Blog

  • Presiden Jokowi Akan Tempatkan 1.000 Sarjana Muda Papua di BUMN

    Presiden Jokowi Akan Tempatkan 1.000 Sarjana Muda Papua di BUMN

    Presiden Joko Widodo pada Selasa, 10 September 2019, bertemu dengan 61 tokoh Papua di Istana Negara, Jakarta. Dalam pertemuan tersebut, para tokoh Papua menyampaikan usulan dan aspirasi mereka langsung kepada Presiden.

    Kepala Negara yang telah mengunjungi daerah-daerah di Papua sebanyak 12 kali pada tahun ini tersebut menanggapi beberapa aspirasi yang sebagian besar berfokus pada peningkatan sumber daya manusia.

    “Tadi yang disampaikan oleh Pak Abisai Rollo mengenai pembangunan SDM itu betul. Sangat diperlukan yang namanya pembangunan SDM karena SDM ini menjadi kunci,” ujar Presiden.

    Abisai Rollo, seorang tokoh masyarakat Papua yang mewakili para tokoh Papua menyampaikan sejumlah aspirasi, berharap kepada pemerintah untuk mendorong generasi muda Papua agar dapat menempuh pendidikan dan memiliki kesempatan untuk meningkatkan kapasitas diri yang lebih baik sehingga nantinya mampu memberikan bakti lebih bagi pembangunan negara.

    Foto : Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden

    “Bapak Jokowi sebagai sobat kami di Papua, kami sangat berharap dengan keserasian investasi di bidang SDM ini maka stigma negatif tidak lagi diletakkan kepada kami. Generasi muda kami memiliki masa depan dan mereka tidak pernah melupakan sejarah bangsa yang besar ini,” ucap Abisai.

    Terkait dengan hal tersebut, Presiden Jokowi memberikan respons dan menggunakan kewenangan yang dimilikinya agar tenaga-tenaga muda Papua dapat diserap oleh BUMN-BUMN serta perusahaan lainnya.

    “Siang hari ini saya mau buka (lapangan kerja), ini untuk BUMN dan perusahaan swasta besar yang akan saya paksa. Kalau lewat prosedur nanti kelamaan. Jadi kewenangan saya, saya gunakan untuk bisa menerima yang baru lulus mahasiswa dari Tanah Papua,” kata Presiden.

    Presiden melanjutkan bahwa dirinya, dalam tahap pertama, akan mengalokasikan kesempatan kerja bagi 1.000 sarjana muda Papua. Menurutnya, dalam sejumlah kunjungan ke luar negeri, Presiden beberapa kali bertemu dengan para mahasiswa asal Papua yang memiliki kualitas kemampuannya tak diragukan.

    Foto : Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden

    “Saya bangga, waktu saya ke California di Amerika, saya bertemu mungkin dengan 12 mahasiswa kita yang dari Papua. Bukan pintar-pintar, (tapi) sangat pintar-pintar. Waktu saya ke New Zealand juga ketemu dengan lebih dari 10 mahasiswa dari Tanah Papua. Saya lihat juga pintar-pintar semuanya,” tuturnya.

    Selain itu, Kepala Negara juga akan membuka kesempatan yang lebih luas bagi para ASN Papua untuk dapat berkontribusi lebih bagi pembangunan dengan menempatkan putra-putri Papua di tingkatan eselon sejumlah kementerian dan lembaga negara.

    “Mengenai masalah PNS tadi supaya juga ada penempatan di provinsi-provinsi yang lain termasuk mulai kita atur di eselon 1, eselon 2, dan eselon 3,” ujarnya.

    Dalam pertemuan Presiden didampingi oleh Menteri Koordinator Politik, Hukum dan Keamanan Wiranto, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno dan Kepala Badan Intelijen Negara Budi Gunawan.

    Berikut 10 Poin Aspirasi Tokoh Asal Papua yang :

    1. Pembentukan lima wilayah adat di provinsi Papua dan Papua Barat

    2. Pembentukan badan nasional urusan tanah Papua.

    3. Penempatan pejabat-pejabar eselon 1 dan 2 di kementerian dan LPMK

    4. Pembangunan asrama nusantara di seluruh tempat studi

    5. Menjamin keamanan mahasiswa asal Papua.

    6. Usulan revisi Undang-undang Otsus dalam Prolegnas 2020.

    7. Menerbitkan Inpres untuk pengangkatan ASN Honorer di tanah Papua.

    8. Percepatan palapa ring timur Papua.

    9. Mengesahkan lembaga ada perempuan dan anak Papua

    10. Membangun istana Papua dan berkantor di Istana Presiden yang ada di Papua

  • “Lamafa” dan Wajah-Wajah yang Diselamatkan

    “Lamafa” dan Wajah-Wajah yang Diselamatkan

    “Novel “L a m a f a”, meminjam pemikiran Filsuf Emmanuel Levinas adalah novel yang menggugah kita agar terpanggil untuk berbelarasa dengan wajah-wajah yang tidak boleh kita sepelekan. Seorang Lamafa juga terpanggil untuk menafkahi para janda dan yatim piatu, wajah-wajah para janda, para yatim piatu yang mengharapkan kedatangamn ikan paus di Pantai Lamalera—menjadi panggilan moral sang lamafa. Lamafa tidak saja secara heroik menombaka ikan paus, dia (lamafa) terpanggil karena banyak wajah yang mesti diselamatkan…..

    Paskalis Bataona

  • Memahami Hati Papua

    Memahami Hati Papua

    PAPUA ibarat kitab besar dengan ribuan halaman. Bagi yang terbiasa membaca (Papua), tentu tidak masalah. Dan tak sekadar membaca. Perlu lebih dari itu: memahami. Apalagi siapa saja yang bersentuhan langsung dengan Papua.

    Paskalis Kossay, putra asli Papua menulis buku itu: “Dinamika Politik Indonesia Dibaca dari Papua”. Terbit dua bulan sebelum pecah peristiwa rasial medio Agustus lalu di Surabaya, Jawa Timur. Buku Paskalis, politisi dan anak koteka menulis buku di atas. Saya mengenal penulis sejak 2009, saat membantu rekan Diaz Gwijangge, anggota DPR Dapil Papua di Senayan.

    Paskalis hemat saya tak sekadar politisi nasional dari tanah Papua, nun di timur Indonesia, tanah Melanesia. Ia pun bukan getol menyuarakan soal-soal Papua untuk mendapat respon Pemerintah Pusat.

    Jauh sebelum ia didapuk jadi anggota DPR RI periode 2009-2014, ia concern menyuarakan soal-soal Papua. Termasuk merekamnya dalam bentuk buku. Salah satu buku Paskalis yang saya koleksi, “Jalan Panjang yang Berliku: Refleksi 50 Tahun Integrasi Papua ke Dalam NKRI”, yang terbit tahun 2013. Selain beberapa buku yang ia terbitkan sebagai sumbangannya bagi publik, terutama di tanah kelahirannya.

    Lebih dari itu, ia cukup banyak menghasilkan buku-buku berkualitas yang kerap jadi rujukan pengambil kebijakan tak hanya di pusaran kekuasaan: Jakarta, tetapi khusus di Papua, tempat tali pusarnya ditanam.

    Ahad ini, seorang sahabat menghadiai saya buku Paskalis Kossay di atas. Buku tersebut diberi kata pengantar Cahyo Pamungkas, peneliti yang concern dengan isu-isu Papua di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI).

    Paskalis Kossay menulis dengan hati, sebagai anak asli yang lahir di honai di tanah Papua. Buku itu sepintas mengingatkan elite di pusaran kekuasaan bahwa politik pembangunan Papua mesti dipahami juga dalam konteks lokal jika mau merindukan Papua maju setara dengan daerah-daerah lain di Indonesia.

    Papua dengan kebijakan otonomi khusus tak mulus dalam implementasi jika membayangkan gelontoran dana miliaran atau triliunan ke sana ampuh mengejar berbagai program yang disiapkan pemerintah daerah melalui Perdasi maupun Perdasus. Butuh lebih dari itu.

    Kadang membaca Papua tak mudah jika sekadar menggunakan cara pandang pusat. Lebih penting yaitu mau bersedia membaca dari kacamata pengambil kebijakan di Papua. Saya kira ini salah satu cara efektif ikut membantu Papua hari ini dan di masa akan datang.

    Nah, buku ini menarik dan boleh jadi perlu dibaca elite dan pengambil kebijakan dari Jakarta. Paling kurang lebih memahami Papua dalam artian sesungguhnya. Membangun Papua dengan hati. Adik-adik mahasiswa asal Papua, utamanya, perlu membaca buku ini. Buku ini bisa membantu melawan lupa. Selamat malam. Hormat dibri tuk Pace Paskalis Kossay. Wa wa wa…..

    Ansel Deri

  • Guru yang Tulus Melayani

    Guru yang Tulus Melayani

    Oleh Josef Bataona 

    “The teacher who is indeed wise does not bid you to enter the house of his wisdom but rather leads you to the threshold of your mind.”  (Kahlil Gibran)

    NEGARA INDONESIA baru berusia 2.5 tahun, tepatnya 30 Januari 1948. Di desa nelayan Lamalera Lembata NTT, lahirlah seorang anak laki2 kecil dan lemah, lewat perjuangan tragis dramtis ibunya, yang ngidam “Memahat batu kali menjadi lesung.”

    Nama yang tepat sudah diberikan orang tuanya: “Laba Lefet Vato” (LABA artinya alat untuk memahat batu). Dalam nama itu ada doa yang kelak sangat memotivasi hidupnya dalam memahat hati orang yang terkadang sudah membatu, Nama lengkapnya, Fransiskus Laba Bataona.

    Hari ini, 28 Juli 2019, kami semua diundang untuk merayakan perjalanan beliau sebagai guru, genap 50 tahun. Dan perayaan itu hendaknya dibaca sebagai perayaan komitmen beliau sebagai seorang guru dan karya melayani.

    Dengan bekal ijazah SMA dan PGSLP (Pendidikan Guru Sekolah Lanjutan Pertama), bapa Frans (demikian dia disapah muridnya) mulai karyanya sebagai guru, Bahasa Latin dan Musik Gregorian di SMP dan SMA Seminari Hokeng pada tahun 1969. Perayaan misa hari itu dipimpin Pater Fransiskus Asisi Labi Bataona CSsR dan dimeriakan oleh Koor Mudika Lamalera, INA LEFA.

    Persiapan Secara Sungguh-sungguh

    Perjalanan pa Frans sebagai Guru, dipersiapkan dengan sepenuh hati. Karena itu berbagai Pendidikan formal maupun non formal dilakukan untuk tujuan itu.

    Cita-citanya saat itu ingin menjadi Pertapa, maka diapun melangkah ke Biara Pertapaan Rawaseneng, namun Tuhan punya rencana lain.

    Dia mengikuti Pendidikan di Institute Filsafat Teologi Kentungan, Jogya. Kemudian dia mengikuti Pendidikan Guru di Fakultas Pendidikan Sastra Seni, jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, IKIP Sanata Dharma Jogya.

    Beberapa Pendidikan informal juga diikutinya demi persiapan masa depannya: Kursus dasar kataketik; Kursus Penulisan Ilmiah dan Jurnalistik di Kompas Gramedia Jakarta; Pelatihan menjadi composer dan arranger lagu oleh Pusat Musik Liturgi Yogyakarta.

    Kiprah di Kota Pelajar

    Ditengah kesibukan kuliah, pak Frans juga mengisi waktu luang dengan mengajar Agama Katolik di SD Pangudi Luhur dan SMP Marsudi Luhur Jogya. Dosen teologi & Liturgi dan Musik Gereja di Biara Pertapaan Rawa Seneng. Guru Bahasa Inggeris di Ganeza Course Jogyakarta

    Akhirnya Jogya dia tinggalkan dan mulai merambah karya di Ibu Kota sejak 1981. Tapi Jogya tetap jadi kota istimewa, karena disana dia membentuk diri sebagai insan professional. Dan lebih istimewa lagi, disana dia bertemu sosok yang Terpuji diantara Wanita yang dia temui. Namanya Maria Adriana Pudjiati yang lebih memilih dan melirik seorang guru sederhana. Lamaran diterima dan dia dipersunting bapa Frans ditahun 1985

    Di balik sukses seorang pria, demikian kata orang bijak, ada seorang wanita Tangguh, dan dialah Maria Adriana Pudjiati. Berikut foto pa Frans bersama istri dan anaknya Hosse.

    Merambah karya di Ibu Kota

    Nama Frans Laba Bataona dan kiprahnya ternyata membuat beberapa sekolah di Jakarta mengangkatnya sebagai Guru Tetap. Tapi ada juga yang memintanya sebagai guru yang diperbantukan, diselah-selah kesibukan utamanya.

    Sebagai Guru Tetap:

    SMA/SMP Tarakanita II Pluit: Guru Bahasa Jerman; sastra Indonesia dan Musik;

    SMA Bunda Hati Kudus: Guru Bahasa Jerman; Bahasa dan Sastra Indonesia; Music; Teknik debat; Majelis Pembina OSIS dan Motivator Spiritualitas Kelompok Rohani OSIS.

    SMA/SMP Bellarminus, Guru Bahasa dan Sastra Indonesia; Teknik Debat; Musik; Logika

    Berikut foto mereka yang hadir dan turut merayakan.

    Diperbantukan

    Sekolah Perawat Atma Jaya: Guru Agama Katolik; Music; Public Speaking; Teknik Debat,

    SMEA Pancaran Berkat: Guru Bahasa, Korespondensi dan Public Relations

    Lembaga Pendidikan Sekretaris dan Management St. Ursula: Guru Bahasa, Korespondensi dan Public Speaking,

    SMA Dharma Budhi Bhakti Sunter sebagai guru Bahasa dan Sastra Indonesia, Teknik Debat; Music/Tari; Public Speaking;

    SMA Kristen Karunia Pasar Baru: Guru Bahasa dan Sastra Indonesia,

    Dosen Tidak tetap

    AKSEMA Budhi Bhakti Cabang BSD Jakarta, sebagai Dosen Linguistik dan Perbandingan Agama

    Universitas Perjuangan 45 Cabang Sunter & Gunung Putri sebagai Dosen Linguistik; Psikologi Didaktik; Filologi; Logika

    AKSEMA Dharma Budhi Bhakti, cabang Gunung Putri: Dosen Linguistik; public speaking; Teknik debat

    ATI Gunung Putri: dosen Filsafat Pancasila; Etika Kepemimpinan

    Akademi Pariwisata Cigombong Sukabumi: dosen Linguistik; Public Speaking,

    Manfaat Bagi banyak Orang

    Laba dalam Bahasa Indonesia juga berarti keuntungan, manfaat. Tapi dalam perjalanan karya bapa Frans Laba sebagai guru, manfaat ini diberikan kepada banyak orang, kepada ribuan muridnya. Foto berikut, saat kami memaparkan perjalanan karya Frans Laba Bataona sebagai guru yang tulus mengabdi.

    Oprah Winfrey suatu hari menyampaikan kepada Penyair Maya Angelou, bahwa dia sudah membangun sekolah di Afrika Selatan: “Ini akan menjadi Legacy saya yang terbesar.”

    Maya menjawab, kamu tidak paham apa makna legacy sesungguhnya.

    “Your legacy is every life you have touched. Fill everything with love. Because every moment you are building your legacy.”

    Bapa Frans Laba Bataona, telah mendemonstrasikan kepada kita sepanjang 50 tahun perjalanan karyanya sebagai Guru, dia telah menyentuh kehidupan dari ribuan anak didiknya, yang saat ini telah sukses di berbagai bidang kehidupan. Dan beberapa diantaranya hadir bersama kita hari ini.

    Terima kasih kepada bapa guru Frans Laba Bataona yang telah menginspirasi kami semua untuk terus melayani di karya kehidupan kami masing-masing.

    “A teacher affects eternity: he can never tell where his influence stops.” (Henry Adams)

    Sumber : https://www.josefbataona.com

  • MEMBACA ARAH POLITIK PERJUANGAN PAPUA

    MEMBACA ARAH POLITIK PERJUANGAN PAPUA

    Oleh Paskalis Kossay

    Akhir – akhir ini kita dikejutkan dengan aksi – aksi demo rakyat Papua yang memprotes ujaran rasisme dan persekusi terhadap mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang. Aksi protes tersebut berkembang luas dan bahkan tak terkendali hingga menimbulkan korban harta benda serta nyawa. Massa bertindak anarkis merusak dan membakar fasilitas umum milik pemerintah dan swasta.

    Dampaknya menimbulkan ketakutan warga dan melumpuhkan aktivitas sosial dan ekonomi. Sekolah ditutup, kantor pemerintah ditutup, toko dan pasar ditutup. Warga masyarakat dihantui dengan ketakutan, saling menjaga jarak, terganggu relasi sosial antara warga non Papua dengan asli Papua. Sejumlah warga non Papua mulai mengkonsolidir diri membentuk kelompok – kelompok di sejumlah titik di kota Jayapura. Sebaran isu hoax bertebaran tak terkendali membuat eskalasi keamanan kota semakin tercekam.

    Mencermati perkembangan situasi sebagaimana tersebut di atas, maka bisa dikatakan konstelasi politik Papua tengah mengalami pergeseran arah. Dari arah konsep politik membangun, bergeser ke arah politik menentang pembangunan bangsa. Hal ini terbaca dari mencuatnya aspirasi Papua merdeka lepas dari NKRI yang semakin menggema belakangan ini.

    Dimotori para mahasiswa, aspirasi Papua merdeka sudah hadir di tengah kota. Orang Papua sudah tidak merasa ragu lagi berteriak merdeka dan mengibarkan bendera Bintang Kejora di tengah kota. Gejala ini menunjukkan ada perubahan cara pandang atau persepsi politik orang Papua tentang masa depan politik Papua itu sendiri.

    Dinamika tersebut tidak serta merta menghadirkan jaminan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Papua dalam tempo relatif dekat, namun perlu proses waktu yang lama dan panjang. Dalam proses perjuangan pun harus dengan kerja keras dan dengan pengorbanan jiwa dan raga. Proses perjuangan tersebut sebenarnya sudah dimulai sejak 1961 cikal bakal terbentuknya Papua sebagai sebuah negara bangsa.

    Riak – riak politik yang mewarnai selama 50 tahun bersama Indonesia, sebenarnya sikap gugatan orang Papua terhadap peristiwa politik masa lalu tersebut. Perjuangan tersebut kini sudah tersebar luas ke seluruh penjuru dunia. Bahkan sudah bergulir di forum Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB).

    Orang Papua sendiri sudah mulai menata diri, membentuk sebuah organ perjuangan yang bergerak di berbagai fora perjuangan baik di dalam negeri maupun luar negeri. Dengan terbentuknya organ perjuangan ini, maka seluruh aktivitas politik menyangkut politik Papua dikendalikan langsung di bawah kendali organ yang bersangkutan.

    Sehingga sejumlah aksi – aksi protes yang dilakukan oleh masyarakat Papua di dalam negeri tentu di bawah pengawasan organ pengendali. Semua agenda aksi di dalam negeri dilakukan dalam skenario organ. Dengan demikian, maka dapat dikatakan aksi caunter balik kasus Surabaya dan Malang merupakan skenario apik diperjuangkan organ perjuangan Papua tersebut.

    Jika pemerintah tidak hati – hati dan tidak bijaksana menangani Papua maka cukup besar peluang bagi Papua untuk melepaskan diri dari Indonesia. Indonesia tidak sanggup membendung lagi jika adanya intervensi PBB terhadap upaya perjuangan Papua.

    Indonesia tentu tidak rela Papua harus lepas dari Indonesia. Karena itu dengan bergai cara dan pendekatan , Indonesia mau mempertahankan Papua tetap dalam NKRI. Karena itu banyak pendekatan coba diterapkan di Papua. Namun sejumlah pendekatan tersebut rupanya belum mampan merubah Papua menjadi maju dan sejahtera.

    Pemerintah pasti mencari jalan lain untuk menjaga Papua agar tetap damai, tanpa adanya provokasi dari kalangan tertentu. Upaya pemerintah bisa ya, tetapi juga tidak bisa dinilai tepat. Oleh karena pola pendekatannya selalu berubah – ubah. Kadang represif, tetapi juga pendekataan kemanusiaan.

    Seperti akhir – akhir ini , pemerintah coba menerapkan pendekatan persuasif terhadap aksi – aksi demo. Namun akhirnya para pendemo justru bertindak anarkis merusak fasilitas umum dan milik masyarakat. Hal ini memancing amarah dari masyarakat lain kemudian menciptakan ketegangan di antaran warga. Situasi ini jika dibiarkan, akan berpotennsi kuat pecahnya konflik horisontal.

    Di sisi lain jika aspirasi massa demo tidak diarahkan baik, kemungkinan blundernya konstelasi politik Papua terbuka luas. Bisa saja muncul manuver politik lain yang memperparah konstelasi kondisi politik Papua.

    Kemungkinan situasi seperti Timor Timor sebelum refrendum bisa terulang di Papua. Pengalaman Timor Timur sebaiknya dijadikan guru yang baik menghadapi arus perlawanan politik Papua terhadap keutuhan NKRI.

    Memang masalah rasisme dianggap masalah kecil atau sepeleh. Tetapi jika masalah ini ditanggapi dengan uncur politik, tentu akan berbahaya bagi Indonesia. Karena alasan politik yang dibangun adalah masalah derajat kemanusiaan, maka respon dunia akan bergerak lebih luas, sehingga mengkerdilkan kepercayaan dunia kepada Indonesia.

    Penilaian ini lebih kurang akan memberikan bobot tingkat kepercayaan dunia kepada perjuangan Papua merdeka. Dengan demikian diplomasi Indonesia tentang masalah Papua semakin tidak mendapat tempat dalam percaturan politik dunia. Semoga pemerintah bisa belajar dari pengalaman Timor Timur.

    Sumber : Status FB Paskalis Kossay 1 September 2019

  • Para Pencinta Buku, Inilah Tempat Nongrong yang Pas

    Para Pencinta Buku, Inilah Tempat Nongrong yang Pas

    Untuk para pencinta buku dan yang punya hobi membaca, ada satu tempat yang menjual buku-buku murah dan lengkap yaitu Wisata Buku di Jalan Salemba Jakarta Pusat.

    Wisata Buku Kenari di Jalan Salemba Raya nomor 2 Jakarta Pusat, depan Plasa Kenari Jakarta Pusat, kini jadi tempat nongrong yang menyenangkan bagi para pencinta buku.

    Lokasinya pun sangat strategis, dekat daerah Senen, Kramat, Salemba dan Matraman. Sementara Pasar buku atau tempat wisata buku berada di lantai tiga Pasar Kenari atau Pasar Kenari Lama. Di Lantai bawah masih menjadi tempat jualan peralatan instalasi listrik

    Para pedagang buku yang dulu berjualan di pasar Senen dan kwitang, kini menjajakan buku dalam ruang ber-AC. Ada kedai kopi, resto, minimarket, dan tempat untuk mengadakan acara diskusi buku.

    Di tempat ini, disediakan juga area baca nyaman untuk pengunjung, dan Co-working space yang dilengkapi dengan meja dan bangku.

    Berbeda dengan persediaan buku di toko toko buku besar seperti Toko Buku Gramedia misalnya, di tempat ini buku-bukunya lebih beragam yang tersedia di 65 kios.

    Buku-buku jaman dulu yang dicari masih banyak yang tersedia. Buku-buku dari daerah yang tak pernah singgah di toko buku besar juga bisa ditemukan di sini. Demikian pula buku sekolah dan kuliah. Harganya pun bisa dikompromi bahkan bisa didiskon hingga 50 persen. (Ben)

  • Bamsoet Luncurkan Buku “Akal Sehat”

    Bamsoet Luncurkan Buku “Akal Sehat”

    Ketua DPR Bambang Soesatyo atau biasa dipanggil Bamsoet kembali meluncurkan buku terbarunya di Posko BamSoet , jalan HOS Cokroaminoto No 57, Menteng Jakarta Pusat, Rabu 28 Agustus 2019.

    Bamsoet meluncurkan buku berjudul “Akal Sehat” yang merupakan kumpulan pemikiran dan tulisannya. Peluncuran buku yang disertai diskusi buku ini menampilkan pembicara Politisi PDI Perjuangan Maruara Sirait, Intelektual Yudi Latif dan Staf Khusus Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Romo Benny Susetyo.

    Buku Akal Sehat yang merupakan buku ke-15 karya politisi Partai Golkar ini bercerita seputar demokrasi dan kesejahteraan.

    “Dalam berbagai tulisan di buku ini, fokus besar yang ditulis masih seputar demokrasi dan kesejahteraan. Karenanya banyak ulasan tentang perilaku elite politik hingga generasi milenial, dari mulai korupsi sampai penggunaan fitnah dan hoax dalam perburuan kekuasaan. Yang kesemuanya itu terkadang menjadikan kita lupa sebagai manusia yang mempunyai akal sehat,” kata Bamsoet

    Lewat bukunya ini, Bamsoet menyinggung fenomena Pemilu 2019 yakni semakin banyak orang-orang pintar yang rajin memproduksi kabar bohong atau hoaks sehingga kehilangan akal sehat.

    Bamsoet mengatakan bangsa Indonesia sedang diuji, ketika pelaksanaan Pemilu 2019. Banyak orang-orang pintar rajin produksi hoaks sehingga masyarakat kehilangan akal sehat dan kemudian terbelah.

    Menurut dia, ada pemikiran sistem demokrasi yang berjalan di Pemilu 2019, apakah akan dievaluasi atau tetap terus dijalankan dengan konsep pelaksanaan Pemilu Presiden dan Pemilu Legislatif berjalan serentak.

    Dia berpendapat, kalau sistem demokrasi yang saat ini dianut maka bukan tidak mungkin demokrasi Indonesia tergantung angka, bukan memperjuangkan aspirasi rakyat.

    Bamsoet lahir di Jakarta, 10 September 1962. Karier profesionalnya dimulai sebagai wartawan pada umur 23 tahun. Bamsoet menjadi wartawan Harian Umum Prioritas lalu pindah ke Majalah Vista. Kariernya menanjak naik saat menjadi pemimpin redaksi majalah Info Bisnis.

    Kecintaannya pada dunia tulis menulis ternyata masih terbawa hingga sekarang. Posisinya sebagai Ketua DPR RI tidak menyurutkan semangat untuk menyalurkan kegelisahan melalui buku.

    “Buku Akal Sehat merupakan buku terbaru saya yang ke-15. Menulis buku merupakan bagian dari relaksasi pemikiran agar tak jenuh menghadapi aktivitas politik yang penuh intrik,” ujar Bamsoet.

    Bagi Bamsoet, kegiatan menulis bukanlah barang baru. Sejak tahun 1985, dirinya sudah bergelut di bidang jurnalistik saat menjadi wartawan Harian Umum Prioritas, dilanjutkan menjadi Sekretaris Redaktur Majalah Vista (1987), Pemimpin Redaksi Majalah Info Bisnis (1991) dan Pemimpin Redaksi Harian Umum Suara Karya (2004).

    Bamsoet berharap, buku Akal Sehat ini bisa menambah khasanah industri buku di Indonesia. Sekaligus menyajikan berbagai tawaran gagasan yang bisa menggairahkan dialektika pemikiran kebangsaan.(*)

  • Presiden Jokowi: Kita Sekarang Ini Butuh Deregulasi Besar-besaran

    Presiden Jokowi: Kita Sekarang Ini Butuh Deregulasi Besar-besaran

    Presiden Joko Widodo menghadiri peresmian Pembukaan Orientasi dan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan bagi Anggota DPR RI dan DPD RI Terpilih Periode 2019-2024, di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi menyoroti fungsi legislasi para wakil rakyat dalam hal membuat regulasi.

    “Kita ingin semuanya nantinya setiap regulasi itu bisa dikerjakan dengan cepat. Tetapi mohon maaf, saya lihat dalam urusan yang berkaitan dengan regulasi, kita ini memakai pola lama yang sudah berpuluh-puluh tahun tidak pernah kita ubah,” kata Presiden.

    Sejak zaman Orde Baru, kata Presiden, proses pembuatan undang-undang masih bertele-tele. Untuk itu, Presiden Jokowi mengajak para anggota legislatif untuk mengevaluasi hal tersebut sehingga bisa menghasilkan regulasi dengan lebih cepat.

    “Saya melihat, mohon maaf, apakah tidak bisa kita evaluasi agar lebih cepat? Tanpa mengurangi ketelitian dan kecermatan kita dalam membuat setiap undang-undang sehingga kualitasnya juga akan semakin detail dan semakin baik,” imbuhnya.

    Tidak hanya itu, Presiden Jokowi juga memandang apabila terdapat Rancangan Undang-Undang (RUU) yang mungkin belum dapat diselesaikan oleh anggota DPR dalam suatu periode, maka rancangan tersebut seharusnya dapat dilanjutkan oleh periode berikutnya tanpa harus memulai semua dari awal.

    “RUU yang belum selesai di periode sebelumnya, seharusnya kan bisa carry over secara otomatis pada DPR periode berikutnya. Yang saya tahu, ini enggak bisa. Karena mestinya yang bertanggung jawab kan lembaganya, sehingga bisa diteruskan di periode yang selanjutnya agar kita tidak kehilangan waktu. Mohon maaf, ini mengingatkan saja kepada kita semuanya agar kita ini bisa bekerja lebih cepat karena tadi yang saya sampaikan,” paparnya.

    Menurut Kepala Negara, sekarang ini fleksibilitas, kecepatan memutuskan, dan kecepatan bertindak itu sangat menentukan berjalan atau tidaknya lompatan-lompatan yang akan dilakukan oleh Indonesia. Untuk itu, Presiden mengajak para anggota legislatif untuk bekerja menghadapi tantangan-tantangan yang sudah tak sama dengan masa lalu.

    “Sehingga perlu saya sampaikan, kita sekarang ini butuh deregulasi besar-besaran. Penyederhanan dan konsistensi di dalam membuat regulasi yang orientasinya semuanya harus hasil. Output, outcome, orientasinya ke sana semuanya,” ujarnya.

    “Jangan sampai kita ini masih seperti dulu-dulu. Targetnya membuat undang-undang sebanyak-banyaknya. Menurut saya sudah tidak relevan. Menurut saya, membuat undang-undang enggak usah banyak-banyak, tetapi yang dibutuhkan rakyat, dan itu memberikan fleksibilitas yang cepat terhadap eksekutif dalam bekerja,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Presiden Jokowi tidak ingin jika regulasi yang kaku dan rumit justru menyibukkan dan mempersulit masyarakat maupun pelaku usaha. Menurutnya, tidak seharusnya regulasi yang dibuat justru menjebak dan menakut-nakuti pembuatnya sendiri sehingga menghambat bangsa Indonesia untuk melakukan berbagai inovasi.

    “Oleh sebab itu saya mengajak kepada bapak ibu yang terhormat, yang mulia anggota DPR, DPD, agar regulasi yang tidak konsisten, regulasi yang banyak tumpang tindih antara satu dengan lainnya, kita selaraskan bersama-sama, kita sederhanakan bersama-sama,” ujarnya.

    Di penghujung sambutannya, Presiden Jokowi menegaskan bahwa ukuran kinerja pembuat undang-undang, bukan diukur dari seberapa banyak undang-undang yang dibuat. Tetapi sejauh mana kepentingan rakyat, bangsa, dan negara bisa terlindungi.

    “Harus bisa meningkatkan efisiensi, kecepatan, dan untuk anggaran sepenuhnya kita dedikasikan untuk rakyat, bangsa, dan negara ini,” tandasnya.

    Sumber : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden

  • Presiden Jokowi Ajak Legislatif Fleksibel dan Cepat dalam Membuat Regulasi

    Presiden Jokowi Ajak Legislatif Fleksibel dan Cepat dalam Membuat Regulasi

    Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan akan semakin berat. Tantangan tersebut berasal dari luar, seperti revolusi industri jilid keempat, era disrupsi, hingga tantangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian, serta tantangan yang berasal dari dalam negeri seperti intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Untuk itu, diperlukan kecepatan dalam memutuskan dan sikap responsif terhadap perubahan yang ada.

    Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat ia menyampaikan sambutan pada acara peresmian Pembukaan Orientasi dan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan bagi Anggota DPR RI dan DPD RI Terpilih Periode 2019-2024. Acara tersebut digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019.

    “Hari ini misalnya kita baru berbicara Brexit, besok sudah pindah lagi pada perang dagang, besok lagi sudah berbicara lagi masalah peso yang juga mempengaruhi mata uang seluruh dunia. Hal-hal seperti ini yang menyebabkan kita harus bekerja lebih cepat, memutuskan lebih cepat, dan responsif terhadap perubahan-perubahan yang ada,” tegas Presiden

    Presiden Jokowi Ajak Legislatif Fleksibel dan Cepat dalam Membuat Regulasi

    Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia ke depan akan semakin berat. Tantangan tersebut berasal dari luar, seperti revolusi industri jilid keempat, era disrupsi, hingga tantangan ekonomi global yang penuh ketidakpastian, serta tantangan yang berasal dari dalam negeri seperti intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Untuk itu, diperlukan kecepatan dalam memutuskan dan sikap responsif terhadap perubahan yang ada.

    Hal tersebut disampaikan oleh Presiden Joko Widodo saat ia menyampaikan sambutan pada acara peresmian Pembukaan Orientasi dan Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan bagi Anggota DPR RI dan DPD RI Terpilih Periode 2019-2024. Acara tersebut digelar di Hotel Bidakara, Jakarta, Senin, 26 Agustus 2019.

    “Hari ini misalnya kita baru berbicara Brexit, besok sudah pindah lagi pada perang dagang, besok lagi sudah berbicara lagi masalah peso yang juga mempengaruhi mata uang seluruh dunia. Hal-hal seperti ini yang menyebabkan kita harus bekerja lebih cepat, memutuskan lebih cepat, dan responsif terhadap perubahan-perubahan yang ada,” tegas Presiden Jokowi.

    Di tengah persaingan global tersebut, kata Presiden, hampir semua negara sekarang ini berkompetisi dan bersaing dalam memperebutkan investasi, teknologi, maupun memperebutkan pasar.

    “Siapa yang menjadi pemenang? Menurut saya negara yang cepat, bukan negara yang besar, tetapi negara yang cepat. Selalu saya sampaikan, negara yang cepat akan mengalahkan negara yang lamban, sudah,” lanjutnya.

    Tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia juga akan berasal dari dalam negeri. Presiden setidaknya menyebut tiga hal, yaitu intoleransi, radikalisme, dan terorisme. Untuk itu, Presiden memandang bahwa strategi-strategi baru dalam bernegara amatlah diperlukan, termasuk dalam membuat regulasi.

    “Kita membutuhkan cara-cara baru dalam bernegara. Harus lebih cepat, sehingga dalam hal ini saya mengajak dalam membuat regulasi-regulasi nantinya juga kecepatan itu sangat kita perlukan. Karena tanpa sebuah kecepatan dalam membikin regulasi ya kita akan ditinggal oleh revolusi industri jilid keempat, oleh teknologi baru yang selalu bermunculan setiap hari,” jelasnya.

    Dalam setiap konferensi internasional yang dihadirinya, Kepala Negara menyebut bahwa kecepatan regulasi yang selalu tertinggal dari perubahan teknologi selalu menjadi pembahasan para kepala negara maupun kepala pemerintahan. Misalnya pada KTT G20, semua pemimpin berbicara masalah pajak digital yang belum ada regulasinya di hampir semua negara.

    “Sehingga kecepatan-kecepatan di dalam membuat undang-undang dan peraturan itu sangat diperlukan dan semua itu membutuhkan sebuah ekosistem politik, ekosistem hukum, dan ekosistem sosial yang kondusif yang mendukung adanya kecepatan yang tadi saya sampaikan,” imbuhnya.

    Sumber : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretaria Presiden

  • Presiden Jokowi Pimpin Ratas Persiapan PON dan Peparnas Papua 2020

    Presiden Jokowi Pimpin Ratas Persiapan PON dan Peparnas Papua 2020

    Presiden Joko Widodo memimpin rapat terbatas (ratas) tentang persiapan penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional (PON) dan Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) tahun 2020 yang akan digelar di Provinsi Papua. Rapat terbatas tersebut digelar di Kantor Presiden, Jakarta, pada Senin, 26 Agustus 2019.

    Dalam pengantarnya, Presiden Jokowi mengatakan bahwa PON merupakan ajang olahraga terbesar di Indonesia yang akan diikuti oleh puluhan ribu atlet dan ofisial dari 34 provinsi. Ia juga mengingatkan bahwa PON bukan hanya ajang kompetisi olahraga semata.

    “Saya ingin mengingatkan bahwa PON bukan hanya ajang kompetisi olahraga semata. Namun PON adalah arena kita bersama untuk merayakan keragaman, mempertebal semangat persaudaraan kita dan juga arena memperkuat persatuan dan kesatuan,” ujar Presiden.

    Dengan waktu persiapan yang tinggal setahun lagi, Presiden Jokowi menekankan perlunya percepatan pembangunan infrastruktur pendukung penyelenggaraan PON. Pembangunan venue, non-venue, hingga kesiapan akomodasi bagi atlet dan ofisial yang akan datang ke Papua, menurut Presiden, sangat diperlukan.

    “Saya minta para menteri terkait, Gubernur Papua juga, untuk terus terjun langsung memantau, mengecek perkembangan dan persiapan di lapangan. Lakukan evaluasi secara berkala tentang masalah dan kemajuan yang sudah dicapai di lapangan,” lanjutnya.

    Terkait dengan pembangunan infrastruktur pendukung, Presiden Jokowi juga meminta agar dipikirkan tidak hanya pada saat PON saja. Lebih jauh, Presiden ingin agar sarana dan prasarana tersebut juga dimanfaatkan pascapenyelenggaraan PON dan Peparnas 2020.

    “Jangan sampai setelah pelaksanaan PON dan Peparnas, sarana dan prasarana olahraga yang sudah dibangun dengan biaya yang tidak sedikit justru tidak dimanfaatkan sehingga menjadi rusak dan tidak terawat,” katanya.

    Untuk itu, secara khusus Presiden Jokowi meminta Gubernur Papua Lukas Enembe untuk membuat rencana pemanfaatan sarana prasarana olahraga ini, terutama untuk pembinaan bibit-bibit unggul anak-anak Papua di bidang olahraga.

    “Saya yakin (dari) Tanah Papua akan lahir talenta-talenta yang hebat di bidang olahraga, termasuk sepak bola, atletik, dan cabang-cabang olahraga lainnya,” tandasnya.

    Sumber : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden