Blog

  • Menilik Campur Tangan Asing di Balik Runtuhnya Orde Baru Tahun 1998

    Menilik Campur Tangan Asing di Balik Runtuhnya Orde Baru Tahun 1998

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Peristiwa kelam pada kerusuhan tahun 1998, ketika mahasiswa bergerak menduduki Gedung DPR/MPR, digerakkan oleh sejumlah tokoh yang mengklaim diri sebagai reformis dengan cita-cita melakukan pembaruan di segala lini kehidupan berbangsa dan bernegara, menjadi titik balik penting dalam sejarah Indonesia. Namun, setelah puluhan tahun era Reformasi berjalan, realitas yang tampak justru berbanding terbalik dengan harapan awal. Kondisi bangsa bukannya semakin baik, melainkan dalam banyak aspek justru mengalami penurunan yang signifikan. Degradasi moral kian terasa, korupsi berlangsung secara masif dan terstruktur di berbagai sektor kehidupan, serta penegakan hukum yang carut-marut. Hukum tidak lagi menjadi panglima, melainkan kerap diperlakukan sebagai komoditas kepentingan dan bahkan ladang bisnis, yang pada akhirnya memperparah penderitaan rakyat. Fenomena pemutusan hubungan kerja terjadi di berbagai tempat, kesenjangan sosial melebar, serta berbagai persoalan lain yang semakin menekan kehidupan masyarakat.

    Tragedi 1998 seharusnya menjadi momentum refleksi bersama bahwa bangsa ini mungkin telah dimanfaatkan sebagai alat oleh kekuatan internasional dalam sebuah agenda besar untuk menjatuhkan pemerintahan yang secara de facto kuat, baik dari sisi ekonomi maupun stabilitas politik. Pada masa itu, Indonesia dipandang berpotensi menjadi kekuatan ekonomi baru di Asia, bahkan diproyeksikan mampu melampaui negara-negara seperti Jepang, Korea Selatan, dan Tiongkok sebagai “macan Asia” yang disegani. Kondisi ini dinilai berpotensi mengganggu kepentingan negara-negara besar.

    Dari berbagai sumber, muncul pertanyaan mendasar: mengapa pemerintahan Orde Baru harus dijatuhkan? Sejumlah tokoh dunia pernah memberikan pandangan yang mengindikasikan kekuatan Indonesia pada masa tersebut. Ada yang menilai bahwa krisis ekonomi 1998 tidak sepenuhnya murni terjadi secara alamiah, melainkan sarat rekayasa geopolitik. Ada pula yang menyebut bahwa kepemimpinan saat itu mampu menjaga stabilitas nasional dan mendorong pertumbuhan ekonomi secara pesat, sehingga kejatuhannya menjadi sesuatu yang disayangkan.

    Di sisi lain, tuduhan terkait praktik KKN yang dialamatkan kepada pemimpin saat itu dan keluarganya menjadi isu sentral. Berbagai upaya investigasi dilakukan, termasuk pembentukan tim khusus untuk menelusuri harta kekayaan, namun banyak tudingan yang tidak pernah terbukti secara hukum. Bahkan, tuduhan mengenai simpanan dana besar di luar negeri yang sempat mencuat luas tidak menemukan bukti konkret. Hal ini memunculkan dugaan bahwa isu tersebut merupakan bagian dari strategi delegitimasi politik.

    Seiring waktu, berkembang pula narasi mengenai adanya konspirasi global yang melibatkan kekuatan internasional dan kelompok domestik dalam menjatuhkan pemerintahan saat itu. Salah satu faktor yang kerap disebut adalah perubahan arah kebijakan yang dianggap tidak sejalan dengan kepentingan pihak tertentu, termasuk kebijakan yang dinilai semakin berpihak pada kelompok tertentu di dalam negeri.

    Jika ditarik lebih jauh ke belakang, dinamika politik Indonesia sejak pertengahan 1960-an juga tidak lepas dari pengaruh global. Berbagai dokumen intelijen yang kemudian dibuka ke publik menunjukkan adanya interaksi antara aktor domestik dan kekuatan asing dalam konteks Perang Dingin. Dalam situasi tersebut, Indonesia menjadi arena pertarungan ideologi dan kepentingan global.

    Keberhasilan militer Indonesia dalam menumpas gerakan yang dianggap mengancam kedaulatan negara pada masa itu turut menjadi faktor penting dalam menjaga arah politik nasional. Dalam konteks global, keberhasilan tersebut juga berdampak pada peta kekuatan di kawasan Asia Tenggara, terutama dalam menahan laju ekspansi ideologi tertentu.

    Di tengah situasi krisis ekonomi yang parah pada pertengahan 1960-an, kebijakan yang diambil untuk menyelamatkan rakyat, seperti pemenuhan kebutuhan pangan, menjadi prioritas utama. Hal ini menunjukkan bahwa stabilitas sosial menjadi perhatian penting dalam menjaga keutuhan negara.

    Dalam perkembangan selanjutnya, hubungan Indonesia dengan negara-negara besar turut memengaruhi arah kebijakan ekonomi dan politik. Bantuan luar negeri, kerja sama pembangunan, hingga pengelolaan sumber daya alam menjadi bagian dari dinamika tersebut. Di satu sisi, hal ini membantu percepatan pembangunan, tetapi di sisi lain juga menimbulkan ketergantungan yang berpotensi menggerus kemandirian nasional.

    Pada masa Orde Baru, Indonesia sempat mencapai berbagai capaian penting, seperti swasembada pangan dan penguatan sektor teknologi melalui lembaga riset. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah dan jumlah penduduk yang besar, Indonesia diproyeksikan mampu menjadi negara maju dengan kemandirian ekonomi. Namun, kebijakan yang berupaya mengurangi ketergantungan terhadap lembaga keuangan internasional serta rencana pelunasan utang luar negeri dinilai mengganggu kepentingan global.

    Dalam perspektif geopolitik, kondisi tersebut dapat memicu upaya-upaya untuk melemahkan pemerintahan dari dalam, termasuk melalui gerakan sosial dan tekanan politik. Keterlibatan berbagai elemen, baik mahasiswa maupun organisasi masyarakat sipil, tidak sepenuhnya dapat dilepaskan dari kemungkinan adanya pengaruh eksternal yang menunggangi dinamika domestik.

    Akibatnya, reformasi yang diharapkan membawa perubahan fundamental justru berjalan tanpa arah yang jelas. Euforia reformasi tidak diimbangi dengan konsolidasi yang kuat, sehingga berbagai persoalan struktural tidak terselesaikan hingga bertahun-tahun kemudian.

    Oleh karena itu, penting bagi bangsa ini untuk tidak melupakan sejarah. Pembelajaran dari masa lalu menjadi kunci dalam mengambil keputusan yang bijak dan strategis ke depan, terutama dalam menjaga kedaulatan dan kepentingan nasional.

    —————-

    Penulis adalah praktisi hukum dan pemerhati masalah sosial budaya, hukum, politik, serta sejarah bangsa, berdomisili di Jakarta

  • Ali Audah Menjadi Saksi Kegagalan yang Menang

    Ali Audah Menjadi Saksi Kegagalan yang Menang

    Oleh Olivya Permata Agustina, Mahasiswi Sastra Indonesia,  Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Dalam dinamika kehidupan modern yang serba cepat, keberhasilan seseorang sering kali diukur melalui parameter yang dangkal: jabatan mentereng, popularitas di media massa, atau tumpukan penghargaan formal. Masyarakat cenderung terjebak pada penilaian permukaan, mengagungkan mereka yang namanya digemakan oleh publik, namun sering kali abai terhadap nilai-nilai substansial yang tersembunyi di balik layar. Ketegangan antara pengakuan sosial dan integritas batin inilah yang menjadi inti pemikiran dalam cerpen berjudul Kegagalan Terakhir karya Ali Audah. Melalui narasi ini, Ali Audah tidak sekadar berkisah tentang seorang arsitek yang dilupakan, tetapi juga mengajak pembaca menelaah kembali makna hakiki dari sebuah pengabdian dan eksistensi manusia di tengah hiruk-pikuk dunia yang materialistis.

    Dalam kajian sastra, hubungan antara penulis sebagai individu nyata dengan nilai-nilai yang hadir dalam teks dapat dibedah melalui konsep Implied Author atau Pengarang Tersirat. Konsep yang dipopulerkan oleh Wayne C. Booth ini menjelaskan bahwa sosok yang hadir dalam cerita bukanlah penulis secara fisik, melainkan sebuah citra diri yang dikonstruksi secara sengaja untuk menyampaikan pesan moral dan ideologis tertentu. Melalui analisis cerpen ini, tampak ketegangan yang menarik antara realitas hidup Ali Audah sebagai tokoh sukses dengan pesan dalam karyanya yang justru bicara tentang kesunyian dan pengabaian. Analisis ini membedah kedalaman makna tersebut melalui dua dimensi utama: Persona Practica dan Persona Poetica.

     

    Persona Practica: Ali Audah dalam Realitas Sosial

    Persona Practica merujuk pada profil biologis, sosial, dan sejarah pengarang di dunia nyata. Berdasarkan rekam jejaknya, Ali Audah adalah representasi dari sebuah keberhasilan yang luar biasa sekaligus unik. Ia adalah seorang intelektual otodidak yang lahir di Bondowoso. Meskipun pendidikan formalnya tercatat hanya setingkat Sekolah Dasar (SD), Ali Audah berhasil tumbuh menjadi raksasa intelektual dalam sejarah sastra Indonesia. Realitas praktis menunjukkan bahwa ia memiliki posisi yang sangat terhormat dan mapan dalam struktur kebudayaan nasional.

    Sebagai Direktur Penerbitan Tintamas, Ali Audah memegang kendali atas arus informasi dan literatur. Ia juga dikenal sebagai dosen di Institut Pertanian Bogor (IPB) serta aktif dalam organisasi internasional seperti UNESCO. Di mata publik, ia adalah figur berwibawa yang sering diminta menjadi saksi ahli dalam kasus-kasus sastra yang kontroversial. Posisinya sebagai ketua Himpunan Penterjemah Indonesia mempertegas dominasi intelektualnya di ruang publik. Secara praktis, Ali Audah telah mencapai puncak pengakuan sosial dan institusional. Keberhasilan inilah yang menjadi landasan penting bagi lahirnya gagasan dalam Kegagalan Terakhir. Pengalaman hidupnya yang melintasi berbagai disiplin ilmu membentuk karakter pengarang yang sangat paham mengenai perbedaan antara reputasi di permukaan dengan nilai hakiki di dalam batin.

     

    Persona Poetica: Suara Kritis tentang Integritas Sunyi

    Berlawanan dengan profil praktisnya yang gemerlap, Persona Poetica atau sosok estetis-ideologis yang muncul dari balik teks justru menampilkan wajah yang penuh skeptisisme dan keterasingan. Melalui tokoh Samsudin Jaya, seorang arsitek jembatan yang karyanya dipuja namun namanya dilupakan, pengarang membangun sebuah ideologi tersirat yang sangat kritis terhadap materialisme dan kedangkalan publik.

    Pertama, terdapat kritik tajam terhadap komodifikasi dan popularitas. Dalam narasi cerpen, pengarang tersirat mempertentangkan antara seni yang fungsional (jembatan) dengan hiburan yang bersifat permukaan (sosok penyanyi populer). Sementara masyarakat bersorak memuja penyanyi yang dianggap cantik tanpa kedalaman karya, sang arsitek yang memberikan jiwanya untuk membangun infrastruktur justru berdiri sendirian di sudut stasiun tanpa dikenal. Di sini, Persona Poetica Ali Audah menyuarakan kepedihan seorang pencipta. Narasi ini menegaskan bahwa masyarakat modern sering kali lebih mencintai “pembungkus” daripada “isi”. Ada nada sinis yang kuat terhadap cara popularitas dikonstruksi secara semu, sementara kerja keras nyata seorang ahli berakhir dalam anonimitas.

    Kedua, pengarang tersirat menonjolkan prinsip integritas di atas reputasi. Dialog kunci di dalam kereta api menunjukkan komitmen etis yang kuat. Ketika tokoh teman seperjalanannya menghasut agar Samsudin Jaya menuntut pengakuan atau membongkar kebobrokan sistem, sang arsitek memilih untuk tetap diam dalam kepahitan yang bermartabat. Pengarang tersirat menempatkan “integritas sunyi” pada derajat yang lebih tinggi daripada “reputasi yang berisik”. Sebuah karya seharusnya menjadi pengabdian yang tulus, meskipun dunia tidak membalasnya dengan tepuk tangan. Ini adalah bentuk perlawanan moral terhadap budaya pencitraan yang mengabaikan kebenaran demi nama besar.

     

    Kesimpulan: Kemenangan dalam Kesunyian

    Kegagalan Terakhir bukan sekadar cerita pendek tentang kesedihan seorang profesional. Cerpen ini adalah manifestasi dari Pengarang Tersirat yang berdiri di persimpangan antara keberhasilan duniawi dan integritas ruhani. Ali Audah menggunakan cerpen ini untuk menginterogasi posisinya sendiri di dunia nyata. Secara ontologis, ia mengakui adanya realitas ganda: realitas sosial tempat ia menjadi pejabat dihormati, dan realitas batin tempat ia merasa sebagai seniman yang “gagal” karena dunia tidak lagi mampu menghargai nilai-nilai yang paling mendasar.

    Ali Audah berhasil menunjukkan bahwa kegagalan sejati bukanlah ketika seseorang tidak dikenal oleh dunia, melainkan ketika ia kehilangan hubungan dengan kebenaran yang diyakini. Melalui analisis ini, terlihat bahwa Ali Audah bertindak sebagai seorang moralis yang menggunakan fiksi untuk menyucikan diri dari kepalsuan jabatan dan pengakuan sosial. Kegagalan di mata dunia yang digambarkan dalam cerpen ini, pada akhirnya, merupakan sebuah kemenangan batin yang paling murni bagi sang pengarang tersirat. Menjadi setia pada nilai kebenaran dalam kesunyian adalah pencapaian tertinggi seorang manusia. Dengan demikian, Ali Audah memberikan pelajaran berharga bahwa karya yang tulus akan selalu memiliki “nyawa”, terlepas dari apakah penciptanya dirayakan oleh massa atau justru dilenyapkan oleh waktu. Kemenangan sejati ada pada keberanian untuk tetap jujur pada diri sendiri.

  • Keluhuran dalam Novel “Gadis Pantai” Karya Pramoedya Ananta Toer

    Keluhuran dalam Novel “Gadis Pantai” Karya Pramoedya Ananta Toer

     

    Oleh Sahira Diniy Khairun Nisa, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Ada kalanya sebuah cerita tidak hanya habis dibaca, tetapi terus tinggal di dalam kepala pembacanya. Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu dari cerita itu. Pramoedya bukanlah sastrawan biasa. Karyanya mendunia, namun ia berani bersikap kritis terhadap kekuasaan. Novel ini pun sempat dilarang beredar dan bahkan dibakar oleh rezim Orde Baru.

    Secara singkat, Gadis Pantai berkisah tentang seorang perempuan desa dari keluarga nelayan yang dinikahi oleh Bendoro, seorang priyayi Jawa kaya. Bagi keluarganya, ini adalah keberuntungan. Tapi cepat atau lambat, Gadis Pantai—begitu ia disebut dalam cerita—menyadari bahwa ia tidak pernah menjadi istri yang sesungguhnya. Ia hanya ditempatkan, lalu ditinggalkan. Puncak kesedihannya datang ketika anak perempuannya harus tinggal di rumah Bendoro, sementara ia sendiri pulang ke kampung dengan tangan hampa.

    Lewat buku ini, Pramoedya menggambarkan praktik feodalisme yang kehilangan adab dan nilai kemanusiaan. Bendoro dengan semena-mena menikahi seorang gadis pesisir yang bahkan belum haid, semata-mata untuk memenuhi “kebutuhannya”, hingga pada akhirnya ia memutuskan menikah dengan perempuan yang dianggap sederajat. Perlu diketahui pula bahwa Gadis Pantai merupakan novel yang tidak selesai (unfinished novel), karena dirancang sebagai bagian pertama dari sebuah trilogi. Namun, naskah untuk buku kedua dan ketiga hilang akibat vandalisme politik pada tahun 1965 dan hingga kini tidak pernah ditemukan kembali.

    Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer dapat dikaji melalui konsep keluhuran (sublime) dari Longinus. Dalam pemikiran Longinus, keluhuran tidak berhenti pada keindahan, melainkan hadir sebagai kekuatan bahasa yang mampu menyentuh batin dan menghadirkan pengalaman emosional yang mendalam bagi pembaca.

    Novel ini merupakan karya yang berat dan menyentuh sisi emosional pembacanya. Keluhurannya dapat dipahami melalui lima unsur utama, yaitu daya pemikiran yang agung, emosi yang kuat, retorika yang unggul, pilihan kata yang istimewa, dan struktur komposisi yang unik.

    1. Pemikiran yang Agung

    Kedalaman pemikiran dalam novel ini tampak dari gagasan besar yang diangkat. Karya ini tidak sekadar menghadirkan kisah percintaan, melainkan mengupas persoalan feodalisme yang menindas. Melalui tokoh Gadis Pantai, terlihat bagaimana seorang perempuan dari kalangan bawah kehilangan kendali atas tubuh, masa depan, bahkan anaknya hanya karena posisinya dalam struktur sosial. Sebagai perempuan Jawa, ia dihadapkan pada ketidakadilan gender. Dijadikan gundik, diberi identitas baru sebagai “Mas Nganten”, serta dituntut melahirkan anak laki-laki sebagai syarat keberlangsungan posisinya dalam rumah tangga Bendoro.

    1. Emosi yang Kuat

    Kekuatan emosi dalam novel ini hadir melalui perjalanan batin tokoh utama yang digambarkan secara mendalam dan bertahap. Pembaca diajak memahami kebingungan Gadis Pantai ketika memasuki lingkungan bangsawan yang asing, hingga munculnya harapan akan kehidupan yang lebih baik. Namun, harapan tersebut perlahan sirna saat ia menyadari bahwa dirinya tidak pernah benar-benar diterima sebagai bagian dari keluarga Bendoro. Ia hanya diposisikan sebagai pemuas kebutuhan, bukan sebagai pasangan yang setara. Puncak emosi tergambar ketika ia harus berpisah dengan anaknya sendiri, yang tetap tinggal di rumah Bendoro tanpa hak baginya untuk bertemu kembali.

    1. Retorika dan Diksi

    Keunggulan retorika dalam novel ini tampak pada cara Pramoedya menyampaikan makna secara implisit. Ketimpangan kuasa antara Bendoro dan Gadis Pantai tidak dinyatakan secara gamblang, melainkan tergambar melalui sikap tunduk sang tokoh utama dan ketidakberdayaannya menentukan nasib anak sendiri. Gaya bahasanya pun turut memperkuat hal tersebut. Ungkapan seperti “istri sebilah keris” dan “orang kebanyakan” serta panggilan “Mas Nganten” yang terasa asing bagi telinga Gadis Pantai sendiri. Bahkan ketika melahirkan, ia hanya disapa dengan kalimat “Jadi Cuma perempuan?” sebelum ditinggalkan begitu saja serta keputusan untuk tidak memberi nama pada tokoh utama menjadikan Gadis Pantai sebagai representasi universal perempuan yang tertindas.

    1. Struktur Komposisi yang Unik

    Alur bergerak dari kehidupan awal Gadis Pantai di kampung, kemudian menuju kehidupannya di lingkungan bangsawan, dan akhirnya kembali lagi ke titik awal dengan kondisi yang berbeda. Pola ini membentuk siklus yang tragis: perjalanan yang dimulai dengan harapan berakhir dengan kehilangan dan kehampaan. Ritme tersebut memungkinkan pembaca mengikuti perkembangan emosi tokoh secara utuh. Kesederhanaan struktur ini justru menjadi kekuatan, karena mampu menghadirkan efek katarsis, sebagaimana dikemukakan oleh Longinus, yakni pengalaman emosional yang membersihkan dan menggugah jiwa pembaca.

    Dengan demikian, novel Gadis Pantai karya Pramoedya Ananta Toer menunjukkan keluhuran sebagaimana konsep Longinus melalui gagasan yang kuat, emosi yang mendalam, serta gaya bahasa dan struktur yang efektif. Karya ini tidak hanya menyampaikan cerita, tetapi juga mampu menggugah kesadaran dan meninggalkan kesan yang mendalam bagi pembaca.

     

  • Ketika Ramadhan K.H. Menjadi Suara di Persimpangan Kepercayaan

    Ketika Ramadhan K.H. Menjadi Suara di Persimpangan Kepercayaan

    Oleh Alfina Shalsa Damayanti, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Terkadang, tidak semua kepercayaan agama lahir dari keyakinan karena sebagian tumbuh dari kebiasaan, bahkan tekanan. Kepercayaan sering kali hadir bukan sebagai pilihan yang benar-benar bebas, melainkan sebagai sesuatu yang diwariskan, diajarkan, dan perlahan diyakini tanpa banyak pertanyaan. Namun, di titik tertentu, manusia bisa saja berhenti dan bertanya apakah yang diyakini selama ini benar-benar berasal dari hati, atau hanya sekadar mengikuti arus?

    Kegelisahan semacam inilah yang terasa kuat dalam cerpen Antara Kepercayaan karya Ramadhan K.H. ketika keyakinan tidak lagi menjadi sesuatu yang pasti, melainkan ruang pergulatan yang sunyi. Cerita ini tidak hanya menghadirkan konflik antar keyakinan, tetapi juga memperlihatkan kegelisahan batin seseorang yang berada di antara dua dunia. Pembaca diajak masuk ke ruang batin tokoh yang mempertanyakan apakah kepercayaan adalah sesuatu yang diwariskan, atau sesuatu yang harus ditemukan sendiri?

     

    Jembatan dalam Melintasi Keyakinan

    Cerpen Antara Kepercayaan karya Ramadhan K.H. ini dapat dibaca bukan hanya sebagai cerita tentang konflik agama, tetapi juga sebagai konstruksi suara yang sengaja dibangun oleh pengarang. Dalam hal ini, penting untuk memahami dan menyelaraskan konsep implied author yang diperkenalkan oleh Wayne C. Booth.

    Menurut Booth, pengarang yang hadir dalam teks bukanlah pengarang nyata, melainkan sosok yang “dibentuk” melalui pilihan bahasa, sudut pandang, dan struktur cerita. Dengan kata lain, pengarang nyata seolah “menghilang” dan digantikan oleh persona yang mengarahkan cara pembaca memahami cerita. Sehingga konsep ini yang nantinya akan sesuai dengan cerita di dalamnya.

    Dalam cerpen ini, suara yang muncul bukan sekadar milik Ramadhan K.H. sebagai individu, tetapi merupakan suara yang telah disusun secara retoris. Suara tersebut mengajak pembaca untuk tidak langsung menghakimi, melainkan merenungkan makna kepercayaan secara lebih dalam. Di sinilah terlihat bahwa teks bekerja sebagai medium yang membentuk cara berpikir pembaca dan sebagai hasil nyata dari konstruksi retoris yang memiliki tujuan tertentu.

     

    Argumentasi di Balik Suara yang Tersembunyi

    Di balik cerita Antara Kepercayaan, implied author hadir sebagai sosok yang tenang, reflektif, dan tidak memihak secara ekstrem. Ia tidak memaksakan satu kebenaran, tetapi justru membuka ruang pertanyaan. Hal ini terlihat dari bagaimana konflik dibangun: bukan melalui pertentangan yang keras, melainkan melalui kegelisahan batin tokoh utama (Aku).

    Bahasa yang digunakan cenderung sederhana, tetapi tentu sarat makna. Tidak ada diksi yang terlalu menghakimi atau provokatif. Justru, kesederhanaan bahasa ini menjadi strategi retoris yang kuat. Implied author seolah ingin mengatakan bahwa persoalan kepercayaan dan perbedaan agama bukanlah sesuatu yang bisa diselesaikan dengan emosi, tetapi dengan pemahaman.

    Selain itu, implied author juga bekerja melalui struktur naratif yang menempatkan tokoh dalam posisi dilematis. Tokoh utama tidak digambarkan sebagai sosok yang sepenuhnya benar atau salah. Ia justru menjadi representasi manusia yang sedang mencari. Dengan cara ini, implied author tidak tampil sebagai “penguasa kebenaran”, melainkan sebagai pemandu refleksi.

    Dari sisi kekuasaan, implied author memiliki peran penting dalam mengarahkan simpati pembaca. Pembaca cenderung diajak untuk memahami, bukan menghakimi. Ini menunjukkan bahwa pengarang dalam teks memiliki kekuasaan untuk membentuk perspektif, meskipun tidak terlihat secara langsung.

    Jika dilihat dari konteks sosial, cerpen ini juga bisa dibaca sebagai respons terhadap realitas masyarakat yang sering kali terjebak dalam fanatisme. Implied author hadir sebagai suara yang mencoba menyeimbangkan: antara keyakinan dan kemanusiaan, antara tradisi dan kebebasan berpikir.

     

    Penutup dan Refleksi dari Suara yang Tertinggal

    Melalui cerpen Antara Kepercayaan, terlihat jelas bahwa Ramadhan K.H. sebagai pengarang nyata tidak hadir secara langsung dalam teks. Ia bertransformasi menjadi implied author yaitu sebuah persona yang melekat dalam cerita secara lebih halus, reflektif, dan terbuka terhadap berbagai kemungkinan makna.

    Transformasi ini menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar media penyampaian pesan, tetapi juga ruang bagi pengarang dalam membentuk cara pembaca memahami dunia. Dalam hal ini, implied author menjadi jembatan antara teks dan pembaca, antara pengalaman dan pemaknaan.

    Pada akhirnya, cerpen ini tidak hanya berbicara tentang kepercayaan, tetapi juga tentang bagaimana manusia belajar untuk memahami bukan sekadar memilih dan memiliki. Dengan begitu, di sanalah kekuatan sastra bekerja sebagai media yang bukan memberi jawaban, tetapi menumbuhkan kesadaran.

     

     

  • Impeachment dan Dampaknya terhadap Rakyat Kecil

    Impeachment dan Dampaknya terhadap Rakyat Kecil

     

    Oleh  Agus Widjajanto, Praktisi Hukum dan Kolumnis

     

     

    Beberapa waktu belakangan ini, isu impeachment atau pemakzulan terhadap pemerintahan yang sedang berkuasa kembali mencuat di berbagai diskursus publik, terutama yang berkembang di media sosial. Pengamat hukum dan peneliti politik menyarankan untuk dilakukan langkah drastis ini, yang menurut mereka bisa menjadi solusi terhadap berbagai permasalahan pemerintahan. Namun, kita perlu berhati-hati dalam menilai, sebab proses impeachment tidaklah sesederhana yang dibayangkan. Dampaknya tidak hanya berkisar pada elit politik, tetapi juga langsung menyentuh rakyat kecil.

    Proses impeachment, jika terjadi, tentu saja akan membawa konsekuensi besar, terutama bagi stabilitas politik dan ekonomi negara. Kita harus memahami bahwa, meskipun pemakzulan merupakan instrumen hukum yang sah, dampaknya bisa sangat jauh dan mempengaruhi kehidupan masyarakat secara langsung. Jika pemerintahan yang sah hasil pemilu di-impeachment, maka ketidakstabilan politik yang ditimbulkan dapat memperburuk kondisi perekonomian. Rakyat kecil yang seringkali menjadi pihak paling rentan dalam situasi seperti ini, bisa mengalami kesulitan yang lebih besar. Krisis kepercayaan terhadap pemerintahan dan institusi negara bisa memperburuk daya beli masyarakat, memicu pengangguran, dan merugikan sektor-sektor yang lebih membutuhkan perlindungan.

    Salah satu biaya terbesar dari impeachment adalah ketidakpastian. Kita tidak bisa menjamin bahwa pengganti pemerintahan yang baru akan lebih baik atau lebih efektif dalam mengelola negara. Dalam banyak kasus, pergantian pemerintahan hanya membuka ruang untuk spekulasi politik yang lebih besar, dan dalam beberapa situasi, malah memperburuk kondisi sosial ekonomi. Ketika ketidakstabilan ini terjadi, rakyat yang justru paling merasakan dampaknya.

    Namun, bukan berarti kita menutup mata terhadap berbagai kekurangan yang ada. Setiap pemerintahan tentu tidak lepas dari kelemahan dan kesalahan. Tetapi, dalam menjalankan demokrasi, kita harus memiliki sikap yang realistis dan konstruktif. Bukan dengan mengedepankan cara-cara yang merugikan banyak pihak hanya untuk kepentingan politik sesaat. Kritik membangun adalah cara yang lebih tepat untuk memperbaiki kekurangan-kekurangan yang ada, bukan dengan upaya menjatuhkan pemerintahan yang sah.

    Seperti yang sering saya katakan, Right or wrong, it’s my country. Hal-hal yang baik dalam pemerintahan harus tetap dipertahankan dan ditingkatkan. Sedangkan, yang buruk harus diperbaiki dengan cara yang lebih elegan dan bertanggung jawab. Kritik yang konstruktif, bukan serangan yang merusak, harus menjadi landasan bagi kita semua sebagai warga negara yang peduli terhadap nasib bangsa ini.

    Penting untuk dicatat bahwa dalam demokrasi, kita harus menerima kenyataan bahwa pemerintahan tidak selalu sempurna. Namun, sebagai warga negara, kita memiliki tanggung jawab untuk berperan aktif dalam proses perbaikan. Pemakzulan atau impeachment harus menjadi pilihan terakhir setelah semua upaya lain untuk menyelesaikan masalah telah dicoba. Prosedur hukum yang adil, bukti yang kuat, dan landasan moral yang jelas harus menjadi dasar dari langkah tersebut. Sebab, dalam banyak kasus, rakyat kecil sering kali menjadi korban dalam permainan politik semacam ini. Mereka yang tidak terlibat dalam kekuasaan, tetapi justru mereka yang paling merasakan dampak dari ketidakstabilan politik.

    Jadi, daripada mengedepankan tindakan ekstrem seperti impeachment, mari kita berupaya untuk membangun pemerintahan yang lebih baik melalui cara-cara yang lebih damai dan produktif. Kritik yang konstruktif, diskusi yang sehat, dan komitmen bersama untuk memperbaiki negara adalah langkah yang jauh lebih tepat dan berkelanjutan.

    Demokrasi bukan hanya soal menyuarakan ketidakpuasan, tetapi tentang bagaimana kita bekerja bersama untuk memperbaiki negara, meskipun terkadang kita harus melalui jalur yang tidak mudah. Tetapi, pada akhirnya, kesejahteraan rakyat kecillah yang paling penting untuk dipertahankan.

    “Suara rakyat adalah suara Tuhan” (Vox populi, vox Dei) adalah ungkapan yang menekankan pentingnya kehendak rakyat dalam demokrasi. Namun, dalam konteks impeachment, perlu diingat bahwa “suara rakyat” harus diartikan sebagai proses demokratis yang terstruktur, bukan hanya sekedar opini publik atau desakan sekelompok orang.

    Wacana impeachment harus melalui proses konstitusional yang jelas, melibatkan lembaga-lembaga negara yang berwenang (DPR, MK, MPR), dan didasarkan pada bukti kuat. Jadi, bukan hanya tentang “suara rakyat” versi para pengamat politik , tapi tentang apakah proses impeachment itu sendiri sesuai dengan konstitusi dan hukum yang berlaku dan memang sudah kehendak rakyat yang jumlah nya 280 juta lebih ?

    ———————

     

  • Ketika Theoresia Rumthe Menjadi “Lelaki yang Gelisah”

    Ketika Theoresia Rumthe Menjadi “Lelaki yang Gelisah”

     

    Oleh Humaera Nur’izzatinnisa, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Bayangkan seorang lelaki di tengah malam kota besar, menatap langit yang dipenuhi arak-arakan awan membentuk kereta kuda tanpa penarik, sementara napasnya membekas kabut di kaca jendela, menyembunyikan wajahnya sendiri. Daun kering berputar-putar di halaman rumah kosong, seperti gelisah yang tak pernah diam, dan sesekali ia menggak vodka untuk melayang sejenak. Namun, rindu datang lebih hebat saat siuman. Pengalaman seperti ini bukan asing bagi banyak lelaki Indonesia modern, yang terperangkap antara tuntutan maskulinitas tradisional dan kehampaan batin di era urbanisasi yang cepat, sebagaimana ditangkap begitu tajam dalam puisi “Lelaki dan gelisah” karya Theoresia Rumthe.

     

    Lelaki dan Gelisah

    Theoresia Rumthe

     

    Lelaki dan gelisah seumpama arak-arakan awan

    Membentuk kereta kuda

    Tanpa penariknya

     

    Lelaki dan gelisah

    seumpama uap napas

    pada kaca jendela

    tanpa kelihatan muka

     

    lelaki dan gelisah

    seumpama rumah kosong tanpa penghuni

    hanya daun-daun kering di halaman

     

    lelaki dan gelisah

    seumpama vodka,

    mabuk sesaat,

    melayang sejenak,

    datang rindu yang lebih hebat

    ketika siuman

     

    Jembatan ke Ekspresivisme

    Puisi pendek ini, dengan empat stanza paralelnya, bukan sekadar curahan emosi Theoresia Rumthe sebagai pengarang nyata, melainkan lahir dari teori ekspresivisme sastra yang menekankan karya sebagai ekspresi batin pencipta. Dalam kerangka Wayne C. Booth pada The Rhetoric of fiction (1961), pengarang nyata “menghilang” dan digantikan oleh Implied Author. Persona retoris yang dibangun melalui pilihan bahasa, citra, dan struktur teks untuk membentuk pengalaman pembaca.

    Implied Author ini bukan Theoresia Rumthe secara harfiah, seorang perempuan yang justru mendeskripsikan kekasihnya William Johanes sebagai “lelaki Gelisah”. Sosok “lelaki gelisah” yang menjadi suara dominan, mengarahkan kita memahami gelisah bukan sebagai keadaan pribadi semata, melainkan kondisi manusiawi universal. Transisi dari pengalaman konkret ke konsep ini menunjukkan bagaimana sastra ekspresif mengubah emosi mentah menjadi konstruksi retoris yang hidup.

    Namun, puisi ini ditulis oleh Theoresia Rumthe yang lalu dibalas oleh kekasihnya, William Johanes. Theoresia mendeskripsikan kekasihnya dengan meumpamakan dirinya sebagai William yang gelisah. Adanya ikatan batin antara dua subjek yang kemudian ditarik oleh satu subjek untuk menjadi diri subjek yang satunya. Itulah yang dilakukan Theoresia Rumthe dalam menulis puisi berjudul “Lelaki dan Gelisah” ini.

     

    Analisis Citraan Implied Author

    Pengulangan frasa “lelaki dan gelisah seumpama…” di awal setiap stanza menciptakan ritme obsesif, seolah Implied Author adalah lelaki yang terperangkap dalam lingkaran pikiran, mengekspresikan kegelisahan batin yang tak terucapkan. Citra pertama dilihat pada bait “arak-arakan awan membentuk kereta kuda tanpa penariknya” yang menggambarkan gerakan tak ada arah, tak terkendali, simbol kekosongan eksistensial di mana persona ini menyiratkan dirinya sebagai pengembara tanpa tujuan, mencerminkan ekspresi batin pengarang terhadap ketidakpastian hidup modern di tengah hiruk-pikuk kota besar.

    Citra kedua, “uap napas pada kaca jendela tanpa kelihatan muka,” memperkuat persona ini sebagai sosok yang tak terlihat, tersembunyi di balik kabut emosi sendiri. Hal ini menandakan sebuah metafora identitas yang hilang, di mana Implied Author menggunakan anonimitas untuk mengajak pembaca merenungkan kerapuhan diri. Di tengah keramaian urban, individu seringkali kehilangan wajahnya, menjadi kabur seperti uap pada kaca.

    Ketiga, “rumah kosong tanpa penghuni hanya daun-daun kering di halaman,” membangun gambaran kehampaan fisik dan jiwa. Daun kering hadir sebagai sisa-sisa kehidupan yang sia-sia, menjadikan persona ini saksi bisu atas kesepian kolektif urban. Rumah, yang seharusnya menjadi simbol kehangatan dan perlindungan, justru menjadi monument kesendirian.

    Puncaknya berada pada stanza terakhir, “seumpama vodka, mabuk sesaat, melayang sejenak, datang rindu yang lebih hebat ketika siuman”, yang mengungkap strategi retoris Implied Author menjadi pelarian bahwa gelisah adalah siklus abadi, mengubah ekspresi pribadi menjadi undangan refleksi bagi pembaca. Penanganan sementara (mabuk) hanya akan memperparah rasa hampa (rindu) saat kesadaran kembali.

     

    Strategi Retoris dan Konteks Budaya

    Sebagai kekuatan retoris, Implied Author mengendalikan emosi pembaca melalui struktur paralel yang membangun intensitas bertahap, dari citra alam (awan) ke fisik (napas), domestic (rumah), hingga intoxicating (vodka). Bahasa yang sederhana, tapi sangat padat ini dengan enjambement (pemenggalan baris), menciptakan ritme napas yang meniru denyut gelisah itu sendiri, membuat pembaca ikut “bernapas” bersama persona.

    Dalam konteks Indonesia, di mana puisi sering jadi wadah kegelisahan sosial seperti pada karya Sapardi Djoko Damono atau Sitor Situmorang, persona dalam puisi ini memperluas ekspresi Theoresia Rumthe menjadi kesaksian lelaki urban yang terombang-ambing modernitas. Lelaki seringkali dituntut untuk tegar tanpa cela, namun di sini, ia ditampilkan  kesepian di tengah keramaian kota besar. Implied Author tidak bersifat netral, melainkan memposisikan diri sebagai suara otoritatif yang menuntut empati, membuktikan ekspresivisme sebagai alat transformasi emosi menjadi kekuatan naratif.

     

    Dinamika Gender dan Penutup Reflektif

    Theoresia Rumthe telah bertransformasi total menjadi “Lelaki yang sedang gelisah”. Dalam hal ini, Implied Author bukan bayangan pengarang nyata, melainkan entitas hidup yang menggugat kita atas “rindu pasca-mabuk sesaat”. Fenomena ini mengingatkan kita pada dinamika gender yang lebih luwes atau fluida dalam sastra kontemporer Indonesia. Di sini, seorang perempuan seperti Theoresia Rumthe bisa “menjadi” lelaki untuk menyuarakan kerapuhan bersama, sehingga memperkaya diskursus literatur nasional.

    Sastra Ekspresivisme mengajarkan kita bahwa gelisah yang abadi ini bukanlah sebuah kutukan, melainkan sebuah panggilan untuk menghadapi kehampaan dengan keberanian. Puisi “Lelaki dan Gelisah” pada akhirnya bergema sebagai pengalaman bersama yang melampaui identitas individu penyairnya, mengubah pembaca menjadi bagian integral dari puisi itu sendiri. Melalui persona “lelaki” ini, Theoresia Rumthe bukan hanya menceritakan tentang kekasihnya, tetapi sedang membicarakan kita semua yang seringkali tersesat di balik uap napas di kaca jendela kehidupan modern.

                 

  • Keluhuran dalam Cerpen “1 Perempuan 14 Laki-laki” Karya Djenar Maesa Ayu: Perspektif Longinus

    Keluhuran dalam Cerpen “1 Perempuan 14 Laki-laki” Karya Djenar Maesa Ayu: Perspektif Longinus

    Oleh Florentina Veni Mayasari, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Ketegangan antara pria dan wanita serta eksplorasi pengalaman seksual merupakan tema sentral dalam sastra Indonesia kontemporer, khususnya dalam karya Djenar Maesa Ayu, seperti kumpulan cerpen 1 Perempuan 14 laki-laki (2011). Tubuh perempuan digambarkan sebagai medan pertempuran antara kekuasaan dan perlawanan, di mana pengalaman perempuan berfungsi sebagai ruang untuk memahami dinamika kekuasaan, trauma, dan keberanian untuk melawan. Esai ini menganalisis cerpen tersebut menggunakan teori sublim Longinus, yang menyatakan bahwa sublim muncul dari kekuatan bahasa dan gagasan yang sangat menggerakkan emosi pembaca, bukan hanya keindahan konvensional.

    Cerpen 1 Perempuan 14 laki-laki menceritakan kisah seorang wanita yang berhubungan seks dengan empat belas pria dalam satu malam. Menurut Longinus, apa yang tampak rendah secara moral dapat menjadi sumber keindahan jika diperlakukan dengan kepekaan batin. Cerpen ini tidak memandang tubuh sebagai dosa, melainkan sebagai arena benturan kekuasaan, penderitaan, dan identitas. Tokoh protagonis perempuan sengaja tidak disebutkan namanya untuk mewakili banyak perempuan yang kehilangan kendali atas tubuh mereka karena kekerasan fisik, tekanan sosial, atau norma budaya.

    Longinus mengidentifikasi keagungan sastra sebagai berasal dari lima sumber: wawasan yang mendalam, emosi yang mulia, retorika yang unggul, ekspresi, dan transformasi yang mulia. Meskipun membahas tema berat seperti pemerkosaan massal, karya Djenar mewujudkan keagungan melalui kekuatan dan intensitas emosional, bukan kemurnian moral. Keberanian untuk menyajikan sisi gelap kemanusiaan dengan emosi yang kuat itulah yang membuatnya agung.

    Narasi diceritakan dengan nada datar dan berulang yang mengingatkan pada rutinitas sehari-hari, menciptakan kesan bahwa karakter perempuan hanya menyaksikan tubuh mereka dikendalikan oleh orang lain, daripada bertindak aktif. Pendekatan ini menghindari sensasionalisme, dan malah memperkuat konsep keagungan Longinus melalui intensitas emosional yang mendalam.

     

    Daya Pemikiran yang Agung: Melampaui Skandal Menuju Kebenaran

    Menurut Longinus, salah satu elemen kunci dari keagungan adalah kebesaran gagasan yaitu, kemampuan penulis untuk menangkap kebenaran yang mendalam. Dalam karya ini, Djenar Maesa Ayu tidak menyajikan seksualitas dalam kerangka romantis, melainkan sebagai ruang untuk perjuangan batin dan sosial. Kebesaran pemikirannya terlihat jelas dalam keberaniannya untuk menyajikan penderitaan tanpa disembunyikan. Jika Longinus mengagumi Homer karena kemampuannya menggambarkan badai dahsyat, maka Djenar menyajikan badai serupa melalui gejolak tubuh dan jiwa protagonis perempuannya.

    Kebesaran gagasan dalam cerita pendek ini terlihat jelas dalam penolakannya untuk berkompromi demi kenyamanan pembaca. Ia menghadapkan pembaca pada realitas yang umumnya disembunyikan oleh norma-norma kesopanan sosial. Lebih jauh lagi, keberanian intelektual Djenar juga terlihat jelas karena ia tidak menempatkan karakter perempuan dalam penilaian moral yang sederhana. Ia menolak baik posisi yang hanya menghakimi maupun sikap yang secara tidak kritis memuliakan.

     

    Emosi yang Kuat

     Bagi Longinus, kemuliaan sastra berasal dari emosi yang autentik, bukan dari perasaan yang dibuat-buat untuk efek dramatis. Dalam cerita pendek ini, Djenar tidak menggambarkan tokoh perempuan melalui air mata atau luapan ekspresi verbal yang berlebihan. Sebaliknya, ia menggunakan narasi yang tenang, lugas, bahkan tampak dingin.

    Namun justru di balik kesederhanaan inilah tersembunyi emosi yang sangat kuat. Rasa sakit akibat pengkhianatan, hasrat seksual, dan kerinduan disajikan dengan kekuatan yang mendalam. Intensitas emosional ini memikat pembaca ke dalam pengalaman yang hampir ekstatis, di mana pembaca tidak hanya memahami isi teks, tetapi juga merasakan getaran batin para tokoh. Dalam konteks ini, gairah bukan hanya dorongan biologis tetapi juga keinginan untuk bertahan hidup di tengah realitas sosial yang penuh dengan kemunafikan.

     

    Retorika yang Unggul

     Keunggulan retorika dan pilihan kata dalam karya Djenar sering menuai kritik karena diksi yang dianggap vulgar. Namun, menurut Longinus, penggunaan bahasa yang tajam dan tepat justru merupakan jalan menuju keunggulan ekspresif. Kata-kata kasar dan istilah-istilah yang berkaitan dengan tubuh yang muncul dalam teks tidak dimaksudkan untuk membangkitkan unsur-unsur pornografi, melainkan berfungsi sebagai perangkat retorika untuk mengungkap kepalsuan.

    Bahasa seperti itu memperoleh kemuliaannya dari kejujuran yang diwujudkannya. Seperti yang ditegaskan Longinus, bahasa yang indah menerangi pikiran; di ranah yang dibungkam oleh tabu, bahasa Djenar berfungsi seperti cahaya yang mengungkapkan aspek-aspek tersembunyi dari kemanusiaan.

     

    Diksi

    Pilihan bahasa dalam cerita pendek 1 Wanita, 14 Pria juga memainkan peran utama dalam menciptakan efek yang agung. Bahasa yang digunakan tajam, lugas, dan tanpa hiasan. Realitas yang keras disampaikan secara blak-blakan, tanpa diperhalus oleh metafora. Menurut teori Longinus, diksi yang kuat dan tepat adalah cara utama untuk menyampaikan gagasan-gagasan besar. Djenar sengaja memilih kata-kata yang kasar sehingga pembaca tidak memiliki ruang untuk menghindari realitas yang disajikan. Ungkapan yang padat dan tepat menciptakan ritme yang cepat dan tegang, selaras dengan suasana ketakutan dan urgensi yang dialami oleh para tokoh. Ini mencerminkan pengaturan bahasa yang efektif, di mana setiap elemen ditempatkan untuk menghasilkan dampak emosional dan intelektual yang maksimal.

     

    Komposisi yang Unik

    Struktur cerita pendek ini unik karena memadukan empat belas gaya penulisan pria yang berbeda menjadi satu kesatuan yang kohesif, semuanya terikat oleh gaya khas Djenar. Harmoni ini menciptakan rasa kemuliaan yang kompleks. Beberapa bagian membangkitkan nada puitis dan melankolis, sementara bagian lain terasa kasar dan sinis. Transisi antar bagian menciptakan ritme yang mengaduk emosi pembaca, pada akhirnya menegaskan bahwa kemuliaan sejati muncul dari keberanian untuk menyajikan kontradiksi kehidupan secara utuh, tanpa penyederhanaan.

     

    Kesimpulan

    Berdasarkan konsep sublimasi yang dikemukakan oleh Longinus, cerita pendek Djenar Maesa Ayu 1 Perempuan, 14 Laki-laki tidak hanya menggambarkan seksualitas sebagai elemen eksploitasi, tetapi lebih sebagai pencapaian estetika yang membawa transformasi penting dalam karya sastra. Melalui keahlian naratif yang intens, penulis berhasil mensublimasikan trauma dan hasrat menjadi kekuatan naratif yang dominan. Dinamika kekuasaan yang awalnya tidak setara antara laki-laki dan perempuan direkonstruksi menjadi hubungan yang lebih setara, sehingga menghasilkan pengalaman estetika yang kuat bagi pembaca. Pengalaman ini memungkinkan pembaca untuk melampaui realitas sehari-hari dan menyaksikan kemuliaan penderitaan dan kejujuran manusia yang tersembunyi di balik konstruksi sosial.

    Melalui kumpulan cerita pendek ini, Djenar memperingatkan masyarakat yang terluka oleh kepura-puraan, menggunakan narasi marginal dan intim yang mengungkapkan martabat manusia lebih tinggi daripada mereka yang berpura-pura suci namun tetap terhambat secara spiritual. Karya ini layak dianggap mulia karena membawa pembaca ke tahap sublimasi, di mana keindahan sejati lahir dari kejujuran eksistensi manusia tanpa batas atau rasa malu; kemuliaan sastra terletak pada kemampuan teks untuk membebaskan jiwa dari kepalsuan dunia, dan Djenar, bersama dengan 14 pria di sekitarnya, telah berhasil mencapai hal ini.

  • “Lumen Christi — Cahaya yang Membangkitkan dan Membebaskan Segala Bangsa”

    “Lumen Christi — Cahaya yang Membangkitkan dan Membebaskan Segala Bangsa”

     

    Oleh RP Mikhael Molan Keraf CSsR

     

    Saudara-saudari terkasih,

    Malam ini kita tidak sekadar berkumpul.

    Kita sedang berdiri di ambang sejarah keselamatan.

    Di antara:

    • gelap… dan terang
    • maut… dan hidup
    • ketakutan… dan kebebasan

     

    Dan di tengah kegelapan itu—

    kita berseru lantang:

    “Lumen Christi!” — Cahaya Kristus!

     

    Tetapi pertanyaannya:

    👉 Apakah cahaya itu hanya kita lihat, hanya kita tonton –

    atau sungguh kita izinkan masuk dan mengubah hidup kita?

     

    1.Cahaya yang Menembus Kegelapan Kita

     

    Saudara-saudari,

    Malam Vigili Paskah bukan romantisme cahaya lilin, pamer dandanan serba baru.

    Karena, Gelap bukan hanya ada di luar sana.

    Gelap itu bisa saja ada dalam diri kita:

    👉hati yang mulai dingin

    👉iman yang menjadi rutinitas

    👉hidup yang mulai kompromi dengan ketidakadilan

    Dan,

    gelap itu juga hidup dan bercokol dalam struktur:

    👉ketidakadilan ekonomi

    👉kekerasan tersembunyi

    👉sistem yang menindas dan melukai yang kecil

    👉ketidakadilan ekologi

     

    👉 Maka ketika lilin dinyalakan,

    itu bukan simbol kosong, dan romantisasi Vigili Paskah.

    Itu adalah pemberontakan Allah terhadap kegelapan.

    Allah bertindak memimpin revolusi menerobos kegelapan.

     

    Mengutip Bernard Häring:

    “Paskah bukan sekadar perayaan, tetapi keputusan moral”

     

    👉 Maka pertanyaannya:

    Apakah kita mau berubah—atau tetap sama?

     

    2. Ecce Homo — Wajah yang Membebaskan dan Menuntut

     

    Saudara-saudari,

    Baru kemarin kita mendengar:

    “Ecce Homo — Lihatlah manusia itu!”

    Tetapi malam ini, dalam terang kebangkitan,

    wajah itu tidak lagi hanya menderita

    wajah itu hidup dan bercahaya.

    Wajah bukan objek untuk dilihat, ditonton

    wajah adalah panggilan, wajah adalah undangan ilahi,

    wajah adalah sakramen Allah.

     

    Wajah itu berkata:

    “Engkau tidak boleh hidup seolah aku tidak ada.”

     

    Maka:

    👉Wajah petani yang gagal panen → mengundang kita untuk bergumul bersama menata sistem pertanian kita

    👉Wajah nelayan yang pulang kosong → memanggil kita untuk bertobat mencemari laut dengan plastik dan merusakkan terumbu-terumbu karang

    👉Wajah anak yang kehilangan masa depan karena diperkosa ayah, om, kakak kandungnya —> mendesak kita untuk memulihkan martabatnya, mendidik dan membangun rumah kita sebagai Rumah Damai-bukan “rumah hantu”

    👉Wajah korban perdagangan manusia —> mengundang kita untuk memberikan perlindungan seutuhnya bagi setiap pribadi sebagai sakramen kehadiran Allah

     

    Dan bahkan:

    👉bumi yang rusak, tanah yang kering, lahan yang dibor dan diracuni —>

    itu juga wajah Kristus yang menunggu dibebaskan

     

    Lumen Christi berarti:

    melihat wajah… dan tidak lagi bisa mengelak atau menutup mata.

     

    3. Baptisan: Dari Kegelapan Menuju Kebebasan

     

    Saudara-saudari,

    Malam ini kita memperbarui janji baptis.

    Kita berkata: “Aku menolak dosa.”

     

    Mari kita bertanya lagi:

     

    👉 Apakah kita sungguh menolak dosa—

    atau hanya menunda dosa?

     

    Bernard Häring: “Baptisan bukan kosmetik rohani. Baptisan adalah revolusi hidup”

     

    Artinya:

    👉mati total terhadap dosa

    👉bangkit total dalam kasih dan belarasa

     

    Karena:

    Kristus bangkit supaya kita bebas sepenuhnya. Kita, bersama segenap ciptaan.

     

    4. Cahaya yang Menyala di Dalam, Bukan di Luar Saja

     

    Saudara-saudari,

    Sering kita mencari Allah jauh di luar, di tempat ziarah yang bahkan jauh dan mahal.

    Padahal, Allah hadir dalam kedalaman hidup manusia.

    (Karl Rahner)

     

    Masalahnya bukan Allah jauh.

    Masalahnya: kita tidak mau masuk ke dalam.

     

    Kita lebih sibuk:

    👉mengejar keberhasilan dan menumpuk harta

    👉mengejar pengakuan dan popularitas

    👉mengejar kenyamanan dan gengsi

     

    Tetapi kehilangan terang batin.

     

    👉 Lumen Christi bukan hanya cahaya di tangan—

    tetapi cahaya di hati.

     

    Dan hanya orang yang menemukan terang di dalam

    yang bisa membawa terang ke luar.

     

    5. Cahaya yang Membebaskan Seluruh Ciptaan

     

    Saudara-saudari,

    Kebangkitan bukan hanya untuk manusia.

    Kebangkitan adalah untuk seluruh ciptaan.

     

    Leonardo Boff:

    “Tidak ada pembebasan manusia tanpa pembebasan bumi”

     

    Maka:

    👉merusak alam

    👉mencemari laut dan pesisir

    👉mengeksploitasi kekayaan bumi tanpa batas

     

    bukan hanya masalah lingkungan—

    itu adalah dosa terhadap Paskah.

     

    Karena:

    Kristus bangkit bukan hanya untuk jiwa kita

    tetapi untuk seluruh dunia.

     

    6. Cahaya yang Membebaskan Seluruh Bangsa

     

    Saudara-saudari,

    Tema kita malam ini:

    “Cahaya yang membangkitkan dan membebaskan segala bangsa.”

    Artinya:

    👉tidak ada suku yang dilupakan

    👉tidak ada orang kecil yang ditinggalkan

    👉tidak ada bangsa yang terlalu jauh dari kasih Allah

     

    Mari kita ingat:

    👉 Cahaya itu tidak bekerja sendiri.

    Cahaya itu bekerja melalui kita.

     

    Dan itu berarti:

    👉berani melawan ketidakadilan

    👉berani membela yang lemah

    👉berani hidup jujur di tengah dunia yang gelap

     

    Inilah jalan kebangkitan.

    Inilah jalan cahaya.

     

    Penutup

     

    Jadilah Cahaya Itu

    Saudara-saudari,

    Malam ini kita mendengar:

    “Lumen Christi!”

    Ijinkan Kristus bertanya:

     

    👉 Apakah engkau mau menjadi terang itu?

     

    Maka dengarlah ini sebagai seruan terakhir:

    👉Jangan hanya menyalakan lilin—

    jadilah api yang menghangatkan dunia

    👉Jangan hanya melihat terang—

    jadilah terang bagi sesama

    👉Jangan hanya berkata “Alleluia”—

    jadilah Alleluia yang hidup

     

    Karena jika tidak:

    👉liturgi ini indah… tapi kosong tanpa hati

    👉perayaan iman ini ramai… tapi melempem

    👉kita hadir… tapi tidak bangkit

     

    🔔 SERUAN AKHIR

     

    Lumen Christi!

     

    Cahaya itu telah hadir di tengah kita.

    Cahaya itu kita tinggikan di atas kepala kita.

    Cahaya itu telah menang.

    Dan,

    Cahaya itu memanggil kita.

     

    Jadilah “Lumen Christi” bagi bumi ini!

    Jadilah “Lumen Christi” bagi siapa saja, bagi segala bangsa.

     

    Amin 🙏

    ————————-

     

    Tulisan ini adalah Kotbah pada Malam Paskah 2026

  • Paradoks  Paskah

    Paradoks Paskah

    Oleh RD Lucius Poya Hobamatan, Pastor Paroki St. Yohanes Don Bosco, Tanjunguban – Bintan

     

    Di saat fajar merekah, di awal pekan, kita berhimpun di tempat yang sama; dan dalam sukacita bersorak hosanna. Bahana suara kita lantunkan dalam gegap gempita, mengarak Dia Sang Raja yang berkuasa, yang memerintah dalam nama Tuhan. Dialah Yesus, Sang Raja di Minggu Palma.

    Namun tanpa kita duga, Dia yang adalah Tuhan itu memasuki Yerusalem, bukan untuk bertahkta di Singgasana. Ia masuk untuk mengikat pinggang sebagai hamba mempersembahkan Tubuh dan mencurahkan Darah-Nya, ketika Paskah tiba. Bagai Anak Domba Mesir, yang memberikan diri-Nya sendiri disembelih demi membawa keluar kaum tertindas menuju tanah pembebasan; begitu pulalah tindakan Yesus di awal Paskah. Paskah artinya Tuhan lewat. Tuhan melintas di tengah kita orang-orang berdebu demi memembasuh kita dengan air dan dengan darah-Nya, agar bersih, walau tidak semua. Ia melakukan semua itu bukan sebagai Raja yang bertakhta di atas kuda keperkasaan; melainkan sebagai keledai yang memikul beban dosa kita. Misteri itulah yang Tuhan lakukan di Jumat Agung, saat Ia melintas di tengah kita menuju Kalvari; ke tempat tengkorak; tempat kematian; tempat di mana tidak ada kehidupan. Begitu berat beban dosa itu, sehingga Ia terhuyung dan terseok, jatuh terkapar mencium debu, namun bagun lagi dan berjalan sampai tetelesthai; sampai selesai dengan kematian. Kata Yohanes, semua tindakan itu dilakukan Yesus, karena cinta-Nya kepada kita total; tak tersisa; sampai sehabis-habisnya. Totalitas Cinta itu melampui kuatnya semesta, sehingga, injil memberi

    kesaksian bahwa mataharipun seakan malu memancarkan sinar; gelap menggelayut membalut semesta; Bait Allah pun seakan menebah dada tanda tak pantas, hingga dinding terbelah menjadi dua. Begitulah Paskah! Tuhan lewat menunjukkan totalitas cinta-Nya di saat dosa menunjukkan kuasanya untuk membelenggu manusia dalam ketidakberdayaannya.

    Itulah sebabnya, malam ini kita berkumpul dalam gelap, sebab bagai kubur, dosa membuat kita terperangkap dalam ruang gelap, terkurung dalam pengap, terbelenggu dalam sesak—seakan tak ada lagi oksigen yang memberi kita napas kehidupan. Begitulah sejatinya dosa. Dosa mengantar kita ke kubur, kepada kematian, ke tempat tak ada lagi kehidupan; ke tempat di mana tak ada celah untuk menikmati sinar cahaya; tak ada celah yang memampukan kita leluasa menghirup kehidupan. Dosa hanya menyiapkan satu jalan, yakni ke Kalvari; ke tempat tengkorak.

    Namun oleh inisiastif Allah; Allah yang mencintai sampai sehabis-habis-Nya, Dia memilih untuk menebusnya. Dia memilih untuk melewati jalan ke tempat tengkorak itu; untuk memasuki ruang gelap tanpa kehidupan demi menguasainya; untuk membawa kembali kehidupan. Tuhan memasuki kubur untuk membuka pintu kubur yang tak sanggup dibuka manusia. Itulah sebabnya, kata Matius dalam Injil, ketika pintu kubur dibuka, cuaca berubah. Kilau kilat memendar. Busana hitam kematian berubah putih bagai salju.

    Begitulah tindakan Allah. Ia melakukan semua itu hanya karena cinta-Nya kepada manusia adalah cinta yang tuntas. Sebab sejak awal, kata Kitab Kejadian, cuaca kehidupan Allah hanyalah cahaya; terang bersinar sehingga semuanya teratur. Namun manusia, demi memuaskan keangkuhannya, memilih kegelapan sebagai jalan yang ditempuh, dan ternyata pilihan itu membelunggunya dalam derita dan kematian; menciptakan chaos; yang tak sanggup ia atasi. Hanya karena cinta Allah itu tuntas, Allah memanggil Abraham untuk meretas jalan baru, namun lagi-lagi hanya sebentar, sehingga derita dan kematian harus dialami. Namun lagi-lagi, karena cinta yang tuntas, Allah mendengar erangan dan rintihan, duka dan kecemasan manusia yang menderita, sehingga Ia datang dan membawa manusia keluar melalui Laut Merah, sebagaimana dilansir Kitab Keluaran. Ada secercah cahaya kehidupan yang mulai ditenun, namun lagi-lagi pengalaman itu bukan membuat manusia bertahan, melainkan terus jatuh dan bangun dalam dosa, sebagaimana diwartakan para nabi. Pengalaman pahit yang diderita manusia itu, seakan mengetuk relung terdalam hati Allah. Ia mengutus Kristus-Putra Tunggal-Nya sendiri, sebagai Anak Domba Sejati yang harus dikorbankan demi keselamatan final umat-Nya yang menderita. Kristuslah bukti totalitas serentak finalitas cinta Allah itu. Cinta yang total serentak final itu ditunjukkan Yesus dalam derita dan kematian-Nya, sehingga Paulus, kepada orang-orang Katolik di Romas menegaskan, bahwa Kristus membaptis diri-Nya dalam derita dan kematian, agar kita dibaptis di dalam kematian-Nya itu, sehingga kita juga dibangkitkan bersama Dia pula. Inilah sukacita yang kita lantunkan malam ini sambil bervigili, sambil berjaga-jaga; karena kita seperti kita sekarang bukan usaha kita, melainkan berkat Anak Domba Paskah dikorbankan.

    ***

    Malam ini, secara liturgis, kita berjalan dalam gelap, karena itulah sejatinya kita. Namun ada satu titik cahaya mendahului kita, sehingga walau dalam gelap, kita tahu ke mana kita melangkah. Dan ketika sang cahaya itu berada di altar anak domba yang disembelih, cahaya itu disebarkan kepada kita, sehingga seperti teriakan hosanna, saat kita menyambut Yesus memasuki Yerusalem, Gereja pun bersorak menyanyikan lagu gembira, karena cahaya yang dialirkan kepada kita, untuk mengubah kegelapan, ternyata berkat Kristus Sang Anak Domba sejati dikorban; dan berkat Darah-Nya, rumah diri kita dikuduskan.

    Makna vigili ini yang sejatinya menjadi titik permenungan saya dan anda. Sebab Paskah menghadirkan dua sisi paradoks: Allah yang melintas dan manusia yang terbelenggu; Allah yang bercahaya dan manusia yang terkungkung gelap; Allah yang kudus dan manusia yang berdosa; Allah yang hidup dan manusia yang mati. Namun karena cinta-Nya yang sehabis-habisnya, Allah membalik fakta. Hanya karena cinta, Ia memberi diri dibelenggu agar manusia bisa melintas; Ia masuk dalam gelap agar manusia bercahaya; Ia menjadi korban dosa agar manusia kudus; Ia mengalami maut agar manusia hidup. Inilah rahmat yang diperoleh dalam misteri baptis, yang sangat perlu disyukuri dan terus diperbaharui. Penting syukur atas pembaptisan dan penting pula baptis diperbaharui, karena hanya orang yang tahu bersyukur dan tahu memperbaharui diri; merekalah yang tahu tentang makna Paskah.

    Lebih dari itu, hanya orang yang tahu tentang makna paskah, dia selalu sadar bahwa Paskah bukan moment Kristus menunjukkan kuasa-Nya atas kubur, untuk sekedar mengundang rasa takjub, sebagaimana perilaku manusia sombong kebanyakan. Itulah sebabnya Yesus tidak menunjukkan kebangkitan diri-Nya di kubur; di tempat kematian. Sebab iman yang muncul dari rasa takjub lahiriah akrena melihat kuasa di tempat kematian selalu mengantar orang kembali kepada kegelapan dan segera kembali kepada kematian. Kebangkitan Tuhan selalu dari dalam kubur-kubur yang hidup; dan oleh karena itu Tuhan yang bangkit menghendaki para murid-Nya untuk menjumpai-Nya di Galilea kehidupan yang penuh dinamika. Di tempat kehidupan seperti itulah, kata Matius, Tuhan yang bangkit menunggu para murid untuk selalu menjumpai-Nya. Di sanalah, berkat perjumpaan yang dipelihara, cahaya lilin Paskah kebangkitan yang dibagi kepada setiap murid menyinari kubur-kubur yang hidup itu, sehingga di setiap sudut galilea kehidupan, apapun bentuknya, memancarkan cahaya. Di sanalah, berkat kebangkitan Tuhan dari kubur-kubur yang hidup, orang merasakan mujisat Paskah; karena kehadiran seorang murid membuat siapa saja merasakan Paskah; merasakan Tuhan lewat. Di sanalah, berkat perjumpaan dengan Tuhan yang bangkit, pintu-pintu kubur, yang telah membuat seseorang terbelenggu dalam kepengapan dan merasakan derita dan kematian dibuka, dan kehidupan baru dimulai, karena para murid yang memperbaharui baptis memancarkan cahaya.

      S E L A M A T    P A S K A H

  • Mesti  Berubah

    Mesti Berubah

     

    Oleh    Paul   Budi   Kleden   SVD

     

    Dalam ritus pemakaman agama-agama, sering terdengar ungkapan yang menyebut kubur sebagai tempat peristirahatan terakhir. “Kita mengantar almarhum/ah ke tempat peristirahatannya yang terakhir”. Orang Katolik menulis pada salib atau batu nisan di kuburan: RIP: Reguiescat in pace: semoga ia beristirahat dalam dami. Orang Jerman menyebut kuburan sebagai Friedhof. tempat kedamaian. Pada batu nisan di kuburan sering tertulis: Her ruht in Frieden NN…: di sini beristirahat dalam damai NN… Ada damai di kuburan, ada damai bagi orang mati. Sebab itu, kuburan biasanya bebas dari segala hingar bingar. Orang diharapkan untuk menjaga ketenangan di wilayah pekuburan. Menghormati orang mati berarti membiarkan mereka dalam ketenangan tersebut. Dan masuk ke dalam lingkungan pekuburan memungkinkan orang mengambil bagian di dalam ketenang mereka. Keheningan pekuburan menciptakan suasana doa yang membangkitkan kenangan akan diri yang terbaring dalam makam itu.

    Kubur dikonotasikan dengan ketenangan dan kedamaian. Sebab itu, apa yang terjadi pada hari Minggu dini hari, sepagaimana dikisahkan tentang peristiwa Paskah, adalah satu pembalikan suasana pekuburan. Pada dini hari itu, ketika suasana masih diwarnai keheningan, kubur Yesus didapati terbuka dan kosong. Kejadian ini terlalu aneh dan tidak biasa. Karena itu, tak ada lagi keheningan di pekuburan di awal hari itu. Orang mulai berbicara dan menjadi panik, mencari jenazah yang hilang.

    Yesus yang mati tak lagi terbaring dalam damai di kubur-Nya. Yesus yang bangkit mesti menjumpai mereka yang menyembunyikan dirinya dalam rumah yang terkunci rapat. Setelah kematian Yesus, para pengikut-Nya membuat kubur mereka sendiri karena takut menghadapi berbagai argumentasi para penguasa yang memojokkan mereka. Ke tengah mereka yang berkumpul dalam suasana ketakutan tersebut, Dia datang, membawa shalom, damai-Nya. Damai ini memecahkan ketenangan, membuka penjara ketakutan dan kuburan kecemasan mereka. Dia yang hendak disembah dengan berbagai ritus kuburan, yang hendak ditemui di tempat peristirahatan-Nya yang damai, kini membelah kesunyian mereka dan membawa damai bagi mereka. Guru yang terbaring di kubur, kini menjadi pembuka kubur bagi mereka yang terpenjara dalam ketakutannya.

    Radikalitas Paskah sebagai satu momen pembalikan hanya dapat dihayati apabila orang tidak melupakan peristiwa salib dan konotasi yang dihubungkan dengan kedamaian kuburan. Kita coba melihat kedua latar belakang ini untuk menggali makna pembebasan yang terkandung di dalam perayaan Paskah.

     

    Kontra pembunuhan

    Yang pertama, menghayati Paskah pada latar belakang peristiwa salib berarti menyadari bahwa kita mesti menolak segala bentuk penyalahgunaan agama hanya untuk membenarkan pembunuhan, apalagi pembunuhan atas diri orang-orang yang sedang memperjuangkan hak-haknya sendiri atau hak-hak orang lain. Paskah mengingatkan bahwa pembunuhan yang dianggap sekian wajar berdasarkan pertimbangan keagamaan dan sudah sesuai prosedur menurut ketentuan politis dan pihak keamanan, tidak pernah dapat diterima. Paskah adalah pembebasan dari sikap menerima pembunuhan yang hendak dibenarkan penguasa. |

    Pandangan seperti ini didasarkan pada keyakinan dasar akan identitas Dia yang disalibkan dengan Dia yang dibangkitkan. Yesus yang telah disalibkan sebagai pendosa besar dan provokator kerusuhan sosial, dibangkitkan sebagai Kristus, Tuhan. Yang dibangkitkan adalah yang disalibkan, yang dimuliakan adalah yang direndahkan. Dia yang dihormati dan diagungkan sebagai pembawa damai, adalah Dia yang dipandang telah merusakkan rasa keagamaan umat dan keamanan politis para warga.

    Orang boleh saja menafsirkan penampilan dan pembicaraan-Nya sebagai penampilan yang sangat sopan dan pembicaraan yang amat halus. Namun, tampaknya penampilan dan pembicaraan-Nya itu bukanlah sebuah undangan yang menarik bagi para penentang-Nya untuk tenggelam dalam refleksi dan kontemplasi atas diri sendiri dan masyarakat. Dihadapan orang-orang yang memusuhi Nya, penampilan itu adalah gugatan yang sangat tajam, dan pembicaraan-Nya yang dinilai sederhana itu menggemakan protes yang amat keras, karena dinilai seperti ini, maka Dia pantas dihukum mati, perdasarkan penilaian keagamaan dan pertimbangan politis yang ada, kematian-Nya adalah sesuatu yang sangat wajar.

    Kematian tragis di salib adalah upah yang mesti diterima oleh seseorang yang berani melecehkan rasa keagamaan panyak orang dengan menyebut diri sebagai Putera Allah, dan yang dengan gerakan seperti ini membuat para penguasa politis merasa tidak aman. Kalau orang seperti ini dibunuh di salib, ini bukanlah sesuatu yang luar biasa. Ini adalah wajar, berdasarkan ketentuan hukum dan sesuai dengan prosedur. Sebab itu, tidak ada orang yang berhak menuntut para petinggi agama untuk membuat pernyataan protes terhadap kematian seperti ini, karena mernang kematian orang seperti ini adalah kematian seorang penjahat yang sudah sesuai dengan prosedur. Malah, meminta petinggi agama untuk bersuara dalam peristiwa seperti ini akan dinilai sebagai satu kejanggalan besar. Petinggi agama yang baik akan memberikan restu, mengamini pembunuhan seperti ini, karena sangat wajar jika seorang penghujat Allah dan seorang provokator masyarakat dihukum mafi. Umat beragama seperti Yesus bukanlah umat beragama yang patuh. Dia sudah membangkang. Maka, jika orang seperti ini mesti berurusan dengan pihak penguasa politik yang akhirnya menjatuhkan hukuman mati atasnya, para petinggi gama tidak perlu banyak berkomentar. Kematiannya hanya perlu disesalkan sebagai kematian seorang bodoh yang tidak bersedia mendengar wejangan tentang batas-batas haknya, namun tidak perlu mengundang protes.

    Jalan pikiran seperti ini tidak dapat diterima oleh orang-orang Kristen yang mengimani Paskah sebagai perayaan kebangkitan Kristus. Bagi orang Kristen, iman Paskah menggarisbawahi keberpihakan Allah kepada Dia yang tersalib, dan dalam Dia, kepada semua mereka yang dibuang oleh masyarakatnya. Sebab itu, orang Kristen tidak dapat membenarkan pembunuhan atas siapa pun. Bagi orang Kristen tidak ada pembunuhan yang wajar. Paskah mengajak kita untuk bersikap kritis terhadap kecendrungan yang ada di dalam diri kita sendiri dan di dalam masyarakat, yang menerima pembunuhan atas orang-orang tertentu, karena yang terbunuh itu telah dinilai bersalah. Paskah membongkar segala pertimbangan yang memberi kesan wajar terhadap pembunuhan atas orang atau kelompok orang tertentu.

    Kisah kebangkitan Yesus Kristus menyadarkan kita bahwa damai yang diwartakan dan dihidupi Yesus Kristus bukanlah damai yang membiarkan langgengnya status quo. Dengan membangkitkan Yesus Kristus, Allah tidak membiarkan penafsiran damai sebagai kecendrungan berdamai saja dengan keadaan. Kebangkitan Kristus adalah perlawanan Allah terhadap kecendrungan yang membiarkan orang menyalahgunakan agama untuk membunuh atau membenarkan pembunuhan atas para penjahat dan pendosa. Dengan menghidupkan Dia yang dibunuh sebagai pendosa besar, Allah menentang kekuasaan yang membunuh. Allah tidak berdamai dengan kekuasaan yang membunuh. Dengan membangkitan Yesus, Allah menyingkapkan ketersesatan pola pikir religius dan pertimbangan politis yang ada. Sebab itu Allah yang berkarya dalam peristiwa Yesus Kristus bukanlah Allah yang menutup-nutupi kesalahan hanya demi sebuah perdamaian. Pengungkapan dan penyadaran akan dosa pembunuhan adalah salah satu inti pewartaan kebangkitan.

     

    Berani berkonflik

    Kedua, menempatkan peristiwa Paskah pada latar kubur yang terbuka akan menyingkapkan kewajiban yang lahir dari iman Paskah ini. Yesus, Dia yang hidup dan memberikan kehidupan, tidak dapat ditempatkan dan ditemukan dalam dunia kematian. Kebangkitan menegaskan inti misi Yesus sebagai pembawa warta kehidupan. Pewartaan tentang kehidupan ini tidak tanpa konsekuensi. Sejarah Yesus memaparkan secara sangat jelas, di mana pewartaan kehidupani itu dapat menemukan akhirnya. Pewartaan seperti ini dapat mendatangkan perlawanan yang hebat dan membawa orang kepada konflik dengan berbagai pihak. Yesus yang dibangkitkan menyatakan bahwa Dia tidak hidup dalam dunia tanpa pertentangan dan konflik, Dia tidak berada dalam dunia penuh kedamaian semu.

    Peristiwa kebangkitan itu sendiri telah mendatangkan banyak konflik dan perbedaan pendapat, tidak hanya dalam berhadapan dengan para penguasa agama dan pemimpin politik, tetapi juga di antara para murid-Nya sendiri. Jika Allah menghendaki sebuah kehidupan yang jauh dari pertentangan, maka mungkin lebih baik apabila Dia tidak membangkitkan Yesus atau jika Dia mengupayakan agar kebangkitan itu tidak menjadi sebuah peristiwa yang diperdebatkan secara ramai. Namun, Allah memilih membangkitkan Yesus secara demikian, dan dengan itu Dia memilih kemungkinan timbulnya konflik. Jalan ini dipilih, sebab hanya dengan demikian kebenaran dapat disingkapkan. Kebenaran tidak dapat dikubur dan dibiarkan beristirahat dalam damai. Kebenaran mesti dibangkitkan, disingkapkan. Dengan itu  kebenaran juga akan menghadapi perlawanan dan penolakan dari mereka yang membencinya.

    Yesus, seorang pembawa dan pengupaya perdamaian, tidak  takut menghadapi konflik, juga konflik di antara mereka yang mengikuti-Nya. Sebab itu, Dia membuka kubur para murid-Nya. Yesus sadar, untuk bisa menghidupi dan menghayati perdamaian, banyak kubur harus terlebih dahulu dibongkar. Orang tidak dapat mengupayakan perdamaian ketika kubur-kubur tetap tertutup, jika banyak kesalahan dan ketidakadilan tidak terbongkar, bila banyak saksi dibiarkan bungkam. Allah sendiri membuka kubur Yesus dan dengan ini menyingkapkan kepada dunia kemapanan pola pikir religius dan politis yang telah menjadikan Putera Tunggal-Nya korban.

    Selanjutnya, Yesus, sang pembawa damai yang telah dibangkitkan, menghembuskan warta damai kepada kelompok para murid yang sedang mengurung diri. Dengan ini Dia memberanikan dan memulihkan daya hidup mereka. Kematian Guru mereka secara tragis sebenarnya adalah satu aksi teror penguasa terhadap para pengikutnya. Membunuh otak sebuh gerakan dengan cara yang dibenarkan secara religious,  diharapkan sanggup melumpuhkan seluruh gerakan. Mulanya kalkulasi penguasa ini terbukti benar. Para murid tidak berani tampil di depan umum untuk berbicara atas nama Yesus. Mereka menjadi panik. Rasa tak berdaya menghantaui  meraka.  Semua tampaknya sia-sia. Ada di antara mereka yang merasa ditipu. Yang lainnya merasa terpojok. Harapan besar yang  digantungkan pada Yesus, pada seorang diharapkan dapat membawakan pembebasan dan kelegaan, berakhir tragis. Para murid itu terkurung di dalam kuburnya sendiri, kubur kekecewaan dan ketakberdayaan.

    Kebangkitan yang dirayakan pada peristiwa Paskah adalah juga kebangkitan kelompok para murid-Nya. Yesus Kristus yang bangkit membangkitkan para murid. Tentu sangat tidak mudah membangkitkan kembali sebuah harapan yang pernah dipatahkan dan dikecewakan. Terlampau banyak harapan yang diembankan pada pundak-Nya, yang ternyata diporak-porandakan oleh kematian-Nya yang tragis. Hal ini menjelaskan, betapa lambannya iman para murid mulai disulut oleh warta kebangkitan Yesus Kristus. Namun, Kristus yang bangkit itu tidak mudah putus asa. Dia terus berusaha mendatangi para murid-Nya untuk meyakinkan mereka, untuk nemulihkan harapan mereka.

    Banyak perjuangan dan gerakan masyarakat mengalami hal yang sama. Masyarakat menjadi panik dan takut karena perjuangannya yang dimotori oleh seorang yang dikenalnya, berakhir secara tragis. Banyak warga masyarakat menjadi tak berdaya dan kecewa. Di dalam kekecewaan seperti ini, kemungkinan untuk sama sekali tidak lagi mempercayai setiap orang lain yang datang dengan warta yang sama, menjadi sangat besar. Bukan tidak mungkin, di tengah pengalaman kekecewaan seperti ini, masyarakat mulai membenci dia yang telah menggerakkan mereka. Dia dinilai sebagai orang yang gagal. Ketidakpercayaan ini semakin diperparah oleh banyak orang dan instansi lain yang datang dengan berbagai argumentasi dan bukti untuk semakin mencoreng wajah tokoh penggerak ini. Mereka mencercanya sebagai orang yang hanya mendatangkan penderitaan warga dan ketidakamanan masyarakat.

    Menghadapi tantangan seperti ini, iman akan kebangkitan dapat menjadi sumber inspirasi bagi semua yang melibatkan dirinya dalam proses pemberdayaan masyarakat, untuk menghadapi berbagai pengalaman kekecewaan dan ketidakpercayaan dari masyarakat. Yesus sendiri mesti berulang kali mendekati para murid-Nya untuk dapat membangkitkan mereka. Usaha itu dibutuhkan, sebab hanya apabila para murid berani keluar dari kuburannya, warta tentang kebenaran dapat disampaikan. Kebangkitan para murid dari kubur ketakutannya menyingkapkan bahwa kekuasaan yang dibangun di atas dasar kebiasaan untuk menakut-nakutkan masyarakat, tidak akan bertahan lama. Para murid harus dibangkitkan untuk menyatakan kebenaran akan kerapuhan setiap kekuasaan yang mengandalkan pilar teror. Demikian juga, usaha untuk memberanikan masyarakat, upaya untuk memulihkan kembali harapan mereka, adalah satu kemestian, walaupun usaha ke arah itu sangat melelahkan. Meninggalkan masyarakat yang ketakutan itu sendirian berarti membiarkan mereka terkurung di dalam kuburannya. Mungkin ada orang menafsirkan ini sebagai damai, namun kedamaian tanpa kehidupan, kedamaian di dalam kuburan. Paskah menginginkan kehidupan, mendorong setiap perjuangan untuk menghormati kehidupan.

    *****************

     

    Sumber Tulisan dari Buku Di Tebing Waktu, Paul Budi Kleden. Ledalero 2009