MULUTNYA
seperti jantung buah delima, dan bayang-bayang di mata-Nya dalam. Dan Ia
lembut, seperti pria yang mengenal kekuatannya sendiri.
Dalam
mimpiku kulihat raja-raja di bumi berdiri takjub di dalam hadirat-Nya. Aku mau
menggambarkan wajah-Nya, tetapi bagaimana mungkin? Wajah-Nya seperti malam
tanpa kegelapan dan seperti siang tanpa kebisingan. Wajah-Nya sedih, sekaligus
penuh sukacita.
Dan sungguh
kuingat bagimana Ia pernah mengangkat tangan-Nya ke langit, dan Ia renggangkan
jari-jemari-Nya seperti ranting-ranting pohon elm.
Dan kuingat
Dia mondar-mandir di malam hari. Ia bukan berjalan. Ia sendiri adalah jalan di
atas jalan; bahkan seperti awan di atas bumi yang akan turun untuk menyegarkan
bumi.
Tetapi
ketika aku berdiri di hadapan-Nya dan berbicara kepada-Nya, Ia seorang pria,
dan wajah-Nya sungguh penuh kuasa. Dan Ia berkata kepadaku, โApakah yang engkau
inginkan Miryam?โ
Aku tidak
menjawab-Nya tetapi sayap-sayapku meliputi rahasiaku, dan aku merasakan
kehangatan.
Dan karena tidak tahan lagi terhadap terang-Nya, aku berbalik dan pergi, tetapi bukan dengan nista. Aku hanya malu, dan aku ingin sendirian dengan jari-jemari-Nya di atas dawai-dawai hatiku.
Puisi di atas menyiratkan peristiwa demonstrasi mahasiswa
pada tahun 1966 menentang tirani orde Lama. Tiga anak kecil mewakili golongan
manusia lemah yang masih belia, polos, suci, dan murni hatinya, yang
sesungguhnya belum tahu apa-apa tentang peristiwa demonstrasi itu sendiri.
Tetapi toh, mereka bertiga sudah mampu menyatakan sikap dan rasa duka mendalam
atas gugurnya mahasiswa Kusuma bangsa yang ditembak mati oleh penguasa rezim
itu. Makanya dengan langkah malu-malu, mereka membawa karangan bunga itu ke
makam kakak yang ditembak itu. Pita hitam pada karangan bunga adalah tanda duka
ketiga anak kecil itu sekaligus penguat langkah mereka.
Itulah puisi yang sempat naik daun di era itu, bahkan sampai
pada zaman kita, biasanya ketika ada peristiwa politik, ada mahasiswa turun
demo lalu dihadang petugas, apalagi kalau sampai jatuh korban jiwa maka puisi
ini biasa muncul lagi. Tentu ini sebuah makna kias yang menggambarkan suatu
maksud yang hendak dikemukakan oleh sang penyair.
Saya sengaja menempatkan puisi ini di awal renungan kita,
renungan Paskah. Apa hubungannya? Mari kita bermenung.
Dikisahkan bahwa tiga perempuan, dengan langkah penuh
hati-hati masih diselimut rasa takut datang ke Makam pagi-pagi benar. Penginjil
Markus menulis nama mereka dengan jelas sekali โMaria Magdalena, Maria Ibunda
Yakobus, dan Salome (Mrk. 16:1).โ
Meskipun perjalanan ketiga wanita itu ke makam, namun mereka
tidak sama secara banyak hal dengan tiga anak kecil dalam tulisan Taufiq Ismail
di atas. Mereka tentu sudah agak tua (kisaran umur Yesus ke atas, berarti di
atas 30 an-lah), mereka melangkah ke kubur bukan dalam ketidaktahuan tentang
demonstrasi seperti tiga anak kecil itu, pun tidak di saat sore hari saat
santai dan agak lebih cocok mengunjungi makam seperti yang dibuat oleh tiga
anak kecil di atas dalam langkah malu-malu.
Tapi juga mereka bergerak dalam situasi yang kurang lebih
sama. Keduanya (tiga anak kecil dan tiga perempuan) adalah wakil dari
orang-orang baik yang punya hati iba dan turut merasakan kepedihan mendalam
oleh kematian yang โtidak wajarโ dan โtak adilโ. Para perempuan dan ketiga anak
kecil adalah wakil dari orang-orang lemah, orang-orang sederhana, yang
disingkirkan, dan yang tidak dipandang sama sekali oleh katakanlah kultur
patriarkat dan segala tetek bengeknya. Mereka adalah wakil orang-orang lemah
yang tidak atau kurang mendapat kedudukan terhormat dalam masyarakat.
Jika langkah ketiga anak kecil sore itu adalah ikut berduka
bagi kakak yang secara tidak adil dan tak berperikemanusiaan ditembak mati
siang tadi, maka ketiga perempuan pun dalam kemirisan yang sama berlangkah ke
makam Sang Kakak, Sang Sahabat, Sang Guru, Sang Mesias, Sang Tuhan yang
disalibkan secara keji dan tidak adil. Sama-sama adalah korban ketidakadilan
penguasa.
Tiga anak kecil membawa karangan bunga dengan pita hitam,
demikian pun ketiga perempuan membawa rempah-rempah yang mereka beli sendiri
untuk mengurap jenazah Yesus.
Sampai di sini narasi terputus di kisah tiga anak kecil
pengunjung makam. Tidak ada cerita lebih lanjut setelah karangan bunga berpita
hitam sudah ditaruh di atas makam sang Kakak. Sementara narasi terus tersambung
di kisah tiga perempuan pengunjung makam suci.
Batu besar yang awalnya sempat mereka pikir bakal jadi
penghambat karena apalah daya perempuan menggulingkan batu dalam keadaan yang
belum begitu stabil oleh tragedi penyaliban siang hingga sore kemarin. Dan
ternyata di luar dugaan batu besar itu sudah terguling. Segudang tanya mulai
muncul; siapakah pemuda yang memakai jubah putih itu? Di mana jenazah Tuhan?
โJangan takut, pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya
dan Petrus, bahwa Ia mendahului kamu ke Galileaโฆโ Inilah pesan Paskah itu.
Pergilah. Yah, mari kita pergi untuk mewartakan sukacita Paskah. Tuhan sudah
bangkit jaya. Dialah kemenangan kita. Batu besar penutup kubur tidak lagi
menjadi penghambat, kita bebas, kita menang. Halleluya.
Ketiga Perempuan itu adalah wartawati pertama yang
mengabarkan sukacita paling besar yang melandasi kokohnya iman Kristiani. Maka
benar kata Santo Paulus, โKalau Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah
iman kita,โ (1Kor. 15:14). Bayangkan jika ketiga perempuan ini tidak pergi ke
kubur atau jika mereka memilih untuk pulang dan diamkan saja peristiwa aneh
itu. Akan jadi apakah komunitas (iman) Kristiani selanjutnya?
Bagi saya kita patut bersyukur atas ketiga wartawati suci ini
yang sudah menyampaikan atau lebih tepatnya meneruskan pesan Kebangkitan,
kepada para Murid (yang meskipun awalnya ragu-ragu), lalu kemudian menyebar ke
segala penjuru dunia sampai ke kita sini.
Dan sekarang tugas kita adalah: tidak perlu ke kubur itu
lagi, tidak perlu cemas dengan batu penutup kubur itu. Memang bahwa terkadang
niat baik kita selalu berbenturan dengan banyak hal yang menghalang rintangi.
Ibarat batu penutup kubur, penghalang-penghalang itu pun akan digulingkan
sendiri oleh Tuhan, sehingga kita pun menemukan kubur kosong, dan mewartakan ke
penjuru dunia, โDia tidak ada lagi di sini. Dia sudah bangkit,โ (Mrk. 16:6).
Mari kita teladani semangat para wanita yang adalah saksi
kunci kebangkitan, kita berani menerobos penghalang, berani masuk ke dalam
misteri kematian dan kebangkitan Yesus, agar dari sanalah kita memperoleh
kekuatan untuk menjadi wartawan-wartawati keselamatan bagi dunia yang sedang
diporak-poranda ini.
KRISTUS dan pesonanya selalu menarik para penyair Indonesia untuk dibicarakan. Chairil Anwar misalnya, menulis puisi โIsaโ, yang menceritakan peristiwa penyaliban Kristus, Sitor Situmorang dengan โPaskah Maria Magdalenaโ, Subagio Sastro Wardoyo dengan โPaskah di Kentucky Fried Chickenโ, Darmanto Jatman dengan โApakah Kristus Pernah?โ, Linus Suryadi AG dengan โMaria Magdalenaโ, Rusli Marzuki Saria dengan โKristus Sawo Matangโ, Hartojo Andangdjaya dengan โGolgota Sebuah Pesanโ, Joko Pinurbo dengan โCelana Ibuโ dan W. S. Rendra dengan sangat elegant menulis โNyanyian Angsaโ.
Puisi-puisi yang ditulis Rendra selalu menyuarakan pembelaannya terhadap orang-orang kecil, mereka yang terpinggirkan, mereka yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat. Puisi-puisi Rendra memperlihatkan bahwa Rendra adalah penyair yang reaktif terhadap realitas lingkungan. Hal ini dapat kita baca dalam kumpulan puisinya Potret Pembangunan dalam Puisi dan Ballada Orang-orang Tercinta.
W. S. Rendra, sang Burung Merak, yang bernama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Solo 7 November 1935. Putra dari R Cyprianys Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayah Rendra adalah guru bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia di sekolah Katolik, Solo. Sedangkan ibunya seorang penari serimpi di Keraton Surakarta.
Sejak kecil hingga remaja, Rendra banyak menghabiskan waktunya di kota kelahirannya. W. S. Rendra memulai pendidikannya di TK Marsudirini, Yayasan Kanisius, Solo pada tahun 1942. Lulus dari TK, W. S. Rendra kemudian menyelesaikan pendidikan dasar sampai SMA dan lulus tahun 1952 di Sekolah Katolik, St. Yosef, Solo.
Membaca โNyanyian Angsaโ kita seakan diโinterupsiโ dari kehidupan harian kita yang serba rutin dan tergesa di zaman digital ini, bahwa setiap orang punya hak untuk dihargai, dan dicintai. โNyanyain Angsaโ adalah โsuara yang lainโ yang perlu kita dengarkan. Mari dengarkan suaranya.
Nyanyian Angsa
Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya: โSudah dua minggu kamu berbaring. Sakitmu makin menjadi. Kamu tak lagi hasilkan uang. Malahan kapadaku kamu berhutang. Ini beaya melulu. Aku tak kuat lagi. Hari ini kamu harus pergi.โ
(Malaikat penjaga Firdaus. Wajahnya tegas dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Maka darahku terus beku. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang sengsara. Kurang cantik dan agak tua).
Jam dua-belas siang hari. Matahari terik di tengah langit. Tak ada angin. Tak mega. Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran. Tanpa koper. Tak ada lagi miliknya. Teman-temannya membuang muka. Sempoyongan ia berjalan. Badannya demam. Sipilis membakar tubuhnya. Penuh borok di klangkang di leher, di ketiak, dan di susunya. Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah. Sakit jantungnya kambuh pula. Ia pergi kepada dokter. Banyak pasien lebih dulu menunggu. Ia duduk di antara mereka. Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka. Ia meledak marah tapi buru-buru jururawat menariknya. Ia diberi giliran lebih dulu dan tak ada orang memprotesnya. โMaria Zaitun, utangmu sudah banyak padaku,โ kata dokter. โYa,โ jawabnya. โSekarang uangmu brapa?โ โTak ada.โ Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang. Ia kesakitan waktu membuka baju sebab bajunya lekat di borok ketiaknya. โCukup,โ kata dokter. Dan ia tak jadi mriksa. Lalu ia berbisik kepada jururawat: โKasih ia injeksi vitamin C.โ Dengan kaget jururawat berbisik kembali: โVitamin C? Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.โ โUntuk apa? Ia tak bisa bayar. Dan lagi sudah jelas ia hampir mati. Kenapa mesti dikasih obat mahal yang diimport dari luar negri?โ
(Malaikat penjaga Firdaus. Wajahnya iri dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Aku gemetar ketakutan. Hilang rasa. Hilang pikirku. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang takut dan celaka.)
Jam satu siang. Matahari masih dipuncak. Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu. Dan aspal jalan yang jelek mutunya lumer di bawah kakinya. Ia berjalan menuju gereja. Pintu gereja telah dikunci. Karna kuatir akan pencuri. Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu. Koster ke luar dan berkata: โKamu mau apa? Pastor sedang makan siang. Dan ini bukan jam bicara.โ โMaaf. Saya sakit. Ini perlu.โ Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau. Lalu berkata: โAsal tinggal di luar, kamu boleh tunggu. Aku lihat apa pastor mau terima kamu.โ Lalu koster pergi menutup pintu. Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan. Ada satu jam baru pastor datang kepadanya. Setelah mengorek sisa makanan dari giginya ia nyalakan crutu, lalu bertanya: โKamu perlu apa?โ Bau anggur dari mulutnya. Selopnya dari kulit buaya. Maria Zaitun menjawabnya: โMau mengaku dosa.โ โTapi ini bukan jam bicara. Ini waktu saya untuk berdoโa.โ โSaya mau mati.โ โKamu sakit?โ โYa. Saya kena rajasinga.โ Mendengar ini pastor mundur dua tindak. Mukanya mungkret. Akhirnya agak keder ia kembali bersuara: โApa kamu โ mm โ kupu-kupu malam?โ โSaya pelacur. Ya.โ โSanto Petrus! Tapi kamu Katolik!โ โYa.โ โSanto Petrus!โ Tiga detik tanpa suara. Matahari terus menyala. Lalu pastor kembali bersuara: โKamu telah tergoda dosa.โ โTidak tergoda. Tapi melulu berdosa.โ โKamu telah terbujuk setan.โ โTidak. Saya terdesak kemiskinan. Dan gagal mencari kerja.โ โSanto Petrus!โ โSanto Petrus! Pater, dengarkan saya. Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya. Yang nyata hidup saya sudah gagal. Jiwa saya kalut. Dan saya mau mati. Sekarang saya takut sekali. Saya perlu Tuhan atau apa saja untuk menemani saya.โ Dan muka pastor menjadi merah padam. Ia menuding Maria Zaitun. โKamu galak seperti macan betina. Barangkali kamu akan gila. Tapi tak akan mati. Kamu tak perlu pastor. Kamu perlu dokter jiwa.โ
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya sombong dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Aku lesu tak berdaya. Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang lapar dan dahaga.)
Jam tiga siang. Matahari terus menyala. Dan angin tetap tak ada. Maria Zaitun bersijingkat di atas jalan yang terbakar. Tiba-tiba ketika nyebrang jalan ia kepleset kotoran anjing. Ia tak jatuh tapi darah keluar dari borok di klangkangnya dan meleleh ke kakinya. Seperti sapi tengah melahirkan ia berjalan sambil mengangkang. Di dekat pasar ia berhenti. Pandangnya berkunang-kunang. Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar. Orang-orang pergi menghindar. Lalu ia berjalan ke belakang satu restoran. Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan. Kemudian ia bungkus hati-hati dengan daun pisang. Lalu berjalan menuju ke luar kota.
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya dingin dan dengki dengan pedang yang menyala menuding kepadaku. Yang Mulya, dengarkanlah aku. Maria Zaitun namaku. Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)
Jam empat siang. Seperti siput ia berjalan. Bungkusan sisa makanan masih di tangan belum lagi dimakan. Keringatnya bercucuran. Rambutnya jadi tipis. Mukanya kurus dan hijau seperti jeruk yang kering. Lalu jam lima. Ia sampai di luar kota. Jalan tak lagi beraspal tapi debu melulu. Ia memandang matahari dan pelan berkata: โBedebah.โ Sesudah berjalan satu kilo lagi ia tinggalkan jalan raya dan berbelok masuk sawah berjalan di pematang.
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya tampan dan dengki dengan pedang yang menyala mengusirku pergi. Dan dengan rasa jijik ia tusukkan pedangnya perkasa di antara kelangkangku. Dengarkan, Yang Mulya. Maria Zaitun namaku. Pelacur yang kalah. Pelacur terhina).
Jam enam sore. Maria Zaitun sampai ke kali. Angin bertiup. Matahari turun. Haripun senja. Dengan lega ia rebah di pinggir kali. Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya. Lalu ia makan pelan-pelan. Baru sedikit ia berhenti. Badannya masih lemas tapi nafsu makannya tak ada lagi. Lalu ia minum air kali.
(Malaekat penjaga firdaus tak kau rasakah bahwa senja telah tiba angin turun dari gunung dan hari merebahkan badannya? Malaekat penjaga firdaus dengan tegas mengusirku. Bagai patung ia berdiri. Dan pedangnya menyala.)
Jam tujuh. Dan malam tiba. Serangga bersuiran. Air kali terantuk batu-batu. Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang dan mengkilat di bawah sinar bulan. Maria Zaitun tak takut lagi. Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya. Mandi di kali dengan ibunya. Memanjat pohonan. Dan memancing ikan dengan pacarnya. Ia tak lagi merasa sepi. Dan takutnya pergi. Ia merasa bertemu sobat lama. Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya. Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya. Ia jadi berduka. Dan mengadu pada sobatnya sembari menangis tersedu-sedu. Ini tak baik buat penyakit jantungnya.
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya dingin dan dengki. Ia tak mau mendengar jawabku. Ia tak mau melihat mataku. Sia-sia mencoba bicara padanya. Dengan angkuh ia berdiri. Dan pedangnya menyala.)
Waktu. Bulan. Pohonan. Kali. Borok. Sipilis. Perempuan. Bagai kaca kali memantul cahaya gemilang. Rumput ilalang berkilatan. Bulan.
Seorang lelaki datang di seberang kali. Ia berseru: โMaria Zaitun, engkaukah itu?โ โYa,โ jawab Maria Zaitun keheranan. Lelaki itu menyeberang kali. Ia tegap dan elok wajahnya. Rambutnya ikal dan matanya lebar. Maria Zaitun berdebar hatinya. Ia seperti pernah kenal lelaki itu. Entah di mana. Yang terang tidak di ranjang. Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia. โJadi kita ketemu di sini,โ kata lelaki itu. Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya. Sedang sementara ia keheranan lelaki itu membungkuk mencium mulutnya. Ia merasa seperti minum air kelapa. Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu. Lalu lelaki itu membuka kutangnya. Ia tak berdaya dan memang suka. Ia menyerah. Dengan mata terpejam ia merasa berlayar ke samudra yang belum pernah dikenalnya. Dan setelah selesai ia berkata kasmaran: โSemula kusangka hanya impian bahwa hal ini bisa kualami. Semula tak berani kuharapkan bahwa lelaki tampan seperti kau bakal lewat dalam hidupku.โ Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya. Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar. โSiapakah namamu?โ Maria Zaitun bertanya. โMempelai,โ jawabnya. โLihatlah. Engkau melucu.โ Dan sambil berkata begitu Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu. Tiba-tiba ia terhenti. Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya. Di lambung kiri. Di dua tapak tangan. Di dua tapak kaki. Maria Zaitun pelan berkata: โAku tahu siapa kamu.โ Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya. Lelaki itu menganggukkan kepala: โBetul. Ya.โ
(Malaekat penjaga firdaus wajahnya jahat dan dengki dengan pedang yang menyala tak bisa apa-apa. Dengan kaku ia beku. Tak berani lagi menuding padaku. Aku tak takut lagi. Sepi dan duka telah sirna. Sambil menari kumasuki taman firdaus dan kumakan apel sepuasku. Maria Zaitun namaku. Pelacur dan pengantin adalah saya).
ย
Sebagai seorang sastrawan sekaligus dramawan, Rendra dalam puisi โNyanyian Angsaโ memiliki kemampuan dalam menata peristiwa/adegan, alur cerita, sejak Maria ย Zaitun keluar dari rumah pelacuran hingga berjumpa Sang Kristus di pinggir sungai. Pemilihan tokoh, Maria Zaitun, majikan rumah pelacuran, dokter, pastor, dan koster merupakan simbol-simbol yang kental nuansa biblikal.
Rendra lewat โNyanyian Angsaโ mencoba mengekspresikan perasaan yang ada pada seorang mantan pelacur yang pada masa tuanya mengidap penyakit raja singa di mana banyak orang disekitarnya mengucilkannya. Melalui puisi โNyanyian Angsaโ, Rendra juga ingin menunjukkan sikap hidup seorang Maria Zaitun yang tidak mau menyerah begitu saja kepada keadaan yang membuatnya menderita.
โNyanyian Angsaโ memang bukan teologi namun dia berbicara tentang nilai-nilai yang selama ini dibicarakan dikalangan para teolog; โNyanyian Angsaโ bukan sebuah analisis sosial namun dia berbicara tentang pelbagai hubungan kelompok sosial yang tidak imbang; โNyanyian Angsa” bukanlah filsafat namun dia juga membuka wilayah-wilayah baru yang menarik untuk dipikirkan. Berkenan dengan agama, โNyanyian Angsaโ membuka ruang lebar bagi kita untuk mengenali kembali tanggung jawab agama pada zaman sekarang. (St. Sunardi, 2012: 4).
Dalam โNyanyian Angsaโ, masa depan yang lebih baik adalah keadaan dimana orang-orang malang seperti Maria Zaitun mendapatkan hak untuk dikunjungi dan diselamatkan. Ketika Maria Zaitun sedang merenung tentang masa mudanya bersama ibu dan keluarganya ada energi yang muncul dalam dirinya untuk melupakan perjalanan hidupnya yang didera penderitaan.
Maria Zaitun menyadari betul bahwa dia tidak mempunyai apa-apa selain kerinduan akan โYang Kudusโ.ย Kerinduan akan โYang Kudusโ menjadi satu-satunya kebahagian bagi seorang Maria Zaitun. Ketika ia sedang merenungkan perjalanan hidupnya, tiba-tiba datang seorang laki-laki tampan menemuinya. Lelaki itu mencumbuinya bahkan sampai membuka kutang Maria Zaitun.
Mengalami pengalaman โcintaโ yang berbeda dari lelaki yang mendatangi dan mencumbuinya, Maria Zaitun merasa kehidupannya telah diubah. Ia perlahan-lahan ย mengenali lelaki tampan itu. Lelaki itu adalah Juru Selamat yakni Yesus Kristus. Tafsiran bahwa yang mendatangi Maria Zaitun di pinggir kali adalah Yesus Kristus adalah ketika Maria Zaitun mencium seluruh tubuh lelaki itu dan menemukan bekas luka di lambung kiri, di dua tapak tangan, dan di dua tapak kaki. Yesus telah mengangkat Maria Zaitun dari kegelapan. Maria Zaitun telah bangkit dari kubur masa silamnya yang kelam. Ia, Maria Zaitun mengalami kebangkitan seperti halnya kebangkitan Kristus. Maria Zaitun namaku. Pelacur dan pengantin adalah saya.
PRANATA K AGAS, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menggunting kuku kaki seorang mama yang sedang menderita disabilitas mental di Kampung Tewuk, Desa Satar Lahing, Kecamatan Rana Mese, Kamis, (1/4/2021). Selain menggunting kuku kaki, Ia juga membersihkan jari-jari tangan yang terlihat tidak terawat dengan baik.
Nama mama
itu, Eleonora Buphu yang sudah empat tahun dipasung kaki satunya dengan balok
di bagian dapur rumah keluarga itu.
Pranata K
Agas yang biasa disapa Ibu Ani Agas baru dua bulan menggawangi bidang
pencegahan dan pengendalian penyakit (P2P) di dinas tersebut.
Di bidang
itu juga ada seksi untuk pencegahan dan penanganan orang dengan gangguan jiwa
(ODGJ).
Selanjutnya
dalam narasi ini disebut Ani Agas. Ia selalu gelisah dan mencari pengetahuan di
google dan membaca berbagai regulasi tentang pencegahan dan penanganan
penderita disabilitas mental.
Sebelum Ani
Agas mendapatkan kepercayaan menjadi kepala bidang P2P itu, Ia menduduki
jabatan kepala bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan Kabupaten
Manggarai Timur.
Melalui
pesan whatsapp yang diterima, Kamis, (1/4/2021) menjelaskan, hari ini mereka
(Dinkes) Kabupaten Manggarai Timur mendampingi utusan dari Kementerian Sosial
Republik Indonesia untuk mengunjungi seorang penderita gangguan jiwa di Desa
Satar Lahing, Kecamatan Rana Mese.
Utusan
Kementerian Sosial Republik Indonesia dari bagian Direktorat Rehabilitasi
sosial penyandang disabilitas di Kementerian Sosial Republik Indonesia, Nur
Sholeh dan Rudi.
Dan juga
Hilarius Jabur, Kepala Seksi Pelayanan
dan rehabilitasi sosial penyandang disabilitas Dinas Sosial Kabupaten Manggarai
Timur, didampingi
Kepala Desa Satar Lahing, dan Pengelola program kesehatan Jiwa (Keswa) Puskesmas Lalang, Ibu Efi. Ani Agas menceritakan bahwa nama pasien itu, Eleonora Buphu, sudah 4 tahun dipasung.
Ket. Foto: Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Manggarai Timur, NTT, Pranata K. Agas sedang Menggunting Kuku Pasienyang Menderita Ganguan Jiwa di Kampung Tewuk, Desa Satar Lahing, Kec. Rana Mese, Manggarai Timur, Kamis (1/4/2021). (Dok. Kabid P2P Dinkes Manggarai Timur – Pranata K Agas)
Saat ini
dalam pengobatan. Keadaan umum baik dan pasien terlihat mulai membaik.
Pasien
bercakap-cakap dengan baik, mampu menyebutkan nama dan anggota keluarga bahkan
mengingat banyak hal.
Pasien
bahkan berterima kasih akan kepedulian Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai
Timur.
Edukasi
terkait keadaan pasien kepada keluarga sudah dilakukan oleh petugas medis di
Puskesmas Lalang.
Apabila
evaluasi klinis membaik maka akan dilepas dari pasungan dan terus dipantau
kesehatan jiwanya.
Ani Agas
menjelaskan, Kementerian Sosial menghantar bantuan berupa Kebutuhan sandang dan
pangan seperti; Beras, telur, baju, perlengkapan mandi seperti handuk, sabun,
sampo, selain itu ada susu, biskuit, telur, minyak goreng.
Selain
mengajak beliau bercerita tentang dirinya, tentang anak-anaknya, kami meminta
izin untuk merapikan kuku jari-jarinya, kemudian saya lanjutkan dengan
menggunting kuku kakinya yang terlihat mengeras.
“Ia
bercerita bahwa setelah menerima pengobatan, keadaanya membaik, ia mengingat
banyak hal, bahkan ia baru ingat bahwa anak bungsunya sedang kuliah.
Ia berjanji
akan minum obat teratur agar cepat sembuh,” jelasnya.
Ani Agas
mengungkapkan ” hari ini akhirnya saya paham hukum terbesar kitaโฆโฆ terima
kasih telah mengajarkan saya banyak hal. Saya banyak belajar dari orang dengan
gangguan jiwa (ODGJ).”
Kamis Putih Melayani ODGJ
Saat
mempersiapkan diri untuk merayakan Perayaan Kamis Putih. Perayaan perjamuan
terakhir Tuhan Yesus bersama 12 rasul-Nya.
Kabid P2P
dan Kepala Seksi Pencegahan Penanganan ODGJ di bidang P2P, Yanuarius Ngabut
mengunjungi sambil memberikan pelayanan pengobatan bagi seorang mama yang
sedang dipasung karena derita gangguan jiwa di pedalaman Manggarai Timur.
Mereka
memaknai Kamis Putih dengan membersihkan jari tangan serta menggunting kuku
kaki dari penderita tersebut.
Pelayanan Kasih KKI Menggugah Hati
Ani Agas
Pelayanan
Kasih dari relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan
Jiwa Kabupaten Manggarai Timur sejak Juli 2017 lalu menggugah hati Ibu Pranata
K Agas secara pribadi karena waktu ia belum menduduki jabatan kepala bidang
P2P.
Beberapa
kali secara pribadi, Ani Agas bersama relawan Kelompok Kasih Insanis sama-sama
mengunjungi orang yang sedang derita gangguan jiwa di Kabupaten Manggarai
Timur.
Bahkan
beberapa kali bertemu dengan relawan KKI untuk saling sharing tentang kisah
pelayanan bagi orang yang sedang derita gangguan jiwa.
Saat itu
relawan KKI memberikan masukkan bahwa ketersediaan obat di Puskesmas-Puskesmas
di seluruh Manggarai Timur bagi penderita gangguan jiwa mampu memulihkan mereka
dari derita yang sedang dialami.
Berkat rutin
minum obat yang dilayani petugas medis dari beberapa Puskesmas di sekitar Kota
Borong ada sebagian penderita yang lepas pasung. Tentu pasca lepas pasung, para
penderita tetap minum obat secara berkelanjutan dengan pendampingan anggota
keluarga.
Semua
masukkan yang disampaikan relawan KKI dicatat dan di analisanya untuk pengadaan
obat rutin dan didistribusikan kepada puskesmas-puskesmas di seluruh Manggarai
Timur.
Saat sharing
itu, Ibu Ani Agas memberikan saran kepada relawan KKI untuk sama-sama membuat
roadmap pencegahan dan penanganan orang dengan gangguan jiwa di Kabupaten
Manggarai Timur.
Tidak hanya
menerima pengalaman dari pelayanan kasih dari relawan KKI Manggarai Timur, Ibu
Ani Agas juga berjuang keras untuk berdiskusi dengan Pendiri Relawan Kelompok
Kasih Insanis NTT, Pater Aventinus Saur, SVD.
Bertemu Pater Avent Saur, SVD di
Kampung Taga
31 Oktober
2020 lalu, Ibu Ani Agas bersama seorang stafnya bertemu Pater Aventinus Saur,
SVD di Kampung Taga, Desa Golo Nderu, Kecamatan Kota Komba, (dulu), kini sudah
mekar menjadi Kecamatan Kota Komba Utara.
Saat itu
Pater Avent, SVD memimpin misa pemberkatan nikah seorang anggota relawan KKI
Kabupaten Manggarai Timur. Pankrasius Purnama namanya. Biasa disapa Engkos.
Engkos jatuh
cinta dengan seorang gadis cantik dari kampung tersebut.
Walaupun medan
jalan yang sangat berat. Belum di aspal. Saat itu belum dibangunkan crossway di
Kali Wae Ghera. Kini crossway sudah dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Manggarai Timur.
Komitmen
untuk memulihkan sesama yang sedang derita gangguan jiwa, baik yang dipasung
maupun yang berkeliaran menjadi panggilan hati nurani dari Ibu Ani Agas,
walaupun saat itu masih duduk di Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK)
Dinas Kesehatan Manggarai Timur.
Komitmen
pribadi untuk memulihkan sesama yang sedang derita sakit membuat ia menimba
pengalaman dari Pendiri KKI walaupun bertemu di pelosok Manggarai Timur.
Sebelum
dilangsungkan resepsi pernikahan dari Engkos. Ibu Ani Agas, Pater Avent, SVD,
Saya, staf Dinkes dan beberapa relawan KKI Desa Golo Nderu berdiskusi lepas
tentang penanganan dan pencegahan serta pemulihan bagi ODGJ.
Pater Avent
menyampaikan peran pengobatan dari obat medis mampu memulihkan penderita yang
sedang sakit. Itu sudah nyata dialami di beberapa Kabupaten di Pulau Flores
selama pelayanan dari relawan KKI. Saat itu Ibu Ani Agas lebih banyak mendengar
dan menyimak seluruh diskusi tersebut.
Dinas
Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur meningkatkan pelayanan medis serta
pengadaan obat-obatan di seluruh Puskesmas. Oktober 2019 lalu, relawan KKI
sudah mengadakan seminar Nasional tentang Kesehatan Jiwa (Keswa).
Saat itu
Dinas Kesehatan hadir bersama dengan seluruh petugas medis dari beberapa
Puskesmas di Manggarai Timur.
Diskusi
berhenti sampai disitu karena kami harus masuk di ruang kemah pesta. Kemudian
waktu sudah sore, Ibu Ani Agas pamit pulang duluan ke Kota Borong sambil
berpesan agar diskusi berlanjut di Kota Borong.
Secercah Harapan bagi Pemulihan ODGJ
Penanganan
dan pencegahan bagi penderita orang dengan gangguan jiwa atau bahasa halusnya
disabilitas mental sesuai regulasi merupakan hal baru di Pulau Flores berkat
perjuangan gigih dari seorang Imam yang bertugas di Provinsial Ende.
Pater
Aventinus Saur, SVD namanya. Ia imam
dari ordo Serikat Sabda Allah yang didirikan oleh Santo Arnoldus Jansen. Ingin
tahu kisah perjuangannya baca buku “Belum Kalah”. Berkat pelayanan
kasihnya, Ia pernah mengisahkan perjuangannya di program Kick Andy di media
Metro TV bahkan kisah perjuangannya dimuat di media KOMPAS dan KOMPAS.com
Membaca
tulisan dan liputan di media Flores Pos dan media sosial facebook, banyak orang
tergerak hati untuk bergabung hingga akhir membentuk kelompok relawan KKI.
Berangkat
pesan di inbox media sosial dan menukarkan nomor ponsel. Kemudian sekitar 7
orang dari Manggarai Timur bertemu Pater Avent di sebuah warung makan di Kota
Borong. Saat itu tepatnya Juli 2017.
Waktu itu Pater
pulang dari Panti Renceng Mose Ruteng. Pater Avent ke Panti Renceng Mose Ruteng
menghantar seorang pasien dari Kabupaten Ende untuk dirawat dan memulihkan
kesehatan dari penderita tersebut.
Saat makan
siang bersama, kami sepakat dan meminta kepada Pater Avent agar relawan KKI
juga dibentuk di Manggarai Timur. Saat itu Pater Avent berpesan bahwa ini kerja
sukarela. Panggilan hati nurani. Ada kerelaan dalam hati untuk menjadi relawan.
Saat itu
kami sepakat. Pater Avent kembali ke Ende dan kami pulang ke rumah
masing-masing.
Selanjutnya
pelayanan secara sporadis. Misalnya dimana ada informasi orang sakit gangguan
jiwa dipasung, kami berkunjung disela kesibukan kerja masing-masing.
Perjuangan
relawan KKI tanpa kenal lelah membuahkan hasil dengan menyelenggarakan Seminar
Nasional Kesehatan Jiwa (Keswa). Tampil sebagai narasumber secara sukarela saat
itu, Dr Albert Maramis, Seorang Penyintas yang pulih, Mas Kiki, Pater Avent
Saur, SVD Saat itu Seminar dibuka oleh Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus.
Hadir saat itu Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa, Wakil Ketua DPRD
Manggarai Timur, Damu Damian, Vikep Borong, Romo Simon Nama, Pr serta beberapa
imam, diantaranya Romo Hermen Sanusi, Pr
Setelah
Seminar dilanjutkan dengan dengar pendapat (public hearing) di Gedung DPRD
Manggarai Timur.
Tidak sampai
disitu perjuangan dari relawan KKI. Relawan mengajak beberapa anggota DPRD
untuk mengunjung langsung penderita di rumah-rumah. Dialog dengan Dinkes,
Dinsos di ruangan Ketua DPRD. Dialog dengan Kepala Dinas Sosial. Dialog dengan
Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat. Pada Desember 2020, pertemuan terbatas
dengan Kemenkes, Kemensos, Keuskupan Ruteng, relawan KKI, Dinkes dan Dinsos
dari Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur untuk pencegahan dan penanganan
ODGJ. Bahkan relawan KKI dialog dengan anggota DPRD Provinsi NTT, Yohanes Rumat
di Cafe SMAK Pancasila Borong dengan melibatkan Dinkes Manggarai Timur.
Inilah
catatan pelayanan kasih serta upaya bersama untuk memulihkan sesama saudara
yang sedang menderita gangguan jiwa. Salam Belum Kalah. Salam Sehat Jiwa. Kita
Belum Terlambat.
*************
*Penulis
adalah wartawan dan koordinator relawan KKI di Manggarai Timur
Yesus berjalan ke Golgota
disandangnya salib kayu
bagai domba kapas putih.
Tiada mawar-mawar di jalanan
tiada daun-daun palma
domba putih menyeret azab dan dera
merunduk oleh tugas teramat dicinta
dan ditanam atas maunya.
Mentari meleleh segala menetes dari luka dan leluhur kita Ibrahim berlutut, dua tangan pada Bapa: โ Bapa kami di sorga telah terbantai domba palling putih atas altar paling agung. Bapa kami di sorga Berilah kami bianglala!
Ia melangkah ke Golgota jantung berwarna paling agung mengunyah dosa demi dosa dikunyahnya dan betapa getirnya.
Tiada jubah terbentang di jalanan
bunda menangis dengan rambut pada debu
dan menangis pula segala perempuan kota.
โ Perempuan!
mengapa kautangisi diriku
dan tiada kautangisi dirimu?
Air mawar merah dari tubuhnya menyiram jalanan kering jalanan liang-liang jiwa yang papa dan pembantaian berlangsung atas taruhan dosa.
Akan diminumnya dari tuwung kencana anggur darah lambungnya sendiri dan pada tarikan napas terakhir bertuba: โ Bapa, selesailah semua!
IGNAS KLEDEN dalam bukunya Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan berpendapat bahwa puisi datang kepada kita bukan lewat ide atau gagasan. โDalam puisi, dalil filsafat Cartesian tentang manusia โsaya berpikir maka saya adaโ dipatahkan secara mutlak, karena yang terjadi dalam puisi adalah peristiwa yang lain sama sekali wujudnya, yaitu โsaya mengalami maka saya adaโ. Seperti kita tahu, pengalaman bukanlah perjumpaan intelektual dengan dunia, melainkan keterlibatan eksistensial di dalamnya. Kalau ilmu dan filsafat menjelmakan pengalaman menjadi pengetahuan, mengubah perasaan menjadi pikiran, nada menjadi notasi, rindu menjadi psikologi, intuisi menjadi proposisi dan argumentasi, maka puisi membalikkan semuanya pada posisi yang lebih asali dan lebih alami. Dalam puisi terjadi tarnsposisi pikiran menjadi pengalaman dan suasana, rindu menjadi getar dan perasaan, proposisi menjadi intuisi, dan intuisi menjadi visium tentang warna langit dan bau hutan, dan argumentasi yang tersusun rapi menjadi imaji yang liar berkejar-kejaran. Seorang ilmuwan dan filsuf berusaha menyusun pikiran dan gagasan, sedangkan seorang penyair berikhtiar menemukan makna.โ (Ignas Kleden, โPuisi, Penyair, dan Intelektual Publikโ, ย Sastra Indonesia dalam Enam pertanyaan, Grafiti 2004).
Denny JA, seorang intelektual publik yang belakangan ini mengikhtiarkan dirinya untuk Indonesia tanpa Diskriminasi, membenarkan argument Ignas mengenai puisi diatas. Impiannya tentang Indonesia tanpa Diskriminasi ia lakukan lewat karya budaya yakni dengan menulis puisi esai. Sudah dua buku puisi yang ia hasilkan. Atas Nama Cinta adalah buku pertamanya. Buku puisi keduanya ia beri judul Cintai Manusia Saja, Soal Diskriminasi Agama dan Cinta.
Sudah banyak riset akademik yang ia hasilkan melalui LSI
(Lembaga Survei Indonesia). Sudah ratusan kolom yang ia tulis sejak mahasiswa.
Namun menurutnya karya seni khususnya puisi adalah karya yang lebih menyentuh
hati.
Peristiwa Pemboman Gereja Katedral di Makasar menjadi pelatuk
bagi kita untuk mengapresiasi puisi Denny
berikut ini:
Olehย ย Charles Beraf, Social Reseraches pada Detukeli Research Centre di Detukeli, Flores
HUBUNGAN, baik dengan โYang Kudusโ maupun dengan kosmos, juga
ada dalam agama asli masyarakat etnik Lamaholot (yang tersebar di Flores Timur,
Solor, Adonara, Lembata, juga Alor). Di wilayah kebudayaan ini, Yang Kudus
disapa umum dengan nama Ama Lera Wulan,
Ina Tana Ekan (Bapa Matahari Bulan, Ibu Bumi). Kerap juga disapa Ala Ta Ala (Allah) atau Alepkme (Pemilik kami). Ama Lera Wulan mengandung arti Bapa
yang tertinggi, berkuasa, sedangkan Ina
Tana Ekan berarti ibu yang berdaya menumbuhkan, yang olehnya kehidupan
dirahimi dan dilahirkan.
Nama dan pengertian Ina
Tana Ekan tidak mengacu secara terbatas pada tanah (darat), tetapi untuk
sebagian komunitas Lamaholot yang lain, juga mengacu pada laut yang juga
dipandang sebagai ibu. Di Lamalera โ Lembata misalnya, laut dipandang sebagai Ina Lefa (Ibu Samudra) yang kudus.
Prespektif kosmologis ini mau memperlihatkan bahwa relasi dan
korelasi antara yang kosmis dan โYang Kudusโ didominasi oleh pandangan alam
sebagai โibuโ. Laut adalah ibu yang kudus, yang dalam dan dengannya
pengalaman-pengalaman transendental akan โYang Kudusโ itu ada, yang turut
memengaruhi cara hidup (cara bagaimana menghayati hidup), baik di laut maupun
di darat.
Mereka percaya bahwa ketika mereka ke laut (terutama
menangkap ikan Paus), mereka pergi untuk mengambil knato (kiriman) dari โYang Kudusโ, yang dititipkan melalui Ina Lefa. Knato sesungguhnya dimaksudkan juga untuk kehidupan mereka di
darat. Karena itu, ketika mereka melaut, mereka melaut dengan suatu sikap
seorang religius, yang menandakan bahwa mereka sedang berinteraksi dengan yang
kudus.
Pengalaman-pengalaman transendental yang terbentuk dari
relasi dengan alam dan dengan โYang Kudusโ itu umumnya juga ada pada
komunitas-komunitas Lamaholot yang lain, yang juga memandang โYang Kudusโ
sebagai Bapa Matahari Bulan, Ibu Bumi. Pengalaman yang mereka timba dari
praksis hidup mereka dalam relasinya dengan alam dan โpenguasa dan pemilik alam
semestaโ itu tampak terangkat sebagai kepercayaan yang positif atau yang
naturalistik, yang dalam bahasa John Dewey misalnya, disebut sebagai suatu โkepercayaan
humanistikโ atau dalam bahasa Erich Fromm โsuatu psikologi humanistikโ.
Namun penamaan atas โYang Kudusโ sebagai Bapa Matahari Bulan, Ibu Bumi memerlihatkan bahwa pengenalan atas
โYang Kudusโ sesungguhnya diantarai atau terjembatani oleh benda-benda kosmik,
yang meski dipandang sebagai yang melampaui, jauh lebih besar dari manusia
(transenden), namun bisa dicerap dalam pengalaman indrawi (imanen). Dengan kata lain, transendensi dan imanensi
dari โYang Kudusโ itu tampak dan dilambangkan sekaligus dalam dan melalui
benda-benda kosmik, yang kelihatan dan dikenal, familiar dengan kehidupan
masyarakat etnik Lamaholot. Di balik relasi yang kosmologis sifatnya, terungkap
secara spesialis relasi dengan โYang Kudusโ (relasi religius).
Relasi yang kosmologis sekaligus yang religius ini
diaproriasi secara khusus antara lain melalui ritual, yang yang dipusatkan pada
Nuba Nara (Nuba: tugu batu panjang (menhir) yang ditancapkan pada tanah, dan Nara: batu-batu ceper yang mengelilingi Nuba). Di kalangan masyarakat Lamaholot,
Nuba Nara amat jarang diartikan,
selain hanya diketahui sebagai pusat ritual.
Nuba, kata ini berhubungan dengan kata
Nobo atau Tobo, yang berarti
duduk, sedangkan Nara berarti orang
(manusia), yang sering dipadankan kata Kajak
berarti orang banyak.
Nuba Nara dapat diartikan sebagai โyang duduk
dengan orang (manusia) atau yang duduk di antara orang (manusia). Arti ini
kerap dieloborasi dengan melihat kemiripan kedua kata ini (nuba nara) dengan dua kata Lamholot lain yakni tubak dan tarak. Tubak
berarti tikam, menikam dan Tarak
berarti tertancap, terdampar. Nuba Nara,
karena itu kerap diartikan juga sebagai โyang menikam atau yang ditikamโ dan โyang
tertancapโ.
Arti ini pada masa ini oleh orang-orang Katolik: dimaknai
sebagai peristiwa inkarnasi menurut prespektif Kristologi Katolik: Allah yang
di atas, datang dan tinggal di antara manusia atau Dia yang โmenikamkanโ diri
dan yang โtertancapโ di bumi, di antara manusia.
Beberapa pengertian tersebut sesungguhnya menunjukkan bahwa
sebagai pusat ritual, Nuba Nara merepresentasikan
โYang Kudusโ (Ama Lera Wulan, Ina Tana
Ekan), Dia yang jauh di langit sekaligus yang dekat di bumi, di antara
manusia. Karena itu, ritual yang dijalankan di Nuba Nara, selain bertujuan menghormati โYang Kudusโ, juga demi
kemaslahatan hidup orang banyak.
Nuba, seperti Tubu pada masyarakat etnik Lio, digambarkan sebagai seorang
laki-laki, dan seperti Kanga di Lio, Nara digambarkan sebagai perempuan. Dari
bentuknya pun, ada kemiripan dengan Tubu
Kanga di Lio: batu bulat lonjong (nuba)
serupa kelamin laki-laki, dan susunan batu yang melingkar (nara) serupa kelamin perempuan.
Namun lebih jauh dari itu, ungkapan Nuba kame Lagadoni, Nara kame wato Peni (Nuba kami Lagadoni, Nara
kami batu Peni) setiap kali ada ritual di Nuba
Nara bisa menadi acuan untuk memahami mengapa penggambaran dibuat demikian.
Langodoni, pada masyrakat Lamaholot
adalah nama untuk laki-laki, dan Peni, untuk
perempuan.
Nuba Nara selalu berada dekat dengan Koke ( kuil tempat tinggal roh-roh)
berupa bangunan rumah panggung, tak berdinding dan beratap alang-alang dan Bale (tempat pertemuan tua-tua adat). Di
depan Koke Bale, terdapat Namang atau Neme sebagai arena tanda setiap kali ada ritual atau pesta adat.
Area di mana ada Nuba Nara, Koke Bale dan Nemme adalah area yang sakral.
Kata-kata atau tindakan tidak senonoh haram untuk diucapkan
atau dilakukan di area itu, terutama ketika diadakan ritual. Pun tidak semua
orang bisa diperbolehkan masuk atau mengadakan ritual (mempersembahkan
sesajen), khususnya di Nuba Nara dan
di Koke Bale. Ritual di Nuba Nara dan Koke Bale hanya dilaksanakan oleh orang yang secara adat ditetapkan
sebagai pemangku (blimut) atau
pelaksana adat (ata smara), yang
biasanya datang dari marga atau suku tertentu, yang sejak dulu telah (diangkat)
jadi pemangku.
Ada macam-macam ritual yang dijalankan di Nuba Nara, yang berkenaan antara lain
dengan kehidupan sosial, ekonomi, atau pun terkait dengan hubungan masyarakat
dengan alam. Ada ritual panggil hujan atau makan jagung muda misalnya,
dilaksanakan di wilayah yang masyarakatnya menggantungkan hidup pada petanian, tetapi
juga ada ritual panggil ikan di wilayah yang masyarakatnya hidup dari laut.
Di Mingar, Lembata, dalam ritual panggil hujan misalnya, semua masyarakat dari semua suku akan dikumpulkan dan dengan tenang mengelilingi Nuba Nara (tidak batuk atau mengucapkan sepatah kata pun) dan Ata Smara berdiri dekat Nuba Nara, mengenakan pakaian kebesaran dan dikuti dari belakang oleh satu orang yang disebut Semage serupa seorang ajudan yang bertugas menjaga Ata Smara. Ata Smara akan mengucapkan doa berikut:
โAla ta alagoka lodo,
tenaj eko sefo gere, nuba kame Langodoni, nara kame wato Peni, Pati Suar rae
ile lolo, mete ura hau, lau Laot lau miten, mete ura daiโ (Allah, turunlah, berpijaklah dan
berdirilah di tanah ini, Nuba kami
Lagadoni, Nara kami batu Peni, Pati Suar
di atas gunung guyurkan hujan, Laot di kehitaman laut, bawalah hujan).
Setelah doa diucapkan, Keles
Reget (penyembelih binatang), di depan NubaNara, memenggal leher kambing dengan
sekali penggal hingga putus, Darah kambing dioleskan pada Nuba Nara menjadi sekaligus peresembahan di Nuba Nara. Lalu hati kambing dimasak dan juga dipersembahkan untuk Nuba Nara.
Ritual dimaksud terkait erat dengan peristiwa kosmik. Kalau
terlihat langit yang terang dengan banyak bintang disertai dua gumpalan awan
(dianggap sebagai wakil dari sepasang suami isteri), maka itu pratanda aka nada
curah hujan yang cukup. Terkait hal ini, ritual dimaksud agar awan dapat
berwujud hujan. Tetapi sebaliknya, kalau hanya satu gumpalan, maka aka ada
kekeringan atau kelaparan.
Penggalan syair berikut mengungkapkan ini: โsama kowa laka nuka, sama uru lera mataโ(serupa
awam yatim, serupa hujan dimusim kemarau). Terkait hal ini, ritual menjadi cara
masyarakat memohon pertolongan dan berkat dari Ama Lera Wulan, Ina Tana Ekan.
Ritual-ritual semacam itu berkaitan erat dengan waktu yang
dihayati sebagai bagian utuh dari aktivitas-kativitas sosial serta fenomena
ekologis dan meterologis. Waktu untuk ritual panggil hujan misalnya, mesti
dijalankan ketika menjelang musim tanam atau ketika kekeringan hebat melanda.
Memang sebagian besar dari suku-suku Lamahollot tidak mengenal atau lebih tepat
tidak menamai waktu seperti pada masyarakat LIo, tetapi mereka mengenal waktu
secara periodik yang terbedakan dari waktu suci saat ritual harus dijalankan
dan waktu biasa ketika berlangsungnya peristiwa-peristiwa tanpa arti religius
yang khusus.
Karena itu, suatu tanggal khusus yang ditentukan dalam
kalender (penanggalan modern) tidak punya arti pada dirinya sendiri, misalnya
bagi mereka yang menanti hujan untuk memulai pengolahan tanah. Apa yang penting
adalah kejadian itu sendiri: turunnya hujan, menanam dan memanen. Dengan lain
perkataan, makna waktu diperoleh melalui rentetan peristiwa-peristiwa kosmik
yang melingkunginya atau yang dialaminya, yang seawaktu-waktu bisa berubah.
Hal serupa juga ada pada suku Lamaholot lain yang bergantung hidupnya pada laut, seperti di Lamalera. Di Lamalera dikenal waktu suci yang disebut sebagai lefanuang atau mussi lefa (musim melaut). Lefa bisa berarti samudra, lautan. Lefa juga bisa berarti kegiatan melaut, mengarungi samudra, sedangkan nuang berarti musim, yang sama artinya dari mussi. Nuang juga berarti perkataan. Lefa nuang sebagai waktu suci tidak hanya berkenaan dengan ritual melaut, tetapi juga menyangkut aktivitas melaut itu sendiri, yang secara imperatif menuntut perkataan (nuang) dan tindkan (lefa) yang suci pula, baik selama di laut maupun di darat. Selain itu, Lefa Nuang kerap disebut juga sebagai Lefa Hari Nuang. Hari adalah sebutan untuk roh halus, yang menurut masyarakat Lamalera, turut menjaga dan melindungi kesucian laut.
Lefa Nuang (Musim Melaut), Foto Doug Bock Clark
Lefa Nuang ini biasanya berlangsung dari April
sampai November; yang diawali dengan ritual di Nuba Nara, dilanjutkan dengan kegiatan melaut dan diakhiri juga
dengan ritual. Periode waktu ini memang hingga sekarang sudah dianggap tetap
seturut kalender modern, namun sebenarnya ini dimulai sejak dulu dengan melihat
tanda-tanda kosmik, yakni munculnya Wuno
Pito (rasi bintang biduk), yang dipercaya dapat menjadi petunjuk mengenai
arah angin dan arus lautan โ hal yang penting ketika melaut. Di luar periode
ini, kegiatan melaut memang tetap dijalankan, namun tidak seintens ketika Lefa Nuang. Pada periode ini kegiatan
lain yang bersifat profan dan privat seperti berkebun bisa pula dilakukan.
Pembedaan, baik dalam hal waktu maupun dalam hal aktivitas
(religius dan profan), tidak berarti hubungan dengan Yang Kudus turut dibatasi,
hanya ketika suatu ritual atau aktivitas religius dijalankan di Nuba Nara atau suatu urusan yang amat
profan dan privat sifatnya sama sekali menidakkan campur tangan Yang Kudus.
Ketika misalnya memasuki rumah baru atau membuka kebun baru, diadakn juga
ritual dengan doa dan pemberian sesajen, seperti di pojok rumah atau di kebun
dengan partisipan yang terbatas. Jadi, dalam yang profan sekalipun, ada sisi
religius yang dihidupi.
Hal ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Yang Kudus di
kalangan masyarakat Lamholot sudah mewujud sebagai suatu cara hidup atau lebih
tepat telah menjadi etos hidup masyarakat. Dipercaya bahwa dalam rentang waktu
sejak kelahiran hingga kematian, masyarakat Lamaholot bergantung sepenuhnya
pada Yang Kudus (Ama Lera Wukan, Ina Tana
Ekan), yang meski impersonal, hadir terutama dalam peristiwa-peristiwa
kosmik dan alamiah yang dapat dialami, diindrai.
Bahkan dipercaya sesudah kematianpun, Yang Kudus masih
terlibat dengan menyediakan kehidupan lain di tempat tertentu di muka bumi ini.
Masyarakat Lamaholot percaya bahwa orang mati, beberapa hari sesudah
kematiannya, akan menjadi kwokot
(arwah). Arwah ini bahkan bisa berwujud dalam makhluk-makhluk tertentu yang
dekat dengan mereka yang hidup. Arwah harus didoakan agar bisa berpindah
tempat. Tempat mana yang dimaksud, untuk sebagian besar wilayah Lamaholot,
tidak diketahui.
Namun di Lamalera misalnya, masih ada kepercayaan bahwa arwah
(kwokot) orang-orang mati akan
transit di Suba yang terletak di
pantai Selatan Barat pulau Lembata. Dan menuju serta mendiami Tnepi โ atoll di Selatan Timur Lembata,
dekat pulau Alor. Di Suba mereka
dibersihkan dan dimurnikan menjadi manusia baru dan akhirnya menuju tempat
kediaman terakhir, Tnepi. Tnepi adalah
Nirwana, yand disedikan Yang Kudus bagi mereka yang sudah melewati kehidupan di
dunia ini. Dengan kata lain, hubungan masyarakat Lamaholot dengan Yang Kudus
dalam hal kehidupan sesudah mati pun selalu terjembatani dalam dan melalui
sesuatu yang juga dipandang sacral, meski itu termanifestasi dalam cara dan
bentuk yang lain โ hal yang dipercaya sebagai manifestasi dari tindakan Yang
Kudus itu.
Kepercayaan semacam itu, juga yang ada pada masyarakat Lio,
menurut E. B. Tylor, diambil dari kepercayaan animistik. Menurut Tylor, ada
tiga macam kepercayaan dalam animism. Pertama,
kepercayaan bahwa jiwa-jiwa dari orang-orang mati melayang-layang di atas bumi
dan mempunyai dan mempunyai kepentingan dengan yang hidup. Kedua, kepercayaan bahwa ada metapsikosis dari jiwa ke dalam
makhluk lain dan ketiga, kepercayaan
bahwa ada tempat kediaman istimewa di dunia lain, sperti dunia bawah tanah,
gunung-gunung dan surga.
Jiwa-jiwa itu akan melanjutkan kehidupan yang mirip dengan kehidupan duniawi. Meski tak muda dijembatankan dengan kenyataan tertentu, kepercayaan animistik ini sedikit banyaknya sudah menggambarkan bahwa dalam hal kehidupan sesudah kematian pun orang Lamaholot masih tetap terikat dengan pandangan-pandangan yang kosmologis sifatnya.
——————————————————————————————————
*Naskah ini disadur dari bahan seminar yang disampaikan dalam
โBorobudur Writer Fesival 2017โ, Yogyakarta 23-25 November 2017.
Berandanegeri.com – Jaringan Alumni Belanda di Indonesia (NL Alumni Network) bekerjasama dengan I&P (Asosiasi Intelektual dan Profesional Indonesia) sukses menggelar program Series #4 dari Orange Talks dengan tema (Water Resource Partnerships for Sustainable Development: Finding Opportunities for Cross-sector Collaboration). Acara ini dilaksanakan pada Jumat 26 Maret 2021 menggunakan platform Zoom cloud Meeting.
Dimulai pukul
15.00 WIB, webinar dihadiri oleh alumni dan praktisi riset di bidang air dari
Indonesia-Belanda, antara lain: Leo Eliasta (Wakil Direktur Direktorat Sungai dan Pantai Kementerian
PUPR, alumni beasiswa
StuNed di Delft University of Technology dan UNESCO-IHE Delft), Reza
Pramana (Peneliti di Delft University of Technology, penerima beasiswa StuNed), serta Floris Boogaard (Profesor Transformasi Spasial dari Universitas Hanze, Groningen).
Secara umum, webinar yang dimoderatori oleh Sinar Juliana (perwakilan I&P Indonesia) bertujuan untuk mendiskusikan sejumlah
poin penting diantaranya, kolaborasi antar universitas, pemerintah, dan masyarakat
di sektor air antara Indonesia-Belanda untuk mencapai SDGs
(Sustainable Development Goals). Upaya ini
difokuskan pada kualitas air, tata kelola sumber daya air, pembangunan
infrastruktur, bencana manajemen, dan adaptasi iklim semuanya melibatkan
kemitraan aktif antara universitas, pemerintah, bisnis, dan komunitas.
Pengembangan penelitian dan inovasi oleh universitas memberikan hal baru pada
platform dan teknologi untuk mempercepat kemajuan dalam memenuhi SDG. Lebih jauh lagi untuk membahas berbagai pengalaman
kemitraan lintas sektor yang melibatkan universitas di Indonesia dan Belanda,
bisnis, dan pemerintah tentunya
melalui Kementerian PUPR.
Sebagai pembuka, Peter
Van Tujil selaku direktur Nuffic Neso Indonesia memberikan sambutan yang hangat
dan sangat mengapresiasi program ini. Sekaligus
mengatakan โini juga merupakan
tantangan
bagi alumni Belanda untuk
menyelenggarakan agenda dan program berkelanjutan yang dapat menanggapi persoalan (baca: air) yag cukup krusial iniโ
Leo Eliasta, narasumber
pertama menyampaikan ada 7 agenda prioritas nasional terkait pengembangan
nasional yang menjadi prioritas, salah satunya adalah emperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan.
PUPR juga mendukung
2 agenda pembangunan. Pertama, PN1 Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk
Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan melalui Pengelolaan sumber daya
ekonomi yang meliputi pemenuhan pangan dan pertanian serta pengelolaan
kelautan, kelautan, dan perikanan, sumber daya air, sumber daya energi, dan
kehutanan. Kedua, Penguatan Infrastruktur
PNS bertujuan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan mendorong pembangunan
nasional secara proporsional, melalui pembangunan Infrastruktur Dasar.
Untuk
mengimplementasikan agenda tersebut, dibutuhkan adanya penyusunan program yang
terintegrasi dan sistemis, sikap pengambil risiko dan pengambilan keputusan
yang cepat, kerja tim yang solid dan orientasi lokasi, pengawasan yang rinci
dan konsisten, dan sistem operasi dan pemeliharaan yang kuat.
Diskusi dilanjutkan dengan paparan materi dari
Reza
Pramana yang menjelaskan
terjadinya pencemaran air yang
menurutnya disbebakan oleh 3 hal, yaitu: air
limbah rumah tangga, air limbah industri dan limbah padat pertanian. Untuk
menanggulangi hal ini ia menegaskan perlu adanya kerjasama antar perguruan
tinggi, sekolah menengah, instansi pemerintah, instansi swasta, serta LSM
lainnya.
Materi terakhir disampaikan oleh Floris Boogaard yang banyak
mengulas persoalan tantangan iklim di perkotaan. Tantangan lingkungan yang
kita hadapi saat ini: peristiwa cuaca dan suhu ekstrim; mempercepat hilangnya
keanekaragaman hayati, polusi udara, tanah, dan air; dan kegagalan
langkah-langkah mitigasi dan adaptasi,
ungkapnya
MOANEMANI – Bupati Kabupaten Dogiyai, Yakobus Dumupa, memutuskan mengabadikan nama sejumlah misionaris pada sejumlah ruas jalan di Kabupaten Dogiyai, Papua. Selain nama sejumlah misionaris dari benua Amerika dan Eropa yang lama bermisi di tanah Papua, termasuk Dogiyai, ada juga sejumlah tokoh lokal yang berjasa dalam pertumbuhan dan perkembangan daerah akan diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Dogiyai.
โPara misionaris itu
adalah Bruder Johannes Petrus Sjerps, OFM, Bruder Karel, OFM atau Uskup Pertama
Keuskupan Agung Merauke, Pastor Herman Tillemans, MSC, dan lain-lain. Ada satu
ruas juga kita abadikan dengan nama Jalan Thomas Tigi untuk menghormati dan
mengenang Pak Thomas sebagai bupati definitif pertama Dogiyai. Para misionaris
dan tokoh lokal ini berjasa dalam pertumbuhan dan perkembangan peradaban hidup
orang Mee di Dogiyai,โ ujar Yakobus Dumupa dalam keterangan yang diterima,
Jumat (26/3/2021).
Mantan Anggota Majelis
Rakyat Papua ini mengatakan, umumnya di berbagai daerah mengabadikan nama jalan
di setiap sudut kotanya, pihak Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga dalam waktu
dekat akan melabelkan tokoh-tokoh berjasa sebagai nama semua ruas jalan yang di
wilayah Dogiyai. โSaya sudah memutuskan untuk memberi nama jalan dengan
menggunakan nama para tokoh setempat dan orang-orang berjasa bagi pertumbuhan
dan kemajuan daerah hingga saat ini. Misalnya Bruder Jan Sjerps, misionaris
dari Eropa,โ lanjut Dumpua, lulusan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi
Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) โAPMDโ Yogyakarta.
Ia menjelaskan, yang dimaksud dengan para tokoh lokal adalah para pemimpin Gereja dan pemimpin atau tokoh masyarakat, yang terbukti berjasa dalam memimpin umat dan masyarakat sehingga masyarakat dan daerah semakin maju, aman, damai, dan sejahtera kemudian diteruskan para tokoh atau pemimpin sesudahnya.
Ket. Foto: Bupati Kabupaten Dogiyai, Yakobus Dumupa tengah bersama tim sedang mempersiapkan sejumlah nama penting untuk diabadikan sebagai nama jalan di Kabupaten Dogiyai
Para pemimpin itu tak hanya dari luar Dogiyai namun juga menyasar para pemimpin lokal dari berbagai komunitas di seluruh wilayah Dogiyai. Misalnya, Yobee Enabii di Ekaudidee, Tebai Togoodega di Mauwa, Goo Gaiyaikawii di Goodide, Boma Toyaikeboo di Edegedidee, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam rangka merealisasikan kebijakan itu, Bupati Dumupa telah menugaskan Dewan Adat Mee Dogiyai untuk meneliti dan mempersiapkan nama-nama tokoh yang layak diberi nama jalan pada masing-masing wilayah.
โPemberian nama ini
dimaksudkan agar warga masyarakat Dogiyai mengenang jasa orang-orang hebat yang
pernah berkontribusi dalam perkembangan perabadan hidup orang Dogiyai. Dengan
demikian, di kemudian kita bisa mengambil inspirasi dan teladan hidup dari
mereka untuk lebih giat bekerja memajukan masyarakat dan daerah lebih baik lagi,โ
kata Bupati Dumupa, tokoh muda Papua yang telah menulis kurang lebih sebelas
buku beragam tema.
Sejumlah nama tokoh
agama di Papua dan pemimpin lokal yang mengabdikan dirinya di Dogiyai sangat
inspiratif dari aspek penghayatan karya misi maupun kepemimpinannya bagi
masyarakat dan daerah. Misalnya, Bruder Jan Sjerps, OFM, Pastor Pastor Herman
Tillemans, MSC atau Thomas Tigi.
Bruder Jan Sjerps
dikenal luas sebagai salah seorang misionaris perintis, pionir kopi Papua. Lama
menunaikan tugas di sejumlah wilayah di tanah Papua, bruder dari Saudara Dina
atau Ordo Fratum Minorum (OFM) yang lahir dari keluarga petani Belanda di dusun
Zwagdijk-Oost, Distrik Wervershoof pada 2 November 1939 ini kemudian ditugaskan
di Moanemani, kota Kabupaten Dogiyai.
Di Moanemani Bruder Jan
Sjerps melanjutkan karya misinya dengan mendirikan sekolah dan asrama. Pilihan
misi ke Moanemani oleh karena pertimbangan di Agimuga dan Epouto, Kabupaten
Mimika, tanah tidak cukup subur untuk umbi-umbian guna memberi makan siswa
dengan dua sekolah paralel. Biaya operasional di Epouto terlalu mahal. Makanan
selalu didatangkan dari luar, sedangkan di Moanemani dan Dogiyai umumnya
sedikit lebih mudah.
โSaya pindahkan semua
ke Moanemani dan di sana saya memulai semuanya dari awal lagi. membangun asrama
dan membangun sekolah lengkap dengan tangki air dan fasilitas lebih mudah,โ
ujar Bruder Jan. Selain itu, usai mendirikan asrama dan sekolah tahun 1980, ia
juga concern pada pelatihan anak-anak
SMP. Dia mulai dengan menanam 1000 pohon kopi sebagai percontohan dan latihan
bagi para petani Moanemani. Bibit kopi diambil dari Yametadi, bekas kantor
Dinas Pertanian Pemerintahan Belanda era kolonial.
Berkat kegigihan Buder
Jan melakukan pembibitan kopi Papua di belakang asrama hingga nama kopi
Moanemani meroket di seantero tanah Papua dan Indonesia, tahun 1986 pemerintah
daerah melirik usaha itu menetapkan Moanemani sebagai pusat pembibitan kopi.
โSejak itu, Moanemani terkenal dengan kopinya yang memiliki cita rasa khas.
Tahun 2005, setelah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan kopi di wilayah
lembah Kamuu, ia kembali ke Sentani, Jayapura, pusat misi OFM. Ia berpulang
Sabtu, 13 Februari 2021 di Biara OFM, Sentani, Jayapura,โ kata Bupati Dumupa.
Pada bagian lain,
Dumupa menjelaskan, saat ini Dewan Adat Mee Dogiyai sedang berproses
mempersiapkan nama-nama tokoh yang berjasa bagi tanah Papua, termasuk berjasa
di Dogiyai akan diabadikan sebagai nama jalan. Jika rencana ini terwujud,
ujarnya, akan menjadi sejarah baru di Tanah Papua dan juga di Indonesia
nama-nama para pemimpin diabadikan untuk menjadi kebanggan daerah.
โSaya percaya sebagai
Bupati Dogiyai kami akan mengukir sejarah baru. Ini bentuk penghormatan kecil kami kepada para penjasa
dan pemimpin kami sekaligus menjadi bentuk apresiasi, penghormatan dan sumber
pembelajaran bagi generasi tanah Papua berikutnya,โ ujar Bupati Dumupa, mantan
misdinar (pelayan Misa) di Gereja Santa Maria Imaculata Moanemani, Dogiyai.