Blog

  • Kapal Agil Pratama Layani Rute Kupang-Lewoleba-Larantuka

    Kapal Agil Pratama Layani Rute Kupang-Lewoleba-Larantuka

    KM Agil Pratama 04 resmi melayani Kupang-Lewoleba-Larantuka, sejak Sabtu (24/8/2019). Kapal penumpang berkapasitas 340 tempat tidur ini mempunyai kamar VIP dilengkapi AC juga kelas ekonomi. Pelayaran perdana berlangsung Sabtu 24 Agustus 2019.

    Dalam satu minggu sebanyak dua kali melayani tiga rute tersebut Kupang – Lewoleba -Larantuka, dan dari Larantuka pulang kembali ke Lewoleba dan ke Kupang.

    Kapal yang dikelolah PT Sinar Samudera Selatan itu berkecepatan 12 knot dengan kecepatan tempuh Kupang-Larantuka 12 jam.

    Kapal Agil Pratama 04  disetiap waktu pelayarannya (Minggu dan Kamis) akan bertolak dari pelabuhan Tenau –Kupang menuju Lewoleba dan Larantuka pada pukul 20.00 wita.

    Sedangkan dari  Pelabuhan Larantuka menuju Lewoleba-Kupang, kapal yang dinahkodai oleh Safrudin tersebut akan bertolak pada pukul 19.00 wita.

    Untuk tiket orang dewasa terpatok Rp 200.000/penumpang. Rp 100.000 bagi anak  berusia 5 hingga 11 tahun, dan Rp 30.000 bagi penumpang berusia bayi  hingga 4 tahun.

    Untuk kelancaran informasi pelayanan kapal tersebut, silahkan mendatangi Cabang PT Sinar Samudera Selatan -Flores Timur di area San Dominggo-Larantuka.

    Dari berbagai sumber

  • Sugapa, “Surganya Papua”

    Sugapa, “Surganya Papua”

    Sugapa, nama sebuah tempat di wilayah pegunungan tengah Papua ini barangkali belum banyak akrab di telinga banyak orang. Padahal ini adalah ibukota Kabupaten Intan Jaya yang mekar dari kabupaten Paniai tahun 2008.

    Sugapa dari kata  “Sugu” dalam bahasa bahasa Moni yang artinya tongkat itu, sering diplesetkan menjadi “Surganya Papua” lantaran keindahan alamnya dan sebagai pintu masuk ke puncak gunung Cartens. Mengenal Papua harus sampai ke Sugapa.

    Ada dua jalur untuk menuju Cartensz dari Sugapa, yaitu melalui Ugimba atau Soanggama. Keduanya memiliki karakteristik yang hampir sama, yaitu naik turun bukit melintasi hutan tropis. 

    “Surganya Papua?” Coba saja datang ke Sugapa dan menikmati panorama alam dan kehiduapn masyarakat di sana.  Malam dan pagi hari, kabut turun menutupi kota, rumah-rumah penduduk yang diterangi lampu solar cell kelihatan begitu redup dari kejauhan lantaran terhalang kabut. Entah pagi ataupun malam, hawanya segar seakan berada di sebuah kota di tengah hutan belantara tropis pedalaman Papua.

    Geofrafis dan topografis alam pegunungan, membentuk tekstur kota yang sungguh berbeda dari ibukota kabupaten yang lain. Dalam kota saja bukit dan lembah menjadi sandaran untuk rumah-rumah penduduk. Berjalan dari satu rumah ke rumah yang lain harus menikmati naik turun jalan yang menyesuaikan dengan perbukitan dan lembah yang ada. Keadaan ini pun sama, seperti hendak mengunjungi distrik/kecamatan yang ada di Intan Jaya.

    Sugapa adalah kampung yang mulai beranjak menjadi kota. Beban sebagai kota dan ibukota kabupaten pun sudah mulai terasa.  Sudah ada penerangan listrik, begitu pan sinyal telepon. Jalanan mulai dibangun, begitupun kantor dan rumah-rumah pegawai. 

     Untuk rumah-rumah penduduk di Sugapa, kebanyakan sudah memakai tembok dan seng sebagai atap. Lebih banyak berdinding kayu dari kayu-kayu yang diambil dari hutan sekiatarnya. Banyak juga penduduk yang masih mempertahankan  rumah honai.

    Kabupaten Intan Jaya baru sekali melangsung Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), dan  Januari 2017 nanti masyarakat melangsungkan Pilkada ke 2. Wilayah kabupaten Intan Jaya berada persis di tengah-tengah wilayah provinsi Papua dengan batas wilayah utara dengan Kabupaten Waropen, timur dengan kabupaten Puncak Jaya, selatan Kabupaten Paniai, dan barat dengan Nabire.

    Untuk sampai  di Sugapa, satu satunya transportasi adalah melalui jalan udara. Dua tempat yang menyediakan pesawat ke Sugapa adalah Nabire dan Timika dengan menggunakan pesawat jenis Cessna Caravan atau PESAWAT tipe Twin Otter.

    Harga tiket pesawat pun dihitung berdasarkan berat badan penumpang dan berat barang yang dibawa, kisarannya mulai dari Rp900.000-Rp2,5 juta, Biaya perjalanan yang terbilang mahal ini menyebabkan harga barang-barang di Sugapa sangat mahal, naik 4-5 kali lipat dengan harga di Nabire  dan Timika.

    Penerbangan dari kedua tempat ini membutuhkan waktu 40 menit. Selama di perjalanan, dapat menikmati pemandangan yang luar biasa indah, berupa hamparan hijau hutan, serta gunung-gunung di wilayah pegunungan tengah Papua.  

    Dalam jarak pandang dari ketinggian sekitar 12 ribu kaki (3,6 km) dapat terlihat bebatuan karst dengan gagah berdiri membelah hutan belantara. Dari kejauahan dapat dilihat puncak Cartens yang menjadi impian para pendaki gunung.  Hanya satu kandal yakni cuaca. Cuaca menuju Sugapa memang tidak menentu, yang menyebabkan pilot bisa secara tiba-tiba menunda keberangkatan pesawat.

    Di Bandara Sokopaki –Sugapa tidak punya  ruang kedatangan penumpang, pengambilan bagasi, dan fasilitas lain. Di sana, begitu keluar dari pintu pesawat disambut  kerumunan para tukang ojek atau  warga yang ingin membantu membawakan barang atau juga penjemput.

    Kehidupan warga Sugapa, umumnya bercocok tanam dan berburu. Kabupaten Intan Jaya memiliki 2 lembah yaitu Lembah Kemadoga dan Lembah Dugindoga yang subur dan ditanami sayur mayur, buah-buahan, ubi-ubian dan kopi arabica Moni. Hasil kebun  dijual di pasar tradisional di Kota Sugapa.  Sebagaimana pemandangan yang dijumpai di hampir semua pasar di Papua, sambil menunggu pembeli, mama-mama  biasanya sambil merajut noken.

    Sugapa memiliki sungai yang mengandung garam dan menjadi sumber garam bagi warga di pegunungan ini. Ada juga sungai air panas, serta Sungai Wabu dan Dogabu yang punya potensi arung jeram.

    Ppegunungan Cartens yang oleh masyarakat setempat disebut Pujapigu atau Mbainggelapa.  Nama Kemandoga atau Kemabundoga dari nama sungai Kemabu yang melintasi wilayah Kemandoga hingga menembus ke laut Pasifik Ousenia bagian utara Papua. Sungai Kemabu berasal dari padang salju pegunungan Cartens. Beberapa sungai lain di wilayah ini diantaranya sungai Wabu, Sungai Dogabu, dan Sungai Hiyabu.

    Wilayah Kabupaten Intan Jaya, terdiri dari banyak kampung diantaranya, Agisiga, Tousiga, Unabundoga, Mbamogo, Soali, Tembage, Bigasiga, Janasiga, Dapiaga, Kombongosiga, Danggoa, Tomosiga, Mbiandoga, Bugalaga, Dangatadi, Kalawa, Yagaito, Yanei, Ipouwa atau Edagitadi, Pagamba, Kigitadi, Maodagi, Mbiatapa, Aneya, Ular Merah, Maniwo,  Ndabatadi,  Wabui, Balamai, Sanaba, Kulapa, Pugisiga, Hitadipa, Zoanggama, Danggomba, Pogapa, Bila Satu, Bilai Dua, Sanepa, Mapa, Maiya, Degesiga, Zombandoga, Kobae, Salemama, Kendetapa, Hiyabu, Ogeapa, Bonogo, Agapa, Engganengga, Waiagepa, Hugitapa, Bubisiga, Bilogai, Emondi, Jalai, Mamba, Mindau, Puyagiya, Ugimba, Yogatapa, Yoparu, Titigi, Eknemba, Wandoga, Degeyabu, Mbilusiga, Ndugisiga, Kumbalagupa, Sabisa, Dubasiga, Debasiga, Mogalo, Janei, Mbugulo, dan Hulagupa.

     Di dalam kampung-kampung itu tinggalah beberapa suku yang dengan kehidupan yang sangat solider dan membantu satu sama lain. Suku Moni merupakan suku terbesar di wilayah ini. Suku yang lain adalah suku suku Wolani, suku Dani, Suku Nduga atau Ndauwa, Suku Dem/Delem/Wano, Suku Mee dan Suku Ekari.

    Suku-suku yang ada di wilayah ini menggunakan bahasanya masing-masing. Ada Bahasa Moni, Bahasa Wolani, Bahasa Nduga, bahasa Dani, Bahasa Damal, dan bahasa Dem. Budaya keakarban dan kekerabatan sangat, menonjol,  hidup berkelompok, berkerja berkelompok, gotong royong sudah merupakan bagian dari hidup masyarakat. Masyarakat merasa diri sebagai penakluk, penguasa dan pewaris alam dan lingkungan Kemandoga dan Dugindoga.(Benjamin Tukan)

  • Menerjang Badai Kekuasaan

    Menerjang Badai Kekuasaan

    Kekuasaan dan relasi kekuasaan bermain di dalam hidup para tokoh yang dibahas buku ini. Mereka adalah tokoh utama dan “bukan utama”, yang membuat sejarah, dalam arti seluas-luasnya. Dalam buku ini, sejarah besar sebagai narasi besar diambil-alih dan dimainkan dalam sejarah kecil dan narasi kecil menurut perannya masing-masing—yang tinggi dan rendah, terpandang dan tidak terpandang, dan dalam dunia terang dan gelap.

    Semua tokoh yang dibahas dalam buku ini berada dalam satu Keranjang yaitu perlawanan lewat cara mereka masing-masing terhadap kekuasaan. Ada yang terbuka di depan publik, tapi ada juga yang diam-diam dalam kesendirian. Ada yang berhasil, tapi banyak juga yang gagal sampai maut menjemputnya. Yang mencapai keberhasilan pun sebenarnya tidak berhasil sesungguh-sungguhnya karena tidak ada satu pun yang mampu mencapai cita-cita yang “digantungkan di langit”, sebagaimana dikatakan Bung Karno.

    Akhirnya, mencapai puncak keberhasilan bukan lagi tujuan bagi semua tokoh yang dibahas karena seperti Sisyphus yang mengangkat batu, mereka berusaha melawan nasib, dan dalam proses perlawanan itu senantiasa jatuh lagi, bangun lagi, dan jatuh lagi. Karena itu, “menerjang badai” akhirnya menjadi jauh-jauh lebih penting karena itulah yang merumuskan siapa mereka dan harkat hidupnya.

    Buku ini memeriksa kekuasaan, relasi kekuasaan, dan akibat dari bagaimana kekuasaan itu bekerja di dalam diri sejumlah tokoh yang hampir tidak berhubungan satu sama lain.

    Pertama, “Kekuasaan Kaum Tak Berkuasa,” (powerfulness of the powerless) di mana bisa dibaca Soe Hok Gie, Poncke Princen, Toety Azis, Pramoedya Ananta Toer, dan Rusli. Sebagian besar tidak memegang kekuasaan dalam arti kenegaraan. Namun, kekuasaan dalam pribadinya, dan institusinya menjadi tantangan besar bagi setiap penguasa.

    Kedua, “Kekuasaan Kaum Terbuang” (power of the outcasts)— Rohimah, Taufik, Kusni Kasdut, dan Henky Tupanwael. Mereka dikategorikan sebagai penjahat, yang harus dibuang dari masyarakat. Namun, mereka berkuasa di dalam dunia “gelap” bagi kepentingan dunia “terang”.

    Bagian ketiga, “Kaum Berkuasa dan Ke-tak-kuasa-an” (powerlessness of the powerful) —Mohammad Hatta, Margono Djojohadikoesoemo, Sam Ratulangi, Frans Seda, Abdurrahman Wahid “Gus Dur”, dan Soekarno. Separuhnya lebih menunjukkan tragedi kekuasaan itu sendiri. Tragedinya terletak dalam ketakberdayaan mereka yang sangat mampu memecahkan soal demi harkat kemanusiaan sambil menunjukkan wajah muram dari kekuasaan itu sendiri.

    Paradoks demi paradoks dibuka tentang mereka yang tak berkuasa akan tetapi penuh daya, yang berkuasa namun tanpa daya, yang terbuang akan tetapi membuka kedok suatu masyarakat yang mengenyahkannya. Mereka tidak atau hampir tidak pernah berhubungan satu sama lain; namun, bila diperhatikan dengan teliti Soekarno —muda dan tua, Soekarno aktivis dan penguasa—menjadi axis yang menghubungkan semua.

  • Kampung Bena Magnet Ekowisata

    Kampung Bena Magnet Ekowisata

     Bukan hanya pesona alamnya yang elok dan magis, di kampung adat yang berlokasi di lereng Gunung Inerie ini potensial untuk dijadikan lokasi ekowisata. Pariwisata berbasis konservasi lingkungan dan budaya. Seperti apa?

    BERADA di ketinggian sekitar 750 meter di atas permukaan laut (dpl) tidak terlalu sulit untuk menjangkau Kampung Adat Bena yang berjarak sekitar 19 kilometer arah Selatan kota Bajawa, ibukota Kabupaten Ngada, Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).

    Jalan hotmiks selebar 4 meter berkelok-kelok dengan perkebunan kopi di sisi jalan menjadi teman perjalanan yang mengasyikkan sebelum tiba di gerbang kampung yang secara administratif masuk wilayah Desa Tiworewu, Kecamatan Cerebe’u, Kabupaten Ngada ini.

    Kampung seluas kurang lebih 3 hektar ini di sebelah Utara berbatasan dengan Desa Beja, Kecamatan Bajawa dan Desa Rakateda, Kecamatan Golewa. Di Selatan berbatasan dengan Desa Watumanu, di Timur dengan Desa Dariwali dan di Barat menjulang Gunung Inerie, atau orang setempat menyebut sebagai gunung mama. Salah satu gunung paling ‘megah’ di daratan Flores.

    Begitu tiba di Kampung Bena, jarum jam seolah berhenti berdetak. Kita akan dibawa melayang ke masa peradaban megalitikum. Kampung yang berdiri di atas bukit berfondasi bebatuan besar yang disusun rapi ini memiliki sekitar 45 rumah adat yang terpelihara dengan baik.

    Bisa jadi, pendirian kampung di atas bukit dengan dilapisi bebatuan ini sebagai bentuk pertahanan diri terhadap musuh. Seluruh rumah berdiri membujur di sisi kanan dan kiri dan menyisakan tanah lapang di tengahnya. Di tempat inilah didirikan dua rumah kecil untuk pemujaan nenek moyang yang disebut bhaga. Terdapat juga compang yang menjadi altar persembahyangan kepada leluhur.

    Rumah pemujaan untuk menghubungkan dengan leluhur laki-laki disebut nga’dhu yang bercirikan atap jerami berbentuk payung, dengan ukiran kuda di bawah pintu. Sedangkan rumah untuk berhubungan dengan leluhur perempuan dinamai sakapu’u yang memiliki ciri khas, boneka dari jerami di ujung atapnya.

    Selain itu, media pemujaan kepada nenek moyang dilakukan di timbunan bebatuan yang menyangga batu pipih lebar yang berfungsi sebagai panggung atau biasa disebut sebagai terse

    Suasana kian magis, karena di kampung ini terdapat empat menhir yang hingga sekarang dipuja karena di titik inilah masyarakat Bena terhubung dengan para leluhur mereka.

    Lima menhir yang dikeramatkan itu adalah ine thegu yang merupakan perwujudan perempuan penyihir (black magic women), jhoga sebagai perwujudan perempuan penumbuk padi, dhegu geke sebagai pelindung, serta dhela lere simbol kekuatan. Menhir dhegu geke ini berlokasi di tubir jurang dan melekat tipis dengan batu penyangga dasarnya. Konon, saat gempa dahsyat menggoyang Flores pada 1992, menhir ini tidak bergoyang, bergeser seinci pun tak.

    Rumah kecil untuk pemujaan kepada nenek moyang yang disebut bhaga. (Foto: FBC/Pudji)

    Terakhir, watu wisu noa yang berbentuk mesin kapal dan merupakan ruh sekaligus jantung kampung ini. Hanya sepelemparan batu dari menhir terakhir ini terdapat gua kecil dengan patung Bunda Maria yang diletakkan di anak bukit di mana kita bisa memandang seluruh kampung dari sisi belakang. Dari lokasi ini, kita bisa menatap gagahnya Gunung Inerie yang menjulang.

    Sementara di lokasi tanah lapang yang lebih ke belakang akan ditemui sejenis meja batu atau dolmen, dengan cekungan seukuran piring. “Dari cekungan seukuran piring inilah nama Bajawa bermula. Ba artinya piring, jawa ya Jawa. Bajawa artinya piring dari Jawa,” kata Yoseph Rojagale (87), Ketua Lembaga Adat Bena sembari mengambil pecahan piring celadon era Dinasti Song (960-1279) dari balik tumpukan lempengan batu.

    Masih menurut Yoseph, kota Bajawa sebelum digeser sejauh 19 kilometer ke arah Utara dari Kampung Bena, semula ada di kampung tersebut.

    Asal-Usul

    Berdasar sejarah lisan seperti dituturkan Yoseph, Kampung Bena yang berbentuk perahu dengan ujung layar tertinggi di depan, dan ruang mesin serta buritan di belakang atau sisi Selatan itu berasal dari imigran Jawa. Tepatnya berasal dari Pati, Jawa Tengah, yang bermigrasi sekitar 1.200 tahun lalu.

    “Kampung ini dibangun oleh Bena lelaki asal Pati, Jawa Tengah, yang bermigrasi sekitar 1.200 tahun lalu bersama sembilan saudaranya: Ngadha, Wato, Deru, Siga, Dizi, Raba, Kopa, dan Ago. Sembilan bersaudara inilah yang akhirnya membentuk klan (suku) di sini sesuai namanya dan tinggal bersama di Bena. Mereka berlayar dari Pelabuhan Juwana, Pati, Jawa Tengah. Karena badai merusak perahu mereka lalu berganti perahu di Pelabuhan Tuban, Jawa Timur. Makanya perahu yang kemudian berubah wujud menjadi kampung ini kami namai perahu tuban,” kata Yoseph yang begitu meyakinkan.

    Yoseph yang mengaku pernah menjadi asisten pribadi Mgr. Soegijapranata Uskup Agung Semarang pada tahun 1950-an ini menduga, Bena dan saudaranya terusir dari Pati karena perbedaan keyakinan dalam kepercayaan Kejawen dengan warga kebanyakan.

    “Ketika tinggal di Semarang, saya sempat menelusuri jejak kampung saya di Pati. Saya bertemu sesepuh penghayat kepercayaan, namanya Pak Cokro yang menjelaskan kepada saya, memang demikian ceritanya. Persembahan kepada leluhur berupa hati ayam dan nasi putih yang melambangkan keberanian dan kesucian yang ada di Pati juga ada di Bena,” kata Yoseph yang mahir beragam bahasa mulai Bena, Jawa, Latin, Belanda, dan tentu Inggris ini. Yoseph sendiri beristrikan orang Jawa asal Purworejo, Jawa Tengah.

    Sementara menurut Paul Arndt, SVD (2009: 457) Bena (bi bena) yang maknanya bertumbuh atau bertambah banyak merupakan bagian dari klan Jawa Ledo yang berasal dari Nebe Meze yang merupakan nama julukan Ngadha, sebagai ibu asal.

    Salah satu menhir dari empat menhir yang berada di kampung tersebut. (Foto: FBC/Pudji)

    Klan-klan lain kemudian bergabung membentuk kampung besar yang disebut loka di Kampung Bena yang sekarang ini. Hingga kemudian terjadi pembagian tanah dan Bena mendapat hak milik atas tanah serta hak pakai atas tanah Tewe Au di lembah Jere Buu.

    Masih menurut Arndt, orang yang bertugas membagi tanah ini adalah Jawa Lizu (lizu: langit; Jawa: Jawa). Selain itu, Bena mendapat hak pimpinan tertinggi atas pesta reba. Dahulu dalam ‘permulaan zaman’, klan-klan itu sudah menetapkan tata aturan pesta reba, dan mereka sudah membentuk satu persatuan dan berjanji menaati peraturan pesta reba itu. Sebagai ungkapan dan kenangan akan janji tersebut didirikanlah bangunan batu, yang hingga hari ini masih ada di jalan keluar Kampung Bena, ulu nua. Entah informasi mana yang sahih, yang pasti Kampung Bena hingga kini masih setia merawat kebiasaan nenek moyang mereka, dan selalu disambangi puluhan wisatawan setiap harinya.

    Penulis: EC. Pudjiachirusanto

    Sumber : Floresbangkit.com

  • Pariwisata Berdaya Saing, “Ingin Bersaing Tak Punya Daya”

    Pariwisata Berdaya Saing, “Ingin Bersaing Tak Punya Daya”

    “Daya saing” memang sering diucapkan bahkan menghiasi halaman-halaman pidato para pejabat neagara. Tapi apakah daya saing yang dibicarakan itu sudah kita miliki, atau hanya sekedar motivasi untuk kelak bisa diwujudkan?

    Kompas, 16 Juli 2016, di bawah Judul “Indonesia Berdaya Saing”, menuliskan bahwa Indonesia sudah lama dikenal sebagai  negara agraris , tetapi ternyata hingga kini belum swasembada. Indonesia masih kalah dengan Thailand. Pada industry manufaktur , walau memiliki tenaga kerja yang murah, Indonesia masih ketinggalan dengan Tiongkok. Satu-satunya yang dipunyai adalah Industri Kreatif lebih khusus pariwisata.

    Saat ini posisi pariwisata masih dalam urutan keempat sebagai penyumbang terbesar produk domestik bruto (PDB) atau sekitar 5 persen. Di urutan pertama, minyak dan gas, lalu batubara dan yang ketiga adalah minyak sawit mentah (CPO). Demikian catatan Kompas.

    Industri kreatif dalam hal pariwisata sekali lagi memang dimiliki Indonesia. Apalagi dalam pengelolahannya untuk menghasilkan keuntungan yang besar pun tidak terlalu membutuhkan biaya yang mahal. Yang justru diperlukan dalam hal ini adalah komitmen.

    Namun, perlu diingat masalah komitmen memang mudah diucapkan, tapi dalam realisasinya hampir pasti komitmen itu hanya ada diatas kertas dan tetap menjadi pembicaraan setiap pergantian pemerintahan baik di pusat maupun di daerah.

    Bila ditelusuri, peluang untuk merealisasikan daya saing di bidang pariwisata, sekarang ini memang sudah saatnya. Disamping genjarnya pembangunan infrastruktur yang menghubungi daerah yang satu dengan yang lain, kebijakan pembesasan visa kunjungan ke 169 negara menjadi pintu masuk dalam pembangunan Industri Pariwisata.

    Tapi kenyataan, peluang ini belum dimanfaatkan dengan serius. Potens pariwisata dan destinasi pariwisata di setiap wilayah, hanya masuk menjadi daftar potensi daerah. Penggarapan pun masih sederhana untuk tidak mengatakan masih apa adanya alias dibiarkan terlantar. Lalu apa daya saingnya?

    Mau tidak mau, komitmen untuk membangun sector pariwisata harus mulai dari pemerintah sendiri lebih khusus pemerintah daerah yang memiliki destinasi itu. Disamping promosi yang gencar, penyiapan fasilitas berscala internasional, dan peningkatan salera pengelolaan destinasi, pemerintah sendiri harus mendorong warganya untuk mulai menikmati pariwisata yang ada di daerahnya. Sesuatu yang menarik harus diciptakan, agar berbondong-bondong orang kesana.

    Kenyataannya, semua masih menunggu kucuran dana untuk menjawab pembangunan pariwisata. Tapi lagi-lagi, sebanyak apa pun dana, tidak pernah menjawab kebutuhan yang ada manakalah budaya mencintai dan memelihara pariwisata tidak dimiliki.

    Sekedar menyiangi belukar, para pengunjung yang datang dari luar pun hanya singgah sekali-sekali, dan itupun harus meluangkan waktu membersihkan belukar yang terlantar itu. Masih jauh persaiangan  merebut hati para wisatwan, kalau pemerintah dan masyarakat setempat tidak memiliki daya. Maksud hati memeluk gunung, apa daya tangan tak sampai.

    Dari berbagai sumber

  • Imam Prasodjo: “Sekarang Eranya Semua orang jadi Komentator”

    Imam Prasodjo: “Sekarang Eranya Semua orang jadi Komentator”

    Perkembangan teknologi informasi yang tengah menerpa dunia termasuk Indonesia saat ini, membawa perubahan yang luar biasa dalam interaksi antar manusia termasuk dalam hal literasi. Perkembangan ini pun kemudian dituntut harus menuju pada ekonomi berkeadilan.

    Sosiolog Imam Prasodjo mengatakan perkembangan yang dibawa teknologi informasi di Indonesia sangat luar biasa yang menyebabkan semua orang ikut mendistribusikan informasi dan semua orang mengkonsumsi informasi.

    “Semua menjadi jurnalis. Sekarang eranya semua orang jadi komentator,” kata Imam Prasodjo dalam diskusi yang digelar Tempo Institute di Gedung Tempo, Jakarta, Senin (5/6/2017).

    Diskusi brtajuk “Dunia Literasi Kita: Dampaknya bagi Ekonomi Berkeadilan” dipandu Direktur Eksekutif Tempo Mardiyah Chamim.

    Menurut Imam Prasodjo, apa yang terjadi dulu tahun 1970-an, hanya orang-orang tertentu saja yang jadi komentator, karena saat itu media terbatas,  hanya TVRI satu-satunya televisi, sementara sekarang sudah ada macam macam televisi,  koran dan sosial media.

    Fenomena ini merupakan sebuah interaksi baru. Mendadak semua orang bisa terkenal hanya karena bermain gedget. Perubahan yang terjadi adalah digital family.   Orang maju karena konektif dengan banyak orang. Semua tempat menjadi tertinggal karena tidak ada koneksi.

    Dikatakannya, era sekarang juga membawa orang tidak lagi menyatu, melainkan tersegmentasi ke dalam kelompok. “Saya tadi berpikir bahwa  dengan semua orang punya akses informasi maka semua jenis informasi bisa kita dibandingkan. Ternyata tidak. Orang berkomunikasi dengan temannya yang cocok. Akhirnya orang pun tidak menyatu tapi menjadi segementasi,”ujarnya

    Terkait dengan literasi, menurutnya literasi yang dibicarakan selama ini berhubungan dengan offline culture, namun yang terjadi sekarang ada juga online culture, bahkan yang offline tergerus oleh online culture.

    “Kedepan orang mulai bicara mana negara maju, mana yang tidak. Negara  maju  memiliki jejaring. Orang maju adalah yang konektif dengan banyak orang, ” terangnya.

    Di tengah membanjirnya informasi, dia mengusulkan agar informasi-informasi yang tercecer tersebut perlu dirangkai menjadi sebuah pengetahuan. Dari pengetahuan teoritis dan pengetahuan praktis inilah baru kita bisa mengambil keputusan.

    “Saya membayangkan literasi itu tidak sekedar baca tulis, tapi sampai mendistribusikan pengetahuan. Pengetahuan yang banyak perlu  di-manage,” ujarnya.

    Selain Imam Prasodjo, pembicara lain, Dirjen Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan kebudayaan Hilmar Farid, Afi Nihaya Faradisa, dan pemerhati Sastra Anak, Murti Bunanta. (Ben)

  • Adakah Kebhinekaan Dalam Sastra? Inilah Pendapat Ignas Kleden

    Adakah Kebhinekaan Dalam Sastra? Inilah Pendapat Ignas Kleden

    Sastra dan Kebhinekaan menjadi topik yang diangkat untuk dibicarakan dalam Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) ke-2 yang dilaksanakan di Jakarta, sejak Selasa  hingga Kamis, 18-20 Juli 2017.

    Terkait dengan hal ini pertanyaannya, apakah ada sifat-sifat intrinsik dalam sastra, khususnya sastra tertulis yang memungkinkan pengalaman tentang kebhinekaan bagi orang yang membacanya?

    Sosiolog Ignas Kleden, yang menjadi nara sumber  Panel diskusi I bertajuk “Sastra dan Kebhinekaan”, dalam  Musyawarah Nasional Sastrawan Indonesia (Munsi) ke-2, Selasa (18/7/2017) mengatakan bahwa dalam sastra, kebhinekaan bukan saja dimungkinkan tetapi dirayakan.

    Ignas mengawali paparannya dengan menjelaskan duduk soal tentang sastra dalam berhubungan dengan kebhinekaan, Ignas Kleden menunjukkan ada tiga tema yang menjadi perhatian dalam pembicaraan sastra dan kebinekaan, diantaranya pertama, analisa hubungan sastra dan kebinekaan, kedua, kebijakan pemerintah terhadap sastra dalam hubungan dengan kebhinekaan dan ketiga, advokasi peran sastra dalam mendukung atau memperkuat kebhinekaan.

    “ Masalah pertama adalah persoalan teori sastra dan teori tentang kebhinekaan, yang kedua merupakan politik kebudayaan yang berkaitan dengan kesadaran dan ketetapan pemerintah tentang sastra dan kaitannya dengan kebhinekaan, dan yang ketiga adalah perjuangan kelompok-kelompok masyarakat yang melakukan affirmative action untuk memperkuat peran sastra dalam mendukung dan memperkuat kebhinekaan sebagai sasarannya,” jelas Ignas Kleden.

    Berbicara pada pokok soal mengenai kebhinekaan dalam sastra, menurut Ignas dapat ditinjau dalam beberapa segi, yaitu dari segi pengarang, dari segi pembaca, dari segi proses penciptaan, dari segi teks dan dari segi genre sastra  yang digunakan pengarang. Ignas mengakui, dalam sastra, kebhinekaan bukan saja dimungkinkan tetapi dirayakan.

    Dari segi pengarang, menurut Ignas, pemgarang patut disebut pada tempat pertama karena kalau karya sastra dapat dianggap sebagai sebuah produk kebudayaan yang penting, maka pengarang adalah produsen yang utama, disamping editor dan penerbit.

    “Pengarang selalu ditantang oleh dua hal yaitu orisinalitas dalam pesan yang hendak disampaikannya, dan otentisitas dalam bentuk yang digunakannya. Tantangan terhadap pengarang yang datang dari tuntutan untuk otentisitas dan orisinalitas menyebabkan tiap pengarang akan memberikan sesuatu yang diusahakan seunik mungkin dan membuat ceritra dan novel dengan kebhinekaan isi dan bentuk,” jelas Ignas.

    Dari segi pembaca dalam hubungan dengan kebhinekaan. Menurut Ignas, kalau pengarang adalah produsen karya sastra, maka pembaca adalah konsumennya. Namun kata Ignas, seorang konsumen karya sastra berbeda fungsinya dari konsumen makanan restoran atau konsumen toko pakaian.

    “Pembaca karya sastra tidak selalu menyesuaikan dengan pesan yang ditulis pengarang dalam karya sastranya, tetapi pembaca dapat memberi makna sendiri terhadap karya itu berdasarkan tafsir pribadi yang dilakukannya berdasarkan pengalaman hidup dan berdasarkan pengalamannya membaca karya-karya sebelumnya. Pembaca karya sastra bertindak sebagai ko-korektor untuk penciptaan makna suatu karya sastra  dan dengan demikian ada aneka makna yang diperoleh pembaca dari karya sastra yang dibaca oleh mereka.

    Dalam proses penciptaan, kata Ignas, proses psikologis dan sosiologis pada masing-masing pengarang sastra amat berbeda-beda. Menurutnya, ada berbagai sebab yang berbeda-beda yang mendorong seorang menulis, dan berbagai keadaan yang seakan-akan  memaksa untuk menulis.

    “Menurut pendapat saya, berbagai cerita mengenai proses penciptaan dalam sastra banyak gunanya untuk pendidikan sastra, khususnya dalam memotivasi para calon pengarang atau pengarang pemula, bahwa menulis dapat mereka lakukan dalam keadaan apapun dengan motif apa pun, asal saja dilakukan dengan kesungguhan,”urai Ignas.

    Untuk masalah genre yang merupakan bentuk yang tersedia dalam sastra, lanjut  Ignas dapat dipergunakan oleh masing-masing pengarang sesuai dengan kebutuhan dan bakatnya. Dengan mencontohkan genre yang berbeda dari para sastrawan seperti  Sutan Takdir Alisyabana, Asrul Sani, Goenawan Mohamad, Hamsad Rangkuti, dan NH Dini,

    Ignas kemudian menyimpulan bahwa tidak setiap pengarang dapat menjadi penyair yang menulis puisi, dan tidak setiap penyair dapat menulis novel dan tidak setiap penyair atau novelis dapat menulis esai yang baik, namun ada juga yang dapat memanfaatkan semua bentuk yang ada.

    “Usaha membaca karya sastra dalam berbagai bentuk itu memberikan aneka pengalaman yang berbeda,” ujar Ignas

    Sementara pada karya sastra sebagai wacana tertulis, kata Ignas telah menunjukan sudah terbebas dari pengarangnya. “Setiap karya sastra lahir dari konteks tertentu dan karya sastra yang pada mulanya mempunyai kelompok atau orang tertentu yang menjadi sasarannya. Akan tetapi setelah selesai ditulis , karya itu dibebaskan juga dari sasarannya semula,” jelas Ignas.

    Ignas mencontohkan, surat-surat Bung Hatta kepada para sahabatnya, yang kini diterbitkan untuk umum memungkinkan setiap pembaca mempunya akses ke surat-surat itu dan dapat menafsirkan sendiri makna surat-surat itu. Hal yang sama juga, kata Ignas, juga terdapat pada catatan Ahmad wahid yang ditulis untuk dirinya sendiri, namun kini telah dibukukan dan dibaca dan didiskusi banyak kalangan.

    “Karya tulis itu mengalamai berbagai tafsiran yang berbeda-beda, karena tidak terikat lagi pada kelompk atau orang tertentu yang semula menjadi sasaran karya itu. Ini pula sebabnya, bahwa karya tulis dan khususnya sastra tertulis, selalu ditafsirkan secara berbeda-beda oleh sasaran baru yang ditemui oleh karya itu, sehingga selalu mempunyai makna yang bineka,” jelasnya.

    Ignas menympulkan bahwa berkenalan dengan karya sastra selalu berarti mengalami kebhinekaan dalam bentuk dan isi, dalam tafsir dan makna, dan dalam konteks yang selalu dinamis sifatnya. “Sastra adalah suatu dunia pluralitas. Dalam sastra,  kebhinekaan bukan saja dimungkinkan tetapi dirayakan,” tutup Ignas.

    Pada Panel I, selain Ignas Kleden, pembicara lain dalam panel diskusi itu Janet de Neefe dari Ubud Writter  dan Budayawan Radhar Panca Dahana. (Ben)    

  • Songsong 17 Agustus, Pedagang Umbul-umbul Raup Keuntungan

    Songsong 17 Agustus, Pedagang Umbul-umbul Raup Keuntungan

    Jelang hari kemerdekaan RI ke – 72 setiap sudut di kota Ende diwarnai dengan hiasan bendera merah putih, umbul – umbul dan tulisan – tulisan dirgahayu maupun tulisan bernuansa patriotisme yang menambah warna warni kemerdekaan di kota Rahim Pancasila ini.

    Dengan perayaan HUT Kemerdekaan ini banyak pedagang  mulai melihat peluang bisnis untuk meraup keuntungan dengan menjual ornamen 17-an meskipun hanya dilakukan musiman setahun sekali di saat ulang tahun kemerdekaan negeri ini.

    Budianto, warga Tanjung Ende salah seorang pedagang bendera dan umbul-umbul saat ditemui JurnalTimur,  Rabu (16/08/2017) di depan trotoar Taman Bung Karno menuturkan dirinya menjual bendera dan umbul-umbul tersebut dengan harga relatif murah antara Rp 15-20 ribu per lembar agar bisa menyaingi pedagang lain yang berada di sekitar lokasi Jl Sukarno.

    Pria jangkung ini menjual ornamen 17-an itu sejak 1 Agustus lalu dengan penghasilan per hari bisa mencapai jutaan rupiah.

    “Saya mulai menjual sejak tanggal 1 Agustus lalu dan penghasilan per harinya lebih dari cukup berkisar antara Rp 750 ribu hingga Rp 1 juta. Kalau ramai sekali Rp 1.000.000 tetapi kalau sepi sekali ya sekitar Rp 750 ribu” katanya.

    Namun Budi menambahkan umbul-umbul dan bendera yang dijualnya bukan barang miliknya sendiri sehingga keuntungan bersih dari penjualan ornamen tersebut dapat diperkirakan setengah dari harga barang tersebut.

    Saat ditanya kepemilikan barang-barang dagangan yang dijualnya, Budi menuturkan kalau barang-barang tersebut merupakan barang titipan salah seorang pedagang di Ende sehingga setelah dijual dirinya harus setor ke pemilik sesuai harga barang yang sudah ditentukan pemilik.

    “Saya hanya menjual. Dan ketika barang – barang ini laku maka saya mendapat keuntungan dari penjualannya sekitar 15-25% dari harga barang tersebut” tuturnya.

    Sementara itu Ephy Rithi salah seorang pembeli yang ditemui di lokasi penjualan Budi mendukung langkah yang dilakukan Budi dalam meningkatkan ekonomi keluarga meski pun hanya dilakukan musiman saat HUT Kemerdekaan RI namun bisa meraup keuntungan yang besar dari usaha ini.

    Dirinya bersyukur dengan adanya pedagang musiman yang menjual ornamen ini sehingga tidak terlalu sulit mendapatkan umbul – umbul dan bendera yang telah tersedia seperti di depan Taman Bung Karno.

    “Bersyukur karena semua yang kita butuhkan saat HUT Kemerdekaan RI sudah ada di sekitar sini sehingga tidak susah-susah mencarinya. Tinggal kita siapkan uang untuk membelinya” katanya.(welano)

    Sumber : jurnaltimur

  • Berawal dari Facebook, Ratusan Orang Akhirnya Turun Tanam Mangrove

    Berawal dari Facebook, Ratusan Orang Akhirnya Turun Tanam Mangrove

    Suasana Hutan Bakau, sisi Tenggara  Bandara Wunopito Lewoleba, Kabupaten Lembata, Minggu pagi, 27/8/2017 berbeda dari biasanya. Lokasi yang sebelumnya jarang dikunjungi, tiba-tiba ramai. Lebih dari seratus orang relawan tampak berkumpul.

    Bukan sekedar hadir untuk rekreasi sebagaimana yang sering dilakukan pada hari libur. Ratusan orang dari kelompok berbeda ini datang untuk menanam bakau.

    Inisiator kegiatan Elias Kaluli Making, yang dihubungi JurnalTimur dari Jakarta ke Lewoleba melalui kontak telepon, Rabu (06/09/2017) menjelaskan, aksi tanam bakau merupakan perwujudan semangat Hari Ulang Tahun (HUT) Republik Indonesia yang ke 72 tahun.

    “Gerakan ini kami namai Gerakan Tanam Seribu Bakau Untuk Lembata. Ide gerakannya muncul dari diskusi di Medsos. Dan kami bersepakat untuk melakukan aksi nyata dalam rangka peringatan HUT RI yang ke 72 tahun. Pilihan kami adalah tanam bakau,” ujarnya.

    Dia menuturkan, sejak kesepakatan bersama rekan-rekan facebooknya, pria yang akrab disapa Yogi Making itu, melakukan konsolidasi ke berbagai pihak. Tak disangka, konsolidasi gagasan mendapat dukungan dari banyak pihak. Ada yang siap membantu anakan mangrove, ada yang berinisiatif menyumbang biaya angkut, air kemasan, bahkan ada pula yang menyanggupi untuk menyiapkan panganan lokal agar di konsumsi bersama saat aksi tanam mangrove berlangsung.

    Menariknya, relawan yang datang, baik dalam kelompok maupun kehadiran secara individu banyak diantaranya tidak saling kenal. Yogi mengatakan, keakraban diantara mereka terjadi secara spontan ketika kegiatan berlangsung.

    Ditambahkannya lagi, untuk kepentingan pengawasan dan perawatan terhadap ratusan mangrove yang mereka tanam, para relawan sudah bertekad untuk setiap aksi penanaman selalu melibatkan sekolah, baik tingkat SMP maupun SMA.

    “Jadi untuk lokasi yang baru kami tanami ini, akan dijaga dan dirawat oleh pihak SMA PGRI Lewoleba. Disamping itu kami sengaja mengajak pihak sekolah, sehingga lokasi mangrove ini bisa menjadi sarana belajar, terutama menumbuhkan rasa peduli terhadap lingkungan,” pungkas Elias. (Ben)

  • Cara Baca Buku, Jan Riberu di Mata Daniel Dhakidae dan Ignas Kleden

    Cara Baca Buku, Jan Riberu di Mata Daniel Dhakidae dan Ignas Kleden

    Tidak ada kebahagian dari seorang guru  kecuali dia tahu bahwa ada murid yang belajar dari sesuatu yang diberikan itu. Dan sekiranya apa yang diberikan itu,  diingat seumur hidup oleh muridnya maka itu merupakan kebahagian semur hidup dari seorang guru.

    Pemikir Social Daniel Dhadikae mengatakan hal itu saat memberi kesaksian atas sosok pedagog Dr. Jan Riberu, dalam peluncuran buku “Pergulatan Pemikiran Dr. Jan Riberu: Pendidikan, Relasi Agama-Negara, dan Pancasila” yang  diluncurkan, di Jakarta, Sabtu (27/01/2018).

    Menurut penulis buku “Cendikiawan dan Kekuasan ini”, selama menjadi mahasiswa di Sekolah Tinggi Filsafat Ledalero Flores, ia diajarkan oleh dosennya Dr. Jan Riberu tentang cara membaca buku.

    “Saya ingat apa yang dikatakan Pak Yan waktu itu, bahwa jangan pernah membaca buku yang dimulai dari kata pertama sampai kata terakhir. Itu bacaan orang bodoh. Ada beberapa cara membaca. Pertama, membaca analitik, membaca sintesis dan kemudian menulisakan dalam kartu-kartu belajar. Itu yang saya ingat dari sejak itu sampai sekarang,” kata Daniel.

    Menurutnya, pelajaran yang diberikan Jan Riberu itu ia praktikan sejak dari Ledalero, kemudian menjadi mahasiswa UGM dan mahasiswa di Universitas Cornel bahkan hingga hari ini. “Saya praktik hingga saat ini. Semua bawa buku saya tidak bawa apa-apa. Tetapi saya sudah membaca,” ujarnya.

    Daniel mengatakan, tidak ada hadiah yang lebih hebat dari seorang murid seperti saya ini yang selalu mengingat apa yang dikatakan guru  seumur hidup.  “Saya bangga mempunyai guru seperti pak Jan ini, dan Pak Jan juga harus bangga ada seorang murid seperti saya ini, yang mengingatkan apa pun yang diberikan seumur hidup,” kata Daniel.

    Yang Penting Penerapannya

    Berbeda dengan Daniel Dhakidae, dalam kesempatan yang sama Sosiolog  Ignas Kleden mengatakan, guru yang hebat adalah guru yang membuat soal-soal yang sulit menjadi mudah dipahami bagi mereka yang belajar. 

    “ Saya kira Pak Jan Riberu ini merupakan guru yang tidak saja membuat suatu yang mudah, tapi menarik. Tidak semua orang mempunyai bakat seperti itu,” kata Ignas Kleden yang juga murid Jan Riberu di Ledalero – Flores.

    Ignas menjelaskan, untuk membuat orang melihat sesuatu dalam pengertian, bukan hanya penekanan pada apa yang dipahami tapi jauh dari itu adalah membuat orang menikmati apa yang dipahami.

    “Kita selalu membuat suatu yang mudah menjadi sulit. Padahal yang seharusnya adalah membuat orang dengan cepat melihat sesuatu dengan mudah. Pengertian bukan hanya berurusan dengan apa yang dipahami, tetapi menikmati apa yang dipahami,” urai Ignas. 

    Ignas menanggapi uraian Daniel Dahkidae sebelumnya tentang membaca analitik dan membaca sintetis, dengan mengatakan bahwa itu tema itu merupakan tema  yang besar dalam filsafat Hermenutika yakni bagaimana hubungan antara pembagian dan keseluruhan. 

    “Dalam praktek, apakah untuk memahami suatu buku yang lengkap, saya harus memahami bab per bab supaya memahami keseluruhan buku, atau saya harus memahami keseluruhan buku secara teoritik , supaya bisa memahami setiap bab yang ditulis? Ini persoalan hermenuika yang cukup sulit,” kata Ignas.

     Ignas mengutip Filsuf Hermenutik Jerman Hans-Georg Gadamer yang menyebutkan tiga tahapan dalam pemahaman yakni substilitas intelegendi, substilitas explicandi,  dan substilitas applicandi

    Substilitas intelegendi  merupakan tahapan dimana setiap orang menangkap keseluruhan yang punya makna. Tahap berikut yang dinamakan substilitas explicandi adalah keseluruhan yang harus dipecahkan dalam detail-detail yang merupakan bagian dari keseluruhan.

    Dan terakhir adalah substilitas applicandi yakni detail yang terpecah itu diatur kembali, sehingga mencapai suatu konstruksi yang baru.

    “Jadi apakah kita bergerak dari kesuluruhan menuju bagian-bagian atau bagian-bagian menuju keseluruhan akan terpecahkan dalam praktik. terpecahakan dalam aplikasi, dan terpecahkan dalam penerapan,” jelas Ignas.

    Dalam kerangka diskusi tentang pendidikan dan Pancasila yang merupakan bagian dari peluncuran buku Jan Riberu, Ignas memberikan apresiasi atas pemikiran Jan Riberu tentang Pendidikan dan Pancasila.

    Menurutnya, yang terpenting dari Pancasila adalah penerapannya. “Jadi bukan kita mengerti supaya bisa menerapkan, tapi kita menerapkan sehingga bisa mengerti. Kita harus berusaha menerapkan Pancasila secara serius sehingga dapat memahami,” kata Ignas. (Benjamin Tukan)