Blog

  • Bukti Kasih “Satu Hati untuk NTT”

    Jakarta berandanegeri.com – Sekretaris Panitia “Satu Hati untuk NTT”, Fridrik Makanlehi menuturkan penggalangan donasi sudah dimulai sejak 6 April 2021 hingga 21 April 2021. Donasi dalam bentuk barang yang sudah didistribusikan ke Nusa Tenggara Timur kurang lebih 160 ton sedangkan yang masih berada di Gudang di Taman Mini Indonesia kurang lebih 50 ton.

    Panitia “Satu Hati untuk NTT” telah mengirim bantuan sosial berupa sandang, pangan dan papan ke NTT sebesar 160 ton sedangkan masih ada di Gudang Panitia sekitar 50 ton. Selanjutnya, Kami mengirim dengan menggunakan dua metode, yakni dengan jalur transportasi udara (Garuda dan Hercules) dan transportasi laut (PT PELNI),” kata Fridrik kepada awak media, di Jakarta, Jumat (23/4/2021)

    Panitia “Satu Hati untuk NTT” adalah gabungan dari seluruh Diaspora asal NTT yang berdomisili di Jabodetabek. “Kami, Panitia “Satu Hati untuk NTT” difasilitasi oleh Penghubung NTT – Jakarta, seluruh Diaspora asal NTT yang berdomisili di Jabodetabek,” ungkap Fritz, sapaannya.

    Selanjutnya, ia mengatakan bahwa semua donasi yang dikumpulkan di Posko Bersama “Satu Hati untuk NTT” di Jakarta dikirim ke Posko Bersama “Satu Hati untuk NTT” cabang Kupang. Posko Bersama “Satu Hati untuk NTT” cabang Kupang yang akan mendistribusikan donasi tersebut ke seluruh kabupaten se-NTT,” tuturnya.

    Sementara itu, Riky Hayon selaku Wakil Sekretaris Panitia “Satu Hati untuk NTT” membenarkan pernyataan yang disampaikan oleh Fritz.

    “Ya benar! Apa yang disampaikan oleh Sekretaris Panitia, Fritz bahwa Panitia “Satu Hati untuk NTT” berhasil mendapatkan donasi sekitar 200-an ton. Sesuai data panitia, yang sudah dikirim ke NTT sekitar 160-an ton sedangkan yang ada di gudang Taman Mini yang belum dikirim sekitar 50-an ton,” kata Riky Hayon, alumni Pascasarjana UNAS Jakarta.

    Riky mengatakan, semoga donasi ini bisa membantu masyarakat NTT yang terdampak bencana Siklon Tropis Seroja. “Kami selaku Panitia “Satu Hati untuk NTT” berharap, donasi tersebut bisa bermanfaat bagi keluarga di NTT,” terang Riky.

    Jenis barang yang terhimpun dan didistribusikan berupa pakaian layak pakai, beras, minyak goreng, sabun mandi, Alkitab, alat tulis, masker, hand sanitiser, snack, pampers, pakain dalam, selimut, alat dapur, obat-obatan, tenda, bahan makanan, indo mie, handuk, sepatu, sendal, air mineral dan lain sebagainya. (TIM/RN)

  • Merawat Nalar Demokrasi dengan Kuatkan Nilai Pancasila

    BERANDANEGERI.COM,- Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo mengajak kalangan generasi muda untuk memperkokoh  nalar demokrasi dan memperkuat pengamalan nilai-nilai luhur Pancasila.

    Ajakan itu disampaikan Romo Benny saat menghadiri acara diskusi terkait kegaduhan yang terjadi di Media Sosial. Diskusi bertajuk “Sinergi Pembumian Pancasila” ini, dihadiri oleh peserta dari organisasi masyarakat bidang kepemudaan dan kebangsaa di The Tribrata Convention center, Jakarta (22/4/2021).

    Dalam penjelasannya Romo Benny disebutkan bahwa fakta yang terjadi di lapangan, generasi muda mudah sekali terjebak untuk melakukan tindakan negatif di media sosial.

    “Generasi muda seringkali melakukan tindakan bermotif kebencian seperti menyebar berita hoax, isu isu negatif terkait SARA dan bahkan tindakan radikalisme dan terorisme seperti terbukti pada kasus terorisme di Katedral Makassar dan Mabes Polri yang para pelakunya berusia relatif muda, di bawah 30 tahun dan merupakan generasi muda/millenial,” jelas Romo Benny.

    Di alam demokrasi yang semakin berkembang, Romo Benny menjelaskan bahwa sekarang ini generasi muda justru terjebak dalam tindakan memecah belah, merundung dan membenci dengan dalih demokrasi dan kebebasan berekspresi. Padahal sebenarnya tidak demikian.

    “Padahal nalar demokrasi yang justru menjadi titik utama dari keberadaan demokrasi itu jauh dari tujuan perpecahan atau menang dan kalah. Nalar dan tujuan demokrasi sendiri adalah win win solution dimana semua masalah dapat diselesaikan dengan diskusi dan gotong royong, sehingga tidak ada pihak yang merasa terlalu diuntungkan atau dirugikan,” jelas Romo Benny.

    Tentunya sejalan dengan nilai Pancasila yaitu gotong royong dimana hak dan kewajiban ada dalam satu nafas

    “Kaum Muda harus dapat menjadi penjaga keseimbangan dan nalar demokrasi dalam Masyarakat dengan menerapkan nilai nilai Pancasila,” tuturnya.

    Pemuda harus mampu menjadi intelektual organik yang tidak hanya menjadi penyeimbang tetapi penyumbang ide yang dapat meningkatkan kesadaran dan nalar demokrasi masyarakat, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Lanjut, Romo Benny refleksinya dalam acara yang dibesut oleh BPIP serta dihadiri oleh dari beberapa unsur organisasi pemuda seperti HIKMABUDHI, KMHDI, GDN, KMM dan GMM tersebut  dengan menyatakan bahwa Kaum Muda harus bisa mengisi ruang publik.

    “Kaum muda harus mengisi ruang publik dengan konten positif dan bijak dengan kesadaran untuk hidup etis dan menjaga nalar demokrasi hingga kewarasan dan keseimbangan dalam berdemokrasi dapat terlaksana,” ungkap Benny.

    Pondasi  negara yang digali dari kekayaan budaya lokal dan nilai-nilai agama di indonesia. Peserta diskusi yang terdiri dari berbagai organisasi kepemudaan berkeinginan agar demokrasi selalu dirawat salah satunya dengan memasukan kurikulum Pendidikan Moral  Pancasila di Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)- Perguruan Tinggi. (ben)

  • Didukung BNPB, Garda NTT Kirim 10 Ton Bantuan bagi Korban Bencana

    Jakarta berandanegeri.com – Genta Patriot Muda Nusa Tenggara Timur (Garda NTT), Kamis, (22/4 2021) mengirim 10 bon bantuan untuk korban bencana badai Seroja dan banjir yang melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur awal April lalu. Bantuan tersebut dikirim melalui Pelabuhan Udara Halim Perdanakusumah, Jakarta.

    “Pekan lalu kami berjibaku dengan proses pengiriman bantuan bencana badai Seroja yang sedikit terhambat. Namun upaya Garda NTT berhasil meminta bantuan dan dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) setelah bersurat resmi ke kantor BNPB pusat,” ujar Ketua Garda NTT Wilfridus Yons Ebit dan Sekjen Marlin Bato dalam keterangan tertulis yang diterima berandanegeri.com Kamis (22/4).

    Menurut Yons, upaya meminta bantuan dan dukungan BNPB yang dipimpin Letjen TNI Doni Monardo itu semata agar dapat mempercepat proses pendistribusian sehingga bantuan tersebut langsung ke tangan masyarakat yang terdampak dari bencana. Bantuan barang sebanyak sepuluh ton tersebut bermacam-macam jenis. Misalnya pakaian, minyak goreng, air minum kemasan, obat-obatan, sabun mandi, sampoo, susubayi, susu dancow, pembalut wanita, indomie, beras, selimut, pampers bayi, kue kering, masker hingga jilbab dan sajadah bagi keluarga muslim terutama di wilayah Adonara dan Lembata.

    “Bantuan tersebut agar para pengungsi bisa menjalankan puasa dan Idul Fitri di tengah pengungsian dengan penuh hikmat. Bantuan ini akan didistribusikan ke lima kabupaten di antaranya Flores Timur, Lembata, Sabu Raijua, Kota Kupang, Kabupaten Kupang, dan Malaka. Masing-masing kabupaten akan menerima bantuan sebanyak kurang lebih dua ton,” jelas Yons.

    Sementara untuk Kabupaten Sumba Timur dan Rote Ndao yang juga terdampak bencana Garda NTT tidak bisa distribusikan bantuan sebab tidak ada tim relawan yang bisa menjangkau wilayah itu. Dengan demikian Garda NTT fokus di lima wilayah di atas yang memang sudah ada tim lapangan. “Tim relawan kami bekerjasama dengan relawan-relawan yang selama ini bergerak di lokasi-lokasi bencana. Masyarakat yang terdampak yang belum mendapat bantuan bisa menghubungi masing-masing koordinator Garda NTT di daerah.

    Menurut Yons untuk wilayah Lembata Garda NTT bantuan dikoordinasi Choky Askaratulela (081225211916) di Jl Wonga Toa Utara Barat, perempatan) Madrasah Aliah Darusalam. Rt 034. Rw. 12, Kelurahan Selandoro Kecamatan Nubatukan, Lembata. Sementara wilayah Flores Timur di bawah koordinasi Valentinus Igo Wutun (081289105757) beralamat di Rt 01/ Rw 01 Desa Oyangbarang, Kecamatan Wotan Ulumado, Adonara Barat.

    Sementara itu di wilayah Sabu Raijua bantuan bagi para korban ditangani Echong Parera (082339692211) dengan alamat Jl El Tari-Diagama, Dusun 2, Desa Roboaba, Kecamatan Sabu Barat, Sabu Raijua. Begitu pula untuk Kabupaten Kupang dan Kabupaten Malaka melalui Beka (081388327246) dengan alamat Jl Sonbai Samping Kuburan Umum Oepura, Kelurahan Naikolan, Kecamatan Maulafa, Kupang.

    Menurut Yons, kendati penerimaan penyaluran bantuan bencana di Posko Induk Garda NTT di Kampus Saint Mary’s ditutup secara resmi pada 20 April 2021, namun panitia tetap bekerja mengkoordinasikan dengan posko di daerah untuk memastikan agar proses pendistribusian berjalan lancar sehingga masyarakat yang terdampak betul-betul merasakan kehadiran para donator melalui Garda NTT.

    “Kami hanya sebagai perpanjangan tangan orang-orang baik di Jakarta, Palembang, Malang, Yogyakarta hingga Tangerang dan Bogor. Para dermawan ini telah menyalurkan bantuan ke Posko Garda NTT. Sebab itu kami ingin memastikan ketulusan dan kebaikan hati para donator ini menjadi secerca harapan sekaligus memberi makna hidup bagi mereka yang terdampak. Melalui ini, kami tak henti-hentinya mengucapkan terima kasih yang sangat dalam kepada mereka yang telah menyumbang atas nama kemanusiaan,” ujar Marlin Bato.

    Marlin menambahkan, pihak Garda NTT juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Kepala BNPB Letnan Jenderal TNI Doni Monardo dan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan jajarannya serta Komandan Lanud Halim Perdanakusuma dan jajarannya yang telah memfasilitasi bantuan ini ke sejumlah lokasi bencana di Nusa Tenggara Timur. (Paskalis Bataona)

  • Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

    Budayawan Radhar Panca Dahana Meninggal Dunia

    BERANDANEGERI.COM,- Sastrawan dan budayawan Radhar Panca Dahana meninggal dunia pada Kamis (22/4) malam, pukul 20.00 WIB di RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. 

    Kabar duka disampaikan kakak Radhar Panca Dahana, Radhar Tribaskoro melalui Facebook pribadinya.

    “Innalillahi wainnailaihi rajiun. Telah berpulang malam ini pukul 20.00 WIB, adik saya tercinta Radhar Panca Dahana,” tulis Radhar Tribaskoro.

    Tribaskoro yang mengumumkan kabar duka itu memohon teman, kerabat dan kenalan membukakan pintu maaf atas segala kesalahan adiknya. Dia juga meminta doa untuk Radhar Panca Dahana.

    Ungkapan duka mengalir dari warganet untuk budayawan kelahiran 26 Maret 1965 itu di Twitter. “

    Nama Radhar Panca Dahana dikenal lewat karya-karyanya di bidang sastra, esai, cerita pendek, hingga puisi. Dia merupakan lulusan Sosiologi FISIP Universitas Indonesia (UI) dan studi Sosiologi di École des Hautes Études en Science Sociales, Paris, Prancis (2001).

    Sejak usia 5 tahun ia sudah mulai menulis. Kepiawaian dalam bidang tersebut kemudian membawa Radhar Panca Dahana menjadi seorang cerpenis.

    Dia diketahui memulai debut sebagai seorang sastrawan pada usia 10 tahun lewat cerpen Tamu Tak Diundang. (Ben)

    Sebagian buku karya Radar Panca Dahana
  • Kementerian Agama Provinsi NTT Melaksanakn Kegiatan “Desiminasi Assesmen Nasional Kepala dan Wakil Kepala SMAK se Provinsi NTT”

    Maumere berandanegeri.com – Dalam rangka peningkatan mutu, relevansi dan daya saing pendidikan, Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi NTT menyelenggarakan kegiatan “Diseminasi Asesmen Nasional Kepala dan Wakil Kepala Sekolah Menengah Agama Katolik (SMAK) Se-Provinsi Nusa Tenggara Timur” di Maumere.

    Kegiatan diselenggarakan dihotel Lokaria Indah Beach Maumere, Kabupaten Sikka selama 3 hari yakni dari tanggal 21 April hingga 23 April 2021. Peserta  yang mengikuti kegiatan ini sebanyak 46 orang dari 21 SMAK se Propinsi NTT.

     Kegiatan ini merupakan salah  satu upaya nyata untuk memberikan pemahaman sehingga semua kepala dan wakil kepala sekolah SMAK bisa memperoleh informasi yang akurat terkait langkah-langkah persiapan dan pelaksanaan Asesmen Nasional, juga agar setiap pesrta mendapat informasi yang berkaitan dengan regulasi calon kepala sekolah melalui program pendidikan dan pelatihan calon kepala sekolah yang diselenggarakan oleh lembaga yang terakreditasi dan sertifikasi.

    Kegiatan ini mengambil tema “Asesmem Nasional untuk Pengendalian Mutu Pendidikan pada Sekolah Menengah Agama Katolik.

    Plt. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur, Hasan Manuk dalam sambutan sekaligus memberikan gambaran umum Arah Kebijakan dan Program Prioritas Kementerian Agama Tahun 2021 menjelaskan ada tiga arah kebijakan Kementerian Agama tahun 2021, yaitu: Moderasi Beragama; Transformasi Digital; dan Good Governance. Ini dituangkan dalam tujuh kebijakan prioritas.

    Arah kebijakan dan program prioritas ini dilaksanakan di bawah spirit Moderasi Beragama yang menjadi payung besar seluruh program prioritas dan dalam rangka mempercepat terciptanya transformasi layanan publik,” ujarnya.

    Dikatakannya Moderasi Beragama merupakan solusi tepat menghadapi kemajemukan bangsa. Aparatur Kementerian Agama harus menjadi panutan dan teladan dalam menerapkan nilai-nilai Moderasi Beragama.

    Peningkatan Kualitas Pendidikan Keagamaan Berciri Khas Katolik

    Salah satu fungsi utama Kementerian Agama adalah fungsi pendidikan, yang dijabarkan dalam tiga bentuk: pendidikan agama pada sekolah umum, pendidikan umum berciri khas agama, dan pendidikan keagamaan.

    Hasan Manuk menyebutkan di NTT  saat ini kita memiliki 21 SMAK (1 Negeri dan 20 Swasta). Dari 20 SMAK Swasta tersebut, terdapat tiga SMAK yang sudah mengajukan proses penegerian, yakni:

    SMAK Santo Mikhael Solor

    SMAK Santa Maria Imakulata Adonara

    SMAK Santo Dominikus Tambolaka

    Selain itu, terdapat 4 calon SMAK baru, yakni:

    SMAK Santo Agustinus Langa, Ngada

    SMAK Santo Yosep Pekerja Manola, Sumba Barat Daya

    SMAK Trinitas Nenotun, Timor Tengah Utara

    SMAK Santo Aloysius Gonzaga, Belu

    Proposal usulan penegerian SMAK dan pendirian SMAK telah kita sampaikan kepada pihak yang berwenang. Kita berharap semoga proses penegerian SMAK ini dapat berjalan sebagaimana yang kita harapkan.

    Secara organisasi, jelas Hasan Manuk Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Nusa Tenggara Timur sangat mendukung usulan penegerian dan pendirian SMAK. Karena penegerian dan pendirian SMAK merupakan bukti nyata pertumbuhan dan perkembangan pendidikan berciri khas Katolik.

    Hasan Manuk menambahkan yang kita lakukan 3 hari ke depan dalam kegiatan Diseminasi Asesmen Kepala Sekolah dan Wakil Kepala Sekolah Menengah Agama Katolik se-Provinsi Nusa Tenggara Timur merupakan salah satu bagian dari upaya kita untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan pendidikan pada Sekolah Menengah Agama Katolik di Nusa Tenggara Timur.

    Saya berharap kita bisa memaksimalkan kegiatan ini untuk menyamakan persepsi dan bersinergi mempertahankan dan meningkatkan kualitas Sekolah Menengah Agama Katolik di Nusa Tenggara Timur. Kualitas yang kita tunjukkan akan memperkuat posisi kita di dunia pendidikan melaluinya kita menjaga kepercayaan masyarakat kepada kita,” tandasnya. (Atics)

  • Taman Bacaan Pelangi Beri Beasiswa untuk Siswi SMP Berprestasi di Flores

    Taman Bacaan Pelangi Beri Beasiswa untuk Siswi SMP Berprestasi di Flores

    BERANDANEGERI.COM, Memperingati Hari Kartini, hari ini Taman Bacaan Pelangi meluncurkan Girls’ Scholarship Program, sebuah program beasiswa khusus untuk siswi perempuan di Flores, Nusa Tenggara Timur.

    Beasiswa jangka panjang ini  diberikan untuk siswi-siswi yang saat ini berada di jenjang SMP di kabupaten Ende dan Nagekeo, Flores, hingga mereka lulus SMA.

    Di Indonesia, sebanyak 4,5 juta anak putus sekolah. Data yang dari Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) 2019 menyebutkan bahwa jumlah anak usia 7-12 tahun di Indonesia yang tidak bersekolah adalah sebanyak 1.228.792 anak.

    Untuk anak usia 13-15 tahun jumlahnya sebanyak 936.674 anak. Sementara usia 16-18 tahun ada 2.420.866 anak yang tidak bersekolah. Sehingga total di 34 provinsi di Indonesia ada 4.586.332 anak yang tidak bersekolah.

    Mereka adalah anak-anak dari keluarga prasejahtera, penyandang disabilitas, dan anak-anak yang tinggal di daerah terpencil.

    Dari data tersebut terlihat bahwa angka tertinggi anak yang tidak sekolah terjadi pada anak berusia 16-18 tahun..

    Program pemerintah wajib belajar sembilan tahun cukup membantu anak-anak yang berada di daerah terpencil dan berasal dari keluarga prasejahtera untuk bersekolah setidaknya hingga jenjang SMP. Namun, jutaan anak di daerah terpencil tidak dapat melanjutkan ke jenjang SMA dan mayoritas terjadi pada anak perempuan.

    Data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) 2019 menyebutkan bahwa rata-rata angka lama sekolah penduduk 15 tahun ke atas adalah 7.99 tahun. Data ini mengungkapkan bahwa mayoritas penduduk di NTT hanya bersekolah selama 8 tahun, yaitu hingga di jenjang SMP kelas 2.

    Program Girls’ Scholarship dari Taman Bacaan Pelangi ini merupakan program dengan komitmen panjang. Program ini ditujukan khusus untuk siswi-siswi perempuan yang saat ini berada di jenjang SMP kelas 2, berprestasi, dan berasal dari keluarga prasejahtera.

    Beasiswa diberikan hingga mereka lulus SMA. Hal ini disesuaikan dengan data tingkat putus sekolah yang ada di Indonesia secara umum, maupun data di NTT secara khusus.

    Bupati Kabupaten Nagekeo Johanes Don Bosco mengatakan, “Atas nama pemerintah Kabupaten Nagekeo, kami mengapresiasi kepedulian Taman Bacaan Pelangi terhadap kemajuan anak-anak perempuan di daerah kami. Beasiswa ini sangat berarti bagi para siswi-siswi dan keluarga mereka. Hal ini juga secara tidak langsung sudah berkontribusi positif terhadap peningkatan kualitas masyarakat di Nagekeo”. 

    Mengapa fokus pada anak perempuan?

    Data yang dilansir oleh BPS Provinsi NTT 2017 mencatat bahwa anak perempuan yang mampu menamatkan pendidikan dasar (SD) di NTT hanya sebesar 37,58%. Jumlah anak perempuan yang kemudian melanjutkan pendidikan dari sekolah dasar terus mengalami penurunan secara drastis untuk tingkatan jenjang yang lebih tinggi.

    Founder Taman Bacaan Pelangi Nila Tanzil mengatakan, “Taman Bacaan Pelangi mencanangkan Girls’ Scholarship Program ini untuk memberikan kesempatan kepada anak-anak perempuan yang berprestasi namun berasal dari keluarga prasejahtera untuk dapat terus mengenyam pendidikan hingga lulus SMA. Kami percaya jika mereka diberikan kesempatan untuk maju dan berkembang, anak-anak perempuan akan mampu menjadi penggerak dan agen perubahan di lingkungan sekitar mereka”.

    Lebih lanjut menurut Survei Angkatan Kerja Nasional Tahun 2016, sebanyak 53.07% perempuan NTT berusia 15 tahun ke atas hanya mampu bekerja di sektor primer (bidang pertanian). Status mereka pun merupakan pekerja keluarga atau pekerja tak dibayar.

    Untuk itulah Taman Bacaan Pelangi mencanangkan Girls’ Scholarship Program ini. Anak perempuan adalah yang paling rentan putus sekolah. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari faktor ekonomi, hingga faktor budaya di Indonesia, terutama di daerah pelosok, yang masih kental dengan patriarki. Pada akhirnya, banyak anak perempuan di NTT terpaksa harus putus sekolah untuk membantu mengurus rumah tangga atau bahkan menikah dini.

    “Dengan adanya program Girls’ Scholarship ini, kami ingin membantu mengurangi angka putus sekolah di Indonesia, khususnya bagi anak-anak perempuan. Dan ini bukan program beasiswa biasa. Penerima beasiswa tidak hanya diberikan biaya untuk keperluan sekolah, namun juga ada berbagai program lainnya untuk mengembangkan kemampuan mereka. Kami merancang program ini sedemikian rupa agar anak-anak perempuan ini tumbuh dan berkembang menjadi pribadi yang penuh percaya diri dan berdaya. An empowered girl will empower her family and her society”, tambah Nila Tanzil.

    Program Girls’ Scholarship dari Taman Bacaan Pelangi ini terdiri dari tiga komponen, yaitu: a) Beasiswa Pendidikan (SPP – Sumbangan Pembinaan Pendidikan, uang komite, uang seragam sekolah, biaya ekstra kurikuler, dana untuk membeli buku, dsbnya); b) Pelatihan pengembangan kapasitas diri – para penerima beasiswa akan menerima berbagai pelatihan yang bertujuan untuk mengembangkan soft skills mereka, misalnya pengembangan rasa percaya diri, public speaking, literasi keuangan, dan lain sebagainya; c) Mentoring – para penerima beasiswa akan mendapatkan mentor khusus yang merupakan perempuan sukses di berbagai bidang.

    Para mentor dicocokkan dengan cita-cita dari masing-masing anak agar dapat menjadi sumber inspirasi dan pemberi semangat mereka.

    Untuk gelombang pertama, sebanyak 20 siswi sudah lolos dan terpilih sebagai penerima beasiswa dan diumumkan hari ini.

    Proses seleksi kandidat penerima beasiswa sudah berlangsung sejak Oktober 2020 dan melibatkan berbagai pihak, antara lain Dinas Pendidikan di Kabupaten Nagekeo dan Ende, kepala sekolah, serta para pemuka masyarakat. Mereka dilibatkan sebagai juri dalam proses seleksi kandidat.

    Proses seleksi yang berlangsung cukup lama  dan detail dilakukan melalui berbagai tahap, yaitu: 1) review dokumen (rapor siswa); 2) penilaian essay siswi; 3) wawancara; 4) kunjungan rumah- home visit untuk memastikan kondisi keluarga kandidat dan interview dengan anggota keluarga.

    “Kami telah mengumumkan hasil seleksi kepada para kandidat yang lolos program beasiswa ini. Semoga ini menjadi hadiah terbaik bagi mereka di Hari Kartini ini”, pungkas Nila Tanzil.

    Untuk diketahui, Taman Bacaan Pelangi adalah yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan yang fokus di bidang literasi dengan tujuan untuk mengembangkan kebiasaan membaca anak-anak di daerah pelosok di Indonesia Timur.

    Didirikan pada 2009, Taman Bacaan Pelangi telah mendirikan 134 perpustakaan anak-anak yang tersebar di 18 pulau di Indonesia Timur, memberikan akses lebih dari  243.000 buku bacaan kepada lebih dari 33.000 anak, serta memberikan pelatihan kepada lebih dari 2.000 guru di Indonesia Timur. 

    Tujuan Taman Bacaan Pelangi adalah untuk mengembangkan kebiasaan membaca anak-anak dan menyediakan akses buku bacaan yang berkualitas untuk anak-anak di daerah pelosok di Indonesia bagian Timur.

    Untuk info lebih lanjut, kunjungi: www.tamanbacaanpelangi.com | Instagram & Twitter: @pelangibook | Facebook Page: www.facebook.com/pelangibook. (bn)

  • P e r e m p u a n                              (Kepadamu yang Paling Tabah)

    P e r e m p u a n (Kepadamu yang Paling Tabah)

    Puisi Emil Bidomaking*

    Perihal melestarikan kearifan,
    segala pekerjaan dari dapur hingga ke ladang nyaris sempurna ditekuninya.
    Demi janin yang dikandung,
    dan demi duit sekolah anak-anak yang sudah menunggak

    Ketika fajar merekah,
    persoalan meja makan telah tuntas, ketika matahari telah sepenggalah,
    bekal siap diangkut ke ladang diteruskannya menyiangi kebun dari rumput dan hama,
    menjelang sore, pakan ternak telah sedia di bakul, dijunjung dan dijinjing
    pun ketika senja datang menyapa, memandikan si kakak dan meringkuk di tungku api untuk jamuan malam
    bahkan ketika rembulan telah tersenyum menawan menyiangi malam,
    ia masih bertekun mengemasi seisi dapur yang berantakan

    Perempuan,
    tagihan listrik, air dan utang mulai berdatangan.
    Ia mulai kelimpungan membenahi emosi ketika si kecil rewel.
    Buah dari kekesalan yang tak bisa diluapkannya (dan entah kepada siapa yang mau mendengarkannya).
    Sudah sekian bulan suaminya berangkat merantau, namun tiada kabar berita.
    Belum usai perkara tagihan,
    rekadu pesta dan arisan keluarga sudah menanti di depan mata (ingat, mengabdilah dengan sebaik-baiknya)

    Perempuan,
    potong pendek kuku jemarimu biar tak menghambat pintalan benangmu.
    Sanggul tinggi rambut ikalmu agar tak jatuh dalam masakanmu.
    Tak perlu polesan make up, siapa yang hendak kau goda, cukup pupur bayi agar hilang kilatan keringat di kening dan pipimu

    Perempuan,
    gendong si kakak dan pastikan jangan rewel
    junjung seserahan itu serta perhatikan langkah kakimu.
    Berikan bagian suamimu, ini kewajibanmu, hormat pada mertuamu

    Puan…Iya. Engkau perempuan.
    Adakah yang lebih tabah dari wajah ayumu yang tenggelam dalam kerasnya hidup?

    Betapa,
    aku tak pernah usai menulis tentangmu perempuan…
    Tak akan sanggup kubalas
    segala sesuatu yang mampu kau lakukan dengan segenap kelembutanmu.

    Karawaci, 17 Okt0ber 2020

    ——————————————————————————————————

    *Emil Bidomaking adalah nama sapaan dari Wilhelmina Mariana Ema.
    Perempuan lulusan Prodi Pendidikan Bahasa, Sastra Indonesia dan Daerah, FKIP Univ. Tadulako, Palu-Sulteng ini, sejak 2018 menjadi Guru di SMK Strada Daan Mogot Tangerang.

  • Bencana dan Solidaritas Sosial

    Oleh Ansel Deri Sekretaris Papua Circle Institute

    BENCANA banjir, tanah longsor, dan badai menerpa nyaris seluruh wilayah Nusa Tenggara Timur. Kupang, kota Provinsi Nusa Tenggara Timur, nyaris seperti kolam raksasa. Wilayah Oeba hingga Oesapa dan sekitarnya dikepung air yang meluber melewati jalanan.

    Dari Adonara, Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata, dua pulau mungil di ujung timur Flores, tersiar kabar duka. Petaka banjir dan lahar dingin mengepung desa-desa dan warga masyarakat pada Minggu (4/4) sekitar pukul 01.30 WIB dini hari.

    Maut mengintai, mengakibatkan puluhan warga meregang nyawa, menutup mata selamanya menghadap lera wulan, tanah ekan, Tuhan penguasa langit dan bumi dalam terminologi Lamaholot, salah satu etnik besar yang mendiami Pulau Adonara, dan Solor, di Flores Timur, maupun di sebagian besar wilayah di Pulau Lembata.

    Di Adonara, berdasarkan keterangan Wakil Bupati Agustinus Payong Boli, dalam dialog di Metro TV (4/4) malam, sebanyak 61 orang meninggal dunia dimangsa banjir dan puluhan masih belum ketahuan rimbanya. Dari Ile Ape dan Ile Ape Timur, dua kecamatan di wilayah utara Lembata, sesuai laporan terakhir (5/4), sebanyak 11 warga meregang nyawa dan puluhan lain masih dalam pencarian.

    Presiden RI, Joko Widodo sedang Meninjau Lokasi Bencana di Adonara, Flores Timur (Foto dari Google)

    Akses jalan dari Lewoleba, kota Kabupaten Lembata, menuju lokasi bencana, putus total. Banjir Ile Ape mengulang nestapa warga menyusul erupsi Gunung Ile Lewotolok pada Minggu (29/11 2020) pagi.

    Doa, ungkapan rasa simpati, dan asa bagi warga korban, serta daerah yang dilanda musibah dari berbagai penjuru tanah Air, terkuras dari dasar jiwa para pemimpin dan sesama anak bangsa. Meski warga masih tersandera nestapa, paling kurang ada dorongan, semangat untuk bangkit dari keterpurukan.

    Doa terus terdaras dari altar Gereja, masjid atau musala, dan rumah-rumah ibadat warga. Murka alam tak bisa ditolak, tetapi melebur dalam bait-bait doa, dari rongga batin yang pasrah. Bahwa di balik kesulitan seperti bencana yang dihadapi, ada kemudahan yang segera diraih.

    Konkret

    Musibah bencana alam, dimana pun di seluruh Indonesia selalu menguras dasar jiwa rasa Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Ma’ruf Amin, para menteri, dan berbagai pihak. Meski kerap tak ditunjukkan secara fisik, solidaritas selalu konkret, mewujud dalam rupa lain. Entah ungkapan doa, simpati, dan berupa bantuan materi dan finansial bagi warga korban. Dalam konteks bencana alam, simpati Presiden Joko Widodo juga menyasar para pengungsi korban erupsi Ile Lewotolok pada Minggu, 29 November 2020.

    Lorens Lima Waru Wahang, 105, dan adiknya, Agnes Tuto Waru Wahang, 89, warga Desa Lamawolo, Ile Ape, ikut merasakan betapa Presiden Jokowi sangat berempati kepada kedua warga renta ini di tengah badai erupsi Ile Lewotolok. Senyum keduanya merekah, sembari memegang paket bantuan Jokowi, bekas Wali Kota Surakarta.

    Presiden RI, Jokowidodo di Ile Ape Lembata (Foto dari Goole)

    Kala itu, sebanyak 3.000 paket bantuan Jokowi disalurkan untuk warga pengungsi erupsi Ile Lewotolok setelah erupsi terjadi. Komandan Pangkalan Utama TNI-AL VII Kupang IG. Kompiang Aribawa dan rombongan menyalurkan juga bantuan Presiden Jokowi di Dermaga Lewoleba, Rabu (09/12/20) menggunakan Sea Raider Lanal Maumere, Flores.

    Bencana banjir, longsor, dan aneka bencana sosial, yang menimpa sesama warga bangsa di mana pun di Indonesia, seperti Nusa Tenggara Timur dan daerah-daerah lainnya, menyisahkan makna lain tentang solidaritas sosial. Perayaan Paskah, bagi umat kristiani seluruh dunia semakin meneguhkan arti solidaritas paling hakiki. Saat menjelang perayaan Paskah bagi umat kristiani tahun 2021 pesan, spirit tentang solidaritas sosial digelorakan masih relevan.

    Presiden Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin, jauh-jauh hari, sudah menyampaikan arti solidaritas sosial. Saat memasuki perayaan keagamaan umat kristiani, solidaritas menjadi tema utama, yang tentunya masih relevan direnungkan seluruh elemen bangsa.

    Pertama, bahwa, di balik kesulitan yang dihadapi umat manusia (warga bangsa) saat ini pasti ada kemudahan. Bencana menguras dasar jiwa setiap anak bangsa. Oleh karena itu, tak ada pilihan, selain semua bergandengan tangan, satu hati dan niat tulus ikut ambil bagian menjaga soliditas sosial, dan keutuhan bersama terutama bagi mereka yang terdampak bencana.

    Kedua, kerja keras Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin bersama kementerian dan lembaga atas berbagai musibah, khu susnya pandemi covid-19 bahkan banjir dan badai, melalui dukungan semangat dan kerja-kerja nyata tentu diberikan apresiasi. Selain menjadi sebuah kewajiban negara atas warga, tetapi lebih dari itu ialah tanggung jawab.

    Warga masyarakat, seperti di sejumlah wilayah di NTT yang tertimpa musibah tentu disemangati, agar bahumembahu, bekerja keras keluar dari penderitaan yang dialami. Selain, tentu segera pula diikuti dengan bantuan logistik agar kebutuhan pokoknya di berbagai posko pengungsian terpenuhi. Bantuan tersebut ialah bentuk solidaritas sosial paling riil sesama anak bangsa, atas nama kemanusiaan universal. Namun, melalui bencana alam, seketika manusia menyadari dirinya ialah makhluk kecil di hadapan pencipta-Nya.

    Makhluk Kecil

    Dalam bukunya, Hidup dan Masalahnya (2003), Kirinde Sri Dhammananda Nayaka Mahathera mengajak manusia memahami kedudukan dirinya di alam semesta. Dengan merujuk pandangan Sang Buddha, kata Sri Dhammananda, alam semesta harus dipahami sebagai jagat raya yang luas. Jagat raya ini dikelompokkan dalam tiga kategori, yaitu planet yang dihuni makhluk hidup, planet dengan unsur-unsurnya, dan ruang itu sendiri.

    Kita bisa saja memandang manusia sebagai makhluk terberkati, yang hadir untuk menikmati kesenangan di planet-planet, yang khusus dibuat untuknya di pusat alam semesta. Akan tetapi, ajaran Sang Buddha memandang manusia sekadar makhluk kecil. Tidak hanya hal kekuatan, tetapi juga dalam rentang hidup yang pendek.

    Pesan spiritual Sang Buddha, atas murka alam di berbagai belahan Indonesia mesti menjadi bahan renungan. Setia dijadikan menu refleksi kolektif seluruh umat manusia dan pemangku kekuasaan negara. Murka alam, dalam wujud banjir dan aliran lahar dingin, hingga memakan korban nyawa dan harta benda mesti selalu jadi pijakan refleksi teologis, atas alam ciptaan-Nya.

    Manusia tak semestinya mencoba memeras segala sesuatu di dunia ini hanya demi keuntungan dirinya. Manusia harus memelihara rasa segan dan hormat kepada alam dan semua makhluk. Manusia relatif merupakan pendatang baru di muka bumi. Ia (manusia) seharusnya belajar menghormati makhluk lainnya. Karena itu, tatkala bumi ‘batuk-batuk’ dalam wujud banjir atau badai, sudah pasti solidaritas antarsesama manusia, atau pemimpin segera terkuras dari bilik hatinya. Solidaritas, yang kini juga menyapa NTT, utamanya Adonara dan Lembata.

    *****************

    Sumber: Media Indonesia, 9 April 2021

  • Coretan Sang Pelintas Batas

    Coretan Sang Pelintas Batas

    F. Budi Hardiman, Dosen Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara

     

    ESAI-ESAI yang secara rutin dimuat dalam majalah Tempo dengan nama Catatan Pinggir ini salah satu karya tulis yang paling menarik di negeri ini. Majalah itu memuat berita, yaitu berbicara dari perspektif pengamat, dan memang demikianlah berita sebagai berita sedapat mungkin berbicara dari perspektif pengamat. Catatan Pinggir merupakan satu-satunya bagian dari majalah itu yang dengan leluasa beralih-alih perspektif, kadang dari perspektif pengamat dan kadang dari perspektif pelaku, kadang si ”saya” muncul dan kadang si ”dia”. Berita sebagai berita sedapat mungkin jauh dari mitos, alegori, metafor, dan mendekati faktum, tetapi Catatan Pinggir membangun sebuah jembatan rahasia antara faktum dan mitos, antara deskripsi dan alegori. Itulah cara bagaimana esai-esai itu menjadi obat kepicikan. Seusai membacanya, pengetahuan kita tentang banyak hal—tokoh, kasus, sejarah, dst.—bertambah seiring dengan bertambah kayanya cara lihat yang ditawarkannya.

    Penulisnya sudah menuturkan puluhan cerita yang dibaca, diingat, dan digalinya dari berbagai tradisi, entah itu filsafat dari masa silam yang sudah sayup-sayup di telinga, sisi sejarah dinasti Barat atau Timur yang dikenal atau kerap diabaikan dalam historiografi, narasi kekuasaan yang masih bising di telinga kita, atau apa saja yang hendak dikomentari penulisnya. Tanpa canggung ia pindah dari kitab suci agama yang satu ke kitab suci agama yang lain untuk memberikan semacam ”pencerahan eksistensial” atas sebuah topik, seolah untuk menghindarkan kita menjadi homo unius libri yang picik memandang dunia. Argumentasi para filsuf Barat pun dimanfaatkan secara piawai, bahkan sampai pikiran sang filsuf sendiri menjadi jelas. Suatu saat faktum dibeberkan. Di saat lain film cerita, mitos, alegori, dan metafor dikisahkan. Akan tetapi, setelah membaca bagian-bagian berita dari majalah itu, pembaca akan segera mengerti bahwa penulis tidak membiarkan jurang antara fiksi dan realitas tetap menganga. Mitos yang dikisahkannya itu kadang terhubung dengan faktum yang diberitakan di negeri ini. Mitos dan metafor seolah dibiarkan penulisnya untuk berbicara tentang fakta yang diberitakan, agar pembaca dapat menemukan bagaimana kebijaksanaan yang mengendap di dalam fiksi itu mencerahi realitas yang diberitakan.

    Kita tahu, penulisnya, Goenawan Mohamad, adalah seorang wartawan dan sekaligus penyair. Bahwa penyair menuturkan mitos, narasi, alegori, atau metafor tidaklah mengherankan. Kita juga tidak heran bahwa wartawan melaporkan faktum. Kedua profesi tersebut mengenali batas-batas kawasan mereka masing-masing. Lalu, apa yang dapat dikatakan mengenai seorang penulis yang menuturkan mitos dengan maksud mengomentari faktum atau melaporkan faktum dengan membangun jembatan rahasia ke kawasan mitos? Penulis Catatan Pinggir adalah seorang pelintas batas atau seorang—seperti disebut orang Jerman—Grenzgänger. Sebutan serupa pernah diberikan untuk filsuf Prancis, Jacques Derrida, oleh Wolfgang Welsch, karena pemikiran Derrida bergerak di antara metafisika dan sesuatu di luarnya, yaitu dalam tegangan di antara keduanya, persis di pinggiran. Kita mempunyai Goenawan yang berpikir dalam tegangan antara kawasan faktum dan kawasan fiksi, alegori, metafor, mitos, sastra.

    Seorang pelintas batas bukanlah seseorang yang tidak tahu batas. Dia tahu batas, maka dia dapat melintasinya. Batas tentu dapat dilintasi tanpa pengetahuan, yaitu secara tidak sengaja, tetapi dengan cara itu batas dilintasi hanya secara obyektif, sementara secara subyektif tidak pernah terjadi pelintasan batas. Goenawan tidak ingin melintasi batas hanya secara obyektif, tetapi juga secara subyektif, yaitu dengan sengaja. Dia ”bermain di antara” kedua kawasan yang selama ini dijaga ketat dalam pikiran orang banyak. Dan hal ini sebuah kesengajaan. Dengan sengaja posisi tidak ditegaskan sejak awal, karena ”bermain di antara” berarti beralih-alih posisi. Dengan sengaja solusi juga tidak dijanjikan sejak awal, karena solusi adalah bagian keseriusan yang tentu asing bagi permainan. Seperti Sokrates, penulis Catatan Pinggir kerap mengakhiri tuturannya dengan pertanyaan atau kesangsian. Dalam ”Perajam” (4 Oktober 2009), misalnya, tuturan tentang kisah hukum rajam dalam Injil yang awalnya menggiring kita pada pendirian bahwa person adalah sentral dalam agama diakhiri dengan sebuah enigma: ”Tapi kepada siapakah sebenarnya agama berbicara: kepada tiap person dalam kesunyian masing-masing? Atau kepada ’gerombolan’? Saya tak tahu. Di pelataran itu Yesus membungkuk, membisu, hanya mengguratkan jarinya. Ketika ia berdiri, ia berkata ke arah orang banyak. Tapi sepotong kalimat itu tak berteriak.” Goenawan tahu betul apa artinya aporia yang menghadang di ujung lorong panjang dan berkelok dari pencarian suatu jawaban final. Dengan demikian, permainannya adalah sebuah keseriusan yang patut mendapat perhatian kita.

    Pertanyaan dan kesangsian yang diletakkan di akhir esainya secara tersirat mengundang pembaca untuk terbuka terhadap peristiwa. Teks-teks berita yang memenuhi halaman-halaman sebelumnya dalam majalah Tempo bukanlah peristiwa, melainkan laporan tentangnya. Dengan menyebut sebuah laporan sebagai faktum, peristiwa seolah dibekukan sebagai obyek-obyek yang dapat diamati. Ketidakterdugaan yang menandai berciri peristiwa seolah dapat dijelaskan sebagai hal-hal yang terduga. Faktum membuat kita tidak bertanya-tanya lagi karena seolah tidak dapat muncul lagi hal tak terduga. Suatu dunia yang seluruhnya dapat dijelaskan atau sepenuhnya dapat diantisipasi adalah sebuah dunia yang tidak memberi tempat untuk peristiwa, sebuah dunia yang untuk seorang penyair pasti menjemukan dan bahkan mengerikan. Peradaban telah mencapai banyak prestasi untuk mengusir peristiwa: sains, teknik, birokrasi, dan jurnalisme. Diletakkan pada akhir majalah itu, Catatan Pinggir seolah membebaskan kembali peristiwa dari kerangkeng laporan-laporan atasnya yang dianggap faktual dalam jurnalisme. Sang pelintas batas mendekonstruksi tatanan fakta yang dilaporkan sebelumnya untuk menginsafi kembali ”yang serba mungkin” yang telah dipaksa berhenti dalam kerangkeng laporan-laporan itu.

    Istilah ”catatan pinggir” itu sendiri sudah menyiratkan kodrat tulisan ini. Catatan-catatan yang bisa berupa komentar singkat, kode, coretan, acuan, tanda-tanda baca, dst. biasanya ditulis di pinggiran halaman buku yang sedang dibaca. Peneliti yang biasa bekerja dengan banyak buku akan sangat tertolong dengan memberikan catatan-catatan di pinggir halaman buku yang ditelitinya. Apa saja isinya? Segala yang mungkin ditulis, asal singkat. Catatan-catatan itu bisa menyimpan memori, prapemikiran, atau embrio argumen peneliti yang bisa saja mempersoalkan, menyanggah, atau—lebih tepat—menunda keyakinan-keyakinan yang ditulis dalam buku itu. Secara semiotis dapat dikatakan bahwa catatan-catatan di pinggir buku itu menentang rezim makna yang menjadi hegemonial dalam buku itu. Sementara sebuah buku lahir prematur, yaitu selesai sebelum waktunya, karena pengarang sebenarnya juga tidak pernah merasa cukup untuk menulis, catatan pinggir adalah tulisan yang menunda penyelesaian. ”Buku-buku yang paling berguna,” demikian tulis Voltaire, ”adalah buku-buku yang mengajak pembaca untuk me lengkapinya.”

    Seandainya dipaksa untuk menjelaskan posisi, satu-satunya deskripsi yang lumayan kena untuk posisi penulis Catatan Pinggir adalah bergerak di pinggiran, yaitu menunda penyelesaian. Rezim-rezim politis silih berganti seperti gelombang-gelombang, dan seperti perahu layar esai-esai Goenawan mengarungi zaman lewat embusan roh zaman menyertai gelombang-gelombang itu. Cara lihat ini juga bisa dicoba: jika politik adalah sebuah perjalanan menembus berbagai medan menuju entah ke mana, esaiesai itu dapat dianggap sebagai coretan-coretan pada pepohonan, tebing, dan semak yang telah dilalui. Pada coretan-coretan itu kita mungkin dapat menemukan jalan untuk kembali. Dari yang telah lewat mungkin juga petunjuk ke depan dapat diperoleh. Namun jangan berharap untuk mengetahui tujuan entah itu puncak atau lembah karena si pencoret tidak meninggalkan apaapa selain isyarat untuk terus pergi.

                                                   

    Apa saja yang dibahas di dalamnya? Catatan Pinggir berbicara tentang hampir semua persoalan penting yang gaduh dibicarakan di dalam republik kita. Buku ini merupakan kumpulan esai Goenawan dalam Tempo yang merentang selama lebih dari tiga tahun, yaitu dari Juli 2007 sampai Desember 2010. Pembaca kumpulan ini tidak hanya segera akan menangkap keluasan dan kedalaman pengetahuan penulisnya, tetapi juga akan takjub dengan stamina intelektual yang dibuktikan Goenawan untuk melahirkan tulisan-tulisan yang penuh variasi dan tidak menjemukan ini. Bukan hanya itu, jika berasal dari mazhab akademis yang ketat, pembaca tentu akan tertantang dengan metode yang juga bermacam-macam yang dipilihnya. Di sana, misalnya, tidak hanya ada impresi-impresi situasi, alegori-alegori, atau bahkan semacam celotehan di kafe, tapi juga psikoanalisis, hermeneutik, dekonstruksi, kritik ideologi, semiotik, sejarah filsafat, dst. Tidak cukup hanya polifonik dengan pemakaian berbagai istilah asing, karena biasa ”bermain di antara”, Goenawan juga adalah seseorang yang polimorfis dalam menyiangi kulit gejala yang berlapis-lapis. Pembaca dapat ikut melihat dunia dari perspektif semacam compound eyes dalam penulisan, sehingga cukup diyakinkan bahwa cara melihat itu tidak tunggal, tetapi banyak.

    Kiranya buku ini dapat kita mulai dari mana saja justru karena esai-esai itu dapat dibaca lepas satu sama lain. Klasifikasi tematis pun tidak dapat diseragamkan karena komentator yang berbedabeda dapat menemukan klasifikasi yang berbeda-beda pula. Goenawan banyak mengulas tokoh-tokoh sejarah kita, seperti Tan Malaka, Muhammad Yamin, Wahidin, dan Sukarno, dan cukup sering bercerita tentang seniman dan budayawan. Dalam hal ini sejarawan dan politikus pasti punya urusan tersendiri dengan Goenawan. Karena area keterlibatan saya adalah penulisan dan pengajaran filsafat, saya sendiri cenderung memperhatikan topiktopik yang dekat dengan filsafat. Di sini saya mengambil segelintir contoh.

    Beberapa Catatan Pinggir langsung atau tak langsung bersentuhan dengan persoalan ”metodologis”. ”Cicak dan Buaya” (15 November 2009), misalnya, adalah sebuah tilikan psikoanalisis Freud. Jika bukan praktek dekonstruksi, ”Watchmen” (22 November 2009) setidaknya merupakan penjelasan ilustratif tentang apa itu dekonstruksi. Semacam metode Entmythologisierung (demitologisasi) ala Bultmann yang masih saja menyulut kontroversi teologis juga ada di sini dalam kombinasi ganjil dengan Zizek, seperti dapat dicermati dalam ”Paskah” (11 April 2010). Bahkan Ideologiekritik yang dulu dibidikkan Horkheimer dan timnya ke arah Aufklärung dalam ”Modernitas” (6 September 2009) menemukan target lokalnya: ”Pramoedya dan Tan Malaka begitu saja menyamakan imajinasi dengan takhayul yang meremehkan rasionalitas. Seakan-akan sejarah tak dibangun juga oleh kerja dan fantasi penatah wayang, energi dalang yang berkisah, hasrat tubuh dan kesepian, yang membuat riwayat manusia dari abad ke abad tak lurus, tak tunggal, tak konsisten—tapi juga selalu bisa tak terduga-duga, tak pernah kering.” Ulasan-ulasan ringkas seperti itu mengandung argumen yang juga memiliki gaung di dalam mazhab-mazhab akademis ketat yang membutuhkan berlembar-lembar argumentasi dan kerap tetap tak dimengerti oleh pembaca biasa.

    Yang memukau pada tulisan-tulisan Goenawan adalah teknik khasnya dalam mencerahi peristiwa dengan tilikan yang bajik dan bijak: dengan lincahnya—kadang juga akrobatis—dia menghubungkan peristiwa, tokoh, kasus, atau apa saja yang menarik minatnya dengan pendapat para filsuf atau pemikir yang buku-bukunya paling sering keluar dari rak-rak buku kampus. Namanama besar, seperti Laclau, Zizek, Deleuze, Lacan, Badiou, dan Schmitt, menambah deretan nama yang lebih klasik yang pernah dibahas Goenawan, seperti Sokrates, Machiavelli, Hegel, Marx, dan Freud. Kekayaan literatur yang dibacanya akan menggoda homo unius libri untuk menambah bacaannya. Dalam ”Bhutto” (6 Januari 2008), Carl Schmitt dipakai untuk mengomentari tragedi Bhutto. Problem absurditas informasi yang ditematisasi dalam drama absurd Beckett secara tak terduga dihubungkan dengan persoalan komunikasi yang ramai dibicarakan para pembaca J. Habermas dan Karl Otto Apel, seperti terbaca dalam ”Percakapan” (14 Maret 2010). ”Bento” (20 Januari 2008) adalah komentar atas seorang filsuf, Spinoza. Di dalam ”Orakel” (5 Desember 2010) kita dapati bagaimana perkara rumit seperti peralihan dari teosentrisme ke antroposentrisme dalam filsafat Barat di tangan Goenawan menjadi begitu ilustratif. Memahami pertarungan berlarut-larut antara logos dan mitos, rasionalitas dan takhayul sebagai pertarungan language games, ia mengajak kita untuk terbuka terhadap misteri Ada. ”Katakan itu takhayul,” tulisnya, ”Tapi siapa tahu ada sesuatu yang berharga di dalamnya.”

    Beberapa contoh lain adalah coretan-coretan tentang sejarah yang sekilas tampaknya ”cuma” menyampaikan informasi, tetapi jika dicermati ternyata dibidikkan kepada kepicikan-kepicikan. Dalam hal ini kritik agama tetap merupakan tema favorit Goenawan, sebagaimana dapat kita tangkap, misalnya, dalam ”Si Ayam” (26 September 2010), ”Ahmadiyah” (8 Agustus 2010), ”Daging” (22 Agustus 2010), ”Émile” (28 Februari 2010), ”Mono” (8 Maret 2009), ”Bento” (20 Januari 2008), dan ”Si Buntung” (9 Agustus 2009). Baginya agama dapat merosot menjadi benda, res, atau berhala sesembahan penderita paranoia yang didikte rasa takut akan kekosongan dirinya dan memburu yang lain. Termasuk dalam res itu adalah legalisme agama yang dipersoalkannya secara kritis, seperti tampak dalam ”Perajam” (4 Oktober 2009). Doktrin intoleran dari Vatikan pun tak luput dari bidikannya, sebagaimana terbaca dalam ”Mereka” (22 Juli 2007). Untuk menghadapi Zeitgeist yang serba politis sekaligus serba agamawi, dia lalu membuat catatan tentang mistik, seperti dapat dibaca dalam ”Guna” (3 Oktober 2010). Politisasi agama malah menjauhkan kita dari Tuhan. Goenawan lalu mengubah kutipan yang dikutip mistikus Meister Eckhart: ”Andaikata aku punya Tuhan yang dapat kugunakan, aku tak akan menganggapnya Tuhan.” Yang sebaliknya juga dilakukannya: menyingkap ”iman implisit” dalam sains yang telanjur dianggap sebagai sumber atheisme, seperti ditunjukkan dalam ”Darwin” (22 Februari 2009). Sekularisme tidak mungkin menjadi total, demikianlah keyakinan yang tersirat.

    Ada juga topik yang dulu digunjingkan oleh Adorno dan kawan-kawan sebagai Kritik der Massenkultur, yaitu masifikasi, seperti tertuang dalam ”Debat” (28 Juni 2009) dan ”Potret” (8 Februari 2009), sebuah coretan melawan kediktatoran visualitas yang mulai mendominasi masyarakat kita. Kita mungkin menduga, kritik atas kapitalisme suatu kali akan menjadi radikal dan total, karena di beberapa esai Marx di tangan Goenawan bagai guru Timur yang menasihati kehidupan. Dugaan itu keliru. Seperti sekularisme, kapitalisme dan individualisme juga tidak mungkin menjadi total, karena selalu saja ada celah bagi sosialitas manusia, sebagaimana tertuang dalam ”Berbagi” (21 Juni 2009). Begitu juga yang kolektif tidak akan menjadi total, karena selalu saja akan ada celah bagi individualitas. Dalam ”Ibrahim” (28 November 2010), Goenawan menyingkap enigma kolektivisasi dan individualisasi, impersonalisasi dan personalisasi itu dengan alegori menutup wajah dan melihat wajah. Manusia punya wajah yang tak dapat ditotalisasi, direifikasi, atau didepersonalisasi kecuali dengan menyelubunginya.

    Karena pelintasan batas membawa tegangan semantik juga, ambivalensi merupakan locus penceritaan yang digemari Goenawan, seperti dapat kita baca dalam ”Perang” (7 September 2008) atau dalam ”Monumen” (12 Juli 2009), yang mengironikan celah yang menganga di antara penanda dan petanda. Hidup seorang manusia itu sendiri mengandung ambivalensi, maka Catatan Pinggir juga berlaku sebagai serpihan-serpihan informasi tentang potret seorang tokoh yang menguak ambivalensi hidupnya, sebagaimana ditunjukkan dalam ”Tiga Fantasi” (29 Maret 2009) dan ”Rendra (1935-…)” (16 Agustus 2009). ”Teror Itu” (26 Januari 2009) kiranya merupakan contoh bagaimana dua ciri yang bertentangan seperti horor dan komedi dalam film dibiarkan mengatakan sesuatu untuk kejadian real di Jakarta, yaitu bom di Ritz-Carlton dan JW Marriott beberapa tahun lalu, dan dengan cara itu ambivalensi justru memungkinkan harapan.

    Goenawan juga tak segan mengolok-olok ”diri” lewat mulut orang lain, sebelum dia membawa pembacanya kepada penelitian semantik yang lebih dalam yang segera menghambarkan olok-olok tadi, seperti dapat kita baca dalam ”Primordialisme” (19 Desember 2010) atau ”Diri” (25 April 2010). Baginya identitas adalah topik sensitif yang merahasiakan ironi: kejawaan, kepriaan/keperempuanan, atau keislaman adalah ke-apa-an yang biasa dipakai untuk menjelaskan ke-siapa-an, tetapi ketika ke-apa-an ini begitu menentukan seseorang, ke-siapa-annya yang merupakan misteri itu dicaplok oleh batasan-batasan yang datang dari ke-apa-an itu. ”Bagi saya,” tulisnya dalam ”Diri”, ”yang penting bukanlah identitas, yang menyetrap saya dalam sebuah kotak dan seperangkat baju resmi. Bagi saya, yang penting adalah manusia sebagai agency, pelaku.” Dari fiksi tentang identitas itulah lahir segregasi dan diskriminasi ras, gender, dan religius. ”Dan identitas itu adalah bagian dari paranoiaku,” katanya. Cara Goenawan untuk melepaskan diri dari fiksi konyol itu menyerupai cara Georg Simmel, yakni melawan setiap upaya stabilisasi dan esensialisasi identitas dengan memahami ”diri” sebagai sesuatu yang tidak pernah ”sejati”, karena terdiri atas banyak relasi yang terus berubah. Akibatnya, seperti secara personal disingkapkannya dalam ”Indonesia” (23 Agustus 2009), ia sendiri kagum akan semacam ”imigran permanen” yang tidak berakar pada tanah mana pun. Namun bukankah anti-esensialisme merupakan konsekuensi logis pelintasan batas?

                                               ***

    Jika mengikuti terus esai-esai Goenawan, akan timbul kesan bahwa Catatan Pinggir ”cerewet”. Tapi kesan itu keliru. Yang di tengahlah yang cerewet dan bising, sementara yang di pinggir cenderung hening mengamati. Sementara peristiwa-peristiwa yang di tengah itu bagaikan teriakan-teriakan histeris manusia  massa dalam Colosseum yang menentukan hidup-matinya gladiator yang kalah, Catatan Pinggir menarik diri dari kerumunan dan mencoba mendengarkan keheningan manusia batiniah. Membaca esai-esai singkat ini, orang tidak sekadar menjadi ”orang”, tetapi akan menjadi ”seseorang”. Catatan Pinggir mengandung motif individuasi yang merebut kembali sang aku yang berpikir dari kerumunan yang berpikir standar atau bahkan tidak berpikir sama sekali. Paradoks, ironi, aporia, ambivalensi, dan ketidakselesaian yang tidak hanya disajikan, tetapi juga dilatihkan oleh Goenawan, membantu untuk menemukan kembali individualitas individu yang sudah terancam punah di negeri kita. Membaca dan menulis tidak bisa dengan berisik, dan membaca dan menulis, demikian Sloterdijk, akan membangun interioritas manusia. Lagi, dalam ”Perajam”, kalimat ”Tapi sepotong kalimat itu tak berteriak” menyampaikan secara enigmatis bahwa tulisan tidak lumat di dalam gejolak kediktatoran oleh tak seorang pun, seperti dialami dalam demokrasi massa. Ia terarah pada interioritas manusia.

    Karena itu, antara penulis Catatan Pinggir dan pembacanya terjadi sebuah hubungan diam yang hanya dapat dialami oleh— saya mengacu pada Luhmann—suatu spesies yang tinggi taraf evolusinya, yaitu suatu makhluk yang mampu mereproduksi ”masyarakat” lewat menulis dan membaca.6 Berbeda dengan DPR yang bising dan gaduh, karena politik memang tidak lain dari ”bicara keras-keras”, menulis dan membaca hanya mungkin tanpa berisik, yaitu mendengarkan ”bagian dalam” manusia. Sebuah tulisan, seperti Catatan Pinggir ini, menghasilkan masyarakat tanpa kehadiran seorang pun, sementara dengan kehadiran orang banyak, politik yang berisik itu bisa jadi malah ”menghabisi” masyarakat. Mengapa? Karena language games dan isi pikiran yang dimainkan dalam Catatan Pinggir mereproduksi publik pembaca yang kritis, suatu lapisan sosial yang sangat diperlukan untuk demokrasi, sementara dengan oportunisme dan pragmatisme kekuasaan, politik kerap justru menghancurkan individualitas individu.

    Yang dibutuhkan dalam demokrasi bukanlah kerumunan yang berteriak sama. Sebaliknya, demokrasi membutuhkan orang yang berani berpikir dan mengeluarkan suara yang berbeda dan bahkan menentang kerumunan. Seklusi dari politik lewat menulis dan membaca sampai saat ini masih merupakan jalan untuk memelihara kewarasan dan menghindar dari histeria massa dalam politik. Catatan Pinggir menawarkan jalan itu. Penulisnya tampak tidak goyah oleh teriakan riuh rendah berita-berita di tengahnya; dia berdiri di atas batu karang yang tenang dan kokoh: kebebasan berpikirnya. ”Kini perlawanan terhadap Negara + Modal hanya akan seperti tusukan pisau yang majal,” begitu keyakinannya, ”… Maka satu-satunya cara melawan mungkin dengan menulis, mencerca, atau menertawakan. Selebihnya ilusi.” Tentu Goenawan tidak minta pembacanya untuk setuju padanya. Dia bahkan seperti memprovokasi kita untuk membantah. Esai-esainya adalah deretan tantangan untuk berpikir tanpa tuntunan hal-hal yang baku atau—seperti dikatakan di atas— obat kepicikan. Membacanya adalah latihan yang enak dan perlu ke dalam kebebasan berpikir. Anda harus mencobanya sendiri.

                   —-S e l a m a t   M e m b a c a—-

    • Tulisan ini adalah Pengantar untuk Buku Catatan Pinggir 9, Penerbit Pusat Data dan Analisa Tempo 2011.

  • Warga Flobamora Papua Barat Peduli Bencana NTT

    Manokwari Berandanegeri.com – WARGA masyarakat Nusa Tenggara Timur bersama Ikatan Pemuda Pelajar NTT Kota Sorong, Papua Barat, tergugah untuk ikut ambil bagian membantu warga masyarakat NTT yang terkena dampak banjir lahar dingin dan badai Seroja yang melanda sebagian besar wilayah itu sejak awal April 2021 lalu.

    “Saat ini saya bersama delapan relawan Flobamora Kota Sorong dibantu enam relawan lokal NTT terjun langsung ke sejumlah wilayah di NTT. Tim kami bagi dalam empat kelompok yaitu tim Delta bergerak di wilayah Timor yang meliputi Kota Kupang, Kabupaten Kupang, Malaka, dan Alor dipimpin Melkhior Joel Sasi,” ujar Syafruddin Sabonnama, Ketua Ikatan Keluarga Flobamora Kota Sorong sekaligus Koordinator Umum Peduli Bencana NTT Kota Sorong, Papua Barat dalam keterangan yang diterima berandanegeri.com Senin (19/4 2021).

    Selain itu, lanjut pria asal Adonara yang juga anggota Dawan Perwakilan Rakyat Daerah Kota Sorong, ada juga tim Charly untuk wilayah Kabupaten Rote Ndao, Sabu Raijua, dan kabupaten-kabupaten di Pulau Sumba dipimpin ketuanya, Dionisius Ratu Bunga. Lalu Tim Bravo bergerak di wilayah Lembata di bawah koordinator Agatha Ure alias Ety Wukak. Kemudian tim Alfa menyasar wilayah Adonara di bawah koordinator Aronimus Wangi.

    “Saat ini kami rekan-rekan relawan masing-masing tim sedang mendistribusikan bantuan kepada warga korban melalui posko-posko lokal setelah berkoordinasi dengan Gubernur Nusa Tenggara Timur Bapak Viktor Bungtilu Laiskodat dan Satgas Penanggulangan Bencana Daerah NTT. Saya bersama rekan-rekan tim Alfa sedang menyerahkan bantuan di Adonara, daerah paling parah terdampak banjir yang melanda sebagian desa itu pada Minggu, 4 April dini hari. Sedang tim Lembata dipimpin rekan Ety Wukak Pareira. Tim lain untuk wilayah di Rote Ndao, Sabu Raijua, Malaka, dan Alor sedang bekerja mendistribusikan bantuan,” lanjut Sabonnama.

    Menurut Sabonnama, setelah bencana banjir lahar dingin dan badai Seroja melanda sebagian besar wilayah di tanah Flobamora awal April lalu, pihaknya mengerahkan pengurus Ikatan Keluarga Flobamora dan masyarakat NTT di Kota Sorong dan sekitarnya terlibat aktif ikut membantu Gubernur dan para bupati seluruh NTT karena warganya terkena dampak bencana dasyat itu.

    “Alhamdulillah. Puji Tuhan, masyarakat Papua Barat dan Kota Sorong begitu peduli dengan bencana yang menimpa saudara serta saudarinya di kampung halaman NTT. Pengurus Ikatan Keluarga Flobamora Kota Sorong dan Ikatan Pemuda Pelajar NTT Kota Sorong berhasil mengumpulkan uang sebesar  Rp. 400 juta. Para donatur bukan saja pace, mace dan kaka ade dorang yang punya kelebihan. Mereka memberi dari kekurangannya. Kami pengurus merasa terharu dengan solidaritas warga Kota Sorong dan Papua Barat atas saudara serta saudarinya di NTT yang tertimpa musibah,” kata Sabonnama.

    Anggota DPRD Kota Sorong Syafruddin Sabonnama bersama Presiden Joko Widodo. Foto: dok. Sabonnama

    Pengurus Ikatan Keluarga Flobamora Kota Sorong lainya, Ety Wukak mengaku pihaknya merasa terpukul dengan bencana yang melanda sebagian besar wilayah di NTT hingga memakan korban tak hanya ratusan warga meninggal sis-sia namun juga banyak warga kehilangan tempat tinggal dan bahkan kampung halaman terkubur lumpur dan batu besar. Karena itu, saat ditugaskan bersama pengurus berdiri di jalan-jalan utama Kota Sorong mengetuk hati para calon dermawan, perempuan asal kampung Lewuka, Kecamatan Wulandoni, kelahiran kampung Kluang, Desa Belabaja, Kecamatan Nagawutun ini bersama pengurus langsung terjun di lampu merah pinggir jalan di Kota Sorong menerima bantuan warga setempat.

    “Kami rame-rame turun lapangan. Kami temui juga kelompok kelompok dan berbagai organisasi paguyuban dari berbagai daerah di Indonesia di Kota Sorong. Kami juga ngamen di jalan-jalan protokol, lampu merah bahkan bergerak dari rumah ke rumah. Puji Tuhan, banyak saudara serta saudari kita warga Kota Sorong dan sekitarnya sangat peduli dan memberi dari kekurangannya untuk warga korban bencana di NTT,” kata Ety Wukak, aktivis sosial kemasyarakatan Papua Barat lulusan SMA Kawula Karya Lewoleba, Lembata.

    Menurut Sabonnama, hasil patungan pengurus dan donasi warga berupa barang akan dikirim lewat KM Pelni dari Pelabuhan Sorong menuju Kupang, NTT pada 22 April. Bantuan barang itu berisi pakaian layak pakai, sembako dan obat obatan, yang akan berangkat dari Sorong tanggal Kamis, 22/4 2021. “Kami berterima kasih kepada kepada Bapak Kepala Kantor Syahbandar (KSOP) Sorong karena beliau dan jajarannya serta pihak Syahbandar Kota Sorong membantu membawa barang-barang bantuan untuk misi kemanusiaan di NTT,” ujar Sabonnama.

    Untuk memastikan bantuan itu tepat sasaran, Sabonama dan sejumlah perwakilan pengurus Ikatan Keluarga Flobamora NTT Kota Sorong turun langsung berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi NTT dengan BPBD NTT dan BPBD seluruh kabupaten/kota melalui posko-posko pengungsian untuk memastikan bantuan ribu ratu, warga Flobamora dan masyarakat Papua Barat itu tiba di tangan warga yang membutuhkan.

    “Para sesepuh Flobamora Kota Sorong dan Papua Barat juga berpesan kepada kami bahwa utusan yang membawa bantuan datang dari beragam latar belakang kampung. Karena itu setiba di NTT harus menanggalkan sekat-sekat primordial dan melakukan sebaik mungkin untuk ribu ratu di NTT karena bantuan itu urusan kemanusiaan,” kata Sabonnama.

    Menurut Sabonnama, saat ini bantuan sedang didistribusikan timnya. Di antaranya 700 paket sembako yang terdiri dari 10 kg beras premium, minyak kelapa, gula dan tepung masing masing 1 liter dibagi di Kabupaten Kupang dan Kota Kupang dengan total sebanyak 350 paket. Kemudian 500 paket sembako untuk tiga desa di Malaka.

    Sementara untuk wilayah Adonara, Flores Timur, tim menyerahkan 10 buah profil tank dan 50 kasur untuk Desa Waiburak. Juga perlengkapan bayi dan lansia, makanan minuman penyuplai gizi untul Desa Lamanele. Peralatan dapur dan sembako di Desa Waikewak dan 1 ton beras, 200 kg gula dan 200 liter minyak kelapa untuk Desa Dani Bao.

    “Teman-teman tim juga sedang menyerahkan bantuan bahan bangunan untuk Sabu Raijua. Sedangkan bantuan untuk Alor senilai Rp. 35 juta, Rote Ndao, Rp. 25 Juta, dan Sumba Timur sebesar Rp. 25 juta. Begitu pula bantuan peralatan dapur dan sembako untuk Lembata senilai Rp. 40 juta,” jelas Ety Wukak. (Paskal)