Maumere Berandanegeri.com – Guna mendukung program pemerintah dalam memerangi COVID-19, Pangkalan TNI AL Maumere kembali lakukan serbuan Vaksinasi Masyarakat Maritim di Puskesmas Beru dan di halaman Bank BRI Kantor Cabang Maumere, Kabupaten Sikka, Sabtu (17/7/2021).
Pelaksanan vaksinasi dengan melibatkan tim vaksinator dari Balai Kesehatan Lanal Maumere, Tim Kesehatan Kodim 1603, Puskesmas Wolomarang dan Puskesmas Beru.
Dengan jumlah masyarakat yang tervaksin berjumlah 285 orang, sebelumnya pada hari Jumat 16 Juli 2021 dilaksanakan Serbuan Vaksinasi Masyarakat Maritim Kabupaten Sikka di Puskesmas Wolomarang dengan jumlah warga yg tervaksin 216 orang.
Sampai saat ini total masyarakat Kabupaten Sikka yang tervaksin Tahap I dalam Program Serbuan Vaksin Masyarakat Maritim berjumlah 3.646 orang tervaksin dari 4200 orang pendaftar
Tim vaksinator akan terus berusaha memvaksin warga tersebut hingga seluruh pendaftar tervaksin dan sesuaikan juga dengan jumlah dukungan Vaksin tersebut.
Danlanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M.Tr.Hanla., M.M., CTMP. menuturkan, target sasaran vaksinasi yang digelar oleh TNI AL ini adalah untuk masyarakat kecil, nelayan, hingga pelaku UMKM serta Masyarakat Maritim, Kabupaten Sikka.
Dalam pelaksanaan Vaksinasi, kata Dwi Yoga, Lanal Maumere selalu bersinergi dengan Tenaga Kesehatan yang ada di Kabupaten Sikka.
Danlanal Maumere menambahkan diselenggarakannya vaksinasi ini adalah salah satu program dari Pemerintah dan perintah langsung dari pimpinan TNI AL yaitu Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., untuk membantu mempercepat dan memutus rantai penyebaran Covid-19.
Serbuan vaksin ini, tentunya sebagai bagian dari upaya membentuk kekebalan kelompok (herd immunity), khususnya untuk Masyarakat Maritim Kabupaten Sikka. (Athic)
Ledalero, tingkat tiga, 2016. Saya pertama kali bertemu dia, seorang pria dengan penampilan sangat sederhana, dengan pembawaan diri dan gaya bertutur yang sekali didengar, kita bisa tahu ia seorang yang asli rendah hati sekali.
Dia baru saja menyelesaikan studi S3 Sosiologinya di Australia dan pulang mengajar mata kuliah wajib “Sosiologi Agama” bagi mahasiswa tingkat empat STFK Ledalero. Pada saat yang sama, mata kuliah pilihan “Seminar Menafsir Akar Fundamentalisme” ditawarkannya juga. Beberapa anak Ledalero yang tertarik mengkaji tema-tema seputar fundamentalisme (agama), globalisasi, demokrasi dan etika ekonomi “rame-rame” memilih mata kuliahnya. Seingat baik saya, yang dari Ritapiret hanya satu orang, Andye Naga.
Waktu itu, mengambil mata kuliah baru, duduk di ruangan kuliah yang diampuh oleh dosen baru seperti Tuan Lipus, adalah sesuatu yang istimewa sekali. Ini merupakan kesempatan emas, jangan dilepaslewatkan begitu saja. Baru selesai studi doktor, isi kepalanya pasti masih “panas”. Dan kita tentu bisa dapat banyak pengetahuan baru, begitu harapan beberapa anak Ledalero yang memilih mata kuliahnya.
Mata kuliahnya ia sajikan dalam bentuk seminar. Kami dibagi dalam kelompok-kelompok kecil, dan setiap kelompok diberikan tugas untuk membawakan seminar setiap minggu. Tema seminar diaturnya dengan jelas. Dia beri kami satu artikel ilmiah bahasa Inggris yang panjangnya bisa mencapai sepuluh halaman, lalu kami diminta untuk menerjemahkan artikel tersebut, memahaminya dengan benar dan membuat seminar berdasarkan teks tersebut.
Saya lupa judul teks asli bahasa Inggris nya, tapi waktu itu saya dan Oby da Gomez bertugas membahas artikelnya Bernard Adeney-Risakotta berjudul “Globalisasi dan Agama dari Perspektif Orang Indonesia”. Ini judul aslinya. Dalam seminar kami, judul ini secara sengaja kami ubah menjadi “Membincangkan Globalisasi dan Ambiguitas Agama dalam Konteks Negara Indonesia”. Yah, supaya kedengaran lebih ‘seni’, unsur ilmiahnya lebih kuat, dan yang paling utama jauh dari unsur-unsur plagiarisme.
Seminar dan diskusi berjalan baik. Tanggapan atas pertanyaan-pertanyaan dari forum bisa diantisipasi dengan baik. Kesempatan terakhir diberikan kepada dosen mata kuliah untuk berbicara. Tuan Lipus maju ke depan, mengambil mic dan berbicara.
“Seminar hari ini bagus sekali. Kedua pemateri sepertinya kerja keras sekali. Mereka tidak hanya menjelaskan isi artikel penulis (Bernard Adeney-Risakotta) kepada kita semua, tapi yang sudah mereka buat, lebih dalam dari itu. Ada banyak sekali improvisasi, tambah-tambah bumbu yang nyaris buat tema seminar hari ini lari keluar dari maksud teks penulis asli.” Semua tertawa mendengar Tuan Lipus yang dengan senyum-senyum kecilnya mengevaluasi kami waktu itu. Di dalam hati, saya sempat menggerutu, “Tuan Lipus mungkin tidak terlalu suka atau juga tidak terlalu paham tentang seni-nya berhermeneutik”.
Sudahlah. Ini jadi pelajaran penting bagi saya. Di kemudian hari saya akhirnya mengerti, ternyata membaca teks bahasa asing itu tidak berarti lurus-lurus menerjemahkan kata per kata dari teks. Ia lebih menyangkut bagaimana kita bisa menangkap inti dari sebuah teks dan menjelaskannya dengan bahasa sendiri. Tapi sekali lagi ingat: jangan keluar jalur!
Beberapa minggu setelah itu, menjelang liburan semester genap tiba, Tuan Lipus memanggil saya ke kamar. Ketika pintu kamar ia buka, seperti seorang ayah dan anak, dengan dialek khas Flores Timurnya, ia mengundang saya masuk.
“No, saya rencana mau tulis satu buku tentang budaya Lamaholot!” Ia membuka percakapan. “Tuan mau tulis tentang apa le?” saya bertanya penuh antusias.
“Coba kita gali kembali pepatah-pepatah bahasa Lamaholot yang sudah mulai jarang digunakan lalu buat perbandingannya dengan teks-teks Biblis!”
“Ah, ide bagus tu, Tuan. Saya siap bantu. Tapi bagaimana cara buatnya?” “Kita buat penelitian ka! Kita terjun ke kampung-kampung di Flores Timur lalu cari tahu pepatah sebanyak mungkin”.
“Oke Tuan. Siap!”
Besoknya saya coba buat pendekatan dengan teman-teman mahasiswa STFK yang berasal dari Flores Timur (yang tentu bisa mengerti dan bicara bahasa Lamaholot). Semua bergabung, yang studi S1 filsafat maupun S2 teologi, yang frater maupun yang awam semua beri respon positif. Kami lalu buat pertemuan bersama dan putuskan untuk terjun ke tiga paroki di ujung timur Flores: Waiklibang, Riangpuho, dan Koten.
Kami dibagi dalam kelompok. Dua minggu kami terjun ke lapangan, ada bersama masyarakat. Pulang penelitian, kami berkumpul kembali. Semua pepatah yang terkumpul kami gabung jadi satu. Kami rumpunkan secara tematis. Dalam rencana selanjutnya kami coba untuk temukan ajaran Biblis yang selaras dengan tema-tema pepatah, lalu selanjutnya, menyitir kembali kata Tuan Lipus, akan dibuat semacam sebuah teologi naratif.
Waktu itu boleh dibilang proyek kami baru seperempat jalan. Kami baru berkumpul menggabungkan semua pepatah yang terdata dan membuat tematisasinya. Tidak lama setelah itu, berita menyedihkan datang. Tuan Lipus jatuh sakit. Stroke merenggut ingatannya, hilang sama sekali.
Beberapa kali saya berkunjung ke kamarnya, mencandai dia, “Tuan, masih ingat kita punya penelitian kah? Cepat sembuh eh supaya kita lanjut mukut lagi ka!”
Tatapannya kosong. Tak ada satupun kata ataupun respon. Dia sudah tak ingat apa-apa. Saya, teman-teman peneliti, rencana bersama kami, semuanya hilang dari ingatannya. Hingga hari ini, ketika Tuhan memanggilnya pulang. Ia tetap tak ingat apa-apa.
Tuan, terima kasihaja-aja untuk jasa moe (Tuan, terima kasih banyak atas jasamu). Knekat raé knebi dekit, bleli raé more horét (pisau tertancap di dinding, daun koli terselip di tempat simpan parang). Sejarah yang Tuan buat di sini tidak akan hilang.
Agama dimulai dari hening dan saat yang
dahsyat dan berakhir dengan konstruksi. Budha
di bawah sebatang pohon di Bodh Gaya, Musa
di puncak Sinai, Muhammad di Gua Hira: tiap
situasi hadir sebagai situasi terpuncak, momen
yang tak lazim, ketika seseorang mengalami
kehadiran sesuatu yang Maha Lain, yang numinous,
sebagaimana digambarkan Rudolf Otto: misterius,
menakutkan, memukau. Di abad ke-5, atau 500
tahun sebelumnya, Santo Agustinus mengucapkan
perasaan yang mirip: “Dan aku gemetar dengan
kasih dan ngeri.”
Agama dimulai dengan gemetar, ada rasa kasih
dan ngeri, ada amor dan horror – tapi tampaknya
sesuatu dalam sejarah manusia telah menyebabkan
ia berakhir dengan sesuatu yang rapi: desain dan
bangunan. Berabad-abad setelah bertemu dengan
sang numinous, kita pun menyaksikan sesuatu yang
tak lagi mengungkapkan senyap. Di hadapan kita
kenisah yang megah, mesjid yang agung, gereja
yang gigantis, patung Budha dari emas yang
terbujur 14 meter, pagoda dengan pucuk yang
berkilau – dan umat yang makmum, berdesak …
Tampaknya pengalaman religius akhirnya selalu
dicoba diabadikan dengan sesuatu yang kukuh
– yang sebenarnya fantasi tentang yang kekal.
Atau yang menjulang – yang sebenarnya fantasi
tentang yang luhur. Atau yang gemerlapan – yang
sebenarnya fantasi tentang yang indah mempesona.
Akhirnya bukan sepi yang mengambil alih, tapi
struktur.
Yang umumnya tak disadari ialah bahwa struktur
itu harus disusun dengan kekuatan yang terhimpun.
Siasat dan alat harus dikerahkan seperti ketika
kita membangun imperium dan mengurus bisnis.
Kalkulasi akan dibuat atas segalanya, termasuk
waktu – yang tak lagi sama dengan momen ajaib.
Waktu jadi sesuatu yang bisa dipetak-petak dan
diukur. Waktu jadi seculum.
Persis di situlah yang sekuler merasuk di dalam
yang religi.
Sumber Buku Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai,Goenawan Mohamad, Kata Kita,2007.
Oleh Agustinus Tetiro (alumnus STFK Ledalero, Administrator Grup Wartawan NTT Dunia)
“Saya Baca Buku Marx yang Anda Ajarkan!”
Dalam tradisi kuliah filsafat dan teologi di Ledalero, kisah tentang masa lalu seorang dosen menjadi penting. Penting bukan karena diharuskan untuk tahu. Penting karena diceritakan berulang kali oleh para senior agar kita bisa sedikit mengenal sang pengajar. Misalnya, Pater Josef Pieniazek (Pater Pinon) dikisahkan sebagai genius yang menyelesaikan dua gelar magister dari Italia dan Perancis. Pater Amatus Woi SVD menerbitkan disertasinya di Jerman tentang Teologi (Politik) Harapan Jürgen Moltmann yang diberi kata pengantar oleh sang teolog. Begitulah seterusnya dikisahkan tentang para dosen di bukit sandar matahari itu.
Menjelang mengikuti kuliah Sosiologi Agama, kami diceritakan tentang sang dosen Pater Philipus Panda Koten SVD. Singkatnya begini. Frater Lipus Panda Koten pernah bersoal-jawab dan berdebat sangat hebat dengan seorang pembina (formator) di Seminari mengenai aturan di asrama dan biara. Debat itu dilakukan di aula. Mungkin karena kehabisan pembelaan, sang formator menegur keras Frater Lipus, “Anda harus bisa diatur! Siapa yang mengajar anda untuk bersikap demikian?”. Mungkin pernyataan ini berpotensi menciutkan mental sang frater.
Dengan tenang, tidak ciut, Frater Lipus berdiri dan mengangkat sebuah buku sambil mengatakan pembelaannya, “Saya belajar dari buku ini yang Pater ajarkan di ruang kuliah!”. Buku yang diangkat Lipus itu ternyata berjudul “Das Kapital” dari Karl Marx. Katanya, mulai saat itu, Frater Lipus dikenal sebagai seorang Marxis atau neo-Marxis. Itu berbahaya, dalam arti, akan suka memberontak. Banyak cerita yang kami dengar bahwa Pater Lipus sangat pintar dan amat kritis.
Mungkin karena itu, SVD kemudian mengirim Lipus untuk menyelesaikan studi tingkat magister/master di salah satu sekolah ilmu sosial paling top di dunia, London School of Economics and Political Sciences, setelah beberapa tahun menjadi misionaris di benua Afrika.
Cerita-cerita seperti ini menjadi semacam teaser dan appetizer sebelum kuliah sang dosen dimulai. Harus diakui, kuliah seperti filsafat dan teologi sangat dipengaruhi oleh kesamaan ‘frekuensi’ antara dosen dan mahasiswa. Orang kebanyakan bisa saja mengatakan dosen lulusan Jerman lebih menarik daripada lulusan Roma. Padahal dalam kenyataan tidak selalu demikian. Banyak lulusan Roma yang atraktif dan tidak sedikit tamatan Jerman yang membosankan. Lalu, bagaimana dengan dosen kita yang lulusan Inggris ini?
“Kuliah sebagai ‘Ngopi’: Dari Charles Wright Mills ke Meeting Point”
Pater Lipus masuk ke ruang kuliah kami mahasiswa semester VII (tujuh) untuk mengajar Sosiologi Agama. Badannya besar. Senyumannya lebar. Pakaiannya longgar. Tidak slim-fit seperti para pastor lain. Tidak menarik dari sisi ini. Sekali mengeluarkan suara dan cara dia memberikan penekanan pada bagian yang dirasakannya penting, saya langsung memilih untuk bertekun di kelasnya. “Gue suka gaya lo,” kira-kira begitu kesan awal saya jika dibahasakan dengan tutur anak muda zaman now.
Diktatnya sederhana. Dari daftar isi, kita bisa tahu bahwa Pater Lipus akan membedah tiga pemikir besar: Emile Durkheim (1858-1917), Karl Marx (1818-1883), dan Sigmund Freud (1856-1939). Jika demikian, apa bedanya dengan kuliah “Filsafat Ketuhanan” (semester V) dari Pater Leo Kleden yang telah memperkenalkan kita pada pemikiran dan kritik tentang agama dari tiga ateisme besar: Marx, Freud dan Nietzsche? Bukankan itu berarti bahwa kita hanya akan menerima satu kebaruan dalam pemikiran Durkheim?
Tentu saja berbeda. Pater Leo membedah tiga ateisme besar itu sebagai seorang pengajar filsafat. Dalam filsafat, manusia adalah makhluk multi-dimensional. Itu artinya manusia tidak boleh direduksi hanya ke dalam satu dimensi saja. Penegasan ini berdampak pada evaluasi Pater Leo atas ketiga ateisme itu. Marx terlalu menekankan kelas. Freud terlalu menekankan libido, alam bawah-sadar dan sisi psikologis manusia. Nietzsche kemudian dipandang sebagai pemberi tilikan dari ilmu kebudayaan dan kesenian. Dalam evaluasi terhadap ketiga ateisme ini juga, Pater Leo benar-benar hadir sebagai imam Katolik yang belajar filsafat. Misalnya, untuk menilai Marx, Pater Leo harus menyebut beberapa ajaran sosial gereja (ASG) yang membantah tudingan Marx.
Pater Lipus tidak demikian. Pada sub-judul diktatnya, dia telah dengan sengaja memberi tambahan “Pendekatan Reduksionistis Terhadap Agama”. Jadi, dari awal kita sudah (diberi) tahu bahwa kita tidak akan berbicara tentang manusia sebagai makhluk multi-dimensional. Durkheim menaruh perhatian pada fakta sosial non-material terakhir: agama. Agama itu produk manusia, terutama bersumber pada kasus yang disebut totemisme. Marx harus menciutkan manusia sebagai makhluk ekonomi-politik untuk memberinya ruang analisa dan penjelasan yang lebih mendalam. Freud melihat manusia sebagai makhluk seksual.
Apa benar raksasa di pemikiran sosial seperti Durkheim, Marx dan Freud tidak tahu-menahu bahwa manusia adalah makhluk multi-dimensional? Tentu saja tidak. Pendekatan reduksionis memang merupakan jalan yang dipilih oleh ilmu-ilmu sosial. Pilihan itu menjadi keharusan agar ilmu-ilmu sosial di luar ilmu filsafat bisa berkembang. Itulah penciutan dan sekarang kita tahu bahwa penciutan tidak selalu buruk. Penciutan bahkan menjadi syarat utama agar suatu pembelajaran bisa dimasukkan ke dalam suatu metode dan berpotensi untuk terus berkembang. Kita tidak bisa belajar ilmu hukum kalau kita tidak bisa menerima bahwa manusia adalah makhluk yang bisa memahami aturan. Kita tidak bisa belajar psikologi kalau kita tidak menerima bahwa manusia sebagai makhluk berdimensi psikis. Kita tidak bisa belajar ilmu agama kalau kita tidak menerima bahwa manusia adalah makhluk spiritual. Dan lain-lain.
Pendekatan reduksionis seperti ini mungkin tidak terlalu menarik untuk filsafat, tetapi kontribusinya amat penting dan tidak tergantikan bagi perkembangan pembelajaran tentang manusia dan dunia, juga untuk pengembangan filsafat itu sendiri di tengah derap perubahan dunia. Kuliah seperti ini bagi mahasiswa filsafat yang telah lulus dari kuliah “Filsafat Manusia”, yang bersumber utama dari filsafat Kristiani, sepintas lalu mungkin akan terlihat membosankan.
Akan tetapi, jika kuliah dengan pendekatan reduksionis dibawakan oleh seorang ilmuwan sosial seperti Pater Lipus Panda Koten, kebosanan yang dibayangkan membeku dalam kulkas di dapur asrama. Pater Lipus tidak memberikan kita barang beku dan dingin, tetapi menyajikan kopi hangat pengetahuan yang dia sebut imajinasi sosiologis (sociological imagination).
Pada bagian awal diktatnya, Pater Lipus menarik minat kita kepada studi dan cara berpikir sosiologis sebagai suatu investigasi terhadap tindakan yang sering dilakukan manusia seperti minum kopi di pagi hari. Pater Lipus jujur bahwa ide ini pun bukan murni darinya. Provokasi imajinasi sosiologis tentang aktivitas minum kopi itu datang dari sosiolog Charles Wright Mills (1916-1962) dalam bukunya berjudul “Sociological Imagination” yang terbit pada 1970. Penyelidikan sosiologis terhadap kopi menyingkapkan beragam proses sosial yang terkait. Pertama, lebih daripada minuman yang menyegarkan, kopi bernilai simbolis sebagai bagian dari kegiatan sosial sehari-hari. Seringkali ritual yang terkait dengan minum kopi lebih penting daripada mengonsumsi minuman itu sendiri. Misalnya, bagi banyak orang, secangkir kopi pagi adalah bagian utama dari rutinitas pagi mereka, bagian penting untuk memulai hari. Sementara ‘bertemu dengan seseorang untuk minum kopi’ (meeting someone for coffee) biasanya bukan hanya tentang minum kopi, tetapi juga untuk sosialisasi dan interaksi sosial, yang menawarkan banyak hal bagi sang sosiolog.
Kedua, kopi mengandung kafein, obat yang merangsang kerja otak. Orang menyeruput kopi untuk membangunkan konsentrasi, atau sekadar untuk ‘melek’ (give them a lift). Banyak orang merasa seolah-olah tidak bisa melewati hari-hari biasa tanpa asupan kopi. Kopi, seperti alkohol di Inggris, merupakan minuma legal. Sementara, ganja dan kokain ilegal. Masing-masing komunitas dan masyarakat memiliki aturan berbeda tentang aturan ini. Pertanyaan mengapa aturan seperti itu muncul dan mengapa berbeda dari budaya yang satu ke budaya lain, menarik bagi sosiolog.
Ketiga, ketika kita minum secangkir kopi, kita masuk dalam serangkaian interaksi sosial dan ekonomi global yang kompleks yang menghubungkan kita dengan jutaan orang lain di negara lain. Ada rantai produksi global besar yang terkait dengan kopi. Kopi ditanam di Asia, Afrika, dan Amerika Latin, biasanya oleh petani yang sangat miskin, kemudian dibeli dalam jumlah besar oleh distributor lokal, dan kemudian biasanya dikirim ke Eropa untuk dipanggang dan digiling, dan juga dikemas dan diberi merek tertentu. Jika ditambah dengan proses yang terjadi di kedai kopi, ada 6 rantai dari petani kopi ke konsumen.
Keempat, secara historis, produksi dan konsumsi kopi terkait dengan sejarah kolonialisme, periode di mana kekuatan Eropa menginvasi Asia, Afrika dan Amerika Latin dan mendirikan koloni yang mengkhususkan diri pada tanaman tertentu (seperti teh, kopi, gula dan pisang) untuk diekspor kembali ke ‘negara induk’ (mother countries). Kopi yang ditanam dalam jumlah besar di negara-negara seperti Kolombia dan Indonesia adalah warisan era kolonial.
Kelima, minum kopi mengikat kita ke dalam hubungan dengan beberapa korporasi terbesar di dunia seperti Nestle dan Starbucks, yang (dituduh) mengeksploitasi pemetik kopi dengan membayar sangat sedikit kopi yang mereka beli untuk memaksimalkan keuntungan mereka, sehingga ‘kopi seperti biasa’ (coffee as usual) melanggengkan kapitalisme global. Tentu saja, sekarang ada ‘kopi perdagangan yang adil’ (fair trade coffee): membeli kopi mempertimbangkan pilihan etis. Keenam, ada kekhawatiran teranyar tentang dampak lingkungan dari menanam kopi. Ketika produk apa pun ‘berskala pabrik’ (factory farmed) berpotensi menghabiskan tanah dn mengurangi keanekaragaman hayati di area lokal, termasuk polusi yang terkait dengan pengiriman produk beberapa ribu mil di sekitar dunia.
Provokasi seperti ini mustajab bagi anak muda seperti kami saat itu. Maka, tempat ngopi di kampus yang diberi nama “Meeting Point” menjadi tempat pertemuan yang menyenangkan untuk membicarakan ide-ide secara lebih santai tetapi tetap mendalam. Sambil menyeruput (sambil mengkritik korporasi produsen?) kopi, para mahasiswa bisa memilih buku-buku yang juga dijual di sana, membaca, ataupun berdiskusi.
Jika baru empat atau lima tahun anda begitu terpesona dengan kafe, ngopi sambil bicara ide dan filosofi, kami telah melakukannya sejak belasan tahun lalu. Dan, Pater Lipus, entah dia sendiri tahu atau tidak, adalah salah satu provokator. Dari tempat ngopi itu, kelompok teater terlahir, naskah drama menemukan jejak awal, cerpen dan prosa mendapatkan bentuknya secara tertulis, skripsi dan tesis mungkin menemukan jalan keluarnya.
Penutup Sekadarnya….
Ketika saya diminta mengajar mata kuliah Agama di sebuah kampus internasional di Jakarta, saya minta petunjuk sosiolog Ignas Kleden. “Kamu punya dua pilihan: mengajarkan ajaran agama tertentu, Katolik misalnya, atau mengajar suatu fenomenologi agama,” kata Ignas. Pilihan saya tentu saja jatuh pada mengajarkan fenomenologi agama. Karena, mahasiswa saya sangat beragam asal-usulnya, mulai dari anak orang kaya di Jakarta dan Bekasi, anak diplomat dari Eropa hingga anak saudagar India di Tanah Abang.
Dan, salah satu sumber saya adalah diktat Pater Lipus. Saya memilih dengan sengaja suatu pendekatan penciutan, tanpa perlu menciutkan mental mahasiswa dengan istilah-istilah filsafat yang memusingkan. Tetapi, saya melakukan apa yang tidak dilakukan Pater Lipus: membiarkan mahasiswa mengikuti kuliah sambil ngopi!
Terima kasih Pater Lipus untuk semua jasamu, terutama untuk semua provokasimu di ruang kelas belasan tahun lalu. Surga untukmu. Selamat ngopi bareng Tuhan!.
Di perjamuan paling kudus
kucium kakimu.
Kudengar denting menggelindingi
Dinding telingaku.
Entah ini milik senyummu
Ataukah berasal dari hikayat
Anggur ayahku yang memabukan.
(Naimata, 2012)
—————————————
K a n a
Akan kujumpai kau seusai Sabat, Sahabat. Kucucukan tangan tempayanmu yang pasrah Ke dalam lambungku Sebagaimana Thomas Senantiasa yakin pada kesedihannya sendiri.
Stigmataku yang bening bercahaya menguatkan
Aroma bagi pemilik anggur yang terlalu sopan.
Kau mencari Paskah ke arah laut tempat Yahwe
Mengajarkan Musa mendirikan tembok-tembok air.
Tapi Ephphatha adalah milikku, dengan segenap
keras kepala yang kuarahkan ke pintu gerbang kota.
Dari balik lubang jarum, aku menyaksikanmu
Dan orang-orang yang menikmati pestamu.
Gabbatha yang malang juga mendengar suaramu
Yang turut menyanyikan pujian dan melambaikan
Tangan sambil menghamparkan pakaian ke jalan.
Jika layak kutumpahkan sejumlah kata di hadapanmu
Maka dengan bahagia aku akan lebih banyak lagi
Belajar dari Maria: perempuan yang begitu pasrah
Menampung tetes-tetes air matamu dengan hatinya.
(Oepoi, 2013)
———————————————————-
*MARIO F. LAWI lahir dan besar di Kupang, Nusa
Tenggara Timur. Giat di Komunitas Sastra Dusun
Flobamora. Buku-buku Puisinya Memoria (2013), Ekaristi
(2014).
*Sajak “Kamis Putih” dan “Kana” diambil dari Buku Puisi Lelaki bukan Malaikat, Gramedia 2015
Jurang-jurang yang dalam semakin memenuhi jiwa nurani
Tubir-tubir gelap terus mengepung rasa dan nalar insani
Antara raga yang terkapar, mati dan kita yang masih diberi nafas dan waktu
Pawai arwah merana melangkah sempoyongan dibungkus plastik, mencari jalan menggapai cahaya
Jiwa-jiwa yang berpulang dalam kegetiran karena dihantar dengan ketakutan oleh manusia yang bernafas tetapi mati rasa dan nurani dikuasai akal yang ingat diri tak peduli pada hakekat asali
Seperti terhempas dalam jurang kegelapan dan tubir gulita tak bermakna
Dari jurang dalam sirene kegelisahan meraung-raung
Dari tubir kegelapan ratapan ketakberdayaan terus menggema
Entah sampai kapan usai dan sirna
Rindu damba keluar dari jurang gulita dalam dan tubir kegelapan tak mampu dijawabi kehebatan hoaks ujaran, kebencian, radikalisme dan terorisme
Ganasnya ajal dan sengat kematian tidak dapat dikalahkan kuasa uang dan harta
Dengan sujud tobat mohon ampun pasrah diri pada kerahiman Ilahi Maha Kasih semoga kita diberi sayap-sayap iman untuk terbang melintasi tubir kegelapan dan keluar dari jurang ketakberdayaan
Terbang menggapai cahaya Kasih ALLAH Maha Sempurna
Telah beribu kali
kutarik garis nasib pada telapak tangan
sembari menyusun sajak bernama kehidupan
Sajakku kemudian beranak pinak
di malam-malam ia terbangun dan berjaga sampai subuh
membunuh embun
berharap melihat tangan siapa yang menyediakannya
Ketika senja sebelum lelap
sambil memikirkan bulan dan mentari beralih tugas
seperti anak kecil
ia merapal doa syukur
sambil terus mengira-ngira
kalau-kalau Engkau datang di saat-saat lelap
Tuhan
Masih berapa lama lagi
aku terkantuk-kantuk
mempelajari Engkau dalam buku-buku sejarah
juga dalam kitab suci
dalam dongeng juga dalam kemelut
Aku hanya ingin meminta
anak-anak puisiku tumpah di pagi subuh
berhamburan bagai burung gereja
Bawalah sajak-sajakku di mana orang menangis
menadai ribuan hujan air mata
menyematkan harapan walau kegetiran
memalingkan mereka dari-Mu
Aku ingin Engkau saja yang meredakan angin
jika kepak sayapku terasa letih
Tuhan Engkau teramat kuat
dari apapun yang sanggup ciptakan cinta
tak jua anggur yang candu
seperti pencuri yang datang tengah malam
lalu mencabut doa dari harapan
memisahkan Engkau dari kami
Sampai segala waktu yang ada
terkikis detik
di pelataran senja kupuja Engkau dalam hening
Kutangkap wajah-Mu
dalam kertas puisi yang kuyup
(Jakarta, 2020)
————————————————–
P e r t e m u a n
Setelah hujan sore ini
detak waktu semakin terkikis
ada harapan yang terus menguncup
sedangkan cinta sedang mekar-mekarnya
semerbak ketawa ke sana ke mari
semesta maha indah
seindah perjumpaan senja ini
(Tanjung Priok, 15 Mei 2019)
*Sumber Buku Puisi Tuhan dalam Sajak Cinta, Penerbit Tankali 2021
*Helena Lose Beraf, lahir di Lewoleba-Lembata, 26 Juli 1994.
Helen adalah seorang Bidan yang menyukai
dunia Sastra dan Jurnalistik. Karya Tulisnya Pernah Mendapat Juara 1 Kategori Pelajar SMA yang Diadakan oleh Pos Kupang. Tuhan dalam Sajak Cinta adalah Buku Puisi Pettamanya.
Mowanemani – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Dogiyai, Provinsi Papua, Rabu (7/7) sukses menyelenggarakan pemungutan suara Pemilihan Kepala Kampung (Pilkakam) atau Desa serentak tahun 2021 di 76 kampung atau desa di daerah itu.
Pemkab Dogiyai mengapresiasi kerja keras jajaran Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (PMK) bersama panitia, aparat TNI-Polri, Pol PP dengan dukungan penuh warga, tokoh masyarakat dan agama serta masyarakat sehingga proses sosialisasi hingga hari pemungutan suara berlangsung aman dan lancar.
“Rabu (7/7) saya bersama pimpinan OPD dan jajaran dinas serta instansi seharian memantau pelaksanaan Pilkakam langsung di beberapa kampung. Proses pemungutan suara berjalan lancar. Tentu sebagai umat beriman saya mengajak warga berterima kasih dan bersykur kepada Tuhan,” ujar Bupati Kabupaten Dogiyai Yakobus Dumupa dalam keterangan tertulis yang diterima dari Mowanemani, kota Kabupaten Dogiyai, Kamis (8/7).
Menurut Bupati Dumupa, pihaknya juga menyampaikan penghargaan kepada warga di kampung-kampung atas kerja samanya sehingga pemilihan serentak kepala kampung berjalan lancar dan aman. Mereka meraih kemenangan bersama karena kepala kampung sudah terpilih secara demokratis, tanpa tekanan.
“Warga datang ke balai kampung dengan gembira. Sejak 21 Juni lalu, mereka disibukkan dengan panitia dan para pegawai yang melakukan sosialisasi hingga pemungutan suara. Kemarin mereka sudah kasih suara kepada calon usungannya. Sore hari mereka sudah tahu siapa kepala kampung yang akan memimpin mereka lima tahun ke depan,” katanya.
Bupati Dumupa menambahkan, pihaknya juga mendorong para Bupati seluruh Papua agar melaksanakan Pilkakam serentak agar warga memiliki akses untuk memilih pemimpin yang memahami kebutuhan mereka. Pilkakam serentak ini sekaligus menjadi ruang masyarakat belajar berdemokrasi ala kampung sekaligus menjadikan setiap momen rekrutmen pemimpin di tingkat lokal murah meriah dan jauh dari praktik money politics.
“Sejak memimpin Dogiyai bersama Wakil Bupati Pak Oskar Makai, saya sudah berniat agar warga melakukan Pilkakam serentak. Pilkakam kami jadikan role model rekrutmen pemimpin karena murah meriah dan jauh dari intervensi pihak lain. Saya melihat, masyarakat Papua di kampung-kampung memiliki kearifan lokal mencari dan memilih pemimpinnya,” kata Bupati Dumupa, penulis belasan buku aneka tema kelahiran Apogomakida, Dogiyai, 12 Mei 1982.
Kepala Suku Kamuu Utara Paulus Goo mengapresiasi langkah Pemkab Dogiyai karena sukses menggelar Pilkakam langsung di seluruh kampung di Dogiyai. Paulus Goo juga menyampaikan pengharaan kepada Bupati Dumupa, Dinas PMK, aparat TNI-Polri, Pol PP, dan warga masyarakat karena ambil bagian menyuksekan penyelenggaraan Pilkakam serentak Kabupaten Dogiyai tahun 2021.
“Ini sejarah baru bagi Dogiyai. Rakyat langsung bisa pilih kepala kampung sendiri. Di kabupaten lain Bupati langsung tunjuk kepala kampung. Berbeda dengan Dogiyai. Bupati perintahkan tong (kami) pilih langsung kepala kampung masing-masing. Tong rakyat Dogiyai akui Bupati Dogiyai hebat,” ujar Paulus Goo memuji Dumupa, penulis buku Mengenal dan Belajar dari Pemimpin Besar.
“Bupati kasih kesempatan kepada kami untuk pilih kepala kampung sendiri. Itu bagus supaya kami bisa pilih sesuai dengan kami punya mau sendiri. Tuhan akan selalu bersama Bupati,” kata Paulinus Pigai, warga masyarakat Kampung Kuyakago, Distrik Kamuu Utara, Dogiyai, menambahkan,
Sebagai penggagas Pilkakam serentak sejak memulai pengabdian sebagai Buoati di Dogiyai bersama wakilnya, Oskar Makai, Bupati lulusan Magister Ilmu Pemerintahan lulusan Program Pascasarjana Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD” Yogyakarta ini berharap agar Pilkakam setentak dijadikan role model pelaksanaan Pilkakam serentak di seluruh kota atau kabupaten lain di wilayah Papua.
Pihaknya menyampaikan penghargaan kepada Asisten 1 Sekretariat Daerah sekaligus Ketua Panitia Pelaksana Pilkakam serta Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung Dogiyai, yang sudah menyiapkan dan melaksanakan seluruh tahapan Pilkakam dengan aman dan lancar. Kerja keras mereka dan ketabahan mereka dalam menghadapi segala tantangan patut diapresiasi.
“Pak Asisten 1 Setda, Kepala Dinas, Sekretaris, para Kepala Bidang dan Seksi serta semua staf di Dinas PMK merupakan orang-orang hebat dan pekerja keras. Kehebatan mereka telah mereka buktikan dengan suksesnya pelaksanaan Pilkakam. Tuhan akan terus memberkati mereka dalam hidup dan karya mereka selanjutnya,” ujar Bupati Dumupa.
Bupati juga berterimakasih dan memberikan apreasiasi kepada pimpinan dan anggota DPRD Dogiyai yang sejak awal persiapan hingga pelaksanaan Pilkakam telah bekerja sama dengan baik. Terutama dalam tahap pelaksanaan, para wakil rakyat Dogiyai telah melakukan pengawasan dengan baik terhadap proses pemilihan hingga masyarakat mendapatkan pemimpin pilihannya.
“Saya juga menyampaikan terimakasih kepada aparat TNI dan Polri yang telah ikut mendampingi Satpol PP dalam mengamankan pelaksanaan Pilkakam. Atas kerja keras mereka, telah tercipta kondisi yang aman dan damai selama pelaksanaan Pilkakam,” katanya.
Menyingkap yang tersembunyi – Menjaga yang terlupakan
SELAIN Taman Pancasila dimana ada pohon sukun tempat Bung Karno biasa duduk merenung, dekat rumah pengasingannya di kota Ende – Flores tahun 1934-1938, saat ini ada satu tempat istimewa yang baru dibuat yakni Serambi Soekarno
Serambi Soekarno itu ada di kompleks biara Santo Yoseph milik Serikat Sabda Allah – SVD. Lokasinya berdampingan dengan Gereja Kathedral, Christo Regi, bengkel SVD percetakan Arnoldus dan Gedung Imakulata di kota Ende – flores.
Serambi Soekarno dan Jasmerah
Menurut penjelasan Pater Henri Daros, SVD. saat kami jumpai pada soreh hari tanggal 1 Juli 2021, Serambi Soekarno baru dibangun sekitar 3 tahun yang lalu. Nama yang dipilih, Serambi Soekarno, untuk menggarisbawahi fakta sejarah kehadiran Ir. Soekarno di kompleks ini, selama masa pengasingan beliau di kota Ende – Flores.
Bangunan yang dijadikan Serambi Soekarno adalah bagian dari biara St. Yoseph, masih terjaga keasliannya sejak zaman Bung Karno hidup di tempat ini. Ada ruangan untuk sejumlah buku-buku yang berhubungan dengan aktivitas membaca Bung Karno, ada kamar Pastor J Bouma, SVD yang sering menjadi tempat baca dan menginap Bung Karno, serta tempat diskusi bersama Pater J. Bouma, SVD. Ruang perpustakaan biara tempo dulu, tempat Bung Karno menghabiskan banyak waktu membaca, sudah tiada. Di bagian teras, masih asli dengan sejumlah kursi dan meja untuk tamu dan tempat istirahat para biarawan SVD, ada tambahan ornamen berupa patung Bung Karno duduk merenung dan latar belakang lukisan besar tiga tokoh yakni Bung Karno, P. J Bouma SVD dan P. G. Huitinjk SVD. Kedekatan persahabatan ketiga tokoh ini sudah ditulis dalam buku yang dipublikasikan Penerbit Nusa Indah, dengan judul Bung Karno, Ilham dari Ende untuk Nusantara
Ada juga satu kursi dan meja yang diabadikan khusus, karena sering menjadi tempat baca dan merenung oleh Sang Putra Fajar, selama berada di kompleks ini.
Sebagaimana sharing dari Pater Henri Daros, SVD, misionaris yang pernah berkarya di Jepang, bahwa Serambi Soekarno dimaksudkan seperti ungkapan JASMERAH dari Bung Karno. ” Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah”. Kehadiran Bung Karno di kota Ende, aktivitas beliau membaca dan berdiskusi, merenung tentang nasib dan perjuangan bangsa Indonesia untuk merdeka dari penjajah, Ideologi negara, juga spiritualitas pribadi adalah hal-hal yang diabadikan di Serambi Soekarno.
Serambi Soekarno mengingatkan generasi bangsa dan pewaris NKRI bahwa relasi penuh persahabatan Bung Karno dengan masyarakat dan budaya Lio, warga kota Ende saat itu, para tokoh adat dan agama di Ende Flores, juga secara khusus komunitas biarawan SVD di Ende Flores adalah bagian yang istimewa dalam sejarah perjuangan Ir. Soekarno – Proklamator NKRI. Itu berarti segenap pihak di kota Ende Flores, khusunya pihak masyarakat adat budaya dan tokoh Agama sungguh menjadi bagian integral dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia. Karena itu, nilai dan data sejarahnya diabadikan dengan menghadirkan Serambi Soekarno.
Serambi Soekarno dan Ilham Pancasila
Selain di bawah pohon sukun dekat lapangan Perse Ende, ternyata perpustakaan SVD di biara Santo Yoseph, dan beberapa sahabat misonaris di komunitas ini adalah sumber informasi dan interaksi diskusi serta permenungan Bung Karno. Sejarah perjuangan berbagai bangsa lain untuk merdeka, teori politik sosial ekonomi dan budaya, ideologi, spiritualitas berbagai agama dan keyakinan, bentuk negara serta strategi mendirikan NKRI menjadi tema permenungan Bung Karno selama di kota Ende, khususnya di kompleks Serambi Soekarno.
Karena itu, Ilham tentang Pancasila yang digali dan kemudian dirumuskan Bung Karno adalah fakta sejarah yang hendak diabadikan di tempat ini. Serambi Soekarno adalah salah satu lokasi dan sumber yang berperan penting dalam proses penggalian dan permenungan Bung Karno, yang akhirnya pada tanggal 1 Juni 1945, di depan BPUPKI dinyatakan secara tegas dengan nama Pancasila dan penjelasan isinya kelima sila itu.
Dari sisi ini, patut dicatat sisi positif dari pengasingan Ir. Soekarno oleh penjajah Belanda ke kota terpecil Ende Flores, tahun 1934-1938. Bung Karno ternyata mendapat kesempatan untuk merenung, menggali dan menemukan, serta menimba kekuatan konsep dan spirit untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.
Di Serambi Soekarno juga disimpan data tentang karya seni Sang Putra Fajar, yakni toneel – sandiwara, yang dipentaskan bersama grup sandiwara selama beliau di kota Ende. Isi karya sandiwara yang dibuat Bung Karno adalah semangat mengobarkan patriotisme melawan penjajah dan memerdekakan bangsa Indonesia.
Kiranya Serambi Soekarno dapat dijadikan sebuah sumber data sejarah perjuangan bangsa melawan penjajahan dan melahirkan NKRI, yang sekarang kita warisi; khususnya dalam hubungannya denga Sang Proklamator Bung Karno – Babo Soekarno. Terimakasih untuk keluarga besar misionaris SVD, yang telah menghadirkan Serambi Soekarno, juga semua jasa dalam perjuangan untuk bangsa dan NKRI tercinta.
Maumere Berandanegeri.com-Balai Kesehatan Pangkalan TNI Angkatan Laut Maumere terus melaksanakan gencar serbuan Vaksinasi Covid-19 tahap tiga untuk instansi maritim dan masyarakat bertempat di kantor KSOP Maumere dan berlanjut ke Desa Nita, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Sabtu 3 Juli 2021.
Vaksinasi Covid-19 ini sebagai lanjutan dari serbuan vaksinasi Covid-19 tahap pertama yang dilaksanakan di Mako Lanal Maumere dan tahap kedua di Desa Kojadoi Kecamatan Alok Timur.
Kepala Balai Kesehatan Letda Laut (K) dr. Ulvy Kasbullah selaku Vaksinator mewakili Komandan Lanal Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga Pariyadi, M. Tr. Hanla., M.M., CTMP. menyampaikan bahwa kegiatan yang diselenggarakan Balai Kesehatan Lanal Maumere adalah mendukung Program Pemerintah melalui TNI Angkatan Laut.
Dikatakannya tujuan vaksinasi ini agar terhindar dari wabah Covid-19, kekebalan imunitas meningkat, dan sebagai langkah memutus mata rantai dalam percepatan penanganan wabah Covid-19 di wilayah Kabupaten Sikka.
Pencapaian kegiatan vaksinasi Covid-19 sasaran 60 orang, dan terdaftar 60 orang. Semuanya mendapatkan vaksinasi Covid-19, “jelas dr. Ulvy.
Mewakali Komandan Lanal Maumere, dr. Ulvy Kasbulah mengucapkan terimakasih kepada masyarakat atas partisipasinya mengikuti dan mendukung program pemerintah sehingga kegiatan Vaksinasi berjalan dengan baik dan lancar.
Kegiatan ini dilaksanakan dengan menggunakan vaksin Sinovac dukungan dari Dinas Kesehatan Lantamal VII dan Vaksinator dari Satuan Balai Kesehatan Lanal Maumere 5 (lima) orang, Petugas Medis Puskesmas Wolomarang 8 (delapan) orang.
Pelaksanaan serbuan vaksinas tetap menerapkan protokol kesehatan. (Athic)