Blog

  • Bawa Bantuan untuk Korban Bencana, KRI Tanjung Kambani-971 Tiba di Pelabuhan Laut Larantuka

    Maumereberandanegeri.com – DALAM rangka Operasi Tameng Nusa Tenggara Timur BKO Guskamla Koarmada II untuk Mendukung Logistik Bantuan Sosial Korban Badai Siklon Seroja Banjir Bandang di Pulau Adonara dan Lembata, KRI Tanjung Kambani-971 kembali tiba di  Pelabuhan Laut Larantuka Kelurahan Postoh Kecamatan Larantuka Kabupaten Flores Timur, Propinsi NTT, Senin (19/4) pukul 11.55. WITA.

     KRI Tanjung Kambani – 971 yang dikomandani oleh Letkol Laut (P) Tri Hidayat,S.Sos. MPM., beserta  11 (sebelas) orang Perwira  dan 125 (seratus dua puluh lima) orang Prajurit.

    Turut menyambut di Pelabuhan Larantuka, Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M. Tr. Hanla, M.M., CTMP.,  Dandim 1604/Flotim diwakili Kasiops Kapten Weking, Kapolres Flotim diwakili Kasat Tahpi Iptu Atam, Dankal Balibo Lettu Laut (P) Malik Setia Budi, Syahbandar Larantuka Bpk. Sailudin Umar, Kasi Pemanfaat Logistik Kemensos RI Bpk. Muhammad Delmi, Danposmat Flotim Serka Kom Bayu Primanto serta Tim Satgas Bencana Pulau Adonara dan Lembata dari Lanal Maumere dan Yonmarhanlan VII Kupang.

    Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M.Tr. Hanla, M.M., CTMP mengatakan KRI Tanjung Kambani – 971 membawa berbagai macam bantuan logistik dari Jakarta dan Surabaya dalam rangka menyalurkan bantuan untuk korban bencana di pulau Adonara Kab. Flores Timur, serta merupakan kapal ke-5 (lima) yang dikerahkan TNI-AL untuk mengangkut bantuan ke daerah bencana NTT.

     Bantuan terdiri dari berbagai macam kebutuhan hidup sehari hari seperti, beras, mie instan, air mineral kemasan, pakaian layak pakai, makanan bayi, tenda, selimut, alat mandi, perlengkapan ibadah, obat-obatan, masker, ada pula 1 (satu) Unit Excavator dari Kementerian Sosial Republik Indonesia yang diwakili Bapak Muhammad Delmi untuk Kab. Flotim .

    Bantuan tersebut  diserahkan secara simbolis oleh Komandan KRI KBI-971 kepada Bupati Flores Timur selaku Dansatgas Bencana Alam di daerahnya disaksikan oleh Komandan Lanal Maumere, untuk selanjutnya disalurkan kepada para Korban Terdampak Bencana Alam Banjir Bandang dan Tanah Longsor di Kab. Flotim serta Kab. Lembata.

    “Lanal Maumere memiliki tugas mengawal bantuan bencana alam agar sampai di daerah sasaran dengan baik, disamping itu, Pulau Adonara dan Pulau Lembata merupakan wilayah kerja Lanal Maumere, dimana di Flotim terdapat Posmat dan di Lembata terdapat Posal.

    Keberadaan Posal maupun Posmat ini merupakan perpanjangan tugas organisasi TNI Angkatan Laut di daerah dalam rangka Pemberdayaan wilayah Pertahanan Laut” ujar Komandan Lanal Maumere. (Penlanalmaumere/Atick)

  • Lereng Bukit Siku Ara jadi Saksi Hidup bagi Kesuksesan Anak Bangsa di Manggarai Timur (Bagian Kedua-Selesai)

    Oleh Markus Makur

    BORONG – Jarum jam menunjukkan 09.05 Wita, Camat Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, Ibu Regina Malon memperoleh informasi dari stafnya bahwa sebanyak 46 siswa dan siswi SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Desa Komba melaksanakan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) di semak-semak di kebun milik warga setempat di lereng bukit di tikungan Siku Ara, Desa Komba, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, Rabu, (14/4/2021).

    Lalu dari ruang kerjanya, Ibu Camat mengatakan ayo kita ke sana. Ayo kita ke sana. Kita memantau lokasi USBD tersebut. Kemudian kendaraan dinasnya dihidupkan oleh Pak Feliks Bensa melaju ke arah barat dari Kantor Kecamatan tersebut.

    Ibu Camat dikawal dua anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Robertus Jawa dan Moses N Rodja. Di dalam kendaraan itu ada tiga wartawan termasuk KOMPAS.com. kurang lebih 10 menit, rombongan tiba di lokasi ujian tersebut.

    Dari bawah jalan terlihat 46 anak-anak sekolah dari SMP Satu Atap Munde duduk diatas batu, tanah sambil memegang handphone untuk mengerjakan soal ujian.

    Ibu Camat naik ke lokasi ujian tersebut. Disambut kepala sekolah, Robertus Jani, guru-guru sedang mengawasi jalannya ujian tersebut.

    Ibu Camat menyapa siswa dan siswi guru-guru dengan ucapan selamat pagi. Disambut gembira oleh guru dan siswa, siswi dengan ucapan selamat pagi Ibu Camat.

    Camat Malon memberikan motivasi kepada siswa,siswi, guru-guru dengan menyampaikan apapun kendala yang dihadapi terkait susah sinyal tidak mengurangi semangat untuk mengerjakan ujian lewat handphone.

    “Anak-anak tetap semangat walaupun melaksanakan USBD di ruang terbuka seperti di bukit tikungan Siku Ara,” jelasnya.

    Camat Malon mengucapkan terima kasih kepada Kepala Sekolah, guru-guru yang memiliki semangat juang untuk melancarkan USBD walaupun di tengah tantangan susah sinyal di sekolah.

    “Pagi ini saya bawa tamu 3 wartawan untuk meliput USBD di ruang terbuka di beberapa sekolah. Diantaranya, SMPN 04 Kota Komba, Desa Gunung yang melaksanakan USBD di Bukit Wokonggoro. Setelah ini kami meninjau USBD di tenda biru dibawah rumpun Bambu Betong Torok dari SMP Satu Atap (SATAP) Mesi, Desa Rana Kolong. Kemarin, Selasa, (13/4/2021) saya bersama Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto meninjau USBD SMPN 04 Kota Komba di Bukit Wokonggoro dibawah tenda biru campur orange,” jelasnya.

    Kepala SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Robertus Jani kepada wartawan di lokasi USBD Tikungan Siku Ara menjelaskan, hari pertama dan kedua masih dilaksanakan USBD di ruang kelas di SMP tersebut.

    “Selasa malam, (13/4/2021) sinyal sangat susah untuk mengakses internet. Pagi Rabu, (14/4/2021) saat berada di sekolah dan mau siap ujian, akses internet susah. Saya bersama guru mengambil keputusan cepat mencari lokasi sinyal. Kami memilih tempat di Tikungan Siku Ara untuk sinyal dari Waelengga dan Aimere. Sekolah sewa mobil pick up dua buah untuk mengangkut 46 anak-anak.jarak dari sekolah ke tikungan ini 3 kilometer.

    Peserta ujian tampak santai mengerjakan soal-soal di bawah tempat teduh. Meski duduk bergerombol, mereka tetap menaati prokes COVID-19 seperti menjaga jarak dan memakai masker.

    Mengerjakan ujian di atas rerumputan,semak-semak memang menemui banyak gangguan, antara lain peserta ujian selalu di gigit semut. Yang cukup menjengkelkan, misalnya ketika sedang mengerjakan ujian tiba-tiba baterai handphone mati.

    Guru-guru pendamping memang sigap menolong peserta ujian yang mengalami kesulitan. Mereka meminjamkan handphone kepada siswa siswi yang handphone-nya mati mendadak.

    Seperti yang dialami Tian, siswa kelas IX A Satu Atap (SATAP) Munde ini handphonenya sempat mati, hingga akhirnya ada guru meminjamkan Handphone kepadanya. Tapi sayangnya, Tian harus kembali mengerjakan soal dari awal.

    “Saya sempat pusing pak, tadi itu handphone saya mati karena lowbat padahal saya sudah mengerjakan soal nomor 30, itu mau selesai tiba-tiba handphone mati. Lalu ada guru yang bantu, dia pinjamkan handphone-nya ke saya, saya nyaris putus asa karena harus login lagi dan kerja soal dari awal lagi,” jelas Tian.

    Terpisah Siswi SMP Satu Atap (SATAP), Ermelinda Febriliadi Selvi Putri menjelaskan, mengikuti ujian hari ketiga ini dilaksanakan di semak-semak di bukit di Tikungan Siku Ara. Duduk di tanah, di atas batu kecil serta di sela-sela pohon jati yang sejuk. Udara segar. Lokasinya teduh. Namun, sesekali agak terganggu dengan bunyi kendaraan yang melintasi jalan Trans Flores.

    “Saya bersyukur bisa mengerjakan soal ujian di handphone walaupun berada di ruang terbuka. Saya tidak membayangkan sebelumnya bahwa melaksanakan ujian hari ketiga di ruang terbuka. Harapan saya, semoga hanya kali ini saja melaksanakan ujian di ruang terbuka,” jelasnya.

    Terpisah Kepala SMP SATU ATAP (Satap) Mesi, Desa Rana Kolong, Baltazar Rana menjelaskan, sekolahnya membangun tenda biru di bawah rumpun bambu Betok Torok. Jaraknya 4 kilometer dari sekolah yang berada di kampung Mesi.

    Baltazar menjelaskan, 56 siswa dan siswi melaksanakan USBD didalam tenda biru dibawah rumpun Bambu. Tempat ini dikisahkan sangat mistis. Untuk itu sebelum ujian hari pertama dilaksanakan ritual adat oleh tetua adat setempat dengan nama ritual Tei Ghan Embo (beri sesajian kepada leluhur).

    Baltazar mendapatkan informasi dari tetua adat setempat bahwa rumpun Bambu ini dinamakan Betong Torok. Betong artinya bambu besar, dan torok artinya bersujud. Jadi jikalau diterjemahkan secara harfiah, bambu bersujud.

    “Rumpun Betong Torok dilarang ditebang. Bambu kering yang jatuh ke tanah juga tidak diambil masyarakat setempat. Tempat ini sangat mistis dan memiliki sejarah masa lalu,” jelasnya.

    Baltazar menjelaskan, hingga hari ketiga USBD berjalan lancar. Sinyal dari tower Aimere tidak ada gangguan.

    “Saya dan guru pernah mencoba di sekitar sekolah naik ke pohon untuk mencari sinyal. Namun, sinyalnya tidak bisa ditangkap. Letak sekolah ini memang ada di lembah di Kampung Mesi,” jelasnya.

    Data yang dihimpun menunjukkan bahwa dari 16 SMP yang melaksanakan USBD, tujuh diantaranya melaksanakan di ruang terbuka dan memakai gedung sekolah dasar. Seperti SMPN 09 Nangarawa memakai gedung sekolah dasar di Kisol. Jarak dari Nanga Rawa ke Kisol 6 kilometer, SMP SATU ATAP (Satap) Bonggirita memakai gedung Sekolah SDK Waelengga, SMPN 04 Kota Komba melaksanakan USBD di Bukit Wokonggoro, SMP SATU ATAP (satap) Mesi di bawah rumpun bambu, SMPN 02 Kota Komba di Mok di ruang terbuka di sekitar sekolah tersebut. Sementara itu SMP SATU ATAP (satap) Munde dihari ketiga melaksanakan USBD di Tikungan Siku Ara dan SMPK Rosa Mistika Waerana terpaksa melaksanakan USBD di Pinggir Pantai Mbolata karena sinyal di sekolah tidak bagus.

    Tantangan di Era Digital di Tengah Wabah Covid19

    Tantangan dunia pendidikan mengikuti perkembangan teknologi yang semakin canggih mengejutkan semua lembaga pendidikan yang belum memiliki sarana jaringan internet yang memadai di pelosok-pelosok Nusantara, khususnya di Manggarai Timur.

    Keterbatasan jaringan internet tidak mengurangi semangat guru-guru untuk menyiapkan generasi cerdas di tengah perkembangan zaman yang terus berubah dengan kecanggihan teknologi.

    Sejumlah Kepala Sekolah, Guru, pengurus komite sekolah, orang tua murid dan anak sekolah bahu membahu mencari lokasi sinyal, baik di bukit maupun di lereng-lereng bukit, bahkan meminjam gedung sekolah dasar untuk tempat ujian online.

    Tuntutan regulasi dengan Ujian sekolah berbasis digital (USBD) membuat lembaga pendidikan berjuang keras untuk mencari sinyal agar ujian berjalan lancar dan sukses.

    Salah satu Guru SMP Satu Atap (SATAP) Munde, Yohanes Arianto Anggal menceritakan bahwa mencari sinyal di lereng bukit tikungan Siku Ara pada Rabu, (14/4/2021).

    Awalnya, Cerita Anggal, pagi Rabu, sejumlah guru dibagi untuk mencari sinyal di bagian barat dan timur. Di bagian barat susah juga sinyal, sementara di bukit itu sinyal lancar dengan jaringan 4G. Lalu sejumlah guru itu melaporkan bahwa sinyal bagus di lereng bukit tersebut. Kemudian Kepala Sekolah, Robertus Jani bersama guru memutuskan mencari dua mobil pick up untuk mengangkut 46 siswa dan siswi agar melaksanakan USBD di lokasi itu.

    “Jadi USBD selama dua hari, Rabu, (14/4/2021) dan Kamis, (15/4/2021) melaksanakan USBD di lereng bukit tersebut. Bersyukur ujian online berjalan lancar. Kami terima kasih kepada Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon dan wartawan yang mempublikasikan peristiwa ujian di lereng bukit dan bukit-bukit di Kecamatan Kota Komba,” jelasnya.

    ************

    Penulis adalah wartawan tinggal di kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT.

  • Ansi Lema Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Universitas Nusa Nipa

    Maumere Berandanegeri.com – Anggota DPR/MPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Ansi  Lema menggelar sosialisasi  Empat Pilar Kebangsaan di Universitas Nusa Nipa Indonesia.

    Sosialiasi Empat Pilar Kebanggsaan dilakukan  secara virtual bertempat di meeting room gedung Sapientia, Universitas Nusa Nipa Indonesia Maumere, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT, Jumad 16 April 2021  dengan moderator  Hendrikus Darwin Beja,S.P.,M.Si yang juga sebagai Kaprodi Agroteknologi.

    Kegiatan sosialisasi ini merupakan kerjasama antara Fakultas pertanian Universitas Nusa Nipa bersama anggota DPR /MPRI RI Fraksi PDI Perjuangan Yohanis Fransiskus Lema, S.IP. M.Si  Komisi IV yang membidangi Pertanian, Perkebunan, Peternakan, Kelautan, Perikanan, Kehutanan dan Lingkunganan Hidup.

    Turut hadir Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa Drs. Sabinus Nabu, Rektor UNIPA Indonesia Dr. Ir. Angelinus Vincentius, M.Si,  Dekan Fakultas Pertanian Julianus Jeksen, S.P.,MP, Kaprodi,  para dosen dan mahasiswa/wi 

    Ketua Yayasan Pendidikan Tinggi Nusa Nipa Drs. Sabinus Nabu dalam kesempatan itu mengatakan dengan kehadiran anggota DPR Yohanis Fransiskus Lema, S.IP. M.Si   melalui virtual ini bisa memotivasi mahasiswa-mahasiswi tentang makna empat pilar kebanggsaan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara

    “Selain itu kami berharap untuk  membantu mempercepat  upaya  proses penegrian Universitas Nusa Nipa sehingga bisa terwujud kedepannya,,”kata Sabinus Nabu.

    Sabinus Nabu menyebutkan  di Fakultas Pertanian ada dua program studi Agroteknologi dan Agrobisnis, kami berharap dengan jejaring yang ada di kementerian pertanian sehingga bisa membantu  dalam memenuhi fasilitas yang masih kurang seperti traktor dan lain-lain yang bisa  menunjang kerja civitas akademika Fakultas  Pertanian   Universitas Nusa Nipa Indonesia.

    Rektor Unipa Indonesia Dr. Ir. Angelinus Vincentius, M.Si menyampaikan apresiasi atas kehadiran anggota DPR Yohanis Fransiskus Lema, S.IP. M.Si dalam sosialisasi empat pilar kebanggsaan secara virtual. Dilain pihak menarik sekali singkatan yang disematkan dan akan diperjuangkan bagi  NTT yaitu soal Nelayan, Tani dan  Ternak.

    “Diera digital sekarang ini, masyarakat dengan mudah melihat sepak terjang setiap aktivitas yang diperjuangkan  terutama di bidang pertanian, peternakan, perikanan,” terangnya.

    Menurutnya tugas-tugas bapak sejalan dengan visi UNIPA untuk mengembangkan kawasan kepulauan flores sebagai satu kesatuan, dimana bidang pertanian dalam arti luas merupakan prime mover yang akan mendorong kemajuan dibidang lainya.

    Lanjutnya  saat ini UNIPA juga merencanakan penelitian mengenai peran, fungsi bendungan Napun Gete untuk pertanian yang bermanfaat bagi kebutuhan air minum, pengairan, pertanian, perikanan dan pengembangan ekonomi kawasan.

    Anggota MPR/DPR RI Yohanis Fransiskus Lema, S.IP. M.Si  memaparkan materi dengan judul “Pancasila dalam Tindakan Bangkit dari Pandemi Covid-19”,  dilain pihak di tengah bencana banjir di NTT ini, kita  tidak boleh menyerah atau putus asah,  justru menjadi cambuk kita bersama untuk bergotong royong, saling mengulurkan tangan,

    Yohanis Ansi Lema memaparkan  4 konsensus dasar yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, Pancasila dan hBineka Tunggal Ika. Pilar pertama Pancasila  sebagai dasar atau ideologi yang mempersatukan bangsa, Pancasila digali dari nilai-nilai dasar senusantara, Pancasila juga sumber dari segalah sumber, dalam hirarki ketatanegaraan  Pancasila menempati urutan pertama sebagai jati diri menjadi karakter bangsa oleh kerena itu  Pancasila tidak boleh diganti dengan ideologi manapun.

    Republik Indonesia terdiri dari berbagai suku, agama ras, tentunya menyatukan perbedaan ini bukan tanpa resiko atau tanpa usaha, perbedaan harus merekatkan kita bukan meretakkan kita. Untuk merekatkan Indonesia  dengan berbagai perbedaan tersebut, kita hanya  butuh satu nilai dasar yaitu Pancasila.

    Pilar kedua kehidupan berbangsa dan bernegara bagi bangsa Indonesia adalah Undang-Undang Dasar 1945. Untuk dipahami bersama, diperlukan terlebih dahulu makna UUD untuk kehidupan berbangsa, bernegara dan prinsip-prinsip yang terkandung dalam Pembukaan UUD 1945 

    Pilar ketiga adalah Bhinneka Tunggal Ika merupakan semboyan yang pertama kali diungkap oleh Mpu Tantular seorang pujangga agung Kerajaan Majapahit yang hidup pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk.

    Semboyan atau sesanti dalam kakawin Sutasoma yang berbunyi “Bhinna ika tunggal ika, tan hana dharma mangrwa, yang artinya “Berbeda-beda itu satu, satu itu tak ada pengabdian yang mendua.

    Sedangkan, pilar ke empat  Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) merupakan bentuk negara tempat kita berada yaitu kesatuan.

    ”Selain menjaga eksistensi 4 pilar kebanggsaan, Yohanis Ansi Lema  juga mengatakan  selama menjadi anggota DPR RI, ia selalu siap memperjuangkan hak-hak rakyat dari NTT terutama dibidang Pertanian, Peternakan, Perikanan.

    “Apa  yang disampaikan oleh  segenap keluarga  besar UNIPA terkait dengan  upaya penegrian UNIPA dan juga dukungan dalam sektor Pertanian, Perikanan, Kelautan akan saya  perjuangkan melalui mitra kami dikementerian-kementerian,”ujarnya.

    Dekan Fakultas Pertanian Julianus Jeksen,S.P.,MP Mengungkapkan  Fakultas Pertanian dalam implementasi tridharma perguruan tinggi yaitu dharma pengabdian kepada masyarakat maka senantiasa bekerja sama  dengan kelompok-kelompok tani di pedesaan, demi ikut membangun sektor pertanian di kabupaten Sikka

    “Hal ini  membutuhkan dukungan penuh semua pihak diantaranya bapak anggota DPR RI  Yohanis Fransiskus Lema, S.IP. M.Si,”tandasnya. (Atic)

  • Ikan Paus “Bawa” Raja Dasion Raih Gelar Doktor di UGM

    Ikan Paus “Bawa” Raja Dasion Raih Gelar Doktor di UGM

    BERANDANEGERI.COM,- Dr. Agustinus Gergorius Raja Dasion, SS. MA, putera Lembata, Nusa Tenggara Timur kelahiran kampung nelayan Lamalera, Kecamatan Wulandoni, berhasil meraih gelar doktor sosiologi di bawah bimbingan Promotor Prof Dr Heru Nugroho dan Ko-Promotor Dr Hakimul Ikhawan, MA di Departemen Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) Universitas Gajah Mada, Yogyakarta, Kamis (15/4/2021) pagi.

    Gusti Dasion, sapaan akrabnya, mempertahankan disertasi berjudul “Merebut” Paus di Laut Sawu: Analisa Wacana Konservasi Paus di Lamalera, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan predikat Sangat Memuaskan dalam Sidang Terbuka Ujian Promosi Doktor di bawah tim penguji Prof Dr Suharko, Dr Sugeng Bayu Wahyono, Dr Arie Sujito, dan Dr Oki Rahadiato.

    Prof Heru dalam pertanyaan pemantik pengantarnya meminta Agustinus Gergorius Raja Dasion menjelaskan apa yang menarik dari term “merebut paus di Laut Sawu” dalam disertasinya. Apalagi, persoalan perburuan paus bukan hanya persoalan lokal Lamalera namun juga global. Persoalan ini juga sudah diekspos oleh media dunia seperti British Broadcasting Channel maupun National Geographic.

    Dr. Agustinus Gergorius Raja Dasion, SS. MA

    “Disertasi saya ‘Merebut” Paus di Laut Sawu. Diksi ‘merebut’ paus sesungguhnya menggambarkan keseluruhan studi saya. Yaitu bagaimana wacana konservasi direbut negara bersama aparatusnya yang dibuat di laut Sawu dengan wacana konservasi dengan masyarakat lokal yang berburuh paus secara tradisional,” kata Raja Dasion dalam keterangan tertulis Ata Lembata, komunitas Lembata Diaspora Sedunia di Jakarta, Jumat (16/4 2021).

    Menurut Raja Dasion ada dua hal penting dari term ‘merebut” paus di Laut Sawu dalam disertasi itu. Pertama, terjadi gap pengetahuan antara konservasi global dengan konservasi lokal dalam hal ini masyarakat Lamalera. Kedua, saat negara dan aparatusnya hadir dengan konsep konservasi global ada antagonism, penolakan masyarakat Lamalera dengan wacana konservasi lokal tradisi berburuh paus di laut Sawu hingga saat ini.

    Ia menambahkan ada banyak subyek dalam kontestasi ‘merebut’ paus di laut Sawu. Subyek dimaksud adalah negara dan aparatusnya, juga beberapa lembaga konservasi global seperti World Wildlife for Nature (WWF) dan The Nature Concervancy (TNC). Kemudian aparatus negara seperti Dinas Pariwisata dan Dinas Kelautan dan Perikanan baik Kabuaten Lembata maupun Provinsi Nusa Tenggara Timur. Berikut di tingkat lokal ada banyak subyek yang begitu cair seperti para tetua adat, nelayan, dan organisasi-organisasi yang mendukung upaya lefa nuang atau tradisi berburuh paus yang hingga saat ini bertahan dan dilakukan masyarakat lokal Lamalera.

    Tatkala paus dilarang diburuh oleh negara melalui aparatusnya karena takut terhadap tekanan global, maka posisi masyarakat lokal juga tentu berpengaruh. Namun, hal ini menurut Raja Dasion, masyarakat Lamalera menggantungkan konservasi dengan mempertahankan kearifan lokal karena sejak dulu konsep konservasi masih sama.

    Perbedaannya, kata Raja Dasion, terletak pada beberapa cara. Pertama, sejak dulu masyarakat Lamalera menggunakan tombak atau peralatan tradisional, traditional tools untuk menikam paus. Kedua, sebelum melakukan ritus lefa nuang, ada beragam ritus yang harus dilakukan. Hal ini wajib karena paus tak sekadar urusan kepentingan ekonomi tetapi juga masalah teologis, filosofis, sosial, dan keseluruhan sistem hidup masyarakat lokal dalam hal ini Lamalera.

    Foto dari Google

    Ko-Promotor Hakimul Ikhawan di saat memulai bertanya lebih jauh, menyampaikan duka mendalam bagi warga Nusa Tenggara Timur, khususnya Lembata, tanah kelahiran promorendus Raja Dasion, tim penulis buku Membangun Tanpa Sekat, yang diterpa bencana banjir lahar dingin dan badai Seroja bebepa minggu belakangan.

    Hakim di pengantar ujian dengan sedikit guyon mengatakan, riset Gusti barangkali terbawa mimpi. Ia memuji Gusti yang berusaha mencari signal telekomuniasi dari Kupang untuk dapat mempertahankan disertasi secara daring melalui zoom meeting di hadapan tim penguji dari kampus Bulaksumur dan dinyatakan lulus dengan predikat Sangat Memuaskan. “Terima kasih atas atensi, perhatian Pak Hakim atas bencana alam yang belakangan melanda NTT, khususnya Lembata,” kata Raja Dasion.

    Nelayan tangkap 5 ekor paus

    Joseph Boli Batafor, seorang warga Lamalera di Jakarta mengatakan, pihaknya mengapresiasi Raja Dasion, seorang putra asli Lamalera yang menulis disertasi tentang lefa nuang dalam kajian akademiknya di Departemen Sosiologi Fisipol Universitas Gajah Mada. Jejak akademik ini mulai digeluti banyak putra-puteri lokal seperti Dr Jakobus Blikololong yang menulis disertasi tentang pasar barter di Desa Wulandoni, Kecamatan Wulandoni.

    “Kamis (15/4) kemarin, nelayan Lamalera berhasil menangkap lima ekor paus dari perairan laut Sawu dan langsung ditarik ke bibir pantai. Peristiwa ini dalam keyakinan kami di Lamalera adalah rekayasa Alepte teti Kova Lolo, Tuhan penguasa alam semesta karena knato, berkat lima ekor paus itu ditikam nelayan bersamaan dengan ujian disertasi promorendus Raja Dasion,” ujar Boli Batafor.

    Lima ekor paus raksasa itu ditangkap nelayan dengan menggunakan perahu Teti Heri milik suku Batafor, Mula Blolo dari suku Keraf Lamalera A, Nara Tena milik suku Keraf Lamalera B, Soge Tena dari suku Tapoona, dan Java Tena dari suku Bataona. “Rabu (15/4) sekitar jam 09.00 hingga 10.00 WITA, nelayan berteriak, ‘Baleo…..baleo…’. Nelayan rame-rame mendayung perahu dan mulai berburu. Mereka berhasil menangkap lima ekor paus berbobot besar namun ada satu ekor sangat besar dibanding empat lainnya,” kata Boli Batafor lebih lanjut. 

    Foton Doug Clark

    Doktor Raja Dasion lahir di Lewoleba, Lembata, 5 April 1984. Lahir dari pasangan suami-isteri guru, Fransiskus Atakebelen Dasion dan Maria Bulu Batafor. Raja Dasion sekolah di Taman Kanak-kanak (TK) Ade Irma Suryani Nasution Lamalera, Wulandoni dan SD Inpres Labalimut (Boto), Kecamatan Nagawutun, SMP Sanctissima Trinitas Hokeng, Kabupaten Flores Timur dan SMA Seminari San Dominggo, Hokeng. Ia menyelesaikan studi S-1 di Fakultas Filsafat Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Kemudian S-2 bidang Sosiologi diraih dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta. Sejak 2016 menempuh studi S-3 bidang Sosiologi di Departemen Sosiologi Fisipol UGM.(*ben)

  • Cari Pendidikan Lanjutan yang Cocok? Yuk Daftar di SMK Katolik Henricus Leven Waibalun

    BERANDANEGERI.COM,- Pandemi Covid-19 dan ingatan akan bencana alam belum juga berlalu. Namun hal ini tidak harus membuat semua orangtua terlena untuk tidak lagi memikirkan masa depan pendidikan anak-anak, apalagi tahun ajaran baru sudah di depan mata.

    Di tengah perubahan zaman menuju era digitalisasi, menuntut juga perubahan dalam cara pendidikan untuk mempersiapkan masa depan anak. Sebab, saat ini dan kedepan, tak hanya pekerjaan baru yang bermunculan, melainkan pekerjaan yang sudah ada juga mengalami perubahan.

    SMK Katolik Henricus Leven Waibalun- Larantuka – Flores Timur merupakan sekolah kejuruan yang didirikan untuk menyiapkan anak-anak dalam meraih masa depan ini. Dari visi sekolah ini yakni, unggul dalam prestasi, terampil dalam berkarya, kompeten dalam kerja, dan berlandaskan iman Kristiani.

    Visi yang kuat akan masa depan pendidikan anak ini, sungguh tergambar dalam misi sekolah, diantaranya, Pertama, melaksanakan pembelajaran aktif, inovatif, kreatif dan menyenangkan (PAIKEM).

    Kedua, meningkatkan profesionalitas guru dan pegawai sesuai dengan kualifikasi

    Ketiga, membangun dan membina jaringan kerja sama dengan dunia usaha dan industri nasional serta masyarakat luas dalam mengembangkan standar lulusan.

    Dan keempat, mengembangkan keunggulan ketrampilan dan ketelitian dengan mengutamakan kedisiplinan  dan kejujuran yang dilandasi oleh jiwa dan semangat keimanan, kreativitas, kekeluargaan dan kepedulian serta kasih sayang  terhadap sesama dan lingkungan.

    Sementara pada tujuan didirikannya sekolah ini adalah menyiapkan peserta didik dengan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni serta berkarakter agar menjadi manusia yang produktif, mampu bekerja mandiri, mengisi lowongan pekerjaan yang ada pada dunia usaha dan dunia industrI sebagai tenaga kerja trampil sesuai dengan kompetensi program keahliannya.

    Tujuan dari sekolah juga ini meningkatkan tenaga pendidik dan kependidikan yang berdaya guna dan berdaya saing pada tingkat lokal dan Nasional sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan

    Berhubungan dengan itu, maka ada tujuan lain yakni membekali peserta didik agar mampu memilih karir, ulet dan gigih dalam berkompetisi di lingkungan kerja dan mengembangkan sikap professional dalam bidang keahlian yang diminatinya.

    Juga dan yang terpenting adalah memperteguh sikap kepedulian sosial terhadap sekolah, masyarakat, nusa dan bangsa.

    SMK Katolik Henricus Leven membuka sejumlah kompetensi keahlian. Yakni Kompetensi Keahlian Farmasi, Kompetensi Keahlian Busana Butik, dan Kompetensi Keahlian Multimedia.

    Mau tahu materi apa yang diajarkan pada setiap kompetensi keahlian ini ? Untuk Program Keahlian Farmasi, siswa diajarkan tentang bagaimana teknik pembuatan obat dan peraturan tentang obat-obatan.

    Di akhir masa pendidikan selama 3 (tiga) tahun, siswa akan mendapatkan sertifikat kompetensi keahlian farmasi dari PAFI (Persatuan Ahli Farmasi Indonesia)

    Siswa lulusan Program Keahlian Farmasi dapat menjadi asisten apoteker, baik di apotik, rumah sakit, puskesmas, klinik, dan bahkan di industri obat-obatan.

    Untuk Kompetensi Keahlian Busana Butik, memfokuskan pada bidang pembuatan busana dalam pengelolaan dan penyelenggaraan usaha busana serta mampu berkompetisi dalam mengembangkan sikap profesional dalam bidang busana.

    Kompetensi keahlian ini berusaha menyiapkan peserta didik agar memiliki kemampuan pengetahuan dan keterampilan baik dalam fashion design, teknik menjahit, membuat busana dan teknik pola.

    Terampil membuat pola busana sesuai dengan model atau desain yang diinginkan pelanggan dengan pemilihan sistem pembuatan pola yang tepat. Mengoperasikan mesin jahit sekaligus menyelesaikan busana dengan jahitan tangan.

    Pada Kompetensi Keahlian Multimedia yang merupakan kombinasi teks, seni, animasi, gambar dengan dilengkapi audio video, dikomunikasikan atau disampaikan baik melalui komputer atau peralatan manipulasi elektronik dan digital lain.

    Siswa SMK Katolik Henricus Leven pada kompetensi keahlian ini akan mampu  membuat : Projek web design, Fotografi, Membuat iklan layanan masyarakat dan iklan komersial, Membuat film fiksi atau non fiksi dan film dokumenter, Membuat video klip, design cover dan isi majalah, Design produk untuk sebuah kemasan, dan Design spanduk dan design banner

    Untuk membedakan satu kompetensi dengan kompetensi yang lain, serta mengajarkan disiplin, profesional belajar serta memberikan rasa nyaman saat belajar, maka setiap kompetensi keahlihan memiliki seragam, buku dan alat praktiknya sendiri.

    Kompetensi Keahlian Busana Butik, misalnya, mengenakan seragam Yayasan, Seragam Olah Raga, Kaos Kaki Berlokasi, Logo Yayasan dan Lokasi Sekolah dan Baju Praktek Busana.

    Kompetensi Keahlian Multimedia dan Farmasi mengenakan Seragam Yayasan, Seragam Olah Raga, Kaos kaki Berlokasi, Logo Yayasan dan Lokasi Sekolah, Seragam Kejuruan untuk Praktek Lab dan Lapangan, Jas Lab untuk Farmasi dan Buku Paket Siswa

    SMK Katolik Henricus Leven siap untuk menampung putra-putri bapak/ibu semua, dengan fasilitas, Ruang Teori, Ruang Perpustakaan, Ruang Laboratorium Komputer, Internet/Wifi, Band Sekolah, dan Kantin. Dan jangan lupa Siswa yang datang dari luar Kota Larantuka, disediakan Asrama yang didampingi para Suster

    Tunggu apalagi ? Segera memastikan anak Anda menjadi bagian dari pendidikan di SMK Katolik Henricus Leven, dengan syarat pendaftaran: STTB/Ijasah Asli SMP/Sederajat, SKHUN Asli SMP/Sederajat, Foto Copy STTB/ Ijazah SMP/Sederajat yang sudah dilegalisir sebanyak 4 lembar, Foto Copy SKHUN SMP/Sederajat, sebanyak 4 lembar, Pas Foto 3 x 4 Hitam Putih sebanyak 4 lembar, Foto Copy Akta Kelahiran dan Surat Permandian sebanyak 1 lembar, Foto Copy Kartu Keluarga, Usia Maksimal 21 Tahun Pada Tahun Ajaran Baru

    Melalui brosur yang diterbitkan oleh SMK Katolik Henricus Leven, pendaftaran siswa baru sudah dibuka, masyarakat sudah boleh mendaftar mulai sekarang. Tempat pendafratan Kantor SMK Katolik Henricus Leven, Susteran CIJ Waibalun – Larantuka. Atau WA: 081-328-188-716

    (bn)

  • Forkopimda Jatim Berangkatkan Bantuan Sebanyak 30 Truk ke NTT

    BERANDANEGERI.COM,–  Guna meringankan beban para korban bencana banjir bandang akibat  siklon tropis seroja yang terjadi di sebagian wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa bersama jajaran Forkopimda Jatim yakni Kapolda Jatim Irjen Pol. Nico Afinta, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto beserta Pangkoarmada II Laksda TNI I N. G. Sudihartawan memberangkatkan bantuan sebanyak 30 truck ke NTT melalui jalur laut.

    Bantuan berupa kebutuhan hidup sehari-hari berupa beras, mie instan, air mineral kemasan, pakaian layak pakai, makanan bayi, tenda, selimut, alat mandi, perlengkapan ibadah, obat-obatan, masker, dan lain sebagainya itu dikirim dengan menggunakan KRI Tanjung Kambani-971.

    Bersama Kapolda Jatim Irjen Pol. Nico Afinta, Pangdam V Brawijaya Mayjen TNI Suharyanto beserta Pangkoarmada II Laksda TNI I N. G. Sudihartawan, Gubernur Khofifah Indar Parawansa pun memberangkatkan bantuan tersebut di Dermaga Madura Ujung, Makoarmada II Surabaya, Kamis (15/4) pagi.

    Untuk mengetahui secara pasti bantuan yang dikirimkan, Gubernur Khofifah bersama jajaran Forkopimda berkesempatan untuk melihat secara dekat di dalam KRI Tanjung Kambani-971.

    Kepada awak media, orang nomor satu di Jatim itu menyampaikan bahwa bantuan yang dikirimkan merupakan bentuk kegotong royongan serta keguyub rukunan warga Jatim memberikan bantuan kepada saudara kita di NTT yang sedang tertimpa musibah banjir akibat siklon tropis.

    “Ini adalah kegotong-royongan, keguyub rukunan masyarakat Jawa Timur, yang menjadi sebuah social capital yang harus kita jaga. Jika ada saudara kita yang membutuhkan bantuan, spontan kegotongroyongan tampak konkrit ,” ujar Gubernur Khofifah.

    Khofifah menambahkan, pengiriman bantuan tersebut merupakan bentuk solidaritas kemanusiaan.  Dimana di dalamnya merupakan salah satu indikasi untuk memupuk persaudaraan dan menjadi bagian dalam membantu ikut  menyelesaikan permasalahan para korban bencana di 8 kabupaten terdampak di NTT.

    “Mudah-mudahan bencana ini segera diangkat oleh Allah dan mereka semuanya tetap diberi semangat dan  optimisme untuk menjalani kehidupan,” harapnya.

    Selain memberangkatkan bantuan kepada korban bencana di NTT, Pemprov Jatim terlebih dahulu memberangkatkan 100 lebih personil tim Tanggap Bencana (Tagana). Pengiriman mereka ke NTT untuk membantu masyarakat pasca bencana.

    Gubernur Khofifah pun mengapresiasi Pangkoarmada II yang telah menyiapkan arnada KRI untuk  memberangkatkan seluruh bala bantuannya kepada para korban bencana di NTT.

    Bahkan sebelumnya, Pangkoarmada II bersama Pemprov Jatim juga pernah bersinergi mengirimkan bantuan ke beberapa wilayah terdampak bencana di Indonesia. Seperti di Kalimatan Selatan (Kalsel) dan Sulawesi Barat (Sulbar).

    “Semoga bisa menjadi bagian dari penyelesaian persoalan sosial dan finansial, yang menjadi wujud dari kepedulian bagi saudara kita,” kata mantan Menteri Sosial RI ini.

    “Mudah-mudahan Allah melipat gandakan kebaikan kita semua, dan masyarakat di NTT cepat keluar dari masalah serta diberikan kemudahan menjalankan tugas kedepannya,” imbuhnya.

    Bantuan kemanusiaan yang dikirimkan melalui jalur laut itu diperoleh melalui kerjasama Satgas Penanggulangan Bencana (Gulben) Spotmar Koarmada II bekerjasama dengan Satgas Posko Bantuan Kemanusiaan Bencana Alam NTT Lantamal V Surabaya.

    Bantuan sosial tersebut berasal dari Gubenur Jatim, Pangkoarmada II, Kapolda Jatim, Pangdam V Brawijaya, Walikota Surabaya, Komandan Lantamal V, Kadissenlekal serta beberapa perwakilan masyarakat. Selama proses pengumpulan bantuan sampai ke titik pengiriman Armada II tetap menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.(Ben)

  • Komunitas “Kracker Mof” Membantu Korban Bencana di Adonara dan Lembata

    Maumere Berandanegeri.com – Bantuan untuk korban bencana banjir yang melanda wilayah Adonara di Kabupaten Flores Timur dan  Kabupaten Lembata beberapa waktu lalu terus berdatangan. Kali ini bantuan datang  dari Komunitas Kracker Mof.

    Dari swadaya anggota dan open donasi yang dilakukan komunitas ini berhasil terkumpul uang sejumlah Rp. 30-an juta, dan semuanya dibelanjakan dalam bentuk kebutuahan  sembako  untuk didistribusikan bagi korban bencana di Adonara dan Lembata.

    Ketua Komunitas Kracker Mof, Syahbudin Bmboka, kepada media ini, Jumat (16/04/2021) mengatakan bantuan ini merupakan wujud kepedulian komunitas Kracker Mof  terhadap situasi dan kondisi masyarakat yang sedang mengalami musibah.

    Dikatakannya donasi yang dihimpun tidak hanya berasal dari anggota Kracker Mof, tetapi juga berasal dari komunitas pecinta sepeda motor dari wilayah lain.

    “Komunitas Kracker Mof  yang beranggotakan 11 orang  yang  aktif di komunitas motor, masing-masing  berprofesi sebagai anggota polisi, karyawan bank, PDAM, pengusaha, kontrakor, guru dan komunitas pencinta sepeda motor lain juga tidak mau ketinggalan membantu meringankan warga yang terdampak bencana banjir di Adonara dan Lembata”, “ujar ajudan Kapolres Sikka.

    Bantuan yang  akan didistribusikan antara lain: 2,5 ton beras dalam kemasan 5 kg, air mineral kemasan 50 dos, minyak goreng goreng 10 dos, 100 kg gula pasir, mie instan 50 dos, pampers bayi 10 dos, aneka minuman sereal, bumbu masak, minyak gosok, bedak bayi dan perlengkapan mandi serta pakaian bekas layak pakai.

    Dikatakan Syahbudin, bantuan ini akan didistribusikan langsung oleh Komunitas Kracker Mof kepada korban, Sabtu (17/4/2021).

    “Ada tiga pick up yang kita siapkan untuk mendistribusikan bantuan ini ke Adonara dan Lembata, dan akan di kawal dengan motor trail dari komunitas. Selain itu kita akan berkoordinasi dengan pihak terkait di dua wilayah tersebut,” jelasnya.

    Atas nama Komunitas Kracker Mof, Syahbudin menyampaikan terima kasih atas partisipasi dari semua pihak atas kepeduliannya kepada keluarga korban yang disalurkan melalui Komunitas. (Atic)

  • Dua LCU KRI Semarang 594 Dikerahkan untuk Mengangkut Bantuan ke Adonara – Flores Timur

    Maumere Berandanegeri.com – Dalam pendistribusian bantuan kemanusiaan untuk korban banjir bandang di pulau Adonara Kabupaten Flores Timur KRI SEMARANG (SMR) 594 yang sandar didermaga Lewoleba NTT mengerahkan dua Landing Craft Utility (LCU) pada Rabu (14/4).

    LCU dikerahkan mengingat keterbatasan dermaga sebagai fasilitas sandar yang belum memadai untuk seukuran KRI SMR 594. Untuk itu dikerahkan 2 unit LCU ke Adonara tepatnya di dermaga Deri Kecamatan Ile Boleng Kabupaten Flores Timur.

    Sebelum bantuan didistribusikan ke lokasi banjir bandang Adonara Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi M.Tr. Hania, M.M. CTMP yang didampingi oleh Pelaksana KRI 594 Mayor Laut (P) Salam, menyerahkan paket bantuan secara simbolis kepada bupati Flores Timur Hubertus Gege Hadjon.

    Bantuan kemudia diangkut oleh LCU-1 SMR 459 dan LCU-2 dipindahkan ke dalam kendaran truk menuju desa Nelelamadike,  Kecamatan Ile Boleng sebagai posko utama banjir bandang dan selanjutnya didistribusikan ke kecamatan Adonara Timur untuk korban banjir bandang di Desa Waiburak-Waiwerang dan Kecamatan Adonara Barat, Desa Oyang Barang.

     Prajurit Lanal Maumere bersama prajurit Marinir Yon Marhanlat Vll beserta prajurit KRI SMR 594 turut saling membantu memindahkan bantuan paket sembako dan dua LCU SMR 1 dan 2 ke kendaraan truk didermaga ASDP Deri Kecamatan Ile Boleng Kabupaten Flores Timur. (Atic)  

  • R u m a h

    Goenawan  Mohamad

    DI ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut, sebuah dusun di Flores Barat mencoba mengingat.

    Di Desa Wae Rebo itu, orang membangun kembali rumah adat mereka yang berbentuk kerucut—setelah entah berapa lama hanya empat yang tertinggal dari tujuh yang pernah berdiri, setelah pohon kayu worok tak mudah lagi didapat untuk bahan tiang utama, setelah sawah ladang tak cukup bisa membuat surplus. Generasi silih berganti selama 1.000 tahun; mereka membentuk sejarah, dibentuk sejarah. Kebutuhan baru datang, dan desa didefinisikan oleh kekurangan yang dulu tak ada. Pada abad ke-21, ingatan tak lagi berwibawa: hanya sebuah gudang berisikan hal-hal yang aus.

    Waktu memang bukan teman untuk Wae Rebo—sebagai nama yang dicoba disimpan dalam ingatan dan dilambangkan oleh rumah adat. Waktu bukan teman bagi banyak dusun tua lain di Indonesia, di mana rumah pernah memiliki ”kosmisitas”, di mana (jika saya tafsirkan pengertian Bachelard ini) orang bisa merasakan getar dari tiang yang menjulang, seakan-akan tiap saat bumi menjangkau yang kosmis.

    Kita, hidup di kota yang makin padat, mungkin bahkan tak lagi sempat mempedulikan yang kosmis nun di atas. Yang vertikal di tempat tinggal dan tempat kerja kini dilambangkan oleh bangunan bertingkat yang tiap lantai bisa didatangi dengan lift. Ia jadi sesuatu yang horizontal. Tubuh kita tak mendaki.

    Berbeda dengan nenek moyang orang Wae Rebo, kita tak berteman dengan ruang. Penghuni Wae Rebo yang hidup di antara gunung itu menyadari mereka bagian dari tamasya yang lebih luas ketimbang dusun. Sementara itu, di Jakarta, para pembangun rumah susun memaksa ruang atau dipaksa ruang; konstruksi mereka lahir dari impuls geometris.

    Impuls ini—”geometrisme”, kata Bachelard—menggariskan batas yang lurus-kaku, dan dengan itu memisahkan apa yang di luar dan di dalam. Di hampir semua segi kehidupan, ruang terbuka dianggap serasa ancaman, karena akan datang yang ajaib dan tak dapat dikalkulasi. Manusia tak takut klaustrofobia; mereka menanggungkan agorafobia.

    Tapi barangkali akan berlebihan bila kita terus-menerus mengeluhkan kota-kota zaman ini dan menyesali modernitas. Modernitas, yang memacu dan dipacu waktu, mendorong X, Y, Z ke masa lalu, dan kemudian mengubah semua itu jadi nostalgia. Namun nostalgia justru menunjukkan bahwa kita terpaut pada masa kini: kita memandang X, Y, Z dari posisi manusia masa sekarang yang sedang takut kepada lupa.

    Maka nostalgia adalah ingatan yang memperindah ingatan. Sebab itu kita tak perlu mencemoohnya: ia bagian yang memperkaya hidup kita sekarang, karena mengakui ada dari masa silam yang begitu penting, begitu bagus, dan kita ingin tahu.

    Maka jika sejumlah arsitek muda dari Jakarta pada suatu hari di tahun 2009 berjalan berjam-jam mendaki ke Dusun Wae Rebo, dan di sana mengagumi konstruksi rumah adat itu, jika mereka kemudian membentuk sebuah yayasan buat menghidupkan lagi kepiawaian arsitektural di pelosok-pelosok Indonesia, jika kemudian ada dermawan yang membiayai usaha untuk mensyukuri tanah air dengan cara yang kreatif itu—itu semua menunjukkan bahwa nostalgia itu adalah bagian dari pencarian hal-hal yang baru dan berbeda. Buku yang kemudian mereka terbitkan, Pesan dari Wae Rebo (editor Yori Antar, terbitan Gramedia Pustaka Utama, 2010) adalah rekaman semua itu.

    Rasa ingin tahu itu sebenarnya mengandung kritik. Di situ ia sebenarnya bagian dari modernitas, yang tak mau hanya menerima apa yang ada. Dan modernitas bergerak karena kritik itu juga tak jarang ia tujukan ke dalam dirinya sendiri.

    Salah satu otokritik yang terkenal menunjuk kepada ketakmampuan kita untuk merasakan tempat kita tinggal sebagai bagian dari Hidup yang tiap kali membuat takjub. Kini kita kehilangan pesona dunia: harum kembang, suara burung, warna fajar, telah jadi ”pengetahuan”. Rumah telah jadi kamar persegi panjang.

    Heidegger, yang dengan suara berat melakukan otokritik kepada abad ke-20, mengingatkan kita akan makna kata bauen. Baginya, makna kata itu bukan saja mengacu kepada ”membangun”, tapi juga hidup di bawah langit, hidup di antara semua yang fana, tapi juga bagian dari apa yang tumbuh—baik karena benih sendiri atau diolah jadi kebudayaan.

    Tapi di mana kini kita bisa bicara seperti itu? Ini abad ke-21. Otokritik itu juga perlu kritik. Manusia tak lagi, untuk menggunakan kalimat penyair Hölderlin di Jerman abad ke-18, ”berdiam secara puitis” (dichterisch wohnet der Mensch). Di kota-kota Indonesia yang padat, manusia berhubungan dengan ruang hidupnya sebagai prosa dengan angka-angka di akta tanah.

    Tapi tak hanya itu. ”Berdiam secara puitis” agaknya hanya bisa diutarakan oleh mereka yang punya rumah yang sejuk dan tenang, mungkin bahkan dengan hutan dan sungai di dekatnya. Tak semua orang punya privilese itu. Kuli bangunan yang menginap dari tempat ke tempat, para pemulung yang membuat kereta-kotak jadi kamar tinggal mereka yang bisa diparkir di mana saja, punya pengertian lain tentang ”rumah”.

    Pada akhirnya, rumah adalah respons kepada kebutuhan tubuh, yang berkembang jadi rencana dan imajinasi. Ingatan tentang rumah masa lalu hanya penting jika ia bagian dari respons itu. Di situlah rumah adat dan rumah darurat punya titik temunya. Bukan dalam bentuk, tapi dalam kreativitas: kemampuan menemukan cara yang pas, di suatu masa, di suatu tempat, di sebuah kondisi berkelebihan dan berkekurangan.

    Maka kita akan dapat sesuatu yang berharga jika dari Desa Wae Rebo kita temukan sesuatu yang baru di dalam bentuk fisik yang tampak lama. Kita mengingat, tapi kita tak mengulangi. Sejarah tak bisa diulangi. Sejarah berubah. Antara lain melalui kreasi.

    —– Sumber Majalah Tempo Edisi Senin, 28 Juni 2010 —–

  • Bukit Wokonggoro menjadi Cerita Kehidupan Sepanjang Masa (Bagian Pertama)

    Oleh Markus Makur

    BUKIT Wokonggoro di Kampung Gurung, Desa Gunung, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur menjadi cerita kehidupan bagi 47 siswa dan siswi Sekolah Menengah Pertama Negeri 04 Kota Komba di masa depan.

    Mengapa bukit itu menjadi cerita perjuangan bagi generasi penerus Bangsa Indonesia, bagi Manggarai Timur, bagi Nusa Tenggara Timur dan bagi Desa Gunung dan beberapa desa tetangga?

    Mari ikuti ceritanya. Saya coba menarasikan sesuai apa yang saya amati di bukit itu saat 47 siswa dan siswi, Senin, (12/4/2021).

    Minggu malam, (11/4/2021), saya kontak Kepala Sekolah SMPN 04 Kota Komba, Fidelis Ambon. Saya ingin memperoleh informasi, apakah bukit Wokonggoro tetap dijadikan tempat untuk pelaksanaan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) 2021. Saya memperoleh jawaban iya, lalu saya memutuskan bahwa esok pagi, Senin, (12/4/2021) saya mau meliput USBD di bukit tersebut. Jawaban dari Kepala Sekolah, “terima kasih. Kami tunggu di bukit itu.

    Saya bangun pagi Senin, (12/4/2021) jam 06.30 Wita. Sarapan pagi sudah disiapkan oleh istri saya. Ada minuman kopi pahit, kopi pait. Minuman kopi tanpa gula. Ini budaya minum kopi orang Manggarai Timur.

    Selesai sarapan, saya mandi. Memakai baju serta mempersiapkan alat kerja. Saya pinjam motor tetangga. Tak lama sesudah itu saya bergegas menuju ke tempat ujian tersebut. Kurang lebih 45 menit menempuh perjalanan dari Kompleks Mabakou, Waelengga ke bukit tersebut. Saya berangkat sekitar jam 07.20 Wita.

    Dari Waelengga, saya bergegas ke arah timur, melewati kampung Padarambu, Kampung Baru, Kali Waekoe, Kampung Marokima, Padang Savana Teleng.

    Saya menikmati pemandangan yang indah sepanjang padang Savana Teleng. Saya menikmati suara merdu burung yang saling menyapa diantara mereka (baca burung) di kiri kanan jalan. Burung saja bisa saling menyala, saya membatin dalam perjalanan tersebut.

    Setiba di Kampung Gurung, saya belok kanan di jalan rabat beton sampai di pintu gerbang sekolah. Saya berhenti di depan pintu gerbang.

    Saya tidak tahu lokasi bukit tersebut. Lagi-lagi saya kontak Kepala Sekolah, bersyukur ada nada dering dan dia menyahutnya lewat sambungan kabel lunak di mobile phone. Saya tanya dimana lokasinya sebab saya sudah berada di depan pintu gerbang sekolah.

    Lalu Kepala Sekolah memberikan petunjuk bahwa dari gerbang sekolah belok kiri di jalan tanah menuju ke puncak bukit. Bisa dengan motor. Sebelumnya saya dapat informasi bahwa lokasi ujiannya di bawah tenda darurat. Nah, saat di gerbang sekolah lihat ada tenda di bagian timur dari sekolah tersebut. Dalam hati saya mengungkapkan bahwa lokasi ujian ada di bawah tenda tersebut.

    Perlahan-lahan, laju kendaraan roda dua melintasi jalan tanah tersebut. Saya laju terus tetapi belum dapat lokasi ujian tersebut. Lalu saya kembali ke bawah dan belok kiri di jalan tikus menuju ke tenda warna hijau. Saya parkir motor. Lalu jalan kaki menurun. Saya lihat di tenda itu tidak ada tanda-tanda bahwa anak sekolah yang sedang ujian.

    Kemudian mata saya tertuju ke atas bukit dengan melihat tenda darurat warna biru. Lalu saya lihat anak sekolah dengan pakaian seragam putih hitam. Akhirnya saya balik lagi ke jalan raya. Mengendarai lagi sepeda motor ke arah bukit tersebut.

    Perjuangan saya untuk menemukan bukit itu terwujud. Dari bawah jalan, saya melihat tenda darurat warna biru campur orange di bukit tersebut.

    Saya parkir motor di tempat yang baik. Kemudian saya jalan kaki. Dari jauh saya melihat senyum kepala sekolah. Saya naik tangga darurat. Saya dipersilahkan duduk di kursi yang sudah disediakan. Ada satu meja dan 4 kursi. Saya tetap taat protokol kesehatan dengan memakai masker. Kami tidak salaman seperti biasanya. Kepalan tangan saling bersentuhan saja.

    Dua kursi sudah ditempati Kepala Sekolah dan Ketua Komite SMPN 04 Kota Komba, Hilarius Asa. Kepala Sekolah dengan ramah menyapa saya dengan ucapan selamat pagi. Saya juga menjawabnya dengan selamat pagi.

    Tak lama kemudian, saya minta ijin di kepala sekolah untuk mengabadi saat 47 anak sedang mengerjakan soal di handphone. Saya lihat anak-anak serius mengerjakan soal di handphone. Dua tangan anak-anak memegang handphone sambil mengerjakan soal ujian. Saya foto dan videokan peristiwa unik, langka tersebut.

    Kemudian saya kembali duduk kursi. Selang beberapa menit, Ketua Panitia USBD SMPN 04, Yohanes Baeng duduk dan menyapa saya dengan ucapan yang sama, “selamat pagi”

    USBD sebagai Tantangan dan Cerita Kehidupan di tengah Covid19

    Kepala Sekolah SMPN 04, Fidelis Ambon mengisahkan bahwa Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) adalah sebuah tantangan di era digital sekaligus cerita kehidupan bagi lembaga pendidikan dan anak didiknya di masa akan datang.

    USBD kali ini angkatan ke 11. Sekolah ini didirikan 2008 lalu. Sebelumnya dilaksanakan ujian secara manual. Tahun ini ditengah pandemi covid19, ujian menggunakan sarana digital.

    Fidelis mengatakan, sekolah menyesuaikan diri dengan ujian berbasis digital. Berpikir. Berupaya dengan mencari lokasi sinyal yang daya tangkap jaringan 4G sangat kuat.

    Ditengah kesulitan susah sinyal ditambahkan situasi wabah Covid19, sekolah terus mengikuti semua petunjuk dari Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga agar tetap melaksanakan USBD dan juga taat dengan protokol kesehatan.

    Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, Olahraga (PPO) Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto didampingi Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon meninjau lokasi USBD SMPN 04 Kota Komba di bukit Wokonggoro, Desa Gunung, Selasa, (13/4/2021). (BERANDANEGERI.com/Markus Makur).

    Lokasi Bukit Wokonggoro, lanjut Fidelis, menjadi cerita sepanjang masa, baik oleh siswa dan siswi yang tamat tahun ini maupun oleh lembaga pendidikan SMPN 04 Kota Komba. Sebelumnya tak terbayangkan melaksanakan ujian di ruang terbuka di bukit.

    “Kerja keras. Upaya tak kenal lelah dengan mencoba, mencari dan menangkap jaringan internet di bukit itu membuahkan hasil. Jaringan sinyal di bukit itu bersumber dari BTS di Kabupaten Ngada. Try out berhasil. Dan dua hari USBD juga berjalan lancar. Diharapkan USBD sampai Kamis, (15/4/2021) berjalan dengan lancar,” jelasnya.

    Ketua Panitia USBD SMPN 04 Kota Komba, Yohanes Baeng menjelaskan, tuntutan di era digital dan regulasi memerintahkan ujian berbasis jaringan internet di tengah pandemi Covid19 membuat sekolah berpikir, berdiskusi untuk mencari dan menemukan solusinya. Antara regulasi dan kendala sekolah yang belum tersambung jaringan internet, listrik membuat Kepala Sekolah, guru, dan orang tua murid berjuang keras dengan berbagai upaya agar siswa dan siswi kelas III dapat melaksanakan USBD April 2021 ini.

    Baeng menjelaskan, lembaga pendidikan memberikan tanggung jawab kepadanya sebagai Ketua Panitia USBD 2021. Tanggung jawab dan kepercayaan ini dilaksanakannya sepenuh hati dengan melibatkan semua guru. Saat uji coba (Try out) Maret 2021, mereka mencari sinyal di bukit Wokonggoro dengan membawa laptop. Alhasilnya, jaringan internet 4G sangat kuat di bukit. Sekolah memutuskan bahwa bukit ini menjadi tempat uji coba USBD dan pelaksanaan USBD April 2021 ini. Mereka melibatkan orang tua murid, guru dan anak sekolah untuk membangun tenda dengan ukuran 7×11 meter. Tenda ini dibagi dalam tiga ruangan. Terbuka. Tidak dipisahkan dengan dinding. Bagian luar di kiri kanan, depan belakang terbuka. Kursi dan meja secara gotong royong diangkut oleh orang tua murid, anak sekolah dan guru-guru. Sekolah juga menyiapkan mesin generator untuk cas laptop dan handphone.

    Ketua Komite SMPN 04 Kota Komba, Hilarius Asa mengatakan, demi masa depan generasi penerus bangsa di Manggarai Timur umumnya, Desa Gunung dan desa tetangga khususnya, orang tua murid terlibat aktif untuk mensukseskan pelaksanaan USBD 2021 walaupun banyak kendala dihadapi seperti sarana internet belum memadai, komputer dan laptop di sekolah belum memadai, jaringan listrik juga belum tersambung.

    Hilarius berharap bahwa Pemerintah bisa memberikan perhatian serius untuk tahun-tahun mendatang dengan melengkapi sarana penunjang bagi SMPN 04 di era digital ini. Pemerintah membuat regulasi tetapi tidak ditunjang dengan sarana yang memadai. Kiranya kali ini saja, USBD April 2021 yang melaksanakan di sebuah bukit di ruang terbuka di luar sekolah.

    Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Manggarai Timur, Basilius Teto berjanji memprioritaskan bantuan jaringan internet, komputer dan laptop di SMPN 04 Kota Komba di tahun 2022.

    Teto sampaikan itu saat meninjau lokasi USBD dari SMPN 04 Kota Komba, Desa Gunung di Bukit Wokonggoro, Selasa, (13/4/2021).

    Camat Kota Komba, Ibu Regina Malon saat meninjau lokasi USBD SMPN 04 Kota Komba di Bukit Wokonggoro, Selasa, (13/4/2021) memberikan motivasi kepada 47 siswa dan siswi di SMPN 04 bahwa ini sejarah langka dan unik bagi kisah perjalanan anak-anak sekolah di masa depan. Dimana, mereka melaksanakan ujian di bukit, di bawah tenda serta pinjam handphone orang tua, pulsa juga dibeli orang tua, pulsa hotspot dari guru serta bantuan pulsa dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia.

    Camat Regina berpesan, jadikan peristiwa unik ini sebagai motivasi bagi 47 anak sekolah untuk meraih masa depan. Anak-anak ini calon pemimpin bagi Bangsa Indonesia, NTT dan Manggarai Timur.


    Penulis adalah wartawan tinggal di Kompleks Mabako, Waelengga, Manggarai Timur, NTT.