Blog

  • Puisi-puisi Simply da Flores, “Sudah Kering Gersang” dan “Selaras – Seimbang”

    Sudah Kering Gersang

    Setahun lalu…..
    basah pepohonan, rerumputan dan tanah pun becek kebanjiran
    Hujan air mata duka lara atas kematian

    Tahun ini….
    Kami kehabisan air mata kesedihan untuk tangisi kepergian tragis kakek nenek, ibu ayah, kakak adik, anak cucu, sahabat kenalan, sesama yang dikasihi, dibutuhkan….

    Tanah rasa kering
    Pohon harapan gersang
    Mata air dan sungai nafkah kerontang
    Ketakutan mencekam karena ganasnya wabah menyerang

    Kering gersang air mata
    Kerontang rasa jiwa
    Tak mampu hentikan wabah dan kematian
    Bertubi-tubi tak mampu tertahankan
    Entah sampai kapan


     

    Selaras – Seimbang

    Hujan deras mengguyur berkepanjangan
    Becek, lumpur
    Banjir…. Longsor

    Panas terik
    sampai kelamaan
    Kering… Gersang
    Haus kerontang..

    Gelombang badai
    Gempa tsunami
    Bencana alam ini pasti mengancam nyawa dan kehidupan

    Serasi, selaras
    Seimbang harmonis
    Dibutuhkan agar segenap isi semesta ada dan bermakna
    Hanya Dia Yang Punya

    —————————————-

    Simply da Flores

     

     

  • Bupati Flotim Apresiasi  Langkah KEMENAG Gandeng FKUB Ajak Masyarakat  “Pray from Home”

    LARANTUKA Berandanegeri.com – Bupati Flores Timur, Antonius Hubertus Gege Hajon memberi apresiasi atas terselenggaranya kegiatan “Berdoa dari Rumah” (Pray from Home) yang digagas oleh Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur secara virtual untuk keselamatan Bangsa dan Negara serta Lewotana Flores Timur dari ancaman Covid-19.

    Apresiasi ini  disampaikan Bupati Flotim Antonius Hubertus Gege Hajon saat memberikan sambutan yang digelar secara virtual dari rumah jabatan Bupati Flores Timur, pada Selasa, 27 Juli 2021.

    “Sebagai Bupati Flores Timur saya  menyampaikan apresiasi dan terimakasih kepada Kantor Kementerian Agama dan FKUB Flores Timur  atas inisiatif yang sangat baik dan bermanfaat ini” ungkap Antonius Gege Hajon.

    Antonius Gege Hajon menegaskan Flores Timur juga merupakan salah satu daerah yang mengalami situasi buruk ini. Puluhan korban terpapar dan kehilangan keluarga dan sahabat.

    “Ini duka kita, ini pengalaman yang mesti terus mengingatkan kita semua untuk tetap memiliki optimisme bertahan hidup dengan berbagai cara dan sikap. Tentu hal yang mesti kita ikuti dan kita buat yakni membiasakan pola hidup sehat , mengikuti  protokol kesehatan 5 M dan mentaati himbauan pemerintah dan lembaga agama”, jelasnya.

    Karena itu menurutnya butuh kesadaran bersama untuk mengupayakan semua cara yang bisa membantu meredam laju dan semakin meluas dan masifnya akibat Pandemi Covid.

    “Pemerintah telah melakukan berbagai tindakan dan kebijakan berdasarkan atauran aturan yang bisa menolong meredam Pandemi ini. Berbagai aturan telah diterapkan seperti Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat serta edukasi dan sosialiasi pembiasaan hidup dengan Protokol Kesehatan 5M ; menjaga jarak, mencuci tangan, memakai masker, menghindari kerumunan dan membatasi mobilitas”, jelasnya.

    Bupati Flotim  menggarisbawahi pada titik tertentu mungkin perlu ada ruang tersendiri untuk kembali ke diri. Memberi ruang spiritual dengan berdoa memohon kehadiran dan kekuatan Tuhan Yang Maha Kuasa agar pandemi ini segera berlalu dan kita semua dapat kembali melaksanakan tugas tugas panggilan kita masing masing dengan lebih baik, aman dan lancar.

    Dirinya berharap, semoga kegiatan “Doa dari Rumah”, Pray from Home ini dapat menjadi sebuah ketukkan di Pintu Surga sehingga  Tuhan kita, Allah yang Satu dan Esa dapat memberikan rahmat kesembuhan dan perlindungan. Rahmat pembebasan dari malapetaka Covid 19 ini.

    Menurutnya meminta doa-doa seperti ini bukan hanya dalam ruang ruang atau media media seperti ini tetapi boleh juga terjadi dan dilaksanakan di rumah kita masing- masing, bersama sama anggota keluarga kita masing -masing, serta upaya-upaya lainnya yang bisa dilakukan oleh lembaga-lembaga masyarakat melalui ritual-ritual khusus yang bertujuan untuk membebaskan masyarakat Flores Timur dari ancaman Covid-19.

    Sementara Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Flores Timur, Martinus Tupen Payon menyampaikan terima kasih kepada Bupati Flores Timur yang berkenan memberi perhatian akan terselenggaranya acara Pray from Home, serta seluruh jajaran pemerintah daerah dan unsur Forkompimda Flores Timur yang turut ambil bagian dalam ikhtiar ini.

    “Kita berdoa untuk keselamatan bangsa dan daerah kita, teristimewa untuk para korban meninggal dunia agar dapat diberi tempat yang istimewa di surga, yang menderita sakit dapat disembuhkan, mohon kesehatan dan kekuatan untuk para relawan serta tenaga kesehatan yang berjuang mengatasi wabah ini”, harap Martinus Tupen Payon.

    Martinus Tupen Payon  menambahkan “Doa dari Rumah,” Pray from Home merupakan ajakan bapak Menteri Agama RI, dan kami sebagai perpanjangan tangan beliau di daerah, juga himbauan bapak PLT Kakanwil untuk melaksanakan tugas ini dengan mengajak dan menghimbau masyarakat kita, secara khusus ASN di lingkungan Kementerian Agama agar berdoa dari rumah untuk keselamatan bangsa kita dan secara khusus agar pandemi covid ini segera berakhir.

    Kepala Kementerian Agama Flores Timur, Martinus Tupen Payon

    Kegiatan secara virtual melibatkan beberapa komponen seperti unsur Forkompimda, organisasi perangkat daerah, instansi vertikal, para pimpinan BUMN/BUMD serta para pemuka agama  berjalan aman dan lancar serta mendapat atensi yang luar biasa dari masyarakat umat beragama di Kabupaten Flores Timur.

    Para pemimpin agama atau rohaniwan yang membawakan doa yakni Katolik : RD. Bernadus Bala Kerans, Islam : H. Muhammad Syahrir Gunawan, Kristen : Pdt. Paulus Bambang Irawan Matoneng dan I Made Budana dari Hindu.  (Athick)

  • Akal Budi di Dalam Batas-Batas Agama  (Refleksi tentang Defisit Rasionalitas dalam Agama)

    Akal Budi di Dalam Batas-Batas Agama (Refleksi tentang Defisit Rasionalitas dalam Agama)

     

    Oleh Fitzerald Kennedy Sitorus

     

    1. Pengantar

    Wajah agama di ruang publik global paling tidak sejak 20 tahun terakhir memperlihatkan kesan yang justru bertentangan dengan hakikat agama itu sendiri. Agama, yang seharusnya menampilkan dan membawa kedamaian dan ketenangan, justru sering menghadirkan ketakutan, kebencian dan konflik. Sedemikian banyak aksi kekerasan, konflik, terorisme dan perang yang dilakukan atas nama agama. Keberadaan motivasi religius dalam berbagai tindak kekerasan itu bahkan telah mengubah konstelasi politik global dan juga nasional. Itulah yang membuat agama menjadi faktor penting dalam politik di seluruh dunia dewasa ini. Dan sayangnya, kehadiran agama dalam politik tersebut lebih merupakan persoalan ketimbang mitra untuk mencari solusi. Secara singkat: agama justru sering menjadi sumber masalah.

    Tidak berlebihan jika Mark C. Taylor, dalam Pengantar bukunya After God, mengungkapkan wajah buruk agama itu demikian: ”You never understand the world today if you do not understand religion. Never before has religion been so powerful and so dangerous. No longer confined to church, synagogue, and mosque, religion has taken to the street by filling airways and networks with images and messages that create fatal conflict, which threaten to rage out of control.” (Mark C. Taylor, After God (Chicago and London: The University of Chicago Press, 2007), hal. Xiii)

    Fenomena seperti di atas membuat agama menjadi salah satu tema yang paling banyak mendapat perhatian, baik secara politis maupun intelektual. Lihatlah, betapa banyaknya literatur tentang agama diterbitkan atau percakapan ilmiah mengenai agama dilakukan sekarang ini. Dalam dinamika ini, kita juga melihat munculnya tuntutan akan redefinisi konsep-konsep sentral dalam bidang agama, termasuk pengertian agama itu sendiri, relasi agama dan politik, agama dan ruang publik, agama dan modernitas serta agama/iman dan rasio/filsafat. Istilah yang sangat populer dewasa ini, postsekularisme, berusaha menggambarkan fenomena baru dalam bidang agama ini, yakni bahwa agama yang sebelumnya hidup di ruang-ruang privat, kini menyeruak kembali ke ruang-ruang publik, namun minus dimensi transendental atau metafisis yang per defenisi inheren dalam agama.

    (Yang saya maksud di sini adalah sekalipun banyak orang membicarakan agama di ruang publik, terutama ruang publik politis, tidak dapat dikatakan bahwa orang-orang tersebut memiliki aspirasi spiritualitas yang diidealkan oleh agama. Agama dalam ruang publik dewasa ini lebih merupakan vokabuler politis belaka yang dimaksudkan untuk tujuan-tujuan politik; para pembicara agama itu dapat dikatakan bukanlah orang yang sesungguhnya religius. Itulah yang saya maksud dengan ”minus dimensi transendental atau metafisis”. Fenomena ini juga sesungguhnya menuntut kita untuk melakukan redefinisi atas agama dalam era postsekuler ini.)

    Dialog terkenal antara Joseph Ratzinger (Paus Benediktus XVI) dan filsuf Jürgen Habermas tahun 2004 juga dapat dibaca sebagai upaya untuk memahami konstelasi baru yang menempatkan agama di pusat kontroversi ini. (Buku yang memuat dialog tersebut telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Lihat Dialektika Sekularisasi. Diskusi Habermas – Ratzinger dan Tanggapan, ed. Paul Budi Kleden dan Adrianus Sunarko (Yogyakarta/Flores: Lamalera dan Ledalero, 2010).

    Dalam dialog tersebut, seakan-akan menjawab penyebab munculnya wajah negatif agama seperti disinggung di atas, Paus Benedikt XVI sendiri mengakui bahwa bukan hanya rasio yang mengandung patologi, agama juga mengandung patologinya sendiri yang dapat sedemikian berbahaya dan oleh karena itulah  keduanya ”dipanggil untuk saling menjernihkan dan menyembuhkan, untuk saling membutuhkan dan harus saling mengakui.”

    Joseph Ratzinger memang tidak secara eksplisit menyebut apa sesungguhnya patologi yang terdapat dalam agama itu. Namun dalam presentasi ini, saya menamai patologi itu: defisit rasionalitas. Patologi adalah terjadinya perkembangan yang keliru, yang menyimpang, pada sesuatu. Patologi agama yang saya maksud di sini tidak lain dari tindakan-tindakan kekerasan dalam berbagai bentuknya yang dilakukan atas nama agama. Sementara yang saya maksud dengan defisit rasionalitas adalah semakin terasingnya agama dari pemikiran rasional. Keterasingan ini menyebabkan bahwa kegiatan atau hal-ikhwal agama cenderung dipahami semata-mata sebagai masalah iman dan kepercayaan belaka, minus rasionalitas.

    Dalam hal iman dan kepercayaan, orang seakan-akan tidak perlu berpikir atau menggunakan rasionya, cukup percaya saja. Di sini yang lebih berperan adalah fakultas emosi, passion, manusia ketimbang rasio. Dan ketiadaan rasio dalam agama membuat agama dengan mudah jatuh dalam situasi konflik yang berbahaya karena yang berlaku kemudian adalah logika emosional ketimbang logika rasional. Inilah, menurut saya, salah satu penyebab utama munculnya fundamentalisme agama dewasa ini yang pada gilirannya menimbulkan aksi-aksi kekerasan  atas nama agama. (Dialektika Sekularisasi, hal. 52-53.)

    Tesis yang hendak saya ajukan dalam presentasi ini adalah bahwa defisit rasionalitas telah membuat agama dengan mudah jatuh ke dalam tindakan-tindakan kekerasan. Oleh karena itu, kalau kita mau membuat agama lebih lebih ramah dan manusiawi, kita perlu mengembalikan rasionalitas yang hilang dari agama tersebut, menyuntikkan kembali rasionalitas ke dalam agama, sehingga agama tidak hanya berisi iman dan kepercayaan tetapi juga rasionalitas. Dengan demikian pula, dialog antara iman dan rasio atau agama dan filsafat, sebagaimana diharapkan Joseph Ratzinger dan Habermas di atas, dapat berlangsung lebih konstruktif.

    Dalam presentasi ini saya akan memperlihatkan kaitan erat antara agama dan rasionalitas: bahwa agama atau iman sesungguhnya tidak terlepaskan dari rasionalitas, bahwa iman atau kepercayaan itu sendiri sebenarnya adalah buah dari pengetahuan rasional tertentu, bahwa Tuhan kita kenal bukanlah pertama-tama melalui iman atau kepercayaan begitu saja, melainkan melalui proses pencarian rasional. Proses pencarian inilah yang membawa kita kepada kepercayaan akan Tuhan, dan agama adalah bidang di mana hal Ketuhanan tersebut digumuli.

    Namun sebelum berbicara mengenai ”akal budi atau rasionalitas dalam batas-batas agama” itu, saya akan lebih dulu berbicara mengenai penyebab terjadinya defisit rasionalitas tersebut.

     

    II. Mengapa defisit rasionalitas terjadi?

    Kalau kita melihat sejarah perkembangan kebudayaan Barat, khususnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka kita akan melihat bahwa pada tahap awal perkembangan tersebut, agama memegang peranan yang sangat sentral. Agama, khususnya agama-agama monoteis, dapat dikatakan menjadi satu-satunya kekuatan yang mengarahkan seluruh dinamika kebudayaan Barat. Sejarah ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa monoteisme menyediakan lahan bagi pertumbuhan dan perkembangan ilmu pengetahuan. Monoteisme melakukan purifikasi dewa-dewa dari alam, bahwa hanya ada satu dewa, yakni Allah Sang Pencipta semesta. Sang Pencipta ini telah menciptakan alam dan menyerahkannya kepada manusia untuk diteliti, dikelola, dan dieksplorasi (sekaligus, sayangnya, dieksploitasi). Alam itu material dan obyektif ada di sana, sebagai obyek untuk diteliti. Ini membuka jalan bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

    Dengan kata lain, melalui purifikasi dewa-dewa ini, alam tidak lagi menakutkan, sebagaimana dalam pandangan masyarakat penganut politeisme. Masyarakat politeis percaya bahwa setiap bagian dari alam dihuni oleh dewa-dewa tertentu. Kepercayaan itu membuat alam tampak menakutkan. Akibatnya, ketimbang melakukan penelitian terhadap alam, masyarakat politeis justru berusaha menjaga agar dewa-dewa penghuni alam tidak marah, yakni dengan cara memberikan sesajen dan lain-lain. Karena itu, ilmu pengetahuan tidak berkembang pada masyarakat politeis.

    Melalu proses sekularisasi, tatkala ilmu pengetahuan telah berkembang sedemikian rupa, pengaruh agama mulai surut. Orang semakin mengandalkan rasionalitas dan ilmu pengetahuan. Agama, yang sebelumnya berperan aktif dalam kehidupan publik, surut ke wilayah privat. Wilayah-wilayah yang tadinya menjadi kompetensi agama diambil alih oleh ilmu-ilmu pengetahuan yang muncul sesuai dengan spesialisasi masing-masing.

    Eric C. Rust merangkum dinamika perkembangan rasionalitas dan ilmu pengetahuan sekaligus kemunduran agama itu demikian: “In the history of Western World, during the ascendancy of Christian faith, God was tacitly taken for granted by the majority of people. In the Medieveal period, the intellectual  structure of the time was fundamentally Christian. With the Renaissance and the Reformation, the monolitic structure of Christian culture began to break apart. … Within such an atmosphere modern science come to birth … We forget that science and the concern with human freedom are alike products of the Christian emphasis on creation and on the nature of man”. (Eric C. Rust, „The „God is Dead“ Theology,“ in Review and Expositor Journal, 1967, hal. 271-284.)

    Ketika masih berdiri di pusat kehidupan masyarakat, sebagai kompas yang mengarahkan perkembangan masyarakat, agama dituntut untuk memiliki kompetensi yang dapat mengatasi atau membantu mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat. Artinya, dari agama dituntut rasionalitas tertentu agar secara fungsional mampu menjawab masalah-masalah sosial yang terjadi.

    Kompetensi rasional agama itu dapat dibuktikan misalnya dari pemikiran para teologi besar zaman dulu, termasuk para bapak-bapak gereja, di mana mereka dengan terampil berbicara mengenai berbagai persoalan sosial politik pada zamannya dari sudut pandang iman mereka.  Kompetensi demikian hampir tidak ditemukan lagi pada kalangan teolog dewasa ini.

    Namun, ketika agama mulai surut ke ruang privat dalam proses yang disebut sekularisasi, dan bidang-bidang yang tadinya merupakan kompetensi agama diambil alih oleh masing-masing ilmu yang muncul sesuai dengan spesifikasi persoalan yang dihadapi, maka perlahan-lahan surut pula rasionalitas yang tadinya dimiliki oleh agama. Dari agama tidak lagi dituntut kompetensi untuk turut bertanggung jawab atas permasalahan sosial aktual. Agama kemudian dilihat semata-mata sebagai persoalan iman dan kepercayaan privat, sebagaimana umumnya pemahaman masyarakat kita sekarang. Jadi, dapat dikatakan bahwa sekularisasi adalah sekaligus awal terjadinya patologi agama, yakni proses  derasionalisasi agama; sekularisasi adalah derasionalisasi agama, aktivitas agama dijalankan dengan cara-cara yang semakin jauh dari rasionalitas.

    Filsuf Jürgen Habermas juga mengakui bahwa asal-usul defisit rasionalitas pada agama itu bermula dari terjadinya proses diferensiasi fungsional dalam sistem sosial masyarakat Barat. Dalam sebuah tulisannya ia mengatakan: ”Benar bahwa dalam proses diferensiasi sistem-sistem sosial fungsional ini, gereja dan komunitas-komunitas agama semakin membatasi diri pada fungsi inti pelayanan kerohanian dan pastoral dan melepaskan kompetensi mereka dalam bidang-bidang sosial lainnya.

    Pada waktu yang sama, praktik-praktik agama dan iman surut menjadi bentuk-bentuk individual atau subyektif belaka. Jadi terdapat kaitan antara spesifikasi fungsional sistem agama dan individualisasi praktik-praktik keagamaan.” (Dalam „Dialektik der Säkularisierung“, dalam Bätter für deutsche und internationale Politik, April 2008, hal. 36. Tulisan ini berasal dari teks kuliah yang diberikan oleh Habermas di Nexus Institut Universitas Tilberg, Belanda, pada 15 Maret 2007.)

     

    III. Rasio dalam agama

    Filsuf dan teolog Paul Tillich mengatakan ”agama adalah keterarahan kepada yang Absolut.” Yang Absolut ini bisa juga disebut dengan yang Transenden, atau Tuhan/Allah dalam bahasa agama monoteis. Bagaimanakah Tuhan ini muncul dalam kehidupan manusia? Monoteisme mengatakan bahwa iman dan kepercayaan itu adalah buah Wahyu Allah: Allah menyatakan diri-Nya kepada manusia. Namun, sebagaimana dinyatakan oleh Karl Rahner, manusia mampu menerima Wahyu dari Allah karena manusia juga terbuka terhadap yang Transenden atau horison ketidakterbatasan. Dan keterbukaan terhadap ketidakterbatasan itu menurutnya merupakan syarat-syarat kemungkinan yang bersifat apriori untuk setiap pengetahuan dan kehendak manusia. (Markus Knapp, Die Vernunft des Glaubens. Einführung in die Fundamentaltheologie (Freiburg/Basel/Wien: Herder, 2009), hal. 63.) Fakultas manakah dari diri manusia yang membuatnya terbuka terhadap yang Transenden itu?

    Sejarah agama-agama memperlihatkan bahwa bahkan manusia yang paling primitif pun telah memiliki ide tersendiri mengenai yang transenden. Mengapa hampir semua kelompok masyarakat manusia, bahkan yang paling terpencil dan primitif sekalipun, selalu memiliki ide mengenai yang transenden, itu tidak lain karena manusia tidak pernah puas hanya dengan yang empiris. Dengan akal budinya, manusia selalu mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang sering justru tidak dapat dijawabnya sendiri dengan pikiran dan pengetahuannya yang terbatas.

    Di sini kita perlu ingat pernyataan Kant mengenai penyebab munculnya dorongan dan kebutuhan untuk menjalankan pemikiran spekulatif atau metafisika bagi manusia; ia mengatakan: ”Akal budi manusia memiliki takdir yang khas dalam sebuah jenis pengetahuannya; bahwa dia dibebani  melalui pertanyaan-pertanyaan yang tidak dapat diabaikannnya, karena pertanyaan-pertanyaan itu terberi  kepadanya melalui hakikat akal budi itu sendiri, tapi ia sendiri tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut karena pertanyaan-pertanyaan itu telah melampaui semua kemampuan akal budi manusia.” (KdrV, VII)

    Kant mengatakan bahwa Tuhan adalah salah satu kepentingan rasionalitas manusia. Kepercayaan kepada eksistensi Tuhan dan karakterisasi atas sifat-sifat-Nya adalah kebutuhan alami kapasitas rasional manusia. (KdrV, A Xvii, B xxxi, B 21-22, A 298/B354).

    Dengan akal budinya, manusia mengarahkan pikirannya melampaui apa yang dapat dipersepsi melalui indra, mengajukan pertanyaan mengenai syarat-syarat kemungkinan tertinggi dari segala sesuatu yang ada, dan pertanyaan tersebut membawanya kepada ide tentang Tuhan. Eksistensi Tuhan ini memang tidak dapat diketahui secara kognitif, sebagaimana kita memiliki pengetahuan mengenai benda-benda empiris, namun akal budi murni kita mempostulatkan ide mengenai ”pengetahuan transendental mengenai Tuhan (theologia transscendentalis).” (KdrV, A 334/B 391).

    Tuhan ini kemudian disebut sebagai ens realissimum, mahluk yang paling nyata/real, karena mengandung seluruh realitas pada dirinya dengan demikian mendeterminasi segala sesuatu yang ada.)

    Kebutuhan rasional kita akan postulat eksistensi Tuhan didasarkan, kata Kant, atas prinsip tertinggi akal budi murni, yakni: ”Jika yang terkondisikan itu terberi, maka yang tidak terkondisikan juga terberi.” (KdrV, A 308/B 364). Karena segala sesuatu yang berada di alam semesta terkondisikan dan terberi, maka yang yang tidak terkondisikan (yang mengkondisikan yang terkondisikan itu) juga terberi. Artinya eksistensi Tuhan harus dipostulatkan. Kant mengatakan bahwa Tuhan transendental ini adalah Ideal Akal Budi Murni (das Ideal der reinen Vernunft). (KrdV, A 567/B 595). Ini adalah cara Kant untuk secara filosofis memperlihatkan bahwa Tuhan (dan metafisika) adalah kebutuhan rasional dan alami manusia.

    Jadi Tuhan (yang digumuli dalam bidang yang disebut agama) bukanlah terutama hasil pencarian iman manusia yang religius, melainkan nama untuk realitas transenden yang ”ditemukan“ manusia berdasarkan aktivitas rasionalnya. Karena manusia adalah mahluk yang bertanya, maka ia menyelidiki dunia di mana dia hidup. Ia tidak puas hanya dengan apa yang tampak secara empiris. Filsuf sekaligus ahli filologi klasik Yunani, Werner Jaeger, mengatakan bahwa konsep „dewa-dewa“ (Götter) muncul dari  aktivitas intelektual tersebut, dan itulah yang menjadi hakikat dan asal-usul agama. (Werner Jaeger, Die Theologie der frühen grierischen Denker (Stuttgart: Kohlhammer, 1953), hal. 196).

    Istilah teologi sendiri muncul dari usaha manusia untuk memahami keseluruhan kenyataan ini. Usaha tersebut merupakan kesibukan utama filsafat sejak kelahirannya pada zaman Yunani Antik. Pertama-tama memang Tuhan adalah istilah yang berasal dari bidang agama. Namun, istilah ini juga merupakan tema yang sangat sentral dalam filsafat. Karena itu, Martin Heidegger, filsuf yang paling intensif merefleksikan relasi antara manusia dan yang transenden (Ada/Sein) ini, pernah mengajukan sebuah pertanyaan fundamental: ”Bagaimana Tuhan masuk ke dalam filsafat? Maksudnya, mengapa dan untuk kepentingan apa Tuhan yang notabene adalah istilah teologi itu harus diimpor ke dalam filsafat dan bahkan menjadinya salah tema sentralnya?

    Kendati Heidegger menjawab pertanyaan itu dengan mengacu kepada perbedaan ontologis antara Ada (Sein) dan pengada (Seinden), penelitian literatur memperlihatkan bahwa Tuhan masuk menjadi istilah filsafat sejak manusia berpikir mengenai keseluruhan kenyataan. Dan sejak awal kelahirannya, filsafat adalah usaha untuk memahami keseluruhan kenyataan, dan Tuhan atau Yang Ilahi dianggap sebagai sumber atau asal-usul kenyataan tersebut. Istilah teologi sendiri, sebagai pemikiran mengenai prinsip pertama realitas (Prinzipiendenken), secara etimologis menurut Aristoteles berarti: pemikiran tentang asal-usul yang bersifat ilahi (Denken des göttlichen Ursprungs).

     

    IV. Rasionalitas iman

     Banyak filsuf lain yang juga secara intensif merefleksikan Tuhan secara rasional filosofis. (Lihat Wilhelm Weischedel, Gott der Philosophen. Grundlegung einer philosophischen Theologie im Zeitalter des Nihilismus, 2. Bde., (München/Darmstadt: WBG, 1971).

    Di atas saya sudah berbicara mengenai jalan rasional yang membawa manusia kepada Tuhan. Manusia tiba kepada yang transenden, entah dalam bentuk pengetahuan transendental maupun spekulatif metafisis, berdasarkan aktivitas akal budinya. Bagaimana dengan realitas transenden atau Tuhan dalam agama monoteis? Fakultas mana dari diri manusia yang berperan untuk membawa kita kepada (kepercayaan) akan yang transenden tersebut? Imankah? Atau akal budi?

    St. Agustinus mengatakan bahwa akal budi (reason) adalah pengantar untuk iman. Dia mengatakan bahwa akal budi memainkan peran ganda (two-fold role) dalam pembentukan kepercayaan kita kepada Tuhan. Pertama, akal budi atau rasio membuka jalan bagi iman, dan dalam arti ini, rasio mendahului iman. Agustinus menulis: ”For who cannot see that thinking is prior to believing? For no one believes anything, unles he first thought it is to be believed. For however suddenly, however rapidly, some thoughts fly before the will to believe … it is yet necessary that everything which is believed should be believed after thought has preceded.” (Wilma Gundersdorf von Jess, „Reason as Propaedeutic to Faith in Augustine,” dalam International Journal for Philosophy of Religion, vol. 5, December 1974, hal. 225-233.)

    Kedua, akal budi kemudian menerangi iman, sesuai dengan ajaran Anselmus, fides quaerens intellectum, iman yang mencari pengertian. Dengan demikian, kita dapat mempertanggung-jawabkan iman secara rasional.

    Dalam pandangan Agustinus, kepercayaan adalah sebuah bentuk pengetahuan tertentu. Karena itu, kemungkinan iman juga tergantung dari rasio. Itu juga yang menyebabkan hanya manusialah mahluk yang memiliki kemampuan untuk beriman. Dalam proses pembentukan iman ini, demikian Agustinus, rasio lebih dulu bekerja sebelum kita memutuskan untuk memahami dan mempercayai apa yang kita dengar. Karena itu hasil karya rasio dalam proses beriman ini tidak boleh diremehkan. Agustinus mengingatkan: “Jika kita meremehkan atau membenci rasio, maka kita juga harusnya menolak citra Allah di dalam diri kita dan sumber yang membuat kita memiliki keunggulan di antara semua ciptaan lainnya. Tapi ini tentu saja akan absurd,” katanya. (Augustine in His own Words, ed. William Harmless, S.J. (Washington, D.C.: The Catholic University of America Press 2010), hal. 29.)

    Saya dapat menerima ajaran Agustinus ini. Bagaimana pun, iman memang mengandaikan pengetahuan. Kita tidak mungkin begitu saja memiliki kepercayaan kepada sesuatu, termasuk kepercayaan kepada Tuhan. Kepercayaan selalu didahului oleh penalaran dan pengetahuan, misalnya, bahwa sesuatu yang mau dipercayai itu memang layak atau masuk akal dipercaya. Kita memiliki kepercayaan kepada Tuhan karena memang dengan akal budi kita melihat bahwa Tuhan memang layak menjadi obyek kepercayaan. Bahkan dalam kasus pewahyuan ilahi pun rasanya tidak sulit melihat betapa sentralnya akal budi kita dalam menerima dan memahami wahyu tersebut. Kita menggunakan akal budi kita untuk memahami, mengidentifikasi dan menafsirkan wahyu Ilahi, yang kemudian menghasilkan kepercayaan.

    Karena itu kita dapat mengatakan bahwa rasio adalah instrumen pertama untuk memperoleh pengetahuan religius atau kepercayaan.

    Tentu ada juga beberapa teolog lainnya yang melihat peranan rasio dalam iman. Di sini kita perlu ingat kepada Anselmus dan Aquinas. Pada zaman kita sekarang, Alvin Plantinga seorang teolog yang mencoba mendamaikan antara sains dan agama. Tampaknya memang benar pernyataan Hegel bahwa tidak ada sesuatu pun dalam agama yang bukan merupakan hasil akal budi manusia. Bahkan kata-kata yang kita pilih (dari sekian banyak kemungkinan kata yang bisa kita gunakan) untuk mengungkapkan iman kita — misalnya mengapa kita menggunakan kata Allah dan bukan Zeus atau dewa atau tuan, mengapa kita menggunakan iman dan bukan aman?, dan seterusnya – itu semua adalah buah pemikiran rasional kita, dan itu indikator yang jelas bagi ketidakmungkinan untuk memisahkan iman dari rasio.

    (Barangkali kita perlu ingat kritik pedas Hegel terhadap filsuf dan teolog Schleiermacher yang mengatakan bahwa agama itu adalah perasaan ketergantungan dan ketaatan mutlak kepada yang Absolut; Hegel mengatakan, “if religion in man is based only on a feeling, then the nature of that feeling can be none other than the feeling of his dependence, and so a dog would be the best Christian for it possesses this in the highest degree and lives mainly in this feeling,” dalam Hegel`s Foreword to H. Fr. W. Hinrichs`, Die Religion im inneren Verhältnisse zur Wissenschaft (1822), dalam Beyond Epistemology, ed. Frederick G. Weiss (The Hague: Martinus Nijhoff, 1974), hal. 238.)

     

    V. Rerasionalisasi agama/iman

     Di tengah-tengah ancaman fundamentalisme agama sekarang ini, juga dengan gelombang ateisme baru yang dibawa oleh perkembangan sains, sudah waktunya kita memperkenalkan agama yang lebih rasional. Kant pernah memperingatkan bahwa beragama yang tidak kritis dan tidak rasional justru rentan menimbulkan kecurigaan yang akan merugikan agama itu sendiri. Dengan status kesucian, penetapan hukum (Gesetzgebung) dan keagungan yang dimilikinya agama memang cenderung mengecualikan dirinya dari sikap kritis terhadap diri sendiri, namun itu justru akan merugikan agama itu sendiri (KdrV, A XI, catatan kaki).

    Selain itu, seperti telah disinggung di atas, beragama yang tidak rasional juga akan membuat agama rentan jatuh ke dalam tindakan-tindakan fundamentalis karena model beragama demikian hanya akan digerakkan oleh emosi dan passion.

    Rerasionalisasi agama itu tidaklah menyalahi, tapi justru, sebagaimana telah diperlihatkan di atas, sesuai dengan hakikat agama itu. Dengan rerasionalisasi itu kita mengembalikan kepada agama apa yang dulu pernah merupakan miliknya. Beragama bukanlah sekadar Amin, Haleluya, Puji Tuhan! Agama bukanlah sekadar iman yang didasarkan atas perasaan, melainkan seharusnya iman yang didasarkan atas rasionalitas.

    Untuk itu pengajaran agama dan aktivitas kerohanian perlu dilakukan  dengan senantiasa berdialog secara kritis dengan ilmu-ilmu lainnya.

    Salah satu tugas teologi pada zaman ini adalah merefleksikan dan mensistematisasikan pernyataan-pernyataan iman dalam dialognya dengan ilmu-ilmu sekuler, ya filsafat, sejarah, psikologi, politik, ilmu-ilmu alam dan lain-lain — dialog antara Athena dan Yerusalem. (Lihat misalnya, Christoph Böttigheimer, Wie handelt Gott in der Welt? Reflexion im Spannungsfeld von Theologie und Naturwissenschaft (Freiburg/Basel/Wien: Herder, 2013). Dalam buku ini, sejumlah teolog dan ahli ilmu alam merefleksikan bagaimana Allah bertindak di dunia).

     

    ***************

     

    *Tulisan ini adalah paper yang dibawakan dalam Webinar yang diadakan oleh JPIC-OFM Indonesia dengan tema “Fundamentalisme Agama”,  (29 Mei 2021).

    *Fitzerald Kennedy Sitorus, Dosen Filsafat Universitas Pelita Harapan.

     

     

     

     

  • “Parade Kematian” – “Di Seberang Samudera”, Puisi-puisi Simply de Flores

    PARADE KEMATIAN

    Mati adalah anugerah dan bagian tak terpisahkan dari kehidupan setiap manusia di bumi fana oleh Sang Pencipta
    Kematian adalah kepastian, meski misteri caranya, kapan dan dimana

    Mati karena kecelakaan dan becana alam sering menjadi pengalaman tragis dan tidak gampang dihadapi

    Mati karena membunuh diri pun sering terjadi dengan berbagai alasan
    Dan meninggalkan banyak pertanyaan bagi yang hidup
    Mengapa dia bunuh diri dan akhiri hidupnya ?

    Mati karena perang, pembunuhan dan kejahatan sesama juga mengerikan

    Mati yang terjadi karena pandemi bertubi-tubi dan dimana-mana seluruh dunia saat ini
    Menjadi menakutkan, mencekam, mengerikan dan menghentak totalitas adanya setiap pribadi agar kembali ke jati diri dan hakekat hidup
    Bahkan Sang Pencipta

    “Aku ini siapa, darimana datangku, siapa penjamin adaku, bagaimana memperlakukan hidupku di tengah sesama dan alam ini, kemana nanti kukembali, kapan – bagaimana dan dimana aku mati, mengapa dan untuk apa saya terlahir”
    Adakah Kasih Allah
    Dimana Allah-ku

    Apakah aku juga masuk daftar mati dalam parade kematian pandemi covid19 ini ?
    Semua air mata, ketakutan, rindu damba
    Segala daya upaya tidak mampu menghentikan dan menghilangkan kematian

    Saatnya menyadari, memahami, bersahabat dan mencintai kematian
    Saudara kembar kehidupan
    Misteri realitas dan Sang Pencipta

    —————————————————————–

    DI SEBERANG SAMUDERA

    (Memaknai kematian, mengiringi semua yang telah berpulang mendahului )

    Biduk kita bertolak dari pelabuhan asal
    Berlayar melintas ombak lautan menerjang mengarungi gelombang samudera agar sampai tujuan jiwa di seberang sana

    Ada burung camar melintas menyapa
    Ada lumba-lumba mengiring bercanda
    Ada badai menerpa dan layar tersobek, tiang nyaris patah, biduk hampir tenggelam dalam siang malam berganti melewati hari-hari

    Ketika biduk ditelan batas pandang cakrawala
    Saat kehidupan sirna di ujung samudera,
    waktunya ajal datang menjemput jiwa,
    Maka segalanya tak mampu ditahan karena kehidupan ada awal dan ada akhir

    Ketiadaan mengawali dan kematian mengakhiri
    Yang tersisa adalah amal bhakti setiap kita yang tercatat di pasir pantai, dalam debur ombak, pada halaman samudera dan sejarah peradaban

    Ada keyakinan asali
    Ada harapan hakiki jiwa nurani sejati
    Di seberang samudera ada kota perjanjian
    Di batas cakrawala ada pelabuhan cinta
    Di akhir pelayaran ziarah makna dunia
    Setiap kita yakini ada awal kehidupan baru abadi lestari bersemi

    (Maumere, Flores, 21 Juli 2021)


     

    *Simply da Flores, Direktur YaHarmoni.

  • Sapardi : Geometri dan Memori

    Oleh Nirwan Ahmad Arsuka

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan kata yang tak sempat diucapkan
    kayu kepada api yang menjadikannya abu

    aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
    dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
    awan kepada hujan yang menjadikannya tiada

    (1989)

    Puisi Aku Ingin memang tak terelakkan akan mengangkat nama Sapardi Djoko Damono jadi abadi. Tapi yang membuat puisi itu, dan sederet karya terkenal Sapardi lainnya, jadi punya kekuatan untuk menancapkan diri di kenangan dan memfanakan gergaji waktu adalah “lima tak ingin.”

    Lima tak ingin itu adalah: tak ingin heroik, tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit, tak ingin eksperimental, dan tak ingin religius.

    Kekuatan sajak-sajak Sapardi langsung terlihat begitu kaidah “tak ingin” itu ditegakkan. Ketika terbit kumpulan puisi pertamanya, Duka-Mu Abadi, Goenawan Mohamad menyambutnya dengan sebuah ulasan panjang di Majalah Horison, No. 2 Th. IV Februari 1969, dengan judul Nyanyi Sunyi Kedua. Buat Goenawan, kumpulan Duka-Mu Abadi  adalah suatu perkembangan baru, pembebasan dan penemuan kembali, tanda pertumbuhan puisi Indonesia yang sedang melepaskan diri dari masa lalunya. Masa lalu yang ingin ditinggalkan adalah masa lalu yang dipenuhi oleh sajak-sajak heroik dan “berdjoeang.”

    Setelah setengah abad lebih sejak terbitnya Duka-Mu Abadi disusul dengan munculnya sejumlah kumpulan puisi lain, dapatlah dikatakan bahwa Sapardi menarik bukan hanya karena responnya terhadap masa silam, yang ikut membebaskan puisi Indonesia dari desakan pengaruh sajak-sajak heroik waktu lampau. Puisi-puisi terbaik Sapardi itu menarik bukan hanya karena mengembalikan lirisisme ke kancah perpuisian, tapi juga karena antisipasinya atas masa depan penciptaan. Bisa ditambahkan bahwa yang istimewa pada sajak-sajak Sapardi itu bukanlah karena sikap ingin leburnya dengan Tuhan, seperti yang diperlihatkan Amir Hamzah dalam Nyanyi Sunyi, tapi pada penjarakan intelektualnya terhadap Tuhan.

    Di esai bertajuk Permainan Makna yang terkumpul dalam buku Sihir Rendra: Permainan Makna (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999) Sapardi mengenang masa kecilnya, dan kebutuhannya untuk menciptakan permainan makna. Ia mengaku permainan makna yang disusun dari kata-kata itu membuat ia bisa menghadapi kenyataan yang tak masuk akal. Tapi ia juga menyebut ketakinginannya menjadi kanak-kanak yang hanya asyik dengan permainan tanpa makna, sekaligus ketakinginannya untuk menjadi nabi yang cuma menyampaikan pesan makna tapi tanpa permainan. Ia hanya ingin jadi penyair yang baik. Sapardi yang konon berpikir dalam Bahasa Jawa, tentu harus mengatur kata-katanya sebaik mungkin dalam Bahasa Indonesia. Dan bersamaan dengan itu, sadar atau tidak, ia menerjemahkan ketakinginan menjadi kanak-kanak atau nabi itu ke dalam bentuk-bentuk puisi yang perlahan-lahan memenuhi “lima tak ingin” itu.

    Kelak akan tampak bahwa puisi-puisi terkenal Sapardi menegakkan kaidah “lima tak ingin” itu karena mereka membantunya menciptakan ruang kosong untuk menghadapi kenyataan alam yang tak masuk akal, sekaligus mempermudah pembacanya ambil bagian untuk mengabadikan sajak-sajaknya. Selain esai Permainan Makna, sajak Catatan Masa Kecil, 3 dan Catatan Masa Kecil, 4 dapat memberi petunjuk tentang asal-usul lima tak ingin itu.

    Catatan Masa Kecil, 3

    Ia turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela
    lalu menatap bintang-bintang seraya bertanya-tanya apa gerangan
    yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta
    dan terus saja menunggu sebab serasa ada yang akan lewat
    memberitahukan hal itu padanya dan ia terus bertanya-tanya
    sampai akhirnya terdengar ayam jantan berkokok tiga kali dan
    ketika ia menoleh nampak ibunya sudah berdiri di belakangnya
    berkata “biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam
    suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya”

    (1971)

    Catatan Masa Kecil, 4

     Ia tak pernah sempat bertanya kenapa dua kali dua hasilnya
    sama dengan dua tambah dua sedangkan satu kali satu lebih
    kecil dari satu tambah satu dan tiga kali tiga lebih besar dari
    tiga tambah tiga. Sejak semula ia sayang pada angka nol. Dan
    setiap kali ia menghitung dua tambah tiga kali empat kurang
    dua ia selalu teringat waktu terjaga malam-malam ketika
    ibunya sakit keras dan ayahnya tidak ada di rumah dan di
    halaman terdengar langkah-langkah bakiak almarhum neneknya
    dan ia ingin kencing tetapi takut ke kamar kecil yang dekat
    sumur itu dan lalu kencing saja di kasur.
    Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    (Sajak tanpa titimangsa, dimuat dalam kumpulan Sihir Hujan yang terbit 1984)

    Pertanyaan yang diajukan di Catatan Masa Kecil, 3, dan bilangan nol yang dipercaya di  Catatan Masa Kecil, 4, adalah bekal Sapardi membangun kaidah “lima tak ingin” yang dibuat jadi batu penjuru sebuah arena permainan. Ke dalam arena itu, saya bayangkan Sapardi menarik masuk dan menghadapi kekuatan besar yang membuat Amir Hamzah bersaksi dan menyeru dalam sajak Padamu Jua yang terhimpun dalam Nyanyi Sunyi: Engkau cemburu/Engkau ganas/Mangsa aku dalam cakarmu.

    Bisa juga dikatakan bahwa lima tak ingin itu adalah dinding-dinding limas piramid yang dibangun untuk menjadi — meminjam larik Chairil Anwar dalam sajak Di Mesjidruang gelanggang  kami berperang.  Perang Sapardi memang tak sekeras Chairil yang  Binasa-membinasa, Satu menista lain gila. Sapardi tak punya potongan untuk perang yang meledak-ledak seperti itu.  Jika kita membaca sajak Catatan Masa Kecil, 3 bisa kita katakan bahwa sikap Sapardi kurang lebih adalah sikap berjarak, sikap seorang ilmuwan yang penuh perhitungan:

    Ia yang turun dari ranjang lalu bersijingkat dan membuka jendela lalu menatap bintang-bintang itu mungkin saja masih seorang kanak-kanak, tapi ia sudah memperlihatkan bakat kritis dan tak gampang terhanyut. Ia memang bertanya-tanya, tapi pertanyaan yang diajukannya adalah apa gerangan yang di luar semesta dan apa gerangan yang di luar luar semesta.  Pertanyaan ini adalah pertanyaan yang bertahap dan terukur, yang mengenali batas dan mencoba melampaui batas: karakter pertanyaan yang kerap diajukan para ilmuwan.

    Seperti seorang ilmuwan tulen, ke dalam piramid berdinding dan berlantai “lima tidak” itu Sapardi menarik masuk Sumber Tanya beserta dunia yang tak masuk akal itu dan menghadapinya dengan penuh perhitungan. Dan selaiknya penyair tulen, Sapardi menghadapinya dengan mengalirkan dua arus pemberian yang meski bergerak tenang namun mengandung kekuatan penampik waktu.

    Pemberian pertama, yang memang dikerjakan oleh semua penyair besar, adalah pemberian “hidup” pada benda-benda sepele: pada angin, pada burung, lampu jalan, kabel telepon, dll. Pemberian “hidup” ini bisa juga dilihat sebagai penciptaan tandingan — yang meskipun hanya rekaan, namun berwatak puitik dan intelektual —atas ciptaan nyata yang lebih besar yang berasal dari kekuatan yang ada di luar semesta, dan di luar luar semesta.

    Personifikasi Sapardi atas benda-benda itu tak cuma menghidupkan benda-benda itu, tapi juga memberi mereka laku yang subtil. Semesta kenyataan yang kita terima secara intuitif, jadi berubah radikal dalam sajak-sajak Sapardi. Diri pembaca yang semula jadi subyek, jadi pusat, yang menentukan dunia, bisa bergeser tiba-tiba jadi obyek yang tak berarti dan ditentukan oleh dunia. Sajak-sajak ini seperti mencopot mata pembaca dan meletakkan di sebuah tempat dengan perspektif yang merangsang kerja otak.

    Sajak-sajak Sapardi memang bisa jadi contoh yang bagus tentang kemampuan puisi untuk memberi manusia mata ketiga dan keempat. Sains dan teknologi juga memberi manusia mata tambahan. Dengan mikroskop yang kian canggih dan teleskop yang bahkan di tempatkan di langit, manusia bisa melihat kenyataan-kenyataan baru yang menakjubkan. Hal yang sama juga dilakukan Sapardi dan para penyair besar lain. Bedanya adalah puisi mengajak kita melihat dunia ajaib yang subyektif personal, sementara sains memberi kita mata untuk menjelajahi semesta fantastis yang obyektif universal. Perbedaan ini menegaskan bahwa semesta yang disingkap dan dibentuk oleh sains dan teknologi akan jadi lebih lengkap dan memukau, makin kaya dan berharga, buat mereka yang juga bisa mengapresiasi puisi.

    Selain mata, Sapardi juga memberi kita sepasang telinga atau sebuah stetoskop kebudayaan dan politik untuk menyimak detak dan percakapan yang lirih dari berbagai macam benda-benda, bukan hanya yang selama ini setia melayani manusia, entah itu Sepasang Sepatu Tua, Bola Lampu, Topeng misalnya.

    Sapardi memang mengerjakan dengan sangat bagus teknik yang sudah dilakukan oleh para penyair sejak dahulu kala: menjadi tukang sihir yang memberi hidup lewat kata dan dengan itu memperkaya dunia. Tapi ia tak cuma memberi hidup pada benda-benda mati, ia juga membuat kehidupan benda-benda itu bisa bertahan lama di benak pembacanya. Para penyair memang mengandalkan teknik mnemonik seperti rima, tapi Sapardi tak cuma menggunakan perangkat literer yang sudah ada. Ia menemukan perangkat literer baru, yang lebih canggih dari rima. Perangkat literer temuan Sapardi itu agaknya berasal dari khazanah matematika, karena jelas sejajar dengan sejumlah konsep matematis, khususnya barisan geometri dan simetri terbalik.

    Penggunaan perangkat matematis ini punya kaitan yang menarik dengan sajak Catatan Masa Kecil, 4. Di larik keempat bait pertama, tertulis: Sejak semula ia sayang pada angka nol. Sajak ini ditutup dengan penegasan di bait kedua yang hanya berisi satu baris kalimat: Sungguh, sejak semula ia hanya mempercayai angka nol.

    Angka nol yang disayang dan dipercaya itu memang tak hadir telanjang di sajak-sajak Sapardi, tapi ia muncul memukau dalam bentuk barisan geometri, yang tampak jelas pada sajak-sajaknya yang sederhana dan rapi.  Barisannya memang tidak horizontal dengan suku yang sejajar dalam larik, tapi vertikal dengan suku yang berurut turun dari bait ke bait. Dalam satu sajak, bisa terlihat beberapa barisan. Karena suku barisan literer Sapardi ini berubah pada tingkat dimensi dan kualitas, bukan sekedar penambahan atau pengurangan kuantitas, maka barisan itu lebih dekat ke barisan geometri dan bukan ke aritmetika. Barisan ini umumnya memang bergerak dari dimensi yang besar ke yang kecil dan menyarankan langkah menuju ke nol, atau dari yang fisik ke non fisik bergerak menuju ke kekosongan.

    Sajak Aku Ingin mengandung empat barisan yang masing-masing terdiri dari dua suku, sesuai dengan jumlah baitnya. Suku baris pertama adalah kata (bait pertama) dan suku berikutnya adalah isyarat (bait kedua). Kata adalah satuan yang masih mengandung bunyi dan intonasi yang menuntut gerak, setidaknya gerak otot bicara; sementara isyarat adalah satuan yang tak lagi mengandung bunyi dan intonasi, dan mungkin hanya tersisa gerak. Suku baris kedua adalah kayu (bait pertama) yakni benda fisik yang masih bisa disentuh, diikuti oleh awan (bait kedua) yakni massa yang terbentuk dari uap air yang mengambang di cakrawala dan tak lagi bisa dijamah. Suku-suku baris ke tiga, yakni api dan hujan, memang tak langsung terlihat aspek barisannya, tapi kita bisa melihat gerak menurun dalam hal temperatur. Barisan menurun itu tampil kuat pada baris keempat, yang sukunya adalah abu (bait pertama) yakni benda yang masih mungkin dijamah dan dicerap indra, yang kemudiaan diikuti tiada (bait kedua) yang sama sekali sudah tak lagi bisa dicerap.

    Kehadiran barisan itu muncul paling jelas dan paling indah dalam sajak Pada Suatu Hari Nanti, yang saya cantumkan di halaman akhir.  Pada tiga bait sajak itu, kita lihat subyek berubah dari fisik ke non-fisik, yakni dari jasadku di bait pertama, ke suaraku di bait kedua, dan akhirnya ke impianku di bait penutup. Jasad adalah massa yang masih bisa dijamah, dan jika diusap masih mungkin menimbulkan bunyi. Suara adalah fenomena sekuder yang tak lagi bisa dijamah, sedangkan impian sudah benar-benar tak tercerap secara indrawi. Sejajar dengan subyek yang berubah bentuk dari yang indrawi ke non-indrawi itu, obyek sajak juga berubah secara berurut, dari satuan yang besar ke satuan yang kecil, yakni dari bait di untai pertama, lalu larik di untai kedua, dan dengan huruf  di untai penutup. Buat saya, sajak Pada Suatu Hari Nanti  adalah sebutir berlian yang diasah dengan sangat bagus, dan di dalam struktur yang keras, rapi dan bening itu, tampaklah bagai tarian dua barisan Sapardi dengan indah bergerak pelan menuju kekosongan.

    Selain barisan yang bergerak konsisten menurun dari awal menuju kekosongan, ada juga barisan yang tampak bergerak datar, tapi akhirnya juga mengarah ke kekosongan. Barisan datar seperti ini tampak misalnya pada sajak yang tak kalah terkenal di bawah ini:

    Hujan Bulan Juni

    tak ada yang lebih tabah
    dari hujan bulan juni
    dirahasiakannya rintik rindunya
    kepada pohon berbunga itu

    tak ada yang lebih bijak
    dari hujan bulan juni
    dihapusnya jejak-jejak kakinya
    yang ragu-ragu di jalan itu

    tak ada yang lebih arif
    dari hujan bulan juni
    dibiarkannya yang tak terucapkan
    diserap akar pohon bunga itu

    (1989)

    Baris pertama yang menyusun Hujan Bulan Juni adalah baris yang sejajar karena suku-sukunya punya arti yang hampir sama. Baris ke dua juga boleh dikata sejajar, dan suku-sukunya adalah kata kerja pasif. Rintik rindu dan jejak kaki adalah citraan tentang hal-hal yang pernah menjadi bagian diri, yakni rintik yang sudah terlepas dari himpunan, dan jejak kaki yang juga sudah bukan bagian dari  diri. Adapun yang tak terucapkan adalah sesuatu yang bahkan tak sempat untuk menjadi sesuatu, tak sempat atau tak mungkin menggumpal jadi kata yang bisa terlepas dari sumbernya. Suku yang tak terucapkan ini memberi semacam anjlokan yang mempertegas kekosongan yang kehadirannya sudah disarankan dengan sangat kuat oleh dua suku baris ketiga sebelumnya, dan dua baris yang lainnya. Tiga barisan ini gampang mengingatkan kita pada gagasan wu wei dalam khazanah pemikiran Tiongkok, yakni “nir-tindak,” inaction, yang konon dianggap sebagai puncak kekuatan dan kebijaksanaan.

    Barisan dalam sajak-sajak Sapardi ini, yang dapat kita katakan sebagai perangkat literer temuan Sapardi yang istimewa, sungguh lebih canggih dari rima.  Satuan dasar pembentuk rima adalah bunyi pada suku kata, sementara satuan dasar pembentuk barisan Sapardi adalah arti pada kata. Yang pertama auditoris, yang kedua semantik. Meskipun sama-sama perangkat mnemonik untuk membantu memori, rima itu umumnya bekerja mengejar efek bunyi dan musikal, kadang juga efek emosional. Barisan Sapardi, yang juga bisa mengandung rima, bekerja lebih jauh lagi menjangkau efek kognitif yang merangsang penalaran, bahkan efek epistemik yang menggugah pengetahuan. Yang menarik adalah bahwa Sapardi tak pernah menulis tentang perangkat literer temuannya ini, meskipun ia menggunakannya dalam banyak puisinya.  Barisan sejajar yang saling mempertegas, terlihat juga misalnya pada:

    Dalam Doaku

    dalam doa subuhku ini kau menjelma langit yang semalaman tak
    memejamkan mata, yang meluas bening siap menerima                                           cahaya  pertama, yang melengkung hening karena akan
     menerima suara-suara

    ketika matahari mengambang di atas kepala, dalam doaku
    kau menjelma pucuk pucuk cemara yang hijau senantiasa,
     yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil
     kepada angin yang mendesau entah dari mana

    dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja yang
    mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis, yang hinggap di
    ranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu, yang
    tiba tiba gelisah dan terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

    maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang turun sangat
    perlahan dari nun di sana, bersijingkat di jalan kecil itu, 
    menyusup di celah-celah jendela dan pintu, dan
    menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi,
    dan bulu-bulu mataku

    dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku, yang
    dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah
    atasnya, yang setia mengusut rahasia demi rahasia, yang
    tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

    aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai                                mendoakan keselamatanmu

    (1989)

    Ada paduan dua barisan yang segera tampak pada sajak Dalam Doaku. Yang pertama adalah barisan setara yang merujuk pada waktu yang bergerak dari saat menjelang fajar hingga ke puncak malam. Yang kedua adalah barisan geometri yang bermula dari langit yang maha luas dan berada di luar si aku lirik, kemudian menurun ke pucuk cemara. Suku barisan selanjutnya memang tampak bergerak ke atas menjadi burung (bait ketiga) bahkan angin (bait keempat), namun pada akhirnya barisan itu menurun, mengerut dan memadat. Pada saat lingkaran waktu berdoa lima kali sehari itu melengkapkan diri, langit pun menggumpal menjadi denyut jantung.

    Barisan yang bergerak itu memang juga dimainkan oleh Sapardi. Ia tak selalu membiarkan barisannya berhenti di nol atau kekosongan, tapi memutar balik suku barisan terakhir dan mengembalikannya ke suku barisan pertama. Dengan cara seperti ini, barisan pun — meminjam larik-larik dari sajak Melipat Jarak — jadi melengkung seperti tanda tanya, buru memburu dengan jawabannya. Sajak-sajak semacam ini menciptakan sirkuit, seperti misalnya pada puisi:

    Bayangkan Seandainya

    Bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit yang sedikit
    berawan, yang menabur-naburkan angin di sela bulu-bulunya;

    bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu
    menukik ke atas kota kita dan mengibas-ibaskan asap pabrik dari
    bulu-bulunya;

    bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu
    yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya;

    bayangkan seandainya yang kaulihat di cermin pagi ini
    wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski
    telah kaukupas dengan ganas selembar demi selembar setiap hari.

    (2009)

    Sirkuit yang terbentuk di sajak ini bermula, tentu tak perlu dikatakan, pada “wajahmu” yang terpampang di cermin pagi ini. Tapi sajak ini membujuk kau di bait pertama untuk membayangkan bahwa wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi burung yang terbang di langit. Di bait kedua si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi awan yang menyaksikan burung itu. Di bait ketiga si kau kembali dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu bukan wajahmu tetapi pohon rambutan di halaman rumahmu yang menggoda burung itu untuk hinggap di lengannya. Setelah si kau dibawa terbang melayang-layang, bermain dan menari menyusur barisan geometri yang bergerak turun dari langit ke awan, dari atas kota ke halaman rumah, mendadak di bait terakhir si kau dibujuk untuk membayangkan wajah yang terlihat di cermin itu adalah wajahmu sendiri yang itu juga, yang tak kunjung habis meski telah kaukupas dengan ganas.

    Bait terakhir ini melengkungkan barisan dan membuatnya jadi sirkuit tertutup yang bisa berubah menjadi siklon kognitif yang dengan ganas mengangkat pikiran pembaca yang imajinatif terburai dan terlepas dari pengetahuan dirinya yang dikira mapan. Sajak ini mengubah kebenaran yang sudah sangat jelas dan karena itu tak pernah dipertanyakan, menjadi problem yang minta dipikirkan, menjadi gatal yang menuntut digaruk. Dan karena tak ada jawaban bagi problem yang dihamparkan itu, maka problem itu, tepatnya sajak itu, dapat menjadi godaan yang terus berputar dan bertahan di otak selama otak tersebut bisa bekerja normal.

    Jika barisan yang menuju nol atau kekosongan itu mengendapkan perasaan suwung, nyaman dan mantap, maka barisan yang menjadi sirkuit ini adalah strategi untuk menciptakan pain, nyeri, untuk memicu badai, brainstorming.

    Di Restoran

    Kita berdua saja, duduk. Aku memesan
    ilalang panjang dan bunga rumput —
    kau entah memesan apa. Aku memesan
    batu di tengah sungai terjal yang deras —

    kau entah memesan apa. Tapi kita berdua
    saja, duduk. Aku memesan rasa sakit
    yang tak putus dan nyaring lengkingnya,
    memesan rasa lapar yang asing itu.

    (1989)

    Sajak di atas menghadirkan cara lain Sapardi menorehkan nyeri. Ironi yang tajam sudah terasa di bait pertama dimana si Aku (dengan A kapital) dan si kau, ke restoran berdua, tapi seperti tak punya koneksi satu sama lain. Keduanya ada di dalam gelembung masing-masing meski mungkin duduk berdekatan, mungkin berhadapan. Si Aku mungkin ingin membangun suasana romantis dengan mula-mula memesan ilalang panjang dan bunga rumput. Tapi usahanya tak berbalas karena pasangannya entah memesan apa. Nyeri mulai menggores kuat ketika si Aku kembali memesan sesuatu yang jauh dari restoran itu yakni batu di tengah sungai terjal yang deras. Di untai kedua, si Aku yang mestinya jadi subyek penentu itu bahkan akhirnya hanya memesan sesuatu yang haram ada di restoran itu, sesuatu yang tak terpikirkan dan justru ingin dihilangkan ketika orang mengunjungi restoran, yakni rasa sakit yang tak putus dan nyaring lengkingnya, rasa lapar yang asing itu.

    Simetri terbalik antara judul dan isi sajak ini, dengan kontrasnya yang menusuk itu bisa meninggalkan efek kognitif yang tak putus di benak pembaca. Dan buat mereka  yang merindukan cinta dan kebersamaan, yang terikat dengan pasangan yang kehadirannya justeru membuatnya merasa kian terasing, efek itu bisa  nyaring lengkingnya.

    “Lima tak ingin” yang ditopang bentuk-bentuk matematis bersahaja, telah mengarahkan Sapardi membuat komposisi yang juga sederhana, lalu menggarap dua unsur yang mempengaruhi memori manusia dan sangat penting bagi keberlangsungan hidup organisme: pain dan pleasure. Sajak-sajak Sapardi itu kerap menghadirkan dua hal penting ini sekaligus, tapi dengan timbangan yang berbeda. Sajak Aku Ingin atau Hujan Bulan Juni adalah jenis yang lebih berat ke pleasure, sementara Metamorfosis, Topeng, Catatan Masa Kecil 2 atau Tiga Percakapan Telepon adalah sajak yang lebih berat ke pain.

    Selain dengan jenis memori yang berhubungan dengan persepsi indrawi, puisi-puisi terkenal Sapardi sungguh bisa juga dikaitkan dengan memori semantik, yakni bagian dari memori eksplisit atau deklaratif. Jika jenis memori pertama itu membuat sajak-sajak Sapardi jadi mudah tertancap di ingatan lewat pencerapan indrawi, maka memori jenis kedua itu bisa membantu sajak-sajak tersebut tercipta ulang dan berkembang di benak para pembacanya lewat bantuan khazanah kebudayaan dan pengetahuan.

    Puisi bagus yang gampang diingat adalah benda ajaib yang sangat berharga bukan hanya buat mereka yang ingin mencipta. Buat mereka yang terutama ingin mencipta, dengan penuh cinta, dan tak gentar pada keharusan cinta, puisi bagus yang sederhana dan mudah diingat itu mirip rumus matematis sederhana yang memang juga sebuah ekspresi estetis, dan mungkin diterapkan di seluruh jagad.  Tentang keharusan cinta, termasuk cinta kepada Pencipta, Sapardi menuliskan sajak berikut:

    Sajak-sajak Kecil Tentang Cinta

    /1/
    mencintai angin
    harus menjadi siut
    mencintai air
    harus menjadi ricik
    mencintai gunung
    harus menjadi terjal
    mencintai api
    harus menjadi jilat

    /2/
    mencintai cakrawala
    harus menebas jarak

    /3/
    mencintai-Mu
    harus menjelma aku

    (Sajak tak bertitimangsa dimuat dalam kumpulan Arloji  yang terbit 1998)

    Sajak ringkas ini menegaskan lagi jarak intelektual yang terentang ke arah Sang Mu — penjarakan yang membuat Sapardi Djoko Damono jadi berbeda dari Amir Hamzah dan Chairil Anwar, seperti yang sudah disinggung di depan. Bagi sajak ini, mencintai-Mu memang harus menjelma aku, di mana aku adalah semacam bayangan dari sekaligus koreksi atas Mu, meski dengan magnitude yang berbeda. Si aku memang tak mungkin menyamai Mu dalam hal kebesaran, tapi ia mungkin bisa menandingi dalam hal kemasukakalan, keadilan dan keabadian ciptaan. Kemasukakalan telah coba dibangun dengan sajak-sajak yang indah dan terukur. Kemasukakalan itu mencakup keadilan juga. Jika pun keadilan tak dapat diciptakan sepenuhnya dalam sajak-sajak Sapardi, setidaknya keadilan dan harapan terhadapnya telah dihadirkan dengan indah dan subtil.

    Seraya menjadi pencipta yang adil dan masuk akal, Sapardi juga ingin jadi pencipta dengan ciptaan yang abadi. Sapardi tentu tahu bahwa mustahil ia abadi di dunia, tapi ia tahu, dan berjuang, untuk membuat karya-karyanya abadi di tengah kehidupan pembacanya. “Lima tak ingin” yang dibantu dengan struktur matematis yang membantu kerja memori itu adalah senjata Sapardi untuk menjadi abadi.

    Foto Sapardi Djoko Damono oleh Arnold Simanjuntak

    Selain pemberian kehidupan pada benda-benda mati yang membangkitkan berbagai sensasi kognitif, ada satu pemberian lagi yang tak semua tukang sihir, penyair, atau bahkan Tuhan (dalam pemahaman sebagian umatnya) sanggup berikan. Yakni memberikan diri sendiri, menghapus jejak keagungan dan kebesaran diri, untuk membesarkan sesuatu yang bukan diri sendiri.  Sajak-sajaknya yang memanfaatkan deret yang bermula dari satuan besar menuju satuan kecil, dari subyek yang fisik menuju non-fisik, menyarankan gerakan menuju kekosongan, dari ada menjadi tiada, dari gunung menjulang yang merobohkan diri jadi lapangan hijau berumput yang maha luas. Di kekosongan itulah sajak-sajaknya membuka diri bagi pembacanya untuk menciptakan semesta makna baru.

    Puisi-puisi terbaik Sapardi, yang cerdik memanfaatkan khazanah matematis itu, tak hanya memberi kita momen puitik, tapi juga petunjuk menangkap dan menciptakan sendiri momen-momen puitik itu. Kaidah “lima tak ingin” itu kembali menjadi penting karena kaidah itu mempermudah pembaca untuk juga jadi penyair, jadi pencipta. “Tak ingin erudite, tak ingin kosmopolit dan tak ingin eksperimental” itu misalnya telah menghasilkan sajak-sajak dengan kata-kata yang sangat sederhana, bukan kata-kata sulit atau jargon akademis dengan bentuk yang tampak liar. Pembaca jadi nyaris tak punya kesulitan, tak perlu buka kamus, untuk memahami puisi-puisi Sapardi. Kaidah “lima tak ingin” itu bahkan mungkin membantu pembaca kreatif yang ingin coba menciptakan ulang atau membayang-bayangi puisi Sapardi.

    Seiring dengan itu, kaidah “tak ingin religius” yang mencegah sajak-sajak Sapardi menempelkan lambang dan ungkapan dari khazanah agama yang dianutnya itu, jelas membuka diri seluas-luasnya pada semua pembaca tak peduli apapun keyakinan dan ketakyakinannya. Yang menarik adalah bawa sajak-sajak yang tak ingin religius itu justru berhasil menunjukkan bahwa religiusitas itu sungguh bisa juga direngkuh bukan lewat jalan agama.

    Ringkasnya, jika sebelumnya kaidah “lima tak ingin” itu telah membantu Sapardi menjinakkan chaos dan merapikan dunia, maka kini, kaidah “lima tak ingin” itu sekaligus membantu Sapardi menurunkan palang pintu bahasa sehingga sebanyak mungkin pembaca bisa masuk ke kancah penciptaan yang ikut dihamparkan oleh puisi-puisinya. Tentang apakah “Barisan Sapardi” itu benar-benar temuan yang orisinal, atau hasil pencurian kreatif yang memang watak penulis besar, seperti kata TS Eliot, biarlah telaah lain yang akan uji. Yang jelas adalah bahwa dengan cara yang memukau, puisi-puisi Sapardi telah ikut menunjukkan kemampuan kata sebagai pembebasan. Kata, yang demikian biasa dan sederhana, yang dapat dihimpun oleh siapa pun dengan melimpah bahkan sejak masih kanak-kanak, memang modal kultural manusia yang paling berharga karena punya kekuatan luar biasa untuk diolah menyiasati dan menyusun ulang dunia.

    Pembaca yang terus mencipta adalah hal penting dan berharga buat Sapardi, sehingga bahkan seorang pensiunan yang tinggal menyongsong mati pun, seperti yang dikisahkan dalam Ada Berita Apa Hari Ini, Den Sastro, masih juga terus digoda untuk tidak memadamkan indra, untuk kembali mencipta: membayangkan dirimu pangeran yang lain dari yang dulu dibayangkan nenekmu tentangmu. Hanya dengan penciptaanlah memang, Kita abadi: memungut detik demi detik, ciptaan demi ciptaan, merangkainya seperti bunga sampai pada suatu hari kita lupa untuk apa, lupa ruang dan waktu, tenggelam dalam keasyikan yang intens. Yang fana memang adalah waktu. Ciptaan abadi.

    Jika pun Sapardi dan kuasanya tak dapat hilang sama sekali dari sajak-sajaknya, ia jelas menyingkir dari pusat dan memilih jadi kawan bahkan mungkin abdi yang mendampingi pembaca untuk maju ke tengah dan menduduki tahta penciptaan. Entah sebagai abdi, sebagai kawan, atau sebagai guru besar yang dicinta, sajak-sajak terbaik Sapardi takkan merelakan kita sendiri, akan tetap mensiasati dan tak letih-letihnya mencari, agar kita tetap mencipta dan memfanakan waktu.  Saya bayangkan Sapardi Djoko Damono akan tersenyum senang jika karya-karyanya membuat pembacanya, yang telah mendapat mata tambahan dari seni dan sains, tumbuh jadi pencipta yang bahkan lebih besar dari si penyair sendiri.

    Pada Suatu Hari Nanti

    pada suatu hari nanti
    jasadku tak akan ada lagi
    tapi dalam bait-bait sajak ini
    kau takkan kurelakan sendiri

    pada suatu hari nanti
    suaraku tak terdengar lagi
    tapi di antara larik-larik sajak ini
    kau akan tetap kusiasati

    pada suatu hari nanti
    impianku pun tak dikenal lagi
    namun di sela-sela huruf sajak ini
    kau takkan letih-letihnya kucari

    (1991)

     

    Jakarta, 17 Agustus 2020

    ———————————————————————

    *Daftar Pustaka

    * K.A. Stroud. Matematika Untuk Teknik, Jakarta: Erlangga, 1991. Alih bahasa: Erwin Sucipto
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Grasindo, 1994
    * Sapardi Djoko Damono. Hujan Bulan Juni: Pilihan Sajak, Jakarta: Editum, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Mata Jendela, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Kolam, Jakarta: Editum, 2010
    * Sapardi Djoko Damono. Ayat-Ayat Api, Jakarta: Pustaka Firdaus, 2000
    * Sapardi Djoko Damono. Sihir Rendra: Permainan Makna, Jakarta: Pustaka Firdaus, 1999

     

    *Sumber Tulisan Sastra Indonesia.com

     

    Top of Form

     

    Bottom of Form

    Top of Form

    Bottom of Form

     

    Top of Form

     

    Bottom of Form

     

  • TNI AL Lanal Maumere Terus Lakukan Serbuan Vaksinasi Masyarakat Maritim Hari Ke-10

    Maumere Berandanegeri.com – Serbuan Vaksinasi Masyarakat Maritim yang diselenggarakan oleh TNI AL Lanal Maumere terus dilaksanakan hingga Senin, 19 Juli 2021 telah memasuki hari ke – 10.  Vaksinasi Maritim dilaksanakan di BK Lanal Maumere.

    Komandan Pangkalan TNI AL Maumere, Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M.Tr.Hanla., M.M., CTMP., saat meninjau pelaksanaan Vaksinasi Masyarakat Maritim di BK TNI AL Lanal Maumere sempat berdialog kepada calon peserta Vaksin yang telah terdaftar.

    “Kepada Bapak-bapak dan Ibu-ibu semua yang akan melaksanakan vaksin tetap harus lebih ketat dalam melaksanakan protokol kesehatan di manapun berada, jangan hanya mengandalkan vaksin sebagai senjata utama dalam berperang melawan Covid tapi juga dibutuhkan kesadaran kita masing-masing,” jelas Danlanal Maumere.

    Dwi Yoga menjelaskan Pelaksanaan vaksinasi masyarakat maritim ini adalah amanah dan perintah dari Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., kepada jajaran TNI AL dimanapun berada guna membantu pemerintah dalam meminimalisir penularan wabah Covid-19, terutama di zona maritim seluruh Indonesia.

    Vaksin yang dilaksanakan jenis Sinovac bantuan dari Diskes TNI AL Lantamal VII Kupang dengan tim vaksinator terdiri dari BK TNI AL Lanal Maumere dan Puskesnas Wolomarang,

    Warga yang sudah tervaksin berjumlah 3926 dari total 4200 pendaftar, dan sisanya sebanyak 274 orang yang belum tervaksin akan segera mendapat giliran untuk divaksin tahap I dengan memperhatikan dukungan vaksin dari Diskes Lantamal VII Kupang.   (Athick)

  • Danlanal Maumere Salurkan Hewan Qurban  untuk Masyarakat Nangahure yang Telah Divaksin

    MAUMERE Berandanegeri.com – Disaat gencar – gencarnya melaksanakan Serbuan Vaksinasi Masyarakat Maritim, Komandan Pangkalan TNI AL Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P, M. Tr. Hanla., M.M., CTMP., tidak lupa kewajibannya sebagai umat beragama untuk berqurban.

    Danlanal Maumere salurkan hewan qurban berupa 1 ekor sapi melalui takmir masjid Al – Hikmah Bapak H. Muhammad Ali Sadikin di halaman masjid Al – Hikmah Nangahure, pada Senin (19/7/2021).

    Sumbangkan untuk masyarakat Nangahure yang sudah di Vaksin sekaligus menyambut perayaan Hari Raya Idhul 1442 H, yang jatuh pada hari Selasa tanggal 20 Juli 2021.

    Dalam Penyampaian Danlanal Maumere mengatakan “Kami mewakili dari Pimpinan TNI AL Bapak KSAL Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., mengucapkan banyak terimakasih kepada Masyarakat Nangahure yang telah ikut serta mensukseskan program Serbuan Vaksinasi Masyarakat Maritim yang diselenggarakan TNI AL, untuk itu kami dengan ikhlas menyerahkan bantuan berupa 1 ekor sapi sebagai hewan qurban untuk masyarakat Nangahure” jelas Danlanal.

    Danlanal Maumere menambahkan “Agar nanti saat akan penyembelihan selalu ikuti protokol kesehatan dalam pelaksanaannya, sehingga agar semua dan terhindar dari virus Corona yang sedang marak disaat pandemi.

    Turut hadir dalam penyerahan hewan qurban diantaranya Palaksa Lanal Maumere Mayor Laut (P) Samsul Bahri, S.Tr. Opsla, Pgs Dansatma Lanal Maumere Peltu Subagyo, perwakilan Anggota Lanal Maumere,Takmir Masjid Al-Hikmah Bapak H. Muhammad Ali Sadikin serta beberapa masyarakat Nangahure.   (Athick)

  • Tim SAR Gabungan Temukan 7 Pemuda yang Tersesat di Hutan Lindung “Golo Lusang” Manggarai

    MANGGARAI Berandanegeri.com – Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere pada Senin 19 Juli 2021  pukul 07.45 Wita dari Pak Andre salah satu staff BPBD Manggarai Barat bahwa tujuh orang pemuda di Kabupaten Manggarai  tersesat di Hutan Lindung Golo Lusang, Kabupaten Manggarai,NTT.

    Diperkirakan ketujuh pemuda tersebut hilang pada koordinat 08°39’5.82″ S – 120°27’1.82″ E sekitar 131 Km dari Pos SAR Manggarai Barat.

    Kronologi kejadian bermula saat ketujuh pemuda hendak merayakan hari ulang tahun di Hutan Lindung Golo Lusang, Manggarai (18/7) namun naas ketujuh pemuda tersebut tersesat.

    Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Maumere I Putu Sudayana, S.E.M.AP sebagai SMC (Sar Mission Coordinator) mengatakan  “Kami turunkan Tim Rescue Pos SAR Manggarai Barat berjumlah 4 Orang yang dilengkapi peralatan SAR Mountenering guna melaksanakan operasi SAR bersama Tim SAR Gabungan lainnya diantaranya Polres Manggarai 15 Orang, Polsek Langke Rembong 5 Orang, Kodim 1612 Manggarai 10 Orang, Koramil Ruteng 4 Orang, Brimob Ruteng 15 Orang, BPBD Ruteng 5 Orang, serta keluarga dan masyarakat setempat.

    Pada Pukul 11.30 Wita Ketujuh Pemuda berhasil ditemukan oleh Tim SAR Gabungan pada titik koordinat 08°39’23.72″S – 120° 26’30.66″ E sekitar 1,1 KM dari lokasi kejadian. Selanjutnya ketujuh pemuda langsung dibawa ke Pos jaga BKSDA Kabupaten Manggarai dan diserahkan kepada keluarga yang telah menunggu kedatangan mereka.”

    Adapun kondisi ketujuh pemuda dalam keadaan selamat hanya saja kondisi badan mereka cukup lemas saat ditemukan oleh Tim SAR Gabungan, jelas I Putu Sudayana.

    Lebih lanjut Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan mengatakan bahwa “Saya mengucapkan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh Tim SAR Gabungan yang telah melaksanakan operasi SAR terhadap ketujuh pemuda yang tersesat di Hutan Lindung Golo Lusang, Kab. Manggarai, berkat koordinasi dan sinergi yang hebat antara Tim SAR Gabungan dalam melaksanakan pencarian membuahkan hasil yang Kita inginkan bersama dimana ketujuh pemuda tersebut ditemukan dalam keadaan selamat dan Operasi SAR berjalan dengan lancar, semoga Tuhan yang Maha Kuasa memberi pahala yang besar kepada seluruh Tim SAR Gabungan atas tugas kemanusiaan yang telah dilaksanakan bersama-sama”, pungkas I Putu.  (Athick)

  • TNI AL Lanal Maumere Gencar Lakukan Serbuan  Vaksinasi Maritim Lanjutan Tuntaskan 4200 Pendaftar

    MAUMERE Berandanegeri.com – TNI AL Lanal Maumere lanjut tuntaskan serbuan  Vaksinasi Maritim pada 4200 pendaftar.

    Pelaksanan vaksin oleh Vaksinator Balai Kesehatan Lanal Maumere dan Puskesmas Wolomarang bertempat di BK Lanal Maumere, Kabupaten Sikka, NTT, Minggu(18/7/2021).

    Vaksin yang digunakan adalah vaksin sinovac dukungan dari Dinas Kesehatan Pangkalan TNI AL VII Kupang.

    Hal ini selaras dan sejalan dengan perintah langsung dari pimpinan TNI AL yaitu Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana TNI Yudo Margono, S.E., M.M., untuk membantu mempercepat dan memutus rantai penyebaran Covid-19.

    Dalam penyampaian Komandan Pangkalan TNI AL Maumere Kolonel Laut (P) Dwi Yoga P., M.Tr.Hanla., M.M., CTMP, “Serbuan Vaksinasi kali ini berhasil tervaksin sebangak 50 warga. Warga yang tervaksin adalah yang sudah terdaftar sebelumnya dengan cara bertahap sehingga kerumunan dapat dihindari.

    Dengan demikian total keseluruhan warga masyarakat maritim Kabupaten Sikka yang telah tervaksin sejumlah 3696 orang dari 4200 warga yg terdaftar, Sisa warga yang terdaftar yang belum tervaksin berjumlah 504 orang”, tuturnya

    “Diharapkan serbuan vaksin yang dilaksanakan oleh TNI AL Lanal Maumere ini dapat membatu pemerintah dalam memerangi Covid-19 di Indonesia khususnya Kabupaten Sikka dan bagi warga yang belum melaksanakan Vaksin diharapkan segera vaksin di Balai Kesehatan TNI AL Lanal Maumere, masyarakat tidak perlu khawatir karena vaksin aman, halal dan gratis”pungkas Danlanal.  (Athick).

  • Gelar  Penertiban Prokes, Prajurit TNI AL Lanal Maumere lakukan Patroli Gabungan bersama TNI-Polri

    Gelar  Penertiban Prokes, Prajurit TNI AL Lanal Maumere lakukan Patroli Gabungan bersama TNI-Polri

    Maumere – Sebagai penegakkan hukum Protokol Kesehatan (Prokes) yang melibatkan TNI/POLRI serta unsur pengamanan Kabupaten Sikka, TNI AL Lanal Maumere turut serta dalam menerjunkan Prajuritnya dalam rangka patroli gabungan penertiban Protolol Kesehatan dalam mencegah meluasnya wabah covid-19 di wilayah Kabupaten Sikka

    Kegiatan diawali apel kelengkapan di Mapolres Sikka pada Jumat (16/7) dipimpin oleh Kabag Ops Polres Sikka AKP Wihelmus Sinlae.

    Sasaran Patroli gabungan tersebut meliputi penyisiran ruas jalan kota Maumere, Pertokoan, membubarkan kerumunan warga,  serta menghimbau agar warga masyarakat Kabupaten Sikka selalu menggunakan masker serta selalu menerapkan prokes 5 M yang terdiri dari : Memakai masker, Mencuci tangan pakai sabun dan air mengalir, Menjaga jarak, Menjauhi kerumunan, serta Membatasi mobilisasi dan interaksi.

    Selain itu patroli gabungan tersebut didasarkan pada tindak lanjut peraturan Bupati Sikka Nomor 28 tahun 2020 tentang Penerapan disiplin dan Penegakan hukum Protokol Kesehatan sebagai pencegahan penyebaran virus Covid-19 di wilayah Kabupaten Sikka, mengingat masih tingginya angka warga Kabupaten  Sikka yang dinyatakan Positif Covid-19, baik transmisi lokal maupun karena perjalanan dari luar Kabupaten Sikka.

    Personil yang terlibat dalam rangka patroli gabungan penegakan hukum protokol kesehatan Kabupaten Sikka diantaranya Anggota Polres Sikka, Koramil 01 Alok Kodim 1603/Sikka, TNI AL Lanal Maumere, Yon Pelopor Brimob Maumere, unit Intel Kodim 1603 /Sikka. (Athick).