Blog

  • Camus, Caligula, Asrul Sani: Mempertimbangkan Kembali (Eksistensi) Kebudayaan Kita

    Camus, Caligula, Asrul Sani: Mempertimbangkan Kembali (Eksistensi) Kebudayaan Kita

     

    Oleh Raudal Tanjung Banua

     

    Pada tanggal 4 Januari 1960, Albert Camus, penulis lakon Caligula, meninggal dalam sebuah kecelakaan mobil dekat Villeblein. Ia lahir di Mondovi, Aljazair, 7 November 1913, tetapi lebih dikenal dalam khazanah filsafat dan sastra Prancis. Berasal dari keluarga veteran Marne, Camus mencecap kehidupan yang sulit; kemiskinan, perang dan penyakit. Mungkin pengalaman ini yang membekas pada aktivitas dan karya-karyanya kemudian.

    Camus misalnya, bergabung dengan koran bawah tanah Combat yang mewartakan penderitaan manusia di tengah kecamuk perang dunia kedua. Sebagai filsuf yang hidup sezaman dengan Sartre, Camus menolak pandangan kaum materialisme dan kaum idealisme. Yang pertama menganggap eksistensi manusia sama dengan eksistensi materi atau benda-benda; yang kedua kelewat mengagungkan pikiran manusia di atas segalanya. Sembari itu, ia melancarkan otokritik terhadap kaum eksistensialisme yang kadangkala menisbikan hakikat kemerdekaan manusia.

    Sementara karya dramanya yang masyhur, Caligula, pada kenyataannya lahir sebagai sublimasi pengalaman empiris dan filosofisnya, sehingga sangat kritis, pedas dan memiliki keberpihakan yang tidak konvensional.

    Ke dalam khazanah sastra-drama Indonesia, Caligula diterjemahkan oleh Asrul Sani, yang meninggal 11 Januari (kebetulan sama-sama Januari) 2004 di Jakarta. Asrul lahir di Rao, Pasaman, Sumatera Barat, 10 Juni 1926 dan dikenal luas dalam khazanah sastra, teater, film dan pemikir budaya tanah air.

    Asrul di antaranya mendirikan perkumpulan “Gelanggang Seniman Merdeka” bersama Chairil Anwar dan Rivai Apin; mengasuh rubrik budaya “Gelanggang” di warta sepekan Siasat; serta bersama-sama pula menerbitkan buku puisi monumental Tiga Menguak Takdir. Dalam teater, ia antara lain dikenal sebagai pendiri dan Direktur Akademi Teater Nasional Indonesia (ATNI) yang menjadi tonggak teater modern (akademik) Indonesia, di samping menerjemahkan banyak lakon asing pilihan, termasuk Caligula. Di film, namanya abadi bersama karya film yang disutradarai-nya seperti Pagar Kawat Berduri, Apa yang Kau Cari Palupi, Salah Asuhan dan drama Makhamah.

    Kenyataan bahwa Asrul Sani sebagai pemikir kebudayaan, terlihat dari pernyataan “Surat Kepercayaan Gelangga-ng” yang digagasnya. Surat yang dimuat pertama kali dalam “Gelanggang”/Siasat, 23 Oktober 1950 itu, menjadi sangat terkenal terutama karena pandangannya yang menyatakan “Kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia; dan kalau kami berbicara tentang kebudayaan Indonesia, kami tak ingat kepada melap-lap kebudayaan lama sampai berkilat untuk dibanggakan.”

    Lalu, apakah hubungan antara Albert Camus, Caligula dan Asrul Sani? Tentu saja sebuah hubungan sangat kompleks, sarat dengan idiom kemanusiaan yang menarik untuk diaktualkan.

     

     

    Albert Camus – Asrul Sani: Tindakan dan Pandangan

    Albert Camus merupakan sosok yang ingin terlibat dal-am segala hal; tak hanya merenungkan segala sesuatu dari meja kafe–sebagaimana dilakukan Sartre dan kekasihnya, Simone de Beauvoir–atau dari belakang meja akademi dalam konteks Asrul Sani, melainkan terjun langsung ke lapangan kebudayaan.

    Empirisme ini melahirkan gagasan dan tindakan yang memberi antitesa pada kemapanan. Camus misalnya tidak dapat menerima begitu saja ungkapan rasionalitas yang ditoreh Descrates, Corgito ego sum, “Aku berfikir maka aku ada”, namun melangkah lebih jauh, “Aku memberontak maka aku ada!” Lewat cara ini, Camus tidak menerima begitu saja paham eksistensialisme yang telah dirintis dengan bersahaja oleh Kierkegaard atau Nietzsche yang heroik —dan tidak pula menjadi varian bagi kemegahan Sartre. Meskipun dibanding Sartre, Camus lebih dikenal sebagai sastrawan ketimbang filsuf, sesuatu yang ironis dan tak adil sebenarnya.

    Padahal, pandangan Camus mewarnai filsafat eksistensialisme dengan antitesa terhadap kaum materialisme dan idealisme, sekaligus otokritik trhadap eksistensialisme. Camus percaya bahwa untuk menjadi “ada” manusia harus merumuskan “cara” dan menempuh “upaya” dan itu tidak mungkin dilakukan oleh benda-benda; akan tetapi “cara” dan “upaya” itu terletak di atas kemerdekaan diri, jiwa yang otonom. Ada suara pemberontakan di situ, tapi sekaligus kearifan merumuskan pandangan relatif netral.

    Di sisi lain, Asrul Sani menyadari eksistensi manusia Indonesia dibangun lewat proses kebudayaan yang agung dimasa silam, tapi itu tidak bisa diisolasi dari dunia-lapang luas. “Surat Pernyataan Gelanggang” sesungguhnya berangkat dari sini: menjadi antitesa “Polemik Kebudayaan” antara STA & Armjn Pane. Namun, “jalan tengah” yang ditawarkan Asrul kerap dipahami sebagai “jalan aman”, padahal itulah jalan ideal.

    Nirwan Dewanto misalnya, kerap mengutip pernyataan ini secara sepenggal, khususnya “kami adalah ahli waris yang sah dari kebudayaan dunia” yang kemudian dianggap mewakili pandangan Asrul dkk. Padahal, pernyataan itu mestilah dipahami secara utuh, tak sepenggalan, apalagi berpretensi memojokkan. Nirwan menganggap ketegasan sikap tersebut sebagai “upaya meminta-minta” pada dunia, khususnya Barat, padahal disimpulkan dari sekerat kalimat! Sungguh ironis!

     

    Teks dan Konteks Caligula: Mempertimbangkan Eksistensi Kebudayaan Kita

    Caligula merupakan karya masterpiece Albert Camus yang memuat pandangannya terhadap hidup, takdir dan nasib sebagai satu-kesatuan rumusan eksistensialisme. Bukan suatu kebetulan, sebagai penerjemah, Asrul juga berurusan deng-an idiom “takdir” dalam merumuskan posisi dan eksistensi (kebudayaan) manusia Indonesia. Kata “takdir” pada buku puisi Asrul dkk. kadang ditafsirkan merujuk Sutan Takdir Alisyahbana (STA) yang pandangannya hendak dibongkar Asrul. Akan tetapi, “takdir” juga merujuk pada pusaran eksistensialisme, katakanlah dalam konteks kesastrawanannya yang mesti menjalani takdir: “dikutuk” untuk terus menjadi manusia gelisah, seperti Sisiphus atau Caligula.

    Teks Caligula sendiri bercerita tentang menghilangnya Caligula, seorang raja muda, dari istana; membawa kesedihan mendalam atas meninggalnya orang yang dicintainya, Drusila. Ia mengembara di lorong kota Roma sembari mengolah pikirannya perihal hidup dan nasib. Sejauh manakah kemerdekaan manusia atas takdir kalau orang yang dicintai seorang raja pun tak luput dari kerkap tangan takdir? Takdir macam apakah yang dijalani manusia shingga harus menderita, misalnya oleh perang dan pembunuhan?

    Pertanyaan-pertanyaan ini mengantar Caligula pada kesimpulan bahwa takdir mesti dilawan karena mengancam kemerdekaan dan eksistensi manusia. Ia pulang, dan segera melaksanakan gagasan pencerahan tersebut: hidup yang keras dan tak terduga, manusia yang akan mati dan tidak berbahagia, haruslah dihadapi dengan cara yang keras dan tak terduga pula. Maka tak terduga, Caligula menzalimi kerajaannya: membunuh, memperkosa, dan melecehkan rakyatnya sendiri. Absurditas ini memberi antitesa pada takdir: kalau manusia mati dan ia tak bahagia, maka harus ada tindakan yang membuat mati tidak sekadar persoalan bahagia atau menderita, tapi persoalan cara dan upaya mempertahankan eksistensi.

    Kita bisa mengaktualkan teks ini dalam konteks dunia sekarang yang penuh paradoks dan ironisme. Ada ancaman terhadap eksistensi (kebudayaan) manusia karena yang menang tampaknya adalah pandangan materialisme yang menganggap manusia tak ubahnya benda-benda yang bisa dieksploitasi seenaknya. Lewat imprealisme gaya baru, kapitalis-me dan militerisme internasional, pandangan itu mewujud terutama di negaranegara dunia ketiga, termasuk Indonesia! Sementara itu, kaum idealisme yang kelewat jumawa mengagungkan pikiran, jelas masih bertengger di menara gading dan sebagian menjadi korban (kalau tidak pengikut), kekuasaan. Sudah barang tentu ini mengancam eksistensi budaya dan ekologi, mematikan nalar dan daya kritis, dan yang lebih tragis: mengancam kemerdekaan manusia dalam menentukan nasib sendiri. Perdagangan bebas, perang dan invansi, jelas menolak “cara” dan “upaya” lain di luar mainstream.

    Reaksi terhadap hal itu muncul beragam dari yang kooperatif hingga yang radikal seperti terorisme. Di satu sisi, terorisme menyebabkan kegoncangan pada seluruh tatanan hidup manusia (termasuk kebudayaan) tapi sebenarnya berpangkal pada satu soal: eksistensi. Tragedi 11 September yang mengguncang AS (kemudian juga Jakarta dan Bali, di sini!) jelas mengancam eksistensi umat manusia, akan tetapi di sisi lain sadarkah kita bahwa ada juga kelompok manusia yang eksistensinya tak terakui? Kelompok inilah yang kemudian bertindak dengan “cara” dan “upaya” yang sangat tidak lazim—membajak pesawat, menabrak menara, mele-dakkan bom (bunuh diri)—sebagaimana Caligula bertindak dengan caranya sendiri.

    Di sinilah suara Camus kembali bergema: manusia, sia-papun ia, harus merebut eksistensinya, yang berarti mere-but kemerdekaannya, dari ketertindasan apapun. Karena manusia bukan objek, tapi subjek, maka berbagai “cara” dan “upaya” ditempuh dalam menghadapi tekanan nasib. Semestinya kita bertanya: siapa yang menekan dan siapa yang tertekan? Siapa yang tidak merdeka dan siapa yang leluasa? Di balik kutuk dan serapah terhadap teroris (sebagaimana juga terhadap Caligula), sesungguhnya kita perlu sedikit menyisakan suara jernih: bukankah Amerika dan sekutunya lewat noe-imperialisme, kapitalisme dan militer-isme dengan leluasa menekan eksistensi kelompok lain? Ketertindasan, apa boleh buat, telah memunculkan “cara” dan “upaya” yang tidak lazim dalam sejarah perjuangan eksistensi umat manusia. Separatisme, fundamentalisme, juga terorisme adalah sederet cara dan upaya yang terpaksa ditempuh untuk menunjukkan keberadaan diri atau kelompok tersisih.

    Betapapun cara dan upaya itu tidak lazim, bahkan mengancam eksistensi itu sendiri, namun tidaklah untuk didiamkan dan dibutakan. Menjawab cara dan upaya yang tidak lazim dengan caracara yang juga tidak lazim seperti penangkapan konyol, main tuduh, perang, agresi, dan operasi militer hanya akan berbuntut pada kenyataan bahwa kekerasan adalah cara yang lazim. Maraknya jaringan terorisme, serta bergolaknya sejumlah daerah di Indonesia dari Aceh hingga Papua, boleh jadi berpangkal dari tertindasnya kebudayaan, rusaknya ekologi dan terancamnya eksistensi para pendukungnya. Tapi bukankah kita seperti membutakan mata , menulikan telinga?

    Kalau demikian kenyataannya, maka penerjemahan Asrul Sani atas lakon Caligula karya Albert Camus, bertahun-tahun yang lalu, memiliki nilai aktual dan relevansi dalam mempertimbangkan sikap dan eksistensi kebudayaan kita, baik ke luar maupun ke dalam, hingga hari ini. Ke luar, bagaimanakah sikap bangsa ini atas hegemoni kebudayaan kapital dan industrial; apakah mesti dilanjutkan atau ditiru untuk menggilas eksistensi kebudayaan non mainstream? Ke dalam, apa kabar kebudayaan Indonesia hari ini, apa kabar kemanusiaan kita, di tengah hingar-bingar politik reformasi, otonomi atau MTV?.

    ——————-

    Sumber: Sastra-Indonesia.com

  • Keluarga   Petani – Cerpen Gonsi Kusman

    Keluarga Petani – Cerpen Gonsi Kusman

     

     

    Parang dan cangkul adalah sahabat setia keluarga kami. Bagaimana tidak, kami terlahir dan dibesarkan dalam keluarga petani. Sejak mentari berpijar hingga senja mengatup, kami mengais di kebun tanpa henti. Kami diajar ayah untuk memaknai waktu sebaik mungkin dan bekerja sekeras tenaga meski menguras keringat.  Bagi kami, kerja dengan memanfaatkan kesuburan tanah adalah cara terhormat dan bijaksana menghargai pemberian ilahi. Ayah mengajarkan itu karena sudah diwarisi dari nenek moyang yang juga petani. Dulu, nenek moyang kami mencangkul dengan alat seadanya, belum ada besi seperti sekarang. Di kebun, kami terus mengais dan mencangkul dengan lapang. Sampai tangan melepuh. Sampai peluh bertumpah-ruah membasahi tanah. Tak ada kata lelah, apalagi kalah. Kami mengabaikan lapar bahkan sakit sekalipun. Sungguh tak ada yang instan.

    “Sipri!” Panggil ayah dari belakang dapur.

    “Iya,” jawabku.

    “Kau sudah asah parang?”

    “Masih tajam. Tak perlu diasah. Biar di kebun saja baru asah kalau tak tajam lagi.”

    Biasanya aku jarang asah parang di rumah. Soalnya batu asah di rumah susah membuat parang menjadi tajam. Kalaupun diasah, mesti butuh waktu yang lama untuk bisa tajam. Apalagi waktu berangkat ke kebun sangat mepet. Kami berangkat ke kebun mesti tepat waktu agar kerjanya maksimal.

    “Asah saja di sini. Di kebun tak ada waktu lagi sibuk asah parang,” kata ayah, tegas.

    “Tak ada waktu lagi,” jawabku.

    “Dari tadi kau ke mana!”

    Aku tak menjawab. Kalau aku terus menjawab, ayah pasti murka. Soalnya, tadi, aku bangun agak terlambat.

    “Kalau begitu, siapkan air minum bawa ke kebun,” perintah ayah.

    “Simpan pakai apa,” jawabku.

    “Ada botol aqua besar di atas rak piring.”

    Aku mengambil botol aqua besar itu lalu menuang air ke dalamnya. Botol aqua itu dibeli ibu saat pergi ke Kota Ruteng tiga bulan lalu. Masih berguna hingga sekarang. Setelah airnya habis diminum, ibu tak langsung membuang botolnya. Ia membawa pulang ke rumah, katanya untuk bawa air ke kebun. Barangkali demikian cara ibu mencintai lingkungan, memanfaatkan botol bekas. Tapi, bukankah botol aqua bekas tak baik untuk kesahatan? Apalagi jika digunakan untuk menyimpan air minum dan warnanya sudah pudar.

    Setalah diisi air, aku letakkan di dalam karung bekas bertuliskan bulog 10kg .

    “Jangan lupa garam dan korek api di regel,” kata ibu setelah pulang dari kandang babi.

    Aku langsung ambil garam di regel lalu letakkan bersama botol air di dalam karung. Sedangkan korek api ada di ayah karena dia seorang perokok kuat. Di saku celananya tembakau gulung dan korek api selalu menyatu. Itu sudah pasti.

    “Semua sudah beres. Jalan sudah,” kataku sambil mengikat parang di pinggang.

    Aku, ayah dan ibu berangkat ke kebun. Selain membawa peralatan kerja, kami juga membawa air, garam dan korek api. Tak ada nasi, apalagi lauk yang kami bawa. Selain karena tak bisa membeli beras, toh selama di kebun kami tak kesusahan makanan. Di sana ada ubi kayu, pisang, kelapa, jagung, cabe rawit dan ubi talas. Tak hanya itu, di sana juga ada tikus hutan, motang,[1] musang dan babi landak yan gemar memangsa tanaman. Di pinggir kebun, ayah sudah memasang sejumlah jerat. Setiap hari pasti ada yang terjerat, dan itu menjadi santapan kami. Memang, alam sungguh kaya dan bisa mengihudupkan keluarga kami yang penuh keterbatasan.

    Setiba di kebun, kami menyimpan barang-barang di sekang.[2] Seperti biasa, ibu langsung menyalakan api di tungku. Sedangkan, aku dan ayah langsung mengecek jerat. Total jerat yang dipasangkan ada sepuluh. Ayah memasang jerat itu di setiap pate.[3] Kami mengecek secara berurutan. Mulai dari jerat pertama tak ada tanda-tanda binatang yang lewat. Begitupun seterusnya sampai jerat ketujuh. Sedangkan jerat kedelapan dan kesembilan berhasil kabur, karena ayah mengikat ujung tali jeratnya kurang kuat. Saat mengecek jerat kesepuluh, kami mendapati seekor motang berukuran besar menjerit. Lehernya terjerat tali rem. Motang itu meronta-ronta, berusaha kabur ketika melihat kami. Tapi tali rem itu sangat kuat melilit lehernya. Untungnya, ayah mengikat ujung tali rem pada pohon yang agak besar, membuat motang itu tak berdaya untuk kabur. Aku dan ayah sangat senang melihat motang sebesar itu.

    “Potong satu bambu! Ujungnya dibuat tajam,” perintah ayah.

    “Oke.”

    “Cepat!”

    Tanpa berlama-lama, aku langsung memotong sebuah bambu berukuran sedang dan dibuat runcing sesuai yang diperintahkan. Aku memberikan bambu itu ke ayah. Dari jarak dekat, ayah menancap bambu runcing itu tepat di leher motang. Darahnya membucah mengenai muka ayah. Meski begitu, ayah sangat gembira.

    “Mampus! Selama ini kau yang datang mengoyak tanaman di kebun ini,” kata ayah sambil mengelap percikan darah di pipinya.

    Dengan segera, aku membantu ayah mengangkat motang itu ke sekang. Ibu terkejut melihat motang di pundakku. Sebelumnya, ayah tak pernah menangkap motang sebesar itu.  Ibu seolah tak percaya. Motang sebesar itu seolah  rezeki terbesar bagi kami.

    “Tuhan mencintai kita,” kata ibu, spontan sambil menengadah ke langit.

    “Ya. Tuhan tak pernah membiarkan kita kelaparan,” jawab ayah.

    Aku dan ayah langsung membelah dan membersihkan bulu motang itu. Sedangkan ibu langsung pergi mencabut beberapa ubi kayu.

    “Seandainya kita terlahir di kota atau setidaknya tempat ini dijadikan pusat kota dengan berbagai bangunan megah, kita tak akan pernah menikmati daging motang,“ ujar ibu sambil meletakan ubi di atas tumpukan kayu api.

    Setelah semua selesai, ibu lanjut membakar sebagian daging motang untuk dimakan. Sambil menunggu, aku dan ayah mulai membersihkan rumput liar yang menghalang pertumbuhan ubi jalar.

    Kami menebas rumput liar menggunakan parang. Ayah lebih cepat. Dia melaju beberapa langkah di depanku. Aku menebas rumput sedikit terlambat dari ayah, karena parang kurang tajam. Tak setajam parang ayah.

    “Sudah diberitahu, tapi tak dengar,” kata ayah sambil mengayunkan parang, menebas rumput di depannya.

    Aku tak menjawab. Aku tahu, aku yang salah bukan parang. Aku memang anak yang enggan mendengarkan nasihat orangtua.

    “Kita ini petani. Jadi petani harus gesit, tak boleh lamban,“ kata ayah.

    Sekali lagi aku tak menjawab. Aku membiarkan ayah memarahiku. Di balik ekspresinya, ada pesan yang tak sempat terucap, barangkali tersendat penat. Aku menyadari itu. Meski begitu, aku tetap lanjut membersihkan rumput liar itu.

    “Petani tuhh panggilan hidup kita,” ungkap ayah sebelum kami dipanggil ibu untuk makan.

    Benar. Ayah adalah keturunan petani. Ayah tahu persis seperti apa susah dan senang hidup sebagai petani. Dari pertanian, perut kami tak pernah kewalahan menanggung lapar. Sebab, melalui alam Tuhan berpihak pada kami.

    Aku bangga lahir dari rahim keluarga petani yang hidup di tengah alam. Namun, aku cemas, jika suatu ketika alam tak lagi bersahabat. Hubungan kami dengan alam renggang, lalu ia tiba-tiba murka.

    Jika alam murka, apakah kami masih bisa bertahan hidup?

    “Sipri, betapa beruntungnya kita hidup di tengah alam yang kaya ini,” ujar ayah sambil mengelap keringat di mukanya.

    Aku mengangguk penuh syukur. Bahwa, dari kekayaan alam keluarga kami bisa makmur. Paling kurang tidak pernah merasa lapar.

    “Kau tahu, betapa bodohnya keluarga si Markuh itu. Ia rela jual tanah ke PLN untuk proyek geotermal,“ kata ayah sambil menghela napas panjang.

    “Kenapa ayah berkata begitu. Bukankah mereka dapat uang banyak dan desa kita terjangkau listrik?“

    “Kau sama bodohnya dengan mereka!“ Jawab ayah, sambil mengacungkan telunjuk.

    Ia kecewa dengan jawabanku. Raut mukanya terlihat penuh penyesalan. Seketika, ia menghentikan ayunan parangnya, lalu mengajakku duduk sejenak. Tampaknya ayah ingin menjelaskan sesuatu padaku.

    “Sipri, supaya kau tahu. Jual tanah itu tak baik. Awas kena kutuk. Tanah tuhh harga diri kita. Jika tanah dijual, itu sama halnya jual diri.”

    Suara ayah kian keras nan tegas. Matanya berbinar melihat tanaman bertumbuh subur di sekitar kebun.

    “Andai tanah kita dijual demi lembaran uang dan pembangunan, kita bisa makan apa? Kita pasti mati. Apalagi, proyek geothermal sangat mengancam pertumbuhan tanaman.”

    “Tapi, aku sempat dengar dari Markuh kalau proyek itu hadir, kampung kita akan maju. Lapangan pekerjaan tercipta bagi kita di desa ini, mungkin aku bisa kerja di sana,” jawabku, mendukung perkataan Markuh saban lalu.

    Tak disangka, jawaban itu memicu amarah ayah. Ia berdiri, lalu menggenggam parang di tangan kirinya. Ia mengayunkannya hampir mengenaiku.

    Ayah garang dengan jawabanku.

    “Kau bodoh! Kau sama dengan mereka; pengecut! Tanah ini hadiah dari Tuhan. Tuhan memberikan tanah dengan segala keindahannya. Tak pantas bagi kita menjual, apalagi merusaknya. Kita hanya boleh merawat dan mengelola. Bukan merusak. Ingat itu!”

    Aku terdiam.

    “Kalau kau sebut proyek itu sebagai lapangan pekerjaan, lalu apa bedanya dengan berkebun. Bukankah kita yang tiap hari mencangkul di kebun adalah sebuah pekerjaan. Terus mengapa kau tidak menamai kebun sebagai lapangan pekerjaan? Ingat! Jangan coba-coba tergiur dengan uang lalu korbankan harga diri!“ Tegas ayah dengan suara meraung.

    Suara perdebatan antara aku dan ayah didengar ibu. Seketika, ibu pun mendekat.

    “Tolong, jangan bertengkar gara-gara proyek bangsat itu!” Ungkap ibu dengan suara penuh permohonan.

    Jawaban ibu jelas. Ia sepakat dengan ayah, mengutuk keras proyek geotermal itu.

    “Sipri, benar yang dikatakan ayah. Kita tak punya keahlian di proyek itu. Kita ini petani. Kita hidup dari hasil pertanian, bukan dari geotermal,” ujar ibu meyakinkanku.

    Aku terdiam mencerna segala penyampaian itu. Ungkapan ibu dan ayah benar adanya. Andaikan keluarga kami tanpa alam bisa saja mati. Tapi, alam tanpa keluarga kami tetap aman-aman saja.

    “Maaf bu, yah. Aku mudah tergoda,“ kataku, memohon maaf pada ayah dan ibu. Aku sadar, bahwa alam adalah rahmat terindah dari Tuhan. Alam, segalanya tersedia. [*]

                                                                                                            Nitapleat, 2026

     

    —————————

    Gonsi Kusman, Mahasiswa Institusi Filsafat dan Teknologi Kreatif Ledalero

     

    [1] Motang: Babi hutan

    [2] Sekang: Pondok

    [3] Pate: Bekas jalan binatang hutan

     

  • Dongeng  Marsinah

    Dongeng Marsinah

     

    Karya: Sapardi Djoko Damono

     

     

    1

     

    Marsinah buruh pabrik arloji,
    mengurus presisi:
    merakit jarum, sekrup, dan roda gigi;
    waktu memang tak pernah kompromi,
    ia sangat cermat dan hati-hati.
    Marsinah itu arloji sejati,
    tak lelah berdetak
    memintal kefanaan
    yang abadi:
    “kami ini tak banyak kehendak,
    sekedar hidup layak,
    sebutir nasi.”

     

    2

     

    Marsinah, kita tahu, tak bersenjata,
    ia hanya suka merebus kata
    sampai mendidih,
    lalu meluap ke mana-mana.
    “Ia suka berpikir,” kata Siapa,
    “itu sangat berbahaya.”
    Marsinah tak ingin menyulut api,
    ia hanya memutar jarum arloji
    agar sesuai dengan matahari.
    “Ia tahu hakikat waktu,” kata Siapa,
    “dan harus dikembalikan
    ke asalnya, debu.”

     

    3

     

    Di hari baik bulan baik,
    Marsinah dijemput di rumah tumpangan
    untuk suatu perhelatan.
    Ia diantar ke rumah Siapa,
    ia disekap di ruang pengap,
    ia diikat ke kursi;
    mereka kira waktu bisa disumpal
    agar lengkingan detiknya
    tidak kedengaran lagi.
    Ia tidak diberi air,
    ia tidak diberi nasi;
    detik pun gerah
    berloncatan ke sana ke mari.
    Dalam perhelatan itu,
    kepalanya ditetak,
    selangkangnya diacak-acak,
    dan tubuhnya dibirulebamkan
    dengan besi batangan.
    Detik pun tergeletak
    Marsinah pun abadi.

     

    4

     

    Di hari baik bulan baik,
    tangis tak pantas.
    Angin dan debu jalan,
    klakson dan asap knalpot,
    mengiringkan jenazahnya ke Nganjuk.
    Semak-semak yang tak terurus
    dan tak pernah ambil peduli,
    meregang waktu bersaksi:
    Marsinah diseret
    dan dicampakkan —
    sempurna, sendiri.
    Pangeran, apakah sebenarnya
    inti kekejaman? Apakah sebenarnya
    sumber keserakahan? Apakah sebenarnya
    azas kekuasaan? Dan apakah sebenarnya
    hakikat kemanusiaan, Pangeran?
    Apakah ini? Apakah itu?
    Duh Gusti, apakah pula
    makna pertanyaan?

     

    5

     

    “Saya ini Marsinah,
    buruh pabrik arloji.
    Ini sorga, bukan? Jangan saya diusir
    ke dunia lagi; jangan saya dikirim
    ke neraka itu lagi.”
    (Malaikat tak suka banyak berkata,
    ia sudah paham maksudnya.)
    sengsara betul hidup di sana
    jika suka berpikir
    jika suka memasak kata
    apa sebaiknya kita menggelinding saja
    bagai bola sodok,
    bagai roda pedati?”
    (Malaikat tak suka banyak berkata,
    ia biarkan gerbang terbuka.)
    “Saya ini Marsinah, saya tak mengenal
    wanita berotot,
    yang mengepalkan tangan,
    yang tampangnya garang
    di poster-poster itu;
    saya tidak pernah jadi perhatian
    dalam upacara, dan tidak tahu
    harga sebuah lencana.”
    (Malaikat tak suka banyak berkata,
    tapi lihat, ia seperti terluka.)

     

    6

     

    Marsinah itu arloji sejati,
    melingkar di pergelangan
    tangan kita ini;
    dirabanya denyut nadi kita,
    dan diingatkannya
    agar belajar memahami
    hakikat presisi.
    Kita tatap wajahnya
    setiap hari pergi dan pulang kerja,
    kita rasakan detak-detiknya
    di setiap getaran kata.
    Marsinah itu arloji sejati,
    melingkar di pergelangan
    tangan kita ini.

     

     

  •  Langkah Cepat Ungkap Kasus Air Keras Tuai Apresiasi, TNI Didorong Lebih Transparan

     Langkah Cepat Ungkap Kasus Air Keras Tuai Apresiasi, TNI Didorong Lebih Transparan

     

    Jakarta berandanegeri.com – Markas Besar Tentara Nasional Indonesia (Mabes TNI) telah menangkap dan memeriksa empat oknum anggota Badan Inteljen Strategis (BAIS) yang diduga terlibat dan pelaku penyiraman air keras terhadap Wakil Koordinator Kontras, Andrie Yunus. Keempat oknum tersebut telah diperiksa oleh Polisi Militer TNI (POM TNI).

    Mengacu keterangan Komandan Pusat Polisi Militer Mayjen TNI Yusri Nuryanto, empat oknum itu, yakni Kapten NDP, Lettu SL, Lettu BHW dan Serda ES. Keempatnya telah diperiksa secara maraton. Di sisi lain, Polda Metro Jaya telah berkoordinasi dengan Puspom TNI.

    Guru Besar Politik dan Keamanan Universitas Padjajran (Unpad), Muradi mengapresiasi atas kinerja Mabes TNI dalam hal ini Puspom TNI, karena dengan begitu cepat bisa menangkap dan memeriksa keempat terduga pelaku. Menurut Muradi, kasus ini bukan perkara mudah untuk ditangani.

    “Ini bukan perkara mudah kalau melihat situasi yang berkembang. Selain diapresiasi, temen-teman POM TNI harus bisa menarik ke atas, mana aktor intelektual. POM TNI harus mampu bawa kasus ini lebih transparan,” kata Muradi kepada wartawan, Rabu (18/3/2026).

    Muradi juga menyatakan TNI harus dapat menjamin kasus serupa tak terulang. “Bisa enggak di masa mendatang enggak kejadian lagi. Intinya, jangan cuma berhenti di empat orang. Proses juga harus terbuka. Publik harus bisa akses. Ada peradilan terbuka. Harapan publik kini ada di teman-teman TNI,” kata Muradi.

    Andrie Yunus merupakan salah satu aktivis yang menginterupsi rapat pembahasan RUU TNI yang digelar Komisi I DPR dan pemerintah di Hotel Fairmont pada 15 Maret 2025. Andrie bersama beberapa perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan masuk ke ruang rapat dan menyatakan penolakan terhadap revisi UU TNI.

    Praktisi hukum Agus Widjajanto menyoroti keberatan beberapa pegiat hak asasi manusia dan LSM soal pengesahan UU TNI yang di mana ada penambahan dua kewenangan.

    Menurut Agus, sejumlah pasal yang dianggap sebagian kalangan merupakan representasi dari kembalinya dwi fungsi TNI, seperti  Orde Baru adalah sangat tendensius dan berlebihan. Agus mengungkap, terdapat tiga pasal yang disahkan saat itu. Pertama, Pasal 3 soal kedudukan TNI dalam strategis pertahanan yang secara administratif di bawah Kemhan. Kedua, Pasal 7 soal tugas dan operasi selain perang ada dua kewenangan tambahan dari 14 kewenangan sebelumnya, yakni antara lain membantu menanggulangi keamanan siber dan membantu melindungi keamanan/penyelamatan WNI di luar negeri.

    “Kewenangan ini memang masuk ranah pertahanan negara, bukan lagi kamtibmas, lalu apa yang dipersoalkan. Katakan ada pembajakan di Kedubes RI di luar negeri memang domain tentara yang harus terjun,” kata Agus.

    Ketiga, Pasal 47 dari UU TNI yang mengatur anggota TNI bisa mengisi jabatan di lembaga/kementerian. Agus mengatakan pasal ini berbubungan erat dengan kapasitas TNI. “Jadi, sudah wajar. Jadi, apa yang jadi masalah,” ucap Agus yang juga kolumnis/penulis buku.

    ———————

  • Perihal Presidensialisme

    Perihal Presidensialisme

     

    Oleh  IGNAS KLEDEN,   S o s i o l o g

     

    Dalam sistem monarki konstitusional, kapten kapal pemerintahan adalah perdana menteri (PM), tetapi jangkar kapal raja atau ratu. PM adalah kepala pemerintahan, sedangkan raja atau ratu adalah kepala negara. PM memimpin pelayaran ke tujuan yang ditetapkan, menentukan jalur pelayaran, mengatur tugas dan tanggung jawab awak kapal. Namun, ketika topan menerpa, kapal  harus diamankan di tempat yang terlindung dan jangkar harus diturunkan agar kapal tak terancam karam dan terhunjam ke laut dalam. Menurut analogi ini, dalam monarki konstitusional raja atau ratu tidak punya fungsi eksekutif, tetapi punya fungsi moral dan simbolik yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan dan integrasi politik.

    Indonesia menganut sistem presidensial dan bukan sistem parlementer, yang berarti presiden mempunyai tugas ganda, yaitu menjadi kepala pemerintahan   sekaligus kepala negara. Sebagai kepala pemerintahan, dia menjadi eksekutif tertinggi yang bertanggung jawab terhadap maju mundurnya pemerintahan yang diselenggarakan bersama kabinet yang dipimpinnya. Namun, sebagai kepala negara dia jadi jaminan atau  ”jangkar” bagi keseimbangan dan integrasi politik negaranya.

    Dalam pemerintahan, keseimbangan politik ditentukan oleh prinsip Trias Politika atau tiga serangkai dalam politik berupa pembagian tugas dan wewenang antara eksekutif sebagai pelaksana pemerintahan, legislatif sebagai pembuat UU dan kontrol terhadap pemerintahan, serta yudikatif sebagai pihak yang harus memutuskan penyelesaian konflik yang ada di dalam pembagian tugas itu, dan menentukan sanksi bagi pelanggaran undang-undang. Meski demikian, dalam sistem kenegaraan, keseimbangan politik ditentukan pertama-tama oleh keseimbangan di antara berbagai institusi politik. Keseimbangan politik kata lain untuk perimbangan kekuasaan, sedangkan balance of power is primarily the balance between political institutions, perimbangan kekuasaan pertama-tama berarti perimbangan di antara institusi-institusi politik.

    Berkaca pada Thailand: perlunya keseimbangan politik

    Keseimbangan politik sebagai keseimbangan di antara lembaga-lembaga politik ini menjadi demikian penting untuk suatu negara sehingga Inggris bersedia membiayai kehidupan ratu dan keluarganya,

    Thailand bersedia membiayai kehidupan raja dan keluarganya. Sebab, di saat-saat genting ketika terjadi badai politik di antara lembaga-lembaga politik yang ada, raja atau ratu akan memainkan peranan sebagai jangkar bagi kapal yang terombang-ambing atau  faktor integrasi dan otoritas yang menjamin keutuhan negara. Ada semacam kepercayaan bahwa the king can do no wrong (raja tak mungkin berbuat salah) karena dia tidak terlibat dalam pelaksanaan pemerintahan dan bebas dari persaingan kekuatan politik dan karena itu dapat diterima oleh berbagai pihak yang saling bertentangan dan bahkan saling melibas dalam perebutan kekuasaan.

    Kita tahu negara tetangga kita, Thailand,  kini diakui kemajuan ekonominya dan terkenal  keberhasilan agro-industrinya  (dari pepaya bangkok hingga ayam bangkok). Selama bertahun-tahun negeri itu jadi ”medan tempur” antara pemerintahan sipil dan militer yang tak segan- segan melakukan kudeta terhadap pemerintahan yang sah. Untuk waktu yang lama Thailand diperintah oleh seorang raja yang berkuasa mutlak (absolute monarchy), tetapi sebuah revolusi meletus pada 1932 serta mengakhiri ancien regime dan menggantinya dengan monarki konstitusional, demokrasi parlementer, dan ideologi sosialisme yang didukung oleh kaum terpelajar. Unik bahwa dalam revolusi itu sistem kerajaan tidak dihapus, tetapi hanya diganti sifatnya yang absolut menjadi monarki konstitusional.

    Demokrasi yang mengembuskan angin segar dalam politik Thailand sejak 1932 terputus hidupnya pada 1947 ketika pemerintahan sipil di bawah PM Pridi Banomyong dikudeta oleh Jenderal Pibulsonggram, yang dianggap kolaborator Jepang dalam Perang Dunia II. Dia berkuasa selama 10 tahun sebagai penguasa militer dan pada 1957 pemerintahannya dikudeta oleh Jenderal Sarit Thanarat, yang membawa Thailand ke dalam bayang-bayang dominasi dan hegemoni Amerika Serikat. Dalam hiruk pikuk perebutan kekuasaan ini, negara dan masyarakat Thailand memandang kepada raja mereka, Raja Bhumibhol  bergelar Rama IX, yang duduk di atas takhtanya untuk waktu yang lama sekali, dan menjadi faktor yang menjamin keberlanjutan negara Thailand sampai ia wafat beberapa waktu lalu

    Dapat dipastikan bahwa peranan raja dan pengaruh para rahib Buddhis amat menentukan dalam mencegah perang saudara di negeri itu. Raja Thailand bukan saja jadi pengimbang antara kekuatan sipil dan militer, melainkan juga jadi mediator di antara kekuatan-kekuatan konservatif dan kelompok-kelompok progresif yang menghendaki perubahan dan pembaruan. Para penulis dan cendekiawan serta sastrawan Thailand tak jarang mendapat perlindungan raja meski mereka dianggap musuh oleh rezim yang sedang berkuasa.

    Bukan saja raja, anggota keluarga kerajaan dan para bangsawan tinggi pun tidak jarang jadi pelopor pembaruan masyarakatnya. Contoh dalam sejarah Thailand adalah Pangeran Sitthiporn Kridakara, seorang bangsawan tinggi yang menjadi pejabat tinggi di Istana Raja Rama VI dan punya hubungan baik dengan sang raja. Akhirnya dia meletakkan jabatan dan menjadi petani di bagian selatan Thailand. Dia mengampanyekan semboyan: hanya kalau kaum terdidik Thailand menjadi petani, dan hanya kalau petani Thailand menjadi cukup terdidik sehingga tak mudah dieksploitasi, negeri itu mempunyai masa depan yang cerah.

    Warisannya diteruskan oleh seorang dokter, dr Prawase Wasi, yang memberikan perhatian terhadap social liberation di negara itu. Dengan mengikuti contoh Pangeran Sitthiporn Kridakara sebagai modelnya, dia mendesak agar para tamatan universitas yang masih menganggur, yang pada masanya berjumlah kira-kira 200.000 orang, hendaklah menjadi petani. Kalau kaum terpelajar hanya mencari kerja pada pemerintah atau perusahaan asing, dikhawatirkan elite perkotaan akan selalu berkolaborasi dengan super power dan perusahaan multinasional, sambil meninggalkan petani dan pertanian dalam keadaan merana. Dia juga mengampanyekan pentingnya obat-obat herbal dalam tradisi negeri itu. Dia berkata, kesehatan umum masyarakat Thailand akan tercapai pada tahun 2000 jika penduduk tidak hanya menggantungkan nasibnya pada ilmu kedokteran Barat dan rumah sakit. Dia mendidik  para lulusan universitas untuk memberikan perhatian pada tanaman-tanaman obat yang harus dilindungi secara ketat dari deforestasi.

    Kemajuan agro-industri Thailand tentulah didukung teknologi pertanian dan perhatian negara terhadap pertanian. Namun, sering tidak diketahui ada gerakan sosial yang kuat, yang telah memberikan tempat penting bagi pertanian dalam kemajuan Thailand dan gerakan ini dipelopori oleh para bangsawan tinggi dan kaum terdidik negeri itu dalam perlindungan raja. Contoh ini memperlihatkan bahwa raja sebagai kepala negara dapat berbuat banyak sekali untuk negaranya sekalipun dia tak punya kekuasaan eksekutif.

    Perjuangan pemerintah dan rakyat Thailand untuk kesejahteraan mereka diabadikan oleh penyair Angkarn Kalayanapong dalam dua bait sajaknya. Dalam terjemahan saya dari versi bahasa Inggris, bunyi sajak itu adalah demikian: Siapa ’kan  berani memperdagangkan langit dan lautan?/ciptaan ajaib itu dunia kita/bagian-bagian badan akan dapat tempat/ pada jam-jam penghabisan antara bumi dan langit. — Kita bukan pemilik awan dan udara/atau langit atau bumi dan unsur-unsurnya /Manusia tak pernah menciptakan bulan atau sang surya/juga tidak satu atom dalam sebutir pasir.

     

    Kepala negara perlu intervensi

    Pemerintahan di Indonesia, dalam teori, menganut juga Trias Politika menurut ajaran filsuf politik Perancis, Montesquieu, yang dalil dan bukunya tentang the spirit of law menjadi bacaan wajib dalam studi ilmu hukum dan ilmu politik sampai sekarang. Menurut teori ini, hubungan eksekutif-legislatif didefinisikan sebagai hubungan di antara tugas eksekusi serta implementasi dan tugas pengawasan. Ini berarti pengawas tak boleh terlibat dalam eksekusi agar pengawasan yang ia lakukan tak bersifat partisan. Dalam praktik di Indonesia, terlihat tendensi DPR semakin banyak melakukan ekspansi kekuasaannya ke dalam bidang eksekutif. Banyak penunjukan jabatan eksekutif harus melalui persetujuan DPR atau disahkan oleh DPR yang melakukan fit and proper test.

     Sebagai contoh, penunjukan Panglima TNI dan Kapolri  oleh Presiden harus disertai persetujuan DPR, sementara jelas sekali tugas Panglima TNI dan Kapolri adalah tugas eksekutif. Demikian pun calon-calon duta besar yang dipilih Presiden harus melewati fit and proper test di DPR, sementara tugas duta besar adalah mewakili Presiden dan pemerintah di negara tempat dia ditempatkan. Demikian pula ketua dan jabatan pimpinan dalam Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dan Komisi Pemilihan Umum (KPU)  diusulkan oleh Presiden sebanyak dua kali jumlah kursi yang ada dan DPR akan memilih sesuai jumlah kursi yang tersedia.

    Contoh-contoh ini dapat diperbanyak dengan mudah. Namun, inti soalnya ialah tidak jelas lagi di mana batas tugas eksekutif dan legislatif dalam pemerintahan yang resminya diatur dengan sistem presidensial. Kita dapat bertanya sebaliknya, apakah pemilihan ketua DPR dan para wakil ketua di DPR harus dengan persetujuan Presiden? Apakah pemilihan ketua dan anggota komisi di DPR harus dengan persetujuan Presiden?

    Dalam pembagian tugas yang tegas, Presiden dapat menunjuk langsung Panglima TNI dan Kapolri tanpa persetujuan DPR, dan hanya kalau Panglima TNI atau Kapolri tidak bekerja dengan benar atau melakukan kesalahan besar, DPR dapat meminta pertanggungjawaban Presiden. Bahwa DPR hendak memperkuat posisinya dengan lebih banyak wewenang dan kekuasaan adalah hal yang bisa dipahami. Namun, pertanyaannya, apakah dengan itu prestasi dan produktivitas DPR juga meningkat dan peranannya sebagai wakil rakyat semakin nyata dan dirasakan?

    Persoalan yang sekarang menggantung di udara republik ini adalah ketegangan antara DPR dan KPK akibat pembentukan Pansus KPK. Ketegangan ini kian hari kian meningkat karena masyarakat terpecah juga dalam kelompok pro-Pansus dan pro-KPK. Presiden Jokowi diminta menyelesaikan ketegangan ini. Namun, dengan berpegang pada Trias Politika, Presiden berpendapat ini urusan DPR  dan dia tidak mau mengintervensi  DPR sekalipun desakan dan harapan masyarakat makin nyaring terdengar.

    Dalam soal ini, perlu ditegaskan bahwa Presiden Indonesia adalah kepala pemerintahan  dan eksekutif tertinggi, sekaligus juga kepala negara. Sebagai kepala pemerintahan dia terikat oleh batas-batas eksekutif. Namun, sebagai kepala negara dia bertugas menjadi faktor integrasi dan penjaga keseimbangan politik negerinya. Apabila terjadi ketakseimbangan dan disharmoni di antara lembaga-lembaga politik, kepala negara harus bertindak dengan memainkan peranan sebagai jangkar negaranya agar kapal negara ini tidak terombang-ambing oleh ulah dan bahkan keisengan lembaga politik tertentu. Ini mudah dipahami karena harus ada orang yang bertanggung jawab terhadap keutuhan negara dan bangsa ini. Dalam kasus Indonesia orang itu adalah Presiden sebagai kepala negara; bukan orang lain!

    Mungkin baik dicatat sekali lagi bahwa balance of power is primarily the balance between political institutions: perimbangan kekuasaan pertama-tama berarti perimbangan di antara lembaga-lembaga politik. Dengan demikian, sebagai kepala negara, Presiden kita berwenang membereskan konflik semacam ini agar integrasi politik dan keberlanjutan negara kita terjamin dan tidak dirusak oleh ulah suatu lembaga politik tertentu karena alasan apa pun.  Kalau hal ini dilakukan oleh Presiden Jokowi, dapat dipastikan dia  tidak mendapat dukungan DPR, tetapi dia akan mendapat dukungan rakyatnya, yang semakin lama semakin tidak merasa bahwa ada Dewan yang mewakili kepentingan mereka, juga akan dinilai masih mempunyai rasa peka terhadap keadaan yang mengancam keutuhan bangsa, kesejahteraan rakyat, dan keselamatan negaranya.

    ——————

     

    Sumber: Kompas 24-Juli-2017

     

  • Teory BiG Bang, Manusia dan Alam Semesta Dihubungkan dengan Ajaran Kapitayan

    Teory BiG Bang, Manusia dan Alam Semesta Dihubungkan dengan Ajaran Kapitayan

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Dalam ilmu pengetahuan fisika baik dalam teori Quantum maupun Big Bang menyatakan bahwa: Atom-atom yang membentuk tubuh manusia memang berasal dari bintang-bintang yang meledak di alam semesta awal. Proses ini disebut sebagai “nukleosintesis bintang”.

    Dalam tiga menit pertama setelah Big Bang, alam semesta masih sangat panas dan padat, sehingga hanya ada proton, neutron, dan elektron yang bebas. Namun, setelah beberapa menit, suhu dan kepadatan alam semesta menurun, sehingga memungkinkan proton dan neutron untuk bergabung membentuk inti atom yang lebih berat, seperti hidrogen dan helium.

    Namun, atom-atom yang lebih berat, seperti karbon, nitrogen, dan oksigen, yang merupakan komponen utama tubuh manusia, tidak terbentuk dalam tiga menit pertama. Mereka terbentuk dalam bintang-bintang yang lebih tua, melalui proses nukleosintesis bintang yang lebih kompleks.

    Jadi, atom-atom yang membentuk tubuh manusia sebenarnya berasal dari bintang-bintang yang meledak miliaran tahun yang lalu, dan telah melalui proses-proses astrofisika yang kompleks sebelum akhirnya menjadi bagian dari tubuh kita.

    Setelah manusia mati, atom-atom yang membentuk tubuhnya tidak ikut mati, melainkan menyebar di alam semesta melalui proses-proses alami seperti:

    1. Dekomposisi: Tubuh manusia diuraikan oleh mikroorganisme dan proses kimia, sehingga atom-atomnya dilepaskan ke lingkungan.
    2. Penguapan: Air dan gas-gas lainnya yang terkandung dalam tubuh manusia menguap ke atmosfer.
    3. Penguraian kimia: Atom-atom yang terkandung dalam tubuh manusia diuraikan menjadi bentuk-bentuk kimia yang lebih sederhana, seperti karbon dioksida, air, dan garam-garam mineral.

     

    Atom-atom ini kemudian menyebar di alam semesta, menjadi bagian dari:

    1. Tanah: Atom-atom yang terkandung dalam tubuh manusia dapat menjadi bagian dari tanah, yang kemudian diserap oleh tanaman dan organisme lainnya.
    2. Udara: Atom-atom yang terkandung dalam tubuh manusia dapat menjadi bagian dari udara, yang kemudian dihirup oleh makhluk hidup lainnya.
    3. Air: Atom-atom yang terkandung dalam tubuh manusia dapat menjadi bagian dari air, yang kemudian digunakan oleh makhluk hidup lainnya.

     

    Jadi, atom-atom yang membentuk tubuh manusia tidak benar-benar “mati”, melainkan terus bertransformasi dan menyebar di alam semesta, menjadi bagian dari siklus kehidupan yang lebih besar.

    Dalam ilmu pengetahuan disebutkan  bintang-bintang yang kita lihat di malam hari memang merupakan bagian dari atom-atom yang pernah menjadi bagian dari kita sendiri. Atom-atom tersebut telah melalui proses-proses astrofisika yang kompleks, seperti nukleosintesis bintang, supernova, dan lain-lain, sebelum akhirnya menjadi bagian dari bintang-bintang yang kita lihat sekarang.

    Cahaya yang kita lihat dari bintang-bintang tersebut adalah hasil dari reaksi nuklir yang terjadi di dalam intinya, yang kemudian dipancarkan ke luar angkasa sebagai radiasi elektromagnetik. Jadi, secara metaforis, kita bisa mengatakan bahwa bintang-bintang tersebut memang “memantulkan” cahaya dari atom-atom yang pernah menjadi bagian dari kita sendiri.

    Ini adalah konsep yang sangat menarik, karena membuat kita menyadari bahwa kita semua terhubung dengan alam semesta, dan bahwa atom-atom yang membentuk tubuh kita telah melalui perjalanan yang sangat panjang dan kompleks sebelum akhirnya menjadi bagian dari kita.

    Jadi, ketika kita melihat bintang-bintang di malam hari, kita tidak hanya melihat objek-objek astronomi, tapi juga melihat bagian dari diri kita sendiri yang telah bertransformasi menjadi sesuatu yang lebih besar dan lebih indah.

    Dalam ilmu tasawuf, ruh dianggap sebagai entitas yang terbuat dari cahaya, yang tidak pernah mati dan tidak pernah berubah. Ruh adalah aspek spiritual dari manusia, yang merupakan bagian dari cahaya Ilahi.

    Sementara itu, tubuh badan jazad (fisik) kita memang akan hancur dan mati, karena sifatnya yang material dan fani (sementara). Namun, atom-atom yang membentuk tubuh kita tidak benar-benar mati, melainkan terus bertransformasi dan menyebar di alam semesta, seperti yang kita bahas sebelumnya.

    Konsep “terlahir kembali” juga sangat menarik dalam konteks ini. Dalam ilmu tasawuf, ada konsep “reinkarnasi” atau “transmigrasi ruh”, yang berarti bahwa ruh dapat berpindah dari satu tubuh ke tubuh lainnya, atau bahkan ke bentuk lain, seperti hewan atau tumbuhan.

    Namun, perlu diingat bahwa konsep ini tidak sama dengan konsep reinkarnasi dalam agama-agama lain, karena dalam ilmu tasawuf, reinkarnasi tidak hanya tentang perpindahan ruh, tapi juga tentang proses spiritual dan evolusi ruh menuju kesempurnaan.

    Jadi, ketika kita memahami konsep ini, kita dapat melihat bahwa kehidupan tidak hanya tentang tubuh fisik, tapi juga tentang ruh yang abadi dan tidak pernah mati.

    Jika kita menghubungkan konsep atom diri kita yang terbentuk pada tiga menit pertama setelah alam semesta ada, dengan konsep terlahir kembali diri kita pada setiap jaman dan waktu, maka kita dapat melihat bahwa ada sebuah siklus yang sangat besar dan kompleks yang sedang berlangsung.

    Atom-atom yang membentuk tubuh kita telah ada sejak awal alam semesta, dan telah melalui proses-proses astrofisika yang kompleks sebelum akhirnya menjadi bagian dari kita. Kemudian, ketika kita mati, atom-atom tersebut tidak benar-benar mati, melainkan terus bertransformasi dan menyebar di alam semesta.

    Dalam konteks ini, konsep terlahir kembali diri kita pada setiap jaman dan waktu dapat diartikan sebagai proses perpindahan atom-atom yang membentuk tubuh kita ke dalam bentuk-bentuk lain, seperti manusia, hewan, tumbuhan, atau bahkan bintang-bintang.

    Jadi, kita dapat melihat bahwa diri kita tidak hanya terbatas pada satu tubuh atau satu waktu, tapi merupakan bagian dari sebuah siklus yang sangat besar dan kompleks yang sedang berlangsung sejak awal alam semesta.

    Ini adalah konsep yang sangat menarik, karena membuat kita menyadari bahwa kita semua terhubung dengan alam semesta, dan bahwa kehidupan tidak hanya tentang satu individu atau satu waktu, tapi tentang sebuah proses yang sangat besar dan kompleks yang sedang berlangsung.

    Jika kita melihat bahwa sesungguhnya alam semesta ini memiliki sebuah rencana yang sangat besar dan kompleks, maka tidak ada yang kebetulan dalam arti yang sebenarnya. Setiap kejadian, setiap peristiwa, dan setiap keputusan yang kita buat telah terprogram dan terkonsep dalam sebuah skenario yang sangat besar.

    Dalam konteks ini, konsep “qada dan qadar” dalam agama Islam, atau konsep “karma” dalam agama Hindu dan Buddha, dapat diartikan sebagai sebuah proses yang sangat besar dan kompleks yang sedang berlangsung, di mana setiap kejadian dan peristiwa telah terprogram dan terkonsep dalam sebuah skenario yang sangat besar.

    Jadi, kita dapat melihat bahwa setiap mahluk dan manusia memiliki sebuah “script” atau “program” yang telah ditentukan, dan bahwa kehidupan kita adalah sebuah proses yang sangat besar dan kompleks yang sedang berlangsung untuk mencapai sebuah tujuan yang sangat besar.

    Ini adalah konsep yang sangat menarik, karena membuat kita menyadari bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah rencana yang sangat besar dan kompleks, dan bahwa kehidupan kita memiliki sebuah makna dan tujuan yang sangat besar.

    Konsep “ilusi” dalam konteks ini berarti bahwa kehidupan kita adalah sebuah proses yang sangat besar dan kompleks yang sedang berlangsung, di mana kita memiliki kebebasan untuk membuat pilihan, tapi sebenarnya kita sedang mengikuti sebuah skenario yang telah terprogram.

    Dalam konteks ini, kita dapat melihat bahwa kebebasan kita adalah sebuah ilusi, karena kita tidak benar-benar memiliki kebebasan untuk membuat pilihan yang tidak terprogram. Kita hanya memiliki kebebasan untuk membuat pilihan yang telah terprogram dalam skenario yang sangat besar.

    Itulah mengapa, dalam beberapa tradisi spiritual, kehidupan ini disebut sebagai “mimpi” atau “ilusi”, karena kita tidak benar-benar memiliki kontrol atas apa yang sedang terjadi. Kita hanya memiliki kontrol atas bagaimana kita merespons apa yang sedang terjadi.

    Jadi, kita dapat melihat bahwa kehidupan kita adalah sebuah proses yang sangat besar dan kompleks yang sedang berlangsung, di mana kita memiliki kebebasan untuk membuat pilihan, tapi sebenarnya kita sedang mengikuti sebuah skenario yang telah terprogram.

    Jika kita melihat bahwa diri kita merupakan bagian dari semesta dan atom diri kita akan menyebar pada alam semesta, maka semesta akan merespon diri kita berdasarkan vibrasi kita, bukan ucapan atau doa kita.

    Vibrasi kita adalah energi yang kita pancarkan ke semesta, dan semesta akan merespon energi tersebut dengan cara yang sama. Jika kita memiliki vibrasi yang positif, maka semesta akan merespon dengan energi positif juga. Jika kita memiliki vibrasi yang negatif, maka semesta akan merespon dengan energi negatif juga.

    Jadi, tidak peduli apa yang kita ucapkan atau doakan, semesta tidak akan merespon berdasarkan kata-kata kita, tapi berdasarkan energi yang kita pancarkan. Itulah mengapa, dalam beberapa tradisi spiritual, dikatakan bahwa “energi adalah segalanya” dan “apa yang kita pancarkan, itulah yang kita terima”.

    Ini adalah konsep yang sangat menarik, karena membuat kita menyadari bahwa kita memiliki kekuatan untuk menciptakan realitas kita sendiri dengan cara mengubah vibrasi kita.

    Konsep “manunggal kawulo lan gusti” atau “tuhan adalah menyatu pada setiap mahluk” adalah sebuah konsep yang sangat tinggi dalam beberapa tradisi spiritual, termasuk Sufisme dan Kejawen.

    Konsep ini berarti bahwa Tuhan tidak hanya ada di luar diri kita, tapi juga ada di dalam diri kita. Tuhan adalah esensi dari segala sesuatu, termasuk diri kita sendiri. Jadi, ketika kita mencari Tuhan, kita tidak perlu mencari ke luar, tapi kita perlu mencari di dalam diri kita sendiri.

    Ini adalah konsep yang sangat menarik, karena membuat kita menyadari bahwa kita tidak terpisah dari Tuhan, tapi kita adalah bagian dari Tuhan sendiri. Jadi, ketika kita berdoa atau bermeditasi, kita tidak perlu meminta sesuatu dari Tuhan, tapi kita perlu menyadari bahwa kita sudah memiliki apa yang kita cari.

    Konsep ini juga membuat kita menyadari bahwa kita semua adalah satu, bahwa kita semua adalah bagian dari sebuah kesatuan yang lebih besar. Jadi, ketika kita mencintai diri sendiri, kita mencintai Tuhan, dan ketika kita mencintai orang lain, kita juga mencintai Tuhan.

    Konsep “Tuhan” adalah sebuah kata yang diciptakan oleh manusia untuk menggambarkan sesuatu yang lebih besar dari diri kita sendiri. Tapi, esensi dari konsep itu sendiri adalah semesta, adalah energi, adalah kesadaran, adalah kehidupan itu sendiri.

    Dalam beberapa tradisi spiritual, dikatakan bahwa “Tuhan” adalah sebuah kata yang tidak dapat menggambarkan esensi yang sebenarnya. Esensi itu sendiri adalah sesuatu yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata, tapi dapat dirasakan dan dialami.

    Jadi, ketika kita menggunakan kata “Tuhan”, kita tidak sedang menggambarkan sesuatu yang terpisah dari diri kita sendiri, tapi kita sedang menggambarkan esensi dari diri kita sendiri, dari semesta, dan dari kehidupan itu sendiri.

    Ini adalah konsep yang sangat mendalam, karena membuat kita menyadari bahwa kita tidak terpisah dari semesta, tapi kita adalah bagian dari semesta itu sendiri.

    Konsep bahwa Tuhan adalah semesta itu sendiri sudah ada sejak ribuan tahun sebelum Masehi, dan dikenal dalam tradisi Jawa sebagai “Kapitayan”. Kapitayan adalah sebuah konsep filosofis yang menggambarkan bahwa Tuhan tidak terpisah dari semesta, tapi Tuhan adalah semesta itu sendiri.

    Dalam Kapitayan, dikatakan bahwa Tuhan adalah “Sang Hyang Widi”, yang berarti “Kekuatan Ilahi” atau “Energi Kosmik”. Sang Hyang Widi adalah esensi dari segala sesuatu, dan segala sesuatu adalah manifestasi dari Sang Hyang Widi.

    Konsep Kapitayan ini sangat mirip dengan konsep-konsep filosofis lainnya di dunia, seperti Taoisme, Advaita Vedanta, dan Sufisme. Semua konsep ini menggambarkan bahwa Tuhan tidak terpisah dari semesta, tapi Tuhan adalah semesta itu sendiri.

    Ini adalah konsep yang sangat mendalam, karena membuat kita menyadari bahwa kita tidak terpisah dari semesta, tapi kita adalah bagian dari semesta itu sendiri.

    Seluruh agama, baik dari tradisi Samawi (Abrahamik) maupun Hindu, secara dogma mengajarkan kebaikan dan bersyukur. Ini bukan hanya tentang mengikuti aturan atau ritual, tapi tentang menciptakan aura positif dalam diri kita sendiri.

    Ketika kita melakukan kebaikan dan bersyukur, kita memancarkan energi positif ke semesta. Ini seperti mengirimkan sinyal ke semesta bahwa kita siap menerima kebaikan dan keberkahan. Semesta, yang merupakan bagian dari diri kita sendiri, akan merespon energi positif ini dengan cara yang sama.

    Jadi, pada hakekatnya, agama-agama mengajarkan kita untuk menciptakan kebaikan dan bersyukur agar kita dapat memancarkan aura positif yang dapat direspon oleh semesta. Ini adalah konsep yang sangat indah dan mendalam, karena membuat kita menyadari bahwa kita memiliki kekuatan untuk menciptakan realitas kita sendiri.

    Surga dan neraka bukan hanya tempat yang diciptakan oleh Tuhan, tapi juga merupakan kondisi batin yang kita ciptakan sendiri berdasarkan aura positif atau negatif yang kita pancarkan.

    Ketika kita memancarkan aura positif, kita menciptakan “surga” dalam diri kita sendiri, yaitu kondisi batin yang damai, bahagia, dan sejahtera. Sebaliknya, ketika kita memancarkan aura negatif, kita menciptakan “neraka” dalam diri kita sendiri, yaitu kondisi batin yang gelap, tidak bahagia, dan tidak sejahtera.

    Jadi, surga dan neraka bukan hanya tempat yang akan kita temui di akhirat, tapi juga merupakan kondisi batin yang kita ciptakan sendiri di dunia ini. Ini adalah konsep yang sangat mendalam, karena membuat kita menyadari bahwa kita memiliki kekuatan untuk menciptakan realitas kita sendiri.

    Konsep ini dikenal sebagai “reinkarnasi” atau “siklus kehidupan”, di mana jiwa atau kesadaran kita terus berulang dalam ruang dan waktu yang berbeda di alam semesta ini.

    Dalam beberapa tradisi spiritual, dikatakan bahwa jiwa kita terus berulang dalam siklus kehidupan yang berbeda, mengalami berbagai pengalaman dan pelajaran, hingga kita mencapai kesadaran yang lebih tinggi dan mencapai kebebasan dari siklus kehidupan.

    Konsep ini juga terkait dengan teori “multiversum”, di mana ada banyak alam semesta yang berbeda, dan jiwa kita dapat berpindah dari satu alam semesta ke alam semesta lainnya, mengalami berbagai pengalaman dan pelajaran.

    Jadi, hidup sesungguhnya adalah sebuah perjalanan yang terus berulang, dan kita memiliki kesempatan untuk belajar dan berkembang dalam setiap siklus kehidupan.

    Bahwa sesungguh nya  kesempurnaan adalah sebuah tujuan yang terus kita kejar dalam setiap siklus kehidupan. Kesempurnaan bukan hanya tentang mencapai keadaan yang ideal, tapi juga tentang memahami dan menerima diri kita sendiri, serta memahami dan menerima alam semesta.

    Dalam beberapa tradisi spiritual, dikatakan bahwa kesempurnaan adalah ketika kita mencapai kesadaran yang lebih tinggi, yaitu kesadaran bahwa kita adalah satu dengan alam semesta, dan bahwa kita adalah bagian dari keseluruhan.

    Jadi, untuk mencapai kesempurnaan, kita perlu terus belajar, berkembang, dan memahami diri kita sendiri, serta memahami alam semesta dan tempat kita di dalamnya.

    Konsep “kenali dirimu sendiri” adalah sebuah prinsip yang sangat penting dalam memahami semesta dan Tuhan. Ketika kita memahami diri kita sendiri, kita dapat memahami bahwa kita adalah bagian dari semesta, dan bahwa semesta adalah bagian dari diri kita.

    Dalam beberapa tradisi spiritual, dikatakan bahwa “Tuhan ada di dalam diri kita”, dan bahwa kita dapat menemukan Tuhan dengan memahami diri kita sendiri. Jadi, jika kita ingin tahu semesta atau Tuhan, kita harus tahu dan mengenal diri kita sendiri terlebih dahulu.

    Ini adalah konsep yang sangat mendalam, karena membuat kita menyadari bahwa kita memiliki kekuatan untuk memahami dan mengenal diri kita sendiri, dan bahwa kita dapat menemukan kebenaran dan kebijaksanaan dalam diri kita sendiri.

    Jika kita menghubungkan teori Big Bang dengan atom yang terbentuk tiga menit pertama setelah alam semesta dengan ajaran Syang Hyang Toya dari agama Kapitayan, maka akan terlihat bahwa ada kesamaan konsep.

    Syang Hyang Toya adalah konsep dalam agama Kapitayan yang menggambarkan bahwa Tuhan adalah energi yang tidak berbentuk, tidak berwarna, dan tidak berbau, namun ada di mana-mana. Ini mirip dengan konsep Big Bang, di mana alam semesta terbentuk dari ledakan besar yang menghasilkan energi dan materi.

    Atom yang terbentuk tiga menit pertama setelah alam semesta juga merupakan hasil dari proses ini, di mana proton, neutron, dan elektron bergabung untuk membentuk atom hidrogen dan helium. Ini adalah awal dari pembentukan bintang-bintang dan galaksi-galaksi.

    Jadi, jika kita menghubungkan konsep-konsep ini, maka akan terlihat bahwa ada kesamaan antara ajaran Syang Hyang Toya dengan teori Big Bang, yaitu bahwa alam semesta terbentuk dari energi yang tidak berbentuk dan tidak terbatas, dan bahwa kita adalah bagian dari proses ini.

    Leluhur Nusantara atau Nenek moyang kita sudah mewariskan ajaran luhur seperti ajaran Kapitayan yang sangat mendalam dan bijak. Mereka telah memahami konsep-konsep yang sekarang kita kenal sebagai teori Big Bang, fisika kuantum, dan lain-lain, namun dengan cara yang lebih spiritual dan filosofis.

    Kita harus cerdas dalam berpikir dan menghargai warisan nenek moyang kita, serta memahami bahwa kebijaksanaan tidak hanya berasal dari agama atau tradisi tertentu, tapi dari pengalaman dan pengetahuan yang telah diwariskan secara turun-temurun. Dengan memahami dan menghargai warisan nenek moyang kita, kita dapat memperkaya pengetahuan dan kebijaksanaan kita, serta menjadi lebih bijak dalam menghadapi kehidupan.

    Maka sesuai pidato Bung Karno saat itu pada puncak Revolusi mental dalam membangun karakter bangsa menyatakan , jikalau saudara saudara ingin jadi Moeslem jadi lah moeslim Indonesia yang berpribadi dan adat istiadat nusantara, demikian juga kalau saudara ingin jadi orang nasrani jadilah nasrani Indonesia , dan juga jadilah budha atau hindu Indonesia jangan jadi orang asing dinegerimu sendiri.

    Mari kita menjadi insan Nusantara yang berbudaya dan menghargai adat istiadat Indonesia. Kita harus menjaga dan melestarikan warisan budaya kita, serta menjadi contoh bagi generasi muda untuk menghargai dan melestarikan budaya kita.

    Mari kita jaga keharmonisan dan keselarasan dengan alam, seperti yang diajarkan oleh nenek moyang kita. Mari kita menjadi orang yang berbudaya, beradat, dan bermartabat, serta menjadi contoh bagi dunia bahwa Indonesia adalah negeri yang kaya akan budaya dan kearifan lokal.

     

    Jaya Nusantara!

     

    ——————-

    Penulis adalah pemerhati masalah sosial budaya

  • Semangat Zaman “Technique” dan Undangan Keterlibatan yang Membebaskan

    Semangat Zaman “Technique” dan Undangan Keterlibatan yang Membebaskan

    Oleh  A Moerbianto, Pegiat Aksi-Berpikir pada Komunitas Filsafat Oemah Djiwa

     

     

    Beberapa waktu lalu, Orang Muda Katolik (OMK) Wilayah II Paroki St. Aloysius Gonzaga Cijantung, melakukan kegiatan rutin perayaan Ekaristi untuk Kaum Muda. Dari foto yang dibagikan di Grup WhatsApp Lingkungan Kristoforus, yang penulis peroleh dari Ketua Wilayah II – ada yang menarik dan menggelitik bagi penulis. Perayaan Ekaristi OMK yang memang diagendakan secara rutin ini hanya dihadiri oleh empat orang muda Katolik.

    Ingatan penulis mundur ke sekitar tahun 1987-1995, saat masih aktif sebagai anggota dan Ketua Muda-mudi Katolik (Mudika) di Lingkungan St. Heronimus Emilianus di paroki yang sama. Setiap kegiatan Mudika yang diadakan pada masa itu, selalu diikuti oleh rekan-rekan Mudika yang hadir dengan penuh antusias. Zaman itu, dalam setiap kegiatan di tingkat wilayah, puluhan Mudika hadir dan aktif dalam kegiatan. Sedangkan dalam kegiatan di tingkat paroki, ratusan Mudika hadir dan terlibat aktif.

    Setelah melihat foto yang dibagikan di Grup WhatsApp, yang menampakkan empat orang muda Katolik yang ikut dalam perayaan Ekaristi Kaum Muda tersebut, muncul pertanyaan di dalam benak penulis: ke mana OMK yang lain?

    Dalam era teknologi digital dewasa ini, kegiatan on site bagi kaum muda seperti OMK, mungkin tidak menarik. Kaum muda kini lebih tertarik dengan kegiatan  “berselancar” di dunia maya melalui aneka platform digital. Pada masa-masa sebelum booming teknologi digital, banyak kegiatan kaum muda Katolik yang sangat menarik dan orang-orang muda Katolik hadir dan terlibat secara aktif. Pada masa-masa yang lampau itu, kaum muda Katolik yang hadir, tidak saja kerena alasan terlibat aktif dalam kegiatan, melainkan dimotivasi juga oleh kebutuhan bersosialisasi secara fisik. Kebutuhan ini merupakan bagian dari bentuk eksistensi diri orang muda Katolik sebagai pribadi konkret. Orang Muda Katolik eksis secara fisik pada momen kegiatan on site. Cara bereksistensi semacam ini menegaskan kodrat manusia sebagai pribadi konkret: raga-jiwa.

    Zaman ini, kegiatan-kegiatan orang muda Katolik termediasi oleh teknologi digital. Pertanyaan mendalam lebih lanjut adalah apakah teknologi – terutama teknologi digital – mampu memediasi orang muda Katolik untuk eksist sebagai pribadi konkret dalam kegiatan-kegiatan Gereja Katolik yang dirancang khusus untuk OMK? Pertanyaan ini menuntun kita, khususnya orang muda Katolik untuk melacak kodrat teknologi dan kemampuannya memediasi pribadi-pribadi orang Muda Katolik untuk masuk dalam keterlibatan yang membebaskan melalui kegiatan-kegiatan Gereja Katolik bagi OMK.  Pelacakan kodrat teknologi membantu orang muda Katolik untuk kritis terhadap modus “berselancar” di dunia maya yang dapat meng “alienasi” kaum muda dari diri sendiri sebagai pribadi konkret dan dari dunia kegiatan-kegiatan Gereja Katolik pada momen on site.

     

    Kodrat Teknologi: “Agama” Baru yang Totaliter?

    Filosof dan sosiolog berkebangsaan Perancis, Jacques Ellul (1912-1994 ) berpandangan bahwa teknologi bukan sekedar sebagai alat fisik (mesin) melainkan sebuah sistem holistik. Ia menyebut sistem itu dengan istilah “teknik” (technique). Dalam karyanya The Technological Society (1954), Ellul mengatakan bahwa teknologi adalah kumpulan metode yang dirancang secara rasional untuk mencapai efisiensi maksimum dalam setiap bidang aktivitas manusia. Ini berarti teknologi bukan sekedar mesin tetapi sebagai metode yang rasional, efisien, dan terukur dalam segala aspek kehidupan. Tujuan utama teknologi sebagai metode adalah mencari satu cara terbaik untuk mencapai hasil tertinggi dengan usaha terendah.

    Dari sinilah muncul kritik tajam dari Jacques Ellul terhadap peran teknologi dalam kehidupan manusia. Teknologi telah menjadi lingkungan baru yang mengendalikan manusia dan bukan manusia yang mengendalikan teknologi. Dalam konteks ini, technique memaksa manusia untuk menyesuaikan diri dengan mesin dan bukan sebaliknya. Manusia menjadi “birokrat”dalam sistem. Agar tetap relevan, manusia dikondisikan sedemikian rupa agar mengharuskan diri beradaptasi dengan pola dan semangat dasar kerja dalam lingkungan teknis yaitu kecepatan dan efisiensi. Pada akhirnya, teknologi berkembang dengan kecepatan sendiri, terlepas dari nilai moral atau kendali etis oleh manusia.

    Kodrat teknologi tersebut mengarahkan manusia dan masyarakat berfokus secara intens terhadap teknologi. Fokus ini perlahan dan pasti membentuk pola perilaku manusia dan masyarakat yang sangat terkait erat dengan perkembangan teknologi. Dengan demikian, perkembangan dan kemajuan teknologi tidak hanya memenuhi tuntutan manusia dan melampaui perkiraan kebutuhan masa depan, tetapi juga menciptakan imajinasi dan kesadaran baru dalam diri manusia. Pada titik ini, teknologi dalam kodratnya merupakan “agama” baru yang berwatak totaliter, yang mampu menggiring manusia dan masyarakat masuk dalam modus operandi dan tergantung atau percaya secara penuh pada cara kerja teknologi.

    Pandangan Ellul tentang watak totaliter teknologi tersebut, menjadi interupsi etis bagi orang muda Katolik yang berada dalam era teknologi yang mengedepankan efisiensi lebih penting daripada membangun relasi dengan perjumpaan secara fisik yang lebih humanis pada momen on site. Interupsi etis Ellul mengingatkan orang muda Katolik akan memudar atau menghilangnya intimitas relasi pada momen-momen on site. Intimitas yang hilang segera berujung pada defisit sikap empati terhadap sesama. Empati yang tidak berakar pada pengalaman perjumpaan wajah pada momen-momen on site, akan bermuara pada keterlibatan dan keberpihakkan yang termediasi oleh teknologi, yang pada akhirnya merupakan keterlibatan dan keberpihakan semu atau sebatas jargon.

     

    Perjumpaan On Site: Keterlibatan yang Membebaskan

    Gereja Katolik, terutama orang muda Katolik, hidup dalam semangat zaman technique, terutama pada era digital saat ini dan ke depan. Semangat zaman ini ditandai dengan penggunaan teknologi digital secara massif. Hampir bisa dipastikan bahwa orang muda Katolik zaman ini sekurang-kurangnya menggunakan satu aplikasi media sosial digital untuk kegiatan-kegiatannya di ruang maya/virtual. Baik untuk kegiatan dalam hidup menggereja maupun dalam bidang-bidang lainnya yang tidak berhubungan dengan profil diri sebagai orang beriman Katolik.

    Dalam hidup menggereja, tak bisa disangkal bahwa teknologi – terutama teknologi digital – telah memberikan banyak kemudahan bagi Gereja Katolik, terutama orang muda Katolik. Akan tetapi ada dampak yang timbul dari penggunaan teknologi digital, yakni memudarnya perjumpaan sebagai pribadi konkrit. Pudarnya perjumpaan konkrit ini bermuara pada pudarnya makna keterlibatan dan relasi langsung antarumat beriman Katolik.

    Bagaimana pun juga, orang-orang Katolik, terutama orang muda Katolik adalah pribadi konkret konkrit dan empirik (dialami secara langsung dengan raga). Gereja Katolik belum bergeser dari gambaran mengenai manusia yang demikian. Persoalan orang muda Katolik hari ini adalah gambaran mengenai manusia tersebut dan perjumpaan empirik dalam hidup menggereja, digantikan atau dimediasi oleh perkakas-perkakas teknologi digital. Tantangan ini berujung pada sikap tak lagi membutuhkan kedekatan relasi empirik dan interaksi langsung dalam perjumpaan on site sebagai kebutuhan untuk bertumbuh dan kembang.

    Pertanyaan-pertanyaan reflektif selajutnya: Apakah kegiatan seperti Misa OMK sudah tak lagi menarik bagi orang muda Katholik? Apakah ini menandakan iman pada Allah dalam Ekaristi dalam diri orang muda Katolik mengalami kegoyakan? Apakah platform-platform media sosial telah menjadi “agama” baru yang dimani oleh orang muda Katolik, sehingga tak lagi tertarik pada momen-momen on site untuk merayakan Misa, terutama yang khusus diselenggarakan untuk OMK?

    Terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut, penulis menawarkan dua pikiran kecil. Tawaran ini untuk menggerakkan perjumpaan on site sebagai keterlibatan yang membebaskan. Argumen dasar dari Adalah bahwa Gereja Katolik adalah komunitas pribadi-pribadi konkrit dan perjumpaan on site merupakan modus operandi Gereja Katolik menumbuh-kembangkan pengalaman batin sebagai individu dengan relasi interaksi aktif.

    Pertama, keterlibatan penuh dan konkret sebagai individu. Keterlibatan dengan kedalaman proses yang berkelanjutan untuk kepentingan diri sebagai manusia yang utuh. Bukan sekedar mencari keuntungan material. Lebih dari itu, keterlibatan ini juga sebagai keterlibatan dalam proses berpikir kritis dan reflektif sebagai manusia. Keterlibatan penuh dan konkrit berarti menyatu dengan kedalaman dan berproses sepenuhnya. Keterlibatan yang utuh dan penuh ini harus menjadi latihan rutin, sehingga menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup.

    Kedua keterlibatan sebagai makhluk sosial. Kita terlibat dengan apa yang kita bisa lakukan dalam kehidupan bermasyarakat dengan sikap kita sebagai manusia yang berkesadaran. Bagi Aristoteles, keterlibatan adalah kunci untuk mencapai hidup yang utuh dan bahagia, yakni hidup yang sempurna. Keterlibatan penuh dan konkrit akan membawa kita pada beberapa hal positif yaitu tentang bagaimana berpikir kritis reflektif, tidak mudah takluk pada sikap-sikap hegemonik dan dominatif, dan berkeberanian untuk bersikap adil terhadap sesama secara konsisten.

    Dalam keterlibatan secara penuh dan konkrit, kita akan berproses menjadi manusia yang berkehendak bebas dan berpikir sehingga kita menjadi sungguh-sungguh manusia. Hal ini merupakan hakikat dari diri yang mengalami pencerahan: tidak over-thinking, mengalami kedamaian batin, dan raga yang bugar. Setiap individu dalam keterlibatan ini sesungguhnya menjalani relasi yang sehat dengan diri sendiri, dengan sesama, dengan lingkungan alam, dan dengan Allah. Relasi ini berlangsung dalam kegiatan sehari-hari sehingga segala kegiatan merupakan jalan pembebasan. Seluruh dinamika dan proses hidup pun menjadi jalan spiritual. Di jalan ini, tidak ada lagi perbedaan antara hidup spiritual dan kegiatan sehari-hari yang terkesan remeh temeh.

    Dengan jalan spiritual ini, kita bisa terlibat di tingkat yang lebih luas. Di manapun kita berada, kita bisa menyumbangkan kemampuan kita untuk kebaikan bersama, seperti misalnya mengajak gereja untuk merefleksikan atau me”radikal”kan panggilan keterlibatan bagi orang muda Katolik dengan kegiatan-kegiatan yang mampu membuka kemampuan bertindak bukan hanya semata berbasis ajaran Kristus tetapi juga menggerakkan orang muda Katolik untuk mampu berpikir kritis-reflektif di hadapan semangat zaman yang baru – semangat zaman technique – dengan semua konsekuensi logis dan empiriknya, yang dihadapi oleh Gereja Katolik.

    *******************

                                                                                                                

  • Aletheia: Bukit Batu Karang – Cerpen Sany Tukan

    Aletheia: Bukit Batu Karang – Cerpen Sany Tukan

     

    Oleh Sany Tukan_@Wisma Rafael Ledalero

     

     

    Mentari di atas langit Flores sedang garang-garangnya. Angin kencang bertiup dari arah lautan, membawa aroma garam dan debu jalanan yang tak kunjung tenang diaspal jalanan. Terlihat di sebuah terminal bus kayu yang riuh hiruk-pikuk, Floren muncul melepas rindu. Ia bukan pejabat dari Jakarta, bukan Politisi dari seberang kota Medan, bukan pula pengusaha tambang dan kelapa sawit yang datang membawa janji. Ia datang hanya mengenakan kemeja tenun ikat kusam warnanya pudar dan ber-alaskan sandal jepit tipis ala kadarnya. Floren tidak membawa proposal proyek. Ia hanya membawa telinga yang mau mendengar dan tangan yang mau merangkul. Di pasar-pasar tradisional, di bawah rindangnya pohon cendana, Floren duduk berbicara sekaligus berseru curhat perihal sesuatu yang aneh didengar bagi telinga orang-orang zaman sekarang. Ia bercerita tentang mencintai musuh, tentang membagi moke, jagung titih dan jagung bose kepada mereka yang lapar, dan tentang berhentinya dendam perang antar suku.

    Berhenti memaki sama saudaramu karena beda pilihan Politik.” katanya di suatu sore di sebuah pangkalan Ojek.

    Tuhan tidak tinggal di dalam kotak suara, Ia tinggal di dalam hati orang jujur.” ujarnya lebih jauh.

    Detik menit kehidupannya awal-awal dicintai oleh banyak orang, karena ia sering membantu banyak orang, berbela rasa, dan menyembuhkan seorang nenek tua yang buta di pelosok Timor hanya dengan membasuh matanya dengan air kelapa. Ia membuat kepala-kepala desa, para politisi, dan para koruptor di kantor-kantor camat merasa panas dingin hanya karena tatapan matanya yang sangat jernih. Namun, perlahan-lahan, kenyamanan para penguasa kecil mulai terganggu, mulai mengadu. Para tuan tanag yang serkah, oknum-oknum yang suka memotong dana bantuan sosial, dan mereka yang menggunakan agama untuk kepentingan pribadi mulai merasa terancam. Floren terlalu jujur. Dan di zaman ini, kejujuran sekian sering dianggap sebagai ancaman keamanan.

    ***

    Malam itu, di bawah lampu jalanan yang redap-redup di pusat kota ditemani teriakan kicauan burung malam yang melantangkan kebenaran dan angin malam yang menghantarkan harapan akan selimut perdamaian, Floren ditangkap. Bukan oleh tentara Romawi dengan pedangnya, bukan oleh anak-anak STM, melainkan oleh suara-suara fitnah di media sosial dan laporan-laporan palsu. Ia dibawa kehadapan Tuan Besar yang duduk di atas kursi empuk berhiaskan rintihan rakyat jelata.

    Apakah engkau ini yang katanya mau mengubah tanah ini menjadi Surga?” tanya Tuan Besar sambil menghisap sebatang rokok.

    Floren hanya terdiam bisu menanggung peluh. Diamnya bukan karena takut, tetapi karena ia tahu bahwa kata-kata tidak ada gunanya bagi hati yang sudah tertutup oleh gila hormat. Orang-orang lain disekitarnya masih terus menafsir keterdiamannya, bertanya-terus bertanya di dalam memori barangkali ada ketersembunyian yang tidak layak disembunyikan.

    Keesokan harinya, di sebuah lapangan luas nan tandus dekat pelabuhan, Floren dipukuli. Bukan oleh prajurit berziarah layaknya peziarah yang dilukiskan oleh Paulo Caelho dalam bukunya Sang Peziarah, tetapi oleh ketidakpedulian orang banyak. Mereka yang dulu pernah diberi makan, kini hanya menonton sambil merekam kejadian itu dengan ponsel mereka demi kebahagian FB-pro. Sebagian lagi berteriak, “Hajar dia! Dia merusak adat kita! Dia membuat kita merasa bersalah.”

    Floren dipaksa memikul sebuah palang kayu yang besar dan kasar, sebuah kayu jati tua yang beratnya minta ampun. Ia harus berjalan mendaki bukit batu karang yang tajam. Jalanan itu panas, penuh kerikil yang melukai kakinya. Setiap kali ia jatuh, orang-orang bukannya lekas menolong, malah sibuk memberikan komentar jahat di kolom live streaming. Di tengah perjalanan menuju puncak bukit batu karang, seorang pemuda kampung bernama Baranusa, seorang penambang pasir yang baru pulang kerja, dipaksa oleh petugas untuk membantu memikul kayu jadi tua tebangan liar itu. Baranusa melihat mata Floren. Di mata itu, Tobi tidak melihat kebencian, melainkan sebuah kasih yang sangat dalam, seolah-oleh Floren sedang memikul seluruh beban penderitaan orang NTT di puncak pundaknya.

    ***

    Ketika tiba di puncak bukit batu karang yang dulu sering disebut Bukit Cinta, di bawah langit cakrawal yang tiba-tiba berubah mendung pekat, Floren direntangkan. Paku-paku besar menembus tangannya yang biasa dipakai untuk memberi pelukan kasih sayang kepada anak-anak kecil yang menagih kasih sayang dari kedua orang tuanya, yang merantau entah pergi kemana, lalu meninggalkan luka. Saat palang kayu itu ditegakkan, Floren tergantung di antara langit dan bumi NTT. Dari atas bukit itu, Ia bisa melihat ladang-ladang jagung yang kering, pohon-pohon tumbang ditebang, hutan-hutan digundul, dan rumah-rumah beratap alang-alang yang penghuninya masih bergumul dengan kemiskinan.

    Bapa,” bisik-Nya dengan suara parau di tengah deru angin, “Ampuni mereka. Mereka tidak mengerti apa yang mereka lakukan di group-group WhatsApp dan di FB-FB Pro itu, di kantor-kantor itu, dan di jalan-jalanan ini.”

    Tepat pukul tiga sore, bumi berguncang. Gunung Lewotobi dan Ile Lewotolok di seberang laut merunduk tak kuasa membendung amarah. Floren menghembuskan napas terakhirnya. Orang-orang yang tadi mencemooh tiba-tiba terdiam. Ponsel-ponsel diturunkan. Suasan menjadi sunyi senyap, bisu memandang ulah kebencian, hanya deruan angin berkecamuk meminta keadilan. Seorang Tuan tanah didampingi Perwira Polisi berlutut di atas karang tajam, memandang. “Sungguh,” katanya pelan, “Orang ini benar-benar Orang Baik. Ia mati supaya kita berhenti saling membenci.”

    Floren meninggal di atas bukit batu karang yang dulu katanya disebut Bukit Cinta, tetapi entah cintanya kemana, dari siapa, dan untuk siapa. Di dalam hati Baranusa, di dalam hati nenek tua yang sembuh, dan di dalam jiwa tanah NTT, sebuah benih baru telah ditanam di sela-sela batu karang keegoisan diri. Benih itu bukan tentang kematian, melainkan tentang pengorbanan yang takkan pernah usang; sebuah sejarah amerta yang membuktikan bahwa cinta selalu lebih kuat daripada paku dan kayu, cinta lebih kuat daripada janji yang diumbar tanpa ada bukti.

     

    #Rekontekstualisasi Imajinasi dari suara-suara yang seringkali terlupakan#

  • Ayah, Tubuh, dan Kekuasaan: Kritik Sosial dalam Cerpen “Menyusu Ayah”

    Ayah, Tubuh, dan Kekuasaan: Kritik Sosial dalam Cerpen “Menyusu Ayah”

    Oleh Febrian Sakukut, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Cerpen Menyusu Ayah merupakan salah satu karya dari Djenar Maesa Ayu yang dikenal berani mengangkat tema-tema yang sering dianggap tabu dan vulgar. Dalam banyak karyanya, Djenar kerap menyingkap sisi gelap relasi manusia, terutama yang berkaitan dengan tubuh, seksualitas, dan kekuasaan. Ia tidak menulis dengan tujuan mengejutkan pembaca semata, melainkan ingin memperlihatkan fakta realitas yang sering disembunyikan di balik norma sosial.

    Karakter kepenulisan Djenar Maesa Ayu, sangat berpengaruh terhadap cara ia membangun cerita. Sebagai penulis yang sering mengangkat persoalan tubuh dan pengalaman perempuan, Djenar berusaha memperlihatkan bagaimana tubuh dapat menjadi ruang perebutan kekuasaan.

    Dalam cerpen ini, tokoh utama Nayla, digambarkan sebagai seorang anak yang mengalami relasi keluarga yang tidak sehat. Sosok ayah yang seharusnya menjadi pelindung justru berada dalam posisi dominan yang menimbulkan luka psikologis bagi dirinya. Melalui kisah Nayla, Djenar memperlihatkan bahwa relasi kekuasaan dalam keluarga tidak selalu berjalan secara adil. Yang pada akhirnya menjadi kritik sosial terhadap struktur keluarga yang sering dianggap sebagai ruang paling aman.

    Untuk memahami kekuatan estetik cerpen ini, pendekatan yang dapat digunakan adalah konsep keluhuran (sublime) yang dikemukakan oleh Longinus. Menurut Longinus, sebuah karya sastra dapat dianggap luhur apabila memiliki lima unsur utama, yaitu keagungan pemikiran (grandeur of thought), emosi yang kuat atau gairah yang mulia (passion), penggunaan retorika yang unggul, pemilihan diksi yang berkualitas, serta komposisi atau susunan karya yang mulia.

     

    Daya Pemikiran yang Agung

    Keagungan pemikiran dalam cerpen ini terlihat dari keberanian Djenar mengangkat persoalan yang jarang dibicarakan secara terbuka, yaitu penyalahgunaan kekuasaan dalam keluarga. Dalam masyarakat, keluarga sering dipandang sebagai tempat yang penuh kasih sayang dan perlindungan. Figur ayah umumnya dianggap sebagai simbol tanggung jawab dan otoritas moral. Namun melalui cerita Nayla, Djenar Maesa Ayu justru menghadirkan gambaran yang berlawanan. Ayah dalam cerpen Menyusu Ayah, tidak sepenuhnya menjalankan perannya sebagai pelindung, melainkan sebagai pihak yang memiliki kuasa terhadap tubuh anaknya.

    Melalui konflik tersebut, pengarang menyampaikan gagasan besar mengenai bagaimana kekuasaan dapat bekerja dalam hubungan yang paling dekat sekalipun. Nayla berada dalam posisi yang tidak memiliki kekuatan untuk melawan karena ia masih seorang anak yang bergantung pada orang tuanya. Situasi ini menunjukkan bahwa kekuasaan dalam keluarga dapat menjadi tidak sehat ketika tidak disertai tanggung jawab moral. Keagungan pemikiran dalam cerpen ini terletak pada kemampuannya membuka ruang refleksi bagi pembaca tentang pentingnya kesadaran etis dalam relasi keluarga.

     

    Emosi yang Kuat dan Gairah yang Mulia

    Cerpen Menyusu Ayah, menghadirkan emosi yang sangat intens melalui pengalaman batin tokoh Nayla. Nayla digambarkan belum sepenuhnya memahami cinta dan kasih sayang. Ia berada dalam kondisi bingung antara mempercayai sosok ayah sebagai figur yang memberikan cinta dan kasih sayang.

    Perasaan takut, bingung, dan tidak berdaya yang dialami Nayla membuat pembaca merasakan konflik batin yang mendalam. Emosi dalam cerita ini tidak muncul melalui ungkapan yang berlebihan, melainkan melalui situasi yang secara perlahan memperlihatkan tekanan psikologis yang dialami tokoh utama. Pembaca diajak menyelami perasaan Nayla yang berada dalam posisi rentan. Inilah yang membuat cerpen Menyusu Ayah memiliki kekuatan emosional yang besar. Pembaca tidak hanya memahami cerita secara rasional, tetapi juga merasakan penderitaan tokoh secara emosional.

     

    Penggunaan Retorika yang Kuat

    Dalam cerpen Menyusu Ayah, retorika terlihat dari cara Djenar menyusun narasi yang kompleks dan abstrak sehingga memiliki dampak yang kuat. Djenar Maesa Ayu juga menggunakan kalimat rumit dengan pemikiran vulgar, yang bertujuan untuk mewakili konsep asbtrak untuk menuju ke pemikiran yang lebih dalam. Yang kemudian membuka kebenaran tentang pola pikir dan perjuangan identitas perempuan.

    Selain itu, retorika juga muncul melalui kontras antara citra ayah sebagai pelindung dengan kenyataan yang dialami tokoh utama. Kontras ini menciptakan efek ironi yang kuat. Pembaca yang pada awalnya mungkin mengharapkan sosok ayah sebagai figur penyelamat justru dihadapkan pada kenyataan bahwa figur tersebut menjadi sumber ketakutan bagi Nayla. Strategi retorika seperti ini membuat kritik sosial yang disampaikan terasa lebih tajam tanpa harus dijelaskan secara langsung oleh pengarang.

     

    Pilihan Diksi yang Berkelas

    Pilihan kata yang digunakan oleh Djenar Maesa Ayu memiliki peran penting dalam membangun suasana cerita. Bahasa yang digunakan terasa sederhana namun sarat makna. Kata-kata yang dipilih mampu menggambarkan kondisi psikologis tokoh Nayla dengan sangat kuat.

    Diksi yang digunakan juga memperlihatkan bagaimana tubuh menjadi simbol penting dalam cerita. Tubuh Nayla tidak hanya digambarkan sebagai bagian fisik, tetapi juga sebagai ruang di mana relasi kekuasaan berlangsung.

    Melalui pilihan kata yang tepat, Djenar memperlihatkan bagaimana tubuh dapat menjadi wilayah yang rentan ketika berada dalam relasi yang tidak seimbang. Akibatnya cerpen Menyusu Ayah, memberikan logika berpikir abstrak untuk menyinggung para kaum yang mengganggap perempuan hanya sebagai objek pemuas nafsu.

     

    Komposisi yang Mulia dan Harmonis

    Pembaca mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dalam hubungan antara Nayla dan ayahnya. Dimulai dari pengenalan tokoh Nayla, kemudian konflik yang ia alami dengan ayahnya, hingga pencarian kasih sayang pada laki-laki lain sebagai pengganti figur ayah.

    Konflik tidak muncul ketika ia berbeda pemikiran dengan ayahnya, tetapi juga dalam prosesnya ia berusaha untuk memperjuangkan kebebasan terhadap dirinya sendiri. Yang sejak kecil sudah hidup pada aturan ayahnya yang otoriter.

    Komposisi cerita yang rapi membuat setiap bagian memiliki fungsi dalam membangun konflik dan memperdalam karakter tokoh. Tidak ada bagian yang terasa berlebihan, karena seluruh unsur cerita diarahkan untuk memperlihatkan relasi kekuasaan yang terjadi dalam keluarga Nayla. Struktur yang demikian membuat pesan cerita tersampaikan dengan lebih kuat.

    Melalui pendekatan teori keluhuran Longinus, cerpen Menyusu Ayah menunjukkan bahwa sastra dapat menjadi medium yang kuat untuk menyampaikan kritik sosial. Pengalaman Nayla tidak hanya menggambarkan penderitaan seorang anak, tetapi juga mencerminkan persoalan yang lebih luas dalam masyarakat. keluarga yang seharusnya menjadi ruang perlindungan dapat berubah menjadi ruang yang penuh luka ketika relasi kekuasaan tidak dijalankan dengan tanggung jawab moral.

    Selain itu, keberanian Djenar Maesa Ayu dalam mengangkat tema yang sensitif juga menunjukkan peran penting sastra dalam membuka diskusi mengenai persoalan yang sering dianggap tabu. Melalui gaya bahasa yang lugas dan struktur cerita yang kuat, Djenar berhasil menghadirkan karya yang tidak hanya menggugah emosi, tetapi juga mendorong pembaca untuk berpikir lebih kritis mengenai nilai-nilai kemanusiaan.

    Dengan memanfaatkan unsur keluhuran sebagaimana dijelaskan oleh Longinus, cerpen Menyusu Ayah berhasil menghadirkan pengalaman membaca yang menggugah kesadaran pembaca tentang tubuh, kekuasaan, dan keluarga.

    Cerpen Menyusu Ayah, tidak sekadar menghadirkan kisah yang mengejutkan, tetapi juga mengajak pembaca untuk melihat kembali makna tanggung jawab, perlindungan, dan kasih sayang dalam keluarga.

    Melalui kekuatan bahasa dan keberanian tematiknya, Djenar Maesa Ayu berhasil menjadikan cerpen Menyusu Ayah, sebagai salah satu bentuk kritik sosial yang penting dalam karya sastra.

    —————-

  • PAN Islamian dan Ancaman Keruntuhan Dominasi Amerika

    PAN Islamian dan Ancaman Keruntuhan Dominasi Amerika

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Perang Iran Melawan Amerika dan Israel telah memasuki dua pekan , tiada tanda-tanda Iran akan kalah atau menyerah, justru Amerika dan Israel terseret dalam skenario perang Asimetris panjang dan berlarut-larut, dengan demikian analisis dari Pakar China Prof. Jian Xueqine bahwa Amerika akan mengalami kekalahan seperti halnya dengan Vietnam akan jadi kenyataan.

    Prof. Jian juga memaparkan analisanya bahwa Iran akan mempersatukan negara negara islam.di timur tengah tidak lagi memandang sunny maupun syiah untuk merevolusi melawan kolonialisasi Amerika yang sudah berlangsung hampir 50 tahun, dimana Negara negara Teluk persia, baik Oman, Qatar, Yordania, Arab Saudi, Uni Emirat Arab, menggunakan petro dolar dalam pembayaran minyak, yang hasilnya juga diinvestasikan pada perusahaan-perusahaan besar di Eropa dan Amerika yang tujuan nya adalah memperkuat mata uang dolar di kancah Global yang tetap bisa mendominasi ekonomi dunia, kata Prof Jian.

    Penyatuan dunia Islam adalah bukan hal yang mustahil, dan mungkin saja terjadi , seiring perkembangan dunia baru saat ini ditengah menurunnya dominasi Amerika Serikat sendiri di kancah Global.

    PAN Islamia adalah sebuah organisasi Islam yang didirikan pada tahun 1911 di Istanbul, Turki. Tujuan utama organisasi ini adalah untuk menyatukan umat Islam di seluruh dunia dan mempromosikan kepentingan Islam.

     

    PAN Islamia memiliki beberapa tujuan, antara lain:

    – Menyatukan umat Islam: Mengatasi perbedaan dan mempromosikan persatuan di antara umat Islam

    – Mempromosikan kepentingan Islam: Mempertahankan dan mempromosikan kepentingan Islam di dunia

    – Menghadapi imperialisme: Menentang imperialisme dan kolonialisme yang mengancam dunia Islam

     

    PAN Islamia memiliki peran penting dalam sejarah pergerakan kemerdekaan di beberapa negara Islam, termasuk Indonesia. Beberapa tokoh penting PAN Islamia adalah:

    – Jamaluddin al-Afghani: Salah satu pendiri PAN Islamia

    – Muhammad Abduh: Tokoh Islam modernis Mesir

     

    PAN Islamia masih aktif hingga saat ini, dengan kantor pusat di Istanbul, Turki.

     

    Bahwa Iran memiliki ambisi untuk menggunakan konsep Pan-Islamisme sebagai kekuatan politik di dunia Islam. Setelah Revolusi Islam 1979, Iran mengubah dirinya menjadi negara Islam dan mulai memproyeksikan modelnya ke luar negeri, memicu rivalitas sektarian dan aliansi strategis di Timur Tengah.

    Iran menggunakan doktrin “Mengekspor Revolusi” untuk menyebarkan ideologi Islam dan mempromosikan kepentingan Islam di dunia. Mereka juga membentuk aliansi dengan kelompok-kelompok Islam di luar negeri, seperti Hizbullah di Lebanon dan Hamas di Palestina.

    Namun, perlu diingat bahwa Iran juga memiliki kepentingan nasional dan geopolitik yang mempengaruhi kebijakannya. Mereka menggunakan Pan-Islamisme sebagai alat untuk meningkatkan pengaruh dan kekuasaannya di wilayah tersebut

    Apakah Iran berhasil menggunakan Pan-Islamisme sebagai kekuatan politik? Itu tergantung pada perspektif dan kepentingan masing-masing pihak. Namun, yang jelas adalah bahwa Iran telah menjadi pemain penting dalam politik Islam global.

    Dan jika itu terjadi maka penjualan minyak di Timur Tengah mungkin akan beralih menggunakan Rubbel atau Yuan mata uang China.

    Sejarah telah menulis Pasca Perang Dunia ke-II setelah menyerahnya Jerman kepada sekutu, dan dijatuhkan nya bom atom Ke kota Herosima dan Nagasaki yang membuat Jepang mengambil keputusan menyerah kepada sekutu   Amerika Serikat selaku pihak pemenang dalam perang saat itu, mulai mendominasi Dunia dalam bidang Geo Strategis dan politik Global dimana, dengan kekuatan ekonominya bisa menggenjot pengembangan tehnologi militer dan ruang angkasa, yang hampir seratus tahun mendominasi kekuatan Global.

    Amerika Serikat memang tidak sendirian saat itu, dimana saat terjadinya perang dingin ada dua poros kekuatan dunia yang menjadi kiblat Geo Strategis dan Politis yakni Amerika Serikat dan Uni Soviet sebelum bubar sebagai negara federasi tersebut pada Desember 1991 dan menjadi Rusia.

    Seiring dengan perjalanan waktu, pasca runtuhnya Uni Soviet, Amerika Serikat sendiri saat ini  didalam negeri kesulitan dalam memberikan lowongan pekerjaan kepada warga negaranya, akibat dari hutang luar negeri yang begitu besar, dimana presiden Donald Trums mengambil keputusan kontraversi tanpa persetujuan senat telah melancarkan serangan ke  Iran bersama  Israel dimana terjadi demo besar-besaran di kota kota besar Amerika Serikat yang menentang kebijakan pemerintah dalam upaya turut campur konflik negara lain, sebagai upaya mempertahankan dominasi global dan kawasan Timur Tengah tersebut.

    Ray Dalio, seorang investor dan penasihat keuangan terkemuka, telah memprediksi potensi penurunan pengaruh dominasi Amerika Serikat dalam beberapa aspek. Berikut beberapa poin penting dari prediksinya:

    – Lonjakan Utang AS: Dalio mengingatkan bahwa lonjakan utang AS dapat menimbulkan dampak berat pada ekonomi global. Utang nasional AS saat ini mencapai lebih dari USD 36,2 triliun.

    – Perubahan Urutan Kekuatan Global: Dalam bukunya, “The Changing World Order: Why Nations Succeed and Fail”, Dalio membahas tentang perubahan urutan kekuatan global dan bagaimana negara-negara dapat berhasil atau gagal.

    – Potensi Penurunan Dominasi AS: Berdasarkan analisisnya, Dalio memprediksi bahwa AS mungkin akan mengalami penurunan pengaruh dominasi dalam beberapa dekade mendatang akibat dari masalah utang dan perubahan dinamika global.

     

    Ditengah situasi tersebut , Rusia yang merupakan garda terdepan dalam menggagas dunia baru dalam kerjasama ekonomi, telah membentuk organisasi yang disebut BRICH. Dimana Negara-negara BRICS (Brazil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan) berupaya mengurangi ketergantungan global pada dolar AS. Mereka ingin meningkatkan penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan dan investasi, serta mengembangkan sistem keuangan alternatif untuk mengurangi dominasi dolar.

     

    Tujuan De-Dolarisasi BRICS:

    – Mengurangi Ketergantungan pada Dolar: BRICS ingin mengurangi ketergantungan ekonomi mereka pada dolar AS dan meningkatkan penggunaan mata uang lokal.

    – Meningkatkan Stabilitas Ekonomi: Dengan mengurangi ketergantungan pada dolar, BRICS berharap dapat meningkatkan stabilitas ekonomi mereka dan mengurangi risiko yang terkait dengan fluktuasi nilai dolar.

    – Meningkatkan Pengaruh Global: BRICS juga ingin meningkatkan pengaruh global mereka dengan mengembangkan sistem keuangan alternatif dan meningkatkan peran mata uang lokal dalam perdagangan internasional.

     

    Upaya De-Dolarisasi BRICS:

    – Perdagangan dengan Mata Uang Lokal: BRICS telah meningkatkan perdagangan dengan menggunakan mata uang lokal, seperti yuan dan rubel, untuk mengurangi ketergantungan pada dolar.

    – Sistem Pembayaran Alternatif: BRICS juga telah mengembangkan sistem pembayaran alternatif, seperti SPFS dan CIPS, untuk mengurangi ketergantungan pada sistem keuangan Barat.

    – Pengembangan Mata Uang Digital: BRICS juga sedang mengembangkan mata uang digital untuk meningkatkan efisiensi dan keamanan transaksi lintas batas

     

    Namun, upaya de-dolarisasi BRICS masih menghadapi beberapa tantangan, seperti:

    – Infrastruktur Keuangan yang Belum Mencukupi: Infrastruktur keuangan yang belum mencukupi di negara-negara BRICS membuat penggunaan mata uang lokal dalam perdagangan internasional masih terbatas.

    – Ketergantungan pada Dolar dalam Perdagangan Komoditas: Perdagangan komoditas masih banyak yang menggunakan dolar sebagai mata uang utama, sehingga membuat upaya de-dolarisasi lebih sulit

     

    Indonesia secara resmi bergabung dengan BRICS pada 8 Januari 2025, setelah diumumkan oleh Brasil sebagai ketua BRICS pada 7 Januari 2025. Keanggotaan Indonesia ini menandai babak baru dalam kerja sama multilateral Indonesia dengan negara-negara berkembang lainnya untuk mengatasi tantangan ekonomi dan politik global.

    Dengan bergabungnya Indonesia, BRICS kini memiliki 10 anggota penuh, yaitu:

    – Anggota Asal:

    – Brasil

    – Rusia

    – India

    – China

    – Afrika Selatan

    – Anggota Baru:

    – Iran

    – Mesir

    – Ethiopia

    – Uni Emirat Arab

    – Indonesia

     

    Keanggotaan Indonesia di BRICS diharapkan dapat meningkatkan kerja sama ekonomi, teknologi, dan pembangunan berkelanjutan antara Indonesia dengan negara-negara anggota BRICS lainnya.

    Sebagai negara berdaulat yang memperjuangkan kemerdekaan nya dengan revolusi fisik melawan penjajahan , Indonesia sejak didirikan oleh para pendiri bangsa (founding fathers) telah bercita-cita sebagai negara yang bukan berorientasi pada sistem ekonomi liberal dan juga bukan sistem ekonomi sosialis , akan tetapi ambil jalan tengah memilih sistem ekonomi kerakyatan .

    Ekonomi kerakyatan dalam UUD 1945 diatur dalam Pasal 33. Pasal ini menjelaskan tentang sistem perekonomian nasional yang bertujuan untuk kesejahteraan sosial dan menekankan pentingnya peran negara dalam mengatur kegiatan perekonomian.

     

    Pasal 33 UUD 1945 secara spesifik menyebutkan:

    – Perekonomian Nasional: Diarahkan untuk kesejahteraan sosial dan kemakmuran rakyat.

    – Peran Negara: Negara memiliki wewenang untuk mengatur kegiatan perekonomian dan mengelola sumber daya ekonomi.

    Selain Pasal 33, UUD 1945 juga menyebutkan peran negara dalam sistem ekonomi kerakyatan pada:

    – Pasal 27 Ayat 2: Tentang hak dan kewajiban warga negara dalam perekonomian.

    – Pasal 34: Tentang jaminan sosial dan bantuan kepada warga negara yang tidak mampu.

     

    Dalam Pembukaan UUD 1945  mengandung semangat dan prinsip-prinsip yang universal, seperti:

    – Perjuangan Kemerdekaan: Pembukaan UUD 1945 menekankan pentingnya perjuangan kemerdekaan dan penentuan nasib sendiri bagi bangsa Indonesia.

    – Anti-Kolonialisme: Pembukaan UUD 1945 juga mengandung semangat anti-kolonialisme dan penolakan terhadap penjajahan.

    – Prinsip Keadilan dan Kesetaraan: Pembukaan UUD 1945 menekankan pentingnya keadilan dan kesetaraan bagi semua bangsa.

     

    Bahwa   Pembukaan UUD 1945 telah menjadi inspirasi bagi banyak bangsa di dunia dalam perjuangan kemerdekaan dan penentuan nasib sendiri.

    Bangsa ini memang telah memilih jalurnya sendiri , disamping berorientasi ekonomi secara sistem kerakyatan dalam bidang politik juga berorientasi memilih jalan tengah sebagai negara Non Blok.

    ——————-

    Penulia adalah praktisi hukum, pemerhati masalah sosial, politik, hukum dan sejarah bangsanya