Blog

  • Emanuel Bria : Ilusi Industri Garam Bupati Simon 

    Emanuel Bria : Ilusi Industri Garam Bupati Simon 

     

    Jakarta berandanegeri.com. – BUPATI Simon sebaiknya berhenti berilusi soal industri garam Malaka dan fokus pada program swasembada pertanian, seperti beras “Nona Malaka” sesuai janji kampanyenya. Hal ini karena industri garam Malaka buruk dari sisi lingkungan dan memiliki nilai ekonomi yang kecil.

    Kalaupun Bupati Simon hendak membangun wilayah pesisir, lebih berguna memberdayakan kelompok-kelompok garam tradisional dengan cara-cara yang ramah lingkungan untuk kebutuhan konsumsi rumah tangga di Kabupaten Malaka dan sekitarnya dari pada melakukan intervensi industri garam secara masif untuk kebutuhan industri nasional.

    Perlu dicatat bahwa meskipun Indonesia memiliki garis pantai terbesar kedua di dunia setelah Kanada, namun sebetulnya tingkat produksi garam Indonesia sangat tergantung terhadap banyak faktor di antaranya cuaca dan nilai ekonomi garam yang rendah. Faktanya total produksi garam Indonesia terus menurun setiap tahun karena terkena dampak badai La Nina yang menyebabkan curah hujan yang tinggi. Sementara itu secara ekonomi pemamfaatan pantai untuk kegiatan ekonomi lain seperti pariwisata alam memiliki nilai ekonomis yang lebih tinggi dibandingkan industri garam. Hal ini menyebabkan sejumlah pemerintah daerah lebih memilih mengembangkan pariwisata ketimbang industri garam.

    Contohnya sesuai perhitungan ahli Kimia Universitas Indonesia, Misri Gozan, dalam kondisi ideal,  rata-rata satu hektar lahan produksi garam menghasilkan antara 50-100 ton garam per tahun dan dijual sekitar RP. 1.100 per kilogram karena itu satu hektar lahan garam menghasilkan sekitar Rp. 5.5 juta hingga 11 juta hasil kotor. Ini belum dihitung biaya yang dikeluarkan untuk proses produksi dalam waktu sekitar lima bulan dan tentu saja ini kondisi ideal. Dalam banyak kasus panen garampun gagal karena kondisi cuaca yang tidak memungkinkan.

    Nilai ekonomis garam yang rendah diperparah lagi dengan dampak industri garam sendiri terhadap lingkungan. Di Kabupaten Malaka, misalnya, dampak kegiatan produksi garam industri PT. IDK terhadap masyarakat pesisir sangat terasa. Apalagi kegiatan pembersihan lahan dilakukan dengan cara merusak berhektar-hektar hutan mangrove.

    Dampak langsung yang dirasakan masyarakat berdasarkan berbagai diskusi dengan masyarakat di sekitar lokasi kegiatan tambak garam IDK antara lain penyusupan air laut ke wilayah darat terutama daerah pertanian dan sumur penduduk yang menyebabkan rusaknya lahan pertanian dan masyarakat makin kesulitan untuk mengakses air tawar untuk konsumsi sehari-hari.

    Selain itu rusaknya hutan mangrove yang merupakan ekosistem peralihan darat dan laut dan tumbuhan penyerap karbon yang cukup tinggi, menyebabkan suhu udara dan laut makin panas. Perlu dicatat juga bahwa Laut Timor merupakan wilayah yang secara rutin dilewati badai tropis Australia yang menyebabkan gelompang laut meningkat dan menyebabkan curah hujan dan angin yang cukup tinggi. Bencana siklon tropis yang baru saja dilewati beberapa bulan yang lalu oleh sebagian besar masyarakat NTT khususnya Kabupaten Malaka adalah salah contohnya.

    Dalam kondisi rusaknya hutan mangrove sebagai benteng alami yang berfungsi untuk memecah arus gelombang laut yang tinggi maka resiko bencana alam untuk masyarakat Kabupaten Malaka juga makin meningkat.

    Bupati Simon, dalam masa kampanyenya selalu menyebut beras “Nona Malaka” sebagai salah satu program primadonanya. Akan tetapi jika industri garam juga hendak dilaksanakan, meskipun beliau menolaknya selama masa kampanye, maka sudah hampir pasti mimpi soal beras “Nona Malaka” pun tidak akan tercapai jika lahan pertanian masyarakat rusak dan bencana alam melanda.

    Karena itu dari pada membangun ilusi tentang industri garam Malaka, lebih baik stop program garam IDK, pulihkan alam dan lingkungan pesisir laut khususnya situs-situs adat budaya dan fokus pada program primadonanya tentang beras “Nona Malaka” dan berbagai bidang pertanian yang lain.

    ***************************

  • Bung Hatta dan Tradisi Menulis ( mengenang kelahiran 12 Agustus)

    Bung Hatta dan Tradisi Menulis ( mengenang kelahiran 12 Agustus)

    Oleh Dea Tantyo

    APA yang membuat Mohammad Hatta (Bung Hatta) dikenang abadi?   Apa yang membuat jasad yang mati, tapi tetap tersebar luas di pikiran? Tulisan .

    Menulis adalah jalan untuk menyelami kehidupan dan memaknai keberadaan diri. Mereka yang menulis kerap lebih mampu memecahkan persoalan hidup. Mereka yang kita kenal sebagai tokoh dunia dan para pemimoin menjadikan menulis sebagai tradisi. Tradisi menulis juga menyatu pada darah Bung Hatta.

    Tak kurang sekitar 150 judul buku tulisan Bung Hatta, lebih dari 100 artikel yang tersebar di majalah Belanda, dan lebih dari 40 buku mengisahkan tentang Bung Hatta.

    Kemampuan intelektual seorang pemimpin terlihat dari kemampuan menulisnya. Jika pemimpin sejati adalah penulis sejati, Hatta termasuk di dalamnya. Beliau adalah tokoh yang sangat menggemari aktivitas menulis dan membaca. Bahkan di usia 18 tahun, Hatta telah menulis sebuah cerita yang dimuat di majalah Jong Sumatra sekitar tahun1920, berjudul  Namaku  Hindiana.

     Pada 1933, ketika Soekarno diasingkan ke Ende, Flores, Hatta membombardir Belanda dengan tulisannya mengenai pengasingan Soekarno pada berbagai media. Akibat aksi ini pemerintah colonial Belanda mulai serius menngawasi dan menangkap para pimpinan partai yang selanjutnya diasingkan ke Digul, Papua.

    Tak berhenti di situ. Di tempat pengasingan Digul, tulisan Hatta rutin dimuat di koran Pemandangan di Jakarta, yang menceritakan nasib orang-orang buangan. Surat itu kemudian dibaca menteri jajahan pada saat itu, Colin, yang kemudian mengecam pemerintah dan segera mengirim residen Ambon untuk menemui Hatta di Digul.

    Pada 1937, bersama Syahrir, Hatta dipindahkan ke Banda Neira. Namun Hatta tak pernah berhenti, gagasan-gagasannya kian menjadi peluru yang mengusik ketenangan Belanda. Di sana, beliau rutin menulis untuk majalah Sin Tit Po terbitan Batavia dalam bahasa Belanda. Di samping itu, Hatta juga menulis di Nationale Commantaren (Komentar Nasional) pimpinan Sam Ratulangi. Peluru-peluru yang tajam itu makin hari berubah menjadi Meriam. Tahun 1941, Mohammad Hatta menulis sebuah artikel yang lebih keras di koran Pemandangan mengenai seruan agar rakyat Indonesia tidak memihak Barat atau pun fasisme Jepang.

    Hatta dan buku adalah dua hal yang tak terpisahkan. Sampai ketika cinta mengetuk hidupnya, Hatta mempersembahkan sebuah maskawin kepada sang istri tercinta berupa sebuah buku yang ia tulis sendiri, Alam Pikiran Yunani.

    Tulisan adalah tradisi para pemimpin. Melalui tulisan pula nama Bung Hatta terukir abadi. Kecintaan Bung Hatta terhadap proses menulis melebihi kecintaannya terhadap harta benda. “Saya mempunyai tiga istri: Indonesia, buku, dan istri saya sendiri, “ujar Hatta.

     

    ———————

    *Naskah ini adalah ringkasan dari buku Leiden is Lijden, Inspirasi Hidup, Perjuangan, Kepemimpinan, dan Mata Air Keteladanan Founding Fathers, Dea Tantyo, Elex Media Komputindo, Jakarta 2017.

     

     

  • Satu Hati untuk NTT, “Ad Hoc to Foundation”

    SETELAH resmi dibubarkannya kegiatan penggalangan donasi kepanitiaan “Satu Hati untuk NTT” (SHUN) dalam penanganan bantuan seroja, Sabtu (7/7/2021), Kepala Badan Penghubung NTT, Hendry Donald Izaac, S.Sos., M.Si menginisiasi berdirinya SHUN sebagai Yayasan.

    Setelah berunding bersama para Tokoh Diaspora NTT, Organda dan perwakilan Diaspora NTT dari kalangan etnis, kepengurusan Yayasan “Satu Hati untuk NTT” pun resmi terbentuk di Kantor Badan Penghubung NTT, Tebet, Jakarta Selatan pada Selasa (10/8/2021).

    “Saya sangat berterima kasih kepada para tokoh Diaspora NTT yang ada di Jakarta, para Organda dan Perwakilan etnis kabupaten yang turut mendukung terbentuknya Yayasan “Satu Hati untuk NTT”. Harapan saya, semoga yayasan ini bisa bekerja sama dengan Badan Penghubung dan warga Diaspora NTT seluruh dunia terlebih dalam kegiatan-kegiatan sosial dan kemanusiaan” kata Pak Donald Izaac dalam sambutan paska acara pemilihan pengurus Yayasan yang juga dihadiri awak berandanegeri.com“, Selasa (10/8/2021).

    Selain itu, Yayasan “Satu Hati untuk NTT” pun bergerak di bidang Pendidikan, Kesehatan, Ekonomi, dan Sosial Religi.

    “Yayasan Satu Hati untuk NTT” juga mengakomodir bidang pendidikan dalam hal membantu anak-anak untuk mendapat kemudahan pendidikan, anak-anak miskin, warga diaspora yang sakit, Bencana Alam, Musibah, Pembangunan dan Rehabilitasi Rumah ibadah dan kegiatan Sosial lainnya” Tamba Pak Donald Izaac.

    Acara Pemilihan Pengurus Yayasan “Satu Hati untuk NTT” dipimpin langsung oleh Pengacara Tobby Ndiwa, S.H (Steering Commite), dihadiri perwakilan Tokoh Diaspora NTT Jakarta, Organda, dan perwakilan Diaspora NTT dari kalangan etnis. Lewat voting, Vico Amalo berhasil terpilih sebagai Ketua Yayasan dan Sandra Hartono sebagai Wakil Ketua Yayasan.

    Ketua Yayasan “Satu Hati untuk NTT” terpilih, Vico Amalo, dalam sambutannya meminta dukungan semua anggota, warga Diaspora NTT dan juga Badan Penghubung NTT Jakarta.

    “Saya berterima kasih atas kepercayaan yang diberikan kepada saya sebagai Ketua Yayasan “Satu Hati untuk NTT”. Oleh karena kepercayaan dari kita semua maka saya mohon dukungan kita agar Yayasan ini dapat berjalan dengan baik” Tutur Vico di sela-sela sambutannya, Selasa (10/8/2021).

    Sementara itu, Ketua Forum Pemuda NTT-Jakarta, Yohanes Hiba Ndale dalam sambutannya mewakili Tokoh Diaspora NTT Jakarta pun turut mendukung berdirinya Yayasan “Satu Hati untuk NTT”.

    “Sebagai tokoh Diaspora NTT, saya mengapresiasi acara ini dan siap mendukung kegiatan Yayasan “Satu Hati untuk NTT” ke depannya” Ujar sosok yang lazim di sapa Adi Papa.

    Setelah pemilihan pengurus definitif, rencana acara pelantikan, sedianya akan dilangsungkan paska HUT RI ke 76, di Anjungan NTT, Taman Mini Indonesia Indah (TMII).  (Riky)

  • Jeritan Kematian Kala Pandemi

    Jeritan Kematian Kala Pandemi

    Oleh   Sindhunata

    Di masa pandemi Covid-19, statistik amat berbicara. Kita suka membaca angka-angka. Tanpa kita sadari, kita terjebak pada cara membaca, yang membuat kita memahami Covid-19 itu seakan hanyalah naik turunnya kasus saja. Misalnya, data 15 Maret 2021, total kasus Covid-19 di dunia sebanyak 120.399.288, sembuh 96.944.566, meninggal 2.664.622. Di Indonesia, positif Covid-19 menembus angka 1.425.044, sembuh 1.249.947, dan meninggal 38.573.

    Kita khawatir, bila angka itu naik. Dan terhibur, bila turun. Namun, benarkah bila kekhawatiran dan keterhiburan kita hanya kita gantungkan pada naik turunnya angka? Kita lupa bahwa kematian 2.664.622 di dunia dan 38.573 di Indonesia bukan sekadar angka, melainkan juga nyawa. Memang di balik sejumlah angka itu sesungguhnya ada rasa kesedihan, kehilangan, dan kekecewaan.

    Kematian yang tragis

    Kematian adalah kematian. Namun, jika kita melihat kematian sebagai sekadar angka, dengan serampangan kita bisa membandingkan kematian karena Covid-19 dengan kematian karena demam, serangan jantung, sakit ginjal, bahkan kecelakaan lalu lintas. Setiap tahun, kematian karena itu semuanya juga menempati statistik yang tinggi.

    Anggapan macam ini membuat kita lupa bahwa kematian karena Covid-19 tak dapat dibandingkan dengan kematian lainnya. Karena bersama kematian itu terjadi peristiwa yang tidak terjadi pada kematian-kematian umumnya.

    Kematian sering datang dengan lebih dini daripada yang dikira. Namun, mereka yang berpulang karena virus korona, kematian itu sungguh tragis. Karena datang tanpa dinyana, sering tanpa gejala, dan dalam waktu dekat sudah merenggut nyawanya. Kematian macam ini pasti meninggalkan kesedihan dan penderitaan luar biasa bagi mereka yang ditinggalkan. Seakan tanpa sebab apa pun, mereka tiba-tiba kehilangan orang yang tercinta.

    Dokter, perawat, dan petugas kesehatan bisa tetap selamat ketika merawat pasien yang menderita sakit, misalnya kanker, jantung, atau ginjal. Tetapi dengan pasien virus korona, mereka harus merisikokan nyawanya. Akhirnya tak sedikit dari mereka ikut meregang nyawa.

    Mereka yang terpapar lebih sedih lagi. Mereka terasing dari keluarganya justru di saat akhir mereka sangat membutuhkannya. Orang-orang yang bisa mendekat padanya harus pakai alat pelindung diri (APD) lengkap. Mereka bahkan tak mengenali lagi, juga bila yang mengunjungi adalah keluarga terdekat.

    Dan ketika kematian menjemputnya, nasibnya benar-benar merana. Tubuhnya disemprot habis-habisan dengan disinfektan. Tak diberi dandanan dan harus cepat-cepat dimakamkan. Penguburannya berlangsung sepi. Keluarga terdekatnya hanya boleh menyaksikan dari jauh. Mereka sungguh seperti orang yang terbuang dan dianggap sebagai wabah yang bisa menyebabkan penularan walau mereka sudah berpulang.

    Biasanya, penguburan adalah saat di mana mereka yang ditinggalkan memberikan penghormatan terakhir bagi yang berpulang. Saat terakhir cinta dicurahkan, maaf dimintakan, dan keluarga membisikkan pesan. Tentu saja disertai ritual keagamaan untuk mendoakan agar yang meninggal pergi dengan tenang dan yang ditinggalkan dianugerahi penghiburan.

    Ini semua ditiadakan pada kematian mereka karena Covid-19. Alasannya, jangan sampai yang hidup ketularan. Itulah kematian yang tragis bagi mereka yang mati karena Covid-19.

    Sudah selayaknya bahwa kematian dihiasi dengan kebahagiaan. Bahkan, mereka yang hidupnya paling nista pun layak mendapat kehormatan sebagai manusia pada saat kematiannya. Itulah yang dilakukan Ibu Theresa, perempuan suci dari Kalkuta.

    Saat ia menerima hadiah Nobel tahun 1979 di Oslo, Ibu Theresa berpidato, ”Saya tak pernah lupa, bagaimana saya menemukan seorang laki-laki di jalanan. Sekujur tubuhnya dikerubungi lalat. Apa yang kelihatan bersih hanyalah wajahnya. Saya membawa orang itu ke tempat di mana kami menampung orang-orang yang mau meninggal. Inilah satu-satunya kata yang ia ucapkan, ’Saya hidup seperti binatang di jalanan, tapi sekarang saya akan mati sebagai seorang malaikat, dicinta dan dirawat’. Dan ia pun mati dengan indah. Ia berpulang ke Tuhan. Kematian tak lain adalah pulang kembali ke Tuhan. Saya merasa: Ia gembira dan bahagia karena mengalami cinta, bahwa ia dikasihi, diinginkan, dan bahwa adalah seseorang yang berarti bagi yang lain.”

    Memang, menjelang ajal, siapa pun patut mengalami bahwa ia adalah manusia, yang dicinta dan dihargai sebagai manusia. Justru cinta dan penghargaan itulah yang hilang dalam kematian mereka yang terpapar Covid-19. ”Maaf, penguburan ini tak berkenaan dengan penghormatan,” inilah apologi di balik tiadanya ritual perpisahan dan keagamaan bagi mereka yang meninggal karena Covid-19.

    Hal di atas kiranya adalah latar belakang mengapa terjadi kasus seperti di Kabupaten Bantul, Yogyakarta, belum lama ini. Ratusan sukarelawan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) mendatangi DPRD Bantul. Mereka memprotes pernyataan salah seorang anggota Dewan sehubungan dengan pemakaman jenazah korban Covid-19.

    Menurut para sukarelawan, anggota Dewan tersebut pernah menyatakan, pemakaman jenazah korban Covid-19 dilakukan dengan sangat tidak layak, seperti layaknya menguburkan binatang saja. Pernyataan ini jelas sangat melukai hati para sukarelawan, yang dalam segala keterbatasan telah menguburkan jenazah korban dengan ikhlas dan tulus. Syukurlah, kasus itu selesai dengan permintaan maaf dari anggota Dewan itu.

    Kasus seperti di atas jelas memperlihatkan bahwa Covid-19 membawa problem tentang kematian. Seperti dikatakan oleh kolumnis dari die Zeit, Anna Mayr, Covid-19 mendorong kita untuk bicara terus mengenai turunnya angka kematian, tetapi kita tak berbicara tentang kematiannya sendiri. Kematian manusia menjadi anonim.

    Di balik ketidakacuhan terhadap kematian ini bisa tersembunyi paham keselamatan liberal yang bilang, apa yang bernilai adalah keselamatanku, peduli amat dengan kematian korban, dan dukacita mereka yang ditinggalkan. Jika ketidakacuhan itu dibiarkan, kita takkan bakal bisa bersama-sama menemukan ide, bagaimana menghargai dan menghormati mereka yang telah berpulang dalam upacara ritual yang sepadan.

    Lumpuhnya agama

    Memudarnya upacara ritual kematian karena Covid-19 ini adalah salah satu tanda lumpuhnya kekuatan agama di era modernitas ini. Menurut filsuf Giorgio Agamben, sudah lama sebenarnya agama harus bersaing dengan kapitalisme dan ilmu pengetahuan. Berhadapan dengan pandemi ini terlihat agama terpaksa ”takluk” terhadap ilmu pengetahuan, khususnya medicine, ilmu kedokteran, dan obat-obatan.

    Lewat kekuasaan politik, agama diminta tunduk pada ”ritual dan liturgi medicine”. Ini semua harus dibuat demi kesehatan dan kehidupan. Maklum, bagi medicine, kesehatan dan kehidupan adalah segala-galanya.

    Begitulah, kesehatan telah menjadi berhala di era liberalisme ini. Kata Agamben, salvezza, keselamatan, telah dikurbankan demi salute, kesehatan. Ini disebabkan agama harus mengikatkan dirinya dalam sejarah, mencari keselamatan lewat sejarah. Akhirnya, apa yang ditemukan lewat sejarah ini bukan keselamatan, melainkan kesehatan. Tujuan akhir manusia adalah kesehatan. Apa pun yang di luar kesehatan—apalagi kematian—tidak lagi diperhitungkan. Itulah sebabnya manusia mengalami tiadanya lagi hubungan natural antara kehidupan dan kematian.

    Diingkari atau diterima, pandemi Covid-19 ini jelas mendekatkan kembali kematian pada kehidupan. Menurut teolog Wolfgang Palaver, saat ini merupakan kesempatan agar kita tidak bersikap dingin terhadap kematian.

    Dengan sikap itu, kita justru bisa menghargai kehidupan. Namun, seperti sudah ditunjukkan Agamben, kelirulah bila hidup itu kita sempitkan menjadi kesehatan. Begitu berpikir tentang kesehatan, orang mudah tergoda untuk mengutamakan kesehatannya sendiri.

    Ini antara lain yang menyebabkan kita seperti sama sekali tak mempunyai kemungkinan untuk berpikir bagaimana memberi penghormatan yang layak bagi mereka yang mati karena Covid-19.

    Memang, hidup tak sekadar kesehatan. Maka, Palaver setuju dengan filsuf Emmanuel Levinas yang mengatakan, menggenggam hidup demi alasan apa pun, adalah akar dari kekerasan dan peperangan. Hidup bukanlah sekadar hidup kita tetapi hidup demi dan bersama orang lain. Di sinilah letaknya kita boleh berpikir kembali tentang keselamatan, di samping atau melebihi kesehatan.

    Maka, Palaver tak setuju dengan pikiran Agamben, seakan keselamatan bisa dipisahkan dari kesehatan. Keduanya tak terpisahkan dan keduanya ada di dalam sejarah. Tak mungkinlah mencari keselamatan di luar sejarah. Bila harus ditemukan dalam sejarah, keselamatan harus ada bersama kesehatan.

    Namun, berbicara mengenai keselamatan, tak mungkin melupakan kematian. Dengan kematian, keselamatan itu mencapai kesempurnaannya. Kematian dalam arti inilah yang dilupakan selama pandemi. Kematian seakan hanya disebabkan terinfeksi virus belaka. Maka, ritualnya boleh diabaikan juga. Inilah kiranya yang menyakitkan hati banyak keluarga yang ditinggal orang tercinta yang mati karena virus korona ini.

    Politik yang tuli

    Sudah lama kita mendesak kematian sebagai bukan bagian dari politik. Sekarang ganti politik yang didesak oleh kematian, sampai gelagapan. Politik jadi kehilangan jalan menghadapi kematian yang bertubi-tubi datang. Politik dipaksa untuk takut pada kematian.

    Menurut Palaver, takut akan kematian jangan diartikan hanya negatif. Takut juga meliputi respek. Jika menaruh respek terhadap kematian, politik pun akan menghasilkan tindakan-tindakan yang bertanggung jawab.

    Di hadapan kematian yang demikian mengancam selama pandemi ini, politik dipaksa untuk menyadari bahwa hidup itu ternyata demikian berarti. Maka dengan menghormati kematian, politik pun pasti akan menghormati kehidupan. Karena bukan kematian melainkan hanya hiduplah yang bisa memberi orientasi, maka politik harus mencari manakah orientasi baru yang sekarang diberikan oleh hidup ini. Jika politik malas mencari orientasi baru itu, bisa terjadi akan datang lagi bahaya yang akan menerkam kita dengan kematiannya.

    Pertama-tama, orientasi baru hendaklah menghapus pandangan darwinisme sosial yang secara kasar bersemboyan: yang mati biarlah mati, yang hidup biarlah hidup. Pandangan ini jelas merelakan yang lemah sebagai korban demi yang kuat. Tragis, bahwa selama pandemi ini darwinisme sosial ini sempat mengemuka justru di beberapa negara maju.

    Sekali lagi tampak, seperti ditunjukkan Agamben, itulah berhala dari liberalisme yang mengukuhkan hidup dan kesehatan sebagai satu-satunya tujuan. Terbuka pula kedok dari berhala itu, karena ternyata hidup dan kesehatan yang diperjuangkannya adalah hidup dan kesehatan dari mereka yang kuat. Yang lemah dibiarkan tak terlindungi.

    Di balik darwinisme sosial itu tersembunyi logika kalkulatif yang kejam. Logika demikian bisa dengan dingin berkesimpulan: bolehlah satu orang mati, jika ribuan orang diselamatkan. Secara moral, logika ini tak bisa dipertanggungjawabkan. Tak dapat diterima, bahwa manusia boleh dikorbankan, bahkan seorang saja, demi keuntungan sekian banyak orang lainnya.

    Orientasi baru itu kiranya juga perlu menjauhi prinsip modernitas, yang memandang manusia itu bernilai sejauh ia berguna. Menurut sosiolog Zygmunt Bauman, prinsip ini bisa berpendapat, bahwa akhirnya manusia hanyalah sampah, bila sudah tidak ada gunanya lagi.

    Karena sudah tidak berguna lagi, ia boleh dikecualikan, bahkan dibuang seperti sampah. Maklum prinsip itu berpandangan, hidup akan nyaman, bila tidak terganggu oleh mereka yang hanya menjadi beban. Dalam bahasa Agamben, kaum terbuang itu adalah homo sacer.

    Di zaman dulu, homo sacer adalah kaum yang dianggap tidak berguna dan boleh dikorbankan. Di zaman ini, homo sacer adalah mereka yang tak bisa dan tak berkapasitas untuk bisa ikut dalam tata aturan demokrasi zaman modern. Karena itu, bahkan demokrasi pun diam-diam menyingkirkan mereka.

    Bauman memerincikan homo sacer itu sebagai mereka yang kehilangan pekerjaan, para penganggur, dan kaum terpinggirkan. Mereka ini sudah tidak dapat berproduksi lagi karena itu mereka terbelit dengan problem finansial. Akibatnya, mereka juga tidak bisa menjadi konsumen yang ideal.

    Mereka ini kehilangan suaranya. Akibatnya, mereka pasti akan tercampakkan dari proses demokrasi. Demokrasi mengandaikan warga yang bisa mengurusi dan menentukan nasibnya sendiri. Sementara kaum ini justru harus diurusi karena tak bisa menentukan nasibnya sendiri. Maka, bila digampangkan, politik dengan mudah menganggap mereka pengganggu bagi demokrasi.

    Banyak yang keliru dalam modernitas di zaman ini. Sudah lama orang tidak mau keluar dari kekeliruan itu. Dengan jeritan kematiannya, pandemi Covid-19 memaksa kita untuk meluruskan lagi jalan yang keliru itu. Jeritan ini tak boleh kita diamkan karena jeritan itu tidak hanya menggugat, tetapi juga memberi kesempatan bagi kita untuk memikirkan kembali kehidupan.

    Jeritan itu meneriakkan kematian itu sakral. Bila kita rela untuk kembali mensakralkan kematian, kehidupan juga akan kita sucikan. Maksudnya, kematian menghendaki kita untuk tidak bermain-main dengan kehidupan dan menyempitkan kehidupan hanya sebagai kesehatan belaka. Kehidupan adalah keselamatan, bukan bagi diri kita sendiri, melainkan juga demi sekian banyak manusia lainnya.

    Di negeri ini, pandemi juga telah mendekatkan kita pada kematian. Politik kita pun sempat dibuat bingung dalam menghadapi kematian itu. Sayangnya, politik kita seakan menutup telinga terhadap jeritannya. Pesan utama kematian, yakni kehidupan itu bernilai, maka hargailah kehidupan dan jadikan kehidupan itu keselamatan.

    Kita lupa akan pesan kematian itu. Politik tetap kita dangkalkan dengan remeh temeh persoalan yang tak kunjung padam. Politik kita jadikan arena pertikaian, perebutan kebenaran, yang kita sajikan lewat hujatan dan kebohongan.

    Hiruk-pikuk politik yang dangkal, menjemukan dan menjengkelkan itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah yang ditinggalkan pandemi dan harus kita urusi: pengangguran, hilangnya kesempatan kerja, kemiskinan, dan sekian banyak warga yang mendadak terpinggirkan.

    Demokrasi kita tak boleh mengabaikan warga yang tiba-tiba-tiba menjadi homo sacer itu. Sayangnya, demokrasi kita malah menjadi ajang para elite politik untuk berebut kekuasaan, dan mencari keamanan bagi dirinya sendiri. Elite itu menggembar-gemborkan antiliberalisme, tetapi sebenarnya mereka malah telah memeluk sikap liberal itu sendiri. Sikap liberal itu tak lain adalah kesombongan dan pamrih untuk mencari enaknya sendiri.

    Rasanya, politik kita sungguh menyia-nyiakan jeritan kematian sekian banyak warga yang telah terenggut nyawanya karena pandemi ini. Kita seakan tidak berutang apa-apa pada mereka. Padahal, utang itu baru bisa kita bayar, bila kita mau menjalankan politik yang menghargai kehidupan. Dan itu kita baru benar-benar akan terwujudkan, bila politik mau membela dan memperjuangkan mereka yang hidupnya lemah dan terancam.

    Orang Jawa mempunyai ajaran tentang mati sajroning urip, rela mati dalam hidup ini. Siapa mau mempraktikkan ajaran itu, ia akan menjadi arif dan bijak dalam kehidupan ini. Di sanalah kita diajar untuk tidak memutlakkan hidup kita sendiri, dan mau kehilangan sebagian hidup kita demi hidup orang lain. Pandemi telah mempertajam kebenaran ajaran itu. Bila mau peduli dengan kebenaran itu, politik kita pasti akan menjadi lebih arif dan bijaksana.

    Sayang, politik kita tetap membandel dengan lagak-lagunya yang lama, seakan kematian di tengah pandemi ini tak menuntut apa-apa. Tak kelihatan sedikit pun manakah orientasi baru, yang harus kita temukan secara bersama-sama untuk menghadapi masa depan setelah pandemi mengancamkan kematiannya pada kita sekarang. Rupanya, politik kita juga tak juga mau menjadi arif kendati mendengar jeritan kematian di tengah pandemi ini.

    ———————————————————————————

    *Sindhunata, Wartawan, Penanggung Jawab Majalah Basis, Yogyakarta

     

    *Sumber Tulisan Kompas, Sabtu 20 Maret 2021

     

     

     

  • “SUPER0808 2021 Surat Presiden 08-08-2021” – Puisi Sympli da Flores

     

    Saudara-saudaraku
    sebangsa dan setanah air

    Tahun ini negara kita merayakan HUT-76
    Syukur kepada Allah
    Trimakasih kepara para Pahlawan Bangsa
    Atas berkah kemerdekaan bagi kita bangsa Indonesia

    Saudara-saudaraku
    Putra-Putri pewaris bangsa Indonesia
    Mari…..
    Hentakkan kaki dan tepuklah dada kita
    Berbanggalah atas anugerah kemerdekaan NKRI
    Kita Indonesia
    Indonesia itu Kita
    Kita satu bangsa, satu bahasa, satu tanah air
    INDONESIA

    Saudara-saudaraku
    Sebangsa setanah air
    Kitalah Putera Fajar
    Kitalah Puteri Purnama
    Pada hari ini
    08 Agustus 2021
    Kuperintahkan kepadamu sekalian:

    Petiklah cahaya Fajar
    Sematkan dalam diri dan tanamlah di jiwa
    jadikan pagar keliling negeri
    Dari Merauke ke Sabang, Mianggas ke Rote dan seluruh daratan tanah kita

    Ambilah Purnama patrikan di dadamu Pilih bintang-bintang sematkan di wajah dan kepalamu
    Lalu taburlah di semua laut dan samudera negeri ini
    Jadikan cahaya berseri warna-warni

    Kita jadikan pribadi kita bercahaya abadi
    Menerangi seluruh pelosok tanah air ini
    Lalu memancar ke segenap penjuru mata manusia dunia

    Kita cahaya semesta
    Kita anak-anak cahaya
    Kita mercusuar dunia
    Kita INDONESIA

    Demikian damba dan doaku, yang kutulis sebagai perintahku
    untuk dilaksanakan sebagai doa dan tekad amal bersama dan menjadi kado kita semua, karena: terimakasih kepada para penjasa dan pahlawan bangsa
    Syukur kepada Allah atas anugerah kemerdekaan bagi kita bangsa Indonesia

    Merdeka, Merdeka
    Merdeka…….
    Dirgahayu NKRI-76 !!!


    Sympli da Flores
  • Kritik Terbuka Emanuel Bria terhadap Bupati Simon Nahak Soal Tambak Garam IDK 

    Kritik Terbuka Emanuel Bria terhadap Bupati Simon Nahak Soal Tambak Garam IDK 

    Jakarta Berandanegeri.com – Menanggapi kebijakan Bupati Malaka, Simon Nahak yang terus menggelar karpet merah bagi PT. Inti Daya Kencana (IDK) yang hingga sekarang beroperasi secara ilegal di Kabupaten Malaka dan telah merusak sekitar 300 hektar hutan mangrove dan situs-situs adat yang sakral (lulik) di sepanjang Pantai Selatan Malaka, Emanuel Bria, anggota Departemen Sumber Daya Alam dan Energi pada DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) mengutuk keras kebijakan tersebut karena tidak berpihak pada masyarakat adat di sepanjang meti ktuik tasi ktuik (wilayah pesisir pantai selatan).

    Emanuel Bria yang saat ini juga mengajar tata kelola Sumber Daya Alam (SDA) pada Sustainable Development Goals (SDG) Academy Indonesia, sebuah inisiatif yang dilahirkan oleh UNDP, Bappenas dan Tanoto Foundation seperti dilansir dari Gendis, secara tegas mengatakan saat ini dunia sedang bergerak ke arah model pembangunan yang rendah karbon dan hutan mangrove serta laut memberi kontribusi yang sangat besar untuk menyerap karbon dioksida.

    Selain itu kondisi Kabupaten Malaka yang berada di perbatasan dengan Australia sangat rentan terhadap badai tropis yang secara rutin melewati wilayah ini setiap tahun. Jika industri garam menjadi pilihan bupati Simon dengan mengorbankan ekosistem laut seperti mangrove artinya Bupati Simon sedang menyiapkan jalan mulus bagi bencana alam untuk daerah yang dipimpinnya. Warisan seperti apa yang hendak ditinggalkan Bupati Simon dalam waktu pemerintahannya? Itu yang harus dipikirkan.

    Sebelum terpilih, Bupati Simon Nahak menjadi bagian dari gerakan Forum Peduli Mangrove Malaka dan ditunjuk oleh masyarakat hukum adat sebagai penasihat hukum untuk menghentikan kegiatan PT. IDK. Ini menjadi salah satu agenda kampanye Bupati Simon saat Pilkada Malaka tahun 2020 sehingga didukung suara mayoritas di sebagian besar wilayah pesisir pantai selatan yang terkena dampak negatif kegiatan PT. IDK.

    Sebagai orang beradat, janji kampanye untuk selamatkan wilayah meti ktuik tasi ktuik bersama masyarakat adat bukan hanya sebuah janji politik tetapi janji Bupati Simon terhadap situs-situs sakral (lulik) dan leluhur tanah Malaka.

    “Karena itu sebagai salah seorang yang turut mendukung dan menggerakan masyarakat untuk memilih Bupati Simon saat Pilkada Malaka, saya berharap Bupati Simon kembali mempertimbangkan kebijakannya tersebut dan setia pada janjinya terhadap tanah dan leluhur rai Malaka,” tutur Eman.

  • Senjata Orang Kalah

    Senjata Orang Kalah

    Oleh  J. Sumardianta

    Apabila kehidupan sehari-hari terasa miskin, jangan kau keluhkan, tetapi sesalilah dirimu karena tidak cukup tabah untuk menggali kekayannya.

    -RAINER MARIA RILKE (1872-1926), penyair Austria-Cekoslavakia

    Kuang Tzu gemar menyamakan dirinya dengan kupu-kupu. Menjelang wafat, para murid sepakat untuk membaringkan      bapak Taisme ini dalam peti indah agar jasadnya tidak dimangsa burung gagak. Dalam peti indah sekali pun,aku tetap dimakan cacing dan rayap. Jadi sama saja. “Sang guru tidak mau terikat dengan apa pun di dunia yang fana. Sebagaimana kupu-kupu, Kung Tzu ingin terbang lepas bebas.

    Kupu-kupu memang identik dengan cinta, kerendahan hati, kebahagiaan, kebebasan, dan pengorbanan. Kupu-kupu merupakan ilustrasi bagus buat menggambarkan ketangguhan dan keteladanan spiritual Ram Chander dan Hasari Pal – dua tokoh dalam buku klasik Dominique Lappiere, The City of Joy (1985).

    Hasari Pal bersama istri dan ketiga anaknya adalah petani yang terdampar di Kalkuta, India, akibat bencana kekeringan berkepanjangan. Hasari bekerja sebagai penarik angkong (ricksaw). Pelaku pekerjaan kasar ini sering diledek sebagai manusia kuda. Kehidupan pekerja ini miskin, keras, dan menderita. Bekerja nyaris tanpa jaminan kesehatan dan keselamatan. Mereka adalah penghirup polusi udara terburuk di dunia. Jadi obyek pemerasan kota polisi praja. Biasa terbunuh di jalanan karena kejeblos lubang banjir. Menjelang pemilu, sering dieksploitasi pengurus partai yang berdalih membela orang miskin.

    Kendati kecingkrangan (tidak berdaya), hidup Hasari sesungguhnya diliputi kebahagiaan dan dipenuhi perasaan syukur. Sebelum mati, dipagut tuberkolosis, Hasari menjual kerangka tubuhnya ke perusahaan alat peraga kedokteran agar bisa mendapat biaya pesta pernikahan Amrita, anak perempuannya. Penganut Hindu yang saleh ini menerima nasib menjalankan tugas suci yang harus ditunaikan agar memperoleh kehidupan lebih baik sesudah reinkarnasi. Bagaimana penarik angkong ini menyalakan harapan hidup supaya bisa bertahan dalam kesulitan, tegar dalam pergulatan dan tabah menghadapi kekerasan?

    Ram Chander, bekas petani yang tidak kunjung menhapus utang keluarganya di Provinsi Bihar, bertutur, “Masih terbayang bagaimana istri saya menggandeng tangan anak saya, berdiri di ambang pintu gubuk kami seraya mengusap air mata. Kami sering bicara rencana kepergian dan sekarang saatnya tiba. Ia menyiapkan sebuah ransel berisi satu longhi, kemeja, dan handuk. Ia bahkan membuat chapati (martabak India) dan potongan sayur-sayuran sebagai bekal perjalanan. Sampai mati akan tetap terkenang. Ingatan mesra tentang keluarga yang berdiri di depan gubuk  lempung itulah yang membuat saya betahan di kota bengis ini.”

    Ram Chander bermimpi bahwa suatu hari ia akan kembali ke desanya dan membuka kedai pracangan di sana, dan duduk di kios itu sepanjang hari, tanpa berlarian. Ia ingin bertakhta di warungnya, dikelilingi karung-karung penuh segala macam kacang dan beras. Dan wadah-wadah yang mengeluarkan aroma rempah, bumbu dapur, dan onggokan sayur. Di rak, tersedia sabun, dupa batangan, biskuit, rokok, dan makanan kecil. Ram tidak pernah bisa pulang ke desanya sebagaimana para penarik angkong lain. Ram mati dipagut radang paru-paru.

    Hasari Pal dan Ram Chander adalah wujud kearifan India: “Segala yang tidak kita berikan akan lenyap sia-sia.” Mereka adalah alegori penderitaan, kematian, dan kehancuran yang bergandeng dengan belas kasih, harapan, dan cinta. Inilah kisah bagaimana manusia belajar dalam situasi paling kelam, tetapi tetap bisa menyalakan semangat hidup. Persis seperti yang dikatakan Rabindranath Tagore, pujangga India peraih Nobel, “Penderitaan itu agung, tetapi manusia tetap lebih mulia daripada penderitaan.”

    Kaum paria menjadi manusia luar biasa berkat kemampuan mereka melampaui kekejaman hidup yang tidak ramah. Antropolog James Scott menyebut kemampuan ini sebagai Weapon of the Weak (Senjata Kaerifan Kaum Rudin). Ironi melegakan karena memberdayakan kaum rudin untuk bisa menertawakan kenistaan. Kaum paria, mengutip almarhum Karl Rahner, teolog mashyur Jerman abad ke-20, “berkat ironi sukses mencapai transendensi – pengalaman dikuatkan oleh sang adikodrati dalam mistisisme konkret sehari – hari.”

    Nasib tukang becak di Yogyakarta, sebagaimana yang dikisahkan Sindhunata, Agus Leonardus, dan Ong Hari Wahyu dalam buku Waton Urip (2005), setali tiga uang dengan penarik ricksaw di Kalkuta. Mereka tak ubahnya pelanduk yang menerjunkan diri ke air guna membebaskan diri dari kejaran bintang buas. Namun, dalam hal ini, mereka mendapati diri dikepung gerombolan buaya. Kendati memelas, bila didekati secara mandalam, dari warung-warung tempat mereka melepas penat seraya mengudap makanan keseharian tukang becak memancarkan kegembiraan, semangat, dan harapan. Inilah sisi terang tukang becak bergelimang ketegaran, kebersahajaan, cinta, berkah, kepuasaan, ketentraman, perasaan syukur, keikhlasan, keberuntungan, dan keselarasan. Tentu juga ada tukang becak yang licik dan suka memeras.

    Becak merupakan pantulan hidup bernilai, bermakna, dan tujuan hidup mendasar dari wong kabur kanginan: orang yang tidak berumah, tidur di jalanan. Transendensi terbaca dari tulisan slebor di becak pribadi mereka. Waton Urip (bukan hidup ngawur dan seenaknya sendiri, melainkan berani hidup tanpa memberontak terhadap kehidupan); Banyu Mili atau Lumintu (kendati sedikit, toh rezeki bakal mengalir terus tiada henti); Sr Rahayu (kesungguhan dalam membesarkan dan melindungi anak perempuan); Ningsih (dicintai semua orang); Barokah (terberkati); Prasojo (bersahaja); Marem (kepuasan); Bejo (beruntung); Sami-Sami (penerimaan dan pemberian diri tanpa syarat); Gemah Ripah (subur makmur); Prihatin (bermati raga); dan Raharja (maju). Itu semua sesungguhnya memuat harapan dan motivasi hidup para tukang becak, sekaligus merefleksikan pandangan hidup orang Jawa: manggihaken kabegjaning sak lebeting kecingkrangan (menemukan kebahagiaan dalam ketidakberdayaan).

    Becak, di zaman serba motor, seolah-olah merendahkan martabat manusia. Si penghela mengeksploitasi diri layaknya kuda beban. Namun, tidaklah demikian yang terlihat pada diri Pak Kliwon, Pak Zaenal, Pak Sukiman, bahkan Mbok Ponirah, tukang becak perempuan. Tidak ada sedikit pun fatalism dan sikap menyerah pada mereka. Mereka justru mencerminkan konsolasi (filsafat kegembiraan), bukan desolasi (filsafat kemuraman).

    Pak Kliwon (60 tahun), yang sehari-hari mangkal di dekat stasiun Lempuyangan, gampang bersyukur karena badan tidak cacat untuk memenuhi nafkah keluarganya. Pak Sukiman tak pernah menumpang bus saat pulang ke desanya. Ia mengayuh becaknya sampai Delanggu, Kalten, Jawa Tengah. Perjalanan ditempuh selama lima jam karena harus berhemat supaya anak-anak tetap bisa bersekolah. Ponirah (55 tahun) lebih heroik lagi. Sudah 15 tahun ibu lima anak ini mbecak. Sejak suaminya meninggal karena kanker, ia harus menanggalkan urat malu. Ia pernah ditempeleng oleh sesama tukang becak dan ditendang oleh polisi demi mencicil utang.

    Strategi hidup dengan memaksimalkan kekuatan unik, seperti solidaritas sosial, keberanian, keuletan, integritas, kebaikan hati, rupanya membuat para tukang becak itu mampu mentransedensikan kesulitan dan meloloskan diri dari tirani kekejaman dunia. Transedensi merupakan sinergi berbagai kekuatan dari dalam yang menjangkau ke uar sebagai penghubung mereka dengan sesuatu yang permanen dan lebih akbar. Kekuatan itu antara lain spontanitas, kesadaran diri, visi dan nilai, mental yang utuh, kepedulian, independensi terhadap lingkungan, kemauan untuk mengambil manfaat dari kemalangan, dan keterpanggilan.

     

    ————————————–

    *J. Sumardianta, Guru SMA Kolese de Britto, Yogyakarta

    *Sumber Tulisan dari buku Simply Amazing, J Sumardianta, Gramedia 2009.

  • Menggapai Makna “Catatan Pinggir”,   Puisi Simply da Flores

    Menggapai Makna “Catatan Pinggir”, Puisi Simply da Flores

    Seorang wartawan
    mengemban profesi
    menyajikan berita
    Seorang penyair membagi
    makna kehidupan yang
    diolah bathin jiwa nurani

    Dalang “Catatan Pinggir”
    Bukan saja wartawan dan penyair
    Tetapi seniman, muzyafir pemikir
    yang berkelana tanpa kenal lelah
    dan tidak berhenti membangun
    istana kenyamanan

    Menggapai totalitas refleksi
    dan menemukan makna
    dalam Catatan Pinggir memang tidak mudah
    Karena ada aneka data,
    fakta, rasa, nilai dan pendalaman arti
    Yang tersaji secara apik dan menarik,
    meski penuh pengandaian
    bagi pembaca karya ini

    Catatan Pinggir itu
    Seorang nelayan usur
    yang duduk di bawah pohon rindang
    tepian pantai, sambil membetulkan jalanya,
    bercerita kepada anak cucu
    tentang asinnya laut, ombak-gelombang,
    karang dan ikan-ikan, malam gulita
    dan perjuangan menangkap ikan.
    Tentang samudera
    sebagai ibu kehidupan bagi para
    nelayan dan buih ombak
    yang setia mencium
    bibir pasir pantai hari-hari

    Catatan Pinggir itu
    Seorang kakek petani
    sedang meneguk kopi pagi hari
    di pinggir ladangnya, bercerita kepada putra-putri
    pewarisnya tentang sejarah ladang ini,
    pohon buah yang subur, kolam ikan
    dan bebek yang berkejaran, serta aneka suka duka
    selama mengelola ladang,
    untuk menghidupi keluarga
    hingga para cucunya.
    Tanpa memaksa mereka
    harus menjadi petani
    dan tinggal di ladang ini

    Catatan Pinggir itu
    Seorang nenek pengrajin tenunan
    yang dengan bangga menjelaskan
    proses pembuatan tenun secara tradisional,
    untuk keperluan tugas sekolah para bocah.
    Dan ketika malam tertidur,
    mereka diselimuti sarung
    buatan nenek, dan esoknya ketika pulang ke kota,
    sarung itu dihadiahkan kepada mereka,
    agar ingat kampung dan nenek

    Catatan Pinggir itu
    Ebiet G Ade menulis syair
    lalu dan memetik gitar sambil beenyanyi
    agar pemirsa bisa mendengar,
    apalagi sampai kepada perjalanan jiwanya bertemu
    dan berdialog dengan Sang Pencipta

    Bang Goenawan Mohamad
    Pemilik – Sang Dalang Catatan Pinggir
    Memang mencatat dari pinggir,
    tapi setelah menjelajahi keliling area
    dan mendalami semua materi yang disajikan,
    agar data, fakta, pengalaman, rasa,
    nilai, harapan dan cita bisa dirangkul
    dalam sebuah karya unik:
    “Catatan Pinggir”
    Singkat, padat, menarik, menantang,
    membuka ruang luas untuk pembaca mengembara,
    dari pinggir menuju ke tengah dan lebih dalam,
    lalu membuat catatan pribadi
    dan kesimpulan baru,
    bahkan menjadi musyafir yang berkelana abadi
    mencari makna sejati realitas
    dan eksistensi diri sebagai insani

    Catatan Pinggir
    Menjelajah semua bidang kehidupan,
    lintas zaman, suku, budaya, agama
    dan pribadi, masa lalu dan masa depan,
    dengan aneka tawaran bebas
    bagi pembaca untuk membuat kajian,
    pilihan dan keputusan:

    Bagaimana menjadi manusia sejati
    Bagaimana berada dan menjadi
    Bagaimana memberi makna dan arti
    sebagai pribadi di hadapan sesama insani
    dan di tengah alam semesta ini

    Catatan Pinggir
    Adalah karya unik dan kreatif
    Bang Goenawan Muhamad sebagai pribadi,
    untuk berada dan menjadi,
    memberi arti bagi eksistensi dirinya,
    agar membagi makna dan
    arti kepada sesama insani
    untuk bersama melahirkan “makna peradaban sejati”
    di alam semesta ini,
    sampai kembali kepada Sang Ilahi

    ———-

    Simply da Flores, Direktur Ya-Harmoni

  • P e n d e r i t a a n

    P e n d e r i t a a n

    “Deritaku sudah tidak tertanggung lagi”.

    Kata Sang Guru, “Saat sekarang tidak pernah tidak dapat ditanggung. Yang engkau pikirkan tentang apa yang akan terjadi lima menit lagi atau lima hari lagi, itulah yang membuatmu putus asa. Berhentilah hidup di masa depan.”

    —————

     Anthony de Mello, Berbasa-basi Sejenak 2, Penerbit Kanisius dan Obor.

  • Eksperimen Seorang Penyair

    Eksperimen Seorang Penyair

    Ignas Kleden

     

    PADA dasarnya “Catatan Pinggir” majalah Tempo adalah catatan seorang penyair, dan semua kita tahu, penyair tersebut seorang wartawan. Tentu saja tidak ada yang aneh jika penyair menjadi wartawan atau wartawan menjadi penyair. Sepintas lalu, hubungan antara penyair dan wartawan tidak lebih istimewa dari hubungan penyair dan guru, atau wartawan dan kolektor barang-barang antik.

    Apakah yang aneh kalau seorang biolawan sekaligus juga jadi pemain sepakbola atau seorang pelukis jadi mahaguru antropologi? Masalahnya mungkin baru muncul kalau seorang pemain musik klasik ingin sekaligus menjadi pemusik rock, atau seorang pelukis naturalis sekaligus mau menjadi spesialis kubisme. Dengan lain perkataan, menjalankan dua-pekerjaan yang sama sekali berbeda mungkin lebih mudah daripada menggabungkan dua keterampilan yang hanya dipisahkan oleh nuansa. Tentu saja pernyataan ini pun bukanlah suatu proposisi yang mutlak. Penulis Susan Sontag pernah ditanya apakah dia mengalami kesulitan dan konflik karena menulis novel sekaligus menulis esai dan kritik. Jawabannya sungguh mengejutkan,

    ”Saya bukan saja tidak menyadari adanya konflik itu. Saya bahkan tidak sadar bahwa ada hubungan antara keduanya. Kalau saya menulis sebuah fiksi, maka hanya hal itu sajalah yang menarik saya. Saya merasa bahwa saya mempunyai hubungan naif yang biasa dengan fantasiku, yang dengannya tiap orang harus mulai. dan kemudian saya berjuang dengan kata kerja, kata keadaan atau koma. Sebelumnya saya tidak mempunyai gambaran tentang bagaimana akan jadinya, dan tentu saja saya tidak pernah menulis fiksi sebagai ilustrasi dari gagasan yang ada padaku sebagai penulis esai”.

    Sekalipun pernyataan itu benar dan jujur, hal itu tidaklah menafikan keperluan untuk melihat apakah kepenyairan atau kewartawanan tidak memperlihatkan konflik tertentu atau melahirkan modus vivendi yang baru dalam “Catatan Pinggir”.

    Penyair, seperti juga wartawan, adalah orang-orang yang bekerja dengan aksara, dengan tulisan. Dan kita tahu masih ada sejumlah profesi lain yang memakai sarana tersebut: novelis, penulis skenario, mahasiswa, ilmuwan sosial, perencana ekonomi, birokrat, atau seorang sekretaris penerbitan. Namun demikian, jelas juga bahwa aksara di sana menjadi sarana untuk tujuan yang berbeda-beda, seperti juga perbedaan antara aksara seorang penyair dan aksara seorang wartawan.

    Dirumuskan secara sederhana: penyair berurusan dengan dunia-dalam, sementara wartawan bergelut dengan dunia-luar. Yang pertama menggarap makna, sedangkan yang kedua memperjuangkan fakta. Begitulah, kalau wartawan bekerja dengan pemberitaan, maka penyair berkiprah dengan permenungan. Prestasi seorang wartawan diukur berdasarkan banyaknya informasi yang dikumpulkannya, sedangkan prestasi seorang penyair diukur berdasarkan mendalamnya makna yang sanggup diserap dan diendapkannya. Kiat wartawan dipertaruhkan dalam sifat eksklusif informasi yang disiarkannya, sementara kiat penyair dipertaruhkan dalam otensitas pengalaman yang dicerna dalam jiwa. Dengan demikian, kapasitas wartawan adalah membuat pembacanya mengetahui lebih banyak, sedangkan penyair sanggup membuat pembacanya menghayati lebih intens. Untuk mengutip penulis “Catatan Pinggir”, kemampuan penyair, atau lebih tepat kemampuan puisi bukanlah ”membuat kita jadi lebih pintar, atau lebih hebat, tetapi…, mengukuhkan ikatan batin kita kembali dengan hidup”.

    Memadukan kedua kemampuan itu tentulah bukan hal yang selalu mustahil, terutama karena di sana-sini kedua pekerjaan itu mempunyai tuntutan yang sama, atau sekurang-kurangnya kebutuhan yang dapat dibandingkan satu sama lain. Hal pertama yang bisa segera disebut ialah kenyataan bahwa baik kewartawanan maupun kepenyairan bertolak dari kenyataan konkret. Wartawan pada dasarnya bukanlah orang yang menjual gagasan, tetapi harus menyajikan fakta. Penyair pada dasarnya tidak bekerja dengan ide, tetapi dengan pengalaman. Ide bisa datang dari penyair, tetapi ide itu—untuk dapat menjadi bahagian yang organis dari puisi—haruslah ide yang dialami, gagasan yang tidak hanya dipikirkan, tetapi diajak bergulat dengan daging dan darah, pikiran yang menyebarkan bau napas dan keringat. Dengan demikian, dalam analisa terakhir, baik wartawan maupun penyair akan sama-sama bergulat dengan fakta; pada yang satu fakta itu bersifat sosial, pada yang lain fakta itu bersifat eksistensial.

    Kecenderungan itu kemudian membawa akibat lain. Sejumlah besar pengetahuan tentang informasi akan menghasilkan apa? Pertanyaan itu barangkali tidak relevan untuk seorang wartawan yang menganggap tugasnya bukanlah mengerjakan informasi sebagai bahan mentah, tetapi mendapatkan informasi sebagai hasil akhir. Analisis berita dan penarikan kesimpulan bukanlah tugas seorang wartawan, tetapi tugas pembaca dan barangkali hobi dan kesibukan tambahan untuk para analis sosial. Persoalannya adalah apakah dari seorang wartawan boleh diharapkan tidak saja factual knowledge, tetapi juga conceptual knowledge?

    Demikian pun seorang penyair pastilah bukan seseorang yang mengerjakan dan menawarkan konsep-konsep. Sebuah sajak bukanlah sebuah bangun-pikiran, tetapi lebih mirip kesaksian tentang pengalaman penyair. Kesaksian itu pada giliran berikutnya bisa mempunyai berbagai sifat: reflektif, imajinatif, atau juga barangkali naratif tetapi tetap dengan satu muatan yang sama: makna yang dipetik dari pohon kehidupan. Penyair bukanlah seorang pengamat kehidupan, tetapi seorang yang berhadapan dengannya, menerima atau menolaknya. Kehidupan bukanlah sebuah Gegenstand atau obyek, tetapi suatu Gegenueber, suatu alter ego.

    Dengan latar belakang seperti itu, dapatlah dibayangkan betapa sulitnya seseorang yang mempunyai latar belakang kepenyairan yang kuat, dan kemudian menerima tugas kewartawanan dengan kedua belah tangannya, menanggapi pekerjaan tetap untuk menulis sesuatu yang dianggap dan diharap membentuk atau sekurang-kurangnya merangsang pendapat.

    Memang, ada keberatan yang cukup beralasan untuk tidak menghubungkan sifat suatu tulisan dengan latar belakang pribadi pengarangnya. Apa perlunya mengetahui bahwa Heidegger pernah menulis beberapa sajak, untuk membaca Sein und Zeit? Dan saya tahu dengan pasti bahwa penulis “Catatan Pinggir” ini dalam kedudukannya sebagai penyair terkadang kesal menghadapi kritik terhadap puisi indonesia sekarang yang menurut dia lebih banyak membicarakan penyairnya dan bukan sajaknya.

    Namun demikian, ada satu alasan mengapa pendekatan tersebut terpaksa diterapkan di sini, bukan semata-mata untuk mengutak-atik kehidupan sang penulis, tetapi untuk melihat sejauh mana pemilihan beberapa genre penulisan yang telah dilakukannya, telah menghasilkan suatu ”kompromi” yang tampaknya harus diterima dalam menulis “Catatan Pinggir” sebagai bagian sebuah majalah berita.

     

    ***

     

    “CATATAN Pinggir” adalah sebuah judul yang sengaja tak sengaja telah jadi metafora untuk tulisan-tulisan yang terhimpun di sini. Penulisnya sering menjelaskan bahwa catatan ini dimaksud sebagai marginalia, catatan di pinggir halaman buku yang sedang dibaca, untuk mengingatkan kembali pembacanya tentang hal-hal penting yang termuat di suatu halaman bacaan. Catatan-catatan itu sendiri tidak penting, tetapi hanya menjadi penting karena merujuk kepada teks utama.

    Namun demikian, siapapun yang membaca karangan-karangan yang terhimpun di sini akan segera merasa bahwa “Catatan Pinggir” adalah catatan seseorang yang dengan sadar memilih berdiri di pinggir, mencatat dari suatu jarak dan mencatat sebanyak apa yang dapat dilihatnya, sering kali bukan untuk menyampaikan sesuatu gagasan kepada orang lain, tetapi untuk mengingatkan dirinya sendiri tentang apa yang terjadi dan apa saja yang tengah jadi bahan pembicaraan orang banyak di dunia luas. Si pencatat kita tidak mau masuk ke tengah kerumunan, atau mencoba ikut berdebat dalam suatu pertengkaran antara berbagai pihak, tetapi mencatatnya dengan tekun, dan sesekali melontarkan keraguan, bukan hanya tentang penting tidaknya semua yang terjadi atau semua yang dikatakan, tetapi juga tentang apakah suatu kejadian harus terjadi atas cara itu dan tidak atas cara lainnya, atau apakah sesuatu dapat dikatakan dengan cara yang tidak terlalu memaksa?

    Dengan beberapa kekecualian, “Catatan Pinggir” adalah catatan seorang yang meragukan banyak soal, tanpa pretensi dan tanpa determinasi untuk menjawabnya. Sikap dasar di baliknya kurang lebih adalah keyakinan tentang ketidakpastian dan karena itu pengambilan sikap dan penarikan kesimpulan—juga bahkan hanya secara tentatif—dianggap sebagai keberanian yang tidak perlu. Yang diperlukan adalah ”hidup dengan cukup informasi”, begitu tulisnya pada suatu ketika. Dan informasi yang dibutuhkan itu disajikan atas cara yang luas mulai dari informasi sejarah, informasi politik dan ekonomi, maupun informasi tentang pendapat dan pikiran-pikiran penting yang diajukan dalam abad ini tentang berbagai soal.

    Ini juga barangkali sebabnya karangan-karangan pendek ini menyampaikan banyak bahan kepada pembacanya, tanpa banyak menantang pembaca untuk mengambil posisi terhadapnya. Sebagai suatu diskusi banyak bahagian terlalu deskriptif, sedangkan orang-orang yang mencari suatu pokok uraian tidak akan merasa puas, karena banyak alasan dalam mengulas hanya diajukan secara aforistis. Ini juga—tak dapat disangkal—sumber kekuatan dan kesegaran karangan-karangan ini yang bertaburan kutipan-kutipan cerdas, yang sering cukup kuat membuat kita tercenung dan terpesona kendati tidak cukup kuat untuk melibatkan kita dalam suatu discourse, karena kutipan-kutipan itu lebih merupakan ilustrasi dari informasi atau dari sebuah ide yang disajikan daripada bahagian suatu bangunan argumentasi.

    Tentu saja keraguan adalah suatu hal yang penting, tetapi keraguan adalah awal dan bukan akhir. Sebagai awal dia akan membawa kita kepada pertanyaan, kepada soal, kepada masalah, yaitu kepada suatu ”bahan” yang harus dikerjakan secara konseptual. Sebagai akhir dia akan mirip suatu teknik yang cenderung mengakhiri diskusi, meskipun keraguan itu tetap ditutup dengan tiga tanda tanya sekaligus. Dengan lain perkataan, ada pertanyaan yang investigatif, dan ada juga pertanyaan retoris. Pada yang pertama pertanyaan adalah suatu metode, sedangkan pada yang kedua pertanyaan adalah suatu gaya.

    Kekuatan karangan-karangan ini terletak pada penguasaan sejumlah besar informasi tentang sejumlah besar bidang masalah, dan mewakili berbagai tingkat informasi: baik informasi empiris, informasi sosial, maupun informasi intelektual. Kesulitan kita adalah karena “Catatan Pinggir” menggoda kita dengan berbagai ide, dan kemudian meninggalkan ide dan pembacanya setengah jalan. Itulah sebabnya, kadang-kadang timbul kesan bahwa karangan-karangan ini lebih dimaksudkan sebagai komentar yang bersifat ”open-ended” tentang apa yang sedang dibicarakan.

    Tapi di situ pula soalnya kalau skeptik tidak dikembangkan menjadi kritik, kalau keraguan tidak dikembangkan menjadi pertanyaan, dan pertanyaan tidak digarap lebih lanjut menjadi penyelidikan. Pada titik ini juga akan ditentukan sikap apa yang akan diambil terhadap informasi. Ada dua sikap umum yang dapat disebut di sini: pertama, seseorang akan bersifat selektif terhadap informasi, dan mengambil yang paling relevan untuk masalah yang diselidikinya. Kedua, dia selalu menyesuaikan diri dengan perkembangan informasi dengan akibat kehilangan kesempatan dan konsentrasi untuk merumuskan masalah yang diselidiki atau dipikirkannya, dan akhirnya kemudian hanya mempunyai waktu dan tenaga untuk hanya menyajikan kembali informasi-informasi itu dengan cara yang sebaik-baiknya aktual, menarik, dan atas cara yang segar serta hidup dan barangkali ”menghibur”, tetapi tidak problematis.

    Risiko itu rupanya harus dihadapi oleh siapa pun yang harus menulis secara ajeg, periodik, dan aktual, dan demi melayani kepentingan suatu penerbitan, yang harus sampai ke tangan pembaca pada waktunya. Dengan demikian ada berbagai keperluan pragmatis yang turut mendesakkan diri ketika sebuah tulisan disusun dan harus diselesaikan. Menjadi persoalan adalah apakah tulisan-tulisan ini dapat dipahami dalam hubungan dengan kebijaksanaan penerbitan yang diwakilinya, atau untuknya tulisan-tulisan ini menjadi sebuah tanda kenal yang khas?

    Tempo adalah suatu majalah berita yang ingin dan telah menerapkan teknik bercerita dalam laporan-laporannya. Dia mendefinisikan berita dan laporan-laporannya sebagai news story. Kejadian diceritakan menurut tuntutan teknik story telling: ada jalan cerita, setting, suasana, suspense yang membuat cerita itu menarik, dan tetap terbuka untuk penyimpulan secara bebas oleh pembacanya.

    Dalam arti itu “Catatan Pinggir” dalam banyak kasus memang lebih mirip suatu cerita daripada suatu pendapat yang mengambil posisi, suatu news dengan komentar panjang dan anotasi yang luas daripada suatu analisis yang dapat dicek konsistensinya, sebuah plot yang didesain dengan rapi untuk pertemuan dan pertentangan ide-ide intelektual, tetapi bukan suatu think-piece yang dikembangkan secara linear atau dibangun secara arsitektonik.

    Posisi ini tampaknya perlu diperjelas supaya tidak terjadi ketidakadilan intelektual, karena dari tulisan-tulisan ini orang mengharapkan sesuatu yang tidak menjadi klaimnya, atau di mana karangan-karangan ini diharap menjawab pertanyaan yang tidak diajukannya.

     

    ***

     

    TENTU saja sikap seperti itu menunjukkan suatu kesadaran yang tinggi tentang sifat dilematis berbagai persoalan yang muncul dalam hubungan seorang individu dengan masyarakatnya. Ada berbagai masalah yang penuh dengan kontradiksi dan paradoks, sehingga penyelesaian berdasarkan kesimpulan yang terlalu cepat, bahkan dapat merupakan kesalahan baru yang akan menimbulkan persoalan lain yang lebih muskil dari persoalan awal. Mungkin pada titik inilah terletak sebuah batu ujian terhadap sikap intelektual seorang penulis: bagaimana dia menghadapi berbagai dilema yang ada?

    Tampaknya ada dua kecenderungan ekstrem yang sama-sama tidak menguntungkan, yang untuk mudahnya kita sebut saja kecenderungan dogmatik di satu pihak, dan kecenderungan agnostik di pihak lainnya. Dalam kecenderungan pertama dianggap bahwa hampir semua dilema dapat diselesaikan, bahkan dapat diselesaikan dengan berpegang pada beberapa doktrin yang sudah tersedia, apakah itu dogma keagamaan, doktrin sosial, ataukah teori ilmu pengetahuan. Yang terjadi di sini adalah penyederhanaan, bahkan distorsi masalah agar dapat disesuaikan dan kemudian ”dipecahkan” berdasarkan formula yang ada. Pada yang kedua ada anggapan bahwa berbagai masalah tidak akan dapat dipecahkan, karena pengetahuan kita tentang duduk perkaranya sangat terbatas atau bahkan hampir tidak ada. Yang terjadi di sini ialah perumitan masalah melalui komplikasi sedemikian rupa, hingga masalah itu seakan-akan tak tertangani, karena kita tidak punya persediaan pengetahuan yang cukup untuk menguraikan apalagi memecahkannya. Pilihan satu-satunya ialah berdamai dan hidup dengan dilema-dilema itu.

    Kedua kecenderungan itu pada giliran berikut tidak dapat tidak akan membawa risiko masing-masing. Sikap dogmatik akan melahirkan sikap otoriter secara intelektual yang memaksa pihak lain untuk harus menerima kepastian atau bentuk-bentuk penyelesaian yang sudah disiapkan. Sedangkan sikap agnostik hanya akan membawa orang kepada pragmatisme intelektual. Yang pertama akan membawa orang kepada pemaksaan secara moral, sedangkan yang kedua akan membawa kita kepada oportunisme secara moral. Yang pertama memakui pengetahuan sebagai kedok untuk memaksakan diri. Yang kedua memakai ketidaktahuan sebagai kedok untuk menyembunyikan diri.

    Siapa pun yang membaca karangan-karangan yang terhimpun di sini dengan agak cermat, niscaya akan merasa bahwa penulisnya menghadapi pilihan sulit itu: menghadapi dilema ternyata suatu dilema tersendiri. Yang juga terlihat adalah bahwa pembawaannya sebagai penyair telah membuatnya sangat peka terhadap kecenderungan pertama, yang mendapat penolakannya yang cukup eksplisit, sementara terhadap kecenderungan kedua dia memperlihatkan sikap yang penuh ambivalensi. Apresiasi yang tinggi terhadap perkembangan informasi yang terjadi serta pembacaan yang luas adalah bukti nyata tentang keyakinan penulis ini tentang ada dan perlunya pengetahuan. Sekaligus di pihak lainnya tetap terlihat kehati-hatiannya untuk mengembangkan pengetahuan dan informasi itu menjadi bagian dari suatu argumentasi yang dapat dipegang dan diuji ketika berhadapan dengan suatu dilema. Dengan kata lain, kritiknya yang tegas terhadap otoritarianisme intelektual tidak diimbangi dengan sama kuatnya dengan kritik terhadap skeptisisme intelektual. Dalam hal yang terakhir itu harapan pada akhirnya tidak diberikan kepada kemampuan manusia tetapi kepada kekuasaan waktu. Dalam perkembangan waktu, situasi akan berubah dan sebuah dilema akan berkurang tingkat kepelikannya, dan mudah-mudahan dapat teratasi.

    Ada persamaan yang menarik antara kecenderungan dogmatik dan kecenderungan agnostik: penyelesaian masalah pada akhirnya bukan di tangan manusia. Pada yang pertama penyelesaian masalah akan tergantung pada doktrin yang ada (seakanakan doktrin dan pengetahuan pada umumnya bukanlah hasil ciptaan manusia), sedangkan pada yang kedua penyelesaian diserahkan kepada waktu (seakan-akan waktu adalah sesuatu yang terlepas dari campur tangan manusia). Demikian pun kedua anggapan seakan-akan mengandaikan bahwa mengatasi dilema adalah suatu pekerjaan yang dapat diselesaikan secara tuntas. Padahal dalam kenyataan, yang terjadi adalah hal yang sebaliknya yaitu bahwa penyelesaian suatu dilema akan melahirkan dilema baru dalam suatu rangkaian dialektis yang tak putus-putusnya, tetapi bahwa kenyataan itulah yang justru menyebabkan perkembangan dan kemajuan dalam sejarah. Setiap langkah adalah penyelesaian relatif dalam perkembangan historis atau suatu jawaban tentatif secara epistemologis. Tidak terselesaikannya suatu dilema secara tuntas, bukanlah memberi alasan untuk berlaku skeptik, tetapi memberi alasan yang nyata untuk berlaku kritis, yaitu bahwa terhadap setiap dilema atau masalah layak dan bahkan harus diambil suatu posisi penyelesaian, tetapi dengan kesadaran penuh bahwa posisi itu hanyalah suatu posisi tentatif yang siap menghadapi ujian, yang sekaligus berarti siap ditolak bila terbukti tidak dapat dipertahankan.

    Kritik dalam arti ini tampaknya dapat meredam dua kecenderungan ekstrem yang membawa kita kepada kesulitan yang tidak perlu, baik dalam dogmatisme maupun agnotisisme. Pada yang pertama kekeliruan terjadi karena sejumlah pengetahuan dianggap tidak mungkin salah, pada yang kedua kemungkinan akan adanya pengetahuan itu sendiri sudah disingkirkan. Dalam sikap kritis yang baru diuraikan, maka kekeliruan itu sama-sama ditolak karena baik kemungkinan pengetahuan maupun kemungkinan kekeliruan itu sama-sama diakui, tetapi sekaligus dengan memberikan suatu kewajiban kepada tiap orang yang terlibat dalam urusan pengetahuan untuk mengambil suatu posisi.

    Semua ini mau tidak mau menimbulkan pertanyaan tentang ada tidaknya suatu posisi yang diperlihatkan dalam “Catatan Pinggir”, sekalipun ada alasan cukup untuk mengandaikan bahwa dia tidaklah dimaksudkan sebagai pendapat dan sikap resmi majalah berita Tempo, tempat catatan itu diumumkan. Ini berarti, sekalipun kita sering kali tidak menemukan suatu tanggapan langsung kepada perkembangan situasi, atau suatu respons yang eksplisit kepada sebuah isu yang sedang menghangat, adakah suatu sikap tertentu yang diperlihatkan oleh tulisan-tulisan ini, kalau tidak tentang sebagian besar masalah, sekurang-kurangnya tentang beberapa soal?

    Hal pertama yang dapat segera dikatakan ialah bahwa “Catatan Pinggir” lebih sering merupakan—dan lebih meyakinkan kita dalam kualitasnya sebagai—deskripsi yang penuh informasi daripada suatu posisi yang dibela atau ditolak. Kedua, dapat juga diandaikan bahwa “Catatan Pinggir” lebih merupakan pandangan pribadi penulisnya daripada pandangan resmi penerbit yang memang sangat dipromosi olehnya. Ketiga, pandangan pribadi penulisnya pada dasarnya bertolak dari pandangannya sebagai seorang penyair, dan hal ini pada giliran berikutnya akan membawa dua akibat, baik terhadap masalah yang dibahas maupun terhadap cara penyampaian, atau bentuk komunikasi yang digunakannya.

    Sejauh menyangkut masalah maka sikap penulisnya jauh lebih jelas, dan sampai tingkat tertentu menampilkan suatu posisi tanpa banyak rasa gamang, kalau masalah yang dibahas adalah soalsoal yang berhubungan dengan penyair dan kepenyairan. Sebaliknya kalau dia harus menghadapi masalah-masalah sosial-politik atau sosial-ekonomi, maka yang terlihat adalah perasaan ragu yang bahkan sebagai keraguan pun sering kali tidak begitu meyakinkan, karena sifatnya yang kurang spesifik, suatu tanda tanya yang terlalu besar dan umum untuk berbagai masalah yang amat berbeda, suatu generalisasi kebimbangan tanpa langkah-langkah induktif yang dapat membuatnya absah sebagai pertanyaan. Dengan demikian terhadap masalah-masalah seperti kebebasan, kehidupan rohani, fungsi dan kedudukan kesusastraan, atau pun kesepian manusia, dia bisa mengatakan sesuatu secara afirmatif atau negatif, sedangkan terhadap masalah pendidikan, disparitas, kekuasaan, atau partisipasi, yang terdengar adalah perasaan tak pasti, ungkapan panjang dan sering amat ”cantik” tentang keraguan yang tak sempat mengkristal menjadi pertanyaan.

    Dalam hal terakhir itu pendapat dan sikap penulisnya dinyatakan dengan sangat halus dan tersirat—sering kali dengan menyusup melalui aforisme-aforisme yang bijak, yang memang didukung oleh teknik naratif yang sangat canggih dari seorang penulis yang penuh pengalaman. Hal ini akan membawa kita kepada segi keempat, yaitu bahwa juga dalam mengemukakan suatu posisi maka penulisnya lebih sering menggunakan teknik persuasi secara estetik daripada mengajak kita berargumentasi secara diskursif. Gagasan-gagasan yang sepintas lalu disajikan secara impresionistik, sering kali muncul dalam bentuk suasana yang kuat, kesan yang mendalam, atau kiasan yang penuh simbol, yang serta-merta meminta penerimaan atau penolakan kita, tanpa memberi kita banyak waktu untuk mengujinya dalam langkah-langkah diskursif.

    Hal ini tidak dapat tidak mengingatkan saya pada apa yang oleh filsuf Karl R. Popper dinamakan ekspresionisme epistemologis, di mana bahagian-bahagian suatu uraian tidak dianggap sebagai proposisi-proposisi yang dapat didiskusikan secara obyektif, tetapi harus diterima sebagai ekspresi keadaan mental, situasi kejiwaan, atau percikan ke luar suatu interioritas yang pribadi dan intim. Dengan demikian, menghadapi suatu uraian sebetulnya tidak akan banyak bedanya dengan menghadapi sebuah lukisan. Kita hanya dihadapkan pada tuntutan untuk menerima atau menolaknya, menyukai atau mencampakkannya, karena argumentasi di sana hanya merupakan hal yang sekunder. Dalam arti itulah “Catatan Pinggir” memperlihatkan kemampuan persuasifnya, karena tanpa menantang kita untuk berargumentasi, dia sebetulnya sangat efektif untuk memancing penerimaan atau penolakan kita secara pribadi.

     

    ***

     

    DILIHAT dari tema-tema yang dibicarakan, maka segera tampak bahwa penulis “Catatan Pinggir” telah melibatkan dirinya dalam spektrum persoalan yang sangat luas, baik karena hal itu menarik minatnya maupun karena hal itu diharuskan oleh urgensi atau aktualitas masalahnya pada suatu waktu. Yang lebih menarik bukanlah keragaman masalah itu sendiri, tetapi karena keragaman itu telah dibahas dengan suatu sikap yang dapat dipahami berdasarkan latar belakang penulisnya.

    Kepenyairan adalah suatu pembawaan yang mungkin tidak dapat berdamai atau dipertemukan dengan ketidakbebasan. Ini juga barangkali sebabnya bahwa terhadap soal kebebasan penulis memperlihatkan suatu sikap yang tidak ragu. Dan jelas pula bahwa kebebasan yang dibelanya bukanlah hanya kebebasan libertarian tetapi juga kebebasan eksistensial. Penolakannya terhadap komunisme, umpamanya, adalah karena penjelmaannya di Indonesia paham ini telah memaksakan suatu regimentasi kesadaran dan indoktrinasi pengertian, yang tidak memungkinkan seorang penyair menuliskan puisi yang jujur, yang menyuarakan kesaksian perasaan dan pikiran bebas, yang terbit dari pengalaman manusia yang sebenarnya, sebelum dinodai oleh kepalsuan atau ditindas oleh paksaan dan kekerasan.

    Namun demikian, pembelaan terhadap kebebasan ini tetaplah pembelaan seorang penyair, yang menuliskan buah pikirannya tidak dalam tese-tese yang diajukan dalam bahasa denotatif, tetapi dalam berbagai asosiasi dan suasana yang dimainkan dengan pandai melalui simbolisme bahasa penyair, yang penuh makna, berbunga-bunga, yang menyebarkan aroma harum tetapi sulit ditebak jenis tanamannya. Ini jugalah yang menyulitkan kita, karena juga pada saat beberapa hal harus dibicarakan dengan lebih lugas, tetap saja klarifikasi dan presisi pengertian menjadi sulit, karena penggunaan bahasa yang sangat konotatif. Apakah sebenarnya birokrasi? Maka dengan setengah bercanda konsep birokrasi diterjemahkan menjadi suatu suasana: ”… sebuah meja penuh bekas api rokok… sebuah ruang yang tak pernah lagi dipel… sederet map kertas yang tak jelas fungsinya, toh sementara itu semuanya tak bisa dibuang”. Dan birokrat pun dikiaskan sebagai seseorang yang mencari kebajikannya dalam ”sedikit berbuat, sedikit bicara, sedikit menongol”.

    Aforisme-aforisme itu memang memberikan suatu kesenangan sendiri kepada pembacanya, tetapi kesulitannya ialah bahwa ucapan-ucapan itu bukan merupakan ilustrasi dari suatu konsep yang dapat ditelusuri, dan tidak begitu jelas fungsinya secara instrumental, tetapi yang pasti sangat efektif sebagai dekor yang menciptakan suasana. Efek yang tercapai sering lebih berupa sentuhan puitis daripada rangsangan analitis. Demikianlah kita misalnya ingin mengetahui apa pandangan penulisnya tentang diskusi sosialisme-kapitalisme dalam hubungan dengan teori pembangunan. Tetapi di sini pun kita sering lebih banyak berhadapan dengan ”kata-kata mutiara” yang bertebaran, yang di sana-sini seakan menggoda dengan visi yang intuitif, tetapi yang tidak banyak memberi kita suatu pegangan konseptual untuk mulai ”bekerja” secara intelektual. Dengan mengatakan bahwa sosialisme mempunyai sistem ekonomi yang berfungsi pada malam hari (karena itulah saatnya pemerintah tidur) belum disentuh sama sekali keadaan ekonomi di banyak negara berkembang, di mana peran negara sangat menentukan, sekalipun pemerintahnya menganut ekonomi bebas, misalnya.

    Mengenai ideologi, dengan mengesankan dikatakan bahwa ideologi pastilah bukan ”satu kuil pemujaan… meskipun para tokohnya tak disebutkan sebagai dewa”. Namun demikian, dengan itu belum jelas benar apakah ideologi merupakan suatu hal yang masih diperlukan atau tidak. Dengan kata lain, kalau ideologi bukan sebuah kuil pemujaan, maka dalam wujud apakah kita sebaiknya membayangkan dalam penerimaan atau penolakan kita: sebuah operation room, sebuah sekolah, perpustakaan, atau laboratorium? Mengenai Pancasila, misalnya, dengan sangat menarik dikatakan bahwa kita menggunakan metafora pertanian, yaitu bahwa dia digali dan bukan diciptakan atau ditemukan. Namun demikian, semua orang tahu bahwa metafora itu menyatakan satu hal: bahwa Pancasila bukanlah suatu gagasan yang diperoleh dari luar, tetapi yang benih-benihnya sudah terdapat dalam alam pikiran dan kebudayaan di Indonesia. Pertanyaan yang penting ialah bagaimana sekaligus bisa dipertemukan anggapan bahwa Pancasila adalah hasil bumi Indonesia dan anggapan lain yang melihatnya sebagai seperangkat nilai yang justru bersifat universal?

    Demikian pun politik dan mungkin juga demokrasi dilukiskan secara plastis melalui kata-kata Lech Walesa sebagai kesediaan untuk ”bekerja dengan upah sepiring sup sehari”, tetapi dengan jaminan ”bahwa saya punya hak bicara tentang situasi”. Sementara di tempat lain bertahannya sistem demokrasi di AS buat sebahagian dapat dijelaskan secara simbolik melalui watak George Washington yang memperlihatkan pengekangan diri untuk tetap setia kepada tertib pemerintahan sipil, sekalipun seluruh situasi revolusioner pada masa itu dapat dengan mudah mendukungnya menjadi diktator. Dengan lain perkataan, dia besar bukan karena apa yang dilakukannya, tetapi justru karena apa yang tidak dilakukannya. Sementara kita tahu bahwa demokrasi itu bertahan karena orang bersedia mengetesnya, yaitu mengetes konsekuensi-konsekuensinya sampai pada batas yang paling ekstrem seperti yang dialami Abraham Lincoln dengan perang saudara, Kennedy dengan krisis rasial, atau Nixon dengan krisis konstitusi. Dikatakan dengan singkat, gagasan-gagasan ini sering kali menjadi sulit didiskusikan karena bahasa penyair telah mengubah semuanya menjadi suasana, asosiasi, dengan berbagai konotasinya, tetapi bukan dalam suatu kerangka yang bisa diperiksa batas-batasnya dan diselidiki isi konseptualnya. Dengan mengemukakan semua hal ini, maka mudah-mudahan “Catatan Pinggir” dapat diberi tempat sebagaimana mestinya, mendapat apresiasi yang sesuai dengan sifatnya, dan tidak dibebani harapan yang tidak relevan. Harapan seperti itu, umpamanya, muncul dari anggapan bahwa catatan-catatan ini adalah semacam editorial yang harus menampilkan posisi penerbit yang diwakilinya. Ternyata “Catatan Pinggir” tidaklah berpretensi memberikan suatu posisi, tetapi hanya berusaha mendeskripsikan dengan cara yang memikat berbagai hal yang terjadi dan dipikirkan. Demikian pun mengharapkan bahwa tulisan-tulisan ini merupakan suatu pemikiran yang ”keras” dan konsisten tentang beberapa masalah politik, ekonomi, atau kebudayaan, kiranya merupakan harapan yang tidak pada tempatnya. Sebab, sekalipun ada berbagai ide yang diajukan di sini dan berbagai cuplikan dari perdebatan nasional dan internasional disajikan kembali secara hidup dan aktual, penulisnya sendiri tetap berusaha menjadi pengamat yang tekun dan setia sambil berdiri ”di pinggir” semua perdebatan itu.

    Karangan-karangan ini pada dasarnya merupakan penerobosan regimentasi kesadaran dan emansipasi secara sengaja, sadar, jenaka, dan estetik terhadap kompartimentalisasi pengetahuan, minat, dan komitmen, sebagaimana yang diharuskan oleh interest ekonomi, kepentingan ideologis secara politik, berbagai prasangka primordial dan komunal, maupun disiplin-disiplin ilmu pengetahuan. Kumpulan esai ini adalah usaha pembebasan diri dari semua pengotakan itu, sekalipun tidak selalu jelas apakah pembebasan itu suatu keperluan yang tak terhindarkan untuk tujuan yang telah ditetapkan atau sekadar pemberontakan terhadap rasa sumpek atau karena kecemasan yang timbul dari klaustrofobia. Untuk yang tidak bersimpati, karangan-karangan ini kelihatannya serba ”tidak lengkap”, tetapi bagi yang bersimpati, karangankarangan ini berhasil mengembalikan pembaca pada kedudukan fenomenologis mereka, di mana tiap kali makan mereka tidak harus selalu menjadi ekonom, tiap kali berpikir tidak harus selalu menjadi filsuf, dan tiap kali terharu tidak perlu menjadi penyair.

    Esai-esai ini memperlihatkan usaha yang terus-menerus— sering kali dengan cara menggapai-gapai untuk menyelamatkan kebebasan hidup manusia dalam memilih apa yang dapat dinikmati dan diminatinya tanpa terlalu terbeban oleh kewajiban yang barangkali tidak ingin ditanggungnya, sekalipun itu diharuskan oleh konvensi. Bolehkah kita menanam rumput sekalipun kita bukan tukang kebun atau ahli ilmu tumbuhan? Bolehkah kita bersimpati kepada Perang Kamboja sekalipun kita bukan politikus atau ahli hubungan internasional? Bolehkah kita berbicara tentang dosa dan rindu kepada Tuhan sekalipun kita bukan ahli agama atau pemimpin umat? Penulis “Catatan Pinggir” telah menjawabnya dengan afirmasi yang tegas, justru melalui praktek penulisan dalam eksperimen yang dilakukannya dengan kesadaran seorang penyair. Risikonya ialah bahwa banyak pembaca akan menghadapinya sebagai proses biasa, justru karena kadang kala terlalu banyak puisi untuk hal yang terlalu prosais.

    ————————————————————————————-

    Tulisan ini adalah “Pengantar” pada Buku Catatan Pinggir 2, Pustaka Utama Grafiti 1996.