Blog

  • “Yang Tertawan” – Murka Angin” – “Bab Terakhir” – “Syair Para Pecinta” – “Aku Sang Penipu”, Sajak-sajak Abdul Ghofar

     

    Yang Tertawan

    cahayamu luruhkan rembulan
    indah kilaunya pun melumat kasunyatan
    mencabik raga tanpa daya
    membungkam kata tanpa asa

    perlahan alam ikut memudar
    sisakan rona terbujur samar
    termenung diam memangku pilu
    terlelap tenang terhajar waktu

    tatapan panah melesat tajam
    merobek jantung menembus malam
    dalam senyap singa tertawan
    memendam cinta dikesunyian

    YOGYAKARTA, 06-08-2021

    ————————————————

    Murka Angin

    jika angin kuasa gugurkan hujan dari awan
    mengapa direngkuhnya pula rintik dari kelopak mata
    jika angin kuasa hitam dan pekatkan malam
    mengapa dipadamkan pula sepucuk lentera dalam gubuk jelita
    jika angin kuasa memecah deru ombak lautan
    mengapa dirampasnya pula rindu seorang perempuan

    mengapa senyum rembulan yang ia tawan
    bukan tatapan liar serigala jalan
    atau pekik teriakkan anjing peradaban
    mengapa
    mengapa ia!

    REMBANG, 23-10-20213.

    ————————————–

    Bab Terakhir

    hujan adalah dahan melambai tangan
    kepada burung-burung menari
    kepada angin-angin sepi

    hujan adalah gema desiran awan
    percumbuan air dengan bumi
    penantian semusim lagi

    hujan adalah merah yang menawan
    tubuh anggun penuh duri
    harum mewangi tenggelamkan diri

    hujan adalah bab terakhir keindahan
    rambut hitam yang terurai
    berlinang mata yang berderai

    REMBANG, 28-10-2021

    ——————————————-

    Syair Para Pecinta

    mata mana yang tak jatuh dalam pangkuan purnama
    lorong-lorong pengap yang menganga
    awan-awan pekat yang terjaga
    pun takkan tahan tertawan sihirnya

    telinga mana yang tak luruh kala dibelai melodinya
    bisik lirih yang lembutkan jiwa
    pekik teriakan yang menggoda
    pun takkan tahan tertawan gemanya

    jantung mana yang tak berdegub kala diketuk cinta
    pelukan hangat yang mendekap raga
    balada merdu yang hanyutkan jiwa
    pun takkan tahan tertawan cumbunya

    REMBANG, 5 November 20215.

    ——————————————————-

    Aku Sang Penipu

    bagaimana jika aku yang kau panggil
    adalah pedang yang tebaskan batang dari pohonnya
    adalah racun yang pisahkan ruh dari jasadnya
    dan bagaimana jika
    suaraku yang kau sangka merdu
    adalah seruling subuh yang mengambil jiwa dari raganya
    adalah waktu yang gugurkan kanak dari mudanya
    aku tak tahu siapa aku
    apakah senja yang mencuri siang dari malamnya
    apakah api yang membakar lilin dari tubuhnya
    atau akulah penyamun yang merampas dagang dari bighalnya

    YOGYAKARTA, 20-11-202

    ——————————————————————————

    Biodata Penulis

    Nama : Abdul Ghofar
    Alamat : Jl. Kaliurang KM 09 Bakungan, RT 01 RW 56 No 43,
    Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Yogyakarta
    Nomor Telpon : 082314549959
    Email : ghofarabdul8@gmail.com
    Tempat, tanggal lahir : Pati, 03-01-1995
    Warga Negara : Indonesia
    Status Perkawinan : Belum kawin
    Status Pendidikan : Mahasiswa (Universitas Sanata Dharma)

  • “Hyacinth” – “Pada Sebuah Musim di Bulan April” – “Muak” – “Kanvas Sang Pelukis” – “Envious”, Puisi-puisi Theresia Paskah

     

    Hyacinth

    Burung berkicau pelan nan merdu
    sinar surya menyelinap di balik kelambu
    tanda hari baru telah datang hampiriku;
    ingatkanku akan pagi nan riang
    yang kini hanyalah tinggal kenang

    Tak pernah terpikir olehku
    bahwa jemariku tak sanggup
    pertahankan dirinya disisiku.
    Tak pernah terduga olehku
    bahwa seteguk teh rosella akan mampu
    membangkitkan senyum getirku

    Tak mampu diriku sampaikan perpisahan,
    dan tak tersisa lagi padaku setitik air mata
    yang mampu kuteteskan untukmu.
    Kini, yang tersisa padaku ialah
    segenggam hyacinth ungu
    yang menguarkan wangi lembut
    dan terasa begitu hangat dalam dekapku.

    Theresia Paskah,
    September 14, 2021

    ——————————————

    Pada sebuah musim di bulan April

    Pada sebuah musim di bulan April
    dituliskannya sajak hangat untuk sang terkasih;
    dengan kerinduan yang membuncah di dada
    tertuang segala jenis harap dan doa.

    Pada sebuah musim di bulan April
    dalam sebuah ruang kecil nan sempit;
    semakin terputuslah tarikan nafasnya
    tak sanggup tubuh rapuhnya pertahankan kesadaran.

    Pada sebuah musim di bulan April
    ketika tak mampu lagi ia pertahankan ketegarannya
    beriringan dengan tetesan bening dari maniknya
    ia mengukirkan senyum di bibir rapuhnya, berbisik:
    “kini engkau telah bebas, tak perlu mengurus
    seorang wanita tua renta sepertiku”.

    Beriringan dengan berakhirnya satu musim di bulan April
    maniknya perlahan menutup, kehangatan kian menguap darinya;
    senyum tersungging di bibirnya,
    tak ada penyesalan tersurat pada guratan wajahnya
    meskipun tak ada seorangpun yang menemani.

    Beriringan dengan berakhirnya satu musim di bulan April
    Ia meninggalkan dunia dengan kesendirian
    dalam ruang kecil nan sempit miliknya
    dengan segenap rasa yang tertinggal dalam hatinya;
    hanya satu yang berarti baginya dari sekian banyak yang tersisa:
    sebuah sajak yang ia tulis pada penghujung musim semi.

    Theresia Paskah,
    October 7, 2021.

    —————————————

    Muak

    Rasaku menggelora,
    Karsaku membakar jiwa.

    Inginku berseru,
    Pada mereka yang tak acuh.
    Inginku mengerang,
    Pada mereka yang tak paham.

    Tak bisakah sedetik saja,
    Mereka katupkan bibir?
    Tak bisakah sejenak saja,
    Mereka kenakan kuping?
    Hanya untuk menghargai,
    Pihak lain yang juga bersuara.

    Hanya untuk menghormati,
    Pihak lain yang juga berkesah.

    Namun, hanya sia-sia saja,
    Kepala mereka sekeras batu.
    Tak mau mencerna,
    Hanya mau bertutur.

    Theresia Paskah,
    September 23, 2021.

    ————————————————

    Kanvas Sang Pelukis

    Ia menggoreskan kuas-Nya pada kanvas,
    garis semu itu kini perlahan nyata,
    biru, hijau, cokelat, penuh warna.

    Guratan biru itu meluas,
    membentang mulai Utara hingga Selatan.
    Deburnya terdengar; meraung dengan keras,
    berlomba-lomba menuju bibirnya.

    Ia beralih pada ujung lain kanvas,
    kuas-Nya bergerak menggores semu
    tinta hijau itu; perlahan tapi pasti,
    sapuannya kian nyata.

    Gemerisik dedaunan terdengar dibalik
    kicauan burung-burung kecil, serta
    erangan dan auman satwa. Bunga-bunga
    telah bersemi, wanginya semerbak,
    menguar hingga sisi terdalam hutan.

    Kini kuas-Nya teralih pada
    sisi kanvas lain yang masih tersisa.
    Kuasnya perlahan bergerak,
    pelan, teliti, melukiskan tinta cokelat
    dipadu dengan sinar keemasan.

    Pada tanah ukiran terakhir-Nya,
    tiada apapun selain kersik halus
    nan lembut tergoyang sang bayu.
    Kendatipun tanah itu tandus,
    segelintir tanaman dibiarkan-Nya
    tumbuh berbuah: manis nan sedap.

    Sang Pelukis menatap kembali pada
    kanvas-Nya yang telah terukir sempurna.
    Diletakkannya kuas terkasih-Nya,
    senyum tersungging indah di bibir-Nya,
    “Kini adalah masa kita untuk beristirahat.”

    Ia meletakkan kuas itu, dan bersandar,
    memandang kanvas kepunyaan-Nya,
    tiap hari, tiada lelah: bagian dari rehat-Nya,
    agar tiada yang mampu merusak kanvas-Nya,
    karena Ia begitu mencintai karya diatasnya.

    Theresia Paskah
    Oktober 29, 2021.

    ——————————–

    Envious

    Looking at the skies
    the wolf was wondering:
    what a beautiful sight
    they had there: amazing

    but the star up there
    looking back at the ground
    “you had a lively, pleasant nature,
    colourful: green, blue, and brown”

    “your world is better, let us
    became you.” their hearts
    craved for others’ life, and
    the moon granted their wish.

    The wolf moved to the sky,
    the star shifted to the ground,
    with a hopeful smile on their faces;
    though it did not last long.

    The wolf could not eat nor sleep,
    the star not able to shine bright,
    then the moon smiling and whispering
    “better on your own world, ain’t it?”

    Theresia Paskah,
    September 21, 2021.

     

    ——————————————————–

    Tentang Penulis

    Theresia Paskah, atau biasa dipanggil Tere, adalah salah satu
    mahasiswa di Yogyakarta yang senang membaca dan menulis.
    Tere lebih terbiasa menulis karya yang bukan tipe karya sastra,
    seperti puisi. Meskipun begitu, Tere ingin mengenal dan belajar
    lebih dalam mengenai puisi sehingga ia bisa menghasilkan puisi
    miliknya sendiri.
    Tere bisa dijumpai di sosial media:
    Instagram: @theresiaprastiti dan @termarasa
    Email: theresiapaskahprastiti@gmail.com

  • Saat-saat Penuh Inspirasi

    Saat-saat Penuh Inspirasi

    Oleh Paulo Coelho

     

    T u h a n, bukalah mata kami

    supaya kami melihat bahwa tak ada

    apa pun yang terjadi

    secara kebetulan dalam hidup ini

     

  • Kepercayaan  pada  Allah

    Kepercayaan pada Allah

     

    Oleh Anthony de Mello

     

    Para murid merasa kurang enak karena Sang Guru tampaknya tidak terlalu peduli apakah orang percaya pada Allah yang personal atau tidak.

    Suatu Ketika Sang Guru membacakan sebuah kutipan yang di kemudian hari menjadi favoritnya. Kutipan itu berasal dari buku harian Dag Hammarskjold, mantan Sekretaris Jenderal PBB.

    “Allah tidak mati ketika kita tidak lagi percaya pada keilahian yang personal, tetapi kita tidak lagi diterangi oleh sesuatu yang gaib, yang senantiasa memancar, yang senantiasa baru, yang sumbernya di luar jangkuan akal budi.”

     

    ————————————                                                                                       Sumber: buku Berbasa-basi Sejenak 2, Anthony de Mello – Kanisius 1997

  • Tentang  Hati

    Tentang Hati

    Oleh  Paulo Coelho

     

    Saat kedua kaki kita sudah lelah, berjalanlah dengan  h a t i  kita, tetapi janganlah berhenti

     

  • Berbuat  Baik

    Berbuat Baik

     

    Oleh Stephie Kleden-Beetz

     

    SEORANG Polisi lalu lintas sedang bertugas di suatu perempatan yang ramai. Pada siang hari yang terik itu, seorang pengendara yang iseng mengejek, “Aduh, hidupmu seperti anjing, ya: jaga sana, awasi sini. “Dengan tenang polisi itu menjawab, “Mungkin saja hidup saya begitu. Tetapi hari ini saya udah menyelamatkan tiga nyawa. Sudah berapa nyawa yang kauselamatkan.

    Di sebuah kota, seorang Wali Kota berjalan-jalan menemui warganya. Tiba-tiba ia melihat warganya yang baru dilepas dari penjara beberapa hari sebelumnya. Dengan ramah Wali Kota menyapa, “Halo, apa kabar? Senang melihatmu Kembali.”

    Tahun-tahun berlalu, di sebuah kota lain, secara kebetulan Wali Kota berjumpa dengan orang tersebut. Orang itu menghampiri Wali Kota dan berkata, “Pak, terima kasih untuk kebaikan yang telah Bapak buat terhadap saya. “Wali Kota dengan heran bertanya, “Perbuatan baik apa?” Jawab orang itu, “Andalah orang pertama yang menyapa saya dengan ramah. Sejak itu, semangat hidup saya datang Kembali.”

    Kebaikan adalah bahasa yang dapat dilihat oleh orang buta dan dapat dapat didengar oleh si tuli.

    Charles Fulton Oursler (jurnalis-pengarang drama-penulis) asal Amerika Serikat berkata, “Bersikaplah ramah dan berbuat baik kepada siapa saja. Sebab, barangkali di balik pakainnya yang sederhana, mereka menyimpan sayapnya yang perkasa.” Lalu ia bercerita bagaimana seorang petugas hotel yang biasa tiba-tiba menjadi manajer sebuah hotel terkenal di Amerika Serikat, yaitu Hotel Waldorf-Astoria.

    Suatu malam di sebuah kota di Philadelphia, sepasang suami-istri yang sudah tua masuk ke sebuah hotel kecil. Terjadilah percakapan antara tamu dan pengurus hotel:

    Tamu: Masih ada kamar untuk saya dan istri saya?

    Petugas: Maa, Pak. Penuh semua. Di kota ini kebetulan ada tiga pertemuan besar, sehingga semua hotel penuh. Tetapi tidak mungkin saya menolak Bapak dan Ibu dan menyuruh pergi tengah malam begini, sementara di luar hujan dan badai. Kalau Anda mau, Anda boleh menginap di kamar saya. Akan segera saya bereskan kamar saya.

    Pagi harinya, ketika hendak membayar, tamu itu berkata, “Kamu seharusnya bukan menjadi pegawai biasa begini, melainkan menjadi manajer hotel besar bertaraf internasional. Mungkin saya akan membangun hotel tersebut dan kamu menjadi manajernya.” Si petugas tersenyum.

    Dua tahun kemudian, ia seperti disambar petir ketika mendapat undangan untuk datang ke New York dan menerima kunci hotel terkenal, tempat ia menjadi manajernya: Hotel Waldorf-Astoria. Pak tua yang telah menginap di kamarnya ternyata tak lain adalah William Waldorf Astor, hartawan masyhur itu.

    Jika engkau mencintai, berbuatlah baik, jika engkau berbuat baik, engkau akan mencintai. Mencintai dan dicintai adalah dua sisi yang berbeda dari mata uang yang sama.

    ****************************

    Sumber: dari Buku Cerita Kecil Saja, Stephie Kleden-Beetz, Kanisius 2009

  • Peringatan Jiwa-jiwa Orang Meninggal

    Oleh Paus Yohanes Paulus II

    Saudara dan saudariku terkasih…..                                                              Renungkanlah banyak-banyak tentang masa depanmu sebagaimana kita merenungkan kerabat-kerabat tercinta yang telah pergi mendahului kita dalam imannya dan beristirahat dalam damai. “Sekarang kita adalah anak-anak Allah, tetapi belum nyata apa keadaan kita kelak” (I Yoh. 3:2). Kini masih ada jurang antara keadaan kita sekarang dan keadaan kita kelak. Di antara kedua kutub ini kita menanti dan harapan kita sudah mengatasi maut, karena kita tahu bahwa kematian hanyalah merupakan suatu transisi menuju pertemuan definitif dengan Tuhan, agar kita “menjadi sama dengan Dia, karena kita akan melihat Dia dalam keadaanNya yang sebenarnya” (I Yoh. 3:2).

    Kini kita dipanggil untuk menghayati hubungan khusus dengan saat kematian kita. Dalam iman dan doa, kita menjalin kembali hubungan keluarga kita dengan mereka; mereka sedang menantikan kita, melindungi serta membantu kita. Mereka telah melihat Allah “dalam keadaanNya yang sebenarnya.” Mereka meyakinkan serta memberi kita semangat untuk bertekun meneruskan perjalanan serta peziarahan kita yang masih tinggal di dunia ini. “Sebab di sini kita tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap; kita mencari kota yang akan datang” (Ibr. 13:14). Jangan cemas, tetapi tengadahkanlah pandanganmu ke tujuan akhir hidupmu; itulah yang terpenting bagi kita. Kerabat-kerabat kita yang sudah meninggal dunia sudah berada di sana, ke tempat kita akan berada pula. Sesungguhnya di sanalah tanah air kita bersama dengan mereka, sehingga mereka menjadi sesama kita. Di sini pula kita akan memasuki misteri tritunggal Bapa, Anak, dan Roh Kudus, karena kita dibaptis dengan baptisan yang sama. Kita saling bergandengan tangan, karena maut sudah tidak ada lagi di sana, selain kehidupan kekal.

    ****************************

    Sumber: Buku Doa dan Devosi – Paus Yohanes Paulus II – Penerbit Erlangga 1995

  • 20 Punggawa Reggae Lokal Dipastikan Tampil dalam “Flores Reggae Festival” 10 November

     

    BNC,- Sebanyak 20 punggawa Reggae lokal dipastikan akan unjuk penampilan sekaligus meramaikan Flores Reggae Festival yang akan digelar pada 10 November 2021 bertepatan dengan hari Pahlawan.

    Sederet nama-nama yang sudah dikenal, telah tercatat dalam daftar line up, seperti Conrad Good Vibration, Arye De Siul n Fraterny Soul, Postman, R2, Gutty Lazar, Lembata Hip Hop Foundation, Leis Plang, Benald Abar N Charles Dafosa, Uncle Be N Joseph, NonkQ NongkraY, Invia, Yohma Ragga Poli, Big Lion dan masih banyak lagi.

    Dalam rilis dari panitia Flores Reggae Festival  yang diterima berandanegeri.com (BNC), Senin (1/11), menyebutkan bahwa Flores Reggae Festival digelar bertepatan dengan Hari Pahlawan untuk mendorong semangat  kaum muda dan milenial Flores dan Indonesia agar mendayagunakan potensi lokal untuk kemajuan bersama.

    Sebagaimana tema hari pahlawan 2021, ‘Pahlawanku Insipirasiku’, yang ditujukan kepada para pemuda di Tanah Air agar dapat meneladani dan mengimplementasikan nilai-nilai luhur pahlawan dalam kehidupan sehari-hari, Flores Reggae Festival menggerakan kembali potensi musik lokal sebagai dasar memajukan nilai budaya masyarakat di tengah zaman yang terus berubah.

    Penyebutan “Flores” pada Flores Reggae Festival, karena musik reggae kini menjadi pilihan banyak kelompok band yang bermuculan di Flores dan menyumbang bagi kekhasan tersendiri untuk wilayah ini. Dari Flores,  musik asal Jamaika ini menyebar dan diminati kalangan milenial.

    Di samping itu, Flores juga dikenal dengan keindahan alamnya, keramatamahan budaya serta ragamnya suku, Bahasa dan etnik. Masyarakat Flores juga dikenal sebagai masyarakat  terbuka, yang dengan mudah menyerap unsur-unsur luar kebudayaannya, untuk padu dengan budayanya sendiri.

    Secara khusus Flores Reggae Festival, yang akan digelar secara online tepat di hari Pahlawan pada hari Rabu 10 November 2021 melalui kanal Youtube: Flores Reggae Festival mengusung tema, “Flores untuk Indonesia”.

    Festival ini, tidak hanya menyajikan musik reggae, tapi juga akan menampilkan visual keindahan bentang alam Flores serta beragam UMKM yang menjadi ciri khas Nusa Tenggara Timur di kalangan masyarakatnya.

    Sebelumnya telah digelar pre-event Road to Flores Reggae Festival, di Jakarta,  Minggu 24 Oktober 2021, yang menampilkan beberapa musisi seperti Denny Frust, NonkQ NongkraY, Big Lion, Nath The Lions, Yella Sound System, Radit Echoman dan lainnya.

    Ditunggu gelaran acaranya, Info lebih lanjut, dapat dipantau melalui akun Instagram: Flores Reggae Festival. (CHE)

  • “Tentang Aku” – “Suara Anak Rantau” – “Taktik Berdasi” – “Gadis di Balik Purnama” – “Untuk Kamu”, Puisi-puisi Clara Juliatry Corneliani Mbulu

    Tentang Aku

    Aku selalu hidup dibayang ketakutan
    Aku selalu menjadi misteri di bawah radangnya rumah tua
    Lusuhnya pakaianku selalu jadi bahan tawa para koruptor rumah itu
    Tak tersadar jiwaku yang beranjak tua semakin hina di hadapan mereka

    Aku adalah sosok yang selalu hidup dalam gelap
    Aku adalah sosok hina yang tak pernah bisa dimengerti orang lain
    Hidup yang mungkin selalu terjamin membuat aku  semakin dianggap mati
    punya rasa menyesal karena Tuhan mengujiku pada usia yang harusnya ku butuhkan Bahagia

    Aku takut
    Hidup-ku yang selalu dihantui dengan ancaman dan hinaan
    Aku takut karena mungkin akan terpaku pada gelap
    Aku sadar aku hanyalah benda pajangan yang dilahirkan untuk tawa masyarakat

    Mungkin tak lama namun harus membekas pada batin
    Fisik dan raut penampilan selalu jadi bandingan masyarakat
    Mungkinkah jika tubuh terbujur kaku akan ada hinaan di balik kubur basah
    Ataukah rasa sakit ini harus kubawa hingga  Tuhan memanggil-ku pulang menjadi debu ?

    Ada cobaan untuk mengahkiri hidup
    Berjalan di atas rasa sakit yang terus menusuk lemahnya jiwa bangkit
    Yang terus saja berbanding terbalik dengan apa yang selalu dibayangkan
    Rasa sakit itu yang selalu membawaku untuk kembali terupuruk

    Di kursi reot saksi hidup-ku
    Kutuliskan ini dan menanti hadiah apalagi yang akan diberikan untuk penikmat kopi pahit Di ujung senja

    —————————————–

     

    Suara Anak Rantau

    Di tengah riuh pesta pora
    Sepotong harapan di balik jendela
    Menatap keluar bagai menyayat hati
    Gugur daun mengingat sawah ayah ibu

    Sebingkai foto di sudut ruangan
    Mematung kepala, berlinang air mata
    Susah hidup di tanah orang, gemuruh hati meminta pulang
    Bulan terang megisyaratkan minta-ku pada sang Ilahi

    Ketika susah harus diam, melihat tawa teman sebaya
    Damping peluk dan cium teringat akan harum kebaya ibu
    Gelak memecah ketika canda dari bibir ayah
    Mati rasanya ketika ingin dari hati tak terpenuhi

    Rindu pondok beralas tikar
    Biar susah, hati tak pernah ingin mengeluh
    Tenang terasa ketika dekat
    Harum masak buatan ibu, membuat sudut bibir ingin menyantap

    Belum saat akan bertemu
    Walau linang air mata terus berderai
    Lantunan doa pada sang Ilahi ingin pulang
    Semoga diri menahan rindu
    Ketika peluk ibu menyambut diri lemah

    Semoga yang harus tersemogakan
    Harap yang harus terharapkan
    Mimpi yang harus termimpikan
    Tertahan rindu karena peluh rantau mengejar cita

    Jika rindu adalah sakit
    Temu sapa adalah obat anak rantau

    ————————————

     

    Taktik Berdasi

    Di tengah  busung lapar terjadi
    Mata gelap, telinga menuli
    Perjuangan orang kecil dalam mimpi
    Berharap hari esok kembali terbit fajar yang membuah pada harapan

    Bukan tentang apa yang harus dipikirkan
    Bukan tentang apa yang harus didengarkan
    Kesedihan yang terpojok ketika usia akan menua
    Jika tanya membunuh semua jawaban

    Putarnya nilai rupiah, seakan menginjak usaha harga diri berharap meninggi
    Ratap tangis anak yatim meminta sepeser harga untuk sepiring nasi
    Tikus-tikus politik seakan bermain di balik bayang susah
    Gedung-gedung mewah seakan membanting pintu menolak sedekah

    Secerca harapan mendapat perhatian tak terwujud
    Hati susah, ketika harus bergelut di bawah terik demi rupiah
    Mati rasa hati para pembesar, membuat tangis pecah di balik cahaya purnama
    Monopoli kota metropolitan jejak rupiah bagai tak terekam

    Mungkin sakit jika harus bercerita
    Pembesar tidur di atas uang, permainan seakan berahkir tanpa pemenang
    Mungkin ratap harus menua berjalan bersama usia
    Penderitaan tak kunjung habis ketika menutup mata membawa susah

    Wahai para pembesar
    Taktik hebat, kalian rancang
    Membutakan uang, tanpa berpikir rakyat melarat
    Jika bisa bertanya, apa harus kami menyembah?

    Jangan buta wahai pejabat
    Hentikan permainan konyol, menyusahkan hidup pelosok
    Mungkin doa mewakili ratap susah
    Berharap Tuhan mengabulkan apa yang dipinta

    Jika harus memilih mungkin mati harus terbayang
    Tak lagi harap bantuan dana pemerintah
    Siap diri untuk bergelut
    Merebut sepiring nasi untuk hidup

    Terwakilkan rasa, jika tersampaikan
    Terima kasih jika tersentuh

    ——————————–

     

    Gadis di Balik Purnama

    Syair-syair cinta bekerja ketika sang pengelana mengejar cinta
    Purnama malam, begitu hangat terasa
    Santapan malam yang terhidang terasa lembut sampai pada sudut bibir
    Teringat kenang manis ketika di bawah atap gereja

    Rintik-rintik bagai bercerita tentang kondisi hati
    Ingin lepas tak terpikir ketika mengingat kenang di bawah langit mendung
    Senyum manis ketika berdua menikmati indahnya terbenam sang fajar
    Ketika pisah hati tak ikhlas jika harus jauh memendam rindu

    Waktu berjalan, seiring bertambah usia ketika harus menua
    Di balik jendela usang, bintang cantik di malam itu
    Bulatnya mata mengharap kembali mengulang masa itu
    Mengandaikan senyum dengan purnama di penghujung tahun

    ——————————————-

     

    Untuk Kamu

    Aku pernah mengenal-mu
    Namun aku lupa kapan kita pernah menyapa
    Aku juga pernah melihat-mu
    Namun aku lupa kapan kita pernah bertemu

    Kamu
    Beberapa huruf yang terlintas dibenakku untuk mengingat satu nama
    Kamu yang selalu membawa-ku keluar dari duniaku
    Kamu yang selalu membuatku menjadi istimewa tanpa tau bahwa aku adalah kurang yang Kamu punya

    Aku
    Istilah usang yang kau anggap istilah usang dalam hidup-mu
    Nama yang selalu membuat-mu bagai terpuruk dalam satu zona
    Nama yang selalu membawa-mu pada rasa trauma untuk kembali mengenal sosok lain

    Mungkin terlalu buruk untuk kembali bercerita
    Hayalan-ku dan hayalan-mu mungkin terlalu jauh berbeda
    Hayalan-ku yang mungkin membuat-mu merasa bahwa aku terlalu buruk untuk hadir Kembali
    Waktu yang selalu memaksaku untuk menghilang dari dunia-mu

    Semua seakan menarik paksa agar aku terbangun dari mmpi indah-ku
    Dari aku untuk kamu yang jauh dari genggaman-ku
    Ini untuk  kamu yang telah pergi dan tak akan pernah bisa kembali
    Dari aku yang selalu membawa-mu pada dunia-ku yang terlalu suram bagi-mu

     

    ———————————————————–

    * Clara Juliatry Corneliani Mbulu, Siswi XII MIPA 4 SMA Katolik Giovanni Kupang

    * Kelima Puisi Clara Juliantry Corneliani Mbulu di atas adalah Pemenang Juara 3 Kepenulisan Puisi Tingkat Sekolah Jenjang SMA, dalam Program Gerakan Sekolah Menulis Buku Nasional, yang Diselenggarakan oleh GMB- Indonesia.

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

     

  • Strada Memperkuat Semangat Kebhinekaan

     

    Oleh Veronica Um Kusrini, Guru Perkumpulan Strada

    MENJADI bagian dari perjalanan bangsa adalah sebuah kebanggaan sekaligus tantangan. Agaknya itulah  yang terjadi dalam diri dan jiwa para civitas akademika di Perkumpulan Strada, komunitas pendidikan yang unggul, peduli, dan berjiwa melayani. Perkumpulan Strada  telah menjadi bagian dari pengembangan generasi muda Indonesia dengan eksistensinya melayani dalam dunia pendidikan tepatnya sejak tanggal 24 Mei 1924. Sejak waktu itu hingga saat ini, Perkumpulan Strada telah menjawab tantangannya sebagai bagian dari bangsa ini dengan mencerdaskan generasi muda.

    Perkumpulan Strada dan generasi muda Indonesia memang tidak dapat dilepaskan. Hampir 24.000 orang muda Indonesia  di bawah naungan Perkumpulan Strada. Vibrasi semangat Sumpah Pemuda sangatlah terasa. Tidak terkecuali pada kesempatan peringatan Hari Sumpah Pemuda pada masa pandemi ini. Hal ini bisa dirasakan dalam seminar yang diadakan oleh Perkumpulan Strada pada Jumat, 29 Oktober 2021. Seminar ini mengambil tema “Memperkuat Wawasan Kebangsaan Bercermin Semangat Sumpah Pemuda.”

    Hadir secara virtual dalam seminar tersebut adalah Romo Odemus Bei Witono, SJ selaku Direktur Perkumpulan Strada, Ibu Anita Wahid Senior Advisor of Gusdurian Network dan Presidium MAFINDO, Bapak Yudi Latif, MA., PhD. pakar Aliansi Kebangsaan, dan praktisi pendidikan Bapak Yohanes Vajar Juniyanto, S.Pd. MM wakil kepala SMA Stada Bhakti Wiyata Kranji. Seminar juga dihadiri oleh guru, karyawan, siswa, dan praktisi pendidikan dari berbagai daerah.

    Memilih menyerah atau berusaha. Itulah salah satu pesan dari Romo Odemus Bei Witono SJ. Dalam paparannya beliau menambahkan  “Apalagi kita memilih berusaha maka kita akan memiliki masa depan dan kehidupan yang baru. Maka mari kita hancurkan cangkang kehidupan yang membatasi dan membelenggu kita. Mari bertumbuh dan jadilah manusia yang merdeka, apalagi saat ini merdeka belajar untuk para siswa,” ujarnya dengan penuh semangat. Pendidikan juga mempengaruhi sistem nilai dan karakter bangsa. Kita diharapkan mempunyai karakter untuk mempunyai mimpi yang besar agar Indonesia bisa bertumbuh menjadi bangsa yang kuat dan utuh. Itulah pesan kebangsaan dari Romo Bei, Direktur Perkumpulan Strada untuk bangsa Indonesia.

    ****************************

    *Veronica Um Kusrini, Guru Perkumpulan Strada, Penulis Buku  Jejak Jiwa-Antologi Cerpen Anak-anak Katolik, Kanisius 2021.