Blog

  • Fenomenologi Edmund Husserl Menjawab Krisis Ilmu Pengetahuan Modern

    Fenomenologi Edmund Husserl Menjawab Krisis Ilmu Pengetahuan Modern

     

    Ito Prajna-Nugroho

     

    Naskah berikut merupakan naskah kerja untuk rangkaian program Philosophy Underground – Komunitas Utan Kayu, yang telah berlangsung sejak 2016. Naskah ini dipresentasikan pada 27 September 2019, dan dibukukan dalam buku saku kecil oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) sebagai bahan panduan peserta.

    Pengantar

       Bagi seorang filsuf seperti Edmund Husserl (8 April 1859 – 27 April 1938) yang menghabiskan separuh karirnya sebagai ahli matematika, pernyataan bahwa ilmu-ilmu modern sedang berada dalam krisis merupakan pernyataan keras yang memerlukan pertanggungjawaban tersendiri. Bagi Edmund Husserl Sang Pendiri Fenomenologi, yang mementingkan peran metode dan rigoritas cara kerja ilmu, persoalan krisis dalam ilmu-ilmu modern harus diajukan secara metodik dan rigor.

       Jawaban Husserl terhadap persoalan krisis ilmu-ilmu modern ia ajukan dalam 2 karya: 1) The Origin of Geometry [Der Ursprung der Geometrie als intentional-historisches Problem / 1936], dan 2) The Crisis of European Sciences and Trascendental Phenomenology [Die Krisis der europäischen Wissenschaften und die transzendentale Phänomenologie: Eine Einleitung in die phänomenologische Philosophie / post-humous 1938].

       Jawaban Husserl atas tanda-tanda krisis ilmu menjadi batu penjuru yang menetapkan arah filsafat pada zaman berikutnya. Dari respon Husserl itulah kemudian muncul aliran-aliran terkenal seperti eksistensialisme dan pasca-modernisme.

       Naskah ini akan membahas argumen-argumen kunci Husserl dalam 2 karya penting tersebut di atas dengan alur pembahasan sebagai berikut: pertama-tama akan diuraikan konteks sosio-historis pergulatan filsafat dan sains pada zaman Husserl (1), berikutnya akan dijabarkan pokok permasalahan yang diajukan Husserl terhadap ilmu-ilmu modern (2), untuk kemudian menakar bagaimana pengaruh serta relevansi argumen-argumen dasar Husserl itu bagi perkembangan filsafat dan ilmu di abad ke-20 dan 21 (3).

    1. Fenomenologi sebagai Kritis atas Saintisme: Dari Positivisme hingga ke Fasisme dan Komunisme

       Pada Januari 1935 Edmund Husserl masuk ke dalam 5 besar daftar merah polisi partai fasis Nazi (SS) sebagai intelektual yang perlu diawasi 24 jam. Sebabnya sederhana, Husserl berdarah Yahudi. Murid kesayangannya, Martin Heidegger, yang secara pribadi direkomendasikan Husserl untuk menggantikannya sebagai rektor Universitas Freiburg, mengetahui hal ini tetapi tidak melakukan apa pun. Efek dari UU Kamdagri Jerman yang baru berlaku itu antara lain Husserl tidak diperbolehkan untuk: menulis atau menerbitkan tulisan apa pun baik pribadi mau pun di publik, berbicara di publik atau kelas-kelas privat, menerima tamu di rumahnya, berdiskusi di rumah pribadi atau di publik dengan siapa pun kapan pun.

       Atas prakarsa Jan Patočka (tokoh Piagam 77 HAM) dan Emmanuel Levinas, yang paham betul perkembangan situasi di Jerman ketika itu, Pada November 1935 Husserl diundang ke Praha (saat itu Cekoslovakia) untuk memberikan rangkaian kuliah ‘pengantar’ fenomenologi bagi forum filsafat Cercle philosophique de Prague.

       Naskah yang disiapkan Husserl untuk forum tersebut akan menjadi naskah sistematis terakhir yang ditulis Husserl sebelum meninggal pada 1938. Naskah pada forum tersebut, yang dikenal sebagai ‘naskah-naskah Praha’, juga menjadi bahan utama buku Krisis yang diterbitkan oleh asisten Husserl, Eugen Fink, setelah Husserl meninggal.

       Sejak awal perkembangan fenomenologi pada 1900 lewat terbitnya buku Logical Investigations (3 Jilid) hingga 1938 sesaat sebelum ia meninggal, sebagian besar karya Husserl merupakan ‘Pengantar Fenomenologi’. Misal: Pengantar menuju fenomenologi perihal kesadaran waktu internal (1905), pengantar fenomenologi murni (1907), pengantar menuju fenomenologi psikologis (1911), pengantar menuju logika formal dan transendental (1929), pengantar menuju fenomenologi transendental (1931). Sebagai catatan tambahan, Husserl meninggalkan lebih dari 40.000 naskah fenomenologi yang belum terjamah para ahli. Naskah itu kebanyakan ditulis dalam kode stenografi Habelsberg, dan tersimpan di Husserl Archive Belgia.

       Sebagaimana umumnya ‘pengantar’, ‘Pengantar-pengantar fenomenologi’ yang ditulis Husserl menghantar pembacanya ke dalam dua hal pokok: 1) Persoalan-persoalan dasar yang dihadapi fenomenologi, dan 2) metode utama yang digunakan fenomenologi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan tersebut. Metode merupakan kekhasan yang membedakan fenomenologi dari aliran filsafat lain dan secara khusus membedakan fenomenologi dari ilmu-ilmu alam.

    1.1. Perihal Metode Fenomenologi

       Dalam kaitan dengan metode, karya-karya Husserl memiliki konsistensi internal yang kuat. Misalnya, buku Krisis merupakan tematisasi dari metode fenomenologi transendental yang telah ditegaskan sebelumnya dalam buku Meditasi Cartesian (cartesianische Meditation / 1929). Buku Meditasi sendiri merupakan perumusan lebih jauh dari prinsip-prinsip metode yang dijabarkan di buku Gagasan-gagasan (Ideen zu einer reinen phänomenologische Philosophie / 1907). Begitu seterusnya, jejak pemikiran Husserl dapat dilacak hingga ke karya fenomenologi awal, yaitu Penyelidikan-penyelidikan Logika (Logische Untersuchnungen / 1900-1901). Hal ini berbeda misalnya dengan Max Scheler yang menulis karya sesuai dengan mood di hari atau bulan itu, dan tanpa konsistensi metode antara satu dengan lainnya.    

       Secara garis besar kekhasan metode fenomenologi terletak pada penyelidikan atas fenomena khas manusia, yaitu kesadarannya. Apa yang khas dari kesadaran spesies manusia adalah: 1) sifatnya yang dua-sisi: selalu intensional atau terarah pada suatu hal, sekaligus juga terbuka pada berbagai kemungkinan (misal lewat persepsi), 2) sifatnya yang merentang secara tak terbatas di dalam ruang dan waktu. Kedua hal ini disebut Husserl sebagai intensionalitas kesadaran. Penyelidikan terhadap cara bagaimana intensionalitas itu bekerja disebut sebagai analisa intensional (intentional analysis).

       Istilah ‘fenomena’ mengacu kepada segala sesuatu yang dipersepsi oleh kesadaran dan menghadirkan diri bagi kesadaran. Ini juga berarti bahwa struktur kesadaran meliputi baik aktivitas mau pun pasivitas, keterarahan sekaligus keterberian. Fenomena, misalnya tidak disebut sebagai fakta sebab fakta merupakan penafsiran lebih sempit atas fenomena atau objek intensional yang disadari seseorang. Maka, fenomenologi adalah kajian metodik sistematis (logos) mengenai cara bagaimana realitas hadir bagi kesadaran (fenomena).

    Skema Representasi yang berlaku dalam cara berpikir dan cara kerja ilmu pengetahuan pada umumnya  
    Skema cara berpikir dan cara kerja fenomenologi yang menerobos pemahaman metode kerja ilmu pada umumnya  

       Objek yang sama, misal gunung, dapat memberikan diri secara beragam kepada orang yang berbeda-beda. Demikian juga, setiap orang memiliki keterarahan yang berbeda-beda terhadap gunung yang sama. Gunung Lawu di Tawangmangu misalnya, dapat menjadi sumber inspirasi bagi seorang pelukis atau penyair, menjadi tantangan untuk didaki bagi pemuda pecinta alam, menjadi tempat menjalankan ritual kebatinan untuk seorang kejawen, atau menjadi tujuan penelitian bagi seorang ahli geologi dan vilkanologi.

       Hal yang sama berlaku untuk setiap objek di alam semesta, baik yang berupa objek empirik (benda-benda kasatmata), objek imajinatif (misal: perbatasan galaksi Bima Sakti), atau pun objek fantasi (kuda Unicorn terbang-terbang di Planet Klingon).

       Fenomenologi mengakui bahwa terdapat struktur dasar kesadaran dan pengalaman yang sama di hadapan medan objek yang tak terbatas. Struktur kesadaran inilah yang membuat seseorang dapat memahami pengalaman atau bahkan bahasa orang lain yang berbeda darinya.

       Maka perbedaan pengalaman terhadap suatu hal merupakan perbedaan dalam perkara intensitas dan perspektif, bukan perbedaan dalam hal struktur dasar kesadaran. Struktur dasar kesadaran ini dalam fenomenologi Husserl disebut sebagai struktur intersubjektivitas transendental. Metode analisa intensional bermaksud untuk menyelidiki setiap lapis dimensi pengalaman manusiawi kita hingga ke struktur intersubjektivitas temporal-transendental itu. Salah satu caranya adalah dengan melukiskan/mendeskripsikan suatu peristiwa dalam pengalaman sehari-hari secara dekat/melekat dari sisi orang pertama tunggal (first person perspective).

       Misalnya seorang vulkanolog yang telah belajar fenomenologi akan menjabarkan dalam catatan risetnya bahwa: “di bibir kawah Gunung Tambora saya merasa…., saya mengalami…, metode yang saya pilih adalah…., saya mengalami bahwa metode ini cocok/tidak cocok untuk kawah Gunung Tambora, kekuatan gempa kawah Gunung Tambora yang saya alami adalah…tercatat dalam alat saya adalah…dst.” Melalui deskripsi dekat seperti itu seseorang bukan saja menyelidiki suatu objek (misal: kawah Gunung Tambora di Sumbawa), melainkan juga menyelidiki kesadaran saya mengenai objek tersebut.

       Saling keterkaitan antara kesadaran dan objeknya itulah yang memberikan bobot validitas atau objektivitas terhadap suatu hal yang disebut saintifik. Maka metode dalam mengkaji suatu objek memang merupakan sumber dari nilai objektif suatu penelitian ilmiah. Namun, bobot legitimasi dari kebenaran metode tersebut tidak datang dari objek atau pun metode itu sendiri, melainkan datang dari subjek manusia yang membuat atau memilih metode tersebut. Dengan demikian metode fenomenologi, lewat analisis intensionalitas, bermaksud untuk menyelidiki kedalaman dan keluasan daya kesadaran yang sering dinafikkan oleh sains.

    1.2. Perihal Persoalan di Masa Husserl

       Sejak awal 1920-an, metode fenomenologi Husserl menimbulkan minat luar biasa para ahli dari berbagai bidang. Orang-orang dari berbagai latar belakang bidang ilmu dan latar belakang bangsa, salah satunya Jepang, berdatangan ke Universitas Freiburg untuk mengikuti kelas-kelas Husserl. Namun Husserl sendiri sejak 1920-an bergulat dengan dua persoalan yang semakin membuatnya prihatin dan membuatnya semakin kurus.

       Yang pertama (1) adalah kondisi perkembangan filsafat dan ilmu-ilmu di Eropa. Yang kedua (2) adalah suasana kebatinan bangsanya yang semakin terpecah-belah oleh gagasan-gagasan politik yang mendaku-diri ilmiah. Di hadapan dua persoalan itulah Husserl menghendaki metode fenomenologi untuk tampil memberikan terobosan.

       Mengenai persoalan pertama (1), filsafat dan ilmu-ilmu lain berada dalam kondisi berhadap-hadapan. Filsafat mengklaim diri otonom, sementara ilmu-ilmu alam dan psikologi mengklaim diri superior. Efeknya adalah terjadinya patahan di antara filsafat dan ilmu-ilmu modern. Filsafat sendiri cenderung menjadi relativistik dengan menekankan pada kekuatan kehendak, determinasi sejarah, atau pun pada daya Roh Absolut. Ilmu-ilmu modern sendiri semakin merasa superior dengan metodenya yang semakin memberikan hasil/fungsi nyata.

       Terkait dengan ilmu modern, bahkan terjadi patahan di dalam satu bidang ilmu yang sama, misalnya patahan di antara bidang ekonomi makro, ekonomi-politik, dan akuntansi. Disebut patahan sebab relasi saling-keterkaitan dan saling-ketertarikan satu sama lain yang sebelumnya ada telah patah. Maka satu bidang ilmu tidak merasa terkait dan tertarik untuk mengetahui apa yang dikerjakan bidang lainnya. Begitu juga dalam hal metode, metode bidang ilmu ekonomi atau biologi telah patah atau tidak lagi terhubung dengan bidang akuntansi atau pun biologi molekular. Ilmu-ilmu modern, bagi Husserl, cenderung lekas melepaskan diri dari asal-usul metodiknya dan segera menciptakan dunianya sendiri.  

       Perihal persoalan kedua (2), masyarakat Eropa pada umumnya dan Jerman khususnya berada dalam keadaan saling berhadapan satu sama lain. Kondisi ini semakin memburuk setelah Jerman kalah dalam Perang Dunia I dan masuk ke dalam sistem demokrasi terbuka yang disebut Republik Weimar.

       Di satu kubu adalah kelompok masyarakat yang meyakini ‘ramalan ilmiah’ ide-ide sosialis-Marxistik dan menuntut perombakan struktural melalui pengambil-alihan kekuasaan. Di kubu lain terdapat sebagian besar masyarakat Jerman yang meyakini ide-ide fasistik tentang superioritas bangsa Jerman yang didukung oleh penemuan-penemuan pseudo-ilmiah dan menuntut perombakan besar-besaran lewat pengambil-alihan kekuasaan.

       Di antara dua kecenderungan itu, filsafat ikut menjadi sektarian. Di satu sisi kampus-kampus Jerman dipenuhi mahasiswa militan yang berdiskusi tentang revolusi dengan berapi-api. Di sisi lain, para dosen dan mahasiswa yang keblinger dengan mitos-mitos Arya bergabung bersama kelompok-kelompok diskusi filsafat esoterik dan menjalankan ritual-ritual kultus Arya. Contoh terkenal untuk yang kedua ini adalah lingkaran penyair Stefan George (Stefan George Zirkel) yang dipenuhi oleh tokoh intelektual dan kaum muda fasis, dan banyak dari mereka kemudian menduduki posisi penting di rezim fasis Nazi.

       Dari beberapa tulisan dan korespondensi Husserl di periode 1920-an, Husserl seperti orang yang telah paham bahwa akhir dari kekisruhan yang sedang terjadi tidak akan baik. Dari surat-suratnya juga terlihat bagaimana Husserl semakin menuntut fenomenologi, dan para fenomenolog muda, untuk dapat memberikan terobosan-terobosan bagi kebuntuan zamannya itu.

       Tetapi peristiwa berkata lain. Rakyat Jerman pada akhirnya, sesuai kekhawatiran Husserl, menentukan nasib sejarahnya sendiri. Husserl dapat dikatakan beruntung. Jika ia tidak meninggal pada 1938, satu hingga dua tahun kemudian ia akan ikut dimasukkan ke dalam kamp-kamp konsentrasi untuk orang-orang seperti dirinya.

    2. Krisis Ilmu Pengetahuan dan Kegagalan Filsafat sebagai Ilmu Rigor

       Apa yang sebetulnya dimaksudkan Husserl sebagai ‘krisis’ ilmu? Apakah penekanan pada krisis ini tetap relevan bahkan jika bidang ilmu yang disebut mengalami krisis itu tidak merasakan adanya krisis?

       Kata krisis berasal dari akar kata Yunani (Κρίνειν) yang berarti ‘waktu untuk memilih dan memutuskan’. Husserl sendiri di bagian I buku Krisis menyebut apa yang dimaksudkannya dengan krisis ilmu sebagai “a collapse of the belief in reason understood as the ancients opposed episteme to doxa. A collapse that shakes to the foundations the whole meaning of truth…an inner dissolution. It is a peculiar change in the whole way of thinking [Crisis, §5; 11-12].”

       Di hadapan krisis itu buku Krisis merupakan respon terhadapnya. Husserl menyebut karyanya itu sebagai suatu bentuk ‘interogasi terhadap keretakan cara berada manusia-manusia modern, interogasi terhadap pelupaan manusia modern atas cara beradanya yang menyeluruh’ (its total Existenz). [Crisis, §5, § 6; 12, 18]

       Apa yang menarik bahwa bagi Husserl keruntuhan dan pelupaan itu sebagian besar merupakan tanggung jawab filsafat sebagai ilmu, bukan tanggungan sains. Dengan kata lain, krisis ilmu pengetahuan sebagian besar merupakan akibat dari kegagalan filsafat.

       Bagi Husserl, filsafat gagal membuktikan legitimasinya sebagai suatu pengetahuan yang rigor secara metode, radikal dalam menjawab persoalan, dan berguna secara praktis. Secara tragis filsafat, setelah dua ribu tahun, tidak mampu mengambil sikap di hadapan tuntutan zaman dan segera diambil-alih oleh ilmu-ilmu alam. Singkatnya, ilmu-ilmu alam sekadar mengisi kekosongan yang ditinggalkan filsafat. Dalam bahasa Husserl, sains ilmu alam segera memonopoli akses kepada hal-hal yang disebut ‘benar’ dan ‘riil’. [Philosophy as Rigorous Science, 76]

       Perlu dicatat bahwa Husserl, berbeda dari Heidegger misalnya, tidak pernah bersikap anti terhadap kemajuan sains dan teknologi. Husserl sendiri adalah seorang ahli matematika dan bersentuhan terus-menerus dengan perkembangan terkini di bidang sains, khususnya fisika.

       Apa yang dipersoalkan oleh Husserl adalah cara pandang yang menganggap metode ilmu tertentu (dalam kasus Husserl adalah ilmu-ilmu alam positivistik) dapat diterapkan menyeluruh pada berbagai bidang lain di luar objek-objek ilmu alam. Cara pandang yang kemudian menjadi menyeluruh ini oleh Husserl disebut sebagai Saintisme, yaitu cara kerja ilmu alam yang diaplikasikan pada berbagai gejala non-alamiah. Dengan demikian, metode kerja yang ruang kajiannya terbatas pada lingkup objek fisik-material ternyata membawa klaim kebenaran yang tidak terbatas dan jauh beroperasi melampaui objek-objek fisik.  

       Apa yang digugat oleh Husserl adalah kerancuan kategoris (kategorien Missdeutung) dalam menerapkan metode. Misalnya: metode empirik kausalistik yang mau diterapkan pada gejala-gejala yang tidak selalu empirik dan belum tentu bekerja secara kausalistik seperti psyche atau ‘jiwa’ manusia. Penerapan azas-azas empirik verifikatif kepada objek-objek kajian yang tidak empirik dan tidak selalu bisa diverifikasi inilah yang oleh Husserl disebut sebagai Naturalisme.

       Penerapan metode ilmu alam secara khusus ke dalam kajian mengenai bidang-bidang kemanusiaan oleh Husserl disebut sebagai Psikologisme. Psikologi behavioristik, psikologi empirik kuantitatif, tes-tes psikologi modern, sosiologi positivistik, semua itu termasuk ke dalam Psikologisme. Baik psikologisme dan naturalisme keduanya merupakan bentuk praktis dari cara pandang saintisme yang telah menjadi agama baru.

       Melalui pembedaan tersebut Husserl berada dalam satu garis pemikiran dengan tokoh filsuf hermeneutika Wilhelm Dilthey (1833 – 1911) yang membedakan antara ilmu-ilmu alam (Naturwissenschaften) dan ilmu-ilmu kemanusiaan (Geisteswissenschaften). Perbedaannya terletak pada cara bagaimana Husserl secara metodologis mengritik penyeragaman metode ilmu yang membuat orang tidak lagi bisa membuka kemungkinan-kemungkinan pendekatan lain di hadapan suatu hal.

       Saintisme disebut sebagai agama baru sebab layaknya agama klaim kebenaran yang dibawanya tidak pernah dipertanyakan lagi. Bagi Husserl, cara kerja ilmu positivistik membawa serta klaim ontologis dan klaim epistemologis yang kebenarannya tidak dapat diuji oleh metodenya sendiri. Yang dimaksud dengan klaim ontologis adalah pernyataan yang menetapkan status keberadaan satu hal sebagai ukuran hal-hal lainnya. Yang dimaksud dengan klaim epistemologis adalah pernyataan yang mengesahkan status kebenaran satu hal di atas hal-hal lainnya.

       Contoh klaim ontologis: Suatu hal (misal: penelitian) disebut objektif jika, dan hanya jika, hal itu dapat diverifikasi secara empirik dan sesuai dengan hukum sebab-akibat. Pernyataan tersebut disebut klaim ontologis karena hal-hal yang tidak dapat diverifikasi secara empirik dianggap tidak memiliki status keberadaan objektif. Padahal, pernyataan itu sendiri tidak dapat diuji secara empirik dan verifikatif.

       Contoh klaim epistemologis: suatu hal disebut benar jika, dan hanya jika, hal tersebut dapat dibuktikan sebagai benar melalui metode faktual saintifik. Pernyataan ini merupakan klaim epistemologis karena hal-hal yang tidak dapat dibuktikan secara faktual saintifik dengan sendirinya dianggap tidak benar. Padahal pernyataan itu sendiri merupakan pernyataan perihal nilai dan bukan fakta. Pernyataan itu sendiri tidak dapat dicek secara faktual dan saintifik.

       Dengan kata lain, hal yang sederhana yaitu penekanan pada sebuah metode, jika ditarik ke titik terjauhnya ternyata membawa kepada efek yang tidak sederhana. Efek itu adalah penyeragaman cara pandang dunia manusia-manusia modern. Penyeragaman cara pandang ini, berlawanan dengan cita-cita sains untuk membebaskan manusia dari dogma, justru membelenggu atau mempersempit cara berpikir manusia. Seperti dikatakan Husserl: “sayangnya inilah situasi kita saat ini, situasi yang mematerai seluruh peradaban modern.” [The Origin of Geometry, 366]

       Intisari dari kritik Husserl sebetulnya konsisten bertolak dari metode fenomenologi. Metode analisis intensionalitas menegaskan bahwa dunia pengalaman/kesadaran intensional tidak tergantikan oleh metode apa pun. Seluruh abstraksi atas pengalaman yang kemudian dirumuskan menjadi metode atau pun sains, semua itu niscaya bertolak dari medan kesadaran yang intensional.

       Intensionalitas kesadaran itu kemudian membuka persepsi kita pada berbagai kemungkinan pemaknaan/perumusan: rumusan teoretik, rumusan estetik, rumusan politik, rumusan ekonomik, rumusan koruptif, rumusan nihilistik, rumusan absurdistik, rumusan saintifik, dan sebagainya.

       Maka kebenaran metode faktual-verifikatif ilmu pengetahuan merupakan satu saja dari sekian banyak kemungkinan konstruksi pemahaman/perumusan kita atas dunia pengalaman. Dengan kata lain, meski benar bahwa ilmu pengetahuan modern memiliki tingkat justifikasi metode yang lebih tinggi dari pengalaman sehari-hari, namun ilmu pengetahuan modern tidak memiliki legitimasi kebenaran yang lebih superior dari dunia pengalaman pada umumnya. Dunia pengalaman yang secara mendasar bersifat inter-subjektif (bukan objektif) itu, yang mendahului segala metode dan menjadi asal-usul rumusan teori ilmu-ilmu, dunia itu oleh Husserl secara sederhana dinamakan sebagai dunia-kehidupan (Lebensewelt / lifesworld).

       Disebut sebagai dunia inter-subjektif sebab Lebenswelt merupakan rangkaian medan interaksi berbagai pengalaman manusia sebagai subjek, satu dengan yang lain. Dengan kata lain, legitimasi atas pengalaman, termasuk pengalaman observasi ilmiah, bersumber pada pengalaman subjek yang subjektif.

       Singkatnya, subjektivitas kesadaran justru menentukan objektivitas rumusan-rumusan pengalaman kita, termasuk pengalaman percobaan ilmiah. Jika sains hendak mengeksplorasi dunia sebagai objek pada dirinya sendiri, maka fenomenologi ingin mengembalikan dunia itu sebagai dunia bagiku.

        Sebagaimana dapat kita baca di buku Krisis: The scientific conception of the world is a ‘conception’ of the world, and is therefore the correlate of intentional relations. Even though objects of science are constituted as subject-independent, such objects remain constituted by subjectivity. There is no scientific theory that is radically subject-independent. [The Origin of Geometry, 382]

       Inti dari kritik Husserl terhadap ilmu pengetahuan modern, dengan demikian, dapat dirumuskan sebagai berikut: penekanan ilmu-ilmu pada objektivitas metode memisahkan bahkan mengasingkan manusia modern dari dunia tempat metode itu sendiri berasal, yaitu dunia pengalaman subjektif dan inter-subjektif.

    3. Galileo dan Mathesis Universalis   

       Tetapi Husserl tidak berhenti sampai di kritik itu. Ia melacak akar krisis itu secara genealogis. Genealogi itu membawa Husserl pada satu titik dalam sejarah ilmu: Galileo Galilei (1564 – 1642).

       Lewat pembacaan yang teliti atas karya-karya kunci Galileo, Husserl menemukan bahwa untuk memangkas cara pandang dunia lama yang teosentris dan memulai sesuatu yang sama sekali baru Galileo harus memulai dari satu fondasi yang paling penting: bahasa. Galileo tidak banyak menulis dalam bahasa Latin. Ia menulis untuk sebagian besar bukunya dalam bahasa matematika dan geometri. Cara ini berhasil. Hanya orang yang memahami geometri dan astronomi saja yang mengerti apa yang sedang disampaikannya: sebuah revolusi cara pandang dunia. Matematika menjadi bahasa esoterik Galileo untuk mengatakan banyak hal tentang alam semesta.

       Tetapi cerita terus berlanjut. Dengan menggunakan matematika sebagai bahasa ‘baru’ untuk konstruksi cara pandang dunia yang juga baru, Galileo sedang mencoba memisahkan dunia fakta (ilmiah) dari dunia nilai (teologis). Ia sedang mencoba memisahkan dunia objektif alam semesta dari dunia subjektif manusia. Dengan kata lain, ia sedang melakukan matematisasi atau idealisasi alam semesta sebagai dunia ideal yang tertata rapih oleh hukum-hukum geometri dan azas-azas fisika. [Crisis, § 8h, 48-49]

       Inilah yang oleh Husserl disebut sebagai mathesis universalis (matematisasi alam semesta)yang untuk pertama kalinya terjadi dalam sejarah pemikiran manusia. Singkatnya, Galileo sedang membangun dan mengidealkan sebuah dunia, yaitu dunia metode.

       Dari kisah yang sama, di dunia modern kita akan menemukan bagaimana ilmu ekonomi misalnya lewat rumusan-rumusan metode membangun dunia idealnya sendiri yang kemudian berjalan sebagai dunia baru: pasar saham dan forex. Fisika dan teknologi, lewat rumusan-rumusan matematis dan fisika, membangun dunia idealnya sendiri dan menjelma menjadi dunia tersendiri: pasar persenjataan modern. Biologi dan kimia membangun gambaran realitas idealnya sendiri dan menemukan dunia baru: rekayasa genetik. Dan seterusnya.

       Dalam bahasa Husserl, seperti ruh yang terlepas dari badan jasmaninya, dunia metode segera melepaskan diri dari dunia pengalaman. Lewat proses idealisasi tersebut, ruang dan waktu segera menjadi konsep ideal yang melepaskan diri dari ruang dan waktu sesungguhnya, yaitu: diri manusia sendiri.

    4. Penutup

       Seluruh buku Krisis sesungguhnya merupakan sebuah kritik terhadap metode, yaitu metode ilmu-ilmu pengetahuan modern. Tetapi lebih dari sekadar kritik, buku Krisis juga merupakan proyek baru fenomenologi Husserl yang mulai melakukan tematisasi atas persoalan temporalitas waktu dan sejarah. Lewat buku Krisis Husserl mencoba membaca zaman dengan menekankan pada temporalitas gagasan dan inter-subjektivitas sejarah. Proyek baru ini pada akhirnya tidak akan pernah ia selesaikan.

        Terkait dengan krisis ilmu yang dijabarkan dalam buku Krisis, kesimpulan Husserl sesungguhnya sederhana: setiap metode pasti menyejarah. Kebenaran setiap metode tidak datang sekonyong-konyong begitu saja, tetapi merupakan sebuah proses konstruksi pemahaman yang tersedimentasi dalam sejarah. Bukti dari keampuhan suatu metode tidak lain adalah efek atau hasil atau fungsi praktisnya. Tetapi dasar yang melegitimasi metode itu bukanlah hasilnya, melainkan subjektivitas dari manusia-manusia yang terlibat di dalamnya. Subjektivitas dan kemenyejarahan inilah yang bagi Husserl terlupakan dalam sejarah ilmu. Seperti dituliskan Husserl: “For all of those methods have the mobility of sedimented traditions that are worked upon, again and again, producing new structures of meaning and handling them down. Everywhere the problems, the clarifying investigations, the insights of principle are historical.” [The Origin of Geometry, 368-369]

       Karya-karya akhir Husserl mencetak jejak yang cukup panjang dalam pemikiran kontemporer Abad ke-20 dan 21. Formulasi masalah dan cara bagaimana Husserl menghadapi masalah tersebut rupanya mempesona banyak filsuf-pemikir. Jacques Derrida (1930 – 2004) misalnya menerbitkan buku komentar dan interpretasi khusus mengenai karya akhir Husserl ini, berjudul Edmund Husserl’s Origin of Geometry: An Introduction (1962). Bahkan sebelumnya, pada 1953-54, Derrida menulis disertasi doktoral mengenai karya-karya akhir Husserl ini, berjudul The Problem of Genesis in Husserl’s Phenomenology (terbit pertama pada 1990).

       Para filsuf yang menjadi acuan pemikiran di Abad ke-21, seperti Jean-Luc Marion, Michel Henry, Dominique Janicaud, dan sebagainya, bisa dikatakan sebagai pembaca Husserl yang tekun. Para pemikir yang terkenal sebagai filsuf post-modern itu rupanya banyak berhutang pada Husserl. Mereka menyadari bahwa kritik Husserl atas zaman modern memiliki radikalitas tersendiri yang menggugat konsep-konsep modern hingga ke akarnya, termasuk konsep mengenai subjek. Bagi para pemikir ini, Husserl, dan bukan Heidegger, yang menjadi jurang pemisah antara modernitas dan pasca-modernitas.

       Namun, proyeksi seperti itu nampaknya terlalu jauh bagi Husserl. Sebab, proyek filosofis Husserl ia rumuskan sendiri sebagai: “a way of teleological-historical refelction upon the origins of our critical scientific and philosophical situation, and by that way to establish the unavoidable necessity of a transcendental-phenomenological re-orientation of philosophy.” [Crisis, § 1; 3].

    Ito Prajna-Nugroho, Alumnus Program Sarjana dan Pasca Sarjana Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara, dan Staf Ahli DPR-RI Bidang Kebijakan dan Legasi.

    Rujukan

    Edmund Husserl, 1965, Phenomenology and the Crisis of Philosophy, terj. Quentin Lauer, New York: Harper & Row.

    Edmund Husserl, 1970, The Crisis of European Sciences and Transcendental Phenomenology: An Introduction to Phenomenological Philosophy, terj. David Carr, Evanston: Northwestern University Press.

    James Dodd, 2004, Crisis and Reflection: An Essay on Husserl’s Crisis of Eurpean Sciences, Dordrecht: Kluwer Academic Publisher.

    J. N. Mohanty, 2011, Edmund Husserl’s Freiburg Years, New Haven: Yale University Press.

    Rudolf Bernet, Iso Kern, Eduard Marbach, 1999, An Introduction to Husserlian Phenomenology, Evanston: Northwestern University Press.

  • Pengusaha Tjie Tjin Hoan Berpulang

    Pengusaha Tjie Tjin Hoan Berpulang

     DUNIA usaha Tanah Air tentu tahu siapa pengusaha kaya raya ini. Namanya Tjie Tjin Hoan atau lebih terkenal dengan sapaan akrab Ciputra (88). Ciputra, chairman dan founder Ciputra Group adalah seorang insinyur teknik jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB). Bicara property di Indonesia nama Ciputra tak pernah tanggal. Dialah owner sejumlah group usaha sukses seperti Jaya Group, Metropolitan Group bahkan Ciputra Group. Total kekayaan bersih Ciputra tahun 2019 tergolong gede: 1,3 miliar USD.

    Tjie Tjin Hoan lahir di Sulawesi Selatan tanggal 24 Agustus 1931. Menikah dengan Dian Sumeler pasutri pengusaha ini dikarunia empat putra dan putri: Rina Ciputra Sastrawinata, Cakra Ciputra, Candra Ciputra, dan Junita Ciputra. Juga cucu-cucu: Nararya Sastrawinata, Lalitya Sastrawinata, Aditya Sastrawinata, dan lain-lain. Rabu, 27 November 2019 pukul 01.05 waktu Singapura, Ciputra mengakhiri ziarah hidupnya di Gleaneagles Hospital Singapore. Ia menutup mata selamanya, memenuhi panggilan Tuhan, Sang Sabda. Doa dan ucapan duka dari berbagai pihak mengalir untuk keluarga besar Alm. CIputra. “Telah meninggal dunia dengan tenang, Bapak Ir Ciputra, Chairman dan Founder Ciputra Group di Singapore pada tgl 27 November 2019 pk 1:05 waktu Singapore. Kami keluarga besar Ciputra Group mengucapkan turut berduka yang mendalam dan mendoakan semoga Keluarga yg ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapi kedukaan ini,” kata Rina Ciputra Sastrawinata, anak pertama Ciputra melalui pesan singkat dari Singapura.

    Ciputra tamat SMP dan SMA Frateran Manado, Sulawesi Utara. Setamat dari Manado ia menuju Jawa dan kuliah di ITB. Saat berada di tingkat empat bersama rekannya, Budi Brasali dan Ismail Sofyan mereka merintis usaha konsultan bidang arsitektur. Usaha ini dimulai dari sebuah garasi. Usai rampung kuliah dan mengantongi gelar Insinyur di kota Kembang tahun 1960, baru kemudian setelah, ia hijrah ke Jakarta. Ia mengawali karirnya di Jaya Group, perusahaan daerah milik Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Di perusahaan properti ini, dia berhasil meniti karir hingga menjabat sebagai direksi sampai usia 65 tahun kemudian ambil posisi penasihat. Di perusahaan itu ia diberi keleluasaan berinovasi, termasuk di antaranya dalam pembangunan proyek Ancol. Matang dan kenyang dalam pengalaman Ciputra bersama rekan-rekannya: Liem Soe Liong (Sudomo Salim), Sudwikatmono, Budi Brasali, dan Ibrahim Risjad mendirikan Metropolitan Group. Melalui Metropolitan Group mereka membangun Pondok Indah dan Kota Mandiri Bumi Serpong Damai, kawasan hunian elite bagi kaum berduit. Pada masa itu, Ciputra didapuk sebagai direktur utama di Jaya Group. Sedang di Metropolitan Group ia diplot sebagai Presiden Komisaris. Hanya butuh selangkah, ia melebarkan sayap membangun Ciputra Group, kelompok usaha milik keluarga.

    Selamat jalan, Pak Ciputra. Jasamu ikut membangun dan memajukan Indonesia tentu diingat selalu pemerintah dan masyarakat Indonesia. Engkau sungguh inspirasi hidup negeri maha luas ini. Indonesia kehilangan seorang sosok pengusaha bersahaja dan rendah hati. Kerinduanmu memenuhi panggilan Sang Sabda lebih kuat mengalahkan rasa cintamu pada keluarga dan Tanah Air. Damailah di sisi-Nya. Sekadar tambahn setiba di Indonesia jenazah Alm Ciputra disemayamkan di kediama keluarga di Jalan Bukit Golf Utama PA 1-2 Jakarta Selatan. “Ia adalah alumnus ITB, pengembang pertama di Indonesia, pendiri Tempo Media dan Bisnis Indonesia, dan tokoh yang sangat aktif melahirkan pengusaha baru di Indonesia. Selamat jalan, Pak Ciputra. Kiranya Firdaus Abadi menjadi perhentian terakhirmu,” kata Primus Dorimulu, wartawan senior asal Flores sekaligus pimpinan sejumlah media nasional dalam laman Facebook-nya.

    Ansel Deri, Penulis Buku KEJUTAN POLITIK

  • Hati Dupont untuk Kampung Paus

    Hati Dupont untuk Kampung Paus

    “Apabila kehidupan sehari-hari terasa miskin, jangan kita keluhkan, tetapi sesalilah dirimu karena tidak cukup tabah untuk menggali kekayaannya”.    ——Rainer Maria Rilke—–

    Pater Dupont,  begitulah sapaan akrab pemilik nama Arnoldus Dopunt, SVD. Pater Dupont mulai menapaki jalan panjang sebagai imam di keuskupan Larantuka, berawal dari Wureh 1953, Lite Adonara dan kemudian ke Paroki Lamalera dan berakhir di rumah jompo untuk imam-imam SVD di Rumah Sakit Bukit Lewoleba pada 2005.

    Saya pertama kali mengenal Pater Arnoldus Dupont, SVD sekitar tahun 1985, ketika itu saya belajar di SMP APPIS Lamalera. Perlahan saya mulai menyadari bahwa Pater Dupont adalah sosok yang sangat peduli dengan orang kecil. Masih segar dalam ingatan saya bagaimana Pater Dupont dengan setia berkunjung dari rumah ke rumah untuk melihat dan mendengar langsung segala keluh-kesah umat parokinya. Pastoran saat itu juga berfungsi sebagai poliklinik. Pater Dupont dengan cuma-cuma memberikan obat bagi siapa saja yang membutuhkan.

    Perhatian dan cinta Pater Dupont bagi orang kecil dengan sangat bagus digambarkan oleh filsuf Emmanuel Levinas. Menurut Levinas “orang lain hadir lewat wajah mereka. Wajah orang lain itu menyapa kita. Wajah itu tampil apa adanya dan luhur. Wajah itu sebuah imbauan. Berhadapan dengan wajah itu kita tak dapat mengelak. Kita bertanggung jawab atas wajah itu, atas keselamatannya”.

    Foto Gereja St. Petrus – Lamalera yang dibangun oleh P. Arnoldus Dupont, SVD

    Di tengah-tengah masyarakat yang umumnya berorientasi pada harta, pada prestasi atau kursi, gengsi dan popularitas, hidup Pater Dupont yang berorientasi pada ‘wajah orang lain’ menjadi sangat bermakna. Wajah orang lain yang muncul dalam figur orang-orang kecil yang terlupakan, tertindas, terbelenggu, miskin dan papa, itulah yang selalu memanggil Pater Dupont untuk berbuat sesuatu dan bertanggung jawab atas mereka.

    Meskipun Pater Dupont telah direnggut maut, ia tidak mati, dan ia tak akan pernah mati, karena karyanya terus menafasi kita. Dan kita pun terpanggil untuk meneruskan karya-karyanya yang belum seluruhnya selesai. Kini dalam sukacita abadi Pater Dopunt telah menatap “Wajah Tak Terhingga”.

    Paskalis Bataona

  • Pemikiran-pemikiran Klasik, Masikah Relevan ?

    Pemikiran-pemikiran Klasik, Masikah Relevan ?

    ·     

    Oleh Paskalis Bataona

    Ditengah kesibukannya menempuh program studi doktoralnya di Universitas Chichago, Nurcholis Madjijid menerjemahkan risalah para pemikir Islam klasik antara lain Al-Kindi, Al-Farabi, Ibn Sina, Al-Ghazali, Ibn Rusyd, Ibn- Taimiyah, Ibn Khaldun, Al-Afghani, Muhammad Abduh. Risalah ini dihimpun sebagai sebuah antologi. Melalui bunga rampai yang diberi judul “KHAZANAH INTELEKTUAL ISLAM” ini, Nurcholis Madjid bermaksud memperkenalkan kepada pembaca Indonesia salah satu segi kekayaan Islam dalam pemikiran, khususnya yang berkaitan dengan teologi, filsafat ilmu kedokteran.

    “Meski pun ditulis berabad-abad yang lalu pemikiran-pemikiran para intelektual Islam ini patut di baca kembali karena pemikiran-pemikiran klasik itu meletakan dasar – dasar yang kuat soal Tuhan, Moralitas dan Kehidupan Praktis, tegas Ignas Kleden salah satu pembicara pada Diskusi Buku “KHAZANAH INTELEKTUAL ISLAM”, Rabu 20 Maret 2019. Lebih jauh Ignas mengatakan bahwa para intelektual Islam klasik ini tidak memiliki “Center of Excellence” namun secara sporadis dan apologetik memunculkan gagasan-gagasn mereka. Disitulah letak keunikan para pemikir Islam klasik ini, tegas Ignas.
    Ignas Kleden juga mengharapkan pasca Nurcholis para intelektual Islam diharapkan menuliskan buku Sejarah Filsafat Islam secara komperhensif.

    Buku “Khazanah Intelektual Islam” karya Nurcholis Madjid

    Dari sisi yang berbeda Ulil A. Abdallah memberikan testimoni pribadinya bahwa buku “ KHAZANAH INTEKTUAL ISLAM” yang pertama kali terbit 1984 ini merubah hidupnya. Ulil membeli buku ini ketika dia masi nyantri di dusun Pati. Dia secara diam-diam membaca bagian Mukadimah yang ditulis oleh Nurcholis Madjid sebagai pengantar buku ini. Nurcholis, kata Ulil dengan sangat menarik mengulas gagasan-gagasan para pemikir Islam klasik ini. Ulil sungguh tercerahkan dengan membaca buku Nurcholis ini.
    Gagasan – gagasan klasik para pemikir Islam ini justru menyajikan sebuah pedoman penting untuk memahami persoalan-persoalan aktual yang di hadapi oleh masyarakat dalam berbagai bidang kehidupan. Membaca dan sekali lagi membaca adalah resep untuk maju dalam segala kehidupan, tegas Ulil………jadi membacalah————

  • Billy Mambrasar, Anak Papua Staf Khusus Jokowi

    Billy Mambrasar, Anak Papua Staf Khusus Jokowi

    Oleh Ansel Deri

    JUMAT 27 September 2019. Di Lantai 3 Graha Oikumene Gedung Persekutuan Gereja-gereja di (PGI) Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat. Saya tiba sejam sebelum dimulai acara diskusi “Solusi Damai untuk Papua”. Diskusi digagas Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPP GAMKI).

    Sehari sebelum acara diskusi, Ketua Umum DPP GAMKI Wilem Wandik melalui stafnya, Alexander Ramandey, menghubungi saya jadi moderator memandu acara yang menghadirkan para narasumber bagaimana gagasan mereka masing-masing di bidangnya ikut membantu pemerintah mencari format jalan keluar (solusi) damai bagi masyarakat tanah Papua.

    Diskusi menghadirkan lima pembicara masing-masing Ketua Umum DPP GAMKI sekaligus anggota DPR RI Dapil Papua Willem Wandik, penggagas Papua Damai dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dr Adriana Elisabeth, tokoh Gereja Papua Frans Ansanay, dan dua tokoh muda Papua yaitu motivator dan lawyer Methodius Kosay SH, MH serta wirausahawan Billy Mambrasar atau lengkapnya Gracia Billy Yosaphat Y. Mambrasar.

    Billy Mambrasar. Nama ini masih asing di telinga saya kala bersua di Graha Oikemene yang berhadapan dengan RS St Carolus Jakarta. Begitu pula Metho Kosay. Mama yang kalah akrab di telinga saya seperti Wandik, Ansanay atau Adriana. Wandik saya kenal sebagai sosok politisi muda setelah terpilih menjadi anggota DPR RI periode 2014-2019. Sedang Adriana saya kenal sebagai salah seorang penggagas Dialog Papua Damai bersama rekan-rekannya seperti (alm) Pastor Dr Neles Kebadabi Tebai Pr dan Muridan S Wijoyo.

    Nama Billy Mambrasar muncul dari Istana Negara Jakarta Kamis, 21 November 2019. Bily, anak muda potensial asal tanah Papua itu ditunjuk langsung Presiden Joko Widodo sebagai Staf Khusus Presiden. Billy, demikian Jokowi, saat ini sedang menempuh pendidikan strata dua di Oxford University, Inggris konsentrasi bisnis.

    Saat memberikan waktu memperkenalkan diri sebelum menyajikan materi dalam diskusi Solusi Damai Papua, anak muda tanah Melanesia ini menyampaikan sekilas rekam jejaknya di bidang pendidikan. Billy menyebut, sebumnya ia merampungkan studi di Australian National University (ANU) dengan beasiswa dari Pemerintah Australia dan menjadi mahasiswa terbaik pada 2015 lalu.

    Billy juga menyebut dalam waktu yang tak lama ia akan terbang ke USA mewujudkan cita-cita menempuh studi doktoral dengan Beasiswa Afirmasi dari LPDP di Universitas Harvard, Amerika Serikat dalam bidang pembangunan manusia. Bagi anak muda Papua seusianya, cita-cita melanjutkan studi di perguruan tinggi di negara adidaya itu tak pernah terlintas di benaknya.

    Lahir dan besar dari keluarga kurang mampu di Serui, Kepulauan Yapen, Papua, tentu jauh dari mimpi bagi kebanyakan anak muda dari kampung. Ia mengisahkan, saat masih tinggal di Yapen, setiap hari ibunya berjualan kue dan makanan di pasar guna mengongkosi ekonomi keluarga. Aktivitas ini dilakukan karena gaji ayahnya yang adalah seorang guru belum cukup. Ia mengaku, kerap turun gunung membantu sang bunda berjualan kue. “Subuh ibu bikin kue, paginya ibu pergi ke pasar jualan, kami ke sekolah sambil bawa kue untuk dijual,” kata Billy mengutip Kantor Berita Nasional Antara, Jakarta.

    Semangat juang dan pantang menyerah selalu tertanam dalam hati. Hal yang juga dimiliki sebagian besar anak muda Papua yang bertaruh nasib hidup di kota-kota di jalur pendidikan. Akhirnya, mereka menjadi pribadi militan dan cekatan dalam banyak hal, terutama di bidang pedidikan. Mereka, anak-anak muda Papua juga memiliki kemampuan luar biasa besar di pasar kerja.

    Billy juga membuktikan sendiri betapa anak muda tanah Papua juga bisa membuktikan kehebatan di tingkat dunia. Ia misalnya, pernah diundang magang oleh Pemerintah Amerika Serikat dan berbicara di State Department Amerika Serikat. Ia akhirnya menjejakkan kakinya di White House dan bertemu Presiden Barack Obama. Bahkan tahun 2017, ia ditunjuk sebagai utusan Indonesia yang berbicara tentang isu pendidikan di Kantor Pusat Perserikatan Bangsa-Bangsa di New York, Amerika Serikat.

    Berbekal ilmu yang diperoleh ia juga care terhadap dunia pendidikan bagi anak-anak Papua melalui Yayasan Kitong Bisa yang dirintis sejak 2009. ‘Kitong Bisa’ mempunyai arti kita bisa. Atau dengan kata lain semua anak-anak Papua bisa meraih pendidikan meski berasal dari keluarga miskin.

    Melalui Kitong Bisa, Billy ingin memberikan akses pendidikan untuk anak-anak tidak mampu, khususnya di Papua dan Papua Barat. Sejumlah pelatihan keterampilan juga diselenggarakan. Saat ini, ‘Kitong Bisa’ melalui usaha sosialnya, mengoperasikan sembilan pusat belajar dengan 158 relawan dan 1.100 anak.

    “Saya melihat kompleksitas pendidikan dan juga akses pendidikan masih menjadi kendala di Papua, oleh karenanya kami fokus dalam pembangunan SDM. Hal ini sesuai juga dengan komitmen Presiden Jokowi dalam membangun SDM,” kata Billy.

    Presiden Jokowi menilai Billy merupakan talenta hebat tanah Papua yang diharapkan akan memberikan kontribusi berupa gagasan inovatif dalam membangun tanah Papua. Boleh jadi, prestasi dan jejak panjang Billy di bidang pendidikan dan kewirausahaan menjadi pertimbangan Presiden Joko Widodo mengangkat Billy menjadi staf khusus. Sunggu mati. Ade Bily, ko tra kosong. Wa wa wa……

    Anse Deri,  Penulis Buku Kejutan Politik

  • Menelusuri Duka dari Nduga

    Menelusuri Duka dari Nduga

    Di negeri ini kerusuhan massa terus menerus terjadi, pertikaian berdarah di banyak tempat, konflik negara dan kelompok bersenjata, kekerasan seksual berulang kali terjadi. Muncul pertanyaan mengapa keberadaan manusia demikian lekat dengan kekerasan?, bagaimana dengan kondisi trauma korban kekerasan (terutama kekerasan karena pemerkosaan). Persoalan-persoalan ini yang menjadi pelatuk bagi Kristina Samah untuk menulis buku Duka dari Nduga.

    Bertempat di Aula St. Antonius, Gereja Hati Kudus Kramat, Senin 18 November 2019, berlangsung diskusi buku Duka dari Nduga dengan pembicara Rm. Stefanus Suprobo, OFM, Kristin Samah, dan Maman Suherman sebagai moderator. Diskusi buku ini digagasi oleh Sie HAAK dan Komsos Gereja Hati Kudus Kramat.

    Buku ini mengisahkan kekerasan seksual yang terjadi di Nduga. Penulis buku ini, Kristin Samah mencoba mengisahkan siklus kekerasan di Nduga dengan meramu ingata-ingatan penduduk setempat dan dari cerita-cerita anak muda di sana terutama sekitar tragedi Mapenduma bertahun silam dan dampaknya hari ini.

    Buku Duka dari Nduga juga mengajak kita melihat peristiwa Nduga dengan kaca mata hati, bahwa telah terjadi pelanggaran hak asasi manusia dengan terjadinya perkosaan terhadap seorang guru perempuan. Penulis membawa kita pada sebuah refleksi bahwa di wilayah yang jauh dari keramaian dan minimnya fasilitas hidup yang memadai masih ada perempuan yang mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa namun tidak mendapatkan perlindungan dan perhatian utuh dari negara ketika dirinya mengalami kekerasan seksual.

    Seorang korban kekerasan karena pemerkosaan akan mengalami trauma, dan dalam dirinya akan mengalami mimpi buruk secara berulang-ulang. Dia bukannya tak mampu memaafkan pelaku. melainkan tak mampu keluar dari jerat-jerat prasangka yang menimpanya setiap saat. Ada kegaduhan dalam kesadarannya – gaduh dalam arti ribut seperti seseorang yang terperangkap di tengah-tegah massa yang mengepungnya. Dalam kegaduhan kesadarannya itu, kediriannya, ego-nya, person-nya seolah lenyap. Dia telah dianggap tiada oleh pelaku dan lebih suka menganggap dirinya sendiri tiada ditenggelamkan kebisingan kesadarannya. Memaafkan adalah bertindak yang menurut Hannah Arendt “memulai sesuatu yang baru”, lahir lagi, yakni merelakan yang lewat. Tetapi, trauma telah membuat korban tak mampu bertindak, maka ia tak mampu memaafkan. Membalas dendam adalah reaksi naluriah atas kebekuan itu,  tetapi dendam adalah ketidakmampuan untuk memulai sesuatu yang baru. Alternatif yang tersedia adalah membiarkan diri matang oleh waktu, yaitu lewat bercerita entah kepada dirinya sendiri atau kepada orang lain. Bercerita tentang pengalaman negatif adalah usaha memahami yang tak terpahami. Dalam jarak naratif itulah luka-luka masa lalu terintegrasi ke dalam identitasnya. Bercerita dapat menjadi perjalanan menuju merelakan yang lewat ( F. Budi Hardiman, Memahami Negativitas).

    Buku Duka dari Nduga karya Kristin Samah

    Memandang Papua, menurut Kristin, bukan hanya soal jarak tempat dari pusat kekuasaan, tetapi juga jarak kesenjangan yang sangat jauh. Ketika daerah lain sudah berpikir soal revolusi industry 4.0, pelosok-pelosok terpencil Papua masih berkutat dengan persoalan minimnya pendidikan, minimnya prasarana kesehatan dan juga persoalan gizi buruk.

    Buku ini didedikasikan untuk orang-orang yang bekerja demi memuliakan kemanusiaan. Penghormatan pada para pekerja kemanusiaan yang oleh sebab konflik, terpaksa menjadi korban kekerasan brutal. “Benar bahwa mengangkat senjata untuk merampas hak hidup orang lain adalah kejahatan sadis. Namun, penjahat sesungguhnya adalah orang-orang yang menjual ketidakmampuan orang lain untuk meraih keuntungan diri sendiri atau kelompok”, tegas Kristin pada akhir diskusi bukunya.

    Paskalis Bataona

  • Sewindu Membagi Cerita

    Sewindu Membagi Cerita

    Oleh J o s e f B a t a o n a

    “Do you wait for things to happen, or do you make them happen yourself? I believe in writing your own story.” (Charlotte Eriksson)

    SEMANGAT berceritera seakan tiada habisnya. Setiap hari, di seputar kita banyak cerita yang hadir, entah dari orang-orang yang kita temui dan bertegur sapa, atau dari berbagai kejadian di hadapan kita sepanjang hari. Semua itu bukan kebetulan. Di balik itu semua ada saja cerita menarik untuk kita angkat dan dibagi. Bila kita terus menerus mengasah kepekaan untuk mencermati kejadian-kejadian tersebut, akan dengan mudah kita menangkap pelajaran penting yang bisa kita serap dan bagikan melalui cerita. Ini yang coba saya lakukan selama sewindu (delapan tahun), sejak saya luncurkan blog www.josefbataona.com di tanggal 11 bulan 11 tahun 2011.

    Makna Blog ini buatku

    Pada kesempatan yang berbahagia ini, saya ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan yang setinggi-tingginya kepada semua pembaca yang telah meluangkan waktu berharganya untuk menyimak berbagai tulisan di blog ini. Anda semua adalah alasan mengapa saya terus menulis. Semangat membaca kalian telah menjadi api semangat buatku untuk terus mencari inspirasi dan berbagi di blog ini. Dan saat sebagian di antara kalian memberi komentar bahwa tulisan ini menginspirasi dan sangat bermanfaat, maka hadir senyum lebar di wajahku pertanda sebuah tekad untuk membuat tulisan-tulisan di blog ini lebih bermakna buat banyak orang. Walaupun saya memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman, tapi bila itu tidak saya bagikan, maka akan sia-sialah semuanya tersimpan dalam diriku, dalam unconscious mind.

    Sebagai laporan kepada semua pembaca, saat ini blog sudah diisi 700 artikel dengan berbagai kategori sebagai berikut (dalam kurung adalah jumlah artikel tentang kategori tersebut). Saya sebutkan saja top 20:

    1. Career Wisdom (105)
    2. Coaching (44)
    3. Development (31)
    4. Employee Engagement (82)
    5. Family (16)
    6. Fish Fun (96)
    7. Healthy Life (16)
    8. Hubungan Industrial (10)
    9. Inspirasi (81)
    10. Knowledge Management (19)
    11. Leadership (116)
    12. Learning (34)
    13. Life Wisdom (133)
    14. Millennials (10)
    15. My Book (35)
    16. People Management (56)
    17. Service Excellence (19)
    18. Social Media (17)
    19. Traveling (24)
    20. Work-life-balance (16)

    Menanggapi 700 artikel tersebut, sebanyak 3.584 komentar sudah diberikan pembaca dalam kaitan dengan tulisan tertentu. Dari 700 artikel tersebut, kami telah memilih beberapa artikel untuk dijadikan buku seperti foto berikut.

    Beberapa komen sebagai ilustrasi

    Komentar-komentar tersebut tentu bisa pembaca lihat di akhir tulisan. Namun pada kesempatan ini saya akan mengangkat beberapa diantaranya sebagai ilustrasi;

    Ratih Hapsari di artikel: Temukan Kebahagiaan Dalam Dirimu, 2019 08 02 https://www.josefbataona.com/life-wisdom/kebahagiaan-dalam-dirimu/

    Membaca tulisan ini saya jadi ingat postingan quote Shauna Niequist di FB Pak Josef beberapa hari lalu. Disebutkan apabila yg kita temui tidak sesuai dgn yg kita harapkan dan kita berani serta memiliki keyakinan utk menganggap hal itu sebagai hal yg indah, that’s celebration.

    Bagaimana cara memandang kita akan suatu hal, suatu pencapaian atau permasalahan sekalipun, jika kita memandangnya secara positif pasti akan menaikkan tingkat kebahagiaan diri kita dan orang-orang di sekitar kita.

    Rolin Simanjuntak di artikel: Agar Petap positif, 2019 03 19 https://www.josefbataona.com/life-wisdom/agar-tetap-positif/

    Terima kasih Pak Josef, tulisan Bapak mengajarkan saya untuk berpikir, bersikap dan meresponi segala sesuatu dengan positive

    Denitri Juliani di artikel: Menginspirasi dengan perilaku positif, 2018 10 24 https://www.josefbataona.com/inspirasi/menginspirasi-dengan-perilaku-positif/

    Thank you Pak Josef, walaupun hanya bertemu sekali, tetapi setiap ucapan bapak sangat menginspirasi. saya berharap dimoment berikutnya, saya bisa bertemu dengan bapak. Salam –  Denitri –  CHRP44

    Helda Manuhutu di artikel: Saya Belajar Caranya Belajar, 2018 08 31 https://www.josefbataona.com/development/saya-belajar-caranya-belajar/

    Selalu mengagumi cara bapak sharing berbagai hal..entah itu secara theory pun sebuah pengalaman..entah itu hal besar pun hal kecil.. Pemilihan kata2 nya sangat tepat dalam penyampaian pesan2nya… Terus sharing ya pak…God bless u pak

    Yoshaira di artikel: Tak Selamanya Mendung itu Kelabu, 2018 07 26 https://www.josefbataona.com/career-wisdom-2/open-it-on-rainy-day/

    Saya baca tulisan ini berulangkali, setiap kali dibaca selalu memberikan insight baru buat saya, akhirnya semakin tersadar bahwa gambaran diri pada cermin sangat penting untuk introspeksi dan jadi penentu langkah yang lebih baik selanjutnya. Cermin tersebut tentu bukan dari kita, namun dari orang lain yang berinteraksi dengan kita, Gambaran yang muncul pada cermin kabur atau jelas, juga sangat tergantung dari kita dalam menentukan sudut dan sisi pandangnya. Terima Kasih Pak Josef …. sangat menginspirasi

    Catur Arifiani Amalia di artikel: Tak Selamanya Mendung itu Kelabu, 2018 07 26 https://www.josefbataona.com/career-wisdom-2/open-it-on-rainy-day/

    Ciptakan sendiri cuaca hatimu, agar harimu yang ceria bisa dimanfaatkan untuk berbuat kebaikan >> sudah membuat saya senyum dulu pagi ini sebelum baca postingan ini….

    Good morning Pak… Have a fabulous Friday…Happy holiday and safe trip…I’ll wait for the next story from you… Terima kasih untuk tulisannya Pak.

    Dan kisah-kisah lainnya akan terus hadir di blog ini. Pembuatan kategori tersebut diatas akan sangat memudahkan untuk mencari langsung tulisan yang diperlukan. Saran atau pendapat dari semua pembaca sangat ditunggu.

    “Never go tapping into the lives of others like you know them and their story! Their story is not yours, tell yours, for that is all you know.” (Auliq-Ice)

    Sumber: https/www.josefbataona.com

  • Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri

    Puisi dan Dekonstruksi: Perihal Sutardji Calzoum Bachri

    Oleh I G N A S K L E D E N

    Upaya dan perjuangan Sutardji Calzoum Bachri menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapat dipandang sebagai percobaan melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi.

    Dalam sebuah esainya Sutardji menulis “puisi adalah alibi kata-kata“. Dengan ungkapan itu dimaksudkan bahwa kata-kata dalam puisi diberi kesempatan menghindar dari tanggung jawab terhadap makna, yang dalam pemakaian bahasa sehari-hari dilekatkan pada sebuah kata sebagai tanggungan kata tersebut.

    Sebuah kata, dalam pemikiran Sutardji, diberi beban makna oleh berbagai kekuatan, yang dalam proses selanjutnya tidak mau bertanggung jawab lagi tentang makna yang mereka berikan dan memindahkan tanggung jawab tersebut pada kata yang telah diasosiasikan dengan makna tertentu.

    Adapun kekuatan-kekuatan yang dianggap menindas kebebasan kata-kata dengan memberinya beban makna bisa berasal dari dalam bahasa, seperti semantik atau sintaksis, tetapi dapat pula berasal dari lingkungan luar bahasa, seperti konvensi sosial, kekuasaan politik, atau norma-norma moral.

    Mengikuti Sutardji, pemaknaan kata-kata adalah sebuah bentuk penindasan dan kolonisasi, dan dalam hubungan itu puisi dapat berperan sebagai kekuatan pembebas, yang membuat kata-kata kembali merdeka dari penjajahan makna. Proposisi-proposisi tentang pemikirannya ini kemudian dirumuskannya dalam sebuah manifesto yang dikenal sebagai Kredo Puisi.

    Menilik isinya, kredo Sutardji yang terkenal itu (dalam O Amuk Kapak: Tiga Kumpulan Sajak, Penerbit Sinar Harapan, Jakarta, 1981) pada dasarnya lebih berisikan kredo penyair karena di sana ditegaskan peran penyair dalam pembebasan kata-kata dari penjajahan makna: Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor (obscene) serta penjajahan gramatika.

    Bagi saya, pemikiran-pemikiran dalam Kredo Puisi menjadi menarik bukan dalam kedudukannya sebagai suatu teori tentang puisi, tetapi terutama sebagai rencana kerja seorang penyair. Kredo itu membuat kita terkesan dan mungkin terkejut, bukan karena argumen-argumen yang diajukannya mengenai sense dan nonsense, tetapi dia menjadi menarik sebagai suatu program, suatu desain, dan bahkan suatu tekad.

    Harga dan nilai kredo tersebut tidak selayaknya diukur berdasarkan konsistensi dalil-dalilnya, tetapi terutama berdasarkan pertanyaan: apakah penyairnya sanggup mewujudkan apa yang telah dia deklarasikan.

    Mantra

    Sutardji mengatakan bahwa bagi dia menulis puisi “adalah mengembalikan kata pada mantra”. Mengembalikan kata kepada mantra adalah mengeluarkan kata dari konvensi makna dan membiarkannya menemukan kekuatannya sendiri.

    Kita dapat bertanya: kalau kata dikembalikan kepada mantra, ke mana gerangan hendak dikembalikan kalimat dalam bahasa? Jawaban atas pertanyaan ini diberikan oleh panyairnya 24 tahun kemudian—setelah Kredo Puisi 1973—dalam esai “Pantun” yang diumumkan Kompas Minggu (14 Desember dan 21 Desember 1997).

    Di situ pemikiran Sutardji bahwa kata pada dasarnya tak ada hubungan intrinsik dengan maknanya—suatu pandangan yang kemudian semakin dipertegas oleh teoretisi post-modernis—diteruskannya dengan pandangan lain bahwa sampiran dalam pantun tak ada hubungan intrinsik apa pun dengan isi pantun.

    Di sini Sutardji secara frontal menolak pemikiran beberapa peneliti pantun dari Barat, yang berasumsi bahwa ada suatu hubungan intrinsik yang tidak selalu kita ketahui antara bagian sampiran dan bagian isi dalam pantun. Adalah menarik bahwa perlawanan yang dilancarkannya tidak dilakukan dengan berteori, tetapi dilaksanakan dalam praktik, yaitu praktiknya sebagai seorang penyair.

    Cara yang ditempuhnya ialah mengambil satu dua pantun dan mengubah sampiran pantun itu dengan bunyi-bunyi yang tidak ada maknanya secara leksikal, tetapi tetap mempertahankan persyaratan formal pantun berupa jumlah baris dalam satu bait, jumlah suku kata dalam satu baris kalimat, dan persamaan bunyi pada akhir kalimat. Ternyata bahwa setelah sampiran diubah ke dalam bunyi-bunyi yang tanpa makna, pantun itu tetap utuh dan masih dapat dinikmati juga.

    Pulau pandan jauh di tengah

    di balik pulau angsa dua

    hancur badan dikandung tanah

    budi baik dikenang juga

    Oleh Sutardji dua kalimat sampiran dalam pantun ini diubah dengan bunyi-bunyi yang tak ada maknanya dalam kode leksikal sebagai berikut:

    Cacau landan taktak zizangah

    tuta kadu pagara mua

    hancur badan dikandung tanah

    budi baik dikenang jua

    Atau sebuah pantun lainnya:

    Kalau ada sumur di ladang

    bolehlah saya menumpang mandi

    kalau ada umurku panjang

    bolehlah kita bertemu lagi

    Oleh Sutardji dua kalimat sampiran itu diubah dengan bunyi-bunyi tanpa makna sebagai berikut:

    Zuku zangga tukali tangtang

    zegeze geze papali podi

    kalau ada umurku panjang

    bolehlah kita bertemu lagi

    Dengan cara ini Sutardji membuktikan bahwa sampiran sama sekali tidak dan tidak perlu berhubungan dengan isi pantun dalam kandungan pesannya. Kita tahu, keterangan umum tentang sampiran biasanya dihubungkan dengan alasan fonetik dan alasan estetik. Sampiran diharuskan terdiri atas jumlah suku kata tertentu dalam tiap baris, dengan suku kata terakhir yang harus mengandung persamaan bunyi dengan suku kata terakhir dari bagian isi yang menjadi pasangannya.

    Rima pada pantun mengikuti formula ab/ab, yang berarti akhir baris pertama harus mempunyai kesamaan bunyi dengan akhir baris ketiga, sedangkan akhir baris kedua mempunyai rima dengan akhir baris keempat. Di sini hubungan sampiran dan isi hanyalah hubungan formal menyangkut struktur pantun, tetapi tidak ada hubungan substansial antara keduanya.

    Menerobos Batas Bahasa

    Meski demikian, Sutardji maju selangkah lagi dan menyatakan bahwa sampiran, justru karena tak mengandung makna tertentu, memperlihatkan the other side of language atau sisi lain dari bahasa, karena makna dalam isi pantun diperhadapkan dengan sampiran yang tanpa makna tertentu. Dengan demikian, pantun menjelma menjadi dialektik antara sense dan nonsense, atau kontestasi antara makna dan tanpa-makna.

    Rupa-rupanya keadaan tanpa makna itu tetap dibutuhkan dalam bahasa umumnya dan dalam puisi khususnya, karena dia menjadi kontras yang membuat makna semakin tampak seperti halnya cahaya lampu hanya menjadi nyata dalam gelap dan tidak tampak di bawah sinar matahari.

    Dengan demikian, kalau mantra adalah sisi lain dari makna dalam kata, maka sampiran pada pantun adalah sisi lain dari makna dalam kalimat. Pada mantra fonem-fonem yang digabungkan tidak menghasilkan makna, dan atas cara itu membawa orang keluar dari dunia kata-kata yang bermuatan makna yang telah dibakukan.

    Pada sampiran kata-kata yang membentuk kalimat dalam sampiran memang mempunyai makna kalau diambil satu per satu secara terpisah, tetapi dalam keseluruhan pantun, menjadi kehilangan makna karena tak ada pertautan pesan dengan bagian isi pantun.

    Menarik untuk disimak bahwa penerobosan yang dilakukan Sutardji terhadap makna membawa dia kepada percobaan lain untuk menerobos batas-batas bahasa. Penerobosan terhadap batas-batas bahasa ini dilakukan dengan melakukan penyimpangan dari semantik dan penyimpangan dari sintaksis. Semantik menunjuk hubungan antara bahasa dan suatu obyek di luar bahasa, sedangkan sintaksis menunjuk hubungan internal antara unsur-unsur bahasa itu sendiri.

    Penerobosan terhadap semantik dilakukan dengan memakai fonem-fonem atau bunyi-bunyi bahasa yang tidak ada maknanya secara leksikal. Meski demikian, penyairnya sadar juga bahwa hanya dengan bunyi-bunyi tanpa makna itu tidak mungkin lahir sebuah puisi dalam arti yang kita kenal. Maka, dalam beberapa sajaknya Sutardji menerapkan teknik menyusun pantun dalam bentuk yang lebih diperluas.

    Jumlah baris dalam bait jauh lebih bebas dan tidak hanya terbatas pada empat baris, jumlah suku kata juga dibuat tanpa mengikuti pakem pantun, dan rima juga tidak harus mengikuti formula ab/ab.

    Akan tetapi, yang dipertahankan dari unsur pantun adalah kontras antara sampiran dan isi, kontestasi antara makna dan tanpa makna. Dengan demikian, fonem-fonem yang tanpa makna itu seakan-akan menjadi sampiran dalam sajak-sajak Sutardji, tetapi isi sajaknya masih selalu dimunculkan dalam kata-kata dengan makna yang kita kenal.

    Contoh paling tipikal dari kecenderungan ini dapat kita amati dalam beberapa baris sajak berikut ini.

    hai Kau dengar manteraku

    kau dengar kucing memanggilMu

    izukalizu

    mapakazaba itazatali

    tutulita

    papaliko arukabazaku kodega zuzukalibu

    tutukaliba dekodega zamzam lagotokoco

    zukuzangga zegezegeze zukuzangga zege

    zegeze zukuzangga zegezegeze zukuzang

    ga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zu

    ku zangga zegezegeze aahh….!

    nama nama kalian bebas

    carilah tuhan semaumu

    Dalam sajak ini dua kalimat pertama “Kau dengar manteraku/Kau dengar kucing memanggilMu” adalah seruan kepada sesuatu yang rupa-rupanya mengatasi semua kategori manusia termasuk bahasa, mungkin sesuatu yang tak terbatas, yang kudus, atau yang ilahi, yang dicoba didekati dengan memanggilNya dengan berbagai nama yang tidak kita kenal dalam kode leksikal bahasa Indonesia.

    Kode leksikal

    Nama dan kode-kode yang digunakan penyairnya adalah bunyi-bunyi seperti mapakazaba, itazatali, tutulita, dan seterusnya. Betapa pun gelapnya kode tersebut, dalam berbagai pengulangan dapat kita rasakan intensitas suatu hasrat yang tak terucapkan dengan bahasa, yaitu bunyi-bunyi seperti zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze zukuzangga zegezegeze, tetapi rupanya seruan-seruan magis itu tak sanggup juga mendekatkan wujud yang tak terbatas atau yang kudus itu kepada penyair, yang akhirnya berkata dengan pasrah, dan mungkin dengan putus harapan: “nama nama kalian bebas/carilah tuhan semaumu”.

    Perjuangan dengan yang tak terbatas, yang ilahi, atau yang kudus dapat kita amati dengan lebih jelas dalam sajaknya yang berjudul Shang Hai. Teknik yang diterapkan penyair di sini adalah menerjemahkan kata-kata dalam kode leksikal ke dalam tanda-tanda non-leksikal.

    Semantik diterjemahkan menjadi semiotik sebagaimana dikatakan oleh Emile Benveniste. Meski demikian, penggunaan kode-kode non-leksikal itu disusun dalam suatu struktur yang dengan mudah membuat kita menerjemahkannya kembali ke dalam kata-kata biasa dalam kode leksikal. Hubungan di antara signifier (tanda non-leksikal) dan the signified (kode leksikal) tidak dibuat eksplisit, tetapi memberi kemungkinan bagi pembaca untuk menemukannya.

    Ping di atas pong

    pong di atas ping

    ping ping bilang pong

    pong pong bilang ping

    mau pong? bilang ping

    mau mau bilang pong

    mau ping? bilang pong

    mau mau bilang ping

    ya pong ya ping

    ya ping ya pong

    tak ya pong tak ya ping

    ya tak ping ya tak pong

    kutakpunya ping

    kutakpunya pong

    pinggir ping kumau pong

    tak tak bilang ping

    pinggir pong kumau ping

    tak tak bilang pong

    sembilu jarakMu merancap nyaring

    Ada tiga cara membaca sajak ini. Cara pertama adalah cara semiotik yang melihat semua bunyi bahasa dalam sajak itu sebagai tanda dan hubungan antartanda. Cara yang kedua adalah cara semantik yaitu melihat hubungan kode leksikal dengan makna.

    Cara yang ketiga adalah cara hermeneutik yaitu melihat hubungan antara kode bahasa dengan makna, dan hubungan makna dengan konteks kebudayaan yang luas. Cara ketiga inilah yang akan saya gunakan dalam membaca sajak Shang Hai.

    Dibaca dengan cara hermeneutis maka sajak itu dapat menunjukkan suatu perjuangan eksistensial untuk memihak makna atau tanpa makna, persaingan antara percaya dan rasa sia-sia, tukar-menukar antara benci dan rindu, atau pingpong antara ada dan tiada.

    Ping di atas pong

    pong di atas ping

    ping ping bilang pong

    pong pong bilang ping

    mau pong? bilang ping

    mau mau bilang pong

    mau ping? bilang pong

    mau mau bilang ping

    ya pong ya ping

    ya ping ya pong

    Ada sesuatu yang intens dan tegang dalam larik-larik tersebut yang kita tak tahu sepenuhnya apa. Akan tetapi, untuk keperluan penafsiran, kita secara eksperimental dapat mengganti fonem ping dan pong dengan kata-kata yang ada dalam kode leksikal bahasa Indonesia. Sebagai contoh gantilah fonem ping dengan kata-kata seperti: ada, percaya, rindu, dan dekat, dan gantilah fonem pong dengan kata-kata seperti: tiada, sia-sia, benci atau jauh maka akan terasa ketegangan itu.

    Dengan peralihan ke dalam kode leksikal, maka larik-larik di atas akan berbunyi:

    Ada di atas tiada

    tiada di atas ada

    ada ada bilang tiada

    tiada tiada bilang ada

    mau tiada? bilang ada

    mau mau bilang tiada

    mau ada? bilang tiada

    mau mau bilang ada

    ya tiada ya ada

    ya ada ya tiada

    Atau kalau kita menggantinya dengan kode leksikal lainnya, maka kita dapati larik-larik berikut:

    Rindu di atas benci

    benci di atas rindu

    rindu rindu bilang benci

    benci benci bilang rindu

    mau benci? bilang rindu

    mau mau bilang benci

    mau rindu? bilang benci

    mau mau bilang rindu

    ya benci ya rindu

    ya rindu ya benci

    Sajak ini termasuk sajak Sutardji yang paling mempesona saya karena hanya dengan dua fonem yang tak ada maknanya secara leksikal kita diberi ruang yang lapang untuk membangun makna tentang dialektik yang keras di antara dua jenis energi yang diberi nama “ping” dan “pong”.

    Makna baru

    Dialektik ini rupanya tak menghasilkan suatu sintesa yang memuaskan, sehingga akhirnya meledak dalam kalimat terakhir sajak yang berbunyi sembilu jarakMu merancap nyaring. Anda tahu “merancap” adalah bunyi senjata tajam yang sedang diasah. Maka, jarak dengan yang tak terbatas telah menjadi sembilu yang terus diasah dengan denting bunyi yang nyaring.

    Namun, di sinilah Sutardji berhadapan dengan kontradiksinya sendiri: usaha untuk keluar dari makna akan membawa kita kepada makna baru, seperti yang terjadi pada setiap metafor. Penghancuran makna mengharuskan kita untuk melakukan penciptaan makna, sementara dekonstruksi makna akan membawa kita kepada rekonstruksi makna.

    Bunyi-bunyi yang tak ada dalam kamus pada akhirnya harus diterjemahkan kembali dengan kata-kata dalam kode leksikal, sebagaimana mantra diterjemahkan menjadi doa, dan mistik diterjemahkan menjadi lirik. Sebagai contoh sajak Sutardji Shang Hai yang baru kita uraikan dapat dengan mudah diterjemahkan ke dalam sajak Sapardi Djoko Damono berjudul Sonet: X. Sajak ini dimulai dengan pertanyaan:

    Siapa menggores di langit biru

    siapa meretas di awan lalu

    siapa mengkristal di kabut itu

    siapa mengertap di bunga layu

    Dan ditutup dengan pertanyaan:

    siapa tiba-tiba menyibak cadarku

    siapa meledak dalam diriku

    : siapa Aku

    Setelah bertanya dan mengaduh dengan berbagai pertanyaan yang serba gelisah, muncul juga jawaban berupa suara dalam diri orang yang bertanya: siapa Aku, siapa Aku yang menggema dalam dirimu? Demikian pun, kesimpulan Sutardji yang terungkap dalam kalimat sembilu jarakMu merancap nyaring dengan mudah mengingatkan kita akan rindu dendam dan mungkin juga frustrasi Amir Hamzah dalam sajaknya PadaMu jua“, yang baik saya kutipkan beberapa baitnya sebagai perbandingan:

    Satu kekasihku

    aku manusia

    rindu rasa

    rindu rupa

    Di mana Engkau

    rupa tiada

    suara sayup

    hanya kata merangkai hati

    Engkau cemburu

    engkau ganas

    mangsa aku dalam cakarmu

    bertukar tangkap dengan lepas

    Permainan antara rindu rupa dan rupa tiada, dan pergantian tangkap dengan lepas pada Amir Hamzah kurang lebih paralel dengan sembilu jarakMu merancap nyaring pada Sutardji, yang menyatakan kegelisahan dan rasa penasaran ini dengan lebih jelas dalam sebuah sajaknya yang lain:

    Kuharap isiNya kudapat remahNya

    kulahap hariNya kurasa resahNya

    kusangat inginNya kujumpa ogahNya

    kumau Dianya kutemu jejakNya.

    Daya Pukau

    Kalau yang tak terbatas itu dihayati juga sebagai yang kudus, maka pengalaman dengan yang kudus itu, menurut penyelidikan fenomenolog agama, Rudolf Otto, dihayati sebagai perjumpaan dengan mysterium tremendum et fascinans: misteri yang menyebarkan rasa gentar dan memancarkan daya pukau.

    Orang tertangkap dalam daya pukau, tetapi terlepas kembali dalam rasa gentar, bertukar tangkap dengan lepas seperti dikatakan Amir Hamzah. Pada beberapa penyair Indonesia daya pukau itu terasa lebih menonjol dan penyair melantunkan sukacita akan kepenuhan pengalaman itu. Chairil Anwar dalam pembukaan sajak Doa berkata:

    Tuhanku

    dalam termangu

    aku masih menyebut namaMu

    yang dapat kita bandingkan dengan beberapa kalimat dalam sajak Rabindranath Tagore:

    I will utter your name, sitting alone among

    the shadows of my silent thoughts

    I will utter it without words, I will utter it without purpose

    Chairil menutup sajaknya dengan stanza berikut:

    Tuhanku

    di pintuMu aku mengetuk

    aku tidak bisa berpaling

    Larik-larik itu terdengar bagaikan parafrase pengalaman penyair Inggris, William Blake, ketika berkata dalam sajaknya:

    Hold infinity in the palm of your hand

    and eternity in an hour

    Sutardji jelas mengalami keterpukauan itu, tetapi berkali-kali merasa bahwa yang dekat tetaplah jauh, yang nampak tetap tersembunyi, daya pukau tetaplah menyebar rasa gentar. Ambivalensi tanggapan dan suasana hati ini dapat ditemukan secara intens dalam berbagai sajaknya tetapi muncul dalam nada rendah yang amat simpatik dalam sajak yang berikut ini:

    Siapa dapat meneduh rusuh

    dalam hatiku dalam hatimu

    siapa dapat membalut luluh

    yang padamu yang padaku

    siapa dapat turunkan sauh

    dalam hatiku dalam hatimu

    siapa dapat membasuh lusuh

    apa kautahu apa kautahu?

    Pelanggaran kategori

    Kalau semantik diterobos melalui mantra, maka sintaksis diterobos melalui categorial transgression atau pelanggaran batas kategori sebagaimana dimaksudkan oleh Paul Ricoeur. Pelanggaran batas kategori ini dilakukan oleh Sutardji dengan beberapa cara, direncanakan ataupun tidak. Di beberapa tempat jelas-jelas dia memakai kata benda dalam fungsi sebagai kata sifat.

    Yang paling mawar

    yang paling duri

    yang paling sayap

    yang paling bumi

    yang paling pisau

    Ada dua hal terlihat dalam contoh ini. Di satu pihak kata benda digunakan sebagai kata sifat, sementara di lain pihak kata benda dapat diberi bentuk superlatif. Kita dapat bertanya mengapa gerangan penyairnya mengatakan “yang paling mawar” dan bukan “yang paling harum”, “yang paling duri” dan bukannya “yang paling tajam”, atau “yang paling sayap” dan bukannya “yang paling bebas”?

    Salah satu jawaban yang mungkin ialah ajektif harum, tajam, dan bebas dalam perasaan penyair sudah mengalami devaluasi arti yang terlalu parah akibat tekanan konvensi sosial atau hipokrisi moral, sehingga dia mengambil substantif sebagai gantinya. Sementara itu, dia ingin memastikan bahwa kalau ada bau harum yang terbit dalam perasaannya, maka itu adalah harum mawar dan bukan harum parfum misalnya. Di sini pelanggaran kategori diterapkan untuk mengejar presisi dan kepenuhan makna yang dituju.

    Penyimpangan lainnya dilakukan dengan menyamakan dalam fungsi atributif yang sejajar kata-kata dari berbagai jenis kata yang berbeda. Larik-larik berikut ini dapat memberi ilustrasi:

    Siapa sungai yang paling derai siapa langit yang paling rumit

    siapa laut yang paling larut siapa tanah yang paling pijak siapa

    burung yang paling sayap siapa ayah yang paling tunggal

    siapa tahu yang paling tidak siapa Kau yang paling aku kalau

    tak aku yang paling rindu?

    Atau larik-larik lainnya:

    Yang mana sungai selain derai yang mana gantung selain sambung

    yang mana nama selain mana yang mana gairah selain resah yang

    mana tahu selain waktu yang mana tanah selain tunggu

    Dalam bait yang dikutip pertama kita bertemu dengan jenis-jenis kata sebagai berikut: derai adalah kata benda, rumit kata sifat, larut kata sifat, pijak kata kerja, sayap kata benda, tunggal kata sifat, tidak kata keterangan, aku kata ganti dan rindu kata kerja. Semua kata-kata ini diberi bentuk superlatif dengan bantuan kata keterangan “paling”, sementara menurut tata bahasa, superlatif hanya dikenakan pada kata sifat.

    Dalam bait lainnya kita melihat pasangan kata-kata dalam kedudukan sebagai predikatif, tetapi tidak selalu simetris berdasarkan jenis katanya. Sungai dan derai memang simetris karena keduanya kata benda, juga gantung dan sambung adalah simetris karena keduanya kata kerja.

    Akan tetapi, gairah dan resah tidak simetris karena gairah adalah kata benda sementara resah kata sifat. Juga tahu dan waktu tidak simetris karena tahu adalah kata kerja sedangkan waktu kata benda. Atas cara yang sama tanah dan tunggu juga tidak simetris, karena tanah adalah kata benda dan tunggu kata kerja.

    Dekonstruksi Bahasa

    Suatu percobaan Sutardji lainnya yang patut dicatat ialah usahanya mendistorsikan kata-kata dalam kode leksikal dengan makna yang jelas ke bentuk-bentuk kata yang keluar dari kode leksikal sehingga tidak mempunyai makna lagi. Frase seperti “sepisau luka sepisau duri” dapat kita pahami melalui kode leksikal. Akan tetapi, oleh Sutardji perkataan “sepisau” dipelesetkan menjadi “sepisaupa sepisaupi” yang sudah sulit dipahami dengan menggunakan kamus.

    Sepisau luka sepisau duri

    sepikul dosa sepukau sepi

    sepisau duka serisau diri

    sepisau sepi sepisau nyanyi

    sepisaupa sepisaupi

    sepisapanya sepikau sepi

    sepisaupa sepisaupi

    sepikul diri keranjang duri

    sepisaupa sepisaupi

    sepisaupa sepisaupi

    sepisaupa sepisaupi

    sampai pisauNya kedalam nyanyi

    Pelanggaran kategori terhadap jenis kata yang sangat sering dilakukan dan distorsi bentuk kata yang kadang-kadang dilakukan, sangat mungkin telah digerakkan oleh motif pribadi penyair untuk menerobos batas bahasa sehari-hari. Sekalipun demikian, di banyak tempat penerobosan kategori dan distorsi bentuk kata ini dilakukan untuk meningkatkan efek fonetik melalui pengerahan aliterasi dan asonansi secara maksimal.

    Dalam perasaan saya, semenjak Amir Hamzah hanya sedikit sekali penyair kita yang sanggup memainkan bunyi bahasa dalam aliterasi dan asonansi secara kuat dan efektif. Sutardji jelas salah satu dari yang sedikit itu, dan salah satu yang paling berhasil dalam memainkan bunyi bahasa.

    Untuk mengambil sebuah contoh saja:

    Rasa dari segala risau sepi dari segala nabi tanya dari segala

    nyata sebab dari segala abad sungsang dari segala sampai duri

    dari segala rindu luka dari segala laku igau dari segala risau

    kubu dari segala buku resah dari segala rasa rusuh dari segala

    guruh sia dari segala saya duka dari segala daku Ina dari segala

    Anu puteri pesonaku!

    datang Kau padaku!

    Kalau gairahnya untuk bunyi bahasa menyebabkan dia menerobos kategori-kategori jenis kata, maka kesukaannya pada visualisasi sajak dalam tipografi yang unik menyebabkan dia sering mempersetankan aturan-aturan ejaan yang berlaku. Sutardji menulis kata berulang tanpa pernah menggunakan tanda sambung (-) dan pengulangan itu pun bisa dilakukan lebih dari dua kali. Dengan ringan saja dia menulis “kakekkakek”, “bocahbocah”, atau “terkekehkekeh”. Atau “minumminum”, “senyumsenyum”, “jingkrakjingkrak” dan “nyanyinyanyi”.

    Jadi rupa-rupanya, dalam pandangan Sutardji, yang harus diterobos bukan saja makna kata-kata yang dibakukan dalam kamus, tetapi juga bentuk fisik kata-kata yang dibakukan dalam ejaan. Penyair seakan mencium bau kolonisasi dalam sistem ejaan. Karena, seperti halnya makna kata-kata, sangat mungkin pula bentuk kata yang diatur dalam ejaan telah dipaksakan oleh kepentingan politik, kebutuhan pasar, serta kecenderungan-kecenderungan tertentu, yang tidak selalu menguntungkan pemakaian bahasa secara efektif.

    Begitulah, catatan-catatan ini mudah-mudahan memperlihatkan sekadarnya bahwa jauh-jauh hari sebelum diskusi tentang teori-teori post-modernis marak di Indonesia semenjak 1990-an, Sutardji sebagai penyair telah menyadari, kalau bahasa tak lain tak bukan hanyalah suatu konstruksi sosial. Karena bahasa adalah konstruksi, dia dapat juga dinegasikan melalui dekonstruksi.

    Upaya dan perjuangan Sutardji untuk menerobos makna kata, menerobos jenis kata, menerobos bentuk kata, dan menerobos tata bahasa dapatlah dipandang sebagai percobaan untuk melakukan dekonstruksi bahasa Indonesia secara besar-besaran, dan memberi kemungkinan bagi konstruksi-konstruksi baru yang lebih otentik melalui puisi.

    Atau, untuk memakai kata-kata Sutardji sendiri, puisi adalah ibarat “senyap dalam sungai tenggelam dalam mimpi” tetapi dekonstruksi melalui puisi adalah ibarat “cuka dalam nadi luka dalam diri”.

    Kompas, Sabtu, 04 Agustus 2007

    * (Esai ini berasal dari Pidato Kebudayaan yang disampaikan pada Malam Puncak Pekan Presiden Penyair di TIM, Jakarta, 19 Juli 2007, untuk menghormati penyair Sutardji Calzoum Bachri 66 tahun. Dalam penerbitan ini seluruh catatan kaki dihilangkan)

  • Seno Gumira Ajidarma : Indonesia Cukup Panik dengan Revolusi 4.0

    Seno Gumira Ajidarma : Indonesia Cukup Panik dengan Revolusi 4.0

    BERANDANEGERI.COM, Sastrawan Seno Gumira Ajidarma tampil memukau saat membawakan pidato kebudayaan berjudul  “kebudayaan dalam bungkus tusuk gigi”. Berangkat dari hal yang remeh temeh seperti tusuk gigi, ia kemudian mengomentari persoalan penting dan actual akhir-akhir ini yakni revolusi industri 4.0.

    Seno Gumira Ajidarma membacakan pidato kebudayaannya, di Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM) , Jakarta, Minggu (10/11). Pidato yang menjadi agenda rutin tahunan Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), diadakan bertepatan dengan Hari Pahlawan 10 November sekaligus peringatan 51 tahun berdirinya Taman Ismail Marzuki (TIM).

    Dalam refleksinya, mantan jurnalis ini melihat kebudayaan layaknya “tusuk gigi” yang dibungkus oleh beban makna ganda: konotasi dan denotasi. Dalam makna konotasi, kebudayaan tidak mengutamakan “tusuk gigi” yang dibungkusnya, melainkan rancangan visual yang sama sekali lain, atau boleh dikatakan sebagai “komodifikasi” atau “jualan”.

    Sebaliknya, kebudayaan sebagai makna denotasi lebih mementingkan isinya, yaitu “tusuk gigi” itu sendiri. Baginya, kebudayaan itu adalah produk ilmu pengetahuan, peradaban dan teknologi.

    Meski, demikian, bungkus-bungkus yang berideologi komodifikasi (konotasi) maupun kebenaran tunggal (denotasi) diaduk secara acak, maka artikulasi atas ideologi masing-masing akan menghasilkan pertarungan konotasi.

    Lantas, apa yang tersahihkan sebagai denotasi, toh pada kenyataannya merupakan konotasi yang paling dominan, paling hegemonik dan paling berkuasa.

    Seno Gumira kemudian merambah pada pemikiran relasi dan konstruksi kuasa. “Kita bisa melihat bahwa adanya institusi pendidikan, tradisi, agama, regulasi, media institusi militer dan negara sekalipun menyodokkan peran dan posisi dalam kepentingan setiap kelompok, yang dominan maupun pinggiran, sehingga berlangsungnya kebudayaan merupakan proses hegemoni,” ujarnya.

    Dalam tataran ini, kata Seno Gumira, kuasa sejatinya sudah terlepas dari genggaman klasikal negara karena kekuasaan kini sudah tersirkulasi di antara khalayak: antarmanusia, antargolongan dan antarbudaya.

    Mengomentari masyarakat urban, menurut Seno Gumira, kuasa dan relasi antarmanusia ini akan selalu bernegosiasi dan maknanya tidak akan pernah stabil dan mapan. Hubungan kuasa seperti ini membuat pribadi manusia merasa terawasi dan menanamkan satu disiplin kepada diri sendiri, yang melibatkan politik identitas yang berkepanjangan.

    Dalam khazanah bahasa, problem ini dapat terlacak dalam konteks urban sebagai ruang kehidupan pluralistik yang meruntuhkan kelompok-kelompok statis dan homogen. Atau yang disebut Pieterse sebagai “perjalanan”, sehingga kebudayaan lebih dipandang sebagai isu relokasi dan hibridisasi.

    Namun demikian, Seno Gumira memandang, dengan kehadiran ruang urban ini, maka populasi suatu tempat menjadi sangat multi-etnik dan multi-kultural, dengan kehadiran manusia-manusia yang kian tidak tetap dan stabil.

    Hal ini menyebabkan pertarungan kembali atas makna-makna dengan kepentingan masing-masing, sehingga kebersamaan arkais suku-suku yang memudar tertandingi oleh apa yang disebut komunitas, di mana tiap komunitas memiliki bahasanya sendiri, termasuk bahasa kesenian.

    “Jika memang cara berbahasa komunitas tidak hanya menunjukkan siapa diri mereka, tapi juga segenap wacana yang melekat padanya, maka ruang itu diperjuangkan agar terlihat nyaman dan memenuhi kepentingannya,” katanya.

    Bagi Seno Gumira, klaim kebenaran terhadap bahasa kesenian komunitas harus melewati pengujian: apakah ia lebih argumentatif, relevan dan mengantisipasi masa depan, ketimbang dianggap sebagai sesuatu yang sakral dan romantik serta penuh ilusi.

    Akhirnya, Seno Gumira menyentil soal kepanikan moral pemerintah yang, alih-alih mengadaptasi hingar-bingar revolusi industri 4.0, justru tampak panik dan waspada terhadap perubahan zaman, dengan merangkul kebudayaan elektronik secara total.

    Hal ini berdasar pada asumsi bahwa Indonesia akan gagal dan terbelakang jika tidak mampu mengadaptasi kehadiran kebudayaan tersebut.Ia melihat, sebenarnya revolusi industri bagi Indonesia tidak pernah berjalan linear, melainkan saling tumpang tindih dan tampak absurd serta kacau.

    Jika memang revolusi industri 4.0 sebagai gejala kebudayaan,  Indonesia cukup panik untuk tenggelam dalam mitos bahwa yang terbaik adalah yang tercepat.

    Ia mencontohkan dongeng Melayu tentang adu lari Kancil dan Siput, yang diadopsi dari mitos Aesop purba, memperlihatkan bahwa justru bukan yang tampak cepat yang menjadi pemenang, melainkan strategi untuk memenangkannya.

    “Dalam akhir pertualangan di belantara tanda-tanda, bahasa, susastra, aksara, maupun dongeng kanak-kanak sederhana, saya akan kembali kepada temuan dari perbincangan bungkus tusuk gigi: bahwa bersama kebenaran, kebudayaan terlalu sering terpahami sebagai ilusi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” tutupnya.

    Seno Gumira Ajidarma dikenal sebagai penulis generasi baru sastra Indonesia. Beberapa karyanya adalah ‘Atas Nama Malam’, ‘Wisanggeni-Sang Buronan’, ‘Sepotong Senja untuk Pacarku’, ‘Biola tak Berdawai’, ‘Kitab Omong Kosong’, ‘Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi’, dan ‘Negeri Senja’.

    Tulisannya tentang Timor Timur dituangkan dalam trilogi buku ‘Saksi Mata’ (kumpulan cerpen), ‘Jazz, Parfum, dan Insiden’ (roman), dan ‘Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara’ (kumpulan esai). (*)

  • Presiden Hadiri Pameran Foto “Membangun Indonesia”

    Presiden Hadiri Pameran Foto “Membangun Indonesia”

    BERANDANEWS.COM,- Presiden Joko Widodo menghadiri Pameran Foto “Membangun Indonesia” yang digelar di Neo Soho Mall Central Park, Jakarta, pada Selasa, 12 November 2019. Pameran foto tersebut menampilkan foto-foto pembangunan era pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta Kabinet Kerja.

    Setibanya di lokasi pameran sekitar pukul 17.06 WIB, Presiden Jokowi disambut oleh Ketua Pelaksana Randi Tri Kurniawan yang juga merupakan salah satu pewarta foto Rakyat Merdeka. Presiden Jokowi tampak didampingi oleh Sekretaris Kabinet Pramono Anung.

    Kedatangan Kepala Negara disambut riuh masyarakat dan pengunjung pameran yang hadir. Presiden Jokowi menyempatkan menyapa masyarakat dan berswafoto dengan beberapa di antaranya sebelum kemudian masuk ke galeri foto yang berada di lobi utama mal.

    Pameran foto tersebut menampilkan 67 karya foto jurnalistik dari 47 pewarta foto Istana Kepresidenan dan juga pewarta foto dari daerah di seluruh Indonesia. Aksi blusukan, hasil program kerja, sisi humanis Presiden Jokowi, hingga aktivitas para Menteri Kabinet Kerja ditampilkan dalam pameran foto tersebut.

    Sumber foto : Sespres

    Dalam pameran foto tersebut, ditampilkan juga tiga foto yang bukan merupakan jepretan para pewarta foto. Ketiga foto tersebut yaitu karya Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono, dan karya Presiden Jokowi sendiri.

    Menurut Randi, selain dipamerkan, foto-foto tersebut juga dibukukan untuk merangkum kinerja pemerintahan periode 2014-2019. Di sela-sela peninjauan, Presiden Jokowi menerima buku “Membangun Indonesia” dan foto pilihan sebagai kenang-kenangan.

    “Alhamdulillah, pewarta foto Istana Kepresidenan dan seluruh Tanah Air dapat menghasilkan karya-karya yang layak dipamerkan dan dibukukan ini. Buku yang merangkum cerita tentang lima tahun kinerja Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla pada periode 2014-2019,” kata Randi.

    Usai peninjauan, Presiden Jokowi mengapresiasi hasil karya yang dipajang di pameran tersebut. Menurutnya, sisi pengambilan gambar dan unsur humanis dalam karya-karya foto yang ditampilkan sangat baik.

    sumber foto : Sespres

    “Pertama yang berkaitan dengan wilayah. Pengambilan di Jakarta ada, di Papua ada, di Lampung Sumatera ada. Saya kira itu momen-momen yang sangat baik yang bisa diambil secara cepat oleh kamera. Yang kedua juga dari sisi human (interest). Pengambilannya enggak tahu dari sudut mana tapi hasilnya bagus sekali,” kata Presiden Jokowi kepada jurnalis.

    Salah satu foto yang menjadi favorit Presiden Jokowi adalah foto dirinya menggendong anak Papua saat kunjungan kerja ke Kabupaten Asmat, Papua. Foto ini juga yang diserahkan oleh kurator foto Mpu Ageng Oscar Motuloh sebagai cendera mata untuk Presiden Jokowi.

    “(Paling favorit) yang dengan gendong anak Papua. Yang ngambil sangat pintar, enggak tahu dari sudut depan atau sudut samping, tapi bagus,” ujarnya.

    “Ya foto, gambar juga berbicara. Enggak usah banyak tulisan sudah banyak berbicara. Asal ngambilnya dari sudut yang pas, berbicara semua,” imbuhnya.(*sespres)