Blog

  • LEGISLATOR NTT : Edward Tannur, SH.

    LEGISLATOR NTT : Edward Tannur, SH.

    No.Anggota : 53

    Fraksi : Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa

    Daerah Pemilihan : NUSA TENGGARA TIMUR II

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Atambua / 12 Februari 1961

    Riwayat Pendidikan

    SD , SD Tiga Gemit, atambua. Tahun: 1967 – 1973

    SMP , SMP Don Bosco, Atambua. Tahun: 1973 – 1976

    SMA , SMA Surya, Atambua. Tahun: 1976 – 1979

    S1 Hukum, Universitas PGRI, Kupang. Tahun: 2006 – 2009

    Riwayat Pekerjaan

    Tulip FC, Sebagai: Ketua. Tahun: 2000 – 2004

    Sasana Tulip, Sebagai: Ketua. Tahun: 1997 – 2003

    Wiraswasta Jasa Konstruksi, Sebagai: Owner. Tahun: 1983 – Skrg

    Swalayan Tulip, Sebagai: Direktur. Tahun: 1980 – Skrg

    Riwayat Organisasi

    Caleg DPR RI, Sebagai: . Tahun: 2009 – 2014

    DPC PKB Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: kETUA. Tahun: 2006 – sKRG

    Anggota DPRD Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: Anggota. Tahun: 2005 – 2009

    KONI Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: Ketua. Tahun: 2004 – 2005

    Pemuda Katholik (PMKRI), Sebagai: Pembina . Tahun: 2004 – 2005

    DPRD Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: Ketua Komisi C. Tahun: 2004 – 2007

    Fraksi PKB, Sebagai: Ketua Fraksi PKB. Tahun: 2004 – 2009

    GAPEKNAS Kab. Timor Tengah Utara, Sebagai: Ketua. Tahun: 2000 – 2004

  • LEGISLATOR NTT : Herman Hery

    LEGISLATOR NTT : Herman Hery

    No.Anggota : 238

    Fraksi : Fraksi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan

    Daerah Pemilihan : NUSA TENGGARA TIMUR II

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Flores / 26 Nopember 1962

    Riwayat Pendidikan

    SD , SD KATOLIK ENDE. Tahun: – 1975

    SMP , SMP KATOLIK. Tahun: –

    SMA IPS, SMA (PAKET C). Tahun: – 2003

    SMA , SMA Katholik Ende. Tahun: – 1982

    Riwayat Pekerjaan

    DPR RI, Sebagai: Anggota. Tahun: 2009 – Seka

    DPR RI, Sebagai: Anggota. Tahun: 2004 – 2009

    Dwi Mukti Group, Sebagai: CEO/OWNER. Tahun: 1995 – 2004

    PT.Sarang Teknik, Sebagai: Marketing Director. Tahun: 1989 – 1994

    PT.Aneka Spring, Sebagai: Sales Supervisor. Tahun: 1984 – 1989

    PT.Bumi Asih Group, Sebagai: Sales Marketing. Tahun: 1980 – 1984

    Riwayat Organisasi

    KADIN NTT, Sebagai: Anggota. Tahun: 1994 – 2004

    HIPMI, Sebagai: Anggota. Tahun: 1989 – 1994

    DPP BMI, Sebagai: Ketua. Tahun: – – –

    Badiklat PDI Perjuangan, Sebagai: Bendahara. Tahun: – – –

    Harley Owner Group, Sebagai: Ketua Umum. Tahun: – – –

  • Kehormatan Memberi Kewajiban

    Kehormatan Memberi Kewajiban

    Oleh Albino Luciani*

    Kepada Goethe

    Penyair yang sangat saya hormati.

    Festival film terakhir, yang sudah mendapat pujian sampai ke tingkat yang tingi-tinggi, saya tidak tahu bagaimana, mengingatkan saya akan Anda. Mungkin disebabkan oleh kesan-kesan yang timbul dari bawah sadarku. Ketika membaca tulisan-tulisan dalam surat-surat kabar pada waktu itu, saya harus berpikir tentang Anda, tentang para pencinta keindahan, para seniman dan para kritikus bidang kesenian. Anda adalah pencinta ulung keindahan, yang sanggup secara mendalam dan dengan hati yang luas mengangkat “keindahan alamiah” yang tersebar di seluruh jagad, mulai dari peristiwa-peristiwa alam sampai kepada gejolak nafsu hati seorang manusia. Anda adalah seniman yang besar, yang sanggup menyajikan dengan penuh wibawa kepada orang-orang lain, bukan saja keindahan yang dilihat melainkan juga suasana batin dengan mana Anda sendiri menyaksikannya. Anda adalah seorang kritikus yang hebat di bidang kesenian, sebab dengan pengetahuan tentang persoalannya dan dengan penuh semangat Anda menghadapi karya-karya seni orang lain.

    Bukankah negeri Jerman mengagumi Anda sebagai direktur teater banyak tahun lamanya di Weimar? Bukankah Anda menamai peristiwa itu suatu kelahiran Anda kedua, ketika Anda menginjakan kaki di Roma yang antik itu? Bukankah Anda nyaris jatuh pingsan karena sedemikian merasa bahagia pada menyaksikan patung Apolo di Belvedere? Sayang bahwa Anda tidak menonton film mengenai festival itu – dan dengan demikian saya pun sudah mengetahui reaksi Anda. Karena itu saya hanya bisa membayangkan saja. Sebagai pencinta keindahan Anda sebenarnya sudah menemukan banyak hal-hal yang lebih indah, yang Anda belum kenal.

    Film itu sendiri yang terdiri dari tata cahaya, gerak, warna-warni, musik dan perbuatan, adalah sesuatu yang indah. Anda duduk menghadapi layar putih, dan kalau montase film itu dibuat dengan baik, maka Anda akan terseret sedemikian rupa oleh peristiwa-peristiwa, sehingga rasanya jam-jam sebagai menit-menit saja. Gambar-gambar yang besar, yang memenuhi layar dengan satu wajah manusia saja, mendekatkan Anda kepada gambar-gambar itu secara amat memukau; manusia-manusia yang hatinya digugah oleh perasaan-perasaan yang mendalam. Antara Anda dan para sutradara timbul suatu hubungan yang akrab. Bagian-bagian yang singkat yang Anda kagumi pada Mantegna dan Carveggio, dapat Anda saksikan berkat teknik pengambilan yang memperbesar dengan ukuran raksasa. Misalnya seseorang penjahat diambil gambarnya dari bawah dan dengan bantuan baying-bayang dari sisi kiri bentuk badannya dibikin begitu jelek, sehingga Anda merasa ngeri dan takut melihatnya. Ini saja untuk menunjukkana kepada Anda beberapa unsurnya.

    Entah pada menyaksikan sebuah film Anda juga menemukan ‘keindahan seni’? Saya kira begitu. Sebagai seorang kritikus karya seni Anda pasti siap menghadapi hal-hal yang menakjubkan. Anda sudah biasa dengan dengan renungan-renungan yang menembus lebih jauh dari pada latar depan, juga dengan kecenderungan-kecenderungan klasik, dengan suatu bahasa yang berbicara kepada Anda dari dalam karya-karya bangunan, dari karya-karya marmer dan fresko atau dari miniature-miniatur karya tulisan. Anda memberikan pertimbangan mengenai masing-masingnya, ahli bangunan, pelukis, pelakon. Sebaliknya dalam sebuah film beberapa senimsn bekerjasama: produsen, penata pentas, sutradara, pelakon. Tiap-tiapnya bekerja sesuai dan bersama dengan yang lain, untuk membuat hanya satu film. Dengan demikian sulitlah mengetahui momen kreatif yang sebenarnya di dalam karya itu: pada tiap film hal itu terletak pada suatu bidang yang lain. Boleh jadi ada nilai seni di dalamnya, saya ulangi, mungkin nilai seni yang tinggi sekali, namun hal itu tidak dapat ditangkap pada salahsatu segi, melainkan tersebar dan terpencardi seluruh bidang. Jadi suatu karya seni yang lain dari yang lain; orang menamakannya ‘dewi seni kesepuluh’.

    Mengenai pengaruhnya, orang menyebutnya sebagai ‘kekuatan kelima’, sesudah parlemen, pemerintah, kekuasaan dan pers. Sehubungan dengan penyebarannya, orang sering menyebutnya sebagai ‘kekuatan pertama’, karena orang memperhitungkan bahwa sesudah beberapa tahun ada film-film yang sudah mempengaruhi penonton yang bermilyar-milyar jumlahnya. Sebaliknya dari pihak lain film ditujukan kepada industri dan perdagangan, jadi kepada uang. Para sutradara dan pelakon sering menginginkan produksi dari karya-karya yang bertaraf seni yang tinggi, yang memberikan kemungkinan kepada mereka, untuk mempertahankan kebolehan mereka. Akan tetapi sang produsen, yang harus mengambil uang dari padanya, mempunyai perhitungan lain. Ia menghendaki film-film yang membawa hasil dan mengisi kas. Andaikata ada seorang seniman gila misalnya Doktor Faust atau bahkan Mephisto dari karya Anda, yang dengan perantaraan Antipe dengan tongkat sulap menjamin lebih dahulu sukses dari film yang bermutu karya seni, maka sang produsen akan membuat film yang bermutu seni, karena tak ada seniman gila itu maka sang produsen dengan susah payah harus mencari jalan lain.

    Pada waktu hidupnya Terens harus menelan kepahitan, ketika ia melihat para penonton meninggalkannya dan pergi menonton pemain-pemain yang berjalan di atas tali dan pemain-pemain sandiwara yang memberikan pertunjukan dalam sebuah teater tidak jauh dari situ. Gejala ini sekarang berulang lagi: para produsen film cenderung untuk membuat fil-film yang disesuaikan dengan cita rasa yang kurang luhur para penonton. Sebab biasanya mereka tidak mengunjungi kino, untuk menambah pegetahuannya, melainkan untuk bersantai. Jadi kiranya inilah sesuatu yang dapat menimbulkan rasa prihatin pada kritikus kesenian seorang Goethe dalam festival film: yakni kenyataan bahwa walaupun tersedia sarana dan personil untuk menciptakan karya-karya seni yang ulung, namun mereka sering hanya mempertunjukan hasil yang sedang-sedang saja, oleh karena orang mementingkan keuntungan-keuntungan bagi perusahan.

    Sesuatu yang lain lagi kiranya dapat Anda ketemukan: bahwa pada beberapa film memang terdapat nilai kesenian sejati, akan tetapi toh berhubungan dengan soal-soal tak susila. Barangkali Anda heran kalau saya berbicara mengenai karya-karya yan bersifat tak susila dan sekaligus bernilai seni. Kata ajektif ‘bersifat seni’ dihubungkan dengan karya itu sendiri, sedangkan kata adjektif ‘tak susila’ mengenai hubungan antara manusia-seniman dan seniman-kristen. Beberapa novel tertentu yang bersifat tak susila dari Boccacio memang bernilai seni sastra yang indah, tapi Boccacio sendiri berlaku buruk secara moril, ketika ia menulis buku-buku itu, sehingga berakibat merugikan banyak pembaca. Anda kenal beberapa di antaranya, sebab ketika Anda menulis Leiden des jungen Wether, Anda merasa gelisah dan kacau menghadapi akibat negatif yang ditimbulkan oleh buku itu pada para remaja Jerman dalam gejolak semangatnya.

    Tapi, mengapa saya bisa hanya mengkritik seorang Goethe, yang menulis mengenai satu dari antara para pengeritiknya: “Sebagaimana halnya tiap mawar, demikianpun setiap seniman mempunyai serangga: saya punya Tieck”. Baik, kalau begitu kini Anda telah menulis juga tentang saya, yang walaupun mengagumi keunggulan Anda. Misalnya begini: oleh karena bidang kesenian meliputi seluruh alam yang nyata, maka seorang seniman dapat secara sah dan bebas menceritakan semuanya, menjelaskan semuanya, termasuk hal-hal yang tak senonoh. Tentu saja sang seniman dapat memperlihatkan juga hal-hal yang buruk, akan tetapi atas cara sedemikian rupa, sehingga orang mengenal yang buruk itu sebagai sesuatu yang patut dihindarkan. Hal itu janganlah diperindah ataupun jangan sampai menggoda orang lain untuk menirunya. Tema sentral dalam buku Sophekles Raja Oedipus ialah zinah. Tetapi perbuatan itu dibeberkan secara kasar dengan kata-kata yang jelas, sehingga dari mula sampai akhir nampak jelas rasa muak. Hukuman-hukuman bagi orang-orang yang bersalah dilukiskan secara mengerikan, sehingga pada akhirnya para pembaca lebih terpikat oleh perbuatan zinah itu daripada oleh hal-hal lain. Saya katakana: ‘dari mula sampai akhir’. Sebab ada saudara-saudara dan kritikus-kritikus yang berpendapat, bahwa dengan satu catatan dari segi moral atau dengan satu aksen penutup orang dapat meloloskan sebuah film porno. Seolah-olah dengan satu semprotan air suci orang mengusir roh-roh jahat atau perbuatan guna-guna. Kiranya inilah yang masih kurang pada kita!

    Foto Johann Wolfgang von Goethe

    Satu pendapat Anda yang lain tidak dapat saya setujui: bahwa seorang genius itu hampir seperti dewa. Jadi satu tokoh bintang yang berada di atas moral umum. Anda telah mengungkapkan pemikiran ini terutama pada jaman ketika Anda belajar bersama nyonya von Stein Spinoza dan mencari Allah di di dalam alam jagat. Anda mengira, bila seorang cendikiawan terus-menerus nengangkat dirinya dengan dibantu oleh kebudayaannya maka dia dapat di telan sedikit demi sedikit oleh Allah, dan akhirnya bersatu dengan-Nya dan dengan demikian menjadi tuan atas dirinya sendiri. Dewasa ini tidak sedikit orang yang menganut gagasan ini, sekurang-kurangnya dalam praktek. Sayang! Tujuan yang luhur dan kemungkinan-kemungkinan yang luar biasa pada manusia berlaku untuk tiap manusia, juga bagi yang miskin, yang bodoh dan yang menderita. Allah menghendaki agar semua orang menjadi anak-anakn-Nya, dan agar mereka semua dengan salah satu cara mencapai tujuan yang sama dengan Dia. Akan tetapi yang menjadi persoalan manusia harus meningkatkan diri dengan bantuan Allah dengan mengindahkan hukum-hukum-Nya yang wajib ditaati semua orang yang besar dan kecil, juga para seniman. Anda sendiri sebagai penyair yang ulung, para seniman yang diwakili dalam festival oleh karya-karya mereka, dan kami, orang-orang kecil di pinggir-pinggir jalan, yang kurang berbakat. Dalam pandangan ini kita semua sama rata di hadapan Allah. Jadi jika seseorang memeperoleh anugerah keahlian di bidang kesenian, atau anugerah kemasyhuran atau kekayaan, maka ia semaikn mempunyai kewajiban untuk berterimakasih kepada Allah oleh suatu cara hidup yang layak. Untuk digolongkan bersama orang-orang besar, ada;ah suatu anugerah Allah. Hal itu hendaknya tidak menjadi alasan bagi manusia untuk menyombongkan diri, melainkan mengajaknya untuk berlaku sederhana dan berbudi baik. Sekali lagi: Noblesse obdige! Kehormatan adalah kewajiban.

    *Albino Luciani, adalah Paus Yohanes Paulus I, hanya 34 hari saja beliau memangku jabatan pimpinan tertinggi Gereja Katolik. Pada tanggal 25 September 1978 seluruh dunia dikejutkan oleh berita duka cita dari Vatikan bahwa Paus Yohanes Paulus I telah tutup usia secara mendadak. Artikel di atas, “Kehormatan Memberi Kewajiban” adalah salah satu artikel yang ditulis oleh Albino Luciani kepada Goethe, yang dibukukan dalam buku berjudul Illustrissimi (Kepada yang Terhormat). Edisi bahasa Indonesia diterjemahkan oleh P. Alex Beding, SVD, dengan judul Kepada yang Terhormat, 1982, Penerbit Nusa Indah, Ende-Flores.

  • Apoly Bala, Karabau Knoki dan Melarat

    Apoly Bala, Karabau Knoki dan Melarat

    LEWUKA, Udak, dan Uruor. Tiga kampung masih punya hubungan suku, bahasa, dan kekerabatan yang kental hingga saat ini. Dua kampung yang pertama: Lewuka(k) dan Udak, takluk dan seolah terjepit di kaki bukit nan asri. Sedang yang lain, Uruor, berada di atas padang savana dengan panorama alam mempesona sejauh mata memandang. Jarak Lewuka dan Udak sejauh emperan dua rumah yang berhimpitan satu dengan yang lainnya.

    Berbeda dengan Uruor, yang sedikit agak jauh melewati tebing Karabau Knoki (pintu kerbau) dari bawah kaki kampung Udak dan Lewuka kemudian berjalan kaki melewati padang luas sebelum mencapai Uruor di atas padang tersebut. Ada yang menyebut Kerbau atau Karbau Knoki sesuai dialek masing-masing kampung atau desa sekitar. Nyaris 50-60-an tahun sejak Indonesia merdeka, ruas jalan menuju tiga kampung itu belum pernah dibangun sekadar dilewati kendaraan roda dua.

    Orang kampung masih memanfaatkan tenaga untuk memikul barang bawaannya. Termasuk warga masyarakat nelayan Lamalera dan sekitarnya yang pergi menjual dan membeli makanan di kampung-kampung di sekitar Lewuka, Udak maupun Uruor. Bahkan sampai Kalikasa, kota kecamatan Atadei atau desa-desa lain seperti Karangora, Watuwawer, Atawolo, Bauraja, dan lain-lain.

    Kala itu warga masyarakat sungguh terpenjara dalam ketertinggalan. Negara seolah tak sudi hadir membuka isolasi fisik agar orang-orang kampung dari tiga kampung itu agar memiliki akses dengan dunia luar. Itu dulu. Kini pun masih terasa. Mobil penumpang ke Udak dan Lewuka, mesti melewati jalur jalan wilayah selatan Lembata yang sangat buruk, minim perhatian pemerintah mulai dari pusat sampai daerah sejak Lembata menjadi daerah otonom 20 tahun lalu.

    Berniat ke Lewuka, Udak atau Uruor dengan berkendara, ada baiknya pengunjung baru siapkan diri baik-baik. Nyali pengunjung atau tamu akan diuji karena oto (bis kayu), moda transportasi ke tiga kampung itu, akan berlenggak lenggok kiri-kanan dengan keras. Kalau supir tak sigap, jurang sedalam puluhan meter jadi alamat terakhir. Namun, (Alm) Bastian N Ujan, seorang pengusaha lokal dari Udak yang lama bermukim di Dili, Timor Leste nekad membuka jalan hingga Udak. Jalan di Karabau Knoki ia buka dengan alat berat milik pribadi sehingga orang leluasa pulang-pergi Udak-Lewoleba.

    Badan penumpang oto atau pengunjung pun bakal terasa macam di-gebuk. Kondisi medan yang sulit itu terlihat baik melalui (Desa) Wulandoni, kota Kecamatan Wulandoni maupun dari Lewoleba, kota Kecamatan Nubatukan & kota Kabupaten Lembata, melalui kampung Pukaj Lerek, Nubatukan. Jalur Lewoleba-Uruor juga menjadi langganan saya jalan kaki pergi-pulang Boto untuk mengambil bekal selama sekolah di SMA Kawula Karya Lewoleba tahun 1987-1990.

    Lewuka secara resmi terbentuk menjadi Desa Belobao di Kecamatan Wuandoni, Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur. Sedangkan kampung Udak menjadi Desa Udak Melomata. Sedangkan Uruor terbentuk menjadi Desa Belobatang, Nubatukan. Di kalangan orang kampung Lewuka, Udak dan Uruor tempo doeloe, Udak lebih familiar dengan sebutan Lewu.

    Sejak beberapa tahun lalu, Udak resmi menjadi sebuah desa definitif dengan nama Desa Udak Melomata. Berada di wilayah Kecamatan Nubatukan, Lembata. Kehadiran Udak Melomata sebagai sebuah desa resmi menambah koleksi desa di Lembata, kabupaten yang “merdeka” dari Flores Timur, kabupaten induk dua puluh tahun lalu.

    Melarat dan Merasul

    Meski berada di tengah kepungan lembah, berada di kaki bukit, beranda di ngarai terjal, toh, tempo doeloe semangat juang orang-orang kampung Lewuka pigi melarat (pergi merantau, dalam konteks Flores Timur dan Lembata tempo doeloe) melanjutkan pendidikan atau bertaruh nasib di luar kampung bahkan di tanah Jiran Malaysia, sangat tinggi. Kelak, anak-anak kampung baik dari Lewuka, Udak dan Uruor merasul di mana saja mereja tinggal.

    Drs Apoly Bala Wutun, M.Pd, salah satu anak kampung Lewuka, yang memutuskan melarat, bertaruh nasib melalui pendidikan untuk masa depannya kemudian mengharumkan nama Gereja, bangsa, dan negara melalui tugas perutusannya sebagai pengikut setia Kristus Yesus. Kala itu orangtua di kampung-kampung punya kebanggaan tersendiri kalau anak-anaknya bisa melarat, merantau atau sekolah mengandalkan hasil tanaman berupa kopi, kemiri, kelapa, pinang, padi, jagung, ubi-ubian dari kebun orangtua mereka. Apalagi melanjutkan pendidikan calon imam, suster, bruder, biarawan atau biarawati.

    Apoly Bala –begitu panggilan akrab Apoly Bala Wutun– salah seorang guru, dirigen bahkan komponis papan atas Nusa Tenggara Timur tak hanya lagu-lagu Gerejani. Namun, lebih dari itu. Ia adalah salah seorang anak asli Lewuka yang lahir dari kampung kecil kemudian dikaruniai Tuhan talenta luar biasa besar agar kelak ia boleh merasul melalui karya seni yang ia hasilkan.

    Belum lagi terhitung para guru, dosen, imam, biarawan dan biarawati yang mengabdi baik di dalam maupun luar negeri. Selain Apoly Bala Wutun, dalam catatan saya –sekadar menyebut beberapa– banyak putra-putri asal kampung Lewuka, Udak, dan Uruor yang mengabdi di berbagai bidang profesi tak hanya dalam namun juga luar negeri.

    Saya sebut saja beberapa di antara mereka. Misalnya Pastor Benediktus Genule Ujan SVD di Kalimantan; Pastor Yeremias Balapito Duan MSF; Pastor Stanis Beda Elanor, CM; Pastor Elfridus Ujan SVD di Bostwana, Afrika; Fr Alberto Geroda Atawolo, CMM, misionaris di Brazil; P Dr Pankras Kraeng SSCC; Pastor (Alm.) Thoby Muda Kraeng SVD; Sr Leny Kraeng, CP di Ruteng, Manggarai, ujung barat Pulau Flores.

    Selain itu, Sr Moniq Ujan di Italia; Br Dominggus Geroda Sinuor, SVD misionaris di Brazil; Sr Virgo Sinuor, OSF; Sr Helena Maria, SSpS (adik Apoly Bala Wutun) ; Pastor Jery Ujan CSsR; Sr Leonita Kraeng, PRR di Kenya; Pastor Cornelius Dominikus Boli (Rumly) Ujan SVD, misionaris di Paraguay; Pastor Dr Bernardus Boli Ujan SVD, dosen Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero dan mantan Sekretaris Komisi Liturgi Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI).

    Foto Apoly Bala Wutun bersama Herman Yosef Loli Wutun

    Berikut kalangan awam seperti Drs Herman Yosef Loli Wutun, Ketua Umum Induk KUD; psikolog Dr Rufus Pati Wutun, dosen Universitas Nusa Cendana Kupang, Hyronimus Sorywutun, mantan Direktur Perusahaan Daerah (PD) Flobamora; Dr Andre Ata Ujan, dosen Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta.

    Juga Dr Joseph Laba Sinuor, dosen Universitas Pelita Harapan Tangerang, Banten; Jeremy Emanuel Laba Ujan, master ceremony (MC) beken pemilik usaha Publik Speaking J-Smart, Alberth Olak Sinuor, mantan guru di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang saat ini menjabat Ketua DPD Partai NasDem Flores Timur, (Alm) Drs Rikardus Labi Ujan, pengajar Akademi Manajemen Kupang / Sekolah Tinggi Ilmu Manajemen (STIM) Kupang, dan lain-lain.  

    Mereka semua ini adalah segelintir dari generasi tiga kampung di atas yang melarat kemudian marasul di bidangnya masing-masing. Saya percaya, sebagian dari mereka ini pernah melewati Karabau Knoki, pintu keluar-masuk jalan selebar “badan kerbau”, melewati tebing di atas bukit tak jauh dari Lewu guna merenda hari esok untuk kebaikan dan kemuliaan nama Tuhan.

    Karabau Knoki bukan tempat lalu larang kerbau, binatang dalam artian sesungguhnya. Karabau Knoki adalah kisah tentang jalan setapak kecil berbahaya untuk orang-orang kampung Lewuka, Udak maupun Uruor. Jalan yang hanya bisa dilewati kambing atau babi hutan. Karena itu, butuh kehati-hatian orang kampung atau pelancong yang gemar mengakrabi alam liar dan menantang. Mengapa? Kalau tak hati-hati, maka maut senantiasa mengintai bila terperosok dan jatuh.

    Sekitar tahun 1979-1983, didampingi para guru saya dan rekan-rekan dari SDK Boto pernah melewati “pintu masuk” Udak dan Lewuka di Karabau Knoki. Setelah meninggalkan Boto, kampung halaman, kami menuruni areal terjal menuju kampung Liwulagang (kini jadi desa defintif). Dari Liwulagang, kami mendaki jalan berbukit hingga Fit Fule (“leher kambing”) sebelum mencapai puncak, di area padang sabana tak jauh dari Uruor.

    Dari Uruor, perjalanan dilanjutkan melewati padang sabana. Meski panas membakar, toh, tak menyurutkan langkah kami. Menjadi peserta Pekan Olahraga dan Kesenian (Porseni) Tingkat Wilayah di Kecamatan Nagawutun, kala itu, yang terpusat di Lewuka, kampung Apoly Bala Wutun. Ini pengalaman mengasyikkan karena bersiap menjadi juara tingkat pool sebelum puncaknya tingkat kecamatan di  Loang, kota Kecamatan Nagawutun.

    Menuruni jalan setapak yang sangat curam, tangan kami mesti dipegang guru. Selain menjaga keselamatan, barang-barang bawaan di dalam klombu atau serbet tak jatuh ke jurang di Karabau Knoki. Pemandangan alam yang indah sepanjang dari Uruor ke Udak, menjadi penghalau rasa takut. Tak lama wajah Udak dan Lewuka yang masih asri memanjakan jiwa.

    Lewuka dan Palu

    Siapa sangka suatu waktu Apoly Bala Wutun, orang anak kampung dari Lewukak, di pedalaman Lembata menginjakkan kaki di Palu, Sulawesi Tengah? Tentu, sebagai umat beriman, tukang pikul Salib Kristus, semua itu karena rencana dan karya Tuhan semata. Bagaimana tidak? Pada Senin, 20 Agustus 2018, Apoly Bala Wutun berada di Auditorium Universitas Tadulako (Untad), Sulawesi Tengah. Apoly Bala mendapat undangan khusus dari Rektor Untad Prof Dr Ir Muh Basir, SE, MS.

    Ia diundang mengikuti Dies Natalis ke-37 Untad, Wisuda Sarjana ke-93, dan Pengukuhan Dua Guru Besar Fakultas Teknik Untad. Kehadiran Apoly Bala di Untad karena dia adalah pencipta sekaligus aransir Hymne Untad. Pihak rektor memandang perlu memberikan Piagam Penghargaan kepada Apoly Bala Wutun atas jasanya menciptakan Hymne Universitas Tadulako.

    Prosesi pemberiaan Piagam Penghargaan kepada Apoly Bala Wutun, anak kampung dari Lewukak, mendapat perhatian Jefrianto, seorang blogger. Jefrianto, menulis dengan bernas dengan judul Penantian 35 Tahun Apoly Bala Terjawab dalam weblog pribadinya yang dimuat pada 22 Agustus 2008. Saya merujuk artikel Jefri dalam blognya. Tulisan itu sekaligus menjadi panduan mengetahui siapa sosok Apoly Bala Wutun.

    Foto Apoly Bala Wutun bersama Rektor Universitas Tadulako Palu

    Di dalam auditorium, sosok pria berperawakan kecil, berjalan pelan menuju panggung, begitu pemandu acara menyebut namanya; mempersilahkannya naik ke atas panggung. Pria dengan uban keperakan yang menutupi hampir seluruh rambutnya ini, mengenakan setelan jas hitam dengan kopiah motif tenun khas NTT.

    Di atas panggung, tampak Muh Basir bersiap menyambutnya. Hari itu, Senin (20/8/2018), bertepatan dengan puncak peringatan Dies Natalis ke-37 Untad, yang dirangkaikan dengan pelaksanaan wisuda sarjana ke-93 dan pengukuhan dua guru besar Fakultas Teknik Untad.

    Dipandu oleh pemandu acara, Muh Basir menyerahkan piagam penghargaan kepada Apoly Bala. Saat menerima Piagam Penghargaan tersebut, bola matanya basah dan berkaca-kaca. Ia tak kuasa menahan haru dengan apresiasi yang begitu tinggi terhadap karya gubahannya. Sejak 35 tahun hingga saat ini Hymne Untad mewarnai perjalanan sejarah Untad.

    Siapakah Apoly? Karya apakah yang dihasilkannya sehingga diapresiasi Untad? Itu tak lain karena Apoly adalah masetro musik liturgi pencipta lagu dan syair Hymne Untad. Hymne Utad tersebut kembali ditemukannya setelah 35 tahun berselang, lewat sebuah peristiwa yang tidak disengaja.

    Apoly lahir di Lewuka, Wulandoni, Lembata. Ia lahir dari pasangan petani kecil: Lukas Djuang Wutun dan Ibu  Ero. Kedua orangtuanya sudah berpulang. Ia menyelesaikan Sekolah Rakyat (SR) di Lewuka, kemudian lanjut Seminari San Dominggo Hokeng, Flores Timur dan STF Ledalero, Maumere.

    Saat menjalani TOP di Katedral Kupang, ia mundur dan tak melanjutkan cita-citanya menjadi imam. Sejak itu ia mengabdi sebagai guru di SMPK Santu Yosep Naikoten Kupang. Lulus dari FIP Undana ia menjadi dosen di Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang dan pensiun saat menjabat PR I Unwira.

    Terkait Hymne Untad, Apoly menceritakan, sekitar 1982 ia melihat pengumuman sayembara Hymne Untad di salah satu koran nasional. Oleh karena sering menggubah lagu, ia tertarik mengikuti sayembara tersebut. “Saya lupa koran apa yang mengumumkan sayembara tersebut. Seingat saya, pada saat itu cuma dua koran yang ada di Kupang, yaitu Kompas dan Pos Kupang. Karena sayembaranya bersifat nasional, saya pikir tidak mungkin terbit di media lokal, sepertinya memang terbit di Kompas. Sayembara ini seingat saya dilaksanakan sesudah pelaksanaan wisuda perdana Untad tahun 1981, karena setelah wisuda tersebut, dirasa perlu untuk adanya sebuah Hymne,” ujar Apoly.

    Tidak butuh waktu lama baginya untuk menggubah lagu dan syair Hymne Untad tersebut. Setelah karya gubahannya selesai, karya tersebut dikirimkan via pos kepada panitia. Apoly mengatakan, dirinya juga mengkliping pengumuman sayembara tersebut. “Dulu saya sempat kliping pengumuman sayembarannya. Namun, karena tidak ada kepastian tentang hasil sayembaranya, kliping tersebut kini sudah entah di mana,” kata Apoly menyesal.

    Apa yang diceritakan Apoly terjadi. Selepas ia mengirimkan naskah lagu dan yair Hymne Untad beserta riwayat hidupnya kepada panitia sayembara, hingga 35 tahun berselang, tidak ada secuilpun kabar tentang hasil sayembara tersebut. Dirinya pun baru mengetahui jika lagu gubahannya sudah digunakan Untad selama 35 tahun, setelah tanpa sengaja anak bungsunya menemukan syair Hymne Untad ciptaannya, tertera dalam Statuta Untad.

    “Anak bungsu saya yang sekarang sedang kuliah di Universitas Indonesia (UI), pada 2017 lalu, iseng mengetik nama saya pada mesin pencarian google. Tanpa sengaja, dia menemukan nama saya tercantum dalam syair Hymne Untad yang ada di Pasal 6 Peraturan Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) No 8 tahun 2015 tentang Statuta Universitas Tadulako,” jelasnya.

    Dalam lampiran Pasal 6 Statuta Untad, tertulis nama Apoly Bala sebagai pencipta lagu dan syair. Sementara pada aransemen tercantum nama DN Kumontoy. Sontak, si anak bungsu langsung mengontak Apoly untuk memberitahukan hal tersebut. “Setelah saya dengar infonya, saya minta dia cetak isi lengkap statuta tersebut. Saat pulang untuk liburan Natal 2017, salinan statuta tersebut diserahkannya ke saya dan ternyata setelah saya cek, syair dan lagu tersebut memang yang saya buat puluhan tahun lalu,” ujarnya.

    Mengetahui karyanya digunakan Untad, pada Januari 2018, Apoly mengirimkan surat klarifikasi yang dikirimkan oleh anaknya ke email Rektor Untad. Namun selang beberapa bulan, email tersebut tidak direspon. Akhirnya sekitar Maret atau April, dengan isi surat yang sama, Apoly mengirimkan secara fisik ke alamat kampus Untad. “Dalam surat tersebut, saya lampirkan riwayat hidup (CV), identitas, serta karya-karya yang pernah saya hasilkan,” ujarnya.

    Ia menambahkan, ketika surat fisik dikirim, selang beberapa hari, balasan surat tersebut datang. Ia mengaku ditelepon oleh Pak Yos dari Untad, yang ternyata berasal dari daerah yang sama dengannya di Lembata. Pada kontak terakhir Juni 2018 lalu, meneruskan pesan Rektor Untad, Yos bertanya kepada Apoly, apakah ingin datang ke Palu pada pelaksanaan wisuda 5 Juli lalu, atau pada peringatan Dies Natalis ke-37 Untad, 20 Agustus. “Saya jawab, kalau bulan Juli saya belum siap. Saya putuskan datang pada peringatan Dies Natalis Untad,” ujarnya.

    Tiba di Palu pada 8 Agustus, Apoly dipertemukan dengan Rektor Untad. Dalam pertemuan tersebut kata dia, Rektor mengaku menerima dua surat tersebut. “Saya awalnya bertanya-tanya ada beberapa kemungkinan, bisa saja dulu pihak Untad yang lalai, atau surat pemberitahuan sudah dikirim, tapi tidak sampai ke tangan saya,” ujarnya.

    Pada momen pertemuan tersebut, Rektor secara pribadi dan atas nama institusi meminta maaf secara langsung kepada Apoly. Rektor bahkan segera membentuk tim khusus untuk menyelidiki hal tersebut. “Kesan saya saat bertemu langsung pak rektor, orangnya sangat luar biasa, sangat objektif. Dia mengatakan kepada saya, lagu tersebut adalah lagu yang monumental dan sampai kapanpun akan jadi identitas kampus. Sama seperti yang dikatakan Pak Yos waktu pertama kali mengontak saya, bahwa lagu saya tersebut sangat populer di Untad,” urainya.

    Untuk menyelidiki terkait sejarah Hymne Untad tersebut Apoly dibawa oleh Yos menemui salah seorang mantan Pembantu Rektor II Untad di tahun 1980-an. Dari pertemuan tersebut, mantan PR II Untad tersebut menjelaskan, pernah PR II Untad tersebut dalam suatu kesempatan di tahun 1980-an, bertemu dengan Rektor Universitas Nusa Cendana (Undana), bernama Frans.

    “Dalam pertemuan tersebut, dia (PR II Untad red.) sempat mencari orang yang menang sayembara hymne tersebut. Rektor Undana menanyakan siapa namanya, namun dia ternyata lupa nama pemenangnya. Jika pertemuannya pada 1980-an, kemungkinan Rektor Undana yang ditemuinya adalah Prof Frans Likadja dan pertemuannya menurut saya mungkin belum berselang lama setelah sayembara,” jelasnya.

    Mantan PR II Untad tersebut, kata dia, juga menyebutkan jika karya yang dikirim waktu itu hanya lagu dan syair, sehingga menganggap jika dulu ia juga mengirim aransemen lagunya, harus dikaji kembali, karena baik maupun pihak Untad, tidak lagi memiliki data terkait hal tersebut.

    Terkait penghargaan yang diterimanya, Apoly mengaku senang karyanya ternyata digemari orang. Hal ini kata dia, juga menjadi motivasi baginya untuk berkarya, untuk membuat orang lain merasa senang, apalagi kata dia ini untuk lembaga. “Harapan saya untuk Untad, sudah tersirat dalam syair lagu ini. karena syair lagu ini berisi pesan dan doa serta harapan yang dibungkus dengan lagu, agar gaungnya sampai kepada pendengarnya,” ujarnya.

    Tertarik kata ‘Tadulako’

    Apoly mengisahkan, saat melihat pengumuman sayembara tersebut, hal yang menarik baginya justru adalah kata ‘Tadulako’ pada nama universitasnya. Mengapa ia tertarik? Dalam bahasa daerahnya, kata Tadulako itu terdiri dari dua kata: yaitu Tadu dan lako. Tadu berarti tinju dan Lako artinya musang hutan. “Karena penasaran dengan nama itu, saya seperti terinspirasi untuk membuat lirik dan melodinya,” kisahnya.

    Oleh karena lagu itu bentuknya hymne, ia memahami bahwa hymne ini lagu pujian. Di di dalam pujian, ada salah satu unsur penting yaitu doa. Makanya, bait-bait awal hymne tersebut dimulai dengan ungkapan doa. “Lagu ini dibagi dalam tiga bagian, di mana masing-masing dua baris. Bagian pertama isinya doa kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, bagian kedua berisi misi perguruan tinggi, sedangkan bagian ketiga berisi pujian kepada almamater,” jelasnya.

    Hymne tersebut memiliki unsur religius. Sebagai manusia, jelasnya, sebagai manusia usaha tanpa adanya campur tangan Tuhan tidak ada arti. Ia mengaku proses pengerjaan lagu itu lumayan cepat karena inspirasinya langsung muncul. Saat bertemu Rektor Untad pada 8 Agustus 2018, ia sempat menanyakan arti kata ‘Tadulako’.

    Melalui rektor dan beberapa pihak, ia mendapatkan jawaban bahwa istilah Tadulako lekat dengan jiwa kepemimpinan, utamanya kepemimpan yang bersifat kolektif. “Jika memang demikian maknanya, maka mestinya melalui institusi ini, mahasiswa harus belajar menjadi pemimpin di masyaraat. Untad ini sebenarnya adalah perguruan tinggi yang memimpin dan mendidik calon pemimpin, sehingga untuk itu, Untad wajib menggali nilai budaya dan makna serta ciri khas Tadulako untuk diaplikasikan kepada mahasiswanya,” ujarnya.

    Untuk mengisi masa tuanya, Apoly, pria yang membuat arensemen lagu Flobamora, lebih banyak menghabiskan waktu berkumpul bersama keluarga di kediamannya di Jalan Nangka, Kelurahan Oeba, Kota Kupang. Sejak pensiun sebagai ASN tahun 2010 ia menikmati keseharian di dunia yang bersentuhan dengan musik. Ia juga melanjutkan aktif dalam Paduan Suara Sekarsari yang sudah ia bina puluhan tahun.

    Herman Wutun, kerabat dekatnya dari Uruor, Jumat, 24 Januari 2010, mengabarkan bahwa Apoly menurut mata selamanya. Apoly menghadap Ata Rajan, Tuhan, di Rumah Sakit Siloam. Herman mengaku, Apoly sosok bersahaja, sederhana, keras pendirian, ulet dan disiplin. Ia memberi diri bagi banyak orang dalam kesederhanaan, selama 30 tahun lebih membina paduan suara Sekar Sari hingga ajal menjemputnya,” kata Herman Wutun, Ketua Umum Induk KUD.

    Warga masyarakat kampung Lewuka, Udak, dan Uruor tentu mengenang sosok Apoly Bala Wutun, anak kampung inspiratif. Ia meninggalkan kampung, melintas Karabau Knoki guna melarat agar kelak berguna bagi bangsa dan negara di rantau. Pun masyarakat Lembata dan Nusa Tenggara Timur, tentu merasa kehilangan masetro musik yang berjasa memajukan musik lokal dan Gerejani. Pun Universitas Tadulako dan masyarakat Sulawesi Tengah tentu mengenangnya sebagai sosok yang telah berjasa menciptakan Hymne Untad bagi masyarakat dan civitas akademika Untad.

    Pastor Dr Bernardus Boli Udjan SVD, kerabatnya dari Lewuka mengenang Apoly sebagai sosok yang amat berjasa untuk kita semua orang. “Beliau berjasa untuk liturgi Gereja khususnya sebagai komponis lagu-lagu liturgi dan dirigen handal, juga pendidikan di Nusa Tenggara Timur. Kita kehilangan besar. Semoga semangatnya kita warisi dan teruskan kepada yang lain. Terima kasih, Pak Apoly Bala untuk segala jasa dan kebaikan. Semoga Almarhum berbahagia di surga dan bersatu dangan para kudus dan malaikat dalam madah syukur pujian tanpa henti bagi Tuhan,” ujar tuan Boli Ujan.

    Pastor Yeremias Bala Pito MSF, kerabat lain Apoly dari  Lewukak, mengenang almahrum dalam curahan hati menggugah. Ia menulis, hari ini semua terhenyak atas kepergian seorang pribadi yang telah panjang  menghiasi pelataran musik gereja, musik daerah NTT mengisi serambi hati seluruh insan Flobamorata, tulus, tidak pernah berpikir untung dalam rupa fulus.

    “Apoly Bala melukis indah jajar musik indahnya membuatku selalu kagum dalam ekspresi setiap bertemu. Kucium tangan halusmu yang sudah membuat NTT-ku berdenyut di nadi musik yang penuh tanpa balutan atau pernak pernik cerdik lainnya, namun sungguh murni  mengharumkan lantunan nada dan suara putra-putri Flobamorata. Tidak cukup melukis retas jalan yang telah dibentang dan surut aku mengakui akan meneruskan laku yang telah dipaku, tapi biarkan bergerak sekehendak zaman. Doakan kami yang berusaha meneruskan segala yang telah diletakkan agar pada titiknya boleh berkanjang pada muara yang semestinya. Beristirahatlah dengan damai, Bapak Apoly Bala. Tuhan terimalah hamba-Mu ini dalam kebahagiaan kekal di Surga. Amin,” kata tuan Bala Pito.

    Jakarta, 24 Januari 2020

    Ansel Deri, Orang Kampung Asal Boto; Mengenang Alm. Apoly Bala Wutun

    Sumber foto: Copas jefrianto dan dok Herman Wutun

  • Kuda dalam Tanda Mata Stephie

    Kuda dalam Tanda Mata Stephie

    BUDI Baik. Warnanya coklat. Pun Tanda Mata. Warnanya putih. Boleh jadi, baik Budi Baik maupun Tanda Mata seperti piaraan paling mengasyikkan. Keduanya boleh seperti pembasuh penat usai bekerja, pengganda bahagia tatkala bolak balik rumah-kebun. Orangtua Stephie Kleden-Beetz (76): bapa Yohanes Djuan Kleden dan mama Katharina Sabu Hadjon, yang empunya kuda kesayangan bernama Budi Baik dan Tanda Mata.

    Dari Malang, Jawa Timur, Budi Baik dan Tanda Mata menyelinap masuk dalam memori Stephie Kleden-Beetz. Ia (Stephie) memutar kembali memori, bale (pulang) Waibalun, kampung halamannya di rumah orangtua, beranda pelabuhan fery, arah barat Larantuka, kota Reinha, kota Maria, di ujung timur Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Memorinya melebur dengan kisah Budi Baik dan Tanda Mata, tempo doeloe, yang mungkin bolak balik dengan ayah-ibunya menempuh rute rumah-kebun di sekitar Waibalun atau Larantuka.

    Saya biasa menyapa akrab Stephie Kleden-Beetz dengan “kaka Oa” setiap kali saya mengirim pesan singkat baik melalui messanger atau WhatsApp bila bertanya bagaimana resep bahkan rahasia menulis yang baik dari seorang penulis dan wartawan senior. Sekitar Agustus hingga September 2019, saya memberanikan diri meminta kaka Stephie menyiapkan Prolog sebuah buku yang akan segera terbit.

    Stephie memastikan akan mengagendakan menulis Prolog dimaksud sebagai bukti dan kesetiaan mendukung setiap upaya para penulis muda dari kampung halaman, tanah Lamaholot. “Adik Ansel Deri, bersama ini saya kirim kata pengantar Lembata yang Mempesona. Semoga ada manfaat. Silahkan bertanya bila belum ada kejelasan. Salam dan selamat berkarya. Stephie Kleden-Beetz,” ujar kaka Stephie melalui e-mail, surat elektronik kepada saya, 26 Oktober 2019.

    Nama Stephie juga mulai familiar setelah Pilatus mengisi halaman Surat Kabar Mingguan (SKM) Dian milik SVD yang terbit di Ende, Flores. Saya mendengar Pilatus kemudian belakangan membaca artikel itu usai pastor berkotbah di altar Gereja (lama) Paroki Santo Joseph Boto beberapa waktu setelah itu.

    Pilatus adalah tulisan Gabriel G Sola, seorang kontributor Dian di Jakarta.  Gaby, belakangan jadi rekan sesama kontributor lepas Dian, meski lokus domisili kami berjauhan. Pun tak saling kenal. Saking menarik, Pilatus kembali juga disinggung sang pastor dalam kotbahnya.

    Sedang Stephie Kleden-Beetz? Nama Stephie Kleden-Beetz, juga familiar mengisi nyaris setiap rubrik Dian tatkala saya masih di kampung tahun 80-an. Banyak laporan beliau dari Jerman. Selain tentu berita maupun laporan-laporan human interest, yang mengaduk rasa ingin tahu pembaca sekelas kami segelintir anak kampung yang suka baca koran-koran usang terutama Dian dan Hidup. Kami tentunya, terasa ditawan di sana dan melahap laporan Stephie hingga di akhir tulisan kemudian tahu siapa penulisnya.

    Tentang Budi Baik dan Tanda Mata Stephie menyandera kedua bola mata. Seberapa penting Budi Baik dan Tanda Mata di mata Stephie? Pastinya, tatkala menggarap Tanda Mata, buku mini karyanya, Stephie malah kewalahan. Bukankah seorang penulis hebat dan wartawan senior dengan jam terbang tinggi akan dengan mudah menemukan judul? Tapi, kok kewalahan?

    Rupanya ingatan Stephie menyasar Budi Baik dan Tanda Mata. Dua ekor kuda itu milik ayah-ibunya di Waibalun. Tak lama menemukan judul buku karyanya, Tanda Mata, dari kuda Tanda Mata ayah-ibunya. “Ketika sedang mencari-cari judul untuk buku ini, tiba-tiba saya teringat masa kecil saya dan kebahagiaan naik kuda bersama Ayah,” kata Stephie Kleden-Beetz di bagian Ucapan Terima Kasih Tanda Mata, buku karyanya setebal 342 halaman tersebut.

    Namun, Stephie, penulis kelahiran Waibalun, Flores Timur pada 25 Desember 1943 melanjutkan, tak disangka, tragedi itu terjadi: Budi Baik tewas di ujung panah pemburuh liar. Bukan hanya keluarga Stephie yang berduka. Tanda Mata, sahabat Budi Baik, pun menjadi murung, kehilangan nafsu makan, menjadi semakin kurus, akhirnya pergi menyusul Budi Baik.

    “Maka jadilah nama buku ini: Tanda Mata. Kepada Ayah dan Ibu, yang telah membuat kami berbahagia lewat dua ekor kuda tersebut, saya sampaikan limpah terima kasih. Terima kasih pertama-tama saya berikan kepada Pater Dr. Paul Budi Kleden, SVD, yang telah berkenan menulis kata pengantar buku ini. Untuk Hermien Y. Kleden, manager produksi buku ini saya berikan beribu terima kasih atas jerih payahnya di tengah kesibukan utamanya sebagai wartawan majalah Tempo,” kata Stephie lagi.

    Rasa Hormat

    Stephie Kleden-Beetz sungguh penulis hebat dan wartawan senior terbilang langka. Setiap peristiwa bahkan pengalaman perjumpaan ia tulis dengan indah dan enak dibaca. Tiga buku karyanya, Cerita Kecil Saja, Merajut Kata-Kata, dan Tanda Mata hanya yang terakhir saja jadi tanda mata untuk saya anak kampung.

    Wawasan Stephie Keden-Beetz sangat luas. Ia melanglang buana, menembus benua. Bahkan Stephie lama bermukim di Jerman setelah menikah dengan Werner Beetz, pemuda pilihannya. Meski demikian, di tengah kesibukannya bekerja sebagai jurnalis di negeri yang pernah dipimpin baik oleh Kanselir Angela Merkel maupun Helmut Kohl, itu, ia masih menyapa pembaca setia di NTT melalui reportasenya yang dimuat SKM Dian di Ende.

    Stephie lahir dari keluarga guru yang rata-rata adik-adik kandungnya adalah intelektual dan orang-orang hebat di bidangnya masing-masing. Sesuatu yang tentu sangat disyukuri pasutri guru Djuan Kleden dan mama Sabu Hadjon. Sekedar menyebut beberapa nama yang saya tahu. Misalnya, Pastor Dr. Leo Kleden, SVD. Tuan Leo, pastor filsuf ini lama bertugas di Rumah Induk SVD di Roma, sebelum akhirnya kembali ke almamaternya, Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero, Maumere, Flores.

    Begitu pula Dr Ignas Nasu Kleden, sosiolog lulusan Jerman atau Drs Marianus Gege Kleden, pengajar Fisip Universitas Katolik Widya Mandira Kupang. Juga Hermien Y. Kleden, mantan wartawan senior Tempo, majalah berita mingguan paling berpengaruh di Indonesia. Berikut Emil Ola Kleden, pernah bergiat di Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN).

    Waibalun,  kampung kecil di muka pelabuhan fery itu pun bukan asing di mata saya. Sejak masuk Kupang, Pulau Timor, tuk melanjutkan studi tahun 1990, Waibalun adalah tempat asyik buat minum kopi panas sambil nikmati jagung titi (makanan khas Flores Timur dan Lembata) dan ikan tongkol segar dari laut Flores.

    Tiba di Larantuka, pelabuhan teramai di jantung kota Reinha, Flores Timur dari pelabuhan laut Lewoleba, Pulau Lembata, perjalanan mesti dilanjutkan ke Waibalun, arah barat, kampung penulis dan jurnalis senior Stephie Kleden-Beetz. Melewati jalanan sepanjang bibir pantai sebelum tiba di kampung kecil Waibalun, kita akan disuguhkan pula panorama alam pantai dan eksotisme beberapa kampung nan asri seperti Lewolere dan Pante Besar.

    Sejak dari Larantuka, mata kita sungguh dimanjakan pula dengan pemandangan satu dua menara kapel yang indah di sepanjang kampung-kampung itu. Di situlah guru Djuan Kleden dan mama Hadjon memelihara dan merawat Budi Baik dan Tanda Mata. Tanda Mata inilah yang bakal berlanjut pada Tanda Mata, karya mungil Stephie yang berisi rekaman lensa rasa yang begitu indah dalam jejak pengabdian sebagai penulis dan wartawan.

    Tanda Mata beranak Tanda Mata dalam tulisan? Saya memandang Stephie Kleden-Beetz adalah penulis unik yang telah membuat kejutan bagi saya sebagai penulis pemula dari kampung, nun di tengah dekapan dingin yang kerap mencekam di kaki Labalekan, selatan Lembata.

    Bagaimana tidak? Dari Tanda Mata kesayangan ayah-ibunya, guru Djuan Kleden dan mama Sabu Hadjon di Waibalun, lahir judul buku yang hemat saya mengejutkan. Stephie tinggal “membaptis” bukunya dengan nama Tanda Mata tanpa memikirkan atau mencari nama yang jauh-jauh semisal Eropa untuk karya uniknya itu. Ya, cukup meminjam nama kuda Tanda Mata menjadi kitab mini Tanda Mata yang baru untuk pembaca. Nggak sulit, kan? Inilah kehebatan Stephie di mata saya.

    Superior General SVD Sedunia Pastor Dr Paulus Budi Kleden SVD, jauh-jauh dari Cordoba, Argentina, ujung Agustus 2014, menulis khusus dalam judul ‘Jembatan Itu Bernama Cerita’ untuk Tanda Mata Stephie Kleden-Beetz, kerabatnya dalam rumpun Kleden. Kata Budi, hidup manusia adalah tenunan kisah. Di dalamnya, kita merajut kebahagiaan, sukses, perjuangan, kesusahan hati, pengalaman indah masa kanak-kanak.

    Kita bisa menuturkan dengan bebas apa yang sungguh terjadi atau sekadar berbagi mimpi-mimpin dinihari. Tak mengherankan, orang Yunani menyebut manusia sebagai soon logon, maklukh berbahasa, juga makluk berakal budi. Kebutuhan bercerita manusia menembus batas-batas usia, menerobos sekat ruang dan waktu, serta menjadi kebutuhan yang niscaya.

    Orang bisa bercerita di tepi sumur, di bibir pantai, atau via media sosial serba canggih. Kekuatan suatu cerita menentukan jejaknya: sekadar lewat dalam ingatan atau bisa lama terpatri, berdaya gugah, bahkan menjadi sumber inspirasi bagi orang lain. “Yesus, Sang Guru Nazareth, mengatakan, manusia tak hanya hidup dari roti, tapi juga setiap sabda Allah. Dalam banyak kebudayaan, cerita menjadi sarana ampuh sekaligus asali untuk mendidik, meneruskan nilai, dan memperluas cakrawala,” ujar tuan Budi Kleden lebih lanjut dalam catatan pengantar Tanda Mata Stephie Kleden-Beetz.

    Dari Malang, Jawa Timur, Selasa, 21 Januari 2020, kabar itu nongol melalui pesan singkat di telepon genggam. Stephie Kleden-Beetz mengakhiri ziarahnya di dunia. Ia memenuhi panggilan Tuan Deo, sang Sabda di Wisma Stephie, bilangan Patuha. Malang tepat pukul 19.10 WIB. Tuhan yang Memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan (Ayub 1 : 21).

    Sebagai penganut Katolik, saya percaya, kaka Stephie Kleden-Beetz, bahagia bersama para Kudus di Surga. Cerita kuda dalam Tanda Mata Stephie akan menjadi tanda mata bagi pembaca, terutama keluarga besar di Waibalun atau ata ribu di lewotana, Lamaholot.

    Sebagai anak Lembata, saya dan tentu warga group Ata Lembata masih merasa bangga karena Stephie Kleden-Beetz juga punya tanda mata terakhir: Lembata yang Mempesona, sebuah pengantar yang kalau dibaca mengasyikkan, seasyik membaca kisah Tanda Mata guru Djuan dan mama Sabu Hadjon dalam Tanda Mata, karya Stephie. Selamat jalan, kaka Oa Stephie Kleden-Beetz. Dari surgamu, doakan kami agar setia menjadi pewarta sukacita bagi dunia di sekitar kami.

    Ansel Deri, Orang Kampung Asal Lembata; Mengenang Stephie Kleden-Beetz, Penulis dan Wartawati Senior

  • Presiden Jokowi Tinjau  Fasilitas Pendukung Pariwisata Labuan Bajo

    Presiden Jokowi Tinjau Fasilitas Pendukung Pariwisata Labuan Bajo

    BERANDANEGERI.COM,– Presiden Joko Widodo meninjau perkembangan penataan kawasan Puncak Waringin di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin, 20 Januari 2020. Kawasan di Labuan Bajo ini menjadi salah satu destinasi wisata prioritas yang disiapkan pemerintah dan sedang dikembangkan menjadi sebuah kawasan industri pariwisata.

    Kawasan tersebut mencakup area seluas kurang lebih 1.300 meter persegi yang akan dilengkapi dengan pusat cendera mata, amfiteater, ruang terbuka hijau, area parkir, dan dek observasi.

    “Ada plasa, _city walk_, amfiteater, dan itu menjadi ruang publik bagi wisatawan untuk menikmati pagi maupun senja di Labuan Bajo. Saya kira semuanya masih dalam _progress_ yang tepat waktu,” ujar Presiden.

    Kawasan yang menjadi bagian dari Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Komodo tersebut, lanjut Presiden, nantinya juga akan didesain sehingga dapat menjadi sebuah _creative hub_ yang menghubungkan produk-produk dari usaha kecil, mikro, dan menengah setempat dengan para wisatawan yang datang ke Labuan Bajo.

    “Juga akan ada _training-training_ yang berkaitan dengan pariwisata dan dengan usaha kecil serta mikro. Saya kira memang dalam semua hal harus kita injeksi, kita berikan _training_, agar kemasan dan _brand_ setiap produk itu bisa ditingkatkan,” tuturnya.

    Untuk mendukung pengembangan kawasan tersebut, pemerintah sedang melakukan percepatan pembangunan infrastruktur pendukung pariwisata. Di antaranya adalah pengembangan bandara yang ada di daerah tersebut.

    “Dimulai awal bulan ini, awal tahun ini, nanti selesai akhir tahun baik itu perpanjangan _runway_ maupun perbaikan secara total dari terminal yang ada. Semuanya paralel berbarengan semua,” kata Presiden.

    Selain bandara, pemerintah juga menyiapkan terminal multifungsi di daerah Wae Kelambu, Manggarai Barat, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, yang terlebih dahulu ditinjau oleh Presiden sebelum beranjak menuju kawasan Puncak Waringin. Terminal multifungsi tersebut nantinya akan memisahkan aktivitas pariwisata dan bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Labuan Bajo. Dengan dibangunnya terminal multifungsi tersebut nantinya Pelabuhan Labuan Bajo akan dikhususkan bagi kapal-kapal wisatawan yang akan bersandar dan berkunjung ke daerah itu.

    “Nanti pelabuhan ini (Labuan Bajo) akan bersih dari kontainer-kontainer, ditarik dari sini ke Wae Kelambu tadi. Selesai nanti insyaallah akhir tahun ini,” ujarnya saat meninjau kawasan Puncak Waringin.

    Pada Juli 2019 lalu, Presiden Joko Widodo mengunjungi Labuan Bajo untuk melakukan percepatan pembangunan infrastruktur pariwisata di daerah tersebut. Kala itu, Kepala Negara memastikan akan melakukan penataan total di daerah Labuan Bajo agar menjadi semakin menarik bagi wisatawan. Salah satu penataan tersebut ialah mengenai pelabuhan khusus logistik yang akan dipersiapkan dan dipisahkan dari aktivitas di Pelabuhan Labuan Bajo.

    “Ini memang total penataannya. Pelabuhan untuk kontainer akan dipindah ke tempat lain. Di sini hanya untuk penumpang pinisi, _yacht_, dan _cruise_,” ujarnya pada 10 Juli 2019 lalu.

    Proyek pembangunan terminal multifungsi tersebut disiapkan untuk dapat menampung peti kemas hingga 100.000 TEUs dari sebelumnya 24.000 TEUs di Pelabuhan Labuan Bajo. Terminal tersebut akan dilengkapi dengan sarana penunjang yang lebih lengkap dan besar seperti satu unit gudang dengan luas 1.200 meter persegi yang dapat melayani penyimpanan barang hingga kurang lebih 600.000 ton per tahun dan lain sebagainya.

    Dalam kunjungan kali ini, Kepala Negara sekaligus meresmikan Hotel Inaya Bay Komodo. Hotel tersebut secara khusus memang dipersiapkan untuk menunjang Labuan Bajo sebagai destinasi wisata bersegmen super premium di NTT.

    “Saya tidak ingin berpanjang kata, semoga hotel ini bisa memberikan dukungan penuh bagi pariwisata di Labuan Bajo,” ujarnya saat meresmikan.

    Turut mendampingi Presiden dalam kunjungan kerja ini ialah Ibu Negara Iriana Joko Widodo, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri BUMN Erick Thohir, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Staf Khusus Presiden Adamas Belva Syah Devara, dan Gubernur NTT Viktor B. Laiskodat.

    TEKS DAN FOTO : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden20 Januari 2020

  • Presiden Gelar Rapat Pengembangan Destinasi Wisata Labuan Bajo

    Presiden Gelar Rapat Pengembangan Destinasi Wisata Labuan Bajo

    BERANDANNEGERI.COM,- Presiden Joko Widodo menggelar rapat bersama sejumlah jajarannya untuk membahas pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo. Rapat tersebut digelar di Hotel Plataran Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin, 20 Januari 2020.

    Pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo yang bersegmen super premium sendiri akan dimulai awal tahun 2020. Dalam rapat tersebut, Presiden menekankan beberapa hal, pertama berkaitan dengan penataan kawasan.

    “Kita memang ingin agar segmen pasar wisatawan yang hadir di sini adalah yang pengeluarannya lebih besar dari wisatawan kebanyakan dan oleh sebab itu kita perlu sekali melakukan integrasi baik yang berkaitan dengan kerapian, kebersihan, kenyamanan, dan keamanan bagi para wisatawan,” ujar Presiden.

    Menurut Presiden, ada 5 zona yang harus ditata di Labuan Bajo. Kelimanya adalah Bukit Pramuka, Kampung Air, pelabuhan peti kemas dan dermaga penumpang, Kawasan Marina, serta di zona Kampung Ujung.

    “Lima zona ini akan menjadi ruang publik yang tidak terputus yang menghadirkan sebuah _landscaping_ yang indah yang menjadi generator penggerak pembangunan kawasan serta pusat aktivitas masyarakat di Labuan Bajo,” katanya.

    Kedua, berkaitan dengan infrastruktur, Presiden ingin agar awal tahun ini landasan pacu dan terminal bandara segera dimulai. Ia pun berharap lalu lintas atau _traffic_ di bandara tersebut bisa meningkat seiring dengan peningkatan jumlah wisatawan.

    “Karena memang pengelolanya saya lihat memiliki kemampuan, memiliki jaringan yang baik dalam rangka mendatangkan wisatawan ke Labuan Bajo,” imbuhnya.

    Ketiga, berkaitan dengan penyiapan sumber daya manusia (SDM), Presiden menghendaki agar masyarakat lokal turut dilibatkan dan menjadi bagian dari pembangunan yang dilakukan. Oleh karena itu, Presiden meminta agar SDM lokal segera ditingkatkan keahlian dan kompetensinya, serta disesuaikan dengan kebutuhan industri pariwisata yang ingin dikerjakan.

    Tak hanya itu, Presiden juga ingin agar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat tidak ditinggalkan. Ia berharap nantinya ada sebuah _creative hub_ yang akan menggarap produk-produk lokal tersebut, baik dari sisi pengemasan, desain, harga, dan lain-lain.

    “Kita harapkan nantinya tenun, kopi, kerajinan, makanan khas betul-betul bisa tumbuh dan seiring dengan itu juga atraksi budaya lokal, kesenian daerah juga harus semakin hidup dan menghidupkan area yang ada di Labuan Bajo,” jelasnya.

    Sementara itu, kepada Gubernur NTT dan Bupati Manggarai Barat, Presiden menggarisbawahi soal masih banyaknya tanah sengketa di Labuan Bajo. Presiden meminta para kepala daerah untuk memperhatikan hal tersebut mengingat banyaknya investor yang ingin menanamkan modalnya di Labuan Bajo.

    “Jadi betul-betul diselaraskan antara hukum adat yang ada dengan hukum positif yang kita miliki,” katanya.

    “Kemudian juga yang berkaitan dengan kapal besar yang masuk ke Labuan Bajo, ini saya minta semuanya teregistrasi. Jangan sampai di sini hanya menikmati dan membuang sampahnya tapi masyarakat di sini tidak mendapatkan sebuah kemanfaatan dari datangnya kapal-kapal besar yang masuk,” lanjutnya.

    Keempat, mengenai sampah baik sampah darat maupun sampah laut. Presiden mengaku mendengar banyak keluhan terkait adanya sampah di dalam laut. Untuk itu ia mengusulkan agar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) melakukan suatu gerakan pembersihan sampah.

    “Meskipun belum banyak tapi harus dimulai kita bersihkan sebelum menjadi banyak. Juga di darat saya harapkan nanti di Kementerian PU dan LHK juga menyiapkan infrastruktur untuk pembuangan sampah, baik _incinerator_ maupun dengan sistem yang lainnya tapi ini juga harus segera diselesaikan,” paparnya.

    Kelima, berkaitan dengan air baku, Presiden meminta Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono untuk menyiapkan tambahan air baku. Menurut Presiden, keluhan mengenai air baku tersebut datang dari para pemilik hotel.

    Keenam, berkaitan dengan keamanan para wisatawan. Presiden berharap jajarannya menyiapkan suatu organisasi yang terdiri atas Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (BNPP/Basarnas) dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk menjamin keamanan wisatawan.

    “Paling tidak kalau mereka melihat di sini ada SAR, ada BNPB rasa aman dan nyaman akan muncul karena memang bisa kita lihat kesiapan kita dalam mengatasi hal-hal seperti itu,” tambahnya.

    Terakhir, berkaitan dengan promosi. Presiden menargetkan apabila semua aspek sudah selesai, rapi, dan tertata pada akhir tahun 2020, maka promosi secara besar-besaran harus segera dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

    “Termasuk digelarnya event-event internasional yang menarik para wisatawan agar datang ke Labuan Bajo,” tandasnya.

    Hadir dalam rapat tersebut antara lain, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Badan Usaha Milik Negara Erick Thohir, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Kepala BNPB Doni Monardo, Kepala BNPP/Basarnas Bagus Puruhito, Gubernur NTT Viktor Laiskodat, dan Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula.

    TEKS DAN FOTO : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden20 Januari 2020

  • Indonesia Persiapkan Labuan Bajo untuk Pertemuan G20

    Indonesia Persiapkan Labuan Bajo untuk Pertemuan G20

    BERANDANEGERI.COM,- Presiden Joko Widodo menaruh perhatian besar pada pengembangan destinasi wisata Labuan Bajo di Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Kunjungannya kali ini adalah untuk melihat secara langsung pengembangan salah satu destinasi wisata prioritas tersebut.

    Dalam rapat koordinasi antara kementerian dan lembaga terkait, termasuk dengan provinsi dan dengan kabupaten, Presiden menekankan berbagai aspek dalam pengembangan Labuan Bajo. Hal ini untuk memastikan bahwa produk yang ditawarkan telah siap sebelum dipromosikan.

    “Ini sebuah pekerjaan yang besar yang harus kita selesaikan akhir tahun ini yaitu memperbaiki produk yang ada di sini. Infrastruktur, landscape, sampah, air baku yang juga kurang, semuanya ini kita siapkan dan kita harapkan akhir tahun ini selesai. Sehingga 2021 itu langsung Kementerian Pariwisata bisa promosi besar-besaran,” kata Presiden dalam keterangan pers usai rapat di Hotel Plataran Komodo, Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Senin, 20 Januari 2020.

    Lebih lanjut Presiden mengatakan bahwa hal terpenting dari pengembangan Labuan Bajo adalah karena Indonesia menyiapkannya untuk sejumlah agenda internasional. Untuk diketahui, pada tahun 2023 Indonesia akan menjadi Ketua ASEAN sekaligus Ketua G20.

    “Tetapi yang paling penting juga bahwa kita ingin mempersiapkan Labuan Bajo ini untuk G20 di 2023 dan ASEAN Summit di 2023. Sehingga dalam rangka persiapan ke sana pun ini mulai direncanakan, disiapkan mulai dari sekarang,” imbuhnya.

    *Langkah Teknis Penataan Labuan Bajo*

    Dalam rapat koordinasi, Presiden bersama jajaran membahas sejumlah hal teknis berkaitan dengan beberapa isu di Labuan Bajo. Untuk persoalan sampah, Presiden mengatakan, penanganan sampah akan dilakukan baik untuk sampah di laut maupun di darat.

    “Dua, jadi sampah yang ada di laut dan sampah yang ada di darat. Yang ada di laut tadi sudah diputuskan kita akan kirim di sini kapal untuk membersihkan dan mulai Februari nanti kita juga akan bergerak ke bawah laut untuk mengambil sampah. Meskipun belum banyak, tapi harus dimulai. Jangan sampai ada sampah di Labuan Bajo,” tegasnya.

    “Yang di darat nanti Kementerian PU akan mempersiapkan incinerator dan juga tempat pembuangan sampah akhirnya. Dan juga yang paling penting juga pendidikan masyarakat mengenai budaya sampah,” tambahnya.

    Sementara itu untuk keluhan soal ketersediaan air baku, Presiden menyebut sudah ditambah 100 mililiter/detik. Kementerian PU juga disebutnya tengah mempersiapkan tambahan yang lebih besar lagi.

    Adapun soal kelestarian lingkungan di kawasan Labuan Bajo, Presiden menyampaikan bahwa dirinya telah memerintahkan Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar untuk membuat _nursery_ yang bisa memproduksi 5-7 juta pohon setiap tahunnya.

    “Nanti setiap tahun menanam segitu terus, rutin. Sudah detail sekali tadi, saya kira pembicaraan kita sudah teknis dan sangat detail sehingga semuanya yang kira-kira kita ragu semuanya sudah kita tutup,” jelasnya.

    Labuan Bajo sendiri memang dipersiapkan sebagai destinasi wisata dengan kelas super premium yang memiliki diferensiasi dari tempat-tempat wisata lain. Presiden berharap, wisatawan yang datang ke Labuan Bajo bisa berbelanja lebih banyak dan tinggal lebih lama.

    “Kita harapkan di sini belanjanya lebih besar, tinggalnya lebih lama, kita harapkan itu. Artinya bukan jumlah turisnya, tetapi spending-nya, belanjanya yang lebih banyak. Kira-kira itu,” tandasnya.

    Teks dan Foto : Biro Pers, Media, dan Informasi Sekretariat Presiden, 20 Januari 2020

  • Labuan Bajo, Presiden Naiki Kapal Phinisi

    Labuan Bajo, Presiden Naiki Kapal Phinisi

    BERANDANEGERI.COM,- Tentunya Presiden Jokowi sudah mendengar informasi bahwa Labuan Bajo tidak hanya terkait dengan Taman Nasional Komodo.

    Tapi juga banyak mendapat pujian sebagai tempat terbaik untuk melihat matahari terbenam dan juga kaya dengan wisata bahari, mulai dari hanya sekedar menikmati indahnya pantai dengan pasir putih, berenang di laut, hingga menyelam.

    Kepala Sekretariat Presiden Heru Budi Hartono menyampaikan pada sore ini, Presiden ingin mencoba menaiki kapal phinisi.

    “Presiden tidak hanya ingin menaiki kapal saja, tapi juga ingin melihat langsung kesiapan kapal-kapal tersebut menyambut wisatawan,” kata Heru.

    Selain itu, Presiden juga melihat kesiapan para anak buah kapal (ABK), kebersihan di kapal, dan keramahan para ABK di kapal tersebut.

    “Presiden juga menilai kesiapan faktor keamanan dan keselamatan, seperti ketersediaan pelampung, radio komunikasi di kapal, dan peralatan lainnya,” ucap Heru.

    Selain itu, Presiden juga melihat spot-spot di kapal yang menarik untuk diabadikan oleh wisatawan dengan latar belakang laut dan kepulauan di Labuan Bajo.

    “Sekarang kan zamannya harus _instragamable_, jadi Presiden juga mencoba spot-spot itu,” lata Heru.

    Presiden Jokowi menaiki kapal phinisi dari dermaga hotel tempatnya menginap sekitar pukul 17.50 WITA. Bertepatan dengan waktu matahari terbenam, Presiden yang didampingi Staf Khusus Presiden Adamas Belva Syah Devara berlayar kurang lebih selama 45 menit sebelum akhirnya kembali ke dermaga.

    Teks dan Foto : Biro Pers, Media dan Informasi Sekretariat Presiden, 19 Januari 2020

  • LEGISLATOR NTT : Dr. Benny Kabur Harman, S.H.

    LEGISLATOR NTT : Dr. Benny Kabur Harman, S.H.

    Tempat Lahir / Tgl Lahir: Flores / 19 September 1962

    Riwayat Pendidikan

    • SD , SD Katolik Denje/ Todo. Tahun: 1969 – 1975
    • SMP , SMP Tubi Ruteng. Tahun: 1975 – 1977
    • SMA , Seminasi St Plus XII Kisol. Tahun: 1978 – 1982
    • S1 Hukum, Universitas Brawijaya. Tahun: 1982 – 1987
    • S2 Hukum, Universitas Indonesia . Tahun: 1993 – 1997
    • S3 Hukum, Universitas Indonesia. Tahun: 2001 – 2006

    Riwayat Pekerjaan

    • Media Indonesia , Sebagai: Kepala Litbang . Tahun: 1996 – 1998
    • Media Indonesia , Sebagai: Wartawan. Tahun: 1989 – 1996
    • YLBHI, Sebagai: Staf on Legistasi . Tahun: 1987 – 1989