Blog

  • Program Makan Bergizi Gratis (MBG): dari “Welfare State” ke “Elite Capture”

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG): dari “Welfare State” ke “Elite Capture”

     

    Oleh  Emanuel  Bria

     

    Perdebatan tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Presiden Prabowo tidak semata-mata berkisar pada isu gizi dan anggaran, tetapi juga menyentuh dimensi demokrasi, keadilan, dan cara negara mengelola kekuasaan. Dua studi terbaru terkait MBG terbit pada Maret 2026, yakni analisis ISEAS–Yusof Ishak Institute berjudul Indonesian Public Support for Free and Nutritious Meals Stays Broad but Shallow dan laporan Policy Research Center (Porec) dengan judul Siapa yang Diuntungkan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG)? Keduanya menyajikan gambaran yang tampak berlawanan. Studi yang pertama menyoroti dukungan publik yang “luas tetapi dangkal” (broad but shallow). Sementara yang kedua menekankan krisis kepercayaan dan persepsi pembajakan oleh elit ekonomi dan politik. Namun, jika keduanya dibaca secara berdampingan, studi-studi tersebut sesungguhnya memperlihatkan bahwa program kesejahteraan besar seperti MBG dapat saja populer sebagai gagasan, akan tetapi rentan bermasalah di dalam pelaksanaan dan tata kelolanya.

     

    MBG: antara ambisi kesejahteraan dan realitas politik

    Secara desain, MBG adalah salah satu program makan sekolah terbesar dan paling ambisius di dunia. Menurut ISEAS, cakupan program ini sangat luas, tidak hanya untuk anak SD seperti kebanyakan program internasional, tetapi juga untuk balita, ibu hamil dan menyusui, serta siswa SMP dan SMA, dengan target 83 juta penerima. Negara akan mengalokasikan sekitar Rp335 triliun pada 2026—sekitar 9 persen dari belanja negara—untuk menjalankan program ini, menjadikannya salah satu skema makan sekolah terbesar di dunia, bahkan melebihi Brasil, India, maupun negara-negara Eropa yang sudah menerapkan school feeding sejak tahun 1950-an.

    Dalam literatur tentang welfare state, desain universal sering dipuji karena mampu membangun koalisi dukungan lintas kelas, tidak hanya di kalangan miskin. Program yang dirasakan oleh semua orang biasanya lebih sulit dibatalkan karena pemilih dari kelas menengah juga memiliki kepentingan terhadap program tersebut. Penelitian ISEAS menemukan pola yang sesuai dengan argumen ini, yakni pada Maret 2025, sekitar 82,4 persen responden yang disurvei menyatakan setuju atau sangat setuju dengan MBG, dan dukungan ini terlihat di berbagai kelompok pemilih, meskipun lebih dominan di kalangan pemilih Prabowo–Gibran.

    Namun, para peneliti dari ISEAS menyebut bahwa dukungan ini “broad but shallow”—luas tetapi dangkal. Hanya sekitar 18,9 persen yang “sangat setuju”, dan dukungan mulai menurun ketika kasus keracunan makanan terkait MBG menyebar luas sepanjang 2025. Pada Oktober 2025, tingkat kepuasan menurun, meskipun mayoritas tetap menyatakan puas. Di sini terlihat karakter program besar kesejahteraan di negara berkembang seperti Indonesia: populer sebagai janji politik dan simbol kepedulian, namun rentan saat implementasi gagal memenuhi ekspektasi publik.\

     

    Dua survei, dua dunia sosial

    Perbedaan utama antara studi ISEAS dan Porec adalah cara mereka mengumpulkan suara publik, yang secara signifikan mempengaruhi nada hasilnya.

    ISEAS melakukan dua kali survei nasional pada tahun 2025, yakni di bulan Maret dan Oktober, masing-masing melibatkan 1.220 responden yang dipilih melalui pengambilan sampel probabilitas bertingkat dan multitahap (stratified, multistage probability sampling) di 38 provinsi, dengan wawancara langsung. Sampel ini dirancang untuk mewakili komposisi penduduk dewasa Indonesia berdasarkan data sensus, termasuk usia, jenis kelamin, wilayah, status kota-desa (urban–rural), agama, dan etnis. Dengan data tersebut, para peneliti dapat memberikan gambaran yang cukup kuat tentang “pendapat publik Indonesia” secara keseluruhan meskipun tetap ada keterbatasan.

    Sebaliknya, Porec melakukan survei daring nasional pada Maret 2026 dengan 1.168 responden, dan secara jelas menunjukkan bahwa mayoritas dari mereka berpendidikan menengah hingga tinggi. Selain itu, 80,4 persen dari responden adalah penerima langsung atau anggota keluarga penerima MBG. Survei online ini cenderung menampilkan segmen warga yang lebih paham teknologi, lebih aktif di media sosial, dan sering kali memiliki pandangan yang lebih kritis secara politik. Dengan demikian,secara statistik Porec tidak mewakili seluruh populasi Indonesia, tetapi memberikan gambaran yang cukup lengkap tentang kelompok warga yang cukup informatif, aktif secara digital, dan banyak di antaranya menerima MBG secara langsung.

    Perbedaan metodologis ini menjelaskan mengapa ISEAS menemukan dukungan luas terhadap MBG sebagai kebijakan, sementara Porec mampu menangkap ketidakpercayaan yang jauh lebih mendalam. ISEAS menyajikan gambaran “arus utama” opini publik, sedangkan Porec menampilkan apa yang sedang bergolak di kalangan warga yang menjadi penerima manfaat namun kritis terhadap program tersebut.

     

    Dari welfare state ke elite capture

    Secara substansial, kedua studi ini menampilkan aspek berbeda dari MBG. ISEAS memulai dengan pertanyaan: siapa yang mendukung MBG, bagaimana dukungan tersebut berubah dari Maret sampai Oktober 2025, dan faktor apa yang memengaruhi perubahan dukungan itu? Mereka menemukan bahwa:

    • Dukungan lebih besar terlihat di kalangan anak muda dan mereka yang memiliki tingkat pendidikan lebih rendah.
    • Pendapatan (log income) tidak terlalu berpengaruh; desain universal tampaknya memberikan manfaat bagi baik yang kaya maupun yang miskin.
    • Faktor utama yang memengaruhi adalah persepsi manfaat: apakah MBG efektif dalam memenuhi kebutuhan pangan, mendukung usaha kecil lokal, dan mengurangi malnutrisi.

    Dengan kata lain, masyarakat mendukung MBG bukan sekadar karena mereka “butuh bantuan”, tetapi karena mereka melihat program ini sebagai kebijakan pembangunan dengan manfaat ekonomi dan sosial yang nyata. Ini sejalan dengan berbagai literatur internasional tentang program pemberian makanan di sekolah, yang menunjukkan dampak positif terhadap gizi, kehadiran di sekolah, prestasi belajar, dan perlindungan dari fluktuasi ekonomi.

    Porec, di lain pihak, memulai dari pertanyaan yang lebih tajam: siapa sebenarnya yang diuntungkan dari MBG? Hasilnya menunjukkan gambaran yang lebih suram. Survei mereka mengungkapkan bahwa:

    • 87 persen responden menyatakan bahwa MBG rentan terhadap korupsi.
    • 88,5 persen menilai manfaat program lebih banyak terkonsentrasi pada elite dan pejabat politik (44,5 persen) dan pengelola dan mitra SPPG (44,0 persen), tidak ke anak-anak dan keluarga (6,5 persen).
    • 79 persen percaya bahwa kualitas makanan sengaja diturunkan demi keuntungan oknum, sementara 76 persen menilai makanan yang diterima tidak sebanding dengan anggaran per porsi yang ditetapkan.
    • Hanya sekitar 20 persen responden yang mendukung keberlanjutan MBG dalam bentuknya saat ini.

    Laporan ini tidak hanya berfokus pada angka. Porec menyusun narasi tentang bagaimana MBG, yang awalnya merupakan program redistributif besar, berkembang menjadi arena perebutan rente melalui struktur kelembagaan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), yang mereka klaim dikuasai oleh jaringan elit politik dan ekonomi. Para peneliti Porec menjelaskan “alur potongan nilai” dari APBN ke penerima: mulai dari potongan di tingkat koordinasi wilayah, markup harga bahan baku dari grosir ke eceran, hingga penurunan kualitas porsi agar selisih anggaran dapat diambil sebagai keuntungan. Kutipan dari responden—yang berasal dari ibu rumah tangga sampai pegawai negeri—menghidupkan gambaran ini, mencakup cerita tentang menu yang semakin “mengenaskan”, markup yang dilakukan secara sistematis, dan kanal pengaduan yang tumpul.

    Di sini, literatur tentang welfare state bertemu dengan studi mengenai elite capture dan ekonomi politik rente. MBG secara desain mirip dengan program kesejahteraan universal modern; namun, dalam kenyataannya, ia beroperasi di ruang birokrasi dan politik Indonesia yang dikenal lama dengan patronase, konflik kepentingan, dan transparansi pengadaan publik yang buruk. Fenomena seperti ini mengonfirmasi sejumlah penelitian sebelumnya tentang Indonesia terkait melemahnya demokrasi dan mengakarnya patronase di Indonesia, dimana proyek besar negara sering menjadi sumber rente bagi jaringan elit ekonomi dan politik. Porec pada dasarnya menegaskan bahwa MBG tidak terbebas dari pola ini.

     

    Ekonomi moral (Moral economy): siapa yang “pantas” menerima MBG?

    Dimensi lain yang menarik dari kedua studi adalah soal keadilan dan “kepantasan” penerima bantuan. ISEAS menambahkan lapisan analisis penting, yakni responden dari kuintil pendapatan terendah cenderung kurang mendukung kebijakan universal dan lebih menyukai penargetan. Peneliti ISEAS menghubungkan temuan ini dengan studi Wim van Oorschot (2006) mengenai kepantasan (deservingness): dukungan terhadap kebijakan sosial tidak hanya berdasarkan kebutuhan material, tetapi juga dipengaruhi oleh persepsi tentang apakah penerima layak dan pantas, adanya penyalahgunaan, dan kemampuan negara menyalurkan bantuan ke kelompok yang tepat.

    Temuan dari Porec sangat membantu dalam menjelaskan perasaan tidak nyaman tersebut. Pengalaman penerima MBG yang langsung menyaksikan kualitas makanan yang buruk, dugaan markup, dan dominasi jaringan politik dalam penunjukan SPPG, turut membentuk konteks ekonomi moral yang penuh kecurigaan: negara mengklaim bertindak atas nama anak dan keluarga miskin, namun praktik di lapangan menunjukkan bahwa elit dan pemilik dapur justru mendapatkan manfaat utama. Dalam konteks ini, wajar jika warga yang merasa “di bawah” menjadi lebih sensitif terhadap ketidakadilan distribusi dan lebih memilih skema yang lebih terarah (targeted), agar manfaat sosial tidak “bocor” ke kelompok yang mereka anggap tidak berhak.

    Dengan demikian, dukungan “luas tapi dangkal” yang diidentifikasi oleh ISEAS dan penolakan keras yang dicatat oleh Porec adalah dua studi yang saling melengkapi. Para peneliti kedua lembaga tersebut menangkap dua aspek dari perjuangan ekonomi moral yang sama: masyarakat mendukung gagasan bahwa negara harus menjamin gizi anak dan ketahanan pangan, tetapi menentang keras jika pelaksanaan program tersebut dipersepsikan sebagai ladang rente bagi para elit dan kroninya.

     

    Dari legitimasi kebijakan ke energi perlawanan

    Kedua studi juga menegaskan bahwa MBG bukan sekadar masalah teknis kebijakan, melainkan medan pertarungan legitimasi politik. ISEAS menunjukkan bahwa dukungan terhadap MBG tetap lebih tinggi di kalangan pemilih Prabowo–Gibran dan berkaitan dengan kepuasan terhadap kinerja ekonomi serta politik kesejahteraan. Dengan kata lain, selama MBG dipersepsikan sebagai bukti kehadiran negara dan ekonomi yang berjalan baik, hal itu turut memperkuat legitimasi politik rezim Prabowo-Gibran. Akan tetapi, program besar seperti MBG yang dirancang untuk memperluas dukungan politik justru dapat menyebabkan delegitimasi jika tata kelola dianggap gagal dan tidak adil.

    Studi dari Porec menunjukkan bahwa dalam segmen warga yang mereka teliti, krisis kepercayaan terhadap MBG memunculkan energi perlawanan. Dari total responden yang disurvei, 97,8 persen memilih untuk “bertindak” baik melalui media sosial, kanal resmi pemerintah, petisi, demonstrasi, advokasi masyarakat sipil, maupun diskusi publik dan hanya 2,2 persen yang menyerah. Gabungan aksi kolektif, termasuk petisi, demonstrasi, advokasi, dan diskusi warga, mencapai 31,1 persen, menunjukkan bahwa keluhan pribadi mulai bertransformasi menjadi gerakan kolektif.

     

    Menata ulang arah MBG: dari proyek elit ke hak warga

    Apa yang bisa dipelajari dari kedua studi ini? MBG sebagai sebuah gagasan terlihat menjawab kebutuhan masyarakat tentang ketahanan pangan dan malnutrisi. Namun, keberlanjutan program ini tidak hanya bergantung pada popularitas dan klaim universalitasnya, tetapi juga pada tata kelola yang mencakup transparansi anggaran, pengawasan independen, partisipasi komunitas, dan pembatasan ruang bagi kelompok elit ekonomi dan politik untuk berburu rente.

    Reformasi tata kelola MBG harus memastikan bahwa manfaat tersebut tidak hanya dinikmati oleh kontraktor besar serta jejaring elit ekonomi dan politik, tetapi juga oleh masyarakat setempat. Analisis ISEAS menyoroti pentingnya persepsi manfaat ekonomi lokal yang dirasakan langsung oleh pelaku usaha kecil, petani lokal, dan komunitas sekitarnya. Sementara itu, rekomendasi kebijakan Porec mencakup evaluasi independen terhadap program MBG, pembubaran model SPPG yang berbasis jaringan ekonomi dan politik, penguatan koperasi dan komunitas sebagai pengelola, serta penyediaan kanal pengaduan yang aman.

    ——————–

    Penulis: Akademisi, saat ini berdomisili di Brisbane, Australia

     

     

  • Ketika Imajinasi Menjadi Erotis: Keluhuran dalam Cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

    Ketika Imajinasi Menjadi Erotis: Keluhuran dalam Cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

     

    Bertoldus Karinus Nurak, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.

     

    Sebuah karya sastra sering dipahami sekadar sebagai rangkaian bahasa yang indah atau sebagai media ungkapan perasaan seorang penulis. Namun dalam banyak kasus, karya sastra justru menjadi ruang penyampaian kritik terhadap realitas sosial yang sedang terjadi di tengah kalangan masyarakat. Melalui cerita, tokoh, dan peristiwa yang tampak sederhana, seorang pengarang akan mengungkapkan kegelisahan, ironi, bahkan absurditas kehidupan manusia. Dalam konteks inilah cerpen dengan judul Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi karya Seno Gumira Ajidarma, menghadirkan cerita yang tampak ringan, tetapi menyimpan kritik yang tajam terhadap kalangan masyarakat dalam memandang moralitas, tubuh, dan imajinasi. Jika dibaca melalui perspektif sublime atau keluhuran dari Longinus dalam karya klasiknya On the Sublime, cerpen ini melukiskan bagaimana bahasa dan imajinasi mampu mengguncang pikiran dan kesadaran pembaca dalam cerita dengan memperlihatkan berbagai paradoks kehidupan sosial yang tertuang dalam cerita.

    Cerpen ini mengisahkan seorang perempuan yang memiliki kebiasaan bernyanyi setiap kali hendak mandi di sebuah kamar kos. Kebiasaan tersebut pada dasarnya merupakan aktivitas sederhana yang sering dilakukan dalam kehidupan sehari-hari. Namun berbeda dengan para lelaki di gang tersebut yang mendengar suara nyanyian tersebut dengan tanggapan yang dipenuhi birahi, sehingga memicu imajinasi erotis yang liar. Situasi ini kemudian menimbulkan kegelisahan dan tekanan dari para istri yang merasa kehidupan rumah tangga mereka yang merenggang dan terancam akan keberadaan perempuan tersebut.

     

    Keluhuran pada Cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi

    Cerpen ini secara eksplisit menunjukkan peristiwa yang tampak sederhana dapat berkembang menjadi refleksi sosial bagi masyarakat. Melalui situasi yang hampir absurd, pengarang memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun norma moral berdasarkan ketakutan dan prasangka.

    Dalam perspektif Longinus, keluhuran dalam sastra dapat muncul melalui beberapa unsur penting seperti kekuatan gagasan, emosi yang kuat, penggunaan bahasa yang sugestif, serta struktur cerita yang mampu menggugah kesadaran pembaca. Semua unsur-unsur tersebut dapat ditemukan dalam isi cerpen; Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi.

     

    1. Kekuatan Imajinasi dan Gagasan.

    Salah satu sumber keluhuran dalam cerpen ini terletak pada gagasan yang diangkat oleh pengarang. Dalam cerita ini tidak hanya ditampilkan seorang perempuan, tetapi bagaimana manusia menafsirkan gejala tersebut dalam imajinasi dan cara pandang sosial mereka.

    Khususnya para lelaki menikmati suara nyanyian tersebut sambil membayangkan tubuh perempuan itu, meskipun tidak ada gambaran yang menunjukan bahwa mereka benar-benar melihatnya. Semua ini terbentuk karena imajinasi mereka yang berkembang menjadi suatu fantasi yang liar dan tidak terkendali. Dengan demikian, pemantik konflik dalam cerita ini tidak terletak pada tindakan si perempuan yang bernyanyi, tetapi cara berpikir lelaki di sekitar gang yang membangun makna yang kotor melalui imajinasi mereka.

     

    1. Emosi dan Kepanikan Sosial

    Keluhuran dalam cerpen ini muncul melalui emosi kolektif yang berkembang di tengah kalangan masyarakat sekitar gang. Imajinasi para lelaki yang tidak terkendali menimbulkan kegelisahan bagi para istri yang merasa kehidupan rumah tangga mereka yang kian hari terganggu.

    Situasi ini kemudian berkembang menjadi kepanikan moral, di mana sesuatu yang sebenarnya netral atau sewajarnya telah dianggap sebagai ancaman. Nyanyian yang awalnya tidak bermasalah tiba-tiba dianggap sebagai suatu yang tidak pantas dan harus dihentikan. Tekanan dari masyarakat, terkhususnya para istri, yang menunjukkan ketakutan kolektif dapat membentuk norma yang represif terhadap individu.

     

    1. Gaya Bahasa dan Atmosfer Sugestif

    Detail-detail kecil ini justru menciptakan atmosfer yang kuat dalam cerita. Misalnya pembaca akan diajak membayangkan situasi yang sama seperti yang dialami oleh para tokoh dalam cerita. Teknik ini menunjukkan bahwa bahasa yang sederhana pun dapat menciptakan efek estetis yang kuat bagi pembaca itu sendiri.

    Dalam teori Longinus, penggunaan bahasa yang mampu membangkitkan imajinasi merupakan salah satu unsur penting dalam menceritakan keluhuran dalam karya sastra. Dimana pembaca tidak hanya memahami cerita, tetapi juga akan masuk ke dalam dimensi imajinasi yang dibangun oleh pengarang.

     

           4. Ironi dan Kritik Sosial

    Ironi menjadi unsur penting dalam cerpen ini. Masyarakat menganggap bahwa nyanyian dari perempuan tersebut adalah pemicu utama sehingga menimbulkan pikiran yang tidak senonoh. Padahal, yang sebenarnya terjadi adalah imajinasi dari para lelaki yang menangkap nyanyian tersebut.

    Larangan yang diberikan terhadap perempuan tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat sering menyelesaikan masalah dengan solusi yang dangkal dan sepihak. Mereka lebih menyalahkan individu tertentu daripada memahami akar permasalahan yang terjadi. Kritik yang disisipkan oleh pengarang pada awal cerita tampak begitu samar, sehingga tidak semua pembaca memahaminya. Namun, melalui pemahaman alur cerita secara menyeluruh, pembaca akan mulai menyadari bahwa cerpen ini menggambarkan tatanan sosial masyarakat yang penuh dengan prasangka dan kurang kritis.

    Cerita ini pada akhirnya memiliki kritik terhadap cara masyarakat mengambil keputusan yang cenderung sepihak, bahkan mengarah pada tindakan yang tidak adil tanpa melalui proses musyawarah. Dengan demikian, cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi karya Seno Gumira Ajidarma memiliki hubungan yang masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini, terutama dalam konteks moralitas dan tubuh perempuan.

     

    Kesimpulan

    Berdasarkan hasil analisis melalui teori keluhuran Longinus, cerpen Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi menunjukkan bahwa keluhuran dalam sastra tidak selalu lahir dari peristiwa besar atau dramatis. Keluhuran justru dapat hadir melalui situasi sehari-hari yang sederhana, tetapi mampu menggugah imajinasi dan kesadaran pembaca.

    Melalui cerita yang satiris dan penuh ironi, Seno Gumira Ajidarma memperlihatkan bagaimana masyarakat sering kali terjebak dalam penilaian moral yang dangkal. Nyanyian sederhana di kamar mandi berubah menjadi simbol konflik antara imajinasi, moralitas, dan kehidupan sosial.

    Cerpen ini menegaskan bahwa sastra memiliki kekuatan untuk membuka cara pandang baru terhadap realitas kehidupan manusia. Dalam perspektif keluhuran yang dikemukakan oleh Longinus, karya ini mampu mengguncang kesadaran pembaca sekaligus mengangkat pengalaman sederhana menjadi refleksi sosial yang mendalam.

     

  • Sejarah  Lahirnya TNI dan Kemanunggalan Rakyat  sebagai Tentara Pejuang

    Sejarah  Lahirnya TNI dan Kemanunggalan Rakyat  sebagai Tentara Pejuang

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Pada setiap tanggal 5 Oktober selalu diperingati hari jadi lahir nya Tentara Nasional Indonesia, dimana pada tahun ini peringatan lahirnya TNI dipusatkan di Lapangan Monas Jakarta, sebagai puncak peringatan yang diperingati secara besar-besaran dengan defile alutsista terbaru dan termodern ditunjukan kepada masyarakat, dan dunia internasional ini lah kami Tentara Republik Indonesia, yang lahir dari rakyat dan untuk rakyat dan akan kembali kerakyat.

    Tentara Nasional Indonesia (TNI) lahir pada 5 Oktober 1945, setelah kemerdekaan Indonesia. TNI memiliki semboyan “Bhinneka Tunggal Ika,” yang berarti “Berbeda-beda tetapi tetap satu.” Semboyan ini mencerminkan semangat persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia.

    Berdirinya TNI tidak lepas dari peran jendral Oerip Soemohardjo bersama Soedirman , dimana jendral Oerip lah peletak dasar dari organisasi Tentara yang profesional dan terpusat.

    Pada tgl 14 oktober 1945 jendral Oerip ditunjuk sebagai kepala staf dan pimpinan sementara angkatan perang Republik Indonesia, yang kemudian menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

    Pada awal kemerdekaan banyak laskar dan kelompok bersenjata yang terpisah-pisah, disinilah peran Oerip memainkan peran sentral dalam menyatukan mereka dalam satu organisasi yang berwadah dan terorganisir secara profesional. Dimana disusun strategi dan reorganisasi yang terpusat dalam wadah Tentara Keamanan Rakyat.

    Doktrin Pertahanan Rakyat Semesta dimana para pendiri TNI saat itu mengambil dan mengacu pada semboyan “Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat,” itu adalah semboyan yang berasal dari pidato Abraham Lincoln, Presiden AS ke-16. Semboyan ini mencerminkan prinsip-prinsip demokrasi dan pemerintahan yang melayani rakyat. Bahwa sebuah negara akan aman dan tentram serta terjamin stabilitas Keamananya apabila adanya kemanunggalan antara TNI dan rakyat.

    Tentara Nasional Indonesia (TNI) lahir pada 5 Oktober 1945, setelah kemerdekaan Indonesia. TNI memiliki sejarah yang erat dengan perjuangan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan kedaulatan negara.

    Sistem Pertahanan Rakyat Semesta (Sishankamrata) adalah konsep pertahanan yang melibatkan seluruh komponen bangsa dan negara dalam upaya pertahanan negara. Sistem ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga keamanan dan kedaulatan negara.

    Sishankamrata memiliki beberapa prinsip utama, yaitu:

    Partisipasi Aktif Masyarakat: Melibatkan seluruh komponen bangsa dan negara dalam upaya pertahanan negara.

    Pusat Pertahanan Rakyat: Rakyat adalah komponen utama dalam sistem pertahanan negara.

    Pertahanan yang Berbasis Wilayah: Pertahanan negara dilakukan secara terintegrasi dan berbasis wilayah.

     

    Sishankamrata bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pertahanan negara dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga keamanan dan kedaulatan negara.

     

    Supremasi Milter di Indonesia

    Supremasi militer di Indonesia merupakan topik yang sensitif dan kompleks, terutama dalam konteks demokrasi dan keadilan. Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan terkait supremasi militer di Indonesia ke depannya:

     

    Tantangan Supremasi Sipil

    – Peran Militer dalam Pemerintahan: Ada kekhawatiran bahwa perluasan peran TNI dalam bidang sipil dapat mengancam supremasi sipil dan demokrasi di Indonesia. Dalam Alam Demokrasi Modern dimana tidak hanya sesuai ilmu ketata negaraan dalam trias politika saja, dimana dalam demokrasi modern saat ini ada kekuasaan ke empat sebagai penyeimbang demokrasi dan keadilan yang bernama Pers atau Media , tentu akan turut serta mengawal dan mejadi ujung tombak perjuangan untuk keadilan dan kemakmuran

     

    Solusi dan Harapan

    – Transparansi dan Akuntabilitas: Intitusi  TNI harus transparan dan akuntabel untuk membangun kepercayaan publik.

    – Pengawasan Publik: Masyarakat  perlu lebih aktif terlibat dalam mengawasi jalannya pemerintahan dan memastikan bahwa demokrasi tetap tegak di Indonesia, namun tetap dalam koridor perundang undangan sebagai negara hukum.

    Profesionalisme TNI: Peningkatan kualitas sumber daya manusia, modernisasi peralatan militer, dan penerapan doktrin militer yang sesuai dengan perkembangan zaman dapat membantu TNI menjadi lebih profesional dan efektif.

     

    Dalam Doktrin militer modern dalam negara demokrasi adalah konsep yang menekankan bahwa militer harus tunduk pada kekuasaan sipil dan berperan sebagai alat pertahanan negara yang profesional, netral, dan tidak terlibat dalam politik.

    Beberapa prinsip dasar doktrin militer modern dalam negara demokrasi adalah:

    1. Tunduk pada kekuasaan sipil: Militer harus tunduk pada kekuasaan sipil dan tidak boleh campur tangan dalam urusan politik.
    2. Netralitas: Militer harus netral dan tidak berpihak pada kelompok politik tertentu.
    3. Profesionalisme: Militer harus profesional dan memiliki kemampuan yang tinggi dalam menjalankan tugasnya.
    4. Pertahanan negara: Militer harus berperan sebagai alat pertahanan negara yang efektif dan efisien.

     

    Dalam konteks Indonesia, doktrin militer modern ini diatur dalam Undang-Undang No. 34 Tahun 2004 tentang Tentara Nasional Indonesia (TNI), yang menekankan bahwa TNI harus tunduk pada kekuasaan sipil dan berperan sebagai alat pertahanan negara yang profesional dan netral.

    Bahwa TNI sendiri mempunyai slogan sejak berdiri dimana Slogan “Tentara Rakyat” Tentera Pejuang  “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, Untuk Rakyat” adalah semboyan yang diusung oleh Panglima Besar Soedirman dan menjadi identitas TNI. Slogan ini menekankan bahwa TNI adalah tentara yang berasal dari rakyat, berjuang bersama rakyat, dan melindungi kepentingan rakyat. Semboyan ini menjadi salah satu doktrin utama TNI dan masih digunakan hingga saat ini.

    Bahwa untuk itu generasi muda  harus belajar dan menengok sejarah lahirnya negara ini dan lahirnya TNI yang memang dibentuk dari laskar-laskar badan keamanan rakyat yang berasal dari rakyat dan untuk kepentingan rakyat dan akan kembali ke rakyat. Dengan melihat merefleksi lahirnya TNI maka ketakutan akan supremasi Militer di Indonesia, tidak perlu ditakutkan karena dalam negara demokrasi modern, makna dari pidato Prabowo dalam Hari Ulang Tahun TNI yang menyinggung Reorganisasi TNI hanya berpegang pada penguatan sebagai alat pertahanan untuk menjaga sumber daya alam negara, tidak bermaksut untuk melakukan supremasi militer dalam kekuasaan negara seperti halnya dwi fungsi ABRI pada masa lalu, lagi pula  segala keputusan tertinggi memang ada ditangan rakyat bahwa rakyat sebagai hakim  penilai terhadap Intitusi TNI,  sebagaimana semboyan demokrasi perwakilan  suara Tuhan (Vox Populi Vox Dei).

     

    ———————

    Penulis adalah praktisi hukum, pengamat sosial budaya dan politik serta sejarah bangsanya

  • Sublimitas di Balik Luka: Membedah “Tarian Bumi” Karya Oka Rusmini dalam Perspektif Keluhuran Longinus

    Sublimitas di Balik Luka: Membedah “Tarian Bumi” Karya Oka Rusmini dalam Perspektif Keluhuran Longinus

    Oleh Zefanya Chrisantya Ningrum, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Oka Rusmini, seorang sastrawan dan jurnalis kelahiran 1967, memiliki latar belakang yang sangat krusial dalam penciptaan Tarian Bumi. Sebagai perempuan yang menyandang status kasta Brahmana di Bali, Oka berada dalam posisi yang unik, ia adalah bagian dari hierarki yang ia kritik. Latar belakang sosiokultural ini menjadi modalitas bagi apa yang disebut Longinus sebagai “jiwa yang besar”. Keberanian Oka untuk membongkar kemunafikan adat dan represi terhadap perempuan dalam kasta tinggi maupun rendah adalah fondasi dari keluhuran yang ia tawarkan. Hubungan antara biografi pengarang yang berani dan narasi novelnya menciptakan sinergi ekspresivisme yang membawa pembaca pada tahap sublimasi.

    Sebuah karya sastra yang mengguncang tatanan moral masyarakat seringkali langsung dicap sebagai karya yang kontroversial atau bahkan amoral. Namun, jika melihat prespektif Longinus, seorang kritikus klasik abad ke-3 M, ukuran sebuah karya bukanlah pada kepatuhannya terhadap norma-norma santun, melainkan pada kemampuannya mencapai Peri Hypsous atau “Keluhuran”. Bagi Longinus, fungsi sastra yang sejati bukan sekadar memberikan pelajaran atau kesenangan, melainkan untuk membawa pembaca keluar dari dirinya sendiri sebuah proses yang ia sebut sebagai transport. Novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini adalah contoh sempurna dari sebuah teks yang, meskipun dianggap kontroversial karena keberaniannya membongkar tabu budaya dan seksualitas di Bali, justru memancarkan keluhuran yang luar biasa.

    Longinus menyatakan bahwa kritik sastra yang akurat hanya bisa lahir setelah seseorang membaca sebuah karya secara intensif. Ketika kita menyelami narasi tentang Ida Ayu Telaga Sari dalam Tarian Bumi, kita tidak hanya disuguhi cerita tentang konflik kasta antara kaum Brahmana dan Sudra. Kita sedang dihadapkan pada sebuah kekuatan yang mampu mengangkat  jiwa pembaca ke tahap sublimasi. Keluhuran ini, menurut Longinus, bersumber dari lima prinsip utama, yang semuanya berkelindan secara harmonis dalam novel ini.

    Prinsip pertama adalah daya wawasan yang agung (grandeur of thoughts). Longinus percaya bahwa “pikiran-pikiran besar muncul dari jiwa yang besar.” Dalam Tarian Bumi, keagungan ini tampak pada keberanian tokoh utamanya, Telaga, untuk menanggalkan gelar kebangsawanannya demi cinta dan martabat kemanusiaan yang lebih jujur. Pikiran untuk “turun kasta” demi menikahi Wayan bukan sekadar bentuk kenekatan remaja, melainkan sebuah visi besar untuk melawan struktur sosial yang kaku dan menindas. Di sini, Oka Rusmini menunjukkan bahwa pikiran yang agung adalah pikiran yang bebas dari kerendahan dan kehinaan tradisi yang sudah membusuk. Gagasan besar ini ditata dalam struktur narasi yang kuat, di mana pergulatan batin perempuan Bali tidak lagi menjadi urusan domestik belaka, melainkan menjadi narasi kemanusiaan yang universal.

    Yang sering menjadi titik kontroversi dalam novel ini, adalah emosi atau nafsu (passion) yang mulia. Banyak pembaca mungkin merasa terganggu dengan penggambaran hasrat seksual perempuan atau deskripsi tubuh yang begitu “telanjang” dalam novel ini. Namun, dalam pandangan Longinus, sebuah karya yang baik lahir dari dorongan yang kuat dan mulia. Gairah yang digambarkan oleh Oka Rusmini bukanlah pornografi picisan; itu adalah manifestasi dari energi hidup yang jujur. Ketika tokoh-tokohnya mengungkapkan rasa marah, cinta, atau kerinduan yang membakar, mereka sedang mengekspresikan “nafsu yang mulia” karena emosi tersebut lahir dari penderitaan dan kebenaran eksistensial yang dalam. Emosi yang intens ini memiliki kapasitas untuk membawa pembaca pada “suka cita ilahi” (divine joy), di mana kita menyadari bahwa di balik rasa sakit dan hasrat yang meledak-ledak, ada martabat manusia yang sedang diperjuangkan.

    Ketiga dan keempat, Longinus menekankan pentingnya retorika yang unggul serta pengungkapan yang berkelas melalui diksi dan metafora. Oka Rusmini tidak menggunakan bahasa yang mendayu-dayu tanpa makna. Diksi-diksinya tajam, sering kali terasa perih seperti sembilu, namun tetap memiliki kelas yang tinggi. Metafora “tarian” dalam judulnya sendiri merupakan sebuah bentuk penggubahan yang mulia (prinsip kelima). Menari dalam novel ini bukanlah sekadar gerakan estetis di atas panggung, melainkan metafora dari gerak hidup yang melelahkan, penuh keringat, dan darah. Pemilihan kata yang berkaitan dengan bau tubuh, sesaji yang busuk, hingga deskripsi tentang kotoran manusia, digunakan bukan untuk menghina pembaca, melainkan untuk memberikan efek sublim. Longinus menyebut bahwa sumber-sumber keagungan ini mengilhami dan merasuki kata-kata dengan semangat ilahi. Melalui diksi yang berani inilah, Oka Rusmini berhasil menciptakan suasana yang mencekam namun sekaligus luhur.

    Kehebatan Tarian Bumi terletak pada kemampuannya memenuhi syarat utama Longinus: nothing is poetry unless it transports. Sebuah karya hanya menjadi hebat jika memiliki kekuatan membawa pembaca ke hal yang luhur. Saat kita membaca penderitaan Luh Sekar yang mengejar status sosial atau kepedihan Telaga yang kehilangan suaminya, kita tidak sekadar merasa kasihan. Kita merasa “terangkat”. Kita dibawa keluar dari realitas kita yang sempit untuk melihat sebuah kebenaran yang lebih besar tentang struktur kekuasaan dan penindasan gender. Inilah yang disebut Longinus sebagai proses di mana pikiran, perasaan, dan kehendak pembaca terlibat secara harmonis.

    Kontroversi mengenai novel ini seperti kritik terhadap penggambaran kasta Brahmana yang tidak selalu suci atau keterbukaan soal libido perempuansebenarnya adalah bukti bahwa karya ini memiliki energi Peri Hypsous. Keluhuran sejati sering kali memang menakutkan karena ia memaksa kita melihat hal-hal yang selama ini disembunyikan. Namun, sebagaimana kata Longinus, keluhuran sejati akan selalu menyenangkan dan membawa suka cita bagi semua pembaca di setiap zaman. Tarian Bumi tetap relevan dan terus dibaca hingga hari ini karena ia melampaui perbedaan ras, agama, dan ideologi; ia berbicara langsung pada jiwa yang rindu akan kebebasan.

    Unsur terpenting dalam penciptaan seni sastra, menurut materi Longinus, adalah kreativitas dalam jiwa pengarang. Oka Rusmini menunjukkan kreativitas tersebut dengan tidak terjebak pada pakem-pakem sastra yang sekadar mencari harmoni palsu. Ia berani menunjukkan bahwa keluhuran bisa lahir dari lumpur penderitaan. Keluhuran atau sublimasi sejati dalam novel ini tercapai ketika pembaca akhirnya menyadari bahwa meskipun tubuh para perempuan Bali dalam cerita ini mungkin hancur oleh beban tradisi, jiwa mereka tetaplah agung.

    Sebagai penutup, jika kita hanya melihat Tarian Bumi sebagai sebuah novel tentang protes sosial, kita akan kehilangan esensi keluhurannya. Dengan menggunakan perspektif Longinus, kita bisa melihat bahwa novel ini adalah sebuah monumen estetika yang berhasil mentransformasi rasa sakit menjadi sebuah keindahan yang agung. Ia adalah bukti bahwa karya besar tidak harus “sopan”, tetapi ia harus “luhur”. Kemampuan novel ini untuk mengangkat pembaca ke tahap sublimasi inilah yang menjadikannya salah satu karya sastra terbaik Indonesia yang pernah ada, yang secara akurat memenuhi standar Peri Hypsous yang diajarkan oleh Longinus ribuan tahun yang lalu.

  • Keluhuran dalam Cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu Karya Djenar Maesa Ayu

    Keluhuran dalam Cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu Karya Djenar Maesa Ayu

     

    Oleh Bernadetta Yovita Dwijayanti, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Pendahuluan

    Karya sastra merupakan sarana bagi pengarang untuk dalam menyampaikan pengalaman, pengalaman, dan pandangannya terhadap kehidupan. Melalui karya sastra pembaca tidak hanya disuguhi cerita, tetapi juga diajak memahami realitas manusia dari sudut pandang tertentu. Kekuatan sebuah karya sastra terletak pada cara penyampaiannya yang mampu memberi Kesan mendalam bagi pembaca.

    Salah satu pendekatan yang dapat digunakan untuk melihat kekuatan tersebut adalah teori keluhuran (sublimitas) dari Longinys yaitu daya wawasan yang agung, emosi atau passion yang kuat, retorika yang unggul, pengungkapan atau diksi yang tepat, serta penggubahan atau komposisi yang mulia. Kelima unsur tersebut menjadikan sebuah karya sastra mampu memberikan Kesan mendalam kepada pembacanya.

    Cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu karya Djenar Maesa Ayu merupakan salah satu karya sastra Indonesia yang memiliki keberanian dalam mengangkat tubuh, seksualitas, dan relasi manusia. Cerpen ini menampilkan relasi antara suami, istri, dan pihak ketiga yang saling terhubung melalui pengalaman masing-masing.

     

    Pembahasan

    1. Daya Wawasan yang Agung

    Daya wawasan yang agung berkaitan dengan kedalaman pemikiran pengarang dalam memahami realitas kehidupan manusia. Dalam cerpen ini, Djenar Maaesa Ayu menunjukkan wawasan yang luas mengenai hubungan manusia yang tidak hanya didasarkan pada cinta, tetapi juga hasrat, kepentingan, dan konflik batin.

    Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

    “Saya heran, selama lima tahun kami menjalin hubungan, tidak sekali pun terlintas di kepala saya tentang pernikahan. Tapi jika dikatakan hubungan kami ini hanya main-main, apalagi hanya sebatas hasrat seksual, dengan tegas saya akan menolak.”

    Kutipan tersebut menunjukkan bahwa hubungan antar tokoh tidak dapat dipahami secara sederhana. Hubungan tersebut berada di antara cinta, kebiasaan, dan hasrat. Melalui dialog ini, pengarang memperlihatkan bahwa hubungan manusia sering kali penuh dengan ambiguitas dan tidak selalu mengikuti norma sosial yang ideal. Wawasan pengarang yang mampu menggambarkan kompleksitas hubungan manusia inilah yang menunjukkan adanya keluhuran dalam karya tersebut.

    1. Emosi atau Passion yang kuat

    Sumber keluhuran kedua menurur Longinus adalah emosi atau passion yang kuat. Dalam cerpen ini, emosi tokoh-tokohnya digambarkan secara intens sehingga mampu menggugah perasaan pembaca.

    Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

    “Saya sadar, saya memang cerewet. Tapi sudah menjadi kewajiban saya untuk cerewet.. Bahkan untuk urusan rumah inilah kulit saya keriput, tubuh saya gembrot, karena saya sudah tak punya waktu lagi selain mengurus rumah.”

    Kutipan tersebut memperlihatkan perasaan seorang Perempuan yang merasa lelah dan tidak dihargai dalam kehidupan rumah tangga. Ia telah mengorbankan waktu dan tenaga untuk mengurus keluarga, tetapi pengorbannya justru tidak membuatnya dihargai oleh pasangannya. Penggambaran emosi seperti ini membuat pembaca dapat merasakan penderitaan dan kekecewaan yang dialami tokoh. Dengan demikian, cerpen ini menunjukkan passion yang kuat karena mampu menghadirkan emosi yang mendalam.

    1. Retorika yang unggul

    Retorika yang unggul berkaitan dengan cara pengarang menyampaikan gagasan secara kuat melalui bahasa. Dalam cerpen ini, Djenar Maesa Ayu menggunakan gaya bahasa yang tegas dan sering memanfaatkan pengulangan kalimat untuk menegaskan gagasan.

    Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

    “Saya sering katakan, jangan main api nanti terbakar.”

    Kalimat tersebut memiliki makna simbolis sebagai peringatan bahwa tindakan manusia dapat membawa konsekuensi bagi dirinya sendiri. Penggunaan metafora “main api” menunjukkan kemampuan pengarang dalam menyampaikan pesan secara retoris. Selain itu, pengulangan kalimat dari sudut pandang tokoh yang berbeda juga memperkuat konflik dalam cerita. Dengan demikian, cerpen ini menunjukkan retorika yang unggul karena mampu menyampaikan pesan dengan bahasa yang kuat dan berkesan.

    1. Pengungkapan atau Diksi yang Tepat

    Pemilihan kata atau diksi merupakan salah satu unsur penting dalam menciptakan nilai estetika karya sastra. Dalam cerpen ini, pengarang menggunakan diksi yang lugas dan berani, terutama dalam menggambarkan realitas hubungan manusia.

    Hal ini dapat dilihat dalam kutipan berikut:

    “Awalnya memang urusan kelamin.”

    Penggunaan kata “kelamin” secara langsung menunjukkan keberanian pengarang dalam mengungkapkan realitas yang sering dianggap tabu dalam masyarakat. Selain itu, pengarang juga mengguakan metafora yang tajam dalam menggambarkan tokoh perempuan.

    “Ia terbangun dan terperanjat di sisi seonggok daging yang tak lagi segar.” Ungkapan “seonggok daging” memberikan gambaran bagaimana tubuh perempuan dipandang secara objektif dan tidak manusiawi oleh tokoh laki-laki. Diksi tersebut memperkuat kritik sosial terhadap pandangan patriarkal yang meredukasi perempuan hanya sebagai objek fisik.

    1. Penggubahan atau Komposisi yang Mulia

    Keluhuran terakhir menurut Longinus adalah penggubahan atau komposisi yang baik. Dalam cerpen ini, pengarang menyusun cerita dengan menggunakan berbagai sudut pandang tokoh sehingga cerita menjadi lebih kompleks dan menarik.

    Hal tersebut terlihat dari penjelasan berikut:

    Cerpen ini dirancang dengan hubungan silang antar tokoh suami,istri,pacar gelap, yang disampaikan melalui pengakuan masing-masing tokoh.

     

    Kesimpulan

    Berdasarkan analisis menggunakan perspektif Longinus, cerpen Jangan Main-Main dengan Kelaminmu karya Djenar Maesa Ayu menunjukkan nilai keluhuran dalam berbagai aspek. Daya wawasan yang agung terlihat dari kemampuan pengarang menggambarkan kompleksitas hubungan manusia yang tidak hanya berkaitan dengan cinta, tetapi juga hasrat dan konflik batin. Emosi atau passion yang kuat tampak dalam penggambaran perasaan tokoh yang mendalam sehingga mampu menggugah perasaan pembaca.

    Selain itu, retorika yang unggul terlihat melalui penggunaan bahasa yang tegas dan metaforis, sedangkan pengungkapan atau diksi yang tepat tampak dari pemilihan kata yang lugas dan kuat dalam menggambarkan realitas kehidupan. Penggubahan atau kamposisi yang mulai terlihat dari struktur cerita yang menggunakan berbagai sudut pandang tokoh sehingga menghasilkan cerita yang kompleks dan menarik.

     

  • Sejarah antara Anyer – Panarukan, Korupsi dan Tragedi Kemanusiaan

    Sejarah antara Anyer – Panarukan, Korupsi dan Tragedi Kemanusiaan

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Jalan Pantai Utara Jawa (Pantura) saat ini yang membentang dari Anyer hingga Panarukan, antara Banten hingga ujung Jawa Timur wilayah tapal kuda, merupakan urat nadi perekonomian, penunjang utama tranportasi dalam urat nadi ekomoni berates-ratus tahun, dari sebelum Indonesia ada yang masih bernama Hindia Belanda hingga Merdeka yang bernama Indonesia. Tumbuh menjadi kota-kota yang makmur disepanjang pantai, dari Cirebon, Tegal, Pekalongan, Semarang, Pati, Juwana, Rembang, Tuban, Bangil, Probolinggo, hingga Banyuwangi. Tapi apakah generasi sekarang tahu sejarah proses  pembuatan jalan antara Anyer hingga Panarukan ?

    Pada saat Gubernur Jenderal Pemerintahan Hindia Belanda , dijabat oleh Herman Williem Daendels pada tahun 1808 hingga 1811 Masehi, dicanangkan pembuatan jalan sepanjang 1100 Km sebagai jalan pos jaga kepentingan militer Belanda untuk mengamankan pulau Jawa di pantai Utara dari serangan inggris dan kelancaran dalam menyampaikan informasi melalui dinas pos, dengan cara kerja rodi atau kerja paksa kepada penduduk bumi putera di pulau Jawa saat itu dilokasi  antara Anyer hingga Panarukan. Banyak sekali korban meninggal dunia saat itu karena tidak digaji dan tidak  diberikan makan dari penduduk pribumi atau yang saat itu disebut Golongan Bumi Putera baik orang Sunda Banten , Sunda kerawang , hingga Cirebon, Jawa baik Jawa Tengah hingga Jawa Timur sampai ujung wilayah tapal kuda saat ini, hingga ribuan orang jadi korban, dan itu adalah para Pahlawan Kusuma Bangsa tanpa tanda jasa yang tidak dilabeli dan mendapat bintang pahlawan nasional .

    Benarkah terjadi Kerja Rodi dimana masyarakat bawah dipaksa membangun jalan tanpa dibayar hingga memakan banyak korban? Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels memang membangun Jalan Anyer-Panarukan pada tahun 1808-1811, dan ada catatan bahwa ia menyediakan anggaran sebesar 30.000 ringgit perak untuk upah dan konsumsi para pekerja. Namun, sayangnya, ada dugaan bahwa uang tersebut tidak sepenuhnya disalurkan kepada para pekerja, melainkan dikorupsi oleh para bupati dan pejabat lokal.

    Jalan Anyer-Panarukan sendiri merupakan proyek infrastruktur yang sangat ambisius pada masa itu, membentang sepanjang lebih dari 1.000 kilometer dari Anyer di Banten hingga Panarukan di Jawa Timur. Pembangunan jalan ini melibatkan ribuan pekerja dan memakan banyak korban jiwa, baik karena kondisi kerja yang berat maupun penyakit.

    Daendels sendiri dikenal sebagai sosok yang keras dan berkomitmen memberantas korupsi, namun ironisnya, proyek ini justru diwarnai dengan dugaan penyelewengan dana. Para bupati lokal diberi tanggung jawab untuk mengerahkan pekerja dan mengawasi jalannya pembangunan, namun tidak ada arsip resmi yang memuat laporan penyaluran dana, sehingga menimbulkan kecurigaan.

    Sejarah memang sering kali ditulis oleh pemenang seperti halnya narasi bangsa ini telah dijajah oleh kolonial selama 350 tahun sedang faktanya tidak demikian dan dalam kasus ini, sejarah pembangunan Jalan Anyer-Panarukan ditulis dengan sudut pandang kolonial. Banyak catatan sejarah yang menggambarkan pembangunan jalan ini sebagai kerja rodi yang dipaksakan kepada rakyat pribumi, namun tidak banyak yang menyebutkan tentang korupsi dan penyelewengan dana yang dilakukan oleh para pejabat kolonial dan bupati lokal.

    Fakta bahwa uang yang disediakan untuk upah pekerja tidak sampai ke tangan mereka, dan malah dikorupsi oleh para pejabat, menunjukkan bahwa korupsi bukanlah fenomena yang baru di Indonesia. Ini adalah contoh bagaimana mental korupsi dapat berakar dan berkembang dalam sistem kekuasaan, bahkan sejak zaman kolonial.

    Sayangnya, sejarah ini sering kali tidak banyak dibahas, dan yang lebih sering dibahas adalah aspek kerja rodi dan penderitaan rakyat pribumi. Ini dapat membuat kita lupa bahwa korupsi juga merupakan bagian dari sejarah kita, dan bahwa kita perlu belajar dari kesalahan masa lalu untuk membangun masa depan yang lebih baik.

    Disamping sebagai jalan untuk pos jaga dan informasi cepat melalui darat untuk kepentingan informasi inteljen lewat  pos, jalan Pantura saat itu juga untuk membangun pabrik persenjataan militer di Semarang dan Surabaya. Dan dikemudian hari setelah jalan tersebut jadi dan setelah Pemerintahan Hindia Belanda berhasil memadamkan Perang Jawa oleh Pangeran Diponegoro pada tahun 1830, maka untuk mengembalikan perekonomian Belanda saat itu yang bangkrut karena pembiayaan perang, setelah selesai nya pembangunan jalan antar propinsi Anyer – Panarukan,  diterapkan politik  tanam paksa kepada masyarakat di Jawa untuk menanam komoditas tertentu yang bisa dijadikan eksport keluar negeri untuk menutup kas Pemerintahan Hindia Belanda saat itu, dan itu berlangsung hingga kedatangan Jepang mendarat di Pulau Jawa dan Sumatra, pada tahun 1942 . Tanam Paksa ini pun tanah -tanah maayarakat di sewa namun diwajibkan menanam komoditas tanaman eksport, seperti tebu sebagai bahan dasar gula putih, yang saat itu Hindia Belanda merupakan penghasil gula terbesar ke dua di dunia setelah Kuba. Dan tanah-tanah rakyat inipun disewa jangka panjang yang kebanyakan dimiliki oleh para bupati dan tuan tanah , yang status nya adalah Eigendom Ferponding yang saat Indonesia merdeka semua nya dinasionalisasi menjadi tanah negara.

    Jadi masyarakat kecil paling bawah sesungguhnya yang selalu jadi korban ekploitasi pejajahan sistem , melihat kondisi masyarakat kecil di Hindia belanda tersebut maka Pada tahun 1890 Politikus dalam parlemen Belanda yang bernama C .Th. Van Deventer mengemukakan politik Etis, dimana politik Etis digunakan untuk menyelamatkan rakyat bumi putera/kaum pribumi agar pemerintah kolonial Hindia Belanda, melakukan politik balas budi atas ekploitasi baik alam maupun sumberdaya rakyat di wilayah kolonial Hindia Belanda, dengan cara membangun irigasi, bendungan, untuk pertanian rakyat, dan mendirikan sekolah-sekolah, dan mengirim para anak anak bangsawan Jawa ke Belanda untuk bisa menjadi sarjana, hal itu adalah berkat jasa dari C .Th Van Deventer, seorang ahli Hukum dan Sosiologi serta politikus muda Belanda yang melihat secara langsung kondisi masyarakat di kolonialisasi Hindia  Belanda saat itu. Dari sini lah mulai para pemuda bumi putera, baik Jawa, Sumatera, Kalimantan, Ambon Maluku, Ende Nusa Tenggara Timur, sedikit demi sedikit bersekolah dan menjadi sarjana yang nanti merupakan cikal bakal penggerak Indonesia dalam Sumpah Pemuda 1928 yang diwakili oleh Jong Jawa, Jong Ambon Maluku, Jong Sumatera, Jong Sulawesi, dan tidak ada tercatat satu pun perwakilan dari golongan Timur Asing yang saat itu merupakan golongan kedua setelah Eropa yang diciptakan oleh Penguasa Hindia Belanda di Indonesia,  dan dari kaum terpelajar inilah baik yang sekolah di Batavia hingga bandung serta lulusan negeri Belanda sebagai motor dinamisator penggerak  hingga Indonesia Merdeka pada tahun 1945.

    Penderitaan rakyat belum berakhir, dimana pada tahun 1942, masuknya Militer Jepang ke Hindia Belanda, rakyat masih juga dipaksa kerja Paksa untuk membangun jalan , dan jalur pangan untuk kepentingan pertahanan militer Jepang, yang dikenal dengan Romusha, yang korbannya mencapai puluhan ribu orang karena kelaparan, dimana tragedi kemanusiaan saat itu jangan dibayangkan ada komisi hak asasi manusia, lewat PBB maupun LSM swasta yang kerap dibiayai asing untuk menyuarakan Demokrasi dan HAM, belum lahir dan belum.ada , istilah Hak Asasi Manusia ( HAM) merupakan istilah relatif  baru dan disyahkan setelah berakhirnya Perang Dunia ke-II, yang dimenangkan oleh Sekutu Amerika Serikat dan Uni Sovyet  yang lalu dibentuk badan baru yang disebut Perserikatan Bangsa Bangsa ( PBB ) menggantikan Liga Bangsa Bangsa, yang dirasa tidak bisa memberikan kontribusi yang memadai untuk mencegah terjadinya perang Dunia saat itu. Adalah Eleanor Roosevelt janda mendiang Presiden Amerika Serikat Franklin Delano Roosevelt, yang dipilih menjadi ketua bersama dari komisi PBB tentang Hak Asasi Manusia ( United Nations Commission on Human Rights ) yang menemukan frasa the Rights of Man tersebut , walaupun. Begitu tidak bisa berlaku surut  mengadili pelanggaran hak asasi manusia di Indonesia, baik kejahatan kemanusiaan saat tanam paksa maupun saat pembuatan jalan Anyer-Panarukan , dan tragedi pembantaian Westerling . Hal ini bisa  terjadi apabila pemenang dari Perang Dunia ke-II saat itu , adalah pihak yang satu kelompok kepentingan politik dalam komunitas negara-negara sekutu Amerika Serikat. Dan pada saat ini justru isu Hak Asasi Manusia dan Demokrasi serta Terorisme dijadikan komoditas politik kekuasaan  dari negara-negara Barat ( Eropa dan Amerika Serikat ) terhadap Negara berkembang sebagai alat penekan kebijakan, yang ujung-ujungnya juga suatu bentuk Penjajahan Versi baru dalam dunia  modern saat ini.

    Bahwa pada tahun 1820 hingga pada tahun 1900 di wilayah Hindia Belanda yang dulu disebut bagian dari Nusantara itu yang disebut masa kegelapan dalam sejarah bangsa, dalam perputaran Tjokro Manggilingan (perputaran kejayaan dan proses sebuah bangsa melalui siklus waktu) yang pada akhirnya mentari terbit juga dari Timur saat menjelang bulan Juni 1945 hingga Indonesia Merdeka, setelah menyerahnya Jepang kepada Sekutu.

    Setelah Indonesia merdeka, jalan Raya antara Anyer hingga Panarukan menjadi jalan paling menentukan dalam memberikan kontribusi pertumbuhan perekonomian di Jawa, hingga dibangunnya jalan tol trans Jawa oleh pemerintahan Jokowi, dan peran jalan Anyer Panarukan tetap paling dominan di pulau Jawa, baik dari aspek pariwisata maupun dari aspek ekonomi, dan keamanan Negara. Indah saat ini, merupakan hasil pengorbanan dari rakyat dan pahlawan Kusuma Bangsa yang tidak pernah dilabeli dan diberikan. Status pahlawan atas pengorbanan mereka dalam membangun jalan tersebut dan hal ini agar bisa menjadi pembelajaran generasi muda agar jangan sekali-kali melupakan sejarah (Jas Merah) agar sejarah bangsa kalian tidak dimanipulasi oleh keturunan dari  bangsa lain sebagai upaya melakukan penjajahan secara modern ( Neo Kolonialisme ) baru baik melalui budaya , maupun agama, dengan cara menghilangkan jejak sejarah nenek moyang kalian dimasa lalu, agar tidak ada lagi rasa kebanggaan terhadap leluhurmu, itu cara lama tapi gaya baru, hingga banyak saudara-saudara kita yang mabuk hingga hilang percaya diri, karena kebodohan dari diri kita sendiri, jangan lah mengalami kemunduran dalam pola pikir dan kecerdasan, sebagai anak bangsa harus punya visi misi pola pikir lebih baik dari generasi pendobrak 1945 saat Merdeka. dan seharus nya lebih cerdas dan lebih baik dari generasi wali songo pada abad ke 14 Masehi saat membangun peradaban baru di Nusantara, melalui budaya Asli Nusantara, dengan tata cara adat Nusantara, dengan pakaian yang berciri khas Nusantara. Oh indahnya inilah trade marknya Indnesia, bukan mengadopsi pakaian yang berciri khas  dari budaya bangsa lain , sangat menyedihkan.  Ismail Marzuki menciptakan lagu-lagu yang menggugah rasa Nasionalisme, dengan ciri khas Indonesia, Wanita-wanitanya cantik-cantik dengan gaya khas Nusantara, yang memberikan kesan oh ini wanita Indonesia, sangat luar biasa ya, kecantikannya memancar keluar, bukannya justru ditutupi hingga hilang ke-Indonesiaannya.

    Itulah sebabnya para founding father kita dulu saat mengkonsep membentuk berdirinya negara kesatuan RI, dalam satu pasal menyangkut ekonomi ditekankan pada ekonomi kerakyatan dan gotong royong agar supaya sistem ekonominya mengalir dari atas hingga bawah yang bisa dirasakan masyarakat kecil, karena para bapak pendiri bangsa belajar dari sejarah kondisi bangsa ini  sebelum Indonesia Merdeka termasuk sejarah pembuatan jalan pantura dari Anyer hingga Panarukan.

    Melihat maraknya korupsi yang telah terjadi secara masif terlebih lebih mengalami puncaknya saat Reformasi digulirkan dimana telah terjadi korupsi disegala lini kehidupan, bukan merupakan sebuah negara yang dicita-citakan saat Indonesia Merdeka, bukan seperti ini, penjajahan terjadi masyarakat kecil masih terjadi justru oleh elit sebangsa dan setanah air bukan lagi orang Eropa berkebangsaan Belanda yang mencengkeram dengan sistem kolonialisme, dimana kita sesungguhnya belum mencapai kemerdekaan dalam arti yang sesungguhnya.

    Dalam penegakan hukum masih terjadi ketimpangan, dimana  kasus yang baru-baru ini viral di media sosial, sejak berdirinya KPK baru kali ini terjadi seorang yang ditetapkan tersangka dan ditahan lalu dialihkan tahanan rumah, dengan alasan permohonan keluarga, pada kasus-kasus tindak pidana korupsi banyak terjadi tersangka atau terdakwa sakit pun tidak pernah ada pengalihan atau penangguhan dalam penahanan bahkan hingga beberapa kasus korupsi  yang meninggal dalam tahanan, hal ini menunjukan adanya preseden buruk dalam peradilan kita jika dihubungkan dengan :

    – Penegakan hukum tebang pilih di mana hukum hanya tajam ke bawah (masyarakat lemah) namun tumpul ke atas (pihak berkuasa/kaya), yang merusak integritas sistem peradilan dan kepercayaan publik terhadap lembaga anti rasuah seperti KPK yang selama ini, kerap melakukan penangkapan tangan.

    –  Persamaan kedudukan di muka hukum (equality before the law) adalah prinsip fundamental yang menjamin seluruh warga negara diperlakukan setara oleh hukum tanpa diskriminasi jabatan, kekayaan, ras, atau agama. Di Indonesia, asas ini diatur dalam Pasal 27 ayat (1) dan Pasal 28D ayat (1) UUD 1945, yang mewajibkan semua orang tunduk pada hukum yang sama. Atas tindakan tersebut Kepercayasn masyarakat kepada penegakan hukum dalam kaitan publik enemy (yang dianggap musuh negara) yakni korupsi mencapai titik nadir terendah, hal ini indikator bahwa kita belum mencapai kemerdekaan seutuhnya.

    Belum lagi berdasarkan data yang beredar diduga kuat beberapa organisasi sosial Lembaga Kemasyarakatan, beberapa media  mendapatkan aliran dana dari Tokoh Asing untuk menyuarakan dibungkus alasan HAM namun dalam kontek Subyektif yang tentu merugikan bangsa sendiri, hal ini juga indikator kita masih sebagai bangsa terjajah, dimana justru kaum pribumi jadi kaki tangan kepentingan asing untuk memframing kegaduhan agar bangsa ini tidak pernah bisa maju , mencapai kemerdekasn yang sesungguhnya.

    Untuk mencapai Indonesia Merdeka yang seutuhnya maka mari kita isi kemerdekaan ini  dengan keadilan kemakmuran, dan tidak pernah kehilangan jati diri sebagai bangsa, yang punya ruh ke -Indonesiaan, untuk mencapai masyarakat adil makmur, Gemah ripah loh jinawi, toti tentrem kerto raharjo. dari atas hingga bawah dari elit hingga kelas bawah.

    Seperti program MBG (makan gratis bagi siswa) adalah program bagus namun implementasi di lapangan yang harus diperbaiki, mengapa tidak disalurkan lewat kantin-kantin yang dikelola setiap sekolah, dengan prngawasan yang ketat, jadi bisa dihindari dana tersebut hanya terpusar pada kelompok-kelompok penguasa daerah, yang akhirnya menimbulkan nepotisme dan korupsi,  atau kalau tidak  berikan setiap keluarga bantuan intensif agar bisa menghidupi keluarganya secara tunai, bebaskan pajak bagi keluarga yang tidak mampu dan berikan mereka jalan agar mendapat kemudahan dalam memenuhi kebutuhan hidup  dari setiap keluarga, dimana bisa tercapai kemakmuran maka disitulah Kemerdekaan sesungguhnya bisa diciptakan.

     

    ——————

    Penulis adalah pemerhati sosial budaya, hukum dan politik, tinggal di Jakarta

  • Pemerintahan Swapraja Belanda di Timor Barat dan Implikasinya untuk Masa Kini

    Pemerintahan Swapraja Belanda di Timor Barat dan Implikasinya untuk Masa Kini

     

    Oleh  Emanuel  Bria

     

    Pemerintahan swapraja Belanda di Pulau Timor di awal abad ke-20 merupakan sebuah eksperimen kolonial yang secara mendalam mengubah wajah politik di Timor Barat, NTT. Swapraja dianggap sebagai “zelfbestuurende landschappen” atau wilayah adat yang secara formal mengatur diri sendiri. Meskipun demikian, Belanda memanfaatkan sistem ini sebagai alat utama untuk mengubah struktur pemerintahan tradisional dari konfederasi kerajaan-kerajaan adat di Pulau Timor yang terbentuk melalui ritus adat dan jaringan kekerabatan menjadi satuan teritorial kolonial yang standar, hierarkis, dan mudah diawasi.

     

    Dari kerajaan adat ke “zelfbesturende landschappen

    Dalam tata negara Hindia Belanda, swapraja diartikan sebagai wilayah adat yang diikat oleh kontrak politik tertulis (Korte Verklaring) dengan pemerintah kolonial. Kontrak ini mengatur batas kekuasaan raja, kewajiban membayar pajak, serta pengakuan Belanda terhadap hak raja selama tidak bertentangan dengan kepentingan kolonial. Di Keresidenan Timor, kategori ini diterapkan secara menyeluruh: wilayah hukum “Residentie Timor en Onderhoorigheden” pada awal abad ke-20 dibagi menjadi tiga afdeeling, lima belas onderafdeeling, dan empat puluh delapan swapraja (Kartadarmadja,1978). Data ini menunjukkan tingkat intervensi administratif yang tinggi terhadap struktur kerajaan lama yang sebelumnya lebih longgar, konfederasi, dan berakar pada jaringan kekerabatan serta ritus.

     

    Integrasi adat ke dalam hirarki kolonial

    Belanda tidak sepenuhnya meruntuhkan struktur adat; sebaliknya, mereka menempatkan diri di puncak dan di tengah hierarki yang sudah ada. Dalam struktur baru ini, residen, asisten residen, dan controleur berada di atas kepala swapraja, sementara di tingkat lokal, posisi seperti fetor dan temukung diakui sebagai pejabat resmi bawahan. Rantai komando yang terbentuk – mulai dari controleur hingga rakyat – secara langsung menghubungkan masyarakat adat Timor dengan birokrasi kolonial.

    Dalam logika ini, pemimpin adat yang sebelumnya berfungsi sebagai pemimpin ritus, penjaga sejarah lisan, dan pengatur hubungan antar-suku, diubah menjadi pejabat administratif yang bertugas memungut pajak, menjaga keamanan, dan menjalankan perintah tertulis pemerintah kolonial Belanda. Otoritas yang awalnya didasarkan pada reputasi ritual adat dan jaringan kekerabatan bergeser ke basis teritorial dan birokratis: yang berkuasa adalah mereka yang diakui melalui kontrak politik dan didukung oleh kekuatan militer kolonial.

     

    Produksi “kerajaan baru” dan fragmentasi politik

    Proses penataan ulang ini tidak hanya mengintroduksi skema administrasi kolonial ke kerajaan yang sudah ada, tetapi juga menciptakan “kerajaan baru” di dalam struktur kolonial. Sebagai contoh, di kawasan Timor Tengah, Kerajaan Mollo dibentuk oleh pemerintah Hindia Belanda sekitar tahun 1915 sebagai swapraja baru yang memisahkan wilayah Mollo dari bekas wilayah luas Oenam di bawah Kaiser Raja Sobe Sonbai III, bersama dengan Miomaffo dan Fatuleu; pengangkatan raja pertama Mollo dan penandatanganan Korte Verklaring berlangsung pada 10 Mei 1916. Dengan demikian, struktur kekuasaan lama yang tersebar luas diubah menjadi beberapa unit kecil yang lebih mudah dikendalikan. Dalam kerangka administratif ini, Mollo dikategorikan sebagai Midden Timor, sedangkan Amanatun dan Amanuban digolongkan ke dalam Zuid Midden Timor (Proyek Penelitian Kebudayaan NTT, 1977/1978).

    Dari perspektif kerajaan adat, perubahan ini menandai penyusutan wilayah kekuasaan tradisional, pergeseran batas, dan terkadang pengangkatan “raja baru” dari garis keturunan tertentu yang lebih kooperatif dengan Belanda. Dalam jangka panjang, proses ini secara bertahap melemahkan struktur konfederasi lama yang bergantung pada hubungan senior-junior antar kerajaan di Timor dan menggantinya dengan unit swapraja yang dianggap setara oleh negara, meskipun dari sudut pandang kosmologis masyarakat tidak selalu dianggap setara.

     

    Kosmologi pusat–pinggiran: Wewiku-Wehali, Sonba’i, dan Malaka

    Secara tradisional, Pulau Timor memiliki konfigurasi dan pola relasi pusat dan pinggiran kekuasaan adat yang jelas. Wewiku-Wehali, yang saat ini terletak di Kabupaten Malaka, secara adat dikenal sebagai “tanah perempuan” (female land), sebagai pusat ritual, tanah asal-usul, dan kerajaan tertua di Pulau Timor. Sementara itu, Sonba’i di bagian barat Timor dan kerajaan lainnya berfungsi sebagai pelindung. Mereka berperan sebagai “laki-laki” yang menyediakan perlindungan. Antropolog Tom Therik (2004) menyebutkan bahwa Wewiku-Wehali dipandang oleh sebagian besar kerajaan di Pulau Timor sebagai pusat ritual utama pulau ini. Pengakuan tersebut menegaskan bahwa dominasi Wewiku-Wehali lebih bersifat simbolik dan adat spiritual, bukan karena kekuatan militer.

    Rekayasa ulang struktur ini terjadi saat rezim swapraja Belanda dimulai pada awal abad ke-20. Otoritas kosmologis Wewiku-Wehali dan Sonba’i dipetakan ulang di dalam kerangka politik kontraktual, termasuk batas wilayah, distrik, dan jabatan resmi. Hubungan antara senior dan junior yang sebelumnya diatur melalui ritus adat dan aliansi kekerabatan diubah menjadi hubungan horizontal antar-swapraja yang secara tertulis disebut sebagai “daerah adat yang mengatur diri sendiri” (zelfbestuurende landschappen). Namun, dalam praktiknya, mereka tetap berada di bawah residen di Kupang. Swapraja Malaka memperjelas dinamika ini. Wewiku-Wehali yang secara tradisional menjadi pusat simbolik Kerajaan di Pulau Timor mengalami penyusutan setelah pembentukan swapraja Malaka yang secara administratif meliputi distrik Wewiku, Fatuarun, Haitimuk, Lakekun, Dirma, dan Mandeu.

     

    Implikasi sosial–politik jangka panjang

    Pengaturan swapraja memperkuat kekuasaan raja dan elit tertentu secara langsung. Kepala swapraja, yang berperan sebagai mitra resmi pemerintah kolonial, memperoleh akses ke senjata, dukungan hukum, dan sumber daya lainnya. Hal ini menyebabkan kekuatan tawar raja adat, dewan adat, atau para kepala suku cenderung berkurang. Fungsi pengawasan kolektif yang sebelumnya dilakukan melalui forum adat, seperti musyawarah, ritus, dan mediasi kekerabatan, semakin sulit bersaing dengan logika perintah tertulis dan ancaman sanksi dari negara kolonial yang terus terjadi hingga negara pasca-kolonial seperti Republik Indonesia.

    Warisan swapraja masih memiliki pengaruh hingga saat ini. Banyak batas administratif kabupaten, nama kecamatan, dan kategori identitas politik lokal di Timor mengikuti pola pembelahan swapraja kolonial. Di sisi lain, klaim legitimasi adat tetap mengacu pada figur dan pusat tradisional seperti Wewiku-Wehali, yang secara budaya dipandang sebagai rujukan sejarah dan moral dalam konteks fragmentasi administratif pasca-kolonial. Meskipun hierarki kosmologis tidak terlihat dalam dokumen resmi dan administrasi kolonial, keberadaannya tetap eksis dan terus dipelihara melalui narasi lisan serta praktik ritual adat. Sebagai contoh, dalam pembahasan wilayah perbatasan antara Timor-Leste dan Indonesia (Timor Barat), Wewiku-Wehali sering dipandang sebagai simbol kesatuan historis dan budaya yang melampaui dan mendahului garis batas negara modern yang diwarisi dari sejarah kolonial Eropa di Pulau Timor.

     

    ———————–

    Penulis adalah akademisi dan generasi Rabasa Nain (Wewiku-Wehali). Saat ini berdomisili di Brisbane, Australia

  • Di Atas Meja Belajar – Cerpen Gonsi Kusman

    Di Atas Meja Belajar – Cerpen Gonsi Kusman

     

    Ani, ada apa denganmu? Masih adakah sisa cinta di hatimu, atau rindu yang mengamuk, sehingga kau enggan segera berpaling dariku? Kau begitu gampang datang dan pergi. Kau juga muncul tanpa tabir. Wajahmu yang ungu merayu menyusup ke relung imajinasiku. Ah, nikmat sekali, Ani. Senikamat anggur pemberian Tuhan pagi-pagi buta. Sungguh, jika kau menyelami kesendirianku hingga ke dasar khayalan, tapi bukan di meja belajar ini.

    Malam ini sunyi sepi. Di luar jendela, angin menderu kencang. Sepotong celana dalam kesayanganku terhempas ke dahan pohon mangga paling ujung; sebuah peninggalan para musafir masa lalu yang masih tersisa. Di ambang teras kamar, hujan berguyur deras, membasahi kenangan yang terlambat kulepaskan dari jemuran waktu. Rindu pun demikian. Melambung dalam kabut ingatan. Aneh, bukan? Bahkan burung peliharaanku ikutan kabur dari sangkar saat senja tiba. Potongan pisang yang kuberikan siang tadi masih menggantung tenang di sarangnya. Ke manakah ia pergi?

    Sementara itu, Baba Juang, teman diskusiku di kamar sebelah, telah terlelap dalam mimpi. Ia terkulai tak sadar di atas tempat tidur setelah berdebat rindu dengan Tina, pacarnya di Jakarta. Mereka mempersoalkan cinta dan rindu. Tina bilang, rindu adalah obat bagi cinta. Baba Juang tak setuju. Baginya, cinta adalah siksaan yang lahir dari rindu. “Cinta seperti penjajah tangguh,” katanya, “yang tak pernah mengaku salah saat seseorang terkoyak rindu.” Demikian Baba Juang menutup perdebatan sebelum mematikan telepon. Ia mengalah, meski terasa dipaksa. Rumit, bukan?

    Di atas meja belajar, hanya tersisa buku-buku tua W.S. Rendra. Rendra seolah berbicara lantang tentang perjuangan dari sebuah wejangan peninggalannya. Baru saja kuhabiskan satu bab dengan seluruh tenaga, tapi tak kunjung usai. Begitu pula hujan, masih merintik di genteng. Airnya menggenang, menenggelamkan seekor anak ayam kepunyaan tuan Ande. Suara Rendra tak lagi menembus pikiranku. Yang terdengar hanyalah gemuruh guntur yang menggerogoti, dan rindu yang sementara menggila. Aku, barangkali, tenggelam di dalamnya. Membiarkan pikiran terbuka lebar, seolah mengundang siapa saja boleh menjelajahinya.

    Barangkali hanya diriku sendiri.

    Tapi saat kulepaskan sejenak, Ani, mantan kekasihku tiba-tiba mendekat, menyusuri lorong pikiranku. Lekuk tubuhnya merayu. Aduh, indah sekali! Rendra kubiarkan terlantar di atas meja. Lalu, Ani kujumpai dalam segenap ingatan. Sepi itu berubah menjadi pilihan. Membaca Rendra atau memeluk Ani? Namun, sunyi mengusik, dan waktu tak menghentikan derunya. Cinta dan rindu, barangkali, adalah kerumitan terberat. Menerjemahkannya seperti nestapa mendalam dalam hidupku. Ia memaksaku larut dalam khayalan, mengecap rasa cinta dan rindu yang campur aduk, tak bertepi dan menggoda. Ani mendekat pelan ke hatiku, lalu merambat hingga ke akar khayalan yang paling nakal.

    Bukankah kau adalah kegembiraan masa laluku yang kini berubah menjadi luka, Ani? Begitukah?

    “Cantik sungguh dirimu masih memikat,” kataku sambil membelai helai rambutmu saat kita bertemu tanpa sepengetahuan siapa-siapa kala itu. Aku sempat mengeraskan pundakku sebagai sandaran bagi kepalamu. Tapi aku sadar, aku lemah; tak sekuat pundak seorang lelaki yang kau impikan. Seperti ayah. Janji sekaligus tipu daya yang kau tanamkan padaku dulu, barangkali kini menjadi beban bagimu. Tapi itu bukan alasan untuk ragu. Kali ini, kuizinkan kau bisa berlama-lama menikmati teduh di pundak ingatanku. Sebab, pundak mana yang tega menolak bila wanita lamanya ingin kembali pulang?

    Kak, cinta kita sudah tua dalam hubungan ini. Tapi makna dari cinta itu sendiri masih terlampau muda di pikiranku. Apakah itu cinta, menurutmu?” Tanyamu saat itu, ketika pertemuan kita tak diizinkan waktu untuk berlarut dalam pelukan sepi.

    Kita membiarkan sunyi berbicara sejenak dan kata-kata butuh istiraharat. Kau memejamkan mata, menanti jawabanku. Aku menatap langit, berusaha mencari arti. Tapi tak satu kata pun yang terucap. Barangkali pikiranku terlalu lemah untuk memikirkannya. Atau kekuatan cinta memang dahsyat, sehingga mendefinisikannya terlampau rumit?

    “Susah sungguh, Ani,” kataku. “Definisi cinta tak sanggup ditanggung oleh akal semata. Aku masih bingung dengan kata itu.”

    “Barangkali cinta tak perlu didefinisikan. Ataukah mesti?”

    Cinta itu abstrak.

    Bukankah kita pernah mendewasakan cinta? Bisa jadi, itulah yang dinamakan cinta: saat kita saling mengerti, saling larut, lalu saling menyalahkan.

    Aku menyalahkan kau, dan kau menyalahkan nafsu.

    “Hmm, seandainya begitu, bagaimana kau mendefinisikan cinta pada ibu dan saudaramu? Apakah demikian?” Tanyamu bergurau.

    “Tentu tidak, Ani! Cinta yang kumaksudkan tentang kita berdua.”

    Dulu kau berbisik lembut di telingaku saat senja merayap ke pangkuan bumi dan malam mulai mendekat. Kau mengharuskan aku bahwa cinta butuh dibuktikan. Meski suatu malam kita pernah sepakat, cinta tak selalu butuh bukti. Entahlah, itu hanya omong kosong saat kesadaran berpihak pada akal.

    Malam semakin pekat. Matamu tampak lelah, seolah memberi isyarat bahwa saatnya merayakan cinta yang kian menua. Pasrah pun menjadi ramah bersama aliran darah di tubuh penuh noda.

    Rembulan adalah saksi saat kita menari di bawahnya. Aku mencium paling dalam hatimu, sementara kau menjerit seperti jangkrik sambil menggenggam erat cintaku yang tegar. Malam itu hanya milik kita berdua.

    Ah… Ani! Masihkah kau ingat? Nikmatnya bukan main.

    Gemuruh guntur dan riuh rintik hujan tak lagi terdengar dalam jiwaku. Padahal, mataku menyaksikan setiap tetesan menusuk rahim bumi yang pasrah dan mencium kaca jendela kamar yang tak bersalah. Meski begitu, kilauan kilat masih menyilaukan mataku tanpa henti.

    Apakah kau yang membuatku tuli, Ani?

    Di atas meja belajar, segalanya terasa hampa. Tak ada lagi yang dipedulikan kecuali Ani. Cantiknya melekat di imajinasiku. Pandai merayu. Membuatku kehilangan cara mencerna petuah Rendra yang belum kuhabiskan. Sementara, kepalaku butuh asupan pengetahuan, termasuk kebijaksanaan Rendra.

    “Apakah kau tak ingin aku berpengetahuan, Ani? Bukankah pengetahuan lebih utama daripada cinta?“ Demikian hatiku berucap ketika kesadaranku dipulihkan oleh buku W.S Rendra di atas meja belajar. Seolah, buku itu setia menanti meksi aku berlabuh terlampau jauh.

    Aku, barangkali, terjebak!

    Ya, aku sedang terjebak.

    Konon, kakek pernah ingatkan ayah bahwa ilmu pengetahuan mesti diutamakan bagi yang masih merangkak di bangku sekolah. Bukan cinta. Ayah menyampaikannya pesis sama padaku saat kutinggalkan rumah, saat tekadku bulat ingin menjadi seorang intelektual.

    Tapi, apakah intelektual seperti malam ini? Mengabaikan petuah Rendra demi memeluk Ani dalam rindu? Apakah petuah Rendra tak sehangat dekapan di dada Ani?

    Ah, Tuhan. Mengapa begini?

    Apakah Engkau yang mengirim Ani melawatku malam ini? Jika benar, jangan mengirim dia ke meja belajar. Meja ini bukan tempat Ani menari. Meja ini hanyalah panggung bagi Rendra berpidato dan filsuf berdiskusi.

    Kalau Ani?

    Barangkali tempatnya di ranjang. Intinya bukan meja belajar.

    “Tuhan, jika Engkau mengkehendaki Ani kembali, ajaklah ia ke dalam mimpiku,“ ujudku di hadapan Salib Yesus, sebelum kembali menikmati petuah Rendra.[*]

     

    Ledalero, 2024

     

  • Keluhuran Cerpen Menyusuh Ayah Djenar Maesa Ayu

    Keluhuran Cerpen Menyusuh Ayah Djenar Maesa Ayu

    Oleh Samuel Piedro Nahak Manewain, Mahasiswa Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma Yogyakarta

     

     

    Keluhuran di Balik “Menyusu Ayah” : Membaca Djenar melalui Kacamata Longinus

    Sastra yang menggemparkan sering kali berada di antara yang profan dan yang luhur. Cerpen Djenar Maesa Ayu berjudul “Menyusu Ayah” merupakan sebuah anomali dalam sastra Indonesia kontemporer yang membuat pembaca berpaling sekaligus terdiam. Cerpen ini sering disebut sebagai karya yang hanya membangkitkan emosi karena mengangkat tema inses dan trauma. Namun, jika kita melepaskan prasangka moralistik sejenak dan menggunakan kacamata Longinus tentang the Sublime (keluhuran), kita akan menemukan kekuatan estetis yang melampaui sekadar keberanian tematis. Longinus, dalam risalah klasik On the Sublime, berpendapat bahwa keagungan dalam sastra bukan sekadar tentang keindahan yang menenangkan, melainkan tentang kekuatan yang mengangkat jiwa pembaca ke dalam keadaan ekstasi yang tak terelakkan.

     

    Dialektika Tubuh : Djenar, Ayu Utami, and Leila S. Chudori

    Kita perlu melihat lanskap sastra perempuan Indonesia untuk memahami posisi Djenar. Ayu Utami menggunakan seks sebagai alat dekonstruksi politik dan teologis dalam “Saman”, sedangkan Leila S. Chudori menggunakan tubuh sebagai saksi sejarah yang liris dalam “Malam Jahanam” atau “Laut Bercerita”. Djenar, di sisi lain, memilih jalan yang lebih brutal.

    Djenar tidak menyajikan metafora yang “indah”. Leila mungkin menggunakan bahasa yang lembut untuk menggambarkan kepedihan, tetapi Djenar justru menggunakan bahasa yang telanjang. Perbandingan ini menunjukkan bahwa “Menyusu Ayah” memiliki tingkat keagungan yang berbeda, karya ini tidak berasal dari refleksi intelektual yang jauh, melainkan dari urgensi eksistensial yang meluap. Keagungan Djenar muncul dari kejujurannya yang menyakitkan dalam memotret distopia domestik.

     

    Keagungan Pemikiran (Grandeur of Thought)

    Djenar menggugat konstruksi patriarki yang paling purba yaitu peran ayah sebagai pelindung. Dengan tokoh Nayla, ia memperkenalkan gagasan tentang ingatan pralahir, sebuah konsep filosofis yang menunjukkan bahwa kesadaran manusia melampaui keberadaan fisik. Pemikiran bahwa seorang janin mampu memahami pengkhianatan ayahnya adalah gagasan yang megah sekaligus getir, mengangkat cerita ini dari sekadar drama keluarga menjadi tragedi eksistensial.

     

    Emosi yang Kuat (Strong Passion)

    Longinus menekankan bahwa keagungan membutuhkan antusiasme yang membara. Dalam cerita pendek ini, perasaan itu terwujud sebagai “gairah untuk bertahan hidup.” Nayla tidak digambarkan sebagai korban yang pasif. Ia menggambarkan proses kelahirannya yang heroik dengan semangat yang membara. Inilah keagungan rasa sakit, sebuah emosi yang begitu intens hingga mampu mengubah trauma menjadi ketangguhan.

     

    Retorika yang Unggul (Figures of Speech)

    Djenar menggunakan teknik pengulangan mantra: “Nama saya Nayla. Saya perempuan, tapi saya tidak lebih lemah daripada laki-laki.” “Retorika” menyusui, yang biasanya merupakan simbol sakral kasih sayang ibu, dibalikkan menjadi tindakan eksploitasi. Pembalikan makna ini merupakan strategi retorika cerdas yang menciptakan efek terapi kejutan, memaksa pembaca untuk melihat sisi gelap dari simbol-simbol kenyamanan.

     

    Diksi yang Baik (Noble Diction)

    Kekuatan Djenar terletak pada gaya bahasanya yang lugas, dingin, namun puitis secara makab. Ia tidak menggunakan kata-kata halus untuk menyamarkan kebejatan. Kata-kata seperti “sperma”, “penis”, dan “nafsu yang tak terpenuhi” digunakan untuk menciptakan efek “kekerasan verbal” yang selaras dengan pengalaman karakter. Gaya bahasa yang tepat ini menciptakan atmosfer yang mencekam, menarik pembaca ke dalam labirin psikologis yang hancur namun tetap tajam seperti pisau.

     

    Komposisi yang Mulia (Dignified Composition)

    Struktur cerita pendek ini dibangun dengan ritme yang mantap, mulai dari kenangan di dalam kandungan hingga klimaks aksi. Bagian penutup cerita, saat Nayla menghantamkan patung kepala kuda ke arah pelakunya, menghadirkan efek keagungan yang sempurna dari sebuah ledakan tindakan. Terdapat keseimbangan antara penderitaan yang berkepanjangan dan kebebasan yang singkat namun intens.

     

    Kesimpulan (Conclusion)

    Berdasarkan analisis menggunakan teori keluhuran Longginus, cerpen ini muncul sebagai sebuah struktur di mana setiap fragmen memiliki peran penting dalam menciptakan konflik dan memperdalam karakter. Djenar menunjukkan bahwa konflik Nayla bukan hanya perbedaan pemikiran, tetapi juga perjuangan radikal demi kebebasan diri atas otoritas ayah yang otoriter, dimulai dari pengenalan traumatik hingga pencarian figur ayah pada lelaki lain. Struktur yang efisien ini memastikan pesan cerita tersampaikan secara utuh bahwa keluarga, yang seharusnya menjadi ruang perlindungan paling sakral, dapat bermutasi menjadi ruang luka ketika relasi kekuasaan dijalankan tanpa tanggung jawab moral.

    Dengan mengacu pada teori keagungan Longinus, cerpen “Menyusu Ayah” telah menunjukkan bahwa karya ini merupakan wadah yang kuat untuk kritik sosial. Keberanian Djenar dalam mengangkat topik-topik tabu dengan bahasa yang lugas tidak hanya membangkitkan emosi, tetapi juga mendorong pembaca untuk merefleksikan secara kritis nilai-nilai kemanusiaan, tubuh, dan kekuasaan. Cerpen ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga mengajak kita untuk merenungkan arti sebenarnya dari cinta dan tanggung jawab. Djenar Maesa Ayu telah mengukir “Menyusu Ayah” menjadi sebuah keagungan estetika yang membicarakan sisi-sisi tergelap dari sifat manusia demi mencapai tingkat martabat yang lebih tinggi. Membaca cerpen “Menyusu Ayah” mengingatkan kita bahwa sastra besar tidak selalu berasal dari hal-hal yang manis. Ada rasa kehormatan dalam keberanian menghadapi monster-monster dalam budaya kita sendiri.

  • Di Balik Gua – Cerpen Sanny Tukan

    Di Balik Gua – Cerpen Sanny Tukan

     

    Budi adalah anak yatim piatu berumur 23 tahun yang berprofesi sebagai petani. Ayah dan ibunya meninggal saat perang saudara di desa mereka. Hanya bermodalkan cangkul dan sabit, bukan buku dan pena, bukan pula teori dan konsepsi, Budi mengandalkan harapan untuk bekerja di sawah peninggalan orang tuanya demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

    Meski dihantui oleh sinar mentari dalam keadaan bertelanjang dada dan celana ala kadarnya, Budi tetap fokus pada pekerjaan yang sedang digelutinya. Badan yang kurus, tenggorokkan kering, dan kulit terbakar karena panasnya mentari, sungguh tidak membuatnya patah semangat dalam mengais sumber hidup dari sepetak sawah. Budi sadar bahwa dirinya masih terlalu muda untuk menerima kegagalan atau D’O dari dunia persawahan. Budi sesekali menyeka keringat dari dahi berkerut yang dimilikinya sembari memandang burung-burung sawah menari riang di atas cakrawala.

    “Ah, andaikan aku bisa menjadi seperti mereka, barangkali hidup ini akan terasa lebih indah, terbang sintesis begitu saja semau-ku,” katanya dalam hati.

    ***

    Ketika senja menghampiri, Budi duduk beristirahat. Ia melihat sepetak tanaman padi dan berharap padi itu tumbuh dengan subur. Ia ragu dan berpikir bahwa tanaman padi tidak akan berkembang dengan baik, karena pertimbangan kondisi tanah yang masih mengandung zat-zat kimia dari sisa-sisa bekas bom rakitan dan porak poranda sampah plastik akibat peperangan kala itu, dengan kondisi air yang masih keruh. Namun di satu sisi, ia percaya bahwa semua usaha dan niat baik akan memperoleh hasil yang memuaskan. Ia sadar bahwa hidup butuh proses, bukan butuh hipotesis.

     “Ayah-ibu tolong hantarkan harapan dan doaku kepada Tuhan yang empunya dunia ini,” curhatan Budi di dalam hati.

    Budi pun pulang ke gubuknya. Gelap gulita sudah mulai menyelimuti dunia. Terlihat beberapa pelita berjuang menerangi gubuk-gubuk kecil di seberang sana. Terdengar pula burung-burung malam berusaha menghibur penduduk desa dengan kicauan merdunya, ditemani angin sepoi-sepoi yang menambah mesranya malam itu. Tetapi, di dimensi lain anak-anak balita tidak mampu membendung lapar dan tangisan, berteriak pilu menanti sesuap nasi dari hasil jerih payah kedua orang tua mereka. Sedang di dalam gubuknya, Budi asyik menyantap masakannya sendiri. Ia berusaha melewati hari tanpa harus mengeluh. Hingga keheningan desa membuatnya tertidur lelap dalam mimpi dan imajinasi.

    ***

    Sinar mentari pagi dari ufuk timur menembusi celah-celah dinding gubuk, Budi tersadar dan meninggalkan sahabat malamnya.

    “Arkhh!” ujarnya sambil merenggangkan otot dari penat kenikmatan tidur malam.

    Hari ini, Budi bangun dengan suasana hati yang tidak terjadi seperti biasanya, tak ada semangat, tak ada pekerjaan berat yang harus diselesaikan, bagaikan kebiasaan mahasiswa/i yang harus bangun pagi-pagi mencangkul otak, membentangi bibit-bibit analisis dan mencari kebenaran di balik bedeng-bedeng kehidupan. Sekelilingnya terlihat sepi, semua penduduk telah pergi ke sawah sebelum matahari terbit. Budi mengangkat cangkul kesayangannya dan mengambil bambu berisikan air minum, lalu berjalan menuju sawah. Budi menyimpan air minum, mengangkat cangkul dan segera membuka saluran irigasi yang ditutupi timbunan lumpur kemarin, sekaligus memperbaiki jalur irigasi yang rusak agar sumber air dapat mengalir lancar ke dalam petakan-petakan sawah.  Ketika sedang serius bekerja di dalam petakan, ia mengangkat kepaala dan melihat tiga buah mobil Jeep meluncur di jalanan becek menuju perkampungan.

     “Sudalah, cukup.” ujar Budi, mengakhiri pekerjaan.

    Ia duduk di pondok, mengangkat bambu berisi air minum dan menegukinya, menghilangkan rasa haus yang membakar dahaga. “Hufffssttt!!” Budi menarik nafas lega. Sejenak ia membaca buku dogeng cerita rakyat kesukaan ibunya yang terselip di dinding gubuk pondok, meskipun ia tidak terlalu suka membaca buku. “Ahh, menarik sejuta hati buku ini,” ujar Budi. Ia lalu bangkit pulang ke perkampungan. Di tengah perjalanan, ia melihat tiga mobil Jeep terparkir di depan gubuk kepala suku. Terlihat beberapa pereman berdiri memegang senjata laras panjang, memantau ke kiri dan ke kanan, dan nampak salah satu dari antara mereka sedang berbincang serius bersama kepala suku. Budi hanya tertunduk bisu. Mata sipit mencuri pandang dan telinganya serius menganalisis setiap sumber suara. Budi bingung sekaligus cemas bilamana terjadi sesuatu terhadap kepala suku dan semua penduduk di kampungnya, lantaran sudah sejauh beberapa tahun pasca perang saudara, baru kali ini muncul lagi sekelompok pereman: provokator persepsi yang pernah memicu perang saudara di kampung mereka (menurut cerita ibu) kembali bertengger di tengah kampung.

     “Budi?” sapa kepala suku, melihat Budi berdiri di pinggir jalan.

     “Iya kek!” sambung Budi.

     “Sedang apa kamu disitu?” tanya kepala suku.

     “Baru pulang dari sawah, kek.  Sengaja berdiri di sini kek, sekedar melihat pisang kakek, barangkali bisa barter sama padi saya kek” ujar Budi, pura-pura melihat pisang.

     “Aduh Nak, lain kali barternya, pisang itu masih terlalu mudah untuk dibarter” ujar kakek.

    “Oiah baik kakek, permisi!” sambung Budi, meninggalkan mereka.  

    Malam pun tiba, Budi sibuk memperbaiki cangkulnya yang rusak. Ketika sedang sibuk dengan dunianya sendiri, tak lama terdengar teriakan: “Tolonggggg, tolonggg, tolongggggg!” Gubuk kepala suku beserta isinya hangus dilahap api. Tak lama kemudian, 10 mobil Jeep muncul beserta para pereman. Satu dua tembakan senjata diluncurkan, bunyi besar menimbulkan kemelut di tengah kampung. Gubuk-gubuk rumah perkampungan dibakar hangus, darah bercucuran dimana-mana, dan Ibu-ibu susah sungguh menggendong bayi berlari entah kemana sembari menangisi realitas.

    “Perhatiannn-perhatiannnnnn!” teriak salah seorang pereman, kasar, intimidasi, sungguh otoriter.

    Mulai detik ini, perkampungan, sawah, kebun dan hasil-hasilnya akan menjadi milik kami!” ujar pereman itu.

    Hening syahdu, semua penduduk kampung antah berantah, entah sudah dimana.

    “Tidak, tidak, tidak!” teriak warga memecah kesunyian, dari kejauhan, tak kelihatan.

    Prajurit, tembakkk merekaaaaa!” perintah pria itu lagi dengan penuh ketegasan.

    Keheningan malam berubah menjadi perpecahan, benci berlumur darah menggangu dimensi rasa dan logika di malam yang kelam, hingga tangisan membentuk luka tak bersuara.

    ***

    Mentari menjemput malam pulang, sinarnya memperlihatkan porak-poranda desa. Budi berjalan sempoyongan, air mata membasahi wajah manisnya. Setiap derapan langkah menyusuri jalan setapak tak bertepi, tiada lagi gubuk perumahan, apalagi harapan. Di lihatnya sebuah gua dari kejauhan, dimasukinya gua itu, sekedar berteduh dan menikmati bayangan cahaya-cahaya kecil yang menerobosi lubang-lubang gua perdamaian. Sejenak, ia keluar bersahabat dengan tarian burung sawah, sembari coba mencari arti.

    “Ah Tuhan, mungkinkah aku akan mengalami nasib yang sama seperti ayah dan ibu? mereka mati secara fisik, tetapi aku kini mati secara rasa dan logika. Sungguh dunia ini begitu gelap,” seru Budi sambil meleparkan beberapa batu kecil ke arah burung sawah yang sedang beterbangan. Tiba-tiba, angin berhembus kencang. Budi masuk kembali ke gua. Gelap pekat, tetapi cahaya redup dari dalam rongga gua itu terus menyambutnya. Di situ, ia temui sosok tua berjubah putih, duduk bersila, entah sedang ber-alegori, atau sebatas bermeditasi.

    Siapa?” tanya Budi, penasaran.

    Saya penjaga gua, namaku Tu’an. Bukan orang, bukan pula rasa, apalagi logika yang kamu pahami, aku lebih dari pada itu,” jawab sosok tua itu sambil tersenyum.

     Budi diam, tak bersuara.

     “Engkau mencari apa di balik gua ini Nak?” kata lelaki tua itu.

    Aku mencari rumah Tu’an, rumah yang pernah membuatku menemukan segala yang ‘Ada’, dan rumah yang pernah membuatku mengerti betapa nikmatnya perpaduan antara rasa dan logika; tetapi kini ia hanya tinggal sebatas kenangan, bahwa saya pernah hujan-hujanan demi pulang: rumah (kedamaian),” curhat Budi.

    Lelaki tua itu tersenyum tipis, memanggil Budi duduk bersila di sampingnya.

     “Sungguh malang Nak nasibmu, sudah sejauh ini berziarah mencari ‘rumah’, seperti ziarah sepanjang jalan menuju Santiago de Compostela dalam novel Paulo Coelho, kamu tahu itu?” tanya Tu’an.

    Tidak Tu’an”, jawab Budi, menunduk.

    Tentu, itu tentu. Sebab engkau bukanlah seseorang yang sebatas pernah membaca buku, tetapi engkau adalah seseorang yang pernah membaca buku kehidupan. Di sini, Aku akan mengajarimu bagaimana caranya mencari ‘rumah’ yang engkau impikan: Rumah perdamaian, rumah kebenaran, rumah kebijaksanaan, dan rumah kesalehan. Tutup matamu, kosongkan pikiranmu, berdamailah dengan diri sendiri, tarik nafas dalam-dalam. Lakukan itu berulang kali” ujar lelaki tua.

    Budi masih terdiam. Belum menjalankan pinta Tu’an. Ia masih dilemma karena pengalaman keterlukaan.

    Mengapa masih terdiam?” ujar lelaki tua itu tersenyum ramah.

    Ah Tu’an, Susah-Sungguh. Aku masih terlalu muda untuk melakukan yang Engkau mau. Saya belum bisa menukar kekecawaan dengan kebahagian hati, bagaikan pisang kepala suku yang masih terlalu muda untuk dibarter,” ujar Budi.

    Lelaki tua itu tersenyum lagi.

    Lakukanlah, carilah dan temukan ‘Rumah’ di dalam gua hatimu sendiri Nak!” seru lelaki tua itu.

    Budi lekas berkonsentrasi, ditinggalkannya seluruh kenangan ego diri yang berkecamuk dalam pikiran akibat kelemahan rasa dan logika. Ia sungguh masuk ke dalam alam bawa sadar; menikmati indahnya gua hati, alegori, imajinasi, dan meditasi sampai tak tahu bagaimana caranya mengungkapkan perasaan itu ke dalam serangkaian kata. Budi sungguh bahagia ketika bercumbu dan bersatu dengan rasa.

    Mulai detik ini, cari dan panggil aku Tuhan, bukan lagi Tu’an,” kata lelaki tua itu, Menghilang

    **********************