Blog

  • Mengurai Kekerasan di Nduga

    Mengurai Kekerasan di Nduga

     

    Oleh Ansel Deri, Sekretaris Papua Circle Institute

    KEAMANAN dan kedamaian merupakan dua hal yang menjadi kerinduan masyarakat Kabupaten Nduga, Papua. Jaminan keamanan dan kedamaian boleh jadi ialah napas kehidupan masyarakat. Kerinduan rasa aman dan damai, terutama bagi sebagian umat kristiani warga Nduga menjelang dan puncak perayaan Natal 2019, misalnya, masih jauh dari kehidupan sosial warga setempat. Mengapa? Fakta memperlihatkan, setahun belakangan ketegangan bahkan kekerasan masih menyelimuti Nduga.

    Publik nasional tentu masih ingat baik peristiwa kelam berbau SARA di Wamena pada akhir September 2019. Buntutnya, seperti disampaikan Direktur Jenderal Perlindungan dan Jaminan Sosial Kemensos RI, Harry Hikmat, Kamis (3/10), sebanyak 32 warga meninggal, 67 luka-luka, belasan ribu orang meninggalkan wilayah Wamena, Jayawijaya, untuk mengungsi ataupun kembali ke kampung halaman masing-masing.

    Duka Nduga ialah duka bangsa. Siapa pun tentu tak sudi kekerasan antarpihak beranak pinak di tengah upaya pemerintahan Presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin menggelontorkan anggaran bersumber APBN, dan mendorong sejumlah kebijakan strategis guna memacu ketertinggalan Nduga serta daerah-daerah lainnya di tanah Papua. Namun, konflik masih saja terjadi. Bisa saja dalam hati pelaku berdiam frasa ini, ‘kekerasan ialah satu-satunya bahasa yang saya pahami’. Mengapa Nduga bergelimang konflik dan kekerasan?

    Belum Membaik

    Sejak akhir Desember 2018 hingga penghujung 2019, kekerasan di Nduga, Papua, belum memperlihatkan tanda-tanda membaik. Persis dalam konteks relasi Jakarta-Papua. Dalam Dialog Jakarta-Papua: Sebuah Perspektif Papua (2009), (alm) Neles Tebay, salah seorang penggagas dialog damai Papua dari Sekretariat Keadilan dan Perdamaian Dioses Jayapura, juga mengingatkan, jalan kekerasan tidak pernah menyelesaikan konflik. Soal yang kini tengah dialami pemerintah dan masyarakat Nduga.

    Meski tak terkait dengan kekerasan Nduga, Neles bicara ihwal kekerasan seperti yang melanda Nduga saat ini. Kata Neles, kenyataan sejarah di Papua memperlihatkan secara jelas bahwa hingga kini masalah Papua belum dituntaskan secara komprehensif kendati telah diupayakan penyelesaiannya melalui berbagai cara. Pada Rabu (14/8), Direktur Yayasan Keadilan dan Keutuhan Manusia Papua, Theo Hesegem, memerinci sedikitnya 184 warga sipil meregang nyawa pascaoperasi keamanan di Nduga sejak Desember 2018 hingga Juli 2019.

    Menjelang Natal 2019, kekerasan terus menemui ruangnya. Theo menyebut ada tiga aktor kekerasan, yaitu masyarakat sipil, TNI-Polri, dan Organisasi Papua Merdeka. Buntutnya, Senin (23/12/2019), Wakil Bupati Wentius Nimiangge di hadapan warganya menyatakan mengundurkan diri dari jabatannya.

    Wentius berkilah, sudah satu tahun terjadi kekerasan, pihaknya menghadap menteri, DPR, Panglima TNI, dan Kapolri meminta pasukan di Nduga ditarik agar masyarakat kembali beraktivitas seperti biasa. Namun, permintaan tidak direspons sehingga penembakan terhadap warga terus terjadi. Karena itu, ia memilih mundur sebagai bentuk protes atas operasi militer karena banyak memakan korban warga masyarakat (Media Indonesia, 26/12).

    Bara dalam Sekam

    Kekerasan di Nduga sepintas bukanlah konflik yang berdurasi pendek, tetapi berkepanjangan sejak puluhan tahun. Potensi konflik Nduga ibarat bara dalam sekam yang bisa terbakar. Karena itu, tak berlebihan bila Nduga senantiasa berada dalam zona konflik yang perlu penangangan serius, tak hanya pemangku kepentingan lokal, tapi juga nasional.

    Pertanyaan retorik muncul dari Forum Kerja Oikumene Gereja-gereja Papua melalui sejumlah pendeta, yaitu Dorman Wandikmbo, Socratez Yoman, dan Benny Giyai. Menurut mereka, kalau Presiden Jokowi bisa gunakan pendekatan dialogis dengan Aceh, mengatasi krisis kemanusiaan di Rohingya dan mendukung kemerdekaan bagi Palestina, mengapa masih gunakan pendekatan militer di Papua?

    Intelektual Papua Markus Haluk dalam bukunya Konflik  Nduga: Tragedi Kemanusiaan Papua (2019) mengemukakan, Nduga dalam zona konflik mencakup beberapa dimensi. Dimensi-dimensi dimaksud ialah, pertama, kehidupan sosial politik. Kedua, religi dan sejarah gereja. Ketiga, administrasi pemerintahan. Keempat, perjuangan hak penentuan nasib sendiri. Kelima, memoria passionis suku Nduga dari waktu ke waktu. Memoria passionis ini mengungkapkan berbagai kejadian yang bertalian dengan pembunuhan dan pelanggaran HAM orang Papua.

    Penderitaan warga Papua selama 55 tahun (1 Mei 1963 hingga Desember 2018) bersama Indonesia, demikian Haluk, dialami dengan tindakan berbagai operasi terbuka dan tertutup yang dilakukan pemerintah Indonesia kepada warga Papua.

    Sejumlah contoh operasi militer yang berakibat pada pelanggaran HAM terhadap rakyat Papua dapat dikemukakan di sini. Misalnya, Operasi Sadar (1965-1967), Operasi Barathayudha (1967-1969), Operasi Wibawa (1969), Operasi Militer di Jayawijaya (1977), Operasi Sapu Bersih I dan II (1980), dan Operasi Militer Pembebasan Mapenduma (1996). Bagaimana langkah efektif pemerintah pusat dan daerah serta semua pemangku kepentingan mengurangi kekerasan Nduga? Ini pertanyaan penting. Salah satu pilihannya, dialog sebagaimana disampaikan tiga gembala Papua: Dorman, Socratez, dan Giyai. Dialog ini juga pernah disampaikan Muridan S Widjojo dkk (2009), bertolak dari empat akar persoalan di Papua. Akar persoalan itu ialah diskriminasi dan marginalisasi, kegagalan pembangunan, pelanggaran HAM, serta sejarah dan status politik.

    Catatan editorial Media Indonesia, Jumat (27/12), menarik. Pendekatan kesejahteraan bagi Papua (termasuk Nduga tentunya) sudah tidak bisa ditawar lagi. Semua sepakat, kesenjangan pembangunan selama ini juga menjadi faktor pemantik munculnya aksi-aksi perlawanan dari sebagian rakyat di sana.

    Apresiasi tentu juga dialamatkan kepada Presiden Jokowi dan jajaran pemerintahan mulai pusat sampai daerah. Membangun Nduga dan daerah-daerah lainnya di Papua, mengupayakan kesejahteraan rakyat ialah pilihan rasional sejak awal memimpin negeri ini. Namun, kekerasan yang terjadi hampir setahun belakangan ini merupakan persoalan serius yang tentu tak dapat dibiarkan berlarut-larut.

    Presiden Jokowi perlu mengundang para pemangku kepentingan lokal segera bertemu guna mencari alternatif solusi mengurai kekerasan agar rakyat Nduga tak tersandera lagi dalam kubangan konflik dan kekerasan berkepanjangan.

    Para kepala distrik, ondoafi (kepala suku), pimpinan gereja lokal, tokoh pemuda dan perempuan juga perlu diundang bersama bupati, wakil bupati, DPRD setempat, pimpinan aparat keamanan untuk duduk bersama mencari alternatif solusi damai.

    Duduk bersama satu meja dalam semangat persaudaraan sejati, boleh jadi ialah kado istimewa pemerintah bagi masyarakat Nduga memasuki babak baru kehidupan awal tahun yang damai dan penuh cinta. Tiga aktor kekerasan seperti disampaikan Hesegem: masyarakat sipil, TNI-Polri, dan Organisasi Papua Merdeka perlu juga bergabung dan duduk satu meja. Memandang Nduga dan Papua sebagai surga kecil yang jatuh ke bumi, surga penuh cinta dan damai.

    Sumber: Media Indonesia, 31 Desember 2019

  • I r o n i  N a t a l

    I r o n i N a t a l

    Paul Budi Kleden, SVD

    Dari tanggal 3 sampai dengan 15 Desember2017 digelar Konferensi PBB tentang Pemanasan Global di Denpasar, Bali. Pertemuan penting ini di selenggarakan karena masalah pergeseran iklim bumi sebagai akibat dari pemanasan global. Hujan dan salju yang tidak datang pada waktunya membawa kebingungan dan kecemasan pada manusia. Suhu yang semakin naik membuat makhluk hidup kehilangan orientasi. Bukan mustahil, kebingungan dan kehilangan orientasi itu berakibat pada perubahan wajah bumi dan punahnya spesies tertentu dan makhluk hidup.

    Tampaknya pergeseran serupa kita alami pula dengan perayaan-perayaan keagamaan,seperti Natal. Suasana yang khas, yang boleh jadi dialami dahulu, terasa sudah bergeser. Taka da lagi yang khusus. Banyak orang kehilangan orientasi. Masa advent tidak lagi menyajikan suasana istimewa persiapan Naatal. Akibatnya seperti tiba-tiba, kita telah berada di ambang Natal.

    Namun, sebenarnya peristiwa ini terlampau agung untuk dibiarkan pergi bersama berlalunya waktu. Belum terlambat untuk memberi makna padanya. Untuk dapat menyelami makna yang mendalam dari perayaan Natal, kita perlu membongkar berbagai pemahaman yang kurang tepat dari praktik yang menyeleweng. Dengan demikian Natal menjadi sebuah moment untuk belajar dan berubah.

    Desakan Harapan

    Pada dasarnya setting Natal bukan terutama kandang hewan yang mudah membangkitkan rasa haru. Aktor utamanya bukan sepasang suami istri yang ketiadaan tumpangan, yang merah mukanya mendengar umpatan tuan rumah yang menolak memberikan penginapan. Natal bukan pertama-tama diistimewakan oleh bintang yang bersinar benderang di malam yang kelam, yang menjadi inspirasi  untuk sebuah lagu dan syair yang menggugah. Juga bukan terutama berkenaan dengan nyanyian merdu para malaikat yang membangunkan dan mengundang rasa kagum para pekerja di padang gembalaan.

    Memang, semua yang disebutkan di atas termasuk dalam kisah Natal. Namun, kisah itu hanya dipahami secara benar apabila kita menempatkannya pada suatu latar belakang yang jauh lebih luas. Natal harus ditempatkan pada horizon penantian yang sangat panjang, mendesak sekaligus aktual. Karena itu, bukan tanpa alasan orang-orang Kristen melewati masa penantian selama empat minggu, sebelum merayakan pesta Natal. Masa penantian itu melambangkan harapan yang panjang dari umat manusia.

    Natal adalah jawaban Allah atas harapan yang mendalam dari sejarah panjang umat manusia. Di tengah situasi kehidupan dengan berbagai persoalannya, terkristalisasi harapan yang mendesak akan intervensi ilahi yang mengatasi semuanya. Secara sangat padat harapan itu diungkapkan oleh Yesaya, seorang nabi Yahudi dari abad ke-8 SM: “Bangsa yang berjalan dalam kegelapan itu telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar….sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya telah Kaupatahkan……..sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubbah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api. Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan bagi kita” (Yesaya 9: 1-6).

    Pernyataan sang nabi itu merupakan ungkapan kerinduan manusia yang mengalami ketertekann karena tanggungjawab kehidupan yang semakin berat. Tidak hanya pada waktu itu. Sang nabi membahasakan kerinduan dan harapan kita juga. Tuntutan dan beban kerja yang kian tidak manusiawi di bawah ancaman PHK yang sangat riil, ruang gerak ekonomi yang semakin sempit, yang tak jarang memaksa orang menjual harga dirinya sebagai manusia; kerakusan akan kekayaan yang menghancurkan keseimbangan alam. Di tengah situasi seperti ini, manusia merindu dan berharap agar beban yang menekan, yang sering membuatnya malu, diangkat. Warga bangsa seperti ini tidak ingin lagi terus menunduk, menyembunyikan wajahnya, terpuruk dalam kehinaan.

    Dalam kenyataan, memang banyak orang mesti hidup di bawah komando orang lain yang bertindak sewenang-wenang. Kesewenangan itu tidak jarang menampilkan diri dalam bentuk kekerasan dan symbol-simbol kekerasn. Ada pemaksaan yang menggunakan perangkat perundangan dan aparat negara. Negara dan perangkatnya dialami sebagai institusi yang mewakili kepentingan para pemodal besar daripada kesejahteraan umum. Mereka menekan masyarakat untuk bekerja di bawah kondisi yang tidak bersahabat demi peningkatan profitnya sendiri. Lembaga-lembaga demokrasi lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas wacana demokrasi, karena kuantitas lebih gampang memberikan kriteria objektif untuk mendapat uang dan serentak memperbanyak kesempatan untuk melakukan korupsi. Rakyat kehilangan instansi dan oknum yang bersedia menyuarakan desahan penderitaan mereka. Dalam situasi seperti ini tumbuh harapan agar tongkat penindas sefera dipatahkan. Tak akan ada lagi penguasa yang bertindak sewenang-wenang di atas penderitaan orang banyak.

    Kenyataan lain yang sangat membelenggu masyarakat adalah rantai balas dendam yang sengaja dibiarkan tidak pernah putus. Kerusuhan-kerusuhan yang secara terencana tidak pernah diselesaikan dengan tuntas, yamg selalu menyembunyikan tokoh kunci di balik nama misterius ‘dalang’ atau ‘aktor intelektual’, menimbun rasa dendam yang berkelanjutan pada masyarakat. Di tengah kondisi masyarakat seperti ini, dibutuhkan sebuah pemicu yang sangat tidak berarti untuk memunculkan aksi kekerasn yang meluas. Maka tindak kriminal pun menjadi semakin tidak terbendung. Ketidakpercayaan terhadap penyelesaian masalah oleh lembaga publik menemukan kompensasinya dalam tindakan main hakim sendiri. Banyak mantel menjadi berdarah-darah. Dari dalam kondisi ini terumus harapan agar mantel berdarah yang memendam dendam itu dihanguskan. Bayang-bayang penderitaan masa lalu yang menghantaui akan ditiadakan, agar dengan lebih bebas orang menatap dan melangkah ke depan.

    Buku “DI TEBING WAKTU’ Karya Paul Budi Kleden

    Kesederhanaan Natal   

    Memahami Natal dalam prespektif kerinduan dan harapan yang panjang dan mendesak itu, memunculkan pertanyaan: Apakah harapan besar itu menemukan pemenuhannya dalam peristiwa yang dirayakan sebagai Natal? Allah datang ke dunia dalam sosok seorang bayi, putera sepasang suami-istri yang miskin secara ekonomi dan tidak berpengarug secara politis. Dapatkah kerinduan itu mendapatkan jawabannya dalam kehinaan dan ketakberdayaan serupa itu?

    Hemat saya di sini kita mengenal ironi Natal. Betapa tidak! Kesukaan besar, dapatkah itu ditemukan pada kelahiran seorang anak dari sebuah keluarga miskin yang sedang ketiadaan tumpangan? Berita gembira bagi seluruh bangsa, mungkinkah itu bermula dari pinggir sebuah kota kecil? Juruselamat, bisakah Dia dijumpai dan dialami di dalam diri seorang bayi? Pembebas, dalam sosok anak kecil yang terikat lampin di kawan hewan? Yang membebaskan, dalam Dia yang dikandangkan? Kristus yang diurapi, di tengah bau binatang, pemilik sah dari kandang itu? Rentetan pertanyaan ini mengungkapkan ironi Natal.

    Orang Kristen merayakan Natal sebagai pesta Allah memberikan jawaban-Nya kepada harapan manusia. Apakah ini sebuah jawaban yang memadai? Yang diimpikan adalah keselamatan, namun yang ditemukan adalah sebuah kemiskinan. Yang dinantikan adalah pembebasan, tapi yang diberikan adalah sebuah ketakberdayaan. Yang dirindukan adalah kepastian, sementara yang dijumpai adalah seorang bayi, tanda paling jelas dari ketidakpastian. Ini adalah sebuah ironi, karena jawaban yang diberikan Allah terlampau kecil untuk segudang pertanyaan yang kita kandung dalam diri kita. Kelahiran itu tampaknya terlalu tak  berarti untuk kerinduan kita yang sangat besar. Palungan itu terlalu sederhana untuk membungkus hadiah yang kita harapkan. Lalu apa makna ironi itu?

    Natal bukanlah jawaban tuntas dari Allah yang sanggup mendiamkan semua pertanyaan manusia. Natal tidak dapat sebagai akhir dari sejarah. Ke;ahiran Kristus bukanalah jawaban yang memberikan kepenuhan bagi serba kerinduan dan impian manusia. Sebaliknya! Kelahiran itu menyingkapkan sederetan pertanyaan baru, membakar kembali kerinduan manusia, menyalakan lagi impiannya. Natal, kelahiran Kristus, bukan titik final dari segala ziarah, bukan penyelesaian semua tugas dan akhir segala beban kehidupan. Sejarah Allah dan manusia tidak berhenti di sini.

    Natal berarti Kristus lahir dalam sebuah kehinaan, ditengah kekelaman nasib para miskin, dalam kepeutusasaan sekian banyak bangsa yang terpenjara karena kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan. Kristus tidak datang untuk menutupi semua itu. Sebaliknya, Dia datang untuk menyingkapkan semua itu. Dia datang agar kemiskinan, keputusasaan, aib dan ketakberdayaan itu tidak terus disembunyikan.

    Tempat kelahiran-Nya adalah sebuah wilayah kumuh, daerah gelap, daerah yang sengaja digelapkan agar tidak tampak, yang disembunyikan di balik tirai. Dia lahir di tengah kelompok orang miskin. Mereka ini adalah kelompok yang disembunyikan, yang ditutup-tutupi supaya tidak mencoreng kejayaan sebuah rezim. Apa yang tidak semestinya, hendak disembunyikan, supaya ada kesan baik tentang rezim yang sedang berkuasa. Lalu, perlahan yang miskin sebagai korban ketidakadilan itu dianggap tidak ada. Pertanyaan yang seharusnya timbul kareana kenyataan ini perlahan hilang. Manusia hidup seolah semuanya beres, tanpa masalah, tanpa pertanyaan yang mendesak semua jawaban.

    Terang Natal bukanlah terang yang menyilaukan dan membutakan. Kesyahduan Natal bukanlah sebuah undangan untuk tenggelam dalam sebuah histeria massal. Natal memang jawaban Allah, namun jawaban itu memancarkan sinar atas banyak hal yang belum beres. Jawaban itu membangkitkan sederetan pertanyaan baru tentang apa yang mesti dilakukan. Natal berarti Allah memberanikan manusia untuk melihat kekelaman yang masih saja merundung banyak bangsa dan sekelompok masyarakat, menyoroti kegelapan yang masih tersisa dalam hidup kita sebagai manusia.

    Natal memiliki sebuah ironi. Namun ironi itu bukan untuk mematikan, melainkan untuk membongkar semua rasa puas diri dan mental triumfalistis. Ironi Natal mengingatkan bahwa kita masih terus menempuh sebuah jalan panjang mengubah kandang menjadi rumah yang layak bagi semua. Natal adalah sebuah simpul pada harapan panjang umat manusia.

    Sumber Tulisan dari Buku ‘DI TEBING WAKTU’ Penerbit Ledalero, 2009

  • Kobus, Milad, dan Buku

    Kobus, Milad, dan Buku

    YAKOBUS Dumupa. Yakobus diambil dari nama santo, orang Kudus, dalam tradisi Gereja Katolik Roma. Sejak dibaptis dalam tradisi iman Katolik seorang akan mengantongi nama yang diadopsi dari oang Kudus. Maksud nama itu ialah kelak hidup si pemilik nama itu mengikuti teladan santo bersangkutan. Nama santo seperti Yakobus, Yohanes, Markus dalam komunikasi keseharian akan mengalami perubahan penyebutan dalam situasi yang akrab. Yakobus, bisa akrab dengan sapaan Kobus, Kobu, Jak atau Jakobus. Begitu juga kalau punya nama baptis Yohanes bisa dipanggil Anis, Yan, Yon, John, Johni dan lain-lain. Begitu pula bila namanya Markus maka akan lahir sapaan Kus, Kusi, Markus atau Marco. Itu di sebagian besar kampung di selatan Lembata, Nusa Tenggara Timur.

    Nama di awal catatan di atas yang saya maksud ialah Yakobus Dumupa. Saya menyapanya akab ala kampung saya: Kobus (maaf mungkin tak layak bagi pemilik nama). Barangkali dalam keseharian, ia akan disapa Yakobus, Jak atau Jak Dumupa. Bahkan dalam relasi formal ia akan disapa Pak Yakobus atau Pak Bupati. Bupati? Ya, Yakobus Dumupa adalah Bupati Dogiyai, Provinsi Papua. Kobus adalah anak asli Dogiyai, anak honai dari pegunungan. Ia meninggalkan jabatan anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), wadah kultural sesuai perintah UU Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Ia kembali ke kampung halamannya, Dogiyai, bersama Oscar Makai, masuk dalam bursa Pilbup Dogiyai 2017.

    Pilihan mayoritas masyarakat pemilik suara berkiblat ke Kobus dan Makai. Posisi anggota MRP segera tanggal. Kobus dan Makai segera menjadi Dogiyai 01 & 02. Gubernur Lukas Enembe, bekas Bupati Puncak, melantik “pengantin politik” baru Kobus dan Makai mengemban mandat rakyat Dogiyai. Sejak 18 Desember 2017, Kobus dan Makai mulai mengemban tugas sebagai Bupati-Wakil Bupati Dogiyai. Mengusung visi ‘Dogiyai Bahagia’ mereka berdua berniat memajukan masyarakat dan daerah merujuk ketersediaan sumber daya alam, sumber daya manusia, dan kemampuan APBD II yang dimiliki. Keduanya mesti membuat Dogiyai bahagia dalam artian sebenarnya. Pemerintah dan masyarakat dorang harus terlibat dalam menyukseskan agenda pembangunan yang dibuat Bupati-Wakil Bupati bersama Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Dogiyai. Penuh semangat, kerja keras, kerja cerdas, dan tentu pula dalam suasana bahagia. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Paling kurang “nada dasar” itu ada dalam sanubari para pemimpin dan rakyat.

    Rabu, 18 Desember 2019, kepemimpinan Dumupa dan Makai genap dua tahun. Pemerintah dan warga Dogiyai merayakan kegembiraan dan rasa syukur memperingati HUT ke-2 kepemimpinan Dumupa-Makai memimpin daerah itu. Namun, satu hal yang menarik terlihat dalam momen penuh syukur itu. Sang bupati meluncurkan dua buku karyanya yaitu Kata yang Menghidupkan dan Apa Itu Cinta? Sebuah cara cerdas seorang pemimpin daerah memajukan sumber daya manusia, terutama generasi muda jangka panjang. Bahwa membaca adalah pilihan rasional tatkala seorang pemimpin (baca: bupati) ingin memajukan kualitas manusia di daerah dengan membumikan kebiasaan membaca di kalangan warga masyarakat tatkala membaca menjadi kebutuhan.(Ansel Deri)

  • Kepemimpinan yang Melayani

    Kepemimpinan yang Melayani

    Oleh Ansel Deri

    APA yang diharapkan dari seorang pemimpin –di semua level kepemimpinan– tatkala ia mendapat mandat dari rakyat yang dipimpinnya? Bagi pemimpin itu sendiri, apa pelajaran paling utama selama memimpin? Dua pertanyaan saya ajukan bagi masyarakat Kabupaten Dogiyai memperingati dua tahun kepemimpinan Bupati Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Oscar Makai (selanjutnya Dumupa dan Makai), yang jatuh pada 18 Desember 2019.

    Apa urgensinya membuat catatan ringkas ini sebagai seorang “asing” di mana lokus domisili saya yang sangat jauh dengan Dogiyai, kabupaten nun di tanah Papua, nusa awal matahari menyapa bumi Pertiwi? Lalu apa pula mesti saya menuangkan waktu dan pikiran kecil ini sedangkan siapa sosok Bupati Dumupa dan wakilnya, Makai, tak pernah saya jumpai secara langsung? Ini pertanyaan retoris lainnya dalam benak saya. Jawaban bisa beragam. Namun, jawaban atas pertanyaan di atas bertolak dari berbagai sumber dan catatan-catatan pribadi Bupati Dumupa di media sosial.

    Pemimpin Potensial

    Siapa sosok sesungguhnya Bupati Dumapa, setiap warga Papua terutama masyarakat Dogiyai dan sekitarnya tentu punya testimoni. Namun, paling kurang ada hal yang menguras dasar jiwa dan batok saya untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, saya memandang Bupati Dumupa seorang pemimpin potensial yang lahir dari rahim tanah dan honai sendiri, Dogiyai. Ia bukan sekadar anak muda karbitan yang bersolo karir di bidang politik hingga meraih kursi pemerintahan sebagai orang nomor satu Dogiyai.

    Namun, lebih dari itu. Pejalanan karier seorang Dumupa dimulai saat diberi mandat rakyatnya menduduki posisi sebagai anggota Majelis Rakyat Papua (MRP), wadah sosial kultural yang hadir sebagai salah satu perintah Undang-Undang Otonomi Khusus (Otsus) Papua. Panggilan kampung halaman yang memenuhi ruang batinnya membawanya menjadi Bupati Dogiyai dalam usia yang relatif muda. Ia juga putra asli Dogiyai dan seorang intelektual muda lulusan sebuah perguruan tinggi di Yogyakarta.

    Kedua, dalam catatan saya, tipikial pemimpin sekelas Dumupa, tak sekadar dibutuhkan untuk memimpin kabupaten yang masih jauh tertinggal dalam berbagai dimensi kehidupan sosial. Namun, lebih dari itu sosok dan kemampuan dia adalah kerinduan bagi Papua bahkan Indonesia di masa akan datang. Ia seorang pemimpin yang tak hanya memimpin kabupaten dalam artian sesungguhnya. Lebih dari itu, ia seorang intelektual muda masa depan Papua dan Indonesia. Berlebihan? Tentu tidak demikian.

    Paling kurang itu dalam pikiran saya. setahu saya Bupati Dumupa seorang penulis produktif yang baik. Ia sungguh tengah merawat peradaban Indonesia melalui karya tulis berupa buku bertema kepemimpinan, politik, pembangunan, dan sastra. Hingga saat ini –setahu saya– sudah sembilan buku karya Bupati Dumupa. Dalam catatan saya, dua buku terakhir karya Bupati Dumupa yang terbit penghujung 2019 adalah Kata yang Menghidupkan dan Apa Itu Cinta? lewat Penerbit Ikan Paus, Lamalera, Lembata.

    Dalam dua buku itu, pria asli suku Mee itu menuliskan kata-kata inspiratif atau ekspresi cintanya kepada Tuhan, sang Sumber Cinta via laman Facebook miliknya bagi pembaca, tak hanya di Kabupaten Dogiyai atau Papua namun juga umat manusia penikmat kebesaran cinta-Nya di bawah kolong langit. Boleh jadi, ia adalah salah seorang bupati di tanah Papua yang tergolong produktif dalam menulis buku (tentu masih ada bupati lain di Papua yang juga menyisikan waktu menulis buku). Menemukan sosok bupati penulis di era keterbukaan teknologi informasi adalah –seperti kata anak baru gede/ABG– sesuatu banget. Mereka, para pemimpin yang juga penulis adalah kelompok yang ikut merawat peradaban umat manusia lewat tradisi literasi. 

    Melayani hingga Kampung

    Dumupa dan Makai dilantik Gubernur Papua Lukas Enembe di Gedung Negara, Dok V Jayapura, Papua, Senin, 18 Desember 2017. Pada saat bersamaan, Gubernur Enembe juga melantik Wakil Bupati Yalimo Erdi Dabi sisa masa jabatan 2016-2012. Salah satu pesan penting Enembe ialah pejabat yang dilantik dapat membawa kemajuan dan kesejahteraan masyarakat. Mereka diharapkan bergandengan tangan melaksanakan tugas di kabupaten dan menjalankan kewenangan daerah sesuai peraturan yang berlaku.

    Berikut dapat memantau jalannya pemerintahan baik di tingkat kabupaten hingga kampung. “Saya ingin berpesan untuk Bupati dan Wakil Bupati yang terpilih agar dapat menjalankan pemerintahan dengan sungguh-sungguh untuk mensejahterakan rakyat dalam bingkai NKRI,” ujar Gubernur Enembe kepada Bupati Dumupa dan wakilnya, Makai, saat berlangsung prosesi pelantikan. Pesan ini mau tidak mau menuntut kesiapan pemimpin memberi diri, menjadi pelayan masyarakat.

    Meski demikian, menjadi pemimpin tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Ia (pemimpin) dituntut bekerja dengan totalitas pengabdian bersama warga masyarakat bekerja keras memaksimalkan seluruh potensi sumber daya alam yang dimiliki guna memajukan daerah sesuai kemampuan yang dimiliki. Dalam konteks Dogiyai, Dumupa dan Makai dituntut memajukan daerah yang dipimpinnya sesuai visi yang diusung ‘Dogiyai Bahagia’. Mewujudkan Dogiyai bahagia, tersenyum, aman, sejahtera lahir dan batin hanya bisa digapai melalui kepemimpinan melayani melampaui sekat-sekat primordial. Entah suku, agama, asal usul dan relasi kekerabatan. Ia (pemimpin) siap memberi hati, waktu, tenaga, pikiran, ilmu bahkan nyawa untuk kemajuan rakyat dan daerahnya mulai dari kota hingga kampung. Selamat merayakan dua tahun kepemimpinan untuk Bupati Yakobus Dumupa dan Wakil Bupati Oskar Makai pada 18 Desember 2019. Hormat dibri. Tuhan berkati. Wa wa wa……….

    Ansel Deri, Sekretaris Papua Circle Institute; Tenaga Ahli Anggota DPR Dapil Papua 2009-2014

    Hp./WA: 081382930629 / 082213433110

    E-mail: anselderie@yahoo.co.id

    Sumber : Papua Pos Nabire, 18 Desember 2019

  • Pilihan Buku Pilihan Hidup

    Pilihan Buku Pilihan Hidup

    Oleh Josef Bataona

    “The first time I read an excellent book, it is to me just as if I had gained a new friend. When I read over a book I have perused before, it resembles the meeting with an old one.” (Oliver Goldsmith)

    LANGKAH memasuki sebuah toko buku, nampak biasa saja, semua kita alami. Bahwa kita menuju ke rak berisi buku dengan kategori yang kita cari, normalnya memang demikian. Bila sudah kita temukan buku yang dicari, kita akan segera membayarnya. Tapi bagaimana kalau mendadak mata melihat sesuatu yang lain? Mengapa tangan ini segera menggapai buku itu lalu menyimak reviewnya? Menurut saya, langkah orang ini sudah diatur oleh alam semesta, tanpa disadari, karena ada kebutuhan tertentu yang menghendaki hadirnya buku tersebut ditangannya. Dan dua buku yang sudah diambil, ditinggalkan dan malah membeli buku terakhir ini. Mengapa buku ini jadi menarik?

    Bermula dari penasaran

    Namanya Retno Wulandari, yang kisahnya ini diposting di LinkedIn, dan atas ijinnya saya sajikan kembali secara utuh di blog ini untuk pembaca semua:

    26 Oktober 2019.

    Kali kedua gajian mundur dan dompet sudah menipis, tapi hasrat ingin beli buku sangat tinggi, sehingga berhasil mendaratkan saya di toko buku salah satu mall di Jogja.

    Ketika akhirnya sudah menemukan buku yang saya inginkan, tiba tiba saya melihat di rak paling bawah bagian ‘Self Improvement’ ada buku berjudul #CurhatStaf . Penasaran dengan isinya, saya ambil buku tsb dan membaca bagian reviewnya.

    Menimbang-nimbang untuk membelinya dan merelakan buku yang sudah saya ambil, (mengingat keadaan dompet yang masih kritis) akhirnya saya putuskan untuk membawanya pulang & merelakan 2 buku lainnya.

    #CurhatStaf. Kenapa akhirnya saya membeli buku ini? Jujur saja, selain saya sangat penasaran dengan isinya, buku ini terasa cocok dengan keadaan kantor saya saat itu, banyak gap & chaos antara staff & atasan, yang membuat kondisi tempat kerja semakin tidak nyaman.

    Belajar dari buku tsb, akhirnya saya sedikit-banyak mengerti sebetulnya kebutuhan akan pemimpin seperti apa yg staff idamankan (ya meskipun saya juga masih staff hihi) Belajar dari sekarang, sebelum naik ke jenjang selanjutnya.

    Terimakasih Pak Josef Bataona  sudah membuat buku ini! 

    Semoga semakin banyak yang terinspirasi oleh Bapak.

    N.B : bonus quotes favorit saya.

    Sayapun menanggapinya dengan antusias:

    Terima kasih Retno Wulandari C.W. Sudah memilih untuk membaca buku #CURHATSTAF Seni Mendengarkan Bagi Para Pemimpin. Saya juga kagum akan niat Retno untuk belajar agar suatu waktu saat menjadi Pemimpin bisa lebih bijak. Salam

    Paragraf terakhir tulisan Retno justru menarik perhatian saya. Dia sedikit banyaknya paham tentang Pemimpin yang diidamkan staf itu seperti apa, terutama karena dia bisa menghubungkannya dengan kenyataan yang dilihatnya disekitar tempat kerjanya. Dan tidak kalah pentingnya adalah, dia mulai belajar agar suatu ketika dia menjadi pemimpin, dia bisa berperilaku yang lebih bijak. Kita semua doakan semoga Retno sukses meraih yang dia impikan.

    Makna Dibalik Tulisan

    Jari-jari kita seakan lancar saja mengetik apa yang ada di dalam pikiran. Kata-kata yang kita rangkai ternyata mempunyai roh, mempunyai daya tarik yang bisa menginspirasi siapa saja yang membacanya. Apalagi, setelah dibaca isi yang menginspirasi itu dibagikan kembali kepada yang lain, dan menciptakan bola pembelajaran terus bergulir, dengan multiplied effect. Steven Covey dalam bukunya 7 Habits of Highly Effective People juga mendorong kita untuk setelah belajar, mencoba mengimplementasi untuk memperkaya pengetahuan dan pengalaman, dan kemudian kita bagikan lagi pengetahuan tersebut yang sudah diperkaya dengan pengalaman praktis.

    Karena itu, tidak berlebihan kalau Meisia Chandra juga turut memberikan komen melalui email:

    “…… seperti inilah reward tak terduga dan sangat berarti dari berkarya. Waktu menulis kita ga pernah tahu bagaimana karya itu akan dipersepsikan dan dimaknai oleh orang lain, seolah karya itu sudah memiliki jati diri sendiri. Syukurlah ketika karya itu dapat benar2 related dan membantu dalam kehidupan real seseorang. Lanjutkan pak !”

    Dan Retno yang empunya cerita ini, sadar benar bahwa, ini bukan berkaitan dengan berapa harga buku #CurhatStaf yang dia beli, tapi berapa ongkos yang harus ditanggung dalam kehidupan ini, seandainya dia tidak membaca buku ini, seperti kata bijak Jim Rohn yang mengakhiri tulisan ini.

    “It isn’t what the book costs; it’s what it will cost if you don’t read it.” (Jim Rohn)

    Sumber: https://www.josefbataona.com

  • Para Perantau NTT Harus Dipersiapkan

    Para Perantau NTT Harus Dipersiapkan

    BERANDANEGERI.COM,– Fenomena migrasi dan perantauan menjadi pengalaman sehari-hari manusia saat ini dan bahan pemberitaan bagi media di mana saja. Merantau sebagai pergi dan meninggalkan kampung halaman untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dan pengalaman yang lebih kaya adalah hal yang lumrah dalam kehidupan seorang anak manusia.

    Masalah muncul ketika ada dampak negatif dari perantauan, bahkan ada korban nyawa dari para perantau. Nusa Tenggara Timur (NTT) adalah salah satu daerah yang terkenal banyak menghasilkan perantau. Berita terakhir yang menyedihkan adalah bahwa pemerintah memulangkan 459 WNI dari berbagai tahanan imigrasi Malaysia. Atau, selama 11 bulan, 106 TKI ilegal asal NTT meninggal di Malaysia (kompas.com).

    Berbagai kalangan yang peduli pada migran dan perantauan sepakat untuk melihat lebih jernih masalah TKI, terutama yang berasal dari NTT ini. Semua pihak sepakat bahwa para perantau asal NTT harus dibekali dengan berbagai persiapan sebelum meninggalkan kampung halaman.

    Demikian kesimpulan fokus diskusi terbatas yang digelar di Saint Mary’s College Jakarta yang digagas oleh kelompok studi “Ende Bergerak”. Adapun pembicara yang hadir terdiri dari Direktur PADMA Gabriel Sola, Ketua Komisi Migran dan Perantauan Keuskupan Agung Ende (KAE) RD Eduardus Radja Para, Ketua Yayasan Saint Mary M Hanafi, Praktisi Bisnis dan Manajemen SDM Thobias Djaji, serta beberapa tokoh muda lain asal NTT.

    RD Edu mengaku, hampir setiap minggu ada laporan bahwa ada TKI asal NTT yang meninggal di luar negeri, terutama di Malaysia. Hal ini memprihatikan banyak kalangan.

    “Seringkali kami kewalahan dalam pendataan. Karena, banyak yang merantau tanpa prosedur yang jelas,” kata Edu. Data perantau asal Keuskupan Agung Ende berdasarkan sensus 2015 ada sebanyak 25.368 orang dari 3 kabupaten (Ende, Nagekeo, Ngada). Dari Ende ada sekitar 12 ribu perantau. Tujuan perantau asal NTT terkonsentrasi di Malaysia, Kalimantan dan Papua. 

    Pastor Edu menjelaskan, ada beragam alasan orang NTT merantau. Bisa karena alasan ekonomi dan finansial. Ada yang karena gaya hidup anak muda untuk melihat dunia yang lebih luas. Sebagian kecil perantau asal NTT, karena adanya tekanan adat di kampung halaman.

    Menurut Edu, merantau mempunyai dampak positif seperti mendapatkan pekerjaan, membantu ekonomi keluarga, transfer pengetahuan dan teknologi, menjadi pewarta iman, dan lain-lain. Kendati demikian, ada dampak negatifnya juga seperti migrasi non procedural, tanpa persiapan diri, human trafficking hingga penyebaran HIV-AIDS.

    Sementara itu, ada beberapa masalah di daerah perantauan yang ditemukan tim kerja RD Edu, seperti perantau yang tidak memiliki dokumen yang lengkap, kriminal, pendidikan anak-anak perantau yang tidak diperhatikan, lemahnya perlindungan hukum, pindah agama, dan adanya godaan untuk menikah lagi.

    Keuskupan Agung Ende telah menggagas berbagai solusi dan jalan keluar untuk masalah ini. Komisi migran dan perantauan KAE sejak 2014 gencar melakukan sosialisasi tentang migrasi dan dampak-dampaknya. Sejak 2015 membentuk desa ramah migran. Desa Ranggatalo di kabupaten Ende menjadi contoh desa ramah migran. Pada 2016, KAE membentuk tripartit 3 keuskupan antara keuskupan asal, keuskupan transit dan keuskupan tujuan. Hal itu untuk memastikan perpindahan umat Katolik antarkeuskupan.

    KAE juga membentuk paroki ramah migran yang berupaya membentuk paguyuban istri-istri migran, pendampingan terhadap anak-anak migran di asrama, pembedayaan ekonomi dengan komisi ekonomi, arisan bersama, kegiatan doa dan berbagai kegiatan kreatif dan produktif lainnya. Paroki ramah migran juga akan menajdi tempat untuk pengaduan masalah migran.

    Sementara itu, pihak KAE juga mengikuti pendekatan terkini dalam sosialisasi migran, seperti menyebarkan film-film pendek tentang migran. “Kami akan menggelar pertemuan nasional tahun depan di Ende dengan mengangkat tema ‘Berpastoral di Tengah Arus Migran dan Perantauan’. Semoga ini menjadi momentum untuk terus sadar tentang fenomena migran,” jelas RD Edu.

    Sementara itu, Gabriel Sola mengaku, perumusan undang-undang dan regulasi tentang TKI di Indonesia sangat memperhatikan jejaring internasional dan gereja Katolik. Komitmen Gereja Katolik pada kepedulian pada migran telah menginspirasi dunia luas.

    “Kendati demikian, di Flores dan Lembata, tidak terlalu mencolok laporan ke polisi tentang TKI yang meninggal. Padahal data di lapangan sangat banyak,” jelas Gabriel.

    Menurut Gabriel, setiap kali ada masalah TKI di NTT, hampir dipastikan actor intelektualnya tidak pernah ditangkap. “Ada 69 kasus tindakan pidana perdagangan orang (TPPO) di Polda NTT, tetapi kita tidak akan pernah bisa menangkap actor intelektual,” kata Gabriel.

    Sejak 2016, TKI asal NTT yang meninggal jumlahnya selalu bertambah masing-masing 46 orang (2016), 62 orang (2017), 105 orang (2018) dan 114 orang (tahun ini). Kondisi ini makin diperparah oleh ketiadaan dokumen migran dan kebiasaan merantau secara illegal.

    Gabriel mengungkapkan, harus ada kerja sama yang baik antara berbagai elemen seperti pemerintah dan pemerintah lokal, pemuka agama, swasta dan berbagai pihak terkait untuk mempersiapkan para perantau dengan cara yang baik.

    Hal senada diungkapkan M Hanafi yang mengatakan, sebelum berangkat merantau, pembekalan semau aspek (keterampilan, moral, rohani) harus dilakukan. “Kita juga harus berpikir dengan pemberdayaan orang-orang yang tinggal di kampung. Supaya, kampung kita tidak kosong,” kata Hanafi.

    Hanafi menawarkan lembaga pendidikannya, Saint Mary’s College menjadi mitra untuk KAE dan pemda di NTT dalam mempersiapkan pekerja-pekerja terampil. Saat ini, Saint Mary’s College bekerja sama dengan berbagai lembaga dan perusahaan kaliber untuk memastikan studi vokasional yang berkualitas.

    Pada akhir diskusi, Koordinator Ende Bergerak, Agustinus Tetiro menambahkan, terpilihnya banyak anak muda sebagai kepala desa di NTT perlu menjadi langkah awal yang seharusnya didukung terutama untuk memastikan realisasi dana desa untuk proyek-proyek yang lebih melibatkan warga setempat sehingga ekonomi desa semakin bergairah.

    “Para kepala desa muda bisa menggagas Desa Wisata ataupun jenis kegiatan ekonomi lain yang lebih kreatif dan kontekstual untuk mendukung makin banyak lapangan pekerjaan terbuka di desa-desa di NTT,” tandas Agustinus. (*)

  • Membekali Agen Perubahan

    Membekali Agen Perubahan

    Oleh Josef Bataona

    “If you don’t understand generational differences, You overreact to the small things, ignore the big things, and propose the wrong things.” (Haydn Shaw)

    PERUBAHAN terus terjadi seputar kita. Tanpa kita melakukan apa-apa, dampak pada diri kita atau organisasi kita akan terjadi, cepat atau lambat. Dengan membuka mata dan telinga lebar demi menyimak perubahan itu akan sangat membantu kita dalam menyikapinya. Apalagi secara proaktif kita mengantisipasi, mempersiapkan diri untuk perubahan jangka Panjang.

    Kagum akan Pendekatan

    Menjaring generasi muda untuk menjadi agen perubahan di perusahaan swasta, itu sudah biasa. Berbagai program transformasi yang dilakukan dengan pendekatan yang professional, juga lumrah dilakukan dengan melibatkan semua unsur lintas divisi maupun lintas generasi. Namun telpon yang saya terima hari itu membuat saya tertegun kagum: Departemen Keuangan mempunyai unit transformasi, dengan melibatkan agen-agen lintas divisi dan lintas generasi. Lebih mengagumkan lagi, mereka memang membuka diri untuk belajar dari berbagai sumber di masyarakat, dari perusahaan swasta local maupun multinasional, start-up company, individu dan lain-lain. Mereka diundang di sesi pagi untuk memberikan perspektif yang berbeda serta pendekatan mereka yang unik demi meraih sukses.

    Foto Bersama Menteri Keuangan, ibu Sri Mulyani, sesudah beliau memberikan pengarahan.

    Salah satu butir kecil yang diminta bu Menteri dalam pengarahannya, tapi ini merupakan contoh apakah mereka mau berubah atau tidak: agar mulai besok semua eselon 1 dan 2 harus makan siang dengan orang yang berbeda setiap hari. Jangan hanya satu divisi, satu kampung atau satu sekolah saja. Walau disambut dengan tertawa peserta, namun saya percaya bahwa untuk melaksanakannya diperlukan komitmen tulus.

    Saya diundang sebagai narasumber dalam kegiatan tahunan bersama para Change Agent Kementerian Keuangan, untuk mengaddress isu mengenai tantangan komunikasi multi-generasi di Kementerian Keuangan, bersama Coach Nina Moran dengan moderator Coach Zizi (Zivanna Letisha Siregar), Miss Universe Indonesia 2009.

    Eco-System yang perlu sentuhan

    Saya sangat yakin, ibu Menteri Keuangan dan tim sangat paham kebutuhan akan perubahan secara organisasi, system, procedural. Mereka juga sangat sadar bahwa pada akhirnya manusia yang terlibat disana yang menentukan berhasil atau tidak. Walaupun sekitar 60% tim adalah milenial, sementara itu generasi yang lebih tua pun masih hadir disana terutama pada posisi-posisi menentukan dalam pengambilan keputusan. Sementara itu mereka semua harus sepakat akan pola interaksi, cara komunikasi secara terbuka yang mampu mengakomodasi berbagai perubahan. Eco-system ini harus diciptakan, agar ide-ide cemerlang di kepala masing-masing tidak mengalami hambatan saat difasilitasi untuk dialirkan keluar. Karena itu tidak berlebihan kalau tema yang mereka pilihkan untuk saya fokus adalah:  Seni Mendengarkan dan Tanggung Jawab Bersama Membangun Team yang Resilience. Dari sini kita bisa memahami bahwa masing-masing generasi yang hadir akan memainkan peran penting. Namun bila mana terjadi potensi benturan, maka tak boleh ada yang patah atau pecah, karena mempunyai daya lentur yang tinggi.

    Provokasi Tim Transformasi

    Tujuan kami bertiga adalah untuk memprovokasi team transformasi, untuk bisa terus berusaha menemukan cara2 berkomunikasi yang tepat di lingkungan kerja yang multi generasi. Mereka tidak mungkin bertransformasi dengan pendekatan perintah atau instruksi. Transformasi tidak akan berjalan mulus kalau semua unsur tidak sepenuhnya memahami arah kedepan. Dan transformasi akan bisa berjalan mulus kalau tercipta suasana terbuka, untuk dialog, untuk menggugah munculnya ide2 kreatif, untuk membuat anggota tim merasakan kalau ide mereka dihargai, sehingga mereka akan dan mau mengutarakan semua yang mereka pikirkan.

    Kita semua sadar bahwa perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Namun demikian niat mereka untuk memulai sudah sangat positif. Tinggal tantangannya adalah seberapa cepat mereka bisa berlari mengejar berbagai ketinggalan, seberapa tinggi semangat dan daya tahan untuk terus berlari mengawal transformasi tersebut. Kita semua doakan semoga SUKSES.

    “When you encounter difficulties and contradictions, do not try to break them, but bend them with gentleness and time.” (St Francis de Sales).

    Sumber : https/www.josefbataona.com

  • Pustakawan Harus Kreatif Budayakan Minat Baca

    Pustakawan Harus Kreatif Budayakan Minat Baca

    Perkembangan peralatan digital dan akses akan informasi dalam bentuk digital menimbulkan tantangan serta peluang bagi para pustakawan dalam meningkatkan literasi minat baca masyarakat Bangsa Indonesia. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Effendi menilai, di era digitalisasi saat ini, para pusatakawan harus mampu mendorong minat baca masyarakat melalui pemanfaatan media sosial.

    Menurut Dede, kreativitas dalam menyebarkan informasi melalui media sosial merupakan salah satu hal yang perlu dilakukan oleh pengelola perpustakaan. Hal itu ia ungkapkan usai menjadi narasumber dalam seminar yang bertema “Pemanfaatan dan Kita Pengguna Media Sosial Bagi Pengelola Perpustakaan” yang diselenggarakan Bidang Perpustakaan Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI, di Ruang Abdul Muis, Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2019). Seminar ini dibuka oleh Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar.

    “Pustakawan harus keluar dari zona nyaman, harus ada terobosan serta inovasi yang dibuat dalam menyampaikan informasi yang dapat menarik minat baca masyarakat,” tutur politisi Partai Demokrat itu seraya mengatakan peningkatkan literasi masyarakat sejalan dengan visi Nawacita Jilid II Presiden Joko Widodo, yaitu meningkatkan sumber daya manusia (SDM). Maka, peningkatan literasi ini harus dikuatkan melalui kebijakan.

    Seminar ini juga menghadirkan Editor Indonesiabaik.id, Edy Supangat. Edypang, sapaan akrabnya menyampaikan bagaimana suatu informasi dikemas menarik agar isi pesannya sampai kepada khalayak. “Era digital saat ini, masyarakat lebih senang menerima informasi berbentuk visual, apalagi generasi milenial. Kita (lembaga negara) harus membuat konten yang menarik melalui pemanfaatan media sosial yang kita miliki,” ungkapnya.

    Dijelaskan Edypank, gawai atau gadget adalah fenomena dasyat abad ini. Bahkan, bisa dikatakan gadget merupakan kebutuhkan keempat setelah pangan, papan dan sandang. Berdasarkan riset yang Indonesiabaik.id, dalam satu hari ada sekitar 2,5 milliar pesan yang tersebar, ada 5 juta video yang ditonton, serta seseorang mengecek gadget-nya mencapai 200 kali dalam satu hari. “Minat baca sangat rendah,” tandas Edypank.

    Maka, lanjut Edypank, cara menarik perlu dilakukan dalam penyebaran informasi melalui visual content perlu dibuat dalam format video,  komik, infografis, quotes, meme, foto beserta caption menarik, atau hal yang menyentuh emosi masyarakat. Sebagai lembaga negara, menurut Edypank, kecepatan menyebar informasi adalah bonus yang utama harus dilakukan dalam informasi yang di-publish. “Kita kan sering mendapatkan data, teks. Kita harus sampaikan informasi yang benar,” pesannya. (rnm/sf)

    Sumber : dpr.go.id

    Foto Ilustrasi : Berandanegeri

  • Guru Perlu Terus Berinovasi di Era Teknologi

    Guru Perlu Terus Berinovasi di Era Teknologi

    Perkembangan era teknologi dan mudahnya mengakses informasi seperti saat ini, seoarang guru harus melakukan peka terhadap perkembangan yang mempengaruhi proses belajar kepada anak didik. Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian berpesan, guru-guru perlu melakukan inovasi dalam memberikan pembelajaran agar pesan yang disampaikan di kelas tetap relevan dan mudah diterima.

    “Apa-apa kan saat ini dapat diakses di internet, makanya guru harus lebih kreatif dalam memberikan pemberlajara di dalam kelas. Misalnya ketika mengajar terkait sejarah kemerdekaan, guru harus mampu mengemas itu menjadi narasi yang menarik, sehingga pesan-pesan moral yang dikandung dalam proses kemerdekaan dapat dipahami para pelajar,” ungkap Hetifah kepada Parlementaria, baru-baru ini.

    Selain itu, ruang diskusi dalam kelas perlu digalakkan, sehingga generasi muda nanti akan menjadi anak yang aktif dan dapat beragumen dengan baik. “Model belajar yang biasanya menyuruh murid menghafal harus diubah menjadi ruang diskusi, agar generasi anak muda menjadi aktif dan dapat berargumen dengan baik,” tutur politisi Partai Golkar itu.

    Menurut Hetifah, ketika kewajiban seorang guru telah dilaksanakan dengan baik, maka Pemerintah perlu memberikan haknya dengan layak. Tuntutan para guru yang selama ini disuarakan perlu didengar oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. “Kami berharap Mendikbud memperhatikan kesejahteraan guru honorer. Selain itu, birokrasi di bidang pendidikan harus dibenahi, pelatihan harus diberikan agar kompetensi guru semakin meningkat dan berkualitas dalam melahirkan generasi penerus,” tutupnya. (rnm/sf)

    Sumber : dpr.go.id

    Foto Ilustrasi : Googling

  • Penggunaan Medsos Untuk Tingkatkan Literasi

    Penggunaan Medsos Untuk Tingkatkan Literasi

    Sekretaris Jenderal DPR RI Indra Iskandar menilai, secara fungsi Perpustakaan DPR RI memiliki fungsi yang strategis. Tidak lagi hanya meningkatkan minat baca pegawai Sekretariat Jenderal dan Badan Keahlian DPR RI, tapi juga berfungsi untuk berbagai kepentingan. Seperti kepentingan sejarah kedewanan, tugas akhir seperti skripsi, tesis ataupun disertasi, sehingga pemanfaatan dan penggunaan media sosial bagi pengelola perpustakaan juga digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif lagi.

    “Jadi, perpustakaan kita sebenarnya bukan dengan konteks minat baca dalam arti yang sederhana, tapi sudah ada kepentingan-kepentingan yang lebih luas lagi. Para peneliti yang ingin juga memberikan bahan berkaitan dengan keputusan-keputusan dewan. Jadi, perpustakaan kita ini sangat strategis fungsinya,” katanya usai membuka Seminar Perpustakaan DPR RI bertema “Pemanfaatan dan Kiat Penggunaan Medsos Bagi Pengelola Perpustakaan”, di Gedung Nusantara, Senayan, Jakarta, Senin (2/12/2019).

    Sementara, kaitan antara perpustakaan dan penggunaan media sosial, Indra menilai bahwa penggunaan media sosial juga seperti pisau bermata dua, dimana penggunaannya bisa positif, bisa juga negatif. Melalui perpustakaan ini Indra berharap, agar media sosial digunakan untuk hal-hal yang lebih produktif, positif, menghindari hoaks dan sejenisnya.

    “Jadi perpustakaan ini menghindari berita negatif dan hoaks, menjelaskan juga misalnya media sosial yang ada di DPR ini bisa diakses untuk kepentingan-kepentingan yang lebih positif. Dan banyak juga orang-orang luar yang membutuhkan berbagai referensi mengenai sejarah kedewanan, baik kepentingan untuk penulisan, disertasi, dan penulisan-penulisan ilmiah lainnya, dan larinya ke Perpustakaan DPR RI,” katanya.

    Indra menambahkan, medsos yang dimiliki sebuah lembaga mengalami perkembangan menjadi media promosi dan sosialisasi. Menurutnya itu menjadi tantangan untuk penyedia informasi di tengah kemajuan internet, khususnya perpustakaan. Oleh karenanya, gagasan meningkatkan literasi melalui medsos perlu dijadikan tujuan utama. “Tujuan utamanya memang literasi minat baca. Kita ingin literasi minat baca itu mengarah pada kekuatan data dan sumber berita sebagai pengetahuan dan bahan penulisan,” tuturnya.

    Lebih lanjut Indra menambahkan, bagian dari semangat parlemen modern atau lembaga perwakilan modern ini nantinya masyarakat juga ingin tahu tentang produk-produk hukum di DPR RI. Ia berharap nanti segala hal yang ada di perpustakaan itu bisa diakses di masyarakat dengan baik, sehingga berbagai risalah-risalah dan keputusan-keputusan dewan itu diketahui masyarakat luas.

    Seminar ini juga menghadirkan pembicara Wakil Ketua Komisi X DPR RI Dede Yusuf Macan Efendi dan Editor Indonesiabaik.id Edy Supangat. Seminar dimoderatori oleh CEO Good News From Indonesia (GNFI) Wahyu Aji. Dengan dihadiri oleh sejumlah pegawai di lingkungan Setjen dan BK DPR RI, Forum Perpustakaan Khusus Indonesia, dan para Pengelola Perpustakaan Seluruh Indonesia yang diharapkan mampu menjadikan perpustakaan sebagai wadah untuk membentuk minat baca. (ndy,mg/sf)

    Sumber : dpr.go.id

    Foto Ilustrasi : Berandanegeri