Blog

  • Kesulitan Sinyal internet, Siswa Kelas VI USBD di Lereng Bukit Leze di Pedalaman Manggarai Timur (Bagian 1)

    Oleh Markus Makur

    SEBANYAK 23 siswa dan siswi Kelas VI Sekolah Dasar Inpres Nunur, Desa Mbengan, Kecamatan Kota Komba, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur melaksanakan Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) di lereng bukit Leje di ujung kampung Mok, Desa Mbengan, sebelumnya saat uji coba, try out dilaksanakan di Tebing Keto, bahasa lokalnya Ngapan Keto. Karena sinyal di tebing itu kurang stabil akhirnya pindah ke lereng bukit Leze.

    Demikian dijelaskan Kepala Sekolah SDI Nunur, Arnoldus Latong saat dihubungi wartawan, Selasa, (27/4/2021). Ini hari kedua USBD tingkat sekolah dasar di luar ruangan kelas.

    Latong menjelaskan, kesulitan sinyal 4G di wilayah Desa Mbengan membuat sekolah mengambil keputusan UBSD di ruang terbuka, tepatnya di Lereng Bukit Leze.

    “Selama uji coba atau try out dari Kamis-hingga Sabtu, guru dan tenaga pendidik sebanyak 17 orang mendampingi siswa dan siswi Kelas untuk USBD dengan handphone miliki sekolah, yakni IPad di Tebing Keto, kini saat USBD pindah ke Lereng Bukit Leze,” jelasnya.

    Dalam keterbatasan sinyal, lanjut, Kepala Sekolah, Latong, guru-guru mencari lokasi sinyal yang bisa menangkap jaringan 4G. Tempat yang agak bagus untuk menangkap sinyal 4G di Lereng Bukit Leze.

    “Saya berharap saat pelaksanaan USBD mulai Senin, 26 April dapat dilaksanakan di ruang kelas sehingga anak-anak sekolah tidak jalan kaki ke ruang terbuka, ternyata harapan itu tidak terwujud, dan kini melaksanakan USBD di lereng Bukit Leje,” harapnya.

    Menempuh Jarak 5 Kilometer untuk Uji Coba USBD

    Guru SDK Waekekik, Silvester Lete saat dihubungi wartawan, Selasa, (27/4/2021) saat sedang berlangsung USBD  menjelaskan, selama 3 hari, Ujian Sekolah Berstandar Digital (USBD) di Lereng Bukit Leje. Hari pertama, Senin, 26 April dilaksanakan di Lereng Bukit Leze.

    Silvester menjelaskan, saat uji coba Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) , 15 April 2021 lalu di pinggir jalan di Betong Torok, tempat rumpun bambu. Uji coba di pinggir jalan itu untuk menangkap jaringan internet 4G dari Aimere dan Waelengga. Hari kedua, sekolah mencobanya di dalam ruangan kelas, namun sinyal tidak stabil. Hari ketiga dilaksanakan di lokasi Lereng bukit Leze-Mok. Lokasi terletak diatas pertigaan kampung Mok. Sinyal 4G lumayan bagus.

    “Jumlah siswa dan siswi kelas VI ada 17 orang. Berpindah-pindah lokasi uji coba atau try out karena masalah jaringan internet 4G. Upaya yang sekolah lakukan dengan sewa mobil untuk angkut siswa dan sebagiannya bonceng di sepeda motor. Guru berjuang keras dengan berbagai upaya agar uji coba atau try out USBD berjalan lancar. Kini USBD tidak berpindah-pindah dan menetap pelaksanaannya di Lereng Bukit Leje,” jelasnya.

    Henrikus Sale, Kepala Sekolah SDK Waekekik saat dihubungi wartawan, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan, saat survei awal untuk Ujian Sekolah Berbasis Digital, SDK Waekekik meresponsnya baik karena ada jaringan sinyal 4G dari sebuah tower di sekitar wilayah tersebut. Tower itu berukuran kecil. Lalu, dibangun lagi BTS agak besar, namun masih dalam penyesuaian pemasangan jaringannya.

    Henrikus menjelaskan, saat pelaksanaan uji coba atau try out USBD jaringan sinyal 4G dari tower itu belum bagus sehingga sekolah mengambil keputusan untuk melaksanakan uji coba USBD di ruang terbuka yang memiliki jaringan 4G bagus.

    “Tempat yang direkomendasikan adalah lokasi Betong Torok, Leze-Mok. Kami sempat coba di sekolah pada hari kedua namun jaringan 4G belum stabil. Kami berharap agar saat Ujian akhir berbasis digital Senin, 26 April 2021, jaringan 4G dari BTS Nunur, Mbengan berfungsi dengan baik sehingga kami melaksanakan USBD di dalam kelas,” jelasnya.

    Ternyata sinyal belum bagus sehingga sekolah memutuskan melaksanakan USBD di Lereng Bukit Leze. Ada dua sekolah dasar yakni SDI Nunur dan SDK Waekekik melaksanakan USBD dalam satu tempat di lereng bukit Leje.

    “Siswa kelas VI dari dua sekolah ini duduk dengan alas tikar berbahan plastik untuk mengerjakan soal ujian dengan Ipad,” jelasnya.

    Kepala Desa Mbengan, Yohanes Tobi kepada wartawan, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD) SDI Nunur berlokasi di Lereng Bukit Leje. Mereka melaksanakan USBD di ruang terbuka itu demi  jaringan internet 4G, padahal itu di lereng bukit.

    Yohanes mengatakan Ada tower di Nunur, Desa Mbengan tapi jaringan parah. Mestinya pemerintah harus serius mengatasi persoalan susah sinyal 4G.

    “Sebelum-sebelumnya sinyal 4G bagus, tetapi menjelang hari uji coba USBD beberapa waktu lalu dan kini USBD sekolah dasar sinyal sangat buruk. Untuk itu saya sebagai Kepala Desa berharap jaringan internet di BTS Nunur dibenahi serta  ambil langkah yang pasti sehingga anak-anak tidak harus mengikuti ujian di lereng bukit yang resikonya sangat berat,” harapnya.

    Yohanes menjelaskan, jarak dari Kampung Nunur ke Lereng Bukit Leje sekitar 5 kilometer. Guru menyewa mobil untuk mengangkut anak-anak sekolah untuk ikut ujian.

    Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa kepada wartawan, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan, Lembaga DPRD minta Dinas Kominfo memprioritas pemasangan BTS di pelosok-pelosok Manggarai Timur seperti di Kecamatan Elar dan Elar Selatan, Lambaleda Utara, Kota Komba Utara.

    “Saya sudah dengar ada 66 BTS yang siap dibangun di Manggarai Timur dari Kominfo RI. Untuk ke 66 BTS harus diprioritaskan kepada daerah-daerah di pedalaman Manggarai Timur yang blank spot. Saya sudah telepon Kadis Kominfo Manggarai Timur agar memprioritas pembangunan BTS di daerah susah sinyal,” jelasnya.

    Dupa menjelaskan, kebutuhan sinyal saat ini sangat mendesak di era digital sesuai perkembangan zaman. Sinyal saat seperti buku. Karena dengan bagus maka bisa membaca materi pelajaran di handphone.

    Terpisah Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga saat ditemui wartawan di ruang kerjanya, Selasa, (27/4/2021) menjelaskan, jumlah 330 Sekolah Dasar. Ujian akhir berjenjang, 315 Sekolah, jumlah siswa peserta ujian 6488 siswa, Model ujiannya daring 179 sekolah, jumlah siswanya 3819 siswa, ujian luring 139 sekolah, jumlah 2669 siswa.  Ujian di luar kelas ada 44 sekolah. Lainnya di kelas.

    “Kesulitan jaringan internet 4G sehingga sulit melaksanakan di ujian di dalam kelas. Ada bantuan Teknologi Informatika dan Komunikasi (TIK) dari kemendikbud ke sekolah. Saya pastikan 2022 semua sekolah ada TIK,” jelasnya.

    Basilius menjelaskan, paling banyak ujian di luar kelas dengan tenda darurat di Kecamatan Elar, Elar Selatan dan Kota Komba bagian utara.

    “Sampai hari kedua ini tak ada kendala Ujian Sekolah Berbasis Digital (USBD),”  jelasnya.

    —————————————————————————-

    Penulis adalah wartawan di Kabupaten Manggarai Timur, NTT

  • Kemenkominfo Dorong Inovasi UMKM di NTT

    Maumere Berandanegeri.com – Kementerian Kominfo RI melalui Direktorat Informasi dan Komunikasi Perekonomian dan  Maritim akan mendorong inovasi Usaha Kecil Mikro Menengah (UMKM) di NTT.

    Kegiatan Webinar ini akan berpusat di Maumere, pada hari Sabtu,  01 Mei 2021, Pukul 09.00 WITA bertempat di Golden Hotel Maumere.

    Kegiatan secara offline dan melibatkan 40 Pelaku UMKM yang tentunya akan patuh pada protokol kesehatan Covid-19, ” jelas  Kepala Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Sikka Kensius Didimus, Kamis(29/4/2021).

    Kensius menjelaskan Webinar mengangkat tema “Mendorong Kreasi dan Inovasi UMKM Flobamora” ini dalam rangka mendukung Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas BBI) 2021.

    Mantan Kepala Dinas Desperindag Kabupaten SIKKA ini mengajak pelaku UMKM yang ada di Maumere untuk mengikuti kegiatan Webinar ini secara online.

    Adapun Zoom Link Webinar ini meeting ID 928 7698 0620 Passcode: BBI dengan Link pendaftaran https://s.id/flobamora0105.

    Kita berharap agar setelah kegiatan Webinar ini bisa mendorong kemajuan dalam rangka peningkatan sumber daya manusia untuk belajar berproduksi, menghasilkan produk berkualitas, mampu mengelola badan usaha rumah tangga dan desa – UMKM.

    Selain itu hasil yang diharapakan dari webiner ini adalah mampu membuat kemasan dan label produk, belajar sistem pemasaran dan pembayaran digital, sehingga pada gilirannya bisa memberikan manfaat maksimal dan berkelanjutan untuk kesejahteraan ekonomi dan sosial dan tumbuh kembang UMKM yang ada di NTT, “harap Kensius Didimus.

    Dikatakan Kensius Didimus Pemerintah Kabupaten Sikka memberikan apresiasi dan terima kasih karena mendapat kepercayaan sebagai tuan rumah penyelenggaraan kegiatan ini.

    Atas perhatian dan dukungan dari Kementerian Kominfo Republik Indonesia, kiranya kegiatan ini kelak dapat membangun kemandirian dan kemajuan UMKM di Kabupaten Sikka,” ujarnya.

    Selain UMKM yang akan hadir dalam kegiatan ini Dekanasda Kabupaten Sikka. (Atik)

  • 77 Pelajar SMAK Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere Terpapar Covid-19 – KBM dihentikan Sementara

    Maumere Berandanegeri.com – Setelah diketahui 77 Pelajar SMAK  Seminari Maria  Bunda Segala Bangsa (BSB) Maumere terpapar covid-19 maka kegiatan belajar mengajar secara tatap muka pun dihentikan sementara selama 14 hari. Dan digantikan dengan kegiatan Belajar Dari Rumah (BDR).

    Selain 77 Pelajar,  ada 5 pembina asrama  dan karyawan pun ikut terpapar Covid-19. Dan saat ini sana-sama menjalankan isolasi terpusat pada Sekolah SMAK Maria BSB.

    Semua Siswa Seminari yang Terpapar Covid-19 Menjalani Isolasi Terpusat di Seminari BSB

    Kepala SMAK Seminari Maria BSB Maumere RD Raymundus Minggu kepada wartawan, Rabu (28/4/2021) mengatakan semua pelajar yang terpapar positif Covid-19 ini adalah anak asrama maka BDR langsung dari asrama. Karena semua pelajar sekolah ini adalah anak asrama maka belajar dilakukan BDR dari asrama.

    “Tadi kami sudah rapat, dan putuskan KBM dengan model belajar dari rumah,” jelas Kepala SMAK Seminari Maria BSB Maumere RD Raymundus Minggu.

    Kepala Sekoah SMAK SEminari Maria BUnda Segala Bangsa Maumere, RD Raymundus Minggu

    Dijelaskannya BDR hanya berlaku bagi pelajar yang negatip saja. Sedangkan pelajar yang positip, disarankan untuk konsentrasi kesehatan mereka.

    Kebijakan BDR, mengacu pada  Surat Edaran yang dikeluarkan Satgas Covid Sikka yang mengimbau pelaksaanaan BDR selama dua minggu ke depan,”terangnya.

    Sementara Praeses Seminari BSB RD Raymond Minggu, S.,Fil, M, Pd kepada wartawan di Seminari BSB, Rabu siang menjelaskan tenaga kesehatan hingga pemeriksaan gelombang II telah melakukan rapid tes terhadap ratusan siswa kelas XII dan kelas X dan terhadap pegawai/guru.

    Jurubicara Satgas Covid Sikka Bidang Kesehatan dokter Clara Francis menyinggung soal SE Bupati Sikka Nomor 74/C-19/IV/2021.

    Terkait dengan pendidikan, kata dia, tertuang dalam poin 6, di mana disebutkan apabila terdapat guru, siswa/mahasiswa atau tenaga pendidikan lainnya pada satuan pendidikan yang dinyatakan positip Covid, maka seluruh aktifitas KBM wajib dihentikan selama 14 hari.

    Juru Bicara Satgas Covid-!9 SIKKA Bidang Kesehatan, dr. Clara Y. Francis

    Total siswa yang terpapar usai mengikuti rapid test pada Rabu pagi sebanyak 75 orang plus dua siswa yang sudah menjalani karantina di SCC. Sementara pegawai/guru yang positif usai rapid pada Rabu sebanyak 5 orang plus 2 guru yang dinyatakan positif sebelumnya. (Atik)

  • Tidak Memiliki Jamban, Warga Wiro Wetir BAB di Kebun

    Maumere Berandanegeri.com – SEBANYAK  117 jiwa dari 20 Kepala Keluarga (KK) yang mendiami Kampung Wiro Wetir, RT 14 RW 006, Dusun Wegok Natar, Desa Seu Sina, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka Propinsi NTT  masih terisolir dan tidak memiliki Jamban sehingga warga membuang air besar (BAB) dikebun.

    Ketua RT 14, Kampung Wiro Wetir, Ambros Nong Gaga (46) ditemui dikediamannya, Selasa, 27 April 2021 menuturkan bahwa sebanyak 117 jiwa dari  20 KK, masih sangat terisolir dari berbagai aspek pembangunan.

    Ambros menuturkan sebanyak 20 KK warga Wiro Wetir, belum memiliki MCK, jaringan air bersih dan listrik. Kondisi itu membuat warganya terpaksa BAB di kebun karena di wilayah itu tidak ada hutan.

    Ambros menambahkan, masalah ketersediaan air bersih di kampungnya menjadi kendala tersendiri untuk penggunaan Jamban sebagai kebutuhan BAB warga.

    “Semua warga termasuk saya sendiri, terpaksa buang air besar di kebun-kebun karena di sini tidak ada  hutan. Sepertinya sudah tradisi. Tidak ada yang punya Jamban . Bagaimana mau bangun Jamban, kami susah air,” kata Ambros.

    Sedangkan kebutuhan air bersih, untuk mandi, masak dan minum harus menempuh jarak 2 km untuk mengambil air di sumur milik warga di Kewapante. Atau membeli seharga Rp 100 ribu pet satu tengki berkapasitas 5 ribu liter.

    Sementara untuk penerangan rata rata warga masih mengandalkan lampu pelita di malam hari.. Kondisi itu menyulitkan warga untuk beraktifitas di malam hari. Anak sekolah terpaksa belajar dengan penerangan lampu pelita.

    Di wilayah itu terdapat 11 orang siswa-siswi Sekolah Dasar. Sedangkan siswa SMP tidak ada sama sekali. Sedangkan siswa SMA hanya 1 orang, yakni anak dari Ketua RT 014.

    “Banyak yang putus sekolah, setelah sambut baru. Anak SD 11 orang, SMP tidak ada sama sekali dan SMA itu satu orang, anak saya sendiri,” kata Ambrosius.

    Terhadap 11 siswa SD di Wiro Wetir lanjut Ambros, terpaksa harus menempuh jarak 2 sampai 3 KM untuk ke sekolah. Ada yang sekolah di SD Inpres Watu Wekak, dan SD Inpres Wolonmbue Desa Waiara.

    Henika Emi (35) seorang ibu rumah tangga, yang ditemui di rumahnya mengatakan hanya mengandalkan air hujan yang ditampung untuk kebutuhan masak, minum, mandi dan cuci pakaian.

    “Kami hanya harap air hujan yang ditampung di profile tank saat hujan. Itu yang kami gunakan untuk masak, cuci dan minum,” kata Henika Emi.

    Menurut Emi, kondisi topo grafi kampung Wiro Wetir yang terletak di lembah, membuat harga air tengki menjadi mahal. Dimana harus membayar extra Rp 50 ribu di luar harga air, sewa selang yang akan digunakan dari mobil tengki ke rumah warga.

    Warga Wiro Wetir, berharap perhatian pemerintah agar bisa keluar dari kemelut yang menyelimuti warga yang masih sangat terisolir di pinggiran Kota Maumere. (Athick)

  • Kemendes PDTT: ”Drip Irrigation System” adalah Solusi Terbaik untuk Pertanian di NTT

    Maumere Berandanegeri.com – Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) Samsul Widodo menyebutkan Sistem Irigasi Tetes (Drip Irrigation System) yang dikembangkan oleh salah satu petani milenial di Kabupaten Sikka, Yance Maring, merupakan hal yang sangat baik dan bisa menjadi sebuah solusi untuk Pertanian di Provinsi NTT.

    “Yang paling penting buat saya, bukan tentang teknologinya tetapi bisa digerakan oleh anak muda. Sehingga harapan kami, ini adalah sebuah kebangkitan anak-anak muda di NTT khususnya di bidang pertanian. Apalagi ada teknologinya juga, jadi biasanya mereka akan lebih menikmati jikalau ada teknologi, ketimbang harus mencangkul dan juga menyiramnya dengan tangan,” tutur Samsul Widodo usai melakukan diskusi bersama Yance Maring di aula Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Senin (26/4/2021).

    Dikatakan Samsul Widodo pada awalnya dirinya menginjakan kakinya di NTT dengan tujuan untuk mengeksplor vanili. Karena menurutnya, ada dua kabupaten yang memiliki produksi vanili cukup besar yakni, Sikka dan Ngada. Tetapi dirinya juga akhirnya mendapatkan informasi bahwa adanya Drip Irrigation System di Kabupaten Sikka.

    “Saya memang sejak dulu selalu tertarik dengan NTT, jadi banyak hal yang perlu kita eksplor di sini dan bagaimana mengembangkan bisnis di wilayah ini seperti Drip Irrigation System. Sehingga teknologi ini wajib dan harus kita dukung bersama,” katanya.

    Widodo menambahkan, hari ini pihaknya juga kembali lagi mengunjungi kebun irigasi tetes milik Yance Maring dan berdiskusi dengannya. Sementara, (Selasa, 27 April 2021), pihak dari Kemenko Perekonomian bersama tenaga ahli juga akan mengunjungi dan agar bisa mengeksplor lebih jauh lagi tentang lahan irigasi tetes tersebut.

    Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kemendes PDTT, Samsul Widodo

    Menurut Widodo, kegiatan ini akan dilakukan pihaknya secara bertahap sehingga dapat menemukan sebuah model bisnis yang pas untuk Yance Maring. Dengan harapan bahwa, Yance bisa menjadi sebesar apa dan bagaimana caranya.

    “Jadi, besok Tim Kemenko Perekonomian dengan tenaga ahli juga akan datang dan berbicara lebih kepada bagaimana mengembangkan pasar. Kita juga akan undang beberapa pihak yang mempunyai bisnis sejenis, sehingga mereka bisa berbagi pengamalan bersama Yance,” terangnya.

    Terkait minimnya perhatian dari pemerintah terhadap Drip Irrigation System yang dikembangkan oleh Yance saat ini, dirinya mengatakan, “jikalau kita ingin terjun ke dunia bisnis, kita tidak boleh bergantung kepada pemerintah. Namun bisnis itu harus tetap kita jalani, ada atau tanpa dukungan dari pemerintah.

    “Tetapi kami juga akan mendukungnya dengan tenaga ahli untuk bisa mengembangkan bisnis mereka, mengembangkan jaringan mereka dan menghubungkan mereka dengan pasar. Jadi, realnya itu yang akan kami lakukan,” jelasnya.

    Widodo juga mengomentari mengenai adanya sebuah solusi terhadap Yance Maring untuk pengembangan usaha kedepannya nanti. Disampaikannya, saat ini pihaknya belum mempunyai formula yang pas untuk melakukan pengembangan usaha Yance Maring karena harus dilakukan secara bertahap.

    “Menurut tim dari FishOn tadi, proses itu biasanya dua tahun. Sehingga dicek, dipraktekin, dicek lagi, dibenarin dan sebagainya. Jadi bukan Yance langsung jadi besar, tidak demikian. Ini kan masih dalam taraf mengeksplor, sebenarnya maunya apa dan kedepannya sebaiknya seperti apa,” ungkapnya.

    Sementara itu, Ines Handayani, Tim Program Transformasi Digital Kemendes PDTT mengungkapkan bahwa, Yance Maring juga sangat luar biasa karena sudah memulai merintis Smart Farming. Karena pada umumnya, isu di NTT dan juga sebagian besar wilayah Indonesia Timur adalah air sehingga Smart Farming bisa menjadi sebuah solusi yang baik.

     Lanjut Ines, isu ketahanan pangan, gizi, stunting dan yang lainnya juga demikian. Yang mana, harus diperkuat dari sisi produksi pertanian, tetapi kembali kepada bagaimana kita bisa mengatasi keterbatasan air dan lain-lain.

    Ines Handayani. Tim Program Transformasi Digital Kemendes PDTT

    “Jadi, Yance sebagai founder harus yakin dengan cita-citanya, dia   juga harus banyak belajar, banyak networking. Dan ada baiknya pemerintah daerah juga, memberikan perhatian terhadap apa yang dia lakukan selama ini,” terangnya.

    Dirinya pun berharap agar ide-ide anak muda di NTT perlu mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, dan jangan membiarkan mereka berjalan sendiri.

    “Analoginya seperti kita sedang menyemai bibit maka harus memberikan perhatian yang cukup, perlu nutrisi dan juga air. Tidak bisa dia dibiarkan tumbuh harus bersaing dengan rumput liar. Jadi jangan biarkan Yance berjalan sendiri,”tuturnya. (Atiks)

  • Peduli Korban Bencana Alam di Adonara, SD Inpres Wairkalau Maumere Serahkan Bantuan

    Maumere Berandanegeri.com – Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama atas musibah bencana alam yang terjadi di Pulau Adonara Kabupaten Flores Timur beberapa waktu lalu, keluarga besar Sekolah Dasar Inpres Maumere Kabupaten Sikka, Propinsi NTT turut mengambil bagian  mengantar dan menyerahkan bantuan langsung  kepada korban bencana alam

    Penyerahan bantuan korban banjir bandang berlangsung di poskoh bantua bencana alam di desa  Waiburak Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT Kamis 22 April 2021.

     Bantuan diserahkan secara simbolis oleh ibu Novita Agustina Lisyiningsi dan kristoforus. Yang dihadiri oleh 8 orang dari  perwakilan para guru  SDI Wairklau Maumere.

    Kepala Sekolah SDI Wairklau Maumere, Luh Anggreni S.Pd.SD saat dikonfirmasi wartawan, Senin(26/4) mengungkapkan bantuan untuk korban bencana banjir bandang di Adonara sebagia bentuk kepedulian lembaga pendidikan, orang tua siswa dan para siswa-siswi SD Inpres Wairklau.

    “Penyerahah bantuan kemanusiaan  ini adalah bentuk kepedulian kepada saudara-saudara kita  yang terkena musibah   dan untuk  meringankan beban bagi saudara-saudara   kita di Adonara, Kabupaten Flotim yang terdampak banjir bandang beberapa waktu lalu dan semoga bantuan ini bisa bermanfaat untuk meringankan beban saudara-saudara kita” harap Anggreni.

    Bantuan yang diserahkan antara lain berupa beras 4 karung, gula pasir 50 kg, pakaian bekas layak pakai untuk anak-anak 2 karung, pakaian bekas layak pakai untuk dewasa 2 karung, sabun mandi, sabun cuci dan perlengkapan mandi lainnya 2 dos,  minyak goreng 1 dos dan biskuit 1 dos. (Atiks)

  • Kondisi Jalan Buruk, Mobil Terbalik dan Makan Korban Puluhan Orang

    Boto Berandanegeri.com – SAN PEDROO, mobil angkutan pedesaan rute Lewoleba, kota Kabupaten Lembata menuju Lamalera, Kecamatan Wulandoni, Minggu (24/4) sekitar jam 19.00 WITA terbalik karena mengalami patah as payung di Dusun Kluang, Desa Belabaja (Boto), Kecamatan Nagawutun, Kabupaten Lembata.

    “Saat mobil mendaki di jalan menuju gedung bekas SD Inpres Labalimut di Bunga Bleang, as payung patah lalu mobil terbalik, Sabtu (24/4/2021) malam. Kejadiannya tak jauh dari gedung Pustu dan kantor Desa Belabaja. Korban dan para penumpang seluruhnya dibawa ke kantor desa lalu kami tangani,” ujar Astrid Labaona, bidan desa Labalimut dalam keterangan usai menangani korban di kantor Desa Belabaja, Sabtu (24/4/2021).

    “Nene Udis, salah seorang korban mengalami luka serius. Kalau bergerak darah keluar terus. Mungkin saat mobil jatuh, terjadi benturan keras sehingga kita putuskan dirujuk ke Lewoleba. Korban selama ini tinggal di Loang, kota Kecamatan Nagawutun. Ada 17 orang luka lecet. Tiga orang lainnya menderita luka sehingga kita jahit saja.”ujar Astrid usai menangani korban kecelakaan.

    Mantan Kepala Desa Belabaja Ferdinandus Perawin Mudaj, mengakui sebagian ruas jalan dari Desa Belabaja dan Labalimut (Boto) menuju ke desa-desa seperti Puor, Imulolong, Posiwatu, Lamalera di Wulandoni kondsinya sangat memprihatinkan. Tak hanya itu, sebagian ruas jalan dari Lewoleba menuju Boto, nyaris tak pernah diperhatikan Pemerintah Kabupaten Lembata melalui dinas terkait.

    “Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Pak Josef A Nae sudah menjanjikan akan bersama Pak Gubernur Vikor Bungtilu Laiskodat memperhatikan ruas jalan Lewoleba menuju desa nelayan Lamalera. Di hadapan saya selaku Kepala Desa dan warga masyarakat Boto di depan rumah adat suku Mudaj di dusun Kluang, desa Belabaja, beliau menyampaikan beliau dan Pak Viktor sudah berkomitmen membangun jalan dari Lewoleba menuju Lamalera yang merupakan destinasi wisata internasional,” kata Fredy Mudaj.  

    Tokoh masyarakat Belabaja, Titus Wolo de Ona menambahkan, ruas jalan dari Lamalera menuju Boto baru saja dilewati Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat dan rombongan saat berkunjung di Lembata beberapa bulan lalu. Sekembali dari Lamalera, malam hari Gubernur Laiskodat dan rombongan melewati desa Posiwatu, Imulolong, Puor, Belabaja, Labalimut dan Atawai menuju wilayah pantai di Desa Idalololong dan Penikenek lalu keLewoleba.

    “Saat kampanye Pak Wakil Gubernur Josef Nae Soi, beliau juga menyatakan beliau dan Pak Viktor Laiskodat berkomitmen membangun ruas jalan Lewoleba menuju Lamalera dengan dana APBD I. Komitmen itu disampaikan setelah saya menyampaikan langsung saat sesi tanya-jawab bersama warga di depan rumah adat suku Mudaj. Saya percaya beliau dan Gubernur adalah tipikal pemimpin yang tak akan pernah lupa dengan janjinya kepada warga masyarakat dan kami sesepuh desa,” kata Titus Wolo de Ona, penjaga rumah adat suku de Ona.

    Warga asal Belabaja, Ansel Deri, mengakui selama 21 tahun Lembata menjadi daerah otonomi kondisi ruas jalan Lewoleba menuju Lamalera sangat memprihatinkan. Selama kepemimpinan Bupati Eliaser Yentji Sunur dan wakilnya, Thomas Ola Langoday, nyaris tak ambil pusing membangun jalan itu.

    Para penumpang korban kecelakaan angkutan pedesaan San Pedro rute Lewoleba menuju Lamalera saat berada di kantor Desa Belabaja, Nagawutun, Lembata, Minggu (24/4) malam.

    “Tahun lalu Gubernur Viktor Laiskodat sudah membantu Lembata melalui APBD NTT untuk membenahi ruas jalan Lewoleba menuju Lamalera. Bantuan anggaran bangun jalan bersumber APBD NTT diarahkan dari Desa Pasir Putih menuju Lewopenutung. Bisa saja itu diarahkan Bupati karena ada aset milik daerah berupa lahan di Pantai Pata Pu’u yang dibeli daerah antara Lolong dan Tewaowutung,” kata Ansel Deri, mantan Tenaga Ahli Viktor Laiskodat dan Irjen Pol (Purn: Drs Y. Jacki Uly, MH di DPR RI.

    Namun, menurut editor buku “Membangun tanpa Sekat” memperingati HUT ke-21 Otonomi Lembata tahun 2021, ruas jalan Pasir Putih menuju wilayah selatan Lembata seperti Idalololong, Lusiduawtun hingga Lamalera, memang sangat buruk sehingga Pak Gubernur prioritaskan anggaran itu ke sana. Pihaknya berharap ruas Lewoleba menuju Lamalera juga mendapat perhatian provinsi.

    “Seluruh Lembata tahu. Wilayah selatan itu pusat hasil niaga dan pertanian Lembata. Bencana erupsi gunung Ile Lewotolok akhir November 2020 dan musibah banjir lahar dingin awal April 2021 sangat menyulitkan lalu lintas angkutan pedesaan mengirim bantuan untuk para korban bencana. Kalau terjadi kecelakaan angkutan pedesaan, tentu selalu jadi keprihatinan sekaligus kenikmatan bagi warga. Sialnya, Pemerintah Kabupaten Lembata seolah tutup mata,” kata Ansel kesal.

    “Lokasi kejadian San Pedro di ujung kampung Kluang itu juga dilewati Pak Gubenur NTT dan rombongan saat kembali dari Lamalera. Pak Gubernur bisa marah kalau saat itu beliau Boto lalu melewati desa-desa seperti Lamalewar, Belame, Watokobu (Belang) hingga Lewoleba. Kondisi sangat buruk tapi itulah yang kami nikmati selama 21 tahun Lembata menjadi kabupaten penuh lepas dari Flores Timur,” kata Antonius Urikame de Ona, warga desa Belabaja lainnya menambahkan.

    Menurut Astrid, puluhan penumpang bus naas itu ditampung sementara di kantor desa. Pihak pemerintah dan masyarakat desa bahu-membahu mengumpulkan makanan dan minuman untuk makan malam. “Malam ini para penumpang makan malam dan nginap dulu di Belabaja. Besok baru mereka kembali ke rumahnya. Sedang pasien lain akan dirujuk ke Lewoleba,” katanya.

  • Kunjungi Warga Wiro Wetir, Ini Pesan Kapolsek Kewapante

    Maumere Berandanegeri.com – Dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, Kapolsek Kewapante Iptu Yance Yauri Kadiaman pun turun mengunjungi masyarakat Wiro Wetir, Dusun Wegoknatar, Kecamatan Kewapante, Kabupaten Sikka, Jumad (23/4/2021).

    Kunjungan ke Wiro Wetir, Desa Seu Sina, Kecamatan Kewapante,  dalam rangka gotong royong membangun Jamban untuk warga.

    Pada kesempatan itu Kapolsek  juga menghimbau agar masyarakat tetap disiplin menjalankan protokol Kesehatan (Prokes) dalam beraktivitas menjaga jarak dan memakai masker, juga mendorong masyarakat menggalakkan pertanian memanfaatkan lahan kosong untuk ketahanan pangan keluarga.

     Pesan saya kepada  masyarakat Wiro Wetir, Desa Seu Sina, agar memanfaatkan lahan pertanian dengan sebaik mungkin untuk bisa menghidupi keluarga. Agar  bapak ibu hidup bertumbuh dari segala sisi. Tumbuh dari sisi ekonomi, agama dan hukum,” ungkap Kapolsek Kewapante.

    Selain mengunjungi Kampung Wiro Wetir dirinya juga menyampaikan beberapa hal sesuai dengan situasi keamanan dan ketertiban di Desa Seu Sina. Sesuai dengan tugas pokok sebagai Pengayom, Pembimbing dan Penegak Hukum, Kepolisian Kewapante akan melakukan tindakan tegas bagi siapa saja yang dinyatakan telah melanggar hukum, tegas Kapolsek Kewapante Iptu Yance Yauri.

    Kapolsek Kewapante Iptu Yance Yauri Kadiaman menyebutkan bahwa berdasarkan data, kasus yang paling banyak yang terjadi di Kewapante adalah kasus pencurian.

    Dirinya menghimbau kepada masyarakat Wiro Wetir, Desa Seu Sina, agar bekerja lebih giat untuk menghidupi keluarga. Jangan kita kotori kehidupan kita dengan menghidupi keluarga kita dengan hal-hal yang sebenarnya dilarang oleh aturan dan agama. Jangan kita melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan merugikan orang lain.

    Kapolsek juga meminta dukungan dan kerjasama dari masyarakat Seu Sina untuk menjaga keamanan dan ketertiban.

    Sementara itu Danramil 1603-04 – Kewapante  Kapten Inf. Ida Bagus Wiriyawan mengajak warga Wiro Wetir,  Desa Seu Sina, untuk mensyukuri hidup yang diberikan Tuhan.

    “Mari kita hidup sebagai pekerja  yang profesional. Syukuri apa yang ada. Kalau jadi petani, petani yang benar. Kalau jadi pedagang, jadilah pedagang yang baik. Dan jangan saling iri hati, karena dasar dari irihati inilah akan memicu pencurian,” tegasnya.

    Jadi syukurlah hidup ini sebagai anugerah dari Yang Kuasa. Dan jangan lupa berdoa. Kita sudah diberi talenta dari Tuhan. Jadi gunakan talenta yang diberikan sebaik-baiknya. Dan juga hindari pikiran yang negatif.

    Turut hadir Dalam kegiatan Camat Kewapante, Alfons Naga bersama staf, Kapolsek Kewapante Iptu Yance Yauri Kadiaman, Danramil 1603-04 – Kewapante Kapten Inf. Ida Bagus Wiriyawan, Babinsa dan Babinkamtibmas Kewapante, Kepala Puskesmas Kewapante, Kepala Desa dan ketua BPD Desa Seu Sina, OMK, Sahabat Sehat dan masyarakat. (Atick)

  • KRI Semarang – 594 Berikan Layanaan Kesehatan untuk Warga Terdampak Bencana Alam di Flores Timur

    Larantuka Berandanegeri.com – TNI Angkatan Laut terus memberikan perhatian kepada masyarakat yang terdampak bencana alam banjir bandang dan tanah longsor yang menimpa dua (2) Kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Timur dengan menyelenggarakan bakti sosial  pelayanan Kesehatan gratis.

    Penyelengaraan baksos kesehatan  berlangsung di Pelabuhan Larantuka Kelurahan Postoh, Kecamatan Larantuka, Kabupaten Flores Timur, Kamis (22/4/2021) pukul 09.45 wita.

    Kegiatan Baksos tersebut di laksanakan oleh KRI Semarang-594 jajaran Koarmada I dengan menggandeng personel Lanal Maumere.

    Kegiatan ini di pantau langsung oleh Komandan KRI Semarang -594 Letkol Laut (P) Afrilian Sukarno Timur, S.T., M. Tr. Hanla, dan di dampingi oleh Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M. Tr. Hanla., M.M., CTMP., serta Kadis Kesehatan Kab. Flotim dr. Ogie Silimalar.

    KRI Semarang – 594 bukan pertama kali singgah di bumi NTT. Sebelumnya KRI Semarang – 594  melaksanakan pengangkutan bahan sosial yang sudah difokuskan di Lembata, Adonara dan Alor dan Kupang.

    Bantuan-bantuan yang diangkut KRI Semarang-594  berasal dari bantuan Presiden Jokowi, bantuan dari Mabes TNI, TNI AL dan bantuan dari seluruh masyarakat Indonesia.

    Dalam kesempatan tersebut Komandan KRI Semarang – 594 (P) Afrilian Sukarno Timur S. T. M. Tr. Hanla  menyampaikan, TNI Angkatan Laut, melalui KRI Semarang – 594 melaksanakan pelayanan kesehatan terbuka untuk masyarakat di wilayah-wilayah terdampak bencana alam di NTT, dan kami fokuskan di daerah  Adonara dan seluruh warga Flores Timur.

    “Saat ini TNI AL melakui KRI Semarang-594 melaksanakan pelayanan kesehatan secara terbuka untuk masyarakat Adonara Flores Timur yang terkena dampak bencana alam,”jelasnya.

    Dijelaskannya  KRI Semarang-594 akan melaksanakan kegiatan Bakti Sosial Kesehatan ini selama 4 (empat) hari.

    “Kami menyiapkan alat Rontgen, 2 (dua) Ruang Operasi, 2 (dua) Ruang Perawatan, Laboratorium, serta Ruang Oksigen Generator. Tidak hanya masyarakat yang terdampak bencana, tetapi juga kepada masyarakat Flores Timur yang membutuhkan pelayanan Kesehatan,”ujarnya.

    (Penlanalmaumere/Atick)

  • Camat Kewapante bersama TNI-POLRI Gotong Royong Membangun Jamban Warga

    Maumere – Pemerintahan Kecamatan  Kewapante bersama  TNI Polri dan Puskesmas Kewapante gotong royong membangun Jamban bagi  warga kampung Wiro Wetir,  Dusun Wegoknatar, Desa Seu Sina, Kecamatan Kewapante Kabupaten Sikka, Propinsi NTT, Jumad (23/4/2021).

    Warga Kampung Wiro Wetir Dusun Wegoknatar ini sudah puluhan tahun masih  mengalami persoalan dalam bidang  sanitasi. Salah satunya, sebagian besar warga Wiro Wetir masih melakukan Buang Air Besar (BAB) sembarangan.

    Camat Kewapante Alfonsus Naga, mengisahkan ketika menyambangi rumah warga Wiro Wetir  beberapa waktu lalu ia merasa prihatin dan saat itu juga melalui rapat koordinasi lintas sektor bertempat di Puskesmas Kewapante akhirnya memutuskan bahwa warga Wiro Wetir mesti dibantu dalam hal sanitasi.

    Camat Alfons mengakui dalam menjabat sebagai camat Kewapante selama dua periode kali  ini  baru mengetahui keberadaan kampung Wiro Wetir.

    “Terus terang  saya sudah dua kali menjabat sebagai Camat Kewapante tapi saya baru tau ada kampung Wiro Wetir di Desa Seu sina,” ucap Camat Kewapante dihadapan puluhan warga Wiro Wetir.

    Dirinya merasa prihatin karena di kecamatan Kewapante masih terdapat kurang lebih 300 rumah tangga yang belum memiliki Jamban sehingga pada Rakor Kecamatan Kewapante di prioritaskan untuk pembangunan Jamban. Dan Desa Seu Sina yang menjadi prioritas pembangunan Jamban.

    Untuk itu, Pemerintah Kecamatan Kewapante  bersama pihak Puskesmas Kewapante menggandeng TNI, Polri, dan OMK menggerakkan warga bersama-sama membangun jamban untuk warga  Wiro Wetir di   RT 14/RW 006, Dusun Wegoknatar, Desa Seu Sina. RT14/RW 006 yang memiliki 20 rumah tangga. Dari 20 rumah tangga hanya satu rumah yang memiliki Jamban.

    “Hari ini kita bersama pihak Puskesmas Kewapante, TNI dan Polri bersama-sama membantu warga membangun Jamban untuk keluarga Yohanes Sengsara sebagai contoh untuk warga yang  lain agar ikut membangun Jamban.

    Dan diharapkan masyarakat bisa merubah perilaku dengan tidak buang air besar sembarangan. Dan juga diharapkan kegiatan pembangunan Jamban jangan sampai disini tetapi harus diteruskan untuk rumah tangga yang lain.

    Pada kesempatan itu  Camat Kewapante dan Kapolsek Kewapnte serta Danramil 1603-04/Kewapante bahu membahu menyumbang 5 sak semen dan 5 lembar seng. Sementara batu pasir dan air disiapkan warga. Selain itu warga Wiro Wetir juga mengadakan arisan mingguan sebesar Rp 15.000 per kepala keluarga untuk pengadaan batu pasir.

    Diharapakan arisan ini berjalan dan bisa berlanjut untuk pembangunan Jamban rumah tangga yang lain.

    Camat Kewapante pun memberikan target waktu  penyelesaian pembanguna Jamban dalam kuran waktu 6 bulan

    Salah satu penerima Jamban  Yohanes Sengsara (38) yang kesehariannya bekerja sebagai petani mengakui sudah puluhan tahun tidak memiliki Jamban. Alasannya karena tidak ada Air.

    “Selama ini kami warga Wiro Wetir Buang Air Besar( BAB) di kebun. Alasannya karena tidak ada air. Air untuk minum saja susah apalagi untuk mandi dan WC. Jadi kami buang air besar di kebun saja.

     Yohanes Sengsara mengatakan untuk mendapatkan air  bersih warga Wiro Wetir harus berjalan kaki sejauh 2 km. Kadang anak kami kesekolah pun tidak mandi.

    Sementara itu ketua RT14/RW 006 Ambros mengatakan pada  tahun 2017 warga Wiro Wetir pernah mendapat bantuan Jamban dari Yayasan Dian Desa. Namun tidak digunakan maksimal  dikarenakan tidak ada air. Jadi warga memilih  BAB di kebun.

    “Kami warga Wiro Wetir pernah mendapat bantuan Jamban dari Yayasan Dian Desa. Namun karena tidak ada air maka Jamban tidak digunakan. Jangankan untuk WC, mandi cuci dan minum pun susah,” ucapnya.

    Dengan bantuan ini sebagai ketua RT dirinya berharap warga bisa memanfaatkannya dengan sebaik-baiknya. (Atics)