Blog

  • Pilkada, Politik Dinasti dan Ujian Demokrasi Lokal

    Oleh Husen Baffadal*

    “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.” ~ Abdurrahman Wahid

    Kalimat yang diucapkan di atas bisa menjadi bahan refleksi serius untuk para elit/politisi lokal kita bisa tiba pada kesadaran diri ketika berproses dalam lingkaran kekuasaan. Dalam konteks demokrasi, pergantian kekuasaan atau terjadinya sirkulasi elit sangat dikehendaki dan baiknya itu terjadi dengan maksud ada sesuatu yang baru dari hasil setiap momentum demokrasi berupa pemilihan kepala daerah. Sehingga tidak ada kebosanan dari publik di dalamnya.

    Setiap momentum pemilihan kepala daerah atau pilkada selalu memunculkan ragam fakta maupun fenomena yang secara fasih belum mampu dibongkar publik akibat kekurangan sumber (literatur) yang akhirnya membentuk cara pandang/analisis publik itu sendiri. Akhirnya publik masih normatif dalam memaknai momentum pilkada setiap digelarkan.

    Pilkada masih sekedar dimaknai sebagai pesta demokrasi rakyat sekali dalam lima tahun atau sekedar eforia belaka. Padahal pilkada itu adalah proses yang terus berjalan karena agenda pilkada merupakan agenda bernegara dari tahap awal (pemimpin terpilih) sampai tahap akhir (mengakhiri masa jabatan). Intinya ialah pergeseran pemahaman tentang pilkada harus terjadi bahwa ada proses evaluasi bagaimana cara kita bernegara dan proyeksi untuk menentukan masa depan. Ada beberapa hal penting yang menjadi titik tekan dalam pembahasan tulisan ini yakni: 1) menjelaskan fungsi pilkada, 2) menjelaskan politik dinasti dan dampaknya, dan 3) pilkada serta munculnya politik dinasti sebagai ujian demokrasi lokal.

    Fungsi Pilkada

    Mengacu pada teori social contract  yang diuraikan oleh ilmuwan politik klasik yakni Locke, Hobbes, dan Rouseau bahwa hadirnya negara pada dasarnya sebagai hasil kontrak yang dilakukan oleh masyarakat guna melindungi, menjamin hak asasi, menyejahterakan, dan memberikan rasa keamanan.

    Social contract tersebut kemudian diturunkan menjadi sebuah sistem mekanisme kompetitif yakni pemilihan umum yang digunakan untuk memilih wakil-wakil mereka dan duduk di dalam negara atas nama rakyat. Memahami konsep tersebut berarti wakil-wakil rakyat yang terpilih idealnya bekerja sebagai mandataris rakyat, atas nama rakyat terlepas dari kepentingan apapun.

    Hal ini sejalan dengan konsep demokrasi yang dilakukan oleh Abraham Lincoln yang menyatakan bahwa “demokrasi adalah pemerintahan oleh rakyat, dari rakyat, dan untuk rakyat”. Dalam konteks pilkada, persoalan-persoalan kepentingan atas nama rakyat mesti selalu menjadi prioritas. Fungsi pilkada adalah menghadirkan partisipasi warga negara dalam ruang demokrasi.

    Namun, yang menjadi paradoks demokrasi hari-hari ini bahwa suara (voters) rakyat hanya menjadi legitimasi kekuasaan (politik) semata-dan belum menyentuh legitimasi kesejahteraan (ekonomi) sosial masyarakat. Sebab, yang terjadi dalam realitas politik elektoral kita adalah rakyat hanya dijadikan objek demokrasi politik, bukan subjek yang bisa menentukan nasibnya sendiri lewat keterlibatan pembuatan kebijakan dalam masalah pembangunan, dan lain sebagainya. Sehingga dampaknya dalam hal ini rakyat kehilangan representasi politiknya ketika kekuasaan telah berpindah kepada para pemburu kursi kekuasaan.

    Padahal, logika demokrasi selalu menempatan rakyat sebagai pemegang kedaulatan tertinggi sehingga muncul konsep “Vox Populli Vox Dei” (Suara Rakyat Suara Tuhan). Oleh karena itu begitu esensialnya kedudukan warga negara dalam negara demokrasi yang sebenarnya menunjukkan jika sehat kuatnya demokrasi dipengaruhi oleh kepercayaan publik.

    Bahwa tidak ada satupun negara demokrasi di dunia yang kokoh tanpa ada partisipasi aktif dari warga negara. Konsekuensinya adalah keaktifan warga negara baik dalam partisipasi melalui pemilu/pilkada, berdiskusi, berpendapat, mengkritik, ataupun kebebasan lainya menjadi ukuran konkret jika demokrasi dalam sebuah negara sedang berfungsi sebagaimana mestinya. Termasuk untuk berpartisipasi menyatakan pendapat, mengkritik dan mendiskusikan dengan pendekatan rasional-ilmiah mengenai fenomena politik dinasti dalam pilkada baik dari pra-pasca pilkada.

    Politik Dinasti dan Dampaknya

    Salah satu fenomena yang sering terjadi dalam setiap momentum politik di Indonesia, baik itu pemilu maupun pilkada ialah maraknya politik dinasti yang dimainkan sebagai praktek perpolitikan pada skala nasional dan lokal. Ditambah lagi dalam pilkada, yang menjadi bagian dari dinasti itu tidak punya rekam jejak dan pengalaman untuk bisa meyakinkan rakyat.

    Politik dinasti meningkat pada pemilihan umum 2019. Setidaknya premis ini terkonfirmasi oleh riset lembaga studi Nagara Institute yang menyebut sekitar 17,22 persen anggota DPR RI 2019-2024 merupakan bagian dari dinasti, sebab memiliki hubungan dengan pejabat publik, baik hubungan darah, pernikahan, maupun kombinasi keduanya. (tirto.id, 2020)

    Dalam Pilkada 2020 politik dinasti atau kandidat yang memiliki pertalian darah atau perkawinan dengan politisi yang sudah mapan jumlahnya meningkat. Tercatat ada 158 kandidat yang teridentifikasi jadi bagian politik dinasti dan 67 di antaranya berpotensi menang berdasarkan hasil sistem informasi rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum (Sirekap KPU).

    Data banyaknya jumlah politik dinasti di Pilkada 2020 itu berdasarkan riset yang dilakukan oleh Yoes C. Kenawas, kandidat doktor ilmu politik dari Universitas Northwestern, Amerika Serikat. Jika dibandingkan Pilkada 2015 dengan total 269 daerah penyelenggara pilkada, hanya ada 52 kandidat politik dinasti. Sementara Pilkada 2020 yang diselenggarakan di 270 daerah memiliki jumlah kandidat politik dinasti yang jumlahnya tiga kali lipat dari 2015.

    Sedangkan dalam catatan Nagara Institute yang lain soal pilkada, setidaknya ada 124 cakada yang memiliki hubungan kekerabatan dengan dinasti politik. Rinciannya, 57 kandidat merupakan calon bupati, 30 orang calon wakil bupati, 20 calon wali kota, 8 calon wakil wali kota, 5 calon gubernur, dan 4 calon wakil gubernur.

    Sejumlah nama menjadi topik pemberitaan media karena memiliki kekerabatan dengan tokoh nasional. Seperti putra dan menantu Presiden Joko Widodo, putra Sekretaris Kabinet Pramono Anung, putri Wakil Presiden Ma’ruf Amin, keponakan Menteri Pertahanan Prabowo Subianto, keponakan mantan wapres Jusuf Kalla, hingga adik Menteri Pertanian Sahrul Yasin Limpo.

    Masih dalam riset Nagara Institute, terjadi peningkatan jumlah kandidat peserta pilkada yang terpapar dinasti politik dari pilkada sebelumnya. Terhitung, pada pilkada 2005-2014 lalu, hanya tercatat memunculkan 59 cakada yang terpapar dinasti politik. Namun, di pilkada 2015, 2017, dan 2018, jumlahnya menjadi 86 orang. Kini, jumlah cakada terpapar dinasti politik sudah tembus seratusan calon.

    Artinya, pilkada dijadikan sebagai ajang mempertahankan kerabat dan atau keluarga (anak, suami/istri) dalam lingkaran kekuasaan adalah jalan mempertahankan status quo, ini yang kemudian kita kenal dengan politik dinasti. Sebagaimana pemaknaannya tentang politik dinasti (Wikipedia) adalah kekuasaan yang secara turun temurun dilakukan dalam kelompok keluarga yang masih terikat dengan hubungan darah tujuannya untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan.

    Dalam perspektif Ibn Khaldun (1332–1406), politik dinasti dinamakan ashabiyah (group feeling). Ibn Khaldun dalam The Muqaddimah an Introduction to History (1998) menyebut politik ashabiyah sebagai gejala yang bersifat alamiah. Sebab, umumnya penguasa selalu ingin merekrut orang yang memiliki hubungan kekerabatan sebagai bawahannya.

    Namun, Ibn Khaldun mengingatkan bahaya politik ashabiyah. Dengan tegas Ibn Khaldun menyatakan bahwa politik ashabiyah pada saatnya bisa mengakibatkan kehancuran negara. Dalam konteks budaya modern, praktik politik ashabiyah juga menjadi persoalan serius. Apalagi jika politik ashabiyah dijalankan dalam suasana demokrasi yang sedang tumbuh dan berkembang. Karena praktik politik dinasti sangat berbahaya, pemerintah dan legislatif harus merumuskan regulasi yang tegas (Biyanto, 2017).

    Dinasti politik juga berhubungan dengan bagaimana kegagalan partai politik dalam menggaet masyarakat untuk berpolitik. Akar utamanya adalah gagalnya kaderisasi yang inklusif dalam internal partai sebagai wadah pengkaderan serta rekrutmen politik yang efektif untuk menghasilkan kader-kader calon pemimpin yang memiliki kemampuan di bidang politik sebagaimana UU No. 2/2008 tentang Partai Politik. Pada akhirnya, partai politik ikut serta mencalonkan tokoh berdasar politik kekerabatan (dinasti) itu.

    Apa dampak dari semakin langgengnya politik dinasti? Tentu lebih banyak dampak negatif, karena politik dinasti akan mengaburkan atau bahkan meniadakan fungsi checks and balances dalam pemerintahan. Kita tentu sulit mengharapkan seorang anggota DPRD dari dinasti A mengkritisi ekskutif yang juga berasal dari dinasti A di mana mereka memiliki hubungan kekerabatan. Dan checks and balances yang buruk akan mengarah ke pratik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN) yang tumbuh subur.

    Ujian Demokrasi Lokal

    Akan menjadi catatan tersendiri dalam perjalanan dan perkembangan demokratisasi di Indonesia apabila setiap gelaran pilkada selalu diwarnai dengan kehadiran politik dinasti dengan hegemoninya pada kontestasi politik lima tahunan itu. Politik dinasti dipastikan adalah bagian dari ujian untuk tatanan demokrasi tingkat lokal di negara ini. Bahwa selain kehilangan check and balances, politik berdasarkan dinasti juga berbahaya pada masa depan demokrasi negara-bangsa.

    Pilkada sebagai ajang pergantian kepemimpinan atas partisipasi warga negara
    Meski berpartisipasi dalam politik menjadi hak konstitusi setiap warga, politik dinasti terbukti rentan bermasalah persoalan memengaruhi tata kelola pemerintahan, termasuk di tingkat daerah. Pusat riset kebijakan publik, The Indonesian Institute (TII) menilai praktik politik yang mengandalkan kedekatan ikatan kekeluargaan ini dinilai membuat mampetnya sirkulasi kepemimpinan di daerah.

    Politik dinasti akan membahayakan bagi proses konsolidasi dan pembangunan demokrasi di tingkat lokal. Dikhawatir hal ini akan melemahkan partisipasi politik masyarakat dalam mengawasi dan mengkritisi proses pembangunan di daerah tersebut. Belum lagi beragam praktek KKN yang rentan terjadi di bawah payung dinasti politik yang terus tumbuh subur.

    Kita lihat saja soal indeks demokrasi Indonesia masih berada di nomor 64 dari segi kualitas akibat berbagai macam persoalan yang tidak mampu diselesaikan lewat mekanisme pengambilan keputusan untuk kepentingan umum. Dalam hemat saya, salah satu faktor tidak meningkatnya indeks demokrasi Indonesia adalah proses demokratisasi dalam pengambilan kebijakan masih dikuasai-dan hanya untuk kepentingan kelompok tertentu.

    Politik dinasti akan terus eksis jika politik gagasan tidak ditransformasikan sebagai pemilik bersama. Selain itu, politik berbasis massa harus ditransformasikan ke dalam kekuatan politik internal untuk mengimbangi kekuatan politik berbasis genealogi. Jika tidak, hajatan demokrasi baik lokal dan nasional hanya akan dimiliki kelompok yang punya jejaring politik kekerabatan.

    Apalagi di tengah kondisi pasca munculnya pandemi Covid-19 di mana kita sedang menuju tatanan dunia baru yang berdampak langsung terhadap kehidupan demokratisasi pada negara-negara berkembang. Agar kita bisa menjadikan pilkada bukan hanya sebagai sesuatu yang normatif saja, tapi punya makna dan memiliki nilai etis dalam demokrasi.

    ——————————————————————————————————

    *Husen Baffadal, Diirektur KPPH dan Lawyer di Jakarta

  • Politik yang Ateistis dan Nihilistis

    S i n d h u n a t a

    Di tengah gegap gempita berita tentang elite politik kita yang egoistis, di tengah kemuakan kita terhadap keserakahan partai-partai politik dan badai korupsi yang tak kunjung henti, tiba-tiba kita terentak sejenak oleh berita Tasripin dari Banyumas.

    Tasripin, bocah miskin berumur 12 tahun, harus menjadi ”orangtua” bagi ketiga adiknya: Dandi (7), Riyanti (6), dan Daryo (4). Satinah (37), ibu mereka, meninggal dua tahun lalu, terhantam longsoran batu saat menambang pasir. Ayah mereka, Kuwito (47), merantau ke Kalimatan, bekerja di pabrik kayu bersama anak sulungnya, Natim (21). Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, Tasripin bekerja sebagai buruh tani. Kadang-kadang ia dibayar beras, kadang-kadang ia diberi Rp 10.000. Cukup buat makan dua kali sehari, sisanya dibuat jajan adik-adiknya.

    Bupati Banyumas Achmad Husein mengaku khawatir kisah Tasripin hanya fenomena gunung es di Banyumas (Kompas, 15/1/2013). Benar! Tak lama setelah berita Tasripin, kembali kita terentak oleh berita Indah Sari (17) dan kedua adiknya, Supriyani Astuti (15) dan Juliah (13). Sejak lima tahun lalu, sambil sekolah, ketiga bocah miskin dari Desa Penusupan, Purbalingga, itu harus bekerja bikin idep (bulu mata) untuk hidup sehari-hari.

    Karena tekanan ekonomi, ibu mereka, Tarmini (40), menderita gangguan mental sejak kelahiran anak terakhirnya, Sayang (5). Indah dan kedua adiknya bisa mendapatkan Rp 150.000 per bulan dari hasil membuat bulu mata palsu. Tentu uang itu habis untuk makan. Namun, Indah berusaha sedapat mungkin menyisihkan hasil kerjanya untuk biaya sekolah (Kompas, 2/5/2013).

    Begitu berita Tasripin muncul di media, khalayak ramai segera menyalurkan dana, termasuk Presiden SBY. Kiranya Indah Sari pasti juga mendapat simpati dan bantuan serupa. Bantuan karitatif itu menunjukkan kita masih punya empati terhadap nasib anak-anak miskin seperti Tasripin dan Indah. Namun, sadarkah kita bahwa peristiwa Tasripin dan Indah sesungguhnya bukan sekadar peristiwa yang cukup ditanggapi secara karitatif, melainkan fenomena serius yang sedang menggugat hidup kita sampai ke sendi dan dasarnya.

    Gugatan Penderitaan

    Bolehkah anak kecil yang tak bersalah seperti Tasripin dan Indah itu menderita? Kita semua pasti akan menjawab, ”Tidak!” Namun, patut diingat, dengan menjawab ”tidak”, kita sesungguhnya telah masuk ke dalam persoalan yang gawat: soal yang diajukan Ivan Karamazov, salah satu tokoh penting dalam novel terkenal The Brothers Karamazov, karya pengarang besar Dostojevsky. Di Barat, gugatan Dostojevsky lewat tokoh Ivan Karamazov itu memberi jalan bagi munculnya ateisme dan membongkar kaidah klasik theodicy yang bertugas membela dan memberi argumentasi tentang keberadaan Tuhan.

    Kepada saudaranya tercinta, Alyosha, Ivan berkisah soal penderitaan anak-anak yang tak bersalah. Tentang seorang anak gadis yang disiksa orangtuanya. Lalu tentang seorang anak lelaki yang bekerja sebagai budak seorang tuan tanah. Tanpa sengaja anak itu melukai anjing kecintaan tuannya. Dengan para begundalnya, tuan tanah memburu dia, seperti memburu binatang, lalu anak itu ditembak, kemudian badannya dikoyak habis oleh para anjing pemburunya, dan itu semua terjadi di hadapan ibunya.

    Ivan bertanya, bagaimana mungkin jika Tuhan ada, Tuhan tega membiarkan anak-anak yang tak bersalah menderita? Tak mungkin penderitaan itu kita kembalikan kepada kesalahan anak-anak itu. Tak mungkin pula kita menjawab, Tuhan punya maksud tertentu dengan membiarkan anak-anak itu menderita, misalnya toh kelak ia bakal bahagia di surga justru karena penderitaannya. Bahkan, jika kita sepakat bahwa Tuhan punya maksud tertentu dengan penderitaan di dunia, tetaplah tak terjawab, mengapa anak-anak itu harus disertakan dalam penderitaan demi maksud tertentu itu? Kita, orang dewasa, sanggup membeli ”harmoni abadi” dengan penderitaan, tetapi apa hubungan semuanya itu dengan anak-anak itu? Mengapa mereka harus menderita dan membayar harmoni itu dengan penderitaannya?

    Kita bercita-cita membangun suatu masa depan, ketika semuanya akan damai, sejahtera, dan bahagia. Namun, kata Ivan lagi, mestikah masa depan itu dibangun di atas air mata anak-anak yang tak bersalah? Ivan tak setuju dengan itu. Karena itu, ia juga tidak bisa menerima jika keberadaan Tuhan dibenarkan dengan pembenaran atas penderitaan yang tidak adil itu. Secara moral, ia menolak Tuhan demikian dan ia menjadi ateis. Jadi, atas nama keadilan, ia memberontak melawan Tuhan, yang hanya dapat dibenarkan dengan keadilan yang sebenarnya tidak adil.

    Menurut teolog Richard Bauckham dari University of Manchester (1987), gugatan Ivan Karamazov itu mau tak mau mengguncang bangunan theodicy sampai di zaman modern ini. Selama ini demikianlah argumentasi theodicy: penderitaan itu sudah dikalkulasikan sebagai risiko ketika Tuhan menciptakan dunia dan ciptaan-ciptaan-Nya yang bebas; penderitaan mau tak mau juga merupakan bagian yang tak terhindarkan dari dunia yang secara natural terus berevolusi; dan penderitaan punya peran mendidik dan membentuk jiwa manusia agar sesuai dengan maksud ia diciptakan di dunia.

    Dengan serangan Dostojevsky lewat Ivan Karamazov, ”mengapa bangunan semacam itu harus dipertahankan dengan cara menyertakan anak-anak tak bersalah untuk ikut menderita”, seluruh argumentasi theodicy itu ambruk. Bahkan, teologi secara umum tak bisa lagi bertahan dengan argumennya yang klasik bahwa penderitaan adalah nilai yang harus dibayar demi tercapainya tujuan eskatologis Tuhan, yakni bahwa akhirnya di masa depan manusia akan mencapai kebahagiaannya yang sempurna justru karena telah melewati penderitaan itu. Teologi tidak bisa berargumen ”murahan” lagi dalam membela keberadaan Tuhan berhadapan dengan penderitaan. Apalagi ”pemberontakan melawan Tuhan” itu akhirnya bisa menuntun orang berpandangan nihilistis, seperti kemudian dituturkan Albert Camus.

    Camus dalam karyanya, The Rebel, mengorek akibat lebih lanjut dari kritik Ivan. Karena menolak Tuhan sebagai pembenaran terhadap penderitaan dan ketakadilan yang terjadi di dunia, Ivan menemukan sebuah nilai positif: rasa akan martabat dan solidaritas kemanusiaan. Di atas martabat dan solidaritas inilah keadilan dapat dibangun di dunia yang penuh ketidakadilan ini. Namun, Ivan sekaligus menyediakan penggerogotan yang ganas terhadap nilai positif itu. Dan, itulah yang dilihat dengan jeli oleh Camus.

    Menurut Camus, manusia-manusia pemberontak di zaman modern ini telah meletakkan humanitas di atas Tuhan. Lebih ekstrem lagi, mereka ingin agar humanitas menggantikan Tuhan. Maka, sekarang hanya humanitas yang boleh mengontrol tujuan akhir manusia. Jadi, saatnyalah bahwa theodicy harus diganti dengan anthropodicy. Dan, tersimpan dalam proses ini keyakinan bahwa dunia lama diganti dengan dunia baru, ketakadilan diganti dengan keadilan, dan nilai-nilai Tuhan yang terbukti tidak adil itu diganti dengan nilai-nilai manusia yang adil.

    Itulah yang justru memberi peluang bagi sementara elite membenarkan bahwa mereka boleh memakai segala cara meraih tujuan itu. Maka, penderitaan, bahkan pembunuhan pun, dibenarkan demi keadilan di masa depan. Rezim-rezim kekuasaan revolusioner bermunculan, menggantikan tirani kekuasaan Tuhan.

    Dan, terulang lagi sejarah lama: rezim-rezim revolusioner membenarkan penderitaan manusia demi keadilan di dunia. Itulah akar dari otoritarianisme dan totalitarisme, seperti Nazisme atau Stalinisme di zaman modern, yang sangat kejam, brutal, dan nihilistis terhadap kemanusiaan. Kamar gas di Auschwitz dan penyiksaan di Siberia adalah ujung perjalanan pemberontakan manusia melawan tirani Tuhan yang dianggap sewenang-wenang terhadap penderitaan manusia. Maka, problem yang dimunculkan pemberontakan Ivan bukan lagi theodicy, melainkan anthropodicy.

    Tuhan yang Memihak

    Mungkinkah kita membela theodicy, yang berada di bawah ancaman anthropodicy itu? Hal-hal di atas kiranya menantang orang beriman mempertanggungjawabkan imannya terhadap Tuhan. Jelasnya, mungkinkah kita membela keberadaan Tuhan berhadapan dengan dunia yang penuh ketakadilan dan penderitaan ini?

    Konsep theodicy yang melepaskan Tuhan dari penderitaan jelas tak akan bisa menjawab tantangan itu. Dan, agama yang mempertahankan penderitaan itu perlu demi kebahagiaan abadi yang disediakan Tuhan kelak jelas mendegradasikan humanitas dan akan menjadi sasaran kritik anthropodicy, yang melengserkan Tuhan demikian itu demi humanitas yang mereka cita-citakan. Siapakah Tuhan yang demikian itu? Inilah yang harus dicari-cari oleh agama-agama di zaman modern ini.

    Di kalangan kristiani, seorang teolog besar, Jürgen Molltmann, menjawab pertanyaan dengan sebuah teologi yang disebut teologi salib. Dalam teologinya itu, Tuhan direnungkan bukan sekadar pencipta dan penguasa semesta, yang mahaberkuasa atas dunia, termasuk penderitaannya. Tuhan justru terlibat dalam dunia, ikut menderita, dan memeluk penderitaan itu. Itulah yang terjadi dalam diri Yesus saat Ia menanggung dan mengalami penderitaan hingga mati di kayu salib.

    Dalam teologi salib, Tuhan bukan pembenar bagi penderitaan seperti dituduhkan Ivan, melainkan pemrotes yang mengajak manusia memberontak terhadap ketidakadilan dan kekuasaan yang menyebabkan penderitaan mereka yang tak bersalah dan diperlakukan tidak adil. Tuhan yang menderita dan tersalib itu adalah inspirator dan agitator bagi perlawanan yang konkret terhadap ketidakadilan dan penderitaan yang diakibatkannya. Di sinilah tampak teologi salib sesungguhnya adalah awal dari teologi pembebasan. Mau tak mau teologi akhirnya harus berbuah politik, yakni politik yang memihak kepada mereka yang lemah, tak berdaya, dan menderita karena ketidakadilan.

    Pandangan teologis demikian mau tak mau juga akan mengubah praktik-praktik ritual dan kesalehan. Doa, misalnya, tak dapat lagi dimengerti atau melulu dialami sebagai kewajiban ritual, kesalehan, atau kekhusyukan pribadi yang tak ada kaitannya dengan masalah sosial, lebih-lebih penderitaan dan ketidakadilan. Doa harus menjadi doa yang terlibat dan membuahkan tanggung jawab. Maka, tepat apa yang dikatakan teolog Johann Baptist Metz, ”Siapa berdoa, dia akan berdiri di pihak korban, bukan di pihak pemenang.”

    Teguran Indah dan Tasripin

    Semua uraian di atas bermula dari kepedihan kita melihat nasib Tasripin dan Indah Sari, yang kiranya juga nasib banyak anak-anak lain di Tanah Air ini. Dalam kepedihan Indah dan Tasripin tersimpan gugatan Ivan Karamazov, yang menuntut kita merefleksikan lagi konsep kita tentang Tuhan berhadapan dengan penderitaan. Refleksi itu juga menunjukkan betapa kehidupan beragama bisa mandul dalam menggugat penderitaan karena kita tak punya teologi atau theodicy yang kritis terhadap penderitaan dan ketidakadilan.

    Politik dan praksis politik pun akan sangat ditentukan pandangan teologis kita tentang Tuhan. Dan, itu kiranya berlaku lebih-lebih di negara kita, Indonesia ini, yang mengaku dirinya sebagai negara religius, yang percaya kepada Tuhan, bahkan mendasarkan salah satu pilarnya pada kepercayaan akan Tuhan yang Maha Esa itu. Maka, sadarkah kita bahwa kepedihan anak-anak seperti Indah dan Tasripin itu sesungguhnya sedang menggugat kita mempertanyakan kepercayaan kita itu?

    Spontan kita perlu mengakui bahwa penghayatan hidup beragama kebanyakan kita masih sebatas ritualisme belaka. Tempat ibadat penuh dengan orang-orang yang berdoa dengan khusyuk. Namun, ibadat itu tak memberi efek pada perjuangan dan pembebasan sosial lebih-lebih bagi mereka yang lemah dan menderita. Mungkin ini disebabkan karena kita tak punya atau belum mengembangkan teologi yang peka terhadap penderitaan dan ketidakadilan.

    Memang rasanya kita belum memiliki teologi yang bisa melihat Tuhan yang ada dan menjerit dalam penderitaan dan protes terhadap ketidakadilan. Teologi kita hanya mengekor pada praktik-praktik mapan hidup keberagamaan. Akibatnya, teologi dan hidup keberagamaan kita hanya mengurung Tuhan dalam sangkar ritual dan memandulkan-Nya terhadap perjuangan sosial. Ini betul-betul fatal sebab, betapa pun kita mengaku ber-Tuhan, dalam praktik kita telah menjauhkan Tuhan dari masalah yang dihadapi bangsa, terlebih masalah ketidakadilan yang mengakibatkan penderitaan mereka yang tak bersalah.

    ____________________________________________

    Sumber KOMPAS 14 Mei 2013

  • Satu Lagi Produk Garam Yodium “Cap Pintu Air” Resmi Beredar di Pasaran

    Maumere Berandanegeri.com – KSP Koperasi Kredit (Kopdit) Pintu Air Rotat Desa Ladogahar Kecamatan Nita adalah satu-satunya  koperasi yang tidak hanya bergerak pada sektor usaha simpan pinjam saja tetapi  memiliki berbagai terobosan guna mensejahterakan anggotanya.

    Dibawah kepemimpinan Yakobus Jano Kopdit Pintu Air berani melakukan beberapa  terobosan program spin of sebagai pengembangan sektor ril untuk meningkatkan ekonomi lokal anggota koperasinya.

    Satu lagi sektor ril yang digarap oleh Kopdit Pintu Air adalah memproduksi garam yodium Cap Pintu Air. Ini adalah upaya Pintu Air sebagai terobosan untuk membangkitkan para petani garam lokal menuju sejahtera.Yang sebelumnya bulan Oktober 2020 lalu KSP Pintu Air telah berhasil dengan terobosan Produk Minyak Goreng  KSP Pintu Air.

    Peluncuran produksi Garam Yodium Cap Pintu Air ini ditandai dengan pemukulan Gong Waning oleh Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga dan sekaligus dilakukan pembukaan perdana etalase penjualan Garam Yodium berlangsung  di Lantai 3 Kantor Pusat KSP Kopdit Pintu Air di Rotat Desa Nitakloang Kecamatan Nita Kabupaten Sikka, Jumad (9/4/2021).

    Peluncuran Produk Garam Yodium “Cap Pintu Air” Ditandai dengan Pemukulan Gong oleh Wakul Bupati Sikka

    Wakil Bupati Sikka, Romanus Woga, pada acara peluncuran garam konsumsi beryodium Cap Pintu Air mengatakan,saat ini banyak koperasi bertumbuh dan berkembang diseluruh dunia.

    “Selama ini orang mendengar bahwa koperasi itu hanya sebagai entitas bisnis kecil-kecilan seperti simpan pinjam skala kecil, skala mikro dan skala besar, ” ujarnya.

    Menurut Romanus, persepsinya bahwa koperasi itu hanya bisnis kecil kecilan. Dan adakala juga orang menganggap bisnis koperasi itu kurang menarik dan bahkan terkesan kuno.

     Konsep bahwa koperasi sebagai market bisnis tidak terlihat dalam praktek dan banyak orang pada akhirnya menyaksikan bahwa koperasi itu dapat menjadi perusahaan konglomerasi dan menjadi pemimpin pasar.

    Wakil Bupati Sikka didampingi Ketua KSP Kopdit Pintu Air dan Manajer PT. Garam Yodium Membuka Tirai Estalase Penjualan Garam

    “Kita lihat koperasi sudah menjadi perusahan konglemerasi sehingga bisa merubah pikiran orang bahwa koperasi  yang bisnis keci-kecil sekarang sudah naik, ” ungkap Romanus.

     Manajer PT. Garam Pintar Asia, Ifan Parera mengatakan, kabupaten Sikka memiliki potensi daerah pesisir yang bisa dikelola untuk pembuatan garam. “Bahan baku garam sangat banyak karena laut kita sangat bersih dan jauh dari pencemaran,” kata Ifan. Garam yodium Pintu Air dengan kandungan yodium 30-80 ppm dan telah memenuhi standar nasional.

    Ifan menambahkan, pihaknya juga meminta dukungan dari pemerintah kepada kelompok bukan kepada pintu air karena secara modal pintu air bisa menyediakan alat produksi teknologi untuk membuat produksi barang jadi.

    Wakil Bupati Sikka Foto bersama Pengurus PT. Garam Yodium “Cap Pintar”

    “Kita juga minta kepada pemerintah adalah fasilitasi kebutuhan untuk pengelolaan lahan ditingkat kelompok desa pesisir sehingga mereka mampu menghasilkan garam bahan baku yang akan dibeli oleh pintu air,”ujarnya.

    Dikatakan Ifan  untuk produksi awal sebanyak 4 ton dalam kemasan 300 dos. Untuk harga yang dijual dalam kemasan 200 gram dengan harga Rp 875. Sementara untuk target pemasarannya masih sekitar wilayah kabupaten Sikka. (Atic)

  • Pendidikan, Globalisasi dan Tatanan Dunia Baru

    Pendidikan, Globalisasi dan Tatanan Dunia Baru

    Oleh  Nardi Maruapey*

    MEMASUKI era globalisasi yang terjadi sejak akhir abad-19 dan awal abad-20 sampai munculnya fenomena tatanan dunia baru yang berbasis high technologi dalam sendi-sendi kehidupan manusia. Kemunculan high technologi sebagai sebuah keniscayaan dari dampak perkembangan zaman. Secara otomatis bahwa fenomena ini mau tidak mau harus dihadapi secara baik dan benar.

    Dan untuk menghadapi itu membutuhkan kecakapan dalam berbagai bidang ilmu, tidak terkecuali bidang pendidikan. Artinya, pendidikan merupakan kekuatan mendasar, prinsipil untuk digunakan modal dalam merespon perkembangan dunia (zaman) yang sedang terjadi. Semangat pendidikan adalah upaya untuk membentuk sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas.

    SDM berkualitas merupakan bagian yang harus dijadikan kekuatan utama (the main force) menghadapi tantangan dan gejolak yang sedang berlangsung ini, akibat dari pengaruh besar era globalisasi dan kemajuan teknologi yang semakin kencang terjadi. Manusia sebagai makhluk individual sekaligus makhluk komunal mesti memiliki modal kecerdasan dan mental (moral) dari proses pembentukkan SDM itu. Pembentukan SDM dilakukan lewat jalur pendidikan dan peran pendidikan.

    Era Globalisasi

    Globalisasi dalam sejarahnya yang panjang itu berakar dari dengan ditandai pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga ia mampu mengubah
    dunia secara mendasar. Kehadiran teknologi informasi dan teknologi komunikasi mempercepat akselerasi proses globalisasi ini. Globalisasi menyentuh seluruh aspek penting kehidupan. Globalisasi menciptakan berbagai tantangan dan permasalahan baru yang harus dijawab, dipecahkan dalam upaya memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan kehidupan. Globalisasi sendiri merupakan sebuah istilah yang muncul sekitar dua puluh tahun yang lalu, dan mulai begitu populer sebagai ideologi baru sekitar lima atau sepuluh tahun terakhir.

    Globalisasi dapat dipahami sebagai perubahan-perubahan dalam bidang ekonomi dan sosial yang berkombinasi dengan pembentukan kesaling-hubungan regional dan global yang unik, yang lebih ekstensif dan intensif dibandingkan dengan periode sebelumnya, yang menantang dan membentuk kembali kehidupan sosial, lebih spesifik lagi negara modern dan berbagai macam tantangannya.

    Banyak orang yang mempunyai pemahaman dengan mendefinisikan globalisasi hanya sebagai proses ekonomi padahal pada dasarnya globalisasi tidak semata proses ekonomi, tetapi glabalisasi merupakan kata yang universal. Menurut Anthony Giddens globalisasi tidak hanya, atau bahkan pada dasarnya, sebuah fenomena ekonomi; dan globalisasi sebaiknya jangan disejajarkan dengan kemunculan sebuah ‘sistem dunia’. Globalisasi sebenarnya menyangkut transformasi ruang dan waktu.

    Giddens melihat bahwa globalisasi tidak hanya berurusan dengan penciptaan sistem-sistem berskala besar, namun juga menyangkut tranformasi konteks pengalaman sosial berciri lokal, dan bahkan personal. Perubahan yang terjadi dari dampak globalisasi sampai ke pola kehidupan masyarakat yang paling kecil dan sederhana dalam keseharian.

    Globalisasi saat ini semakin dirasakan oleh setiap individu yang mendorong adanya perubahan dalam pola perilaku. Globalisasi merupakan salah satu faktor pendorong adanya perubahan dalam struktur, nilai, norma dan tingkah laku manusia. Menurut
    H. A. R. Tilaar (2002), perubahan yang terjadi di masyarakat disebabkan oleh tiga faktor utama, yaitu; kebutuhan akan demokratisasi, kemajuan ilmu pengetahuan dan globalisasi. Adanya perubahan yang begitu pesat dalam proses globalisasi semakin menuntut manusia untuk lebih berkualitas dalam hidup dan agar mampu bersaing.

    Tatanan Dunia Baru

    Globalisasi dan tatanan dunia di era baru (new era) saling punya keterkaitan, dimana ada bentuk atau pola perkembangan dan kemajuan ilmu pengatahuan dan teknologi informasi di antara keduanya. Dan dari perkembangan dan kemajuan itu berdampak signifikan pada kehidupan masyarakat.

    Di era tatanan dunia baru ini kita melihat begitu derasnya kemunculan teknologi informasi dan komunikasi dalam bentuk media sudah bertransformasi menjadi media sosial, media daring, virtual, online, dan lain sebagainya, sehingga kehidupan masyarakat dunia juga semakin hari semakin lebih terbuka antara satu dengan yang lain. Bahwa apa yang terjadi berupa peristiwa yang itu jauh di sekitaran kita dengan jarak yang terlampau sangat dapat diketahui dengan waktu yang singkat; kita bisa mengetahui masalah pribadi seseorang karena ditampilkan lewat media sosial; dan seterusnya.

    Di era tatanan dunia baru bagi Prasetyo dan Trisyanti dalam jurnal mereka, dikatakan bahwa di era ini akan mendisrupsi berbagai aktivitas manusia dalam berbagai bidang, tidak hanya dalam bidang teknologi saja, namun juga bidang yang lain seperti ekonomi, sosial, dan politik. Di sektor ekonomi telah terlihat bagaimana sektor jasa transportasi dari kehadiran taksi dan ojek daring. Hal yang sama juga terjadi di bidang sosial dan politik. Interaksi sosial pun menjadi tanpa batas (unlimited), karena kemudahan akses internet dan teknologi. Hal yang sama juga terjadi dalam bidang politik. Melalui kemudahan akses digital, perilaku masyarakat pun bergeser. Aksi politik kini dapat dihimpun melalui gerakan-gerakan berbasis media sosial dengan mengusung ideologi politik tertentu.

    Hal-hal semacam ini; baik itu globalisasi maupun tatanan dunia baru akan menjelma menjadi tantangan terbesar abad ini terhadap kehidupan manusia secara individu dan secara kelompok masyarakat. Kita dibalik kondisi ini tidak bisa menolak fenomena ini, ini merupakan sebuah keniscayaan dari proses kemajuan dan pembaharuan zaman.

    Peran Pendidikan

    Sudah tidak asing lagi bahwa pendidikan selain transfer of knowledge (transfer ilmu), juga berfungsi sebagai transfer of value (transfer nilai). Nilai di sini juga dimaksudkan pendidikan sebagai transfer untuk perubahan sosial. Lebih sempit pendidikan formal berfungsi sebagai proses pembaharuan sosial. Pendidikan merupakan investasi manusiawi (human investment) yang sangat penting dalam kemajuan suatu masyarakat. Oleh karena itu banyak bangsa-bangsa di dunia ini meletakkan pendidikan sebagai faktor strategis dalam merespon berbagai kemajuan.

    Untuk itulah pendidikan tentu saja memegang peranan yang sangat penting dalam menghadapi perubahan di era global ini. Banyak nilai-nilai kemanusiaan yang semakin tergususr di era globalisasi dan tatanan dunia baru ini, pendidikan harus mengambil alih pada kondisi ini. Bahwa pendidikan mestinya selalu hadir untuk mempertahankan nilai-nilai kemanusiaan yang semakin tergusur itu. Meminjam kata Paulo Freire, pendidikan adalah upaya menjadikan manusia lebih manusiawi atau memanusiakan manusia.

    Namun, ketika melihat kondisi yang riil dari dunia pendidikan saat ini, sepertinya sangat sulit rasanya untuk mewujudkan manusia atau masyarakat yang menghadapi tantangan zaman. Sebab, kita bisa lihat sendiri bagaimana kebijakan pendidikan yang selama ini terjadi lebih banyak diwarnai oleh kepentingan politik. Kebijakan pendidikan yang ada bersifat proyek. Artinya, pendidikan sudah jadi korban kapitalisasi. Pendidikan saat ini sangat mengikuti kemauan kapitalis, menjadi bagian dari struktur kapitalisme pasar. Pendidikan sejalan dengan kemauan pasar, ciptakan tenaga kerja untuk perusahan. Tanpa melihat aspek pembentukan mental dan moral masyarakat. Akhirnya akan dapat mewujudkan masyarakat yang tidak mudah goyah dengan adanya dampak negatif dari globalisasi dan tatanan dunia baru ini.

    Oleh karena itu, harus adanya desain atau pola baru dalam dunia pendidikan sebagai sebuah alternatif dalam bentuk konsepsi pendidikan untuk diterapkan. Konsep yang dimaksud adalah transformasi pendidikan. Transformasi pendidikan merupakan upaya membuat seseorang untuk tiba pada sebuah kesadaran baru (new consciousness) di era yang baru (new era).

    Untuk itulah dengan melalui tansformasi diharapkan ada proses perubahan yang lebih baik bagi tiap individu, dalam hal ini transformasi melalui jalur pendidikan. Mewujudkan transformasi pendidikan dapat diuraikan sebagai berikut:

    Pertama, dari segi kurikulum. Pemerintah perlu mengkaji ulang persoalan konseptual fundamental pada harus terhubung dengan lingkungan sosialnya termasuk pilihan-pilihan pekerjaan peserta didik kedepan harus diupayakan dan benar-benar disiapkan oleh pemerintah tempat-tempat pekerjaan dimana kelak peserta didik akan mengembangkan kreatifitasnya tersebut.

    Kedua, dari segi tujuan pendidikan. Yang paling mendasar adalah merubah tujuan pendidikan dari siap pakai menjadi siap memakai, dari berpikir pasif menunggu menjadi pribadi yang pro aktif positif. Dari terbiasa diatur menjadi mengatur, dari kuli menjadi “setidaknya” mandor. Sehingga kita bisa menjadi tuan di negeri kita sendiri.

    Nardi Maruapey, Mahasiswa Universitas Darussalam Ambon

  • Pemda Flores Timur Apresiasi Civitas Akademika Universitas Nusa Nipa

    Larantuka Berandanegeri.com – Pemerintah Kabupaten Flores Timur melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah(BPBD) mengapreasiasi  pihak Civitas Universitas Nusa Nipa yang sudah membantu korban bencana banjir dipulau Adonara Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata.

    “Mewakili pemerintah kabupaten Flores Timur kami mengucapkan terimakasih banyak dan juga mengapresiasi Pihak Civitas Universistas Nusa Nipa sudah tiba diLarantuka dengan membawa bantuan untuk korban bencana,”ungkap Sekretaris BPBP Flotim Tarsisius Kopong Pira,SE.

    Dikatakannya Bantuan ini tidak akan bertahan lama disini, kami akan segera distribusikan kelokasi bencana.

    Bantuan ini diserahkan langsung oleh BEM Fakultas ilmu-ilmu Kesehatan beserta Dekan dan Para Dosen dari Fakultas Ilmu-ilmu kesehatan dan diterima oleh Sekretaris BPBD kabupaten Flores Timur bertempat dihalaman kantor  Badan Penanggulanan Bencana Daerah Kabupaten Flores Timur, Minggu (11/4/2021).Paket bantuan berupa sembako dan pakaaian serta  perlengkapan lainnya.

    Dekan Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan UNIPA Ns. Agustina Sisilia Wati Dua Wida, M.Kep mengatakan  kurang lebih satu minggu  terakhir ini ia bersama Wakil Dekan dan juga para Dosen Fikes terus menopang aksi sosial Pengurus  BEM Fakultas ilmu-ilmu kesehatan dalam upaya  mengalang donasi untuk korban banjir di kabupaten Sikka,Kabupaten  Lembata dan Kabupaten  Flores Timur.

    “Saya dan wakil dekan serta para dosen terus menopang pengurus BEM fakultas Ilmu-ilmu kesehatan dalam menggalang dana,”ujarnya. Dijelaskannya aksi solidaitas kemanusiaan  ini didukung oleh pihak Rektorat dan juga Yayasan  Pendidikan Tinggi Nusa Nipa.

    Mewakili  Civitas FIKES dan Juga Universitas Nusa Nipa Indonesia , kami  mengucapkan turut berbela sungkawa  atas meninggalnya para korban bencana alam.sembari  berharap bantuan ini  dapat meringankan  beban moril maupun materil  pihak korban bencana alam banjir bandang dan badai Siklon Tropis Seroja yang sampai saat ini berada dilokasi pengungsian. 

    Ketua BEM Fakultas Ilmu-ilmu Kesehatan Universitas Nusa Nipa  Oktaviani Jenli Sulastri  mengatakan logistik bantuan ini merupakan hasil  kerja bersama Jajaran Pengurus Badan Eksekutif Mahasiswa Fikes dalam mengalang donasi yang dilakukan sekitar lingkungan kampus maupun diluar kampus dengan didukung oleh Bapak dan ibu Dosen  serta masyarakat Kabuapten Sikka.

    Bantuan logistik ini juga bagian dari  upaya menjalankan program kerja sosial  dengan wujud kerja nyata kepada masyarakat.  “Semoga bantuan ini dapat  bermanfaat bagi para korban bencana alam,”tandasnya. (Atic)

  • Klarifikasi Pendeta Ibrahim Assa Jemaat GPDI Maumere terkait Penemuan Telur Berwarna yang Menggegerkan Warga Sikka

    Maumere Berandanegeri.com. – Pendeta Ibrahim Assa Jemaat GPDI Maumere bersama keluarga akhirnya datang menemui bapak Dominikus Dion dan warga dusun Bolawolon Desa Tanaduen untuk memberikan klarifikasi  mengenai penemuan 7 butir telur berwarna diarea pantai Bolawolon yang sempat viral dan menggegerkan warga Bolawolon Desa Tanaduen Kecamatan Kangae pada Selasa 6 April 2021 lalu.

    Saya ingin menjelaskan kronologi sampai ada telur berwarna di area pantai Bolawolon,”ungkap Pdt Ibrahim Assa,Senin(12/4).

     Kami dari jemaat Gereja Pentekosta Di Indonesia Maumere yang beralamat dijalan Diponegoro Kelurahan Kota Uneng menyelenggarakan ibadah Paskah,Minggu,4 April 2021  dan dilanjutkan dengan Sakramen Baptisan pada pukul 13.00 wita di pantai Bolawolon.

    Sebenarnya kegiatan ini rencana awalnya di pantai Pintu Air Wailiti namun ada jemaat yang mengusulkan tempat yang baru dan merekomendasikan di pantai Bolawolon.

    Hadir waktu itu kurang lebih 30 orang jemaat.Saat itu kami membawa makanan sekalian untuk berekreasi menikmati pantai Bolawolon.

    Setelah selesai kegiatan  sakramen baptisan dilanjutkan dengan acara anak-anak Sekolah Minggu (Sekami) bersama guru-guru Sekami. Karena guru Sekami sudah menyiapkan satu permainan untuk mencari telur Paskah.

     Saat saya sedang melaksanakan prosesi sakramen baptisan,guru-guru Sekami sudah menyembunyikan telur Paskah yang sudah diwarnai tersebut dilokasi yang tidak diketahui anak-anak. Telur yang dibawa sudah direbus. Telur paskah tersebut sebanyak 29 butir. Yang disembunyikan sebanyak 24 butir.Sementara 5 butir sudah dimakan.

     Setelah selesai sakramen pembaptisan cuaca memburuk,angin semakin kencang,hujan dan gelombang laut. Sehingga kami sepakati untuk tidak dilanjutkan pencarian telur Paskah. Dan kami sepakati untuk pulang.

    Waktu bersiap-siap pulang ternyata guru-guru Sekami lupa. Jadi telur Paskah yang disembunyikan di bawah pohon dan dirumput-rumput sudah tidak sempat diambil lagi.

    Kami pikir tidak ada masalah. Semuanya aman-aman saja. Karena memang kita tidak berpikir sampai menjadi sesuatu yang diviralkan.

     Jadi saya kaget melihat postingan hari Minggu lalu. Ada video yang merekam bapak Dominikus Dion dengan beberapa telur yang dikumpulkan satu tempat. Dan saat itu juga saya menghubungi guru-guru Sekami dan mereka mengakui telur Paskah yang diwarnai itu milik sekami Gereja Pentekosta DiIndonesia Maumere.

    Saya perlu meluruskan supaya tidak ada yang berpikir aneh-aneh. Kami minta maaf atas kejadian ini. Kegiatan kami ini tidak ada unsur sengaja. Atau maksud tertentu.

    Pdt Ibrahim Assa mengakui kegiatan seperti ini sudah setiap tahun kami lakukan dari melukis telur Paskah sampai mencari telur Paskah.

    Setelah itu  7 butir telur berwarna itupun dipecahakan dan dibuang kelaut oleh salah satu jemaat GPDI yang turut hadir dilokasi tersebut. (Atic)

  • Nama yang Mengalir Sampai Jauh

    HAJI Sulaeman L Hamzah tentu saja gundah. Rasa sedih, prihatin, terharu pasti menempel dalam dinding hatinya. Salah seorang tokoh di balik sukses Lembata menjadi sebuah daerah otonom lepas dari induknya, Flores Timur, 21 tahun lalu ini terpukul tatkala Lembata, pulau tempat ia lahir dan menghabiskan masa kecilnya, didera dua peristiwa alam yang menyayat hati ribu ratu (rakyat) di kampung halaman, lewotana, leu awuq tanah Lepanbatan. Peristiwa erupsi gunung Ile Lewotolok pada Minggu, 29 November 2020, nyaris melumpuhkan aktivitas warga. Deru kencang dari perut Ile Lewotolok memuntahkan batu, debu, dan belerang nyaris menyambangi tak hanya warga Kecamatan Ile Ape dan Ile Ape Timur di lereng Ile Lewotolok.

    Muntahan material itu juga menyasar wilayah kecamatan lain, termasuk di bagian selatan seperti Nagawutun dan Wulandoni. “Kakak perempuan sulung dan adik bungsumu sudah di rumah kami di Lewoleba. Usai mengantar pisang, alpukat, dan nenas mereka langsung pamit. Saya sempat tanyakan kondisi ruas jalan Lewoleba menuju Boto hingga Lamalera dan Lebala. Katanya memprihatinkan,” kata H. Sulaeman Hamzah, beberapa waktu setelah erupsi Ile Lewotolok pada November 2020 lalu. Di sela-sela menunaikan tugas selaku anggota DPR RI Daerah Pemilihan Papua, anggota Fraksi NasDem ini terbang ke Lembata dan menyambangi Lewotolok, kampung halamannya.

    “Saya dan ama Jerry Sabah Leku dampingi orangtua (H. Sulaeman Hamzah) bertemu ina, ama, dan kaka arin (bapa, ibu, kaka, adik serta saudari) kemudian kasi bantuan sedikit sekaligus melihat langsung Lewotolok, kampung halaman. Kami semua juga bersiap untuk ikut ambil bagian dalam syukuran Masjid Babul Jannah yang dibangun bapa tua sebagai tanda cintanya kepada sesama saudara kami umat Muslim di kampung. Bapa tua baru selesai merenovasi masjid itu setelah dilanda erupsi Ile Lewotolok,” kata Matias Ladopurap, advokat sekaligus ponakan H. Sulaeman Hamzah. “Bapa tua hanya satu atau dua hari di Lembata setelah acara syukuran renovasi masjid Babul Janah Amakaka. Beliau dan ama Ariel, putra bapa tua, langsung balik Jakarta. Beliau akan menuju Papua untuk kunjungan kerja dan bertemu masyarakat di Dapilnya,” ujar Jery Sabaleku.

    Minggu Kelabu

    Minggu 29 November 2020 pagi dan Minggu 4 April 2021 sungguh menjadi Minggu kelabu tak hanya ribu ratu di Lembata, terutama di Ile Ape. Dua hari Minggu bersamaan itu sungguh menjadi Minggu kelabu juga untuk ribu ratu asal Lembata di rantau. Tragedi banjir lahar dingin yang menyapu desa-desa di sekitar lereng Ile Lewotolok, mengubur orang-orang terkasih dalam tanah leluhurnya. Di tengah malam, di tengah sebagian warga Kristiani bersiap merayakan Minggu Paskah, di tengah penantian mendengar lonceng Gereja, dan suara adzan subuh berkumandang dari menara masjid umat Islam, ribu ratu menyiapkan diri menghaďap kiblat di dalam masjid, petaka banjir lahar dingin itu bagai moster menakutkan. Alam murka. “Enam belas saudara dan saudari kami tertimbun tanah dan bebatuan besar. Lenyap. Ajal juga menjemput pasutri kerabat saya. Mereka baru dari Malaysia. Anaknya selamat karena masih di Lewoleba. Setelah dengar kabar belasan orang dan kampung halaman tertimbun longsor, saya langsung demam. Lama tak bisa berkata-kata. Cuma doa dalam resah dan pasrah,” ujar Yeremias Jena, warga asal Atawatun & dosen Unika Atma Jaya Jakarta.

    Presiden Joko Widodo nampaknya mengubah skenario jadwal kunjungan ke Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur dan Lembata. Sebagian desa di dua pulau itu dihantam banjir dan longsor pada Minggu, 4 April 2021 dini hari. Sedianya, helikopter TNI yang membawa Presiden akan singgah di Adonara sebelum melanjutkan perjalanan menuju bandara Wunopito di Lewoleba, Lembata. Bekas Walikota Surakarta itu sedianya sholat Jumat di nusa tadon Adonara. Pada pukul 15.00 WIB, helikopter yang membawa rombongan Jokowi baru mendarat dan diperkirakan usai sholat Jumat di bandara Jokowi baru akan menuju Ile Ape meninjau warga dan situasi pasca banjir lahar dingin menambrak desa-desa di lereng Ile Lewotolok.

    “Masyarakat macam dendam sekali mau lihat Jokowi. Mereka tak mampu memendam rindu melihat Jokowi dari dekat. Jalanan penuh dengan warga. Mengenakan masker mengikuti protokol kesehatan, mereka seperti tak pernah takut dengan petugas keamanan yang mengawal Jokowi. Anggota Paspampres juga ramah-ramah mengatur warga agar tetap jaga jarak dengan mobil yang membawa RI-1. Nama Jokowi dan sosok beliau sampai saat ini masih terus mengalir hingga kampung-kampung bahkan sampe kebun. Kami bangga Jokowi kunjungi juga Lembata dan Presiden RI pertama yang singgah di pulau ini sejak Indonesia. Jokowi menggandakan kebanggaan kami setelah tahun 1979 Wakil Presiden Haji Adam Malik kunjungi korban bencana Waiteba, Kecamatan Atadei di Loang, kota Kecamatan Nagawutun. Legasi Adam Malik bagi rakyat Lembata adalah TK Nely Adam Malik Loang,” kata Anton Pati Liman, warga Lewoleba asal Puor dan ayah dua putera anggota TNI Angkatan Darat.

    Toleransi dari Amakaka

    Lembata adalah pulau unik dalam banyak hal. Warga masyarakatnya hidup berdampingan dengan aman dan damai meski dalam kondisi serba minim. Budaya opu lake, birin breun taat dalam sanubari warganya. Mereka punya militansi bertahan hidup bahkan melangkah jauh hingga menyasar benua-benua di bawah kolong langit. Relasi sosial keagamaan lebih kuat diikat karena kawin mawin. Tak heran dalam sebuah keluarga penganut agamanya gado-gado. Dari selatan Lembata, tepatnya di kampung Muslim Lebala Leworaja kehidupan warganya sangat harmonis. Di kampung Luki, Desa Pantai Harapan, Kecamatan Wulandono, tak jauh dari Leworaja, berdiri kokoh masjid Asyamat Luki. “Saat jadi guru di SD Inpres Luki, saya ditugaskan tetua adat dan ulama Muslim menjadi Ketua Panitia Pembangunan Masjid Asyamat. Saat peresmian, saya diundang para ulama hadir tapi saya minta maaf tak bisa hadir. Saya lagi pigi (pergi) Larantuka urus saya punya anak-anak sekolah,” ujar Frans Lua Mudaj, kerabat saya di kampung Kluang, Desa Belabaja (Boto), Nagawutun.

    Kisah Jokowi dan rombongan serta sebelas warga Lembata sholat Jumat berjamaah di Masjid Babul Jannah Amakaka bekin Wakil Ketua DPRD Lembata asal Lewotolok, Begu Ibrahim, Rifai Mayeli, dan Frans Ado Uran Atawolo. Begu & Rifai tak pernah menyangkah berada di lokasi bencana Amakaka berjarak tak sampai sepuluh meter dari Presiden Jokowi. Begu sering berada di Amakaka pascabencana banjir lahar dingin guna ambil bagian dalam mengurus warga korban. “Saya bahagia bisa sholat bareng Bapak Presiden Joko Widodo. Ini pengalaman yang tak pernah saya lupa,” kata Begu. “Saya berada di barisan belakang bapa Jokowi. Pengalaman jadi cerita di kampung. Nama Jokowi sungguh luar biasa. Orang cerita ràme sekali beliau begitu peduli dengan Lembata. Beliau juga berksempatan sholat di Amakaka. Bapak Gubernur menunggu di posko pengungsi didampingi Pak Bupati Lembata. Kàmi warga sipil dan warga Amakaka di lokasi yang diijinkan sholat bersama Bapak Presiden. Kami terlebih dahulu diperiksa dan baru diijinkan dengan protokol kesehatan ketat,” kata Rifai.

    Kisah Rifai Mayeli dan iparnya, Frans Atawolo unik. Mereka berdua berboncengan menuju lokasi bencana di Ile Ape dan Ile Ape Timur. “Sejak erupsi Ile Lewotolok, kami anak muda dari Desa membentuk relawan mencari donasi dari rumah ke rumah dan pihak lain ikut membantu korban. Bencana kedua pada Minggu awal April lalu, saya dan ama naik satu motor. Saya rasa mau demam juga berada dekat Presiden Jokowi saat berada di Amakaka,” ujar Rifai, penjaga kios lulusan jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Nusa Cencana. Rifai bersama Begu juga berkesempatan sholat bersama Presiden Joko Widodo dan rombongan dari Jakarta. Warga asal Lebala ini berharap juga agar bisa diangkat jadi ASN. “Usai kuliah saya buka usaha warung kecil di kampung sambil menunggu ada lowongan PNS dari Pemerintah Pusat,” kata Rifai.

    Kisah Frans Atawolo berbeda. Ia menjauh dari Rifai saat sepeda motor berada di lokasi bencana. Frans mencoba mengambil posisi di belakang anggota Paspampres agar bisa melihat dari dekat Jokowi, sang idola. Tukang kayu dan batu musiman rupanya paham medan bencana. Ia fasih “jalan tikus” mana di tengah lumpur dan batu-batu besar bakal dilewati Jokowi, Gubernur NTT Viktor Laiskodat. Frans memilih berdiri di atas batu di ketinggian. “Saya teriak sekeras-kerasnya. ‘Bapa Jokowi, saya dan kami orang kampung sayang bapa. Terima kasih su datang di kita pu kampung. Terima kasih, Tuhan. Tuhan sudah antar dan jaga bapa Jokowi di sini. Terima kasih, Tuhan’. Itu teriakan saya dari atas batu,” kata Frans.

    Sandal swallow dan celana agak kotor tak ia peduli. “Saya ka, bapa Presdiden? Saya ka, bapa Presiden?,” tanya Frans melihat Jokòwi menunjuk tangan ke arah ia dan teman-teman relawan. “Ya, kamu. Kamu,” kata Frans mengulang omongan anggota Paspampres. “Saya turun dekat bapa Jokowi. Saya dikasi jaket yang beliau kenakan. Air mata saya tumpah. Doa saya bertemu bapa Jokowi dijawab Tuhan. Orang-orang minta jaket dorang pake sekadar foto. Ada yang tawarkan beli dengan harga 10 juta rupiah. Saya tolak. Jumat, 9 April, malam orang kampung saya datang sekadar pake jaket Jokowi. Sabtu pagi, ada tetangga datang kasi saya kopi dan pisang goreng. Mereka rasa macam bapa Jokowi ada di rumah saya. Beliau sungguh orang hebat, rendah hati dan peduli sesama. Uang 1000 rupiah ďi jaket bapa Jokowi saya kasi Rifai kerna dia nikah dengan sudari kami,” kata Frans.

    Masjid Babul Jannah Lewotolok, Desa Amakaka terbilang unik. Panitia Pembangunan Masjid Babul Jannah lebih banyak diisi warga penganut Katolik. Ketua Panitia Pembangunan Masjid adalah Thomas Tuto Langoday. Sedangkan sekretaris panitia adalah Krens Witak Ladopurap, bendahara adalah Karel Kaba Ladopurab dan Bernardus Hena Ladopurap yang kala itu menjabat Kepala Desa Amakaka. “Masjid ini diresmikan Pak Sarwono Kusumaatmaja saat beliau menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia. Beliau sempat menitikkan air mata. Kaget karena beliau baru tahu panitia pembangunan masjid kebanyakan saudara-saudari umat Katolik. Pancasila sesungguhnya sudah lama lahir dan tumbuh di Amakaka,” ujar Jery Sabaleku.

    Kehadiran Sarwono Kusumaatmaja kala itu sekaligus meresmikan puluhan perahu nelayan yang disumbang Pak Haji Sulaeman Hamzah selaku anak tanah Lewotolok untuk para nelayan di sekitar lereng Ile Ape dan beberapa wilayah di Lembata.   Nah, kisah kehadiran Jokowi di Lembata dan melakukan sholat Jumat di Masjid Babul Jannah Amakaka adalah kisah yang akan mengalir sampai jauh: menyapa warga hingga pantai, sungai, gunung, rumah-rumah penduduk hingga kebun para petani di bawah lereng gununt di pedalaman selatan Lembata. Nama Jokowi mengalir sampai jauh: kisah pada sosok seorang Presiden dan pemimpin negeri yang menyambangi Lembata dalam lawatan resminya. Terima kasih, Bapak Presiden. Doa kami ribu ratu: semoga bapa keluarga sehat selalu dan penuh keberkahan. Selamat siang. Tuhan berkati. Salamalaikum.

    Jakarta, 11 April 2021

    Ansel Deri

    Orang udik dari kampung;

    Catatan dari kunjungan Jokowi di Lembata.

  • Diaspora Indonesia di Hongkong dan Macao Galang Dana Bantu Korban Bencana NTT

    BERANDANEGERI.COM,- Diaspora Indonesia dari berbagai agama dan latar belakang profesi di Hongkong dan Macao menyelengarakan doa Bersama dan pengumpulan sumbangan untuk korban bencana banjir dan longsor di Nusa Tenggara Timur.

    Doa Bersama yang dihadiri Pastor Hery, SVD, Pendeta Janet, Pendeta Danny dan Komjen RI untuk Hongkong dan Macao Ricky Suhendar diikuti ratusan diaspora Indonesia di Hongkong dan berlangsung di Victorya Park, Hongkong, Minggu (11/4)

    “Hari ini kami di sini berkumpul di Victorya Park untuk melangsung doa bersama bagi saudara kami yang tertimpa musibah di lewo tanah (kampung halaman-red) Adonara dan Lembata,” kata Erdis salah satu diaspora di hongkong melalui pesan singkat di grup watsan Alumni Sint Gabriel Larantuka

    Komjen Hongkong dalam sambutan mengajak warga diaspora untuk berdoa dan membantu meringankan beban para korban bencana di Nusa Tenggara Timur.

    “Meski kita terpisah tempat, namun hati dan perasaan kita dapat merasakan apa yang mereka rasakan, dan mengantar kekuatan menghadapi cobaan. Dari hati terdalam saya mengajak kita semua yang hadir disini warga Indonesia di Hongkong dan Macao, apapun latar belakang kita kita bergagung mendukung upaya meringankan beban saudara kita yang tertimpa bencana,” demikian Video pendek yang dikirim diaspora NTT melalui grup Whatsapp.

    Dari hasil pengumpulan sumbangan sukarela saat acara berlangsung terkumpul dana 20 juta rupiah, dan dana ni dikirim ke rekening Keuskupan Larantuka.

    Untuk diketahui, banjir bandang dan angin kencang telah menghantam wilayah Nusa Tenggara Timur  sebagai dampak dari adanya bibit siklon yang tumbuh menjadi Siklon Tropis Seroja pada Minggu (4/4).

    Data BNPB sampai dengan Minggu ini, terakumulasi 177 orang meninggal dunia dengan 45 orang masih berstatus hilang.

    Korban meninggal terbanyak berada di Kabupaten Flores Timur dengan 72 orang dan Lembata 47 orang, disusul Alor dengan 28 orang dan Kupang dengan 12 orang.

    Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Josef Nae Soi mengatakan bantuan tanggap darurat seperti makanan, selimut, dan kebutuhan pokok lainnya telah dan akan terus disalurkan ke desa-desa yang menjadi korban banjir bandang akibat cuaca ekstrem dipicu oleh Siklon Tropis Seroja.

    “Sampai dengan hari ini yang mengalami korban, desa-desa, kabupaten yang mengalami korban relatif sudah mendapatkan bantuan,” kata Wagub NTT Josef dalam konferensi pers Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang dipantau secara virtual dari Jakarta pada Minggu, (11/4)

    Dia menjelaskan berbagai cara akan dilakukan untuk menyalurkan bantuan ke daerah yang belum bisa dijangkau dalam beberapa hari terakhir.

    “Mulai besok kami akan teruskan lagi dengan bantuan-bantuan baik melalui darat, laut atau udara,” kata Josef. (ben)

  • Cerita Kepala Desa di NTT Bersahabat dengan Penderita Disabilitas Mental (Bagian Ketujuh)

    Oleh Markus Makur

    PENDERITA disabilitas mental ada di sekitar lingkungan keluarga kita. Bahkan mungkin salah satu anggota keluarga kita mengalami derita disabilitas mental. Disabilitas mental adalah satu satu dari sekian penyakit dalam tubuh manusia yang rapuh.

    Penderita disabilitas mental ada yang dipasung di pondok reyot. Tak manusiawi. Tak bermartabat.

    Penderita disabilitas mental atau sering disebut orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) merupakan masalah serius dan mengarahkan kepada darurat disabilitas mental di bumi Nusa Tenggara Timur.

    Negara masih minim hadir untuk menangani dan mencegahnya. Bahkan, fasilitas untuk menangani mereka yang menderita itu masih minim. Kadang-kadang banyak alasan dalam penanganannya yang berkaitan regulasi. Dana terbatas untuk penanganannya. Belum ada komisi khusus untuk menangani mereka yang menderita.

    Penanganan untuk memulihkan penderita disabilitas mental belumlah prioritas dalam program yang dibuat oleh pemerintah, baik pusat, Provinsi dan daerah. Tapi dibalik masalah tersebut, seorang imam dari ordo Serikat Sabda Allah (SVD), Pater Aventinus Saur, SVD memulai gerakan aksi kemanusiaan untuk peduli, bersuara lantang, dan menangani mereka yang derita disabilitas mental bermula di sebuah stasi di Keuskupan Agung Ende (Baca Buku Belum Kalah) 2014 lalu.

    Pater Avent Saur, SVD, Ketua KKI NTT mengunjungi penderita disabilitas mental di Desa Golo Meni, Oktober 2020. (Dok/Markus Makur)

    Kemudian Pater Avent terus merefleksi dan merenungkan dalam diri serta serius turun ke tengah-tengah masyarakat untuk advokasi, sosialisasi, beri perhatian. Beri makan nasi bungkus di jalan-jalan di Kota Ende dan mempublikasikan di media massa.

    Kemudian Pater membentuk kelompok sukarelawan yang dinamakan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) Februari 2016.

    Relawan KKI setia melayani, mengunjungi, mendata dan memberikan makanan seadanya. Terinspirasi oleh gerakan kemanusiaan Pater Avent, 6 orang di Manggarai Timur bertemu Pater di Rumah Makan Ayu di pinggir jalan Trans Flores di Kota Borong, Juli 2017. Sesudah makan bersama, kami sama-sama berkunjung ke rumah satu warga yang dipasung di sekitar Kota Borong. Kemudian, Pater melanjutkan perjalanan ke Ende. Sementara kami kembali dengan aktivitas harian dan secara sporadis melakukan kunjungan, mendata dan merawat. Saat itu kami tak dibekali oleh ilmu tentang apa itu sakit gangguan jiwa. Semangat saat itu adalah peduli bagi mereka yang disisihkan. Dipinggirkan. Dilupakan. Disingkirkan bertahun-tahun.

    Tahun 2020, semakin gencar menangani penderita gangguan jiwa, walaupun di tengah pandemi Covid19, relawan KKI terus melakukan kunjungan sosial, aksi sosial.

    Aksi kemanusiaan dengan mengajak berbagai pihak. Kepala Desa juga diajak untuk terlibat mendampingi, mengunjungi, memberikan perhatian. Bantuan sosial.

    Kepala Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Yohanes Tobis merupakan yang pertama dalam pendampingan bersama relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) bagi rakyatnya yang menderita gangguan jiwa, baik di pasung maupun yang tinggal di dalam pondok-pondok saja.

    Kepala Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Manggarai Timur, NTT, Yohanes Tobis (baju hitam bertopi) mendampingi Pater Avent Saur, SVD mengunjungi penderita ODGJ yang pulih di Kampung Nunur, Oktober 2020. (Dok/Markus Makur)

    Pemerintah Desa Mbengan mengunjungi warganya yang sedang sakit gangguan jiwa. Memberikan bantuan sosial bagi penderitanya.

    Terpisah Kepala Desa Ngampang Mas, Kecamatan Borong, Orison Songgo sangat aktif dan peduli dengan warganya yang menderita gangguan jiwa yang sedang di pasung maupun yang tinggal di pondok-pondok di kebun.

    Beberapa kali relawan KKI mengunjungi. Menyapa. Membawa bantuan Kasih di desanya, Kepala Desa mendampingi relawan KKI. Sungguh luar biasa.

    Bulan Desember 2020 ditengah pandemi Covid19, Kepala Desa mendampingi Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa, Pastor rekan Paroki Santo Antonius Padua Mbeling, Pater Frumens Andi, SMM, relawan KKI dan wartawan, perawat dari Puskesmas Lebi Balus Permai membawa bantuan gitar bagi seorang penderita gangguan jiwa yang tinggal di pondok di pinggir sawahnya.

    Mengunjungi beberapa penderita di desanya untuk membawa bantuan kemanusiaan di tengah pandemi Covid19 berupa beras dan makanan ringan.

    Oktober 2020, Kepala Desa Golo Meni, Kecamatan Kota Komba Utara, Paulus Darman, mendampingi Ketua KKI, Pater Aventinus Saur, SVD bersama relawan KKI Manggarai Timur mengunjungi warga di desanya yang menderita gangguan jiwa dipasung.

    Saat  kunjungan itu sudah tengah malam karena Pater Avent keliling dari Rego, Kabupaten Manggarai Barat.

    Menempuh Jarak 500 KM Ende-Pelosok Manggarai Barat

    Ceritanya begini sampai mengunjungi penderita gangguan jiwa di pelosok Manggarai Barat. Pater Avent mendapatkan informasi dari Pater Alex Jebadu, SVD, Dosen STFK Ledalero bahwa ada beberapa penderita gangguan jiwa di Kampung Rego, Desa Rego, Kecamatan Macang Pacar, Kabupaten Manggarai Barat.

    Kemudian Pater mengagendakan kunjung Oktober 2020. Saya ikut mendampingi Pater Avent.

    Saat itu Pater berangkat dari Ende, Ibukota Kabupaten Ende, singgah di rumah di Kompleks Mabako, Waelengga. Selanjutnya menempuh perjalanan ke arah Barat. Ende-Waelengga-Ruteng, Lembor-Pacar-Rego. Kurang lebih 9 hari mengelilingi Kabupaten Manggarai Barat, Manggarai dan Manggarai Timur

    Kurang lebih jarak yang ditempuh dari Ende ke Desa Rego pergi pulang 500 kilometer. Sebelum Pater Avent balik ke Ende, dia diundang seorang relawan KKI Manggarai Timur di kampung Taga, Desa Golo Nderu, Kecamatan Kota Komba Utara.

    Saat itu Pater Avent dan beberapa relawan berangkat dari Kampung Weto, Orong, Kecamatan Welak. Bermalam di kampung Urang, lalu keesokan hari berangkat menuju ke bagian timur dengan rute, Urang-Ketang-Cancar-Ruteng-Bealaing-Mukun dan tiba pukul 22.00 Wita. Selanjutnya mengunjungi penderita gangguan jiwa yang di pasung di Desa Golo Meni. Makan malam di rumah kepala Desa. Selanjutnya kami tidur di rumah keluarganya Pater di Manus. Keesokan harinya mengunjungi penderita gangguan di Kampung Rana Mbeling dan melanjutkan perjalanan ke Kampung Taga.

    Saat pulang dari Kampung Taga, Pater mengunjungi penderita di Desa Golo Tolang, Desa Mbengan, Desa Rana Kolong hingga kembali ke Ende.

    Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara bersama Petugas Medis Peduli ODGJ

    Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur melakukan kunjungan rumah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di wilayah itu. Kunjungan itu dilakukan setiap 10 hari. Ini bagian dari kepedulian untuk menangani warganya yang derita gangguan jiwa.

    Pelaksana Tugas (Plt) Camat Lamba Leda Utara, Agustinus Supratman mengatakan, saat mengunjungi rumah ODGJ, pihaknya menggandeng petugas medis pengelola program kesehatan jiwa dari Puskesmas di wilayah kecamatan tersebut.

    “Selain kegiatan bimbingan konseling pada keluarga ODGJ, pihak Kecamatan Lamba Leda Utara dan pengelola ODGJ juga melakukan perawatan untuk memelihara kesehatan fisik dan psikis ODGJ. Kami juga memandikan dan mengganti pakaian ODGJ, seperti yang kami lakukan hari ini, saat melayani salah satu ODGJ di Kampung Ronting,” tutur Supratman kepada wartawan, Jumat (9/4/2021).

    Seorang perawat Puskesmas Lebi Balus Permai, Desa Ngampang Mas, Kec. Borong sedang tensi pasien di depan pondoknya di pinggiran sawahnya, Desember 2020. (Dok/Markus Makur

    Menurutnya, kegiatan perawatan kesehatan fisik dan psikis hanya dilakukan bagi ODGJ kategori halusinasi. Sedangkan untuk pasien skizofrenia belum dilakukan.

    Ia menuturkan, sesuai data sementara, ada 57 ODGJ di wilayah Kecamatan Lamba Leda Utara yang tersebar di beberapa desa seperti Desa Satar Padut 14 orang, Desa  Satar Kampas 9 orang, Desa  Satar Punda 8 orang dan Desa Satar Punda Barat 5 orang.

    Kemudian, Desa Nampar Tabang 4 orang, Desa Golo Munga Barat 4 orang, Desa Golo Mangung 10 orang, Desa Golo Wontong 1 orang, dan  Desa Haju Wangi 2 orang.

    Dari sejumlah ODGJ tersebut, kata Supratman, hanya satu orang yang dipasung di Kampung Wae Rambung, Desa Golo Munga Barat. Pasien itu dipasung karena sering melakukan tindakan kekerasan bagi warga lain menggunakan benda tajam.

    “Yang paling rutin kami kunjungi  selama ini di pusat kecamatan yaitu di Dampek, Desa Satar Padut. Untuk di desa-desa lain, kami belum terlibat, tetapi teman-teman dari Puskesmas rutin kunjung,” ujarnya.

    “Sejauh ini, kami bersama pengelola ODGJ di setiap Puskesmas di Lamba Leda Utara terus berupaya melakukan pendekatan kemanusiaan untuk memuluskan rencana perawatan dan penyaluran obat-obatan khusus bagi ODGJ, sebab sebagian besar pasien tidak mau dikunjungi serta tidak terima  dikunjungi, apalagi diberi obat,” tambahnya.

    Menurut Supratman, Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara bersama seluruh pemerintah desa di kecamatan itu akan terus mendata ODGJ yang belum terdata agar mendapat perhatian dari berbagai pihak serta mendapat bantuan pengobatan.

    “Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara mengimbau seluruh masyarakat Lamba Leda Utara untuk bersikap ramah dengan ODGJ dan meminta semua pemangku kebijakan lokal untuk bijak dalam bersikap agar sebisa mungkin kebijakan yang diambil sarat keberpihakan kepada ODGJ,” pungkasnya.

    Data yang dikumpulkan relawan KKI Manggarai Timur bahwa Pemerintah tingkat kecamatan, yakni Kecamatan Lamba Leda Utara yang pertama kali bersinergi dengan pihak Puskesmas setempat dengan melakukan kunjungan rutin untuk mendata dan menggali penyebab warga menderita disabilitas mental. Kiranya inisiatif dan kepedulian dari Pemerintah Kecamatan Lamba Leda Utara menginspirasi 11 Kecamatan lainnya di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur.

    **********

    *Penulis adalah Wartawan dan koordinator relawan Kelompok Kasih Insanis Kabupaten Manggarai Timur

  • Pemilik Catering Reo Indah: “Saya Bangga dipercayakan Melayani Jamuan untuk Presiden RI bersama Rombongan.”

    Maumere Berandanegeri.com – PEMILIK Catering Reo Indah Siska Tarsi merasa bangga dipercayakan oleh Paspampres melalui Pemkab Sikka menyediakan jamuan makan untuk presiden RI Jokowidodo bersama rombongan.

    ”Saya sangat bangga sekali ketika Paspampres melalui Pemkab Sikka mempercayakan Catering Reo Indah untuk menyiapkan menu makan untuk Bapak Presiden dan rombongan,”ungkap Siska Tarsi disela-sela melayani jamuan makan untuk rombongan presiden RI di bandara Frans Seda Maumere Kabupaten Sikka Propinsi NTT,Jumad (9/4).

    Dua kali Presiden Joko Widodo menyambangi Bandara Frans Seda Maumere. Pertama saat kunjungan ketika meresmikan Bendungan Napun Gete di Kecamatan Waiblama pada 23 Februari 2021 lalu, dan kedua saat meninjau korban bencana badai Seroja di Lembata dan Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur pada 9 April 2021.

    Dalam dua kali kunjungan presiden RI kata Siska Tarsi bangga karena Paspamres melalui Pemkab Sikka mempercayakan Catering Reo Indah untuk menyediakan jamuan makan. Ini satu kepercayaan yang luar biasa bagi dirinya dan harus diterima dan dijalani dengan penuh tanggung jawab.

    Pemilik Catering Reo Indah, Siska Tarsi sedang melayani tamu

    Dikisahkannya sebenarnya mending melayani seribu atau dua ribu orang daripada melayani Presiden dan rombongan presiden karena tingkat kecemasannya sangat tinggi apalagi berhadapan dengan Paspampres makan harus begini begitu kita diburuh waktu. “Tapi sebenarnya yang kita cari itu bukan uang. Saya melayani Presiden RI dan rombongan itu hal yang luar biasa,” ungkap Siska Tarsi.

    Siska Tarsi mengaku saat kunjungan Presiden Perdana pada 23 Februari 2021 lalu, ia dan kru Catering Reo Indah sempat stress karena banyak aturan dari Paspmapres dan Rumah Tangga Kepresidenan di mana saat itu sempat dua jenis makanan ditolak.

    Pemeriksaan sangat ketat. Pemeriksaan diawasi oleh Paspampres bagian food. Pada kunjungan pertama, ada 2 jenis makanan ditolak. Dua Menu makanan yang ditolak yaitu Ubi rebus dan Lepah. Ini bukan soal menu yang salah tetapi masalah kadar air. Karena kadar air di sini berbeda. Sehingga ada unsur-unsur yang tidak bisa dikonsumsi oleh Presiden dan Rombongan Presiden.

    “Puji Tuhan, saat kunjungan kedua pada 9 April 2021, semua makanan yang kami siapkan lolos semuanya. Dan semua dilaksanakan dengan enjoy karena sudah ada pengalaman sebelumnya” kata Siska bangga.

    Siska Tarsi mengakui bahwa ia dan kru Catering Reo Indah: Ida Yonas (koki), Nining Arnold (dekorasi ruangan), Mariana Tanjung (Pramusaji), dan kru Catering Reo Indah: Rosalia, Maria Pudensia, Petrada Onansia Farida, Maria Patrisia, dan Yustina Daiman selalu bekerja secara profesional dan dengan tulus hati.

    “Semua kru Catering Reo Indah bekerja secara profesional, dan bekerja dengan hati sehingga hasilnya juga sangat memuaskan. Catering Reo Indah memberikan yang terbaik untuk ribuan orang rombongan Presiden,” kata Siska, Ibunda dari Abagael Arnold ini.

    Komandan Pangkalan TNI Angkatan Laut (Danlanal) Maumere yang membawahi Flores-Lembata dan Alor, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga, P., M.Tr. Hanla, M.M, CTMP yang turut menikmati olahan makanan yang dihasilkan Catering Reo Indah saat kunjungan Presiden di Bandara Frans Seda, Jumat (9/4) mengaku menu yang disiapkan Kru Catering Reo Indah sangat spesial dan memenuhi semua standar kesehatan.

    Danianal Maumere sedang menikmati menu makanan

    “Menu yang disiapkan Catering Reo Indah ini sangat spesial. Saya sangat menyukainya,” kata Danlanal Kolonel Laut (P) Dwi Yoga.

    Pengakuan serupa disampaien sejumlah Paspampres dan rombongan Presiden Jokowi lainnya. “Menu yang disiapkan sangat spesial dan semua lolos dari sisi kesehatan,” kata salah seorang Paspampres bidang food.

    Siska mengaku selama usaha cateringnya, ia sering memasak menu sesuai dengan selera pemesan, dan hasil olahannya sangat disukai konsumen, khususnya olahan bakso dengan siomay ikan, dan ikan lada hitam, dan menu favorit konsumen lainnya. Selain usaha catering ia juga menyewakan sarung kursi dan perkakas dapur lainnya. Harga disesuaikan.

    Sekilas tentang Catering Reo Indah

    Catering Reo Indah milik Siska Tarsi beralamatdi Jalan Dua Toru No. 2 Maumere, Kelurahan Beru, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Provinsi NTT.

    Siska Tarsi sendiri adalah anak ke-5 dari 10 bersaudara pasangan Mantan Kapolsek Reok-Manggarai Portasius Tarsisius asal Bola dan Mama Veronika Nanut asal Manggarai dirintisnya sejak 15 tahun lalu.

    Siska yang merupakan Sarjana Keuangan Perbankan Universitas Merdeka Malang mengawali usahanya dengan jualan kue di mana awalnya oven untuk usaha kue dibelinya dengan cara kredit ditetangga seharga Rp 35ribu.

    Setelah beberapa tahun usaha kue, saya kemudian membuka Catering dan diberi nama Catering Reo Indah. Nama Reo karena saya berasal dari Reo. Sementara suami saya berasal dari Nelle, Kabupaten Sikka,” kata Siska. (Atic)