Festival film terakhir, yang sudah mendapat pujian sampai ke tingkat yang tingi-tinggi, saya tidak tahu bagaimana, mengingatkan saya akan Anda. Mungkin disebabkan oleh kesan-kesan yang timbul dari bawah sadarku. Ketika membaca tulisan-tulisan dalam surat-surat kabar pada waktu itu, saya harus berpikir tentang Anda, tentang para pencinta keindahan, para seniman dan para kritikus bidang kesenian. Anda adalah pencinta ulung keindahan, yang sanggup secara mendalam dan dengan hati yang luas mengangkat “keindahan alamiah” yang tersebar di seluruh jagad, mulai dari peristiwa-peristiwa alam sampai kepada gejolak nafsu hati seorang manusia. Anda adalah seniman yang besar, yang sanggup menyajikan dengan penuh wibawa kepada orang-orang lain, bukan saja keindahan yang dilihat melainkan juga suasana batin dengan mana Anda sendiri menyaksikannya. Anda adalah seorang kritikus yang hebat di bidang kesenian, sebab dengan pengetahuan tentang persoalannya dan dengan penuh semangat Anda menghadapi karya-karya seni orang lain.
Bukankah negeri Jerman mengagumi Anda sebagai direktur teater
banyak tahun lamanya di Weimar? Bukankah Anda menamai peristiwa itu suatu
kelahiran Anda kedua, ketika Anda menginjakan kaki di Roma yang antik itu?
Bukankah Anda nyaris jatuh pingsan karena sedemikian merasa bahagia pada
menyaksikan patung Apolo di Belvedere? Sayang bahwa Anda tidak menonton film
mengenai festival itu – dan dengan demikian saya pun sudah mengetahui reaksi
Anda. Karena itu saya hanya bisa membayangkan saja. Sebagai pencinta keindahan
Anda sebenarnya sudah menemukan banyak hal-hal yang lebih indah, yang Anda
belum kenal.
Film itu sendiri yang terdiri dari tata cahaya, gerak,
warna-warni, musik dan perbuatan, adalah sesuatu yang indah. Anda duduk
menghadapi layar putih, dan kalau montase film itu dibuat dengan baik, maka
Anda akan terseret sedemikian rupa oleh peristiwa-peristiwa, sehingga rasanya
jam-jam sebagai menit-menit saja. Gambar-gambar yang besar, yang memenuhi layar
dengan satu wajah manusia saja, mendekatkan Anda kepada gambar-gambar itu
secara amat memukau; manusia-manusia yang hatinya digugah oleh
perasaan-perasaan yang mendalam. Antara Anda dan para sutradara timbul suatu
hubungan yang akrab. Bagian-bagian yang singkat yang Anda kagumi pada Mantegna
dan Carveggio, dapat Anda saksikan berkat teknik pengambilan yang memperbesar
dengan ukuran raksasa. Misalnya seseorang penjahat diambil gambarnya dari bawah
dan dengan bantuan baying-bayang dari sisi kiri bentuk badannya dibikin begitu
jelek, sehingga Anda merasa ngeri dan takut melihatnya. Ini saja untuk
menunjukkana kepada Anda beberapa unsurnya.
Entah pada menyaksikan sebuah film Anda juga menemukan ‘keindahan seni’? Saya kira begitu. Sebagai seorang kritikus karya seni Anda pasti siap menghadapi hal-hal yang menakjubkan. Anda sudah biasa dengan dengan renungan-renungan yang menembus lebih jauh dari pada latar depan, juga dengan kecenderungan-kecenderungan klasik, dengan suatu bahasa yang berbicara kepada Anda dari dalam karya-karya bangunan, dari karya-karya marmer dan fresko atau dari miniature-miniatur karya tulisan. Anda memberikan pertimbangan mengenai masing-masingnya, ahli bangunan, pelukis, pelakon. Sebaliknya dalam sebuah film beberapa senimsn bekerjasama: produsen, penata pentas, sutradara, pelakon. Tiap-tiapnya bekerja sesuai dan bersama dengan yang lain, untuk membuat hanya satu film. Dengan demikian sulitlah mengetahui momen kreatif yang sebenarnya di dalam karya itu: pada tiap film hal itu terletak pada suatu bidang yang lain. Boleh jadi ada nilai seni di dalamnya, saya ulangi, mungkin nilai seni yang tinggi sekali, namun hal itu tidak dapat ditangkap pada salahsatu segi, melainkan tersebar dan terpencardi seluruh bidang. Jadi suatu karya seni yang lain dari yang lain; orang menamakannya ‘dewi seni kesepuluh’.
Mengenai pengaruhnya, orang menyebutnya sebagai ‘kekuatan
kelima’, sesudah parlemen, pemerintah, kekuasaan dan pers. Sehubungan dengan penyebarannya,
orang sering menyebutnya sebagai ‘kekuatan pertama’, karena orang
memperhitungkan bahwa sesudah beberapa tahun ada film-film yang sudah
mempengaruhi penonton yang bermilyar-milyar jumlahnya. Sebaliknya dari pihak
lain film ditujukan kepada industri dan perdagangan, jadi kepada uang. Para
sutradara dan pelakon sering menginginkan produksi dari karya-karya yang
bertaraf seni yang tinggi, yang memberikan kemungkinan kepada mereka, untuk
mempertahankan kebolehan mereka. Akan tetapi sang produsen, yang harus
mengambil uang dari padanya, mempunyai perhitungan lain. Ia menghendaki
film-film yang membawa hasil dan mengisi kas. Andaikata ada seorang seniman
gila misalnya Doktor Faust atau bahkan Mephisto dari karya Anda, yang dengan
perantaraan Antipe dengan tongkat sulap menjamin lebih dahulu sukses dari film
yang bermutu karya seni, maka sang produsen akan membuat film yang bermutu seni,
karena tak ada seniman gila itu maka sang produsen dengan susah payah harus
mencari jalan lain.
Pada waktu hidupnya Terens harus menelan kepahitan, ketika ia
melihat para penonton meninggalkannya dan pergi menonton pemain-pemain yang
berjalan di atas tali dan pemain-pemain sandiwara yang memberikan pertunjukan
dalam sebuah teater tidak jauh dari situ. Gejala ini sekarang berulang lagi:
para produsen film cenderung untuk membuat fil-film yang disesuaikan dengan
cita rasa yang kurang luhur para penonton. Sebab biasanya mereka tidak
mengunjungi kino, untuk menambah pegetahuannya, melainkan untuk bersantai. Jadi
kiranya inilah sesuatu yang dapat menimbulkan rasa prihatin pada kritikus
kesenian seorang Goethe dalam festival film: yakni kenyataan bahwa walaupun
tersedia sarana dan personil untuk menciptakan karya-karya seni yang ulung,
namun mereka sering hanya mempertunjukan hasil yang sedang-sedang saja, oleh
karena orang mementingkan keuntungan-keuntungan bagi perusahan.
Sesuatu yang lain lagi kiranya dapat Anda ketemukan: bahwa
pada beberapa film memang terdapat nilai kesenian sejati, akan tetapi toh
berhubungan dengan soal-soal tak susila. Barangkali Anda heran kalau saya
berbicara mengenai karya-karya yan bersifat tak susila dan sekaligus bernilai
seni. Kata ajektif ‘bersifat seni’ dihubungkan dengan karya itu sendiri,
sedangkan kata adjektif ‘tak susila’ mengenai hubungan antara manusia-seniman
dan seniman-kristen. Beberapa novel tertentu yang bersifat tak susila dari
Boccacio memang bernilai seni sastra yang indah, tapi Boccacio sendiri berlaku
buruk secara moril, ketika ia menulis buku-buku itu, sehingga berakibat merugikan
banyak pembaca. Anda kenal beberapa di antaranya, sebab ketika Anda menulis Leiden des jungen Wether, Anda merasa
gelisah dan kacau menghadapi akibat negatif yang ditimbulkan oleh buku itu pada
para remaja Jerman dalam gejolak semangatnya.
Tapi, mengapa saya bisa hanya mengkritik seorang Goethe, yang menulis mengenai satu dari antara para pengeritiknya: “Sebagaimana halnya tiap mawar, demikianpun setiap seniman mempunyai serangga: saya punya Tieck”. Baik, kalau begitu kini Anda telah menulis juga tentang saya, yang walaupun mengagumi keunggulan Anda. Misalnya begini: oleh karena bidang kesenian meliputi seluruh alam yang nyata, maka seorang seniman dapat secara sah dan bebas menceritakan semuanya, menjelaskan semuanya, termasuk hal-hal yang tak senonoh. Tentu saja sang seniman dapat memperlihatkan juga hal-hal yang buruk, akan tetapi atas cara sedemikian rupa, sehingga orang mengenal yang buruk itu sebagai sesuatu yang patut dihindarkan. Hal itu janganlah diperindah ataupun jangan sampai menggoda orang lain untuk menirunya. Tema sentral dalam buku Sophekles Raja Oedipus ialah zinah. Tetapi perbuatan itu dibeberkan secara kasar dengan kata-kata yang jelas, sehingga dari mula sampai akhir nampak jelas rasa muak. Hukuman-hukuman bagi orang-orang yang bersalah dilukiskan secara mengerikan, sehingga pada akhirnya para pembaca lebih terpikat oleh perbuatan zinah itu daripada oleh hal-hal lain. Saya katakana: ‘dari mula sampai akhir’. Sebab ada saudara-saudara dan kritikus-kritikus yang berpendapat, bahwa dengan satu catatan dari segi moral atau dengan satu aksen penutup orang dapat meloloskan sebuah film porno. Seolah-olah dengan satu semprotan air suci orang mengusir roh-roh jahat atau perbuatan guna-guna. Kiranya inilah yang masih kurang pada kita!
Foto Johann Wolfgang von Goethe
Satu pendapat Anda yang lain tidak dapat saya setujui: bahwa
seorang genius itu hampir seperti dewa. Jadi satu tokoh bintang yang berada di
atas moral umum. Anda telah mengungkapkan pemikiran ini terutama pada jaman
ketika Anda belajar bersama nyonya von Stein Spinoza dan mencari Allah di di
dalam alam jagat. Anda mengira, bila seorang cendikiawan terus-menerus
nengangkat dirinya dengan dibantu oleh kebudayaannya maka dia dapat di telan
sedikit demi sedikit oleh Allah, dan akhirnya bersatu dengan-Nya dan dengan demikian
menjadi tuan atas dirinya sendiri. Dewasa ini tidak sedikit orang yang menganut
gagasan ini, sekurang-kurangnya dalam praktek. Sayang! Tujuan yang luhur dan
kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa pada manusia berlaku untuk tiap
manusia, juga bagi yang miskin, yang bodoh dan yang menderita. Allah
menghendaki agar semua orang menjadi anak-anakn-Nya, dan agar mereka semua
dengan salah satu cara mencapai tujuan yang sama dengan Dia. Akan tetapi yang
menjadi persoalan manusia harus meningkatkan diri dengan bantuan Allah dengan
mengindahkan hukum-hukum-Nya yang wajib ditaati semua orang yang besar dan
kecil, juga para seniman. Anda sendiri sebagai penyair yang ulung, para seniman
yang diwakili dalam festival oleh karya-karya mereka, dan kami, orang-orang kecil
di pinggir-pinggir jalan, yang kurang berbakat. Dalam pandangan ini kita semua
sama rata di hadapan Allah. Jadi jika seseorang memeperoleh anugerah keahlian
di bidang kesenian, atau anugerah kemasyhuran atau kekayaan, maka ia semaikn
mempunyai kewajiban untuk berterimakasih kepada Allah oleh suatu cara hidup
yang layak. Untuk digolongkan bersama orang-orang besar, ada;ah suatu anugerah
Allah. Hal itu hendaknya tidak menjadi alasan bagi manusia untuk menyombongkan
diri, melainkan mengajaknya untuk berlaku sederhana dan berbudi baik. Sekali
lagi: Noblesse obdige! Kehormatan
adalah kewajiban.
*Albino Luciani, adalah Paus Yohanes Paulus I, hanya 34 hari saja beliau memangku jabatan pimpinan tertinggi Gereja Katolik. Pada tanggal 25 September 1978 seluruh dunia dikejutkan oleh berita duka cita dari Vatikan bahwa Paus Yohanes Paulus I telah tutup usia secara mendadak. Artikel di atas, “Kehormatan Memberi Kewajiban” adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Albino Luciani kepada Goethe, yang dibukukan dalam buku berjudul Illustrissimi (Kepada yang Terhormat). Edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh P. Alex Beding, SVD, dengan judul Kepada yang Terhormat, 1982, Penerbit Nusa Indah, Ende-Flores.
LEWUKA, Udak, dan Uruor. Tiga kampung masih punya hubungan suku, bahasa, dan kekerabatan yang kental hingga saat ini. Dua kampung yang pertama: Lewuka(k) dan Udak, takluk dan seolah terjepit di kaki bukit nan asri. Sedang yang lain, Uruor, berada di atas padang savana dengan panorama alam mempesona sejauh mata memandang. Jarak Lewuka dan Udak sejauh emperan dua rumah yang berhimpitan satu dengan yang lainnya.
Berbeda dengan Uruor, yang sedikit agak jauh melewati tebing Karabau Knoki (pintu kerbau) dari bawah kaki kampung Udak dan Lewuka kemudian berjalan kaki melewati padang luas sebelum mencapai Uruor di atas padang tersebut. Ada yang menyebut Kerbau atau Karbau Knoki sesuai dialek masing-masing kampung atau desa sekitar. Nyaris 50-60-an tahun sejak Indonesia merdeka, ruas jalan menuju tiga kampung itu belum pernah dibangun sekadar dilewati kendaraan roda dua.
Orang kampung masih
memanfaatkan tenaga untuk memikul barang bawaannya. Termasuk warga masyarakat
nelayan Lamalera dan sekitarnya yang pergi menjual dan membeli makanan di
kampung-kampung di sekitar Lewuka, Udak maupun Uruor. Bahkan sampai Kalikasa,
kota kecamatan Atadei atau desa-desa lain seperti Karangora, Watuwawer,
Atawolo, Bauraja, dan lain-lain.
Kala itu warga
masyarakat sungguh terpenjara dalam ketertinggalan. Negara seolah tak sudi
hadir membuka isolasi fisik agar orang-orang kampung dari tiga kampung itu agar
memiliki akses dengan dunia luar. Itu dulu. Kini pun masih terasa. Mobil
penumpang ke Udak dan Lewuka, mesti melewati jalur jalan wilayah selatan
Lembata yang sangat buruk, minim perhatian pemerintah mulai dari pusat sampai
daerah sejak Lembata menjadi daerah otonom 20 tahun lalu.
Berniat ke Lewuka, Udak
atau Uruor dengan berkendara, ada baiknya pengunjung baru siapkan diri
baik-baik. Nyali pengunjung atau tamu akan diuji karena oto (bis kayu), moda transportasi ke tiga kampung itu, akan
berlenggak lenggok kiri-kanan dengan keras. Kalau supir tak sigap, jurang
sedalam puluhan meter jadi alamat terakhir. Namun, (Alm) Bastian N Ujan,
seorang pengusaha lokal dari Udak yang lama bermukim di Dili, Timor Leste nekad
membuka jalan hingga Udak. Jalan di Karabau Knoki ia buka dengan alat berat
milik pribadi sehingga orang leluasa pulang-pergi Udak-Lewoleba.
Badan penumpang oto atau pengunjung pun bakal terasa
macam di-gebuk. Kondisi medan yang
sulit itu terlihat baik melalui (Desa) Wulandoni, kota Kecamatan Wulandoni
maupun dari Lewoleba, kota Kecamatan Nubatukan & kota Kabupaten Lembata,
melalui kampung Pukaj Lerek, Nubatukan. Jalur Lewoleba-Uruor juga menjadi
langganan saya jalan kaki pergi-pulang Boto untuk mengambil bekal selama
sekolah di SMA Kawula Karya Lewoleba tahun 1987-1990.
Lewuka secara resmi
terbentuk menjadi Desa Belobao di Kecamatan Wuandoni, Kabupaten Lembata, Nusa
Tenggara Timur. Sedangkan kampung Udak menjadi Desa Udak Melomata. Sedangkan Uruor
terbentuk menjadi Desa Belobatang, Nubatukan. Di kalangan orang kampung Lewuka,
Udak dan Uruor tempo doeloe, Udak lebih
familiar dengan sebutan Lewu.
Sejak beberapa tahun
lalu, Udak resmi menjadi sebuah desa definitif dengan nama Desa Udak Melomata.
Berada di wilayah Kecamatan Nubatukan, Lembata. Kehadiran Udak Melomata sebagai
sebuah desa resmi menambah koleksi desa di Lembata, kabupaten yang “merdeka”
dari Flores Timur, kabupaten induk dua puluh tahun lalu.
Melarat dan Merasul
Meski berada di
tengah kepungan lembah, berada di kaki bukit, beranda di ngarai terjal, toh, tempo
doeloe semangat juang orang-orang kampung Lewuka pigi melarat (pergi merantau, dalam konteks Flores Timur dan
Lembata tempo doeloe) melanjutkan pendidikan
atau bertaruh nasib di luar kampung bahkan di tanah Jiran Malaysia, sangat
tinggi. Kelak, anak-anak kampung baik dari Lewuka, Udak dan Uruor merasul di mana
saja mereja tinggal.
Drs Apoly Bala Wutun,
M.Pd, salah satu anak kampung Lewuka, yang memutuskan melarat, bertaruh nasib melalui pendidikan untuk masa depannya
kemudian mengharumkan nama Gereja, bangsa, dan negara melalui tugas
perutusannya sebagai pengikut setia Kristus Yesus. Kala itu orangtua di
kampung-kampung punya kebanggaan tersendiri kalau anak-anaknya bisa melarat, merantau atau sekolah mengandalkan
hasil tanaman berupa kopi, kemiri, kelapa, pinang, padi, jagung, ubi-ubian dari
kebun orangtua mereka. Apalagi melanjutkan pendidikan calon imam, suster,
bruder, biarawan atau biarawati.
Apoly Bala –begitu
panggilan akrab Apoly Bala Wutun– salah seorang guru, dirigen bahkan komponis papan
atas Nusa Tenggara Timur tak hanya lagu-lagu Gerejani. Namun, lebih dari itu.
Ia adalah salah seorang anak asli Lewuka yang lahir dari kampung kecil kemudian
dikaruniai Tuhan talenta luar biasa besar agar kelak ia boleh merasul melalui
karya seni yang ia hasilkan.
Belum lagi terhitung
para guru, dosen, imam, biarawan dan biarawati yang mengabdi baik di dalam
maupun luar negeri. Selain Apoly Bala Wutun, dalam catatan saya –sekadar
menyebut beberapa– banyak putra-putri asal kampung Lewuka, Udak, dan Uruor yang
mengabdi di berbagai bidang profesi tak hanya dalam namun juga luar negeri.
Saya sebut saja
beberapa di antara mereka. Misalnya Pastor Benediktus Genule Ujan SVD di
Kalimantan; Pastor Yeremias Balapito Duan MSF; Pastor Stanis Beda Elanor, CM;
Pastor Elfridus Ujan SVD di Bostwana, Afrika; Fr Alberto Geroda Atawolo, CMM,
misionaris di Brazil; P Dr Pankras Kraeng SSCC; Pastor (Alm.) Thoby Muda Kraeng
SVD; Sr Leny Kraeng, CP di Ruteng, Manggarai, ujung barat Pulau Flores.
Selain itu, Sr Moniq Ujan di Italia; Br Dominggus Geroda Sinuor, SVD misionaris di Brazil; Sr Virgo Sinuor, OSF; Sr Helena Maria, SSpS (adik Apoly Bala Wutun) ; Pastor Jery Ujan CSsR; Sr Leonita Kraeng, PRR di Kenya; Pastor Cornelius Dominikus Boli (Rumly) Ujan SVD, misionaris di Paraguay; Pastor Dr Bernardus Boli Ujan SVD, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero dan mantan Sekretaris Komisi Liturgi Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI).
Foto Apoly Bala Wutun bersama Herman Yosef Loli Wutun
Berikut kalangan awam
seperti Drs Herman Yosef Loli Wutun, Ketua Umum Induk KUD; psikolog Dr Rufus
Pati Wutun, dosen Universitas Nusa Cendana Kupang, Hyronimus Sorywutun, mantan
Direktur Perusahaan Daerah (PD) Flobamora; Dr Andre Ata Ujan, dosen Universitas
Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta.
Juga Dr Joseph Laba
Sinuor, dosen Universitas Pelita Harapan Tangerang, Banten; Jeremy Emanuel Laba
Ujan, master ceremony (MC) beken pemilik usaha Publik Speaking J-Smart, Alberth Olak Sinuor, mantan
guru di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang saat ini menjabat Ketua DPD Partai
NasDem Flores Timur, (Alm) Drs Rikardus Labi Ujan, pengajar Akademi Manajemen
Kupang / Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Kupang, dan lain-lain.
Mereka semua ini adalah segelintir dari generasi tiga kampung di atas yang melarat kemudian marasul di bidangnya masing-masing. Saya percaya, sebagian dari mereka ini pernah melewati Karabau Knoki, pintu keluar-masuk jalan selebar “badan kerbau”, melewati tebing di atas bukit tak jauh dari Lewu guna merenda hari esok untuk kebaikan dan kemuliaan nama Tuhan.
Karabau Knoki bukan tempat lalu larang kerbau, binatang dalam artian sesungguhnya. Karabau Knoki adalah kisah tentang jalan setapak kecil berbahaya untuk orang-orang kampung Lewuka, Udak maupun Uruor. Jalan yang hanya bisa dilewati kambing atau babi hutan. Karena itu, butuh kehati-hatian orang kampung atau pelancong yang gemar mengakrabi alam liar dan menantang. Mengapa? Kalau tak hati-hati, maka maut senantiasa mengintai bila terperosok dan jatuh.
Sekitar tahun 1979-1983, didampingi para guru saya dan rekan-rekan dari SDK Boto pernah melewati “pintu masuk” Udak dan Lewuka di Karabau Knoki. Setelah meninggalkan Boto, kampung halaman, kami menuruni areal terjal menuju kampung Liwulagang (kini jadi desa defintif). Dari Liwulagang, kami mendaki jalan berbukit hingga Fit Fule (“leher kambing”) sebelum mencapai puncak, di area padang sabana tak jauh dari Uruor.
Dari Uruor,
perjalanan dilanjutkan melewati padang sabana. Meski panas membakar, toh, tak
menyurutkan langkah kami. Menjadi peserta Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni)
Tingkat Wilayah di Kecamatan Nagawutun, kala itu, yang terpusat di Lewuka,
kampung Apoly Bala Wutun. Ini pengalaman mengasyikkan karena bersiap menjadi
juara tingkat pool sebelum puncaknya tingkat kecamatan di Loang, kota Kecamatan Nagawutun.
Menuruni jalan setapak yang sangat curam, tangan kami mesti dipegang guru. Selain menjaga keselamatan, barang-barang bawaan di dalam klombu atau serbet tak jatuh ke jurang di Karabau Knoki. Pemandangan alam yang indah sepanjang dari Uruor ke Udak, menjadi penghalau rasa takut. Tak lama wajah Udak dan Lewuka yang masih asri memanjakan jiwa.
Lewuka
dan Palu
Siapa sangka suatu
waktu Apoly Bala Wutun, orang anak kampung dari Lewukak, di pedalaman Lembata
menginjakkan kaki di Palu, Sulawesi Tengah? Tentu, sebagai umat beriman, tukang
pikul Salib Kristus, semua itu karena rencana dan karya Tuhan semata. Bagaimana
tidak? Pada Senin, 20 Agustus 2018, Apoly Bala Wutun berada di Auditorium
Universitas Tadulako (Untad), Sulawesi Tengah. Apoly Bala mendapat undangan
khusus dari Rektor Untad Prof Dr Ir Muh Basir, SE, MS.
Ia diundang mengikuti
Dies Natalis ke-37 Untad, Wisuda Sarjana ke-93, dan Pengukuhan Dua Guru Besar
Fakultas Teknik Untad. Kehadiran Apoly Bala di Untad karena dia adalah pencipta
sekaligus aransir Hymne Untad. Pihak rektor memandang perlu memberikan Piagam
Penghargaan kepada Apoly Bala Wutun atas jasanya menciptakan Hymne Universitas
Tadulako.
Prosesi pemberiaan Piagam Penghargaan kepada Apoly Bala Wutun, anak kampung dari Lewukak, mendapat perhatian Jefrianto, seorang blogger. Jefrianto, menulis dengan bernas dengan judul Penantian 35 Tahun Apoly Bala Terjawab dalam weblog pribadinya yang dimuat pada 22 Agustus 2008. Saya merujuk artikel Jefri dalam blognya. Tulisan itu sekaligus menjadi panduan mengetahui siapa sosok Apoly Bala Wutun.
Foto Apoly Bala Wutun bersama Rektor Universitas Tadulako Palu
Di dalam auditorium,
sosok pria berperawakan kecil, berjalan pelan menuju panggung, begitu pemandu
acara menyebut namanya; mempersilahkannya naik ke atas panggung. Pria dengan
uban keperakan yang menutupi hampir seluruh rambutnya ini, mengenakan setelan
jas hitam dengan kopiah motif tenun khas NTT.
Di atas panggung, tampak
Muh Basir bersiap menyambutnya. Hari itu, Senin (20/8/2018), bertepatan dengan
puncak peringatan Dies Natalis ke-37 Untad, yang dirangkaikan dengan
pelaksanaan wisuda sarjana ke-93 dan pengukuhan dua guru besar Fakultas Teknik
Untad.
Dipandu oleh pemandu
acara, Muh Basir menyerahkan piagam penghargaan kepada Apoly Bala. Saat
menerima Piagam Penghargaan tersebut, bola matanya basah dan berkaca-kaca. Ia tak
kuasa menahan haru dengan apresiasi yang begitu tinggi terhadap karya
gubahannya. Sejak 35 tahun hingga saat ini Hymne Untad mewarnai perjalanan
sejarah Untad.
Siapakah Apoly? Karya
apakah yang dihasilkannya sehingga diapresiasi Untad? Itu tak lain karena Apoly
adalah masetro musik liturgi pencipta lagu dan syair Hymne Untad. Hymne Utad tersebut
kembali ditemukannya setelah 35 tahun berselang, lewat sebuah peristiwa yang
tidak disengaja.
Apoly lahir di
Lewuka, Wulandoni, Lembata. Ia lahir dari pasangan petani kecil: Lukas Djuang
Wutun dan Ibu Ero. Kedua orangtuanya
sudah berpulang. Ia menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) di Lewuka, kemudian
lanjut Seminari San Dominggo Hokeng, Flores Timur dan STF Ledalero, Maumere.
Saat menjalani TOP di
Katedral Kupang, ia mundur dan tak melanjutkan cita-citanya menjadi imam. Sejak
itu ia mengabdi sebagai guru di SMPK Santu Yosep Naikoten Kupang. Lulus dari
FIP Undana ia menjadi dosen di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira)
Kupang dan pensiun saat menjabat PR I Unwira.
Terkait Hymne Untad,
Apoly menceritakan, sekitar 1982 ia melihat pengumuman sayembara Hymne Untad di
salah satu koran nasional. Oleh karena sering menggubah lagu, ia tertarik
mengikuti sayembara tersebut. “Saya lupa koran apa yang mengumumkan sayembara
tersebut. Seingat saya, pada saat itu cuma dua koran yang ada di Kupang, yaitu Kompas dan Pos Kupang. Karena sayembaranya bersifat nasional, saya pikir tidak
mungkin terbit di media lokal, sepertinya memang terbit di Kompas. Sayembara
ini seingat saya dilaksanakan sesudah pelaksanaan wisuda perdana Untad tahun
1981, karena setelah wisuda tersebut, dirasa perlu untuk adanya sebuah Hymne,”
ujar Apoly.
Tidak butuh waktu
lama baginya untuk menggubah lagu dan syair Hymne Untad tersebut. Setelah karya
gubahannya selesai, karya tersebut dikirimkan via pos kepada panitia. Apoly
mengatakan, dirinya juga mengkliping pengumuman sayembara tersebut. “Dulu saya
sempat kliping pengumuman sayembarannya. Namun, karena tidak ada kepastian
tentang hasil sayembaranya, kliping tersebut kini sudah entah di mana,” kata
Apoly menyesal.
Apa yang diceritakan
Apoly terjadi. Selepas ia mengirimkan naskah lagu dan yair Hymne Untad beserta
riwayat hidupnya kepada panitia sayembara, hingga 35 tahun berselang, tidak ada
secuilpun kabar tentang hasil sayembara tersebut. Dirinya pun baru mengetahui
jika lagu gubahannya sudah digunakan Untad selama 35 tahun, setelah tanpa
sengaja anak bungsunya menemukan syair Hymne Untad ciptaannya, tertera dalam
Statuta Untad.
“Anak bungsu saya
yang sekarang sedang kuliah di Universitas Indonesia (UI), pada 2017 lalu,
iseng mengetik nama saya pada mesin pencarian google. Tanpa sengaja, dia
menemukan nama saya tercantum dalam syair Hymne Untad yang ada di Pasal 6
Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) No 8
tahun 2015 tentang Statuta Universitas Tadulako,” jelasnya.
Dalam lampiran Pasal
6 Statuta Untad, tertulis nama Apoly Bala sebagai pencipta lagu dan syair. Sementara
pada aransemen tercantum nama DN Kumontoy. Sontak, si anak bungsu langsung
mengontak Apoly untuk memberitahukan hal tersebut. “Setelah saya dengar
infonya, saya minta dia cetak isi lengkap statuta tersebut. Saat pulang untuk
liburan Natal 2017, salinan statuta tersebut diserahkannya ke saya dan ternyata
setelah saya cek, syair dan lagu tersebut memang yang saya buat puluhan tahun
lalu,” ujarnya.
Mengetahui karyanya
digunakan Untad, pada Januari 2018, Apoly mengirimkan surat klarifikasi yang
dikirimkan oleh anaknya ke email Rektor Untad. Namun selang beberapa bulan,
email tersebut tidak direspon. Akhirnya sekitar Maret atau April, dengan isi
surat yang sama, Apoly mengirimkan secara fisik ke alamat kampus Untad. “Dalam
surat tersebut, saya lampirkan riwayat hidup (CV), identitas, serta karya-karya
yang pernah saya hasilkan,” ujarnya.
Ia menambahkan,
ketika surat fisik dikirim, selang beberapa hari, balasan surat tersebut
datang. Ia mengaku ditelepon oleh Pak Yos dari Untad, yang ternyata berasal
dari daerah yang sama dengannya di Lembata. Pada kontak terakhir Juni 2018
lalu, meneruskan pesan Rektor Untad, Yos bertanya kepada Apoly, apakah ingin
datang ke Palu pada pelaksanaan wisuda 5 Juli lalu, atau pada peringatan Dies
Natalis ke-37 Untad, 20 Agustus. “Saya jawab, kalau bulan Juli saya belum siap.
Saya putuskan datang pada peringatan Dies Natalis Untad,” ujarnya.
Tiba di Palu pada 8
Agustus, Apoly dipertemukan dengan Rektor Untad. Dalam pertemuan tersebut kata
dia, Rektor mengaku menerima dua surat tersebut. “Saya awalnya bertanya-tanya
ada beberapa kemungkinan, bisa saja dulu pihak Untad yang lalai, atau surat
pemberitahuan sudah dikirim, tapi tidak sampai ke tangan saya,” ujarnya.
Pada momen pertemuan
tersebut, Rektor secara pribadi dan atas nama institusi meminta maaf secara
langsung kepada Apoly. Rektor bahkan segera membentuk tim khusus untuk
menyelidiki hal tersebut. “Kesan saya saat bertemu langsung pak rektor,
orangnya sangat luar biasa, sangat objektif. Dia mengatakan kepada saya, lagu
tersebut adalah lagu yang monumental dan sampai kapanpun akan jadi identitas
kampus. Sama seperti yang dikatakan Pak Yos waktu pertama kali mengontak saya,
bahwa lagu saya tersebut sangat populer di Untad,” urainya.
Untuk menyelidiki
terkait sejarah Hymne Untad tersebut Apoly dibawa oleh Yos menemui salah
seorang mantan Pembantu Rektor II Untad di tahun 1980-an. Dari pertemuan
tersebut, mantan PR II Untad tersebut menjelaskan, pernah PR II Untad tersebut
dalam suatu kesempatan di tahun 1980-an, bertemu dengan Rektor Universitas Nusa
Cendana (Undana), bernama Frans.
“Dalam pertemuan
tersebut, dia (PR II Untad red.) sempat mencari orang yang menang sayembara hymne
tersebut. Rektor Undana menanyakan siapa namanya, namun dia ternyata lupa nama
pemenangnya. Jika pertemuannya pada 1980-an, kemungkinan Rektor Undana yang
ditemuinya adalah Prof Frans Likadja dan pertemuannya menurut saya mungkin
belum berselang lama setelah sayembara,” jelasnya.
Mantan PR II Untad
tersebut, kata dia, juga menyebutkan jika karya yang dikirim waktu itu hanya
lagu dan syair, sehingga menganggap jika dulu ia juga mengirim aransemen
lagunya, harus dikaji kembali, karena baik maupun pihak Untad, tidak lagi
memiliki data terkait hal tersebut.
Terkait penghargaan
yang diterimanya, Apoly mengaku senang karyanya ternyata digemari orang. Hal
ini kata dia, juga menjadi motivasi baginya untuk berkarya, untuk membuat orang
lain merasa senang, apalagi kata dia ini untuk lembaga. “Harapan saya untuk
Untad, sudah tersirat dalam syair lagu ini. karena syair lagu ini berisi pesan
dan doa serta harapan yang dibungkus dengan lagu, agar gaungnya sampai kepada
pendengarnya,” ujarnya.
Tertarik kata ‘Tadulako’
Apoly mengisahkan,
saat melihat pengumuman sayembara tersebut, hal yang menarik baginya justru
adalah kata ‘Tadulako’ pada nama universitasnya. Mengapa ia tertarik? Dalam
bahasa daerahnya, kata Tadulako itu terdiri dari dua kata: yaitu Tadu dan lako.
Tadu berarti tinju dan Lako artinya musang hutan. “Karena penasaran dengan nama
itu, saya seperti terinspirasi untuk membuat lirik dan melodinya,” kisahnya.
Oleh karena lagu itu
bentuknya hymne, ia memahami bahwa hymne ini lagu pujian. Di di dalam pujian, ada
salah satu unsur penting yaitu doa. Makanya, bait-bait awal hymne tersebut
dimulai dengan ungkapan doa. “Lagu ini dibagi dalam tiga bagian, di mana
masing-masing dua baris. Bagian pertama isinya doa kepada Tuhan Yang Maha
Kuasa, bagian kedua berisi misi perguruan tinggi, sedangkan bagian ketiga
berisi pujian kepada almamater,” jelasnya.
Hymne tersebut
memiliki unsur religius. Sebagai manusia, jelasnya, sebagai manusia usaha tanpa
adanya campur tangan Tuhan tidak ada arti. Ia mengaku proses pengerjaan lagu
itu lumayan cepat karena inspirasinya langsung muncul. Saat bertemu Rektor
Untad pada 8 Agustus 2018, ia sempat menanyakan arti kata ‘Tadulako’.
Melalui rektor dan
beberapa pihak, ia mendapatkan jawaban bahwa istilah Tadulako lekat dengan jiwa
kepemimpinan, utamanya kepemimpan yang bersifat kolektif. “Jika memang demikian
maknanya, maka mestinya melalui institusi ini, mahasiswa harus belajar menjadi
pemimpin di masyaraat. Untad ini sebenarnya adalah perguruan tinggi yang
memimpin dan mendidik calon pemimpin, sehingga untuk itu, Untad wajib menggali
nilai budaya dan makna serta ciri khas Tadulako untuk diaplikasikan kepada
mahasiswanya,” ujarnya.
Untuk mengisi masa tuanya, Apoly, pria yang membuat arensemen lagu Flobamora, lebih banyak menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga di kediamannya di Jalan Nangka, Kelurahan Oeba, Kota Kupang. Sejak pensiun sebagai ASN tahun 2010 ia menikmati keseharian di dunia yang bersentuhan dengan musik. Ia juga melanjutkan aktif dalam Paduan Suara Sekarsari yang sudah ia bina puluhan tahun.
Herman Wutun, kerabat
dekatnya dari Uruor, Jumat, 24 Januari 2010, mengabarkan bahwa Apoly menurut
mata selamanya. Apoly menghadap Ata Rajan,
Tuhan, di Rumah Sakit Siloam. Herman mengaku, Apoly sosok bersahaja, sederhana,
keras pendirian, ulet dan disiplin. Ia memberi diri bagi banyak orang dalam
kesederhanaan, selama 30 tahun lebih membina paduan suara Sekar Sari hingga
ajal menjemputnya,” kata Herman Wutun, Ketua Umum Induk KUD.
Warga masyarakat
kampung Lewuka, Udak, dan Uruor tentu mengenang sosok Apoly Bala Wutun, anak
kampung inspiratif. Ia meninggalkan kampung, melintas Karabau Knoki guna melarat agar kelak berguna bagi bangsa
dan negara di rantau. Pun masyarakat Lembata dan Nusa Tenggara Timur, tentu
merasa kehilangan masetro musik yang berjasa memajukan musik lokal dan Gerejani.
Pun Universitas Tadulako dan masyarakat Sulawesi Tengah tentu mengenangnya
sebagai sosok yang telah berjasa menciptakan Hymne Untad bagi masyarakat dan
civitas akademika Untad.
Pastor Dr Bernardus
Boli Udjan SVD, kerabatnya dari Lewuka mengenang Apoly sebagai sosok yang amat
berjasa untuk kita semua orang. “Beliau berjasa untuk liturgi Gereja khususnya
sebagai komponis lagu-lagu liturgi dan dirigen handal, juga pendidikan di Nusa
Tenggara Timur. Kita kehilangan besar. Semoga semangatnya kita warisi dan
teruskan kepada yang lain. Terima kasih, Pak Apoly Bala untuk segala jasa dan
kebaikan. Semoga Almarhum berbahagia di surga dan bersatu dangan para kudus dan
malaikat dalam madah syukur pujian tanpa henti bagi Tuhan,” ujar tuan Boli
Ujan.
Pastor Yeremias Bala
Pito MSF, kerabat lain Apoly dari
Lewukak, mengenang almahrum dalam curahan hati menggugah. Ia menulis,
hari ini semua terhenyak atas kepergian seorang pribadi yang telah panjang menghiasi pelataran musik gereja, musik
daerah NTT mengisi serambi hati seluruh insan Flobamorata, tulus, tidak pernah
berpikir untung dalam rupa fulus.
“Apoly Bala melukis
indah jajar musik indahnya membuatku selalu kagum dalam ekspresi setiap
bertemu. Kucium tangan halusmu yang sudah membuat NTT-ku berdenyut di nadi
musik yang penuh tanpa balutan atau pernak pernik cerdik lainnya, namun sungguh
murni mengharumkan lantunan nada dan
suara putra-putri Flobamorata. Tidak cukup melukis retas jalan yang telah
dibentang dan surut aku mengakui akan meneruskan laku yang telah dipaku, tapi
biarkan bergerak sekehendak zaman. Doakan kami yang berusaha meneruskan segala
yang telah diletakkan agar pada titiknya boleh berkanjang pada muara yang
semestinya. Beristirahatlah dengan damai, Bapak Apoly Bala. Tuhan terimalah
hamba-Mu ini dalam kebahagiaan kekal di Surga. Amin,” kata tuan Bala Pito.
Jakarta, 24 Januari
2020
Ansel Deri, Orang Kampung Asal Boto; Mengenang Alm. Apoly Bala Wutun
BUDI
Baik. Warnanya coklat. Pun Tanda Mata. Warnanya putih. Boleh jadi, baik Budi
Baik maupun Tanda Mata seperti piaraan paling mengasyikkan. Keduanya boleh
seperti pembasuh penat usai bekerja, pengganda bahagia tatkala bolak balik
rumah-kebun. Orangtua Stephie Kleden-Beetz (76): bapa Yohanes Djuan Kleden dan
mama Katharina Sabu Hadjon, yang empunya kuda kesayangan bernama Budi Baik dan
Tanda Mata.
Dari
Malang, Jawa Timur, Budi Baik dan Tanda Mata menyelinap masuk dalam memori Stephie
Kleden-Beetz. Ia (Stephie) memutar kembali memori, bale (pulang) Waibalun, kampung halamannya di rumah orangtua, beranda
pelabuhan fery, arah barat Larantuka, kota Reinha, kota Maria, di ujung timur Pulau
Flores, Nusa Tenggara Timur. Memorinya melebur dengan kisah Budi Baik dan Tanda
Mata, tempo doeloe, yang mungkin
bolak balik dengan ayah-ibunya menempuh rute rumah-kebun di sekitar Waibalun
atau Larantuka.
Saya
biasa menyapa akrab Stephie Kleden-Beetz dengan “kaka Oa” setiap kali saya
mengirim pesan singkat baik melalui messanger
atau WhatsApp bila bertanya bagaimana
resep bahkan rahasia menulis yang baik dari seorang penulis dan wartawan senior.
Sekitar Agustus hingga September 2019, saya memberanikan diri meminta kaka Stephie
menyiapkan Prolog sebuah buku yang akan segera terbit.
Stephie
memastikan akan mengagendakan menulis Prolog dimaksud sebagai bukti dan
kesetiaan mendukung setiap upaya para penulis muda dari kampung halaman, tanah
Lamaholot. “Adik Ansel Deri, bersama ini saya kirim kata pengantar Lembata yang
Mempesona. Semoga ada manfaat. Silahkan bertanya bila belum ada kejelasan.
Salam dan selamat berkarya. Stephie Kleden-Beetz,” ujar kaka Stephie melalui e-mail, surat elektronik kepada saya, 26
Oktober 2019.
Nama
Stephie juga mulai familiar setelah Pilatus
mengisi halaman Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian
milik SVD yang terbit di Ende, Flores. Saya mendengar Pilatus kemudian belakangan membaca
artikel itu usai pastor berkotbah di altar Gereja (lama) Paroki Santo Joseph
Boto beberapa waktu setelah itu.
Pilatus adalah
tulisan Gabriel G Sola, seorang kontributor Dian
di Jakarta. Gaby, belakangan jadi rekan
sesama kontributor lepas Dian, meski
lokus domisili kami berjauhan. Pun tak saling kenal. Saking menarik, Pilatus kembali juga disinggung sang
pastor dalam kotbahnya.
Sedang
Stephie Kleden-Beetz? Nama Stephie Kleden-Beetz, juga familiar mengisi nyaris
setiap rubrik Dian tatkala saya masih
di kampung tahun 80-an. Banyak laporan beliau dari Jerman. Selain tentu berita
maupun laporan-laporan human interest,
yang mengaduk rasa ingin tahu pembaca sekelas kami segelintir anak kampung yang
suka baca koran-koran usang terutama Dian
dan Hidup. Kami tentunya, terasa
ditawan di sana dan melahap laporan Stephie hingga di akhir tulisan kemudian tahu
siapa penulisnya.
Tentang Budi Baik dan Tanda Mata Stephie menyandera kedua bola mata. Seberapa penting Budi Baik dan Tanda Mata di mata Stephie? Pastinya, tatkala menggarap Tanda Mata, buku mini karyanya, Stephie malah kewalahan. Bukankah seorang penulis hebat dan wartawan senior dengan jam terbang tinggi akan dengan mudah menemukan judul? Tapi, kok kewalahan?
Rupanya
ingatan Stephie menyasar Budi Baik dan Tanda Mata. Dua ekor kuda itu milik
ayah-ibunya di Waibalun. Tak lama menemukan judul buku karyanya, Tanda Mata, dari kuda Tanda Mata
ayah-ibunya. “Ketika sedang mencari-cari judul untuk buku ini, tiba-tiba saya
teringat masa kecil saya dan kebahagiaan naik kuda bersama Ayah,” kata Stephie
Kleden-Beetz di bagian Ucapan Terima Kasih Tanda
Mata, buku karyanya setebal 342 halaman tersebut.
Namun,
Stephie, penulis kelahiran Waibalun, Flores Timur pada 25 Desember 1943
melanjutkan, tak disangka, tragedi itu terjadi: Budi Baik tewas di ujung panah
pemburuh liar. Bukan hanya keluarga Stephie yang berduka. Tanda Mata, sahabat
Budi Baik, pun menjadi murung, kehilangan nafsu makan, menjadi semakin kurus,
akhirnya pergi menyusul Budi Baik.
“Maka
jadilah nama buku ini: Tanda Mata.
Kepada Ayah dan Ibu, yang telah membuat kami berbahagia lewat dua ekor kuda
tersebut, saya sampaikan limpah terima kasih. Terima kasih pertama-tama saya
berikan kepada Pater Dr. Paul Budi Kleden, SVD, yang telah berkenan menulis
kata pengantar buku ini. Untuk Hermien Y. Kleden, manager produksi buku ini
saya berikan beribu terima kasih atas jerih payahnya di tengah kesibukan
utamanya sebagai wartawan majalah Tempo,”
kata Stephie lagi.
Rasa Hormat
Stephie Kleden-Beetz sungguh penulis hebat dan wartawan senior terbilang langka. Setiap peristiwa bahkan pengalaman perjumpaan ia tulis dengan indah dan enak dibaca. Tiga buku karyanya, Cerita Kecil Saja, Merajut Kata-Kata, dan Tanda Mata hanya yang terakhir saja jadi tanda mata untuk saya anak kampung.
Wawasan
Stephie Keden-Beetz sangat luas. Ia melanglang buana, menembus benua. Bahkan
Stephie lama bermukim di Jerman setelah menikah dengan Werner Beetz, pemuda
pilihannya. Meski demikian, di tengah kesibukannya bekerja sebagai jurnalis di
negeri yang pernah dipimpin baik oleh Kanselir Angela Merkel maupun Helmut
Kohl, itu, ia masih menyapa pembaca setia di NTT melalui reportasenya yang
dimuat SKM Dian di Ende.
Stephie lahir dari keluarga guru yang rata-rata adik-adik kandungnya adalah intelektual dan orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Sesuatu yang tentu sangat disyukuri pasutri guru Djuan Kleden dan mama Sabu Hadjon. Sekedar menyebut beberapa nama yang saya tahu. Misalnya, Pastor Dr. Leo Kleden, SVD. Tuan Leo, pastor filsuf ini lama bertugas di Rumah Induk SVD di Roma, sebelum akhirnya kembali ke almamaternya, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores.
Begitu
pula Dr Ignas Nasu Kleden, sosiolog lulusan Jerman atau Drs Marianus Gege
Kleden, pengajar Fisip Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Juga Hermien
Y. Kleden, mantan wartawan senior Tempo,
majalah berita mingguan paling berpengaruh di Indonesia. Berikut Emil Ola Kleden,
pernah bergiat di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).
Waibalun,
kampung kecil di muka pelabuhan fery itu
pun bukan asing di mata saya. Sejak masuk Kupang, Pulau Timor, tuk melanjutkan
studi tahun 1990, Waibalun adalah tempat asyik buat minum kopi panas sambil
nikmati jagung titi (makanan khas Flores Timur dan Lembata) dan ikan tongkol
segar dari laut Flores.
Tiba
di Larantuka, pelabuhan teramai di jantung kota Reinha, Flores Timur dari
pelabuhan laut Lewoleba, Pulau Lembata, perjalanan mesti dilanjutkan ke Waibalun,
arah barat, kampung penulis dan jurnalis senior Stephie Kleden-Beetz. Melewati
jalanan sepanjang bibir pantai sebelum tiba di kampung kecil Waibalun, kita
akan disuguhkan pula panorama alam pantai dan eksotisme beberapa kampung nan
asri seperti Lewolere dan Pante Besar.
Sejak
dari Larantuka, mata kita sungguh dimanjakan pula dengan pemandangan satu dua
menara kapel yang indah di sepanjang kampung-kampung itu. Di situlah guru Djuan
Kleden dan mama Hadjon memelihara dan merawat Budi Baik dan Tanda Mata. Tanda
Mata inilah yang bakal berlanjut pada Tanda
Mata, karya mungil Stephie yang berisi rekaman lensa rasa yang begitu indah
dalam jejak pengabdian sebagai penulis dan wartawan.
Tanda
Mata beranak Tanda Mata dalam tulisan? Saya memandang Stephie Kleden-Beetz
adalah penulis unik yang telah membuat kejutan bagi saya sebagai penulis pemula
dari kampung, nun di tengah dekapan dingin yang kerap mencekam di kaki Labalekan,
selatan Lembata.
Bagaimana
tidak? Dari Tanda Mata kesayangan ayah-ibunya, guru Djuan Kleden dan mama Sabu Hadjon
di Waibalun, lahir judul buku yang hemat saya mengejutkan. Stephie tinggal
“membaptis” bukunya dengan nama Tanda
Mata tanpa memikirkan atau mencari nama yang jauh-jauh semisal Eropa untuk
karya uniknya itu. Ya, cukup meminjam nama kuda Tanda Mata menjadi kitab mini Tanda Mata yang baru untuk pembaca. Nggak sulit, kan? Inilah kehebatan
Stephie di mata saya.
Superior General SVD Sedunia Pastor Dr Paulus Budi Kleden SVD, jauh-jauh dari Cordoba, Argentina, ujung Agustus 2014, menulis khusus dalam judul ‘Jembatan Itu Bernama Cerita’ untuk Tanda Mata Stephie Kleden-Beetz, kerabatnya dalam rumpun Kleden. Kata Budi, hidup manusia adalah tenunan kisah. Di dalamnya, kita merajut kebahagiaan, sukses, perjuangan, kesusahan hati, pengalaman indah masa kanak-kanak.
Kita bisa menuturkan dengan bebas apa yang sungguh terjadi atau sekadar berbagi mimpi-mimpin dinihari. Tak mengherankan, orang Yunani menyebut manusia sebagai soon logon, maklukh berbahasa, juga makluk berakal budi. Kebutuhan bercerita manusia menembus batas-batas usia, menerobos sekat ruang dan waktu, serta menjadi kebutuhan yang niscaya.
Orang
bisa bercerita di tepi sumur, di bibir pantai, atau via media sosial serba canggih. Kekuatan suatu cerita menentukan
jejaknya: sekadar lewat dalam ingatan atau bisa lama terpatri, berdaya gugah,
bahkan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. “Yesus, Sang Guru Nazareth,
mengatakan, manusia tak hanya hidup dari roti, tapi juga setiap sabda Allah.
Dalam banyak kebudayaan, cerita menjadi sarana ampuh sekaligus asali untuk
mendidik, meneruskan nilai, dan memperluas cakrawala,” ujar tuan Budi Kleden
lebih lanjut dalam catatan pengantar Tanda
Mata Stephie Kleden-Beetz.
Dari
Malang, Jawa Timur, Selasa, 21 Januari 2020, kabar itu nongol melalui pesan
singkat di telepon genggam. Stephie Kleden-Beetz mengakhiri ziarahnya di dunia.
Ia memenuhi panggilan Tuan Deo, sang Sabda di Wisma Stephie, bilangan Patuha.
Malang tepat pukul 19.10 WIB. Tuhan yang Memberi, Tuhan yang mengambil,
terpujilah nama Tuhan (Ayub 1 : 21).
Sebagai
penganut Katolik, saya percaya, kaka Stephie Kleden-Beetz, bahagia bersama para
Kudus di Surga. Cerita kuda dalam Tanda Mata Stephie akan menjadi tanda mata
bagi pembaca, terutama keluarga besar di Waibalun atau ata ribu di lewotana,
Lamaholot.
Sebagai
anak Lembata, saya dan tentu warga group Ata Lembata masih merasa bangga karena
Stephie Kleden-Beetz juga punya tanda mata terakhir: Lembata yang Mempesona, sebuah pengantar yang kalau dibaca
mengasyikkan, seasyik membaca kisah Tanda Mata guru Djuan dan mama Sabu Hadjon dalam
Tanda Mata, karya Stephie. Selamat
jalan, kaka Oa Stephie Kleden-Beetz. Dari surgamu, doakan kami agar setia menjadi
pewarta sukacita bagi dunia di sekitar kami.
Ansel Deri, Orang Kampung Asal Lembata; Mengenang Stephie Kleden-Beetz, Penulis dan Wartawati Senior
BERANDANEGERI.COM,– Presiden Joko Widodo meninjau perkembangan penataan kawasan Puncak Waringin di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin, 20 Januari 2020. Kawasan di Labuan Bajo ini menjadi salah satu destinasi wisata prioritas yang disiapkan pemerintah dan sedang dikembangkan menjadi sebuah kawasan industri pariwisata.
Kawasan tersebut mencakup area seluas kurang lebih 1.300
meter persegi yang akan dilengkapi dengan pusat cendera mata, amfiteater, ruang
terbuka hijau, area parkir, dan dek observasi.
“Ada plasa, _city walk_, amfiteater, dan itu menjadi
ruang publik bagi wisatawan untuk menikmati pagi maupun senja di Labuan Bajo.
Saya kira semuanya masih dalam _progress_ yang tepat waktu,” ujar
Presiden.
Kawasan yang menjadi bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Komodo tersebut, lanjut Presiden, nantinya juga akan didesain sehingga dapat menjadi sebuah _creative hub_ yang menghubungkan produk-produk dari usaha kecil, mikro, dan menengah setempat dengan para wisatawan yang datang ke Labuan Bajo.
“Juga akan ada _training-training_ yang berkaitan
dengan pariwisata dan dengan usaha kecil serta mikro. Saya kira memang dalam
semua hal harus kita injeksi, kita berikan _training_, agar kemasan dan _brand_
setiap produk itu bisa ditingkatkan,” tuturnya.
Untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut, pemerintah
sedang melakukan percepatan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata. Di
antaranya adalah pengembangan bandara yang ada di daerah tersebut.
“Dimulai awal bulan ini, awal tahun ini, nanti selesai
akhir tahun baik itu perpanjangan _runway_ maupun perbaikan secara total dari
terminal yang ada. Semuanya paralel berbarengan semua,” kata Presiden.
Selain bandara, pemerintah juga menyiapkan terminal
multifungsi di daerah Wae Kelambu, Manggarai Barat, Labuan Bajo, Nusa Tenggara
Timur, yang terlebih dahulu ditinjau oleh Presiden sebelum beranjak menuju
kawasan Puncak Waringin. Terminal multifungsi tersebut nantinya akan memisahkan
aktivitas pariwisata dan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Labuan Bajo.
Dengan dibangunnya terminal multifungsi tersebut nantinya Pelabuhan Labuan Bajo
akan dikhususkan bagi kapal-kapal wisatawan yang akan bersandar dan berkunjung
ke daerah itu.
“Nanti pelabuhan ini (Labuan Bajo) akan bersih dari kontainer-kontainer, ditarik dari sini ke Wae Kelambu tadi. Selesai nanti insyaallah akhir tahun ini,” ujarnya saat meninjau kawasan Puncak Waringin.
Pada Juli 2019 lalu, Presiden Joko Widodo mengunjungi Labuan
Bajo untuk melakukan percepatan pembangunan infrastruktur pariwisata di daerah
tersebut. Kala itu, Kepala Negara memastikan akan melakukan penataan total di
daerah Labuan Bajo agar menjadi semakin menarik bagi wisatawan. Salah satu
penataan tersebut ialah mengenai pelabuhan khusus logistik yang akan
dipersiapkan dan dipisahkan dari aktivitas di Pelabuhan Labuan Bajo.
“Ini memang total penataannya. Pelabuhan untuk
kontainer akan dipindah ke tempat lain. Di sini hanya untuk penumpang pinisi,
_yacht_, dan _cruise_,” ujarnya pada 10 Juli 2019 lalu.
Proyek pembangunan terminal multifungsi tersebut disiapkan
untuk dapat menampung peti kemas hingga 100.000 TEUs dari sebelumnya 24.000
TEUs di Pelabuhan Labuan Bajo. Terminal tersebut akan dilengkapi dengan sarana
penunjang yang lebih lengkap dan besar seperti satu unit gudang dengan luas
1.200 meter persegi yang dapat melayani penyimpanan barang hingga kurang lebih
600.000 ton per tahun dan lain sebagainya.
Dalam kunjungan kali ini, Kepala Negara sekaligus meresmikan
Hotel Inaya Bay Komodo. Hotel tersebut secara khusus memang dipersiapkan untuk
menunjang Labuan Bajo sebagai destinasi wisata bersegmen super premium di NTT.
“Saya tidak ingin berpanjang kata, semoga hotel ini
bisa memberikan dukungan penuh bagi pariwisata di Labuan Bajo,” ujarnya
saat meresmikan.
Turut mendampingi Presiden dalam kunjungan kerja ini ialah
Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif
Wishnutama, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono,
Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri
Sekretaris Negara Pratikno, Staf Khusus Presiden Adamas Belva Syah Devara, dan
Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat.
TEKS DAN FOTO : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat
Presiden20 Januari 2020
BERANDANNEGERI.COM,- Presiden Joko Widodo menggelar rapat bersama sejumlah jajarannya untuk membahas pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo. Rapat tersebut digelar di Hotel Plataran Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin, 20 Januari 2020.
Pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo yang bersegmen
super premium sendiri akan dimulai awal tahun 2020. Dalam rapat tersebut,
Presiden menekankan beberapa hal, pertama berkaitan dengan penataan kawasan.
“Kita memang ingin agar segmen pasar wisatawan yang
hadir di sini adalah yang pengeluarannya lebih besar dari wisatawan kebanyakan
dan oleh sebab itu kita perlu sekali melakukan integrasi baik yang berkaitan
dengan kerapian, kebersihan, kenyamanan, dan keamanan bagi para
wisatawan,” ujar Presiden.
Menurut Presiden, ada 5 zona yang harus ditata di Labuan Bajo. Kelimanya adalah Bukit Pramuka, Kampung Air, pelabuhan peti kemas dan dermaga penumpang, Kawasan Marina, serta di zona Kampung Ujung.
“Lima zona ini akan menjadi ruang publik yang tidak
terputus yang menghadirkan sebuah _landscaping_ yang indah yang menjadi
generator penggerak pembangunan kawasan serta pusat aktivitas masyarakat di
Labuan Bajo,” katanya.
Kedua, berkaitan dengan infrastruktur, Presiden ingin agar
awal tahun ini landasan pacu dan terminal bandara segera dimulai. Ia pun
berharap lalu lintas atau _traffic_ di bandara tersebut bisa meningkat seiring
dengan peningkatan jumlah wisatawan.
“Karena memang pengelolanya saya lihat memiliki
kemampuan, memiliki jaringan yang baik dalam rangka mendatangkan wisatawan ke
Labuan Bajo,” imbuhnya.
Ketiga, berkaitan dengan penyiapan sumber daya manusia
(SDM), Presiden menghendaki agar masyarakat lokal turut dilibatkan dan menjadi
bagian dari pembangunan yang dilakukan. Oleh karena itu, Presiden meminta agar
SDM lokal segera ditingkatkan keahlian dan kompetensinya, serta disesuaikan
dengan kebutuhan industri pariwisata yang ingin dikerjakan.
Tak hanya itu, Presiden juga ingin agar usaha mikro, kecil,
dan menengah (UMKM) setempat tidak ditinggalkan. Ia berharap nantinya ada
sebuah _creative hub_ yang akan menggarap produk-produk lokal tersebut, baik
dari sisi pengemasan, desain, harga, dan lain-lain.
“Kita harapkan nantinya tenun, kopi, kerajinan, makanan
khas betul-betul bisa tumbuh dan seiring dengan itu juga atraksi budaya lokal,
kesenian daerah juga harus semakin hidup dan menghidupkan area yang ada di
Labuan Bajo,” jelasnya.
Sementara itu, kepada Gubernur NTT dan Bupati Manggarai
Barat, Presiden menggarisbawahi soal masih banyaknya tanah sengketa di Labuan
Bajo. Presiden meminta para kepala daerah untuk memperhatikan hal tersebut
mengingat banyaknya investor yang ingin menanamkan modalnya di Labuan Bajo.
“Jadi betul-betul diselaraskan antara hukum adat yang
ada dengan hukum positif yang kita miliki,” katanya.
“Kemudian juga yang berkaitan dengan kapal besar yang
masuk ke Labuan Bajo, ini saya minta semuanya teregistrasi. Jangan sampai di
sini hanya menikmati dan membuang sampahnya tapi masyarakat di sini tidak
mendapatkan sebuah kemanfaatan dari datangnya kapal-kapal besar yang
masuk,” lanjutnya.
Keempat, mengenai sampah baik sampah darat maupun sampah
laut. Presiden mengaku mendengar banyak keluhan terkait adanya sampah di dalam
laut. Untuk itu ia mengusulkan agar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan
(LHK) melakukan suatu gerakan pembersihan sampah.
“Meskipun belum banyak tapi harus dimulai kita bersihkan sebelum menjadi banyak. Juga di darat saya harapkan nanti di Kementerian PU dan LHK juga menyiapkan infrastruktur untuk pembuangan sampah, baik _incinerator_ maupun dengan sistem yang lainnya tapi ini juga harus segera diselesaikan,” paparnya.
Kelima, berkaitan dengan air baku, Presiden meminta Menteri
Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono untuk menyiapkan
tambahan air baku. Menurut Presiden, keluhan mengenai air baku tersebut datang
dari para pemilik hotel.
Keenam, berkaitan dengan keamanan para wisatawan. Presiden
berharap jajarannya menyiapkan suatu organisasi yang terdiri atas Badan
Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas) dan Badan Nasional
Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menjamin keamanan wisatawan.
“Paling tidak kalau mereka melihat di sini ada SAR, ada
BNPB rasa aman dan nyaman akan muncul karena memang bisa kita lihat kesiapan
kita dalam mengatasi hal-hal seperti itu,” tambahnya.
Terakhir, berkaitan dengan promosi. Presiden menargetkan
apabila semua aspek sudah selesai, rapi, dan tertata pada akhir tahun 2020,
maka promosi secara besar-besaran harus segera dilakukan oleh Kementerian
Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.
“Termasuk digelarnya event-event internasional yang
menarik para wisatawan agar datang ke Labuan Bajo,” tandasnya.
Hadir dalam rapat tersebut antara lain, Menteri Pariwisata
dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono,
Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, Menteri Perhubungan Budi Karya
Sumadi, Kepala BNPB Doni Monardo, Kepala BNPP/Basarnas Bagus Puruhito, Gubernur
NTT Viktor Laiskodat, dan Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula.
TEKS DAN FOTO : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat
Presiden20 Januari 2020
BERANDANEGERI.COM,- Presiden Joko Widodo menaruh perhatian besar pada pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kunjungannya kali ini adalah untuk melihat secara langsung pengembangan salah satu destinasi wisata prioritas tersebut.
Dalam rapat koordinasi antara kementerian dan lembaga
terkait, termasuk dengan provinsi dan dengan kabupaten, Presiden menekankan
berbagai aspek dalam pengembangan Labuan Bajo. Hal ini untuk memastikan bahwa
produk yang ditawarkan telah siap sebelum dipromosikan.
“Ini sebuah pekerjaan yang besar yang harus kita selesaikan akhir tahun ini yaitu memperbaiki produk yang ada di sini. Infrastruktur, landscape, sampah, air baku yang juga kurang, semuanya ini kita siapkan dan kita harapkan akhir tahun ini selesai. Sehingga 2021 itu langsung Kementerian Pariwisata bisa promosi besar-besaran,” kata Presiden dalam keterangan pers usai rapat di Hotel Plataran Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin, 20 Januari 2020.
Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa hal terpenting dari
pengembangan Labuan Bajo adalah karena Indonesia menyiapkannya untuk sejumlah
agenda internasional. Untuk diketahui, pada tahun 2023 Indonesia akan menjadi
Ketua ASEAN sekaligus Ketua G20.
“Tetapi yang paling penting juga bahwa kita ingin
mempersiapkan Labuan Bajo ini untuk G20 di 2023 dan ASEAN Summit di 2023.
Sehingga dalam rangka persiapan ke sana pun ini mulai direncanakan, disiapkan mulai
dari sekarang,” imbuhnya.
*Langkah Teknis Penataan Labuan Bajo*
Dalam rapat koordinasi, Presiden bersama jajaran membahas
sejumlah hal teknis berkaitan dengan beberapa isu di Labuan Bajo. Untuk
persoalan sampah, Presiden mengatakan, penanganan sampah akan dilakukan baik
untuk sampah di laut maupun di darat.
“Dua, jadi sampah yang ada di laut dan sampah yang ada
di darat. Yang ada di laut tadi sudah diputuskan kita akan kirim di sini kapal
untuk membersihkan dan mulai Februari nanti kita juga akan bergerak ke bawah
laut untuk mengambil sampah. Meskipun belum banyak, tapi harus dimulai. Jangan
sampai ada sampah di Labuan Bajo,” tegasnya.
“Yang di darat nanti Kementerian PU akan mempersiapkan
incinerator dan juga tempat pembuangan sampah akhirnya. Dan juga yang paling
penting juga pendidikan masyarakat mengenai budaya sampah,” tambahnya.
Sementara itu untuk keluhan soal ketersediaan air baku, Presiden menyebut sudah ditambah 100 mililiter/detik. Kementerian PU juga disebutnya tengah mempersiapkan tambahan yang lebih besar lagi.
Adapun soal kelestarian lingkungan di kawasan Labuan Bajo,
Presiden menyampaikan bahwa dirinya telah memerintahkan Menteri Kehutanan dan
Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar untuk membuat _nursery_ yang bisa
memproduksi 5-7 juta pohon setiap tahunnya.
“Nanti setiap tahun menanam segitu terus, rutin. Sudah
detail sekali tadi, saya kira pembicaraan kita sudah teknis dan sangat detail
sehingga semuanya yang kira-kira kita ragu semuanya sudah kita tutup,”
jelasnya.
Labuan Bajo sendiri memang dipersiapkan sebagai destinasi
wisata dengan kelas super premium yang memiliki diferensiasi dari tempat-tempat
wisata lain. Presiden berharap, wisatawan yang datang ke Labuan Bajo bisa
berbelanja lebih banyak dan tinggal lebih lama.
“Kita harapkan di sini belanjanya lebih besar,
tinggalnya lebih lama, kita harapkan itu. Artinya bukan jumlah turisnya, tetapi
spending-nya, belanjanya yang lebih banyak. Kira-kira itu,” tandasnya.
Teks dan Foto : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat
Presiden, 20 Januari 2020
BERANDANEGERI.COM,- Tentunya Presiden Jokowi sudah mendengar informasi bahwa Labuan Bajo tidak hanya terkait dengan Taman Nasional Komodo.
Tapi juga banyak mendapat pujian sebagai tempat terbaik
untuk melihat matahari terbenam dan juga kaya dengan wisata bahari, mulai dari
hanya sekedar menikmati indahnya pantai dengan pasir putih, berenang di laut,
hingga menyelam.
Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menyampaikan pada sore ini, Presiden ingin mencoba menaiki kapal phinisi.
“Presiden tidak hanya ingin menaiki kapal saja, tapi juga
ingin melihat langsung kesiapan kapal-kapal tersebut menyambut wisatawan,” kata
Heru.
Selain itu, Presiden juga melihat kesiapan para anak buah
kapal (ABK), kebersihan di kapal, dan keramahan para ABK di kapal tersebut.
“Presiden juga menilai kesiapan faktor keamanan dan keselamatan, seperti ketersediaan pelampung, radio komunikasi di kapal, dan peralatan lainnya,” ucap Heru.
Selain itu, Presiden juga melihat spot-spot di kapal yang
menarik untuk diabadikan oleh wisatawan dengan latar belakang laut dan
kepulauan di Labuan Bajo.
“Sekarang kan zamannya harus _instragamable_, jadi Presiden juga mencoba spot-spot itu,” lata Heru.
Presiden Jokowi menaiki kapal phinisi dari dermaga hotel
tempatnya menginap sekitar pukul 17.50 WITA. Bertepatan dengan waktu matahari
terbenam, Presiden yang didampingi Staf Khusus Presiden Adamas Belva Syah
Devara berlayar kurang lebih selama 45 menit sebelum akhirnya kembali ke
dermaga.
Teks dan Foto : Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat
Presiden, 19 Januari 2020