Blog

  • Membaca Timor Timur dalam Ingatan dan Kuasa Melalui buku “Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998”

    Membaca Timor Timur dalam Ingatan dan Kuasa Melalui buku “Mereka Hilang Tak Kembali: Sejarah Kekerasan Orde Baru 1966-1998”

    Oleh  Bartolomeus Caesar Seto Bramantyo, Mahasiswa Pendidikan Sejarah Universitas Sanata Dharna – Yogyakarta

     

    Sejarah tidak selalu hadir sebagai kisah yang utuh dan jujur. Ia sering kali disusun oleh mereka yang berkuasa, sementara suara korban selalu tersisih di pinggiran. Dalam sejarah panjang Timor Timur, sejarah kekerasan bukan hanya tentang rangkaian peristiwa, tetapi juga tentang bagaimana ingatan bertahan sebagai bentuk energi sosial serta kekuatan kolektif masyarakat untuk melawan lupa dan mempertahankan kebenaran. Buku Mereka Hilang Tak Kembali menjadi salah satu medium penting yang menghadirkan kembali suara-suara yang selama ini dibungkam.

    Perjalanan sejarah Timor Timur memasuki babak baru ketika Portugis mulai melepaskan koloninya setelah Revolusi Anyelir 1974. Kekosongan kekuasaan membuka ruang bagi munculnya kekuatan politik lokal, terutama dari pihak Fretilin yang mengusung kemerdekaan bagi Timor Timur. Pada titik ini, energi sosial masyarakat mulai tampak dalam bentuk mobilisasi politik dan kesadaran kolektif untuk menentukan nasib sendiri. Namun, dinamika tersebut tidak berlangsung lama tanpa intervensi eksternal.

    Pada tahun 1975, Indonesia di bawah rezim Orde Baru melakukan invasi militer ke Timor Timur melalui Operasi Seroja. Integrasi yang kemudian dipaksakan sebagai provinsi ke-27 Indonesia sejak awal menyisakan persoalan legitimasi. Alih-alih menciptakan stabilitas, negara justru menghadirkan kekerasan sebagai instrumen utama kontrol.

    Dalam kerangka ini, kekerasan di Timor Timur dapat dipahami sebagai bentuk state violence (kekerasan negara), yakni penggunaan aparat negara untuk menekan masyarakat sipil. Sepanjang akhir 1970-an hingga 1980-an, berbagai operasi militer dilakukan untuk menghancurkan perlawanan, termasuk operasi pengepungan dan pemindahan paksa penduduk. Praktik-praktik seperti penangkapan tanpa proses hukum, penyiksaan, dan pembunuhan menjadi bagian dari keseharian. Banyak korban tidak hanya kehilangan nyawa, tetapi juga “dihilangkan” tanpa jejak, yang menjadikan sebuah bentuk kekerasan yang sekaligus menghapus keberadaan mereka dari sejarah resmi.

    Namun demikian, energi sosial masyarakat tidak pernah sepenuhnya padam. Perlawanan terus berlangsung, baik melalui gerilya bersenjata oleh kelompok pro-kemerdekaan, maupun melalui jaringan sipil dan solidaritas internasional. Energi sosial ini tidak hanya berupa tindakan fisik, tetapi juga daya tahan ingatan, sebuah kemampuan untuk terus mengingat dan menceritakan kembali kekerasan yang dialami.

    Salah satu peristiwa penting yang memperlihatkan wajah kekerasan negara secara terbuka adalah tragedi Santa Cruz pada 1991. Peristiwa ini menjadi titik balik karena mendapat perhatian internasional luas. Dalam buku Mereka Hilang Tak Kembali, kesaksian korban menggambarkan situasi tersebut secara langsung:

    “Kami memasuki pekuburan, berjalan memutar ke jalan kecil yang berlumpur, menuju kuburan Sebastiao [Rangel Gomez). Tiba-tiba saya mendengar komandan tentara Indonesia berteriak ke arah kami dengan menggunakan pengeras suara. ‘Berhenti,’ teriaknya. ‘Kalau tidak, kami akan menembak kalian.’ Suasana menjadi kacau. Kami saling menguatkan dan bergandengan erat. Beberapa serdadu mulai menembak. Selama hampir 15 menit mereka tak berhenti menembak.”

    Kesaksian ini menunjukkan bahwa kekerasan bukanlah peristiwa insidental, melainkan bagian dari pola sistematis. Negara menggunakan kekuatan bersenjata untuk menciptakan ketakutan sekaligus membungkam ekspresi politik masyarakat. Namun, justru dari peristiwa inilah solidaritas internasional semakin menguat, memperlihatkan bagaimana energi sosial tidak hanya berkembang di tingkat lokal, tetapi juga meluas secara global.

    Memasuki dekade 1990-an, tekanan terhadap Indonesia semakin besar. Krisis ekonomi dan politik yang melanda pada akhir Orde Baru membuka peluang bagi perubahan. Momentum ini mencapai puncaknya pada referendum 1999 yang difasilitasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa. Referendum ini menjadi titik krusial dalam sejarah Timor Timur, karena untuk pertama kalinya masyarakat diberi kesempatan menentukan masa depannya secara langsung.

    Namun, proses tersebut kembali diwarnai oleh kekerasan. Milisi pro-integrasi yang didukung oleh aparat melakukan berbagai aksi brutal, mulai dari pembakaran hingga pemaksaan pengungsian massal. Kekerasan ini menunjukkan bahwa negara tetap berusaha mempertahankan kontrol melalui cara-cara represif. Meski demikian, hasil referendum tetap menunjukkan kemenangan bagi kelompok pro-kemerdekaan. Ini menandai bahwa energi sosial yang terakumulasi selama puluhan tahun akhirnya mencapai titik keberhasilan.

    Melalui perspektif New Historicism yang dikembangkan oleh Stephen Greenblatt, buku Mereka Hilang Tak Kembali dapat dipahami sebagai teks yang tidak netral, melainkan terlibat dalam relasi kuasa. Buku ini menghadirkan sejarah dari sudut pandang korban, sekaligus membongkar narasi resmi negara yang selama Orde Baru mendominasi. Dengan demikian, teks ini bukan hanya sumber informasi, tetapi juga bentuk perlawanan terhadap hegemoni sejarah.

    Dalam konteks ini, konsep collective memory (ingatan kolektif) menjadi sangat penting. Ingatan tentang kekerasan di Timor Timur tidak hilang begitu saja, meskipun negara berupaya menghapusnya. Ia terus hidup dalam kesaksian, dalam cerita keluarga, dan dalam karya-karya seperti buku ini. Ingatan kolektif tersebut menjadi bentuk energi sosial yang menjaga agar sejarah tidak sepenuhnya dikuasai oleh narasi resmi.

    Pada akhirnya, sejarah Timor Timur adalah kisah tentang pertarungan antara kekerasan dan ingatan, antara kekuasaan dan energi sosial masyarakat. Negara mungkin memiliki kemampuan untuk menekan dan menghapus, tetapi masyarakat memiliki daya untuk mengingat dan melawan.

    Selama masih ada yang hilang dan tak pernah kembali, energi sosial itu akan terus hidup dan menjadi pengingat bahwa sejarah bukan hanya milik penguasa, tetapi juga milik mereka yang berjuang untuk tidak dilupakan, karena melupakan bukanlah kemewahan yang kita miliki.

     

    Referensi:

    Aristyanu Bagus, A., Rimbawana, A. S., Hermawan, D., & Wasista, P. (2025). Mereka hilang tak kembali. EA Books.

     

     

  • Ketika Sejarah Tidak Hanya Diketahui Tetapi Juga Dirasakan

    Ketika Sejarah Tidak Hanya Diketahui Tetapi Juga Dirasakan

     

    Oleh Louis Wigung Arso Prasetyo, Mahasiswa Pendidikan Sejarah, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Sering kali ketika kita belajar sejarah di sekolah, kita diminta menghafal banyak hal. Ada tahun, nama tokoh, dan berbagai peristiwa penting. Semua itu biasanya ditulis rapi di buku pelajaran. Namun sebenarnya sejarah tidak hanya soal mengetahui apa yang terjadi di masa lalu. Sejarah juga tentang memahami bagaimana peristiwa itu dirasakan oleh orang-orang yang hidup pada masa tersebut.

    Dalam kajian sastra dan budaya, ada sebuah gagasan yang disebut teori energi sosial yang diperkenalkan oleh Stephen Greenblatt. Teori ini menjelaskan bahwa karya seni seperti film, novel, atau puisi tidak muncul begitu saja dari imajinasi seseorang. Karya tersebut lahir dari berbagai perasaan, ketegangan, harapan, dan pengalaman yang ada di masyarakat. Semua perasaan itu seperti energi yang beredar di dalam kehidupan sosial. Karya seni kemudian menangkap energi tersebut, mengolahnya menjadi cerita, dan menyebarkannya kembali kepada masyarakat.

    Karena itu ketika kita menonton film atau membaca novel tentang sejarah, sebenarnya kita tidak hanya melihat cerita. Kita juga sedang melihat bagaimana perasaan masyarakat pada masa itu. Dengan cara seperti ini, sejarah menjadi lebih hidup dan lebih mudah dipahami.

    Dalam memahami sejarah, biasanya ada dua cara yang sering digunakan. Cara pertama adalah melalui pendekatan faktual, yaitu melihat sejarah berdasarkan fakta yang benar-benar terjadi. Cara ini sering ditemukan dalam dokumen resmi, arsip, atau film dokumenter. Cara kedua adalah pendekatan naratif, yaitu melalui cerita seperti film drama atau novel. Pendekatan ini tidak selalu menampilkan fakta secara langsung, tetapi mencoba menggambarkan pengalaman manusia yang hidup di dalam peristiwa tersebut.

    Salah satu contoh yang bisa dilihat adalah konflik Aceh yang terjadi antara pemerintah Indonesia dan Gerakan Aceh Merdeka (GAM). Konflik ini berlangsung cukup lama, dimulai pada tahun 1976 dan baru berakhir setelah adanya Perjanjian Helsinki pada tahun 2005. Selama konflik berlangsung, banyak masyarakat sipil yang mengalami dampaknya. Mereka hidup dalam rasa takut dan ketidakpastian karena situasi yang tidak aman.

    Untuk memahami konflik tersebut, kita bisa melihat dua film yang berbeda cara penyampaiannya, yaitu film dokumenter The Black Road dan film drama Night Bus. Film dokumenter The Black Road menunjukkan kondisi nyata masyarakat Aceh pada masa konflik. Penonton dapat melihat bagaimana kehidupan masyarakat berubah karena situasi yang penuh ketegangan. Jalanan menjadi sepi, tentara sering melakukan patroli, dan masyarakat hidup dengan rasa khawatir setiap hari. Melalui dokumenter seperti ini, kita bisa melihat fakta sejarah secara langsung. Hal ini penting agar peristiwa tersebut tidak dilupakan oleh masyarakat.

    Namun film dokumenter biasanya lebih fokus pada fakta sehingga terkadang terasa agak kaku. Penonton mengetahui apa yang terjadi, tetapi belum tentu benar-benar merasakan bagaimana perasaan orang-orang yang mengalaminya. Berbeda dengan itu, film Night Bus menggunakan pendekatan cerita. Film ini menggambarkan perjalanan sebuah bus yang melewati daerah konflik pada malam hari. Sepanjang perjalanan, para penumpang merasakan ketegangan dan ketakutan. Meskipun film ini bersifat fiksi, suasana yang ditampilkan membuat penonton bisa membayangkan bagaimana rasanya hidup di tengah konflik.

    Di sinilah terlihat hubungan dengan teori energi sosial. Film seperti Night Bus menangkap rasa takut, ketegangan, dan kecemasan yang pernah dirasakan masyarakat Aceh, lalu mengubahnya menjadi sebuah cerita yang dapat dirasakan kembali oleh penonton. Dengan begitu, pengalaman sosial yang dulu terjadi tidak hilang, tetapi terus hidup melalui karya seni.

    Hal yang hampir sama juga bisa ditemukan dalam novel sejarah. Salah satu contohnya adalah novel Pulang karya Leila S. Chudori. Novel ini menceritakan tentang orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri dan tidak bisa kembali ke tanah air setelah peristiwa politik tahun 1965.

    Peristiwa 1965 merupakan salah satu masa yang sangat penting dalam sejarah Indonesia. Pada masa itu terjadi perubahan politik besar yang membuat banyak orang dituduh terlibat dengan kelompok tertentu. Akibatnya, ada orang-orang yang terpaksa hidup di luar negeri dan tidak bisa pulang ke Indonesia selama bertahun-tahun.

    Dalam dokumen resmi pemerintah, peristiwa tersebut biasanya dijelaskan dengan bahasa yang formal dan kaku, misalnya dengan alasan keamanan negara atau stabilitas politik. Namun dokumen seperti itu jarang menjelaskan bagaimana perasaan orang-orang yang terkena dampaknya.

    Berbeda dengan dokumen resmi, novel Pulang menggambarkan kehidupan para eksil dari sudut pandang manusia. Pembaca dapat merasakan bagaimana mereka hidup dengan rasa rindu terhadap Indonesia. Mereka kehilangan keluarga, kehilangan identitas, dan harus menjalani kehidupan baru di negara yang bukan tanah kelahiran mereka.

    Melalui cerita dalam novel tersebut, kita bisa memahami bahwa keputusan politik yang diambil oleh negara bisa memengaruhi kehidupan seseorang dalam waktu yang sangat lama. Inilah contoh bagaimana karya sastra menangkap energi sosial yang berasal dari peristiwa sejarah, lalu menyampaikannya kembali dalam bentuk cerita yang menyentuh perasaan pembaca.

    Dari berbagai contoh tersebut, kita bisa melihat bahwa sejarah memiliki dua sisi. Sisi pertama adalah sisi fakta, yang biasanya ditemukan dalam arsip dan dokumen resmi. Sisi kedua adalah sisi pengalaman manusia, yang sering muncul dalam film, novel, atau karya seni lainnya.

    Kedua sisi ini sebenarnya tidak saling bertentangan. Justru keduanya saling melengkapi. Fakta membantu kita mengetahui apa yang benar-benar terjadi, sementara cerita membantu kita memahami bagaimana peristiwa itu dirasakan oleh manusia. Karena itu, belajar sejarah seharusnya tidak hanya tentang menghafal tanggal atau nama tokoh. Kita juga perlu memahami kehidupan manusia yang ada di dalam peristiwa tersebut. Ketika kita melihat sejarah dari berbagai sudut pandang, masa lalu tidak lagi terasa jauh atau membosankan.

    Dengan menonton film dokumenter, kita bisa melihat kenyataan yang pernah terjadi. Dengan menonton film drama, kita bisa merasakan ketegangan dan emosi yang dialami orang-orang pada masa itu. Dan dengan membaca novel sejarah, kita dapat memahami dampak panjang dari suatu peristiwa terhadap kehidupan manusia.

    Pada akhirnya, sejarah akan terasa lebih bermakna ketika kita tidak hanya mengetahuinya, tetapi juga mampu merasakannya. Ketika pengetahuan dan perasaan berjalan bersama, sejarah tidak lagi sekadar cerita masa lalu, melainkan pengalaman manusia yang tetap hidup hingga sekarang.

  • Djamil Suherman Menjadi Pengkritik Kemunafikan Berkedok Religi

    Djamil Suherman Menjadi Pengkritik Kemunafikan Berkedok Religi

    Oleh Sahira Diniy Khairun Nisa, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Dalam masyarakat Indonesia yang religius, gelar keagamaan kerap menjadi perisai ampuh. Seseorang yang menyandang sebutan “haji” atau rajin terlihat di langgar, otomatis dianggap mulia. Masyarakat enggan mempertanyakan integritas di balik atribut kesalehan tersebut. Justru di balik kopiah putih, bisa jadi tersimpan perbuatan yang bertolak belakang dengan ajaran yang dianut. Celah sosial inilah yang coba dibedah oleh Djamil Suherman lewat cerpen Umi Kalsum. Karya ini bukan sekadar kisah pilu seorang gadis pesantren yang bunuh diri karena tekanan ayahnya. Lebih dari itu, cerpen ini adalah protes halus. Namun, keras terhadap kemunafikan kaum beragama. Dalam teori sastra, konsep Implied Author atau Pengarang Tersirat dari Wayne C. Booth menawarkan pisau bedah untuk memahami cerpen ini. Konsep tersebut membedah dua sisi dalam diri pengarang: Persona Practica, yaitu sosok nyata pengarang dengan seluruh latar biografis dan sosialnya, serta Persona Poetica, yaitu suara ideologis yang muncul dari balik teks. Melalui kerangka ini, terlihat betapa Djamil Suherman, seorang guru agama dan penulis produktif, berani menelanjangi kebobrokan moral tokoh agama lewat karyanya sendiri.

    Persona Practica merujuk pada sosok nyata pengarang di luar teks. Djamil Suherman dikenal sebagai guru agama Islam SD di Surabaya sekaligus pegawai negeri yang religius. Namun sebelum itu, ia pernah menjadi buruh pabrik, tentara, dan pegawai pos, yang menunjukkan bahwa ia berasal dari kelas bawah, bukan dari keluarga haji kaya. Sejak kecil ia akrab dengan dunia pesantren, dan pengalaman itu banyak mewarnai cerpen-cerpennya. Namun, justru disitulah letak paradoksnya, pengetahuan agamanya tidak ia gunakan untuk memperkuat citra kesalehan, melainkan untuk membongkar sisi buruk dari tokoh agama tersebut. Dalam kehidupan sosial, posisinya sebagai guru agama seharusnya menuntutnya menjaga kehormatan institusi keagamaan. Tetapi sebagai sastrawan, ia mengambil jalan yang berseberangan. Cerpen Umi Kalsum lahir bukan dari sudut pandang orang luar yang memusuhi agama, melainkan dari seseorang yang memahami agama secara mendalam hingga mampu mengenali letak kemunafikan yang tersembunyi di dalamnya.

    Persona Poetica dalam cerpen Umi Kalsum menyuarakan kritik keras terhadap kemunafikan tokoh agama. Haji Basuni digambarkan sebagai lintah darat, bakhil seperti Qarun, kejam seperti Fir’aun, jarang sembahyang, dan disebut “haji keluaran Singapura” karena tidak sampai ke tanah suci. Djamil dengan sengaja meruntuhkan pamor haji. Lebih dari itu, Haji Basuni juga digambarkan sebagai tiran rumah tangga yang memukuli anak-anak perempuannya, melarang mereka bergaul, dan ketika Umi hamil, ia justru menawarkan uang kepada siapa saja yang mau menikahi anaknya sendiri. Umi akhirnya bunuh diri. Djamil menolak pembacaan romantis “Umi melihat Tuhan” dan memilih melihat kenyataan pahit “seutas tambang keras telah menjerat leher halus itu”. Umi tidak mati karena takdir, tetapi karena kekerasan sistem yang dikepalai ayahnya sendiri. Dengan kata lain, Djamil hendak menunjukkan bahwa agama yang semestinya menjadi rahmat justru berubah menjadi alat penindas ketika dijalankan oleh orang-orang yang haus kekuasaan dan harta. Pesan ini terasa semakin menusuk karena disampaikan oleh seseorang yang justru hidup bergelut dengan dunia pesantren dan pendidikan agama setiap hari.

     

    Penutup

    Melalui cerpen Umi Kalsum, terlihat jelas bahwa Djamil Suherman sebagai pengarang nyata tidak hadir secara langsung dalam teks. Ia bertransformasi menjadi implied author, yaitu sebuah persona yang berani, kritis, dan tidak takut melawan arus. Transformasi ini menunjukkan bahwa sastra bukan sekadar media untuk bercerita, tetapi juga ruang bagi pengarang untuk menyuarakan protes terhadap ketidakadilan yang mungkin disaksikan di sekitarnya. Dalam hal ini, implied author menjadi jembatan antara realitas sosial dalam keluarga religius dengan kesadaran pembaca akan bahaya kemunafikan berkedok agama. Pada akhirnya, cerpen ini tidak hanya berbicara tentang kematian seorang gadis, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat sering kali lebih sibuk menjaga citra kesalehan daripada melindungi korban kekerasan yang terjadi di depan mata.

     

  • Dikala Revolusi Malnutrisi Akal Sehatnya – Sebuah Cerpen “Surabaya” Karya Idrus

    Dikala Revolusi Malnutrisi Akal Sehatnya – Sebuah Cerpen “Surabaya” Karya Idrus

    Oleh  Yohanes Maria Prayoga Pangestu, Mahasiswa S1 Sejarah Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta; Sejarawan Mentah

     

    Ada kalanya sebuah sastra yang dilahirkan dari rahim revolusi Indonesia tak selalu berjalan searah dengan perjuangan Republik. Surabaya karya Idrus adalah salah satu dari karya sastra itu. Sosok Idrus bukanlah dari kalangan sastrawan medioker. Sebagai seorang sastrawan prosa dan pengamat sejarah pada jamannya, ia berani bersikap kritis terhadap perjuangan bangsa. Apakah dengan mengkritisi sisi kelam bangsanya termasuk hitungan menguliti sanak saudaranya?

    Berbeda dengan narasi sejarah arus utama yang mempoles revolusi tanpa cela, Idrus memberikan penyegaran kepada penulisan prosa Indonesia. Ia menggunakan gaya bahasa cenderung sinis dan sarkas dalam memandang teror dan kekacauan yang timbul dalam suatu peristiwa bersejarah bangsanya sendiri.

    Secara singkat, Surabaya ini seperti sebuah antitesis yang menggugat dominasi historiografi arus utama seputar pertempuran Surabaya. Idrus melakukan sebuah dekonstruksi sejarah yang revolusioner, memindahkan episentrum proklamasi kemerdekaan di Jakarta menuju palagan Surabaya yang bergelimang embun merah dan kertak gigi. Dengan menggunakan pendekatan historis, Idrus menjahit dua peristiwa heroik seperti insiden perobekan bendera di Hotel Yamato dan pidato Bung Tomo sebagai pemantik psikologis yang mendobrak heroisme romantis menjadi realitas getir apa adanya.

    Surabaya karya Idrus dapat dikaji melalui konsep energi sosial dari Stephen Greenblatt. Dalam pemikiran Greenblatt, sastra tidak berhenti pada imajinasi murni seniman, ia hadir sebagai wadah yang menangkap energi di dalam masyarakat. Kemudian dikembalikan kepada masyarakat sehingga terjalin ikatin batin yang terjalin antara seniman, karya, dengan massa.

    Cerpen ini merupakan karya yang berbobot dan dapat menyentuh sisi kemanusiaan dari setiap pembacanya. Energi sosial yang dibawa oleh karya Idrus dapat dipahami melalui dua bahasan utama, yaitu lahirnya mesias baru dan ironi kemanusiaan yang kuat.

     

    1. Lahirnya Mesias Baru

     

    “Orang-orang dalam mabuk kemenangan. Kepercayaan kepada diri sendiri dan cinta tanah air meluap seperti ruap bir. Pemakaian pikiran menjadi berkurang, orang-orang bertindak seperti binatang dan hasilnya memuaskan. Orang tidak banyak percaya lagi kepada Tuhan. Tuhan baru datang dan namanya bermacam-macam bom, mitralyur, dan mortir.”

     

    Kutipan yang diambil dari Surabaya dalam antalogi cerpen Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma karya Idrus (hlm.119) memasukkan sisi teologis para pejuang dalam usaha mempertahankan kemerdekaan. Ketika kedaulatan bangsa diujung tanduk, kekosongan religius diantara pemuda republik segera dijawab oleh kehadiran sosok penyelamat sungguhan.

    Sang mesias enggan lagi datang di meja bundar perundingan, melainkan ia turun dari moncong-moncong panas baja. Bom, mitraliur, dan mortar bukan sekadar Bathara pencabut nyawa, ketiganya menjelma menjadi trinitas yang disembah secara khusuk ditengah ketidakpastian. Perlombaan mengokang senjata membuat seseorang kehilangan akal warasnya sebagai manusia.

    Realita sejarah yang ditampilkan Idrus terasa begitu menyesak, bangsanya memutus jeratan kolonialisme menggunakan kunci linggis yang ditempa oleh kaum kolonialis. Senjata-senjata ciptaan khas Barat didudukkan sebagai juru selamat yang menjanjikan kemerdekaan instan. Namun, bagi Idrus, penebusan ini menuntut harga yang mahal, hati nurani mannusia terdegradasi menjadi insting kebinatangan yang menuntut darah.

    Di bawah bayang-bayang desingnya ledakan mortar, garis linear antara pejuang kemerdekaan republik dan pelaku kriminal menjadi sama kaburnya. Kekaburan itu menyisakan realitas pahit bahwa revolusi disini dimaknai sebagai ritual penyucian diri dengan lumuran darah.

    Ketika saya membuka kembali lembar kesaksian hidup Elien Utrecht dalam buku Melintasi Dua Jaman: Kenangan Tentang Indonesia Sebelum dan Sesudah Kemerdekaan, Elien sebagai seorang indo-eropa menggambarkan secara traumatis porak-porandanya medan Surabaya. Dalam kacamata Elien, pidato Bung Tomo sukses membangunkan macan yang tertidur untuk memangsa kaum minoritas sepertinya. Mesiu para pejuang dilihatnya sebagai bisa ular yang siap mematok tanpa pandang bulu.

     

    1. Ironi Kemanusiaan yang kuat

     

    “Seorang gadis muda remaja, bajunya compang-camping, berkata kepada setiap orang yang dijumpainya: Inggris, Gurkha, maupun Indonesia, “Saya bukan perawan lagi! Periksalah! Periksalah sendiri!” Sehabis berkata itu, diraba-raba pinggangnya dengan tangannya di bawah roknya dan tiada berapa lama seperti permainan sulap meluncur sebuah lap kuning kotor melalui kedua belah kakinya ke bawah. Waktu mereka mendengar perkataan gadis remaja itu, muka mereka menjadi merah karena dendam dan kebencian. Mereka cepat-cepat meneruskan perjalanannya dan dalam hatinya mereka berkata, “seorang korban revolusi!”” (hlm. 140-141)

     

    Di tengah hiruk pikuk kota yang masih mengepulkan asap mesiu, revolusi mencuri yang paling berharga hingga ke akarnya. Idrus menghadirkan sosok gadis remaja sebagai monumental hidup bagi ironi kemanusiaan. Gadis itu berdiri di antara puing, mengenakan pakaian compang-camping yang tak lagi mampu menutupi lambang kehormatannya.

    Pengakuan yang meluncur dari bibirnya, ‘Saya bukan perawan lagi!’ adalah sebuah tuntutan atas ketidakadilan. Ia menantang musuh maupun kawan, Inggris yang pongah, Gurkha yang asing, hingga saudara sebangsanya sendiri, untuk menatap ke dalam lubang hitam yang ia pikul.

    Ironi kemanusiaan mencapai klimaks pada cara orang-orang di sekitarnya menghindar. Dengan menyebutnya ‘korban revolusi’, mereka secara kolektif sedang melakukan Eufemisme Sejarah. Dalam arti lain menganggap pengorbanan gadis itu adalah harga wajar yang harus dibayar.

    Melalui gadis remaja ini, Idrus menggugat balik kemapanan historiografi arus utama yang berpura-pura tuli terhadap rintihan personal. Ini seperti pengingat bahwa masih banyak jiwa-jiwa yang dibiarkan membusuk dalam sepi yang rintihannya dibiarkan berlalu. Revolusi mungkin memang melahirkan bangsa, namun Idrus mengingatkan kita bahwa pesonanya menyembunyikan kekejaman yang tak berwajah.

     

    1. Perspektif, Sebuah Kesimpulan

     

    Idrus tidak mengkerdilan arti revolusi, melainkan sedang mengumpulkan energi sosial yang tersembunyi dalam peristiwa sejarah. Melalui penggambaran senjata sebagai juruselamat dan gadis muda compang-camping yang terenggut kehormatannya, Idrus menggugat apakah makna revolusi benar-benar dipahami oleh para pejuang atau hanya menjadi ajang pelampiasan amarah kolektif.

    Pengagungan terhadap senjata sebagai juruselamat memperlihatkan pemikiran yang merasa bahwa kedaulatan hanya bisa dipertahankan dengan dentum baja. Namun Idrus segera menampik kesadaran pembaca melalui kehadiran gadis muda yang bermakna dalam, bahwa ketika ‘mesias besi’ itu bekerja maka kemanusiaan menjadi tumbal yang paling pertama jatuh ke tanah.

    Pada akhirnya, Idrus ingin menegaskan ulang bahwa sejarah tidak hanya ditentukan pada yang memegang senjata, tetapi juga pada mereka yang kehilangan segalanya dan dipaksa tersenyum di bawah panji revolusi.

  • Moralitas yang Mengguncang: Estetika Sublsime dan Dekonstruksi Etika dalam “Moral” Djenar Masea Ayu

    Moralitas yang Mengguncang: Estetika Sublsime dan Dekonstruksi Etika dalam “Moral” Djenar Masea Ayu

     Oleh Meika Frenalisa,Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Djenar Masea Ayu merupakan penulis yang populer dengan narasi yang mengeksplorasi hal tabu dalam kehidupan sosial dan dinamika gender melalui narasi provokatif. Dalam cerpen berjudul “Moral”, ia tidak menyajikan tuntunan etika konvemsional, melainkan mempertamnyakam standar moralitas Masyarakat patriarki yang sering kali timpang. Esai ini menganalisis bagaimana keluhuran (sublime) dalam cerpen tersebut Melalui lima sumber utama-pemikiran luhur, emosi yang kuat, diksi yang agung, dan retorika yang unggul, serta komposisi mulia-Djenar dalam mengubah kritik sosial menjadi pengalamanan transenden.

     

    Daya Pemikiran Luhur: kemunafikan dalam Menerka Moral itu Sendiri

    Dalam cerpen “Moral”, Djenar membangun pemikiran  ini denfan membedah sebuah kemunafikan yang terjadi pada pola standar moralitas di Indonesia. Ia menantang gagasanm bahwa moralk hanya sebuah sikap yang menunjukan persoalan seksual atau kepatuhan perempuan, melainkan sebuah instrumen kekuasaan atas perempuan itu sendiri. Pemikiran luhur Djenar mengajar pembaca untuk merenungkan absurditas ekssitensial di mana individu dipaksa untuk memakai topeng kesusilaan dalam kata lain menutupi kebusukan sistemik. Kekaguman muncul dari keberanian ide ini, sementara ketakutan timbul dari kenyataan universal tetantang kerapuhan integritas manusia.

     

    Emosi Kuat: Pemberontakan yang Bertahan atas Gejolak yang Ada

    Sumber kedua sublime adalah emosi kuat (Pathois hypsos) yang membawa pembaca ke puncak keguncangan jiwa. Dalam “Moral”, emosi ini hadir bukan melalui kelembutan, tetapi melalui kejujuran brutal menegnai rasa muak dan pemberontakan batin. Tokoh-tokoh Djenar sering kaliu mengalami konflik emosional anatara keinginan untuk bebas dan tekanan untuk menjadi “moralis” di mata public. Sublime tercipta dari tegangan ini: sebuah “angin topan” emosi yang membuat pembaca menjadi merefleksikan keplasuan dalan relasi pribadi dan sosial mereka sendiri.

     

    Pemilihan kata Isimewa dan Retorika Unggul: Penggunaan kata dalam kalimat

    Djenar mahir menggabungkan diksi yang tajam dengan figure retorika untuk menangkat prosa menjadi sesuatu yang menjulang. Djenar mahir memadukan istilah-istilah profan dengan metafora yang mendalam. Dalam “Moral”, kata-kata yang dianggap tabu ia gunakan sebagai alat untuk mendobrak kesantunaan palsu serta kemunafikan dalam berfikir. Penggunaan paradoks- di mana sesuatu yang dianggap “bermoral” justru sebaliknya dan menjadi gamabrakan sikap buruk “tak bermoral” justru tampil jujur, menbangun intensitas dramatis yang memuncak. Teknik pengulangan kata “mora” berfungsi seperti, antra ritual yang mempertanyakan Kembali definisi kata tersebut di setiap kalimatnya. Teknik pengulangan dan kontras bahasa ini menjadi katalis sublime, karena kata-kata tersebut menyatu membentuk visi tentang keruntuhan martabat akibat kemunafikan.

     

    Struktur Komposisi yang Unik

    Srtuktur yang unik merujuk pada stukrtur cerita yang harmonis namun pebuh kejutan, Dalam “Moral”, stuktur cerita yang harmonus namun penuh kejutan, yang mana pada narasi “Moral” kerap kali menunjukan resolusi yang tidak nyaman, melainkan kesdaran yang getir tanpa kataris moralitas konvensiobal. Yang mana koposisi ini siublime karena menantang pembanca untuk terus merenung dari segala siis yang akan menciptakan rasa hormat sekaligus rasa gelisah terhadap esensi sejati dari nilai manusia. Harmoni koposisi Djenar membutktikan bahwa cerpen ini mampu menjulang sebagai monument kritik sastra yang abadi.

     

    Kesimpulam

    “Moral” Karya Djenar Masea Ayu membuktikan kekuatan prespektif sublime dalam sastra Indonesia modern. Melalui lima sumber keluhuran. Cerpen ini mentransformasi isu yang dianggao tabu menjadi pengalaman transenden yang mengguncang jiwa dan menantang kesadaran intelektual kita. Keberhasilan Djenar terletak pada kemampuanya menyulap vulgaritas permukaan menjadi alat kritik yang radikal terhadap kemunafikan sosial, sekaligua mengajak pembaca untuk naik ke puncak keluhuran intelektual. Yang mana hal ini membuktikan bahwa keluhuran sejati lahir dari keberanian untuk menyuarakan kebenran di tengah kegelapan stigma moral.

     

  • Ketika Pramoedya Ananta Toer menjadi Gus Muk

    Ketika Pramoedya Ananta Toer menjadi Gus Muk

     

    Oleh Devi Nur Rahma Wati, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Sastra bukanlah sekadar hiasan kata-kata yang lahir dari ketenangan pikiran. Sebaliknya, karya-karya besar sering kali muncul sebagai sebuah pemberontakan terhadap kenyataan yang menyesakkan. Dalam dinamika kebudayaan tradisional yang kaku, keberhasilan sebuah keluarga sering kali diukur melalui parameter yang bersifat komunal dan dangkal: kepatuhan terhadap adat, kelancaran transisi menuju kedewasaan, atau kemampuan menjaga “kesopanan” di mata tetangga. Melalui nasib tragis seorang anak di Blora, kita disadarkan bahwa teks mampu menjadi senjata untuk melawan kebebalan tradisi. Sastra menarik garis tegas: di satu sisi ada jerit kemanusiaan yang jujur, dan di sisi lain ada tembok tebal kekuasaan adat yang kaku.

    Dalam lingkungan yang penuh tekanan, masyarakat sering kali tidak lagi menggunakan senjata fisik untuk menundukkan sesamanya. Mereka menggunakan bahasa—lewat label-label seperti “takdir” atau “adat istiadat”—untuk membenarkan penderitaan. Di sinilah letak daya ledak sebuah karya. Ketika suara-suara kecil di pedesaan dibungkam oleh norma kepatuhan, sastra hadir untuk membongkar luka yang selama ini disembunyikan. Ia mengabadikan kisah seorang janda kecil berumur sembilan tahun yang coba dihilangkan jejaknya oleh sistem sosial yang tak punya hati.

    Dalam ranah kritik sastra, sosok yang kita temui di balik baris-baris kalimat bukanlah sang pengarang dalam wujud fisiknya, melainkan sebuah konstruksi mental yang dikenal sebagai Implied Author. Wayne C. Booth menekankan bahwa penulis selalu menciptakan ‘versi diri’ yang lebih ideal atau spesifik untuk menggerakkan narasi. Melalui perspektif ini, esai ini akan menelusuri bagaimana Pramoedya Ananta Toer membangun citra dirinya di dalam teks melalui dua sudut pandang: realitas sosial sang pengarang (Persona Practica) serta visi estetis-moral yang terpancar dari karyanya (Persona Poetica).

     

    Persona Practica: Pramoedya dalam Realitas Sosial

    Dimensi Persona Practica mengajak kita menilik latar belakang biologis dan sosiologis penulis sebagai manusia nyata. Pramoedya Ananta Toer adalah sosok yang lahir dari rahim tanah Blora, tempat di mana ia pertama kali bersinggungan dengan getirnya realitas sosial. Sejarah mencatatnya bukan hanya sebagai penulis, melainkan sebagai pejuang intelektual yang integritasnya diuji melalui pengasingan dan jeruji besi. Di dunia nyata, Pramoedya menempati posisi sentral dalam diskursus kebudayaan Indonesia; ia adalah saksi sejarah yang vokal dalam menyuarakan perlawanan terhadap segala bentuk penindasan, baik yang datang dari kolonialisme maupun feodalisme.

    Posisi Pramoedya dalam struktur sosial adalah seorang intelektual yang konsisten memegang kendali atas narasi-narasi kemanusiaan. Sebagai sastrawan yang tumbuh besar dalam kepahitan zaman, ia memiliki pemahaman mendalam mengenai struktur masyarakat yang timpang. Pengalaman hidup di Blora inilah yang menjadi “bahan baku” bagi lahirnya cerpen “Inem”. Di sana, Pramoedya melihat secara langsung bagaimana tradisi yang terlihat suci di permukaan sering kali menyimpan kebusukan moral di dalamnya. Fakta sosiologis inilah yang mendasari lahirnya sosok pengarang tersirat yang sangat kritis terhadap kemunafikan adat.

     

    Lonceng Kematian di Balik Janur Kuning

    “Gus Muk, aku akan dikawinkan.” Kalimat itu tidak terdengar seperti sebuah perayaan, melainkan sebuah lonceng kematian bagi masa kanak-kanak. Di sebuah dapur yang penuh kepul asap di Blora, Inem—gadis kecil berusia delapan tahun—mengucapkan kalimat itu dengan binar mata yang belum mengerti bahwa ia sedang diserahkan kepada sebuah mesin tradisi yang kejam. Bagi anak-anak, pernikahan mungkin hanyalah bedak tebal dan pakaian bagus, namun dalam realitas cerpen ini, ia adalah awal dari penderitaan yang tak berkesudahan.

    Adegan dalam cerpen “Inem” ini adalah sebuah hantaman bagi nurani siapa pun yang membacanya. Bayangkan seorang anak yang seharusnya masih sibuk bermain, tiba-tiba harus memikul beban sebagai seorang istri, dan dalam sekejap menjadi janda di usia sembilan tahun. Suara raungan kesakitan Inem yang dipukuli oleh keluarganya sendiri, sementara dunia di sekitarnya tetap diam di balik dinding bambu, menciptakan suasana yang menyesakkan dan mencekam. Pramoedya tidak sekadar menulis fiksi; ia sedang menyeret kita untuk menyaksikan sebuah luka sejarah yang sering kali ditutup-tutupi oleh dalih adat.

     

    Topeng Narasi dan Hilangnya Sang Pengarang

    Di sini, kita melihat bagaimana Pramoedya sebagai pengarang nyata menarik diri dari teks. Ia tidak hadir sebagai orator yang menghakimi tradisi secara langsung, melainkan bertransformasi menjadi Implied Author. Melalui tokoh Gus Muk, seorang bocah berusia enam tahun, pengarang membangun sebuah ideologi tersirat yang sangat kritis terhadap kemunafikan sosial dan eksploitasi anak.

    Pramoedya “menyusup” ke dalam jiwa Gus Muk sebagai strategi retoris yang sangat cerdas. Melalui mata Gus Muk yang murni, kekejaman pernikahan dini disampaikan melalui rasa heran yang jujur. Pramoedya sebagai sosok manusia nyata seolah “mati” di balik kata-kata, dan yang lahir adalah sebuah konstruksi naratif yang memaksa pembaca untuk melihat Inem bukan sebagai objek cerita, melainkan sebagai korban dari struktur kekuasaan yang tidak adil.

     

    Birokrasi “Kesopanan” dan Pengadilan Moral

    Persona Poetica Pramoedya menyuarakan kepedihan seorang korban melalui kritik tajam terhadap komodifikasi anak. Pengarang tersirat mempertentangkan antara kegembiraan palsu sebuah pesta pernikahan dengan tragedi nyata yang dialami Inem. Transformasi pengarang menjadi tokoh Gus Muk memungkinkan teks ini bekerja sebagai instrumen kekuasaan untuk membuang mereka yang sudah hancur.

    Terdapat penekanan pada prinsip integritas nurani di atas formalitas “kesopanan”. Ketika ibu Gus Muk menolak menerima kembali Inem karena alasan status janda yang dianggap “tidak baik dipandang mata”, pengarang tersirat menunjukkan betapa dinginnya moralitas publik. Pengarang tersirat menempatkan “kejujuran empati” pada derajat yang lebih tinggi daripada “reputasi yang berisik”. Ini adalah bentuk perlawanan moral terhadap budaya pencitraan masyarakat yang mengabaikan penderitaan nyata demi nama baik di mata orang lain.

     

    Kesaksian yang Menolak Lupa

    Akhirnya, cerpen “Inem” membuktikan bahwa sastra adalah laboratorium transformasi di mana pengalaman pribadi diolah menjadi kesaksian kolektif. Pramoedya Ananta Toer telah berhasil mengubah dirinya menjadi “suara” yang menolak untuk diam. Transformasi dari pengarang nyata menjadi persona Gus Muk adalah sebuah tindakan politik sastra yang murni; sebuah upaya untuk memberi ruang bagi mereka yang selama ini dibungkam oleh sejarah dan tradisi.

    Sastra bukan sekadar rekaman hidup, melainkan sebuah ruang di mana kebenaran sering kali terasa lebih jujur daripada catatan sejarah resmi. Melalui sosok Inem, kita diingatkan bahwa selama kita masih mengagungkan aturan yang mengorbankan kemanusiaan, maka sastra akan selalu hadir untuk menggugat. Esai ini mengajak kita untuk tidak menjadi sekadar pengamat yang pasif, melainkan berani mengakui bahwa di bawah tumpukan tradisi yang rapi, sering kali ada teriakan kesakitan yang menuntut untuk didengar. Kemenangan sejati ada pada keberanian untuk tetap jujur pada suara nurani.

     

  • “The Art of War” dari Sun Tzu  dan Strategi para Pendiri Bangsa dalam Mendesain Indonesia

    “The Art of War” dari Sun Tzu  dan Strategi para Pendiri Bangsa dalam Mendesain Indonesia

        Oleh  Agus  Widjajanto

     

    Sun Tzu dalam The Art of War menekankan pentingnya memenangkan pertempuran tanpa peperangan. Beberapa strateginya antara lain:

    1. Mengenal musuh: Memahami kekuatan dan kelemahan musuh untuk menentukan strategi yang tepat.
    2. Menggunakan taktik: Menggunakan taktik yang tidak terduga untuk mengalahkan musuh.
    3. Menghindari konfrontasi langsung: Menghindari konfrontasi langsung dengan musuh yang lebih kuat, dan mencari kelemahan mereka.
    4. Menggunakan diplomasi: Menggunakan diplomasi untuk memenangkan hati dan pikiran musuh.
    5. Menggunakan intelijen: Menggunakan intelijen untuk mengumpulkan informasi tentang musuh dan mengantisipasi gerakan mereka.

     

    Dalam konteks modern, strategi Sun Tzu dapat diaplikasikan dalam berbagai bidang, seperti:

    1. Bisnis: Mengalahkan kompetitor tanpa harus melakukan perang harga.
    2. Politik: Memenangkan hati dan pikiran masyarakat tanpa harus menggunakan kekerasan.
    3. Keamanan: Mengantisipasi dan mencegah ancaman tanpa harus melakukan pertempuran.

     

    Strategi Sun Tzu masih relevan diterapkan dalam kasus China Daratan dengan Taiwan, terutama dalam konteks kunjungan ketua oposisi Taiwan ke Beijing. Beberapa prinsip Sun Tzu yang relevan adalah:

    – Mengenal diri sendiri dan lawan: China harus memahami kekuatan dan kelemahan Taiwan, serta kekuatan dan kelemahan oposisi Taiwan.

    – Menggunakan taktik: China dapat menggunakan taktik untuk mempengaruhi opini publik Taiwan dan menciptakan ketidakstabilan.

    – Menghindari konfrontasi langsung: China dapat menghindari konfrontasi langsung dengan Taiwan dan AS, dan mencari cara untuk mencapai tujuannya melalui diplomasi dan ekonomi.

    – Menggunakan intelijen: China dapat menggunakan intelijen untuk mengumpulkan informasi tentang Taiwan dan AS, serta untuk mempengaruhi opini publik.

     

    Dalam konteks kunjungan ketua oposisi Taiwan ke Beijing, China dapat menggunakan kesempatan ini untuk:

    – Meningkatkan hubungan dengan oposisi Taiwan: China dapat menggunakan kunjungan ini untuk meningkatkan hubungan dengan oposisi Taiwan dan menciptakan ketidakstabilan di Taiwan.

    – Menggunakan oposisi Taiwan sebagai alat: China dapat menggunakan oposisi Taiwan sebagai alat untuk mempengaruhi opini publik Taiwan dan menciptakan ketidakstabilan.

    – Menguji reaksi AS: China dapat menggunakan kunjungan ini untuk menguji reaksi AS dan melihat bagaimana AS akan merespons.

     

    Namun, perlu diingat bahwa strategi Sun Tzu harus digunakan dengan hati-hati dan tidak boleh digunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan dengan cara yang tidak etis atau tidak adil.

    China Daratan dengan taiwan adalah satu rumpun yang dipisahkan oleh ideologi politik saat Sun Yat Sen memdirikan pulau Taiwan sebagai wilayah kekuasaannya , dan politik jangka panjang China bersatu tampaknya akan terwujud tanpa peperangan dan  pertempuran senjata, ditengah hegemoni Amerika Serikat yang sedang turun menghadapi front peperangan dengan Iran.

    China Daratan dan Taiwan memang memiliki sejarah yang kompleks, dipisahkan oleh ideologi politik sejak Sun Yat-sen mendirikan Republik Tiongkok di Taiwan. Saat ini, China daratan dan Taiwan memiliki perbedaan ideologi yang signifikan, namun keduanya masih memiliki akar budaya dan sejarah yang sama.

    Politik jangka panjang China bersatu memang tampaknya menjadi tujuan yang ingin dicapai oleh Beijing, namun masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Taiwan memiliki pemerintahan sendiri dan sistem demokrasi yang kuat, sehingga reunifikasi tidak akan mudah dicapai tanpa kesepakatan yang saling menguntungkan.

    Amerika Serikat juga memiliki peran penting dalam dinamika ini, dengan komitmennya untuk membantu Taiwan mempertahankan diri. Namun, AS juga berusaha untuk menjaga hubungan baik dengan China, sehingga situasinya menjadi sangat kompleks.

    Dalam beberapa tahun terakhir, China telah meningkatkan tekanan militer dan ekonomi terhadap Taiwan, namun Taiwan tetap menunjukkan keteguhan dan meningkatkan pertahanan diri. Kunjungan Ketua Kuomintang (KMT) Cheng Li-wen ke Beijing baru-baru ini juga menunjukkan adanya upaya untuk meningkatkan dialog dan kerja sama antara kedua belah pihak.

    Namun, masih banyak tantangan yang harus dihadapi, dan situasi ini memerlukan penanganan yang hati-hati dan diplomatis untuk menghindari eskalasi konflik.

    Teori The Art of War dari Sun Tzu masih sangat relefan untuk diterapkan dalam kaitan berbangsa dan bernegara khusus nya dalam pemerintahan di era modern.

    Ditengah derasnya pengaruh budaya dan doktrin politik liberal yang mengacu pada Demokrasi ala barat, kadang mencabut akar tata cara demokrasi yang sudah berurat berakar pada sebuah bangsa, contohnya Indonesia.

    Negara ini di bentuk di desain dari awal memang bukanlah berkiblat kepada bentuk demokrasi Liberal dan juga bukan berbentuk sosialis Marxisme, tapi demokrasi jalan tengah yang sudah ada dan hidup ditengah-tengah masyarakat Indonesia secara berabad abad, dengan musyawarah dan mufakat.

    Oleh sebab itu Soepomo mendesain negara ini dengan desaian negara desa adat  dalam lingkup nasional, yang artinya Soepomo menggagas  sebuah pemerintahan desa adat  yang diterapkan dalam sebuah negara integralistik. Dalam desa adat yang dinamakan rembuk desa, yakni forum yang diciptakan secara adat untuk menyelesaikan segala masalah desa, yang diwakili oleh sesepuh desa, kaum agama, ada perwakilan pemuda, ada cendikiawan desa, dan perangkat desa dari kepala desa hingga kepala urusan kepala urusan yang ada didesa, yang saat Indonesia merdeka diterapkanlah yang dinamakan Majelis Permusyawaratan Rakyat, yang merupakan lembaga rembuk desa dalam skala negara yang diwakili oleh seluruh anggota DPR dari partai-partai politik, utusan daerah dan utusan golongan.

    Sayang desain desa adat dari Soepomo ini telah di hancurkan oleh kaum reformis yang tergila-gila akan isme-isme demokrasi Liberal, baik secara politik dan ekonomi, berkiblat ke pada kebebasan yang hak hak individualistiknya sangat dominan hingga menghancurkan soko guru atau tiang dari bangunan sebuah negara yang dibangun dan didesain dari awal oleh para pendiri bangsa (founding fathers) kita.

    Akibat dari hancurnya dan dirobohkannya tiang penyangga sebuah negara maka  kita kehilangan arah dimana tidak ada lagi kompas sebagai petunjuk mau dibawa kemana Indonesia ini dan harus bagaimana ?…..yang ada adalah setiap rezim yang berkuasa suka-suka mereka membuat program kebijakan karena memang tidak ada lagi blue print yang bisa dijadikan pedoman kedepannya, maka secerdik dan sepintar apapun tidak bisa memainkan jurus strategi perang ala Sun Tszu , dalam The Art of Warnya . Semua bukan lagi hitam.atau putih lagi atau abu-abu akan te tapi sudah merah kelabu, dimana segala tatanan berbangsa dan bernegara telah hilang dan kehilangan jati diri nya dari sebuah bangsa yang adi luhung yang sangat disegani yang dulu menguasai sepertiga dunia hingga nenek moyang kita bisa mencapai madagaskar. Dan menguasai seluruh wikayah Asia Tenggara dalam sebuah imperium kekuasaan.

    ———————

    Penulis adalah praktisi hukum , pemerhati masalah sosial politik dan sejarah bangsanya

  • Ketika M. Balfas Menjadi Ama dalam Deru Jakarta 1945

    Ketika M. Balfas Menjadi Ama dalam Deru Jakarta 1945

    Oleh Agustin Risti Prasetyo, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Sering kali, kedewasaan tidak datang melalui pertambahan usia yang tenang, melainkan dipaksa lahir dari rahim kekacauan dan tuntutan bertahan hidup. Di tengah anarki revolusi, moralitas sering kali menjadi barang mewah yang kalah telak oleh urusan perut dan tanggung jawab yang terpikul terlalu dini. Manusia tidak lagi memilih jalannya berdasarkan keinginan, melainkan berdasarkan apa yang tersedia di depan mata agar hari esok tetap ada. Namun, apa yang terjadi ketika dunia yang liar itu tiba-tiba dipaksa tertib kembali? Apakah seseorang akan merasa selamat, atau justru merasa kehilangan jati diri yang telah ia bangun di atas puing-puing konflik?.

    Kegelisahan eksistensial inilah yang membakar seluruh narasi dalam cerpen “Anak Revolusi” karya M. Balfas. Cerita ini bukan sekadar potret sejarah Jakarta di masa revolusi, melainkan sebuah ruang pergulatan batin seorang anak manusia yang terjebak di antara dua peran: sebagai anak yang butuh perlindungan dan sebagai pahlawan yang harus memberi perlindungan. Pembaca diajak masuk ke dalam dunia Ama, seorang remaja empat belas tahun yang memandang ketertiban sebagai ancaman dan memandang bahaya sebagai kawan karib. Di sini, kita dipaksa bertanya: apakah kembalinya “normalitas” adalah sebuah anugerah, atau justru sebuah pengkhianatan bagi mereka yang telah menyerahkan masa kecilnya demi revolusi?

     

    Jembatan dalam Melintasi Kekacauan

    Cerpen “Anak Revolusi” karya M. Balfas ini dapat dibaca bukan hanya sebagai cerita tentang perjuangan hidup, tetapi juga sebagai konstruksi suara yang sengaja dibangun oleh pengarang. Dalam hal ini, penting untuk memahami dan menyelaraskan konsep implied author yang diperkenalkan oleh Wayne C. Booth.

    Menurut Booth, pengarang yang hadir dalam teks bukanlah pengarang nyata, melainkan sosok yang “dibentuk” melalui pilihan bahasa, sudut pandang, dan struktur cerita. Dalam cerpen ini, M. Balfas sebagai pengarang nyata seolah “menghilang” dan digantikan oleh persona yang mengarahkan cara pembaca memahami dunia dari perspektif seorang anak jalanan. Suara yang muncul bukan sekadar milik Balfas sebagai individu sejarah, melainkan suara retoris yang disusun untuk membuat pembaca merasakan panasnya aspal Jakarta dan dinginnya air Ciliwung sebagai ruang pengalaman yang hidup.

     

    Argumentasi di Balik Suara yang Tersembunyi

    Di balik cerita “Anak Revolusi”, implied author hadir sebagai sosok yang tajam, taktis, namun penuh empati terhadap keterasingan. Ia tidak memaksakan satu kebenaran tentang nasionalisme, tetapi justru membuka ruang pertanyaan mengenai identitas anak-anak yang tumbuh di medan tempur. Hal ini terlihat dari bagaimana konflik dibangun: bukan melalui pertempuran fisik antar tentara, melainkan melalui kegelisahan batin Ama yang merasa kekuasaannya sebagai penopang ekonomi keluarga terancam oleh kembalinya tatanan sosial yang normal.

    Bahasa yang digunakan sangat konkret, dipenuhi dengan istilah-istilah barang dagangan militer dan suasana tangsi yang menggugah emosi awal pembaca. Justru, keterikatan pada detail barang-barang fisik ini menjadi strategi retoris yang kuat. Implied author seolah ingin mengatakan bahwa bagi seorang anak revolusi, harga diri tidak ditemukan di bangku sekolah, melainkan pada kemampuannya membeli pakaian baru untuk adiknya dan menjadi “bapak” bagi rumah tangganya.

    Dari sisi kekuasaan, implied author memiliki peran penting dalam mengarahkan simpati pembaca. Pembaca diajak untuk memahami mengapa Ama membenci sekolah dan “anjing Nica” bukan karena ideologi politik yang rumit, melainkan karena ia merasa dihina ketika kemandiriannya dianggap tidak ada harganya di mata tatanan yang baru. Ini menunjukkan bahwa pengarang dalam teks memiliki kekuasaan untuk membentuk perspektif pembaca terhadap makna “pahlawan” yang sering kali terabaikan dalam narasi besar sejarah.

     

    Penutup dan Refleksi dari Suara yang Tertinggal

    Melalui cerpen “Anak Revolusi”, terlihat jelas bahwa M. Balfas sebagai pengarang nyata bertransformasi menjadi implied author yang halus dan reflektif. Ia tidak lagi menjadi penulis yang hanya melaporkan kejadian, melainkan persona yang melekat dalam setiap kepulan asap rokok Player dan deru truk yang melintasi jalanan Jakarta.

    Transformasi ini menunjukkan bahwa sastra adalah ruang bagi pengarang untuk membentuk cara pembaca memahami dunia melalui pengalaman yang konkret. Pada akhirnya, cerpen ini tidak hanya berbicara tentang kerasnya hidup di masa perang, tetapi tentang bagaimana manusia belajar bahwa keabadian sering kali ditemukan dalam tanggung jawab terhadap orang-orang yang dicintai. Dengan begitu, sastra bekerja bukan untuk memberi jawaban akhir yang manis, tetapi untuk menumbuhkan kesadaran tentang harga yang harus dibayar oleh sebuah generasi untuk sebuah kata bernama perubahan.

     

  • Ketika Joko Pinurbo Menjadi Lelaki Malang

    Ketika Joko Pinurbo Menjadi Lelaki Malang

    Oleh Mariany Be’i Adja Pi, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

     

    Joko Pinurbo merupakan seorang penyair yang lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962. Ia menunjukkan ketertarikannya dengan dunia sastra sejak usia Sekolah Menengah Atas (SMA). Dengan gaya bahasa yang sederhana namun penuh makna, puisinya bisa menyentuh perasaan pembaca. Karya-karyanya seringkali mengangkat soal permasalahan di kehidupan sehari-hari, namun diolah dengan cara yang unik sehingga membuat hal-hal biasa terasa istimewa dan bermakna. Puisi “Kucing Hitam” menghadirkan kisah yang sederhana di permukaan, tetapi menyimpan lapisan makna yang dalam dan kompleks. Relasi antara lelaki malang dan kucing hitam tidak sekadar hubungan antara manusia dan hewan, melainkan simbol dari dinamika kekuasaan, ketergantungan, serta kehancuran yang lahir dari sesuatu yang awalnya dicintai. Hal ini bisa kita lihat bahwa cinta dan kasih sayang tidak selalu membawa kebahagiaan.

     

    Kucing Hitam

    Oleh  Joko Pinurbo

     

    Kucing hitam yang ia pelihara dengan kasih sayang

    kini sudah besar dan buas.

    Tiap malam dihisapnya darah lelaki perkasa itu

    seperti mangsa yang pelan-pelan harus dihabiskan.

     

    “Jangan anggap lagi aku si manis yang mudah terbuai

    oleh belaianmu, hai lelaki malang.

    Sekarang akulah yang berkuasa di ranjang.”

     

    Lelaki perkasa itu sudah renta dan sakit-sakitan.

    Tubuhnya makin hari makin kurus, sementara kucing hitam

    yang bertahun-tahun disayangnya makin gemuk saja

    dan sekarang sudah sebesar singa dan ngeongnya

    sungguh sangat mengerikan.

     

    Si tua yang penyabar itu lama-lama geram juga.

    Tiap malam si hitam gemuk mengobrak-abrik ranjangnya

    dan melukai tidurnya.

     

    “Sebaiknya kita duel saja,” si kurus menantang.

    “Boleh,” jawab si gemuk hitam. “Nanti

    tulang-belulangmu kulahap sekalian.”

     

    “Ayo kita tempur!”

    “Ayo kita hancur!”

    “Jahanam besar kau!”

    “Jerangkong hidup kau!”

     

    Parah. Tubuh lelaki itu telah berwarna merah,

    wajahnya bersimbah darah. Gemetaran ia berdiri

    dan diangkatnya kedua tangannya tinggi-tinggi.

    “Hore, aku menang!” teriaknya lantang, lalu disepaknya

    bangkai kucing maut itu berulang-ulang. “Jahanam besar kau!”

     

    Persona Poetica

    Dalam bidang naratologi (teori tentang cerita), Wayne Booth memperkenalkan istilah Implied Author (penulis yang tersirat atau tersembunyi) dalam bukunya The Rhetoric of Fiction (1963). Istilah Implied Author atau sering disebut sebagai persona poetica digunakannya untuk membedakan antara penulis (persona practica) dengan instansi (fokalisator) yang berperan menyampaikan cerita kepada pembaca. Implied Author berdiri di tengah-tengah antara pengarang nyata dengan narator (juru cerita dalam teks).

    Konsep Implied Author mengacu kepada peranan yang diberikan teks kepada pengarang, yang bukan hasil abstraksi seorang pengarang nyata. Pengarang tersembunyi itu lebih merupakan tegangan tertentu yang diciptakan oleh pengarang pada saat menuliskan karyanya. Pengarang menciptakan suatu imajinasi dalam dirinya sendiri (semacam dirinya yang kedua, the second self) sebagai juru kisah, misalnya yang sedang memperbaiki atap bocor, membayar pajak, yang gagal mencari jati dirinya (Booth, 1963: 137).

    Dalam puisi “Kucing Hitam” Joko Pinurbo sebagai pengarang nyata “menghilang” dan digantikan oleh Implied Author (lelaki malang).  Melalui pilihan diksi seperti “lelaki perkasa”, “lelaki malang”, hingga “si tua yang penyabar”, persona poetica membangun transformasi karakter tokoh tanpa harus memberikan penilaian langsung. Ia membiarkan fakta-fakta puitik berbicara: bagaimana kekuatan berubah menjadi kelemahan, dan bagaimana kasih sayang berujung pada penderitaan. Persona ini juga menciptakan jarak emosional yang justru memperkuat efek tragis. Pembaca tidak digiring untuk sekadar bersimpati, melainkan diajak menyadari absurditas situasi: sesuatu yang dipelihara dengan cinta justru menjadi sumber kehancuran.

     

    Lelaki Malang

    Joko Pinurbo tidak sedang secara harfiah “mengaku” sebagai lelaki malang, melainkan membangun sebuah representasi puitik yang mencerminkan kondisi manusia dalam relasi yang timpang dan destruktif. Figur “lelaki malang” dalam puisi “Kucing Hitam” lebih tepat dibaca sebagai proyeksi pengalaman batin, refleksi sosial, sekaligus strategi estetik.

    Figur “lelaki malang” menjadi pusat tragedi dalam puisi ini. Ia awalnya digambarkan sebagai sosok “perkasa”, penuh kontrol, dan dominan. Namun, seiring waktu, kekuasaan itu terkikis hingga ia menjadi renta, sakit-sakitan, dan akhirnya terperangkap dalam relasi yang merugikan dirinya sendiri. Kemalangan lelaki ini bukan hanya bersifat fisik, tetapi juga psikologis dan eksistensial. Ia tidak sekadar diserang oleh kucing hitam, melainkan oleh konsekuensi dari pilihan masa lalunya. Kasih sayang yang dulu ia berikan tanpa batas justru menjadi bumerang yang menggerogoti dirinya perlahan-lahan.

    Puncak kemalangan itu terlihat ketika ia menantang duel. Tindakan tersebut tampak sebagai usaha merebut kembali martabat, tetapi sekaligus menunjukkan keputusasaan. Kemenangan yang ia klaim di akhir puisi pun terasa ambigu—apakah benar ia menang, atau justru itu bentuk ilusi terakhir dari seseorang yang telah kehilangan segalanya? Dengan demikian, “lelaki malang” dapat dibaca sebagai representasi manusia yang terjebak dalam relasi destruktif, baik dalam konteks cinta, kekuasaan, maupun kebiasaan hidup yang merusak diri sendiri.

     

    Metafora Kucing Hitam

    Kucing hitam dalam puisi ini merupakan metafora utama yang membuka berbagai kemungkinan tafsir. Pada awalnya, ia adalah simbol kelembutan dan ketergantungan—makhluk yang dipelihara dengan kasih sayang. Namun, seiring waktu, ia berubah menjadi sosok yang buas, dominan, bahkan mengancam kehidupan tuannya. Perubahan ini menunjukkan bahwa kucing hitam bukan sekadar hewan, melainkan representasi dari sesuatu yang tumbuh dari dalam relasi itu sendiri. Ia bisa ditafsirkan sebagai simbol kekuasaan yang berbalik arah, hasrat yang tak terkendali, atau bahkan kebiasaan buruk yang awalnya kecil namun berkembang menjadi destruktif.

    Ciri-ciri kucing yang “makin gemuk” dan “sebesar singa” menegaskan sifat metaforisnya: sesuatu yang dibiarkan tumbuh tanpa kendali akan menjadi kekuatan yang melampaui manusia itu sendiri. Bahkan, suaranya yang “mengerikan” menunjukkan bahwa ancaman itu kini tidak lagi tersembunyi, melainkan hadir secara nyata dan tak terelakkan. Metafora kucing hitam memperlihatkan paradoks: sesuatu yang lahir dari kasih sayang dapat berubah menjadi sumber kehancuran. Di sinilah letak kekuatan puisi ini—ia tidak hanya bercerita, tetapi juga mengajak pembaca merenungkan relasi mereka sendiri dengan hal-hal yang mereka pelihara dalam hidup.

     

    Penutup

    Puisi “Kucing Hitam” karya Joko Pinurbo pada akhirnya tidak hanya menyajikan kisah tragis antara manusia dan hewan, tetapi menghadirkan refleksi mendalam tentang kehidupan manusia itu sendiri. Melalui persona poetica yang tersembunyi, figur “lelaki malang” yang penuh ironi, serta metafora kucing hitam yang kaya tafsir, puisi ini memperlihatkan bagaimana relasi yang dibangun atas dasar kasih sayang dapat berubah menjadi sumber kehancuran ketika kehilangan kendali.

    Kemalangan yang dialami tokoh lelaki bukan sekadar nasib buruk, melainkan konsekuensi dari pilihan, keterikatan, dan ketergantungan yang dibiarkan tumbuh tanpa batas. Di sinilah letak kekuatan estetik puisi ini: ia tidak menghakimi, tetapi mengajak pembaca untuk bercermin—melihat kembali relasi-relasi dalam hidup yang mungkin tanpa disadari sedang menggerogoti diri sendiri.

    Dengan demikian, “Kucing Hitam” menjadi lebih dari sekadar karya sastra; ia adalah peringatan halus sekaligus renungan eksistensial. Bahwa dalam kehidupan, tidak semua yang kita pelihara dengan cinta akan tetap jinak, dan tidak semua kemenangan benar-benar menandakan kita telah terbebas dari kemalangan.

     

     

  • Ketika Mochtar Lubis Menjadi “Aku” dalam Cerpen ‘Kuli Kontrak’

    Ketika Mochtar Lubis Menjadi “Aku” dalam Cerpen ‘Kuli Kontrak’

    Oleh Agustina Dwi Purwaningsih, Mahasiswi Sastra Indonesia, Universitas Sanata Dharma – Yogyakarta

     

    Jeritan itu melengking tajam, membelah udara pagi yang sunyi, dan menembus kesadaran seorang anak kecil yang diam-diam mengintip dari balik pohon jeruk. Cambuk berdesing, menghantam punggung manusia yang tak berdaya, sementara suara perintah terdengar tegas, dingin, dan tanpa belas kasihan. Dalam momen itu, bukan hanya tubuh para kuli kontrak yang tersiksa, tetapi juga batin seorang anak yang untuk pertama kalinya berhadapan dengan situasi yang mencekam.

    Bagi tokoh “aku”, pengalaman itu bukan sekadar tontonan yang mengerikan, melainkan peristiwa yang mengubah cara pandangnya terhadap dunia. Rasa takut bercampur rasa ingin tahu mendorongnya untuk melanggar larangan ayahnya, hanya untuk menyaksikan sesuatu yang pada akhirnya meninggalkan bekas mendalam dalam dirinya. Dari pengalaman inilah cerita berkembang, menghadirkan tidak hanya kisah, tetapi juga pergulatan batin yang kompleks.

     

    Jembatan dalam Memahami Realitas melalui Tokoh “Aku”

    Cerpen ‘Kuli Kontrak’ karya Mochtar Lubis menyajikan kisah yang berakar pada pengalaman masa kolonial, khususnya terkait sistem kerja paksa dan ketidakadilan yang dialami oleh para kuli kontrak. Namun, kekuatan cerita ini tidak hanya terletak pada tema sosialnya, melainkan juga pada cara pengarang membangun sudut pandang naratif melalui tokoh “aku”.

    Dalam konsep implied author yang dikemukakan oleh Wayne C. Booth, pengarang nyata tidak hadir secara langsung dalam teks. Ia digantikan oleh sosok yang dibentuk melalui narasi, yang mengarahkan bagaimana pembaca memahami cerita. Dalam cerpen ini, Mochtar Lubis menjelma menjadi “aku “ seorang anak yang polos, penuh rasa ingin tahu, tetapi perlahan-lahan mulai memahami ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.

    Dengan menggunakan sudut pandang anak-anak, pengarang menciptakan jarak antara peristiwa yang brutal dan cara penyampaiannya. Justru melalui kepolosan tokoh “aku”, kekerasan yang terjadi terasa lebih nyata dan menyentuh. Teks ini bukan sekadar menyampaikan fakta, melainkan membentuk pengalaman emosional pembaca melalui konstruksi naratif yang cermat.

     

    Argumentasi di Balik Tokoh “Aku”

    Perubahan Mochtar Lubis menjadi tokoh “aku” terlihat dari cara pengarang menempatkan dirinya di dalam kesadaran seorang anak. Ia tidak tampil sebagai narator yang serba tahu atau menghakimi, melainkan sebagai pengamat yang terbatas, polos, dan jujur. Dengan demikian, “aku” berfungsi sebagai suara yang menghadirkan pengalaman secara langsung tanpa penjelasan moral yang eksplisit. Justru melalui kesederhanaan bahasa dan pengamatan yang apa adanya, pembaca diajak untuk merasakan sendiri ketegangan dan ketidakadilan yang terjadi.

    Disisi lain, persona “aku” juga menunjukkan bentuk kekuasaan naratif. Pengarang mengontrol cara realitas ditampilkan dengan memilih sudut pandang anak-anak, sehingga kekerasan terlihat lebih telanjang dan tanpa pembenaran. Tidak ada rasionalisasi terhadap tindakan kekuasaan, yang ada hanya pengalaman yang mentah dan mengguncang. Melalui cara ini, “aku” menjadi alat yang efektif untuk memperlihatkan ketimpangan sosial, sekaligus memengaruhi emosi pembaca tanpa harus menyampaikan kritik secara langsung.

    Sebagai strategi retoris, penggunaan persona ini diperkuat oleh bahasa yang sederhana, citraan yang kuat, dan struktur naratif yang berpusat pada pengalaman personal. Deskripsi tentang cambuk, jeritan, dan penderitaan fisik menghadirkan efek yang mendalam dan membekas.

    Jika dikaitkan dengan konteks sosial, pengalaman individu tersebut merepresentasikan ketidakadilan yang lebih luas dalam sistem kuli kontrak. Dengan demikian, cerita ini tidak hanya menjadi narasi personal, tetapi juga bentuk kesaksian sosial yang memperlihatkan bagaimana kekuasaan bekerja secara tidak adil.

     

    Penutup

    Dalam ‘Kuli Kontrak’, Mochtar Lubis tidak sekadar menulis cerita ia menjelma menjadi kesadaran yang hidup di dalam teks. Tokoh “aku” menjadi ruang di mana pengarang nyata menghilang, sekaligus hadir dalam bentuk yang lebih halus dan kuat. Di sinilah terlihat bahwa pengarang dalam teks bukanlah cerminan langsung dari pengarang nyata, melainkan konstruksi yang sengaja dibangun untuk menciptakan pengalaman tertentu bagi pembaca.

    Pada akhirnya, cerpen ini menunjukkan bahwa sastra bukan hanya medium untuk menceritakan dunia, tetapi juga cara untuk mengalaminya kembali. Melalui suara yang sederhana dan pengalaman yang personal, ketidakadilan tidak lagi menjadi konsep yang jauh, melainkan sesuatu yang terasa dekat dan mengguncang. Dan mungkin, di situlah kekuatan sastra yang sesungguhnya: bukan hanya membuka mata, tetapi juga memaksa hati untuk tidak lagi berpaling.