Blog

  • Peduli Bencana Seroja NTT, Utje Bantu Panitia “Satu Hati untuk NTT”

    Jakarta Berandanegericom – Sandra Hartono selaku perwakilan tim “Satu Hati untuk NTT” mengatakan proses pengangkutan donasi 35 Ton milik Panitia “Satu Hati untuk NTT” dengan menggunakan KM Umsini ke Nusa Tenggara Timur adalah berkat bantuan Gustaaf Utje Patty.

    Sandra mengatakan melalui Utje, akhirnya donasi berupa barang Panitia “Satu Hati untuk NTT diangkut ke Nusa Tenggara Timur.

    “Pak Utje selaku Ketua Barisan Relawan Jokowi Presiden (BARA JP) sangat baik, ia juga yang melakukan lobi – lobi atau komunikasi langsung dengan Menteri Sekretaris Negara (Mensekneg), Pak Praktikno meresponinya dan berkomunikasi dengan Menteri Perhubungan Pak Budi Karya. Selanjutnya Pak Budi Karya langsung menghubungi saya untuk berkordinasi dengan tim “Satu Hati untuk NTT,” kata Sandra di Jakarta, (12/05/2021)

    “Puji Tuhan dan Alhamdulilah, akhirnya barang bantuan “Satu Hati untuk NTT” tersebut dapat diberangkatkan dengan menggunakan KM. Umsini ke NTT melalui PT PELNI berkat kebaikan Pak Utje, ujar Rojers.

    Rojers, juga sangat mengapresiasi bantuan Pak Utje. “Kami dari Panitia “Satu Hati untuk NTT” mengucapkan terima ke kepada Pak Utje. Terus terang,  kami sudah berjuang dengan seluruh cara. Ada banyak cara yang dilakukan oleh tim “Satu Hati untuk NTT”,  namun Puji Tuhan, berkat bantuan Pak Utje, Kapal Umsini memberikan quota gratis pengangkutan donasi Panitia “Satu Hati untuk NTT.

    Rojers mengharapkan, semoga persahabatan antara “Satu Hati untuk NTT” dengan seluruh pihak tetap terjalin harmonis. “Walaupun bencana Seroja menghancurkan sebagian daerah NTT, namun NTT tidak berjalan sendiri.  Sebab ada banyak perhatian khusus dari daerah lain ( darisemua pihak}. Bantuan tersebut dikucurkan secara langsung di lokasi terdampak maupun lewat “Satu Hati untuk NTT”, diantaranya Mensekneg, Kementerian Perhubungan, Pemprov NTT, Pak Komisaris Independen PT Pelni,  Kapal Umsini,  PT Pelni, serta organisasi lain seperti : Paguyuban Istri-istri AKABRI 92, Binroh Kristiani Telkom Group, Aoki Vera, Relawan Anak Bangsa,  PT Internusa Minyak, IKB, OKP asal NTT,  Para donatur lain yang telah memberikan donasi berupa uang maupun barang, yang telah menyiapkan transportasi darat,  laut dan udara di Jakarta maupun di NTT, masyarakat NTT maupun Indonesia yang juga telah ikut dalam mengurangi beban NTT.  Semoga persahabatan yang telah dibangun dan juga kepedulian Bapak/Ibu semua dengan kami tetap terjalin baik dan harmonis demi NTT maju untuk Indonesia sukses,” jelas Rojers

    Sementara itu,  Fridrik (Fritz)  juga mengucapkan terima kasih kepada Ketua BARA JP. “Saya selaku Sekretaris Panitia “Satu Hati untuk NTT” mengucapkan terima kasih kepada Pak Utje. Pak Utje telah membantu dan meringan beban Panitia dalam proses pengangkutan donasi ke NTT,” ucap Fritz. (Riki Hayon)

  • Mengaku Perwira TNI AL, Yuliardi Mengelabui 4 Warga Ende

    Ende Berandanegeri.com – Seorang Pria bernama Yuliardi (27) asal Blitar, Jawa Timur mengaku sebagai  Perwira TNI AL dan berhasil mengelabui 4 warga Kabupaten Ende untuk menjadi anggota TNI AD. Pelaku kini sudah diamankan di Polsek Ndona, Kabupaten Ende untuk menjalani pemeriksaan.

    Diketahui dari ke 4 korban diantaranya Albertus Resi sebelumnya telah gagal tes Cata PK TNI AD 2021 sampai dengan Panda Kupang karena gagal di Rik Awal (tinggi badan 162 cm) namun oleh pelaku dijanjikan akan dibantu pada pendaftaran berikutnya yg ditangani oleh pelaku, sedangkan untuk ke 3 orang korban lainnya belum pernah mendaftar (baru lulus SMA).

    Danposal Ende Peltu Mes Fransisco BJ NRP 73676 menjelaskan, Yuliardi,  pria yang mengaku sebagai Anggota Perwira TNI-AL telah diamankan Babinsa Kodim 1602/Ende dan Babinkamtibmas Polres Ende, pada Selasa 11 Mei 2021. Diamankan karena telah menipu dan menjanjikan kepada 4 orang korban asal Kabupaten Ende untuk menjadi anggota TNI-AD.

    Adapun Kronologi kejadaian pada Senin, 10 Mei 2021, Serma Kelvin-Babinsa Kurulimbu dan Bripka Irvan-Babinkamtibmas Kurulimbu mendapatkan laporan dari masyarakat Desa Kurulimbu bahwa saudara  Fandi yang menjadi salah satu korban dari  Yuliardi yang mengaku sebagai anggota Perwira TNI AL untuk menjamin kelulusan adiknya  Empisius Pega Daya dan ke 3 orang temannya menjadi anggota TNI AD.

    Setelah menerima pengaduan masyarakat, Serma Kervin-Babinsa Kurulimbu kemudian melaporkan pengaduan masyarakat tersebut kepada Pasi Intel Kodim 1602/Ende.

    Setelah itu  perintah lisan dari Pasi Intel 1602/Ende untuk berkoordinasi dengan Babinkamtibmas setempat menangkap dan membawa pelaku ke Kodim 1602/Ende untuk dimintai keterangan.

    Pada hari Selasa, Tanggal 11 Mei 2021 Pukul 13.00 Wita bertempat di Rumah Ibu Tina Desa Nduaria Kecamatan Kelimutu Kabupaten Ende, Perwira TNI AL gadungan itu berhasil ditangkap oleh Babinsa dan Babinkamtibmas setempat dengan dibantu beberapa warga setempat.

    Pukul 17.30 Wita, Yuliardi (Perwira TNI AL gadungan) tiba di Makodim 1602/Ende untuk dilakukan interogasi oleh anggota Staf Intel Kodim 1602/Ende.

    Pukul 17.45 Wita, Pasintel Kodim 1602/Ende, Kapten Inf Riky Messah menghubungi Danposal Ende via hand phone bahwa telah diamankan seorang laki laki yang mengaku sebagai Anggota Perwira TNI-AL oleh Babinsa Kodim 1602/Ende dan Babinkamtibmas Polres Ende di ruang Sintel Kodim 1602/Ende untuk dilakukan klarifikasi

    Setelah dilakukan interogasi dan klarifikasi, diketahui bahwa pria  tersebut adalah Perwira TNI AL gadungan.

    Selesai interogasi, selanjutnya oknum Perwira TNI AL Gadungan tersebut  berdasarkan perintah Dandim 1602/Ende, diserahkan ke Mapolsek Ndona dikawal Danposal Ende dan anggota Kodim 1602/Ende.

    Sekitar Pukul 20.00 Wita Danposal Ende dan anggota Kodim 1602/Ende  tiba di Polsek Ndona untuk menyerahkan Pelaku dan di terima oleh Kapolsek Ndona.

    Dari tangan pelaku berhasil diamankan  barang bukti  diantaranya  1 buah hand phone,1 buah tas pinggang  beserta isinya,1 buah tas gendong beserta isinya, uang tunai Rp. 3.565.000, 1 buah dompet beserta isinya, KTP, SIM dan ATM, buku tabungan BNI, pakaian pelaku dan bukti transfer.

     Danpasol Ende mengatakan tindakan yang dilakukan oleh Yuliardi dapat mencoreng nama institusi TNI khususnya TNI AL dan TNI AD di mana yang bersangkutan telah menipu degan mengaku sebagai Perwira TNI AL dan menjanjikan kepada 4 orang korban menjadi anggota TNI AD dengan memintai membayar uang degan total keseluruhan sejumlah Rp. 28.050.000,-

    “Yuliardi berjanji akan mengembalikan semua kerugian uang yang dialami oleh ke 4 orang korban dengan total nominal Rp. 28.050.000, “ucapnya.

    Secara terpisah Komandan Lanal Maumere, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M. Tr. Hanla., M.M., CTMP., menyampaikan bahwa rekruitment TNI baik Darat, Laut maupun Udara tidak dipungut biaya apapun. Hal ini senada dengan yang disampaikan Dandim 1603/Sikka Letkol Inf M. Zulnalendra Utama bahwa Penerimaan Prajurit TNI gratis tanpa dipungut biaya. (Atik)

  • Permudah Pelunasan Tunggakan Iuran bagi Peserta PBPU, BPJS Kesehatan Jalin Kerjasama dengan PT Pegadaian

     Maumere Berandanegeri.com – Dalam rangka peningkatan keaktifan peserta dan kolektibilitas iuran  segmen peserta Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU), BPJS Kesehatan menjalin kerjasama dengan PT Pegadaian (Persero) memberikan alternatif solusi bagi peserta untuk membayar iuran Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

    “Peserta PBPU dapat memperoleh Uang Pinjaman dari Pegadaian mulai dari Rp510.000  hingga Rp5.000.000. Pencairan Uang Pinjaman digunakan untuk pembayaran Iuran JKN, “jelas Kepala BPJS Kesehatan Cabang Maumere saat menggelar diskusi media bertajuk “Bersama Mengawal Implementasi Program JKN-KIS” yang berlangsung di Hotel Capa Maumere, Selasa (11/5/2021).

    Kepala BPJS Kesehatan Cabang  Maumere mengatakan  produk ini mirip dengan produk Gadai atau Kredit Cepat Aman (KCA) reguler yang mampu memberikan kredit dengan sistem gadai bagi seluruh golongan nasabah untuk kebutuhan konsumtif maupun produktif.

    Terkait program pelunasan tunggakan BPJS Kesehatan, kata Arie, produk ini hanya berlaku bagi segmen Pekerja Bukan Penerima Upah (PBPU) dan Bukan Pekerja.

    Pembayaran lewat agunan berupa perhiasan emas, emas batangan, berlian, mobil, sepeda motor, laptop, handphone, alat rumah tangga, atau barang elektronik lainnya, produk gadai merupakan solusi tepat untuk mendapatkan pinjaman secara mudah, cepat, dan aman.

    “Dengan adanya kerja sama ini, kami berharap peserta JKN-KIS bisa lebih mudah melunasi kewajibannya membayar iuran JKN-KIS yang tertunggak. Langkah ini juga merupakan upaya kami dalam mengoptimalkan kolektabilitas iuran JKN-KIS segmen PBPU dan Bukan Pekerja,” jelas, “Kepala BPJS Kesehatan Cabang Maumere.

    Diskusi Media BPJS Kesehatan Cabang Maumere bersama Aliansi Wartawan SIKKA (AWAS), Selasa(11/5/2021) bertempat di Hotel Capa Resort Maumere

    Peserta JKN-KIS yang ingin memanfaatkan layanan ini, bisa mengunjungi Kantor Pegadaian setempat dengan membawa KTP, kartu JKN-KIS, kode booking, dan barang berharga yang akan digadaikan.

     Selain itu Kepala BPJS Kesehatan Cabang  Maumere yang membahawi tiga Kabupaten yaitu Kabupaten Sikka, Kabupaten Flores Timur dan Kabupaten Lembata ini mengatakan  BPJS Kesehatan juga memberikan solusi berupa pembayaran iuran BPJS  melalui Auto Debit Iuran JKN-KIS.

    Auto Debit pembayaran Iuran JKN-KIS memberikan manfaat bagi pesrta, di antaranya: membantu peserta mambayar iuran secara tepat waktu, menghindarkan peserta dari lupa membayar Iuran, dan peserta tidak perlu mengantri untuk membayar iuran di bank atau chanel pembayaran konvensional lainnya.

     Auto Debit Iuran JKN-KIS kini semakin mudah. Peserta dapat menggunakan kartu Debit/Kredit berlogo Visa atau Mastercard untuk mendaftar Autodebit dan membayar Iuran JKN-KIS pada Aplikasi Mobile JKN, “jelas Arie.

    Kepala BPJS Kesehatan Cabang Maumere menyebutkan jumlah peserta BPJS Kesehatan baik dari Kabupaten Sikka, Flores Timur dan Lembata sebanyak 34.828.Kategori PBPU dipastikan menunggak iuran sebesar Rp 24 M lebih.

    Jumlah penunggak dari kabupaten Sikka sebanyak 17.757 orang dengan total tunggakan sebesar Rp 13 M lebih. Rincian tunggakan ini, untuk kelas 1 total penunggak 1.514 peserta nilan tunggakan Rp 2,9 M; kelas 2 sebanyak  1.905 peserta dengan nilai tunggakan Rp2,4 M; dan kelas 3 sebanyak 14.338 peserta dengan nilai tunggakan  R p8 M lebih.

    Untuk Kabupaten Flotim, jumlah penunggak sebanyak  8.848 peserta dengan nilai tunggakan Rp 5,8 M lebih. Sementara  Kabupaten Lembata jumlah penunggak sebanyak 8.328 peserta dengan nilai tunggakan Rp 4,6 M lebih. (Atik)

  • Tanjung Kajuwulu, Pesona yang Semakin Bersinar

    Maumere Berandanegeri.com – Tanjung Kajuwulu berada di Desa Magepanda, Kecamatan Magepanda, Kabupaten Sikka, Propinsi NTT menjadi destinasi yang saat ini banyak diminati oleh masyarakat kota Maumere khususnya dan masyarakat Kabupaten Sikka umumnya juga wisatawan mancanegara.

    Kawasan wisata yang merupakan milik Pemerintah Kabupaten Sikka ini berada pada  jarak 25 Km arah barat laut Kota Maumere ramai dikunjungi setiap hari Sabtu dan Minggu. Pengunjung kawasan wisata ini berkisar 100 orang.

    Kawasan wisata  Tanjung Kajuwulu letaknya sangat strategis karena memiliki konektivitas langsung dengan beberapa destinasi wisata disekitarnya seperti Nusa Kutu, Agrowisata Magepanda, Taman Wisata Alam Laut Teluk Maumere dan wisata religi Wairnokerua.

    Tempat-tempat wisata yang dapat dinikmati di kawasan  Tanjung Kajuwulu antara lain Bukit Salib, Pantai  Pasir Putih, Padang Rumput Ilalang, Formasi Tebing Alam, Panorama sunrise dan sunset yang sangat menakjubkan. Serta wisata bahari Sweaming, Snorkeliing dan Diving.

    Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo mengatakan Pemerintah Kabupaten Sikka akan terus membenahi kawasan Tanjung Kajuwulu supaya para pengunjung benar-benar bisa menikmati keindahan Tanjung Kajuwulu.

    “Saya  berharap tempat wisata Tanjung Kajuwulu harus ditata secara baik, agar bisa memberi makna tersendiri bagi para wisatawan yang akan datang berkunjung ke tempat ini  nantinya,”ujar Bupati Sikka  saat membuka Launching Pengelolaan Retribusi Tarif Parkir Kendaraan di lokasi Tanjung Kajuwulu, Minggu(9/5/2021).

    Robi Idong pada kesempatan itu mengatakan dengan melihat kondisi Tanjung Kajuwulu yang menurutnya masih terus dibenahi maka pihaknya juga berencana akan membuat sebuah kolam renang terbesar di tempat tersebut, yang diperuntukkan bagi anak-anak dan orang dewasa.

    “Ke depannya kalau bisa nanti kita bangun kolam renang untuk anak-anak  dan orang dewasa, serta Jacuzzi (kolam air hangat). Tempat wisata ini perlu ditata lebih baik lagi, karena selalu ramai dikunjungi wisatawan lokal maupun mancanegara,” tuturnya.

    Robi Idong juga menegaskan bahwa pariwisata harus mempunyai kreativitas yang tinggi, harus mampu melihat pasar, dan bisa melakukan apa saja.

    “Tempat ini sangat indah, ini masuk kawasan konservasi dan dalam daerah perlindungan laut. Sehingga tidak boleh ada penangkapan ikan dengan pukat atau jala di sini, hanya bisa dilakukan dengan memancing saja,” tegasnya.

    Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Sikka, Peth Poling menjelaskan, menyadari potensi  wisata  yang eksotis pada kawasan ini dan mengacu pada amanat RIPPARDA (Rencana Induk Pengembangan  Pariwisata Daerah) telah dimulai kegiatan pengembangan pembangunan sarana dan prasarana sejak tahun 2017.

    Pihaknya membangun berbagai fasilitas melalui dana DAK dan DAU berupa gazebo, lampu taman, kamar mandi/WC dan ruang ganti. Selain itu juga dibangun kios cinderamata, jalur pejalan kaki menuju puncak bukit yang terdapat salib, serta menara pandang serta disiapkan air melalui sumur bor dan tempat parkir kendaraan.

    Menurut Peth Poling untuk mengembangkan daya tarik kawasan wisata Kajuwulu, yang mungkin bisa dikembangkan adalah  para layang, flying fox olahraga dayung dan pengembangan jalur off-road karena mengingat lokasi wisata ini cocok untuk atraksi-atraksi  wisata itu.

    “Jadi, kita akan terus melakukan penataan tempat ini, agar menjadi lebih menarik dan ramai dikunjungi wisatawan baik lokal maupun mancanegara,” ungkapnya.

    Pengunjung yang memiliki kendaraan dikenakan tarif retribusi parkir kendaraan antara lain kendaraan roda dua dikenakan tarif Rp 4000, mobil minibus dikenakan tarif sebesar Rp 8000 dan bagi kendaran truk sebesar Rp 12.000. (Atik)

  • Kopi Pencerahan

    Oleh Markus Makur

    ORANG Manggarai Timur, Manggarai Barat, Manggarai memiliki tradisi lejong (berkunjung). Saat lejong itu ada ngara mbaru dan meka (tamu). Biasanya tuan rumah selalu menyuguhkan kopi asli Manggarai Timur, khususnya Kopi Colol. Pendamping minuman kopi biasanya dengan Tete (ubi jalar), Teko (Ubi Keladi), Daeng (ubi kayu). Kadang-kadang juga minum kopi saja. Kebiasaan lainnya adalah Cenggo, Senggo Inung Kopi. Orang Manggarai Raya itu sangat ramah. Siapa saja yang dikenal atau tamu tak dikenal biasanya diajak  mai cenggo, Senggo di (mari mampir). Saat Cenggo, Senggo, tuan rumah selalu suguhkan kopi pahit, kopi pait. Nenek moyang orang Manggarai Raya tidak mengenal gula pasir. Belakangan minuman kopi ditambah dengan gula pasir. Zaman dulu, minuman kopi dicampur dengan gula Kolang. Gula yang terbuat dari pohon aren. Biasanya pohon kopi berada di antara pohon aren. Pohon aren sebagai pelindung pohon kopi. Kopi mencerahkan. Kopi saling menginspirasi. Kopi juga membawa perubahan dalam berbagai aspek kehidupan.

    Kopi, selain untuk keperluan minuman persaudaraan, biasanya saat minum kopi ada sharing pengalaman, diskusi seputar masalah sosial. Ada nilai keakraban, nilai persaudaraan, nilai kekeluargaan. Kopi juga sebagai identitas dalam kehidupan budaya orang Manggarai Raya. Jikalau tuan rumah tak memiliki kopi tepung saat ada tamu, maka tuan rumah bisa minta di tetangga. Intinya dalam rumah orang Manggarai Raya selalu tersedia kopi biji dan kopi tepung. Tidak bisa tidak. Harus ada kopi didalam rumah tangga.

    Jual Biji Kopi demi Biaya Anak Sekolah

    Selain untuk keperluan minum, kopi biji juga dijual kepada pembeli demi biaya anak sekolah. Pendapatan utama orang Manggarai Raya adalah kopi. Belakangan ada jenis tanaman perkebunan lainnya. Yang pertama tanaman perkebunan di wilayah Manggarai Raya adalah kopi. Selain biaya pendidikan, hasil jual kopi biji dan tepung untuk acara ritual adat, biaya perkawinan dan biaya-biaya lainnya.

    Saya ingat orangtua dulu memetik kopi, menjemur kopi dan menjual kepada penadah di kampung. Uangnya untuk biaya pendidikan dan keperluan dalam keluarga. Panen kopi sekali dalam satu tahun kalender kerja.

    Suguhan Kopi saat Ritual Adat

    Apabila ada ritual adat, ritual adat perkawinan. Ritual mempertemukan jodoh antara keluarga perempuan dan laki-laki. Biasanya keluarga perempuan menyambut tamu anak wina, pihak laki-laki dengan suguhan minuman kopi. Tak ada minuman lain. Hanya minuman kopi. Jadi minuman kopi sebagai minuman pembuka bagi tamu yang berkunjung. Jadi utamakan minuman kopi terlebih dahulu.

    Bukan hanya didalam rumah disuguhkan minuman kopi. Tapi, saat bekerja di kebun, sawah, ladang, saat bangun rumah dan keperluan lain selalu disediakan minuman kopi.

    Missionaris Pembawa Tanaman Kopi

    Para missionaris yang melakukan misi pewartaan di bumi Manggarai Raya melihat kesuburan tanah serta alamnya sangat cocok ditanami kopi. Orang Manggarai Raya harus berterima kasih kepada missionaris dari Ordo Serikat Sabda Allah yang berkarya di bumi Manggarai Raya. Jikalau mereka tidak bawa tanamam kopi maka orang Manggarai Raya tidak mengenal tanaman kopi. Pewartaan lewat tanaman kopi. Ini menarik. Cikal bakal pertama tanaman kopi di wilayah Manggarai Raya berasal dari kampung Colol. Maka disebut kopi Colol. Ini tak bisa dibantah. Ada bukti sejarah yang sudah ditulis dalam media KOMPAS. Bahkan saat diadakan sayembara tanaman kopi oleh Belanda. Salah satu petani di colol mendapatkan penghargaan dari ratu Belanda berupa bendera Belanda. Bendera itu sebagai benda keramat di wilayah Colol. (Baca KOMPAS yang ditulis wartawan KOMPAS, Frans Sarong). Untuk itu dari Colol tersebar tanaman kopi di seluruh Manggarai Raya. Orang Eropa, khususnya Belanda adalah penyuka, penikmat minuman kopi. Hanya kelemahannya, kopi tidak menjadi branding utama di wilayah Manggarai Raya.

    Kopi Simbol Persahabatan

    Dimana ada dua tiga orang berkumpul sambil Inung kopi, minum kopi  terjalin sebuah persahabatan. Banyak diskusi, sharing pengalaman, berbagi ilmu pengetahuan. Air, tepung kopi tak terpisahkan. Kopi melebur di air hingga disebut minuman kopi. Bukan lagi sebut air bening. Antara air dan kopi  sudah menyatu menjadi satu. Siapapun yang minum kopi dalam sebuah perkumpulan, menyatu semua ide dan pemikiran. Kemudian dilanjutkan dengan aksi nyata. Perubahan itu ada di aksi nyata. “Minumlah kopi Colol. Ada persaudaraan dan persahabatan yang dibangun saat minum kopi.”


    Anggota Komunitas Cenggo Inung Kopi Online Manggarai Timur sedang berdiskusi sambil minum kopi sebagai kekhasaan komunitas ini, Januari 2021. (DOK/KOMUNITAS CIKO MATIM)

                              ***********************

    Penulis adalah wartawan tinggal di Manggarai Timur, NTT

  • Pascafenomenologi dan Kematian Partikular

    Pascafenomenologi dan Kematian Partikular

    Oleh Budi Hartanto

    PASCAFENOMENOLOGI dikembangkan oleh Don Ihde seorang filsuf teknologi asal Amerika. Sebuah filsafat yang menjelaskan relasi-relasi pragmatis-eksistensialistis antara manusia dan dunia teknologi, yaitu ketika eksistensi tidak lagi dapat dimaknai terbatas pada tubuh dengan segala potensi panca inderanya, tapi juga berada pada moda relasi dan transparansi dengan teknologi. Mengacu pada filsafat Ihde ini, fenomenologi klasik kemudian tidak lagi memadai untuk memahami secara filosofis dunia kehidupan kontemporer.

    Fenomenologi membahas bagaimana kesadaran dijelaskan sebagai sesuatu yang selalu tertuju pada fenomena. Ia sering dikatakan yang menengahi dua aliran besar filsafat modern: idealisme dan materialisme. Dengannya, kita pahami secara eksistensial bahwa dunia merupakan struktur relasional dan terberi dari kesadaran. Secara intensional, “subjek” atau ego transendental mencerap dunia dengan perspektif yang khas dan tersituasikan. Maurice Merleau-Ponty kemudian mengelaborasi fenomenologi yang tidak berpusat pada subjek Cartesian. Ia berpendapat, tubuhlah yang merasakan dan mengerti dunia. Ihde kemudian melengkapinya bahwa tubuh berada dalam relasi dengan teknologi. Dunia secara intensional mewujud dan dipersepsikan melalui mediasi instrumen-instrumen teknis.

    Secara lebih luas pascafenomenologi merupakan filsafat material yang mensyaratkan setiap pengetahuan. Ia menjadi moda cara mengadanya manusia, teknologi mentransformasikan pengalaman. Karena itu, semua ilmu-ilmu empiris boleh dikategorikan ke dalam pascafenomenologi. Tidak hanya penggunaan instrumen optik seperti dalam ilmu biologi molekular, fisika partikel dan kosmologi kontemporer, tapi juga geografi, antropologi, sejarah dan arkeologi mendasarkan pengetahuannya dengan mediasi materialitas teknologi.

    Berdasarkan pendekatan pascafenomenologis, Ihde mengatakan dalam sebuah wawancara, filsafat tidak lagi berorientasi linguistik. Pikiran tidak menjadi keutamaan digunakan terutama untuk menyingkap pengetahuan. Kendati demikian, bukan berarti ilmu pengetahuan kemudian menafikan rasionalitas, melainkan berpijak pada kualitas-kualitas termanifestasikan secara teknologis. Ia, misalnya, merumuskan gagasan hermeneutika material. Karena aktivitas ilmu pada dasarnya bersifat sosio-kultural, hermeneutika material diperlukan dalam setiap penelitian keilmuan. Menurut Ihde, pemilahan analitis antara ilmu-ilmu sosial dan ilmu-ilmu alam tidak lagi diperlukan karena keduanya mengandaikan suatu kegiatan hermeneutis (2003: hal. 18).     

    Pembacaan dunia melalui teknologi merupakan inti fenomenologi instrumentasi atau secara lebih luas pascafenomenologi(1979: division one). Kesatuan relasional inilah yang membentuk dunia secara persepsional. Teleskop, misalnya, menjadi ekstensi dari tubuh. Kesatuan manusia-teleskop mencipta dunia secara partikular fenomenologis. Teleskop berada dalam relasi dengan tubuh, seolah-olah tubuh (mata) kita meluas, melihat bintang-bintang dan planet-planet dari jarak dekat. Ihde mengistilahkannya relasi transparansi dengan teknologi (1979: hal. 8). Yaitu ketika tidak lagi disadari objektivitas keberadaannya, melainkan menjadi ekstensi dari tubuh.

    Demikian pula telpon (1979: hal. 23). Telpon merupakan instrumen yang menghadirkan dunia melalui wujud suara. Keseluruhan tubuh tereduksi terbatas pada kualitas inderawi tertentu. Tubuh mewujud sebagai dunia teknologis. Teknologi tidak hanya memediasi dunia non-human (baca: alam), tetapi juga dunia tercipta antara manusia dengan manusia-manusia lainnya. Pengalaman tereduksi pada kualitas-kualitas inderawi tertentu, dunia terkonstruksi secara instrumental-fenomenologis.

    Kematian Pascafenomenologis

    Membahas kematian selalu merujuk pada gagasan tentang terlepasnya jiwa (res cogitans) dari tubuh (res extensa). Inilah problem klasik dualisme jiwa-tubuh Cartesian. Eksistensi tak akan ada tanpa jiwa atau pikiran; dan tanpanya sama juga dengan kematian. Filsafat Descartes sebenarnya menegaskan apa yang diwariskan oleh agama-agama dan tradisi kebudayaan tentang keberadaan jiwa sebagai entitas non-fisik tak terjelaskan. Keberadaannya dianalogikan seperti hantu di dalam mesin.

    Seperti juga halnya fenomenologi klasik percaya adanya ego transendental. Filsafat Husserl menjelaskan bahwa eksistensi tidak hadir secara material. Husserl masih berada dalam bayang-bayang filsafat Descartes. Baru fenomenologi yang dikembangkan oleh Maurice Merleau-Ponty, tubuh mendapat tempat utama. Perspektif fenomenologi, jiwa yang dipercaya dalam arti eksistensi memang tidak mendeterminasi bagaimana kita melihat dunia, bahkan dalam perkembangannya tidak dikenal entitas nonfisik bernama jiwa. Pemahaman kita tentang entitas yang dinamakan jiwa bersifat material. Tubuh tersituasikan yang bersifat relasional dengan teknologi menentukan bagaimana dunia hadir secara persepsional. Oleh karena itu, kematian perspektif pascafenomenologi selalu merupakan kematian tubuh dan dalam relasinya dengan instrumen.

    Lalu pertanyaannya kemudian bagaimana kita melihat kematian dan kematian eksistensial seperti diargumentasikan Muhammad Damm dalam bukunya yang akan kita telaah ini? Kematian, menurut Damm, pada dasarnya konstruksi sosio-kultural. Dari sini kemudian terbentuk sebuah antinomi antara kematian tubuh sosial dan tubuh korporeal. Di satu sisi tubuh bersifat organis korporeal, namun di sisi lain ia hadir secara sosial. Mengenai hal ini bisa kita lihat filsafat eksistensialisme Gabriel Marcel, ketegangan antara tubuh sosial dan tubuh korporeal pernah dijelaskan olehnya dalam Being and Having (1949). Menurutnya, ada kesatuan relasional antara Aku sebagai ada yang bersifat sosial (being) dan tubuhku yang korporeal (having). Ada menurut Marcel dapat dijelaskan lewat pernyataan eksistensialistik Aku memiliki tubuhku. Jadi, bila tubuh korporeal tidak dimiliki, maka tidak ada Aku sebagai tubuh sosial. Aku menjadi ada yang terlepas dari tubuh, namun pada saat yang sama Aku dan tubuh dapat menjadi kesatuan, seperti ketika kita merasakan sakit pada tubuh kita. Proposisi “Aku memiliki tubuhku”, dalam filsafat Marcel, menjelaskan manusia adalah tubuhnya sekaligus bukan tubuhnya, yaitu ketika tubuh dikatakan dimiliki oleh Aku sebagai entitas yang tak dapat dijelaskan

    Perspektif pascafenomenologis, kesadaran terkait dengan persepsi kultural. Selain kualitas-kualitas inderawi yang kita cerap secara langsung, dipercaya adanya persepsi kultural yang membentuk kesadaran tentang dunia (atau gestalt). Merleau-Ponty mengelaborasi fenomenologi tentang persepsi ini ke dalam sosialitas manusia. Eksistensi tercipta berdasar pengalaman kemenubuhan (embodiment) yang berkembang secara perseptual-fenomenologis. Ia menjadi prasyarat terbentuknya dunia sosial. Namun demikian, bukan berarti kesadaran itu terbatas pada pengalaman yang asali (dunia pra-keilmuan), karena relasi-relasi sosial telah membentuk nilai-nilai kemanusiaan. Karena itu, menurut Merleau-Ponty, fenomenologi mencakup nilai-nilai yang terbentuk melalui relasi-relasi sosial, seperti etika, politik, estetika, sejarah dan bahasa. 

    Ini berbeda dengan filsafat Ihde, eksistensi tidak terbatas pada tubuh dan potensi sosialnya saja, tapi juga teknologi. Secara pragmatis, persepsi dapat dihadirkan dengan mediasi instrumen. Karena itu, apa yang kita ketahui sebagai kesadaran/pikiran tidak terpisah dari dunia material. Ia membuat terma mikropersepsi dan makropersepsi. Mikropersepsi adalah persepsi (materialistis) yang hadir ketika kita mengenali kualitas-kualitas inderawi secara langsung. Sedangkan makropersepsi terbentuk secara kultural dan tidak bersifat langsung.

    Dapat diproposisikan kemudian, kematian eksistensial (tubuh sosial dan tubuh korporeal) dapat merupakan persepsi, terutama makropersepsi yang mengkonstruksi gagasan tentang kedirian. Bahkan, gagasan tentang mikropersepsi (yaitu ketika tubuh mencerap dunia) sebenarnya menjelaskan tubuh korporeal tidaklah benar-benar impersonal. Artinya, tubuh dapat mengenali dunia inderawi (kepadatan, warna, suara, suhu) terlepas dari eksistensi tubuh sosial. Dikotomi tubuh sosial dan tubuh korporeal berkenaan dengan kematian seperti dirumuskan Damm dapat kita jelaskan lewat fenomenologi persepsi dan instrumentasi ini.

    Makropersepsi yang membentuk kesadaran yang menyejarah tentu saja tidak bisa dianalogikan dengan kehidupan itu sendiri. Karena relasi tubuh, instrumen dan dunia secara pragmatis mengandaikan terciptanya dimensi-dimensi kehidupan, makropersepsi tidaklah menjadi keutamaan, bahkan boleh dibilang tidak ada. Konsekuensinya, kematian perspektif pascafenomenologi bersifat korporeal, relasional, dan instrumental. Eksistensi bukanlah state of mind, melainkan tubuh dalam relasinya dengan instrumen.

    Karena kematian universal itu negativitas atas kehidupan (atau antifenomenologi), lenyapnya kehidupan termediasi instrumen dapat diistilahkan dengan kematian partikular-pascafenomenologis. Kematian bersifat partikular konsekuensi dari berekstensinya dunia melalui teknologi. Karena pengandaiannya, tentu saja, tubuh kita masih hidup, hanya kualitas yang bersifat relasional diketahui mati. Terputusnya kehidupan virtual (simulasi komputer dan media sosial) dapat kita istilahkan dengan kematian partikular. Simulasi tubuh virtual, yaitu tubuh terkoneksi ke dalam ruang virtual, menjelaskan apa yang kita mengerti dengan kematian partikular. Ketika realitas terputus, seolah-olah kita merasakan kematian.

    Kematian partikular menjadi lebih terasa apabila dilihat melalui relasi-relasi manusia dengan dunia sosialnya yang tercipta secara teknologis. Mungkin inilah relevansi kematian “tubuh sosial” seperti dijelaskan Damm. Bahwa kematian terkait dengan dunia sosial, bersifat intersubjektif, antara manusia dengan manusia-manusia lainnya. Tanpa dunia sosial, kematian menjadi tidak bermakna. Dimensi afektif kematian dapat dijelaskan dalam konteks ini. Ketika memutus secara elektronis dan permanen, seakan-akan kita merasakan kematian. Dari sini dapat dimengerti, kematian selalu menakutkan, selain rasa sakit tentunya, karena terputusnya relasi-relasi sosial. Seperti dalam nalar filsafat Heideggerian, eksistensi bermakna ketika ada yang lain mati meninggalkan kita.

    Namun, perlu kita garisbawahi dunia sosial selalu tersituasikan dan termediasikan tubuh dan teknologi. Sebelum relasi sosial terbentuk, pengandaiannya tubuh mesti terlebih dulu secara inderawi mengenali dunia. Kita tentunya tidak bisa menafikan realitas asali ini. Karena tanpanya tak ada ruang sosial.

    Fantasi Imortalitas

    Lalu tentang imortalitas. Bagaimana ia dapat dipahami dalam konteks pascafenomenologi dan kematian partikular? Imortalitas adalah keadaan tanpa kematian pada manusia. Imortalitas tentu hanya mungkin dalam hal pikiran/state of mind saja. Saya kira jelas tak ada tubuh yang abadi di Bumi ini. Semua kehidupan pasti mati. Dalam kamus pascafenomenologi, tak ada kata keabadian. Diskursus filsafat tentang keabadian alam, yang bermula sejak Aristoteles dan terus menggejala sampai periode filsafat Islam (Alfarabi dan Ibnu Sina), misalnya, mendapat tanggapan cukup sengit dari Algazhali. Menurut Alghazali, keabadian hanya ada pada Tuhan sebagai sebab dunia yang tidak abadi. Demikian pula saya kira sains kontemporer memberi penjelasan alam semesta pasti berakhir.

    Dalam buku Damm, ada pembahasan tentang filsafat imortalitas, yaitu ketika secara teknis dan keilmuan dimungkinkan terciptanya eksistensi yang dapat hidup abadi. Seperti misal pikiran yang diupload ke dalam komputer atau dipindahkan ke tubuh yang lain, sehingga manusia (yakni pikirannya) dapat hidup abadi. Bila kita telaah secara pascafenomenologis, hal ini tidak memungkinkan. Kehidupan selalu mengandaikan keberadaan tubuh. Teknologi robotik, misalnya, hanya dapat kita kendalikan secara parsial lewat tubuh. Pemindahan pikiran merupakan “teknofantasi” (2002: hal. 13). Karena analoginya kita membuat kesadaran dengan segala kompleksitas tubuhnya, imortalitas kemudian menjadi tidak rasional. Adalah wajar bila banyak ilmuwan menemukan jalan buntu berkenaan dengan kemungkinan-kemungkinan pemindahan pikiran.

    Berbicara tentang kehidupan (dan kematian) biasanya merujuk pada sekumpulan sel-sel dan organisme. Pascafenomenologi melihat kualitas-kualitas yang kita pahami sebagai kehidupan organis berekstensi secara teknologis. Kehidupan tidak hanya terbatas pada sel-sel dan organisme saja, tapi juga bersifat “elektronis” dan instrumental. Bahkan, tidak hanya sistem relasional, transplantasi organ tubuh dengan organ buatan menjelaskan tubuh dan instrumen dapat menjadi kesatuan. Donna Haraway mengatakan dalam Cyborg Manifesto (1991), kita sekarang hidup dalam dunia cyborg (organisme sibernetis), yaitu sebuah dunia ketika tidak ada lagi batas-batas antara tubuh, organisme, dan teknologi. Artinya, demikian pemikiran Haraway, transparansi teknologis telah menjadi kenyataan, realitas tidak lagi termediasikan, manusia adalah cyborg.

    Renungan-renungan atas kematian saya kira penting diketengahkan agar menjadi rasional, tidak tabu dan menakutkan. Tema yang disampaikan buku Kematian: Sebuah Risalah tentang Eksistensi dan Ketiadaan (2011) saya kira relevan dengan kondisi zaman dan searah dengan tujuan ilmu pengetahuan yaitu menyingkap yang tak terjelaskan seperti kematian.

    *************************

    *Budi Hartanto, Alumnus STF Driyarkara, Penulis Buku Dunia Pasca Manusia, Kepik 2013

    *Tulisan ini adalah Makalah yang Dibawakan dalam Diskusi Buku Kematian: Sebuah Risalah tentang Eksistensi dan Ketiadaan (2011) karya Muhammad Damm. FIB UI.

    Referensi

    Damm, Mohammad (2011). Kematian: Sebuah Risalah tentang Eksistensi dan Ketiadaan. Penerbit Kepik, Depok.

    Hartanto, Budi. (2004). “Tentang Kematian dan Sifat-sifat Jiwa”. Dalam Jurnal Filsafat Driyarkara edisi Tuhan Yang Tak Pernah Mati TH. XXVII No. 2.

    ————– (2004). “Aku Mencerap maka Aku Ada”. Koran Tempo Minggu, 18 April 2004, Jakarta.

    Heidegger, Martin. (1973). Being and Time. Diterjemahkan oleh John Macquarrie & Edward Robinson. Oxford Basil Blackwell.

    Haraway, Donna (1991). A Cyborg Manifesto: Science, Technology, and Socialist-Feminism in the Late Twentieth Century, in Simians, Cyborgs and Women: The Reinvention of Nature. New York, Routledge.

    Ihde, Don. (1979). Technic and Praxis. Holland dan Boston, USA. D Riedel Publishing Company.

    ————– (1990). Technology and the Lifeworld: from Garden to Earth. Bloomington/Indianapolis. Indiana University Press.

    ————– (2003). Postphenomenology—Again?. Working Paper from Centre of STS Studies No. 3.

    University of Aarhus.

    ————–. (2002). Bodies in Technology. Electronic Mediations; V. 5. Minneapolis: University of Minnesota Press.

    Marcel, Gabriel (1949). Being and Having. Harper & Row Publisher, New York.

    Sunaryo (2006). “Kritik Al-Gazhali atas Konsep Keabadian Alam Aristoteles”. Dalam Jurnal Filsafat Driyarkara edisi Wacana Perempuan Th. XXVIII No 3.

  • Ini Penjelasan Kadinkes Sikka,Terkait Kasus Tipikor Proyek Puskesmas Bola

    Maumere Berandanegeri.com – Sidang lanjutan dugaan tindak pidana korupsi proyek Puskesmas Bola yang digelar pekan lalu di Pengadilan Negeri (PN) Tipikor Kupang menghadirkan 7 orang saksi yakni: 3 anggota Tim Teknis, 3 anggota Panitia Pemeriksa Hasil Pekerjaan (PPHP), Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) dan bendahara.

    Petrus Herlemus, selaku Kuasa Pengguna Anggaran proyek Puskesmas Bola, dikonfirmasi media pasca bersaksi di PN Tipikor Kupang pekan lalu mengaku dirinya ditanya oleh majelis hakim seputar wewenangnya selaku KPA serta alur proses pencairan keuangan.

    Petrus Herlemus menjelaskan bahwa pendasaran proyek tersebut berdasarkan DPA Dinas Kesehatan Sikka dan pencairan keuangan sesuai dokumen kontrak yang terbagi dalam 4 tahap.

    Pencairan tahap pertama 30 persen uang muka, fisik 0 persen namun material sudah on site (di lokasi). Pencairan tahap kedua (termin 1) sebesar 50 persen saat kemajuan fisik mencapai 50 persen. 50 persen dana pencairan tahap kedua (termin 1) ini langsung dipotong uang muka 30 persen, sehingga kontraktor hanya menerima 20 persen.

    Pencairan ketiga atau (termin 2) sebesar 80 persen dikurangi 50 persen tahap kedua (termin 1), sehingga kontraktor terima 30 persen. Dan pembayaran tahap keempat (termin 3) sebesar 100 persen dikurangi 80 persen tahap ketiga (termin) sehingga kontraktor terima hanya 20 persen.

    Petrus menjelaskan, proses pencairan dana sudah sesuai tahapan berdasarkan laporan berjenjang mulai dari pengawas sehingga Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dan termuat dalam berita acara. “Saya membuat keputusan pencairan setiap tahap berdasarkan laporan dari bawah yang tertera dalam dokumen yang diajukan yakni: laporan fisik yang di back up dengan data visual dari pengawas ke PPK,” jelasnya.

    Lebih rinci Petrus menjelaskan, ada 2 dokumen yang wajib dilengkapi untuk pencairan dana; dokumen proyek dan dokumen pencairan dana. Dengan 2 dokumen tersebut KPA mendisposisikan ke Tim Keuangan untuk mengecek apakah sudah sesuai dengan Permendagri Nomor 13 Tahun 2016 tentang tata kelola keuangan daerah.

    Setelah itu dokumen akan dikembalikan kepada KPA untuk diperiksa. Jika semua dokumen sudah lengkap, maka KPA akan tanda tangan surat perintah pencairan dan mengusulkan pembayaran ke DPPKAD dan DPPKAD memproses kembali kelengkapan dokumen. Setelah itu dana dicairkan langsung ke rekening kontraktor.

    “Dasarnya saya adalah, laporan konsultan pengawas ke PPK, PPK memerintahkan Tim Teknis untuk turun melihat fisik dan kontrak berita acaranya. setelah itu, PPK akan meminta PPHP untuk siapkan dokumennya. Setelah semua lengkap barulah dilampirkan semua dokumen oleh PPK dan merekomendasikan ke KPA untuk permohonan pencairan dana,” jelasnya.

    Petrus mengaku bahwa dirinya juga sempat ditanya apakah ia mengetahui ada masalah dalam proyek tersebut. Ia menjelaskan, bahwa pada saat ia menandatangani perintah pembayaran, belum ada masalah. Sebab kata dia, jika ada masalah tidak mungkin dirinya akan tandatangani perintah pencairan. Dan kalau ada masalah, maka tidak mungkin PPK akan merekomendasikan pencairan.

     “Sehingga saya tidak memiliki wewenang untuk membatalkan dan menunda proyek, sebab tidak ada masalah dalam dokumen yang diajukan oleh PPK. Yang berhak memutus kontrak adalah PPK. KPA bisa mengambil keputusan apabila semua pelaksanaan oleh PPK fatal adanya. Tetapi semua proses yang dilaporkan kepada saya termasuk dokumen yang diajukan tidak ada yang janggal, sehingga diproses,” jelasnya.

    Herlemus juga menyampaikan jika ia juga ditanyai oleh Penasehat Hukum terdakwa dan Jaksa soal asas manfaat keberadaan Puskesmas Bola. Ia mengaku jika Puskesmas Bola sangat dirindukan oleh masyarakat. “Oleh karena itu asas manfaat sudah mulai berjalan sejak diserahterimakan pada bulan Mei 2020. Memang ada plafon yang rusak dan ada bekas rembesan air, tetapi fungsinya tidak terganggu,” ujarnya. (Atik)

  • Komodo Versus Pembangunanisme Kolonial

    Oleh Cypri Jehan Paju Dale, Warga Adat Flores, Peneliti pada Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), Kyoto University, Japan

    FOTO seekor Ora atau Sebae – nama asli Komodo (Varanus komodoensis) – berhadap-hadapan dengan sebuah dumptruck di Pulau Rinca telah menjadi salah satu foto paling ikonik dalam sejarah hubungan satwa dengan manusia di Indonesia. Sebagai bagian dari program menjadikan Taman Nasional (TN) Komodo dan sekitarnya sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN), pemerintah membangun apa yang disebut sarana dan prasarana “wisata Jurassic” di Rinca.

    Bersamaan dengan itu, izin pengembangan resort ekslusif dan bisnis wisata lainnya digelontorkan di sejumlah lokasi strategis habitat satwa purba kebanggaan Indonesia itu. Momen yang terekam dalam foto itu menjadi historik bukan saja karena untuk pertama kalinya truk dan mesin-mesin proyek lainnya merambah masuk ke habitat komodo. Tetapi juga karena perjumpaan itu menandai sebuah transisi besar bentang alam di barat Pulau Flores itu dari tempat perlindungan yang aman (safe havens) selama jutaan tahun bagi Ora dan satwa penyertanya menjadi zona wisata berstatus Kawasan Strategis Nasional di bawah kuasa negara dan korporasi.

    Kendati baru menjadi intensif akhir-akhir ini, campur tangan penguasa dan pengusaha terhadap bentang alam dan peri kehidupan Komodo terjadi sejak  zaman kolonial Belanda. Sejak keberadaannya diketahui oleh kolonialis Eropa pada tahun 1910 hingga kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, tercatat setidaknya 15 ekpedisi dilakukan oleh para ilmuwan dan pebisnis satwa Barat ke Komodo.

    Letnan J.K.H van Steyn van Hensbroek, seorang pejabat kolonial Belanda, adalah orang Barat pertama yang menginjakkan kakinya di Pulau Komodo. Selama kunjungan itu, dia membunuh seekor komodo dewasa dan mengirim kulit dan fotonya kepada Peter A. Ouwens, direktur Museum Zoologi dan Kebun Raya di Bogor. Ouwens kemudian mengirim seorang kolektor ke Komodo yang membunuh 2 ekor komodo dan membawa dua komodo hidup ke Bogor. Tahun 1912 Ouwen menulis sebuah artikel yang memperkenalkan Ora ke publik Barat, sebuah tulisan yang menggemparkan dunia dan memicu rangkaian ekspedisi ke Komodo.

    Setelah Perang Dunia I reda, sebuah tim yang dipimpin oleh W. Douglas Burden dari Museum of Natural History Amerika datang ke Komodo.  Atas izin pemerintah kolonial Belanda di Batavia, tim Burden ini menangkap  27 ekor Ora. Dua ekor Ora dewasa dibawa dalam keadaan hidup ke Amerika dan ditempatkan di Kebun Binatang Bronx, New York. Satu ekor dikirim ke Amsterdam dan lima ekor lagi menyusul pada tahun berikutnya.

    Dari lima itu, dua Ora dikirim ke kebun binatang London, sementara kebun binatang Amsterdam, Rotterdam, dan Aquarium Berlin masing-masing mendapat satu ekor. Dalam waktu singkat, Ora menjadi termasyur di Eropa dan Amerika. Kebun binatang dan museum dibanjiri pengunjung. Di New York misalnya, pada 26 September 1926 wahana Ora dikunjungi 38.000 orang.Sejak saat itu semua kebun binatang dan museum sejarah alam di Eropa dan Amerika berlomba-lomba mendapatkan koleksi komodo, hidup atau mati.

    Menanggapai tingginya permintaan pasar global, pemerintah kolonial Belanda di Batavia mengembangkan dua kebijakan. Pertama, komodo ditetapkan sebagai reptil yang dilindungi. Kedua, proses penjualan diatur oleh administasi pemerintah kolonial.

    Sebagaimana dicatat oleh sejarawan lingkungan Robbert Gribbs (2007) dan Timothy Barnard (2011), kebijakan pemerintah Belanda untuk menjadikan komodo sebagai reptil yang dilindungi diilhami oleh paternalisme kolonial yang bercampur aduk dengan kepentingan ekonomi. Mereka menganggap penduduk asli Komodo sebagai ancaman bagi kerusakan lingkungan melalui aktivitas-aktivitas tradisional mereka seperti berburu dan mengumpulkan hasil hutan dan laut. Sementara mereka sendiri bekerja sama dengan elit pribumi mengembangkan aktivitas-aktivitas borjuis, seperti olahraga berburu. Bahkan flora dan fauna Komodo pun mereka jadikan komoditas perdagangan global.

    Setelah pemerintah Indonesia menguasai rakyat dan negerinya sendiri, intervensi terhadap komodo dan habitatnya menjadi semakin intensif. Pada1965, Komodo ditetapkan sebagai cagar alam. Tahun 1980, di bawah asuhan lembaga bantuan pembangunan Ameria (USAID), habitat komodo ditetapkan sebagai Taman Nasional.

    Nasib tragis dialami warga yang hidup di bentang alam Komodo itu. Atas nama konservasi, pemukiman mereka dipusatkan dalam satu enclave seluas 17 hektar saja. Tanah mereka dikuasai dan sejak itu, berkebun dilarang. Mengambil hasil laut pun hanya diizinkan di kawasan tertentu. Kebun adat (lodok) di Loh Liang dibongkar. Warga yang menolak dianiaya dan dipenjara.

    Pemerintah mendorong masyarakat mengubah mata pencaharian mereka ke sektor pariwisata. Mereka dilatih menjadi penjual patung dan pedagang makanan di Loh Liang. Saat ini, setidaknya 127 orang menjadi pedagang di sana. Sekitar 100 orang muda menjadi naturalist guidesdive instructors atau agen perjalanan independen.

    Sementara itu, praktek penangkapan dan pengiriman komodo keluar habitatnya terus berlanjut. Selain untuk berbagai kebun binatang dalam negeri, Komodo terus dikirim ke luar negeri. Sebagian sebagai cenderamata persahabatan diplomatik. Penelusuran kami tahun 2012 menunjukkan bahwa setidaknya ada 500 Komodo tersebar di luar negeri, termasuk di Amerika Serikat, di mana 40 kebun binatangnya mengoleksi Komodo. Di sana Komodo dikembangbiakkan dan terus diperjualbelikan di antara kebun binatang, serta menjadi obyek studi ilmiah multi-disiplin.

    Di kepulauan Flores sendiri populasi Komodo di luar taman nasional terus menurun tajam. Di dalam TNK, aktivitas utama Balai TNK adalah memungut tiket dan melakukan patroli. Tidak ada program konservasi sistematis dan penelitian yang signifikan.

    Selepas penetapan kawasan ini sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) oleh Pemerintahan Joko Widodo, nasib Ora dan habitatnya serta warga di dalam kawasan TNK makin tidak menentu. Selain pembangunan sarana dan prasarana pariwisata, izin investasi resort ekslusif dan bisnis jasa wisata lainnya diberikan kepada orang-orang Jakarta yang dekat dengan pejabat.

    Di Flores, istilah “orang-orang Jakarta” kini memiliki konotasi yang mirip dengan penguasa kolonial Eropa menjelang Indonesia merdeka. Orang-orang Jakarta adalah istilah untuk orang-orang yang memiliki kuasa dan uang, yang berlaku manis sambil mengincar tanah strategis, mengelola proyek-proyek kementerian dan memanipulasi kepolosan warga lokal dan ketidakpahaman pemerintah daerah. Mereka adalah himpunan orang-orang yang atas nama pembangunan merusak ekologi, menyingkirkan warga setempat, dan mengeksploitsi Komodo demi keuntungan ekonomi mereka sendiri. Ketidakpuasan terhadap situasi itu, dan keinginan untuk mempertahankan ekologi Komodo yang lestari, warga bangkit melawan.

    Ketika pemerintah NTT hendak merelokasi warga Komodo ke pulau lain pada tahun 2019, ribuan warga Komodo menghadang Tim Terpadu yang terdiri dari pejabat berbagai Kementerian dan Pemerintah Provinsi NTT di dermaga Komodo.  Mereka menolak rencana pemindahan penduduk demi program pariwista ekslusif super-premium di wilayah itu. Ketika melihat foto Ora ikut menghadang truk proyek wisata Jurassic di Rinca, kita menjadi maklum, bahwa baik Ora maupun Ata Modo tidak akan membiarkan penguasaan ruang hidup mereka atas nama konservasi dan bisnis pariwisata.

    Selama ribuan tahun Ata Modo hidup bersama Komodo dan satwa lainnya hidup bersama dalam apa yang oleh para antropolog disebut kekerabatan antarspesies (interspecies companionship) (Harraway 2003; Tsing 2012; Dale dan Afioma 2020).

    Sebae dalam bahasa Modo artinya sebelah atau kembaran. Bagi Ata Modo,  Varanus komodoensis dipercaya dan diperlakukan sebagai saudara kembar yang lahir dari rahim ibu yang sama. Tidak hanya dalam legenda adat, kepercayaan itu menandai praktek sehari-hari.  Mereka berbagi ruang, tidak saling memusnahkan. Dalam praktek berburu (sebelum dilarang) hasil buruan selalu dibagi dua. Ata Modo mengambil daging isi, kaki kepala, kulit dan seluruh bagian dalam dipotong-potong dan diberikan kepada saudara kembarnya itu . Saat menemukan Komodo mati di hutan, Ata Modo menguburkannya seperti manusia. Dan ketika berjumpa, Ata Modo berkomunikasi dengan Sebae dalam bahasa Modo.

    Pembangunan pariwisata super premium dan konservasi yang dikembangakan Pemerintah dewasa ini, sebagaimana environmentalisme kolonial pada zaman Belanda, tidak saja mengabaikan sistem pengetahuan dan praktek arif Ata Modo dan suku-suku lain di Kepulauan Flores yang sudah berlangsung ribuan tahun. Malahan ruang hidup Komodo dirambah menjadi lahan bisnis pariwisata ekslusif super premium, satwa dijadikan komoditas industrial, dan warga setempat disingkirkan.

    Tidak mengherankan jika model pembangunan ala kolonial ini mendapat tentangan dari masyarakat lokal.

                             ******************

    *Ata Modo : Orang Komodo

    *Sumber Tulisan Majalah Tempo, Edisi 4-10 Januari 2021

  • Sebanyak 173 Pejabat Administrator dan Pengawas di Lantik Bupati Sikka

    Maumere Berandanegeri.com – BUPATI Sikka, Fransiskus Roberto Diogo S.Sos, M. Si mengambil sumpah dan melantik 173  orang pejabat  Administrator dan Pengawas dalam lingkungan Pemerintah Kabupaten Sikka, yang berlangsung di kawasan pohon jati emas Kantor Bupati Sikka di Jalan Eltari, Kelurahan Kota Uneng,  Kecamatan Alok, Kabupaten Sikka, Kamis(6/10/2021).

    Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo, S.Sos, M. Si dalam sambutannya mengatakan bahwa mutasi dalam jabatan adalah hal yang biasa dalam rangka penataan birokrasi agar pelayanan kepada masyarakat semakin baik dari waktu ke waktu. Selain itu mutasi jabatan tentunya ada tambahan pendapatan bagi ASN.

    “Pendapatan di jabatan fungsional itu sama bahkan mungkin bisa lebih baik tergantung prestasi yang kita berikan kepada negara ini,” ucap Robi Idong.

     Bupati Sikka Fransiskus Roberto Diogo juga menyampaikan terimakasih kepada tim penilai kinerja yang telah memberikan penilaian yang terbaik terhadap sejumlah jabatan hal tersebut berdasarkan arahan Presiden RI bahwa pada bulan Juni 2021 akan ada penyesuaian jabatan dari struktural menjadi fungsional.

    “Terimakasih kepada tim penilai kinerja Bapak Sekda dan rekan rekan yang telah bekerja maksimal dan memberikan yang terbaik, karena pada bulan Juni nanti ada penyesuaian atau pengalihan jabatan jabatan fungsional sehingga ada 173 pejabat yang mesti dirotasi atau pemetaan dari jabatan struktural ke jabatan fungsional tetapi kita jangan kuartir mau jabatan fungsional atau jabatan struktural yang penting bekerja secara profesional” ungkap Bupati Sikka.

    Robi Idong memberikan pesan kepada para pejabat yang dilantik agar menerimanya dengan hati yang tenang, kemudian melaksanakan dengan baik, karena sebagai aparatur negara (ASN) mendapatkan tugas yang utama dan penting untuk mengabdi kepada rakyat, tidak semua orang punya kesempatan untuk mengabdi kepada rakyat” tegas Robi.

    Bupati Sikka, Fransiskus Roberto Diogo sedang Memberikan Sambutan

    Robi Idong juga menghimbau  kepada semua ASN untuk tetap melaksanakan protokol kesehatan guna menekan penyebaran  Covid-19. Selain itu di masa krisis akibat pandemi COVID-19 berbagai upaya harus dilakukan agar pembangunan bisa berjalan. Upaya-upaya itu diantaranya, pertama, kreativitas dari para pejabat dan ASN untuk mencari kemitraan dengan pihak lain. Kedua, pinjaman daerah.

    173 Pejabat Administrator dan Pengawas yang Dilantiik oleh Bupati Sikka

    ”Untuk pinjaman daerah dari  88 Provinsi dan Kabupaten/Kota yang mengusulkan pinjaman ada 19 daerah yang boleh saya katakan disetujui dan salah satu diantaranya adalah Kabupaten Sikka,” kata Robi Idong.

    Pinjaman ini  akan di gunakan untuk 148 kegiatan yakni pembangunan di bidang infrastruktur jalan, air minum, peningkatan kesehatan dengan membangunan rumah sakit dan peningkatan di bidang pendidikan dengan membangun sekolah di Doreng. (Atik)

  • Atasi Gelap Gulita di Pedalaman Manggarai Timur, Jerman Menolong: 30 Unit Panel Solar Tiba di Wukir, Elar Selatan

    Oleh Markus Makur

    Yayasan Steyler Mission, milik Serikat SVD menyalurkan “30 Unit Panel Solar” kepada 30 rumah keluarga atau komunitas di Wukir, Desa Sangan Kalo, Kecamatan Elar Selatan, Kabupaten Manggarai Timur, Flores-Nusa Tenggara Timur.

    Data yang dihimpun pada Senin, (3/5/2021), bantuan ini merupakan bantuan dari Yayasan H.+W. Winkler di Jerman dalam kerjasamanya dengan yayasan Steyler Mission milik biara SVD yang berpusat di St. Augustin, Jerman.

    Pembangunan infrastruktur (listrik, jalan, jembatan, angkutan, irigasi, sanitasi, dan lain-lainnya yang tertinggal dari perkotaan membuat Wukir menjadi salah satu desa terisolir di Provinsi Nusa Tenggara Timur, yang adalah salah satu provinsi termiskin di Indonesia. Akses listrik negara (PLN), misalnya, adalah mimpi yang belum terwujud sejak wilayah ini dibangun untuk pemukiman penduduk, sekitar tahun 1970-an.

    Pater Agateus Ngala, SVD bersama Bapak Ferdinandus Rondong mengetuk hati penderma untuk membantu keluarga dan komunitas yang membutuhkannya. Proposal pengadaan Panel Solar ini juga mendukung program yang dikampanyekan secara internasional oleh Serikat Sabda Allah (SVD) terutama komisi “Keadilan, Perdamaian dan Keutuhan Ciptaan” (JPIC), seperti misalnya pemanfaatan tenaga matahari bagi kebutuhan harian masyarakat yang tentunya minus polusi.

    “Dari Proposal yang diajukan tersebut, kita mendapat suntikan dana sebanyak 26.399 Euro (dalam Rupiah: Rp. 435.000.000) untuk pengadaan tenaga surya ini. Dana itu seluruhnya dipergunakan untuk pengadaan 30-unit Panel Solar,” jelas Pater Teus, SVD kepada wartawan, Senin, (3/5/2021) melalui pesan whatsapp dari Jerman.

    Bantuan Panel Solar Cell dari Yayasan Styler Mission Jerman atas bantuan dari Yayasan H.+W. Winkler di Jerman sudah tiba di Wukir dan sudah di pasang di rumah warga dan Pastoran Wukir, Minggu lalu. (DOK/Pater Teus, SVD yang kirim via whatsapp)

    Dikatakan Ferdinandus, satu paket Panel Solar terdiri dari: dua unit Modul Surya 100Wp, dua unit Aki Kering VRLA 12v 100Ah, satu unit Inventer Liminous Eco Volt 1500VA, satu unit Solar Charge Controller 20A, Bracket penyangga panel dan satu set kotak bateri, satu set kabel 30 meter dan Lampu 12 watt sebanyak sepuluh unit.

    “Pengadaan barang ini, seluruhnya, kita pesan langsung di Perusahaan Panel Solar di Surabaya”, bebernya.

    Ia menjelaskan, selain bantuan dari Jerman, ada juga kontribusi lokal dari keluarga atau komunitas yang mendapat bantuan ini, sebesar Rp. 3.000.000, yang diperlukan untuk biaya transportasi, pengiriman barang-barang (Panel Solar,red) mulai dari Surabaya hingga ke Wukir, juga dipakai untuk mendatangkan teknisi khusus dari Surabaya, untuk pemasangan dan pelatihan tenaga lokal.

    30 Unit Panel Solar Tiba di Wukir, Elar Selatan

    Data yang diterima pada Jumat, (30/4/2021) 30-unit Panel Solar tiba di Wukir, yang dimulai dengan acara “Kapung” (acara penerimaan secara adat) dan dilanjutkan dengan pemberkatan oleh Pastor Paroki Wukir, Romo Stanislaus Kamput, Pr di Pastoran Wukir.

    Setelah dikuatkan dengan berkat Ilahi, 30-unit Panel Solar diserahkan untuk selanjutnya dipasang oleh teknisi ke 30 perumahan atau komunitas yang menjadi sasaran.

    Romo Stanislaus menjelaskan, ia baru bertugas di Paroki Wukir. Sebelumnya ia bertugas di Paroki Orong, Kabupaten Manggarai Barat. Saat tiba pertama di Paroki Wukir, belum tersambung jaringan listrik.

    “Saya bersyukur atas bantuan panel solar cell dari orang baik di Jerman melalui perantaraan Pater Teus, SVD. Kini panel solar cell sudah dipasang di Pastoran Wukir,” ucapnya.

    Melkior Jalang, salah satu penerima bantuan ini, kepada media ini mengatakan: “Baru kini kami merasakan sungguh-sungguh apa artinya dari gelap terbitlah terang!” Bersama 30 keluarga yang lain, Bapa Lydia, demikian beliau di sapa, mengucapkan terima kasih kepada donatur dan pihak yang terlibat mendatangkan bantuan ini: “Kami hanya mengucapkan terima kasih, dan sisanya Tuhan yang akan membalasnya,” tutupnya.

    Ketua DPRD Kabupaten Manggarai Timur, Heremias Dupa mengakui bahwa Kecamatan Elar dan Elar Selatan belum tersambung jaringan listrik dari PLN.

    “Saya minta Pemerintah dapat memperjuangkan jaringan listrik di dua kecamatan tersebut,” pintanya saat dihubungi wartawan lewat sambungan telepon selulernya, Senin, (3/5/2021).

    Secara kelembagaan, Lanjut Dupa, sudah menyurati pihak PLN untuk memasang jaringan listrik di seluruh Manggarai Timur. DPRD Manggarai Timur minta kepada pihak PLN agar rasio elektrik di wilayah itu 80 persen sehingga seluruh desa dan kampung dialiri listrik sampai 2024.

    “Untuk wilayah utaranya pemasangan instalasi seperti tiang dan kabelnya sampai di Watunggong sementara bagian Kecamatan Kota Komba Utara sudah sampai di Desa Golo Nderu dan Desa Rana Mbata. Jadi Kecamatan Elar dan Elar Selatan belum terpasang instalasi listrik,” jelasnya.

                                     ***********

    Penulis adalah wartawan tinggal di Manggarai Timur