Blog

  • Menata Ruang, Menata Peradaban

    Fridolin Berek dan Emanuel Bria, Forum Kajian Sejarah dan Budaya Wesei-Wehali

    Tanggal 26 Februari lalu kami memulai serial diskusi yang mencoba mengangkat berbagai kearifan lokal Wesei-Wehali yang selama ini menjadi praktek kehidupan secara turun-temurun akan tetapi jarang atau bahkan tak pernah diangkat ke ruang diskusi untuk untuk dibahas layaknya sebuah topik akademik di pendidikan formal. Topik yang kami diskusikan pada seri perdana diskusi tersebut tentang politik ruang ala Wesei-Wehali.

    Wesei-Wehali adalah sebuah sistem nilai atau adat di dalam kerajaan tradisional Webiku-Wehali  yang cukup dikenal pengaruhnya di Pulau Timor dan sekitarnya di masa lampau. Kita memang sudah tidak lagi hidup di jaman kerajaan akan tetapi tentu tidak bijaksana jika kita membuang bayi beserta air mandinya atau menghilangkan sama sekali inti sari kejeniusan para leluhur karena menerima sistem pemerintahan yang modern. Itulah alasannya kenapa kami mencoba untuk mengangkat kembali berbagai sistem nilai dan kebudayaan yang kiranya relevan untuk kehidupan di masa kini.  

    Kita kembali pada topik tentang politik ruang Wesei-Wehali. Seperti yang kita ketahui, semua aktivitas kehidupan berlangsung di dalam ruang (space) dan waktu (time). Tanpa keduanya kita tidak bisa mendefinisikan apa itu kehidupan. Bumi sebagai ruang adalah tempat bagi aktivitas kehidupan manusia. Konsep bumi atau “Rai Klaran” dalam bahasa Tetun sangat penting di dalam sistem nilai Wesei-Wehali bahkan bumi disapa sebagai “Ina Rai Klaran” (Ibu Bumi) dan cukup sentral di dalam berbagai praktek ritual adat. Bumi menjadi tempat kita berasal atau dalam bahasa Tetun disebut “Rai Moris Fatik”. Orang Bule juga menyebutnya “mother land” (Ibu Bumi). Dia disapa sebagai Ibu yang darinya kita dilahirkan dan ada. Karena itu ruang atau dalam hal ini bumi selain sebagai sesuatu yang material ia juga merupakan ruang spiritual. Ada semacam keterikatan manusia dan mahkluk hidup lainnya atas bumi tempat ia dilahirkan dan dibesarkan.  

    Dari aspek materialnya, bumi memiliki karakteristik geomorfologi dan topografi. Karena itu terdapat keterbatasan alamiah. Karena karakteristiknya yang khas maka sebuah ruang ditata mengikuti kecenderungan alamiahnya tersebut. Penataan ruang dimaksudkan untuk mewujudkan sebuah wadah fisik dimana berbagai aktivitas manusia dan mahkluk hidup lainnya dapat berlangsung secara nyaman, produktif dan berkelanjutan (sustainable) sehingga memiliki manfaat jangka pendek, menengah dan jangka panjang. Dalam tradisi Wesei-Wehali sesungguhnya telah terbangun kearifan-kearifan utama tentang bagaimana menata ruang agar berguna sebesar-besarnya bagi masyarakat namun tetap terjaga keberlanjutannya. Sejalan dengan makna tata ruang sebagai wujud struktur ruang dan pola ruang, maka sesungguhnya para leluhur Wesei-Wehali atau dalam hal ini Kabupaten Malaka sekarang telah mewariskan disiplin ilmu penataan ruang yang ajeg.  

    Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang mendefinisikan struktur ruang sebagai  susunan pusat-pusat permukiman dan sistem jaringan sarana dan prasarana yang berfungsi sebagai pendukung kegiatan sosial ekonomi dan kebudayaan masyarakat yang secara hirarkis memiliki hubungan fungsional. Selanjutnya pola ruang didefinisikan sebagai  distribusi pemamfaatan ruang dalam suatu wilayah yang meliputi peruntukan ruang untuk fungsi lindung dan peruntukan ruang untuk fungsi budi daya.

    Berangkat dari dua definisi pokok ini, sesungguhnya perwujudan pola ruang dan struktur ruang dalam tradisi Wesei-Wehali, sangatlah jelas.

    Struktur ruang terejawantahkan dalam penempatan pusat pemerintahan tradisional Webiku-Wehali di Laran atau daerah Betun (Ibu Kota Kabupaten Malaka sekarang) dengan pengaturan pembagian wilayah dataran rendah (Fehan) atau pesisir laut (Aintasi) dengan bagian pegunungan (Ainfoho). Selanjutnya dalam pengaturan dan penguasaan kedua wilayah itu sering juga disebut “Ferik Tasi Tehen” (Ibu penjaga Laut) dan “Ferik Foho Hun” ( Ibu penjaga gunung).  Dalam perspektif penataan ruang maka pengaturan ini sejalan dengan konsep “kutub pertumbuhan” (growth pole) yang dibangun oleh ahli ekonomi Prancis, Francois Perroux. Kutub-kutub pertumbuhan tersebut terbentuk sesuai karakteristik wilayah dan kultur yang ada di tempat tersebut. Hal ini untuk memastikan agar tidak terjadi konsentrasi pertumbuhan di satu titik saja sementara wilayah-wilayah pinggiran tergerus sumber dayanya untuk mendukung pertumbuhan titik pusat tersebut.

    Seperti halnya pendapat Perrouks, para leluhurWesei-Wehali telah mengatur ruang dengan baik bahkan sampai pada sub-sub kutub pertumbuhan. Di wilayah pegunungan telah ditentukan  empat sub kutub pertumbuhan yang dikenal dengan sebutan “Hat Mota Ulun” (Empat Hulu Sungai). Demikian juga di wilayah pesisir laut telah ditentukan  empat sub kutub pertumbuhan yang dikenal sebagai “Hat Mota Ain” (Empat Hilir Sungai). Masing-masing kutub pertumbuhan dan subkutub pertumbuhan ini telah diarahkan untuk dibangun sesuai karakteristik dan potensi masing-masing agar memiliki daya dukung dan daya tahan yang berkelanjutan bagi kesejahteraan masyarakat di masing-masing wilayah tersebut.

    Dalam pengaturan pola ruangpun sebenarnya secara turun-temurun sudah dipetakan dengan baik fungsi-fungsinya mulai dari pemukiman, fungsi budidaya dan fungsi konservasi. Berbagai istilah dalam budaya Wesei-Wehali, sebenarnya telah menunjukkan pengaturan pola ruang ini antara lain :

    1. Leo (kampung) : permukiman penduduk yang umumnya dibatasi dengan pagar kampung. Di luar pagar kampung, bukan lagi fungsi permukiman namun fungsi budidaya utamanya untuk budidaya pertanian seperti kebun dan sawah.  
    2. To’os (kebun): kebun masyarakat umumnya berbatasan langsung dengan wilayah hutan.
    3. Alas (hutan) : hutan umumnya tidak sembarang dirambah karena benar-benar sebagai wilayah konservasi. Hutan dibiarkan tumbuh alamiah dan menjadi hutan adat. Hutan-hutan adat ini kemudian menjadi wilayah konservasi seperti hutan Kateri dan hutan mangrove di wilayah pesisir laut.

    Untuk menciptakan ruang yang  mampu mewadahi semua aktivitas di atasnya secara berkelanjutan maka  titik imbang  fungsi konservasi dan fungsi budidaya harus dipertahankan. Kearifan lokal Wesei-Wehali  sudah menunjuk  wilayah-wilayah konservasi yang di kemudian hari juga diakui oleh negara sebagai kawasan lindung seperti hutan Kateri dan hutan Mangrove di wilayah pesisir laut.  Meskipun demikian, dalam perkembangannya hutan-hutan adat ini sudah mulai dirambah oleh para penebang liar dan merubah pemanfaatan lahan kawasan hutan menjadi ladang dan lain-lain. Selain itu hutan Mangrove di wilayah pesisir laut sebagai titik transisi ruang darat dan laut perlu tetap dikonservasi.

    Untuk kepentingan konservasi hutan maka pola kerjasama antara masyarakat adat dengan pemerintahan setempat harus diperkuat. Sesungguhnya konsep dasar pola kerjasama ini termaktup dalam  konsep dasar program  Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) yang dikembangkan oleh Perum PERHUTANI. Sistem PHBM ini dilaksanakan dengan jiwa BERSAMA, BERDAYA, dan BERBAGI yang meliputi pemanfaatan lahan atau ruang, waktu, dan hasil dalam pengelolaan sumber daya hutan dengan prinsip saling menguntungkan, memperkuat dan mendukung serta kesadaran akan tanggung jawab sosial.

    Dalam konteks pelibatan masyarakat adat yang secara turun-temurun telah bermukim di wilayah hutan konservasi maka prasyarat awal yang perlu dilakukan adalah agar pemerintah daerah mengangkat kembali peran sentral masyarakat adat beserta strukturnya dan mulai menjalankan kembali hukum-hukum adat yang relevan untuk menjaga kelestarian hutan adat. Menghadirkan kembali struktur adat dan hukum-hukum adat sesungguhnya telah dijalankan juga di berbagai daerah di Indonesia. Di Provinsi Bali misalnya dikenal Desa Pakraman (Desa Adat), di Sumatra Barat dikenal Wali Nagari dan banyak istilah di daerah lain. Dalam hal ini, kearifan WeseiWehali semestinya bisa menjadi inspirasi pembangunan dan penataan wilayah Kabupaten Malaka.

    Dengan memetakan secara jelas mana wilayah yang harus dikonservasi dan mana yang bisa dibudidayakan maka akan lebih mudah dilakukan penataan ruang di kabupaten Malaka. Untuk ruang budidaya perlu ada pusat bisnis dan pusat administrasi pemerintahan (Central Business District)  serta wilayah-wilayah penyokong (hinterland) sesuai karakter sektor unggulan yang ada di wilayah-wilayah tersebut misalnya pertanian, perikanan dan seterusnya. Sementara wilayah-wilayah yang harus dikonservasi perlu terus dipertahankan karena memiliki fungsi utama untuk menjaga keseimbangan ekosistem.

    Sebagai langkah awal untuk pembangunan pusat ibu kota kabupaten Malaka maka harus didahului dengan penyusunan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) Ibu Kota Kabupaten Malaka yang hingga kini belum ada. Selain RDTR Ibukota Kabupaten Malaka, perlu disusun juga beberapa RDTR seperti RDTR Kawasan Perbatasan, RDTR Kawasan Pantai Selatan Malaka dan lain-lain. Dalam proses penyusunan tersebut peran aktif masyarakat adat di dalamnya sangat penting karena menata ruang sama dengan menata peradaban.

    **********************************

  • Disorientasi Modernisme, Hegemoni Budaya sampai Penjajahan Gaya Baru

    Disorientasi Modernisme, Hegemoni Budaya sampai Penjajahan Gaya Baru

    Oleh Nardi Maruapey*

    Saya membuat tulisan dengan judul di atas ini pastinya tidak berangkat dari ruang yang kosong. Semangat menulis soal ini adalah tiga hal, pertama, berangkat dari beberapa buku dan literatur yang kebetulan saya telah baca tentang geopolitik dan geokonomi nasional maupun internasional, kedua, dari forum-forum training yang secara kebetulan saya ikuti-yang  mengangkat tema-tema hegemoni, dan ketiga, wacana modernisme dan kenyataannya yang cenderung menjadikan manusia dan alam sebagai objek eksploitasi yang buruk.

    Istilah hegemoni selalu menguat dalam setiap diskursus pada perlbagai macam tempat dan ruang terlebih untuk setiap wacana-wacana global. Perkembangan teknologi dan informasi yang semakin cepat membuat kita selalu terkoneksi dengan segala hal yang ada di bagian luar daerah teritorial sebagai sebuah bangsa dan negara. Hal itu menyebabkan kehidupan kita kalau dilihat akhir-akhir ini semakin terpengaruh oleh budaya-budaya bangsa lain yang datang dari luar, terutama budaya Barat.

    Dari perkembangan teknologi dan informasi tersebut yang katanya itu merupakan fenomena modernisme dan orientasinya akan mempengaruhi seluruh tatanan kehidupan manusia baik secara individu maupun sosial. Pertanyaannya kemudian, apakah hal itu akan membawa pengaruh baik ataukah sebaliknya? Disorientasi yang dimaksud adalah ada terjadinya kekacauan, kesamaran arah, kemudian akan timbul suatu kesenjangan sosial dan sistem nilai kebudayaan. Sehingga terjadi pengkaburan pada tujuan dari modernisasi.

    Di lain sisi, sejak munculnya negara-negara merdeka yang adalah tanda berakhirnya bentuk panjajahan dari para kolonialisme terhadap negara jajahan yang saat itu lemah dari semua sendi kehidupannya (Ekonomi, Politik, Sosial, Budaya, Keamanan, SDM, dsb) dalam kaca mata modernisme Barat. Dengan berjalannya waktu, kemudian melihat fenomena dan realitas yang sering terjadi pada abad 20 ada awal abad 21 ini adalah munculnya bentuk penjajahan yang mengulang masa lalu, tapi dengan gayanya yang baru atau penjajahan gaya baru terhadap suatu negara.

    Olehnya itu, saya mengajak para sidang pembaca yang budiman agar sama-sama kita membaca setiap bahasan dari judul di atas.

    Modernisme ala Barat

    Memang sulit untuk mengidentifikasi kapan dimulainya era modernisme yang ditandai dengan rasionalisme, tetapi berdasarkan sifat yang terbawa dalam modernisme tersebut. Maka dapat dinyatakan bahwa modernisme dimulai pada sekitar abad ke 15 yang ditandai dengan terjadinya revolusi pencerahan atau renaissance di Eropa dalam bentuk revitalisasi kesadaran manusia tentang eksistensi dirinya. Mulainya masa modernisme tersebut diharapkan mampu memberikan harapan baru bagi peradaban dunia.

    Kata modernisme mengandung makna serba maju, gemerlap, dan progresif. Modernisme selalu menjanjikan pada kita untuk membawa pada perubahan ke dunia yang lebih mapan dimana semua kebutuhan akan dapat terpenuhi. Rasionalitas akan membantu kita menghadapi mitos-mitos dan keyakinan-keyakinan tradisional yang tak berdasar, yang membuat manusia tak berdaya dalam menghadapi dunia ini (Maksum, 2014: 309).

    Namun demikian, modernisme memiliki sisi gelap yang menyebabkan kehidupan manusia kehilangan disorientasi. Apa yang dikatakan oleh Max Horkheimer, Ardono, dan Herbert Marcuse bahwa pencerahan tersebut melahirkan sebuah penindasan dan dominasi disamping juga melahirkan kemajuan.

    Pandangan modernisme menganggap bahwa kebenaran ilmu pengetahuan bersifat mutlak dan objektif, artinya tidak adanya nilai dari manusia. Bahwa sesuatu itu dikatakan benar ketika sesuai dengan konsensus atau aturan yang berlaku di dunia modern, yaitu rasional dan objek. Padahal kebenaran ilmu pengetahuan itu adalah sesuatu yang bersifat subjektif dan relatif, dia bisa mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Karena kebenaran ilmu pengetahuan berangkat dari hasil pikir manusia yang tentu masih subjektif.

    Kierkegaard (1813-1855) seorang filsuf dan teolog abad 19, yang berpendapat bahwa kebenaran itu bersifat subjektif (dalam Ghazali & Effendi, 2009: 314). Truth is subjectivity, artinya bahwa pendapat tentang kebenaran subjektif itu menekankan pentingnya pengalaman yang dialami oleh seorang individu yang dianggapnya relatif.

    Modernisme, menurut Anthony Giddens lewat bukunya The Consequences Of Modernity (1989), menimbulkan berkembangbiaknya petaka bagi umat manusia. Pertama, penggunaan kekerasan dalam menyelesaikan sengketa. Kedua, penindasan oleh yang kuat atas yang lemah. Ketiga, ketimpangan sosial yang kian parah. Keempat, kerusakan hidup yang kian menghawatirkan.

    Bryan S. Turner, sosiolog kondang kenamaan abad ini, dalam bukunya yang berjudul, Orientalism, Postmodernism, and Globalism telah membongkar universalitas sosiologi Barat. Keangkuhan Barat dalam menilai Timur dan Islam, bagi Turner bisa diamati dari berbagai analisis akademik kaum orientalis yang mencibir kebudayaan non-Barat, dan menganggap Timur adalah irrasional, tidak demokratis, dan sangat mistik. Klaim adalah salah satu kata yang pas untuk dialamatkan kepada wacana, pendapat, dan analisa sosiolog Barat selama ini. Apa yang terdapat dalam berbagai literatur dan wacana mereka merupakan bentuk kolonialisme wacana, hegemonisasi kultural dan memaksakan pendapat yang lain (otherness, the order), Timur dan Islam sebagai barang rendahan.

    Perubahan secara konstruktif ditandai dengan semakin berkembang pesatnya ilmu pengetahuan dan teknologi sedangkan pengaruh destruktif yang dibawa modernisme adalah semakin terciptanya krisis mondial yang terimplikasi dari dekadensi dan degradasi nilai-nilai kemanusiaan. Artinya, terjadinya perkembangan dari bidang ilmu pengetahuan dan teknologi akan dapat mempermudah semua aspek kehidupan manusia dalam kesehariannya.

    Tetapi yang terjadi malah sebaliknya, bahwa ada ketidaksesuaian dengan semangat awal modernisme yakni untuk pencerahan kehidupan manusia, yakni kehidupan kemanusiaan semakin tidak manusiawi. Memang benar kata Habermas “modernisasi adalah proyek kehidupan yang belum selesai” atau proyek pencerahan yang belum selesai. Francis Fukuyama dalam The End of History and The Last Man (1999) mengatakan bahwa pengalaman abad ke-20 telah membuat klaim-klaim yang sangat problematik berkenaan kemajuan yang berbasis pada ilmu pengetahuan dan teknologi. Karena kemampuan teknologi untuk menjadikan kehidupan manusia lebih baik secara kritis tergantung pada kemajuan moral yang paralel dalam diri manusia. Bagi Fukuyama, tanpa kemajuan moral, maka kekuatan teknologi secara mudah akan diarahkan untuk tujuan-tujuan yang jahat, dan manusia akan menjadi lebih buruk ketimbang keadaan sebelumnya.

    Modernisme dijadikan sebagai proses industrialisasi, developmentalisme oleh Barat. Masyarakat modern adalah masyarakat industri. Oleh karena itu, hal pertama yang harus dilakukan untuk memodernkan masyarakat adalah dengan industrialisasi, adanya pembangunan yang terjadi suatu tempat. Padahal hal itu sangat berefek buruk pada tatanan kehidupan sosial, budaya masyarakat dan dapat merusak aktifitas lingkungan dan sumber daya alam (SDA) yang ada. Misalkan dengan kehadiran industrialisasinya para kelompok kapitalisme di suatu tempat dengan tujuan mengeksploitasi, menguasai, hingga jadinya merusak sesuatu yang ada itu.

    Hegemoni Budaya

    Antonio Gramsci merumuskan konsepnya tentang hegemoni yakni situasi sosial politik, dalam terminologinya ‘momen’, dimana filsafat dan praktek sosial masyarakat menyatu dalam keadaan seimbang: adanya dominasi merupakan konsep dari realitas yang menyebar melalui masyarakat dalam sebuah lembaga dan manifestasi perseorangan, pengaruh dari ‘roh’ (dalam) ini membentuk moralitas, adat, religi, prinsip-prinsip politik dan semua relasi sosial, terutama dari intelektual dan hal-hal yang menunjukkan pada moral.

    Titik tolak hegemoni bagi Gramsci karena awalnya sudah adanya konsensus untuk membangun hubungan antar klas dengan saling mendominasi. Hegemoni klas yang berkuasa terhadap klas yang dikuasai melalui kesepakatan negara dengan kaum kapitalis. Berdasarkan hasil konsensus inilah yang kemudian akan membuat segala bentuk penindasan serta eksplotasi atau hegemoni itu akan terus terjadi terhadap seluruh aspek kehidupan masyarakat.

    Hegemoni tidak hanya menunjukkan kontrol ekonomi dan politik, melainkan juga menunjukkan kemampuan kelas dominan dalam menampilkan cara pandangnya terhadap dunia, sehingga dengan berbagai macam cara kelas subordinat (kelas yang dikuasai Marx) menerimanya sebagai “common sense” atau cara pandang yang benar (Eni Maryani, 2011 :53). Antonio Gramsci melihat hegemoni berdasarkan gagasan Karl Marx mengenai “kesadaran yang salah” (false consciousness), yaitu keadaan di mana individu menjadi tidak menyadari adanya dominasi dalam kehidupan mereka.

    Gramsci menyatakan bahwa sistem sosial yang mereka dukung justru telah mengeksploitasi diri mereka sendiri, mulai dari budaya populer hingga agama (Morrisan, 2012: 542). Pada era modern saat ini sebenarnya proses hegemoni dari kaum kapitalis telah berjalan dengan sempurna yaitu melalui Pembudayaan, Fashion, Film, Media dsb.

    Budaya, penampilan, dan cara hidup akan terpengaruh dengan sesuatu yang datang dari luar. Bahwa budaya di negara-negara berkembang akan sangat terhegemoni dengan budaya lain yang datang dari Barat yang notebene adalah negara maju akan cenderung membuat masyarakat terlena dan tereksploitasi. Tanpa kita sadari secara langsung dengan berkembangnya teknologi membuat semua orang ikut terpengaruh dan terbawa arus peradaban Barat.

    Di Indonesia sendiri sesungguhnya sudah merasakannya, bahkan sudah menjadi lahan empuk bagi kaum kapitalis untuk menyebarkan ideologinya karena jika dilihat secara kasat mata bahwa masyarakat Indonesia cenderung mengikuti gaya barat dan dengan sengaja menghilangkan budayanya, serta mudah untuk dipengaruhi oleh media.

    Talcot Parson, pakar sosiolog Amerika Serikat, yang di Indonesia sejak 1970-an terkenal dengan konsep Strukturalisme-Fungsional. Yang luput dari amatan kita selama ini, bahwa teori ini dibuat sesungguhnya sebagai upaya mengubah masyarakat Indonesia menjadi masyarakat modern. Konsekuensinya, kekuatan-kekuatan masyarakat yang dianggap tidak sesuai aturan, tradisi dan kaidah modernitas, harus disingkirkan atau dipaksa menjadi modern. Modernitas tidak dipahami sebagai suatu spirit, cara pandang, pola pikir dan paradigma, tetapi lebih dilihat sebagai gaya hidup, tampilan formal serba meterial, dan bercorak kebarat-baratan (Pranoto, Hendrajit, 2016: 55)

    Akumulasi pengalaman budaya peradaban Barat adalah industrialisasi, urbanisasi, kemajuan teknologi, negara bangsa, kehidupan dalam jalur cepat. Namun mereka meragukan sekaligus menegasikan tanggung jawab personal, toleransi, humanisme, egalitarianisme, penelitian objektif, kriteria evaluasi, prosedur netral, dan rasionalitas (Rosenau, dalam George Ritzer, 2006: 19).

    Kita sangat terhegemoni dengan kebudayaan Barat yang melahirkan peradabannya, padahal sebagai sebuah bangsa kita juga punya kebudayaan sendiri yang dari kebudayaan itu kita bisa membangun peradaban dengan cara sendiri.

    Perang Asimetris

    Berakhirnya Perang Dunia II yang ditandai bangkitnya negara-negara merdeka di negara-negara berkembang dimana titik kulminasinya ketika berakhirnya Perang Dingin pada akhir 1980-an dan awal 1990-an. Namun, agaknya negara-negara kapitalis-imprealis berkeinginan untuk melakukan penjajahan ulang. Mereka mulai memunculkan sikap dan pemikiran baru untuk memenuhi hasrat dan nafsu imprealisme dan ekspansionismenya.

    Sehingga kemudian muncul suatu gagasan dari perancang strategis kebijakan luar negeri negara-negara adikuasa itu (Amerika Serikat dan sekutunya) untuk mengubah metode penjajahan kolonialisme klasik dan neo-kolonialisme atau Penjajahan Gaya Baru. Muncul juga perang dengan gaya baru yang diistilahkan Perang Asimetris.

    Istilah lain perang asimetris atau asymmetric werfare yang mengemuka selain disebut perang non-militer, dalam bahasa populer bisa juga dinamai smart power, atau perang non konvensional, irregular dan lain-lain. Defenisi asymmetric werfare adalah suatu model peperangan yang melibatkan dua aktor atau lebih, dikembangkan melalui tata cara tidak lazim di luar aturan perang konvensional. Memiliki spektrum dan medan tempur yang luas meliputi hampir di setiap aspek astagatra (geografi, demografi, sumber daya alam/SDA [Trigatra] maupun Pancagatra: ideologi, ekonomi-politik, sosial-budaya, hankam). (Pranoto, Hendrajit, 2016: 130)

    Kalau kita telaah secara mendalam dan seksama, perang asmetris dilalukan hanya dengan suatu tujuan yakni bagaimana bisa mengontrol ekonomi negara lawan, penguasaan SDA, dan merusak tatanan lain dari kehidupan masyarakat. Kelaziman sasaran pada perang asimetris ini ada tiga: 1) membelokkan sistem sebuah negara sesuai kepentingan kolonialisme; 2) melemahkan ideologi serta mengubah pola pikir rakyatnya; dan 3) menghancurkan ketahanan pangan dan energi security (jaminan pasokan energinya), selanjutnya menciptakan ketergantungan negara target atas kedua hal tersebut (food and energy security).

    Skema kolonialisasi gaya baru atau neo-kolonialisme itu tak lepas dari satu tarikan nafas yang berujung pada penguasaan ekonomi dan pencaplokan SDA. Sebagaimana doktrin yang ditebar oleh Henry Kissinger di panggung politik global bahwa kuasai minyak maka anda mengendalikan negara, kendalikan pangan maka anda mengontrol rakyat.

    *Nardi Maruapey, Mahasiswa Universitas Darussalam Ambon

  • Memaknai “Meeuwodidee”

    Memaknai “Meeuwodidee”

    Oleh Yakobus Odiyaipai Dumupa

    KATA Meeuwodidee sering disalahpahami. Karena salah dipahami, maka sering salah ditulis dan diucapkan. Misalnya, ditulis Meuwo, Meeuwo, Meuwododide atau Meeuwodide. Padahal, seharusnya ditulis Meeuwodidee. Juga sering disalahucapkan, misalnya Meuwo atau Meeuwo. Padahal, jika diucap begitu saja tanpa kata Didee maka kata itu kehilangan arti. Lantas bagaimana seharusnya?

    Kata Meeuwodidee berasal dari tiga kata, yaitu Mee, Uwo, dan Didee. Kata Mee artinya manusia atau nama suku: Mee. Kata Uwo, artinya “air”. Kata Didee artinya tanah, daratan atau hamparan. Jika ketiga kata tersebut digabung menjadi Meeuwodidee, maka artinya menjadi Tanah Air Mee atau negeri Mee.

    Untuk memudahkan pemahaman, kata Meeuwodidee bisa dibandingkan dengan kata England dan Nederland. England artinya tanah Angels, yang merujuk pada salah satu suku Jermanik yang menetap di Inggris pada abad pertengahan. Nederland artinya tanah rendah, yaitu sebutan bagi negeri Belanda yang dataran/tanah lebih rendah dari permukaan laut. Jika kata Meeuwodidee bisa di-Inggris-kan, maka bisa menjadi Meetland.

    Sekarang kita kembali ke persoalan kesalahpahaman penulisan dan pengucapan kata Meeuwodidee di atas. Kalau kita menulis dan mengucap Meeuwo, maka itu artinya kita mengatakan air Mee. Penyebutan dengan singkatan (kalimat yang tidak lengkap) seperti ini menyebabkan kata Meeuwodidee kehilangan arti yang sesungguhnya.

    Sedangkan kesalahan lainnya hanya berupa kekurangan huruf dalam penulisannya saja, seperti Meeuwo (kekurangan kata Didee), Meuwododide (kekurangan huruf e pada kata Mee dan kekurangan huruf e pada kata Didee, dan Meeuwodide (kekurangan huruf e pada kata Didee.

    Mulai sekarang, gunakanlah kata Meeuwodidee secara baik dan benar dalam penulisan maupun pengucapannya. Sederhana saja: tulis dan ucapkan Meeuwodidee.

  • KWI Bantu Gereja Santo Joseph Boto, Lembata

    KWI Bantu Gereja Santo Joseph Boto, Lembata

    JAKARTA – Panitia Pembangunan Gereja Paroki Santo Joseph Boto, Dekanat Lembata, Keuskupan Larantuka, Nusa Tenggara Timur mendapat bantuan dari Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk merenovasi bangunaan gerejanya.

    Sebelumnya, pihak panitia menyurati KWI agar ikut membantu panitia dan umat setempat agar ambil bagian bersama umat untuk merampungkan Gereja tua yang terletak di Boto, pusat paroki dan pusat Misi SSpS di wilayah selatan Lembata.

    “Saya baru mendengar kabar. Suster Yasinta, FSGM dari Bagian Dewan Moneter dan Dana Solidaritas Antar-Keuskupan KWI menyampaikan bahwa KWI turut membantu dana sebesar Rp. 25 juta. Dana itu untuk ikut membantu panitia dan umat merampungkan pembangunan Gereja Paroki Santo Joseph Boto, Lembata,” ujar John Laba Wujon, staf Sekretariat Jenderal KWI dalam keterangannya, Selasa (23/3/2021).

    Menurut John, staf sekretariat KWI asal Lembata, bantuan dari KWI itu dikirim kepada panitia dan umat stasi Santo Joseph Boto melalui rekening ekonom Keuskupan Larantuka. “Menurut Suster Yasinta, uang tersebut sudah dikirim pada 5 Maret 2021,” kata John Wujon.

    Ia menambahkan, uang bantuan untuk panitia dan umat tersebut bersumber dari Dana Solidaritas Antar-Keuskupan KWI. Pihaknya juga merasa gembira, pihak KWI ikut membantu panitia dan umat yang kebanyakan ekonomi lemah dan menggantungkan hidup kesehariannya dari bertani.

    Pastor Paroki Santo Joseph Boto RD Bernardus Kebesa Kedang Pr mengemukakan, kerja keras Pastor Paroki, Panitia dan umat Paroki membangun rumah Ibadah ini terpatri dalam motto, Terbantulah Engkau dan Tertanamlah di Dalam Laut, dan Ia Akan Taat Kepadamu.

    “Berpijak pada motto ini, panitia bersama umat Allah Paroki Boto merenovasi rumah Tuhan, tempat Allah ditakhtakan. Spirit dan kegigihan umat berpijak pada Kristus, tumbuh dan mereka berniat merenovasi gereja yang sudah dibangun sejak 1990 dan rampung tahun 1995. Namun, seluruh fasilitas belum lengkap. Atapnya bocor karena kemiringan hanya sekitar 16 derajat,” ujar Romo Bernard Kedang, imam kelahiran desa nelayan Lamalera.

    Sedangkan Ketua Dewan Stasi Santo Joseph Boto Yohanes Dua Baon menyampaikan terima kasih kepada KWI atas perhatian dan bantuan tersebut. Selama ini, sumber dana pembangunan Gereja Santu Joseph Boto berasal dari swadaya panitia dan umat sehingga upaya merampungkan bangunan gereja masih tersendat.

    “Kami panitia dan umat berterima kasih dan menyambut gembira perhatian KWI membantu meringankan usaha dan kerja keras panitia. Bantuan ini tentu akan menjadi penyemangat kami semua untuk bekerja lebih giat lagi,” ujar Yan Dua Baon yang juga Kepala SDK Boto.

    Boto adalah pusat paroki dan ladang Misi SVD dan SSpS sejak enam puluhan tahun lalu. Gereja melalui SVD dan SSpS tak sekadar melayani umat di bidang pelayanan iman, namun juga bidang kesehatan, pendidikan, dan pertanian. Selain para imam, suster, bruder, biarawan dan biarawati dalam negeri, paroki ini juga menjadi tempat berkarya para misionaris asing.

    Umat selalu ambil bagian bersama para misioanris yang berkarya di Boto. Mereka juga sangat mengasihi misionaris yang berkarya di Boto. Umat juga mengenal jasa baik para misionaris. Misalnya, Pastor Jan Knoor SVD, Pastor Bernard Bode SVD, Pastor Nicholas Strawan SVD, adalah imam SVD yang menggantikan posisi Pater Bode sebagai Pastor Paroki Boto. Sr Amaria SSpS dan Sr Dorothildis SSpS adalah dua misionaris asal Jerman yang lama mengabdi di Boto. Begitu pula Pastor Nicholas Strawn SVD (87), imam asal Amerika Serikat yang mengabdi sebagai Pastor Paroki Boto dan saat ini masih sehat dan melayani umat di Rumah Sakit Bukit Lewoleba, kota Kabupaten Lembata.

    “Gereja sangat berjasa pada pertumbuhan dan perkembangan iman umat. Karya besar rintisan mereka seperti Poliklinik Santo Rafael, SDK Boto, dan rumah Pastor Jan Knoor SVD hingga kini masih terawat baik. Rumah Pater Jan Knoor ini dijadikan Komunitas SSpS Boto. Banyak bibit panggilan hidup menjadi pelayan Sabda tumbuh dari kampung kecil ini. Para imam dan biarawati, suster dan bruder saat ini mengabdi tak hanya di dalam namun juga luar negeri,” ujar Fredy Mudaj, Ketua Pantia Pembangunan Gereja Santu Joseph Boto.***


  • “Ayo ke Gua Siput”, Alumni Gabriel Kunjungi Romo Eman Temaluru

    BERANDANEGERI.COM,- Jelang Pekan Suci dalam kalander Liturgi Gereja Katolik, Paguyuban Alumni SMPK St, Gabriel Sarotari Larantuka Angkatan 1-6, berkunjung ke kediaman Romo Eman Temaluru, di Paroki Leworahang-Lewolema, Flores Timur, Minggu, (21/3).  

    Selain sebagai kunjungan silaturahmi sesama alumni, karena Romo Eman juga adalah alumni SMPK Gabriel, kesempatan kunjungan ini digunakan untuk bersiarah ke Gua Maria Bintang Laut atau biasa disebut Gua Siput.

    Gua Siput , merupakan gua yang didesain unik dan menarik lantaran patung Bunda Maria menggendong kanak Yesus diletakan di dalam gua yang berbentuk siput.

    Para alumni SMPK St. Gabriel Sarotari Larantuka, saat berkunjung ke Gua Maria Bintang Laut, atau biasa disebut Gua Siput

    Gua yang didirikan di Stasi Agustinus Kawaliwu ini, memiliki  halaman yang cukup luas untuk para peziarah yang hendak datang berdoa ke tempat ini.

    Letak gua pun berada di antara pepohonan, menjadikan tempat ini sangat sejuk dan nyaman. Selain menjadi ruang terbuka untuk doa, membelakangi tempat ini terlihat hamparan laut teluk Flores nan indah.

    Karena itu, bagi pesiarah yang datang, setelah berdoa, tempat ini dapat menjadi objek untuk berfoto serta beristirahat.

    “Gua ini sepertinya masih baru, tapi kami sungguh merasa senang berada di sini karena tempatnya indah, tenang dan menarik. Kami akan kembali ke sini dan menjadikan tempat ini tempat ziarah keluarga,” ungkap salah satu alumni yang mengikuti kegiataan ini.

    Leworahang berada pada arah barat kota Larantuka dan hanya satu jam dari pusat kota, dengan kendaraan roda dua atau empat dapat menemui tempat nan nyaman dan tenang ini.

    Berbeda dengan Larantuka yang memiliki pantai di bagian selatan, Leworahang dan Kawaliwu memiliki pantai di bagian utara atau berada peris dalam teluk pulau Flores.

    Letak tempat ini berdekatan dengan tempat wisata air panas Kawalilu yang berada di dalam teluk Flores bagian utara. “Ayo ke Gua Siput ! (bn)

    Catatan : Berita ini telah dikoreksi setelah mendapat komentar pembaca. (Red)

  • Menanam Benih Kehidupan

    Oleh Markus Makur

    SANG surya sudah menyinari alam semesta. Cahaya menembus Kampung Mesi, Waekolong, Wojang dan kawasan hutan Pong Suka, Mbengan. Sinar matahari membangun manusia yang sedang tidur lelap dan seluruh makhluk hidup yang sedang memiliki nafas kehidupan. Saatnya sinar matahari membangunkan manusia untuk mulai beraktivitas lagi.

    Ayam berkokok memberikan tanda-tanda bahwa sementara lagi jelang pagi dengan ditandai sinar matahari dari ufuk Timur. Bagian Timur sebagai sandaran matahari.

    Bagian Barat sebagai tanda sang surya kembali kepada ribaannya. Itulah perputaran alam sementara. Berputar pada porosnya. Ada waktu beristirahat. Ada waktu bekerja. Semua itu dijumpai dalam realita situasi 1×24 jam.

    Sekelompok anggota dari Kelompok Tani Suka Maju bangun pagi untuk mempersiapkan segala sesuatu, Selasa, (16/3/2021).

    Hari itu sudah diagendakan untuk acara pencanangan Bulan Bakti Rimbawan ke-38 di kawasan hutan Manus Mbengan, tepatnya di kawasan Pong Suka. Mereka mempersiapkan periuk, kuali, sekop, alat-alat pertanian lainnya. Mereka berjalan kaki dari Kampung Mesi, Waekolong dan beberapa kampung tetangga di Desa Rana Kolong.

    Mereka menyusuri jalan setapak di tengah hutan rimba Manus Mbengan. Kiri kanan jalan ada pohon ukuran besar. Sejuk. Udara segar. Mendengarkan merdunya suara burung yang bertengger di pohon-pohon. Burung menyambut kedatangan anggota kelompok tani tersebut. Kadang-kadang burung terbang dari satu pohon ke pohon lainnya sambil mengeluarkan suara. Betapa indah alam semesta ini.

    Beraneka ragam flora dan fauna yang diperuntukkan manusia untuk saling melengkapi. Saling membutuhkan. Saling menjaga keunikan Sang Pencipta. Kurang lebih 10 menit menyusuri jalan setapak itu dari jalan raya lintas Waelengga-Mok. Suasana tenang. Sepi. Anggota kelompok tani tiba di lokasi yang dijadikan tempat menanam pohon kehidupan. Mereka menyiapkan tenda dari terpal berukuran sedang.

    Menyiapkan tenda bagi tamu dari Kabupaten Manggarai Timur. Mereka menyiapkan tikar untuk tempat duduk bagi warga yang ikut dalam kegiatan tersebut. Sekitar delapan lubang digali dengan ukuran kecil untuk menaruh benih kehidupan.

     Mereka menyiapkan bambu kecil untuk masak nasi. Mereka menyebut “tapa kolo,” masak nasi bambu. Semua persiapan sudah beres. Mereka bakar ikan dan masak kuah ikan untuk keperluan makan bersama. Sebagiannya memakai masker, sebagiannya belum memiliki masker.  Alam sebagai ibu bumi. Menjaga. Merawat alam termasuk hutan didalamnya berarti menjaga keberlangsungan kehidupan ibu bumi bagi kehidupan manusia. Flora dan fauna.

    Satu ekosistem yang saling membutuhkan bagi kelangsungan hidup makhluk di bumi ini. Menanam benih kehidupan berarti menjaga keberlanjutan ciptaan dari Sang Pencipta yang diperuntukkan bagi kehidupan makhluk yang mendiami bumi ini. Apa yang ditanam, itu juga akan kita tuai.

    Sambut Rombongan di Tengah Hutan

    Sejumlah tua adat di Desa Rana Kolong dengan pakaian adatnya sesuai adat istiadat setempat menyambut rombongan Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus, Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa, Anggota DPRD Manggarai Timur, Lucius Modo, Tarsan Talus, Kepala UPT KPH Kabupaten Manggarai Timur, Marselus Ndeu, staf Prokopim Setda Manggarai Timur. Tawu, tempat menyimpan tuak, moke sudah diisi dengan tuak raja khas Rana Kolong. Tua adat yang sudah ditunjuk memegang tawu sambil menyampaikan ucapan selamat datang dengan dialek lokal setempat. Namanya adalah tradisi “kepok”.

    Setelah ritual kepok selesai, dilangsungkan acara pemakaian kalung songke kepada Wakil Bupati Manggarai Timur, Ketua DPRD Manggarai Timur, dan Kepala UPT KPH Kabupaten Manggarai Timur. Belasan handphone android dan kamera mengabadikan momen tersebut sebagai dokumen pribadi, pemerintah dan anggota kelompok.

    Ritual adat selesai, rombongan di hantar di tempat tenda yang sudah dipersiapkan di dekat sebuah pohon.

    Selanjutnya, acara seremial resmi. Berbagai sambutan secara bergiliran disampaikan.

    Tanam Benih Pohon Kehidupan

    Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Kabupaten Manggarai Timur, Selasa (16/03/2021), menanam benih kehidupan di Pong Suka, kawasan hutan  Manus Mbengan RTK 110, Desa Rana Kolong.

    Ket. Foto: Kepala UPT KPH Manggarai Timur, Marselus Ndeu sedang Menanam Pohon pada Hari Pencanangan Bulan Bakti Rimbawan 2021 di Kawasan Hutan Pong Suka, Desa Rana Kolong, Kec. Kota Komba, Selasa (16/3/2021). (Dok/Markus Makur)

     Pohon kelengkeng dan pohon kehidupan lainnya ditanam di kebun anggota Kelompok Tani Suka Maju yang sudah menggarap kawasan hutan sosial.

    Pencanangan Bulan Bakti Rimbawan 2021 dicanangkan oleh Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus dengan menanam benih pohon kelengkeng. Diikuti Ketua DPRD Manggarai Timur, Heremias Dupa, didampingi anggota, Luko Modo, Tarsan Talus, Camat Kota Komba, Regina Malon, Kepala UPT KPH Manggarai Timur, Marselus Ndeu, Ketua Kelompok Tani Suka Maju, Erasmus Turus, Perwakilan Lembaga Swadaya Masyarakat Ayo Indonesia.

    Pencanangan Bulan Bakti Rimbawan Tingkat Kabupaten Manggarai Timur mengusung tema” Hutan Untuk Kesejahteraan Rakyat”

    Jaghur Stefanus menegaskan bahwa prinsip yang yang kita pegang bahwa semua kita adalah rimbawan, karena menjaga hutan adalah tugas dan tanggung jawab kita bersama.

     Apabila hutan tidak ada maka segala kehidupan akan perlahan-lahan mengikuti dampaknya. Manusia dan makhluk lain yang mendiami bumi ini sangat membutuhkan hutan.

    “Hutan itu menjaga kehidupan kita, ekosistem hutan menjaga keberlangsungan kehidupan kita dan karena itu maka menjadi tanggung jawab kita bersama untuk menjaga hutan kita tetap lestari dengan ekosistem yang terjaga.”

    Stefanus mengatakan, menjaga hutan dengan terus giat menanam pohon kehidupan berarti menjaga paru-paru dunia. Setiap saat kita menghirup udara. Apabila tidak ada hutan maka kehidupan kita akan mengalami kekurangan oksigen.

    ” Saat ini kita menghirup udara segar di tengah hutan. Untuk itu kita sama-sama memiliki tanggung jawab dengan kesadaran dalam diri kita masing-masing untuk menjaga keberlanjutan dan kelangsungan hutan yang lestari,” jelasnya.

    Jangan Semprot Rumput dengan Zat Kimia

    Heremias Dupa menjelaskan, zat kimia yang digunakan untuk membersihkan lahan dengan cara semprot dapat mematikan seluruh makhluk yang berada di bawah tanah. Cacing tanah mati kalau kena zat kimia.

     Kita tahu bahwa cacing tanah dan makhluk lainnya mampu memberikan kesuburan tanah. Jikalau humus tanah tidak terjaga dengan baik maka air hujan mudah mengikis tanah tersebut hingga dampak besarnya longsor. Erosi bisa mengikis tanah. Lama kelamaan bisa terjadi tanah longsor.

    “Petani harus kembali memakai pupuk organik. Petani harus memulai membiasakan diri tidak menggunakan pupuk kimia. Saatnya kembali memakai pupuk alamiah. Saya berharap anggota Kelompok Tani Suka Maju tidak membersihkan lahan pertanian dengan zat-zat kimia. Makhluk lain mampu mengembalikan kesuburan tanah. Manusia tidak bisa secara alamiah bisa mengembalikan kesuburan tanah. Masyarakat tidak membakar hutan,” jelasnya.

    Kepala UPT KPH Kabupaten Manggarai Timur, Marselus Ndeu mengajak anggota kelompok tani Suka Maju bahwa hutan untuk kesejahteraan rakyat sejalan dengan semangat dan misi keberadaan serta jati diri rimbawan, dalam perjuangan pembangunan kehutanan dan lingkungan.

    Kegiatan pencanangan Bulan Bakti Rimbawan dilaksanakan pada sasaran kelompok penerima perhutanan sosial dengan pola hutan kemasyarakatan (HKM) sesuai Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI SK nomor: SK.7600/Menlhk-pskl/pkps/psl.0/9/2019 tentang pemberian izin usaha pemanfaatan hutan kemasyarakatan kepada kelompok tani Suka Maju kurang lebih 44 hektar.

    “Saya tegaskan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan sudah memberikan  izin untuk mengelola perhutanan sosial seluas ini. Jangan lagi merambah hutan yang lain lagi di dalam kawasan ini. Kawasan hutan sosial bukan milik anggota kelompok, melainkan diberi izin untuk mengelola dengan menanam pohon-pohon yang memiliki manfaat bagi kesejahteraan anggota kelompok,” tegasnya.

    Camat Kota Komba, Regina Malon menegaskan, apabila kita menjaga hutan sebagai penyangga kehidupan flora dan fauna dan manusia dengan baik maka sumber mata air untuk kehidupan manusia tetap terjaga demi anak dan cucu, cece kita.

    Ket. Foto: Camat Kota Komba, Kab. Manggarai Timur, Ibu Regina Malon sedang Menanam Pohon di Kawasan Hutan Pong Suka, Desa Rana Kolong saat Hari Bulan Bakti Rimbawan 2021, Selasa, (16/3/2021). (Dok/Markus Makur)

    “Seorang peziarah, pendaki gunung, atau kita menjelajahi hutan selalu membawa air minum, makanan bagian kedua. Jika kita haus di tengah hutan selalu mencari air.

    Air minum merupakan kebutuhan yang utama dalam kehidupan makhluk di dunia ini dan juga manusia,” jelasnya.

    Jangan Lagi Tembak Burung

    Staf Balai Konservasi Sumber Daya Alam Wilayah II NTT, Paulus Pambut menegaskan, burung-burung juga memberikan kehidupan bagi bumi.

    Burung-burung juga menyebarkan benih kehidupan untuk keberlanjutan dan keberlangsungan hutan. Jangan lagi menembak burung. Apalagi burung-burung endemik Flores.

    “Kami akan menegakkan aturan apabila masyarakat menembak burung. Belum lama ini kami menangkap orang yang menembak burung Elang Flores. Semua burung tidak boleh ditembak,” tegasnya.

    Pambut menjelaskan maraknya penembakan burung di kawasan hutan konservasi dan hutan lindung. Belum lama ini ada warga Berburu burung elang di kawasan hutan konservasi.

    BKSDA NTT melakukan pendekatan tiga pilar yakni, Pemerintah, lembaga agama dan masyarakat adat.

    Erasmus Turus, Ketua Kelompok Tani Suka Maju, siap memberikan arahan kepada anggota kelompok agar memahami Flora dan Fauna di kawasan hutan Manus Mbengan. Anggota kelompok juga berkomitmen tidak tembak burung, tidak tebang pohon.

    Ket. Foto: Ketua Kelompok Tani Hutan Suka Maju, Erasmus Turus sedang Menanam Pohon Simbolis pada Pencanangan Hari Bulan Bakti Rimbawan di Hutan Pong Suka, Desa Rana Kolong, Kec. Kota Komba. Luas 44 Hektar Hutan Sosial dikelola oleh Kelompok Tani Tersebut, Selasa, (16/3/2021). (Dok/Markus Makur)

    “Segala yang disampaikan oleh pemerintah untuk kebaikan anggota kelompok. Saya siap bicara dengan anggota kelompok untuk tidak menangkap, menembak burung dan tidak menebang pohon didalam kawasan hutan,” jelasnya.

    Yosef Sudarso, Perwakilan LSM Ayo Indonesia Kabupaten Manggarai memberikan pengalaman tanam jahe, advokat di kawasan hutan sosial di Golo Worok.

    “Tidak boleh semprot dengan bahan-bahan kimia. Tidak boleh bakar hutan. Hutan sosial ditanam dengan tanaman jangka pendek. Hutan lestari, masyarakat sejahtera. HKM Golo Worok,” ajaknya.

    Ketua Pelaksana Pencanangan Bulan Bakti Rimbawan dari UPT KPH Kabupaten Manggarai Timur, Doni Nggaro menjelaskan, pencanangan ini bertujuan memberi ruang nurani yang lebih baik bagi setiap orang untuk secara sadar berupaya menghargai hutan dan menjadikan hutan sebagai “rumah kehidupan kita” yang menyentuh semua aspek kebutuhan manusia seperti ketersediaan air minum bersih, kebutuhan air di bidang pertanian dan perkebunan, kebutuhan air di bidang peternakan, mengurangi terjadinya erosi tanah, dan terutama hutan juga berfungsi khusus bagi ekosistem hutan (flora dan fauna) juga sebagai penyumbang terbesar kontribusi karbon untuk dunia. Kedua, memberikan edukasi kepada masyarakat dan generasi muda untuk mewariskan kesadaran dan perilaku yang berempati pada lingkungan sekitar dan peduli pada keberlanjutan hutan demi kepentingannya bagi kehidupan manusia dimasa mendatang.

    Dalam sambutan yang dibaca Wakil Bupati Manggarai Timur, Jaghur Stefanus menjelaskan, salah satu ekosistem yang sangat penting bagi kelestarian lingkungan adalah ekosistem hutan.

    Catatan menunjukkan bahwa dalam kurun waktu yang panjang sejak sistem hutan register dan Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) hingga hutan menurut konsep tata ruang, telah terjadi evolusi kawasan hutan. Secara Nasional kawasan hutan dari 147 juta hektar luas kawasan hutan tahun 1999 menjadi 125 juta hektar sampai dengan sekarang.

    Tahun 2021 alokasi areal berizin 22 juta hektar mengalami penurunan luasan sekitar 85,03 persen, yang diperuntukkan bagi izin perhutanan sosial, tata ruang bagi review kawasan dan tanah obyek reforma agraria (TORA).

    Luas kawasan hutan di Kabupaten Manggarai Timur 48.334,34 hektar, menyebar pada kawasan hutan Manus Mbengan, Manus Wae Rana, hutan Ndeki-Komba, kawasan hutan Riwu, kawasan hutan puntu II, kawasan hutan Pota, kawasan hutan Sawe Sangge, kawasan hutan Wue Wolomere.

    Penataan ruang di kawasan hutan Manggarai Timur sampai dengan 2021, sebagai berikut, pertama, perijinan perhutanan sosial dengan hutan kemasyarakatan Desa Rana Kolong oleh Kelompok Tani hutan Suka Maju seluas 44 hektar. Kedua, review tata ruang 4 kawasan hutan yaitu, kawasan hutan Puntu II, kawasan hutan Pota, kawasan hutan Manus Mbengan dan kawasan hutan Ndeki Komba dengan total luas 4.000 hektar. Ketiga, tanah obyek reforma agraria (TORA) di Kecamatan Lamba Leda, Kecamatan Sambi Rampas dan Kecamatan Kota Komba dengan total luas 494 hektar.

    Di kawasan hutan sosial yang sudah di kelola anggota kelompok tani hutan Suka Maju sudah ditanami tanaman porang dan jenis-jenis tanaman perkebunan.***

    ———————————————————————————————

    Penulis adalah wartawan tinggal di Manggarai Timur, NTT

  • Cerita Imam di Keuskupan Ruteng Melayani Komuni Kudus bagi Penderita Disabilitas Mental di Masa Prapaskah (Bagian Kelima)

    Oleh Markus Makur

    MINGGU Prapaska III, 14 Maret 2021, pagi-pagi, Pater Frumens Andi, SMM menyiapkan segala perlengkapan misa. Hari minggu itu, Pater Frumens melakukan pelayanan pastoral Minggu Prapaska III di Stasi Balus Permai, Desa Ngampang Mas, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur. Stasi Roh Kudus Perang masuk dalam wilayah pelayanan Paroki Santo Antonius Padua-Mbeling, Kevikepan Borong, Keuskupan Ruteng. Segala persiapan sudah dilakukannya, ia mengambil sepeda motor mio yang parkir di kompleks Pastoran Santo Antonius Padua. Kemudian ia mengendarai sepeda motor menuju ke arah Selatan, hingga belok di pertigaan Warat.

    Perjalanannya bisa dibilang dalam setengah lingkaran. Dari Parokinya tidak bisa jalan lurus, walaupun letak stasi itu dengan posisi lurus, tapi penghalangnya adalah daerah aliran sungai (DAS) antara Desa Ngampang Mas dan Desa Gurun Liwut. Curam, jurang di daerah aliran sungai itu membuat perjalanan pastoralnya harus melingkar. Inilah fakta pelayanan pastoral di Keuskupan Ruteng. Berhadapan dengan topografi yang amat berat. Semua ini dihadapi dengan senyum, sabar, tabah karena ini merupakan tanggung jawab panggilan menjadi imam.

    Bergerak dengan irama apa adanya demi menyapa umat, baik yang sehat maupun yang sakit. Saya mengutamakan pelayanan demi menyelamatkan jiwa-jiwa umat di wilayah Paroki. Pelayanan sosial karitatif juga dilakukan demi mendukung kepenuhan ekonomi dari yang kekurangan. Semua umat harus dilayani dengan kasih. Pelayanan sakramen komuni kudus dilaksanakan di dalam gedung Gereja Stasi, dan juga memberikan pelayanan kasih lewat komuni kudus di rumah-rumah bagi umat yang lanjut usia dan penderita disabilitas mental. Fakta menunjukkan bahwa ada beberapa umat di wilayah Parokinya yang menderita sakit disabilitas mental. Ada yang jalan-jalan, maupun ada yang sedang di pasung. Dipasung oleh keluarga dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Ada yang pulih karena rutin konsumsi obat, namun ada juga di pasung ulang karena masih ada gejala-gejala kurang pulih. Tugas saya sebagai imam, melayani kebutuhan rohani karena umat yang menderita itu juga umat yang harus dilayani kebutuhan sakramennya. Mereka (baca disabilitas mental) juga sudah dibaptis, sudah komuni pertama serta mendapatkan pelayanan sakramen orang sakit. Bukan hanya saat masa prapaska ini memberikan sakramen ekaristi melainkan di hari-hari biasa selalu memberikan pelayanan rohani. Ini sudah sekian kali memberikan pelayanan komuni kudus bagi penderita gangguan jiwa di wilayah paroki ini. Tahun 2020 lalu, Pater Frumens mengelilingi wilayah Paroki atau lintas paroki bersama relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Peduli Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) dan Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa serta petugas medis dari Puskesmas Lebi, Desa Ngampang Mas serta Kepala Desa Ngampang Mas, Orison Songgo.

    Terlibat Memulihkan Umat yang Menderita Disabilitas Mental

    Saya ingat betul pada suatu malam, di 2020 lalu, relawan KKI Manggarai Timur menghubungi Pater melalui media telepon seluler. Tanggapannya sangat memberikan dukungan yang penuh bagi pelayanan Kasih bagi penderita disabilitas mental. Kisahnya, ada seorang ibu yang menderita sakit gangguan jiwa dan melahirkan. Saat ada informasi dari relawan tentang ibu yang melahirkan. Malam itu kami membawa bingkisan kasih berupa susu instans yang disumbangkan orang baik serta kami kumpulkan dari rejeki. Saat itu Pater menjawabnya dengan mengatakan dirinya menunggu di pastoran agar kita sama-sama ke rumah keluarga tersebut. Alhasil, kami bersama-sama mengunjungi satu keluarga tersebut dengan penuh kasih. Pater pernah mengisahkan bahwa selama di Ruteng, dirinya mengunjungi Panti Renceng Mose Ruteng untuk melihat dari dekat pelayanan dari bruder Caritas yang merawat orang dengan gangguan jiwa dari berbagai Kabupaten di Pulau Flores, NTT.

    Jalan Kaki demi Menyapa Umat yang Menderita

    Kasihlah yang terus mendorong imam ini memberikan pelayanan kasih. Semua umat harus dilayani, entah saat sehat maupun sakit. Bahkan suatu ketika imam dan relawan KKI berhadapan dengan topografi yang belum terjangkau dengan kendaraan roda dua, akhirnya kami memutuskan jalan kaki melewati pematang sawah karena seorang umatnya yang sakit tinggal di pondok reyot di sekitar areal persawahannya. Di situ kami berdoa dan Pater memberikan pelayanan sakramen komuni kudus. Kemudian, kami jalan menurun di sebuah lembah untuk menyapa seorang umat yang derita gangguan jiwa dan tinggal di pondok reyot, beratapkan bilahan bambu. Saat itu kami merasakan kekuatan doa melalui perantaraan seorang imam yang mampu menggugah hati penderita tersebut. Setiap kali Pater menyapa umat yang sakit selalu menginformasikan di group whatsapp KKI Manggarai Timur. Saat sama-sama mengunjungi umat yang sakit, kami selalu diskusi lepas, saling menguatkan. Meneguhkan satu sama lain. Saling memotivasi. Bahkan merefleksi tentang berbagai macam sakit yang dialami manusia.

    Tata Layanan Pastoral Kasih

    Saat ini sudah dimulai dengan Tata Pelayanan Pastoral Kasih Keuskupan Ruteng dari Uskup Ruteng, Mgr Siprianus Hormat. Misa pembukaan sudah dilaksanakan secara serempak di seluruh Paroki di Keuskupan Ruteng, Januari 2021.

    Pater menginformasikan bahwa salah satu bentuk pelayanan pastoral kasih adalah pelayanan murah hati bagi orang-orang rentan seperti orang dengan gangguan jiwa (ODGJ),migran dan lain-lainnya. Sebagaimana kita ketahui bahwa 2020 lalu, relawan Kelompok Kasih Insanis Kabupaten Manggarai Timur berdialog dengan Uskup Keuskupan Ruteng, Mgr Siprianus Hormat. Saat itu Uskup memberikan pesan kepada anggota relawan bahwa lakukan semua pelayanan dengan kasih. Bahasa kasih selalu dikedepankan saat menyapa sesama, baik yang sehat maupun yang sedang menderita. Menyapa dengan kasih. Melayani dengan kasih.

    Romo Hermen Sanusi, Pr

    Sejak 2019, Romo Hermen Sanusi, Pr, Kepala Sekolah SMAK Pancasila Borong, Kabupaten Manggarai Timur melakukan pelayanan Kasih dengan komuni kudus bagi penderita disabilitas mental di seluruh Manggarai Timur. Di tengah kesibukan sebagai kepala sekolah, Romo Hermen selalu menyisihkan waktu untuk melayani umat yang sakit. Baik sakit gangguan jiwa maupun sakit lainnya untuk memberikan pelayanan komuni kudus. Romo Hermen memegang teguh panggilan imamat untuk melayani sakramen Ekaristi, baik di meja altar maupun pelayanan langsung di rumah-rumah yang sakit.

    Saya ingat bahwa pada 2019, Romo Hermen melakukan misa khusus bagi penderita gangguan jiwa yang sudah dan sedang pulih di Kapela Sakramen Mahakudus di Paroki Santo Gregorius Borong. Kemudian, mengunjungi langsung bersama siswa dan siswinya, guru-gurunya bagi seorang umat yang sakit gangguan jiwa di Desa Pong Ruan, Kecamatan Kota Komba. Selanjutnya melakukan pelayanan di beberapa desa di Kecamatan Borong dan Ranamese. Romo bergerak pasca mengikuti Seminar Nasional Kesehatan Jiwa (Keswa) di Aula Kevikepan Borong, Oktober 2019. Selanjutnya Romo mengunjungi seorang penderita gangguan jiwa yang tinggal di gua di pinggir Kali Wae Musur. Waktu itu bersama Sekretaris Uskup Ruteng, Romo Agustinus Manfred Habur, Pr serta relawan KKI, siswa dan siswa SMAK Pancasila Borong, dan wartawan. Selain itu, Mensi Anam juga ikut dalam kunjungan tersebut karena bertepatan dengan Merayakan Dirgahayu RI ke 75.

    Inisiatif Dialog dengan Anggota DPRD NTT

    Romo Hermen juga melakukan inisiatif untuk mengadakan dialog dengan Anggota DPRD NTT Daerah Pemilihan (Dapil) Manggarai Raya, Yohanes Rumat di Cafe di sekolahnya untuk membahas masalah penanganan dan pencegahan bagi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) di Kabupaten Manggarai Timur. Banyak hal didiskusikan dengan melibatkan staf Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur, relawan KKI Manggarai Timur. Saat ini menunggu hasil dari dialog tersebut. Khusus penanganan dan pencegahan ODGJ, relawan KKI, Imam Keuskupan Ruteng sudah berupaya keras dari level tinggi sampai ke tengah keluarga di seluruh Manggarai Timur. Bahkan Desember 2020, Romo Hermen tampil sebagai moderator saat diskusi terbatas dengan Kementerian Kesehatan RI, Kementerian Sosial RI, Komisi Informasi Publik (KIP) RI, Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur, Pemerintah Daerah Kabupaten Manggarai Timur dan Manggarai di Aula Missio Universitas Katolik Indonsia (UKI) Santo Paulus Ruteng pada Desember 2020. Kini menunggu program prioritas untuk penanganan dan pencegahan ODGJ di Nusa Tenggara Timur. Advokasi yang dilakukan relawan KKI Manggarai Timur sudah melibatkan pimpinan DPRD Manggarai Timur untuk melihat langsung kondisi penderita disabilitas mental.

    Kini kita semua menunggu kebijakan program prioritas khusus bagi ODGJ. Ada yang memberikan masukkan kepada relawan KKI bahwa stakeholder yang memegang kekuasaan di Manggarai Timur sudah terlibat langsung di lapangan dengan mengunjungi penderita gangguan jiwa di rumah-rumah. Sesungguhnya stakeholder yang memiliki kekuasaan mengambil satu kebijakan prioritas khusus bagi penanganan dan pencegahan ODGJ. Penanganan dan pencegahan ODGJ oleh kita untuk mereka (baca ODGJ) demi pemulihan mereka (baca ODGJ) dari hari ke hari, dari minggu ke minggu, bulan ke bulan dan tahun demi tahun. Kita wujudkan bebas pasung yang sudah diatur oleh regulasi di Negara ini. Saya ingat pesan pendiri KKI NTT, Pater Avent Saur, SVD, tugas kita mengunjungi. Melayani. Menyapa mereka (baca ODGJ) yang sedang menderita. Biarlah Tuhan Allah yang memulihkan dan menyembuhkan mereka. Sejauh pengamatan saya, pastoral Kasih bagi penderita disabilitas mental sudah dilayani oleh sejumlah Pastor Paroki di wilayah Keuskupan Ruteng. Seperti Pastor Paroki Santo Josef Freinademetz Wajur, Romo Ardy Santa, Pr, Kevikepan Labuan Bajo, Pastor Paroki Lengko Sepang, Romo Ferdinandus, Pr dan Pastor Paroki Santo Agustinus Mok, Romo Fransiskus Martinus Perik, Pr memberikan pelayanan sakramen komuni kudus. Selain itu, Komisi Caritas Keuskupan Ruteng sudah membangun beberapa pondok yang layak bagi penderita gangguan jiwa serta pelayanan sosial karitatif.

    Di masa pandemi Covid19, 2020, Komisi Caritas bersama dengan tim tanggap Covid19 Keuskupan Ruteng memberikan bantuan sosial berupa sembako bagi kelompok-kelompok rentan, termasuk keluarga penderita disabilitas mental. Ada juga pelayanan dari Ordo Camelus De Lellis di Maumere membangun rumah layak bagi penderitaan gangguan di Pulau Flores belum ada rumah sakit Jiwa. Yang ada dua panti rehabilitasi yakni Panti Dympha Maumere dan Panti Renceng Mose Ruteng.

    Saya berpendapat, apabila mereka sedang sakit, itu berarti kita semua sakit. Jikalau mereka (baca ODGJ) sudah pulih. Itu berarti kita semua sehat. Salam Sehat Jiwa. Salam Belum Kalah. Mari kita bongkar stigma. Satukan tekad dan hati untuk memulihkan mereka (baca ODGJ) yang sangat membutuhkan sentuhan kasih. Mari kita wujudkan bebas pasung di daerah kita tercinta.

    *************

    Penulis adalah wartawan dan koordinator KKI Kab. Manggarai Timur, NTT

  • Jelang Putusan MK, Asosiasi Bupati Imbau Warga Papua Jaga Keamanan

    Jelang Putusan MK, Asosiasi Bupati Imbau Warga Papua Jaga Keamanan

    Moanemani – Asosiasi Bupati Wilayah Meepago yang terdiri dari Bupati Kabupaten Nabire, Dogiyai, Deiyai, dan Paniai, Intan Jaya, dan Mimika, Provinsi Papua mengimbau warga masyarakat Papua di wilayah Meepago untuk menjaga keamanan dan ketertiban menjelang sidang putusan sengketa Pemilihan Bupati Nabire tahun 2020 yang akan berlangsung di Mahkamah Konstitusi RI pada Jumat, 19 Maret 2021.

    “Mahkamah Konstitusi RI sudah menjadwalkan pembacaan putusan perselisihan hasil Pemilihan  Bupati Nabire tahun 2020 yang akan berlangsung di Gedung MK Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta pada Jumat, 19 Maret 2021. Karena itu, Asosiasi Bupati Meepago mengimbau warga wilayah Meepago tetap menjaga keamanan dan ketertiban,” ujar Yakobus Dumupa, SIP, M,Si, Sekretaris Asosiasi Bupati Meepago, Papua, dalam keterangan tertulis yang diterima berandanegeri.com dari Moanemani, Kabupaten Dogiyai, Papua, Rabu, (17/3 2021).

    Pilkada Kabupaten Nabire merupakan satu dari 114 kasus permohonan perselisihan hasil Pilkada 2020, baik gubernur, bupati dan wali kota yang disidangkan secara langsung maupun daring di Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Sengketa Pilkada Nabire 2020, dijadwalkan akan diputuskan pada Jumat, 19 Maret ini.

    Menurut Yakobus Dumupa, lulusan Program Pascasarjana (S-2) Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta, Asosiasi Bupati Meepago menyampaikan sejumlah hal penting kepada warga masyarakat, simpatisan, koalisi partai pendukung, dan semua pihak agar keamanan dan ketertiban tetap terjaga di wilayah Meepago.

    Pertama, kepada para pihak yang bersengketa, terutama para pasangan calon dan pendukungnya diminta agar menjaga kedamaian dan keharmonisan hidup pasca putusan Mahkamah Konstitusi dan secara bersama-sama mendukung dan melaksanakan putusan MK.

    “Semua pihak dilarang menyampaikan hinaan, menyebarkan fitnah dan berita bohong terkait putusan MK. Dilarang juga melakukan tindakan-tindakan saling memprovokasi antara satu sama lain, yang dapat menyebabkan terjadi kekerasan dan kerusuhan,” kata Dumupa.

    Kedua, apapun hasil putusan MK harus dilaksanakan oleh para pihak secara baik dan benar. Pihak yang akan diperintahkan untuk melaksanakan putusan MK harus bekerja secara baik, benar, jujur dan adil serta imparsial, tidak memihak. Ketiga, perlu diingat bahwa urusan politik sangat penting, namun persaudaraan dan persahabatan jauh lebih penting.

    “Kami mengimbau warga Meepago agar tetap menjaga persaudaraan dan persahabatan antara satu sama lain, sekalipun berbeda dukungan dan pilihan politik. Marilah kita ciptakan kehidupan di wilayah Meepago yang aman dan damai. Masyarakat wilayah Meegapo dan tanah Papua umumnya adalah tipikal masyarakat yang taat menjaga adat-istiadat warisan leluhur, terutama saling menghargai satu sama lain,” kata Dumupa, mantan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP).

    **************

  • Perempuan di Pasar Barter Wulandoni

    Cerpen  Fince Bataona

    GELAP.  Listrik padam sejak siang dan belum juga menyala? Saat tiba tadi, Ema sudah beritahu listrik padam. Katanya ada perbaikan gardu di ujung kampung, Ema menjelaskan. Tak ada pengumuman resmi, Ema dengar dari Ema Esy, tetangga sebelah. Ema Esy, entah tahu dari mana sebab musabab listrik padam hari itu. Sering begini, keluh Ema.

    “Mungkin tengah malam baru menyala. Biasanya begitu,” ujar Ema lagi sambil menyiapkan makanan di meja. Saya tak menjawab. Rasa lapar lebih menguasai pikiran dan satu-satunya keinginan adalah segera makan lalu istirahat.

    Iya, saya  lapar dan lelah. Perjalanan 50-an km dari Lewoleba, ibukota Kabupaten Lembata ke Lamalera adalah perjalanan sengsara yang menguras habis energi. Infrastruktur jalan yang buruk sudah pasti bikin badan sakit. Kondisi lebih parah di musim hujan. Kolam-kolam lumpur menggenang di beberapa ruas jalan.

    Masakan Ema, daun kelor rebus, ikan terbang bakar dan sambal tomat pedis. Saya habiskan dengan segera.  Nikmat. Masakan Ema sudah pasti nikmat,  meski itu hanya daun kelor dan ikan jenis apapun yang  dibakar. Menu makan wajib, kata Ema. Dan, wajib itu tak pernah membosankan.

    Jika ditanya alasannya, saya pasti menjawab karena Ema menyiapkannya sepenuh hati. Sepenuh cinta untuk saya dan bapak. Dua lelaki didekatnya yang menyayanginya pula sepenuh jiwa.

    Entah sudah berapa lama saya tidur. Dalam gelap, saya mencari hand phone dalam tas ransel  yang saya bawa. Astaga! Tak bisa menyala. Baterai nol persen. Mati total.

    Ema..? Ema..” Tak ada jawaban. Lamat, saya mendengar langkah-langkah  kaki di dalam dapur.  Saya hafal benar langkah kaki siapa. Selalu teratur melakukannya. Bolak balik antara para-para dekat tungku api dan  bale-bale bambu  yang berjarak sekitar lima belas langkah dari tungku. Saya menghitung. Pada hitungan kelima bale-bale bambu berderit.  Ema, pasti sudah duduk di bale-bale.

    Saya keluar kamar. Dari arah dapur, remang cahaya pelita dari minyak ikan paus menembus hingga ruang tengah. Pelita empat sumbu itu sudah cukup lama dibuat bapak. Seng plat bekas dipotong segi empat. Pada sudutnya dirapatkan untuk meletakan ujung sumbu. Setelah sumbu direndam dalam minyak ikan paus beberapa jam, pelita sudah bisa difungsikan dengan nyala yang sempurna.

    Ema agak kaget melihatku sudah berada di dekatnya.  “Sudah bangun? Masih malam. Ayo makan dan tidur lagi,” ujar Ema. Saya tidak menjawab,  Dalam terang cahaya pelita minyak ikan paus, saya memperhatikan  tangannya yang sibuk mengikat ikan-ikan kering. Perlahan, hati-hati agar tangannya tidak tertusuk duri ikan – ikan demersal yang hasil memancing. 

    Saya duduk  di sebelah ema.  “Ema belum tidur?”

    Ema menggeleng. “Besok hari Sabtu.”

    Perempuan dengan separuh rambut sudah memutih itu meneruskan pekerjaannya. Ikan-ikan kering diikat  lalu dimasukkan dalam bakul. Ikan Terbang kering. Beberapa ikan Demersal ukuran sedang. Daging dan kulit ikan Paus kering. Daging dan kulit Lumba-Lumba. Ikan Pari kering. Juga, garam dan kapur sirih.

    “Kalau sebentar bapak dapat ikan banyak, besok Ema bawa juga ikan mentah ke pasar,” ujar Ema. Oh iya, bapak. Saat tiba tadi, bapa belum pulang melaut. Lamafa (juru tikam ikan Paus) itu, tidak punya waktu istirahat. Pagi hingga sore dengan peledang (perahu) melaut. Menunggui kalau-kalau ada  ikan paus lewat di laut Sawu dan itulah kiriman nenek moyang yang harus diambil.

    Jika peledang pulang tanpa hasil, lamafa Thomas, begitu nama bapak saya, akan melaut malam hari untuk mencari ikan-ikan kecil. Waktu istirahatnya sangat sedikit. Hanya beberapa jam di rumah. Tapi, seumur hidup, saya belum pernah melihat bapak terbaring lemas karena sakit. Bapak tidak pernah sakit. Dia sangat kuat!

    “Besok, saya yang hantar Ema ke pasar,” kata saya.  Ema tersenyum mengangguk.

    Pasar barter Wulandoni berlangsung setiap hari Sabtu pukul 10.00 wita,  Di era uang tunai menguasai pasaran. Bahkan segala sendi kehidupan pun mendewakan uang. Di tengah maraknya belanja dan bisnis online,  masyarakat  wilayah pegunungan dan pesisir di Kecamatan Wulandoni masih mempertahankan pasar barter Wulandoni. Turun temurun sejak ratusan tahun yang lalu. Jarak pasar barter Wulandoni kurang lebih 7 Km dari  Desa Lamalera. Perkampungan nelayan yang mendunia karena tradisi penangkapan ikan Paus secara tradisional.

    Pasar barter Wulandoni adalah pertemuan dagang sekaligus silaturahmi masyarakat pegunungan yang adalah petani  dengan masyarakat pesisir pantai yang adalah nelayan. Pelaku barter adalah para perempuan. Tak terlihat ada laki-laki di arena barter.  Dengan kendaraan truk mereka membawa jagung, pisang, ubi, kelapa, sayur mayur dan berbagai hasil kebun. Sementara perempuan dari pesisir, membawa hasil laut. Ikan basah, ikan kering berbagai jenis, garam dan juga kapur sirih.

    Pasar Barter Wulandoni (Foto dari Google)

    Dulu, saat masih sekolah dasar (SD) saya sering pula menemani Ema ke pasar saat libur. Berjalan kaki sepanjang pesisir pantai bebatuan hitam dengan gemuruh ombak pantai selatan yang gaduh. Sebelum mencapai pasar yang serupa tanah lapang luas itu, ada sebuah kali kecil yang penuh saat air laut pasang dan kering saat surut.

    Saat melewati kali kecil ini, saya dan ema biasanya berhenti sebentar.  Rendam kaki biar lelah hilang, Sekaligus bersihkan debu di kaki, begitu Ema menjelaskan.  Jika Ema hanya rendam kaki, saya pasti mandi. Saya akan menolak keras jika Ema menawarkan menggendong saya saja agar tidak basah.  Pakaian basah dan kering sendiri di badan, bukan masalah. Saya, tidak akan masuk angin. Tidak juga demam hanya karena pakaian basah berjam-jam di badan. Saya suka membathin, seperti lamafa Thomas yang kuat, saya pun begitu.

    Menunggui Ema melakukan barter, saya biasanya bermain di pantai. Pantai bebatuan berpasir hitam. Saya senang mengejar kepiting di sela-sela batu dan sering tidak menyadari  kalau Ema sudah selesai barter dan saatnya kami pulang. Tanda dimulainya barter dengan meniup peluit juga sering tidak saya dengar. Meski sudah banyak yang datang, pasar barter baru bisa dimulai ketika seorang mandor meniup cukup panjang peluit.

    Biasanya yang memanggil saya dan memberitahu kalau Ema sudah selesai  barter adalah Nina. Suaranya lantang meneriakan namaku, kalau saya agak jauh. Tangan kecilnya melambai berulangkali menandakan saya segera pulang. Usia kami sama. Kulitnya sedikit terang. Tidak segelap saya yang anak pantai. Rambutnya ikal selalu diikat tinggi. Wajah bulatnya mirip Ema Peni, ibunya.  Nina, anak kenalan Ema dari Desa Lewuka. Dia sering menemani ibunya menjajakan hasil kebun mereka di Pasar Wulandoni. Jika saya selalu di pantai, Nina akan duduk berdampingan dengan ibunya dengan dagangan mereka. Ubi, jagung, pisang, sayur-sayuran, tomat, lombok dan lainnya. Mereka menunggu didatangi perempuan dari wilayah pantai yang membawa ikan. Tawar menawar dan setelah sepakat, barang diambil.  Nina kecil, saya sering melihatnya membantu ibunya memasukan sayur  ke bakul  Ema.  

    Pasar barter Wulandoni tidak hanya area tanah lapang barter semata. Ada persaudaraan, ada kekerabatan yang terjalin terus menerus dan turun temurun. Saat tawar menawar, komunikasi berlangsung tidak semata antara  pedagang dan pembeli. Jika bertemu terus menerus, hubungan kekerabatan akan terjalin. Pasar barter Wulandoni, jadi tempat jumpa dan mengikat tali persaudaraan tidak sedarah.

    Ema, bertemu Ema Peni, ibunya Nina di pasar barter Wulandoni bukan lagi mematok nilai tukar dua ekor ikan sedang dengan 12 bulir jagung atau satu keping ikan Paus dengan 6 buah pisang. Nilai tukar bukan lagi standar baku. Kepada Nina, Ema bahkan sering membawakan oleh-oleh biskuit atau roti. Boleh jadi karena tidak punya anak perempuan, Ema tampak bahagia menyayangi Nina.

    Itu baru antara Ema dan Ema Peni. Di pasar barter Wulandoni, Ema juga berhubungan baik dengan Ema Siti. Perempuan berjilbab yang menjual kue kering. Ema Siti langganan Ema dan Ema Peni. Mereka akrab dan tak sekalipun saling bertanya, apa agamamu?

     Tak ada sekat agama di pasar barter Wulandoni.  Bahkan ketika hari raya Natal jatuh pada hari Sabtu, mereka bersepakat menggeser pasar ke hari lain tanpa pertentangan. Begitu pula jika hari raya Idul Fitri jatuh pada hari Sabtu, mereka dengan gembira bersepakat menggeser waktu pasar barter ke hari lain. Tak ada pertanyaan, demi kepentingan siapa?

    Seperti apakah pasar barter Wulandoni  di tengah pandemic covid 19?

    Naluri jurnalistik mendorong saya pulang Lamalera dan Sabtu pagi ini  bersama Ema, saya menyusuri jalan Lamalera-Wulandoni. Bukan jalan kaki seperti belasan tahun lalu. Jalan beraspal  tapi di beberapa titik masih seperti dulu. Meski  Ema tampak masih kuat jalan kaki, saya tidak akan membiarkan Ema jalan kaki dan saya bersepeda motor.

    Di pintu masuk,  beberapa petugas sudah siaga dengan wadah cuci tangan. Mereka ramah menyapa, “silahkan mencuci tangan dulu.”  Sesekali mereka menegur beberapa warga yang tidak memakai masker secara benar. Mereka bahkan menyiapkan masker bagi warga yang tidak memakai masker.

    Di tanah lapang luas yang masih sama seperti dulu, jarak duduk sudah diatur, 1,5 meter. Ada lingkaran-lingkaran putih dari abu dapur menandai posisi duduk masing-masing orang yang menjajakan ubi, pisang, sayur, beras merah dan lain-lain. Tepat pukul 10.00 wita, peluit panjang berbunyi. Tak ada “serbuan” seperti  biasanya. Tertib teratur mengantri.  Seorang petugas kesehatan terus memberi komando dari toa agar jarak tetap dijaga.

    Saya sibuk mengambil beberapa gambar. Saya akan menulis feature  tentang ini. Nah itu Ema Peni! Saya mengarahkan kamera ke wajah yang sangat saya kenal itu. Eh di sebelahnya? Perempuan tinggi semampai dengan rambut ikal diikat tinggi. Tersenyum ramah melayani ema-ema dari pesisir yang membawa ikan. Siapa? Saya turunkan kamera. Berjalan agak terburu hendak menemui Ema Peni.

    “Ama, antri. Jaga jarak. Ikuti protokoler kesehatan.”

    Saya hentikan langkah. Mundur dan kembali ke tempat parkir.  Bukankah tak ada laki-laki yang melakukan barter di Pasar Wulandoni. Ini areanya perempuan. Area Ema saya, Ema Peni dan perempuan itu.  Wajah penuh senyum itu mengganggu. Terasa dekat.  Zoom kamera dan saya teliti wajah dan segala gerak  perempuan  itu dari jauh. Dia melayani penuh senyum.

    Nah, itu Ema. Dia memeluk Ema. Membantu Ema memasukan sayur dalam bakul. Ini biasa dilakukan… “Siapa? Nina kecil?”

    Pasar barter Wulandoni usai. Masing-masing sibuk membereskan bawaan hasil barter. Juga, Ema. Nina kecil sudah berada di sebelah saya. Cerah ceriah bercerita banyak hal lebih-lebih masa kecil kami diselingi tawa lepas. Saya memandanginya tanpa kedip. Kurang fokus pada ceritanya karena bibir tipisnya, dagu mungilnya dan mata bulatnya lebih menarik. Ah Nina kecil yang manis kini di mataku. Kami saling tukar nomor kontak sebelum berpisah.

    Foto dari Google

    Seminggu berlalu. Saya sedang menulis berita: Pasar barter Wulandoni mendapatkan penghargaan inovasi daerah terkait penerapan tatanan new normal sektor pasar tradisional klaster daerah tertinggal. Peringkat satu. Kemendagri memberikan penghargaan berupa Dana Insentif Daerah (DID) kepada pemerintah daerah senilai Rp 3 Miliar.

    Berita gembira ini harus dibaca Nina kecil yang manis. Saya mengirim tautan dengan pesan, “Nina kecil yang manis, baca ini berita gembira. Buat Ema Peni. Buat Ema saya dan buat semua perempuan Wulandoni yang punya area tanah lapang itu di setiap Sabtu. Buatmu juga, Nina.”

    Nina membalas dengan emoticon tertawa lebar dengan tulisan, “Bahagianya. Setidaknya sarana prasarana di area itu akan lebih baik. Atau jalan ke pasar dari Lamalera ke Wulandoni atau dari Lewuka ke Wulandoni  akan lebih mulus. Tks Ama.”

    Dua bulan berlalu saya menulis berita dan meneruskan padanya,” Nina kecil yang manis, jatah Wulandoni Rp 100 juta. Baca saja beritanya.”

    “Rp 100 juta dari Rp 3 M? Nina membalas dengan menambahkan emoticon sedih, marah, kecewa.

    “Ini seperti ayam yang punya telur tetapi setelah jadi, namanya jadi telur mata sapi,” tulis Nina dengan emoticon tertawa sinis

    “Ko diam saja kah, Ama? Mengapa tidak ada yang protes soal ini? Wakil rakyat ada di mana? Itu sudah final?”

    “Sudah penetapan,” jawab saya singkat untuk pertanyaannya yang terakhir.

    Dan dia tidak lagi mengirim pesan. Saya membayangkan wajah manisnya yang cemberut. Merah merona menahan emosi. Makin manis, tentunya. Ah, Nina, entah mengapa setiap kali ingat wajah manismu, dada ini selalu berdebar.

    Kau, perempuan  seperti Ema, Ema Peni, Ema Siti, dan ema-ema lainnya adalah penguasa area tanah lapang di Pasar barter Wulandoni. Kalian, para perempuan yang merawat budaya, merawat toleransi dan merawat persaudaraan paling tulus, paling gigih di daerah ini, dari area tanah lapang Pasar barter Wulandoni. Kalian, perempuan sempurna!.***

    Lembata, Desember 2020

    ———————————————————————

    Para-para:  tempat meletakan jagung, ikan kering,  yang terbuat dari bambu dengan empat tiang penyanggah

    Bale-bale : tempat tidur dari anyaman bambu

    Fince Bataona, Jurnalis, Penulis Novel Lamafa

  • Tolong Sembuhkan Saya, Pak…. (Bagian Keempat)

    Oleh Markus Makur

    BENEDIKTUS POSENG (49), warga Kampung Kota Tunda, Desa Nanga Meje, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur, Rabu, (3/3/2021) sejak 2019 lalu menderita lumpuh. Selama derita lumpuh, putra sulungnya, Risalianus Aja (12) tulus hati, setia merawat orang tuanya. Saat ini Risal, biasa disapa orang tuanya sedang duduk di kelas VI sekolah dasar di SDI Sopang Rajong. Sebentar lagi tamat dari sekolah dasar. Sopang Rajong merupakan daerah pedalaman dari Kabupaten Manggarai Timur. Masih terisolir. Masih belum maju dari sisi infrastruktur dasar.


    Jam di handphone sudah menunjukkan pukul 14.15 wita. Saat itu hanya kami bertiga di kamar yang sempit, pengap. Saya, Bapak Benediktus Poseng dan disampingnya putra sulung. Saat itu Bapak Bene, biasa disapa warga setempat hanya duduk diatas papan, diapit pelupuh bambu serta dialas kain verlak. Kondisinya sangat sengsara dan menyedihkan. Saat itu saya duduk agak jongkok. Berkali-kali diucapkan Bapak Bene, terima kasih, terima kasih atas kunjungan dari orang-orang yang peduli. Tak lama kemudian Bapak Bene meneteskan air mata di wajahnya sambil memohon, tolong sembuhkan saya pak. Tolong berdoa kepada Tuhan agar saya sembuh. Saya tak bisa buat kopi untuk pak yang datang ke sini (baca rumahnya). Dengan air mata ini saya mengucapkan terima kasih, terima kasih kebaikan Bapak-bapak yang datang dari tempat jauh. Hanya dengan air mata ini, saya ucapkan terima kasih. Sementara putra sulungnya, Risal duduk disampingnya dengan diam. Saat itu Risal memakai baju kaos berkerah warna merah dan memakai celana panjang levis warna hitam. Waktu perjumpaan pertama, Sabtu, (20/2/2021) lalu, Risal memakai baju kaos sekolahnya serta memakai celana pendek. Bapak Bene terus berbicara dengan kesedihannya, sementara saya hanya bisa mendengarkan. Sekali-kali saya berbicara ala kadarnya untuk memberikan peneguhan dan semangat agar tetap tabah dan sabar dan terus berdoa. Saya ingat perkataan saya waktu itu, derita yang bapak alami juga bagian dari derita saya dan kami yang hadir mengunjungi Bapak saat ini. Saya dan kami yang kunjung ini juga merasakan penderitaan yang bapak alami. Kita sama-sama berusaha. Berupaya dan berjuang agar bapak lekas pulih. Kita sama-sama berdoa agar bapak lekas pulih. Kemudian Bapak Bene menyampaikan, bukan hanya saya yang sakit, istri saya juga sakit lumpuh dan tak bisa bicara. Kami sangat menderita dan sengsara dengan sakit yang kami alami. Yang merawat kami selama ini adalah anak Risal. Masak untuk makan pagi, masak pulang sekolah dan masak untuk makan malam. Di sela-sela merawat kami, Risal masih pergi kebun untuk memungut kemiri. Hasil kemiri itu dijualnya untuk kebutuhan makan minum dalam keluarga. Berapa berat beban yang dipikulnya sejak usia sekolah dasar ini. Sejak kecil, Risal sudah menanggung beban untuk merawat kami orangtuanya.

    Benediktus mengisahkan kunjungan Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa, Kepala Dinas Pemberdayaaan Masyarakat Desa (PMD), Yosef Durahi dan stafnya serta wartawan yang ketiga kali. Pertama, kami sekeluarga dikunjungi Bapak Marselis Sarimin, Sabtu (20/2/2021), satu minggu kemudian dikunjungi seorang anggota polisi dan wartawan.
    “Saya mengucapkan terima kasih dengan air mata atas kebaikan semua orang yang datang membawa bingkisan kasih,” ucapnya.

    Mendengarkan Permintaan Keluarga

    Saat saya mendengarkan permintaan kepala keluarga, Benediktus Poseng yang sedang derita lumpuh. Permintaannya, tolong sembuhkan saya, Pak. Saya terkejut. Tertegun dan bertanya dalam hati. Mengapa permintaan bapak ini disampaikan ke saya sebab saya tahu saya tidak memiliki kemampuan dan wartawan biasa-biasa saja. Saya juga menyadari bahwa saya juga manusia rapuh. Namun, saat itu saya memberikan jawaban peneguhan dengan menyampaikan kita sama-sama berdoa. Hanya Tuhan yang memiliki kuasa untuk memulihkan dan menyembuhkan kita yang menderita sakit. Hanya itu yang bisa saya ungkapkan. Saat itu berlinang air mata saat mendengarkan kisah dan permintaan kepala keluarga ini.

    Kemudian saya dan rombongan pamit pulang. Sebelum pulang, kami singgah di salah satu rumah warga Sopang Rajong. Mereka sangat baik menyuguhkan makan siang. Sebelum makan siang, sebagaimana adat istiadat warga setempat, tamu, dalam hal ini Ketua DPRD dan Kepala Dinas PMD disambut dengan ritual adat “Kepok”

    Pulang ke Waelengga dan Borong

    Rombongan pulang dengan rute yang sama, Sopang Rajong-Ritapada-Kote-Lete-Marokima-Waelengga-Borong. Ini adalah rute terpendek ke Kecamatan Elar Selatan.

    Dalam perjalanan Ketua DPRD menyampaikan tahun 2021, rute ini akan dilanjutkan pengerjaan dengan dana APBD yang sudah disahkan tahun lalu. Rombongan tiba di Waelengga sekitar pukul 17.30 Wita. Singgah sebentar di tempat saya tinggal untuk minum kopi. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan ke rumah masing-masing di Kota Borong, Ibukota Kabupaten Manggarai Timur.

    Krispinus Lois Gonzales, Relawan KKI dan penggiat Komunitas Pungut Sampah Manggarai Timur menuturkan, ” Saya tak bisa bicara apa-apa saat melihat kondisi keluarga ini. Saya ikut sedih dengan kondisi keluarga ini. Yang membuat saya tertegun dan kagum adalah ketegaran hati Risalianus Aja yang setia dan tulus merawat kedua orang tuanya. Dia tak bisa bermain-main dengan anak-anak di kampung itu yang se-usia dengannya. Semoga banyak orang membantu keluarga ini.
    Terpisah Damianus Hambur, penggiat Literasi Kabupaten Manggarai Timur mengungkapkan semoga Tuhan memulihkan dan menyembuhkan kedua orang tua ini lewat bantuan sesama.

    Ket. Foto: Dari kiri ke kanan – Foto bersama Krispinus Lois Gonzales, Relawan KKI dan Penggiat Komunitas Pungut Sampah Kab. Manggarai Timur, Markus Makur, wartawan Kompas com, Kepala Desa Nanga Meje, Arnold Soro Leko, Ketua DPRD Manggarai Timur. Heremias Dupa, Risalinus Aja (Baju Merah), Kepala Dinas PMD KAb. Manggarai Timur, Yosef Durahi dan seorang warga tetangga keluarga itu di Kampung Kota Tunda, Desa Naga Meje, Kec. Elar Selatan, Manggarai Timur, NTT, Rabu (3/3/2021). Ketua DPRD dan Kepala Dinas PMD, wartawan dan penggiat kemanusiaan mengunjungi keluarga ini untuk memberikan bantuan kemanusiaan. (FOTO DOK/YORIT PONI)


    Ambrosius Adir dan Yos Syukur, wartawan yang bekerja di Kabupaten Manggarai Timur mengungkapkan, melihat langsung kondisi keluarga Bapak Benediktus Poseng yang menderita lumpuh memberikan makna tersendiri untuk dipublikasikan demi menggugah pihak-pihak lain untuk membantu keluarga ini.
    “Sebagai wartawan, tugas utamanya meliput, melihat fakta yang sedetail-detailnya, mendengarkan, lalu mempublikasikan di media masing-masing. Tentu berharap ada orang-orang yang tergugah hati untuk membantu keluarga serta pemerintah memperhatikan rakyat yang menderita,” tutur keduanya.

    Merenungkan Permintaan Benediktus Poseng

    Setelah berada di rumah dari perjalanan jauh Borong-Waelengga-Sopang dan sebaliknya, merenungkan permintaan Benediktus Poseng. Sebagai manusia yang rapuh dan lemah, saya hanya bisa merenungkan dalam hati serta membawa dalam doa. Saya ingat pesan Pater Avent Saur, SVD, Pendiri Relawan Kelompok Kasih Insanis (KKI) Nusa Tenggara Timur dalam beberapa visitasinya di bagian Flores Barat ” tugas mengunjungi, melayani, untuk kesembuhan dan pemulihan orang-orang menderita, itu urusan Tuhan Allah.”
    Kemudian saya menulis sedikit kisah perjalanan itu di status whatsapp, “Saya bersyukur atas penyelenggaraan ilahi atas kisah Kasih hari ini di pelosok Manggarai Timur. Seorang bapak yang menderita lumpuh meneteskan air matanya sambil meminta kepada saya, tolong sembuhkan saya, Pak. Mendengarkan permohonan itu, berlinang air mataku. Saat itu kami bertiga dikamar itu, Bapak yang sakit, anak sulung dan saya. Saya hanya bisa mendengarkan karena saya juga manusia rapuh yang penuh dosa dan kesalahan.” Kisah Rabu, 3 Maret 2021. Sebatas ungkapan itu yang bisa saya lakukan sambil memikirkan jalan keluar untuk membantu keluarga ini untuk pemulihan dan kesembuhan di hari-hari yang akan datang. Ungkapan ini saya kirim ke beberapa relasi serta imam untuk sama-sama mendoakan keluarga ini.


    Bagi pembaca yang ingin membantu keluarga ini. Silahkan kontak penulis kisah ini di no WA 0812 3837 1195

    Penulis adalah wartawan dan koordinator relawan Kelompok Kasih Insanis Kabupaten Manggarai Timur, NTT