Blog

  • Ignas Kleden dan  Genealogi Intelektual Indonesia Merdeka

    Ignas Kleden dan  Genealogi Intelektual Indonesia Merdeka

    Khudori Husnan, Esais dan Pecinta Buku

     

    SEJARAH merupakan  medium  pembentuk identitas. Pada saat bersamaan,  sejarah mendasarkan diri pada kiprah  orang per orang  sebagai mahluk  yang   hidup dalam sejarah. Oleh karena itu, penulisan sejarah  intelektual   di Indonesia  dapat diartikan  sebagai penulisan gagasan-gagasan   intelektual tentang sejarah Indonesia itu sendiri.

    Hubungan  penulisan sejarah intelektual  dengan penulisan gagasan-gagasan intelektual tentang sejarah bersifat  timbal-balik  hingga  tak bisa dirangkum dalam  sebuah   rumusan,   sejarahlah  yang menentukan bulat lonjongnya gagasan intelektual, atau sebaliknya, gagasan-gagasan kaum intelektual  yang menentukan  bopeng  mulusnya  sejarah.

    Buku Fragmen Sejarah Intelektual, Beberapa Profil Indonesia Merdeka (selanjutnya disingkat Fragmen Sejarah Intelektual) karya cendekiawan Indonesia terkemuka Ignas Kleden, persis menyoroti keterkaitan  sejarah  dengan  subyek-subyek  yang terlibat dan melibatkan diri dalam sejarah.

    Bagi Ignas Kleden  “ada hubungan yang bersifat terbuka dan penuh kemungkinan di antara stimuli yang diberikan oleh waktu dan tempat seseorang hidup dan respons yang diberikan oleh tiap orang terhadap berbagai stimuli itu.” Selain itu,  masih menurut  Ignas Kleden, “respons seseorang terhadap setiap stimulus adalah respons yang mengandung kebebasan.”  (Halaman, 64).

    Pandangan ini  menyiratkan kesan, gerak sejarah tercipta melalui interaksi antara  konteks dengan  reaksi-reaksi yang tak terduga dan tak bisa  ditentukan dari seseorang, dalam hal ini mereka yang disebut sebagai intelektual, terhadap  konteks yang melingkupinya.

    Sejarah Politik Indonesia

    Fragmen Sejarah Intelektual   berupaya  mengulas sejarah politik Indonesia dengan  mengungkap kemungkinan tren-tren pemikiran  yang bertalian erat dengan berbagai  diskursus  dan  praktik kekuasaan, khususnya di kurun waktu setelah Indonesia merdeka hingga saat ini. “Dari sejarah  politik Indonesia,” tulis Ignas Kleden,  “kita dapat belajar, bahwa bahkan konsep kekuasaan didefinisikan juga menurut keadaan sosial-historis suatu masa.” (Halaman. 60).

    Filosof Prancis Michel Foucault  melalui  apa yang disebutnya sebagai “bio-politics of population,” mengenalkan  pengertian  baru tentang kekuasaan. Menurut Foucault  antara kekuasaan dan pengetahuan tak bisa dipisahkan  dan  tubuh manusia  paling bisa menyesuaikan  diri dengan sirkulasi kekuasaan.

    Kekuasaan tak  lagi  berada  luar individu,  yang menekan dan  memaksa. Individu  adalah  bagian dari  kekuasaan itu sendiri. Alih-alih bersifat menekan, kekuasaan justru bersifat produktif.  Hubungan antara tubuh individual dengan tubuh sosial atau populasi, memainkan peran  penting bagi terciptanya  politik modern, melalui   pendisiplinan ala bentuk-bentuk  baru kekuasaan termasuk   pendidikan.

    Pendidikan yang diberikan kaum penjajah pada tokoh-tokoh  seperti Bung Karno, Bung  Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tan Malaka menjadi sarana penguasaan yang sangat efektif. Tapi, pendidikan pulalah yang membuat tokoh-tokoh ini bertekad—dan kemudian berhasil— memerdekakan   bangsa Indonesia dari   penjajahan. “Hampir semua tokoh gerakan kebangsaan dan para pendiri Republik Indonesia,” tulis Ignas Kleden, “berjuang dengan satu keyakinan yang sama, yaitu bahwa politik nasional adalah pendidikan nasional.” (Halaman, 43).

    Meski sama-sama berpandangan  pendidikan dan kemerdekaan  adalah kunci, Ignas Kleden mencatat ada perbedaan pemaknaan  tentang kemerdekaan  dari sudut pandang   politik serta  dari sudut pandang kesenian dan    kebudayaan.  “Dalam politik,” demikian Ignas Kleden, “kemerdekaan lebih diproyeksikan sebagai tujuan perjuangan, sementara dalam kebudayaan dan kesenian, kebebasan dituntut sebagai prasyarat yang memungkinkan dan memfasilitasi usaha kreatif.” (Halaman.50).

    Kekuasaan  dan Kebebasan

    Buku ini  terdiri dari dua  bagian yaitu pertama,  mengetengahkan pemikiran-pemikiran  Bung Karno, Bung  Hatta, Sutan Sjahrir, Tan Malaka, Soedjatmoko, Frans Seda, Gus Dur, dan Sultan Hamengku Buwono, dan kedua  membahasa  karya   Sutan Takdir Alisjahbana, Ajip Rosidi, Asrul Sani, Mochtar Lubis, Rendra, Goenawan Mohamad, Putu Wijaya, Sutardji Calzoum Bachri, Sardono W. Kusumo, Jacob Oetama, dan Pramoedya Ananta Toer.

    Ignas Kleden menganggap tokoh-tokoh  di muka sebagai intelektual karena mereka adalah  orang-orang “yang   menghadapi keadaan masyarakatnya dengan pikiran, akal sehat, dan renungan kritisnya dan kemudian mengambil sikap, menyatakan sikap  itu, dan mengambil risiko untuk mempertahankannya.” (halaman 15)

    Meski tidak disebutkan secara eksplisit di dalamnya, buku Fragmen Sejarah Intelektual rupanya menggunakan pendekatan genealogis  yang mendasarkan pemaparannya  pada pertalian antara kekuasaan dengan  pengetahuan dan  bertitik-tolak dari pandangan bahwa fakta adalah hasil  konstruksi sosial dari realitas (Bdk., halaman 399-340). Genealogi berkehendak menunjukan bagaimana realitas dapat dipahami secara berbeda jika  konstruksi  politik dan situasi politik tertentu juga berbeda.

    Dengan  menggunakan kaca mata  filsafat, sejarah, sosiologi, seni dan budaya  Ignas Kleden menunjuk pada episod-episod dan contoh-contoh sembari  memusatkan perhatian pada permasalahan yang mengemuka dan  tampak normal dalam rentang sejarah  Indonesia,  kemudian   dikaitkan  dengan   relasi-relasi kekuasaan serta  pelbagai kemungkinan—sejauh masih memiliki kaitan tematik  antara masa lalu dan masa kini.

    Melalui   Frgammen Sejarah Intelektual,  Ignas Kleden  menemukan  tema kebebasan sebagai benang merah yang menyatukan  pergulatan para intelektual dari episod setelah Indonesia merdeka  hingga masa sekarang;  salah satu kekhasan analisa genealogis adalah berusaha mengintervensi/membaca ulang masa lalu untuk mendiagnosa masa kini.

    Kritik

    Di balik  penjelasan yang sangat ketat, teliti, dan terperinci dalam  buku Fragamen Sejarah Intelektual ini, saya cukup  heran dengan tidak dibahas dengan  gamblangnya  jenis relasi kuasa lain yang menyelinap dalam apa yang disebut  Benedict Anderson   sebagai “kapitalisme cetak” dan dampaknya  pada  imajinasi tentang nasionalisme  dalam diri para pelopor kemerdekaan  Republik Indonesia.

    Pramoedya Ananta Toer menarasikan persoalan di muka  lewat Minke dalam novel Bumi Manusia yang mengawali petualangannya, setelah dipicu  ketakjuban  pada kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang tersimbolisasikan  saat  Minke   terpesona pada  kecantikan paras  Ratu Wilhelmina  di selembar potret yang nota bene adalah  produk kemajuan teknologi di bidang reproduksi mekanis.

    Terlepas dari keheranan saya di atas,  buku Fragamen Sejarah Intelektual ini tak diragukan lagi merupakan buah karya yang bermutu sangat baik  dari seorang intelektual  dengan kadar sesarjanaan yang  cemerlang,  tentang sejarah formasi inteligensia Indonesia, termasuk pergulatan-pergulatannya dalam memperjuangan,  mengisi, dan mendefinisikan kemerdekaan Indonesia.

     

    Judul Buku   :           Fragmen Sejarah Intelektua – Beberapa Profil Indonesia Merdeka

    Penulis         :           Ignas Kleden

    Penerbit       :           Yayasan Pustaka Obor Indonesia

    Cetakan       :           Pertama, Desember 2020

    Tebal            :           xxi+460  halaman

    ISBN            :           978 – 602 – 433 – 687  – 5

    ***********

     

     

     

     

     

     

     

  • Yth. Bapak Presiden Republik Indonesia Joko Widodo

    Melihat kondisi Indonesia saat ini, sebagai anak bangsa, saya ingin mengungkapkan isi hati saya kepada bapak Presiden. Jika bapak Presiden benar-benar cinta NKRI dan cinta pada rakyat, maka bapak seharusnya maju kembali untuk menyelesaikan PR yang masih tertunda oleh karena  wabah covid-19 yang melanda dunia. Bapak sudah berjanji tidak tinggalkan kami, maka kami minta bapak untuk menepati janji bapak tersebut. Negara Indonesia masih membutuhkan sosok bapak selanjutnya dalam pembenahan dan penyembuhan sakit kronis. Jangan dulu ganti dokter (Presiden) karena bapak sudah terbukti dengan membaiknya bangsa Indonesia. Sebagian besar partai juga sudah mengakui kinerja bapak dan tim. Kita tahu bahwa setiap pemimpin memiliki kebijakan masing-masing. Tentu dengan digantinya presiden, maka kebijakan pun berubah karena disesuaikan dengan deal-deal politik. Orang boleh saja bilang kalau selain bapak, masih banyak pemimpin bagus dan baik. Pertanyaannya, bagus dan baik secara apa dulu? Mereka-mereka belum terjun langsung di lapangan dan sering terjadi bahwa penonton lebih pintar daripada pemain.

    Saya ingat di masa awal bapak maju sebagai capres, ada seorang yang dipakai sebagai pembicara dan penasehat bapak. Setelah dia dipercayakan untuk memimpin, ternyata apa yang sudah dijalankan selama ini, tidak sesuai harapan rakyat.  Aduh… pak Jokowi. Jangan dong tinggalkan kami saat-saat di mana mata dunia sedang menyorot negara kita tercinta ini sebagai suatu bangsa yang patut untuk diperhitungkan. Kalau bapak bilang orang yang mendorong bapak 3 periode adalah orang-orang yang mau menjerumuskan bapak, cari muka dan menampar bapak,…saya terus beranalisa dengan kata-kata itu, karena saya adalah salah satu orang yang memperjuangkan bapak tiga periode. apakah iya saya salah satu dari kategori orang yang bapak maksudkan  tersebut? Jujur saya tidak mendapat jawabannya karena saya tulus tanpa punya ambisi dan niat tertentu dengan memperjuangkan bapak 3 periode. Saya yakin bukan saya sendiri yang berpikir seperti itu, tetapi banyak pak….sangat banyak rakyat yang masih menginginkan bapak memimpin Indonesia. Cukup tambah 1x lagi. Kalau bapak berpikir untuk tidak lagi menjabat sebagai kepala negara, maka orang yang menggantikan bapak, dapat bersedia menjadikan bapak sebagai penasehat. Saya rasa itu nonsense pak, kenapa? Karena dalamnya laut dapat diduga, hati orang siapa yang tahu. Jangan sia-siakan apa yang sudah bapak perjuangkan dan sudah terbangun selama ini akhirnya jadi mubazir. Negara kita terlalu menggiurkan buat orang-orang yang belum jelas untuk gantikan bapak. Persiapan belum matang, jadi dengan majunya bapak 1 periode lagi, maka persiapan calon pengganti bapak pun sudah benar-benar siap dan kemungkinan salah pilih itu kecil.

    Di akhir kata, sebagai anak bangsa, saya memohon agar bapak mempertimbangkan kembali harapan sebagian rakyat Indonesia untuk menerima tiga periode.

     Salam Indonesia Maju, Indonesia Tangguh, Indonesia Tumbuh.

     Dari:   Sandra Hartono, Relawan Militan Jokowi

  • Kisah  Sebuah  Sumur

    Kisah Sebuah Sumur

     

    S i n d h u n a t a

     

    GEREJA itu terletak di Pakem, sebuah desa sejuk di lereng Gunung Merapi. Nama gereja itu Maria Asumpta, Maria diangkat ke Surga. Dalam gereja desa itu ada sebuah sumur kecil mungil, namanya Sumur Kitiran Mas. Tentang sumur yang indah itulah tulisan ini hendak bercerita.

    Dilihat dari letak dan bentuknya, Sumur Kitiran Mas memang istimewa. Sumur ini terpaut pada kaki altar, di mana berada patung Maria yang sangat sederhana. Mata Maria seakan memandang sumur yang ada di bawah kakinya tadi.

    Sumurnya sendiri sungguh sangat kecil. Garis tengahnya hanya satu tegel yang berukuran dua puluh kali dua puluh sentimeter. Dalamnya lebih tiga meter. Airnya sangat bening dan hening. Bibir sumur dibuat dari batu hitam. Sumur itu juga diberi kerekan dan timba kecil. Dari atas bibir sumur orang akan hanya melihat kegelapan. Untuk dapat melihat kedalaman air diperlukan alat penerang.

    Sumur Kitiran Mas adalah sumur kesayangan umat desa Pakem. Dulu umat setempat suka berdoa di tepi sumur itu. Sangat mengesankanlah pemandangan, bila mereka sedang berdoa di kaki Maria dan menyalakan lilin di tepi sumur. Sehabis berdoa, biasanya mereka meneguk air yang ditimba dari Sumur Kitiran Mas.

    Sejak Sumur Kitiran Mas ada, ada-ada saja cerita yang tersebar tentangnya. Katanya, sumur itu ajaib, penuh mukjizat. Katanya lagi, sumur itu digali atas dasar wisik atau pesan yang diperoleh dalam sebuah mimpi. Yang lain lagi bercerita, pada suatu malam di gereja Pakem Maria menampakkan diri dalam rupa seorang wanita yang sedang menimba air. Karena itu digalilah sumur tersebut.

    Cerita-cerita di atas sama sekali tidak benar. Sumur itu bukan sumur ajaib, bukan pula sumur penuh mukjizat. Tak ada wisik maupun mimpi yang menyertai timbulnya sumur itu. Tak pernah pula Maria menampakkan diri dalam bentuk apa pun sebelum sumur digali.

    Sumur Kitiran Mas sungguh sebuah sumur yang biasa, seperti sumur-sumur lainnya. Memang ada yang membuat sumur itu sangat istimewa, yakni perjalanan dan pengalaman rohani yang menyertainya. Sumur Kitiran Mas adalah kenangan yang mengingatkan akan perjalanan dan pengalaman rohani itu.

    Tulisan ini sama sekali tidak bermaksud hendak meluruskan cerita-cerita yang tidak benar di sekitar sumur tersebut. Maksud tulisan ini hanyalah sekedar bercerita tentang ziarah serta pengalaman rohani yang mengiringi timbulnya Sumur Kitiran Mas. Tulisan ini adalah syukur atas perjalanan ziarah dan pengalaman rohani itu.

     Di padang hidup yang tandus

    oh air

    kesegaranmu menyimpan janji

    gemericik harapan

     

    Rinduku padamu

    oh air

    rindu bunga-bunga layu

    padamu kuncup-kuncup hatiku.

     

    Air kau mengalir

    doa pun berpercik air, air

    segarkanlah bunga-bunga.

     

    Air kau hidup

    doa pun berkuncup amrta, amrta

    hidupkanlah bunga-bunga

    Air kau mulia

    doa pun tertawa ria tirta-tirta

    sucikanlah bunga-bunga.

     

    Air kau anugerah

    airlah rahmat-Mu

    bagi bunga-bunga

     

    Benamkanlah aku, oh air

    dalam diri-Mu

    tenggelamkan aku, oh air

    dalam rahmat-Mu

    hayutkanlah aku, oh air

    dalam kesucian-Mu.

     

    Ketika aku memujimu, oh air

    takkan aku lupa pada Bundaku Maria

    dialah yang memberiku sumur doa

    ketika hujan terhenti

    dan aku mesti menanti sedih

    seiring dengan kesedihan kupu-kupu kuning

    sunyi sayap-sayapnya

    terbang membentang dari timur ke utara.

     

    Di bawah kakimu, oh Maria

    Sumur Kitiran Mas berada

    airnya dalam dan tenang

    menyimpan pelbagai harapan

    aku hendak senantiasa menimbanya

    dengan penuh air mata

    sambil hatiku menyanyikan

    kata-kata indah:

    mengapa aku mencintaimu, Maria.

    Gereja Maria Assumpta, Pakem

     

     **************

     

    *Sumber: dari buku Mata Air Bulan, Sindhunata, Kanisius, 1995.

    *Buku Mata Air  Bulan adalah terjemahan penulis atas bukunya yang berjudul Ndherek Sang Dewi Ing Ereng-erenging Redi Merapi.

     

  • Pesan Sang Germo

    Pesan Sang Germo

     

    Yusuf Bilyarta Mangunwijaya atau Romo Mangun di Lereng Kali Code, Yogyakarta, 1986. Dok.TEMPO/Yuyuk Sugarman

    Y.B. Mangunwijaya

    SABAR sekali Pastor berambut putih itu mendengarkan kisah nyata lelaki yang terbaring remuk-redam di ranjang kematiannya dan seperti dikejar waktu mengeluarkan segala beban jiwa. Dua lelaki dua profesi. Yang berambut putih seperti tali rafia bertugas tekun mencoba sebisa mungkin menurut kekuatan kemanusiaannya menjaga dan membina keutuhan dan kesuciaan keluarga. Dan yang berambut hitam brilkrim, karyanya justru dalam bidang pembinatangan nafsu seks yang sebenarnya bertujuan indah, namun dibuat oleh konco-konconya menjadi karikatur, ya bahkan kekejian yang menguak menuntut dendam karma.

    Ia germo dan oleh kawan-kawannya dipanggil Keling Teji. Bukan hanya germo biasa, melainkan calo tingkat cukong perempuan untuk para VIP yang di mana-mana menggembar-gemborkan Pancasila dan Pembangunan, spiritual-materiil, target KB dan pemberantasan kenakalan remaja. Akan tetapi sebenarnya perusak bangsa tingkat paling rendah.

    Dua laki-laki, dua profesi yang saling berlawanan laku hidupnya, akan tetapi saat ini entah aneh sekali dalam inti hati, saling bersimpati. Bukan karena sekawan dalam cita-cita pengisian inti hidup, melainkan karena bertemu dalam satu nada rindu, karena berpihak pada suatu penghayatan bersama. Kedua mereka tahu banyak, ya banyak sekali tentang liku-liku serong rahasia dari banyak para VIP yang penuh kebusukan dan kemunafikan. Mata dan pendengaran keduanya sudah seperti sinar rontgen atau radar, yang tidak dapat lagi tertipu oleh suara hati dan sanggup menjebol segala dinding beton baja berlapiskan marmer Carrara serta berpintu teakwood. Apalagi jas-jas wool, kebaya tembus pandang atau kain batik yang ketat. Bagi mereka para VIP serong ibarat telanjang bulat, seperti setaip bayi tanpa pandang orang tua, hartawan atau orang penting, polos pusar bodong di muka bidan.

    Maka bagi kedua mereka, yang berambut hitam maupun yang putih di kamar rumah sakit ini, taka da parfum Rubinstein satu jenis pun atau angin kipas gading buatan Persia sehembus pun dari para nyonya maniak, yang mampu menghalau indikasi bau kamar mayat yang hanya dapat dicium oleh mereka yang sudah terlatih melihat kemaksiatan dari gerak main mata dan cara bicara mereka.

    Sang germo dan sang pastor di kamar itu keduanya felloos tanpa resiko keliru dapat menaksir siapa yang mampu bertahan. Dan mungkin karena kesatuan radar itulah, mereka serasa saudara. Ada semacam intuisi yang mendorong Keling Teji (yang menurut dokter sudah tak ketulungan lagi kankernya), sudah merembet dari paha menuju dekat jantung, untuk minta dikunjungi pastor Barata di ranjang sakitnya. Di ambang kematian, manusia merasa butuh reuni yang lebih sejati, dari sekian reuni sentimental yang pernah mereka datangi dan bercerita.

    Ya berceritalah si Keling Teji, entah sudah berapa jam tadi, tentang segala story dan tingkah kelakuannya yang corok dalam melayani ……(disebut nama dan jabatannya eksak) “orang-orang terhormat” dengan perempuan-perempuan segala umur, mulai dari gadis cilik sampai nenek yang sudah bercucu, perempuan sembarangan maupun puteri SMP-Mahasiswa yang tampak saleh di gereja, di waktu senggang maupun di waktu jam-kerja dinas baik dengan biaya dinas Kas Negara maupun perasan uang rakyat.

    (-) Maka itu aku, Nak semua orang sudah tahu, sudah tahu. Setiap orang dewasa yang cukup berakal sudah tahu semua. Tidak ada satu rahasia di negeri kita ini, Nak. Mengapa masih menuntut sesuatu yang tidak perlu? Siapa tahu, mungkin ada baiknya orang-orang itu mengira bahwa masih berpakaian, padahal ditertawai rakyat yang melihat ketelanjangan mereka. Begitulah barangkali, mereka sudah dihukum secara lebih hina daripada resmi diadili. Biarkan mereka berdansa dan berporno dalam ilusi yang tersembunyi di belakang dinding marmer, sedangkan nyatanya rakyat melihatnya bergumul seperti di tengah kota serba kaca di muka pasar.

    (Germo sejurus diam. Matanya basah sedangkan nafasnya terisak-isak). “Salahku…….Salahku! Rama tanpa aku menduga anakku yang masih SMP termakan oleh……(disebut Namanya eksak jabatannya, pangkatnya). Yang saya umpankan anak lain. Tahu-tahu anakku tunggal yang terjebak. Memang andilku sangat besar dalam segala kemaksiatan yang jauh lebih binatang daripada apa yang pernah ditulis dalam majalah-majalah porno kita. Tetapi sungguh saya tidak mengira bahwa anakku sendiri bahwa anakku sendiri semuda itu yang akan jadi korban”.

    (-) Anda hanya ingin membalas dendam, Nak, masih ad acara-cara lain yang lebih baik daripada menulis di koran.

    “Ah Romo, Selalu kalian berbuat begitu rupa, sehingga kami kaum awam seolah-olah dipaksa untuk percaya, bahwa agama itu candu. Bahwa kaum agama selalu saja melindungi pihak yang berkebetulan sedang berkuasa. Tulis Rama, tulis. Rama takut? Seribu pembesar akan marah tersinggung. Tetapi serratus juta rakyat yang akan berterima kasih kepada Rama”.

    (-) Terima kasih manusia akan berharga, tetapi menikam juga kelak, Nak. Tidak semudah itu dunia watak manusia. Tetapi berilah saya waktu, Nak, untuk berpikir dan………untuk berbuat salah juga di mata Anda. Yang paling penting dan berharga toh sudah terjadi. Anda mencoba menyeberang ke pihak yang benar. Itu yang paling pokok. Yang lain-lain dengan sendirinya menyusul. Paling sedikit ada rasa tidak bangga atas kelakuanmu di masa lampau”.

    “Mereka bangga Rama. Merusak gadis cilik mereka anggap suatu prestasi, pahlawan”.

    (-) Sudahlah Nak. Kita berdua tau banyak apa yang terjadi di belakang tabir. Ada saatnya, kita berdua harus ridha tidak mengetahui apa yang bakal terjadi. Hukum Karma hanyalah sebagian dari kebenaran, Nak. Air mata seorang ayah yang remuk redam adalah bagian lain yang lebih kuasa untuk menyelamatkan anak”.

    *******

     

    *Artikel Romo Mangun ini di simpan oleh Bismar Siregar (Mantan Hakim Agung) sejak 1970.

     

    *Sumber Buku Kata-Kata Terakhir Romo Mangun, Editor Th. Bambang Murtianto – Penerbit Kompas, 2014.

     

     

     

  • Pastor Hieronimus Rayakan 25 Tahun Imamat, Ini harapan umat Paroki Runut

     Maumere berandanegeri.com – Pastor Paroki Santi Sima Trinitas Runut Desa Runut Kecamatan Waigete,   Kabupaten Sikka, Pater Hieronimus Api Ledu, SVD  merayakan hari ulang tahun ke-25 (perak) tahbisan imamatnya, pada  Minggu (19/9/2021). Perayaan ulang tahun tahbisan imam tersebut berlangsung di Gereja Paroki Santi Sima Trinitas Runut.

    Misa diikuti oleh utusan  umat baik dari Paroki Runut, Paroki Bolawolon, Paroki Kewapante dan Paroki Watubala.

    Misa berlangsung dalam suasana penuh kegembiraan, dan suka cita ini dipimpin langsung oleh yubilaris  Pastor Hieronimus Api Ledu,SVD didampingi oleh beberapa pastor dari wilayah SVD Keuskupan Maumere.

    Pastor Paroki Runut, Pater Hieronimus dalam kotbahnya mengatakan motto imamat dalam pesta perak yang diambil dari (2 Tim 2:19) yang berbunyi “Tuhan Mengenal Kepunyaan-Nya.” yang mempunyai makna dimana Tuhan tahu siapa dia sehingga membuat dirinya pantas dan berharga bagi-Nya.

    Pastor Paroki Runut, P. Hieronimus Api Ledu, SVD

    “Alasan mengapa Tuhan memilih dan memanggil saya, rumusan jawabannya singkat saja yakni, “Tuhan Mengenal Kepunyaan-Nya.” Ini adalah motto imamat saya sebagai spirit yang membuatku teguh dan setia terhadap imamatku hingga 25 tahun ini, “ungkap Pater Hieronimus.

    Pastor  Rektor  Wilayah SVD Keuskupan Maumere, Pater Gregorius Nulle SVD, dalam sambutannya menyampaikan, profisiat kepada Pater Hieronimus. Kita patut bersyukur atas peristiwa terjadinya Pesta Perak Imamat ini.

    Menurutnya, perjalanan untuk menjadi seorang imam itu, memang penuh lika-liku namun dapat dilaluinya dengan baik karena pertolongan Tuhan dan berkat usaha yang telah dibuatnya selama ini.

    Ia mengungkapkan bahwa pesta perak imamat para imam ini merupakan perayaan rahmat kesetiaan Tuhan yang dijawab dengan kesetiaan imamat para imam ini.

    “Perayaan 25 tahun imamat sebuah momen suka cita, syukur dan juga sebagai bentuk apresiasi arti dan makna untuk sebuah rentang waktu perjalanan dalam menjalani panggilan sebagai imam umat , “ungkapnya.

    Beliau pun mengucapkan rasa syukur dan terima kasihnya kepada pastor Hieronimus  karena telah menjadi imam yang setia dan sedia diutus kemana pun.

    Ketua Penyelenggara Syukuran Perak Imamat Yang ke-25, Vinsensius Karwayu mengatakan sangat bersyukur dengan adanya Pater Hiro yang merayakan pesta imamat bersama umat di Paroki Runut. Ini Sejarah baru. Karena baru pertama kali terjadi di Paroki Runut sepanjang sejarah berdirinya Paroki Runut.

    “Iya kami bersyukur sekali karena pater Hieronimus mau merayakan pesta Imamat ke 25 bersama kami umat di Paroki Runut. Hal ini yang kami rasakan pertama kali di paroki kami sejak 20 tahun paroki Runut berdiri,” ungkapnya.

    Menurutnya dengan momen perayaan ini diharapkan anak-anak dan umat Paroki Runut bisa terpanggil hatinya untuk mengikuti jejak pater Hieronimus.

    “Kami harap dengan adanya acara ini bisa mendorong atau memotivasi anak-anak kami untuk punya niat masuk seminari dan bisa menjadikan panggilan hidup,”ujarnya.

    Ia menambahkan umat Paroki Runut sangat bersyukur dengan hadirnya Pater Hironimus karena  banyak membawa perubahan baik  dalam pembangunan gereja maupun pembangunan lainnya. Oleh karena itu kata Vinsensius umat masih mengharapkan pater Hieronimus tetap menjadi pastor Paroki Runut.

    Hadir dalam acara  tersebut, Rektor Ledalero Frans Ceufin, Pembina Frater Ritapiret, Romo Lorens Bate, Ketua TPAPT Tana Ai, Romo Frans Fao, Pastor Rektor Wilayah SVD, Gregorius Nulle SVD, Pastor Paroki Wair Pelit, Pater Goris Sabon,SVD, Pastor Rekan, Pater Alex Ola Pukan, Pater Hubertus Thomas, Pastor Paroki Bolawolon, Pater Ferdy Mikel, Pater Purnomo, Pater Hans Weritz, Camat Waigete serta undangan lainnya. (Athick)

  • Video  Ergo  Sum

    Video Ergo Sum

    Oleh  RD. Lucius Poya Hobamata, Imam Keuskupan Pangkalpinang

     

    HOMO sum, humani nil ame alienum puto.” Aku ini manusia. Aku menganggap tidak ada sedikit pun yang lain dari kemanusiaanku. Begitulah Terentius, seorang penulis naskah drama sebelum masehi, kuno asal Kartago, membanggai martabatnya sebagai manusia, ketika ia dibawa ke Roma untuk dijadikan sebagai budak. Kebanggaannya sebagai manusia, yang dengan itu merangsangnya untuk terus berkreasi dalam karya seni, sekaligus sebagai media kritik, membuat Terentius dilepaskan dari tirani perbudakan. Maklum perbudakan dalam era purba dianggap sebagai cara menunjukkan taring kekuasaan, karena manusia sekedar animale rationale. Semakin rendah berpikir, semakin disejajarkan dengan hewan. Sebaliknya semakin tinggi berpikir, semakin mendapatkan privilege.

    Oleh karena itu, kebanggaan Terentius atas identitasnya memberikan pesan yang mahadahsyat bahwa perjuangan untuk menempatkan martabat manusia pada tempatnya telah terjadi sejak zaman baheula. Perjuangan untuk menempatkan manusia pada tempatnya itu dipicu oleh pemahaman antropologis bahwa manusia itu bernilai dalam dirinya sendiri. Nilai manuisia bukan hadiah dari luar dirinya. Dengan kata lain, manisia bermartabat, bukan karena status social yang disandang, bukan karena kekayaan yang dimiliki, bukan karena gelar yang diperoleh. Manusia bermartabat karena dari sononya memang demikian. Begitu bermartabat, sehingga tak satu orang pun sanggup mendefinisikannya secara tuntas.

    Kaum bijak pandai, yakni mereka yang selalu mencari yang paling hakiki atas hidup, pun tak sanggup memberikan definsi secara tuntas tentang manusia. Aristoteles hanya bisa menyentuh manusia dari sisi rasionalitasnya, sehingga ia memberi gelar kepada manusia sebagai animale rationale (binatang berakal budi). Ratio inilah, kata Aristoteles, yang membuat manusia, kendati dalam banyak hal memiliki banyak persamaan dengan binatang, tetapi serentak pula melampuinya. Pemberian gelar atas manusia sebagai animale rationale ini, kemudian beranak pinak dalam penjabarannya. Rene Descrates begitu mengangungkan ratio, dengan istilahnya yang terkenal cogito ergo sum (aku berpikir maka aku ada); karena memang hanya manusia yang memiliki akal budi dan berpikir rasional; sesuatu yang tak pernah bisa dimiliki oleh mahkuk lain. Dan oleh karena itu manusia tidak bisa selevel dengan binatang. Namun kelak dalam perjalanan, Thomas Hobbes justru memberikan argumentasi lain, yang justru lebih menekankan dominasi naluri kebinatangan yang ada dalam diri manusia melampaui akal budi yang dimilikinya, sehingga tingkah laku dan cara berada manusia tak jauh berbeda dengan pola perilaku binatang pada umumnya. Itulah sebabnya Hobbes menggelari manusia sebagai homo homini lupus (manusia adalah serigala bagi sesamanya). Sebab baginya, kendati memiliki ratio, manusia dalam kondisi-kondisi tertentu cenderung mempertahankan diri, melihat sesama sebagai saingan yang memicu ereksi egoisme radikal demi mempertahankan diri, kuasa. Akibatnya berlakulah rantai makanan, yang kuat makan yang lemah.

     Cecilius hanya bisa menjangkau manusia dari sisi solidaritasnya. Ia mengatakan bahwa yang membedakan manusia dari makhluk lain adalah kemampuan saling mendukung, saling membantu, saling bekerja sama. Kemampuan seperti ini tak ada pada binatang. Kalau toh ada, hal itu lebih bersifat insting belaka. Dan oleh karena itu ia menggelari manusia sebagai Homo Deus (manusia sebagai Allah bagi sesamanya). Manusia sebagai pancaran kehadiran Allah dalam hidup itu kemudian dijabarkan lebih lanjut oleh Driyarkara, sehingga filsuf asal Indonesia ini memberi gelar kepada manusia sebagai homo homini socius (manusia adalah sahabat bagi sesamanya) karena memang manusia pada dasarnya tak bisa hidup sendirian. Ia individu serentak sosial.

    Berbagai refleksi atas manusia yang diajukan para bijak pandai, dengan aneka argumentasi pendukung itu, semakin menegaskan bahwa manusia itu misteri, sebagaimana Pencipta yang menciptakannya. Begitu misteri manusia itu, sehingga ia tak sanggup dijangkau hanya dalam satu titik tilik. Tidak heran pula dari dulu sampai sekarang siapakah manusia tak pernah final untuk dijawab; selalu menimbulkkan tanda tanya dan terus merangsang nalar untuk mendapatkan jawaban.

    Rumitnya memberikan definisi atas manusia, sehingga kaum bijak pandai hanya sanggup menyingkapkannya dari satu iota, kata Van Peursen, karena manusia itu makhluk multidimensional. Manusia itu kesatuan integral tubuh, jiwa dan roh sehingga ia mungkin bisa tersingkap di satu sudut, tetapi tetap misteri di sudut yang lain. Keunikan eksistensial ini membuat manusia, kendati dibatasi oleh tubuh dalam ruang dan waktu, namun ia sanggup hidup di dunia masa kini, sanggup kembali ke masa lampau, sanggup pula menjangkau masa depan. Keunikan seperti ini juga membuat manusia sanggup menembus batas, antara yang faktual dan eksistensial, kelihatan dan tak kelihatan, rasional dan iman; sekaligus memiliki nilai dalam dirinya untuk mengukur boleh dan tidak boleh, dalam membangun perilaku hidup.

    Bahkan dengan keunikan eksistensial ini, manusia tidak hanya bisa belajar dari sesamanya, melainkan juga sanggup belajar dari alam semesta, saat menyadari diri sebagai mikro kosmos. Tidak heran, manusia tidak sekedar menikmati matahari melainkan juga belajar padanya bagimana hidup adil yang tak pernah pilih kasih. Ia tidak sekedar menikmati terangnya rembulan, tetapi bisa  belajar padanya bagaimana selalu bersinar walau diliputi gelap malam. Ia tidak  sekedar mengenyangkan perutnya dengan nasi beras melainkan sanggup belajar pada padi yang merunduk justru di saat berbuah bernas. Ular bukan sekedar binatang yang dijauhi dan merpati bukan sekedar hewan yang dipelihara. Keduanya juga bisa menjadi guru untjuk belajar kelicikan saat menghadapi hidup dan ketulusan dalam menenun kehidupan. Potensi-potensi seperti ini pada akhirnya mengantar manusia untuk menjangkau Tuhan sebagai Sang Guru Sejati karena Dialah yang merupakan rujukan final dalam memaknai hidup.

    Keunikan, yang terletak pada misteri manusia yang multidimensional, seperti inilah yang mungkin membuat orang Inggris, dalam sudut antropologis, menggelari manusia, bukan sekedar homo, melainkan human being;ada yang human”, ada yang manusiawi. Manusia bukan sekedar Man (laki-laki) atau woman (perempuan) melainkan harus melakoni keberadaannya sebagai dan secara human. Keberadaanya tidak boleh stagnan hanya pada level animale rationale. Sebab ketika ia hanya berada pada satu dimensi, ia sejatinya melacurkan eksistensinya sendiri.

    Demikian halnya bagi orang Kedang. Kedang, salah satu suku di timur Lembata, NTT; sukunya penulis buku ini, menggelari manusia dengan ate di’en, yang berarti orang baik. Ia tidak disebut ate, melainkan rangkaian dua kata sekaligus ate di’en. Inilah pemberian gelar para leluhur Kedang bagi manusia, sebab ia berasal dari Yang Baik dan oleh karena itu nilai baik seorang manusia bukan sekedar unsur pelengkap melainkan dibawa sejak dari asalnya. Dan oleh karena itu tugasnya dalam hidup adalah membawa kebaikan bagi yang lain.

    Dua gelar, baik dari orang Inggris maupun orang Kedang, yang dikenakan ke atas makhluk yang disebut manusia itu menyingkapkan sebuah gambaran bahwa kodrat manusia itu baik; dan kebaikan itu sejatinya dimaksud agar manusia bukan sekedar orang, melainkan supaya terus menyempurnakan diri menjadi manusiawi; dari homo ke human; dari sekedar binatang berakal budi kepada orang yang baik.

    Rasanya inilah alasan mengapa Allah menciptakan manusia berbeda dengan ciptaan lain. Dalam kisah penciptaan yang terekam dalam Kitab Kejadian, dilukiskan dengan indah bahwa Allah menciptakan manusia bukan sekedar untuk diberi kuasa supaya menguasai ciptaan lain. Kitab Kejadian justru melukiskan bahwa sebelum menciptakan manusia, Allah justru merancang terlebih dahulu seperti apakah sosok yang akan diciptakan sebagai mahkota ciptaan itu. Dan Allah memutuskan untuk menciptakan manusia menurut gambar dan rupa-Nya sendiri.[1] Untuk menciptakan manusia menurut gambaran-Nya itu, Allah tidak berfirman sebagaimana lazimnya saat menciptakan ciptaan lain. Allah justru menggunakan debu tanah di satu sisi, dan meniupkan Roh kehidupan-Nya sendiri ke dalamnya, di sisi yang lain.[2] Ciptaan yang dibentuk sebagai gambaran Allah ini kemudian diberkati. Baru setelah itu, Gambaran Allah yang terberakti ini diberi kuasa untuk menaklukkan ciptaan lain sebagai penopang hidup. Dan berdasarkan rekaman Genesis, justru ciptaan terakhir ini dinilai Allah sebagai ciptaan yang sungguh amat baik.[3]

    Begitulah gambaran manusia dalam kacamata Kristiani. Ia tidak sekedar ada untuk memenuhi muka bumi. Ia dirancang untuk menjadi gambaran Allah (Imago Dei). Ia diberkati untuk menjadi berkat bagi yang lain. Ia memang rapuh tetapi serentak pula begitu kuat karena nafas kehidupannya langsung dari Allah. Dan oleh karena itu kehidupannya di dunia tidak sekedar dilakoni sebagai ciptaan sebagaimana yang lain, melainkan memiliki misi keselamatan, karena untuk itulah ia diciptakan sebagai gambaran Allah, diberkati dan diberi nafas hidup (roh) langsung oleh Allah.

    Roh inilah yang memungkinkan manusia melihat jauh melampui padangan sebuah bola mata, dan berjalan melampui batas horizon.  Roh ini adalah dimensi yang paling penting  karena menolong manusia untuk memanusiawikan diri, sesama dan ciptaan lain, sekaligus menolong manusia membangun relasi manusiawi dengannya. Roh ini yang menyanggupkan manusia membaca pesan-pesan dalam dunia, sekaligus mendeteksi makna tersembunyi yang terlukis di dalamnya.

    Dengan kata lain, roh memberi kekhasan pada manusia sebagai makhluk yang sanggup membaca pesan dunia; membuat manusia tidak menjadi buta aksara khusus dalam abjad kehidupan. Justru roh mengurapi manusia untuk dapat membaca dan dapat menginterpretesikan pesan dalam narasi-narasi yang diciptakannya. Oleh karena itu hidup bagi manusia tidak sekedar sebuah rentang koronologis, melainkan sebagai sebuat peristiwa membaca dan memberi interpretasi. Tidak heran hanya manusia yang sanggup melihat, membaca dan memberi interpretasi bahwa dalam kesementaraan, sanggup terlihat Yang Permanen; dalam temporal dapat diteropong yang abadi. Dalam dunia ia bisa melihat Allah. Kesanggupan seperti ini pada gilirannya menolong manusia untuk mentransfigurasi “yang sementara” menjadi sebuah tanda kehadiran “Yang Permanen”; yang temporal menjadi simbol dari suatu realitas Keabadian; dan dunia tak lagi sekedar tempat menunggu maut; tak lagi dilihat sekedar material belaka, melainkan menjadi suatu sakramen Allah yang agung dan luhur; di dalamnya manusia memaknai hidupnya.

    Dalam dunia yang telah dimaknai sebagai sakramen Allah ini, orang Kedang misalnya, tidak sekedar duduk minum tuak dari satu wadah yang sama, hanya karena haus, melainkan melampuinya. Minum dari satu wadah yang disebut te’ang, merupakan simbol dari persaudaraan intim, ikatan kekerabatan yang tak terputuskan, saling berbagi dari ketulusan hati.

    ***

    Esai-esai Alex ini, secara keseluruhan ingin menyingkapkan, mengangkat kembali serta mendesak untuk memperlakukan keluhuran martabat manusia, sebagaimana adanya manusia itu. Agar manusia diperlakukan sesuai martabat dirinya, ada tiga hal prinsip tentang manusia yang perlu mendapatkan insight dalam hati dan budi setiap insan, agar di tengah carut marut kehidupan zaman ini, martabat manusia tidak boleh dikorbankan.

    Pertama, keluhuran akan martabat manusia perlu mendapatkan pemahaman publik manusia zaman ini. Esai-esai ini bagai lembaran kitab profetis yang disebarkan untuk siapa saja, di ruang privat maupun ruang publik, di panggung sakral ataupun profan, bahwa martabat manusia harus dimuliakan saat menenun hidup bersama sebagai sesama. Hal ini penting dan mendesak karena kemanusiaan dewasa ini, sedang mengalami titik balik dalam sejarahnya. Perilaku paradoksal, yang mengangkat martabat sebagian orang serentak menjatuhkan martabat sebagian lainnya, sedang dipertontonkan di ruang-ruang publik. Pamer tekhnologi, yang dengan itu banyak bidang kehidupan manusia bisa teratasi, entah itu kesehatan, pendidikan, komunikasi, dll; ternyata tidak hanya mengangkat keunggulan manusia, karena di saat yang sama tampil pula tontonan yang memperlihatkan betapa banyak orang menapaki hidup yang berat, kekerasan merajalela, ketimpangan kaya-miskin yang sulit terjembatani; kesepihan merambah ke relung-relung hati banyak orang, sehingga orang tetap merasa tidak ada sesama di tengah kerumunan.

    Demikian pula keluhuran martabat yang ditakar hanya pada level kuasa telah menghidupkan kembali insting the survival of the fittest sehingga perilaku hidup manusiawi bukannya berkembang menuju homo homini socius, melainkan semakin merendahkan martabat manusia sendiri kepada identitas purba animale rationale. Bahkan kecenderungan mengkultuskan identitas manusia hanya sebagai homo economicus, seraya mengabaikan keluhuran dimensi lainnya, berdampak pula pada pemerkosaan manusia sebagai sampah: “bila berguna dipakai, bila tak berguna dibuang.”  Pemuliaan yang timpang, dengan daya jangkau hanya kepada segelintir orang, ternyata membawa manusia terperosok menuju penginjakkan martabatnya sendiri, sehingga melahirkan perilaku-perilaku menyimpang yang berdampak luas.

    Dengan demikian menjadi jelas, sebagaimana terbentang dalam esai-esai ini, bahwa timbulnya berbagai persoalan dalam berbagai bidang, seperti terorisme, perusakan lingkungan hidup, perdagangan manusia, praktik korupsi oleh para penyelenggara negara dan pemerintahan, bukan hanya merupakan sebuah problem dehumanisasi untuk para pelakunya, melainkan pula menimpa dan memperumit hidup manusia lain, khususnya mereka yang tak mempunyai kekuatan apa pun. Mungkin karena itulah, kata Bernard Shaw, kendati manusia telah belajar terbang di udara seperti burung, berenang di bawah air seperti ikan, namun manusia kekurangan satu hal yakni bagaimana belajar hidup di bumi sebagai manusia.

    Kedua, manusia berbeda dengan binatang. Manusia itu misteri yang multidimensional. Ia makhluk sacramental dan dunia baginya merupakan lingkup yang sakramental pula. Keberadaan yang khas ini menempatkan manusia sebagai makhluk yang mencari makna.  Segala kata, tindakan, pengalamannya memberi makna, memiliki pesan, mempunyai tujuan. Ia berjalan bukan sekedar karena ada kaki, sebagaimana hewan, tetapi karena ada tujuan. Ia melihat bukan karena sekedar ada mata melainkan karena ada makna. Ia bercerita bukan karena sekedar ada mulut melainkan karena ada pesan. Ia mengalami bukan sekedar karena ada persitiwa, melainkan pula karena obyek yang dihadapi dan dialami itu memberi makna dan sedang menyampaikan sebuah pesan.

    Eksistensi manusia sebagai makhluk pencari makna ini yang menghiasi seluruh esai ini. Itulah sebabnya mengapa korona, bagi Alex, tidak dinarasikan sebagai sebuah berita, melainkan dijadikan sebagai sampiran untuk mencari dan menemukan makna bagi kemanusiaan; dan apa pula pesan yang ingin disampaikan oleh peristiwa yang menggelisahkan batin banyak orang itu, dalam usaha merajut kemanusiaan kita. Sebab ketika korona sekedar sebuah peristiwa yang dialami, maka ia akan menyekat manusia dalam insting egoisme animale rationale. Orang akan menempatkan power, atau sekedar memposisikan diri sebagai homo economicus untuk memanfaatkan segala situasi demi mempertahankan diri dan kelompoknya. Sebaliknya ketika korona dilihat oleh seseorang dalam eksistensinya sebagai makhluk yang mencari makna, maka korona justru menjadi moment untuk bertumbuh kembang dalam kemanusiaan, melintas batas merajut relasi aku-engkau; sebuah relasi yang khas manusiawi.

    Bertumbuh menuju eksistensi sebagai makhluk yang mencari makna dalam setiap peristiwa, serta berkembang untuk menemukan makna dalam aneka pengalaman; itulah kebutuhan vital manusia zaman ini agar tetap kokoh menghargai marbatanya sebagai manusia, di tengah kecenderungan untuk kembali menghayatai hidup secara instingtif, ala binatang; menjalani hidup secara linear tanpa refleksi.

    Merebaknya kasus euthanasia baik aktif maupun pasif dalam aneka wajah, di berbagai peristiwa; hancurnya tatanan hidup keluarga; munculnya budaya begal; serta segala tindakan penghancuran martabat manusia lainnya; sejatinya dipicu oleh ketidakmampuan manusia untuk menghargai kemuliaan dirinya sebagai makhluk pencari makna, sehingga mudah pula jatuh pada keputuasaan, mudah hanyut dalam gelombang kepedihan, mudah keropos saat didera masalah. Semua itu terjadi karena manusia sekedar menjalani hidup secara linear, mengabaikan segala keluhuran dirinya sebagai makhluk refleksif yang multidimensional itu.

    Tidak heran pungutan liar sering terjadi justru di depan kantor-kantor yang memamerkan slogan “pungli dilarang” dan sogok menyogok menjadi sebuah habitus. Dekadensi moral seperti ini sejatinya dipicu oleh kelumpuhan manusia dalam menangkap pesan dan mencari makna. Dalam bingkai iman pun, bila manusia tak bertumbuh sebagai makhluk pencari makna, maka daya dampaknya dalam kehidupan meng-Gereja juga akan sangat mengkhawatirkan. Perayaan misteri bisa saja sekedar ritual sacral untuk membentuk dan melahirkan mumi-mumi (raga tanpa roh) sehingga gereja bisa sekedar menjadi museum untuk menyimpan mumi-mumi itu. Banyak keputusan pastoral entah itu bersifat sinodal atau kategorial pada akhirnya sekedar rumusan kata-kata, atau sekedar barisan slogan dan semboyan, karena tak sanggup berwujud dalam praksis beriman, kendati telah menghabiskan banyak biaya; kemungkinan besar diakibatkan oleh kemunduran eksistensial, dari makhluk pencari makna kepada manusia kristiani yang telah menjadi mumi (ketiadaan roh).

    Kecenderungan-kecenderungan seperti ini kini mewabah di segala bidang, di setiap ruang, dihidupi oleh kebanyakan orang, tak peduli kaya-miskin, berpendidikan-buta huruf, kota –desa, karena gagap menangkap pesan, dan gagal menemukan makna dalam kehidupan yang dijalani.

    Ketiga, manusia itu being yang human; ate di’en. Entitas antropoligis ini harus bertumbuh seimbang dalam usaha seseorang mengembangkan jati dirinya sebagai makhluk sakramental, Imago Dei. Ukurannya sederhana: semakin baik seseorang pastilah semakin manusiwi. Semakin manusiawi seseorang pastilah ia semakin menjadi gambaran Allah; semakin menjadi tanda dan sarana kehadiran dan keselamatan Allah. Manusia yang berkembang seperti ini akan memamah Sabda Allah dan mencicipi sakramen pertama-tama untuk santapan dan obat kesembuhan bagi dirinya sendiri. Refleksi dan kontemplasi akan dijalani dengan merdeka sebagai self detector demi pertumbuhan kemanusiaannya.

    Rasanya demi menjadi being yang human; ate di’en, itulah Allah berinkarnasi dalam misteri kelahiran-Nya. Walau tampak ekstrim, namun perlu dicatat bahwa misteri inkarnasi merupakan praksis dari keluhuran visi dan misi Allah, agar manusia tetaplah sebagai makhluk yang amat baik. Tanpa visi dan misi ini, inkarnasi akan dilihat sebagai sebuah kebodohan, sebab bagaimana mungkin Allah menjadi manusia, jika ternyata manusia an sich adalah entitas yang tidak baik?

    Bertumbuh seimbang dalam kemanusiaan sebagai being yang human, ate dien, imago Dei, menjadi sebuah conditio sine qua non, karena sejatinya semakin seorang menghayati jati dirinya sebagai gambaran Allah, ia haruslah semakin manusiawi. Namun dewasa ini pribadi integral itu seakan terbelah. Fenomena di mana ruang sacral bisa menjadi tempat iblis; sakralitas janji belum tentu menjadi sakralitas praksis; kotbah yang diwartakan belum tentu menjadi kotbah yang dihidupi; panggilan imamat dan panggilan profetis belum tentu dihayati secara integral; profesi politisi belum tentu berjuang demi bonum commune; keranjingan merayakan ibadah suci belum tentu terlibat dalam pergulatan kemanusiaan; memperlihatkan keterbelahan kondisi personal manusia itu.

    Daya kejut dari fenomena ini memang menggoncangkan. Gereja dinilai sebagai lembaga perusak, karena di balik jubah putih imam berkubang insting predator yang secara serius merusak dan menghancurkan kemanusiaan. Ia yang dikonsekrir sebagai penyelamat ternyata justru melakoni diri sebagai perusak. Tidak heran, suara-suara profetis Gereja terkadang ditanggapi secara sinis, karena antara kata dan tindakan terdapat jurang yang tak terjembatani. Hal yang sama juga tampak terlihat dalam diri kaum awam. Politik yang sejatinya sacral justru telah mengalami kemerosotan nilai, sehingga dipandang hina sekaligus dianggap pembawa bencana, karena sakralitas janji menguap selepas janji suci diikrar.

    Dan oleh karena itu, kesadaran diri sebagai being yang human dan ate di’en menjadi pesan profetis dari seluruh lembaran esai ini, sebab semakin manusiawi, semakin menjadi citra Allah, semakin menjadi citra Allah, semakin menjadi sakramen Allah. Inilah tujuan final Allah saat menciptakan manusia. Ssebab bila timpang pertumbuhan, ziarah Gereja sebagai sacramentum salutis akan semakin terseok di masa mendatang.

    ***

    Mengendapkan esai-esai, yang terkonstruksi secara argumentatif dan kaya referensi, ini memicu pertanyaan: mungkinkah sang filsuf muda ini hanya bernarasi tentang manusia dalam setiap peristiwa yang melecut kemanusiaan, untuk membuktikan eksistensinya sebagai cogito ergo sum, sekaligus bagaimana memulihkan keluhuran martabat manusia itu? Apakah benar narasi-narasi dalam esai-esai ini timbul dari “mendengar” menuju keutuhan diri?

    Dua pertanyaan ini muncul karena seluruh esai ini justru menyingkapkan keterbukaan dan ketajaman mata sang filsuf muda ini dalam melihat manusia dan peristiwa hidupnya. Esai-esai ini justru memperlihatkan mata jasmani yang terbuka melihat realitas, mata budi yang mengkonfirmasi dengan referensi pengetahuan, mata hati yang dengan tajam menangkap makna, dan mata jiwa yang sangat peka menangkap pesan. Meramu semua pengalaman melihat itu dan menyajikannya dalam narasi-narasi, membuat peristiwa-peristiwa, sekecil apapun itu, ternyata menyajikan pesan dan memberi makna, sehingga membuka mata yang lain untuk melihat, menerima pesan dan mengambil makna di dalamnya.

    Melalui esai-esai, filsuf muda ini seakan sedang berargumentasi bahwa mendengar tanpa melihat, narasi kehilangan taring. Berpikir tanpa melihat, narasi kehilangan titik terbang dan kehilangan pula lokasi landing. Sebab bagaimanapun, salah satu keunggulan manusia adalah ia tidak sekedar memiliki dua bola mata. Ia memiliki banyak mata dalam dirinya, sehingga menyanggupkannya untuk melihat yang tak terlihat, menjadikan setiap peristiwa sebagai bacaan, dan menempatkan setiap pengalaman untuk membaca pesan dan menangkap makna.

    Jangan-jangan esai-esai ini merupakan konstruksi argumentasi dari filsuf muda ini untuk melahirkan pemikiran baru tentang filsafat manusia bahwa video ergo sum (aku melihat maka aku ada), sekaligus untuk menggugurkan pendapat Rene Descartes yang terkenal itu, “cogito ergo sum.” Perkelahian intelektual seperti ini adalah habitusnya para filsuf. Namun Aleksander Aur telah memberi sebuah makna hidup yang sangat fundamental bagi siapa saja bahwa melihat (baik untuk diri maupun di luar diri) adalah khas manusia, dan sangat menolong dalam pertumbuhan menuju humanitas kita. Sebab hanya dengan melihat, seseorang tahu siapa dia, di mana dia, bagaimana dia, kemana ia harus melangkah dan apa yang harus dia buat. Deo Domine ut vediam (Tuhan semoga aku dapat melihat).

    Tanjung Uncang, pada Pesta Yesus Menampakkan Kemuliaan-Nya, Agustus 2021.

     ************************

     Catatan Kaki

     

    [1] Lih. Kej. 1: 26-27

    [2] Lih. Kej. 2: 7

    [3] Bdk. Kej. 1: 26-31

    Buku ini dapat dipesan dengan menghubungi no HP 081280642742 (Paskalis Bataona)
  • Hilangnya Semar

    S I N D H U N A T A

    TIGA tahun pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dinilai telah memberikan tingkat kepuasan yang lumayan tinggi bagi masyarakat. Namun, sukses itu ternyata tidak serentak menghilangkan kegelisahan masyarakat. Tentu kegelisahan itu tidak disebabkan pertama-tama karena pemerintahan Presiden Jokowi, tetapi justru karena peluang-peluang demokrasi yang disalahgunakan secara tidak bertanggung jawab oleh sementara kalangan.

    Itulah latar belakang bagi Bentara Budaya Yogyakarta dalam menjalankan program seni dan budayanya selama September-Oktober 2017, menyongsong tiga tahun pemerintahan Jokowi-Kalla. Programnya adalah pameran foto bertema Di mana Garuda dan pameran lukisan serta pentas kesenian berjudul Hilangnya Semar. Garuda, simbol kekayaan identitas bangsa, akhir-akhir ini seakan menghilang. Dalam pameran Di mana Garuda, para wartawan foto yang tergabung dalam Pewarta Foto Indonesia menampilkan karya yang menggambarkan bagaimana Garuda masih bisa ditemukan walau dalam ketersembunyiannya yang dalam.

    Hilangnya Semar memperlihatkan keprihatinan serupa. Khusus di Jawa, Semar adalah simbol kebudayaan, identitas, dan pamomong, yang selalu mendampingi manusia dalam suka dukanya. Dengan Hilangnya Semar dilukiskan bagaimana dewasa ini kebudayaan, identitas, dan pamomong itu menghilang. Hilangnya Garuda dan Semar mengajak kita merenungkan kembali kegelisahan yang akhir-akhir ini terjadi. Pertama-tama, kendati banyak kemajuan, dewasa ini kita mudah merasa tidak terikat satu sama lain. Tiadanya keterikatan itu membuat hidup jadi kurang nyaman, tidak terjamin, dan kurang bahagia. Sebagian warga, lebih-lebih kelompok minoritas, malah merasa hidup dan keberadaannya kurang diterima. Seakan mereka bukanlah saudara se-Tanah Air dan sebangsa.

    Sebagai tempat, Tanah Air itu ada dan menampung kita. Namun, karena di tempat itu kita tak lagi merasakan keintiman, keterikatan, kenyamanan, dan keamanan, kita seperti kehilangan Tanah Air. Tanah Air itu bagaikan ibu, tempat kita ingin selalu kembali dan rindu. Hilangnya Garuda dan Semar adalah simbolik ketika Tanah Air seperti tak lagi bisa menjadi ibu. Sekarang, kita mudah menjadi serba gelisah. Mungkin karena Semar sudah ditelan raksasa, seperti digambarkan dalam pameran seni di Bentara Budaya itu. Raksasa itu adalah globalisasi yang menelan bulat-bulat hidup kita, lebih-lebih kaum kita yang miskin dan terpinggirkan.

    Bagi kaum yang terakhir ini, globalisasi bukanlah keuntungan, melainkan kerugian. Dalam keadaan belum siap, mereka sudah dipaksa masuk ke dalam globalisasi yang telah menjadi sivilisasi modern. Padahal, seperti dikatakan sosiolog Zygmunt Bauman, sivilisasi modern bukanlah jaminan manusia tak menjadi barbar, malah sivilisasi bisa juga menyebabkan kebarbaran. Hal itu terjadi karena andalan sivilisasi globalisasi adalah teknologi. Sementara, kata Bauman, dalam teknologi tersembunyi risiko “adhiaphorisasi”. Maksudnya, karena teknologi, manusia dijadikan indifferent, acuh tak acuh, tak peduli dan cuek dalam perilaku moralnya.

    Teknologi membuat semuanya jadi netral. Akibatnya, keberadaan manusia pun bisa dianggap tak punya nilai istimewa. Karena itu, manusia bisa begitu saja ditiadakan. Globalisasi teknologi modern itu bisa menelan mentah-mentah Semar sebagai simbol wong cilik. Itulah kiranya barbarisasi teknologi zaman modern yang sedang melanda kita dewasa ini.

    Teknologi yang netral terhadap nilai hidup manusia dengan mudah memperalat manusia untuk menjadi barbar. Tindakan barbar itu boleh kita lihat dengan paling jelas dalam kekejaman dan kebrutalan aksi-aksi terorisme. Dalam fenomena itu tampak bagaimana teknologi modern menggandeng fanatisme primitif untuk menjadi kekuatan superdestruktif terhadap kemanusiaan. Kita gelisah karena barbarisme teroris ini juga sudah mendatangi hidup kita. Dan, menyedihkan, karena lagi-lagi yang jadi alat dan diperalat adalah kaum miskin, kurang pendidikan, dan terpinggirkan oleh arus globalisasi.

     Semar-semar palsu

    Cuek dan tak peduli terhadap kemanusiaan akibat kemajuan teknologi itu memang telah melanda Tanah Air kita. Ibaratnya kita telah menjadi manusia batu. Hati kita membatu tak punya perasaan. Di hadapan manusia batu ini, seorang Semar, personifikasi kearifan dan kebijaksanaan, juga tak bisa berbuat apa-apa. Ia memberi tahu dan menasihati, tetapi itu semua seperti angin berlalu buat manusia batu. Akhirnya Semar pun hilang, bukan karena ia memang mau menghilang, melainkan karena ia sudah tak lagi didengarkan dan dipedulikan. Kecuekan terhadap kemanusiaan itu menjadi paling terwujud dalam diri politikus kita. Mereka tak memandang rakyat dalam segala aspek manusianya yang utuh. Kemanusiaan rakyat disempitkan hanya pada emosi, naluri primordial, dan sentimen mayoritas serta agresi fanatisme keagamaan. Akal sehat, rasa kebersamaan, dan naluri toleransi dikesampingkan. Ini semua dijalankan oleh politikus semata-mata demi meraih kekuasaan, yang belum tentu membahagiakan rakyat.

    Sementara rakyat sendiri memang belum terlalu matang dalam menyadari dan mengolah kemanusiaannya secara utuh. Maka, dengan mudah, mereka tersulut oleh provokasi politik yang membakar emosi, naluri primordial, supremasi mayoritas, serta agresi fanatisme keagamaannya. Kemanusiaan rakyat sungguh dimiskinkan oleh kepentingan kekuasaan para politikus. Dan, rakyat sebagai endapan kebijaksanaan, guru hidup berketetanggaan, gotong royong dan toleransi jadi menghilang. Itulah tragika yang ingin digambarkan dengan hilangnya Garuda dan Semar.

    Politikus-politikus mengerjakan semuanya itu demi dan atas dasar kebebasan, yang diberikan oleh demokrasi. Namun, mereka menyalahpahami kebebasan. Kebebasan digunakan sebagai alat kekuasaan, bukan sebagai penyangga demokrasi. Demi alasan kebebasan, rakyat terus diprovokasi untuk menggunakan kebebasannya, dengan melebih-lebihkan bahwa rakyat berhak atas semuanya. Wacana kebebasan dipersempit menjadi “mana hakku” dan “bagaimana aku memperoleh hakku”.

    Itulah yang oleh filsuf Axel Honneth disebut sebagai “patologi kebebasan”. Kebebasan demikian adalah patologis karena berakibat menyempitkan manusia hanya sebagai “orang yang berhak” dan melupakannya sebagai “manusia yang berkewajiban”. Memang apabila manusia hanya disempitkan pada haknya, ia akan menjadi patologis buat lingkungannya, tak peduli terhadap kesosialan, keterikatan, dan kewargaannya. Situasi ini menjadi makin patologis jika wacana kebebasan dibumbui dengan bahasa sentimen primordial yang bernada mengecualikan: “mana hakku sebagai pribumi” dan “bagaimana aku harus meraih hakku sebagai pribumi”.

    Politikus penyalah guna kebebasan itu kini berkeliaran dalam jagat demokrasi kita. Mereka menarik karena pandai membungkus dirinya dengan pencitraan yang mudah diterima rakyat. Mereka memikat karena pandai menggunakan bahasa yang akrab dengan rakyat. Mereka itulah “semar-semar palsu” yang digambarkan oleh pameran seni Hilangnya Semar. Semar memang figur rakyat. Karena itu, dengan menjadi seperti Semar, mereka juga mudah diterima rakyat.

    Semar-semar palsu itu pandai berkata bijak dan damai. Namun, kebijakan dan kedamaian itu hanyalah bungkus untuk menyembunyikan tindakannya yang suka menyulut pertentangan dan permusuhan. Mereka arif berkhotbah tentang kesederhanaan, tetapi dalam tindakannya mereka penumpuk harta dan koruptor. Mereka itulah “Semar Mroyek”, Semar yang bergelimangan uang karena proyek-proyeknya. Semar itu sesungguhnya dewa rupawan bernama Ismaya. Ketika iamroyek, Ismaya pun meninggalkan dirinya. Semar hanya menjadi badan wadak belaka. Celakanya, kewadakan ini justru diterima dengan mudah karena dewasa ini banyak warga masyarakat sudah didangkalkan, diwadakkan dalam formalisme, ritualisme, dan materialisme semata-mata.

    Semar-semar palsu itu adalah politikus-politikus bunglon. Dengan mudah mereka berganti wajah. Wajah atau kepala mereka bisa berganti-ganti, tetapi badannya tetaplah Semar. Dengan berbadan Semar, mereka tetap bisa diterima orang kebanyakan. Namun, sebenarnya mereka menipu karena kepala mereka bukanlah kepala Semar. Itulah lambang pribadi yang terbelah. Badannya proletar, tetapi kepalanya borjuis. Badannya “kiri”, tetapi kepalanya “kanan”. Badannya “timur”, tetapi kepalanya “barat”. Sesekali kepalanya “partai ini”, lain kali “partai itu”. Kepala kutu loncat ini tak merasa bersalah karena mereka yakin badannya tetaplah Semar yang merakyat. Mereka lupa rakyat lama-lama akan tahu bahwa mereka bukanlah pribadi politik yang berintegritas.

    Banyak Semar palsu sekarang menjadi aktor politik demokrasi kita. Mereka merasa menegakkan demokrasi, tetapi sesungguhnya mereka ancaman yang bisa meruntuhkan demokrasi. Di banyak belahan dunia, akhir-akhir ini fakta politis memperlihatkan, demokrasi sungguh terancam jika pemerintahan dan jabatan kenegaraan jatuh di tangan politikus tak berintegritas yang mroyek dan korup. Parlemen juga diperlemah apabila anggotanya terpisah dari keprihatinan dan keinginan rakyat. Seperti yang terjadi pada kita, DPR merembuk dan memutuskan sesuatu, sementara rakyat di tempatnya sendiri dan dengan caranya sendiri sudah memutuskan dan menjalankan sesuatu yang berlawanan dengan rembukan dan putusan DPR. Itu dengan mudah terbaca dalam lalu lintas media sosial yang begitu kritis dan sinis terhadap kebijakan, langkah, dan kata-kata pejabat atau anggota DPR..

    Keadaan demikian adalah tanda bahaya bagi demokrasi, tepatnya demokrasi representatif yang kita miliki. Soalnya, lama-lama rakyat tak percaya lagi kepada representasi wakil-wakilnya. Mereka merasa keprihatinannya tak disalurkan dengan baik oleh wakil-wakilnya. Kalau demikian, apa gunanya representasi mereka? Pertanyaan ini adalah cikal bakal bagi munculnya gerakan populisme. Populisme itu mudah marak di negara-negara demokrasi yang kuat, apalagi di negara yang baru belajar demokrasi seperti kita. Padahal, kita tahu, populisme itu bahaya bagi demokrasi karena, bagi mereka, perantara atau representasi sudah tidak relevan lagi. Mereka cenderung memangkas perwakilan itu. Jelas, ini bisa berakibat pada anarki, apalagi jika dalam situasi demikian muncul demagog-demagog populis yang pandai membakar nyala populisme itu.

    Dari hal di atas benarlah adagium yang berkata, “demokrasi bisa mengubur dirinya sendiri”. Sebab, lawan dari demokrasi tak datang dari “luar”, tetapi dari “dalam” dirinya sendiri. Dan, lawan-lawan itu adalah aktor-aktor patologis demokrasi: politikus-politikus yang tak bertanggung jawab, korup, dan tak berintegritas. Dalam hal ini perlu kita ingat sejenak ejekan J Goebbels, demagog fasistis rezim Nazi. Kata Goebbels, “Inilah lelucon demokrasi: bagi musuh bebuyutannya, demokrasi menyediakan sendiri senjata yang digunakan untuk membunuh dirinya sendiri.”

    Sengkuni tobat

    Menghadapi tahun politik menjelang Pemilu dan Pilpres 2019, Presiden Jokowi kelihatannya meraba segala kegelisahan, kekhawatiran, dan bahaya di atas. Karenanya, Presiden meminta kita waspada dan tak membuat kegaduhan: “Masyarakat butuh ketenangan. Masyarakat perlu kesejukan. Masyarakat memerlukan pemimpin yang memberi semangat, syukur kalau bisa memberi inspirasi. Masyarakat perlu itu. Bukan malah membuat masyarakat khawatir” (Kompas, 20/10/17).

    Sesungguhnya, seperti ditemukan para wartawan foto dan diungkapkan para seniman dalam pameran “Hilangnya Garuda dan Semar” itu, kegaduhan itu tak ada di tingkat bawah. Para wartawan menunjukkan, Garuda tetap hidup dalam kehidupan sehari-hari masyarakat. Garuda itu mewujud dalam kegembiraan anak-anak yang bermain dan optimistis akan masa depannya, dalam kegembiraan menyambut perayaan 17 Agustus, juga dalam perbuatan cinta kasih dan tolong-menolong yang amat biasa dan sederhana. Sementara beberapa seniman menggambarkan, Semar juga tidak hilang, kita bisa menemukannya asal kita mencari dia di tengah kehidupan yang sederhana. Ia tersenyum di pasar ikan, ia bekerja sebagai penyapu jalan, yang menyapu bukan dengan sapu lidi, melainkan sapu persatuan.

    Rakyat biasa juga bisa mengambil hikmah justru dengan hilangnya Semar. Dalam pertunjukan wayang kulit untuk menutup pameran di Bentara Budaya, digelar lakon Ilange Semar. Diceritakan, hilangnya Semar membuat terang dan jelas mana yang baik dan mana yang jahat. Manusia tak bisa mengelak untuk diterangi cahaya terang itu. Bahkan, Patih Sengkuni, tokoh culas dan provokator kerusuhan yang ulung, tak bisa tidak harus mengakui kesalahannya. Ia tak bisa lagi menutupi kejahatannya. Ia tersiksa oleh kejahatan itu. Maka, ia ingin bertobat. Alasan pertobatannya bukan lagi moral, politik atau kekuasaan, melainkan kehidupan. Ia merasa sudah tua, tak boleh lagi ia meneruskan kejahatannya. Kalau tidak, bagaimana ia mempertanggungjawabkan semua perbuatannya ketika mati nanti.

    Sengkuni akhirnya bertobat. Mana ada Sengkuni bertobat? Ini sungguh melawan pakem wayang. Namun, malam itu lakon wayang Ilange Semar memang sengaja hendak dijadikan sindiran agar politikus kita juga mau bertobat, seperti Sengkuni. Memang, seluruh perbuatan politik pun tak bisa hanya dipertanggungjawabkan secara politik dan demi kekuasaan. Politik harus dipertanggungjawabkan juga terhadap kehidupan, yang mau tak mau harus berhadapan dan berakhir dengan kematian dan akhirat. Untuk itu, siapa pun perlu bertobat.

    *********

    *SINDHUNATA, Pemimpin Majalah Basis, Yogyakarta, Kurator Bentara Budaya

    *Sumber Kompas 6 November 2017

     

  • Agama dan Negara

    Agama dan Negara

    IGNAS  KLEDEN

    PERGOLAKAN politik yang sempat memanas menjelang pemilihan gubernur Jakarta April 2017, khususnya antara mereka yang dianggap sektarian dalam sikap politiknya dan mereka yang dinamakan kelompok nasionalis, dari segi politik makro, dapat dipandang sebagai salah satu versi dari kecanggungan yang masih kita alami di Indonesia menghadapi soal hubungan agama dan negara.

    Pergolakan-pergolakan itu lebih mirip gelombang permukaan atau epiphenomenon dari suatu gejala yang lebih mendasar, yaitu kebingungan para warga negara menghadapi hierokrasi dan demokrasi, kehendak Tuhan dan kehendak rakyat, vox Dei dan vox populi,yaitu agama dan negara. Fenomen kebingungan ini patut diusahakan terus-menerus untuk dibereskan agar percikan gejala-gejala permukaan sebagaimana yang sering kita alami dapat dihindari sebagai hal-hal yang tidak perlu dan bahkan merugikan, baik untuk kehidupan agama maupun untuk perkembangan politik.

    Seorang tokoh agama, Salahuddin Wahid, pengasuh Pesantren Tebuireng, dalam tulisannya di harian Kompas (16/5/2017), menunjukkan tujuh fakta historis dalam sejarah politik kita semenjak Indonesia merdeka, berupa tujuh usaha yang berhasil merumuskan dan melegalkan beberapa bentuk hubungan antara keindonesiaan dan keislaman dalam kesepakatan atau modus vivendi yang dapat diterima masing-masing pihak.

    Ketujuh fakta historis yang diuraikan oleh penulis tersebut sangat patut mendapat perhatian untuk memahami ketegangan yang berpotensi muncul dalam penghayatan tentang pentingnya agama dan tak-terhindarkannya negara dalam kehidupan bersama pada masa sekarang, dan bagaimana ketegangan itu dapat dicarikan jalan keluarnya yang sedapat mungkin memberi keadilan (do justice) kepada pihak-pihak yang terlibat dalam perbedaan paham dan pendirian.

    Sekalipun demikian, keindonesiaan dan keislaman hanyalah salah satu contoh soal dari masalah besar menyangkut perlunya dan batas-batas peranan agama dan negara dalam suatu masyarakat yang menganut demokrasi sebagai sistem politiknya. Karena agama-agama lain juga, meski dalam skala dan intensitas berbeda, tetap menghadapi pertanyaan sama mengenaibagaimana bersikap terhadap negara dan agama dalam politik yang demokratis.

    Kita tahu agama mana pun selalu memuat ajaran luhur tentang moralitas, danhubungan manusia dengan apa yang diyakininya sebagai Tuhan semesta alam. Agama membuat seseorang berpandangan dan bertindak menurut suatu orientasi transendental dan memberi makna transendental kepada tindakan-tindakannya.Di pihak lain, kekuasaan politik negara merupakan suatu yang harus ada untuk menjaga ketertiban masyarakat yang hidup dalam negara itu, khususnya agar ada kemampuan pada negara memaksakan ketaatan kepada hukum dan UU yang telah disahkan. Agama memberikan bonum maximum (kebaikan tertinggi untuk para penganutnya), sedangkan kekuasaan politik negara adalah minus malum atau the lesser evil (sesuatu yang belum tentu baik, tetapi tak dapat dihindari agar kehidupan bersama dalam suatu masyarakat terhindar dari kekacauan akibat perang semua melawan semua), atau bellum omnium contra omnes sebagaimana diajarkan oleh filosof Thomas Hobbes.

    Politisasi agama

    Dengan posisi agama dan kekuasaan politik seperti itu, dapat dikatakan bahwa setiap politisasi agama (yang dijalankan kelompok agama mana saja) adalah tindakan tak menghormati dan bahkan merendahkan martabat agama, karena ajaran dan nilai-nilai moral yang luhur telah diturunkan harkatnya dan dijadikan alat untuk mendapat kekuasaan politik yang fana. Dengan kata lain, suatu bonum maximum direndahkan martabatnya menjadi alat bagi suatu minus malum.

    Sosiologi agama sudah menunjukkan dengan berbagai bukti, selama berada di dunia ini, baik agama maupun politik tak terhindar dari godaan, khususnya kekuasaan. Agama dapat tergoda memperluas pengaruh dan kekuasaannya ke bidang politik, dan sebaliknya, kekuasaan politik dapat melakukan ekspansi ke dalam kehidupan agama. Keadaan akan jadi damai dan tenteram kalau kedua jenis kekuasaan ini membatasi diri dalam kawasan pengaruh masing-masing secara tertib.

    Saya berpendapat tak ada salahnya kita mengambilbahan pelajaran dari negara lain yang telah mendudukkan persoalan ini secara proporsional dengan menghormati aspirasi politik dan aspirasi keagamaan para warga negaranya, untuk menjaga agar agama dan politik negara taksaling mempersulit melalui komplikasi, dengan akibat yang mengabaikan agama atau mengabaikan negara. Robert Bellah adalah pensiunan Guru Besar Universitas Harvard. Oleh banyak sarjana ilmu sosial, ia dianggap sosiolog agama terbaik pada masanya dan penulis paling prolifik tentang hubungan agama dan negara di AS.

    Awalnya dia melakukan penelitian mendalam tentang agama Tokugawa di Jepang, kemudian bersama Soedjatmoko dari Indonesia memimpin proyek tentang hubungan agama dan pembangunan ekonomi di Asia. Selanjutnya mendalami berbagai persoalan di AS tentang hubungan agama dan negara, khususnya tentang sentralnya peran agama dalam politik AS dengan semboyan in God we trust, tetapi sekaligus dijaga agar agama tak menentukan jalannya politik nasional.

    AS adalah negara bermayoritas penduduk agama Kristen dari berbagai denominasi dan berbagai gereja dengan ajaran dan paham teologi bermacam-ragam. Bellah mencoba meneliti pidato-pidato pengukuhan presiden AS dari George Washington ke Abraham Lincoln hingga John F Kennedy. Dia menemukan kenyataan penting dan menarik: dalam sumpah pengukuhan jabatan sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan, setiap presiden AS selalu menyatakan bersumpah di depan rakyat dan di depan Tuhan yang Mahakuasa (to swear before the people and Almighty God) tanpa sekali pun menyebut nama Yesus Kristus yang jadi inti iman semua gereja Kristen yang ada di sana.

    Hal ini sejak awal dilakukan dengan sengaja untuk menghormati kelompok-kelompok minoritas yang tak beragama Kristen. Kepercayaan kepada Yesus dianggap urusan privat setiap komunitas Kristen, tetapi sumpah dalam suatu jabatan politik cukup menyebut Tuhan yang Mahakuasa, sebagai seruan dan doa yang dapat diterima semua kelompok warga negara AS, Kristen atau bukan Kristen. Atas cara itu, agama tak jadi isu sektarian dalam politik nasional.

    Sudah sejak awal mula pemerintah dan masyarakat AS mengakui bahwa agama tak dapat diabaikan dalam politik nasional, tetapi sekaligus dengan penuh kewaspadaan dijaga posisi dan peranan agama agar tak mengintervensi jalannya politik nasional. Kelompok republikan sangat menekankan pentingnya agama, sedangkan kelompok demokrat menekankan pentingnya peranan rakyat AS sendiri dalam membangun negara mereka.

    Kaum republikan seakan melihat negara muncul dari kehendak Tuhan, yang memberikan beberapa hak yang tak dapat diganggu gugat (inalienable rights), seperti hak hidup, hak kemerdekaan, dan hak mengejar kebahagiaan. Pemerintah dibentuk untuk menjamin dan menjaga realisasi hak-hak itu.Partai Demokrat melihat negara sebagai perwujudan kehendak bebas rakyat yang diejawantahkan dalam hukum dan UU yang sudah disahkan, sedangkan negara dan masyarakat harus tunduk kepada hukum dan UU itu. Yang satu seakan berkata kehendak Tuhan kehendak rakyat (vox Dei est vox populi), sedangkan yang lain menekankan kehendak rakyat adalah kehendak Tuhan (vox populi est vox Dei). Kedua pihak akhirnya sepakat AS harus berpegang pada dua pilar terpenting: warisan kaum republikan berupa Declaration of Independence dan warisan kaum demokrat berupa Konstitusi AS.

    Konsensus ini dicatat dengan baik bahkan oleh pengamat asing. Alexis de Tocqueville adalah bangsawan Perancis yang meninjau Amerika dan menulis buku Democracy in America yang dibaca hingga sekarang dalam pelajaran ilmu politik dan sosiologi karena melukiskan berbagai aspek kehidupan sosial dan politik Amerika secara relatif tepat. Dia meninjau negara itu selama sembilan bulan (11 Mei 1831-20 Februari 1832) dan menjelajah 7.000 milkawasan negara itu hingga ke Kanada. Tentang agama dia menulis: “Di AS pengaruh agama tak hanya terbatas pada perilaku yang baik, tetapi juga menyentuh intelijensi rakyat. Di antara orang-orang Anglo-Amerika ada yang mengakui ajaran Kristen dan percaya secara tulus akan ajaran itu, tetapi ada juga yang melakukan hal sama karena takut dicurigai sebagai tak beriman (suspected of unbelief). Karena itu, kekristenan menjadi agama utama oleh kesepakatan umum, dengan konsekuensi, sebagaimana yang saya amati sebelumnya, bahwa setiap prinsip moral sudah ditetapkan dan bersifat pasti, sekalipun dunia politik diserahkan kepada debat dan eksperimen manusia. Dengan demikian, pikiran manusia tak pernah dibiarkan mengembara ke bidang tanpa batas dengan segala apa yang menjadi pretensinya, tetapi diawasi dari waktu ke waktu oleh batas-batas yang tak dapat dilampaui”.

    Pengamatan itu rupanya menjadi dasar baginya menarik kesimpulan bahwa di AS “setiap orang diizinkan bebas mengikuti jalan yang menurut anggapannya akan membawa dia ke surga, seperti hukum mengizinkan setiap orang untuk punya hak memilih pemerintahnya sendiri”.

    Mendalamnya akar agama dalam agama dan masyarakat AS diakui banyak presiden dari George Washington hingga John F Kennedy. Presiden Dwight Eisenhower misalnya berkata, “Our government has no sense unless it is founded in a deeply felt religious faith—and I don’t care what it is.”(Pemerintah kita tak ada maknanya kalau tidak didasarkan iman yang mendalam—dan saya tak peduli apa wujudnya).

    Presiden pertama George Washington, dalam pidato perpisahannya ketika mengakhiri jabatannya pada 1797, berkata dengan jelas sekali, “Hendaklah kita waspada menerima begitu saja anggapan bahwa moralitas dapat dipertahankan tanpa agama. Apa pun boleh diserahkan kepada pengaruh pendidikan yang beradab atas pikiran manusia dengan susunannya yang unik, tetapi akal dan pengalaman melarang kitaberharap bahwa moralitas nasional dapat bertahan dengan mengesampingkan prinsip-prinsip keagamaan.”

     Posisi negara

    Beberapa praktik itu memperlihatkan, sekalipun agama demikian penting dalam psikologi masyarakat AS, negara berusaha menjaga posisinya sendiri dalam memperlakukan agama-agama dalam masyarakat AS. Negara berusaha melihat agama atas cara yang berbeda dari cara tiap komunitas agama dan pemimpin-pemimpin komunitas agama melihat agama mereka masing-masing. Tiap komunitas agama jelas punya ajaran yang berbeda, teologi berbeda, ritual berbeda, dan praktik yang berbeda, dan perbedaan ini menjadi hak tiap komunitas keagamaan sebagai wilayah privat yang dijamin oleh negara.

    Namun, jelas juga bahwa negara tak dapat mengetahui dan juga tak mengurus seluk-beluk setiap agama yang berhak dapat perlindungan daripadanya. Inilah sebabnya, negara memberi perhatian kepada sifat-sifat pokok yang dapat dikenakannya pada setiap agama dan menjadi pegangan bagi negara dalam menentukan kebijakannya terhadap agama. Kita ingat kembali perkataan Presiden Eisenhower yang menekankan, pemerintah tak punya makna kalau tak didasarkan pada iman yang mendalam, tetapi, ditegaskannya pula, I don’t care, bagaimana iman itu dilaksanakan dan dihayati dalam setiap komunitas agama.

    Hubungan agama dan negara ini sejak lama memasuki juga pemikiran filsafat di Barat. Filosof Perancis, Jean-Jacques Rousseau, dalam bukunya tentang kontrak sosial, berbicara tentang suatu gagasan yang kemudian dalam sosiologi agama diistilahkan dengan civil religion. Dikatakan secara singkat istilah itu menunjukkan sikap negara dalam “menyederhanakan” pengertian agama yang memudahkan negara menentukan kebijakannya terhadap agama. Menurut Rousseau, agama dalam pengertian civil religion memuat beberapa ajaran dan kepercayaan yang dianggap mewakili semua agama yang ada, yaitu kepercayaan akan adanya Tuhan, adanya kehidupan di akhirat, adanya pahala untuk kebajikan yang dilakukan seseorang selama hidupnya dan hukuman untuk kejahatan, dan penolakan terhadap sikap intoleran terhadap agama lain.

    Sangat mungkin pengertian agama yang demikian disederhanakan tak memuaskan para ahli agama dan ditolak para teolog profesional. Namun, menurut Rousseau, negara bukanlah ahli agama, sementara negara berkewajiban menjaga dan mengatur kehidupan agama, jadi segala detail yang bersifat spesifik untuk tiap komunitas agama sebaiknya tak perlu merepotkan negara dalam menentukan kebijakannya terhadap agama yang harus dilindunginya sebagai suatu kewajiban politik. Dari latar belakang sejarah Eropa, hal ini mudah dipahami karena untuk waktu yang cukup lama Eropa menderita banyak peperangan yang bersifat perang agama. Sebuah contoh yang dapat disebut dan patut disesali adalah Perang Tiga Puluh Tahun (1618-1648) antara Reformasi yang diwakili Jerman dan Kontra reformasi yang diwakili Spanyol yang Katolik. Perang yang demikian lama membawa banyak kerugian dan kehancuran untuk kedua negara, seperti perang-perang agama sebelum dan sesudahnya, tanpa ada pihak yang menang dan kalah. Pengalaman-pengalaman pahit itu akhirnya membuat negara-negara Eropa dengan berbagai usaha mencapai kesepakatan mengenai pemisahan agama dari negara, dan atas cara itu menghindari perang agama antarnegara yang tak henti-hentinya.

    Ketika para migran dari Eropa mulai datang ke Benua Amerika, mereka membawa serta semangat dan resolusi untuk membangun suatu dunia baru, suatu kebudayaan baru, dengan kekristenan yang lebih dimurnikan dari segala cacat yang ada dalam sejarah Eropa. Sejarah negeri asal mereka tak dilupakan dan ditinggalkan, tetapi semua hendak diperbarui, dan mendapat atributbaru atau new.

    Ada New England di bagian timur laut AS yang melingkupi daerah seperti Vermont, Massachusetts, Rhode Island, dan Connecticut dan dikenal sebagai kawasan dengan penduduk makmur dan berpendidikan baik.

    Ada New Haven, sebuah kota pelabuhan di Connecticut yang semula menjadi tempat tinggal migran Inggris yang puritan, dan sekarang menjadi terkenal karena Universitas Yale didirikan di sana sebagai salah satu dari universitas tertua dan terbaik di AS. Ada New York, sebagai kota dan pelabuhan terbesar di AS, dan berbagai contoh lain. Dengan semangat baru yang cenderung puritan, penduduk Amerika tak gampang melepaskan diri dari kekristenan yang hendak dimurnikan, dan yang hendak dijadikan ciri yang membedakan Amerika sebagai benua baru dari Eropa sebagai benua lama. Akar agama dalam kekristenan ternyata mempunyai sejarah yang panjang dan rumit. Teori tentang pemisahan agama dan negara diterapkan di AS atas cara yang khas, yaitu dengan tetap mempertahankan agama sebagai sumber utama moralitas nasional, tetapi sekaligus ditetapkan batas-batas keterlibatan dan peranan agama dalam politik nasional, dan diusahakan agar agama yang dianut mayoritas penduduk tidak mengabaikan atau menjadi ancaman bagi kelompok minoritas.

     Kasus Indonesia

    Uraian singkat tentang hubungan agama dan negara, khususnya kekristenan di AS dalam politik nasional, tak dimaksudkan sebagai contoh yang bisa dijiplak begitu saja di Indonesia atau negara lain. Uraian dibuat sebagai perbandingan berdasarkan kasus yang kebetulan diketahui serba sedikit oleh penulis ini, yang tidak punya keahlian profesional dalam comparative politics atau comparative religion.

    Indonesia sebagai negara dan bangsa selayaknya mencari jalan sendiri untuk menetapkan hubungan yang serasi antara agama dan negara, antara kesalehan religius dan tindakan yang politically correct, antara solidaritas kelompok dan kesetiaan nasional, antara dorongan membela agama dan kewajiban menghormati sesama warga negara dan sesama manusia. Semua perkara itu mendapat landasannya yang kokoh dalam filsafat-dasar negara Indonesia, Pancasila, yang telah diterima dengan suara bulat ketika ditawarkan penggagasnya, Bung Karno, pada 1 Juni 1945.

    Itulah konsensus nasional yang jadi batu sendi bangunan negara baru bernama Republik Indonesia. Konsekuensinya sampai sekarang: Indonesia yang bersatu hanya mungkin bersatu jika semua warga negara bersatu dalam Pancasila. Antropolog AS yang dikenal luas di Indonesia, Clifford Geertz, dalam studinya tentang agama memperkenalkan dua konsep penting untuk penelitian sosiologi agama. Kedua konsep dinamakannya the force of religion berupa mendalamnya tingkat internalisasi nilai dan ajaran agama dalam diri penganutnya dan the scope of religion berupa luasnya konteks sosial di mana agama dianggap relevan dan perlu. Konsep pertama menunjuk hubungan suatu agama dengan penganutnya, konsep kedua menunjuk hubungan agama dengan seluruh konteks sosial politik yang meliputi semua orang.

    Dalam kasus AS, sudah ditunjuk bahwa negara didorong untuk memajukan the force of religion sebagaimana tampak dalam semangat Declaration of Independence, sambil mengatur dengan waspada the scope of religion berupa batas-batas dalam politik nasional yang tak boleh dilanggar oleh agama dan negara sebagaimana ditetapkan dalam Konstitusi AS. Penyelesaian ketegangan agama dan negara dalam kasus AS ditegaskan oleh John F Kennedy dalam pidato pengukuhan 20 Januari 1961: “Dengan hati nurani yang tenang sebagai reward yang pasti, dengan sejarah sebagai hakim terakhir bagi segala apa yang kita lakukan, hendaklah kita tampil memimpin negeri yang kita cintai, sambil memohon berkah-Nya dan pertolongan-Nya, karena kita tahu bahwa di sini, di dunia ini, karya Tuhan harus benar-benar menjadi karya kita sendiri (knowing that here on earth God’s work must truly be our own)”.

    *******

    *IGNAS KLEDEN , Sosiolog

    *Sumber Tulisan Kompas, 30 Mei 2017

     

  • Mempertimbangkan Jokowi Tiga Periode

    Oleh  Sandra Hartono

    POLITIK memang bagian dari kehidupan karena perwujudannya adalah demi kebaikan bersama (bonum commune). Meski demikian, esensi politik tidak terlepas dari dinamika yang ada di dalamnya. Menjelang konstelasi politik Indonesia 2024, terdapat berbagai pilihan politik. Salah satunya yang mencuat akhir-akhir ini terkait wacana Presiden Tiga Periode. Tentu banyak pihak yang menolak dengan pertimbangan konstitusional, tetapi tidak sedikit juga yang mendukung dengan pertimbangan transformasi sistem. Dalam tubuh pemerintahan misalnya, Jokowi saat ini tengah membangun sebuah birokrasi yang reformatif dengan berbagai kebijakan dan program yang mengakar dalam masyarakat. Gaya kepemimpinan Jokowi yang merakyat dengan pola blusukan dan merangkul, sangat penting sebagai wujud reformasi dalam sistem perpolitikan di Indonesia. Berbagai kebijakan dan program yang merakyat yang tengah dibangun hingga saat ini pun masih sedang berjalan dan dirasa sangat penting bagi rakyat Indonesia. Hal ini dirasa penting sehingga menjadi PR harus terus diselesaikan.

    Ibarat sebuah resep pengobatan covid-19, sejauh obat yang ada masih terbukti baik dan menyembuhkan, untuk apa lagi kita coba obat-obat yang baru yang belum pasti menyembuhkan. Kalau cocok atau lebih bagus mungkin dapat terbantu, jika tidak, malah yang bisa merusak organ tubuh atau bahkan keracunan dan mati.

    Selain itu, terdapat wacana lain terkait yang turut mengafirmasi dukungan terhadap Jokowi tiga periode, yaitu politik yang merangkul. Jokowi adalah salah satu pemimpin yang merangkul oposisi. Bahkan sudah semakin nyata dengan adanya pembentukan tim Jokowi Prabowo (JokPro). Pembentukan tim JokPro ini dengan salah satu pertimbangan bahwa Jokowi identik dengan kekuatan massa (sebagian besar) di wilayah timur Indonesia. Sedangkan, Prabowo memiliki sejumlah besar massa di wilayah Barat dan sekitarnya. Dua kandidat ini pun berasal dari dua partai besar di Indonesia yaitu PDIP dan Gerindra. Bersatunya Jokowi dan Prabowo dari latar koalisi yang berbeda ini pun disinyalir dapat meruntuhkan aksi dua golongan massa ekstrim yang berbeda yaitu golongan cebong dan kampret. Pasalnya, massa ekstrim ini tidak lain adalah kelompok fanatik pendukung dua figur bersangkutan pada pemilihan Presiden 2019 yang lalu.

    Perlu diketahui sebelumnya, saya adalah salah satu Pendukung Prabowo tahun 2012 dengan nama Kesatuan Aksi Pendukung Prabowo Untuk Indonesia 1 (KAPPI 1) dan telah mendukung penuh Figur bapak Prabowo untuk maju pilpres 2014. Kami berhasil merangkul banyak massa namun seiring berjalannya waktu dan dengan berbagai pertimbangan akhirnya saya hrs mundur dr dukungan terhadap Prabowo & bergabung di kubu Jokowi.

    Pilihan politik yang eksklusif tentu tidak serta merta mendapat dukungan penuh dan berjalan mulus. Berbagai penolakan dengan beragam alasan pun muncul termasuk alasan muatan ‘cari muka’ dari para pendukung Jokowi Tiga Periode. Dalam hal ini jika periode presiden Jokowi diperpanjang maka para pendukungnya secara otomatis akan mendapat sesuatu dari manuver tersebut. Tentu dugaan-dugaan dari para kontra Jokowi Tiga Periode adalah idealisme sempit yang terkesan dibuat-buat dan tidak dapat dipertanggungjawabkan.
    Banyak orang adalah pengamat politik tetapi tidak berarti harus masuk dan terlibat langsung dalam tubuh partai politik.

    Contohnya saya sendiri; Partai Gerindra dan PDIP pernah melamar saya untuk berkontentasi atau ikut terlibat dalam pencalegkan, tetapi saya menolaknya. Mengapa? Karena saya menginginkan dan merindukan kehidupan yang bebas atau independen. Terkait isu Jokowi tiga (3) periode, secara pribadi saya akan mendukung penuh, saya akan selalu ada untuk Jokowi dan juga, saya tidak akan tinggalkan Jokowi berjalan sendiri. Sebab Jokowi sudah terbukti, menurutku Jokowi adalah presiden yang perlu terus mendapat apresiasi lebih untuk melanjutkan program pembangunan yang tertunda akibat Covid-19.

    Kinerjanya Pak Jokowi tidak diragukan lagi. Banyak pula yang sudah mengakuinya. Namun sejak Indonesia dilanda pandemi Covid-19 dua tahun terakhir, hampir sebagian besar pekerjaan-pekerjaan atau program-program prioritas yang dirancang menjadi terhambat. Ia harus memikirkan waktu sekuat tenaga untuk mengatasi pandemi yang sedang melanda Indonesia.

    Untuk mendukung Jokowi, saya pun tidak tinggal diam. Saya mengajak teman-teman untuk mendukung beliau meneruskan apa yang tertunda agar progam kemerdekaan RI ke 76 ‘Indonesia tangguh, Indonesia tumbuh’ benar-benar terjadi bukan hanya sebagai slogan belaka”.

    Pertimbangan lainnya yang menjadi kendala untuk mengganti presiden di 2024 mendatang adalah adanya pergantian kebijakan. Apakah berbagai kebijakan dan program Jokowi saat ini masih bisa dilanjutkan? Itulah pertanyaan besar yang harus menjadi pertimbangan bersama. Para pendukung Jokowi tiga periode pesimis bahwa program Jokowi yang sudah berjalan akan diteruskan oleh figur pemimpin yang baru.

    ****************************************************

    *Penulis adalah Mantan Ketua Humas Kesatuan Pendukung Prabowo Indonesia 1 (KAPPI 1) 2012. Mantan Relawan Jokowi-Ma’aruf Amin (REJO). Saat Ini sebagai Relawan Barisan Pendukung Jokowi Presiden (Bara-JP), Aktivis Kemanusiaan NTT.

  • Sang Pelukis dari Timur: Setiap Potongan Sketsa Adalah  “Tempus Dei” (Mengenang Rafael Miku Beding, Pelukis Mural Gereja Watuneso)

    Oleh  Marlin Bato

    TIDAKLAH berlebihan menyebut Rafael Miku Beding sebagai pelukis senior di jamannya. Perjalanan kariernya bermula dari kampung Lamalera, Kabupaten Lembata diujung paling timur pulau Flores. Bertahun-tahun, ia melakoni pekerjaan melukis sekaligus pematung, lalu dipercaya menjadi pelukis candi dan interior gereja Watuneso. Namanya hampir tenggelam oleh jaman. Tak begitu terkenal layaknya perupa-perupa dari belahan dunia barat. Nama-nama seperti Vincent Van Gogh, Pablo Picasso, Leonardo da Vinci, Michaelangelo Buonarroti, Salvador Dali, Rafaello Sanzio dan lain-lain sangat masyur di jamannya.

    Namun tidak dengan Rafael Miku Beding. Dia adalah seniman yang menyusuri jalan hening. Belantara yang ditempuh tidak ketahui orang. Namun bakatnya yang terpendam itu justru memantik daya tarik tersendiri. Karya-karya thematik memberi pesan magis.

    Usianya masih sangat muda saat sekitar tahun 1953 pater Visser memboyongnya dari kampung kecil Lamalera menuju Watuneso sebuah paroki yang baru saja berdiri. Di Watuneso ia diberi kehidupan yang mapan. Pemuda tampan itu dipekerjakan sebagai pelukis untuk interior gereja yang pada saat itu baru mulai dibangun yang menelan dana sekitar DM. 10.000 (Deutsche Mark).

    Pekerjaan itu ia lakoni dengan penuh komitmen. Sepanjang perjalanan kariernya, karya-karyanya selalu dikagumi yang akhirnya menjadi legenda dikemudian hari.

    Akan tetapi justru ketika karyanya mulai menjadi lengenda, namanya makin meredup dan tak mampu mengikuti jejak karyanya sendiri. Sebab kebanyakan penikmat seni justru mengidola hasil karya ketimbang pelaku seninya sendiri.

    Yah… memang begitulah pekerjaan kaum pelukis mural, suatu profesi yang terhitung jarang terekspos ke publik. Padahal di kalangan pekerja seni, kaum pelukis kerap disebut sebagai ‘sutradara kedua’, mengingat tanggungjawab mereka mengolah sapuan kuas dan kanvas menjadi potongan gambar utuh yang layak dinikmati.

    Belakangan ini, karya-karya seni Rafael Beding terancam mati akibat lapuk termakan usia, seiring usia gereja yang semakin hari beranjak senja. Jam gadang di candi gereja pun telah lama tidur terlena. Detak jantungnya sudah tak lagi bergerak. Atapnya sudah bocor dan balok-baloknya sudah rapuh dan patah. demikian pula, pemugaran gambar-gambar lukisan Rafael Beding pun tak mudah, karena memang butuh keahlian (skill) khusus.

    Warna gambar sudah memudar, dan tembok pun sudah mulai retak akibat gempa. Padahal seluruh lukisan dinding karya Rafael Beding tersebut mengambil kisah perjalanan Yesus, juga mengangkat tema-tema pengadilan akhir jaman serta kebangkitan.

    Salah satu lukisan yang paling rumit adalah gambar pengadilan akhirat di bagian sekitar altar gereja. Lukisan mural ini mempunyai kekuatan spiritual yang sangat tinggi. Nilai simbolisme abadi yang nampak di gambar tersebut menanamkan perasaan takut kita kepada Tuhan. Baik para rohaniwan maupun masyarakat awam yang melihat. Mural pengadilan terakhir hari kiamat itu membuat siapapun yang melihat mengalami pergolakan batin, sebab disana ada ratusan sosok manusia laki-laki maupun perempuan sedang menanti pengadilan Tuhan di hari kiamat.

    Di bagian yang lain dinding, terlihat gambar Yesus yang penuh dengan keagungan, diarak orang-orag suci dan malaikat yang turun dari surga. Orang-orang yang telah ditebus dosanya dan orang terkutuk dalam gambar itu menampakkan kengerian menghadapi pengadilan Tuhan.

    Sementara di bagian paling tinggi sebelah kanan dari lukisan itu, ada sebuah mural menampakkan satu malaikat membawa buku besar bertuliskan; Apa Yang Kau Buat Kepada Sesamamu, Kau Buat Kepada-Ku”. Lalu dibagian bawah gambar ini, nampak dua malaikat meniup sangkakala mengabarkan kedatangan hari kiamat. Sementara dibawahnya lagi, ada sebuah gambar malaikat sedang membimbing seorang perempuan dengan latar ratusan manusia yang bangkit dari kuburnya, diiringi deburan gelombang pasang yang memukul di bebatuan. Gambar ini menambah suasana kengerian hari kiamat.

    Dibagian paling tinggi sebelah kiri, ada gambar malaikat sedang membawa neraca menggambarkan pengadilan terakhir dari Tuhan Yang Maha Adil. Lalu dibawahnya ada malaikat meniup sangkakala dan beberapa malaikat membawa pedang terhunus yang bernyala api dengan garang menjebloskan orang-orang berdosa kedalam neraka. Kemudian dibawahnya lagi, nampak gambar gua neraka dengan seekor naga raksasa siap menelan mangsanya dari orang-orang berdosa dan terkutuk. Lukisan karya Rafael Beding ini saling sinkronis antara satu dengan yang lain.  Lukisan tersebut menyampaikan peringatan kepada kita bahwa satu-satunya salan menuju pangkuan Tuhan adalah lewat Gereja Katholik.

    Sayangnya lukisan-lukisan ini terancam hilang. Kita mungkin hanya bisa pasrah, terpaku sekaligus haru memandang mural-mural yang syarat pesan spiritual. Sedangkan di era sekarang, kita mungkin sulit menemukan seniman pelukis yang sangat berkarakter dan kaya imajinasi.

    “Sekiranya ia menjadi seorang penyapu sampah, ia harus menyapu sama seperti Michaelangelo melukis, atau Beethoven memainkan musiknya atau Shakespeare menulis puisinya. Dia harus melakukan dengan baik, sehingga semua yang berada di surga dan bumi akan berhenti sejenak dan berkata; Disinilah tempat para penyapu sampah yang telah melakukan kerjanya dengan sangat baik sekali”.