel Robot sudah menduniakan kesadaran Nilok Nai dan mengajak semua orang agar nilok nai sebagai ideologi pembangunan manusia, khususnya di Kabupaten Manggarai Timur.

    Saya kutip bagian akhir tulisan itu…karenanya, yang diperlukan sekarang dan yang akan datang adalah virus mental Nilok Nai di kalangan siapa pun pejabat yang akan memimpin daerah itu. Artinya pengalaman kemiskinan dan marginalisasi harus diterima sebagai rai ati rasan rak (motivasi untuk bekerja keras) membangun Manggarai Timur yang hanya sebuah gray area (daerah kelabu) tempat oportunis mencari keuntungan sehingga Manggarai Timur pun kian ke timur dan kesedihan pun tak bertepi.

    Dari Taga untuk Dunia

    Dr Marsel Robot lahir di kampung Taga, Koit, Manggarai Timur, Flores pada tanggal 1 Juni 1961. Ia menamatkan sekolah dasar Katolik di Koit, menamatkan SMP di Borong, Manggarai Timur dan menamatkan SMA St Thomas Aguinas, Ruteng, Manggarai, 1980. Pada tahun 1982 masuk Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan mengambil jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia di Universitas Nusa Cendana, Kupang. Selama menjadi mahasiswa, Dr Marsel menerima beasiswa tunjangan ikatan dinas (TID). Beasiswa itulah yang memintanya untuk kembali mengabdi sebagai dosen di almamaternya. Sejak mahasiswa hingga kini, ia aktif menulis artikel diberbagai media massa (baca selengkapnya di riwayat hidup penulis, hal 258-260).

    Setelah saya membaca bukunya, saya jujur mengakui bahwa baru kali ini saya menggoreskan tulisan tokoh pendidik, sastrawan berhati emas di bumi Cendana.

    Saya mencoba merangkai bahasa sesuai dengan kemampuan saya, sebab saya akui antara Dr Marsel Robot dengan saya seperti langit dan bumi. Dr Marsel Robot berada di langit sementara saya masih mencoba merayap, merangkak dan baik tangga agar bisa menggapainya. Namun Dr Marsel Robot dan saya bisa berjumpa lewat bahasa kata, kalimat dalam sebuah kebiasaan menulis.

    Saya sadar bahwa tulisan saya ini sangat berbeda jauh, bahkan mungkin sampah apabila dibacanya. Tapi bagi saya ini sebuah kerinduan untuk berjumpa dengannya lewat komunikasi bahasa. Bahasa yang bisa menyatukan dua insani yang sedang berziarah di dunia yang penuh dengan tantangan lewat bahasa.

    Dr Marsel Robot dari kampung terpencil Taga. Kampung ini sangat udik, unik, sepi, sunyi, tenang, sangat cocok bersemedi. Namun, seorang putra Taga dengan kesadaran nilok nai diutus ke penjuru dunia untuk mengharumkan nama kampung ini di mata dunia di Nusa Tenggara Timur. Menyebut Dr Marsel Robot sangat identik dengan kampung asalnya Taga.

    Kalau saya me-reka-reka kisah Dr Marsel Robot, ia sadar bahwa hanya melalui pendidikan bisa mengubah seorang manusia. Membawa perubahan dari ” nendep nai”, dialek Kolang, Manggarai Barat (gelap hati) menuju “nai ge’rak” (hati terang).

    Dr Marsel Robot berjalan kaki ke sekolah dasar. Berjalan kaki dari kampung Taga menuju Borong demi menggapai cita-cita dan mimpi-mimpi besar dalam dirinya.

    Telapak kakinya yang mungkin waktu itu tidak memakai sandal sekuat tenaga berjalan mendaki bukit, menyeberang sungai dengan jarak puluhan kilometer hanya demi meraih impian-impiannya di masa depan. Berkat kesadaran dan kegigihannya lewat nilok nai melalui pendidikan, kini Dr Marsel Robot sederajat dengan kalangan akademisi di Indonesia dan dunia.

    Saya sebagai orang Kolang, Manggarai Barat sangat bangga karena saya akui bahwa saya tak mungkin meraih titel akademik yang sangat membanggakan dunia pendidikan di Nusa Tenggara Timur, khususnya dan Indonesia, umumnya.

    Sekilas tentang kampung Taga, Koit. Kampung itu berada dilembah. Diapit oleh beberapa bukit dan sederetan gunung di kawasan Taman Wisata Alam Ruteng. Membentang luas kawasan konservasi sebagai penyangga kehidupan masyarakat di kampung itu. Tanahnya subur. Tanaman kopi berlimpah. Deretan sawah terasering hasil karya intelektual petani di kampung itu menambahkan kekaguman akan kampung tersebut. Orang Taga, Koit sangat ramah dengan sentilan-sentilan goet Manus. Segudang orang-orang cerdas dari kampung itu yang sudah menebarkan jala kemanusiaan lewat ilmu pengetahuan di seluruh Indonesia dan dunia.

    Saya sudah beberapa kali mengunjungi kampung itu. Rasanya tak ingin pulang kalau sudah berada di kampung tersebut. Udaranya segar. Alamnya sejuk. Seluruh kepenatan hidup bisa dilegakan di kampung itu. Hanya sayangnya, infrastruktur dasar seperti jalan raya masih jauh dari sebutan layak.

    Topografi dan letak geografis menantang generasi penerus dari kampung untuk terus sekolah. Sebab perubahan dan kemajuan hanya bisa diraih lewat pendidikan. Dari “nendep ke ge’rak hanya melalui pendidikan. Tidak ada cara lain.

    Berjumpa Dr Marsel Robot lewat Kata dan Bahasa

    Saya baru dua berjumpa Dr Marsel Robot secara langsung. Pertama 2018 lalu di sebuah rumah di Kota Borong. Kedua, di rumahnya di Kota Kupang. Selebihnya berjumpa lewat kata dan bahasa dengan membaca seluruh opininya di media massa di Nusa Tenggara Timur.

    Bahasa komunikasinya seperti aliran sungai Waemokel di Manggarai Timur. Persis kampung Taga hulunya adalah Aliran Sungai Waemokel.

    Bahasa verbal yang dituangkan dalam sebuah narasi sastra sangat jenaka, menggoda dan menggeli-gelikan pembacanya.

    Dr Marsel Robot adalah cahaya dari Timur yang selalu menyinari alam pikiran pembacanya. Persis dalam epilog yang dinarasikan Dion D. B. Putra. Dr Marsel Robot adalah guru, dosen, penulis langka di bumi cendana Nusa Tenggara Timur.

    Terima kasih Dr Marsel Robot yang membangkitkan alam bawah sadarku dengan Nilok Nai. Maafkan saya apabila goresan ini kurang berkenan dihati. Namun, bagi saya ini sebuah kerinduan yang sudah lama saya nanti-nantikan. Saya ingat tanggal lahir Kraeng tua bersamaan dengan hari lahirnya Pancasila, 1 Juni.

    ***********

    Penulis adalah wartawan KOMPAS.com tinggal di Kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT

  • “KASIH SOLIDARITAS”, DPD PSI Lembata Berikan Bantuan Sembako untuk Korban Banjir Bandang

    BERANDANEGERI.COM,–  DPD Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur melalui giat Kasih Solidaritas, memberikan bantuan kepada warga pengungsi yang terkena dampak langsung bencana banjir bandang di Lembata khususnya di Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, Kamis (8/4).

    Ketua DPD PSI Lembata Antonius Loli Ruing mengungkapkan bahwa pihaknya memberi perhatian khusus kepada para pengungsi “swadaya” yang tidak mau ke Posko Pengungsi utama milik Pemda.

    Para pengungsi Swadaya, kata Loli Ruing, merupakan warga pengungsi yang tidak mau datang ke posko yang dikoordinir pemerintah setempat dengan berbagai alasan, salah satunya karena tidak mau terikat pada mekanisme dan aturan yang dianggap berbelit belit.

    “Ada tiga titik pendropingan yang kami lakukan hari ini adalah di Wangatoa untuk sebagian pengungsi dari Ile Ape Timur dan di daerah Parakwalang serta desa Riangbao untuk pengungsi dari Ile Ape,” kata Loli Ruing.

    Loli Ruing menjelaskan, pemberian bantuan semacam itu dilakukan secara serentak di tiga lokasi tersebut melalui aksi yang diberi nama “Aksi Solidaritas” dengan harapan dapat sedikit membantu meringankan beban warga.

    Sementara itu, mengenai jenis bantuan, mantan anggota DPRD Lembata ini mengatakan yang diberikan kepada warga adalah beberapa jenis sembako seperti  beras, gula pasir, dan minyak goreng.

    Dalam kesempatan pemberian bantuan sembako tersebut, Loli Ruing bersama para pengurus DPD PSI Lembata juga menyempatkan waktu untuk berbincang dengan warga sebagai bentuk penghiburan dan rasa prihatin bersama.

    “Kami mengajak warga dan keluarga terdampak untuk sabar menghadapi bencana ini dan dapat kembali bangkit seperti sedia kala” ucap Loli Ruing.

    Untuk diketahui, berdasarkan data per Rabu malam (7/4), total korban jiwa bencana alam NTT, di beberapa kabupaten dan kota terdampak berjumlah 138 jiwa. Rincian korban meninggal dunia tersebut, yaitu Kabupaten Flores Timur 67 jiwa, Lembata 32, Alor 25, Kupang 5, Malaka 4, Sabu 2, Ngada 1, Ende 1 dan Kota Kupang 1.

    Sedangkan korban hilang, total dari laporan pertemuan koordinasi berjumlah 61 jiwa. Rincian sebagai berikut Kabupaten Lembata 35, Alor 20 dan Flores Timur 6.

    Sementara itu, kerugian material di sektor perumahan berjumlah 1.114 unit dengan rincian rusak berat 688 unit, rusak sedang 272 dan rusak ringan 154. (Ben)

  • Masa Terpenting dalam Formasi Pendidikan Daniel Dhakidae

     
    Oleh  Agustinus Tetiro

     

     

    “Saya hanya merasa benar-benar sekolah di dua tempat: Mataloko dan Cornell” (Daniel Dhakidae).

     

    TANPA perlu mengatakan bahwa dua lembaga pendidikan lain yang pernah ditempuh Daniel Dhakidae (DD), Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero dan Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta, tidak mempunyai kesan yang mendalam dan kontribusi signifikan bagi rasa dan perkembangan pemikiran DD, Seminari Menengah Santo Johannes Berchmans Todabelu-Mataloko dan Universitas Cornell seringkali menjadi bahasan yang menarik oleh DD, baik lisan maupun dalam bentuk tertulis.

    DD pernah cerita tentang pengalamannya di UGM. Ketika harus meninggalkan Ende/Flores, tujuannya memang ke Jawa, khususnya Jogja. DD mau belajar sastra Inggris di UGM, tetapi kemudian niatnya itu diurungkan, karena DD tidak mau menjadi murid/mahasiswa Stef Djawanai (kemudian menjadi Guru Besar Linguistik UGM dan lalu pindah ke Universitas Flores di Ende). Kenapa? “Enak saja dia mau jadi guru saya, kan kita temanan di Mataloko. Kita saling tahulah kemampuan masing-masing,” kisah DD sambil tertawa.

    Ada cerita pengalaman menarik lain DD soal kuliah di UGM. “Hari pertama saya masuk kuliah Ilmu Negara, dosen bilang ‘republik’ berasal dari bahasa Latin ‘republica’. Sebagai orang yang belajar bahasa Latin, saya langsung pikir, kuliah ini bakal tidak menarik. Kesan awal yang buruk, haha,” sekali lagi DD tertawa. Mulai saat itu, cerita DD, dirinya lebih suka menghabiskan banyak waktu untuk diskusi di luar kampus ataupun kegiatan publikasi dan aktivisme lainnya.

    Begitu juga dengan ceritanya tentang suatu masa yang relatif singkat di Ritapiret dan Ledalero. DD bilang, kuliah membosankan karena filsafat dan teologi yang diajarkan sangat skolastik. Oleh karena itu, dia lebih banyak menghabiskan waktu membaca di perpustakaan. “Saya suka teologi Karl Rahner dan Edward Schillebeeckx. Di masa kami di Ritapiret, ada kiriman majalah teologi dari Eropa, saat itu tulisan-tulisan Schillebeeckx menyihir saya,” kata DD.

    Kendati demikian, DD tetap menaruh respek pada beberapa dosen yang mempunyai pikiran yang terbuka, salah satunya Pater Clemens Parera, SVD, pengajar Logica Minor et Maior dan Theodicea. Dalam sumbangan tulisannya untuk buku kenangan 40 tahunSTFK Ledalero, DD menulis, Pater Clemens mengajarkan bahwa doctrina et veritas adalah dua hal yang tidak senantiasa seiring dan sejalan. Selalu ada tegangan keduanya.

    DD pernah menulis agak panjang tentang pengalamannya di Mataloko. Tulisan berjudul “Vita Mea in Semitis Tuis. Mengenang Seminari Santo Johanes Berchmans Todabelu, Mataloko” ini adalah persembahannya untuk semua gurunya di Todabelu: Jan Ebben SVD (rektor dan guru Latin), Coen Claessens SVD (prefek dan guru Latin), Anton Donkers SVD (guru Latin dan Ilmu Bumi), Jan Keerstjens SVD (guru menggambar), Gaspar Sa SVD (prefek), William Pop (guru Inggris dan Direktur Studi), dan lain-lain. “Semua mereka adalah guru dalam arti sesungguhnya. Setelah itu saya banyak menemukan pengajar dan sedikit sekali guru,” tulis DD.

    Ket. Foto: Seminari Mataloko

    Bagi DD, Seminari Mataloko adalah lembaga untuk pengembangan iman dan peradaban. Anak-anak didik (formandi) dari kampung bertemu dengan peradaban baru yang dibawa oleh misionaris Eropa. Tentu, hal ini tidak berarti bahwa apa yang ada di kampung dan segala tradisinya lebih rendah daripada yang dibawa oleh orang bule. Akan tetapi, sistem pendidikan sebagai alat pembebasan disosialisasikan dengan cara yang humanis kepada anak didik. Para misionaris SVD memberikan yang terbaik dari apa yang mereka punya dan alami di Eropa kepada anak-anak pribumi di pedalaman Pulau Flores.

    DD sangat terkesan dengan dan menaruh minat yang besar terhadap pendidikan bahasa asing, terutama bahasa Latin dan bahasa Inggris. Faktor guru rupanya menjadi kunci. Pater Gerbrand Kramer yang menemukan mnemonic tools untuk membantu pengajaran bahasa Latin. Pater Garger dan Pater William Pop yang masing-masing sangat canggih memperkenalkan tata bahasa dan sastra Inggris. Mungkin karena itu, DD selalu bangga bahwa bahasa Inggrisnya bagus dan tidak mempunyai kendala berarti ketika studi di Amerika Serikat (AS).

    Semangat akademik dan penjelajahan ilmiah dipompakan di lembah Sasa ini setelah angkatan mereka mendapat julukan “Studenten von Leipzig Universitaet” dari Patter Jan Ebben. Setelah itu, Pater Alex Beding “meletakkan batu-batu pertama kehidupan intelektual” dengan beberapa gebrakan. Pertama, “merevolusi pengajaran kesusasteraan dari memorizing the literature ke experiencing literature” yang disertai dengan membangun perpustakaan dengan koleksi buku-buku sastra terbaik dari masa ke masa. Kedua, “menghidupkan kegiatan tulis-menulis dengan menerbitkan majalah Florete yang terkenal itu. Beberapa wartawan dan tokoh nasional asal Flores adalah mantan jurnalis Florete: mantan direktur eksekutif VOA Frans Padhak Demon, jurnalis senior Alex Dungkal, mantan dubes Alo Lele Madja, mantan jurnalis Kompas Ansel da Lopez, mantan jurnalis MetroTV Walfred Andre, jurnalis senior Abraham Rungamali, jurnalis senior John Don Bosco, dan lain-lain.

    Ketiga, mendirikan Akademia St Agustinus yang dirancang sebagai suatu debating club. Untuk keperluan salah satu debat awal, DD menyiapkan sebuah ceramah bertajuk “Fungsi Sosial dan Budaya Seni Tari”, yang diakui DD, “inilah paper saya yang pertama di muka bumi”

    Dari ketiga gebrakan akademik di atas, ketahuilah bahwa penekanan ada pada pengembangan intelektual, khususnya humaniora. DD menulis, “Pendidikan seminari memang didasari oleh artes liberals, di mana bahasa, sastra, filsafat menjadi dasar-dasar pendidikan demi membela humanitas yang tidak lain daripada kebudayaan. Semua ini selalu membekas dalam pendidikan setiap orang di seminari”

    Kendati tidak disebutkan DD dalam tulisannya, orang yang memahami sistem pendidikan seminari akan langsung tahu tentang 5S sebagai dasar, prinsip, arah dan tujuan pendidikan: Scientia (ilmu pengetahuan), sapientia (kebijaksanaan), sanctitas (kesucian), sanitas (kesehatan) dan socialitas (persaudaraan, kemasyarakatan). Inilah yang memungkinkan para lulusan seminari (lebih) unggul dalam beberapa hal, terutama pada zaman ketika DD masih remaja di Flores.

    Saya tidak akan banyak masuk pada kesaksian DD tentang studinya di Cornell. Pasti ada banyak orang yang sudah tahu tentang hal itu. DD sendiri pernah bercerita bahwa atmosfer kuliah di Cornell telah memungkinkannya berkembang dan matang sebagai peneliti dan intelektual, terutama dalam pertemuannya dengan beberapa cendekiawan yang menaruh perhatian besar pada Indonesia dan Asia untuk beberapa bidang seperti politik dan media massa. “Saya memilih minor filsafat dan sangat suka pada sesi diskusi di Cornell yang memungkinkan kita menulis hal lain sama sekali daripada bahan kuliah, terutama tentang tokoh-tokoh kontroversial,” ujar DD. Beberapa papernya yang pernah dibawakan di Cornell tentang tokoh-tokoh kemudian disertakan pada bukunya “Menerjang Badai Kekuasaan”.

    Ket. Foto: Universitas Cornell, Sumber Foto Google

    Sampai di sini, ketika kemudian orang mengenal DD sebagai ilmuwan sosial, analis politik dan intelektual, kebanyakan orang kemudian hanya mengenal DD sebagai alumnus UGM dan Cornell. Padahal, menurut kesaksian DD sendiri, bakat dan kemampuan untuk menjadi akademisi telah ditempa di sebuah sekolah menengah di pedalaman pulau bunga di kepulauan Nusa Tenggara.

    DD sendiri sampai di akhir hidupnya mengaku sangat bangga dan mencintai almamaternya Seminari Mataloko. Begitu juga, Daniel Dhakidae adalah salah satu kebanggaan sekolah milik gereja itu. Dalam sebuah makan siang bersama, kami pernah mengeluh soal mahalnya biaya kirim (ongkos) buku ke Mataloko. DD menaruh perhatian besar pada sekolah yang terletak di kecamatan Golewa Kabupaten Ngada itu. Bahkan, seri-seri Majalah Prisma hampir selalu dikirimkan ke sana sejak lama. Yang terakhir, DD meminta saya tanya alamat email kepala perpustakaan Seminari Mataloko, Romo Nani Songkares, agar bisa dikirimkan e-paper seri Prisma terbaru. 

    Akh, saya kemudian berkhayal, seandainya pemerintah tahu, Menko PMK sadar dan Menteri Pendidikan mau sedikit melihat bahwa sistem pendidikan seminari bisa menjadi model bagi pendidikan menengah pada umumnya, tentu tidak untuk mengatakan sebagai yang sempurna, kita mungkin akan mempunyai banyak generasi emas yang cerdas dalam banyak aspek. Belum terlambat, juga perhatian pemerintah bagi sekolah-sekolah swasta seperti seminari yang saat ini harus diakui menghadapi banyak tantangan (finansial).

    RIP Daniel Dhakidae. Terima kasih untuk inspirasi, terutama keteladanan akademik dan daya tahan di hadapan kekuasaan. Surga bagimu!  

    ————————  

     

    Agustunus Tetiro, Ketua Kelompok Studi “Ende Bergerak”, Administrator Forum Wartawaan NTT Sedunia

     

  • Mari Melakukan Perbuatan Kecil, dengan CINTA yang Besar

    SUATU saat dalam hidup kita, bukan tidak mungkin kita mengalami peristiwa-peristiwa yang tidak kita inginkan. Bisa saja kita mengalami kehilangan pekerjaan yang kita tekuni selama puluhan tahun, atau bisa saja kita kehilangan jabatan yang kita tekuni dari tangga yang paling bawah, atau bisa saja kita kehilangan keluarga dekat karena bencana alam.

    Bencana alam: tsunami, gempa bumi, banjir bandang adalah bencana yang amat berat, menekan dan di luar rencana dan perhitungan kita. Bencana alam ini biasanya datang secara tiba-tiba sehingga kita tak sempat mengambil jarak, tak sempat mengambil napas. Para bijak menuturkan bahwa dalam setiap kepahitan (bencana alam, wabah penyakit) yang kita alami kita dapat mengambil hikmanya. Penderitaan, bencana alam sebenarnya sekolah kearifan yang paling berguna. Dengan adanya bencana alam yang menimpa saudara-saudari kita di NTT khusunya di Lembata (Ile Ape dan Kedang), memampukan kita belajar untuk “mengulurkan tangan berbagi kasih”.  Cinta berkaitan dengan apa yang kita berikan.

    Kita memang perlu memberi. Apa pun yang kita berikan akan berdaya guna bagi hidup sesama. Kita tidak terlalu tahu, hidup siapa yang kita sentuh dan menjadi lebih baik karena perhatian kita, karena perbuatan memberi kadang-kadang mempunyai hasil akhir yang tidak terlihat. Namun hal yang terpenting adalah bahwa kita peduli dan bertindak.

    Untuk itu kami dari komunitas INA LEFA Jakarta dan Komunitas TAMAN DAUN Lewoleba datang mengetuk hati Bapak/Ibu/Saudara/Saudari untuk dengan ikhlas mengulurkan tangan membantu para korban bencana alam. Kami menerima bantuan baik berupa uang mau pun berupa pakain bekas layak pakai, selimut, tikar, sembako.

    Bantuan berupa pakaian, selimut, Sembako, akan kami tampung di sekretariat INA LEFA:  Jln Utama Dua no 97 B Rt 09/ Rw 016 Srengseng Sawah Jagakarsa, Jakarta Selatan.

    Bantuan berupa uang dapat di transfer ke rek INA LEFA

    Bank Mandiri No. Rek. 0700005324210  A. N . TITUS BAIRASA KEY.

    Mari kita bersama-sama bergandengan tangan meringankan duka sauadara-saudari kita. Dengan bantuan sekecil apapun sambil dengan rendah hati membatinkan kebenaran kata-kata ini: “Kita tidak Melakukan Hal-hal Besar. Kita melakukan Hal-hal kecil dengan CINTA yang besar” ( Bunda Teresa dari Kalkuta). -Paskalis Bataona-

    Bisa Hub kami;

    Willy Keraf : 0812 91 444 366

    Titus Key : 0821 128 57 621

    Yos Boli Batafor : 0812 818 06639

    Lois Bataona : 0852 927 85399

    Paskalis Bataona : 0812 806 42742

    Ket. Foto. Bencana Banjir Bandang yang menerjang Ile Ape – Lembata

  • Presiden Bantu 5000 Paket Sembako untuk Korban Bencana di Kabupaten Flores Timur dan Lembata

    MAUMERE – Presiden RI Joko Widodo bantu 5000 paket sembako untuk korban bencana banjir bandang dan tanah longsor di Adonara Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.

    Bantuan sembako dari Presiden RI Joko Widodo ini tiba di Bandara Udara Frans Seda Maumere kabupaten Sikka Selasa,06 April 2021 dengan menggunakan dua armada Hercules milik TNI AD.

    Pesawat pertama Hercules TNI AU C-30 Nomor A-1337 tiba diBandara Udara Frans Seda Pukul 22.23 WITA .Membawa Bantuan dari Presiden RI sebanyak 1.800 paket sembako dan Masker sebanyak 2 Kardus.

    Kemudian pukul 13.54 wita Pesawat TNI AU C-130 Nomor A-1335 yang membawa Bantuan dari Presiden RI Sebanyak 1.772 paket sembako dan Bansos dari Pangkoopsau I sebanyak 98 kardus sembako dan indomie sebanyak 100 Kardus.

    Turut hadir dalam kegiatan tersebut Danlanud Eltari Kupang, Marsma Asril Samani,Sekda Sikka Adrianus Firminus Parera,Kapolres Sikka AKBP Sajimin S.I.K M.H,Dandenpom Lanal Maumere Mayor Laut (PM) Edy Wibowo,Pasiter Kodim 1603 Sikka Kpt Inf.Edi, Pasiops Kodim 1603 Kpt Czi Sunaryo,Kepala KP3 Udara .Ipda Budi,Kasatpol PP Sikka Buang Dacunha.

    Pantauan media Bantuan presiden sudah dimuat ke atas 5 truk dan 1 mobil Dalmas Lanal Maumere.Yang sebelumnya sejumlah personil kodim sudah memindahkan paketan tersebut kedalam mobil pengangkut.

    Untuk sementara kendaraan pengangkut bantuan presiden RI diamankan di Kantor Koramil Alok. Danramil Alok Kapten CZI Sunaryo bersama aparat keamanan dari Lanal Maumere, Polres Sikka, dan SatPol PP mengawasi dengan ketat.

    Menurut rencana, bantuan dari Presiden RI Joko Widodod akan diberangkatkan Rabu (7/4/2021) melalui Pelabuhan Lorens Say Maumere menggunakan KRI Oswald Siahaan.

    Presiden Jokowi sendiri dikabarkan melakukan kunjungan kerja ke lokasi bencana di Kabupaten Flotim dan Kabupaten Lembata pada Jumat (9/4) mendatang.

    Untuk diketahui banjir bandang dan longsor yang terjadi Minggu (4/4) telah memporakporandakan 3 kecamatan di Kabupaten Flores Timur yakni Ile Boleng, Adonara Timur, dan Wotan Ulumado. Selain itu Banjir bandang juga menerjang Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur, dan Kedang di Kabupaten Lembata. (AM).

  • Daniel Dhakidae dan Perihal Isi Dalam

    Daniel Dhakidae dan Perihal Isi Dalam

    SEJAK jadi penjual koran eceran di Kupang tahun 1992, nama Dr Daniel Dhakidae sudah saya baca di Kompas. Di koran harian paling besar di Indonesia itu, saya baca nama (Daniel) itu dalam box redaksi. Selain nama Marcel Beding, Pius Karo, Ansel da Lopez, Valens Doy, Rikar Bagun atau Damyan Godho. Bele Marcel adalah wartawan senior dari kampung nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Lembata. Sedang moat Pius dan om Ansel dari Maumere, Kabupaten Sikka, Flores. Ka’e (kaka) Daniel dan om Damy dari Ngada. Di luar itu ada banyak nama wartawan senior asal NTT kala itu yang akrab di telinga setelah saya kaget lihat langsung koran-koran besar terbitan Jakarta yang beredar di Kupang. Kaget karena baru tahun 1991 mata saya melihat dan memegang koran-koran itu di Kupang. Maklum. Sejak SD hingga tamat SMA saya mulai agak akrab dengan DIAN dan HIDUP. Itu pun memegang dan membaca musiman. Di Boto, kampungku, kami meloi dari jauh dan hanya diceritakan kembali pastor ini berita dan artikel saja.

    Bele Marcel, demikian juga Goris Prawin hanya saya dengar saat mereka konon mengikuti perayaan 100 tahun Gereja Katolik masuk Lamalera. Marcel belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Marcel Beding, wartawan Kompas. Begitu pula Goris Perawin belakangan saya tahu yang dimaksud adalah Gorys Keraf, Guru Besar Fakultas Sastra dan Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Moat Pius Karo dikenalkan moat Ardi, kerabatnya dari Maumere. Moat Ardi, memperkenalkan pria yang sama-sama duduk di bangku adalah kerabatnya yang pernah wartawan Kompas. “Maaf, apa Pius yang dimaksud itu moat Pius Karo,” kata saya setengah berbisik kepada moat Ardi. “Benar. Dulu sama-sama tinggal di kos selama saya jadi supir bus ke Jawa,” kata moat Ardi.

    Ka’e Daniel Dhakidae awalnya sua bikin gerogi. Maklum. Namanya tertera di box redaksi Kompas dan tentu ia orang hebat, pintar, dan susah ngobrol. Apalagi ia seorang intelektual dengan kualifikasi pendidikan doktor. Lulusan Amerika, apalagi. Itu yang ada dalam pikiran saya. Bertemu pertama kali pun bahasa saya masih kuat dengan logat Kupang càmpur baur Lembata. Itu hal lain yang bikin lidah berat memulai omong dari mana agar bisa nyambung ka’e Daniel. Saya sengaja pepet Daniel saat beliau ambil nasi dari tempat nasi besi. “Saya kira kita ambil dari seringan. Ini tuan pesta taro di baskom besar,” kata saya.

    Berharap ada respon ka’e Daniel. Dan benar adanya. “Aji isi dalam rapi sekali ko. Dari San Dominggo ko?,” tanya Daniel. Celana kain dan baju kotak-kota memang saya sisip rapi, isi dalam. “Saya cuma dengar cerita emperan San Dominggo, ka’e,” jawab saya ke Daniel. “Dari Larantuka, Solor, Adonara atau Lembata,” tanya Daniel. “Saya dari Lembata, ka’e. Kampung tetangga, bapa Marcel Beding,” kata saya. Saya sengaja menyebut “kampung tetangga” bele Marcel agar obrolan dengan Daniel bisa berlanjut di sela-sela jedah diskusi dan bedah yang ia juga tampil sebagai pembicara.

    Taktik mendekati lalu akrab dengan narasumber lalu bertanya banyak sudah diajarkan para senior saat pelatihan jurnalistik bagi anggota baru PMKRI Santo Fransiskus Xaverius Cabang Kupang. Kalau narasumber pasang muka sanger, cari akal agar bisa tembus lalu wawancara. Kalau seorang narasumber agak kaku, nyeletuk saja. “Pak, maaf. Tali sepatu terlepas,” pesan senior saya, yang pernah ngepos di sebuah koran terbitan Jakarta. “Tapi, cepat-cepat tanya materi yang kamu bawa dari kantor,” lanjutnya mengingatkan. Nah, “ilmu” itu yang saya terapkan saat bertemu Daniel dalam jarak sejengkal. Tatkala menyebut “seringan”, Daniel tersenyum diikuti omongan, “Aji isi dalam rapi, ko“.

    Begitu saat hendak mewancarai Menteri Kawasan Timur Indonesia, Manuel Kaisiepo, saya nyaris ditolak karena sang menteri segera ke bandara untuk kunjungan kerja. “Kàka, nanti Pemred saya marah besar kalau tak jadi wawancara. Kami terdesak deadline. Atau saya wawancara dalam oto kaka saja. Selesai di mana baru kaka kasi turun saya,” kata saya kepada Manuel. Manuel tertawa lalu. “Dua puluh hingga tiga puluh menit cukup ya?” katanya. Saya oke. Jadilah wawancara khusus terkait Papua itu saya turunkan dalam judul, ‘Manuel Kaisiepo: Adà Disparitas Regional’. Ingatan saya kembali ke Daniel, intelektual Indonesia asal Nusa Tenggara Timur. Hari ini, ka’e Daniel Dhakidae berpulang. Damailah di sisi-Nya. Ja’o (saya) senang pernah bertemu ka’e, sosok intelektual rendah hati yang dimiliki Indonesia. Dewa beka.

    Jakarta, 6 April 2021 Ansel Deri Orang udik dari kampung; Menghormati ka’e Daniel.

  • NTT Dikepung Bencana Hidrometereologi, Gubernur Harus Segera Tetapkan Status Darurat Bencana

    BERANDANEGERI.COM,- Sudah lima hari berlangsung yaitu pada tanggal 30 Maret 2021 hujan deras, angin kencang serta gelombang tinggi melanda NTT. Hal ini diperingatkan lagi oleh Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika pada tanggal 03 April 2021.

    Dalam temuan lapangan WALHI NTT, bencana akibat fenomena La Nina ini meluas di seluruh Pulau di NTT. Dampaknya pun signifikan, puluhan orang dilaporkan meninggal dunia, ribuan orang mengungsi, ribuan rumah terendam banjir dan terkena longsor. Hal ini ditambahkan dengan fasilitas publik yang luluh lantak, seperti jembatan dan bendungan. WALHI NTT memperkirakan sementara nilai kerusakan mencapai  triliunan rupiah.

    Melihat Eskalasi bencana meluas dan daya rusak yang ada, seperti,  a. cakupan lokasi bencana; b. jumlah korban; c. kerusakan prasarana dan sarana; d. gangguan terhadap fungsi pelayanan umum serta pemerintahan; dan e. kemampuan sumber daya alam maupun buatan, WALHI NTT meminta Gubernur NTT untuk segera menetapkan status darurat bencana daerah sebagaimana mandat UU no 24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana.

    Hal ini penting karena menjadi landasan untuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah mempunyai kemudahan akses yang meliputi: a. pengerahan sumber daya manusia; b. pengerahan peralatan; c. pengerahan logistik; d. imigrasi, cukai, dan karantina; e. perizinan; f. pengadaan barang/jasa; g. pengelolaan dan pertanggungjawaban uang dan/atau barang; i. penyelamatan; dan h. komando untuk memerintahkan sektor/lembaga. “ Kalau penetapan status darurat bencana tidak dilakukan sulit bagi BPBD untuk bekerja maksimal terutama dari segi kebijakan penanggulangan bencana, Status Darurat bencana penting untuk mempermudah layanan cepat buat rakyat,” ujar Umbu Wulang, Direktur Eksekutif WALHI NTT.

    Saat ini menurut WALHI NTT yang harus diprioritaskan adalah pencarian dan penyelamatan korban, pertolongan darurat dan evakuasi korban ke tempat yang aman. Selain itu sebagaimana mandate UU, Pemenuhan kebutuhan dasar harus juga prioritas seperti, bantuan penyediaan kebutuhan air bersih dan sanitasi, pangan, sandang, pelayanan Kesehatan, pelayanan psikososial, penampungan dan tempat hunian.

    Menindaklanjuti peringatan dari BMKG bahwa fenomena La Nina akan berlangsung hingga akhir April bahkan hingga Mei, WALHI NTT meminta Pemprov segera melakukan konsolidasi Bersama semua kabupaten kota di NTT untuk penguranagan dan penanggulangan resiko bencana akibat La Nina di NTT. “ sebaiknya, lebih cepat lebih baik, mengingat laporan yang diterima WALHI NTT dari kampung kampung masih banyak warga yang belum memperoleh pertolongan, baik itu evakuasi, penganan medis hingga kebingungan untuk mencari tempat mengungsi,” Umbu Wulang

  • DUKA NTT, Presiden: Lakukan Penanganan Secara Cepat dan Baik

    BERANDANEGERI.COM,- Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan telah mendapatkan laporan dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) terkait bencana banjir bandang dan juga longsor yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Nusa Tenggara Barat (NTB). Untuk itu, Presiden telah memerintahkan jajaran terkait untuk melakukan penanganan bencana tersebut secara cepat dan baik.

    “Saya telah memerintahkan kepada Kepala BNPB, kepada Kepala Basarnas, Menteri Sosial, Menteri Kesehatan, dan Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, serta Panglima TNI dan Kapolri untuk melakukan secara cepat evakuasi dan penanganan korban bencana, serta penanganan dampak bencana. Saya minta agar penanganan bencana dapat dilaksanakan dengan cepat dan baik, seperti bantuan pelayanan kesehatan, ketersediaan logistik, dan kebutuhan dasar bagi para pengungsi, serta juga perbaikan infrastruktur,” ujarnya dalam keterangan pers di Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (05/04/2021).

    Dalam pernyataannya, Kepala Negara juga menyampaikan ucapan dukacita terhadap korban dari musibah tersebut. “Atas nama pribadi dan seluruh rakyat Indonesia, saya menyampaikan dukacita yang mendalam atas korban meninggal dunia dalam musibah tersebut. Dan, saya juga memahami kesedihan yang dialami saudara-saudara kita akibat dampak yang ditimbulkan dari bencana ini,” ujarnya.

    Bencana Waiwerang-Adonara – Flores Timur (Foto : Facebook)

    Lebih lanjut, Presiden mengimbau agar masyarakat tetap mengikuti petunjuk yang diberikan oleh petugas di lapangan serta terus meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi bencana yang mungkin terjadi seiring dengan peningkatan curah hujan yang ekstrem.

    “Saya mengimbau kepada masyarakat untuk mengikuti arahan petugas di lapangan dan selalu meningkatkan kewaspadaan dari bencana banjir dan longsor karena meningkatnya curah hujan yang ekstrem. Perhatikan selalu peringatan dini dari BMKG dan aparat di daerah,” tandasnya. (FID/UN/Setkab)

  • DUKA NTT, Pagi Ini Kepala BNPB Letjen Doni Bertolak ke Adonara

    BERANDANEGERI.COM,- Bencana tidak mengenal hari libur. Kalimat itu yang acap diucapkan Kepala BNPB, Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo. Makna yang tersirat adalah, “petugas kebencanaan” harus senantiasa siaga. Termasuk jika harus melakukan perjalanan marathon atas nama penanggulangan bencana.

    “Ini bukan kejadian pertama, di mana kami harus melakukan perjalanan maraton satu daerah ke daerah lain. Setelah kembali ke Jakarta, tak lama berselang harus bertolak lagi ke lokasi bencana yang baru. Nah, itu yang terjadi pagi ini,” ujar Tenaga Ahli BNPB, Egy Massadiah di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Senin (5/4/2021) jelang take off ke Maumere NTT.

    Sebelumnya,  rombongan Ka BNPN baru saja melakukan serangkaian kunjungan terkait kebencanaan dan penanganan Covid. Sejak hari Selasa (30/3/2021) hingga Sabtu (3/4/2021). “Mulai dari Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, berlanjut ke Mamuju, dan Palu. Esok harinya menuju Surabaya, lalu Bali. Sabtu kembali ke Jakarta, Minggu malam stand by di Halim untuk bertolak meninjau banjir bandang di Pulau Adonara, Flores Timur, NTT,” ujar Egy seraya menambahkan, “berhubung cuaca semalam di lokasi tujuan tidak memungkinkan, perjalanan diundur menjadi pagi ini, pukul 05.00 WIB.”


    Kepala BNPB, Letjen TNI Dr (HC) Doni Monardo

    Seperti diketahui, banjir bandang telah menerjang dua desa di Flores Timur pada Minggu (4/4/2021) pukul 01.00 WITA. Selain itu beberapa wilayah lainnya di NTT juga mengalami hal serupa.

    Banjir bandang yang dipicu intensitas hujan tinggi itu, menerjang antara lain Desa Nelelamadike di Kecamatan Ile Boleng, Kelurahan Waiwerang dan Desa Waiburak di Kecamatan Adonara Timur, Desa Oyang Barang dan Pandai di Kecamatan Wotan Ulumado serta Desa Waiwadan dan Duwanur di Kecamatan Adonara Barat.

    Turut serta dalam rombongan  Ka BNPB pagi ini adalah Wagub NTT Josep Nae Soi, Anggota DPD RI Yorrys Raweyai dan Angelius Wake Koko.(*)

    Tim Komunikasi BNPB

  • Bela Rasa di Tengah Pandemi, Mari Bantu Korban Banjir di Malaka

     KABUPATEN MALAKA – Nusa Tenggara Timur saat ini sedang diterjang banjir sejak tanggal 2 April 2021 hingga hari ini (4 April 2021). Beberapa desa di Kabupaten Malaka terendam banjir, di antaranya desa-desa yang ada di Kecamatan Malaka Tengah, Kecamatan Malaka Barat dan Kecamatan Wewiku.

     Imbas dari banjir yang belum kunjung surut sampai hari ini adalah lumpuhnya aktivitas masyarakat. Sumber-sumber pencarian nafkah hilang, ketersediaan air bersih tidak ada, kekurangan kebutuhan pokok seperti makanan dan minuman hingga pakaian, juga masyarakat harus mengungsi dari kediamannya yang terendam banjir. Selain itu, masyarakat terus dihantui perasaan khawatir akan kondisi banjir yang akan terus bertambah parah.

    Emanuel Bria, dari Forum Kajian Sejarah dan Budaya Wesei Wehali menegaskan bahwa diperlukan tindakan emergensi dari pemerintah daerah dan solidaritas masyarakat pada umumnya untuk membantu para korban. Bencana alam ini juga mengingatkan kita untuk hidup selaras dengan hukum-hukum adat dan alam. Situs-situs adat yang selama ini menjadi tempat yang sakral tidak boleh dirusak karena sudah dijaga leluhur secara turun-temurun.

     Menindaklanjuti situasi ini, kami dari Komunitas Anak Timor Hitz Kreatif yang juga terdaftar sebagai Lembaga Sosial Masyarakat, berinisiatif untuk menjadi perpanjangan tangan dari saudara sekalian yang ingin membantu para saudara di Malaka – NTT. Kiranya, dalam kesulitan di masa pandemic ini, hati kita tetap tergerak untuk saling membantu.

    Oleh karena itu, kami memfasilitasi donasi kepada saudara-saudara yang terdampak banjir di Malaka – NTT berupa, 1. Donasi dana, dapat dikirimkan melalui rekening Lembaga Sosial Masyarakat Anak Timor Hitz Kreatif (Bank NTT – 2502415584 /a.n. Anak Timor Hitz Kreatif) 2. Donasi barang (sembako, pakaian, obat-obatan, dll) dapat dikirimkan ke Posko Anak Timor Hitz Untuk Korban Banjir Malaka-NTT dengan alamat: Perumahan Griya Lontar 2, Blok F, No.11, Jl Taebenuk, RT 01/RW 02, Kelurahan Liliba, Kec Kelapa Lima, Kupang – NTT – Belu Store Anak Timor Hitz, Plaza Perizinan Belu, Jl Basuki Rachmat No 2, Atambua, Belu – NTT Kiranya uluran tangan kasih dari saudara sekalian dapat meringankan beban para saudara kita di Malaka- NTT dan dibalas oleh Tuhan Yang Maha Kuasa.

    Contact Person: Aryanto Seran ( WA/ Tlp o8111177654) Email: anaktimorhitz@gmail.com, Instagram dan You Tube: @anaktimor_hitz, Facebook: Anak Timor Hitz