Blog

  • MARIA MAGDALENA

    Oleh Khalilย  Gibran

    MULUTNYA seperti jantung buah delima, dan bayang-bayang di mata-Nya dalam. Dan Ia lembut, seperti pria yang mengenal kekuatannya sendiri.

    Dalam mimpiku kulihat raja-raja di bumi berdiri takjub di dalam hadirat-Nya. Aku mau menggambarkan wajah-Nya, tetapi bagaimana mungkin? Wajah-Nya seperti malam tanpa kegelapan dan seperti siang tanpa kebisingan. Wajah-Nya sedih, sekaligus penuh sukacita.

    Dan sungguh kuingat bagimana Ia pernah mengangkat tangan-Nya ke langit, dan Ia renggangkan jari-jemari-Nya seperti ranting-ranting pohon elm.

    Dan kuingat Dia mondar-mandir di malam hari. Ia bukan berjalan. Ia sendiri adalah jalan di atas jalan; bahkan seperti awan di atas bumi yang akan turun untuk menyegarkan bumi.

    Tetapi ketika aku berdiri di hadapan-Nya dan berbicara kepada-Nya, Ia seorang pria, dan wajah-Nya sungguh penuh kuasa. Dan Ia berkata kepadaku, โ€œApakah yang engkau inginkan Miryam?โ€

    Aku tidak menjawab-Nya tetapi sayap-sayapku meliputi rahasiaku, dan aku merasakan kehangatan.

    Dan karena tidak tahan lagi terhadap terang-Nya, aku berbalik dan pergi, tetapi bukan dengan nista. Aku hanya malu, dan aku ingin sendirian dengan jari-jemari-Nya di atas dawai-dawai hatiku.

    *******************

    Sumber Yesus Anak Manusia, Classic Press

  • Tiga Perempuan dan Sukacita Paskah

    Oleh P. Herman Bataona, CMF

    ๐‘ป๐’Š๐’ˆ๐’‚ ๐’‚๐’๐’‚๐’Œ ๐’Œ๐’†๐’„๐’Š๐’โ€ฆ

    ๐‘ซ๐’‚๐’๐’‚๐’Ž ๐’๐’‚๐’๐’ˆ๐’Œ๐’‚๐’‰ ๐’Ž๐’‚๐’๐’–-๐’Ž๐’‚๐’๐’–

    ๐‘ซ๐’‚๐’•๐’‚๐’๐’ˆ ๐’Œ๐’† ๐’”๐’‚๐’๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚ ๐’”๐’๐’“๐’† ๐’Š๐’•๐’–โ€ฆ

    ๐‘ฐ๐’๐’Š ๐’…๐’‚๐’“๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’ƒ๐’†๐’“๐’•๐’Š๐’ˆ๐’‚

    ๐‘ท๐’Š๐’•๐’‚ ๐’‰๐’Š๐’•๐’‚๐’Ž ๐’‘๐’‚๐’…๐’‚ ๐’Œ๐’‚๐’“๐’‚๐’๐’ˆ๐’‚๐’ ๐’ƒ๐’–๐’๐’ˆ๐’‚โ€ฆ

    ๐‘บ๐’†๐’ƒ๐’‚๐’ƒ ๐’Œ๐’‚๐’Ž๐’Š ๐’Š๐’Œ๐’–๐’• ๐’ƒ๐’†๐’“๐’…๐’–๐’Œ๐’‚

    ๐‘ฉ๐’‚๐’ˆ๐’Š ๐’Œ๐’‚๐’Œ๐’‚๐’Œ ๐’š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’…๐’Š๐’•๐’†๐’Ž๐’ƒ๐’‚๐’Œ ๐’Ž๐’‚๐’•๐’Š ๐’”๐’Š๐’‚๐’๐’ˆ ๐’•๐’‚๐’…๐’Šโ€ฆ

    [๐‘ป๐’‚๐’–๐’‡๐’Š๐’’ ๐‘ฐ๐’”๐’Ž๐’‚๐’Š, ๐‘ป๐’Š๐’“๐’‚๐’๐’Š, 1996]

    Puisi di atas menyiratkan peristiwa demonstrasi mahasiswa pada tahun 1966 menentang tirani orde Lama. Tiga anak kecil mewakili golongan manusia lemah yang masih belia, polos, suci, dan murni hatinya, yang sesungguhnya belum tahu apa-apa tentang peristiwa demonstrasi itu sendiri. Tetapi toh, mereka bertiga sudah mampu menyatakan sikap dan rasa duka mendalam atas gugurnya mahasiswa Kusuma bangsa yang ditembak mati oleh penguasa rezim itu. Makanya dengan langkah malu-malu, mereka membawa karangan bunga itu ke makam kakak yang ditembak itu. Pita hitam pada karangan bunga adalah tanda duka ketiga anak kecil itu sekaligus penguat langkah mereka.

    Itulah puisi yang sempat naik daun di era itu, bahkan sampai pada zaman kita, biasanya ketika ada peristiwa politik, ada mahasiswa turun demo lalu dihadang petugas, apalagi kalau sampai jatuh korban jiwa maka puisi ini biasa muncul lagi. Tentu ini sebuah makna kias yang menggambarkan suatu maksud yang hendak dikemukakan oleh sang penyair.

    Saya sengaja menempatkan puisi ini di awal renungan kita, renungan Paskah. Apa hubungannya? Mari kita bermenung.

    Dikisahkan bahwa tiga perempuan, dengan langkah penuh hati-hati masih diselimut rasa takut datang ke Makam pagi-pagi benar. Penginjil Markus menulis nama mereka dengan jelas sekali โ€œMaria Magdalena, Maria Ibunda Yakobus, dan Salome (Mrk. 16:1).โ€

    Meskipun perjalanan ketiga wanita itu ke makam, namun mereka tidak sama secara banyak hal dengan tiga anak kecil dalam tulisan Taufiq Ismail di atas. Mereka tentu sudah agak tua (kisaran umur Yesus ke atas, berarti di atas 30 an-lah), mereka melangkah ke kubur bukan dalam ketidaktahuan tentang demonstrasi seperti tiga anak kecil itu, pun tidak di saat sore hari saat santai dan agak lebih cocok mengunjungi makam seperti yang dibuat oleh tiga anak kecil di atas dalam langkah malu-malu.

    Tapi juga mereka bergerak dalam situasi yang kurang lebih sama. Keduanya (tiga anak kecil dan tiga perempuan) adalah wakil dari orang-orang baik yang punya hati iba dan turut merasakan kepedihan mendalam oleh kematian yang โ€œtidak wajarโ€ dan โ€œtak adilโ€. Para perempuan dan ketiga anak kecil adalah wakil dari orang-orang lemah, orang-orang sederhana, yang disingkirkan, dan yang tidak dipandang sama sekali oleh katakanlah kultur patriarkat dan segala tetek bengeknya. Mereka adalah wakil orang-orang lemah yang tidak atau kurang mendapat kedudukan terhormat dalam masyarakat.

    Jika langkah ketiga anak kecil sore itu adalah ikut berduka bagi kakak yang secara tidak adil dan tak berperikemanusiaan ditembak mati siang tadi, maka ketiga perempuan pun dalam kemirisan yang sama berlangkah ke makam Sang Kakak, Sang Sahabat, Sang Guru, Sang Mesias, Sang Tuhan yang disalibkan secara keji dan tidak adil. Sama-sama adalah korban ketidakadilan penguasa.

    Tiga anak kecil membawa karangan bunga dengan pita hitam, demikian pun ketiga perempuan membawa rempah-rempah yang mereka beli sendiri untuk mengurap jenazah Yesus.

    Sampai di sini narasi terputus di kisah tiga anak kecil pengunjung makam. Tidak ada cerita lebih lanjut setelah karangan bunga berpita hitam sudah ditaruh di atas makam sang Kakak. Sementara narasi terus tersambung di kisah tiga perempuan pengunjung makam suci.

    Batu besar yang awalnya sempat mereka pikir bakal jadi penghambat karena apalah daya perempuan menggulingkan batu dalam keadaan yang belum begitu stabil oleh tragedi penyaliban siang hingga sore kemarin. Dan ternyata di luar dugaan batu besar itu sudah terguling. Segudang tanya mulai muncul; siapakah pemuda yang memakai jubah putih itu? Di mana jenazah Tuhan?

    โ€œJangan takut, pergilah, katakanlah kepada murid-murid-Nya dan Petrus, bahwa Ia mendahului kamu ke Galileaโ€ฆโ€ Inilah pesan Paskah itu. Pergilah. Yah, mari kita pergi untuk mewartakan sukacita Paskah. Tuhan sudah bangkit jaya. Dialah kemenangan kita. Batu besar penutup kubur tidak lagi menjadi penghambat, kita bebas, kita menang. Halleluya.

    Ketiga Perempuan itu adalah wartawati pertama yang mengabarkan sukacita paling besar yang melandasi kokohnya iman Kristiani. Maka benar kata Santo Paulus, โ€œKalau Kristus tidak dibangkitkan, maka sia-sialah iman kita,โ€ (1Kor. 15:14). Bayangkan jika ketiga perempuan ini tidak pergi ke kubur atau jika mereka memilih untuk pulang dan diamkan saja peristiwa aneh itu. Akan jadi apakah komunitas (iman) Kristiani selanjutnya?

    Bagi saya kita patut bersyukur atas ketiga wartawati suci ini yang sudah menyampaikan atau lebih tepatnya meneruskan pesan Kebangkitan, kepada para Murid (yang meskipun awalnya ragu-ragu), lalu kemudian menyebar ke segala penjuru dunia sampai ke kita sini.

    Dan sekarang tugas kita adalah: tidak perlu ke kubur itu lagi, tidak perlu cemas dengan batu penutup kubur itu. Memang bahwa terkadang niat baik kita selalu berbenturan dengan banyak hal yang menghalang rintangi. Ibarat batu penutup kubur, penghalang-penghalang itu pun akan digulingkan sendiri oleh Tuhan, sehingga kita pun menemukan kubur kosong, dan mewartakan ke penjuru dunia, โ€œDia tidak ada lagi di sini. Dia sudah bangkit,โ€ (Mrk. 16:6).

    Mari kita teladani semangat para wanita yang adalah saksi kunci kebangkitan, kita berani menerobos penghalang, berani masuk ke dalam misteri kematian dan kebangkitan Yesus, agar dari sanalah kita memperoleh kekuatan untuk menjadi wartawan-wartawati keselamatan bagi dunia yang sedang diporak-poranda ini.

    ———- Selamat Paskah 2021. Halleluya————

  • Paskah dan โ€œNyanyian Angsaโ€

    Paskah dan โ€œNyanyian Angsaโ€

     

    Oleh Paskalis Bataona

     

    KRISTUS dan pesonanya selalu menarik para penyair Indonesia untuk dibicarakan. Chairil Anwar misalnya, menulis puisi โ€œIsaโ€, yang menceritakan peristiwa penyaliban Kristus, Sitor Situmorang dengan โ€œPaskah Maria Magdalenaโ€, Subagio Sastro Wardoyo dengan โ€œPaskah di Kentucky Fried Chickenโ€, Darmanto Jatman dengan โ€œApakah Kristus Pernah?โ€, Linus Suryadi AG dengan โ€œMaria Magdalenaโ€, Rusli Marzuki Saria dengan โ€œKristus Sawo Matangโ€, Hartojo Andangdjaya dengan โ€œGolgota Sebuah Pesanโ€, Joko Pinurbo dengan โ€œCelana Ibuโ€ dan W. S. Rendra dengan sangat elegant menulis โ€œNyanyian Angsaโ€.

    Puisi-puisi yang ditulis Rendra selalu menyuarakan pembelaannya terhadap orang-orang kecil, mereka yang terpinggirkan, mereka yang tidak diperhitungkan dalam masyarakat. Puisi-puisi Rendra memperlihatkan bahwa Rendra adalah penyair yang reaktif terhadap realitas lingkungan. Hal ini dapat kita baca dalam kumpulan puisinya Potret Pembangunan dalam Puisi dan Ballada Orang-orang Tercinta.

    W. S. Rendra, sang Burung Merak, yang bernama asli Willibrordus Surendra Broto Rendra, lahir di Solo 7 November 1935. Putra dari R Cyprianys Sugeng Brotoatmodjo dan Raden Ayu Catharina Ismadillah. Ayah Rendra adalah guru bahasa Jawa dan Bahasa Indonesia di sekolah Katolik, Solo. Sedangkan ibunya seorang penari serimpi di Keraton Surakarta.

    Sejak kecil hingga remaja, Rendra banyak menghabiskan waktunya di kota kelahirannya. W. S. Rendra memulai pendidikannya di TK Marsudirini, Yayasan Kanisius, Solo pada tahun 1942. Lulus dari TK, W. S. Rendra kemudian menyelesaikan pendidikan dasar sampai SMA dan lulus tahun 1952 di Sekolah Katolik, St. Yosef, Solo.

    Membaca โ€œNyanyian Angsaโ€ kita seakan diโ€interupsiโ€ dari kehidupan harian kita yang serba rutin dan tergesa di zaman digital ini, bahwa setiap orang punya hak untuk dihargai, dan dicintai. โ€œNyanyain Angsaโ€ adalah โ€œsuara yang lainโ€ yang perlu kita dengarkan. Mari dengarkan suaranya.

    Nyanyian Angsa

     

    Majikan rumah pelacuran berkata kepadanya:
    โ€œSudah dua minggu kamu berbaring.
    Sakitmu makin menjadi.
    Kamu tak lagi hasilkan uang.
    Malahan kapadaku kamu berhutang.
    Ini beaya melulu.
    Aku tak kuat lagi.
    Hari ini kamu harus pergi.โ€

     

    (Malaikat penjaga Firdaus.
    Wajahnya tegas dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    menuding kepadaku.
    Maka darahku terus beku.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur yang sengsara.
    Kurang cantik dan agak tua).

     

    Jam dua-belas siang hari.
    Matahari terik di tengah langit.
    Tak ada angin. Tak mega.
    Maria Zaitun ke luar rumah pelacuran.
    Tanpa koper.
    Tak ada lagi miliknya.
    Teman-temannya membuang muka.
    Sempoyongan ia berjalan.
    Badannya demam.
    Sipilis membakar tubuhnya.
    Penuh borok di klangkang
    di leher, di ketiak, dan di susunya.
    Matanya merah. Bibirnya kering. Gusinya berdarah.
    Sakit jantungnya kambuh pula.
    Ia pergi kepada dokter.
    Banyak pasien lebih dulu menunggu.
    Ia duduk di antara mereka.
    Tiba-tiba orang-orang menyingkir dan menutup hidung mereka.
    Ia meledak marah
    tapi buru-buru jururawat menariknya.
    Ia diberi giliran lebih dulu
    dan tak ada orang memprotesnya.
    โ€œMaria Zaitun,
    utangmu sudah banyak padaku,โ€ kata dokter.
    โ€œYa,โ€ jawabnya.
    โ€œSekarang uangmu brapa?โ€
    โ€œTak ada.โ€
    Dokter geleng kepala dan menyuruhnya telanjang.
    Ia kesakitan waktu membuka baju
    sebab bajunya lekat di borok ketiaknya.
    โ€œCukup,โ€ kata dokter.
    Dan ia tak jadi mriksa.
    Lalu ia berbisik kepada jururawat:
    โ€œKasih ia injeksi vitamin C.โ€
    Dengan kaget jururawat berbisik kembali:
    โ€œVitamin C?
    Dokter, paling tidak ia perlu Salvarzan.โ€
    โ€œUntuk apa?
    Ia tak bisa bayar.
    Dan lagi sudah jelas ia hampir mati.
    Kenapa mesti dikasih obat mahal
    yang diimport dari luar negri?โ€

     

    (Malaikat penjaga Firdaus.
    Wajahnya iri dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    menuding kepadaku.
    Aku gemetar ketakutan.
    Hilang rasa. Hilang pikirku.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur yang takut dan celaka.)

     

    Jam satu siang.
    Matahari masih dipuncak.
    Maria Zaitun berjalan tanpa sepatu.
    Dan aspal jalan yang jelek mutunya
    lumer di bawah kakinya.
    Ia berjalan menuju gereja.
    Pintu gereja telah dikunci.
    Karna kuatir akan pencuri.
    Ia menuju pastoran dan menekan bel pintu.
    Koster ke luar dan berkata:
    โ€œKamu mau apa?
    Pastor sedang makan siang.
    Dan ini bukan jam bicara.โ€
    โ€œMaaf. Saya sakit. Ini perlu.โ€
    Koster meneliti tubuhnya yang kotor dan berbau.
    Lalu berkata:
    โ€œAsal tinggal di luar, kamu boleh tunggu.
    Aku lihat apa pastor mau terima kamu.โ€
    Lalu koster pergi menutup pintu.
    Ia menunggu sambil blingsatan dan kepanasan.
    Ada satu jam baru pastor datang kepadanya.
    Setelah mengorek sisa makanan dari giginya
    ia nyalakan crutu, lalu bertanya:
    โ€œKamu perlu apa?โ€
    Bau anggur dari mulutnya.
    Selopnya dari kulit buaya.
    Maria Zaitun menjawabnya:
    โ€œMau mengaku dosa.โ€
    โ€œTapi ini bukan jam bicara.
    Ini waktu saya untuk berdoโ€™a.โ€
    โ€œSaya mau mati.โ€
    โ€œKamu sakit?โ€
    โ€œYa. Saya kena rajasinga.โ€
    Mendengar ini pastor mundur dua tindak.
    Mukanya mungkret.
    Akhirnya agak keder ia kembali bersuara:
    โ€œApa kamu โ€“ mm โ€“ kupu-kupu malam?โ€
    โ€œSaya pelacur. Ya.โ€
    โ€œSanto Petrus! Tapi kamu Katolik!โ€
    โ€œYa.โ€
    โ€œSanto Petrus!โ€
    Tiga detik tanpa suara.
    Matahari terus menyala.
    Lalu pastor kembali bersuara:
    โ€œKamu telah tergoda dosa.โ€
    โ€œTidak tergoda. Tapi melulu berdosa.โ€
    โ€œKamu telah terbujuk setan.โ€
    โ€œTidak. Saya terdesak kemiskinan.
    Dan gagal mencari kerja.โ€
    โ€œSanto Petrus!โ€
    โ€œSanto Petrus! Pater, dengarkan saya.
    Saya tak butuh tahu asal usul dosa saya.
    Yang nyata hidup saya sudah gagal.
    Jiwa saya kalut.
    Dan saya mau mati.
    Sekarang saya takut sekali.
    Saya perlu Tuhan atau apa saja
    untuk menemani saya.โ€
    Dan muka pastor menjadi merah padam.
    Ia menuding Maria Zaitun.
    โ€œKamu galak seperti macan betina.
    Barangkali kamu akan gila.
    Tapi tak akan mati.
    Kamu tak perlu pastor.
    Kamu perlu dokter jiwa.โ€

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya sombong dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    menuding kepadaku.
    Aku lesu tak berdaya.
    Tak bisa nangis. Tak bisa bersuara.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur yang lapar dan dahaga.)

     

    Jam tiga siang.
    Matahari terus menyala.
    Dan angin tetap tak ada.
    Maria Zaitun bersijingkat
    di atas jalan yang terbakar.
    Tiba-tiba ketika nyebrang jalan
    ia kepleset kotoran anjing.
    Ia tak jatuh
    tapi darah keluar dari borok di klangkangnya
    dan meleleh ke kakinya.
    Seperti sapi tengah melahirkan
    ia berjalan sambil mengangkang.
    Di dekat pasar ia berhenti.
    Pandangnya berkunang-kunang.
    Napasnya pendek-pendek. Ia merasa lapar.
    Orang-orang pergi menghindar.
    Lalu ia berjalan ke belakang satu restoran.
    Dari tong sampah ia kumpulkan sisa makanan.
    Kemudian ia bungkus hati-hati
    dengan daun pisang.
    Lalu berjalan menuju ke luar kota.

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya dingin dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    menuding kepadaku.
    Yang Mulya, dengarkanlah aku.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur lemah, gemetar ketakutan.)

     

    Jam empat siang.
    Seperti siput ia berjalan.
    Bungkusan sisa makanan masih di tangan
    belum lagi dimakan.
    Keringatnya bercucuran.
    Rambutnya jadi tipis.
    Mukanya kurus dan hijau
    seperti jeruk yang kering.
    Lalu jam lima.
    Ia sampai di luar kota.
    Jalan tak lagi beraspal
    tapi debu melulu.
    Ia memandang matahari
    dan pelan berkata: โ€œBedebah.โ€
    Sesudah berjalan satu kilo lagi
    ia tinggalkan jalan raya
    dan berbelok masuk sawah
    berjalan di pematang.

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya tampan dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    mengusirku pergi.
    Dan dengan rasa jijik
    ia tusukkan pedangnya perkasa
    di antara kelangkangku.
    Dengarkan, Yang Mulya.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur yang kalah.
    Pelacur terhina).

     

    Jam enam sore.
    Maria Zaitun sampai ke kali.
    Angin bertiup.
    Matahari turun.
    Haripun senja.
    Dengan lega ia rebah di pinggir kali.
    Ia basuh kaki, tangan, dan mukanya.
    Lalu ia makan pelan-pelan.
    Baru sedikit ia berhenti.
    Badannya masih lemas
    tapi nafsu makannya tak ada lagi.
    Lalu ia minum air kali.

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    tak kau rasakah bahwa senja telah tiba
    angin turun dari gunung
    dan hari merebahkan badannya?
    Malaekat penjaga firdaus
    dengan tegas mengusirku.
    Bagai patung ia berdiri.
    Dan pedangnya menyala.)

     

    Jam tujuh. Dan malam tiba.
    Serangga bersuiran.
    Air kali terantuk batu-batu.
    Pohon-pohon dan semak-semak di dua tepi kali nampak tenang
    dan mengkilat di bawah sinar bulan.
    Maria Zaitun tak takut lagi.
    Ia teringat masa kanak-kanak dan remajanya.
    Mandi di kali dengan ibunya.
    Memanjat pohonan.
    Dan memancing ikan dengan pacarnya.
    Ia tak lagi merasa sepi.
    Dan takutnya pergi.
    Ia merasa bertemu sobat lama.
    Tapi lalu ia pingin lebih jauh cerita tentang hidupnya.
    Lantaran itu ia sadar lagi kegagalan hidupnya.
    Ia jadi berduka.
    Dan mengadu pada sobatnya
    sembari menangis tersedu-sedu.
    Ini tak baik buat penyakit jantungnya.

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya dingin dan dengki.
    Ia tak mau mendengar jawabku.
    Ia tak mau melihat mataku.
    Sia-sia mencoba bicara padanya.
    Dengan angkuh ia berdiri.
    Dan pedangnya menyala.)

     

    Waktu. Bulan. Pohonan. Kali.
    Borok. Sipilis. Perempuan.
    Bagai kaca
    kali memantul cahaya gemilang.
    Rumput ilalang berkilatan.
    Bulan.

     

    Seorang lelaki datang di seberang kali.
    Ia berseru: โ€œMaria Zaitun, engkaukah itu?โ€
    โ€œYa,โ€ jawab Maria Zaitun keheranan.
    Lelaki itu menyeberang kali.
    Ia tegap dan elok wajahnya.
    Rambutnya ikal dan matanya lebar.
    Maria Zaitun berdebar hatinya.
    Ia seperti pernah kenal lelaki itu.
    Entah di mana.
    Yang terang tidak di ranjang.
    Itu sayang. Sebab ia suka lelaki seperti dia.
    โ€œJadi kita ketemu di sini,โ€ kata lelaki itu.
    Maria Zaitun tak tahu apa jawabnya.
    Sedang sementara ia keheranan
    lelaki itu membungkuk mencium mulutnya.
    Ia merasa seperti minum air kelapa.
    Belum pernah ia merasa ciuman seperti itu.
    Lalu lelaki itu membuka kutangnya.
    Ia tak berdaya dan memang suka.
    Ia menyerah.
    Dengan mata terpejam
    ia merasa berlayar
    ke samudra yang belum pernah dikenalnya.
    Dan setelah selesai
    ia berkata kasmaran:
    โ€œSemula kusangka hanya impian
    bahwa hal ini bisa kualami.
    Semula tak berani kuharapkan
    bahwa lelaki tampan seperti kau
    bakal lewat dalam hidupku.โ€
    Dengan penuh penghargaan lelaki itu memandang kepadanya.
    Lalu tersenyum dengan hormat dan sabar.
    โ€œSiapakah namamu?โ€ Maria Zaitun bertanya.
    โ€œMempelai,โ€ jawabnya.
    โ€œLihatlah. Engkau melucu.โ€
    Dan sambil berkata begitu
    Maria Zaitun menciumi seluruh tubuh lelaki itu.
    Tiba-tiba ia terhenti.
    Ia jumpai bekas-bekas luka di tubuh pahlawannya.
    Di lambung kiri.
    Di dua tapak tangan.
    Di dua tapak kaki.
    Maria Zaitun pelan berkata:
    โ€œAku tahu siapa kamu.โ€
    Lalu menebak lelaki itu dengan pandang matanya.
    Lelaki itu menganggukkan kepala: โ€œBetul. Ya.โ€

     

    (Malaekat penjaga firdaus
    wajahnya jahat dan dengki
    dengan pedang yang menyala
    tak bisa apa-apa.
    Dengan kaku ia beku.
    Tak berani lagi menuding padaku.
    Aku tak takut lagi.
    Sepi dan duka telah sirna.
    Sambil menari kumasuki taman firdaus
    dan kumakan apel sepuasku.
    Maria Zaitun namaku.
    Pelacur dan pengantin adalah saya).

    ย 

    Sebagai seorang sastrawan sekaligus dramawan, Rendra dalam puisi โ€œNyanyian Angsaโ€ memiliki kemampuan dalam menata peristiwa/adegan, alur cerita, sejak Maria ย Zaitun keluar dari rumah pelacuran hingga berjumpa Sang Kristus di pinggir sungai. Pemilihan tokoh, Maria Zaitun, majikan rumah pelacuran, dokter, pastor, dan koster merupakan simbol-simbol yang kental nuansa biblikal.

    Rendra lewat โ€œNyanyian Angsaโ€ mencoba mengekspresikan perasaan yang ada pada seorang mantan pelacur yang pada masa tuanya mengidap penyakit raja singa di mana banyak orang disekitarnya mengucilkannya. Melalui puisi โ€œNyanyian Angsaโ€, Rendra juga ingin menunjukkan sikap hidup seorang Maria Zaitun yang tidak mau menyerah begitu saja kepada keadaan yang membuatnya menderita.

    โ€œNyanyian Angsaโ€ memang bukan teologi namun dia berbicara tentang nilai-nilai yang selama ini dibicarakan dikalangan para teolog; โ€œNyanyian Angsaโ€ bukan sebuah analisis sosial namun dia berbicara tentang pelbagai hubungan kelompok sosial yang tidak imbang; โ€œNyanyian Angsa” bukanlah filsafat namun dia juga membuka wilayah-wilayah baru yang menarik untuk dipikirkan. Berkenan dengan agama, โ€œNyanyian Angsaโ€ membuka ruang lebar bagi kita untuk mengenali kembali tanggung jawab agama pada zaman sekarang. (St. Sunardi, 2012: 4).

    Dalam โ€œNyanyian Angsaโ€, masa depan yang lebih baik adalah keadaan dimana orang-orang malang seperti Maria Zaitun mendapatkan hak untuk dikunjungi dan diselamatkan. Ketika Maria Zaitun sedang merenung tentang masa mudanya bersama ibu dan keluarganya ada energi yang muncul dalam dirinya untuk melupakan perjalanan hidupnya yang didera penderitaan.

    Maria Zaitun menyadari betul bahwa dia tidak mempunyai apa-apa selain kerinduan akan โ€œYang Kudusโ€.ย  Kerinduan akan โ€œYang Kudusโ€ menjadi satu-satunya kebahagian bagi seorang Maria Zaitun. Ketika ia sedang merenungkan perjalanan hidupnya, tiba-tiba datang seorang laki-laki tampan menemuinya. Lelaki itu mencumbuinya bahkan sampai membuka kutang Maria Zaitun.

    Mengalami pengalaman โ€œcintaโ€ yang berbeda dari lelaki yang mendatangi dan mencumbuinya, Maria Zaitun merasa kehidupannya telah diubah. Ia perlahan-lahan ย mengenali lelaki tampan itu. Lelaki itu adalah Juru Selamat yakni Yesus Kristus. Tafsiran bahwa yang mendatangi Maria Zaitun di pinggir kali adalah Yesus Kristus adalah ketika Maria Zaitun mencium seluruh tubuh lelaki itu dan menemukan bekas luka di lambung kiri, di dua tapak tangan, dan di dua tapak kaki. Yesus telah mengangkat Maria Zaitun dari kegelapan. Maria Zaitun telah bangkit dari kubur masa silamnya yang kelam. Ia, Maria Zaitun mengalami kebangkitan seperti halnya kebangkitan Kristus. Maria Zaitun namaku. Pelacur dan pengantin adalah saya.

    ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  ย  SELAMAT PASKAH

  • Cerita Pranata K Agas Menggunting Kuku Kaki Pasien Disabilitas Mental di Pelosok Manggarai Timur (Bagian Enam)

    PRANATA K AGAS, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, menggunting kuku kaki seorang mama yang sedang menderita disabilitas mental di Kampung Tewuk, Desa Satar Lahing, Kecamatan Rana Mese, Kamis, (1/4/2021). Selain menggunting kuku kaki, Ia juga membersihkan jari-jari tangan yang terlihat tidak terawat dengan baik.

    Nama mama itu, Eleonora Buphu yang sudah empat tahun dipasung kaki satunya dengan balok di bagian dapur rumah keluarga itu.

    Pranata K Agas yang biasa disapa Ibu Ani Agas baru dua bulan menggawangi bidang pencegahan dan pengendalian penyakit (P2P) di dinas tersebut.

    Di bidang itu juga ada seksi untuk pencegahan dan penanganan orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).

    Selanjutnya dalam narasi ini disebut Ani Agas. Ia selalu gelisah dan mencari pengetahuan di google dan membaca berbagai regulasi tentang pencegahan dan penanganan penderita disabilitas mental.

    Sebelum Ani Agas mendapatkan kepercayaan menjadi kepala bidang P2P itu, Ia menduduki jabatan kepala bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur.

    Melalui pesan whatsapp yang diterima, Kamis, (1/4/2021) menjelaskan, hari ini mereka (Dinkes) Kabupaten Manggarai Timur mendampingi utusan dari Kementerian Sosial Republik Indonesia untuk mengunjungi seorang penderita gangguan jiwa di Desa Satar Lahing, Kecamatan Rana Mese.

    Utusan Kementerian Sosial Republik Indonesia dari bagian Direktorat Rehabilitasi sosial penyandang disabilitas di Kementerian Sosial Republik Indonesia, Nur Sholeh dan Rudi.

    Dan juga Hilarius Jabur,  Kepala Seksi Pelayanan dan rehabilitasi sosial penyandang disabilitas Dinas Sosial Kabupaten Manggarai Timur, didampingi

    Kepala Desa Satar Lahing, dan Pengelola program kesehatan Jiwa (Keswa) Puskesmas Lalang, Ibu Efi. Ani Agas menceritakan bahwa nama pasien itu, Eleonora Buphu, sudah 4 tahun dipasung.

    Ket. Foto: Kepala Bidang P2P Dinas Kesehatan Manggarai Timur, NTT, Pranata K. Agas sedang Menggunting Kuku Pasienyang Menderita Ganguan Jiwa di Kampung Tewuk, Desa Satar Lahing, Kec. Rana Mese, Manggarai Timur, Kamis (1/4/2021). (Dok. Kabid P2P Dinkes Manggarai Timur – Pranata K Agas)

    Saat ini dalam pengobatan. Keadaan umum baik dan pasien terlihat mulai membaik.

    Pasien bercakap-cakap dengan baik, mampu menyebutkan nama dan anggota keluarga bahkan mengingat banyak hal.

    Pasien bahkan berterima kasih akan kepedulian Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur.

    Edukasi terkait keadaan pasien kepada keluarga sudah dilakukan oleh petugas medis di Puskesmas Lalang.

    Apabila evaluasi klinis membaik maka akan dilepas dari pasungan dan terus dipantau kesehatan jiwanya.

    Ani Agas menjelaskan, Kementerian Sosial menghantar bantuan berupa Kebutuhan sandang dan pangan seperti; Beras, telur, baju, perlengkapan mandi seperti handuk, sabun, sampo, selain itu ada susu, biskuit, telur, minyak goreng.

    Selain mengajak beliau bercerita tentang dirinya, tentang anak-anaknya, kami meminta izin untuk merapikan kuku jari-jarinya, kemudian saya lanjutkan dengan menggunting kuku kakinya yang terlihat mengeras.

    “Ia bercerita bahwa setelah menerima pengobatan, keadaanya membaik, ia mengingat banyak hal, bahkan ia baru ingat bahwa anak bungsunya sedang kuliah.

    Ia berjanji akan minum obat teratur agar cepat sembuh,” jelasnya.

    Ani Agas mengungkapkan ” hari ini akhirnya saya paham hukum terbesar kitaโ€ฆโ€ฆ terima kasih telah mengajarkan saya banyak hal. Saya banyak belajar dari orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).”

    Kamis Putih Melayani ODGJ

    Saat mempersiapkan diri untuk merayakan Perayaan Kamis Putih. Perayaan perjamuan terakhir Tuhan Yesus bersama 12 rasul-Nya.

    Kabid P2P dan Kepala Seksi Pencegahan Penanganan ODGJ di bidang P2P, Yanuarius Ngabut mengunjungi sambil memberikan pelayanan pengobatan bagi seorang mama yang sedang dipasung karena derita gangguan jiwa di pedalaman Manggarai Timur.

    Mereka memaknai Kamis Putih dengan membersihkan jari tangan serta menggunting kuku kaki dari penderita tersebut.

    Pelayanan Kasih KKI Menggugah Hati Ani Agas

    Pelayanan Kasih dari relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan Jiwa Kabupaten Manggarai Timur sejak Juli 2017 lalu menggugah hati Ibu Pranata K Agas secara pribadi karena waktu ia belum menduduki jabatan kepala bidang P2P.

    Beberapa kali secara pribadi, Ani Agas bersama relawan Kelompok Kasih Insanis sama-sama mengunjungi orang yang sedang derita gangguan jiwa di Kabupaten Manggarai Timur.

    Bahkan beberapa kali bertemu dengan relawan KKI untuk saling sharing tentang kisah pelayanan bagi orang yang sedang derita gangguan jiwa.

    Saat itu relawan KKI memberikan masukkan bahwa ketersediaan obat di Puskesmas-Puskesmas di seluruh Manggarai Timur bagi penderita gangguan jiwa mampu memulihkan mereka dari derita yang sedang dialami.

    Berkat rutin minum obat yang dilayani petugas medis dari beberapa Puskesmas di sekitar Kota Borong ada sebagian penderita yang lepas pasung. Tentu pasca lepas pasung, para penderita tetap minum obat secara berkelanjutan dengan pendampingan anggota keluarga.

    Semua masukkan yang disampaikan relawan KKI dicatat dan di analisanya untuk pengadaan obat rutin dan didistribusikan kepada puskesmas-puskesmas di seluruh Manggarai Timur.

    Saat sharing itu, Ibu Ani Agas memberikan saran kepada relawan KKI untuk sama-sama membuat roadmap pencegahan dan penanganan orang dengan gangguan jiwa di Kabupaten Manggarai Timur.

    Tidak hanya menerima pengalaman dari pelayanan kasih dari relawan KKI Manggarai Timur, Ibu Ani Agas juga berjuang keras untuk berdiskusi dengan Pendiri Relawan Kelompok Kasih Insanis NTT, Pater Aventinus Saur, SVD.

    Bertemu Pater Avent Saur, SVD di Kampung Taga

    31 Oktober 2020 lalu, Ibu Ani Agas bersama seorang stafnya bertemu Pater Aventinus Saur, SVD di Kampung Taga, Desa Golo Nderu, Kecamatan Kota Komba, (dulu), kini sudah mekar menjadi Kecamatan Kota Komba Utara.

    Saat itu Pater Avent, SVD memimpin misa pemberkatan nikah seorang anggota relawan KKI Kabupaten Manggarai Timur. Pankrasius Purnama namanya. Biasa disapa Engkos.

    Engkos jatuh cinta dengan seorang gadis cantik dari kampung tersebut.

    Walaupun medan jalan yang sangat berat. Belum di aspal. Saat itu belum dibangunkan crossway di Kali Wae Ghera. Kini crossway sudah dibangun oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Kabupaten Manggarai Timur.

    Komitmen untuk memulihkan sesama yang sedang derita gangguan jiwa, baik yang dipasung maupun yang berkeliaran menjadi panggilan hati nurani dari Ibu Ani Agas, walaupun saat itu masih duduk di Kepala Bidang Sumber Daya Kesehatan (SDK) Dinas Kesehatan Manggarai Timur.

    Komitmen pribadi untuk memulihkan sesama yang sedang derita sakit membuat ia menimba pengalaman dari Pendiri KKI walaupun bertemu di pelosok Manggarai Timur.

    Sebelum dilangsungkan resepsi pernikahan dari Engkos. Ibu Ani Agas, Pater Avent, SVD, Saya, staf Dinkes dan beberapa relawan KKI Desa Golo Nderu berdiskusi lepas tentang penanganan dan pencegahan serta pemulihan bagi ODGJ.

    Pater Avent menyampaikan peran pengobatan dari obat medis mampu memulihkan penderita yang sedang sakit. Itu sudah nyata dialami di beberapa Kabupaten di Pulau Flores selama pelayanan dari relawan KKI. Saat itu Ibu Ani Agas lebih banyak mendengar dan menyimak seluruh diskusi tersebut.

    Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur meningkatkan pelayanan medis serta pengadaan obat-obatan di seluruh Puskesmas. Oktober 2019 lalu, relawan KKI sudah mengadakan seminar Nasional tentang Kesehatan Jiwa (Keswa).

    Saat itu Dinas Kesehatan hadir bersama dengan seluruh petugas medis dari beberapa Puskesmas di Manggarai Timur.

    Diskusi berhenti sampai disitu karena kami harus masuk di ruang kemah pesta. Kemudian waktu sudah sore, Ibu Ani Agas pamit pulang duluan ke Kota Borong sambil berpesan agar diskusi berlanjut di Kota Borong.

    Secercah Harapan bagi Pemulihan ODGJ

    Penanganan dan pencegahan bagi penderita orang dengan gangguan jiwa atau bahasa halusnya disabilitas mental sesuai regulasi merupakan hal baru di Pulau Flores berkat perjuangan gigih dari seorang Imam yang bertugas di Provinsial Ende.

    Pater Aventinus Saur, SVD  namanya. Ia imam dari ordo Serikat Sabda Allah yang didirikan oleh Santo Arnoldus Jansen. Ingin tahu kisah perjuangannya baca buku “Belum Kalah”. Berkat pelayanan kasihnya, Ia pernah mengisahkan perjuangannya di program Kick Andy di media Metro TV bahkan kisah perjuangannya dimuat di media KOMPAS dan KOMPAS.com

    Membaca tulisan dan liputan di media Flores Pos dan media sosial facebook, banyak orang tergerak hati untuk bergabung hingga akhir membentuk kelompok relawan KKI.

    Berangkat pesan di inbox media sosial dan menukarkan nomor ponsel. Kemudian sekitar 7 orang dari Manggarai Timur bertemu Pater Avent di sebuah warung makan di Kota Borong. Saat itu tepatnya Juli 2017.

    Waktu itu Pater pulang dari Panti Renceng Mose Ruteng. Pater Avent ke Panti Renceng Mose Ruteng menghantar seorang pasien dari Kabupaten Ende untuk dirawat dan memulihkan kesehatan dari penderita tersebut.

    Saat makan siang bersama, kami sepakat dan meminta kepada Pater Avent agar relawan KKI juga dibentuk di Manggarai Timur. Saat itu Pater Avent berpesan bahwa ini kerja sukarela. Panggilan hati nurani. Ada kerelaan dalam hati untuk menjadi relawan.

    Saat itu kami sepakat. Pater Avent kembali ke Ende dan kami pulang ke rumah masing-masing.

    Selanjutnya pelayanan secara sporadis. Misalnya dimana ada informasi orang sakit gangguan jiwa dipasung, kami berkunjung disela kesibukan kerja masing-masing.

    Perjuangan relawan KKI tanpa kenal lelah membuahkan hasil dengan menyelenggarakan Seminar Nasional Kesehatan Jiwa (Keswa). Tampil sebagai narasumber secara sukarela saat itu, Dr Albert Maramis, Seorang Penyintas yang pulih, Mas Kiki, Pater Avent Saur, SVD Saat itu Seminar dibuka oleh Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus. Hadir saat itu Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa, Wakil Ketua DPRD Manggarai Timur, Damu Damian, Vikep Borong, Romo Simon Nama, Pr serta beberapa imam, diantaranya Romo Hermen Sanusi, Pr

    Setelah Seminar dilanjutkan dengan dengar pendapat (public hearing) di Gedung DPRD Manggarai Timur.

    Tidak sampai disitu perjuangan dari relawan KKI. Relawan mengajak beberapa anggota DPRD untuk mengunjung langsung penderita di rumah-rumah. Dialog dengan Dinkes, Dinsos di ruangan Ketua DPRD. Dialog dengan Kepala Dinas Sosial. Dialog dengan Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat. Pada Desember 2020, pertemuan terbatas dengan Kemenkes, Kemensos, Keuskupan Ruteng, relawan KKI, Dinkes dan Dinsos dari Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur untuk pencegahan dan penanganan ODGJ. Bahkan relawan KKI dialog dengan anggota DPRD Provinsi NTT, Yohanes Rumat di Cafe SMAK Pancasila Borong dengan melibatkan Dinkes Manggarai Timur.

    Inilah catatan pelayanan kasih serta upaya bersama untuk memulihkan sesama saudara yang sedang menderita gangguan jiwa. Salam Belum Kalah. Salam Sehat Jiwa. Kita Belum Terlambat.

                                                     *************

    *Penulis adalah wartawan dan koordinator relawan KKI di Manggarai Timur

  • Ballada Penyaliban

    WS Rendra

    Yesus berjalan ke Golgota
    disandangnya salib kayu
    bagai domba kapas putih.

    Tiada mawar-mawar di jalanan
    tiada daun-daun palma
    domba putih menyeret azab dan dera
    merunduk oleh tugas teramat dicinta
    dan ditanam atas maunya.

    Mentari meleleh
    segala menetes dari luka
    dan leluhur kita Ibrahim
    berlutut, dua tangan pada Bapa:
    โ€“ Bapa kami di sorga
    telah terbantai domba palling putih
    atas altar paling agung.
    Bapa kami di sorga
    Berilah kami bianglala!

    Ia melangkah ke Golgota
    jantung berwarna paling agung
    mengunyah dosa demi dosa
    dikunyahnya dan betapa getirnya.

    Tiada jubah terbentang di jalanan
    bunda menangis dengan rambut pada debu
    dan menangis pula segala perempuan kota.

    โ€“ Perempuan!
    mengapa kautangisi diriku
    dan tiada kautangisi dirimu?

    Air mawar merah dari tubuhnya
    menyiram jalanan kering
    jalanan liang-liang jiwa yang papa
    dan pembantaian berlangsung
    atas taruhan dosa.

    Akan diminumnya dari tuwung kencana
    anggur darah lambungnya sendiri
    dan pada tarikan napas terakhir bertuba:
    โ€“ Bapa, selesailah semua!

    (dari Ballada Orang-orang Tercinta, 1957)

  • Litani bagi Domba Kudus

    WS Rendra

    + Yesus kecil domba yang kudus

    – Lapangkanlah dadamu, ya Domba Kudus!

    + Yang terbantai di tengah siang.

    – Limpahkanlah kiranya berkatMu bagai air!

    + Yang berdarah bagai anggur.

    – Meluaplah ampun dari samodra kasihMu!

    + Yang menyala bagai kandil.

    – Kami semua adalah milikMu!

    I

    + Duhai, daging korban sempurna

    Ia tempat lari segala jiwa yang papa.

    Ia bunga putih, keputihan, dan bunga-bunga;

    Ia sarang napas langit yang disebut cinta.

    Ia burung dara dari gading.

    Ia utusan Bapa dan Dirinya.

    Ia tebing yang dipukuli arus air.

    2

    – Lapangkanlah dadamu, ya Domba Kudus!

    3

    + Yang dirobek oleh dendam. 

    Yang dipaku di kayu topangan dosa. 

    Yang menggenggam duri-duri didagingnya

    Yang ditelanjangi dan membuka hatinya. 

    Yang mengampuni si penikam durjana. 

    Yang dipeluhkan bintik darah.

    4

    – Limpahkanlah kiranya berkatMu bagai air!

    5

    + Raja tanpa emas tanpa permata.

    Raja yang dimahkotai duri

    Raja yang menyusuri jalanan para miskin

    Raja yang dibaptiskan pertapa dina.

    Raja yang diminyaki pelacur yang dipalingi muka

    Raja yang ditampar pada pipinya.

    6

    – Meluaplah ampun dari samodra kasihMu!

    7

    + Anak buah tubuh perawan benar perawan 

    Anak yang dihadap tiga raja dari Timur. 

    Anak yang mengucap kalimat Ilahi 

    Anak yang putih bagai mawar putih 

    Anak yang menutup mata diriba bundanya. 

    Anak emas dari kawanan kijang emas. 

    Anak penuh bunga di mata bundanya.

    8

    – Kami semua adalah milikMu!

    9

    + Domba korban segala umat manusia.

    Domba yang berlutut di taman zaitun.

    Domba yang dibantai dan bangkit dari kematian.

    Domba yang duduk di kanan Bapa.

    Domba anak dari segala terang.

    Domba yang diludahi di Golgota.

    Domba yang manis, Domba kami semua.

    10

    – Lapangkanlah dadaMu, ya domba Kudus.

    Limpahkanlah berkatMu bagai air.

    Meluaplah ampun dari samodra kasihMu.

    Kami semua adalah milikMu:

    pengkhianat, pezinah, pemberontak,pembunuh,

    pendusta dan perampok,

    Lapangkanlah dadaMu, ya Domba Kudus.

  • Denny JA dan Jalan Puisi

    IGNAS KLEDEN dalam bukunya Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan berpendapat bahwa puisi datang kepada kita bukan lewat ide atau gagasan. โ€œDalam puisi, dalil filsafat Cartesian tentang manusia โ€œsaya berpikir maka saya adaโ€ dipatahkan secara mutlak, karena yang terjadi dalam puisi adalah peristiwa yang lain sama sekali wujudnya, yaitu โ€œsaya mengalami maka saya adaโ€. Seperti kita tahu, pengalaman bukanlah perjumpaan intelektual dengan dunia, melainkan keterlibatan eksistensial di dalamnya. Kalau ilmu dan filsafat menjelmakan pengalaman menjadi pengetahuan, mengubah perasaan menjadi pikiran, nada menjadi notasi, rindu menjadi psikologi, intuisi menjadi proposisi dan argumentasi, maka puisi membalikkan semuanya pada posisi yang lebih asali dan lebih alami. Dalam puisi terjadi tarnsposisi pikiran menjadi pengalaman dan suasana, rindu menjadi getar dan perasaan, proposisi menjadi intuisi, dan intuisi menjadi visium tentang warna langit dan bau hutan, dan argumentasi yang tersusun rapi menjadi imaji yang liar berkejar-kejaran. Seorang ilmuwan dan filsuf berusaha menyusun pikiran dan gagasan, sedangkan seorang penyair berikhtiar menemukan makna.โ€ (Ignas Kleden, โ€œPuisi, Penyair, dan Intelektual Publikโ€, ย Sastra Indonesia dalam Enam pertanyaan, Grafiti 2004).

    Denny JA, seorang intelektual publik yang belakangan ini mengikhtiarkan dirinya untuk Indonesia tanpa Diskriminasi, membenarkan argument Ignas mengenai puisi diatas. Impiannya tentang Indonesia tanpa Diskriminasi ia lakukan lewat karya budaya yakni dengan menulis puisi esai. Sudah dua buku puisi yang ia hasilkan. Atas Nama Cinta adalah buku pertamanya. Buku puisi keduanya ia beri judul Cintai Manusia Saja, Soal Diskriminasi Agama dan Cinta.

    Sudah banyak riset akademik yang ia hasilkan melalui LSI (Lembaga Survei Indonesia). Sudah ratusan kolom yang ia tulis sejak mahasiswa. Namun menurutnya karya seni khususnya puisi adalah karya yang lebih menyentuh hati.

    Peristiwa Pemboman Gereja Katedral di Makasar menjadi pelatuk bagi  kita untuk mengapresiasi puisi Denny berikut ini:

    SIAPA YANG MEMBELA KITA, IBU?

    Dari runtuhan gereja yang dibakar

    Masih terdengar lagu โ€œAve Mariaโ€

    Dari runtuhan Masjid yang dirusak

    Masih terdengar adzan magrib

    I

    โ€œSiapa yang membela kita, Ibu?โ€

    Tanya bocah menangis kelu

    Dilihatnya rumah ibadah itu

    Tempat mereka berdoa selalu

    Kini tersegel dan remuk

    Mereka dilarang masuk

    II

    Siapa yang membela kita, Ibu?โ€

    Tanya bocah takut dan pilu

    Rumahnya dibakar api

    Tanahnya diduduki

    Mereka harus mengungsi

    Dan dilarang kembali

    III

    โ€œSiapa yang membela kita, Ibu?โ€

    Tanya bocah histeris ngilu

    Ia melihat ayahnya diparang

    Oleh massa yang garang

    IV

    Bocah itu tak meminta

    Orang tua yang memberinya

    Bocah itu bisa Kristen agamanya

    Bocah itu bisa muslim agamanya

    Bocah itu bisa Hindu agamanya

    Bocah itu bisa juga tak beragama

    V

    Namun, sekali mereka minoritas

    Dan hidup di tanah yang beringas

    Mereka menjadi unggas

    Bagi serigala yang buas

    VI

    Ibu hanya menangis dan berdoa

    Memeluk bocah penuh tanya

    Sambil melindungi

    Dari benci dan api

    โ€œTuhan ora sare, anakku

    Tuhan tidak tidur sayangkuโ€

    VII

    Sambil berharap dalam duka

    Lirih saja ibu berkata

    Bocah dibuatnya nyaman

    Dibelainya dalam pelukan

    VIII

    โ€œAkan selalu lahir pejuang, anakku

    Akan lahir pemikir selalu

    Akan selalu lahir pahlawan

    Mereka akan membawa pesan Tuhanโ€

    IX

    Dipeluknya bocah dalam duka

    Dengan linangan air mata

    โ€œJika kau besar nanti, anakku

    Ingat pesamn ibu selaluโ€

    X

    โ€œDimanapun dirimu berada

    Apapun agama dan etnis di sana

    Apapun paham yang ada

    Cintai manusia sajaโ€

    XI

    Ibu memungut puing rumah ibadah

    Puing itu raib sekejab

    Dirasakannya rumah ibadah

    Tumbuh di hatinya

    Tumbuh di hati anaknya

    *************************************

    Paskalis Bataona

  • Relasi antara Yang Kudus dan Yang Kosmos dalam Etnik Lamaholot

    Relasi antara Yang Kudus dan Yang Kosmos dalam Etnik Lamaholot

    Olehย  ย Charles Beraf, Social Reseraches pada Detukeli Research Centre di Detukeli, Flores

    HUBUNGAN, baik dengan โ€œYang Kudusโ€ maupun dengan kosmos, juga ada dalam agama asli masyarakat etnik Lamaholot (yang tersebar di Flores Timur, Solor, Adonara, Lembata, juga Alor). Di wilayah kebudayaan ini, Yang Kudus disapa umum dengan nama Ama Lera Wulan, Ina Tana Ekan (Bapa Matahari Bulan, Ibu Bumi). Kerap juga disapa Ala Ta Ala (Allah) atau Alepkme (Pemilik kami). Ama Lera Wulan mengandung arti Bapa yang tertinggi, berkuasa, sedangkan Ina Tana Ekan berarti ibu yang berdaya menumbuhkan, yang olehnya kehidupan dirahimi dan dilahirkan.

    Nama dan pengertian Ina Tana Ekan tidak mengacu secara terbatas pada tanah (darat), tetapi untuk sebagian komunitas Lamaholot yang lain, juga mengacu pada laut yang juga dipandang sebagai ibu. Di Lamalera โ€“ Lembata misalnya, laut dipandang sebagai Ina Lefa (Ibu Samudra) yang kudus.

    Prespektif kosmologis ini mau memperlihatkan bahwa relasi dan korelasi antara yang kosmis dan โ€œYang Kudusโ€ didominasi oleh pandangan alam sebagai โ€œibuโ€. Laut adalah ibu yang kudus, yang dalam dan dengannya pengalaman-pengalaman transendental akan โ€œYang Kudusโ€ itu ada, yang turut memengaruhi cara hidup (cara bagaimana menghayati hidup), baik di laut maupun di darat.

    Mereka percaya bahwa ketika mereka ke laut (terutama menangkap ikan Paus), mereka pergi untuk mengambil knato (kiriman) dari โ€œYang Kudusโ€, yang dititipkan melalui Ina Lefa. Knato sesungguhnya dimaksudkan juga untuk kehidupan mereka di darat. Karena itu, ketika mereka melaut, mereka melaut dengan suatu sikap seorang religius, yang menandakan bahwa mereka sedang berinteraksi dengan yang kudus.

    Pengalaman-pengalaman transendental yang terbentuk dari relasi dengan alam dan dengan โ€œYang Kudusโ€ itu umumnya juga ada pada komunitas-komunitas Lamaholot yang lain, yang juga memandang โ€œYang Kudusโ€ sebagai Bapa Matahari Bulan, Ibu Bumi. Pengalaman yang mereka timba dari praksis hidup mereka dalam relasinya dengan alam dan โ€œpenguasa dan pemilik alam semestaโ€ itu tampak terangkat sebagai kepercayaan yang positif atau yang naturalistik, yang dalam bahasa John Dewey misalnya, disebut sebagai suatu โ€œkepercayaan humanistikโ€ atau dalam bahasa Erich Fromm โ€œsuatu psikologi humanistikโ€.

    Namun penamaan atas โ€œYang Kudusโ€ sebagai Bapa Matahari Bulan, Ibu Bumi memerlihatkan bahwa pengenalan atas โ€œYang Kudusโ€ sesungguhnya diantarai atau terjembatani oleh benda-benda kosmik, yang meski dipandang sebagai yang melampaui, jauh lebih besar dari manusia (transenden), namun bisa dicerap dalam pengalaman indrawi (imanen).  Dengan kata lain, transendensi dan imanensi dari โ€œYang Kudusโ€ itu tampak dan dilambangkan sekaligus dalam dan melalui benda-benda kosmik, yang kelihatan dan dikenal, familiar dengan kehidupan masyarakat etnik Lamaholot. Di balik relasi yang kosmologis sifatnya, terungkap secara spesialis relasi dengan โ€œYang Kudusโ€ (relasi religius).

    Relasi yang kosmologis sekaligus yang religius ini diaproriasi secara khusus antara lain melalui ritual, yang yang dipusatkan pada Nuba Nara (Nuba: tugu batu panjang (menhir) yang ditancapkan pada tanah, dan Nara: batu-batu ceper yang mengelilingi Nuba). Di kalangan masyarakat Lamaholot, Nuba Nara amat jarang diartikan, selain hanya diketahui sebagai pusat ritual. Nuba, kata ini berhubungan dengan kata Nobo atau Tobo, yang berarti duduk, sedangkan Nara berarti orang (manusia), yang sering dipadankan kata Kajak berarti orang banyak.

    Nuba Nara dapat diartikan sebagai โ€˜yang duduk dengan orang (manusia) atau yang duduk di antara orang (manusia). Arti ini kerap dieloborasi dengan melihat kemiripan kedua kata ini (nuba nara) dengan dua kata Lamholot lain yakni tubak dan tarak. Tubak berarti tikam, menikam dan Tarak berarti tertancap, terdampar. Nuba Nara, karena itu kerap diartikan juga sebagai โ€˜yang menikam atau yang ditikamโ€™ dan โ€˜yang tertancapโ€™.

    Arti ini pada masa ini oleh orang-orang Katolik: dimaknai sebagai peristiwa inkarnasi menurut prespektif Kristologi Katolik: Allah yang di atas, datang dan tinggal di antara manusia atau Dia yang โ€˜menikamkanโ€™ diri dan yang โ€˜tertancapโ€™ di bumi, di antara manusia.

    Beberapa pengertian tersebut sesungguhnya menunjukkan bahwa sebagai pusat ritual, Nuba Nara merepresentasikan โ€œYang Kudusโ€ (Ama Lera Wulan, Ina Tana Ekan), Dia yang jauh di langit sekaligus yang dekat di bumi, di antara manusia. Karena itu, ritual yang dijalankan di Nuba Nara, selain bertujuan menghormati โ€œYang Kudusโ€, juga demi kemaslahatan hidup orang banyak.

    Nuba, seperti Tubu pada masyarakat etnik Lio, digambarkan sebagai seorang laki-laki, dan seperti Kanga di Lio, Nara digambarkan sebagai perempuan. Dari bentuknya pun, ada kemiripan dengan Tubu Kanga di Lio: batu bulat lonjong (nuba) serupa kelamin laki-laki, dan susunan batu yang melingkar (nara) serupa kelamin perempuan.

    Namun lebih jauh dari itu, ungkapan Nuba kame Lagadoni, Nara kame wato Peni (Nuba kami Lagadoni, Nara kami batu Peni) setiap kali ada ritual di Nuba Nara bisa menadi acuan untuk memahami mengapa penggambaran dibuat demikian. Langodoni, pada masyrakat Lamaholot adalah nama untuk laki-laki, dan Peni, untuk perempuan.

    Nuba Nara selalu berada dekat dengan Koke ( kuil tempat tinggal roh-roh) berupa bangunan rumah panggung, tak berdinding dan beratap alang-alang dan Bale (tempat pertemuan tua-tua adat). Di depan Koke Bale, terdapat Namang atau Neme sebagai arena tanda setiap kali ada ritual atau pesta adat. Area di mana ada Nuba Nara, Koke Bale dan Nemme adalah area yang sakral.

    Kata-kata atau tindakan tidak senonoh haram untuk diucapkan atau dilakukan di area itu, terutama ketika diadakan ritual. Pun tidak semua orang bisa diperbolehkan masuk atau mengadakan ritual (mempersembahkan sesajen), khususnya di Nuba Nara dan di Koke Bale. Ritual di Nuba Nara dan Koke Bale hanya dilaksanakan oleh orang yang secara adat ditetapkan sebagai pemangku (blimut) atau pelaksana adat (ata smara), yang biasanya datang dari marga atau suku tertentu, yang sejak dulu telah (diangkat) jadi pemangku.

    Ada macam-macam ritual yang dijalankan di Nuba Nara, yang berkenaan antara lain dengan kehidupan sosial, ekonomi, atau pun terkait dengan hubungan masyarakat dengan alam. Ada ritual panggil hujan atau makan jagung muda misalnya, dilaksanakan di wilayah yang masyarakatnya menggantungkan hidup pada petanian, tetapi juga ada ritual panggil ikan di wilayah yang masyarakatnya hidup dari laut.

    Di Mingar, Lembata, dalam ritual panggil hujan misalnya, semua masyarakat dari semua suku akan dikumpulkan dan dengan tenang mengelilingi Nuba Nara (tidak batuk atau mengucapkan sepatah kata pun) dan Ata Smara berdiri dekat Nuba Nara, mengenakan pakaian kebesaran dan dikuti dari belakang oleh satu orang yang disebut Semage serupa seorang ajudan yang bertugas menjaga Ata Smara. Ata Smara akan mengucapkan doa berikut:

    โ€œAla ta alagoka lodo, tenaj eko sefo gere, nuba kame Langodoni, nara kame wato Peni, Pati Suar rae ile lolo, mete ura hau, lau Laot lau miten, mete ura daiโ€ (Allah, turunlah, berpijaklah dan berdirilah di tanah ini, Nuba kami Lagadoni, Nara kami batu Peni, Pati Suar di atas gunung guyurkan hujan, Laot di kehitaman laut, bawalah hujan).

    Setelah doa diucapkan, Keles Reget (penyembelih binatang), di depan Nuba Nara, memenggal leher kambing dengan sekali penggal hingga putus, Darah kambing dioleskan pada Nuba Nara menjadi sekaligus peresembahan di Nuba Nara. Lalu hati kambing dimasak dan juga dipersembahkan untuk Nuba Nara.

    Ritual dimaksud terkait erat dengan peristiwa kosmik. Kalau terlihat langit yang terang dengan banyak bintang disertai dua gumpalan awan (dianggap sebagai wakil dari sepasang suami isteri), maka itu pratanda aka nada curah hujan yang cukup. Terkait hal ini, ritual dimaksud agar awan dapat berwujud hujan. Tetapi sebaliknya, kalau hanya satu gumpalan, maka aka ada kekeringan atau kelaparan.

    Penggalan syair berikut mengungkapkan ini: โ€œsama kowa laka nuka, sama uru lera mataโ€(serupa awam yatim, serupa hujan dimusim kemarau). Terkait hal ini, ritual menjadi cara masyarakat memohon pertolongan dan berkat dari Ama Lera Wulan, Ina Tana Ekan.

    Ritual-ritual semacam itu berkaitan erat dengan waktu yang dihayati sebagai bagian utuh dari aktivitas-kativitas sosial serta fenomena ekologis dan meterologis. Waktu untuk ritual panggil hujan misalnya, mesti dijalankan ketika menjelang musim tanam atau ketika kekeringan hebat melanda. Memang sebagian besar dari suku-suku Lamahollot tidak mengenal atau lebih tepat tidak menamai waktu seperti pada masyarakat LIo, tetapi mereka mengenal waktu secara periodik yang terbedakan dari waktu suci saat ritual harus dijalankan dan waktu biasa ketika berlangsungnya peristiwa-peristiwa tanpa arti religius yang khusus.

    Karena itu, suatu tanggal khusus yang ditentukan dalam kalender (penanggalan modern) tidak punya arti pada dirinya sendiri, misalnya bagi mereka yang menanti hujan untuk memulai pengolahan tanah. Apa yang penting adalah kejadian itu sendiri: turunnya hujan, menanam dan memanen. Dengan lain perkataan, makna waktu diperoleh melalui rentetan peristiwa-peristiwa kosmik yang melingkunginya atau yang dialaminya, yang seawaktu-waktu bisa berubah.  

    Hal serupa juga ada pada suku Lamaholot lain yang bergantung hidupnya pada laut, seperti di Lamalera. Di Lamalera dikenal waktu suci yang disebut sebagai lefa nuang atau mussi lefa (musim melaut). Lefa bisa berarti samudra, lautan. Lefa juga bisa berarti kegiatan melaut, mengarungi samudra, sedangkan nuang berarti musim, yang sama artinya dari mussi. Nuang juga berarti perkataan. Lefa nuang sebagai waktu suci tidak hanya berkenaan dengan ritual melaut, tetapi juga menyangkut aktivitas melaut itu sendiri, yang secara imperatif menuntut perkataan (nuang) dan tindkan (lefa) yang suci pula, baik selama di laut maupun di darat. Selain itu, Lefa Nuang kerap disebut juga sebagai Lefa Hari Nuang. Hari adalah sebutan untuk roh halus, yang menurut masyarakat Lamalera, turut menjaga dan melindungi kesucian laut.

    Lefa Nuang (Musim Melaut), Foto Doug Bock Clark

    Lefa Nuang ini biasanya berlangsung dari April sampai November; yang diawali dengan ritual di Nuba Nara, dilanjutkan dengan kegiatan melaut dan diakhiri juga dengan ritual. Periode waktu ini memang hingga sekarang sudah dianggap tetap seturut kalender modern, namun sebenarnya ini dimulai sejak dulu dengan melihat tanda-tanda kosmik, yakni munculnya Wuno Pito (rasi bintang biduk), yang dipercaya dapat menjadi petunjuk mengenai arah angin dan arus lautan โ€“ hal yang penting ketika melaut. Di luar periode ini, kegiatan melaut memang tetap dijalankan, namun tidak seintens ketika Lefa Nuang. Pada periode ini kegiatan lain yang bersifat profan dan privat seperti berkebun bisa pula dilakukan.

    Pembedaan, baik dalam hal waktu maupun dalam hal aktivitas (religius dan profan), tidak berarti hubungan dengan Yang Kudus turut dibatasi, hanya ketika suatu ritual atau aktivitas religius dijalankan di Nuba Nara atau suatu urusan yang amat profan dan privat sifatnya sama sekali menidakkan campur tangan Yang Kudus. Ketika misalnya memasuki rumah baru atau membuka kebun baru, diadakn juga ritual dengan doa dan pemberian sesajen, seperti di pojok rumah atau di kebun dengan partisipan yang terbatas. Jadi, dalam yang profan sekalipun, ada sisi religius yang dihidupi.

    Hal ini menunjukkan bahwa hubungan dengan Yang Kudus di kalangan masyarakat Lamholot sudah mewujud sebagai suatu cara hidup atau lebih tepat telah menjadi etos hidup masyarakat. Dipercaya bahwa dalam rentang waktu sejak kelahiran hingga kematian, masyarakat Lamaholot bergantung sepenuhnya pada Yang Kudus (Ama Lera Wukan, Ina Tana Ekan), yang meski impersonal, hadir terutama dalam peristiwa-peristiwa kosmik dan alamiah yang dapat dialami, diindrai.

    Bahkan dipercaya sesudah kematianpun, Yang Kudus masih terlibat dengan menyediakan kehidupan lain di tempat tertentu di muka bumi ini. Masyarakat Lamaholot percaya bahwa orang mati, beberapa hari sesudah kematiannya, akan menjadi kwokot (arwah). Arwah ini bahkan bisa berwujud dalam makhluk-makhluk tertentu yang dekat dengan mereka yang hidup. Arwah harus didoakan agar bisa berpindah tempat. Tempat mana yang dimaksud, untuk sebagian besar wilayah Lamaholot, tidak diketahui.

    Namun di Lamalera misalnya, masih ada kepercayaan bahwa arwah (kwokot) orang-orang mati akan transit di Suba yang terletak di pantai Selatan Barat pulau Lembata. Dan menuju serta mendiami Tnepi โ€“ atoll di Selatan Timur Lembata, dekat pulau Alor. Di Suba mereka dibersihkan dan dimurnikan menjadi manusia baru dan akhirnya menuju tempat kediaman terakhir, Tnepi. Tnepi adalah Nirwana, yand disedikan Yang Kudus bagi mereka yang sudah melewati kehidupan di dunia ini. Dengan kata lain, hubungan masyarakat Lamaholot dengan Yang Kudus dalam hal kehidupan sesudah mati pun selalu terjembatani dalam dan melalui sesuatu yang juga dipandang sacral, meski itu termanifestasi dalam cara dan bentuk yang lain โ€“ hal yang dipercaya sebagai manifestasi dari tindakan Yang Kudus itu.

    Kepercayaan semacam itu, juga yang ada pada masyarakat Lio, menurut E. B. Tylor, diambil dari kepercayaan animistik. Menurut Tylor, ada tiga macam kepercayaan dalam animism. Pertama, kepercayaan bahwa jiwa-jiwa dari orang-orang mati melayang-layang di atas bumi dan mempunyai dan mempunyai kepentingan dengan yang hidup. Kedua, kepercayaan bahwa ada metapsikosis dari jiwa ke dalam makhluk lain dan ketiga, kepercayaan bahwa ada tempat kediaman istimewa di dunia lain, sperti dunia bawah tanah, gunung-gunung dan surga.

    Jiwa-jiwa itu akan melanjutkan kehidupan yang mirip dengan kehidupan duniawi. Meski tak muda dijembatankan dengan kenyataan tertentu, kepercayaan animistik ini sedikit banyaknya sudah menggambarkan bahwa dalam hal kehidupan sesudah kematian pun orang Lamaholot masih tetap terikat dengan pandangan-pandangan yang kosmologis sifatnya.

    ——————————————————————————————————

    *Naskah ini disadur dari bahan seminar yang disampaikan dalam โ€œBorobudur Writer Fesival 2017โ€, Yogyakarta 23-25 November 2017.

    *Sumber Warta Flobamora, Edisi 73 – 2019

  • Orange Talk: โ€˜Tata Kelola Sumber Daya Air untuk Pembangunan Berkelanjutan: Melihat Peluang Kolaborasi Lintas Sektorโ€™

    Berandanegeri.com – Jaringan Alumni Belanda di Indonesia (NL Alumni Network) bekerjasama dengan I&P (Asosiasi Intelektual dan Profesional Indonesia) sukses menggelar program Series #4 dari Orange Talks dengan tema (Water Resource Partnerships for Sustainable Development: Finding Opportunities for Cross-sector Collaboration). Acara ini dilaksanakan pada Jumat 26 Maret 2021 menggunakan platform Zoom cloud Meeting.

    Dimulai pukul 15.00 WIB, webinar dihadiri oleh alumni dan praktisi riset di bidang air dari Indonesia-Belanda, antara lain: Leo Eliasta (Wakil Direktur Direktorat Sungai dan Pantai Kementerian PUPR, alumni beasiswa StuNed di Delft University of Technology dan UNESCO-IHE Delft), Reza Pramana (Peneliti di Delft University of Technology, penerima beasiswa StuNed), serta Floris Boogaard (Profesor Transformasi Spasial dari Universitas Hanze, Groningen).

    Secara umum, webinar yang dimoderatori oleh Sinar Juliana (perwakilan I&P Indonesia) bertujuan untuk mendiskusikan  sejumlah poin penting diantaranya, kolaborasi antar universitas, pemerintah, dan masyarakat di sektor air antara Indonesia-Belanda untuk mencapai  SDGs (Sustainable Development Goals). Upaya ini difokuskan pada kualitas air, tata kelola sumber daya air, pembangunan infrastruktur, bencana manajemen, dan adaptasi iklim semuanya melibatkan kemitraan aktif antara universitas, pemerintah, bisnis, dan komunitas. Pengembangan penelitian dan inovasi oleh universitas memberikan hal baru pada platform dan teknologi untuk mempercepat kemajuan dalam memenuhi SDG. Lebih jauh lagi untuk membahas berbagai pengalaman kemitraan lintas sektor yang melibatkan universitas di Indonesia dan Belanda, bisnis, dan pemerintah tentunya melalui Kementerian PUPR.

    Sebagai pembuka, Peter Van Tujil selaku direktur Nuffic Neso Indonesia memberikan sambutan yang hangat dan sangat mengapresiasi program ini. Sekaligus mengatakan โ€˜ini juga merupakan tantangan bagi alumni Belanda untuk menyelenggarakan agenda dan program berkelanjutan yang dapat menanggapi persoalan (baca: air) yag cukup krusial iniโ€™

    Leo Eliasta, narasumber pertama menyampaikan ada 7 agenda prioritas nasional terkait pengembangan nasional yang menjadi prioritas, salah satunya adalah emperkuat ketahanan ekonomi untuk pertumbuhan yang berkualitas dan berkeadilan.  

    PUPR juga mendukung 2 agenda pembangunan. Pertama, PN1 Memperkuat Ketahanan Ekonomi untuk Pertumbuhan yang Berkualitas dan Berkeadilan melalui Pengelolaan sumber daya ekonomi yang meliputi pemenuhan pangan dan pertanian serta pengelolaan kelautan, kelautan, dan perikanan, sumber daya air, sumber daya energi, dan kehutanan. Kedua, Penguatan Infrastruktur PNS bertujuan untuk mendukung kegiatan ekonomi dan mendorong pembangunan nasional secara proporsional, melalui pembangunan Infrastruktur Dasar.

    Untuk mengimplementasikan agenda tersebut, dibutuhkan adanya penyusunan program yang terintegrasi dan sistemis, sikap pengambil risiko dan pengambilan keputusan yang cepat, kerja tim yang solid dan orientasi lokasi, pengawasan yang rinci dan konsisten, dan sistem operasi dan pemeliharaan yang kuat.

    Diskusi dilanjutkan dengan paparan materi dari Reza Pramana yang menjelaskan terjadinya pencemaran air yang menurutnya disbebakan oleh 3 hal, yaitu: air limbah rumah tangga, air limbah industri dan limbah padat pertanian. Untuk menanggulangi hal ini ia menegaskan perlu adanya kerjasama antar perguruan tinggi, sekolah menengah, instansi pemerintah, instansi swasta, serta LSM lainnya.

    Materi terakhir disampaikan oleh Floris Boogaard yang banyak mengulas persoalan tantangan iklim di perkotaan. Tantangan lingkungan yang kita hadapi saat ini: peristiwa cuaca dan suhu ekstrim; mempercepat hilangnya keanekaragaman hayati, polusi udara, tanah, dan air; dan kegagalan langkah-langkah mitigasi dan adaptasi, ungkapnya

  • Misionaris Eropa Diabadikan Jadi Nama Jalan di Papua

    MOANEMANI – Bupati Kabupaten Dogiyai, Yakobus Dumupa, memutuskan mengabadikan nama sejumlah misionaris pada sejumlah ruas jalan di Kabupaten Dogiyai, Papua. Selain nama sejumlah misionaris dari benua Amerika dan Eropa yang lama bermisi di tanah Papua, termasuk Dogiyai, ada juga sejumlah tokoh lokal yang berjasa dalam pertumbuhan dan perkembangan daerah akan diabadikan sebagai nama jalan di wilayah Dogiyai.

    โ€œPara misionaris itu adalah Bruder Johannes Petrus Sjerps, OFM, Bruder Karel, OFM atau Uskup Pertama Keuskupan Agung Merauke, Pastor Herman Tillemans, MSC, dan lain-lain. Ada satu ruas juga kita abadikan dengan nama Jalan Thomas Tigi untuk menghormati dan mengenang Pak Thomas sebagai bupati definitif pertama Dogiyai. Para misionaris dan tokoh lokal ini berjasa dalam pertumbuhan dan perkembangan peradaban hidup orang Mee di Dogiyai,โ€ ujar Yakobus Dumupa dalam keterangan yang diterima, Jumat (26/3/2021).

    Mantan Anggota Majelis Rakyat Papua ini mengatakan, umumnya di berbagai daerah mengabadikan nama jalan di setiap sudut kotanya, pihak Pemerintah Kabupaten Dogiyai juga dalam waktu dekat akan melabelkan tokoh-tokoh berjasa sebagai nama semua ruas jalan yang di wilayah Dogiyai. โ€œSaya sudah memutuskan untuk memberi nama jalan dengan menggunakan nama para tokoh setempat dan orang-orang berjasa bagi pertumbuhan dan kemajuan daerah hingga saat ini. Misalnya Bruder Jan Sjerps, misionaris dari Eropa,โ€ lanjut Dumpua, lulusan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) โ€œAPMDโ€ Yogyakarta.

    Ia menjelaskan, yang dimaksud dengan para tokoh lokal adalah para pemimpin Gereja dan pemimpin atau tokoh masyarakat, yang terbukti berjasa dalam memimpin umat dan masyarakat sehingga masyarakat dan daerah semakin maju, aman, damai, dan sejahtera kemudian diteruskan para tokoh atau pemimpin sesudahnya.

    Ket. Foto: Bupati Kabupaten Dogiyai, Yakobus Dumupa tengah bersama tim sedang mempersiapkan sejumlah nama penting untuk diabadikan sebagai nama jalan di Kabupaten Dogiyai

    Para pemimpin itu tak hanya dari luar Dogiyai namun juga menyasar para pemimpin lokal dari berbagai komunitas di seluruh wilayah Dogiyai. Misalnya, Yobee Enabii di Ekaudidee, Tebai Togoodega di Mauwa, Goo Gaiyaikawii di Goodide, Boma Toyaikeboo di Edegedidee, dan lain sebagainya. Oleh karena itu, dalam rangka merealisasikan kebijakan itu, Bupati Dumupa telah menugaskan Dewan Adat Mee Dogiyai untuk meneliti dan mempersiapkan nama-nama tokoh yang layak diberi nama jalan pada masing-masing wilayah.

    โ€œPemberian nama ini dimaksudkan agar warga masyarakat Dogiyai mengenang jasa orang-orang hebat yang pernah berkontribusi dalam perkembangan perabadan hidup orang Dogiyai. Dengan demikian, di kemudian kita bisa mengambil inspirasi dan teladan hidup dari mereka untuk lebih giat bekerja memajukan masyarakat dan daerah lebih baik lagi,โ€ kata Bupati Dumupa, tokoh muda Papua yang telah menulis kurang lebih sebelas buku beragam tema.

    Sejumlah nama tokoh agama di Papua dan pemimpin lokal yang mengabdikan dirinya di Dogiyai sangat inspiratif dari aspek penghayatan karya misi maupun kepemimpinannya bagi masyarakat dan daerah. Misalnya, Bruder Jan Sjerps, OFM, Pastor Pastor Herman Tillemans, MSC atau Thomas Tigi.

    Bruder Jan Sjerps dikenal luas sebagai salah seorang misionaris perintis, pionir kopi Papua. Lama menunaikan tugas di sejumlah wilayah di tanah Papua, bruder dari Saudara Dina atau Ordo Fratum Minorum (OFM) yang lahir dari keluarga petani Belanda di dusun Zwagdijk-Oost, Distrik Wervershoof pada 2 November 1939 ini kemudian ditugaskan di Moanemani, kota Kabupaten Dogiyai.

    Di Moanemani Bruder Jan Sjerps melanjutkan karya misinya dengan mendirikan sekolah dan asrama. Pilihan misi ke Moanemani oleh karena pertimbangan di Agimuga dan Epouto, Kabupaten Mimika, tanah tidak cukup subur untuk umbi-umbian guna memberi makan siswa dengan dua sekolah paralel. Biaya operasional di Epouto terlalu mahal. Makanan selalu didatangkan dari luar, sedangkan di Moanemani dan Dogiyai umumnya sedikit lebih mudah.

    โ€œSaya pindahkan semua ke Moanemani dan di sana saya memulai semuanya dari awal lagi. membangun asrama dan membangun sekolah lengkap dengan tangki air dan fasilitas lebih mudah,โ€ ujar Bruder Jan. Selain itu, usai mendirikan asrama dan sekolah tahun 1980, ia juga concern pada pelatihan anak-anak SMP. Dia mulai dengan menanam 1000 pohon kopi sebagai percontohan dan latihan bagi para petani Moanemani. Bibit kopi diambil dari Yametadi, bekas kantor Dinas Pertanian Pemerintahan Belanda era kolonial.

    Berkat kegigihan Buder Jan melakukan pembibitan kopi Papua di belakang asrama hingga nama kopi Moanemani meroket di seantero tanah Papua dan Indonesia, tahun 1986 pemerintah daerah melirik usaha itu menetapkan Moanemani sebagai pusat pembibitan kopi. โ€œSejak itu, Moanemani terkenal dengan kopinya yang memiliki cita rasa khas. Tahun 2005, setelah mengabdikan hidupnya untuk pendidikan dan kopi di wilayah lembah Kamuu, ia kembali ke Sentani, Jayapura, pusat misi OFM. Ia berpulang Sabtu, 13 Februari 2021 di Biara OFM, Sentani, Jayapura,โ€ kata Bupati Dumupa.

    Pada bagian lain, Dumupa menjelaskan, saat ini Dewan Adat Mee Dogiyai sedang berproses mempersiapkan nama-nama tokoh yang berjasa bagi tanah Papua, termasuk berjasa di Dogiyai akan diabadikan sebagai nama jalan. Jika rencana ini terwujud, ujarnya, akan menjadi sejarah baru di Tanah Papua dan juga di Indonesia nama-nama para pemimpin diabadikan untuk menjadi kebanggan daerah.

    โ€œSaya percaya sebagai Bupati Dogiyai kami akan mengukir sejarah baru. Ini bentuk  penghormatan kecil kami kepada para penjasa dan pemimpin kami sekaligus menjadi bentuk apresiasi, penghormatan dan sumber pembelajaran bagi generasi tanah Papua berikutnya,โ€ ujar Bupati Dumupa, mantan misdinar (pelayan Misa) di Gereja Santa Maria Imaculata Moanemani, Dogiyai.