Blog

  • Estetika Keluhuran dalam “Broken Strings” Aurelie Moeremans: Simfoni Trauma dan Resiliensi

    Estetika Keluhuran dalam “Broken Strings” Aurelie Moeremans: Simfoni Trauma dan Resiliensi

     

    Oleh Devi Nur Rahma Wati, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Ketegangan antara citra publik sebagai konstruksi industri hiburan dan realitas privat sebagai ruang trauma menjadi medan pertempuran naratif yang krusial dalam literatur memoar Indonesia kontemporer. Di tengah dominasi budaya pop yang sering kali menuntut kesempurnaan artifisial, muncul sebuah fenomena keberanian naratif yang mendobrak dinding privasi untuk mengungkap luka batin yang paling dalam.

    Pada penghujung tahun 2025, publik dikejutkan oleh rilisnya memoar berjudul Broken Strings karya aktris Aurelie Moeremans dan menjadi buku pada awal 2026 ini menandai momen penting dalam penulisan otobiografi di Indonesia sebuah peralihan dari sekadar pengakuan (konfesi) menuju bentuk pemulihan (healing) yang estetis melalui kejujuran radikal mengenai pengalaman traumatis masa muda.

    Esai ini bermaksud mengkaji memoar tersebut melalui lensa teori Keluhuran (The Sublime) dari Longinus. Perspektif ini dipilih karena keluhuran dalam pandangan klasik Longinus bukan sekadar keindahan yang memanjakan panca indera, melainkan sebuah kekuatan ekspresif yang mampu membawa pembaca keluar dari dirinya sendiri menuju tahap ekstase intelektual dan emosional. Tulisan ini akan memperlihatkan bagaimana Aurelie menggunakan “dawai yang putus” sebuah metafora bagi masa muda yang hancur oleh trauma untuk mencapai bentuk keagungan jiwa yang melampaui penderitaan fisik maupun psikologis.

     

    Percikan Kejujuran di Atas Puing Masa Lalu

    Langkah pertama dalam memahami keluhuran dalam Broken Strings adalah dengan menyulut api pemahaman terhadap konteks kepengarangannya. Aurelie Moeremans, yang selama ini dikenal sebagai sosok aktris dengan citra anggun di layar kaca, secara mengejutkan memilih untuk menghancurkan citra tersebut demi menyingkap kebenaran yang menyakitkan. Api kontroversi dalam buku ini dinyalakan melalui pengungkapan pengalaman traumatis yang selama ini terkubur di bawah hingar-bingar karier dan sorot lampu panggung.

    Dalam Broken Strings, api negativitas muncul dari realitas yang timpang antara apa yang tampak dan apa yang dirasakan. Aurelie menggunakan metafora instrumen musik yang rusak untuk menggambarkan hidupnya yang kehilangan harmoni akibat kekerasan dan trauma di masa muda. Longinus berpendapat bahwa keluhuran sejati sering kali muncul dari objek-objek yang “meneror” kesadaran atau membangkitkan rasa ngeri.

    Dalam konteks ini, luka batin Aurelie bukanlah penghalang bagi keluhuran, melainkan katalisatornya. Strategi tekstualnya dalam menampilkan kerentanan (vulnerability) yang ekstrem justru bertujuan untuk mengangkat pembaca ke tahap sublimasi jiwa. Melalui pengakuannya, pembaca tidak diajak untuk sekadar mengasihani, melainkan untuk menyaksikan bagaimana sebuah jiwa yang retak berusaha merangkai kembali kepingan identitasnya.

     

    Keluhuran pada Narasi Dawai yang Patah

    Membangun jembatan antara teori Longinus dan teks Broken Strings memerlukan pemeriksaan teliti terhadap lima pilar sumber keluhuran yang termanifestasi dalam memoar ini:

    1. Daya Pemikiran yang Agung: Kedaulatan di Balik Kerentanan

    Prinsip pertama, grandeur of thoughts, didefinisikan sebagai “gaung kebesaran jiwa”. Dalam memoar ini, keagungan pikiran Aurelie termanifestasi dalam keberaniannya untuk tidak lagi menjadi tawanan sejarah pribadinya. Pemikiran agung di sini adalah tentang kedaulatan individu keputusan mengungkap trauma masa muda bukan sebagai bentuk eksploitasi diri, melainkan bentuk kedaulatan atas narasi hidupnya. Keluhuran ini muncul ketika sang penulis menolak untuk terus bungkam dan bertransformasi menjadi subjek yang otonom melalui bahasa.

    1. Emosi yang Kuat dan Gairah yang Mulia: Estetika Luka

    Longinus menekankan bahwa karya yang luhur harus berasal dari passion atau gairah yang sangat kuat. Dalam Broken Strings, gairah ini hadir dalam bentuk kerinduan akan pembebasan batin. Rasa sakit akibat trauma masa muda menyatu menjadi energi penggerak yang dahsyat. Emosi ini meluap dalam narasi yang menggambarkan bagaimana ia bertahan hidup di tengah badai psikologis. Gairah ini bukan tentang kemarahan picisan, melainkan hasrat untuk menjadi utuh kembali. Ketika pembaca merasakan sesak dada saat mengikuti alur ceritanya, itulah momen “ekstase” tahap di mana estetika luka berhasil melampaui logika permukaan.

    1. Retorika yang Unggul: Strategi Penaklukan Trauma

    Pilar ketiga berkaitan dengan penggunaan figur retoris yang tepat. Aurelie menggunakan retorika kejujuran sebagai senjata untuk meruntuhkan tembok stigma. Ia tidak menggunakan retorika yang berbunga-bunga untuk menutupi kenyataan, melainkan retorika yang menelanjangi. Penggunaan metafora Broken Strings adalah strategi retoris yang cerdas untuk mengomunikasikan kegagalan harmoni hidupnya tanpa harus terjerumus ke dalam drama yang banal. Retorika ini berfungsi untuk meyakinkan pembaca akan otentisitas pengalaman yang dibagikan.

    1. Pilihan Diksi yang Istimewa: Sublimasi Bahasa Kejujuran

    Diksi dalam memoar ini terlihat pada pilihan kata yang jujur, tajam, dan sangat personal. Aurelie menghindari bahasa yang halus (eufemisme) untuk membicarakan kepahitan; ia menggunakan kata-kata yang langsung tanpa kompromi. Dalam kacamata Longinus, diksi yang unggul mampu mengintensifkan penderitaan agar pembaca dapat merasakan hypos atau keunggulan emosional. Strategi tekstual ini menghubungkan alam batin yang luhur dengan istilah-istilah yang paling jujur, menciptakan guncangan pada kesadaran pembaca.

    1. Struktur Komposisi yang Unik: Harmoni dalam Disonansi

    Aurelie membangun alur yang kontras antara “gemerlap dunia luar” sebagai aktris dan “kegelapan dunia dalam” sebagai korban trauma. Keharmonisan komposisi ini tidak ditemukan pada akhir yang bahagia secara klise, melainkan pada keutuhan emosional yang dirasakan pembaca di akhir kisah. Struktur ini menutup celah antara realitas lahiriah yang tampak sempurna dan realitas batiniah yang agung. Hal ini membawa pembaca pada kesimpulan bahwa keluhuran sejati adalah hasil dari keberanian mengekspresikan kebenaran, seburuk apa pun bentuknya.

     

    Penutup:   Estetika Perlawanan terhadap Trauma

    Berdasarkan analisis teori keluhuran Longinus, dapat ditegaskan bahwa memoar Broken Strings karya Aurelie Moeremans bukan sekadar curahan hati seorang figur publik yang viral, melainkan sebuah pencapaian sastrawi yang luhur. Keluhuran dalam karya ini tidak ditemukan dalam kemuliaan hidup yang tanpa cacat, melainkan dalam keberanian pengarang mengangkat trauma yang marginal ke panggung estetika yang mengguncang jiwa kolektif.

    Aurelie telah berhasil melakukan transformasi syarat mutlak bagi sastra yang luhur (nothing is poetry unless it transports). Ia mentransformasi “dawai yang putus” dari sekadar kegagalan menjadi kekuatan naratif yang dominan, mengubah trauma masa muda menjadi instrumen pembebasan jiwa. Proses ini memberikan efek ekstase kepada pembaca sebuah momen di mana kita menyadari bahwa keindahan sejati adalah kejujuran terdalam tentang diri kita sendiri, meskipun itu menyakitkan.

    Melalui memoar ini, Aurelie memberikan “teguran” terhadap masyarakat yang sering kali hanya menghargai manusia berdasarkan permukaan. Dengan berdiri di atas luka-lukanya, ia justru menunjukkan martabat kemanusiaan yang lebih tinggi daripada kemunafikan dunia yang menuntut kesempurnaan. Broken Strings layak dipandang sebagai karya yang luhur karena kapasitasnya membebaskan jiwa dari belenggu kepalsuan dunia. Pada akhirnya, nada yang dihasilkan oleh dawai yang pernah patah sering kali terdengar jauh lebih agung karena mengandung resonansi perjuangan yang otentik.

    **************

     

  • Membingkai Keluruhan dalam Kehinaan: Memaknai Cerpen “Ting” Buah Tangan Djenar Maesa Ayu

    Membingkai Keluruhan dalam Kehinaan: Memaknai Cerpen “Ting” Buah Tangan Djenar Maesa Ayu

    Oleh Iroy Mahyuni, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     Keluhuran Longinus dalam Satu Kata “Ting”

    Djenar Maesa Ayu adalah penulis perempuan yang kerap diidentikkan dengan sebutan sastra ‘Wangi’. Sebuah ketegori sastra yang ditulis oleh perempuan dengan fokus isu utama terkait seksualitas, tubuh perempuan, relasi gender, dan pengalaman perempuan secara terang-terangan. Demikianlah keberanian seorang Djenar dikenal luas dalam banyak tulisannya, termasuk salah satu cerpennya yang berjudul Ting. Cerpen “Ting” mendeskripsikan sekaligus menarasikan pengalaman batin seorang perempuan yang melacurkan dirinya di sebuah hotel. Kisah ini dimulai dari sebuah ruang yang sempit – tangga lift. Akan tetapi, ruang yang secara fisik terlihat sempit, nyatanya dapat melahirkan gelombang emosi yang maha dahsyat. Hanya dengan satu kata “ting”, Djenar berlaku seperti penyulap yang membangun ketegangan jiwa, rasa khawatir, takut, kerinduan seorang pelacur pada ibunya, dan juga asa – dalam sekejap, ringan, tapi menggoncang. Situasi ini oleh Longinus dalam karyanya yang berjudul On the Sublime, digambarkan sebagai pengalaman hidup manusia yang paling buruk dan menyakitkan sekalipun dapat menghadirkan efek estetis yang tinggi dan menggugah nurani.

    Longinus meyakini bahwa sastra yang berhasil menggoyahkan emosi pembaca dan mengangkat realitas pengalaman manusia ketingkat yang lebih tinggi adalah keluhuran sejati. Keluhuran yang lahir bukan dari sekadar keindahan satuan lingual bahasa, melainkan bagaimana pembaca terguncang oleh realitas yang tersaji. Dalam bukunya, Longinus membagi sumber keluhuran dalam sastra, diantaranya adalah kedalaman emosi yang kuat, pemilihan gaya bahasa yang akurat, dan keberhasil penulis membangun kisah yang hidup dalam benak atau imaji pembaca. Sumber-sumber keluruhan ini tumbuh dan mengakar dengan sangat baik dalam Cerpen “Ting”.

    Emosi tokoh utama dalam cerpen “Ting” adalah salah satu bentuk keluhuran yang dimunculkan oleh Djenar. Dengan terampil, di sepanjang alur cerita, pembaca menyusuri perjalanan batin seorang pelacur yang hidup dalam kenyataan yang penuh dengan stigma negatif, penyesalan, keterasingan, dan rasa bersalah. Tokoh utama berjalan di bawah hujan penghakiman dari pandangan-pandangan yang merendahkan, seperti yang dilakukan oleh petugas keamanan hotel dan sepasang suami istri yang menjadi tamu. Akan tetapi, ketabahan dan kekuatan seorang pelacur menghadapi gempa penghinaan yang setiap saat berusaha meruntuhkan pertahanannya, mencapai puncak ledakan tatkala suara “Ting” memecah kerinduan pelacur yang menjadi ibu kepada anaknya. Emosi menggunung selama perjalanan dari setiap lantai ke lantai berikutnya itu tumpah tatkala dilihatnya seorang anak memanggilnya mama sebagai tujuan hidup. Apa yang terpendam akhirnya membuncah tak tertahankan. Oleh Longinus pengalaman batin semacam ini diperkenalkannya sebagai pengalaman sublime. Keluhuran yang melampaui definisi kesedihan dan kebahagiaan secara leksikal.

    Selain itu, taktik simbolik yang digunakan oleh Djenar dalam kata”Ting” turut menyulam keluhuran lainnya. “Ting” sebagai sebuah bunyi yang tidak kencang tiba-tiba menggema demikian hebat, dan berulang-ulang dalam setiap pergantian lantai, di sepanjang perjalanan melacurkan diri. “Ting” menjadi tanda pertemuan pelacur pada setiap orang yang beragam, tetapi sama-sama merendahkan. “Ting” di sini turut mengurai cerita setiap orang dalam pertemuan membawa kisah dan persoalan hidup yang berbeda-beda. Semua itu cerminan kehidupan, realita yang menampar dirinya, sepasang suami istri yang memperlihatkan bagaimana relasi kuasa bekerja dalam membangun hubungan rumah tangga, dan anak kecil yang polos – bersih dari dosa dunia. Kemampuan Djenar menghadirkan taktik simbolik ini, mengubah hal sederhana menjadi sarat akan makna, adalah apa yang disebut oleh Longinus sebagai keluhuran artistik. Di ujung pena, Djenar menarik sejajar perjalanan moral dan emosional seorang pelacur dalam satu tarikan garis lurus metafora yang luar biasa.

    Keluhuran lainnya dalam cerpen ini dapat ditemukan dalam pemandangan yang kontras antara dunia yang penuh dosa maksiat dan dunia yang penuh dengan cinta dan kasih. Dalam kehidupan dunia pelacuran, tokoh utama hidup dalam sistem yang sangat eksploitatif. Tubuhnya adalah barang dagangan, lelaki adalah pemilik kuasa yang punya kemampuan untuk membeli tubuh perempuan, dan kamar hotel berubah menjadi kamar dagang di mana tubuh dan perasaan adalah komoditas pelacuran. Dunia gelap tanpa terang dalam kehidupan para pelacur. Akan tetapi, Djenar menghadirkan secercah harapan dalam nyala lilin melalui pertalian kasih dan sayang seorang ibu kepada anaknya. Dalam adegan pintu terbuka dan sebutan mama menjadi penutup cerpen, seluruh beban cerita berupa emosi yang bertumpuk di sepanjang perjalanan batin tokoh seketika luruh, hanyut, tersapu bersih. Situasi ini, dalam pandangan Longinus dianggap sebagai puncak keluhuran. Keluhuran yang mampu menukar posisi dari tokoh pelacur yang terpuruk menjadi perjumpaan akan hakikat cinta dan kemanusiaan.

     

    Keluhuran yang  Tumbuh dari Kehinaan                                         

    Bukan Djenar namanya jika tidak tegas dan lugas dalam menggunakan gaya bahasa yang khas, dan juga tidak pernah gagal menyokong keluhuran. Narasi repetitive dalam setiap kemunculan kata “Ting” telah berhasil menciptakan ketegangan dan renungan sekaligus. Pilihan kata “Ting” membawa pembaca masuk ke dalam lift dan ikut terjebak dalam kegelisahan, khawatir, dan takut yang sama. Longinus dalam konteks ini mengatakan bahwa ritme dan pilihan kata yang sesuai dapat menyokong nilai emosional sebuah teks atau wacana. Repetisi digunakan oleh Djenar sebagai instrument memperkuat pengalaman batin pelacur yang menjadi tokoh utama. Hal ini tentu bukan sekadar teknis stilistika semata. Fakta menarik lainnya, keluhuran dalam cerpen ini tidak lahir dari pertarungan heroik seorang tokoh melakukan usaha penyalamatan luar biasa, melainkan realitas kehidupan sehari-hari melalui kata “Ting”. Lift, lantai hotel, suara bel menjadi medan pertarungan batin pelacur yang juga seorang ibu bagi anak kesayangannya.

    Merujuk pada pandangan Longinus, cerpen “Ting” telah menunjukkan pembaca terkait kemampuan sastra yang dapat menarik pengalaman batin seseorang melampaui realitas keseharian manusia. Djenar bukan saja mengisahkan seorang pelacur yang menjual dirinya, melainkan pancingan empati seorang pembaca melihat kemanusiaan yang kerap berlindung di balik normal sosial. Memahami dan merasakan seakan-akan pengalaman tokoh adalah pengalaman pembaca merupakan keberhasilan Djenar dalam memadu-padankan bangunan emosi yang kokoh, teknik simbolik sederhana tapi sarat akan makna, dan gaya bahasa yang tegas, lugas, dan menggugah. “Ting” adalah contoh bagaimana keluhuran dapat tumbuh dari kehinaan. Keluhuran dapat tumbuh dalam kehidupan pelacur yang sarat akan penghakiman dan tubuhnya yang kerap dijadikan sasaran serangan moralitas.

    ****************

     

  • Gerhana Sublime: Keluhuran Emosi dan Retorika Tersembunyi dalam “Gerhana Mata” Djenar Maesa Ayu

    Gerhana Sublime: Keluhuran Emosi dan Retorika Tersembunyi dalam “Gerhana Mata” Djenar Maesa Ayu

    Oleh Monica Natashya Agatha Hehakaya, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     Djenar Maesa Ayu dikenal sebagai penulis Indonesia kontemporer yang berani mengeksplorasi seksualitas, tabu sosial, dan dinamika gender melalui narasi provokatif. Cerpen “Gerhana Mata” menggambarkan perselingkuhan yang membutakan, di mana metafora gerhana mata menjadi simbol konflik batin yang mendalam antara hasrat dan kewajiban. Esai ini menganalisis keluhuran (sublime) dalam cerpen tersebut menggunakan perspektif Longinus, filsuf retorika Yunani abad ke-1 yang mendefinisikan sublime sebagai kekuatan bahasa dan ide yang membangkitkan kekaguman bercampur ketakutan. Longinus mengidentifikasi lima sumber utama sublime: daya pemikiran luhur, emosi kuat, pemilihan kata agung, retorika unggul, dan komposisi mulia. Melalui pendekatan ini, vulgaritas permukaan “Gerhana Mata” terkuak sebagai topeng keluhuran yang mengkritik alienasi emosional dalam masyarakat patriarkat Indonesia modern.

     

    Daya Pemikiran Luhur: Alegori Gerhana sebagai Kritik Eksistensial

    Longinus menempatkan daya pemikiran luhur (noble thought) sebagai fondasi sublime, di mana ide-ide besar melampaui batas konvensi sehari-hari untuk menyentuh keabadian. Dalam “Gerhana Mata”, Djenar membangun pemikiran ini melalui alegori gerhana sebagai metafora buta diri akibat nafsu tak terkendali. Tokoh perempuan utama menggambarkan penglihatannya terhadap suami sahnya “terhalang bulan” yang gelap, sementara kekasih gelapnya muncul sebagai “matahari” yang membakar dan membutakan. Konsep ini bukan sekadar deskripsi romansa terlarang, melainkan kritik filosofis mendalam terhadap patriarki yang memaksa perempuan memilih antara stabilitas sosial dan kebebasan hasrat pribadi.

    Pemikiran luhur Djenar menantang norma budaya Indonesia pasca Reformasi, di mana seksualitas perempuan masih dianggap ancaman terhadap tatanan moral. Gerhana mata melambangkan dualitas Platonik: cahaya pengetahuan yang tertutup kegelapan ilusi, mirip alegori gua Plato di mana bayangan menipu realitas sejati. Pengarang tidak hanya menceritakan perselingkuhan, tetapi mengajak pembaca merenungkan absurditas eksistensial cinta yang menghancurkan martabat manusia. Kekaguman muncul dari kedalaman ide ini, sementara ketakutan timbul dari pengakuan universal bahwa setiap individu rentan terhadap “gerhana” internal yang merusak. Pemikiran semacam ini menjadikan cerpen kontroversial Djenar sebagai teks sastra yang abadi, mampu bertahan di hadapan sensor moral.

     

    Emosi Kuat: Gelombang Gairah yang Mengguncang Jiwa

    Emosi kuat (pathos hypsos) merupakan sumber kedua sublime menurut Longinus, di mana perasaan ekstrem membawa pembaca ke puncak keguncangan emosional seperti “angin topan” dalam jiwa. “Gerhana Mata” unggul dalam hal ini melalui penggambaran gairah seksual yang mentah dan sensorik. Adegan intim digambarkan secara eksplisit: “Tubuhnya panas seperti bara menyala, matanya gelap gulita saat dia mendekat dan menelanku utuh.” Detail ini bukan pornografi vulgar semata, melainkan keluhuran karena memicu ekstase bercampur rasa bersalah yang dialami secara universal oleh pembaca.

    Tokoh perempuan merasakan “gelombang demi gelombang menghantam dada” saat berpisah dari kekasih gelapnya, mencerminkan konflik batin antara loyalitas monogami dan poligami emosional yang tak terelakkan. Bagi pembaca Indonesia, emosi ini kontroversial karena menormalisasi perselingkuhan sebagai ekspresi kebebasan perempuan yang tertindas. Namun, sublime justru tercipta dari kejujuran brutal ini: cinta tak pernah murni, selalu disertai kegelapan menakutkan yang mengancam kehancuran diri. Respons emosional yang dibangkitkan melampaui narasi fiksi, menggugat pembaca untuk merefleksikan kepalsuan relasi pribadi mereka sendiri. Kekuatan emosi Djenar menjadikan “Gerhana Mata” sebagai pengalaman transenden yang sulit dilupakan.

     

    Pemilihan Kata Agung dan Retorika Unggul: Bahasa yang Menjulang

    Longinus menekankan pemilihan kata agung dan figur retorika sebagai pilar sublime yang mengangkat prosa menjadi puisi. Djenar Maesa Ayu mahir menggabungkan bahasa kasar sehari-hari dengan metafora kosmik: “Dia menusukku dengan matahari paginya yang membakar,” sebuah hiperbola yang mengagungkan seks sebagai kekuatan alam semesta. Kata kunci “gerhana” diulang seperti mantra ritual, menciptakan ritme poetik yang agung, sementara vulgaritas seperti “basah kuyup oleh nafsu” ditinggikan menjadi simbol banjir emosi tak terkendali yang dahsyat.

    Retorika unggul terwujud dalam paradoks sentral: mata yang diciptakan untuk melihat justru menjadi alat pembutaan diri. Teknik pengulangan “mata bulan”, “matahari gelap” membangun intensitas dramatis yang memuncak. Personifikasi seperti “mata bulan menelan matahari hasrat” mengubah adegan intim menjadi peristiwa astronomis epik, menimbulkan rasa tak berdaya di hadapan kekuatan kosmik. Kontroversi bahasa frontal Djenar yang menabrak norma kesusilaan Indonesia justru menjadi katalis sublime, karena kata-kata ini menyatu membentuk visi profetik tentang kehancuran diri akibat cinta yang membutakan. Retorika semacam ini menempatkan Djenar sejajar dengan maestro sastra dunia.

     

    Komposisi Mulia: Arsitektur Narasi yang Harmonis

    Komposisi mulia (noble composition), sumber kelima sublime, merujuk pada struktur cerita yang harmonis namun penuh kejutan seperti arsitektur kuil kuno. “Gerhana Mata” terstruktur menyerupai siklus gerhana astronomis nyata: pendahuluan cahaya (kehidupan rumah tangga yang stabil), kegelapan puncak (perselingkuhan intens), dan bayang fajar (kesadaran getir tanpa resolusi). Alur non linier dengan flashback ke momen intim menciptakan suspensi dramatis, di mana klimaks bukan orgasme fisik semata, melainkan pengakuan tragis: “Gerhana itu tak pernah benar-benar usai dalam relung jiwa.”

    Komposisi ini sublime karena meniru pola alam secara sempurna: gerhana nyata berlangsung singkat namun meninggalkan trauma abadi, begitu pula narasi Djenar. Akhir terbuka tanpa katarsis moralistis konvensional meninggalkan pembaca dalam kekaguman atas keberanian pengarang menolak ekspektasi sastra Indonesia yang normatif. Struktur ini menantang pembaca untuk terus merenung, menciptakan rasa hormat sekaligus gelisah esensi sejati sublime. Harmoni komposisi Djenar membuktikan bahwa bahkan cerpen pendek dapat menjulang seperti monumen sastra.

     

    Relevansi Kontroversi dalam Konteks Kontemporer

    Kontroversi “Gerhana Mata” berakar pada erotisme eksplisitnya, yang oleh kritikus konservatif disebut “sastra bau kencur” karena membahas seksualitas perempuan secara terbuka di tengah budaya malu Indonesia. Namun, perspektif Longinus mengungkap keluhuran tersembunyi: cerpen ini bukan glorifikasi selingkuh, melainkan kritik tajam terhadap masyarakat patriarkat yang “menggerhana” suara perempuan melalui stigma moral. Sublime Djenar mirip konsep Kant tentang yang agung (das Erhabene) tak terukur, menggetarkan jiwa hingga pembaca merasa kecil dan tak berdaya di hadapannya.

    Dalam konteks Indonesia 2026, di mana gerakan feminisme digital seperti #MeToo lokal semakin menggema di media sosial, “Gerhana Mata” tetap relevan sebagai kritik atas pembutaan kolektif terhadap hak hasrat perempuan. Analisis sublime ini membuktikan bahwa vulgaritas permukaan Djenar hanyalah topeng untuk pemikiran luhur yang radikal, mengajak pembaca naik ke puncak keluhuran emosional dan intelektual.

     

    Penutup

    “Gerhana Mata” karya Djenar Maesa Ayu membuktikan kekuatan abadi perspektif sublime Longinus dalam sastra Indonesia modern. Melalui kelima sumber keluhuran: pemikiran luhur, emosi kuat, lexis agung, retorika unggul, dan komposisi mulia, cerpen kontroversial ini mentransformasi tabu menjadi pengalaman transenden yang mengguncang jiwa.

    —————–

  • Keluhuran pada Cerpen “Mereka Bilang Saya Monyet” karya Djenar Maesa Ayu

    Keluhuran pada Cerpen “Mereka Bilang Saya Monyet” karya Djenar Maesa Ayu

     

    Oleh Athaya Sekar Khairina, Mahasiswi Program Studi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta

     

    Era 2000-an menjadi salah satu periodisasi penting bagi perkembangan sastra Indonesia, khususnya pada karya-karya sastra yang mulai berani mengangkat isu-isu yang sebelumnya dianggap tabu seperti seksualitas, kebebasan ekspresi, kekerasan, hingga trauma. Tema-tema tersebut seringkali diangkat dalam karya-karya sastra dari penulis perempuan, hingga muncullah istilah “sastra wangi” yang kontroversial di kalangan sastrawan karena dianggap menggiring perhatian pada kualitas suatu karya sastra dan mempermasalahkan gender sang penulis. Meskipun demikan, penulis perempuan seperti Djenar Maesa Ayu justru mengeluarkan karya-karya menariknya, salah satunya yaitu cerita pendek terkenalnya bertajuk “Mereka Bilang, Saya Monyet!” yang pernah dialihwacanakan dalam bentuk film di tahun 2008. Cerpen ini menceritakan tokoh ‘saya’ yang mengalami kekerasan seksual hingga meninggalkan luka psikologis padanya. Ia dipandang rendah oleh orang-orang sebagai ‘monyet’ atas perilakunya.

    Esai ini dimaksudkan untuk menganalisis cerpen “Mereka Bilang, Saya Monyet!” karya Djenar Maesa Ayu dalam perspektif Longinus. Dalam perspektif ini, Longinus mengeksplorasi “sisi lain” dari karya sastra, yaitu sifat dan jenis tulisan tertentu yang melanggar komposisi estetis dan retoris untuk mencapai sebuah “hypos” atau keluhuran. Cerpen ini memiliki “keluhuran” yang bisa dianalisis dalam lima prinsip sumber keluhuran pengarang (Foundation, 2018): (1) daya pemikiran yang agung (grandeur of thoughts); (2) emosi yang kuat dan gairah (passion) yang mulia; (3) retorika yang unggul;  (4) penggunaan pilihan kata yang berkelas; dan (5) komposisi yang mulia. Hal ini akan membuktikan bahwa Djenar tidak hanya menulis cerpen ini untuk hiburan semata, tetapi juga memiliki kekuatan ekspresif yang dapat dirasakan oleh pembaca.

     

    Daya Pemikiran yang Agung

    Cerpen ini memegang gagasan yang agung, yaitu mengkritik kekerasan seksual dan tindakan tak manusiawi pada perempuan. Label “monyet” yang diberi orang-orang pada tokoh ‘saya’ menyoroti dehumanisasi pada korban kekerasan seksual. Dari judul cerpen “Mereka Bilang, Saya Monyet!” sebetulnya sudah menunjukkan gagasan yang agung, yaitu kritik terhadap masyarakat yang memandang rendah korban kekerasan seksual dengan melabelinya sebagai hewan, di mana hal ini merupakan tindakan tak manusiawi. Selain itu, Djenar berhasil menyoroti sudut pandang tokoh ‘saya’ sebagai korban kekerasan seksual yang sedang dalam keterasingan atas dirinya sendiri. Dapat dilihat pada kutipan sebagai berikut:

    “Saya benar-benar tidak mengerti maksud mereka. Yang saya tahu saat itu hanya hati saya terasa ngilu bagai disayat-sayat sembilu. Mungkinkah ini yang disebut perasaan? Tapi saya sudah telanjur kehilangan keberanian untuk mengatakan apa yang saya rasakan. Dan saya tambah tidak mengerti jika benar ini adalah perasaan yang mereka maksudkan, lalu mengapa mereka bisa menertawakan saya tanpa memedulikan perasaan saya sama sekali?”
    (Ayu, 2001)

     

    Emosi yang Kuat dan Gairah yang Mulia

    Dalam cerpen ini, Djenar mengungkapkan emosi tokoh ‘saya’ yang jujur dan kuat, seperti jijik, bingung, marah, dan hina. Ditulis dengan narasi yang personal dan detail. Djenar juga berhasil menyoroti tokoh dalam perjalanan krisis identitasnya:

    “Saya mengisyaratkan pemain keyboard untuk memainkan “La Bamba”. Dengan terpaksa pemain keyboard mengikuti permintaan saya. Saya mulai berjingkrak-jingkrak mengikuti irama musik dan suara saya yang terdengar tidak merdu. Saya berputar ke kiri, berputar ke kanan, bergerak maju, bergerak ke belakang, bertepuk tangan, berteriak kencang, duduk di atas pangkuan pemain keyboard, dan semua yang ada di kafe itu ikut bersorak-sorai dan bertepuk tangan.”

    (Ayu, 2001)

    Cerpen ini tidak hanya menyoroti peristiwa yang dialami oleh sang tokoh, melainkan menggambarkan penderitaan yang dialami. Hal ini dapat mengguncangkan perasaan pembaca melalui penggambaran emosi yang kuat dan gairah yang mulia.

     

    Retorika yang Unggul

    Cerpen ini menggunakan teknik retorika yang menarik perhatian pembaca, yaitu dengan metaforis dan ironis. Metafora pada cerpen ini terlihat pada tokoh ‘saya’ dan label “monyet” yang didapat dari masyarakat yang seharusnya dapat melindungi korban, tetapi justru menjadikan korban sebagai sasaran empuk untuk dihina dan ditertawakan:

    “Waktu saya menyatakan bahwa saya juga mempunyai hati, mereka tertawa dan memandang saya dengan penuh iba atas kebodohan saya. Katanya hati yang mereka maksudkan adalah perasaan, selain itu mereka juga mempunyai otak. Tapi ketika saya protes dan menyatakan bahwa saya pun punya otak, lagi-lagi mereka tertawa terbahak-bahak. Katanya, otak yang mereka maksudkan adalah akal.”

    “Bagaimana kamu mau disebut manusia? Wujudmu boleh manusia, tapi kelakuanmu benar-benar monyet!”

    (Ayu, 2001)

    Penggunaan metafora “monyet” pada tokoh ‘saya’ menjadi retorika yang menarik karena menciptakan kontras antara manusia dan hewan, sehingga menggugah rasa hina pada tokoh ‘saya’.

     

    Penggunaan Pilihan Kata yang Berkelas

    Cerpen ini menggunakan bahasa yang sederhana sekaligus ekspresif. Pilihan kata yang digunakan pun cenderung jujur dan tajam:

    “Saya malas bertanya lagi. Percuma bicara kepada seseorang atau tepatnya makhluk-yang senang dan mampu berbohong pada diri sendiri.”
    (Ayu, 2001)

    Dalam cerpen “Mereka Bilang, Saya Monyet!”, Djenar memilih kata-kata yang lugas untuk mengguncang perasaan pembacanya. Memang terdengar tidak sastrawi. Justru, pilihan kata ini dapat menggambarkan perasaan sang tokoh dengan jujur.

     

    Komposisi yang Mulia

    Djenar menggunakan struktur alur maju-mundur (campuran), mengilas balik tokoh ‘saya’ yang mengalami kekerasan seksual dan harus menghadapi kebingungan identitasnya. Hal ini dapat dilihat dari kutipan-kutipan cerpen berikut:

    “Kebutuhan saya untuk buang air kecil semakin mendesak. Pintu kamar mandi masih terkunci. Saya mengetuk pintu pelan-pelan. Tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ada suara air. Tidak ada suara mengejan. Saya menempelkan telinga saya di mulut pintu. Saya mendengar desahan tertahan. Saya kembali mengetuk pintu. Desahan itu berangsur diam. Saya mengintip lewat lubang kunci bersamaan dengan pintu dibuka dari dalam. Sepasang laki-laki dan perempuan keluar dari dalam kamar mandi. Yang laki-laki lantang memaki, “Dasar binatang! Dasar monyet! Gak punya otak ngintip-ngintip orang!”

     Seharusnya saya menghajar laki-laki berkepala buaya dan berekor kalajengking itu. Tapi saya memang tidak cepat bereaksi jika diserang tanpa ada persiapan. Atau mungkin saya memang tidak akan pemah mampu mela-wan walaupun sudah tahu akan diserang. Saya sudah terbiasa menelan rongsokan tanpa dikunyah lebih dulu. Saya sudah terbiasa kalah dan menelan kepahitan. Karena itu saya hanya terlongong-longong sambil menyaksikan mereka berdua berlalu.”

    (Ayu, 2001)

    Cerpen ini memiliki komposisi yang rapi, meskipun menggunakan alur campuran. Digambarkan pula secara jelas peristiwa yang dialami serta perasaan sang tokoh yang dapat mengguncang perasaan pembaca.

    —————–

  • “Demokrasi di Demarkasi” – “Hai Saudara!” – Sajak-sajak Sany Tukan

    “Demokrasi di Demarkasi” – “Hai Saudara!” – Sajak-sajak Sany Tukan

     

    Demokrasi di Demarkasi

    Masa di telan massa,
    Problem itu kian menghantui realita,
    Susah sungguh ditangkap rasa,
    Lalu menjadi satu sayembara-
    di atas pangung-panggung kata,
    Bisakah rasa melanggengkan historisasi?
    Ibarat politik tanpa identitas ialah hampa,
    Barangkali suatu saat nanti,
    Cinta manusia tanpa rasa, itu biasa!

    ————–

     

    Hai Saudara!

     

    Hai saudara di seberang samudra
    Yang lelah menenun nasib di bisingnya kota,
    Berhentilah sejenak menghitung peluh,
    Biarkan jiwamu bernapas dari riuh.
    Kita berlari bukan untuk memutus akar,
    Bukan sekadar mengejar dunia yang nanar.
    Ada tanah yang menunggu tanganmu merawat,
    Ada doa leluhur yang mengikat kuat.
    Bangunlah ruang yang menyembuhkan,
    Barulah langkahmu punya alasan untuk patuh.

    —————–

     

    T e n t a n g     P e n y a i r

    Sany Tukan, lahir di Lembata, tepatnya di Waikomo pada 16 Juni 2002, anak bungsu dari empat bersaudara; sedang menempuh pendidikan Semester VIII S1Ilmu Filsafat di IFTK Ledalero. Aktif menulis di Majalah Warta Flobamora dan hingga kini menjabat sebagai Sie Sastrawi BEM IFTK Ledalero. Kecintaannya terhadap dunia sastra menjadikannya menganggap aktivitas menulis puisi sebagai jalan mencintai yang tak tampak.

  • ​Bangun Gagasan Kebangsaan, Teras Kebinekaan Undang Para Cendekiawan dalam Bedah Buku “Investing Game Theory”

    ​Bangun Gagasan Kebangsaan, Teras Kebinekaan Undang Para Cendekiawan dalam Bedah Buku “Investing Game Theory”

    Bogor Teras Kebinekaan – Teras Kebinekaan hadirkan sejumlah cendekiawan dalam acara bedah buku karya Ogde B. Ada berjudul Investing Game Theory (IGT): Bagaimana Menjadi Kaya, Bahagia, dan Sejahtera (Penerbit Buku Kompas, 2025).

    Sejumlah cendekiawan hadir dalam acara ini: Moh. Shofan (Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan), Rikard Bagun (Anggota Dewan Pengarah BPIP), Sugeng Bahagijo (Staf Ahli Menteri Bidang Pembangunan Ekonomi dan Digitalisasi Kemenko Pemberdayaan Masyarakat), Budhy Munawar-Rachman (Dosen STF Driyarkara), M. Adlin Sila (Dosen Antropologi FISIP UI), Ahmad Gaus AF (Head of Project Esoterika), Abdullah Sumrahadi (Dosen President University), dan Saefudin Zuhri (Pendiri Madani Connection). Mereka membedah buku ini dari lintas disiplin, baik aspek ekonomi, sosiologi, agama, maupun filsafat. Acara ini dimoderatori oleh Milastri Muzakkar (Founder Generasi Literat).

    Dalam sambutannya, Moh. Shofan selaku Direktur Eksekutif Teras Kebinekaan mengatakan bahwa buku ini merupakan karya reflektif yang berada di persimpangan antara spiritualitas, filsafat, dan kritik sosial.

    “Buku ini tidak disusun sebagai karya akademik formal, melainkan sebagai refleksi intelektual yang lahir dari kegelisahan penulis terhadap realitas keberagamaan manusia modern,” tegas Shofan.

    Kegiatan ini, menurutnya, dirancang sebagai ruang dialog reflektif untuk menggali bagaimana integrasi wahyu, filsafat, dan sains dapat menjawab tantangan peradaban modern.

    “Buku ini berusaha menjelaskan tentang bagaimana nilai-nilai spiritual dan filosofis dapat berpadu dalam membangun kehidupan yang bermakna—baik secara pribadi maupun dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” lanjut Shofan.

    Lebih jauh, menurutnya, buku ini mengajak pembaca untuk mengamalkan, menghayati, dan memikirkan kembali makna “Iqra” (membaca realitas secara kritis) dan “Rahmatan” (memberi manfaat bagi sesama) sebagai jalan menuju kebahagiaan sejati.

    Dalam paparannya, Budhy Munawar-Rachman menyebut IGT sebagai sebuah “eksperimen intelektual yang berani”. Menurutnya, buku ini berdiri di antara teks motivasi, teologi, dan risalah filsafat untuk menjawab bagaimana manusia bisa hidup sejahtera tanpa kehilangan akal budi dan iman.

    “Intisari pemikiran yang ditawarkan penulis buku IGT terletak pada ‘permainan’ strategis antara memberi (investing) dan mengambil, di mana hukum tertinggi kehidupan adalah memberikan manfaat (rahmatan) bagi sesama,” jelas Budhy.

    ​Sementara, Rikard Bagun menyoroti sisi dampak sosial yang berpotensi dilahirkan oleh buku karya Ogde B. Ada ini. Menurutnya, “Buku ini akan sangat menarik apabila tidak sekadar menjadi bahan bacaan, melainkan sebagai bahan perdebatan karena melibatkan aspek-aspek personal, sosial, intelektual, dan emosional,” tegas Rikard Bagun.

    Lebih jauh Bagun menyebut buku ini sebagai sarana menuju masalah yang lebih fundamental, yaitu bagaimana mencapai kebenaran.

    “Jalan untuk menggapai kebenaran seperti diperlihatkan buku IGT tidaklah linier tapi spiral dan sering kali menunjukkan sebuah patahan, ‘creative destruction’. Di buku ini, kegelapan tidak dikutuk tapi dihayati. Kita tidak hanya membutuhkan siang, tapi juga malam,” tegas Bagun.

    Sugeng Bahagijo menyoroti keunikan posisi buku IGT. Menurutnya, “Buku IGT secara substansial ditujukan kepada para pembaca tingkat advance, tapi secara pengemasan sangat accessible bagi siapa saja.”

    Lebih jauh Sugeng mengatakan buku ini menyoroti bagaimana melatih disiplin individu dan jati diri untuk bisa bangkit serta bebas, sehingga secara time management menjadi baik dan pikiran menghargai kebinekaan. “Buku ini sangat orisinal, dalam konteks Indonesia belum ada padanannya,” tegas Sugeng.

    Adlin Sila menambahkan, buku IGT melatih pembaca untuk berpikir kritis. “Akal sangat penting. Bukan berarti agama tidak penting, tapi akal memberi navigasi agar kita tidak terlarut pada emosi keagamaan,” ujar Sila.

    Abdullah Sumrahadi berpendapat bahwa melalui buku IGT, sang penulis ingin menarasikan pengalaman hidupnya yang kaya dalam sebuah karya. Tersirat dari buku ini, “Penulisnya seolah ingin menyampaikan pesan mendalam bahwa segala sesuatu harus ada kajian lebih mendalam, memusatkan perhatian pada esensi, tidak sekadar mengikuti SOP. Pahami, adaptasi, dan laksanakan,” tegas Sumrahadi.

    Acara ini digelar di kantor Teras Kebinekaan, Jl. H. Mawi, Parung, Bogor, dan diakhiri dengan buka puasa bersama.

    (Khudori)

     

  • Benarkah Setelah Iran, Perang akan Beralih ke Turki demi Israel Raya?

    Benarkah Setelah Iran, Perang akan Beralih ke Turki demi Israel Raya?

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Apa yang dikatakan oleh seorang wartawan Timur Tengah dari Indonesia yakni Faisal Asegaf, yang menyatakan dalam wawancara di beberapa media massa, bahwa sebulan sebelum Presiden Donald Trump menyerang iran bersama Israel, sesungguhnya Pentagon sudah mendeskripsikan bahwa Iran harus di jatuhkan secara militer skala penuh, yang berarti semua target sudah di skenario lama yang merupakan rencana besar (Blue Print) oleh Amerika dan Israel dalam menguasi Geo Politik dan Geo Strategis Timur Tengah sebagai penghasil minyak terbesar di dunia saat ini.

    Mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, telah menyatakan bahwa Turki di bawah Presiden Recep Tayyip Erdogan merupakan ancaman strategis baru bagi keamanan Israel, bahkan menyebutnya sebagai “Iran Baru”. Bennett menuduh Turki mendukung Iran dan membiayai kelompok-kelompok yang diklasifikasikan sebagai organisasi teroris di Timur Tengah.

    Bennett juga memperingatkan bahwa Turki dan Qatar sedang memperkuat jaringan dengan Ikhwanul Muslimin, dan bahwa Ankara berupaya membangun poros kekuatan Sunni yang berpotensi mengancam Israel. Selain itu, Bennett juga menyoroti potensi kerja sama antara Turki dan Pakistan, yang memiliki senjata nuklir dan sikap anti-Israel yang kuat.

    Walaupun pernyataan Bennett ini belum tentu mencerminkan kebijakan resmi Israel, dan ada kemungkinan bahwa hubungan antara Israel dan Turki masih kompleks dan dipengaruhi oleh berbagai faktor geopolitik.namun dengan pernyataan tersebut maka ambisi israel untuk menguasai timur tengah bisa terbaca dengan jelas.

    Turki adalah salah satu negara Timur Tengah yang mempunyai hubungan diplomatik dengan israel. Wilayahnya  berbatasan langsung dengan Eropa yang merupakan bekas kerajaan Ottoman yang punya peradaban sangat tinggi dan berkuasa ratusan tahun sebelum Perang Dunia I, meletus.

    Bahkan salah satu Sultan Ottoman yakni Sultan Abdul Majid I dari Ottoman Turki  pernah membantu Irlandia saat mengalami kelaparan besar pada tahun 1847. Saat itu, Sultan Abdul Majid I ingin memberikan bantuan sebesar 10.000 poundsterling, tetapi pemerintah Inggris membatasi jumlah bantuan tersebut karena Ratu Victoria hanya memberikan 2.000 poundsterling afar menyelamatkan muka Ratu Ingris saat itu.  Akhirnya, Sultan Abdul Majid I mengirimkan 1.000 poundsterling dan tiga kapal penuh makanan ke Irlandia secara diam-diam yang nilainya mencapai 10 ribu Ponsterling.

    Bantuan ini sangat berarti bagi rakyat Irlandia, yang saat itu mengalami kelaparan besar akibat penyakit hawar kentang. Sultan Abdul Majid I bahkan mengirimkan kapal-kapal dengan bendera Ottoman ke pelabuhan Drogheda, yang kemudian menjadi simbol kemurahan hati Turki kepada Irlandia.

    Kisah ini masih diingat hingga hari ini, dan bahkan ada plakat peringatan di Drogheda yang berbunyi, “Kelaparan Besar Irlandia tahun 1847 – Untuk mengenang dan mengakui kemurahan hati Rakyat Turki terhadap Rakyat Irlandia. Apabila benar setelah Iran akan jadi target selanjut nya adalah Turki, maka Eropa pun akan terbelah dalam organisasi NATO, karena Turki adalah anggauta NATO dan kebaikan Turki saat 1847 di Irlandia akan menjadi moment Eropa melawan hegemoni Amerika Serikat, dan Israel yang tanda tanda nya sudah bisa dilihat saat ini.

     

    Sejarah Tanah Perjanjian dan Greater Israel

    Greater Israel” atau “Eretz Yisrael HaShlema” dalam bahasa Ibrani, adalah konsep yang merujuk pada wilayah Israel yang lebih luas daripada batas-batas negara Israel saat ini. Konsep ini berakar pada narasi biblikal dan ambisi Zionis awal, yang mengklaim bahwa wilayah Israel seharusnya mencakup area dari Sungai Nil di Mesir hingga Sungai Euphrat di Irak.

     

    Tujuan Utama:

     

    – Membangun negara Yahudi yang lebih besar dan kuat

    – Mengamankan wilayah strategis untuk pertahanan

    – Merealisasikan janji biblikal tentang tanah yang dijanjikan kepada bangsa Yahudi

     

    Wilayah yang Diklaim:

     

    – Tepi Barat (West Bank)

    – Jalur Gaza (Gaza Strip)

    – Dataran Tinggi Golan (Golan Heights)

    – Bagian dari Lebanon, Suriah, dan Yordania

    – Beberapa wilayah di Mesir dan Irak

     

    Kontroversi:

     

    –  Konsep Greater Israel dipandang sebagai ancaman oleh negara-negara Arab dan Palestina

    – Banyak yang menganggapnya sebagai upaya untuk menganeksasi wilayah Palestina dan mengganggu keseimbangan regional

     

    Memang sesuai keyakinan dari bangsa Istael bahwa Tanah perjanjian yang diklaim Israel tertulis dalam Alkitab, khususnya dalam kitab Kejadian, Keluaran, dan Yosua. Beberapa ayat yang relevan adalah:

     

    – Kejadian 12:7: “Lagi firman TUHAN kepadanya: ‘Akulah TUHAN, yang membawa engkau keluar dari Ur-Kasdim untuk memberikan negeri ini kepadamu menjadi milikmu’”.

    – Kejadian 15:18-20: “Pada hari itu TUHAN membuat perjanjian dengan Abram, firman-Nya: ‘Kepada keturunanmu Kuberikan negeri ini, dari sungai Mesir sampai ke sungai besar, sungai Efrat’”.

    – Keluaran 23:31: “Aku akan menetapkan batas-batasmu dari Laut Merah sampai ke Laut Filistin, dan dari padang gurun sampai ke sungai Efrat”.

     

    Batas-batas Tanah Perjanjian yang disebutkan dalam Alkitab adalah dari Sungai Mesir (Sungai Nil) hingga Sungai Efrat, yang mencakup wilayah Israel modern, termasuk Gaza dan Tepi Barat, serta bagian dari Mesir, Suriah, dan Yordania.

    Namun tanah yang diperjanjikan dalam Alkitab, khususnya dalam kitab Kejadian, Keluaran, dan Yosua, selama ribuan tahun telah diduduki oleh bangsa-bangsa lain ribuan tahun, termasuk Mesir, Palestina, Yordania, Irak, dan sebagian Turki. Hal ini merupakan salah satu titik kontroversi dalam konflik Israel-Palestina.

     

    Fakta Sejarah:

    – Tanah Kanaan (Palestina) telah dihuni oleh berbagai bangsa, termasuk Kanaan, Filistin, dan Israel.

    – Mesir telah menjadi pusat kekuasaan di wilayah tersebut selama ribuan tahun.

    – Yordania dan Irak telah menjadi bagian dari berbagai kekaisaran, termasuk Kekaisaran Babilonia dan Kekaisaran Persia.

    – Turki telah menjadi pusat kekuasaan Kekaisaran Ottoman selama beberapa abad.

     

    Perspektif Hukum Internasional:

     

    – Hukum internasional mengakui hak-hak bangsa-bangsa yang telah menduduki suatu wilayah selama ribuan tahun.

    – Deklarasi Kemerdekaan Palestina pada tahun 1988 dan pengakuan internasional terhadap Palestina sebagai negara merdeka pada tahun 2012 telah memperkuat hak-hak Palestina atas wilayah tersebut.

     

    Perspektif Sejarah:

     

    – Bahwa tanah tersebut telah berdiri kerajaan Mesir dan Kekaisaran Ottoman Turki Usmani , selama ratusan tahun , dan bangsa Persia yang hidup selama ribuan tahun sejak kejayaan Yunani kuno dan Romawi dan Kekaisaran Babilonia yang menguasai wilayah  Irak selama ratusan tahun. Jadi alur sejarah nya jelas, tidak bisa begitu saja  diambil paksa begitu saja, karena dalam perspektif sejarah tertulis secara runtun dan jelas.

    Hal inilah yang mengakibatkan konflik Palestina Israel sulit untuk diselesaikan karena adanya keyakinan berdasarkan Kitab Suci dan situasi kondisi yang sudah berubah dan  yang menibulkankan komplesitas,  namun, perlu diingat bahwa konflik Israel-Palestina merupakan isu yang kompleks dan sensitif, dan tidak ada jawaban yang sederhana  untuk menjawabnya  karena faktir keyakinan agama tadi .

    Setidaknya memberikan gambaran pemahaman pada kita semua bahwa konflik Palestina Israel bukan konflik dan perang agama tapi konflik wilayah pendudukan yang di justifikasi oleh Perserikatan Bangsa Bangsa saat itu, sedangkan wilayah tersebut telah diduduki dan didiami bangsa Palestina selama ratusan bahkan ribuan tahun secara turun temurun, agar diri kita lebih bijak dan cerdas dalam menilai situasi. Jangan mau terprovokasi bahwa masalah kompleksitas ini semata mata kesalahan negara negara besar pemenang Perang Dunia ke II, yang punya kepentingan.

    Yang pasti keputusan Donald Trump menyerang Iran pada Februari 2026 kemungkinan besar dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk kepentingan nasional AS, keamanan Israel, dan dinamika politik dalam negeri. Meskipun tidak ada bukti langsung tentang tekanan lobi Yahudi Amerika, beberapa faktor yang mungkin berperan termasuk:

     

    – Keamanan Israel: Trump telah menyatakan dukungan kuat untuk Israel dan mungkin melihat serangan terhadap Iran sebagai cara untuk melindungi sekutu tersebut.

    – Kepentingan Energi: Iran adalah pemain kunci di Timur Tengah, dan serangan AS dapat mempengaruhi harga minyak dan stabilitas regional.

    – Politik Dalam Negeri: Trump mungkin berusaha menunjukkan kekuatan dan kepemimpinan AS di panggung internasional, terutama menjelankan pemilihan presiden 2024.

    Lobi Yahudi Amerika, seperti AIPAC, memiliki pengaruh signifikan dalam politik AS, tetapi sulit dibuktikan publik  sejauh mana mereka mempengaruhi keputusan Trump secara spesifik yang pasti sangat kuat pengaruh mereka dalam politik Amerika Serikat.

    Sementara beberapa pengamat dan politikus Amerika Serikat sendiri menuduh bahwa keputusan Donald Trump menyerang Iran adalah untuk mengalihkan issu Epstein yang memojokan Donald Trump di dalam negeri Amerika serikat sendiri.

    Jika pernyataan Naftali Bennett tentang Turki benar dimana  Israel dan Amerika Serikat menyerang Turki, setelah iran  maka Badan Perdamaian (Board of Peace) yang dibentuk Donald Trump mungkin tidak efektif dalam mencapai tujuannya.

    Board of Peace dibentuk untuk mempromosikan perdamaian dunia dan menyelesaikan konflik global, namun jika negara-negara besar seperti Iran, Israel, dan Amerika Serikat terlibat dalam konflik, maka badan ini tidak  mungkin  memiliki kekuatan untuk menghentikan kekerasan karena adanya konflik of interes didalam diri Amerika Serikat sendiri.

    Beberapa negara, termasuk Indonesia, telah bergabung dengan Board of Peace, namun ada kekhawatiran bahwa badan ini mungkin tidak memiliki otoritas yang cukup untuk mempengaruhi keputusan negara-negara besar.

    Dalam situasi ini, relevansi Board of Peace mungkin dipertanyakan, dan ada kemungkinan bahwa badan ini hanya menjadi taktik politik untuk meningkatkan citra Donald Trump. Namun, perlu diingat bahwa keputusan untuk menyerang Turki belum tentu terjadi, namun perlu diwaspadai.

    Bahwa melihat fenomena tersebut maka kajian strategis yang dikemukakan oleh Prof. Jian Xueqin dari China bahwa pada akhir nya  seluruh negara islam akan bersatu baik di timur tengah maupun dibelahan bumi timur lainya maka akan terbukti dan merupakan akhir dari dominasi Amerika Serikat di panggung dunia di tangan presiden Donald Trump , dan terjadi perang Armagedon sebelum terbitnya jaman baru sistem dab kondisi baru di dunia ini sesuai siklus kejayaan setiap bangsa setiap 200 tahunan.

     

    ———————-

    Penulis adalah pemerhati sosial dan politik serta sejarah

  • Sejarah sebagai Sumber Inspirasi dalam Perdamaian Dunia

    Sejarah sebagai Sumber Inspirasi dalam Perdamaian Dunia

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Ditengah berkecamuknya perang antara Iran melawan Amerika Serikat dan Israel, serta perang Rusia-Ukraina dan penculikan presiden Nicolas Maduro dari Venezuela,  dunia memerlukan pemimpin-pemimpin yang berhati mulia agar  dunia ini  menjadi tempat yang lebih damai dan indah terlepas dari kepentingan politis dan kepentingan ekonomi. Jika setiap pemimpin negara memiliki empati, kebijaksanaan, dan kemauan untuk membantu orang lain, maka konflik dan perang dapat diminimalkan.

    Dalam dunia seperti itu, negara-negara akan bekerja sama untuk menyelesaikan masalah global, seperti kemiskinan, perubahan iklim, dan penyakit. Rakyat dari berbagai negara akan hidup dalam harmoni, saling menghormati dan menghargai perbedaan.

    Kita dapat membayangkan dunia di mana:

    Konflik dan perang menjadi hal yang langka

    – Kemiskinan dan kelaparan dapat diatasi

    – Lingkungan hidup dapat dilindungi dan dipelihara

    – Pendidikan dan kesehatan dapat diakses oleh semua orang

    – Rakyat dapat hidup dalam kebebasan dan keamanan

     

    Dunia seperti itu memang masih menjadi impian, tetapi kita dapat berusaha untuk mewujudkannya. Dengan memiliki pemimpin yang berhati mulia dan masyarakat yang peduli, kita dapat membuat perbedaan dan menciptakan dunia yang lebih baik. Seperti contoh  keteladanan dari Sultan Turki Usmani (Ottoman) pada tahun 1847 terhadap Irlandia yang mengalami kelaparan.

    Sultan Abdul Majid I dari Ottoman Turki memang pernah membantu Irlandia saat mengalami kelaparan besar pada tahun 1847. Saat itu, Sultan Abdul Majid I ingin memberikan bantuan sebesar 10.000 poundsterling, tetapi pemerintah Inggris membatasi jumlah bantuan tersebut karena Ratu Victoria hanya memberikan 2.000 poundsterling. Akhirnya, Sultan Abdul Majid I mengirimkan 1.000 poundsterling dan tiga kapal penuh makanan ke Irlandia secara diam-diam.

    Bantuan ini sangat berarti bagi rakyat Irlandia, yang saat itu mengalami kelaparan besar akibat penyakit hawar kentang. Sultan Abdul Majid I bahkan mengirimkan kapal-kapal dengan bendera Ottoman ke pelabuhan Drogheda, yang kemudian menjadi simbol kemurahan hati Turki kepada Irlandia.

    Kisah ini masih diingat hingga hari ini, dan bahkan ada plakat peringatan di Drogheda yang berbunyi, “Kelaparan Besar Irlandia tahun 1847 – Untuk mengenang dan mengakui kemurahan hati Rakyat Turki terhadap Rakyat Irlandia”.

    Kata-kata Soekarno masih terngiang ngiang dalam telinga , JAS MERAH (jangan sekali kali melupakan sejarah) karena  belajar sejarah memang sangat penting untuk mengambil pelajaran berharga dan membuat keputusan yang lebih baik. Sejarah dapat memberikan kita wawasan tentang bagaimana orang-orang di masa lalu menghadapi tantangan, membuat keputusan, dan mengatasi masalah.

    Dengan mempelajari sejarah, kita dapat:

    Menghindari kesalahan masa lalu

    – Mengambil inspirasi dari keberhasilan orang-orang di masa lalu

    – Memahami konteks dan akar masalah saat ini

    – Membuat keputusan yang lebih tepat dan bijak

     

    Jadi, mari kita terus belajar dari sejarah dan mengambil pelajaran berharga untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Dalam pidatonya yang berapi-api Bung karno menyatakan bahwa jikalau saudara saudara jadi pemeluk moeslim jadilah moeslim Indonesia yang berbudaya dan adat istiadat Indonesia bukan jadi orang Arab, jikalau ingin jadi seorang Nasrani juga jadilah nasrani Indonesia bukan nasrani yahudi, demikian juga jika saudara saudara  jadi pemeluk  hindu maupun budha jadilah pemeluk  hindu dan budha indonesua, bukan jadi orang India,

    Bung Karno memang sangat menekankan pentingnya menjaga identitas dan budaya Indonesia, serta tidak meniru budaya asing secara buta. Dalam pidatonya, ia mengajak masyarakat Indonesia untuk menjadi diri sendiri, dengan mempertahankan nilai-nilai dan budaya yang baik, serta tidak melupakan akar-akar keindonesiaan.

    Pesan Bung Karno ini sangat relevan dengan kondisi saat ini, di mana globalisasi dan modernisasi dapat membuat kita kehilangan jati diri dan budaya. Dengan menjadi diri sendiri dan mempertahankan budaya, kita dapat membangun Indonesia yang kuat dan beridentitas.

    Ajaran luhur nenek moyang kita Sudah mengajarkan dimana memang sangat kaya dan relevan dengan  kepemimpinan modern. Filosofi Jawa seperti “Jer Basuki Mowo Beo” (Hidup harus ada manfaat bagi orang lain), “Tut Wuri Handayani” (Memimpin dengan memberikan contoh dan membimbing dari belakang), dan “Ing Ngarso Sung Tulodo” (Memimpin dengan memberikan contoh yang baik) sangat relevan dengan konsep kepemimpinan yang efektif.

    Ajaran-ajaran ini menekankan pentingnya kepemimpinan yang melayani, memberikan contoh, dan membimbing, bukan hanya memerintah. Ini sangat sesuai dengan kebutuhan masyarakat modern yang memerlukan pemimpin yang dapat memimpin dengan integritas, empati, dan komitmen untuk melayani. Dengan mengambil inspirasi dari ajaran luhur nenek moyang kita, kita dapat membangun kepemimpinan yang lebih baik dan menciptakan masyarakat yang lebih sejahtera.

    Karena pemimpin sejati memang harus memiliki komitmen dan tindakan kemanusiaan yang nyata, bukan hanya retorika kosong. Mereka harus mampu memimpin dengan contoh dan memberikan perhatian kepada masyarakat yang membutuhkan, baik di dalam negeri maupun di luar negeri.

    Dalam konteks Indonesia, memang ada banyak tantangan yang dihadapi oleh masyarakat, seperti kesulitan ekonomi, kemiskinan, dan kesenjangan sosial. Oleh karena itu, pemimpin Indonesia harus fokus pada upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan mengatasi masalah-masalah tersebut, sebelum mencoba menjadi penengah konflik global.

    Kita perlu pemimpin yang dapat memimpin dengan integritas, kejujuran, dan komitmen untuk melayani masyarakat, bukan hanya mencari popularitas atau kekuasaan. Pemimpin seperti itu akan diingat oleh sejarah dan masyarakat, bukan hanya karena retorika mereka, tetapi karena tindakan nyata mereka dalam meningkatkan kehidupan masyarakat.

    Salah satu ajaran luhur adalah ajaran Wulang Reh yang merupakan  ajaran kepemimpinan yang berasal dari tradisi Jawa, yang berisi tentang bagaimana menjadi seorang pemimpin yang baik dan bijak. Beberapa prinsip utama dari ajaran Wulang Reh adalah:

    – Luhur budi (berbudi luhur): memiliki moral dan etika yang tinggi

    – Lestari basa (berbahasa yang baik): berbicara dengan sopan dan bijak

    – Waspada ing samubarang (waspada dalam segala hal): selalu waspada dan siap menghadapi tantangan

    – Ing ngarso sung tulodo (memimpin dengan contoh): memimpin dengan memberikan contoh yang baik

     

    Ajaran Wulang Reh dapat diadopsi pada masa modern sebagai pedoman kepemimpinan yang efektif, karena menekankan pentingnya integritas, etika, dan kepedulian terhadap masyarakat.

    Indonesia sendiri  pernah memberikan bantuan cuma-cuma ke negara lain. Salah satu contohnya adalah pada tahun 1946, Indonesia mengirimkan bantuan beras ke India yang saat itu sedang dilanda bencana kekeringan dan kelaparan.

    Selain itu, Indonesia juga pernah memberikan bantuan kemanusiaan ke beberapa negara, seperti:

    – Yaman, Sudan, dan Palestina pada tahun 2024, dengan total bantuan senilai 3 juta USD

    – Zimbabwe pada tahun 2022, berupa obat-obatan dan alat kesehatan

    – Filipina saat terjadi konflik dengan Fron Pembebasan Islam Moro

    – Myanmar dan negara-negara Pasifik lainnya

     

    Indonesia juga telah menjadi anggota aktif dalam berbagai organisasi internasional, seperti ASEAN dan PBB, dan telah memberikan kontribusi dalam upaya kemanusiaan dan pembangunan di berbagai negara.

    Indonesia memang telah terlibat dalam pembangunan masjid di Palestina. Salah satu contohnya adalah Masjid Istiqlal Indonesia Gaza, yang dibangun pada tahun 2019 dan diresmikan pada Februari 2022. Masjid ini memiliki kapasitas 5.000 jamaah dan dilengkapi dengan fasilitas seperti sumur bor, mesin desalinasi air, dan sound system.

    Selain itu, ada juga proyek pembangunan Masjid Syekh Ajlin di Gaza, yang didukung oleh Wakaf Salman ITB. Masjid ini dirancang dengan bentuk unik seperti PS5 dan diharapkan dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi masyarakat Palestina. Pembangunan masjid-masjid ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam mendukung kegiatan keagamaan dan kemanusiaan di Palestina.

    Dewan Masjid Indonesia (DMI) telah membangun masjid semi permanen di Jalur Gaza, Palestina, sebagai upaya membantu pemulihan masyarakat Gaza yang terdampak konflik. Salah satu masjid yang telah selesai dibangun adalah Masjid di kawasan Shuja’iyya, Gaza Utara, yang berdiri di atas reruntuhan bekas Masjid Bseiso yang hancur akibat serangan Israel.

    DMI berencana membangun 100 masjid semi permanen di Gaza, dan telah menyelesaikan pembangunan masjid kedua di Jalur Gaza. Masjid-masjid ini diharapkan menjadi pusat kegiatan keagamaan dan sosial bagi warga setempat, serta simbol keteguhan dan semangat warga Gaza dalam menghadapi konflik

    Pembukaan UUD 1945 sendiri tertulis bahwa segala bentuk penjajahan harus dihapuskan diatas dunia, demi keadilan sosial dan perdamaian dunia. Bahwa kemerdekaan itu sendiri adalah hak segala bangsa. Amanat kontitusi tersebut dengan jelas tertulis dan harus dijadikan pedoman setiap pemimpin kedepan, namun dalam kontek menciptakan perdamian dan keadilan sosial, harus dimulai dari kondisi masyarakat Indonesia terlebih dahulu , dimana kemerdekaan yang sejati harus benar benar telah tercapai dimana keadilan secara hukum dan keadilan secara ekonomi , kemandirian sebagai bangsa yang merdeka secara utuh hingga bangsa ini sejajar secara strata ekonomi, dan sosial serta kekuatan deplomasi dan militer nya dengan negara negara besar baru bisa melaksanakan isi pembukaan dari UUD 1945 tersebut , untuk menciptakan perdamaian dunia. Tanpa hal tersebut hanya retorika dimana dunia belum memandang eksistensi kita sebagai bangsa yang besar dan disegani

    Kita harus ambil pelajaran berharga dari kasus Iran, dimana puluhan tahun di Embargo Amerika Serikat dan sekutunya, tanpa ada IMF, Bank Dunia, Bank pembangunan Asia, Tiada WHO, dan dengan begitu justru tidak ada covid dan tidak harus melakukan vaksinasi terhadap rakyat nya. Dengan kondisi dikucilkan secara ekonomi, iran bangkit tumbuh dengan kekuatan sendiri, yang secara mandiri mengejutkan dunia, mampu menciptakan rudal jarak jauh 2000 Km, dengan kecepatan 15 kali kecepatan suara, yang mampu menjebol Iron Dom tercanggih milik Israel. Kekuatan dari dalam sendiri secara mandiri baik dalam bidang ekonomi, maupun sosial dan militer nya iran tetap teguh mempertahan kan budayanya, yang jadi pembelajaran kita Indonesia, mengapa kita tidak mampu dan meniru semangat Jihat negara seperti Iran ? Apa kita bangsa yang lemah, atau para pemimpin yang lemah? Lawan akan takut oleh sekelompok domba dipimpin seekor harimau, dari pada sekelompok harimau tapi dipimpin oleh Domba. Belajarlah dari sejarah dan jangan sekali kali melupakan sejarah.

     

    ———————–

    Penulis adalah praktisi hukum pemerhati sosial budaya dan sejarah

  • Rencana Serangan Darat Amerika – Israel dan Perlawanan IRGC di Iran

    Rencana Serangan Darat Amerika – Israel dan Perlawanan IRGC di Iran

     

    Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Rencana Amerika  Serikat dan Israel melakukan serangan darat kewilayah Iran, bisa menjadi kuburan massal bagi kedua belah pihak dan besar kemungkinan akan terjadi perang puputan (perang hingga akhir menang atau mati). Korp Pasukan Garda Revolusi Iran (IGRC) dikenal sebagai pasukan elitnya Iran yang mempunyai jiwa militan dan berani mati melalui misi bunuh diri. Sedangkan Amerika serikat tentaranya tidak lagi punya jiwa militan sebanding dengan IRGC karena beban mental sebagai pasukan yang hanya menjalankan perintah, keduanya mempunyai posisi yang berbeda dimana IRGC menganggap ini adalah perang membela tanah air, membela keyakinan dan membalas dendam atas kenatian pemimpinnya yang dianggap sebagai bayangan Tuhan di bumi.

    Menurut wartawan senior  Timur Tengah, Tarun Missa pasukan IGRC akan nengambil langkah langkah ekstream untuk ajang pembalasan atas kematian pemimpin tertingginya yang tewas pada tanggal 28 februari 2026 yang lalu oleh serangan rudal Amerika Serikat dan Israel. Bahkan akan jadi ajang pertempuran hingga rata dengan tanah kata Tarun Misa. Idiologi pasukan IRGC adalah pemimpin tertinggi merupakan bayangan Tuhan di Bumi, maka dengan terbunuhnya Ali Khamenei bagi IRGC merupakan penodaan agama yang Atokaliptis yang harus dibayar dengan nyawa, dimana menurut Tarun Missa, pasukan elit IRGC tidak lagi mempertimbangkan Geo Politik kawasan (regional)  demi melindungi  ekonomi dan keamanan perlindungan sipil lagi, dimana semua itu akan dikesampingkan karena penodaan keyakinan tadi.

    Ketika memenggal pemimpin tertinggi maka jaringan militer yang terdesentralisasi dan bersenjata lengkap  tidak akan menyerah justru akan tumbuh semangat dan lebih mengkawatirkan persenjataan rudal dan dron tekhnologi terbaru yang jumlahnya ribuan akan jatuh pada para komandan garda revolusi yang berhaluan keras setelah tiadanya Imam Ali Khamenei, dimana Imam Ali khamenei terkenal dengan fatwa nya mengharamkan senjata nuklir.  Tanpa khamenei maka para komandan garis keras tidak ada beban alias nothing to lose, untuk mengembangkan senjata nuklir dimana Iran masih menyimpan uranium 440 kg dibawah tanah terdalam.

    Meminjam dari Keterangan Faisal Asehaf, wartawan senior Timur Tengah di tanah air, tentang usulan serangan presisi rudal jarak jauh kepada Ali Khamenei oleh Pentagon sebulan sebelum serangan, menunjukkan bahwa ada kemungkinan besar bahwa Amerika Serikat telah merencanakan serangan terhadap Iran jauh hari sebelumnya.

    Jika benar, maka ini menunjukkan bahwa Amerika Serikat telah melanggar kedaulatan Iran dan memulai konflik yang bisa berlarut-larut. Serangan presisi rudal jarak jauh juga bisa memicu eskalasi konflik dan memperburuk situasi di Timur Tengah dan bisnis perang untuk menguasai sumber daya alam dan menumbangkan rezim pemerintah yang dianggap bertentangan masih dijalankan hingga saat ini, setelah Venezuela presiden Nicolas Maduro di tawan sebagai penghasil minyak terbesar saat ini.

    Skenario Melakukan pembunuhan terhadap pemimpin rezim tertinggi tersebut ternyata benar dilakukan presiden Donald Trump, dan banyak pengamat menilai sebagai keputusan yang salah dan fatal, karena Pemerintahan iran saat ini,  menganut paham feodal dimana anak dan keturunannya pemimpin tertinggi akan ditunjuk dan diangkat dengan dendam yang membara, bukan lagi menyangkut harga diri sebuah bangsa tapi sudah mengusik keyakinan keimanan perang jihad dalam penduduk iran itu sendiri.

    Serangan darat ke Iran oleh Amerika Serikat dan Israel bisa menjadi kesalahan fatal yang mengulang sejarah Perang Vietnam. Beberapa alasan yang mendukung hal ini adalah:

     – Medan perang yang sulit: Iran memiliki medan perang yang sulit, dengan pegunungan, gurun, dan kota-kota yang padat, membuatnya sulit bagi pasukan Amerika Serikat dan Israel untuk beroperasi.

    – Perlawanan rakyat: Rakyat Iran telah menunjukkan kesediaan untuk melawan invasi asing, dan serangan darat bisa memicu perlawanan rakyat yang kuat.

    – Keterlibatan regional: Serangan darat ke Iran bisa memicu keterlibatan regional, dengan negara-negara seperti Rusia, Cina, dan Suriah mungkin akan terlibat dalam konflik.

    – Biaya yang tinggi: Serangan darat ke Iran akan memerlukan biaya yang sangat tinggi, baik dalam hal keuangan maupun nyawa manusia.

    – Tidak ada solusi jelas: Serangan darat ke Iran tidak akan menyelesaikan masalah utama, yaitu program nuklir Iran, dan bisa malah memperburuk situasi.

     

    Perang Vietnam menunjukkan bahwa serangan darat tidak selalu menjadi solusi terbaik, dan bisa malah memperburuk situasi. Iran memiliki sejarah yang sangat kaya dan panjang, dengan akar yang berasal dari 5000 tahun lalu. Berikut adalah garis besar sejarah Iran:

    – Persia Kuno (550 SM – 330 SM): Dinasti Achaemenid, yang didirikan oleh Cyrus Agung, adalah salah satu imperium terbesar dalam sejarah, membentang dari India hingga Yunani.

    – Persia Hellenistik (330 SM – 651 M): Setelah penaklukan Alexander Agung, Persia menjadi bagian dari imperium Hellenistik, dengan dinasti Seleucid dan Parthian.

    – Persia Sassanid (224 – 651 M): Dinasti Sassanid, yang didirikan oleh Ardashir I, adalah salah satu imperium terbesar dalam sejarah Persia, dengan agama Zoroaster sebagai agama resmi.

    – Penaklukan Arab (651 M): Penaklukan Arab membawa Islam ke Persia, dan bahasa Arab menjadi bahasa resmi.

    – Dinasti Safavid (1501 – 1736 M): Dinasti Safavid, yang didirikan oleh Shah Ismail I, adalah salah satu dinasti paling berpengaruh dalam sejarah Iran, dengan agama Syiah sebagai agama resmi.

    – Dinasti Qajar (1789 – 1925 M): Dinasti Qajar, yang didirikan oleh Agha Mohammad Khan, adalah dinasti terakhir sebelum Revolusi Iran.

    – Revolusi Iran (1979 M): Revolusi Iran, yang dipimpin oleh Ayatollah Khomeini, menggantikan monarki dengan pemerintahan Islam.

     

    Iran memiliki warisan budaya yang kaya, dengan kontribusi dalam bidang sastra, seni, arsitektur, dan ilmu pengetahuan.dan bukan bangsa yang mudah untuk ditahluk kan .

    Melihat setuasi ini mungkin ada benarnya pendapat Prof. Jian Xueqin dari Tiongkok bahwa Amerika akan mengalami kekalahan dan era menjadi negara Adi Daya mulai melemah  dan tidak sendiri lagi dimana dominasi sudah terporos menjadi dua poros yakni China dan Rusia sebagai rival dari Amerika Serikat baik secara ekonomi, politik global maupun kekuatan militernya.

    Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) adalah cabang multi-dinas utama Angkatan Bersenjata Iran, yang didirikan pada 5 Mei 1979 oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini setelah Revolusi Islam. IRGC bertanggung jawab untuk menjaga Revolusi Islam dan pencapaiannya, serta melindungi kedaulatan dan integritas teritorial Iran.

    Semboyan IRGC:

    Semboyan IRGC adalah “Dan bersiaplah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kau miliki” (Qur’an, Al-Anfal: 60) ¹.

     

    Peran IRGC:

     

    – Menjaga Revolusi Islam dan pencapaiannya

    – Melindungi kedaulatan dan integritas teritorial Iran

    – Menghadapi ancaman internal dan eksternal

    – Mendukung kelompok-kelompok militan yang sejalan dengan kepentingan Iran

    – Berperan dalam politik dan ekonomi Iran

     

    IRGC memiliki beberapa cabang, termasuk:

    – Angkatan Darat

    – Angkatan Udara

    – Angkatan Laut

    – Pasukan Quds (pasukan khusus)

    – Basij (milisi sukarelawan)

     

    IRGC telah terlibat dalam beberapa konflik, termasuk Perang Iran-Irak, Perang Saudara Lebanon, dan Perang Saudara Suriah.

    Sejarah telah tertulis bahwa sahabat nabi Muhammad saat mempertahankan kota Madinah yakni Salman al-Farisi, salah satu sahabat Nabi Muhammad, memang seorang ahli strategi militer yang berasal dari Persia. Ia memainkan peran penting dalam Perang Khandaq (Parit), di mana ia menyarankan Nabi Muhammad untuk menggali parit sebagai pertahanan kota Madinah.

    Kisah Salman al-Farisi menunjukkan bahwa bangsa Persia memiliki kemampuan militer dan strategi yang kuat, bahkan di masa lalu. Dan, seperti yang kamu katakan, tidak ada sejarah baik di Alkitab maupun Al-Quran yang menunjukkan bahwa bangsa Persia bisa dikalahkan dengan mudah.

    Bangsa Persia memiliki sejarah panjang dan kaya, dengan imperium yang kuat dan pengaruh yang luas di Timur Tengah dan Asia. Mereka memiliki kemampuan militer, budaya, dan ilmu pengetahuan yang maju, sehingga tidak heran jika mereka menjadi salah satu kekuatan besar di dunia.

    Yang bisa di pelajari dari kisah Salman  Alfarizi adalah bangsa Iran yang dahulu disebut Persia adalah bangsa tidak terkalahkan. Dimana saat ini Iran telah beradaptasi dengan tekhnologi termodern dan mengembangkan perang Proxi serta sistem peperangan Asimetris yang menggucang Dunia, dengan menutup selat Hormus dimana 20 persen perdagangan minyak lewat selat tersebut, belum lagi ada kemungkinan memotong jalur serat optik di bawah laut selat Hormus yang bisa melumpuhkan sistem perbankan dunia, mengalami shoot down mati total, yang bisa melumpuhkan aliran dana dan perekonomian dunia.

    Singkatnya presiden Amerika, Donald Trump serta Israel melakukan kesalahan fatal dan salah hitung , apabila mengirim tentara baik dari divisi komandonya maupun dari rangersnya akan mengalami nasib yang sama dengan saat Amerika menduduki Vietnam tahun 1970-an, dan sejarah akan berulang .

     

    ———————–

    Penulis adalah pemerhati masalah politik dan sosial serta sejarah dunia

  • Keluhuran dalam Payudara Nai Nai

    Keluhuran dalam Payudara Nai Nai

    Oleh Yoseph Yapi Taum

     

    Ketegangan antara tubuh sebagai realitas biologis dan tubuh sebagai konstruksi naratif menjadi medan pertempuran utama dalam sastra Indonesia kontemporer, terutama sejak fajar Reformasi 1998. Di tengah hiruk-pikuk perubahan sosial ini, muncul sebuah fenomena yang oleh para kritikus sering disebut sebagai “Sastra Wangi”, sebuah label yang meskipun problematis, menandai keberanian penulis perempuan untuk mengeksplorasi seksualitas, trauma, dan eksistensi dengan cara yang sangat jujur dan sering kali mengejutkan. Di barisan terdepan gerakan ini berdiri Djenar Maesa Ayu, seorang seniman multidimensi yang karyanya tidak hanya terdengar, tetapi juga terasa, tercium, dan terkadang menyakitkan bagi moralitas konvensional. Salah satu narasinya yang paling tajam dalam membedah alienasi fisik dan kekuasaan bahasa adalah cerpen berjudul Payudara Nai Nai, yang termuat dalam kumpulan cerpen fenomenal Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu).

    Esai ini bermaksud mengkaji cerpen tersebut melalui lensa teori keluhuran (The Sublime) dari Longinus. Perspektif ini dipilih karena keluhuran dalam pandangan klasik Longinus bukan sekadar keindahan yang menyenangkan mata, melainkan sebuah kekuatan ekspresif yang mampu membawa pembaca keluar dari dirinya sendiri menuju tahap ekstase. Tulisan ini akan perlihatkan bagaimana Djenar menggunakan subjek yang dianggap “marginal” atau bahkan “nista” untuk mencapai sebuah bentuk keagungan sastrawi yang melampaui estetika permukaan.

     

    Percikan Negativitas dan Transformasi Jiwa

     Langkah pertama dalam memahami keluhuran dalam karya Djenar adalah dengan menyulut api pemahaman terhadap konteks kepengarangannya. Djenar Maesa Ayu lahir dari rahim seni yang kental; putri dari sutradara legendaris Sjumandjaja dan aktris Tutie Kirana. Latar belakang ini memberinya legitimasi budaya sekaligus keberanian untuk mendobrak tabu. Namun, kekuatan sesungguhnya dari tulisan Djenar berasal dari proses belajarnya yang intensif kepada tiga maestro sastra Indonesia: Budi Darma, Seno Gumira Ajidarma, dan Sutardji Calzoum Bachri. Ketiganya mewariskan elemen penting dalam gaya penulisan Djenar: absurditas yang getir, kejujuran jurnalistik yang tajam, dan kredibilitas kreatif yang meledak-ledak.

    Dalam cerpen Payudara Nai Nai, api kontroversi dinyalakan melalui tema yang sangat sensitif bagi banyak perempuan: standar kecantikan fisik yang dinialai dari ukuran payudara. Nai Nai, tokoh utama dalam cerpen ini, adalah seorang gadis yang mengalami alienasi ganda. Secara etimologis, namanya “Nai Nai” berarti payudara dalam bahasa Mandarin, namun secara fisik, ia justru memiliki payudara yang rata. Kontradiksi antara nama dan raga ini menjadi titik awal kegelisahan batin yang mendalam. Di sekolah swasta ternama tempat ia belajar, Nai Nai harus berhadapan dengan teman-temannya yang berasal dari kalangan menengah ke atas, sementara ayahnya hanyalah seorang pembersih AC dan penjual buku stensilan (pulp pornografi) di Pecenongan.

    Longinus berpendapat bahwa keluhuran sejati sering kali muncul dari objek-objek yang kacau, tidak indah, atau bahkan yang “meneror” kesadaran kita. Dalam konteks ini, kemiskinan ekonomi Nai Nai dan rasa rendah diri fisiknya bukanlah penghalang bagi keluhuran, melainkan katalisatornya. Strategi tekstual Djenar dalam menampilkan tokoh-tokoh yang sering dipandang sebagai “kaum marginal” atau “orang-orang kalah”, justru bertujuan untuk mengangkat pembaca ke tahap sublimasi. Melalui penderitaan Nai Nai, pembaca tidak diajak untuk melihat bagaimana sebuah jiwa yang terhimpit berusaha mencari jalan keluar menuju kemenangan.

    Karya Djenar yang sering dianggap vulgar sebenarnya merupakan sebuah representasi konsep nalar yang tidak pasti, yang menerobos estetika permukaan menuju alam pikiran yang lebih dalam. Dengan menampilkan realitas yang timpang—antara kemewahan sekolah elit dan dunia stensilan yang kumuh—Djenar memprovokasi pembaca untuk keluar dari rasa nyaman mereka. Inilah “api” yang membakar sekat-sekat moralitas palsu untuk menyingkap kebenaran yang lebih luhur tentang perjuangan identitas perempuan.

     

    Keluhuran pada Narasi Nai Nai

    Membangun jembatan antara teori Longinus dan teks Payudara Nai Nai memerlukan pemeriksaan yang teliti terhadap lima prinsip sumber keluhuran Longinus, yakni: daya pemikiran yang agung, emosi yang kuat, retorika yang unggul, pilihan kata yang istimewa, dan struktur komposisi yang unik. Setiap elemen ini berfungsi sebagai pilar yang menopang transendensi narasi Nai Nai dari sekadar cerita tentang minderitas menjadi sebuah epik tentang kekuasaan bahasa.

    1. Daya Pemikiran yang Agung: Melampaui Standar Anatomi

    Prinsip pertama, daya pemikiran yang agung (grandeur of thoughts), didefinisikan sebagai “gaung kebesaran jiwa”. Dalam cerpen ini, keagungan pikiran Djenar termanifestasi dalam cara Nai Nai mengatasi alienasi sosialnya. Alih-alih tenggelam dalam kebencian terhadap tubuhnya yang “cacat” menurut standar sosial, Nai Nai menemukan senjata baru di dalam tumpukan buku stensilan ayahnya. Pemikiran agung di sini bukanlah tentang kesucian moral, melainkan tentang kemampuan jiwa untuk menciptakan realitas alternatif yang lebih kuat daripada kenyataan pahit.

    Nai Nai menyadari bahwa payudara besar hanyalah modal fisik yang terbatas, namun imajinasi dan kemampuan bercerita adalah modal simbolik yang tak terbatas. Dengan membaca buku-buku porno tersebut, ia tidak hanya mengonsumsi konten seksual, tetapi juga mempelajari struktur gairah dan bagaimana kata-kata dapat memanipulasi persepsi orang lain. Keluhuran ini muncul ketika Nai Nai menolak menjadi korban perundungan Yongki dan kawan-kawannya, lalu bertransformasi menjadi pusat gravitasi di kantin sekolah melalui cerita-ceritanya yang mencengangkan.

    2. Emosi yang Kuat dan Gairah yang Mulia: Api Dendam dan Cinta

    Longinus menekankan bahwa karya yang luhur harus berasal dari passion atau hasrat yang sangat kuat, bukan emosi palsu untuk mencari perhatian sementara. Dalam Payudara Nai Nai, gairah yang mulia ini hadir dalam bentuk keinginan untuk dicintai dan diakui. Rasa sakit akibat ejekan “Nai Nai Kecil” dan kerinduan yang tak terucapkan terhadap sosok ibu yang meninggal karena kemiskinan, menyatu menjadi energi penggerak yang dahsyat.

    Emosi ini meluap-luap dalam setiap paragraf yang menggambarkan bagaimana Nai Nai melahap buku-buku stensilan tersebut. Gairah ini bukan tentang nafsu seksual picisan, melainkan tentang gairah untuk bertahan hidup (will to power) di tengah lingkungan yang memuakkan. Ketika Nai Nai bercerita, ia mencapai tahap “ekstase”—sebuah momen keluar dari realitas di mana ia tidak lagi merasakan tubuhnya yang rata, melainkan merasakan sensasi kemenangan karena telah berhasil “menguasai” teman-teman laki-lakinya melalui narasi.

    3. Retorika dan Diksi: Sublimasi Bahasa “Sampah”

    Retorika yang unggul dan pilihan kata yang istimewa sering kali menjadi titik kritik bagi pembaca yang menganggap karya Djenar terlalu vulgar. Namun, dalam kacamata Longinus, penggunaan kata-kata yang meledak-ledak dan gaya bahasa yang melanggar aturan konvensional justru merupakan cara untuk mencapai “hypos” atau keunggulan. Djenar tidak menggunakan bahasa yang halus untuk membicarakan payudara; ia menggunakan diksi yang jujur, tajam, dan tanpa kompromi.

    Pilihan kata seperti “stensilan,” “vagina,” dan “sperma” diintegrasikan ke dalam narasi dengan cara yang tidak banal. Kata-kata tersebut tidak berfungsi sebagai pornografi, melainkan sebagai alat retoris untuk mengintensifkan penderitaan dan kemenangan Nai Nai. Strategi tekstual ini menghubungkan alam luhur dengan emosi-emosi yang terinternalisasi, memungkinkan penulis untuk melihat yang luhur melalui kontradiksi-kontradiksi.

    4.   Komposisi yang Unik

    Struktur komposisi cerpen ini diatur dengan kreativitas yang tinggi untuk memastikan efek keluhuran sampai ke jiwa pembaca. Djenar membangun alur yang sangat kontras: rumah Nai Nai yang penuh dengan bau buku stensilan ayahnya, dan sekolah elit yang penuh dengan bau parfum mahal dan standar kecantikan yang sempit. Keharmonisan komposisi ini tidak hanya didengar oleh telinga tetapi juga oleh jiwa, karena setiap bagian cerita memberikan kontribusi pada puncak emosional di akhir kisah.

    Struktur komposisi yang unik terlihat pada saat Nai Nai menyadari bahwa dengan menceritakan kembali apa yang dibacanya, ia “bisa mengencani dua laki-laki dalam sehari” dalam imajinasinya, dan yang lebih penting, ia mendapatkan perhatian yang selama ini dirampas darinya. Komposisi ini menutup celah antara realitas lahiriah yang nista dan realitas batiniah yang agung, membawa pembaca pada kesimpulan bahwa keluhuran sejati adalah hasil dari keberanian mengekspresikan kebenaran, seburuk apa pun bentuknya.

     

    Estetika Perlawanan

    Berdasarkan analisis dengan menggunakan teori keluhuran Longinus, dapat ditegaskan bahwa cerpen Payudara Nai Nai karya Djenar Maesa Ayu tidak hanya sekadar eksplorasi seksualitas yang kontroversial, melainkan sebuah pencapaian sastrawi yang luhur. Keluhuran dalam karya ini tidak ditemukan dalam kemuliaan moral tokohnya, melainkan dalam keberanian pengarang untuk mengangkat subjek yang marginal, terluka, dan teralienasi ke panggung estetika yang mengguncang jiwa.

    Djenar telah berhasil melakukan transformasi—sebuah syarat mutlak bagi sastra menurut Longinus (nothing is poetry unless it transports). Ia mentransformasi trauma payudara yang rata menjadi kekuatan naratif yang dominan. Ia mentransformasi buku stensilan yang dianggap sampah moral menjadi instrumen pembebasan jiwa bagi seorang gadis yang tertindas. Proses ini memberikan efek ekstase kepada pembaca, sebuah momen keluar dari kenyataan harian untuk menyaksikan kemenangan jiwa manusia atas keterbatasan fisiknya.

    Melalui cerpen ini, Djenar Maesa Ayu memberikan “teguran” terhadap masyarakat yang sedang sakit, masyarakat yang hanya menghargai manusia berdasarkan permukaan dan standar materialistis. Dengan berdiri di pihak Nai Nai yang “termarginalkan,” Djenar justru menunjukkan martabat kemanusiaan yang lebih tinggi daripada para perundung yang berpendidikan namun kerdil jiwanya. Itulah sebabnya, Payudara Nai Nai layak dipandang sebagai karya yang luhur. Ia memiliki kekuatan untuk mendorong dan mengangkat pembaca ke tahap sublimasi, sebuah tahap di mana kita menyadari bahwa keindahan sejati adalah kejujuran yang paling dalam tentang diri kita sendiri. Pada akhirnya, keluhuran dalam sastra tidak berkaitan dengan seberapa suci subjeknya, melainkan tentang seberapa besar kapasitasnya untuk membebaskan jiwa dari belenggu kepalsuan dunia.

    ————————

     

    Yoseph Yapi Taum, Dosen Fakultas Sastra, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.