Blog

  • Manusia Noken dan Karya Budaya

    Manusia Noken dan Karya Budaya

    Oleh Titus Pekei

    “Noken menjamin kehidupan. Noken Warisan budaya leluhur Papuani. Noken menyatukan sebagai warisan budaya takbenda. Namun noken memerlukan perlindungan yang mendesak, sebab noken sedang menuju musnah tanpa regenerasi.”

    Pencetus gagasan noken bukan tanpa konsep tetapi  punya jejak hidup dari sejak lahir dan besar bersama noken karena digendong dalam noken dan hingga dewasa membawa noken kemana pun pergi. Dengan Noken, segala permasalahan hidup bisa teratasi lantaran menjiwai nilai dasar yang terkandung dalam Noken.

    Menjiwai nilai dasar yang terkandung pada Noken, dapat digambarkan sebagai berikut, ”Noken ada dalam tubuh, ada hidup, ada nyawa, dan batin manusia, ada perasaan, ada pikiran dan angan-angan. Ada keutamaan dan ada sumber tenaga, ada semangat, ada maksud, ada daya hidup orang atau makhluk hidup lainnya. Selalu ada kegelisahan, ada senang dan ada suka, ada nasib yang tidak tentu, namun ada raga jiwa dan badan yang memerlukan perlindungan mendesak”.

    Dalam proses pembangunan peradaban bangsa suatu strategi yang konsepsional tidak selamanya menjangkau apa yang dimaksudkannya. Pembangunan sebagai proses, cara dan tindakan tidak selamanya berjalan liner, karena di sana juga ada tuntutan lain yakni nilai yang memungkinkan  suatu kemajuan lahir batin dengan berbagai norma seperti sopan santun, budi bahasa, dan budi pekerti. Selalu saja terlintas keinginan yang begitu kuat agar pembangunan dapat membangkitkan setiap insan manusia di muka bumi  untuk memiliki harkat dan martabat yang sama.

    Manusia Papua atau manusia Noken pun seperti manusia lain di atas planet bumi yang punya tabiat, akhlak dan watak sebagai kendali sifat batin dirinya. Pendekatan kebudayaan atau pendekatan budaya dianggap akan menjamin adanya kebangkitan naluri dalam bentuk jamak dari kata “budi” dan “daya” yang berarti cipta, rasa dan karsa. Sebab, budaya menyangkut keseluruhan aspek kehidupan manusia baik material maupun imaterial yang mesti saling memahami antara manusia yang satu kepada manusia yang lain secara bijaksana.

    Dalam membangun peradaban bangsa sangat membutuhkan proses pendekatan kebudayaan yang melingkupi substansi isi utama budaya, sifat-sifat budaya, sistem budaya, dan manusia sebagai pencipta dan pengguna kebudayaan. Pendekatan kebudayaan juga memperhatikan pengaruh budaya terhadap lingkungan dalam proses dan perkembangan kebudayaan disertai permasalahan kebudayaan dan perubahan kebudayaan. Wujud kebudayaan itu didalami sebagai suatu rangkaian tindakan dan aktivitas manusia yang mempunyai atau memakai pola yang unik dengan kekhasan yang tak tergantikan.

    Misalnya, Manusia Noken tidak bisa dipisahkan dari pulau, alam, tanah sebagai tempat hunian. Ketereikatan dengan tanah, dan alam, memungkinkan manusia Papua menghayati kehidupan sehari-hari secara bijaksana yang bermuara pada ilmu pengetahuan hidup. Kehidupan dari pengetahuan alam ini telah dibuktikan dengan ilmu noken yang menyebar pada  kurang lebih 250 suku/etnik. Dengan kata lain, nurani Noken karya budaya telah  menyertai bersama manusia Papua

    Tanpa terlalu merumitkan persoalan dengan kepakaran ilmu pendidikan formal, mengenal manusia Papua dapat dimulai dari mengenal kebijaksaan  dan ilmu pengetahuan alami  yang dimilikinya. jika pun harus didekati dengan ilmu pengetahunan formal, maka ilmu itu mampu menemukan  metodologis yang sistematis secara Papuani.

    Manusia Papua, Manusia Noken

    Mengapa Manusia Papua disebut manusia Noken? Sebab sifat hakiki dari kebudayaan atau budaya itu sendiri tercermin dari apa yang dihasilkannya. Mengenal karya budaya luhur mesti masuk lewat Manusia Papua yang selanjutnya disingkat MaP dan kemudian disebut Manusia Noken yang selanjutnya disingkat MaN. Hakikatnya, MaP menghasilkan karya budaya luhur sebagai manusia Noken atau sebaliknya MaN merajut atau menganyam kehidupan sebagai manusia Papua.

    Hakikat mengenal MaP atau MaN, hal pertama yang terlintas dalam benak, tentu terukir suatu kesan seperti ketertinggalan, kebodohan, kemiskinan dan kekerasan dan lainnya sebagainya, sesuai cara pandang yang tercermin dari hati dan pikiran. Kenyataannya, MaP atau MaN mampu menghadirkan noken kehidupan bukan sebatas pendekatan seperti dalam bayangan, tetapi dalam wujud alam nyata dan alam pikir manusia secara Papuani.

    MaP atau MaN menjalani hidup bukan dalam dunia mimpi akan tetapi dunia nyata. Dengan pendekatan ilmu Noken pun MaP dapat bertahan hidup. Pada hakekatnya, MaP terus mengalami dinamika kehidupan. Ketika mengalami kesuksesan dan kesulitan hidup, yang dicari adalah memahami dan  mengandalkan pada alam pikir dirinya alam yang menyertai.

    Sistem pengetahuan yang dimiliki oleh manusia noken dari masa lalu entah sebagai manusia sosial, budaya dan komunitas adat, dalam pergumulan hidupnya selalu bertolak dari alam sekitarnya. Tumbuhan, hewan dan segala bahan mentah dan benda yang disediakan lingkungan sekitarnya mempengaruhi sifat dan tingka laku berhadapan dengan sesama manusia dalam ruang dan waktu. Lambat laun, berdasarkan pengalaman, pendidikan formal yang diperoleh, juga petunjuk simbolis yang diterima terjadilah penggabungan berbagai pengetahuan, tersusun secara logis dan bersistem dengan memperhitungkan sebab dan akibat yang akan dirasakan dan dialaminya.

    Upaya menggali karya budaya akan mengalami kesulitan tanpa mengenal sebagai MaP atau MaN. Manusia yang memakai cermin jarak jauh atau pun dekat  harus mulai menentukan posisi yang pasti agar tepat untuk mengenal.

    Sebenarnya, mengenal MaP atau MaN tidak sulit seperti bayangan cermin yang bertolak dari pikiran jarak jauh atau dekat. Bila hendak mulai, maka mesti berpijak pada manusia noken itu sendiri secara teliti, cermat atau saksama maka akan dengan mudah mengenalnya. Hal yang segera diperoleh adalah siapa pun tidak boleh menyepeleghkan namun menghargai noken sebagai karya budaya manusia yang sama harkatnya. Kemampuan merajut atau menganyam noken kehidupan menjadi salah satu penghayatan agar menghayati manusia Noken tanpa menganggap hal yang biasa atau remeh ketika melihat manusia noken.

    Begitu pun, sebelum memahami pulau alam tanah Papua pun bukan melalui jalan lain tetapi kedepankan dengan pendekatan kemuanusiaan sebagai hakikat adanya manusia yang sama harkat dan martabat sebagai ciptaanNya tanpa merobek/merusak noken kehidupan. Pulau Papua adalah satu kawasan kepulauan terbesar kedua dunia dan dikelilingi pulau-pulau kecil disekitarnya dengan pose yang unik dengan segala kekhasannya.

    Noken hasil kemahiran perajin memampukan sebagai pengetahuan yang dapat memampukan dan membangkitkan semangat atas tumpuan ilmu, pengetahuan dengan alam pikir manusia Papua atau manusia Noken. MaN dan Map telah menghasilkan noken sebagai tumpuan  ilmu pengetahuan yang menghidupkan komunitas noken di 7 (tujuh) wilayah masyarakat adat Papua.

    Memahami  alam Papua merupakan pemahaman akan segala sesuatu yang ada dan tidak sama dengan alam lain dalam satu planet bumi baik geografis, iklim, cuaca dan bentuk keanekaragaman hayati serta potensi alam yang terbarukan dan takterbarukan di dalam alam maupun diatas alam itu sendiri.

    Memahmi tanah Papua adalah memahami satu kawasan pijakan hidup manusia dan segala komponen hidup (biotik) dan komponen takhidup (abiotik) yang saling mendukung dalam kehidupannya dan oleh manusia Papua katakana tanah adalah mama (noukai)/ibunda (akukai) yang tidak bisa di perjual-belikan karena mama/bundanya.

    Tradisi Noken berwujud nyata zaman leluhur ada dan berabad-abad lamanya dikenal dalam kehidupan sehari-hari namun tidak pernah tersirat dan tercatat tahun berapa noken ada diatas tanah Papua. Artinya, leluhur manusia mulai ada di situ, noken pun mereka hasilkan dan gunakan dalam kehidupan sehari-hari.

    Beberapa Pengertian

    a.  Noken

    Noken merupakan salah satu wadah hasil rajutan atau anyaman kerajinan tangan masyarakat adat Papua. Noken adalah hasil rajutan atau anyaman kerajinan tangan masyarakat adat di tujuh wilayah adat Papua. Noken sudah menjadi tradisi dalam kehidupan sehari-hari dan sudah turun-temurun sejak nenek moyang leluhur suku bangsanya. Hingga kini noken masih dijalankan dan dipertahankan dalam penghayatan hidup sehari-hari sebagai masyarakat atau manusia noken.

    Noken adalah salah satu karya budaya yang sudah berkearifan lokal yang mewadahi diri, pribadi, keluarga, komunitas suku bangsa, masyarakat adat. Dalam berbangsa dan bernegara pun membutuhkan wadah agar hidup menyatu tanpa menjadikan sesuatu yang lain dalam kehidupan sehari-hari. Noken adalah salah satu wadah multifungsi yang dimanfaatkan oleh masyarakat adat Papua baik dalam keadaan suka dan duka, senang dan sulit dapat menyemangati sebagai identitas jati-dirinya.

    Keberpihakan melalui karya budaya luhur menjadi sangat penting dalam merajut atau menganyam noken kebersamaan tanpa merobek atau merusak Noken kehidupan. Salah satu cara mengenal kerajinan tangan masyarakat Papua dan mereka membuat dari bahan baku apa dan ambil di mana menjadi penting untuk mengetahui Noken secara benar tanpa menyesatkan noken kehidupan itu pada kelaknya. 

    b. Manusia Noken

    Salah satu cara memahami manusia Noken (MaN) lewat hasil karya kerajinan tangan masyarakat atau manusia Papua (MaP) menurut budi dan daya dapat terwujud sebagai hasil cipta, rasa, dan karsa masyarakat di 7 (tujuh) wilayah adat. MaN mempertahankan harkat diri dan memperkaya dengan makna-makna, nilai-nilai, norma-norma dan gagasan-gagasan filsafat noken kehidupan dalam mengisi proses pembangunan yang selaras dan seimbang sesuai kearifan lokal secara Papuani.

    c. Penggagas Noken

    Penggagas adalah pemikir atau pencetus gagasan yang memikirkan pentingnya penyelamatan karya budaya manusia atas dasar tumpuan hidup yang berkelanjutan tanpa batas. Sementara gagasan adalah hasil pemikiran, ide tentang sesuatu sebagai pokok atau tumpuan dasar pemikiran selanjutnya untuk  dikenal dan dipraktikan.

    Penggagas  Noken adalah pribadi yang menyatukan hati, pikiran untuk melahirkan kembali atas karya budaya leluhur agar bangkit beralaskan identitas jati-dirinya sebagai manusia noken di tanah Papua. Penggagas Noken adalah orang memikirkan, meneliti dan mendalami secara konsisten tentang Noken dengan mengikuti pemikiran, ide, gagasan komunitas perajin noken sebagai pokok sumber alam pikir atau tumpuan untuk pemikiran selanjutnya.

    Penggagas adalah pemikir atau pencetus gagasan bukan pembuat atau perajin kerajinan tangan tetapi penggali nilai dan makna noken kehidupan yang menjadi tradisi hidup masyarakat adat tujuh wilayah Papua.

    Penggagas noken mestinya putra asal Papua yang lahir dan besar dalam komunitas noken suku bangsanya. Ia dilahirkan dan dibungkus dalam noken dan dibesarkan pun dengan noken yang layaknya disebut anak Noken. Setiap manusia Papua tidak mungkin mengalami hal serupa tetapi, siapapun manusia Papua adalah anak Noken karena mereka dilahirkan dalam komunitas noken suku bangsanya sebagai harkat hidup manusia Noken atau manusia Papua.

    d. Penggali Noken

    Penggali adalah pribadi yang punya tekad untuk menghidupkan kembali dengan semangat merajut atau menganyam noken kehidupan manusia Papua sebagai manusia Noken. Jika tidak dilakukan lambat laun akan menuju krisis identitas dan jati-diri budaya hal mana seakan manusia Papua tidak memiliki karya budaya luhur dirinya. Pemaknaan penggali bukan pendekatan kepakaran pendidikan formal tertentu tetapi mereka yang menjiwai dan menjadi pribadi noken dengan menelusuri melalui  jalan mengenal, menyapa dan mengangkat serta menyelamatkan tradisi dengan memosisikan mata budaya Papuani. 

    Sang Penggali adalah orang yang menggali supaya tidak musnah tetapi terus ada kedepan dan akhirnya menjadi bukti konsistensi putra asli Papua tanpa sekedar pemikiran wacana tetapi sampai menyelamatkan warisan budaya luhur yang dimiliki masyarakat atau manusia Papua.

    Sang adalah satuan kata yang dipakai di depan nama bagi pribadi yang memunculkan, meneruskan dengan perjuangan tak kenal lelah sampai menghadiri sidang penetapan mata budaya Papua terdaftar sebagai situs warisan budaya takbenda atau warisan dunia di Markas Unesco Paris. Penggali merupakan sebutan depan dari sasaran yang sudah diperkenalkan ke publik baik lokal, nasional dan internasional.

    Penggali adalah pribadi yang memunculkan pikiran awal dengan membangun pemahaman karya budaya manusia Papua secara komunal sejak 2008. Setelah beberapa tahun kemudian di tahun 2010 diingatkan kembali tentang karya budaya manusia Papua. Pada saat itu, bersama saudara Yulianus Kuayo, pernah berdiskusi pentingnya warisan budaya universal (semua suku punya noken) di tanah papua akhirnya, pemerintah pusat dan pemerintah daerah membicarakan tentang pentingnya noken sebagai karya budaya manusia Papua.

    Sang penggali noken bukan perajian kerajinan tangan yang bisa membuat tetapi pribadi yang di besarkan dalam komunitas Noken. Noken sebagai hasil karya tangan masyarakat atau manusia Papua secara komunal menurut suku bangsa namun dihadirkan lewat pribadi/individu perajin noken yaitu mama-mama noken dari hampir semua komunitas suku-suku bangsa di Papua. Ada pun perajin bapak-bapak yang secara trampil membuat noken anggrek dari daerah suku bangsa Mee di Meuwo tanah Papua.

    e. Lembaga Noken Papua

    Lembaga Noken Papua  adalah wadah yang didirikan demi kesatuan ekologi pulau alam tanah Papua dan mengkaji tentang alam lingkungan, penghuni tunggal di atas kawasan wilayah yang penuh misteri atas peradaban dirinya. Lembaga Ekologi Papua (Ecology Papua Institute -EPI) berdiri 9 September 2001. Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dan keadaan (kondisi) alam sekitarnya dalam kesatuan lingkungan alam nyata dan sebaliknya dapat terwujud untuk saling menopang, mendukung dan menjamin dalam ketahanan lingkungan alam sekitarnya secara berkelanjutan;

    f. Papuani

    Papuani adalah orang yang menjiwai sikap rasa memiliki secara sungguh-sungguh terhadap penghuni alam tanah Papua termasuk manusia dan alam sekitar dengan penuh keberpihakannya.

    Noken Setelah Ditetapkan UNESCO

    Secara resmi Noken dibahas dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda atau Warisan Dunia oleh United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) di Markas UNESCO di Paris, Prancis, 4 Desember 2012. Keputusan ini diketuk palu oleh Arley Gill dari Grenada yang saat itu menjadi ketua Sidang Komite. Lembaga PBB untuk Bidang Pendidikan, Keilmuan, dan Kebudayaan, ini secara resmi menilai tas rajutan atau anyaman multifungsi tersebut memerlukan perlindungan mendesak.

    Dengan penetapan oleh UNESCO ini, Noken mulai dikenal dan mendunia.  Dalam sidang UNESCO pun telah membahas dan menetapkan betapa pentingnya kehadiran Noken sebagai warisan budaya takbenda (intangible cultural heritage), suatu karya budaya yang hidup dalam komunitas suku bangsa di tanah Papua. Sidang berlangsung tanpa hambatan dan menjadi momentum penting perjalanan warisan takbenda dalam hal ini Noken. Noken telah memiliki arti penting atas keabadian budaya dalam menata peradaban dunia baru atas karya budaya manusia Papua yang luhur dan diwariskan secara turun-temurun hingga kini.

    Peristiwa penetapan ini menjadi kejutan bagi Manusia Papua (MaP) dan manusia Indonesia (MI). Lalu apa tanggapannya, pasti bangga dan memberi pujian terhadap Noken dan Manusia Papua dan Pemerintah Indonesia atas pengakuan noken itu. Tanggapan lain pun menyertiainya bahwa membahas apa isinya dan akan mendapat apa setelah Noken ditetapkan oleh lembaga PBB UNESCO yang bermarkas di Paris itu.

    Memang, kenyataannya orang-orang Papua sendiri mulai melupakan ketika tidak membuat noken dan memakai noken. Kian  hari kecintaan terhadap noken semakin menurun sebagai gejala menuju pemusnaan. Terutama di pusat-pusat kota di seluruh tanah Papua, noken mulai jarang dipakai dan mulai digantikan dengan banyaknya jenis barang berupa tas yang masuk dari luar. Pada kenyataannya, pemilik warisan budaya luhur noken itu sendiri tidak mengenakan noken kehidupan pada dirinya kecuali tas kantong plastik, tas kain, tas karung, tas nylon,  tas woll dan lainya. Keadaan ini sungguh sangat memprihatinkan dan jika tidak diperhatikan, lambat laun noken yang di dalamnya terkandung nilai, kepercayaan, tradisi serta sejarah dari masyarakat Papua dapat menuju kepunahan.

    Ketika noken sedang menuju krisis nilai-nilai budaya yang terkandung dalamnya, masyarakat Papua sebagai pemilik jarang memikirkan untuk melestarikan dan menyelamatkan noken agar tidak musna/punah. Karena itu, dasar pemikiran adanya perlindungan noken, telah memberi arti dan makna pentingnya noken dalam kehidupan manusia Papua yang sedang menuju krisis identitas budaya. Kekuatiran bahwa orang Papua akan terancam punah pada beberapa tahun ke depan dapat diatasi dengan mulai  memberi motivasi awal bahwa “Cermin Noken Ekologi Papua”, dapat menjadi pintu masuk  menyelamatkan dan melestarikan warisan budaya papuani.

    Setelah noken ditetapkan, hal yang tak bisa diabaikan adalah bagaimana memberi perlindungan hukum atas hak kekayaan intelektual (HKI)  sebagaimana telah dikenal di negara-negara maju.  Perlindungan ini dimaksud agar terlindungi dari pemanfaatan tanpa hal dan melanggar kepatutan. Perlindungan ini pun memiliki arti penting untuk memberikan kekuatan pendorong bagi masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan, serta meningkatkan eksistensi dan jatidiri masyarakat.

    Namun, kebutuhan untuk melakukan perlindungan hukum terutama yang menyangkut HKI, menghadapi persoalan karena belum sempurnanya mekanisme hak cipta yang mengakomodasi perlindungan dan pemanfaatan  yang layak bagi karya yang bersifat kolektif dan komunitas. HKI untuk karya cipta yang diketahui adalah hak individu atas penciptanya.

    Perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) atas Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Tradisional (PT dan EBT), merupakan hal yang baru bagi bangsa Indonesia terutama di Papua. Permasalahan muncul disebabkan berkembangnya aspek hukum Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dalam karya-karya budaya yang kepemilikannya yang bersifat kolektif dan telah diwariskan secara turun-menurun serta tidak diketahui siapa penciptanya.

    Kondisi sebagaimana dimaksud di atas, sudah selayak dan sepatutnya untuk mencari jalan lain agar dari segi hukum, noken tetap dilindungi. Salah satunya melalui sebuah produk peraturan perundang-undangan tersendiri. Dalam hal ini pemerintah daerah baik di tingkat provinsi maupun kabupaten perlu merumuskan kebiajakan daerah terkait dengan upaya perlindungan noken. Untuk mewujudkan hal ini maka komitemen dan kerja sama pemerintah pusat dan daerah tentu sangat diperlukan.

    Pada hakikatnya, noken warisan budaya takbenda dihayati sebagai wadah diri, wadah keluarga, wadah komunitas, wadah masyatakat dan bahkan kehadiran bangsa-negara pun membutuhan wadah dalam penguatan karakter bangsa manusia tanpa sinisme karena membutuhkan pelindungan dan pengembangan atas warisan budaya luhur ini. Kenyataannya pun tampak bahwa sinisme di benak pemilik warisan budaya leluhur tanpa menilai bahwa noken warisan budaya yang luhur ini tersimpan berbagai nilai-nilai yang hidup demi menghidupkan dalam kehidupan sehari-hari dari generasi dahulu, sekarang dan akan datang.

    Noken sebagai warisan budaya yang terancam punah, sudah selayaknya dilindungi oleh negara. Adapun upaya untuk melestarikan noken yaitu dengan melakukan proses identifikasi, inventarisasi (pencatatan noken sebagai warisan budaya Takbenda), penelitian, preservasi (menjaga dan memelihara), memajukan (asalkan tidak tercerabut dari akar budayanya), dan mentransmisikan budaya noken melalui berbagai kegiatan.@

  • Pesona Bukit Cinta Lembata

    Pesona Bukit Cinta Lembata

    Bukit Cinta adalah salah satu tempat wisata di Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Letaknya berada di Desa Bour, Kecamatan Nubatukan.

  • Lebih 800 Karya Tulis Bung Hatta Diterbitkan Dalam 10 Seri Buku

    Lebih 800 Karya Tulis Bung Hatta Diterbitkan Dalam 10 Seri Buku

    Proklamator RI  Mohammad Hatta tidak saja dikenal sebagai seorang pejuang kemerdekaan tapi juga seorang intelektual yang sejak usia 16 tahun  (1918), sudah menuliskan pikirannya dalam dalam bahasa Indonesia, Belanda maupun Inggris dalam berbagai bentuk buku, artikel, ceramah, pidato, esei, makalah, kata sambutan, dan surat-surat.

    Dari tahun 1918 hingga tahun 1979 yakni saat usianya 77 tahun, ia telah menghasilkan 800 lebih artikel yang.saat ini  dibukukan dalam 10 Buku dan diterbitkan LP3ES. 10 Buku ‘Karya Lengkap Bung Hatta (KLBH)’  ini resmi diluncurkan  di Kemendikbud, Selasa, 13 November 2018.

    Peluncuran buku tersebut dihadiri Menteri Pendidikan dan Kebudayaan(Mendikbud) Muhadjir Effendy. Cendikiawan Indonesia  yang juga Ketua Dewan Redaksi KLBH Emil Salim, Dirjen  Kebudayaan Hilmar Farid, Wakil KPK Laode M Syarief, Sejarawan Taufik Abudulla, Sosiolog Imam Prasodjo, Cendikiawan Beeti Alisjabana, CEO Kitabisa.com Alfatih Timur,  Pendiri dan Ketua Bineksos Ismit Hadad Founder BINEKSOS Ismid Hadad dan keluarga Bung Hatta.

    Mendikbud Muhadjir Effendy dalam sambutannya menilai karya Bung Hatta yang dibukukan belum merangkum semua gagasan besar yang berasal dari pemikiran Bung Hatta. Menurutnya, tidak hanya karya Moh Hatta yang menjadi perhatian,  tapi juga karya disertasi, buku dan artikel yang khusus membahas dan merujuk pada pemikiran Hatta. Hal ini  perlu juga disertakan agar dapat menjadi inspirasi generasi ke depannya.

    “Saya sangat merekomendasi kalau nanti dilanjutkan dengan melakukan kompilasi karya-karya disertasi, tesis yang bersumber dari gagasan Bung Hatta,” ujar Muhadjir Effendy.

    Muhadjir Effendy pun menilai Bung Hatta adalah sosok yang memiliki perspektif ilmu pengetahuan sangat luas. “Saat ini sebagian besar orang hanya mengenal Bung Hatta sebagai ekonom, negarawan dan bapak Koperasi. Padahal, Bung Hatta merupakan seseorang yang memiliki perspektif ilmu pengetahuan yang sangat luas tidak sebatas ihwal ekonomi saja,” katanya.

    Muhadjir mengatakan ketika dirinya menyusun disertasi yang mengambil topik soal militer, ternyata peletak dasar gagasan utama mengenai profesionalitas militer merupakan buah pemikiran Bung Hatta.

    “Saya punya pengalaman intelektual sendiri dengan Bung Hatta, yaitu dalam disertasi saya kebetulan saya tulis tentang militer ternyata letak dasar profesional militer Indonesia yaitu dengan kebijakan rasionalisasi militer tahun 1949 itu lah yang sebetulnya mendasari perkembangan TNI yang pada akhirnya harus membantu menjadi TNI profesional itu. Ini yang mungkin tidak banyak yang mengetahui,” papar Muhadjir.

    Muhadjir ingin tradisi intelektual tokoh bangsa seperti Bung Hatta terus berlanjut hingga generasi mendatang. Salah satu upayanya melalui buku. Menurutnya, hal tersebut sangat penting untuk menjadi bagian dari konten atau materi pendidikan untuk anak-anak Indonesia, anak-anak generasi milineal agar praktisi intelek ilmiahnya atau benang merah pemikiran para pendiri, para perintis, bapak bangsa ini akan tersambung, terwariskan ke generasi muda Indonesia mendatang.

    Putri sulung Bung Hatta yakni Meutia Farida Hatta Swasono dalam sambutannya mengatakan peluncuran 10 seri buku ‘Karya Lengkap Bung Hatta’ dapat memberikan gambaran bagaimana Bung Hatta telah mendesain dan meletakkan doktrin kebangsaan dan kerakyatan.

    Menurut Meutia sebagai ilmuwan dan akademisi dirinya selalu mengingat tugas berat yang dilimpahkan ayahnya mengenai doktrin kerakyatan itu pada kaum intelegensia Indonesia. “Setiap kali saya sebagai ilmuwan dan akademisi harus selalu mengingat tugas berat yang dilimpahkan bung Hatta mengenai doktrin kerakyatan itu pada kaum inteligensia Indonesia,” kata Meutia.

    “Bung Hatta mengatakan sebagai berikut, bagi kita rakyat itu yang utama, rakyat yang mempunyai kedaulatan dan kekuasaan karena rakyat itu jantung hati bangsa dan rakyat itulah yang menjadi ukuran tinggi rendahnya derajat kita. Dengan rakyat itu kita akan naik dengan rakyat kita akan turun. Hidup atau matinya indonesia merdeka semua itu bergantung pada semangat rakyat,” kenang  Meutia. (Ben)

    Berikut 10 judul dari Seri Buku Karya Lengkap Bung Hatta:

    1. Kebangsaan dan Kerakyatan (655 halaman).

    2. Kemerdekaan dan Demokrasi (500 halaman).

    3. Perdamaian Dunia dan Keadilan Sosial (678 halaman).

    4. Keadilan Sosial dan Kamakmuran (517 halaman).

    5. Sumber Daya Ekonomi dan Kebutuhan Pokok Masyarakat (335 halaman).

    6. Gerakan Koperasi dan Perekonomian Rakyat (304 halaman).

    7. Filsafat, Ilmu dan Pengetahuan (700 halaman).

    8. Agama, Pendidikan dan Pemuda (300 halaman).

    9. Renungan dan Kenangan (350 halaman).

    10. Surat-surat (400 halaman). 

  • Zichichi tentang Mukjizat Kosmos

    Zichichi tentang Mukjizat Kosmos

    Oleh :Andreas B. Atawolo, OFM

    Ahli Fisika dari Italia, Antonio Zichichi (Lahir 15 Oktober 1929) mengatakan bahwa “adanya sains membuktikan bahwa kita adalah hasil dari sesuatu yang logis, bukan sebuah kekacauan”.

    Zichichi tercatat dalam indeks-H (indeks penemuan saintifik), menempati urutan 62, setara dengan Stephen Hawking, dan lebih tinggi dari Carlo Rovelli dan penerima Nobel Sheldon Lee Glashow.

    Banyak orang dari kelompok anti-klerus meragukan kompetensi saintifiknya, karena ia (Zichichi) mengakui dengan terang bahwa ia percaya pada Tuhan justru karena sains. Meski demikian, profesor emeritus dari universitas Bologna, peraih Nobel Premier, mantan direktur Asosiasi Fisika Eropa (EPS) dan Institut Fisika Nuklir ini terus mempertahankan argumentasinya.

    Ia meyakini bahwa “penemuan-penemun saintifik membuktikan bahwa kita bukan anak-anak dari sebuah chaos, melainkan sebuah logika yang sangat persis. Dan kalau ada sebuah logika, maka harus ada penyebabnya”.

    Bagi profesor kelahiran Sisilia ini, sains tidak dapat membuktikan atau menghasilkan mukjizat, sebab, jika demikian, “kita terjebak dalam ilusi ‘membuktikan adanya Allah secara ilmiah”. Kita tidak mungkin membuktikan adanya Allah secara ilmiah, “sebab seandainya Allah dapat dibuktikan dengan sains, Ia tidak lebih dari sains saja. Seandainya Matematika sampai pada sebuah ‘teorema Allah’, Pencipta alam semesta ini tidak lebih dari hasil kalkulasi matematis; dan argumen matematis seperti itu kerdil.

    Sebagai saintis yang beriman ia meyakini bahwa orang-orang yang percaya mendambakan Tuhan sebagai ‘segala’, bukan  hanya ‘sebagian’. Sebab, seandainya Allah dapat ditemukan dengan penelitian sains (sebagaimana yang menjadi obsesi para ateis), Dia bukanlah Pencipta, melainkan ciptaan belaka.

    Zichichi membedakan dua realitas: yang transenden dan yang imanen. Yang imanen merupakan realitas yang dapat ditemukan melalui kerja sains, sedangkan yang transenden merupakan tugas ilmu teologi. 

    “Kecenderungan menyamakan lingkup transenden dengan apa yang kita lakukan di laboratorium dalah sebuah kekeliruan. Jika ada dua cara berpikir disatukan, tidak ada mukjizat, tetapi semata-mata penemuan saintifik. Itu terjadi kalau yang imanen dan yang transenden dipadukan. Dan inilah yang diinginkan oleh mereka yang menyangkal eksistensi yang Transenden, seperti yang terjadi dalam kultur ateis. Akan tetapi halnya tidak sesederhana itu. Adanya mukjizat menunjukkan bahwa keberadaan kita tidak selesai dengan realitas imanen. Ada sesuatu yang lebih”.

    Yang ditemukan sains sebenarnya “sebuah inteligensi yang lebih superior dari inteligensi kita. Dan justru karena itu lah muncul hasil-hasil penemuan, meskipun hasil-hasil itu tidak pernah mengalahkan kenyataan-kenyataan ‘yang sungguh-sungguh tidak terduga’. Mukjizat yang terbesar, kata Eugene Wigner (seorang pakar sains), ialah adanya sains itu sendiri”.

    Kata-kata Zichichi ini sebenarnya menghadirkan kembali kata-kata Albert Einstein: “Anda merasa heran bahwa saya memikirkan komprensibiltas semesta alam sebagai sebuah mujkizat atau sebuah misteri yang kekal? Tentu dapat dipikirkan sebuah alam semesta yang kacau-balau. Di lain pihak, gagasan tentang keharmonisan (alam) sebagaimana dipikirkan dalam teori gravitasi Newton, sungguh berbeda: sekalipun ada perkiraan-perkiraan yang diajukan manusia, dampak-dampak yang muncul dari sebuah kosmos yang objektif ada sekarang, begitu teratur, melampaui perkiraan-perkiraan yang diajukan (para ilmuwan). Di sini lah letak daya tarik ‘mukjizat’ yang tumbuh dan terus berkembang dalam pengetahuan kita. Dan di sini pula letak titik lemah para positivis dan ateis yang berbangga bukan hanya karena dapat membebaskan dunia dari Allah, tetapi juga karena dapat membebaskan Dia dari mukjizat” (A. Einstein, Surat kepada Maurice Solovine,GauthierVillars, Paris, 1956, p. 102).

    Gagasan senada juga muncul dari peraih Nobel Fisika dari Italia, Carlo Rubbia, yang menyoal ‘kenapa’ sains begitu efektif: “Kalau kita dapat menghitung galaksi-galaksi alam semesta atau membuktikan keberadaan partikel-partikel terkecil, kita tidak perlu lagi membuktikan adanya Allah. Namun sebagai seorang peneliti, saya sangat tersentuh pada tata keteraturan dan keindahan kosmos, dan memang itulah yang terjadi pada benda-benda material. Dan sebagai seorang peneliti, saya tidak dapat menyangkal bahwa ada sebuah keteraturan yang lebih besar dibalik semua itu. Karena itu saya menolak pandangan bahwa segala (yang teratur dan indah) itu merupakan hasil dari sebuah realitas yang kacau atau sebuah keberagaman yang statis” (C. Rubbia, Neue Zürcher, märz 1993).

    Sumber  : https://andreatawolo.id/2019/02/zichichi-tentang-mukjizat-kosmos/

  • Adakah sebuah Teologi khas Indonesia?

    Adakah sebuah Teologi khas Indonesia?

    Oleh : Andreas B. Atawolo, OFM

    Pada 1-2 Maret 2019 telah diadakan sebuah konferensi Teologi dengan tajuk Doing Theology in Contemporary Indonesia: Interdisciplinary Perspectives di Fakultas Teologi Wedabhakti Universitas santa Dharma, Yogyakarta. Peserta utama konferensi ini ialah para dosen utusan dari Sekolah-sekolah Tinggi Teologi dan Filsafat di Indonesia, baik Katolik maupun Kristen.

    Konferensi ini menghadirkan dua narasumber level asia dan dunia, yaitu Prof. Felix Wilfred dari universitas Madras, teolog terkemuka, penulis berkompeten, editor Jurnal Concilium; dan Dr. Clarence Devadass dari Kuala Lumpur, teolog Asia, sekretaris eksekutif Federasi Para Uskup Asia (FABC). Konferensi yang didukung oleh Asosiasi Filsafat dan Teologi Indonesia (AFTI), Asosiasi Ahli Filsafat Keilahian Indonesia (AAFKI) dan Asosiasi Teolog Katolik Indonesia (AsTeKIa) ini menyoroti pentingnya (mendesaknya!) teologi konteks Asia, dan mengerucut pada pertanyaan tentang peran teologi di Indonesia.

    Pada Plenary Session, baik profesor Felix maupun Clarence Devadass sama-sama memetakan kembali realitas masyarakat dan Gereja Asia, khususnya fakta pluralitas agama dan budaya, serta dinamika sosial-poitik yang sedang terjadi. Ciri tersebut harus ungguh-sungguh menjadi locus berteologi. Teologi Asia (baik metode maupun isinya) harulah teologi praksis berlandaskan hidup konkret. Teologi Asia dalah “incarnated theology” (Devadass).

    Dari Indonesia hadir para narasumber kompeten, Radhar Panca Dahana, Dr B. Hari Juliawan, Dr. Raymundus Sudhiarsa, Prof. Bambang Sugiharto dan Prof. Gerrit Singgih. Para narasumber ini berhasil membawa arah refleksi masuk konteks budaya Indonesia. Presentasi Pak Radhar misalnya, menyoroti identitas budaya Indonesia sebagai negara bahari yang terbantuk oleh mentalitas penerimaan (acceptance), bukan penolakan (rejection). Presentasi ini memprovokasi kesadaran bahwa sebelum Gereja berkembang, Indonesia telah ada sebagai peradaban.

    Konferensi juga sangat diperkaya dengan presentasi dan diskusi paper-paper pilihan panitia. Salah satu group diskusi mengangkat tema nilai budaya dan kepercayaan lokal dari beberapa daerah di Indonesia. Misalnya Dayak Tunjung, spiritualitas penduduk asli Batak Toba, konsep Marapu masyarakat Sumba, moral masyarakat Manggarai, tradisi Bau Lolon masyarakat Lamaholot- Flores Timur, dan tradisi religius Hauteas suku Dawan, Timor. Diskusi atas hasil-hasil studi ini membuahkan satu pesan penting: Teologi warisan Barat itu bukan satu-satunya teologi yang sempurna. Oleh karena itu, lebih dari berdialog, teologi dan Gereja hendaknya mau bercakap-cakap (conversation) dengan kebudayaan.

    Konferensi sampai pada keyakinan bahwa untuk membangun sebuah teologi (dan filsafat!) yang khas Indonesia, sangat diperlukan studi terhadap budaya (culture studies).

    Budaya adalah identitas bangsa, maka hendaknya ia membangun teologi kita, dan dengan demikian teologi dapat dibaca dari budaya bangsa. Mengingat keberagaman budaya Indonesia (ciri bahari), maka sudah saatnya dikembangkan sebuah public theology – istilah yang sering muncul dalam konferensi ini – yaitu cara berteologi yang menyapa umat dalam keberagaman agama dan budaya tanpa memberi label tertentu, tetapi mengutamakan living values yang lebih universal.

    Sudah saatnya para teolog dan filsuf Indonesia mengembangkan ‘teologi nusantara’, yaitu teologi yang berakar dari bahasa budaya asli Indonesia (dengan pengandaian telah menjawab pertanyaan ini: manakah budaya asli itu!). Dengan demikian teologi menjadi gerakan sosial, sebuah public theology, tidak puas dengan doktrin atau tinggal dalam kotak tertentu. Untuk itu teologi juga perlu bercakap-cakap dengan ilmu-ilmu yang lain (flisafat, politik, sosiologi, dst)

    Sumber Tulisan : https://andreatawolo.id/

  • Gigi Pancasila di Ulang Tahun Kemerdekaan

    Gigi Pancasila di Ulang Tahun Kemerdekaan

    Oleh Frano Kleden

    Alumnus STFK Ledalero

    INDONESIA kini berusia 74 tahun. Di usianya yang tak lagi muda ini, kita sebagai bangsa Indonesia pantas bersyukur dan berterima kasih atas segala kerja keras dan usaha kita dalam membangun Indonesia. Suka dan duka bangsa sudah dialami dari tahun ke tahun, dari generasi ke generasi. Namun proses menjadi bangsa atau mem-bangsa (a nation in being) masih panjang. Perjalanan tersebut tentunya merupakan sebuah perjalanan yang tak kunjung selesai (a never ending journey) karena proses menjadi bangsa yang bersatu, bermartabat dan kuat ialah suatu proses dialogis yang harus terus-menerus berlangsung baik dalam lintas suku, agama maupun generasi.

    Pada momen ini, Indonesia sebagai satu bangsa yang berbahagia patut merefleksikan pengalaman-pengalaman yang sudah dan hendak mencederai makna ‘meng-Indonesia’. Narasi-narasi benci berbalut politik identitas menyebar bak virus di setiap lini, tindak teror dan intimidasi bermunculan, kelompok-kelompok radikal yang bangkit memanipulasi dan menggiring publik menuju pecahnya persatuan dan rasa berbangsa yang memiliki dasar kuat pada Pancasila.

    Kita, dengan itu, dihadapkan pada tantangan-tantangan terhadap dasar negara Pancasila. Pancasila ditantang dan diuji oleh beberapa kelompok yang militan dan cukup konsisten untuk mengguncang dasar negara dan bangsa kita. Kepala negara Jokowi, misalnya mengambil langkah membubarkan ormas Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang disinyalir semakin melebarkan agenda-agenda politiknya. Ia berani, tegas dan tidak kompromi dengan kelompok-kelompok masyarakat yang tidak mengakui Pancasila.

    Rentetan peristiwa anti-Pancasila yang mencuat memacu Pancasila mau tidak mau harus digemakan kembali. Ormas-ormas radikal yang tidak mau mengakui Pancasila sebagai alat pemersatu bangsa perlu ditolak. Pancasila harus dibumikan agar melekat dalam sanubari dan perhatian bersama masyarakat Indonesia. Karena Pancasila ialah dasar hidup berbangsa, bermasyarakat serta bernegara, ia menuntut sikap hidup baik bersama maupun pribadi.

    Pancasila itu prestasi

    Pancasila ialah salah satu pencapaian peradaban, buah tekad yang menyatukan manusia Indonesia sebagai satu bangsa dan satu negara. Ia dengan demikian menjadi hasil refleksi kritis rasional tentang dasar negara dan kenyataan budaya bangsa. Pancasila membuktikan diri saat mendapat bentuk akhir dalam UUD kita pada 18 Agustus 1945. Pada tanggal itu, para wakil Islam –85% rakyat Indonesia – bersedia menerima bahwa tujuh kata “dengan kewajiban menjalankan syari’at Islam bagi pemeluk-pemeluknya” hasil perundingan dalam Panitia Sembilan dicabut.

    Dengan kesediaan menerima Pancasila tanpa acuan pada agama mayoritas, para wakil bangsa menyepakati bahwa Indonesia ialah milik semua, tanpa membedakan antara mayoritas dan minoritas. Sumpah Pemuda dapat menjadi kenyataan karena dengan Pancasila, semua satuan etnik, kultural dan religius bangsa Indonesia merasa sama-sama memiliki Indonesia (Suseno, 2018). Pancasila dengan demikian tidak hanya menjadi dokumen kunci bangsa Indonesia saja, tetapi ia ialah sungguh sebuah prestasi yang dicapai dalam sejarah bangsa Indonesia. Ia mempersatukan masyarakat Indonesia yang majemuk dan menjadi penyambung antargenerasi.

    Ketika semangat Pancasila mulai melemah, ikatan antarmanusia Indonesia pun menjadi lemah. Hal ini yang membuat para pengamat luar negeri tidak pernah memasukkan Indonesia dalam kelompok negara kuat, tetapi negara yang punya kecenderungan untuk menjadi negara gagal (failing states). Di mata mereka, Indonesia ialah negara yang sangat rapuh, seakan-akan kehancuran Indonesia tinggal menunggu waktu dan kondisi yang tepat. Indonesia masuk dalam kelompok negara lemah karena tidak bisa melayani kebutuhan warganya dengan cara yang memuaskan dalam semua bidang, misalnya ekonomi, keamanan, pendidikan, kesejahteraan, dan layanan kesejahteraan rakyat lainnya (Laksana, 2018).

    Jika ditelisik lebih jauh, sebetulnya ada banyak sebab sebuah negara lemah menjadi negara gagal (failed) atau bahkan hancur (collapsed), antara lain konflik horizontal yang parah dan lumpuhnya lembaga-lembaga negara. Kalau sampai sekarang Indonesia tidak pernah sungguh-sungguh menjadi negara gagal, ini terjadi bukan hanya karena peran pemerintah, tetapi juga karena sikap warga negara sendiri, yang ternyata memiliki ikatan yang cukup kuat satu sama lain dan loyal terhadap prinsip-prinsip hidup berbangsa yang mereka yakini. Indonesia yang empunya Pancasila telah berprestasi merajut dan merawat ke-Indonesiaan. Ia menjamin masa depan Indonesia yang lebih baik daripada semua bentuk kenegaraan yang bisa menggantikannya.

    Gigi Pancasila di tengah kemerdekaan

    Merayakan 74 tahun usia kemerdekaan menyiratkan sebuah tanggung jawab imperatif: merefleksikan perjalanan bangsa Indonesia pada tahun-tahun silam. Indonesia yang lalu yang hadir dengan rupa-rupa ketidakadilan sosial, fenomena kekerasan atas nama agama, ketidakmerataan pembangunan, ketidakseimbangan akses terhadap aset-aset ekonomi, gerakan kaum fundamentalis dan terorisme, dehumanisasi rakyat, penelantaran TKI, gerakan disintegratif, ketimpangan politik, kerusakan ekologi perlu ditelaah kembali. Semua fenomena ini terjadi karena Pancasila sebagai payung pelindung masyarakat tampak berkurang signifikansinya.

    Pancasila ialah kita. Kalimat ini bukan saja dibaca sebagai sebuah semboyan yang bagus, melainkan suatu komitmen yang kuat. Bahwasanya gigi-gigi Pancasila harus lebih kuat melawan gigi-gigi mereka yang ingin mengubah Republik kita menjadi negara lain. Pancasila harus diposisikan di depan saat Indonesia semakin dilanda semangat pragmatisme yang menggerus nilai-nilai yang menjadi dasar dan muatan hidup berbangsa dan bernegara. Di saat politik menggeser nilai-nilai luhur yang ada dalam cita-cita luhur bangsa dan negara yang didirikan dengan berasaskan Pancasila dan UUD 45, Pancasila menjadi nilai pokok yang penting untuk dipromosikan kembali.

    Di usia Indonesia yang baru, ketergerusan pengamalan Pancasila terbukti menebarkan ancaman bagi disintegrasi bangsa. Menolak disintegrasi berarti sepakat mengembalikan Pancasila menjadi milik kita sepenuhnya. Pancasila yang diamalkan dengan benar akan menjadi daya kritik dan suar penyuluh terhadap demokrasi dan pengejawantahannya dalam ruang publik.  Membumikan dan menghidupi Pancasila berarti merevitalisasi mentalitas, cara berpikir (mindset) dan tindakan (action) kita seturut nilai-nilai Pancasila.

    Pendidikan Pancasila terutama bagi generasi muda perlu dipikirkan secara serius. Pancasila tidak cukup bila hanya berhenti pada wacana abstrak, sekadar hafalan atau aktivitas pengajaran di ruang kelas. Pendidikan bersifat lebih luas dari pengajaran. Ia memuat unsur pembudayaan, implementasi, internalisasi dan konkretisasi nilai-nilai Pancasila. Institusi pendidikan menyiapkan lahan yang subur untuk menyebarkan benih-benih Pancasila (Toding dan Prabowo, 2018).

    Sejak dini, budaya perjumpaan dan dialog (the culture of encounter and dialogue) yang bermuara pada penerimaan akan keberagaman, sikap inklusif dan nasionalis perlu juga dibangun. Pendidikan Pancasila dapat diwujudkan secara interaktif, bukan indoktrinasi, dengan memberi kebebasan sekaligus pendampingan pada orang muda untuk menanggapi isu keindonesiaan secara kritis. Dalam konteks hukum kenegaraan, Pancasila sebagai dasar negara, pandangan hidup dan paradigma ilmu juga harus berani meninjau dan mengoreksi undang-undang yang bertentangan dengan Pancasila.

    Hanya dengan demikianlah Pancasila mampu mengunjukkan giginya: membentuk manusia-manusia yang bersatu, adil dan beradab. Kita bersatu bukan karena yang banyak mendominasi yang sedikit atau yang kuat mendominasi yang lemah melainkan karena satu Pancasila benar-benar menjiwai hidup seluruh kita. Di usia yang ke-74 ini, Pancasila harus bisa menjadi suatu filsafat yang indah dengan gigi-gigi yang masih tajam dan berguna: menjamin masyarakat Indonesia yang majemuk dapat hidup bersama secara positif, kondusif dan bermartabat.

    Sumber: Media Indonesia, 21 Agustus 2019

  • Jokowi, NTT, dan Laiskodat

    Jokowi, NTT, dan Laiskodat

    Oleh : Ansel Deri (Tenaga Ahli Y.Jacki Uly, Anggota DPR RI

    PRESIDEN Joko Widodo dan Ibu Negara Iriana bersama Menteri Agraria dan Tata Ruang Sofyan Djalil, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Sekretaris Ditjen Hubungan Laut Kementerian Perhubungan Arif Toha Tjahjagama, serta rombongan, Rabu (21/8) pukul 10.20 WITA, tiba di Kupang, Nusa Tenggara Timur, dalam lawatan resminya. Tiba di Kupang, rombongan Presiden Jokowi disambut Gubernur Viktor Bungtilu Laiskodat beserta Ibu Julie Sutrisno Laiskodat, Kapolda Raja Erizman, Walikota Kupang Jefirston Riwu Kore, dan sejumlah pejabat daerah.

    Kita tahu, Presiden Jokowi belakangan ini menyapa NTT beberapa kali dalam kunjungan resminya. Terakhir, Presiden berada di Manggarai Barat, Flores, selama dua hari, 10-11 Juli. Di Labuan Bajo Jokowi menerima masukan dari Gubernur Laiskodat terkait berbagai persoalan NTT untuk ditindaklanjuti melalui komitmen anggaran bersumber APBN sekaligus menikmati keindahan Komodo, salah satu destinasi wisata unggulan daerah.

    Kunjungan Jokowi kali ini patut diapresiasi. Presiden didampingi Gubernur Laiskodat menuju Desa Nunkurus, Kabupaten Kupang, untuk meninjau pengembangan garam di atas lahan seluas 600 hektar. Lahan seluas 11 hektar sudah menghasilkan 350 ton garam premium (garam industri) dengan kadar sebesar 96-97 persen. Pada 2020 sisa lahan garam industri seluas 580 hektar akan dikembangkan dengan target penghasilan 60 ribu ton.

    Presiden juga berkenan membagikan sertifikat tanah kepada 2709 kepala keluarga yang berasal dari tiga daerah yaitu Kota Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, dan Kabupaten Kupang bertempat di Oelamasi, kota Kabupaten Kupang. Di ujung kunjungan, Jokowi juga meninjau Pelabuhan Tenau Kupang yang segera dikembangkan sebagai pelabuhan internasional.

    Kunjungan ini memiliki arti penting seorang pemimpin bagi rakyatnya. Sebagai pemimpin Jokowi tak sungkan datang kepada rakyat tanpa rasa takut. Ia menunjukkan kerendahan hati seorang pemimpin pilihan rakyat. Saat memimpin Solo, Jokowi sungguh menyadari memimpin tanpa peran serta rakyat. “Pokoknya, pimpin mereka dengan hati. Hadapi mereka sebagai sesama,” kata Jokowi. Kali ini terasa Jokowi sungguh menunjukkan arti penting berada di tengah masyarakat NTT yang juga rakyatnya.  Mengapa?

    Stigma negatif

    Mengapa ke NTT? Mengapa pula Jokowi rela membuang langkah lebih dalam, ke kedalaman tanah gersang ini? Mengapa pula ia rela membakar punggung di bawah terik matahari di atas padang sabana, mengakrabi petani yang tengah menahan dahaga akibat minus air, menyapa keelokan lekuk lembah, mengakrabi pesona alam yang jauh dari sentuhan pembangunan selama ini? Mengapa provinsi kepulauan yang kerap diplesetkan dengan sebutan nasib tak tentu atau nanti Tuhan tolong didatangi Jokowi?

    Ada beragam jawaban. Namun ada yang dapat dicatat di sini. Pertama, kunjungan Jokowi membuktikan ia seorang presiden dan pemimpin yang sungguh membangun Indonesia, termasuk NTT, dengan hati. Ia bukan tipikal presiden atau pomimpin yang gemar bereorika abai aksi. Ini juga sejalan dengan visi dan misinya bersama Wakil Presiden Ma’ruf Amin yaitu terwujudnya Indonesia maju berdaulat, mandiri, dan berkepribadian berlandaskan gotong royong.

    Visi besar itu tertera dalam misinya, yaitu peningkatan kualitas manusia Indonesia; struktur ekonomi yang produktif, mandiri dan berdaya saing; pembangunan yang merata dan berkeadilan; mencapai lingkungan hidup yang berkelanjutan; kemajuan budaya yang mencerminkan kepribadian bangsa. Berikut penegakan sistem hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya; perlindungan bagi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga; pengelolaan pemerintahan yang bersih, efektif dan terpercaya; dan sinergi pemerintah daerah dalam kerangka negara kesatuan.

    Kedua, dalam konteks NTT Gubernur Laiskodat dan Wakil Gubernur Nae Soi juga bersama masyarakat sungguh bekerja keras memajukan daerahnya. Tekad ini juga pernah diutarakan Laiskodat saat diskusi singkat dengan anggota DPR RI Irjen Pol (Purn) Y. Jacki Uly dan penulis di Hotel Borobudur, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, usai ia ditetapkan bersama Josef A Nae Soi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur NTT. Kehadiran Jokowi itu juga menjadi bagian sejarah NTT bagaimana Gubernur Laiskodat mengajak pemerintah pusat untuk hadir dan menyaksikan dari dekat masyarakat dan daerah sehingga mendapat sentuhan anggaran dari pusat, selain tentu dari kemampuan keuangan yang dimiliki daerah.

    Dengan pengalaman Laiskodat sebagai politisi nasional dan Ketua Fraksi NasDem DPR RI bersama koleganya, Nae Soi, yang lama mengabdi sebagai wakil rakyat di Senayan dan staf khusus Menteri Hukum dan HAM, mereka gerah dengan NTT yang masih berkubang dalam ketertinggalan di berbagai sektor. Karena itu, NTT mesti dibawa berlari kencang untuk berkompetisi bukan dengan provinsi-provinsi lain tetapi lebih maju dengan negara-negara tetangga.

    Peluang bisa kita raih dari sejumlah anggota DPR asal NTT yang menempati posisi strategis di Senayan. NTT punya Ketua Komisi Infrastrukur Fary Francis, Ketua Komisi Keuangan Melchias Markus Mekeng, Wakil Ketua Komisi Keuangan sekaligis Sekjen Partai NasDem Johnny G Plate, Anggota Komisi Pertahanan Jacky Uly, Herman Herry, Andreas Hugo Parera, dan lain-lain adalah potensi yang perlu dimanfaatkan dalam ikut membangun daerah bersama rakyat melalui sinergi yang produktif. Berikut para anggota DPR dan DPR terpilih asal NTT untuk masa tugas 2019-2024.

    Merebut peluang

    Publik tahu. Sekali lagi, NTT masih bergelut dalam berbagai ketertinggalan. Kemiskinan masih dengan mudah kita jumpai. Kepala Badan Pusat Statistik NTT Maritje Pattiwaellapia sebagaimana dilaporkan media lokal mencatat, data per September 2018 menunjukkan, jumlah penduduk miskin (penduduk dengan pengeluaran perkapita perbulan di bawah garis kemiskinan) mencapai 1.134,11 ribu orang (21,03 persen). Jumlah ini berkurang sebesar 8.060 orang jika dibandingkan dengan data per Maret 2018 sebesar 1.142,17 ribu orang (21,35 persen).

    Bila dirinci, persentase penduduk miskin di daerah perkotaan pada Maret 2018 sebesar 9,94 persen, turun menjadi 9,09 persen pada September 2018. Sedangkan penduduk miskin di daerah pedesaan per Maret 2018 sebesar 24,74 persen, turun menjadi 24,65 persen pada September 2018. Gambaran tersebut tentu memaksa Gubernur dan Wakil Gubernur NTT memutar otak bersama jajaran pemerintah kabupaten/kota memacu masyarakat dan bupati/walikota kreatif guna mencari tambahan sumber-sumber resmi selain APBD I dan APBD II.

    Namun, lebih dari itu jajaran pemerintahan di bawah tetap menjalin komunikasi yang intensi dengan pemerintah pusat agar membantu memajukan daerah melalui sentuhan anggaran bersumber dari APBN. Kehadiran Jokowi kali ini, merupakan peluang bagi pemerintah kabupaten/kota agar serius berkoordinasi dengan Gubernur dan Wakil Gubernur untuk menyampaikan berbagai persoalan yang dihadapi di tingkat kabupaten/kota untuk diteruskan kepada pemerintah pusat.

    Presiden Jokowi juga optimis. Dari aspek ekonomi, Jokowi yakin percepatan pembangunan infrastruktur dan reformasi struktural yang dilakukannya selama empat tahun terakhir telah membuka jalan bagi terbangunnya fondasi struktur perekonomian yang berdaya saing. Dengan fondasi tersebut, pada periode kedua pemerintahan bersama Wakil Presiden terpilih Ma’ruf Amin, akan teruskan dengan upaya membuat perekonomian menjadi lebih kokoh, produktif, mandiri, dan berdaya saing.

    Dengan demikian, mampu membuka lebih banyak lagi lapangan kerja, menekan tingkat pengangguran terbuka, menurunkan tingkat kemiskinan dan mengurangi kesenjangan. Kita semua tentu percaya. Kerja keras Gubernur Laiskodat-Wakil Gubernur Nae Soi bersama masyarakat selama periode kedua pemerintahan Presiden Jokowi dan Kiai Ma’ruf Amin, NTT makin maju dan sejahtera.

    Sumber: Victory News, 22 Agustus 2019

  • Presiden Jokowi Tinjau Produksi Tambak Garam di Kupang Timur

    Presiden Jokowi Tinjau Produksi Tambak Garam di Kupang Timur

    Presiden Joko Widodo meninjau operasional tambak garam di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu, 21 Agustus 2019. Presiden ingin memastikan bahwa perkembangan produksi tambak garam di daerah tersebut telah berjalan sekaligus melihat potensi yang dimilikinya.

    “Saya ke sini hanya ingin memastikan bahwa program untuk urusan garam ini sudah dimulai. Karena kita tahu impor garam kita 3,7 juta (metrik) ton, sementara yang bisa diproduksi dalam negeri baru 1,1 juta ton. Masih jauh sekali,” ujarnya yang tampak hadir bersama Ibu Negara Iriana.

    Secara keseluruhan, Provinsi NTT memiliki potensi besar produksi garam dengan luas tambak kurang lebih 21.000 hektare. Khusus Kupang, setidaknya 7.000 hektare lahan dapat dikembangkan untuk tujuan tersebut. Sementara lokasi tambak garam yang dikunjungi Presiden hari ini berproduksi di atas lahan tambak seluas 10 hektare dari potensi 600 hektare yang ada.

    “NTT ini memiliki potensi yang bisa dikerjakan itu 21.000 hektare. Di Kupang ada kurang lebih 7.000 hektare, yang dimulai ini 600 hektare dulu. Tetapi juga baru diselesaikan 10 hektare,” kata Presiden.

    Pengembangan industri garam di NTT tersebut memerlukan investasi yang tak sedikit. Meski demikian, pemanfaatan sepenuhnya untuk lahan tambak seluas 600 hektare tersebut akan dikejar penyelesaiannya di tahun mendatang. Selain itu, Presiden melanjutkan, para petani tambak setempat juga akan diberdayakan sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan.

    “Tahun depan akan selesai 600 hektare, petani tambak diikutkan juga. Kerja sekaligus ikut (memiliki) seperti saham sehingga nanti penghasilan masyarakat di sini bisa lebih baik,” ucapnya.

    Dalam kunjungan tersebut, Kepala Negara juga sempat melihat garam hasil produksi lahan tambak tersebut dan membandingkannya dengan garam sejenis dari luar wilayah tersebut. Ia memastikan bahwa garam yang dihasilkan di Nunkurus tersebut memiliki kualitas yang sangat baik.

    “Tadi saya ditunjukkan beberapa perbandingan garam yang diambil dari luar dibawa ke sini. Yang dari Madura, yang dari Surabaya, dan dari Australia. Memang hasilnya di sini lebih bagus, lebih putih, bisa masuk ke garam industri, dan kalau diolah lagi bisa juga menjadi garam konsumsi,” tuturnya.

    Selama kunjungan tersebut, Presiden Joko Widodo didampingi oleh Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Gubernur NTT Viktor Laiskodat beserta istri, dan Staf Khusus Presiden Gregorius Gories Mere.

    (BPMI Setpres)

  • Presiden Jokowi dan Ibu Negara Bertolak Menuju Provinsi NTT

    Presiden Jokowi dan Ibu Negara Bertolak Menuju Provinsi NTT

    Dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Kabupaten Badung, Bali, Presiden Joko Widodo dan Ibu Negara bertolak menuju Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Rabu pagi, 21 Agustus 2019.

    Presiden, dalam kunjungannya ke Kupang, diagendakan untuk meninjau tambak garam di Desa Nunkurus, Kecamatan Kupang Timur.

    Setelahnya, Presiden dan rombongan bergerak menuju Kantor Bupati Kupang untuk menyerahkan sertifikat hak atas tanah bagi masyarakat setempat.

    Selepas melaksanakan ibadah salat Zuhur dan santap siang, Kepala Negara diagendakan untuk meninjau Pelabuhan Tenau, Kota Kupang, sebelum bertolak menuju Jakarta dari Bandara Internasional El Tari.

    Turut menyertai Presiden dan Ibu Negara dalam penerbangan menuju Provinsi NTT antara lain Kepala Staf Kepresidenan Moeldoko, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto, Komandan Paspampres Mayjen TNI Maruli Simanjuntak, Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Bey Machmudin, dan Plh. Sekretaris Militer Presiden Brigjen TNI Basuki Nugroho.

  • Herman Yosef Loli Wutun: Tiga Periode Memimpin Induk KUD

    Herman Yosef Loli Wutun: Tiga Periode Memimpin Induk KUD

    Tak pernah terbayang dalam benak Herman Yosef Loli Wutun terpilih menjadi Ketua Umum Induk KUD untuk ketiga kali. “Saya hanya pelaksana tugas, Yesus ketua umum saya.”

    HERMAN Wutun mengakhiri masa jabatan Ketua Umum Induk KUD pada 22 Juni 2013. Untuk itu, digelar Rapat Anggota Tahunan (RAT) Tahun Buku 2012 di sebuah hotel di kawasan Sentul, Bogor, Jawa Barat. RAT merupakan forum resmi dan tertinggi untuk memberikan laporan pertanggungjawaban pengurus kepada 30 Pusat Koperasi Unit Desa (Puskud) seluruh Indonesia.

    Setelah laporan kepengurusannya diterima, pengurus demisioner. Kemudian peserta melakukan pemilihan pengurus baru. Mayoritas mengarahkan pilihannya kepada pria kelahiran Uruor, Lembata, Nusa Tenggara Timur, 8 Juli 1954. Maklum, selama memimpin ia memiliki andil membuka jejaring Induk KUD hingga ke lima benua di dunia. Dari 33 Pusat Koperasi Unit Desa peserta RAT, 20 mencalonkan Herman Wutun sebagai Ketua Umum Induk KUD. Sementara, 10 suara memlih calon lain, lalu memilih walk out, lantaran calonnya tak menang.

    Herman pun terpilih kembali sebagai Ketua Umum Induk KUD. Kepercayaan ini telah ia genggam sejak 2005. Namun, satu tantangan muncul, karena 10 Pusat Koperasi Unit Desa yang tidak memilihnya dalam RAT membentuk “kepengurusan tandingan”. “Kepengurusan ganda berjalan hampir satu setengah tahun. Namun, bagi saya ini bukan masalah besar, semua bisa dikomunikasikan secara kekeluargaan,” ujar Herman saat ditemui di kantornya, Graha Induk KUD, Warung Buncit, Jakarta Selatan, Selasa 18/11.

    Menyatukan perbedaan

    Perbedaan pendapat dalam tubuh lembaga yang ia pimpin membuatnya tak bisa tinggal diam. Ayah empat anak ini terus berupaya merangkul mereka yang berbeda pandangan. Selama satu tahun, ia mengusahakan agar perbedaan pendapat tersebut tidak berujung kepada perpecahan dalam lembaga yang ia pimpin. Maka, saat RAT Tahun Buku 2013, 29 Oktober 2014, ia mengundang semua pihak yang berbeda pendapat.

    RAT pada Oktober lalu, menjadi peristiwa bersejarah bagi Herman. Pasalnya, forum ini juga menjadi ajang penyatuan dua pihak yang berbeda pandangan. Sebanyak 29 pengurus Pusat Koperasi Unit Desa dari seluruh Indonesia hadir. Pada saat itu, dilakukan pemilihan pengurus baru lagi.

    Lagi-lagi, Herman mendapat dukungan dan masuk bursa calon ketua umum bersaing dengan Ketua Puskud Jawa Timur Marjito dan Ketua Puskud Kalimantan Timur Pahlevi Pangerang. Pada tengah proses penjaringan calon ketua, Pahlevi Pangerang mengundurkan diri.

    Saat proses pemilihan, Herman meraup 15 suara, selisih satu suara dengan Marjito yang meraih 14 suara. Herman pun disahkan menjadi Ketua Umum Induk KUD, sekaligus menyudahi perbedaan pendapat dalam tubuh lembaga ini. Proses pemilihan ini juga dihadiri Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI Anak Agung Gede Ngurah Puspayoga.

    Herman tak menyangka dirinya akan terpilih kembali. Tapi, ia meyakini, semua kejadian dirinya ada karena campur tangan Tuhan. “Saat pertama kali dipercaya menjadi Ketua Umum Induk KUD, saya merasa peristiwa itu tidak masuk akal. Tapi saya juga merasakan ada gerakan kehendak Tuhan, ada rekayasa Ilahi. Saya ini kan hanya pelaksana tugas, Yesus ketua umum saya,” ujar Herman sembari menebar senyum.

    Herman mengatakan, “Sehelai daun yang jatuh ke tanah, itu pasti karena ijin Tuhan. Menjadi Ketua Umum Induk KUD sampai tiga periode, itu juga karena Tuhan,” kata Ketua Lingkungan St Ignasius de Loyola, Paroki Maria Bunda Segala Bangsa Kota Wisata Cibubur, Keuskupan Bogor ini.

    Tani sejahtera

    Dalam forum RAT yang dihadiri Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah RI, Herman meminta pemerintah agar mengembalikan distribusi pupuk bersubsidi melalui KUD. Selama ini, KUD memang tidak diberi akses untuk menyalurkan kebutuhan pupuk bersubsidi.

    Ide ini diluncurkan Herman menanggapi beragam keluhan yang kerap dilontarkan para petani. Menurut Herman, para petani sering resah terkait pasokan kebutuhan pupuk. Padahal pupuk yang dibutuhkan petani harus memenuhi “enam tepat”: tepat jenis, tepat mutu, tepat harga, tepat waktu, tepat tempat, dan tepat jumlah. Maka, KUD sebagai unit koperasi yang menjangkau hingga daerah pedesaan bisa kembali menjadi lembaga yang menyalurkan pupuk bagi para petani.

    Selain penyaluran pupuk, Herman juga berinisiatif untuk mengembalikan KUD sebagai penyedia bibit padi padi serta penyalur utama besar untuk stok kebutuhan nasional. “Kami meminta agar pemerintah juga memberi kesempatankepada KUD membeli beras dari petani kemudian diserahkan dan disimpan di Bulog. KUD harus menjadi mitra strategis pemerintahan dalam meningkatkan kesejahteraan petani,” tekad Herman.

    Herman Yosef Loli Wutun

    Lahir   : Uruor, Lembata, NTT, 8 Juli 1954

    Istri     : Petronela Peni Sanga

    Anak-anak:

        ·MB Mawarni Gelu Wutun

        ·Hermawati Rose LT Wutun

        ·Pedro Sarmento Aster Pehan Wutun

        ·Mathilda Oliander Nogo Mukang Wutun

    Pendidikan :

        ·SDK Uruor, Lembata, NTT

        ·SMEPK St. Pius Lewoleba, Lembata

        ·SMEAK St. Gabriel Maumere, Flores

        ·Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Nusa Cendana Kupang

    PengalamanKerja :

        ·Direktur Pusat Koperasi Unit Desa, NTT (1991-2003)

        ·Anggota dan Ketua Dekopinwil NTT (1993-2003)

        ·Anggota MPR RI (1999-2004)

        ·Pimpinan Paripurna Dekoppin Pusat (1998-2005)

        ·Pjs Ketua Umum Induk KUD (2004-2005)

        ·Pimpinan Harian Dekoppin Pusat (2005-2008)

        ·Anggota Dewan Pertimbangan Pusat Kadin (2003-2008)

        ·Ketua Umum Induk KUD (2005-2008; 2008-2013; 2014-2017)

    Ansel Deri

    Sumber: HIDUP  No. 49, 7 Desember 2014